Hukum Orang yang Tidak Mabit yang Wajib di Muzdalifah

Minggu, 24 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pilgrim tents to perform Mabit at Muzdalifah in Mina, Saudi Arabia

Pilgrim tents to perform Mabit at Muzdalifah in Mina, Saudi Arabia

Mabit di Muzdalifah adalah salah satu kewajiban haji yang harus dilaksanakan. Kadang ada udzur atau sengaja ditinggalkan oleh jamaah haji. Para ulama yang mewajibkan mabit menyatakan orang yang meninggalkan mabit di muzdalifah hajinya sah dan diwajibkan atasnya dam kecuali yang memiliki udzur maka dia tidak dikenakan apapun menurut kesepakatan madzhab al-Hanafiyah (lihat al-mabsuuth 2/423 dan lihat Bada`I’ ash-Shanaa`I’ 2/136), al-Maalikiyah (lihat Mawaahib al-Jalil 4/169-170 dan lihat adz-Dzakhiirah 3/263), asy-Syafi’iyah (lihat al-Majmu’ 8/136 dan Mughni al-Muhtaaj 1/499-500) dan al-Hanabilah (lihat Kasyaaf al-Qana’ 2/497 dan lihat al-Mughni 3/437).

Dalil kewajiban membayar dam adalah pernyataan Ibnu ‘Abbas,

مَنْ نَسِيَ مِنْ نُسُكِهِ شَيْئًا، أَوْ تَرَكَهُ؛ فَلْيُهْرِقْ دَمًا

Siapa yang lupa melakukan satu nusuk atau meninggalkannya, maka hendaknya menumpahkan darah hewan. (HR Maalik dalam al-Muwathha` 1/419, ad-Daraquthni dalam sunannya 2/244, al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra no. 9191. Sanad hadits di shahihkan secara mauquf oleh an-Nawawi dalam al-Majmu’ 8/99 dan Ibnu Katsir dalam Irsyad al-Faqih 1/314. Syeikh bin Baaz menshahihkan hadits ini dalam Majmu’ fatawa 17/297 dan al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil no. 1100).[1]

Hal-hal seperti ini temasuk perkara yang tidak boleh ditetapkan dengan pandangan beliau semata, sehingga memiliki hukum marfu’ dan tidak ada seorang sahabatpun yang menyelisihinya.

Asy-Syinqithi berkata, Apabila kamu telah mengetahui bahwa atsar ini ada dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas, maka ketahuilah bahwa sisi argumentasi para ulama fikih untuk semua dam yang mereka hukumi wajib selain dam yang ada dengan nash, bahwa tidak lepas dari salah satu dari dua hal; pertama, atsar ini memiliki hukum marfu’ dengan asumsi ini adalah ta’abbud tidak ada zone untuk menggunakan akal. Berdasarkan hal ini maka tidak masalah. Kedua, seandainya dianggap itu termasuk zone diperbolehkan menggunakan akal dan atsarnya mauquf tidak memiliki hukum marfu’, maka ia adalah fatwa dari seorang sahabat yang mulia tanpa diketahui adanya sahabat yang menyelisihinya. Padahal mereka -Radhiyallahu ‘anhum- adalah sebaik-baiknya teladan setelah Rasulullah n . (lihat adhwa` al-Bayaan 4/473 dan lihat juga Majmu’ fatwa bin Baaz 16/152 dan asy-Syarhu al-Mumtui’ 7/367).

Adapun dasar gugurnya kewajiban dam pada orang yang memiliki udzur adalah:

  1. Nabi n memberikan keringanan kepada para wanita dan orang-orang lemah, berdasarkan hadits Saudah bintu Zam’ah yang disampaikan ‘Aisyah.

‌اسْتَأْذَنَتْ ‌سَوْدَةُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم لَيْلَةَ جَمْعٍ، وَكَانَتْ ثَقِيلَةً ثَبْطَةً، فَأَذِنَ لَهَا

Saudah meminta izin kepada Nabi n pada malam di Muzdalifah dan beliau seorang yang gemuk dan susah berjalan. Lalu beliau n mengizinkannya (HR al-Bukhari no. 1596 dan Muslim no. 1290) dan dalam lafazh Muslim ada tambahan: [2]

تَدْفَعُ قَبْلَهُ، وَقَبْلَ حَطْمَةِ النَّاسِ

Meninggalkan Muzdalifah sebelum beliau dan sebelum berdesak-desakan manusia.

Dalam hadits ini, Nabi n tidak memerintahkan Saudah untuk menyembelih dam.

  • Nabi juga memberikan keringanan kepada para penggembala untuk tidak mabit, berdasarkan hadits ‘Ashim bin ‘Adi yang menyatakan:

أنَّ رَسولَ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أرْخَصَ لِرِعاءِ الإبِلِ في البَيْتوتَةِ خارجينَ عَن مِنًى

Sungguh Rasulullah n memberikan keringanan  kepada pengembala onta pada malam hari keluar dari Mina. (HR Abu Dawuud no. 1975, at-Tirmidzi no. 955, an-Nasaa`I no. 3069, Ibnu Maajah no.3037 dan Ahmad no. 23826. Hadits ini dishahihkan Ibnu al-Mulaqqin (al-I’laam 6/386), al-Albani (Shahih Sunan Abi Dawuud no. 1975)). [3]

  • Abbas bin Abdulmuthalib juga meminta izin untuk mabit di Makkah pada malam-malam Mina karena tugas memberi minum jamaah haji. Sebagaimana disampaikan Ibnu Umar:

أنَّ الْعَبَّاسَ بنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ اسْتَأَذَنَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَبِيتَ بِمَكَّةَ لَيَالِيَ مِنًى مِنْ أَجْلِ سِقَايَتِهِ، فَأَذِنَ لَهُ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Abbas bin Abdilmuthalib meminta izin kepada Rasulullah n untuk bermalam di Makkah pada malam-malam Mina karena tugas membagi air lalu beliau n mengizinkannya.

Muzdalifah dapat di analogikan kepada Mina (Mughni al-Muhtaaj 1/506) dan malam Dimana siang harinya ada amalan melempar jumrah. Sehingga mereka diperbolehkan untuk tidak mabit di Muzdalifah seperti malam-malam di Mina. (lihat al-Mughni 3/437).

Wallahu a’lam.

Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi Hafidzahullah Ta’ala

Artikel Terjkait

Tata Cara Ihram
JANGAN LEWATKAN HARI JUM’AT TANPA SHOLAWAT
Nasehat bagi Jamaah Haji Sebelum Berangkat untuk Ibadah Haji
Hikmah Di Balik Perintah Dzikir Kepada Nabi Zakaria
KENAPA DO’AKU BELUM TERKABUL?
Nikmat Doa
Dzikir bentuk Syukur
Membantu penghafal Al-Qur’an: Bersama meraih Pahala
Berita ini 5 kali dibaca

Artikel Terjkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:54 WIB

Tata Cara Ihram

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:36 WIB

Hukum Orang yang Tidak Mabit yang Wajib di Muzdalifah

Jumat, 15 Mei 2026 - 16:06 WIB

JANGAN LEWATKAN HARI JUM’AT TANPA SHOLAWAT

Rabu, 13 Mei 2026 - 13:38 WIB

Nasehat bagi Jamaah Haji Sebelum Berangkat untuk Ibadah Haji

Kamis, 7 Mei 2026 - 03:33 WIB

Hikmah Di Balik Perintah Dzikir Kepada Nabi Zakaria

Artikel Terbaru

Fikih

TERUSLAH MEMPERBANYAK DZIKIR DI HARI-HARI TASYRIK

Sabtu, 30 Mei 2026 - 07:37 WIB

wallup.net

Fatwa Ulama

Ketenangan Jiwa pada Ketaatan

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:29 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Profesor Universitas Dr. Rusia Alla Olinikova

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:15 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Pemikir Austria Leopold Weiss

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:06 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Sastrawan Prancis Vincent Monteil

Sabtu, 30 Mei 2026 - 05:48 WIB