Tiga hari terakhir ini saya mengikuti workshop tentang implementasi Balanced Scorecard (BSC) untuk dunia pendidikan. Sebuah forum yang justru membuat saya semakin sadar, bahwa problem terbesar banyak lembaga pendidikan hari ini sebenarnya bukan pada kurangnya program, kurangnya rapat, atau kurangnya aktivitas.
Masalah utamanya justru sering terletak pada satu hal yang lebih mendasar: lembaga tidak benar-benar tahu apakah mereka sedang bergerak menuju tujuan yang benar atau tidak.
Ada sebuah hasil riset yang cukup menarik. Disebutkan bahwa sekitar 90% organisasi gagal mengeksekusi strategi mereka dengan baik. Bukan karena mereka tidak punya visi. Bukan karena mereka tidak punya orang-orang hebat. Tetapi karena strategi itu tidak benar-benar “turun ke bawah”. Tidak dipahami secara utuh oleh seluruh elemen organisasi. Tidak diterjemahkan menjadi target yang jelas, indikator yang tajam, dan ukuran yang terukur.
Akhirnya visi hanya berhenti menjadi kalimat indah di dinding.
Fenomena ini sebenarnya juga sangat dekat dengan dunia pendidikan Islam. Banyak sekolah dan pesantren memiliki cita-cita besar. Ingin mencetak generasi Rabbani. Ingin melahirkan pemimpin umat. Ingin menghadirkan pendidikan berkelas dunia. Namun dalam praktik keseharian, sering kali arah besar itu tidak benar-benar diterjemahkan menjadi sistem kerja yang konkret.
Guru bekerja sesuai rutinitasnya. Bagian operasional sibuk dengan urusannya. Manajemen berjalan dengan persepsinya masing-masing.
Semua tampak sibuk. Tetapi sibuk belum tentu bergerak menuju tujuan yang sama.
Di titik inilah saya mulai melihat mengapa Balanced Scorecard menjadi sangat menarik. Karena ia membantu menyederhanakan cara pandang organisasi ke dalam empat perspektif utama yang sederhana, tetapi sangat kuat dan cukup komprehensif.
Ada perspektif keuangan. Ada perspektif pelanggan atau stakeholder. Ada perspektif proses internal. Dan ada perspektif pembelajaran serta pengembangan SDM.
Kelihatannya sederhana. Tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuatnya powerful.
Ia memaksa organisasi untuk berhenti bekerja berdasarkan “perasaan”, lalu mulai belajar bekerja berdasarkan arah strategis yang terukur.
Misalnya, sebuah pesantren tidak cukup hanya mengatakan: “Kami ingin menjadi pesantren unggul.”
Pertanyaannya: Unggul dalam aspek apa? Bagaimana cara mengukurnya? Apa indikator keberhasilannya? Siapa yang bertanggung jawab? Kapan targetnya tercapai? Bagaimana proses evaluasinya?
Karena pada akhirnya, sesuatu yang tidak diukur biasanya sulit dikelola dengan serius.
Dan menariknya, semakin lama saya berkecimpung di dunia pendidikan, saya semakin menyadari bahwa banyak lembaga sebenarnya memiliki potensi besar. Punya guru-guru yang ikhlas. Punya semangat dakwah yang tinggi. Punya program yang banyak. Tetapi sering kali belum memiliki desain tata kelola yang benar-benar matang untuk memastikan seluruh energi besar itu bergerak ke arah yang sama.
Padahal dunia pendidikan hari ini sudah berubah sangat cepat. Persaingan antar lembaga semakin ketat. Ekspektasi wali santri semakin tinggi. Tantangan generasi semakin kompleks. Maka mengelola lembaga pendidikan modern tidak cukup hanya dengan semangat dan niat baik. Ia juga membutuhkan sistem, arah strategis, budaya evaluasi, dan ukuran kinerja yang sehat.
Karena strategi hanya bernilai jika diimplementasikan.
Dan implementasi hanya mungkin terjadi ketika visi besar berhasil diterjemahkan menjadi pekerjaan-pekerjaan kecil yang jelas, terukur, dipahami bersama, lalu dievaluasi secara konsisten.
Mungkin inilah salah satu PR besar dunia pendidikan Islam ke depan: bukan hanya membangun lembaga yang besar, tetapi membangun lembaga yang benar-benar terkelola dengan baik.
Sebab lembaga yang dikelola dengan baik akan lebih punya peluang melahirkan manfaat yang panjang, stabil, dan berkelanjutan bagi umat.
Wallahu a’lam.
Oleh: Aminullah Yasin (Kepala Divisi LITBANG Pesantren Islam Internasional Al Andalus)
Sumber: Saluran WhatsApp Madrasah Plus








