«قَالَ مَالِكُ بْنُ دِينَارٍ: “إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا طَلَبَ الْعِلْمَ لِلْعَمَلِ كَسَرَهُ عِلْمُهُ، وَإِذَا طَلَبَهُ لِغَيْرِ ذَلِكَ ازْدَادَ بِهِ فُجُورًا أَوْ فَخْرًا”.
وَقَالَ الذَّهَبِيُّ: “إِنَّ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِلْآخِرَةِ كَسَرَهُ عِلْمُهُ، وَخَشَعَ قَلْبُهُ، وَاسْتَكَانَتْ نَفْسُهُ، وَكَانَ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمِرْصَادِ، فَلَا يَفْتُرُ عَنْهُ! بَلْ يُحَاسِبُهَا كُلَّ وَقْتٍ، وَيَتَفَقَّدُهَا؛ فَإِنْ غَفَلَ عَنْهَا جَمَحَتْ عَنِ الطَّرِيقِ الْمُسْتَقِيمِ وَأَهْلَكَتْهُ”.»
Malik bin Dinar berkata: “Sesungguhnya seorang hamba jika menuntut ilmu untuk diamalkan, maka ilmunya akan memecah (menyederhanakan/menundukkan) dirinya. Namun jika ia menuntut ilmu untuk tujuan selain itu, maka ilmu itu hanya akan menambah kedurhakaan atau kesombongan pada dirinya.” [Diriwayatkan oleh Al-Khatib dalam Iqtidha’ al-‘Ilm al-‘Amal (hlm. 31)].
Imam Adz-Dzahabi berkata: “Sesungguhnya barangsiapa yang menuntut ilmu untuk kepentingan akhirat, maka ilmunya akan menundukkannya, hatinya menjadi khusyuk, jiwanya menjadi tenang (rendah hati), dan ia akan selalu waspada terhadap dirinya sendiri. Ia tidak akan lengah, bahkan selalu bermuhasabah setiap saat dan mengawasi jiwanya. Karena jika ia lalai sedikit saja, jiwanya akan liar melenceng dari jalan yang lurus dan membinasakannya.” [Al-Kaba’ir, hlm. 78].
📝 Penjelasan Singkat
Kedua ulama ini menggunakan kata “Kasarahu” (Memecah/Menghancurkan). Maksudnya, ilmu yang berkah akan menghancurkan ego, menghancurkan rasa bangga diri, dan menghancurkan rasa merasa lebih baik dari orang lain.
Ilmu Sejati: Membuat pemiliknya merasa semakin kecil di hadapan Allah (seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk).
Ilmu Palsu: Membuat pemiliknya merasa besar, hobi berdebat untuk pamer, dan merasa paling benar (Fakhr/Sombong).
Adz-Dzahabi menambahkan bahwa ilmu untuk akhirat melahirkan sifat Muraqabah, yaitu selalu merasa diawasi Allah sehingga ia lebih sibuk mengoreksi diri sendiri daripada mencari kesalahan orang lain.
💡 Pelajaran Penting (Fawaid)
Niat adalah Penentu
Ilmu yang sama bisa membawa seseorang ke surga (jika untuk amal) atau ke neraka (jika untuk kesombongan).
Efek Samping Ilmu Tanpa Takwa
Tanpa niat yang benar, ilmu hanya menjadi alat untuk membenarkan kemaksiatan (Fujur) atau meremehkan orang lain (Fakhr).
Waspada pada Diri Sendiri
Orang berilmu harus “siaga satu” (Bil Mirshad) terhadap hatinya. Sekali saja merasa hebat, itu adalah awal dari kehancuran.
Tanda Ilmu Bermanfaat
Semakin banyak tahu, semakin merasa tidak tahu, semakin rendah hati kepada makhluk, dan semakin tunduk kepada Khalik.
✅ Kesimpulan
Ilmu bukan tentang berapa banyak kitab yang khatam atau berapa banyak gelar yang disandang, tapi tentang seberapa besar ilmu itu mampu menundukkan ego kita di hadapan Allah. Ilmu yang tidak membuatmu semakin takut kepada Allah adalah beban yang akan memberatkanmu di hari kiamat.
Dua kutipan ini merupakan peringatan keras sekaligus panduan bagi siapa pun yang sedang meniti jalan menuntut ilmu. Malik bin Dinar dan Imam Adz-Dzahabi menyoroti bahwa ilmu adalah pisau bermata dua: ia bisa menghancurkan kesombongan atau justru menumbuhkan keangkuhan.
Semoga bermanfaat.
Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi Hafidzahullah Ta’ala








