Mengenal Nama Allah “Al-‘Aliy”, “Al-A’la”, dan “Al-Muta’ali”

Kamis, 20 Februari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Segala puji bagi Allah yang telah memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya melalui nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang mulia. Nama-nama Allah tersebut mengandung petunjuk yang menjadi pedoman bagi kaum mukminin dalam mengenal Rabb-nya dengan benar.

Di antara nama-nama Allah yang penuh makna adalah Al-‘AliyAl-A’la, dan Al-Muta’ali. Ketiga nama ini menunjukkan ketinggian, keagungan, dan keperkasaan Allah yang meliputi segala sesuatu. Artikel ini akan membahas dalil-dalil, kandungan makna, dan konsekuensi dari mengenal nama-nama tersebut bagi seorang hamba. Semoga Allah memberikan taufik-Nya untuk kita semua.

Dalil nama Allah “Al-‘Aliy“, “Al-A’la“, dan “Al-Muta’ali

Nama ( العليّ ) Al-‘Aliy disebutkan dalam delapan tempat, di antaranya:

Pertama: Firman Allah Ta’ala,

وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Dan pemeliharaan keduanya tidak memberatkan-Nya, dan Dia Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Kedua: Firman-Nya,

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِير

“Yang demikian itu, karena Allah, Dialah yang benar. Dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah adalah yang batil. Dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. Al-Hajj: 62)

Ketiga: Firman-Nya,

فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ

“Maka, (hanya) Allahlah yang menetapkan hukum, Dialah Tuhan Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. Ghafir: 12)

Adapun ( الأعلى ) Al-A’la, disebutkan dalam:

Pertama: Firman Allah Ta’ala,

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi.” (QS. Al-A’la: 1)

Kedua: Firman-Nya,

إِلَّا ابْتِغَاء وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى

“Kecuali mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi.” (QS. Al-Lail: 20)

Adapun (الْمُتَعَالي) Al-Muta’ali, disebutkan satu kali dalam, yaitu firman Allah Ta’ala,

عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالي

“Yang mengetahui semua yang gaib dan yang nyata, Yang Mahabesar lagi Mahatinggi.” (QS. Ar-Ra’d: 9) [1]

Dalam ayat di atas, Imam Qari’ Ibn Katsir, Ya’qub, dan Ibn Muhaysin membacanya dengan menetapkan huruf ya ( الْمُتَعَالي ), sementara bacaan tanpa huruf ya ( الْمُتَعَال ) merupakan bacaan para imam Qari’ lainnya (Imam ‘AshimImam Nafi’ dan selainnya). [2]

Kandungan makna nama Allah “Al-‘Aliy“, “Al-A’la“, dan “Al-Muta’ali

Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu makna kata “Al-‘Aliy“, “Al-A’la“, dan “Al-Muta’ali” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.

Makna bahasa dari “Al-‘Aliy“, “Al-A’la” dan “Al-Muta’ali

Pertama: Al-‘Aliy (العلي)

Kata ini merupakan sifat musyabbahah dari kata kerja “عَلَا يَعْلُو” (tinggi), berwazan “فعيل“. Asalnya adalah “عَلِيُو“, di mana huruf ya mati (ي) dan wawu (و) bertemu. Wawu diubah menjadi ya, lalu diidgam (dileburkan) dengan ya berikutnya. [3]

Kedua: Al-A’la (الأعلى)

Nama ini berwazan af’al (أَفْعَل) dengan asal “أَعْلَو“. Huruf asli lamnya adalah wawu yang kemudian diubah menjadi ya, lalu diubah menjadi alif. [4]

Ketiga: Al-Muta’ali (المتعالي)

Merupakan isim fa’il (pelaku) dari kata kerja “تَعَالَى“. Asalnya adalah “الْمُتَعَالو” dari kata dasar “علا – يعلو“. Huruf wawu diubah menjadi ya[5]

Secara makna, para ahli lughah (ahli bahasa) menjelaskan sebagai berikut:

Az-Zajjaji (w. 337 H) mengatakan,

العلي: فعيل من العلو والعلاء، والعلاء: الرفعة والسناء والجلال

Nama ‘Al-‘Aliy’ berwazan (فعيل), berasal dari kata “علو” (ketinggian) dan “علاء” yang bermakna keagungan, kehormatan, dan kemuliaan.”

Orang Arab berkata, ‘فلان علي ذو علاء‘ untuk menyebut seseorang yang agung dan tinggi kedudukannya. Selain itu, ‘Al-‘Aliy’ dan ‘Al-‘Aaliy’ juga berarti yang menguasai dan yang menundukkan segala sesuatu. Dalam konteks bahasa, ‘علا فلان فلانًا’ berarti seseorang mengalahkan atau menundukkan orang lain.” [6]

Ibn Faris (w. 395 H) mengatakan,

(‌علو) الْعَيْنُ وَاللَّامُ وَالْحَرْفُ الْمُعْتَلُّ يَاءً كَانَ أَوْ وَاوًا أَوْ أَلِفًا، أَصْلٌ وَاحِدٌ يَدُلُّ عَلَى السُّمُوِّ وَالِارْتِفَاعِ

Kata dasar ‘عَلَوَ‘ yang terdiri dari huruf ‘ain, lam, dan huruf illat (ya, wawu, atau alif) merupakan akar yang satu, menunjukkan makna ‘ketinggian’ dan ‘terangkat’.” [7]

Al-Fayyumi (w. sekitar 770 H) mengatakan,

(ع ل ا) : عُلْوُ الدَّارِ وَغَيْرِهَا خِلَافُ السُّفْلِ … وَعَلَا الشَّيْءُ عُلُوًّا (مِنْ بَابِ قَعَدَ) ارْتَفَعَ.

Kata ‘عُلْوُ‘ berarti kebalikan dari rendah (sufl). Kata kerja ‘عَلَا – يعلو‘ bermakna naik atau terangkat.” [8]

Makna “Al-‘Aliy“, “Al-A’la“, dan “Al-Muta’ali” dalam konteks Allah

Allah ‘Azza Wajalla adalah Al-‘Aliy, Al-A’la, dan Al-Muta’ali. Hal ini menunjukkan keagungan, kebesaran, dan ketinggian-Nya dalam kedudukan, kehormatan, serta derajat.

Al-Khalil bin Ahmad berkata,

الله عز وجل هو العلي الأعلى المتعالي ذو العلاء والعلو، فأما العلاء: فالرفعة، والعلو: العظمة والتجبر. وتقول «علا الشيء علاء». ويقال: علوت وعليت جميعًا، وكذلك عليَ علاء في الرفعة والشرف والارتفاع

Allah adalah Al-‘Aliy, Al-A’la, dan Al-Muta’ali, yang memiliki keagungan dan ketinggian. Adapun ‘العلاء‘ berarti keagungan, sedangkan ‘العلو‘ berarti kebesaran dan keperkasaan.

Kamu mengatakan, ‘علا الشيء علاء‘ (sesuatu itu menjadi tinggi). Dan digunakan juga, ‘علوت‘ (aku meninggi) dan ‘عليت‘ (aku mencapai ketinggian).

Demikian juga, ‘عليَ علاء‘ menunjukkan keluhuran, kehormatan, dan ketinggian.” [9]

Nama-nama ini menunjukkan ketinggian Allah yang mutlak dalam segala aspek dan pertimbangan, mencakup ketinggian zat-Nya, ketinggian martabat dan keagungan sifat-sifat-Nya, dan ketinggian kekuasaan-Nya, yang menguasai segala sesuatu.

Syekh Abdurrazzaq Al-Badr hafidzahullah mengatakan, “Nama-nama ini menunjukkan ketinggian Allah yang mutlak dalam segala aspek dan pertimbangan:

Pertama: Allah adalah Al-‘Aliy dalam ketinggian zat-Nya, yang istiwa di atas ‘Arsy, dan tinggi di atas semua makhluk serta terpisah dari mereka. Sebagaimana firman Allah,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Ar-Rahman istiwa di atas ‘Arsy.’ (QS. Thaha: 5)

Dan firman-Nya dalam enam ayat Al-Qur’an,

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

Kemudian Dia istiwa di atas ‘Arsy.’ (QS. Al-A’raf: 54)

Yaitu, Dia tinggi dan berada di atas ‘Arsy dengan ketinggian yang sesuai dengan keagungan, kesempurnaan, dan kebesaran-Nya.

Kedua: Dia juga Al-‘Aliy dalam ketinggian martabat dan keagungan sifat-sifat-Nya. Sifat-sifat-Nya begitu agung, tidak ada yang setara atau mendekati sifat-sifat tersebut. Bahkan, hamba-hamba-Nya tidak mampu memahami sepenuhnya satu pun dari sifat-sifat-Nya.

Ketiga: Dia adalah Al-‘Aliy dalam ketinggian kekuasaan-Nya, yang menguasai segala sesuatu. Semua makhluk tunduk kepada-Nya. Seluruh makhluk berada dalam genggaman-Nya, tidak ada yang bergerak atau diam, kecuali dengan izin-Nya. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi.” [10]

Allah Ta’ala Al-‘Aliy yang menunjukkan banyaknya sifat-sifat Allah, berbagai aspek yang berkaitan dengannya, dan keragamannya, dan Al-A’la yang menunjukkan keagungan sifat-sifat tersebut. Syekh As-Si’diy berkata,

والفرق بين العلي الأعلى أنَّ العلي يدل على كثرة الصفات ومتعلقاتها وتنوعها، والأعلى يدل على عظمتها

Perbedaan antara Al-‘Aliy dan Al-A’la adalah bahwa Al-‘Aliy menunjukkan banyaknya sifat-sifat Allah, berbagai aspek yang berkaitan dengannya, dan keragamannya, sedangkan Al-A’la menunjukkan keagungan sifat-sifat tersebut.” [11]

Adapun tentang Al-Muta’ali, Imam Mufassir, Ibnu katsir mengatakan,

{‌الْمُتَعَالِ} أَيْ: عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا، وَقَهَرَ كُلَّ شَيْءٍ، فَخَضَعَتْ لَهُ الرِّقَابُ وَدَانَ لَهُ الْعِبَادُ، طَوْعًا وَكَرْهًا

Al-Muta’ali berarti Dia Mahatinggi di atas segala sesuatu, yang meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya, menguasai segala sesuatu, sehingga semua leher tunduk kepada-Nya, dan semua makhluk patuh kepada-Nya, baik dengan suka maupun terpaksa.” [12]

Syekh As-Si’diy rahimahullah mengatakan,

{‌الْمُتَعَالِ} على جميع خلقه بذاته وقدرته وقهره.

Al-Muta’ali berarti Dia Mahatinggi atas semua makhluk-Nya, dengan Zat-Nya, kekuasaan-Nya, dan keperkasaan-Nya.” [13]

Konsekuensi dari nama Allah “Al-‘Aliy“, “Al-A’la“, dan “Al-Muta’ali” bagi hamba

Penetapan nama-nama “Al-‘Aliy“, “Al-A’la“, dan “Al-Muta’ali” bagi Allah Ta’ala memiliki banyak konsekuensi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekuensinya dari sisi hamba:

Pertama: Seorang muslim hendaknya meyakini ketinggian mutlak Allah, Rabb semesta alam, dalam semua maknanya, tanpa meniadakan atau menakwilkan salah satu dari sifat tersebut, serta tanpa membatasi apa pun darinya. Dia wajib menetapkan bagi-Nya ketinggian zat, ketinggian kedudukan, dan ketinggian kekuasaan.

Kedua: Seorang muslim harus meyakini bahwa Allah Mahatinggi di atas segala sesuatu, tidak ada yang lebih tinggi dari-Nya, dan Dia berada di atas ‘Arsy sebagaimana yang Dia kabarkan tentang diri-Nya. Hal ini merupakan akidah salaf umat ini dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat, termasuk para ulama hadis, tafsir, fikih, ushul, sejarah, bahasa Arab, sastra, dan lainnya. [14]

Ketiga: Keimanan terhadap ketinggian Allah atas makhluk-Nya akan menanamkan rasa pengagungan, kerendahan, ketundukan hati di hadapan Allah, penyucian-Nya dari segala kekurangan dan cela, keikhlasan dalam beribadah, serta menjauhkan diri dari menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya. Allah berfirman,

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ، هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Demikianlah, karena Allah, Dialah yang benar, dan apa yang mereka seru selain Dia adalah batil. Dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Mahatinggi, Mahabesar” (QS Al-Hajj: 62). [15]

Demikian, semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semua.

 

Penulis: Prasetyo Abu Ka’ab

Facebook Comments Box

Artikel Terjkait

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT
Kontradiksi dalam Pengakuan & Pengingkaran
MAKNA BERIMAN KEPADA KITAB-KITAB
METODE ASY’ARIYAH DALAM AKIDAH
Pemikiran Ibnul Qayyim Tentang ‘Pemikiran’
Penjelasan Dalil Dalam Memutus Hujjah Ahli Ta’til (Penyangkal Sifat Allah)
Rukun Iman
Kelembutan Hati dan Tangisan
Berita ini 13 kali dibaca

Artikel Terjkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 03:47 WIB

TIDAK ADA YANG BARU DALAM HUKUM-HUKUM SHALAT

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:36 WIB

Kontradiksi dalam Pengakuan & Pengingkaran

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:29 WIB

MAKNA BERIMAN KEPADA KITAB-KITAB

Kamis, 8 Januari 2026 - 15:06 WIB

METODE ASY’ARIYAH DALAM AKIDAH

Kamis, 8 Januari 2026 - 14:59 WIB

Pemikiran Ibnul Qayyim Tentang ‘Pemikiran’

Artikel Terbaru

Pendidikan

KETIKA KEJUJURAN PUN BISA MENJADI FITNAH

Rabu, 4 Feb 2026 - 02:49 WIB

Dakwah

Fawaid ilmiya 12

Rabu, 4 Feb 2026 - 02:46 WIB

Kitab Ulama

AL-FAWAID (KUMPULAN FAIDAH)

Rabu, 4 Feb 2026 - 02:45 WIB

Kitab Ulama

Agama-agama dan Mazhab-mazhab

Rabu, 4 Feb 2026 - 02:44 WIB