Kisah Mualaf: Mantan Biarawan Filipina Marco Corbus

Kamis, 16 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan semoga shalawat Allah Ta’ala dan salam-Nya tercurah kepada penutup para nabi dan rasul yaitu junjungan kami Muhammad dan kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat.

Inilah kisah saya, dan mengapa saya menyatakan masuk Islam: Selama masa kecil saya, saya dibesarkan sebagian dalam Katolik. Adapun kakek dan bibi saya adalah penyembuh spiritual yang menyembah berhala dan roh-roh. Dan saya menyaksikan banyak pasien yang datang kepada mereka untuk pengobatan, dan bagaimana mereka sembuh. Oleh karena itu mereka menyebabkan saya mengikuti apa yang mereka imani.

Ketika saya mencapai usia tujuh belas tahun, saya menyadari bahwa ada banyak agama, yang memiliki berbagai jenis ajaran, meskipun mereka memiliki sumber yang sama, yaitu Injil. Dan masing-masing mengklaim bahwa dialah agama yang benar. Pada saat itu saya bertanya-tanya: “Haruskah saya tetap pada agama keluarga saya, ataukah saya harus mencoba mendengarkan agama-agama lain?”

Dan pada suatu hari sepupu saya mengundang saya untuk menghadiri perayaan Kamis di gereja. Motivasi saya adalah melihat apa yang mereka lakukan di dalam gereja mereka. Maka saya melihat bagaimana mereka bernyanyi, bertepuk tangan, menari, dan menangis sambil mengangkat tangan mereka dalam doa kepada Isa alaihissalam. Dan biarawan berkhotbah tentang Injil. Kemudian dia menyebutkan ayat-ayat yang paling umum, yang dikutip oleh semua misionaris, yaitu yang berkaitan dengan ketuhanan Masih alaihissalam, seperti: Yohanes 1:12, dan Yohanes 3:16, dan Yohanes 8:31-32. Dan pada saat itu, saya dilahirkan kembali sebagai Kristen, dan saya menerima Yesus Kristus alaihissalam sebagai Tuhan dan penyelamat saya.

Teman-teman saya mengunjungi saya setiap hari untuk pergi ke gereja. Dan setelah dua bulan saya dibaptis, maka saya menjadi anggota tetap dalam ibadah mereka. Dan setelah berlalu lima tahun, biarawan kami meyakinkan saya untuk bekerja di keimamatan sebagai pekerja sukarela. Dan setelah itu saya menjadi penyanyi utama, kemudian pemimpin dalam shalat, kemudian guru di sekolah Minggu, kemudian akhirnya saya menjadi biarawan resmi di gereja. Dan pekerjaan saya berada di bawah Misi Penginjilan Pedesaan Bebas (F.R.E.E.). Dan itu adalah misi penginjilan seperti misi “Yesus adalah Tuhan” (Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan), dan “Nazarene”, dan “Roti Kehidupan”, dll. Saya mulai mengajar orang-orang Injil dan ajarannya. Dan saya membaca Injil dua kali dari sampul ke sampul. Dan saya memaksa diri saya untuk menghafal bagian-bagian dan ayat-ayat darinya secara hafal untuk membela agama yang saya imani. Dan saya menjadi bangga pada diri saya atas posisi yang saya peroleh. Dan saya sering berkata kepada diri saya bahwa saya tidak memerlukan ajaran atau teks lain selain Injil. Tetapi meskipun demikian, ada kekosongan spiritual di dalam diri saya. Saya berdoa, berpuasa, dan berusaha keras untuk memenuhi kehendak Tuhan yang saya sembah, dan saya tidak menemukan kebahagiaan kecuali ketika saya berada di gereja. Tetapi perasaan bahagia ini tidak berlangsung terus, bahkan ketika saya bersama keluarga saya. Dan saya juga menyadari bahwa beberapa teman biarawan saya materialistis. Mereka menenggelamkan diri dalam nafsu jasmani – seperti hubungan terlarang dengan wanita – dan korupsi, serta haus akan ketenaran.

Dan meskipun semua itu saya melanjutkan – dan dengan cara buta – menganut agama dengan kuat. Dan itu karena saya tahu – dan sesuai dengan apa yang dikatakan ajaran – “bahwa banyak yang dipanggil, tetapi sedikit di antara mereka yang dipilih”. Saya selalu berdoa kepada Yesus Kristus alaihissalam untuk mengampuni dosa-dosa saya dan juga dosa mereka. Karena saya mengira bahwa dia alaihissalam adalah solusi untuk semua masalah saya dan oleh karena itu dia dapat merespons semua doa saya.

Meskipun demikian – dan dengan melihat kehidupan rekan-rekan biarawan saya – kamu tidak dapat menemukan di antara mereka contoh-contoh baik dibandingkan dengan jemaat yang mereka khotbahi. Dan demikianlah iman saya mulai memudar, dan saya berjuang dengan kesulitan yang sangat besar dalam bekerja melayani ibadah jemaah. Pada suatu hari, saya berpikir untuk bepergian ke luar negeri, dan itu bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk menyebarkan nama Yesus sebagai tuhan; astaghfirullah al-‘azheem. Dan dalam rencana saya untuk pergi entah ke Taiwan atau Korea. Tetapi kehendak Allah Ta’ala adalah saya mendapatkan visa kerja di Kerajaan Arab Saudi. Dan saya langsung menandatangani kontrak selama tiga tahun untuk bekerja di Jeddah.

Setelah seminggu tiba di Jeddah, saya menyadari gaya hidup yang berbeda, seperti bahasa, adat istiadat dan tradisi, bahkan makanan yang mereka makan. Karena saya benar-benar tidak mengetahui budaya orang lain.

Alhamdulillah; ternyata saya memiliki rekan kerja Filipina di pabrik, dan dia adalah seorang Muslim yang berbicara bahasa Arab. Oleh karena itu – meskipun saya gugup, tetapi saya mencoba bertanya kepadanya tentang Muslim, dan tentang agama dan kepercayaan mereka. Karena saya percaya bahwa Muslim adalah pembunuh yang kejam, dan bahwa mereka menyembah setan dan fir’aun dan Muhammad shallallahu alaihi wa alihi wasallam sebagai tuhan-tuhan mereka. Dan saya menceritakan kepadanya tentang iman saya kepada Masih alaihissalam. Dan sebagai reaksi atas itu dia memberitahu saya bahwa agamanya benar-benar berbeda dari agama saya. Dan dia mengutip dua ayat dari Al-Qur’an Al-Kareem. Yang pertama dari Surat Al-Maidah yaitu ayat ketiga yang berbunyi:

“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu…” (Al-Maidah: 3)

Dan yang lain dari Surat Yusuf:

“Apa yang kamu sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyang kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk menyembah benda-benda itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Yusuf: 40)

Kedua ayat ini memberikan saya kejutan yang kuat. Setelah itu saya mulai mengamati kehidupannya. Dan setiap hari kami berbicara masing-masing tentang agamanya, sampai akhirnya kami menjadi teman akrab. Dan pada salah satu kesempatan kami pergi ke al-balad (daerah komersial Jeddah) untuk mengirim beberapa surat. Dan di sana terjadi bahwa saya melihat kerumunan banyak orang yang menonton film video debat salah satu “misionaris” terbaik saya. Teman Muslim saya memberitahu saya bahwa orang yang saya sebut sebagai “misionaris terbaik saya” adalah Syekh Ahmad Deedat, dan dia adalah dai Islam yang terkenal. Maka saya memberitahukannya bahwa para biarawan kami di tanah air membuat kami percaya bahwa dia adalah “misionaris yang hebat” saja; dan mereka menyembunyikan dari kami kepribadian aslinya bahwa dia adalah dai Muslim! Apapun niat mereka, itu pasti untuk menjauhkan kami dari mengetahui kebenaran. Dan meskipun apa yang saya ketahui, saya membeli kaset video, dan beberapa buku juga untuk membaca tentang Islam.

Dan di tempat tinggal kami, teman saya menceritakan kepada saya kisah-kisah para nabi. Dan saya benar-benar yakin, tetapi kesombongan saya menjauhkan saya dari Islam.

Dan setelah berlalu tujuh bulan, datang kepada saya di kamar saya teman lain – dia adalah seorang Muslim dari India – dan dia memberikan saya salinan terjemahan makna Al-Qur’an Al-Kareem dalam bahasa Inggris. Dan kemudian dia membawa saya ke al-balad, kemudian mengajak saya ke Pusat Islam. Saya bertemu di sana salah satu saudara Filipina; dan terjadi diskusi antara kami tentang beberapa masalah agama, dan dia menghubungkannya dengan perbandingan kehidupannya sebelum Islam – ketika dia Kristen – dan sesudahnya; kemudian dia menjelaskan kepada saya beberapa ajaran Islam.

Dan pada malam yang diberkahi itu, pada tanggal delapan belas April tahun 1998 – dan tanpa paksaan – saya akhirnya masuk Islam. Dan saya menyatakan masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Allahu Akbar!

Saya sebelumnya mengikuti agama yang buta, sekarang saya melihat kebenaran mutlak bahwa Islam adalah cara hidup yang terbaik dan sempurna yang dirancang untuk seluruh umat manusia. Alhamdulillahi rabbil ‘alameen.

Dan saya berdoa kepada Allah Ta’ala untuk mengampuni semua ketidaktahuan kami tentang Islam, dan semoga Dia Subhanahu wa Ta’ala membimbing kami ke jalan lurus-Nya yang menuju surga. Aamiin.

 

Dikutip dari:

PERJALANAN IMAN BERSAMA PRIA DAN WANITA YANG MASUK ISLAM

رحلة إيمانية مع رجال ونساء أسلموا

Disusun oleh:

Abdul Rahman Mahmoud

Terjemah:

Muhamad Abid Hadlori, S.Ag.,Lc.

Artikel Terjkait

Kisah Mualaf: Mantan Uskup Agung Lutheran Tanzania Abu Bakar Mwayipopo
Kisah Mualaf: Kenneth Jenkins – Pendeta Amerika Serikat yang Dahulu
Kisah Mualaf: Dr. Wadee’ Ahmad (mantan) Pendeta Mesir
Kisah Mualaf: Yusuf Estes, Mantan Pendeta Amerika
Kisah Mualaf: Ibrahim Khalil Phisobos, Mantan Profesor Teologi Mesir
Kisah Mualaf: Ketua Komite Kristenisasi di Afrika, Mantan Pendeta Mesir Ishaq Hilal Masihah
Berita ini 3 kali dibaca
Tag :

Artikel Terjkait

Kamis, 16 April 2026 - 07:33 WIB

Kisah Mualaf: Mantan Biarawan Filipina Marco Corbus

Kamis, 16 April 2026 - 07:28 WIB

Kisah Mualaf: Mantan Uskup Agung Lutheran Tanzania Abu Bakar Mwayipopo

Kamis, 16 April 2026 - 07:06 WIB

Kisah Mualaf: Kenneth Jenkins – Pendeta Amerika Serikat yang Dahulu

Kamis, 16 April 2026 - 06:57 WIB

Kisah Mualaf: Dr. Wadee’ Ahmad (mantan) Pendeta Mesir

Kamis, 16 April 2026 - 06:53 WIB

Kisah Mualaf: Yusuf Estes, Mantan Pendeta Amerika

Artikel Terbaru

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Mantan Biarawan Filipina Marco Corbus

Kamis, 16 Apr 2026 - 07:33 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Dr. Wadee’ Ahmad (mantan) Pendeta Mesir

Kamis, 16 Apr 2026 - 06:57 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Yusuf Estes, Mantan Pendeta Amerika

Kamis, 16 Apr 2026 - 06:53 WIB