Percakapan seperti ini mungkin terdengar sederhana. Tapi kalau kita jujur, ia sebenarnya mewakili kegelisahan banyak anak muda hari ini.
“Ana tidak jadi lanjut kuliah agama, ustadz. Sepertinya mau pindah ke jurusan umum saja.”
“Kenapa?”
“Takut… kalau kuliah agama, bagaimana kehidupan saya nanti?”
Sebuah kalimat yang jujur, namun penting untuk kita dudukkan dengan cara berpikir yang benar. Bukan pada masalah memilih jurusannya. Tapi pada cara melihat masa depan.
Banyak orang tanpa sadar membangun logika seperti ini: kuliah umum dianggap lebih aman karena peluang kerja terlihat jelas. Sementara kuliah agama dianggap berisiko karena masa depannya terasa samar. Dari sini muncul kesimpulan: yang pertama menjanjikan kehidupan, yang kedua mengancam kehidupan.
Sekilas tampak rasional. Tapi jika ditelusuri lebih dalam, logika ini rapuh. Karena ia diam-diam menempatkan jurusan sebagai penentu rezeki.
Padahal dalam keyakinan seorang muslim, rezeki tidak pernah ditentukan oleh jurusan. Ia ditentukan oleh Allah, lalu disalurkan melalui berbagai sebab yang seringkali tidak bisa kita tebak.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
“Tidak ada satu pun makhluk melata di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hūd: 6)
Ayat ini bukan sekadar penghibur. Ini adalah fondasi cara berpikir seorang muslim dalam memandang hidup. Realita kehidupan justru memperlihatkan hal yang sebaliknya. Tidak sedikit orang yang menempuh pendidikan umum dengan harapan masa depan yang mapan, namun tetap bergulat dengan kesulitan hidup. Di sisi lain, tidak sedikit pula yang menekuni ilmu agama, lalu Allah bukakan jalan rezeki dari arah yang tidak pernah mereka rencanakan. Artinya, jurusan bukan jaminan, melainkan hanya salah satu jalan. Bukan penentu hasil.
Di sinilah letak kekeliruan berpikir yang sering terjadi. Masa depan dilihat seolah-olah sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Seakan-akan dengan memilih jalur tertentu, seseorang bisa memastikan nasibnya sendiri. Padahal dalam Islam, rasa aman tidak lahir dari kuatnya perencanaan. Ia lahir dari kuatnya keyakinan kepada Allah.
Allah juga berfirman:
وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ
“Maka di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzāriyāt: 22)
Ayat ini menggeser cara pandang kita. Bahwa rezeki itu bukan hasil dari kalkulasi semata, tapi bagian dari ketetapan Allah yang sudah disiapkan.
Bahkan Rasulullah ﷺ menegaskan dalam haditsnya:
لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)
Perhatikan, burung tetap terbang, tetap berusaha. Tapi ia tidak pernah cemas berlebihan tentang rezekinya. Karena fitrahnya tahu siapa yang memberi.
Yang sering terjadi, seseorang tidak takut pada masa depan. Ia takut kehilangan kontrol atas masa depan. Ia ingin semuanya tampak jelas, terukur, dan bisa diprediksi. Ketika jalan itu tidak terlihat, ia mundur.
Padahal justru di situlah letak ujian keimanan.
Islam tidak melarang perencanaan. Tidak melarang memilih jalan yang terbaik secara duniawi. Bahkan itu bagian dari ikhtiar yang diperintahkan. Namun yang harus dijaga adalah posisi hati. Hati tidak boleh bergantung pada sebab. Hati harus bergantung pada Dzat yang menciptakan sebab.
Allah bahkan memberikan janji yang sangat kuat:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (QS. At-Thalāq: 2–3)
Ayat ini seperti jawaban langsung atas kegelisahan tadi. Bahwa jalan keluar dan rezeki itu tidak selalu datang dari jalur yang kita hitung.
Ada satu hal yang lebih perlu dikhawatirkan daripada sekadar masa depan. Yaitu ketika seseorang meninggalkan jalan ilmu agama bukan karena panggilan minat atau pertimbangan kemampuan, tetapi karena takut miskin.
Karena dalam kondisi seperti itu, yang dipertaruhkan bukan hanya pilihan hidup, tapi kualitas keyakinannya sendiri. Seakan-akan ia sedang berkata, meskipun tanpa disadari, bahwa ia belum cukup yakin Allah akan mencukupinya.
Padahal Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:
إِنَّ رُوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رُوعِي أَنَّهُ لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا
“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) membisikkan ke dalam hatiku bahwa tidak ada satu jiwa pun yang akan meninggal sampai ia menyempurnakan seluruh rezekinya.” (HR. Ibnu Majah)
Tulisan ini bukan untuk memaksa semua orang harus memilih kuliah agama. Tidak. Setiap orang memiliki jalan dan perannya masing-masing. Namun yang ingin diluruskan adalah cara berpikirnya.
Bahwa memilih jalan hidup tidak boleh dibangun di atas ketakutan terhadap rezeki. Karena rezeki tidak pernah bergantung pada pilihan itu. Ia bergantung pada Allah.
Jika seseorang memilih jalan umum, maka tempuhlah dengan niat yang benar dan keyakinan yang kuat kepada Allah. Jika memilih jalan ilmu agama, maka tempuhlah dengan ketenangan yang sama.
Karena pada akhirnya, yang menentukan bukan jalannya, tapi kepada siapa ia bersandar. Dan orang yang benar-benar memahami ini, tidak akan memilih jalan hanya karena takut miskin. Ia akan memilih jalan yang paling mendekatkannya kepada Allah, lalu melangkah dengan tenang…
…karena ia tahu, rezekinya tidak pernah salah alamat.
Jika tulisan ini dirasa bermanfaat, silakan bagikan kepada yang lain. Bisa jadi, ada yang sedang berada di persimpangan yang sama, dan membutuhkan cara pandang yang lebih jernih.
Sumber : Saluran WhatsApp Madrasah Plus








