Ramadhan telah berlalu…
Tangisan di sepertiga malam mulai mereda,
Lisan yang dahulu basah dengan Al-Qur’an kini mulai mengering,
Masjid yang dahulu ramai, kini kembali lengang.
Lalu tersisa satu pertanyaan penting :
Apakah kita hanya menjadi hamba di saat Ramadhan… atau benar-benar hamba Allah?
Banyak orang kuat dalam sesaat,
Namun lemah dalam keberlanjutan.
Padahal dalam Islam,
yang dinilai bukan sekadar besarnya amalan,
tetapi keteguhan dalam menjaganya.
Rasulullah ﷺ bersabda :
“أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ”
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling terus-menerus, walaupun sedikit.”
(HR. al-Bukhari no. 6464, Muslim no. 783)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:
“أَعْظَمُ الْكَرَامَةِ لُزُومُ الِاسْتِقَامَةِ”
“Karomah yang paling agung adalah berpegang teguh pada istiqomah.”
(Majmu’ al-Fatawa, 11/298)
Saudaraku…
Karomah mungkin mengagumkan, namun jarang terjadi.
Istiqomah tampak sederhana, namun terus hidup dalam keseharian.
Karomah bisa membuat manusia takjub,
Namun istiqomah mendatangkan cinta Allah.
Karomah bisa jadi tanda kemuliaan,
Namun istiqomah adalah tanda penjagaan Allah kepada hamba-Nya.
Maka setelah Ramadhan :
Tetaplah menjaga shalat, walau tidak seramai sebelumnya.
Tetaplah membaca Al-Qur’an, walau tidak sebanyak dahulu.
Tetaplah menjaga hati, walau godaan kembali datang.
Jangan mengejar amalan yang meledak sesaat,
Namun hilang tanpa bekas.
Kejarlah amalan yang terus hidup,
Walau kecil, namun tidak terputus.
Ya Allah…
Jangan Engkau jadikan kami hamba musiman.
Teguhkan langkah kami di atas ketaatan,
Dan wafatkan kami dalam keadaan istiqomah.
Amin.
Penulis : Ustadz Agus Dwiyanto Nugroho, Lc.,M.P.I







