KEJERNIHAN ILMU DAN KESEDERHANAAN BICARA
by. Madrasah Plus
Imam Malik rahimahullah berkata:
“Jika jawaban sudah tepat, maka sedikitkanlah bicara. Dan jika bicara terlalu banyak, hampir pasti di dalamnya ada kesalahan.”
Beliau juga membenci sikap tergesa-gesa dalam ilmu dan banyaknya ocehan.
Pernyataan ini diriwayatkan dalam Al-Jāmi‘ fī as-Sunan wa al-Ādāb wa al-Maghāzī.
Nasihat ini bukan sedang mengkritik penjelasan yang panjang, tetapi sedang membongkar sesuatu yang lebih mendasar, yaitu sifat kebenaran itu sendiri. Kebenaran yang kokoh biasanya jernih, tenang, dan tidak berputar-putar. Ia tidak membutuhkan narasi yang berlapis-lapis agar tampak meyakinkan.
Dalam dunia pendidikan, kita sering menjumpai fenomena sebaliknya. Ada penjelasan yang panjang dan muter-muter, bukan untuk memperjelas, tetapi untuk menutup kekeliruan. Ketika substansi lemah, narasi diperbanyak. Ketika argumen rapuh, kata-kata diperpanjang agar terlihat benar, menguasai ilmu, atau lebih unggul dari yang lain.
Imam Malik rahimahullah sedang mengingatkan adab ilmiah yang sangat penting. Orang yang berada di atas kebenaran tidak sibuk membangun citra keilmuan. Ia tidak merasa perlu membela diri dengan banyak kata. Jika satu kalimat sudah cukup menjelaskan, maka itulah yang disampaikan. Tidak ada dorongan untuk mengesankan, apalagi mengaburkan.
Bagi dunia pendidikan, pesan ini sangat relevan. Guru dan pendidik tidak diukur dari seberapa fasih ia berbicara, tetapi dari sejauh mana ia jujur terhadap ilmu. Pendidikan akan kehilangan ruhnya ketika ruang belajar berubah menjadi panggung retorika. Murid tidak membutuhkan kekaguman, mereka membutuhkan kejelasan.
Di era digital, godaan untuk menutupi kesalahan dengan narasi panjang semakin besar. Semua orang bisa berbicara, semua bisa terlihat pintar. Namun adab ilmu mengajarkan sebaliknya. Kejelasan lebih utama daripada kesan canggih. Ketepatan lebih berharga daripada banyaknya kata.
Nasihat Imam Malik rahimahullah ini mengingatkan kita bahwa kebenaran tidak berisik. Justru kesalahanlah yang sering membutuhkan banyak suara agar tetap tampak hidup.
Mari kita bercermin. Dalam mendidik, berdiskusi, dan berbagi ilmu, apakah kata-kata kita lahir dari kejernihan kebenaran, atau dari kebutuhan untuk menutupi kekurangan?







