Bayangkan seorang pandai besi membentuk sebilah pisau. Ia butuh api, betul. Tapi api itu dipakai untuk melunakkan logam agar bisa dibentuk, bukan untuk membakar sampai rapuh. Di sinilah saya menyoroti fenomena “tumbal” dalam mendidik: banyak orang keliru memakai “api” pendidikan. Seolah-olah harus ada yang tersakiti, dipermalukan, atau dibuat takut agar pendidikan dianggap serius. Padahal dalam manhaj ulama salaf, yang diminta dari pendidik bukan “tumbal”, melainkan tarbiyah yang beradab: membentuk dengan hikmah, menjaga martabat, dan menumbuhkan tanggung jawab, bukan membayar hasil dengan luka.
Ulama salaf berpijak pada kaidah besar syariat: tidak boleh ada mudarat dan saling memudaratkan (laa darara wa laa diraar). Kaidah ini bukan hanya untuk urusan muamalah, tapi juga menjadi rem moral dalam semua relasi. Artinya, jika sebuah metode “mendidik” justru menanam mudarat: rasa aman runtuh, harga diri remuk, anak belajar berbohong demi selamat, maka itu bukan biaya yang sah, itu penyimpangan metode. Pendidikan boleh menuntut pengorbanan, tapi bukan menghalalkan kerusakan jiwa.
Al-Qur’an mengunci arah ini dengan sangat jelas: dakwah dan pengajaran itu jalannya hikmah, nasihat yang baik, dan cara terbaik, bukan cara paling menusuk. Bahkan kepada Fir’aun yang melampaui batas pun, Allah memerintahkan Musa dan Harun untuk berkata dengan lembut, agar ada peluang sadar dan takut kepada Allah. Kalau kepada simbol kezaliman saja diperintah “lembut”, apalagi kepada mereka yang sedang bertumbuh, yang sebenarnya hanya butuh dituntun, bukan ditumbalkan.
Manhaj salaf juga sangat peka pada satu fakta psikologis yang Al-Qur’an sebutkan gamblang: keras dan kasar itu membuat orang berpencar. Allah menegaskan kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bahwa jika beliau keras dan berhati kasar, manusia akan meninggalkannya. Ini bukan sekadar kisah, ini rumus tarbiyah: kekerasan mungkin melahirkan diam, tapi diam tidak selalu berarti paham; takut mungkin melahirkan patuh, tapi patuh tidak selalu berarti tumbuh. Karena itu, Rasulullah pun mengajarkan prinsip “ritme” dalam mendidik, memilih waktu. dan ruang agar manusia tidak bosan dan lari dari kebaikan.
Lalu bagaimana dengan tegas dan disiplin? Salaf tidak menolak disiplin, mereka menolak melampaui batas. Disiplin dalam tarbiyah adalah islah (perbaikan), bukan balas dendam. Ia punya adab: tidak merendahkan, tidak mempermalukan. Bahkan Al-Qur’an melarang saling mengejek, mencela, dan memanggil dengan julukan buruk. Maka mempermalukan seseorang “biar kapok” itu bukan sekadar salah strategi; itu menabrak adab yang dijaga ulama salaf: pendidikan tidak boleh menumbuhkan ketaatan dengan menghancurkan kehormatan.
Di titik ini, ulama salaf akan menggeser pertanyaan: bukan “perlu tumbal atau tidak?”, tetapi “apa yang harus dikorbankan agar pendidikan bernilai?” Jawabannya: yang pertama kali dikorbankan adalah ego pendidik. Ego yang ingin cepat menang, ingin ditakuti, ingin dihormati instan. Karena Allah mencintai kelembutan dan memberikan pada kelembutan apa yang tidak diberikan pada kekerasan. Pengorbanan yang sehat itu berupa kesabaran, konsistensi, menahan lisan, mengulang penjelasan, menegakkan batas dengan adil, memberi konsekuensi yang mendidik, bukan melukai lalu menyebutnya “biaya”.
Jadi, menurut inspirasi salaf, “tumbal” bukan rukun pendidikan. Yang berharga dalam pendidikan bukan karena ada yang dikorbankan sampai berdarah, tapi karena ada yang dibentuk sampai beradab. Kembali ke pandai besi tadi: api memang ada, tapi api itu bernama hikmah, kelembutan, dan keadilan, dipakai secukupnya agar logam mudah dibentuk, lalu dipalu dengan aturan yang jelas, dan didinginkan dengan kasih sayang. Jika apinya berubah jadi amarah, palunya berubah jadi penghinaan, maka yang lahir bukan pisau yang tajam dan berguna, melainkan logam retak yang tampak patuh, tapi rapuh dari dalam.
Penulis: Kartiko Adi Purnomo







