Petunjuk Menuju Aqidah yang Benar dan Bantahan terhadap Ahli Syirik dan Ateisme

Rabu, 18 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petunjuk Menuju Aqidah yang Benar dan Bantahan terhadap Ahli Syirik dan Ateisme

الإِرْشَادُ إِلَى صَحِيحِ الِاعْتِقَادِ وَالرَّدُّ عَلَى أَهْلِ الشِّرْكِ وَالإِلْحَادِ

Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan

Terjemah:
Muhamad Abid Hadlori, S.Ag.,Lc.

 

PENDAHULUAN

 

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam; Dia menciptakan kita untuk beribadah kepada-Nya, dan memerintahkan kita untuk mengesakan-Nya dan menaati-Nya, dan Dia Maha Kaya dari kita sedangkan kita yang membutuhkan, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh” (Surat Adz-Dzariyat: 56-58), dan Dia mengutus rasul-rasul-Nya sebagai penyeru kepada tauhid dan keikhlasan agama, “Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah oleh kamu sekalian akan Aku'” (Surat Al-Anbiya: 25).

Dan aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya meskipun orang-orang musyrik benci, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya kepada seluruh manusia, semoga Allah memberikan shalawat kepadanya dan kepada keluarganya serta para sahabatnya yang berhijrah dan berjihad dan bersabar dan mereka yang memberi tempat tinggal dan menolong, dan memberikan salam yang banyak hingga hari pembalasan.

Amma ba’du:

Karena penjelasan aqidah yang benar dan dakwah kepadanya adalah perkara yang paling penting dan kewajiban yang paling ditekankan; karena ia adalah dasar yang menjadi landasan sahnya amal perbuatan dan penerimaannya; maka perhatian para rasul shallawatullahi wa salamuhu ‘alaihim dan perhatian para pengikut mereka adalah memperbaiki aqidah terlebih dahulu dari hal-hal yang bertentangan dengannya atau menguranginya, dan bagian dari surat-surat Al-Qur’an dan ayat-ayatnya mendapat bagian yang paling besar, dan bagiannya dari dakwah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perhatiannya mendapat bagian yang terbesar; karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di Makkah selama tiga belas tahun menyeru kepada tauhid dan perbaikan aqidah, dan ketika Allah memberikan kemenangan kepadanya atas Makkah; hal pertama yang beliau mulai adalah menghancurkan berhala-berhala dan memusnahkannya, dan memerintahkan mengikhlaskan ibadah kepada Allah semata tiada sekutu bagi-Nya.

Dan para ulama umat ini telah memberikan perhatian besar kepada bidang ini dari usaha mereka dan jihad mereka dan pengajaran mereka dan karya tulis mereka; hingga kitab-kitab aqidah menempati tempat yang besar dari perpustakaan Islam, dan menjadi yang utama di antara isinya.

Dan aku ingin berkontribusi dengan usahaku yang sedikit dalam amal mulia ini; maka aku menulis kata-kata ini yang aku persembahkan kepada pembaca, dan ini tidak membawa sesuatu yang baru, tetapi hanya mendekatkan beberapa informasi, dan mungkin di dalamnya ada keterkaitan dengan realitas manusia hari ini dan praktik-praktik mereka dengan informasi-informasi tersebut; agar menjadi jelas hukumnya, dan menjadi jelas kesalahan pemilik praktik-praktik tersebut semoga mereka kembali, dan nasihat bagi yang lain agar mereka berhati-hati.

Dan aku telah mengutip kata-kata ini dari kitab-kitab para imam agama dan ulama Muslim; seperti kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan muridnya Ibnul Qayyim, dan muridnya Al-Hafizh Ibnu Katsir, dan dari kitab-kitab Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, dan murid-muridnya para imam dakwah islah (khususnya kitab “Fathul Majid”).

Dan aku tidak mengklaim bahwa aku membawa sesuatu yang baru, tetapi aku berharap bahwa aku telah mendekatkan beberapa informasi, dan mengaitkannya dengan realitas manusia setiap kali ada kesempatan yang muncul dan situasi yang sesuai.

Dan asal kitab ini adalah halaqah-halaqah yang disiarkan dari Radio Al-Qur’an Al-Karim di Kerajaan Arab Saudi, dan tidak ada dalam niatku untuk mengeluarkannya dalam bentuk kitab seandainya bukan karena takdir Allah Subhanahu, kemudian beberapa saudara yang mulia menyarankan kepadaku untuk mengumpulkannya dan menata serta mengeluarkannya dalam bentuk kitab; agar manfaatnya tetap ada insya Allah, dan aku berharap bahwa di dalamnya ada kebaikan, dan semoga menjadi kontribusi – meskipun kecil – dalam bidang dakwah kepada Allah Subhanahu, di waktu yang tidak diketahui di dalamnya cara dakwah yang benar, dan banyak dai yang memperhatikan aspek-aspek kecil yang tidak mengenyangkan dan tidak menghilangkan lapar tanpa aqidah, dan mereka meninggalkan aspek aqidah, padahal mereka melihat manusia terlibat dalam syirik akbar di sekitar makam dan tempat ziarah, dan terlibat dalam bid’ah dan khurafat, dan mereka melihat para dai kesesatan telah menguasai banyak orang jahil dan awam, dan membawa mereka ke tempat-tempat kebinasaan dan kesesatan, dan menjadikan mereka sebagai budak bagi mereka yang mereka kendalikan akal dan harta mereka, dan memimpin mereka dengan kebatilan dan atas nama ilmu dan kewalian.

Sesungguhnya banyak dai hari ini dengan menyesal tidak memperhatikan aspek aqidah dan perbaikannya, bahkan mungkin sebagian dari mereka berkata: Biarkanlah manusia dengan aqidah mereka dan jangan kalian ganggu, kumpulkanlah dan jangan kalian cerai-beraikan… Mari kita berkumpul atas apa yang kita sepakati, dan hendaklah sebagian dari kita memaafkan sebagian yang lain dalam hal yang kita perselisihkan… atau semacam ungkapan-ungkapan ini yang bertentangan dengan firman Allah Ta’ala: “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (Surat An-Nisa: 59).

Sesungguhnya tidak ada persatuan dan tidak ada kekuatan; kecuali dengan kembali kepada Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, dan meninggalkan apa yang bertentangan dengan keduanya, terutama dalam masalah-masalah aqidah yang merupakan dasar, Allah Ta’ala berfirman: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” (Surat Ali Imran: 103), dan tidak akan baik akhir umat ini kecuali dengan apa yang memperbaiki awalnya, dan Allah-lah Yang memberi taufik dan petunjuk kepada jalan yang lurus.

Dan semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad dan keluarganya serta sahabatnya.

Aqidah Islam

Aqidah Islam adalah aqidah yang Allah utus dengan para rasul-Nya, dan menurunkan dengan kitab-kitab-Nya, dan mewajibkannya kepada seluruh makhluk-Nya dari jin dan manusia:

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan” (Surat Adz-Dzariyat: 56-57).

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia” (Surat Al-Isra: 23).

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu'” (Surat An-Nahl: 36).

Maka semua rasul datang dengan dakwah kepada aqidah ini, dan semua kitab Ilahi turun untuk menjelaskannya dan menjelaskan apa yang membatalkannya dan bertentangan dengannya atau menguranginya, dan semua mukallaf dari makhluk diperintahkan dengannya, dan sesungguhnya apa yang seperti ini kedudukannya dan kepentingannya layak mendapat perhatian dan penelitian dan mengenalnya sebelum segala sesuatu, khususnya karena aqidah ini tergantung padanya kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat:

Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang kafir kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus” (Surat Al-Baqarah: 256).

Dan makna dari itu: bahwa siapa yang terlepas tangannya dari aqidah ini; maka ia akan berpegang kepada khayalan dan kebatilan; maka apa yang ada setelah kebenaran kecuali kesesatan?!

“Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang bathil” (Surat Al-Hajj: 62), dan dengan demikian; maka nasibnya adalah ke neraka dan seburuk-buruk tempat kembali.

Dan aqidah maknanya: apa yang dibenarkan hamba dan dia beragama dengannya.

Jika aqidah ini sesuai dengan apa yang Allah utus dengan para rasul-Nya dan turunkan dengan kitab-kitab-Nya; maka ia adalah aqidah yang benar dan selamat, dan dengan aqidah ini diperoleh keselamatan dari azab Allah dan kebahagiaan di dunia dan akhirat, dan jika aqidah ini bertentangan dengan apa yang Allah utus dengan para rasul-Nya dan turunkan dengan kitab-kitab-Nya; maka ia adalah aqidah yang mewajibkan bagi pemiliknya azab dan kesengsaraan di dunia dan akhirat.

Dan aqidah yang selamat dan benar memelihara darah dan harta di dunia, dan mengharamkan penyerangan kepadanya dan pelanggaran keduanya tanpa hak; sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka berkata: Laa ilaaha illallah, jika mereka mengucapkannya; maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haknya”, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang berkata: Laa ilaaha illallah, dan kafir kepada apa yang disembah selain Allah; maka haram harta dan darahnya, dan perhitungannya kepada Allah Azza wa Jalla” (HR. Muslim).

Dan ia juga – menyelamatkan dari azab hari kiamat; Muslim meriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa bertemu Allah tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu; masuk surga, dan barangsiapa bertemu-Nya menyekutukan-Nya dengan sesuatu; masuk neraka”, dan dalam Shahihain dari hadits Itban bin Malik radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang berkata: Laa ilaaha illallah; dengan mengharapkan wajah Allah”.

Dan aqidah yang benar dan selamat Allah ampuni dengannya dosa-dosa; At-Tirmidzi meriwayatkan dan menghasankannya dari Anas radhiyallahu ‘anhu: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam! Seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sebesar bumi, kemudian engkau bertemu-Ku tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu; niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan sebesar itu”. Dan (qaraba al-ardh): penuhnya atau apa yang mendekati penuhnya. Maka Dia mensyaratkan dalam memperoleh ampunan ini keselamatan aqidah dari syirik; banyak dan sedikitnya, kecil dan besarnya, dan barangsiapa yang demikian; maka dia adalah pemilik hati yang selamat, Allah berfirman tentangnya: “Di hari harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (Surat Asy-Syu’ara: 88-89).

Al-Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata tentang makna hadits Itban: “Dan dimaafkan bagi ahli tauhid murni yang tidak mencampurnya dengan syirik apa yang tidak dimaafkan bagi yang tidak demikian, seandainya orang yang bertauhid yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu sama sekali bertemu Tuhannya dengan dosa sebesar bumi; Dia datang kepadanya dengan ampunan sebesar itu, dan ini tidak diperoleh bagi yang tauhidnya kurang; karena tauhid yang murni yang tidak dicampur dengan syirik tidak tersisa bersamanya dosa; karena ia mengandung kecintaan kepada Allah dan pengagungan-Nya dan penghormatan-Nya dan takut kepada-Nya dan berharap kepada-Nya semata yang mewajibkan mencuci dosa-dosa, seandainya sebesar bumi; maka kenajisan itu datang dan pendorong kepadanya kuat…” selesai.

Dan aqidah yang selamat diterima bersamanya amal perbuatan dan bermanfaat bagi pemiliknya; Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (Surat An-Nahl: 97).

Dan sebaliknya dari itu; maka aqidah yang rusak menggugurkan semua amal perbuatan; Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. ‘Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi'” (Surat Az-Zumar: 65), dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan jikalau mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan” (Surat Al-An’am: 88).

Dan aqidah yang rusak dengan syirik mengharamkan dari surga dan ampunan, dan mewajibkan azab dan kekal di neraka; Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (Surat An-Nisa: 48), dan Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun” (Surat Al-Maidah: 72).

Dan akidah yang rusak menumpahkan darah, dan menghalalkan harta yang dimiliki oleh pemilik akidah tersebut; Allah Ta’ala berfirman: “Dan perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah dan agama itu seluruhnya hanya untuk Allah” (Surat Al-Anfal, ayat 39), dan Allah Ta’ala berfirman: “Apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian” (Surat At-Taubah, ayat 5).

Oleh karena itu, akidah yang benar memiliki dampak yang baik dalam hati dan perilaku sosial serta sistem peradaban; ada dua kelompok yang masing-masing membangun masjid di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: kelompok yang membangun masjidnya dengan niat yang baik dan akidah yang murni untuk Allah ‘azza wa jalla, dan kelompok yang membangun masjidnya untuk tujuan yang buruk dan akidah yang rusak; maka Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk shalat di masjid yang dibangun atas dasar takwa, dan melarangnya shalat di masjid yang dibangun atas dasar kekufuran dan tujuan-tujuan yang buruk; Allah Ta’ala berfirman: “Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan, kekafiran dan perpecahan di antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta. Janganlah kamu shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih. Maka apakah orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan(-Nya) itu lebih baik, ataukah orang yang mendirikan bangunannya di atas tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim” (Surat At-Taubah, ayat 107-109).

Kewajiban Mengetahui Akidah Islam

Ketahuilah, semoga Allah memberikan taufik kepada saya dan kalian, bahwa setiap muslim wajib mempelajari akidah Islam agar mengetahui maknanya dan apa yang menjadi pondasinya, kemudian mengetahui apa yang bertentangan dengannya dan membatalkannya atau menguranginya dari syirik akbar dan syirik asghar.

Allah Ta’ala berfirman: “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang hak) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (Surat Muhammad, ayat 19).

Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata: (Bab Ilmu Sebelum Perkataan dan Perbuatan), dan beliau mengambil dalil dengan ayat yang mulia ini.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Ibnu Al-Munir berkata: Maksudnya adalah bahwa ilmu merupakan syarat dalam kebenaran perkataan dan perbuatan; maka keduanya tidak dianggap kecuali dengannya; karena itu ilmu mendahului keduanya; karena ia yang membenarkan niat yang membenarkan amal…” selesai.

Dari sinilah para ahli ilmu mengarahkan perhatian mereka untuk mempelajari hukum-hukum akidah dan mengajarkannya, dan mereka menganggap hal itu sebagai prioritas utama dalam ilmu-ilmu, dan mereka mengarang karya-karya khusus di dalamnya yang merinci hukum-hukumnya dan apa yang wajib di dalamnya, serta menjelaskan apa yang merusaknya atau membatalkannya dari kesyirikan, khurafat, dan bid’ah.

Dan inilah makna “Laa ilaaha illa Allah”; ia bukan sekadar kalimat yang diucapkan dengan lisan, tetapi memiliki pengertian dan makna serta konsekuensi, yang wajib diketahui semuanya, dan diamalkan secara lahir dan batin, dan memiliki pembatal dan pengurang, dan hal itu tidak akan jelas kecuali dengan belajar, oleh karena itu wajib ilmu akidah mendapat prioritas utama di antara mata pelajaran di berbagai jenjang, dan diberi jam pelajaran harian yang cukup, dan dipilih guru-guru yang kompeten untuknya, dan difokuskan dalam kelulusan dan kegagalan; berbeda dengan kenyataan kebanyakan studi metodis hari ini; karena ilmu akidah pada umumnya tidak mendapat perhatian dalam studi-studi tersebut, dan yang dikhawatirkan dari hal itu adalah tumbuhnya generasi yang tidak mengetahui akidah yang benar, sehingga mereka menganggap baik kesyirikan, bid’ah, dan khurafat, dan menganggapnya sebagai bagian dari akidah; karena mereka mendapati manusia melakukannya, dan tidak mengetahui kebatilannya.

Dari sinilah Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Hampir saja ikitan-ikatan Islam akan terputus satu persatu jika tumbuh dalam Islam orang yang tidak mengetahui jahiliyah.”

Demikian pula, wajib memilih buku-buku yang benar dan sehat, yang ditulis berdasarkan mazhab salaf saleh dan ahlu sunnah wal jama’ah, dan sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah; sehingga ditetapkan untuk para pelajar, dan menjauhkan buku-buku yang menyalahi manhaj salaf; seperti buku-buku Asy’ariyah, Mu’tazilah, Jahmiyah, dan seluruh kelompok yang sesat dari manhaj salaf.

Di samping studi formal, harus ada pelajaran yang diadakan di masjid-masjid, yang mengajarkan akidah salafiyyah sebagai prioritas utama, dan dibacakan di dalamnya matan dan syarah; agar para pelajar dan semua yang hadir dapat mengambil manfaat, dan ada ringkasan-ringkasan sederhana yang disampaikan untuk umum, sehingga akidah Islam tersebar, di samping apa yang disiarkan dalam program-program keagamaan melalui radio, dan ada program berkelanjutan yang menyiarkan hukum-hukum akidah Islam.

Kemudian harus ada perhatian khusus terhadap akidah dari sisi individu; sehingga muslim memiliki bacaan dalam buku-buku akidah, dan mengenal apa yang ditulis di dalamnya berdasarkan manhaj salaf, dan apa yang ditulis berdasarkan manhaj yang menyalahi mereka, sehingga muslim berada dalam kejelasan dari urusannya, dan sehingga dapat menolak syubhat-syubhat yang diarahkan kepada akidah ahlu sunnah.

Wahai muslim, ketika kamu merenungkan Al-Quran Al-Karim, kamu akan menemukan di dalamnya banyak ayat dan surat yang memperhatikan urusan akidah, bahkan surat-surat Makkiyyah hampir khusus untuk menjelaskan akidah Islam dan menolak syubhat-syubhat yang diarahkan kepadanya.

Ambillah contoh Surat Al-Fatihah:

Imam Al-‘Allamah Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Ketahuilah bahwa surat ini mencakup pokok-pokok tuntutan yang tinggi dengan sempurna, dan mengandungnya dengan sempurna; surat ini mencakup pengenalan terhadap Yang Disembah tabaaraka wa ta’aala dengan tiga nama, yang menjadi rujukan Asmaul Husna dan Sifat-sifat ‘Ulya kepadanya, dan pusatnya padanya, yaitu: (Allah), (Ar-Rabb), dan (Ar-Rahman), dan surat ini dibangun atas uluhiyyah, rububiyyah, dan rahmat: maka “iyyaaka na’budu” dibangun atas uluhiyyah, dan “wa iyyaaka nasta’iin” atas rububiyyah, dan permintaan petunjuk kepada shirath al-mustaqim berkaitan dengan sifat rahmat, dan hamd mengandung tiga perkara; maka Dia yang dipuji dalam uluhiyyah, rububiyyah, dan rahmat-Nya, dan pujian dan hamd adalah kesempurnaan kemuliaan-Nya, dan mengandung penetapan hari kiamat, dan balasan hamba-hamba dengan amal-amal mereka baik dan buruk, dan kekhususan Rabb ta’aala dengan hukum, ketika itu antara makhluk-makhluk, dan hukum-Nya dengan keadilan, semua ini di bawah firman-Nya: “maaliki yaumi al-diin”, dan mengandung penetapan kenabian dari berbagai sisi…” kemudian beliau menjelaskannya rahimahullah dengan kalam yang panjang dan bermanfaat.

Hingga beliau berkata: “Maka seluruh Al-Quran adalah tentang tauhid dan hak-haknya serta balasannya, dan tentang urusan syirik dan para pelakunya serta balasan mereka; maka “alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin” adalah tauhid, “ar-rahmaani ar-rahiim” adalah tauhid, “ihdinash shiraath al-mustaqiim shiraath alladziina an’amta ‘alaihim” adalah tauhid yang mengandung permintaan petunjuk kepada jalan ahli tauhid, “ghairi al-maghdhuubi ‘alaihim wa laa adh-dhaalliina” yaitu orang-orang yang menyalahi tauhid.”

Dan beliau berkata: “Dan kebanyakan surat-surat Al-Quran mengandung dua jenis tauhid; karena Al-Quran itu baik berupa kabar tentang Allah dan nama-nama serta sifat-sifat-Nya, dan itulah tauhid ilmi khabari, atau berupa seruan untuk menyembah-Nya dan mengesakan-Nya saja tanpa sekutu bagi-Nya, dan melepaskan apa yang disembah selain-Nya; maka itulah tauhid iradi thalabi, atau berupa perintah dan larangan dan kewajiban untuk menaati-Nya; maka itu dari hak-hak tauhid dan penyempurnanya, atau berupa kabar tentang penghormatan-Nya kepada ahli tauhid-Nya dan apa yang dilakukan-Nya kepada mereka di dunia dan apa yang akan menghormati mereka dengannya di akhirat, dan itulah balasan tauhid, atau berupa kabar tentang ahli syirik dan apa yang dilakukan-Nya kepada mereka di dunia berupa siksaan dan apa yang dilakukan-Nya kepada mereka di akhirat berupa azab; maka itulah balasan orang yang keluar dari hukum tauhid…” selesai.

Dan dengan perhatian Al-Quran terhadap urusan akidah Islam, maka kebanyakan orang yang membacanya tidak memahami akidah dengan pemahaman yang benar, sehingga mereka mencampur dan salah di dalamnya; karena mereka mengikuti apa yang mereka dapati dari bapak-bapak mereka, dan tidak membaca Al-Quran dengan tadabbur; maka tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.

Dakwah kepada Akidah Islam

Wajib bagi muslim setelah Allah menganugerahkan kepadanya pengetahuan tentang akidah ini dan berpegang teguh dengannya untuk mengajak manusia kepadanya untuk mengeluarkan mereka dengannya dari kegelapan menuju cahaya; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindung mereka ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya” (Surat Al-Baqarah, ayat 256-257).

Dan dakwah kepada akidah Islam adalah pembuka dakwah semua rasul; mereka tidak memulai dengan sesuatu sebelumnya; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang mereka: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”” (Surat An-Nahl, ayat 36).

Dan setiap rasul berkata kepada kaumnya yang pertama ketika mengajak mereka: “Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya” (Surat Hud, ayat 50) sebagaimana dikatakan oleh Nuh, Hud, Saleh, Syu’aib, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad, dan seluruh rasul ‘alaihimus shalawatu wassalamu ajma’in.

Maka wajib bagi orang yang mengetahui akidah ini dan mengamalkannya untuk tidak terbatas pada dirinya sendiri, tetapi mengajak manusia kepadanya dengan hikmah dan nasihat yang baik, sebagaimana jalan para rasul dan pengikut mereka.

Dan sesungguhnya dakwah kepada akidah ini adalah dasar dan titik tolak; maka tidak diajak kepada sesuatu sebelumnya dari mengerjakan kewajiban dan meninggalkan yang haram hingga akidah ini tegak dan terwujud; karena itulah dasar yang membenarkan semua amal, dan tanpanya amal tidak sah dan tidak diterima serta tidak diberi pahala atasnya.

Dan sudah diketahui secara pasti bahwa bangunan apa pun tidak akan tegak dan lurus kecuali setelah menegakkan dasarnya, oleh karena itu para rasul memperhatikannya sebelum segala sesuatu, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus para da’i mewasiatkan mereka untuk memulai dengan dakwah untuk memperbaiki akidah; dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus Mu’adz ke Yaman berkata kepadanya: “Sesungguhnya kamu akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka hendaklah yang pertama kamu ajak mereka kepadanya adalah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah” dan dalam riwayat: untuk mengesakan Allah, jika mereka menaatimu untuk itu, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka lima shalat dalam sehari semalam, jika mereka menaatimu untuk itu, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka sedekah yang diambil dari orang-orang kaya mereka lalu dikembalikan kepada orang-orang fakir mereka, jika mereka menaatimu untuk itu, maka jauhilah harta-harta pilihan mereka, dan takutlah doa orang yang terzalimi; karena sesungguhnya tidak ada hijab antara doa itu dengan Allah” diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Dari hadits syarif ini, dan dari penelitian dakwah para rasul dalam Al-Quran, dan dari penelitian sirah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, diambil cara dakwah kepada Allah, dan bahwa yang pertama diajak manusia kepadanya adalah akidah, yang terwujud dengan menyembah Allah saja tanpa sekutu bagi-Nya, dan meninggalkan penyembahan selain-Nya; sebagaimana makna “Laa ilaaha illa Allah”.

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di Makkah tiga belas tahun setelah diutus, mengajak manusia untuk memperbaiki akidah dengan menyembah Allah saja, dan meninggalkan penyembahan berhala, sebelum memerintahkan shalat, zakat, puasa, haji, jihad, dan meninggalkan yang haram seperti riba, zina, khamr, dan judi.

Dan ini menunjukkan kepada kita petunjuk yang jelas tentang kesalahan sebagian kelompok kontemporer yang mengaku dakwah, padahal mereka tidak memperhatikan akidah, tetapi fokus pada urusan sampingan akhlak dan perilaku, dan mereka melihat banyak orang melakukan syirik akbar di sekitar makam-makam yang dibangun di atas kuburan di sebagian negeri Islam, namun tidak mengingkari hal itu, dan tidak melarangnya; tidak dalam kata-kata, tidak dalam ceramah, tidak dalam karya tulis; kecuali sedikit, bahkan mungkin di antara barisan kelompok-kelompok tersebut ada yang melakukan syirik dan tasawuf yang menyimpang namun mereka tidak melarangnya dan tidak mengingatkannya, padahal memulai dengan mengajak mereka dan memperbaiki akidah mereka lebih utama daripada mengajak para atheis dan kafir yang terang-terangan dengan kekufuran mereka; karena para atheis dan kafir terang-terangan dengan kekufuran mereka, dan mengakui bahwa apa yang mereka lakukan bertentangan dengan apa yang dibawa para rasul, adapun para kuburis dan mutasawwifah yang menyimpang itu, mereka mengira bahwa mereka muslim, dan bahwa apa yang mereka lakukan adalah Islam, sehingga mereka tertipu dan menipu orang lain.

Dan Allah jalla wa ‘alaa memerintahkan kita untuk memulai dengan orang-orang kafir yang terdekat, dan Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertakwa” (Surat At-Taubah, ayat 123), maka selama barisan kaum muslimin tidak bersih dari yang menyusup; maka mereka tidak akan mampu bertahan menghadapi musuh mereka.

Dan diceritakan bahwa seorang pengikut kuburan melihat seorang laki-laki menyembah patung di hadapannya, maka pengikut kuburan itu mengingkari perbuatannya. Lalu penyembah patung berkata kepadanya: “Kamu menyembah makhluk yang tidak ada di hadapanmu, sedangkan aku menyembah makhluk yang ada di hadapanku; manakah di antara kita yang lebih mengherankan?” Maka pengikut kuburan itu pun terdiam.

Walaupun demikian, keduanya adalah musyrik yang sesat karena mereka menyembah sesuatu yang tidak memiliki kemampuan untuk memberi mudarat maupun manfaat; namun pengikut kuburan lebih tenggelam dalam kesesatan dan lebih jauh dalam mencari yang mustahil.

Maka wajib bagi para da’i kepada Allah untuk lebih memusatkan perhatian pada aspek akidah dibanding yang lainnya, dan mengutamakan mempelajari serta memahaminya terlebih dahulu, kemudian mengajarkannya kepada orang lain, dan menyeru kepada akidah tersebut orang-orang yang menyimpang darinya atau melalaikannya. Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya: “Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, dan Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.'” (Surat Yusuf, ayat 108).

Imam Ibnu Jarir rahimahullah berkata dalam tafsir ayat mulia ini: “Allah Ta’ala berkata kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Katakanlah’ wahai Muhammad. ‘Inilah’ dakwah yang aku serukan dan jalan yang aku tempuh dalam menyeru kepada tauhid Allah, dan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya tanpa menyekutukan dengan tuhan-tuhan dan berhala-berhala, serta taat kepada-Nya dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya. ‘jalan (agama)ku’ yaitu jalanku dan dakwahku ‘aku mengajak kepada Allah’ Ta’ala semata yang tiada sekutu bagi-Nya. ‘dengan hujjah yang nyata’ yaitu dengan pengetahuan yang yakin dariku. ‘aku dan orang-orang yang mengikutiku’ maksudnya: dan menyeru kepada-Nya dengan hujjah yang nyata pula orang-orang yang mengikutiku, membenarkanku dan beriman kepadaku. ‘dan Maha Suci Allah’ Allah Ta’ala berkata kepadanya: dan katakanlah penyucian bagi Allah Ta’ala dan pengagungan kepada-Nya dari memiliki sekutu dalam kerajaan-Nya atau ada yang disembah selain-Nya dalam kekuasaan-Nya. ‘dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik’ maksudnya: “dan aku berlepas diri dari ahli syirik kepada-Nya, aku bukan dari mereka, dan mereka bukan dariku” berakhir ucapan Ibnu Jarir.

Maka ayat yang mulia ini menunjukkan pentingnya mengetahui akidah Islam dan menyeru kepadanya, dan bahwa pengikut Rasul adalah mereka yang meneladaninya dalam hal tersebut, dan memiliki dua sifat; ilmu tentang akidah dan dakwah kepadanya, dan bahwa barangsiapa yang tidak mempelajari hukum-hukum akidah dan tidak memperhatikannya serta tidak menyeru kepadanya; maka dia bukanlah pengikut Rasul yang sesungguhnya, walaupun dia adalah pengikutnya secara klaim dan pengakuan saja.

Dan Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata dalam makna firman Allah Ta’ala: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (Surat An-Nahl, ayat 125)

“Allah Subhanahu menyebutkan tingkatan-tingkatan dakwah, dan menjadikannya tiga bagian sesuai dengan keadaan orang yang didakwahi: karena dia eitaher pencari kebenaran, yang mengutamakan kebenaran dari yang lainnya jika dia mengetahuinya; maka orang seperti ini didakwahi dengan hikmah, dan tidak memerlukan nasihat dan perdebatan. Atau dia sibuk dengan lawan kebenaran, tetapi jika dia mengetahui kebenaran; dia akan mengutamakannya dan mengikutinya; maka orang seperti ini memerlukan nasihat dengan targhib dan tarhib. Atau dia adalah orang yang suka melawan dan menentang; maka orang seperti ini didebat dengan cara yang terbaik, jika dia kembali (kepada kebenaran), jika tidak; beralih bersamanya kepada selain perdebatan jika memungkinkan…” berakhir ucapan Ibnu Qayyim.

Dan dengan ini terjelaskanlah manhaj dakwah dan apa yang sepatutnya di dalamnya, dan terjelaskanlah kesalahan apa yang ditempuh oleh sebagian kelompok yang mengaku berdakwah, padahal mereka menyelisihi manhaj yang benar yang telah dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya.

PENGANTAR

Ketahuilah wahai muslim, semoga Allah memberi taufik kepadaku dan kepadamu, bahwa pokok-pokok akidah Islam yang merupakan akidah golongan yang selamat Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah: iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan iman kepada qada dan qadar baik dan buruknya.

Dan pokok-pokok ini telah ditunjukkan oleh banyak nash dari Al-Quran dan As-Sunnah, dan telah disepakati oleh umat:

Allah Ta’ala berfirman: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi.” (Surat Al-Baqarah, ayat 177)

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Surat Al-Qamar, ayat 49).

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya.” (Surat Al-Baqarah, ayat 285).

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (Surat An-Nisa, ayat 136).

Dan dalam hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; bahwa beliau bersabda: “Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada qadar baik dan buruknya”.

Dan pokok-pokok agung ini (disebut rukun iman) telah disepakati oleh para rasul dan syariat-syariat, dan diturunkan oleh kitab-kitab samawi, dan tidak ada yang mengingkarinya atau sebagiannya kecuali orang yang keluar dari lingkaran iman dan menjadi kafir; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)”, serta bermaksud mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian itu, mereka itulah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan antara seorangpun dari mereka, mereka itu kelak akan Allah berikan pahala mereka. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surat An-Nisa, ayat 150-152).

Dan pokok-pokok agung dan rukun-rukun lurus ini memerlukan penjelasan dan keterangan, dan itulah yang akan kami coba sampaikan insya Allah apa yang kami mampu darinya dalam kitab ini.

 

 

ASAS PERTAMA: IMAN KEPADA ALLAH AZZA WA JALLA

Pendahuluan

Pokok Pertama: Iman kepada Allah Azza wa Jalla

Dan ini adalah dasar akidah dan pokoknya, dan maknanya adalah keyakinan yang pasti bahwa Allah adalah Rabb segala sesuatu dan yang menguasainya, dan bahwa Dia adalah pencipta satu-satunya, pengatur seluruh alam semesta, dan bahwa Dia-lah yang berhak disembah satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa setiap yang disembah selain-Nya adalah batil dan penyembahannya adalah batil, Allah Ta’ala berfirman: “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq, dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Surat Al-Hajj, ayat 62), dan bahwa Dia Subhanahu memiliki sifat-sifat kesempurnaan dan sifat-sifat keagungan, suci dari segala kekurangan dan cacat, dan inilah tauhid dengan tiga macamnya: tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah, dan tauhid asma wa sifat.

Pertama: Tauhid Rububiyyah

Adapun tauhid rububiyyah; maka itu adalah pengakuan bahwa Allah semata yang menciptakan alam, dan Dia adalah pengatur, yang menghidupkan, yang mematikan, dan Dia adalah pemberi rezeki, yang memiliki kekuatan, lagi kokoh.

Dan pengakuan terhadap jenis tauhid ini tertanam dalam fitrah, hampir tidak ada seorang pun dari umat-umat yang membantahnya; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka?” tentulah mereka menjawab: “Allah”.” (Surat Az-Zukhruf, ayat 87), dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” tentulah mereka menjawab: “Yang menciptakannya ialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”.” (Surat Az-Zukhruf, ayat 9), dan Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit yang tujuh dan Tuhan ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”.” (Surat Al-Mu’minun, ayat 86-87)… dan ini banyak dalam Al-Quran, Allah menyebutkan tentang orang-orang musyrik bahwa mereka mengakui rububiyyah Allah dan kesendirian-Nya dalam penciptaan, pemberian rezeki, menghidupkan dan mematikan.

Dan tidak ada yang mengingkari tauhid rububiyyah dan mengingkari Rabb kecuali sebagian kecil dari komunitas manusia, yang menampakkan pengingkaran terhadap Rabb, padahal mereka mengakui-Nya dalam batin jiwa mereka dan lubuk hati mereka, dan pengingkaran mereka terhadap-Nya hanyalah dari sisi keras kepala; sebagaimana Allah sebutkan tentang Fir’aun bahwa dia berkata: “Aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.” (Surat Al-Qashash, ayat 38), dan Musa ‘alaihis salam telah berbicara kepadanya dengan ucapannya: “Musa berkata: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tidak ada yang menurunkan (mukjizat-mukjizat) ini kecuali Tuhan langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata”.” (Surat Al-Isra, ayat 102), dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan mereka, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.” (Surat An-Naml, ayat 14).

Dan mereka tidak mendasarkan pengingkaran mereka pada hujjah, melainkan itu adalah keras kepala dari mereka; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (Surat Al-Jatsiyah, ayat 24), maka mereka tidak mengingkari berdasarkan ilmu yang menunjukkan mereka pada pengingkaran itu, tidak berdasarkan pendengaran, akal, maupun fitrah.

Dan karena alam semesta ini dan apa yang terjadi di dalamnya dari peristiwa-peristiwa menjadi saksi atas keesaan Allah dan rububiyyah-Nya; karena makhluk pasti memerlukan pencipta, dan peristiwa-peristiwa pasti memerlukan yang mengadakan; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?” (Surat Ath-Thur, ayat 35-36).

Dan penyair berkata: Dan pada setiap sesuatu bagi-Nya tanda… yang menunjukkan bahwa Dia Esa

Karena pasti ada jawaban atas kebenaran ini; maka bergoyanglah orang-orang yang mengingkari keberadaan Sang Pencipta dalam jawaban-jawaban mereka: terkadang mereka berkata: alam ini ada sebagai akibat dari alam yang merupakan ungkapan dari zat benda-benda dari tumbuhan, hewan dan benda mati; maka makhluk-makhluk ini menurut mereka adalah alam, dan dialah yang mengadakan dirinya sendiri.

Atau mereka berkata: alam adalah ungkapan dari sifat-sifat benda dan karakteristiknya dari panas dan dingin, basah dan kering, kasar, dan kemampuan-kemampuan ini dari gerak dan diam, tumbuh dan kawin dan berkembang biak, sifat-sifat ini dan kemampuan-kemampuan ini adalah alam menurut mereka, dan dialah yang mengadakan benda-benda.

Dan ini adalah ucapan yang batil dengan kedua pertimbangan tersebut; karena alam dengan pertimbangan pertama – menurut ucapan mereka – menjadi pencipta dan diciptakan; maka bumi menciptakan bumi, dan langit menciptakan langit… dan begitu seterusnya, dan ini mustahil, dan jika pengeluaran penciptaan dari alam dengan pertimbangan ini mustahil; maka kemustahilannya dengan pertimbangan kedua lebih mustahil lagi; karena jika zat sesuatu tidak mampu menciptakannya; maka ketidakmampuan sifatnya lebih utama lagi; karena keberadaan sifat terikat dengan yang memiliki sifat yang menjadi tempatnya; maka bagaimana dia menciptakannya sedangkan dia membutuhkannya?! Dan jika terbukti dengan bukti terjadinya yang memiliki sifat; maka wajib terjadi sifat, dan juga, alam tidak memiliki kesadaran; maka dia adalah alat murni; maka bagaimana bisa keluar darinya perbuatan-perbuatan besar yang sangat indah dan sempurna, dan dalam puncak hikmah, dan dalam puncak keterkaitan?!

Dan di antara orang-orang ateis ini ada yang berkata: bahwa makhluk-makhluk ini muncul melalui kebetulan; maksudnya bahwa berkumpulnya atom-atom dan partikel-partikel melalui kebetulan menghasilkan munculnya kehidupan tanpa pengaturan dari pencipta pengatur dan tanpa hikmah.

Dan ini adalah ucapan yang batil, yang ditolak oleh akal dan fitrah; karena jika kamu melihat alam semesta yang teratur ini dengan planet-planetnya, bumi dan langitnya serta perjalanan makhluk-makhluk di dalamnya dengan ketelitian dan keteraturan yang mengagumkan ini; maka jelas bagimu bahwa ia tidak mungkin keluar kecuali dari pencipta yang bijaksana.

Berkata Ibnu Qayyim: “Maka tanyakanlah kepada orang yang menolak dan mengingkari: Apa pendapatmu tentang sebuah kincir air yang berputar di atas sungai, yang telah disusun mesin-mesinnya dengan sempurna, dipasang dengan rapi, dan dirancang peralatannya dengan sebaik-baik perancangan dan yang paling sempurna; sehingga orang yang melihatnya tidak mendapati cacat pada bahan maupun bentuknya. Kincir itu dipasang pada sebuah kebun yang besar, di dalamnya terdapat segala macam buah-buahan dan tanaman, yang disiram sesuai kebutuhannya. Di kebun tersebut ada orang yang menata kekacauannya dan merawatnya dengan baik serta memeliharanya dan mengurus semua kepentingannya; sehingga tidak ada yang rusak darinya. Dia membagi hasil kebun itu ketika panen dengan cara yang terbaik sesuai dengan kebutuhan dan keperluan mereka, membagi untuk setiap golongan di antara mereka apa yang sesuai bagi mereka, dan membaginya demikian secara terus-menerus. Apakah menurutmu ini terjadi secara kebetulan tanpa ada pembuat, pemilih, atau pengatur? Bahkan terjadilah kincir dan kebun itu dan semua itu secara kebetulan tanpa ada yang berbuat, penjaga, atau pengatur?! Apa yang akan dikatakan akalmu tentang hal itu seandainya begitu?! Dan apa yang akan difatwakan akal itu kepadamu?! Dan apa yang akan ditunjukkannya kepadamu?! Akan tetapi dari hikmah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana bahwa Dia menciptakan hati-hati yang buta tidak memiliki mata batin; maka mereka tidak melihat ayat-ayat yang jelas ini kecuali seperti penglihatan binatang-binatang yang bodoh, sebagaimana Dia menciptakan mata-mata yang tidak memiliki penglihatan.” Berakhirlah perkataannya, semoga Allah merahmatimya.

Kedua: Tauhid Uluhiyyah

Pengantar

Kedua: Tauhid Uluhiyyah.

Tauhid Uluhiyyah adalah: mengesakan Allah Ta’ala dalam semua jenis ibadah; maka (Al-Uluhiyyah) artinya adalah ibadah, dan (Al-Ilah) artinya adalah yang disembah. Oleh karena itu, jenis tauhid ini disebut dengan (Tauhid Al-Ibadah).

Dan (Al-Ibadah) dalam bahasa adalah: kehinaan; dikatakan: jalan yang dilewati (thariq mu’abbad): jika jalan itu telah direndahkan dan telah diinjak oleh kaki-kaki.

Adapun makna ibadah secara syariat: para ulama berbeda ungkapan dalam hal itu meskipun mereka sepakat dalam maknanya: sekelompok dari mereka mendefinisikannya dengan “apa yang diperintahkan syariat tanpa ada kebiasaan yang berlaku dan tanpa ada tuntutan akal.” Sebagian lain mendefinisikannya dengan “kesempurnaan cinta dengan kesempurnaan kepatuhan.” Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mendefinisikannya “dengan bahwa ia adalah nama yang mencakup segala yang dicintai Allah dan diridhai-Nya dari perkataan dan perbuatan yang batin dan zahir.” Dan definisi ini lebih tepat dan menyeluruh; maka seluruh agama masuk dalam ibadah. Dan barang siapa mendefinisikannya dengan cinta disertai kepatuhan; maka karena cinta yang sempurna dengan kehinaan yang sempurna mengandung ketaatan kepada yang dicintai dan tunduk kepadanya; maka hamba adalah orang yang direndahkan oleh cinta dan kepatuhan kepada yang dicintainya; maka sesuai dengan cinta hamba kepada Rabbnya dan kehatihatiannya kepada-Nya akan ketaatannya; maka cinta hamba kepada Rabbnya dan kehatihatiannya kepada-Nya mengandung ibadahnya kepada-Nya saja tanpa sekutu bagi-Nya.

Maka ibadah yang diperintahkan mengandung makna kehinaan dan makna cinta, dan ia mengandung tiga rukun yaitu: cinta, raja (harapan), dan takut. Dan ketiganya harus berkumpul. Barang siapa yang hanya terpaut pada salah satunya saja; maka dia belum beribadah kepada Allah dengan ibadah yang sempurna; maka beribadah kepada Allah dengan cinta saja adalah jalan kaum sufi, dan beribadah kepada-Nya dengan raja saja adalah jalan kaum Murji’ah, dan beribadah kepada-Nya dengan takut saja adalah jalan kaum Khawarij. Dan cinta yang terpisah dari kepatuhan tidak menjadi ibadah. Barang siapa mencintai sesuatu dan tidak tunduk kepadanya; maka dia tidak beribadah; sebagaimana manusia mencintai anaknya dan temannya. Sebagaimana kepatuhan yang terpisah dari cinta tidak menjadi ibadah; seperti orang yang tunduk kepada penguasa atau orang zalim untuk menghindari kejahatannya. Oleh karena itu, salah satunya tidak mencukupi yang lain dalam beribadah kepada Allah Ta’ala, bahkan wajib Allah menjadi lebih dicintai hamba daripada segala sesuatu, dan Allah harus lebih agung bagi hamba daripada segala sesuatu.

Dan ibadah adalah tujuan yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, dan ia adalah yang untuk itu makhluk diciptakan; sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (Surat Adz-Dzariyat, ayat: 56). Dan untuk itulah semua rasul diutus; sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan sungguh Kami telah mengutus pada tiap-tiap umat seorang rasul (yang menyerukan): Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut” (Surat An-Nahl, ayat: 36).

Dan ibadah memiliki jenis-jenis yang banyak: maka shalat, zakat, puasa, haji, jujur dalam berbicara, menunaikan amanah, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi, menepati janji, amar ma’ruf, nahi munkar, jihad kepada orang-orang kafir dan munafik, berbuat baik kepada binatang dan anak-anak yatim dan orang-orang miskin dan ibnu sabil dan hamba sahaya dari manusia dan binatang, do’a, dzikir, membaca… semua itu dari ibadah. Demikian juga cinta kepada Allah, dan cinta kepada Rasul-Nya, dan takut kepada Allah, bertaubat kepada-Nya… semua itu dari ibadah. Demikian juga menyembelih, bernazar, meminta pertolongan, meminta tolong…

Maka wajib menyerahkan ibadah dengan semua jenisnya kepada Allah saja tanpa sekutu bagi-Nya. Barang siapa menyerahkan sesuatu darinya kepada selain Allah; seperti orang yang berdoa kepada selain Allah, atau menyembelih atau bernazar untuk selain Allah, atau meminta pertolongan atau meminta tolong kepada orang mati atau orang yang ghaib atau kepada orang hidup yang hadir dalam hal yang tidak mampu dikerjakan kecuali oleh Allah; maka dia telah berbuat syirik besar, dan berbuat dosa yang tidak diampuni kecuali dengan taubat, baik dia menyerahkan jenis ibadah ini kepada berhala atau kepada pohon atau kepada batu atau kepada nabi dari para nabi atau kepada wali dari para wali yang hidup atau mati; sebagaimana yang dilakukan hari ini di makam-makam yang dibangun di atas kuburan; maka sesungguhnya Allah tidak ridha bahwa ada yang disekutukan dengan-Nya dalam ibadah kepada-Nya siapa pun; tidak malaikat yang muqarrab, tidak nabi yang diutus, tidak wali dan tidak yang lainnya; Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dengan-Nya” (Surat An-Nisa, ayat: 48), dan Allah Ta’ala berfirman: “Maka janganlah kamu seru (sembah) siapa pun selain Allah” (Surat Al-Jin, ayat: 18), dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya” (Surat An-Nisa, ayat: 36).

Dan dengan sangat menyesal; maka telah dijadikan kuburan-kuburan hari ini di sebagian negeri sebagai berhala-berhala yang disembah selain Allah oleh orang-orang yang mengaku Islam. Dan mungkin salah seorang dari mereka berdoa kepada selain Allah di mana saja, meskipun dia tidak berada di kuburan; seperti orang yang berkata: “Ya Rasulallah!” ketika dia bangun atau terkejut dengan sesuatu yang aneh, atau dia berkata: “Al-madad ya Rasulallah (atau: ya fulan)!” Dan apabila mereka dilarang dari hal itu; mereka berkata: Kami tahu bahwa mereka ini tidak memiliki sesuatu dari urusan, tetapi mereka ini adalah orang-orang saleh, mereka memiliki kedudukan di sisi Allah, dan kami meminta dengan kedudukan dan syafa’at mereka. Dan orang-orang ini lupa atau pura-pura lupa padahal mereka membaca Al-Quran bahwa ini persis perkataan orang-orang musyrik sebagaimana disebutkan Allah dalam Al-Quran dalam firman-Nya: “Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan mudarat kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat, dan mereka berkata: ‘Mereka ini adalah pemberi syafa’at kami di sisi Allah.’ Katakanlah: ‘Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya (ada) di langit dan tidak (pula) di bumi?’ Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya)” (Surat Yunus, ayat: 18), dan firman-Nya: “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain-Nya (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang pendusta lagi sangat kafir” (Surat Az-Zumar, ayat: 3). Maka Dia menyebut mereka kafir dan pendusta, padahal mereka meyakini bahwa para wali ini hanyalah perantara antara mereka dan Allah dalam mengabulkan hajat-hajat mereka, dan inilah yang dikatakan penyembah kuburan hari ini, “Hati mereka serupa” (Surat Al-Baqarah, ayat: 118).

Maka yang wajib atas ulama Islam adalah mengingkari syirik yang keji ini dan menjelaskannya kepada manusia, dan yang wajib atas penguasa kaum muslimin adalah merubuhkan berhala-berhala ini dan membersihkan masjid-masjid darinya.

Dan telah mengingkari banyak dari imam-imam yang melakukan perbaikan syirik ini, dan melarang darinya dan memperingatkan, dan memberi peringatan. Dan di antara mereka: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan muridnya Ibnul Qayyim, dan Syaikh Muhammad Abdul Wahhab, dan Syaikh Muhammad bin Isma’il Ash-Shan’ani, dan Syaikh Muhammad bin Ali Asy-Syaukani… dan banyak dari para imam dahulu dan sekarang, dan inilah karya-karya mereka di hadapan kita.

Dan dalam hal itu berkata Imam Asy-Syaukani dalam (Nail Al-Authar): “Dan betapa banyak kerusakan yang menular dari mendirikan bangunan kuburan dan memperindahnya yang Islam menangis karenanya, di antaranya adalah keyakinan orang-orang jahil seperti keyakinan orang-orang kafir terhadap berhala-berhala bahkan lebih besar dari itu, maka mereka menyangka bahwa kuburan-kuburan itu mampu mendatangkan manfaat dan menolak mudarat, maka mereka menjadikannya tujuan untuk meminta pengabulan hajat-hajat, dan tempat berlindung untuk tuntutan-tuntutan, dan mereka meminta darinya apa yang diminta hamba-hamba dari Rabb mereka, dan mengadakan perjalanan, dan mengusap-usapnya, dan meminta pertolongan, dan secara ringkas; sesungguhnya mereka tidak meninggalkan sesuatu yang dilakukan jahiliyyah terhadap berhala-berhala kecuali mereka lakukan; maka sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali.”

Dan dengan kemungkaran yang keji ini dan kekafiran yang mengerikan, kita tidak menemukan orang yang marah karena Allah dan cemburu untuk agama yang hanif; tidak ulama, tidak pelajar, tidak amir, tidak menteri, tidak raja.

Dan sungguh telah berdatangan kepada kita dari berita-berita apa yang tidak diragukan bersamanya bahwa banyak dari penyembah kuburan ini atau kebanyakan mereka apabila diarahkan kepadanya sumpah dari pihak lawannya; dia bersumpah dengan Allah secara durhaka, dan apabila dikatakan kepadanya setelah itu: Bersumpahlah dengan syaikhmu dan yang kamu yakini wali fulan; dia tergagap, dan ragu-ragu, dan menolak, dan mengakui kebenaran! Dan ini dari bukti-bukti yang paling jelas yang menunjukkan bahwa syirik mereka telah mencapai di atas syirik orang yang berkata bahwa dia yang kedua dari dua atau yang ketiga dari tiga!

Maka wahai ulama agama! Dan wahai raja-raja kaum muslimin! Musibah apa bagi Islam yang lebih keras dari kekafiran?! Dan bala apa bagi agama ini yang lebih berbahaya baginya dari menyembah selain Allah?! Dan musibah apa yang menimpa kaum muslimin yang setara dengan musibah ini?! Dan kemungkaran apa yang harus diingkari jika mengingkari syirik yang jelas ini tidak wajib?!

Sungguh telah kau dengarkan jika kau memanggil… yang hidup Tetapi tidak ada kehidupan bagi yang kau panggil Dan seandainya api yang kau tiup dengannya menyala… Tetapi kau meniup abu

Berakhirlah perkataan Asy-Syaukani rahimahullah, dan bala telah bertambah setelahnya, dan menjadi lebih keras dari apa yang digambarkannya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Hubungan Tauhid Uluhiyyah dengan Tauhid Rububiyyah, dan Sebaliknya:

Dan hubungan salah satu dari kedua jenis dengan yang lain: bahwa tauhid rububiyyah mengharuskan tauhid uluhiyyah, dengan arti bahwa pengakuan terhadap tauhid rububiyyah mewajibkan pengakuan terhadap tauhid uluhiyyah dan melaksanakannya. Maka barang siapa mengetahui bahwa Allah adalah Rabbnya dan Pencipta dan Pengatur urusan-urusannya; maka wajib baginya menyembah-Nya saja tanpa sekutu bagi-Nya. Dan tauhid uluhiyyah mengandung tauhid rububiyyah; dengan arti bahwa tauhid rububiyyah masuk dalam tauhid uluhiyyah. Maka barang siapa menyembah Allah saja dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya; maka pasti dia telah meyakini bahwa Dia adalah Rabbnya dan Penciptanya; sebagaimana dikatakan Ibrahim Al-Khalil alaihi ash-shalatu was-salam: “Katakanlah: ‘Maka apakah kamu telah memikirkan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyangmu yang terdahulu? Maka sesungguhnya mereka itu adalah musuh bagiku, kecuali Tuhan semesta alam, Yang telah menciptakan aku, maka Dia-lah yang memberi petunjuk kepadaku, dan Tuhan yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkan aku, dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan yang aku inginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari pembalasan'” (Surat Asy-Syu’ara, ayat: 75-82).

Dan rububiyyah dan uluhiyyah terkadang disebutkan bersama; maka keduanya berbeda dalam makna, dan salah satunya menjadi bagian dari yang lain; sebagaimana firman-Nya: “Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia, Sembahan manusia'” (Surat An-Nas, ayat: 1-3); maka makna Rabb adalah Pemilik yang bertasharruf dalam ciptaan, dan makna Ilah adalah yang disembah dengan hak yang berhak mendapat ibadah saja. Dan terkadang salah satunya disebutkan terpisah dari yang lain, maka keduanya berkumpul dalam makna; sebagaimana dalam perkataan dua malaikat kepada mayit di kubur: siapa Rabbmu? Dan artinya: siapa Ilahmu dan Penciptamu? Dan sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Mereka itu adalah orang-orang yang dikeluarkan dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: ‘Tuhan kami ialah Allah'” (Surat Al-Hajj, ayat: 40), dan firman-Nya: “Katakanlah: ‘Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah'” (Surat Al-An’am, ayat: 164), dan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka” (Surat Fushshilat, ayat: 30). Maka rububiyyah dalam ayat-ayat ini adalah uluhiyyah.

Dan yang didakwahkan para rasul dari kedua jenis adalah tauhid uluhiyyah; karena tauhid rububiyyah diakui oleh mayoritas umat, dan tidak mengingkarinya kecuali sebagian kecil dari makhluk, mereka mengingkarinya hanya secara lahir saja, dan mengakuinya saja tidak cukup; maka sesungguhnya iblis telah mengakuinya “Dia berkata: ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat'” (Surat Al-Hijr, ayat: 39), dan orang-orang musyrik yang diutus kepada mereka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengakuinya, sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat yang jelas; sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan mereka,’ niscaya mereka menjawab: ‘Allah'” (Surat Az-Zukhruf, ayat: 87); maka barang siapa hanya mengakui tauhid rububiyyah saja; dia tidak menjadi muslim, dan tidak haram darah dan hartanya, sampai dia mengakui tauhid uluhiyyah; maka dia tidak menyembah kecuali Allah.

Dan dengan ini jelaslah batilnya apa yang diklaim oleh ulama kalam dan sufi bahwa tauhid yang dituntut dari hamba adalah pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta Pengatur, dan barang siapa mengakui hal itu; maka dia menjadi muslim menurut mereka. Oleh karena itu mereka mendefinisikan tauhid dalam kitab-kitab yang mereka tulis tentang akidah dengan apa yang hanya berlaku pada tauhid rububiyyah saja; di mana mereka berkata misalnya: Tauhid adalah pengakuan terhadap wujud Allah dan bahwa Dia Pencipta Pemberi rezeki… dst, kemudian mereka mengajukan dalil-dalil tauhid rububiyyah.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah: “Maka sesungguhnya umumnya para ahli kalam yang membahas tauhid dalam kitab-kitab kalam dan nazhar, tujuan mereka adalah menjadikan tauhid tiga jenis; maka mereka berkata: Dia adalah satu dalam zat-Nya tidak ada bagian bagi-Nya, dan satu dalam sifat-sifat-Nya tidak ada yang menyerupai-Nya, dan satu dalam perbuatan-perbuatan-Nya tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan yang paling masyhur dari ketiga jenis menurut mereka adalah yang ketiga, yaitu tauhid af’al, yaitu bahwa pencipta alam adalah satu, mereka berdalil dengan hal itu dengan apa yang mereka sebutkan dari dalil tamanu’ dan lainnya, dan mereka menyangka bahwa inilah tauhid yang dituntut, dan bahwa inilah makna perkataan kita: laa ilaaha illallah, bahkan makna uluhiyyah adalah kemampuan untuk mencipta, dan diketahui bahwa orang-orang musyrik dari Arab yang diutus kepada mereka Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pertama kali tidak menyelisihinya dalam hal ini, bahkan mereka mengakui bahwa Allah pencipta segala sesuatu, bahkan mereka mengakui takdir juga, dan mereka dengan ini tetap musyrik…”

Inilah perkataan Syaikh rahimahullah, dan ia jelas dalam menolak orang yang meyakini bahwa tauhid yang dituntut dari makhluk adalah pengakuan terhadap tauhid rububiyyah.

Dan hal ini didukung oleh firman Allah Ta’ala: “Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (dengan perintah), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.'” (QS. An-Nahl: 36). Para rasul tidak berkata kepada umat mereka: “Akuilah bahwa Allah adalah Pencipta”, karena mereka sudah mengakui hal ini. Akan tetapi para rasul berkata kepada mereka: “Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juga berkata: “Tauhid yang dibawa oleh para rasul sesungguhnya mencakup penetapan uluhiyyah (hak untuk disembah) bagi Allah semata, yaitu dengan bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, tidak menyembah selain-Nya…”

Kemudian beliau berkata: “Dan yang dimaksud dengan tauhid bukanlah sekedar tauhid rububiyyah, yaitu keyakinan bahwa Allah sendirian yang menciptakan alam semesta, sebagaimana yang disangka oleh ahli kalam dan tasawuf. Mereka menyangka bahwa jika mereka telah menetapkan hal itu dengan dalil, maka mereka telah menetapkan puncak tauhid, dan jika mereka bersaksi akan hal ini dan fana di dalamnya, maka mereka telah fana dalam puncak tauhid.”

Sesungguhnya seseorang jika mengakui apa yang layak bagi Rabb Ta’ala dari sifat-sifat, mensucikan-Nya dari segala yang tidak layak bagi-Nya, dan mengakui bahwa Dia sendirian Pencipta segala sesuatu, maka dia belum menjadi seorang yang bertauhid sampai dia bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata. Maka dia mengakri bahwa Allah sendirian adalah Tuhan yang berhak mendapat ibadah, dan dia terikat untuk menyembah Allah semata tanpa sekutu bagi-Nya.

Ilah adalah yang disembah dan dipuja yang berhak mendapat ibadah, bukan ilah dalam arti yang mampu menciptakan. Jika ilah ditafsirkan dengan arti yang mampu menciptakan, dan diyakini bahwa makna ini adalah sifat paling khusus bagi ilah, dan menjadikan penetapan hal ini sebagai puncak dalam tauhid, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian ahli kalam dari kalangan Asy’ariyyah – dan inilah yang mereka katakan tentang Abu Hasan dan pengikut-pengikutnya – maka mereka tidak mengetahui hakikat tauhid yang dengannya Allah mengutus rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya orang-orang musyrik Arab mengakui bahwa Allah sendirian Pencipta segala sesuatu, namun mereka tetap musyrik. Allah Ta’ala berfirman: “Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sesuatu).” (QS. Yusuf: 106). Sekelompok salaf berkata: Jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapa yang menciptakan langit dan bumi?” Mereka akan menjawab: “Allah.” Namun mereka tetap menyembah selain-Nya!

Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah (Muhammad), ‘Siapakah yang empunya bumi dan siapa yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Milik Allah.’ Katakanlah, ‘Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?’ Katakanlah, ‘Siapakah Tuhan pemilik langit yang tujuh dan Tuhan pemilik ‘Arsy yang agung?’ Mereka akan menjawab, ‘Milik Allah.’ Katakanlah, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa?’ Katakanlah, ‘Siapakah yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu, dan Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Allah.’ Katakanlah, ‘Jadi bagaimana kamu dapat disihir (tersesatkan)?'” (QS. Al-Mu’minun: 84-89). Maka tidak setiap orang yang mengakui bahwa Allah Ta’ala adalah Rabb segala sesuatu dan Penciptanya akan menjadi penyembah-Nya semata tanpa yang lain, berdoa kepada-Nya tanpa yang lain, loyal kepada-Nya dan memusuhi karena-Nya serta menaati rasul-rasul-Nya.

Umumnya orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu, namun mereka menetapkan pemberi syafa’at yang mereka persekutukan dengan-Nya, dan menjadikan bagi-Nya sekutu-sekutu…

Sampai beliau berkata rahimahullah: “Oleh karena itu, di antara pengikut mereka ada yang sujud kepada matahari, bulan, dan bintang-bintang, berdoa kepadanya, berpuasa dan berkurban untuknya, mendekatkan diri kepadanya, kemudian berkata: ‘Ini bukan syirik jika aku meyakini bahwa ia adalah pengatur bagiku. Jika aku menjadikannya sebagai sebab dan perantara, maka aku bukanlah musyrik.’ Padahal diketahui secara pasti dari agama Islam bahwa ini adalah syirik…” Selesai ucapan beliau.

Aku berkata: Dan inilah yang dikatakan oleh penyembah kubur pada hari ini. Mereka mendekatkan diri kepada kubur-kubur dengan berbagai jenis ibadah, dan berkata: “Ini bukan syirik karena kami tidak meyakini bahwa kubur-kubur itu dapat menciptakan dan mengatur, tetapi kami menjadikannya sebagai perantara untuk bertawassul dengan pemilik-pemiliknya.”

Metode-Metode Al-Qur’an dalam Seruan kepada Tauhid Uluhiyyah:

Ketika tauhid rububiyyah telah diakui oleh manusia berdasarkan fitrah mereka dan pemikiran mereka terhadap alam semesta, dan pengakuan terhadapnya saja tidak cukup untuk beriman kepada Allah dan tidak menyelamatkan pemiliknya dari azab, maka seruan para rasul terfokus pada tauhid uluhiyyah, khususnya seruan penutup para rasul, Nabi kita Muhammad ‘alaihi wa ‘alaihim afdhalush shalati was salam. Beliau menuntut manusia untuk mengucapkan “La ilaha illa Allah” yang mengandung penyembahan kepada Allah dan meninggalkan penyembahan selain-Nya. Mereka pun lari darinya dan berkata: “Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu tuhan yang satu? Sungguh, ini adalah sesuatu yang aneh.” (QS. Shad: 5). Mereka berusaha agar Rasul meninggalkan seruan ini dan membiarkan mereka menyembah berhala-berhala. Mereka mengerahkan segala cara bersamanya, kadang dengan rayuan, kadang dengan ancaman. Sementara beliau ‘alaihish shalatu was salam berkata: “Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini, aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya.” Ayat-ayat Allah terus turun kepadanya dengan seruan kepada tauhid ini, bantahan terhadap syubhat orang-orang musyrik, dan pendirian dalil-dalil atas kebatilan apa yang mereka anut.

Metode-metode Al-Qur’an dalam seruan kepada tauhid uluhiyyah sangat beragam, dan berikut ini kami sebutkan sebagian darinya:

1- Perintah-Nya Subhanahu untuk menyembah-Nya dan meninggalkan penyembahan selain-Nya, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (QS. An-Nisa: 36), dan firman-Nya: “Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu…” sampai firman-Nya: “Maka janganlah kamu menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22).

2- Di antaranya: Pemberitahuan-Nya Subhanahu bahwa Dia menciptakan makhluk untuk menyembah-Nya, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

3- Di antaranya: Pemberitahuan-Nya bahwa Dia mengutus semua rasul dengan seruan untuk menyembah-Nya dan larangan menyembah selain-Nya, seperti firman Allah Ta’ala: “Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (dengan perintah), ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.'” (QS. An-Nahl: 36).

4- Di antaranya: Berdalil atas tauhid uluhiyyah dengan kesendirian-Nya dalam rububiyyah, penciptaan, dan pengaturan, sebagaimana dalam firman-Nya Subhanahu: “Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu…” (QS. Al-Baqarah: 21), dan firman-Nya: “Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya.” (QS. Fushshilat: 37), dan firman-Nya: “Dan apakah (orang) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)?” (QS. An-Nahl: 17).

5- Di antaranya berdalil atas kewajiban menyembah-Nya Subhanahu dengan kesendirian-Nya dalam sifat-sifat kesempurnaan dan tidak adanya hal itu pada tuhan-tuhan orang musyrik, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala: “Maka sembahlah Dia dan bersabarlah dalam menyembah-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS. Maryam: 65), dan firman-Nya: “Dan Allah memiliki Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu.” (QS. Al-A’raf: 180), dan firman-Nya tentang kekasih-Nya Ibrahim ‘alaihis salam bahwa dia berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong engkau sedikit pun?” (QS. Maryam: 42), dan firman-Nya: “Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu.” (QS. Fathir: 14), dan firman-Nya: “Dan kaum Musa, setelah Moses (pergi), mereka membuat dari perhiasan-perhiasan mereka (patung) anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa (patung) anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat menunjukkan jalan kepada mereka?” (QS. Al-A’raf: 148).

6- Di antaranya melemahkan tuhan-tuhan orang musyrik, seperti firman Allah Ta’ala: “Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) sesuatu yang tidak dapat menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan, dan mereka (berhala-berhala itu) tidak mampu menolong mereka dan tidak (pula) dapat menolong diri mereka sendiri?” (QS. Al-A’raf: 191-192), dan firman Allah Ta’ala: “Katakanlah, ‘Serulah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) untuk menghilangkan bencana darimu dan tidak (pula) memindahkannya.'” (QS. Al-Isra: 56), dan firman Allah Ta’ala: “Dan mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak memiliki rezeki sedikit pun bagi mereka dari langit dan bumi, dan mereka tidak mampu (memilikinya).” (QS. An-Nahl: 73), dan firman Allah Ta’ala: “Wahai manusia! Telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah.” (QS. Al-Hajj: 73).

7- Di antaranya: Mencela orang-orang musyrik yang menyembah selain Allah, seperti firman Allah Ta’ala: “Dia (Ibrahim) berkata, ‘Maka apakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun kepada kamu dan tidak (pula) memberi mudarat? Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Apakah kamu tidak mengerti?'” (QS. Al-Anbiya: 66-67), dan firman Allah Ta’ala: “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allah, yang tidak dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari Kiamat, dan mereka lalai dari doa mereka?” (QS. Al-Ahqaf: 5).

8- Di antaranya: Menjelaskan akibat orang-orang musyrik yang menyembah selain Allah, dan menjelaskan nasib mereka bersama yang mereka sembah, di mana sesembahan-sesembahan itu berlepas diri dari mereka di saat-saat yang paling genting, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala: “Dan jika orang-orang yang zalim itu melihat ketika mereka melihat azab, bahwa kekuatan itu milik Allah semuanya, dan bahwa Allah sangat keras azab-Nya. (Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas diri dari orang-orang yang mengikuti, dan mereka melihat azab, dan (putus)lah segala hubungan di antara mereka. Dan orang-orang yang mengikuti berkata, ‘Sekiranya kami mendapat kesempatan untuk kembali, niscaya kami akan berlepas diri dari mereka sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.’ Demikianlah Allah memperlihatkan amal-amal mereka yang menjadi sesalan bagi mereka; dan mereka tidak akan keluar dari neraka.” (QS. Al-Baqarah: 165-167), dan firman Allah Ta’ala: “Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari persekutuanmu dan tidak ada yang dapat memberitakanmu seperti Yang Maha Mengetahui.” (QS. Fathir: 14), dan firman-Nya: “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allah, yang tidak dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari Kiamat, dan mereka lalai dari doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari Kiamat), mereka (berhala-berhala) itu menjadi musuh bagi mereka dan mengingkari penyembahan mereka.” (QS. Al-Ahqaf: 5-6), dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah) pada hari ketika Allah mengumpulkan mereka semua, kemudian Dia berkata kepada para malaikat, ‘Apakah mereka ini menyembah kamu?’ Para malaikat menjawab, ‘Mahasuci Engkau, Engkaulah pelindung kami, bukan mereka. Sebenarnya mereka menyembah jin, kebanyakan mereka beriman kepadanya.'” (QS. Saba: 40-41), dan firman Allah Ta’ala: “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, ‘Wahai Isa putra Maryam! Apakah engkau yang mengatakan kepada manusia, “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?”‘ Isa menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tidaklah pantas bagiku mengatakan apa yang bukan hakku.'” (QS. Al-Maidah: 116).

9- Di antaranya bantahan-Nya Subhanahu terhadap orang-orang musyrik dalam pengambilan perantara-perantara antara mereka dan Allah, bahwa syafa’at adalah milik-Nya Subhanahu, tidak diminta kecuali dari-Nya, dan tidak ada yang memberi syafa’at di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya setelah ridha-Nya terhadap yang diberi syafa’at. Allah Subhanahu berfirman: “Ataukah mereka mengambil pemberi syafa’at selain Allah? Katakanlah, ‘Apakah (kamu mengambil mereka pemberi syafa’at) walaupun mereka tidak menguasai sesuatu apa pun dan tidak mengerti?’ Katakanlah, ‘Syafa’at itu semuanya milik Allah. Milik-Nya kerajaan langit dan bumi.'” (QS. Az-Zumar: 43-44), dan firman-Nya Subhanahu: “Siapa yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya?” (QS. Al-Baqarah: 255), dan firman-Nya: “Dan betapa banyak malaikat di langit, syafa’at mereka tidak berguna sedikit pun kecuali setelah Allah mengizinkan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridhai.” (QS. An-Najm: 26).

Maka Allah Subhanahu menjelaskan dalam ayat-ayat ini bahwa syafa’at adalah milik-Nya semata, tidak diminta kecuali dari-Nya, dan tidak terjadi kecuali setelah izin-Nya kepada pemberi syafa’at dan ridha-Nya terhadap yang diberi syafa’at.

10- Di antaranya: Bahwa Dia Subhanahu menjelaskan bahwa sesembahan-sesembahan selain-Nya ini tidak memberikan manfaat kepada penyembah mereka dari segala segi, dan yang demikian keadaannya tidak layak untuk disembah, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala: “Katakanlah, ‘Serulah mereka yang kamu anggap selain Allah.’ Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah pun di langit dan di bumi, mereka tidak mempunyai andil sedikit pun pada keduanya, dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.” (QS. Saba: 22).

11- Di antaranya: Bahwa Dia Subhanahu memberikan banyak perumpamaan dalam Al-Qur’an yang menjelaskan kebatilan syirik, di antaranya firman-Nya Subhanahu: “Dan barangsiapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka seolah-olah dia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 31).

Dia Subhanahu menyerupakan tauhid dalam ketinggian, kemuliaan, keluasan, dan kehormatannya dengan langit, dan menyerupakan yang meninggalkan tauhid dengan yang jatuh dari langit ke tempat yang paling rendah, karena dia jatuh dari puncak keimanan ke lembah kekufuran. Dia menyerupakan setan-setan yang meresahkannya dengan burung-burung yang merobek anggota tubuhnya, dan menyerupakan hawa nafsunya yang menjauhkannya dari kebenaran dengan angin yang melemparkannya ke tempat yang jauh.

Ini adalah satu contoh dari banyak contoh dalam Al-Qur’an yang disebutkan Allah Subhanahu untuk menjelaskan kebatilan syirik dan kerugian orang musyrik di dunia dan akhirat.

Dan apa yang kami kemukakan dalam penelitian ini tentang metode-metode Al-Qur’an dalam seruan kepada tauhid uluhiyyah dan pembatalan syirik adalah sedikit dari banyak. Tidak ada bagi seorang Muslim kecuali membaca Al-Qur’an dengan tadabbur (perenungan) agar menemukan kebaikan yang banyak, dalil-dalil yang meyakinkan, dan bukti-bukti yang terang benderang yang mengokohkan akidah tauhid di hati orang mukmin dan mencabut darinya segala syubhat…

Terjadinya Syirik dalam Tauhid Uluhiyyah

Seorang Muslim setelah mengetahui kebenaran, dituntut untuk mengetahui apa yang bertentangan dengannya dari kebatilan agar dapat menghindarinya; sebagaimana dikatakan: “Aku mengetahui kejahatan bukan untuk kejahatan, tetapi untuk menghindarinya.”

Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata: “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepadanya tentang kejahatan; karena takut aku terjerumus ke dalamnya.”

Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Hampir saja terputus tali-tali Islam satu persatu apabila tumbuh dalam Islam orang yang tidak mengenal kejahiliyyahan.”

Sebelum itu, Khalilullah (Ibrahim) ‘alaihissalam berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak-anak keturunanku dari menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia.” (Surat Ibrahim: 35-36)

Inilah yang mewajibkan rasa takut yang sangat terhadap syirik dan mengenalnya agar seorang Muslim dapat menghindarinya:

Syirik adalah mengalihkan sesuatu dari jenis-jenis ibadah kepada selain Allah; seperti doa, penyembelihan, nazar, dan meminta pertolongan kepada selain Allah dalam hal-hal yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah.

Tauhid adalah mengkhususkan Allah Ta’ala dengan ibadah, dan ini adalah asli pada Bani Adam, sedangkan syirik adalah sesuatu yang datang kemudian. Allah Ta’ala berfirman: “Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (Surat Al-Baqarah: 213)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Antara Adam dan Nuh ada sepuluh abad, semuanya berada dalam Islam.”

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Perkataan ini adalah yang benar dalam menafsirkan ayat tersebut, dan pendapat ini juga dishahihkan oleh Ibnu Katsir. Pertama kali syirik terjadi di bumi adalah pada kaum Nuh, ketika mereka berlebih-lebihan terhadap orang-orang saleh. “Dan mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaguts, Ya’uq dan Nasr.'” (Surat Nuh: 23)

Bukhari dalam Shahih-nya meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Ini adalah nama-nama laki-laki dari kaum Nuh. Ketika mereka meninggal, syaitan membisikkan kepada kaum mereka agar mendirikan patung-patung di tempat-tempat pertemuan dimana mereka biasa duduk, dan menamainya dengan nama-nama mereka. Mereka pun melakukannya, namun patung-patung itu belum disembah. Hingga ketika generasi itu meninggal dan ilmu terlupakan, barulah patung-patung itu disembah.”

Ibnu Qayyim berkata: “Beberapa salaf berkata: Ketika mereka meninggal, mereka berkumpul di kuburan-kuburan mereka, kemudian membuat patung-patung mereka, kemudian berlalu masa yang panjang, lalu mereka menyembah patung-patung itu.”

Dari atsar yang diriwayatkan Bukhari dari Abbas tentang berlebih-lebihan kaum Nuh terhadap orang-orang saleh dan pembuatan patung mereka serta mempertahankan gambar-gambar mereka dan memasangnya di tempat-tempat pertemuan, dari sini kita menyadari bahaya menggambar, bahaya menggantung gambar-gambar di dinding, dan bahaya mendirikan patung-patung di lapangan dan jalan-jalan, serta bahwa hal itu akan membawa manusia kepada syirik; dimana pengagungan terhadap gambar-gambar dan patung-patung yang didirikan itu akan berkembang, sehingga menyebabkan penyembahan terhadapnya seperti yang terjadi pada kaum Nuh.

Oleh karena itu, Islam datang dengan mengharamkan menggambar, melaknat para penggambar, mengancam mereka dengan ancaman yang keras, dan bahwa mereka adalah manusia yang paling keras siksaannya pada hari kiamat; sebagai penutupan jalan menuju syirik dan menjauh dari menyerupai ciptaan Allah ‘azza wa jalla.

Kita menyadari dari kisah ini sejauh mana keserakahan syaitan – semoga Allah melaknatnya – untuk menyesatkan Bani Adam, dan tipuannya terhadap mereka, dan bahwa ia mungkin mendatangi mereka dari sisi memanfaatkan emosi dan klaim mendorong kepada kebaikan; karena ketika ia melihat pada kaum Nuh kecintaan mereka yang berlebihan terhadap orang-orang saleh dan cinta mereka kepada mereka, ia mengajak mereka untuk berlebih-lebihan dalam cinta ini; sehingga ia memerintahkan mereka untuk mendirikan gambar-gambar peringatan untuk mereka, dan tujuannya dari itu adalah bertahap membawa mereka keluar dari kebenaran menuju kesesatan, dan pandangannya tidak terbatas pada yang hadir saja, tetapi meluas hingga generasi-generasi berikutnya, yang sedikit ilmunya dan tersebar kebodohan di antara mereka; maka ia memperindah bagi mereka penyembahan gambar-gambar ini, dan menjatuhkan mereka ke dalam syirik akbar, dan mereka membangkang nabi mereka dengan perkataan mereka “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu.”

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Syaitan telah mempermainkan para musyrik dalam penyembahan berhala, setiap kaum sesuai dengan tingkat akal mereka; maka sekelompok ia ajak untuk menyembahnya dari sisi pengagungan orang-orang mati yang dipatungkan seperti pada kaum Nuh, dan penyebab ini adalah yang dominan pada orang awam dari kalangan musyrik. Adapun orang-orang khusus mereka, maka mereka mengambil berhala-berhala dalam bentuk bintang-bintang yang berpengaruh di alam menurut anggapan mereka, dan mereka jadikan untuk berhala-berhala itu rumah-rumah dan penjaga dan penghalang dan kurban. Hal ini tidak pernah berhenti ada di dunia, dahulu dan sekarang. Asal mula mazhab ini dari musyrik Shabiah, dan mereka adalah kaum Ibrahim ‘alaihissalam, dan yang ia debat dalam kebatilan syirik, dan ia hancurkan hujjah mereka dengan ilmunya, dan tuhan-tuhan mereka dengan tangannya, maka mereka berusaha membakarnya. Kelompok lain mengambil untuk bulan sebuah berhala, dan mereka anggap bahwa ia berhak untuk disembah, dan kepadanya urusan pengaturan alam bawah ini. Kelompok menyembah api, yaitu Majusi. Kelompok menyembah air. Kelompok menyembah hewan; maka sekelompok menyembah kuda, sekelompok menyembah sapi, sekelompok menyembah manusia yang hidup dan yang mati, sekelompok menyembah jin, sekelompok menyembah pohon, dan sekelompok menyembah malaikat.” Berakhir perkataan Ibnu Qayyim rahimahullah.

Dengan demikian kamu mengetahui makna firman Allah Ta’ala: “Dan barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (Surat Al-Hajj: 31) dan firman-Nya: “Apa yang kamu sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu ada bapak-bapak kamu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Surat Yusuf: 40) dan firman-Nya: “Allah membuat perumpamaan: seorang laki-laki (hamba sahaya) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang laki-laki (hamba sahaya) yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); adakah kedua hamba sahaya itu sama halnya?” (Surat Az-Zumar: 29)

Para musyrik ini ketika meninggalkan ibadah kepada Allah saja tanpa sekutu, yaitu yang untuk itu mereka diciptakan, dan dengannya kebahagiaan mereka; mereka diuji dengan penyembahan syaitan-syaitan, dan mereka terpecah belah oleh hawa nafsu dan syahwat; sebagaimana Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Mereka lari dari perbudakan yang untuk itu mereka diciptakan, lalu diuji dengan perbudakan terhadap nafsu dan syaitan.”

Maka tidak ada persatuan bagi hati-hati, dan tidak ada kebaikan bagi alam; kecuali dengan tauhid; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Atau apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi yang dapat menghidupkan (orang mati)? Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (Surat Al-Anbiya: 21-22) Oleh karena itu, apabila bumi kosong dari tauhid, maka berdirilah kiamat; sebagaimana Muslim meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak akan berdiri kiamat hingga tidak dikatakan di bumi: Allah, Allah.”

Seperti terpecah belahnya musyrik-musyrik terdahulu dalam ibadah-ibadah dan sembahan-sembahan mereka, begitu pula terpecah belahnya ahli kubur hari ini dalam penyembahan kubur; maka setiap dari mereka memiliki kuburan khusus yang ia dekati dengan berbagai jenis ibadah, dan setiap tarekat dari tarekat-tarekat sufi memiliki syaikh yang dijadikan oleh murid-muridnya sebagai tuhan selain Allah; yang mensyariatkan bagi mereka dari agama apa yang tidak diizinkan oleh Allah.

Demikianlah syaitan mempermainkan Bani Adam, dan tidak ada keselamatan dari kejahatannya dan tipuannya kecuali dengan mengesakan Allah dan berpegang teguh pada kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya.

Kami memohon kepada Allah agar Dia memperlihatkan kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan memberikan kepada kami mengikutinya, dan memperlihatkan kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan memberikan kepada kami menghindarinya; sesungguhnya Dia adalah Pelindung kami; maka sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

Bahaya Syirik dan Kewajiban Berhati-hati Darinya dengan Menghindari Sebab-sebabnya

Syirik adalah dosa yang paling besar, karena Allah SWT telah memberitahukan bahwa tidak ada ampunan bagi orang yang tidak bertobat darinya, padahal Allah SWT telah menetapkan atas diri-Nya sifat rahmat. Hal ini mengharuskan seorang hamba untuk sangat berhati-hati dan sangat takut terhadap syirik yang kondisinya seperti ini, dan mendorongnya untuk mengenalinya agar dapat menghindarinya, karena syirik adalah yang paling buruk dari segala keburukan dan yang paling zalim dari segala kezaliman. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang besar” (QS. Luqman: 13). Hal itu karena syirik merupakan penghinaan terhadap Allah Azza wa Jalla dan menyamakan selain-Nya dengan-Nya, sebagaimana firman Allah SWT: “Orang-orang yang kafir kepada Tuhan mereka mempersekutukan (Dia)” (QS. Al-An’am: 1), dan firman-Nya: “Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 22). Syirik juga bertentangan dengan tujuan penciptaan dan perintah dari segala segi. Barangsiapa menyekutukan Allah Azza wa Jalla, maka dia telah menyerupakan makhluk dengan Khaliq, dan penyerupaan yang paling buruk adalah menyerupakan yang lemah dan fakir dengan Dzat Yang Maha Kuasa dan Maha Kaya dari segala makhluk.

Nabi Muhammad ﷺ telah memperingatkan umatnya dari syirik dan menutup semua jalan yang menuju kepadanya. Allah telah mengutus Nabi Muhammad ﷺ ketika keadaan bangsa Arab – bahkan keadaan seluruh penghuni bumi kecuali sisa-sisa Ahli Kitab – berada dalam kondisi yang paling buruk, sebagaimana firman Allah SWT: “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS. Ali Imran: 164).

Pada masa itu, makhluk berada dalam kebingungan, mereka menjadikan tuhan-tuhan mereka dari batu-batu yang dipahat dan patung-patung yang didirikan, mereka beribadah di sisinya, bertawaf mengelilinginya, dan mempersembahkan kurban dari harta terbaik mereka bahkan dari anak-anak mereka, sebagaimana firman Allah: “Dan demikianlah telah dijadikan indah oleh sekutu-sekutu mereka bagi kebanyakan orang-orang musyrik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agama mereka” (QS. Al-An’am: 137).

Kelompok lain – Ahli Kitab – ada yang Nasrani yang bingung dan sesat dari jalan yang lurus, sehingga menjadikan tuhan itu tiga, dan mengambil pendeta-pendeta dan orang-orang saleh mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Ada pula Yahudi yang rusak, berbuat kerusakan di bumi, menyalakan api fitnah, melanggar perjanjian dan ikatan dengan Allah, dan memanipulasi teks-teks kitab mereka hingga mengubahnya dari tempatnya.

Kelompok ketiga adalah Majusi yang menyembah api dan mengambil dua tuhan: satu adalah pencipta kebaikan, dan yang kedua adalah pencipta kejahatan menurut dugaan mereka.

Kelompok keempat adalah Sabi’un yang menyembah bintang-bintang dan planet-planet, dan meyakini pengaruhnya terhadap bumi. Kelompok kelima adalah orang-orang Dahriyah yang tidak menganut agama apa pun dan tidak beriman kepada kebangkitan maupun hisab.

Demikianlah keadaan penghuni bumi ketika Nabi ﷺ diutus, dalam kebodohan yang nyata dan kesesatan yang buta. Allah menyelamatkan melalui beliau orang-orang yang menerima dakwahnya dan meresponsnya dari kegelapan menuju cahaya, mengembalikan agama Hanif yang toleran, agama Ibrahim AS, menghancurkan berhala-berhala, melarang syirik, dan menutup semua jalan yang menuju kepadanya.

Berikut adalah penjelasan mengenai cara-cara ucapan dan perbuatan yang dilarang oleh Rasulullah ﷺ karena dapat menuju kepada syirik:

  1. Larangan Mengucapkan Kata-kata yang Menyamakan Allah dengan Makhluk-Nya

Rasulullah ﷺ melarang mengucapkan kata-kata yang di dalamnya terdapat penyamaan antara Allah dan makhluk-Nya, seperti: “Apa yang Allah kehendaki dan engkau kehendaki”, “Kalau bukan karena Allah dan engkau”, dan memerintahkan untuk mengatakannya dengan: “Apa yang Allah kehendaki kemudian engkau kehendaki”, karena huruf “waw” (dan) menunjukkan penyamaan sedangkan “tsumma” (kemudian) menunjukkan urutan. Penyamaan dalam lafal ini adalah syirik kecil dan merupakan jalan menuju syirik besar.

  1. Larangan Berlebihan dalam Memuliakan Kubur

Nabi ﷺ melarang berlebihan dalam memuliakan kubur dengan membangun di atasnya, menyalakan lampu, memagarinya, dan menulis di atasnya.

  1. Larangan Menjadikan Kubur sebagai Masjid

Beliau melarang menjadikan kubur sebagai masjid untuk shalat di sisinya, karena hal itu adalah jalan untuk menyembahnya.

  1. Larangan Shalat saat Matahari Terbit dan Tenggelam

Beliau melarang shalat saat matahari terbit dan tenggelam karena hal itu menyerupai orang-orang yang sujud kepada matahari pada waktu-waktu tersebut.

  1. Larangan Bepergian ke Tempat Tertentu untuk Beribadah

Beliau melarang bepergian ke tempat mana pun dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah di sana, kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha.

  1. Larangan Berlebihan dalam Memuji Nabi

Nabi ﷺ melarang berlebihan dalam memujinya, beliau bersabda: “Janganlah kalian memuji saya secara berlebihan sebagaimana orang-orang Nasrani memuji Isa putra Maryam secara berlebihan. Sesungguhnya saya hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya.” Ithra (pujian berlebihan) adalah berlebihan dalam memuji.

  1. Larangan Menepati Nazar di Tempat Penyembahan Berhala

Nabi ﷺ melarang menepati nazar jika dilakukan di tempat yang dahulu disembah berhala atau tempat perayaan hari raya jahiliah.

Semua ini beliau larang untuk menjaga tauhid, memeliharanya, dan menutup jalan-jalan dan pintu-pintu yang menuju kepadanya.

Meski dengan penjelasan yang lengkap dari Nabi ﷺ dan kehati-hatian yang sangat ketat yang menjauhkan umat dari syirik, para penyembah kubur tetap menyelisihi sunnah Rasulullah ﷺ, durhaka kepada perintahnya, dan melakukan apa yang dilarang beliau. Mereka membangun kubah di atas kubur, membangun masjid di atasnya, menghiasinya dengan berbagai hiasan, dan mengalihkan berbagai macam ibadah kepada kubur-kubur itu selain kepada Allah.

Imam Ibn Qoyyim rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang menggabungkan antara sunnah Rasulullah ﷺ tentang kubur, apa yang beliau perintahkan dan larang, dan apa yang dilakukan para sahabatnya, dengan apa yang dilakukan kebanyakan orang hari ini, akan melihat bahwa keduanya saling bertentangan dan berseberangan sehingga tidak pernah bisa berkumpul bersama. Rasulullah ﷺ melarang shalat menghadap kubur, sementara mereka shalat di sisinya dan menghadapnya. Beliau melarang menjadikan kubur sebagai masjid, sementara mereka membangun masjid di atasnya dan menyebutnya masyahid (tempat ziarah) untuk menyaingi rumah-rumah Allah. Beliau melarang menyalakan lampu di atasnya, sementara mereka mewakafkan wakaf untuk menyalakan pelita di atasnya. Beliau melarang menjadikannya sebagai hari raya, sementara mereka menjadikannya hari raya dan tempat ibadah, berkumpul untuk itu seperti berkumpul untuk hari raya bahkan lebih. Beliau memerintahkan untuk meratakan kubur, sebagaimana yang diriwayatkan Muslim dalam Shahihnya dari Abu Hayyaj Al-Asadi yang berkata: Ali RA berkata kepadaku: ‘Maukah saya utus engkau untuk tugas yang sama dengan yang Rasulullah ﷺ utus kepadaku? Jangan engkau biarkan gambar kecuali engkau hapus, dan jangan engkau biarkan kubur yang tinggi kecuali engkau ratakan.’ Sementara mereka sangat berlebihan dalam menyelisihi hadits ini, mereka meninggikan kubur dari tanah seperti rumah dan membangun kubah di atasnya. Rasulullah ﷺ melarang mengapur kubur dan membangun di atasnya, sebagaimana yang diriwayatkan Muslim dari Jabir RA: ‘Rasulullah ﷺ melarang mengapur kubur, duduk di atasnya, dan membangun di atasnya.’ Rasulullah ﷺ melarang menulis di atas kubur, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Dawud dalam Sunannya dari Jabir: ‘Rasulullah ﷺ melarang mengapur kubur dan menulis di atasnya.’ At-Tirmidzi berkata: ‘Hadits hasan shahih.’ Sementara mereka membuat papan di atasnya dan menulis Al-Qur’an dan lainnya di atasnya. Beliau melarang menambahkan sesuatu di atas kubur selain tanahnya, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Dawud dari Jabir juga: ‘Rasulullah ﷺ melarang mengapur kubur, menulis di atasnya, atau menambahkan sesuatu di atasnya.’ Sementara mereka menambahkan batu bata, kapur, dan batu-batu di atasnya. Ibrahim An-Nakha’i berkata: ‘Mereka tidak suka batu bata di atas kubur mereka.’ Intinya, para penyembah kubur ini yang menjadikannya hari raya, menyalakan lampu di atasnya, dan membangun masjid serta kubah di atasnya, adalah orang-orang yang menyelisihi apa yang diperintahkan Rasulullah ﷺ dan menentang apa yang beliau bawa. Yang paling besar dari itu adalah menjadikan kubur sebagai masjid dan menyalakan lampu di atasnya, dan ini termasuk dosa besar…”

Demikianlah perkataan Ibn Qoyyim rahimahullah dalam menggambarkan apa yang dibuat-buat oleh penyembah kubur di zamannya, dan setelahnya keadaan semakin bertambah dan berkembang menjadi lebih parah dan lebih buruk. Orang yang mengingkari hal itu dianggap aneh, ekstrim, dan meremehkan hak para wali. Anehnya, mereka cemburu untuk mempertahankan hak para wali dengan menganggap tidak menyembah mereka sebagai penghinaan, tetapi mereka tidak cemburu terhadap penghinaan hak Allah dengan syirik besar, dan tidak cemburu terhadap penghinaan Rasulullah ﷺ dengan menyelisihi sunnahnya. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

  1. Berlebihan dalam Hak Nabi

Nabi ﷺ telah melarang berlebihan dalam memuliakannya dan memujinya, begitu pula selainnya terlebih lagi, karena hal itu akan mengarah kepada menyekutukan makhluk dalam hak Sang Khaliq – Subhanahu wa Ta’ala.

Karena itu Nabi ﷺ melarang berlebihan dalam memujinya, sebagaimana sabda beliau: “Janganlah kalian memuji saya secara berlebihan sebagaimana orang-orang Nasrani memuji Isa putra Maryam secara berlebihan. Sesungguhnya saya hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ithra adalah melampaui batas dalam memujinya, yakni: janganlah kalian memuji saya sehingga berlebihan dalam pujian kalian sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan terhadap Isa putra Maryam AS hingga mereka mengklaim ketuhanan padanya. “Sesungguhnya saya hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya,” maksudnya: sifatkanlah saya dengan itu dan jangan kalian tambahkan. Katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya sebagaimana Tuhanku mensifatkan saya dengan itu, seperti dalam firman-Nya: “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab” (QS. Al-Kahf: 1), dan firman-Nya: “Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Furqan kepada hamba-Nya” (QS. Al-Furqan: 1), dan firman-Nya: “Dan bahwasanya tatkala hamba Allah berdiri menyembah-Nya” (QS. Al-Jinn: 19), dan firman-Nya: “Hai Rasul”, dan firman-Nya: “Hai Nabi”.

Namun orang-orang musyrik menolak kecuali menyelisihi perintahnya dan melakukan larangannya. Mereka memuliakannya dengan apa yang dilarang dan diperingatkan kepada mereka, menyelisihinya dengan penyelisihan yang paling besar, dan menyerupai orang-orang Nasrani dalam berlebihan dan syirik mereka. Terjadi dari mereka berlebihan dalam hak beliau ﷺ berupa syirik yang jelas dalam prosa dan syair mereka, seperti perkataan Al-Bushiri dalam (Al-Burdah) ketika menyapa Nabi ﷺ:

“Wahai semulia makhluk, tidak ada bagiku tempat berlindung Selain engkau ketika datang musibah yang menyeluruh”

Dan setelahnya bait-bait yang isinya mengarahkan doa, perlindungan, dan berlindung kepada Rasulullah ﷺ, meminta beliau menghilangkan kesulitan-kesulitan dalam keadaan yang paling sempit dan kesulitan yang paling berat, dan melupakan Allah Azza wa Jalla. Hal itu karena setan telah menghiasi bagi penyair ini dan orang-orang sepertinya keburukan amal mereka, sehingga menampakkan kepada mereka berlebihan dalam memujinya – meski itu syirik besar – dalam bentuk cinta dan pemuliaannya ﷺ, dan menampakkan kepada mereka komitmen pada sunnah dalam tidak berlebihan kepadanya dalam bentuk kebencian dan penghinaan kepadanya. Sesungguhnya melakukan apa yang dilarang beliau ﷺ berupa berlebihan dalam memujinya dan meninggalkan mengikutinya dalam perkataan dan perbuatannya serta tidak ridha dengan hukumnya adalah penghinaan yang sesungguhnya kepadanya ﷺ. Pemuliaannya tidak akan tercapai dan cintanya tidak akan terwujud kecuali dengan mengikutinya dan membela agama serta sunnahnya.

Telah datang dalam hadits Abdullah bin Syukhair RA, dia berkata: “Saya berangkat bersama rombongan Bani Amir kepada Rasulullah ﷺ, lalu kami berkata: Engkau adalah pemimpin kami dan putra pemimpin kami. Maka beliau berkata: ‘Pemimpin adalah Allah Tabaraka wa Ta’ala.’ Kami berkata: Dan yang paling utama di antara kami dalam keutamaan dan yang paling besar di antara kami dalam pemberian. Maka beliau berkata: ‘Katakanlah dengan perkataan kalian atau sebagian perkataan kalian, dan janganlah setan menjadikan kalian sebagai pengikutnya.'” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang baik).

Dalam hadits ini, Nabi ﷺ melarang mereka mengatakan kepadanya: “Engkau pemimpin kami,” dan berkata: “Pemimpin adalah Allah Tabaraka wa Ta’ala,” dan melarang mereka mengatakan: “Yang paling utama di antara kami dalam keutamaan dan yang paling besar di antara kami dalam pemberian.” Hal itu karena beliau khawatir terhadap mereka dari berlebihan, dan tidak suka mereka menghadapinya dengan pujian yang bisa mengarahkan mereka kepada berlebihan. Beliau berkata: “Janganlah setan menjadikan kalian sebagai pengikutnya,” maksudnya: menjadikan kalian sebagai utusan dan wakilnya. Dengan ini beliau menjelaskan bahwa menghadapi yang dipuji dengan pujian – meski dengan apa yang ada padanya – adalah dari perbuatan setan, karena hal itu menyebabkan orang yang dipuji merasa besar, dan itu bertentangan dengan kesempurnaan tauhid. Hal itu juga bisa menyebabkan orang yang memuji berlebihan hingga menempatkan yang dipuji pada posisi yang tidak layak baginya.

Nabi ﷺ telah melarang berlebihan kepadanya. Ithra adalah menambahkan dalam pujian hingga hal itu mengarah kepada syirik kepadanya dan mensifatinya dengan sifat-sifat rububiyah, sebagaimana yang terjadi dalam banyak pujian nabawi yang digubah oleh sebagian orang yang berlebihan, seperti pemilik (Al-Burdah) dan lainnya, yang menarik mereka kepada syirik besar, seperti perkataan pemilik (Al-Burdah):

“Wahai semulia makhluk, tidak ada bagiku tempat berlindung Selain engkau ketika datang musibah yang menyeluruh”

Dan perkataannya: “Sesungguhnya dari kemurahan-Mu dunia dan akhirat Dan dari ilmu-Mu ilmu Lauh dan Qalam”

Nabi ﷺ ketika Allah menyempurnakan baginya maqam ubudiyah (penghambaan), beliau tidak suka dipuji untuk menjaga maqam ubudiyah dan melindungi akidah. Beliau mengarahkan umat untuk meninggalkan hal itu sebagai nasihat bagi mereka dan perlindungan bagi maqam tauhid agar tidak masuk kepadanya sesuatu yang merusaknya atau melemahkannya dari syirik dan jalannya. Di antaranya adalah larangannya kepada mereka untuk mengatakan kepadanya: “Engkau pemimpin kami.” Sayyid (pemimpin) diambil dari kata su’dad.

Ibn Atsir berkata dalam (An-Nihayah): “Sayyid digunakan untuk rabb (tuhan), malik (pemilik), syarif (mulia), fadhil (utama), karim (mulia), halim (penyabar), pemikul gangguan kaumnya, suami, pemimpin, dan yang didahulukan. Perkataannya dalam hadits mulia ini: ‘Sayyid adalah Allah’ maksudnya bahwa su’dad secara hakiki adalah milik Allah Azza wa Jalla, dan bahwa seluruh makhluk adalah hamba-hamba-Nya. Sayyid jika disebut untuk Allah Ta’ala adalah dengan makna Malik (Pemilik), Maula (Pelindung), dan Rabb (Tuhan). Ibn Abbas berkata: ‘Allah Ash-Shamad’ (QS. Al-Ikhlas: 2) yakni: Sayyid yang sempurna dalam segala jenis su’dad.”

Ibn Atsir rahimahullah berkata: “Dalam hadits disebutkan bahwa datang seorang laki-laki dari Quraisy lalu berkata: ‘Engkau pemimpin Quraisy.’ Maka beliau berkata: ‘Sayyid adalah Allah.’ Yakni: Dialah yang berhak atas kepemimpinan, seakan-akan beliau tidak suka dipuji di hadapannya dan menyukai tawadhu. Hadits: ‘Saya pemimpin anak-anak Adam dan tidak sombong’ beliau mengatakannya sebagai pemberitahuan tentang apa yang Allah muliakan kepada beliau berupa keutamaan dan su’dad, dan menceritakan nikmat Allah Ta’ala kepadanya, serta memberitahukan kepada umatnya agar iman mereka kepadanya sesuai dengan haknya dan kewajibannya. Karena itu beliau mengiringinya dengan sabdanya: ‘dan tidak sombong’ yakni: keutamaan yang saya peroleh ini adalah kemuliaan dari Allah, dan saya tidak memperolehnya dari diriku sendiri, dan tidak mencapainya dengan kekuatanku, maka tidak pantas bagi saya untuk menyombongkannya…” selesai.

Beliau ﷺ adalah pemimpin anak-anak Adam sebagaimana beliau kabarkan, tetapi ketika mereka menghadapinya dengan lafal ini, beliau melarang mereka darinya karena takut dari berlebihan yang akan mengarahkan mereka kepada syirik.

Yang memperjelas hal ini adalah apa yang diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, bahwa orang-orang berkata: “Wahai sebaik-baik kami dan putra sebaik-baik kami! Pemimpin kami dan putra pemimpin kami!” Maka beliau berkata: “Wahai manusia! Katakanlah dengan perkataan kalian, dan janganlah setan memperdaya kalian. Saya adalah Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya. Saya tidak suka kalian meninggikan saya di atas kedudukan yang Allah Azza wa Jalla tempatkan saya padanya.” (HR. An-Nasa’i dengan sanad yang baik).

Dalam hadits ini terdapat penjelasan bahwa beliau melarang mereka mengatakan: “Wahai pemimpin kami!” karena khawatir terhadap mereka dari berlebihan dalam haknya. Beliau menutup jalan ini dari dasarnya dan mengarahkan mereka untuk mensifatinya dengan dua sifat yang merupakan tingkatan tertinggi ubudiyah, dan Allah telah mensifatinya dengan keduanya di berbagai tempat dalam kitab-Nya, yaitu “hamba Allah dan Rasul-Nya.” Beliau tidak suka mereka meninggikannya di atas apa yang Allah Azza wa Jalla tempatkan beliau padanya untuk melindungi tauhid.

Hal ini banyak dalam sunnah yang tetap dari beliau ﷺ, seperti sabdanya: “Janganlah kalian memuji saya secara berlebihan sebagaimana orang-orang Nasrani memuji Isa putra Maryam secara berlebihan. Sesungguhnya saya hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya,” dan sabdanya: “Sesungguhnya tidak boleh meminta pertolongan kepadaku, sesungguhnya yang dimintai pertolongan hanyalah Allah Azza wa Jalla,” dan beliau melarang saling memuji dan bersikap keras dalam hal itu, seperti sabdanya kepada orang yang memuji seseorang: “Celakalah engkau! Engkau telah memotong leher temanmu,” dan beliau bersabda: “Jika kalian menemui para penjilat, maka lemparkan tanah ke wajah mereka.” Hal itu karena yang ditakutkan pada orang yang memuji dari berlebihan, dan pada orang yang dipuji dari takabur, dan keduanya berpengaruh pada akidah.

Masih tersisa pertanyaan: Apakah boleh mengatakan sayyid kepada makhluk?

Al-Allamah Ibn Qoyyim berkata: “Para ulama berbeda pendapat tentang bolehnya menyebut sayyid kepada manusia. Sebagian melarangnya, dinukil dari Malik, dan mereka berdalil dengan sabda Nabi ﷺ ketika dikatakan kepadanya: ‘Wahai pemimpin kami!’ beliau berkata: ‘Sayyid adalah Allah Tabaraka wa Ta’ala.’ Sebagian membolehkannya dan berdalil dengan sabda Nabi ﷺ kepada Anshar: ‘Berdirilah kepada pemimpin kalian.’ Dan ini lebih shahih dari hadits yang pertama…” selesai.

Al-Syarih berkata: “Adapun dalil mereka dengan sabda Nabi ﷺ kepada Anshar: ‘Berdirilah kepada pemimpin kalian,’ yang tampak adalah bahwa Nabi ﷺ tidak menghadapi Sa’d dengannya, maka dalam maqam ini ada rincian.” selesai.

Sepertinya yang dimaksud dengan rincian adalah bahwa tidak boleh menghadapi seseorang dan mengatakan kepadanya: “Wahai sayyid!” dari segi pujian, dan boleh mengatakan hal itu tentang haknya jika dia tidak hadir dan dia termasuk orang yang layak mendapat sifat ini, untuk menggabungkan antara dalil-dalil. Wallahu a’lam.

  1. Berlebihan kepada Orang-orang Saleh

Jika berlebihan dalam hak beliau ﷺ dilarang, maka berlebihan dalam hak selainnya dari orang-orang saleh terlebih lagi harus dilarang.

Yang dimaksud dengan berlebih-lebihan terhadap orang-orang saleh adalah: meninggikan mereka di atas kedudukan yang telah Allah tetapkan bagi mereka kepada hal-hal yang tidak boleh kecuali bagi Allah; seperti meminta pertolongan kepada mereka dalam kesulitan, tawaf di sekitar kubur mereka, mencari berkah dari tanah kubur mereka, menyembelih kurban untuk makam mereka, dan meminta bantuan dari mereka…

Sesungguhnya syaitan telah memasukkan kemusyrikan kepada kaum Nuh melalui pintu berlebih-lebihan terhadap orang-orang saleh; maka wajib berhati-hati dari hal tersebut, meskipun niatnya baik.

Dan telah terjadi pada umat ini seperti yang terjadi pada kaum Nuh ketika syaitan menampakkan kepada banyak orang yang terperdaya berupa berlebih-lebihan dan bid’ah dalam bentuk mengagungkan orang-orang saleh dan mencintai mereka; untuk menjatuhkan mereka ke dalam apa yang telah menimpa kaum Nuh; maka syaitan senantiasa membisikkan kepada penyembah kubur dan menyampaikan kepada mereka bahwa membangun dan berdiam di kubur orang-orang saleh adalah bentuk cinta kepada mereka, dan bahwa doa di sisi kubur mereka akan dikabulkan, kemudian dia memindahkan mereka dari tingkatan ini kepada berdoa dan bertawassul dengan kubur tersebut, apabila mereka sudah terbiasa dengan hal itu; dia memindahkan mereka dari hal itu kepada menyeru orang-orang yang dikubur dan menyembah mereka serta meminta syafaat dari mereka selain Allah Azza wa Jalla, maka kuburan mereka menjadi berhala, digantungi dengan lampu-lampu, diberi tirai, ditawaf, disentuh, dan dicium… Apabila mereka sudah terbiasa dengan hal itu; dia memindahkan mereka untuk mengajak manusia menyembah kubur-kubur ini, dan menjadikannya sebagai hari raya dan tempat ibadah, apabila mereka sudah terbiasa dengan hal itu, dan hal tersebut sudah menetap pada mereka; dia memindahkan mereka kepada keyakinan bahwa siapa yang melarang hal tersebut; maka dia telah merendahkan para wali dan membenci mereka, dan mengira bahwa dia tidak menghormati mereka dan tidak menghargai mereka, dan hal itu telah menyebar dalam jiwa banyak orang yang jahil dan awam, dan banyak orang yang mengaku sebagai ahli ilmu dan agama; hingga mereka memusuhi ahli tauhid, dan menuduh mereka dengan tuduhan-tuduhan besar, dan membuat manusia menjauh dari mereka; mereka melakukan semua itu di bawah kedok cinta kepada orang-orang saleh dan mengagungkan mereka, padahal mereka berdusta dalam hal itu; karena cinta kepada orang-orang saleh yang sebenarnya adalah sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, yaitu dengan mengetahui keutamaan mereka, dan meneladani mereka dalam amal-amal saleh, tanpa berlebih-lebihan dan tanpa mengurangi, “Mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau jadikan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang'” (Surat Al-Hasyr, ayat 10).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Maka setiap orang yang berlebih-lebihan terhadap seorang nabi atau orang saleh, dan menjadikan padanya jenis ketuhanan, seperti berkata: wahai tuanku fulan tolonglah aku atau bantulah aku atau berilah aku rezeki atau aku dalam lindunganmu… dan semacam ucapan ini; maka semua ini adalah syirik dan kesesatan yang pelakunya diminta untuk bertaubat, jika dia bertaubat (maka baik), dan jika tidak; maka dia dibunuh; karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya mengutus rasul dan menurunkan kitab-kitab agar Dia disembah saja tanpa sekutu, dan tidak diseru bersama-Nya tuhan yang lain, dan orang-orang yang menyeru selain Allah tuhan yang lain seperti Al-Masih dan malaikat-malaikat dan berhala-berhala tidaklah mereka meyakini bahwa mereka menciptakan makhluk atau menurunkan hujan atau menumbuhkan tumbuhan, dan mereka hanya menyembah mereka atau menyembah kubur mereka atau menyembah gambar mereka dan berkata: ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya’ (Surat Az-Zumar, ayat 3), dan mereka berkata: ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah’ (Surat Yunus, ayat 18), maka Allah Subhanahu mengutus rasul-rasul-Nya melarang menyeru siapapun selain-Nya; baik doa ibadah maupun doa istighatsah…” berakhir ucapan syaikh rahimahullah.

Dengan demikian jelaslah terbongkarnya kerancuan para penyembah kubur ini, yang membenarkan perbuatan mereka ini dengan alasan bahwa mereka tidak meyakini pada para wali adanya persekutuan dengan Allah dalam penciptaan dan pemberian rezeki dan menghidupkan dan mematikan, dan mereka hanya meyakini pada mereka bahwa mereka adalah perantara antara mereka dengan Allah dalam memenuhi kebutuhan mereka dan menghilangkan kesulitan mereka, dan ini adalah kerancuan yang sama dengan yang dikatakan oleh orang-orang musyrik jahiliyah sebagaimana Allah sebutkan dalam kitab-Nya dan Dia batalkan.

Kenyataannya bahwa kemusyrikan orang-orang belakangan ini melebihi kemusyrikan jahiliyah; mereka menyerukan nama-nama orang-orang mati ini dalam setiap kesempatan, dan mereka tidak menyebut nama Allah kecuali sedikit, dan yang senantiasa mengalir di lidah mereka adalah nama wali, sedangkan orang-orang terdahulu mereka berbuat syirik dalam kemudahan dan ikhlas dalam kesulitan, dan orang-orang ini kemusyrikan mereka terus menerus dalam kemudahan dan kesulitan; sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Muhammad bin Ismail Ash-Shan’ani rahimahullah:

“Dan betapa banyak mereka berteriak dengan nama-nama mereka ketika kesulitan sebagaimana orang yang terdesak berteriak kepada Yang Maha Esa lagi Tunggal”

Maka wahai para ulama kaum muslimin! Kalian yang bertanggung jawab atas kawanan yang tersesat dan terombang-ambing dalam kesesatan ini:

Mengapa kalian tidak menjelaskan kepada mereka jalan yang benar, dan melarang mereka dari kemusyrikan besar ini, sedangkan kalian tinggal bersama mereka dan bergaul dengan mereka?!

Mengapa kalian sia-siakan apa yang Allah wajibkan atas kalian berupa dakwah dan penjelasan dengan firman-Nya: “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang diberi kitab: ‘Hendaklah kamu menerangkan (isi)nya kepada manusia, dan jangan kamu sembunyikan'” (Surat Ali Imran, ayat 187)?!

Bukankah para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi datang dengan mengingkari kemusyrikan ini dan berjihad melawan pelakunya hingga agama seluruhnya menjadi milik Allah?!

Maka bertakwalah kepada Allah yang telah membebankan tanggung jawab ini kepada kalian dan akan meminta pertanggungjawaban kalian tentangnya; karena telah datang dalam hadits sahih bahwa ulama yang tidak mengamalkan ilmunya termasuk orang pertama yang akan dibakar api neraka pada hari kiamat.

Jika kalian melihat ini sebagai kemusyrikan dan kalian biarkan manusia melakukannya; maka perkaranya berbahaya, dan jika kalian tidak melihatnya sebagai kemusyrikan; maka perkaranya lebih berbahaya lagi; karena kalian tidak mengetahui apa yang termasuk perkara yang paling jelas kejelasannya.

Ya Allah perbaikilah keadaan kaum muslimin, dan tunjukilah orang-orang yang sesat dari mereka; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

10- Pembuatan Gambar adalah Sarana Menuju Kemusyrikan

Pembuatan gambar artinya: memindahkan bentuk dan rupanya melalui menggambar atau memotret dengan alat atau memahat, dan menetapkan bentuk ini pada papan atau kertas atau patung.

Para ulama biasa membahas pembuatan gambar dalam topik-topik akidah; karena pembuatan gambar adalah salah satu sarana kemusyrikan dan mengaku menyekutui Allah dalam penciptaan atau percobaan untuk itu. Dan kemusyrikan pertama yang terjadi di bumi adalah karena pembuatan gambar, ketika kaum Nuh nekat membuat gambar orang-orang saleh dan memasang gambar mereka di majelis-majelis.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan dari pembuatan gambar dengan segala jenisnya, dan melarangnya, dan mengancam pelakunya dengan ancaman yang sangat keras, dan memerintahkan untuk menghapus gambar-gambar dan mengubahnya; karena pembuatan gambar di dalamnya ada menyerupai ciptaan Allah Azza wa Jalla, yang menyendiri dalam penciptaan; maka manusia pembuat gambar ini mencoba menyerupai Allah Azza wa Jalla dalam apa yang Dia sendirikan yaitu penciptaan, dan karena pembuatan gambar adalah salah satu sarana kemusyrikan; maka terjadinya kemusyrikan pertama di bumi adalah karena pembuatan gambar; ketika syaitan menghias bagi kaum Nuh pembuatan gambar orang-orang saleh, dan memasang gambar mereka di majelis-majelis; untuk mengingat keadaan mereka, dan meneladani mereka dalam ibadah, hingga berakhir kepada penyembahan gambar-gambar tersebut, dan meyakini bahwa mereka bermanfaat dan berbahaya selain Allah.

Maka pembuatan gambar adalah asal mula penyembahan berhala; karena pembuatan gambar makhluk adalah pengagungan padanya, dan keterikatan dengannya pada umumnya, terutama jika yang digambar memiliki kedudukan berupa kekuasaan atau ilmu atau kesalehan, dan terutama jika gambar tersebut diagungkan dengan memasangnya di dinding atau mendirikannya di jalan atau lapangan; maka hal itu menyebabkan keterikatan dengannya dari orang-orang jahil dan ahli kesesatan, meskipun setelah beberapa waktu, kemudian ini juga di dalamnya membuka pintu untuk mendirikan berhala-berhala dan patung-patung yang disembah selain Allah.

Aku akan menyebutkan hadits-hadits sahih dan tegas dalam topik ini dengan komentar yang mudah.

1- Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang hendak menciptakan seperti ciptaan-Ku?! Maka hendaklah mereka menciptakan semut, atau hendaklah mereka menciptakan biji, atau hendaklah mereka menciptakan gandum”, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Artinya: tidak ada yang lebih zalim daripada pembuat gambar; karena dia ketika membuat gambar dalam bentuk apa yang Allah ciptakan berupa manusia atau binatang atau selainnya dari yang bernyawa; maka dia menjadi menyerupai ciptaan Allah, yang Dia adalah pencipta segala sesuatu, dan Dia adalah Rabb segala sesuatu, dan Dia yang membentuk semua makhluk, dan menjadikan di dalamnya ruh-ruh yang dengannya terjadi kehidupan mereka; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dia menciptakan langit dan bumi dengan benar dan membentuk rupa kamu dan dibaguskan-Nya rupa kamu itu” (Surat At-Taghabun, ayat 3), dan Allah Ta’ala berfirman: “Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa” (Surat Al-Hasyr, ayat 24), kemudian Allah menantang para pembuat gambar ini yang mencoba menyerupai ciptaan-Nya agar mereka wujudkan dalam gambar-gambar yang mereka buat ruh-ruh yang hidup dengannya sebagaimana dalam makhluk yang mereka gambar, dan ini adalah penjelasan ketidakmampuan dan kegagalan mereka dalam percobaan mereka, dan sebagaimana mereka tidak mampu mewujudkan hewan yang bernyawa; maka mereka tidak mampu mewujudkan buah dan biji; (maka hendaklah mereka menciptakan biji).

2- Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah orang-orang yang menyerupai ciptaan Allah”.

Ini adalah pemberitahuan darinya shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kerasnya siksaan para pembuat gambar pada hari kiamat, dan buruknya akibat mereka, meskipun mereka hidup di dunia ini dengan selamat, dan disebut seniman, dan didorong dengan berbagai dorongan; maka bagi mereka ada nasib yang menanti mereka jika mereka tidak bertaubat; karena mereka dengan perbuatan ini menyerupai ciptaan Allah; artinya: mereka menyerupai dengan apa yang mereka buat berupa gambar-gambar apa yang Allah buat berupa ciptaan dan Dia menyendiri dengannya dan Dia Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui, “Apakah mereka menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga ciptaan-ciptaan itu serupa (menurut pandangan) mereka? Katakanlah: ‘Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa'” (Surat Ar-Ra’d, ayat 16).

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam hadits ini: “Dikatakan ini ditujukan kepada pembuat gambar untuk disembah, dan dia adalah pembuat berhala dan semacamnya; maka ini adalah kafir, dan dia adalah yang paling keras siksaannya, dan dikatakan dia adalah yang bermaksud makna ini yang ada dalam hadits yaitu menyerupai ciptaan-Nya, dan meyakini hal itu; maka ini juga kafir, dan baginya kerasnya siksaan sebagaimana kafir, dan bertambah siksaannya dengan bertambahnya kekafiran, adapun yang tidak bermaksud dengannya penyembahan dan tidak menyerupai; maka dia fasik, pemilik dosa besar, tidak kafir”. Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata: “Dan jika demikian bagi yang membuat gambar dalam bentuk seperti apa yang Allah ciptakan dari hewan; maka bagaimana dengan yang menyamakan makhluk dengan Rabb semesta alam, dan mengalihkan kepadanya sesuatu dari ibadah?!”.

3- Bukhari dan Muslim rahimahuma meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Setiap pembuat gambar dijadikan baginya dengan setiap gambar yang dia buat jiwa yang dengannya dia disiksa di neraka jahannam”.

Artinya: bahwa pada hari kiamat dihadirkan gambar-gambar yang dia buat di dunia, dan dijadikan dalam setiap satu darinya jiwa yang dia disiksa dengannya di neraka jahannam; sedikit gambar atau banyak, maka sesuai dengan jumlah siksaannya; sehingga dibentuk dari setiap gambar seseorang yang dia disiksa dengannya di neraka jahannam.

4- Bukhari dan Muslim rahimahuma meriwayatkan dari Ibnu Abbas juga: “Siapa yang membuat gambar; dia diperintahkan untuk meniupkan ruh padanya, dan dia tidak akan bisa meniupkan”.

Dan ini adalah jenis lain dari siksaan bagi pembuat gambar, dan artinya jelas, yaitu bahwa pembuat gambar dihadirkan di hadapannya semua gambar yang dia buat di dunia, kemudian dia diperintahkan untuk meniupkan ruh pada setiap satu darinya, dan tidak mungkin baginya hal itu sedangkan ruh itu dari urusan Rabbku?! Dan ini hanyalah penyiksaan baginya dan ketidakmampuan baginya; karena dia diperintahkan apa yang tidak dia mampu, maka dia menjadi tersiksa; maka hadits ini menunjukkan lamanya penyiksaannya, dan menampakkan ketidakmampuannya dari apa yang dia lakukan di dunianya berupa menyerupai ciptaan Allah.

5- Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Abul Hayaj; dia berkata: Ali radhiyallahu ‘anhu berkata kepadaku: “Maukah aku utusku untuk apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku? Jangan kamu biarkan gambar kecuali kamu hapus, dan jangan kubur yang tinggi kecuali kamu ratakan”.

Dalam hadits ini terdapat perintah menghapus gambar, yaitu mengubahnya dari bentuknya hingga tidak tetap dalam keadaannya yang menyerupai ciptaan Allah, dan di dalamnya perintah menghancurkan bangunan-bangunan yang didirikan di atas kubur berupa kubah dan masjid dan selainnya dari manifestasi penyembahan berhala, maka dalam hadits ini perintah untuk menghilangkan dua sarana dari sarana kemusyrikan terbesar dan jalan-jalan yang menuju kepadanya, yaitu: pembuatan gambar dan pembangunan di atas kubur, dan ini dan yang semacamnya termasuk kemaslahatan agama terbesar dan perlindungan akidah kaum muslimin.

Dan telah banyak di zaman kita ini pembuatan gambar dan penggunaannya dan pemasangan gambar dengan menggantungnya dan menyimpan foto-foto kenangan, dan juga banyak di zaman ini pembangunan di atas kubur, hingga hal tersebut menjadi perkara yang biasa, dan itu karena jauhnya agama, dan tersembunyinya sunnah-sunnah, dan munculnya bid’ah-bid’ah, dan diamnya banyak ulama, dan menyerahnya mereka kepada kenyataan yang ada, hingga yang ma’ruf menjadi munkar dan yang munkar menjadi ma’ruf di sebagian besar negeri, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Maka yang wajib adalah mengingatkan dan menasihati karena Allah dan karena kitab-Nya dan karena nabi-Nya dan karena para imam kaum muslimin dan orang awam mereka, terutama karena para da’i kesesatan dan penyebar kebatilan banyak; maka tidak boleh tidak membongkar kepalsuan mereka, dan menolak kesesatan mereka, dan memberikan penjelasan kepada kaum muslimin tentang kejahatan mereka agar mereka mewaspadainya.

Semoga Allah memberikan taufik kepada kaum muslimin untuk mengamalkan kitab-Nya dan sunnah rasul-Nya.

Bantahan Terhadap Keraguan Orang-Orang Musyrik yang Mereka Jadikan Dalil untuk Membenarkan Kemusyrikan Mereka dalam Tauhid Uluhiyyah

Bantahan Terhadap Keraguan Orang-Orang Musyrik yang Mereka Jadikan Dalil untuk Membenarkan Kemusyrikan Mereka dalam Tauhid Uluhiyyah

Karena merebaknya keraguan dan cerita-cerita yang menyesatkan kebanyakan manusia dan mereka anggap sebagai dalil yang mereka sandari untuk membenarkan kesesatan dan kemusyrikan mereka, maka mereka terus-menerus dalam keadaan itu. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembongkaran kepalsuan dan penjelasan kebatilannya: “Agar binasa orang yang binasa atas dasar keterangan yang nyata, dan agar hidup orang yang hidup atas dasar keterangan yang nyata pula.” (Surat Al-Anfal, ayat 42).

Keraguan-keraguan ini ada yang lama yang dikemukakan oleh orang-orang musyrik dari umat-umat terdahulu, dan ada pula yang dikemukakan oleh orang-orang musyrik dari umat ini.

Keraguan-Keraguan Tersebut Meliputi:

Pertama: Keraguan Berdalih dengan Tradisi Nenek Moyang

Keraguan yang hampir menjadi kesamaan di antara golongan-golongan musyrik dalam berbagai umat, yaitu: keraguan berdalih dengan apa yang dianut oleh bapak-bapak dan nenek moyang mereka, dan bahwa mereka mewarisi akidah ini secara turun-temurun.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang mereka: “Dan demikianlah, Kami tidak mengutus seorang pemberi peringatanpun sebelum kamu ke dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak bapak-bapak kami.'” (Surat Az-Zukhruf, ayat 23).

Ini adalah hujjah yang digunakan oleh orang yang tidak mampu mendirikan dalil atas klaimnya, dan ini adalah hujjah yang lemah, tidak ada bobotnya dalam perdebatan. Sebab bapak-bapak yang mereka taklidi itu tidak berada di atas petunjuk, dan siapa yang demikian, tidak boleh diikuti dan diteladani. Allah Ta’ala berfirman sebagai bantahan terhadap mereka: “Dia (Rasul) berkata: ‘Bagaimana jika aku datang kepadamu dengan (agama) yang lebih memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?'” (Surat Az-Zukhruf, ayat 24). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun bapak-bapak mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Surat Al-Baqarah, ayat 170). Dan Allah berfirman: “Dan apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun bapak-bapak mereka itu tidak memahami suatu apapun dan tidak mendapat petunjuk?” (Surat Al-Maidah, ayat 104).

Sesungguhnya meneladani bapak-bapak itu terpuji jika mereka berada di atas kebenaran, sebagaimana Allah Ta’ala ceritakan tentang Yusuf alaihis salam bahwa dia berkata: “Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah pantas bagi kami mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah.” (Surat Yusuf, ayat 38). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka.” (Surat At-Tur, ayat 21).

Keraguan berdalih dengan apa yang dianut oleh bapak-bapak yang sesat telah mengakar dalam jiwa orang-orang musyrik, mereka hadapkan kepada seruan para nabi alaihimus salam. Kaum Nuh ketika Nuh berkata kepada mereka: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa? Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: ‘Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak melebihkan diri terhadap kamu, dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Sekali-kali kami tidak pernah mendengar (seruan) yang seperti ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.'” (Surat Al-Mu’minun, ayat 23-24). Mereka jadikan apa yang dianut nenek moyang mereka sebagai hujjah untuk menentang apa yang dibawa oleh nabi mereka Nuh alaihis salam.

Dan kaum Salih berkata kepadanya: “Apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami?” (Surat Hud, ayat 62). Dan kaum Ibrahim berkata kepadanya: “Bahkan kami mendapati bapak-bapak kami berbuat demikian.” (Surat Ash-Shu’ara, ayat 74). Dan Fir’aun berkata kepada Musa alaihis salam: “Dia berkata: ‘Maka bagaimana halnya dengan umat-umat yang terdahulu?'” (Surat Taha, ayat 51). Dan orang-orang musyrik Arab berkata kepada Muhammad shallallahu alaihi wa sallam ketika beliau berkata kepada mereka: “Katakanlah: Laa ilaaha illallah,” mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak pernah mendengar (seruan) ini dalam agama yang terakhir ini. Ini tidak lain hanyalah suatu kebohongan yang diada-adakan.” (Surat Sad, ayat 7).

Kedua: Keraguan Penyembah Kubur tentang Kalimat Tauhid

Di antara keraguan yang dikemukakan oleh penyembah kubur hari ini adalah: anggapan mereka bahwa sekadar mengucapkan “Laa ilaaha illallah” sudah cukup untuk masuk surga, walaupun seseorang melakukan apa saja. Dia tidak akan kafir selama dia mengucapkan “Laa ilaaha illallah,” dengan berpegang pada zhahir hadis-hadis yang menyebutkan bahwa siapa yang mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dia haram bagi neraka.

Jawaban atas keraguan ini: Hadis-hadis ini tidak mutlak, tetapi dibatasi oleh hadis-hadis lain yang menyebutkan bahwa orang yang mengucapkan “Laa ilaaha illallah” harus meyakini maknanya dengan hatinya dan mengamalkan konsekuensinya, yaitu mengkafirkan apa yang disembah selain Allah. Sebagaimana dalam hadis Itban: “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’ dengan mengharapkan wajah Allah.” Kalau tidak demikian, orang-orang munafik mengucapkan “Laa ilaaha illallah” dengan lisan mereka, namun mereka berada di tingkat paling bawah dari neraka, dan ucapan “Laa ilaaha illallah” tidak bermanfaat bagi mereka karena mereka tidak meyakini apa yang ditunjukkan olehnya dengan hati mereka. Dalam Shahih Muslim: “Barangsiapa mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’ dan mengkafirkan apa yang disembah selain Allah, maka haram harta dan darahnya, dan perhitungannya pada Allah.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam menggantungkan keharaman harta dan darah pada dua perkara: Pertama, mengucapkan “Laa ilaaha illallah.” Kedua, mengkafirkan apa yang disembah selain Allah. Beliau tidak cukup dengan sekadar mengucapkan “Laa ilaaha illallah,” ini menunjukkan bahwa orang yang mengucapkan “Laa ilaaha illallah” tetapi tidak meninggalkan penyembahan orang mati dan keterikatan pada makam-makam, tidak haram harta dan darahnya.

Ketiga: Keraguan tentang Tidak Adanya Syirik dalam Umat Muhammad

Di antara keraguan yang mereka kemukakan juga adalah: klaim mereka bahwa tidak terjadi syirik dalam umat Muhammad ini, dan mereka mengucapkan “Laa ilaaha illallah, Muhammadur rasulullah,” bahwa apa yang mereka praktikkan di makam-makam berupa penyembahan orang mati dan berdoa kepada mereka selain Allah tidak disebut syirik menurut mereka.

Jawaban atas keraguan ini: Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberitahu bahwa akan terjadi dalam umat ini penyerupaan terhadap Yahudi dan Nasrani dalam apa yang mereka lakukan, di antaranya adalah pengangkatan pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah. Beliau shallallahu alaihi wa sallam memberitahu bahwa tidak akan terjadi kiamat hingga suatu kelompok dari umatnya bergabung dengan orang-orang musyrik, dan hingga golongan-golongan dari umatnya menyembah berhala-berhala. Telah terjadi dalam umat ini berbagai syirik, paham-paham merusak, dan aliran-aliran sesat yang mengeluarkan banyak orang dari agama Islam padahal mereka mengucapkan “Laa ilaaha illallah, Muhammadur rasulullah.”

Keempat: Keraguan tentang Syafa’at

Di antara keraguan yang mereka pegang adalah: masalah syafa’at, mereka berkata: “Kami tidak menginginkan dari para wali dan orang-orang saleh untuk memenuhi hajat-hajat tanpa Allah, tetapi kami ingin mereka memberikan syafa’at kepada kami di sisi Allah karena mereka adalah orang-orang saleh dan memiliki kedudukan di sisi Allah, maka kami menginginkan dengan berkat kedudukan dan syafa’at mereka.”

Jawabannya: Ini persis apa yang dikatakan oleh orang-orang musyrik terdahulu untuk membenarkan apa yang mereka lakukan, dan Allah telah mengkafirkan mereka dan menyebut mereka musyrik, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala: “Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan mudharat kepada mereka dan tidak (pula) mendatangkan manfaat, dan mereka berkata: ‘Mereka itu adalah pemberi syafa’at kami di sisi Allah.'” (Surat Yunus, ayat 18).

Syafa’at itu benar, tetapi ia milik Allah semata, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Hanya kepunyaan Allah-lah syafa’at itu semuanya.'” (Surat Az-Zumar, ayat 44). Syafa’at diminta kepada Allah, bukan kepada orang-orang mati, karena Allah tidak memberikan izin untuk meminta syafa’at kepada malaikat, para nabi, atau yang lainnya, karena syafa’at adalah milik-Nya, dan diminta kepada-Nya agar Dia mengizinkan pemberi syafa’at untuk memberikan syafa’at. Tidak seperti halnya pada makhluk yang para pemberi syafa’at mendatangi mereka tanpa izin mereka, dan mereka terpaksa menerima syafa’at karena kebutuhan mereka kepada para pemberi syafa’at, walaupun mereka tidak ridha terhadap orang yang diberikan syafa’at, karena mereka membutuhkan pembantu-pembantu dan menteri-menteri. Adapun Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada yang memberikan syafa’at kecuali dengan izin-Nya dan ridha-Nya terhadap orang yang diberi syafa’at. Allah Ta’ala berfirman: “Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai-Nya.” (Surat An-Najm, ayat 26).

Kelima: Keraguan tentang Kedudukan Para Wali

Di antara keraguan mereka, mereka berkata: “Sesungguhnya para wali dan orang-orang saleh memiliki kedudukan di sisi Allah, dan kami memohon kepada Allah dengan berkat kedudukan dan tempat mereka.”

Jawabannya: Orang-orang mukmin semuanya adalah wali Allah, tetapi kepastian untuk seseorang tertentu bahwa dia adalah wali Allah membutuhkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Siapa yang terbukti kewaliannya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, tidak boleh kita berlebih-lebihan terhadapnya dan mencari berkah darinya, karena itu termasuk sarana syirik. Allah memerintahkan kita untuk berdoa kepada-Nya secara langsung tanpa mengambil perantara antara kita dan Dia, dan karena ini adalah alasan yang dikemukakan oleh orang-orang musyrik terdahulu bahwa mereka mengambil orang-orang tersebut sebagai pemberi syafa’at dan perantara antara mereka dan Allah, mereka memohon kepada Allah dengan berkat kedudukan dan kedekatan mereka, maka Allah mengingkari hal tersebut kepada mereka.

Penjelasan Jenis-Jenis Syirik Akbar

Syirik ada dua jenis: syirik akbar dan syirik ashghar. Syirik akbar menafikan tauhid dan mengeluarkan dari agama, dan memiliki jenis-jenis yang banyak. Telah dijelaskan sebelumnya sebagian jenis syirik akbar dengan apa yang dipraktikkan di sekitar makam-makam, dan ada jenis-jenis lain, di antaranya:

  1. Syirik dalam Ketakutan

Ketakutan sebagaimana didefinisikan oleh para ulama adalah: mengharapkan sesuatu yang dibenci dari tanda yang diduga atau diketahui. Ketakutan ada tiga bagian:

Pertama: Takut secara gaib, yaitu takut kepada selain Allah dari berhala atau thaghut atau mayat atau yang gaib dari jin atau manusia bahwa dia akan menimpakan kepadanya apa yang dia benci.

Sebagaimana Allah ceritakan tentang kaum Hud alaihis salam bahwa mereka berkata kepadanya: “Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian tuhan kami telah menimpakan kepadamu sesuatu yang buruk.” Dia menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, yaitu dari selain Allah. Maka jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku, kemudian janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (Surat Hud, ayat 54-55).

Orang-orang musyrik telah menakut-nakuti Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dengan berhala-berhala mereka, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka menakut-nakuti kamu dengan sembahan-sembahan yang selain Allah.” (Surat Az-Zumar, ayat 36).

Ketakutan kepada selain Allah ini adalah yang terjadi hari ini dari penyembah kubur dan berhala-berhala lainnya; mereka takut kepadanya dan menakut-nakuti dengannya ahli tauhid jika mereka mengingkari penyembahannya dan memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah kepada Allah. Jenis ketakutan ini termasuk jenis ibadah yang paling penting, wajib diikhlaskan kepada Allah semata. Allah Ta’ala berfirman: “Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Surat Ali Imran, ayat 175). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku.” (Surat Al-Baqarah, ayat 150).

Ketakutan ini termasuk maqam agama yang paling agung dan mulia. Siapa yang memalingkannya kepada selain Allah, maka dia telah berbuat syirik kepada Allah dengan syirik akbar, na’udzubillah.

Kedua dari jenis-jenis ketakutan: Seseorang meninggalkan apa yang wajib atasnya karena takut kepada sebagian manusia. Ini haram dan merupakan syirik ashghar. Ini yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala: “Orang-orang yang kepada mereka dikatakan: ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.’ Maka pulanglah mereka dengan nikmat dari Allah dan karunia-Nya, mereka tidak ditimpa sesuatu bencana pun, dan mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Sesungguhnya yang demikian itu hanyalah syaitan yang menakut-nakuti kawan-kawannya. Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Surat Ali Imran, ayat 173-175).

Ini juga ketakutan yang disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu anhu dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Janganlah salah seorang di antara kamu merendahkan dirinya.” Mereka berkata: “Wahai Rasulullah! Bagaimana salah seorang di antara kami merendahkan dirinya?” Beliau bersabda: “Dia melihat suatu perkara yang Allah wajibkan atasnya untuk berbicara di dalamnya, kemudian dia tidak berbicara di dalamnya, maka Allah Azza wa Jalla berkata kepadanya pada hari kiamat: ‘Apa yang menghalangimu untuk berbicara dalam perkara ini dan itu?’ Dia berkata: ‘Takut kepada manusia.’ Maka Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Maka Aku-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti.'”

Ketiga dari jenis-jenis ketakutan: Ketakutan alami, yaitu takut kepada musuh atau binatang buas atau yang lainnya. Ini tidak tercela, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam kisah Musa alaihis salam: “Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu.” (Surat Al-Qashash, ayat 21).

Adapun jenis pertama yaitu takut secara gaib, ini termasuk jenis ibadah yang paling agung, maka wajib diikhlaskan kepada Allah Azza wa Jalla. Demikian pula jenis kedua, ini termasuk hak-hak ibadah dan penyempurnanya.

Makna firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya yang demikian itu hanyalah syaitan yang menakut-nakuti kawan-kawannya” (Surat Ali Imran, ayat 175), yaitu: menakut-nakuti kalian dengan kawan-kawannya. “Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku” adalah larangan dari Allah kepada orang-orang mukmin untuk takut kepada selain-Nya, dan perintah kepada mereka untuk membatasi ketakutan mereka kepada-Nya. Jika mereka mengikhlaskan ketakutan dan semua jenis ibadah, Allah akan memberikan kepada mereka apa yang mereka inginkan dan mengamankan mereka dari apa yang mereka takuti. Allah Ta’ala berfirman: “Bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya? Dan mereka menakut-nakuti kamu dengan sembahan-sembahan yang selain Allah.” (Surat Az-Zumar, ayat 36).

Imam Ibnu Qayyim berkata: “Di antara tipu daya musuh Allah adalah menakut-nakuti orang-orang mukmin dengan tentara dan kawan-kawannya agar mereka tidak berjihad melawan mereka, tidak memerintahkan mereka berbuat ma’ruf dan tidak melarang mereka dari kemungkaran. Allah memberitahukan bahwa ini termasuk tipu daya dan ketakutan setan, dan melarang kita untuk takut kepada mereka. Semakin kuat iman seseorang, semakin hilang ketakutannya kepada kawan-kawan setan, dan semakin lemah imannya, semakin kuat ketakutannya kepada mereka.”

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Surat At-Taubah, ayat 18).

Allah Subhanahu memberitahukan bahwa masjid-masjid Allah tidak akan dimakmurkan kecuali oleh ahli iman kepada Allah dan hari akhir yang beriman dengan hati mereka, beramal dengan anggota tubuh mereka, dan mengikhlaskan rasa takut kepada-Nya tanpa yang lain. Allah menetapkan bagi mereka kemakmuran masjid-masjid setelah menafikannya dari orang-orang musyrik, karena kemakmuran masjid-masjid tidak terjadi kecuali dengan ketaatan dan amal saleh. Orang musyrik walaupun beramal, amalnya “seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun” (Surat An-Nur, ayat 39), atau “seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada hari yang berangin kencang” (Surat Ibrahim, ayat 18). Apa yang demikian, ketiadaan lebih baik daripadanya.

Maka masjid-masjid tidak akan makmur dengan kemakmuran yang benar kecuali dengan amal saleh yang didasarkan pada keikhlasan, tauhid, dan akidah yang benar yang bersih dari syirik, bid’ah, dan khurafat. Bukan kemakmurannya dengan tanah liat, hiasan, dan kemegahan bangunan saja, atau mendirikannya di atas kuburan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat orang yang melakukan hal tersebut.

Dan firman-Nya: “Dan dia tidak takut kecuali kepada Allah” (Surat At-Taubah: 18). Ibnu Athiyyah berkata: Maksudnya adalah takut karena pengagungan, ibadah, dan ketaatan. Dan tidak dapat dihindari bahwa manusia takut terhadap bahaya-bahaya duniawi. Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pernah menulis surat kepada Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha meminta agar beliau menuliskan wasiat untuknya tanpa memperpanjang. Maka Aisyah radhiyallahu ‘anha menulis surat yang isinya: “Kepada Mu’awiyah: Salam untukmu. Amma ba’du, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa mencari ridha Allah dengan murka manusia, maka Allah akan mencukupkan baginya urusan manusia. Dan barangsiapa mencari ridha manusia dengan murka Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia.’ Wassalam.” Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam “Al-Hilyah” dan Ibnu Hibban dalam “Shahihnya” dengan lafaz: “Barangsiapa mencari ridha Allah dengan murka manusia, maka Allah ridha kepadanya dan manusia pun ridha kepadanya. Dan barangsiapa mencari ridha manusia dengan murka Allah, maka Allah murka kepadanya dan manusia pun murka kepadanya.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Aisyah menulis kepada Mu’awiyah dan diriwayatkan bahwa beliau merafa’kannya: ‘Barangsiapa meridhai Allah dengan murka manusia, maka Allah akan mencukupkan baginya urusan manusia. Dan barangsiapa meridhai manusia dengan murka Allah, maka mereka tidak akan berguna baginya sedikitpun dari (siksa) Allah.’ Ini adalah lafaz marfu’. Adapun lafaz mauquf: ‘Barangsiapa meridhai Allah dengan murka manusia, maka Allah ridha kepadanya dan manusia pun ridha kepadanya. Dan barangsiapa meridhai manusia dengan murka Allah, maka orang yang memujinya dari kalangan manusia akan berubah menjadi mencela.’ Ini termasuk fiqh yang paling agung dalam agama. Sesungguhnya barangsiapa meridhai Allah dengan murka mereka, maka dia telah bertakwa kepada-Nya dan menjadi hamba-Nya yang saleh. Allah melindungi orang-orang yang saleh, dan Allah mencukupi hamba-Nya. ‘Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya’ (Surat At-Talaq: 2-3). Allah pasti akan mencukupi baginya urusan manusia tanpa keraguan. Adapun semua manusia ridha kepadanya, hal itu mungkin tidak tercapai, tetapi mereka akan ridha kepadanya jika mereka selamat dari kepentingan pribadi dan jika telah jelas bagi mereka akibatnya. Dan barangsiapa meridhai manusia dengan murka Allah, maka mereka tidak akan berguna baginya sedikitpun dari (siksa) Allah, seperti orang zalim yang menggigit kedua tangannya. Adapun orang yang memujinya berubah menjadi mencela, hal ini sering terjadi dan akan terjadi pada akhirnya, karena akhirat adalah untuk orang yang bertakwa, dan tidak terjadi sejak awal sesuai dengan hawa nafsu mereka.” Selesai ucapannya rahimahullah.

Dari hadis ini dengan berbagai riwayatnya jelaslah bahwa jika seseorang dengan amalnya mencari ridha Allah dengan sesuatu yang membuat manusia murka, maka dia akan mendapat dua kemaslahatan besar: ridha Allah dan ridha manusia. Dan barangsiapa sebaliknya, dengan amalnya mencari ridha manusia dengan sesuatu yang membuat Allah murka, maka dia akan mendapat dua kemudaratan: murka Allah dan murka manusia. Hal ini menunjukkan bahwa meridhai Allah mengumpulkan semua kebaikan, dan meridhai manusia dengan sesuatu yang membuat Allah murka mengumpulkan semua keburukan. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan kesejahteraan.

Kita harus mengetahui bahwa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala harus disertai dengan harap dan cinta, sehingga tidak mendorong pada keputusasaan dari rahmat Allah. Orang beriman berjalan kepada Allah di antara takut dan harap, sehingga tidak hanya mengikuti rasa takut sampai putus asa dari rahmat Allah, dan tidak hanya mengikuti harapan sampai merasa aman dari makar Allah. Karena putus asa dari rahmat Allah dan merasa aman dari makar Allah bertentangan dengan tauhid. Allah berfirman: “Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Tiada yang merasa aman dari makar Allah kecuali kaum yang merugi” (Surat Al-A’raf: 99).

Dan Allah berfirman: “Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir” (Surat Yusuf: 87).

Dan Allah berfirman: “Dan siapakah yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat?” (Surat Al-Hijr: 56).

Ismail bin Rafi’ berkata: “Termasuk merasa aman dari makar Allah adalah seorang hamba terus-menerus berbuat dosa sambil berangan-angan mendapat ampunan dari Allah.”

Para ulama berkata: Putus asa adalah menganggap jauh datangnya pertolongan dan berputus asa darinya. Ini adalah lawan dari merasa aman dari makar Allah, dan keduanya adalah dosa besar.

Tidak boleh bagi orang beriman hanya mengandalkan rasa takut sampai putus asa dari rahmat Allah, dan tidak boleh hanya mengandalkan harapan sampai merasa aman dari siksa Allah. Tetapi hendaklah dia takut sekaligus berharap; takut terhadap dosa-dosanya, beramal dengan ketaatan kepada Allah, dan berharap kepada rahmat-Nya. Sebagaimana Allah berfirman tentang para nabi-Nya: “Sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan adalah mereka itu orang-orang yang khusyuk kepada Kami” (Surat Al-Anbiya: 90). Dan Allah berfirman: “Mereka itu adalah orang-orang yang berdoa kepada Tuhannya, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (patut) ditakuti” (Surat Al-Isra: 57).

Takut dan harap jika berkumpul akan mendorong hamba untuk beramal dan melakukan sebab-sebab yang bermanfaat. Dengan harapan dia mengerjakan ketaatan karena mengharap pahalanya, dan dengan takut dia meninggalkan kemaksiatan karena takut akan siksanya. Adapun jika dia putus asa dari rahmat Allah, maka dia akan berhenti dari amal saleh. Dan jika dia merasa aman dari siksa dan hukuman Allah, maka dia akan terdorong untuk berbuat maksiat.

Sebagian ulama berkata: Barangsiapa menyembah Allah hanya dengan cinta, maka dia sufi. Barangsiapa menyembah-Nya hanya dengan takut, maka dia haruri (khawarij). Barangsiapa menyembah-Nya hanya dengan harap, maka dia murji’ah. Dan barangsiapa menyembah-Nya dengan cinta, takut, dan harap, maka dia mukmin, sebagaimana Allah menggambarkan pilihan makhluk-Nya dengan berfirman: “Mereka itu adalah orang-orang yang berdoa kepada Tuhannya, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya” (Surat Al-Isra: 57).

Allah menggambarkan orang-orang yang mengabaikan sisi takut, terjun dalam kemaksiatan, dan merasa aman dari hukuman sebagai orang-orang yang merugi. Allah berfirman: “Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksa Kami kepada mereka pada malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksa Kami kepada mereka di waktu dhuha ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah? Tiada yang merasa aman dari makar Allah kecuali kaum yang merugi” (Surat Al-A’raf: 97-99).

Makna ayat-ayat tersebut adalah bahwa ketika Allah menyebutkan keadaan penduduk negeri yang mendustakan rasul-rasul dan terus-menerus dalam kekafiran dan kemaksiatan, Allah menyebutkan bahwa yang mendorong mereka pada hal itu adalah rasa aman dari makar Allah dan tidak takut kepada-Nya. Makar Allah adalah bahwa jika seorang hamba mendurhakai-Nya dan membuatnya murka, Dia memberinya nikmat-nikmat yang hamba itu sangka berasal dari ridha Allah padahal itu adalah istidraj (penundaan siksa) baginya. Maka orang-orang kafir itu merasa aman dari makar Allah terhadap mereka ketika Allah memberi mereka istidraj dengan kesenangan dan nikmat-nikmat, lalu mereka mendurhakai rasul-rasul mereka dan terus-menerus dalam kemaksiatan hingga Allah membinasakan mereka. Allah memperingatkan orang-orang sesudah mereka agar tidak berbuat seperti perbuatan mereka sehingga menimpa mereka apa yang menimpa mereka. Allah berfirman: “Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (hancur) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami dapat menimpakan kepada mereka (azab) karena dosa-dosa mereka; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran)?” (Surat Al-A’raf: 100).

Sebagian ulama berkata: Takut seorang hamba timbul dari beberapa hal: Pertama: Mengetahui kejahatan dan keburukannya. Kedua: Membenarkan ancaman dan bahwa Allah telah menetapkan hukuman bagi kemaksiatan. Ketiga: Dia tidak tahu, mungkin dia dicegah dari taubat dan dihalangi darinya jika melakukan dosa.

Dengan ketiga hal ini sempurnalah rasa takutnya sebelum dan sesudah berbuat dosa, dan rasa takutnya akan lebih kuat.

Para nabi alaihimus salam tidak pernah terputus harapan mereka kepada Allah dan tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah dalam segala keadaan, bagaimanapun beratnya masalah dan lemahnya sebab-sebab.

Ini adalah Khalilullah Ibrahim alaihis salam ketika para malaikat memberinya kabar gembira tentang anak di usia tuanya dan keadaan istrinya yang dalam kondisi sulit mendapat anak, dia berkata: “Dan siapakah yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat?” (Surat Al-Hijr: 56), karena dia mengetahui dari kekuasaan Allah dan rahmat-Nya yang lebih besar dan agung dari itu. Tetapi dia berkata kepada para malaikat: “Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, maka dengan apakah kamu memberi kabar gembira (kepadaku)?” (Surat Al-Hijr: 54). Dia berkata demikian sebagai bentuk keheranan dan perenungan atas besarnya kekuasaan Allah dan rahmat-Nya.

Ini adalah Nabiyullah Ya’qub alaihis salam, ketika masalahnya semakin berat dan keadaan semakin genting karena berpisah dengan anak-anaknya, harapannya kepada Allah semakin besar dan keinginannya pada rahmat-Nya menguat. Dia berkata kepada anak-anaknya yang ada bersamanya: “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (Surat Yusuf: 87). Dan dia berkata: “Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka kepadaku semuanya” (Surat Yusuf: 83).

Ini adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Allah katakan tentang beliau: “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: ‘Janganlah kamu berdukacita, sesungguhnya Allah bersama kita'” (Surat At-Taubah: 40). Harapannya besar di saat kesulitan dan beliau bersabda: “Ketahuilah bahwa kelapangan itu bersama kesempitan.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang banyak dosanya dan besar kejahatannya agar hal itu tidak mendorong mereka untuk putus asa dari rahmat-Nya dan meninggalkan taubat darinya. Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya'” (Surat Az-Zumar: 53-54). Allah melarang hamba-hamba-Nya agar banyaknya dosa mereka tidak mendorong mereka meninggalkan taubat dan berputus asa dari ampunan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghitung putus asa dari rahmat Allah sebagai dosa besar. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang dosa-dosa besar. Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah, berputus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari makar Allah.” Dari Ibnu Mas’ud dia berkata: “Dosa besar yang paling besar adalah: menyekutukan Allah, merasa aman dari makar Allah, putus asa dari rahmat Allah, dan berputus asa dari rahmat Allah.”

Karena putus asa dari rahmat Allah adalah buruk sangka kepada Allah dan ketidaktahuan tentang luasnya rahmat dan ampunan-Nya. Merasa aman dari makar Allah adalah ketidaktahuan tentang Allah dan kekuasaan-Nya, kepercayaan pada diri sendiri, dan kagum padanya. Dalam hal ini ada peringatan agar hamba selalu berada di antara takut dan harap. Jika takut, jangan sampai putus asa dan berputus asa, tetapi berharap pada rahmat Allah. Jika berharap, jangan sampai harapan itu membawanya hingga merasa aman dari hukuman.

Sebagian salaf menganjurkan agar hamba menguatkan sisi takut di saat sehat dan menguatkan sisi harap di saat sakit dan menjelang maut.

Keseimbangan hati antara takut dan harap mendorong pada amal saleh, menjauhi kemaksiatan, dan bertaubat dari dosa. Adapun jika keseimbangan hati terganggu dan condong ke satu sisi, maka hal ini akan menghentikan gerakan amal, menghalangi jalan taubat, dan menjatuhkan pada kebinasaan.

Dalam kisah yang Allah ceritakan tentang umat-umat terdahulu yang menelantarkan sisi takut sehingga menimpa mereka siksa Allah terdapat peringatan terbaik bagi orang-orang beriman.

Itulah kaum Hud berkata kepadanya: “Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat. (Agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang-orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab.” Maka mereka mendustakannya, lalu Kami binasakan mereka (Surat Asy-Syu’ara: 136-139).

Takut dan harap termasuk jenis ibadah yang paling agung. Wajib mengikhlaskannya kepada Allah, dan merusaknya adalah merusak tauhid dan merusak akidah.

2- Syirik dalam Cinta

Telah kami katakan sebelumnya: Sesungguhnya takut kepada Allah tidak boleh tidak disertai dengan cinta kepada-Nya Subhanahu, karena menyembah-Nya hanya dengan takut adalah dasar agama Khawarij. Cinta adalah dasar agama Islam yang menjadi porosnya. Dengan sempurnanya cinta kepada Allah sempurnalah agama Islam, dan dengan kurangnya cinta berkuranglah tauhid seseorang.

Yang dimaksud dengan mahabbah (cinta) di sini adalah cinta penghambaan yang mengharuskan kehinaan, ketundukan, kesempurnaan ketaatan, dan mengutamakan yang dicintai di atas yang lainnya. Cinta seperti ini khusus untuk Allah, tidak boleh ada yang disekutukan dengan-Nya dalam hal ini, karena cinta itu terbagi menjadi dua bagian: cinta yang khusus, yaitu cinta penghambaan yang mengharuskan kesempurnaan kehinaan dan ketaatan kepada yang dicintai, dan ini khusus untuk Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Bagian kedua adalah cinta yang umum, dan ini terbagi menjadi tiga jenis:

Jenis pertama: cinta alamiah, seperti cintanya orang lapar kepada makanan. Jenis kedua: cinta kasih sayang, seperti cintanya orang tua kepada anaknya. Jenis ketiga: cinta keakraban dan kebiasaan, seperti cintanya partner kepada partnernya dan teman kepada temannya.

Cinta ini dengan ketiga bagiannya tidak mengharuskan pengagungan dan kehinaan, tidak ada yang dicela karenanya, dan tidak bertentangan dengan cinta yang khusus. Maka keberadaannya bukan syirik, namun cinta yang khusus harus didahulukan atasnya.

Cinta yang khusus – yaitu cinta penghambaan – inilah yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala: “Dan di antara manusia ada yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (Surat Al-Baqarah, ayat 165)

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata tentang ayat ini: “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa siapa yang mencintai sesuatu selain Allah sebagaimana ia mencintai Allah Ta’ala, maka ia termasuk orang yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah dalam cinta dan pengagungan.”

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala menyebutkan keadaan orang-orang musyrik di dunia dan apa yang mereka terima di akhirat berupa azab dan siksaan, di mana mereka menjadikan Allah ‘tandingan-tandingan’, yaitu yang serupa dan yang setara, ‘mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah’, yaitu mereka menyamakan mereka dengan Allah dalam cinta dan pengagungan.”

Inilah yang dikatakan Ibnu Katsir rahimahullah yang merupakan pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, sebagaimana Allah menceritakan penyamaan ini dari mereka dalam firman-Nya: “Demi Allah, sesungguhnya kami benar-benar dalam kesesatan yang nyata, ketika kami menyamakan kamu dengan Tuhan semesta alam.” (Surat Asy-Syu’ara, ayat 97-98), dan firman-Nya: “Kemudian orang-orang yang kafir mempersekutukan (Tuhan mereka dengan sesuatu) dengan Tuhan mereka.” (Surat Al-An’am, ayat 1)

Dan firman Allah Ta’ala: “Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah” (Surat Al-Baqarah, ayat 165), yaitu lebih sangat cintanya kepada Allah daripada pemilik tandingan-tandingan kepada Allah, dan ada yang berkata: lebih sangat cintanya kepada Allah daripada pemilik tandingan-tandingan kepada tandingan-tandingan mereka. Maka ayat tersebut menunjukkan bahwa siapa yang mencintai sesuatu sebagaimana cintanya kepada Allah, maka ia telah menjadikannya sebagai tandingan bagi Allah.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata: “Dan dalam hal ini, siapa yang menjadikan tandingan yang cintanya menyamai cinta kepada Allah, maka itu adalah syirik akbar.”

Dan kami katakan tadi: bahwa cinta kepada Allah yang merupakan cinta penghambaan, wajib didahulukan atas cinta yang bukan penghambaan, yaitu cinta yang umum, seperti cinta kepada ayah, anak, istri, dan harta, karena Allah mengancam orang yang mendahulukan cinta ini atas cinta kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (Surat At-Taubah, ayat 24)

Maka Allah Subhanahu mengancam orang yang mendahulukan kedelapan hal yang dicintai itu atas cinta kepada Allah dan Rasul-Nya serta amal-amal yang dicintai-Nya, dan Dia tidak mengancam hanya karena mencintai hal-hal tersebut, karena ini adalah sesuatu yang sudah menjadi fitrah manusia dan bukan pilihan, tetapi Dia mengancam orang yang mendahulukan cintanya kepada hal-hal tersebut atas cinta kepada Allah dan Rasul-Nya serta cinta kepada apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Maka harus mengutamakan apa yang dicintai Allah dari hamba-Nya dan yang dikehendaki-Nya atas apa yang dicintai dan dikehendaki hamba.

Cinta kepada Allah memiliki tanda-tanda yang menunjukkannya: Di antaranya: bahwa orang yang mencintai Allah Ta’ala akan mendahulukan apa yang dicintai Allah berupa amal-amal atas apa yang dicintai dirinya berupa syahwat, kenikmatan, harta, anak, dan tanah air.

Di antaranya: bahwa orang yang mencintai Allah Ta’ala akan mengikuti Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam apa yang dibawanya, maka ia melakukan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.'” (Surat Ali Imran, ayat 31-32)

Sebagian salaf berkata: “Ada kaum yang mengaku mencintai Allah, maka Allah Ta’ala menurunkan ayat cinta: ‘Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kamu.’ Dalam ayat tersebut terdapat penjelasan tentang dalil cinta kepada Allah beserta buah dan faedahnya. Dalil dan tandanya adalah mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan faedah dan buahnya adalah memperoleh cinta Allah kepada hamba dan pengampunan-Nya atas dosa-dosanya.”

Di antara tanda-tanda kebenaran cinta hamba kepada Allah adalah apa yang disebutkan Allah dalam firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (Surat Al-Maidah, ayat 54)

Dalam ayat mulia ini disebutkan empat tanda untuk cinta kepada Allah:

Tanda pertama: bahwa orang-orang yang mencintai Allah bersikap lemah lembut kepada orang-orang mukmin, maksudnya mereka mengasihani, merahmati, dan menyayangi mereka. Atha’ rahimahullah berkata: “Mereka bagi orang-orang mukmin seperti orang tua bagi anaknya.”

Tanda kedua: mereka bersikap keras kepada orang-orang kafir, yaitu menampakkan kepada mereka sikap keras, tegas, dan tinggi hati, dan tidak menampakkan kepada mereka sikap tunduk dan lemah.

Tanda ketiga: mereka berjihad di jalan Allah dengan jiwa, tangan, harta, dan lisan untuk mengangkat agama Allah dan melawan musuh-musuh-Nya dengan segala cara.

Tanda keempat: mereka tidak takut celaan orang yang mencela dalam (urusan) Allah. Tidak berpengaruh kepada mereka penghinaan dan celaan orang terhadap apa yang mereka korbankan berupa jiwa dan harta untuk menolong kebenaran, karena keyakinan mereka akan kebenaran apa yang mereka anut dan kuatnya iman serta keyakinan mereka. Setiap orang yang mengaku mencintai namun terpengaruh oleh celaan sehingga melemahkannya dari membela kekasihnya, maka ia bukanlah pencinta yang sesungguhnya.

Sebab-sebab yang mendatangkan cinta kepada Allah Ta’ala ada sepuluh hal yang disebutkan Ibnu Qayyim rahimahullah, yaitu:

Pertama: membaca Al-Qur’an dengan tadabbur dan memahami maknanya serta apa yang dimaksud dengannya. Kedua: mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan nawafil (sunnah) setelah fara’id (wajib). Ketiga: senantiasa berdzikir kepada Allah dalam segala keadaan dengan lisan, hati, dan amal. Keempat: mengutamakan apa yang dicintai Allah atas apa yang dicintai hamba ketika keduanya bertentangan. Kelima: merenungkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dan apa yang ditunjukkannya dari kesempurnaan dan keagungan, serta apa yang ditimbulkannya dari pengaruh-pengaruh yang terpuji. Keenam: merenungkan nikmat-nikmat Allah yang zahir dan batin serta menyaksikan kebaikan, ihsan, dan pemberian-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Ketujuh: hancurnya hati di hadapan Allah dan membutuhkan-Nya. Kedelapan: berkhalwat dengan Allah pada waktu turunnya rahmat Ilahi ketika tinggal sepertiga malam yang terakhir dan membaca Al-Qur’an pada waktu ini, serta mengakhirinya dengan istighfar dan taubat. Kesembilan: bergaul dengan ahli kebaikan dan kesalehan yang mencintai Allah ‘azza wa jalla dan mengambil manfaat dari pembicaraan mereka. Kesepuluh: menjauhkan diri dari segala sebab yang menghalangi antara hati dengan Allah berupa hal-hal yang menyibukkan.

Di antara konsekuensi dan kelaziman cinta kepada Allah adalah cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” Yaitu tidak beriman dengan keimanan yang sempurna kecuali orang yang Rasul lebih ia cintai daripada dirinya dan orang yang paling dekat dengannya.

Cinta kepada Rasul mengikuti cinta kepada Allah, menyertainya. Siapa yang mencintai Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengikutinya. Maka siapa yang mengaku mencintainya ‘alaihish shalatu was salam padahal ia menyelisihinya dalam apa yang dibawanya, lalu ia mentaati selain Rasul dari orang-orang yang sesat, ahli bid’ah, dan yang menyimpang, sehingga ia menghidupkan bid’ah dan meninggalkan sunnah, maka ia dusta dalam klaimnya bahwa ia mencintai Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena orang yang mencintai akan mentaati yang dicintainya.

Maka orang-orang yang mengada-adakan bid’ah yang menyelisihi sunnah Rasul dengan menghidupkan maulid dan bid’ah-bid’ah lainnya, atau melakukan yang lebih besar dari itu berupa ghuluw (berlebihan) terhadap Nabi dan berdoa kepadanya selain Allah serta meminta pertolongan darinya dan beristighatsah kepadanya, namun dengan itu mereka mengaku mencintainya, maka ini termasuk dusta yang paling besar. Mereka seperti orang-orang yang Allah firmankan tentang mereka: “Mereka berkata: ‘Kami beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami taat.’ Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu. Dan mereka itu bukanlah orang-orang mukmin.” (Surat An-Nur, ayat 47), karena Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang perkara-perkara ini, dan mereka telah menyelisihi larangannya serta melakukan kemaksiatannya, padahal mereka mengaku mencintainya. Maka mereka berdusta, kita memohon keselamatan kepada Allah.

3 – Syirik dalam Tawakkal:

Tawakkal dalam bahasa artinya: i’timad (bersandar) dan tafwidh (menyerahkan), dan ia termasuk amal hati. Dikatakan: tawakkal dalam suatu perkara jika ia menjamin untuk mengerjakannya, dan “wakkaltu amri ila fulan” jika aku bersandar kepadanya.

Tawakkal kepada Allah termasuk jenis ibadah yang paling agung yang wajib diikhlaskan untuk Allah. Allah Ta’ala berfirman: “Dan hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakkal, jika kamu orang-orang yang beriman.” (Surat Al-Maidah, ayat 23)

Tawakkal kepada selain Allah Ta’ala terbagi menjadi beberapa bagian:

Pertama: tawakkal dalam perkara-perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah, seperti tawakkal kepada orang mati, orang ghaib, dan sejenisnya dari thaghut-thaghut dalam mewujudkan keinginan berupa pertolongan, penjagaan, rezeki, atau syafa’at. Ini adalah syirik akbar.

Kedua: tawakkal dalam sebab-sebab yang zahir, seperti orang yang bertawakkal kepada penguasa, amir, atau orang hidup yang mampu dalam hal yang Allah berikan kepadanya berupa pemberian atau menolak bahaya dan semacamnya. Ini adalah syirik ashghar, karena ia bersandar kepada orang tersebut.

Ketiga: tawakkal yang berupa penunjukan seseorang untuk melakukan pekerjaan untuknya yang ia mampu lakukan, seperti jual beli. Ini boleh, tetapi tidak boleh bersandar kepadanya dalam memperoleh apa yang ia wakilkan kepadanya, melainkan bertawakkal kepada Allah dalam memudahkan urusannya yang ia minta sendiri atau melalui wakilnya, karena mewakilkan seseorang dalam memperoleh perkara-perkara yang boleh termasuk sebab-sebab, dan sebab-sebab tidak disandari, melainkan disandari kepada Allah Subhanahu yang merupakan musabbib al-asbab (yang menyebabkan sebab-sebab) dan yang menyatukan sebab dengan yang disebabkan.

Tawakkal kepada Allah dalam menolak madharat dan memperoleh rezeki serta apa yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh-Nya termasuk jenis ibadah yang paling agung. Tawakkal kepada selain-Nya dalam hal itu adalah syirik akbar. Allah Ta’ala berfirman: “Dan hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakkal, jika kamu orang-orang yang beriman.” (Surat Al-Maidah, ayat 23)

Allah Subhanahu memerintahkan tawakkal kepada-Nya saja, karena mendahulukan ma’mul (objek) memberikan faedah pembatasan, dan Dia menjadikan tawakkal kepada-Nya sebagai syarat dalam keimanan, sebagaimana Dia menjadikannya syarat dalam keislaman dalam firman-Nya: “Musa berkata: ‘Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.'” (Surat Yunus, ayat 84)

Ini menunjukkan terputusnya keimanan dan keislaman dari orang yang tidak bertawakkal kepada Allah atau bertawakkal kepada selain-Nya dalam hal yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh-Nya, dari penghuni kubur, makam, dan seluruh berhala.

Tawakkal kepada Allah adalah fardhu yang wajib diikhlaskan untuk Allah, dan ia adalah jenis ibadah yang paling komprehensif, maqam tauhid yang paling tinggi, paling agung, dan paling mulia, karena amal-amal shalih yang timbul darinya. Jika ia bersandar kepada Allah dalam seluruh urusan agama dan dunianya tanpa selain-Nya, maka benar keikhlasan dan mu’amalahnya dengan Allah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Tidak ada seorang pun yang berharap kepada makhluk atau bertawakkal kepadanya kecuali akan kecewa harapannya kepadanya…” selesai.

Tawakkal kepada Allah termasuk maqam yang paling agung dari “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” Tidak tercapai kesempurnaan tauhid dengan ketiga jenisnya kecuali dengan kesempurnaan tawakkal kepada Allah Subhanahu.

Allah Ta’ala berfirman: “Tuhan timur dan barat; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (Surat Al-Muzzammil, ayat 9)

Ayat-ayat yang memerintahkan tawakkal sangat banyak sekali. Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya.” (Surat Ath-Thalaq, ayat 3)

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata pada firman Allah Ta’ala: “Dan hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakkal, jika kamu orang-orang yang beriman” (Surat Al-Maidah, ayat 23): “Maka Dia menjadikan tawakkal kepada Allah sebagai syarat dalam keimanan, ini menunjukkan terputusnya keimanan ketika tawakkal tidak ada.”

Semakin kuat keimanan hamba, semakin kuat tawakkalnya. Jika keimanan lemah, tawakkal pun lemah. Jika tawakkal lemah, maka itu adalah dalil lemahnya keimanan dan pasti demikian.

Allah Ta’ala dalam beberapa tempat di dalam kitab-Nya menggabungkan antara tawakkal dengan ibadah, antara tawakkal dengan keimanan, antara tawakkal dengan takwa, antara tawakkal dengan keislaman, dan antara tawakkal dengan hidayah. Maka jelaslah bahwa tawakkal adalah asal bagi seluruh maqam keimanan dan ihsan, bagi seluruh amal keislaman, dan bahwa kedudukannya bagi semuanya seperti kedudukan kepala bagi jasad. Sebagaimana kepala tidak berdiri kecuali di atas badan, demikian pula keimanan dengan maqam-maqam dan amal-amalnya tidak berdiri kecuali di atas tiang tawakkal.

Allah telah menjadikan tawakal kepada-Nya sebagai salah satu sifat paling menonjol dari orang-orang beriman. Sebagaimana firman-Nya Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi dalam Surat Al-Anfal ayat 2: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan kepada Tuhan merekalah mereka bertawakal.”

Maksudnya adalah mereka bergantung kepada-Nya dengan hati mereka, sehingga mereka tidak mengharap selain-Nya. Dalam ayat ini terdapat gambaran orang-orang beriman yang hakiki dengan tiga kedudukan dari kedudukan-kedudukan ihsan, yaitu: rasa takut, bertambahnya iman, dan tawakal kepada Allah semata.

Tawakal kepada Allah tidak bertentangan dengan berusaha mencari sebab-sebab dan mengambilnya. Sesungguhnya Allah telah menentukan takdir-takdir yang terkait dengan sebab-sebab. Allah telah memerintahkan untuk menggunakan sebab-sebab bersamaan dengan perintah-Nya untuk bertawakal. Mengambil sebab-sebab adalah ketaatan kepada Allah, karena Allah memerintahkan hal itu, dan itu termasuk amal anggota badan. Sedangkan tawakal adalah amal hati, yaitu beriman kepada Allah.

Allah berfirman dalam Surat An-Nisa ayat 71: “Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu.”

Allah berfirman dalam Surat Al-Anfal ayat 60: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.”

Allah berfirman dalam Surat Al-Jumu’ah ayat 10: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah.”

Sebagian ulama berkata: “Barangsiapa yang mencela gerakan (maksudnya: dalam berusaha, bekerja, dan mengambil sebab-sebab), maka dia telah mencela sunnah. Dan barangsiapa yang mencela tawakal, maka dia telah mencela iman.”

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Amal-amal yang dikerjakan hamba ada tiga bagian:

Pertama: Ketaatan-ketaatan yang diperintahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya dan dijadikan-Nya sebagai sebab keselamatan dari neraka dan masuk surga. Maka ini harus dilakukan bersamaan dengan tawakal kepada Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya, karena tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah. Apa yang dikehendaki-Nya terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak terjadi. Barangsiapa yang lalai dalam sesuatu dari hal itu, maka dia berhak mendapat (siksa) di dunia dan akhirat, baik secara takdir maupun syariat.

Yusuf bin Asybath berkata: “Dikatakan: Bekerjalah seperti orang yang tidak akan diselamatkannya kecuali amalnya, dan bertawakallah seperti tawakal orang yang tidak akan menimpanya kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya.”

Kedua: Apa yang telah dijadikan Allah sebagai kebiasaan di dunia dan diperintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk melakukannya, seperti makan ketika lapar, minum ketika haus, berteduh dari panas, menghangatkan diri dari dingin…

Dan yang serupa dengan itu. Maka ini juga wajib bagi hamba untuk menggunakan sebab-sebabnya. Barangsiapa yang lalai dalam hal itu hingga dia dirugikan karena meninggalkannya padahal dia mampu melakukannya, maka dia telah berlebih-lebihan dan berhak mendapat hukuman. Namun Allah menguatkan sebagian hamba-hamba-Nya dalam hal itu dengan kekuatan yang tidak diberikan kepada yang lain. Jika dia beramal sesuai dengan kekuatan yang dikhususkan untuknya dari yang lain, maka tidak ada dosa baginya.

Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyambung puasanya (wisal) dan melarang hal itu kepada para sahabatnya, beliau berkata kepada mereka: “Aku tidak seperti keadaan kalian, sesungguhnya aku diberi makan dan minum.”

Di antara salaf ada yang memiliki kekuatan untuk meninggalkan makanan dan minuman yang tidak dimiliki orang lain. Barangsiapa yang memiliki kekuatan lalu beramal sesuai dengan kekuatannya, dan hal itu tidak melemahkannya dari ketaatan kepada Allah, maka tidak ada dosa baginya. Barangsiapa yang memaksa dirinya hingga melemahkan dirinya dari sebagian kewajiban-kewajiban, maka dia dicela karena hal itu.

Bagian ketiga: Apa yang dijadikan Allah sebagai kebiasaan di dunia dalam kebanyakan hal…”

Hingga beliau berkata: “Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata: Penduduk Yaman dahulu berhaji tanpa membawa bekal, mereka berkata: ‘Kami orang-orang yang bertawakal.’ Maka mereka berhaji, kemudian datang ke Makkah lalu meminta-minta kepada orang-orang. Maka Allah menurunkan ayat ini dalam Surat Al-Baqarah ayat 197: ‘Dan berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.'”

Ahmad rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang duduk-duduk saja tidak bekerja dan berkata: “Aku bertawakal kepada Allah.” Maka beliau berkata: “Seharusnya semua orang bertawakal kepada Allah, tetapi mereka harus menghidupi diri mereka sendiri dengan bekerja. Para nabi dahulu menyewakan diri mereka sendiri, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyewakan dirinya sendiri, begitu juga Abu Bakar dan Umar, dan mereka tidak berkata: ‘Kami akan duduk-duduk sampai Allah memberi rezeki kepada kami.'”

Allah berfirman dalam Surat Al-Jumu’ah ayat 10: “Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah.”

Tirmidzi meriwayatkan dari hadits Anas, dia berkata: “Seorang laki-laki berkata: ‘Ya Rasulullah! Apakah aku mengikat (unta)ku lalu bertawakal, ataukah aku lepaskan lalu bertawakal?’ Beliau bersabda: ‘Ikatlah lalu bertawakal.'”

Semua ini menunjukkan bahwa tawakal tidak bertentangan dengan menggunakan sebab-sebab yang dibolehkan, bahkan menggabungkan keduanya bisa jadi lebih utama.

Umar bin Al-Khattab pernah bertemu dengan orang-orang Yaman, lalu berkata: “Kalian siapa?” Mereka menjawab: “Kami orang-orang yang bertawakal.” Beliau berkata: “Tidak, kalian orang-orang yang makan (dari hasil meminta-minta). Sesungguhnya orang yang bertawakal adalah orang yang menanam bijinya di tanah lalu bertawakal kepada Allah.”

Syirik dalam Ketaatan

Ketahuilah, semoga Allah memberi taufik kepada saya dan kalian, bahwa termasuk syirik adalah mentaati para ulama dan penguasa dalam menghalalkan apa yang diharamkan Allah atau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah. Allah berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 31: “Mereka menjadikan orang-orang alim mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”

Dalam hadits yang shahih: “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini kepada Adi bin Hatim Ath-Tha’i, maka dia berkata: ‘Ya Rasulullah! Kami tidak menyembah mereka.’ Beliau bersabda: ‘Bukankah mereka menghalalkan bagimu apa yang diharamkan Allah lalu kalian menghalalkannya, dan mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah lalu kalian mengharamkannya?’ Dia menjawab: ‘Benar.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Itulah penyembahan kalian kepada mereka.'” (HR. Tirmidzi dan lainnya)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menafsirkan dalam hadits ini bahwa menjadikan para ahli kitab dan rahib sebagai tuhan selain Allah bukan berarti rukuk dan sujud kepada mereka, melainkan maknanya adalah mentaati mereka dalam mengubah hukum-hukum Allah dan mengganti syariat-Nya. Mereka telah menjadikan diri mereka sebagai sekutu Allah dalam membuat syariat. Barangsiapa yang mentaati mereka dalam hal itu, maka dia telah menjadikan mereka sebagai sekutu Allah dalam membuat syariat, menghalalkan, dan mengharamkan. Ini termasuk syirik besar berdasarkan firman Allah dalam ayat tersebut: “Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”

Serupa dengan ayat ini adalah firman Allah dalam Surat Al-An’am ayat 121: “Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.”

Termasuk dalam hal ini adalah mentaati para penguasa dan pemimpin dalam menerapkan hukum-hukum buatan manusia yang bertentangan dengan hukum syariat dalam menghalalkan yang haram, seperti membolehkan riba, zina, minum khamar, menyamakan wanita dengan laki-laki dalam warisan, membolehkan tabarruj (berhias di depan orang lain) dan ikhtilath (campur baur), atau mengharamkan yang halal seperti melarang poligami… dan yang serupa dengan itu dari mengubah hukum-hukum Allah dan menggantinya dengan hukum-hukum setan. Barangsiapa yang menyetujui mereka dalam hal itu, ridha dengannya, dan menganggapnya baik, maka dia adalah musyrik kafir, na’udzubillah.

Termasuk dalam hal ini juga adalah taklid kepada para fuqaha dengan mengikuti pendapat-pendapat mereka yang bertentangan dengan dalil-dalil, jika hal itu sesuai dengan hawa nafsu sebagian orang dan apa yang mereka inginkan, sebagaimana yang dilakukan sebagian orang yang setengah terpelajar dengan mencari-cari keringanan (rukhshah). Yang wajib adalah mengambil dari pendapat mujtahid apa yang sesuai dengan dalil, dan membuang apa yang bertentangan dengannya.

Para imam rahimahumullah berkata: “Setiap orang bisa diambil dan ditinggalkan perkataannya, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata: “Jika datang hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka (diterima) di atas kepala dan mata. Dan jika datang dari para tabiin, maka mereka adalah laki-laki dan kami pun laki-laki.” Beliau rahimahullah maksudkan adalah orang-orang seperti beliau dan seperti para imam besar.

Telah disalahgunakan perkataan ini oleh sebagian orang yang setengah terpelajar, yang menjadikan diri mereka sederajat dengan para imam mujtahid, padahal mereka masih jahil. Tidak diragukan bahwa Imam Abu Hanifah tidak bermaksud menyamakan para ulama dengan orang-orang jahil.

Malik rahimahullah berkata: “Kita semua bisa menolak dan ditolak, kecuali penghuni kubur ini…” maksudnya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Jika hadits shahih, maka itulah madzhab saya.”

Dan beliau berkata: “Jika perkataan saya bertentangan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka buanglah perkataan saya ke dinding.”

Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Aneh bagi kaum yang telah mengetahui sanad dan keshahihannya tetapi mereka mengikuti pendapat Sufyan, padahal Allah berfirman dalam Surat An-Nur ayat 63: ‘Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.'”

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Hampir saja turun kepada kalian batu-batu dari langit. Aku berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,’ dan kalian berkata: ‘Abu Bakar dan Umar berkata?!'”

Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata dalam “Fath Al-Majid”: “Maka wajib bagi setiap mukallaf jika sampai kepadanya dalil dari Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, dan dia memahami maknanya, untuk berpegang kepadanya dan mengamalkannya, meskipun ada yang menyelisihinya…”

Hingga beliau berkata: “Maka wajib bagi orang yang menasihati dirinya sendiri, jika dia membaca kitab-kitab para ulama dan memperhatikannya serta mengetahui pendapat-pendapat mereka, untuk mencocokkannya dengan apa yang ada dalam Al-Kitab dan As-Sunnah. Karena setiap mujtahid dari para ulama dan orang yang mengikutinya menyebutkan dalilnya, dan kebenaran dalam masalah itu adalah satu. Para imam mendapat pahala atas ijtihad mereka. Maka orang yang insaf menjadikan penelitian terhadap perkataan mereka dan perenungannya sebagai jalan untuk mengetahui masalah-masalah dan menghadirkannya serta membedakan yang benar dari yang salah dengan dalil-dalil yang disebutkan para pengambil dalil, dan dengan itu dia mengetahui siapa di antara para ulama yang lebih beruntung dengan dalil lalu mengikutinya.”

Beliau rahimahullah berkata tentang firman Allah dalam Surat Al-An’am ayat 121: “Dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”: “Dan ini telah terjadi pada banyak orang bersama orang-orang yang mereka taklidi, karena mereka tidak mempertimbangkan dalil jika bertentangan dengan yang ditaklidi. Dan ini termasuk syirik besar. Di antara mereka ada yang berlebihan dalam hal itu, dan meyakini bahwa mengambil dalil dalam keadaan seperti ini dibenci atau diharamkan. Maka besar fitnah (tersebut), dan mereka berkata: ‘Dia lebih tahu dari kami tentang dalil-dalil…'” Selesai.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata: “Masalah kelima: Berubahnya keadaan sampai pada tingkat ini, hingga menjadi di sisi kebanyakan orang, ibadah kepada para rahib adalah amal yang paling utama dan disebut wilayah (kewalian), dan ibadah kepada para ahbar adalah ilmu dan fiqh. Kemudian keadaan berubah lagi hingga disembah selain Allah orang yang bukan dari orang-orang shalih, dan disembah dengan makna kedua orang yang termasuk orang-orang jahil…” Selesai.

Termasuk menjadikan para ahbar dan rahib sebagai tuhan adalah mentaati ulama-ulama sesat dalam apa yang mereka adakan dalam agama Allah berupa bid’ah, khurafat, dan kesesatan, seperti menghidupkan perayaan maulid, tarekat sufi, tawassul dengan orang mati, dan mendo’a mereka selain Allah. Hingga para ulama sesat ini mensyariatkan apa yang tidak diizinkan Allah, dan orang-orang jahil yang polos meniru mereka dalam hal itu serta menganggapnya sebagai agama. Barangsiapa yang mengingkarinya dan menyeru untuk mengikuti apa yang dibawa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka anggap keluar dari agama, atau bahwa dia membenci para ulama dan orang-orang shalih. Maka jadilah yang ma’ruf menjadi munkar, dan yang munkar menjadi ma’ruf, sunnah menjadi bid’ah, dan bid’ah menjadi sunnah, hingga yang kecil tumbuh dengan hal itu, dan yang tua menjadi tua dengan hal itu. Ini termasuk dari keghaiban agama dan sedikitnya para da’i yang memperbaiki. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Jika tidak boleh mengikuti para imam fiqh mujtahid dalam kesalahan ijtihad mereka, padahal mereka ma’dzur (dimaafkan) dan mendapat pahala dalam kesalahan mereka tanpa sengaja, namun tetap haram mengikuti kesalahan tersebut, maka bagaimana tidak haram meniru para penyesat dan dukun-dukun ini, yang telah salah dalam hal yang tidak boleh berijtihad di dalamnya, yaitu masalah akidah, karena akidah itu tauqifi (berhenti pada nash), bergantung pada nash-nash. Tetapi urusan sebagaimana firman Allah dalam Surat Ar-Rum ayat 58-60: “Dan sesungguhnya Kami telah membuat dalam Al Quran ini segala macam perumpamaan untuk manusia. Dan sungguh jika kamu datangkan kepada mereka suatu bukti, pasti orang-orang yang kafir itu akan berkata: ‘Kamu sekalian hanyalah orang-orang yang membuat kebatilan.’ Demikianlah Allah mengunci hati orang-orang yang tidak mengetahui. Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar, dan janganlah orang-orang yang tidak meyakini itu menggelisahkan kamu.”

Dan di samping mereka yang tenggelam dalam taklid buta dalam pokok-pokok dan cabang-cabang agama, di samping mereka ada kelompok lain yang bertentangan dengan mereka, yang berpendapat bahwa ijtihad wajib bagi setiap orang, meskipun dia bodoh yang tidak pandai membaca Al-Qur’an dan tidak mengetahui apa-apa tentang ilmu, dan mereka mengharamkan melihat kitab-kitab fikih, serta menginginkan orang-orang bodoh untuk menggali hukum-hukum dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ini adalah ekstremitas yang buruk, dan bahaya mereka terhadap umat Islam tidak kurang dari bahaya kelompok pertama, bahkan mungkin lebih. Sebaik-baik perkara adalah yang tengah dan moderat; yaitu tidak meniru para fuqaha secara buta, dan tidak meremehkan ilmu mereka serta meninggalkan pendapat-pendapat mereka yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, tetapi mengambil manfaat darinya dan meminta pertolongan dengannya untuk memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah; karena hal itu adalah kekayaan ilmiah dan modal fikih yang besar, diambil darinya apa yang sesuai dengan dalil, dan ditinggalkan apa yang bertentangan dengan dalil; sebagaimana para salaf shalih melakukan hal itu, khususnya di zaman yang telah melemah semangatnya dan merebak di dalamnya kebodohan. Maka yang wajib adalah bersikap moderat tanpa berlebihan dan tanpa mengurangi, tidak ghuluw dan tidak longgar, dan kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar memberi petunjuk kepada orang-orang Muslim yang sesat, dan meneguhkan para imam dan pemimpin mereka di atas kebenaran; sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan.

Dan sebagaimana tidak boleh menaati para ulama dalam menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal; demikian juga tidak boleh menaati para penguasa dan kepala dalam memutuskan perkara di antara manusia dengan selain syariat Islam; karena wajib bertahkim kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya dalam semua perselisihan dan persengketaan serta urusan-urusan kehidupan; karena inilah yang dituntut oleh penghambaan dan tauhid; karena pensyariatan adalah hak Allah semata; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Ingatlah, penciptaan dan urusan (pemberian perintah) hanyalah hak Allah” (Surat Al-A’raf ayat 54), artinya: Dia yang mempunyai hukum dan bagi-Nya segala hukum. Dan Allah Ta’ala berfirman: “Apa saja yang kamu perselisihkan, maka putusannya (terserah) kepada Allah” (Surat Asy-Syura ayat 10). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (Surat An-Nisa ayat 59).

Maka bertahkim kepada syariat Allah bukan hanya untuk mencari keadilan saja, tetapi pada tingkat pertama adalah ibadah kepada Allah, dan hak Allah semata, dan akidah. Barangsiapa yang bertahkim kepada selain syariat Allah dari berbagai sistem dan undang-undang buatan manusia; maka dia telah menjadikan penyusun undang-undang tersebut dan yang memutuskan dengannya sebagai sekutu bagi Allah dalam pensyariatan-Nya; Allah Ta’ala berfirman: “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (Surat Asy-Syura ayat 21). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika kamu menaati mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik” (Surat Al-An’am ayat 121).

Dan Allah telah menafikan keimanan dari orang yang bertahkim kepada selain syariat-Nya; Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu” hingga firman-Nya: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (Surat An-Nisa ayat 60-65).

Barangsiapa yang menyeru kepada pemberlakuan undang-undang buatan manusia; maka dia telah menjadikan sekutu bagi Allah dalam ketaatan dan pensyariatan. Dan barangsiapa yang memutuskan dengan selain apa yang diturunkan Allah; dia berpendapat bahwa hal itu lebih baik atau setara dengan apa yang diturunkan Allah dan disyariatkan-Nya, atau bahwa boleh memutuskan dengan ini; maka dia kafir kepada Allah, meskipun dia mengaku beriman; karena Allah mengingkari orang yang ingin bertahkim kepada selain syariat-Nya, dan mendustakan mereka dalam pengakuan keimanan mereka; karena firman-Nya: “mengaku” mengandung penafian keimanan mereka; karena kata ini umumnya dikatakan untuk orang yang mengaku suatu pengakuan padahal dia dusta di dalamnya. Dan karena pemberlakuan undang-undang adalah pemberlakuan thaghut, sedangkan Allah telah memerintahkan untuk kufur kepada thaghut, dan menjadikan kekufuran kepada thaghut sebagai rukun tauhid; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang kafir kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat” (Surat Al-Baqarah ayat 256). Maka barangsiapa yang memberlakukan undang-undang; dia tidak bertauhid; karena dia telah menjadikan sekutu bagi Allah dalam pensyariatan dan ketaatan, dan tidak kufur kepada thaghut yang diperintahkan untuk mengkufurinya, dan menaati setan; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan setan itu bermaksud menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya” (Surat An-Nisa ayat 60).

Dan Allah telah mengabarkan tentang orang-orang munafik bahwa mereka ketika diajak untuk bertahkim kepada syariat Allah, mereka menolak dan berpaling; maka Allah Subhanahu berfirman: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah (tunduk) kepada apa yang telah diturunkan Allah dan kepada Rasul’, kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu” (Surat An-Nisa ayat 61). Sebagaimana Allah mengabarkan bahwa mereka melihat kerusakan sebagai kebaikan; karena terbaliknya fitrah mereka dan rusaknya hati mereka; maka Allah Ta’ala berfirman: “Dan bila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi’. Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar” (Surat Al-Baqarah ayat 11-12). Maka bertahkim kepada selain Allah termasuk perbuatan orang-orang munafik, dan termasuk kerusakan terbesar di muka bumi.

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan tentang ayat ini: “Kebanyakan mufassir mengatakan: dan janganlah kalian membuat kerusakan di dalamnya dengan kemaksiatan dan menyeru kepada ketaatan selain Allah setelah Allah memperbaikinya dengan pengutusan para rasul dan penjelasan syariat serta seruan kepada ketaatan kepada Allah; karena ibadah kepada selain Allah dan seruan kepada selain-Nya adalah syirik dan menyelisihi perintah-Nya; maka syirik dan seruan kepada selain Allah serta menegakkan sesembahan selain-Nya dan yang ditaati yang diikuti selain Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kerusakan terbesar di muka bumi, dan tidak ada kebaikan baginya dan bagi penduduknya kecuali dengan menjadikan Allah semata sebagai yang disembah dan ditaati, dan seruan hanya untuk-Nya bukan untuk selain-Nya, dan ketaatan serta pengikutan hanya kepada Rasul, bukan yang lain. Yang lain wajib ditaati hanya jika memerintahkan ketaatan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika dia memerintahkan kemaksiatan kepada-Nya dan menyelisihi syariat-Nya; maka tidak ada pendengaran dan tidak ada ketaatan. Dan barangsiapa yang merenungkan keadaan dunia; dia akan mendapati setiap kebaikan di muka bumi; sebabnya adalah mentauhidkan Allah dan beribadah kepada-Nya serta menaati rasul-Nya, dan setiap kejahatan di dunia dan fitnah serta bala dan kekeringan dan dikuasai musuh dan selainnya; sebabnya adalah menyelisihi rasul-Nya dan menyeru kepada selain Allah dan rasul-Nya.”

Dan Allah telah menamai setiap hukum yang menyelisihi hukum-Nya sebagai hukum jahiliyah; Allah Ta’ala berfirman: “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (Surat Al-Maidah ayat 50).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala mengingkari orang yang keluar dari hukum Allah Ta’ala, yang mengandung segala kebaikan, yang melarang dari segala kejahatan, dan condong kepada selainnya dari pendapat-pendapat dan hawa nafsu serta istilah-istilah yang dibuat manusia tanpa sandaran dari syariat Allah, sebagaimana orang-orang jahiliyah memutuskan dengannya dari kebodohan dan kesesatan, dan sebagaimana orang-orang Tatar memutuskan dengannya dari politik-politik yang diambil dari Jengis Khan, yang membuat untuk mereka ‘Yasiq’, yaitu berupa kitab hukum-hukum yang diambil dari berbagai syariat, dari Yahudi dan Nasrani dan agama Islam, dan di dalamnya banyak hukum yang diambil dari semata-mata pandangan dan hawa nafsunya, lalu menjadi syariat bagi anak-anaknya, mereka mendahulukan itu atas hukum dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Barangsiapa yang melakukan itu; maka dia kafir, wajib diperangi hingga kembali kepada hukum Allah dan rasul-Nya; maka tidak memutuskan dengan selainnya dalam sedikit atau banyak…” selesai ucapannya rahimahullah.

Dan seperti undang-undang yang disebutkan tentang orang Tatar dan hukum kekufuran orang yang menjadikannya pengganti syariat Islam adalah undang-undang buatan yang dijadikan hari ini di banyak negara sebagai sumber-sumber hukum dan dihapuskan karenanya syariat Islam; kecuali dalam apa yang mereka sebut dengan ahwal syakhshiyyah (hukum keluarga).

Dan dalil atas kekufuran orang yang melakukan itu adalah ayat-ayat yang banyak: firman Allah Ta’ala: “Dan barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (Surat Al-Maidah ayat 44). Dan firman-Nya: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan” (Surat An-Nisa ayat 65). Dan firman Allah Ta’ala: “Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang lebih berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat” (Surat Al-Baqarah ayat 85).

Dan sebagaimana kami katakan tadi: bahwa wajib memberlakukan syariat sebagai akidah dan agama yang diagamakan kepada Allah, bukan hanya untuk mencari keadilan saja.

Demikianlah; dan wajib bagi hamba menerima hukum Allah, baik untuk dirinya atau terhadap dirinya, dan baik sesuai dengan hawa nafsunya atau tidak; Allah Ta’ala berfirman: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (Surat An-Nisa ayat 65). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka” (Surat Al-Ahzab ayat 36). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Maka jika mereka tidak menjawab (seruan)mu, ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah” (Surat Al-Qashash ayat 50).

Dan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.”

Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Makna hadits ini adalah bahwa manusia tidak menjadi mukmin dengan keimanan sempurna yang wajib hingga kecintaannya mengikuti apa yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perintah-perintah dan larangan-larangan dan selainnya; maka dia mencintai apa yang diperintahkan, dan membenci apa yang dilarang. Dan Al-Qur’an telah datang dengan makna seperti ini di beberapa tempat, dan Allah Subhanahu mencela orang yang membenci apa yang dicintai Allah atau mencintai apa yang dibenci Allah; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah, dan mereka membenci keridhaan-Nya; karena itu Allah menghapuskan amal-amal mereka” (Surat Muhammad ayat 28)…”

Hingga dia berkata: “Allah menggambarkan orang-orang musyrik dengan mengikuti hawa nafsu di beberapa tempat dalam kitab-Nya; maka Allah Ta’ala berfirman: “Maka jika mereka tidak menjawab (seruan)mu, ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah” (Surat Al-Qashash ayat 50).

Dan demikian juga bid’ah hanya muncul dari mendahulukan hawa nafsu atas syariat, dan karena itu ahlinya disebut ahli hawa. Dan demikian juga kemaksiatan hanya muncul dari mendahulukan hawa nafsu atas syariat, dan karena itu ahlinya disebut ahli hawa. Dan demikian juga kemaksiatan hanya muncul dari mendahulukan hawa nafsu atas kecintaan kepada Allah dan kecintaan kepada apa yang dicintai-Nya. Dan demikian juga kecintaan kepada orang-orang, yang wajib di dalamnya adalah mengikuti apa yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam; maka wajib bagi mukmin mencintai orang yang dicintai Allah dari para malaikat dan rasul-rasul dan nabi-nabi dan para shiddiqin dan para syuhada dan orang-orang shalih secara umum…” selesai ucapannya rahimahullah.

Hal-hal Lain yang Bertentangan dengan Tauhid:

Inilah; dan terdapat hal-hal yang bertentangan dengan tauhid dan mengakibatkan murtad dari agama Islam, di antaranya adalah buruk sangka kepada Allah, dan di antaranya adalah mengolok-olok sesuatu yang di dalamnya terdapat (nama) Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung:

1 – Buruk Sangka kepada Allah:

Buruk sangka kepada Allah adalah berbahaya, karena baik sangka kepada Allah termasuk kewajiban tauhid, dan buruk sangka kepada-Nya bertentangan dengan tauhid.

Dan Allah telah menggambarkan orang-orang munafik bahwa mereka berprasangka buruk kepada-Nya, maka Allah berfirman: “Kemudian Allah menurunkan kepada kalian sesudah kesedihan itu, keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kalian, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka terhadap Allah bukan dengan yang hak seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata: ‘Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.'” (Surat Ali Imran: 154). Dan Allah mengabarkan tentang mereka dalam ayat yang lain bahwa mereka berprasangka buruk kepada-Nya, maka Allah berfirman: “Dan agar Dia menyiksa orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka itulah yang akan ditimpa malapetaka yang buruk dan Allah murka kepada mereka dan mengutuk mereka serta menyediakan neraka jahannam bagi mereka. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (Surat Al-Fath: 6).

Imam Ibnu Qayyim berkata dalam menafsirkan ayat yang pertama: “Prasangka ini ditafsirkan bahwa Allah Subhanahu tidak akan menolong Rasul-Nya dan bahwa urusan-Nya akan lenyap, dan ditafsirkan bahwa apa yang menimpa-Nya bukanlah dengan takdir Allah dan hikmah-Nya; maka ditafsirkan dengan mengingkari hikmah dan mengingkari takdir dan mengingkari bahwa urusan Rasul-Nya akan sempurna dan bahwa Allah akan memenangkan-Nya atas agama seluruhnya, dan inilah prasangka buruk yang diprasangkakan oleh orang-orang munafik dan musyrik dalam Surat Al-Fath, dan sesungguhnya ini adalah prasangka buruk karena hal itu tidak pantas bagi-Nya Subhanahu dan tidak pantas dengan hikmah-Nya dan pujian-Nya dan janji-Nya yang benar, maka barangsiapa menyangka bahwa Dia akan memenangkan kebatilan atas kebenaran dengan kemenangan yang terus menerus yang dengannya kebenaran akan lenyap, atau mengingkari bahwa apa yang terjadi adalah dengan ketetapan dan takdir-Nya, atau mengingkari bahwa takdir-Nya adalah untuk hikmah yang sempurna yang dengannya Dia berhak mendapat pujian, bahkan menyangka bahwa itu hanya karena kehendak yang terlepas dari hikmah; maka itulah prasangka orang-orang yang kafir; maka celakalah orang-orang yang kafir karena nereka, dan kebanyakan manusia berprasangka buruk kepada Allah dalam hal yang berkaitan dengan diri mereka dan dalam hal yang Dia lakukan kepada orang lain, dan tidak selamat dari itu kecuali orang yang mengenal Allah dan nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya dan yang mengharuskan hikmah-Nya dan pujian-Nya; maka hendaklah orang yang berakal yang menasihati dirinya memperhatikan hal ini, dan hendaklah bertobat kepada Allah, dan memohon ampunan kepada-Nya dari prasangka buruknya kepada Tuhannya”.

Dan seandainya engkau memeriksa siapa yang engkau periksa; niscaya engkau akan melihat pada dirinya sikap keras kepala terhadap takdir, dan mencela takdir itu, dan bahwa seharusnya begini dan begitu; ada yang menganggap sedikit dan ada yang menganggap banyak, dan periksa dirimu apakah engkau selamat?

“Jika engkau selamat dari yang besar itu… dan jika tidak maka aku tidak menyangka engkau akan selamat”

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Maka barangsiapa menyangka bahwa Allah tidak akan menolong Rasul-Nya dan tidak akan menyempurnakan urusan-Nya dan tidak akan mendukung-Nya dan mendukung golongan-Nya dan meninggikan mereka dan memenangkan mereka atas musuh-musuh mereka dan menampakkan mereka, dan bahwa Dia tidak akan menolong agama-Nya dan kitab-Nya, dan bahwa Dia akan memenangkan kesyirikan atas tauhid dan kebatilan atas kebenaran dengan kemenangan yang menetap yang dengannya tauhid dan kebenaran akan lenyap selamanya yang tidak akan bangkit lagi setelahnya; maka sungguh ia telah berprasangka buruk kepada Allah, dan menisbatkan kepada-Nya yang berlawanan dengan apa yang pantas dengan keagungan-Nya dan kesempurnaan-Nya dan sifat-sifat-Nya dan nama-nama-Nya yang indah; karena sesungguhnya pujian-Nya dan kemuliaan-Nya dan hikmah-Nya dan ketuhanan-Nya menolak hal itu, dan menolak agar golongan-Nya dan tentara-Nya dihinakan, dan agar pertolongan yang menetap dan kemenangan yang kekal bagi musuh-musuh-Nya yang menyekutukan-Nya dan yang menyamakan-Nya, maka barangsiapa menyangka hal itu kepada-Nya; maka ia tidak mengenal-Nya, dan tidak mengenal nama-nama-Nya, dan tidak mengenal sifat-sifat-Nya dan kesempurnaan-Nya”.

Dan demikian pula barangsiapa mengingkari bahwa itu dengan ketetapan-Nya; maka ia tidak mengenal-Nya, dan tidak mengenal ketuhanan-Nya dan kerajaan-Nya dan keagungan-Nya.

Dan demikian pula barangsiapa mengingkari bahwa Allah menakdirkan apa yang Dia takdirkan dari itu dan selainnya untuk hikmah yang sempurna dan tujuan yang terpuji yang karenanya Dia berhak mendapat pujian, (dan) menyangka bahwa itu hanya keluar dari kehendak yang terlepas dari hikmah dan tujuan yang dikehendaki yang lebih Dia cintai daripada tidak tercapainya, dan bahwa sebab-sebab yang tidak Dia sukai yang mengarah kepadanya tidak keluar dari hikmah karena mengantarkan kepada apa yang Dia cintai, walaupun tidak Dia sukai; maka Dia tidak menakdirkannya sia-sia, dan tidak menghendakinya main-main, dan tidak menciptakannya dengan batil, “Yang demikian itu adalah prasangka orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena neraka.” (Surat Shad: 27).

Dan kebanyakan manusia berprasangka kepada Allah bukan dengan yang hak, prasangka buruk, dalam hal yang berkaitan dengan mereka, dan dalam hal yang Dia lakukan kepada orang lain, dan tidak selamat dari itu kecuali orang yang mengenal Allah, dan mengenal nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, dan mengenal yang mengharuskan hikmah-Nya dan pujian-Nya: Maka barangsiapa berputus asa dari rahmat-Nya, dan putus asa dari ruh-Nya; maka sungguh ia telah berprasangka buruk kepada-Nya.

Dan barangsiapa membolehkan atas-Nya bahwa Dia menyiksa para wali-Nya dengan kebaikan mereka dan keikhlasan mereka dan menyamakan antara mereka dengan musuh-musuh-Nya; maka sungguh ia telah berprasangka buruk kepada-Nya.

Dan barangsiapa menyangka bahwa Dia meninggalkan makhluk-Nya sia-sia tanpa perintah dan larangan, tidak mengutus kepada mereka rasul-rasul-Nya dan tidak menurunkan kepada mereka kitab-kitab-Nya, bahkan meninggalkan mereka terlantar seperti binatang ternak; maka sungguh ia telah berprasangka buruk kepada-Nya.

Dan barangsiapa menyangka bahwa Dia tidak akan mengumpulkan hamba-hamba-Nya setelah kematian mereka untuk pahala dan siksa di negeri yang di dalamnya orang yang berbuat baik dibalas dengan kebaikannya dan orang yang berbuat buruk dengan keburukannya dan Dia menjelaskan kepada makhluk-Nya hakikat apa yang mereka perselisihkan dan menampakkan kepada seluruh alam kebenaran-Nya dan kebenaran rasul-Nya dan bahwa musuh-musuh-Nya adalah orang-orang yang berdusta; maka sungguh ia telah berprasangka buruk kepada-Nya.

Dan barangsiapa menyangka bahwa Dia akan menyia-nyiakan amal salehnya yang dia kerjakan dengan ikhlas karena wajah-Nya atas dasar mentaati perintah-Nya dan membatalkannya tanpa sebab dari hamba, dan bahwa Dia akan menghukumnya dengan apa yang tidak dia perbuat dan tidak ada pilihan baginya dan tidak ada kemampuan dan tidak ada kehendak baginya dalam terjadinya, bahkan menghukumnya atas perbuatan-Nya sendiri – Subhanahu – kepadanya, atau menyangka bahwa boleh atas-Nya untuk mendukung musuh-musuh-Nya yang berdusta kepada-Nya dengan mukjizat-mukjizat yang dengannya Dia mendukung para nabi dan rasul-Nya, dan menjalankannya di tangan mereka untuk menyesatkan hamba-hamba-Nya dengannya, dan bahwa semua itu baik dari-Nya, bahkan menyiksa orang yang menghabiskan umurnya dalam ketaatan kepada-Nya, lalu mengekalkannya di neraka jahannam di tempat yang paling rendah, dan memuliakan orang yang menghabiskan umurnya dalam permusuhan kepada-Nya dan permusuhan kepada rasul-rasul-Nya dan agama-Nya, lalu mengangkatnya ke tempat yang paling tinggi, dan kedua perkara itu sama baiknya di sisi-Nya, dan tidak mengetahui mustahilnya yang satu dan terjadinya yang lain kecuali dengan berita yang benar, dan selain itu akal tidak memutuskan keburukan yang satu dan kebaikan yang lain; maka sungguh ia telah berprasangka buruk kepada-Nya.

Dan barangsiapa menyangka bahwa Dia mengabarkan tentang diri-Nya dan sifat-sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya dengan apa yang lahirnya batil dan penyerupaan dan perumpamaan, dan meninggalkan yang hak tidak mengabarkannya, dan hanya memberikan simbol-simbol yang jauh, dan memberikan isyarat-isyarat yang samar, dan tidak menyatakannya dengan tegas, dan selalu menyatakan dengan tegas penyerupaan dan perumpamaan dan yang batil, dan menghendaki dari makhluk-Nya agar mereka melelahkan pikiran mereka dan kekuatan mereka dan pemikiran mereka dalam mengalihkan kalam-Nya dari tempat-tempatnya, dan menta’wilkannya dengan selain ta’wilnya, dan mencari untuknya wajuh-wajuh dan kemungkinan-kemungkinan yang dipaksakan dan ta’wil-ta’wil yang lebih mirip dengan teka-teki dan misteri daripada keterangan dan penjelasan, dan mengalihkan mereka dalam mengetahui nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya kepada akal mereka dan pendapat mereka bukan kepada kitab-Nya, bahkan menghendaki dari mereka agar tidak memahami kalam-Nya atas apa yang mereka ketahui dari percakapan mereka dan bahasa mereka, dengan kemampuan-Nya untuk menyatakan dengan tegas kepada mereka kebenaran yang sepatutnya dinyatakan dengan tegas dan membebaskan mereka dari lafaz-lafaz yang menjerumuskan mereka dalam meyakini yang batil; tetapi tidak melakukannya, bahkan menempuh dengan mereka selain jalan hidayah dan penjelasan; maka sungguh ia telah berprasangka buruk kepada-Nya; karena jika ia berkata: sesungguhnya Dia tidak mampu mengungkapkan kebenaran dengan lafaz yang tegas sebagaimana yang dia dan para pendahulunya ungkapkan; maka sungguh ia telah menyangka kemampuan-Nya lemah, dan jika ia berkata: sesungguhnya Dia mampu, tetapi tidak menjelaskan, dan berpaling dari penjelasan dan dari menyatakan kebenaran dengan tegas kepada apa yang menyamarkan bahkan menjerumuskan dalam yang batil yang mustahil dan keyakinan yang rusak; maka sungguh ia telah berprasangka buruk kepada hikmah-Nya dan rahmat-Nya.

Dan barangsiapa menyangka bahwa dia dan para pendahulunya mengungkapkan kebenaran dengan tegas daripada Allah dan Rasul-Nya, dan bahwa hidayah dan kebenaran ada dalam ucapan mereka, adapun kalam Allah; maka hanya dapat diambil dari lahirnya penyerupaan dan perumpamaan dan kesesatan, dan lahir kalam orang-orang musyrik dan orang-orang bingung itulah hidayah dan kebenaran; maka ini termasuk prasangka yang paling buruk.

Maka semua mereka ini termasuk orang-orang yang berprasangka buruk kepada Allah, dan termasuk orang-orang yang berprasangka kepada Allah bukan dengan yang hak, prasangka jahiliah…” berakhir ucapan Ibnu Qayyim dalam penjelasan siapa-siapa yang berprasangka kepada Allah bukan dengan yang hak prasangka jahiliah, dan barangsiapa menginginkan kelengkapannya; maka hendaklah merujuk kepadanya di (Zad Al-Ma’ad), dan Allah tempat meminta pertolongan.

2- Mengolok-olok Sesuatu yang di Dalamnya Terdapat Dzikrullah:

Wajib atas seorang muslim menghormati kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya dan ulama-ulama muslimin, dan hendaklah mengetahui hukum orang yang mengolok-olok dzikrullah atau Al-Qur’an atau Rasul; agar seorang muslim berhati-hati dari hal itu; karena sesungguhnya barangsiapa mengolok-olok dzikrullah atau Al-Qur’an atau Rasul atau sesuatu dari sunnah; maka sungguh ia telah kafir kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung karena meremehkan ketuhanan dan kerasulan, dan itu bertentangan dengan tauhid, dan kafir dengan ijma’ ahli ilmu.

Allah berfirman: “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?’ Tidak usah kalian minta maaf, kalian kafir sesudah beriman…” (Surat At-Taubah: 65-66).

Dan telah datang penjelasan sebab turun kedua ayat yang mulia ini; bahwa itu adalah apa yang terjadi dari orang-orang munafik dalam sebagian peperangan berupa mengejek Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya; maka telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan selainnya dari Ibnu Umar dan Muhammad bin Ka’ab dan Zaid bin Aslam dan Qatadah “masuk hadits sebagian mereka ke dalam sebagian”; “bahwa seorang laki-laki berkata dalam perang Tabuk: Kami tidak melihat seperti para pembaca kami ini, lebih rakus perutnya dan lebih dusta lidahnya dan lebih pengecut ketika bertemu” maksudnya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang para pembaca”. Maka Auf bin Malik berkata kepadanya: Engkau berdusta, tetapi engkau munafik, sungguh aku akan memberitahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Auf pergi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberitahu, tetapi mendapati Al-Qur’an telah mendahuluinya, maka laki-laki itu datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau telah berangkat dan mengendarai untanya, maka ia berkata: Ya Rasulullah! Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan berbicara pembicaraan rombongan untuk memotong jalan”.

Ibnu Umar berkata: “Seakan-akan aku melihatnya bergantung pada tali pelana unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sesungguhnya batu-batu mengenai kedua kakinya, dan ia berkata: Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok? Tidak usah kalian minta maaf, kalian kafir sesudah beriman.'” (Surat At-Taubah: 65-66).

Maka dalam kedua ayat yang mulia ini beserta penjelasan sebab turunnya terdapat dalil yang jelas atas kekafiran orang yang mengolok-olok Allah atau Rasul-Nya atau ayat-ayat atau sunnah Rasul-Nya atau para sahabat Rasulullah; karena barangsiapa melakukan itu; maka ia meremehkan ketuhanan dan kerasulan, dan itu bertentangan dengan tauhid dan akidah, walaupun tidak bermaksud benar-benar mengolok-olok.

Dan termasuk bab ini adalah mengolok-olok ilmu dan ahlinya, dan tidak menghormati mereka, atau mencela mereka karena ilmu yang mereka bawa, dan hal itu adalah kekafiran, walaupun tidak bermaksud benar-benar mengolok-olok; karena orang-orang yang turun ayat tentang mereka ini datang mengakui apa yang keluar dari mereka, dan berdalih dengan ucapan mereka: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main”; yaitu: kami tidak bermaksud mengolok-olok dan mendustakan, dan kami hanya bermaksud bermain lawan kesungguhan; maka Allah memberitahu mereka melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dalih mereka ini tidak berguna sedikitpun di sisi Allah, dan bahwa mereka telah kafir setelah beriman dengan ucapan ini yang mereka olok-olokkan dengannya, dan tidak menerima permintaan maaf mereka bahwa mereka tidak bersungguh-sungguh dalam ucapan mereka, dan hanya bermaksud bermain, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menambah dalam menjawab mereka selain membaca firman Allah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok? Tidak usah kalian minta maaf, kalian kafir sesudah beriman” (Surat At-Taubah: 65-66); karena hal ini tidak bisa dimasuki bercanda dan bermain, dan sesungguhnya yang wajib adalah menghormati hal-hal ini dan mengagungkannya, dan hendaklah khusyuk di hadapan ayat-ayat Allah karena iman kepada Allah dan Rasul-Nya dan pengagungan terhadap ayat-ayat-Nya, dan orang yang bersenda gurau dan bermain-main itu meremehkannya.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata: “Ucapan yang terang-terangan dalam mengolok-olok ini dan yang menyerupainya, adapun perbuatan yang terang-terangan; maka seperti menjulurkan bibir dan mengeluarkan lidah dan memberi isyarat dan apa yang dilakukan banyak orang ketika diperintah shalat dan zakat; maka bagaimana dengan tauhid?!” selesai.

Dan seperti ini adalah mengolok-olok sunnah yang tetap dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; seperti yang mengolok-olok memelihara jenggot dan memotong kumis, atau mengolok-olok siwak… atau selainnya, dan seperti mengolok-olok amar ma’ruf nahi munkar.

Ibnu Ishaq berkata: “Dan sungguh ada sekelompok orang munafik, di antara mereka Wadi’ah bin Tsabit saudara Bani Umayyah bin Zaid Amr bin Auf, dan seorang laki-laki dari Asyja’ untuk Bani Salamah, yang dipanggil: Mukhsyi bin Humayr, mereka menunjuk kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau pergi ke Tabuk, maka sebagian mereka berkata kepada sebagian: Apakah kalian menyangka ahli pedang Bani Ashfar seperti perang bangsa Arab satu sama lain?!

Demi Allah, seolah-olah kami melihat kalian berdebu dan terikat dengan tali! Mereka mengatakan hal tersebut untuk menakut-nakuti dan mengancam orang-orang beriman. Maka berkatalah Makhsyi bin Humayr: “Demi Allah, aku berharap bahwa setiap orang dari kami dipukul seratus kali cambuk, dan kami khawatir akan turun Al-Quran tentang perkataan kalian ini.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ammar bin Yasir sebagaimana yang sampai kepadaku: “Susul kaum itu, karena mereka telah terbakar (dalam dosa). Tanyakan kepada mereka apa yang mereka katakan. Jika mereka mengingkari, maka katakanlah: ‘Tidak, kalian telah mengatakan begini dan begitu’.”

Maka pergilah Ammar kepada mereka dan menyampaikan hal tersebut. Lalu mereka datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta maaf. Wadi’ah bin Tsabit berkata ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berdiri di atas untanya, sambil memegang tali kekang unta: “Ya Rasulullah! Kami hanya bercanda dan bermain-main saja.”

Makhsyi bin Humayr berkata: “Ya Rasulullah! Nama saya dan nama ayah saya yang menjatuhkan saya.” Yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala: “Jika Kami memaafkan segolongan dari kamu…” (QS. At-Taubah: 66) dalam ayat ini adalah Makhsyi bin Humayr. Maka ia diberi nama Abdurrahman dan memohon kepada Allah agar ia dibunuh sebagai syahid di tempat yang tidak diketahui orang. Maka ia terbunuh pada perang Yamamah dan tidak ditemukan bekasnya.

Penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Telah diceritakan bahwa mereka kafir setelah beriman, padahal mereka berkata: ‘Kami berbicara dengan kekufuran tanpa meyakininya, kami hanya bercanda dan bermain-main.’ Dan dijelaskan bahwa mengolok-olok ayat-ayat Allah adalah kekufuran. Hal ini tidak terjadi kecuali dari orang yang dadanya lapang dengan perkataan ini. Seandainya iman ada di dalam hatinya, niscaya hal itu akan mencegahnya untuk berbicara dengan perkataan ini.

Al-Quran menjelaskan bahwa iman hati mengharuskan amal lahir sesuai kadarnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan mereka berkata: ‘Kami beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami taat.’ Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu. Mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak. Dan jika kebenaran ada pada mereka, mereka datang kepada Rasul dengan patuh. Apakah dalam hati mereka ada penyakit, ataukah mereka ragu-ragu, ataukah mereka takut Allah dan Rasul-Nya akan berlaku zalim terhadap mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim. Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah: ‘Kami mendengar dan kami patuh.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur: 47-51)

Allah meniadakan iman dari orang yang tidak menaati Rasul dan memberitahu bahwa orang-orang mukmin jika dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum di antara mereka, mereka mendengar dan taat. Maka dijelaskan bahwa hal ini termasuk konsekuensi iman…”

Dengan demikian diketahui kekufuran orang-orang yang meremehkan syariat Islam dan menggambarkannya sebagai tidak layak untuk zaman sekarang, dan bahwa hukuman syariat mengandung kekerasan dan kekejaman, dan bahwa Islam menzalimi wanita… dan seterusnya dari perkataan-perkataan kufur dan kesesatan. Kami memohon kepada Allah kesehatan dan keselamatan.

Perkara-Perkara yang Dilakukan Sebagian Orang yang Termasuk Syirik atau Sarana Menuju Syirik

Ada hal-hal yang berada di antara syirik akbar dan syirik asghar, sesuai dengan apa yang ada di hati pelakunya dan apa yang muncul dari perbuatan dan perkataan. Sebagian orang terjerumus ke dalamnya, hal-hal tersebut bisa bertentangan dengan akidah atau mengotori kejernihan akidah. Hal-hal tersebut dipraktikkan di tingkat umum dan sebagian awam terjerumus ke dalamnya karena terpengaruh oleh para penipu, penyihir, dan dukun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan dari hal-hal tersebut, di antaranya:

  1. Memakai Cincin, Benang, dan Sejenisnya dengan Tujuan Mengangkat atau Menolak Bala

Hal ini adalah perbuatan jahiliyah dan termasuk syirik asghar. Bisa naik ke tingkat syirik akbar sesuai dengan keyakinan yang ada di hati pemakainya.

Dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki di tangannya terdapat cincin dari kuningan, maka beliau bertanya: ‘Apa ini?’ Dia menjawab: ‘Untuk penyakit wahina (rematik).’ Beliau bersabda: ‘Lepaskan, karena ia tidak menambahkan kepadamu kecuali kelemahan. Sungguh jika kamu mati dalam keadaan memakainya, kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.'” (HR. Ahmad dengan sanad yang tidak apa-apa, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim, disetujui oleh Adz-Dzahabi)

  1. Menggantung Jimat

Yaitu manik-manik yang digantungkan orang Arab pada anak-anak mereka untuk menangkal mata jahat, dan mereka berharap dari namanya agar Allah menyempurnakan maksud mereka. Jimat bisa berupa tulang, manik-manik, tulisan, dan lain-lain. Hal ini tidak diperbolehkan.

Jimat juga bisa berupa Al-Quran. Jika berupa Al-Quran, para ulama berbeda pendapat tentang boleh tidaknya. Yang rajih adalah tidak boleh, untuk menutup jalan (sadd adz-dzari’ah), karena hal itu akan mengarah kepada menggantung selain Al-Quran. Karena tidak ada pengkhususan untuk nash-nash yang melarang menggantung jimat, sebagaimana hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ruqyah, jimat, dan tiwala adalah syirik.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Dari Uqbah bin Amir secara marfu’: “Barangsiapa menggantung jimat, maka ia telah berbuat syirik.” Ini adalah nash-nash umum yang tidak ada pengkhususnya.

  1. Tabarruk (Mencari Berkah) dengan Pohon, Peninggalan, dan Bangunan

Tabarruk artinya mencari berkah, mengharapkannya, dan meyakininya pada benda-benda tersebut.

Hukumnya adalah syirik akbar, karena bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam memperoleh berkah. Para penyembah berhala dahulu juga mencari berkah dari berhala-berhala mereka. Maka tabarruk dengan kubur orang-orang saleh seperti tabarruk dengan Lata, dan tabarruk dengan pohon dan batu seperti tabarruk dengan Uzza dan Manat.

Dari Abu Waqid Al-Laitsi, ia berkata: “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain, dan kami masih baru memeluk Islam. Orang-orang musyrik memiliki pohon bidara yang mereka berkumpul di sana dan menggantung senjata-senjata mereka, disebut Dzat Anwath. Kami melewati sebuah pohon bidara, lalu kami berkata: ‘Ya Rasulullah! Jadikanlah untuk kami Dzat Anwath sebagaimana mereka memiliki Dzat Anwath.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Allahu Akbar! Sungguh ini adalah tradisi (yang buruk). Kalian berkata – demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya – sebagaimana yang dikatakan Bani Israil kepada Musa: “Jadikanlah untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan. Musa menjawab: ‘Sesungguhnya kamu ini kaum yang tidak mengetahui.'” (QS. Al-A’raf: 138) Sungguh kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian.'” (HR. At-Tirmidzi dan dishahihkannya)

  1. Sihir

Sihir adalah segala sesuatu yang tersembunyi dan halus sebabnya. Disebut sihir karena terjadi dengan perkara-perkara tersembunyi yang tidak dapat dilihat dengan mata. Sihir berupa mantra-mantra, bacaan-bacaan, perkataan yang diucapkan, obat-obatan, dan asap-asapan. Di antaranya ada yang berpengaruh pada hati dan badan sehingga menyebabkan sakit, membunuh, dan memisahkan antara suami istri. Pengaruhnya dengan izin Allah yang bersifat kauniy qadari. Sihir adalah pekerjaan setan, dan kebanyakannya tidak dapat dicapai kecuali dengan syirik dan mendekatkan diri kepada roh-roh jahat dengan sesuatu yang mereka sukai, serta meminta bantuan dengan cara menggunakan mereka melalui persyirikan dengan mereka. Karena itulah syariat menyandingkan sihir dengan syirik, dan sihir masuk dalam syirik dari dua sisi:

Pertama: Yang terkandung di dalamnya berupa penggunaan setan-setan dan bergantung kepada mereka, dan mungkin mendekatkan diri kepada mereka dengan sesuatu yang mereka sukai agar mereka melayaninya.

Kedua: Yang terkandung di dalamnya berupa mengklaim mengetahui gaib dan mengklaim ikut serta dengan Allah dalam hal tersebut. Ini adalah kekufuran dan kesesatan.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (dengan kitab Allah) tidak akan mendapat keuntungan di akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 102)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah! Apa saja itu?” Beliau menjawab: “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh wanita-wanita baik-baik yang beriman berbuat zina.”

  1. Perdukunan

Yaitu mengklaim mengetahui gaib, seperti memberitahu apa yang akan terjadi di bumi, dengan bersandar kepada suatu sebab yaitu mencuri dengar. Jin mencuri satu kata dari pembicaraan malaikat, lalu melemparkannya ke telinga dukun, maka dukun tersebut berbohong seratus kebohongan bersamanya, lalu manusia membenarkannya karena satu kata tersebut.

Allah adalah Dzat yang menyendiri dengan ilmu gaib. Barangsiapa mengklaim ikut serta dengan-Nya dalam sesuatu dari hal tersebut dengan perdukunan atau lainnya, atau membenarkan orang yang mengklaimnya, maka ia telah menjadikan sekutu bagi Allah dalam hal yang merupakan kekhususan-Nya, dan ia mendustakan Allah dan Rasul-Nya. Banyak perdukunan yang berkaitan dengan setan tidak lepas dari syirik dan mendekatkan diri kepada perantara-perantara yang digunakan untuk membantu mengklaim ilmu-ilmu gaib.

Maka perdukunan adalah syirik dari sisi mengklaim ikut serta dengan Allah dalam ilmu-Nya yang menjadi kekhususan-Nya, dan dari sisi mendekatkan diri kepada selain Allah.

Dalam Shahih Muslim dari sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa mendatangi dukun dan bertanya kepadanya tentang sesuatu, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa mendatangi dukun dan membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Abu Dawud)

Yang harus diperingatkan dan diwaspadai adalah urusan para penyihir, dukun, dan tukang sihir yang merusak di bumi dan tidak memperbaiki. Sebagian mereka tampil kepada manusia dengan penampilan dokter yang mengobati penyakit, padahal sebenarnya ia perusak akidah, sehingga ia memerintahkan pasien untuk menyembelih untuk selain Allah, atau menulis jimat-jimat syirik dan mantra-mantra setan. Sebagian lainnya tampil dengan penampilan pemberi kabar tentang hal-hal gaib dan tempat-tempat barang hilang, sehingga orang-orang bodoh datang kepadanya untuk menanyakan barang-barang yang hilang, lalu ia memberitahu mereka tentang tempat-tempat barang tersebut, atau menghadirkannya untuk mereka dengan perantaraan setan. Sebagian lainnya tampil dengan penampilan wali yang memiliki keajaiban dan karamah seperti masuk api, memukul dirinya dengan senjata, memegang ular… dan lain-lain. Padahal sebenarnya ia adalah dukun penipu dan wali setan… Semua golongan ini ingin menipu dan merampok untuk memakan harta manusia dan merusak akidah mereka. Maka wajib bagi kaum muslimin untuk mewaspadai dan menjauh dari mereka. Wajib bagi para penguasa untuk meminta mereka bertaubat, jika mereka bertaubat (bagus), jika tidak maka dibunuh untuk membebaskan kaum muslimin dari kejahatan dan kerusakan mereka, dan melaksanakan hukum Allah terhadap mereka. Dalam Shahih Bukhari dari Bajalah bin Abdah, ia berkata: “Umar bin Khathab menulis: ‘Bunuhlah setiap penyihir laki-laki dan perempuan.'” Dari Jundub secara marfu’: “Hukuman penyihir adalah dipukul dengan pedang.” (HR. At-Tirmidzi)

  1. Tathayur (Merasa Sial)

Yaitu merasa sial dengan burung, nama, kata-kata, tempat, orang, dan lain-lain. Jika seseorang bertekad untuk melakukan suatu urusan agama atau dunia, lalu ia melihat atau mendengar sesuatu yang tidak ia sukai, maka hal tersebut berpengaruh padanya salah satu dari dua hal: Pertama, kembali dari apa yang ia tekadkan karena merasa sial dan terpengaruh oleh apa yang ia lihat atau dengar, maka ia menggantungkan hatinya pada hal yang tidak disukai tersebut, dan hal itu berpengaruh pada imannya serta merusak tauhid dan tawakkalnya kepada Allah. Kedua, ia tidak kembali dari apa yang ia tekadkan, tetapi tetap ada bekas tathayur tersebut di hatinya berupa kesedihan, kepedihan, kegelisahan, waswas, dan kelemahan.

Maka wajib bagi orang yang mendapati sesuatu dari hal tersebut di dalam dirinya untuk berjihad melawan nafsunya untuk menolaknya, meminta pertolongan kepada Allah, bertawakkal kepada-Nya, melanjutkan urusannya, dan mengucapkan: “Allahumma la ya’ti bil hasanati illa anta, wa la yadfa’us sayyi’ati illa anta, wa la haula wa la quwwata illa bika” (Ya Allah, tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Engkau, dan tidak ada yang menolak keburukan kecuali Engkau, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Mu).

Keyakinan pada hal-hal yang buruk adalah penyakit lama yang telah disebutkan Allah tentang umat-umat kafir. Mereka dulu biasa mempercayai hal-hal buruk terhadap sebaik-baik makhluk, yaitu para nabi dan pengikut-pengikut mereka yang beriman. Sebagaimana Allah menceritakan tentang Firaun dan kaumnya, bahwa apabila mereka ditimpa keburukan, “mereka menganggap buruk Musa dan orang-orang yang bersamanya” (Al-A’raf: 131). Dan sebagaimana Allah menceritakan tentang kaum Saleh yang berkata kepadanya: “Mereka berkata: ‘Kami menganggap buruk kamu dan orang-orang yang bersamamu'” (An-Naml: 47). Dan sebagaimana Allah menceritakan tentang penduduk negeri yang berkata kepada utusan-utusan Allah: “Mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami menganggap buruk kamu. Sungguh jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan merasakan azab yang pedih dari kami'” (Yasin: 18). Dan sebagaimana Allah menceritakan tentang orang-orang musyrik yang menganggap buruk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam firman-Nya: “Dan jika mereka ditimpa keburukan, mereka berkata: ‘Ini dari sisimu'” (An-Nisa’: 78).

Demikianlah agama orang-orang musyrik adalah sama, di mana hati dan akal mereka telah terbalik. Mereka meyakini keburukan terhadap orang yang justru merupakan sumber kebaikan, yaitu para rasul ‘alaihimush shalatu was salam. Hal itu tidak lain karena kesesatan telah mengakar dalam jiwa mereka dan fitrah mereka telah terbalik. Padahal kebaikan dan keburukan keduanya dengan takdir dan ketetapan Allah, dan keduanya berjalan sesuai dengan hikmah dan ilmu-Nya sebagai karunia. Kebaikan adalah karunia dari-Nya dan balasan atas perbuatan ketaatan, sedangkan keburukan adalah keadilan dari-Nya dan balasan serta hukuman atas perbuatan maksiat. Allah berfirman: “Apa saja kebaikan yang menimpamu, maka dari Allah, dan apa saja keburukan yang menimpamu, maka dari dirimu sendiri” (An-Nisa’: 79).

Keyakinan pada hal-hal buruk adalah syirik, karena merupakan bergantung kepada selain Allah dan meyakini terjadinya bahaya dari makhluk yang tidak memiliki kemampuan untuk mendatangkan bahaya atau manfaat bagi dirinya sendiri. Hal ini juga karena berasal dari bisikan dan godaan setan, serta bersumber dari hati berupa rasa takut dan khawatir yang bertentangan dengan tawakal.

Berikut adalah perkataan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memperingatkan dari keyakinan pada hal-hal buruk: Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Tidak ada penularan, tidak ada keyakinan buruk, tidak ada hantu burung hantu, dan tidak ada bulan Safar yang buruk.” Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada penularan dan tidak ada keyakinan buruk, tetapi aku menyukai fal (pertanda baik). Para sahabat bertanya: ‘Apa itu fal?’ Beliau berkata: ‘Perkataan yang baik.'” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Ibnu Mas’ud secara marfu’: “Keyakinan buruk adalah syirik, keyakinan buruk adalah syirik.”

Dalam Shahih Muslim dari Mu’awiyah bin al-Hakam, bahwa dia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Di antara kami ada orang yang mempercayai hal-hal buruk.” Beliau berkata: “Itu adalah sesuatu yang dirasakan salah seorang dari kalian dalam dirinya, maka janganlah hal itu menghalangi kalian.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan bahwa gangguan dan pesimismenya terhadap hal-hal buruk itu hanyalah dalam dirinya dan keyakinannya, bukan pada objek yang dianggap buruk. Maka prasangka, ketakutan, dan syiriknya itulah yang membuatnya terbang dan terhalangi karena terpengaruh oleh apa yang dilihat atau didengarnya.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada umatnya dan menerangkan kerusakan keyakinan buruk agar mereka mengetahui bahwa Allah Subhanahu tidak menjadikan hal itu sebagai tanda bagi mereka, tidak ada petunjuk di dalamnya bagi mereka, dan tidak menetapkannya sebagai sebab bagi apa yang mereka takuti dan waspadai. Hal ini agar hati mereka menjadi tenang dan jiwa mereka tenteram kepada keesaan-Nya Ta’ala, yang dengannya Dia mengutus rasul-rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya, serta menciptakan langit dan bumi karenanya. Maka Dia memutuskan ikatan syirik dari hati mereka. Barangsiapa yang berpegang teguh pada tali tauhid yang kokoh, berlindung pada tali-Nya yang kuat, dan bertawakal kepada Allah, dia akan memotong bisikan keyakinan buruk sebelum mengakar, dan mendinginkan khayalan-khayalannya sebelum sempurna.

Ikrimah berkata: “Kami sedang duduk di sisi Ibnu Abbas, lalu lewatlah seekor burung sambil bersuara. Seorang laki-laki dari kaum berkata: ‘Baik, baik.’ Maka Ibnu Abbas berkata: ‘Tidak ada baik dan tidak ada buruk.'” Dia langsung mengingkarinya agar orang itu tidak meyakini pengaruhnya terhadap kebaikan dan keburukan. Demikian pula seluruh makhluk lainnya tidak mendatangkan kebaikan dan tidak menolak keburukan dengan sendirinya.

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dan aku menyukai fal,” kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskannya bahwa fal itu adalah perkataan yang baik. Beliau menyukai fal karena hal itu adalah berbaik sangka kepada Allah, sedangkan hamba diperintahkan untuk berbaik sangka kepada Allah. Keyakinan buruk adalah buruk sangka kepada Allah Azza wa Jalla dan mengharapkan bencana. Dari sinilah perbedaan antara keduanya dalam hukum, karena jika manusia berharap kebaikan dari Allah, hati mereka akan bergantung kepada-Nya dan bertawakal kepada-Nya. Namun jika mereka memutuskan harapan dan pengharapan mereka dari Allah, hal itu termasuk keburukan dan bergantung kepada selain Allah.

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Tidak ada dalam menyukai fal dan mencintainya sesuatu dari syirik, bahkan hal itu sesuai dengan tuntutan tabiat dan fitrah manusia yang cenderung kepada apa yang sesuai dan cocok dengannya. Sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan bahwa dicintakan kepadanya dari dunia ini wanita dan wewangian. Beliau menyukai makanan manis dan madu, menyukai suara yang bagus dalam membaca Al-Quran dan adzan serta mendengarkannya, menyukai akhlak yang mulia dan sifat-sifat terpuji. Secara keseluruhan beliau menyukai setiap kesempurnaan dan kebaikan serta apa yang mengarah kepadanya.

Allah Subhanahu telah menjadikan dalam naluri manusia kekaguman mendengar nama yang baik, mencintainya, dan condongnya jiwa kepadanya. Demikian pula Dia menjadikan di dalamnya kelapangan, kegembiraan, dan kebahagiaan dengan nama-nama seperti keberuntungan, keselamatan, kesuksesan, ucapan selamat, kabar gembira, kemenangan, dan kejayaan. Jika nama-nama ini sampai ke telinga, jiwa akan bergembira dengannya, dada akan lapang karenanya, dan hati akan kuat dengannya. Jika mendengar kebalikannya, akan menimbulkan kebalikan dari keadaan ini, yaitu menyedihkannya, membangkitkan ketakutan dan keyakinan buruk, penyusutan dan kekecutan dari apa yang diniatkan dan diazamkan. Hal ini menimbulkan bahaya di dunia, kekurangan dalam iman, dan menyentuh syirik.” Demikian akhir perkataannya rahimahullah.

Dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dari Ibnu Amr radhiallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang dikembalikan oleh keyakinan buruk dari keperluannya, maka dia telah berbuat syirik. Para sahabat bertanya: ‘Apa kaffarah (penebus dosa)nya?’ Beliau berkata: ‘Hendaknya engkau berkata: Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu, tidak ada burung (pertanda) kecuali burung-Mu, dan tidak ada tuhan selain Engkau.'” Hadits mulia ini mengandung bahwa keyakinan buruk tidak membahayakan orang yang membencinya dan melanjutkan jalannya. Adapun orang yang tidak memurnikan tawakkalnya kepada Allah dan mengikuti setan dalam hal itu, dia mungkin dihukum dengan jatuh pada apa yang dibencinya karena dia berpaling dari kewajiban beriman kepada Allah.

Demikianlah, dan kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar Dia menganugerahkan kepada kami iman dan tawakal kepada-Nya, serta menjauhkan kami dari jalan keburukan dan syirik. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan.

7 – Ilmu Perbintangan (At-Tanjim)

Yaitu sebagaimana yang didefinisikan oleh para peneliti, yaitu mengambil dalil dari keadaan-keadaan falak (benda-benda langit) terhadap peristiwa-peristiwa bumi, seperti waktu-waktu bertiupnya angin, datangnya hujan, munculnya panas dan dingin, perubahan harga-harga, atau terjadinya penyakit atau kematian, atau keberuntungan dan kesialan. Inilah yang disebut dengan ilmu pengaruh (ta’tsir).

Ilmu ini terbagi menjadi dua jenis:

Jenis Pertama: Ahli nujum mengklaim bahwa bintang-bintang adalah pelaku yang memilih, dan bahwa peristiwa-peristiwa terjadi karena pengaruhnya. Ini adalah kekufuran menurut ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin, karena merupakan keyakinan bahwa ada pencipta selain Allah, dan bahwa ada yang bertindak di kerajaan-Nya tanpa kehendak dan takdir-Nya Subhanahu wa Ta’ala.

Jenis Kedua: Mengambil dalil dari perjalanan bintang-bintang, berkumpul dan berpisahnya mereka terhadap terjadinya peristiwa-peristiwa. Tidak diragukan lagi keharamannya, karena hal ini termasuk mengklaim pengetahuan tentang yang gaib, dan juga termasuk sihir. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang mengambil sebagian dari ilmu bintang, maka dia telah mengambil sebagian dari sihir, bertambah apa yang bertambah.” (Diriwayatkan Abu Dawud dengan sanad sahih, dishahihkan An-Nawawi dan Adz-Dzahabi, diriwayatkan Ibnu Majah, Ahmad, dan lainnya). Sihir diharamkan berdasarkan Al-Quran, Sunnah, dan Ijma’. Memberitakan tentang peristiwa-peristiwa yang akan datang melalui mengambil dalil dari bintang-bintang termasuk mengklaim pengetahuan gaib yang hanya Allah yang mengetahuinya. Ini adalah pengklaiman untuk turut serta dengan-Nya Subhanahu dalam ilmu yang hanya Dia yang memilikinya, atau membenarkan orang yang mengklaim hal itu. Ini bertentangan dengan tauhid karena mengandung klaim batil tersebut.

Al-Khattabi berkata: “Ilmu bintang yang dilarang adalah apa yang diklaim oleh ahli perbintangan tentang pengetahuan kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa yang akan datang, seperti waktu bertiupnya angin, datangnya hujan, perubahan harga-harga, dan hal-hal semakna yang mereka klaim dapat diketahui melalui perjalanan bintang-bintang di orbitnya, berkumpul dan berpisahnya mereka. Mereka mengklaim bahwa bintang-bintang itu memiliki pengaruh terhadap hal-hal yang ada di bawah. Ini adalah kesewenangan mereka terhadap yang gaib dan mengambil ilmu yang hanya Allah yang memilikinya, dan tidak ada yang mengetahui gaib selain-Nya.”

Al-Bukhari berkata dalam Shahih-nya: “Qatadah berkata: Allah menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga hal: hiasan bagi langit, alat pelempar setan-setan, dan tanda-tanda untuk petunjuk arah. Barangsiapa yang menafsirkannya selain itu, dia telah salah, menyia-nyiakan bagiannya, dan membebankan diri dengan sesuatu yang tidak diketahuinya…”

Al-Khatib meriwayatkan darinya, dia berkata: “Sesungguhnya orang-orang yang bodoh tentang urusan Allah telah mengada-adakan dalam bintang-bintang ini sebagai ramalan: siapa yang menikah dengan bintang ini dan itu akan begini dan begitu, siapa yang bepergian dengan bintang ini dan itu akan begini dan begitu. Demi hidupku, tidak ada satu bintang pun kecuali dilahirkan padanya orang merah dan hitam, tinggi dan pendek, tampan dan jelek. Bintang-bintang ini, binatang ini, dan burung ini tidak mengetahui sesuatu pun dari gaib ini. Seandainya ada seseorang yang mengetahui gaib, niscaya Adam yang mengetahuinya, yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya, sujudkan malaikat-malaikat-Nya kepadanya, dan ajarkan kepadanya nama-nama segala sesuatu…”

Aku (penulis) berkata: Di antara khurafat yang batil adalah apa yang disebarkan para penipu di beberapa surat kabar dan majalah berupa penyebutan keberuntungan, kesialan, dan kebaikan, yang mereka kaitkan dengan perhitungan buruj (rasi bintang) dan bintang-bintang, dan dibenarkan oleh sebagian orang yang mudah tertipu.

Syaikh Abdul Rahman bin Hasan rahimahullah berkata dalam “Fathul Majid”: “Jika dikatakan: Ahli nujum terkadang benar. Dijawab: Kebenarannya seperti kebenaran dukun; benar dalam satu kata dan dusta dalam seratus kata. Kebenarannya bukan dari ilmu, bahkan mungkin kebetulan sesuai dengan takdir, maka menjadi fitnah bagi orang yang membenarkannya.”

Dia berkata: “Telah datang hadits-hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membatalkan ilmu perbintangan, seperti sabda: ‘Barangsiapa yang mengambil sebagian dari ilmu bintang, maka dia telah mengambil sebagian dari sihir, bertambah apa yang bertambah.’ (Diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah). Dari Raja’ bin Haiwah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya di antara yang aku khawatirkan atas umatku adalah: membenarkan bintang-bintang, mendustakan takdir, dan kezaliman para pemimpin.’ (Diriwayatkan Ibnu Humaid)”

Adapun mengambil dalil dari bintang-bintang untuk mengetahui arah dalam perjalanan di darat dan laut, maka ini tidak mengapa, dan ini termasuk nikmat Allah Azza wa Jalla. Dia Subhanahu berfirman: “Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu agar kamu mendapat petunjuk dengannya dalam kegelapan di darat dan di laut” (Al-An’am: 97), yaitu agar kalian mengetahui arah tujuan kalian dengannya, bukan dimaksudkan bahwa kalian mendapat petunjuk dengannya dalam ilmu gaib sebagaimana yang diyakini para ahli nujum.

Al-Khattabi berkata: “Adapun apa yang dijadikan dalil dari bintang-bintang untuk arah kiblat, yaitu bintang-bintang yang telah diobservasi oleh ahli-ahli pengalaman dari para imam yang tidak kita ragukan perhatian mereka terhadap urusan agama, pengetahuan mereka tentangnya, dan kejujuran mereka dalam apa yang mereka kabarkan tentangnya. Seperti mereka menyaksikannya dengan kehadiran Ka’bah dan menyaksikannya dalam keadaan tidak hadir darinya. Maka pengetahuan mereka tentang petunjuk darinya adalah dengan penyaksian, sedangkan pengetahuan kita tentang itu dengan menerima berita mereka, karena mereka menurut kita tidak tertuduh dalam agama mereka dan tidak kurang dalam pengetahuan mereka.”

Ibnu Rajab berkata: “Yang diizinkan untuk dipelajari adalah ilmu perjalanan (tasir), bukan ilmu pengaruh (ta’tsir). Sesungguhnya ilmu pengaruh itu batil dan haram, sedikit maupun banyaknya. Adapun ilmu perjalanan, maka dipelajari apa yang dibutuhkan darinya untuk petunjuk arah, mengetahui kiblat dan jalan-jalan, dan ini dibolehkan menurut jumhur…”

Demikian pula mempelajari tempat-tempat matahari dan bulan untuk mengambil dalil tentang kiblat, waktu-waktu shalat, musim-musim, dan mengetahui waktu zawal (matahari tepat di atas kepala).

Al-Khattabi berkata: “Adapun ilmu bintang yang dapat diketahui melalui pengamatan dan berita yang dengannya diketahui waktu zawal dan dipelajari arah kiblat, maka hal itu tidak termasuk dalam yang dilarang. Hal itu karena mengetahui observasi bayangan tidak lebih dari mengetahui bahwa selama bayangan masih berkurang, matahari masih naik menuju tengah langit dari ufuk timur. Jika bayangan mulai bertambah, maka matahari turun dari tengah langit menuju ufuk barat. Ini adalah ilmu yang dapat diketahui dengan pengamatan, kecuali bahwa ahli-ahli bidang ini telah mengaturnya dengan alat-alat yang mereka buat yang memungkinkan pengamat tidak perlu mengamati dalam waktu lama dan memantaunya…”

Ibnu Mundzir meriwayatkan dari Mujahid bahwa dia tidak melihat ada masalah bagi seseorang untuk mempelajari tempat-tempat bulan.

Setelah itu; sesungguhnya akidah seorang Muslim adalah hal yang paling berharga baginya, karena dengannya ia akan selamat dan berbahagia. Oleh karena itu, ia wajib berhati-hati untuk menghindari hal-hal yang dapat merusak atau mencemarkan akidahnya dari syirik, khurafat, dan bid’ah, agar akidahnya tetap bersih dan terang. Hal ini dapat dicapai dengan berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah serta apa yang dipegang oleh para salaf yang saleh. Ini tidak akan terwujud kecuali dengan mempelajari akidah ini dan mengetahui akidah-akidah menyimpang yang bertentangan dengannya, terutama karena hari ini telah banyak di kalangan kaum muslimin orang yang berprofesi sebagai penipu dan tukang sihir, yang bergantung pada kuburan dan makam untuk meminta hajat dan menghilangkan kesulitan, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang musyrik terdahulu, atau bahkan lebih parah. Ditambah lagi dengan menjadikan para pemimpin dan tokoh tarekat sufi sebagai tuhan-tuhan selain Allah, yang membuat syariat bagi pengikut mereka dalam agama tanpa izin dari Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

8 – Meminta Hujan dengan Bintang (Al-Istisqa bi Al-Anwa):

Yaitu menisbatkan hujan kepada terbit atau tenggelamnya bintang sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang jahiliyah bahwa terbit atau tenggelamnya bintang berpengaruh dalam menurunkan hujan. Mereka berkata: “Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu.” Yang mereka maksud adalah bintang, dan mereka menyebutnya dengan “nau” (طلوع النجم), dari kata “naa yanu” artinya bangkit dan terbit. Mereka berkata: “Jika bintang tertentu terbit, maka hujan akan turun.”

Yang dimaksud dengan “anwa” menurut mereka adalah 28 rumah bulan. Setiap tiga belas malam, salah satunya tenggelam saat terbit fajar dan yang berhadapan dengannya terbit. Semuanya berakhir ketika tahun qomariyah berakhir. Orang Arab pada masa jahiliyah mengklaim bahwa ketika bintang itu terbit di fajar dan yang berhadapan dengannya tenggelam, maka hujan akan turun. Inilah yang disebut “istisqa bi al-anwa”, yang berarti menisbatkan hujan kepada terbitnya bintang-bintang tersebut.

Ini adalah kepercayaan jahiliyah yang dibatalkan dan dilarang oleh Islam, karena turun dan tertahannya hujan kembali kepada kehendak Allah, takdir-Nya, dan hikmah-Nya. Terbitnya bintang-bintang tidak berpengaruh terhadapnya. Allah Ta’ala berfirman: “Maka Aku bersumpah dengan tempat-tempat beredarnya bintang-bintang. Dan sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang mulia, dalam kitab yang terpelihara, tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam. Maka apakah kamu mendustakan perkataan ini? Dan kamu jadikan pengingkaran terhadapnya sebagai rizki kamu?” (Surat Al-Waqi’ah: 75-82)

Firman Allah Ta’ala: “Dan kamu jadikan pengingkaran terhadapnya sebagai rizki kamu” (Al-Waqi’ah: 82) artinya: menisbatkan hujan yang merupakan rizki yang turun dari Allah kepada bintang, dengan mengatakan: “Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu.” Ini adalah kebohongan dan kedustaan yang sangat besar.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi yang menghasankannya, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, dan Ad-Dhiya dalam “Al-Mukhtarah” dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai ayat “Dan kamu jadikan pengingkaran terhadapnya sebagai rizki kamu”: “Yaitu syukur kalian.” “Bahwa kamu mendustakan”: “Kamu berkata: Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu, dan karena bintang-bintang ini dan itu.”

Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata: “Inilah tafsir yang paling tepat untuk ayat ini. Hal ini diriwayatkan dari Ali, Ibnu Abbas, Qatadah, Ad-Dhahhak, Atha Al-Khurasani dan lainnya. Ini adalah pendapat jumhur mufassirin.”

Dari Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Empat hal dalam umatku dari perkara jahiliyah yang tidak akan mereka tinggalkan: berbangga dengan keturunan, mencela nasab, meminta hujan dengan bintang, dan meratap.” Yang dimaksud dengan jahiliyah di sini adalah masa sebelum diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan segala sesuatu yang bertentangan dengan apa yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah jahiliyah.

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah berkata tentang makna hadits ini: “Beliau mengabarkan bahwa sebagian perkara jahiliyah tidak akan ditinggalkan oleh semua orang, sebagai celaan bagi siapa yang tidak meninggalkannya. Ini menunjukkan bahwa segala sesuatu yang termasuk perkara jahiliyah dan perbuatan mereka adalah tercela dalam Islam. Jika tidak demikian, maka menisbatkan kemungkaran-kemungkaran ini kepada jahiliyah bukanlah celaan. Diketahui bahwa menisbatkannya kepada jahiliyah keluar dalam bentuk celaan. Ini seperti firman Allah Ta’ala: ‘Dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu’ (Al-Ahzab: 33). Sesungguhnya itu adalah celaan terhadap berhias dan celaan terhadap keadaan jahiliyah yang dahulu. Hal itu menunjukkan larangan menyerupai mereka secara umum…”

Sabda beliau dalam hadits ini: “dan meminta hujan dengan bintang” artinya menisbatkan hujan kepada “nau”, yaitu jatuhnya bintang, dengan mengatakan: “Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu.”

Hukum meminta hujan dengan bintang adalah: jika seseorang meyakini bahwa bintang berpengaruh dalam menurunkan hujan, maka ini adalah syirik dan kufur akbar, sebagaimana yang diyakini oleh orang jahiliyah. Namun jika ia tidak meyakini bahwa bintang berpengaruh, dan yang berpengaruh hanyalah Allah saja, tetapi ia menganggap bahwa Allah telah menjadikan kebiasaan turunnya hujan ketika jatuhnya bintang tertentu, maka ini tidak sampai pada syirik akbar, tetapi termasuk syirik ashghar, karena ia menisbatkan hujan kepada bintang, meskipun secara majaz, sebagai penutupan pintu (sadd adz-dzari’ah).

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Zaid bin Khalid radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat subuh di Hudaibiyyah setelah hujan turun di malam hari. Ketika selesai, beliau menghadap orang-orang dan berkata: ‘Tahukah kalian apa yang dikatakan Tuhan kalian?’ Mereka menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau berkata: ‘Allah berfirman: Sebagian hamba-Ku beriman kepada-Ku dan sebagian kafir. Adapun yang berkata: Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah, maka ia beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang. Adapun yang berkata: Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu, maka ia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.'”

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sebagian hamba-Ku beriman kepada-Ku dan sebagian kafir,” kemudian beliau menjelaskan bahwa orang beriman adalah yang menisbatkan hujan kepada karunia dan rahmat Allah, sedangkan orang kafir adalah yang menisbatkan hujan kepada bintang. Ini menunjukkan bahwa tidak boleh menisbatkan perbuatan-perbuatan Allah kepada selain-Nya, dan bahwa hal itu adalah kekufuran. Jika seseorang meyakini bahwa bintang-bintang berpengaruh dalam menurunkan hujan, maka ia telah kafir akbar karena itu adalah syirik dalam rububiyyah, dan orang musyrik adalah kafir. Jika ia tidak meyakini bahwa bintang-bintang berpengaruh dalam menurunkan hujan, tetapi menisbatkannya kepada bintang secara majaz, maka ini haram dan termasuk syirik ashghar karena ia menisbatkan nikmat Allah kepada selain-Nya.

Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Orang Arab jika ada bintang yang terbit dari timur dan yang lain tenggelam di barat, kemudian terjadi hujan atau angin, maka sebagian dari mereka menisbatkannya kepada yang terbit dan sebagian menisbatkannya kepada yang tenggelam sebagai pencipta dan pembuat, dan mereka mengucapkan ungkapan yang disebutkan dalam hadits tersebut. Maka syari’ (pembuat syariat) melarang mengucapkan hal itu agar tidak ada yang meyakini keyakinan mereka dan tidak menyerupai mereka dalam ucapan…”

Muslim meriwayatkan dalam “Shahih”-nya tentang sebab turunnya firman Allah Ta’ala: “Maka Aku bersumpah dengan tempat-tempat beredarnya bintang-bintang…” sampai akhir ayat (Al-Waqi’ah: 75-82) dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma: “Sebagian mereka berkata: ‘Sungguh benar bintang ini dan itu.’ Maka Allah menurunkan ayat-ayat ini: ‘Maka Aku bersumpah dengan tempat-tempat beredarnya bintang-bintang…’ hingga firman-Nya: ‘Dan kamu jadikan pengingkaran terhadapnya sebagai rizki kamu.'”

Menurunkan hujan adalah dari Allah, dengan kehendak dan kekuatan-Nya, tidak ada campur tangan makhluk di dalamnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkan?” (Al-Waqi’ah: 68-69)

Barangsiapa menisbatkan turunnya hujan kepada bintang-bintang atau kepada fenomena alam seperti tekanan udara rendah atau cuaca, maka ia telah berdusta dan berbuat dusta. Ini adalah syirik akbar. Jika ia meyakini bahwa yang menurunkan adalah Allah, tetapi menisbatkannya kepada hal-hal tersebut secara majaz, maka ini haram dan kufur ashghar karena ia menisbatkan nikmat kepada selain Allah, seperti orang yang berkata: “Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu.” Betapa banyak sikap longgar dalam masalah ini di lidah sebagian wartawan atau media. Maka seorang Muslim wajib memperhatikan hal ini. Allah yang memberi taufik, dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

9- Menisbatkan Nikmat kepada Selain Allah:

Telah disebutkan sebelumnya tentang hukum menisbatkan hujan kepada bintang dan meminta hujan dengannya. Sekarang pembahasan tentang hukum menisbatkan nikmat secara umum kepada selain Allah.

Sesungguhnya mengakui karunia dan nikmat Allah serta melakukan syukur kepada-Nya adalah inti dari akidah, karena barangsiapa menisbatkan nikmat kepada selain yang memberikannya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala, maka ia telah mengingkarinya dan berbuat syirik kepada Allah dengan menisbatkannya kepada selain-Nya.

Allah Ta’ala berfirman: “Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” (An-Nahl: 83)

Sebagian mufassirin berkata: “Mereka mengetahui bahwa nikmat-nikmat itu dari Allah, dan bahwa Allah-lah yang memberi nikmat kepada mereka, tetapi mereka mengingkarinya. Maka mereka mengklaim bahwa mereka mewarisinya dari nenek moyang mereka. Sebagian berkata: ‘Kalau bukan si fulan, tidak akan terjadi ini dan itu.’ Sebagian berkata: ‘Ini karena syafaat tuhan-tuhan kami.'”

Demikianlah, setiap orang menisbatkan nikmat kepada siapa yang diagungkannya dari para nenek moyang, tuhan-tuhan, dan tokoh-tokoh, melupakan sumber yang sebenarnya dan Pemberi nikmat yang hakiki, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala.

Sebagian dari mereka juga menisbatkan nikmat berlayar di laut dan keselamatan dari bahayanya kepada angin dan kepandaian nahkoda, dengan berkata: “Anginnya bagus dan nahkodanya pandai.”

Seperti halnya yang terjadi hari ini di lidah banyak orang yang menisbatkan terjadinya nikmat dan terhindarinya bencana kepada usaha pemerintah dan individu atau kemajuan ilmu eksperimental. Mereka berkata misalnya: “Kemajuan kedokteran mengatasi penyakit-penyakit atau memberantasnya,” dan “Usaha-usaha si fulan memberantas kemiskinan dan kebodohan…” dan ungkapan-ungkapan serupa yang wajib dihindari oleh seorang Muslim dan dijaga dengan sangat hati-hati. Ia harus menisbatkan nikmat kepada Allah saja dan bersyukur kepada-Nya. Adapun usaha-usaha yang dilakukan oleh sebagian makhluk, baik individu maupun kelompok, itu hanyalah sebab-sebab yang mungkin berbuah dan mungkin tidak berbuah. Mereka patut disyukuri sesuai dengan yang mereka berikan, tetapi tidak boleh menisbatkan tercapainya hasil kecuali kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah telah menyebutkan dalam kitab-Nya yang mulia tentang kaum-kaum yang mengingkari nikmat Allah kepada mereka, dan menisbatkan harta dan nikmat yang mereka peroleh kepada selain Allah, baik karena menganggap mereka berhak mendapatkannya, atau karena pengalaman, pengetahuan, dan keahlian mereka.

Allah Ta’ala berfirman tentang manusia: “Dan sungguh jika Kami merasakan kepadanya rahmat dari Kami sesudah kesusahan menimpanya, niscaya dia akan berkata: ‘Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat akan datang, dan jika seandainya aku dikembalikan kepada Tuhanku, sesungguhnya aku akan memperoleh yang terbaik di sisi-Nya.’ Maka sesungguhnya akan Kami beritakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan, dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras.” (Fushshilat: 50)

Firman-Nya: “Ini adalah hakku” artinya: aku memperoleh ini dengan ilmuku, dan aku berhak mendapatkannya, bukan karena karunia dan nikmat Allah, bukan karena daya dan kekuatan hamba.

Allah Ta’ala berfirman tentang Qarun yang diberi Allah harta berlimpah kemudian ia melampaui batas terhadap kaumnya. Ketika orang-orang yang menasihatinya memerintahkannya untuk mengakui nikmat Allah dan bersyukur, ia bersikeras dan berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” (Al-Qashash: 78) Artinya: aku memperoleh harta ini karena kepandaian dan pengetahuanku tentang cara-cara mencari keuntungan, bukan karena karunia Allah Ta’ala. Maka akibatnya adalah seburuk-buruk akibat dan hukumannya adalah sehebat-hebat hukuman, di mana Allah membenamkannya beserta rumahnya ke dalam bumi karena ia mengingkari nikmat Allah dan menisbatkannya kepada selain-Nya, serta mengklaim bahwa ia memperolehnya dengan daya dan kekuatannya sendiri.

Betapa pantas orang-orang yang tertipu di zaman kita dengan penemuan-penemuan dan kemampuan yang Allah berikan kepada mereka sebagai ujian, tetapi mereka tidak bersyukur atas nikmat Allah. Mereka menjadi sombong dan membanggakan daya dan kekuatan mereka, berbuat kerusakan di bumi tanpa hak, dan melampaui batas terhadap hamba-hamba Allah. Betapa pantas mereka mendapat hukuman!

Sebelum mereka, kaum ‘Ad juga tertipu dengan kekuatan mereka, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang mereka: “Adapun kaum ‘Ad, maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: ‘Siapakah yang lebih kuat dari kami?’ Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan mereka adalah lebih kuat dari mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda kekuasaan Kami. Maka Kami kirimkan kepada mereka angin topan yang amat dingin pada hari-hari yang nahas untuk merasakan kepada mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya azab akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan.” (Fushshilat: 15-16)

Inilah kisah yang diceritakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sekelompok orang sebelum kita yang diuji oleh Allah dengan diberi nikmat. Di antara mereka ada yang mengingkari nikmat Allah dan menisbatkan harta yang diperolehnya kepada warisan dari nenek moyangnya, maka Allah murka kepadanya. Di antara mereka ada yang mengakui karunia Allah dan bersyukur atas nikmat Allah, maka Allah ridha kepadanya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya tiga orang dari Bani Israil – seorang yang berpenyakit belang putih, seorang yang botak, dan seorang yang buta – Allah hendak menguji mereka, maka Allah mengutus seorang malaikat kepada mereka. Malaikat itu mendatangi orang yang berpenyakit belang putih dan berkata: ‘Apa yang paling kamu sukai?’ Dia menjawab: ‘Warna kulit yang bagus dan kulit yang sehat, serta hilangnya penyakit yang membuat orang-orang menjijikkan aku.’ Maka malaikat itu mengusap tubuhnya, lalu hilanglah penyakitnya dan diberi warna kulit yang bagus serta kulit yang sehat. Kemudian malaikat berkata: ‘Harta apa yang paling kamu sukai?’ Dia menjawab: ‘Unta’ – atau ‘sapi’ (Ishaq ragu). Maka diberinya seekor unta bunting, dan malaikat berkata: ‘Semoga Allah memberkahimu padanya.’

Kemudian malaikat mendatangi orang yang botak dan berkata: ‘Apa yang paling kamu sukai?’ Dia menjawab: ‘Rambut yang bagus dan hilangnya penyakit yang membuat orang-orang menjijikkan aku.’ Maka malaikat mengusapnya, lalu hilanglah penyakitnya dan diberi rambut yang bagus. Kemudian malaikat berkata: ‘Harta apa yang paling kamu sukai?’ Dia menjawab: ‘Sapi’ – atau ‘unta’. Maka diberinya seekor sapi bunting. Malaikat berkata: ‘Semoga Allah memberkahimu padanya.’

Kemudian malaikat mendatangi orang yang buta dan berkata: ‘Apa yang paling kamu sukai?’ Dia menjawab: ‘Agar Allah mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang-orang.’ Maka malaikat mengusapnya, lalu Allah mengembalikan penglihatannya. Kemudian malaikat berkata: ‘Harta apa yang paling kamu sukai?’ Dia menjawab: ‘Kambing.’ Maka diberinya seekor kambing bunting.

Ketiganya berkembang biak dan beranak pinak, sehingga yang satu memiliki lembah penuh unta, yang satu memiliki lembah penuh sapi, dan yang satu memiliki lembah penuh kambing.

Kemudian malaikat mendatangi orang yang dahulu berpenyakit belang putih dalam rupa dan bentuk aslinya (saat masih sakit), lalu berkata: ‘Aku seorang miskin yang terputus bekal dalam perjalanan, tidak ada yang dapat menolongku hari ini kecuali Allah kemudian engkau. Aku meminta kepadamu dengan nama Dzat yang telah memberimu warna kulit yang bagus, kulit yang sehat, dan harta, seekor unta untuk melanjutkan perjalananku.’ Orang itu berkata: ‘Hak-hak (yang harus kupenuhi) sangat banyak.’ Malaikat berkata: ‘Sepertinya aku mengenalmu, bukankah engkau dahulu seorang yang berpenyakit belang putih yang dijauhi orang-orang karena miskin, lalu Allah memberikanmu harta?’ Orang itu berkata: ‘Sesungguhnya aku mewarisi harta ini turun-temurun dari nenek moyang.’ Malaikat berkata: ‘Jika engkau berdusta, maka semoga Allah mengembalikanmu kepada keadaan semula.’

Kemudian malaikat mendatangi orang yang dahulu botak dalam rupanya, dan berkata kepadanya seperti yang dikatakan kepada yang pertama. Orang itu menjawab seperti jawaban yang pertama. Maka malaikat berkata: ‘Jika engkau berdusta, maka semoga Allah mengembalikanmu kepada keadaan semula.’

Kemudian malaikat mendatangi orang yang dahulu buta dalam rupanya dan berkata: ‘Aku seorang miskin dan musafir yang terputus bekal dalam perjalanan, tidak ada yang dapat menolongku hari ini kecuali Allah kemudian engkau. Aku meminta kepadamu dengan nama Dzat yang telah mengembalikan penglihatanmu, seekor kambing untuk melanjutkan perjalananku.’ Orang itu berkata: ‘Dulu aku buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Ambillah apa yang kamu mau! Demi Allah, aku tidak akan menyulitkanmu hari ini dengan sesuatu yang kamu ambil karena Allah.’ Malaikat berkata: ‘Simpanlah hartamu, sesungguhnya kalian telah diuji. Allah ridha kepadamu dan murka kepada kedua temanmu.'”

Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Ini adalah hadits yang agung dan mengandung pelajaran. Dua orang yang pertama mengingkari nikmat Allah, tidak menisbatkannya kepada-Nya, dan menahan hak Allah dalam harta mereka, maka turunlah murka Allah kepada keduanya dan dicabut nikmat dari mereka. Sedangkan yang ketiga mengakui nikmat Allah, menisbatkannya kepada-Nya, dan menunaikan hak Allah padanya, maka ia berhak mendapat ridha Allah, dan Allah melimpahkan hartanya karena ia bersyukur atas nikmat tersebut.

Ibn Qayyim berkata: “Pokok syukur adalah mengakui kebaikan si pemberi nikmat dengan cara tunduk, merendah, dan mencintainya. Barangsiapa tidak mengetahui nikmat bahkan jahil terhadapnya, maka ia tidak mensyukurinya. Barangsiapa mengetahui nikmat tetapi tidak mengetahui pemberi nikmat, maka ia juga tidak mensyukurinya. Barangsiapa mengetahui nikmat dan pemberi nikmat tetapi mengingkarinya sebagaimana orang yang ingkar mengingkari nikmat dan pemberi nikmat, maka ia telah mengkufurinya. Barangsiapa mengetahui nikmat dan pemberi nikmat, mengakuinya dan tidak mengingkarinya, tetapi tidak tunduk kepadanya, tidak mencintainya, dan tidak ridha kepadanya dan darinya, maka ia juga tidak mensyukurinya. Barangsiapa mengetahui nikmat, mengetahui pemberi nikmat, mengakuinya, tunduk kepada pemberi nikmat, mencintainya, ridha kepadanya dan darinya, serta menggunakan nikmat tersebut dalam kecintaan dan ketaatan kepada-Nya, maka inilah orang yang bersyukur atas nikmat tersebut. Maka syukur harus mencakup ilmu hati dan amal yang mengikuti ilmu, yaitu condong kepada pemberi nikmat, mencintainya, dan tunduk kepadanya…”

Syirik Asghar (Syirik Kecil)

Syirik asghar mengurangi tauhid dan merusaknya. Ada beberapa hal dari syirik asghar yang Allah dan Rasul-Nya memperingatkan kita darinya untuk menjaga akidah dan melindungi tauhid, karena hal-hal tersebut mengurangi tauhid dan mungkin dapat menarik kepada syirik akbar.

Allah Ta’ala berfirman: “Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 22)

Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata tentang ayat ini: “Sekutu-sekutu itu adalah syirik yang lebih samar dari langkah semut di atas batu hitam dalam kegelapan malam. Yaitu seperti ucapanmu: ‘Demi Allah dan demi hidupmu wahai fulan dan demi hidupku.’ Dan ucapanmu: ‘Kalau bukan anjing kecil ini, pencuri pasti datang kepada kita, dan kalau bukan bebek di rumah ini, pencuri pasti datang kepada kita.’ Dan ucapan seseorang kepada temannya: ‘Apa yang Allah kehendaki dan engkau kehendaki.’ Dan ucapan seseorang: ‘Kalau bukan Allah dan fulan.’ Jangan memasukkan fulan dalam hal ini, semua ini mengandung syirik.” Diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim.

Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma telah menjelaskan bahwa hal-hal ini termasuk syirik, yang dimaksud adalah syirik asghar. Ayat tersebut bersifat umum mencakup syirik akbar dan syirik asghar. Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengingatkan dengan menyebutkan hal-hal yang lebih ringan (yaitu syirik asghar) untuk menunjukkan yang lebih berat (yaitu syirik akbar), dan karena ungkapan-ungkapan ini sering terucap dari lisan banyak orang, baik karena ketidaktahuan maupun karena sikap meremehkan.

Bentuk-bentuk Syirik Asghar:

  1. Bersumpah dengan Selain Allah

Hal ini adalah syirik, sebagaimana diriwayatkan dari Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, maka ia telah kafir atau syirik.” Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan ia menghasankannya, serta dishahihkan oleh Hakim.

Sabda beliau “maka ia telah kafir atau syirik” dapat dipahami sebagai keraguan dari perawi, atau “atau” bermakna “dan”, sehingga maknanya ia telah kafir dan syirik, yaitu kekafiran yang di bawah kekafiran akbar, sebagaimana ia termasuk syirik asghar.

Di antara manusia hari ini ada yang bersumpah dengan selain Allah, seperti yang bersumpah dengan amanah, atau bersumpah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau berkata: “Demi hidupku dan hidupmu wahai fulan”… dan ungkapan-ungkapan serupa. Kita telah mendengar apa yang disebutkan dalam hadits tentang larangan bersumpah dengan selain Allah dan dianggap sebagai kekafiran atau syirik, karena bersumpah dengan sesuatu adalah pengagungan terhadapnya, sedangkan yang wajib diagungkan dan disumpahi adalah Allah. Bersumpah dengan selain-Nya adalah syirik dan kejahatan besar.

Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sungguh, aku bersumpah dengan Allah dalam keadaan dusta lebih aku sukai daripada bersumpah dengan selain-Nya dalam keadaan jujur.”

Diketahui bahwa bersumpah dengan Allah dalam keadaan dusta adalah dosa besar, tetapi syirik – yaitu bersumpah dengan selain Allah – lebih besar dari dosa-dosa besar, meskipun itu syirik asghar.

Muslim wajib memperhatikan hal ini dan tidak terjerumus oleh kebiasaan jahiliyah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa hendak bersumpah, maka hendaklah ia bersumpah dengan Allah atau diam.” Dan beliau bersabda: “Janganlah kalian bersumpah dengan bapak-bapak kalian”… dan nash-nash lain yang memerintahkan kita jika ingin bersumpah agar kita batasi pada sumpah dengan Allah saja dan tidak bersumpah dengan selain-Nya.

Wajib bagi orang yang disumpahi dengan nama Allah untuk meridhai, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa bersumpah dengan Allah, hendaklah ia jujur. Barangsiapa disumpahi dengan nama Allah, hendaklah ia ridha. Barangsiapa tidak ridha, maka ia bukan dari Allah.”

  1. Syirik dalam Ucapan

Termasuk syirik asghar adalah syirik dalam ucapan, seperti berkata: “Apa yang Allah kehendaki dan engkau kehendaki.” Imam Ahmad dan Nasa’i meriwayatkan dari Qutailah bahwa seorang Yahudi mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Sesungguhnya kalian berbuat syirik. Kalian berkata: ‘Apa yang Allah kehendaki dan engkau kehendaki,’ dan kalian berkata: ‘Demi Ka’bah!’ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka jika hendak bersumpah agar berkata: ‘Demi Tuhan Ka’bah,’ dan agar berkata: ‘Apa yang Allah kehendaki kemudian engkau kehendaki.'”

Nasa’i meriwayatkan dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apa yang Allah kehendaki dan engkau kehendaki.” Maka beliau bersabda: “Apakah engkau menjadikan aku sekutu bagi Allah?! Katakanlah: Apa yang Allah kehendaki saja.”

Kedua hadits dan yang semakna dengannya menunjukkan larangan berkata: “Apa yang Allah kehendaki dan engkau kehendaki,” dan yang serupa seperti: “Kalau bukan Allah dan engkau,” “Tidak ada bagiku kecuali Allah dan engkau”… karena mengatf dengan waw menuntut penyamaan antara yang diatafkan, dan ini adalah syirik. Yang wajib adalah mengatf dengan “thumma” (kemudian), sehingga dikatakan: “Apa yang Allah kehendaki kemudian engkau kehendaki,” atau “kemudian fulan kehendaki,” “Kalau bukan Allah kemudian engkau,” atau “kemudian fulan,” “Tidak ada bagiku kecuali Allah kemudian engkau”… karena mengatf dengan “thumma” menuntut urutan dan berturut-turut, dan bahwa kehendak hamba datang setelah kehendak Allah Ta’ala, bukan menyamainya.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan kamu tidak dapat menghendaki (sesuatu) kecuali apabila dikehendaki Allah.” (QS. At-Takwir: 29)

Kehendak hamba mengikuti kehendak Allah Ta’ala. Hamba walaupun memiliki kehendak – berbeda dengan paham Jabariyah – kehendaknya mengikuti kehendak Allah, dan ia tidak mampu menghendaki sesuatu kecuali jika Allah telah menghendakinya – berbeda dengan paham Qadariyah dari Mu’tazilah dan lainnya yang menetapkan bagi hamba kehendak yang menyelisihi apa yang Allah inginkan. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan.

  1. Syirik dalam Niat dan Tujuan

Termasuk syirik asghar adalah syirik dalam niat dan tujuan, yang disebut syirik khafi (tersembunyi), seperti riya. Ada dua jenis:

  1. Riya

Riya berasal dari ru’yah (melihat), yang dimaksud adalah memperlihatkan ibadah dengan tujuan agar orang-orang melihatnya sehingga mereka memuji pelakunya.

Perbedaan antara riya dan sum’ah: riya untuk amal yang dilihat seperti shalat, sedangkan sum’ah untuk yang didengar seperti bacaan, nasihat, dan dzikir.

Termasuk dalam hal ini adalah seseorang menceritakan amal-amalnya dan memberitahukannya.

Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.'” (QS. Al-Kahf: 110)

Imam Ibn Qayyim rahimahullah berkata dalam menafsirkan ayat ini: “Yaitu sebagaimana Allah adalah Esa, tidak ada tuhan selain-Nya, maka demikian pula seharusnya ibadah hanya untuk-Nya saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sebagaimana Dia Esa dalam uluhiyah, maka wajib Dia dikhususkan dalam ubudiyah. Amal saleh adalah yang ikhlas dari riya dan sesuai dengan sunnah…”

Allah mengancam orang-orang yang riya dengan kecelakaan, sebagaimana firman-Nya: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al-Ma’un: 4-7)

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa riya adalah sifat orang-orang munafik, sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia.” (QS. An-Nisa: 142)

Dari Abu Hurairah secara marfu’, beliau berkata: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku adalah yang paling tidak membutuhkan persekutuan. Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang ia persekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia bersama syiriknya.'” Diriwayatkan oleh Muslim. Artinya: barangsiapa yang tujuan amalnya untuk selain-Ku dari makhluk, Aku tinggalkan dia bersama syiriknya. Dalam riwayat Ibn Majah: “Maka Aku berlepas diri darinya, dan amal itu untuk yang disyirikkan.”

Ibn Rajab rahimahullah berkata: “Ketahuilah bahwa amal untuk selain Allah ada beberapa bagian. Terkadang murni riya seperti keadaan orang-orang munafik, sebagaimana firman Allah Ta’ala: ‘Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia’ (QS. An-Nisa: 142). Riya murni ini hampir tidak mungkin keluar dari seorang mukmin dalam shalat dan puasa wajib, tetapi mungkin terjadi dalam sedekah atau haji wajib atau amal-amal lain yang zhahir atau yang manfaatnya menyebar, karena ikhlas dalam hal tersebut sangat langka. Amal seperti ini tidak diragukan oleh seorang muslim bahwa ia sia-sia dan pelakunya berhak mendapat murka Allah dan azab.

Terkadang amal itu untuk Allah tetapi dicampur riya. Jika riya menyertai sejak awal, maka nash-nash shahih menunjukkan batalnya amal tersebut. Adapun jika amal itu untuk Allah kemudian muncul niat riya, jika itu hanya berupa bisikan kemudian ditolak, maka tidak membahayakan menurut kesepakatan. Jika ia mengikuti bisikan tersebut, apakah amalnya batal atau tidak dan ia diberi pahala berdasarkan niat awalnya? Dalam hal ini ada perbedaan pendapat di antara ulama salaf yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibn Jarir, dan mereka berpendapat bahwa amalnya tidak batal karenanya dan ia diberi pahala berdasarkan niat awalnya. Ini diriwayatkan dari Hasan dan lainnya…”

Maka jagalah amal-amal kalian dari syirik lebih dari kalian menjaga diri dari musuh-musuh, dan lebih dari kalian menjaga harta dari pencuri, karena bahaya syirik sangat besar.

Kami memohon kepada Allah untuk kami dan kalian keselamatan dan keikhlasan dalam perkataan dan perbuatan.

  1. Menginginkan Dunia dengan Amal

Menginginkan dunia dengan amal adalah salah satu jenis syirik dalam niat dan tujuan. Allah telah memperingatkan darinya dalam kitab-Nya, dan Rasul-Nya memperingatkan darinya dalam sunnahnya. Yaitu seseorang menginginkan dengan amal yang seharusnya ditujukan untuk wajah Allah suatu keuntungan duniawi. Ini adalah syirik yang menafikan kesempurnaan tauhid dan membatalkan amal.

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)

Makna kedua ayat mulia ini: Allah Subhanahu memberitahukan bahwa barangsiapa yang tujuan amalnya hanya untuk memperoleh keuntungan dunia, maka Allah akan memberikan pahala amalnya di dunia berupa kesehatan, kegembiraan, harta, keluarga, dan anak. Ini dibatasi dengan kehendak Allah, sebagaimana firman-Nya dalam ayat lain: “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki” (QS. Al-Isra: 18). Mereka tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka karena mereka tidak mengerjakan apa yang dapat menyelamatkan mereka darinya, dan amal mereka di akhirat sia-sia tanpa pahala karena mereka tidak menginginkan akhirat.

Qatadah berkata: “Allah Ta’ala berfirman: barangsiapa yang dunia menjadi perhatian, pencarian, dan niatnya, maka Allah akan membalasnya dengan kebaikan-kebaikannya di dunia, kemudian dia akan menuju akhirat dan tidak memiliki kebaikan yang dengannya dia diberi balasan. Adapun orang beriman, maka dia akan dibalas dengan kebaikan-kebaikannya di dunia dan diberi pahala atasnya di akhirat.”

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata: “Disebutkan dari para salaf mengenai makna ayat tersebut beberapa jenis dari apa yang dilakukan manusia hari ini namun mereka tidak mengetahui maknanya:

Jenis pertama: Amal saleh yang dilakukan banyak orang dengan mengharap wajah Allah, seperti sedekah, salat, menyambung silaturahmi, berbuat baik kepada manusia, meninggalkan kezaliman dan semacamnya yang dilakukan atau ditinggalkan seseorang dengan ikhlas karena Allah, namun dia tidak menginginkan pahalanya di akhirat. Dia hanya ingin Allah membalasnya dengan menjaga hartanya dan mengembangkannya, atau menjaga keluarga dan anak-anaknya, atau melanggengkan nikmat kepada mereka. Dia tidak memiliki cita-cita untuk mencari surga dan lari dari neraka. Maka orang seperti ini diberi pahala amalnya di dunia, dan tidak memiliki bagian di akhirat. Jenis ini disebutkan oleh Ibnu Abbas.

Jenis kedua: Lebih besar dari yang pertama dan lebih menakutkan, yaitu yang disebutkan Mujahid bahwa ayat tersebut diturunkan berkenaan dengannya. Yaitu seseorang yang melakukan amal-amal saleh dengan niat untuk riya kepada manusia, bukan untuk mencari pahala akhirat.

Jenis ketiga: Seseorang yang melakukan amal-amal saleh dengan tujuan mencari harta, seperti seseorang yang menunaikan haji karena apa yang dia ambil, atau berhijrah untuk dunia yang dia peroleh atau wanita yang dia nikahi, atau berjihad karena ghanimah (harta rampasan perang). Jenis ini juga disebutkan dalam tafsir ayat tersebut. Sebagaimana seseorang yang belajar untuk keluarganya atau penghasilannya atau kepemimpinannya, atau mempelajari Al-Quran dan tekun salat untuk mendapat pekerjaan di masjid, sebagaimana yang sering terjadi.

Jenis keempat: Seseorang yang beribadah kepada Allah dengan ikhlas hanya kepada Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya, namun dia menganut ilmu yang mengkafirkannya dan mengeluarkannya dari Islam, seperti orang Yahudi dan Nasrani ketika mereka beribadah kepada Allah atau bersedekah atau berpuasa dengan mengharap wajah Allah dan negeri akhirat. Juga seperti banyak dari umat ini yang terdapat kekufuran atau kemusyrikan yang mengeluarkan mereka dari Islam secara total, ketika mereka menaati Allah dengan ketaatan yang ikhlas yang mereka inginkan pahalanya dari Allah di negeri akhirat, namun mereka melakukan amalan-amalan yang mengeluarkan mereka dari Islam dan menghalangi diterimanya amal-amal mereka. Jenis ini juga disebutkan dalam ayat ini dari Anas bin Malik dan lainnya, dan para salaf takut darinya.” Selesai apa yang disebutkannya rahimahullah.

Kedua ayat tersebut mencakup keempat jenis ini karena lafaznya umum.

Maka perkara ini berbahaya, yang mewajibkan seorang Muslim berhati-hati agar tidak mencari dengan amal akhirat karena tamak dunia.

Telah datang dalam Sahih Bukhari bahwa barangsiapa yang tujuannya adalah dunia dan dia mengejarnya dengan segenap perhatiannya, maka dia akan menjadi hamba baginya:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba kain sutra, celakalah hamba selimut mewah. Jika diberi dia ridha, jika tidak diberi dia marah. Celaka dan terjungkir, jika tertusuk duri tidak bisa mencabutnya.”

Makna “ta’is” secara bahasa adalah jatuh, yang dimaksud di sini adalah binasa. Nabi menyebutnya hamba benda-benda tersebut karena itulah yang menjadi tujuan amalnya. Setiap orang yang mengarahkan tujuannya kepada selain Allah, maka dia telah menjadikannya sekutu bagi Allah dalam penghambaan kepadanya, sebagaimana kondisi kebanyakan orang.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam hadis ini mendoakan orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan dan perhatiannya dengan kecelakaan, kejatuhan, dan terkena ketidakmampuan mencabut duri dari tubuhnya. Dan pasti akan merasakan dampak doa-doa ini setiap orang yang memiliki sifat tercela ini, sehingga dia akan mengalami apa yang membahayakannya di dunia dan akhiratnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Nabi shallallahu alaihi wasallam menyebutnya hamba dinar dan dirham, hamba permadani dan hamba kain sutra, dan menyebutkan di dalamnya berupa doa dengan redaksi berita, yaitu sabdanya: ‘Celaka dan terjungkir, jika tertusuk duri tidak bisa mencabutnya.’ Ini adalah kondisi orang yang jika ditimpa keburukan, dia tidak bisa keluar darinya dan tidak beruntung karena dia celaka dan terjungkir. Dia tidak memperoleh yang diinginkan dan tidak terbebas dari yang dibenci. Inilah kondisi orang yang menyembah harta. Dia menggambarkannya: jika diberi dia ridha, jika dilarang dia marah, sebagaimana firman Allah Ta’ala: ‘Dan di antara mereka ada yang mencela kamu tentang (pembagian) sedekah, maka jika mereka diberi sebagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.’ (QS. At-Taubah: 58). Keridhaan mereka bukan karena Allah, dan kemarahan mereka bukan karena Allah. Demikianlah kondisi orang yang terikat dengan kepemimpinan atau bentuk dan semacamnya dari hawa nafsu dirinya. Jika dia memperolehnya dia ridha, jika tidak memperolehnya dia marah. Maka orang ini adalah hamba apa yang dia hawa-hawakan, dan dia adalah budak baginya. Karena perbudakan dan penghambaan yang sebenarnya adalah perbudakan hati dan penghambaannya. Apa yang memperbudak hati dan menghambkannya, maka dia adalah hambanya…”

Sampai dia berkata: “Demikianlah pencari harta, karena hal itu memperbudak dan menghambkannya. Perkara-perkara ini ada dua jenis:

Pertama: Di antaranya adalah apa yang dibutuhkan hamba untuk makanan, minuman, pernikahan, tempat tinggal, dan semacamnya. Maka ini diminta dari Allah dan mengharap kepada-Nya. Harta di sisinya digunakan untuk kebutuhannya seperti kendaraan yang dia naiki dan tikar yang dia duduki tanpa memperbudaknya sehingga menjadi keluh kesah.

Kedua: Di antaranya adalah apa yang tidak dibutuhkan hamba. Maka ini sebaiknya tidak menggantungkan hatinya kepadanya. Jika menggantungkan hatinya, dia menjadi terperbudak kepadanya, dan mungkin menjadi terperbudak kepada selain Allah. Maka tidak tersisa bersamanya hakikat penghambaan kepada Allah dan hakikat tawakal kepada-Nya, bahkan di dalam dirinya terdapat cabang dari ibadah kepada selain Allah dan cabang dari tawakal kepada selain Allah. Inilah orang yang paling berhak dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: ‘Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba kain sutra, celakalah hamba selimut mewah.’ Orang ini adalah hamba benda-benda tersebut, meskipun dia memintanya dari Allah. Karena jika Allah memberinya, dia ridha, dan jika Allah mencegahnya, dia marah. Sesungguhnya hamba Allah adalah orang yang diridhai oleh apa yang meridhai Allah, dimurkai oleh apa yang memurkai Allah, mencintai apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, membenci apa yang dibenci Allah dan Rasul-Nya, memusuhi musuh-musuh Allah, dan berwalana dengan wali-wali Allah. Inilah orang yang menyempurnakan keimanan…” Selesai ucapannya rahimahullah.

Aku berkata: Di antara hamba-hamba harta hari ini yang melakukan transaksi-transaksi haram dan penghasilan-penghasilan kotor karena dorongan cinta materi adalah orang-orang yang bertransaksi dengan riba bersama bank-bank dan lainnya, orang-orang yang mengambil harta melalui suap, judi, melalui penipuan dalam transaksi dan kefasikan dalam persengketaan. Mereka mengetahui bahwa ini adalah penghasilan haram, namun cinta mereka kepada harta membutakan pandangan mereka dan menjadikan mereka hamba baginya, sehingga mereka mencarinya dari jalan mana pun.

Kami memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan saudara-saudara kami kaum Muslim dari kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kagum setiap pemilik pendapat dengan pendapatnya.

4 – Mencela Zaman dan Semacamnya:

Di antara hal-hal yang dilakukan sebagian orang karena kebiasaan, dan termasuk yang mengurangi tauhid juga dan merusak akidah adalah: mencela zaman, mencela angin, dan semacamnya berupa penyandaran celaan kepada makhluk-makhluk dalam hal yang bukan urusan mereka. Maka celaan ini pada hakikatnya tertuju kepada Allah Subhanahu karena Dia-lah Pencipta yang mengatur.

Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang musyrik: “Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia kita, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa,’ dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga.” (QS. Al-Jatsiyah: 24)

Mereka mendustakan hari bangkit dan berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia kita” yang kita jalani, tidak ada kehidupan selainnya. “Kita mati dan kita hidup” yaitu: sekelompok mati dan yang lain hidup. Ini dari mereka adalah pengingkaran terhadap adanya Pencipta yang mengatur dan mengembalikan terjadinya peristiwa-peristiwa kepada alam. Oleh karena itu mereka berkata: “Dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa” yaitu: tidak ada yang memfanakan kami kecuali berlalunya malam dan siang. Mereka menisbatkan kebinasaan kepada zaman dengan cara mencela. Mereka hanya mengatakan ucapan ini karena kebodohan dan menduga-duga, bukan karena ilmu dan bukti, karena bukti menolak ucapan ini dan membatalkannya. Oleh karena itu Allah membantahnya dengan firman-Nya: “Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga.” Setiap ucapan yang tidak dibangun atas ilmu dan bukti adalah ucapan batil yang tertolak.

Bukti-bukti menunjukkan bahwa apa yang terjadi di alam semesta pasti memiliki pengatur yang bijaksana dan berkuasa, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setiap orang yang mencela zaman dan menisbatkan kepadanya sesuatu dari peristiwa-peristiwa, maka dia telah menyerupai orang-orang musyrik dan kaum dahriyah dalam sifat tercela ini, meskipun dia tidak menyerupai mereka dalam pokok akidah.

Dalam “Sahihain” dan lainnya dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: Anak Adam menyakiti-Ku dengan mencela zaman, padahal Aku adalah zaman, Aku yang membolak-balik malam dan siang.” Dalam riwayat lain: “Janganlah kalian mencela zaman, karena sesungguhnya Allah adalah zaman.”

Hadis tersebut menunjukkan bahwa barangsiapa mencela zaman maka dia telah menyakiti Allah Subhanahu karena celaan tertuju kepada pengatur peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian serta penciptanya. Zaman hanyalah wadah, tempat, dan makhluk yang diatur, tidak memiliki sesuatu dari pengaturan. Oleh karena itu Allah berfirman: “Padahal Aku adalah zaman, Aku yang membolak-balik malam dan siang.” Firman-Nya Subhanahu: “Aku yang membolak-balik malam dan siang” adalah tafsir dari firman-Nya: “Padahal Aku adalah zaman.” Demikian juga firman-Nya: “Karena sesungguhnya Allah adalah zaman” maknanya bahwa Allah adalah Yang mengatur yang mengendalikan zaman dan lainnya. Orang yang mencela zaman sesungguhnya mencela Yang menciptakannya, yaitu Allah Ta’ala wa Taqaddasa.

Sebagian salaf berkata: “Orang Arab pada masa jahiliyahnya memiliki kebiasaan mencela zaman, yaitu: mencelakannya ketika musibah, sehingga jika mereka ditimpa kesulitan atau bencana mereka berkata: ‘Mereka ditimpa bencana zaman, zaman memusnahkan mereka,’ dan mereka berkata: ‘Wahai celakanya zaman!’ Mereka menisbatkan perbuatan-perbuatan kepada zaman dan mencelakannya, padahal yang melakukan itu adalah Allah. Jika mereka menyandarkan apa yang menimpa mereka dari kesulitan-kesulitan kepada zaman, maka sesungguhnya mereka mencela Allah Azza wa Jalla karena Allah-lah yang benar-benar melakukan itu.”

Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah berkata: “Ibnu Hazm dan orang-orang yang mengikuti jejaknya dari kalangan Zahiriyah telah keliru dalam menghitung zaman sebagai salah satu Asma’ul Husna berdasarkan hadis ini. Padahal maknanya telah dijelaskan dalam hadis dengan sabdanya: ‘Aku yang membolak-balik malam dan siang,’ dan membolak-baliknya adalah pengaturan-Nya Ta’ala terhadapnya dengan apa yang disukai dan dibenci manusia.”

Yang pantas bagi seorang Muslim adalah menghindari lafaz-lafaz semacam ini, meskipun dia meyakini bahwa Allah yang mengatur, namun dalam menghindarinya terdapat penjauhan dari menyerupai orang-orang kafir meskipun dalam lafaz, dan di dalamnya terdapat penjagaan akidah dan sopan santun kepada Allah Subhanahu.

Sejenis dengan mencela zaman adalah mencela angin. Telah datang larangan tentangnya dalam hadis yang diriwayatkan Tirmidzi dan dishahihkannya dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian mencela angin. Jika kalian melihat apa yang kalian benci maka katakanlah: ‘Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dari kebaikan angin ini, kebaikan yang ada padanya, dan kebaikan yang Engkau perintahkan dengannya. Kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan angin ini, kejahatan yang ada padanya, dan kejahatan yang Engkau perintahkan dengannya.'”

Hal itu karena angin sesungguhnya bertiup dengan perintah Allah dan pengaturan-Nya, karena Dia-lah yang menciptakannya dan memerintahkannya. Maka mencelakannya adalah mencela Yang melakukan, yaitu Allah Subhanahu, sebagaimana yang telah lewat dalam mencela zaman, karena mencela angin dan mencela zaman kembali kepada mencela Pencipta yang mengatur makhluk-makhluk ini.

Kemudian Nabi shallallahu alaihi wasallam mengarahkan mereka ketika melihat apa yang mereka benci dari apa yang datang bersama angin agar mereka menghadap kepada Pencipta mereka dan yang memerintahkannya untuk memohon dari kebaikannya dan kebaikan yang ada padanya, dan berlindung dari kejahatannya dan kejahatan yang ada padanya. Tidak ada nikmat yang diperoleh kecuali dengan ketaatan kepada Allah dan syukur kepada-Nya, dan tidak ada azab yang ditolak kecuali dengan berlindung kepada Allah dan meminta perlindungan kepada-Nya.

Adapun mencela makhluk-makhluk ini, maka di dalamnya terdapat kerusakan-kerusakan: Di antaranya adalah mencela yang bukan ahli celaan karena mereka adalah makhluk-makhluk yang dikendalikan dan diatur. Di antaranya adalah bahwa mencela hal-hal ini mengandung kemusyrikan karena dia mencelakannya karena mengira bahwa mereka merugikan dan menguntungkan tanpa Allah. Di antaranya adalah bahwa celaan sesungguhnya jatuh kepada yang melakukan perbuatan-perbuatan ini, yaitu Allah.

Jika hamba berkata ketika angin bertiup apa yang diarahkan Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan sabdanya: “Jika kalian melihat apa yang kalian benci maka katakanlah: ‘Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dari kebaikan angin ini, kebaikan yang ada padanya, dan kebaikan yang Engkau perintahkan dengannya. Kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan angin ini, kejahatan yang ada padanya, dan kejahatan yang Engkau perintahkan dengannya,'” maka dia telah berlindung kepada Allah Pencipta angin, pengaturnya, dan yang mengendalikannya. Inilah tauhid dan akidah yang benar yang menyelisihi akidah jahiliyah.

Demikianlah hendaknya seorang Muslim selalu dan selamanya dalam menghadapi peristiwa-peristiwa: mengembalikannya kepada Penciptanya, memohon kepadanya dari kebaikannya, tidak menyalahkannya, mencelakannya, dan menafsirkannya dengan selain tafsir yang benar. Hendaknya dia mengetahui bahwa apa yang menimpanya dari peristiwa-peristiwa ini yang dia benci sesungguhnya dengan takdir Allah dan Dia menguasakan hal itu atasnya karena dosa-dosanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Allah-lah yang mengirimkan angin lalu angin itu menggerakkan awan…” (QS. Fathir: 9) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali Imran: 140) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Allah membolak-balikkan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pandangan.” (QS. An-Nur: 44)

Semua perkara kembali kepada Allah. Maka wajib memuji-Nya dalam kedua keadaan: keadaan senang dan keadaan susah, berbaik sangka kepada-Nya, dan kembali kepada-Nya dengan taubat dan kembali, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al-A’raf: 168) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah menimpakan kepada Fir’aun dan kaumnya berbagai azab berupa kekeringan dan kekurangan buah-buahan supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al-A’raf: 130)

Ini adalah tafsiran yang benar tentang jalannya peristiwa-peristiwa; seorang mukmin mengetahui bahwa apa yang menimpanya dari hal-hal yang tidak disukainya adalah karena dosa-dosanya, maka dia menyalahkan dirinya sendiri, bukan menyalahkan zaman, dan bukan menyalahkan angin, lalu dia bertobat kepada Allah. Sedangkan orang kafir, fasik, atau orang yang jahil menyalahkan makhluk-makhluk ini dan tidak menghisab dirinya sendiri serta tidak bertobat dari dosanya, sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair:

“Wahai zaman, celakalah engkau, engkau tidak menyisakan seorang pun untukku… Engkau adalah bapak yang buruk yang memakan anak-anaknya”

Dan penyair lain berkata: “Buruk rupa wajahmu wahai zaman, karena sesungguhnya… wajahmu itu tertutup cadar dalam setiap keburukan”

Kita memohon kepada Allah kesehatan dan wawasan dalam agama-Nya.

5- Pengucapan kata “andaikan” dalam beberapa keadaan:

Di antara ungkapan-ungkapan yang tidak pantas diucapkan karena merusak akidah dan telah datang larangan khusus tentangnya adalah kata “andaikan” dalam beberapa situasi, yaitu ketika seseorang tertimpa sesuatu yang tidak disukai atau ditimpa musibah. Maka dia tidak boleh berkata: “Andaikan aku melakukan begini, tidak akan terjadi ini padaku,” atau “Andaikan aku tidak melakukan, tidak akan terjadi begitu,” karena hal itu mengandung isyarat tidak sabar dan menyesali apa yang telah berlalu yang tidak mungkin diperbaiki lagi, dan karena ungkapan ini menunjukkan lemahnya iman terhadap qadha dan qadar, serta karena hal itu menyakiti jiwa dan memberi kesempatan kepada setan untuk menggoda manusia dengan was-was dan kegelisahan.

Yang wajib setelah turunnya musibah adalah berserah diri kepada takdir dan bersabar atas apa yang menimpa seseorang, sambil melakukan sebab-sebab yang mendatangkan kebaikan dan melindungi dari kejahatan dan hal yang tidak disukai tanpa menyalahkan diri.

Allah telah mencela orang-orang yang mengucapkan kata ini ketika musibah menimpa kaum muslimin dalam Perang Uhud. Allah Ta’ala berfirman: “Mereka berkata: ‘Seandainya kita mempunyai kekuasaan dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan terbunuh di sini.'” (QS. Ali Imran: 154). Ini adalah perkataan yang diucapkan oleh sebagian orang munafik pada hari Uhud ketika menimpa kaum muslimin musibah yang menimpa mereka. Mereka mengucapkannya untuk menentang takdir dan mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kaum muslimin karena keluar menghadapi musuh. Maka Allah membalas mereka dengan firman-Nya: “Katakanlah: ‘Seandainya kamu berada di rumah-rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditetapkan akan mati itu keluar (juga) ke tempat kematiannya.'” (QS. Ali Imran: 154). Artinya: ini adalah takdir yang telah ditetapkan Allah, pasti akan terjadi, dan tidak akan terhindar darinya dengan bersembunyi di rumah dan bersedih hati. Mengucapkan “andaikan” setelah turunnya musibah tidak bermanfaat kecuali menimbulkan penyesalan, kesedihan, menyakiti jiwa, dan kelemahan, dengan pengaruhnya terhadap akidah karena menunjukkan tidak berserah diri kepada takdir.

Kemudian Allah Subhanahu menyebutkan tentang orang-orang munafik ini perkataan yang lain dalam firman-Nya: “(Yaitu) orang-orang yang berkata kepada saudara-saudara mereka padahal mereka sendiri duduk (tidak pergi berperang): ‘Kalau mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh.'” (QS. Ali Imran: 168). Ini juga dari perkataan sebagian orang munafik pada hari Uhud, dan diriwayatkan bahwa dia adalah Abdullah bin Ubay yang menentang takdir dan berkata: seandainya mereka mendengar saran kami untuk diam dan tidak keluar, mereka tidak akan terbunuh bersama orang-orang yang terbunuh. Maka Allah membalas mereka dengan firman-Nya: “Katakanlah: ‘Tolaklah kematian dari diri kamu sendiri, jika kamu orang-orang yang benar.'” (QS. Ali Imran: 168). Artinya: jika diam dan tidak keluar dapat menyelamatkan seseorang dari terbunuh atau mati, maka seharusnya kalian tidak mati, padahal kematian pasti akan datang kepada kalian di mana pun kalian berada. Maka tolaklah kematian dari diri kalian sendiri jika kalian benar dalam klaim kalian bahwa orang yang menaati kalian selamat dari terbunuh.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika menyebutkan perkataan Ibnu Ubay ini berkata: “Ketika dia mundur pada hari Uhud dan berkata: ‘Dia meninggalkan pendapatku dan pendapatnya lalu mengambil pendapat anak-anak’ atau sebagaimana dia katakan, maka mundur bersamanya banyak orang yang kebanyakan dari mereka belum pernah munafik sebelum itu. Maka mereka adalah orang-orang muslim dan ada iman pada mereka, yaitu cahaya yang dijadikan Allah sebagai perumpamaan. Seandainya mereka mati sebelum fitnah dan kemunafikan, mereka akan mati dalam keadaan Islam. Dan mereka ini bukanlah termasuk orang-orang mukmin yang benar yang diuji lalu tetap dalam ujian, dan bukan pula termasuk orang-orang munafik yang murtad dari iman karena ujian…” Selesai.

Yang menjadi dalil darinya adalah bahwa gemar mengucapkan kata “andaikan” ketika terjadi musibah adalah sifat orang-orang munafik yang tidak beriman kepada qadha dan qadar.

Maka wajib bagi seorang mukmin menjauhi pengucapan kata ini ketika dia ditimpa cobaan atau hal yang tidak disukai, dan beralih kepada ungkapan-ungkapan baik yang mengandung ridha terhadap apa yang ditakdirkan Allah serta sabar dan mengharap pahala. Itulah ungkapan-ungkapan yang diarahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah untuk hal-hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah. Jika engkau tertimpa sesuatu, janganlah berkata: ‘Andaikan aku melakukan begini dan begini,’ tetapi katakanlah: ‘Qaddarallahu wa maa syaa-a fa’al (Allah telah menakdirkan dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan),’ karena sesungguhnya ‘andaikan’ membuka pintu amal setan.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengarahkan untuk melakukan sebab-sebab yang bermanfaat bagi hamba di dunia dan akhiratnya dari sebab-sebab yang disyariatkan Allah bagi hamba-hamba-Nya berupa sebab-sebab yang wajib, sunnah, dan mubah. Hendaklah hamba dalam keadaan melakukan sebab sambil meminta pertolongan kepada Allah agar sebabnya sempurna dan bermanfaat baginya, karena Allah Ta’ala adalah Dzat yang menciptakan sebab dan yang menyebabkan. Menggabungkan antara melakukan sebab dan bertawakal kepada Allah adalah tauhid. Kemudian melarang dari kelemahan, yaitu meninggalkan melakukan sebab-sebab yang bermanfaat, dan itu adalah lawan dari bersemangat untuk hal yang bermanfaat. Jika dia bersemangat untuk hal yang bermanfaat baginya dan mengerahkan sebab, kemudian terjadi sebaliknya dari yang dia inginkan atau menimpanya hal yang tidak disukainya, maka janganlah dia berkata: “Andaikan aku melakukan begini, pasti begini,” karena kata ini tidak berguna apa-apa dan hanya membuka pintu amal setan serta menimbulkan penyesalan dan menyalahkan takdir. Hal itu bertentangan dengan sabar dan ridha, padahal sabar itu wajib dan iman kepada takdir itu fardhu.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkannya kepada ungkapan yang bermanfaat yang mengandung iman kepada takdir, yaitu mengucapkan: “Qaddarallahu wa maa syaa-a fa’al (Allah telah menakdirkan dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan),” karena apa yang ditakdirkan Allah pasti terjadi, dan yang wajib adalah berserah diri kepada yang ditakdirkan. Dan apa yang dikehendaki Allah, Dia lakukan, karena perbuatan-perbuatan-Nya tidak keluar kecuali dari hikmah.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Hamba ketika kehilangan yang ditakdirkan untuknya memiliki dua keadaan: Keadaan lemah, yaitu amal setan, maka kelemahan mengantarkannya kepada ‘andaikan’ dan tidak ada faedahnya, bahkan itu adalah kunci penyalahan. Keadaan kedua: melihat kepada yang ditakdirkan dan memperhatikannya, bahwa seandainya ditakdirkan, tidak akan terlepas darinya dan tidak ada yang mengalahkannya dalam hal itu.

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkan kepada apa yang bermanfaat baginya saat mendapatkan yang diinginkannya dan saat kehilangannya, dan melarangnya dari mengucapkan ‘andaikan’, serta memberitahukan bahwa itu membuka pintal amal setan karena mengandung penyesalan atas yang telah berlalu, kesedihan, dan menyalahkan takdir. Maka dia berdosa karenanya, dan itu termasuk amal setan. Bukan hanya karena lafazh ‘andaikan’ semata, tetapi karena hal-hal yang menyertainya yang ada dalam hatinya yang bertentangan dengan kesempurnaan iman dan membuka pintu amal setan.

Jika dikatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengucapkan kata ini ketika beliau memerintahkan para sahabatnya untuk mengubah haji menjadi umrah, sedangkan beliau tidak mengubahnya karena beliau membawa hadyu (hewan kurban).

Jawabannya adalah bahwa sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Seandainya aku menghadapi dari urusanku apa yang telah kulewati, aku tidak akan membawa hadyu” adalah berita tentang masa depan, tidak ada penentangan terhadap takdir di dalamnya, tetapi itu adalah pemberitahuan kepada para sahabatnya bahwa seandainya beliau memulai ihram dengan haji, beliau tidak akan membawa hadyu dan akan berihram untuk umrah. Beliau mengatakan itu kepada mereka ketika memerintahkan mereka mengubah haji menjadi umrah sebagai dorongan dan penenangan hati mereka ketika beliau melihat mereka ragu-ragu terhadap perintahnya. Maka ini bukan termasuk yang dilarang, tetapi pemberitahuan kepada mereka tentang apa yang akan beliau lakukan di masa depan seandainya terjadi, dan tidak ada perbedaan pendapat tentang kebolehan hal itu. Yang dilarang adalah menentang takdir, wallahu a’lam.”

Hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah ini sangat dibutuhkan oleh hamba, dan mengandung penetapan takdir, penetapan usaha, dan pelaksanaan penghambaan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata tentang makna hadits ini: “Janganlah lemah terhadap yang diperintahkan dan janganlah panik terhadap yang ditakdirkan.”

Sabar dan kedudukannya dalam akidah:

Telah lewat pembahasan tentang larangan mengucapkan “andaikan” ketika seseorang tertimpa musibah, dan bahwa yang wajib atasnya adalah sabar dan mengharap pahala.

Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala menyebutkan sabar di sembilan puluh tempat dalam kitab-Nya.”

Dalam hadits shahih: “Sabar adalah cahaya,” diriwayatkan Ahmad dan Muslim.

Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kami mendapati sebaik-baik kehidupan kami dengan sabar,” diriwayatkan Bukhari. Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya sabar dari iman seperti kepala dari badan,” kemudian dia mengangkat suaranya dan berkata: “Ketahuilah, tidak ada iman bagi orang yang tidak sabar.”

Bukhari dan Muslim meriwayatkan secara marfu’: “Tidak ada seorang pun yang diberi pemberian lebih baik dan lebih luas daripada sabar.”

Sabar berasal dari kata “shabara” yang berarti menahan dan mencegah. Jadi sabar adalah menahan jiwa dari panik, menahan lisan dari mengeluh dan tidak ridha, dan menahan anggota badan dari menampar pipi dan merobek baju.

Sabar ada tiga jenis:

  1. Sabar dalam melakukan apa yang diperintahkan Allah
  2. Sabar dalam meninggalkan apa yang dilarang Allah
  3. Sabar terhadap apa yang ditakdirkan Allah berupa musibah-musibah

Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada suatu musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11). Alqamah berkata: “Yaitu orang yang ditimpa musibah, lalu dia mengetahui bahwa itu dari Allah, maka dia ridha dan berserah diri.”

Yang lain berkata tentang makna ayat: yaitu siapa yang ditimpa musibah lalu mengetahui bahwa itu dengan takdir Allah, maka dia sabar, mengharap pahala, dan berserah diri kepada ketetapan Allah, maka Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya dan mengganti apa yang hilang darinya di dunia dengan petunjuk dalam hatinya dan keyakinan yang benar, dan mungkin Allah mengganti apa yang telah diambil darinya.”

Sa’id bin Jubair berkata: “Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya” artinya: dia ber-istirja’ dan berkata: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali)” (QS. Al-Baqarah: 156).

Dalam ayat mulia ini terdapat dalil bahwa amal perbuatan termasuk dari iman, dan bahwa sabar adalah sebab petunjuk hati, dan bahwa mukmin membutuhkan sabar dalam semua situasi: dia membutuhkannya untuk dirinya sendiri dalam menghadapi perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya dengan mewajibkan dirinya untuk mematuhinya.

Dia membutuhkan sabar dalam situasi dakwah kepada Allah Ta’ala atas kesulitan dan gangguan yang diterimanya di jalan dakwah. Allah Ta’ala berfirman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” sampai firman-Nya: “Dan bersabarlah kamu dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 125-127).

Dia membutuhkan sabar dalam situasi amar ma’ruf nahi munkar atas gangguan yang diterimanya dari manusia. Allah Ta’ala berfirman tentang Luqman: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17).

Mukmin membutuhkan sabar dalam menghadapi musibah-musibah yang menimpanya dengan mengetahui bahwa itu dari Allah, maka dia ridha dan berserah diri, serta menahan dirinya dari panik dan tidak ridha yang mungkin tampak pada lisan dan anggota badan. Ini adalah inti akidah karena iman kepada takdir adalah salah satu dari enam rukun iman, dan buahnya adalah sabar terhadap musibah. Barangsiapa tidak sabar terhadap musibah, maka ini adalah dalil hilangnya rukun ini atau lemahnya pada dirinya. Kemudian dia akan berdiri di hadapan musibah dengan sikap panik dan tidak ridha. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan bahwa ini adalah kekufuran yang merusak akidah Islam.

Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua perkara pada manusia yang keduanya adalah kekufuran bagi mereka: mencela nasab dan meratapi orang mati.” Kedua sifat ini termasuk sifat-sifat kekufuran karena keduanya dari perbuatan jahiliah. Ada perbedaan antara kufur yang didefinisikan dengan alif lam seperti dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak ada antara hamba dengan kekufuran atau kesyirikan kecuali meninggalkan shalat,” dengan “kufur” yang tidak didefinisikan seperti dalam hadits ini.

Dalam Shahihayn: “Bukan termasuk golongan kami orang yang menampar pipi, merobek baju, dan menyeru dengan seruan jahiliah.”

Sabda beliau dalam hadits: “dan menyeru dengan seruan jahiliah,” Ibnul Qayyim berkata: “Menyeru dengan seruan jahiliah seperti menyeru kepada kabilah-kabilah dan fanatisme, dan seperti itu juga fanatik kepada madzhab-madzhab, kelompok-kelompok, dan guru-guru, serta mengutamakan sebagian dari sebagian yang lain; menyeru kepada hal itu, loyal karenanya, dan memusuhi karenanya. Semua ini termasuk seruan jahiliah…” Selesai.

Allah Subhanahu menjalankan musibah-musibah kepada hamba-hamba-Nya untuk hikmah-hikmah yang agung. Di antaranya adalah Dia menghapus dengan musibah itu kesalahan-kesalahan mereka, sebagaimana dalam hadits Anas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Dia menyegerakan hukuman baginya di dunia. Dan jika Dia menghendaki keburukan baginya, Dia menahan darinya karena dosanya hingga dia memenuhi dengannya pada hari kiamat,” diriwayatkan Tirmidzi dan dihasankan Hakim.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Musibah-musibah adalah nikmat karena ia adalah penghapus dosa-dosa dan menyeru kepada sabar sehingga mendapat pahala karenanya, dan menuntut taubat kepada Allah, rendah hati kepada-Nya, dan berpaling dari makhluk… hingga maslahat-maslahat besar lainnya. Maka musibah itu sendiri Allah menghapus dengannya dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan, dan ini termasuk nikmat yang paling besar. Maka musibah-musibah adalah rahmat dan nikmat bagi umum makhluk, kecuali jika pemiliknya masuk karenanya kepada kemaksiatan yang lebih besar daripada sebelumnya, maka itu akan menjadi keburukan baginya dari segi apa yang menimpanya dalam agamanya. Karena di antara manusia ada yang jika diuji dengan kefakiran atau penyakit atau sakit, terjadi padanya kemunafikan, panik, sakit hati, kekufuran yang zahir, meninggalkan sebagian kewajiban, dan melakukan sebagian yang haram yang mewajibkan baginya kemudaratan dalam agamanya. Maka orang ini, kesehatan lebih baik baginya dari segi apa yang ditimbulkan musibah, bukan dari segi musibah itu sendiri. Sebagaimana orang yang musibah mewajibkan baginya sabar dan ketaatan, maka itu menjadi nikmat agama baginya. Maka musibah dengan menjadi perbuatan Rabb ‘azza wa jalla adalah rahmat bagi makhluk, dan Allah Ta’ala terpuji karenanya. Barangsiapa diuji lalu dikaruniai sabar, maka sabar atasnya adalah nikmat dalam agamanya, dan diperoleh baginya setelah apa yang dihapus dari kesalahan-kesalahannya rahmat, dan diperoleh baginya pujian Rabbnya. Allah Ta’ala berfirman: “Mereka itulah yang memperoleh keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka” (QS. Al-Baqarah: 157), dan diperoleh baginya pengampunan kejahatan-kejahatan dan pengangkatan derajat-derajat. Barangsiapa melakukan sabar yang wajib, diperoleh baginya hal itu.” Selesai.

Di antara hikmah-hikmah ilahi dalam menjalankan musibah adalah menguji hamba-hamba ketika terjadinya: siapa yang sabar dan ridha dan siapa yang panik dan tidak ridha, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya besarnya pahala sejalan dengan besarnya cobaan. Dan sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Barangsiapa ridha, maka baginya keridhaan, dan barangsiapa murka, maka baginya kemurkaaan,” diriwayatkan Tirmidzi dan dihasankannya.

Ridha adalah hamba menyerahkan urusannya kepada Allah, berbaik sangka kepada-Nya, dan mengharap pahala-Nya.

Sakht (murka) adalah kebencian terhadap sesuatu dan tidak ridha dengannya, yaitu: barangsiapa murka kepada Allah dalam apa yang diatur-Nya, maka baginya kemurkan dari Allah.

Dalam hadis ini terdapat pelajaran bahwa balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan, dan di dalamnya terdapat penetapan sifat ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala sesuai dengan yang layak bagi-Nya seperti sifat-sifat-Nya yang lain. Di dalamnya juga terdapat penjelasan hikmah dalam menjalankan musibah-musibah kepada para hamba, dan di dalamnya terdapat penetapan qadha dan qadar, dan bahwa musibah-musibah terjadi dengan qadha Allah dan qadar-Nya. Di dalamnya juga terdapat anjuran bersabar atas musibah-musibah, kembali kepada Allah, dan bergantung kepada-Nya semata dalam setiap kesulitan, serta menolak setiap keburukan.

Allah telah memerintahkan untuk meminta pertolongan dengan sabar dan shalat terhadap apa yang dihadapi manusia dalam kehidupan ini berupa kesulitan dan kesusahan, karena di balik itu semua ada kebaikan dan akibat yang terpuji. Allah mengabarkan bahwa Dia bersama orang-orang yang sabar dengan pertolongan dan dukungan-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah: 153). Hal ini menunjukkan pentingnya sabar dan kebutuhan orang mukmin kepadanya, dan sabar itu merupakan salah satu komponen akidah.

Kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar menganugerahkan kepada kami sabar dan mengharap pahala, dan agar mengkaruniakan kepada kami taufik dan hidayah.

Penjelasan lafal-lafal yang tidak boleh diucapkan terhadap Allah Ta’ala karena meremehkan keagungan-Nya:

Allah Jalla wa ‘Ala itu Maha Agung, wajib diagungkan. Ada lafal-lafal yang tidak boleh diucapkan terhadap-Nya Subhanahu sebagai bentuk pengagungan kepada-Nya, dan telah datang larangan mengenainya.

  1. Larangan Mengucapkan “As-salamu ‘ala Allah” (Semoga keselamatan atas Allah)

Di antara lafal-lafal tersebut adalah tidak boleh dikatakan: “As-salamu ‘ala Allah” karena salam adalah doa bagi orang yang diberi salam dengan meminta keselamatan baginya dari keburukan-keburukan, sedangkan Allah Subhanahu dimintai dan tidak meminta, didoakan dan tidak didoakan untuknya, karena Dia Maha Kaya, milik-Nya apa yang ada di langit dan di bumi, dan Dia selamat dari segala cacat dan kekurangan, pemberi keselamatan dan yang menganugerahkannya, dan Dia-lah As-Salam (Yang Maha Selamat), dan dari-Nya keselamatan itu.

Dalam Shahih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Kami dahulu ketika bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat, kami berkata: As-salamu ‘ala Allah min ‘ibadihi, as-salamu ‘ala fulan wa fulan (Semoga keselamatan atas Allah dari hamba-hamba-Nya, semoga keselamatan atas si fulan dan si fulan). Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Janganlah kalian berkata: As-salamu ‘ala Allah, karena sesungguhnya Allah adalah As-Salam'” yaitu: sesungguhnya Allah selamat dari segala kekurangan.

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “As-Salam adalah mashdar (kata dasar), dan termasuk lafal-lafal doa, mengandung makna insha’ (penciptaan makna baru) dan ikhbar (memberitakan). Sisi ikhbar bertentangan dengan sisi insha’, dan itulah makna salam yang diminta ketika memberi salam…”

Hingga beliau berkata: “Dan kedudukan itu karena merupakan kedudukan meminta keselamatan yang paling penting bagi seseorang, maka dalam memintanya digunakan shighah (bentuk) nama dari nama-nama Allah Ta’ala yaitu As-Salam, yang daripadanya diminta keselamatan. Maka mengandung dua makna: Pertama: menyebut Allah… Dan kedua: meminta keselamatan, dan itulah yang dimaksud oleh muslim.”

  1. Larangan Mengucapkan “Allahummaghfir li in syi’ta” (Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau)

Di antara lafal-lafal yang tidak diucapkan terhadap Allah Ta’ala: “Allahummaghfir li in syi’ta” (Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau). Permintaan hajat kepada Allah tidak digantungkan pada kehendak, tetapi harus dengan tegas.

Dalam Shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian berkata: Allahummaghfir li in syi’ta, allahummarhamni in syi’ta (Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mau, ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau mau), hendaklah dia bertekad dalam permintaan, karena sesungguhnya Allah tidak ada yang memaksanya.” Dan menurut riwayat Muslim: “Dan hendaklah dia memuliakan keinginan, karena sesungguhnya Allah tidak merasa berat terhadap sesuatu yang diberikan-Nya.”

Larangan tersebut karena dua hal: Pertama: Bahwa Allah Subhanahu tidak ada yang memaksanya untuk berbuat, tetapi Dia berbuat apa yang Dia kehendaki, berbeda dengan hamba, karena dia mungkin melakukan sesuatu dalam keadaan terpaksa, tetapi melakukannya karena takut atau mengharap dari seseorang, dan Allah tidak demikian.

Kedua: Bahwa menggantungkan pada kehendak menunjukkan kelesuan dalam permintaan dan sedikitnya keinginan padanya, jika terjadi ya, jika tidak maka tidak membutuhkannya, dan ini menunjukkan tidak adanya kebutuhan kepada Allah.

Dalam riwayat Muslim terdapat perintah untuk memuliakan permintaan, karena Allah tidak merasa berat terhadap sesuatu yang diberikan-Nya, yaitu: tidak besar dan tidak sulit bagi-Nya Subhanahu, dan tidak besar di sisi-Nya meskipun besar dalam diri makhluk, dan itu karena kesempurnaan karunia dan kemurahan-Nya serta luas kekayaan-Nya. Dia memberikan hal-hal yang besar, dan tidak ada yang menghalangi-Nya: “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka jadilah ia” (Yasin: 82).

  1. Larangan Bersumpah atas Allah dengan Cara Menghalangi-Nya dari Berbuat Kebaikan

Di antara lafal-lafal yang tidak diucapkan terhadap Allah Ta’ala: bersumpah atas Allah jika dalam bentuk menghalangi-Nya agar tidak berbuat kebaikan.

Dari Jundub bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang laki-laki berkata: ‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.’ Maka Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Siapakah yang bersumpah atas-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuninya dan menggugurkan amalmu.'” Diriwayatkan oleh Muslim.

At-ta’alli: dari al-aliyyah dengan tasydid ya’, dan makna “yata’alla”: bersumpah.

Dan firman-Nya: “Man dza alladzi”: pertanyaan pengingkaran.

Laki-laki ini telah buruk adabnya dengan Allah, dan memutuskan atas-Nya, serta memastikan bahwa Dia tidak akan mengampuni pendosa ini, seakan-akan dia memutuskan atas Allah Subhanahu, dan ini karena ketidaktahuannya tentang maqam rububiyyah, tertipu dengan dirinya dan amalnya, serta mengandalkan hal itu. Maka dia diperlakukan berlawanan dengan maksudnya, dan diampuni pendosa ini karena sebabnya, dan digugurkan amalnya karena kata buruk yang dikatakannya ini, padahal dia adalah seorang yang beribadah.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Dia berbicara dengan satu kata yang menghancurkan dunia dan akhiratnya.”

Dalam hadis ini terdapat kewajiban beradab dengan Allah Subhanahu dalam perkataan dan perbuatan, dan haramnya mengandalkan diri kepada Allah dan kagum dengan diri sendiri serta meremehkan orang lain, dan haramnya bersumpah atas Allah jika dalam bentuk menghalangi-Nya agar tidak berbuat kebaikan kepada hamba-hamba-Nya. Adapun jika sumpah atas Allah dalam bentuk berbaik sangka kepada-Nya Subhanahu dan mengharap kebaikan dari-Nya, maka ini boleh, sebagaimana datang dalam hadis: “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada yang jika bersumpah atas Allah, pasti dikabulkan-Nya.”

Dalam hadis Jundub terdapat penjelasan bahaya lisan dan kewajiban berhati-hati darinya.

Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu: “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah! Apakah kami dituntut atas apa yang kami katakan?’ Beliau berkata: ‘Celaka engkau wahai Mu’adz! Apakah yang menelungkupkan manusia ke dalam neraka di atas wajah mereka atau beliau berkata: di atas hidung mereka melainkan hasil panen lisan mereka?!'” Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dia menshahihkannya.

Dari uraian di atas, wajib berhati-hati dalam lafal-lafal, dan menjauhi lafal yang di dalamnya terdapat buruk adab dengan Allah Subhanahu, karena ini merusak akidah dan mengurangi tauhid. Maka tidak dikatakan: As-salamu ‘ala Allah, karena Dia adalah As-Salam Subhanahu, dan karena salam kepada seseorang adalah doa baginya dengan keselamatan, sedangkan Allah Subhanahu didoakan kepada-Nya, bukan didoakan untuk-Nya. Dan tidak dikatakan: Allahummaghfir li warhamni in syi’ta… dan semacam itu, tetapi setiap doa didatangkan dengan cara tegas tanpa digantungkan dengan kehendak, karena Allah berbuat apa yang Dia kehendaki, dan tidak ada yang memaksa-Nya. Dan tidak bersumpah atas Allah bahwa Dia tidak merahmati si fulan atau mengampuni si fulan, karena ini adalah penghalangan dan pencegahan rahmat Allah serta buruk sangka kepada Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana tidak boleh dikatakan: “Ma sya’allah wa sya’a fulan” (Apa yang Allah kehendaki dan yang si fulan kehendaki), tetapi dikatakan: “Ma sya’allah tsumma sya’a fulan” (Apa yang Allah kehendaki kemudian yang si fulan kehendaki), karena athaf (penyambungan) dengan waw meniscayakan persekutuan, dan tidak ada seorang pun yang bersekutu dengan Allah Subhanahu dan menyamai-Nya dalam suatu perkara apa pun. Adapun athaf dengan “tsumma”, maka meniscayakan urutan dan ketergantungan, sehingga kehendak makhluk menjadi tergantung pada kehendak Allah Subhanahu dan terjadi setelahnya, bukan bersekutu dengannya.

Semua ini menegaskan kepada muslim wajibnya mempelajari akidah dan mengetahui apa yang membenarkannya dan apa yang merusaknya, agar dia berada dalam kejelasan tentang urusannya, dan agar tidak terjatuh dalam hal yang terlarang tanpa dia sadari.

Semoga Allah memberi taufik kepada semua untuk ilmu yang bermanfaat dan amal saleh.

 

 

Ketiga: Tauhid Asma wa Sifat

Pendahuluan

Telah berlalu kami jelaskan bahwa tauhid itu tiga macam: tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah, dan tauhid asma wa sifat.

Kami telah berbicara sebelumnya tentang dua jenis yang pertama, yaitu tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah, karena setiap jenis dari jenis-jenis ini diingkari oleh segolongan manusia.

Tauhid rububiyyah diingkari oleh kaum mu’aththilah yang mengingkari wujud Allah, seperti kaum dahriyyah dan mulhidah, di antaranya adalah komunisme pada zaman sekarang ini. Meskipun pengingkaran mereka terhadapnya hanya di lahir saja sebagai bentuk pembangkangan dari mereka, selain itu mereka mengakuinya di batin dan di dalam hati mereka, karena tidak masuk akal adanya makhluk tanpa pencipta.

Bagian kedua – yaitu tauhid uluhiyyah – diingkari oleh kebanyakan makhluk, dan inilah yang Allah utus rasul-rasul-Nya dan turunkan kitab-kitab-Nya untuk menyeru kepadanya. Ini telah diingkari oleh kaum musyrik dahulu dan sekarang, dan pengingkaran mereka terhadapnya terwujud dengan menyembah pohon-pohon, batu-batu, berhala-berhala, kubur-kubur dan makam-makam, dan menyembah syaikh-syaikh sufi dengan meyakini manfaat dan kebaikan pada mereka selain Allah Azza wa Jalla dari orang-orang yang menisbatkan diri kepada Islam secara palsu dan dusta.

Bagian ketiga – yaitu tauhid asma wa sifat, yang berarti menetapkan apa yang Allah tetapkan untuk diri-Nya atau yang Rasul-Nya tetapkan bagi-Nya dari sifat-sifat kesempurnaan, dan menafikan apa yang Allah nafikan dari diri-Nya atau yang Rasul-Nya nafikan dari-Nya dari sifat-sifat kekurangan, berdasarkan firman-Nya Ta’ala: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Asy-Syura: 11).

Bagian ini telah diingkari oleh kaum Jahmiyyah dan murid-murid mereka dari kalangan Mu’tazilah dan Asy’ariyyah. Ini sebenarnya termasuk dalam tauhid rububiyyah, tetapi karena banyaknya yang mengingkarinya dan mereka menyebarkan syubhat seputarnya, maka dipisahkan pembahasannya dan dijadikan bagian tersendiri, dan disusun di dalamnya karya-karya yang banyak. Imam Ahmad menyusun bantahannya yang terkenal terhadap Jahmiyyah, anaknya Abdullah menyusun kitab As-Sunnah, Abdul Aziz Al-Kinani menyusun kitab Al-Haidah dalam bantahan terhadap Bisyr Al-Marisi, Abu Abdullah Al-Maruzi menyusun kitab As-Sunnah, Utsman bin Sa’id menyusun kitab Ar-Radd ‘ala Bisyr Al-Marisi, imam para imam Muhammad bin Khuzaimah menyusun kitab At-Tauhid, dan selain mereka menyusun seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qayyim bantahan-bantahan terhadap mereka dan yang datang setelah mereka serta berjalan di atas manhaj mereka. Maka segala puji dan karunia bagi Allah atas penjelasan kebenaran dan penolakan kebatilan.

Orang pertama yang diketahui mengingkari sifat-sifat adalah sebagian musyrik Arab yang Allah turunkan tentang mereka firman-Nya: “Demikianlah Kami mengutus kamu (Muhammad) pada suatu umat yang sesungguhnya telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka apa yang Kami wahyukan kepadamu, sedang mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah” (Ar-Ra’d: 30).

Sebab turunnya ayat ini adalah bahwa kaum Quraisy ketika mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Ar-Rahman, mereka mengingkarinya. Maka Allah menurunkan tentang mereka: “sedang mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah”.

Ibnu Jarir menyebutkan bahwa itu terjadi dalam perdamaian Hudaibiyyah ketika juru tulis menulis: “Bismillahir Rahmanir Rahim” (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Quraisy berkata: “Adapun Ar-Rahman, kami tidak mengenalnya.”

Ibnu Jarir juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa dalam keadaan sujud sambil berkata: ‘Ya Rahman! Ya Rahim!’ Maka kaum musyrik berkata: ‘Orang ini mengaku menyeru yang satu, tetapi dia menyeru yang dua.’ Maka Allah menurunkan: ‘Katakanlah: Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai nama-nama yang baik (Asma ul-Husna)'” (Al-Isra’: 110). Dan Allah berfirman dalam surat Al-Furqan: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Sujudlah kamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah,’ mereka menjawab: ‘Siapakah Tuhan Yang Maha Pemurah itu?'” (Al-Furqan: 60).

Mereka inilah pendahulu kaum Jahmiyyah dan Asy’ariyyah dalam mengingkari nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, dan seburuk-buruk pendahulu untuk seburuk-buruk penerus: “Pantaskah kamu mengambil dia dan keturunannya sebagai pemimpin-pemimpin selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu? Amat buruklah pertukaran bagi orang-orang yang zalim” (Al-Kahf: 50).

Adapun para rasul dan pengikut-pengikut mereka – khususnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik – maka mereka mensifati Allah dengan apa yang Dia sifati untuk diri-Nya, dan menafikan dari-Nya apa yang Dia nafikan dari diri-Nya, dan mengingkari orang yang menyelisihi manhaj ini.

Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma’mar dari Thawus dari ayahnya dari Ibnu Abbas bahwa dia melihat seorang laki-laki bergetar ketika mendengar hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sifat-sifat sebagai bentuk pengingkaran terhadap itu. Maka dia berkata: “Mengapa orang-orang ini takut? Mereka merasakan kelembutan ketika (mendengar) yang muhkam-nya, dan binasa ketika (mendengar) yang mutasyabih-nya?!” Dia menunjuk radhiyallahu ‘anhu kepada orang-orang yang hadir di majlisnya dari kalangan awam bahwa mereka jika mendengar sesuatu dari nash-nash sifat, yang termasuk muhkam, terjadi pada mereka ketakutan, dan bergetar seperti yang mengingkarinya. Mereka seperti yang Allah firmankan tentang mereka: “Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya” (Ali Imran: 7). Mereka meninggalkan yang muhkam, mengikuti yang mutasyabih, beriman sebagian kitab, dan kafir sebagian.

Nash-nash sifat termasuk muhkam bukan mutasyabih. Kaum muslimin membacanya dan mempelajarinya, memahami maknanya dan tidak mengingkari sesuatu darinya.

Waki’ berkata: “Kami mendapati Al-A’masy dan Sufyan menceritakan hadis-hadis ini [maksudnya: hadis-hadis sifat] dan mereka tidak mengingkarinya…” selesai.

Hanya kaum bid’ah dari Jahmiyyah, Mu’tazilah dan Asy’ariyyah yang mengingkarinya, yang berjalan di atas manhaj musyrik Quraisy yang kafir kepada Ar-Rahman dan melakukan ilhad (penyimpangan) dalam nama-nama Allah. Allah Ta’ala berfirman: “Hanya milik Allah nama-nama yang baik, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (Al-A’raf: 180). Allah menetapkan untuk diri-Nya nama-nama yang baik, dan memerintahkan agar dipanggil dengan nama-nama itu. Bagaimana bisa dipanggil dengan apa yang tidak dinamakan dengan itu dan tidak dipahami maknanya menurut dugaan mereka?! Dan Dia mengancam orang-orang yang melakukan ilhad dalam nama-nama-Nya dengan menafikannya dari-Nya atau mentakwilkannya dari makna-makna yang benar, bahwa Dia akan membalas mereka atas perbuatan mereka dengan hukuman dan azab, sebagaimana Dia mensifati mereka dengan kekafiran dalam firman-Nya Ta’ala: “sedang mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah” (Ar-Ra’d: 30). Karena itu banyak dari ahli sunnah yang mengkafirkan Jahmiyyah.

Al-Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Dan sungguh telah menyatakan kekafiran mereka lima puluh kali sepuluh dari para ulama di berbagai negeri

Dan Al-Lalaka’i sang imam meriwayatkannya dari mereka, bahkan sebelumnya At-Thabrani meriwayatkannya”

Kewajiban Menghormati Asma Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Allah Ta’ala berfirman: “Dan Allah mempunyai asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 180), dan Allah Ta’ala berfirman: “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai asma-ul husna (nama-nama yang baik).” (QS. Thaha: 8).

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa nama-nama-Nya adalah husna, yaitu: bagus-bagus, yang telah mencapai puncak kebaikan. Tidak ada yang lebih baik dari nama-nama tersebut karena apa yang ditunjukkannya berupa sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan kemuliaan. Maka nama-nama itu adalah nama-nama yang paling baik dan paling sempurna. Nama-nama Allah Subhanahu tauqifiyyah (harus berdasarkan dalil), maka tidak diperbolehkan bagi kita untuk menamai-Nya kecuali dengan apa yang Dia namai untuk diri-Nya sendiri atau yang dinisbatkan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada-Nya.

Dan firman Allah Ta’ala: “maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu”, maksudnya: mintalah kepada-Nya dan bertawasul-lah kepada-Nya dengan nama-nama tersebut, sebagaimana engkau berkata: “Ya Allah, ampunilah aku dan rahmatilah aku, sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Nama-nama Allah Subhanahu sangat banyak, tidak dapat dihitung dan tidak dapat dibatasi dengan bilangan. Di antaranya ada yang Allah khususkan pengetahuannya untuk diri-Nya, maka tidak mengetahuinya malaikat yang muqarrab dan tidak pula nabi yang diutus, sebagaimana dalam hadits shahih: “Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namai untuk diri-Mu sendiri, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau khususkan dalam ilmu gaib di sisi-Mu.”

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Maka Dia menjadikan nama-nama-Nya menjadi tiga bagian: bagian yang Dia namai untuk diri-Nya sendiri, lalu Dia menampakkannya kepada siapa yang Dia kehendaki dari malaikat-malaikat-Nya atau selain mereka, dan tidak menurunkannya dalam kitab-Nya. Bagian yang Dia turunkan dalam kitab-Nya, dan Dia mengenalkan diri kepada hamba-hamba-Nya dengannya. Dan bagian yang Dia khususkan dalam ilmu gaib-Nya, maka Dia tidak memberitahukan hal itu kepada seorang pun dari makhluk-Nya.”

Dan firman Allah Ta’ala: “dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya”, maksudnya: berpalinglah dari mereka dan tinggalkanlah mereka, karena sesungguhnya Allah akan mengurus balasan mereka. Oleh karena itu Allah berfirman: “Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

Makna “menyimpang dari kebenaran dalam nama-nama-Nya”, maksudnya: mereka menyimpangkan nama-nama tersebut beserta hakikat dan maknanya dari kebenaran yang tetap baginya. Ilhad (penyimpangan) terhadap nama-nama Allah ada beberapa macam:

Pertama: Menamai berhala-berhala dengan nama-nama tersebut, seperti penyebutan mereka (Al-Laat) dari Al-Ilah, dan (Al-‘Uzza) dari Al-‘Aziz, dan penyebutan mereka berhala sebagai tuhan.

Kedua: Menamai-Nya dengan apa yang tidak pantas bagi keagungan-Nya, seperti penyebutan orang-orang Nasrani kepada-Nya sebagai bapak, dan penyebutan para filosof kepada-Nya sebagai mujib bi dzatihi (wajib ada dengan sendirinya), atau ‘illah fa’ilah bi at-tab’i (sebab yang bekerja secara alami).

Ketiga: Mensifatinya dengan apa yang Dia Maha Tinggi dan Maha Suci daripadanya berupa kekurangan-kekurangan, seperti perkataan orang-orang Yahudi yang paling buruk: bahwa Dia fakir, dan bahwa Dia beristirahat pada hari Sabtu, dan perkataan mereka: “Tangan Allah terbelenggu.” (QS. Al-Maidah: 64).

Keempat: Meniadakan asma-ul husna dari makna-maknanya dan mengingkari hakikat-hakikatnya, seperti perkataan orang-orang Jahmiyyah dan pengikut-pengikut mereka: bahwa nama-nama tersebut hanyalah lafal-lafal kosong yang tidak mengandung sifat-sifat dan makna-makna. Maka mereka menyebut-Nya dengan nama As-Sami’ Al-Bashir, dan mereka berkata: Dia tidak memiliki pendengaran dan tidak memiliki penglihatan, misalnya. Dan ini termasuk ilhad yang paling besar terhadap nama-nama tersebut secara akal dan syariat. Hal ini berhadapan dengan ilhad orang-orang musyrik, karena orang-orang musyrik memberikan sebagian dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya kepada tuhan-tuhan mereka, sedangkan mereka (orang-orang Jahmiyyah) merampas kesempurnaan-Nya dan meniadakan nama-nama serta sifat-sifat-Nya.

Yang wajib adalah menetapkan nama-nama-Nya dan meyakini apa yang ditunjukkannya berupa sifat-sifat kesempurnaan-Nya dan keagungan kemuliaan-Nya, tanpa tahrift (penyelewengan) dan tanpa ta’thil (peniadaan), dan tanpa takyif (menanyakan bagaimana) dan tanpa tamtsil (menyerupakan), sesuai dengan batas firman-Nya Subhanahu: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11).

Yang wajib adalah menghormati nama-nama-Nya agar tidak dinamakan kepada selain-Nya, dan itu termasuk merealisasikan tauhid.

Dari Abu Syuraih bahwa dia berkunyah Abu al-Hakam, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sesungguhnya Allah Dialah Al-Hakam (Yang Maha Menghukum), dan kepada-Nya-lah hukum itu kembali.” Maka dia berkata: “Sesungguhnya kaumku apabila mereka berselisih dalam suatu perkara, mereka datang kepadaku, lalu aku menghukumi di antara mereka, maka kedua belah pihak ridha.” Maka Nabi berkata: “Betapa baiknya hal ini! Apa yang engkau miliki dari anak?” Aku berkata: Syuraih, Muslim, dan Abdullah. Beliau berkata: “Siapa yang paling tua di antara mereka?” Aku berkata: Syuraih. Beliau berkata: “Maka engkau adalah Abu Syuraih.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya.

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengubah kunyahnya karena menghormati nama-nama Allah, karena Allah adalah Al-Hakam secara mutlak. Allah Ta’ala berfirman: “Dan Allah menetapkan hukum (dan) tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya.” (QS. Ar-Ra’d: 41). Dan Dia adalah Al-Hakam di dunia dan akhirat. Dia menghukumi di dunia di antara makhluk-Nya dengan wahyu yang Dia turunkan kepada nabi-nabi-Nya, dan Dia menghukumi di antara mereka pada hari kiamat dengan ilmu-Nya terhadap apa yang mereka perselisihkan, dan Dia menegakkan keadilan bagi orang yang dizalimi dari orang yang menzalimi.

Dalam hadits ini terdapat dalil larangan menyerupai nama-nama Allah yang khusus bagi-Nya, dan larangan dari apa yang dapat menimbulkan kesan tidak menghormatinya, seperti berkunyah dengan Abu al-Hakam dan semisalnya.

Termasuk menghormati nama-nama Allah adalah manusia tidak berkata kepada budaknya: hambaku dan budak perempuanku, karena hal itu dapat menimbulkan kesan ikut serta dalam rububiyyah.

Dalam Shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Janganlah salah seorang di antara kalian berkata: Berilah makan tuanmu, berwudhulah tuanmu. Dan hendaklah dia berkata: Tuanku dan majikanku. Dan janganlah salah seorang di antara kalian berkata: Hambaku dan budak perempuanku. Dan hendaklah dia berkata: Pemuda dan pemudiiku serta ghulam-ku.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang lafal-lafal ini (tuanmu), (hambaku), (budak perempuanku), karena hal itu dapat menimbulkan kesan menyerupai Allah, dan untuk menutup jalan menuju hal tersebut, dan memutus bahan syirik. Beliau membimbing pemilik untuk berkata: pemuda dan pemudiiku, dan budak untuk berkata: tuanku dan majikanku.

Termasuk menghormati nama-nama Allah Subhanahu adalah tidak menolak orang yang meminta dengan nama Allah.

Dari Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Barangsiapa yang meminta perlindungan dengan nama Allah, maka lindungilah dia. Dan barangsiapa yang meminta dengan nama Allah, maka berilah dia.”

Karena menolak orang yang meminta menunjukkan tidak mengagungkan Allah, dan dalam memberinya terdapat dalil pengagungan Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya Subhanahu.

Termasuk menghormati Allah Ta’ala adalah tidak meminta dengan wajah Allah Ta’ala kecuali surga, untuk mengagungkan Allah, memuliakan-Nya, dan mengagungkan-Nya.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah berkata: “Tidak diminta dengan wajah Allah kecuali surga.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud. Maka tidak diminta dengan wajah Allah Ta’ala hal-hal yang hina dari keperluan dunia, dan sesungguhnya dengan wajah Allah diminta apa yang merupakan puncak tujuan, yaitu surga, atau apa yang menjadi wasilah menuju surga dari perkataan atau perbuatan yang mendekatkan kepada surga.

Termasuk menghormati nama-nama Allah adalah tidak banyak bersumpah dengan nama-nama tersebut. Allah Ta’ala berfirman: “Dan jagalah sumpah-sumpah kamu.” (QS. Al-Baqarah: 225).

Ibnu Abbas berkata: “Maksudnya janganlah kalian bersumpah, karena banyak bersumpah menunjukkan meremehkan Allah dan tidak mengagungkan-Nya, dan hal itu bertentangan dengan kesempurnaan tauhid yang wajib.”

Dari Salman radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Tiga orang yang Allah tidak berbicara kepada mereka, tidak mensucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih: orang tua yang berzina, orang miskin yang sombong, dan orang yang menjadikan Allah sebagai dagangannya; dia tidak membeli kecuali dengan sumpahnya, dan tidak menjual kecuali dengan sumpahnya.” Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dengan sanad shahih. Makna “menjadikan Allah sebagai dagangannya”, maksudnya: menjadikan bersumpah dengan nama Allah sebagai dagangannya. Dalam hadits ini terdapat ancaman keras atas banyak bersumpah, karena hal itu menunjukkan meremehkan hak Allah Ta’ala dan tidak menghormati nama-nama-Nya.

Termasuk mengagungkan dan mengagungkan Allah adalah tidak menjadikan-Nya sebagai syafa’at kepada makhluk-Nya, karena hal itu merendahkan-Nya Subhanahu, sebab yang dijadikan perantara syafa’at kedudukannya lebih rendah dari yang dimintai syafa’at.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Sesungguhnya syafa’at hanya dilakukan kepada yang lebih tinggi kedudukannya, Maha Tinggi Allah dari hal itu.”

Telah datang seorang Arab badui kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengadu kepadanya tentang kekeringan dan kerusakan harta, dan meminta beliau untuk meminta hujan bagi mereka, dan berkata: “Sesungguhnya kami menjadikan Allah sebagai perantara syafa’at kepada engkau, dan engkau kepada Allah.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Subhanallah! Apakah engkau tahu siapa Allah? Sesungguhnya urusan Allah lebih agung dari itu, dan sesungguhnya tidak dijadikan Allah sebagai perantara syafa’at kepada seorang pun dari makhluk-Nya.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud. Maka urusan Allah agung, dan Dia-lah yang dimintai syafa’at dengan izin-Nya Subhanahu.

Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam Asma dan Sifat Allah:

Manhaj salaf shalih Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang merupakan firqah najiyah (golongan yang selamat) dalam asma dan sifat Allah adalah menetapkannya sebagaimana yang datang dalam Al-Quran dan As-Sunnah, dengan meyakini apa yang ditunjukkannya, dan bahwa nama-nama dan sifat-sifat tersebut sesuai dengan zhahirnya, dan tidak mengharuskan dari penetapannya penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya, Maha Tinggi Allah dari hal itu, karena sifat-sifat Khaliq khusus bagi-Nya dan pantas bagi-Nya, dan sifat-sifat makhluk pantas bagi mereka dan khusus bagi mereka, dan tidak ada kemiripan antara kedua sifat tersebut, sebagaimana tidak ada kemiripan antara zat Khaliq Subhanahu dan zat makhluk.

Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam hal itu dibangun atas dasar-dasar yang benar dan kaidah-kaidah yang lurus, dan dasar-dasar tersebut adalah:

Pertama: Bahwa asma dan sifat Allah bersifat tauqifiyyah, maksudnya bahwa mereka tidak menetapkan bagi Allah kecuali apa yang Allah tetapkan untuk diri-Nya dalam kitab-Nya atau yang ditetapkan oleh Rasul-Nya dalam sunnahnya dari asma dan sifat, dan mereka tidak menetapkan sesuatu berdasarkan tuntutan akal dan pemikiran mereka, dan tidak menafikan dari Allah kecuali apa yang Dia nafikan dari diri-Nya dalam kitab-Nya atau yang dinafikan oleh Rasul dari-Nya dalam sunnahnya, tidak menafikan dari-Nya berdasarkan tuntutan akal dan pemikiran mereka. Maka mereka tidak melampaui Al-Quran dan As-Sunnah. Dan apa yang tidak dinyatakan secara tegas oleh Al-Quran dan As-Sunnah untuk dinafikan atau ditetapkan, seperti ‘aradh (keadaan), jism (benda), dan jauhar (substansi), maka mereka berhenti padanya berdasarkan prinsip agung ini.

Kedua: Bahwa apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya atau yang disifatkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada-Nya, maka itu benar sesuai zhahirnya, tidak ada teka-teki di dalamnya dan tidak ada hal-hal yang membingungkan, tetapi maknanya diketahui dari segi diketahuinya maksud yang berbicara dengan perkataannya. Maka Ahlus Sunnah menetapkan lafal-lafal sifat dan makna-maknanya. Maka bukanlah apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya atau yang disifatkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada-Nya termasuk mutasyabih yang maknanya harus ditawidh (diserahkan kepada Allah), karena menganggap nash-nash sifat sebagai sesuatu yang tidak dapat dipahami maknanya menjadikannya seperti perkataan asing yang tidak dipahami, sedangkan Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk mentadabburi seluruh Al-Quran, dan mendorong kita untuk memahami dan mengerti maknanya. Dan jika nash-nash sifat termasuk sesuatu yang tidak dapat dipahami maknanya, maka Allah telah memerintahkan kita untuk mentadabburi dan memahami apa yang tidak mungkin ditadabburi dan dipahami, dan memerintahkan kita untuk meyakini apa yang tidak Dia jelaskan kepada kita, Maha Tinggi Allah dari hal itu.

Oleh karena itu, makna-makna sifat Allah Ta’ala adalah ma’lumah (diketahui) yang wajib diyakini, adapun kaifiyyah (bagaimana)nya, maka majhulah (tidak diketahui) bagi kita, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Ta’ala. Karena itulah Imam Malik bin Anas radhiyallahu ‘anhu ketika ditanya tentang firman Allah Ta’ala: “Yang Maha Pemurah bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thaha: 5), bagaimana Dia bersemayam? Dia berkata: “Istiwanya ma’lum (diketahui), kaifnya majhul (tidak diketahui), iman kepadanya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.”

Apa yang dikatakan Imam Malik tentang istiwanya adalah kaidah dalam semua sifat, dan itulah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah seluruhnya. Maka barangsiapa yang menisbatkan kepada salaf bahwa mereka menyerahkan makna-makna asma dan sifat, dan menjadikan nash-nashnya termasuk mutasyabih yang Allah khususkan pengetahuan maknanya, maka dia telah berdusta atas mereka, karena perkataan mereka bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh pembohong ini.

Ketiga: Salaf menetapkan sifat-sifat dengan penetapan tanpa tamtsil (penyerupaan), maka mereka tidak menyerupakan sifat-sifat tersebut dengan sifat-sifat makhluk, karena Allah tidak ada yang serupa dengan-Nya, dan tidak ada yang setara dengan-Nya, dan tidak ada yang menyamai-Nya, dan tidak ada yang sejajar dengan-Nya, dan karena menyerupakan sifat-sifat dan menyamakan dengan sifat-sifat makhluk adalah klaim mengetahui kaifiyyahnya, sedangkan kaifiyyahnya tidak diketahui bagi kita seperti kaifiyyah zat, karena pengetahuan tentang kaifiyyah sifat mengharuskan pengetahuan tentang kaifiyyah yang disifati, dan Allah Ta’ala tidak ada yang mengetahui kaifiyyah zat-Nya kecuali Dia.

Pembicaraan tentang sifat adalah cabang dari pembicaraan tentang zat. Maka sebagaimana Allah memiliki zat yang tidak menyerupai zat-zat, maka demikian pula Dia memiliki sifat-sifat yang tidak menyerupai sifat-sifat. “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11), maksudnya: tidak ada yang menyerupai-Nya tidak dalam zat-Nya, tidak dalam sifat-sifat-Nya, dan tidak dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Maka wajib beriman kepada apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya, karena tidak ada yang lebih mengetahui Allah daripada Allah. “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah?” (QS. Al-Baqarah: 140). Maka Dia lebih mengetahui diri-Nya dan selain-Nya.

Sebagaimana wajib beriman kepada apa yang disifatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada-Nya, karena tidak ada yang setelah Allah lebih mengetahui Allah daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang Allah berfirman tentangnya: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 3-4). Maka wajib bagi setiap mukallaf untuk beriman kepada apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya atau yang disifatkan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada-Nya, dan mensucikan Rabbnya Jalla wa ‘Ala dari penyerupaan sifat-Nya dengan sifat makhluk.

Maka barangsiapa yang mendahului Allah dan Rasul-Nya dan berani kepada Allah, lalu menafikan dari-Nya apa yang Dia tetapkan untuk diri-Nya dari sifat-sifat agung dan apa yang disifatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada-Nya, dan berkata: Ini yang Engkau sifatkan untuk diri-Mu dan yang disifatkan oleh Rasul-Mu kepada-Mu tidak pantas bagi-Mu dan di dalamnya terdapat kekurangan ini dan itu, maka aku akan menta’wilkannya dan menghilangkannya dan mendatangi penggantinya dari diriku sendiri, sebagaimana sebagian mereka berkata:

“Dan setiap nash yang menyerupakan takwil atau serahkan dan bertemanlah dengan tanzih”

Maka aku tidak kembali kepada kitab-Mu dan tidak kepada sunnah nabi-Mu dalam hal itu, karena apa yang ada dalam keduanya menyerupakan, dan sesungguhnya aku kembali kepada kaidah-kaidah mutakallimin dan perkataan-perkataan Jahmiyyah, Mu’tazilah, Asy’ariyyah, dan Maturidiyyah!! Maka apakah wahai hamba-hamba Allah orang ini akan menjadi mukmin kepada Allah, kitab-Nya, dan sunnah Rasul-Nya?! Dan apakah orang ini akan menjadi pengagung Rabbnya?! Subhanaka haza buhtanun ‘azhim (Maha Suci Engkau, ini adalah tuduhan yang besar).

Keempat: Sebagaimana Ahlus Sunnah wal Jama’ah menetapkan bagi Allah sifat-sifat yang Dia sifatkan untuk diri-Nya atau yang disifatkan oleh Rasul-Nya kepada-Nya dengan cara yang pantas bagi keagungan-Nya dan tidak menyerupakan-Nya dengan makhluk-Nya, maka mereka mensucikan-Nya dari kekurangan-kekurangan dan cacat-cacat dengan pensucian yang tidak membawa mereka kepada ta’thil (peniadaan) dengan menta’wilkan makna-maknanya atau mengubah lafal-lafalnya dari yang ditunjukkannya dengan dalih tanzih (pensucian). Maka madzhab mereka dalam hal itu adalah tengah-tengah antara dua ujung tasybih (penyerupaan) dan ta’thil (peniadaan), mereka menghindari ta’thil dalam maqam tanzih dan menghindari tasybih dalam maqam itsbat (penetapan).

Kelima: Cara Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam apa yang mereka tetapkan bagi Allah dari sifat-sifat dan apa yang mereka nafikan dari-Nya berupa kekurangan adalah cara Al-Quran dan As-Sunnah, yaitu ijmal (global) dalam penafian dan tafsil (terperinci) dalam penetapan, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11). Maka Allah bersifat global dalam penafian yaitu firman-Nya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia” dan terperinci dalam penetapan yaitu firman-Nya: “dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Setiap penafian terhadap sifat-sifat Allah mengandung penetapan kesempurnaan, dan bukan penafian murni, karena penafian murni tidak mengandung pujian karena ia adalah ketiadaan murni, dan ketiadaan bukanlah sesuatu.

Di antara contoh penafian yang mengandung penetapan kesempurnaan adalah firman Allah Ta’ala: “Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 49), maksudnya: karena kesempurnaan keadilan-Nya Subhanahu.

Dan firman-Nya: “Dan Allah tidak merasa berat.” (QS. Al-Baqarah: 255), maksudnya: karena kesempurnaan kekuasaan dan kekuatan-Nya.

Dan firman-Nya: “Allah tidak mengantuk dan tidak tidur.” (QS. Al-Baqarah: 255), maksudnya: karena kesempurnaan kehidupan dan kayyumiyyah-Nya.

Demikianlah setiap penafian dari Allah mengandung penetapan kebalikan dari yang dinafikan berupa kesempurnaan dan keagungan.

Demikianlah, dan kami memohon kepada Allah bashirah (pandangan yang jernih) dalam agama-Nya dan amal dengan ketaatan kepada-Nya serta mengetahui kebenaran dan beramal dengannya.

Manhaj Jahmiyah dan Murid-murid mereka dalam Asma dan Sifat Allah:

Seorang muslim wajib menetapkan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya dengan cara yang pantas sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah, sesuai dengan apa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karena hal ini termasuk dalam bab iman kepada Allah Azza wa Jalla, dan ini adalah madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menjadikan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya sebagai dalil dan rujukan dalam hal tersebut. Berbeda dengan apa yang dianut oleh Jahmiyah dan murid-murid mereka dari kalangan Mu’tazilah dan Asy’ariyah yang meniadakan apa yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya dari nama-nama dan sifat-sifat, atau mereka meniadakan sebagian dan menetapkan sebagian lainnya secara sewenang-wenang. Mereka menjadikan sebagai rujukan mereka dalam hal itu apa yang telah diputuskan oleh akal-akal mereka yang terbatas atau yang telah diputuskan untuk mereka oleh para imam yang sesat. Sungguh berbeda antara orang yang menjadikan dalilnya Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan orang yang menjadikan dalilnya serpihan-serpihan pikiran dan sampah-sampah akal, sebagaimana yang dikatakan salah seorang dari mereka:

“Setiap nash yang menimbulkan kesan penyerupaan, takwilkanlah atau serahkanlah, dan berusahalah untuk mensucikan.”

Begitulah cara mereka memperlakukan nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam bab nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Takwil adalah mengalihkan nash-nash tersebut dari makna-makna mulia yang ditunjukkannya kepada apa yang diputuskan oleh akal mereka berupa pikiran-pikiran mandul dan pendapat-pendapat batil. Dan apa yang tidak mampu dijangkau oleh akal mereka, mereka serahkan (tafwidh) sambil meyakini berlawanan dengan apa yang ditunjukkannya.

Maha Suci Engkau wahai Rabbku! Betapa agung urusan-Mu! Dan betapa sabar-Mu terhadap hamba-hamba-Mu. Sesungguhnya mereka telah meniadakan dari-Mu apa yang telah Engkau tetapkan untuk diri-Mu dari sifat-sifat kesempurnaan dan sifat-sifat keagungan, dan mereka menyelisihi kitab-Mu. Mereka mendahulukan apa yang didiktekan oleh akal mereka atas apa yang telah Engkau turunkan dalam kitab-Mu. Mereka meniadakan nama-nama-Mu dan sifat-sifat-Mu, dan mereka meniadakan dari kitab-Mu kehujjahan dan petunjuk-Nya.

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata tentang orang-orang ini: “Dan barangsiapa yang mengira bahwa Allah telah mengabarkan tentang diri-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya dengan sesuatu yang zhahirnya batil, penyerupaan, dan perumpamaan, serta meninggalkan kebenaran dan tidak mengabarkannya, melainkan hanya memberi isyarat kepadanya dengan isyarat-isyarat yang jauh dan menunjukkannya dengan petunjuk-petunjuk yang samar-samar, tidak tegas menyatakannya, dan justru selalu tegas menyatakan penyerupaan dan perumpamaan yang batil. Dan Dia menghendaki dari makhluk-Nya agar mereka melelahkan pikiran, tenaga, dan akal mereka dalam mengalihkan firman-Nya dari tempatnya dan mentakwilkannya dengan selain takwilnya, serta mencari baginya kemungkinan-kemungkinan yang dipaksakan dan takwil-takwil yang lebih mirip dengan teka-teki dan tebakan daripada penjelasan dan keterangan. Dia menyerahkan mereka dalam mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya kepada akal dan pendapat mereka, bukan kepada kitab-Nya. Bahkan Dia menghendaki dari mereka agar mereka memahami firman-Nya sesuai dengan apa yang mereka ketahui dari ucapan dan bahasa mereka, padahal Dia mampu untuk menyatakan kepada mereka kebenaran yang seharusnya dinyatakan dengan tegas dan membebaskan mereka dari lafaz-lafaz yang menjerumuskan mereka pada keyakinan yang batil. Namun Dia tidak melakukannya, bahkan Dia menempuh jalan yang berlawanan dengan jalan petunjuk dan penjelasan. Maka sungguh orang tersebut telah berburuk sangka kepada-Nya. Jika dia berkata bahwa Allah tidak mampu mengungkapkan kebenaran dengan lafaz yang tegas sebagaimana dia dan pendahulunya ungkapkan, maka dia telah berburuk sangka terhadap kekuasaan-Nya dengan menganggapnya lemah. Dan jika dia berkata bahwa Allah mampu namun tidak menjelaskan dan berpaling dari penjelasan serta dari pernyataan tegas tentang kebenaran kepada sesuatu yang menimbulkan kesan, bahkan menjerumuskan pada kebatilan yang mustahil dan keyakinan yang rusak, maka dia telah berburuk sangka terhadap hikmah dan rahmat-Nya. Dan barangsiapa yang mengira bahwa dia dan pendahulunya telah mengungkapkan kebenaran dengan tegas tanpa Allah dan Rasul-Nya, dan bahwa petunjuk dan kebenaran ada dalam perkataan dan ungkapan mereka, adapun firman Allah, maka dari zhahirnya hanya diambil penyerupaan, perumpamaan, dan kesesatan, sedangkan zhahir perkataan orang-orang yang bingung dan tersesat itulah yang merupakan kebenaran dan petunjuk, maka ini termasuk buruk sangka yang terburuk kepada Allah…” sampai beliau berkata: “Dan barangsiapa yang mengira bahwa Allah tidak memiliki pendengaran, penglihatan, ilmu, kehendak, dan kalam yang diucapkan-Nya, dan bahwa Dia tidak pernah berbicara kepada seorang pun dari makhluk, tidak akan berbicara selamanya, tidak pernah berkata dan tidak akan berkata, tidak memiliki perintah dan larangan yang berdiri pada-Nya, maka dia telah berburuk sangka kepada-Nya. Dan barangsiapa yang mengira bahwa Allah tidak berada di atas langit-langit-Nya di atas Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya, dan bahwa hubungan zat-Nya dengan Arsy-Nya sama seperti hubungannya dengan tempat yang paling rendah, maka dia telah berburuk sangka dengan sangkaan yang paling buruk…” selesai perkataan beliau rahimahullah.

Beliau bermaksud dengan itu orang-orang yang meniadakan apa yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya dari sifat-sifat kesempurnaan dari kalangan Jahmiyah, Mu’tazilah, dan Asy’ariyah. Dan diketahui bahwa barangsiapa yang meniadakan sifat-sifat kesempurnaan dari Allah, maka dia telah menetapkan bagi-Nya lawan-lawannya berupa sifat-sifat kekurangan. Maha Tinggi Allah dari apa yang dikatakan orang-orang zalim dengan ketinggian yang agung.

Kemudian dari hal ini dapat disimpulkan bahwa orang-orang sesat ini lebih mengetahui tentang Allah dan apa yang pantas bagi-Nya daripada Allah, karena mereka meniadakan dari-Nya apa yang telah Dia tetapkan untuk diri-Nya sendiri, dan mereka mengklaim bahwa hal itu tidak pantas bagi-Nya! Kesesatan manakah yang lebih besar dari ini? Dan keberanian apakah terhadap Allah yang lebih besar dari keberanian ini?

Dan dari hal itu juga dapat disimpulkan bahwa mereka lebih mengetahui tentang Allah daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan sifat-sifat ini untuk Allah, sedangkan mereka meniadakannya dan berkata: “Sesungguhnya sifat-sifat itu tidak pantas bagi Allah!” Kesesatan manakah yang lebih besar dari kesesatan ini seandainya mereka berakal?! Bagaimana mungkin orang-orang bodoh dan sesat ini lebih mengetahui tentang Allah daripada diri-Nya sendiri? Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan. Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, sedangkan mereka tidak dapat meliputi-Nya dengan pengetahuan mereka” (Surat Taha: 110). Dan tidak seorang pun dari makhluk yang lebih mengetahui tentang Allah, apa yang pantas bagi-Nya, dan apa yang layak bagi-Nya daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?!

Sesungguhnya yang mendorong Jahmiyah dan pengikut-pengikut mereka untuk meniadakan sifat-sifat Allah Azza wa Jalla adalah kebodohan mereka tentang Allah dan buruknya pemahaman mereka, karena mereka mengira bahwa menetapkan sifat-sifat yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya dan yang telah Rasul-Nya tetapkan bagi-Nya mengharuskan penyerupaan, karena mereka melihat sifat-sifat ini pada makhluk, dan mereka tidak membedakan antara sifat-sifat Khaliq dan sifat-sifat makhluk. Mereka tidak memahami dari sifat-sifat Khaliq kecuali apa yang mereka pahami dari sifat-sifat makhluk, dan mereka tidak mengetahui bahwa sifat-sifat Khaliq Subhanahu khusus bagi-Nya dan sifat-sifat makhluk khusus bagi mereka dan pantas bagi mereka. Tidak ada kemiripan antara sifat-sifat Khaliq dan sifat-sifat makhluk, sebagaimana tidak ada kemiripan antara zat Khaliq dan zat-zat makhluk, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Surat Asy-Syura: 11). Maka Dia menetapkan untuk diri-Nya sifat mendengar dan melihat, dan meniadakan dari diri-Nya kemiripan dengan segala sesuatu. Hal ini menunjukkan bahwa menetapkan sifat-sifat tidak mengharuskan kemiripan antara Khaliq dan makhluk.

Dan inilah prinsip yang ditempuh oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menetapkan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya: mereka menetapkan bagi-Nya apa yang telah Dia tetapkan untuk diri-Nya tanpa penyerupaan, dan mereka mensucikan-Nya dari apa yang telah Dia sucikan diri-Nya daripadanya tanpa peniadaan.

Adapun Jahmiyah dan murid-murid mereka dari kalangan Mu’tazilah dan Asy’ariyah, mereka membangun madzhab mereka atas dasar yang batil yang mereka tetapkan dari diri mereka sendiri, yaitu bahwa menetapkan sifat-sifat ini mengharuskan penyerupaan. Maka terhadap nash-nash yang datang dengan hal itu, menurut mereka harus dilakukan salah satu dari dua hal: mentakwilkannya dari zhahirnya, atau menyerahkannya (tafwidh) sambil meyakini bahwa zhahirnya bukan yang dikehendaki. Oleh karena itu penyair yang merumuskan aqidah mereka berkata:

“Setiap nash yang menimbulkan kesan penyerupaan, takwilkanlah atau serahkanlah, dan berusahalah untuk mensucikan.”

Maha Suci Engkau wahai Rabbku dari apa yang dikatakan orang-orang zalim dan yang mengingkari dengan ketinggian yang agung.

Dan Allah telah menjalankan kebenaran melalui lisan penyair ini, karena dia berkata “setiap nash yang menimbulkan kesan penyerupaan”, maka dia menjelaskan bahwa madzhab mereka dibangun atas dasar prasangka, bukan atas kebenaran, karena mereka menyangka bahwa nash-nash ini mengharuskan penyerupaan, lalu mereka mentakwilkannya.

Apakah prasangka wahai hamba-hamba Allah dapat dipertentangkan dengan nash-nash dan dijadikan dasar untuk membangun aqidah?!

Sesungguhnya prasangka (wahm) tingkatannya lebih rendah dari dugaan (zhann), dan Allah Ta’ala berfirman tentang dugaan: “Dan sesungguhnya dugaan itu tidak berguna sedikitpun untuk mencari kebenaran” (Surat An-Najm: 28).

Bantahan terhadap Orang-orang yang Menyimpang dari Manhaj Salaf dalam Asma dan Sifat Allah dari Kalangan Musyabbihah dan Mu’aththilah:

Orang-orang yang menyimpang dari manhaj salaf dalam nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya terbagi menjadi dua kelompok: Musyabbihah dan Mu’aththilah.

1 – Musyabbihah:

Mereka menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, dan menjadikan sifat-sifat-Nya sejenis dengan sifat-sifat makhluk. Oleh karena itu mereka disebut “Musyabbihah” (penyerupaan). Orang pertama yang mengatakan pendapat ini adalah Hisyam bin Al-Hakam Ar-Rafidhi dan Bayan bin Sam’an At-Tamimi yang dinisbahkan kepadanya kelompok Bayaniyah dari golongan Syiah yang berlebih-lebihan. Musyabbihah berlebihan dalam menetapkan sifat-sifat sehingga mereka memasukkan ke dalamnya apa yang Allah dan Rasul-Nya nafikan, yaitu hal-hal yang tidak pantas bagi-Nya Subhanahu dari sifat-sifat kekurangan. Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang agung. Di antara mereka adalah Hisyam bin Salim Al-Jawaliqy dan Dawud Al-Jawarby.

Allah telah meniadakan dalam kitab-Nya kemiripan-Nya dengan makhluk-Nya, dan melarang membuat perumpamaan bagi-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” (Surat Asy-Syura: 11), “Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan-Nya?” (Surat Maryam: 65), “dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya” (Surat Al-Ikhlas: 4), “Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah” (Surat Al-Baqarah: 22), “Maka janganlah kamu membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Allah” (Surat An-Nahl: 74).

Barangsiapa yang menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya, maka dia sebenarnya tidak menyembah Allah, melainkan menyembah berhala yang digambarkan oleh khayalnya dan dipahat oleh pikirannya. Maka dia termasuk penyembah berhala, bukan penyembah Ar-Rahman.

Al-Allamah Ibnu Qayyim berkata:

“Kami tidak menyerupakan sifat-Nya dengan sifat-sifat kami, sesungguhnya orang yang menyerupakan adalah penyembah berhala.”

Dan barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya, maka dia menyerupai orang-orang Nasrani yang menyembah Al-Masih putra Maryam ‘alaihis salam.

Al-Allamah Ibnu Qayyim berkata:

“Barangsiapa yang menyerupakan Allah Yang Maha Agung dengan makhluk-Nya, maka dia sepadan dengan orang musyrik Nasrani.”

Nu’aim bin Hammad, guru Al-Bukhari rahimahumallah berkata: “Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka dia telah kafir. Dan barangsiapa yang meniadakan apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya atau yang disifatkan Rasul-Nya untuk-Nya, maka dia telah kafir. Dan tidak ada dalam apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya atau yang disifatkan Rasul-Nya untuk-Nya suatu penyerupaan.”

2 – Mu’aththilah:

Mereka meniadakan dari Allah apa yang telah Dia sifatkan untuk diri-Nya atau yang telah Rasul-Nya sifatkan untuk-Nya dari sifat-sifat kesempurnaan, dengan dalih bahwa menetapkannya mengharuskan penyerupaan dan penubuhan. Maka mereka berseberangan dengan Musyabbihah.

Madzhab ta’thil (peniadaan) diambil dari murid-murid Yahudi, orang-orang musyrik, dan orang-orang sesat Shabiin. Orang pertama yang diketahui mengatakan ta’thil dalam Islam adalah Al-Ja’d bin Dirham pada awal abad kedua. Madzhab buruk ini diambil darinya oleh Al-Jahm bin Shafwan dan dia yang memunculkannya, dan kepadanya dinisbahkan Jahmiyah. Kemudian madzhab ini berpindah kepada Mu’tazilah dan Asy’ariyah. Inilah sanad-sanad madzhab mereka yang kembali kepada Yahudi, Shabiin, orang-orang musyrik, dan para filosof. Mereka dalam ta’thil ini berbeda-beda tingkatannya.

Jahmiyah: meniadakan nama-nama dan sifat-sifat.

Mu’tazilah: menetapkan nama-nama yang terlepas dari makna-maknanya dan meniadakan sifat-sifat.

Asy’ariyah: menetapkan nama-nama dan hanya tujuh sifat saja, yaitu: ilmu, kehidupan, kekuasaan, kehendak, pendengaran, penglihatan, dan kalam, serta meniadakan sifat-sifat lainnya.

Syubhat (keraguan) mereka semua dalam apa yang mereka niadakan dari sifat-sifat adalah bahwa menetapkannya mengharuskan penyerupaan dan penubuhan menurut mereka, karena tidak ada yang disifati dengannya kecuali tubuh-tubuh ini, sedangkan Allah “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” (Surat Asy-Syura: 11). Maka harus meniadakan dan menghilangkan sifat-sifat untuk mensucikan Allah dari penyerupaan menurut mereka. Oleh karena itu mereka menyebut orang yang menetapkannya sebagai musyabbih (penyerupaan).

Mereka mengambil dua sikap terhadap nash-nash yang menunjukkan penetapannya:

Sikap pertama: Beriman kepada lafaz-lafaznya dan menyerahkan makna-maknanya, yaitu dengan diam dari menafsirkannya dan menyerahkannya kepada Allah, sambil meniadakan petunjuknya kepada sesuatu dari sifat-sifat. Mereka menyebut cara ini sebagai cara salaf dan berkata: “Ini lebih selamat.”

Sikap kedua: Mengalihkan nash-nash ini dari makna yang ditunjukkannya kepada makna-makna yang mereka buat-buat. Inilah yang mereka sebut dengan cara takwil, dan mereka menyebutnya cara khalaf, serta berkata: “Ini lebih berilmu dan lebih bijaksana.”

Bantahan terhadap syubhat mereka: Kami katakan: Tidak diragukan bahwa tamtsil (perumpamaan) telah dinyatakan oleh Al-Qur’an Al-Karim peniadaannya dari Allah Ta’ala, seperti firman-Nya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Surat Asy-Syura: 11), firman-Nya: “Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan-Nya?” (Surat Maryam: 65), firman-Nya: “dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya” (Surat Al-Ikhlas: 4), firman-Nya: “Maka janganlah kamu menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah” (Surat Al-Baqarah: 22), dan firman-Nya: “Maka janganlah kamu membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Allah” (Surat An-Nahl: 74).

Namun bersamaan dengan peniadaan-Nya Subhanahu dari diri-Nya kemiripan dengan makhluk, Dia menetapkan untuk diri-Nya sifat-sifat kesempurnaan, sebagaimana dalam firman-Nya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Surat Asy-Syura: 11). Maka Dia menggabungkan dalam ayat mulia ini antara peniadaan penyerupaan dari diri-Nya dan penetapan sifat mendengar dan melihat untuk diri-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa menetapkan sifat-sifat tidak mengharuskan penyerupaan, karena tidak ada keharusan di antara keduanya.

Demikian pula dalam banyak ayat Al-Qur’an Al-Karim kita dapati penetapan sifat-sifat bersama dengan peniadaan penyerupaan berdampingan. Dan inilah madzhab salaf shalih: mereka menetapkan sifat-sifat dan meniadakan dari-Nya penyerupaan dan perumpamaan.

Barangsiapa yang mengklaim bahwa menetapkan sifat-sifat tidak pantas bagi Allah karena mengharuskan penyerupaan, maka yang membawanya kepada itu adalah buruknya pemahamannya, karena dia memahami bahwa menetapkan sifat-sifat mengharuskan penyerupaan. Pemahaman yang salah ini mengantarkannya untuk meniadakan apa yang telah Allah Azza wa Jalla tetapkan untuk diri-Nya. Maka orang bodoh ini menjadi musyabbih (penyerupaan) pertama-tama dan mu’aththil (peniadaan) kedua-kalinya, dan dia melakukan apa yang tidak pantas bagi Allah dari awal hingga akhir.

Seandainya hatinya bersih dari kotoran-kotoran penyerupaan, niscaya yang langsung dipahami dan yang pertama kali masuk ke dalam pemahamannya adalah bahwa sifat-sifat Allah Azza wa Jalla mencapai tingkat kesempurnaan dan keagungan yang memutuskan sangkaan-sangkaan yang berkaitan dengan penyerupaan dan kemiripan antara sifat-sifat Khaliq dan sifat-sifat makhluk. Maka hatinya akan lapang untuk beriman kepada sifat-sifat Allah dengan cara yang pantas bagi-Nya, sambil mensucikan Allah dari kemiripan dengan makhluk.

Adapun orang yang menyangka bahwa sifat-sifat Allah menyerupai sifat-sifat makhluk, maka dia tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya, dan tidak menghargai-Nya dengan sebenar-benar penghargaan. Oleh karena itu dia terjatuh dalam kemelut ta’thil yang dia jatuhkan, dan dia menyebut orang yang menetapkan sifat-sifat kesempurnaan untuk Allah dan mensucikan-Nya dari sifat-sifat kekurangan sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai musyabbih dan mujassim, berdasarkan sangkaannya bahwa sifat-sifat Allah menyerupai sifat-sifat makhluk-Nya. Dia tidak menyadari bahwa sifat ini lebih pantas baginya, karena dialah yang menyerupakan pertama-tama, kemudian meniadakan kedua-kalinya. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Imam para imam dan pembela sunnah Abu Bakr Muhammad bin Khuzaimah rahimahullah berkata dalam bantahan terhadap Jahmiyah dan murid-murid mereka yang mengklaim bahwa menetapkan sifat-sifat bagi Allah Azza wa Jalla mengharuskan penyerupaan. Kami nukil perkataan beliau secara ringkas dalam masalah ini:

Beliau rahimahullah berkata: “Jahmiyah – semoga laknat Allah menimpa mereka – mengklaim bahwa Ahlus Sunnah dan pengikut atsar, yang berpegang pada kitab Rabb mereka dan sunnah nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang menetapkan bagi Allah Azza wa Jalla sifat-sifat-Nya sebagaimana Allah menyifati diri-Nya dalam muhkam tanzil-Nya yang terdapat di antara dua sampul, dan di lisan nabi-Nya yang terpilih shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nukilan yang adil dari yang adil secara bersambung kepadanya: adalah musyabbihah. Ini karena kebodohan mereka terhadap kitab Rabb kami dan sunnah nabi kami shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sedikitnya pengetahuan mereka tentang bahasa yang dengannya kami diajak berbicara…”

Sampai beliau berkata: “Kami berkata dan para ulama kami semua dari seluruh penjuru: bahwa sesembahan kami Azza wa Jalla memiliki wajah sebagaimana Allah telah memberitahukan kepada kami dalam muhkam tanzil-Nya. Maka Dia menyifatinya dengan keagungan dan kemuliaan, menetapkan baginya keabadian, dan meniadakan darinya kebinasaan. Kami berkata: bahwa wajah Rabb kami Azza wa Jalla memiliki cahaya, sinar, dan kecemerlangan yang seandainya Dia menyingkap hijab-Nya, niscaya pancaran wajah-Nya akan membakar segala sesuatu yang dijangkau oleh penglihatan-Nya… Dan kami berkata: bahwa bani Adam memiliki wajah-wajah yang Allah telah tetapkan baginya kebinasaan. Kami berkata: bahwa wajah-wajah bani Adam adalah baharu dan diciptakan, tidak ada kemudian Allah menciptakannya setelah tidak ada, Allah mewujudkannya setelah yang tadinya tiada, dan bahwa semua wajah bani Adam akan musnah tidak kekal, semuanya akan menjadi mayit kemudian menjadi tulang belulang, kemudian Allah akan menciptakannya kembali setelah menjadi tulang belulang, kemudian akan menjadi surga yang penuh kenikmatan di dalamnya atau ke neraka yang penuh siksaan di dalamnya.”

Apakah terlintas dalam pikiran orang-orang berakal yang memiliki akal sehat, yang memahami bahasa Arab dan mengetahui cara berbicaranya, serta memahami perumpamaan bahwa wajah ini serupa dengan wajah itu – apakah menurut kalian wahai orang-orang berakal, di sini ada penyerupaan wajah Tuhan kita yang Maha Mulia – yang sifat-Nya telah kami jelaskan dari Al-Qur’an dan Sunnah – dengan wajah-wajah manusia yang telah kami sebutkan dan gambarkan… Andaikan ini adalah penyerupaan menurut ulama-ulama kami, maka setiap orang yang berkata: “Sesungguhnya manusia memiliki wajah, dan babi, kera, binatang buas, keledai, bagal, ular, dan kalajengking juga memiliki wajah,” berarti dia telah menyerupakan wajah manusia dengan wajah babi, kera, anjing, dan lainnya yang telah disebutkan. Dan aku tidak mengira bahwa orang Jahmiyyah yang paling berakal sekalipun – jika orang yang paling mulia di hadapannya berkata kepadanya: “Wajahmu mirip wajah babi, kera, anjing, keledai, bagal, dan sejenisnya” – kecuali dia akan marah…

Imam Ibn Khuzaimah rahimahullah berkata: “Jika demikian seperti yang telah kami sebutkan, maka jelaslah bagi orang-orang berakal dan orang-orang yang memiliki daya pembeda bahwa siapa yang menuduh Ahlul Atsar (pengikut nash) yang berpegang pada Kitab Tuhan mereka dan Sunnah Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tuduhan tasybih (penyerupaan), maka sesungguhnya dia telah berkata bathil, dusta, palsu, dan fitnah, serta menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah, dan keluar dari bahasa Arab…”

Beliau melanjutkan: “Adapun kaum mu’aththilah dari golongan Jahmiyyah mengingkari setiap sifat Allah yang telah Dia sifatkan untuk diri-Nya dalam Al-Qur’an yang muhkam atau melalui lisan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam karena kebodohan mereka dalam ilmu. Hal itu karena mereka mendapati dalam Al-Qur’an bahwa Allah telah memberikan nama-nama sifat-Nya kepada sebagian makhluk-Nya, maka mereka mengira karena kebodohan mereka dalam ilmu bahwa siapa yang mensifati Allah dengan sifat yang telah Allah sifatkan untuk diri-Nya sendiri berarti telah menyerupakan-Nya dengan makhluk-Nya.

Dengarkanlah wahai orang-orang berakal, betapa jelasnya kebodohan kaum mu’aththilah ini:

Aku berkata: Aku mendapati Allah mensifati diri-Nya di berbagai tempat dalam kitab-Nya, maka Dia memberitahukan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman bahwa Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Allah berfirman: “Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Asy-Syura: 11). Dan Allah ‘Azza wa Jalla menyebutkan tentang manusia, Dia berfirman: “Maka Kami jadikan dia dapat mendengar dan melihat” (Al-Insan: 2).

Dan Allah Jalla wa ‘Ala memberitahu kita bahwa Dia melihat, Dia berfirman: “Dan katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu'” (At-Taubah: 105). Dan Allah berfirman kepada Musa dan Harun ‘alaihimas salam: “Sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat” (Thaha: 46). Maka Allah ‘Azza wa Jalla memberitahukan bahwa Dia melihat amal perbuatan manusia, dan bahwa Rasul-Nya yang adalah manusia juga melihat amal perbuatan mereka. Dan Allah berfirman: “Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa” (An-Nahl: 79), dan manusia juga melihat burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa.

Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami” (Hud: 37), dan Allah berfirman: “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami” (Ath-Thur: 48). Maka Tuhan kita menetapkan untuk diri-Nya mata, dan Dia menetapkan untuk manusia mata-mata. Allah berfirman: “Kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata” (Al-Ma’idah: 83). Maka Tuhan kita telah mengabarkan bahwa Dia memiliki mata dan manusia memiliki mata-mata.

Dan Allah berfirman kepada Iblis – laknatullah ‘alaih: “Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku?” (Shad: 75), dan Allah berfirman: “Bahkan kedua tangan-Nya terbuka luas, Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki” (Al-Ma’idah: 64). Maka Tuhan kita Jalla wa ‘Ala menetapkan dua tangan untuk diri-Nya dan mengabarkan kepada kita bahwa manusia memiliki dua tangan.

Apakah menurut orang-orang fasik ini: siapa yang menetapkan apa yang telah Allah tetapkan dalam hal ini berarti menyerupakan Pencipta dengan makhluk-Nya?! Maha Suci Allah, ini bukanlah tasybih sebagaimana yang mereka klaim karena kebodohan mereka dalam ilmu…” Demikian perkataan beliau.

Inilah bantahan Imam para Imam Muhammad bin Khuzaimah terhadap Jahmiyyah dan murid-murid mereka. Ini adalah bantahan yang membungkam, mereka tidak mampu menjawabnya. Para imam besar juga telah membantah mereka, seperti Imam Ahmad, Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah, dan Imam Ibnul Qayyim. Bantahan-bantahan mereka – alhamdulillah – masih berada di tangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Bantahan Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah

Kami kemukakan contoh bantahan Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah terhadap kelompok yang mengklaim bahwa nash-nash yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah tentang sifat-sifat Allah adalah termasuk mutasyabih yang hanya Allah yang mengetahui maknanya. Nash-nash ini menurut mereka bukan pada zhahirnya karena zhahirnya menurut mereka adalah tasybih, tetapi memiliki makna yang hanya Allah yang mengetahuinya. Maka mereka menyerahkan maknanya kepada Allah dan mengklaim bahwa ini adalah cara Salaf. Mereka telah berdusta atas Salaf dan menisbatkan kepada mereka apa yang mereka berlepas diri darinya, karena akidah Salaf adalah menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana yang ditunjukkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyyah, dan bahwa sifat-sifat itu pada zhahirnya, serta mereka menafsirkan maknanya sesuai dengan keagungan Allah, dan tidak menyerahkannya, bahkan sifat-sifat itu menurut mereka termasuk muhkam bukan mutasyabih.

Syaikhul Islam berkata: “Adapun menurut pendapat tokoh-tokoh mereka (maksudnya: penafian sifat): bahwa makna nash-nash ini tidak diketahui kecuali oleh Allah, dan bahwa maknanya yang dikehendaki Allah dengannya adalah yang mengharuskan mengalihkannya dari zhahirnya, maka menurut pendapat mereka ini, para Nabi dan Rasul tidak mengetahui makna apa yang Allah turunkan kepada mereka dari nash-nash ini, begitu juga para malaikat dan As-Sabiqun Al-Awwalun. Dengan demikian, apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya dalam Al-Qur’an atau kebanyakan dari apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya, para Nabi tidak mengetahui maknanya, bahkan mereka berkata perkataan yang tidak mereka pahami maknanya…”

Beliau melanjutkan: “Dan diketahui bahwa ini adalah celaan terhadap Al-Qur’an dan para Nabi, ketika Allah menurunkan Al-Qur’an dan mengabarkan bahwa Dia menjadikannya petunjuk dan penjelasan bagi manusia, dan memerintahkan Rasul untuk menyampaikan penyampaian yang jelas, dan untuk menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka, serta memerintahkan untuk mentadabburi Al-Qur’an dan memahaminya. Namun dengan ini, yang paling mulia di dalamnya yaitu apa yang Tuhan kabarkan tentang sifat-sifat-Nya, atau tentang Dia sebagai pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, atau tentang Dia yang memerintah dan melarang, berjanji dan mengancam, atau apa yang Dia kabarkan tentang Hari Akhir: tidak ada seorang pun yang mengetahui maknanya, maka tidak dipahami, tidak ditadabburi, dan Rasul tidak menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan dan tidak menyampaikan penyampaian yang jelas.”

Beliau berkata menolak pendapat ini dari Salaf: “Adapun memasukkan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya atau sebagian dari itu ke dalam mutasyabih yang hanya Allah yang mengetahui ta’wilnya, maka kami katakan: Apa dalilnya? Karena aku tidak mengetahui dari seorang pun dari Salaf umat, para imam, Ahmad bin Hanbal, atau lainnya bahwa dia menjadikan itu termasuk mutasyabih yang masuk dalam ayat ini” – maksudnya firman Allah: “Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkam, itulah pokok-pokok isi Al Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabih…” (Ali Imran: 7) – “dan meniadakan bahwa ada yang mengetahui maknanya, serta menjadikan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya seperti perkataan bahasa asing yang tidak dipahami. Mereka hanya berkata perkataan yang memiliki makna-makna yang benar. Mereka berkata tentang hadits-hadits sifat: ‘Jalankan sebagaimana datangnya.’ Mereka melarang ta’wil-ta’wil Jahmiyyah dan menolaknya serta membatalkannya, yang isinya adalah meniadakan nash-nash dari apa yang ditunjukkannya. Nash-nash Ahmad dan para imam sebelumnya jelas bahwa mereka membatalkan ta’wil-ta’wil Jahmiyyah dan mengakui nash-nash pada apa yang ditunjukkannya dari maknanya. Ini adalah kesepakatan para imam bahwa mereka mengetahui makna ini, dan bahwa tidak diam dari penjelasan dan penafsirannya, bahkan menjelaskan dan menafsirkan berdasarkan kesepakatan para imam tanpa mengubahnya dari tempatnya atau menyimpang dalam nama-nama Allah dan ayat-ayat-Nya.”

Inilah yang ditetapkan Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah dan diriwayatkannya dari para imam dan Salaf: bahwa mereka tidak menjadikan nash-nash sifat termasuk mutasyabih yang tidak dipahami maknanya dan wajib diserahkan, bahkan mereka mengetahui makna nash-nash ini dan menafsirkannya. Mereka hanya menyerahkan pengetahuan tentang kaifiyyahnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana yang dikatakan Imam Malik dan lainnya: “Istawa itu diketahui, kaifnya tidak diketahui, beriman kepadanya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.”

Pendapat Imam Ibnu Katsir

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Adapun firman Allah: “Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy” (berbagai ayat), maka manusia memiliki pendapat yang sangat banyak dalam masalah ini, dan ini bukan tempat untuk menguraikannya. Kami hanya mengikuti mazhab Salaf: Malik, Al-Auza’i, Ats-Tsauri, Al-Laits bin Sa’d, Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq bin Rahuyah, dan lainnya dari para imam kaum muslimin dahulu dan sekarang, yaitu menjalankannya sebagaimana datangnya tanpa takyif (mempertanyakan bagaimana), tasybih (menyerupakan), atau ta’thil (meniadakan). Zhahir yang terlintas dalam pikiran kaum musyabbihah ditiadakan dari Allah, karena Allah tidak menyerupai sesuatu dari makhluk-Nya. “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Asy-Syura: 11). Bahkan perkara itu sebagaimana yang dikatakan para imam, di antaranya Nu’aim bin Hammad Al-Khuza’i guru Al-Bukhari. Dia berkata: ‘Barang siapa menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya maka dia kafir, dan barang siapa mengingkari apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya maka dia kafir. Tidak ada tasybih dalam apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya dan Rasul-Nya. Barang siapa menetapkan untuk Allah apa yang datang dalam ayat-ayat yang sharih dan khabar-khabar yang shahih dengan cara yang layak bagi keagungan Allah, dan meniadakan kekurangan-kekurangan dari Allah Ta’ala, maka dia telah menempuh jalan petunjuk…'” Selesai.

Inilah mazhab Salaf dalam nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, yaitu menetapkannya sebagaimana datang dalam Al-Qur’an dan Sunnah tanpa menyerupakannya dengan sifat-sifat makhluk, dan tanpa meniadakan serta menafikannya. Tetapi penetapan tanpa tasybih, dan pensucian Allah tanpa ta’thil, sesuai dengan firman Allah: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Asy-Syura: 11). Barang siapa menisbatkan kepada Salaf bahwa mazhab mereka adalah tafwidh, maka dia telah berdusta dan berbuat iftira terhadap mereka serta menuduh mereka dengan apa yang mereka berlepas diri darinya.

Kami memohon ampun dan keselamatan kepada Allah.

 

 

ASAS KEDUA: IMAN KEPADA MALAIKAT

 

Iman kepada malaikat adalah salah satu dari enam rukun iman, sebagaimana yang terdapat dalam hadits Jibril ketika dia berkata: “Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, Hari Akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan buruknya.”

Iman kepada malaikat disebutkan berpasangan dengan iman kepada Allah dalam banyak ayat Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah: “Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya” (Al-Baqarah: 285), dan seperti dalam firman Allah: “Tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi” (Al-Baqarah: 177).

Iman kepada malaikat mencakup membenarkan keberadaan mereka, bahwa mereka adalah hamba-hamba yang dimuliakan yang diciptakan Allah untuk beribadah kepada-Nya dan melaksanakan perintah-perintah-Nya, beriman kepada jenis-jenis, sifat-sifat, dan tugas-tugas mereka sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, serta beriman kepada keutamaan dan kedudukan mereka di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.

Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwa Allah menciptakan mereka dari cahaya.

Yang menunjukkan keutamaan dan kemuliaan mereka adalah bahwa Allah menisbatkan mereka kepada-Nya sebagai bentuk penghormatan, seperti firman-Nya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi” (Al-Ahzab: 56), firman-Nya: “Semuanya beriman kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya” (Al-Baqarah: 285), firman-Nya: “Dan barang siapa kafir kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya” (Al-Baqarah: 98), dan firman-Nya: “Barang siapa yang menjadi musuh Allah dan malaikat-malaikat-Nya” (Al-Baqarah: 98).

Allah – Subhanahu – menggabungkan kesaksian mereka dengan kesaksian-Nya dan shalawat mereka dengan shalawat-Nya, seperti firman Allah: “Allah menyaksikan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia, dan para malaikat” (Ali Imran: 18), dan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi” (Al-Ahzab: 56).

Allah – Subhanahu – mensifati mereka dengan kemuliaan dan pemuliaan. Allah berfirman: “Di tangan para duta yang mulia lagi berbakti” (Abasa: 15-16), Allah berfirman: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi, yang mulia di sisi Allah dan yang mencatat” (Al-Infithar: 11-12), dan firman Allah: “Bahkan mereka adalah hamba-hamba yang dimuliakan” (Al-Anbiya: 26).

Allah mensifati mereka dengan ketinggian dan kedekatan, sebagaimana dalam firman Allah: “Mereka tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para penghuni yang tinggi” (Al-Hijr: 8), dan dalam firman-Nya: “Yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah)” (Al-Mutaffifin: 21).

Allah menyebutkan bahwa mereka memikul Arsy dan mengelilinginya, sebagaimana dalam firman-Nya: “Yang memikul ‘Arsy dan yang berada di sekelilingnya” (Ghafir: 7), dan firman-Nya: “Dan kamu akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling ‘Arsy” (Az-Zumar: 75).

Allah – Subhanahu – menyebutkan bahwa mereka berada di sisi-Nya, beribadah kepada-Nya, dan bertasbih kepada-Nya, sebagaimana dalam firman Allah: “Sesungguhnya malaikat-malaikat yang di sisi Tuhanmu tidaklah mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya, dan mereka menyucikan-Nya dan kepada-Nya mereka sujud” (Al-A’raf: 206), dan firman-Nya: “Maka jika mereka menyombongkan diri, maka (ketahuilah) malaikat-malaikat yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya malam dan siang, sedang mereka tidak jemu-jemu” (Fushshilat: 38).

Mereka berdasarkan tugas-tugas yang mereka lakukan terbagi menjadi beberapa jenis:

Di antara mereka ada yang memikul Arsy. Allah berfirman: “Yang memikul ‘Arsy dan yang berada di sekelilingnya” (Ghafir: 7), dan Allah berfirman: “Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka” (Al-Haqqah: 17).

Dan di antara mereka adalah para malaikat yang muqarrab (yang dekat kepada Allah), sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Al-Masih sekali-kali tidak akan enggan menjadi hamba Allah, dan tidak pula malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah)” (QS. An-Nisa: 172).

Dan di antara mereka adalah malaikat yang bertugas mengurus surga dan menyiapkan kemuliaan untuk penghuninya.

Dan di antara mereka adalah malaikat yang bertugas mengurus neraka dan menyiksa penghuninya, yaitu para zabbaniah (malaikat penjaga neraka), yang pemimpinnya ada sembilan belas, dan penjaganya adalah Malik, dan dia adalah pemimpin para penjaga; sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Yang menjaganya ada sembilan belas (malaikat)” (QS. Al-Muddatstsir: 30), dan firman-Nya: “Dan mereka berseru: ‘Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja'” (QS. Az-Zukhruf: 77), dan firman-Nya: “Dan orang-orang yang di dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahannam: ‘Berdoalah kepada Tuhanmu supaya Dia mengurangi azab dari kami barang sehari saja'” (QS. Ghafir: 49), dan Allah Ta’ala berfirman: “Yang menjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim: 6).

Dan di antara mereka adalah malaikat yang bertugas menjaga anak cucu Adam di dunia; Allah Ta’ala berfirman: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah…” (QS. Ar-Ra’d: 11); artinya: bersamanya ada malaikat-malaikat yang menjaganya dari depan dan belakang, maka apabila takdir Allah datang, mereka meninggalkannya. Dan di antara mereka adalah malaikat yang bertugas menjaga amal-amal hamba dan menuliskannya; Allah Ta’ala berfirman: “(Yaitu) yang duduk di sebelah kanan dan di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaf: 17-18), dan Allah Ta’ala berfirman: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu)” (QS. Al-Infitar: 10-11).

Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Malaikat-malaikat berganti-ganti menjaga kalian di malam dan siang hari”; maka bersama manusia ada malaikat yang menjaganya dari hal-hal yang membahayakan, dan malaikat yang menjaga atas segala amalnya dan apa yang keluar darinya.

Dan di antara malaikat ada yang bertugas mengurus rahim dan urusan nutfah; sebagaimana dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu: “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa nutfah, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian diutus kepadanya malaikat lalu meniupkan ruh kepadanya, dan diperintahkan dengan empat kalimat: ditulis rezekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagia”.

Dan di antara mereka adalah malaikat yang bertugas mencabut nyawa; Allah Ta’ala berfirman: “Hingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan mereka tidak melalaikan tugasnya” (QS. Al-An’am: 61), dan Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Malaikat maut yang diserahi untuk mencabut nyawamu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan'” (QS. As-Sajdah: 11); maka malaikat maut memiliki pembantu-pembantu dari kalangan malaikat yang mengeluarkan ruh hamba dari tubuhnya hingga sampai ke tenggorokan; lalu malaikat maut mengambilnya.

Dan yang dimaksudkan adalah: bahwa Allah menugaskan pada alam atas dan alam bawah malaikat-malaikat yang mengatur urusan keduanya dengan izin, perintah dan kehendak-Nya – Subhanahu wa Ta’ala; sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-Nya” (QS. Al-Anbiya: 27), dan firman-Nya: “yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim: 6).

Karena itulah Allah – Subhanahu – menisbatkan pengaturan kepada malaikat terkadang karena mereka yang melaksanakannya langsung; seperti firman Allah Ta’ala: “Dan (malaikat-malaikat) yang mengatur urusan (dunia)” (QS. An-Nazi’at: 5), dan menisbatkan pengaturan kepada-Nya terkadang; seperti firman-Nya: “Dia mengatur urusan” (QS. Yunus: 3).

Maka malaikat-malaikat adalah utusan Allah dalam ciptaan dan perintah-Nya.

Dan nama malak (malaikat) mengandung makna bahwa dia adalah utusan; karena berasal dari kata al-ulukah yang bermakna utusan, dan Allah Ta’ala berfirman: “Yang menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat” (QS. Fathir: 1), dan Allah Ta’ala berfirman: “Demi (malaikat-malaikat) yang diutus untuk kebaikan” (QS. Al-Mursalat: 1); maka mereka adalah utusan Allah dalam melaksanakan perintah-Nya yang kauniyah (takdir) yang dengannya Dia mengatur langit dan bumi.

Dan mereka adalah utusan-Nya dalam mengatur perintah-Nya yang diniyah (agama) yang diturunkan kepada para rasul dari kalangan manusia; Allah Ta’ala berfirman: “Dia menurunkan malaikat-malaikat dengan membawa wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, (dengan berfirman): ‘Berikanlah peringatan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka bertakwalah kepada-Ku'” (QS. An-Nahl: 2), dan Allah Ta’ala berfirman: “Allah memilih utusan-utusan dari malaikat dan dari manusia” (QS. Al-Hajj: 75). Dan yang paling agung di antara mereka adalah Jibril ‘alaihis salam, dan dia adalah penjaga wahyu; sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas” (QS. Asy-Syu’ara: 192-195), dan Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar'” (QS. An-Nahl: 102).

Dan Allah telah memberikan kepada malaikat kemampuan untuk berubah bentuk dalam berbagai bentuk; mereka telah datang kepada Ibrahim dan Luth ‘alaihimas salam dalam bentuk tamu, dan Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai sifat; terkadang datang dalam bentuk Dihyah Al-Kalbi, terkadang dalam bentuk orang Arab badui, dan terkadang dalam bentuknya yang asli sebagaimana dia diciptakan, dan hal ini terjadi darinya dua kali, hal itu karena manusia tidak mampu melihat malaikat dalam bentuk aslinya, dan ketika orang-orang musyrik mengusulkan agar Allah mengutus kepada mereka seorang malaikat; Allah Ta’ala berfirman: “Dan kalau Kami turunkan malaikat kepada mereka, tentulah telah selesai urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh lagi. Dan kalau Kami jadikan dia seorang malaikat, tentulah Kami jadikan dia (berwujud) laki-laki dan tentulah Kami meragu-ragukan kepada mereka apa yang mereka ragu-ragukan (sendiri)” (QS. Al-An’am: 8-9); artinya: seandainya Kami mengutus kepada manusia seorang rasul malaikat dalam bentuk laki-laki; agar mereka dapat berbicara dengannya dan mengambil manfaat darinya; karena setiap jenis merasa akrab dengan jenisnya, dan menjauh dari selain jenisnya.

Demikian dan dengan pertolongan Allah.

 

 

ASAS KETIGA: IMAN KEPADA KITAB-KITAB

 

Iman kepada kitab-kitab Ilahi adalah salah satu asas iman dan rukunnya, dan iman kepadanya adalah pembenaran yang pasti bahwa kitab-kitab itu benar dan jujur, dan bahwa itu adalah kalam Allah ‘azza wa jalla yang di dalamnya terdapat petunjuk, cahaya dan kecukupan bagi mereka yang diturunkan kepada mereka; kita beriman kepada yang disebutkan Allah di antaranya – yaitu Al-Qur’an, Taurat, Injil dan Zabur – dan yang tidak disebutkan di antaranya; karena Allah memiliki kitab-kitab yang tidak diketahui kecuali oleh-Nya Subhanahu.

Dan penurunan kitab-kitab adalah dari rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya karena kebutuhan manusia kepadanya; karena akal manusia terbatas, tidak dapat memahami detail-detail manfaat dan mudarat, meskipun secara umum dapat memahami perbedaan antara yang berbahaya dan yang bermanfaat, dan akal manusia – juga – dikuasai oleh syahwat, dan dimainkan oleh tujuan-tujuan dan hawa nafsu, maka seandainya manusia diserahkan kepada akal mereka yang lemah; niscaya mereka akan sesat dan tersesat.

Maka hikmah dan rahmat Allah menghendaki untuk menurunkan kitab-kitab ini kepada orang-orang pilihan dari para rasul-Nya; agar mereka menjelaskan kepada manusia apa yang ditunjukkan oleh kitab-kitab ini, dan apa yang dikandungnya dari hukum-hukum-Nya yang adil dan wasiat-wasiat-Nya yang bermanfaat serta perintah dan larangan-Nya yang menjamin perbaikan umat manusia.

Allah Ta’ala berfirman ketika menurunkan Adam bapak manusia dari surga: “Jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. Al-Baqarah: 38), dan Allah Ta’ala berfirman: “Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barang siapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. Al-A’raf: 35).

Dan manusia terbagi menjadi tiga golongan terhadap kitab-kitab samawi:

Golongan yang mendustakan semuanya, yaitu musuh-musuh rasul dari kalangan kafir, musyrik dan filosof.

Dan golongan yang beriman kepada semuanya, yaitu orang-orang beriman yang beriman kepada semua rasul dan apa yang diturunkan kepada mereka; sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya” (QS. Al-Baqarah: 285).

Dan golongan yang beriman kepada sebagian kitab dan kafir terhadap sebagiannya, yaitu Yahudi dan Nashrani serta orang yang mengikuti jalan mereka, yang berkata: “Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan mereka kafir terhadap apa yang sesudahnya, padahal Al Quran itu adalah kebenaran yang membenarkan apa yang ada pada mereka” (QS. Al-Baqarah: 91), bahkan mereka beriman kepada sebagian kitab mereka dan kafir terhadap sebagiannya; sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang mereka: “Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat” (QS. Al-Baqarah: 85).

Dan tidak diragukan bahwa iman kepada sebagian kitab atau sebagian kitab-kitab dan kafir terhadap sebagian yang lain adalah kafir terhadap semuanya; karena harus beriman kepada semua kitab samawi dan semua rasul; karena iman harus bersatu menyeluruh, tidak ada pemisahan di dalamnya, tidak parsial dan tidak berbeda, dan Allah Ta’ala mencela orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih dalam kitab; sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang Al Kitab itu benar-benar dalam pertentangan yang jauh” (QS. Al-Baqarah: 176).

Dan sebab kekafiran orang yang kafir terhadap kitab-kitab atau kafir terhadap sebagiannya atau sebagian dari satu kitab adalah mengikuti hawa nafsu dan dugaan-dugaan palsu, dan anggapan mereka bahwa mereka memiliki akal, pendapat dan qiyas akal, dan mereka menyebut diri mereka dengan sebutan para hakeem dan filosof, dan mereka mengolok-olok para rasul dan pengikut mereka, serta menggambarkan mereka dengan kebodohan; sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka bergembira dengan ilmu yang ada pada mereka, dan mereka dikepung oleh azab yang dahulu mereka selalu memperolok-olokkannya” (QS. Ghafir: 83). Adapun para pengikut rasul; maka mereka beriman kepada setiap kitab yang diturunkan Allah, tidak membeda-bedakan di antara kitab-kitab tersebut.

Dan iman kepada kitab-kitab terdahulu adalah iman ijmali (global), yaitu dengan mengakuinya dengan hati dan lisan, adapun iman kepada Al-Qur’an; maka itu adalah iman tafsili (rinci), yaitu dengan mengakuinya dengan hati dan lisan, mengikuti apa yang ada di dalamnya, menjadikannya sebagai hukum dalam setiap perkara besar dan kecil, dan beriman bahwa itu adalah kalam Allah, yang diturunkan bukan makhluk, dari-Nya dimulai dan kepada-Nya dikembalikan.

Dan hikmah Allah menghendaki agar kitab-kitab terdahulu untuk masa-masa tertentu dan waktu-waktu yang terbatas, dan menyerahkan penjagaannya kepada orang-orang yang diminta menjaganya dari kalangan manusia; sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Kami menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya” (QS. Al-Maidah: 44).

Adapun Al-Qur’an Al-Karim; maka Allah menurunkannya untuk semua generasi dari umat-umat di semua negara hingga hari kiamat, dan Dia sendiri yang menjaga peliharaannya; karena fungsi kitab ini tidak berakhir kecuali dengan berakhirnya kehidupan manusia di bumi; Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS. Al-Hijr: 9), dan Allah Ta’ala berfirman: “Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji” (QS. Fussilat: 42).

Dan wajib menjadikan Al-Qur’an ini sebagai hukum dalam semua perselisihan, dan wajib mengembalikan semua pertengkaran kepadanya, dan Allah menjadikan berhukum kepada selain kitab-Nya sebagai berhukum kepada thaghut; Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu” (QS. An-Nisa: 60), dan “thaghut”: fa’lut dari tughyan, yaitu melampaui batas.

Dan Allah mencela orang-orang yang mengaku beriman kepada semua kitab, padahal mereka meninggalkan berhukum kepada kitab dan sunnah, dan mereka berhukum kepada sebagian thaghut, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Dan tidaklah suatu kaum berhukum dengan selain yang diturunkan Allah; melainkan terjadi permusuhan di antara mereka”, dan ini adalah sebab terbesar perubahan negara dan timbulnya fitnah serta permusuhan antar bangsa; karena iman kepada kitab mewajibkan berhukum kepadanya, maka barang siapa yang mengaku beriman kepada kitab padahal dia berhukum kepada selainnya; maka dia bertentangan dalam klaimnya, dan kitab tidak dapat dipecah-pecah; maka wajib menerapkannya seluruhnya, dan mengamalkannya seluruhnya, dalam semua bidang; dalam akidah, ibadah, muamalah, dalam urusan pribadi, jinayah, hudud, dan dalam adab serta akhlak.

Allah Ta’ala berfirman: “Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (QS. Al-Maidah: 44), “Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim” (QS. Al-Maidah: 45), “Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik” (QS. Al-Maidah: 47), dan Allah Ta’ala berfirman: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (QS. An-Nisa: 65).

Maka Dia menafikan iman dengan sumpah dari orang yang tidak menjadikan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hakim dalam sumber-sumber perselisihan, dengan lapang dada, dan tunduk kepada hukum Allah, sebagaimana Dia menggambarkan orang yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah dengan kekafiran, kezaliman dan kefasikan, adapun iman, keadilan dan keadilan; maka celakalah kaum yang mengganti kitab Allah dengan undang-undang buatan manusia yang thaghut, padahal mereka mengaku beriman; maka tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

 

 

ASAS KEEMPAT: IMAN KEPADA PARA RASUL

 

Pendahuluan

Iman kepada para rasul adalah salah satu asas iman; karena mereka adalah perantara antara Allah dan makhluk-Nya dalam menyampaikan risalah-Nya dan menegakkan hujjah-Nya atas makhluk-Nya, dan iman kepada mereka berarti membenarkan risalah mereka dan mengakui kenabian mereka, dan bahwa mereka benar dalam apa yang mereka kabarkan tentang Allah, dan mereka telah menyampaikan risalah-risalah, serta menjelaskan kepada manusia apa yang tidak boleh seseorang jahil terhadapnya.

Dan dalil-dalil tentang wajibnya iman kepada para rasul banyak; di antaranya:

Firman Allah Ta’ala: “Tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi” (QS. Al-Baqarah: 177). Dan firman-Nya: “Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya” (QS. Al-Baqarah: 285).

Dan firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, serta berkata: ‘Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)’, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), mereka itulah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya” (QS. An-Nisa: 150-151).

Maka dalam ayat-ayat ini Allah menggandengkan iman kepada para rasul dengan iman kepada-Nya – Subhanahu – dan kepada malaikat-malaikat serta kitab-kitab-Nya, dan memutuskan kekafiran orang yang membeda-bedakan antara Allah dan rasul-rasul-Nya; maka beriman kepada sebagian dan kafir terhadap sebagian.

Pengutusan para rasul merupakan nikmat dari Allah bagi umat manusia, karena kebutuhan umat manusia kepada mereka adalah suatu keniscayaan. Tidak akan teratur keadaan mereka dan tidak akan lurus agama mereka kecuali dengan kehadiran para rasul. Mereka membutuhkan para rasul lebih daripada kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan para rasul sebagai perantara antara-Nya dengan makhluk-Nya dalam memperkenalkan Allah kepada mereka, apa yang bermanfaat dan apa yang membahayakan mereka, dalam merinci syariat-syariat, perintah, larangan, dan kebolehan, serta menjelaskan apa yang dicintai Allah dan apa yang dibenci-Nya. Tidak ada jalan untuk mengetahui hal-hal tersebut kecuali melalui para rasul, karena akal tidak dapat mengarahkan kepada rincian perkara-perkara ini, meskipun mungkin dapat memahami aspek kebutuhan terhadapnya secara umum.

Allah Ta’ala berfirman: “Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan” (QS. Al-Baqarah: 213).

Kebutuhan para hamba kepada risalah-risalah jauh lebih besar daripada kebutuhan orang sakit kepada dokter. Sebab, paling buruk yang terjadi karena tidak adanya dokter adalah kerusakan pada tubuh, sedangkan yang terjadi karena tidak adanya risalah adalah kerusakan pada hati. Tidak ada kelangsungan hidup bagi penduduk bumi kecuali selama bekas-bekas risalah masih ada pada mereka. Apabila bekas-bekas risalah telah hilang dari bumi, maka Allah akan menegakkan hari kiamat.

Para rasul yang disebutkan nama-nama mereka oleh Allah dalam Al-Quran wajib diimani secara khusus, dan mereka berjumlah dua puluh lima orang. Di antaranya delapan belas orang disebutkan Allah Ta’ala dalam firman-Nya: “Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya…” hingga firman-Nya: “Dan masing-masing telah Kami lebihkan atas sekalian alam” (QS. Al-An’am: 83-86). Sedangkan sisanya yang tujuh orang disebutkan dalam ayat-ayat yang terpisah.

Adapun rasul yang tidak disebutkan namanya dalam Al-Quran, maka wajib beriman kepadanya secara global. Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu” (QS. Ghafir: 78). Dan Allah berfirman: “Dan rasul-rasul yang sungguh telah Kami ceritakan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami ceritakan tentang mereka kepadamu” (QS. An-Nisa: 164).

Di sini ada masalah yang perlu penjelasan, yaitu perbedaan antara nabi dan rasul. Perbedaan antara nabi dan rasul menurut pendapat yang masyhur adalah: rasul adalah laki-laki yang diwahyui kepadanya dengan syariat dan diperintahkan untuk menyampaikannya, sedangkan nabi adalah laki-laki yang diwahyui kepadanya dengan syariat tetapi tidak diperintahkan untuk menyampaikannya. Baik nabi maupun rasul sama-sama menerima wahyu, tetapi nabi mungkin diutus kepada kaum yang beriman dengan syariat-syariat sebelumnya seperti nabi-nabi Bani Israil yang menyuruh dengan syariat Taurat. Mungkin juga diwahyukan kepada salah seorang dari mereka wahyu khusus dalam perkara tertentu. Adapun para rasul, mereka diutus kepada kaum kafir untuk menyeru mereka kepada tauhid Allah dan beribadah kepada-Nya. Mereka diutus kepada orang-orang yang menentang, sehingga sebagian dari mereka mendustakan mereka. Rasul lebih utama daripada nabi.

Para rasul saling berbeda keutamaan. Allah Ta’ala berfirman: “Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (mereka) atas sebagian yang lain” (QS. Al-Baqarah: 253).

Yang paling utama di antara para rasul adalah Ulul Azmi, dan mereka lima orang: Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad alaihimus shalatu was salam. Mereka disebutkan dalam firman Allah Ta’ala: “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh” (QS. Al-Ahzab: 7). Dan firman-Nya: “Dia telah mensyariatkan bagi kamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa” (QS. Asy-Syura: 13).

Yang paling utama di antara Ulul Azmi adalah dua khalil: Ibrahim dan Muhammad alaihimas shalatu was salam, dan yang paling utama di antara kedua khalil adalah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Demikianlah, kenabian adalah keutamaan dan pilihan dari Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya: “Allah memilih utusan-utusan dari malaikat dan dari manusia” (QS. Al-Hajj: 75). Kenabian bukanlah usaha yang dapat diraih hamba dengan kesungguhan, ijtihad, memaksakan berbagai macam ibadah, menerjang ketaatan yang paling berat, tekun dalam mendidik jiwa, membersihkan pikiran, menyucikan akhlak, dan melatih jiwa, sebagaimana yang dikatakan para filosof bahwa kenabian dapat diperoleh dengan usaha. Mereka mengklaim bahwa siapa yang terus-menerus melakukan musyahadah (penyaksian spiritual) setelah kesempurnaan lahir dan batinnya dengan pendidikan dan latihan, maka cermin batinnya akan bersih, mata batin hatinya akan terbuka, dan akan terhidang baginya apa yang tidak terhidang bagi selainnya.

Menurut para filosof, kenabian memiliki tiga ciri khas: Pertama: Kekuatan ilmiah, yaitu memperoleh ilmu tanpa belajar, melainkan melalui jalan kekuatan. Kedua: Kekuatan imajinasi, sehingga dapat membayangkan dalam dirinya bentuk-bentuk cahaya yang berbicara dengannya dan mendengar pembicaraan darinya. Ketiga: Kekuatan mempengaruhi manusia, yang mereka sebut sebagai tasharruf (penguasaan) terhadap materi alam.

Menurut mereka, sifat-sifat ini dapat diperoleh dengan usaha.

Karena itu, sebagian kaum sufi berusaha mencari kenabian, karena menurut mereka kenabian adalah salah satu profesi. Ini adalah pendapat yang batil yang ditolak oleh firman Allah Ta’ala: “Mereka berkata: ‘Kami sekali-kali tidak akan beriman hingga kami diberi (kitab) seperti apa yang diberikan kepada utusan-utusan Allah.’ Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya” (QS. Al-An’am: 124). Dan firman-Nya: “Allah memilih utusan-utusan dari malaikat dan dari manusia” (QS. Al-Hajj: 75).

Maka kenabian adalah pilihan dari Allah sesuai dengan hikmah dan pengetahuan-Nya tentang siapa yang layak untuknya, bukan usaha dari pihak hamba.

Benar bahwa para nabi alaihimus shalatu was salam dikhususkan dengan keutamaan-keutamaan yang membedakan mereka dari selain mereka, tetapi bukan sebagaimana yang dikatakan para filosof yang sesat.

Dalil-Dalil Kenabian:

Dalil-dalil kenabian adalah bukti-bukti yang dengannya dapat dikenali kenabian nabi yang benar, dan dapat dikenali pula kedustaan orang yang mengaku nabi dari para pendusta yang menyatakan diri sebagai nabi, karena ini adalah topik yang sangat penting. Dalil-dalil kenabian sangat banyak, beragam, dan tidak terbatas.

Di antaranya adalah mu’jizat, yaitu isim fa’il dari kata ‘ajz yang berlawanan dengan qudrah (kemampuan).

Dalam “Al-Qamus”: mu’jizat nabi adalah sesuatu yang dengannya ia melemahkan lawan ketika menantang, dan huruf ha’ di dalamnya untuk mubalaghah (penekanan). Mu’jizat adalah perkara yang melanggar kebiasaan, yang Allah jalankan melalui tangan orang yang dipilih-Nya untuk kenabian, untuk menunjukkan kebenaran dan sahnya risalahnya.

Mu’jizat para rasul alaihimus shalatu was salam sangat banyak. Di antaranya adalah unta yang diberikan kepada Shalih alaihis salam sebagai hujah atas kaumnya, mengubah tongkat menjadi ular sebagai ayat bagi Musa alaihis salam, menyembuhkan orang buta sejak lahir dan penderita belang serta menghidupkan orang mati sebagai ayat bagi Isa alaihis salam. Di antaranya juga mu’jizat nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang sangat banyak, yang terbesar adalah Al-Quran Al-Karim, dan ini adalah mu’jizat yang kekal, yang dengannya Allah menantang jin dan manusia. Di antaranya juga Isra’ dan Mi’raj, terbelahnya bulan, tasbih kerikil di telapak tangannya alaihis shalatu was salam, merindukannya batang pohon kurma kepadanya, dan memberitahu tentang peristiwa-peristiwa masa depan dan masa lalu.

Dalil-dalil kenabian tidak terbatas pada mu’jizat sebagaimana yang dikatakan ahli kalam, melainkan sangat banyak dan beragam.

Di antaranya: memberitahu umat-umat tentang apa yang akan terjadi berupa kemenangan mereka dan kekalahan musuh-musuh mereka serta bahwa akibat baik akan menjadi milik mereka, maka terjadilah sebagaimana yang mereka beritakan tanpa ada yang meleset, sebagaimana yang terjadi pada Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, Ibrahim, Luth, Musa, dan nabi kita Muhammad shalawaatullahi wa salamuhu alaihim ajma’in, dari apa yang Allah kisahkan dalam kitab-Nya.

Di antaranya: bahwa apa yang mereka bawa berupa syariat-syariat dan berita-berita dalam keadaan sangat rapi dan sempurna, mengungkap hakikat-hakikat dan memberi petunjuk kepada makhluk, yang secara pasti diketahui bahwa yang seperti itu tidak mungkin keluar kecuali dari orang yang paling berilmu dan paling berbakti.

Di antaranya: bahwa Allah mendukung mereka dengan dukungan yang berkesinambungan. Telah diketahui dari sunnatullah bahwa Dia tidak mendukung pendusta dengan dukungan seperti yang diberikan kepada orang yang jujur. Bahkan, pendusta pasti akan terbongkar, meskipun Allah mungkin memberikan tempo kepadanya kemudian membinasakan mereka.

Di antaranya: bahwa jalan mereka adalah satu dalam hal yang mereka perintahkan berupa ibadah kepada Allah, mengamalkan ketaatan kepada-Nya, membenarkan hari akhir, dan beriman kepada semua kitab dan rasul. Tidak mungkin salah seorang dari mereka keluar dari apa yang mereka sepakati. Mereka yang datang kemudian membenarkan yang terdahulu, dan yang terdahulu memberi kabar gembira tentang yang datang kemudian, sebagaimana Al-Masih dan orang-orang sebelumnya memberi kabar gembira tentang Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, dan sebagaimana Muhammad shallallahu alaihi wa sallam membenarkan semua nabi sebelumnya.

Di antara dalil kenabian adalah dukungan Allah kepada para nabi. Telah diketahui dari sunnatullah dan kebiasaan-Nya bahwa Dia tidak mendukung pendusta dengan dukungan seperti yang diberikan kepada orang jujur. Bahkan Dia mempermalukan pendusta dan tidak menolongnya, bahkan pasti membinasakan mereka. Jika Dia menolong raja yang zalim, maka dia tidak mengaku nabi dan tidak berdusta atas nama Allah, melainkan dia adalah zalim yang Allah kuasakan atas zalim seperti dirinya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang zalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan” (QS. Al-An’am: 129). Berbeda dengan orang yang berkata bahwa Allah mengutusnya padahal dia pendusta, maka orang ini tidak akan didukung Allah dengan dukungan yang berkesinambungan, tetapi diberi tempo sebentar kemudian dibinasakan.

Membedakan antara yang jujur dan pendusta memiliki banyak cara dalam hal yang lebih rendah dari pengakuan kenabian, apalagi dengan pengakuan kenabian! Diketahui bahwa orang yang mengaku risalah pasti termasuk makhluk yang paling utama dan paling sempurna, atau termasuk makhluk yang paling kurang. Karena itu, salah seorang pembesar suku Tsaqif berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika beliau menyampaikan dan menyeru mereka kepada Islam: “Demi Allah, aku tidak akan mengucapkan satu kata pun kepadamu. Jika engkau benar, maka engkau terlalu mulia di mataku untuk aku bantah. Dan jika engkau pendusta, maka engkau terlalu hina untuk aku bantah.” Bagaimana mungkin yang paling utama dan sempurna di antara makhluk akan tertukar dengan yang paling kurang dan paling rendah di antara makhluk?

Tidak ada seorang pun yang mengaku nabi dari orang-orang yang jujur kecuali telah tampak padanya ilmu, kejujuran, kebajikan, dan berbagai macam kebaikan yang tampak bagi orang yang memiliki sedikit saja kemampuan membedakan. Karena rasul pasti memberitahu manusia tentang berbagai perkara, memerintahkan mereka dengan berbagai perkara, dan pasti melakukan berbagai perkara. Pendusta akan tampak dari apa yang diperintahkan, diberitakan, dan dilakukannya hal-hal yang menunjukkan kedustaannya dari berbagai segi.

Demikianlah, mungkin ada yang bertanya tentang perbedaan antara dalil-dalil kenabian dengan keajaiban para penyihir dan dukun, serta keajaiban penemuan-penemuan yang muncul hari ini.

Jawabannya: terdapat banyak perbedaan antara dalil-dalil kenabian dengan keajaiban para penyihir, dukun, dan penemuan-penemuan industri:

Di antaranya: bahwa berita-berita para nabi tidak terjadi kemelencengan dan kesalahan di dalamnya, berbeda dengan berita-berita dukun dan peramal yang kebanyakan adalah dusta, meskipun kadang-kadang mereka benar dalam beberapa hal karena apa yang diperoleh dukun dari pencurian pendengaran setan-setan mereka.

Di antaranya: bahwa sihir, perdukunan, dan penemuan adalah perkara-perkara biasa yang dikenal, yang dapat diperoleh manusia dengan usaha dan pembelajarannya. Hal-hal ini tidak keluar dari kemampuan jin dan manusia, dan dapat dilawan dengan yang serupa, berbeda dengan ayat-ayat para nabi yang tidak dapat dilakukan oleh jin dan manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain'” (QS. Al-Isra: 88). Ayat-ayat para nabi tidak dapat dilakukan oleh makhluk, melainkan Allah yang melakukannya sebagai ayat dan tanda atas kebenaran mereka, seperti terbelahnya bulan, berubahnya tongkat menjadi ular, tasbih kerikil dengan suara yang terdengar, merindukannya batang pohon kurma, dan memperbanyak air dan makanan yang sedikit. Semua ini tidak dapat dilakukan kecuali oleh Allah.

Di antaranya: bahwa para nabi adalah orang-orang beriman dan muslim yang beribadah kepada Allah saja dengan apa yang diperintahkan-Nya, dan membenarkan semua yang dibawa para nabi. Adapun para penyihir, dukun, dan pendusta yang mengaku nabi, mereka pasti musyrik yang mendustakan sebagian dari apa yang diturunkan Allah.

Di antaranya: bahwa fitrah dan akal sesuai dengan apa yang dibawa para nabi alaihimus salam. Adapun para penyihir, dukun, dajjal, dan pendusta, mereka menyelisihi dalil-dalil sam’iyyah (yang didengar), aqliyyah (akal), dan fithriyyah (fitrah).

Di antaranya: bahwa para nabi datang dengan apa yang menyempurnakan fitrah dan akal, sedangkan para penyihir, dukun, dan pendusta datang dengan apa yang merusak akal dan fitrah.

Di antaranya: bahwa mu’jizat para nabi tidak terjadi dengan perbuatan mereka sendiri, melainkan Allah Azza wa Jalla yang melakukannya sebagai ayat dan tanda bagi mereka, seperti terbelahnya bulan, berubahnya tongkat menjadi ular, datangnya Al-Quran, dan memberitahu tentang ghaib yang khusus milik Allah. Maka urusan ayat-ayat kepada Allah, bukan kepada pilihan makhluk, sebagaimana Allah berfirman kepada nabi-Nya ketika mereka meminta darinya untuk mendatangkan ayat: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya ayat-ayat itu hanya di sisi Allah dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan'” (QS. Al-Ankabut: 50). Adapun keajaiban para penyihir, dukun, dan penemuan-penemuan industri, hal-hal itu terjadi dengan perbuatan makhluk.

Perbedaan antara ayat-ayat para nabi dengan keajaiban dukun sangat banyak dan jelas. Siapa yang ingin mengetahui lebih banyak, hendaknya merujuk kepada kitab “An-Nubuwwat” karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

Mukjizat Al-Quran

Sesungguhnya mukjizat terbesar Nabi kita Muhammad adalah Al-Quran yang agung, karena setiap nabi memiliki mukjizat yang sesuai dengan keadaan kaumnya. Oleh karena itu, ketika sihir sedang menyebar luas di kalangan kaum Fir’aun, Musa datang dengan tongkat yang berupa seperti apa yang dibuat oleh para penyihir, namun tongkatnya menelan apa yang mereka buat. Mereka pun tercengang, terkejut, dan mengetahui bahwa apa yang dibawa Musa adalah kebenaran, bukan sihir, sebagaimana firman Allah: “Maka tersungkurlah para penyihir dengan bersujud, mereka berkata: ‘Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, Tuhannya Musa dan Harun.'” (Surat Asy-Syu’ara: 46-48). Hal seperti itu tidak terjadi secara khusus pada Musa. Ketika pada zaman Isa hidup, kedokteran sedang berkembang pesat, maka Al-Masih datang dengan sesuatu yang membuat para dokter tercengang, yaitu menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta sejak lahir dan penderita kusta dari penyakit yang sulit dan buruk, serta menciptakan dari tanah liat berupa burung dengan izin Allah. Akal para dokter pun terheran-heran dan mereka mengakui bahwa hal itu dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia.

Ketika bangsa Arab adalah ahli kefasihan dan kebahasaan serta penunggang kuda dalam berbicara dan berkhutbah, Allah menjadikan mukjizat Nabi kita Muhammad adalah Al-Quran yang mulia yang “tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji” (Surat Fussilat: 42). Al-Quran adalah mukjizat yang kekal dan abadi sepanjang masa. Allah memilih mukjizat yang menakjubkan ini untuk penutup risalah-risalah samawi yang berlaku umum untuk seluruh umat manusia.

Al-Quran adalah mukjizat yang dapat dilihat oleh generasi-generasi di setiap zaman dan mereka membacanya, sehingga mereka mengetahui bahwa ia benar-benar firman Allah, bukan perkataan manusia. Allah telah menantang manusia dan jin untuk datang dengan yang serupa dengannya, atau sepuluh surat darinya, atau satu surat darinya. Tidak seorang pun dari mereka mampu sejak diutusnya Muhammad hingga masa kita ini, dan hingga selamanya, untuk datang dengan kitab yang sepertinya atau seperti satu surat darinya, meskipun ada banyak musuh Rasul dan agama Islam sepanjang sejarah.

Allah berfirman: “Dan jika kamu dalam keraguan tentang apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka datangkanlah satu surat yang semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya) – maka peliharalah dirimu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (Surat Al-Baqarah: 23-24). Tantangan itu masih berlangsung hingga hari kiamat dalam firman-Nya: “dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya).”

Dan Allah berfirman: “Ataukah mereka mengatakan: ‘Dia (Muhammad) mengada-adakan Al-Quran itu?’ Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al-Quran itu jika mereka orang-orang yang benar.” (Surat At-Tur: 33).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Tantangan ini terjadi di Mekah, karena Surat Yunus, Hud, dan At-Tur termasuk surat Makkiyah. Kemudian tantangan itu diulangi di Madinah setelah hijrah, sebagaimana firman-Nya dalam Surat Al-Baqarah (23-24) yang merupakan surat Madaniyah: ‘Dan jika kamu dalam keraguan tentang apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka datangkanlah satu surat yang semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya) – maka peliharalah dirimu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.’ Dalam ayat ini disebutkan dua hal:

Pertama: firman-Nya ‘Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya) – maka peliharalah dirimu dari api neraka.’ Maksudnya: jika kalian tidak dapat melakukannya, berarti kalian telah mengetahui bahwa Al-Quran itu benar, maka takutlah untuk mendustakannya karena akan menimpa kalian azab yang telah dijanjikan untuk para pendusta.

Kedua: firman-Nya ‘dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya).’ Kata ‘lan’ (tidak akan) untuk menafikan masa depan, sehingga terbukti bahwa mereka di masa yang akan datang tidak akan dapat datang dengan satu surat yang semisal dengannya, sebagaimana telah diberitakan.”

Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk berkata dalam Surat Subhan (Al-Isra) yang merupakan surat Makkiyah, yang dibuka dengan menyebutkan Isra yang terjadi di Mekah berdasarkan nash Al-Quran dan berita mutawatir: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.'” (Surat Al-Isra: 88). Allah memerintahkan Nabi untuk memberitahukan kepada seluruh makhluk sambil menantang mereka, dengan menegaskan bahwa jika mereka semua berkumpul, mereka tidak akan dapat datang dengan yang serupa Al-Quran ini meskipun mereka saling membantu dan bekerja sama untuk itu. Ini adalah tantangan untuk seluruh makhluk.

Setiap orang yang mendengar Al-Quran dan mengenalnya, baik khusus maupun umum, mengetahui bahwa mereka tidak dapat menandinginya dan tidak dapat datang dengan satu surat yang semisal dengannya, dari sejak Muhammad diutus hingga hari ini dan seterusnya. Padahal diketahui bahwa semua makhluk adalah kafir sebelum Muhammad diutus, dan ketika dia diutus hanya sedikit yang mengikutinya. Para kafir adalah orang-orang yang paling bersemangat untuk membatalkan perkataannya, mereka berusaha dengan segala cara yang mungkin. Terkadang mereka pergi kepada Ahli Kitab untuk menanyakan hal-hal gaib agar mereka dapat menanyakannya kepada Muhammad, seperti ketika mereka menanyakan kisah Yusuf, Ashabul Kahfi, dan Dzulqarnain. Mereka berkumpul dalam berbagai pertemuan untuk menyepakati apa yang akan mereka katakan tentang Muhammad. Mereka membuat perumpamaan-perumpamaan untuk Muhammad dengan menyamakannya dengan orang yang tidak seperti dia, meskipun perbedaannya jelas. Terkadang mereka berkata: “Dia gila,” terkadang: “Dia tukang sihir, dukun, dan penyair,” dan sebagainya dari perkataan-perkataan yang mereka sendiri dan orang lain yang berakal sehat mengetahui bahwa itu adalah kebohongan terhadapnya.

Jika Muhammad telah menantang mereka dengan perlawanan berulang kali, dan tantangan itu membatalkan klaim mereka, maka diketahui bahwa seandainya mereka mampu melakukannya, pasti mereka akan melakukannya. Karena dengan adanya dorongan yang kuat ini, jika kemampuan ada, maka yang mungkin dilakukan pasti akan terjadi. Demikian pula halnya dengan seluruh penduduk bumi. Ini menunjukkan pengetahuan yang jelas bagi setiap orang tentang ketidakmampuan seluruh penduduk bumi untuk datang dengan yang serupa Al-Quran ini, baik dengan tipu daya maupun tanpa tipu daya. Ini lebih menakjubkan daripada mukjizat-mukjizat yang jenisnya berulang seperti menghidupkan orang mati, karena ini tidak pernah ada yang datang dengan yang serupa.

Keberanian Muhammad di awal dakwahnya untuk melakukan tantangan ini ketika dia di Mekah dan pengikutnya sedikit, dengan berkata dengan yakin bahwa seandainya manusia dan jin berkumpul untuk datang dengan yang serupa Al-Quran ini, mereka tidak akan dapat datang dengan yang serupa dengannya di masa itu dan di masa-masa selanjutnya, hal ini hanya dapat terjadi dengan keyakinannya yang pasti, karena dengan keraguan dan prasangka, orang yang takut bohongnya terbongkar dan menjadi malu sehingga orang-orang berpaling dari membenarkannya tidak akan berkata demikian. Jika dia yakin dan pasti akan hal itu, maka itu hanya karena Allah memberitahukan hal itu kepadanya. Tidak ada dalam pengetahuan yang biasa bahwa seseorang mengetahui seluruh makhluk tidak mampu datang dengan yang serupa perkataannya, kecuali jika dia mengetahui bahwa perkataannya di luar kemampuan manusia. Pengetahuan akan hal ini mengharuskan bahwa perkataan itu adalah mukjizat.

Al-Quran yang mulia adalah mukjizat dari berbagai segi: dari segi lafaz, dari segi susunan, dari segi kebahasaan dalam menunjukkan lafaz pada makna, dari segi makna-makna yang diperintahkannya, dari segi makna-makna yang diberitakannya tentang Allah dan nama-nama serta sifat-sifat-Nya, malaikat-malaikat-Nya dan lain sebagainya, dari segi makna-makna yang diberitakannya tentang gaib masa depan dan gaib masa lalu, dari segi apa yang diberitakannya tentang hari akhir, dan dari segi dalil-dalil yang pasti yang dijelaskannya.

Ketidakberdosaan Para Nabi

Ketidakberdosaan (Al-‘Ismah) artinya perlindungan, dan yang melindungi (Al-‘Ashim) adalah yang mencegah dan memelihara. Berpegang teguh (Al-I’tisham) adalah berpegang pada sesuatu. Yang dimaksud dengan ketidakberdosaan di sini adalah perlindungan Allah kepada para nabi-Nya dari dosa dan kemaksiatan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan sambil menceritakan perbedaan pendapat dan menjelaskan yang lebih kuat dalam masalah ini: “Para nabi terjaga dari kesalahan dalam apa yang mereka beritakan tentang Allah dan dalam menyampaikan risalah-Nya berdasarkan kesepakatan umat. Oleh karena itu, wajib beriman kepada semua yang mereka bawa, sebagaimana firman Allah: ‘Katakanlah (hai orang-orang mukmin): Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yakub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun dari mereka dan kami hanya tunduk kepada-Nya. Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu imani, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, maka sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan. Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.'” (Surat Al-Baqarah: 136-137)

Dan firman-Nya: “Tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi.” (Surat Al-Baqarah: 177)

Dan firman-Nya: “Rasul telah beriman kepada Al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya,’ dan mereka mengatakan: ‘Kami dengar dan kami taat. (Mohonkanlah) ampunan-Mu ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.'” (Surat Al-Baqarah: 285)

Ibnu Taimiyah berkata: “Ketidakberdosaan yang tetap bagi para nabi inilah yang menjadi tujuan kenabian dan risalah, karena nabi adalah orang yang memberitakan tentang Allah, dan rasul adalah orang yang diutus Allah. Setiap rasul adalah nabi, tetapi tidak setiap nabi adalah rasul. Ketidakberdosaan dalam apa yang mereka sampaikan tentang Allah adalah tetap, sehingga tidak ada kesalahan yang menetap dalam hal itu berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.”

Kemudian dia berkata: “Adapun ketidakberdosaan dalam hal yang tidak berkaitan dengan penyampaian risalah, maka orang-orang berbeda pendapat: apakah itu tetap berdasarkan akal atau berdasarkan dalil syar’i? Mereka berselisih tentang ketidakberdosaan dari dosa besar dan kecil atau sebagiannya. Apakah ketidakberdosaan itu dalam hal tetap melakukan dosa, bukan dalam melakukannya? Ataukah tidak wajib meyakini ketidakberdosaan kecuali dalam penyampaian saja? Apakah wajib ketidakberdosaan dari kekafiran dan dosa sebelum diutus atau tidak?

Pendapat yang dipegang oleh mayoritas orang dan sesuai dengan atsar yang dinukil dari salaf adalah menetapkan ketidakberdosaan dari tetap melakukan dosa secara mutlak, dan menolak orang yang berkata bahwa boleh bagi mereka tetap melakukan dosa. Dalil-dalil orang yang menyatakan ketidakberdosaan jika dikaji dengan teliti hanya menunjukkan pendapat ini, dan dalil-dalil penentang tidak menunjukkan terjadinya dosa yang ditetapkan pada para nabi.

Orang-orang yang meyakini ketidakberdosaan berargumen bahwa meneladani mereka hanya disyariatkan dalam hal yang mereka tetapkan, bukan dalam hal yang mereka dilarang dan mereka tinggalkan, sebagaimana perintah dan larangan, ketaatan kepada mereka hanya wajib dalam hal yang tidak dinasakh. Adapun yang dinasakh dari perintah dan larangan, tidak boleh dijadikan sebagai yang diperintahkan atau yang dilarang, apalagi wajib mengikuti dan menaatinya.

Demikian pula apa yang mereka jadikan dalil bahwa dosa-dosa bertentangan dengan kesempurnaan, atau bahwa dosa dari orang yang mendapat nikmat besar lebih buruk, atau bahwa dosa mengharuskan perubahan, atau dalil-dalil akal lainnya, hal ini hanya terjadi dengan tetap dalam keadaan itu dan tidak kembali (bertobat). Sebaliknya, tobat nasuha yang Allah terima, dengannya Allah mengangkat pelakunya ke derajat yang lebih tinggi dari sebelumnya, sebagaimana kata sebagian salaf: ‘Daud setelah tobat lebih baik daripada sebelum kesalahan.’ Yang lain berkata: ‘Seandainya tobat bukan hal yang paling dicintai Allah, niscaya Dia tidak akan menguji makhluk yang paling mulia di sisi-Nya dengan dosa.’ Telah tetap dalam hadis sahih tentang tobat: ‘Allah lebih gembira dengan tobat hamba-Nya daripada seorang laki-laki yang turun di suatu tempat…’ hadis.”

Kemudian dia berkata: “Dalam Al-Quran, Sunnah yang sahih, dan kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al-Quran, terdapat hal-hal yang mendukung pendapat ini yang sulit dihitung. Orang-orang yang menolak hal itu menta’wilkannya seperti ta’wil Jahmiyah, Qadariyah, dan Dahriyah terhadap nash-nash nama dan sifat, nash-nash takdir, dan nash-nash hari akhir. Ta’wil mereka sejenis dengan ta’wil Qaramithah Bathiniyah yang diketahui secara darurat kebatilannya dan termasuk mengubah kalimat dari tempatnya. Orang-orang ini bermaksud mengagungkan para nabi tetapi malah mendustakan mereka, ingin beriman kepada mereka tetapi malah kafir kepada mereka.

Kemudian, ketidakberdosaan yang diketahui dengan dalil syar’i, akal, dan ijma’ – yaitu ketidakberdosaan dalam penyampaian – mereka tidak mengambil manfaat darinya karena mereka tidak mengakui konsekuensi dari apa yang disampaikan para nabi. Mereka hanya mengakui lafaz yang telah mereka ubah maknanya atau mereka seperti orang-orang ummi yang tidak mengetahui kitab kecuali angan-angan. Ketidakberdosaan yang mereka klaim seandainya tetap, mereka tidak mengambil manfaat darinya dan tidak membutuhkannya menurut mereka, karena hal itu berkaitan dengan selain mereka, bukan dengan apa yang mereka diperintahkan untuk beriman kepadanya. Salah seorang dari mereka berbicara tentang para nabi tanpa wewenang dari Allah dan meninggalkan apa yang wajib atasnya yaitu membenarkan para nabi dan menaati mereka, padahal dengan itulah kebahagiaan diperoleh dan dengan kebalikannya terjadi kesengsaraan.”

Allah berfirman: “Maka sesungguhnya kewajiban rasul hanyalah menyampaikan dengan terang, dan kewajiban kamu hanyalah apa yang dipikulkan atasmu…” (Surat An-Nur: 54)

Allah tidak menyebutkan dalam Al-Quran sesuatu pun tentang nabi manapun kecuali disertai dengan tobat dan istighfar:

Seperti perkataan Adam dan istrinya: “Keduanya berkata: ‘Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.'” (Surat Al-A’raf: 23)

Perkataan Nuh: “Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.'” (Surat Hud: 47)

Perkataan Khalilullah (Ibrahim): “Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (Surat Ibrahim: 41) Dan perkataannya: “Dan yang aku mengharap akan mengampuni kesalahanku pada hari pembalasan.” (Surat Asy-Syu’ara: 82)

Perkataan Musa: “Engkau adalah Pelindung kami, maka ampunilah kami dan berilah rahmat kepada kami, dan Engkau adalah Pemberi ampun yang paling baik. Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertobat) kepada Engkau.” (Surat Al-A’raf: 155-156) Dan perkataannya: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.” (Surat Al-Qasas: 16) Dan perkataannya: “Maka tatkala Musa sadar kembali, dia berkata: ‘Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.'” (Surat Al-A’raf: 143)

Firman Allah tentang Daud: “Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertobat. Maka Kami ampuni kesalahan itu, dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.” (Surat Sad: 24-25)

Dan firman Allah Ta’ala tentang Sulaiman: “Dia berkata: ‘Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak layak bagi seorang pun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.'” (QS. Shad: 35)

Adapun Yusuf Ash-Shiddiq, Allah tidak menyebutkan dosa apa pun darinya. Oleh karena itu, Allah tidak menyebutkan tentang dirinya hal yang sesuai dengan dosa berupa istighfar. Sebaliknya, Allah berfirman: “Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan perbuatan keji. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 24) Allah mengabarkan bahwa Dia telah memalingkan kemungkaran dan perbuatan keji darinya. Ini menunjukkan bahwa tidak keluar darinya kemungkaran dan perbuatan keji apa pun.

Adapun firman Allah: “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya.” (QS. Yusuf: 24) Kata “ham” (bermaksud) adalah nama jenis yang mencakup dua macam, sebagaimana dikatakan Imam Ahmad: “Ham itu ada dua macam: ham khatarat (keinginan yang melintas) dan ham ishrar (keinginan yang disertai ketetapan hati).”

Telah terbukti dalam hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya seorang hamba apabila berniat melakukan kejahatan, maka tidak dicatat baginya. Jika dia meninggalkannya, maka dicatat baginya satu kebaikan. Jika dia melakukannya, maka dicatat baginya satu kejahatan. Jika dia meninggalkannya bukan karena Allah, maka tidak dicatat baginya kebaikan dan tidak dicatat pula kejahatan.”

Yusuf shallallahu ‘alaihi wa sallam berniat dengan niat yang ditinggalkannya karena Allah. Oleh karena itu, Allah memalingkan kemungkaran dan perbuatan keji darinya karena keikhlasannya. Hal itu hanya terjadi jika muncul faktor pendorong untuk berbuat dosa – yaitu niat – lalu dihadang oleh keikhlasan yang mewajibkan hati berpaling dari dosa karena Allah. Maka Yusuf ‘alaihis salaam tidak melakukan kecuali kebaikan yang dia diberi pahala karenanya. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka pun mengingat Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (QS. Al-A’raf: 201)

Hingga dia berkata: “Dengan ini menjadi jelas jawaban atas keraguan orang yang berkata: Sesungguhnya Allah tidak mengutus seorang nabi kecuali yang maksum sebelum kenabian, sebagaimana dikatakan oleh segolongan Rafidhah dan lainnya. Demikian pula orang yang berkata: Sesungguhnya Allah tidak mengutus seorang nabi kecuali yang beriman sebelum kenabian. Mereka ini mengira bahwa dosa-dosa itu menjadi aib meskipun pelakunya telah bertaubat, dan ini adalah sumber kesalahan mereka.

Siapa yang mengira bahwa pelaku dosa dengan taubat nasuha menjadi kurang (derajatnya), maka dia keliru dengan kesalahan yang besar. Sesungguhnya celaan dan hukuman yang menimpa pelaku dosa sama sekali tidak menimpa orang yang bertaubat darinya. Jika dia mendahulukan taubat, maka tidak menimpanya apa-apa. Jika dia mengakhirkan taubat, maka mungkin menimpanya di antara masa berbuat dosa dan bertaubat berupa celaan dan hukuman yang sesuai dengan keadaannya.

Para nabi shalawaatullahi ‘alaihim wa salaamuhu tidak mengakhirkan taubat, bahkan mereka bersegera kepadanya dan berpacu kepadanya. Mereka tidak mengakhirkan dan tidak berkeras pada dosa, bahkan mereka maksum dari hal itu. Siapa yang mengakhirkan waktu sebentar, Allah menghapus hal itu dengan ujian yang ditimpakan kepadanya, sebagaimana yang dilakukan kepada Dzun Nun shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini berdasarkan pendapat masyhur bahwa penenggelamannya terjadi setelah kenabian. Adapun yang berpendapat bahwa penenggelamannya terjadi sebelum kenabian, maka tidak memerlukan penjelasan ini.

Orang yang bertaubat dari kekafiran dan dosa bisa jadi lebih utama daripada orang yang tidak terjerumus dalam kekafiran dan dosa. Jika dia bisa jadi lebih utama, maka yang lebih utama lebih berhak mendapat kenabian daripada yang tidak sepertinya dalam keutamaan.

Allah telah mengabarkan tentang saudara-saudara Yusuf dengan apa yang Dia kabarkan dari dosa-dosa mereka, padahal mereka adalah para Asbath (cucu-cucu Ya’qub) yang diberi kenabian oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman: “Maka Luth pun beriman kepadanya (Ibrahim). Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku.'” (QS. Al-Ankabut: 26) Luth beriman kepada Ibrahim ‘alaihis salaam, kemudian Allah Ta’ala mengutusnya kepada kaum Luth.

Allah Ta’ala berfirman dalam kisah Syu’aib: “Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata: ‘Hai Syu’aib, sesungguhnya kami akan mengusir kamu dan orang-orang yang beriman bersamamu dari negeri kami, atau kamu kembali kepada agama kami.’ Syu’aib berkata: ‘Dan apakah (kami akan kembali) walaupun kami benci? Sesungguhnya kami mengada-adakan dusta terhadap Allah jika kami kembali kepada agamamu, setelah Allah melepaskan kami daripadanya. Dan tidaklah pantas bagi kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki. Tuhan kami meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya. Kepada Allah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.'” (QS. Al-A’raf: 88)

Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka: ‘Kami pasti akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami…'” (QS. Ibrahim: 13)

Apabila diketahui bahwa yang menjadi pertimbangan adalah kesempurnaan akhir, bukan kekurangan awal, dan kesempurnaan ini hanya dicapai dengan taubat dan istighfar, dan setiap hamba pasti memerlukan taubat – yang wajib bagi orang-orang terdahulu dan kemudian – sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Supaya Allah menyiksa orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan; dan supaya Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 73)

Allah Subhanahu telah mengabarkan kepada kita tentang taubat Adam, Nuh, dan yang setelahnya hingga penutup para rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang terakhir turun kepadanya atau termasuk yang terakhir turun kepadanya adalah firman Allah Ta’ala: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS. An-Nashr: 1-3)

Kemudian dia menyebutkan nash-nash yang banyak tentang istighfar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata: “Nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah dalam bab ini banyak dan saling mendukung, begitu pula atsar-atsar tentang hal itu dari para sahabat, tabi’in, dan ulama kaum muslimin sangat banyak. Namun para penentang menta’wil nash-nash ini dengan jenis ta’wil Jahmiyyah dan Bathiniyyah, sebagaimana dilakukan oleh orang yang melakukannya dalam bab ini. Ta’wil-ta’wil mereka jelas bagi orang yang merenungkannya bahwa itu rusak, termasuk dalam mengubah kalimat dari tempatnya, seperti ta’wil mereka terhadap firman Allah: ‘Supaya Allah mengampuni bagimu dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang.’ (QS. Al-Fath: 2) Mereka berkata: yang terdahulu adalah dosa Adam dan yang akan datang adalah dosa umatnya. Ini jelas kebatilannya.”

Dia juga berkata: “Jumhur yang berpendapat bolehnya dosa-dosa kecil bagi mereka berkata: Sesungguhnya mereka maksum dari menetap di atasnya. Dengan demikian, mereka tidak menggambarkan para nabi kecuali dengan hal yang di dalamnya terdapat kesempurnaan mereka, karena amal perbuatan itu dengan penutupnya. Pendapat lawan mengharuskan bahwa nabi tidak bertaubat kepada Allah…” Selesai yang dimaksud.

Dapat diringkas topik ini sebagai berikut:

Kemaksuman para nabi ‘alaihimus shalatu was salaam, ada yang disepakati dari awal hingga akhir, dan ada yang diperselisihkan dari awal hingga akhir, penjelasannya:

1- Mereka sepakat tentang kemaksuman mereka dalam hal mengabarkan tentang Allah Ta’ala dan dalam menyampaikan risalah-Nya, karena kemaksuman inilah yang mewujudkan tujuan risalah dan kenabian.

2- Mereka berselisih tentang kemaksuman mereka dari maksiat. Sebagian berpendapat bahwa mereka maksum dari maksiat secara mutlak, baik dosa besar maupun kecil, karena kedudukan kenabian terlalu mulia untuk melakukan maksiat dan menentang Allah Ta’ala dengan sengaja. Juga karena kita diperintahkan untuk meneladani mereka, dan itu tidak boleh dengan adanya maksiat dalam perbuatan mereka, karena perintah mengikuti mereka mengharuskan semua perbuatan mereka adalah ketaatan. Mereka menta’wil ayat-ayat dan hadits-hadits yang menetapkan sesuatu dari hal itu.

Jumhur berpendapat bolehnya dosa-dosa kecil dari mereka berdasarkan dalil yang ada dalam Al-Qur’an dan khabar-khabar, tetapi mereka tidak menetap di atasnya, maka mereka bertaubat darinya dan kembali darinya sebagaimana telah dijelaskan rinciannya. Maka mereka maksum dari menetap di atasnya, dan keteladanan kepada mereka adalah dalam bertaubat darinya.

Agama Para Nabi ‘alaihimus shalatu was salaam adalah Satu:

Sesungguhnya agama para nabi ‘alaihimus shalatu was salaam adalah satu agama, meskipun syariat-syariat mereka beragam. Allah Ta’ala berfirman: “Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (QS. Asy-Syura: 13)

Allah Ta’ala berfirman: “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan sesungguhnya (agama tauhid) inilah agama kamu, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (QS. Al-Mu’minun: 51-52)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya kami para nabi, agama kami satu, dan para nabi adalah saudara sebapak.”

Agama para nabi adalah agama Islam, yang Allah tidak menerima selainnya, yaitu berserah diri kepada Allah dengan tauhid, tunduk kepada-Nya dengan ketaatan, dan berlepas diri dari syirik dan ahlinya.

Allah Ta’ala berfirman tentang Nuh: “Dan aku diperintahkan supaya termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).” (QS. Yunus: 72)

Allah berfirman tentang Ibrahim: “Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: ‘Tunduk patuhlah!’ Ibrahim menjawab: ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam.'” (QS. Al-Baqarah: 131)

Allah berfirman tentang Musa: “Dan Musa berkata: ‘Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka kepada-Nya sajalah kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.'” (QS. Yunus: 84)

Allah berfirman tentang Al-Masih: “Dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada hawari-in: ‘Berimanlah kepada-Ku dan kepada rasul-Ku!’ Mereka menjawab: ‘Kami beriman dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.'” (QS. Al-Maidah: 111)

Allah Ta’ala telah berfirman tentang para nabi terdahulu dan tentang Taurat: “Yang dihukum menurut kitab itu ialah nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah.” (QS. Al-Maidah: 44)

Allah Ta’ala berfirman tentang Ratu Saba: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. An-Naml: 44)

Islam adalah agama semua nabi, yaitu berserah diri hanya kepada Allah. Siapa yang berserah diri kepada-Nya dan kepada selain-Nya, maka dia musyrik. Siapa yang tidak berserah diri kepada-Nya, maka dia menyombongkan diri. Setiap orang yang musyrik dan yang menyombongkan diri dari beribadah kepada Allah adalah kafir.

Berserah diri kepada Allah mencakup beribadah hanya kepada-Nya dan menaati hanya Dia, yaitu dengan menaati-Nya di setiap waktu dengan melakukan apa yang diperintahkan-Nya pada waktu itu. Jika Dia memerintahkan di awal Islam untuk menghadap Baitul Maqdis, kemudian setelah itu memerintahkan menghadap Ka’bah, maka setiap dari kedua perbuatan itu – ketika diperintahkan – masuk dalam Islam. Agama adalah ketaatan, dan setiap dari kedua perbuatan itu adalah ibadah kepada Allah. Hanya saja beragam beberapa bentuk perbuatan, yaitu arah menghadap orang yang shalat.

Demikian pula para rasul, agama mereka satu meskipun beragam syariat, manhaj, arah, dan ritual, karena hal itu tidak menghalangi agama menjadi satu, sebagaimana tidak menghalangi hal itu dalam syariat satu rasul, seperti contoh kita tentang menghadap Baitul Maqdis pertama kemudian menghadap Ka’bah kedua dalam syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Agama para nabi adalah satu meskipun syariat-syariat mereka beragam. Allah mungkin mensyariatkan pada suatu waktu sesuatu karena hikmah, kemudian mensyariatkan pada waktu lain sesuatu karena hikmah. Mengamalkan yang dinasakh sebelum dinasakh adalah ketaatan kepada Allah, dan setelah dinasakh wajib mengamalkan yang menasakh. Siapa yang berpegang pada yang dinasakh dan meninggalkan yang menasakh, maka dia tidak berada di atas agama Islam dan tidak mengikuti seorang pun dari para nabi. Oleh karena itu, orang Yahudi dan Nasrani kafir karena mereka berpegang pada syariat yang telah diubah dan dinasakh.

Allah Ta’ala mensyariatkan untuk setiap umat apa yang sesuai dengan keadaan dan waktunya, yang mampu memperbaikinya dan mengandung kemaslahatan mereka. Kemudian Allah menasakh apa yang dikehendaki-Nya dari syariat-syariat itu karena berakhirnya masanya, hingga mengutus nabi-Nya Muhammad, penutup para nabi, kepada seluruh manusia di muka bumi dan sepanjang masa hingga hari kiamat. Dia mensyariatkan untuknya syariat yang menyeluruh, cocok untuk setiap zaman dan tempat, tidak berubah dan tidak dinasakh. Maka seluruh penghuni bumi tidak dapat tidak mengikutinya dan beriman kepadanya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semuanya.'” (QS. Al-A’raf: 158)

Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.” (QS. Saba: 28)

Allah Ta’ala berfirman: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Allah Ta’ala berfirman: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)

Ayat-ayat yang diturunkan Allah Subhanahu kepada rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengandung khitab untuk seluruh makhluk jin dan manusia dengan berbagai jenis mereka. Tidak mengkhususkan orang Arab dengan suatu hukum dari hukum-hukum, bahkan menggantungkan hukum-hukum dengan nama kafir, mukmin, muslim, munafik, birr, fajir, muhsin, zalim, dan nama-nama lain yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits. Tidak ada dalam Al-Qur’an dan hadits pengkhususan orang Arab dengan suatu hukum dari hukum-hukum syariat. Hukum-hukum digantungkan pada sifat-sifat yang berpengaruh dalam apa yang dicintai Allah dan apa yang dibenci Allah.

Turunnya Al-Qur’an dengan bahasa Arab hanyalah untuk keperluan penyampaian, karena dia menyampaikan kepada kaumnya dahulu, kemudian melalui mereka menyampaikan kepada umat-umat lainnya. Allah memerintahkannya menyampaikan kepada kaumnya dahulu, kemudian menyampaikan kepada yang lebih dekat kemudian yang lebih dekat, sebagaimana dia diperintahkan berjihad terhadap yang lebih dekat kemudian yang lebih dekat. Ini bukan pengkhususan, melainkan bertahap dalam penyampaian.

Yang dimaksud adalah bahwa agama para nabi ‘alaihimus shalatu was salaam adalah satu, yaitu mengikhlaskan ibadah kepada Allah dan melarang syirik dan kerusakan, meskipun syariat-syariat mereka beragam sesuai keadaan dan kebutuhan, hingga ditutup dengan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang risalahnya mencakup seluruh makhluk dan berlangsung hingga akhir dunia, tidak berubah, tidak berganti, dan tidak dinasakh. Risalahnya cocok dan memperbaiki setiap zaman dan tempat. Tidak ada nabi setelahnya ‘alaihis shalatu was salaam hingga akhir zaman.

Dia memerintahkan apa yang diperintahkan para rasul sebelumnya berupa iman dan mengikhlaskan ibadah kepada Allah dengan hukum-hukum yang disyariatkan-Nya. Dia membenarkan saudara-saudaranya para rasul, dan saudara-saudaranya para rasul telah memberi kabar gembira tentangnya, khususnya rasul yang paling dekat dengannya secara waktu, yaitu Al-Masih Isa bin Maryam ‘alaihis shalatu was salaam, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.” (QS. Ash-Shaff: 6)

Dalam kitab-kitab terdahulu terdapat penjelasan sifat-sifat dan kekhususan rasul ini yang sangat jelas, meskipun diingkari oleh yang mengingkarinya dari kalangan Yahudi dan Nasrani karena hasad dan takabur, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepada mereka, mereka mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 146)

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan berikanlah kami taufik untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan berikanlah kami taufik untuk menjauhinya.

Menyebutkan Kekhususan Rasulullah Muhammad ﷺ Secara Umum

Rasulullah Muhammad ﷺ memiliki kekhususan yang membedakannya dari nabi-nabi lainnya, dan kekhususan yang membedakannya dari umatnya:

  1. Beliau adalah Penutup Para Nabi

Allah Ta’ala berfirman: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)

Dan beliau ﷺ bersabda: “Aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelahku.”

  1. Maqam Mahmud (Kedudukan Terpuji)

Yaitu syafaat kubra (syafaat yang agung), sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra: 79)

Sebagaimana dalam hadits syafaat yang panjang yang disepakati keshahihannya, bahwa Allah mengumpulkan orang-orang terdahulu dan terkemudian di satu dataran. Sebagian manusia berkata kepada sebagian lainnya: “Tidakkah kalian melihat keadaan kalian ini?” Maka mereka mendatangi Adam, kemudian Nuh, kemudian Musa, kemudian Isa, kemudian kepada Muhammad – semoga shalawat dan salam Allah atas mereka semua. Mereka semua berkata: “Pergilah kepada yang lain,” kecuali Muhammad ﷺ yang berkata: “Akulah orangnya.” Maka beliau bersujud hingga diizinkan untuk memberi syafaat. Dengan ini tampak keutamaan beliau atas seluruh makhluk dan kekhususannya dengan maqam ini.

  1. Keumuman Risalah kepada Jin dan Manusia

Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu sekalian.'” (QS. Al-A’raf: 158)

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya.” (QS. Saba: 28)

“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan: 1)

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan itu, mereka berkata: ‘Diamlah kalian (untuk mendengarkan).’ Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan.” (QS. Al-Ahqaf: 29)

Hal ini disepakati oleh ulama.

Ayat-ayat yang Allah turunkan kepada Muhammad ﷺ mengandung khitab (seruan) kepada seluruh makhluk jin dan manusia, karena risalahnya bersifat umum untuk kedua makhluk berat tersebut. Meskipun ada sebab-sebab turunnya ayat yang terjadi pada bangsa Arab, namun tidak ada satu ayat pun yang khusus untuk sebab tertentu yang melatarbelakangi turunnya menurut kesepakatan kaum muslimin.

Tidak ada seorang muslim pun yang mengatakan bahwa ayat-ayat tentang talak, zhihar, li’an, atau hukuman pencurian dan perampokan dan lain-lain itu khusus untuk orang tertentu yang menjadi sebab turunnya ayat tersebut.

Yang dimaksud di sini adalah: bahwa sebagian ayat Al-Quran, meskipun sebabnya adalah hal-hal yang terjadi pada bangsa Arab, namun hukum ayat-ayat tersebut bersifat umum, mencakup apa yang dikehendaki ayat-ayat tersebut secara lafaz dan makna, dalam bentuk apa pun, dan Muhammad ﷺ diutus kepada manusia dan jin. Maka dakwah beliau ﷺ mencakup kedua makhluk berat, manusia dan jin, dengan berbagai jenis mereka.

Janganlah disangka bahwa beliau mengkhususkan bangsa Arab dengan suatu hukum tertentu sama sekali. Hukum-hukum hanya dikaitkan dengan nama muslim, kafir, mukmin, munafik, baik, jahat, orang yang berbuat baik, dan orang yang zalim, serta nama-nama lain yang disebutkan dalam Al-Quran dan hadits. Tidak ada dalam Al-Quran maupun hadits pengkhususan bangsa Arab dengan suatu hukum syariat. Hukum-hukum hanya dikaitkan dengan sifat-sifat yang berpengaruh terhadap apa yang dicintai Allah dan apa yang dibenci-Nya.

Beliau memerintahkan apa yang dicintai Allah dan menyeru kepadanya sesuai kemampuan, dan melarang apa yang dibenci Allah serta menutup jalan kepadanya sesuai kemampuan. Beliau tidak mengkhususkan bangsa Arab dengan jenis syariat tertentu, karena dakwahnya untuk seluruh makhluk. Namun, Al-Quran diturunkan dengan bahasa mereka, bahkan dengan bahasa Quraisy, untuk keperluan penyampaian, karena beliau menyampaikan kepada kaumnya terlebih dahulu, kemudian melalui mereka kepada seluruh umat. Beliau diperintahkan untuk menyampaikan kepada kaumnya terlebih dahulu, kemudian kepada yang lebih dekat lalu yang lebih dekat lagi kepadanya, sebagaimana beliau diperintahkan berjihad kepada yang lebih dekat lalu yang lebih dekat.

Sebagaimana beliau ﷺ diutus kepada manusia, maka beliau juga diutus kepada jin. Jin telah mendengarkan bacaannya dan kembali kepada kaum mereka sebagai pemberi peringatan, sebagaimana Allah Azza wa Jalla kabarkan. Hal ini disepakati di antara kaum muslimin.

Allah telah menyebutkan dalam Al-Quran tentang khitab kepada kedua makhluk berat yang menjelaskan prinsip ini, seperti firman Allah Ta’ala: “Hai jama’ah jin dan manusia, apakah tidak datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri…” (QS. Al-An’am: 130)

Allah mengabarkan tentang jin bahwa mereka berkata: “Dan sesungguhnya di antara kami ada yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (QS. Al-Jin: 11) Yaitu, mazhab yang beragam: muslim dan kafir, ahli sunnah dan ahli bid’ah.

Mereka berkata: “Dan bahwasanya di antara kami ada yang tunduk (kepada kebenaran) dan ada (pula) yang menyimpang…” (QS. Al-Jin: 14) Al-qasit artinya yang menyimpang. Dikatakan: qasata bila menyimpang, dan aqsata bila berlaku adil.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Wajib bagi manusia mengetahui bahwa Allah Azza wa Jalla mengutus Muhammad ﷺ kepada seluruh makhluk berat, manusia dan jin, dan mewajibkan kepada mereka beriman kepadanya dan kepada apa yang dibawanya serta menaatinya. Mereka harus menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan Rasul-Nya, mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya, mencintai apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, dan membenci apa yang dibenci Allah dan Rasul-Nya. Setiap orang dari jin dan manusia yang telah tegak kepadanya hujjah tentang risalah Muhammad ﷺ namun tidak beriman kepadanya, maka ia berhak mendapat azab Allah Ta’ala, sebagaimana yang berhak diterimanya oleh orang-orang kafir yang serupa dengannya, yang kepadanya diutus rasul. Ini adalah prinsip yang disepakati di antara para sahabat, tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik, para imam muslimin, dan seluruh golongan muslimin dari Ahlu Sunnah wal Jama’ah dan lainnya, semoga Allah meridhai mereka semua.”

  1. Al-Quran yang Agung

Di antara kekhususannya ﷺ adalah Al-Quran yang agung yang diakui kemukjizatannya oleh jin dan manusia, yang membuat para ahli pidato manusia dan jin mundur dari menandinginya, dan diakui oleh ahli-ahli fasih dan balaghah dari berbagai agama ketidakmampuan mereka untuk membuat surah terpendek yang menyamainya. Hal ini telah dijelaskan secara rinci sebelumnya.

  1. Mi’raj ke Langit yang Tinggi

Di antara kekhususannya ﷺ adalah mi’raj ke langit-langit yang tinggi, ke Sidratul Muntaha, sampai ke tingkat di mana beliau mendengar derit pena-pena, sehingga beliau berada sejauh dua busur panah atau lebih dekat.

Kekhususan yang Membedakannya dari Umatnya

Al-Qurthubi berkata dalam tafsirnya: “Allah Ta’ala mengkhususkan Rasul-Nya dari hukum-hukum syariat dengan makna-makna yang tidak ada seorang pun yang berbagi dengannya dalam hal kewajiban, pengharaman, dan penghalalan, sebagai keutamaan atas umat, karunia baginya, dan kedudukan yang dikhususkan untuknya. Diwajibkan kepadanya hal-hal yang tidak diwajibkan kepada selainnya, diharamkan kepadanya hal-hal yang tidak diharamkan kepada mereka, dan dihalalkan baginya hal-hal yang tidak dihalalkan bagi mereka. Di antaranya ada yang disepakati, dan di antaranya ada yang diperselisihkan.”

Kemudian ia menyebutkan kekhususan-kekhususan ini, di antaranya:

  • Tahajjud di malam hari: Dikatakan bahwa qiyamul lail wajib baginya hingga beliau wafat berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Hai orang yang berselimut, bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit.” (QS. Al-Muzzammil: 1-2). Yang disebutkan dalam nash bahwa itu wajib baginya kemudian dinasakh dengan firman Allah Ta’ala: “Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu.” (QS. Al-Isra: 79)
  • Jika beliau mengerjakan suatu amalan, beliau menetapinya
  • Pengharaman zakat baginya dan keluarganya
  • Dihalalkan baginya wisal dalam puasa, dan dihalalkan baginya menikah lebih dari empat istri
  • Dihalalkan baginya berperang di Makkah
  • Beliau tidak mewariskan harta
  • Kelangsungan status istri-istrinya setelah wafat, dan jika beliau menceraikan seorang wanita, maka keharaman beliau tetap berlaku baginya sehingga tidak boleh menikah

…dan kekhususan-kekhususan kenabian lainnya.

Mari kita bahas tiga dari kekhususan terbesar Nabi kita Muhammad ﷺ, yaitu: Isra dan Mi’raj, keumuman risalahnya, dan penutupan kenabian dengan beliau ﷺ.

  1. Isra dan Mi’raj

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra: 1)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsir ayat mulia ini: “Allah Ta’ala memuji diri-Nya dan mengagungkan urusan-Nya karena kekuasaan-Nya atas apa yang tidak mampu dikuasai seorang pun selain-Nya. Tiada Tuhan selain-Nya dan tiada Rabb selain-Nya. ‘Yang telah memperjalankan hamba-Nya’ yaitu Muhammad ﷺ. ‘Pada suatu malam’ yaitu dalam kegelapan malam. ‘Dari Al-Masjidil Haram’ yaitu masjid Makkah. ‘Ke Al-Masjidil Aqsha’ yaitu Baitul Maqdis yang ada di Iliya, tempat berkumpulnya para nabi sejak Ibrahim Al-Khalil AS. Karena itulah mereka semua dikumpulkan untuknya di sana, lalu beliau mengimami mereka di tempat dan rumah mereka. Ini menunjukkan bahwa beliaulah imam yang paling agung dan pemimpin yang paling mulia, semoga shalawat dan salam Allah atas beliau dan atas mereka semua.”

“Firman Allah Ta’ala: ‘yang telah Kami berkahi sekelilingnya’ yaitu dalam tanaman dan buah-buahan. ‘Agar Kami perlihatkan kepadanya’ yaitu kepada Muhammad. ‘Sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami’ yaitu yang agung, sebagaimana firman Allah Ta’ala: ‘Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda Tuhannya yang paling besar.’ (QS. An-Najm: 18). ‘Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat’ yaitu Maha Mendengar perkataan hamba-hamba-Nya, baik yang beriman maupun yang kafir, yang membenarkan maupun yang mendustakan, Maha Melihat mereka, maka Dia memberi masing-masing dari mereka apa yang pantas diterimanya di dunia dan akhirat.”

Mi’raj: Mif’al dari kata ma’ruj, yaitu alat yang digunakan untuk naik, yaitu naik, dan seperti tangga, tetapi tidak diketahui bagaimana bentuknya kecuali oleh Allah.

Hukumnya seperti hukum hal-hal ghaib lainnya; kita beriman kepadanya dan tidak disibukkan dengan cara kejadiannya.

Menurut para imam riwayat, Isra terjadi sekali saja di Makkah setelah diutus dan sebelum hijrah satu tahun, ada yang mengatakan satu tahun dua bulan, seperti yang disebutkan Ibnu Abdul Barr.

Sifat Isra dan Mi’raj yang Dipahami dari Nash-nash

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya: “Yang benar adalah bahwa beliau ﷺ diisra’kan dalam keadaan terjaga, bukan mimpi, dari Makkah ke Baitul Maqdis dengan mengendarai Buraq. Ketika sampai di pintu masjid, beliau mengikat kendaraan di pintu dan masuk ke dalamnya, lalu shalat di kiblatnya dua rakaat sebagai tahiyyatul masjid. Kemudian beliau diberi mi’raj yang seperti tangga, memiliki anak tangga untuk naik. Beliau naik dengannya ke langit dunia, kemudian ke langit-langit tujuh lainnya. Beliau disambut oleh para malaikat muqarrab dari setiap langit, dan bertemu dengan para nabi yang ada di langit-langit sesuai kedudukan dan derajat mereka, hingga melewati Musa Al-Kalim di langit keenam dan Ibrahim Al-Khalil di langit ketujuh.”

“Kemudian beliau ﷺ melampaui kedudukan mereka berdua serta seluruh nabi, hingga sampai ke tingkat di mana beliau mendengar derit pena-pena takdir dengan apa yang akan terjadi. Beliau melihat Sidratul Muntaha yang diselimuti keagungan Allah Ta’ala yang luar biasa berupa hamparan emas dan warna-warna beragam, dan diselimuti malaikat. Beliau melihat Jibril dalam wujudnya yang memiliki enam ratus sayap di sana. Beliau melihat refref hijau yang menutupi ufuk, melihat Baitul Ma’mur, dan Ibrahim Al-Khalil yang membangun Ka’bah di bumi bersandar punggungnya padanya karena itulah Ka’bah langit. Setiap hari masuk ke dalamnya tujuh puluh ribu malaikat yang beribadah di dalamnya, kemudian mereka tidak kembali lagi hingga hari kiamat.”

“Beliau melihat surga dan neraka. Di sana diwajibkan kepadanya shalat lima puluh kali, kemudian diringankan menjadi lima sebagai rahmat dan kelembutan kepada hamba-hamba-Nya. Dalam hal ini terdapat perhatian besar terhadap kemuliaan shalat dan keagungannya. Kemudian beliau turun ke Baitul Maqdis, dan turun bersamanya para nabi. Beliau shalat mengimami mereka ketika waktu shalat tiba, kemungkinan shalat Subuh hari itu.”

“Sebagian orang menyangka bahwa beliau mengimami mereka di langit, tetapi yang didukung riwayat-riwayat adalah bahwa beliau mengimami mereka di Baitul Maqdis. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa hal itu terjadi saat pertama kali masuk, dan yang zhahir adalah setelah kembali ke sana, karena ketika beliau melewati mereka di tempat-tempat mereka, beliau bertanya kepada Jibril tentang mereka satu per satu, dan Jibril memberitahukan tentang mereka. Ini yang sesuai, karena pada awalnya beliau dipanggil ke hadapan Yang Maha Tinggi untuk diwajibkan kepadanya dan kepada umatnya apa yang dikehendaki Allah Ta’ala. Setelah selesai dari apa yang dimaksudkan dengannya, beliau berkumpul di Baitul Maqdis dengan saudara-saudaranya dari para nabi. Kemudian tampak kemuliaan dan kelebihannya atas mereka dengan didahulukannya dalam imamah, dan itu atas isyarat Jibril AS. Kemudian beliau keluar dari Baitul Maqdis, mengendarai Buraq, dan kembali ke Makkah menjelang fajar. Wallahu subhanahu wa ta’ala a’lam.”

Apakah Isra dengan Jasad dan Ruh atau dengan Ruh Saja?

Orang-orang berbeda pendapat, apakah Isra dengan jasad dan ruh beliau ﷺ atau dengan ruh saja, menjadi dua pendapat:

Mayoritas ulama berpendapat bahwa beliau diisra’kan dengan jasad dan ruhnya dalam keadaan terjaga, bukan mimpi. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala: “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya.” (QS. Al-Isra: 1)

Tasbih hanya terjadi pada perkara-perkara besar. Seandainya itu mimpi, maka tidak ada yang besar di dalamnya dan tidak mengherankan, dan orang-orang kafir Quraisy tidak akan segera mendustakannya, dan tidak akan ada yang murtad dari orang-orang yang telah masuk Islam.

Juga firman Allah: “Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai cobaan bagi manusia.” (QS. Al-Isra: 60)

Ibnu Abbas berkata: “Itu adalah ru’yah mata yang diperlihatkan kepada Rasulullah ﷺ pada malam beliau diisra’kan.” (HR. Bukhari)

Dan firman Allah: “Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya dan tidak (pula) melampauinya.” (QS. An-Najm: 17)

Karena sesungguhnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melihat suatu mimpi kecuali datang seperti terbelahnya fajar. Dan telah disebutkan hal serupa dalam hadits tentang permulaan wahyu bahwa beliau melihat dalam mimpi seperti apa yang terjadi padanya dalam keadaan terjaga sebelumnya, agar hal itu menjadi bagian dari mukjizat pendahuluan, persiapan, peneguhan dan ketenangan… wallahu a’lam.”

Apakah Mi’raj Terulang?

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata setelah menyebutkan hadits-hadits yang diriwayatkan dalam masalah ini: “Apabila telah dipahami keseluruhan hadits-hadits ini baik yang shahih, hasan, maupun dha’if, maka diperoleh inti dari apa yang disepakati tentang Isra’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Mekah ke Baitul Maqdis, dan bahwa itu hanya sekali, meskipun berbeda ungkapan para perawi dalam menyampaikannya, atau ada yang menambahkan atau mengurangi darinya, maka kesalahan ada pada selain para Nabi alaihimus salam.

Dan siapa yang menjadikan setiap riwayat yang berbeda dengan yang lain sebagai kejadian tersendiri lalu menetapkan beberapa Isra’ yang berbeda, maka dia telah berlebihan dan menyimpang serta lari ke tempat yang bukan pelarian dan tidak memperoleh tujuan yang diinginkan.

Sebagian ulama mutaakhirin menyatakan dengan tegas bahwa beliau ‘alaihis salam diisra’kan sekali dari Mekah ke Baitul Maqdis saja, sekali dari Mekah ke langit saja, dan sekali ke Baitul Maqdis saja kemudian dari sana ke langit. Mereka senang dengan pendapat ini dan merasa telah menemukan sesuatu yang dapat menyelesaikan berbagai masalah. Ini sangat jauh dari kebenaran dan tidak pernah dinukil dari seorang pun dari para salaf. Seandainya benar terjadi berulang kali seperti ini, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberitahukannya kepada umatnya, dan manusia akan menyampaikannya secara berulang-ulang.

Sebagian kaum sufi mengklaim bahwa Mi’raj terjadi pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tiga puluh kali, dan sebagian mereka berkata: tiga puluh empat kali; satu kali dengan jasad mulianya, sisanya dengan ruhnya.

Ada yang berkata: Isra’ terjadi dua kali: sekali dalam keadaan terjaga, sekali dalam mimpi. Para penganut pendapat ini seolah ingin menggabungkan antara hadits Syarik dan perkataannya “kemudian aku terbangun” dengan riwayat-riwayat lainnya. Demikian pula di antara mereka ada yang berkata: bahkan tiga kali: sekali sebelum wahyu, dua kali setelahnya… dan setiap kali mereka bingung dengan suatu lafadz, mereka menambah satu kali untuk menyelaraskan.”

Ibnu Qayyim berkata: “Sungguh mengherankan orang-orang yang mengklaim bahwa itu terjadi berulang kali; bagaimana mereka rela berprasangka bahwa setiap kali diwajibkan atas mereka shalat lima puluh, kemudian beliau bolak-balik antara Rabbnya dan Musa hingga menjadi lima, lalu Allah berfirman: ‘Aku telah menetapkan kewajiban-Ku dan meringankan atas hamba-hamba-Ku’… kemudian mengulanginya lagi pada kali kedua lima puluh lalu menurunkannya menjadi lima.”

Ibnu Katsir berkata: “Kadang sebagian perawi memotong sebagian berita karena mengetahuinya atau lupa, atau menyebutkan apa yang menurutnya lebih penting, atau terkadang memperluas sehingga menyampaikan semuanya, dan terkadang memotong dari lawan bicaranya apa yang menurutnya lebih bermanfaat. Dan siapa yang menjadikan setiap riwayat sebagai Isra’ tersendiri sebagaimana disebutkan dari sebagian mereka, maka dia sangat menyimpang. Karena semua rangkaian peristiwa di dalamnya terdapat salam kepada para Nabi, dan dalam semuanya beliau diperkenalkan kepada mereka, dan dalam semuanya diwajibkan atas beliau shalat; bagaimana mungkin diklaim bahwa itu terjadi berulang kali?! Ini sangat jauh dan mustahil, wallahu a’lam.”

  1. Keumuman Risalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Bantahan terhadap yang Mengingkarinya

Sekelompok orang Yahudi dan Nasrani serta orang yang meniru mereka berkata: Sesungguhnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada bangsa Arab tanpa Ahli Kitab. Mereka mengaburkan dengan perkataan mereka: Jika agamanya benar, maka agama kami juga benar, dan jalan-jalan menuju Allah Ta’ala beragam! Mereka menyamakan hal itu dengan madzhab-madzhab imam; karena meskipun salah satu madzhab lebih kuat, penganut madzhab lainnya bukanlah kafir.

Pendapat ini jelas batil, karena ketika mereka membenarkan risalahnya, maka wajib bagi mereka membenarkannya dalam segala yang dikhabarkannya. Dan beliau telah berkata: Sesungguhnya beliau adalah Rasulullah kepada manusia secara umum. Rasul tidak berbohong, maka wajib membenarkannya secara pasti. Beliau telah mengirim utusan dan mengirim surat-suratnya ke penjuru bumi kepada Kisra, Qaishar, Najasyi, Muqauqis dan seluruh raja di berbagai penjuru untuk mengajak kepada Islam. Kemudian peperangannya melawan Ahli Kitab, menawan anak-anak mereka, menghalalkan darah mereka dan menetapkan jizyah atas mereka adalah perkara yang diketahui secara mutawatir dan dharuri.

Beliau menyeru orang-orang musyrik untuk beriman kepadanya, dan menyeru Ahli Kitab untuk beriman kepadanya. Beliau berjihad melawan Ahli Kitab sebagaimana berjihad melawan orang-orang musyrik. Beliau berjihad melawan Bani Qainuqa’, Bani Nadhir, Bani Quraidhah, dan penduduk Khaibar. Mereka semua adalah orang Yahudi. Beliau menawan anak-anak dan wanita-wanita mereka serta merampas harta mereka. Beliau berperang melawan orang-orang Nasrani pada tahun Tabuk dengan dirinya sendiri dan dengan pasukan-pasukannya, hingga terbunuh dalam peperangan melawan mereka Zaid bin Haritsah, budaknya, dan Ja’far serta yang lainnya dari keluarganya. Beliau menetapkan jizyah atas orang-orang Nasrani Najran. Demikian pula khalifah-khalifah Rasyidun setelahnya berjihad melawan Ahli Kitab dan memerangi siapa yang memerangi mereka serta menetapkan jizyah atas siapa yang memberikannya dari mereka dengan tunduk dalam keadaan hina.

Al-Qur’an ini – yang setiap orang tahu bahwa itu adalah kitab yang dibawa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam – penuh dengan seruan kepada Ahli Kitab untuk mengikutinya, dan mengkafirkan serta melaknat siapa yang tidak mengikutinya dari mereka, sebagaimana datang dengan pengkafiran terhadap siapa yang tidak mengikutinya dari orang-orang musyrik dan mencelanya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Hai orang-orang yang diberi Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al-Qur’an) yang membenarkan apa yang ada pada kamu…” (QS. An-Nisa: 47)

Dalam Al-Qur’an terdapat firman-Nya: “Hai Ahli Kitab”, “Hai Bani Israil” yang tidak terhitung kecuali dengan susah payah. Allah Ta’ala berfirman:

“Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak akan berhenti (dari kekafiran mereka)… hingga firman-Nya: sebaik-baik makhluk” (QS. Al-Bayyinah: 1-7)

Yang seperti ini dalam Al-Qur’an sangat banyak.

Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk kamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi'” (QS. Al-A’raf: 158)

Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya” (QS. Saba’: 28)

Tersebar luas dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdanya: “Aku dilebihkan atas para Nabi dengan lima perkara”, disebutkan di antaranya: “Nabi diutus kepada kaumnya khusus, sedangkan aku diutus kepada manusia secara umum”. Bahkan telah mutawatir dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau diutus kepada jin dan manusia.

Ketika telah diketahui secara dharuri dan dengan riwayat mutawatir yang mutawatir sebagaimana mutawatirnya kemunculan seruannya, bahwa beliau menyeru Ahli Kitab untuk beriman kepadanya, dan bahwa beliau memutuskan kekafiran siapa yang tidak beriman kepadanya dari mereka, dan bahwa beliau memerintahkan untuk memerangi mereka hingga mereka masuk Islam atau memberikan jizyah dengan tunduk dalam keadaan hina, dan bahwa beliau memerangi mereka dengan dirinya sendiri dan pasukan-pasukannya, dan bahwa beliau menetapkan jizyah atas mereka dan membunuh para pejuang mereka serta menawan anak-anak mereka dan merampas harta mereka…

Beliau mengepung Bani Qainuqa’ kemudian mengusir mereka ke Azru’at, mengepung Bani Nadhir kemudian mengusir mereka ke Khaibar. Dalam hal itu Allah menurunkan Surah Al-Hasyr. Kemudian mengepung Bani Quraidhah ketika mereka melanggar perjanjian, membunuh laki-laki mereka, menawan wanita-wanita mereka dan mengambil harta mereka. Allah Ta’ala telah menyebutkannya dalam Surah Al-Ahzab. Beliau memerangi penduduk Khaibar hingga menaklukkannya, membunuh siapa yang terbunuh dari laki-laki mereka, menawan siapa yang ditawan dari wanita-wanita mereka, dan membagi tanah mereka kepada orang-orang mukmin. Allah Ta’ala telah menyebutkannya dalam Surah Al-Fath. Beliau menetapkan jizyah atas orang-orang Nasrani, dan tentang mereka Allah menurunkan Surah Ali Imran. Beliau berperang melawan orang-orang Nasrani pada tahun Tabuk, dan di dalamnya Allah menurunkan Surah Bara’ah (At-Taubah). Dalam kebanyakan surah Madaniyah seperti Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa’, Al-Ma’idah dan surah-surah Madaniyah lainnya terdapat seruan kepada Ahli Kitab dan pembicaraan kepada mereka yang tidak cukup tempat untuk menyebarkannya.

Kemudian khalifah-khalifah setelahnya Abu Bakar, Umar dan orang-orang Muhajirin dan Anshar yang bersamanya, yang diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang paling mengikutinya, paling taat kepada perintahnya, dan paling menjaga janjinya. Mereka berperang melawan Romawi sebagaimana berperang melawan Persia, memerangi Ahli Kitab sebagaimana memerangi orang-orang Majusi. Mereka memerangi siapa yang memerangi mereka dan menetapkan jizyah atas siapa yang membayarnya dari mereka dengan tunduk dalam keadaan hina.

Di antara hadits-hadits shahih dari beliau adalah sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentangku dari umat ini seorang Yahudi atau Nasrani kemudian tidak beriman kepadaku, melainkan dia masuk neraka.”

Sa’id bin Jubair berkata: “Pembenaran hal itu dalam Kitabullah Ta’ala: ‘Dan barangsiapa yang kafir kepada-Nya dari golongan-golongan, maka nerakalah tempat janjinya’ (QS. Hud: 17). Makna hadits ini mutawatir darinya dan diketahui secara dharuri.

Ketika keadaannya demikian, maka wajib bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul kepada semua golongan. Karena beliau menetapkan bahwa beliau adalah Rasulullah kepada Ahli Kitab dan selain mereka. Rasulullah tidak berbohong, tidak memerangi manusia untuk taat kepadanya tanpa perintah Allah, dan tidak menghalalkan darah, harta dan tempat tinggal mereka tanpa izin Allah. Siapa yang mengaku bahwa Allah memerintahkannya dengan itu padahal Allah tidak memerintahkannya, maka dia adalah pendusta, pemfitnah, dan zalim.

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah atau berkata: ‘Telah diwahyukan kepadaku’, padahal tidak ada diwahyukan kepadanya sesuatu apa pun” (QS. Al-An’am: 93)

Dia adalah zalim pemfitnah dan termasuk orang yang paling menginginkan kesombongan di bumi dan kerusakan, dan dia lebih jahat dari raja-raja penguasa yang zalim. Karena raja-raja penguasa memerangi manusia untuk taat kepada mereka, namun tidak berkata: “Sesungguhnya kami adalah utusan Allah kepada kalian, siapa yang taat kepada kami masuk surga, dan siapa yang durhaka kepada kami masuk neraka.” Bahkan Fir’aun dan yang semisal dengannya tidak masuk dalam hal seperti ini. Yang masuk dalam hal ini hanyalah nabi yang benar atau nabi palsu yang pendusta seperti Musailamah, Al-Aswad dan yang semisal keduanya.

Ketika diketahui bahwa beliau adalah nabi, maka wajib bahwa apa yang dikhabarkannya dari Allah adalah benar. Ketika beliau adalah Rasulullah, maka wajib taat kepadanya dalam segala yang diperintahkannya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah” (QS. An-Nisa’: 64)

Ketika beliau mengabarkan bahwa beliau adalah Rasulullah kepada Ahli Kitab dan bahwa wajib bagi mereka taat kepadanya, maka hal itu adalah benar.

Siapa yang mengakui bahwa beliau adalah Rasulullah namun mengingkari bahwa beliau diutus kepada Ahli Kitab, maka dia seperti orang yang berkata: Sesungguhnya Musa adalah rasul, namun tidak wajib baginya memasuki tanah Syam, tidak mengeluarkan Bani Israil dari Mesir, Allah tidak memerintahkannya dengan itu, Dia tidak memerintahkannya dengan hari Sabat, tidak menurunkan Taurat kepadanya, dan tidak berbicara dengannya di bukit Thur. Dan seperti orang yang berkata: Sesungguhnya Isa adalah Rasulullah, namun tidak diutus kepada Bani Israil, tidak wajib bagi Bani Israil taat kepadanya, dan dia menzalimi orang-orang Yahudi… dan semisalnya dari perkataan-perkataan yang merupakan perkataan paling kafir.

Karena itulah Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, serta berkata: ‘Kami beriman kepada sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)’, dan bermaksud mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian itu, mereka itulah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Dan Kami sediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksa yang menghinakan” (QS. An-Nisa’: 150-151)

  1. Penutupan Risalah dengan Diutusnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menutup kenabian dengan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman:

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seseorang di antara laki-laki kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi” (QS. Al-Ahzab: 40)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku adalah penutup para Nabi, tidak ada nabi setelahku.” Hal itu mengharuskan penutupan para rasul karena penutupan yang umum mengharuskan penutupan yang khusus.

Makna penutupan kenabian dengan kenabiannya ‘alaihish shalatu was salam adalah: tidak akan dimulai kenabian dan tidak akan disyariatkan syariat setelah kenabiannya dan syariatnya. Adapun turunnya Isa ‘alaihis salam di akhir zaman, maka itu tidak bertentangan dengannya. Karena Isa ‘alaihis salam ketika turun, dia hanya beribadah dengan syariat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa syariatnya yang terdahulu karena telah dinasakh. Dia tidak beribadah dengan syariat itu baik ushul maupun furu’, maka dia menjadi khalifah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hakim dari para hakim agamanya di antara umatnya.

Nabi penutup para Nabi shallawatullahi wa salamuhu ‘alaihim ajma’in ini telah diutus dengan kitab terbaik, syariat paling sempurna, agama paling utama, dan agama paling lengkap. Beliau datang dengan syariat yang mencukupi kebutuhan khalifah di setiap zaman dan tempat hingga hari kiamat tiba, dan dengan beliau disempurnakan untaian para Nabi, maka tidak ada nabi setelahnya.

Dalam Shahihain dan selainnya dari hadits Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Perumpamaanku dan para Nabi sebelumku adalah seperti seorang laki-laki yang membangun rumah lalu menyempurnakan dan membaguskannya kecuali tempat satu batu bata. Maka orang-orang masuk dan mengaguminya serta berkata: ‘Seandainya tempat batu bata itu (dipasang).'” Muslim menambahkan: “Maka aku datang dan menutup para Nabi.”

Dalam Shahihain juga dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu semisal maknanya, dan di dalamnya: “Maka orang-orang berkeliling di sekelilingnya dan berkata: ‘Mengapa batu bata itu tidak dipasang?’ Maka akulah batu bata itu, dan aku adalah penutup para Nabi.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bani Israil dahulu dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, digantikan oleh nabi lain. Sesungguhnya tidak ada nabi setelahku, dan akan ada khalifah-khalifah.” (HR. Bukhari)

Dari Jabir bin Samurah, dia berkata: “Aku melihat cap di punggung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti telur merpati.” (HR. Muslim)

Al-Hafidz dalam Fath Al-Bari berkata: “Al-Qurthubi berkata: Hadits-hadits shahih sepakat bahwa cap kenabian adalah sesuatu yang menonjol berwarna merah di dekat bahu kirinya. Ukurannya jika dikecilkan sebesar telur merpati, dan jika dibesarkan segenggam tangan, wallahu a’lam.”

Para ulama berkata: Hikmahnya adalah karena hati berada di bagian itu.

As-Suhaili berkata: “Cap kenabian diletakkan di dekat bahunya shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau terjaga dari bisikan setan, dan tempat itu adalah tempat masuknya setan.”

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata: “Maka termasuk rahmat Allah Ta’ala kepada para hamba adalah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka, kemudian termasuk penghormatan-Nya kepada mereka adalah menutup para Nabi dan Rasul dengannya, dan menyempurnakan agama yang lurus untuknya. Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengabarkan dalam kitab-Nya dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sunnah yang mutawatir darinya bahwa tidak ada nabi setelahnya, agar mereka mengetahui bahwa setiap orang yang mengaku kedudukan ini setelahnya maka dia adalah pendusta, penipu, dajjal, sesat dan menyesatkan, meskipun dia berbicara ngawur, menyihir, dan datang dengan berbagai jenis sihir, mantra, dan trik. Semuanya adalah hal yang batil dan kesesatan menurut orang-orang yang berakal, sebagaimana Allah Ta’ala jalankan atas Al-Aswad Al-Ansi di Yaman dan Musailamah Al-Kazzab di Yamamah dari keadaan-keadaan rusak dan perkataan-perkataan dingin yang diketahui setiap orang yang berakal, paham, dan bijaksana bahwa keduanya adalah pendusta dan sesat, semoga Allah melaknat keduanya. Demikian pula setiap orang yang mengaku hal itu hingga hari kiamat, hingga mereka diakhiri dengan Al-Masih Ad-Dajjal. Setiap orang dari para pendusta ini, Allah menciptakan bersamanya perkara-perkara yang menjadi saksi bagi para ulama dan orang-orang mukmin akan kedustaan siapa yang datang dengannya.”

Dan ini termasuk kesempurnaan kasih sayang Allah Ta’ala kepada makhluk-Nya. Sesungguhnya mereka (para pendusta) karena kenyataan yang ada, tidak menyuruh kepada kebaikan dan tidak mencegah dari kemungkaran, kecuali sebagai cara menyelamatkan diri, atau karena tujuan-tujuan tertentu yang mereka miliki untuk mencapai hal lain. Mereka berada dalam puncak kebohongan dan kefasikan dalam perkataan dan perbuatan mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Maukah kamu Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada setiap pendusta lagi banyak dosa.” (QS. Asy-Syu’ara: 221-222)

Hal ini berbeda dengan keadaan para nabi alaihimus shalatu was salam. Sesungguhnya mereka berada dalam puncak kejujuran, kebenaran, istiqamah, dan keadilan dalam apa yang mereka katakan, yang mereka perintahkan, dan yang mereka larang. Ditambah lagi dengan dukungan berupa hal-hal yang luar biasa (mukjizat), dalil-dalil yang jelas, dan bukti-bukti yang nyata. Maka semoga shalawat Allah dan salam-Nya senantiasa tercurah kepada mereka selama bumi dan langit masih ada.

Manusia tidak membutuhkan diutusnya seorang nabi setelah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, karena kesempurnaan syariatnya dan kemampuannya memenuhi kebutuhan umat manusia.

Apa gerangan yang mengharuskan diutusnya nabi baru setelah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam?!

Jika dikatakan: “Sesungguhnya umat telah rusak, maka upaya memperbaikinya membutuhkan diutusnya nabi baru.”

Kami jawab: “Apakah ada nabi yang diutus di dunia ini hanya untuk perbaikan semata, sehingga harus diutus pada zaman ini hanya untuk tujuan tersebut?!”

Sesungguhnya nabi tidak diutus kecuali untuk menerima wahyu. Kebutuhan akan wahyu hanya ada untuk menyampaikan risalah baru, atau menyempurnakan risalah yang telah ada sebelumnya, atau untuk membersihkannya dari kotoran penyimpangan dan perubahan. Ketika semua kebutuhan akan wahyu ini telah terpenuhi dengan terpeliharanya Al-Quran dan sunnah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam serta kesempurnaan agama melalui beliau shallallahu alaihi wa sallam, maka tidak ada lagi kebutuhan akan para nabi sekarang. Yang dibutuhkan sekarang hanyalah para pembaharu.” (Selesai dengan sedikit perubahan dari kitab “Ar-Radd ‘ala al-Qadianiyyah”)

Allah telah mengumumkan berakhirnya kenabian dan kerasulan dengan kenabian Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dalam firman-Nya: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 40)

Merupakan hal yang jelas dan tidak dapat dibantah bahwa keberlangsungan Al-Quran yang memuat syariat-syariat dan hukum-hukumnya sebagai dasar semua tuntutan syariat manusia, terpelihara sebagaimana diturunkan kepada Muhammad, bersama dengan keberlangsungan sirah Rasul dan sunnahnya yang menjelaskan makna-makna Al-Quran secara sahih dan tetap, adalah seperti keberlangsungan keberadaan Rasul di tengah-tengah kita dalam keadaan hidup.

Allah Ta’ala berfirman: “Maka jika kamu berselisih tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul.” (QS. An-Nisa: 59) Mengembalikan kepada Allah adalah mengembalikan kepada kitab-Nya, dan mengembalikan kepada Rasul setelah wafatnya adalah mengembalikan kepada sunnahnya.

Dengan demikian, dunia menjadi tidak membutuhkan diutusnya para nabi dan diutusnya para rasul serta pembaruan syariat bagi manusia setelah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Karena jika Allah mengutus para rasul dan nabi, mereka tidak akan menghasilkan sesuatu yang baru, dan tidak akan menambah apa yang telah dibawa oleh Rasul Muhammad shallallahu alaihi wa sallam berupa dasar-dasar dalam akidah atau dalam syariat. Allah telah menyempurnakan agama dan menyempurnakan syariat, di mana Dia berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Jika tujuan mengutus para rasul adalah menyebarkan risalah ini dan mengajak manusia kepadanya, maka ini adalah tugas ulama muslim. Mereka harus melaksanakan penyampaian dakwah ini kepada manusia.

Barangsiapa yang mengklaim bahwa kenabian tidak berakhir setelah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, atau membenarkan orang yang mengklaim demikian, maka dia murtad dari agama Islam. Karena itu, para sahabat memutuskan bahwa orang yang mengklaim kenabian setelah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam telah murtad, dan mereka memeranginya beserta pengikutnya, serta menyebut mereka sebagai orang-orang murtad. Ini adalah hal yang disepakati oleh ulama Muslim dari generasi terdahulu hingga sekarang.

Hikmah Berakhirnya Kenabian dengan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam

Kenabian Muhammad shallallahu alaihi wa sallam menjadi penutup kenabian karena beliau diutus kepada seluruh manusia hingga hari kiamat, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.” (QS. Saba: 28), “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107), “Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan: 1), “Katakanlah: ‘Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu sekalian.'” (QS. Al-A’raf: 158)

Jika risalahnya bersifat umum untuk manusia, maka syariatnya harus sempurna dan menyeluruh untuk kemaslahatan manusia, tidak membutuhkan syariat lain dan diutusnya nabi lain, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3), dan firman Allah Ta’ala: “Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89), dan firman Allah Ta’ala: “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (QS. Al-Maidah: 48)

Syaikh Abu A’la Al-Maududi berkata dalam (Ar-Radd ‘ala al-Qadianiyyah): “Jika kita menelusuri Al-Quran untuk mengetahui sebab-sebab yang menyebabkan munculnya kebutuhan mengutus nabi kepada suatu umat di bumi, kita mengetahui bahwa sebab-sebab ini ada empat:

  1. Umat ini belum pernah didatangi nabi dari Allah sebelumnya, dan tidak ada ajaran nabi yang diutus kepada umat lain yang sampai kepada mereka.
  2. Telah diutus kepada mereka nabi sebelumnya, tetapi ajarannya telah hilang atau dimainkan oleh lupa atau penyimpangan sehingga manusia tidak lagi bisa mengikutinya secara sempurna dan benar.
  3. Telah diutus kepada mereka nabi sebelumnya, tetapi ajarannya tidak menyeluruh bagi yang datang setelahnya dan tidak memenuhi tuntutan zaman mereka, sehingga muncul kebutuhan mendesak akan lebih banyak nabi untuk menyempurnakan agama.
  4. Telah diutus kepada mereka seorang nabi, tetapi kebutuhan mengharuskan diutusnya nabi lain bersamanya untuk membenarkan dan mendukungnya.

Setiap sebab dari keempat sebab ini telah hilang setelah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Maka tidak ada kebutuhan bagi umat Islam atau umat lain di dunia untuk diutus kepada mereka nabi baru setelah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Al-Quran sendiri telah menjelaskan bahwa diutusnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah kepada seluruh manusia dan untuk petunjuk manusia secara umum. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu sekalian.'” (QS. Al-A’raf: 158)

Juga, sejarah peradaban dunia menunjukkan bahwa kondisi-kondisi di dunia sejak diutusnya beliau shallallahu alaihi wa sallam dan sampai sekarang masih memungkinkan dakwahnya sampai ke setiap penjuru dunia dan kepada setiap umat. Maka tidak ada kebutuhan setelah itu akan nabi baru untuk suatu umat di dunia atau wilayah tertentu. Dengan demikian, sebab pertama telah hilang.

Yang juga disaksikan oleh Al-Quran dan didukung oleh khazanah kitab-kitab hadits dan sirah, bahwa ajaran yang dibawa oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam masih hidup dan terpelihara dalam bentuk aslinya. Tidak dimainkan oleh lupa, penyimpangan, atau perubahan. Adapun kitab yang dibawanya, tidak terjadi penyimpangan, pengurangan, atau penambahan pada satu huruf pun, dan tidak mungkin terjadi sampai hari kiamat. Adapun petunjuk yang diberikannya kepada manusia melalui perkataan dan perbuatannya, kita masih mendapati jejaknya sampai hari ini hidup dan terpelihara seakan-akan kita berada di hadapan beliau shallallahu alaihi wa sallam dan di zamannya. Dengan demikian, sebab kedua telah hilang.

Kemudian Al-Quran juga menyatakan dengan tegas bahwa Allah Ta’ala telah menyempurnakan agama-Nya melalui Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Dengan demikian, sebab ketiga juga telah hilang.

Kemudian, jika kebutuhan mengharuskan mengutus nabi bersama Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam untuk mendukung dan membenarkannya, tentu akan diutus pada zamannya shallallahu alaihi wa sallam. Dengan demikian, sebab keempat juga telah hilang.

Sebab khusus apa yang tersisa dari hilangnya keempat sebab ini?” Selesai maksud dari perkataannya.

Karamah Para Wali

Kita telah membahas tentang ayat-ayat para nabi, perbedaan antara ayat-ayat tersebut dengan keajaiban para penyihir dan dukun serta keajaiban penemuan-penemuan modern, dan pengaruh yang dimilikinya. Kita akan membahas, insya Allah, tentang karamah para wali karena ada kaitannya dengan ayat-ayat para nabi, dan menjelaskan perbedaan antara karamah tersebut dengan keajaiban para penyihir dan penipu.

Para wali Allah Azza wa Jalla adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 62-63) Setiap orang mukmin yang bertakwa adalah wali Allah Azza wa Jalla sesuai kadar iman dan takwanya. Allah mungkin menampakkan melalui tangannya hal-hal yang luar biasa, yang disebut karamah.

Karamah adalah hal yang luar biasa yang Allah jalankan melalui tangan sebagian orang saleh dari para pengikut rasul, sebagai penghormatan dari Allah kepadanya karena berkah mengikuti para rasul shallallahu alaihim wa sallam.

Tidak setiap wali mendapat karamah, tetapi hanya sebagian dari mereka, baik karena kuatnya iman mereka, atau karena kebutuhan mereka, atau untuk menegakkan hujjah atas lawan yang menentang kebenaran. Para wali yang tidak menampakkan karamah, hal itu tidak menunjukkan kekurangan mereka, sebagaimana mereka yang mendapat karamah tidak menunjukkan bahwa mereka lebih utama dari yang lain.

Karamah para wali adalah hak berdasarkan ijma para imam Islam dan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Al-Quran Al-Karim dan sunnah yang sahih telah menunjukkannya. Yang mengingkarinya adalah ahli bid’ah dari kalangan Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan pengikut mereka. Ini adalah pengingkaran terhadap apa yang telah tetap dalam Al-Quran dan sunnah. Dalam Al-Quran Al-Karim terdapat kisah Ashab al-Kahf dan kisah Maryam. Dalam sunnah yang sahih seperti turunnya malaikat seperti naungan yang di dalamnya ada yang menyerupai pelita untuk mendengarkan bacaan Usaid bin Hudair radhiyallahu anhu, dan salam malaikat kepada Imran bin Hushain radhiyallahu anhu. Ada banyak contoh lainnya. Barangsiapa yang ingin mengetahui masalah ini, hendaknya merujuk kepada kitab “Al-Furqan baina Auliya ar-Rahman wa Auliya asy-Syaithan” karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah.

Telah terjadi kerancuan dan kekacauan besar di antara manusia dalam masalah karamah para wali. Sekelompok mengingkari terjadinya dan menafikannya sama sekali, yaitu Jahmiyyah, Mu’tazilah, dan pengikut mereka. Mereka menyelisihi nash-nash dan membantah kenyataan. Sekelompok berlebihan dalam menetapkannya, yaitu orang awam dan ulama sesat. Mereka menetapkan karamah untuk orang-orang fasik dan para pelaku maksiat yang bukan wali Allah, bahkan wali setan. Mereka mengandalkan hikayat-hikayat palsu, mimpi-mimpi, dan keajaiban setan dalam menetapkan hal itu. Mereka mengklaim karamah untuk para penyihir, penipu, dan penipu dari para syaikh tarekat sufi dan para pembohong. Mereka menyembah mereka selain Allah, baik hidup maupun mati, dan membangun kuburan di atas makam orang-orang yang mereka klaim sebagai wali melalui propaganda luas yang dibuat untuk mereka. Mereka menisbatkan kepada mereka kemampuan mengatur alam semesta dan memenuhi hajat orang yang berdoa kepada mereka, meminta pertolongan dari mereka, dan meminta bantuan dari mereka. Mereka menyebut mereka sebagai qutub dan ghauth karena karamah-karamah yang diklaim dan hikayat-hikayat palsu tersebut. Klaim karamah telah dijadikan dalih untuk menyembah orang yang dinisbatkan kepadanya. Mungkin mereka menyebut sihir, penipuan, dan tipu daya sebagai karamah karena mereka tidak membedakan antara karamah dan keadaan setan, dan tidak membedakan antara wali Rahman dan wali setan. Padahal diketahui bahwa bahkan orang yang terbukti sebagai wali Allah berdasarkan nash dari Al-Quran atau sunnah, meskipun terjadi karamah melalui tangannya dari Allah, tidak boleh disembah selain Allah, dan tidak boleh diambil berkah darinya atau dari kuburnya, karena ibadah adalah hak Allah semata.

Perbedaan antara Karamah Para Wali dan Keajaiban Para Penyihir, Penipu, dan Dukun

Di antaranya: Karamah para wali sebabnya adalah takwa dan amal saleh, sedangkan perbuatan para penipu sebabnya adalah kekufuran, kefasikan, dan kefasikan.

Di antaranya: Karamah para wali digunakan untuk kebaikan dan takwa, atau untuk urusan yang mubah, sedangkan perbuatan para penipu dan dukun digunakan untuk hal-hal yang haram seperti syirik, kekufuran, dan pembunuhan.

Di antaranya: Karamah para wali menguat dengan zikir Allah dan tauhid, sedangkan keajaiban para penyihir dan penipu batal atau melemah ketika zikir Allah, bacaan Al-Quran, dan tauhid.

Dengan ini jelas bahwa antara karamah para wali dan tipu daya para penipu dan dukun terdapat perbedaan yang membedakan yang hak dari yang batil.

Sebagaimana yang kami sebutkan, para wali Allah yang sesungguhnya tidak memanfaatkan apa yang Allah jalankan melalui tangan mereka berupa karamah untuk menipu dan menarik perhatian manusia agar mengagungkan mereka. Karamah justru menambah kerendahan hati, cinta kepada Allah, dan menghadap kepada ibadah-Nya. Berbeda dengan para penipu dan dukun ini, mereka memanfaatkan keadaan setan yang terjadi melalui tangan mereka untuk menarik manusia agar mengagungkan mereka, mendekatkan diri kepada mereka, dan menyembah mereka selain Allah Azza wa Jalla, sehingga setiap orang dari mereka membentuk tarekat khusus dan jamaah yang disebut dengan namanya, seperti Syaziliyyah, Rifa’iyyah, Naqsyabandiyyah, dan lain-lain dari tarekat-tarekat sufi.

Kesimpulannya, manusia terbagi dalam masalah karamah menjadi tiga bagian:

Bagian yang berlebihan dalam menafikannya, sehingga mereka mengingkari apa yang tetap dalam Al-Kitab dan sunnah berupa karamah-karamah sahih yang terjadi sesuai kebenaran bagi para wali Allah yang bertakwa.

Bagian yang berlebihan dalam menetapkan karamah, sehingga mereka meyakini bahwa sihir, tipu daya, dan penipuan termasuk karamah. Mereka memanfaatkannya sebagai sarana syirik dan keterikatan dengan pemiliknya, baik yang hidup maupun yang mati, sehingga timbul dari hal itu syirik akbar dengan menyembah kubur dan mengagungkan pribadi-pribadi serta berlebihan terhadap mereka karena karamah dan khurafat yang mereka klaim untuk mereka.

Bagian ketiga – yaitu Ahlus Sunnah wal Jamaah – bersikap moderat dalam masalah karamah antara berlebihan dan mengurangi. Mereka menetapkan apa yang ditetapkan oleh Al-Kitab dan sunnah, tidak berlebihan terhadap pemiliknya, tidak bergantung kepada mereka selain Allah, tidak meyakini bahwa mereka lebih utama dari yang lain. Bahkan ada yang lebih utama dari mereka meskipun tidak terjadi karamah melalui tangannya. Mereka menafikan apa yang menyelisihi Al-Kitab dan sunnah berupa penipuan, tipu daya, dan menipu, dan meyakini bahwa itu adalah perbuatan setan, bukan karamah para wali. Maka segala puji dan berkat bagi Allah atas kejelasan kebenaran dan terungkapnya kebatilan. “Supaya binasa orang yang binasa dengan keterangan yang nyata, dan supaya hidup orang yang hidup dengan keterangan yang nyata pula. Dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 42)

 

 

ASAS KELIMA: IMAN KEPADA HARI AKHIR

 

Pertama: Iman kepada Tanda-tanda Kiamat

Pendahuluan

Pokok Kelima: Iman kepada Hari Akhir

Yang mencakup: Pertama: Iman kepada tanda-tanda kiamat.

Karena Hari Akhir didahului oleh tanda-tanda yang menunjukkan dekatnya waktu terjadinya yang disebut tanda-tanda kiamat, maka pantas bagi kita untuk menyebutkan yang terpenting di antaranya, karena beriman kepadanya adalah wajib dan merupakan bagian inti dari akidah.

Allah Ta’ala berfirman: “Telah dekat datangnya saat (kiamat) dan bulan telah terbelah” (Surat Al-Qamar: 1). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Maka apakah mereka menunggu-nunggu selain datangnya saat (kiamat) kepada mereka dengan tiba-tiba? Sesungguhnya tanda-tanda kedatangannya telah datang” (Surat Muhammad: 18); artinya: tanda-tanda dan petunjuk-petunjuknya, bentuk tunggalnya adalah syarat dengan fathah pada ra’, yaitu tanda.

Imam Al-Baghawi rahimahullah berkata: “Diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk tanda-tanda kiamat.”

Allah Ta’ala berfirman: “Dan tahukah kamu barangkali saat (kiamat) itu sudah dekat” (Surat Asy-Syura: 17). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya saat (kiamat) kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadari” (Surat Az-Zukhruf: 66). Dan karena dekatnya terjadinya hari kiamat dan kepastiannya, Allah Subhanahu menjadikannya seperti esok hari. Allah Ta’ala berfirman: “Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)” (Surat Al-Hasyr: 18). Esok adalah hari setelah harimu. Dan Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya mereka memandangnya jauh, dan Kami memandangnya dekat” (Surat Al-Ma’arij: 6-7).

At-Tirmidzi meriwayatkan dan menshahihkannya dari hadits Anas secara marfu’: “Aku diutus bersama kiamat seperti ini” dan beliau menunjuk dengan jari telunjuk dan jari tengah.

Dalam Shahihain dari Umar radhiyallahu ‘anhu secara marfu’: “Sesungguhnya masa kalian di antara umat-umat sebelum kalian adalah dari shalat Ashar hingga terbenamnya matahari.” Dan dalam lafadz lain: “Sesungguhnya sisa hidup kalian dibandingkan umat-umat sebelum kalian adalah seperti waktu antara shalat Ashar hingga terbenamnya matahari.”

Karena urusan kiamat itu sangat berat, maka perhatian terhadapnya lebih besar daripada yang lain. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak menjelaskan tanda-tanda dan petunjuk-petunjuknya, dan memberitahukan tentang fitnah-fitnah yang akan datang sebelumnya, serta mengingatkan umatnya dan memperingatkan mereka agar bersiap untuk itu.

Adapun waktu kedatangannya, maka itu adalah sesuatu yang Allah Ta’ala khususkan untuk diketahui-Nya dan disembunyikan dari para hamba demi kemaslahatan mereka, agar mereka selalu dalam keadaan siap siaga, sebagaimana Allah Subhanahu menyembunyikan dari setiap jiwa waktu datangnya ajalnya, agar selalu dalam keadaan siap siaga dan menunggu, dan tidak bermalas-malasan dalam beramal.

Al-‘Allaamah As-Safaarini berkata: “Kemudian ketahuilah bahwa tanda-tanda kiamat dan petunjuk-petunjuknya terbagi menjadi tiga bagian: bagian yang telah muncul dan berlalu, yaitu tanda-tanda yang jauh. Bagian yang telah muncul namun belum berlalu, bahkan masih terus bertambah. Dan bagian ketiga: tanda-tanda besar yang setelahnya datang kiamat, dan itu berurutan seperti susunan manik-manik yang putus talinya.”

Yang pertama: “Maksudku yang telah muncul, berlalu, dan berakhir”: Di antaranya: diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, wafatnya beliau, dan pembebasan Baitul Maqdis. Di antaranya: terbunuhnya orang mukmin Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Hudzaifah berkata: “Fitnah pertama adalah terbunuhnya Utsman.” Dan dia menyebutkan perang-perang yang terjadi di antara kaum muslimin setelah itu, dan munculnya golongan-golongan sesat seperti Khawarij dan Rafidhah. Kemudian dia berkata: “Di antaranya: keluarnya pendusta-pendusta dajjal, dan setiap mereka mengaku bahwa dia adalah nabi.”

Di antaranya: hilangnya kerajaan Arab; diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.

Di antaranya: melimpahnya harta; diriwayatkan oleh dua Syaikh dan lainnya.

Di antaranya: banyaknya gempa bumi, tanah longsor, perubahan bentuk, dan pelemparan…

Dan selain itu dari apa yang diberitahukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa itu termasuk tanda-tanda kiamat, lalu muncul, berlalu, dan berakhir.

Yang kedua: Tanda-tanda menengah. Yaitu yang telah muncul namun tidak berakhir, bahkan terus bertambah dan banyak, dan ini sangat banyak:

Di antaranya sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kiamat tidak akan terjadi hingga orang yang paling bahagia di dunia adalah laknatullah bin laknatullah.” Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi, dan Adh-Dhiya Al-Maqdisi dari hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu. Laknatullah adalah hamba, orang bodoh, dan orang hina. Maknanya: kiamat tidak akan terjadi hingga orang-orang hina, bodoh, dan sejenisnya menjadi pemimpin manusia.

Di antara tanda-tandanya: sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana orang yang sabar atas agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Anas.

Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kiamat tidak akan terjadi hingga manusia saling membanggakan diri dalam masjid-masjid.” Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan Ibnu Majah dari Anas radhiyallahu ‘anhu.

Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Di akhir zaman akan ada hamba-hamba yang bodoh dan qari’ (pembaca Al-Qur’an) yang fasik.” Dan dalam lafadz lain: “fasiq.” Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan Al-Hakim dari Anas.

Di antaranya bahwa hilal terlihat saat ia terbit, lalu dikatakan: untuk dua malam, karena membesarnya dan besarnya. At-Thabrani meriwayatkan maknanya dari Ibnu Mas’ud. Dalam lafadz lain: “Di antara tanda-tanda kiamat adalah membesarnya bulan-bulan sabit” dengan kha’ mu’jamah, artinya: besarnya. Dan diriwayatkan juga dengan jim.

Di antaranya: menjadikan masjid-masjid sebagai jalan…”

Hingga dia berkata: “Di antaranya: apa yang ada dalam Shahih Bukhari dan lainnya dari hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Maukah aku ceritakan kepada kalian hadits yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada yang menceritakannya kepada kalian selain aku? Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat: diangkatnya ilmu, banyaknya kebodohan, banyaknya zina, banyaknya minum khamar, sedikitnya kaum laki-laki, dan banyaknya kaum perempuan, hingga untuk lima puluh perempuan ada satu pengurus.'”

Dalam Shahih dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang dalam suatu majelis berbicara kepada kaum, datanglah seorang badui bertanya: ‘Kapan kiamat?’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan pembicaraannya. Sebagian kaum berkata: dia mendengar apa yang dikatakannya. Sebagian lagi berkata: bahkan dia tidak mendengar. Hingga ketika beliau selesai berbicara, beliau berkata: ‘Di mana orang yang bertanya tentang kiamat?’ Dia berkata: ‘Ini aku, ya Rasulullah!’ Beliau berkata: ‘Apabila amanah disia-siakan, maka tunggulah kiamat.’ Dia berkata: ‘Bagaimana penyia-nyiaannya?’ Beliau berkata: ‘Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat.'”

Yang ketiga dari tanda-tanda kiamat adalah tanda-tanda besar dan petunjuk-petunjuk besar yang setelahnya datang kiamat:

Di antaranya: keluarnya Mahdi, Masih Dajjal, turunnya Isa bin Maryam ‘alaihissalam, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, runtuhnya Ka’bah, asap, diangkatnya Al-Qur’an, terbitnya matahari dari barat, keluarnya hewan (dabbah), keluarnya api dari dasar Aden, kemudian ditiupnya sangkakala dengan tiupan ketakutan, kemudian kematian dan binasanya makhluk, kemudian tiupan kebangkitan dan syurga. Bagaimanapun, urusan ini besar, dan kita dalam keadaan lalai. Telah muncul dari tanda-tanda ini banyak hal. Maka kita memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar menetapkan kita atas agama-Nya, mewafatkan kita dalam Islam, dan melindungi kita dari kejahatan fitnah, yang tampak maupun yang tersembunyi.

Ini termasuk tanda-tanda kenabian dan mukjizat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana beliau memberitahukan tentang urusan-urusan masa depan dari apa yang Allah ‘azza wa jalla beritahukan kepadanya dalam ilmu-Nya, lalu terjadi sebagaimana yang beliau beritahukan. Ini termasuk yang menguatkan iman hamba.

Dalam pemberitahuan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang itu terdapat rahmat bagi para hamba agar mereka waspada, bersiap, dan berada dalam keadaan berwawasan tentang urusan mereka. Maka shalawat Allah dan salam-Nya atas Nabi yang mulia ini yang telah menyampaikan penyampaian yang jelas, dan menjelaskan dengan penjelasan yang sempurna, dan kita atas itu termasuk yang menyaksikan.

Pertama dari tanda-tanda ini adalah: munculnya Mahdi, kemudian keluarnya Dajjal, kemudian turunnya Masih ‘alaihissalam, kemudian berturut-turut.

Munculnya Mahdi:

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hari-hari tidak akan habis dan masa tidak akan berlalu hingga orang Arab dipimpin oleh seorang laki-laki dari keluargaku yang namanya sama dengan namaku.” Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi dengan sanad-sanad yang shahih. At-Tirmidzi berkata: “Ini hadits hasan shahih.” Dalam bab ini ada riwayat dari Ali, Abu Sa’id, Ummu Salamah, dan Abu Hurairah.

Al-‘Allaamah As-Safaarini berkata: “Telah banyak riwayat dan atsar tentang urusan Mahdi.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Hadits-hadits yang dijadikan hujjah tentang keluarnya Mahdi adalah hadits-hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ahmad, dan lainnya.”

Nama Mahdi adalah: Muhammad bin Abdullah, dari keturunan Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Dia akan keluar di akhir zaman ketika bumi telah dipenuhi dengan kezaliman dan ketidakadilan, lalu dia akan memenuhinya dengan keadilan dan kesetaraan.

Al-‘Allaamah As-Safaarini berkata: “Telah banyak pendapat tentang Mahdi hingga dikatakan: tidak ada Mahdi kecuali Isa. Yang benar yang dipegang oleh ahli kebenaran adalah bahwa Mahdi berbeda dengan Isa, dan bahwa dia akan keluar sebelum turunnya Isa ‘alaihissalam. Telah banyak riwayat tentang keluarnya hingga mencapai tingkat tawatur ma’nawi, dan tersebar di antara ulama Sunnah hingga dihitung sebagai bagian dari keyakinan mereka…”

Aku berkata: Manusia telah terbagi dalam urusan Mahdi menjadi dua kutub dan tengah:

Kutub pertama: yang mengingkari keluarnya Mahdi, seperti sebagian penulis kontemporer yang tidak memiliki pengalaman dengan nash-nash dan pendapat ahli ilmu, melainkan hanya mengandalkan pendapat dan akal mereka semata.

Kutub kedua: yang berlebih-lebihan dalam urusan Mahdi dari golongan-golongan sesat, hingga setiap golongan mengklaim untuk pemimpin mereka bahwa dia adalah Mahdi yang ditunggu. Rafidhah mengklaim bahwa Mahdi adalah imam mereka yang ditunggu yang mereka tunggu keluarnya dari basement, dan mereka menyebutnya Muhammad bin Hasan Al-Askari, masuk basement Samarra sebagai anak kecil sejak lebih dari seribu tahun lalu, dan mereka menunggu keluarnya. Fathimiyyah mengklaim bahwa pemimpin mereka adalah Mahdi…

Demikianlah setiap yang ingin berkuasa dan menguasai manusia serta menipu mereka mengklaim bahwa dia adalah Mahdi yang ditunggu, sebagaimana yang ingin menipu dan bertipu daya dari kalangan sufi mengklaim bahwa dia dari Ahlul Bait dan bahwa dia adalah sayyid.

Adapun yang tengah dalam urusan Mahdi adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menetapkan keluarnya Mahdi sesuai dengan apa yang dituntut oleh nash-nash shahih tentang namanya, nama ayahnya, nasabnya, sifat-sifatnya, dan waktu keluarnya. Mereka tidak melampaui apa yang datang dalam hadits-hadits tentang itu. Untuk keluarnya ada petunjuk-petunjuk dan tanda-tanda yang mendahuluinya, yang disebutkan oleh ahli ilmu.

Al-‘Allaamah As-Safaarini berkata: “Telah banyak pendapat tentang Mahdi hingga dikatakan: tidak ada Mahdi kecuali Isa. Yang benar yang dipegang oleh ahli kebenaran adalah bahwa Mahdi berbeda dengan Isa, dan bahwa dia akan keluar sebelum turunnya Isa ‘alaihissalam. Telah banyak riwayat tentang keluarnya hingga mencapai tingkat tawatur ma’nawi, dan tersebar di antara ulama Sunnah hingga dihitung sebagai bagian dari keyakinan mereka…”

Hingga dia berkata: “Dan telah diriwayatkan dari siapa yang disebutkan dari para sahabat dan selain yang disebutkan dari mereka radhiyallahu ‘anhum dengan riwayat-riwayat yang beragam, dan dari tabi’in setelah mereka apa yang bersama-sama memberikan ilmu yang pasti. Maka beriman kepada keluarnya Mahdi adalah wajib sebagaimana yang ditetapkan oleh ahli ilmu dan dicatat dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”

Kemudian As-Safaarini berkata dalam menjelaskan sirahnya: “Ahli ilmu berkata: dia akan beramal dengan sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak membangunkan orang yang tidur, berperang demi sunnah, tidak meninggalkan sunnah kecuali menegakkannya, dan tidak ada bid’ah kecuali menghilangkannya. Dia akan menegakkan agama di akhir zaman sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegakkannya. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan mengembalikan kepada kaum muslimin kerukunan dan nikmat mereka. Dia akan memenuhi bumi dengan kesetaraan dan keadilan sebagaimana dipenuhi dengan kezaliman dan ketidakadilan.”

Dan dia berkata dalam menggambarkannya juga: “Kemudian akan keluar seorang laki-laki dari keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Mahdi, yang baik sirahnya, menyerang kota Kaisar, dan dia adalah amir terakhir dari umat Muhammad. Di zamannya akan keluar Dajjal dan turun Isa bin Maryam.”

Dia berkata: “Al-‘Allaamah Asy-Syaikh Mir’i dalam kitabnya ‘Fawa’id Al-Fikr’ menukil dari Abu Al-Hasan Muhammad bin Al-Husain bahwa dia berkata: Telah mutawatir hadits-hadits dan tersebar luas dengan banyaknya perawi dari Al-Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang datangnya Mahdi, bahwa dia dari keluarganya shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa dia akan memerintah tujuh tahun, bahwa dia akan memenuhi bumi dengan keadilan, bahwa dia akan keluar bersama Isa, lalu membantunya membunuh Dajjal di pintu Ludd di tanah Palestina, dan bahwa dia akan mengimami umat ini dan Isa shalat di belakangnya [yakni: satu shalat, yaitu Subuh].”

Itulah Mahdi yang diberitahukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjelaskan sifat-sifat pembedanya, waktu keluarnya, dan sirahnya.

Telah mengklaim kemahdiyan sekelompok orang sesat pada waktu yang terlalu dini dari waktunya, dan tidak berlaku atas mereka sifat-sifatnya. Mereka hanya ingin dengan itu menipu orang-orang bodoh dan memanfaatkan klaim pribadi ini untuk kepentingan khusus mereka. Maka Allah menampakkan kebohongan mereka dan membongkar kebatilan mereka. Jangan heran, karena telah ada yang mengklaim kenabian, dan mereka berdusta atas Allah. “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah atau berkata: ‘Telah diwahyukan kepadaku’, padahal tidak ada yang diwahyukan kepadanya sedikitpun” (Surat Al-An’am: 93).

Kita memohon kepada Allah agar menunjukkan kepada kita kebenaran sebagai kebenaran dan memberi kita taufik mengikutinya, menunjukkan kepada kita kebatilan sebagai kebatilan dan memberi kita taufik menjauhinya, mencukupkan kita dari kejahatan imam-imam yang menyesatkan dan penipu-penipu dajjal. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Kemunculan Dajjal:

Al-Masih ad-Dajjal adalah penyesat yang dusta, masih kesesatan. Kami berlindung kepada Allah dari fitnah-nya. Para nabi alaihim ash-shalatu was-salam telah memperingatkan umat mereka tentang dia, memperingatkan bangsa-bangsa mereka darinya, menjelaskan sifat-sifatnya. Nabi kami Muhammad shallallahu alaihi wa sallam lebih banyak memperingatkan darinya, menjelaskan sifat-sifatnya, dan menggambarkannya kepada umatnya dengan gambaran yang tidak akan tersembunyi bagi orang yang memiliki wawasan.

Dalam riwayat Tirmidzi disebutkan bahwa dia akan keluar dari Khurasan.

Dalam Shahih Muslim dari Anas radhiallahu anhu secara marfu’: “Dajjal akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi Isfahan yang mengenakan jubah-jubah.”

Dia disebut Al-Masih karena matanya yang terhapus, atau karena dia akan menyapu bumi, yaitu melintasinya.

Dia disebut Dajjal dari kata dajl yang berarti pencampuran. Dikatakan dajala jika mencampur dan menyamarkan. Dajjal dengan pola fa’al adalah bentuk mubalaghah (berlebihan), artinya dia banyak berbohong dan menyesatkan.

Dia akan keluar pada zaman Mahdi.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Kemudian dia (Dajjal) diizinkan keluar di akhir zaman. Pertama dia muncul dalam bentuk seorang raja dari raja-raja yang zalim, kemudian mengklaim kenabian, lalu mengklaim ketuhanan. Para bodoh dari anak Adam akan mengikutinya, juga para penjahat dari rakyat jelata dan orang awam. Sedangkan orang-orang yang diberi hidayah Allah dari kalangan orang shalih dan hizb Allah yang bertakwa akan menentangnya dan menolaknya. Dia akan turun dan mengambil negeri demi negeri, benteng demi benteng, wilayah demi wilayah, distrik demi distrik. Tidak ada negeri yang tidak diinjaknya dengan pasukan berkuda dan pejalan kaki, kecuali Makkah dan Madinah. Masa tinggalnya di bumi empat puluh hari: sehari seperti setahun, sehari seperti sebulan, sehari seperti seminggu, dan hari-hari lainnya seperti hari-hari manusia biasa. Rata-rata itu adalah satu tahun dua bulan setengah. Allah menciptakan banyak keajaiban di tangannya untuk menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dari makhluk-Nya, dan dengan itu orang-orang beriman akan tetap teguh, sehingga mereka bertambah iman atas iman mereka dan bertambah hidayah atas hidayah mereka. Turunnya Isa bin Maryam alaihish shalatu was-salam, masih hidayah, akan terjadi pada masa masih kesesatan. Para mukmin akan berkumpul padanya dan para hamba Allah yang bertakwa akan bergabung dengannya. Al-Masih Isa bin Maryam alaihis salam akan berjalan bersama mereka menuju Dajjal yang sedang menuju Baitul Maqdis. Dajjal akan lari darinya, lalu dia mengejarnya hingga di pintu kota Lud dan membunuhnya dengan tombaknya saat dia masuk ke kota tersebut. Dia berkata kepadanya: ‘Aku memiliki pukulan untukmu yang tidak akan luput dariku.’ Ketika Dajjal menghadapinya, dia akan meleleh seperti garam meleleh dalam air, lalu dia mengejarnya dan membunuhnya dengan tombak di pintu Lud. Kematiannya akan terjadi di sana, semoga Allah melaknatinya, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits-hadits shahih dari berbagai jalur.” Berakhir perkataan Ibnu Katsir rahimahullah dalam meringkas kisah Dajjal sesuai dengan yang disebutkan dalam nash-nash shahih, dan ini adalah ringkasan yang baik dan bermanfaat.

Yang ditunjukkan oleh nash-nash tentang urusan Dajjal dan fitnah-nya adalah bahwa siapa yang menaatinya, dia akan memerintahkan langit lalu hujan turun, dan memerintahkan bumi lalu tanaman tumbuh untuk mereka yang dimakan oleh hewan ternak dan diri mereka sendiri, dan hewan ternak mereka kembali gemuk dan bersusu. Sedangkan yang tidak menaatinya dan menolak perintahnya akan ditimpa kekeringan, kelaparan, paceklik, kekurangan, kematian hewan ternak, dan berkurangnya harta, jiwa, dan buah-buahan. Harta karun bumi akan mengikutinya seperti lebah pekerja, dan dia akan membunuh seorang pemuda kemudian menghidupkannya kembali.

Semua itu adalah ujian yang Allah ujikan kepada hamba-hamba-Nya di akhir zaman. Dengan itu Allah menyesatkan banyak orang. Meskipun demikian, dia lemah di hadapan Allah, kurang, jelas kekurangan, kefasikan, dan kezaliman-nya, meskipun dia memiliki keajaiban-keajaiban tersebut. Tertulis di antara kedua matanya “kafir”, dan apa yang Allah jalankan melalui tangannya adalah cobaan dari Allah untuk hamba-hamba-Nya. Ini adalah cobaan yang berbahaya, dan tidak akan selamat darinya kecuali ahli iman dan yakin.

Karena bahayanya cobaan dan beratnya fitnah-nya, para nabi memperingatkan umat mereka darinya, dan yang paling keras memperingatkan umatnya adalah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Dari Abu Ubaidah bin Jarrah radhiallahu anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada nabi setelah Nuh kecuali dia memperingatkan kaumnya dari Dajjal, dan aku memperingatkan kalian darinya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk berlindung dari fitnah-nya di akhir setiap shalat. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian selesai dari tasyahud akhir, hendaklah dia berlindung kepada Allah dari empat perkara: dari azab jahannam, dari azab kubur, dari fitnah hidup dan mati, dan dari kejahatan Al-Masih ad-Dajjal.” (HR. Imam Ahmad dan Muslim)

Hadits-hadits tentang penetapan keluarnya Dajjal, penjelasan fitnah-nya, dan berlindung darinya telah mutawatir dari berbagai jalur. Ahlu Sunnah wal Jama’ah telah bersepakat tentang keluarnya Dajjal di akhir zaman dan menyebutkan hal itu dalam pembahasan akidah. Siapa yang mengingkari keluarnya, maka dia telah menyelisihi apa yang ditunjukkan oleh hadits-hadits mutawatir dan menyelisihi apa yang dipegang oleh Ahlu Sunnah wal Jama’ah.

Yang mengingkari keluarnya hanyalah sebagian kelompok bid’ah seperti Khawarij dan Jahmiyyah, sebagian Mu’tazilah, sebagian penulis kontemporer, dan orang-orang yang mengaku ulama. Mereka tidak mendasarkan pada dalil untuk menolak nash-nash mutawatir kecuali akal dan hawa nafsu mereka. Orang-orang seperti ini tidak ada pengaruhnya dan tidak dianggap pendapat mereka.

Kewajiban bagi seorang Muslim adalah beriman kepada apa yang shahih dari Allah dan Rasul-Nya, meyakini apa yang ditunjukkannya, dan tidak termasuk orang-orang yang Allah Ta’ala berfirman tentang mereka: “Bahkan mereka mendustakan apa yang belum mereka pahami ilmunya dan belum datang kepada mereka takwilnya.” (Yunus: 39) Karena konsekuensi iman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah berserah diri kepada apa yang datang dari keduanya dan beriman kepadanya. Siapa yang tidak melakukan hal itu, maka dia mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah.

Kami memohon kepada Allah keselamatan dari keraguan, syirik, kufur, kemunafikan, dan akhlak buruk, dan agar Dia tidak memalingkan hati kami setelah Dia memberi kami hidayah. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Turunnya Isa bin Maryam alaihis salam:

Turunnya Al-Masih Isa bin Maryam alaihish shalatu was-salam sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Qur’an, telah diberitakan oleh yang benar lagi dibenarkan, yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, nabi kami Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Berita tentang hal ini mutawatir darinya, dan para ulama umat bersepakat tentangnya dari generasi terdahulu hingga kemudian, dan mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang wajib diyakini dan diimani.

As-Safarini berkata: “Turunnya dia alaihish shalatu was-salam telah tetap dengan Al-Kitab, As-Sunnah, dan ijma’ umat:

Adapun Al-Kitab, maka firman-Nya: ‘Dan tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab kecuali akan beriman kepadanya sebelum kematiannya.’ (An-Nisa: 159) Yaitu: mereka pasti akan beriman kepada Isa sebelum kematian Isa, dan itu ketika dia turun dari langit di akhir zaman, sehingga agama menjadi satu, agama Ibrahim yang hanif muslim…”

Sampai dia berkata: “Adapun As-Sunnah, maka dalam Shahihain dan lainnya dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, hampir-hampir turun di antara kalian Ibnu Maryam sebagai hakim yang adil, lalu dia akan mematahkan salib, membunuh babi, dan menghapuskan jizyah…’ hadits. Dalam Muslim darinya: ‘Demi Allah, pasti akan turun Ibnu Maryam sebagai hakim yang adil, lalu dia akan mematahkan salib’ dengan lafazh serupa. Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Akan senantiasa ada golongan dari umatku yang berperang atas kebenaran, menang, hingga hari kiamat. Lalu turunlah Isa bin Maryam, maka pemimpin mereka berkata: Mari shalatlah bersama kami. Maka dia berkata: Tidak, sesungguhnya sebagian kalian adalah pemimpin atas sebagian yang lain, sebagai penghormatan Allah terhadap umat ini.’

Adapun ijma’, maka umat telah bersepakat tentang turunnya, dan tidak ada yang menyelisihi dari ahli syariat. Yang mengingkarinya hanyalah para filosof, mulhid, atau orang yang tidak dianggap penyelisihannya. Telah terbentuk ijma’ umat bahwa dia akan turun dan memerintah dengan syariat Muhammad ini, bukan dengan syariat yang mandiri ketika turun dari langit, meskipun kenabian tetap ada padanya dan dia memiliki sifat tersebut. Dia akan menerima urusan dari Mahdi, dan Mahdi akan menjadi sahabat dan pengikutnya seperti sahabat-sahabat Mahdi lainnya.” Berakhir perkataan As-Safarini rahimahullah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Isa masih hidup di langit, belum mati. Jika dia turun dari langit, dia tidak akan memerintah kecuali dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, tidak dengan sesuatu yang menyelisihi keduanya.”

Dia juga berkata: “Isa alaihis salam masih hidup, dan telah tetap dalam Shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: ‘Akan turun di antara kalian Ibnu Maryam sebagai hakim yang adil dan imam yang adil, lalu dia akan mematahkan salib, membunuh babi, dan menghapuskan jizyah.’ Tetap dalam Shahih darinya bahwa dia akan turun di menara putih sebelah timur Damaskus dan membunuh Dajjal. Siapa yang ruhnya telah berpisah dari jasadnya, jasadnya tidak akan turun dari langit. Jika dihidupkan, maka dia akan bangkit dari kuburnya. Adapun firman Allah Ta’ala: ‘Sesungguhnya Aku akan mematikanmu dan mengangkatmu kepada-Ku serta membersihkanmu dari orang-orang yang kafir’ (Ali Imran: 55), maka ini adalah dalil bahwa Dia tidak bermaksud kematian dengan itu. Seandainya Dia bermaksud kematian dengan itu, niscaya Isa dalam hal itu sama seperti orang-orang mukmin lainnya, karena Allah mengambil ruh mereka dan menaikkannya ke langit. Maka diketahui bahwa tidak ada kekhususan dalam hal itu, demikian juga firman-Nya: ‘dan membersihkanmu dari orang-orang yang kafir.’ Seandainya ruhnya telah berpisah dari jasadnya, niscaya jasadnya ada di bumi seperti jasad para nabi lainnya atau selain mereka dari para nabi. Allah Ta’ala berfirman dalam ayat lain: ‘Dan mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi diserupakan bagi mereka. Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa, tetapi Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya.’ (An-Nisa: 157-158) Maka firman-Nya di sini: ‘tetapi Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya’ menjelaskan bahwa Dia mengangkat jasad dan ruhnya, sebagaimana tetap dalam Shahih bahwa dia akan turun dengan jasad dan ruhnya. Seandainya yang dimaksud adalah kematiannya, niscaya dikatakan: ‘Dan mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya tetapi dia mati.’ Karena itulah sebagian ulama berkata: ‘Sesungguhnya Aku akan mematikanmu’ artinya mengambilmu, yaitu mengambil ruh dan jasadmu. Dikatakan: tawaffaitu al-hisab wa istawfaituhu (aku mengambil perhitungan dan meminta secara lengkap). Lafazh tawaffi tidak mengharuskan mengambil ruh tanpa jasad atau keduanya kecuali dengan dalil terpisah. Terkadang dimaksudkan dengannya mengambil dalam tidur, seperti firman Allah Ta’ala: ‘Allah mematikan jiwa-jiwa pada saat kematiannya dan (mematikan) jiwa yang tidak mati ketika tidur’ (Az-Zumar: 42), dan firman-Nya: ‘Dan Dia-lah yang mematikan kamu pada malam hari dan mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari’ (Al-An’am: 60).” Berakhir.

Al-Qadhi Iyadh berkata: “Turunnya Isa alaihis salam dan pembunuhannya terhadap Dajjal adalah hak dan benar menurut Ahlu Sunnah karena hadits-hadits shahih tentang hal itu. Tidak ada dalam akal maupun syariat yang membatalkannya, maka wajib menetapkannya. Sebagian Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan yang sependapat dengan mereka mengingkari hal itu. Mereka mengira bahwa hadits-hadits ini tertolak dengan firman Allah Ta’ala: ‘dan penutup para nabi’ (Al-Ahzab: 40), dan sabda beliau shallallahu alaihi wa sallam: ‘Tidak ada nabi setelahku,’ dan ijma’ kaum muslimin bahwa tidak ada nabi setelah nabi kami shallallahu alaihi wa sallam, dan bahwa syariatnya berlaku hingga hari kiamat dan tidak dinasakh. Ini adalah dalil yang batil, karena yang dimaksud dengan turunnya Isa alaihis salam bukanlah dia turun sebagai nabi dengan syariat yang menasakh syariat kami. Tidak ada dalam hadits-hadits ini maupun lainnya sesuatu dari hal ini, bahkan hadits-hadits ini dan yang disebutkan dalam kitab Iman dan lainnya menyatakan bahwa dia turun sebagai hakim yang adil, memerintah dengan syariat kami dan menghidupkan perkara-perkara syariat kami yang ditinggalkan manusia…” Berakhir.

Aku katakan: Di zaman kita ini, sebagian penulis jahil dan setengah ulama mengingkari turunnya Isa alaihis salam berdasarkan akal dan pemikiran mereka, mencela hadits-hadits shahih, atau menta’wilkannya dengan takwil yang batil. Kewajiban bagi seorang Muslim adalah membenarkan apa yang diberitakan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan yang shahih darinya untuk diyakini, karena itu termasuk iman kepada yang gaib yang Allah beritakan kepada rasul-Nya.

Al-Allamah As-Safarini rahimahullah berkata: “Dia akan menjadi penetap syariat nabi kami Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, karena dia adalah rasul untuk umat ini sebagaimana telah disebutkan, dan dia akan mengetahui hukum-hukum syariat ini dengan perintah Allah Ta’ala saat dia di langit sebelum turun.”

Dia berkata: “Sebagian ulama mengira bahwa dengan turunnya sayyidina Isa bin Maryam alaihis salam, taklif (kewajiban syariat) akan terangkat. Ini tertolak karena kabar-kabar yang menyatakan bahwa dia akan menjadi penetap hukum-hukum syariat ini dan pembaru baginya, karena ini adalah syariat terakhir, dan nabi kami Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah rasul terakhir. Dunia tidak akan bertahan tanpa taklif, karena keberlangsungan dunia hanya dengan konsekuensi taklif, hingga tidak diucapkan di bumi: Allah, Allah. Ini disebutkan Al-Qurthubi dalam Tadzkirah-nya.”

Dia berkata: “Adapun masa dan wafatnya, telah disebutkan dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu pada At-Thabrani dan Ibnu Asakir bahwa beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda: ‘Turunlah Isa bin Maryam, lalu dia tinggal di antara manusia empat puluh tahun.’ Pada Imam Ahmad, Abu Syaibah, Abu Dawud, Ibnu Jarir, dan Ibnu Hibban darinya bahwa dia tinggal empat puluh tahun, kemudian wafat, lalu kaum muslimin menyalatinya dan menguburkannya di samping nabi kami Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.” Berakhir perkataannya.

Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj:

Kita membahas tentang keluarnya Ya’juj dan Ma’juj berdasarkan apa yang disebutkan dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya mengenai peristiwa besar ini, karena beriman dan meyakininya adalah wajib bagi kaum Muslim.

Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj telah ditetapkan dalam Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma’ umat, sebagaimana disebutkan oleh As-Safarini rahimahullah.

Adapun dari Al-Qur’an, dalam firman Allah Ta’ala: “Hingga apabila Ya’juj dan Ma’juj dilepaskan dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi, dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir seraya berkata: ‘Aduhai celaka kami, sesungguhnya kami dalam keadaan lalai dari (mengingat) ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim.'” (QS. Al-Anbiya: 96-97)

Allah Ta’ala juga berfirman dalam kisah Dzulqarnain: “Kemudian dia menempuh jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bunung itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: ‘Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?’ Dzulqarnain berkata: ‘Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku dapat membuat dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi.’ Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain: ‘Tiuplah (api itu).’ Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku tuangkan ke atas besi panas itu.’ Maka mereka tidak dapat mendakinya dan mereka tidak dapat (pula) melobanginya. Dzulqarnain berkata: ‘Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan adalah janji Tuhanku itu benar.’ Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya, dan Kami hadapkan neraka Jahannam pada hari itu kepada orang-orang kafir.” (QS. Al-Kahf: 93-100)

Ini adalah dinding dari besi di antara dua gunung yang dibangun oleh Dzulqarnain, sehingga menjadi satu bendungan yang menghalangi kaum perusak di bumi ini dari menyakiti manusia dan membuat kerusakan di bumi. Apabila telah tiba waktunya yang telah ditakdirkan untuk runtuhnya dinding tersebut, Allah akan menjadikannya rata dengan tanah – suatu janji yang pasti terjadi. Ketika dinding itu runtuh, mereka akan keluar kepada manusia dan berdesak-desakan serta bergegas turun, yaitu mereka akan bergerak cepat dari setiap tempat tinggi, kemudian peniupan sangkakala akan terjadi tidak lama setelah itu.

Adapun dalil dari Sunnah, dalam Shahih Muslim dari hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala mewahyukan kepada Isa bin Maryam ‘alaihissalam setelah ia membunuh Dajjal: ‘Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba-Ku yang tidak ada seorang pun yang mampu melawan mereka dalam peperangan, maka selamatkanlah hamba-hamba-Ku ke Gunung Thur.’ Dan Allah mengutus Ya’juj dan Ma’juj, mereka turun dengan cepat dari setiap tempat tinggi. Yang pertama dari mereka melewati Danau Thabariyyah lalu meminum seluruh airnya, dan yang terakhir dari mereka melewatinya lalu berkata: ‘Sungguh dahulu di sini ada air.’ Mereka mengepung Isa dan para sahabatnya hingga kepala sapi bagi salah seorang dari mereka lebih berharga dari seratus dinar…” (hadits).

Dalam hadits Hudzaifah yang diriwayatkan At-Thabrani: “Dan Allah menghalangi mereka dari Makkah, Madinah, dan Baitul Maqdis.”

Imam An-Nawawi berkata: “Menurut mayoritas ulama, mereka adalah keturunan Adam.”

Ibnu Abdul Barr berkata: “Terdapat ijma’ bahwa mereka adalah keturunan Yafits bin Nuh ‘alaihissalam.”

Al-Allamah As-Safarini menyebutkan: “Ibnu Katsir berkata: Ya’juj dan Ma’juj adalah dua kelompok dari bangsa Turki, dari keturunan Adam.”

Kemudian ia berkata: “Dan mereka adalah keturunan Nuh, dari keturunan Yafits, bapak bangsa Turki.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan tentang dekatnya keluaran mereka dan memperingatkan dari mereka. Beliau ‘alaihishshalatu wassalam bersabda sebagaimana dalam Shahihain dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hari ini telah terbuka dari bendungan Ya’juj dan Ma’juj sebesar ini.” Dan dalam Shahihain dari hadits Zainab binti Jahsy: “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di sisinya kemudian terbangun dengan wajah memerah sambil berkata: ‘Laa ilaaha illallah, celakalah bangsa Arab dari kejahatan yang telah dekat. Hari ini telah terbuka dari bendungan Ya’juj dan Ma’juj sebesar ini,’ dan beliau membuat lingkaran dengan kedua jarinya.”

Adapun sifat-sifat dan tubuh mereka: Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Mereka menyerupai manusia, seperti anak-anak sejenis mereka dari bangsa Turki, bermata sipit, berhidung pesek, berambut pirang, sesuai dengan bentuk dan warna mereka. Barang siapa yang mengira bahwa di antara mereka ada yang tinggi seperti pohon kurma yang menjulang atau lebih tinggi lagi, dan di antara mereka ada yang pendek seperti sesuatu yang hina, dan di antara mereka ada yang memiliki dua telinga yang ia tutupi dengan salah satunya dan ia tidur dengan yang lainnya, maka sungguh ia telah memaksakan diri pada sesuatu yang tidak ia ketahui, dan berkata tentang sesuatu yang tidak ada dalilnya.”

Adapun kerusakan dan bencana yang akan mereka timbulkan di bumi serta akhir mereka: Hal ini ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Abu Sa’id Al-Khudri yang berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya’juj dan Ma’juj akan terbuka, lalu mereka keluar kepada manusia sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: ‘Dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi’ (QS. Al-Anbiya: 96). Mereka akan menutupi manusia, dan manusia akan menghindar dari mereka ke kota-kota dan benteng-benteng mereka serta mengumpulkan ternak mereka. Mereka akan meminum air-air bumi hingga sebagian dari mereka melewati sungai lalu meminum seluruh airnya hingga meninggalkannya kering, hingga orang-orang setelah mereka melewati sungai tersebut lalu berkata: ‘Dahulu di sini pernah ada air!’ Hingga ketika tidak tersisa seorang pun dari manusia kecuali yang berada di benteng atau kota, salah seorang dari mereka berkata: ‘Ini adalah penduduk bumi, kami telah selesai dengan mereka, tersisa penduduk langit.'”

Beliau berkata: “Kemudian salah seorang dari mereka mengayunkan tombaknya, lalu melemparkannya ke langit, maka tombak itu kembali kepadanya berlumuran darah sebagai cobaan dan fitnah. Sementara mereka dalam keadaan seperti itu, Allah mengirimkan cacing-cacing di leher mereka seperti ulat belalang yang keluar di lehernya, maka mereka menjadi mayat-mayat yang tidak terdengar suara mereka. Kaum Muslim berkata: ‘Adakah seorang yang mau mengorbankan dirinya untuk kami agar melihat apa yang terjadi pada musuh ini?’ Maka seorang laki-laki dari mereka bersiap-siap dengan mengharap pahala, telah meyakinkan dirinya bahwa ia akan terbunuh, lalu ia turun dan mendapati mereka mati bertumpuk-tumpuk. Ia pun berteriak: ‘Wahai kaum Muslim! Bergembiralah, sesungguhnya Allah Ta’ala telah mencukupkan kalian dari musuh kalian.’ Maka mereka keluar dari kota-kota dan benteng-benteng mereka, dan menggembalakan ternak mereka. Tidak ada makanan untuk ternak mereka kecuali daging-daging mereka (Ya’juj Ma’juj), maka ternak itu menjadi gemuk karenanya seperti yang paling baik yang pernah mereka alami dari tumbuhan apa pun.”

Imam Ibnu Katsir berkata: “Demikianlah Ibnu Majah meriwayatkannya dari hadits Yunus bin Bukair dari Muhammad bin Ishaq dengannya, dan ini adalah sanad yang baik.”

Sebagian penulis kontemporer telah mengingkari keberadaan Ya’juj dan Ma’juj serta keberadaan dinding, dan sebagian dari mereka berkata: “Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj adalah seluruh negara-negara kafir yang unggul dalam industri!”

Tidak diragukan bahwa ini adalah pendustaan terhadap apa yang datang dalam Al-Qur’an, dan pendustaan terhadap apa yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau takwil yang tidak dapat diterima. Tidak diragukan bahwa barang siapa yang mendustakan apa yang datang dalam Al-Qur’an atau yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia kafir. Demikian pula barang siapa yang mentakwilkannya dengan takwil yang tidak dapat diterima, maka ia sesat, dan dikhawatirkan ia akan kafir.

Mereka tidak memiliki syubhat (keraguan) untuk bersandar kepadanya kecuali ucapan mereka: “Sesungguhnya bumi telah ditemukan seluruhnya, maka tidak ditemukan tempat bagi Ya’juj dan Ma’juj maupun dinding.”

Jawaban atas hal tersebut adalah bahwa tidak ditemukannya Ya’juj dan Ma’juj serta dinding mereka oleh para penjelajah tidak menunjukkan ketidakberadaan mereka, tetapi menunjukkan ketidakmampuan manusia untuk mengetahui seluruh kerajaan Allah ‘Azza wa Jalla. Mungkin Allah ‘Azza wa Jalla telah memalingkan pandangan mereka dari melihat mereka, atau menjadikan hal-hal yang menghalangi untuk sampai kepada mereka. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan segala sesuatu memiliki ajalnya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan kaummu mendustakan Al-Qur’an, padahal ia adalah kebenaran. Katakanlah: ‘Aku bukanlah orang yang diserahi urusan kamu.’ Untuk tiap-tiap berita ada masa waktu (untuk terjadinya) dan kelak kamu akan mengetahui.” (QS. Al-An’am: 66-67)

Apa yang membutakan mata orang-orang terdahulu dan melemahkan kemampuan mereka dari harta karun bumi yang ditemukan orang-orang kontemporer seperti minyak bumi dan lainnya, kecuali bahwa Allah ‘Azza wa Jalla telah menjadikan untuk itu ajal dan waktu?! Maka kepada Allah-lah kita memohon pertolongan.

Keluarnya Binatang Bumi:

Allah menyebutkan keluarnya binatang bumi dalam firman-Nya: “Dan apabila ketetapan telah berlaku atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang dari bumi yang akan berkata kepada mereka, bahwa manusia dahulu tidak meyakini ayat-ayat Kami.” (Surat An-Naml, ayat 82)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam kitab “An-Nihayah”: “Ibnu Abbas, Al-Hasan, dan Qatadah berkata: ‘Tukallimuhum’ artinya berbicara kepada mereka dengan cara dialog. Ibnu Jarir menguatkan pendapat: berbicara kepada mereka, mengatakan kepada mereka: ‘Bahwa manusia dahulu tidak meyakini ayat-ayat Kami’, dan beliau meriwayatkan hal ini dari Ali dan Atha’.”

Ibnu Katsir berkata: “Dalam hal ini perlu dicermati.”

Kemudian beliau berkata: “Dari Ibnu Abbas: ‘Tukallimuhum’ artinya melukai mereka; maksudnya: menulis di dahi orang kafir: kafir, dan di dahi orang mukmin: mukmin. Dan dari beliau juga: berbicara kepada mereka dan melukai mereka. Pendapat ini menggabungkan kedua mazhab, dan ini adalah pendapat yang kuat, baik, dan menggabungkan keduanya, wallahu a’lam.”

Beliau juga berkata dalam “Tafsirnya”: “Binatang ini keluar di akhir zaman ketika manusia rusak dan meninggalkan perintah-perintah Allah serta mengubah agama yang benar, Allah mengeluarkan untuk mereka binatang dari bumi; ada yang mengatakan: dari Mekah, dan ada yang mengatakan: dari tempat lain, lalu ia berbicara kepada manusia.”

Al-Qurthubi berkata dalam tafsir firman Allah: “Dan apabila ketetapan telah berlaku atas mereka”: Para ulama berbeda pendapat tentang makna “berlaku ketetapan” dan tentang binatang tersebut; ada yang mengatakan: makna “berlaku ketetapan atas mereka” adalah wajib murka atas mereka. Demikian kata Qatadah. Mujahid berkata: yaitu benar ketetapan atas mereka bahwa mereka tidak akan beriman. Ibnu Umar dan Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhuma berkata: apabila mereka tidak menyuruh kepada yang makruf dan tidak mencegah dari yang mungkar, maka wajib kemurkaan atas mereka. Abdullah bin Mas’ud berkata: berlakunya ketetapan adalah dengan wafatnya para ulama, hilangnya ilmu, dan terangkatnya Al-Quran. Abdullah berkata: perbanyaklah membaca Al-Quran sebelum ia diangkat. Mereka bertanya: mushaf-mushaf ini akan diangkat, lalu bagaimana dengan yang ada di dada para laki-laki? Beliau berkata: akan diambil pada malam hari, maka mereka bangun dalam keadaan kosong darinya, dan mereka lupa “Laa ilaaha illallah”, dan mereka jatuh pada perkataan jahiliah dan syair-syair mereka, dan itulah saat berlakunya ketetapan atas mereka.

Kemudian beliau menyebutkan pendapat-pendapat lain tentang makna “berlaku ketetapan atas mereka”, lalu berkata: “Saya katakan: semua pendapat ketika direnungkan kembali kepada satu makna, dan dalilnya adalah akhir ayat: ‘Bahwa manusia dahulu tidak meyakini ayat-ayat Kami’. Dan dibaca ‘Anna an-naas’ dengan membuka hamzah. Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu; dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Tiga perkara apabila telah keluar; tidak bermanfaat bagi jiwa imannya yang tidak beriman sebelumnya atau meraih kebaikan dalam imannya: terbitnya matahari dari barat, Dajjal, dan binatang bumi’, dan para ulama berbeda pendapat dalam menentukan binatang ini, sifatnya, dan dari mana ia keluar dengan perbedaan yang banyak yang telah kami sebutkan dalam kitab ‘At-Tazkirah’…” selesai.

Dari Huzaifah bin Usaid Al-Ghifari radhiyallahu anhu; dia berkata: “Nabi shallallahu alaihi wasallam mendatangi kami sementara kami sedang berdiskusi, lalu beliau bertanya: Apa yang kalian diskusikan? Mereka berkata: kami membicarakan hari kiamat. Beliau berkata: Sesungguhnya tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian melihat sebelumnya sepuluh tanda, dan beliau menyebutkan di antaranya binatang bumi”, diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud At-Tayalisi, Muslim, dan ahli sunan, dan At-Tirmidzi berkata: “Ini hadits hasan shahih”. Untuk Muslim dari hadits Al-Ala’ dari ayahnya dari Abu Hurairah; bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bersegeralah dengan amal enam perkara: terbitnya matahari dari barat, Dajjal, dan binatang bumi…” hadits.

Untuk Muslim juga dari hadits Qatadah, dari Al-Hasan, dari Ziyad bin Rabah, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam; beliau bersabda: “Bersegeralah dengan amal enam perkara: Dajjal, asap, dan binatang bumi…” hadits.

Muslim berkata: menceritakan kepada kami Abu Bakr Abi Syaibah, menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr, dari Abu Hayyan, dari Abu Zur’ah, dari Abdullah bin Amr; dia berkata: aku hafal dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebuah hadits yang tidak aku lupakan setelahnya, aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya tanda pertama yang keluar: terbitnya matahari dari barat, dan keluarnya binatang kepada manusia di waktu duha, maka mana saja yang mendahului temannya; maka yang lain mengikutinya dengan segera.”

Ibnu Katsir berkata: “Yaitu: tanda pertama yang tidak biasa, meskipun Dajjal dan turunnya Isa alaihis salam dari langit sebelum itu, demikian juga keluarnya Ya’juj dan Ma’juj; semua itu adalah perkara-perkara yang biasa; karena mereka adalah manusia yang dapat disaksikan dan orang-orang seperti mereka sudah biasa, adapun keluarnya binatang dengan bentuk yang tidak biasa, dan dialognya dengan manusia, serta cap yang diberikannya kepada mereka dengan iman dan kufur; maka itu adalah perkara yang di luar kebiasaan, dan itu adalah tanda pertama dari tanda-tanda bumi; sebagaimana terbitnya matahari dari barat yang berlawanan dengan kebiasaannya yang biasa adalah tanda pertama dari tanda-tanda langit” selesai.

Tugas binatang ini sebagaimana datang dalam hadits-hadits; bahwa ia mencap manusia mukmin dan kafir, adapun mukmin; maka ia melihat wajahnya seperti bintang yang bercahaya, dan ditulis di antara kedua matanya mukmin, adapun kafir; maka ia menusuk di antara kedua matanya titik hitam, dan ditulis di antara kedua matanya kafir, dan dalam riwayat: “Maka ia menemui mukmin, lalu mencapnya di wajahnya dengan titik, maka memutih wajahnya karenanya, dan mencap kafir dengan titik hitam, menghitam wajahnya karenanya, dan manusia berserikat dalam harta, dan saling menemani di negeri-negeri, mukmin mengenal kafir dan sebaliknya, hingga mukmin berkata kepada kafir: wahai kafir! bayarlah hakku.”

Adapun sifatnya; maka Syaikh Abdurrahman bin Nashir bin Sa’di berkata dalam “Tafsirnya”: “Dan binatang yang masyhur ini, yang keluar di akhir zaman, dan menjadi dari tanda-tanda kiamat, sebagaimana banyak hadits tentang hal itu, dan Allah serta Rasul-Nya tidak menyebutkan bagaimana bentuk binatang ini, dan hanya menyebutkan pengaruhnya yang dimaksudkan darinya, dan bahwa ia dari ayat-ayat Allah, berbicara kepada manusia dengan pembicaraan yang luar biasa, ketika berlaku ketetapan atas manusia, dan ketika mereka meragukan ayat-ayat Allah; maka ia menjadi hujah dan bukti bagi orang-orang mukmin, dan hujah atas orang-orang yang keras kepala…” selesai.

Sebagian orang kontemporer telah mengingkari keluarnya binatang ini, dan menganggapnya mustahil, dan sebagian mereka menta’wilkannya dengan ta’wil yang kosong, dan tidak ada hujah dalam hal itu selain bahwa akal mereka tidak dapat menerima hal itu.

Yang wajib bagi seorang Muslim adalah membenarkan dan berserah kepada apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya; karena ini termasuk iman kepada yang gaib, yang Allah puji orang-orang mukmin karenanya.

Demikian dan kami memohon kepada Allah petunjuk dan taufik untuk mengetahui kebenaran dan mengamalkannya.

Terbitnya Matahari dari Barat:

Allah Ta’ala berfirman: “Tiadalah mereka menunggu-nunggu selain datangnya malaikat kepada mereka atau datangnya Tuhanmu atau datangnya sebagian ayat-ayat Tuhanmu. Pada hari datangnya sebagian ayat-ayat Tuhanmu, tidaklah bermanfaat bagi seseorang imannya yang belum beriman sebelum itu, atau dia tidak mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.” (Surat Al-An’am, ayat 158)

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam “An-Nihayah”: “Al-Bukhari berkata ketika menafsirkan ayat ini: menceritakan kepada kami Musa bin Ismail, menceritakan kepada kami Abdul Wahid, menceritakan kepada kami Umarah, menceritakan kepada kami Abu Zur’ah, menceritakan kepada kami Abu Hurairah; dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Tidak akan terjadi hari kiamat hingga terbit matahari dari barat; maka apabila manusia melihatnya; beriman semua yang ada di atasnya; maka itulah saat tidak bermanfaat bagi jiwa imannya yang belum beriman sebelumnya’, dan telah mengeluarkannya jamaah yang lain; kecuali At-Tirmidzi…” selesai.

As-Saffarini berkata: “Para ulama rahimahullah berkata: terbitnya matahari dari barat itu tetap dengan sunnah yang shahih dan berita-berita yang terang, bahkan dengan Kitab yang diturunkan kepada Nabi yang diutus:

Allah Ta’ala berfirman: “Pada hari datangnya sebagian ayat-ayat Tuhanmu, tidaklah bermanfaat bagi seseorang imannya yang belum beriman sebelum itu, atau dia tidak mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.” (Surat Al-An’am, ayat 158); para mufasir telah bersepakat atau mayoritas mereka bahwa yang dimaksud adalah terbitnya matahari dari barat, dan hasil serta maksud dari ayat yang mulia: bahwa siapa yang imannya belum terealisasi ketika matahari terbit dari barat; tidak bermanfaat baginya memperbaharui iman, dan tidak bermanfaat baginya berbuat kebajikan dari semua amal; karena ia kehilangan iman yang menjadi dasar bagi selain itu dari amal-amal tersebut; maka tidak bermanfaat baginya imannya yang baru saat itu, dan tidak juga apa yang keluar darinya sebelum itu dari ihsan dan amal kebajikan dari menyambung silaturahim dan memerdekakan budak dan menjamu tamu dan selain itu dari akhlak mulia, karena ia tidak berdasar; Allah Ta’ala berfirman: “Orang-orang yang kafir kepada Tuhan mereka, amal-amal mereka seperti abu yang ditiup angin kencang” (Surat Ibrahim, ayat 18), dan iman yang baru pada waktu itu tidak diterima.

Telah mengeluarkan Bukhari Muslim dan selain keduanya dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu; dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga terbit matahari dari barat, maka apabila ia terbit dan manusia melihatnya; mereka beriman semuanya; maka itulah saat tidak bermanfaat bagi jiwa imannya.”

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Dan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan dishahihkan An-Nasa’i serta Ibnu Majah dari jalur Ashim bin Abi An-Nujud, dari Zirr bin Hubaisy, dari Shafwan bin Assal, aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya Allah membuka pintu sebelah barat lebarnya tujuh puluh ‘atau beliau berkata: empat puluh’ tahun untuk taubat, kemudian tidak ditutup hingga terbit matahari dari barat’.”

Maka hadits-hadits yang mutawatir ini bersama ayat yang mulia adalah dalil bahwa siapa yang mengadakan iman dan taubat setelah terbitnya matahari dari barat tidak diterima darinya, dan hanya demikian itu – wallahu a’lam; karena itu dari tanda-tanda kiamat dan alamat-alamatnya yang menunjukkan kedekatan dan kemunculannya; maka diperlakukan waktu itu seperti perlakuan hari kiamat; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Tiadalah mereka menunggu-nunggu selain datangnya malaikat kepada mereka atau datangnya Tuhanmu atau datangnya sebagian ayat-ayat Tuhanmu. Pada hari datangnya sebagian ayat-ayat Tuhanmu, tidaklah bermanfaat bagi seseorang imannya” (Surat Al-An’am, ayat 158), dan firman Allah Ta’ala: “Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata: ‘Kami beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan kami kafir terhadap apa yang dahulu kami persekutukan dengan Dia’. Maka tidak bermanfaat kepada mereka iman mereka ketika mereka telah melihat azab Kami. (Itulah) sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di sanalah rugi orang-orang kafir.” (Surat Ghafir, ayat 84-85), dan Allah Ta’ala berfirman: “Maka apakah mereka hanya menunggu-nunggu hari kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba? Padahal sesungguhnya tanda-tanda hari kiamat telah datang. Maka apakah gunanya bagi mereka ingatan mereka ketika hari kiamat itu telah datang?” (Surat Muhammad, ayat 18) selesai.

Beliau juga berkata dalam “Tafsirnya”: “Yang belum beriman sebelum itu” (Surat Al-An’am, ayat 158); “yaitu: apabila orang kafir mengadakan iman pada hari itu; tidak diterima darinya, adapun siapa yang sudah beriman sebelum itu; maka jika ia berbuat baik dalam amalnya; maka ia dalam kebaikan yang besar, dan jika ia tidak berbuat baik, lalu mengadakan taubat saat itu; tidak diterima darinya taubatnya; sebagaimana ditunjukkan oleh hadits-hadits yang banyak, dan atas hal itu diartikan firman Allah Ta’ala: ‘Atau dia tidak mengusahakan kebaikan dalam masa imannya’ (Surat Al-An’am, ayat 158); yaitu: tidak diterima darinya usaha amal shalih jika ia tidak mengamalkannya sebelum itu.” selesai.

Al-Baghawi berkata: “Pada hari datangnya sebagian ayat-ayat Tuhanmu, tidaklah bermanfaat bagi seseorang imannya yang belum beriman sebelum itu” (Surat Al-An’am, ayat 158); yaitu: tidak bermanfaat bagi mereka iman ketika tampaknya ayat yang memaksa mereka untuk beriman, “atau dia tidak mengusahakan kebaikan dalam masa imannya” (Surat Al-An’am, ayat 158); maksudnya: tidak diterima iman orang kafir dan tidak taubat orang fasik) selesai.

Al-Qurthubi rahimahullah berkata dalam “Tafsirnya”: “Para ulama berkata: dan hanya tidak bermanfaat bagi jiwa imannya ketika matahari terbit dari barat; karena sampai ke hati mereka dari ketakutan yang dengannya padam setiap syahwat dari syahwat nafsu, dan hilang setiap kekuatan dari kekuatan badan, maka jadilah semua manusia karena keyakinan mereka dengan dekatnya kiamat dalam keadaan seperti orang yang didatangi maut dalam terputusnya dorongan-dorongan kepada jenis-jenis maksiat dari mereka dan batalnya pada badan mereka, maka siapa yang bertaubat dalam keadaan seperti ini; tidak diterima taubatnya; sebagaimana tidak diterima taubat orang yang didatangi maut; beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selama ia tidak gharghara’; yaitu: sampai ruhnya ke ujung tenggorokannya, dan itu waktu penyaksian, yang padanya ia melihat tempatnya di surga atau tempatnya di neraka; maka yang menyaksikan terbitnya matahari dari barat seperti itu.”

Dan atas semua itu; maka ini adalah peristiwa yang besar, dan kengerian yang menakutkan, yang memberitahukan perubahan tata aturan alam semesta, dan dekatnya hari kiamat, dan di dalamnya terdapat dalil atas besarnya kekuasaan Allah Azza wa Jalla, dan bahwa matahari ini diatur dan diciptakan, yang dapat mengalami kerusakan dengan izin Allah Ta’ala.

Demikianlah; dan kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar Dia memberikan kepada kami iman yang benar dan keyakinan yang bermanfaat yang mendorong kepada amal saleh dan bersiap-siap dengan bekal yang bermanfaat untuk hari kembali sebelum hilangnya kesempatan dan berakhirnya ajal, dan Allah-lah yang diminta pertolongan, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

Pengumpulan Manusia ke Tanah Syam:

Imam Ibnu Katsir berkata dalam “An-Nihayah”: “Telah tetap dalam “Ash-Shahihain” dari hadits Wuhaib, dari Abdullah bin Thawus, dari ayahnya, dari Abu Hurairah; dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Manusia akan dikumpulkan dengan tiga cara; ada yang menginginkan dan takut, dua orang di atas satu unta, tiga orang di atas satu unta, dan sepuluh orang di atas satu unta, dan sisa mereka dikumpulkan oleh api; api itu menerima mereka di mana mereka berkata, dan bermalam bersama mereka di mana mereka bermalam, dan pagi hari bersama mereka di mana mereka pagi, dan sore hari bersama mereka di mana mereka sore”.

Kemudian dia menyebutkan hadits-hadits dalam makna ini, lalu berkata: “Maka rangkaian hadits ini menunjukkan bahwa pengumpulan ini adalah pengumpulan orang-orang yang ada di akhir dunia dari berbagai penjuru bumi ke suatu tempat, yaitu tanah Syam, dan bahwa mereka akan berada dalam tiga golongan; golongan yang makan, berpakaian dan berkendaraan, golongan yang kadang berjalan dan kadang berkendaraan, dan mereka bergiliran naik unta satu sebagaimana disebutkan dalam “Ash-Shahihain”; “dua orang di atas satu unta, tiga orang di atas satu unta …” sampai dia berkata: “dan sepuluh orang di atas satu unta bergiliran karena sedikitnya kendaraan”; sebagaimana disebutkan dalam hadits, sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang lain: “sisa mereka dikumpulkan oleh api”, yaitu api yang keluar dari dasar Aden, lalu mengelilingi manusia dari belakang mereka, menggiring mereka dari segala sisi ke tanah mahsyar, dan siapa yang tertinggal di antara mereka; dimakan oleh api, dan semua ini menunjukkan bahwa ini terjadi di akhir zaman; di mana masih ada makan dan minum dan berkendaraan dengan kendaraan yang dibeli dan lainnya, dan di mana api membinasakan orang-orang yang tertinggal, dan seandainya ini terjadi setelah tiupan kebangkitan; tidak akan ada lagi kematian atau kendaraan yang dibeli atau makan atau minum” selesai.

Dan telah datang hadits-hadits yang menunjukkan bahwa di akhir zaman akan keluar api dari dasar Aden, menggiring manusia ke mahsyar:

Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim dan ahli Sunan: “Akan keluar api dari dasar Aden, menggiring (atau: mengumpulkan) manusia; bermalam bersama mereka di mana mereka bermalam, dan menerima mereka di mana mereka berkata”.

Dan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma; dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan keluar api dari Hadramaut “atau: dari arah laut Hadramaut” sebelum hari kiamat mengumpulkan manusia”. Mereka berkata: Ya Rasulullah! Apa yang engkau perintahkan kepada kami? Beliau berkata: “Kalian harus ke Syam”, diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban dalam “Shahih”-nya, dan At-Tirmidzi berkata: “Ini hadits hasan shahih gharib”.

As-Safarini berkata: “Para ulama berbeda pendapat tentang pengumpulan manusia dari timur ke barat; apakah itu pada hari kiamat atau sebelumnya; Al-Qurthubi dan Al-Khaththabi berkata dan dikuatkan oleh Qadhi Iyadh: bahwa pengumpulan ini terjadi sebelum hari kiamat. Adapun pengumpulan dari kubur; maka itu sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma secara marfu’; sebagaimana dalam “Ash-Shahihain” dan lainnya: “Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang kaki, telanjang badan, tidak berkhitan”.

Sampai dia berkata: “Dan Qadhi Iyadh mendukung pendapat Al-Khaththabi dan Al-Qurthubi bahwa hadits Abu Hurairah: menerima mereka dan bermalam dan pagi dan sore … mendukung bahwa pengumpulan di dunia ke Syam; karena sifat-sifat ini khusus untuk dunia”.

Dan dia juga berkata: “Al-Qurthubi menyebutkan dalam “Tadzkirah”-nya bahwa pengumpulan ada empat: dua pengumpulan di dunia, dan dua pengumpulan di akhirat; adapun yang dua di dunia:

Yang disebutkan dalam surat Al-Hasyr, yaitu orang-orang Yahudi ke Syam; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka: “Keluarlah”. Mereka berkata: Ke mana?, beliau berkata: “Ke tanah mahsyar”. Kemudian yang terakhir dari mereka diusir oleh Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dari Jazirah Arab.

Dan pengumpulan kedua: Yang disebutkan dalam tanda-tanda kiamat, api mengumpulkan dari timur ke barat; sebagaimana dalam hadits Anas dan Abdullah bin Salam, dan dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhum secara marfu’: “Akan dikirimkan kepada penduduk timur api yang mengumpulkan mereka ke barat; bermalam bersama mereka di mana mereka bermalam, dan menerima mereka di mana mereka berkata, dan akan menjadi miliknya apa yang jatuh dari mereka dan tertinggal, dan menggiringnya seperti menggiringnya unta”.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Dan keluarnya dari dasar Aden tidak bertentangan dengan pengumpulannya manusia dari timur ke barat; karena awal keluarnya dari Aden, maka jika sudah keluar; menyebar ke seluruh bumi.

Yang dimaksud: menyeluruhnya pengumpulan, bukan khusus timur dan barat, atau bahwa setelah menyebar pertama kali mengumpulkan penduduk timur”.

Al-Qurthubi berkata: “Adapun yang dua di akhirat; maka pengumpulan orang-orang mati dari kubur-kubur mereka setelah kebangkitan semua; Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami kumpulkan mereka maka Kami tidak meninggalkan seorang pun dari mereka” (Surat Al-Kahfi: 47), dan pengumpulan mereka ke surga dan neraka.

Dan dia berkata atas pendapat penyair: Dan akhir dari tanda-tanda adalah pengumpulan api … sebagaimana datang dalam berita yang muhkam

Dan dia berkata: “Dan akhir dari tanda-tanda besar dan alamat-alamat dahsyat: pengumpulan api untuk manusia dari timur ke barat, dan dari Yaman ke tempat hijrahnya Ibrahim ‘alaihissalam, yaitu tanah Syam; sebagaimana kamu lihat disebutkan dengan jelas dalam berita-berita yang muhkam dan atsar yang shahih”.

Kemudian dia menyebutkan hadits-hadits yang datang tentang keluarnya dari Yaman dan dari dasar Aden Abyan, dan tentang pengumpulannya manusia dari timur ke barat, dan pengumpulannya mereka ke tanah Syam, dan berkata dalam cara menggabungkan hal itu bahwa api itu ada dua: salah satunya mengumpulkan manusia dari timur ke barat, dan yang kedua keluar dari Yaman lalu mengusir manusia ke mahsyar yang adalah tanah Syam.

Dia berkata: “Dan jika dalam ilmu Allah hanya ada satu api; maka penggabungan antara: “api keluar sebelum hari kiamat dari Hadramaut lalu menggiring manusia”, dan dalam lafaz: “keluar api dari dasar Aden memindahkan manusia ke mahsyar”, dan hadits: “api mengumpulkan manusia dari timur ke barat”; maka dengan mengatakan: bahwa Syam yang adalah mahsyar adalah barat dengan perbandingan kepada timur, maka awal keluarnya adalah dasar Aden dari Yaman, maka jika sudah keluar; menyebar ke timur, lalu mengumpulkan penduduknya ke barat yang adalah Syam, dan itulah mahsyar”.

Dan lafaz: “Abyan”: dengan timbangan ahmar, nama raja yang membangunnya.

Dan dalam “Nihayah Ibnu Atsir”: “Aden Abyan”: kota yang dikenal di Yaman, dinisbatkan kepada “Abyan” dengan timbangan abyad, dan dia adalah seorang laki-laki dari Himyar, menetap di sana; yaitu: tinggal”. Dan Allah lebih mengetahui.

Tiupan Sangkakala dan Kematian:

Telah berulang-ulang disebutkan tiupan sangkakala dalam Al-Quran yang agung, dan disebutkan apa yang terjadi pada saat itu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Dan Al-Quran telah mengabarkan tiga tiupan: tiupan ketakutan: disebutkan dalam surat An-Naml, dalam firman Allah Ta’ala: “Dan pada hari ditiup sangkakala maka terkejutlah siapa yang di langit dan siapa yang di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah” (Surat An-Naml: 87). Dan tiupan kematian dan berdiri: disebutkan keduanya dalam surat Az-Zumar dalam firman Allah Ta’ala: “Dan ditiup sangkakala maka matilah siapa yang di langit dan siapa yang di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah kemudian ditiup sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri memandang” (Surat Az-Zumar: 68), dan adapun pengecualian; maka itu mencakup siapa yang di surga dari bidadari; karena surga tidak ada kematian di dalamnya, dan mencakup selain mereka, dan tidak mungkin memastikan setiap yang dikecualikan Allah; karena Allah menyebutkan secara mutlak dalam kitab-Nya, dan telah tetap dalam “Ash-Shahih” bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya manusia akan mati pada hari kiamat, maka aku yang pertama sadar, lalu aku mendapati Musa memegang kaki Arsy; maka aku tidak tahu apakah dia sadar sebelumku ataukah dia termasuk yang dikecualikan Allah?”, dan kematian ini; dikatakan: bahwa itu keempat, dan dikatakan: bahwa itu dari yang disebutkan dalam Al-Quran …” selesai.

Dan As-Safarini berkata: “Ketahuilah bahwa tiupan sangkakala ada tiga tiupan:

Tiupan ketakutan, yaitu yang dengannya dunia ini hancur, dan rusaklah tata aturannya, dan itulah yang ditunjuk dalam firman Allah Ta’ala: “Dan tidak menunggu orang-orang ini kecuali satu teriakan yang tidak ada kembalinya” (Surat Shad: 15); yaitu: tidak ada kembali dan rujukan, dan firman-Nya: “Dan pada hari ditiup sangkakala maka terkejutlah siapa yang di langit dan siapa yang di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah” (Surat An-Naml: 87); Az-Zamakhsyari menafsirkan dalam “Kasysyaf”-nya yang dikecualikan dalam ayat ini dengan siapa yang diteguhkan Allah hatinya dari para malaikat, yaitu: Jibril, dan Mikail, dan Israfil, dan malaikat maut, dan dikatakan selain itu, dan sesungguhnya terjadi ketakutan karena dahsyatnya apa yang terjadi dari kengerian tiupan itu …”.

Sampai dia berkata: “Tiupan kedua: tiupan kematian, dan di dalamnya kebinasaan segala sesuatu, Allah Ta’ala berfirman: “Dan ditiup sangkakala maka matilah siapa yang di langit dan siapa yang di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah” (Surat Az-Zumar: 68), dan telah ditafsirkan kematian dengan mati …”.

Sampai dia berkata: “Dan sangkakala adalah terompet dari cahaya, diletakkan di dalamnya roh-roh makhluk, dan Mujahid berkata: seperti terompet. Disebutkan oleh Al-Bukhari, dan At-Tirmidzi mengeluarkan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhuma: Datang seorang Arab badui kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; lalu berkata: Apa sangkakala? Beliau berkata: “Terompet yang ditiup di dalamnya”. At-Tirmidzi berkata: hadits hasan.”.

Kemudian dia berkata: “Tiupan ketiga: tiupan kebangkitan dan bangkit, dan telah datang dalam Kitab yang mulia ayat-ayat yang menunjukkan kepadanya, dan berita-berita yang menunjuk kepadanya; seperti firman Allah Ta’ala: “Dan ditiup sangkakala maka tiba-tiba mereka dari kubur-kubur menuju Tuhan mereka bergegas” (Surat Yasin: 51), dan firman-Nya: “Kemudian ditiup sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri memandang” (Surat Az-Zumar: 68), dan firman Allah Ta’ala: “Maka apabila ditiup nafiri maka itulah pada hari itu hari yang sulit bagi orang-orang kafir tidak mudah” (Surat Al-Muddatstsir: 8-9), dan firman Allah Ta’ala: “Dan dengarkanlah pada hari penyeru memanggil dari tempat yang dekat pada hari mereka mendengar teriakan dengan benar” (Surat Qaf: 41-42).

Para mufassir berkata: “Penyeru adalah Israfil ‘alaihissalam, meniup sangkakala dan memanggil: Wahai tulang-tulang yang lapuk, dan anggota-anggota yang terputus, dan daging yang tercabik-cabik, dan rambut-rambut yang tercerai! Sesungguhnya kalian diperintahkan untuk berkumpul untuk penyelesaian keputusan. Dan dikatakan: Israfil meniup, dan Jibril memanggil, dan tempat yang dekat adalah batu Baitul Maqdis”.

Sekelompok mufassir berkata: “Dan antara dua tiupan empat puluh tahun. Sebagian ulama berkata: Riwayat-riwayat sepakat tentang hal itu”.

Dan dalam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu secara marfu’: “Antara dua tiupan empat puluh”. Mereka berkata: Ya Abu Hurairah, empat puluh hari? Dia berkata: Aku menolak. Mereka berkata: empat puluh bulan. Dia berkata: Aku menolak. Mereka berkata: empat puluh tahun? Dia berkata aku menolak. Hadits.

Dan ucapan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: “Aku menolak”: di dalamnya tiga takwil: pertama: aku menolak menjelaskan hal itu kepada kalian. Dan dikatakan: aku menolak bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu, dan dikatakan: aku lupa. Dan dikatakan: bahwa rahasia hal itu tidak diketahui kecuali oleh Allah; karena itu dari rahasia-rahasia ketuhanan.

Dalam hadits panjang Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, ath-Thabrani, Abu Ya’la dalam “Musnad”-nya, al-Baihaqi dalam “al-Ba’ts”, Abu Musa al-Madini dan lainnya, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kepada kami: “Sesungguhnya Allah ketika selesai menciptakan langit dan bumi, Dia menciptakan sangkakala, lalu memberikannya kepada Israfil. Maka dia meletakkannya di mulutnya, dengan mata tertuju kepada Arsy, menunggu kapan dia diperintahkan. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apa itu sangkakala? Beliau menjawab: Terompet. Aku bertanya: Bagaimana bentuknya? Beliau menjawab: Besar; sesungguhnya besarnya lubang di dalamnya seperti luasnya langit dan bumi. Maka ditiup padanya tiga tiupan: Pertama: tiupan ketakutan, kedua: tiupan kematian, ketiga: tiupan kebangkitan untuk Tuhan semesta alam. Maka Allah memerintahkan Israfil dengan tiupan pertama, Dia berfirman: Tiuplah ketakutan. Maka dia meniup, lalu ketakutan menimpa penghuni langit dan bumi, kecuali yang dikehendaki Allah. Maka Allah memerintahkannya untuk memanjangkan dan memperpanjangnya tanpa berhenti, dan itulah yang difirmankan Allah Ta’ala: “Dan mereka tidak menunggu selain satu teriakan saja yang tidak ada jeda baginya” (Surah Shad: 15). Maka Allah menggerakkan gunung-gunung, maka ia berlalu seperti berjalannya awan, lalu menjadi fatamorgana, dan bumi bergetar hebat bersama penghuninya, maka ia menjadi seperti kapal yang penuh muatan di laut yang dipukul ombak, dan seperti pelita yang tergantung di Arsy yang digoyang angin, dan itulah yang difirmankan Allah: “Pada hari bergetarnya yang bergetar, diikuti oleh yang menyusul” (Surah an-Nazi’at: 6-7). Maka bumi miring dengan manusia di atasnya, ibu-ibu menyusui menjadi lalai, wanita-wanita hamil melahirkan, anak-anak menjadi beruban, setan-setan terbang lari karena ketakutan, hingga mereka sampai ke ujung-ujung bumi, lalu malaikat-malaikat menjumpai mereka dan memukul wajah mereka, maka mereka kembali, dan manusia berpaling dengan membelakangi sambil saling memanggil satu sama lain, dan itulah yang difirmankan Allah Ta’ala: “Pada hari saling memanggil, pada hari kalian berpaling dengan membelakangi, tidak ada bagi kalian dari Allah seorang pelindung pun” (Surah Ghafir: 32-33). Sementara mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba bumi terbelah, maka terbelahlah dari ujung ke ujung, lalu mereka melihat perkara yang besar, kemudian mereka melihat ke langit, ternyata ia seperti besi yang meleleh, kemudian terbelah dan bertebaran bintang-bintangnya serta terbenam matahari dan bulannya”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang-orang yang mati pada hari itu tidak mengetahui sesuatu pun dari semua itu”. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, siapa yang dikecualikan Allah Ta’ala dalam firman-Nya: “Kecuali yang dikehendaki Allah” (Surah an-Naml: 87)? Beliau menjawab: “Mereka adalah para syuhada, dan sesungguhnya ketakutan itu hanya menimpa orang-orang yang hidup, sedangkan mereka hidup di sisi Tuhan mereka dengan mendapat rezeki, Allah melindungi mereka dari ketakutan hari itu dan mengamankan mereka darinya, dan itu adalah azab yang Allah kirimkan kepada sejahat-jahat makhluk-Nya; Allah berfirman: “Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar. Pada hari ketika kamu melihat kegoncangan itu, lalailah setiap wanita yang menyusui dari anak yang disusuinya, dan gugurkan setiap wanita yang hamil kandungannya, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras” (Surah al-Hajj: 1-2). Maka mereka tinggal dalam keadaan itu selama yang dikehendaki Allah…” hadits.

Demikianlah dan kami memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar Dia membimbing kami ke jalan-Nya yang lurus, dan menjadikan kami termasuk orang-orang yang tidak disedihkan oleh ketakutan besar dan disambut oleh malaikat-malaikat: “Ini adalah harimu yang dahulu dijanjikan kepadamu.”

Kedua: Iman kepada Hari Akhir

Pengantar

Kedua: Iman kepada Hari Akhir:

Dan dinamakan Hari Akhir karena tertundanya setelah dunia, dan telah ditunjukkan olehnya akal dan fitrah; sebagaimana dinyatakan dengan tegas oleh semua kitab samawi, dan diserukan oleh para nabi dan rasul, dan Allah telah mengabarkan tentangnya dalam kitab-Nya yang mulia, dan menegakkan dalil atasnya, serta menolak orang-orang yang mengingkarinya dalam kebanyakan surah al-Qur’an.

Dan pengakuan terhadap Tuhan adalah umum di kalangan Bani Adam, dan itu adalah fitri, mereka semua mengakui Tuhan, kecuali yang membangkang seperti Fir’aun; berbeda dengan iman kepada Hari Akhir, maka pengingkarnya banyak.

Dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dia adalah penutup para nabi, dan dia diutus bersama kiamat seperti ini, maksudnya: jari telunjuk dan jari tengah; dia menjelaskan rincian akhirat dengan penjelasan yang tidak terdapat dalam kitab-kitab para nabi manapun.

Dan telah beragam dalil-dalil kebangkitan dalam al-Qur’an al-Karim:

Terkadang Dia mengabarkan tentang orang-orang yang Dia matikan kemudian Dia hidupkan di dunia; sebagaimana Dia mengabarkan tentang kaum Musa yang berkata: “Perlihatkanlah kepada kami Allah secara terang-terangan”; Dia berfirman: “Maka petir menyambar kalian sedang kalian melihat. Kemudian Kami bangkitkan kalian setelah kematian kalian” (Surah al-Baqarah: 55-56), dan tentang: “Orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati, maka Allah berfirman kepada mereka: ‘Matilah kalian’, kemudian Allah menghidupkan mereka” (Surah al-Baqarah: 243), dan tentang Ibrahim ketika dia berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati…” (Surah al-Baqarah: 260), dan sebagaimana Dia mengabarkan tentang al-Masih bahwa dia menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan tentang Ashab al-Kahfi bahwa mereka dibangkitkan setelah tiga ratus tahun dan sembilan tahun.

Dan terkadang dengan kejadian pertama; maka pengembalian lebih mudah daripada permulaan, sebagaimana dalam firman-Nya: “Jika kalian ragu tentang kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari tanah” (Surah al-Hajj: 5), dan firman-Nya: “Katakanlah: ‘Yang akan menghidupkannya ialah Tuhan yang menciptakannya pertama kali'” (Surah Yasin: 79), “Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan yang demikian itu adalah lebih mudah bagi-Nya” (Surah ar-Rum: 27).

Dan terkadang Dia berdalil dengan itu melalui penciptaan langit dan bumi; maka penciptaannya lebih besar daripada pengembalian manusia; sebagaimana dalam firman-Nya: “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, mampu menghidupkan orang-orang mati” (Surah al-Ahqaf: 33).

Dan terkadang Dia berdalil dengannya melalui pensucian Allah dari kesia-siaan; sebagaimana Dia berfirman: “Maka apakah kalian mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main dan bahwa kalian tidak dikembalikan kepada Kami…” (Surah al-Mu’minun: 115), “Apakah manusia mengira bahwa dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)” hingga firman-Nya yang Mahasuci: “Bukankah Dia berkuasa menghidupkan orang mati” (Surah al-Qiyamah: 36-40). Maka manusia di dunia ini ada yang berbuat baik dan ada yang berbuat jahat, dan mungkin mereka mati dan tidak seorang pun dari mereka memperoleh balasan amalnya; maka harus ada negeri lain yang ditegakkan di dalamnya keadilan di antara manusia, dan setiap mereka memperoleh balasan amalnya.

Dan iman kepada Hari Akhir adalah salah satu rukun iman; sebagaimana ditunjukkan oleh al-Qur’an dalam banyak ayat:

Di mana iman kepadanya disebutkan terkadang dengan iman kepada enam rukun yaitu: iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan Hari Akhir; sebagaimana dalam hadits Umar radhiyallahu ‘anhu dalam pertanyaan-pertanyaan Jibril ‘alaihis salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan terkadang iman disebutkan dengan iman kepada Allah; sebagaimana Dia berfirman: “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian” (Surah at-Taubah: 29), dan Dia berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghilangkan (pahala) sedekah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian” (Surah al-Baqarah: 264).

Dan Allah telah menamai hari ini dengan beberapa nama; untuk mengagungkan urusannya, dan untuk mengingatkan hamba-hamba; agar mereka takut kepadanya:

Maka Dia menamakannya Hari Akhir; karena ia setelah dunia, dan tidak ada hari lain setelahnya. Dan Dia menamakannya Hari Kiamat; karena bangkitnya manusia padanya untuk Tuhan mereka. Dan Dia menamakannya al-Waqi’ah, al-Haqqah, al-Qari’ah, ar-Rajifah, ash-Shakhkhah, al-Azifah, al-Faza’ al-Akbar, Hari Hisab, Hari Pembalasan, Janji yang Benar…

Dan semuanya adalah nama-nama yang menunjukkan kebesaran urusannya, dan dahsyatnya kengerian, dan apa yang dihadapi manusia padanya dari kesulitan-kesulitan dan kengerian-kengerian; maka ia adalah hari yang padanya mata-mata terpaku, dan hati-hati terbang dari tempatnya, hingga sampai ke kerongkongan, “Pada hari manusia lari dari saudaranya, dan ibunya dan bapaknya, dan istri serta anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya” (Surah ‘Abasa: 34-37), “Pada hari langit menjadi seperti cairan tembaga dan gunung-gunung menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Dan seorang teman karib tidak akan bertanya kepada teman karibnya, padahal mereka saling melihat. Orang yang berdosa ingin sekiranya dia dapat menebus diri dari azab hari itu dengan anak-anaknya, dan istri serta saudaranya, dan kaum keluarganya yang melindunginya, dan orang-orang yang ada di bumi seluruhnya, kemudian (tebusan itu) dapat menyelamatkannya” (Surah al-Ma’arij: 8-14).

Dan iman kepada hari ini mendorong manusia untuk beramal dan bersiap-siap untuknya; sebagaimana Dia berfirman: “Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah dia memperserikatkan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya” (Surah al-Kahfi: 110), dan Dia berfirman: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya” (Surah al-Baqarah: 45-46), dan Dia berfirman: “Mereka memenuhi nazar dan takut kepada suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. Maka Allah memelihara mereka dari kejahatan hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan” (Surah al-Insan: 7-11).

Sebagaimana iman kepada hari ini mendorong untuk teguh ketika menghadapi musuh-musuh dan sabar atas kesulitan-kesulitan; sebagaimana Dia berfirman dalam kisah Thalut dan tentaranya ketika mereka menghadapi musuh mereka yang melebihi mereka dalam jumlah setelah mereka menyeberangi sungai ujian dan tidak berhasil dari mereka kecuali sedikit; Dia berfirman: “Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, mereka berkata: ‘Tidak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.’ Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: ‘Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar'” (Surah al-Baqarah: 249).

Sebagaimana tidak beriman kepada hari ini mendorong manusia kepada kekufuran dan kemaksiatan, dan kepada kezaliman dan permusuhan, dan kedurhakaan dan kerusakan; Dia berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharap pertemuan dengan Kami, dan mereka rida dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengannya, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan” (Surah Yunus: 7-8), dan Dia berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan” (Surah Shad: 26), dan Dia berfirman: “Sesungguhnya mereka tidak mengharap adanya perhitungan, dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan pendustaan yang sungguh-sungguh” (Surah an-Naba’: 27-28), dan Dia berfirman: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin” (Surah al-Ma’un: 1-3).

Dan Allah telah memerintahkan untuk bertakwa kepada hari itu dengan bersiap-siap untuknya dengan amal-amal saleh yang menyelamatkan dari kengerian-kengeriannya; Dia berfirman: “Dan bertakwalah kepada hari (ketika) kamu dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi pembalasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka tidak dianiaya” (Surah al-Baqarah: 281), “Dan takutlah kamu kepada suatu hari yang (pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa’at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong” (Surah al-Baqarah: 48), “Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah” (Surah Luqman: 33).

Dan iman kepada Hari Akhir maknanya adalah: bahwa kamu membenarkan segala apa yang ada setelah kematian dari azab kubur dan kenikmatan-kenikmatan-nya, dan dengan kebangkitan setelah itu, dan hisab dan mizan, dan pahala dan siksa, dan surga dan neraka, dan dengan segala apa yang digambarkan Allah tentang hari kiamat.

Dan dinamai dengan Hari Akhir karena datangnya setelah kehidupan dunia, dan ia memiliki banyak nama dalam Al-Quran, di antaranya:

1- Hari Kebangkitan: Karena pada hari itu terjadi kebangkitan dan kehidupan setelah kematian

2- Hari Keluar: Karena pada hari itu manusia keluar dari kubur mereka menuju kehidupan akhirat

3- Hari Kiamat: Karena pada hari itu manusia berdiri untuk dihisab

4- Hari Pembalasan (Surat Al-Fatihah ayat 4): Karena pada hari itu makhluk dihukum dan dibalas atas perbuatan mereka

5- Hari Pemisahan: Karena pada hari itu terjadi pemisahan antara manusia dengan keadilan

6- Hari Penghimpunan: Karena pada hari itu makhluk dikumpulkan dan dihimpun di tempat perhitungan

7- Hari Pengumpulan: Karena Allah mengumpulkan manusia pada hari itu untuk mendapat balasan

8- Hari Perhitungan (Surat Shad ayat 16): Karena pada hari itu manusia dihitung amal perbuatan mereka yang dikerjakan di dunia

9- Hari Ancaman: Karena pada hari itu terwujud ancaman Allah bagi orang-orang kafir

10- Hari Penyesalan: Karena pada hari itu terjadi penyesalan orang-orang kafir

11- Hari Keabadian: Karena kehidupan pada hari ini adalah kehidupan yang kekal abadi

12- Negeri Akhirat: Karena ia datang setelah negeri dunia, dan ia adalah negeri yang kekal tidak ada perpindahan ke negeri lain setelahnya

13- Negeri Ketetapan: Karena ia adalah ketetapan permanen tanpa kebinasaan dan perpindahan

14- Negeri Keabadian: Karena tempat tinggal di dalamnya bersifat abadi

15- Al-Waqi’ah (Surat Al-Waqi’ah): Karena pasti terjadinya

16- Al-Haqqah (Surat Al-Haqqah): Karena ia mengalahkan setiap orang yang membantah dan bermusuhan dengan kebatilan; maksudnya: mengalahkan mereka

17- Al-Qari’ah (Surat Al-Qari’ah): Karena ia memukul pendengaran dan hati dengan kengerian-kengeriannya

18- Al-Ghasyiyah (Surat Al-Ghasyiyah): Karena apa yang terjadi di dalamnya berupa peliputan umum terhadap jin dan manusia

19- Ath-Thammah: Karena ia mengalahkan dan mengungguli selain dirinya dari berbagai bencana

20- Al-Azifah: Yaitu yang dekat, dinamai demikian sebagai isyarat kedekatan-nya dibandingkan dengan umur dunia

21- Hari Saling Menipu (Surat At-Taghabun ayat 9): Karena penghuni surga menipu penghuni neraka

22- Hari Saling Memanggil: Karena pada hari itu setiap umat dipanggil dengan imam mereka, dan sebagian memanggil sebagian yang lain, penghuni surga memanggil penghuni neraka, penghuni neraka memanggil penghuni surga, dan penghuni A’raf saling memanggil

KEMATIAN:

Kematian adalah salah satu pendahuluan Hari Akhir, dan ia adalah Kiamat Kecil.

Kiamat Kecil adalah wafatnya setiap orang ketika ajalnya telah tiba, dan dengannya ia berpindah dari dunia menuju akhirat.

Allah telah mengingatkan para hamba tentang kematian agar mereka mempersiapkan diri dengan amal saleh dan bertobat dari perbuatan buruk, karena apabila kematian telah datang, maka terputuslah amal manusia, dan kematian tidak dapat ditunda. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata: ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’ Dan Allah sekali-kali tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila telah datang ajalnya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surat Al-Munafiqun: 9-11).

Dan Allah berfirman: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati” (Surat Ali Imran: 185). Kematian adalah Kiamat Kecil, sedangkan tegaknya Hari Kiamat adalah Kiamat Besar.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam satu surat menyebutkan Kiamat Besar dan Kiamat Kecil, sebagaimana dalam Surat Al-Waqi’ah. Sesungguhnya Dia menyebutkan di awalnya Kiamat Besar, dan bahwa manusia akan menjadi tiga golongan, sebagaimana firman Allah: ‘Apabila terjadi hari Kiamat, tidak ada yang dapat mendustakan kejadiannya, (kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluh, maka jadilah ia debu yang beterbangan, dan kamu menjadi tiga golongan.'” (Surat Al-Waqi’ah: 1-7).

Kemudian di akhirnya Dia menyebutkan kiamat kecil berupa kematian, dan bahwa mereka akan menjadi tiga golongan setelah kematian. Allah berfirman: “Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat. Maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah), kamu tidak mengembalikan nyawa itu, jika kamu adalah orang-orang yang benar? Adapun jika dia (yang mati) termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman dan rezki serta jannah yang penuh kenikmatan. Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan, maka keselamatan bagimu karena kamu dari golongan kanan. Dan adapun jika dia termasuk orang-orang yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, dan dibakar dalam neraka yang menyala-nyala.” (Surat Al-Waqi’ah: 83-94).

Ketika kematian, ruh manusia dicabut dari jasadnya atas perintah Allah.

Allah menyandarkan pencabutan nyawa kepada-Nya dalam firman-Nya: “Allah mematikan jiwa (orang) ketika matinya” (Surat Az-Zumar: 42), dan menyandarkannya kepada malaikat dalam firman-Nya: “Hingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan mereka tidak melalaikan tugasnya” (Surat Al-An’am: 61), dan dalam firman-Nya: “Kalau kamu melihat ketika malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir” (Surat Al-Anfal: 50), dan menyandarkannya kepada malaikat maut dalam firman-Nya: “Katakanlah: ‘Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu'” (Surat As-Sajdah: 11).

Tidak ada pertentangan antara ayat-ayat tersebut, dan penyandarannya dalam ayat-ayat ini kepada masing-masing sesuai dengan kedudukannya. Allah adalah yang memutuskan kematian dan menetapkannya, maka dengan ketetapan, takdir dan perintah-Nya, maka wafat disandarkan kepada-Nya karena hal tersebut. Malaikat maut menangani pencabutan dan pengeluarannya dari badan, kemudian malaikat rahmat atau malaikat azab mengambilnya darinya dan mengurusnya setelahnya. Maka sahihlah penyandaraan wafat kepada masing-masing sesuai kedudukannya.

WAFAT DENGAN TIDUR DAN WAFAT DENGAN KEMATIAN:

Ruh yang mengatur badan yang berpisah darinya dengan kematian adalah ruh yang ditiupkan kepadanya, dan ia adalah jiwa yang berpisah darinya dengan tidur.

Nabi bersabda ketika tertidur dari salat: “Sesungguhnya Allah menahan ruh-ruh kami dimana Dia kehendaki dan mengembalikannya dimana Dia kehendaki.” Dan Bilal berkata kepadanya: “Ya Rasulullah! Yang mengambil jiwaku sama dengan yang mengambil jiwamu.”

Allah berfirman: “Allah mematikan jiwa (orang) ketika matinya dan jiwa (orang) yang tidak mati ketika tidurnya; maka Dia menahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan” (Surat Az-Zumar: 42).

Ibnu Abbas dan kebanyakan mufassir berkata: “Dia mencabutnya dengan dua pencabutan: pencabutan kematian dan pencabutan tidur, kemudian dalam tidur Dia menahan yang mati dan mengirim yang lain sampai ajal yang ditetapkan hingga datang ajalnya pada waktu kematian.”

Telah tetap dalam Sahihain dari Nabi bahwa beliau “biasa berdoa ketika tidur: ‘Dengan nama-Mu ya Tuhanku aku meletakkan sisiku, dan dengan-Mu aku mengangkatnya. Jika Engkau menahan jiwaku maka ampunilah dan rahmatilah dia, dan jika Engkau melepaskannya maka jagalah dia dengan apa yang Engkau jaga hamba-hamba-Mu yang saleh.'”

Ini adalah salah satu dari dua pendapat dalam ayat tersebut, yaitu bahwa yang ditahan dan yang dilepas keduanya diwafatkan dengan wafat tidur. Maka yang telah cukup ajalnya, Dia menahannya di sisi-Nya sehingga tidak mengembalikannya ke jasadnya, dan yang belum cukup ajalnya, Dia mengembalikannya ke jasadnya untuk menyempurnakannya.

Pendapat kedua: bahwa yang ditahan adalah yang diwafatkan dengan wafat kematian terlebih dahulu, dan yang dilepas adalah yang diwafatkan dengan wafat tidur. Maknanya dengan ini: bahwa Allah mewafatkan jiwa orang mati lalu menahannya dan tidak melepaskannya sebelum Hari Kiamat, dan mewafatkan jiwa orang tidur kemudian melepaskannya ke jasadnya sampai sisa ajalnya lalu mewafatkannya dengan wafat yang lain.

Allah berfirman: “Dan Dialah yang mewafatkan kamu di malam hari” (Surat Al-An’am: 60).

HAKIKAT RUH:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Madzhab para sahabat dan tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik serta seluruh salaf umat dan imam-imam Sunnah adalah bahwa ruh adalah zat yang berdiri sendiri, berpisah dari badan, mendapat kenikmatan dan siksaan. Ia bukan badan dan bukan bagian dari bagian-bagiannya. Ketika Imam Ahmad adalah di antara yang menyatakan hal itu sebagaimana yang dinyatakan imam-imam lainnya, maka para pengikutnya tidak berbeda pendapat dalam hal itu.”

Dan beliau berkata di tempat lain: “Yang benar adalah bahwa ia tidak tersusun dari unsur-unsur tunggal, tidak dari materi dan bentuk, dan bukan dari jenis jasad-jasad yang terpisah yang disaksikan yang dikenal. Adapun isyarat kepadanya, naik dan turun, keluar dari badan, dan mengalir darinya sebagaimana disebutkan dalam nash-nash dan ditunjukkan oleh dalil-dalil akal. Adapun perkataan yang berkata: dimana tempat tinggalnya dari jasad? Maka tidak ada kekhususan ruh dengan sesuatu dari jasad, bahkan ia mengalir dalam jasad sebagaimana mengalirnya kehidupan yang merupakan sifat dalam seluruh jasad. Sesungguhnya kehidupan tergantung pada ruh, maka jika ruh ada dalam jasad, maka ada kehidupan di dalamnya, dan jika ruh berpisah darinya, maka kehidupan berpisah darinya.”

RUH ITU MAKHLUK:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Ruh manusia adalah makhluk dengan kesepakatan salaf umat dan para imam mereka serta seluruh Ahlu Sunnah, dan telah banyak imam Muslim yang meriwayatkan ijma’ ulama bahwa ia makhluk.”

Muridnya, Allamah Ibnu Qayyim berkata: “Yang menunjukkan penciptaannya ada beberapa segi” dan beliau menyebutkan dua belas segi:

“Di antaranya: firman Allah: ‘Allah Pencipta segala sesuatu'” (Surat Az-Zumar: 62). Lafaz ini umum, tidak ada pengkhususan di dalamnya dengan cara apapun, dan tidak masuk ke dalamnya sifat-sifat-Nya karena ia termasuk dalam nama-Nya. Maka Allah adalah Tuhan yang disifati dengan sifat-sifat kesempurnaan, dan Dia dengan zat dan sifat-sifat-Nya adalah Pencipta dan selain-Nya adalah makhluk.

Di antaranya: firman Allah: “Dan sungguh telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu belum ada sama sekali” (Surat Maryam: 9). Khitab ini untuk ruh dan badannya, bukan untuk badannya saja, karena badan sendiri tidak memahami, tidak diajak bicara dan tidak berakal. Yang memahami dan diajak bicara hanyalah ruh.

Di antaranya: firman Allah: “Dan sungguh Kami telah menciptakan kamu, kemudian Kami bentuk (tubuh)mu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: ‘Sujudlah kepada Adam'” (Surat Al-A’raf: 11). Pemberitaan ini mencakup ruh-ruh dan jasad-jasad kami sebagaimana dikatakan jumhur, atau terjadi pada ruh-ruh sebelum penciptaan jasad-jasad sebagaimana dikatakan orang yang menduga demikian. Dalam kedua takdir tersebut, ia tegas dalam penciptaan ruh-ruh.

Di antaranya: nash-nash yang menunjukkan bahwa manusia adalah hamba secara keseluruhan, dan penghambaan nya tidak terjadi pada badannya tanpa ruhnya, bahkan penghambaan ruh dan penghambaan badan mengikutinya sebagaimana ia mengikutinya dalam hukum-hukum, dan ia yang menggerakkannya dan menggunakannya, dan badan mengikutinya dalam penghambaan.

Di antaranya: firman Allah: “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia belum merupakan sesuatu yang disebut?” (Surat Al-Insan: 1). Seandainya ruhnya qadim, niscaya manusia tidak pernah berhenti menjadi sesuatu yang disebut, karena ia hanya menjadi manusia dengan ruhnya bukan badannya.

Di antaranya: hadits Abu Hurairah yang ada dalam Sahih Bukhari dan lainnya dari Nabi: “Ruh-ruh adalah tentara yang dikumpulkan, maka yang saling mengenal di antara mereka saling bersatu, dan yang saling mengingkari di antara mereka saling berselisih.” Tentara yang dikumpulkan tidak lain kecuali makhluk.

Di antaranya: bahwa ruh disifati dengan wafat, pencabutan, penahanan dan pelepasan, dan ini urusan makhluk yang baru yang dipelihara.

CARA PENCABUTAN RUH ORANG YANG MENINGGAL DAN NASIBNYA SETELAH WAFATNYA:

Telah datang penjelasan tentang cara wafat dan nasib ruh setelahnya dalam hadits Barra’ bin ‘Azib yang panjang, dan ini nashnya:

Dari Barra’ bin ‘Azib berkata: “Kami berada dalam (mengantar) jenazah di Baqi’ Al-Gharqad, lalu Nabi datang kepada kami. Beliau duduk dan kami duduk di sekelilingnya seolah-olah di atas kepala kami ada burung, sedang ia (mayit) sedang dilahdkan untuknya. Maka beliau bersabda: ‘Aku berlindung kepada Allah dari azab kubur’ -tiga kali-.”

Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya hamba yang mukmin ketika dalam menghadapi akhirat dan berpisah dari dunia, turunlah kepadanya malaikat-malaikat seolah-olah di wajah mereka ada matahari, bersama mereka kain kafan dari kain kafan surga dan harum-haruman dari harum-haruman surga. Mereka duduk darinya sejauh mata memandang, kemudian datanglah malaikat maut hingga duduk di dekat kepalanya, lalu berkata: ‘Wahai jiwa yang baik! Keluarlah kepada ampunan dari Allah dan ridha-Nya.'”

Beliau bersabda: “Maka keluarlah ia mengalir seperti tetesan dari mulut tempat air, lalu diambilnya. Ketika diambilnya, mereka tidak membiarkannya di tangannya sekejap mata hingga mereka mengambilnya lalu meletakkannya dalam kain kafan itu dan harum-haruman itu, dan keluar darinya seperti bau misk yang paling harum yang pernah ada di bumi.” Beliau bersabda: “Maka mereka naik dengannya, tidak melewatinya pada kumpulan malaikat melainkan mereka berkata: ‘Apakah ruh yang baik ini?’ Maka mereka berkata: ‘Si fulan bin fulan’ dengan nama-nama yang paling baik yang mereka panggil dengannya di dunia, hingga mereka sampai dengannya ke langit, lalu mereka meminta dibukakan untuknya, maka dibukakan untuknya. Yang mengiringinya dari setiap langit adalah yang didekatkan kepadanya sampai langit yang di atasnya, hingga berakhir dengannya ke langit yang di dalamnya Allah. Maka Allah berfirman: ‘Tulislah kitab hamba-Ku di ‘Illiyyun, dan kembalikanlah dia ke bumi, karena dari situlah Aku menciptakan mereka, dan ke dalamnya Aku mengembalikan mereka, dan dari situlah Aku mengeluarkan mereka sekali lagi.'”

Beliau bersabda: “Maka dikembalikan ruhnya ke dalam jasadnya, lalu datang kepadanya dua malaikat, mereka mendudukkannya, lalu berkata kepadanya: ‘Siapa Tuhanmu?’ Maka dia berkata: ‘Tuhanku Allah.’ Mereka berkata kepadanya: ‘Apa agamamu?’ Maka dia berkata: ‘Agamaku Islam.’ Mereka berkata kepadanya: ‘Siapakah laki-laki yang diutus di tengah kalian ini?’ Maka dia berkata: ‘Dia adalah Rasulullah.’ Mereka berkata kepadanya: ‘Apa ilmumu?’ Maka dia berkata: ‘Aku membaca Kitab Allah lalu aku beriman kepadanya dan membenarkannya.’ Maka berserulah penyeru dari langit: ‘Hambaku telah benar, maka hamparkanlah untuknya dari surga, dan bukakanlah untuknya pintu ke surga.'”

Beliau bersabda: “Maka datang kepadanya dari kenyamanan dan harumnya, dan dilapangkan untuknya kuburnya sejauh mata memandang.”

Beliau bersabda: “Dan datang kepadanya seorang laki-laki yang baik wajahnya, baik pakaiannya, harum baunya, lalu berkata: ‘Bergembiralah dengan yang menyenangkanmu, ini adalah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.’ Maka dia berkata kepadanya: ‘Siapakah kamu? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kebaikan?’ Maka dia berkata: ‘Aku adalah amal salehmu.’ Maka dia berkata: ‘Ya Tuhanku! Tegakkanlah kiamat agar aku kembali kepada keluarga dan hartaku.'”

Beliau bersabda: “Dan sesungguhnya hamba yang kafir ketika dalam berpisah dari dunia dan menghadapi akhirat, turun kepada nya dari langit malaikat-malaikat yang hitam wajah, bersama mereka kain pelana, lalu mereka duduk darinya sejauh mata memandang, kemudian datanglah malaikat maut hingga duduk di dekat kepalanya, lalu berkata: ‘Wahai jiwa yang buruk! Keluarlah kepada murka dan kemurkaan Allah.'”

Beliau bersabda: “Maka tersebarlah ia dalam jasadnya, lalu dicabutnya seperti dicabutnya tusuk sate dari bulu domba yang basah, lalu diambilnya. Ketika diambilnya, mereka tidak membiarkannya di tangannya sekejap mata hingga mereka meletakkannya dalam kain pelana itu, dan keluar darinya seperti bau bangkai yang paling busuk yang pernah ada di muka bumi. Maka mereka naik dengannya, tidak melewatinya pada kumpulan malaikat melainkan mereka berkata: ‘Apakah ruh yang buruk ini?’ Maka mereka berkata: ‘Si fulan’ dengan nama-nama yang paling buruk yang mereka panggil dengannya di dunia, hingga berakhir dengannya ke langit dunia, lalu mereka meminta dibukakan untuknya, maka tidak dibukakan untuknya.” Kemudian Rasulullah membaca: “Tidak dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak masuk surga hingga unta masuk ke lubang jarum” (Surat Al-A’raf: 40). “Maka Allah berfirman: ‘Tulislah kitabnya di Sijjin di bumi yang paling bawah, maka dilemparkan ruhnya dengan lemparan.'” Kemudian beliau membaca: “Dan barangsiapa mempersekutukan Allah, maka adalah seperti dia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh” (Surat Al-Hajj: 31). “Maka dikembalikan ruhnya ke dalam jasadnya, dan datang kepadanya dua malaikat lalu mereka mendudukkannya, mereka berkata kepadanya: ‘Siapa Tuhanmu?’ Maka dia berkata: ‘Hah, hah, aku tidak tahu.’ Mereka berkata kepadanya: ‘Siapakah laki-laki yang diutus di tengah kalian ini?’ Maka dia berkata: ‘Hah, hah, aku tidak tahu.’ Maka berserulah penyeru dari langit: ‘Hambaku telah berdusta, maka hamparkanlah untuknya dari neraka, dan bukakanlah untuknya pintu ke neraka.’ Maka datang kepadanya dari panasnya dan racunnya, dan disempitkan atasnya kuburnya hingga bersilang tulang rusuknya. Dan datang kepadanya seorang laki-laki yang buruk wajahnya, buruk pakaiannya, busuk baunya, lalu berkata: ‘Bergembiralah dengan yang menyedihkanmu, ini adalah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.’ Maka dia berkata: ‘Siapakah kamu? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kejahatan?’ Maka dia berkata: ‘Aku adalah amal burukmu.’ Maka dia berkata: ‘Ya Tuhanku, jangan tegakkan kiamat.'”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, Al-Hakim, dan Abu Awanah dalam kedua kitab sahih mereka, serta Ibnu Hibban.

Penjelas kitab Ath-Thahawiyyah berkata: “Semua ahli Sunnah dan hadis berpendapat sesuai dengan hadis ini, dan hadis ini memiliki penguat-penguat dalam kitab sahih.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Adapun hadis yang disebutkan tentang pencabutan ruh orang mukmin dan bahwa ruh itu naik ke langit tempat Allah berada, maka ini adalah hadis yang terkenal dengan sanad yang baik. Dan perkataannya: (tempat Allah berada) seperti firman Allah Ta’ala: ‘Apakah kamu merasa aman terhadap (Allah) yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan membenamkan kamu ke dalam bumi, maka tiba-tiba bumi itu bergoncang? Ataukah kamu merasa aman terhadap (Allah) yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang melempari kamu dengan batu? Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mengingkari) peringatan-Ku.’ (QS. Al-Mulk: 16-17)”

Allamah Ibnu Qayyim berkata: “Ruh-ruh berbeda-beda dalam tempat tinggalnya di alam barzakh dengan perbedaan yang sangat besar:

Di antaranya: ruh-ruh yang berada di ‘Illiyyun yang tertinggi di alam yang tinggi, yaitu ruh-ruh para nabi shallallahu ‘alaihim wa sallam, dan mereka berbeda-beda dalam tingkatan mereka sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat mereka pada malam Isra.

Di antaranya: ruh-ruh yang berada dalam tembolok burung-burung hijau yang berkeliaran di surga ke mana pun mereka kehendaki, yaitu ruh-ruh para syuhada, bukan semuanya, bahkan di antara para syuhada ada yang ruhnya tertahan tidak masuk surga karena hutang atau lainnya. Di antara mereka ada yang tertahan di pintu surga, dan di antara mereka ada yang tertahan di kuburnya seperti hadis tentang pemilik selimut yang dia curi kemudian mati syahid. Orang-orang berkata: ‘Beruntunglah dia mendapat surga.’ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Demi Dzat yang jiwaku dalam genggaman-Nya! Sesungguhnya selimut yang dia curi itu menyalakan api atasnya di kuburnya.’

Di antara mereka: yang tempat tinggalnya di pintu surga sebagaimana dalam hadis Ibnu Abbas: ‘Para syuhada berada di tepi sungai di pintu surga, dalam kubah hijau, mereka didatangi dari surga pada pagi dan sore hari.’

Di antaranya: ruh yang tertahan di bumi tidak naik ke alam yang tinggi karena ia adalah ruh yang rendah dan bersifat duniawi. Sesungguhnya jiwa-jiwa yang bersifat duniawi tidak dapat bersatu dengan jiwa-jiwa yang bersifat langit sebagaimana mereka tidak dapat bersatu di dunia. Jiwa yang tidak memperoleh di dunia pengenalan terhadap Tuhannya, kecintaan kepada-Nya, mengingat-Nya, merasa tenang dengan-Nya, dan mendekatkan diri kepada-Nya, bahkan ia bersifat duniawi dan rendah, maka setelah berpisah dengan jasadnya ia tidak akan berada kecuali di sana. Sebagaimana jiwa yang tinggi yang di dunia tekun dalam kecintaan kepada Allah, mengingat-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, dan merasa tenang dengan-Nya, maka setelah berpisah ia akan bersama ruh-ruh tinggi yang sesuai dengannya. Seseorang akan bersama dengan yang dicintainya di alam barzakh dan pada hari kiamat. Allah Ta’ala menjodohkan jiwa-jiwa satu sama lain di alam barzakh dan pada hari kebangkitan sebagaimana telah disebutkan dalam hadis, dan Allah menjadikan orang mukmin bersama ruh-ruh yang baik, yaitu ruh-ruh baik yang serupa. Maka ruh setelah berpisah akan bergabung dengan yang serupa dengannya, saudara-saudaranya, dan teman-teman amalnya, lalu ia akan bersama mereka di sana.

Di antaranya: ruh-ruh yang berada dalam tungku pezina laki-laki dan perempuan, dan ruh-ruh yang berada dalam sungai darah yang berenang di dalamnya dan diberi makan batu.

Ruh-ruh tidak memiliki satu tempat tinggal yang sama, baik yang bahagia maupun yang celaka, bahkan ada ruh di ‘Illiyyun yang tertinggi, dan ada ruh yang bersifat duniawi dan rendah yang tidak naik dari bumi.”

Beliau berkata: “Dan apabila engkau merenungkan sunnah-sunnah dan atsar-atsar, dan engkau memiliki keahlian dalam memahaminya, maka semuanya adalah benar dan saling membenarkan, namun persoalannya adalah dalam memahaminya dan mengetahui jiwa serta hukum-hukumnya, dan bahwa jiwa memiliki urusan yang berbeda dengan urusan jasad…”

Sampai beliau berkata: “Dan bahwa jiwa terbagi menjadi yang dilepaskan dan yang ditahan, yang tinggi dan yang rendah. Setelah berpisah ia memiliki kesehatan dan penyakit, kenikmatan dan kebahagiaan serta kesakitan yang lebih besar dari yang dimilikinya ketika bersatu dengan jasad. Maka di sana ada tahanan, kesakitan, siksaan, penyakit, dan penyesalan, dan di sana ada kenikmatan, kenyamanan, kebahagiaan, dan kebebasan.”

Apakah Ruh dan Jiwa Satu Hal atau Dua Hal yang Berbeda?

Manusia berbeda pendapat dalam hal ini. Ada yang mengatakan keduanya adalah satu hal, dan mereka adalah mayoritas. Ada yang mengatakan keduanya berbeda. Yang benar adalah bahwa lafaz ruh dan jiwa digunakan untuk beberapa makna, sehingga terkadang maksudnya sama dan terkadang berbeda.

Jiwa digunakan untuk beberapa perkara:

  • Ruh: dikatakan “keluar jiwanya” artinya ruhnya. Termasuk firman Allah Ta’ala: “Keluarkanlah diri kalian” (QS. Al-An’am: 93)
  • Dzat: dikatakan “aku melihat Zaid sendiri”, termasuk firman Allah Ta’ala: “Maka berilah salam kepada diri kalian sendiri” (QS. An-Nur: 61)
  • Darah: dikatakan “mengalir jiwanya”, dari sinilah para fuqaha berkata: “yang memiliki jiwa yang mengalir” dan “yang tidak memiliki jiwa yang mengalir”. Dari sinilah dikatakan: “nifas al-mar’ah” jika ia haid, dan “nafasat” jika ia melahirkan, dari sinilah disebut “nufasa”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dikatakan jiwa ada tiga jenis:

  1. Jiwa yang menyuruh berbuat jahat (an-nafs al-ammarah bi as-su’), yang didominasi oleh mengikuti hawa nafsu dengan melakukan dosa dan maksiat.
  2. Jiwa yang mencela (an-nafs al-lawwamah), yaitu yang berbuat dosa kemudian bertaubat. Di dalamnya ada kebaikan dan keburukan, tetapi jika melakukan keburukan, ia bertaubat dan kembali kepada Allah. Disebut lawwamah karena ia mencela pemiliknya atas dosa-dosa, dan tidak ragu-ragu, artinya bimbang antara kebaikan dan keburukan.
  3. Jiwa yang tenang (an-nafs al-muthma’innah), yaitu yang mencintai kebaikan dan kehasanah, serta membenci keburukan dan kejelekan. Hal itu telah menjadi sifat dan kebiasaannya.

Ini adalah sifat-sifat dan keadaan untuk satu dzat, karena jiwa yang dimiliki setiap manusia adalah satu jiwa.”

Ruh juga digunakan untuk beberapa makna:

  • Al-Quran yang diwahyukan Allah Ta’ala kepada rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Quran) dengan perintah Kami” (QS. Asy-Syura: 52)
  • Jibril. Allah Ta’ala berfirman: “Ia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril)” (QS. Asy-Syu’ara: 193)
  • Wahyu yang diwahyukan kepada para nabi dan rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Dia memberikan ruh dari urusan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya” (QS. Ghafir: 15). Disebut ruh karena dengannya terjadi kehidupan yang bermanfaat, karena kehidupan tanpanya sama sekali tidak bermanfaat bagi pemiliknya. Ruh disebut ruh karena dengannya terjadi kehidupan jasad.

Ruh juga digunakan untuk udara yang keluar dari jasad dan udara yang masuk ke dalamnya.

Ruh juga digunakan untuk apa yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu sesuatu yang dengan kepergiannya terjadi kematian. Dalam pengertian ini ia bersinonim dengan jiwa dan maksudnya sama. Keduanya berbeda dalam hal bahwa jiwa digunakan untuk jasad dan darah, sedangkan ruh tidak digunakan untuk keduanya. Wallahu a’lam.

Ketiga: Fitnah Kubur, Siksaan dan Kenikmatan Kubur

Pendahuluan

Iman kepada hari akhir berarti iman kepada semua yang diberitakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang apa yang terjadi setelah kematian, termasuk iman kepada fitnah kubur, siksaan dan kenikmatan kubur. Hal itu karena antara kematian yang mengakhiri kehidupan pertama dan kebangkitan yang memulai kehidupan kedua, atau dengan ungkapan lain: antara kiamat kecil dan kiamat besar, terdapat masa yang dalam Al-Quran disebut barzakh, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Hingga apabila datang kematian kepada seseorang di antara mereka, ia berkata: ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku, agar aku berbuat amal saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan” (QS. Al-Mu’minun: 99-100). “Barzakh” secara bahasa adalah penghalang antara dua hal.

Di barzakh ini terdapat contoh pembalasan akhirat, karena ia adalah tempat pertama dari tempat-tempat akhirat. Di dalamnya terdapat pertanyaan dua malaikat kemudian siksaan atau kenikmatan.

Pertanyaan Dua Malaikat

Disebut fitnah kubur, yaitu ujian dan cobaan bagi mayit ketika ditanya oleh dua malaikat.

Hadis-hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang fitnah ini telah banyak diriwayatkan dari hadis Al-Bara’ bin ‘Azib, Anas bin Malik, Abu Hurairah, dan lain-lain radhiyallahu ‘anhum.

Fitnah ini berlaku umum untuk orang yang mukallaf kecuali para nabi, karena dalam hal mereka terdapat perbedaan pendapat. Demikian juga terdapat perbedaan pendapat tentang orang yang tidak mukallaf seperti anak-anak dan orang gila. Ada yang berpendapat mereka tidak diuji karena ujian hanya untuk orang mukallaf. Ada yang berpendapat mereka diuji.

Dalil orang yang berpendapat mereka ditanya: bahwa disyariatkan shalat atas mereka, mendoakan mereka, dan memohon kepada Allah agar melindungi mereka dari siksaan kubur dan fitnah kubur, sebagaimana disebutkan Malik dalam “Muwatha’nya” dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat atas jenazah anak kecil, lalu terdengar dari doanya: “Ya Allah, lindungilah ia dari siksaan kubur.”

Mereka berdalil dengan riwayat Ali bin Ma’bad dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa jenazah anak kecil dibawa melewatinya, lalu ia menangis. Ditanyakan kepadanya: “Apa yang membuatmu menangis wahai Ummul Mukminin?” Ia berkata: “Anak kecil ini, aku menangis untuknya karena kasihan padanya dari tekanan kubur.”

Mereka berkata: Allah Subhanahu wa Ta’ala menyempurnakan akal mereka agar dengan itu mereka mengetahui kedudukan mereka dan diberi ilham jawaban atas apa yang ditanyakan kepada mereka. Mereka berkata: Hal ini ditunjukkan oleh hadis-hadis banyak yang menyebutkan bahwa mereka diuji di akhirat. Al-Asy’ari meriwayatkan hal ini dari ahli Sunnah dan hadis. Jika mereka diuji di akhirat, maka tidak menghalangi mereka diuji di kubur.

Yang berpendapat mereka tidak ditanya berdalil bahwa pertanyaan hanya untuk orang yang berakal terhadap rasul dan yang diutus, sehingga ditanya: apakah ia beriman kepada rasul dan mentaatinya atau tidak? Adapun anak yang sama sekali tidak memiliki daya pembeda, bagaimana bisa dikatakan kepadanya: apa yang kamu katakan tentang orang ini yang diutus di antara kalian? Seandainya akalnya dikembalikan di kubur, maka ia tidak ditanya tentang apa yang tidak mampu diketahui dan dipelajarinya. Tidak ada faedah pertanyaan ini. Hal ini berbeda dengan ujian mereka di akhirat, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus kepada mereka seorang rasul dan memerintahkan mereka mentaatinya sedangkan akal mereka bersamanya. Siapa yang mentaatinya akan selamat, dan siapa yang mendurhakai akan dimasukkan ke neraka. Itu adalah ujian dengan perintah yang diperintahkan kepada mereka untuk dilakukan pada waktu itu, bukan pertanyaan tentang perkara yang telah berlalu bagi mereka di dunia berupa ketaatan atau kemaksiatan seperti pertanyaan dua malaikat di kubur.

Mereka menjawab dalil-dalil kelompok pertama: Adapun hadis Abu Hurairah, yang dimaksud siksaan kubur di dalamnya bukanlah hukuman anak karena meninggalkan ketaatan atau melakukan kemaksiatan, karena Allah tidak menyiksa seseorang tanpa dosa yang diperbuatnya. Siksaan kubur terkadang dimaksudkan sebagai kesakitan yang terjadi pada mayit karena orang lain, meskipun bukan hukuman atas perbuatannya. Termasuk sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya mayit disiksa karena tangisan keluarganya atasnya”, artinya ia merasa sakit dan menderita karenanya, bukan dihukum karena dosa orang hidup, “dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” (QS. Al-An’am: 164). Ini seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Perjalanan adalah bagian dari siksaan.” Siksaan lebih umum dari hukuman. Tidak diragukan bahwa di kubur terdapat kesakitan, kesedihan, dan penyesalan yang pengaruhnya bisa sampai kepada anak sehingga ia merasa sakit. Maka disyariatkan bagi yang menyalatinya untuk memohon kepada Allah Ta’ala agar melindunginya dari siksaan tersebut. Wallahu a’lam.

Mereka berbeda pendapat: apakah pertanyaan di kubur berlaku umum untuk muslim, munafik, dan kafir, atau khusus untuk muslim dan munafik? Ada yang berpendapat khusus untuk muslim dan munafik tanpa kafir yang mengingkari dan memalsukan. Ada yang berpendapat pertanyaan di kubur berlaku umum untuk kafir dan muslim. Inilah yang ditunjukkan oleh Al-Quran dan Sunnah. Mengecualikan kafir dari hal ini tidak ada dasarnya.

Mereka berbeda pendapat: apakah pertanyaan di kubur khusus untuk umat ini atau untuk umat ini dan lainnya? Ada tiga pendapat:

Pendapat pertama: bahwa hal itu khusus untuk umat ini, karena umat-umat sebelum kita ketika rasul datang kepada mereka dengan risalah, jika mereka menolak, rasul-rasul menjauh dan mengasingkan diri dari mereka lalu mereka segera disiksa. Ketika Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus dengan rahmat sebagai imam bagi makhluk – sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. Al-Anbiya: 107) – Allah menahan siksaan dari mereka dan memberi pedang, sehingga masuk dalam agama Islam siapa yang masuk karena takut pada pedang, kemudian iman mengakar dalam hatinya. Maka mereka diberi kesempatan. Dari situlah muncul urusan kemunafikan, mereka menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keimanan. Mereka berada di antara kaum muslim dalam penyamaran. Ketika mereka mati, Allah menyediakan bagi mereka dua penguji kubur untuk mengeluarkan rahasia mereka dengan pertanyaan.

Penganut pendapat ini berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya umat ini diuji dalam kuburnya” dan sabdanya: “Diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan diuji dalam kubur kalian.” Ini jelas menunjukkan kekhususan umat ini. Hal ini ditunjukkan oleh perkataan dua malaikat: “Apa yang kamu katakan tentang orang ini yang diutus di antara kalian.”

Pendapat kedua: bahwa pertanyaan di kubur untuk umat ini dan lainnya.

Penganut pendapat ini menjawab dalil-dalil pendapat pertama bahwa dalil-dalil itu tidak menunjukkan kekhususan pertanyaan untuk umat ini tanpa umat-umat lainnya. Sabdanya: “umat ini” bisa dimaksudkan umat manusia, yaitu Bani Adam, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu” (QS. Al-An’am: 38). Setiap jenis dari jenis-jenis hewan disebut umat. Jika yang dimaksud adalah umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka di dalamnya tidak ada yang menafikan pertanyaan terhadap umat-umat lainnya, karena itu hanya pemberitahuan kepada mereka bahwa mereka akan ditanya di kubur mereka. Demikian juga hadis: “Diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan diuji dalam kubur kalian”: hanya pemberitahuan yang tidak menafikan pertanyaan terhadap lainnya.

Pendapat ketiga: berhenti dalam masalah ini karena dalil-dalil dalam hal itu bersifat muhmal dan tidak tegas dalam kekhususan. Wallahu a’lam.

Sifat Pertanyaan Dua Malaikat kepada Mayit Sebagaimana yang Disebutkan dalam Hadis-hadis:

Dalam hadis Bara’ bin Azib radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Maka dikembalikan ruh (maksudnya: mayit) ke dalam jasadnya, dan datanglah kepadanya dua malaikat.”

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari hadis Qatadah dari Anas, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya mayit apabila diletakkan di kuburnya, dan orang-orang yang menguburkannya telah pergi, maka ia benar-benar mendengar suara sandal mereka. Kemudian datanglah kepadanya dua malaikat, lalu mereka mendudukkannya, kemudian berkata kepadanya: ‘Apa yang biasa kamu katakan tentang orang ini, Muhammad?’ Adapun orang beriman, maka ia berkata: ‘Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan rasul-Nya.'” Beliau berkata: “Maka dikatakan: ‘Lihatlah tempat dudukmu di neraka, Allah telah menggantinya dengan tempat duduk di surga.'” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata: “Maka ia melihat keduanya.” Beliau berkata: “Adapun orang kafir dan munafik, maka dikatakan kepadanya: ‘Apa yang biasa kamu katakan tentang orang ini?’ Maka ia berkata: ‘Aku tidak tahu, aku biasa mengatakan apa yang dikatakan orang-orang.’ Maka keduanya berkata kepadanya: ‘Kamu tidak tahu dan tidak membaca.’ Kemudian ia dipukul dengan palu besi di antara kedua telinganya, lalu ia berteriak dengan teriakan yang didengar oleh siapa saja yang ada di atasnya kecuali jin dan manusia.”

Dalam hadis lain dalam Shahih Abu Hatim: “Datang kepadanya dua malaikat yang hitam dan biru, yang satu disebut Munkar dan yang lainnya disebut Nakir.”

Dalam hadis lain dalam Musnad dan Shahih Abu Hatim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya mayit apabila diletakkan di kuburnya, ia mendengar suara sandal mereka ketika mereka pergi meninggalkannya. Jika ia seorang mukmin, maka shalat berada di sebelah kepalanya, puasa di sebelah kanannya, zakat di sebelah kirinya, dan perbuatan baik berupa sedekah, silaturahmi, ma’ruf, dan ihsan berada di sebelah kakinya. Kemudian didatangi dari arah kepalanya, maka shalat berkata: ‘Tidak ada jalan masuk dari sisiku.’ Kemudian didatangi dari sebelah kanannya, maka puasa berkata: ‘Tidak ada jalan masuk dari sisiku.’ Kemudian didatangi dari sebelah kirinya, maka zakat berkata: ‘Tidak ada jalan masuk dari sisiku.’ Kemudian didatangi dari arah kakinya, maka perbuatan baik berupa sedekah, silaturahmi, ma’ruf, dan ihsan berkata: ‘Tidak ada jalan masuk dari sisiku.’ Kemudian dikatakan kepadanya: ‘Duduklah.’ Maka ia duduk, dan telah dimisalkan baginya matahari yang hampir terbenam. Lalu dikatakan kepadanya: ‘Orang ini yang dahulu berada di antara kalian, apa yang kamu katakan tentang dia? Dan apa yang kamu saksikan atasnya?’ Maka ia berkata: ‘Biarkanlah aku shalat dulu.’ Mereka berkata: ‘Sesungguhnya kamu akan shalat, beritahukan kepada kami tentang apa yang kami tanyakan kepadamu…'” (hadis berlanjut).

Hadis-hadis ini dan yang semaknanya menunjukkan beberapa masalah:

  1. Bahwa pertanyaan terjadi ketika mayit diletakkan di kuburnya, dan ini adalah bantahan terhadap ahli bid’ah seperti Abu Huzail dan Al-Marisi yang mengatakan bahwa pertanyaan terjadi di antara dua tiupan sangkakala.
  2. Penamaan kedua malaikat dengan Munkar dan Nakir, dan ini adalah bantahan terhadap orang-orang Mu’tazilah yang mengklaim bahwa tidak boleh menyebut keduanya dengan nama tersebut, mereka mentakwilkan apa yang disebutkan dalam hadis bahwa yang dimaksud dengan “munkar” adalah keraguan orang yang ditanya ketika ditanya, dan “nakir” adalah teguran malaikat kepadanya.
  3. Bahwa ruh mayit dikembalikan kepadanya di kuburnya ketika ditanya, dan ia didudukkan, dan diminta berbicara, dan ini adalah bantahan terhadap Abu Muhammad bin Hazm yang menafikan hal tersebut; kecuali jika yang dimaksudkannya adalah menafikan kehidupan yang dikenal di dunia, maka ini benar. Karena kembalinya ruh ke jasad mayit tidak seperti kembalinya ruh kepadanya dalam kehidupan dunia ini, meskipun yang pertama mungkin lebih sempurna dari beberapa segi, sebagaimana kehidupan akhirat tidak seperti kehidupan ini meskipun lebih sempurna darinya. Bahkan setiap tempat di dunia ini, di alam barzakh, dan di hari kiamat memiliki hukum yang khusus. Oleh karena itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengabarkan bahwa kuburan mayit diperluas untuknya, dan ia ditanya… dan semacam itu, meskipun tanah mungkin tidak berubah. Maka ruh-ruh dikembalikan ke jasad mayit dan berpisah darinya.

Hubungan Ruh dengan Jasad

Ruh memiliki hubungan yang berbeda-beda dengan jasad, berikut penjelasannya:

Pertama: Hubungannya dengan jasad di dalam perut ibu sebagai janin.

Kedua: Hubungannya dengan jasad setelah keluar ke permukaan bumi.

Ketiga: Hubungannya dengan jasad dalam keadaan tidur; maka ruh memiliki hubungan dari satu segi dan berpisah dari segi lain.

Keempat: Hubungannya dengan jasad di alam barzakh; meskipun ruh berpisah darinya dan terlepas darinya, namun ia tidak berpisah secara total sehingga tidak ada lagi perhatian sama sekali kepadanya. Hadis-hadis menunjukkan dikembalikannya ruh kepada jasad ketika pertanyaan dua malaikat dan ketika salam orang Muslim, dan pengembalian ini adalah pengembalian khusus yang tidak mengharuskan kehidupan jasad sebelum hari kiamat.

Kelima: Hubungannya dengan jasad pada hari kebangkitan jasad-jasad, dan ini adalah hubungan yang paling sempurna dengan jasad, dan tidak ada perbandingan untuk jenis-jenis hubungan sebelumnya dengannya, karena ini adalah hubungan yang jasad tidak menerima kematian, tidur, atau kerusakan bersamanya.

Azab Kubur dan Kenikmatan Kubur

Madzhab salaf umat dan para imam mereka adalah bahwa mayit ketika mati berada dalam kenikmatan atau azab, dan hal itu terjadi pada ruh dan jasadnya, dan bahwa ruh tetap ada setelah berpisah dari jasad dalam keadaan mendapat kenikmatan atau azab, dan ruh terhubung dengan jasad kadang-kadang, dan terjadi padanya bersama ruh kenikmatan atau azab. Maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepakat bahwa jiwa mendapat kenikmatan dan azab terpisah dari jasad, dan mendapat kenikmatan dan azab terhubung dengan jasad, dan jasad terhubung dengannya. Maka kenikmatan dan azab terjadi pada keduanya dalam keadaan ini secara bersamaan, sebagaimana hal itu terjadi pada ruh terpisah dari jasad. Adapun apakah kenikmatan dan azab terjadi pada jasad tanpa ruh? Dalam hal ini ada dua pendapat yang masyhur dari ahli hadis dan sunnah serta ahli kalam.

Dalil-dalil Azab Kubur dan Kenikmatan Kubur dari Al-Quran Al-Karim:

  1. Allah Ta’ala berfirman: “Dan kalau kamu melihat ketika orang-orang zalim (berada) dalam keadaan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): ‘Keluarkanlah nyawamu.’ Pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghinakan.” (QS. Al-An’am: 93). Ini adalah khitab kepada mereka ketika mati, dan para malaikat – yang mereka adalah orang-orang jujur – telah mengabarkan bahwa mereka saat itu mendapat balasan azab yang menghinakan karena apa yang mereka katakan tentang Allah selain kebenaran dan karena mereka menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. Ini adalah khitab kepada mereka ketika mati, dan malaikat – yang mereka adalah orang-orang jujur – telah mengabarkan bahwa mereka saat itu mendapat balasan azab yang menghinakan. Dan jika azab itu ditunda dari mereka sampai berakhirnya dunia, maka tidak benar dikatakan kepada mereka: “Pada hari ini kamu dibalas.” Maka ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah azab kubur.
  2. Allah Ta’ala berfirman: “Maka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari mereka yang di dalamnya mereka dibinasakan. (Yaitu) hari yang tipu daya mereka tidak berguna sedikit pun bagi mereka dan mereka tidak akan ditolong. Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang zalim ada azab selain itu, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Ath-Thur: 45-47). Ini bisa bermakna azab mereka dengan dibunuh dan lainnya di dunia, dan bisa bermakna azab mereka di alam barzakh, dan ini lebih jelas, karena banyak dari mereka yang mati dan tidak diazab di dunia. Dan bisa dikatakan – dan ini lebih jelas: bahwa siapa yang mati dari mereka diazab di alam barzakh, dan siapa yang masih hidup diazab di dunia dengan dibunuh dan lainnya. Maka ini adalah ancaman dengan azab mereka di dunia dan di alam barzakh.
  3. Firman Allah: “Maka Allah melindunginya dari kejahatan tipu daya mereka, dan azab yang buruk menimpa keluarga Fir’aun, (yaitu) neraka yang mereka dihadapkan kepadanya pada pagi dan petang. Dan pada hari terjadinya kiamat: ‘Masukkanlah keluarga Fir’aun ke dalam azab yang paling keras.'” (QS. Al-Mu’min: 45-46). Maka Allah menyebutkan azab dua tempat secara jelas yang tidak menerima makna lain, maka ini menunjukkan ketetapan azab kubur.
  4. Allah Ta’ala berfirman: “Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah), kamu tidak mengembalikannya jika kamu benar? Adapun jika dia termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenangan dan rezeki serta taman kenikmatan. Dan adapun jika dia termasuk orang-orang yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapat hidangan air yang sangat panas dan dibakar di dalam neraka.” (QS. Al-Waqi’ah: 83-94). Maka Allah menyebutkan di sini hukum-hukum ruh ketika mati, dan menyebutkan di awal surat hukum-hukum ruh pada hari kembali yang besar, dan mendahulukan yang pertama atas yang kedua dengan pendahuluan tujuan untuk perhatian, karena ia lebih penting dan lebih layak disebutkan. Dan Allah menjadikan mereka ketika mati tiga kelompok sebagaimana menjadikan mereka di akhirat tiga kelompok.

Dalil-dalil Azab Kubur dari Sunnah Nabawiyah:

Jika kamu merenungkan hadis-hadis azab kubur dan kenikmatan kubur, kamu akan mendapatkannya sebagai perincian dan tafsir dari apa yang ditunjukkan oleh Al-Quran. Hadis-hadis azab kubur banyak dan mutawatir dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, di antaranya:

  1. Yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam melewati dua kuburan, lalu berkata: “Sesungguhnya keduanya sedang diazab, dan keduanya tidak diazab karena dosa besar. Adapun yang satu, ia tidak bersuci dari air kencing. Adapun yang lain, ia biasa berjalan dengan namimah (adu domba).” Kemudian beliau meminta pelepah kurma, lalu membelahnya menjadi dua, kemudian berkata: “Mudah-mudahan keduanya diringankan selama pelepah ini belum kering.”
  2. Dalam Shahih Muslim dari Zaid bin Tsabit, ia berkata: “Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berada di kebun Bani Najjar dengan menunggangi keledai betinanya dan kami bersamanya, tiba-tiba keledai itu mengelak dan hampir menjatuhkannya. Ternyata ada enam, lima, atau empat kuburan. Maka beliau berkata: ‘Siapa yang mengenal pemilik kuburan-kuburan ini?’ Seorang laki-laki berkata: ‘Saya.’ Beliau bertanya: ‘Kapan mereka mati?’ Ia menjawab: ‘Dalam keadaan syirik.’ Maka beliau berkata: ‘Sesungguhnya umat ini diuji di kubur-kubur mereka. Seandainya kalian tidak akan saling menguburkan, sungguh aku akan berdoa kepada Allah agar kalian mendengar azab kubur yang aku dengar…'” (hadis berlanjut).
  3. Dalam Shahih Muslim dan semua kitab Sunan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian selesai dari tasyahud akhir, hendaklah ia berlindung kepada Allah dari empat hal: dari azab jahannam, dari azab kubur, dari fitnah hidup dan mati, dan dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.”
  4. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Ayyub, ia berkata: “Nabi shallallahu alaihi wa sallam keluar ketika matahari telah terbenam, lalu mendengar suara, kemudian berkata: ‘Orang-orang Yahudi sedang diazab di kubur-kubur mereka.'”
  5. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata: “Masuk kepadaku seorang nenek dari nenek-nenek Yahudi Madinah, lalu berkata: ‘Sesungguhnya penghuni kubur diazab di kubur-kubur mereka.’ Maka aku mendustakannya dan tidak mau mempercayainya. Kemudian nenek itu keluar dan masuk kepadaku Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu aku berkata: ‘Ya Rasulullah! Sesungguhnya seorang nenek dari nenek-nenek Yahudi penduduk Madinah masuk dan mengklaim bahwa penghuni kubur diazab di kubur-kubur mereka?’ Beliau berkata: ‘Ia benar, sesungguhnya mereka diazab dengan azab yang didengar oleh semua binatang.’ Aisyah berkata: Maka aku tidak pernah melihat beliau setelah itu dalam shalat kecuali berlindung dari azab kubur.”

 

PERINGATAN PENTING

Azab kubur dan pertanyaan dua malaikat menimpa setiap orang yang meninggal dunia, meskipun ia tidak dikuburkan. Istilah “azab kubur” adalah nama untuk azab dan kenikmatan di alam barzakh, yaitu alam yang berada di antara dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman: “Dan di hadapan mereka ada barzakh (dinding) sampai hari mereka dibangkitkan” (QS. Al-Mu’minun: 100).

Istilah “azab kubur” dinamakan demikian berdasarkan keadaan yang umum terjadi. Maka orang yang disalib, dibakar, ditenggelamkan, atau dimakan binatang buas dan burung, ia tetap mendapat bagian azab atau kenikmatan barzakh sesuai dengan amal perbuatannya, meskipun sebab-sebab kenikmatan dan azab serta cara-caranya berbeda-beda.

Sebagian orang terdahulu pernah mengira bahwa jika jasadnya dibakar dengan api hingga menjadi abu, lalu sebagiannya ditaburkan di laut dan sebagiannya di darat pada hari yang berangin kencang, maka ia akan selamat dari azab tersebut. Karena itu ia berwasiat kepada anak-anaknya untuk melakukan hal itu padanya. Lalu Allah memerintahkan laut untuk mengumpulkan apa yang ada padanya, dan memerintahkan darat untuk mengumpulkan apa yang ada padanya. Kemudian Allah berfirman: “Bangkitlah!” Tiba-tiba ia telah berdiri di hadapan Allah. Allah bertanya kepadanya: “Apa yang mendorongmu melakukan apa yang kamu lakukan?” Ia menjawab: “Karena takut kepada-Mu ya Tuhanku, dan Engkau lebih mengetahui.” Maka Allah mengasihaninya. Bagian-bagian tubuh yang telah berada dalam keadaan seperti itu tidak luput dari azab dan kenikmatan barzakh.

Bahkan seandainya mayat digantung di puncak pohon-pohon yang tertiup angin, pasti jasadnya akan mendapat bagian dan jatah azab barzakhnya. Dan seandainya orang saleh dikuburkan dalam tungku api yang menyala, pasti jasad dan rohnya akan mendapat bagian dan jatah kenikmatan barzakhnya. Allah akan menjadikan api itu dingin dan sejuk baginya, dan udara itu menjadi api dan racun bagi yang lain. Unsur-unsur dan materi alam semesta tunduk kepada Tuhan, Pencipta, dan Khaliknya. Dia dapat mengaturnya sekehendak-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang dapat menentang kehendak-Nya. Semuanya patuh kepada perintah-Nya, dan kehendak-Nya tunduk kepada kekuasaan-Nya.

Maka tidak mustahil roh dikembalikan kepada orang yang disalib, ditenggelamkan, dibakar, padahal kita tidak merasakannya, karena pengembalian itu adalah jenis yang lain, bukan yang biasa kita kenal. Orang yang pingsan, mabuk, dan terkejut adalah hidup dan roh mereka ada bersama mereka, tetapi kita tidak merasakan kehidupan mereka. Orang yang bagian-bagian tubuhnya bercerai-berai, tidak mustahil bagi Zat Yang Mahakuasa atas segala sesuatu untuk menjadikan roh tetap berhubungan dengan bagian-bagian tersebut meskipun berjauhan, dan pada bagian-bagian itu terdapat perasaan berupa rasa sakit atau kenikmatan.

Jika Allah Ta’ala telah menjadikan benda-benda mati memiliki perasaan dan kesadaran untuk bertasbih kepada Tuhannya, batu-batu jatuh karena takut kepada-Nya, gunung-gunung dan pepohonan sujud kepada-Nya, kerikil, air, dan tumbuh-tumbuhan bertasbih kepada-Nya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka” (QS. Al-Isra’: 44), maka jika benda-benda ini memiliki perasaan dan kesadaran, maka jasad-jasad yang pernah memiliki roh dan kehidupan lebih layak memiliki hal tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya di dunia ini pengembalian yang sempurna kepada jasad yang telah ditinggalkan rohnya, lalu ia berbicara, berjalan, makan, minum, menikah, dan memiliki anak, seperti: “(Yaitu) orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati, maka Allah berfirman kepada mereka: ‘Matilah kamu’, kemudian Allah menghidupkan mereka kembali” (QS. Al-Baqarah: 243). Atau seperti orang yang melewati suatu negeri yang hancur berantakan, dia berkata: “Bagaimana Allah menghidupkan negeri ini sesudah hancur?” Maka Allah mematikannya seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: “Berapa lamakah kamu tinggal (mati)?” Dia menjawab: “(Kira-kira) sehari atau setengah hari” (QS. Al-Baqarah: 259). Dan seperti kaum Bani Israil yang berkata kepada Musa: “Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah secara terang-terangan” (QS. Al-Baqarah: 55), maka Allah mematikan mereka kemudian menghidupkan mereka kembali sesudah kematian mereka, dan seperti Ashabul Kahfi, dan kisah Ibrahim dengan empat ekor burung.

Jika Allah mengembalikan kehidupan yang sempurna kepada jasad-jasad ini setelah menjadi dingin karena kematian, maka bagaimana mungkin kekuasaan-Nya yang luar biasa tidak mampu mengembalikan kepada mayat-mayat itu kehidupan yang tidak menetap, yang dengannya Dia dapat memerintahkan, membuatnya berbicara, menyiksanya, atau memberinya kenikmatan sesuai dengan amal perbuatannya? Tidakkah mengingkari hal itu hanyalah mendustakan, membangkang, dan mengingkari belaka?!

ORANG-ORANG YANG MENGINGKARI AZAB DAN KENIKMATAN KUBUR, SYUBHAT MEREKA, DAN BANTAHAN TERHADAP MEREKA

Kaum atheis dan zindik mengingkari azab dan kenikmatan kubur. Mereka berkata: “Kami membongkar kubur, tetapi tidak mendapati di dalamnya malaikat-malaikat yang memukul orang mati, tidak ada ular, tidak ada kalajengking, tidak ada api yang menyala! Bagaimana kubur dapat diperluas sejauh mata memandang atau dipersempit padanya, sedangkan kami mendapatinya dalam keadaan seperti semula dan mendapati luasnya sesuai dengan batas yang kami gali untuknya, tidak bertambah dan tidak berkurang?! Bagaimana kubur bisa menjadi taman dari taman-taman surga atau lubang dari lubang-lubang neraka?!”

Jawaban kami terhadap hal itu dari beberapa segi:

Pertama: Keadaan barzakh termasuk perkara gaib yang diberitakan oleh para nabi, dan berita mereka tidak mungkin mustahil menurut akal sama sekali, maka wajib membenarkan berita mereka.

Kedua: Api di kubur dan kehijauan bukanlah dari api dunia dan bukan dari tanaman dunia yang dapat disaksikan oleh orang yang menyaksikan api dunia dan kehijauannya. Tetapi itu adalah dari api akhirat dan kehijauannya yang lebih dahsyat dari api dunia. Maka penduduk dunia tidak dapat merasakannya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memanaskan tanah dan batu-batu yang ada di atasnya dan di bawahnya hingga menjadi lebih panas dari bara api dunia. Jika penduduk dunia menyentuhnya, mereka tidak akan merasakannya. Kekuasaan Tuhan lebih luas dan lebih menakjubkan dari itu.

Jika Allah berkehendak untuk memperlihatkan kepada sebagian hamba-Nya azab kubur, maka Dia memperlihatkannya, dan menyembunyikannya dari yang lain. Sebab jika semua hamba dapat melihatnya, maka hilanglah hikmah taklif dan iman kepada yang gaib, dan manusia tidak akan saling menguburkan, sebagaimana dalam Shahihain dari hadits yang telah disebutkan dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Seandainya kalian tidak saling menguburkan, niscaya aku berdoa kepada Allah agar Dia memperdengarkan kepada kalian azab kubur sebagaimana yang aku dengar.” Karena hikmah ini tidak berlaku bagi binatang, maka mereka dapat mendengar dan merasakannya, sebagaimana bagal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghindar dan hampir menjatuhkannya ketika melewati orang yang sedang disiksa di kuburnya. Melihat api ini di kubur seperti melihat malaikat dan jin, kadang-kadang terjadi bagi orang yang Allah kehendaki untuk memperlihatkannya.

Bagaimana orang yang mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengakui kekuasaan-Nya dapat mengingkari bahwa Dia menciptakan peristiwa-peristiwa yang Dia palingkan pandangan sebagian makhluk-Nya darinya sebagai hikmah dan rahmat bagi mereka, karena mereka tidak sanggup melihat dan mendengarnya? Hamba terlalu lemah penglihatannya dan pendengarannya untuk dapat bertahan menyaksikan azab kubur.

Rahasia masalah ini adalah bahwa kelapangan, kesempitan, cahaya, kehijauan, dan api bukanlah dari jenis yang biasa dikenal di alam ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya memperlihatkan kepada Bani Adam di dunia ini apa yang ada di dalamnya dan darinya. Adapun yang berkaitan dengan perkara akhirat, maka Dia tutup dengan selubung agar pengakuan dan iman kepadanya menjadi sebab kebahagiaan mereka. Jika selubung itu dibuka dari mereka, maka ia menjadi nyata dan dapat disaksikan.

Seandainya mayat diletakkan di antara manusia, tidak mustahil dua malaikat datang kepadanya dan menanyainya tanpa orang-orang yang hadir merasakan hal itu, dan dia menjawab mereka tanpa orang-orang yang hadir mendengar perkataannya, dan mereka memukulnya tanpa orang-orang yang hadir menyaksikan pukulan itu. Ini seperti salah seorang di antara kita tidur di samping temannya yang terjaga, lalu dia disiksa dalam tidur, dipukul, dan merasakan sakit, padahal yang terjaga sama sekali tidak mengetahui hal itu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Adapun hadits-hadits tentang azab kubur dan pertanyaan Munkar dan Nakir sangat banyak dan mutawatir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti yang ada dalam Shahihain dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kubur, lalu beliau bersabda: ‘Keduanya sedang disiksa, dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar. Tetapi memang itu dosa besar. Adapun salah satunya, dia biasa mengadu domba, dan yang satunya lagi tidak bersuci dari kencingnya.’ Kemudian beliau meminta pelepah kurma yang basah, membelahnya menjadi dua, lalu menancapkan masing-masing satu di setiap kubur. Para sahabat bertanya: ‘Ya Rasulullah! Mengapa engkau melakukan ini?’ Beliau menjawab: ‘Semoga dapat meringankan siksa mereka selama keduanya belum kering.'”

Dan dalam Shahih Muslim serta kitab-kitab Sunan yang lain dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian selesai dari tasyahud akhir, hendaklah dia mengucapkan: ‘Aku berlindung kepada Allah dari empat perkara: dari azab Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah hidup dan mati, dan dari fitnah Masih Dajjal.'”

Syaikh menyebutkan banyak hadits dalam bab ini, hingga beliau berkata: “Berita-berita dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tetapnya azab dan kenikmatan kubur bagi orang yang layak mendapatkannya, serta pertanyaan dua malaikat telah mutawatir. Maka wajib meyakini dan beriman kepada hal itu. Kita tidak membicarakan bagaimana caranya, karena akal tidak dapat mengetahui caranya, sebab akal tidak memiliki pengalaman tentang hal itu di dunia ini. Syariat tidak membawa apa yang tidak mungkin menurut akal, tetapi syariat bisa membawa apa yang membuat akal bingung. Sesungguhnya pengembalian roh kepada jasad bukanlah dengan cara yang biasa dikenal di dunia, tetapi roh dikembalikan kepadanya dengan pengembalian yang tidak biasa seperti di dunia…”

Hingga beliau berkata: “Ketahuilah bahwa azab kubur adalah azab barzakh. Setiap orang yang meninggal dan dia layak mendapat azab, maka ia akan mendapat bagiannya darinya, baik dikubur maupun tidak, dimakan binatang buas, atau dibakar hingga menjadi abu dan ditaburkan di udara, atau disalib, atau tenggelam di laut. Azab itu sampai kepada rohnya dan semacamnya. Maka wajib memahami maksud Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa berlebihan dan tanpa mengurangi. Jangan memaksakan perkataannya dengan apa yang tidak dapat ditampungnya, dan jangan menguranginya dari maksud dan tujuan beliau berupa petunjuk dan penjelasan. Betapa banyak kesesatan dan penyimpangan dari kebenaran yang terjadi karena mengabaikan hal itu, yang hanya Allah yang mengetahui jumlahnya.”

Hingga beliau berkata: “Kesimpulannya, alam ada tiga: alam dunia, alam barzakh, dan alam kekekalan. Allah telah menjadikan untuk setiap alam hukum-hukum yang khusus. Manusia ini terdiri dari jasad dan jiwa. Allah menjadikan hukum-hukum dunia berlaku pada jasad, dan roh mengikutinya. Allah menjadikan hukum-hukum barzakh berlaku pada roh, dan jasad mengikutinya. Jika datang hari kebangkitan jasad dan manusia bangkit dari kubur mereka, maka hukum, kenikmatan, dan azab berlaku pada roh dan jasad sekaligus.

Jika kamu merenungkan makna ini dengan sungguh-sungguh, akan jelas bagimu bahwa kubur menjadi taman dari taman-taman surga atau lubang dari lubang neraka adalah sesuai dengan akal, dan itu adalah kebenaran yang tidak diragukan. Dengan demikian terbedakan orang-orang yang beriman kepada yang gaib dari yang lainnya.

Wajib diketahui bahwa api yang ada di kubur dan kenikmatan bukanlah dari jenis api dunia atau kenimatannya. Meskipun Allah Ta’ala memanaskan tanah dan batu-batu yang ada di atasnya dan di bawahnya hingga menjadi lebih panas dari bara api dunia, jika penduduk dunia menyentuhnya, mereka tidak akan merasakannya. Bahkan yang lebih menakjubkan adalah dalam taman dari taman-taman surga. Tidak sampai dari orang ini kepada tetangganya sesuatu dari panas apinya, dan tidak sampai dari orang ini kepada tetangganya sesuatu dari kenimatannya. Kekuasaan Allah lebih luas dan lebih menakjubkan dari itu, tetapi jiwa-jiwa cenderung mendustakan apa yang tidak mereka ketahui.

Allah telah memperlihatkan kepada kita di dunia ini dari keajaiban kekuasaan-Nya yang jauh lebih luar biasa dari ini. Jika Allah berkehendak memperlihatkan hal itu kepada sebagian hamba-Nya, maka Dia memperlihatkannya dan menyembunyikannya dari yang lain. Jika Allah memperlihatkan hal itu kepada semua hamba, maka hilanglah hikmah taklif dan iman kepada yang gaib, dan manusia tidak akan saling menguburkan, sebagaimana dalam hadits shahih dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Seandainya kalian tidak saling menguburkan, niscaya aku berdoa kepada Allah agar Dia memperdengarkan kepada kalian azab kubur sebagaimana yang aku dengar.'”

Sebab-sebab Azab Kubur

Berkata Ulama As-Saffarini: “Sebab-sebab yang dengannya para penghuni kubur diazab terbagi menjadi dua bagian: secara global dan secara rinci.

Adapun secara global, sesungguhnya mereka diazab karena ketidaktahuan mereka akan Allah dan tidak menaati perintah-Nya, serta melakukan kemaksiatan-Nya. Maka Allah tidak akan mengazab ruh yang mengenal-Nya, mencintai-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya, dan tidak pula jasad yang selalu ada di dalamnya. Sesungguhnya azab kubur dan azab akhirat adalah akibat dari murka dan kemurkaan Allah terhadap hamba-Nya. Barangsiapa yang memurkai Allah dan menimbulkan kemurkaan-Nya di dunia ini dengan melakukan larangan-larangan-Nya dan tidak bertobat serta mati dalam keadaan demikian, maka baginya azab barzakh sesuai dengan kadar murka dan kemurkaan Allah kepadanya; ada yang sedikit, ada yang banyak, ada yang membenarkan, dan ada yang mendustakan.

Adapun secara rinci, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mengabarkan tentang dua orang yang beliau lihat diazab dalam kubur mereka: bahwa salah seorang dari mereka adalah orang yang berjalan dengan adu domba di antara manusia, dan yang lainnya adalah orang yang tidak bersuci dari kencing. Kemudian beliau menyebutkan orang yang diazab karena shalat tanpa bersuci, orang yang melewati orang yang terzalimi namun tidak menolongnya, orang yang membaca Al-Qur’an kemudian tidur darinya di malam hari dan tidak mengamalkannya di siang hari, dan pengaziaban para pezina laki-laki dan perempuan serta pemakan riba, orang yang kepalanya berat untuk shalat Fajr, pengaziaban orang-orang yang menahan zakat, orang-orang yang menyalakan fitnah di antara manusia, para penguasa yang zalim, orang-orang yang sombong, orang-orang yang riya, para pengumpat, dan pencela.

Sungguh para atheis dan zindiq telah mengingkari azab kubur dan nikmatnya dengan mengandalkan akal dan indera mereka karena mereka tidak menyaksikan sesuatu dari hal tersebut.” Selesai.

Dan kami menjawab mereka bahwa azab kubur termasuk ilmu ghaib yang harus diyakini berdasarkan nash-nash yang shahih, dan bukan urusan akal atau pikiran, dan keadaan akhirat tidak dapat diukur dengan keadaan dunia, dan ketidakpahaman manusia terhadap sesuatu tidak menunjukkan ketidakadaannya, wallahu a’lam.

Keempat: Kebangkitan dan Penghidupan Kembali

Pendahuluan

Keempat: Kebangkitan dan Penghidupan Kembali

Ketahuilah bahwa terjadinya kebangkitan dari kubur telah ditunjukkan oleh Kitab, Sunnah, akal, dan fitrah yang sehat. Allah mengabarkan hal tersebut dalam Kitab-Nya yang mulia, dan menegakkan dalil atasnya, serta membantah para pengingkarnya dalam banyak ayat dalam Al-Qur’an yang agung. Semua nabi telah mengabarkan hal tersebut kepada umat mereka, dan menuntut para pengingkar untuk beriman kepadanya.

Dan ketika Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah penutup para nabi, dan beliau diutus bersama dengan hari kiamat seperti ini “yakni: jari telunjuk dan jari tengah”, maka beliau menjelaskan rincian akhirat dengan rincian yang tidak terdapat dalam kitab-kitab para nabi sebelumnya.

Dan hari kiamat besar telah dikenal oleh semua nabi mulai dari Adam hingga Nuh hingga Ibrahim dan Musa serta Isa dan lainnya alaihimus shalatu was salam. Dan Allah telah mengabarkan sejak saat menurunkan Adam tentang hari kiamat, maka Allah Ta’ala berfirman: “Dan Kami berfirman: ‘Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan sampai waktu yang ditentukan.'” (QS. Al-Baqarah: 36)

Dan Allah berfirman: “Allah berfirman: ‘Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.'” (QS. Al-A’raf: 25)

Dan ketika Iblis yang terkutuk berkata: “Iblis menjawab: ‘Ya Tuhanku, maka beri tangguhlah saya sampai hari mereka dibangkitkan.’ Allah berfirman: ‘Sesungguhnya kamu termasuk yang diberi tangguh, sampai hari waktu yang ditentukan.'” (QS. Al-Hijr: 36-38)

Dan Nuh alaihi salam berkata kepada kaumnya: “Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.” (QS. Nuh: 17-18)

Dan Ibrahim alaihi salam berkata: “Dan yang aku inginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari pembalasan.” (QS. Asy-Syu’ara: 82)

Dan kepada Musa alaihi salam, Allah berfirman: “Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya setiap orang dibalasi dengan apa yang diusahakannya. Sebab itu janganlah sekali-kali kamu dipalingkan dari (mengimani) nya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan mengikuti hawa nafsunya yang menyebabkan kamu binasa.” (QS. Thaha: 15-16)

Dan Musa berkata dalam doanya: “Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau.” (QS. Al-A’raf: 156)

Dan Allah telah mengabarkan tentang orang-orang kafir ketika mereka dimasukkan ke neraka, mereka mengakui bahwa rasul-rasul mereka telah memperingatkan mereka tentang hari ini, sebagaimana dalam firman-Nya: “Bukankah telah datang kepada kamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri yang membacakan ayat-ayat Tuhanmu kepadmu dan memperingatkan kamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi telah pasti berlaku perkataan azab terhadap orang-orang kafir.” (QS. Az-Zumar: 71)

Maka semua rasul telah memperingatkan dengan apa yang disempurnakan oleh penutup mereka, semoga shalawat dan salam Allah atas mereka semua.

Dan Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa orang-orang mati akan bangkit dari kubur mereka ketika ditiup sangkakala pada tiupan yang ketiga. Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian ditiup sangkakala sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri melihat-lihat.” (QS. Az-Zumar: 68)

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan cepat dari kubur (menuju) kepada Tuhan mereka.” (QS. Yasin: 51)

As-Saffarini berkata: “Dan dalam tafsir Ats-Tsa’labi dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dalam tafsir Surat Az-Zumar secara marfu’: ‘Sesungguhnya Allah menurunkan hujan ke bumi, maka turunlah hujan itu selama empat puluh hari, hingga air berada di atas mereka dua belas hasta. Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan jasad-jasad untuk tumbuh seperti tumbuhnya sayur-sayuran. Maka ketika jasad-jasad mereka telah sempurna sebagaimana adanya, Allah Ta’ala berfirman: Hiduplah para pemikul Arsy, hiduplah Jibril dan Mikail dan Israfil dan Izrail. Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan Israfil, maka dia mengambil sangkakala dan meletakkannya di mulutnya, kemudian dia memanggil ruh-ruh, maka didatangkanlah ruh-ruh itu, ruh-ruh orang mukmin bercahaya terang, dan yang lainnya gelap, maka dia mengumpulkan semuanya, kemudian melemparkannya ke dalam sangkakala, kemudian dia diperintahkan untuk meniup tiupan kebangkitan, maka keluarlah semua ruh seperti lebah, telah memenuhi antara langit dan bumi, kemudian Allah Ta’ala berfirman: Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh setiap ruh akan kembali ke jasadnya. Maka ruh-ruh masuk ke dalam lubang hidung, kemudian berjalan seperti jalan racun dalam orang yang tersengat, kemudian bumi terbelah dengan cepat, maka Aku (Nabi) adalah yang pertama bumi terbelah untuknya, maka kalian keluar darinya kepada Tuhan kalian dengan cepat.'”

Dan Bukhari dan Muslim mengeluarkan dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu: “Turun dari langit air, maka mereka tumbuh sebagaimana tumbuhnya sayur-sayuran, dan tidak ada dari manusia sesuatu pun kecuali membusuk, kecuali satu tulang kecil yaitu tulang ekor, darinya manusia akan disusun pada hari kiamat.”

Dan dalam riwayat Muslim: “Sesungguhnya pada manusia ada tulang yang tidak akan dimakan bumi selamanya, darinya manusia akan disusun pada hari kiamat.” Mereka bertanya: “Tulang apa itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tulang ujung ekor.”

Para ulama berkata: Dan tulang ujung ekor adalah tulang keras yang berada di bagian bawah tulang belakang, dan telah datang dalam hadits bahwa ia seperti biji sawi, darinya tubuh manusia akan tumbuh.

Dan orang-orang musyrik telah menganggap mustahil pengembalian manusia dalam kehidupan lain setelah mati, maka mereka mengingkari kebangkitan dan penghidupan kembali. Maka Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk bersumpah dengan-Nya atas terjadinya hal itu, dan bahwa ia pasti terjadi. Allah Ta’ala berfirman: “Orang-orang kafir berkata: ‘Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami.’ Katakanlah: ‘Tidak demikian, demi Tuhanku, sesungguhnya hari itu akan datang kepadamu.’ (Dialah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib.” (QS. Saba’: 3)

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad): ‘Benarkah (hari berbangkit) itu?’ Katakanlah: ‘Ya, demi Tuhanku, sesungguhnya hari berbangkit itu benar-benar akan datang, dan kamu sekali-kali tidak dapat melemahkan (Allah).'” (QS. Yunus: 53)

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Orang-orang kafir mengira bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan (dari kubur). Katakanlah: ‘Tidak demikian, demi Tuhanku, pastilah kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’ Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. At-Taghabun: 7)

Dan Allah mengabarkan tentang mendekatinya hal itu, maka Dia berfirman: “Telah dekat datangnya hari kiamat dan telah terbelah bulan.” (QS. Al-Qamar: 1)

“Telah dekat kepada manusia hari perhitungan mereka, sedang mereka dalam keadaan lalai lagi berpaling.” (QS. Al-Anbiya’: 1)

Dan Allah mencela para pendusta kebangkitan, maka Dia berfirman: “Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah, dan mereka tidak mendapat petunjuk.” (QS. Yunus: 45)

“Ketahuilah bahwa orang-orang yang mempersoalkan hari kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang jauh.” (QS. Asy-Syura: 18)

“Dan Kami kumpulkan mereka pada hari kiamat dalam keadaan sujud atas muka mereka, dalam keadaan buta, bisu dan tuli, tempat mereka ialah neraka Jahannam. Setiap kali (api) Jahannam akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya. Itulah balasan mereka karena mereka kafir kepada ayat-ayat Kami dan berkata: ‘Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?’ Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah mampu menciptakan (kembali) seperti mereka, dan Dia telah menetapkan untuk mereka waktu yang tidak ada keraguan padanya. Tetapi orang-orang yang zalim tidak mau menerima kecuali kekafiran.” (QS. Al-Isra’: 97-99)

Dan Allah berfirman: “Dan mereka berkata: ‘Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan sebagai makhluk yang baru?'” (QS. Al-Isra’: 49)

Maka Allah menjawab mereka dengan firman-Nya: “Katakanlah: ‘Jadilah kamu batu atau besi, atau makhluk yang lain yang besar (sulit) menurut sangkaanmu (untuk dihidupkan).’ Maka mereka akan berkata: ‘Siapakah yang akan menghidupkan kami?’ Katakanlah: ‘Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama.’ Maka mereka akan menggeleng-gelengkan kepalanya kepadamu dan berkata: ‘Bilakah itu?’ Katakanlah: ‘Mudah-mudahan akan dekat.’ (Yaitu) pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi panggilan-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira bahwa kamu tidak berdiam (di kubur) kecuali sebentar saja.'” (QS. Al-Isra’: 50-52)

Penjelas “Ath-Thahawiyyah” berkata tentang ayat-ayat mulia ini: “Maka perhatikanlah bagaimana mereka dijawab atas setiap pertanyaan secara rinci. Sesungguhnya mereka berkata pertama kali: ‘Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan sebagai makhluk yang baru?’ Maka dikatakan kepada mereka dalam menjawab pertanyaan ini: Jika kalian mengira bahwa tidak ada yang menciptakan kalian dan tidak ada Tuhan bagi kalian, maka mengapa kalian tidak diciptakan sebagai makhluk yang tidak dapat dimusnahkan oleh kematian seperti batu dan besi dan yang lebih besar dari itu dalam hati kalian. Jika kalian berkata: Kami diciptakan dengan sifat ini yang tidak dapat kekal, maka apa yang menghalangi antara Pencipta dan Pembuat kalian dengan mengembalikan kalian sebagai makhluk yang baru? Dan hujjah itu memiliki takdir lain, yaitu: Seandainya kalian adalah batu atau besi atau makhluk yang lebih besar darinya, sesungguhnya Dia mampu memusnahkan kalian dan mengalihkan zat kalian dari keadaan ke keadaan lain, dan siapa yang mampu bertasarruf terhadap jasad-jasad ini dengan kekuatan dan kekerasannya dengan pemusnahan dan pengalihan, maka apa yang melemahkan-Nya pada yang di bawahnya. Kemudian Dia mengabarkan bahwa mereka akan bertanya dengan pertanyaan lain dengan ucapan mereka: Siapa yang akan menghidupkan kami ketika jasad kami telah fana dan berubah? Maka Dia menjawab mereka dengan firman-Nya: ‘Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama.’ Maka ketika hujjah telah menguasai mereka, mereka berpindah kepada pertanyaan lain yang mereka jadikan alasan dengan alasan orang yang terputus, yaitu ucapan mereka: ‘Bilakah itu?’ Maka Dia menjawab mereka dengan firman-Nya: ‘Mudah-mudahan akan dekat.’

Kelima: Beriman kepada Apa yang Terjadi pada Hari Kiamat

Pendahuluan

Kelima: Beriman kepada Apa yang Terjadi pada Hari Kiamat

Imam As-Saffarini berkata: “Dan ketahuilah bahwa hari penghimpunan memiliki ketakutan-ketakutan yang besar dan kesulitan-kesulitan yang berat, yang mencairkan hati dan membuat para ibu menyusui lupa dan memutihkan rambut anak-anak, dan ia adalah hak yang tetap, yang datang dengan Kitab dan Sunnah, dan telah terjadi ijma’ atasnya, dan itulah hari kiamat.

Dan telah terjadi perbedaan dalam penamaan hari itu dengan hari kiamat. Dikatakan: karena manusia bangkit dari kubur mereka. Allah Ta’ala berfirman: “(Yaitu) hari mereka keluar dari kubur dengan cepat.” (QS. Al-Ma’arij: 43)

Dan dikatakan karena adanya urusan-urusan mahsyar dan berdiri dan semacamnya pada hari itu. Dan dikatakan: karena berdirinya manusia untuk Tuhan semesta alam, sebagaimana Muslim meriwayatkan dalam “Shahih”-nya dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma secara marfu’ tentang ayat: “Hari manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Muthaffifin: 6)

Beliau berkata: “Hari salah seorang dari mereka dalam keringatnya sampai setengah telinganya…”

Sampai beliau berkata: “Dan Imam Ahmad, Abu Ya’la, dan Ibnu Hibban meriwayatkan dalam “Shahih”-nya dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu anhu, dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda tentang ayat: “Pada suatu hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS. Al-Ma’arij: 4)

Maka dikatakan: Alangkah panjangnya hari ini! Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya hari itu akan ringan bagi orang mukmin hingga lebih ringan baginya daripada shalat yang diwajibkan.”

Dan dikatakan: Sesungguhnya ia dinamakan hari kiamat karena berdirinya para malaikat dan ruh pada hari itu dalam barisan. Allah Ta’ala berfirman: “Pada hari ketika ruh dan para malaikat berdiri berbaris.” (QS. An-Naba’: 38)

Sampai beliau berkata: “Dan Bukhari dan Muslim mengeluarkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu secara marfu’: “Manusia berkeringat pada hari kiamat, hingga keringat mereka masuk ke dalam bumi tujuh puluh hasta dan merangkum mereka hingga mencapai telinga mereka.”

Dan dalam beberapa lafazh Shahih: “Tujuh puluh tahun.” Maka Muslim mengeluarkan dari Al-Miqdad radhiallahu anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ketika hari kiamat, matahari didekatkan kepada para hamba, hingga berjarak satu mil atau dua mil.” Beliau berkata: “Maka matahari melelehkan mereka, dan mereka berada dalam keringat sesuai kadar amal mereka. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai mata kakinya, di antara mereka ada yang sampai pinggangnya, dan di antara mereka ada yang keringat merangkumnya seperti kekang.”

Dan manusia menghadapi di tempat ini perkara-perkara yang besar, di antaranya:

PERHITUNGAN (HISAB)

Perhitungan adalah penjelasan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada makhluk-Nya tentang kadar balasan atas perbuatan mereka, dan mengingatkan mereka akan apa yang telah mereka lupa. Allah Ta’ala berfirman: “Pada hari Allah membangkitkan mereka semua, maka Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah telah mencatat dan menghitungnya sedang mereka melupakannya” (QS. Al-Mujadilah: 6). Dan firman-Nya: “Dan mereka berkata: ‘Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencaatatnya’, dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorangpun” (QS. Al-Kahf: 49). Dan firman-Nya: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. Az-Zalzalah: 7-8).

Termasuk dalam perhitungan adalah pelaksanaan qishaash (pembalasan) di antara hamba-hamba Allah, maka diambil hak orang yang terzhalimi dari orang yang menzhalimi. Sebagaimana dalam Shahih Muslim dan Sunan At-Tirmidzi dari hadits Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh hak-hak akan ditunaikan kepada pemiliknya pada hari kiamat, hingga kambing yang tidak bertanduk akan diambil haknya dari kambing yang bertanduk.”

Perhitungan itu berbeda-beda; ada perhitungan yang berat, dan ada perhitungan yang ringan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Allah Ta’ala akan menghitung makhluk, dan Dia akan menyendiri dengan hamba-Nya yang beriman, lalu meminta pertanggungjawaban atas dosa-dosanya; sebagaimana yang digambarkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Adapun orang-orang kafir, mereka tidak dihitung dengan perhitungan seperti orang yang ditimbang kebaikan dan kejahatannya, karena mereka tidak memiliki kebaikan. Akan tetapi amal perbuatan mereka dihitung dan dicatat, lalu mereka dihadapkan padanya dan diminta pertanggungjawaban atasnya.”

Yang pertama kali dihitung dari seorang hamba adalah shalatnya, dan yang pertama kali diputuskan di antara manusia adalah perkara darah (pembunuhan). Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dia menhasan-kannya, serta Abu Dawud dan Al-Hakim yang menshahihkannya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda: “Yang pertama kali dihitung dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Allah Ta’ala berfirman kepada malaikat-Nya: ‘Lihatlah shalat hamba-Ku, apakah dia menyempurnakannya atau menguranginya?’ Jika sempurna, maka ditulis baginya sempurna. Jika ada yang kurang, Allah berfirman: ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah?’ Jika dia memiliki shalat sunnah, Allah berfirman: ‘Sempurnakanlah kewajiban hamba-Ku dengan sunnahnya.’ Kemudian amal-amal yang lain diambil seperti itu.”

An-Nasa’i meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda: “Yang pertama kali dihitung dari seorang hamba adalah shalat.”

PEMBERIAN CATATAN AMAL

Catatan amal adalah kitab-kitab yang ditulis oleh malaikat dan mereka catat di dalamnya segala yang dilakukan setiap manusia dalam kehidupan dunia, baik perbuatan berupa perkataan maupun perbuatan nyata.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghitung atasmu” (QS. Al-Isra: 13-14). Para ulama berkata: “amal perbuatannya” maksudnya adalah amalnya.

Di antara mereka ada yang diberi kitabnya dengan tangan kanan, dan di antara mereka ada yang diberi kitabnya dengan tangan kiri. Allah Ta’ala berfirman: “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: ‘Ambillah, bacalah kitabku'” sampai firman-Nya: “Makan dan minumlah dengan enak karena amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu” (QS. Al-Haqqah: 19-24). Kemudian Allah Subhanahu berfirman: “Dan adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: ‘Aduhai, alangkah baiknya seandainya aku tidak diberikan kitabku ini'” sampai firman-Nya: “Tangkaplah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya, kemudian masukkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala” (QS. Al-Haqqah: 25-31).

PENIMBANGAN AMAL

Yang terjadi pada hari itu adalah penimbangan amal-amal.

Allah Ta’ala berfirman: “Penimbangan pada hari itu adalah benar (adil). Maka barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami” (QS. Al-A’raf: 8-9).

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi, Kami akan mendatangkannya (untuk dihitung). Dan cukuplah Kami sebagai Penghitung” (QS. Al-Anbiya: 47). Maka amal-amal ditimbang dengan timbangan yang benar-benar nyata yang memiliki lidah dan dua piringan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Timbangan adalah alat untuk menimbang amal-amal, dan itu berbeda dengan keadilan, sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah, seperti firman Allah Ta’ala: ‘Barangsiapa berat timbangannya’ dan firman-Nya: ‘Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat’.”

Kemudian beliau menyebutkan beberapa hadits yang membahas penimbangan amal, lalu berkata: “Ini dan yang serupa dengannya menjelaskan bahwa amal-amal ditimbang dengan timbangan-timbangan yang menunjukkan keunggulan kebaikan atas kejahatan atau sebaliknya. Maka itu termasuk hal yang menunjukkan keadilan, dan tujuan penimbangan adalah keadilan seperti timbangan-timbangan dunia. Adapun bagaimana timbangan-timbangan itu, maka itu seperti bagaimana hal-hal ghaib lainnya yang diberitakan kepada kita…”

SHIRATH DAN MELEWATINYA

Yang terjadi pada hari kiamat adalah melewati shirath. Shirath adalah jembatan yang terbentang di atas jahannam, yang akan dilalui oleh orang-orang terdahulu dan kemudian. Manusia melewatinya sesuai dengan kadar amal mereka. Shirath lebih tipis dari rambut, lebih tajam dari pedang, dan lebih panas dari bara api. Di atasnya terdapat kait-kait yang menyambar siapa yang diperintahkan untuk disambar. Manusia melewatinya sesuai kadar amal mereka; di antara mereka ada yang melewati seperti kilat, ada yang melewati seperti angin, ada yang melewati seperti kuda yang berlari kencang, ada yang melewati seperti orang yang berlari-lari kecil, ada yang berjalan biasa, ada yang merangkak, dan ada yang tersambar lalu dilemparkan ke dalam jahannam. Kami memohon keselamatan dan afiat kepada Allah.

As-Safarini berkata: “Para ulama sepakat untuk menetapkan shirath secara umum, tetapi ahli kebenaran menetapkannya sesuai zhahirnya, yaitu sebagai jembatan yang terbentang di atas jahannam, lebih tajam dari pedang dan lebih tipis dari rambut. Zhahir ini diingkari oleh Qadhi Abdul Jabbar Al-Mu’tazili dan banyak pengikutnya dengan anggapan bahwa tidak mungkin melewatinya, dan jika mungkin maka di dalamnya terdapat siksaan, sedangkan tidak ada siksaan bagi orang-orang beriman dan shalih pada hari kiamat. Yang dimaksud hanyalah jalan menuju surga yang ditunjuk oleh firman Allah Ta’ala: ‘Kelak Allah akan memberi petunjuk kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka’ (QS. Muhammad: 5), dan jalan menuju neraka yang ditunjuk oleh firman Allah Ta’ala: ‘Maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka’ (QS. Ash-Shaffat: 23). Di antara mereka ada yang memaknainya sebagai dalil-dalil yang jelas, perbuatan-perbuatan baik dan buruk untuk ditanyakan dan dimintai pertanggungjawaban. Semua ini batil dan khayalan, karena wajib mengembalikan nash-nash kepada hakikatnya. Melewati shirath tidak lebih mengherankan dari berjalan di atas air, atau terbang di udara, atau berdiri di udara. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjawab pertanyaan tentang dibangkitkannya orang kafir dengan wajah, bahwa kekuasaan Allah memungkinkan hal itu…”

TELAGA (HAUDH)

Al-Hafizh As-Suyuthi berkata: “Penyebutan telaga diriwayatkan dari beberapa puluh sahabat, di antaranya empat khalifah yang rasyid, para hafizh sahabat yang banyak meriwayatkan hadits, dan yang lainnya radhiyallahu ‘anhum ajma’in.”

Bukhari dan Muslim serta yang lainnya meriwayatkan dari hadits Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Telagaku (luasnya) perjalanan sebulan, airnya lebih putih dari susu, baunya lebih harum dari misk, dan gelas-gelasnya seperti bintang-bintang langit. Barangsiapa yang minum darinya, maka dia tidak akan pernah haus lagi.”

Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengantuk sebentar, kemudian mengangkat kepalanya sambil tersenyum, lalu bersabda: ‘Baru saja diturunkan kepadaku sebuah surat,’ kemudian membaca: ‘Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (Al-Kautsar)’ (QS. Al-Kautsar) sampai selesai. Kemudian berkata: ‘Tahukah kalian apa Al-Kautsar itu?’ Mereka menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau berkata: ‘Yaitu sungai yang diberikan Tuhanku kepadaku di surga, padanya terdapat kebaikan yang banyak, umatku akan datang kepadanya pada hari kiamat, bejana-bejananya sebanyak bintang-bintang. Seorang hamba di antara mereka akan diusir, maka aku berkata: Ya Rabbi, sesungguhnya dia dari umatku. Lalu dikatakan: Sesungguhnya kamu tidak tahu apa yang dia buat setelahmu.'” Makna “diusir” adalah diusir dari mendatangi telaga.

Al-Qurthubi berkata: “Para ulama kami berkata: Setiap orang yang murtad dari agama Allah atau mengada-ada dalam agama yang tidak diridhai Allah dan tidak diizinkan-Nya, maka dia termasuk orang yang diusir dari telaga. Yang paling keras penguzirannya adalah orang yang menyelisihi jamaah kaum muslimin seperti Khawarij, Rafidhah, dan Mu’tazilah dengan berbagai kelompok mereka. Mereka semua adalah orang-orang yang mengubah (agama). Demikian juga para penguasa yang melampaui batas dalam kezhaliman dan penindasan, menghilangkan kebenaran dan menghinakan ahlinya, yang terang-terangan melakukan dosa-dosa besar, meremehkan kemaksiatan, dan kelompok ahli penyimpangan dan bid’ah. Kemudian pengusiran mungkin terjadi pada suatu keadaan, lalu mereka didekatkan setelah pengampunan, jika perubahan itu dalam amal perbuatan dan bukan dalam akidah…”

Kaum Mu’tazilah menyelisihi dan tidak menetapkan adanya telaga padahal telah tetap dengan sunnah yang shahih dan tegas. Maka setiap orang yang menyelisihi penetapannya adalah ahli bid’ah, dan lebih pantas untuk diusir darinya.

SYAFA’AT (PERTOLONGAN)

Syafa’at secara bahasa: perantara dan permintaan. Secara istilah: meminta kebaikan untuk orang lain. Ada yang berkata: dari kata syaf’ yang lawan dari witir (ganjil), seakan-akan orang yang memberi syafa’at menggabungkan permintaannya dengan permintaan orang yang diberi syafa’at.

Syafa’at adalah hak jika syarat-syaratnya terpenuhi, yaitu harus seizin Allah Ta’ala dan ridha-Nya terhadap orang yang diberi syafa’at. Allah Ta’ala berfirman: “Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai-Nya” (QS. An-Najm: 26).

Dalam ayat mulia ini terdapat penjelasan bahwa syafa’at tidak bermanfaat kecuali dengan dua syarat:

Pertama: Izin Allah kepada pemberi syafa’at untuk memberi syafa’at, karena syafa’at adalah milik-Nya Subhanahu, “Katakanlah: ‘Kepunyaan Allah-lah syafa’at itu semuanya'” (QS. Az-Zumar: 44).

Kedua: Ridha-Nya terhadap orang yang diberi syafa’at, yaitu dia harus dari ahli tauhid, karena orang musyrik tidak akan mendapat manfaat dari syafa’at, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Maka tidak berguna bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberi syafa’at” (QS. Al-Muddatstsir: 48).

Dengan ini jelaslah kebatilan apa yang dianut oleh kaum quburiyin (penyembah kubur) sekarang, yang meminta syafa’at dari orang-orang mati dan mendekatkan diri kepada mereka dengan berbagai macam ibadah, sebagaimana firman Allah tentang pendahulu mereka: “Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan mudarat kepada mereka dan tidak (pula) mendatangkan manfaat, dan mereka berkata: ‘Mereka itu adalah pemberi syafa’at kami di sisi Allah'” (QS. Yunus: 18). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Ataukah mereka mengambil pemberi-pemberi syafa’at selain Allah? Katakanlah: ‘Dan apakah (kamu akan meminta pertolongan kepada mereka) walaupun mereka tidak menguasai sesuatupun dan tidak berakal?’ Katakanlah: ‘Kepunyaan Allah-lah syafa’at itu semuanya. Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi'” (QS. Az-Zumar: 43-44).

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diberi syafa’at, maka beliau akan memberi syafa’at kepada siapa yang diizinkan Allah untuknya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki tiga syafa’at: Adapun syafa’at pertama, beliau memberi syafa’at kepada ahli mahsyar agar dihukum di antara mereka setelah para nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa bin Maryam menolak syafa’at hingga sampai kepada beliau.

Adapun syafa’at kedua, beliau memberi syafa’at kepada ahli surga agar mereka masuk surga. Kedua syafa’at ini khusus untuknya.

Adapun syafa’at ketiga, beliau memberi syafa’at kepada orang yang pantas masuk neraka. Syafa’at ini untuk beliau dan para nabi serta shiddiqin dan lainnya. Beliau memberi syafa’at kepada orang yang pantas masuk neraka agar tidak memasukinya, dan memberi syafa’at kepada orang yang sudah masuk agar keluar darinya.”

Beliau rahimahullah berkata: “Adapun syafa’at untuk ahli dosa dari umatnya, maka disepakati oleh para sahabat, tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik, dan seluruh imam kaum muslimin yang empat dan lainnya. Syafa’at ini diingkari oleh banyak ahli bid’ah dari Khawarij, Mu’tazilah, dan Zaidiyah. Kelompok ini berkata: Siapa yang masuk neraka tidak akan keluar darinya, baik dengan syafa’at maupun lainnya. Menurut mereka tidak ada kecuali orang yang masuk surga sehingga tidak masuk neraka, dan orang yang masuk neraka sehingga tidak masuk surga. Tidak berkumpul pada satu orang pahala dan siksaan menurut mereka…”

Sampai beliau berkata: “Para pengingkar syafa’at ini berdalil dengan firman Allah Ta’ala: ‘Dan takutlah akan hari (kiamat yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain walau sedikitpun, dan (begitu pula) tidak diterima syafa’at dan tebusan dari padanya’ (QS. Al-Baqarah: 48), dan dengan firman-Nya: ‘Sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada jual-beli dan tidak ada persahabatan yang akrab dan tidak ada syafa’at’ (QS. Al-Baqarah: 254), dan dengan firman-Nya: ‘Orang-orang yang zhalim itu tiada mempunyai teman yang setia dan tidak (pula) mempunyai pemberi syafa’at yang ditaati (syafa’atnya)’ (QS. Ghafir: 18), dan dengan firman-Nya: ‘Maka tidak berguna bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberi syafa’at’ (QS. Al-Muddatstsir: 48).

Jawaban Ahlu Sunnah: Bahwa ini dimaksudkan untuk dua hal:

Pertama: Bahwa syafa’at tidak bermanfaat bagi orang-orang musyrik, sebagaimana firman Allah Ta’ala: ‘Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?’ Mereka menjawab: ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang batil bersama orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, sampai datang kepada kami kematian.’ Maka tidak berguna bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberi syafa’at” (QS. Al-Muddatstsir: 42-48). Mereka ini tidak mendapat manfaat dari syafa’at para pemberi syafa’at karena mereka adalah orang-orang kafir.

Kedua: Yang dimaksudkan adalah syafa’at yang ditetapkan oleh ahli syirik dan orang-orang yang menyerupai mereka dari ahli bid’ah dari ahli kitab dan kaum muslimin, yang mengira bahwa makhluk memiliki kedudukan di sisi Allah sehingga mereka dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya, sebagaimana manusia memberi syafa’at sebagian kepada sebagian yang lain.

Surga dan Neraka

Dan pada hari kiamat terdapat dua tempat tinggal yang agung yang tidak akan binasa: surga dan neraka. Surga adalah tempat tinggal orang-orang yang bertakwa, dan neraka adalah tempat tinggal orang-orang kafir. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat baik benar-benar berada dalam kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (Surat Al-Infithar: 13-14)

Keduanya telah diciptakan dan ada sekarang, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang surga: “Yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (Surat Ali Imran: 133), dan Allah berfirman tentang neraka: “Yang disediakan untuk orang-orang kafir” (Surat Al-Baqarah: 24). Dan nash-nash lain yang menunjukkan keberadaan keduanya sekarang, dan bahwa keduanya kekal tidak akan binasa, sebagaimana merupakan mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Penafsir kitab Aqidah Thahawiyah berkata: “Yang perlu diketahui bahwa Allah Ta’ala tidak akan mencegah pahala kecuali jika Dia mencegah sebabnya, yaitu amal saleh. Karena Allah berfirman: ‘Dan barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh dan ia mukmin, maka ia tidak khawatir akan kezaliman dan tidak (khawatir akan) pengurangan (pahala).'” (Surat Thaha: 112). “Dan demikian pula Allah tidak akan menghukum seseorang kecuali setelah terjadi sebab hukuman. Karena Allah Ta’ala berfirman: ‘Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).'” (Surat Asy-Syura: 30). “Dan Dia – Subhanahu – adalah Yang Memberi dan Yang Mencegah, tidak ada yang mencegah apa yang Dia berikan, dan tidak ada yang memberi apa yang Dia cegah…” selesai. Amal-amal saleh adalah sebab masuk surga, dan amal-amal buruk adalah sebab masuk neraka. Kami memohon kepada Allah surga, dan berlindung kepada-Nya dari neraka. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

 

 

ASAS KEENAM: IMAN KEPADA QADA DAN QADAR

Pendahuluan

Asas Keenam: Iman kepada Qada dan Qadar

Tidak diragukan bahwa menetapkan qada dan qadar serta wajibnya beriman kepada keduanya dan apa yang terkandung di dalamnya merupakan salah satu rukun iman yang paling agung, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kepada qadar baik dan buruknya.” Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Surat Al-Qamar: 49)

Dan (Qadar): adalah masdar dari qaddartu asy-syai’a: jika aku mengetahui ukurannya. Yang dimaksud di sini adalah: berkaitan dengan ilmu Allah terhadap semua yang ada, dan kehendak-Nya terhadapnya sejak azali sebelum wujudnya. Maka tidak terjadi sesuatu kecuali Allah telah mengetahuinya, menetapkannya, dan menghendakinya. Mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah beriman kepada qadar baik dan buruknya.

Iman kepada qadar mencakup empat tingkatan:

Pertama: Iman kepada ilmu Allah yang azali terhadap segala sesuatu sebelum wujudnya, termasuk ilmu-Nya tentang perbuatan hamba-hamba sebelum mereka mengerjakannya.

Kedua: Iman bahwa Allah telah menuliskan hal itu di Lauh Mahfuzh.

Ketiga: Iman kepada kehendak Allah terhadap setiap kejadian dan kuasa-Nya yang sempurna atasnya.

Keempat: Iman kepada penciptaan Allah terhadap semua makhluk, dan bahwa Dialah Pencipta seorang diri, dan selain-Nya adalah makhluk. Dan kematian dan kemuliaan dan kehinaan… dan lain sebagainya, sebagaimana dalam firman-Nya: “Setiap hari Dia dalam urusan (yang baru).” (Surat Ar-Rahman: 29)

Seorang muslim wajib beriman kepada qadar secara umum dan rinciannya. Barangsiapa mengingkari sesuatu darinya, maka ia tidak beriman kepada qadar. Dan barangsiapa tidak beriman kepada qadar, maka ia telah mengingkari salah satu rukun iman, sebagaimana halnya golongan Qadariyah yang sesat yang mengingkari qadar. Mereka dalam pengingkaran ini terbagi menjadi dua bagian:

Bagian pertama: Qadariyah ghulat (ekstrem), mereka mengingkari ilmu Allah tentang segala sesuatu sebelum terjadinya, dan mengingkari penulisan-Nya di Lauh Mahfuzh. Mereka berkata: Sesungguhnya Allah memerintah dan melarang, sedangkan Dia tidak mengetahui siapa yang menaati-Nya dan siapa yang mendurhakai-Nya. Maka urusan itu baru – maksudnya: dimulai – tidak didahului dalam ilmu Allah dan takdir-Nya. Golongan ini telah punah atau hampir punah.

Bagian kedua: Mengakui ilmu, tetapi menafikan masuknya perbuatan hamba dalam qadar. Mereka mengklaim bahwa perbuatan itu diciptakan untuk mereka secara mandiri, tidak diciptakan Allah dan tidak dikehendaki-Nya. Ini adalah mazhab Mu’tazilah.

Dan berhadapan dengan mereka adalah golongan yang berlebihan dalam menetapkan qadar hingga mereka merampas kemampuan dan pilihan hamba. Mereka berkata: Sesungguhnya hamba dipaksa dalam perbuatannya. Karena itu mereka disebut Jabariyah.

Kedua mazhab tersebut adalah batil karena dalil-dalil yang banyak, di antaranya firman Allah Ta’ala: “Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (Surat At-Takwir: 28-29). Karena firman Allah Ta’ala: “Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus” menolak Jabariyah, karena Allah menetapkan bagi hamba-hamba kehendak, sedangkan mereka berkata: Sesungguhnya mereka dipaksa, tidak punya kehendak.

Dan firman Allah Ta’ala: “Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam” di dalamnya terdapat bantahan terhadap Qadariyah yang mengatakan bahwa kehendak hamba mandiri dalam mewujudkan perbuatan tanpa bergantung pada kehendak Allah. Ini adalah perkataan yang batil, karena Allah menggantungkan kehendak hamba pada kehendak-Nya – Subhanahu – mengikatnya dengannya. Inilah mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam masalah ini. Mereka tidak berlebihan seperti berlebihannya Qadariyah yang menafikan, dan tidak melampaui batas seperti melampaui batasnya golongan ghulat.

Maka mazhab salaf umat dan para imamnya bahwa semua jenis ketaatan dan kemaksiatan, kekafiran dan kerusakan terjadi dengan qada Allah dan qadar-Nya. Tidak ada pencipta selain-Nya. Maka perbuatan hamba diciptakan oleh Allah, baiknya dan buruknya, bagusnya dan jeleknya. Dan hamba tidak dipaksa dalam perbuatannya, bahkan ia mampu, berniat, dan melakukannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Perbuatan dan perkataan, ketaatan dan kemaksiatan adalah dari hamba, dalam arti bahwa semuanya melekat pada hamba dan terjadi dengan kehendak dan kemampuannya. Dialah yang memiliki sifat-sifat tersebut dan bergerak dengannya, yang menjadi sasaran hukumnya. Dan semuanya dari Allah dalam arti bahwa Dia menciptakannya melekat pada hamba, dan menjadikannya sebagai amal dan usahanya, sebagaimana Dia menciptakan akibat dengan sebab-sebabnya. Maka semuanya dari Allah sebagai ciptaan-Nya bagi hamba, dan dari hamba sebagai sifat yang melekat padanya, terjadi dengan kemampuan dan usahanya. Seperti jika kita berkata: buah ini dari pohon, dan tanaman ini dari tanah, dalam arti bahwa ia tumbuh darinya, dan dari Allah dalam arti bahwa Dia menciptakannya darinya. Tidak ada pertentangan di antara keduanya…” selesai.

As-Safarini berkata: “Kesimpulannya bahwa mazhab Ahlus Salaf dan para muhaqiq Ahlus Sunnah bahwa Allah Ta’ala menciptakan kemampuan hamba, kehendaknya, dan perbuatannya. Dan bahwa hamba adalah pelaku perbuatannya secara hakiki, dan yang mengadakan perbuatannya. Allah Subhanahu menjadikannya pelaku dan pengada perbuatan tersebut. Allah Ta’ala berfirman: ‘Dan kamu tidak menghendaki kecuali Allah menghendakinya'” (Surat Al-Insan: 30). “Maka Dia menetapkan kehendak hamba, dan mengabarkan bahwa kehendak tersebut tidak terjadi kecuali dengan kehendak Allah. Ini adalah pernyataan tegas Ahlus Sunnah dalam menetapkan kehendak hamba, dan bahwa kehendak tersebut tidak terjadi kecuali dengan kehendak Allah…” selesai.

Aku berkata: Sesungguhnya yang menguatkan hal ini adalah bahwa Allah memberikan kepada manusia akal, kemampuan, dan pilihan. Perbuatannya tidak diperhitungkan baginya atau atasnya kecuali jika terpenuhi padanya kekuatan-kekuatan ini. Maka orang gila, orang bodoh, atau orang yang dipaksa tidak diperhitungkan apa yang keluar dari mereka berupa perkataan dan perbuatan, dan mereka tidak dipertanggungjawabkan atasnya. Ini menunjukkan bahwa ia tidak dipaksa dan tidak mandiri dengan dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang diminta pertolongan.

Buah-buah Iman kepada Qada dan Qadar

Sesungguhnya di antara buah terbesar dari iman kepada qada dan qadar adalah sahnya iman seseorang dengan sempurnanya rukun-rukunnya, karena iman kepada hal tersebut termasuk rukun iman yang enam yang tidak terwujud kecuali dengannya, sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Quran dan As-Sunnah.

Di antara buah-buah iman kepada qada dan qadar adalah: ketenangan hati dan kelegaan, serta tidak gelisah dalam kehidupan ini ketika manusia menghadapi kesulitan-kesulitan hidup ini. Karena hamba mengetahui bahwa apa yang menimpanya adalah telah ditakdirkan, tidak bisa dihindari dan tidak ada yang dapat menolaknya. Ia merasakan sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ketahuilah bahwa apa yang menimpamu tidak akan meleset darimu, dan apa yang meleset darimu tidak akan menimpamu.” Maka ketika itu jiwanya tenang dan hatinya tenteram, berbeda dengan orang yang tidak beriman kepada qada dan qadar. Ia akan ditimpa kekhawatiran dan kesedihan, diganggu kecemasan, hingga ia jemu dengan kehidupan dan berusaha melepaskan diri darinya, walaupun dengan bunuh diri, sebagaimana terlihat dari banyaknya orang yang bunuh diri melarikan diri dari kenyataan mereka dan pesimis terhadap masa depan mereka. Karena mereka tidak beriman kepada qada dan qadar, maka tindakan mereka itu adalah akibat yang pasti dari buruknya keyakinan mereka.

Allah Ta’ala telah berfirman: “Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Surat Al-Hadid: 22-23). Maka Allah Subhanahu mengabarkan bahwa Dia telah mentakdirkan musibah-musibah yang terjadi di bumi dan pada diri-diri. Maka itu telah ditakdirkan dan ditulis, pasti terjadi, bagaimanapun kita berusaha menolaknya. Kemudian Dia menjelaskan bahwa hikmah dari pemberitahuan-Nya kepada kita tentang hal itu adalah agar kita tenang. Maka kita tidak panik dan menyesal ketika musibah, dan tidak gembira ketika mendapat nikmat dengan kegembiraan yang melupakan akibat-akibatnya. Bahkan yang wajib atas kita adalah sabar ketika musibah, tidak berputus asa dari rahmat Allah, bersyukur ketika lapang, dan tidak merasa aman dari tipu daya Allah. Kita harus terkait dengan Allah dalam kedua keadaan.

Ikrimah rahimahullah berkata: “Tidak ada seorang pun kecuali ia gembira dan sedih, tetapi jadikanlah kegembiraan sebagai syukur dan kesedihan sebagai sabar.”

Bukan berarti hamba tidak mengambil sebab-sebab yang melindungi dari kejahatan dan mendatangkan kebaikan, kemudian hanya mengandalkan qada dan qadar, sebagaimana yang dikira sebagian orang jahil. Ini adalah kesalahan dan kejahilan yang paling besar. Karena Allah memerintahkan kita mengambil sebab-sebab, dan melarang kita bermalas-malasan dan mengabaikan. Tetapi jika kita mengambil sebab, dan terjadi sebaliknya dari yang diinginkan, maka kita jangan panik, karena inilah qada yang telah ditakdirkan. Seandainya ditakdirkan yang lain, pasti terjadi.

Karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bersemangatlah untuk hal yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah kepada Allah, dan jangan lemah. Jika kamu ditimpa sesuatu, jangan katakan: Seandainya aku berbuat begini, pasti begini dan begini, tetapi katakanlah: Qadar Allah dan apa yang Dia kehendaki telah terjadi. Karena ‘seandainya’ membuka perbuatan setan.” (HR. Muslim)

Dan hamba harus menghitung dirinya dan memperbaiki kesalahannya, karena tidak menimpanya sesuatu kecuali karena dosa-dosanya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (Surat Asy-Syura: 30)

Di antara buah-buah iman kepada qada dan qadar adalah keteguhan ketika menghadapi krisis, dan menyambut kesulitan hidup dengan hati yang teguh dan keyakinan yang benar yang tidak digoncangkan peristiwa dan tidak digoyang badai, karena ia mengetahui bahwa kehidupan ini adalah tempat ujian, cobaan, dan perubahan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Yang telah menciptakan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Surat Al-Mulk: 2). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu hingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kamu dan orang-orang yang sabar dan Kami akan menguji (ketetapan) hatimu.” (Surat Muhammad: 31)

Betapa banyak cobaan dan kesulitan yang dialami Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, tetapi mereka menghadapinya dengan iman yang benar dan tekad yang teguh, hingga mereka melewatinya dengan sukses gemilang. Itu tidak lain karena iman mereka kepada qada Allah dan qadar-Nya, dan penghayatan mereka terhadap firman Allah Ta’ala: “Katakanlah: ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.'” (Surat At-Taubah: 51)

Di antara buah-buah iman kepada qada dan qadar adalah mengubah cobaan menjadi anugerah dan musibah menjadi pahala, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Surat At-Taghabun: 11). Alqamah berkata: “Yaitu orang yang ditimpa musibah, lalu ia mengetahui bahwa musibah itu dari Allah, maka ia ridha dan berserah diri.”

Makna ayat yang mulia: Barangsiapa yang ditimpa musibah, lalu ia mengetahui bahwa itu dari qadar Allah, maka ia sabar, mengharap pahala, dan berserah diri kepada qada Allah, maka Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya, dan Allah akan mengganti apa yang hilang darinya di dunia dengan petunjuk di hatinya dan keyakinan yang benar. Dan mungkin Allah akan mengganti baginya apa yang telah diambil darinya atau yang lebih baik darinya. Ini dalam turunnya musibah-musibah yang merupakan qada Allah dan qadar-Nya, tidak ada campur tangan hamba dalam mewujudkannya, kecuali dari sisi bahwa ia menyebabkan turunnya musibah itu dengan berlaiku kurang menunaikan hak Allah atasnya dengan melakukan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Maka ia harus beriman kepada qada Allah dan qadar-Nya, dan memperbaiki kesalahannya yang karena itu ia ditimpa musibah.

Sebagian orang berbuat kesalahan yang fatal ketika mereka berdalih dengan qada dan qadar atas perbuatan mereka terhadap kemaksiatan dan meninggalkan kewajiban! Mereka berkata: Ini telah ditakdirkan atas kami! Dan mereka tidak bertobat dari dosa-dosa mereka, sebagaimana kaum musyrik berkata: “Kalau Allah menghendaki, niscaya kami tidak mempersekutukan-Nya dan nenek moyang kami pun tidak, dan tidak (pula) kami mengharamkan sesuatu apa pun.” (Surat Al-An’am: 148). Ini adalah pemahaman yang buruk tentang qada dan qadar, karena tidak boleh berdalih dengannya atas perbuatan kemaksiatan dan musibah, tetapi berdalih dengannya atas turunnya musibah. Berdalih dengannya atas perbuatan kemaksiatan adalah jelek, karena itu meninggalkan tobat dan meninggalkan amal saleh yang diperintahkan. Berdalih dengannya atas musibah adalah baik, karena itu mendorong kepada sabar dan mengharap pahala.

Di antara buah-buah iman kepada qada dan qadar adalah: bahwa ia mendorong manusia kepada kerja, produktivitas, kekuatan, dan keberanian. Maka mujahid di jalan Allah melanjutkan jihadnya dan tidak takut mati, karena ia mengetahui bahwa mati tidak bisa dihindari, dan jika datang tidak bisa ditunda. Tidak bisa dicegah oleh benteng-benteng atau tentara. “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (Surat An-Nisa: 78). “Katakanlah: ‘Jikalau kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati itu keluar (juga) ke tempat kematiannya.'” (Surat Ali Imran: 154). Demikianlah ketika mujahid merasakan dorongan-dorongan kuat dari iman kepada qadar ini, ia melanjutkan jihadnya hingga tercapai kemenangan atas musuh-musuh dan terwujud kekuatan bagi Islam dan kaum muslimin.

Demikian juga dengan iman kepada qadar akan terwujud produktivitas dan kemakmuran, karena orang mukmin jika mengetahui bahwa manusia tidak akan membahayakannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan atasnya, dan tidak akan memberi manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan baginya, maka ia tidak akan bermalas-malasan, tidak takut kepada makhluk, tidak bergantung kepada mereka. Tetapi ia bertawakal kepada Allah, dan melanjutkan jalan usaha. Jika ia ditimpa kegagalan dan tidak tercapai yang diinginkan, maka itu tidak membuatnya berhenti melanjutkan usaha, tidak memutus pintu harapan, dan tidak berkata: Seandainya aku berbuat begini, pasti begini dan begini. Tetapi ia berkata: Qadar Allah dan apa yang Dia kehendaki telah terjadi. Ia melanjutkan jalannya dengan bertawakal kepada Allah, sambil memperbaiki kesalahannya dan menghitung dirinya. Dengan demikian tegak bangunan masyarakat dan teratur kemaslahatan-kemaslahatan.

Benar firman Allah: “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Surat Ath-Thalaq: 3)

Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

PENUTUP

Bab tentang Wala dan Bara

Pendahuluan

Setelah selesai memberikan penjelasan ringkas tentang pokok-pokok akidah Islam ini, kami ingin menunjukkan bahwa setiap Muslim yang memeluk akidah ini wajib berwala (loyal/setia) kepada para penganutnya dan memusuhi para musuh-musuhnya. Ia harus mencintai ahli tauhid dan keikhlasan serta berwala kepada mereka, dan membenci ahli syirik serta memusuhi mereka.

Hal ini merupakan bagian dari agama Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, yang kita diperintahkan untuk meneladani mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (Surat Al-Mumtahanah ayat 4)

Dan ini juga merupakan bagian dari agama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (Surat Al-Maidah ayat 51). Ini khusus tentang pengharaman berwala kepada Ahli Kitab. Dan Allah berfirman tentang pengharaman berwala kepada orang-orang kafir secara umum: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.” (Surat Al-Mumtahanah ayat 1)

Bahkan Allah telah mengharamkan bagi orang mukmin untuk berwala kepada orang-orang kafir, meskipun mereka adalah orang-orang terdekat dalam hal nasab. Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Surat At-Taubah ayat 23). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Surat Al-Mujadalah ayat 22)

Banyak orang yang tidak memahami prinsip agung ini, hingga saya pernah mendengar sebagian orang yang mengaku ulama dan dai di radio Arab mengatakan tentang orang Nasrani: “Mereka adalah saudara-saudara kita!” Betapa berbahayanya perkataan ini!

Sebagaimana Allah Subhanahu mengharamkan berwala kepada orang-orang kafir yang memusuhi akidah Islam, maka Allah juga mewajibkan berwala kepada orang-orang mukmin dan mencintai mereka. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (Surat Al-Maidah ayat 55-56). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (Surat Al-Maidah ayat 56). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Orang-orang mukmin itu sesungguhnya bersaudara.” (Surat Al-Hujurat ayat 10)

Orang-orang mukmin adalah bersaudara dalam agama dan akidah, meskipun nasab, negara, dan zaman mereka berbeda. Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Surat Al-Hasyr ayat 10). Orang-orang mukmin dari awal penciptaan hingga akhirnya, meskipun negara mereka berjauhan dan zaman mereka berbeda, adalah bersaudara dan saling mencintai. Yang terakhir meneladani yang pertama, sebagian mendoakan sebagian yang lain, dan sebagian memintakan ampun untuk sebagian yang lain.

Wala dan bara memiliki manifestasi-manifestasi yang menunjukkan keduanya:

Manifestasi-manifestasi Berwala kepada Orang Kafir:

  1. Menyerupai mereka dalam pakaian, ucapan, dan lain-lain, karena menyerupai mereka dalam pakaian, ucapan, dan lain-lain menunjukkan kecintaan orang yang meniru kepada yang ditiru. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” Maka haram menyerupai orang kafir dalam hal-hal yang menjadi kekhasan mereka, adat mereka, ibadah mereka, ciri-ciri mereka, dan akhlak mereka, seperti mencukur jenggot, memanjangkan kumis, berbicara dengan bahasa mereka kecuali saat ada kebutuhan, bentuk pakaian, cara makan dan minum, dan lain sebagainya.
  2. Tinggal di negeri-negeri mereka dan tidak pindah dari sana ke negeri-negeri Muslim untuk menyelamatkan agama, karena hijrah dengan makna dan tujuan ini wajib bagi Muslim. Adapun tinggal di negeri kafir padahal mampu berhijrah. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?” Orang-orang itulah yang tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali orang-orang yang tertindas baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah). Mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (Surat An-Nisa ayat 97-99). Allah tidak memberikan uzur untuk tinggal di negeri kafir kecuali orang-orang yang lemah yang tidak mampu berhijrah, begitu juga orang yang dalam tinggalnya ada kemaslahatan agama seperti berdakwah kepada Allah dan menyebarkan Islam di negeri mereka.
  3. Bepergian ke negeri-negeri mereka untuk tujuan rekreasi dan kesenangan jiwa. Bepergian ke negeri kafir hukumnya haram kecuali dalam keadaan darurat seperti berobat, dagang, dan belajar untuk spesialisasi yang bermanfaat yang tidak bisa didapatkan kecuali dengan bepergian kepada mereka. Maka boleh sekadar kebutuhan, dan jika kebutuhan sudah selesai wajib kembali ke negeri Muslim. Disyaratkan juga untuk bolehnya perjalanan ini agar ia menampakkan agamanya, bangga dengan Islamnya, menjauhi tempat-tempat kejahatan, waspada dari tipu daya dan makar musuh-musuh. Demikian juga boleh atau wajib bepergian ke negeri mereka jika untuk berdakwah kepada Allah dan menyebarkan Islam.
  4. Membantu dan mendukung mereka melawan Muslim, memuji mereka, dan membela mereka. Ini termasuk pembatal Islam dan penyebab murtad, naudzubillahi min dzalik.
  5. Meminta bantuan kepada mereka, mempercayai mereka, dan memberikan jabatan-jabatan yang mengandung rahasia-rahasia Muslim kepada mereka, serta menjadikan mereka sebagai orang dalam dan penasihat. Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu mereka berkata: “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah: “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya.” (Surat Ali Imran ayat 118-120)

Ayat-ayat mulia ini menjelaskan isi hati orang kafir dan apa yang mereka sembunyikan terhadap Muslim berupa kebencian, apa yang mereka rencanakan untuk melawan mereka berupa tipu daya dan khianat, apa yang mereka sukai berupa kemudaratan Muslim dan menyakiti mereka dengan segala cara, dan bahwa mereka memanfaatkan kepercayaan Muslim kepada mereka untuk merencanakan berbuat jahat dan menyerang mereka.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Saya berkata kepada Umar radhiyallahu ‘anhu: Saya punya sekretaris Nasrani. Umar berkata: Kenapa dengan kamu, semoga Allah membunuhmu! Apakah kamu tidak mendengar Allah berfirman: ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain.’ Mengapa kamu tidak mengambil orang Hanif (Muslim)? Saya berkata: Wahai Amirul Mukminin! Bagiku tulisannya dan baginya agamanya! Umar berkata: Aku tidak akan memuliakan mereka ketika Allah menghinakan mereka, tidak akan memuliakan mereka ketika Allah merendahkan mereka, dan tidak akan mendekatkan mereka ketika Allah menjauhkan mereka.”

Imam Ahmad dan Muslim meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju Badar, lalu seorang laki-laki musyrik mengikutinya dan menyusulnya di Harrah. Laki-laki itu berkata: “Saya ingin mengikutimu dan berperang bersamamu.” Nabi berkata: “Apakah kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?” Ia menjawab: “Tidak.” Nabi berkata: “Pulanglah, karena aku tidak akan meminta bantuan orang musyrik.”

Dari nash-nash ini jelaslah bagi kita haramnya memberikan jabatan kepada orang kafir dalam urusan-urusan Muslim yang memungkinkan mereka mengetahui keadaan dan rahasia Muslim serta berbuat makar dengan merugikan mereka.

Termasuk dalam hal ini adalah apa yang terjadi di zaman ini yaitu mendatangkan orang kafir ke negeri Muslim (negeri Haramain Asy-Syarifain), menjadikan mereka sebagai pekerja, sopir, pelayan, dan pengasuh di rumah-rumah, mencampurkan mereka dengan keluarga-keluarga, atau mencampurkan mereka dengan Muslim di negeri mereka.

  1. Menggunakan penanggalan mereka, khususnya penanggalan yang mengekspresikan ritual dan hari raya mereka seperti penanggalan Masehi, yang merupakan peringatan kelahiran Al-Masih ‘alaihissalam yang mereka buat-buat sendiri dan bukan dari agama Al-Masih ‘alaihissalam. Menggunakan penanggalan ini mengandung partisipasi dalam menghidupkan simbol dan hari raya mereka. Untuk menghindari hal ini, ketika para sahabat radhiyallahu ‘anhum ingin membuat penanggalan untuk Muslim di masa Umar radhiyallahu ‘anhu, mereka meninggalkan penanggalan-penanggalan kafir dan menggunakan hijrah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai patokan, yang menunjukkan wajibnya menyelisihi orang kafir dalam hal ini dan dalam hal-hal lain yang menjadi kekhasan mereka. Dan Allah-lah yang dimintai pertolongan.
  2. Ikut serta dalam hari raya mereka atau membantu mereka dalam menyelenggarakannya atau mengucapkan selamat atas perayaan tersebut atau hadir dalam penyelenggaraannya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Dan orang-orang yang tidak menyaksikan az-zur (kepalsuan)” telah ditafsirkan bahwa di antara sifat-sifat hamba Ar-Rahman adalah mereka tidak menghadiri hari raya orang kafir.
  3. Memuji mereka dan menyanjung-nyanjung peradaban dan kemajuan yang mereka miliki, serta kagum dengan akhlak dan keterampilan mereka tanpa memperhatikan akidah batil dan agama rusak mereka. Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Rabb kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Surat Thaha ayat 131)

Bukan berarti Muslim tidak boleh mengambil sebab-sebab kekuatan dari mempelajari industri, dasar-dasar ekonomi yang halal, dan metode-metode militer. Bahkan itu dituntut. Allah Ta’ala berfirman: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.” (Surat Al-Anfal ayat 60)

Manfaat-manfaat dan rahasia-rahasia kauniyah ini pada asalnya adalah untuk Muslim. Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (Surat Al-A’raf ayat 32). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya.” (Surat Al-Jatsiyah ayat 13). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (Surat Al-Baqarah ayat 29)

Yang wajib adalah Muslim harus menjadi yang terdepan dalam memanfaatkan manfaat-manfaat dan energi-energi ini, dan tidak meminta-minta kepada orang kafir untuk mendapatkannya. Harus ada pabrik-pabrik dan teknologi untuk mereka.

  1. Memakai nama-nama mereka dengan memberi nama anak laki-laki dan perempuan mereka dengan nama-nama asing, meninggalkan nama-nama ayah, ibu, kakek, nenek, dan nama-nama yang dikenal dalam masyarakat mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik nama adalah Abdullah dan Abdurrahman.” Karena mengganti nama-nama, maka muncul generasi yang memakai nama-nama Barat, yang menyebabkan keterputusan antara generasi ini dengan generasi-generasi sebelumnya, dan memutus saling kenal antara keluarga-keluarga yang dulu dikenal dengan nama-nama khusus mereka.
  2. Memintakan ampun untuk mereka dan mendoakan rahmat untuk mereka. Allah telah mengharamkan hal itu dengan firman-Nya: “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu penghuni neraka.” (Surat At-Taubah ayat 113). Karena hal ini mengandung kecintaan kepada mereka dan membenarkan apa yang mereka yakini.

Manifestasi Loyalitas kepada Orang-Orang Beriman

Manifestasi loyalitas kepada orang-orang beriman telah dijelaskan dalam Al-Quran dan Sunnah, di antaranya:

  1. Hijrah ke Negeri Muslim dan Meninggalkan Negeri Kafir

Hijrah adalah perpindahan dari negeri kafir ke negeri muslim untuk menyelamatkan agama. Hijrah dengan makna dan tujuan ini adalah wajib dan akan terus berlaku hingga matahari terbit dari barat menjelang hari kiamat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berlepas diri dari setiap muslim yang tinggal di tengah-tengah kaum musyrik. Maka haram bagi seorang muslim tinggal di negeri kafir, kecuali jika ia tidak mampu berhijrah darinya, atau dalam tinggalnya ada kemaslahatan agama seperti dakwah kepada Allah dan penyebaran Islam.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).’ Malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’ Orang-orang itulah yang tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali orang-orang yang tertindas baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah). Mereka itulah yang mudah-mudahan Allah akan memaafkannya, dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisa: 97-99)

  1. Menolong dan Membantu Muslim

Menolong dan membantu muslim dengan jiwa, harta, dan lisan dalam hal yang mereka butuhkan untuk agama dan dunia mereka. Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain.” (QS. At-Taubah: 71)

Allah juga berfirman: “Dan jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang ada perjanjian antara kamu dengan mereka.” (QS. Al-Anfal: 72)

  1. Merasakan Penderitaan dan Kegembiraan Mereka

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perumpamaan kaum muslimin dalam saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.”

Beliau juga bersabda: “Orang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” Kemudian beliau menyilangkan jari-jemarinya.

  1. Menasihati Mereka dan Mencintai Kebaikan untuk Mereka

Tidak menipu dan mengelabui mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya.”

Beliau juga bersabda: “Muslim adalah saudara muslim lainnya; tidak merendahkannya, tidak menghianatinya, dan tidak menyerahkannya (kepada musuh). Cukuplah seseorang dikatakan jahat jika ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya adalah haram; darahnya, hartanya, dan kehormatannya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Janganlah kalian saling membenci, saling membelakangi, saling menipu dalam jual beli, dan jangan sebagian kalian menjual atas jualan sebagian yang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

  1. Menghormati dan Memuliakan Mereka

Tidak merendahkan dan mencela mereka. Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan perempuan yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 11-12)

  1. Bersama Mereka dalam Susah dan Senang

Berbeda dengan orang munafik yang hanya bersama orang beriman saat mudah dan lapang, tetapi meninggalkan mereka saat susah. Allah Ta’ala berfirman: “Yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan menimpa dirimu. Maka jika kamu mendapat kemenangan dari Allah mereka berkata: ‘Bukankah kami bersama-sama kamu?’ Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: ‘Bukankah kami telah mengalahkan kamu dan membela kamu dari orang-orang mukmin?'” (QS. An-Nisa: 141)

  1. Mengunjungi Mereka dan Senang Bertemu

Mencintai berkumpul dengan mereka. Dalam hadits qudsi: “Telah wajib cinta-Ku bagi orang-orang yang saling mengunjungi karena-Ku.”

Dalam hadits lain: “Sesungguhnya seorang laki-laki mengunjungi saudaranya karena Allah, maka Allah mengutus malaikat di jalannya. Malaikat bertanya: ‘Mau kemana?’ Ia menjawab: ‘Mengunjungi saudaraku karena Allah.’ Malaikat bertanya: ‘Apakah kamu punya kebaikan yang akan kamu balas kepadanya?’ Ia menjawab: ‘Tidak, hanya saja aku mencintainya karena Allah.’ Malaikat berkata: ‘Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu bahwa Allah telah mencintaimu sebagaimana kamu mencintainya karena-Nya.'”

  1. Menghormati Hak-Hak Mereka

Tidak menjual atas jualan mereka, tidak menawar atas tawaran mereka, tidak melamar atas lamaran mereka, dan tidak mengambil apa yang telah mereka dahului dari perkara mubah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah seseorang menjual atas jualan saudaranya, dan jangan melamar atas lamarannya.” Dalam riwayat lain: “Dan jangan menawar atas tawarannya.”

  1. Berlaku Lemah Lembut kepada yang Lemah

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang tua dan tidak menyayangi yang muda.”

Beliau juga bersabda: “Tidakkah kalian ditolong dan diberi rezeki kecuali karena orang-orang lemah di antara kalian?!”

Allah Ta’ala berfirman: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini.” (QS. Al-Kahf: 28)

  1. Mendoakan dan Memintakan Ampun untuk Mereka

Allah Ta’ala berfirman: “Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19)

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami.” (QS. Al-Hasyr: 10)

Peringatan

Adapun firman Allah Ta’ala: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah: 8)

Maknanya adalah bahwa orang kafir yang menahan gangguan mereka, tidak memerangi kaum muslimin, dan tidak mengusir mereka dari negeri mereka, maka kaum muslimin membalas hal itu dengan berbuat baik dan berlaku adil dalam pergaulan duniawi, namun tidak mencintai mereka dengan hati, karena Allah berfirman: “berbuat baik dan berlaku adil terhadap mereka,” dan tidak berfirman: “mewalikan dan mencintai mereka.”

Contoh serupa adalah firman Allah tentang kedua orang tua: “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.” (QS. Luqman: 15)

Ketika ibu Asma datang kepadanya meminta bantuan dalam keadaan kafir, Asma meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu. Beliau berkata kepadanya: “Sambunglah ibumu.” Padahal Allah Ta’ala telah berfirman: “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak mereka.” (QS. Al-Mujadalah: 22)

Menyambung silaturahmi dan balasan duniawi adalah satu hal, sedangkan kasih sayang adalah hal lain. Karena dalam menyambung silaturahmi dan berbuat baik terdapat daya tarik bagi orang kafir terhadap Islam, maka keduanya termasuk sarana dakwah. Berbeda dengan kasih sayang dan loyalitas, keduanya menunjukkan pengakuan terhadap orang kafir atas apa yang ia yakini dan ridha terhadapnya, dan hal itu menyebabkan tidak mengajak mereka kepada Islam.

Demikian pula pengharaman loyalitas kepada orang kafir tidak berarti pengharaman bermuamalah dengan mereka dalam perdagangan yang halal, mengimpor barang dan produk yang bermanfaat, serta memanfaatkan keahlian dan penemuan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyewa Ibnu Urayqith Al-Laitsi sebagai penunjuk jalan padahal dia kafir, dan berhutang kepada sebagian orang Yahudi. Kaum muslimin masih terus mengimpor barang dan produk dari orang kafir, dan ini termasuk membeli dari mereka dengan harga, bukan karena mereka punya kelebihan dan budi baik kepada kita, dan bukan pula termasuk sebab mencintai dan mewalikan mereka. Sesungguhnya Allah mewajibkan mencintai dan mewalikan orang beriman serta membenci dan memusuhi orang kafir.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi.” hingga firman-Nya: “Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal: 72-73)

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Makna firman-Nya: ‘Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar’ yaitu: jika kalian tidak menjauhi orang musyrik dan tidak mewalikan orang beriman, maka akan terjadi fitnah di antara manusia, yaitu kerancuan perkara dan bercampurnya orang beriman dengan orang kafir, sehingga terjadi kerusakan yang menyebar luas di antara manusia.”

Penulis berkata: Inilah yang terjadi di zaman ini, dan hanya Allah yang dimintai pertolongan.

Pembagian Manusia dalam Hal Loyalitas dan Permusuhan

Manusia dalam loyalitas dan permusuhan terbagi menjadi tiga bagian:

Bagian pertama: Yang dicintai dengan cinta murni tanpa permusuhan, yaitu orang-orang beriman yang murni dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih. Di depan mereka adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang wajib dicintai melebihi cinta kepada diri sendiri, orang tua, dan seluruh manusia. Kemudian istri-istrinya yang merupakan ummul mukminin, keluarganya yang baik, para sahabatnya yang mulia, khususnya khulafaur rasyidin, sisa dari sepuluh orang yang dijamin surga, kaum muhajirin, anshar, ahli Badar, ahli Bai’atur Ridhwan, kemudian sisa para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in, kemudian tabi’in, generasi yang dimuliakan, salaf umat ini, dan para imamnya seperti empat imam mazhab.

Bab Peringatan dari Bid’ah

Pertama: Definisi Bid’ah, Jenis-Jenisnya, dan Hukumnya

Definisi Bid’ah

Bid’ah dalam bahasa diambil dari kata “al-bid’u” yaitu menciptakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Dari kata ini firman Allah Ta’ala: “Pencipta langit dan bumi” (QS. Al-Baqarah: 117), yaitu menciptakannya tanpa contoh sebelumnya.

Firman Allah: “Katakanlah: ‘Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul'” (QS. Al-Ahqaf: 9), artinya: aku bukan orang pertama yang datang dengan risalah dari Allah kepada hamba-hamba-Nya, bahkan telah mendahuluiku banyak rasul.

Dikatakan: “Fulan telah membuat bid’ah,” artinya: ia memulai jalan yang belum pernah didahului orang lain.

Pembagian Bid’ah

Pembaruan terbagi menjadi dua bagian:

  1. Pembaruan dalam adat kebiasaan, seperti pembaruan penemuan-penemuan modern, dan ini boleh karena asal dalam adat adalah kebolehan.
  2. Pembaruan dalam agama, dan ini haram karena asal dalam agama adalah tauqif (harus ada dalil). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka tertolak.” Dalam riwayat lain: “Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintah kami di dalamnya, maka tertolak.”

 

 

Jenis-Jenis Bid’ah

Bid’ah dalam agama ada dua jenis:

Jenis pertama: Bid’ah dalam ucapan dan keyakinan, seperti perkataan Jahmiyah, Mu’tazilah, Rafidhah, dan seluruh firqah yang sesat beserta keyakinan mereka.

Jenis kedua: Bid’ah dalam ibadah, yaitu beribadah kepada Allah dengan ibadah yang tidak disyariatkan-Nya. Ini terbagi menjadi beberapa jenis:

  1. Yang berkaitan dengan asal ibadah, yaitu mengadakan ibadah yang tidak memiliki asal dalam syariat, seperti shalat yang tidak disyariatkan, puasa yang tidak disyariatkan, atau hari raya yang tidak disyariatkan seperti hari raya maulid dan lainnya.
  2. Yang berkaitan dengan penambahan pada ibadah yang disyariatkan, seperti menambah rakaat kelima pada shalat Dzuhur atau Ashar.
  3. Yang berkaitan dengan cara pelaksanaan ibadah, yaitu melaksanakannya dengan cara yang tidak disyariatkan, seperti melaksanakan dzikir yang disyariatkan dengan suara jamaah yang merdu, dan seperti berlebihan dalam ibadah hingga keluar dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  4. Yang berkaitan dengan mengkhususkan waktu untuk ibadah yang disyariatkan yang tidak dikhususkan oleh syariat, seperti mengkhususkan tanggal 15 Sya’ban dan malamnya untuk puasa dan qiyam. Asal puasa dan qiyam memang disyariatkan, tetapi mengkhususkannya pada waktu tertentu membutuhkan dalil.

Hukum Bidah dalam Agama

Setiap bidah dalam agama – dari jenis apa pun – adalah haram dan sesat, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dan waspadalah kalian terhadap perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan adalah bidah, dan setiap bidah adalah kesesatan,” dan sabdanya: “Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak,” dan dalam riwayat lain: “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintah kami padanya, maka ia tertolak.” Hadits ini menunjukkan bahwa setiap yang diada-adakan dalam agama adalah bidah, dan setiap bidah adalah kesesatan yang tertolak.

Maksudnya adalah bahwa bidah-bidah dalam ibadah dan akidah adalah haram.

Namun keharaman ini berbeda-beda sesuai dengan jenis bidahnya. Di antaranya ada yang merupakan kekufuran yang jelas, seperti thawaf mengelilingi kubur untuk mendekatkan diri kepada penghuni kubur, mempersembahkan sembelihan dan nazar untuk kubur, berdoa kepada penghuni kubur, meminta pertolongan kepada mereka, dan seperti perkataan-perkataan golongan Jahmiyyah dan Mu’tazilah yang ekstrem. Di antaranya ada yang merupakan wasilah (sarana) menuju syirik, seperti membangun bangunan di atas kubur, shalat dan berdoa di sisinya. Di antaranya ada yang merupakan kefasikan akidah, seperti bidah Khawarij, Qadariyyah, dan Murji’ah dalam perkataan dan akidah mereka yang menyalahi dalil-dalil syariat. Dan di antaranya ada yang merupakan kemaksiatan, seperti bidah membujang selamanya, puasa sambil berdiri di bawah matahari, dan mengebiri diri dengan tujuan memutus syahwat bersetubuh.

Peringatan tentang Pembagian Bidah menjadi Wajib dan Mustahab

Orang yang membagi bidah menjadi bidah hasanah (baik) dan bidah sayyi’ah (buruk) adalah keliru, salah, dan menyalahi sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya setiap bidah adalah kesesatan,” karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memutuskan bahwa semua bidah adalah kesesatan, sedangkan orang ini berkata: “Tidak semua bidah itu sesat, bahkan ada bidah yang baik!”

Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata dalam “Syarh al-Arba’in”: “Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Setiap bidah adalah kesesatan’ termasuk jawami’ al-kalim (kalimat yang komprehensif), tidak ada yang keluar darinya, dan ini adalah dasar yang agung dari dasar-dasar agama, dan serupa dengan sabdanya: ‘Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan kami sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.’ Maka setiap orang yang mengada-adakan sesuatu dan menisbatkannya kepada agama padahal tidak memiliki dasar dari agama yang dapat dirujuk kepadanya, maka itu adalah kesesatan, dan agama berlepas diri darinya, sama saja dalam hal ini masalah-masalah akidah, perbuatan, atau perkataan yang zhahir maupun batin.”

Orang-orang ini tidak memiliki hujjah bahwa ada bidah yang baik kecuali perkataan Umar radhiyallahu ‘anhu tentang shalat Tarawih: “Sebaik-baik bidah adalah ini,” dan mereka juga berkata bahwa ada hal-hal yang diada-adakan yang tidak diingkari oleh para salaf, seperti mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf, dan menulis serta membukukan hadits.

Jawaban atas hal tersebut adalah: Perkara-perkara ini memiliki dasar dalam syariat, sehingga bukan merupakan hal yang diada-adakan. Perkataan Umar: “Sebaik-baik bidah” maksudnya adalah bidah secara bahasa, bukan secara syariat. Maka apa yang memiliki dasar dalam syariat yang dapat dirujuk kepadanya, jika disebut bidah, maka itu bidah secara bahasa bukan secara syariat, karena bidah menurut syariat adalah sesuatu yang tidak memiliki dasar dalam syariat yang dapat dirujuk kepadanya.

Mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf memiliki dasar dalam syariat, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menulis Al-Quran, tetapi dulu tertulis secara terpisah-pisah, lalu para sahabat radhiyallahu ‘anhum mengumpulkannya dalam satu mushaf untuk menjaganya.

Shalat Tarawih telah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama para sahabatnya beberapa malam, dan beliau tidak melakukannya di malam-malam terakhir karena khawatir akan diwajibkan atas mereka. Para sahabat radhiyallahu ‘anhum terus melaksanakannya secara berkelompok-kelompok terpisah di masa hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setelah wafatnya, hingga Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengumpulkan mereka di belakang satu imam, sebagaimana mereka dahulu di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini bukan bidah dalam agama.

Penulisan hadits juga memiliki dasar dalam syariat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan penulisan beberapa hadits untuk sebagian sahabatnya ketika mereka memintanya. Yang dilarang adalah penulisan hadits secara umum di masa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam karena khawatir bercampur dengan Al-Quran yang bukan darinya. Ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, kekhawatiran ini hilang karena Al-Quran telah sempurna dan terjaga sebelum wafatnya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka kaum Muslim membukukan sunnah setelah itu untuk menjaganya dari hilang. Semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan atas Islam dan kaum Muslim, karena mereka telah menjaga kitab Tuhan mereka dan sunnah Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kehilangan dan kerusakan para perusak.

Kedua: Munculnya Bidah dalam Kehidupan Kaum Muslim dan Sebab-sebab yang Menyebabkannya

Di bawah ini ada dua masalah:

1- Waktu Munculnya Bidah:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Ketahuilah bahwa umumnya bidah-bidah yang berkaitan dengan ilmu dan ibadah terjadi dalam umat di akhir masa Khulafa ar-Rasyidin, sebagaimana diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersabda: ‘Barangsiapa di antara kalian yang hidup setelahku, maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpeganglah kalian dengan sunnahku dan sunnah Khulafa ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku.'” Bidah pertama yang muncul adalah bidah Qadariyyah, bidah Irja’, bidah Tasyayyu’, dan Khawarij. Bidah-bidah ini muncul di abad kedua ketika para sahabat masih ada, dan mereka mengingkari pelakunya. Kemudian muncul bidah I’tizal, terjadi fitnah di antara kaum Muslim, muncul perbedaan pendapat, kecenderungan kepada bidah dan hawa nafsu. Muncul pula bidah tasawuf dan bidah membangun bangunan di atas kubur setelah tiga abad yang utama. Begitulah, semakin mundur waktunya, semakin bertambah dan beragam bidah-bidahnya.

2- Tempat Munculnya Bidah:

Negeri-negeri Islam berbeda-beda dalam munculnya bidah di dalamnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Sesungguhnya kota-kota besar yang dihuni oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dari sana keluar ilmu dan iman ada lima: Haramain (Makkah dan Madinah), Iraqain (Bashrah dan Kufah), dan Syam. Dari sana keluar Al-Quran, hadits, fiqh, ibadah, dan hal-hal lain yang menyertainya dari urusan Islam. Dari kota-kota ini juga keluar bidah-bidah ushuliyyah selain Madinah Nabawiyyah. Dari Kufah keluar Tasyayyu’ dan Irja’ lalu menyebar setelah itu ke tempat lain. Dari Bashrah keluar Qadar, I’tizal, dan zuhud yang rusak lalu menyebar setelah itu ke tempat lain. Di Syam ada Nashb dan Qadar. Adapun Jahmiyyah, maka ia muncul di daerah Khurasan, dan ini adalah seburuk-buruk bidah.

Munculnya bidah sesuai dengan jauhnya jarak dari Dar Nabawiyyah (Madinah). Ketika terjadi perpecahan setelah terbunuhnya Utsman, muncullah bidah Haruriyyah.

Adapun Madinah Nabawiyyah, maka ia selamat dari munculnya bidah-bidah ini, meskipun ada di sana orang yang menyembunyikan hal tersebut, namun mereka terhina dan tercela. Memang ada di antara mereka orang-orang Qadariyyah dan lainnya, tetapi mereka tertunduk dan hina, berbeda dengan Tasyayyu’ dan Irja’ di Kufah, I’tizal dan bidah-bidah di Bashrah, dan Nashb di Syam yang tampak jelas. Telah shahih dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Dajjal tidak akan masuk ke Madinah. Ilmu dan iman terus tampak di sana hingga masa para sahabat Malik, yaitu orang-orang dari abad keempat. Adapun tiga abad yang utama, maka tidak ada bidah yang tampak sama sekali di Madinah Nabawiyyah, dan tidak keluar darinya bidah dalam pokok-pokok agama sama sekali sebagaimana keluar dari kota-kota lain.”

Sebab-sebab yang Menyebabkan Munculnya Bidah:

Tidak diragukan lagi bahwa berpegang teguh pada Al-Kitab dan As-Sunnah adalah penyelamat dari jatuh dalam bidah dan kesesatan. Allah Ta’ala berfirman: “Lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hal ini dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis untuk kami, lalu bersabda: ‘Ini adalah jalan Allah.’ Kemudian beliau membuat garis-garis di sebelah kanan dan kirinya, lalu bersabda: ‘Dan ini adalah jalan-jalan, pada setiap jalan ada setan yang menyeru kepadanya.’ Kemudian beliau membaca: ‘Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kalian agar kalian bertakwa.'” (QS. Al-An’am: 153)

Barangsiapa yang berpaling dari Al-Kitab dan As-Sunnah, maka akan ditarik-tarik oleh jalan-jalan yang menyesatkan dan bidah-bidah yang diada-adakan.

Sebab-sebab yang menyebabkan munculnya bidah terangkum dalam perkara-perkara berikut: ketidaktahuan terhadap hukum-hukum agama, mengikuti hawa nafsu, taklid buta terhadap pendapat dan tokoh, meniru orang-orang kafir dan mencontoh mereka. Mari kita bahas sebab-sebab ini secara terperinci.

1- Ketidaktahuan terhadap Hukum-hukum Agama:

Semakin panjang waktu dan semakin jauh manusia dari bekas-bekas risalah, semakin berkurang ilmu dan semakin merajalela kebodohan, sebagaimana diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya: “Barangsiapa di antara kalian yang hidup (setelahku), maka akan melihat perselisihan yang banyak,” dan sabdanya: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari para hamba, tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, hingga apabila tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya lalu berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.”

Tidak ada yang dapat melawan bidah kecuali ilmu dan para ulama. Jika ilmu dan para ulama hilang, maka terbuka kesempatan bagi bidah untuk muncul dan menyebar, dan bagi pelakunya untuk aktif.

2- Mengikuti Hawa Nafsu:

Barangsiapa yang berpaling dari Al-Kitab dan As-Sunnah, maka ia akan mengikuti hawa nafsunya.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Jika mereka tidak menjawab (seruan)mu, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti keinginan mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa petunjuk dari Allah.” (QS. Al-Qashash: 50)

Dan firman-Nya: “Maka apakah kamu telah melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah menutup pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan pada penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).” (QS. Al-Jatsiyah: 23)

Bidah-bidah sesungguhnya adalah hasil tenunan dari hawa nafsu yang diikuti.

3- Taklid Buta terhadap Pendapat dan Tokoh:

Taklid buta terhadap pendapat para tokoh menghalangi seseorang dari mengikuti dalil dan mengetahui kebenaran.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah,’ mereka berkata: ‘Sebenarnya kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.'” (QS. Al-Baqarah: 170)

Inilah keadaan orang-orang yang taklid buta hari ini dari sebagian pengikut madzhab, kaum sufi, dan penyembah kubur. Jika mereka diajak kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, dan meninggalkan apa yang mereka anut yang menyalahi keduanya, mereka berdalih dengan madzhab, syaikh, bapak, dan kakek mereka.

4- Meniru Orang-orang Kafir:

Ini adalah salah satu perkara yang paling keras menjatuhkan dalam bidah, sebagaimana dalam hadits Abu Waqid Al-Laitsi, ia berkata: “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain, sedangkan kami baru saja masuk Islam. Orang-orang musyrik memiliki pohon sidrah yang mereka berkumpul di sisinya dan menggantungkan senjata-senjata mereka padanya, disebut Dzat Anwath. Kami melewati sebuah pohon sidrah, lalu berkata: ‘Ya Rasulullah! Jadikanlah untuk kami Dzat Anwath sebagaimana mereka memiliki Dzat Anwath.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Allahu Akbar! Sungguh ini adalah kebiasaan (buruk)! Kalian berkata – demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya – sebagaimana Bani Israil berkata kepada Musa: “Buatlah untuk kami tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.” Dia berkata: “Sesungguhnya kalian adalah kaum yang tidak mengetahui.”‘ (QS. Al-A’raf: 138) Sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian.”

Ketiga: Sikap Ahlus Sunnah wal Jamaah terhadap Ahli Bid’ah dan Metode Mereka dalam Merespons Mereka

Ahlus Sunnah wal Jamaah senantiasa merespons ahli bid’ah dan mengingkari bid’ah mereka serta mencegah mereka dari melakukan bid’ah tersebut. Berikut ini beberapa contohnya:

  1. Riwayat dari Ummu Darda’

Ummu Darda’ berkata: “Abu Darda’ masuk kepadaku dalam keadaan marah, maka aku berkata kepadanya: ‘Ada apa denganmu?’ Ia menjawab: ‘Demi Allah, aku tidak mengetahui dari mereka sesuatu pun dari urusan Muhammad kecuali bahwa mereka shalat bersama-sama.'”

  1. Riwayat dari Amr bin Yahya

Dari Amr bin Yahya, ia berkata: Aku mendengar ayahku menceritakan dari kakeknya, ia berkata: “Kami biasa duduk di depan pintu Abdullah bin Mas’ud sebelum shalat shubuh. Jika ia keluar, kami berjalan bersamanya menuju masjid. Lalu Abu Musa Al-Asy’ari datang kepada kami dan berkata: ‘Apakah Abu Abdurrahman sudah keluar?’ Kami menjawab: ‘Belum.’ Maka ia duduk bersama kami hingga Abdullah keluar. Ketika ia keluar, kami semua berdiri mendekatinya. Abu Musa berkata: ‘Wahai Abu Abdurrahman! Aku melihat di masjid tadi sesuatu yang aku ingkari, namun aku tidak melihat kecuali kebaikan, alhamdulillah.’ Abdullah bertanya: ‘Apa itu?’ Abu Musa menjawab: ‘Jika engkau hidup, engkau akan melihatnya.’ Ia berkata: ‘Aku melihat di masjid beberapa kelompok orang duduk melingkar menunggu shalat. Di setiap lingkaran ada seorang laki-laki, dan di tangan mereka ada kerikil. Orang itu berkata: Bertakbirlah seratus kali! Maka mereka bertakbir seratus kali. Kemudian ia berkata: Ber-tahlil-lah seratus kali! Maka mereka ber-tahlil seratus kali. Lalu ia berkata: Bertasbihlah seratus kali! Maka mereka bertasbih seratus kali.’ Abdullah berkata: ‘Mengapa engkau tidak menyuruh mereka menghitung kejelekan mereka saja, dan aku jamin bahwa tidak akan sia-sia sedikitpun dari kebaikan mereka?!’ Kemudian ia pergi dan kami mengikutinya hingga ia mendatangi salah satu lingkaran tersebut. Ia berdiri di hadapan mereka dan berkata: ‘Apa ini yang kalian lakukan?’ Mereka menjawab: ‘Wahai Abu Abdurrahman! Ini kerikil yang kami gunakan untuk menghitung takbir, tahlil, tasbih, dan tahmid.’ Ia berkata: ‘Hitunglah kejelekan kalian saja! Aku jamin tidak akan hilang sedikitpun dari kebaikan kalian. Celaka kalian wahai umat Muhammad! Betapa cepatnya kebinasaan kalian! Para sahabat Nabi masih banyak yang ada, pakaian beliau belum lapuk, dan bejana-bejana beliau belum pecah. Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh kalian berada di atas agama yang lebih lurus dari agama Muhammad, atau kalian membuka pintu kesesatan.’ Mereka berkata: ‘Demi Allah wahai Abu Abdurrahman, kami tidak menginginkan kecuali kebaikan.’ Ia berkata: ‘Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan namun tidak mendapatkannya. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menceritakan kepada kami bahwa ada suatu kaum yang membaca Al-Qur’an namun tidak melampaui kerongkongan mereka. Dan demi Allah, aku tidak tahu, barangkali kebanyakan dari mereka adalah kalian.’ Kemudian ia berpaling dari mereka.” Amr bin Salamah berkata: “Kami melihat kebanyakan dari orang-orang itu memerangi kami pada hari Nahrawan bersama kaum Khawarij.”

  1. Riwayat tentang Imam Malik bin Anas

Seorang laki-laki datang kepada Imam Malik bin Anas rahimahullah dan berkata: “Dari mana aku berihram?” Imam Malik menjawab: “Dari miqat yang telah ditetapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau berihram darinya.” Laki-laki itu bertanya: “Bagaimana jika aku berihram dari tempat yang lebih jauh?” Malik menjawab: “Aku tidak memandang baik hal itu.” Laki-laki itu bertanya: “Apa yang engkau benci dari hal itu?” Malik menjawab: “Aku khawatir terhadapmu akan fitnah.” Laki-laki itu bertanya: “Fitnah apa dalam menambah kebaikan?” Malik menjawab: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah-Nya takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih’ (QS. An-Nur: 63). Fitnah apa yang lebih besar daripada engkau mengkhususkan dirimu dengan keutamaan yang tidak dikhususkan oleh Rasulullah?”

Ini adalah contoh, dan para ulama masih terus mengingkari ahli bid’ah di setiap zaman, alhamdulillah.

 

 

Metode Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam Merespons Ahli Bid’ah

Metode mereka dalam hal itu dibangun atas Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan itulah metode yang meyakinkan dan membungkam. Mereka menyebutkan syubhat (keraguan) ahli bid’ah dan menolaknya, serta berdalil dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah mengenai kewajiban berpegang teguh pada sunnah dan larangan dari bid’ah dan perkara baru. Mereka telah menulis banyak karya tulis dalam hal itu, dan merespons kitab-kitab akidah terhadap Syiah, Khawarij, Jahmiyyah, Mu’tazilah, dan Asy’ariyyah dalam pokok-pokok iman dan akidah. Mereka menulis kitab-kitab khusus dalam hal itu, sebagaimana Imam Ahmad menulis kitab “Ar-Radd ‘ala al-Jahmiyyah” (Bantahan terhadap Jahmiyyah), dan imam-imam lain juga menulis dalam hal itu seperti Utsman Ad-Darimi, sebagaimana terdapat dalam kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qayyim, serta Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan lainnya, dalam merespons kelompok-kelompok tersebut dan juga terhadap ahli kubur (Quburiyyah) dan kaum sufi.

Kitab-kitab Khusus dalam Merespons Ahli Bid’ah

Kitab-kitab khusus dalam merespons ahli bid’ah sangat banyak. Di antaranya sebagai contoh dari kitab-kitab lama:

  1. Kitab “Al-I’tisham” karya Imam Asy-Syatibi
  2. Kitab “Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim” karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, yang sebagian besar isinya digunakan untuk merespons ahli bid’ah
  3. Kitab “Inkar al-Hawadits wa al-Bida'” karya Ibnu Wadhdhah
  4. Kitab “Al-Hawadits wa al-Bida'” karya At-Turtusy
  5. Kitab “Al-Ba’its ‘ala Inkar al-Bida’ wa al-Hawadits” karya Abu Syamah

Kitab-kitab Kontemporer:

  1. Kitab “Al-Ibda’ fi Madharr al-Ibtida'” karya Syaikh Ali Mahfuzh
  2. Kitab “As-Sunan wa al-Mubtada’at al-Muta’alliqah bi al-Azkar wa ash-Shalawat” karya Syaikh Muhammad bin Ahmad Asy-Syuqairi Al-Hawamidi
  3. Risalah “At-Tahdzir min al-Bida'” karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Para ulama muslim masih terus – alhamdulillah – mengingkari bid’ah dan merespons ahli bid’ah melalui surat kabar, majalah, radio, khutbah Jumat, seminar, dan ceramah, yang memiliki pengaruh besar dalam menyadarkan kaum muslim dan memberantas bid’ah serta menekan ahli bid’ah.

Keempat: Penjelasan Contoh-contoh Bid’ah Kontemporer

Bid’ah kontemporer sangat banyak karena keterlambatan zaman, sedikitnya ilmu, banyaknya da’i kepada bid’ah dan pelanggaran, serta meresapnya penyerupaan terhadap orang kafir dalam kebiasaan dan ritual kaum muslim, sebagai pembenaran sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sungguh kalian akan mengikuti jejak orang-orang sebelum kalian.”

Kami sebutkan di sini tiga dari bid’ah kontemporer terpenting, yaitu:

  1. Perayaan Maulid Nabi
  2. Tabarruk (mencari berkah) dengan tempat-tempat, peninggalan, orang mati dan semacamnya
  3. Bid’ah dalam bidang ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah

Perayaan Maulid Nabi pada Bulan Rabiul Awwal

Di antara yang meresap pada kaum muslim di zaman ini dan zaman-zaman sebelumnya dalam penyerupaan terhadap orang kafir adalah penyerupaan terhadap orang Nasrani dalam membuat apa yang disebut perayaan Maulid Nabi. Orang-orang muslim yang jahil atau ulama yang menyesatkan merayakan pada bulan Rabiul Awwal setiap tahun dengan alasan kelahiran Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara mereka ada yang mengadakan perayaan ini di masjid, ada yang mengadakannya di rumah atau tempat-tempat yang disediakan untuk itu, dan dihadiri oleh banyak orang awam dan rakyat jelata. Mereka melakukan itu dalam penyerupaan terhadap orang Nasrani dalam bid’ah mereka merayakan kelahiran Al-Masih ‘alaihis salam.

Yang umum terjadi adalah perayaan ini, selain merupakan bid’ah dan penyerupaan terhadap Nasrani, tidak lepas dari adanya kesyirikan dan kemungkaran, seperti membuat qasidah-qasidah yang mengandung ghuluw (berlebihan) terhadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga tingkat menyeru kepada selain Allah dan meminta pertolongan kepada beliau. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang ghuluw dalam memuji beliau. Beliau bersabda: “Janganlah kalian berlebihan memuji aku sebagaimana orang Nasrani berlebihan terhadap Ibnu Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: hamba Allah dan rasul-Nya.”

Ithro’ (berlebihan) artinya: ghuluw (berlebihan) dalam pujian. Dan barangkali mereka meyakini bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam hadir dalam perayaan mereka.

Di antara kemungkaran yang menyertai perayaan ini adalah: nyanyian-nyanyian berkelompok yang dilagukanpukulan gendang dan lain-lain dari amalan zikir sufi yang bid’ah. Mungkin juga di dalamnya terjadi percampuran antara laki-laki dan perempuan yang menyebabkan fitnah dan menjerumuskan pada perbuatan keji.

Bahkan seandainya perayaan ini bebas dari bahaya-bahaya tersebut dan hanya terbatas pada berkumpul, makan bersama, dan menampakkan kegembiraan – sebagaimana mereka katakan – maka itu tetap bid’ah yang baru, “dan setiap yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” Juga merupakan wasilah (jalan) untuk berkembang dan terjadi di dalamnya apa yang terjadi dalam perayaan-perayaan lain berupa kemungkaran.

Kami katakan bahwa ini bid’ah karena tidak ada dasarnya dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, dan amal salaf shalih serta generasi terbaik. Ini baru terjadi belakangan setelah abad keempat Hijriyyah, yang diciptakan oleh Fatimiyyah Syiah.

Imam Abu Hafs Tajuddin Al-Faqihani rahimahullah berkata: “Amma ba’du, telah berulang kali pertanyaan dari sekelompok orang yang diberkahi tentang perkumpulan yang dilakukan sebagian orang pada bulan Rabiul Awwal yang mereka sebut Maulid; apakah ia memiliki dasar dalam agama? Mereka menginginkan jawaban yang jelas dan penjelasan yang terang tentang hal itu. Maka aku katakan dan dengan pertolongan Allah:

Aku tidak mengetahui Maulid ini memiliki dasar dalam kitab maupun sunnah, dan tidak dinukil pelaksanaannya dari seorang pun dari ulama umat yang berpegang teguh pada agama dan berpegang pada jejak pendahulu. Bahkan ini bid’ah yang diciptakan oleh orang-orang batil dan nafsu yang dimanfaatkan oleh para pemakan (yang mencari keuntungan).”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Demikian juga apa yang diciptakan sebagian orang, baik dalam penyerupaan terhadap Nasrani dalam kelahiran Isa ‘alaihis salam, atau karena cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pengagungan… yaitu menjadikan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hari raya – padahal manusia berbeda pendapat tentang kelahiran beliau. Sesungguhnya ini tidak dilakukan oleh salaf. Seandainya ini kebaikan murni atau yang terpilih, niscaya salaf radhiallahu ‘anhum lebih berhak dengannya daripada kita, karena mereka lebih mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan lebih mengagungkan beliau daripada kita, dan mereka lebih bersemangat pada kebaikan. Sesungguhnya cinta dan pengagungan kepada beliau adalah dalam mengikuti beliau, menaati beliau, mengikuti perintahnya, menghidupkan sunnah beliau lahir dan batin, menyebarkan apa yang beliau bawa, dan berjihad untuk itu dengan hati, tangan, dan lisan. Inilah (jalan) orang-orang terdahulu yang pertama dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.” (selesai)

Telah ditulis dalam mengingkari bid’ah ini kitab-kitab dan risalah-risalah lama dan baru.

Selain merupakan bid’ah dan penyerupaan, perayaan ini juga menjerumuskan pada pendirian maulid-maulid lainnya seperti maulid para wali, syaikh, dan pemimpin, sehingga membuka pintu-pintu keburukan yang banyak.

Tabarruk dengan Tempat-tempat, Peninggalan, dan Orang-orang Hidup maupun Mati

Tabarruk adalah mencari berkah. Berkah adalah ketetapan kebaikan pada sesuatu dan penambahnya. Meminta ketetapan kebaikan dan penambahnya hanya kepada yang memiliki dan mampu melakukannya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang menurunkan berkah dan menetapkannya. Adapun makhluk, ia tidak mampu memberikan berkah dan mewujudkannya, juga tidak mampu mempertahankan dan menetapkannya.

Maka tabarruk dengan tempat-tempat, peninggalan, dan orang-orang hidup maupun mati tidak dibolehkan, karena ia termasuk syirik jika meyakini bahwa sesuatu itu memberikan berkah, atau wasilah kepada syirik jika meyakini bahwa mengunjungi, menyentuh, dan mengusap-usapnya adalah sebab untuk mendapatkan berkah dari Allah.

Adapun mengenai apa yang dilakukan para sahabat berupa mengambil berkah dari rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, air liurnya, dan apa yang terpisah dari tubuhnya shallallahu ‘alaihi wa sallam; maka hal itu khusus bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masih hidup; dengan dalil bahwa para sahabat tidak mengambil berkah dari kamarnya dan kuburnya setelah beliau wafat, dan mereka tidak sengaja mendatangi tempat-tempat di mana beliau pernah shalat atau duduk untuk mengambil berkah darinya, demikian pula maqam-maqam yang lebih utama lagi, dan mereka tidak mengambil berkah dari orang-orang saleh seperti Abu Bakar dan Umar serta para sahabat utama lainnya; baik ketika hidup maupun setelah meninggal, dan mereka tidak pergi ke gua Hira untuk shalat di dalamnya atau berdoa, dan mereka tidak pergi ke gunung Thursina tempat Allah berbicara kepada Musa untuk shalat dan berdoa di sana, atau ke tempat-tempat lain dari gunung-gunung yang dikatakan bahwa di dalamnya terdapat maqam-maqam para nabi atau selain mereka, dan tidak pula ke tempat pemakaman yang dibangun di atas bekas nabi dari para nabi.

Dan juga karena tempat di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu shalat di Madinah An-Nabawiyyah, tidak ada seorang pun dari para salaf yang mengusapnya atau menciumnya, dan tidak pula tempat di mana beliau shalat di Mekah dan tempat-tempat lainnya. Jika tempat yang diinjak oleh kedua kaki mulianya dan tempat beliau shalat tidak disyariatkan bagi umatnya untuk mengusap atau menciumnya; maka bagaimana dengan tempat yang dikatakan bahwa orang lain pernah shalat di sana atau tidur di atasnya; maka mencium sesuatu dari hal itu dan mengusapnya, para ulama telah mengetahui secara pasti dari agama Islam bahwa ini bukan dari syariat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Bid’ah-bid’ah dalam Bidang Ibadah dan Mendekatkan Diri kepada Allah

Bid’ah-bid’ah yang diada-adakan dalam bidang ibadah pada zaman ini sangat banyak; karena asal dalam ibadah adalah tauqif (harus berdasarkan dalil); maka tidak ada sesuatu darinya kecuali dengan dalil, dan apa yang tidak ada dalil atasnya; maka itu adalah bid’ah; karena sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintah kami atasnya; maka ia tertolak”.

Ibadah-ibadah yang dipraktikkan sekarang dan tidak ada dalil atasnya sangat banyak sekali:

Di antaranya: mengeraskan niat untuk shalat; dengan mengatakan: saya niat shalat untuk Allah begini dan begitu, dan ini adalah bid’ah; karena bukan dari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan karena Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Apakah kamu mengajarkan kepada Allah tentang agama kamu, padahal Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu'” (QS. Al-Hujurat: 16), dan niat tempatnya di hati; maka ia adalah amalan hati bukan amalan lisan.

Di antaranya: dzikir berjamaah setelah shalat; karena yang disyariatkan adalah setiap orang mengucapkan dzikir yang diriwayatkan secara sendiri-sendiri.

Di antaranya: meminta pembacaan Al-Fatihah dalam acara-acara dan setelah doa serta untuk orang-orang yang meninggal.

Di antaranya: mengadakan peringatan kematian untuk orang yang meninggal, membuat makanan, dan menyewa para qari; mereka mengklaim bahwa itu termasuk ta’ziyah, atau bahwa itu bermanfaat bagi si mayit, dan semua itu adalah bid’ah yang tidak ada dasarnya, dan merupakan beban serta belenggu yang tidak diturunkan Allah dengan kekuasaan apapun.

Di antaranya: merayakan peristiwa-peristiwa keagamaan; seperti peristiwa Isra’ dan Mi’raj, peristiwa Hijrah Nabawiyyah, dan perayaan peristiwa-peristiwa tersebut tidak ada dasarnya dari syariat.

Di antaranya: apa yang dilakukan pada bulan Rajab; seperti umrah Rajabiyyah, dan apa yang dilakukan padanya berupa ibadah-ibadah khusus; seperti shalat dan puasa sunnah di dalamnya; maka sesungguhnya bulan itu tidak memiliki kelebihan atas bulan-bulan lainnya, tidak dalam umrah, puasa, shalat, penyembelihan untuk manasik di dalamnya, dan tidak pula selain itu.

Di antaranya: dzikir-dzikir tarekat dengan segala jenisnya; semuanya adalah bid’ah dan hal yang baru; karena bertentangan dengan dzikir-dzikir yang disyariatkan dalam redaksi, tata cara, dan waktunya.

Di antaranya: mengkhususkan malam pertengahan bulan Sya’ban dengan qiyam dan hari pertengahan bulan Sya’ban dengan puasa; maka sesungguhnya tidak ada yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal itu sesuatu yang khusus.

Di antaranya: membangun di atas kubur, menjadikannya sebagai masjid, dan mengunjunginya untuk mengambil berkah darinya serta bertawassul dengan orang-orang mati dan tujuan-tujuan syirik lainnya, serta kunjungan wanita ke sana, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat para wanita peziarah kubur dan orang-orang yang menjadikan masjid dan lampu di atasnya.

Dan sebagai penutup kami katakan: Sesungguhnya bid’ah adalah jalan menuju kekufuran, dan ia adalah penambahan agama yang tidak disyariatkan Allah dan Rasul-Nya, dan bid’ah lebih buruk dari dosa besar, dan setan lebih gembira dengannya daripada kegembiraannya dengan dosa-dosa besar; karena orang yang bermaksiat melakukan kemaksiatan sedangkan ia tahu bahwa itu adalah kemaksiatan; maka ia bertaubat darinya, sedangkan orang yang berbid’ah melakukan bid’ah dengan meyakininya sebagai agama yang mendekatkan diri kepada Allah; maka ia tidak bertaubat darinya, dan bid’ah-bid’ah menghilangkan sunnah-sunnah, dan membuat para pelakunya benci melakukan sunnah-sunnah dan ahli sunnah, dan bid’ah menjauhkan dari Allah, dan mewajibkan murka serta azab-Nya, dan menyebabkan penyimpangan hati serta kerusakannya.

Kelima: Bagaimana Memperlakukan Para Pelaku Bid’ah

Diharamkan mengunjungi pelaku bid’ah dan duduk bersamanya; kecuali untuk menasihatinya dan mengingkarinya; karena bergaul dengannya berpengaruh buruk pada orang yang bergaul, dan menyebarkan penularannya kepada orang lain.

Dan wajib memperingatkan dari mereka dan dari kejahatan mereka jika tidak mungkin menahan tangan mereka dan mencegah mereka dari melakukan bid’ah, dan jika tidak; maka wajib atas para ulama kaum muslimin dan para pemimpin mereka mencegah bid’ah-bid’ah, dan menahan tangan para pelaku bid’ah, serta mencegah mereka dari kejahatan mereka; karena bahaya mereka terhadap Islam sangat besar.

Kemudian sesungguhnya harus diketahui bahwa negara-negara kafir mendorong para pelaku bid’ah untuk menyebarkan bid’ah mereka, dan membantu mereka dalam hal itu dengan berbagai cara; karena dalam hal itu terdapat penghancuran Islam dan memburukkan citranya.

Kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar Dia menolong agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya, dan menghinakan musuh-musuh-Nya, dan semoga Allah bershalawat dan salam atas Nabi kami Muhammad beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya.

 

Facebook Comments Box

Artikel Terjkait

Apakah Lailatul Qadar Masih Ada atau Sudah Diangkat?
KEWAJIBAN MENGKUTI SYARIAT AGAMA BUKAN HAKEKAT REALITA
Kemiskinan yang Menghasilkan Kekayaan: Rahasia Mengenal Diri dan Sang Pencipta
Cermin Sikap Hamba di Hadapan Rabb-nya
PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 03 DARI 16
PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 04 DARI 16
PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 02 DARI 16
PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 01 DARI 16
Berita ini 23 kali dibaca

Artikel Terjkait

Kamis, 19 Maret 2026 - 19:22 WIB

Apakah Lailatul Qadar Masih Ada atau Sudah Diangkat?

Sabtu, 7 Maret 2026 - 23:57 WIB

KEWAJIBAN MENGKUTI SYARIAT AGAMA BUKAN HAKEKAT REALITA

Sabtu, 7 Maret 2026 - 23:52 WIB

Kemiskinan yang Menghasilkan Kekayaan: Rahasia Mengenal Diri dan Sang Pencipta

Kamis, 26 Februari 2026 - 00:10 WIB

Cermin Sikap Hamba di Hadapan Rabb-nya

Rabu, 18 Februari 2026 - 07:27 WIB

PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 03 DARI 16

Artikel Terbaru

Fikih

MENGUTAMAKAN QADHA PUASA RAMADHAN DARIPADA PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Mar 2026 - 15:02 WIB

Fikih

MENYEMPURNAKAN RAMADHAN DENGAN PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Mar 2026 - 14:46 WIB

Ibadah

Istiqomah Pasca Ramadhan

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:30 WIB

Dakwah

Ujian: Surat Cinta yang Mengajak Kembali ke Pelukan Ilahi

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:25 WIB

Dakwah

Rahasia Terbukanya Pintu Rahmat

Rabu, 25 Mar 2026 - 14:45 WIB