Ia tumbuh dalam lingkungan Kristen Protestan, namun terpengaruh oleh filsafat modern, terutama filsafat eksistensialisme. Ia dulunya percaya bahwa agama-agama adalah kepercayaan tahayul. Ketika ia bekerja di bidang jurnalistik, ia mulai bepergian ke berbagai negara… Ia pergi ke Swedia dan bekerja sebagai koresponden pers di akhir Perang Dunia Kedua selama lebih dari lima tahun. Namun ia menemukan bahwa masyarakat di sana merasa tidak bahagia, meskipun kemajuan dan kemakmuran yang mereka nikmati. Sebaliknya, ia menemukan hal yang berlawanan ketika bepergian ke beberapa negara Islam di Timur. Ia menemukan bahwa kaum Muslim, meskipun kemiskinan mereka yang sangat parah, merasa lebih bahagia dan hidup mereka memiliki makna… Pengamatan ini membuatnya merenungkan secara mendalam tentang makna hidup dan mempertimbangkannya melalui kedua model ini… Ia berkata dalam hal ini (1):
“Saya bertanya pada diri sendiri: Mengapa kaum Muslim merasakan kebahagiaan yang memenuhi hidup mereka meskipun kemiskinan dan keterbelakangan mereka?! Dan mengapa orang-orang Swedia merasa tidak bahagia dan tertekan meskipun kehidupan yang luas, kemewahan, dan kemajuan yang mereka jalani?! Bahkan negara saya (Swiss) membuat saya merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan di Swedia, meskipun negara itu makmur dan standar hidupnya tinggi!
Menghadapi semua ini, saya merasa perlu mempelajari agama-agama Timur… Dan saya mulai dengan mempelajari agama Hindu namun tidak terlalu yakin dengannya, hingga saya mulai mempelajari agama Islam dan saya tertarik padanya karena tidak bertentangan dengan agama-agama lain, bahkan mencakup semuanya… Ia adalah penutup agama-agama… Dan ini adalah kebenaran yang semakin yakin dalam diri saya dengan luasnya bacaan saya, hingga benar-benar tertanam dalam pikiran saya setelah saya mempelajari karya-karya filsuf Prancis kontemporer ‘René Guénon’ yang memeluk Islam. Saya telah menemukan, sebagaimana banyak orang lain yang terpengaruh oleh tulisan-tulisan filsuf Prancis yang masuk Islam dan beralih ke Islam… Saya menemukan bahwa Islam memberikan makna bagi hidup, berbeda dengan peradaban Barat yang dikuasai materialisme dan tidak beriman pada akhirat, melainkan hanya beriman pada dunia ini saja.”
Demikianlah “Roger Dupasquier” terpengaruh oleh pemikiran filsuf Prancis “René Guénon” yang masuk Islam, sebagaimana sebelumnya ia terpengaruh oleh kunjungan-kunjungannya ke negara-negara Islam. Meskipun kondisi material yang buruk di negara-negara tersebut, penduduknya menikmati iman yang mendalam yang tertanam kuat dalam jiwa mereka, dan tidak ada krisis moral seperti yang ada di Barat, yang membuat banyak pemuda bunuh diri atau melarikan diri dari hidup dengan menggunakan narkoba, yang berarti dalam pandangan mereka bahwa hidup tidak memiliki makna atau nilai… Dan ia sampai pada kesimpulan yang dinyatakannya:
“Saya menyadari bahwa Islam dengan prinsip-prinsipnya memberikan ketenangan dalam jiwa… Sedangkan peradaban material menuntun pemiliknya pada keputusasaan, karena mereka tidak beriman pada apapun… Saya juga menyadari bahwa orang-orang Eropa belum memahami hakikat Islam, karena mereka menilainya dengan standar material mereka.”
Oleh karena itu, wajar dan merupakan urutan alami ketika ia segera menjawab saat ditanya: Apa yang menarik Anda pada Islam?
“Pada awalnya, yang menarik saya pada Islam adalah kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah… Saya menemukan bahwa Islam adalah agama yang sempurna, dan segala sesuatu di dalamnya terkait dengan Al-Qur’an dan Sunnah.. Dan menurut keyakinan saya, manusia dapat merenungkan kesaksian ini sepanjang hidup.
Kesaksian mengatakan tidak ada tuhan selain Allah.. Dan ini berarti tidak ada kebenaran akhir dan kekal selain Allah… Sedangkan filsafat modern mengatakan tidak ada kebenaran selain dunia ini, itulah yang dikatakan filsafat eksistensialis dan lainnya…
Saya terkejut karena Islam mengungkapkan kebenaran yang dilupakan oleh ilmu pengetahuan dan filsafat modern.”
Kemudian ia melanjutkan pembicaraannya setelah sejenak merenungi jauh untuk berkata:
“Saya sangat terpengaruh oleh Al-Qur’an Al-Karim ketika mulai mempelajarinya, dan saya belajar serta menghafal beberapa ayatnya.. Alhamdulillah saya dapat membacanya (2): Dan ayat yang sangat menarik perhatian saya adalah ayat mulia: Dan barang siapa menghendaki agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi (3) … dan firman Allah Ta’ala: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat (4).
Kemudian ia menambahkan dengan kebahagiaan yang melimpah: “Dan Sunnah Nabawiyah yang mulia juga saya baca, dan saya terpengaruh oleh hikmah-hikmah dan penjelasan yang cermat di dalamnya.”
“Roger Dupasquier” tidak menemukan jalan lain selain mengumumkan keislamannya di hadapan khalayak, maka ia berkata:
“Ketika saya kembali ke Swiss, tidak ada alasan untuk menyembunyikan keislaman saya, oleh karena itu saya menerbitkan banyak artikel tentang Islam di ‘Journal de Genève’.. dan surat kabar ‘Gazette de Lausanne’, yang merupakan surat kabar non-Islam.. Saya juga menerjemahkan beberapa buku yang membahas topik-topik Islam.. Dan dalam semua tulisan saya, saya membela isu-isu Islam sebagai seorang Muslim yang menemukan jalannya dalam agama Islam.
Dan saya sekarang berusaha mengintensifkan tulisan-tulisan saya tentang Islam, dan menjelaskan kepada pembaca Barat apa yang terjadi di dunia Islam… Dan saya fokus pada masalah bahwa Islam menyajikan solusi untuk banyak masalah yang telah sampai pada jalan buntu, sementara Islam membuka banyak pintu untuknya.”
Tentang pandangannya terhadap Muslim sebagai orang yang beriman pada Islam sebagai nasionalisme atau ideologi, ia berkata dengan marah:
“Saya berbeda pendapat dengan beberapa orang yang memandang Islam sebagai nasionalisme – dan ini adalah keyakinan yang salah di kalangan banyak Muslim… Mereka menganggap Islam sebagai ideologi dan ini salah… Sesungguhnya Islam adalah jalan menuju Allah, dan cara terbaik untuk mencapai pengenalan Allah serta rekonsiliasi dan keharmonisan antara Sang Pencipta dan makhluk.”
Tentang pendapatnya mengenai kritik yang ditujukan pada Islam bahwa itu adalah agama keterbelakangan yang tidak menuju kemajuan, ia berkata dengan sarkastis:
“Alhamdulillah bahwa Islam tidak maju dalam arti kemajuan yang mereka jalani dan menuntun mereka pada jurang… Alhamdulillah bahwa Islam tidak menuju kemajuan material yang mereka maksudkan… Kalau demikian, tidak akan menarik perhatian saya maupun perhatian para pemikir yang menemukan kebaikan dan kebahagiaan bagi kemanusiaan di dalamnya, seperti ‘Roger Garaudy’ dan lainnya.. Sesungguhnya Islam mengungkapkan sesuatu yang kekal, dan adalah konyol untuk mengatakan bahwa itu terbelakang, oleh karena itu harus diubah atau diganti.. Kemajuan yang mereka serukan telah menuntun mereka pada keputusasaan dan kesesatan… Peradaban dan kebudayaan modern mengungkapkan perjuangan manusia dengan materi dan kehidupan… Sementara Islam mengungkapkan kebenaran, oleh karena itu tidak perlu bagi Islam menuju kemajuan dalam arti yang mereka inginkan, yaitu kekacauan, kehancuran, dan keputusasaan.”
Tentang pendapatnya mengenai isu yang diangkat bahwa ada perbedaan antara Islam sebagai agama dan Muslim sebagai individu… Ia menggelengkan kepala dengan senyum singkat sambil berkata:
Ada cerita yang mengandung jawaban atas itu… Saya kenal seorang teman sejak lama yang memeluk Islam di usia dua puluh enam tahun bernama “Muhammad Asad” yang dulunya Yahudi dan memeluk Islam pada tahun 1926, dan menulis buku berjudul “Jalan ke Makkah” dan menjadi salah satu ulama Islam, dan memiliki banyak karya lainnya… Saya bertemu dengannya beberapa waktu lalu di Pakistan di mana ia tinggal di sana.. Dan saya menanyakan pertanyaan yang sama kepadanya: Apakah ada perbedaan antara Islam sebagai agama dan Muslim sebagai individu?
Ia berkata kepada saya: Jika kami memeluk Islam, bukan karena Muslim.. tetapi sebabnya adalah bahwa Islam adalah kebenaran yang tidak dapat disangkal siapa pun.
Benar ada kemunduran dalam keadaan Muslim.. tetapi saya terus terang mengatakan kepada Anda bahwa kemunduran dalam keadaan penganut agama lain lebih banyak daripada yang ada pada Muslim… Sesungguhnya Islam adalah ekspresi terakhir dari rahmat Ilahi… dan masih mampu memberikan… memberikan segala sesuatu yang menyelamatkan manusia dari kesengsaraan hidup, penderitaan, dan kesulitan-kesulitannya.. Sesungguhnya Islam memperbaharui hubungan antara seseorang dengan Tuhannya yang telah diputuskan oleh manusia masa kini.
Bahkan jika Muslim dalam keadaan kemunduran atau keruntuhan, agama mereka mampu memberikan kehidupan yang bahagia dan tenteram yang membantu mereka mengatasi krisis-krisis moral yang dialami Barat.”
Tentang penjelasannya mengenai fenomena minat orang Eropa untuk memeluk Islam, ia menjawab: “Alasannya sebagaimana saya katakan adalah krisis yang ditimbulkan oleh peradaban dan kebudayaan modern… Orang-orang Eropa telah hidup dalam keadaan putus asa karena mereka tidak beriman pada apapun, oleh karena itu mereka mencari makna bagi hidup mereka, dan mereka telah menemukan makna ini dalam Islam sehingga mereka tertarik padanya.”
1_ Al-Liwa Al-Islami: dari wawancara yang dilakukan Muhammad Sobrah dan Ridha Okasyah dalam salah satu edisi mingguan mereka.
2_ Meskipun ia memiliki terjemahan dalam bahasa Inggris dan Prancis untuk Al-Qur’an, ia bersikeras membaca Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang ia tekuni untuk dipelajari dan dikuasai sebagaimana ia sebutkan.
3_ Surat Ali Imran – Ayat 85.
4_ Surat Al-Baqarah – dari Ayat 256.
Dikutip dari:
PERJALANAN IMAN BERSAMA PRIA DAN WANITA YANG MASUK ISLAM
رحلة إيمانية مع رجال ونساء أسلموا
Disusun oleh:
Abdul Rahman Mahmoud
Terjemah:
Muhamad Abid Hadlori, S.Ag.,Lc.








