Kisah Mualaf: Penulis Amerika Kolonel Donald Rockwell

Senin, 25 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ada motif-motif kuat di balik masuk Islamnya “Kolonel Donald Rockwell” yang ia katakan:

“Sesungguhnya kesederhanaan Islam, dan masjid-masjid kaum Muslim dengan daya tariknya, dan dengan suasana yang mengagumkan, mulia, dan berwibawa di dalamnya, serta apa yang membedakan kaum Muslim yang beriman berupa kepercayaan yang membangkitkan keyakinan yang membuat mereka merespons panggilan sholat lima kali sehari, semua hal ini menguasai perasaan saya sejak awal… Namun setelah saya memutuskan untuk bergabung dengan barisan kaum Muslim, saya menemukan bahwa ada alasan-alasan lain yang lebih penting dan lebih mendalam dari motif-motif ini, yang menambah keyakinan dan tekad saya, yaitu:

  • Pemahaman yang matang tentang kehidupan ini, yang merupakan buah dari Sunnah Muhammadiyah yang menggabungkan antara pendapat yang tepat dan teladan praktis, dalam gaya bimbingan yang bijak dalam banyak hal yang menunjukkan realitas agama ini, dan hikmah yang menawan dan tepat dalam perkataan Muhammad SAW… Ambillah contoh sabdanya: ‘Ikatlah (untamu) dan bertawakallah’… Ia telah menetapkan dalam dua kata ini sistem keagamaan dalam pekerjaan-pekerjaan kita yang biasa, tidak meminta kita untuk percaya buta pada adanya kekuatan gaib yang menjaga kita meskipun kelalaian dan pengabaian kita, melainkan mengajak kita pada kepercayaan kepada Allah dan ridha dengan kehendak-Nya dalam akhir urusan kita, jika kita menempuh urusan dari pintu-pintu yang benar dan mengerahkan segenap usaha kita untuk itu.
  • Toleransi Islam terhadap agama-agama lain – yang bersumber dari keluasan cakrawala pemikiran – membuatnya dekat dengan hati mereka yang mencintai kebebasan. Muhammad SAW menyeru pengikutnya untuk berbuat baik kepada orang-orang yang beriman pada Taurat dan Injil, dan beriman bahwa Ibrahim, Musa, dan Isa adalah utusan dari Allah Yang Maha Esa… Ini adalah toleransi yang membedakan Islam dari agama-agama lain.
  • Pembebasan sepenuhnya dari penyembahan berhala, menunjukkan kesehatan fondasi akidah Islam dan kemurniannya. Ajaran-ajaran asli yang dibawa Muhammad SAW tidak diubah oleh para pembuat undang-undang dengan perubahan atau penambahan. Inilah Al-Qur’an Al-Karim dalam keadaan sebagaimana diturunkan kepada Muhammad SAW untuk membimbing kaum musyrik dan kafir pada awal dakwahnya tetap tegak dan mantap hingga sekarang.
  • Moderasi dan pertengahan dalam segala hal adalah dua pilar dasar dalam Islam, yang telah merebut seluruh kekaguman dan penghargaan saya.

Saya beriman bahwa Rasul Muhammad SAW sangat memperhatikan kesehatan kaumnya, maka ia memerintahkan mereka untuk berkomitmen pada kebersihan hingga batas terjauh, sebagaimana ia memerintahkan mereka berpuasa dan mengendalikan nafsu syahwat… Dan saya ingat bahwa saya – ketika berdiri di masjid-masjid Istanbul, Damaskus, Baitul Maqdis, Kairo, dan kota-kota lainnya – merasakan perasaan mendalam tentang kemampuan Islam dalam kesederhanaannya untuk mengangkat ruh manusia ke cakrawala yang tinggi, tanpa memerlukan hiasan yang indah, patung, gambar, musik, atau upacara resmi… Masjid adalah tempat untuk kontemplasi yang tenang, melupakan diri dan melebur, bersatu dalam Kebenaran Yang Maha Besar, dalam dzikir Allah Yang Maha Esa.

  • Demokrasi Islam yang membangkitkan kekaguman saya terwujud dalam kesetaraan hak antara raja yang berkuasa dengan pengemis miskin di dalam dinding masjid, mereka semua sujud kepada Allah. Tidak ada tempat duduk yang disewa, tidak ada tempat yang dicadangkan untuk satu kelompok tanpa yang lain.
  • Seorang Muslim tidak beriman pada perantara antara dirinya dengan Tuhannya, melainkan langsung menuju kepada Allah, Pencipta makhluk dan Pemberi kehidupan, dan ia tidak melihat-Nya tanpa berlindung kepada surat pengampunan atau kepada seseorang untuk memberikan anugerah keselamatan.
  • Persaudaraan universal yang menyeluruh dalam Islam, tanpa memandang perbedaan ras, mazhab politik, warna kulit, atau wilayah. Hal ini telah terbukti bagi saya dengan yakin dan percaya berkali-kali… Dan ini adalah fenomena lain yang termasuk dalam motif-motif yang menuntun saya pada keimanan kepada Islam.”

 

Dikutip dari:

PERJALANAN IMAN BERSAMA PRIA DAN WANITA YANG MASUK ISLAM

رحلة إيمانية مع رجال ونساء أسلموا

Disusun oleh:

Abdul Rahman Mahmoud

Terjemah:

Muhamad Abid Hadlori, S.Ag.,Lc

Artikel Terjkait

Kisah Mualaf: Profesor Universitas Dr. Rusia Alla Olinikova
Kisah Mualaf: Pemikir Austria Leopold Weiss
Kisah Mualaf: Sastrawan Prancis Vincent Monteil
Kisah Mualaf: Profesor Universitas Amerika Muhammad Akoya
Kisah Mualaf: Profesor Matematika Universitas Amerika Jeffrey Lang
Kisah Mualaf: Lord Jalal al-Din Branton
Kisah Mualaf: Ilmuwan Inggris Arthur Allison
Kisah Mualaf: Penulis, Novelis, dan Penyair Inggris William Pickard
Berita ini 2 kali dibaca
Tag :

Artikel Terjkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:15 WIB

Kisah Mualaf: Profesor Universitas Dr. Rusia Alla Olinikova

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:06 WIB

Kisah Mualaf: Pemikir Austria Leopold Weiss

Sabtu, 30 Mei 2026 - 05:48 WIB

Kisah Mualaf: Sastrawan Prancis Vincent Monteil

Senin, 25 Mei 2026 - 05:35 WIB

Kisah Mualaf: Profesor Matematika Universitas Amerika Jeffrey Lang

Senin, 25 Mei 2026 - 05:26 WIB

Kisah Mualaf: Lord Jalal al-Din Branton

Artikel Terbaru

Fikih

TERUSLAH MEMPERBANYAK DZIKIR DI HARI-HARI TASYRIK

Sabtu, 30 Mei 2026 - 07:37 WIB

wallup.net

Fatwa Ulama

Ketenangan Jiwa pada Ketaatan

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:29 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Profesor Universitas Dr. Rusia Alla Olinikova

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:15 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Pemikir Austria Leopold Weiss

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:06 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Sastrawan Prancis Vincent Monteil

Sabtu, 30 Mei 2026 - 05:48 WIB