IHSAN DALAM ILMU AGAMA UNGGUL DALAM ILMU DUNIA

Senin, 16 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam sebuah majelis, Syekh Shalih Al Ushaimi hafizhahullah pernah ditanya, berapa banyak matan yang perlu dihafal oleh seorang penuntut ilmu agar ia bisa menjadi istimewa. Beliau tidak langsung menjawab dengan angka. Justru beliau meluruskan arah pertanyaannya.

Apa maksud menjadi istimewa? Apakah untuk lebih tinggi dari manusia lain? Untuk mengungguli orang lain?

Beliau menegaskan bahwa ukuran dalam ilmu agama bukanlah tamayyuz dalam arti unggul di atas manusia, tetapi mencapai derajat ihsan dan kuatnya hubungan dengan Allah. Seorang penuntut ilmu seharusnya bertanya, berapa yang perlu aku pelajari agar aku menjadi hamba Allah yang muhsin.

Dari sini kita mendapatkan fondasi penting dalam merumuskan visi pendidikan.

Dalam ilmu agama, orientasinya bukan keunggulan kompetitif. Ilmu syar’i adalah jalan ibadah. Ia membentuk hati, adab, dan ketundukan. Jika seseorang belajar fikih, hadis, atau tafsir dengan niat agar dikenal lebih alim, lebih unggul, atau lebih dihormati, maka ia telah menggeser niat dari ubudiyah menuju ambisi pribadi.

Keunggulan dalam ilmu agama boleh jadi muncul sebagai hasil. Namun ia bukan tujuan. Tujuan utamanya adalah ihsan.

Namun ketika kita berbicara tentang ilmu dunia, konteksnya berbeda. Dalam sains, teknologi, ekonomi, manajemen, dan berbagai disiplin umum, mengejar keunggulan bisa menjadi bagian dari tanggung jawab peradaban. Umat yang tidak unggul dalam kompetensi akan tertinggal. Umat yang tidak kuat dalam profesionalisme akan bergantung pada pihak lain.

Di sini, keunggulan bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk memperluas manfaat. Keunggulan akademik membuka akses. Keunggulan profesional memperkuat daya saing. Keunggulan kompetensi memungkinkan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Selama orientasinya tetap pengabdian dan kemaslahatan, maka excellence dalam ilmu umum adalah wasilah yang sah dan bahkan diperlukan.

Maka visi sekolah dan pesantren yang ideal bukanlah mencampuradukkan orientasi ini, tetapi menempatkannya secara proporsional.

Ilmu agama membentuk arah dan nilai.
Ilmu umum membentuk daya dan kekuatan.

Arah tanpa daya membuat umat lemah.
Daya tanpa arah membuat umat tersesat.

Begitu pula visi para pendidik terhadap santri dan muridnya. Dalam pelajaran agama, guru berharap muridnya semakin dekat kepada Allah, semakin halus adabnya, dan semakin kuat imannya. Dalam pelajaran umum, guru berharap muridnya unggul, kompeten, dan siap bersaing secara sehat demi membawa manfaat yang luas.

Jika suatu hari seorang lulusan menjadi pakar sains yang berprestasi sekaligus hamba yang khusyuk dalam shalatnya, maka itulah buah dari visi yang seimbang. Ihsan dalam ruh, keunggulan dalam karya.

Semoga Allah menuntun lembaga-lembaga pendidikan kita untuk membangun generasi yang tidak terobsesi unggul dalam agama demi pujian, dan tidak lalai mengejar keunggulan dunia demi kemaslahatan

 

Sumber : Madrasah Plus

Artikel Terjkait

Ketenangan Jiwa pada Ketaatan
Hati-hati dari Pelemah Tekad
KepadaNya Mengadukan Kerasnya Hati
Pengaruh Interaksi manusia dengan al Quran
Duhai Nafsu, Sampai Kapan?!
Tiga Ujian Harta: Antara Sumber, Hak, dan Pengeluaran
Bahagia karena Taat: Ekspresi Syukur Seorang Hamba
Antara Janji dan Ancaman: Samudra Ampunan Tuhan
Berita ini 24 kali dibaca

Artikel Terjkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:29 WIB

Ketenangan Jiwa pada Ketaatan

Jumat, 22 Mei 2026 - 05:32 WIB

Hati-hati dari Pelemah Tekad

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:12 WIB

KepadaNya Mengadukan Kerasnya Hati

Rabu, 29 April 2026 - 10:11 WIB

Pengaruh Interaksi manusia dengan al Quran

Senin, 27 April 2026 - 14:37 WIB

Duhai Nafsu, Sampai Kapan?!

Artikel Terbaru

Fikih

TERUSLAH MEMPERBANYAK DZIKIR DI HARI-HARI TASYRIK

Sabtu, 30 Mei 2026 - 07:37 WIB

wallup.net

Fatwa Ulama

Ketenangan Jiwa pada Ketaatan

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:29 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Profesor Universitas Dr. Rusia Alla Olinikova

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:15 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Pemikir Austria Leopold Weiss

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:06 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Sastrawan Prancis Vincent Monteil

Sabtu, 30 Mei 2026 - 05:48 WIB