Abu ad-Darda berkata,
«إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ جِلَاءً، وَإِنَّ جِلَاءَ الْقُلُوبِ ذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.»
“Sesungguhnya segala sesuatu itu memiliki alat pembersih (pengkilap), dan sesungguhnya alat pembersih hati adalah zikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”
(Syu’abul Iman karya al-Baihaqi, no. 520)
📝 Penjelasan Singkat
Abu ad-Darda menjelaskan sebuah hukum alam ruhani:
Sebagaimana besi atau cermin akan buram dan berkarat jika dibiarkan terkena udara dan kotoran, hati manusia pun akan mengalami “pengaratan” akibat paparan dosa, syahwat, dan kelalaian duniawi.
Kata “Jilaa” merujuk pada proses menggosok atau mengkilapkan sesuatu yang kusam agar kembali bersinar. Beliau menegaskan bahwa satu-satunya instrumen yang mampu melakukan “abrasi” atau pengikisan karat-karat batin tersebut hingga hati kembali bening adalah zikir kepada Allah.
💡 Pelajaran Penting (Fawaid)
01. Sifat Alami Hati
Hati manusia tidak statis; ia bisa kotor dan kehilangan daya pantul cahayanya. Menyadari bahwa hati bisa “berkarat” adalah langkah awal menuju perbaikan.
02. Fungsi Restoratif Zikir
Zikir bukan sekadar menambah pahala, tapi berfungsi sebagai agen pembersih yang mengembalikan fitrah hati ke kondisi aslinya yang jernih.
03. Konsistensi Perawatan
Karena kotoran dunia datang setiap saat, maka proses “mengkilapkan” (zikir) pun harus dilakukan secara berkelanjutan agar karat tidak menumpuk dan membatu.
04. Kualitas Refleksi
Hati yang bersih (telah dikilapkan) akan mampu memantulkan cahaya kebenaran dengan lebih akurat dibandingkan hati yang tertutup karat.
✅ Kesimpulan
Kehidupan dunia secara otomatis akan mengotori cermin hati kita. Tanpa upaya pembersihan yang intensif melalui zikir, hati akan kehilangan fungsinya sebagai pemandu spiritual. Jadikan zikir sebagai aktivitas rutin untuk memelihara kecemerlangan batin agar senantiasa mampu menangkap sinyal-sinyal hidayah.
Semoga bermanfaat.
Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi Hafidzahullah Ta’ala








