Fatwa Ulama: Cara Bersungguh-Sungguh untuk Ikhlas dan Menjaga Diri dari Syirik Kecil

Selasa, 6 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pertanyaan:

Saya mengalami masalah dalam keikhlasan, di mana jiwa saya suka dipuji dan dicintai oleh orang lain, serta telah terbiasa dengan hal itu. Terkadang, saya juga berusaha memperbaiki citra diri di hadapan orang-orang  agar mereka menyukai saya. Namun, saya tahu bahwa hal ini dibenci oleh Allah Ta’ala, dan saya selalu berdoa kepada-Nya agar diberikan keikhlasan. Apakah keadaan saya ini termasuk kemunafikan?

Hal lain yang ingin saya tanyakan adalah bahwa suara saya indah dalam membaca Al-Qur’an dan tajwid saya baik. Saya ingin menerbitkan rekaman khataman Al-Qur’an dengan suara saya di media sosial. Namun, saya terhalang oleh rasa takut bahwa niat saya mungkin tidak sepenuhnya ikhlas untuk Allah Ta’ala, karena seperti yang saya sebutkan, jiwa saya menyukai pujian dari manusia. Apa yang Anda nasihatkan kepada saya?

Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

 

Jawaban:

Segala puji bagi Allah, selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, dan para sahabatnya. Amma ba’du,

Tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk melakukan amal saleh dan berakhlak mulia dengan tujuan agar mendapatkan rida dan kecintaan dari manusia. Sebab, hal ini termasuk bentuk kesyirikan yang dapat membatalkan amal. Allah Ta’ala hanya menerima amal yang dilakukan semata-mata karena mengharap wajah-Nya.

Namun, jika seseorang melakukan kewajiban syar’i dengan tujuan mencari rida Allah Ta’ala, lalu ia mendengar pujian dari manusia, maka tidak mengapa jika ia merasa senang dengan hal itu -insyaAllah-. Itu adalah kabar gembira yang Allah Ta’ala segerakan bagi seorang mukmin.

Merasa senang dengan rida dan pujian manusia atas keunggulan yang dimiliki dalam hal-hal selain ibadah murni adalah sesuatu yang diperbolehkan. Namun, pahala hanya diberikan jika amal tersebut dilakukan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah. Oleh karena itu, yang wajib dilakukan adalah memastikan bahwa setiap amal yang dikerjakan adalah murni untuk Allah Ta’ala, karena hanya Dia yang memiliki kuasa untuk memberi manfaat dan mudarat. Jika Allah meridai seorang hamba, maka Dia akan menjadikan hati manusia mencintainya.

Selain itu, seseorang tidak boleh meninggalkan amal saleh hanya karena takut terjerumus dalam riya. Misalnya, jika seseorang memiliki suara indah dalam membaca Al-Qur’an, maka ia tetap dianjurkan untuk merekam dan menyebarkannya melalui internet atau media sosial agar bermanfaat bagi orang lain. Jangan sampai rasa takut terhadap riya’ menjadi penghalang dalam melakukan kebaikan, karena itu adalah tipu daya setan.

Maka, boleh merekam dan menyebarkan bacaan Al-Qur’an dengan bertawakal kepada Allah Ta’ala.

Yang perlu dilakukan adalah terus berjuang agar setiap amal dilakukan dengan ikhlas hanya karena Allah Ta’ala.

Jika merasa khawatir akan terjerumus dalam riya’ atau ingin menghindari segala bentuk kesyirikan, baik yang besar maupun yang kecil, maka amalkanlah doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ’anha dalam kitab Shahih Adabul Mufrad, Rasulullah ﷺ bersabda,

يا أبا بكرٍ، لَلشِّركُ فيكم أخْفى من دبيبِ النَّملِ، والذي نفسي بيدِه لَلشِّركُ أخْفى من دَبيبِ النَّملِ، ألا أدُلُّك على شيءٍ إذا فعلتَه ذهب عنك قليلهُ وكثيرهُ؟ قل: اللَّهمَّ إنِّي أعوذُ بك أن أُشرِكَ بك وأنا أعلمُ، وأستغفِرُك لما لا أَعلمُ

Wahai Abu Bakar, syirik itu di dalam diri kalian lebih tersembunyi dari jalannya semut, Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya. Sungguh syirik itu lebih tersembunyi daripada jalannya semut. Maukah aku tunjukkan sesuatu kepadamu, yang bila mana engkau mengucapkannya, maka kesyirikan pun akan lenyap darimu, baik syirik yang sedikit (yang kecil) maupun banyak (besar)?

“Ucapkanlah,

ALLAHUMMA INNA NA’ŪDZU BIKA AN USYRIKA BIKA WA ANA ‘ALAMU WA ASTAGHFIRUKA LIMĀ LĀ A’LAMU’

(Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang aku ketahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak aku ketahui).” (Diriwayatkan pula dalam Al-Adab Al-Mufrad, karya Al-Bukhari dari Ma’qil bin Yasar)

Maka, hendaknya memperbanyak doa ini karena ia menjadi sebab keselamatan dari riya’. Tidak diragukan lagi bahwa rasa takut terhadap riya’ harus senantiasa ada dalam diri seorang hamba dalam setiap keadaan.

Wallahu A’lam.

 

 

Penerjemah: Muhammad Bimo Prasetyo

Facebook Comments Box

Artikel Terjkait

Ketenangan Jiwa pada Ketaatan
Hati-hati dari Pelemah Tekad
KepadaNya Mengadukan Kerasnya Hati
Pengaruh Interaksi manusia dengan al Quran
Duhai Nafsu, Sampai Kapan?!
Tiga Ujian Harta: Antara Sumber, Hak, dan Pengeluaran
Bahagia karena Taat: Ekspresi Syukur Seorang Hamba
Antara Janji dan Ancaman: Samudra Ampunan Tuhan
Berita ini 30 kali dibaca

Artikel Terjkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:29 WIB

Ketenangan Jiwa pada Ketaatan

Jumat, 22 Mei 2026 - 05:32 WIB

Hati-hati dari Pelemah Tekad

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:12 WIB

KepadaNya Mengadukan Kerasnya Hati

Rabu, 29 April 2026 - 10:11 WIB

Pengaruh Interaksi manusia dengan al Quran

Senin, 27 April 2026 - 14:37 WIB

Duhai Nafsu, Sampai Kapan?!

Artikel Terbaru

Fikih

TERUSLAH MEMPERBANYAK DZIKIR DI HARI-HARI TASYRIK

Sabtu, 30 Mei 2026 - 07:37 WIB

wallup.net

Fatwa Ulama

Ketenangan Jiwa pada Ketaatan

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:29 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Profesor Universitas Dr. Rusia Alla Olinikova

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:15 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Pemikir Austria Leopold Weiss

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:06 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Sastrawan Prancis Vincent Monteil

Sabtu, 30 Mei 2026 - 05:48 WIB