Kisah Mualaf: Profesor Matematika Universitas Amerika Jeffrey Lang

Senin, 25 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bahkan Malaikat pun Bertanya… Profesor Jeffrey Lang menceritakan Profesor Jeffrey Lang, profesor matematika di universitas-universitas Amerika tentang bagaimana ia memeluk agama Islam, itu dalam sebuah buku yang diterbitkannya dengan judul “Bahkan Malaikat pun Bertanya”. Buku tersebut menuliskan kisah keislaman Lang, dan berkisar antara momen-momen spiritual yang mendalam dan pemikiran-pemikiran filosofis yang dalam.

Penulis berkata: Pada hari saya memeluk Islam, imam masjid memberikan kepada saya sebuah buku kecil yang menjelaskan cara melaksanakan shalat. Namun saya terkejut dengan apa yang saya lihat dari kekhawatiran mahasiswa-mahasiswa Muslim, mereka mendesak saya dengan ungkapan-ungkapan seperti: (santai saja) (jangan terlalu memaksakan diri) (sebaiknya kamu ambil waktumu) (perlahan… sedikit demi sedikit). Dan saya bertanya dalam hati (apakah shalat sulit sampai seperti ini?). Tetapi saya mengabaikan nasihat para mahasiswa, maka saya memutuskan untuk segera mulai melaksanakan shalat lima waktu pada waktunya. Dan pada malam itu, saya menghabiskan waktu yang lama duduk di sofa di kamar kecil saya dengan penerangan redup, di mana saya mempelajari gerakan-gerakan shalat dan mengulang-ulanginya, serta ayat-ayat Al-Quran yang akan saya baca, dan doa-doa yang wajib dibaca dalam shalat. Dan karena sebagian besar yang akan saya baca dalam bahasa Arab, maka saya harus menghafal teks-teks dalam lafal Arabnya, dan maknanya dalam bahasa Inggris. Dan saya mempelajari buku kecil itu selama beberapa jam, sebelum saya merasa memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk mencoba shalat pertama. Dan waktu sudah mendekati tengah malam, karena itu saya memutuskan untuk shalat Isya. Dan saya masuk kamar mandi dan meletakkan buku kecil itu di tepi wastafel terbuka pada halaman yang menjelaskan wudhu. Dan saya mengikuti petunjuk yang ada di dalamnya langkah demi langkah, dengan teliti dan hati-hati, seperti koki yang mencoba resep untuk pertama kali di dapur. Dan ketika saya selesai wudhu, saya menutup keran dan kembali ke kamar dengan air masih menetes dari ujung-ujung tubuh saya. Karena petunjuk buku kecil itu mengatakan bahwa disunahkan agar orang yang berwudhu tidak mengeringkan dirinya setelah wudhu. Dan saya berdiri di tengah kamar, menghadap ke arah yang saya kira adalah arah kiblat. Saya menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa saya menutup pintu apartemen saya, kemudian menghadap ke depan, dan tegak dalam posisi berdiri saya, dan mengambil napas dalam-dalam, kemudian mengangkat tangan saya, dengan telapak terbuka menyentuh cuping telinga dengan ibu jari saya. Kemudian setelah itu, saya berkata dengan suara pelan “Allahu Akbar”. Saya berharap tidak ada yang mendengar saya. Karena saya merasa agak tegang. Karena saya tidak bisa menghilangkan kekhawatiran saya bahwa ada orang yang memata-matai saya. Dan tiba-tiba saya menyadari bahwa saya membiarkan tirai terbuka. Dan saya bertanya-tanya: bagaimana jika ada tetangga yang melihat saya? Saya meninggalkan apa yang sedang saya lakukan, dan menuju ke jendela, kemudian memandang keluar untuk memastikan tidak ada orang. Dan ketika saya melihat halaman belakang kosong, saya merasa lega. Maka saya menutup tirai, dan kembali ke tengah kamar. Dan sekali lagi, saya menghadap kiblat, dan tegak dalam posisi berdiri saya, dan mengangkat tangan saya sampai ibu jari menyentuh cuping telinga saya, kemudian berbisik “Allahu Akbar”…. Dan dengan suara pelan yang hampir tidak terdengar, saya membaca Fatihah dengan lambat dan terbata-bata, kemudian mengikutinya dengan surah pendek dalam bahasa Arab, meskipun saya kira orang Arab mana pun tidak akan mengerti apa-apa jika mendengar bacaan saya malam itu. Kemudian setelah itu saya mengucapkan takbir sekali lagi dengan suara pelan dan membungkuk rukuk hingga punggung saya tegak lurus dengan kaki saya sambil meletakkan telapak tangan saya di lutut dan saya merasa malu, karena saya tidak pernah membungkuk kepada siapa pun dalam hidup saya. Dan karena itu saya senang karena saya sendirian di kamar. Dan sementara saya masih rukuk, saya mengulang kalimat “Subhana rabbiyal ‘azim” beberapa kali. Kemudian saya i’tidal berdiri sambil membaca “Sami’allahu liman hamidah” kemudian “Rabbana wa lakal hamd”…… Saya merasa jantung saya berdetak kencang, dan ketegangan saya meningkat ketika saya bertakbir sekali lagi dengan khusyuk karena telah tiba waktu sujud… dan saya membeku di tempat, sementara saya menatap titik di depan saya, di mana saya harus menundukkan diri dengan keempat anggota tubuh dan meletakkan wajah saya di tanah. Saya tidak bisa melakukan itu, saya tidak bisa menurunkan diri saya ke tanah, saya tidak bisa merendahkan diri dengan meletakkan hidung saya di tanah, seperti hamba yang merendahkan diri di hadapan tuannya… saya merasa seolah-olah kaki saya terikat tidak mampu untuk menekuk…. saya merasa sangat malu dan hina. Dan saya membayangkan tawa teman-teman dan kenalan saya dan tawa mereka, saat mereka memperhatikan saya dan saya membuat diri saya bodoh di hadapan mereka, dan saya membayangkan betapa saya akan menjadi obyek kasihan dan ejekan di antara mereka,

Dan aku hampir mendengar mereka berkata (kasihan Jeffrey, dia telah terkena gangguan dari orang Arab di San Francisco, bukan begitu?). Dan aku mulai berdoa (tolong, tolong, bantulah aku dalam hal ini). Aku menarik napas dalam-dalam, dan memaksa diriku untuk turun… Sekarang aku sudah dalam posisi merangkak, lalu ragu-ragu beberapa saat, dan setelah itu menekan wajahku ke sajadah… Aku mengosongkan pikiranku dari semua pemikiran, dan mengucapkan tiga kali kalimat “Subhaana rabbiy al-a’laa” (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi), “Allaahu akbar” (Allah Maha Besar) aku ucapkan dan bangkit dari sujud duduk di atas tumitku sambil menjaga pikiranku tetap kosong menolak membiarkan apapun mengalihkan perhatianku. “Allaahu akbar” dan aku meletakkan wajahku ke tanah lagi. Dan sementara hidungku menyentuh tanah, aku mengulang kalimat “Subhaana rabbiy al-a’laa” secara otomatis. Karena aku bertekad untuk menyelesaikan hal ini bagaimanapun caranya. “Allaahu akbar” dan aku berdiri tegak, sambil berkata pada diriku sendiri: masih ada tiga rakaat lagi di depanku. Dan aku berjuang melawan emoisi dan kesombonganku di sisa shalat yang tersisa. Tapi hal itu menjadi lebih mudah di setiap rakaat. Bahkan aku dalam ketenangan yang hampir sempurna di sujud terakhir. Lalu aku membaca tasyahud dalam duduk terakhir, dan akhirnya salam ke kanan dan kiriku…

Dan sementara kelelahan telah mencapai puncaknya padaku, aku tetap duduk di tanah, dan mulai mereview pertarungan yang telah kulalui. Aku merasa malu karena aku telah berjuang melawan diriku sendiri sekuat itu demi menyelesaikan shalat hingga akhir. Dan aku berdoa dengan kepala tertunduk malu: (ampunilah kesombongan dan kebodohanku, karena aku datang dari tempat yang jauh dan masih ada jalan panjang di depanku untuk kutempuh).

Dan pada saat itu, aku merasakan sesuatu yang belum pernah kualami sebelumnya, dan karena itu sulit bagiku menggambarkannya dengan kata-kata… Karena aku dihantam oleh gelombang yang tidak bisa kugambarkan kecuali seperti rasa dingin, dan tampak bagiku bahwa itu memancar dari suatu titik di dadaku. Dan itu adalah gelombang yang dahsyat sehingga aku terkejut pada awalnya sampai aku ingat bahwa aku gemetar. Namun itu lebih dari sekadar perasaan fisik, karena itu mempengaruhi emosiku dengan cara yang aneh juga. Tampak seolah-olah rahmat telah mewujud dalam bentuk yang dapat dirasakan dan mulai menyelimutiku dan meresap ke dalam diriku… Lalu aku mulai menangis tanpa mengetahui alasannya, karena air mata mulai mengalir di wajahku, dan aku mendapati diriku terisak dengan keras…

Dan semakin aku menangis, semakin aku merasakan bahwa kekuatan luar biasa dari kelembutan dan rahmat sedang merangkulku. Dan aku tidak menangis karena didorong oleh perasaan bersalah, meskipun seharusnya aku begitu, dan bukan karena rasa malu atau kegembiraan… Tampak seolah-olah bendungan telah terbuka melepaskan simpanan besar ketakutan dan kemarahan di dalam diriku. Dan sementara aku menulis baris-baris ini, aku tidak bisa tidak bertanya-tanya apakah ampunan Allah Azza wa Jalla tidak hanya mencakup pengampunan dosa-dosa, tetapi juga penyembuhan dan ketenangan…

Aku tetap duduk berlutut untuk beberapa waktu, membungkuk ke tanah, terisak dengan kepalaku di antara telapak tanganku. Dan ketika aku akhirnya berhenti menangis, aku telah mencapai puncak kelelahan. Karena pengalaman itu begitu dahsyat dan tidak biasa sampai tidak memungkinkanku saat itu untuk mencari penjelasan rasional untuknya… Dan aku melihat saat itu bahwa pengalaman ini terlalu aneh untuk bisa kuceritakan kepada siapa pun. Adapun hal terpenting yang kusadari saat itu adalah bahwa aku sangat membutuhkan Allah dan shalat, dan sebelum aku bangkit dari tempatku, aku berdoa dengan doa terakhir ini: “Ya Allah, jika aku berani kufur kepadaMu sekali lagi, maka bunuhlah aku sebelum itu, bebaskan aku dari kehidupan ini… Dan sangat sulit bagiku untuk hidup dengan segala kekurangan dan cacat yang kumiliki tetapi aku tidak bisa hidup satu hari lagi sambil mengingkari keberadaanMu”.

(1) Yang benar adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kadang-kadang mengelap bekas air wudhu, dan kadang-kadang membiarkannya, dan beberapa ulama berkata bahwa meninggalkannya dimaksudkan untuk mencari kesejukan dan bukan untuk mencari kedekatan (kepada Allah), dan sebagian mereka berpendapat bahwa sunnah adalah meninggalkan pengelasan kadang-kadang, dan melakukannya kadang-kadang wallahu a’lam…

(2) Yang benar adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyentuh cuping telinganya dengan ibu jarinya, melainkan mengangkat kedua tangannya ketika takbir sejajar dengan pundaknya atau sejajar dengan telinganya dengan jari-jari yang rapat menghadapkan kedua telapak tangannya ke kiblat.. wallahu a’lam..

Sumber: Salah satu surat kabar Saudi

Dikutip dari:

PERJALANAN IMAN BERSAMA PRIA DAN WANITA YANG MASUK ISLAM

رحلة إيمانية مع رجال ونساء أسلموا

Disusun oleh:

Abdul Rahman Mahmoud

Terjemah:

Muhamad Abid Hadlori, S.Ag.,Lc.

Artikel Terjkait

Kisah Mualaf: Profesor Universitas Dr. Rusia Alla Olinikova
Kisah Mualaf: Pemikir Austria Leopold Weiss
Kisah Mualaf: Sastrawan Prancis Vincent Monteil
Kisah Mualaf: Profesor Universitas Amerika Muhammad Akoya
Kisah Mualaf: Lord Jalal al-Din Branton
Kisah Mualaf: Ilmuwan Inggris Arthur Allison
Kisah Mualaf: Penulis Amerika Kolonel Donald Rockwell
Kisah Mualaf: Penulis, Novelis, dan Penyair Inggris William Pickard
Berita ini 2 kali dibaca
Tag :

Artikel Terjkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:15 WIB

Kisah Mualaf: Profesor Universitas Dr. Rusia Alla Olinikova

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:06 WIB

Kisah Mualaf: Pemikir Austria Leopold Weiss

Sabtu, 30 Mei 2026 - 05:48 WIB

Kisah Mualaf: Sastrawan Prancis Vincent Monteil

Senin, 25 Mei 2026 - 05:35 WIB

Kisah Mualaf: Profesor Matematika Universitas Amerika Jeffrey Lang

Senin, 25 Mei 2026 - 05:26 WIB

Kisah Mualaf: Lord Jalal al-Din Branton

Artikel Terbaru

Fikih

TERUSLAH MEMPERBANYAK DZIKIR DI HARI-HARI TASYRIK

Sabtu, 30 Mei 2026 - 07:37 WIB

wallup.net

Fatwa Ulama

Ketenangan Jiwa pada Ketaatan

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:29 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Profesor Universitas Dr. Rusia Alla Olinikova

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:15 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Pemikir Austria Leopold Weiss

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:06 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Sastrawan Prancis Vincent Monteil

Sabtu, 30 Mei 2026 - 05:48 WIB