Tidak terasa, tamu agung itu sebentar lagi datang…
Bulan yang di dalamnya ada haji, qurban, hari Arafah, dan hari-hari terbaik untuk beramal shalih.
Ironisnya, banyak orang sangat sibuk menyambut tahun baru, tapi lalai menyambut musim pahala yang Allah muliakan.
Padahal, di sepuluh hari pertama Dzulhijjah, amal shalih lebih dicintai Allah dibanding hari-hari lainnya.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ ﴾
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.”
(QS. Al-Fajr: 1–2)
Banyak ulama tafsir seperti Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa yang dimaksud “sepuluh malam” dalam ayat tersebut adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ”
“Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah).”
(HR. Bukhari)
Maka, jangan kita biarkan Dzulhijjah lewat seperti hari biasa.
Mari kita tingkatkan :
* Taubat dan istighfar
* Shalat malam
* Tilawah Al-Qur’an
* Dzikir dan takbir
* Sedekah
* Puasa Arafah
* Berbakti kepada orang tua
* Memperbaiki hati dan hubungan sesama
Bisa jadi, Dzulhijjah tahun ini adalah kesempatan terakhir kita untuk mendekat kepada Allah…
Jangan hanya sibuk melihat orang berangkat haji, sementara hati kita tidak ikut berhijrah menuju Allah.
Semoga Allah mempertemukan kita dengan Dzulhijjah dalam keadaan iman yang lebih baik, hati yang lebih bersih, dan amal yang lebih ikhlas.
Aamiin.
Penulis : Ustadz Agus Dwiyanto Nugroho, Lc.,M.P.I








