«قَالَ مَيْمُونُ بْنُ مِهْرَانَ: “فِي الْمَالِ ثَلَاثُ خِصَالٍ، إِنْ نَجَا رَجُلٌ مِنْ خَصْلَةٍ كَانَ قَمَنًا أَنْ يَنْجُوَ مِنِ اثْنَتَيْنِ، وَإِنْ نَجَا مِنِ اثْنَتَيْنِ كَانَ قَمَنًا أَنْ لَا يَنْجُوَ مِنَ الثَّالِثَةِ:
١- يَنْبَغِي لِلْمَالِ أَنْ يَكُونَ أَصْلُهُ مِنْ طَيِّبٍ، فَأَيُّكُمُ الَّذِي يَسْلَمُ كَسْبُهُ فَلَمْ يَدْخُلْهُ إِلَّا طَيِّبًا؟
٢- فَإِنْ سَلِمَ مِنْ هَذِهِ فَيَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُؤَدِّيَ الْحُقُوقَ الَّتِي فِي مَالِهِ.
٣- فَإِنْ سَلِمَ مِنْ هَذِهِ فَيَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَكُونَ فِي نَفَقَتِهِ لَيْسَ بِمُسْرِفٍ وَلَا مُقْتِرٍ”.»
“Maimun bin Mihran berkata: ‘Dalam harta itu ada tiga perkara. Jika seseorang selamat dari satu perkara, layak baginya untuk selamat dari dua perkara lainnya. Namun jika ia selamat dari dua perkara, bisa jadi ia tidak selamat dari yang ketiga:
Hendaknya harta itu berasal dari sumber yang baik (halal). Maka siapakah di antara kalian yang usahanya benar-benar bersih sehingga tidak ada yang masuk kecuali yang baik saja?
Jika ia selamat dari yang pertama, maka hendaknya ia menunaikan hak-hak yang ada pada hartanya (zakat, sedekah, dll).
Jika ia selamat dari yang kedua, maka hendaknya ia dalam membelanjakannya tidak berlebihan (israf) dan tidak pula terlalu kikir (muqtir)’.”
(Hilyat al-Awliya, 4/89)
📝 Penjelasan Singkat
Nasehat ini memetakan alur pertanggungjawaban harta secara sistematis:
Hulu (Sumber): Dari mana harta itu didapat? Ini adalah ujian tersulit karena banyaknya syubhat dalam muamalah.
Proses (Hak): Setelah dimiliki, apa kewajiban yang harus dikeluarkan? Harta bukan milik mutlak, ada hak fakir miskin di dalamnya.
Hilir (Konsumsi): Ke mana harta itu dialirkan? Islam menuntut pola hidup seimbang (moderat); tidak boros demi gengsi, tidak kikir hingga menyiksa diri.
💡 Pelajaran Penting (Fawaid)
Audit Mandiri
Harta menuntut ketelitian tinggi. Selamat di cara mencari belum tentu selamat di cara membelanjakan.
Arti Kesuksesan
Sukses finansial bukan tentang seberapa banyak saldo, tapi seberapa “bersih” dan “berkah” harta tersebut di hadapan Allah.
Sifat optimal
Menjadi kaya bukan berarti bebas menghamburkan uang, dan menjadi hemat bukan berarti pelit terhadap kebutuhan yang penting.
Jujur pada Diri Sendiri Pertanyaan Maimun “Siapakah di antara kalian yang usahanya benar-benar bersih?” adalah teguran agar kita selalu waspada terhadap potensi haram yang masuk tanpa disadari.
✅ Kesimpulan
Harta adalah amanah yang akan ditanya dua kali: “Dari mana didapat?” dan “Ke mana dihabiskan?”. Untuk selamat, seseorang harus menjaga kesucian hartanya sejak dari niat mencari hingga cara mengeluarkannya.
Mutiara hikmah dari Tabi’in mulia, Maimun bin Mihran rahimahullah, ini merupakan timbangan yang sangat teliti bagi setiap orang yang memiliki harta. Beliau mengingatkan bahwa harta bukan hanya soal angka, melainkan ujian yang berlapis-lapis.
Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi Hafidzahullah Ta’ala








