Imam Ibnul Qayyim berkata,
لَا يَجْتَمِعُ الْإِخْلَاصُ فِي الْقَلْبِ، وَمَحَبَّةُ الْمَدْحِ وَالثَّنَاءِ، وَالطَّمَعُ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ، إِلَّا كَمَا يَجْتَمِعُ الْمَاءُ وَالنَّارُ، وَالضَّبُّ وَالْحُوتُ
فَإِذَا حَدَّثَتْكَ نَفْسُكَ بِطَلَبِ الْإِخْلَاصِ، فَأَقْبِلْ عَلَى الطَّمَعِ أَوَّلًا فَاذْبَحْهُ بِسِكِّينِ الْيَأْسِ، وَأَقْبِلْ عَلَى الْمَدْحِ وَالثَّنَاءِ فَازْهَدْ فِيهِمَا زُهْدَ عُشَّاقِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ، فَإِذَا اسْتَقَامَ لَكَ ذَبْحُ الطَّمَعِ، وَالزُّهْدُ فِي الثَّنَاءِ وَالْمَدْحِ؛ سَهُلَ عَلَيْكَ الْإِخْلَاصُ
“Tidak akan pernah berkumpul di dalam hati: antara keikhlasan dengan kecintaan terhadap pujian (sanjungan) serta ketamakan terhadap apa yang dimiliki manusia, kecuali (sebatas mustahilnya) berkumpulnya air dengan api, dan (hewan) Dhab (kadal gurun) dengan ikan paus.
Maka, jika jiwamu mengajakmu untuk menuntut keikhlasan, hadapilah terlebih dahulu ketamakan itu lalu sembelihlah ia dengan pisau keputusasaan (berputus asa dari mengharap pemberian makhluk).
Dan hadapilah (keinginan terhadap) pujian dan sanjungan, lalu zuhudlah (tinggalkanlah) keduanya sebagaimana zuhudnya para pencinta dunia terhadap akhirat.
Maka jika telah lurus bagimu penyembelihan terhadap ketamakan dan zuhud terhadap sanjungan serta pujian, niscaya akan mudah bagimu untuk ikhlas.”
Sumber : Al-Fawa’id hlm 195
Imam Ibnul Qayyim menggunakan analogi yang sangat kuat untuk menggambarkan betapa sulitnya menjaga keikhlasan jika hati masih terikat pada makhluk.
1. Kemustahilan Menyatukan Ikhlas dengan Riya’ & Tamak
Ibnul Qayyim membuat perumpamaan kontradiktif (lawan yang tidak mungkin bersatu):
Air dan Api: Saling memadamkan atau menguapkan.
Dhab dan Ikan Paus: Dhab hidup di gurun yang kering dan panas, sedangkan Ikan Paus hidup di laut dalam. Mereka tidak akan pernah bertemu di satu tempat.
Maknanya: Ikhlas adalah memurnikan tujuan hanya untuk Allah. Sedangkan cinta pujian dan tamak adalah mengharapkan sesuatu dari manusia. Keduanya tidak bisa berada di satu hati pada waktu yang sama.
2. “Menyembelih Tamak dengan Pisau Keputusasaan”
Ini adalah istilah yang sangat indah namun sering disalahpahami.
Pisau Keputusasaan (Ya’us): Maksudnya bukan putus asa dari rahmat Allah, melainkan putus asa (berhenti berharap) dari apa yang ada di tangan manusia.
Selama seseorang masih berharap orang lain memberinya uang, jabatan, atau bantuan, ia sulit ikhlas karena ia akan beramal demi mendapatkan simpati orang tersebut.
Cara mengobatinya adalah meyakini bahwa manusia itu lemah dan tidak memiliki apa-apa. Hanya Allah yang memiliki segalanya.
3. “Zuhud Seperti Para Pencinta Dunia terhadap Akhirat”
Ini adalah tasybih (penyerupaan) yang sarkastik dan mendalam.
Orang yang gila dunia biasanya sama sekali tidak peduli pada akhirat; mereka melupakannya total.
Ibnul Qayyim menyuruh kita untuk tidak mempedulikan pujian manusia sebesar ketidakpedulian ahli dunia terhadap akhirat. Anggaplah pujian itu tidak ada harganya sama sekali.
Kesimpulan
Jalan menuju Ikhlas menurut Ibnul Qayyim harus melalui dua gerbang utama:
Mematikan rasa harap kepada manusia (hanya berharap pada Allah).
Mengabaikan pujian/celaan manusia (hanya mencari ridha Allah).
Jika dua hal ini berhasil dilakukan, maka Ikhlas akan menjadi ringan dan mudah dilakukan.
———————-
Mari terus memperbaiki diri kita dengan ilmu.
Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi Hafidzahullah Ta’ala







