Ibnu Hazm
“اسْتِعْظَامُ الصَّغَائِرِ، وَالْعُبُوسُ، وَقِلَّةُ التَّبَسُّطِ: سُتُورٌ اتَّخَذَهَا جُهَّالٌ جَدَّتْ بِهِمُ الدُّنْيَا؛ لِيُوَارُوا بِهَا جَهْلَهُمْ”
”Sikap menganggap besar hal sepele, bermuka masam, dan kurangnya bergaul adalah tirai-tirai yang dibuat oleh orang-orang bodoh yang diberi kekuasaan oleh dunia untuk menutupi kebodohan mereka.”
— al-Akhlaq wa as-Siyar (1/76)
Ibnu Hazm, seorang ulama Andalusia, sedang membongkar psikologi orang yang tidak kompeten (bodoh) namun mendadak mendapatkan jabatan atau kekayaan.
1. Rasa Insecure (Tidak Aman)
Orang yang berilmu dan kompeten biasanya rendah hati dan santai (luwes) karena mereka percaya diri dengan kemampuannya. Sebaliknya, orang bodoh yang “diangkat oleh dunia” (mendapat kekuasaan/harta tiba-tiba) merasa insecure. Mereka takut ketahuan bahwa aslinya mereka kosong dan tidak mampu.
2. Tiga Taktik Manipulasi
Untuk menutupi kekurangan akal dan ilmu tersebut, mereka memasang “Tirai” atau benteng pertahanan:
A. Membesar-besarkan masalah sepele: Agar terlihat sibuk, teliti, dan “perfeksionis”, padahal aslinya tidak bisa membedakan mana prioritas mana yang remeh.
B. Bermuka masam (Angker): Agar orang lain takut dan segan, sehingga tidak ada yang berani bertanya atau menguji kemampuannya.
C. Kurang bergaul (Menutup diri): Menghindari interaksi santai agar orang tidak melihat kedangkalan cara berpikirnya.
Intinya: Sikap kaku, galak, dan mempersulit keadaan seringkali bukan tanda wibawa, melainkan kamuflase untuk menutupi ketidakmampuan.
Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi Hafidzahullah Ta’ala







