Sifat Pecinta Sejati (Al-Muhibb As-Shadiq)

Rabu, 11 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ:
“فَالْمُحِبُّ الصَّادِقُ: إِنْ نَطَقَ نَطَقَ لِلَّهِ وَبِاللَّهِ، وَإِنْ سَكَتَ سَكَتَ لِلَّهِ، وَإِنْ تَحَرَّكَ فَبِأَمْرِ اللَّهِ، وَإِنْ سَكَنَ فَسُكُونُهُ اسْتِعَانَةٌ عَلَى مَرْضَاةِ اللَّهِ، فَهُوَ لِلَّهِ وَبِاللَّهِ وَمَعَ اللَّهِ.”
(رَوْضَةُ الْمُحِبِّينَ، ١/ ١٦٦)

Ibnu Qayyim berkata:
“Maka seorang pecinta sejati: jika ia berbicara, ia berbicara untuk Allah dan dengan pertolongan Allah; jika ia diam, ia diam karena Allah; jika ia bergerak, ia bergerak atas perintah Allah; dan jika ia diam (tenang), maka diamnya itu adalah bentuk permohonan kekuatan untuk meraih keridhaan Allah. Maka, seluruh hidupnya adalah untuk Allah, dengan (pertolongan) Allah, dan bersama Allah.”
(Rudhat Al Muhibbin 1/166)

Nasihat dari Ibnu Qayyim tentang sifat pecinta sejati (Al-Muhibb As-Shadiq) menggambarkan kehidupan seorang hamba yang sepenuhnya berorientasi pada Allah dalam setiap aspek, mulai dari bicara, diam, gerak, hingga ketenangan. Kutipan ini dari kitab Rawdatul Muhibbin menekankan bahwa cinta hakiki kepada Allah membuat segala tindakan menjadi ibadah yang ikhlas, di mana segala sesuatu dilakukan demi meraih ridha-Nya semata.

Penjelasan Kutipan
Nasihat ini membagi perilaku pecinta sejati menjadi empat kondisi utama.
A. Saat berbicara, ia hanya mengucap demi Allah dan dengan pertolongan-Nya, sehingga lidahnya terjaga dari sia-sia atau mudarat.
B. Saat diam, ia memilih kesunyian karena perintah Allah, bukan karena malas atau takut dunia.
C. Saat bergerak atau bertindak, segala usahanya atas perintah Allah, menjadikan amal sebagai jalan taat.
D. Saat tenang atau diam, ketenangannya adalah bentuk isti’anah (memohon pertolongan) untuk meraih keridhaan Allah, sehingga hidupnya utuh “untuk Allah, dengan Allah, dan bersama Allah” .

Nasihat ini membawa faedah besar dalam membentuk ikhlas, di mana setiap momen hidup menjadi sarana mendekat kepada Allah, menghindarkan dari riya atau duniawi. Ia melatih hati agar cinta kepada Allah mendominasi, sehingga iman terasa manis seperti dalam hadis yang menyebut tiga perkara penyejuk iman: mencintai Allah dan Rasul lebih dari yang lain, mencinta karena Allah, dan benci kemusyrikan. Akhirnya, ini menjamin keselamatan dari azab, karena cinta hakiki adalah inti kebahagiaan dan kebaikan.

Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi Hafidzahullah Ta’ala

Artikel Terjkait

MEREKA DATANG UNTUK BELAJAR, BUKAN TERLUKA
Musibah Penggugur Dosa
Merangkul yang Terjatuh: Adab Terhadap Pelaku Dosa
Jembatan Maaf: Kunci Ampunan Ilahi
Anatomi Kejatuhan: Seni Memotong Rantai Kebiasaan Buruk
Topeng Kewibawaan Semu
Hati Adalah Mata Air: Menelusuri Akar Perilaku dan Lisan
MENJAGA JEMARI DI ERA DIGITAL
Berita ini 18 kali dibaca

Artikel Terjkait

Jumat, 8 Mei 2026 - 12:43 WIB

MEREKA DATANG UNTUK BELAJAR, BUKAN TERLUKA

Selasa, 28 April 2026 - 15:03 WIB

Musibah Penggugur Dosa

Jumat, 10 April 2026 - 15:17 WIB

Merangkul yang Terjatuh: Adab Terhadap Pelaku Dosa

Minggu, 22 Maret 2026 - 20:14 WIB

Jembatan Maaf: Kunci Ampunan Ilahi

Kamis, 19 Maret 2026 - 19:31 WIB

Anatomi Kejatuhan: Seni Memotong Rantai Kebiasaan Buruk

Artikel Terbaru

Fikih

TERUSLAH MEMPERBANYAK DZIKIR DI HARI-HARI TASYRIK

Sabtu, 30 Mei 2026 - 07:37 WIB

wallup.net

Fatwa Ulama

Ketenangan Jiwa pada Ketaatan

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:29 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Profesor Universitas Dr. Rusia Alla Olinikova

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:15 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Pemikir Austria Leopold Weiss

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:06 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Sastrawan Prancis Vincent Monteil

Sabtu, 30 Mei 2026 - 05:48 WIB