Semua orang merasa mencintai Allah, tidak terkecuali pengikut agama Yahudi ataupun Nasrani. Semua merasa telah mencintai Allah dan beragama pun karena ingin mencintai Allah. Orang yang beragama Kristen ingin menciptakan kecintaan kepada Allah; kadang sesuai kehendak Allah dan bisa juga menyelisihi kehendak-Nya. Orang Yahudi mencintai Allah, dan kaum muslimin yang jahil juga mencintai Allah. Namun, mereka tidak akan dicintai Allah kecuali bila mereka berada di atas perkataan dan amalan yang membuat Allah cinta dan ridha kepadanya.
Sebagian salaf menyatakan: “Yang penting bukan sekadar mencintai, namun yang sangat penting adalah bagaimana agar dicintai.”
Kalau demikian, seseorang harus berusaha mencapai dan mendapatkan kecintaan Allah. Kecintaan Allah kepada manusia adalah sesuatu yang diinginkan oleh semua orang. Namun, hal ini hanya dapat tercapai dengan semangat mencari ilmu serta mengenal amalan dan perkataan yang Allah cintai dan ridhai. Sebab, apabila seseorang mengetahui bagaimana Allah mencintai hamba-Nya, atau mengetahui sebab-sebab Allah mencintai hamba-Nya, maka akan muncul kesungguhan untuk mendapatkan kecintaan tersebut.
Sebab-Sebab Memperoleh Kecintaan Allah
Banyak orang yang mengaku cinta kepada Allah Ta’ala tanpa menyadari bahwa sesungguhnya Allah tidak suka, bahkan murka kepadanya. Mencintai Allah Ta’ala tidak cukup hanya dengan ungkapan dan kata-kata tanpa bukti nyata. Tentulah hal itu tidak memadai.
Memang, alangkah bahagianya jika seseorang berhasil meraih dan menggapai cinta Allah. Sebab, bila seseorang berhasil mendapatkan cinta Allah, maka hidupnya akan dituntun dan dibimbing oleh Allah. Allah akan membimbing penglihatannya ketika ia melihat; Allah akan membimbing pendengarannya ketika ia mendengar. Sebaliknya, betapa menyakitkan bila kita merasa mencintai dan dicintai oleh Allah, tetapi cinta itu hanya bertepuk sebelah tangan. Kita merasa mendapatkan kecintaan Allah, padahal sebenarnya kita tidak pernah mendapatkannya.
Betapa banyak orang sibuk mengerjakan perbuatan-perbuatan tertentu untuk mendapatkan kecintaan Allah. Ada di antara manusia yang menyendiri di tengah hutan, jarang makan dan minum, bahkan jarang mandi; menjauhi anak-istrinya dan sanak keluarganya. Ia beranggapan bahwa dengan cara seperti ini ia akan mendapatkan kecintaan dari Allah.
Kita juga menyaksikan ada di antara manusia yang melakukan ritual-ritual tertentu demi meraih cinta Allah. Ada yang berpuasa tiga hari tiga malam tanpa putus; bahkan ada yang sampai empat puluh hari empat puluh malam. Ada pula yang sibuk membaca kalimat-kalimat dzikir tertentu, mengunjungi kuburan para nabi dan wali, membaca riwayat hidup Rasulullah ﷺ, dan sebagainya.
Akan tetapi, apakah dengan cara-cara seperti itu mereka akan mendapatkan kecintaan dari Allah? Lalu, bagaimana cara kita meraih dan menggapai kecintaan dari Allah agar cinta kita tidak bertepuk sebelah tangan, dan tidak hanya sebatas merasa mencintai Allah sementara Allah sama sekali tidak mencintai kita?
Allah Ta’ala dengan rahmat-Nya yang luas telah menjelaskan sebab-sebab meraih cinta Ilahi dalam al-Qur’an dan melalui lisan Rasulullah ﷺ serta penjelasan para ulama rahimahumullāh Ta‘ālā.
Di antara sebab-sebab terbesar untuk meraih cinta Allah adalah ittibā’ (mengikuti) Rasulullah ﷺ dan zuhud terhadap dunia.
- Ittibā’ kepada Rasulullah ﷺ
Allah Ta’ala berfirman:
“Katakanlah (Muhammad), jika kalian benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Āli ‘Imrān: 31)
Ayat ini merupakan tolok ukur kebenaran cinta kepada Allah. Siapa yang ingin dicintai Allah, maka hendaknya ia mengikuti Rasulullah ﷺ dalam akidah, ibadah, akhlak, dan seluruh aspek kehidupan.
Ibnu Katsir رحمه الله berkata:
هذه الآية حاكمة على كل من ادعى محبة الله وليس هو على الطريقة المحمدية، فإنه كاذب في دعواه حتى يتبع الشرع المحمدي والدين النبوي في جميع أقواله وأفعاله
Ayat ini menegaskan bahwa siapa saja yang mengaku mencintai Allah namun tidak mengikuti jalan Nabi Muhammad ﷺ, maka ia dusta dalam pengakuannya sampai ia mengikuti syariat dan agama Nabi dalam seluruh ucapan dan perbuatannya. Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999), 2:32.
- Zuhud terhadap Dunia
Selain ittibā’, sebab lain untuk meraih cinta Allah adalah zuhud terhadap dunia, yaitu tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama dan tidak menggantungkan hati kepadanya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
ازهد في الدنيا يحبك الله، وازهد فيما عند الناس يحبك الناس
“Bersikap zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu. Dan bersikap zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia mencintaimu.” Hadis riwayat Ibnu Mājah no. 4102, dinilai hasan oleh sebagian ulama
Ibnu Rajab al-Hanbali رحمه الله menjelaskan:
الزهد في الدنيا ليس بتحريم الحلال ولا بإضاعة المال، ولكن أن تكون بما في يد الله أوثق منك بما في يدك
Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan pula menyia-nyiakan harta, tetapi hendaknya apa yang ada di sisi Allah lebih engkau percaya daripada apa yang ada di tanganmu sendiri. Ibnu Rajab al-Hanbali, Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam (Beirut: Mu’assasah al-Risālah, 2001), 2:182.
Penutup
Dengan demikian, meraih cinta Allah bukanlah dengan sekadar pengakuan, ritual yang tidak ada tuntunannya, atau amalan yang menyelisihi sunnah. Jalan untuk meraih cinta Allah telah jelas: mengikuti Rasulullah ﷺ dengan benar dan bersikap zuhud terhadap dunia.
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bukan hanya mencintai-Nya, tetapi juga dicintai oleh-Nya.
Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi Hafidzahullah Ta’ala







