ILHAM PENA JILID 2 DARI 3

Rabu, 11 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ILHAM PENA

وَحْيُ الْقَلَمِ

JILID 2 DARI 3

Mustafa Shadiq ar-Rafi’i

 Terjemah:

Muhamad Abid Hadlori, S.Ag.,Lc.

 

Jilid Kedua

Pancaran Ilahi dan Filsafat Islam

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Sebagaimana matahari terbit dengan cahaya-cahayanya lalu memancurkan mata air cahaya yang disebut siang, demikian pula lahirnya seorang nabi menciptakan mata air cahaya dalam kemanusiaan yang disebut agama. Dan siang hari tidak lain adalah terjaganya kehidupan untuk merealisasikan amal-amalnya, sedangkan agama tidak lain adalah terjaganya jiwa untuk merealisasikan keutamaan-keutamaannya.

Matahari diciptakan Allah dengan membawa cap ilahi-Nya, dalam kerjanya terhadap materi ia mengubah dan mentransformasikannya, sedangkan nabi diutus Allah dengan membawa cap serupa dalam kerjanya sehingga manusia dapat berkembang dan meningkat.

Getaran-getaran cahaya dari matahari adalah kisah petunjuk bagi alam semesta dalam kalam yang terbuat dari cahaya, sedangkan sinar-sinar wahyu pada nabi adalah kisah petunjuk bagi manusia alam semesta berupa cahaya dari kalam.

Faktor ilahi yang agung bekerja dalam sistem jiwa dan bumi dengan dua alat yang serupa: benda-benda cahaya dari matahari dan planet-planet, serta benda-benda akal dari para rasul dan nabi.

Maka seorang nabi bukanlah manusia dari kalangan orang-orang besar yang membaca sejarahnya dengan pemikiran yang disertai logika, dan bersama logika ada keraguan, kemudian mempelajari semua itu berdasarkan prinsip-prinsip sifat dasar manusia pada umumnya. Akan tetapi, ia adalah manusia bintang yang membaca dengan ketepatan seperti “teleskop”, bersamanya ada ilmu, dan bersama ilmu ada iman, kemudian mempelajari semua itu berdasarkan prinsip-prinsip sifat dasarnya yang bercahaya saja.

Kehidupan melahirkan ilmu sejarah, tetapi cara ini dalam mempelajari para nabi—semoga shalawat Allah tercurah kepada mereka—membuat sejarah yang melahirkan ilmu kehidupan. Sesungguhnya nabi adalah pancaran ilahi atas kemanusiaan, menegakkannya dalam orbit akhlaknya, dan menariknya menuju kesempurnaan dalam sistem yang persis seperti gambaran hukum gravitasi pada planet-planet.

Nabi datang maka datanglah kebenaran ilahi bersamanya dalam bentuk seperti keindahan seni balaghah-nya, agar lebih kuat pengaruhnya, lebih mudah dipahami, lebih indah representasinya, dan tidak ada pertentangan dari indera. Inilah gaya yang menjadikan satu orang sebagai seni bagi seluruh manusia, sebagaimana balaghah adalah seni bagi seluruh bahasa, dan ia adalah sosok penafsir ketika manusia menyulitkan kehidupan sehingga tidak tahu kemana harus menuju dan bagaimana mencari petunjuk di dalamnya, maka berjuta-juta manusia menjadi bingung dalam hal yang mereka hindari dan yang membuat mereka terpuruk dari ambisi-ambisi dunia. Kemudian diciptakanlah seorang lelaki untuk menjadi penafsir bagi yang telah lalu dan yang akan datang, sehingga tampak melaluinya hakikat-hakikat adab tinggi dalam wujud manusia pekerja yang terlihat, lebih fasih daripada yang tampak dalam cerita yang dibicarakan dan diriwayatkan.

Kesaksian bagi kenabian tidak lain adalah bahwa dalam diri nabi terdapat jiwa yang paling fasih dari kaumnya, sehingga ia dalam tabiat dan sifat-sifatnya merupakan tabiat yang berdiri sendiri, seolah-olah ia adalah kondisi kejiwaan yang teliti yang dipasang untuk memperbaiki kondisi yang salah bagi kemanusiaan di dunia materi dan persaingan untuk bertahan hidup. Dan seolah-olah kebenaran luhur dalam nabi ini menyeru manusia: “Hadapilah berdasarkan prinsip ini dan perbaikilah apa yang menimpa jiwa kalian dari kesalahan hidup dan penyimpangan kemanusiaan.”

Oleh karena itu, nabi seluruh umat manusia adalah yang diutus dengan agama berupa amal-amal yang dirinci untuk jiwa dengan perincian yang paling teliti dan paling sesuai dengan kemaslahatan jiwa. Maka ia memberikan kehidupan di setiap zaman akal praktisnya yang tetap, terbaharui, dan berubah untuk mengatur keadaan-keadaan alam dengan tujuan dan petunjuk. Inilah hakikat Islam dalam makna yang paling khusus, tidak ada agama lain yang dapat menggantikannya dalam hal itu, dan tidak ada adab, ilmu, atau filsafat yang dapat melakukan fungsinya dalam kebutuhan ini, seolah-olah ia adalah mata air di bumi untuk makna-makna cahaya, berhadapan dengan matahari sebagai mata air cahaya di langit.

Semua itu dapat engkau lihat dalam diri Muhammad ﷺ, maka jiwanya secara keseluruhan adalah jiwa yang paling fasih dari semua jiwa, tidak mungkin bumi mengenal yang lebih sempurna darinya, seandainya keutamaan para hakim, filosof, dan ahli ketuhanan dikumpulkan dan dijadikan dalam satu wadah—tidak akan mencapai untuk menghasilkan yang seperti jiwanya ﷺ. Seolah-olah jiwa ini keluar dari bentukan seperti bentukan mutiara dalam kerangnya, atau susunan seperti susunan berlian di tambangnya, atau sifat seperti sifat emas di uratnya. Ia adalah jiwa sosial yang besar, dari mana pun engkau memperhatikannya, akan engkau lihat ia terhadap kemanusiaan seperti matahari di ufuk tertinggi yang menyebar dan bersinar.

Itulah kesaksian baginya ﷺ bahwa ia adalah penutup para nabi, dan bahwa agamanya adalah agama terakhir bagi kemanusiaan. Agama ini secara keseluruhan tidak lain adalah gambaran jiwa agung itu secara keseluruhan: ketegarannya seukuran dengan kebenaran kemanusiaan yang tetap, bukan seukuran dengan manusia yang berubah-ubah yang pada suatu sebab menjadi gunung keras yang menjulang, dan pada sebab lain menjadi air tawar yang mengalir.

Islam adalah agama yang tinggi dengan kekuatan dan menyeru kepadanya, ingin menundukkan dunia dan menguasai alam, menghabiskan perhatiannya untuk itu, bukan untuk memuliakan yang kuat dan merendahkan yang lemah, tetapi untuk mengangkat yang lemah ke tingkat yang kuat. Perbedaan antara syariatnya dengan syariat-syariat kekuatan adalah bahwa syariat-syariat itu adalah kekuatan dominasi alam dan penguasaannya, sedangkan Islam adalah kekuatan dominasi keutamaan dan kemenangannya. Syariat-syariat itu bekerja untuk membeda-bedakan, sedangkan Islam bekerja untuk kesetaraan. Dominasi alam dan kerjanya untuk membeda-bedakan adalah dasar perbudakan, sedangkan kemenangan keutamaan dan kerjanya untuk kesetaraan adalah sarana terbesar bagi kebebasan.

Dari sinilah menjadi alami dalam Islam apa yang dibawanya berupa tidak ada keutamaan kecuali ia memberi cap surga dengan kenikmatan kekalnya, dan tidak ada kehinaan kecuali ia menempatkan gambaran neraka abadi yang bahan bakarnya manusia dan batu. Maka mata muslim tidak memandang sebab-sebab kehidupan dengan pandangan pikiran yang berselisih: rakus terhadap apa yang menjadi miliknya dan serakah terhadap apa yang bukan miliknya, menipu dengan kelicikan, menciptakan cara-cara penipuan, dan menambah kompleksitas dunia dengan semua itu. Melainkan dengan pandangan hati yang damai: melepaskan dunia dan bermurah hati dengan segala yang berharga di dalamnya, maka ia menjaga diri dari banyak hal, mengenal kemanusiaan dan berambisi pada tujuan-tujuan tingginya, maka ia memaafkan banyak hal, dan menyadari bahwa yang halal meskipun halal, di belakangnya ada perhitungannya, dan yang haram meskipun menipu, tidak lain hanya kesenangan sesaat yang berlalu kemudian di belakangnya ada azab abadi.

Dari itu keluarlah bahwa tujuan terbesar Islam adalah menjadikan ketakwaan kepada Allah Ta’ala sebagai hukum keberadaan manusia di bumi. Dari sisi mana pun manusia ini berpaling, ia akan menemukan di kanan dan kirinya dua malaikat dari malaikat Allah yang menulis amal-amalnya baik dan buruknya. Maka ia seperti terdakwa yang dicurigai dalam politik jiwa: tidak melangkah satu langkah kecuali di antara dua mata-mata yang menghitung bahkan sebab-sebab niat, mengumpulkan darinya bahkan gejolak hati, dan menerjemahkan darinya bahkan makna-makna pandangan.

Ketika mahkamah malaikat ini tegak dan menetap dalam pertimbangan jiwa, tegaklah darinya atas jiwa syariat yang berlaku yaitu hukum kehendak yang membedakan, menghendaki kebaikan dan bekerja untuknya, takut terhadap keburukan dan menjauh darinya. Maka makna-makna jasad saling memerintah satu sama lain, bukan untuk merealisasikan pemerintahan dan kekuasaan, tetapi untuk merealisasikan kebaikan dan kemaslahatan. Dan sunnatullah alam yang gila pada binatang ini, telah bangkit di sampingnya sunnatullah kehendak yang bijak pada manusia. Dan setiap perkara kecil dan besar dalam jiwa adalah dari pemiliknya bahan tuduhan di hadapan hakimnya di pengadilannya. Dan setiap yang ada pada manusia dan di sekitar manusia tidak dikehendaki darinya kecuali kedamaian jiwa dalam akibatnya. Dan makna kedamaian adalah makna yang menang dan menguasai kemanusiaan di dunianya.

Semua amal Islam, akhlak, dan adabnya, itulah tujuannya dan inilah filsafatnya. Ia tidak hanya menetapkannya bagi kemanusiaan, tetapi menanamkannya dalam keturunan dengan penanaman melalui pembiasaan dan latihan yang terus-menerus, agar menjadi ilmu dan amal, sehingga memungkinkan kedamaian jiwa di antara senjata-senjata yang diarahkan kepadanya dari kebutuhan-kebutuhan hidup, di tangan musuh-musuh yang bersekutu melawannya dari syahwat-syahwat naluri. Kedamaian tidak akan menyeluruh kecuali jika agama ini dengan akhlaknya menyeluruh sehingga meliputi bumi atau sebagian besarnya. Karena hukum dunia saat itu akan menjadi diambil dari sifat dasar kasih sayang, maka akan terhapus dengannya hukum persaingan alami, atau akan dipatahkan kekerasannya. Dan akan lahir kelahiran saat itu bersamaan dengan lahirnya akhlak kemanusiaan.

Menetapkan makna dawa (obat) untuk semua amal jiwa hingga seberat dzarrah dari kebaikan dan keburukan, dan mengatur itu dengan latihan praktis yang terus-menerus yang diwajibkan atas semua manusia—inilah dasar akidah Islam. Tidak ada kebaikan bagi kemanusiaan selain itu yang mengembalikannya ke jalan yang lurus. Karena dari itu terjadi sifat akal yang menguasai masyarakat dan menyerasikan antara individu-individunya, sehingga mengarahkan seluruh kemanusiaan menuju kemungkinan kesempurnaannya, dan terus mengarahkannya menuju yang lebih tinggi, memerintah yang rusaknya dengan yang baiknya, mengambil yang durhakanya dengan yang taat, dan menjadikan kehormatan kemanusiaan sebagai tujuan pertamanya, karena Allah yang haq adalah tujuan terakhirnya. Maka seseorang—dan inilah agamanya—semakin bertambah umurnya semakin sempurna padanya dua hal: manusia dan syariat. Dan tidak lagi pencari kebahagiaan jiwa di dunia seperti orang gila yang berlari mengejar bayangannya untuk menangkapnya, sehingga tidak meraih di akhirat apa pun selain pengetahuannya bahwa ia telah berada dalam amal yang batil dan usaha yang sia-sia.

Islam sangat berhati-hati dan sangat serius dalam menetapkan makna ilahi yang agung itu, bukan dengan logika, tetapi dengan amal; kemudian dalam jiwa dan perasaan-perasaannya, bukan dalam akal dan pendapat-pendapatnya; kemudian secara umum, tanpa pengecualian dan kekhususan. Itulah rahasia kesulitannya bagi jiwa dengan apa yang diwajibkannya kepadanya. Karena filsafatnya adalah bahwa jiwa ini adalah dasar dunia, dan sistem akhlak adalah dasar jiwa, dan amal yang terus-menerus adalah dasar sistem, dan roh amal yang terus-menerus terdapat dalam apa yang agak sulit namun tidak mencapai kesukaran dan kesempitan, sebagaimana terdapat dalam apa yang agak mudah namun tidak mencapai kemalasan dan kelalaian.

Jiwa memiliki dua wajah: yang diumumkan dan yang disembunyikan. Tidak ada kejujuran bagi pengumumannya hingga nuraninya jujur, tidak ada kebaikan bagi yang terlihatnya hingga yang tersembunyi di dalamnya baik, dan manusia sosial tidak akan menjadi baik secara tampak hingga ia demikian secara tersembunyi.

Dunia juga memiliki dua wajah: masa kininya yang dijalaninya, dan masa depannya yang membentang untuknya. Tidak akan berhasil masa kini yang terputus yang tidak mewariskan apa setelahnya sebagaimana mewarisi apa sebelumnya. Masa kini kemanusiaan tidak lain adalah bagian dari amal manusia dalam kelangsungan keutamaan-keutamaan mereka yang kekal dan berkembang.

Sistem juga memiliki dua wajah: sistem keinginan atas ketaatan dan ketenangan kepadanya, dan sistem keinginan atas ketakutan dan penolakan kepadanya. Tidak akan lurus urusan yang dasarnya bukan ketaatan dalam jiwa, dan tidak akan berlanjut sistem yang ada pertentangan darinya dalam pemikiran yang mengamalkannya.

Amal yang terus-menerus memiliki dua cara: salah satunya cara orang serius yang bekerja untuk akibat yang diyakininya, maka ia tidak menemukan dari yang menyulitkannya kecuali kelezatan perjuangan untuk kemenangan: setiap kepahitan dari sisinya adalah kemanisan darinya kemudian, dan ia tidak mengenal bagi cobaan yang menimpanya kecuali makna sebenarnya yaitu membangunkan jiwanya. Maka kesabaran di sisinya menjadi seperti kesabaran pencinta terhadap hal-hal dari yang dicintainya; kesabaran yang di dalamnya ada sihir yang menyelimuti kekurangan dalam beberapa waktu dengan bayangan kenikmatan, dan memberi rasa pada jiwa dalam ketidakmampuan terhadap beberapa tujuannya, kelezatan seperti kelezatan meraihnya.

Itulah filsafat Islam; tidak ada tegaknya perkara di dalamnya dan tidak ada pegangannya kecuali dengan menetapkan makna kelangsungan untuk semua amal jiwa, dan meletakkan cap surga pada amal-amal surga, dan cap neraka pada amal-amal neraka—dan melindungi setiap individu manusia dengan perlindungan latihan praktis antara waktu dan waktu, bahkan antara menit dan menit, dengan apa yang dibebankan dari amal-amal tubuh dan indera-inderanya, kemudian amal-amal hati dan niatnya—dan membesarkan kepribadian rohani bukan kepribadian materi, sehingga tidak berusaha setiap manusia menjadikan perutnya berukuran kerajaan atau kota atau desa, dengan mengurangi hak-hak orang lain; melainkan meluas kekhususan setiap individu dengan apa yang menjadi haknya atas masyarakat dari kewajiban-kewajiban kemanusiaan. Dengan ini bukan dengan yang lain ditetapkan ukuran-ukuran akhlak di bumi dengan kemaslahatan bukan dengan kelezatan, sehingga tidak terjadi kesalahan dan pemalsuan, dan terselesaikan masalah sosial selama kehidupan tidak menemukan dari ahlinya setiap saat simpul-simpul di dalamnya.

Penguasaan dengan makna itu atas akal dan perasaan adalah satu-satunya cara untuk menciptakan tabiat kebaikan pada manusia sesuai pola alaminya, sebagaimana ia satu-satunya cara untuk membersihkan sejarah kemanusiaan dari wabah-wabah ekonominya, yang menjadikannya seolah-olah ia adalah sejarah gigi dan geraham, dan membiarkan manusia saling menghancurkan satu sama lain, sebagaimana tetangga menghancurkan dinding tetangganya untuk memperluas rumahnya.

Dasar amal dalam Islam adalah menundukkan kehidupan kepada akidah, sehingga akidah menjadikannya lebih kuat dari kebutuhan. Maka orang fakir menjadi tidak memiliki apa-apa namun menjaga diri, orang kaya menjadi mampu namun bersedekah, orang rakus menjadi tamak namun menahan diri, orang kuat menjadi mampu namun mengekang diri. Sebagaimana orang Arab berkata dalam merealisasikan hukum harga diri dan semangat serta mengalahkannya atas hukum ekonomi: “Orang mulia kelaparan dan tidak makan dengan kedua susunya”. Kemanusiaan menginginkan perluasan selain perluasan dagangnya di bumi, dan membutuhkan makna yang memimpin manusianya selain binatang yang ada padanya. Jika burung gagak memimpin suatu kaum, maka ia hanya—sebagaimana kata penyair kita—”melewati mereka di atas bangkai-bangkai anjing”. Kemanusiaan hari ini dalam seperti malam buas yang gelap tercampur sebagiannya dalam sebagian, dan makna-makna Islam tidak lain adalah pancaran ilahi atas kepadatan materi yang menumpuk ini. Jika lampu diangkat, engkau tidak akan menemukan kegelapan kecuali di belakang batas-batas yang dicapai sinar-sinarnya.

Kita telah mengetahui dari tabiat jiwa bahwa kemanusiaan individu tidak menjadi besar dan tinggi dan membayangkan dan gembira dengan kegembiraan yang jujur dan sedih dengan kesedihan yang tinggi, kecuali ia hidup dalam yang dicintai. Maka kemanusiaan dunia tidak akan menjadi seperti itu kecuali jika ia hidup dalam nabinya yang alami, nabi akhlak yang benar dan adab yang tinggi dan sistem yang teliti. Di mana engkau menemukan kekasih terbesar ini kecuali dalam Muhammad dan agama Muhammad?

Aneh bahwa orang-orang Muslim tidak mengetahui hikmah menyebut Nabi yang agung lima kali dalam azan setiap hari, dipanggil namanya yang mulia memenuhi udara; kemudian hikmah menyebutnya dalam setiap shalat dari yang fardhu, sunnah, dan nafal, dibisikkan namanya yang mulia memenuhi jiwa! Bukankah hikmah dari itu kecuali diwajibkan kepada mereka untuk tidak terputus dari nabi mereka walau satu hari dari sejarah, dan walau satu bagian dari hari? Sehingga waktu membentang seberapa pun membentangnya dan Islam seolah-olah masih di awalnya, dan seolah-olah di harinya bukan di masa yang jauh. Dan Muslim seolah-olah bersama nabinya di hadapannya yang membangkitkannya roh risalah, dan bersinar dalam jiwanya pancaran kenabian, sehingga ia selalu dalam urusannya seperti Muslim pertama yang mengubah wajah bumi. Dan tampak Muslim pertama ini dengan akhlak, keutamaan, dan semangatnya di setiap pelosok dunia menggantikan manusia pelosok itu, bukan sebagaimana kita lihat hari ini. Karena setiap tanah Islam hampir tidak tampak di dalamnya kecuali manusia sejarahnya dengan kebodohan, khurafat, dan apa yang diwarisi dari masa lampau. Di sini Muslim Firaun, di satu sisi Muslim penyembah berhala, di satu negeri Muslim Majusi, di satu arah Muslim yang meniadakan… Padahal Islam tidak menginginkan kecuali jiwa Muslim yang manusiawi.

Wahai Muslim!

Jangan terputus dari nabimu yang agung, dan hiduplah di dalamnya selamanya, jadikanlah ia teladan tertinggimu. Ketika engkau mengingatnya setiap saat, jadilah seolah-olah engkau di tangannya; jadilah selalu seperti Muslim pertama; jadilah selalu anak mukjizat.

 

 

Hakikat Muslim:

Sejarah tidak mengenal selain Muhammad ﷺ seorang lelaki yang Allah tuangkan keberadaannya dalam keberadaan kemanusiaan seluruhnya; sebagaimana materi dituangkan ke dalam materi, untuk bercampur dengannya lalu mengubahnya, lalu menghasilkan darinya yang baru. Maka kemanusiaan berubah dengannya dan berkembang, dan ia ﷺ menjadi keberadaan yang mengalir di dalamnya sehingga kemanusiaan ini tidak berhenti berkembang dengannya dan berubah.

Makna kemanusiaan dalam kemanusiaan ini seolah-olah lemah karena lamanya zaman atasnya, menguranginya dan menghapusnya dan menimpanya dengan keburukan dan kemungkaran. Maka Allah membangkitkan sejarah akal dengan Adam baru yang dengannya dunia memulai evolusi tertingginya dari tempat manusia bangkit atas dirinya, sebagaimana dimulai dari tempat manusia ada dalam dirinya. Maka kemanusiaan di masanya berada di antara dua: salah satunya membuka jalan kedatangan dari surga, dan yang kedua membuka jalan kembali kepadanya. Pada Adam ada rahasia keberadaan kemanusiaan, dan pada Muhammad ada rahasia kesempurnaannya.

Oleh karena itu agama disebut “Islam”; karena ia adalah penyerahan jiwa kepada kewajibannya, yaitu kepada kebenaran dari kehidupan sosial. Seolah-olah Muslim mengingkari dirinya lalu menyerahkannya kepada kemanusiaan untuk mengurusnya dan menggunakannya dalam kesempurnaan dan kemuliaan-kemuliaannya. Maka tidak ada bagian baginya dari jiwanya yang dipegangnya untuk syahwat dan manfaat-manfaatnya, tetapi bagi kemanusiaan dengannya ada bagian.

Islam secara keseluruhan tidak lain adalah prinsip ini, prinsip pengingkaran diri dan “penyerahannya” dengan taat dalam suka dan duka untuk fardhu dan kewajiban-kewajibannya. Setiap kali ia mundur ke kecenderungan hewaninya, pemiliknya menyerahkannya kepada pengekang ilahinya. Ia selamanya melatihnya pada gerakan ini selama ia hidup, maka menariknya setiap hari dari khayalan-khayalan dunianya, untuk meletakkannya di hadapan kebenaran ilahinya. Ia melatihnya pada itu setiap hari dan malam lima kali yang disebut dalam bahasa lima shalat, tidak akan menjadi Islam tanpanya. Maka tidak aneh shalat dengan makna ini sebagaimana digambarkan Nabi ﷺ adalah tiang agama.

Di antara waktu-waktu dalam setiap terbit matahari dari kehidupan Muslim ada shalat, yaitu penyerahan jiwa kepada kehendak sosial yang menyeluruh yang berdiri atas ketaatan kepada fardhu ilahi, dan pengingkaran terhadap makna-makna dirinya yang fana yang merupakan bahan keburukan di bumi, dan pengakuannya sesaat dalam wilayah kebaikan murni yang jauh dari dunia dan syahwat, dosa, dan kemungkarannya. Makna semua itu adalah realisasi Muslim terhadap keberadaan rohnya; karena amal-amal dunia secara keseluruhan adalah jalan-jalan yang di dalamnya roh-roh bercerai-berai dan bertebaran, hingga roh saudara tersesat dari roh saudaranya sehingga mengingkarinya dan tidak mengenalnya!

Keberadaan rohani ini adalah sumber keadaan akal yang datang oleh Islam untuk membimbing kemanusiaan kepadanya, keadaan kedamaian rohani yang menjadikan perang dunia yang merusak sebagai perang di luar jiwa bukan di dalamnya, dan menjadikan kekayaan manusia diukur dengan apa yang ia perlakukan Allah dan kemanusiaan dengannya. Maka emas dan peraknya bukan apa yang tertulis di atasnya negara-negara: “dicetak di kerajaan begini”, tetapi apa yang ia lihat telah tertulis di atasnya “dibuat di kerajaan jiwaku”. Oleh karena itu keberadaan sosialnya bukan hanya untuk mengambil, tetapi juga untuk memberi. Karena hukum harta adalah pengumpulan, sedangkan hukum amal adalah pemberian.

Dengan berpaling kepada shalat dan mengumpulkan niat untuknya, Muslim merasakan bahwa ia telah menghancurkan batas-batas duniawi yang mengelilingi jiwanya dari waktu dan tempat, dan keluar darinya menuju rohaniah yang tidak dibatasi di dalamnya kecuali oleh Allah saja.

Dengan berdiri dalam shalat, Muslim merealisasikan bagi dirinya makna menuangkan pemikiran luhur pada seluruh tubuh, untuk bercampur dengan keagungan dan ketenangan alam semesta, seolah-olah ia makhluk yang tegak bersama makhluk-makhluk yang bertasbih dengan memuji-Nya.

Dengan menghadap kiblat dalam arahnya yang tidak berubah meskipun berbeda kedudukan bumi, Muslim mengetahui hakikat simbol untuk pusat yang tetap dalam rohaniah kehidupan, maka ia membawa hatinya makna ketenangan dan kestabilan atas daya tarik dan kegelisahan dunia.

Dengan rukuk dan sujud di hadapan Allah, Muslim merasakan jiwanya makna keluhuran dan ketinggian atas segala yang selain Khaliq dari keberadaan alam semesta.

Dengan duduk dalam shalat dan membaca tahiyyat yang baik, Muslim duduk di atas dunia memuji Allah dan memberi salam kepada nabinya dan malaikat-malaikatnya dan bersaksi dan berdoa.

Dengan salam yang mengeluarkannya dari shalat, Muslim menghadapi dunia dan penghuninya dengan menghadapi yang baru dari sisi kedamaian dan rahmat.

Ia adalah saat-saat dari kehidupan setiap hari dalam selain hal-hal dunia ini; untuk mengumpulkan syahwat dan mengikatnya antara waktu dan waktu lain dengan rantai dan belenggu dari gerakan-gerakan shalat, dan untuk merobek kefanaan lima kali setiap hari dari jiwa, sehingga Muslim melihat dari belakangnya hakikat keabadian, maka roh merasakan bahwa ia tumbuh dan meluas.

Ia adalah lima shalat, dan ia juga lima kali hati dikosongkan dari apa yang dipenuhinya dari dunia. Maka betapa telitinya dan indahnya dan benarnya sabdanya ﷺ: “Dijadikan penyejuk mataku dalam shalat”.

Islam dalam hakikatnya tidak lain adalah kreativitas untuk rumus ilmiah yang di dalamnya kemanusiaan teratur. Oleh karena itu semua adabnya adalah penjaga bagi hati mukmin, seolah-olah ia malaikat-malaikat dari makna-makna. Dan Islam dengannya adalah amal perbaikan yang dengannya terjadi evolusi di dunia naluri, memindahkannya ke dunia akhlak, kemudian mengangkat akhlak kepada kebenaran, kemudian meninggikan kebenaran kepada kebaikan umum. Maka ia ketinggian di atas kehidupan dengan tiga lapisan, dan bertingkat menuju kesempurnaan dalam tiga tempat, dan menjauh dari khayalan dengan jarak tiga kebenaran.

Dengan amal-amal dan adab-adab itu, dunia Muslim yang didirikan Nabi ﷺ menjadi dunia yang menyerahkan tabiatnya, sehingga menjadi atas apa yang dikehendaki Muslim bukan apa yang dikehendaki

Dan dengan perbuatan-perbuatan dan adab-adab itulah dunia Islam yang didirikan oleh Nabi ﷺ menjadi dunia yang menyerahkan sifat dasarnya, sehingga menjadi sebagaimana yang dikehendaki kaum Muslim, bukan sebagaimana yang dikehendaki dunia itu sendiri; seolah-olah dunia itu berdiri dengan hukum-hukum dari penduduknya, bukan atas penduduknya; dan tampak bahwa Islam menaklukkan bangsa-bangsa dengan perantaraan orang Arab dan membuka negeri-negeri mereka, tetapi hakikatnya adalah bahwa suatu wilayah dari dunia ini sedang memerangi seluruh wilayah bumi dengan sifat dasar akhlak yang baru dari agama ini.

Seolah-olah Allah Swt melemparkan ke dalam pasir Jazirah Arab ruh lautan, dan membangkitkannya dengan kebangkitan ilahi untuk perintah-Nya, maka Nabi ﷺ adalah titik pasang yang darinya lautan itu bergolak, dan kaum Muslim adalah gelombang-gelombangnya yang dengannya dunia ini dicuci bersih. Karena itu kaum Muslim yang pertama mendengar kalam Allah Swt dalam kitab-Nya, dan kalam Rasul-Nya ﷺ, bukan sebagaimana mereka mendengar perkataan, tetapi sebagaimana mereka menerima keputusan yang berlaku dan telah ditetapkan; dan mereka tidak menemukan di dalamnya hanya kefasihan saja, melainkan keagungan perintah langit dalam kefasihan; dan mereka berhubungan dengan Nabi mereka, kemudian satu sama lain, bukan sebagaimana manusia berhubungan dengan manusia, melainkan sebagaimana gelombang-gelombang berhubungan dengan kekuatan pasang, kemudian sebagaimana sebagian mendorong sebagian yang lain dalam satu kekuatan.

Dan mereka merealisasikan dalam kesempurnaan beliau ﷺ keberadaan jiwa mereka; maka mereka berada dari perhiasan-perhiasan hidup dan kebatilannya di posisi kebenaran yang di dalamnya sesuatu dapat dilihat sebagai tidak ada apa-apa.

Dan mereka melihat dalam kehendak beliau ﷺ titik tetap dalam apa yang saling bertentangan dari khayalan-khayalan jiwa; maka mereka menjadi ahli akhlak terbesar di bumi, bukan dari buku-buku atau ilmu atau filsafat, melainkan dari hati Nabi mereka semata.

Dan mereka mengenal melalui beliau ﷺ kesempurnaan kejantanan; dan apabila kejantanan ini sempurna kesempurnaannya dalam seseorang, maka kanak-kanak kembali kepadanya dalam rohnya, dan dia memiliki sifat dasar yang tidak dimiliki kecuali oleh filosof dan orang bijak terbesar, sehingga dia menjadi seolah-olah berjalan dalam kehidupan menuju surga dengan langkah-langkah yang tepat sasaran yang tidak menyimpang dan tidak menyimpang, maka tidak ada kejahatan dan tidak ada keburukan; dan dunianya adalah seluruh dunia dengan matahari dan bulannya, dia memilikinya meskipun tidak memiliki sesuatu pun darinya, selama di hatinya ada sifat dasar kegembiraan, maka tidak ada kemiskinan dan tidak ada kekayaan dengan makna yang dirasakan manusia, melainkan segala yang mungkin maka itu adalah kekayaan sempurna, karena kekuatan tidak lagi berada dalam materi yang bertambah dengan bertambahnya dan berkurang dengan berkurangnya, melainkan kekuatan berada dalam ruh yang mengelola dengan sifat dasar keberadaan, dan mendorong kekuatan-kekuatan tubuh dengan dorongan-dorongan seperti masa kanak-kanak yang tumbuh dan menang, hingga membuat dari cahaya dan udara apa yang dijadikan lauk dengan roti kering, sebagaimana dijadikan lauk dengan daging dan makanan-makanan lezat.

Dan dengan demikian tidak ada kebutuhan yang menguasai tubuh -seperti lapar dan kemiskinan dan kesakitan dan sebagainya- kecuali penguasaannya itu seolah-olah perintah dari suatu kekuatan dalam keberadaan kepada suatu kekuatan dalam tubuh ini, untuk muncul dan melakukan pekerjaan ajaibnya dalam membatalkan kebutuhan ini. Dan jenis manusia ini seperti bunga-bunga di atas dahan-dahan hijaunya; seandainya mereka berkata sesuatu niscaya mereka berkata: Sesungguhnya kekayaanku dalam hidup adalah hidup itu sendiri, maka tidak ada kemiskinan bagiku dan tidak ada kekayaan, melainkan sifat dasar atau tidak ada sifat dasar.

Dan sungguh seorang Muslim memukul dengan pedang di jalan Allah, maka pukulan-pukulan pedang mengenai tubuhnya dan mencabik-cabiknya; namun dia tidak merasakan itu kecuali seolah-olah itu adalah ciuman sahabat-sahabat dari malaikat yang menemuinya dan memeluknya!

Dan dia diuji dalam dirinya dan hartanya, namun dia tidak merasa dalam hal itu bahwa dia adalah orang yang ditimpa musibah dan diuji yang mengenal di dalamnya kesedihan dan kepatahan, melainkan muncul padanya kemanusiaan yang menang sebagaimana sejarah yang menang muncul dalam pahlawan besarnya yang terkena luka di setiap tempat dari tubuhnya, maka itu adalah luka dan cacat dan kesakitan, dan itu adalah syahadat kemenangan!

Dan beban-beban seorang Muslim dari dunianya bukanlah beban-beban atas jiwanya, melainkan baginya merupakan sebab-sebab kekuatan dan ketinggian; seperti elang yang diciptakan untuk lapisan-lapisan udara tinggi, dan selalu memikul demi lapisan-lapisan itu beban kedua sayapnya yang besar.

Dan kebenaran -yang dijadikan Nabi ﷺ sebagai teladan tertinggi mereka, dan ditetapkan-Nya dalam jiwa mereka dengan seluruh akhlak dan perbuatan-perbuatan beliau- adalah bahwa semua keutamaan wajib atas setiap Muslim untuk dirinya, karena sesungguhnya itu wajib dengan setiap Muslim atas orang lain, maka tidak ada dalam umat kecuali satu kehendak yang saling bekerja sama, yang menjadikan Muslim dan apa yang merupakan ruh umatnya bekerja dengannya pekerjaan-pekerjaan umat itu sendiri bukan pekerjaan-pekerjaannya saja.

Muslim adalah manusia yang meluas dengan manfaat-manfaatnya dalam makna sosialnya di sekitar seluruh umatnya, bukan manusia sempit yang berkumpul di sekitar dirinya dengan manfaat-manfaat ini; dan dia dari orang lain dalam kejujuran perlakuan sosial seperti pedagang dari pedagang; amanah berkata kepada keduanya: tidak ada nilai bagi timbanganmu kecuali jika dibenarkan oleh timbangan saudaramu.

Dan Islam tidak akan benar sepenuhnya hingga menjadikan pemegangnya teladan dari Nabinya dalam akhlak Allah; maka dia bukanlah pribadi yang mengendalikan sifat dasarnya; mengalahkannya sekali dan dikalahkan berulang kali; tetapi sifat dasar yang mengendalikan pribadinya maka itu adalah hukum keberadaannya.

Tidak goncang dari sesuatu, dan bagaimana dia goncang sedangkan bersamanya ada kestabilan? Tidak takut dari sesuatu, dan bagaimana dia takut sedangkan bersamanya ada ketenteraman? Tidak takut pada makhluk, dan bagaimana dia takut sedangkan bersamanya ada Allah?

Wahai singa! Apakah engkau secara keseluruhan kecuali dalam sifat dasar cakar dan taringmu?

 

 

Wahyu Hijrah

Sesungguhnya sejarah berbicara dengan bahasa yang lebih luas dari kata-katanya jika dibaca oleh orang yang membacanya sebagai sebagian dari hukum-hukum keberadaan, yang di dalamnya jiwa manusia digambarkan bagaimana tujuan-tujuannya berubah-ubah, dan bagaimana dia meluas dalam susunannya, dan bagaimana dia meresap dalam jalan-jalannya, dan apa yang datang kepadanya maka dia mengalirkannya dengan alirannya, dan apa yang mendorongnya maka dia turun darinya ke tempat kediamannya, maka itu bukanlah perkataan yang kau terima untuk kau baca di dalamnya, tetapi keadaan-keadaan dari keberadaan yang kau hadapi yang mengubah perasaanmu dengan ilham dan mimpi-mimpinya, dan kau mengambilnya dari satu sisi maka dia mengambilmu dari sisi yang lain; maka kata di baliknya ada makna, di baliknya ada sifat dasar, di baliknya ada sebab dan hikmah; dan setiap peristiwa di dalamnya ada kemanusiaannya dan keilahinya bersama, dan keberadaan dalam pikiranmu seperti jam yang menggambar untukmu batas detik dengan dua gerakan, dan batas menit dari bilangan terbatas detik-detik, dan batas jam hingga batas hari; dan penjelasan dalam dirimu dari semua pinggiran ini, dan sejarah dalam apa yang kau baca bervariasi dalam lahir dan batinnya yang melindungimu dari kata-kata dan makna-maknanya dengan bayangan-bayangan yang merupakan hubunganmu engkau wahai yang hidup yang ada dengan rahasia-rahasia apa yang dahulu ada.

Demikianlah kemarin aku membaca sejarah Hijrah Nabawi dalam kitab Abu Ja’far ath-Thabari untuk menulis tentangnya kata-kata ini, maka aku tidaklah -Allah mengetahui- dalam kitab dan tidak dalam hikayat, melainkan dalam alam yang terpancar dalam jiwaku tercipta sempurna dengan penduduknya, dan peristiwa-peristiwa penduduknya, dan rahasia-rahasia penduduknya semuanya, sebagaimana pencinta melihat kekasihnya, yang indah tidak berada di tempat kecuali tempat itu dipenuhi oleh pencintanya, maka itu adalah tempat dari jiwa, bukan dari dunia saja, dan di dalamnya kehidupan sebagaimana adanya dalam keberadaan dengan wujud materi, dan sebagaimana adanya dalam cinta dengan wujud ruh.

Dan itu adalah keadaan membaca dengan ruh dan menulis dengan ruh, apabila kau naik kepadanya kau melihat di dalamnya selain makna mengeluarkan makna, dan dari tiada menciptakan sesuatu-sesuatu, karena kau darinya berhubungan dengan rahasia-rahasia dirimu, dan dari dirimu berhubungan dengan rahasia-rahasia di atasnya; maka sejarah menjadi bersamamu seni keberadaan manusiawi dengan wujud yang dengannya hikmah sampai kepada kehidupan untuk berlanjut dengan jiwa manusiawi, bukan seni ilmu manusia dengan wujud yang dengannya peristiwa-peristiwa sampai dari antara kehidupan dan kematian.

Nabi ﷺ tumbuh di Makkah, dan diangkat menjadi nabi pada usia empat puluh tahun, dan berlalu tiga belas tahun beliau berdakwah kepada Allah sebelum hijrah ke Madinah, maka tidak ada dalam Islam pada awal mulanya kecuali seorang laki-laki dan seorang perempuan dan seorang anak: adapun laki-laki itu adalah beliau ﷺ, adapun perempuan itu adalah istrinya Khadijah, adapun anak itu adalah Ali putra pamannya Abu Thalib.

Kemudian pertumbuhan pertama dalam Islam adalah dengan seorang merdeka dan seorang budak: adapun yang merdeka adalah Abu Bakar, adapun budak itu adalah Bilal, kemudian pertumbuhan berlanjut sedikit demi sedikit dengan lambatnya kekhawatiran dalam perjalanannya, dan sabarnya orang merdeka dalam ketabahannya; seolah-olah sejarah berdiri tidak bergeser, sempit tidak meluas, beku tidak tumbuh; seolah-olah Nabi ﷺ adalah saudara matahari, keduanya terbit sendirian setiap hari. Hingga ketika terjadi Hijrah setelah itu, maka Rasul pindah ke Madinah, dunia mulai berguncang, seolah-olah beliau berjalan dengan kakinya di atas pusatnya maka menggerakkannya; dan langkah-langkahnya dalam hijrahnya menggaris di bumi, dan makna-maknanya menggaris dalam sejarah; dan jarak antara Makkah dan Madinah, dan maknanya antara Timur dan Barat.

Sungguh beliau di Makkah menawarkan Islam kepada orang Arab sebagaimana emas ditawarkan kepada orang-orang primitif, mereka melihatnya berkilau dan bersinar kemudian tidak ada nilainya bagi mereka, dan mereka tidak membutuhkannya, padahal itu adalah kebutuhan anak Adam kecuali orang-orang primitif, dan mereka dalam pertentangan dan penentangan yang bodoh, dan sampainya dakwah beliau ke tingkat khayalan dan dongeng-dongeng, sebagaimana orang sakit dada dengan orang yang mengajaknya di malam yang dingin untuk mengobati tubuhnya dengan sinar bintang-bintang; dan Makkah ini adalah batu geografis yang hancur dan tidak melunak, seolah-olah setan sendiri meletakkan batu ini dalam aliran waktu untuk menghalangi dengannya sejarah Islam dari dunia dan penduduknya.

Dan Rasulullah ﷺ disakiti, dan didustakan dan dihina, dan lembah bergetar dengannya beliau melangkah di dalamnya di atas gempa yang bergolak, dan kaumnya memusuhinya dan saling menyemangati dalam hal beliau, dan sebagian dari mereka menghasut sebagian yang lain atas beliau, dan umumnya manusia berpaling darinya dan meninggalkannya kecuali yang Allah pelihara dari mereka; maka beliau tertimpa yatim besar dari kaumnya, sebagaimana tertimpa yatim kecil dari kedua orang tuanya.

Dan beliau tidak mendengar tentang pendatang dari orang Arab yang memiliki nama dan kehormatan, kecuali beliau menghadapinya dan mengajaknya kepada Allah dan menawarkan dirinya kepadanya; meskipun demikian dakwah tetap tampak dan menghilang sebagaimana kilat menyambar dari awan di langit, tidak lain hanya terlihat kemudian tidak ada apa-apa setelah terlihat! Maka ini adalah sejarah sebelum Hijrah dalam keseluruhan maknanya, hanya saja aku tidak membacanya sebagai sejarah, melainkan aku membaca di dalamnya bab yang menakjubkan dari hikmah ilahi, yang Allah letakkan sebagai pengantar untuk sejarah Islam di bumi; pengantar dari peristiwa-peristiwa dan hari-hari yang hidup dan berlalu dalam susunan kisah ilahi yang menyimpan lambang-lambang dan rahasia-rahasianya, dan di dalamnya muncul rahmat Allah bekerja dengan keras, dan hikmah Allah bermanifestasi dalam kesamaran; maka seandainya kau teliti pandangan niscaya kau lihat sejarah Islam menjadi ilahi dalam masa ini, sehingga jiwa yang beriman tidak membacanya kecuali dengan khusyuk seolah-olah sedang shalat, dan tidak mentadabburinya kecuali dengan tunduk seolah-olah sedang beribadah.

Islam dimulai dengan seorang laki-laki dan seorang perempuan dan seorang anak, kemudian bertambah seorang merdeka dan seorang budak; bukankah kelima ini adalah semua tingkatan kemanusiaan dalam keberadaannya, yang diciptakan dalam kemanusiaan dan alam, dan dibuat dalam politik dan masyarakat; maka di sini adalah permulaan qasidah, dan awal lambang dalam syair sejarah.

Dan Nabi ﷺ tinggal tiga belas tahun kaumnya tidak menginginkan baginya kecuali keburukan, padahal beliau terus menerus berusaha mencari kemudian tidak menemukan, menawarkan kemudian tidak diterima darinya, dan gagal kemudian tidak didatangi keputusasaan, dan berjuang kemudian tidak dikhianati kebosanan, dan terus berlanjut maju tidak menyimpang, dan bertekad tidak berubah; bukankah ini adalah makna-makna tertinggi pendidikan manusiawi yang Allah tampakkan semuanya dalam Nabi-Nya, maka beliau mengamalkannya dan teguh atasnya, dan tiga belas tahun dalam makna ini seperti umur anak yang lahir dan tumbuh dan disempurnakan pendidikannya dengan peristiwa-peristiwa, hingga diserahkan kepadanya kejantanan sempurna dengan makna-maknanya dari masa kanak-kanak sempurna dengan sarana-sarananya?

Bukankah ini bab filosofis yang teliti mengajarkan kaum Muslim bagaimana seharusnya Muslim tumbuh, kekayaannya di hatinya, dan kekuatannya dalam imannya, dan tempatnya dalam kehidupan adalah tempat yang bermanfaat sebelum yang diuntungkan, dan yang memperbaiki sebelum yang meniru; dan dalam dirinya dari kekuatan hidup apa yang dengannya mati dalam jiwa ini lebih banyak apa yang ada di bumi dan manusia dari syahwat dan tamak?

Kemudian bukankah faktor-faktor akhlak itu adalah yang dilemparkan ke dalam sumber sejarah Islam agar arusnya minum darinya; maka mendorongnya dalam alirannya di antara umat-umat, dan menjadikan dari ciri-ciri khusus Islam yang paling khusus di dunia ini, keteguhan pada langkah maju meskipun tidak maju, dan pada kebenaran meskipun tidak terealisasi; dan berlepas diri dari egois meskipun jiwa kikir atasnya, dan meremehkan kelemahan meskipun berkuasa dan menguasai, dan melawan kebatilan meskipun menang dan mengalahkan, dan memikul manusia pada kebaikan murni meskipun mereka membalas dengan keburukan, dan bekerja untuk bekerja meskipun tidak mendatangkan sesuatu, dan kewajiban untuk kewajiban meskipun tidak ada di dalamnya faedah besar, dan tetapnya laki-laki sebagai laki-laki meskipun dihancurkan oleh segala yang di sekelilingnya?

Kemudian itu adalah bukti-bukti yang berdiri untuk masa yang berdiri seperti mercusuar di pantai atas kenabian Muhammad ﷺ yang membuktikan dengan bukti filsafat dan ilmu jiwa bahwa beliau adalah ruh dan tujuan-tujuannya yang pasti dengan takdir, bukan jasad dan sarana-sarananya yang menang dengan alam; seandainya beliau adalah laki-laki yang dibangkitkan oleh dirinya sendiri, niscaya beliau mencari-cari tipu daya untuk politiknya, dan menimbulkan tamak dari setiap yang ditamakan, dan diam dengan peristiwa-peristiwa dan bangkit, dan tidak akan berlanjut sepanjang masa ini tidak mengarah sedangkan beliau sendiri kecuali arah kemanusiaan seluruhnya seolah-olah beliau adalah kemanusiaan itu.

Seandainya beliau adalah laki-laki kerajaan atau laki-laki politik, niscaya lurus dan bengkok, dan meraih apa yang dicari dalam beberapa tahun sedikit, dan menciptakan peristiwa-peristiwa untuk bergantung padanya, dan tidak melepaskan apa yang ada darinya untuk bergantung padanya, dan tidak mencabut dirinya dari tempatnya di kaumnya padahal beliau adalah perantara di antara mereka, dan tidak membiarkan faktor-faktor waktu menjauhkannya padahal itu mendekatkannya.

Mereka berkata: Sesungguhnya pamannya Abu Thalib mengirim kepadanya ketika Quraisy berbicara kepadanya maka dia berkata kepadanya: Wahai putra saudaraku, sesungguhnya kaummu telah datang kepadaku dan berkata kepadaku: begini dan begini, maka kasihanilah aku dan dirimu, dan jangan kau bebankan kepadaku dari perkara apa yang tidak aku sanggup. Maka Rasulullah ﷺ menyangka bahwa pamannya telah berubah pikiran tentang beliau, dan bahwa dia akan mengecewakan dan menyerahkannya, dan bahwa dia telah lemah dari menolongnya dan berdiri bersamanya, maka beliau berkata: “Wahai pamanku, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku tinggalkan perkara ini hingga Allah menampakkannya atau aku binasa karenanya, aku tidak akan meninggalkannya.” Kemudian Rasulullah ﷺ menangis.

Wahai air mata kenabian! Sungguh kau telah membuktikan bahwa jiwa besar tidak akan dihibur dari sesuatu darinya dengan sesuatu dari selainnya apa pun itu, tidak dari emas bumi dan peraknya, dan tidak dari emas langit dan peraknya jika matahari diletakkan di satu tangan dan bulan di tangan yang lain.

Dan semua peristiwa masa sebelum Hijrah sepanjangnya tidak lain hanyalah dalil waktu itu bahwa itu adalah waktu nabi, bukan waktu raja atau politisi atau pemimpin; dan dalil kebenaran bahwa keyakinan teguh ini bukanlah keyakinan manusia sosial dari segi kekuatannya, melainkan keyakinan manusia ilahi dari segi hatinya; dan dalil hikmah bahwa agama ini bukan dari akidah-akidah yang dibuat yang disebarkan penularan jiwa kepada jiwa; maka ini dia tidak mencapai pengikutnya dalam tiga belas tahun lebih dari apa yang dicapai sebuah keluarga yang beranak pinak dalam masa ini; dan dalil kemanusiaan bahwa itu adalah wahyu Allah dengan mewujudkan persaudaraan dunia dan kesatuan manusiawi. Bukankah keluarnya beliau dari tanah airnya adalah terealisasinya beliau di dunia?

Tiga belas tahun, adalah tiga belas dalil yang membuktikan bahwa Nabi ﷺ bukanlah laki-laki kerajaan, bukan politik, bukan kepemimpinan; seandainya beliau salah satu dari mereka niscaya meraih dalam sedikit; dan bukan pencipta syariat dari dirinya, jika tidak niscaya tidak berlalu di kaumnya seolah-olah beliau tidak menemukan mereka padahal mereka di sekelilingnya; dan bukan pemilik ide yang menggunakan cara-cara jiwa dalam penyebarannya; seandainya demikian niscaya memikul mereka pada yang murni dan yang tercampur; dan bukan laki-laki yang bergantung pada kebetulan-kebetulan sosial, seandainya beliau demikian niscaya menjadikan iman sehari kafir sehari; dan bukan pembaharu suku yang mendidik darinya sekadar apa yang diterima darinya secara politik dan tipu daya, dan bukan laki-laki tanah airnya yang tujuannya agar menjulang di tanahnya menjulangnya gunung di dalamnya, tanpa mencoba apa yang dicapainya dari memandang dunia pandangan langit pada bumi, dan bukan laki-laki masa kininya jika beliau yakin selalu bahwa bersamanya esok dan yang datang, meskipun hari ini dan yang pergi berpaling darinya; dan bukan laki-laki tabiat manusiawinya yang mencari untuknya apa yang dicari orang lapar untuk perutnya, dan bukan laki-laki kepribadiannya yang memikat dengannya dan menyihir, dan bukan laki-laki kekuasaannya yang menang dengannya dan berkuasa, dan bukan laki-laki bumi di bumi, tetapi laki-laki langit di bumi.

Inilah hikmah Allah dalam mengatur Nabi-Nya sebelum Hijrah, menahan darinya ujung-ujung waktu, dan mengurungnya dari tiga belas tahun dalam seperti satu tahun, dan tidak mengeluarkan dengannya perkara-perkara dari sumber-sumbernya agar membuktikan bahwa perkara-perkara itu tidak keluar dengannya, dan tidak pantas dengannya kebenaran untuk menunjukkan bahwa itu bukan dari kekuatan dan perbuatannya.

Dan beliau ﷺ atas hal itu -sedangkan beliau dalam batas dirinya dan sempitnya tempatnya- meluas dalam waktu dari segi yang tidak dilihat seorang pun dan tidak diketahuinya, seolah-olah matahari hari yang akan menang di dalamnya -sebelum terbit di dunia tiga belas tahun- bersinar dalam hati beliau ﷺ.

Dan musim dari tahun tidak dimajukan manusia dan tidak diakhirkan, karena dia dari perjalanan alam semesta seluruhnya; dan awan tidak mereka nyalakan kilat-Nya dengan pelita-pelita, dan bersama Nabi dari semacam itu bukti Allah atas risalahnya, hingga turun firman-Nya: “Dan perangilah mereka hingga tidak ada fitnah dan agama semuanya untuk Allah” [Al-Baqarah: 193] maka terhallah musim, dan terlepas lah petir, dan terjadilah Hijrah.

Itulah pengantar ilahi untuk sejarah, dan adalah wajar sejarah berlanjut setelahnya, hingga Harun ar-Rasyid berkata kepada awan ketika melewatinya: “Hujanilah di mana kau mau maka akan datang kepadaku pajakmu!”

 

 

Filosofi Kisah

Khadijah istri Nabi ﷺ wafat dan pamannya Abu Thalib juga meninggal dalam satu tahun yang sama, yaitu pada tahun kesepuluh dari kenabian. Betapa besar musibah kedua kepergian ini bagi beliau, karena pamannya ini melindungi beliau dari gangguan kaum Quraisy dan selalu berdiri membela beliau sehingga mereka tidak dapat menyakiti beliau. Abu Thalib di kalangan Quraisy bagaikan keyakinan politik yang secara alamiah merupakan kekuatan yang berpengaruh atas kekuatan suku. Karena itulah, dialah satu-satunya masalah psikologis yang kompleks yang berusaha keras dipecahkan oleh kaum Quraisy, dan berdirilah pertempuran Islam yang pertama antara kehendak mereka dengan kehendaknya. Mereka adalah suatu umat yang dikuasai oleh kata-kata sosial yang beredar tentang mereka di antara suku-suku, dan sejarah mereka adalah apa yang diucapkan lidah berupa makna pujian dan celaan. Mereka lebih takut pada perkataan daripada serangan, dan mereka mungkin tidak peduli dengan yang terbunuh dan terluka di antara mereka, tetapi mereka sangat peduli dengan kata-kata yang menyakitkan.

Maka termasuk dari keindahan perbuatan Allah untuk Islam dan keajaiban pengaturan-Nya dalam melindungi Nabi-Nya ﷺ adalah menempatkan kekuatan psikologis ini di awal sejarah kenabian, sehingga kesembronoan kaum Quraisy disibukkan dengannya, dan hal itu menjadi pekerjaan untuk mengisi kekosongan spiritual mereka, serta membangkitkan dalam diri mereka masalah politik yang menghambat hukum biadab mereka sampai selesainya kerja sebab-sebab tersembunyi yang akan menghancurkan hukum ini. Sesungguhnya pabrik Ilahi tidak mengeluarkan karya-karya agung yang sempurna kecuali dari bagian-bagian yang halus.

Adapun Khadijah istri Nabi ﷺ, dalam cobaan ini dia menjadi hati yang menyatu dengan hati beliau yang agung, dan bagi jiwa beliau dia bagaikan kata “ya” untuk kata yang benar yang dikatakan semua orang “tidak” kepadanya. Wanita sempurna yang dicintai akan selalu memberikan kepada pria apa yang kurang dari makna-makna kehidupan, dan melahirkan kegembiraan baginya dari perasaannya sebagaimana dia melahirkan dari rahimnya. Maka keberadaan bekerja dengannya dengan dua pekerjaan besar: yang pertama menambah kehidupan dalam tubuh-tubuh, dan yang lain menyempurnakan kekurangannya dalam makna-makna.

Ketika Abu Thalib dan Khadijah meninggal, Nabi ﷺ menjadi sendirian dengan tubuh dan hatinya, agar terbebaskan dari keadaan yang didominasi perasaan kepada keadaan yang didominasi kehendak, kemudian agar keluar dari hari-hari kestabilan di tanahnya menuju hari-hari yang bergerak bersamanya dalam hijrahnya, kemudian agar berakhirlah dengan itu batas kebangsaan kecilnya yang terbatas, sehingga bersambung dari itu dengan awal keuniversalannya yang besar.

Allah Swt berkehendak memulai yang mulia dan agung ini dari sifat-sifat tertinggi kemuliaan dan keagungan, agar awal urusan beliau menjadi kesaksian atas kesempurnaannya. Maka kebaikan dalam diri beliau disaksikan oleh keburukan kaumnya, kesabaran beliau disaksikan oleh kecerobohan mereka, ketabahan beliau dengan dalil kegaduhan mereka, dan kebijaksanaan beliau dengan bukti kebodohan mereka. Dengan demikian tampaklah yang spiritual sebagai spiritual dalam materi.

Mereka berkata: Kaum Quraisy menyakiti beliau dan mereka sampai kepada gangguan terhadap beliau yang tidak pernah mereka capai semasa hidup pamannya, hingga sebagian mereka menaburkan tanah di atas kepala beliau, seakan-akan mereka mengajari beliau bahwa dia lebih hina bagi mereka daripada seorang yang merdeka, apalagi menjadi mulia, apalagi menjadi nabi. Mereka berkata: Maka Rasulullah ﷺ masuk ke rumahnya dengan tanah di atas kepalanya, lalu salah seorang putrinya bangkit menghampiri beliau untuk mencuci tanah itu darinya sambil menangis!

Dia menangis karena tidak tahu bahwa tanah di atas kepala Nabi yang agung ini adalah penyimpangan kehidupan duniawi yang rendah dalam menghadapi manusianya yang menyimpang dan menyendiri. Segenggam tanah duniawi ini adalah genggaman orang bodoh yang berusaha mencegah kerajaan-kerajaan Islam yang agung untuk tumbuh dan bekerja dalam sejarah. Maka dalam ukuran, kebodohan, dan usahanya, ia seperti akal kaum Quraisy ketika itu dalam ukuran, kebodohan, dan usahanya.

Adapun Nabi ﷺ berkata kepada putrinya: “Wahai putriku, jangan menangis, sesungguhnya Allah akan melindungi ayahmu.” Dia mengira itu sebagai kehinaan dan kemiskinan, maka beliau memberitahunya bahwa segenggam tanah tidak akan mengubur bintang, dan bahwa tumpukan tanah ini tidak disebut pertempuran yang ditimbulkan oleh kuda-kuda sehingga menghasilkan hasil, dan bahwa sejam kesedihan dalam sehari tidak menentukan hukuman atas seluruh waktu, dan bahwa nafsu yang bergerak sekarang ini adalah kebodohan ketololan: kekuatannya adalah akhirnya.

“Wahai putriku, jangan menangis, sesungguhnya Allah akan melindungi ayahmu.” Artinya tidak ada bagi Nabi kebanggaan yang dapat dicapai manusia atau mereka abaikan sehingga datanglah air mata menerjemahkan makna kemanusiaan yang kurang dan membuktikan bahwa ia kurang. Sesungguhnya ini adalah kenabian: hukumnya berbeda dari apa yang biasa jiwa alami berupa kegembiraan dan kesedihan. Dan ini adalah kenabian: menjadikan orang yang dipilih untuknya tidak terbatas oleh tubuhnya yang lemah, bahkan batas-batasnya adalah kebenaran-kebenaran yang di dalamnya terdapat kekuatannya. Maka dia dalam perlindungan kenyataan yang pasti terjadi. Seandainya mungkin menghapus sehari dari waktu atau menundanya dari waktunya, mungkinlah menunda Nabi atau menghapusnya.

“Wahai putriku, jangan menangis, sesungguhnya Allah akan melindungi ayahmu.” Tidak – demi Allah – tidak ada yang mengucapkan kata ini kecuali nabi yang merangkul sejarah dalam jiwanya yang besar sebelum sejarah ini ada di dunia. Maka kata-katanya adalah iman dan keyakinan ketika dia berbicara tentang yang ada.

Tanah yang ditaburkan orang bodoh di atas kepala Nabi! Celakalah engkau wahai kehinaan materi; sesungguhnya ketinggianmu adalah laknat, sesungguhnya ketinggianmu adalah laknat.

Mereka berkata: Rasulullah ﷺ keluar sendirian menuju Thaif, mencari dari suku Tsaqif pertolongan dan perlindungan baginya dari kaumnya. Ketika sampai di Thaif, beliau mendatangi sekelompok dari suku Tsaqif yang pada waktu itu adalah pemimpin dan bangsawan mereka. Beliau duduk bersama mereka lalu menyeru mereka kepada Allah dan berbicara kepada mereka dengan apa yang dibawa beliau untuk mereka berupa pertolongan dan berdiri bersamanya dalam Islam melawan siapa saja dari kaumnya yang menentangnya. Mereka tidak mau melakukannya dan menghasut orang-orang bodoh dan budak-budak mereka untuk mencaci dan berteriak kepadanya, hingga orang-orang berkumpul mengelilingi beliau dan memaksanya masuk ke kebun milik Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah yang keduanya berada di sana. Orang-orang bodoh suku Tsaqif yang mengikutinya pun kembali darinya. Maka beliau ﷺ menuju naungan pohon anggur lalu duduk di sana, sementara kedua putra Rabi’ah memandang beliau dan melihat apa yang beliau alami dari orang-orang bodoh.

Ketika beliau ﷺ tenang di tempat duduknya, beliau berdoa: “Ya Allah, kepada-Mu aku mengadu kelemahan kekuatanku, sedikitnya daya upayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Yang Maha Penyayang di antara yang penyayang, Engkau adalah Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapa Engkau serahkan aku? Apakah kepada orang jauh yang bermuka masam kepadaku, ataukah kepada musuh yang Engkau kuasakan atas urusanku? Jika tidak ada kemarahan-Mu atasku, aku tidak peduli, tetapi keselamatan-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang dengannya terang-benderang kegelapan, dan baik dengannya urusan dunia dan akhirat, dari turunnya kemarahan-Mu kepadaku atau hinggapnya kemurkaan-Mu atasku. Bagi-Mu segala teguran hingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu.”

Alangkah sempurnanya kemanusiaan ini yang membuktikan bahwa kekuatan akhlak adalah derajat yang lebih tinggi dari akhlak itu sendiri. Ini adalah seni kesabaran bukan hanya kesabaran, dan seni kelembutan bukan hanya kelembutan.

Kekuatan akhlak itulah yang menjadikan orang besar tetap teguh di pusat sejarahnya, tidak goyah dalam sejarah-sejarah manusia, dibatasi oleh keagungan kepribadiannya yang abadi bukan oleh kepentingan pribadinya yang fana, memandang dalam kehidupan kepada kedudukan tetap kebenaran bukan kepada kedudukan yang berubah dari manfaat.

Tidaklah para bangsawan itu beserta orang-orang bodoh dan budak-budak mereka kecuali makna-makna kezaliman, kejahatan, dan kelemahan yang berkata kepada Nabi agung yang datang menghapus dan mengalahkan mereka: “Sesungguhnya kami adalah hal-hal tetap dalam kemanusiaan.”

Tidak ada dari mereka para bangsawan, orang bodoh, dan budak, tetapi ada dari mereka kesewenang-wenangan, perbudakan, dan kecerobohan yang ketiganya mengejek nabi keadilan, kebebasan, dan akal. Mereka tidak mengejek kecuali diri mereka sendiri.

Hal-hal kecil kehidupan telah mengepung kemuliaan kehidupan, untuk membuktikan hal-hal kecil bahwa mereka adalah hal-hal kecil, dan untuk membuktikan kemuliaan bahwa ia adalah kemuliaan.

Kedua kelompok itu adalah dua pemikiran yang selalu bermusuhan di bumi: yang satu hiduplah untuk makan dan bersenang-senang walau menghancurkan, dan yang lain hiduplah untuk bekerja dan bermanfaat bagi manusia walau binasa.

Takdir sedang menghadapkan roh yang luas ini dengan roh yang sempit itu, agar yang luas terlepas dari tempatnya dan menyambut dunia yang harus diciptakannya. Maka para bangsawan, orang bodoh, dan budak itu tidak lain adalah kesempitan, kemandegan, dan kehinaan hidup, di sekeliling keluasan rohani, ketinggian, dan kesucian kehidupan.

Berdirilah makna langit di antara makna-makna bumi, tetapi cahaya matahari terbentang di atas tanah dan tanah tidak mengotorinya. Dan ia bukan cahaya yang menerangi lebih dari ia adalah kekuatan yang bekerja dengan unsur-unsur yang secara alamiah mengubah, dalam unsur-unsur yang sudah seharusnya berubah.

Dan ada antara Nabi ﷺ dan para pengejek itu kekuatan lain, yaitu kemampuan yang bekerja dengan nabi ini untuk seluruh dunia. Dengan kemampuan ini Nabi tidak memandang kaum Quraisy dan serangan mereka kepadanya kecuali sebagaimana memandang sesuatu yang telah berlalu. Maka keberadaan yang mengelilinginya seakan tidak ada, dan hakikat masa depan menjadikan masa sekarang tanpa hakikat.

Dan kepada kemampuan inilah Nabi ﷺ mengarahkan doa yang fasih dan abadi itu, mengadu bahwa beliau adalah manusia yang di dalamnya ada kelemahan dan sedikitnya daya upaya. Maka berbicaralah sisi kemanusiaannya dengan bagian pertama doa menyebutkan kesendirian dan dampak kesendirian, dan merasakan sakit karena apa yang ada antara beliau dengan kemanusiaan kaumnya. Kemudian berbicaralah sisi rohaninya setelah itu sampai akhir doa menghadap kepada sumber Ilahi-nya dengan mengatakan pertama kali: “Jika tidak ada kemarahan-Mu atasku, aku tidak peduli.”

Demi umurku, seandainya matahari berbicara berdoa kepada Allah, niscaya tidak akan keluar dari makna ini dan tidak akan menambah dari ucapannya: “Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu” mencari dari sumber cahaya azali perlindungan keberadaannya yang sempurna.

Sungguh mereka telah mengejek Almasih as sebelumnya, maka dia berkata kepada para pengejeknya: “Tidak ada nabi tanpa kemuliaan kecuali di negerinya dan di rumahnya.” Dengan ini dia membalas mereka balasan orang yang terlepas dari mereka, dan berkata kepada mereka perkataan orang yang tidak memiliki hukum atas mereka, dan mengambil mereka dengan syariat akhlak bukan praktis. Karena beliau as bagaikan hikmah yang melayang, bukan untuk setiap hati dan bukan untuk setiap akal, tetapi untuk siapa yang dipersiapkan untuknya. Dan syariatnya kebanyakan dalam ungkapan dan sedikitnya dalam amal, dan tidak datang dengan kekuatan yang bekerja maka tidak ada jalan kecuali meletakkan nasihat di tempat pedang, dan berdiri atas larangan lebih dari berdiri atas perintah, dan menjadi seperti matahari musim dingin yang indah: bumi tidak mendidih karenanya, dan sesungguhnya kerjanya adalah mempersiapkan bumi ini untuk musim yang lain.

Adapun Nabi kita ﷺ tidak menjawab para pengejek, karena kekuatan yang tersembunyi di seluruh negeri Arab tersembunyi dalam dirinya, dan dada beliau yang agung membawa untuk dunia kata baru yang dunia tidak mau memperlakukan beliau dengannya kecuali dengan cara perangnya. Maka beliau tidak membalas balasan penyair yang menginginkan dari kata makna yang fasih, tetapi beliau diam diamnya pembuat undang-undang yang tidak menginginkan dari kata kecuali kerjanya ketika berbicara. Dan dalam diamnya ada banyak perkataan dalam filsafat kehendak, kebebasan, dan perkembangan, dan bahwa kaum itu pasti berubah, dan bahwa pohon yang gundul ini pasti bertunas dengan daun baru hijau yang tumbuh dengan kehidupan.

Beliau tidak marah dan tidak berkata apa-apa, dan beliau bagaikan tukang yang tidak membalas kesalahan alat dengan marah atau putus asa, tetapi dengan mengulurkan tangannya untuk memperbaikinya.

Mereka berkata: Kedua putra Rabi’ah, Utbah dan Syaibah melihat apa yang dialami Nabi ﷺ dari orang-orang bodoh, maka tergeraklah belas kasihan mereka kepadanya. Mereka memanggil budak mereka yang beragama Nasrani bernama Addas, lalu berkata kepadanya: “Ambillah setandan anggur ini dan letakkan dalam piring itu, kemudian pergilah dengannya kepada orang itu dan katakan kepadanya untuk memakannya.” Addas pun melakukannya kemudian mendatangi beliau hingga meletakkannya di hadapan Rasulullah ﷺ. Ketika beliau meletakkan tangannya, beliau berkata: “Bismillah” kemudian makan. Addas memandang wajah beliau kemudian berkata: “Demi Allah, sesungguhnya ini adalah perkataan yang tidak diucapkan penduduk negeri ini.”

Rasulullah ﷺ berkata kepadanya: “Dari negeri mana kamu wahai Addas dan apa agamamu?”

Dia berkata: “Aku beragama Nasrani dan aku orang dari penduduk Niniwa.” Rasulullah ﷺ berkata kepadanya: “Dari kampung orang saleh Yunus bin Mata?” Dia berkata: “Apa yang membuatmu tahu siapa Yunus bin Mata?” Beliau ﷺ berkata: “Itu saudaraku, dia adalah nabi dan aku adalah nabi.”

Maka Addas mencium kepala, tangan, dan kaki Rasulullah ﷺ.

Sungguh mengherankan lambang-lambang takdir dalam kisah ini! Sungguh kebaikan, kemuliaan, dan penghormatan bergegas datang meminta maaf atas kejahatan, kebodohan, dan kecerobohan, dan datanglah ciuman-ciuman setelah kata-kata permusuhan.

Kedua putra Rabi’ah adalah di antara musuh Islam yang paling keras, dan termasuk orang yang mendatangi Abu Thalib paman Nabi ﷺ dari kalangan bangsawan Quraisy meminta agar dia menahan beliau dari mereka atau membiarkan antara mereka dan beliau, atau bertarung dengan beliau hingga salah satu dari dua kelompok binasa. Maka berbalik naluri buas menjadi makna kemanusiaannya yang dibawa agama, karena masa depan agama adalah untuk pikiran bukan untuk naluri.

Dan datanglah agama Nasrani memeluk Islam dan memuliakan, karena agama yang benar dari agama yang benar bagaikan saudara dari saudaranya, hanya saja nasab persaudaraan adalah darah dan nasab agama-agama adalah akal.

Kemudian takdir menyempurnakan lambangnya dalam kisah ini dengan setandan anggur yang segar, manis, penuh kemanisan. Maka dengan nama Allah setandan anggur itu menjadi lambang untuk gugusan Islam yang agung ini yang penuh buah, setiap buahnya adalah kerajaan.

 

 

Di Atas Kemanusiaan * Isra dan Mikraj:

Hal yang paling mengherankan yang terjadi pada saya adalah bahwa saya telah selesai menulis artikel ini dengan kasar, kemudian saya ingin menyalinnya, namun hal itu menjadi sulit bagi saya dan saya dijauhkan darinya dengan rasa sakit yang hebat yang menimpa saya, dan saya mengalami berat di kepala; kemudian Allah membukanya setelah sehari, lalu saya meninjau kembali tulisan itu, dan tiba-tiba pena saya mengalir dengan kata-kata ini:

Bagaimana mungkin kaum Muslim menerima kelemahan, padahal di awal agama mereka ada penundukan alam? Bagaimana mereka mencari ketenangan, padahal di permulaan sejarah mereka ada perbuatan mukjizat besar? Bagaimana mereka condong kepada kebodohan, padahal perintah pertama mereka adalah puncak tertinggi ilmu pengetahuan? Bagaimana mereka tidak membawa cahaya untuk dunia, padahal Nabi mereka adalah makhluk bercahaya yang paling agung?

Kisah Isra dan Mikraj adalah kekhususan Nabi kita Muhammad ﷺ, bintang kemanusiaan yang agung ini; dan dia adalah cahaya yang menjelma untuk membimbing dunia dalam kebingungan kegelapan jiwanya; karena langit manusia menjadi gelap dan terang dari dalam dirinya dengan tujuan-tujuan dan makna-maknanya. Dan Allah SWT telah menciptakan untuk dunia bumi satu matahari yang meneranginya dan menghidupkannya serta berganti-ganti atasnya dengan malam dan siangnya, namun Dia membiarkan setiap manusia untuk membuat bagi dirinya sendiri matahari hatinya dan awan serta awan mendungnya dan apa yang tersingkap dengannya dan apa yang menggelapkannya. Karena itulah Al-Quran disebut cahaya karena pengaruh adab-adabnya dalam jiwa, dan orang-orang beriman digambarkan bahwa mereka “cahaya mereka berjalan di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka” [Al-Hadid: 12], dan pengaruh iman dan takwa dalam ungkapan Al-Quran adalah bahwa Allah membuat bagi orang-orang beriman cahaya yang mereka hirup dengannya.

Para mufassir telah bingung dalam hikmah penyebutan “malam” dalam ayat “Isra” dari firman Allah SWT: “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Kami” [Al-Isra: 1]. Karena perjalanan malam (al-sura) dalam bahasa Arab hanya terjadi pada malam hari. Dan hikmahnya adalah isyarat bahwa kisah ini adalah kisah “bintang” kemanusiaan yang agung yang berubah dari kemanusiaannya menjadi cahaya langitnya dalam mukjizat ini, dan yang menyempurnakan keajaiban ini adalah bahwa ayat-ayat “Mikraj” tidak datang kecuali dalam surat: “Wan-Najm” (Demi Bintang).

Berdasarkan takwil bahwa penyebutan “malam” adalah isyarat kepada kisah bintang, maka ayat itu menjadi bukti bagi dirinya sendiri, dan dalam susunannya telah datang sebagai mukjizat dari mukjizat-mukjizat bayan; jika dikatakan: bahwa bintang beredar di langit, atau menempuh jarak yang ditempuh bintang-bintang yang melampaui perhitungan, apakah dalam hal itu ada yang mengherankan? Dan apakah ada keraguan atau pandangan atau keragu-raguan? Dan bukankah itu hanya sebagian dari yang bertasbih dengan zikir Allah? Dan bukankah itu hanya ayat yang terhubung dengan ayat-ayat yang kita lihat bagaikan keterhubungan sebagian wujud dengan sebagian lainnya?

Dan saya hampir tidak habis heran dengan firman Allah SWT: “agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari ayat-ayat Kami” [Al-Isra: 1]. Meskipun lafaz-lafaznya sebagaimana engkau lihat terbuka dan jelas, dan engkau mengira tidak ada sesuatu di baliknya, padahal di baliknya ada rahasia terbesar; karena dengan ungkapan ini dinyatakan pengawasan Nabi ﷺ di atas waktu dan tempat, melihat tanpa hijab indra-indra yang kembali kepada kekuasaan Allah bukan kekuasaan dirinya; berbeda dengan seandainya ungkapannya: “agar dia melihat sebagian dari ayat-ayat Kami” karena ini menjadikannya bagi dirinya dalam batas-batas kekuatan dan indra-indranya serta waktu dan tempatnya, maka kalimat itu menjadi goyah, dan keberatan akan memasukinya dan tidak ada mukjizat di sana.

Dan pengubahan fi’il “melihat” dari satu bentuk ke bentuk lain sebagaimana engkau lihat, adalah tepat isyarat kepada pengubahan yang melihat dari satu bentuk ke bentuk lain sebagaimana akan engkau ketahui, dan ini adalah mukjizat lain yang akal bersujud kepadanya; maka Maha Berkah Allah yang menurunkan kalam ini!

Dan jika Rasulullah ﷺ adalah bintang kemanusiaan dalam cahayanya, maka hal itu tidak akan datang kecuali dari dominasi kerohanian atas materinya; dan jika kerohanian mendominasi maka kekuatan-kekuatan jiwanya siap di dunia untuk keadaan yang seperti keadaannya di akhirat; maka dia dalam mukjizat ini seperti udara yang bergerak. Maka katakan sekarang: apakah ada keberatan terhadap udara jika naik karena dia tidak naik dengan pesawat?

Karena itulah manusia jika naik satu tingkat dalam ketetapan kekuatan-kekuatan rohaninya, naik dengannya beberapa tingkat di atas dunia dan apa yang ada di dalamnya, dan makna-makna yang menundukkan orang lain dari manusia tunduk kepadanya, dan terlahir baginya hukum-hukum akhlak selain hukum-hukum yang dikuasai oleh hawa nafsu. Dan kapan saja sesuatu dari segala sesuatu wujud, maka sifat-sifat wujudnya adalah hukum-hukumnya; api misalnya jika menyala menciptakan pembakaran pada apa yang terbakar, jika diletakkan di dalamnya apa yang tidak terbakar maka membatalkan hukum-hukumnya dan menguasainya. Dan setiap mukjizat yang terjadi maka inilah jalannya dalam mewujudkan hukum-hukum khusus dengannya dan membatalkan hukum-hukum yang biasa, dan dengan ini dikatakan: bahwa mukjizat itu menembus kebiasaan. Dan dari cahaya ada cahaya yang tidak tembus kecuali udara, dan dari cahaya itu ada sinar “rontgen” yang ditembus olehnya dinding-dinding dan hijab-hijab; maka ini mukjizat dalam hal itu.

Dan Nabi tidak menjadi nabi hingga ada dalam kemanusiaannya manusia lain dengan hukum-hukum yang menjadikannya lebih dekat kepada malaikat dalam kerohanian mereka, dan manusia lahirnya tidak turun dari manusia batinnya kecuali pada kedudukan orang yang menerima dari orang yang memberi; maka yang batin itu adalah untuk hakikat-hakikat yang tidak dipikul dunia, dan yang lahir ini untuk apa yang mungkin sampai kepadanya kesempurnaan dalam teladan manusia tertinggi, dan seandainya tidak ada yang batin itu maka tidak ada nabi dari para nabi yang mampu memikul beban-beban umat yang lengkap yang tidak membuatnya lelah atau mengubahnya atau membuatnya lemah.

Maka hakikat kenabian adalah bahwa ia kekuatan dari wujud dalam manusia yang terpilih yang datang untuk memperbaiki wujud kemanusiaan dengannya agar menetap dalam kehewanan yang terdidik ini teladan tertingginya, dengan petunjuknya kepada jalan jiwanya bersama jalan alamiahnya, maka terjadilah bersama kemunduran ada kemajuan, dan bersama kekurangan ada kesempurnaan, dan bersama hukum naluri ada penguasaan terhadap naluri, dan bersama kegelapan materi ada penyinaran rohani.

Dan mukjizat-mukjizat itu tidak lain adalah urusan kekuatan batin itu bukan urusan manusia lahirnya, dan siapakah yang mengingkari bahwa kekuatan-kekuatan wujud adalah dalam dirinya sendiri mukjizat bagi akal manusia? Dan apakah ada yang mengingkari hari ini urusan kekuatan ini dalam “radio” ketika menyentuhnya lalu menjadikan kata yang dikirim antara Timur dan Barat, seperti kata antara dua orang yang berbicara dalam satu majelis?

Dan kita melihat mukjizat-mukjizat hipnotis magnetis dan apa yang dilihat orang yang tertidur dan apa yang didengarnya, dan apa yang tersingkap baginya dari yang di balik waktu dan tempat; dan hipnotis tidak lain adalah penguasaan diri batin dengan kekuatan-kekuatan rohaninya yang menakjubkan, atas diri lahir yang terikat dengan indra-indranya yang terbatas, maka menguasainya, lalu indra-indra menjadi mutlak tersebar dalam wujud seukuran apa yang ada padanya dari kekuatan-kekuatannya bukan seukuran apa yang ada padanya dari kekuatan pribadinya.

Dan dengan cara yang demikian itu orang rohani terhubung dengan diri batinnya, lalu menempatkan pribadi lahirnya dalam pengaruh, maka tersingkap baginya wujud, dan melihat apa yang terjadi pada jarak jauh, dan melihat apa yang akan datang sebelum datangnya; dan alam semesta dalam keadaan ini tidak lain seperti kekasih yang berkata kepada pencintanya yang telah jatuh cinta di hatinya: sesungguhnya aku telah memberimu cahaya yang dengannya engkau melihat kecantikanku.

Dan di antara para ilmuwan zaman kita ada yang berpikir tentang naik ke bulan, dan di antara mereka ada yang bekerja untuk berkomunikasi dengan planet-planet, dan di antara mereka ada yang terjadi padanya keajaiban-keajaiban dalam menghadirkan roh-roh dan menundukkannya; dan semua itu adalah awal bukti kosmis yang akan mengharuskan ilmu pengetahuan lalu memaksanya pada suatu hari untuk mengakui kebenaran Isra dan Mikraj.

Dan kita sebelum menyatakan pendapat kita tentang kisah itu, kita merangkumnya secara ringkas; karena hadis-hadis tentangnya berbeda dan terjadi percampuran yang banyak di dalamnya, lalu datang berbagai ragam dan jenis dari berbagai jalan, hingga sebagian orang mengumpulkannya dalam dua jilid, padahal tidak menampung semua itu atau sebagiannya, tetapi ruh periwayatan pada zaman itu seperti ruh jurnalistik pada zaman ini: apabila berkobar kobarnya menciptakan dari setiap ungkapan ungkapan lain, dan dengan cara ini keluar dari dua ungkapan ungkapan ketiga, maka asalnya adalah satu makna dan tiba-tiba ia memanjang dari kanan dan kirinya.

Dan mereka tidak melihat keberatan dalam hal itu; karena mereka menguatkan dengannya pendapat, dan melipatgandakan darinya keyakinan, dan menambah cahaya dalam nur makna, dan selama mereka telah menetapkan asal dan meyakininya, maka tidak mengapa bahwa ucapan saling menguatkan satu sama lain, dengan ijtihad dalam ungkapan, dan istinbath dari yang lain, dan penambahan dalam yang ketiga dari apa yang berhubungan dengannya, seperti apa yang kita lihat dari seni riwayat cerita; dimana gaya dan ungkapan berbeda-beda dan beragam, dan di bawahnya tidak ada kecuali satu hakikat yang tidak berbeda, dan cerita keagamaan dalam bahasa Arab ini adalah seni lengkap yang berdiri sendiri, dan akal serta khayalan dan perasaan tidak lebih hebat menciptakan darinya dan tidak lebih menakjubkan dan tidak lebih aneh.

Ini dalam matan kisah, adapun dalam kejadiannya maka mereka berbeda perbedaan lain: apakah Isra dan Mikraj itu dalam keadaan terjaga atau mimpi? Dan dengan roh saja, atau dengan roh dan jasad bersama-sama? Dan kami menyebutkan perbedaan ini karena ia adalah dalil pasti bahwa Nabi ﷺ tidak mengabarkan sesuatu dari hal itu, maka tidak menentukan bagi mereka satu segi dari segi-segi ini, dan hikmah dalam hal itu adalah bahwa akal mereka tidak mampu menampung pemahaman ilmiah yang dasarnya adalah apa yang diketahui hari ini tentang urusan listrik dan eter.

Dan kesimpulan yang didapat dari kisah itu: bahwa Rasulullah ﷺ sedang berbaring, lalu datang Jibril, lalu mengeluarkannya dari masjid, lalu menaikkannya ke Buraq, lalu membawanya ke Baitul Maqdis, kemudian masuk masjid lalu shalat di dalamnya, kemudian naik dengannya ke langit-langit, lalu Jibril meminta dibukakan satu persatu, maka dia melihat di dalamnya ayat-ayat Tuhannya, dan berkumpul dengan para nabi – shalawat Allah atas mereka – dan naik di langit demi langit ke Sidratul Muntaha, lalu menyelimutinya dari perintah Allah apa yang menyelimutinya, maka Rasulullah ﷺ melihat penampakan keindahan azali, kemudian dilemparkan dalam cahaya lalu Allah mewahyukan kepadanya apa yang diwahyukan. Adapun hiasan kisah dan coraknya adalah pintu menakjubkan dari simbol-simbol filosofis kemanusiaan yang disimbolkan dengannya untuk penjelmaan amal-amal dalam kehidupan ini: menjadi lelah dan terjadi manfaat, atau mencari manfaat dan syahwat dan terjadi mudarat dan kebodohan, kemudian musnah dari bentuk temporal yang dikira oleh pemiliknya ini dan itu, dan kekal bentuk-bentuk abadi yang datang dengan hakikat-hakikatnya.

Dan dari simbol-simbol indah ini ucapannya: “Lalu Jibril datang kepadaku dengan bejana berisi khamr dan bejana berisi susu, maka aku mengambil susu, lalu Jibril berkata: Engkau mengambil fitrah”. Dan bahwa dia melewati kaum yang menanam dan menuai setiap hari, setiap kali mereka menuai kembali seperti semula; lalu bertanya: “Apa ini?” Jibril berkata: Mereka ini para mujahid di jalan Allah, dilipatgandakan bagi mereka kebaikan tujuh ratus kali lipat. Kemudian datang kepada kaum yang kepala mereka dipecahkan dengan batu, setiap kali dipecahkan kembali seperti semula dan tidak berhenti dari mereka sesuatu dari hal itu; lalu berkata: “Apa ini?” Jibril berkata: Mereka ini yang kepala mereka berat untuk shalat. Kemudian datang kepada kaum yang di hadapan mereka daging matang dalam panci, dan daging lain mentah dalam panci busuk, lalu mereka makan dari yang mentah busuk dan meninggalkan yang matang; lalu berkata: “Siapa mereka ini?” Jibril berkata: Ini laki-laki yang padanya ada perempuan halal yang baik lalu dia mendatangi perempuan yang busuk, dan perempuan yang bangun dari suaminya halal baik lalu mendatangi laki-laki yang busuk. Kemudian datang kepada laki-laki yang telah mengumpulkan ikat besar tidak mampu memikulnya dan dia menambah atasnya, lalu berkata: “Apa ini ya Jibril?” berkata: Ini laki-laki yang padanya amanah-amanah manusia tidak mampu menunaikannya dan dia ingin memikul atasnya. Kemudian melihat perempuan-perempuan yang digantung dengan payudara mereka; lalu bertanya, maka Jibril berkata: Mereka ini yang memasukkan kepada laki-laki yang bukan dari anak-anak mereka.

Dan kami pada pendapat yang padanya jumhur ulama: bahwa Isra dan Mikraj adalah dengan jasad dan roh bersama-sama atas takwil yang akan kami jelaskan; dan menetapkan hal itu firman Allah SWT dalam surat “Wan-Najm”: “Ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dan tidak (pula) melampau batas” [An-Najm: 17]. Maka penglihatan tidak berpaling dan melampau batas kecuali dalam jasad, dan tidak dinafikan darinya hal itu kecuali dia dalam jasad. Dan tidak ada seorang pun dari mufassir yang memperhatikan makna mukjizat yang menakjubkan dalam firmanNya: “dan tidak (pula) melampau batas” [An-Najm: 17]; maka itu nash bahwa dia melihat dengan jasad yang telah berubah dari tabiat Adami yang terbatas maka tidak ada padanya sesuatu darinya; karena tidak ada melampaui batas penglihatan kecuali orang yang dikuasai khayalan atas dirinya dengan hawa nafsu jasad yang tidak lurus dengannya hukum atas hakikatnya, maka penglihatan tidak berpaling karena terikat indra, dan tidak melampau batas karena mutlak khayalan, tetapi adalah sebagaimana Allah memperlihatkannya dari ayat-ayatNya, yaitu adalah hakikat kosmis dalam selain keadaannya yang bumi yang kurang. Dan yang berkata: bahwa Isra dan Mikraj adalah ruya yang dilihat Nabi ﷺ berdalil untuk hal itu dengan firman Allah SWT: “Dan Kami tidak menjadikan ruya yang telah Kami perlihatkan kepadamu melainkan sebagai cobaan bagi manusia” [Al-Isra: 60]. Dan mufassir telah mencampur dalam hal ini juga, dan hanya ungkapan dengan lafaz “ruya” -yaitu yang terjadi dalam mimpi- untuk menafikan pengaruh indra-indra atas yang melihat, dan menetapkan bahwa tabiat Adami secara keseluruhan ada padanya seperti tidur dari kehidupan buminya dengan hakikat-hakikat dan khayalan-khayalannya bersama-sama, maka bukan tidur seperti yang tidur, dan bukan terjaga seperti yang terjaga.

Dan dalam dasar kisah ada Jibril dan Buraq, dan mereka adalah kekuatan malaikat dan kekuatan alam, atau ruh malaikat, dan ruh alam, dan Buraq tidak digambarkan sebagai hewan kecuali simbol, karena tidak mungkin bagi orang Arab memahami apa yang dimaksud darinya; dan menurut kami dia disebut Buraq dari kilat, dan kilat tidak lain adalah kelistrikan, dan inilah yang dimaksud darinya; maka itu kekuatan listrik apabila berdenyut mengumpulkan awal dunia dengan akhirnya; dan inilah hikmah bahwa ayat Isra tidak menyebutkan bahwa dia dibawa di atas sesuatu, karena tidak dibawa kecuali di atas ruh eter.

Dan selama kekuatan malaikat dan kekuatan alam telah ditundukkan baginya ﷺ maka tidak ada makna bahwa hal itu untuk roh tanpa jasad, bahkan berkumpulnya keduanya bersama-sama dalam kisah adalah dalil bahwa rahasia mukjizat hanya dalam memudahkan kesesuaian jasad mulianya untuk kedua keadaan ini; maka berubah dalam bentuk kosmis malaikat antara rahasia malaikat dan rahasia alam, dan ketika itu tidak berlaku atasnya hukum-hukum indra dan tidak hukum-hukum materi.

Dan mungkin jasad-jasad berubah ke keadaan eternya dalam beberapa keadaan luar biasa, dan dengan ini dijelaskan pelipatan bumi untuk sebagian orang rohani, dan dijelaskan banyak keajaiban dari apa yang terjadi dalam menghadirkan roh-roh untuk zaman ini, dan dari apa yang dilakukan fakir-fakir India, dan dari apa yang dibuat “Houdini” Amerika: dimana mereka membelenggunya dengan rantai dan belenggu kemudian melihatnya bebas; dan menghitungnya di penjara-penjara yang kuat dijaga oleh penjaga dan dipegangnya di dalamnya pintu-pintu dan dinding-dinding kemudian mendapatinya di beberapa hotel.

Dan tidak bagi akal mengingkari sesuatu dari ini dan semisalnya, karena susunan alam adalah jawaban atasnya, dan kekurangannya adalah jawaban atas dirinya sendiri, dan yang mustahil bagi orang buta adalah yang paling mudah dari yang mungkin bagi yang melihat.

Maka engkau melihat bahwa penyebutan Buraq dan malaikat dalam dasar kisah Isra dan Mikraj adalah hubungan kisah dengan mukjizat, dan dia tepat hubungannya dengan bukti; dan seandainya keduanya tidak ada dalam kisah maka tidak ada tafsir baginya. Dan kisah setelah itu menetapkan bahwa wujud ini menipis dan tersingkap dan bercahaya setiap kali manusia naik dengan rohnya, dan menebal dan mengental dan tertutup setiap kali turun dengannya, dan dia dari sisi Nabi ﷺ kisah yang menggambarkannya dengan penampakan kosmisnya dalam keagungan abadnya sebagaimana melihat diri sempurnanya dalam kerajaan Allah, dan dari sisi setiap muslim dari pengikutnya dia seperti pelajaran agar hati mukmin memiliki mikraj langit di atas dunia ini, untuk menyaksikan dengan mata batinnya cahaya-cahaya kebenaran, dan keindahan kebaikan, dan penjelmaan amal-amal kemanusiaan dalam bentuk-bentuk abadnya; maka dengan merenungkannya kisah seperti naik ke langit dan turun; maka merasa tenang kepada hakikat-hakikat dasar kehidupan ini, maka menolak dari dirinya dengan itu kerumitan khayalan yang adalah dasar bencana atas ruh.

Dan apabila hati bercahaya maka hidup dalam pemiliknya, dan hidup dalam seluruh wujud. Dan apabila kehidupan selamat dari kerumitan khayalan yang rusak maka tidak ada antara manusia dan Allah kecuali kehidupan yang adalah kebenaran dan kebaikan, dan tidak ada antara dia dan manusia kecuali kehidupan yang adalah rahmat dan cinta.

 

 

Kemanusiaan yang Luhur:

Di antara sifat-sifat Nabi Muhammad adalah bahwa beliau selalu bersedih hati, senantiasa berpikir, tidak memiliki waktu istirahat, banyak diam, tidak berbicara kecuali untuk keperluan, tidak kasar dan tidak menghina, menghargai nikmat sekecil apa pun dan tidak mencela apa pun darinya, tidak marah karena urusan dunia atau hal-hal duniawi, namun jika kebenaran dilanggar, tidak ada yang dapat menahan kemarahannya hingga kebenaran itu dibela, tidak marah untuk dirinya sendiri dan tidak membela dirinya sendiri. Beliau menundukkan pandangan, pandangannya ke bumi lebih lama daripada pandangannya ke langit. Siapa yang melihatnya secara tiba-tiba akan merasa takjub, dan siapa yang bergaul dengannya dengan mengenalnya akan mencintainya. Tidak ada seorang pun yang duduk bersamanya yang merasa bahwa ada orang lain yang lebih mulia di hadapannya. Beliau tidak menyembunyikan wajah cerianya dari siapa pun. Beliau merangkul semua orang dengan kelapangan dada dan akhlaknya, sehingga menjadi seperti ayah bagi mereka, dan mereka semua sama di hadapannya dalam kebenaran. Beliau memperbaiki yang baik dan memperkuatnya, serta mencela yang buruk dan melemahkannya. Beliau seimbang dalam urusan dan tidak berubah-ubah. Beliau adalah orang yang paling pemalu, tidak menatap tajam wajah siapa pun. Beliau memiliki cahaya yang menyelimutinya seolah-olah matahari bersinar di wajahnya. Beliau tidak pernah mengecewakan orang yang mengharapkannya, tidak mengecewakan orang yang meminta perlindungannya. Siapa yang meminta sesuatu kepadanya, beliau tidak menolaknya kecuali dengan memberikan apa yang diminta atau dengan perkataan yang baik. Beliau adalah orang yang paling dermawan dalam kebaikan.

Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada pemilik sifat-sifat ini yang tidak dapat ditemukan oleh kesempurnaan manusia jalan untuk menjauh darinya atau dari sebagian darinya, dan tidak dapat ditemukan oleh kekurangan manusia jalan untuk mencapainya atau sebagian darinya. Dalam sifat-sifat ini terdapat makna sempurna kemanusiaan, sebagaimana di dalamnya terdapat makna sempurna kebenaran, dan dari perpaduan keduanya terdapat makna sempurna keimanan.

Ini adalah sifat-sifat manusia agungnya, dan sifat-sifat ini berkumpul padanya agar kehidupan mengambil darinya kemanusiaan yang tinggi. Oleh karena itu, sifat-sifat ini menjadi bukti-bukti kenabian dan risalahnya.

Seandainya semua sifat-sifatnya dikumpulkan dan disusun satu sama lain, dan dipertimbangkan dengan rahasia-rahasia ilmiahnya, niscaya akan terlihat darinya alam makna yang halus yang berdiri pada manusia agung ini, sebagaimana alam besar ini berdiri dengan sunah-sunahnya dan dasar-dasar hikmah di dalamnya. Dan pasti akan diyakini bahwa Nabi yang mulia ini tidak lain adalah kamus jiwa yang hidup yang disusun oleh hikmah Ilahi dengan ilmu dari ilmu-Nya dan kekuatan dari kekuatan-Nya, untuk mendidik umat yang akan mencipta dunia dengan penciptaan baru dan menumbuhkannya dengan pertumbuhan yang dijaga untuknya dalam tahap-tahap kesempurnaannya.

Dan tidak akan dilihat dalam kemanusiaan yang lebih mulia dari berkumpulnya sifat-sifat ini satu sama lain. Saya hampir setiap kali merenungkannya, saya merasa kemuliaannya ini adalah takdir dan ketentuan untuk seorang manusia atas seluruh kemanusiaan. Ini adalah bukti bahwa dia adalah manusia yang diciptakan untuk dunia, bukan untuk dirinya sendiri. Dia tidak tumbuh dengan apa yang menjadi hak atas manusia, tetapi dengan apa yang menjadi kewajiban baginya terhadap manusia, seolah-olah dia adalah hakikat kosmik yang hidup kehidupannya, sehingga tidak ada dalam keberadaan kecuali untuk menetapkan keberadaannya sendiri, dan tidak berakhir ketika berakhir dengan dirinya sendiri kecuali untuk memulai maknanya pada yang lain. Maka beliau adalah manusia yang ditanam dalam sejarah untuk menjadi batas bagi suatu zaman dan awal bagi zaman setelahnya. Kehidupannya itu tidak lain adalah cara penanaman dirinya, dan beliau selamanya berdiri di tempatnya dalam masyarakat, karena zaman semakin maju semakin menguatkan penetapannya. Beliau telah menjadi di dunia seolah-olah sebagai arah dari arah-arah, bukan manusia dari manusia-manusia, sehingga tidak akan berubah atau terhapus kecuali jika Timur dan Barat berubah atau terhapus.

Dan ketika kita membaca sifat-sifat tersebut dan apa yang dipenuhi oleh kitab-kitab tentang akhlak mulia dari yang serupa dengannya, kita tidak membacanya sebagai sifat-sifat atau hiasan, tetapi kita melihatnya sebagai halaman Ilahi yang disusun dengan penyusunan yang paling indah dan teliti. Di balik penyusunannya terdapat tafsir panjang yang tidak dapat dituntun oleh pikiran manusia untuk yang lebih baik, lebih benar, atau lebih sempurna darinya. Sifat-sifat tersebut berkumpul pada manusianya seperti berkumpulnya bagian-bagian dalam masalah matematika, tidak sepatutnya ditambah atau dikurangi, karena dalam keseluruhannya terdapat apa yang dicari oleh keseluruhannya.

Keterkaitan antara bagian-bagian masalah hampir sama persis dengan gambaran keterkaitan antara bagian-bagian sifat-sifat mulia tersebut. Setiap bagian darinya ditempatkan pada posisi yang tidak akan sempurna keseluruhan kecuali dengannya, sehingga tidak ada tempat di dalamnya untuk kekurangan atau kelebihan. Inilah makna sabda beliau: “Tuhanku mendidikku, maka Dia memperbaiki pendidikanku.” Jika engkau teliti hadits ini, engkau akan memahami dari maknanya bahwa ada tabiat akhlak yang unik yang berjalan menurut hukumnya yang ditetapkan Allah untuknya dan disempurnakan dengannya.

Yang paling mengagumkan yang membuat kita takjub dari keseluruhan sifat-sifatnya adalah bahwa di dalamnya terdapat bukti yang jelas bahwa beliau diciptakan dengan penciptaan yang berbeda dengan sendirinya, seperti penciptaan hati manusia: keteraturannya adalah kehidupannya dan kehidupannya adalah keteraturannya. Seolah-olah beliau mengalami keadaan jiwa seperti yang dialami hati dalam merasakan bahaya yang mengeluarkannya dari tabiatnya kepada yang lebih kuat darinya, sehingga terus memberikan kepada anggota-anggota tubuh bantuan yang tidak pernah habis dari kekuatan dan kesabaran, menjadikan kehidupan di dalamnya berlipat ganda seolah-olah kehidupan yang tersembunyi dan muncul tiba-tiba. Dalam keadaan ini semua naluri jiwa menuju satu arah seolah-olah ditentukan dengan timbangan, dikontrol dengan ukuran, sehingga kembali dari pertentangan dan perbedaannya menjadi saling bekerja sama, saling membantu satu sama lain. Padahal hukum alaminya adalah saling tarik-menarik, saling jatuh, dan saling menafsirkan pekerjaan yang lain, sehingga datang dengannya sesuatu dan lawannya sekaligus: seperti jujur dan dusta, tamak dan qana’ah, syahwat yang bergejolak dan ketenangan yang diam, hingga akhir apa yang dihitung dari naluri-naluri ini. Tetapi dalam merasakan bahaya, naluri-naluri itu menjadi seperti yang serupa, bukan seperti yang berlawanan, sehingga saling menguatkan, dan yang bertentangan darinya menyempurnakan lawannya, dan semua berjalan dalam satu hukum: yaitu membela dengan bagian-bagiannya terhadap keseluruhannya. Maka terlihat yang condong darinya padahal dia dalam keadaan yang lebih kuat dari belenggu, seolah-olah di dalamnya selain tabiatnya.

Dan apakah keseluruhan sifat-sifatnya memberitahumu kecuali bahwa beliau hidup dengan kehidupan hati ketika apa yang di sekelilingnya berbeda dan dikejutkan dengan kejutan-kejutan keberadaan, sehingga melampaui menjadi sumber kehidupan menjadi penjaga kehidupan di sumbernya?

Dan keadaan itu – sebagaimana telah berlalu – menjadikan keberadaan manusia adalah keberadaan kehendak dan akalnya, bukan keberadaan syahwat dan nalurinya. Demikianlah hidup Nabi kita, sehingga beliau sepanjang hidupnya berada dalam keberadaan kehendaknya, tidak lainnya, hingga tidak ada jalan kepadanya untuk celaan atau teguran, seolah-olah beliau diciptakan dengan niat yang terjaga yang telah dibangunkan oleh apa yang membangunkan jiwa dari bahaya dan risiko. Mungkin perasaan ini dalam jiwanya adalah tafsir untuk sabdanya: “Niat orang mukmin lebih baik dari amalnya.” Hingga hadits-hadits banyak yang bermakna seperti kalimat yang komprehensif ini. Maksudnya: bahwa niat orang mukmin tidak mengandung kecuali kebaikan yang sempurna. Maka selama niatnya dalam kebaikan dan rahasianya dalam keikhlasan, dia tidak menganggap sedikit keburukan itu sedikit, dan tidak melihat banyak kebaikan itu banyak. Dasar yang berdiri dalam niat mukmin tersebut adalah agar tidak memulai keburukan supaya tidak ada, dan agar tidak mengakhiri kebaikan supaya tidak fana. Maka orang mukmin dari itu berada dalam kebaikan dan kesempurnaan selamanya, sementara amalnya dengan tabiat kemanusiaannya mencakup kebaikan dan keburukan semuanya, kemudian tidak menjadi kecuali amal manusiawi yang memiliki kekurangan, kegoncangan, dan kebengkokan.

Dan mungkin orang mukmin tidak mampu mendatangkan kebaikan dalam sebagian keadaannya, tetapi dia selalu mampu berniat, menginginkan, dan bertekad kepadanya, untuk merealisasikan hatinya dalam semua yang diniatkannya, dan membatasi pikirannya dalam hukum niat mukminnya. Inilah dasar dalam ilmu akhlak, tidak ada dasar selain darinya.

Dan niat setelah itu adalah penjaga amal. Setiap manusia mampu tunduk dan menolak, maka dari itu niat ini menjadi penolakan dan pembelaan dari satu sisi, dan respon serta ketundukan dari sisi lain. Maka sesungguhnya ketika baik, niat menjadi kemerdekaan penuh bagi kehendak, dan sekaligus menjadi kontrol bagi kehendak ini pada satu keadaan yang dengannya teratur hukum prinsip yang luhur. Kemudian tidak ada pengontrol kebenaran dan kelurusan amal kecuali niat yang benar dan lurus. Pemalsuan dan penyamaran keduanya mudah dan dimudahkan dalam amal, tetapi keduanya mustahil dalam niat jika ikhlas.

Dan niat juga pengontrol keutamaan yang mengarahkan hati-hati yang berbeda dan beragam kepada satu arah yang tidak berbeda, sehingga menjadi jalan antara manusia dengan manusia, dari sisi jalan antara manusia dengan Allah.

Dan kerinduan ruh dengan tabiatnya tidak berakhir, maka tubuh melawannya dengan menjadikan kebutuhannya tidak berakhir, berusaha menghapus yang itu dengan ini, dan mengalahkan hewaniah atas rohaniah. Jika niat terjaga, maka menahan dan mematikan sebagian besar kecenderungannya, dan meletakkan untuk setiap kebutuhan batas dan akhir. Dengan itu niat menjadi kekuatan dalam jiwa yang dengannya manusia keluar dari banyak hal yang membatasinya dari tubuhnya, untuk keluar dengan itu dari banyak hal yang membatasinya dari makna-makna bumi.

Dan setelah semua ini, niat memikul manusia untuk melihat kewajibannya seolah-olah pengawas hidup di hatinya, tidak riya kepadanya dan tidak menyanjung, tidak tertipu oleh takwil, tidak terperdaya oleh filsafat atau hiasan, tidak didiamkan oleh apa yang dibisikkan jiwa, dan selamanya berkata kepada manusia di hatinya: Sesungguhnya kesalahan terbesar adalah mengatur kehidupan di sekelilingmu dan membiarkan kekacauan di hatimu.

Dan ringkasan perkataan tentang makna-makna niat adalah bahwa niat adalah kekuatan yang menjadikan batin tubuh selaras dengan lahirnya, sehingga naluri-naluri yang berbeda dalam jiwa bekerja sama dengan mudah, alami, dan konsisten, sebagaimana anggota-anggota tubuh bekerja sama meski berbeda dengan konsistensi, kemudahan, dan kealamian.

Dan semua sifat Nabi – yang telah kami sebutkan dan yang belum kami sebutkan – ketika dipertimbangkan dengan dasar yang telah kami jelaskan, semuanya teratur, sehingga sebagiannya menjadi penyempurna sebagian yang lain dalam susunan matematika yang mengagumkan. Hikmah masing-masing menjadi jelas dan terbuka, dan terlihat dalam keseluruhannya menggambarkan untukmu umur yang geometris yang teliti yang telah mencapai puncak kesempurnaan, keagungan, dan ketelitian. Tidak ada bagian darinya yang dianggap bagian, tetapi semuanya adalah bagian-bagiannya, dan bagian-bagiannya adalah semuanya, seperti posisi geometris: entah ada dengan keseluruhannya, atau tidak ada geometri sama sekali di dalamnya.

Dan keseluruhan sifat-sifat tersebut dalam maknanya tidak lain adalah pembuatan manusia dengan pembuatan baru yang mengeluarkannya sebagai wujud dari dirinya sendiri, memecahkan cetakan bumi yang dia dituang di dalamnya dan menuangnya dalam cetakan seperti alam semesta. Maka dia bukan manusia sempit yang terbatas pada tubuh dan pendorong tubuhnya ini. Materi tidak menundukkannya, tidak didatangi dari buruknya pandangannya terhadap dirinya, dunia tidak memperdayanya, waktu tidak menahannya, karena ini adalah sifat-sifat yang diperbudak oleh hawa nafsunya, bukan yang bebas darinya, yang tunduk dengan dirinya bukan yang merdeka dengannya, yang terkubur dalam kemanusiaannya bukan yang hidup di atas kemanusiaannya. Dan seperti yang diperbudak, tunduk, dan terkubur ini tidak memiliki keberadaan kecuali dalam hukum inderanya, maka amalnya adalah apa yang dia hidup dengannya, bukan apa yang dia hidup untuknya, dan dia berhubungan dengan segala sesuatu dengan hubungan yang terputus yang berakhir pada hawa dari hawa-hawa binatang yang ada padanya.

Dan dari perbandingan yang mengagumkan bahwa dalam manusia sosial ada binatang, dihadapi oleh hikmah dalam binatang jinak dengan manusia, dan hikmah mereka satu dan logika mereka tidak berbeda. Jika engkau bertanya kepada binatang syaraf tentang pemiliknya manusia, dia akan berkata kepadamu: Dia adalah penghasilanku dan ladangku. Dan jika engkau bertanya kepada anjing tentang cintanya kepada pemiliknya dan sejauh mana cinta ini dalam jiwanya, dia tidak akan menambah dalam jawabannya selain bahwa dia mencintainya dengan cinta makanan dan tulang.

Dan ketika manusia dalam hukum inderanya, hal-hal tidak lagi padanya sebagaimana adanya dalam dirinya dengan makna-makna alami yang terbatas, dan berubah sebagaimana adanya dalam wahamnya dengan makna-makna yang beragam dan goncang. Maka seseorang tidak merasakan keselarasan keberadaan dan kerja samanya, tetapi perbedaan dan pertentangannya. Maka dari itu sebab-sebab kenikmatan tidak lain dari sebab-sebab dosa, dan masuk dalam setiap cinta ada benci, dalam setiap keinginan ada tamak, dalam setiap kebaikan ada keburukan, dalam setiap yang terang ada yang tersembunyi, dan seterusnya, karena semua ini pasti ada ketika yang fana mengalahkan yang kekal, dan semua ini pasti dalam memeragakan lakon indra yang menipu yang dasarnya adalah perubahan dan perubahan, hingga seolah-olah jiwa hanya hidup dengannya dalam lahir kehidupan, bukan dalam kehidupan itu sendiri.

Dan tipu daya ini menjadikan segala sesuatu dari hal-hal jiwa tidak dimulai kecuali untuk berakhir, kemudian tidak berakhir kecuali untuk dimulai. Maka jiwa ini terus berambisi kepada apa yang tidak dicapainya, dan dari itu terus menjadi sumber penderitaan inderiawinya. Kemudian ketika dia mencapai yang dicapainya, dia bosan, maka dari itu terus menjadi sumber lain penderitaan maknawiyahnya. Dan tidak akan datang yang benar dari yang tidak benar, maka seluruh alam tidak lain hanyalah dusta dalam jiwa yang berdusta dengan inderanya.

Oleh karena itu, sifat paling khusus beliau kembali kepada keluarnya dari kekuasaan dirinya, sehingga tidak marah untuknya, tidak melepaskannya dari dunia dalam apa yang dicela atau dipuji, tidak cinta padanya, dan tidak benci karenanya, tidak mengendurkannya, tidak melembutkannya dalam makanan dan pakaian, tidak mengambilnya kecuali dari sisi iman kepada Allah dan iman kepada kemanusiaan. Maka kegembiraannya adalah kesedihannya, harapannya adalah kerinduannya, kepemilikannya adalah amalnya, perhitungannya dalam tabiatnya, kejadian-kejadiannya dari akal bukan dari indra, keagungannya adalah penetapan dirinya pada yang lain, bukan penetapan yang lain pada dirinya, tujuannya pada yang kekal bukan yang lenyap, pada yang abadi bukan yang fana. Selama yang hadir bergerak maka dia datang dan lewat, urusan dunia yang paling cepat lenyap, dan amal untuknya sesuai kadarnya dalam sedikitnya tinggal dan rendahnya urusannya, dan perhatian selamanya kepada apa yang di baliknya, bukan kepadanya.

Maka awal jiwa adalah niat yang beramal untuk akhiratnya, dan akhir jiwa adalah apa yang ditunaikan oleh amal-amal niat ini. Maka tidak ada dalam manusia dunia kecuali manusia alam akhirat. Dan dengan ini diukur diamnya dan bicaranya, gerak dan diamnya, apa yang didatangi dan apa yang ditinggalkan, apa yang dicinta dan apa yang dibenci, karena segala sesuatu darinya atas pertimbangan itu tidak lain adalah gambaran hakikat yang beramal padanya.

Dan ringkasan urusan adalah agar masa depan manusia tidak menjadi tanda mengejek di samping masa lalunya, bukan tanda tanya, dan bukan tanda pengingkaran.

Dan sifat-sifat Nabi dengan berkumpul dan selarasnya menunjukkan hakikat agung yang tidak disadari oleh seorang pun, yaitu bahwa semua karakteristik jiwanya halus dan terjaga. Ini termasuk yang jarang terjadi dan kemungkinannya. Sesungguhnya seseorang dari manusia bisa hidup dengan kehidupan, tetapi sisi-sisi banyak dari jiwanya telah direbut oleh kematian, atau sakit dan itu awal kematian, atau lalai dan itu seperti kematian. Adapun yang hidup agung adalah yang hidup dengan sebagian besar karakteristik jiwanya, dan yang hidup paling agung adalah yang hidup dengan semua karakteristiknya, kehidupan memenuhinya sehingga dia memenuhi kehidupan, dan rahasia mengembang padanya untuk menunjukkan kepadanya hakikat-hakikat hal-hal dan membimbingnya serta menunjukinya, sehingga dia dengan dirinya menjadi penglihatan bagi manusia, bimbingan, dan petunjuk. Dan seperti ini menjadi agung kemudian menjadi agung hingga terlihat perbedaan antara dia dengan yang lain seperti perbedaan antara cahaya yang memakai daging dan darah, dengan tanah yang memakai darah dan daging.

Dan itu hampir tidak terjadi kecuali dalam tingkatan yang tertingginya adalah keistimewaan dalam kenabian, kemudian turun mendekati kenabian, kemudian turun kepada keistimewaan dalam hikmah, kemudian turun kepada kejeniusan syair. Maka penyair terbesar semuanya seperti nabi dalam maknanya kecuali bahwa dia nabi kecil, dan kecuali bahwa dia dalam batas hatinya.

Dan tiga kekuatan inilah yang diciptakan oleh hikmah Ilahi untuk mengubah kehidupan dan meninggikannya. Penyair mengilhami keindahan ketika keindahan bertuhan dalam hatinya, orang bijak mengilhami hakikat ketika bertuhan dalam jiwanya, dan nabi mengilhami ketuhanan itu sendiri.

“Beliau senantiasa bersedih hati” tetapi kesedihan kenabian yang menyelimuti kehidupan dengan kegembiraan jiwa yang besar. Dan kegembiraan itu semua kesedihan dan perenungan, pikiran dan khusyuk, kesucian dan keutamaan. Dan kegembiraan penyair terbesar dengan kegirangan keberadaan dan keindahan yang ada hanyalah sedikit dari kesedihan nabi.

“Dan beliau senantiasa berpikir tidak memiliki istirahat” karena beliau ditugaskan membuat manusia baru dan meniupkan keadaman padanya. Dan pikiran nabi adalah kehidupannya dengan dirinya bersama hakikat-hakikat tinggi, karena tidak melihat sebagian besarnya hidup dalam manusia, yaitu individualitas, kemerdekaan, dan ketinggiannya, karena itu adalah kemampuan jiwa besar untuk kesendiriannya, berbeda dengan jiwa-jiwa lemah yang tidak mampu, maka kebiasaannya selamanya mencari apa yang diperbudak untuknya, atau melupakan dirinya padanya, atau beristirahat kepadanya dari dirinya. Dan ketika jiwa kosong, maka pikirnya adalah penggandaan kekosongannya, maka dia lari darinya kepada apa yang melalaikannya darinya. Tetapi yang agung hidup dalam kekenyangan jiwanya, dan alam dalamnya dinamakan bahasa kadang: pikiran, dan kadang: keheningan.

“Dan beliau banyak diam tidak berbicara kecuali untuk keperluan” dan dari keheningan ada jenis-jenis: jenis yang menjadi cara dari cara-cara pemahaman antara seseorang dengan rahasia apa yang mengelilinginya, jenis yang menyelimuti manusia agung untuk menjadi tanda atas kekaguman rahasia yang ada dalam jiwa agungnya, jenis ketiga yang menjadi dalam pemiliknya cara dari cara-cara menghakimi keheningan manusia dan pembicaraan mereka, jenis keempat seperti pemisah antara amal-amal tubuh dengan ruh dalam waktu amal-amalnya, dan jenis kelima yang menjadi keheningan atas gemuruh di bawahnya yang menyerupai tidur tenang atas mimpi-mimpi indah yang bergerak.

Dengan pola ini harus ditafsirkan semua sifat-sifat beliau, karena dalam keseluruhannya adalah cap Ilahi atas kehidupan mulianya, membuktikan kepada dunia dengan semua bukti ilmu dan filsafat bahwa beliau adalah manusia terbaik, yang paling mampu, dan yang paling kuat.

 

 

Keagungan Kemiskinan dalam Tokoh Reformis Sosial Terbesar

Nabi ﷺ menurut catatan sejarah hidup dalam kemiskinan dan kekurangan, namun pada hakikatnya beliau berada di atas segala kebutuhan. Beliau adalah orang miskin yang tidak pantas disebut miskin, dan tidak tersentuh oleh makna-makna psikologis yang naik turun karena urusan duniawi. Tidak ada kekurangan dalam dirinya yang menimbulkan kerusakan dalam hidup sehingga perlu diperbaiki dengan uang, dan beliau tidak bergerak dalam usaha yang menghabiskan jiwa besarnya untuk mengumpulkan harta dunia. Beliau tidak bergejolak antara jauh dan dekat karena keserakahan yang tercapai atau yang gagal, tidak memandang dirinya dalam perhitungan dan perencanaan untuk mengatur kehidupannya sehingga memperoleh emas atau perak, dan tidak menetap dalam hati besarnya sesuatu yang membuat dinar bermakna dinar atau dirham bermakka dirham.

Sesungguhnya makna hidup dari harta ini adalah menampakkan jiwa yang membesar dan mewujud dalam bentuk kesombongan seukuran kelapangan dan kekayaan; sedangkan makna hidup dari kemiskinan harta adalah memperlihatkan jiwa yang kecil dan menyendiri dalam bentuk yang mengecil seukuran kesempitan dan kesulitan.

Kemiskinan beliau ﷺ adalah karena beliau meluaskan diri dalam alam semesta, bukan dalam harta. Ini adalah kemiskinan yang termasuk mukjizat besarnya yang belum disadari siapa pun hingga kini, dan ini khusus baginya. Dari mana pun kita merenungkannya, kita melihatnya dalam hakikat mukjizat yang merendah dan mengubah namanya, mukjizat yang mengandung kebenaran-kebenaran psikologis dan sosial yang besar, yang telah mendahului zamannya empat belas abad, dan hari ini membuktikan dengan dalil makna sabdanya ﷺ dalam sifat dirinya: “Sesungguhnya aku hanyalah rahmat yang dihadiahkan.”

Kita berada di zaman di mana kebajikan kemanusiaan hampir menyusul istilah-istilah sejarah yang menunjukkan apa yang telah berlalu, bahkan telah menjadi kata dari kata-kata puisi yang dimaksudkan untuk menggerakkan angin bahasa yang stagnan dalam khayalan, seperti ucapan: awan biru, fajar putih, senja merah, dan pinggiran merah muda di ekor matahari. Dan manusia kebanyakan memandang sesamanya dengan mata yang mengandung makna buas yang jika disentuh akan memukul, menikam, atau menyembelih.

Peradaban telah melakukan kerjanya dan tidak menambah kecuali mengeluarkan bentuk puitis manusia artistiknya yang rapuh, mewah, nikmat, dan terpesona di antara itu dari yang paling mudah yang halal hingga yang mengerikan dan vulgar dalam kebebasan; seakan-akan peradaban meletakkan akal dalam binatang buas, maka datanglah dengan tabiat yang menyimpang dari dua sisi; kemudian menghadapkannya dengan bentuk buas manusia miskinnya, seakan-akan mencabut akal dari manusia, maka datanglah dengan tabiat yang sesat dari dua sisi; dan ada pada yang pertama kemewahan hawa nafsu dengan tabiat, dan ada pada yang kedua dengan tabiat kemewahan kebodohan.

Telah menjadi sindiran hidup terhadap penghuninya bahwa orang miskin menjadi miskin padahal dia tahu bahwa pekerjaannya dalam peradaban adalah kerja orang kaya untuk orang-orang kaya… dan orang kaya menjadi kaya padahal dia tahu bahwa kerjanya dalam peradaban adalah membuat kemiskinan bagi hati nuraninya!

Dan keluar dari ini dan itu masalah-masalah baru dalam filsafat pergaulan kemanusiaan yang mereka sebut “kemasyarakatan”; hingga pertanyaan-pertanyaan banyak yang jika kita menghitung dan menggambarkannya akan panjang pembicaraan kita, dan semuanya bekerja untuk mencabut perasaan akal dari kehidupan agar tampak lebih bodoh dari keadaannya, dan lebih jelek dari yang pernah ada; hingga matahari terbit menghapus malam dari materi dan melemparkan malam pada jiwa, padahal agama dan kemanusiaan tidak bekerja selain menyebarkan cahaya akal ini dalam hal-hal dan makna-makna agar kehidupan tampak terang bercahaya, sehingga menjadi lebih jelas dari keadaannya, dan lebih indah dari yang ada dalam tabiat.

Dalam kecenderungan-kecenderungan yang saling berperang seperti ini yang menaikkan filsafat dan menurunkannya, dan menjadikan ilmu di dada kemanusiaan memenuhi langit dengan awan dengan kegelapan, guntur, dan petirnya, dan meninggalkan dunia bergejolak dengan gejolak yang mengganggu di hati setiap makhluk hidup hingga kesedihan disiarkan ke hati manusia seperti penyiaran suara ke telinga mereka di “radio”… dalam bencana yang menghancurkan seperti ini kemanusiaan menoleh ke sejarah meminta pelajaran dari kesempurnaan kemanusiaan kuno untuk mengobati kebodohan-kebodohan baru ini, dan seandainya mereka tahu, mereka akan tahu bahwa pelajaran zaman ini dalam mengobati masalah-masalah kemanusiaannya adalah “Muhammad” ﷺ, yang tidak akan ada seorang pun yang mencapai dalam penggambaran sosialnya apa yang telah dicapainya dalam sabdanya: “Sesungguhnya aku hanyalah rahmat yang dihadiahkan.”

Reformis sosial terbesar ini memberikan kemiskinannya hari ini sebagai pelajaran kepada dunia ilmiah-filosofis, bukan dari buku atau pemikiran, tetapi dengan akhlak, kerja, dan biografinya; karena reformis bukanlah yang berpikir dan menulis, berceramah dan berpidato, tetapi orang besar yang hidup yang dicari oleh gagasan besar untuk hidup di dalamnya, dan menjadikan baginya umur mental yang dibelanjakan untuk kebijaksanaannya, sehingga sejarah dan penggambarannya adalah penggambaran gagasan ini dan sejarahnya.

Dan Muhammad ﷺ tidak lain adalah umur mental murni, yang dilewati makna-makna ilahi untuk tampak kepada manusia sebagai ketuhanan yang dijelaskan, dan seluruh hidupnya ﷺ adalah pelajaran-pelajaran beragam dengan makna yang berbeda, tetapi dalam keseluruhannya menyapa manusia sepanjang masa dengan kalimat ini: Wahai yang hidup, jika kehidupan ada di sini maka jangan engkau berada di sana; yaitu jika kehidupan dalam kebenaran maka jangan engkau dalam kebohongan, dan jika kehidupan dalam kejantanan yang berpengalaman maka jangan engkau dalam kekanak-kanakan yang nakal, karena laki-laki mengetahui dan memahami, maka dia dengan itu di belakang yang hakiki; tetapi anak kecil bodoh dan tidak mengenal dunia kecuali dengan matanya, maka dia di belakang khayalan, dan dari situ kecerobohan dan kenakalannya, dan lebih memilih setiap yang segera walaupun sedikit, dan kerjanya adalah menjadikan kehidupan psikisnya yang kecil seperti loncatan anggota tubuhnya, hingga seakan-dia bermain dengan lahir dan batinnya bersama.

Wahai yang hidup, jika kehidupan ada di sini maka jangan engkau berada di sana; yaitu kehidupan dalam diri batinmu dan hukum kesempurnaannya, maka jika engkau mampu mengeluarkan untuk bumi makna surgawi dari dirimu maka inilah yang baru selamanya dalam kemanusiaan, dan engkau dengan itu hidup dalam yang dekat-dekat dari ruh, dan engkau dengannya sesuatu yang ilahi; dan jika engkau tidak mampu dan hidup dalam darah dan sarafmu maka inilah yang lama selamanya dalam hewaniah, dan engkau dengan itu hidup dalam yang jauh-jauh dari jiwa, dan engkau dengannya sesuatu yang bumi seperti batu dan tanah.

Di sini: yaitu dalam kehendak yang ada dalam dirimu saja. Dan bukan di sana: yaitu dalam khayalan yang ada dalam segala sesuatu, dan di sini, dalam akhlak dan kebajikanmu yang tidak mendorongmu ke jalan dari jalan-jalan kehidupan kecuali jika itu benar-benar jalan dari jalan-jalan petunjuk dan kebijaksanaan; dan bukan di sana, dalam harta dan kehidupaanmu yang menjadikanmu seperti pencuri yang terdorong ke setiap jalan ketika itu benar-benar jalan menuju rampasan atau pencurian. Di sini, dalam ruh, ketika ruh merasakan bahwa dia ada, kemudian bekerja untuk membuktikan bahwa dia merasakan keberadaannya, berjalan menuju takdirnya, berakhir dengan tubuhnya pada kematian manusiawi menurut sunnah jiwa yang kekal, dan bukan di sana dalam indera, ketika indera bergantung pada apa yang berubah-ubah pada tubuh, maka dia gelisah karena perasaannya akan segera binasa sehingga tidak menimbulkan kecuali rasa sakit baik dia mendapat atau tidak mendapat, dan dia berakhir dengan tubuhnya pada kematian hewani antara pemakan dan yang dimakan menurut sunnah alam yang binasa.

Wahai yang hidup, jika kehidupan ada di sini maka jangan engkau berada di sana.

Sesungguhnya orang bijak yang memandang pada apa di balik hal-hal sehingga mengenali rahasia-rahasianya, tidak akan memiliki kehidupan orang yang bergantung pada zahirnya dan bukan akhlaknya dan bukan pandangannya; yang terakhir ini adalah dalam dirinya sesuatu dari hal-hal yang memiliki penampakan materi dan penipuannya tentang kebenaran; dan yang pertama itu adalah dirinya rahasia dari rahasia-rahasia yang memiliki kemegahan rahasia dan pengungkapannya tentang kebenaran, dan karena itu ada dalam kehidupan para nabi dan orang-orang bijak apa yang tidak diterapkan manusia dan tidak mereka kuasai jika mereka memaksakan diri, bahkan akan sobek pada mereka sehingga menjadi ketidakmampuan dan kesalahan, dan terjadi dari kesalahan itu ketergelinciran.

Dan pandangan nabi kita ﷺ terhadap wujud ini adalah pandangan menyeluruh yang memahami hakikat ketidakterbatasan, sehingga melihat permulaan setiap sesuatu yang materi adalah akhirnya dalam seketika dan sesaat, maka tidak ada keberadaan baginya kecuali sementara dan berlalu, maka dalam pertimbangannya ada yang tidak ada, dimulai dan berakhir bersama; dan dengan itu batal padanya hal-hal materi dan pengaruhnya, maka tidak berhubungan dengan jiwa tingginya kecuali dari sisi terlemahnya, dan manusia menemukan baginya dalam kehidupan mereka pohon dan cabang dan buah, dan tidak ada baginya pohon itu akar dan bukan cabang; dan dengan ini tidak ada sesuatu yang mempesonanya dan tidak ada sesuatu yang bergantung padanya.

Dan dunia memanjangkan manusia dan memendek darinya, dan terputus pertumbuhannya sedangkan dia berjalan dalam pertumbuhan ruhaninya, dan seakan-akan dia gambaran lain dari Adam AS; keduanya menyentuh dengan dirinya kehidupan yang baru kosong dari apa yang dikumpulkan di dalamnya oleh waktu dan penghuninya dari keserakahan dan kerakusan, dan Adam datang untuk memberi bumi manusianya dari tulang punggungnya, dan Muhammad datang untuk memberi manusia hukum-hukum mereka dalam kebajikan-kebajikannya; maka Adam dengan pribadinya adalah dunia yang dibangkitkan untuk meluas, dan Muhammad dengan pribadinya adalah dunia yang dibangkitkan untuk teratur.

Dan apa yang dipahami dari filsafat akhlak kenabian yang besar? Dipahami darinya bahwa syahwat-syahwat diciptakan bersama manusia mengendalikannya, agar dia berbalik dengannya menjadi manusia yang mengendalikannya; dan bahwa manusia yang benar yang tidak dikunjungi dunia harus menjadi pemilik ruh yang memanjang sehingga melimpah dari tujuan-tujuan tubuhnya ke apa yang lebih tinggi dan lebih tinggi hingga menjadi dalam hukum cahaya dan kebebasan dan kemekarannya, dan tidak mengerut sehingga tubuhnya membatasinya dalam tujuan-tujuan dan kebutuhan-kebutuhannya sehingga mundur ke apa yang lebih rendah dan lebih rendah hingga kembali dalam hukum tanah dan tawanannya dan perbudakannya. Maka kemiskinan dan apa yang menuju padanya, dan zuhud dan apa yang menjadi sebabnya, dan berpaling dari syahwat-syahwat dan kejahatan-kejahatan semua itu tidak lain adalah mundurnya jiwa tinggi ke dirinya yang bercahaya keadaan demi keadaan, dan sesuatu demi sesuatu, untuk menerangi materi sehingga mengungkap kebenaran-kebenarannya yang jelas sehingga tidak mempedulikannya dan tidak memberi bobot baginya. Maka sementara manusia melihat harta dan syahwat-syahwat sebagai materi kehidupan dan kerja dan perasaan, dia melihatnya sebagai materi penelitian dan pengetahuan dan pertimbangan tidak lebih; dan dengan ini jiwa besar berada di dunia seperti guru laboratorium, memasukkan materi ke laboratoriumnya dan dia materi dan gagasan, dan mengeluarkannya darinya dan dia kebenaran dan pengetahuan, dan dalam keadaan apa pun dia hanya merasakan dalam laboratorium itu dengan jari-jari ilmiah yang halus yang tidak ada di dalamnya pengumpulan dan kerakusan, tetapi ada di dalamnya pikiran dan pemikiran; dan tidak memiliki tabiat keinginan dan kelengahan, tetapi tabiat kewaspadaan dan kehati-hatian, dan tidak dalam tawanan materi, tetapi materi dalam tawanannya sesuka hatinya.

Dan tidak disebut kemiskinannya ﷺ zuhud sebagaimana yang dikira orang-orang lemah yang bergantung pada zahir sejarah dan tidak menyelidiki asal-asal psikologisnya; dan kebanyakan mereka membaca sejarah kenabian dengan ruh-ruh gelap yang memperlihatkan kepada mereka apa yang dilihat mata jika gelap bercampur dan menutupi hal-hal sehingga tampak global tanpa rinci, kosong tanpa penjelasan; dan tidak ada pada hal-hal itu sesuatu, selain bahwa hal-hal itu tampak dalam sisa penglihatan dan tidak membenamkannya.

Dan apakah zuhud kecuali mengusir tubuh dari dirimu padahal dia bersamamu, dan berpaling darinya padahal dia bergantung padamu? Maka itu adalah olok-olok dan contoh, dan menurut pendapatku merusak tubuh dengan ruhnya, dan mungkin terbalik sehingga menjadi dari merusak ruh dengan tubuhnya; maka tidak ada yang tahu kecuali Allah saja, apakah itu penafsiran untuk kemanusiaan zahid dengan cahaya, ataukah dia penafsiran dengan tanah.

Dan sesungguhnya beliau ﷺ memiliki harta dan mendapatkannya, dan lebih dermawan dengannya dari angin yang dilepaskan, tetapi dia tidak membiarkannya berkembang biak padanya, dan tidak membiarkannya tumbuh dalam kerjanya, dan kerja beliau hanyalah terjemahan untuk perasaan ruhaninya, maka beliau adalah rasul pengajaran, hati besarnya dalam hukum-hukum banyak dari kewajiban-kewajibannya, dan beliau ingin membuktikan kesatuan kemanusiaan, dan bahwa manusia ini dengan materi yang bisu dan buta adalah materi yang berpikir dan membedakan, dan sesungguhnya agama adalah kekuatan ruhani yang dihadapkan oleh orang beriman kepada keadaan-keadaan kehidupan sehingga tidak tetap berhadapan dengannya sesuatu atas kebendaannya, karena ruh adalah keabadian dan kekekalan, dan materi adalah kebinasaan dan perubahan, dan dari situ tunduk peristiwa-peristiwa kepada ruh yang beriman dan berubah bersamanya, maka jika tidak tunduk dia tidak menundukkannya, dan jika tidak berubah ruh tidak berubah karenanya; dan dasar iman adalah bahwa apa yang berakhir tidak sepatutnya mengendalikan apa yang tidak berakhir.

Apa nilai akidah kecuali dengan kejujurannya dalam kehidupan, dan kebanyakan yang dibuat harta ini: baik kebohongan terang-terangan dalam kehidupan, atau syubhat kebohongan, dan karena itu Nabi ﷺ menjaga diri dari bergantung padanya, dan menambah jaraknya darinya bahwa beliau adalah nabi kemanusiaan dan teladan tertingginya, maka kehidupan mulianya bukan sebagaimana kita lihat pada manusia: penciptaan solusi bagi masalah individu dan penyulitan bagi masalah orang lain, dan bukan perluasan dari satu sisi dan penyempitan dari sisi yang lain, dan bukan pengumpulan dari sini dan pencegahan dari sana; bahkan kehidupannya setelah kerasulan tertuju untuk menetapkan keseimbangan dalam kemanusiaan, dan mengajar semua dengan perbedaan dan perbedaan tingkat mereka bagaimana mereka memiliki akal satu dari alam semesta; dan dengan akal kosmis yang sehat ini engkau lihat orang beriman jika ditawarkan kepadanya sesuatu dari dunia yang mempesonanya atau mengalihkannya dari kewajiban kemanusiaannya, jiwa besarnya menolak kecuali naik dengan tabiatnya, maka tiba-tiba dia dalam hukum ketinggian, dan tiba-tiba materi dalam hukum berat; maka dia naik dan materi jatuh dan menjadi emas -dan sesungguhnya dia emas- dan tidak ada padanya di sisi orang beriman kecuali ruh tanah.

 

 

Kemuliaan Kemiskinan dalam Diri Pembaharu Sosial Terbesar (2)

Aisyah berkata: “Perut Nabi tidak pernah kenyang sekali pun, dan beliau di tengah keluarganya tidak pernah meminta makanan dan tidak pernah menginginkannya. Jika mereka memberinya makan, beliau makan, dan jika mereka tidak memberinya makan, beliau menerima. Apa yang mereka berikan untuk diminum, beliau minum.”

Dan dia berkata: “Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang dari roti gandum selama dua hari berturut-turut hingga Rasulullah wafat.”

Dan darinya: “Kami keluarga Muhammad bisa tinggal sebulan tanpa menyalakan api, hanya ada kurma dan air.”

Dan dia berkata: “Rasulullah tidak pernah menyimpan sarapan untuk makan malam, atau makan malam untuk sarapan, dan tidak pernah memiliki dua dari satu barang; tidak dua baju, tidak dua selendang, tidak dua kain sarung, dan tidak dua pasang sandal.”

Dan diriwayatkan darinya, dia berkata: “Rasulullah wafat sementara tidak ada padaku sesuatu yang bisa dimakan oleh makhluk bernyawa, kecuali setengah gandum di rak milikku.”

Dan dia berkata: “Rasulullah wafat sementara baju besinya digadaikan kepada seorang Yahudi dengan tiga puluh takaran gandum.”

Dan dari Ibnu Abbas: “Rasulullah sering bermalam beberapa malam berturut-turut bersama keluarganya dalam keadaan lapar, tidak menemukan makan malam, dan roti mereka hanyalah gandum.”

Dan dari Al-Hasan, dia berkata: “Rasulullah berkhutbah lalu bersabda: ‘Demi Allah, tidak ada setakaran makanan pun di keluarga Muhammad pada petang ini, padahal kami ada sembilan rumah!’ Demi Allah, beliau tidak mengatakannya karena mengeluh, tetapi beliau ingin umatnya mencontohnya.”

Dan dari Ibnu Mujair dia berkata: “Nabi pernah kelaparan suatu hari, lalu beliau mengambil batu dan meletakkannya di perutnya, kemudian bersabda: ‘Ketahuilah, betapa banyak jiwa yang makan enak dan bersenang-senang di dunia, namun lapar dan telanjang di hari kiamat. Ketahuilah, betapa banyak orang yang memuliakan dirinya padahal dia menghinakannya. Ketahuilah, betapa banyak orang yang merendahkan dirinya padahal dia memuliakannya.'” Dan beliau diberi pilihan untuk memiliki emas sebesar gunung Uhud, maka beliau bersabda: “Tidak wahai Tuhanku, aku lapar sehari lalu berdoa kepada-Mu, dan kenyang sehari lalu memuji-Mu.”

Dan beliau sering berdoa: “Ya Allah, hidupkanlah aku sebagai orang miskin, matikanlah aku sebagai orang miskin, dan kumpulkanlah aku bersama golongan orang-orang miskin.”

Inilah pemimpin umat, yang menjadikannya tetap dalam kehidupan sebagai nabi yang agung, sementara yang lain keluar darinya dalam keadaan hina dan tercela. Seakan-akan kemurnian jiwanya bersinar di atas tanah bumi lalu memantulkannya sebagai sinar cahaya, sementara manusia melemparkan kegelapan jiwa mereka ke tanah ini hingga tidak lagi menjadi tanah tetapi kembali menjadi kegelapan. Seakan-akan ketika mereka berjalan di atasnya, mereka menginjak yang tidak diketahui dengan ketakutan dan kengerian. Kemudian tidak menetap sebagai kegelapan tetapi kembali menjadi penderitaan, seakan-akan mereka tumbuh di atas penyakit bukan di atas kehidupan. Kemudian tidak menetap sebagai penderitaan tetapi berubah menjadi gejolak dan lompatan yang menjadi sumber kebodohan dan kegilaan dalam jiwa.

Mereka yang jiwanya hidup dalam tanah dan berguling-guling dengan akhlak mereka di dalamnya, berbalik kepada kehidupan dari ciptaan tanah menjadi manusia-cacing seperti sifat cacing yang tidak jatuh pada sesuatu kecuali merusaknya atau mengotorinya, atau menjadi kaum kutu busuk seperti sifat kutu busuk yang tidak mencapai sesuatu kecuali merusaknya atau mencacatnya. Maka mereka menimbulkan kerusakan dalam tata jiwa mereka sendiri, sehingga jiwa mereka menjadi sembrono yang membayangkan seakan-akan hukum-hukum dunia telah kacau, seakan-akan Allah telah menggenggam mereka dan melapangkan yang lain, menyibukkan mereka dan membebaskan selain mereka, menguji mereka dalam kesempitan rezeki dengan nafsu yang mengamuk yang tidak terwujud, lalu menimpakan kepada mereka perjuangan yang tidak terputus. Dan Allah memberikan nikmat kepada yang lain dalam kelapangan rezeki dengan pohon yang disihir yang tidak dipetik buahnya kecuali tumbuh yang lain di tempatnya.

Sesungguhnya apa yang kami gambarkan tentang kemiskinan Nabi, bahwa beliau tidak memiliki simpanan yang siap, bahwa beliau tidak menjadikan dirinya dalam kekhawatiran tentang harta, dan tidak menjadikan dirinya dalam kekhawatiran tentang kemiskinan, bahwa beliau menghadapi kehidupan sebagai pembawa bukan yang dibawa, dan menetap di dalamnya dengan tenang bukan gelisah, semua itu hanya membuktikan kepada dunia bahwa beliau diciptakan, diutus, dan hidup untuk menjadi pelajaran praktis dalam memecahkan masalah-masalah sosial. Beliau mengajarkan kepada manusia bahwa masalah-masalah itu tidak rumit karena sifatnya, tetapi karena sifat mereka di dalamnya. Tidak berkelanjutan karena kekuatannya, tetapi karena bantuan kekuatan mereka kepadanya. Tidak menang karena serangannya, tetapi karena kepanikan mereka darinya. Tidak sulit dari dirinya sendiri, tetapi dari buruknya pengaruh mereka terhadapnya dan buruknya pandangan mereka terhadap diri mereka dan terhadapnya.

Ketika engkau membaca hadis-hadis yang telah kami sebutkan, janganlah membacanya sebagai zuhud dan pengurang, bukan kemiskinan dan kelaparan, bukan kekacauan dan kebutuhan, sebagaimana jiwamu menerjemahkannya atau kebutuhanmu merasakannya. Tetapi lihatlah di dalamnya dan ambil pelajaran dengan dirinya sendiri, kemudian bacalah sebagai syariat sosial yang terperinci berdasarkan sifat jiwa, berdiri atas pengambilan jiwa manusia dari kekuatan dunia unsur-unsur vitalnya, untuk memberikan kepada kehidupan dari itu kekuatan unsur-unsurnya.

Dan kehidupan yang bekerja berbeda dengan kehidupan yang tenang, keduanya laki-laki dan perempuan. Adapun yang pertama adalah apa yang kami gambarkan dan ceritakan, adapun yang kedua adalah menikmati nikmat secara berlebihan, melepaskan hukum perkembangbiakan dalam harta sehingga sebagian menumbuhkan sebagian, dan sebagian tumbuh di atas sebagian, kemudian menegakkan kehidupan atas hiasan dan komponennya, dan berdirinya hiasan atas penipuan dan sifat-sifatnya. Maka seseorang menerima dari dunianya apa yang layak dia tolak darinya, dan mencintai darinya apa yang seharusnya dia benci di dalamnya. Setiap yang engkau lihat dan ketahui pada seorang laki-laki, kekuatannya adalah kekuatan, maka dia di sana. Dan setiap yang engkau ketahui dan lihat pada seorang perempuan, kekuatannya adalah kelemahan, maka dia di sini.

Kegelapan yang engkau lihat dalam kemiskinannya adalah kegelapan yang hidup; kegelapan malam di sekitar ruh bintang yang bersinar. Dan tanah itu adalah tanah yang hidup; tanah tanaman di bawah kesegaran dan kehijauan. Dan kebutuhan jasmani itu adalah kebutuhan hidup yang mendorong kepada kebebasan jiwa. Dan pengurangan dari pemahaman kelezatan itu adalah pengurangan hidup yang menambah kekuatan pemahaman keindahan di langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Dan kesempitan dalam ruang kenikmatan bagi indera itu adalah kesempitan hidup yang memperluas ruang kenikmatan bagi ruh. Dan secara keseluruhan, kekurangan dari materi itu tidak lain kecuali untuk meniadakan kekurangan dari keutamaan, dan penghinaan terhadap yang fana dan lenyap itu adalah makna lain dari penghormatan terhadap yang kekal dan abadi.

Tidak ada di sana roti gandum, kelaparan, atau gadai baju besi kepada Yahudi. Tidak, tidak, tetapi di sana ada hakikat jiwa dan akal yang tetap, seimbang, berdiri dengan unsur-unsur mulianya: dari keyakinan, akal, dan hikmah, hingga kelembutan, kesabaran, dan kerendahan hati. Hakikat ini memberitahu dunia ilmiah filosofis yang berpikir bahwa Nabi agung itu adalah manusia sosial yang sempurna dengan akhlak dan keutamaannya, dan dialah yang diutus untuk memperbaiki naluri bersaing untuk bertahan hidup, mematahkan sifat kebinatangan ini, menekan nafsunya, mematikan pendorongnya, dan meninggikan pemikirannya. Maka beliau dengan dirinya adalah gambaran kesempurnaan yang diutus untuk merealisasikannya dan membuktikan bahwa itu mungkin bukan mustahil, nyata bukan khayalan.

Tidak ada di sana baju besi yang digadaikan dengan tiga puluh takaran, kemiskinan, atau roti gandum. Tidak, tidak, tetapi di sana ada penetapan bahwa kemenangan dalam pertempuran kehidupan tidak datang dari harta, kekayaan, dan kenikmatan, tetapi dari penderitaan, kesulitan, dan kesabaran. Dan bahwa kemajuan kemanusiaan tidak dijual, tidak diambil dengan mudah, tetapi dicabut dari peristiwa-peristiwa dengan akhlak yang mengalahkan krisis dan tidak dikalahkan krisis. Dan bahwa harta dan nafsu ini -dalam hakikat kehidupan dan nasibnya- seperti harta karun mimpi, tidak menjadi harta karun kecuali di tempatnya dari bumi kelalaian dan tidur, tidak ada kelezatan darinya kecuali seukuran ringan dari kelalaian ini. Dan tidak ada kecuali orang bodoh atau yang dikecewakan atau yang tersesat yang memotong umur tidur selamanya agar tetap memiliki harta karun ini selamanya, sementara dia tahu bahwa dia pasti akan bangun, dan ketika dia tersadar di akhiratnya tidak akan menemukan sesuatu pun darinya “dan dia mendapati Allah di sisinya lalu Allah menyempurnakan perhitungannya.”

Tidak, tidak, tidak ada di sana kemiskinan, kelaparan, dan sejenisnya, tetapi di sana ada penetapan hakikat ini: engkau harus menemukan dirimu, tempat dirimu, iman dirimu, dan kemuliaan dirimu. Jika engkau menyadari itu dan mengangkat dirimu ke tempat yang benar, menetapkannya di sana, menahannya di atasnya, dan membatasinya dengan kemanusiaan dari satu sisi dan dengan Allah dari sisi yang berhadapan, maka engkau akan melihat bahwa nilai yang benar adalah menjadi sarana yang memberi dan bekerja untuk memberi, bukan tujuan yang mengambil dan bekerja untuk mengambil. Betapa pun engkau disempitkan, sesungguhnya engkau seperti pohon yang baik yang mengambil tanah dan membuat kemanisan.

Dan tidak pernah ada pohon yang tumbuh di tempatnya untuk makan, minum, menyimpan pupuk dan tanah, melindunginya dan mencegahnya dari yang lain. Seandainya ada pohon yang melakukan itu, maka kehancurannya ada dalam apa yang dilakukannya, karena berusaha menggandakan manfaatnya dari hukum alam, maka keserakahannya dengan cepat merusak hubungan di antara keduanya. Hukum tidak menemukan keteraturannya dalam pohon itu, dan karenanya pohon tidak menemukan keteraturannya dalam hukum, maka yang menghidupkannya menjadi yang menghancurkannya. Dia memperbudak dirinya untuk kepentingan dirinya, sehingga itu membuatnya kehilangan kebebasan hidup yang ada dalam dirinya.

Nabi kita bersabda: “Sesungguhnya orang mukmin dalam kebaikan dalam segala keadaan, jiwanya dicabut dari dadanya sementara dia memuji Allah.”

Inilah hukum sosial tertinggi yang bisa diperoleh kemanusiaan, dan itu tidak datang kepadanya kecuali jika makna-makna yang kami isyaratkan menjadi perasaan sosial umum yang ditetapkan dalam jiwa, berdiri di dalamnya atas iman yang teguh bahwa individu adalah gambaran masyarakat bukan gambaran dirinya saja, dan bahwa manusia seperti biji gandum dalam bulir, tidak ada untuk semuanya kecuali satu hukum. Tempat setiap biji dari bulir adalah kekayaannya, tinggi atau rendah, banyak yang diambilnya atau sedikit. Dan jika dasar kehidupan dalam biji darinya adalah menemukan penopang dan kecukupannya dari materi bumi, maka kesempurnaan kehidupan di dalamnya adalah terendam cahaya dari sekelilingnya, dan cahaya dari sekelilingnya terus merendamnya. Maka biji dari bulir dalam kebaikan dalam segala keadaan, dia dicabut dan tidak ada padanya bahwa dia dicabut, tetapi dia melakukan apa yang dilakukannya, dan terputus dari hukum untuk terhubung dengan hukum lainnya. Dia tidak kaya dan tidak miskin, tidak banyak dan tidak sedikit, tetapi merealisasikan tempatnya, karena dia tidak tumbuh untuk tetap ada, dan tidak tumbuh kecuali agar pertumbuhannya terputus. Demikian juga orang mukmin yang benar imannya dan jujur pandangannya dalam kehidupan, dia selamanya dalam hukum akhiratnya, maka dia selamanya dalam amal hati nuraninya.

Dan manusia dalam kehidupan ini seperti kumpulan besar yang mengalir dari celah sempit antara dua gunung menuju ke ruang terbuka. Jika mereka semua menyadari bahwa mereka menuju kepada akhir ini, mereka melewati dengan aman dan dalam keyakinan mereka ada keselamatan, dalam kesabaran mereka ada perlindungan, dalam keteraturan mereka ada taufik, dan dalam kerja sama mereka ada kehidupan. Mereka dalam kebaikan dalam segala keadaan, selama ini hukum semua mereka. Siapa pun di antara mereka yang menyimpang lalu gelisah dan panik, binasa dan membinasakan yang di sekitarnya. Dan siapa yang membalik tempatnya dan mundur ke belakang, membinasakan yang di sekitarnya dan binasa. Dan kematian yang paling celaka di sini dalam celah sempit antara dua gunung ini adalah menganggap masa kini hanya masa kini, gelisah darinya, dan menjadikan setiap manusia dirinya sebagai tujuan. Dan kehidupan yang paling nyaman adalah menganggap masa kini dengan apa yang di baliknya, sabar atas kesulitannya, dan menjadikan manusia dirinya sebagai sarana.

Itulah makna roti gandum, kekurangan dan kesempitan, gadai baju besi kepada Yahudi dari pemimpin makhluk dan yang paling sempurna di antara mereka, dari yang seandainya dia mau bisa berjalan di atas tanah emas. Maka beliau mengajarkan kemanusiaan bahwa laki-laki yang agung jiwanya tidak ada dalam kehidupan kecuali sebagai tamu yang singgah pada dirinya.

Dan di antara makna kemiskinan agung itu adalah bahwa roti gandum adalah simbol dari simbol-simbol kehidupan atas pembebasan dari sifat mementingkan diri, dan berlepas dari hawa kemewahan. Gadai baju besi adalah simbol lain atas pembebasan dari kesombongan dan keserakahan. Dan kesulitan adalah simbol ketiga atas perjuangan melawan kebosanan hidup yang merusak kehidupan sebagaimana sebagian tanaman merusak tanaman. Dan kumpulan simbol-simbol ini dengan keadaannya menjadi simbol atas kewajiban kebangkitan jiwa bagi umat yang mulia yang memimpin dirinya dengan menanggung kesulitan-kesulitan dan berjuang melawan tabiat, agar dalam setiap individu ada materi tentara, dan agar tentara ini layak menjadi pemimpin kemanusiaan.

Namun beliau mendorong untuk mencari kemudahan, dan mengambil dari pekerjaan-pekerjaan mulia dengan hasil dan harta, maka beliau bersabda: “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan keluargamu dalam keadaan kaya lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin yang meminta-minta kepada manusia.” Dan beliau melihat seorang ahli ibadah yang telah memutuskan diri untuk beribadah hingga jiwanya memakan tubuhnya, dan mereka menggambarkan kepadanya tentang zuhud dan ibadahnya, maka beliau bersabda: “Siapa yang menafkahinya?” Mereka berkata: “Kami semua menafkahinya.” Maka beliau berkata: “Kalian semua lebih baik darinya.” Hingga hadis-hadis banyak yang diriwayatkan, yang merupakan penyempurnaan hukum adab sosial di dunia, yang menetapkan bahwa yang hidup tidak lain adalah amal yang hidup.

Tetapi ketika pemimpin umat dan pemilik syariatnya adalah seorang laki-laki miskin, pekerja yang berjuang, bekerja keras untuk hidupnya, lapar sehari dan kenyang sehari, tidak membalik tangannya dalam harta warisan yang ditinggalkan, dan tidak mengumpulkan keduanya untuk harta baru yang diwariskan, maka itulah yang kami jelaskan dan terangkan, dan itu seperti perintah yang berlaku tanpa keringanan di dalamnya, agar orang kaya tidak menjadikan orang miskin sebagai budak sosial karena kemiskinan yang satu dan harta yang lain. Tetapi itu adalah kesetaraan jiwa tidak lain meskipun berbeda lapisan sosial, dan yang paling mulia adalah yang paling bertakwa kepada Allah dengan makna takwa, dan yang paling tegak dengan kewajiban dengan makna kewajiban, dan yang paling mampu untuk kemanusiaan dalam makna-makna kemanusiaan.

Kemiskinan pemimpin agung itu bukan kemiskinan, tetapi seperti yang engkau lihat, pengendalian kekuasaan yang ada dalam sifat kepemilikan, untuk tegaknya kerja sama kemanusiaan atas dasar praktisnya. Dia adalah pembatas yang adil antara kepentingan-kepentingan ekonomi yang melampaui batas, mencegah agar kepentingan tidak memakan kepentingan sehingga binasa bersamanya, dan mewajibkan agar kepentingan melahirkan kepentingan agar hidup bersamanya.

Dan Nabi miskin yang agung itu dalam sejarah dari balik semua makna ini, seperti hakim yang duduk di balik materi-materi hukum. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepadanya.

 

 

Pelajaran dari Kenabian:

Mereka berkata: Ketika Allah Ta’ala menolong Rasul-Nya dan memukul mundur pasukan sekutu serta membukakan kemenangan atas Bani Quraizhah dan Bani Nadhir, istri-istri beliau mengira bahwa beliau telah memperoleh harta benda berharga dan kekayaan orang-orang Yahudi. Mereka adalah sembilan wanita: Aisyah, Hafshah, Ummu Habibah, Saudah, Ummu Salamah, Shafiyyah, Maimunah, Zainab, dan Juwairiyah. Mereka duduk mengelilingi beliau dan berkata: “Ya Rasulullah, putri-putri Kisra dan Kaisar hidup dalam perhiasan dan pakaian mewah, dengan budak dan pelayan, sedangkan kami seperti yang engkau lihat dalam kemiskinan dan kesempitan…” Hati beliau terluka karena tuntutan mereka agar beliau memperluas kehidupan dan memperlakukan mereka sebagaimana para raja dan penguasa dunia memperlakukan istri-istri mereka. Maka Allah Ta’ala memerintahkan beliau untuk membacakan kepada mereka apa yang diturunkan mengenai urusan mereka, yaitu pilihan untuk berpisah dari beliau. Itulah firman Allah Ta’ala: “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan mut’ah kepadamu dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian mengingini (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antara kamu sekalian pahala yang besar.”

Mereka berkata: Beliau memulai dengan Aisyah – yang paling dicintainya – dan berkata kepadanya: “Aku akan menyampaikan kepadamu suatu perkara, dan aku tidak suka kamu terburu-buru dalam hal ini hingga kamu bermusyawarah dengan kedua orang tuamu.” Aisyah berkata: “Apa itu?” Lalu beliau membacakan ayat tersebut. Aisyah berkata: “Apakah dalam hal ini aku harus bermusyawarah dengan kedua orang tuaku? Bahkan aku memilih Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.”

Kemudian semua istri beliau mengikuti jejak Aisyah dalam pilihan tersebut. Maka Allah menyebut mereka “Ummahatul Mukminin” (Ibu-ibu orang beriman) sebagai penghormatan atas hak mereka, penegasan kehormatan mereka, dan keutamaan mereka atas seluruh wanita.

Inilah kisah sebagaimana dibaca dalam sejarah dan sebagaimana tampak dalam ruang dan waktu. Mari kita baca kisah ini dalam makna hikmah dan sebagaimana tampak dalam kemanusiaan yang tinggi. Kita akan menemukan kedalaman yang jauh, mengetahui makna yang mulia, dan melihat realisasi filosofis yang teliti tentang khayalan dan kenyataan. Kisah ini, sebelum semua itu dan bersama semua itu, mengandung hikmah menakjubkan yang tidak disadari siapa pun, dan karena itulah disebutkan dalam Al-Quran Al-Karim sebagai teks sejarah yang tegas untuk membela Nabi yang agung ini dalam masalah akal dan naluri.

Sesungguhnya para misionaris bodoh di zaman kita, banyak orang yang sesat dan kafir, serta segolongan orang yang dangkal pandangannya dalam penelitian mengklaim bahwa Muhammad menikahi banyak wanita karena nafsu jiwa semata dan syahwat seperti syahwat lainnya. Mereka menuju pada sangkaan buruk dari klaim ini, dari sangkaan buruk menuju praduga jelek, dari praduga jelek menuju pandangan buruk. Mereka semua bodoh dan jahil.

Seandainya perkara itu demikian atau mendekati demikian, tidak akan ada kisah ini yang dasarnya adalah meniadakan perhiasan dan melepaskan seluruh istri beliau darinya, memperbaiki niat antara beliau dan mereka dalam kehidupan yang tidak hidup di dalamnya makna-makna wanita, dan di bawah suasana yang tidak akan pernah menjadi suasana bunga… Dan perintah dari Tuhannya agar beliau memberikan pilihan kepada mereka semua antara diceraikan sehingga mereka menjadi seperti wanita-wanita lain dan mendapatkan apa yang mereka inginkan dari dunia wanita, atau tetap bersamanya namun tidak dalam sifat lain kecuali sifat yang dimulai dari tempat berakhirnya dunia dan perhiasannya.

Kisah itu sendiri adalah bantahan terhadap klaim syahwat, karena ini bukan bahasa syahwat, bukan politik maknanya, bukan metode kemarahan atau keridhoannya. Di sini tidak ada bujukan, pujian, kelembutan, keserakahan pada kenikmatan, atau ungkapan dengan bahasa indera. Kisah ini terbuka dan tegas, tidak mengandung makna atau serupa makna dari panasnya hati, tidak ada jejak atau sisa jejak dari kecenderungan jiwa, tidak ada huruf atau suara huruf dari bahasa darah.

Kisah ini berdasarkan logika lain selain logika yang digunakan untuk memikat wanita. Tidak hanya meniadakan dunia dan perhiasan dunia dari mereka, tetapi juga meniadakan harapan akan hal itu hingga akhir zaman, mematikan maknanya dalam jiwa mereka, dengan membatasi keinginan mereka pada tiga hal ini: Allah dalam perintah dan larangan-Nya, Rasul dalam kesulitan dan perjuangannya, dan negeri akhirat dalam beban dan kesulitannya.

Di sini tidak ada kemewahan, kelembutan, emosi, politik untuk sifat wanita, pertimbangan untuk temperamennya, atau pendekatan pada kefemininannya. Kemudian ini adalah pilihan tegas antara dua hal yang berlawanan yang tidak dapat diwarnai oleh keadaan yang berasal dari keduanya sekaligus. Kemudian ini berlaku umum untuk semua istri beliau tanpa mengecualikan satu pun atau lebih.

Orang yang rakus pada wanita dan kenikmatan bersamanya tidak akan melakukan hal seperti ini. Sebaliknya, dia akan berbicara pada khayalan wanita pertama kali, memuaskannya dengan berlebihan dan penegasan, memperluasnya dengan harapan dan angan-angan, mendekatkan waktu yang jauh untuknya, bahkan jika itu di awal malam dan perselisihan tentang waktu, dia akan meyakinkannya bahwa siang hari setelah satu jam.

Bukti lain adalah bahwa Nabi tidak menikahi istri-istrinya untuk kenikmatan yang memanjakan khayalan. Seandainya perkara diletakkan demikian, hal itu tidak akan lurus kecuali dengan perhiasan dan seni yang halus dalam pakaian, perhiasan, dan penampilan sebagaimana kita lihat dalam sifat seni. Aktris tidak memainkan cerita kecuali di panggung yang disiapkan dengan pemandangan dan suasananya…

Istri-istri beliau lebih mengenal beliau. Dan ini dia meniadakan perhiasan dari mereka dan memberikan pilihan perceraian jika mereka bersikeras padanya. Apakah kau melihat dalam hal ini gambaran pemikiran dari pemikiran syahwat? Apakah kau melihat selain kesempurnaan murni? Apakah pengikutan sembilan istri itu bukan sembilan bukti kesempurnaan ini?

Seolah-olah Nabi dengan kisah ini memberikan pelajaran mendalam dalam filsafat khayalan dan dampak buruknya pada wanita dalam kefemininannya dan pada pria dalam kejantanannya. Bahwa itu adalah kerumitan dalam syahwat yang dihadapi kerumitan dalam tabiat, kebohongan dalam kenyataan yang melahirkan kebohongan dalam akhlak, dan bahwa itu mengalihkan wanita pada kehidupan mimpi, angan-angan, kecerobohan, kesombongan, dan kekosongan, membiasakan mereka dengan kebiasaan yang merusak emosinya.

Hal itu menambahkan kepalsuan padanya sehingga melemahkan kekuatan jiwanya yang berdiri pada penciptaan keindahan dari hakikatnya, bukan dari penampilannya, dan merealisasikan manfaat dari pekerjaannya, bukan dari bentuknya.

Semua keindahan wanita adalah khayalan yang dibayangkan dan tidak ada kenyataan untuk sesuatu darinya dalam alam. Kenyataannya hanya dalam mata yang memandangnya, sehingga tidak menjadi wanita yang mempesonakan kecuali bagi yang terpesona padanya, tidak lebih. Seandainya alam menjawab orang yang memuji wanita cantik dan berkata kepadanya: “Ini keindahanmu, ini pesonamu, ini sihirmu, ini dan ini,” maka alam akan berkata kepadanya: “Bahkan ini semua adalah syahwatmu sendiri.”

Dengan ini berbeda keindahan ketika kehilangan penglihatan. Orang buta tidak terpesona oleh keindahan wajah, sihir bentuk, atau kemewahan pemandangan. Dia hanya terpesona oleh suara wanita, sentuhan, dan aromanya.

Tidak ada kenyataan dalam wanita kecuali wanita itu sendiri. Seandainya setiap wanita diambil berdasarkan kenyataan ini, tidak akan rusak pria maupun sengsara wanita, dan tidak akan teratur kehidupan setiap pasangan suami istri dengan sebab-sebab yang ada padanya. Itulah teladan yang diberikan dalam kisah.

Nabi ingin mengajarkan umatnya bahwa kezaliman naluri terhadap akal adalah kerusakan bagi akal ini. Bahwa ketika wanita diambil untuk bagian naluri dan pilihannya, kehidupannya menjadi respons terhadap kegilaan pria, dan dipenuhi makna-makna berlebihan dan kepalsuan. Hal ini hampir memindahkannya dari sifat mulianya yang sebagian besar dalam kekurangan, pengorbanan, kesabaran, dan ketahanan, mengembalikannya pada kebalikan sifat-sifat ini.

Urusannya kemudian berdiri berdasarkan egois, kepentingan, penghindaran, kegelisahan, kekesalan, desakan, dan gangguan. Melemah makna negatif yang tertanam dalam jiwanya dari asal fitrah. Berubah malunya, dan dalam malu ada penolakan dari hal-hal tertentu. Berkurang keikhlasannya, dan dalam keikhlasan ada penolakan untuknya dari hal-hal lain. Bertambah ketamakannya, dan dalam kepuasannya ada pembatas antara dia dan kejahatan.

Dengan ini dan yang serupa rusaklah hubungan antara pria dan wanita yang berlagak. Jika banyak wanita yang berlagak, tidak akan ada dari wanita-wanita yang cocok saja, tetapi akan ada dari solusi masalah bersama mereka masalah-masalah lain.

Inti kisah ini adalah bahwa Nabi menjadikan dirinya dalam pernikahan sebagai teladan rakyat yang paling sempurna sebagaimana kebiasaannya dalam semua sifat mulianya. Dia ingin semua istrinya menjadi seperti istri-istri kaum Muslim yang miskin, agar dari mereka menjadi teladan tertinggi bagi wanita mukminah yang bekerja dan mulia yang mahir dalam kesabaran, perjuangan, keikhlasan, kesucian, kejujuran, dan kepuasan.

Sehingga wanita tidak menjadi perhiasan yang mencari perhiasan untuk menyempurnakan dirinya dalam khayalan, tetapi kemanusiaan yang mencari kesempurnaan kemanusiaannya untuk menyempurnakannya dalam kenyataan.

Perhiasan yang dibuat-buat wanita ini hampir menjadi gambaran tipu daya, penipuan, dan kerumitan. Semakin berlebihan dalam hal ini, semakin berlebihan dalam hal itu. Bahkan perhiasan untuk wajah dan tubuh wanita adalah senjata dari senjata-senjata makna: seperti kuku, cakar, dan taring. Yang ini untuk kebuasan alam yang hidup dan memangsa, sedangkan yang itu kebuasan naluri yang hidup yang ingin memangsa. Wanita tidak menyangkal dirinya bahwa perhiasan di tubuhnya adalah ocehan panjang yang berkata dan berkata dan berkata.

Dasar kesempurnaan kemanusiaan adalah pada manusia yang bekerja dan berjuang: tidak membatasi dirinya pada sesuatu yang disebut kenikmatan atau perhiasan, tidak menilai dirinya dengan apa yang dikumpulkannya atau yang dikumpulkan di sekitarnya, tidak menganggap apa yang ada dari itu kecuali seperti ungkapan dari kerja syahwat tentang syahwat. Nabi kita adalah puncak dalam hal ini.

Suatu kali Umar bin Khattab masuk menemui beliau, ternyata beliau di atas tikar dengan kain sarungnya dan tidak ada yang lain padanya. Tikar itu telah membekas di rusuknya. Umar berkata: “Aku melihat segenggam gandum sekitar satu sha’, dan kulit yang digantung. Mataku berlinang air mata.” Beliau berkata: “Apa yang membuatmu menangis, wahai Ibnu Khattab?” Umar berkata: “Wahai Nabi Allah, mengapa aku tidak menangis sedangkan tikar ini telah membekas di rusukmu, dan ini perbendaharaanmu yang tidak kulihat apa-apa di dalamnya, sedangkan Kisra dan Kaisar di antara buah-buahan dan sungai-sungai, dan engkau adalah Nabi Allah dan pilihan-Nya, dan ini perbendaharaanmu?”

Suatu kali beliau datang dari perjalanan lalu masuk menemui putrinya Fatimah. Beliau melihat di pintunya tirai dan di tangannya dua gelang perak. Beliau pergi. Abu Rafi’ masuk menemuinya sementara dia menangis. Dia memberitahunya tentang kepergian ayahnya. Abu Rafi’ menanyakan hal itu kepada beliau. Beliau bersabda: “Karena tirai dan dua gelang itu.”

Ketika Abu Rafi’ memberitahu Fatimah, dia merobek tirai dan melepas dua gelang lalu mengirimkannya melalui Bilal kepada Nabi dengan berkata: “Aku telah menyedekahkannya, letakkan di mana engkau pandang baik.” Beliau berkata kepada Bilal: “Pergi jual ini dan berikan kepada Ahlus Shuffah.” Bilal menjual dua gelang itu dengan dua setengah dirham (sekitar tiga belas qirsh/sen). Dan menyedekahkannya kepada mereka.

Wahai putri Nabi yang agung! Engkau juga, ayahmu tidak rela untukmu perhiasan seharga dua setengah dirham padahal di antara kaum Muslim ada orang-orang miskin yang tidak memiliki yang seperti itu.

Pria rakyat mana di bumi seperti Muhammad, yang ada padanya untuk seluruh umat naluri seorang ayah, ada padanya dalam semua keadaannya keyakinan yang tidak berubah, dan ada padanya sifat sempurna yang dengannya yang hakiki adalah yang hakiki.

Wahai putri Nabi yang agung! Sesungguhnya perhiasan seharga dua setengah dirham tidak menjadi perhiasan dalam pandangan kebenaran jika mungkin menjadi sedekah seharga dua setengah dirham. Di dalamnya saat itu ada makna selain maknanya; di dalamnya hak diri mengalahkan hak jamaah, di dalamnya iman pada manfaat menguasai iman pada kebaikan; di dalamnya apa yang tidak penting telah menzalimi apa yang penting; di dalamnya kesalahan dari kesempurnaan yang jika benar dalam perhitungan halal dan haram tidak benar dalam perhitungan pahala dan rahmat.

Kemarilah wahai kaum sosialis, kenalilah nabi kalian yang paling agung! Sesungguhnya mazhab kalian jika tidak dihidupkan oleh keutamaan-keutamaan Islam dan syariat-syariatnya, mazhab kalian seperti pohon layu yang kalian gantungkan buah-buahan, kalian ikat dengan benang… Setiap hari kalian menghias, setiap hari kalian mengikat, namun tidak ada buah dalam alam.

Kisah pilihan ini bukan masalah kekayaan dan kemiskinan dalam makna materi, tetapi masalah kesempurnaan dan kekurangan dalam makna ruh. Jelas bahwa Nabi adalah guru seluruh kemanusiaan; kewajibannya adalah menjadi keutamaan yang hidup dalam setiap kehidupan, menjadi penghibur dalam setiap kemiskinan, menjadi pendidikan dalam setiap kekayaan. Karena itu dia dalam pribadi dan sirahnya adalah hukum akhlak untuk semua.

Seolah-olah beliau ingin mengajarkan umat dengan kisah ini bahwa jamaah tidak baik dengan hukum-hukum, syariat-syariat, perintah dan larangan, tetapi dengan amal para pembesar mereka dalam perintah dan larangan. Bahwa penguasa manusia tidak sepatutnya memerintah kecuali jika dalam diri dan tabiatnya merasakan fitnah dunia dengan perasaan yang menguasai, bukan yang tunduk, agar kemerdekaan pertamanya adalah kemerdekaan batinnya.

Itu bukan kemiskinan atau zuhud sebagaimana terlihat dalam lahir kisah, tetapi keberanian jiwa yang agung dalam menetapkan kenyataan-kenyataan amalnya.

Kisah berakhir dalam ungkapan Al-Quran Al-Karim dengan menyebut istri-istri beliau: “Ummahatul Mukminin” setelah mereka memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat. Para ulama tafsir berkata: Allah Ta’ala memberikan balasan kepada mereka dengan sebutan ini. Itu bukan sesuatu dan tidak mengandung makna besar.

Sebutan ini mengisyaratkan makna halus yang merupakan ayat dari ayat-ayat kemukjizatan. Sesungguhnya istri yang sempurna tidak sempurna dalam kehidupan dan tidak menyempurnakan kehidupan dengannya kecuali jika sifatnya dengan suaminya seperti sifat ibu, melihat anaknya dengan hati dan maknanya, bukan dengan naluri dan bagiannya.

Setiap kehidupan saat itu mungkin bahagia bagi istri ini, setiap penderitaan tertanggung dengan sabar, setiap usaha di dalamnya ada kelezatan alaminya, karena rumah tangga berdiri atas cinta yang adalah cinta murni, bukan manfaat. Menjadi perhiasan kehidupan keberadaan yang hidup itu sendiri, bukan keberadaan materi. Jiwa dibangun atas kesetiaan alami seperti kesetiaan ibu, dan itu adalah akhlak yang tidak sulit baginya dalam jalan hakikatnya untuk mengalahkan dunia dan perhiasannya.

Terakhir yang kita ambil dari kisah dalam pelajaran kenabian ini adalah hikmah ini:

Cukup bagi orang mukmin ketika masuk rumahnya bahwa dia menemukan hakikat dirinya yang baik, meskipun dia tidak menemukan hakikat Kisra atau Kaisar.

 

 

Bulan Revolusi * Filsafat Puasa:

Saya belum pernah membaca pernyataan yang memuaskan dari siapa pun tentang filsafat puasa dan hikmahnya. Adapun manfaatnya bagi tubuh, bahwa puasa adalah sejenis pengobatan, dan merupakan bagian dari kebijakan dalam mengatur tubuh, para dokter telah menyelesaikan pembahasan tersebut. Seakan-akan hari-hari bulan yang berkah ini tidak lain adalah tiga puluh pil yang diminum sekali setiap tahun untuk memperkuat lambung, membersihkan darah, dan melindungi jaringan tubuh. Namun kini kita tidak sedang membahas hal tersebut, melainkan kita merenungkan kebenaran Islam yang agung yang mensyariatkan syariat ini untuk mengatur kebenaran-kebenaran duniawi yang kecil, bekerja untuk melestarikan ide kemanusiaan di dalamnya, agar jiwa tidak berubah karena perubahan peristiwa, dan agar dunia tidak mengabaikan makna perbaikan ketika makna kehancuran menimpa dunia ini.

Di antara mukjizat Al-Quran adalah bahwa ia menyimpan dalam kata-kata yang dikenal di setiap zaman, kebenaran-kebenaran yang tidak dikenal untuk setiap zaman, lalu mengungkapkannya pada waktunya ketika zaman ilmiah berteriak dalam kebingungan dan kegalauan, lalu memberontak terhadap sejarah dan para ahlinya dengan meremehkan agama-agama, dan pergi mengikuti kebenaran-kebenaran, meneliti berbagai cabang pengetahuan, untuk menyimpulkan dari antara kekufuran dan keimanan suatu agama alamiah yang dapat diterima, yang pertama-tama mengatur kehidupan dengan rahasia-rahasia ilmu, mengarahkannya dengan ilmu menuju tujuan yang benar, dan menggandakan kekuatannya dengan metode-metode alamiahnya, untuk mewujudkan dalam kemanusiaan dunia ini sesuatu yang tidak diketahui yang dibayangkan oleh mazhab-mazhab sosial namun tidak ada satu pun mazhab yang berhasil mencapai atau mendekatinya. Kebahagiaan sosial tetap seperti percobaan ilmiah di tangan para ilmuwannya – mereka tidak mewujudkannya dan tidak putus asa darinya, dan mazhab-mazhab tersebut tetap seperti jarum jam dalam putarannya – dimulai dari mana ia dimulai lalu tidak berakhir kecuali kembali ke tempat ia dimulai.

Para sosialis di Eropa kebingungan karena mereka telah gagal seperti kegagalan orang yang mencoba mengubah manusia dengan menambah dan mengurangi sarafnya. Mazhab mereka di dunia tetap menjadi mazhab buku dan risalah. Seandainya mereka merenungkan hikmah puasa dalam Islam, mereka akan melihat bulan ini sebagai sistem praktis dari sistem sosialis yang paling kuat dan paling kreatif. Puasa ini adalah kemiskinan wajib yang diwajibkan syariat kepada manusia agar semua orang sama dalam batin mereka, baik yang memiliki sejuta dinar, yang memiliki satu sen, maupun yang tidak memiliki apa-apa, sebagaimana semua manusia sama dalam hilangnya kesombongan kemanusiaan mereka melalui shalat yang diwajibkan Islam kepada setiap muslim, dan dalam hilangnya perbedaan sosial mereka melalui haji yang diwajibkan kepada yang mampu.

Kemiskinan wajib yang dimaksudkan untuk membuat jiwa manusia merasakan dengan cara praktis yang sangat jelas, bahwa kehidupan yang benar berada di luar kehidupan, bukan di dalamnya, dan bahwa kehidupan menjadi sempurna ketika manusia sama dalam perasaan, bukan ketika mereka berbeda, dan ketika mereka saling mengasihi dengan perasaan penderitaan yang sama, bukan ketika mereka bertengkar dengan perasaan hawa nafsu yang beragam.

Jika engkau teliti, engkau akan melihat bahwa manusia tidak berbeda dalam kemanusiaan karena akal mereka, atau nasab mereka, atau pangkat mereka, atau harta yang mereka miliki, tetapi mereka berbeda karena perut mereka dan pengaruh perut ini terhadap akal dan emosi. Dari perut inilah musibah kemanusiaan, dan ia adalah akal praktis di bumi. Jika perut dan otak berbeda dalam kebutuhan, perut akan mengambil kekuatannya dari tenaga pencernaan sehingga tidak menyisakan dan tidak mengampuni.

Dari sinilah puasa mengambil alih dengan pendidikan, pengajaran, dan pelatihan, menjadikan manusia sama di dalamnya. Tidak ada bagi mereka semua kecuali satu perasaan, satu rasa, dan satu sifat. Puasa menguasai keadaan dengan menghalangi antara perut ini dengan materi, dan berlebihan dalam penguasaannya dengan menahan pinggiran sarafnya di seluruh tubuh, mencegahnya dari nutrisi dan kenikmatannya bahkan hingga hembusan asap rokok.

Dengan demikian, puasa menempatkan seluruh kemanusiaan dalam satu keadaan jiwa yang dikenakan oleh jiwa di timur dan barat bumi, dan melepaskan dalam seluruh kemanusiaan ini suara ruh yang mengajarkan kasih sayang dan menyeru kepadanya, sehingga dengan kelaparan ini memenuhi suatu ide tertentu yang merupakan semua kebenaran dalam mazhab sosialisme, yaitu ide yang darinya terjadi kesetaraan orang kaya dengan orang miskin secara alami, dan ketenangan orang miskin terhadap orang kaya secara alami. Dari keduanya – “ketenangan dan kesetaraan” – terjadilah ketenangan hidup dengan ketenangan dua jiwa yang merupakan negatif dan positif dalam pergaulan manusia ini. Jika engkau mencabut ide ini dari sosialisme, seluruh mazhab ini menjadi sia-sia dalam upaya menjadikan sejarah manusia sebagai sejarah yang tidak memiliki sifat alami.

Di antara kaidah jiwa adalah bahwa kasih sayang tumbuh dari rasa sakit, dan inilah sebagian rahasia sosial yang agung dalam puasa, karena puasa sangat berlebihan dan sangat teliti dalam mencegah makanan dan yang menyerupai makanan dari perut dan pinggirannya selama periode yang akhirnya adalah batas kemampuan. Ini adalah cara praktis untuk menumbuhkan kasih sayang dalam jiwa, dan tidak ada cara lain kecuali bencana dan musibah. Ini adalah dua cara seperti yang engkau lihat: yang berwawasan dan yang buta, yang khusus dan yang umum, yang teratur dan yang mendadak.

Ketika kasih sayang orang kaya yang lapar terhadap orang miskin yang lapar terwujud, kata kemanusiaan batin memiliki kekuasaan yang berpengaruh, dan pengendali jiwa menguasai materi. Orang kaya mendengar dalam hati nuraninya suara orang miskin yang berkata: “Berilah aku,” bukan sebagai permintaan harapan, tetapi sebagai permintaan perintah yang tidak dapat dihindari untuk dipenuhi dan ditanggapi maknanya, sebagaimana orang yang tertimpa musibah menghibur orang yang berada dalam musibah yang sama.

Mukjizat perbaikan apa yang lebih menakjubkan dari mukjizat Islam ini yang menetapkan bahwa dari seluruh kemanusiaan dihapus sejarah perut selama tiga puluh hari setiap tahun, untuk digantikan dengan sejarah jiwa? Saya yakin bahwa ada proporsi matematis yang merupakan hikmah dalam menjadikan puasa ini sebulan penuh dari setiap dua belas bulan, dan bahwa proporsi ini terwujud dalam kerja jiwa untuk tubuh, dan kerja tubuh untuk jiwa, seakan-akan itu adalah bulan kesehatan yang diwajibkan kedokteran setiap tahun untuk istirahat, rekreasi, dan perubahan kehidupan, untuk menciptakan perbaikan saraf dalam tubuh. Mungkin itu berasal dari hubungan antara sirkulasi darah dalam tubuh manusia dan bulan sejak menjadi hilal hingga masuk dalam kegelapan, karena pembuluh darah membengkak dan bertambah dalam paruh pertama bulan, seakan-akan dalam “pasang” dari cahaya bulan selama cahaya ini bertambah, kemudian “surut” kembali dalam paruh kedua hingga seakan-akan darah memiliki cahaya dan kegelapan. Jika terbukti bahwa bulan berpengaruh pada penyakit saraf, dan pada pasang surut darah, ini adalah hikmah yang paling menakjubkan bahwa puasa menjadi bulan lunar tanpa yang lain.

Dalam melihat hilal dan kewajiban puasa karena melihatnya ada makna halus lain, yaitu – dengan penetapan melihat hilal dan pengumumannya – penetapan kehendak dan pengumumannya, seakan-akan terpancar sinar langit pertama dalam peringatan manusia umum untuk kewajiban kasih sayang, kemanusiaan, dan kebaikan.

Di sini terdapat hikmah besar dari hikmah puasa, yaitu kerjanya dalam mendidik kehendak dan memperkuatnya dengan metode praktis ini, yang melatih orang yang berpuasa untuk mencegah dengan pilihannya dari syahwat dan kenikmatan kebinatangannya, bersikeras pada penolakan, bersiap dengan tekadnya, sabar dengan akhlak kesabaran, melakukan dalam semua itu cara jiwa terbaik untuk memperoleh ide yang tetap yang kokoh, tidak berubah dan tidak beralih, dan tidak diserang oleh gangguan naluri.

Memahami kekuatan dari kehendak praktis ini adalah kedudukan sosial yang tinggi, yang dalam kemanusiaan berada di atas kedudukan kecerdasan dan ilmu. Dalam keduanya ide muncul lewat, tetapi dalam kehendak ia muncul untuk menetap dan terwujud. Lihatlah dalam hukum apa pun, dan dalam bangsa apa pun, engkau akan menemukan tiga puluh hari dari setiap tahun telah diwajibkan untuk mendidik kehendak rakyat dan melakukan satu ide jiwa dengan karakteristik dan keadaannya hingga menetap, kokoh, dan menjadi bagian dari kerja manusia, bukan khayalan yang lewat di kepalanya.

Bukankah ini adalah pemberian kesempatan praktis yang mereka jadikan dasar dalam pembentukan kehendak? Dan apakah kehendak mencapai dalam pencapaiannya, lebih tinggi dari kedudukannya ketika ia menjadikan syahwat seseorang tunduk pada pikirannya, mengikuti pengendali jiwa di dalamnya, diarahkan oleh rasa agama yang menguasai jiwa dan perasaannya.

Demi Allah, seandainya puasa Islam ini merata di seluruh penduduk bumi, maknanya adalah menjadi ijmak dari seluruh kemanusiaan untuk mengumumkan revolusi sebulan penuh dalam setahun, untuk membersihkan dunia dari keburukan dan kerusakannya, menghapus keegoisan dan kekikiran di dalamnya, dan mengajukan masalah jiwa agar penduduk bumi mempelajarinya secara praktis selama bulan penuh ini, sehingga setiap pria dan wanita turun ke kedalaman jiwanya untuk menguji dalam pabrik pikirannya makna kebutuhan dan makna kemiskinan, dan untuk memahami dalam sifat tubuhnya – bukan dalam buku-buku – makna kesabaran, keteguhan, dan kehendak, dan untuk mencapai dari itu semua tingkatan kemanusiaan, penghiburan, dan kebaikan, sehingga mewujudkan dengan ini semua makna persaudaraan, kebebasan, dan kesetaraan.

Bulan yang merupakan hari-hari hati dalam waktu. Ketika mengawasi dunia, waktu berkata kepada penghuninya: Ini adalah hari-hari dari diri kalian, bukan dari hari-hariku, dan dari sifat kalian, bukan dari sifatku. Maka seluruh dunia menghadapi keadaan jiwa yang sangat tinggi, di dalamnya jiwa berlatih dengan riyadah pada hal-hal mulia dan akhlak yang mulia, memahami kehidupan dengan wajah lain selain wajahnya yang suram, melihatnya seakan-akan ia dilaparkan dari makanan hariannya sebagaimana ia lapar, dan seakan-akan ia dikosongkan dari kehinaan dan syahwatnya sebagaimana ia kosong, dan seakan-akan ia diwajibkan makna takwa sebagaimana ia diwajibkan. Betapa indah dan kreatif kehidupan tampak di seluruh dunia – seandainya sehari saja – membawa tasbih di tangannya! Bagaimana dengan itu selama sebulan setiap tahun?

Sungguh, demi Allah, ini adalah cara praktis untuk kokohnya ide kebaikan dan kebenaran dalam jiwa, membersihkan masyarakat dari kehinaan akal material, dan mengembalikan sifat binatang yang dikuasai dalam lahirnya oleh hukum-hukum, dan dibebaskan dari hukum-hukum dalam batinnya kepada hukum dari batinnya sendiri yang membersihkan perasaannya, meninggikan rasa-nya, mengalihkannya kepada makna kemanusiaannya, menyelaraskan kelebihannya, dan menghapus banyak dari kesiaan-siannnya, hingga mengembalikannya kepada semacam kesucian masa kanak-kanak, menjadikannya jernih dan bercahaya dengan apa yang menarik kepadanya dari makna kebaikan, kejernihan, dan kecerahan, karena memang kerja ide yang tetap dalam jiwa adalah menyeru kepadanya apa yang sesuai dan berhubungan dengan sifatnya dari pikiran-pikiran lain. Jiwa dalam bulan ini terkurung dalam ide kebaikan saja, maka ia membangun bangunannya dari itu semampu ia.

Ini sesungguhnya bukan bulan dari bulan-bulan, tetapi ia adalah musim jiwa seperti musim-musim alam dalam putarannya. Sungguh, demi Allah, ia lebih mirip musim dingin dalam kedatangannya ke dunia dengan cuaca yang sifatnya awan dan hujan, dan kerjanya memberi kehidupan sarana-sarana yang berlangsung hingga akhir tahun, dan latihannya memberikan kekokohan, penyusutan, dan keringanan, dan tujuannya mempersiapkan alam untuk mekar tentang keindahan batinnya di musim semi yang mengikutinya.

Sangat menakjubkan bahwa bulan ini yang menyimpan dalam tubuh dari kekuatan maknanya dan menitipkannya dalam bank kerohanianya, untuk menemukan darinya saat kesulitan bantuan kesabaran, keteguhan, tekad, ketabahan, dan kekasaran, sangat menakjubkan bahwa bulan ekonomi ini adalah dari hari-hari tahun seperti bunga 8,30 persen, seakan-akan ia mencatat dalam saraf mukmin perhitungan kekuatan dan keuntungannya sehingga baginya setiap tahun ada tambahan 8,30 dari kekuatan makna kerohanianya.

Sihir kebesaran di dunia ini hanya ada pada bangsa yang tahu bagaimana menyimpan kekuatan ini dan mengumpulkannya untuk mengambil darinya saat dibutuhkan, dan itulah rahasia pendahulu kita yang pertama yang menemukan dalam kemiskinan di darah dan saraf mereka apa yang ditemukan tentara-tentara besar hari ini dalam gudang persenjataan, senjata, dan amunisi.

Semua yang saya sebutkan dalam artikel ini tentang filsafat puasa, hanyalah saya ambil dari ayat mulia ini: “Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Para ulama semuanya memahaminya dengan makna “takwa”. Adapun saya, saya menafsirkannya dari “ittiqo” (berjaga-jaga). Dengan puasa seseorang berjaga-jaga atas dirinya agar tidak menjadi seperti binatang yang syariatnya adalah perutnya, dan agar tidak memperlakukan dunia kecuali dengan materi syariat ini. Masyarakat berjaga-jaga atas kemanusiaan dan sifatnya seperti itu, sehingga tidak ada manusia dengan manusia seperti keledai dengan manusia, menjual semua kekuatan dengan sedikit makanan ternak.

Dengan puasa keduanya berjaga-jaga dari apa yang di hadapannya dan apa yang di belakangnya, karena yang di hadapannya adalah masa kini dari sifat dan akhlaknya, dan yang di belakangnya adalah generasi yang akan mewarisi dari sifat dan akhlak ini, maka ia bekerja dengan dirinya di masa kini, dan bekerja dengan masa kini untuk masa depan.

Semua yang kita jelaskan adalah berjaga-jaga dari bahaya untuk mendatangkan manfaat, dan berjaga-jaga dari keburukan untuk mendatangkan kebajikan. Dengan tafsir ini ayat mulia menghadap arah filosofis yang tinggi, yang tidak dapat dicapai penjelasan, ilmu, atau filsafat dengan lebih ringkas atau lebih sempurna dari lafaznya. Puasa menghadap sebagai syariat sosial kemanusiaan umum yang dengannya masyarakat berjaga-jaga dari kejahatan dirinya. Dunia tidak akan beradab kecuali jika ia memiliki bersama hukum-hukum yang berlaku, hukum umum ini yang namanya puasa, dan maknanya “hukum perut”.

Alangkah agungnya engkau, wahai bulan Ramadan! Seandainya dunia mengenalmu dengan sebenar-benarnya mengenal, niscaya ia menamakanmu: “Sekolah Tiga Puluh Hari”.

 

 

Kestabilan Akhlak:

Jika saya ditanya untuk meringkas seluruh filsafat agama Islam dalam dua kata, saya akan mengatakan: kestabilan akhlak. Dan jika filsuf terbesar dunia diminta untuk merangkum seluruh pengobatan kemanusiaan dalam dua huruf, mereka tidak akan menambahkan apa pun selain mengatakan: kestabilan akhlak. Dan jika seluruh ilmuwan Eropa berkumpul untuk mempelajari peradaban Eropa dan membatasi apa yang dibutuhkannya dalam dua kata, mereka akan berkata: kestabilan akhlak.

Dunia tidak menunggu para nabi, filsuf, pembaharu, atau ilmuwan yang menciptakan inovasi baru baginya; melainkan dunia menunggu seseorang yang mampu menafsirkan Islam dengan penafsiran seperti ini, dan membuktikan kepada dunia bahwa semua ibadah Islam adalah sarana praktis yang mencegah akhlak manusia berubah-ubah pada seseorang sehingga ia melepas diri darinya dan mengenakannya, ketika keadaan hidup berubah sehingga mengangkat manusianya atau menurunkannya; dan bahwa Islam menolak setiap Muslim menjadi manusia sesuai dengan keadaannya dalam hal kekayaan atau ilmu, dalam hal ketinggian atau kerendahan, dalam hal kehinaan kedudukan atau kemasyhurannya; dan mewajibkan setiap Muslim menjadi manusia sesuai dengan tingkatan yang telah dicapai alam semesta dalam ketinggian dan kesempurnaannya, dan dalam perubahannya pada kedudukan-kedudukannya setelah disaring dalam syariat demi syariat, dan pengalaman demi pengalaman, dan ilmu demi ilmu.

Peradaban berakhir pada perubahan akhlak seiring perubahan keadaan hidup. Orang yang dulunya bertakwa dalam kemiskinan dan kekurangan, yang terhalang oleh kemiskinan dari berbagai kenikmatan, kemudian menjadi kaya; maka dibolehkan baginya menjadi fasik dalam kekayaan dan membiarkan kefasikannya seluas apa yang dapat dicapai dengan uang, meskipun dalam setiap dinar hartanya terdapat penderitaan jiwa manusia atau kerusakannya.

Dan orang yang lahir di dalam gubuk, atau di pinggir jalan, wajib tetap menjadi tanah kemanusiaan; seakan-akan Allah Yang Mahakuci tidak membangun dari tulang, daging, dan urat sarafnya kecuali reruntuhan manusia tanpa arsitektur, keteraturan, atau seni. Kemudian ia berhadapan dengan orang yang lahir di istana atau mirip istana yang memiliki hukum lain, seakan-akan Allah Yang Mahakuci telah merangkai dari tulang, darah, dan pembentukannya suatu keajaiban arsitektur dan keajaiban seni, dan keunikan pengaturan, dan sesuatu dengan sesuatu, dan lapisan demi lapisan.

Namun Islam menetapkan kestabilan akhlak dan mewajibkannya serta membentuk jiwa atasnya, dan menjadikannya dalam perlindungan dan penjagaan masyarakat, karena ada batasan-batasan dalam kemanusiaan yang dibedakan dengan batasan-batasan dalam kehidupan, dan harus ada pengaturan dalam keduanya, agar tidak ada kedudukan kecuali di belakangnya ada takdir, dan tidak ada takdir kecuali bersamanya ada hikmah, dan tidak ada hikmah kecuali di dalamnya ada kemaslahatan; dan agar kehidupan tidak naik atau turun kecuali seperti apa yang kamu lihat dari kedua sisi timbangan yang dikencangkan dalam hubungan yang menyatukan dan menggerakkan keduanya bersama-sama, maka ia dengan sendirinya yang turun dengan yang turun untuk menunjukkannya, dan naik dengan yang tinggi untuk menjelaskannya; maka Islam dalam peradaban dan ia adalah peradaban bagi peradaban ini.

Materi tulang, daging, dan darah dalam manusia tidak akan berubah karena ia tetap dan telah ditakdirkan atasnya, dan tidak akan berubah sunnatullah yang mengadakan dan membinasakannya karena ia mengaturnya dan memutuskannya, dan di antara kerja materi ini dan kerja hukumnya, di dalamnya terdapat rahasia-rahasia penciptaan, dan dalam rahasia-rahasia ini kamu temukan seluruh sejarah kemanusiaan mengalir dalam darah.

Naluri-naluri itulah yang bekerja dalam kemanusiaan dengan kerja ilahiahnya, dan ia terbatas dan terkendali atas apa yang terjadi dari pertentangan dan perbedaan di antaranya, dan seakan-akan ia diciptakan dengan keseluruhannya untuk keseluruhannya; dan dari situ akhlak yang benar dalam maknanya menjadi hukum kepadanya dengan kekuatan seperti kekuatan alam semesta dan pengaturan seperti pengaturannya.

Dan dengan kekuatan dan pengaturan ini akhlak mampu mengubah materi yang menentangnya jika ia mengeras dan kuat, tetapi ia berubah bersamanya jika ia lunak atau lemah, maka ia adalah takdir kecuali bahwa ia dalam ketaatanmu, karena ia adalah kekuatan pemisah antara kemanusiaan dan kehewananmu, sebagaimana ia adalah kekuatan penggabung di antara keduanya, sebagaimana ia adalah kekuatan penyeimbang dalam keduanya, dan telah memungkinkan kemampuan atas semua keadaan ini, dan seandainya ia tidak dalam kedudukan ini niscaya manusia akan hidup sepanjang sejarah sebelum sejarah, karena tidak akan ada baginya waktu yang mengabadikan keutamaan atau kejahatannya dengan pujian atau celaan.

Maka tidak ada nilai dari penampakan kehidupan pada individu, karena individu terikat dalam diri sendiri dengan keseluruhan yang adalah untuk keseluruhan dan bukan untuknya sendiri. Karena kamu melihat naluri-naluri terus-menerus dalam mengadakan individu ini untuk jenisnya dengan hukum-hukum dari pekerjaan-pekerjaannya, dan terus-menerus pula dalam membinasakannya dalam jenis itu sendiri dengan hukum-hukum lain; maka hukum individu hanyalah sesuatu yang sementara sebagaimana kamu lihat; dan dengan ini mungkin individu berubah atas sebab-sebab yang berbeda, kemudian akhlak yang ada antara dia dan keseluruhan tetap stabil dalam bentuknya.

Maka akhlak meskipun ada pada individu-individu, ia dalam hakikatnya adalah hukuman masyarakat atas individu-individunya; maka kekuatannya hanya dengan pertimbangan sosial.

Dan ketika terjadi kerusakan dalam hal yang disepakati dari adab manusia, dan bengkoknya apa yang dahulu lurus, dan bercampurnya yang tinggi dan yang rendah, dan dibuangnya kepedulian dengan hati nurani sosial, dan berdirinya timbangan hukuman dalam perkumpulan mereka atas yang buruk dan yang mungkar, dan berjalannya pelajaran dalam apa yang mereka anggap dengan kejahatan dan yang haram, dan tidaklah mengagumkan manusia kecuali apa yang merusak mereka, dan jatuhnya hal itu dari mereka di posisi hukum dan menempati tempat kebiasaan; maka di sana tidak ada pegangan bagi akhlak yang sehat pada individu, dan tidak bisa tidak individu berubah dalam hakikatnya; karena ia tidak pernah datang kecuali retak dalam semua penampakan sosialnya, maka di mana pun ia jatuh dari perbuatan manusia ia datang patah atau cacat, dan seakan-akan ia berpindah dari suatu alam ke alam kedua tanpa hukum-hukum yang pertama.

Dan yang menyimpang dari kaidah ini hanyalah para nabi dan beberapa orang bijak; adapun mereka itu, maka mereka adalah kekuatan perubahan dalam sejarah kemanusiaan; tidak diutus seorang pun dari mereka kecuali untuk menggerakkan dengannya kegoncangan dalam sejarah, dan manusia melalui jalur-jalur baru dengannya seakan-akan badai, gempa bumi, dan gunung berapi yang mendorong mereka kepadanya, bukan syariat, prinsip-prinsip, dan adab-adabnya. Adapun para bijak yang matang maka mereka selalu dalam kemanusiaan ini tempat-tempat manusia yang diperkuat untuk menjaga harta karun mereka dan menyimpannya dalam diri mereka sendiri, maka bagi mereka dalam diri mereka sendiri perlindungan dan kekuatan seperti gunung-gunung dalam bumi.

Akhlak menurut pendapat saya adalah cara untuk mengatur kepribadian individu sesuai dengan kewajiban-kewajiban umum, maka perbaikan di dalamnya hanyalah dari kerja kewajiban-kewajiban ini, yaitu dari sisi masyarakat dan yang mengurus pemerintahannya. Dan menurut saya bahwa rakyat memiliki lahir dan batin, maka batinnya adalah agama yang memerintah individu, dan lahirnya adalah hukum yang memerintah semua, dan tidak akan baik untuk batin yang berhubungan dengan ghaib kecuali pemerintahan agama yang berhubungan dengan ghaib sepertinya; dan dari sini tampak tempat-tempat kerusakan dalam peradaban Eropa baru; maka ia ada di lahir rakyat bukan batinnya, dan individu rusak dengannya dalam dirinya sendiri jika ia terlepas dari agama, tetapi ia dengan itu tampak baik dan teratur dalam lahir sosialnya dengan hukum-hukum dan dengan adab umum yang dipaksakan hukum-hukum, maka ia tidak berhenti mengejek akhlak dan mencemoohnya; karena ia tidak tetap padanya, kemudian tidak menjadi akhlak yang dianggap kecuali jika mengalirkan dengannya keuntungan-keuntungannya, dan kalau tidak maka ia merugikan jika darinya ada kerugian, dan ia menyakitkan jika menghalangi kenikmatan-kenikmatan. Dan individu ini tidak berhenti berubah karena ia bebas dalam batinnya tidak terikat kecuali dengan hawa nafsu dan kecenderungan-kecenderungannya, dan dua kata keutamaan dan kejahatan tidak ada dalam bahasa hawa nafsu dan kecenderungan-kecenderungan; karena tujuannya kesenangan, kenikmatan, dan kesuksesan, dan biarlah sebabnya apa yang ada.

Dan dengan ini maka tidak akan tegak hukum-hukum di Eropa jika musnah orang-orang beriman dengan agama-agama di dalamnya atau orang-orang atheis mengalahkan mereka, dan mereka hari ini melihat dengan mata mereka sendiri apa yang telah diperbuat mentalitas Perang Besar pada golongan-golongan dari mereka yang telah merusak diri mereka dari iman mereka lalu berubah perubahan yang kami isyaratkan, maka urat saraf mereka setelah perang masih berperang berjuang melempar dalam segala sesuatu dengan roh darah, potongan tubuh, kubur, pembusukan, dan kehancuran… Dan berakhirlah perang antara bangsa dengan bangsa, tetapi dimulailah antara akhlak dengan akhlak.

Dan dahulu kaum Muslim berperang, dan membuka dunia, dan menaklukkan bangsa-bangsa; maka mereka menetapkan di setiap tanah petunjuk agama mereka dan kekuatan akhlak mereka yang stabil, dan ada di belakang diri mereka dalam perang apa yang ada di belakangnya dalam damai, dan itu dengan kestabilan batin mereka yang tidak berubah, dan tidak membuatnya ringan kehidupan dengan kecerobohannya, dan tidak membuatnya bodoh peradaban-peradaban lalu membawanya pada kecerobohan.

Dan seandainya mereka adalah ahli perang terakhir ini dengan semua yang dilemparkan dunia dengannya, niscaya tetap bagi mereka mentalitas beriman yang kuat, karena setiap Muslim maka ia dan mentalitasnya dalam kekuasaan batinnya yang stabil dan tetap atas batasan-batasan yang jelas, terkumpul, dan terbagi, yang dilindungi dan dipegang oleh amal-amal iman yang telah dikuatkan Islam dengan penguatan paling kuat dengan memfardhukannya atas jiwa-jiwa secara beragam dan berulang: seperti shalat, puasa, dan zakat, untuk mencegah dengannya suatu perubahan dan mengadakan dengannya perubahan lain, dan menjadikannya seperti penjaga bagi kehendak yang masih terus melewatinya dan menjaganya antara waktu demi waktu.

Sesungguhnya lahir dan batin seperti ombak dan pantai; maka jika ombak mengamuk maka tidak akan membahayakannya selama pantai tetap tenang, hening, diikat dengan penyangga-penyangganya dalam lapisan-lapisan bumi. Adapun jika pantai berombak… maka itu gaya lain selain gaya lautan dan badai; dan tidak heran jika tidak menjadi kecuali lenyapnya bumi dan air dan apa yang berhubungan dengannya.

Di alam semesta ada asal yang tidak berubah dan tidak berganti, yaitu hukum pengaturan kekuatan dan pengarahannya dan petunjuknya sesuai dengan hikmah. Dan menghadapinya dalam manusia hukum sepertinya yang tidak bisa tidak ada untuk mengatur makna-makna manusia dan mengarahkannya sesuai dengan kesempurnaan. Dan semua fardhu agama Islam dan kewajiban-kewajibannya dan adab-adabnya, tidak lain adalah gerakan hukum ini dalam kerjanya; maka itu tidak lain adalah jalan-jalan tetap untuk menciptakan rasa moral, dan menetapkannya dengan pengulangan, dan memasukkannya dalam hukum alami dengan mengalirkannya dalam jiwa-jiwa seperti aliran kebiasaan, dan menjadikannya dengan semua itu kekuatan dalam batinnya, maka dinamakan kewajiban-kewajiban dan adab-adab fardhu agama; dan apa ia dalam kenyataan kecuali unsur-unsur pembentukan jiwa yang tinggi, dan menjadi perintah-perintah dan ia adalah hakikat-hakikat.

Dan dari itu kami orang-orang Timur terlihat unggul atas orang-orang Eropa bahwa kami lebih dekat dari mereka kepada hukum-hukum alam semesta; maka dalam diri kami pengendali-pengendali kuat dan kokoh jika kami menetapkan peradaban mereka di dalamnya, dan ia dengan sifatnya tidak menerima kecuali kebaikan-kebaikan peradaban ini, kami mendahului mereka dan meninggalkan debu kaki kami di wajah mereka, dan kami menjadi lapisan yang disaring yang mereka cari dalam kemanusiaan mereka saat ini dan tidak mereka temukan. Dan kami unggul dari mereka dari sisi lain bahwa kami tidak membangun peradaban ini dan tidak membangun kami, maka bukan hak atas kami bahwa kami mengambil kejelekan-jelekaannya dalam kebaikan-kebaikannya, dan kebodohannya dalam kebijaksanaannya, dan kepalsuan dalam kebenarannya; dan bahwa kami menelan darinya yang manis dan yang pahit, dan yang matang dan yang mentah; dan sesungguhnya kami mendapatkannya dan mengambilnya dan kembali darinya kembali yang baik; maka kami tidak mengambil kecuali sesuatu yang baik pengganti sesuatu yang telah ada di bawahnya pada kami dan meninggalkan selain itu; kemudian kami tidak mengambil dan tidak meninggalkan kecuali atas dasar-dasar pengendali yang kuat dalam agama-agama kami dan adab-adab kami; dan kami tidak seperti mereka berhubungan dari masa kini peradaban mereka dengan seperti masa lalu mereka. Namun keajaiban yang tidak habis keajaiban saya darinya, bahwa yang ditandai dari kami dengan pembaruan tidak mencoba pertama dan terakhir kecuali meruntuhkan pengendali-pengendali itu yang adalah semua yang kami ungguli dengannya, dan yang adalah juga semua yang dibutuhkan Eropa untuk mengatur peradabannya, dan mereka menyebutnya pembaruan, dan itu lebih layak disebut kebodohan dan kejahilan.

Saya katakan dan tidak peduli: bahwa kami ditimpa dalam kebangkitan kami ini dengan kaum penerjemah yang telah menjadikan penerjemahan dari bahasa-bahasa Eropa sebagai profesi, dan tidak ada akal kecuali akal apa yang mereka terjemahkan: maka keahlian mereka penerjemahan dari sisi mereka tahu atau tidak tahu keahlian peniruan murni dan pengikutan yang memperbudak, dan menjadi akal mereka -dengan hukum kebiasaan dan sifat- jika berpikir tertarik kepada asal itu tidak keluar darinya dan tidak berpindah darinya.

Dan jika benar bahwa amal-amal kami adalah yang membuat kami -sebagaimana dikatakan sebagian bijak- maka mereka dengan itu bahaya apa bahaya atas rakyat dan kebangsaan dan kepribadian dan ciri-ciri khasnya, dan hampir jika ia menaati mereka kepada semua yang mereka seru kepadanya bahwa… bahwa mereka menerjemahkannya kepada rakyat lain.

Sesungguhnya Eropa dan peradabannya tidak bernilai pada kami sesuatu kecuali sebesar apa yang terwujud dalam kami dari perluasan kepribadian dengan ilmu-ilmu dan seni-seninya, maka sesungguhnya kepribadian saja yang adalah asas kekuatan kami dalam persaingan dunia dengan semua penampakannya yang mana pun; dan untuknya saja, dan dengan pertimbangan darinya tanpa selainnya, kami mengambil apa yang kami ambil dari peradaban Eropa dan mengabaikan apa yang kami abaikan; dan tidak boleh kami meninggalkan yang tetap dalam ini dan tidak toleran dalam ketepatan perhitungan atasnya. Maka memelihara pengendali-pengendali manusia yang kuat yang adalah penampakan-penampakan agama-agama dalam kami, kemudian memasukkan kewajiban-kewajiban sosial modern dalam pengendali-pengendali ini untuk mengikatnya dengan zaman dan peradabannya, kemudian menyelaraskan penampakan bangsa sesuai dengan kewajiban-kewajiban dan pengendali-pengendali ini, kemudian bekerja atas persatuan perasaan-perasaan dan percampurannya untuk memperbaiki penampakan rakyat ini dalam keseluruhannya dengan memperbaiki bagian-bagiannya, ini adalah empat rukun yang tidak tegak atas selainnya bangunan Timur.

Dan ateisme dan kecenderungan-kecenderungan rendah dan kelemah-gemulaian peradaban Eropa yang tidak ada kerja untuknya kecuali bahwa menampakkan bahaya dalam bentuk-bentuk terindahnya… kemudian kebodohan dengan ilmu-ilmu kekuatan modern dan dengan dasar-dasar pengaturan dan penjagaan sosial dan apa yang berjalan jalan ini, kemudian penipuan atas bangsa dengan pendapat-pendapat peniru dan palsu dan penjajah untuk menghapus akhlak rakyat yang kuat dan apa yang berhubungan dengan itu, kemudian kelemahan dan perpecahan dan saling membelakangi golongan-golongan dan apa yang ada di jalannya, itu adalah empat beliung yang tidak meruntuhkan selainnya bangunan Timur.

Maka hendaklah selalu semboyan kami -kami orang-orang Timur- kata ini: akhlak kami sebelum peradaban mereka.

 

 

Aku Berkata pada Jiwaku dan Ia Berkata Kepadaku

Aku berkata pada jiwaku: “Celakalah engkau wahai jiwa! Mengapa aku begitu keras terhadapmu? Jika engkau telah memenuhi apa yang ada dalam kemampuanmu, aku justru menginginkan darimu hal yang lebih dari itu dan membebankanmu untuk berusaha keras. Aku tidak henti-hentinya menyusahkanmu setelah kesempurnaan menuju yang lebih sempurna lagi, dan setelah kebaikan menuju yang lebih baik lagi. Aku tidak berhenti menguras tenagamu setiap kali semangat kembali kepadamu, dan membuatmu lelah setiap kali kekuatan pulih. Jika engkau memiliki kekhawatiran, maka akulah yang terbesar di antaranya. Dan jika kesedihan menyerangmu, maka sebagian besarnya berasal dari apa yang kutimpakan kepadamu.”

“Engkau wahai jiwa, telah berjalan di atas jalan yang benar, namun aku memaksamu keluar dari jalur. Aku menginginkan terbang, bukan berjalan. Aku mengharapkan pekerjaan puluhan tahun dalam satu umur, dan membangunkanmu dari setiap istirahat damai dengan fajar kelelahan yang baru. Seakan-akan bagiku engkau memiliki waktu yang saling mendukung satu sama lain, yang tidak henti-hentinya memancar kepadamu dari kegelapan dengan cahaya dan dari cahaya dengan kegelapan, untuk mempersiapkan bagimu kekuatan yang akan membentangkanmu dalam sejarah di kemudian hari. Maka engkau akan pergi ketika saatnya pergi, dan hatimu akan hidup di dunia, mengalir dengan kata-kata kegembiraan dan kesedihannya.”

Dan jiwa berkata kepadaku: “Adapun aku, maka aku bersamamu senantiasa seperti kekasih yang setia kepada yang dicintainya. Ia melihat ketundukan terkadang adalah perlawanan terbaik. Adapun engkau, jika engkau tidak lelah namun terus menerus lelah, bagaimana engkau bisa menunjukkan kepadaku bahwa engkau maju dan terus maju?”

“Duniamu wahai sahabatku bukanlah apa yang engkau temukan dari orang lain, melainkan apa yang engkau ciptakan dengan dirimu sendiri. Jika engkau tidak menambahkan sesuatu pada dunia, maka engkaulah yang berlebihan di dunia. Jika engkau tidak meninggalkannya lebih baik dari yang engkau temukan, maka dunia telah menemukannya sedangkan engkau tidak menemukannya. Dan dalam dirimu terdapat batas pertama duniamu dan batas terakhirnya. Dunia sebagian orang mungkin adalah toko kecil, dunia yang lain seperti desa yang berkumpul, dan dunia sebagian mereka seperti kota besar. Adapun dunia orang besar adalah benua seutuhnya, dan jika ia menyendiri, ia meluas di dunia sehingga ia menjadi dunia itu sendiri.”

“Dan kekuatan wahai sahabatku, memperoleh makanan dari kelelahan dan penderitaan. Apa yang engkau derita hari ini sebagai gerakan dari tubuhmu, akan engkau temukan besok dalam tubuhmu sebagai kekuatan dari kekuatan daging dan darah. Dan satu jam istirahat setelah berhari-hari lelah, dalam kenikmatan adalah seperti berhari-hari istirahat setelah lelah satu jam. Dan betapa miripnya orang hidup di dunia ini dengan cepat berlalu dan terputus darinya, seperti orang yang diciptakan untuk hidup tiga hari terhitung dengan jam, menit, dan detiknya. Apakah engkau melihatnya lalai sehingga menghitungnya tiga tahun, dan pergi boros di dalamnya dengan berbagai macam hiburan, permainan, dan kemaksiatan, kecuali jika ia bodoh hingga puncak kebodohan?”

“Lelahilah dengan kelelahanmu wahai sahabatku. Dalam manusia ada kelelahan yang diciptakan dari pekerjaannya, maka ia lembut, mudah, dan tersusun rapi. Dan di antara mereka ada kelelahan yang menciptakan pekerjaannya, maka ia penguasa yang memberontak yang memiliki kekuasaan dan kemenangan. Dan engkau bekerja keras untuk mengangkat rohmu ke kekhawatiran kebenaran yang tinggi, dan mengangkat tubuhmu ke kesulitan roh yang agung. Itu wahai sahabatku, bukanlah kelelahan dalam menggali tanah, tetapi kelelahan dalam menggali harta karun.”

“Lelahilah wahai sahabatku dengan kelelahanmu, karena penderitaan roh adalah umurnya. Maka amal-amalmu adalah umur rohanimu, seperti umur tubuh bagi tubuh. Dan salah satu dari keduanya adalah umur yang hidup, dan yang lain adalah umur yang akan hidup.”

Aku berkata pada jiwaku: “Sungguh aku telah bosan dengan hal-hal tertentu dan muak dengan hal-hal tertentu. Dan sesungguhnya pekerjaan mengubah dunia adalah menghancurkannya setiap kali dibangun, kemudian membangunnya setiap kali dihancurkan. Tidak ada sesuatu pun kecuali ia berdiri pada saat yang sama dengan dua bentuk sekaligus. Dan betapa banyak teman yang kucampurkan dengan jiwa, hilang di dalamnya seperti hilangnya air dalam air, hingga ketika berlalu sehari, atau masa seperti sehari, aku melihat di tempatnya manusia khayalan seperti masalah dari masalah-masalah para ahli nahwu yang di dalamnya ada dua pendapat…! Maka ia menampung pada satu waktu tafsiran apa yang kupersangkakan darinya berupa kebaikan, dan apa yang kuharapkan darinya berupa keburukan! Dan betapa banyak nama indah jika terlintas dalam khayalku aku berkata: Ah, inilah yang dahulu…!”

“Demi Allah, sesungguhnya pakaian manusia memuat mereka lebih mirip dalam pandangan jiwa, daripada yang dibuat wajah-wajah mereka yang tidak berbeda dalam pandangan mata. Dan sungguh aku melihat dunia terkadang seperti kereta cepat yang meluncur dengan penumpangnya tanpa ada yang mengendalikannya. Dan aku melihat kelalaian yang berlebihan telah mencapai dari manusia ini tingkat orang yang mengira bahwa ia hidup dalam kehidupan seperti pegawai dalam masa percobaan. Jika ia melewati masa itu, dikatakan kepadanya: Mulailah dari sekarang. Seakan-akan jika ia hidup, ia belajar kebaikan dan keburukan, dan menyadari apa yang baik dan apa yang tidak baik, dan berakhir dari umurnya hingga batas yang ditentukan, ia kembali setelah itu hidup teratur dengan keseimbangan dan kelurusan, dalam kesadaran dan pembedaan. Padahal tahayul itu sendiri tidak pernah menerima bahwa dihitung darinya dalam khayalan kehidupan bahwa seorang laki-laki mencapai delapan puluh atau sembilan puluh dan ajalnya tiba, lalu mereka tidak mendapatinya mati di tempat tidurnya; melainkan mendapatinya terlahir di tempat tidurnya…!”

Dan jiwa berkata kepadaku: “Dan engkau, apa urusanmu dengan manusia dan dunia? Wahai ini, tidak pantas bagi lampu jalan untuk berkata: ‘Sesungguhnya jalan itu gelap.’ Hanya perkataannya jika ia ingin berbicara adalah berkata: ‘Inilah aku menyala.'”

“Dan orang bijak tidak jengkel, tidak sempit, dan tidak gelisah, sebagaimana ia tidak bertindak bodoh, tidak ceroboh, dan tidak larut dalam kebohongan khayalan. Karena semua ini adalah pengaruh kehidupan hewani dalam binatang manusia ini, bukan pengaruh roh yang kuat dalam manusianya. Binatang adalah yang lapar dan kenyang, bukan jiwa. Dan antara setiap dua hal dari yang menimpa kehewanan -seperti kosong dan penuh, kenikmatan dan kesakitan- bekerja kekuatan-kekuatan binatang banyak hal yang dengannya mereka menguasai jiwa, untuk menurunkannya dari derajat hingga menjadikannya seperti jiwa-jiwa binatang. Karena itu, permulaan hikmah adalah mengendalikan alat-alat hewani dalam tubuh, sebagaimana diletakkan tangan yang mahir pada kunci-kunci kereta yang meluncur dengan ketelnya yang berkobar dan mendidih.”

“Bekerjalah wahai sahabatku dengan pekerjaanmu. Jika engkau melihat di antara para pekerja ada yang jengkel, maka jangan jengkel seperti dia, tetapi ambillah ketenangan hatinya untuk ketenangan hatimu, dan biarkan ia sendiri dan gandakanlah dirimu.”

“Sungguh hampir saja ada dalam manusia seperti ‘bank-bank’. Ini adalah tempat penyimpanan uang yang memeliharanya, mengeluarkan darinya, dan mengembangkannya. Dan itu adalah tempat penyimpanan kebajikan yang memeliharanya, mengeluarkan darinya, dan menambahnya. Kebangkrutan seorang laki-laki dari ahli harta adalah melepaskan pistol bencana pada seorang laki-laki yang membunuhnya. Tetapi kebangkrutan ‘bank’ adalah melepaskan meriam besar bencana pada kota yang menghancurkannya.”

Aku berkata pada jiwaku: “Betapa hebat kesakitan dalam mengubah tubuh ini menjadi seperti roh bersama roh! Itulah mukjizat yang tidak ada kecuali pada para nabi, tetapi bekerja untuknya membuatnya seakan-akan ada. Dan singa yang dikurung, terkurung di dalam dirinya kekuatan dan tabiatnya. Jika hilang keberadaan besi dari sekelilingnya atau lemah satu sisinya, lepas lah binatang buas itu. Dan laki-laki yang utama adalah utama selama ia dalam sangkar pemikirannya. Dan ia selama dalam sangkar ini, ia harus senantiasa menjadi contoh yang ditampilkan untuk perbaikan yang mungkin dalam jiwa manusia. Keburukan dari manusia menimpanya untuk menguji kebaikan di dalamnya, dan pengkhianatan mencobanya untuk menemukan kesetiaan, dan kebencian menyusahkannya agar ia menjawabnya dengan cinta, dan laknat datang kepadanya untuk menemukan ampunan. Dan ia memiliki hati yang tidak lelah sehingga mencapai derajat kecuali kelelahan untuk mencapai derajat yang lebih tinggi darinya. Dan ia memiliki pikiran yang setiap kali berjuang sehingga menyadari kebenaran, kebenaran itu adalah bahwa ia berjuang sehingga menyadari yang lainnya.”

Dan jiwa berkata kepadaku: “Sesungguhnya orang yang mengungguli manusia dengan jiwanya yang besar, kebesarannya adalah dalam mengungguli jiwanya yang besar. Sesungguhnya sesuatu yang final tidak ada kecuali dalam hal-hal kecil dan keburukan. Adapun kebaikan dan kesempurnaan dan kebesaran jiwa dan keindahan yang tertinggi, maka ini adalah kebenaran-kebenaran azali yang ada untuk dirinya sendiri, seperti udara yang dihirup semua makhluk hidup di bumi ini dan tidak berakhir, dan tidak diketahui di mana berakhirnya. Dan sebagaimana cahaya terpancar dari matahari dan bintang-bintang ke bumi ini, tampak bahwa sifat-sifat itu terpancar ke jiwa-jiwa dari cahaya para malaikat. Dan dengan ini, orang yang paling beruntung di antara mereka adalah para nabi yang terhubung dengan cahaya-cahaya itu.”

“Dan dari rahmat Allah, Dia menjadikan dalam semua jiwa manusia asal kecil yang mengumpulkan ide kebaikan dan kesempurnaan dan kebesaran jiwa dan keindahan yang tertinggi. Dan mungkin semua sifat ini atau sebagiannya besar di dalamnya, dan mungkin sebagiannya atau semuanya kecil di dalamnya, yaitu: cinta.”

“Harus setiap kehidupan manusia melewati satu jenis dari jenis-jenis cinta, dari kelembutan jiwa dan rahmatnya, hingga hawa nafsu jiwa dan cintanya yang berapi-api.”

“Dan jika cinta sampai menjadi cinta yang berapi-api, ia meletakkan tangannya pada kunci-kunci saraf jiwa, dan membuka untuk kebesaran dan mukjizat pintu-pintunya, hingga ia menjadikan tahayul yang kosong menjadi mukjizat yang teliti dan memenuhi kehidupan dengan makna-makna yang tidak ada di dalamnya sebelumnya. Dan rahasia cinta ini menjadi tidak berakhir, karena ia adalah rahasia yang tidak disadari dan tidak diketahui.”

“Berjuanglah dengan perjuanganmu wahai sahabatku. Sangkar pemikiranmu itu adalah sinar yang mengurungmu, tetapi ia adalah pengasahan jiwa untuk menerima cahaya-cahaya. Dan harus ada bagi cermin sisi luar yang bukan sisi luar batu untuk menjadi cermin dengannya.”

Aku berkata pada jiwaku: “Betapa hebat kesakitan yang kuderita! Sungguh urusanku menjadi berlebihan. Setiap kali aku mengharapkan dari kehidupan kegembiraan yang membuatku gembira dan berguncang, kehidupan mendatangiku dengan pemikiran yang membuatku bekerja keras dan tekun di dalamnya? Apakah kegembiraan yang tidak henti-hentinya terjadi di antara manusia adalah yang hampir tidak terjadi untukku? Dan apakah aku pohon di tempat tumbuhnya: tumbuh naik dengan dahan-dahannya, dan turun dengan akar-akarnya, namun tidak meninggalkan tempatnya? Atau apakah aku patung di atas alasnya: tidak bergeser darinya kecuali sesaat ia tidak menjadi patung, dan tidak meninggalkannya hingga makna-makna kebesaran yang untuknya ia didirikan meninggalkannya?”

Jiwa berkata kepadaku: “Celakalah engkau! Jangan mencari dalam alam semestamu yang kecil apa yang tidak ada di dalamnya. Sesungguhnya manusia jika mereka naik ke langit dan berbolak-balik di dalamnya sebagaimana penduduk suatu benua di bumi berjalan-jalan di benua lain, dan mereka mengharapkan membawa bersama mereka dari sana kenang-kenangan kecil ke bumi, mereka akan menemukan yang terkecil di sana lebih besar dari seluruh bumi. Maka engkau adalah musafir di langit-langit.”

“Engkau seperti orang tidur: ia berhak melihat dan tidak berhak mengambil sesuatu dari yang dilihatnya kecuali sifatnya, dan hikmahnya, dan kegembiraan dengan apa yang dinikmatinya, dan kesakitan dengan apa yang menyakitinya.”

“Engkau tidak akan menjadi di bumi pohon dengan dua kaki yang pergi ke sana-sini, tetapi pohon mengirim buah-buahnya yang dipindahkan manusia, dan ia menciptakan buah-buah dengan penciptaan pengarang jenius apa yang dikarangnya dengan kerja keras yang paling berat dan usaha yang paling besar, melepaskan hati nuraninya dalam ide kecil, mengikatnya satu persatu, kemudian kembali padanya dengan penambahan, dan tidak henti-hentinya setiap waktu kembali padanya hingga menghabiskan kekuatan terakhir. Kemudian kegembiraannya adalah dalam memberikan manfaatnya, karena untuk itulah ia ada.”

“Sesungguhnya dalam pohon ada sifat alami yang jujur, bukan nafsu yang bohong. Kehidupan di dalamnya atas hakikatnya, dan kebanyakan kehidupan dalam manusia atas maknanya yang kiasan. Dan syarat kiasan adalah khayalan dan berlebihan dan pewarnaan. Tetapi jika Allah memilih seorang laki-laki dan menetapkan di dalamnya rahasia dari rahasia-rahasia alam yang jujur, dan menganugerahinya perasaan yang mampu yang membuat buah-buahnya -maka Dia telah menanamnya sebagai pohon di tempat tumbuhnya tanpa melarikan diri dan tanpa jalan keluar. Dan mungkin terbayang baginya kelemahan tabiat manusianya terkadang bahwa kemilau kemuliaan yang meninggikannya dan berkilau seperti sinar bintang, adalah kelelahannya dan kejengkelannya, atau pengaruh kekecewaannya dan kesakitannya dan kemiskinannya. Dan ini dari penderitaan akal, karena ia selalu menambahkan sesuatu pada sesuatu, dan mencampurkan makna dengan makna, dan tidak membiarkan kebenaran atas apa adanya, seakan di dalamnya ada apa yang ada dalam anak dari naluri meniru. Dan akal tidak melihat di hadapannya kecuali ketuhanan, maka ia menirunya dalam mencampuradukkan hal-hal satu sama lain, untuk menciptakan rahasia-rahasia satu dari yang lain.”

“Dan karena itu, kebenaran yang terang-terangan dan tetap menjadi penyebab kebosanan akal dalam manusia. Ia hampir tidak menetap padanya atau terikat dengannya. Ia tidak memperoleh sesuatu kecuali untuk tamak pada yang lain, dan tidak memperoleh kenikmatan kecuali untuk zuhud darinya. Dan yang paling agung yang dicintai manusia adalah memperolehnya. Jika ia memperolehnya, terjadi di dalamnya makna kematiannya, dan dimulai dalam jiwa umur lain dari keadaan lain, atau mati tidak dimulai. Maka harus bagi manusia ini dengan setiap kebenaran bagian dari kesalahan. Jika ia tidak menemukan kesalahan dalam sesuatu, ia menciptakan untuk dirinya kesalahan yang menggelikan dalam semacam cerita khayalan.”

“Sungguh puisi yang bodoh dan sangat bodoh membayangkan orang tenggelam berpikir menangkap ikan yang dilihatnya… Tetapi ini dari ungkapan yang paling fasih menurut akal yang mencari khayalan untuk ditambahkan pada kebenaran ini agar tertawa darinya, sebagaimana ia mencari untuk dirinya terkadang dalam kebenaran-kebenaran kenikmatan yang paling indah tentang kesakitan yang menyakitinya agar ia cemberut di dalamnya!”

Aku berkata pada jiwaku: “Apakah pantas bagiku membakar darahku karena aku berpikir? Dan apakah aku tetap senantiasa dengan pemikiran ini seperti orang yang melihat wajah cantik dengan kaca pembesar; tidak menunjukkan kepadanya wajah yang dicintai itu kecuali lubang-lubang dan kerusakan seakan-akan kayu yang dicabut darinya paku-paku tebal…! Maka si malang tidak menemukan kebenaran ini kecuali untuk kehilangan keindahan itu? Dan apakah tidak ada kemiripan antara sebagian manusia dan apa yang dirancang untuknya dari pekerjaan yang ia hidup dengannya; maka kusir tidak menjadi kusir kecuali karena kemiripan antara dirinya dengan kuda dan bagal dan keledai?”

Dan jiwa berkata kepadaku: “Sesungguhnya kapak penebang kayu tidak terbuat dari alat dokter. Maka ambillah untuk setiap sesuatu alatnya, dan jadilah bodoh terkadang, tetapi seperti kebodohan yang membuat wajah anak keceriaan yang terus-menerus. Kebodohan ini adalah ilmu terbesar perasaan yang halus dan peka. Tanpanya akan binasa para nabi dan orang-orang bijak dan penyair karena sedih dan duka, dan mereka akan berada dalam keberadaan ini, di bumi ini, di antara kebenaran-kebenaran ini, seperti orang yang diikat dan dikurung dalam debu yang ditimbulkan kaki dan sepatu dan kuku, tidak bernapas kecuali debu yang ditimbulkan dari sekelilingnya hingga ia binasa.”

“Bodohilah dengan kebodohanmu wahai sahabatku dalam nafsu-nafsu yang hina ini, karena ia adalah ilmu jahat yang merusak roh. Dan ketahuilah bagaimana berkata kepada rohmu yang anak dalam kemalaikatannya ketika nafsu-nafsu menyerangmu: Ini bukan untukku; ini tidak pantas bagiku.”

“Sesungguhnya roh yang besar adalah dalam hakikatnya anak malaikat.”

“Dan ilmu kehinaan-kehinaan kehidupan menjadikan bagi manusia dalam setiap kehinaan jiwa yang bergantung padanya, maka si malang menjadi antara dua jiwa dan tiga dan empat, hingga tiga puluh dan empat puluh semuanya memperebutkannya. Maka ia tersia-sia dengan kekayaan ini, dan sebagiannya menjadi bala bagi sebagian yang lain, dan hal-hal yang tidak berguna menyibukkannya. Maka ia kembali kepadanya seperti tempat sampah untuk apa yang dibuang ke dalamnya, dan menghapus dalam dirinya naluri alami rasa gembira dengan keindahan alam, sebagaimana menghapus dalam tempat sampah makna kebersihan dan makna perasaan dengannya.”

“Jiwa-jiwa khayalan dalam manusia yang celaka ini adalah roh-roh yang ditiupkannya dalam musibah-musibahnya, lalu menjadikannya musibah-musibah hidup yang hidup dalam keberadaannya dan bekerja di dalamnya pekerjaan-pekerjaannya. Tanpanya akan mati dalam jiwanya ambisi-ambisi banyak, maka mati baginya musibah-musibah banyak. Lihatlah dengan roh penyair, engkau akan melihat alam semesta seluruhnya dalam langit dan buminya harmoni satu yang tidak ada di dalamnya kecuali keindahan dan sihir dan pesona kegirangan. Dan lihatlah dengan akal yang ahli, maka engkau tidak akan melihat dalam alam semesta seluruhnya kecuali bahan-bahan ilmu alam dan kimia.”

“Dan jangkauan roh adalah keindahan alam semesta seluruhnya, dan jangkauan akal adalah sepotong batu, atau tulang dari binatang, atau jaringan dari tumbuhan, atau sepotong dari logam, dan yang serupa dengannya.”

“Bodohilah dengan kebodohanmu wahai sahabatku. Dalam setiap keindahan ada rayuan dengan syarat engkau bukan pencinta yang tamak, jika tidak engkau akan mendapat dalam setiap keindahan kekhawatiran dan kesibukan!”

Aku berkata pada jiwaku: “Sampai sekarang aku belum mengatakan kepadamu makna yang kusembunyikan darimu.”

Dan jiwa berkata kepadaku: “Dan sampai sekarang aku belum mengatakan kepadamu kecuali jawaban dari yang kausembunyikan dariku.”

 

 

Bunuh Diri “1”

Musayyab bin Rafi’ al-Kufi menceritakan: Pada suatu hari saya berada di Masjid Kufah bersama Sa’id bin Utsman, Mujahid, Dawud al-Azdi, dan sekelompok orang. Datanglah seorang pemuda dan duduk dekat kami, tepat di hadapan saya. Saya tidak bisa mengalihkan pandangan darinya karena sikapnya yang tenang dan penampilannya. Kami sedang berbincang-bincang dan saya melihat dia mendengarkan percakapan kami. Ketika Sa’id berbicara—dia memiliki suara yang lemah karena penyakitnya, dan kami memanggilnya “semut yang berisik”—saya melihat pemuda itu mendekat sedikit demi sedikit hingga dia bisa mendengar suara “semut” kami.

Sa’id berkata: “Kemarin saya dan Sya’bi melewati Imran si penjahit. Syekh itu bergurau dengannya dan berkata: ‘Kami punya hati yang patah, bisakah kamu menjahitnya?’ Imran menjawab: ‘Ya, jika kamu punya benang dari angin!’ Lalu saya berkata: ‘Kalau begitu pergilah dan bawalah kerekan yang bisa memintal udara agar kami bisa membuatkan benangmu.'”

Mujahid berkata: “Ini belum seberapa dibanding lelucon syekh kami dan hal-hal yang menimpanya. Dia pernah bercerita bahwa seorang pria datang kepadanya dengan pertanyaan. Pria itu masuk ke rumahnya saat Sya’bi sedang duduk bersama istrinya. Pria itu bertanya: ‘Siapa di antara kalian yang Sya’bi?’ Syekh menunjuk istrinya dan berkata: ‘Ini dia!'”

Musayyab berkata: Kami semua tertawa, dan perhatian saya tertuju pada pemuda itu. Ternyata dia menunduk dengan sedih dan gelisah, seolah dia tidak mendengarkan untuk menyimak, melainkan untuk mengalihkan pikirannya dari sesuatu yang membebanjinya. Pikirannya terpecah sehingga kumpulan kegelisahannya tercerai-berai oleh suara dari sana-sini, seperti yang dilakukan orang yang bersedih untuk melawan dan menolak kesedihan—dia menyibukkan mata, hati, dan telinganya sekaligus, sehingga kesedihan ada dalam dirinya namun seolah jauh darinya.

Saya berkata dalam hati: “Ada sesuatu yang telah mematikan tawa pada pemuda ini dan mematahkan keceriaannya serta semangatnya.” Kemudian saya menghampirinya dan berkata: “Saya melihatmu, anakku, seperti memperhatikan kami namun sebenarnya menghindar dari kami. Mengapa kamu tidak tertawa padahal kami semua tertawa?”

Dia berkata: “Menjauh dariku, wahai orang ini! Mana mungkin aku tertawa sedangkan aku berada di tepi kubur, dan roh tanah memenuhi mataku dalam segala yang kulihat. Seolah kuburanku telah menelan dunia tempat aku berada untuk membawaku bersamanya. Aku saat ini adalah orang mati yang hidup—satu kaki di dunia dan satu kaki di akhirat!”

Saya berkata: “Ceritakanlah apa yang terjadi padamu, anakku. Sesungguhnya aku pernah kehilangan seorang anak yang seusia dan semuda dirimu, dan aku tidak dikaruniai anak lain selainnya. Hatiku setelah kepergiannya sakit karenanya. Aku mencarinya di antara teman-teman seusianya, membayangkan bahwa wajah-wajah mereka mengumpulkan ciri-cirinya. Karena itu aku mencintai mereka semua dan lama memandangi serta merenungkan wajah-wajah mereka. Tidak ada seorang pun dari mereka kecuali dia dan hatiku memiliki cerita! Jika aku melihatnya sedih sepertimu, aku terpotong oleh rasa khawatir dan kasih sayang, dan anakku muncul dalam pikiranku dengan kegelisahan, kesedihan, dan kerapuhannya yang sama. Maka hatiku kembali seperti mata yang tertutup air mata, membawa bekas kesedihan, maknanya, dan rahasianya. Ceritakanlah apa yang kamu rasakan, anakku. Mungkin aku memiliki cara untuk mengungkap kesulitanmu atau membantu kebutuhanmu. Mungkin kamu bersedih karena masalah yang mudah dijangkau dan ringan untuk diatasi, yang tidak membuatnya besar di matamu karena memang besar, tetapi karena kamu masih kecil.”

Pemuda itu berkata: “Pelan-pelan, paman. Sesungguhnya apa yang menimpa kami adalah hal yang membuat tipu daya terputus dan cara-cara tidak dapat dikendalikan. Tidak ada obatnya kecuali kematian yang mengambil kami dan mengambilnya.”

Saya berkata: “Anakku, ini adalah kata-kata yang kurasa tidak akan diucapkan oleh siapa pun kecuali orang yang akan dibunuh karena kejahatannya dan keluarga korban tidak memaafkan. Apakah kamu atau ayahmu telah berbuat kejahatan terhadap seseorang?”

Dia berkata: “Masalahnya hampir seperti itu. Aku baru saja meninggalkan ayahku yang sudah memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Dia telah mengunci rumah dan mengamankan pintu!”

Musayyab berkata: Seolah aku digigit ular dengan kata-kata ini. Aku sangat terkejut bahwa ada seorang Muslim yang membunuh dirinya sendiri. Aku bangkit, tetapi pemuda itu menahanku dan berkata: “Dia masih hidup, dan akan membunuh dirinya ketika malam gelap dan orang-orang sudah tenang.”

Saya berkata: “Alhamdulillah, dalam cahaya ada akal. Tetapi apa yang membuatnya sampai pada keputusan yang kamu katakan itu, dan bagaimana kamu meninggalkannya pada nasibnya lalu datang kemari?”

Pemuda itu berkata: “Dia berkata kepadaku: ‘Anakku, kamu tidak akan memiliki ayah setelahku. Jika kamu ingin menyusulku, kembalilah bersama malam agar kita menyerahkan jiwa kita. Jika kamu memilih hidup, kembalilah bersama fajar untuk menyerahkanku kepada orang yang akan memandikanku!'”

Saya berkata: “Apakah kamu yakin ayahmu tidak mengeluarkanmu dari rumah karena matamu akan menahan tangannya dan membuatnya mundur dari apa yang ingin dilakukannya, sehingga ketika wajahmu tidak ada dia akan mengakhiri hidupnya?”

Dia berkata: “Aku tidak meninggalkannya sampai dia bersumpah akan hidup hingga malam, dan aku juga bersumpah akan kembali untuk mati bersamanya. Jika sumpahnya tidak menahannya, maka penantianku akan menahannya. Hidup sudah selesai dengan kami, tidak tersisa kecuali kami menyelesaikannya. Siapa yang berada dalam kondisi seperti kami lalu jatuh ke tingkatan seperti yang kami alami, tidak akan menunjukkan kehinaan atau kelemahan kepada orang-orang. Aku keluar hanya untuk bertanya kepada imam Sya’bi tentang pandangan mengenai orang yang membunuh dirinya sendiri ketika dunia menyempit baginya, musibah menimpanya, makanan sulit didapat, kesulitan menguat, dan kemiskinan membawanya ke dasar, dan dia terpaksa menghadapi keadaan yang menghancurkannya seperti batu gilingan yang berputar di atasnya, dan tidak tersisa baginya kecuali satu pandangan tentang makna dunia, yaitu bahwa dia dibohongi dan ditipu oleh dunia.”

Saya berkata: “Anakku, aku melihatmu sebagai orang yang beradab. Siapa ayahmu?”

Dia berkata: “Dia adalah si pedagang fulan, dulu bersinar seperti bulan dan sekarang lenyap seperti hilangnya bulan. Hari ini dia berada dalam malam yang paling gelap dan paling suram. Kemiskinan membuatnya lelah, dan andai hanya kemiskinaan saja, tetapi penyakit-penyakit juga menyerangnya. Andai hanya penyakit bersama kemiskinan, tetapi kematian mengambil istrinya dan dia mati karena kekhawatiran tentang dia dan aku. Dia tidak memiliki siapa-siapa selain aku dan ibuku. Masing-masing dari kami bertiga hidup untuk dua yang lain, inilah yang membuat setiap dari kami tidak pernah kosong kecuali langsung terisi. Ketika ibu pergi, pergilah kebenaran yang kami perjuangkan melawan hari-hari untuknya. Dia sendirian yang menunjukkan kepada kami hidup dengan maknanya jika hidup datang kepada kami kosong dari makna. Karena dia kami memahami hari-hari sebagai perjuangan untuk bertahan hidup. Sekarang hidup bagi kami adalah membunuh hidup!”

Saya berkata: “Anakku, demi Allah, dengan adabmu kamu adalah orang yang bijak, dan aku sayang padamu untuk mati. Bagaimana hidup ibumu mencegahmu dari membunuh dirimu sendiri tetapi hidup ayahmu tidak mencegahmu?”

Dia berkata: “Jika ayahku tetap hidup, aku akan tetap hidup. Tetapi zaman telah merebut darinya hal terakhir yang dia miliki dari sebab-sebab kekuatan, ketika mengambil hati yang penyayang yang membuatnya gemetar jika memikirkan kematian. Sekarang dia seperti orang yang berperang mempertahankan dirinya melawan musuh yang tidak mengasihaninya. Jika dia tidak mampu melawan musuhnya, maka pendapatnya adalah membunuh dirinya sendiri agar beristirahat dari siksaan musuh.”

Musayyab bin Rafi’ berkata: Aku menyadari bahwa pemuda itu ingin dari pertanyaan kepada syekh sebuah ketenangan yang membuatnya yakin bahwa dia mati sebagai Muslim jika membunuh dirinya sendiri seperti orang yang terpaksa atau dipaksa. Aku khawatir akan menghancurkan jiwanya jika aku berbicara atau memberi fatwa kepadanya. Aku berkata: “Ini adalah orang sakit yang membutuhkan pengobatan, bukan fatwa.” Imam kami Sya’bi adalah orang yang bijak, cerdas, dan peka, dia pernah menjadi duta Amirul Mukminin Abdul Malik kepada kaisar Romawi, hingga kaisar iri bahwa ada orang sepertinya di antara kami. Aku berkata: “Mudah-mudahan Allah menciptakan untuknya suatu jalan keluar.” Aku mengambil tangan pemuda itu untuk dibawa kepadanya, berjalan sambil berbicara dengannya dan menghibur dirinya. Aku berkata kepadanya: “Tidakkah kamu tahu bahwa ketika kamu selesai dari kegembiraan hidup, kamu juga selesai dari tipuannya, dan bahwa seorang zahid yang menyendiri di puncak gunung yang melihat dari biara-nya ke dunia, tidak lebih bijak atau lebih berpengalaman daripada orang yang melihat dari penderitaannya ke dunia?

Anakku: Zahid mengira bahwa dia telah lari dari keburukan-keburukan menuju kebajikan-kebajikannya, tetapi pelariannya dari perjuangan melawan keburukan itu sendiri adalah keburukan bagi semua kebajikannya. Apa gunanya kesucian, amanah, kejujuran, kesetiaan, kebajikan, kebaikan, dan lainnya, jika ada pada orang yang menyendiri di padang pasir atau di puncak gunung? Apakah ada yang mengklaim bahwa kejujuran adalah kebajikan pada orang yang tidak ada di sekelilingnya kecuali sepuluh batu? Demi Allah, orang yang kosong dari perjuangan melawan semua keburukan, adalah orang yang kosong dari semua kebajikan.

Anakku: Di antara manusia ada yang dipilih Allah sehingga mereka menjadi gandum kemanusiaan ini; mereka tumbuh, dipanen, digiling, diadoni, dan dipanggang, untuk menjadi makanan kemanusiaan dalam beberapa kebajikannya. Aku tidak melihat kamu dan ayahmu kecuali termasuk yang terpilih, seolah dalam darah kalian ada darah nabi yang dibunuh atau disalibkan!”

Musayyab berkata: Kami sampai di rumah Sya’bi. Aku mengetuk pintu, syekh datang dan membuka untuk kami. Kami mengucapkan salam dan dia membalas. Kemudian aku langsung berkata: “Wahai Abu Amr, ayah anak ini keadaannya begini dan begini.” Aku menceritakan bagaimana musibah-musibah menimpanya berturut-turut, bencana-bencana datang beruntun, dan penyakit-penyakit datang bertubi-tubi… Kemudian aku ceritakan apa yang dikatakan anaknya kata demi kata. Kemudian aku berkata: “Dia sekarang hampir akan mengakhiri hidupnya dan anaknya ini akan mengikutinya. Allah telah membimbingnya kepadamu, maka dia datang bertanya: Apakah dia mati sebagai Muslim jika dia terpaksa, dipaksa, terdesak, tersudut, dan terganggu, lalu meminum racun dan mati, atau menikam diri dengan besi dan mati, atau menyembelih diri dengan pisau dan tewas, atau melukai tangannya dengan pisau sehingga darahnya tidak berhenti sampai mati, atau mencekik diri dengan tali hingga nyawanya melayang, atau terjun dari tempat tinggi dan hancur!”

Syekh memahami maksud ucapanku “Allah telah membimbingnya kepadamu” dan maksud dari banyaknya kata-kata yang bersinonim tentang pembunuhan dan berbagai cara yang aku sebutkan secara detail. Dia tahu bahwa aku tidak menanyakan fatwa dan nash, tetapi aku meminta kebijaksanaan dan politik. Dia berkata: “Demi Allah, ini adalah orang yang mulia, yang diambil oleh harga diri dan kemuliaan jiwa. Aku saat ini tidak jauh dari kegelisahannya. Mari kita pergi berbicara dengannya, dan Allah tempat meminta pertolongan.”

Kami bertiga berjalan. Ketika mendekati rumah, pemuda itu berkata: “Dia tidak akan membuka pintu jika melihat kalian berdua, dan mungkin dia akan terburu-buru mengakhiri hidupnya. Aku akan memanjat pagar dan turun, kemudian membuka pintu untuk kalian agar kalian bisa masuk sementara aku bersamanya.”

Kami masuk dan melihat seorang pria seperti orang sakit tanpa penyakit, lemah dan kehilangan kekuatan. Hatinya gelisah ingin mati tetapi tidak berani, ingin hidup tetapi tidak kuat. Dia memandang rendah dirinya bahwa dirinya dalam pergaulan dengan orang-orang telah menjadi seperti dirham palsu yang tidak diterima siapa pun. Penyakit kesedihan terus menderanya hingga membuatnya lelah dan menjadikannya roh yang bergemerincing dalam kulitnya, hampir melompat dan tumpah pada suatu saat.

Syekh mengucapkan salam dan menghadapkan wajahnya kepada pria itu, kemudian berkata: “Bismillahirrahmanirrahim, ‘Dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.’ [Al-Baqarah: 177]”

Pria itu memotong ucapannya dan berkata dengan marah: “Wahai syekh, kami telah bersabar hingga datang apa yang tidak bisa disabari lagi. Kami telah kosong dari semua makna kata-kata. Kami tidak mampu kecuali satu kata yang kami kuasai maknanya, yaitu bahwa kami harus mengakhiri!”

Syekh menggerakkan matanya dan melihat lubang yang tertutup di dinding. Dia berkata kepadaku: “Buka ini dan biarkan udara berbicara dengan kami dengan bahasanya.” Aku bangkit dan membukanya hingga terbuka, roh dunia masuk dari sana. Syekh berkata kepada pria itu: “Dengarkanlah aku. Jika aku selesai berbicara, urusanmu dengan dirimu sendiri.

Tahukah kamu bahwa seorang Muslim pernah sakit, penyakitnya sangat parah hingga membuatnya terbaring di tempat tidur selama tiga puluh tahun tidak bisa bergerak? Pria yang hidup terlipat dalam dirinya dan pria yang akan mati terbentang darinya, dia tetap tidak hidup tidak mati selama tiga puluh tahun?”

Pria itu berkata: “Apakah ada di dunia yang hidup dalam keadaan seperti ini selama tiga puluh tahun?”

Syekh berkata: “Benar perkataanku, tanyakanlah. Apakah dia bersabar dalam keadaan ini selama tiga puluh tahun dan tidak berkata: ‘Datang apa yang tidak bisa disabari lagi’? Apa yang tidak bisa disabari pada orang mukmin yang tahu bahwa bencana adalah harta, hanya saja tidak diletakkan dalam kantong tetapi dalam tubuh?

Tahukah kamu siapa yang bersabar selama tiga puluh tahun atas bencana hidup dan mati yang terkumpul dalam tulang-tulang yang terbentang di tempat tidurnya? Dia adalah imam kami Imran bin Hushain al-Khuza’i yang diutus Umar bin Khattab untuk mengajar ahli Bashrah fiqih, dan dia menjadi hakim di sana. Hasan Bashri bersumpah demi Allah bahwa tidak ada yang lebih baik bagi mereka daripada Imran bin Hushain. Aku dan saudaranya al-Ala pernah mengunjunginya. Kami melihatnya terbaring di tempat tidur anyaman seolah terikat dengan tali, padahal tidak terikat kecuali oleh rusaknya urat-uratnya, melelehnya dagingnya, dan lemahnya tulang-tulangnya. Saudaranya menangis. Dia berkata: ‘Mengapa kamu menangis?’ Dia menjawab: ‘Karena aku melihatmu dalam keadaan yang luar biasa ini!’ Dia berkata: ‘Jangan menangis, sesungguhnya yang paling dicintai Allah adalah yang paling kucintai.’ Kemudian dia berkata: ‘Sesungguhnya bumi ini memikul gunung-gunung tanpa ada tempat di dalamnya yang merasa dengan gunung yang berdiri di atasnya, karena kekuatan seluruh bumi telah memberikan kepada setiap tempat di dalamnya kekuatan semuanya. Seandainya tidak demikian, gunung akan menghancurkan tempatnya dan membuatnya tenggelam. Demikian pula orang mukmin memikul seperti gunung-gunung bencana pada anggota-anggotanya tanpa patah atau runtuh karenanya, karena kekuatan rohnya adalah kekuatan di setiap tempat. Bencana dipikul oleh semangat roh, bukan oleh tubuh. Ini adalah makna hadits: “Sesungguhnya orang mukmin dalam segala kebaikan dalam setiap keadaan. Rohnya dicabut dari antara rusuk-rusuknya sementara dia memuji Allah Azza wa Jalla.”‘

Kemudian dia berkata: ‘Tetapi itulah orang mukmin. Siapa yang beriman kepada Allah seolah berkata kepada-Nya: “Ujilah aku!” Bagaimana menurutmu jika kamu adalah pahlawan dari para pahlawan bersama panglima tentara, bukankah keberanianmu mewajibkan kamu berkata kepada panglima: “Ujilah aku dan lemparkanlah aku ke mana kamu mau!” Jika dia melemparkanmu lalu kamu kembali penuh luka dan mengalami pemotongan serta cacat, apakah itu adalah sifat-sifat musibahmu, ataukah pujian atas keberanianmu?’

Kemudian dia berkata: ‘Jika iman kepada Allah bukan ketenangan dalam jiwa atas guncangan-guncangan dan bencana-bencanya, maka itu bukan iman, melainkan hanya klaim dengan pikiran atau lisan yang tidak melampaui keduanya, seperti klaim pengecut bahwa dia pahlawan, hingga ketika ketakutan tiba-tiba menimpanya dia buang air di celananya karena takut. Karena itu, membunuh diri orang mukmin karena bencana atau penyakit atau lainnya adalah kekufuran kepada Allah dan pendustaan terhadap imannya. Perbuatannya ini adalah bentuk lain dari kecerobohan pengecut yang buang air di celananya!’

Iman yang benar adalah keceriaan roh, memberikan keridaan kepada Allah dari hati, percaya pada janji-Nya dan berharap pada apa yang ada di sisi-Nya. Dari kedua ini tercipta ketenangan. Dengan keceriaan, keridaan, kepercayaan, dan harapan, iman menjadi akal kedua bersama akal. Jika orang mukmin diuji dengan apa yang membuat kesabarannya hilang dan akalnya bingung, dan dia menjadi seperti gila dalam urusannya, maka dalam keadaan ini muncul akal rohaninyunya dan mengambil alih pengendalian tubuhnya hingga akal pertama sadar kembali. Datanglah rasa takut kepada azab Allah dan murka-Nya di akhirat, menenggelamkan rasa takut jiwa dari kemiskinan atau penyakit atau lainnya, sehingga yang terkuat membunuh yang terlemah, dan yang termulia mengalahkan yang terhina.

Ketenangan dengan iman adalah membunuh ketakutan duniawi dengan penyerahan dan keridaan, atau mengubahnya dari maknanya dengan menjadikan bencana sebagai pahala dan kebaikan, atau menghilangkan waham-wahamnya dengan menganggap hidup dengan segala isinya berjalan menuju kematian. Ini adalah akal rohani yang memiliki urusan besar dalam mengatur dunia, meninggalkan jiwa yang rida dan diridai, berkata kepada musibah-musibahnya dengan tenang: ‘Ya,’ dan berkata kepada hawa nafsunya dengan tenang: ‘Tidak.'”

Dan apakah manusia dalam alam semesta ini? Dan apakah kebaikan dan kejahatannya? Dan apakah kemurkaan dan keridhoannya? Sesungguhnya semua itu tidak lain seperti apa yang engkau lihat, segenggam debu yang menyombongkan diri, padahal ia telah lupa bahwa akan datang orang yang menyapunya!

Sang syaikh berkata: Dan lihatlah, bukankah pohon yang hijau pada beberapa waktu diuji dengan ujian seperti yang dialami manusia? Hanya saja pohon itu memiliki akal rohani yang menetap di dalamnya yang menahan kehidupan padanya dan menunggu keadaan yang berbeda dari keadaan sekarang; dan bagaimanapun keadaan lahiriahnya dan ujiannya, maka kebahagiaan seluruhnya ada di dalamnya, dan ia selalu memiliki musim semi sesuai kadarnya bahkan di tengah dinginnya musim dingin.

Maka akal rohani yang datang dari iman, tidak ada pekerjaannya kecuali menciptakan bagi jiwa suatu naluri yang mengendalikan semua nalurinya, menyempurnakan sesuatu dan mengurangi dari sesuatu, mengarahkan ke satu sisi dan memalingkan dari sisi lain; dan dengan naluri inilah roh menjadi mulia sehingga ia menjadi lebih besar dari musibah-musibahnya dan lebih besar dari semua kesenangan-kesenangannya.

Dan naluri tersebut adalah hakikat dari ridha terhadap takdir baik dan buruknya, dan ia datang dengan takwil untuk semua kesedihan dunia, maka ia meletakkan dalam bencana-bencana makna-makna mulia yang menghilangkan kejahatan dan gangguannya terhadap jiwa; dan tidaklah musibah itu sesuatu melainkan karena jiwa menderita karenanya, dan jika takwil terjadi dalam makna-makna bencana maka ia menjadi bekerja seperti kerja keutamaan-keutamaan, dan berubah sifatnya sehingga kemiskinan kembali menjadi pintu zuhud, dan penyakit menjadi jenis jihad, dan kekecewaan menjadi jalan kesabaran, dan kesedihan menjadi wajah harapan, dan seterusnya.

Dan jiwa sendiri adalah harta yang besar, dan di dalamnya saja terdapat kegembiraan dan kebahagiaan, bukan di tempat lain, dan tidaklah kenikmatan dunia kecuali sarana-sarana untuk membangkitkan kegembiraan dan kebahagiaan ini, maka jika keduanya ditemukan bersama kemiskinan maka batallah kemuliaan harta dan ia menjadi batu dari batu; dan burung bulbul berkicau dengan tenggorokannya yang kecil dengan apa yang tidak bisa dinyanyikan oleh semua alat musik. Dan dalam jiwa terdapat kehidupan apa yang di sekitarnya, maka jika jiwa ini kuat ia menghinakan dunia, dan jika lemah maka dunia menghinakannya!

Al-Musayyib berkata: Kemudian sang syaikh diam sebentar, dan aku melihat orang itu seolah-olah mandi dengan perkataannya, dan wajahnya bersinar dan berseri serta berbalik kepada rohnya yang dahulu ia berpaling darinya, maka kembali musibah-musibahnya menekan roh yang lembut sebagaimana tangan menekan air, dan ia yakin bahwa bencana seluruhnya adalah manusia melihat kehidupan dengan mata syahwatnya, maka ia tertimpa bencana pertama kali dalam kesabaran dan keyakinannya.

Kemudian sang syaikh berkata: Dan sungguh aku telah melihat dengan mata kepalaku sendiri mukjizat “akal rohani” dan bagaimana ia berbuat; aku melihat Urwah bin Zubair ketika ia sudah tua renta, di hadapan Walid bin Abdul Malik, dan telah terjadi pada kakinya penyakit yang memakan (gangren): maka mereka menyarankan kepadanya untuk memotongnya agar tidak merusak seluruh tubuhnya, maka dipanggilah orang yang akan memotongnya, ketika orang itu datang ia berkata kepadanya: kami akan memberimu minum arak sehingga engkau tidak merasakan sakitnya, maka Urwah berkata: aku tidak akan meminta pertolongan dengan yang diharamkan Allah untuk apa yang aku harapkan dari kesembuhan! Orang itu berkata: maka kami akan memberimu minum obat bius. Maka Urwah berkata: aku tidak suka kehilangan anggota dari anggota tubuhku sedangkan aku tidak merasakan sakitnya sehingga aku bisa mengharapkan pahalanya!

Kemudian masuklah orang-orang yang tidak dikenal Urwah, maka ia berkata: siapa mereka ini? Mereka berkata: mereka akan memegangmu, karena rasa sakit kadang-kadang menghilangkan kesabaran, ia berkata: aku berharap dapat mencukupi kalian dari diriku sendiri!

Sang syaikh berkata: Maka lihatlah wahai orang lemah yang ingin membunuh dirinya sendiri bagaimana Urwah berbuat, dan bagaimana ia menghadapi ujian, dan bagaimana ia sabar dan bagaimana ia bertahan, sesungguhnya ia memalingkan perasaannya kepada jiwa maka rohnya mengembang padanya, dan ia mulai bertakbir dan bertahlil agar tetap bersama rohnya saja, dan keluar dari dunia lahirnya menuju dunia batinnya, dan tenggelam indera dan sarafnya dengan cahaya ilahi dari makna takbir dan tahlil, maka si pemotong memotong tumitnya dengan pisau sedangkan ia tidak menoleh, hingga ketika sampai ke tulang diletakkan gergaji padanya dan digergaji sedangkan Urwah dalam takbir dan tahlil, kemudian didatangkanlah minyak yang mendidih dalam sendok besi lalu dibakar dengannya tempat pemotongan, maka Urwah pingsan sebentar kemudian sadar sedangkan ia menyeka keringat dari wajahnya, dan tidak terdengar darinya dalam semua rasa sakit yang menghancurkan ini suara rintihan atau keluhan, dan ia tidak berkata sebelumnya, sesudahnya, maupun di antaranya: “datang apa yang tidak bisa disabari!”

Al-Musayyib berkata: Dan ketajaman keputusasaan orang yang lemah itu berkurang dan jiwanya menguat, dan bangkit padanya roh menuju umur yang baru, dan timbul baginya keyakinan dari akal rohaninya, dan ia mengetahui bahwa apa yang tidak mungkin dapat diraih, mungkin dapat ditinggalkan.

Dan datang akal rohani ini lalu melewati gergaji pada keputusasaan yang ada dalam jiwanya lalu memotongnya, maka tidak terasa kecuali orang itu melompat berdiri berkata: Allah lebih besar dari dunia, Allah lebih besar dari dunia.

Kemudian ia mencium tangan sang syaikh sambil berkata: engkau benar; “sesungguhnya semua itu tidak lain seperti apa yang engkau lihat segenggam debu yang menyombongkan diri, padahal ia telah lupa bahwa akan datang orang yang menyapunya!”

Apa yang dilakukan manusia jika ia salah dalam suatu masalah dari masalah-masalah dunia kecuali berusaha mencari yang benar, dan bersungguh-sungguh dalam kembali kepadanya, dan sabar terhadap apa yang menimpanya dalam hal tersebut? Dan apa yang dilakukan manusia jika ia salah dalam suatu masalah?

 

 

Bunuh Diri “2”

Musayyab bin Rafi’ berkata: Sya’bi berdiri dan memeluk pria itu dengan gembira melihat perubahan keadaannya, setelah melihat cahaya mengalir di wajahnya dan bersinar di roman mukanya, seolah-olah telah terjadi perdamaian antara wajahnya dengan kehidupan. Kemudian ia berkata kepadanya: Sungguh baik engkau sebagai saudara seiman, maka berlindunglah kepada Allah dari kehinaan-Nya. Sesungguhnya Allah tidak akan menghinakanmu kecuali jika engkau menempatkan dirimu berhadapan dengan Allah untuk menentang-Nya atau menyaingi kekuasaan-Nya, maka Allah menyerahkanmu kepada jiwa ini, lalu ia akan mengantarkanmu pada ketidakmampuan, dan ketidakmampuan itu akan mengantarkanmu pada kemarahan. Dan bila engkau tidak mampu, marah, terkurung dalam dirimu sendiri dan diserahkan kepada kekuatanmu sendiri, maka engkau akan seperti singa lapar dalam kemiskinan yang mengira kekuatannya dapat menciptakan mangsa; hal itu akan mendatangkan putus asa, kecemasan, dan kesedihan pada dirimu. Dan hal-hal serupa dari kebinasaan-kebinasaan ini akan menimbulkan keraguan terhadap Allah di hatimu, menetapkan keburukan hidup dalam jiwamu, mengarahkan pada pikiranmu kebodohan akal, dan meyakinkanmu akan ketidakmampuan kehendak; hingga engkau akan mati karena semua itu – jiwamu telah membunuhmu sebelum engkau membunuhnya!

Seandainya alih-alih beriman pada dirimu sendiri, engkau beriman kepada Allah dengan iman yang sebenarnya, niscaya Allah akan menguasakan engkau atas jiwamu dan tidak menguasakan jiwamu atas dirimu. Ketika ambisi menyerangmu dengan kebutuhan yang tidak bisa engkau penuhi, engkau serang balik dengan kecukupan yang mampu engkau lakukan. Ketika syahwat datang dari arah keinginan yang mendekat, engkau hadapi dari arah zuhud yang memalingkan diri. Dan ketika kesombongan dunia menyerangmu, engkau tundukkan dengan kesombongan akhirat.

Dengan demikian, kesedihan dan penderitaan akan berubah menjadi berbagai bentuk kegembiraan kemenangan dan kemenangan atas jiwa dan syahwatnya, padahal sebelumnya ia adalah bentuk-bentuk kehinaan dan kesedihan. Dan ia akan menjadi sumber kebanggaan dan kemegahan, padahal sebelumnya adalah sebab aib dan kekalahan. “Ketika tekad iman menguat, ia akan membatasi musibah sesuai kadarnya. Ketika telah dibatasi, ia akan terus mengurangi makna-maknanya sedikit demi sedikit. Namun ketika tekad ini melemah, musibah akan datang menghanyutkan dan menyebar, melampaui kadarnya dengan disertai rasa takut dan ngeri, sehingga makna-maknanya terus bertambah sedikit demi sedikit dengan apa yang ada padanya dan apa yang tidak ada padanya.

Iman memiliki cahaya dalam jiwa yang menerangi apa yang di sekitarnya sehingga ia melihatnya dalam kenyataan yang fana dan akan segera lenyap. Ketika cahaya ini padam, segala sesuatu menjadi gelap, sehingga jiwa membayangkannya dengan berbagai khayalan yang berbeda-beda sesuai keadaannya yang beragam; seperti orang buta yang melihat dengan khayal, bukan matanya – benda-benda ada dalam sifat alaminya, namun benda-bendanya menurut matanya tidak ada dalam kenyataannya.

Musayyab berkata: Matahari telah condong ke barat. Imam berkata kepada pria itu: Berdirilah dan berwudulah dengan sempurna. Aku akan mengajarkanmu sesuatu yang bermanfaat bagi agama dan duniamu. Ketika engkau berwudu, yakinkanlah dalam dirimu dan tekadkanlah dalam hatimu bahwa dalam air ini terdapat rahasia rohaniah dari rahasia gaib dan kehidupan, dan bahwa ia adalah lambang langit bagimu, dan bahwa engkau bersuci dengannya dari kegelapan jiwamu yang telah menyebar ke anggota tubuhmu. Kemudian sebutlah nama Allah yang Mahakuasa lagi Mahamulia sambil mengalirkan nama-Nya pada air dan pada dirimu. Lalu bayangkanlah bahwa engkau mencuci tanganmu dari apa yang ada padanya dan dari apa yang engkau kerjakan dengannya dari pekerjaan dunia, dan bahwa engkau mengambil dari langit untuk wajah dan anggota tubuhmu. Yakinkan pada dirimu bahwa wudu tidak lain adalah sapuan langit yang engkau ratakan pada seluruh anggota tubuhmu agar tubuh dan akalmu merasakannya, dan bahwa dengan sapuan langit ini engkau menghadap Allah dalam salatmu sebagai makhluk langit, bukan makhluk bumi.

Jika engkau merasakan dan mengamalkan hal ini serta menjadikannya kebiasaan, maka wudu akan berkedudukan dalam jiwa seperti obat. Setiap kali engkau sedih, marah, tertimpa kesedihan, atau diserang was-was, jika engkau berwudu dengan niat tersebut, engkau akan membasuh kehidupan dan membasuh saat yang engkau jalani dari kehidupan. Engkau akan melihat air bagaikan ketenangan yang lembut seperti lembutnya ridha, dan ia mengalir dalam perasaan dan seluruh keadaanmu.

Musayyab berkata: Aku pun berdiri dan memperbaharui wuduku dengan sifat dan niat tersebut. Tiba-tiba aku merasa dalam diriku dipenuhi cahaya ruh bintang yang bersinar dan bercahaya. Dan wudu dalam makna terlemahnya adalah apa yang kita ketahui sebagai bersuci dan kebersihan, namun dalam makna terkuatnya adalah curahan dari langit yang mengandung pengudusan dan penyucian serta membasuh waktu manusiawi dari apa yang bercampur dengannya setiap saat berlalu, dan pembaharuannya bagi ruh seperti tanaman hijau yang segar, tinggi, dan basah oleh air.

Kemudian syeikh mengimami kami salat dan menyuruhku bermalam dengan pria itu, seolah-olah khawatir jangan-jangan ada sesuatu yang muncul dan mengurangi tekadnya, atau ia menambahkanku padanya untuk mengubah kepribadiannya dan mengganti kesendirian yang ia alami, atau seolah syeikh tidak yakin pada pria itu bahwa ruh insaniahnya telah sepenuhnya terjaga, maka ia menempatkanku sebagai pengingat baginya. Makan malam datang dari rumah syeikh lalu kami makan. Kemudian pria itu berdiri berwudu dan kami salat Isya, lalu duduk berbincang. Aku menanyakan kabarnya, ia berkata: Tunggu dulu. Kemudian ia bangkit berwudu untuk ketiga kalinya dan berkata: Demi Allah, aku tidak mengenal wudu setelah hari ini kecuali sebagai sentuhan antara langit dan jiwa, dan aku tidak mengenal waktunya bagi ruh kecuali seperti waktu fajar pada tanaman hijau.

Musayyab berkata: Pagi harinya kami mendatangi imam, kemudian pria itu menemani beberapa urusanku. Lalu kami datang ke masjid untuk salat Asar menghadiri pengajian syeikh. Orang-orang berkumpul rapat seperti biji-bijian dalam satu tandan, entah siapa yang mengumpulkan mereka. Seolah-olah Kufah tahu bahwa seorang Muslim telah kafir kepada Allah dengan kekafiran yang nyata dan bahwa ia akan menghadiri pengajian syeikh, dan syeikh akan hadir karena dirinya, maka keempat angin bertiup mengumpulkan penduduknya ke masjid dari segala penjuru.

Syeikh duduk di tempat pengajian hadis dan berkata:

Kami riwayatkan bahwa seorang pria mengalami luka, lalu ia mendatangi temannya dan mengambil mata panah lalu menyembelih dirinya sendiri. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyalatkannya dan membiarkan jenazahnya tercampakkan, memasuki kebinasaan akhirat sebagaimana ia memasuki kebinasaan dunia.

Kami riwayatkan dalam hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Orang yang mencekik dirinya akan dicekik di neraka, orang yang menikam dirinya akan menikam dirinya di neraka, dan orang yang terjun akan terjun di neraka.”

Kami riwayatkan dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa membunuh dirinya dengan sesuatu, ia akan disiksa dengannya pada hari kiamat.”

Kami riwayatkan dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: “Ada seorang pria yang terluka lalu membunuh dirinya. Allah berfirman: ‘Hamba-Ku mendahului-Ku dengan jiwanya, maka Aku haramkan surga baginya.'”

Sya’bi berkata: Allah berfirman: “Hamba-Ku mendahului-Ku dengan jiwanya…” yakni ia mendahului-Ku dan menjadi tuhan dengan menjadikan dirinya tuhan bagi jiwanya, lalu mencabut dan mematikannya, maka ia zalim.

Ia mendahului-Ku dan menjadi tuhan pada nafas terakhirnya saat berpaling kepada-Ku, maka ia zalim, tertipu, dan bodoh!

Ia mendahului-Ku dan menjadi tuhan ketika dalam kesempitan, lalu menjerumuskan jiwanya dalam kematian karena ketidakmampuannya mempertahankannya dalam kehidupan, maka ia tidak mampu di samping kezaliman, tipu daya, dan kebodohannya!

Ia mendahului-Ku dan menjadi tuhan atas kebodohannya terhadap rahasia kehidupan dan hikmahnya, maka makhluk yang zalim, tertipu dalam kebodohan, ketidakmampuan, dan kejahilannya ini tidak malu, dan tidak malu datang kepada-Ku dalam bentuk tuhan. Ia mendahului-Ku dan menjadi tuhan, lalu mencetak jiwanya dengan cap abadi berupa kesesatan, pembangkangan, dan kebodohan, dan mengirimnya sebagai yang terbunuh untuk dikembalikan kepada-Ku.

Ia mendahului-Ku dan menjadi tuhan seolah berkata: Bahwa baginya separuh urusan dan bagi-Ku separuh: Aku menghidupkan dan ia mematikan!

“Hamba-Ku mendahului-Ku dengan jiwanya maka Aku haramkan surga baginya!” Sya’bi berkata: Surga diharamkan bagi orang yang membunuh dirinya karena ia berpaling kepada Allah dengan kejahatan tangannya pada ruhnya yang tidak akan pernah berpisah darinya hingga selamanya. Ia di sana adalah bangkai beracun selamanya, atau tercekik selamanya, atau tersembelih selamanya, atau hancur selamanya. Allah berfirman kepadanya: Engkau mendahului-Ku dengan jiwamu dan berlomba dengan-Ku dalam takdir dengan satu lintasan, maka engkau akan mengabadikan jiwamu dalam bentuk yang merupakan hasil perbuatanmu, dan engkau tidak membunuh kecuali kebaikan-kebaikanmu.

Sya’bi berkata: Seandainya pembunuh dirinya tahu bahwa ia akan menjadikan dirinya bangkai abadi, siapakah yang tahu bahwa jika ia berbuat begini dan begitu ia akan berubah menjadi keledai dan tetap keledai, lalu rela berubah dan bergegas untuk berubah?

Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memandang jenazah pria yang membunuh dirinya itu seperti memandang lalat yang pergi mencaci matahari, bintang-bintang, dan seluruh langit, kemudian datang kepadanya berkata: Bersaksilah untukku.

Syeikh berkata: Mengapa manusia membunuh dirinya? Bukankah kematian pasti datang tanpa ragu dan tidak ada makhluk hidup yang dapat menghindarinya, dan ia adalah kegagalan besar yang menimpa kehidupan ini. Lalu apa bahaya kegagalan kecil dalam suatu urusan kehidupan?

Seseorang tidak membunuh dirinya karena sukses melainkan karena kegagalan. Jika kegagalan dalam harta maka itu kemiskinan atau kebutuhan, jika dalam kesehatan maka itu penyakit atau gangguan, jika dalam kemuliaan maka itu kehinaan atau penderitaan, jika dalam hal lain seperti perempuan dan lainnya maka itu ketidakmampuan terhadap syahwat atau khayalan yang rusak. Manusia tidak gagal kecuali karena kegagalan akal atau kehendak. Selain itu, kemiskinan, kebutuhan, penyakit, gangguan, kehinaan, penderitaan, ketidakmampuan terhadap syahwat, dan rusaknya khayalan – semua itu ada pada manusia, ditanggung pemiliknya dengan rela dan sabar, dan itu adalah debu jiwa bumi ini pada jiwa penduduknya. Sungguh mengherankan! Orang-orang buta secara alami adalah manusia yang paling banyak tertawa, tersenyum, bermain, dan bercanda. Apakah kalian ingin kehidupan berbicara kepada kalian lebih fasih dari itu? Kegagalan bukanlah keburukan, melainkan seluruh keburukan ada pada akal ketika tumpul lalu membeku pada satu keadaan tamak yang gagal, atau pada kehendak ketika lemah lalu tetap tergantung pada apa yang tidak ada. Tidakkah kalian lihat bahwa ketika akal dan kehendak tidak peduli, maka tidak ada lagi makna dan pengaruh kegagalan pada jiwa, dan manusia tidak gagal, melainkan kegagalan itu sendiri yang gagal?

Oleh karena itu Islam menolak kemewahan akal dan khayalan rusak bagi pemeluknya, dan sangat keras dalam urusan kehendak. Islam tidak memberi keringanan dalam hal yang berkaitan dengannya dan terus menumbuhkannya dengan amalan harian yang memperkuatnya agar menjadi pengawas dan penjaga akal. Sebab akal memiliki banyak penyakit yang diukur dalam tingkat-tingkat kecerobohan hingga kadang mencapai kegilaan. Maka kehendak menjadi akal bagi akal – ia adalah kelembutan akal ketika mengeras, gerakannya ketika tumpul, kesabarannya ketika ceroboh, dan ridanya ketika marah.

Kehendak adalah sesuatu antara ruh dan akal, maka ia berada di antara dua wujud. Oleh karena itu manusia dengan kehendak berada di antara dua wujud juga, sehingga ia dapat hidup di dunia seolah terpisah darinya, yaitu ketika wujud yang lebih kuat adalah wujud ruhnya, dan perhatian terbesarnya adalah kesuksesan dalam wujud ini.

Kesuksesan ini tidak datang dari harta, tidak diwujudkan oleh kesehatan, tidak dimudahkan oleh syahwat, tidak dicapai oleh khayalan rusak, tidak berasal dari perkakas tipu daya, tidak dari yang berumur lima puluh atau seratus tahun, melainkan datang dari yang berumur kekal dan yang kekal selamanya dalam makna-makna kebaikan, kebenaran, dan kebaikan. Di sinilah penyakit membantu dengan bersabar atasnya dalam hal yang tidak dibantu kesehatan, dan kemiskinan memberi manfaat dengan hakikat-hakikatnya yang tidak diberikan kekayaan. Di sini akal manusiawi bekerja lebih dari membayangkan, dan qana’ah lebih dari tamak; di sini tidak ada tempat bagi kemenangan syahwat, kesombongan jiwa, atau cinta diri. Ketiga hal inilah yang mendatangkan kesengsaraan pada manusia bahkan dalam keadaan bahagia, dan tanpanya manusia akan bahagia bahkan dalam keadaan sengsara.

Dengan kehendak mukmin yang kuat, kecerdasan mukmin tertuju pada hakikat alam dan kebaikan jiwa dengannya, dan tanpa kehendak ini kecerdasan tertuju pada khayalan manusia dan kerusakan manusia.

Ketika kecerdasan tertuju pada hakikat dunia, akal menjadi mudah, lentur, dan patuh, serta mustahil baginya memahami atau menerima ide membunuh diri. Sebab ide buruk ini tidak dapat memasuki akal kecuali jika mengeras dan terkurung dalam satu tujuan yang telah gagal dan kehendak gagal padanya sehingga dunia kosong di hadapannya.

Seandainya seseorang telah bertekad membunuh dirinya kemudian bersabar menghadapi dunia beberapa hari, niscaya tekadnya akan mengendur atau luntur, karena dalam masa itu akal akan melunak sedikit, dan kesabaran membuat jarak antara dirinya dengan musibah, sehingga keadaan jiwa berubah sedikit. Kesabaran seperti bernapas dengan udara bagi akal yang hampir tercekik karena terkurung dalam satu makna yang tertutup dari segala sisi. “Perumpamaan akal dalam keadaan ini seperti orang yang berdiri dalam badai pasir yang melilitnya dengan debu dan menutup lubang-lubang udara, mempenjarakannya dalam debu yang melilit seperti serangga dalam rongga bambu. Ia yakin bahwa itu keadaan sementara yang datang dari waktu, bukan keadaan waktu, dan bahwa angin yang datang membawa kesedihan ini adalah yang akan membawa pergi kesedihan ini.

Sebagaimana bumi adalah sesuatu selain badai yang bangkit darinya, demikian juga kehidupan adalah perkara lain selain kesengsaraannya.

Imam berkata: Dalam Kitab Allah ada dua ayat yang menunjukkan bahwa ia adalah kitab seluruh dunia, karena meletakkan untuk dunia ini dua contoh: satu adalah contoh rohani untuk individu yang sempurna, dan yang lain contoh rohani untuk masyarakat yang sempurna.

Adapun ayat pertama adalah firman Allah: “Sungguh, pada (diri) Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir.” (Al-Ahzab: 21)

Adapun yang kedua adalah firman Allah: “Muhammad itu adalah Rasulullah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Al-Fath: 29)

Dalam mengharap Allah dan hari akhirat, manusia naik melampaui kehidupan yang fana ini, sehingga kesedihan-kesedihannya berlalu di sekelilingnya tanpa menabraknya, karena pada hakikatnya ia mengalir dari bawahnya seolah tidak memiliki kekuasaan atasnya. Kesedihan-kesedihan ini menemukan dalam jiwa seperti ini kekuatan besar yang dapat mengarahkannya sekehendak, sehingga kesedihan tidak datang sebagai kekuatan yang pantas mendapat kelemahan, melainkan kekuatan yang menguji kekuatan lain atau membangkitkannya agar menjadi amalan nyata yang ditiru orang dan mereka mendapat manfaat darinya dengan suri teladan yang baik, dan hanya suri teladan yang merupakan ilmu kehidupan.

Engkau mungkin melihat orang miskin dari manusia yang engkau kira lemah, padahal pada hakikatnya ia adalah guru dari guru-guru terbesar yang memberikan pelajaran jiwa kuatnya kepada manusia.

Dalam mengharap Allah dan hari akhirat, batalah sebab terbesar keburukan pada manusia, yaitu pandangan manusia kepada yang lebih beruntung darinya dengan fitnah dunia dengan pandangan yang hanya membangkitkan dengki dan kemarahan. Maka mukmin ketika itu memandang apa yang ada pada manusia dari kebaikan, kebaikan, iman, kebenaran, dan keutamaan, dan ini secara alami hanya membangkitkan kegembiraan dan kebahagiaan. Barangsiapa menjadikannya dalam pemikirannya telah membatalkan sebagian besar dunia dari pemikirannya, dan dengannya gugur perbedaan antara manusia tinggi dan rendahnya, seperti orang miskin yang berilmu ketika bertemu orang kaya yang berilmu – kesepakatan akal menyatukan keduanya dan gugur selain itu.

Dalam mengharap Allah dan hari akhirat, manusia menjalani umurnya yang panjang atau pendek seolah dalam sehari ia bangun pagi menuju mahsyar dan hisab. Ia terhubung dengan keabadian tidak peduli kecuali dengan sebab-sebabnya, dan dengan demikian penyakit, kesakitan, dan musibahnya bukanlah keburukan dari dunia, melainkan keburukan-keburukan yang mengelilingi surga. Tidak meruginya kekurangan karena akan segera hilang, dan tidak membuatnya tertipu kenikmatan karena juga akan segera hilang.

Dalam mengharap Allah dan hari akhirat, manusia menguasai jiwanya, dan barangsiapa menjadi tuan jiwanya menjadi tuan apa yang di sekitarnya dan mengarahkannya dengan kebijaksanaannya, dan barangsiapa menjadi hamba jiwanya diarahkan oleh segala yang di sekitarnya dengan kebijaksanaannya.

Sya’bi berkata: Adapun contoh rohani untuk masyarakat yang sempurna, yaitu dalam sifat mukmin bahwa mereka “berkasih sayang sesama mereka”. Inilah dia, kurasa tidak perlu diperpanjang dan dijelaskan.

Sesungguhnya kebanyakan yang menyesaki manusia datang dari orang-orang di sekitarnya yang hidup bersama dan berhubungan dengannya, bukan dari dirinya sendiri. Jika tegak masyarakat suatu umat atas dasar mereka “berkasih sayang sesama mereka”, maka teteapkanlah kebesaran jiwa untuk semua secara merata. Orang-orang seperti ini tidak meremehkan orang miskin karena kemiskinannya, tidak memuliakan orang kaya karena kekayaannya, melainkan meremehkan dan memuliakan karena sifat-sifat mulia atau hina. Di antara mereka, orang miskin yang sabar lebih mulia kedudukannya dari orang kaya yang bersyukur, dan pemuliaan orang terhadap keutamaan orang miskin itulah yang menjadikan kemiskinannya di hadapan dirinya sebagai sesuatu yang bernilai dalam kemanusiaan.

Ketika pandangan masyarakat terhadap makna-makna menyakitkan ini benar, batalah sakitnya dan berubah maknanya, sehingga tidak ada makna kehidupan yang rusak pada seseorang kecuali imannya meletakkan makna baru di tempatnya, dan keutamaan saja menjadi tujuan jiwa pada semua, dan dengan demikian individu bersabar atas musibahnya bukan dengan kekuatannya saja, tetapi dengan seluruh kekuatan yang di sekitarnya. Tidakkah kalian lihat bahwa kekaguman orang pada keberanian dan pemuliaan mereka terhadap pemiliknya meletakkan dalam sakit senjata kelezatan yang dirasakan daging pahlawan pemberani?

Musayyab bin Rafi’ berkata: Seorang pria berdiri dari majelis dan berkata: Wahai syeikh, bagaimana jika manusia rusak dan hati mereka keras, hubungan di antara mereka terputus, mereka tidak lagi “berkasih sayang sesama mereka”, mereka gembira dengan orang miskin, mengolok-olok yang tertimpa cobaan dan membicarakannya seperti penyair membicarakan orang yang dihujatnya yang tidak berhenti – apa yang harus diperbuat orang miskin itu ketika segala sesuatu mendorongnya untuk membunuh dirinya?

Sya’bi berkata: Di sinilah mengharap Allah dan hari akhirat, yaitu perasaan yang tidak dibeli dengan harta, tidak dicari dari siapa pun, tidak sulit bagi yang menginginkannya. Orang miskin, yang tertimpa cobaan, dan lainnya hanya membuat contoh mulianya masing-masing. Sabar atas siksaan ini adalah sabar atas penyempurnaan contoh, dan jika terjadi yang menyedihkan atau menyusahkanmu, carilah di dalamnya ide mulianya, karena jarang kosong darinya, bahkan jarang datang kecuali bersamanya.

Musayyab berkata: Yang lain berdiri dan berkata: Bagaimana orang berbuat jika keadaan dunia berubah menjadi yang menakutinya, atau kesedihan mencapai batasnya di hatinya sehingga ia berniat membunuh dirinya?

Sya’bi berkata: Hendaklah ia menjadikan ketakutan menjadi dua ketakutan: satu takut azab Allah kekal didalamnya selamanya, maka yang lebih kuat akan menghilangkan yang lebih lemah. Dan jika tertimpa cobaan, hendaklah ia bergabung dengan yang lebih berat cobaannya, agar kesedihannya menjadi salah satu dari dua kesedihan, maka yang lebih berat akan menghilangkan yang lebih ringan.

Sesungguhnya manusia dan jiwanya dalam kehidupan ini seperti orang yang diberi anak nakal, ceroboh, ganas, pembangkang untuk dididik dan diatur pendidikan serta pembenahannya sehingga terbukti bahwa ia seorang guru, maka diberi upah kesabaran dan kerjanya. Kemudian guru itu sesaat merasa sempit dengan anak itu lalu membunuhnya. Begitukah pendidikan dan pengajaran itu?

 

 

Bunuh Diri “3”

Musayyab bin Rafi berkata: Imam telah terpikirkan oleh kisah ini dan terus berkembang dalam jiwanya, dan meresap dalam maknanya sesuai dengan seberapa besar ia merenungkannya dalam pikirannya, dan pikirannya terbuka dengan cara-cara menakjubkan yang saling melengkapi satu sama lain seperti makna yang melahirkan makna. Ketika kedua orang itu mengatakan perkataan mereka tadi dan imam menjawab mereka dengan hikmah dan nasihat yang baik itu, muncullah dari pembicaraan mereka dan pembicaraannya sebuah pendapat, lalu ia berkata:

“Wahai penduduk Kufah: Saya memohon kepada kalian demi Allah dan Islam, siapa saja di antara kalian yang pernah merasa sesak dengan hidupnya suatu hari dan ingin mengakhirinya, hendaklah ia membuka diri kepada orang-orang di majelis ini dan berterus terang kepada kami tentang keadaannya; dan janganlah merasa malu atau terhina karenanya, karena sesungguhnya musibah adalah salah satu cara takdir dalam memberikan pelajaran, dan terkadang awal musibah pada seseorang adalah awal hikmah dalam dirinya untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain; dan tidak ada orang yang bersedih kecuali ia merasakan dalam beberapa saat kesedihannya bahwa telah tersembunyi dalam dirinya rahasia-rahasia yang tidak ada sebelumnya, dan ini adalah penjelas kebenaran tentang dirinya dan tempatnya seperti kilau pedang yang berkilat.

Dan akal yang sedang susah adalah akal yang besar, seandainya dimaksudkan untuk mengeluarkan ilmu yang dipelajari manusia dari kenikmatan dan kemewahan; maka dari penjelasan ilmu ini akan ada dari keledai-keledai dan bagal-bagal dan hewan-hewan yang tidak akan ada yang menyamainya atau mendekatinya pada orang-orang berakal, dan tidak akan dicapai oleh kekuatan manusia pada ahlinya; namun seandainya dimaksudkan ilmu dari kesengsaraan dan kesakitan dan kebutuhan, maka tidak akan ditemukan penjelasannya kecuali pada manusia, kemudian yang khusus darinya hanya ada pada orang-orang khusus di antara mereka.

Dan tidak tampak orang-orang yang beruntung dan tidak menenggelamkan orang-orang miskin dalam kesombongan mereka dengan leher mereka yang tinggi kecuali karena mereka berdiri di atas pundak setan-setan; maka setan adalah tunggangan orang kaya yang tidak mengetahui hak yang ada padanya dalam kekayaannya dan menganggap dirinya dibiarkan untuk nafsu dan kenikmatan; sebagaimana ia adalah tunggangan orang alim yang tidak mengetahui hak yang ada padanya dalam ilmunya, dan mengklaim dirinya dibiarkan untuk akalnya atau pendapatnya, dan tidak menjadi tinggi yang tinggi karena itu dan tidak menjadi pendek yang pendek karena itu, dan apakah masuk akal untuk dikatakan ini lebih tinggi dari ini karena yang pertama di atas tangga dan yang lain di atas kakinya sendiri?”

Musayyab berkata: Maka bangkitlah seorang syekh dari ujung majelis dan mulai melangkahi leher-leher orang dan orang-orang memberi jalan untuknya hingga ia berdiri di hadapan imam; dan aku memperhatikannya dengan seksama, ternyata seorang syekh yang tampak keceriaan wajahnya seperti masa muda di wajahnya, berdahi terang berseri-seri dengan kegembiraan iman di wajahnya dan di pelipisnya ada bekas kerutan lama, keduanya menunjukkan bahwa orang ini dalam masa hidupnya pernah memadamkan lampu yang ada di hatinya suatu kali kemudian menyalakannya kembali. Dan aku heran bahwa orang seperti syekh ini pernah berniat membunuh dirinya suatu hari, padahal aku melihat dengan mataku jiwanya ini memancar dalam kehidupan seperti pancaran pohon kurma yang tinggi.

Dan orang ini berbicara lalu berkata:

“Adapun karena engkau telah memohon kepada kami demi Allah dan Islam dan ikatan ilmu dan wahyu takdir dalam hikmahnya, maka aku akan menceritakan kepadamu kisahku dengan sebenarnya: Aku jatuh miskin tiga puluh tahun yang lalu dan terhenti oleh zaman apa yang dahulu mengalir, dan aku menjadi dalam menghadapi dunia seperti orang yang memeras batu ingin minum darinya, dan tanganku lemah hingga kuku ayam dalam menggali tanah untuk mencari biji dan serangga lebih mampu dariku; dan musibah-musibah menimpaku seakan-akan mereka menghuni rumahku, dan zaman memakan dagingku dan melemparkanku sebagai tulang belulang, sehingga tidak ada yang menghampiriku kecuali anjing-anjing jalanan; dan aku pada waktu itu memiliki istri yang telah melahirkan seorang anak kecil untukku, dan keduanya menjadi tanggung jawabku padahal aku tidak mampu, dan di antara kami ada cinta di atas pergaulan dan keakraban yang telah meninggalkanku dari istriku ini seperti penyair ghazal dengan kekasihnya, hanya saja puisi itu dalam darahku bukan di lidahku.

Ketika musibah-musibah merongrong aku dan menyerangku dari dekat dan jauh, aku berkata kepada perempuan itu suatu hari ketika ia telah pucat dan wajahnya patah dan mengkerut karena kurus: ‘Demi Allah ya fulanah, seandainya boleh memakan daging manusia, niscaya aku akan menyembelih diriku agar kamu bisa makan dan menyusui anak ini, dan sungguh aku telah berniat untuk memberanikan diri dan pergi entah ke mana agar kalian kehilangan aku sehingga kalian terlepas dari kesialan yang kubawa untuk kalian berdua; tetapi hatiku menahan aku, dan dialah yang menahanku di dunia kecil ini yang ada di antara kalian berdua, karena bagiku tidak ada dari bumi ini timur dan barat kecuali kamu dan anak kecil ini. Dan aku tidak tahu -demi Allah- apa yang kita lakukan dengan hidup sedangkan kita dahulu dari tumbuhan hijau kemudian kembali menjadi kayu kering; dan matahari tidak lagi memberi makan tetapi malah menyedot apa yang tersisa, dan tidak menerangi untuk itu, tetapi membakar dengan itu.

Sesungguhnya orang yang kehilangan kebaikan dan jatuh dalam keburukan, pantas kalau ia meraih kebaikan yang besar jika ia membunuh dirinya sehingga terlepas dari keburukan dan kebaikan sekaligus, tidak meminta-minta dan tidak berhasil, tidak sakit dan tidak nikmat; dan sebagaimana dunia mengingkarinya maka biarlah ia mengingkari dunia. Adapun jika itu kubur maka kubur tetapi di perut bumi bukan di atas permukaannya seperti keadaan kita; dan jika itu kematian maka kematian tetapi sekali saja dan dalam satu hal bukan seperti yang kita alami ini bermacam-macam, hari-hari kita telah mati, dan kita dibiarkan hidup seperti orang mati yang tidak punya hari, dan orang mati lebih unggul dari kita dalam nikmat dan istirahat karena mereka tidak menumpang pada hari-hari orang lain sehingga diusir dari hari ini dan hari itu.’

Katanya: Maka perempuan itu menangis tersedu-sedu, dan ketika ia selesai dari pembicaraan air matanya ia berkata: ‘Seakan-akan kamu ingin membuat kami berduka karena kehilanganmu?’ Aku berkata: ‘Aku tidak keluar dari apa yang ada dalam jiwaku; tetapi apakah masih tersisa dariku yang bisa kamu sedihkan karenanya? Bukankah telah hilang dariku yang dahulu menjadi suami dan pencari nafkah untukmu, dan datang yang menjadi beban bagimu dan beban anak kecil ini dari seorang laki-laki seperti lubang yang tidak berpindah dari tempatnya dan mengambil tapi tidak memberi?’

Demi Allah, seakan-akan aku diciptakan sebagai manusia secara keliru, hingga ketika kesalahan itu terlihat aku ingin dikembalikan kepada hewan tetapi tidak datang ini maupun itu, dan aku tetap di antara keduanya; orang-orang lewat dan berkata: ‘Manusia malang.’ Dan aku kira seandainya anjing bisa bicara mereka akan berkata tentangku: ‘Anjing malang.’ Sungguh menakjubkan! Keajaiban yang tidak berakhir! Dunia menjadi di tangan kita karena ketidakmampuan dan keputusasaan seakan-akan ia adalah kotoran yang kita paksakan untuk diubah menjadi yakut atau mutiara.

Maka perempuan itu berkata: ‘Demi Allah, jika engkau hidup dengan sikap ini maka ini adalah kekufuran yang buruk, dan jika engkau mati dengan sikap ini maka itu lebih buruk dan lebih keras.’

Maka aku berkata kepadanya: ‘Celakalah kamu, dan apa yang dilihat mata yang melihat dalam kegelapan pekat kecuali apa yang dilihat mata buta?’

Ia berkata: ‘Dan mengapa tidak melihat sebagaimana orang beriman melihat dengan cahaya Allah?’

Aku berkata: ‘Maka lihatlah kamu dan beritahu aku apa yang kamu lihat. Apakah kamu melihat roti? Apakah kamu melihat lauk? Apakah kamu melihat dinar?’

Ia berkata: ‘Demi Allah, aku melihat semua itu dan lebih dari itu. Aku melihat bulan yang akan menyingkap kegelapan ini jika belum terbit maka seakan-akan sudah.’

Katanya: Maka perempuan itu membuatku marah dan aku melihatnya saat itu lebih berat bagiku dengan sedikitnya akalnya daripada sedikitnya tanganku; dan seandainya bukan karena cintaku padanya dan rasa kasihanku padanya niscaya aku akan memukulnya. Dan dalam batinku semakin kuat niat untuk mengakhiri hidupku dan meninggalkannya untuk apa yang telah ditakdirkan untuknya.

Dan aku berkata: ‘Sesungguhnya pengecut perempuan adalah setengah imannya ketika itu bukan setengah akalnya, dan takdir memiliki tangan lemah pada perempuan yang menampar mereka dan menghapus air mata mereka, dan ia memiliki tangan lain pada laki-laki yang berat yang menampar laki-laki dan mencekik lehernya.’

Katanya: Dan aku telah mendengar perkataan orang jahiliyyah tentang makhluk ini; rahim yang mendorong, dan bumi yang menelan. Maka perkataan ini hadir padaku saat itu dan terasa masuk akal, dan aku berkeyakinan bahwa manusia ini adalah sesuatu yang hina dalam puncak kehinaan dan kerendahan: ibunya mengandungnya dengan terpaksa, dan memberatkan dengannya dengan terpaksa, dan melahirkannya dengan terpaksa; dan ia dari kesialan atas ibunya ketika dekat waktunya melahirkan tidak keluar darinya hingga kontraksi memukulnya sehingga ia berguling dan berteriak dan robek dan retak; dan kadang-kadang tersangkut di dalamnya sehingga membunuhnya, dan kadang-kadang terpelintir sehingga perutnya dirobek untuknya. Dan ketika ia melahirkannya dalam keadaan apapun dari kesulitan dan terpukul seperti palu yang menghancurkan, atau mudah dan lancar sebagaimana dimudahkan; maka ia melahirkannya dalam plasenta dan darah dan kotoran dari berbagai cairan seakan-akan ia keluar dari luka, kemudian dunia mengambilnya dan menempatkannya dari maknanya dalam yang lebih buruk dan lebih kotor dari semua itu. Kemudian ia menyelesaikan masanya lalu kubur mengambilnya sehingga menjadi lebih buruk baginya dalam merobek dan membusukkan dan mengubahnya.

Katanya: Dan hadir padaku bersama perkataan jahiliyyah itu perkataan orang jahil zindik yang dikenal “dengan al-Baqli” ketika ia mengklaim bahwa manusia seperti sayuran, jika mati tidak kembali, dan aku berkata pada diriku: ‘Sesungguhnya kamu hanyalah sayuran bodoh yang layu di tanah gersang, yang dibunuh oleh garam tanahnya lebih dari yang menghidupkannya.’

Katanya: Dan aku bangkit menuju pisau ingin menyayat dengannya, maka perempuan itu segera menghampiriku dan menghalangi antara aku dan pisau itu, dan aku hampir memukulnya karena marah, dan roh neraka sedang mengembuskan nafas di sekelilingku seandainya mereka mendengar pasti mereka mendengar desisannya yang menggelegar; maka aku tidak tahu malaikat mana yang turun dengan wahyu surga di lidah istriku.

Aku berkata kepadanya: ‘Ini adalah keputusanku untuk membunuh diriku.’

Ia berkata: ‘Dan aku tidak ingin membatalkannya dan aku tidak menahan engkau darinya dan engkau akan melaksanakannya.’

Aku berkata: ‘Maka bebaskan antara diriku dan pisau.’

Ia berkata: ‘Kita semua adalah satu jiwa aku dan engkau dan anak ini maka mari kita mati bersama; dan jiwaku tidak lebih berharga dari jiwamu dan jangan biarkan anak ini menjadi yatim yang ditampar oleh orang yang memberinya makan, dan dipukul oleh anak ini dan anak itu karena ia tidak bisa berkata di hadapan anak-anak orang aku adalah anak itu atau anak ini.’

Aku berkata: ‘Inilah pendapat yang benar.’

Ia berkata: ‘Maka marilah sembelih anak itu.’

Musayyab bin Rafi berkata: Dan orang itu belum sampai dalam kisahnya pada penyembelihan anak kecilnya hingga orang-orang berteriak dengan teriakan yang mengingkari; dan setiap ayah di antara mereka membayangkan bahwa anak kecilnya terbaring untuk disembelih dan ia memanggil ayahnya dan menyobek tenggorokannya dengan teriakan: ‘Ya ayah ya ayah; selamatkan aku ya ayah.’ Adapun imam maka air matanya bercucuran dan aku berada di hadapannya sehingga aku mendengarnya berkata: ‘Inna lillah, bagaimana neraka membuat kayu bakarnya?’

Dan aku tidak pernah melupakan kalimat ini, dan tidak pernah setelah itu aku melihat orang kafir atau fasik lalu memperhatikan perbuatannya kecuali semua itu adalah satu hal yaitu cara pembuatannya menjadi kayu bakar… seakan-akan setan laknatullah berkata kepada pengikutnya: keringkan dia.

Dan berlalu beberapa saat, kemudian orang-orang sadar dan kembali kepada diri mereka dan berteriak kepada pembicara: ‘Lalu apa?’

Orang itu berkata: “Maka aku membuka mata dan hatiku bersama-sama dan menatap anak kecil malang yang tidak memiliki apa-apa kecuali kedua tangannya yang lemah; dan aku melihat jalannya pisau dari tenggorokannya dan tempat pemotongannya di lehernya yang lembut; dan aku melihatnya seakan-akan pandangannya tersebar karena ketakutan ke segala arah, dan aku melihatnya memohon kepadaku dengan kedua matanya yang menangis agar aku tidak menyembelihnya, dan aku melihatnya memelas dengan kedua tangannya yang kecil seakan-akan ia tahu bahwa ia berada dariku di hadapan pembunuhnya, kemudian terbayang padaku bahwa ia menggeliat dan bergetar dan berteriak karena sakit disembelih di bawah tangan ayahnya; di bawah tangan ayahnya yang malang.

Ya celaka aku! Sungguh aku dilanda apa yang akan melanda aku seandainya langit runtuh ke bumi, dan aku kira seluruh alam telah meledak dengan teriakan karena anak lemah yang tidak memiliki apa-apa kecuali Tuhannya di hadapan pembunuh.

Maka aku berlari tergesa-gesa dan meninggalkan rumah dan perempuan dan anak itu sambil berkata ya Arham ar-Rahimin. Ya yang menciptakan anak yang alamnya hanya ibu dan ayahnya saja dan sisa alam adalah debu baginya. Ya yang mengatur bayi lalu menganugerahinya kerajaan dan kekuasaan dan kekayaan dan kegembiraan dan kebahagiaan, semua itu hanya di dada ibunya dan dadanya saja ya Tuhanku! Lupakan aku seperti kelupaan ini, dan karuniakan aku seperti rezeki ini, dan jaminlah aku dengan pengaturan seperti ini karena aku terputus kecuali dari rahmat-Mu seperti terputusnya bayi kecuali dari ibunya.

Orang itu berkata: “Dan sungguh aku telah tertipu seperti bangkai yang diam yang mengira bahwa dialah yang berbusa ketika serangganya berbusa. Dan sungguh aku lebih hina dari lalat yang tidak menemukan hakikatnya, dan tidak mencarinya kecuali dalam yang terkotor dari kotoran.

Dan aku hampir tidak berjalan sebagaimana kakiku mendorongku hingga aku mendengar suara yang jernih segar bergema seperti gema burung dara dalam kelembutan tangisannya sambil melagukan ayat ini:

‘Dan bersabarlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari karena mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melampaui batas.’ [Al-Kahf: 28]

Katanya: Maka aku berhenti mendengarkan dan apa yang aku dengarkan? Ini adalah nyala api bukan kata-kata, membakar segala yang ada di sekelilingku dan menyentuh lampu rohku yang padam maka tiba-tiba ia menyala, dan tiba-tiba seluruh dunia menyala dalam cahayanya, dan jiwaku terangkat dari kekeringan yang aku alami dan seakan-akan aku diselimuti awan dari awan-awan, maka dalam rohku ada hembusan air dingin dan aroma air tawar.

Laknat Allah pada keguncangan ini yang menimpa orang yang takut. Sesungguhnya kita mengira itu keguncangan padahal itu hanyalah tercampurnya hakikat-hakikat pada jiwa dan hilangnya sebagian dalam sebagian, dan berbenturannya keburukan dengan kebaikan dan kebaikan dengan keburukan hingga tidak tampak jenis dari jenis, dan tidak dikenal batas dari batas, dan tidak dibedakan hakikat dari hakikat. Dan dengan ini waktu bagi orang yang diuji menjadi seperti air yang membeku tidak bergerak dan tidak mengalir. Maka keburukan tampak seakan-akan selalu masih di awalnya mengancam dengan kehebatan, padahal mungkin kehebaannya telah berakhir atau hampir berakhir.

Orang itu berkata: “Dan aku melihat keputusasaanku telah menguasai segala sesuatu, maka meluas hingga ujung alam dan ujung zaman; ketika yang dalam diriku tenang ternyata itu hanyalah keputusasaan satu hari atau beberapa hari di suatu tempat dari tempat-tempat; adapun yang di balik hari-hari ini dan yang di belakang tempat ini, maka itu adalah hikmah hukum matahari yang terbit dan tenggelam di dunia untuk menghidupkannya, dan hukum air yang langit turunkan untuk menyirami bumi dan apa yang ada di atasnya, dan hukum berlanjutnya benda-benda langit ini dalam orbitnya dan tidak ada yang menahan dan menimbangnya kecuali kekuatan Penciptanya.

Di mana bekas manusia yang hina lagi rendah dalam semua itu? Dan apakah kehidupan kecuali dengan semua itu?

Dan apa yang ada di tangan manusia yang lemah dari sistem ini semua sehingga pantas baginya untuk mengatakan dalam suatu peristiwa dari peristiwanya bahwa kebaikan tidak dimulai dan keburukan tidak berakhir?

Musibah-musibah menimpa manusia ini untuk menghapus dari jiwanya kehinaan dan kerendahan, dan mematahkan keburukan dan kesombongan, dan meredakan ketajaman dan kecerobohan; maka tidak ada dari kebodohannya kecuali ia menambah dengannya kecerobohan dan ketajaman, dan kesombongan dan keburukan, dan kerendahan dan kehinaan, maka inilah musibah manusia bukan yang itu.

Musibah adalah apa yang timbul dalam manusia dari musibah.

Katanya: Dan aku mengulang ayat mulia itu dalam jiwaku tidak pernah puas darinya, dan aku mulai melagukan dengan sebaik-baik dan semerdu dan sedih lagunya; maka jiwaku bergetar dan berguncang seakan-akan ia mulai menata apa yang ada di dalamnya untuk menetapkan setiap hakikat di tempatnya setelah percampuran dan keguncangan itu.

Sabar jiwa bersama orang-orang yang mewakili kerohanihannya secara terus-menerus pagi dan petang, dan dalam cahaya kehidupan dan kegelapannya, mereka menginginkan wajah Allah yang jalannya adalah cinta bukan yang lain dari harta atau barang. Dan mengikat kedua mata dengan teladan tinggi ini sebagaimana dalam keindahan dan cinta; dan mengikat kemauan agar tidak terlepas lalu turun kepada hal-hal rendah dunia yang disebut dengan ejekan dan sindiran perhiasan dunia, yang menyerupai hakikat-hakikat tinggi lalat… maka menjadi kotor najis, tetapi dengan itu menjadi perhiasan kehidupan bagi makhluk lalat ini.

Itulah -demi Allah- sebab-sebab kebahagiaan dan kekuatan. Adapun musibah-musibah semua, maka itu dalam melalaikan hati manusia dari mengingat Allah.

Katanya: Dan ketika tobatku benar, dan yakin menguat dalam jiwaku, rohku menjadi besar dan luas, dan bangkit untuknya pendorong-pendorong dari selain hakikat-hakikat lalat, dan bersinar di dalamnya keindahan Ilahi menyinari dari segala sesuatu, dan subuh terbit padaku seakan-akan kelahiran baru, maka aku selalu dalam umur anak kecil, dan datang kepadaku kebaikan dari mana aku duga dan tidak aku duga, dan seakan-akan aku tidur lalu terbangun kaya dan bekerja hati yang hidup dalam waktu yang hidup.

Dan sungguh aku memperoleh dari ayat itu tabiat yang tidak ada padaku, dan tidak tetap bersamanya keburukan selamanya, maka menjadi dari sifatku bahwa aku melihat masa kini seluruhnya bergerak lewat dengan apa yang ada di dalamnya dari kebaikan dan keburukannya semuanya, dan aku merasakan gerakannya seperti yang kedua mataku lihat dari kafilah unta yang bergoyang di bawah pelananya sambil mempercepat jalan.

Aku tidak jauh sedikit dan aku berjalan tenang bertobat bertawakal hingga seorang laki-laki yang memiliki kenikmatan dan kemuliaan dan kedudukan memanggilku, dan seakan-akan hatinya berbicara padanya atau wajahku berbicara padanya dalam hatinya lalu ia bertanya kepadaku, dan aku menceritakan keadaanku dan mengisahkan kisahku. Maka ia berkata: ‘Allah akan menghidupkanmu dengan anak yang hampir kau bunuh maka kembalilah ke rumahmu.’ Kemudian ia memberikan dinar-dinar kepadaku dan berkata: ‘Berdaganglah dengan ini atas nama Allah dan berkah-Nya maka akan tumbuh di dalamnya anak dari harta yang mencapai kedewasaannya.’ Dan telah benar imannya dan imanku, maka Allah memberkahiku dan tumbuh anak harta dan dewasa dan melampaui ke masa mudanya.”

Musayyab berkata: Dan orang itu duduk dan ia seperti khatib di atas mimbar, maka imam berkata: “Betapa mirip musibah dengan telur yang dikira penjara bagi yang ada di dalamnya padahal ia melindunginya dan membesarkannya dan membantunya hingga sempurna, dan tidak ada baginya kecuali sabar hingga masa tertentu, dan ridha hingga batas tertentu, kemudian telur itu menetas maka keluarlah makhluk lain.

Dan tidaklah orang beriman di dunianya kecuali seperti anak ayam dalam telurnya, tugasnya adalah terbentuk di dalamnya, dan kesempurnaannya adalah memancar sosok sempurnanya lalu keluar ke alam sempurnanya.”

 

 

Bunuh Diri “4”:

Al-Musayyab bin Rafi’ berkata: “Imam menatap lurus, ada seseorang yang berdiri dari majelis; kemudian dia memandang tajam seolah sedang melihat keajaiban seperti kebenaran ketika dibatalkan, dan kejujuran ketika didustakan. Lalu dia memandangku seolah dia kagum dengan kekagumanku; kemudian dia menundukkan pandangannya seolah mengingkari apa yang dilihat matanya sehingga dia mencari pendapat hatinya. Dan aku melihat di wajahnya kerutan yang membuatku merasa seolah setan datang kepadanya dengan membawa orang ini untuk membuatnya bingung, memperlihatkan bagaimana dia membuat salah seorang mukmin yang saleh bersemangat dalam agamanya untuk kemudian kembali menjadi dasar yang tak terhindarkan dalam menciptakan kisah kekafiran!

Inilah tamu kita “Abu Muhammad al-Bashri” yang menerobos kerumunan orang untuk datang dan menceritakan kepada kita kisahnya tentang membunuh dirinya sendiri dan dosa kepada Tuhannya; seandainya dikatakan kepadaku: bahwa busur langit dengan warna merahnya, kuningnya, birunya, dan hijaunya telah jatuh ke bumi dan berubah dari warna-warnanya menjadi lumpur dan kotoran; maka hal itu sama dengan ini dalam kebesarannya, keingkarannya, dan keajaibannya. Abu Muhammad adalah salah satu dari orang-orang yang bersemangat, yang seandainya salah seorang dari mereka kafir lalu dikatakan: “Dia kafir”, maka kata-kata itu akan terlalu singkat untuk menggambarkan hakikat atau menggambarkan kekejiannnya, sebagaimana kata ‘gila’ terlalu singkat untuk menggambarkan orang bijak yang bersumpah akan melakukan perbuatan yang membuatnya keluar dari alam semesta, sehingga tidak lagi berada di bumi maupun langit dan tidak dapat dijangkau tangan Allah! Sesungguhnya dalam kata kafir dengan itu, dan dalam kata gila dengan ini, terdapat sesuatu dari kemunafikan akal dan kesopanannya dalam menyampaikan makna yang janggal yang tidak menyerupai kegilaan maupun kekafiran.

Dan kita berlindung kepada Allah dari kehinaan-Nya; sungguh seorang mukmin dalam ketegasannya dan pendalaman agamanya bisa seperti orang yang membuat tali yang dipintalnya dengan kuat dan melewatkannya pada satu lengkungan demi lengkungan, agar menjadi lebih kuat dan kokoh, kemudian setan menarik talinya, dan ternyata dia dalam kelemahan seperti laba-laba yang membuat rumah di atap pandai besi; dia melihatnya menuangkan besi cair membuatnya menjadi rantai lingkaran demi lingkaran, lalu dia pergi menirunya dan mengeluarkan dari air liurnya benang demi benang yang dikira rantai.

Sesungguhnya bersama setiap mukmin ada setannya yang mengintainya, karena itu seorang mukmin seharusnya setiap saat seperti orang yang merasa baru beriman sejak satu jam yang lalu, sehingga dia selamanya waspada, siap, memperbarui indera-inderanya dan mengasahnya untuk menyambut dunia yang baru baginya di antara satu masa dan masa yang lain. Dan dari sinilah hikmah bahwa muazin mengumandangkan azan, dan shalat didirikan berulang kali dalam sehari, sehingga setiap kali waktu dimulai, mukmin berkata: Sekarang aku memulai imanku yang paling suci dan paling kuat.

Dan Imam berkata: “Hai Abu Muhammad!” Maka al-Bashri berkata setelah melihat kebencian di wajah Imam: “Jangan takut wahai syaikh; sesungguhnya Allah -Ta’ala- mungkin menjadikan apa yang Dia cintai dalam apa yang kita benci; dan takdir tidak memiliki bahasa sehingga berjalan dengan kata-kata kita; dan kita mungkin menyebut musibah yang menimpa kita sebagai kerugian padahal itu keuntungan, atau kita katakan bencana datang untuk mengubah hidup, padahal itu hanya cara yang dimudahkan untuk mengubah pemikiran. Sesungguhnya bahasa takdir dalam sesuatu adalah hakikat sesuatu itu ketika hakikat itu tampak; dan betapa banyak peristiwa yang tidak menimpa seseorang pada dirinya kecuali untuk memicu perang antara jiwa ini dengan nalurinya, sehingga perbuatan alam yang memusuhi menjadi sebab-sebab perbuatan akal yang menang.

Dan banyak dari bencana yang menghukum manusia ini, tidak lain adalah sarana-sarana takdir yang dengannya Allah mengembalikan manusia ke dunia pemikirannya yang khusus baginya; karena dunia ini adalah satu dunia untuk semua yang ada di dalamnya, tetapi lingkaran pikiran dan jiwa adalah bagi pemiliknya dunianya sendiri. Dan orang yang bahagia adalah yang menetap di dunianya ini dan mampu memerintah di dalamnya seperti raja di kerajaannya, yang perintahnya berlaku dalam perkara kecil dan besarnya; dan orang yang celaka adalah yang terus tersesat di antara dunia-dunia manusia, memandang si kaya ini, si beruntung itu, dan si yang diberi taufik itu; dan dia dalam semua ini seperti orang asing di bukan negerinya, bukan kaumnya, dan bukan keluarganya, ketika segala sesuatu menjadi asing bagi manusia selama dia asing dari dirinya sendiri.

Sungguh aku dulu tersesat dari diriku dan dunianya, sehingga aku di dunia ini merasakan perasaan pencuri, barang-barangnya adalah barang-barang semua orang; dan pencuri memandang harta manusia dengan mata penyair yang suka dan terpesona, sementara harta itu memandangnya dengan mata pejuang yang mengintai dan waspada.

Demi Allah, baik aku menyempit atau melonggarkan manusia, aku melihat dalam itu makna dari penyempitan dan pelonggaran pencuri; dia dalam kedua keadaannya tidak memandang ke dalam lubuk jiwanya kecuali sosok yang bersembunyi di bawah kegelapan merangkak dengan takut dan waspada. Dan aku adalah orang yang pemarah, keras tabiat, cepat bereaksi; dan barangsiapa kehilangan dunia jiwanya dan berada seperti pencuri yang aku sebutkan; maka tabiat-tabiat ini menjadi senjata-senjatanya untuk menolak atau menyerang. Dan tidak pernah seseorang menguasai dirinya dan mengelilinginya serta menguasai tindakannya; kecuali dia rela terhadap segala sesuatu karena dia berhubungan dengan segala sesuatu dari sisi yang mulia bukan yang lain, bahkan dalam hubungannya dengan musuh-musuhnya dari manusia dan musuh-musuhnya dari benda-benda; dia tidak melihat mereka kecuali sebagai ujian bagi keutamaan-keutamaannya dan pembuktian untuknya. Dan mungkin musuhmu dalam beberapa perkara menjadi mata bagimu dalam melihat dirimu; maka padanya ada berkah indera ini dan nikmatnya.

Dan seandainya kita adalah muslim dengan Islam Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Islam para pengikutnya dari sahabat-sahabatnya, niscaya kita meraih rahasia kesempurnaan manusia, yaitu manusia menetap di dunia jiwanya dan menjadikan batinnya seperti batin segala sesuatu yang Ilahi, tidak ada di dalamnya kecuali hukumnya yang satu yang berkelanjutan dengannya menuju arah kesempurnaan, yang terangkat dengannya karena kesempurnaannya dari dorongan-dorongan selainnya; maka pandangan manusia kepada kekurangan orang lain adalah awal kekurangannya. Dan mukmin seperti dahan; jika berbuah maka itu buah dirinya, dan jika tidak berbuah dia tidak mengasah dan tidak dengki serta terus bekerja dengan hukumnya.

Dan sungguh aku tumbuh di tempat yang mulia, dengan bentuk kehidupan yang menyerupai bentuk buah yang manis, terkumpul baginya dari tabiat tempat tumbuhnya dan kedudukannya apa yang menjadi ciri khasnya dari kemanisan, aroma, dan rasa. Ketika aku berakal dan mengenal manusia kemudian bergaul dan bercampur dengan mereka, aku melihat diriku di antara mereka seperti apel yang dilempar di antara bawang. Apel itu bodoh sehingga bertambah bodoh, dan dia baru sehingga bertambah baru, dan mengira bahwa hikmah telah diubah di dunia dan diganti ketika bawang diciptakan setelah apel diciptakan, dan si bodoh itu tidak tahu bahwa kesempurnaan dalam hidup ini adalah kumpulan kekurangan-kekurangan, dan bahwa keindahan memiliki dua wajah: salah satunya yang namanya keburukan; ini tidak dikenal kecuali dari itu; dan bawang seandainya menyadari apa yang manusia inginkan dari maknanya dan makna apel, dia akan menyebut dirinya apel, dan berkata tentang yang ini bahwa dia adalah bawang!

Dan ketika apelku melihat bahwa dia tidak mampu membuat semua pohon seperti kedudukan dan tempat tumbuhnya, dia berkata: Sesungguhnya perkara ini lebih besar dari tabiatku, dan selama rahasia alam semesta tertutup maka tidak ada penjelasan baginya kecuali bahwa dia rahasia yang tertutup, dan biarlah segala sesuatu tetap dalam tabiat dirinya, dengan demikian segala sesuatu akan baik walaupun dalam dirinya sendiri saja.

Abu Muhammad berkata: “Tetapi tetap ada kesendirian dunia dan kekerasannya, ketika aku belum menemukan duniaku, dan belum yakin dengan keyakinanku pada diriku; sehingga segala yang di sekelilingku memancar dalam rohku dengan kejahatannya, dan dunia dengan ini seolah sama dalam pandanganku pada satu makna. Dan menambah bahwa aku adalah laki-laki bujangan yang menjaga diri; dan tidaklah sama kekosongan kejantanan dari wanita dengan kekosongan akal dari kecerdasan; ini adalah akal yang tumpul, dan itu adalah kejantanan yang tumpul!

Dan wanita menggandakan makna hidup dalam jiwa, maka tidak heran kekosongan darinya adalah penggandaan makna kematian; yang tahu ini tahu dan yang tidak tahu tidak tahu. Maka aku hidup dari alam semesta dalam kekosongan yang mati, dan aku merasakan dalam segala yang di sekelilingku kesendirian akal yang membuatku merasa bahwa dunia tidak sempurna; dan bagaimana bisa sempurna di mataku dunia yang aku lihat bukan dunia yang ada dalam hatiku?

Dan aku tahu bahwa setiap hari yang berlalu pada laki-laki bujangan yang menjaga diri tidak berlalu sampai dia menyiapkan padanya penyakit hari yang lain, dan dari hari-hari yang sakit dan rusak ini, hidup menyiapkan balasannya dari orang hidup ini yang melanggar ayat-ayatnya dan menyerangnya, dan menjadikan dirinya seperti Tuhan yang tidak punya istri dan tidak punya teman!

Demi Allah, sesungguhnya setan tidak gembira dengan laki-laki pezina dan perempuan pezina sebagaimana dia gembira dengan laki-laki bujangan dan perempuan bujang, karena pada kedua yang pertama itu kejahatan dalam gayanya, adapun pada kedua yang ini maka setan adalah kejahatan dalam gaya keutamaan! Di sana setan singgah dan pergi, dan di sini setan datang dan menetap!

Dan aku hidup selama hidupku dengan hati tertutup dan akal terbuka; dan andai aku seorang jahil yang tertutup akalnya, dan hatiku terbuka untuk kegembiraan alam semesta yang agung ini!

Dan berlalulah hari-hariku saling memukul satu sama lain, dan saling menyakiti satu sama lain hingga berakhir pada akhirnya, dan datanglah hari yang lemah dan binasa yang akan mati.

Aku bangun pagi dan berkata pada diriku: Berapa lama kau hidup, celaka kau, dalam hukum-hukum tubuh yang rusak yang tidak benar hukum-hukumnya, dan kau tidak bersamanya dalam tabiatmu dan dia tidak bersamamu dalam tabiatnya; maka untuk apa kalian berkumpul kecuali atas kecelakaanku dan kekesalanku?

Kalian tidak pernah berdamai atas kewajiban atau kenikmatan, atau halal atau haram; maka kalian adalah dua musuh yang tidak ada urusan bagi keduanya kecuali merusak kesenangan yang terlintas bagi yang lain. Dan aku tidak tahu dengan siapa setan mengejek dari kalian berdua? Ahli ibadah yang dibisikkan dengan syahwat yang dia inginkan untuk melakukannya, seperti orang fasik yang melakukannya dan menceburkan diri padanya!

Celaka kau wahai jiwa! Sesungguhnya aku melihat dunia yang bodoh ini tidak memberiku kecuali sepotong roti dan berkata: Penuhilah dengan ini perutmu, akalmu, matamu, telingamu, dan perasaanmu. Ah, ah! Satu yang mungkin bersamanya empat yang mustahil; sesungguhnya ini tidak akan lama membuatku kehilangan empat hal yang memegangku pada kehidupan: harapan, akal, iman, dan sabar. Sungguh telah sama dalam kesedihan ini perkara kecilku dan besarku, dan aku tidak melihat diriku kecuali telah menghadapi kebinasaan yang tidak ada yang tersisa darinya, karena wajahku yang keruh dan mengkerut menunjukkan dari diriku saraf-saraf yang telah siap yang telah dirusak penyakit-penyakitnya dan bisikan-bisikannya, dan sesungguhnya wajah manusia dalam keruwetannya atau keceriaannya adalah wajahnya dan wajah dunianya yang cemberut atau tersenyum.

Demi Allah, sungguh aku tidak mampu melawan dunia dengan saraf-saraf yang sakit dan lemah ini; karena jerat penangkap -penangkap binatang buas- tidak dibuat dari benang jarum! Dan aku melihat diriku telah menjadi seperti manusia batu yang tidak ada dalam tabiatnya berbelok ke kanan dan kiri kehidupan; dan sepertinya karena kekerasanku aku adalah singa, tetapi aku singa dari batu, yang kekuatannya tidak membuat siapa pun harus lari darinya!

Abu Muhammad berkata: “Dan aku melihat diriku dalam percakapan ini seperti orang mati, tidak menjawab, tidak berkeberatan, dan tidak mengingkari, dan aku mengira dia merayuku pada kehidupan atau memalingkanku dari kesesatanku; maka diamnya membuatku penuh ketakutan, dan aku yakin bahwa setan berada di antaraku dan dirinya, dan dia telah mengambil jalan masuknya. Maka aku ingin shalat tetapi aku merasa berat untuk melakukannya dan aku melihat diriku tidak layak untuknya, bahkan sepertinya jika aku berdiri untuk shalat maka aku berdiri untuk mengolok-olok shalat!

Dan setan mulai mengambilku dari akalku dan mengembalikanku kepadanya, kemudian mengambilku dan mengembalikanku, hingga aku mengira bahwa aku gila dan seolah si terkutuk itu ingin sisa imanku untuk ditarik-tariknya denganku dan aku menariknya, maka tidak lama kemudian aku disentuh kegilaan dan aku lemparkan sisa itu ke tangannya!

Kemudian aku sadar dengan kesadaran cepat, maka aku melihat ‘Al-Mushaf’ mengawasiku dari dekat, maka aku berlindung kepadanya dan berpaling kepadanya dan berkata kepadanya: Cegahlah pukulan dari hatiku. Tetapi aku merasakan bahwa dia adalah lawanku dalam posisiku bukan pembantuku; seolah aku menjadikannya mushaf di sisi orang zindik. Maka seluruh imanku yang tersisa bagiku pada saat itu adalah bahwa aku lemah untuk membawa mushaf sebagaimana aku berat untuk shalat, maka yang suci tetap suci dan yang najis tetap najis.

Dan jiwaku tidak ada padaku dan aku tidak ada padanya; maka aku melihat dunia dengan wajah yang aku tidak tahu apa itu, selain bahwa itulah yang mungkin masuk akal dari campuran orang gila yang ditinggalkan akalnya sejak satu jam: sisa perasaan yang lemah, dan sisa pemahaman yang sakit, dunia mengecil padanya, dan akal menjadi hina padanya.

Ketika aku sampai pada ini aku tidak sadar apa yang aku lakukan dan pisau cukur telah mengenai dari tanganku urat yang menonjol dan membengkak, maka darah mengalir dan menyembur darinya seperti mata air yang dipukul batu sehingga terbelah dan memancar.

Dan aku yakin saat itu bahwa itu adalah kematian maka aku memandang dan melihat…” Al-Musayyab perawi cerita berkata: “Dan wajah orang itu muram lalu dia menunduk dan diam, dan di wajahnya ada senja yang memerah lalu tiba-tiba gelap ketika dia berkata: ‘maka aku memandang dan melihat’.”

Dan masjid bergema dengan satu teriakan: Melihat apa? Melihat apa?

Dan teriakan itu membangkitkan Abu Muhammad maka dia berkata: “Aku melihat tiga wajah yang mengintip dari mushaf memandangku seperti yang menegur, dan yang tengah seperti bulan yang terbit, seandainya semua ayat surga diwujudkan menjadi wajah niscaya wajah itu dalam kesegaran dan keceriaannya. Dan ketiga wajah itu bergumam dengan kata-kata yang tidak aku dengar apa pun darinya, tetapi pandangan mereka kepadaku menyampaikan makna-maknanya, dan seolah mereka berkata: ‘Begitukah mukmin…?’

Kemudian mereka menghilang dan meninggalkanku dan muncul tiga wajah lain, seolah mereka kebalikan dari yang itu, dan aku berlindung kepada Allah dari yang tengah, seandainya semua ayat neraka diwujudkan menjadi wajah niscaya wajah itu dalam kengerian dan kehebatannya. Dan sepertinya bagiku bahwa wajah yang terkecil dari mereka adalah wajah surat dari surat-surat mushaf, maka aku berpikir, lalu terlintas bagiku dari apa yang berdiri dalam jiwaku dari laknat bahwa itu adalah: {Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan binasalah dia} [Al-Masad: 1].

Dan kegelapan menutupi penglihatan ini dan dunia mendung, maka aku yakin bahwa dosa-dosaku telah datang kepadaku kegelapan demi kegelapan, dan berkilat sesuatu yang merah, maka aku memandang dan ternyata darah terlihat di mataku seolah lidah api yang bergelung, maka aku sangat takut, dan aku kira itu jalan-jalan yang memanjang untuk rohku yang membawanya ke neraka.

Dan mati semua pikiranku setelah itu kecuali satu pikiran yang tetap hidup memakan hatiku seperti api memakan, yaitu: ‘Bagaimana kau berani menempatkan di antaraku dan Allah kebodohanku?’

Dan mereka berkata: Saudariku telah melihatku menggeliat dalam darahku maka dia berteriak, dan orang-orang datang mendengar suaranya, dan di antara mereka ada dokter, maka setelah kesulitan, dia berhasil menahan darah, dan dia berusaha dengan usahanya hingga dia mengobati luka itu dengan obat dan membalutnya; maka aku mulai sadar napas demi napas, dan pulih sedikit demi sedikit.

Kemudian kehidupan mengelilingi mataku maka aku membukanya, dan ternyata benda-benda tampak bagiku dan tidak ada padanya hakikat dan makna, seolah mereka diciptakan baru di bawah penglihatanku, dan seolah mereka keluar pada saatnya dari tangan Allah!

Dan aku agak membaik setelah beberapa jam, maka aku merasakan bahwa jiwaku telah kembali kepadaku mengejekku berkata: Bagaimana kau melihat perbuatan akal wahai orang berakal?

Dan kehidupan mulai membaharui, maka aku bersumpah antara aku dan jiwaku bahwa aku akan memperbarui imanku kepada Allah, dan tidak lama aku melakukannya hingga aku merasakan bahwa kekuatan seluruh alam semesta menetap dalam rohku, dan sepertinya bagiku bahwa akulah seorang diri yang kuat di bumi ini dengan kekuatan gunung-gunung dan batu-batunya, pada saat tubuhku terbaring seperti mayat tidak bisa berdiri karena lemah! Maka aku yakin saat itu apa yang tidak pernah aku ketahui dari dunia dan tidak pernah aku rasakan dalam kehidupan dan tidak pernah datang kepadaku dengan ilmu atau pikiran; aku yakin bahwa itu adalah mukjizat iman baru yang segar, yang terhubung dengan Allah baru saja seperti iman para nabi tanpa disentuh syahwat, atau dihalangi oleh pikiran, atau dikotori satu debu pun dari pikiran duniawi yang kotor.”

Al-Musayyab berkata: “Kemudian pembicara itu duduk, dan orang-orang di akhir perkataannya seolah mereka meninggalkan dunia sejenak, dan kembali kepadanya dengan keadaan seperti keadaannya dan seperti imannya. Maka Imam diam dan tidak berbicara, untuk membiarkan setiap jiwa berbicara kepada pemiliknya.”

 

 

Bunuh Diri “5”:

Al-Musayyib bin Rafi’ berkata: Orang-orang terdiam sejenak setelah mendengar cerita “Abu Muhammad al-Bashri”, karena setiap orang telah memusatkan pikirannya pada apa yang didengar, dan mulai merenung dalam hatinya serta mempertimbangkan pendapatnya. Majelis kami telah berlangsung sejak sore, dan siang hampir tidak terasa akan berakhir, hingga debu menutupi matahari yang biasa muncul ketika matahari hendak terbenam. Di sebelah kiriku ada seorang pemuda yang masih segar masa mudanya, tampan rupanya, bercahaya dan berseri, memiliki wibawa dan sikap yang baik, ia menyambut hari-hari dengan antusias, dan hari-hari pun menyambutnya dengan baik.

Aku mendengar diriku berbisik di telinga “Mujahid al-Azdi” – aku mengenalnya sebagai seorang penyair dalam tutur katanya dan penyair dalam hatinya – maka aku berkata kepadanya: “Tidak tersisa dari siang ini wahai Mujahid, kecuali seperti kesabaran kekasih yang sudah dekat waktunya bertemu; dan tidak tersisa dari matahari kecuali seperti kekasih perempuan yang berselimut, mengambil pakaian dan kembennya, tetapi setelah menjatuhkannya dari sini dan sana, agar terlihat keindahan tubuhnya di sini dan sana!”

Pemuda itu tergetar mendengar kata-kata ini, kelembutan mengalir di tubuhnya, dan berkata: “Wahai paman, tidakkah engkau melihat sisa siang ini seperti wajah yang menangis yang telah menghapus air matanya, dan tidak ada di sekelilingnya kecuali kesedihan zaman?”

Aku berkata: “Sepertinya engkau memiliki cerita wahai pemuda, jika masalahmu termasuk dalam apa yang sedang kita bicarakan, maka ceritakanlah kepada kami dan hiburlah kami dengannya sampai matahari terbenam, mungkin engkau akan membawa kami terbang melayang di atas dunia.”

Dia berkata: “Bagaimana?”

Aku berkata: “Berdirilah dan berbicaralah, karena aku melihat engkau memiliki lidah dan kemampuan berbicara yang baik.”

Dia berkata: “Pantaskah aku berbicara di masjid tentang korban cinta dan yang terjatuh cinta, tentang perempuan yang mencintai dan laki-laki yang mencintai?”

Mujahid langsung berkata: “Celaka engkau wahai pemuda! Engkau telah mempersempit yang luas; sesungguhnya seorang mukmin salat di hadapan Allah sedangkan kitab kejelekannya tergantung di lehernya, terbuka dan terbaca. Bukankah waktu-waktu salat itu adalah saat-saat hati untuk setiap hari dalam zaman, saat itu datang dari sebelumnya sebagaimana datangnya tobat hati dari apa yang dikerjakan tubuh? Sesungguhnya masjid menerima siapa yang memasukinya pada saat ia memasukinya, dan seandainya masjid menghisabnya tentang kemarin dan sebelumnya dan apa yang telah berlalu sebelum itu, tentu akan mengusirnya dari ambang pintu! Sesungguhnya masjid wahai anakku berkata kepada yang memasukinya: Masuklah ke dalam zamanku dan tinggalkan zamanmu, dan datanglah kepadaku wahai manusia yang duniawi, agar engkau menyadari bahwa dalam dirimu ada indera dari langit, dan datanglah kepadaku dengan hati dan pikiranmu, agar keduanya merasakan sesaat bahwa mereka berada di dalam bukan di dalam dirimu.

Dan kita sekarang wahai anakku tidak sedang dalam perkumpulan seperti orang-orang biasa yang saling bertukar cerita mereka, tetapi kita sedang dalam majelis seorang alim yang di dalamnya leher orang ini dan orang itu telah berbicara dengan apa yang mereka dengar; maka berdirilah engkau dan sebutkanlah ilmu hatimu dan ceritakanlah kepada kami kisah kegilaan cinta dan masa muda yang pembicaraan tentangnya seperti berbicara tentang naik ke bulan dan menangkap kilat dari sana!”

Al-Musayyib berkata: Maka berdirilah pemuda itu, dan aku melihat Mujahid mendesah seolah-olah hatinya terbelah, maka aku berkata: “Ada apa denganmu?” Dia berkata: “Sesungguhnya masa mudaku telah berlalu padaku tadi dan aku mencium aromanya dalam jubah pemuda ini, kemudian aku kehilangannya untuk kedua kalinya maka aku menjadi tua untuk kedua kalinya, dan datanglah kesedihan kepadaku dari perasaanku bahwa aku sudah tua, kesedihan dari orang yang hendak memasuki pintu kekasih kemudian ditolak!”

Dan pemuda itu berbicara, ternyata dia menggerakkan di antara rahangnya lidah seorang penyair besar, berbicara dengan dua jiwa: salah satunya jiwa manusiawi yang menciptakan makna dan lafaz, dan yang lainnya jiwa langit yang di dalamnya ada api dan cahaya.

Dia berkata: “Sesungguhnya aku memiliki kisah wahai syeikh, yang tidak tersisa darinya kecuali kata-kata yang di dalamnya aku kuburkan makna-maknanya; dan mungkin kisah itu datang dari berita-berita hati yang penuh dengan penderitaan dan kesedihan, dan tidak dimaksudkan dengan penderitaan dan kesedihannya kecuali untuk menciptakan akhlak bagi hati untuk hidup dengannya dan berubah. Dan orang yang ditakdirkan atasnya cinta, tidak akan mencintai selain itu lebih dari mempelajari bagaimana melupakan dirinya pada yang lain, dan ini sebagaimana merupakan tingkatan tertinggi cinta, maka ia adalah martabat tertinggi ihsan.

Dan apabila seseorang jujur dalam cintanya, maka pikirannya menjadi dua pikiran: salah satunya pikiran, dan yang lainnya keyakinan yang membuat pikiran ini tetap tidak berubah; dan ini sebagaimana sifat cinta, maka ia adalah sifat agama.

Dan tidak ada sesuatu di dunia selain cinta yang mampu memindahkan ke dunia api kecil dan surga kecil, seukuran yang cukup untuk siksaan satu jiwa atau kenikmatan-nya, dan ini adalah keadaan di atas kemanusiaan.

Dan keutamaan-keutamaan umumnya bekerja dalam memindahkan manusia dari sifat kebinatangannya, dan mungkin tidak memindahkan kecuali sebagiannya dan sebagian besar tetap dalam kebinatangan: tetapi cinta yang sejati mencabut manusia dari kebinatangannya sekaligus, namun ia tidak akan demikian kecuali jika membunuhnya dengan penderitaannya; maka ia seperti ibadah dan zuhud tertinggi.

Kisahku adalah bahwa suatu hari aku diundang ke tempat yang biasa diundang pemuda seperti itu, dalam majelis nyanyian dan minuman keras, alangkah majlisnya! Dan Allah telah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih kecil dari itu” (QS. Al-Baqarah: 26), dan nyamuk dalam kisahku adalah seorang perempuan Nasrani; budak perempuan penyanyi si fulan yang pandai, ahli, beradab, hafal berita dan meriwayatkan syair, berbicara dengan kata-kata yang mengandung manisnya wajahnya, dan menciptakan lelucon bila ia mau seperti menciptakan bunga yang mekar dengan embun jatuh di atasnya, dan ia bisa serius dan bercanda dengan pembicaraan sesukanya, menjadikan kata-kata memiliki akal dan syahwat yang dengan keduanya ia menggandakan orang yang diajak bicara dalam syahwat dan akalnya!

Dan akan mengalir dalam kisahnya kata-kata kisahnya sendiri, aku tidak merasa berdosa dengan itu dan tidak merasa malu; karena Allah telah menyebutkan khamar dan tidak berkata: “air yang di dalamnya ada alkohol”, dan menggambarkan setan dan tidak berkata: “malaikat yang melakukan perbuatan perempuan cantik dalam kesombongannya”, dan menyebutkan berhala-berhala sebagai berhala-berhala, dan tidak menamakannya: “penyangga langit yang dibuat manusia dengan tangannya” dan hikayat antara laki-laki dan perempuan adalah perkataan yang sebagiannya menerima sebagian yang lain dan saling berpelukan dan berdekatan!

Al-Musayyib berkata: Maka imam kami tersenyum dan matanya menatap seolah bertanya. Adapun Mujahid al-Azdi, ia dari getaran kegembiraan seolah berada di atas pelana unta, dan berkata: “Demi Allah, pemuda yang hebat, ini adalah kefasihan seperti celak mata.”

Kemudian pemuda itu berkata: “Dan aku pergi ke majelis itu, dan penyanyi itu telah menjadikannya dari tepi-tepi dan pinggir-pinggirnya seolah-olah itu adalah tafsir untuknya. Adapun dia, ia menjadikan dirinya tafsiran untuk satu kata yaitu: “kenikmatan”.”

Al-Musayyib berkata: Mujahid sangat bergembira, dan aku mendengarnya berbisik dengan suaranya berkata: “Demi Allah, hebat perempuan itu; inilah, inilah musuh bidadari surga!”

Kemudian pemuda itu berkata: “Dan sekelompok ahli majelis bergembira untuk minum, sedangkan aku belum pernah mencicipi khamar sama sekali, dan tidak akan pernah merasakannya meskipun semua orang meminumnya, dan tidak akan pernah merasakannya meskipun hujan terputus dan langit tidak menurunkan hujan kecuali khamar; karena aku sejak remaja melihat ayahku meminumnya, dan ibuku menegurnya dan keras dalam memarahinya dan marah, dan keduanya bertengkar sehingga ayah menyakitinya dan mencacinya dengan kata-kata kotor dan keji. Dan suatu kali ia mabuk dan mabuk menguasainya hingga isi perutnya bergejolak, maka muntahan mengeluarkannya dan ia mengiraku sebagai wadah, dan datang kepadaku saat aku sedang duduk lalu memegangku dan muntah di pangkuanku, hingga ia mengosongkan perutnya; dan ibuku bangkit untuk melepaskannya dan mulai menanganinya dariku sehingga kegilaannya bertarung dengan akalnya hingga ibuku menjatuhkannya telungkup seperti bejana; maka ia berputar seperti ular perut ke punggung, dan menggulung seperti landak dalam durinya, kemudian menendang ibuku dengan kakinya di bawah perutnya sehingga ia terjungkal, dan kepalanya mengenai tempat adonan sehingga retak seperti bejana seolah-olah dipukul dengan batu, otaknya di tanah di depan mataku, dan aku melihatnya tidak lebih dari mendorong dengan salah satu tangannya ke udara, dan memeluk dengan tangan yang lain ke dadanya, mengira bahwa ia melindungiku dan menolaknya dariku; kemudian diam, dan seandainya ia tidak mati karena luka di kepalanya, tentu mati karena pukulan di perutnya.”

Al-Musayyib berkata: Pemuda itu menunduk sejenak dan orang-orang menunduk bersamanya; maka Mujahid mengangkat suaranya dan berkata: “Rahmat Allah untuknya!” Maka semua orang berkata: “Rahmat Allah untuknya.”

Kemudian pemuda itu berkata: “Dan umumnya orang di majelis itu mengetahui hal itu dariku, dan mengetahui bahwa seandainya wajar bagi seseorang minum darah ibunya, aku tidak akan minum khamar, maka mereka berkata kepada penyanyi itu: Sesungguhnya orang ini tidak masuk dalam daftar kami. Maka ia menatapku, dan aku melarikan diri dari tatapannya dengan menunduk; kemudian ia berkata: ‘Minumlah demi wajahku?’ Maka aku berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya wajahmu berkata kepadaku: jangan minum,’ maka ia tertawa dan berkata: ‘Apakah ia berkata kepadamu selain apa yang dikatakannya kepada mereka?’ Maka aku melarikan diri dari perkataannya dengan tundukan lain, dan kedua tundukan itu menyambungkan antara aku dan hatiku; dan terjaga padanya seperti kasih sayang ibu kepada anaknya ketika menyakitinya dengan lisannya maka anak itu menunduk diam mengadukannya kepada hatinya!

Dan ia berpaling kepada yang hadir dan berkata kepada mereka: ‘Aku tidak akan baik untuk kalian dan kalian tidak akan mendapat manfaat dariku kecuali kalian minum untukku dan untuknya dan untuk diri kalian sendiri,’ dan pelayan turun kepada mereka, maka mereka minum liter demi liter, dan ia di antara itu menyanyikan untuk mereka dan telah menghadap kepada mereka dan wajahnya kosong untuk mereka dariku, mencuri pandangan kepadaku setelah pandangan.

Maka setanku membisikkan kepadaku bahwa bersikeraslah dengan perempuan ini seperti tekadmu dengan khamar karena keduanya adalah satu hal, tetapi aku tajam pandangan kepadanya, kadang aku menatapnya dengan pandangan kekasih kepada kekasih, dan kadang aku menundukkan pandangan darinya dengan pandangan yang tidak melihat; dan seolah-olah dengan itu aku mengambilnya dan meninggalkannya, menyambungnya dan meninggalkannya. Maka ia berkata kepadaku seolah mengingkariku: ‘Mengapa engkau memandangku begini?’ Tetapi keadaan wajahnya menjadikan maknanya: ‘Jangan memandangku kecuali begini!’

Dan minuman keras cepat mempengaruhi kaum itu dan kemabukan berlebihan menguasai mereka; maka aku tinggal untuknya sendirian dan ia tinggal untukku sendirian; kemudian ia mengambil kudanya dan memeluknya dengan pelukan yang kuat lebih dari pelukan, dan menempelkannya ke dadanya, dan payudaranya, kemudian menatapku dengan makna, maka aku tidak ragu bahwa ia memeluk aku dan kuda itu, kemudian ia menyanyikan lagu ini:

Ingatlah pembunuh Allah burung merpati musuh … di dahan apa yang ia bangkitkan ketika bernyanyi Maka ia tidak diam hingga aku berlindung pada suaranya … dan aku berkata: lihat burung merpati ini gila Dan tidak menemukan perempuan Arab yang dilemparkan padanya … pukulan takdir dari tempat yang tidak disangka Ketika ia mengingat air pohon akasia dan kebaikannya … dan dinginnya demam dari perut lembah yang berteriak Dengan lebih banyak dariku penderitaan kecuali bahwa aku … meredam isi hatiku atas apa yang kupendam

Dan ia menyanyikannya dengan nyanyian dari hati yang merintih, dan dada yang mendesah, dan isi hati yang tidak menyembunyikan apa yang dipendam; dan ia mengangkat suara kemudian seolah-olah air mata turun pada suaranya, maka bergetar dan turun sedikit demi sedikit, hingga merintih rintihan yang menangis, kemudian bergejolak di dadanya dengan cinta, maka bergema tinggi dan turun, kemudian kata-kata menolak di akhirnya menjadi air mata yang mengalir.”

Al-Musayyib berkata: Mujahid menatapku dan berkata: “Musuh surga – demi Allah – ini wahai Abu Muhammad, surga tidak menerima orang yang bersamanya, berkata kepadanya: engkau bersama musuhku!”

Kemudian pemuda itu berkata: “Dan kaum itu telah mabuk, maka menghinggapi mereka setengah tidur dan tersisa setengah terjaga dalam indera mereka, maka semua yang mereka lihat dari kami mereka lihat seperti mimpi yang tidak ada wujudnya di balik kelopak mata mereka yang berat karena mabuk dan kantuk, dan penyanyi itu melompat lalu datang ke sisiku dan menempel padaku, dan setan cepat membisikkan kepadaku: berhati-hatilah karena engkau laki-laki yang jujur, dan jika engkau jujur dalam khamar maka jangan bohong dalam hal ini, dan jika engkau menyentuhnya maka ia akan menjadi kehancuranmu sampai akhir zaman!

Maka aku sangat heran bahwa setanku lebih selamat dan aku menolongnya sebagaimana para nabi menolong setan-setan mereka. Tetapi si terkutuk itu terus menghalangiku dari perempuan itu tanpa makna-maknanya, dan ia dariku seperti orang yang mendekatkan air ke mata orang yang dibunuh yang berkobar dadanya kemudian menjadikannya selalu di atas mulutnya, dan sungguh aku dari segi kejantanan sehingga tampak bagiku dari hebatnya gejolak dalam darah dan masa mudaku bahwa aku mengumpulkan dalam tubuhku beberapa laki-laki, tetapi setan memukulku dengan malu sehingga aku tidak bisa menjadi laki-laki dengan perempuan ini.

Dan ia heran dengan itu dan betapa cepatnya setan berbicara di lidahnya dengan nasihat yang baik! Maka ia berkata: ‘Aku mencintaimu seperti tidak pernah kucintai siapa pun, dan aku mencintai rasa malumu lebih dari dirimu, maka tidak menyenangkanku bahwa engkau berbuat dosa dan masuk neraka karena cintaku, bagaimana jika engkau membeliku dari tuanku?’ Maka aku berkata: ‘Berapa harga membelimu?’ Ia berkata: ‘Seribu dinar!’ Aku berkata: ‘Dan di mana itu dariku sedangkan aku jika menjual diriku pun tidak akan mendapatkannya?’

Maka setan menyempurnakan nasihatnya, dan ia berkata sambil menunjuk hatinya: ‘Sesungguhnya hatiku ini sebelummu kaya atau miskin, dan merasakan dirimu saja cinta gadis pertama kali ia mencinta, dan aku – sebagaimana engkau lihat – hidup dalam kejelekan seperti terpaksa atasnya, maka aku akan berusaha agar engkau menjadi kebaikanku di sisi Allah, aku pergi kepada-Nya membawa dalam hatiku cintaku kepadamu dan kesucianku darimu, dan jika kesucian orang yang tidak berhasrat dan tidak mendapat dianggap keutamaan yang sempurna, sesungguhnya kesucian orang yang mendapat dan berhasrat benar-benar dianggap agama dengan keadaannya, dan cintaku tetap perawan, dan aku tetap dalam hal itu perawan hati, dan mereka telah menanggalkan malu dariku demi diri mereka sendiri, maka pakaikanlah aku dengan itu demi dirimu khusus; dan sesungguhnya kekuatan cintaku seperti yang akan menderita denganmu dan tersiksa darimu karena lamanya bersabar darimu, akan menjadi dia sendiri kekuatan untuk keutamaanku dan kesucianku.’

Kemudian ia mengambil kudanya dan menyetelnya dan menyanyikan: Seandainya kami disembelih di atas batu … mengalirlah dua darah dengan berita yang yakin

Dan ia terus mengeluh dalam nyanyiannya seolah-olah ia disembelih, kemudian meletakkan kuda itu ke samping dan berkata: ‘Alangkah celakanya aku! Jika kebetulan bagiku saat pernikahanku di luar waktunya maka datang seperti mimpi yang datang dengan khayalan zaman maka tidak ada di dalamnya dari hal-hal kecuali khayalan hal-hal.’

Kemudian ia bertanya padaku: ‘Mengapa engkau tidak minum khamar dan tidak masuk dalam daftar?’ Maka setanku yang beriman bergegas dan mengalirkan di lidahku berita ibu dan ayahku, maka matanya basah menangis dan genaplah baginya pendapat seperti pendapatku tentang minuman keras; dan setannya setelah itu menjadi setan yang jahat dengan teman-temannya, dan malaikat yang zuhud denganku sendirian!

Dan aku melihatnya tidak duduk bersamaku kecuali terpisah seperti gadis malu-malu ketika mengerut dan menutupi wajahnya, dan ia mulai takut padaku karena ia mencintaiku, dan setan membuatku berwibawa baginya maka ia kembali tidak melihat pada laki-laki yang berada di bawah kedua matanya yang sudah tidak perawan, tetapi orang suci yang berada di bawah hatinya yang masih perawan.

Dan bukan lagi kecantikanku yang mengagumkan dan memikatnya, tetapi yang mengagumkannya dariku adalah bahwa aku buatan keutamaannya yang tidak membuat sesuatu selain aku.

Dan setan melanjutkan setelah itu dalam dirinya dan padanya dengan tipu dayanya dan pengalamannya dan dengan semua yang dicobanya pada perempuan dan laki-laki sejak Adam dan Hawa hingga hariku dan harinya! Maka ia menarikku kepadanya dengan tarikan terkuat, dan mendorongnya dariku dengan dorongan terkuat, kemudian menggodaku dengan semua kejelek annya dan tidak menggodanya ia kecuali dengan keutamaan-keutamaanku, dan melemparkan darinya ke dalam darahku pikiran syahwat gila yang berubah-ubah, dan melemparkan dariku ke dalam darahnya pikiran hikmah yang tenang dan stabil. Dan aku menjumpainya setiap hari dan mendengar nyanyiannya; maka itu bukan nyanyian tetapi suara semua yang ada padanya untuk semua yang ada padaku, hingga seandainya tubuhnya menempel pada tubuhku dan badan berjalan dengan badan, dan darah berbisik pada darah, pastilah itu adalah nyanyian yang ia nyanyikan ini.

Dan aku menjadi setiap kali lurus untuk cintanya ia membelokkanku; karena aku di sisinya tidak lain adalah harapan pada ampunan dan pahala, dan seolah-olah aku disulap menjadi tali yang panjangnya dari sini ke surga untuk ia bergantung padanya. Dan kembali penolakannya dariku menjadi kegilaan agama yang tidak pernah meninggalkannya, maka ini membuatku menderita seperti kegilaan dalam cintanya dari tergila-gila dan terpikat.

Dan jiwaku terkurung padanya, maka aku kembali bersamanya lebih bodoh dari orang jahil yang memandang sampai batas pandangannya dari ufuk lalu memutuskan bahwa di sana akhir dunia, padahal di sana tidak ada kecuali akhir pandangannya dan awal kebodohannya. Dan lepas dariku kendali rohku, dan rusak timbangan kehendakku, dan kacau keseimbangan pikiranku, maka aku menjadi manusia dari pertentangan-pertentangan yang bermusuhan mengumpulkan keyakinan dan keraguan padanya, dan cinta dan benci kepadanya, dan harapan dan kekecewaan darinya, dan keinginan dan berpaling darinya, dan dalam lebih sedikit dari ini akal tersambar, dan tersesat siapa yang tersesat.

Kemudian aku menderita dengan gangguan jiwa ini kegilaan kemarahan dari kemurahannya pada teman-temannya dan kesuciannya denganku, maka aku terbang berkeping-keping antara langit dan bumi, dan aku marah padanya dan mengingkarinya, dan ia dalam semua itu tidak menambahiku pada satu keadaan dari rahbaniah; maka yang membuat akalku terbang adalah aku melihat tubuhnya api menyala, kemudian ketika aku melemparnya ia berubah menjadi es, dan cemburu melukai hatiku dan menghancurkan hatiku dari penyembah setan dengan semua orang, rahib dengan satu laki-laki saja!

Dan kembali khawatir-hatiku padanya dari yang berakal dan yang tidak berakal; maka aku melihat sebagiannya seolah-olah kembali dari perjalanan panjang dari kekasih di ujung dunia, dan sebagiannya seolah-olah keluar dari rumah kekasih di sebelahku, dan sebagiannya seolah-olah pergi denganku ke rumah sakit jiwa!

Dan aku melihat kami seolah-olah dalam dua alam yang tidak ada hubungan antara keduanya, dan kami bersama hati ke hati, maka ini mengambil sisa yang tersisa dari akalku, dan aku tidak melihat jalan keluar bagiku kecuali membunuh diriku untuk menghilangkan binatang buas yang di dalamnya.

Dan aku pergi lalu membeli sedikit racun yang cepat yang mempercepat kematian, dan mengambilnya di telapak tanganku dan berniat menelannya dan memakannya, maka aku mengingat ibuku, maka ia tampak pada khayalku dengan kepala yang pecah dalam keadaan matinya, dan di sampingnya perempuan ini dalam keadaan kecantikannya, dan tetap di mataku penglihatan ini, dan aku terus memandang padanya lama maka tiba-tiba aku laki-laki lain selain yang pertama, dan tiba-tiba perempuan itu selain yang itu, dan air mata kematian menguasai syahwat kehidupan maka menghapusnya, dan benar bagiku sejak hari itu bahwa tidak ada obat dari cinta ini kecuali bahwa dipasangkan dalam jiwa gambar perempuan mati dengan gambar perempuan hidup, dan setiap kali mengingat yang ini didatangkan baginya yang itu, maka jika itu terus maka yang mati mematikannya dalam jiwa dan mematikan syahwat kepadanya, tidak ada pilihan dari itu, maka hendaklah dicoba oleh orang yang meragukan itu.

Dan terbuka bagiku pendapat menakjubkan, maka aku mulai merenungkan bagaimana setanku beriman kemudian kafir setelahnya, sedangkan setan dia kafir di awal kemudian beriman di akhir? Maka demi Allah aku tidak lain adalah bodoh lemah kecerdasan, karena tidak terpikir bagiku yang benar hingga aku hampir menghilangkan jiwaku dan kehilangan dunia dan akhirat; karena setan – laknat Allah atasnya – sesungguhnya mengembalikkanku dari perbuatan keji dan itu adalah satu dosa, untuk melemparkanku setelahnya ke dalam semua dosa dengan mati dalam kekafiran!

Dan kembali kepadaku khawatir ini apa yang hilang dari akalku. Dan barang siapa yang diuji dengan ujian berat yang mengguncang keyakinannya kemudian melihat keyakinan, datang darinya sosok seolah-olah diciptakan untuk saatnya; maka aku melaknat setanku dan berlindung kepada Allah dari tipunya, dan melemparkan racun itu ke tanah dan menyembunyikannya di dalamnya, dan berkata pada diriku: ‘Celakamu wahai jiwa! Sesungguhnya kehidupan mengerjakan pekerjaan dengan yang hidup, apakah engkau rela bahwa kehidupan mengerjakan dengan tokoh-tokohnya dan laki-lakinya apa yang diketahui dan dipelajari, kemudian pekerjaannya denganmu adalah duduk di samping dan menangisi seorang perempuan?

Wahai jiwa, apa bedanya antara mencuri daging dari toko tukang daging, dan antara mencuri daging perempuan dari rumah ayahnya, atau suaminya, atau tuannya?

Wahai jiwa, sesungguhnya iman para pendahulu kita bersama kita; sesungguhnya Islam ada dalam Muslim.”

Al-Musayyib berkata: Dan di sini Mujahid terpesona dan kegembiraan membuatnya ringan, maka ia berteriak teriakan kemenangan: “Allahu Akbar!” Dan ahli masjid menjawabnya dalam satu teriakan: “Allahu Akbar!” Dan tidak lama orang-orang berteriak dengannya hingga naik teriakan muazin untuk salat Maghrib: “Allahu Akbar.”

 

 

Bunuh Diri “6” (lanjutan):

Berkata Al-Musayyab bin Rafi’: Majelis syaikh itu pun bubar, dan berlalulah bertahun-tahun setelahnya dalam hitungan bulan-bulan kehamilan seorang wanita. Dalam masa itu urusan manusia mencapai puncaknya dalam kebaikan dan keburukan dunia, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Aku dan Mujahid Al-Azdi memasuki Basrah untuk mendengar Al-Hasan dan mengambil ilmu darinya. Suatu hari ketika kami berjalan di gang Bani Samarah, tiba-tiba kami bertemu dengan pemuda yang dulu menganut Kristen itu datang menghampiri kami. Kami telah kehilangan jejaknya selama ini. Mujahid bergegas menghampirinya dan memeluknya sambil berkata: “Selamat datang wahai yang memiliki keturunan di hati.” Aku pun memberi salam setelahnya dan memeluknya, lalu kami mulai bertanya kepadanya.

Aku berkata kepadanya: “Bagaimana akhir dari awal kisahmu?” Mujahid berkata: “Bahkan bagaimana akhir dari awal kisahnya (si wanita)?”

Lelaki itu tertawa dan berkata: “Maksudmu si Kristen itu? Akhirnya dari awalnya seperti ini dariku;” dan dia menunjuk ke bayangannya di tanah yang terbentang lebar, menyebar, bercampur tidak jelas; seperti kain yang terhampar tanpa ada yang memakainya. Kami berada pada waktu ketika bayangan segala sesuatu menjadi dua kali lipatnya, sehingga ia adalah campuran yang rusak dengan yang rusak.

Mujahid berkata: “Betapa kasarnya jawabanmu dan betapa beratnya, wahai orang! Seolah-olah demi Allah engkau adalah pedagang yang tidak memiliki hubungan dengan segala sesuatu kecuali dari harganya; pandangannya terhadap hewan yang gemuk dari hewan-hewan dan terhadap budak wanita yang gemuk dari para budak adalah sama.”

Lelaki itu berkata: “Aku memang demi Allah seorang pedagang, dan aku sekarang sedang dalam perjalanan menuju Iwan tempat berkumpulnya pedagang Irak, Syam, dan Khurasan. Aku telah terjun dalam perdagangan-perdagangan ini dan memperbaiki keadaanku serta memperoleh kekayaan darinya. Namun hati pedagang berbeda dengan pedagang itu sendiri, ia tidak menimbang, tidak menggenggam, tidak menjual, dan tidak membeli. Adapun ‘dia’ (si wanita), kini telah menjadi kenangan yang hilang mengikuti jalannya dalam waktu!”

Mujahid berkata: “Bagaimana dulu kau memandangnya dan bagaimana kini kau melihatnya?”

Dia berkata: “Dulu aku memandangnya dengan mata, pikiranku, dan syahwatku, sehingga dengan begitu dia menjadi lebih dari dirinya sendiri dan dari para wanita, dan dia menjadi warna-warna yang tidak pernah habis. Ketika waktu dan akal masuk di antara aku dan dia, yang satu menjauhkannya dari hatiku dan yang lain menjauhkannya dari khayalku; maka aku memandangnya hanya dengan mata saja, lalu dia kembali menjadi wanita seperti wanita lainnya. Dengan turunnya dia dari posisinya dalam jiwaku, dia kembali menjadi kurang dari dirinya sendiri dan dari para wanita. Kekurangan ini, sejauh yang aku ketahui, tidak menimpa seorang wanita di mata kekasihnya kecuali akan melakukan pada kecantikannya seperti yang dilakukan usia tua pada tubuhnya, sehingga dia mundur bersamanya lalu terus mundur dan terus mundur!

Dan engkau, jika melihat wanita tua yang telah hilang sosok yang dulu ada padanya, dan terlintas di pikiranmu niat dari hubungan antara laki-laki dan wanita, apakah kau akan mendapati syahwat dan ketertarikan atau justru penolakan dan pemberontakan? Sesungguhnya ini yang dulu adalah cinta, asmara, dan syahwat, adalah hal yang sama yang kini menjadi dosa, kesalahan, dan kesesatan?”

Mujahid berkata: “Seolah-olah ketika kau hendak membunuh dirimu karena cinta kepadanya, kau justru membunuhnya dalam dirimu?”

Dia berkata: “Ya rahmat yang telah merahmati diriku pada waktu itu! Adapun demi Allah, sesungguhnya orang yang membunuh dirinya karena cinta pada seorang wanita adalah bodoh. Celakalah dia! Hendaklah dia membebaskan diri dari bagian hidup ini, bukan dari hidup itu sendiri. Allah telah menjadikan cinta memiliki dua sisi: satu dalam kenikmatan, dan yang lain dalam kebodohan; keduanya tidak dapat dihindari. Cinta ini melemparkan pemiliknya ke dalam mimpi-mimpi dan menutupi penglihatannya. Kemudian jika dia mengarah dengan sisi bahagianya menuju nasib yang akan datang dan kenikmatan bertepatan bagi si pencinta, kenikmatan itu membangunkannya dari mimpi-mimpinya. Dan jika cinta mengarah dengan sisi celakanya menuju nasib yang mundur, terjadilah kebodohan-kebodohan dalam berbagai bentuk antara dua kekasih dan akhirnya melakukan seperti yang dilakukan kenikmatan, sehingga membangunkan si pencinta dari mimpi-mimpinya juga. Ini adalah pengaturan dari rahmat dalam kekuatan yang merusak itu yang disebut cinta. Bukankah itu menunjukkan bahwa kenikmatan adalah ilusi dari ilusi-ilusi selama mewujudkannya adalah kehancurannya?

Ambillah dariku, wahai Mujahid, kalimat ini: ‘Kesempurnaan bukanlah dari dunia dan bukan dalam sifatnya, dan bukan sesuatu yang dapat dicapai, tetapi dari kebesaran kesempurnaan adalah bahwa kesinambungan bekerja untuknya adalah pencapaiannya.'”

Mujahid berkata: “Sungguh kau telah memperoleh ilmu setelah berpisah dengan kami. Dari mana kau dapat ini dan dari siapa kau ambil?”

Dia berkata: “Dari langit!”

Mujahid berkata: “Celakalah kau! Di mana akalmu? Apakah wahyu turun kepadamu?”

Lelaki itu berkata: “Tidak, tetapi marilah bersamaku ke rumah, akan aku ceritakan pada kalian berdua.”

Berkata Al-Musayyab: Kami pergi bersamanya. Dia menyajikan makanan bersih lalu kami makan. Rumah itu menunjukkan kepada kami bahwa pemiliknya telah memperoleh apa yang dia inginkan dari dunianya dan nikmat terus berdatangan kepadanya. Setelah kami mencuci tangan, Mujahid berkata: “Nah, wahai Abu… Abu siapa?” Dia berkata: “Abu Ubaid.” Mujahid berkata: “Nah, wahai Abu Ubaid.”

Lelaki itu berpikir sejenak lalu berkata: “Kalian mengenalku sejak sembilan tahun yang lalu di majelis Imam Asy-Sya’bi di Kufah. Aku masih memiliki sisa nikmat yang aku gunakan untuk bersolek, dan itu mempertahankan kedudukanku di mata orang-orang. Sisa nikmat itu terus menipis dan berkurang hingga hidupku menjadi susah dan aku jatuh pada hari-hari yang melumpuhkan yang tidak membawa pemiliknya ke mana-mana. Zaman berubah seperti musuh yang menyerang datang untuk memusnahkan, merusak, dan menghancurkan, sehingga meninggalkan jejak yang paling buruk. Aku menjual apa yang tersisa bagiku dan hijrah dari Kufah ke Basrah. Aku berkata: ‘Jika keadaanku tidak berubah, maka jiwaku yang akan berubah. Aku tidak akan menjadi orang di Basrah yang telah sampai pada kemiskinan, tetapi aku akan menjadi orang yang memulai dari kemiskinan sebagaimana orang lain memulai, dan aku tinggalkan masa lalu di tempatnya dan melangkah menuju apa yang akan menyambutku.’

Aku mencari rombongan perjalanan lalu berkumpullah kami dua puluh orang. Ketika kami di jalan, perampok merampok kami dan menguasai kafilah beserta isinya. Aku selamat dengan menunggangi kuda dan umurku. Saat itu aku menyadari bahwa hidup saja adalah kerajaan yang besar, dan bahwa hidup adalah alat ilahi, sedangkan sisanya semua adalah dari diri kami untuk diri kami, dan perkara itu ringan serta masalahnya mudah.

Aku berkata: ‘Seandainya para perampok lewat di hadapan kami sebagaimana orang lewat di hadapan orang, mereka tidak akan merampok kami. Tetapi mereka menghadang kami sebagai perampok terhadap harta dan barang, bukan terhadap manusia, maka mereka meletakkan tangan-tangan perampok pada kami.’ Dari sinilah aku menyadari bahwa kejahatan hanyalah keadaan yang dilakukan oleh orang yang mampu membebaskan diri darinya. Jika demikian, maka asal kebahagiaan pada manusia adalah tidak peduli dengan keadaan-keadaan ini ketika menimpanya, dan dia tidak mampu melakukannya kecuali jika dia membayangkan kejahatan sebagaimana dia melihatnya terjadi pada orang lain. Wanita yang suci jika ia menghadapi keadaan kefasikan, dan dia melihat pada dirinya dan bagian dirinya, maka dia mungkin buta dan tergelincir. Tetapi jika dia melihat hal itu pada orang lain dan melihat pengaruhnya pada wanita fasik, dia seolah-olah menambahkan pada dirinya jiwa lain yang menunjukkan kepadanya segala sesuatu secara telanjang sebagaimana adanya dalam hakikatnya.”

Dia berkata: “Aku melanjutkan perjalananku, tempat-tempat dan wilayah-wilayah melemparkanku ke sana kemari. Aku menghadapi bumi dan langit, takut pada malam dan siang, menderita kesakitan dan kelaparan, hingga aku memasuki Basrah seperti unta yang terbebani berat, telah melintasi gurun yang memakan darinya tetapi dia tidak makan darinya, sehingga perjalanan membuatnya kurus dan kelelahan membuatnya sedih, sementara di bawahnya ada beban yang dibawanya. Dia datang dengan struktur tubuh yang berbeda dari yang dulu ketika keluar. Hari-hariku ini adalah umur yang lengkap dari kesengsaraan, membuatku yakin bahwa manusia-manusia ini dalam hidup tidak lain seperti hewan-hewan di bawah beban mereka; hewan tidak memilih apa yang dibawa atau dari siapa dia membawa, dan tidak dibiarkan bersamaan dengan itu memilih jalan atau lama perjalanan. Hewan hanya memiliki dua hal: kesabarannya dan kekuatannya. Jika kehilangan keduanya dia binasa, dan jika lemah padanya maka kelemahannya sesuai dengan itu.

Sesungguhnya ada waktu-waktu kesengsaraan dan kemalangan yang melemparkan manusia ke belakang kemanusiaannya dan kemanusiaan semua manusia, tidak peduli bagaimana dia jatuh dan di lembah mana dia binasa. Maka tidak berguna bagi manusia saat itu kecuali berpegang pada akhlak hewan dalam hal kerelaannya yang merupakan hikmah paling bijak dalam keadaan itu, dan kesabarannya yang merupakan kekuatan paling kuat, dan qana’ahnya yang merupakan kekayaan paling kaya, dan kebodohannya yang merupakan ilmu paling berilmu, dan tawakkalnya yang merupakan iman fitrahnya dengan fitrahnya. Hewan tidak peduli dengan harta atau kenikmatan, atau barang atau kedudukan, atau nasib atau jabatan. Kau tidak akan mendapati keledai raja mengetahui tentang raja lebih dari yang diketahui keledai tukang air tentang tukang air. Mungkin jika kau bertanya kepada keduanya dan mereka mampu menjawab, yang pertama akan berkata kepadamu: ‘Sesungguhnya yang ada di atas punggungku berat, menjijikkan, dibenci.’ Dan yang kedua akan berkata kepadamu: ‘Sesungguhnya yang menungganginya ringan, mudah, dermawan!’

Tetapi cobaan manusia adalah ketika kemalangan dan kesengsaraan melemparkannya ke belakang kemanusiaan, dia tidak melihat selain manusia-manusia, sehingga itu menambah kemalangan dan penyesalannya, dan menghapus dalam dirinya apa yang tersisa dari kesabaran, dan mengubah kerelaannya menjadi kemarahan, dan qana’ahnya menjadi kekecewaan. Semua itu menimpanya dengan pikiran yang menghancurkan yang paling lemahnya adalah tidak mampu menghancurkan siapa pun sehingga tidak menemukan yang dapat dihancurkannya selain pemiliknya. Jika dia menemukan jalan menuju manusia lalu menghancurkan, merusak, dan berbuat kerusakan, maka dia menjadikan pemiliknya entah pencuri atau pembunuh atau penjahat, mana saja yang mudah!”

Dia berkata: “Aku mengenal di Basrah si fulan pedagang dari kalangan bangsawan dan tokoh-tokoh penduduknya, lalu aku mendatanginya. Ternyata dia telah pindah ke Khurasan, dan tidak ada yang mengenalku di Basrah dan aku tidak mengenal siapa pun selain dia. Seolah-olah aku tertimpa musibah kedua kalinya dengan serangan yang lebih buruk dari yang pertama, hanya saja kali ini terputus bagiku jalan hari-hariku, dan merampas dariku hal terakhir yang tersisa bagi jiwaku, yaitu harapan!

Aku melihat bahwa tidak ada pilihan selain turun ke bumi, menjadi manusia seperti hewan atau serangga: hidupnya adalah apa yang kebetulan terjadi, bukan apa yang dia inginkan terjadi. Dan tidak ada pendapat kecuali aku mengolok-olok syahwat-syahwat lalu berzuhud darinya sementara aku kuat dan mulia, sebelum syahwat-syahwat itu mengolok-olokku ketika aku datang kepadanya sementara aku tamak dan lemah!

Di bumi ada kecukupan untuk semua yang ada di atasnya dan siapa yang ada di atasnya, tetapi dengan caranya sendiri bukan dengan cara manusia. Selama dunia ini berdiri atas perubahan dan pergantian dan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain, maka rusa yang dimakan singa, bumi tidak mengetahui bahwa dia telah dimakan atau dimangsa dan dirobek, tetapi menurutnya dia telah berubah menjadi kekuatan dalam sesuatu yang lain dan berlalu. Adapun menurut manusia, itu adalah perkara panjang dalam hikayat khayalan-khayalan dari ketakutan dan kecemasan, seolah-olah menciptakan cerita dongeng yang diceritakan tentang singa yang telah menanam daging, lalu merawatnya hingga tumbuh lalu memanennya lalu memakannya, maka tanaman itu protes kepada yang memakannya, dan mulai mengeluh berkata: ‘Bukan untuk ini kau menanamku, dan bukan untuk ini aku keluar di bawah matahari, dan bukan karena ini matahari terbit atasku dan atasmu!’

Manusia melihat dengan matanya perubahan ini terjadi pada kemanusiaan umumnya dan pada segala sesuatu semuanya. Jika itu menimpa dirinya, dia berteriak dan marah, seolah-olah dia memiliki hak yang tidak dimiliki orang lain. Inilah yang aneh dalam kisah Bani Adam, tidak henti-hentinya ada di bumi kata-kata dari surga yang tidak dikatakan di sini dan tidak dipahami di sini; bahkan tempat protes dengannya adalah ketika manusia kekal yang tidak mengalami perubahan dan pergantian. Dari sinilah khayalan kenikmatan di bumi selalu menjadi pendorong kebodohan manusiawi.”

Abu Ubaid berkata: “Aku pergi bekerja dengan tangan dan tubuhku dalam kesakitan kemiskinan dan kesusahan, dari kekecewaan dan kegagalan, dari paksaan kemiskinan dan kebutuhan yang mendesak. Sungguh aku melihat diriku sehingga tanganku seperti tangan budak, punggungku seperti punggung hewan, kakiku seperti kaki tawanan, leherku seperti leher yang dibelenggu. Piringan matahari terbit di dunia dan tenggelam darinya sementara aku tidak bekerja kecuali dengan sepotong roti. Sungguh aku melihat diriku mengeluarkan untuk menjaga setiap tetes air mukaku awan keringat agar tidak meminta-minta kepada manusia. Celaka bagiku jika aku meminta dan jika aku tidak meminta!

Yang membuatku bertahan dalam hidup yang hampir mati ini, yang datang setetes demi setetes dalam hari demi hari, tidak lain adalah perkataan Asy-Sya’bi yang kudengar di masjid Kufah, dan perkataannya tentang orang yang membunuh dirinya. Perkataannya adalah cahaya di dadaku yang menyinari darinya setiap hari bersama fajar, fajar bagi imanku. Tetapi hari-hari nikmat pertamaku masih ada dan memiliki dalam jiwaku dua macam rasa sakit seperti yang dirasakan orang terluka di lukanya jika dipukul. Setan tidak menemukan celah kepadaku kecuali darinya. Aku kehilangan sahabat dan bantuannya, maka tidak ada yang menerima sahabat kecuali dalam mimpiku dari balik zaman pertama!”

Mujahid berkata: “Dan kekasih?”

Lelaki itu tersenyum dan berkata: “Jika hidup telah selesai dengan yang kurang dari yang mungkin, bagaimana mungkin ada di dalamnya yang lebih dari yang mungkin? Sesungguhnya lapar satu hari saja menjadikan hidup ini kenyataan kering tanpa puisi di dalamnya, dan meninggalkan waktu dan isinya hanya satu jam yang harum. Kemalangan adalah kesadaran yang menyakitkan dalam hati manusiawi yang mengharamkan mimpi-mimpi atasnya, sedangkan cinta dari awal hingga akhir tidak lain adalah mimpi-mimpi hati satu dengan yang lain!”

Abu Ubaid berkata: “Aku melemah untuk hidup yang memalukan ini dan hari-harinya membuatku jemu. Aku menanggung dalam yang mati dan yang hidup, dan aku melihat setan -semoga Allah melaknatnya- seolah-olah menjadikanku bejana yang dilempar di jalannya tempat dia membuang sampah. Hatiku tampak bagiku dalam bisikan-bisikannya seperti kota yang rusak yang dilanda wabah, sehingga yang paling makmur di dalamnya adalah kuburannya. Kemalangan menjadi tidak tahu malu dan tidak malu, maka aku tidak melihatnya kecuali dalam bentuk-bentuknya yang paling hina dan paling dingin. Kemalangan bagi sebagian orang mungkin memiliki sedikit rasa malu sehingga datang dengan cara permintaan maaf seperti wanita jelek dengan cadarnya.

Aku berkata pada diriku: ‘Tidak lain demi Allah kecuali pembunuhan. Inilah umur yang kulihat seperti tawanan yang didirikan di atas tikar dan pedang dihunus atasnya. Yang membalas dendam tidak membalas dendam kepadanya dengan yang lebih kejam dari menunda pukulan, dan yang merahmati tidak merahmatinya dengan yang lebih baik dari mempercepat pukulan!’

Aku bermalam memusyawarahkan jiwa ini untuk membunuhnya dan berbicara dengannya tentang kematian. Aku memantapkan pendapatku tentangnya dan berkata: ‘Apa yang kau lakukan dengan tubuh seperti yang membusuk yang telah menjadi seperti yang dikubur, tidak memiliki hari-hari kecuali hari-hari kepunahannya dan kehancurannya?’ Tetapi aku ingat perkataan Asy-Sya’bi dalam majelis itu dan aku menghafalnya semua, maka aku mulai mengulang-ulang apa yang kutinggalkan darinya tanpa sebuah huruf pun, dan menjadikannya berbicara dengan jiwaku bukan sebagai ucapan. Setiap kali kelemahan mengalahkanku, aku angkat suaraku dengannya dan mendengarkan sebagaimana aku mendengarkan orang yang berbicara kepadaku. Aku melihat setan setelah itu seperti pencuri yang mengharapkan orang lemah yang sendirian, kemudian ketika dia datang kepadanya dan mendapati bersamanya orang kedua yang kuat maka dia lari!”

Abu Ubaid berkata: “Aku memperoleh semangat dari ketenangan dan mendapat ketentraman di hatiku lalu aku tidur. Tiba-tiba ketakutan besar yang tidak dilupakan orang yang mendengarnya, apalagi yang melihatnya dengan matanya sendiri?

Aku melihat diriku mati di tangan orang yang memandikanku, dia membalik dan memandikanku seperti kain compang-camping. Kemudian aku diangkat di atas keranda seolah-olah para pengusung telah mengangkatku sambil berkata: ‘Lihatlah wahai manusia bagaimana jadinya manusia!’ Kemudian Imam Asy-Sya’bi menyolatiku di masjid Kufah, kemudian aku diturunkan ke dasar yang gelap dan tanah ditimbunkan atasku, dan aku ditinggalkan sendirian lalu mereka pergi!

Aku tidak tahu berapa lama aku berada dalam keadaan itu kemudian aku melihat seolah-olah sangkakala ditiup dan semua mayat dibangkitkan, maka kami terbang di angkasa. Bintang-bintang adalah debu di sekeliling kami seperti debu badai dalam badai, dan tiba-tiba kami berada di padang mahsyar dan dalam dahsyatnya tempat berdiri!

Aku menghadap dengan setiap helai rambut di tubuhku kepada harapan akan rahmat Allah. Aku melihat amal-amalku dengan penglihatan yang menyedihkanku, karena ia seperti kota besar yang semua penduduknya adalah pencoleng kecuali sedikit orang yang tertutup. Aku melihat dari mereka satu demi satu dalam jam demi jam, mereka langka dan berserakan dan hilang seperti amal-amal salehku!

Aku ingat bahwa aku hampir membunuh diriku melarikan diri dengannya dari umur yang menyakitkan. Aku melihat maka tiba-tiba waktu telah menampakkan kekekalannya, dan masa lalu kembali menjadi sekarang dengan semua yang dikandungnya seolah-olah tidak pernah berlalu. Dan tiba-tiba umurku seluruhnya hampir tidak mencapai sekejap mata dari masa yang panjang, maka aku memuji Allah bahwa aku tidak menebus kesakitan saat yang sangat singkat dengan azab kekal yang abadi, abadi, abadi.

Didatangkanlah di hadapan mata seluruh makhluk orang yang paling bernikmat di dunia dan paling banyak kenikmatannya dalam sejarah dunia seluruhnya, maka berteriak seorang penyeru: ‘Ini adalah orang yang paling bernikmat yang pernah ada di bumi sejak Allah menciptakannya hingga melipat­kannya.’

Kemudian orang yang bernikmat ini dicelupkan ke dalam neraka sekali celup ringan seperti kilatan petir, dan dikeluarkan ke mahsyar, dan dikatakan kepadanya sementara semua manusia mendengar: ‘Apakah kau pernah merasakan kenikmatan?’ Dia berkata: ‘Tidak, demi Allah.’

Kemudian didatangkan orang yang paling celaka di bumi dan paling keras kesengsaraannya sejak bumi diciptakan, lalu dicelupkan ke dalam surga sekali celup lebih cepat dari angin yang bergerak dan lewat, kemudian dikeluarkan ke mahsyar dan dikatakan kepadanya: ‘Apakah kau pernah merasakan kesengsaraan?’ Dia berkata: ‘Tidak, demi Allah.’

Kami mendengar desisan jahannam sementara ia mendidih hampir terbelah karena marah. Aku yakin bahwa ia memiliki jiwa yang diciptakan dari murka Allah. Keluarlah darinya leher yang besar yang dahsyat, seandainya seluruh langit menyala menjadi api niscaya menyerupainya, maka ia mulai mengambil golongan demi golongan dari makhluk. Ia mulai dengan raja-raja yang sombong lalu mengambil mereka sekaligus seperti magnet terhadap debu besi; dan melemparkan mereka ke dalam neraka. Kemudian ia bergerak lalu mengambil orang-orang kaya yang merusak dan menerbangkan mereka ke dalamnya. Kemudian ia mulai mengambil kaum demi kaum, dan keringat telah membekap mulutku karena ketakutan. Kemudian aku terbang bersamanya, dan aku melihat, tiba-tiba aku terkurung dalam kegelapan berapi seperti jurang, tidak ada di sekelilingku di dalamnya kecuali para pembunuh diri mereka sendiri.

Seandainya lautan-lautan bumi dijadikan lautan di atas lautan di atas lautan, hingga berkumpul semuanya sehingga kedalamannya seperti jarak antara bumi dan langit, kemudian dinyalakan api yang menyala, niscaya itulah jurang yang kami berada di kedalamannya. Aku telah mendengar dari imam kami Asy-Sya’bi: bahwa para pendosa mukmin yang bertauhid jika mereka mati dalam keadaan iman mereka, mereka di neraka hidup sedangkan anggota tubuh mereka mati, karena anggota tubuh ini telah taat kepada Allah dan bertasbih kepada-Nya sehingga dimuliakan karenanya hingga atas neraka mereka. Kemudian mereka disiksa dengan siksaan yang di dalamnya ada rahmat, kemudian mereka dikeluarkan dan iman mereka menunggu mereka di pintu neraka.

Di sampingku ada seorang lelaki yang membunuh dirinya, lalu dia mendengar seorang penyeru dari jauh berkata kepada seorang mukmin: ‘Keluarlah karena imanmu menunggumu.’ Maka berteriak orang yang di sampingku: ‘Dan aku, apakah imanku tidak menungguku?’ Maka dikatakan kepadanya: ‘Apakah kau datang dengannya?’

Aku melihat seorang lelaki yang menyembelih dirinya ingin berteriak meminta rahmat Allah, tetapi suara tidak keluar dari tenggorokannya, karena dia telah merobeknya dan tetap robek! Aku melihat yang lain telah menikam hatinya dengan pisau, maka di sana para malaikat zabaniyah menguliti hatinya mencari apakah di dalamnya ada niat yang saleh, maka mereka terus menguliti dan terus mencari!

Aku melihat yang lain telah menenggak racun lalu mati kehausan yang membakar perutnya, maka tidak henti-hentinya muncul baginya di neraka awan penglihatan yang berkilat dengan air, jika mendekat kepadanya dan dia berharap, meledaklah atasnya dengan petir kemudian kembali muncul dan meledak!

Seorang lelaki berkata: ‘Sesungguhnya aku gila, lemah, tidak berdaya lalu aku bunuh diriku.’ Maka dipanggil: ‘Bukankah kau tahu bahwa Allah menghisabmu atas dasar bahwa kau berakal bukan gila, dan kuat bukan lemah, dan mampu bukan tidak berdaya? Kau berakal paling tidak bahwa kau akan mati, dan kau kuat untuk bersabar, dan kau mampu untuk meninggalkan kejahatan.’

Seorang lelaki alim yang telah memotong tangannya dengan pisau lalu mati berkata: ‘Kesempurnaan bukanlah dari dunia dan bukan dalam sifatnya dan bukan sesuatu yang dapat dicapai,’ maka berteriak kepadanya suara yang dahsyat: ‘Tetapi dari kebesaran kesempurnaan adalah bahwa kesinambungan bekerja untuknya adalah pencapaiannya!'”

Abu Ubaid berkata: “Kemudian berdirilah di hadapanku seorang setan yang durhaka berwarna merah, berkilauan seperti gelas yang berisi anggur. Dia berdiri menghadapku dan berkata: ‘Untuk apa kamu datang ke sini, wahai musuh anggur?’ Tidak lama kemudian aku mendengar seruan: ‘Anggur yang tidak kamu minum telah memberi syafaat untukmu, keluarlah, sesungguhnya imanmu menunggumu.’

Maka aku berteriak: ‘Alhamdulillahi!’ dan lidahku bergerak mengucapkannya, lalu aku terbangun.

Sungguh aku telah mengetahui bahwa bersabar atas musibah-musibah adalah nikmat yang sangat besar yang tidak Allah berikan kecuali dalam musibah-musibah.”

 

 

Wahyu Kubur

Pada pagi hari Raya Idul Fitri, aku pergi sendiri ke pemakaman, dan telah mati bagiku berbagai pikiran seperti kematian seseorang; maka aku berjalan seolah dalam prosesi pemakaman dengan para pelayatnya; dari pikiran yang membawa pikiran, dan khayalan yang mengikuti khayalan, dan makna yang menangis, dan makna yang ditangisi.

Demikianlah kebiasaanku setiap kali menuruni jalan menuju tempat yang didatangi mata dengan air matanya, dan jiwa-jiwa berjalan kepadanya dengan kesedihan mereka, dan hati-hati datang ke sana untuk mencari sisa-sisa mereka. Pemakaman-pemakaman itu yang penghuninya tidak dipanggil oleh keluarga mereka dengan nama atau gelar, tetapi dengan panggilan ini: wahai kekasih-kekasih kami, wahai kesedihan-kesedihan kami!

Aku pergi menjenguk orang-orang mati yang kucintai dan berhubungan dengan bagian-bagian jiwaku, untuk hidup bersama mereka dalam kematian sesaat di mana aku menimbang urusan dunia dengan urusan akhirat, maka aku lupa dan ingat, kemudian aku melihat dan mengambil pelajaran, kemudian aku mengenal dan memperhatikan tanda-tanda, kemudian aku menyelami apa yang ada di perut bumi, dan memahami apa yang ada di permukaannya.

Aku duduk di sana mengawasi dari satu zaman ke zaman lain, dan dari satu dunia ke dunia lain, dan aku mengeluarkan dari ingatan kegembiraan-kegembiraan lama untuk dijadikan bahan baru bagi kesedihan-kesedihannya; dan waktu masa lalu terbuka bagiku sehingga aku melihat kembalinya kemarin, seakan-akan satu zaman lengkap tercipta dengan peristiwa-peristiwanya dan hari-harinya, dan terangkat di mataku seperti gambar yang tergantung dalam bingkainya.

Aku tahu mereka telah mati, tetapi aku tidak pernah merasakan kecuali bahwa mereka pergi; dan kekasih yang pergi tidak berubah padanya waktu maupun tempat dalam hati yang mencintainya meskipun hari-hari telah berlalu lama; dan inilah sisa roh ketika bercampur dengan cinta dalam roh lain: ia meninggalkan di dalamnya sesuatu yang tidak terhapus karena ia abadi dan tidak terhapus.

Orang-orang mati telah pergi dengan kepergian mereka dan tidak tinggal di dunia, dan makna itu adalah bahwa mereka hanya lewat di dunia, tidak lebih, maka inilah kehidupan ketika jiwa mengungkapkannya dengan lisannya sendiri, bukan dengan lisan kebutuhan dan keserakahannya. Kehidupan adalah masa kerja, dan seakan-akan dunia ini dengan segala pertentangan yang ada di dalamnya, tidak lain adalah pabrik yang mempersiapkan setiap manusia sebagian darinya, kemudian dikatakan kepadanya: ini adalah alat, maka buatlah apa yang kau kehendaki, kebajikan atau kejahatanmu.

Aku duduk di pemakaman, dan menunduk memikirkan kematian ini. Sungguh aneh manusia! Bagaimana mereka tidak merasakannya padahal ia meruntuhkan dari setiap yang hidup bagian-bagian yang mengelilinginya sebelum meruntuhkannya secara keseluruhan; dan setiap bangunan manusia masih seperti dinding yang ditimpa kehancurannya, termakan dari sini dan berhamburan dari sana!

Sungguh aneh manusia, aneh yang tidak berakhir! Bagaimana mereka menjadikan kehidupan sebagai masa perselisihan padahal ia adalah masa kerja, dan bagaimana naluri-naluri perselisihan tidak berhenti melompat-lompat pada mereka dalam pertentangan dan kebatilan, dan mereka setiap kali saling mendorong dalam suatu perselisihan lalu memukul lawan dengan lawan dan membalas tipu daya dengan tipu daya, datang keputusan kematian sebagai pendustaan yang memutus bagi setiap orang yang berkata tentang sesuatu: ini milikku?

Demi Allah, tidak ada yang lebih aneh dari mengejek dunia ini selain bahwa manusia diberi apa yang mereka miliki di dalamnya untuk membuktikan bahwa tidak seorang pun dari mereka memiliki sesuatu darinya, ketika seseorang datang kepadanya dengan daging dan tulang, dan tidak kembali darinya kecuali dengan daging dan tulang, dan di antara keduanya adalah kebodohan tulang dan daging bahkan terhadap pisau yang tajam.

Hari-hari datang padahal sebenarnya ia lari melarikan diri; maka barang siapa yang telah datang dari umurnya dua puluh tahun, sesungguhnya telah berlalu dua puluh tahun ini dari umurnya. Dan seharusnya perbuatan-perbuatan kehidupan pada manusia diperbaiki berdasarkan prinsip yang jelas ini, kalau bukan karena tabiat-tabiat yang rusak dan jiwa-jiwa yang lalai, dan akal-akal yang lemah, dan syahwat-syahwat yang menggebu; karena selama umur itu datang dan pergi dalam satu pertimbangan, maka tidak bagi manusia mengambil dari dunia kecuali apa yang memuaskannya yang dihitung untuknya dan dihitung atasnya pada waktu yang sama; dan kehidupan dalam hakikatnya bukan sesuatu kecuali bahwa hati nurani manusialah yang hidup dalam yang hidup.

Dan apakah kubur-kubur ini? Sungguh ia telah kembali menurut kebanyakan manusia bersama orang-orang mati sebagai bangunan-bangunan mati; maka mereka tidak melihatnya ada kecuali untuk melupakan bahwa ia ada; dan kalau bukan demikian urusan mereka, niscaya kubur itu memiliki makna hidupnya yang meresap dalam kehidupan sampai jauh; maka kubur itu tidak lain adalah bangunan yang berdiri untuk ide akhir dan putusnya; dan ia di ujung yang lain adalah jawaban terhadap rumah yang merupakan bangunan yang berdiri untuk ide permulaan dan kelangsungan; dan di antara kedua ujung itu adalah tempat ibadah yang merupakan bangunan untuk ide hati nurani yang hidup di rumah dan di kubur, maka ia terhadap kehidupan dan kematian seperti hakim antara dua yang berselisih yang mendamaikan antara keduanya dengan perdamaian atau memutuskan. Kubur adalah kata kebenaran yang dibangun dan diwujudkan, maka segala yang di sekelilingnya berdusta dan menafsirkan, dan tidak ada di dalamnya kecuali maknanya yang tidak dimasuki kebohongan dan tidak ditimpa tafsiran. Dan jika mati pada orang-orang hidup kata kematian karena kesombongan atau kebatilan atau kelalaian atau keegoisan, kubur tetap mengingatkan akan kata itu menjelaskannya dengan makna-maknanya yang paling jelas, menyeru untuk mengambil pelajaran dengan pengertiannya, menjelaskan dengan apa yang dikandungnya bahwa segala urusan adalah untuk akhir.

Kubur adalah kata bumi bagi yang tertipu sehingga melihat umur yang telah lewat seakan-akan tidak lewat, maka ia bekerja dalam mengosongkan hidupnya dari kehidupan dengan apa yang mengisinya dari kejahatan-kejahatan dan kehinaan-kehinaannya, maka ia tidak berhenti tekun dalam makna-makna bumi dan mengumpulkannya dan menikmatinya, mengikuti dalam itu seperti hewan dan mengikutinya, maka syariatnya adalah perutnya dan anggota-anggotanya, dan kembali dengan itu sifat hewannya dengan jiwa rohaninya, seperti keledai dengan yang memiliki dan memberinya makan, dan seandainya keledai ditanya tentang tuannya siapa dia? ia akan berkata: dia adalah keledaiku.

Kubur di bumi adalah kata yang ditulis di bumi sampai akhir dunia, maknanya adalah bahwa manusia hidup dalam hukum akhirnya, maka hendaklah ia melihat bagaimana ia berakhir.

Jika segala urusan adalah untuk akhir, dan pertimbangan dengannya dan balasan atasnya, maka kehidupan adalah kehidupan dengan cara keselamatan tidak lainnya, cara memaksa hewan manusiawi untuk mengamalkan akhlak sosial, dan menjadikannya dasar dalam tabiatnya, dan menimbang perbuatan-perbuatannya dengan akibat-akibatnya yang berakhir dengannya, karena kerohanian nya ada pada akhir-akhir bukan pada permulaan-permulaannya.

Dalam kehidupan dunia manusia menjadi diri yang mengerjakan perbuatan-perbuatannya; maka jika kehidupan berakhir, perbuatan-perbuatan manusia berubah menjadi diri yang ia abadi di dalamnya; maka ia dari kebaikan abadi dalam kebaikan, dan dari kejahatan ia abadi dalam kejahatan; maka seakan-akan kematian itu tidak lain adalah kelahiran bagi roh dari perbuatan-perbuatannya; lahir dua kali: datang dan kembali.

Dan jika urusan adalah untuk akhir maka wajib dibatalkan dari kehidupan akhir-akhir yang banyak, maka tidak dibiarkan kejahatan berjalan sampai akhirnya tetapi diputus pada permulaannya dan dibunuh pada nafas pertamanya, demikian juga halnya dalam segala yang tidak baik dimulai, maka tidak boleh diperpanjang: seperti permusuhan dan kebencian, dan kikir dan keegoisan, dan kesombongan dan keangkuhan, dan penipuan dan kebohongan; dan yang menyerupai ini atau menyerupainya, maka semuanya itu adalah pancaran dari keberadaan hewani dan letusan dari tabiatnya; dan harus ada bagi masing-masing darinya dalam kehendak sebuah kubur agar selamat bagi jiwa kemanusiaannya sampai akhir. Wahai yang memiliki orang-orang mati di kubur!

Sesungguhnya melihat kubur adalah penambahan dalam merasakan nilai kehidupan, maka harus makna kubur menjadi salah satu makna kedamaian akal dalam dunia ini.

Kubur adalah mulut yang menyeru: cepatlah cepatlah, maka ia adalah masa seandainya dihabiskan semuanya dalam kebaikan tidak akan cukup dengannya; maka bagaimana hilang darinya kehilangan dalam kejahatan atau dosa? Seandainya manusia dilahirkan dan berjalan dan tumbuh dan menjadi dewasa dan tua dan renta dalam satu hari, maka apa gerangan yang akan hilang dari hari yang satu ini? Sesungguhnya umur yang paling panjang tidak dilihat oleh pemiliknya pada saat kematiannya kecuali lebih pendek dari sehari.

Kubur menyeru: perbaikilah cacat-cacat kalian, dan bagi kalian ada waktu untuk memperbaikinya; maka sesungguhnya jika ia datang ke sini sebagaimana adanya, ia akan tetap sebagaimana adanya sampai selamanya, dan waktu meninggalkannya dan lari.

Di sini kubur, dan di sana kubur, dan di sana juga kubur; maka tidaklah melihat dalam hal ini orang berakal kecuali pandangannya seakan-akan keputusan pengadilan atas kehidupan ini bagaimana seharusnya dan bagaimana seharusnya.

Dalam kubur ada makna penghapusan waktu, maka barang siapa memahami ini dapat menang atas hari-harinya, dan dapat menjatuhkan darinya waktu-waktu kejahatan dan dosa, dan dapat mematikan dalam dirinya bisikan-bisikan buruk; maka dari makna-makna kubur timbul bagi kehendak akalnya yang kuat dan teguh; dan semua hari-hari yang dibenci tidak menemukan tempat baginya dalam waktu akal ini, sebagaimana malam tidak menemukan tempat di jam-jam matahari.

Tiga roh tidak baik roh manusia di bumi kecuali dengannya: Roh alam dalam keindahannya, dan roh tempat ibadah dalam kesuciannya, dan roh kubur dalam pelajarannya.

 

 

Pengantin yang Diantarkan ke Kuburnya

Umurnya adalah karangan bunga yang disebut hari-hari. Umurnya adalah karangan bunga di mana hari tersusun setelah hari sebagaimana tumbuh kelopak yang lembut dalam bunga ke kelopak lembut sepertinya.

Hari-hari masa kecil yang gembira bahkan dalam kesedihan dan kekhawatirannya; karena kedatangannya dari waktu yang dikhususkan dengan masa muda hati, tampak hal-hal dalam alur-alur hukumnya seperti tersihir; maka jika menyenangkan ia datang membawa dua kegembiraan, dan jika menyedihkan ia datang dengan setengah kesedihan.

Hari-hari itu di mana alam bekerja untuk masa muda tubuh dengan kekuatan-kekuatan yang berbeda: darinya matahari dan udara dan gerakan, dan darinya kegembiraan dan kelupaan dan mimpi-mimpi!

Dan gadis itu tumbuh dewasa dan dituang dalam cetakan kewanitaan surya-bulan, dan wajahnya berpakaian sutra dari bunga segar, dan alam menitipkan kepadanya rahasia kewanitaannya yang menjadikan gadis seni keindahan karena ia seni kehidupan, dan menjadikannya patung untuk keanggunan, dan betapa ajaib sihir alam ketika mempercantik gadis dengan keanggunan seperti keanggunan anak-anak yang akan dilahirkannya kelak! Dan ia melimpahkan atasnya makna-makna kelembutan dan kasih sayang dan keindahan jiwa; dan betapa mulianya tangan alam ketika memberi mahar kepada gadis dari sifat-sifat ini maharnya yang manusiawi!

Dan gadis itu dipinang untuk suaminya, dan dinikahkan untuknya pada hari ketiga bulan Maret pada pukul lima sore.

Dan ia mati sebagai gadis setelah tiga tahun, dan diturunkan ke kuburnya pada hari ketiga bulan Maret pada pukul lima sore! Dan tiga tahun itu adalah umur hati yang dipotong penyakit, mereka menunggu dengannya pernikahan, dan ia menunggu dengan dirinya penguburan!

Wahai keajaiban takdir! Apakah itu lagu musik untuk rintihan yang berlangsung tiga tahun, maka datang akhirnya seimbang dengan awalnya dalam keteraturan dan ketepatan?

Apakah gadis itu membawa rahasia besar yang akan mengubah dunia, maka dunia membalasnya pada hari ucapan selamat dan senyuman dan perhiasan, maka tiba-tiba itu menjadi hari ratapan dan air mata dan kain kafan?

Celaka bagimu wahai waktu! Siapa yang memahami mu padahal kau adalah masa takdir-takdir?

Dan hari yang satu di dunia adalah hari-hari yang berbeda sejumlah penduduk dunia semuanya, dan dengan ini kembali bagi setiap makhluk rahasia harinya, sebagaimana bagi setiap makhluk rahasia rohnya, dan tidak ada jalan kepadanya tidak ini dan tidak itu.

Dan dalam hari waktu yang satu ada empat ratus juta hari manusiawi di bumi! Dan dengan itu akal manusia menghitungnya dua puluh empat jam; betapa bodohnya!

Dan setiap manusia tidak berhubungan dari kehidupan kecuali dengan sinar yang menerangi tempat gelap di hatinya, dan matahari dengan apa yang terbit atasnya tidak mampu menerangi hati yang tidak diterangi kecuali oleh wajah yang dicintai.

Dan dalam kehidupan ada hal-hal bohong yang membesarkan dunia dan mengecilkan jiwa, dan dalam kehidupan ada hal-hal nyata yang membesarkan dengan jiwa dan mengecilkan dengan dunia; dan emas bumi semuanya adalah kemiskinan yang memprihatinkan ketika muamalah dengan hati.

Wahai dunia; ini adalah penghinaan Ilahi-mu jika manusia membesarkanmu!

Dan sungguh aneh orang-orang jahat yang tertipu dengan kehidupan yang pasti akan berakhir! Maka apa yang mereka nantikan kecuali bahwa kita berakhir? Kehidupan yang aneh dan samar; dan adakah yang lebih aneh dan samar dari bahwa berakhirnya manusia ke akhirnya adalah pikiran pertamanya dalam hakikatnya?

Maka ketika tiba menit-menit terhitung yang tidak dinomori jam tetapi dinomori dada orang yang sekarat… ketika raja semua raja seperti debu tidak membeli sesuatu sama sekali.

Apa yang akan terjadi wahai penjahat setelah kau melakukan kejahatan, dan berdiri atasmu bukti, dan kau lihat di sekelilingmu tentara dan hakim-hakim, dan kau berdiri di hadapan syariat dan keadilan? Perbuatan-perbuatan kita dalam kehidupan adalah satu-satunya kehidupan, bukan umur kita, dan bukan keberuntungan kita, dan tidak ada nilai bagi harta, atau kedudukan, atau kesehatan, atau semuanya bersama jika dirampas dari pemiliknya keamanan dan ketenangan! Dan yang aman di dunia adalah yang tidak ada di belakangnya kejahatan yang masih berjalan di belakangnya, dan yang bahagia di akhirat adalah yang tidak ada baginya kejahatan yang mengejarnya dan ia di langit-langit.

Bagaimana mungkin alat menipu pemiliknya padahal di dalamnya ada “penghitung”; tidak bergerak suatu gerakan kecuali memberitahunya lalu menghitungnya? Dan bagaimana mungkin manusia berdusta kepada Tuhannya padahal di dalamnya ada hati; tidak mengerjakan suatu pekerjaan kecuali memberitahunya lalu menghitungnya?

Dan aku melihat pengantin sebelum kematiannya beberapa hari. Pernahkah kau melihat kekayaan ketika berpaling dari seseorang untuk meninggalkan baginya penyesalan dan kenangan yang menyakitkan? Pernahkah kau melihat kebenaran-kebenaran indah pergi dari pemiliknya sehingga tidak meninggalkan bagi mereka kecuali mimpi-mimpi tentangnya? Betapa lelahnya manusia ketika kehidupan berpindah dari tubuhnya untuk tinggal dalam pikirannya!

Dan apakah kekhawatiran dan penyakit? Itu adalah kubur yang terlambat menunggu pemiliknya kadang-kadang lalu mengguncang di beberapa harinya sesuatu dari tanahnya!

Aku melihat pengantin sebelum kematiannya beberapa hari, maka demi Allah dari rahasia-rahasia kematian dan kegentarannya! Tubuhnya kosong sebagaimana kosong padanya hal-hal dari makna-maknanya! Dan tubuh ini meninggalkan tempatnya bagi roh untuk muncul kepada keluarganya dan berdiri di antara mereka dengan berdirinya perpisahan!

Dan waktu berubah menjadi pikiran si sakit; maka ia tidak lagi hidup dalam siang dan malam, tetapi dalam pikiran yang terang atau pikiran yang gelap!

Ya Tuhanku! Apakah tubuh yang runtuh ini yang menghadap akhirat; apakah ia patung pahlawan yang mengungkapkannya, ataukah patung yang mulai mengungkapkannya?

Sungguh aku yakin bahwa itu adalah kematian, maka pikiran Ilahinyalah yang berbicara; dan wajahnya seperti wajah ahli ibadah yang atasnya bayangan shalat dan cahayanya. Dan roh manusiawi apabila menyeberang tidak menyeberang kecuali dengan wajah.

Dan ia memiliki senyuman yang aneh keindahannya; karena ia adalah senyuman penderitaan yang yakin bahwa ia akan segera berakhir! Senyuman roh yang memiliki seperti kegembiraan tahanan yang telah melihat Yang Mahasuci berdiri di tangannya jam mengawasi menit dan detik untuk berkata kepadanya: pergilah!

Aku memasuki ruangan untuk menjenguknya, dan dia melihatku seolah-olah aku datang dari dunia, dan dia menghirup dariku udara kehidupan, seakan-akan aku adalah taman, bukan seorang manusia!

Dan siapa selain orang sakit yang melemah, yang tahu bahwa dunia adalah kata yang tidak memiliki makna sama sekali kecuali kesehatan? Siapa selain orang sakit yang hampir mati, yang hidup dengan hati orang-orang di sekelilingnya, bukan dengan hatinya sendiri?

Itulah keadaan di mana matahari, udara, maupun alam yang indah tidak berguna, dan yang menggantikan semuanya bagi si sakit adalah keluarga dan orang-orang terkasihnya!

Keluarganya karena takut akan takdir yang dekat, seperti tawanan perang yang duduk di bawah tembok yang akan runtuh! Hati mereka karena ketakutan berdenyut seperti pukulan beliung.

Dengan mendekatnya kekasih yang sekarat kepada yang tidak diketahui, orang yang mencintainya pun berada dalam ketidaktahuan yang lain, sehingga hidup dan mati tercampur baginya, dan dia kembali dalam kebingungan seperti orang gila ketika memegang bayangan yang bergerak dengan tangannya untuk mencegahnya pergi. Dalam satu jam dia diselimuti kesedihan sepanjang umur, yang mempersiapkannya untuk keagungan perasaan yang menyaksikan keagungan kematian!

Tibalah saat yang tidak dapat dipahami, saat segala sesuatu, yaitu saat ketiadaan dalam akal manusia! Maka si pengantin menoleh kepada ayahnya berkata: “Jangan bersedih, Ayah,” dan kepada ibunya berkata: “Jangan bersedih, Ibu.”

Dia tersenyum kepada air mata seolah-olah mencoba berbicara kepada mereka juga, berkata: “Jangan menangis!” Dia mengasihani orang-orang yang masih hidup sementara dia sekarat, maka dia mengumpulkan rohnya agar wajahnya tetap hidup untuk mereka beberapa menit! Dan dia berkata: “Aku akan meninggalkan kalian dengan senyuman, maka hiduplah dengan senyuman. Aku akan meninggalkan kenanganku di antara kalian, kenangan seorang pengantin.”

Kemudian dia mengingat Allah dan mengingatkan mereka kepada-Nya, dan berkata “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah.” Dan dia mengulanginya sepuluh kali! Rohnya dipenuhi dengan kalimat yang di dalamnya terdapat cahaya langit dan bumi, dan dia mengucapkan dari kebenaran hatinya nama yang paling agung yang membuat jiwa bercahaya berkilau bahkan dalam kesedihannya.

Kemudian dia menghadap Pencipta rahmat dalam ayah dan ibu, dan seperti isyarat perpisahan dari seorang musafir yang telah dibawa kereta, dia melontarkan kepada mereka salam dari senyumannya dan menyerahkan roh!

Keajaiban Takdir! Kami berjalan dalam pemakaman pengantin yang diarak menuju kuburnya suci seperti anak kecil dan tidak ada yang memberinya berkah! Kami baru saja keluar sedikit dari rumah ketika aku melihat di dinding jalan sebuah pengumuman lama dengan tulisan besar yang berteriak kepada mata, pengumuman lama tentang “drama” inilah namanya: “Mabruk” (Selamat).

Kami menembus kota sementara aku melihat dan menyelidiki, tetapi aku tidak melihat pengumuman ini lagi! Kami menembus seluruh kota, ketika pemukiman terputus dan kami menghadap pemakaman, ternyata di dinding terakhir ada pengumuman: “Mabruk.”

 

 

Kematian Seorang Ibu:

Aku kembali dari pemakaman setelah kaki-kakiku berdebu satu jam di jalan yang tanahnya adalah tanah dan sinar, dan dalam keranda ada mutiara manusia yang hancur, yaitu istri seorang teman yang dihancurkan penyakit sehingga memisahkannya dengan penyakit-penyakit kematian. Hatinya menghidupkannya lalu mulai membunuhnya, hingga ketika hampir membunuhnya, Allah merahmatainya dan memutuskan keputusan-Nya padanya. Siapa yang telah mati karena sakit jantung dan tidak melihatnya dari hatinya dalam penyakitnya seperti burung yang terbunuh di bawah mata ular yang mengarahkan racun matanya kepadanya!

Si miskin itu berusia dua puluh lima tahun, tetapi hatinya berusia delapan puluh atau lebih; dia dalam usia muda tetapi hatinya runtuh dalam usia kematian.

Dia adalah wanita yang mulia, bertakwa, saleh. Dia tidak belajar tetapi ketakwaan dan keutamaan mengajarinya. Wanita paling sempurna menurutku bukanlah yang memenuhi matanya dengan buku-buku sehingga dia melihat kehidupan dengan pandangan yang memecahkan masalah dan menciptakan masalah, tetapi dia yang melihat dunia dengan mata yang berkilau dengan cahaya iman, menetapkan dalam segala sesuatu makna surgawinya, sehingga dia beriman pada kesedihan dan kegembiraannya bersama-sama, dan mengambil apa yang diberikan dari tangan Penciptanya sebagai rahmat yang dikenal atau rahmat yang tidak dikenal. Inilah yang kusebut wanita, dan maknanya adalah kuil suci, dan menjadi istri, maknanya adalah kekuatan yang membahagiakan, dan menjadi ibu, maknanya adalah penyempurnaan ilahi bagi anak-anaknya, suaminya, dan dirinya sendiri.

Seberapapun tinggi ilmu seorang wanita, laki-laki lebih besar darinya karena dia laki-laki, tetapi wanita yang sebenarnya adalah yang diciptakan untuk menjadi bagi laki-laki bahan keutamaan, kesabaran, dan iman, sehingga menjadi baginya wahyu, ilham, penghiburan, dan kekuatan, yaitu penambahan dalam kegembiraannya dan pengurangan dari penderitaannya.

Wanita tidak akan pernah lebih besar dari laki-laki dalam kehidupan kecuali dengan satu hal, yaitu sifat-sifatnya yang membuat laki-lakinya lebih besar darinya.

Aku berjalan dari rumah yang dikenakan si mati makna kubur, menuju kubur yang dikenakan si mati makna rumah. Sejak aku berjalan dalam pemakaman ibuku, semoga Allah merahmatainya, aku tidak berjalan di jalan ini bersama orang-orang hidup, tetapi bersama orang-orang mati. Aku mengikuti dari si mati seorang teman yang bukan laki-laki maupun perempuan, karena dia bukan dari dunia ini; dan aku berjalan dalam satu jam yang bukan enam puluh menit, karena keluar dari waktu; dan aku tidak melihat jalan dari jalan-jalan kehidupan, karena aku dalam persahabatan dengan orang mati; dan bumi menjadi dalam pandanganku geografi lain yang buta orang-orang karena sangat jelasnya, seperti ketuhanan yang tersembunyi karena sangat nyatanya.

Mereka berkata: Tiga perempat bumi digenangi laut. Tetapi aku melihat pada saat itu bahwa tiga perempat bumi tidak digenangi laut yang mereka gambarkan, tetapi samudra lain yang bergelombang bergolak, yaitu laut tanah yang besar yang disebut “pemakaman.”

Mereka berkata: Hidup adalah… adalah apa—celaka kalian—wahai orang-orang yang tertipu; tidakkah kalian melihat hubungan terus-menerus antara perut ibu dan perut bumi?

Demi hidupku, bagaimana kehidupan ini memberikan manusia hati bersama hati mereka sehingga seseorang merasakan dengan satu hati dan bekerja dengan hati lain; meyakini bahaya kebohongan tetapi berbohong, mengetahui dosa tetapi berdosa, yakin akan akibat pengkhianatan lalu berkhianat; dan berjalan dalam umur menuju Tuhannya—tidak diragukan lagi—tetapi di jalan tidak bekerja kecuali kerja orang yang telah lari dari Tuhannya.

Angin bertiup di waktu sahur ke taman yang subur lalu menyukainya, maka dia bertekad untuk mengambil rumah di tempat yang baik itu untuk tinggal di sana. Sungguh hikmat perencanaan! Angin mengklaim akan menetap padahal seluruh keberadaannya adalah sesaat lewatnya, dan bermimpi tentang ketetapan di rumah padahal dia tidak mampu berhenti karena sifatnya.

Sungguh hikmat yang tinggi, yang tidak didiami dari makna kecuali yang paling bodoh dari kebodohan!

Orang hidup mati dan matanya padam, tetapi dia bergerak dalam sejarahnya dari apa yang menyempitkan dirinya atau melebarkannya, dan menjadi melihat dengan mata dari amalnya baik yang melihat atau seperti buta; jika dia berbicara menggambarkan kehidupan dunia, dia akan berkata: Sesungguhnya bintang-bintang ini di bumi adalah lampu-lampu takziyah yang didirikan di malam hari. Betapa herannya orang-orang takziyah duduk dalam takziyah untuk tertawa dan bermain!

Jika orang mati berbicara, mereka akan berkata: Wahai orang-orang hidup, sesungguhnya masa kini yang berlalu menjadi masa lalu kalian di dunia, dialah yang akan menjadi masa depan kalian di akhirat, kalian tidak menambah atau menguranginya. Dunia dimulai pada kalian dari atas ke bawah, dari orang-orang besar ke orang-orang miskin; tetapi terbalik di akhirat dimulai dari orang miskin ke orang besar; kalian menggambarnya dengan garis-garis keserakahan dan keberuntungan, dan Allah menggambarnya dengan garis-garis kekurangan dan perjuangan; yang sempurna di bumi adalah yang sempurna dengan kenikmatannya dan kesenangannya, tetapi yang sempurna di langit adalah yang sempurna dengan dirinya sendiri saja.

Sayangnya! Si mati tidak akan mengatakan apa-apa kepada yang hidup, dan siapa tahu? Mungkin ketika kami menguburkan orang mati dan menurunkan mereka ke kubur mereka, mereka melihat dengan roh-roh mereka yang kekal bahwa kami adalah orang-orang mati mereka yang malang, dan bahwa kami terkubur dalam kubur yang mereka sebut “bola bumi.” Apakah bola bumi dari ketanpa-hinggaan kecuali lubang dengan kaki semut untuk mengubur semut di dalamnya.

Kehidupan… apakah kamu ingin mengetahuinya pada hakikatnya? Dia adalah hal-hal samar yang banyak yang tidak memiliki di akhir kecuali satu tafsiran: halal atau haram.

Kami kembali bersama teman ke rumahnya, dan dia memiliki lima anak kecil. Jika mereka yang direbut dari ibu mereka, masing-masing akan meninggalkan di hatinya seperti setrika panas yang dipanaskan di api sampai merah; tetapi ibu mereka yang diambil dari mereka, maka keberadaan mereka dalam kehidupan adalah keringanan bagi sakratul maut padanya. Pingsan menimpanya lalu dia mati sambil tertawa, karena melihat mereka tidur di bawah sayap rahmat ilahi yang terbentang, dan berkata bahwa dia mendengar mimpi-mimpi mereka. Mereka adalah akalnya di saat kematian!

Maha Suci yang menjadikan dalam hati ibu dunia dari ciptaan-Nya, dan dunia dari ciptaan anak-anaknya!

Maha Suci yang memberi ibu pahala atas apa yang dideritanya, menjadikan kegembiraannya gambaran besar dari kegembiraan anak-anaknya!

Datanglah anak tertua dari lima anak itu, seolah-olah dia delapan pon kehidupan bukan delapan tahun umur; dia datang kepada kami seperti datangnya ketakutan ke hati-hati yang tenang, karena di mata menangisnya terdapat makna kehilangan ibu!

Air mata membanjirinya lalu dia mengambil sapu tangannya dan menghapusnya dengan tangan kecilnya, tetapi jiwa yatimnya menolak kecuali menggambar dengan air mata ini di wajahnya makna-makna keyatimannya!

Keterputusaan muncul di wajahnya mengungkapkan dengan fasih bahwa dia telah merasakan hakikat kelemahan dan kekanak-kanakannya di hadapan musibah yang menimpanya, dan duduk pasrah menerjemahkan keadaannya makna kalimat ini: “Kasihilah aku!” Kemudian terbang dari matanya pandangan-pandangan di udara, seakan-akan dia merasakan bahwa ibunya ada di sekelilingnya di udara tetapi dia tidak melihatnya!

Kemudian dia mengendurkan matanya dalam kedipan ringan, seakan-akan berharap melihat ibunya dalam lipatannya!

Dia tidak percaya bahwa ibunya mati, karena suaranya hidup di telinganya masih mendengarnya dari kemarin!

Kemudian kembali ke wajahnya keterputusaan dan kepasrahan, dan dia gelisah di tempat duduknya, maka seluruh tubuhnya mengucapkan kalimat ini: “Ya Ibu!”

Dia merasakan—tidak diragukan—bahwa dia telah tersesat dalam keberadaan, karena keberadaan adalah ibunya.

Dan dia menyentuh kekasaran dunia sejak saat itu, setelah kehilangan dada yang hanya di dalamnya kelembutan kehidupan, karena di dalamnya hati ibunya dan rohnya.

Dan dia merasakan kehinaan mengalir ke hati kecilnya; karena dia yang dulu memiliki hak rahmat di dalamnya telah diambil darinya dan meninggalkannya tanpa hak pada siapa pun; dan tidak ada jaminan untuk siapa pun!

Kemiskinan memakaikannya, karena dia memiliki sesuatu yang berharga yang kini berada di belakang waktu sehingga tidak akan pernah mencapainya!

Kemiskinan memakaikannya, karena dia sendirian di tempat sebagaimana sendirian dalam waktu!

Keheranan tergambar di wajahnya, seakan-akan dia bertanya pada dirinya: “Jika ibuku tidak ada di sini, mengapa aku di sini?”

Kemudian matanya berkaca-kaca lalu dia mengeluarkan sapu tangannya dan menghapus air matanya dengan tangan kecilnya, tetapi jiwa yatimnya menolak kecuali menggambar dengan air mata ini di wajahnya makna-makna keyatimannya!

Si kecil bangkit tanpa mengucapkan sepatah kata pun; bangkit membawa kejantanannya yang dimulai sejak saat itu!

Berakhir—wahai anak miskin—hari-harimu dari ibu; maka hari-hari bahagia ini yang kamu mengetahui hari esok sebelum datang seperti mengetahui kemarin yang berlalu; karena hari esok datang bersamamu ibumu!

Dan dimulai—wahai anak miskin—hari-harimu dari waktu, dan akan datang setiap hari esok tertutup menakutkan; karena datang kepadamu sendirian, dan datang sementara kamu sendirian!

Ibu… ya Tuhanku! Anak kecil mana di bumi yang menemukan kecukupan roh kecuali dalam ibu?

 

 

Kisah Seorang Ayah

Si malang menceritakan kepadaku tentang apa yang terjadi padanya sambil menggambarkan musibah yang menimpanya. Dia berkata:

Aku melihat orang-orang yang telah dikaruniai Allah untuk menjadi ayah, maka Allah memperbanyak keturunan mereka dengan anak-anak. Allah memperpanjang nasab mereka dalam keberadaan mereka, menambah jiwa-jiwa baru ke dalam roh mereka, menyatukan hati-hati baru dengan hati mereka, dan memenuhi mata mereka dengan sesuatu yang menyejukkan mata, sesuatu yang tadinya tidak mereka miliki kemudian mereka dapatkan. Dengan anak-anak ini, mereka memiliki kekuatan yang mengembalikan mereka menjadi anak-anak seperti mereka dalam segala hal yang menyenangkan mereka. Kegembiraan membesar dalam jiwa mereka meskipun pada dasarnya hal itu kecil dan remeh, dan harapan menjadi besar dalam urusan-urusan mereka meskipun itu tentang hal yang hina yang tidak dipedulikan.

Itulah salah satu hakikat kebahagiaan yang tidak ada yang lebih mulia dan agung darinya kecuali hakikat yang lain, yaitu kekuatan yang dengannya alam semesta berubah dalam hati kedua orang tua menjadi harta karun berisi cinta, kasih sayang, dan keindahan perasaan. Dengan keajaiban senyuman seorang anak laki-laki atau perempuan, atau dengan sebuah kata atau gerakan dari mereka, sementara hal seperti itu tidak dapat berubah atau bahkan mendekatinya dengan harta dunia atau kerajaan dunia.

Aku melihat orang-orang yang telah dikaruniai Allah untuk menjadi ayah, tetapi Dia menguji aku dengan menjadi seorang ayah, dan mengeluarkan dari kegembiraan hatiku kesedihan hatiku! Sungguh, aku seperti seorang laki-laki yang memiliki rumah dan menikmatinya, lalu berharap untuk membangun sebuah kamar di salah satu sisinya untuk dihias. Ketika hal itu terwujud dan tercapai sesuai rencana, rumah itu runtuh dan hanya kamar itu yang tersisa berdiri!

Demi Allah, apakah laki-laki ini dalam musibahnya merasakan kamar itu atau rumahnya? Dan apakah menurutmu dia bertambah atau berkurang? Andai saja itu adalah rumah dan kamar dari sebuah rumah; karena batu-batu hidup dengan pembangunan ketika mati karena kehancuran, tetapi siapakah yang menghidupkan istri yang mati setelah atau kehilangan anak sulungnya yang pertama dan terakhir!

Dia adalah seorang gadis kecil yang lahir seolah-olah dikeluarkan dari bawah reruntuhan, karena dia lahir di bawah masa lalu kehidupan yang runtuh. Dan apakah ada perbedaan antara ini dengan ibunya yang melahirkannya di padang pasir kemudian terpaksa meninggalkannya sendirian di padang tandus itu sambil menjerit dan menangis! Si malang dalam kedua keadaan itu terputus pertama kali dari kasih sayang dan rahmat ibu.

Seorang gadis kecil yang lahir sambil menjerit, bukan jeritan kehidupan, tetapi jeritan ratap dan tangis untuk ibunya.

Jeritan sedih yang artinya: “Letakkan aku bersama ibuku meskipun di kubur!”

Jeritan yang bergetar, seolah si malang merasakan bahwa dunia kosong dari dada yang menghangatkannya!

Jeritan yang bergema dalam permohonan, seolah-olah itu adalah kalimat yang tersusun dari kata-kata ini: “Ya Tuhan, kasihanilah aku dari kehidupan tanpa ibu!”

Si malang berkata sambil menangisi istrinya:

Ketika kontraksi menimpanya, dia menggandakan kekuatannya dari perasaannya bahwa dia akan segera menjadi berlipat ganda dengan bayinya, dan akan menjadi dua jiwa bukan satu jiwa, dan akan melahirkan untukku kehidupan dan cinta ilahi sekaligus, dan membawa ke hatiku seperti masa kanak-kanak pertamanya yang mustahil datang kepada seorang laki-laki kecuali dari istrinya. Semua itu menggandakan kekuatannya sesaat dan menguatkannya; tetapi betapa cepatnya ternyata itu adalah kematian, karena dia mengalami kesulitan dan sulit untuk mengeluarkan bayinya.

Dokter bedah datang dengan pisau bedahnya, dan seolah-olah dia melihatnya sebagai penyembelih bukan dokter, maka dia mulai mengekspresikan dengan matanya, karena dia tidak memiliki dalam rasa sakitnya yang mematikan selain bahasa kedua mata ini.

Dengan satu tatapan dia menangis untukku dan untuk kesengsaraanku, dan dengan tatapan lain dia menangis untuk kesengsaraan dan penderitaan bayinya; dengan satu tatapan dia berpamitan padaku, dan dengan tatapan lain dia berdoa kepada Allah untukku sebagai balasan atas kebaikan yang telah kulakukan padanya; dengan satu tatapan dia merasakan sakit untuk dirinya sendiri, dan dengan tatapan lain dia merasakan sakit karena melihatku hampir gila.

Tatapan demi tatapan…

Ya Tuhanku! Aku membayangkan bahwa malaikat maut berdiri di antara dua puluh cermin yang mengelilinginya, maka aku melihatnya sebagai kematian yang berlipat ganda bukan kematian tunggal, dan setiap tatapan dari mata istriku kepadaku adalah tatapan darinya, dan bagiku itu adalah cermin jiwa untuk jiwa.

Tetapi dia tidak lupa bahwa dia mati untuk melahirkan bayinya, dan bahwa rasa sakit berdarah yang menyembelih ini adalah cara untuk meninggalkan bagian yang hidup darinya untukku; maka ya kasih sayang, kelembutan, dan cinta! Dia tersenyum padaku saat dia mati; saat dia melahirkan; saat dia disembelih! Kasih sayang wanita yang mencintai bukanlah khayalan kecuali jika panas matahari yang menghidupkan dunia juga khayalan; sesungguhnya hati wanita ini yang menetap di atas perut yang mengandung janin dengan sabar, rela, gembira dengan rasa sakitnya, dan memberinya makan dan berbagi kehidupan jiwanya dengannya, hati ini juga memikul cinta dengan sabar, gembira dengan rasa sakitnya, dan memberinya makan dan berbagi kehidupan jiwanya dengannya.

Dan rahmat ilahi memiliki banyak bukti yang menunjukkan manusia kepadanya dengan berbagai petunjuk; matahari menunjukkannya dengan cahaya yang memberi makan kehidupan, udara menunjukkannya dengan cahaya yang dihirup kehidupan, air menunjukkannya dengan cahaya yang diminum kehidupan, dan seterusnya hingga akhirnya datang hati wanita yang menunjukkan rahmat Allah dengan cinta yang dengannya kehidupan berdiri.

Senyuman cinta mengalahkan helaan napas kematian yang bergolak dari bawahnya hingga mengalahkannya, dan mengembalikan kehidupan sesaat ke wajah istriku agar aku melihatnya untuk terakhir kalinya dalam wujud cinta kepadaku, maka semua keindahan jiwanya tersebar di wajah itu, dan roh serta perasaannya muncul di dalamnya berpamitan padaku dengan perpisahan sedih tersenyum yang berbicara; berbicara dengan ketidakmampuannya untuk berbicara.

Senyuman yang tidak diragukan lagi memiliki hal-hal yang bukan dari keindahan dunia ini dan bukan dari kenyataannya; seolah-olah berkilau dengan sinar dari keabadian yang berkibar di wajah kekasih untuk menunjukkan pada saat kematian bahwa cintanya lebih kuat dari kematian.

Si malang berkata: Dan dokter mengeluarkan dari perutnya seorang gadis kecil, dan istriku tidak pernah mengusulkan bahwa janin itu selain perempuan, bahkan dia yakin bahwa dia akan melahirkan anak perempuan, dan dia membuat pakaian untuknya, menghiasnya dengan hiasan kewanitaan, dan menyebutkan nama-nama gadis lalu memilih namanya juga. Aku tidak suka hal itu darinya dan menginginkan anak laki-laki bukan perempuan, maka dia membuatku kesal dengan perbuatan dan kekeraskepalaan, kekesalan bercanda bukan kekesalan kemarahan.

Dia terus tidak mengingat selama masa kehamilan kecuali putrinya, dan tidak berbicara kecuali tentang putrinya, dan aku heran dengan hal itu; ketika Allah memutuskan takdirnya, aku tahu bahwa itu adalah urusan roh, maka ada ilham di dalamnya bahwa dia berada di pintu kuburnya, dan bahwa dia tidak akan melihat gadis kecilnya, dan tidak akan hidup untuknya, maka dia hidup selama hari-hari kehamilan dengan kenangannya, memeluk pakaiannya ke dadanya dan memangkunya di tangannya, dan berbicara dengannya dan menciumnya, dan mengambilnya dari khayalan dan mengembalikannya ke dalamnya; dan demikianlah si malang menikmati si malang!

Semoga Allah melindungimu wahai keajaiban rahmat, wahai jiwa ibu! Dan ketika dikatakan: “Dia meninggal.” Orang yang berbicara mulai berbicara padaku tetapi aku tidak mengerti; karena kata yang membawa musibah yang diharapkan yang lama ditunggu, tidak datang dengan makna linguistik seperti kata-kata lainnya, tetapi dengan senjata yang menyerang jiwa dan akal, dan membuat mereka terluka parah dan binasa.

Dan kematiannya membuatku seolah-olah aku orang mati yang membawa dirinya sendiri, tidak ada di sekelilingku kecuali para pengantar jenazah, dan aku merasakan seolah-olah kekuatan mengambil salah satu kakiku dan meletakkannya di akhirat dan meninggalkan yang lain di dunia, dan aku mengalami kepanikan yang Allah Maha Mengetahuinya, dan aku menemukan kerinduan yang paling membakar, dan menangis dengan tangisan yang paling panas; dan pikiranku mulai mengalir dari kepalaku ke tenggorokanku maka aku tercekik dengannya kemudian tidak ada yang melegakan kecuali air mata, seolah-olah anggota tubuhku terganggu karena kesedihan yang menekanku, maka aku bernapas dengan paru-paruku dan mataku.

Dengan kematiannya aku merasakannya; dan mungkin karena itu manusia tidak merasakan kenikmatan cinta secara lengkap kecuali dalam penderitaan cinta saja, dan dia dalam hidupnya meletakkan dari rohnya dalam kegembiraanku, dan ini adalah rahasia wanita yang dicintai; kekasihnya menemukan dalam setiap kegembiraan kilasan-kilasan rohani; dan demikian pula dia lakukan setelah kematiannya, maka dia meletakkan rohnya dalam kesedihanku; dan jika bukan karena rohnya dalam kesedihanku, musibah itu akan membunuhku.

Dan aku berjalan di belakang keranda sementara perasaan tentang dunia telah hilang dalam diriku, dan orang-orang berjalan di sekelilingku dengan kehidupan yang ada dalam mereka, dan mereka pergi ke pemakaman seolah-olah mereka berjalan seperti mereka pergi ke setiap tempat; sedangkan aku berjalan dengan cinta yang ada dalam diriku dengan patah hati, terpuruk, hancur, karena aku sendirian berjalan mengikuti sesuatu yang tidak dapat dikejar.

Dan orang-orang terasa berat di hatiku, dan semua urusan mereka kembali padaku kepada cacat dan kekurangan, karena aku memiliki akal yang muncul dari keadaan yang aku alami yang tidak dimiliki oleh siapa pun dari mereka, dan aku sendirian yang tertimpa musibah di antara mereka, maka aku sendirian di antara mereka yang berakal.

Aku berjalan untuk berakhir di akhir musibahku, dan mereka berjalan untuk berakhir di akhir jalan; dan betapa berbedanya kita!

Dan ketika aku melihat kuburnya, kedua mataku segera melihat dengan air mata bukan dengan penglihatan, dan aku melihat tanah seolah-olah itu awan berwarna dengan warna awan gelap yang bersiap di langitnya di bawah kegelapan untuk menyembunyikan bintang dari bintang-bintang; dan kubur muncul bagiku seolah-olah itu mulut bumi yang berbicara kepada manusia dengan ketegasan yang keras, berbicara kepada yang miskin dan kaya, yang lemah dan kuat, raja-raja dan gelandangan: “Bahwa setiap kekuatan dicabut di sini.”

Si malang berkata: Dan sebagaimana manusia menemukan di hari-hari hujan aroma angin yang basah oleh air, aku mencium dalam perjalanan pulangku ke rumah aroma angin yang basah oleh air mata, dan aku menghadiri acara berkabung dan orang-orang menghiburku, maka aku di antara mereka seperti tahanan di antara mereka: tidak berharap kecuali agar mereka memanggilku sehingga aku bisa lari ke manapun, dan tidak melihat kecuali bahwa mereka memaksaku minum keberadaan dengan pahit seperti aku minum kehilangan dengan pahit demi pahit; hingga mereka berpencar dengan kegelapan malam maka aku kembali ke rumah, maka ternyata segala sesuatu telah berubah dan kematian telah menyentuhnya dengan sentuhan, dan rumah itu sendiri seperti mata yang sakit dari bekas tangisan: tidak ada apa-apa kecuali untuk menunjukkan padaku bahwa kegembiraanku telah mati!

Dan pagi muncul di mataku yang terjaga sebagai pagi yang lesu yang aku lihat rasa malu di dalamnya, seolah-olah berkata: “Aku tidak terbit untukmu” maka aku menyelinap dari rumah, dan pergi berjalan di dunia yang adalah kesedihan yang terang yang takdir mengejeknya dengan menampakkannya dalam cahaya ini dalam wujud wajah nenek tua yang menyamar dalam hiasan yang tidak menambahnya kecuali keburukan!

Dan aku berjalan tanpa tujuan, memukul ke segala arah seolah-olah aku ingin melarikan diri dari diriku sendiri! Dan tidak pernah terlintas di pikiranku bahwa aku hari baru, bahkan aku pada diriku sendiri masih kemarin, dan waktu serta tempat berubah padaku: salah satunya adalah jam kematian yang tidak meninggalkan apa yang ada di dalamnya, dan yang lain adalah kubur mayat yang tidak mengembalikan apa yang ada di dalamnya.

Ah dari waktu yang berakhir di dalamnya yang ada untuk menyiksa kita dengan mengingat bahwa itu pernah ada.

Si malang berkata kemudian kakiku mengembalikanku ke rumah untuk melihat gadis kecilku -dan aku belum melihatnya- dan sungguh kelahirannya adalah awal kehidupan baginya, dan awal kehidupan bagiku juga, karena tanpanya aku pasti bunuh diri tanpa ragu.

Celaka aku! Mata ku belum bertemu dengan mata gadis kecil itu hingga dia pecah menangis. Apakah kau menangis untukku wahai putriku atau karena aku?

Apakah ini tangisanmu wahai si malang, atau ini suara hatimu yang yatim?

Suaramu, atau ini roh ibumu yang menjerit meratapi aku, dan kesakitan karena berlebihan apa yang aku derita!

Wahai putriku, sesungguhnya kau adalah kenyataan kecil yang keluar untukku dari semua khayalan puitis yang indah itu, khayalan hari-hari bahagia yang telah berlalu!

Bayi diciptakan dari daging dan darah! Dan aku melihatmu wahai si malang, diciptakan dari daging dan darah dan air mata!

Sisa kehidupan yang mati! Maka apakah arti itu kecuali bahwa kau adalah sisa kematian yang hidup?

Malang, malang; jika hukum-hukum dunia berubah untuk sesuatu, pasti berubah karena kesengsaraanmu untuk mengembalikan ibu untukmu, tetapi itu tidak akan berubah, dan tangisan kita, rasa sakit kita, dan kesengsaraan kita tidak lain adalah warisan kehidupan dalam tubuh duniawi kita, semua itu adalah sifat tetapi ada tempat yang lebih bersih dari tempat, dan aku melihatmu wahai putriku seperti rumah yang hancur pertama kali dibangun yang dipenuhi tanahnya!

Hukum-hukum tidak akan berubah, maka kau tidak akan mendapatkan kasih sayang ibu, tetapi hatiku juga tidak akan berubah, maka kau tidak akan kehilangan kasih sayang ayah.

Dan jika orang-orang sabar terhadap kehidupan maka karena kamu wahai si malang! Karena kelemahanmu dan keterputusanmu aku akan menanggung kesabaran untukmu, dan menanggung kesabaran untukku, dan menanggung kesabaran dari ibumu, aku akan sabar terhadap kesabaran itu sendiri!

Wahai putriku! Wahai putriku! Mengapa takdir menempatkanmu dari kehidupan ini di sisi yang tidak ada di dalamnya kecuali kubur gelap yang terkunci untuk ibumu, dan ayah malang yang terkunci dengan rasa sakitnya?

Si malang berkata: Dan demikianlah aku tertulis dari ahli kesengsaraan dan kesedihan, maka aku tidak menikah kecuali agar kekasihku membuatkan air mataku, kemudian dia tidak mati kecuali setelah meninggalkan untukku kekasih lain yang akan lama terus membuatkan air mataku!

 

 

IKAN

Ahmad bin Miskin, seorang faqih Baghdad bercerita: Saya berada di kota Balkh pada tahun 230 Hijriah, dan ulama di kota itu pada waktu itu adalah syaikh Khurasan Abu Abdurrahman az-Zahid, pemilik nasihat dan hikmah. Dia adalah seorang yang hatinya di belakang lisannya, jiwanya di belakang hatinya, dan falak tertinggi di belakang jiwanya, seolah-olah wahyu diturunkan kepadanya menurut mereka.

Dan mereka menyebutnya: “Luqman umat ini” karena mereka kagum dengan hikmahnya dalam zuhud dan nasihat. Saya telah menghadiri majelis-majelisnya dan menghapal banyak dari perkataannya, seperti ucapannya: “Barangsiapa memasuki madzhab kami ini (maksudnya jalan spiritual), hendaklah ia meletakkan atas dirinya empat sifat kematian: kematian putih, kematian hitam, kematian merah, dan kematian hijau. Kematian putih adalah kelaparan, kematian hitam adalah menanggung gangguan, kematian merah adalah menyelisihi nafsu, dan kematian hijau adalah menambal pakaian satu dengan lainnya (maksudnya memakai pakaian tambal sulam dan pakaian usang).”

Suatu hari saya bertanya kepada sahabat dan muridnya “Abu Turab” tentang tafsir perkataan ini: “Kami telah memahami penamaan kematian hijau selama pakaian tambal sulam itu hijau, lalu apa alasan penamaan putih, hitam, dan merah?” Dia memberikan jawaban yang tidak saya setujui dan tidak ada dalilnya, lalu berkata: “Lalu apa pendapatmu?” Saya berkata: “Adapun kelaparan, ia mematikan nafsu dari syahwat-syahwatnya dan meninggalkannya putih bersih, itulah kematian putih. Adapun menanggung gangguan, itu adalah menanggung kehitaman wajah di hadapan manusia, itu adalah kematian hitam. Adapun menyelisihi nafsu, itu seperti menyalakan api pada diri, itulah kematian merah.”

Ahmad bin Miskin berkata: Suatu siang saya berada di masjid Balkh dan orang-orang berkumpul menunggu “Luqman umat” untuk mendengarkannya, namun dia terlambat karena ada urusan. Mereka berkata: “Siapa yang akan memberi nasihat kepada kami sampai syaikh datang?” Abu Turab menoleh dan berkata: “Kamu telah melihat Imam Ahmad bin Hanbal, telah melihat Bisyr al-Hafi dan si fulan dan si fulan, maka berdirilah dan ceritakan kepada orang-orang tentang mereka, karena mereka dan orang-orang seperti mereka adalah sisa-sisa kenabian.” Kemudian dia mengambil tanganku ke tiang tempat imam Khurasan biasa duduk dan mendudukkanku di sana, lalu dia duduk di hadapanku.

Leher-leher mulai menengadah, orang-orang menatapku dengan mata mereka, dan berkata: “Baghdad! Baghdad!” Seolah-olah aku menjadi berlipat ganda di hadapan mereka, sekali karena majlisku dan sekali lagi karena nasabku. Aku berkata dalam hati: “Demi Allah, tidak ada nasihat dalam kematian merah, hijau, atau hitam. Seandainya Malaikat Maut mengenakan pelangi, itu akan merusak makna syair warna-warna ini. Yang seharusnya ada hanyalah apa yang memang seharusnya ada. Tidak ada nasihat dalam perkataan yang tidak dipenuhi oleh jiwa pengucapnya, agar menjadi amalan yang kemudian berubah menjadi amalan di jiwa-jiwa lain dan tidak tinggal sebagai perkataan belaka. Sungguh, bernasihat bukanlah menyusun perkataan untuk pendengar yang mendengarnya, tetapi menyusun jiwa untuk jiwa lain yang dilihatnya dalam perkataannya, sehingga perkataan ini menjadi seperti ikatan kekeluargaan antara dua jiwa, sampai seolah-olah darah yang saling tarik-menarik mengalir di dalamnya dan berputar dalam kata-katanya.”

Saya pernah bermimpi di Balkh yang berhubungan dengan kisah yang terjadi di Baghdad, maka saya ceritakan kepada mereka. Kisahnya adalah sebagaimana yang saya ceritakan: Saya diuji dengan kemiskinan pada tahun 219 Hijriah. Sumber penghidupanku terputus dan rumahku mengalami kekeringan yang sangat parah, mengumpulkan padaku kebutuhan, kesusahan, dan kemiskinan. Seandainya padang pasir yang tandus mengkerut lalu mengecil terus menerus hingga kembali menjadi beberapa hasta, itulah rumahku waktu itu di daerah Bab Basrah, Baghdad.

Datanglah hari yang seperti gurun pasir, seolah-olah matahari terbit dari antara pasir, bukan dari antara awan. Matahari melewati rumahku di Baghdad seperti melewati daun kering yang tergantung pada pohon hijau. Tidak ada pada kami sesuatu yang bisa ditelan tenggorokan manusia, karena tidak ada di rumah kecuali tanah, batu, dan batang-batangnya. Aku memiliki istri dan anak kecil darinya. Kami telah kosong perut karena kelaparan yang membuat perut seperti runtuh sebagaimana bumi ambles. Aku berharap waktu itu seandainya kami adalah tikus yang bisa menggerogoti kayu! Kelaparan anak itu menambah penderitaan istri selain kelaparannya sendiri, dan aku bersama mereka seperti orang lapar dengan tiga perut yang kosong.

Aku berkata dalam hati: “Jika kita tidak bisa makan kayu dan batu, mari kita makan dengan harganya.” Aku bulat tekad untuk menjual rumah dan pindah darinya, meskipun keluarku darinya seperti keluar dari kulitku: tidak bisa disebut kecuali pengulitan dan kematian. Aku bermalam seperti orang yang terluka parah dari pertempuran; tidak berbalik kecuali pada luka-luka yang bekerja padanya seperti kerja pedang dan tombak yang telah mengenainya.

Kemudian aku keluar dalam kegelapan untuk shalat subuh. Masjid berada di bumi tetapi langit ada di dalamnya, sehingga aku merasa seolah-olah keluar dari bumi sesaat. Setelah selesai shalat, orang-orang mengangkat telapak tangan mereka berdoa kepada Allah Ta’ala, dan lisanku mengucapkan doa ini: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu agar kemiskinanku tidak ada dalam agamaku. Aku memohon kepada-Mu manfaat yang memperbaiki ketaatanku kepada-Mu, aku memohon kepada-Mu berkah ridha dengan ketentuan-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan untuk taat dan ridha, wahai Yang Maha Penyayang dari yang penyayang.”

Kemudian aku duduk merenungkan urusanku, dan aku lama duduk di masjid seolah-olah aku bukan lagi penduduk zaman sehingga hukum-hukumnya tidak berlaku padaku. Ketika waktu dhuha telah tinggi dan matahari memutih, datanglah kenyataan hidup. Aku keluar mencari cara untuk menjual rumah, dan aku pergi tanpa tahu kemana harus pergi. Belum jauh berjalan, aku bertemu Abu Nasr as-Sayyad yang telah kukenal lama. Aku berkata: “Wahai Abu Nasr! Aku akan menjual rumah karena keadaan telah buruk dan kemiskinan telah memaksa. Pinjamkan aku sesuatu yang bisa menopangku hari ini dengan kebutuhan hidup sampai aku menjual rumah dan membayarmu.”

Dia berkata: “Wahai tuanku! Bawa saputangan ini kepada keluargamu, dan aku akan menyusulmu ke rumah.” Kemudian dia memberiku saputangan berisi dua roti tipis dengan manisan di antaranya, dan berkata: “Demi Allah, ini adalah berkah dari syaikh.”

Aku bertanya: “Syaikh apa dan apa kisahnya?”

Dia berkata: “Kemarin aku berdiri di depan pintu masjid ini setelah orang-orang pulang dari shalat Jumat, lalu Abu Nasr Bisyr al-Hafi lewat dan berkata: ‘Mengapa aku melihatmu pada waktu ini?’ Aku jawab: ‘Tidak ada tepung, roti, dirham, atau sesuatu yang bisa dijual di rumah.’ Dia berkata: ‘Allah tempat meminta pertolongan! Bawa jalamu dan ikut aku ke parit.’ Aku bawa dan pergi bersamanya. Ketika sampai di parit, dia berkata kepadaku: ‘Berwudhulah dan shalat dua rakaat.’ Aku lakukan, lalu dia berkata: ‘Sebut nama Allah Ta’ala dan lempar jala.’ Aku sebut nama-Nya dan lempar, lalu tersangkut sesuatu yang berat. Aku mulai menariknya dan sulit bagiku. Aku berkata kepadanya: ‘Bantu aku karena aku takut jala putus.’ Dia datang dan tarik bersama-sama, lalu keluarlah ikan besar yang belum pernah kulihat sebesar, segemuk, dan sebaik itu. Dia berkata: ‘Ambil dan jual, lalu beli dengan harganya apa yang baik untuk keluargamu.’ Aku bawa, lalu seorang laki-laki menemuiku dan membelinya. Aku belikan untuk keluargaku apa yang mereka butuhkan. Setelah aku makan dan mereka makan, aku ingat syaikh, maka aku berkata akan memberinya hadiah. Aku ambil dua roti tipis ini dan letakkan manisan ini di antaranya, lalu aku datang kepadanya dan mengetuk pintu. Dia berkata: ‘Siapa?’ Aku jawab: ‘Abu Nasr!’ Dia berkata: ‘Buka dan letakkan apa yang bersamamu di serambi dan masuk.’ Aku masuk dan ceritakan apa yang kulakukan, dia berkata: ‘Alhamdulillahi atas itu.’ Aku berkata: ‘Aku siapkan sesuatu untuk rumah dan mereka sudah makan dan aku sudah makan, dan bersamaku dua roti tipis berisi manisan.’

Dia berkata: ‘Wahai Abu Nasr! Seandainya kita makan ini, ikan itu tidak akan keluar! Pergi dan makanlah bersama keluargamu.'”

Ahmad bin Miskin berkata: Aku sangat lapar sampai seandainya aku dapat sepotong roti, aku akan menganggapnya hidangan yang turun dari langit. Tetapi perkataan syaikh tentang ikan itu mengenyangkanku dengan maknanya, kenyang yang bukan dari dunia ini, seolah-olah aku merasakan darinya buah dari buah-buahan surga. Aku terus mengulanginya untuk diriku dan merenungkan apa yang dibuka syahwat pada manusia. Aku yakin bahwa bala hanya menimpa kami karena kami menafsirkan dunia sepanjang dan selebarnya dengan kata-kata yang terhitung. Jika telah menetap dalam jiwa kami satu lafaz dari lafaz-lafaz syahwat ini, menetaplah bersamanya dalam jiwa semua maknanya dari maksiat dan dosa. Setan-setan makna ini mulai mengitari hati kami, sehingga kami menjadi siap untuk setan-setan ini, bekerja untuknya, kemudian bekerja bersamanya. Mereka memasukkan kami ke pintu-pintu keburukan dalam hidup ini, menjerumuskan kami ke dalam bahaya demi bahaya, dan kebinasaan demi kebinasaan.

Setan-setan ini tidak lain seperti lalat, nyamuk, dan serangga, tidak mengitari kecuali pada bau yang menariknya. Jika tidak menemukan dalam jiwa apa yang dikumpulinya, mereka bercerai-berai dan tidak berkumpul. Jika satu persatu menimpa tidak akan menetap. Seandainya kita usir dari jiwa kami kata-kata yang merusak pandangan kami terhadap dunia sebagaimana diciptakan, niscaya dunia akan memiliki bentuk lain dalam jiwa kami yang lebih baik dan lebih indah dari bentuknya, dan kami akan memiliki amalan-amalan lain yang lebih baik dan lebih suci dari amalan kami.

Syaikh tidak memiliki dalam jiwanya makna untuk kata “kenikmatan”, dan dengan mengusir dari jiwanya lafaz tunggal ini, dia mengusir semua makna kejahatan, agamanya menjadi baik, dan jiwanya murni untuk kebaikan dan makna-makna kebaikan. Seandainya seorang laki-laki menempatkan dalam jiwanya seorang wanita yang dicintainya, seluruh dunia dalam jiwanya akan menjadi seperti kamar tidur, tidak ada di dalamnya kecuali wanita itu saja dengan sebab-sebabnya kepadanya dan sebab-sebabnya kepadanya.

Aku pernah mendengar dalam pelajaran syaikh kami Ahmad bin Hanbal hadits ini: “Seandainya setan-setan tidak mengitari hati Bani Adam, niscaya mereka melihat kerajaan langit.” Demi Allah, aku tidak memahami maknanya kecuali dari perkataan syaikh tentang ikan, dan nelayan awam ini mengajarkannya kepadaku. Setan-setan tertarik pada makna-makna, dan makna-makna diciptakan oleh lafaz yang menetap di hati sebagai tujuan, syahwat, atau keserakahan. Jika hati kosong dari makna-makna ini, maka aman dari perselisihannya dan kesibukannya, sehingga menjadi di atas mereka bukan di antara mereka. Ketika hati menjadi di atas syahwat-syahwat dan tidak menemukan dari lafaz-lafaznya apa yang membutakannya dan menghalangi pandangannya kepada hakikat-hakikat, terbukalkah hakikat-hakikat itu dan terbukalah kerajaan langit. Jika kemudian jatuh dalam salah satu kenikmatan walau “seperti dua roti tipis dan manisan”, hal-hal itu menguasainya dan menutupinya, kembali di antara atau di bawahnya, dan buta dengan kebutaan kenikmatan. Hijab pada penglihatan seolah-olah menggantungkan kebutaan pada penglihatan.

Aku tidak berhenti kagum pada kesabaran syaikh kami Ahmad bin Hanbal ketika dipukul di hadapan al-Mu’tasim dengan cambuk sampai pingsan, namun tidak berubah dari pendapatnya. Aku tahu sekarang dari perkataan ikan bahwa dia tidak menjadikan dari dirinya bagi pukulan makna pukulan, dan tidak mengetahui bagi kesabaran makna kesabaran manusiawi. Seandainya dia sabar dengan kesabaran manusia niscaya gelisah dan berubah, seandainya dipukul dengan pukulan manusia niscaya kesakitan dan berubah. Tetapi dia meletakkan dalam jiwanya makna ketetapan sunnah dan kelangsungan agama, dan bahwa dialah seluruh umat bukan Ahmad bin Hanbal. Seandainya dia berubah niscaya manusia berubah, seandainya dia bid’ah niscaya mereka bid’ah. Kesabarannya adalah kesabaran umat yang sempurna bukan kesabaran seorang individu. Dia dipukul dengan cambuk sedangkan jiwanya di atas makna pukulan. Seandainya mereka potong dengan gunting dan gergaji dengan gergaji, mereka tidak akan mendapat sesuatu darinya, karena tubuhnya hanyalah baju yang dipakainya, dan lelaki itu adalah pemikiran, tidak lain.

Mereka adalah kaum yang tidak melihat keutamaan mereka sebagai keutamaan, tetapi melihatnya sebagai amanah yang dipercayakan kepada mereka dari Allah agar makna-maknanya tetap bersama mereka di dunia ini. Mereka menanam di umat-umat tanaman dengan tangan Allah, dan tanaman tidak memiliki selain tabiatnya. Al-Mu’tasim ketika menginginkan syaikh kami pada selain pendapat dan akidahnya tidak lain seperti orang bodoh yang berkata kepada pohon apel: “Berbuahlah selain apel.”

Ahmad bin Miskin berkata: Aku mengambil dua roti tipis itu sambil berkata dalam hati: “Laknat Allah atas dunia ini! Sungguh dari hina dunia di sisi Allah bahwa manusia di dalamnya memakai wajahnya seperti memakai sandalnya. Seandainya seseorang memiliki pandangan malaikat lalu melihat makhluk dan memandang wajah-wajah mereka, niscaya dia melihat pada dan di sekitarnya kotoran seperti yang ada di sandal mereka atau lebih kotor atau lebih jelek. Mungkin dia tidak melihat wajah-wajah terindah yang membuat manusia terpesona, baik laki-laki maupun perempuan, kecuali seperti sepatu bekas.”

Tetapi aku merasakan bahwa dalam dua roti tipis ini ada rahasia syaikh, dan aku melihatnya di tanganku seperti dua dokumen kebaikan yang banyak. Aku berkata: “Dengan berkah Allah.” Aku pergi ke rumahku. Ketika dalam perjalanan, aku bertemu seorang wanita dengan anak. Dia melihat saputangan dan berkata: “Wahai tuanku, ini anak yatim yang lapar dan tidak sabar pada kelaparan, berilah dia makan sesuatu – semoga Allah merahmatimu.” Anak itu memandangku dengan pandangan yang tidak kulupa; kuanggap di dalamnya khusyuk seribu ahli ibadah yang menyembah Allah Ta’ala terputus dari dunia. Bahkan aku tidak mengira seribu ahli ibadah mampu melihat manusia satu pandangan seperti yang ada dalam mata anak yatim lapar yang meminta rahmat. Sungguh beratnya kepedulian membuat wajah anak-anak seperti wajah orang-orang suci, di mata yang melihatnya dari ayah dan ibu, karena ketidakmampuan anak-anak kecil ini pada kejahatan manusiawi dan terputus kecuali dari Allah dan hati manusiawi. Tampak wajah salah seorang mereka seolah berteriak dengan makna-maknanya berkata: “Ya Rabbku ya Rabbku!”

Ahmad bin Miskin berkata: Aku merasa seolah-olah surga turun ke bumi menawarkan dirinya kepada siapa yang mengenyangkan anak ini dan ibunya, sedangkan manusia buta tidak melihatnya. Seolah-olah mereka melewatinya di tempat ini seperti keledai melewati istana raja; jika ditanya mereka lebih memilih kandang tempat mereka berada daripada istana.

Aku ingat istriku dan anaknya yang lapar sejak kemarin, namun aku tidak menemukan untuk mereka di hatiku makna istri dan anak, tetapi makna wanita yang membutuhkan ini dan anaknya. Aku gugurkan mereka dari hatiku dan berikan apa yang di tanganku kepada wanita itu dan berkata kepadanya: “Ambil dan beri makan anakmu. Demi Allah, aku tidak memiliki perak dan emas, dan sungguh di rumahku ada yang lebih membutuhkan makanan ini. Seandainya tidak karena kebutuhanku ini niscaya aku dahulukan apa yang memperbaikimu.” Matanya berlinang, wajah anak itu bersinar, tetapi apa yang aku alami menutupi hatiku sehingga aku tidak menemukan bagi air mata makna air mata, dan bagi senyum makna senyum.

Aku berkata dalam hati: “Adapun aku, aku akan kosong jika tidak mendapat makanan. Abu Bakar ash-Shiddiq pernah kosong enam hari, Ibnu Umar pernah kosong, si fulan dan si fulan yang kami hapal nama-nama mereka dan riwayat berita-berita mereka. Tetapi siapa untuk wanita dan anaknya seperti tekad dan niatku? Dan bagaimana caraku dengan mereka berdua?”

Aku berjalan dalam keadaan patah dan menyempit, seolah-olah aku lupa perkataan syaikh: “Seandainya kita makan ini, ikan itu tidak akan keluar.” Aku ingat dan alihkan pikiranku kepadanya dan sibukkan diriku dengan merenungkannya. Aku berkata: “Seandainya aku mengenyangkan tiga orang dengan kelaparan dua orang, niscaya aku kehilangan lima keutamaan. Dunia ini membutuhkan keutamaan, keutamaan ini membutuhkan amalan seperti ini, amalan ini membutuhkan untuk menjadi begini, maka urusan tidak lurus kecuali sebagaimana yang kulakukan.” Matahari telah menyebar di langit pada waktu dhuha tinggi. Aku condong ke satu sisi dan duduk ke dinding memikirkan penjualan rumah dan siapa yang akan membelinya. Aku begitu ketika Abu Nasr as-Sayyad lewat seolah-olah terbang gembira. Dia berkata: “Wahai Abu Muhammad, apa yang mendudukkanmu di sini sedangkan di rumahmu ada kebaikan dan kekayaan?” Aku berkata: “Subhanallah! Dari mana ikan itu keluar wahai Abu Nasr?”

Dia berkata: “Aku dalam perjalanan ke rumahmu membawa kebutuhan pokok yang kuambil untuk keluargamu, dan dirham yang kupinjam untukmu, ketika seorang laki-laki bertanya kepada orang-orang tentang ayahmu atau salah seorang keluarganya, bersamanya barang-barang dan beban. Aku berkata kepadanya: ‘Aku akan menunjukkanmu.’ Aku berjalan bersamanya menanyakan berita dan urusannya dengan ayahmu. Dia berkata: ‘Dia pedagang dari Basrah, ayahmu pernah menitipkan kepadanya harta tiga puluh tahun lalu, lalu dia bangkrut dan harta itu hilang. Kemudian dia meninggalkan Basrah ke Khurasan, urusannya baik dalam perdagangan di sana, dan kaya setelah cobaan, kuat setelah kehinaan, datang untungnya dengan kekayaan dan kemakmuran. Dia kembali ke Basrah dan ingin menyelesaikan, maka dia datang kepadamu dengan harta dan di atasnya apa yang akan dia untungkan dalam tiga puluh tahun ini, selain barang-barang bagus dan hadiah.'”

Ahmad bin Miskin berkata: Aku kembali ke rumahku dan ternyata harta berlimpah dan keadaan indah! Aku berkata: “Benar syaikh: ‘Seandainya kita makan ini, ikan itu tidak akan keluar!’ Seandainya laki-laki ini tidak bertemu Abu Nasr di jalan ini, pada hari ini, pada jam ini, dia tidak akan menemukan jalanku. Ayahku adalah orang yang tidak dikenal siapa pun ketika hidup, bagaimana lagi setelah mati dua puluh tahun?”

Aku berjanji kepada Allah untuk menunjukkan syukurku atas nikmat ini. Tidak ada cita-citaku kecuali mencari wanita yang membutuhkan itu dan anaknya, maka aku cukupkan mereka dan berikan rezeki tetap. Kemudian aku berdagang dengan harta itu, dan kujadikan labanya untuk kebaikan, bantuan, dan ihsan sedangkan dia terus bertambah tidak berkurang, sampai aku menjadi kaya dan berakar.

Seolah-olah aku kagum pada diriku, senang bahwa aku telah mengisi catatan malaikat dengan kebaikanku, dan berharap telah ditulis di sisi Allah di antara orang-orang shalih. Suatu malam aku tidur dan bermimpi pada hari kiamat dengan makhluk bergelombang satu dengan lainnya, dan dahsyat adalah dahsyat alam semesta terbesar atas manusia yang lemah, ditanya tentang semua yang disentuhnya dari alam semesta ini. Aku mendengar yang berteriak berkata: “Wahai Bani Adam! Binatang-binatang bersujud syukur kepada Allah karena Dia tidak menjadikan mereka dari Adam.” Aku melihat manusia dan badan mereka telah luas sehingga mereka memikul dosa-dosa mereka di punggung mereka tercipta terwujud, sampai seolah-olah orang fasik di punggungnya ada kota yang semua isinya kehinaan!

Dan dikatakan: “Timbangan-timbangan telah dipasang.” Lalu aku dibawa untuk menimbang amal-amalku. Kejahatan-kejahatanku diletakkan di satu sisi timbangan, dan lembaran-lembaran kebaikanku dilemparkan ke sisi yang lain. Ternyata lembaran-lembaran itu melayang ringan, sementara kejahatan-kejahatan menjadi lebih berat, seolah-olah mereka menimbang gunung batu raksasa yang besar dengan sekumpulan kapas.

Kemudian mereka mulai melemparkan kebaikan demi kebaikan yang pernah kulakukan, namun ternyata di bawah setiap kebaikan terdapat nafsu tersembunyi dari hawa nafsu: seperti riya (pamer), kesombongan, cinta pujian dari manusia, dan lain-lain. Maka tidak ada yang selamat bagiku, dan alibi pembelaanku hilang, karena pembelaan adalah apa yang ditunjukkan oleh timbangan, sedangkan timbangan tidak menunjukkan apa-apa kecuali bahwa aku kosong.

Aku mendengar suara: “Apakah tidak tersisa sesuatu untuknya?” Lalu dijawab: “Tersisa ini.”

Aku melihat untuk mengetahui apa yang tersisa itu, ternyata dua keping (uang) yang telah kuberikan dengan baik kepada seorang wanita dan anaknya! Maka aku yakin bahwa aku akan binasa; karena aku pernah berbuat baik dengan seratus dinar dalam satu kali pemberian namun tidak bermanfaat bagiku, dan aku melihatnya di timbangan bersama yang lain seperti sesuatu yang tergantung, seperti awan ketika berada di antara langit dan bumi: tidak di yang satu dan tidak di yang lain.

Lalu kedua keping itu diletakkan, dan aku mendengar yang berkata: “Setengah dari pahala keduanya telah terbang ke timbangan Abu Nashr sang Penjala Ikan.” Maka aku sangat terpukul, sampai-sampai jika aku dipecah menjadi dua bagian, itu akan lebih ringan dan mudah bagiku.

Namun aku melihat bahwa sisi kebaikan telah turun sedikit dan agak condong.

Aku mendengar suara: “Apakah tidak tersisa sesuatu untuknya?” Lalu dijawab: “Tersisa ini.”

Aku melihat apa yang tersisa itu, ternyata kelaparan istriku dan anak-anakku pada hari itu! Dan itu adalah sesuatu yang diletakkan di timbangan, dan ia menurunkan satu sisi dan mengangkat sisi yang lain hingga keduanya seimbang. Timbangan tetap dalam keadaan itu sehingga aku berada di antara kebinasaan dan keselamatan.

Aku mendengar suara: “Apakah tidak tersisa sesuatu untuknya?” Lalu dijawab: “Tersisa ini.”

Aku melihat, ternyata air mata wanita miskin itu ketika ia menangis karena kebaikan yang berbekas di hatinya, dan karena aku mengutamakannya dan anaknya daripada keluargaku. Lalu air mata dari matanya diletakkan di timbangan dan mengalir deras, meluap seperti gelombang laut, dari bawah gelombang itu ada lautan; dan tiba-tiba seekor ikan besar keluar dari gelombang itu, aku merasa dalam hati bahwa itu adalah roh dari air mata tersebut. Ikan itu terus membesar dan terus membesar, dan sisi timbangan terus condong dan terus condong, hingga aku mendengar suara berkata: “Dia telah selamat!”

Aku berteriak keras hingga aku terbangun, dan aku berkata: “Seandainya kami memberi makan diri kami ini, ikan itu tidak akan keluar!”

 

 

Dua Orang Zahid:

Ahmad bin Miskin berkata: Cerita tentang ikan tersebar di kalangan penduduk Balkh dan menjadi terkenal di antara mereka. Aku menceritakannya kepada mereka pada hari Sabtu. Ketika Sabtu tiba pada minggu berikutnya, aku bertemu dengan sesepuh mereka, Hatim bin Yusuf “Luqman al-Ummah” bersama sahabatnya Abu Turab. Dia berkata: “Wahai Ahmad! Seolah-olah engkau di kota ini adalah bulan yang terbit di malam hari, tidak ada yang memberi nasihat kepada orang-orang pada hari Sabtu selain engkau; dan barangsiapa yang mendengar seolah-olah ia menyaksikan langsung. Tidak ada di lidah penduduk Balkh sejak engkau bercerita kecuali Bishr dan Ibnu Hanbal, dan tidak ada dalam pikiran siapa pun dari mereka kecuali nasihatmu dan ceritamu.

Pembicaraan tentang orang-orang saleh dalam hal yang engkau gambarkan dan ceritakan mendekatkan kepada hakikat mereka, dan meningkat kepada makna-makna mereka. Tidak ada dalam perkataan pintu yang memiliki pengaruh seperti pengaruh cerita tentang mereka yang diciptakan Allah dalam kemanusiaan seperti penciptaan cahaya: menerangi apa yang ada di sekelilingnya dari yang terlihat, dan bekerja pada apa yang ada di sekelilingnya dari yang tidak terlihat, dalam lahirnya ada keindahan dan manfaat, dan dalam batinnya ada kekuatan dan kehidupan. Aku tidak berkata kepadamu: Pergilah dan ceritakan kepada orang-orang, tetapi aku berkata: Pergilah dan berilah orang-orang akal dari cerita itu.”

Ibnu Miskin berkata: Setelah kami salat Asar, Abu Turab memajukanku, lalu aku duduk di tempat dudukku itu. Orang-orang berteriak menginginkan cerita tentang Bishr al-Hafi dan apa yang kudapat dari berita-beritanya, dengan cara yang telah kuceritakan kepada mereka sebelumnya. Maka aku memulai dengan menyebut kematiannya – semoga Allah merahmatiya – dan bahwa harinya seolah-olah berkumpul untuknya penduduk tujuh puluh lima tahun, ketika jenazahnya keluar setelah salat Subuh, dan ia tidak sampai ke kuburnya kecuali pada malam hari karena banyaknya makhluk yang berdesakan di jalannya, hingga seolah-olah dalam kerandanya ada rahasia dari rahasia surga yang ditunjukkan kematian kepada mereka sehingga mereka keluar untuk melihatnya. Mereka berteriak dalam jenazahnya: “Ini – demi Allah – kemuliaan dunia sebelum kemuliaan akhirat.”

Kemudian aku berkata: Husain al-Maghazili menceritakan kepadaku bahwa Bishr – semoga Allah merahmatiya – tidak makan kecuali roti karena wara’ (kehati-hatian) terhadap syubhat dan kecukupan untuk kebutuhan hidup dengan yang paling sedikit dan mudah. Dia berkata dalam hal itu: “Tangan yang lebih pendek dari tangan, dan suap yang lebih kecil dari suap.” Dia pernah ditanya: “Dengan apa engkau makan roti?” Dia menjawab: “Aku mengingat kesehatan lalu menjadikannya lauk.”

Hal ini dibantu oleh fakta bahwa dia tidak menikah, dan dia melihat ini sebagai kekurangan dalam dirinya hingga dia melebihkan Imam Ahmad bin Hanbal dengan beberapa hal, di antaranya bahwa Ahmad memiliki keluarga. Namun suatu hari dikatakan kepadanya: “Seandainya engkau menikah, kesalehanmu akan sempurna.” Dia berkata: “Aku takut istri akan menunaikan hakku tetapi aku tidak menunaikan haknya.” Maka niat ini dalam dirinya lebih utama daripada pernikahannya.

Dengan semua itu, dia tidak mau makan bersama siapa pun, dan tidak berusaha menemui siapa pun, hingga ketika dia ingin bersaudara dengan zahid besar Ma’ruf al-Karkhi, dia mengirim kepadanya al-Aswad bin Salim yang merupakan teman keduanya. Al-Aswad berkata kepada Ma’ruf: “Sesungguhnya Bishr bin al-Harith ingin bersaudara denganmu dan dia malu untuk menyampaikannya langsung kepadamu. Dia mengutus aku kepadamu meminta agar engkau mengikat persaudaraan antara dia dan engkau yang dia perhitungkan dan andalkan; kecuali dia mensyaratkan syarat-syarat: pertama, dia tidak suka hal itu terkenal, kedua, tidak ada saling mengunjungi dan bertemu di antara kalian.”

Ma’ruf berkata: “Adapun aku, jika aku mencintai seseorang, aku tidak suka berpisah darinya siang dan malam, aku mengunjunginya setiap saat, dan mengutamakannya daripada diriku dalam setiap keadaan. Aku akan mengikat persaudaraan untuk Bishr antara aku dan dia, tetapi aku akan mengunjunginya kapan saja aku mau, dan menyuruhnya menemuiku di tempat-tempat kita bertemu jika dia tidak suka kunjunganku.”

Husain al-Maghazili berkata: Semua hal tentang Bishr ini dikenal di Baghdad, tidak ada seorang pun dari penduduknya yang tidak mengetahuinya, karena Baghdad tidak memiliki imam selain dia dan Ibnu Hanbal. Betapa besar keherananku ketika aku bersamanya suatu hari dan Fath al-Maushili datang mengunjunginya. Bishr berdiri dan datang dengan dirham segenggam penuh, memberikannya kepadaku dan berkata: “Belilah untuk kami makanan yang paling enak yang engkau temukan, manisan yang paling enak yang engkau temukan, dan wewangian yang paling enak yang engkau temukan.” Dia tidak pernah berkata seperti itu kepadaku, padahal dialah yang melihat buah-buahan suatu hari lalu berkata: “Meninggalkan ini adalah ibadah!” Dan dialah yang berkata kepada Abu Nashr sang Penjala Ikan: “Seandainya kami memberi makan diri kami ini, ikan itu tidak akan keluar.”

Maka aku pergi membeli, memilih dan memilah, lalu meletakkan makanan di hadapan keduanya. Aku melihatnya makan bersamanya padahal aku tidak pernah melihatnya makan dengan orang lain, dan aku melihatnya bersikap ramah kepadanya padahal aku tidak pernah tahu dia bersikap ramah kepada siapa pun. Pada hari itu aku telah memberitahunya berita Ahmad bin Hanbal yang kutahu dari Idris al-Haddad: bahwa ketika fitnah berlalu setelah dia dipukul di hadapan al-Mu’tashim dan dikembalikan ke rumahnya, banyak harta dibawa kepadanya dari orang-orang kaya Baghdad dan ahli kebaikan di dalamnya. Dia menolak semua itu dan tidak menerima sedikit pun, padahal dia membutuhkan yang paling mudah darinya, dan yang paling sedikit dari yang paling mudah itu, dan sesuatu dari yang paling sedikit itu.

Pamannya Ishaq mulai menghitung apa yang datang hari itu, ternyata lima puluh ribu dinar. Imam berkata kepadanya: “Wahai paman, aku melihatmu sibuk menghitung apa yang tidak bermanfaat bagimu.” Ishaq berkata: “Engkau telah menolak hari ini sekian dan sekian ribu padahal engkau membutuhkan sebiji dari daniq.” Imam berkata: “Wahai paman, seandainya kami memintanya, ia tidak akan datang kepada kami, dan sesungguhnya ia datang kepada kami karena kami meninggalkannya.”

Al-Maghazili berkata: Aku tidur malam itu sambil memikirkan perbuatan syekh, dan pikiranku terpaku padanya: bagaimana keadaan berubah dengannya, dan apa keadaan ini? Aku terus memaksakan pikiranku untuk mengetahui hakikat akal yang menguasainya sehingga kenikmatan menguasai jiwanya. Aku tahu bahwa kaum ini memiliki ilmu-ilmu rohani yang tidak ada dalam kitab-kitab, di antaranya ada yang tidak mereka pelajari kecuali dari kemiskinan, di antaranya ada yang tidak mereka pelajari kecuali dari cobaan, dan seterusnya; tetapi tidak ada di antaranya yang mereka pelajari dari kelezatan dan syahwat.

Hatiku pergi ke banyak khayalan yang semuanya tidak ada gunanya dan tidak ada pengetahuan di dalamnya, hingga mataku mengalahkanku, dan aku dari panasnya pikiran tidur seperti orang sakit, kepalaku berat dan bercampur di dalamnya antara yang masuk akal dengan yang tidak masuk akal.

Aku melihat pertama kali seorang raja yang berkuasa atas kota besar, dia telah melepas penyeru untuk mengumpulkan semua anak-anak kotanya. Mereka dibawa dari setiap rumah, lalu aku melihatnya duduk di singgasananya dengan gunting besar di tangannya yang dibuat seperti dua mata pisau lebar, seandainya leher diletakkan di antara keduanya niscaya terpisah dari tubuhnya. Raja lalim ini mengambil anak dari mereka dan meletakkan jari-jari salah satu kakinya di sela-sela gunting lalu memotongnya, maka jari-jari itu berhamburan lebih cepat daripada gunting memotong benang, lalu dia melempar anak itu dalam keadaan pingsan, dan mengambil yang lain lalu memotong jari-jarinya. Anak-anak berteriak, dan aku melihat semua itu tetapi tidak bisa berbuat apa-apa kecuali marah kepada raja lalim ini tanpa bisa melaksanakan kemarahan itu dengan memotong lehernya dengan guntingnya.

Kemudian aku melihatnya mengambil anak kecil, ketika kaki anak itu berada di antara sela-sela gunting, dia berteriak: “Ya Rabbi, Ya Rabbi,” maka gunting itu melengkung dan tidak bisa berbuat apa-apa, seolah-olah di dalamnya ada batu keras bukan kaki yang lunak. Raja lalim itu marah dan berkata: “Siapa anak ini?” Aku mendengar suara berteriak: “Ini Bishr al-Hafi! Mahkota raja di bumi tidak pantas menjadi sandal bagi kakinya yang telanjang di sisi Allah!”

Di sebelah kananku ada seorang laki-laki yang wajahnya berwudhu dengan kesalehan dan takwa. Aku bertanya kepadanya: “Siapa tiran ini? Dan mengapa dia mengambil gunting khusus untuk kaki anak-anak?”

Dia berkata: “Wahai Husain! Sesungguhnya raja lalim ini adalah kehinaan hidup, dan ini adalah cap-nya untuk penduduk kehidupan di bumi, dia mewujudkan dengan itu dalam manusia makna binatang ketika pertama kali merangkak di bumi, hingga seolah-olah dia berkuku bukan berkaki.”

Aku berkata: “Lalu bagaimana dengan anak ini yang gunting tidak bekerja padanya?”

Dia berkata: “Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang Dia khususkan untuk-Nya, tanda pertama-Nya pada mereka adalah kehinaan berada di bawah kaki mereka, dan mereka datang dalam kehidupan ini untuk membuktikan kemampuan manusia menguasai tabiat syahwat yang merupakan tabiat kehinaan itu sendiri. Jika salah seorang dari mereka membuang syahwat dan zuhud darinya, dan istiqamah dalam hal itu dengan ikatan niat dan kekuatan kehendak, maka itu bukan zahid sebagaimana orang-orang menggambarkannya, tetapi dia adalah orang kuat yang dipilih oleh kekuasaan untuk membawa senjata jiwa dalam pertempuran-pertempurannya yang dahsyat, sebagaimana pahlawan pemberani membawa senjata tubuh dalam pertempuran-pertempurannya yang berdarah: yang satu mempelajari seni darinya, dan yang lain mempelajari seni lainnya, dan keduanya dilempar kepada kematian untuk mewujudkan jenis kehidupan yang mulia. Keutamaan pertamanya adalah merasakan kekuatan, dan keutamaan terakhirnya adalah mewujudkan kekuatan.”

Al-Maghazili berkata: Tidur menerpaku lagi, maka aku berada di tanah buruk yang berasap, telah naik darinya asap tebal hitam yang saling bertabrakan, dan aku melihat nyala merah yang pergi dan datang seolah-olah tubuh-tubuh hidup. Terlintas dalam khayalku bahwa mereka adalah setan-setan: Iblis dan tentaranya. Aku mendengar seorang berteriak: “Kabar gembira! Biarlah langit menangisi bumi, karena Bishr al-Hafi telah makan dari makanan paling enak dan manisan paling enak setelah sama baginya batu dan tanahnya, emas dan peraknya!”

Seorang penyeru menjawabnya yang suaranya kudengar tetapi orangnya tidak kulihat: “Celakalah engkau wahai Zalanbur! Sesungguhnya ini adalah keburukan bagi kami daripada umumnya kesalehan dan ibadahnya; ini – celaka engkau – adalah zuhud tertinggi yang tidak mampu dilakukan manusia; itu adalah penyiksaan yang dia kuasakan atas dirinya. Sesungguhnya aku telah mendorong ‘al-Maghazili’ yang buta hati ini untuk menghiasi baginya apa yang dilakukan Ahmad bin Hanbal dengan menolak lima puluh ribu dinar atas kebutuhannya, karena zuhud, wara’, kekuatan tekad, dan pelaksanaan kehendak.

Aku berkata: ‘Mudah-mudahan bergerak dalam jiwanya syahwat zuhud sehingga dia iri atau cemburu, atau dirinya membuatnya kagum sehingga ada bagiku sentuhan pada hatinya untuk aku bisikkan kepadanya. Sesungguhnya kami mendatangi mereka dari pintu-pintu pahala sebagaimana kami mendatangi selain mereka dari pintu-pintu maksiat, dan kami ber-wara’ bersama ahli wara’ sebagaimana kami bersikap bodoh bersama ahli kebodohan.

Tetapi lelaki itu adalah lelaki dan di dalamnya ada hakikat zahid, dia telah diberi kekuatan untuk menjadikan syahwat-syahwat jiwanya pribadi-pribadi hidup yang dia musuhi dan perangi. Jika aku jadikan syahwatnya pada kelezatan, dia bunuh kelezatan, dan jika aku jadikan pada kesedihan, dia bunuh kesedihan. Bukanlah zahid abid itu orang yang berqanaah, bertetapan pada yang sedikit, bertelanjang kaki, dan berselimut, karena sering kali ini adalah sifat-sifat kehinaan dan kebodohan, dan memiliki perbuatan ibadah tetapi mengandung dosa maksiat.

Tetapi zahid yang benar-benar zahid adalah yang menjalankan dalam hal-hal ini mata yang telah belajar melihat dengan haknya dan memejamkan dengan haknya; maka dia tidak salah memahami makna keburukan jika kami pakaikan kepadanya dalam bentuk kebaikan, dan tidak makna kebaikan jika kami palsu dalam bentuk keburukan. Dengan demikian dia menempatkan dirinya di mana dia kehendaki dari kedudukan, bukan di mana dunia kehendaki menempatkannya dari kedudukan-kedudukan hinanya.

Bishr tidak makan makanan enak ini kecuali untuk mendahului bisikanku dan mengembalikanku dari diriku dan dari sentuhan pada hatinya. Seandainya dia kagum dengan zuhud Ibnu Hanbal dan melihat dari itu kepada zuhud dirinya niscaya pahala akan sia-sia; maka dengan makanan enak ini dia mengobati jiwanya seperti pengobatan orang sakit, dan dia telah mengganti pada perutnya makanan dengan makanan, sebagaimana dia mengganti pada kulitnya baju dengan baju; dan tidak ada syahwat bagi kulit pada salah satunya.”

Al-Maghazili berkata: Tidur semakin berat bagiku, maka aku melihat diriku di lembah besar, dan di tengahnya seperti gunung dari batu-batu yang ditumpuk satu di atas yang lain. Aku melihat diriku bersama Bishr menceritakan kepadanya berita Ahmad bin Hanbal. Dia berkata: “Lihatlah – celaka engkau – sesungguhnya orang-orang menyebutnya lima puluh ribu dinar, dan di sini di lembah hakikat adalah lima puluh ribu batu yang seandainya mengenai Ahmad niscaya membunuhnya dan menjadi kuburnya sampai akhir zaman.

Sesungguhnya harta wahai anakku adalah apa yang dikerjakan harta bukan hakikatnya dari emas dan perak. Jika engkau berada di padang pasir yang tidak ada orang yang menjual sesuatu kepadamu dengan emasmu, maka tanah dan emas di sana sama saja. Keutamaan-keutamaan adalah emas akhirat; maka di sini engkau memperbaharui dengan harta duniamu yang tidak kekal lebih dari kekalanmu, dan di sana engkau memperbaharui dengan keutamaan jiwamu yang kekal dengan kekekalan-nya.

Makna kekayaan adalah makna yang membingungkan akal-akal manusia karena berkumpulnya syahwat-syahwat di dalamnya. Ketika Ahmad bin Hanbal menolak lima puluh ribu, makna ini telah memperbaiki dirinya dalam perbuatan ini dengan satu sisi perbaikan.”

Husain al-Maghazili berkata: Tidur menutupi aku di kedalamannya dengan tutupan lain; maka aku berada di masjid dalam pelajaran Imam Ahmad, dan dia menceritakan hadis Nabi صلى الله عليه وسلم: “Apabila umatku mengagungkan dinar dan dirham, dicabut dari mereka kehormatan Islam, dan apabila mereka meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar, mereka diharamkan dari berkah wahyu.” Dia hendak berbicara dalam tafsirannya tetapi dia melihatku lalu diam dan menghadap kepadaku berkata: “Wahai Husain! Apabila syekhmu mencukupkan diri dengan roti maka ini menurutnya adalah kadar darurat; jika dia makan makanan enak maka telah muncul keadaan yang menjadikan makanan enak ini menurutnya adalah kadar darurat. Dalam jiwa-jiwa langit ini tidak ada bagian bumi kecuali terbatas, maka hasilnya tidak lain adalah apa yang engkau lihat dari kadar darurat.

Ketika bagian bumi mengecil dalam jiwa-jiwa Muslim pertama, mereka menguasai seluruh bumi dengan kekuatan bagian langit di dalamnya, karena kehendak mereka di atas ketamakan dan syahwat, dan dengan demikian tidak hina, tidak lemah, dan tidak patah. Seluruh kemanusiaan berakhir pada beberapa bentuk, dan mereka inilah yang tempatnya di paling tingginya.

Wahai Husain! Ketahuilah bahwa menolak lima puluh ribu dinar juga demikian adalah kadar darurat.”

Husain berkata: Aku hendak keberatan kepada Imam dengan apa yang ada dalam jiwaku bahwa harta ini walaupun bukan dari usahanya, namun ia akan berubah di tangannya menjadi perbuatan dari perbuatan-perbuatan kebaikan. Aku lupa bahwa sedekah-sedekah ini adalah kotoran manusia dan najis jiwa-jiwa mereka. Aku hampir tidak membuka mulutku hingga aku melihat perkataan berubah menjadi tanah liat di mulutku untuk mengingatkanku pada makna ini; aku hampir tersedak lalu tersentak untuk bernapas, maka tidurlah dan mimpi itu sirna.

 

 

Iblis Mengetahui “3”

Ahmad bin Miskin berkata: Dan berputarlah Sabtu ketiga, aku duduk di tempat dudukku untuk orang-orang dan lingkaran mereka telah teratur; lalu berdirilah seorang laki-laki dari tengah-tengah majelis dan berkata: Sesungguhnya Al-Hasan bin Syuja’ Al-Balkhi, murid Imam Ahmad bin Hanbal, baru-baru ini menceritakan kepada kami hadits-hadits tentang setan. Yang kami hafal dari perkataannya shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya orang mukmin membuat setannya kurus kering sebagaimana salah seorang dari kalian membuat untanya kurus dalam perjalanannya.” Dan Al-Hasan berkata dalam takwilnya: Sesungguhnya setan orang kafir gemuk berlemak berpakaian, sedangkan setan orang mukmin kurus kusut berdebu telanjang. Apakah setan makan, berminyak dan berpakaian sehingga ia bisa lapar bersama orang mukmin, telanjang, kusut dan berdebu?

Ibn Miskin berkata: Maka aku berkata dalam hatiku: Laa haula wa laa quwwata illa billah! Aku tidak melihat si penanya ini kecuali sebagai setan dari si penanya ini; karena sesungguhnya Iblis jika ingin mengejek seorang alim dan mendengarkan ejekan dan olok-oloknya, ia menggerakkan orang yang bertanya kepadanya tentang apa dan bagaimana dirinya; seakan-akan ia berkata kepadanya: Sadarlah -celakalah kamu- terhadap maknaku, karena kamu berbicara dan aku bekerja, kamu hanyalah bayangan dari penolakan terhadapku, tetapi aku adalah hakikat dari penolakan terhadapmu, dan kamu dalam perangmu melawanku dengan nasihat tidak ubahnya seperti orang yang ingin memenggal leher musuhnya dengan seratus nama yang dibuat untuk pedang.

Ia berkata: Dan aku telah mendengar berita menakjubkan tentang Abu Amir Qabisha bin Uqbah Al-Kufi, ahli hadits hafizh yang terpercaya, salah seorang guru Ahmad bin Hanbal; dan ia adalah orang shalih ahli ibadah yang dipanggil: “Rahib Kufah”; dan dari zuhud, ibadah dan penahanan dirinya di dalam batinnya seakan-akan tubuhnya adalah dinding antara jiwanya dengan dunia. Maka aku berkata -demi Allah- aku akan membuat setan marah dengan berita ini, karena sesungguhnya nama-nama para zahid, ahli ibadah dan orang-orang shalih dalam sejarah setan-setan bagaikan nama-nama medan perang tempat tentara-tentara kalah, dan tidaklah orang ahli ibadah itu kecuali pemilik pertempuran-pertempuran dengan setan, dan seakan-akan ia menanggung kesulitan-kesulitan atas nama umat yang lengkap bahkan atas nama seluruh umat manusia di mana pun mereka berada di bumi. Maka orang-orang mengira ia telah meninggalkan dunia dan mereka menyangka meninggalkan adalah perkara yang paling mudah, padahal mereka tidak tahu bahwa zuhud tidak akan lurus bagi orang zahid hingga ia menjadikan tubuhnya seakan-akan ia adalah jenis sistem lain selain sistem anggota-anggotanya; dan tidak ada yang lebih sulit dari makna-makna yang menurut orang-orang adalah selemah-lemahnya kelemahan; seandainya seorang raja besar lelah dalam mengumpulkan dunia dan menaklukkan kerajaan-kerajaan hingga sisi-sisi bumi dikuasai untuknya, niscaya pengetahuannya ini adalah sisi lain dari kelelahan orang zahid dalam mujahidah dunia ini dan meninggalkannya.

Ahmad bin Miskin berkata: Dan aku ceritakan kepada mereka kisah tersebut, aku berkata: Abu Amir Qabisha bin Uqbah adalah orang yang banyak berpikir tentang setan, ia ingin melihatnya dan berdiskusi dengannya; dan ia merenung hadits-hadits yang sahih tentangnya, dan ia menafsirkan makna setan bahwa ia adalah ruh yang hidup untuk kesalahan di bumi; dan kesalahan itu adalah kebenaran yang dialihkan dari jalannya dan arahnya, dan karena itulah Iblis pada asalnya adalah malaikat dari para malaikat dan berubah dari tabiatnya ketika Adam ‘alaihissalam diciptakan, yakni terdapat di alam semesta ruh kesalahan ketika terdapat di dalamnya ruh yang akan berbuat salah.

Maka ketika Adam turun dari surga dan ia serta istrinya dan keturunannya diharamkan darinya, adalah Iblis la’natullahi ‘alaih yang bermakna kekal dan berlangsungnya larangan ini sepanjang masa, seakan-akan kemanusiaan ini dikeluarkan dari surga, dan dikeluarkan bersamanya kekuatan yang senantiasa menghalanginya darinya, agar keduanya bergolak dalam perjuangan lama dari waktu yang adalah umur setiap manusia, dan inilah keadilan Ilahi: Adam tidak mengenal hak surga, maka ia dihukum agar tidak mengambilnya kecuali dengan haknya, dan agar ia berperang di jalan kebaikan melawan kekuatan kejahatan.

Dan Abu Amir bermalam pada suatu malam memikirkan hal ini dan semisalnya setelah selesai dari shalat dan bacaannya, kemudian ia mengantuk dan berada antara terjaga dan tidur, yaitu ketika mata tertidur sedangkan akal masih terjaga, seakan-akan mata mundur melihat dari balik kelopaknya dengan penglihatan yang akal ikut serta di dalamnya.

Maka syaikh kami Abu Amir melihat wujud Iblis yang datang kepadanya dengan pakaian seorang zahid, bagus penampilannya wangi baunya, bersih keadaannya, dan hampir menyerupainya jika bukan karena ia mengenalinya dari matanya, karena sesungguhnya mata si pendusta berkata jujur tentang dirinya, dan Allah telah mengetahui bahwa si pendusta adalah manusia yang gersang seperti tempat sesat di bumi, maka Dia menjadikan matanya seperti tanda-tanda bagi orang yang menjelajahi padang pasir. Dan setan tampak sebagai zahid ahli ibadah yang takwa bersih seakan-akan ia adalah agama yang benar yang menciptakan manusia. Maka Abu Amir berteriak kepadanya: Laknat Allah untukmu! Apakah kemaksiatan dalam baju ketaatan?

Iblis berkata: Wahai Abu Amir! Seandainya kemaksiatan tidak berkata: “Aku adalah ketaatan,” niscaya tidak ada seorang pun yang melakukannya. Dan apakah syahwat-syahwat diciptakan dalam jiwa dan naluri manusia kecuali untuk mendekatkan kemaksiatan-kemaksiatan ini kepada jiwa, dan menjadikan setiap kemaksiatan sebagai ketaatan kepada sesuatu; maka kemaksiatan terjadi karena ia adalah ketaatan bukan karena ia adalah kemaksiatan? Tidakkah kamu lihat wahai Abu Amir bahwa tipu daya itu lebih rapi di dalam tubuh daripada di luarnya, dan bahwa seandainya batin ini tidak dengan makna ini dan kerja ini, niscaya tidak akan ada makna dan kerja bagi zhahir seluruh wujud pada manusia?

Syaikh berkata: Laknat Allah untukmu! Maka aku tidak melihat kematian diciptakan kecuali sebagai jawaban untukmu, agar manusia mengetahui bahwa kamu yang penuh-penuh, tetapi kamu yang kosong-kosong; bahkan semua syahwatmu adalah ejekan untukmu dan jawaban untukmu, maka tidak ada rasa pada kenikmatan dari kenikmatan-kenikmatan-mu kecuali ia mati, dan sesungguhnya kesempurnaan wujudnya adalah saat yang berlalu; dan kapan kenikmatan berkata: “Aku telah selesai,” maka ia telah menggambarkan dirinya dengan gambaran yang paling jelas.

Iblis berkata: Wahai Abu Amir, tetapi kenikmatan tidak mati hingga ia melahirkan apa yang membuatnya tetap hidup, maka ia melahirkan kerinduan kepadanya, dan kerinduan itu tidak tenang hingga kembali menjadi kenikmatan yang berlalu dan melahirkan.

Syaikh berkata: Makna-makna tanah, makna-makna tanah; setiap tumbuhan di dalamnya ada bijinya, tetapi laknat Allah untukmu mengapa kamu datang kepadaku dalam wujud ini?

Iblis berkata: Karena aku tidak memakai kecuali kecintaan hati manusia, dan seandainya tidak demikian niscaya semua hati mengusirku dan pekerjaanku pada mereka batal, dan tidaklah pekerjaanku kecuali menyamarkan dan memalsukan; tahukah kamu wahai Abu Amir bahwa aku tidak pernah mengganggu hewan.

Syaikh berkata: Karena hewan tidak melihat sesuatu kecuali dengan satu pandangan, yaitu pandangan dan pemahamannya sekaligus, maka tidak ada tempat untuk pemalsuan dengan pandangan satu ini; dan benar Allah Yang Maha Agung: “Maukah kamu Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada setiap pendusta yang banyak berbuat dosa.” (Asy-Syu’ara: 221-222). Maka kamu wahai setan adalah pemalsuan, dan pemalsuan tempatnya adalah dusta; maka barangsiapa tidak berdusta dalam pikiran, pandangan, pemahaman, dan harapan, maka tidak ada kerja bagimu pada dirinya.

Iblis berkata: Wahai Abu Amir! Dan apakah kamu melihat -semoga Allah merahmatimu- yang lebih menakjubkan, aneh, dan mengundang tertawa dan ejekan daripada orang-orang berakal yang paling besar, para zahid ahli ibadah, ia dalam keseluruhan maknanya adalah hewan yang tidak memiliki kecuali satu pandangan dalam segala sesuatu?

Syaikh berkata: Laknat untukmu dan untukmu…! Sesungguhnya hewan adalah satu hal, maka ia adalah tabiat yang ditundukkan dengan sistemnya, tetapi manusia adalah hal-hal yang bertentangan dengan tabiatnya, maka ketuhanannya adalah menetapkan sistem di antara hal-hal yang bertentangan ini, seakan-akan ia diuji lalu diberi dari tubuhnya alam semesta yang di dalamnya unsur-unsur kegoncangan, dan di sekelilingnya unsur-unsur kegoncangan, kemudian dikatakan kepadanya: aturlah.

Maka Iblis tertawa. Syaikh berkata: Mengapa kamu tertawa, laknat Allah untukmu?

Ia berkata: Aku tertawa karena kamu telah mengajarkan kepadaku hakikat ke-Iblis-an, maka para zahid adalah orang-orang yang layak untuk menjadi setan-setan yang paling besar.

Syaikh berkata: Laknat Allah untukmu, maka apakah hakikat yang kamu klaim itu?

Iblis berkata: Demi Allah wahai Abu Amir, tidaklah seseorang berlebihan dalam mengklaim ketakwaan dan keutamaan kecuali inilah ke-Iblis-an; dan aku akan mengajarkan kepadamu wahai Abu Amir hakikat zuhud dan ibadah. Maka jangan kamu katakan: bahwa itu adalah ketuhanan yang menetapkan sistem di antara hal-hal yang bertentangan pada manusia dan hal-hal yang bertentangan pada alam.

Syaikh berkata: Dan kamu mengejekku laknat Allah untukmu? Sejak kapan kamu mengetahui hakikat dan keutamaan?

Iblis berkata: Bukankah aku adalah syaikh para malaikat? Maka siapa yang lebih berhak dari syaikh para malaikat untuk menjadi alim dan pengajar mereka?

Ia berkata: Laknat Allah untukmu; maka apakah hakikat zuhud dan ibadah?

Iblis berkata: Hakikatnya wahai Abu Amir, adalah yang telah membuatku lemah pada Nabi kalian.

Syaikh berkata: Shallallahu ‘alaihi wasallam; maka apakah itu?

Iblis berkata: Ia adalah tiga hal yang dengannya sistem jiwa, sistem alam, dan sistem kenikmatan serta syahwat; bahwa kamu memiliki takwa, kemudian kamu memiliki pikiran dari takwa ini, kemudian kamu memiliki pandangan kepada alam dari pikiran ini. Tidaklah ketiga hal ini berkumpul pada seseorang kecuali ia mengalahkan dunia dan mengalahkan Iblis.

Jika takwa saja -seperti takwa kebanyakan zahid dan rahib- maka sangat mudah bagiku menjadikan pandangan darinya sebagai pandangan kelalaian, pengecut, kebodohan dan keutamaan-keutamaan palsu. Dan jika pikiran saja -seperti pikiran para ulama dan penyair- maka sangat ringan bagiku menjadikan pandangan dengannya sebagai pandangan penyimpangan, kekafiran, kebinatangan dan keburukan-keburukan yang terang-terangan.

Syaikh berkata: Benar Allah Yang Maha Agung: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka mengingat Allah, maka ketika itu juga mereka melihat dengan terang.” (Al-A’raf: 201).

Iblis berkata: Wahai Abu Amir! Demi Allah tidak merugikanku bahwa aku menafsirkan untukmu, karena sesungguhnya sebotol pewarna tidak mewarnai laut, dan aku menghitung para zahid dan ulama yang memperbaiki lalu aku letakkan di antara manusia di samping setiap seorang dari mereka seratus ribu wanita yang terpesona, dan seratus ribu laki-laki fasik, dan seratus ribu makhluk yang zalim, maka seandainya kamu mewarnai laut dengan sepenuh botol merah niscaya kamu tidak mewarnai laut kemanusiaan dengan zahid dan yang memperbaiki, selama yang memperbaiki adalah sesuatu selain pedang, dan selama zahid adalah sesuatu selain penguasa.

Syaikh berkata: Laknat Allah untukmu wahai setan yang keras, maka jika kamu letakkan yang memperbaiki di antara seratus ribu yang rusak, bukankah ini kecuali cara setan untuk merusaknya?

Iblis berkata: Dan seratus ribu wanita yang mempesona terpesona wahai Abu Amir, setiap satu menghitung tubuhnya…

Maka syaikh berteriak: Pergilah dariku, laknat Allah untukmu!

Iblis berkata: Tetapi ayat, ayat wahai Abu Amir. Sungguh aku telah bertemu Al-Masih dan mencobanya dan ia adalah penafsirannya.

Syaikh berkata: ‘Alaihissalam! Dan untukmu laknat Allah! Maka bagaimana ia berkata? Dan bagaimana ia berbuat?

Iblis berkata: Aku lemparkan ia dalam keadaan lapar di padang pasir tidak menemukan apa yang dimakan, dan tidak menyangka bahwa ia akan menemukan, dan tidak berharap untuk menyangka; kemudian aku katakan kepadanya: Jika kamu adalah ruh Allah dan kalimat-Nya sebagaimana kamu klaim maka perintahkanlah batu ini berubah menjadi roti. Maka ia bertakwa, lalu mengingat maka ia melihat dengan terang, lalu berkata: Bukan dengan roti saja manusia hidup. Maka yang seperti ini seandainya mati kelaparan tidak akan berubah, karena kematian adalah penyempurnaan hakikatnya yang luhur di atas dunia ini, dan seandainya dunia dipenuhi roti untuknya sedang ia lapar tidak akan berubah; karena ia memiliki pandangan dari atas roti kepada hakikatnya yang langit; bukan dengan roti saja ia hidup; tetapi dengan makna-makna lain yang adalah kenyang hakikatnya yang langit yang tidak memiliki syahwat.

Kemudian aku naikan ia ke puncak gunung dan aku tunjukkan kepadanya kerajaan-kerajaan timur dan barat, aku singkap semuanya untuk matanya dan aku katakan kepadanya: Ini semua untukmu jika kamu sujud kepadaku. Maka ia bertakwa, lalu mengingat maka ia melihat dengan terang: ia melihat hakikat khayalan yang aku wujudkan untuknya, dan mengetahui bahwa setan memberikan seperti makna kerajaan-kerajaan ini dalam seteguk khamar, sebagaimana ia memberikannya dalam satu saat kenikmatan, sebagaimana ia memberikannya dalam penyembuhan kemarahan dengan pembunuhan dan menyakiti; kemudian tidak tersisa dari semua itu yang kekal selain dosa, dan tidak benar darinya yang benar kecuali yang haram. Dan barangsiapa memiliki dunia itu sendiri tidak akan kekal untuknya jika ia kekal maka ia adalah khayalan dalam seteguk kehidupan, sebagaimana ia adalah khayalan dalam seteguk khamar.

Wahai Abu Amir; sesungguhnya pandangan ini, yang di belakangnya ingatan, yang di belakangnya takwa, yang di belakangnya Allah, inilah satu-satunya kekuatan yang mengambil syahwat-syahwat dunia lalu menyaringnya empat kali hingga mengembalikannya kepada hakikat-hakikat tanah kecilnya yang akhirnya adalah kubur, dan akhir wujudnya adalah kehancuran.

Maka pandangan yang menyingkap yang melucuti hal-hal dari sihir khayalannya, inilah seluruh rahasia.

Syaikh berkata: Laknat Allah untukmu; maka bagaimana dengan ini kamu mempesona orang mukmin?

Iblis berkata: Wahai Abu Amir, ini adalah pertanyaan setan, kamu ingin -celakalah kamu- bertipu kepada setan? Tetapi tidak merugikanku bahwa aku menafsirkannya untukmu.

Iman bukanlah keyakinan dan bukan pula amal, seandainya dari keduanya niscaya tidak sulit bagi siapa pun dan baiklah dunia dan penghuninya; sesungguhnya iman adalah kedudukan keyakinan tersembunyi yang bersama naluri di tempatnya, dan layak berada di tempatnya agar darinya keluar amal-amal naluri, dan keyakinan ini tidak layak demikian kecuali jika ia adalah keyakinan yang tetap dengan apa yang lebih besar dari dunia, maka manusia kembali kepadanya lalu mengingat lalu melihat. Di sana warisan dari akhirat bagi orang mukmin, maka keyakinan pada warisan ini adalah rahasia iman.

Dan kerja setan tidak terjadi kecuali dalam merusak keyakinan ini dan melawan khayalan besar yang ada di dalamnya dengan hakikat-hakikat kecil yang tampak bagi orang yang lengah sebagai besar, sebagaimana api menyala lebih besar dari matahari kemudian dikatakan kepada si bodoh: Lihatlah dengan matamu, maka ia membenarkan bahwa api itu lebih besar dari matahari.

Dan kapan keyakinan ini mengecil dan hakikat-hakikat duniawi lebih besar dari jiwa; maka sebab kehidupan yang paling mudah saat itu merusak keyakinan dan menjatuhkan keutamaan; dan dengan satu dirham akan ditemukan pencuri saat itu.

Adapun jika keyakinan tetap maka setan bersama manusia mengecil kemudian mengecil, dan lemah kemudian lemah.

Hingga ia kembali seperti dirham ketika orang yang tamak ingin menjadikan orang kaya yang banyak harta sebagai pencuri dari para pencuri dengan dirham ini.

Syaikh berkata: Laknat Allah untukmu! Maka jika kamu tidak sanggup merusak keyakinan ini bagaimana kamu berbuat dalam mempesona orang mukmin?

Iblis berkata: Wahai Abu Amir, jika aku tidak sanggup merusak keyakinan aku tambahkan keyakinan maka ia rusak, dan pengaguman seseorang terhadap amal-amalnya yang luhur bisa jadi adalah awal amal-amalnya yang hina; dan dengan keajaiban apa Iblis ada kecuali dengan yang seperti ini?

Ahmad bin Miskin berkata: Dan syaikh marah, maka ia mengulurkan tangannya lalu mengambil leher Iblis dan ia melihatnya kurus, kemudian mencekiknya dengan keras ingin mencekiknya; maka Iblis tertawa mengejeknya. Dan syaikh tersadar, ternyata ia mencengkeram tangan kanannya pada tangan kirinya.

 

 

Dunia dan Dirham “4”:

Ahmad bin Miskin berkata: Waktu kepergianku dari “Balkh” telah dekat, dan aku telah bersiap untuk berangkat. Tidak tersisa dari masa tinggalku di sana kecuali beberapa hari yang akan datang pada Sabtu keempat. Telah terjadi perdebatan antara aku dan mufti “Balkh” Abu Ishaq Ibrahim bin Yusuf al-Bahili, murid Abu Yusuf, sahabat Imam Abu Hanifah. Mereka mengklaim bahwa dia kikir terhadap harta, dan bahwa dia mendapatkannya dari berbagai sumber penghasilan. Seakan-akan aku menutupinya dengan awan kelabu, sehingga dia tidak melihat bahwa aku berbicara tentang zuhud. Dia menganggap zuhud ini sebagai pura-pura mati raga para hamba, melepaskan tangan dari dunia, buruknya pergaulan dengan nikmat yang Allah berikan kepada hamba, melemahkan kekuatan tubuh, dan hal-hal semacam itu yang merusak kehidupan dengan kebatilan yang dia klaim sebagai kebatilan ketaatan – padahal itu sangat dekat dengan kebatilan kemaksiatan. Mufti ini belum pernah mendengarku atau menghadiri majeliseku, dan seandainya dia tidak mengetahui hal yang tidak dikenalinya itu, pasti dia akan tahu.

Aku berdebat dengannya dan melihat dia lemah dalil, lemah hujjah, mengira-ngira seperti faqih, dan memandang hal-hal tersembunyi dari hakikat jiwa seperti pandangan pemilik teks terhadap yang lahir. Seakan-akan kebenaran jika disampaikan kepada manusia akan berlalu menembus seperti fatwa mufti. Dia mengklaim bahwa nasihat adalah nasihat para faqih: mereka berkata “ini haram,” maka menjadi haram yang tidak dilakukan siapa pun, dan “ini halal,” maka menjadi halal yang tidak ditinggalkan siapa pun. Padahal dia jauh dari hakikat nasihat dan jalan masuknya ke dalam jiwa serta pengurusannya di dalamnya. Dia tidak tahu bahwa kebenaran itu seperti wanita – jika tidak dihias dengan hiasannya, tidak akan menarik siapa pun; bahwa nasihat jika tidak disampaikan dalam gaya hidupnya yang hidup, akan lebih menyerupai kebatilan; dan bahwa tidak ada yang mengubah jiwa kecuali jiwa yang di dalamnya terdapat kekuatan transformasi dan perubahan, seperti jiwa para nabi dan mereka yang mengikuti jalan rohani mereka; bahwa keahlian ini hanyalah meletakkan cahaya basiran dalam perkataan, bukan meletakkan qiyas sebagai hujjah; dan bahwa orang zahid yang benar zuhudnya, sesungguhnya kehiduplah yang dikenakan kebenaran agar menjadi sesuatu dalam kehidupan dan amal, bukan sesuatu dalam perkataan dan prasangka, sehingga ilhamnya padanya seperti panas api dalam api – siapa yang mendekatinya akan merasakannya.

Demi umurku, betapa banyak faqih yang berkata kepada manusia: “Ini haram,” namun yang haram itu tidak bertambah kecuali dalam penampakan dan keterbukaan selama dia hanya berbicara dengan bahasa kitab-kitab, dan tidak pandai menghubungkan antara jiwa dan syariat. Dia telah kosong dari kekuatan yang menjadikannya roh yang berkaitan dengan roh-roh lain dan menempatkannya di antara manusia pada posisi yang membuatnya dalam pandangan mereka seakan-akan dia datang dari surga baru-baru ini dan akan kembali ke sana sebentar lagi.

Adapun faqih yang terikat dengan harta dan syahwat jiwa, dan tidak menjadikan perhatiannya kecuali menambah rezeki dan bagian dunia – dia adalah faqih yang rusak gambaran dalam khayalan manusia. Hal pertama yang dia pahami kepada mereka adalah agar mereka tidak memahami darinya, karena keserakahannya melebihi wawasannya. Dia memiliki bau roti dalam jiwa-jiwa, dan memiliki makna “lima dan lima belas.” Seakan-akan dunianya telah meletakkan sesuatu yang rusak dan asing di dalamnya yang merusak kebenaran yang diucapkannya. Aku tidak tahu apa sesuatu itu, tetapi aku melihat para faqih yang memberi nasihat dan berbicara kepada manusia tentang haram dan halal, tentang nash Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya ﷺ, namun aku tidak menemukan manfaat atau penolakan dalam perkataan mereka, karena mereka mengilhami manusia dengan roh mereka makna yang berbeda dari apa yang mereka bicarakan. Kebenaran mengolok-olok mereka – meski bahaya dan keagungan urusan mereka – dengan gaya yang sama seperti mengolok-olok pencuri yang menasihati pencuri lain dengan berkata: “Jangan mencuri.”

Ibn Miskin berkata: Ketika hari Sabtu tiba, manusia datang ke masjid berbondong-bondong. Mereka telah mengetahui keputusanku untuk pergi dari negeri mereka. “Luqman al-Ummah” datang bersama para pengikut dan sahabatnya, dan Abu Ishaq sang mufti datang dengan jemaahnya. Aku sudah mengambil tempat di majlis dan memandang manusia dengan pandanganku. Karena banyaknya mereka seperti tumbuhan yang menutupi bumi, ini mengingatkanku pada guru kami as-Sari bin Mughlis as-Saqathi. Dia selalu tinggal di rumahnya di Baghdad, tidak keluar darinya dan tidak ada yang melihatnya kecuali yang sengaja mendatanginya. Aku bermaksud menjadikan nasihat itu penjelasan kata masyhurnya: “Cinta tidak sah antara dua orang hingga salah satunya berkata kepada yang lain: ‘Wahai diriku.'” Dan apa yang dinukil darinya bahwa dia pernah berkata kepada salah seorang sahabatnya: “Sudah tiga puluh tahun aku beristighfar dari ucapanku: ‘Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.'” Sahabatnya berkata: “Bagaimana itu?” Dia berkata: “Terjadi kebakaran di Baghdad, lalu seseorang menemuiku dan berkata: ‘Tokomu selamat.’ Aku berkata: ‘Alhamdulillah.’ Aku menyesal sejak saat itu atas apa yang kukatakan, karena aku mengingini kebaikan untuk diriku dari manusia!”

Ibn Miskin berkata: Tetapi aku ingin berbicara kepada sang mufti tentang harta sang mufti. Maka aku menceritakan kepada mereka kisah pengetahuanku tentang as-Sari: bahwa aku suatu hari mendengar “Ghailan al-Khayyath” berkata: Sesungguhnya as-Sari telah membeli kur kacang almond seharga enam puluh dinar, mencatatnya dalam buku catatannya dan menulis di depannya: keuntungannya tiga dinar. Tidak lama kemudian harga naik hingga mencapai sembilan puluh dinar. Makelar yang membelikan untuknya datang dan berkata: “Aku ingin kacang almond itu.” Sang syaikh berkata: “Ambillah.” Dia berkata: “Berapa harganya?” Dia berkata: “Enam puluh tiga dinar.” Makelar itu adalah orang saleh, maka dia berkata kepada sang syaikh: “Sesungguhnya kacang almond sekarang sudah menjadi sembilan puluh dinar per kur.” As-Sari berkata: “Tetapi aku telah membuat perjanjian antara aku dan Allah yang tidak akan aku batalkan. Aku tidak menjual kecuali dengan enam puluh tiga dinar.” Makelar berkata: “Dan aku telah membuat perjanjian antara aku dan Allah yang tidak akan aku batalkan, yaitu tidak menipu seorang muslim. Aku tidak membeli darimu kecuali dengan sembilan puluh.” Maka si makelar tidak membeli darinya, dan as-Sari tidak menjualnya!

Ahmad bin Miskin berkata: Ketika aku mendengar itu, tidak ada cita-citaku kecuali bertemu sang syaikh, menemaninya, dan belajar darinya. Aku tidak menghiraukan apa pun sampai aku berada di masjid tempat dia salat. Aku mendapatinya dalam halaqahnya dan di sisinya orang-orang yang kukenal: Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, Idris al-Haddad, Ali bin Sa’id ar-Razi, dan di sekelilingnya banyak orang. Dia di antara mereka seperti pohon hijau di antara rerumputan kering yang diungguli oleh kesegaran rohnya. Seakan-akan dia dipasok cahaya oleh urat dari langit, sehingga dia berkilau bagi mata. Orang yang memandangnya tidak bisa tidak merasa baik dalam dirinya bahwa dialah yang paling rendah, dari melihatnya dalam dirinya bahwa inilah manusia yang paling tinggi.

Aku melihat di wajahnya penderitaan yang mengusapnya dengan usapan kerinduan, bukan usapan penderitaan – bekas apa yang dia rasakan dalam rohnya yang kuat, tidak seperti penderitaan manusia yang merupakan bekas kekurangan dalam roh mereka yang lemah dan rapuh, sehingga tidak mengusap wajah mereka kecuali dengan usapan kesedihan dan kesuraman.

Pandangan tidak salah dalam membedakan penderitaan langit pada wajah-wajah bahagia ini dari penderitaan bumi pada wajah-wajah lainnya. Yang pertama menetes pada roh sang pemandang seperti embun ketika difajar meneteskannya, sedangkan yang kedua berkobar dalam rohnya seperti debu yang mengamuk ketika angin memukul bumi.

Sang syaikh berada dalam eksistensi di atas eksistensi kami. Benda-benda tidak berubah warna baginya dan tidak melampaui apa adanya pada dirinya. Sesuatu tidak membawa baginya kecuali maknanya dari sisi baik atau tidak baik, dari sisi yang seharusnya atau tidak seharusnya. Sesungguhnya benda-benda berubah warna ketika setan meletakkan matanya di mata orang yang memandangnya; sesungguhnya bertambah dan berkurang dalam hati ketika roh setan ada dalam hati; sesungguhnya yang seharusnya dan yang tidak seharusnya menjadi samar ketika sesuatu datang dari dua sisi: sisinya dari tabiatnya sendiri, dan sisinya dari tabiat kita. Dengan demikian, manusia mungkin mengumpulkan harta kemudian tidak menemukan dalam harta makna kekayaan; mungkin terkumpul sebab-sebab kenikmatan tetapi tidak ada darinya kecuali kehinaan. Betapa banyak manusia yang mendapat seakan-akan dia tidak mendapat kecuali kebalikan dari apa yang dicarinya, dan yang lain tidak mendapat apa-apa tetapi menemukan dengan itu ketenangan.

Ibn Miskin berkata: Betapa herannya aku ketika sang syaikh berbicara. Dia mulai menjawab apa yang ada dalam jiwaku tanpa aku bertanya, seakan apa yang ada dalam pikiranku telah berpindah kepadanya. Dia meriwayatkan hadis: “Apabila umatku mengagungkan dinar dan dirham, dicabut dari mereka kehormatan Islam; dan apabila mereka meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar, mereka diharamkan dari berkah wahyu.” Kemudian dia berkata dalam takwilnya:

Sesungguhnya malaikat wahyu turun dengan perintah dan larangan agar menundukkan kekuatan bumi dengan kekuatan langit. Jika amar ma’ruf nahi munkar tetap ada, maka tetap ada kerja wahyu, namun dalam bentuk akal, dan tetap ada kerohanian dunia, namun dalam bentuk keteraturan. Dengan setiap kesalahan ada perbaikannya, sehingga manusia menjadi pelaksanaan syariat antara yang memerintah yang ditaati dan yang diperintah yang menaati. Maka manusia berinteraksi dalam keadaan yang menjadikan sebagian mereka guru bagi sebagian lain, dan sesuatu dari mereka penyeimbang bagi yang lain, dan kekuatan menjadi sandaran bagi kekuatan lain. Maka berdiri keteguhan menghadapi kelalaian, ketegasan menghadapi kelonggaran, kemampuan menghadapi ketidakmampuan. Dengan demikian mereka menjadi mitra yang saling membantu, dan kembali sifat-sifat kemanusiaan mereka seakan-akan tentara yang bekerja saling menolong, sehingga kehidupan menjadi jelas selama makna-makna luhurnya memerintah perintahnya dan mengilhami ilhamnya, dan selama terwakili dalam kewajiban yang berlaku untuk semua.

Manusia bebas ketika makna-makna ini menguasai mereka. Hakikat kebebasan manusia hanyalah tunduk kepada kewajiban yang menguasai. Dengan itu dan bukan lainnya terhubung antara raja dan rakyat jelata, antara orang kaya dan orang miskin – hubungan kasih sayang dalam segala hal, dan hubungan keras hanya dalam pendidikan. Berkah wahyu hanyalah menjadikan kekuatan manusia sebagai amal syar’i tidak lain.

Adapun pengagungan umat terhadap dunia dan dirham, itu adalah perbudakan makna-makna hewani dalam manusia satu sama lain, memutuskan hubungan di antara mereka dari jalinan dalam daging kemanusiaan, menjadikan yang besar di antara mereka besar meski maknanya kecil, dan yang kecil di antara mereka kecil meski besar dalam makna. Dengan demikian kehidupan bergelombang satu sama lain, dan manusia tidak lurus pada pendapat yang benar, karena yang benar dan yang rusak ada dalam kepemilikan manusia, bukan dalam amal manusia. Maka orang kaya menimbun harta dan orang miskin menimbun permusuhan, seakan yang ini membunuh harta yang itu, dan seakan amal-amal membunuh amal-amal. Sifat-sifat kemanusiaan kembali saling bermusuhan, keutamaan dijual dan dibeli, yang bertambah bertambah tetapi dalam kekejaman, yang berkurang berkurang tetapi dalam kebebasan. Manfaat pribadi menjadi yang memerintah dan melarang pada semuanya. Kebohongan masuk dalam segala hal, bahkan dalam memandang harta, sehingga setiap manusia melihat seakan dirham dan dinarnya lebih besar nilainya dari dinar dan dirham orang lain. Jika diberi, dia mengurangi lalu menipu; jika mengambil, dia menambah lalu mencuri. Jiwa-jiwa menjadi jiwa dagang yang menawar sebelum bangkit untuk kebajikan, dan menawar keras jika dipanggil untuk menunaikan hak. Manusia berinteraksi dalam kehormatan atas dasar perut, bukan roh. Tidak dikatakan lagi: “Dua roti lebih banyak dari satu roti,” sebagaimana tabiat bilangan, tetapi dikatakan: “Dua roti lebih mulia dari satu roti,” sebagaimana tabiat kemunafikan.

Adapun perdagangan – yang merupakan tafsir lahir makna-makna jiwa – menjadi antara penipuan, kerugian, dan kelicikan. Kewaspadaan pedagang dari kelengahan pembeli, dan kehendak menjadi rusak sehingga tidak menghasilkan kecuali bekas-bekasnya yang sesat. Pedagang dalam umat yang kuat hanyalah guru untuk mengajarkan kejujuran dan akhlaq di tempat yang berubah-ubah. Katanya seperti angka dari bilangan yang tidak menahan lebih atau kurang dari apa yang ada padanya. Dia diuji dengan dunia dan dirham lebih keras dari ujian ahli ibadah dengan salat dan puasanya. Seseorang bersaksi di hadapan Umar bin Khattab dalam suatu perkara. Umar berkata kepadanya: “Datangkan kepadaku orang yang mengenalmu.” Dia mendatangkan seseorang yang memujinya dengan kebaikan. Umar berkata kepadanya: “Apakah kamu tetangganya yang terdekat yang mengetahui keluar masuknya?” Dia berkata: “Tidak.” Dia berkata: “Apakah kamu pernah menjadi teman seperjalanan yang dapat disimpulkan darinya akhlaq mulia?” Dia berkata: “Tidak.” Dia berkata: “Apakah kamu pernah bertransaksi dengannya dengan dinar dan dirham yang dapat diketahui darinya kehati-hatian seseorang?” Dia berkata: “Tidak.”

Umar berkata: “Kurasa kamu melihatnya berdiri di masjid bergumam dengan Al-Qur’an, kadang menundukkan kepalanya dan kadang mengangkatnya?” Dia berkata: “Ya.”

Dia berkata: “Maka pergilah, karena kamu tidak mengenalnya!”

Sesungguhnya pedagang adalah gambaran kepercayaan manusia satu sama lain, kehendak kebaikan, dan keyakinan akan kejujuran. Dalam semua itu dia adalah penampakan yang dapat diraba seperti tangan meraba penyakit dan kesehatan orang sakit. Jika umat mengagungkan dinar dan dirham, sesungguhnya mereka mengagungkan kemunafikan, ketamakan, kebohongan, permusuhan, kekejaman, dan perbudakan. Dengan demikian dinar dan dirham menegakkan batas-batas pemisah di antara pemiliknya, hingga jarak antara orang kaya dan miskin seperti jarak antara dua negeri yang telah berjauhan.

Sesungguhnya kehormatan Islam adalah dalam kemuliaan diri, bukan dengan harta; dalam pengorbanan hidup, bukan keserakahan padanya; dalam akhlaq roh, bukan akhlaq tangan; dalam meletakkan batas-batas keutamaan di antara manusia, bukan meletakkan batas-batas dirham; dalam menghilangkan kekurangan dari tabiat, bukan menegakkannya; dalam kerja sama sifat-sifat mukmin, bukan permusuhan mereka; dalam menganggap kekayaan adalah apa yang dikerjakan dengan harta, bukan apa yang dikumpulkan dari harta; dalam menjadikan awal kekayaan adalah akal dan kehendak, bukan emas dan perak.

Inilah Islam yang mengalahkan umat-umat, karena sebelum itu dia telah mengalahkan jiwa dan tabiat.

 

 

Kelucuan Iblis

Sesungguhnya aku akan menceritakan kisah ini sebagaimana yang terjadi, tidak akan kuhias dengan khayalan, tidak akan kutambah-tambahi dengan berita, dan tidak akan kulahirkan makna untuknya; karena ini hanyalah kisah tentang kejahatannya si jahat, seninya adalah kecerdikan dan tipuannya, kehalusannya adalah kekasaran dan keserakahannya, dan maknanya adalah cobaan dan ujiannya; dan aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, dan hanya kepada Allah-lah tempat meminta pertolongan.

Ketika aku memikirkan untuk menulis artikel tentang “Iblis” dari percakapan-percakapan “Ibnu Miskin”, dan aku memutar-mutar pikiranku tentang pendekatan, batasan, dan maknanya, pikiranku mulai terputus-putus dalam hal itu, datang dan pergi seolah-olah ada pertentangan antara aku dan dia, atau seolah-olah ada sesuatu dalam diriku yang menghalangiku dan memutuskan tekadku; dan terbayanglah padaku saat itu bahwa “Iblis” ini adalah salah satu manfaat, dan bahwa dialah hukum alam yang pasal pertamanya berbunyi: apa yang mengagumkanmu adalah milikmu. Dan pasal terakhirnya berbunyi: apa yang kau butuhkan, harganya adalah kemampuanmu untuk mengambilnya.

Dan muncul dalam diriku suatu bisikan bahwa “Iblis” bersemayam dalam kata kebebasan sebagaimana dia bersemayam dalam kata dosa, dan bahwa jika dia ada di hati orang-orang fasik maka dia juga ada di otak para filsuf, dan jika dia ada dalam kejatuhan ahli maksiat ke dalam kemaksiatan, maka dia juga ada dalam kemuliaan ahli seni menuju seni. Bisikan itu berkata: dan sesungguhnya “Iblis” juga adalah pemilik keutamaan praktis di zaman materi ini, maka dari itu pantas jika mereka menggelarnya “pemilik keutamaan”.

Tetapi aku tidak peduli dengan bisikan-bisikan ini dan tidak menghiraukan sedikitpun darinya, aku memohon pertolongan Allah dan melanjutkan niatku untuk menulis, dan aku mulai membolak-balik topik, menyadarkan pikiranku untuknya, mengintip apa yang akan dituju oleh pemikiran, dan menanti-nanti apa yang akan dibawa oleh khatir, serta mencari apa yang akan kubangun untuk pembicaraan sebagaimana kebiasaanku; namun tidak muncul apapun sama sekali, seolah-olah awal dari topik itu hilang sehingga tidak ada awal baginya dan tidak ada jalan untuk memasukinya, dan seolah-olah dia berada di balik ilmu sehingga tidak dapat dicapai, dan seolah-olah dia sulit seperti mencoba menggambarkan kebodohan seluruh kehidupan dalam satu kata. Dan Iblis adalah kata yang mengandung kebodohan seluruh kehidupan.

Dan kebiasaanku dalam menulis bab-bab ini yang diterbitkan oleh “Ar-Risalah”, adalah aku membiarkan bab itu dibolak-balik oleh khatir-khatir dalam pikiranku pada hari Selasa, Rabu, dan Kamis, dan aku serahkan urusannya kepada kekuatan yang ada dalam diriku, sehingga makna-makna terlahir dari semua yang kulihat dan kubaca, dan mengalir dari sana sini, dan pembicaraan menjadi seolah-olah sesuatu yang hidup yang kuinginkan untuk ada lalu dia ada.

Kemudian aku menulis pada siang hari Jumat, dan di belakangnya malam Sabtu dan malam Ahad sebagai bantuan dari belakang tentara jika aku terkena kelesuan atau sedang bepergian atau ada sesuatu yang memutuskan tulisanku dari hal-hal yang muncul.

Dan dalam minggu Iblis “semoga Allah melaknatnya”, berlalu tiga hari dan di dalamnya ada tiga warna: kegelisahan tanpa jiwa, kemalasan tanpa semangat, dan kegoncangan tanpa pegangan, dan aku memperpanjang pemikiran pada hari Kamis, lalu muncul khatir-khatir yang lucu, kadang aku membayangkan untuk menggambarkan Iblis sebagai wanita agar menjadi Iblis yang cantik, dan kadang aku membayangkan bahwa Iblis ingin menjadi syaikh seperti sebagian tokoh agama yang masih saja muncul pengkhianatan dari mereka, agar dikatakan Iblis yang bertaqwa dan shalat, dan kadang aku mengira bahwa dia ingin menjadi penulis pengarang terkenal agar dikatakan Iblis pemikir pembaharu, dan terlintas di pikiranku akhirnya bahwa dia ingin menjadi penguasa ateis yang fasik, agar menjadi Iblis yang sempurna bukan Iblis yang kurang.

Dan ketika tiga hari itu berlalu sia-sia, terbayang bagiku bahwa Iblis “semoga Allah menghinakannya” bertanya kepadaku tentang artikel: menjadi apa dia berubah? Maka hal itu menyusahkanku dan aku bersedih karenanya, namun aku merasa tenang dengan hari Jumat dan bahwa di belakangnya ada dua malam. Dan matahari Kamis telah terbenam, maka aku berkata: baiklah aku keluar untuk rekreasi dari apa yang ada padaku, mudah-mudahan aku bisa mengumpulkan diriku untuk berpikir jika aku duduk di udara malam, dan mungkin terjadi apa yang bisa kuambil inspirasi atau terbuka bagiku pintu dalam membaca.

Dan aku keluar, tidak jauh dari rumah hingga didatangi oleh orang yang turun kepadanya kabar dari Kairo bahwa sanak saudara kami dari para pembesar meninggal saudaranya hari ini. Maka aku berkata: tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah; hancur hari Jumat. Karena tidak ada pilihan selain bepergian untuk mengantarkan jenazah dan menghadiri takziah, kemudian aku berkata: mungkin dalam perjalanan ini ada kesegaran dan semangat sehingga aku bisa mengejar seluruh minggu dalam dua hari, dan sesungguhnya banyaknya adalah dengan kekuatan bukan dengan waktu, dan tidak ada campur tangan Iblis dalam kematian dan kehidupan, maka tidak ada kecuali membuangnya dan tidak menghiraukannya, dan ini hanyalah khatir-khatir dari bisikannya.

Dan aku berada di Kairo pada pagi hari, dan aku berjalan dalam jenazah sebelum dzuhur selama satu jam penuh; dan matahari bersinar terang berkilauan, dan aku terbebani dengan pakaian musim dingin dan aku mengharapkan hari itu menjadi salah satu hari angin gila, namun ketika kami sampai ke padang pasir, angin bertiup dengan lembut, kemudian menguat dan menjadi kencang; tetapi dia berlalu meniup pasir ke mata sehingga kelopak mataku gatal dan teriritasi, dan tidak ada sesuatu bersamaku untuk melindungi darinya; namun aku sibukkan pikiranku dengan melihat kuburan, dan kujadikan dalam diriku seperti artikel yang tertulis baris demi baris, dan aku berkata: di sini kebenaran dalam tafsiran pertamanya, dan yang tidak dipahami dalam kehidupan bisa dipahami di sini.

Kemudian aku kembali dengan badan basah oleh keringat dan ada percikan darinya, dan kemeja terbuat dari wol, dan di dadaku ada bekas dari pilek bronkial, dan jika wol menjadi basah wajib dilepas kalau tidak maka itulah penyakitnya yang tidak ada pilihan darinya.

Kemudian tidak sampai satu jam hingga angin merobek dan mulai mengamuk dan udara menjadi dingin, maka aku yakin bahwa itu flu, dan aku berkata dalam hati: ini pintu tersendiri, dan artikel pasti hilang, maka pikiran akan tertinggal dan tumpul; dan setan murah hati dalam kejahatan memberikan tanpa diminta.

Dan hal itu memberatkanku sehingga kesedihan karenanya menjadi penyakit baru, namun aku masih berharap kesempatan di salah satu dari dua hari: Sabtu dan Ahad. Dan aku berkata: sesungguhnya dari bencana adalah memikirkan bencana, dan mungkin dari keselamatan adalah percaya pada keselamatan; maka jika aku bangkitkan tekad aku berharap pengaruhnya meresap ke seluruh badan sehingga menjadi obat dalam darah yang menimbulkan semangat dan mengasah tabiat dan mengumpulkan jiwa. Dan dalam kekuatan saraf ada listrik yang memiliki kerja dalam tubuh jika seseorang pandai membangkitkannya dalam dirinya dan menguasai penyaluran dan pengarahannya dengan cara yang sistematis; dan dia adalah obat ketika obat gagal, dan dia adalah kekuatan ketika kekuatan mengecewakan.

Maka aku bertekad dan bersungguh-sungguh, dan aku berdaya upaya pada kehendak, dan aku memperbanyak sebab-sebab kepercayaan dan mengintai untuknya kesempatan-kesempatan mental yang muncul dalam jiwa, dan aku berkata kepada Iblis: berjuanglah sekuat tenagamu, karena tidak ada jalan yang kamu tempuh kecuali ada jalan bagiku. Tetapi si terkutuk mengingatkanku pada ucapan seseorang yang mengejek penulis Baghdad itu:

“Seandainya ditanya berapa lima dan lima, dia akan pergi Satu hari satu malam menghitung dan menghitung Dan berkata masalah yang menakjubkan urusannya Dan jika aku memahaminya maka urusanku lebih menakjubkan Lima dan lima enam atau tujuh Dua pendapat yang dikemukakan Al-Khalil dan Tsa’lab”

Kemudian aku memutuskan untuk kembali dari hariku ke “Thantha”, untuk menghindari dingin dengan mengobatinya jika pengaruhnya mengenai ku, dan ada waktu bagiku hingga kereta berangkat, maka aku pergi menunaikan kewajiban mengunjungi beberapa kerabat di pinggiran “Al-Jizah”, kemudian naik tram yang aku tahu menuju ke stasiun kereta api.

Dan aku duduk memikirkan Iblis dan artikelnya, dan tram melaju di jalannya sekitar sepertiga jam, hingga sampai ke tempat yang berbelok darinya ke stasiun dan dia berhadapan dengan “Jam’iyyah Al-Is’af”, di mana jalan-jalan lain bercabang; dan aku tenggelam dalam pemikiran dan larut di dalamnya, pandangan berkeliling pada udara, maka tidak kusangka kecuali perbedaan pemandangan jalan, dan aku tersadar, ternyata tram melesat seperti anak panah di jalan yang naik ke “Al-Jizah” dari tempat aku datang.

Maka aku melaknat setan dan menunggu hingga tram ini berhenti, lalu aku meninggalkannya dan kembali berlari ke persimpangan itu, maka aku bertemu tram lain, lalu aku melompat kepadanya seolah aku membawa muatan kepadanya, dan membayar ongkos, dan dia berangkat, ternyata dia menuju ke jalan yang sama persis yang menuju ke Al-Jizah dari tempat aku datang, dan aku tidak bisa turun darinya sementara dia sedang berjalan, maka aku marah dan melaknat setan sekali lagi, dan aku melihat bahwa permainannya telah bertumpuk; ketika tram berhenti aku kembali berlari ke persimpangan itu dan tidak tersisa waktu kecuali sedikit.

Dan aku melihat, ternyata tram demi tram, dan ternyata telah terjadi kecelakaan pada salah satu mobil dan orang-orang berkumpul dan jalan terhalang, maka aku mendidih karena marah, dan melaknat si penjahil jahat ini. Dan si terkutuk mengingatkanku pada anekdot orang Arab yang digigit rubah, lalu dia datang ke perawat spiritual, maka perawat itu berkata kepadanya: apa yang menggigitmu? Maka dia malu untuk mengatakan: rubah, dan berkata: anjing. Ketika orang itu mulai dengan mantra anjing, orang Arab itu berkata kepadanya: dan campurkan di dalamnya sedikit dari mantra rubah.

Kemudian aku tidak melihat pilihan selain mencapai stasiun dengan kaki untuk menyelesaikan tekadku dalam melawan si terkutuk, maka aku mempercepat langkah melipat bumi seolah-olah aku mengarungi perutnya dan ada peradangan di dadaku maka dia menyerangku, namun aku bertahan dan melapangkan diri untuk menahannya dan sampai ke tempat yang kutuju. Kemudian aku pergi mencari di kereta gerbong khusus yang kukenal, yang dulunya gerbong kelas satu lalu dijadikan kelas dua untuk memanjakan dengan sedikit kemewahan sekelompok penumpang; dan aku menemukan di dalamnya tempat kosong seolah-olah dia disiapkan khusus untukku, maka aku duduk di dalamnya di samping seorang Eropa yang kupikir dia Jerman karena perbedaan bentuk tubuh dan arogansinya; dan aku duduk menghembuskan nafas dari dadaku, kemudian aku mulai mengejek Iblis dan gangguannya, dan aku mulai heran dengan apa yang terjadi dari pengaturan ini.

Dan kereta bergerak dan berangkat, dan orang Eropa di sampingku berada di sisi jendela dan dia membiarkannya terbuka, maka aku merasakan udara turun darinya seperti air dingin sementara aku basah oleh keringat; dan aku menanti orang itu menutupnya namun dia tidak melakukannya, maka aku bersabar sedikit ternyata dia diam tenang menikmati udara seolah-olah dia meminumnya, dan aku memperhatikannya ternyata seorang syaikh sekitar enam puluh tahun atau lebih, namun dia masih memiliki sisa kekuatan pegulat dalam kepadatan ototnya dan kumpulan kekuatannya dan kokohnya susunan tubuhnya, maka aku yakin bahwa udara adalah kebutuhannya, dan aku berniat untuk memperingatkannya atau aku sendiri berdiri menutup jendela, dan seandainya aku mau melakukan itu pasti bisa, namun setan “semoga Allah menghinakannya” membisikkan kepadaku: bahwa ini orang asing barat, dan kamu orang Mesir timur, maka tidak pantas bagimu untuk mengajarinya dan mengajarkan yang hadir di hadapan kalian berdua bahwa kamu adalah yang lebih lemah sementara dia lebih tua, dan bagaimana kamu tidak mampu melakukan apa yang dia lakukan padahal kamu biasa mandi air dingin di tengah musim dingin, dan kamu tidak memakai di hari-hari terdingin kecuali pakaian musim panas, dan kamu biasa mengangkat beban sekian untuk olahraga, dan mengalami macam-macam kekuatan, dan kamu melilit dengan tanganmu batang besi, dan kamu dan kamu.

Maka aku malu -demi Allah- dari apa yang terlintas di pikiranku; dan aku enggan memperingatkan orang itu, dan aku melihat perbuatanku ini adalah kelemahan dan kemalasan, dan aku tidak peduli dengan udara atau keringat atau pilek bronkial atau flu, dan aku biarkan orang Eropa itu dengan urusannya, dan aku menghadap ke buku yang ada di tanganku, dan aku pura-pura lupa bahwa jendela ini adalah bagian dari rencana Iblis; dan kereta penuh sesak dengan orang-orang yang pulang dari pameran pertanian industri, dan sebagian orang berdiri sehingga tidak ada harapan tempat lain.

Dan aku bertahan satu setengah jam dalam arus udara “Februari” yang turun deras, dan mengamuk dengan keras, seolah-olah aku berenang di dalamnya di sungai di bawah kegelapan malam hujan, dan orang-orang kagum padaku dan pada orang Eropa itu, dan orang Eropa ini lebih kagum padaku daripada mereka, dan dia telah melihat tempatku dan mengetahui posisiku, dan ada tempat duduk di kanan ku yang tetap kosong dan tidak ada seorangpun yang berani duduk di sana karena takut pada udara dan pada orang Eropa itu.

Kemudian terlihat lampu-lampu stasiun “Thantha”, dan tidak tersisa dari cobaan ini kecuali dua menit, maka demi Allah yang tidak ada yang bersumpah selain nama-Nya Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi, sungguh Iblis adalah orang rendah, kasar, dingin, berat humor; karena aku baru saja bersiap untuk berdiri hingga aku melihat orang Eropa itu mengulurkan tangannya lalu menutup jendela.

Dan aku kembali ke rumahku sambil berkata: lalu apa lagi wahai Iblis; lalu apa lagi wahai si pelawak? Dan aku berusaha keras untuk menulis atau membaca namun aku tidak bergerak untuk apapun dari itu, dan waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, maka aku shalat dan pergi ke tempat tidurku.

Kemudian aku bangun pada hari Sabtu, ternyata ada surat dari guru pemilik “Ar-Risalah”: bahwa dia akan mencetak dua edisi sekaligus maka dia ingin dua artikel untuknya, karena percetakan tutup pada hari-hari Idul Adha. Dan harapanku pada satu artikel sudah kecewa karena apa yang kualami, maka bagaimana aku bisa dengan dua?

Dan bercampur dalam diriku kekhawatiran dengan kekhawatiran, dan tidak ada yang merusak urusanku seperti kesempitan, maka jika aku sempit aku bukan seperti yang dulu; tetapi aku sadar dan waspada dan berharap kesembuhan dari apa yang kurasakan dari beratnya flu dan kelemahannya, dan aku menimbulkan angan-angan semangat ketika aku duduk untuk menulis di malam hari, karena pada siang hari aku bekerja untuk pemerintah.

Ketika malam tiba aku tidak mendapati urusanku seperti yang kuinginkan, dan aku duduk lesu sakit, dan kepalaku berat karena pukulan jendela, dan menguasaiku sangkaan sakit dan ketidakmampuan menulis, dan seluruh urusan rusak sehingga aku melihat diriku menyusahkan diri tanpa hasil, maka yang tepat dalam perencanaan menurutku adalah aku beristirahat dengan tidur kemudian bangun di waktu sahur untuk menulis, maka aku berpesan pada yang membangunkanku; dan kami atur jam alarm tepat pukul dua setelah tengah malam.

Dan aku merasa lapar, dan perutku kosong, dan aku lupa semua yang kutahu tentang kedokteran; dan mereka datangkan kepadaku panggang dan manisan dan yang di antaranya, maka aku makan dengan rakus dan melahap yang satu dengan yang lain, kemudian aku berdiri ingin tidur, ternyata makanan lebih berat padaku daripada jendela kereta, dan apa yang ada dalam pikiran tentang artikel lebih berat dari apa yang ada di perut dari makanan, dan pencernaan buruk di otak dan perut bersama-sama.

Dan aku mulai mengantuk dan merilekskan anggota tubuhku dan membayangkan kantuk dan mendekatinya dengan semua cara yang kutahu, kemudian tidak bertambah dari itu kecuali terjaga, dan pikiran memberontak, dan aku merasakan kepalaku hampir meledak, dan aku mulai gelisah dan tidak bisa diam, dan aku membayangkan bahwa seandainya aku punya dua akal tidak akan bisa menulis artikel tentang Iblis semoga Allah melaknatnya; dan si jahat mengingatkanku pada anekdot lucu: bahwa seorang pria naik keledai lemah, dan dia memacu tapi tidak mau jalan, maka dia mulai memukulnya, lalu dikatakan kepadanya: kasihilah dia. Maka dia berkata: jika dia tidak mampu berjalan kenapa dia jadi keledai?

Dan aku melemparkan diriku dari tempat tidur dan melihat jam, ternyata hampir mencapai pukul dua dan aku belum merasakan tidur, maka aku bergegas ke alarm dan mengaturnya tepat pukul empat pagi, dan aku yakin bahwa setan menekanku dengan tyranny dan tipu daya, maka aku mulai melaknatnya, dan aku tidak mengira kecuali dia melihat laknat itu sebagai pujian sehingga dia minta lebih.

Kemudian aku kembali berusaha tidur, maka malam ini tidak lain adalah satu hal yang awalnya adalah akhirnya hingga fajar terbit.

Dan datang hari Ahad yang adalah hari libur orang Eropa, maka betapa heranku ketika Iblis meninggalkanku di hari itu seolah-olah mereka tidak memberinya waktu di hari ini.

Dan sekarang si jahat membuatku tertarik untuk mengakhiri artikel ini dengan… dengan… tetapi tidak. Tidak.

 

 

Syaitan

Syaikh Abu al-Hasan bin al-Daqqaq berkata: Guru saya Abu Abdullah Muhammad al-Azhari al-Ajami (semoga Allah meridhainya) adalah seorang yang memiliki mukjizat dan keajaiban yang melampaui akal. Seolah-olah dia adalah rahasia dari rahasia-rahasia yang mengalir di alam semesta ini. Dia telah mencapai derajat bintang di cakrawala yang jauh dengan jiwanya. Di dalam dirinya terdapat hawa nafsu manusia, syahwat dan tabiatnya, namun semua itu bagakai harta karun bintang dalam kemilau dan cahayanya dari pancaran rohani dan kemurniannya. Dia telah mengangkat kemanusiaannya di atas dirinya sendiri, sehingga dia berada di tengah manusia sambil membawa langitnya, yang dia tempatkan antara hatinya dan dunia.

Apabila seseorang telah mencapai tingkatan ini, dia menjadi hidup seperti orang mati di saat sakratul maut. Dia memandang segala sesuatu dalam kehidupan dengan pandangan orang yang meninggalkan, bukan yang mengambil; orang yang mengambil pelajaran, bukan yang tertipu; orang yang meludah, bukan yang merasakan; orang yang menyadari rahasia, bukan yang terikat pada yang lahir. Dia melihat syahwat-syahwat seolah-olah dari bahasa yang tidak dia kenal, sehingga itu adalah kata-kata yang mengandung makna bagi pemiliknya, bukan makna baginya. Sesungguhnya kata-kata kita mengambil maknanya dari diri kita sendiri.

Di dalam jiwa-jiwa ada yang seperti rumput kering: apabila makna-makna yang menyala jatuh padanya, maka terbarlah api dan berkobar. Dan di dalamnya dalam perjuangan ada yang seperti air: apabila makna-makna itu bercampur dengannya, maka padamlah dengannya dan sirnalah.

Suatu kali saya bertanya kepada sang syaikh: “Bagaimana karamah dan keajaiban terjadi pada manusia?” Dia menjawab: “Wahai anakku, sesungguhnya manusia dari kalangan yang tertutup, dia mengendalikan tubuhnya dan hampir tidak memiliki apa-apa untuk spiritualitasnya. Apabila dia telah berjuang keras dan cahaya masuk ke dalam hatinya, maka dia mengendalikan spiritualitasnya dan hampir tidak memiliki apa-apa untuk tubuhnya. Barangsiapa yang mampu melepaskan diri dari kemanusiaannya, dan dirinya meluas dalam makna-makna langit sebesar penyempitannya dari makna-makna bumi, dan dia dipersiapkan untuk merealisasikan dalam spiritualitasnya, dibantu dengan tabiat yang melampaui keseimbangan, maka dia telah tersebar di alam semesta, dan mendapat wajah dan jalan menuju kekuatan yang menghancurkan dan membangun di dunia, yang memisah dan menyatukan, yang memindahkan bentuk-bentuk dari satu ke yang lain.

Sesungguhnya seluruh alam semesta adalah satu substansi yaitu cahaya. Bahkan gunung adalah cahaya berbatu, bahkan laut adalah cahaya berair, bahkan besi, emas, dan tanah, semua itu adalah cahaya yang diatur oleh Kekuasaan Ilahi dengan pengaturan-Nya yang menakjubkan. Maka jadilah sebagaimana yang kita lihat: tampak menyerupai yang sesuai dengan kekurangan dan ketidakmampuan kita, dan hakikat yang tetap berbeda dari apa yang kita lihat. Siapakah yang berakal bahwa batu adalah cahaya yang beku, jika dia tidak memiliki selain akal mata dan indera-inderanya? Dan siapakah yang mampu memahami dengan indera dan matanya firman Allah Ta’ala: ‘Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Itulah) perbuatan Allah yang membuat segala sesuatu dengan kokoh’ (Surat An-Naml: 88)?

Gunung-gunung itu diam tidak bergerak, namun mereka bergerak dengan buminya dan berombak dalam dirinya sendiri. Apabila Allah mengizinkan cahaya firman-Nya tersingkap bagi akal manusia, maka ayat ini akan menjadi ilmu baru di bumi, yang membuktikan bahwa awan dan gunung adalah materi yang satu dan ciptaan yang satu.

Alangkah mengejeknya manusia dan kebodohannya! Karena jika hakikat berbeda dari apa yang kita lihat, maka segala sesuatu di dunia adalah bantahan terhadap pandangan manusia, dan hampir saja gunung yang besar itu menjadi kalimat besar yang berkata kepada manusia: “Kamu bohong!”

Maka urusan dalam keajaiban dan karamah kembali kepada kekuasaan untuk menguasakan manusia spiritual apa yang ada padanya dari rahasia cahaya terhadap apa yang ada pada sebagian benda dari rahasia ini. Dan itulah ketaatan sebagian alam semesta kepada orang yang berpaling dari materi dan berhubungan dengan Penciptanya.

Apabila masih tersisa pada lelaki spiritual sesuatu dari urusan tubuhnya yang mengatakan: “Aku…”, maka tidak ada pada lelaki itu dari kekuasaan itu setitik pun. Jika dia berusaha untuk menembusi kebiasaan, alam semesta menolak untuk mengenalnya kecuali seperti mengenal batu yang dilempar yang berusaha mengendalikan gunung yang darinya dia berasal, lalu memindahkannya atau menggesernya atau mengguncangkannya.

Tidak ada kebaikan di bumi sama sekali kecuali ia adalah pengambilan dari hak-hak “aku” ini dalam manusianya, dan tidak ada kejahatan di bumi sama sekali kecuali ia adalah penambahan hak-hak kepadanya. Maka ketika tidak tersisa hak baginya pada sesuatu menurut dirinya, maka wajiblah hak baginya pada saat itu atas segala sesuatu. Dan inilah karamah: dimuliakan makhluk oleh siapa yang dimuliakan Pencipta.

Barangsiapa yang ingin agar jiwanya berhubungan dengan Allah, maka jangan ada pada dirinya sesuatu dari bagian dirinya, dan jangan beriman seperti iman orang awam ini: iman mereka kepada Allah adalah pikiran yang diingat dan dilupakan, adapun amal mereka adalah iman mereka yang mantap kepada tubuh dan syahwat-syahwatnya yang diingat dan tidak dilupakan.

Engkau melihat orang-orang spiritual makan, minum, dan berpakaian, tetapi semua ini tidak ada di dalamnya setitik pun dari roh mereka, berbeda dengan orang lain dari manusia. Yang ini semua roh mereka ada dalam makanan dan kenikmatan mereka. Oleh karena itu, syaitan tidak mengalir pada yang pertama kecuali dalam aliran yang sempit, sangat sempit sehingga hampir tidak dapat menembus ke pikiran atau syahwat atau mimpi dari mimpi-mimpi dunia. Adapun yang terakhir, maka syaitan dalam diri mereka adalah arus darah, mengalir deras di bawah dan di atas.

Abu al-Hasan berkata: Pada waktu itu kami berada di Damaskus. Pembicaraan syaikh tentang syaitan mengingatkan saya pada apa yang pernah saya baca tentang banyak orang yang melihat syaitan atau berdialog dengannya atau bergulat dengannya. Maka saya berkata kepada syaikh: “Sesungguhnya hakmu atasku adalah aku bertanya kepadamu hakku atasmu. Dan tidak ada yang lebih aku sukai dan lebih aku kagumi dalam hatiku daripada aku melihat syaitan, berbicara dengannya, dan mendengarkannya. Dan engkau mampu memindahkanku kepadanya sebagaimana engkau telah memindahkanku kepada alam-alam gaib yang engkau masukkan aku ke dalamnya.”

Syaikh berkata: “Dan apa yang dikembalikan kepadamu dengan melihat syaitan dan berbicara dengannya?”

Saya berkata: “Subhanallah! Tidak bermanfaat bagiku apa-apa kecuali aku mengejeknya.”

Syaikh berkata: “Maka aku khawatir, wahai anakku, bahwa syaitanlah yang ingin engkau melihatnya dan mendengarkannya…!”

Saya berkata: “Maka aku ingin bertanya kepadanya tentang rahasianya, sehingga menjadi ilmu bukan ejekan.”

Dia berkata: “Seandainya dia menyingkap rahasianya untukmu, maka dia tidak akan menjadi syaitan, karena dia hanya menjadi syaitan dengan rahasianya bukan dengan yang lain.”

Saya berkata: “Maka aku ingin melihat syaitan agar aku telah melihat syaitan!”

Syaikh berkata: “Laa haula wa laa quwwata illa billah! Seandainya engkau wahai Abu al-Hasan memiliki empat kaki, niscaya engkau lari dari syaitan dengan tiga di antaranya dan membiarkannya menyeretmu dari satu!”

Saya berkata: “Wahai tuanku, seandainya aku seekor keledai, niscaya sia-sialah kerja syaitan pada keempat kakiku, karena dia tidak perlu menyesatkan keledai!”

Maka syaikh tersenyum dan berkata: “Dan haruskah engkau melihat syaitan dan berbicara dengannya?”

Saya berkata: “Harus.”

Dia berkata: “Dialah yang mengatakannya, maka berdirilah!”

Abu al-Hasan berkata: Apabila syaikh berjalan menuju urusan yang luar biasa, aku tetap bersamanya dalam keadaan tidak sadar terhadap indera, seolah-olah dia membatalkan dariku apa yang dengannya aku adalah aku, maka aku menjadi bayangan manusia yang tergantung padanya. Keajaiban tidak terjadi kecuali bagi siapa yang menemukan kekuatan yang menyempurnakan rohnya. Kekuatan ini mengambil dari syaikh yang telah sampai, maka harus ada imam yang mengambil dari imam, seolah-olah itu adalah rantai jiwa yang berbeda di bumi, maka yang satu berubah dengan yang satu, ketika jatuh dalam suasananya lalu bertunas dan berbuah, seperti pohon: suasana yang membalutnya, suasana yang melayukannya, dan suasana yang merampasnya dengan perampasan. Demikian pula jiwa berbuat jika dia memiliki suasana.

Kami keluar dari Damaskus dan aku di belakang syaikh seperti yang dibawa. Aku melihat kami telah menghadap pada bangunan besar, dan aku melihat kaum yang menerima syaikh, memberi salam kepadanya, dan meminta berkah dengan kedatangannya. Jiwaku mengingkari mereka dan aku merasakan keterasingan dari mereka. Syaikh menoleh kepadaku dan berkata: “Mereka ini dari jin, dan bukan kepada mereka tujuan kami, maka jangan sibuk dengan apa yang engkau lihat dan sibukah denganku.”

Kemudian kami sampai ke bangunan besar itu, maka menyambut kami kelompok lain, dan mereka memasukkan syaikh dengan aku di belakangnya. Mereka membawa kami melewati dunia tersembunyi yang tidak dapat dideskripsikan, dari apa yang tidak pernah dilihat mata dan tidak pernah didengar telinga. Mereka berkata: “Ini adalah harta karun Sulaiman dan simpanannya.” Mereka mengelilingi syaikh memperlihatkan kepadanya harta karun demi harta karun. Kami melihat di sana kenikmatan dan kerajaan besar.

Kemudian akhirnya kami sampai ke gua yang dalam seolah-olah itu adalah urat dari urat-urat tubuh bumi, darinya memancar gemuruh seperti guntur yang memekakkan, kecuali di telinga seperti suara sapi jantan, kecuali itu sapi jantan yang aku bayangkan bahwa kepalanya seukuran gunung besar, bergantung padanya gelambir seukuran gunung lain, pada tubuh yang menutupi dua ufuk. Suaranya seolah-olah teriakan bumi. Dan aku berada di tempat yang paling jelek pemandangannya dan paling busuk baunya, seolah-olah itu penjara yang bangunannya dari bangkai.

Aku berkata: “Apa ini?”

Mereka berkata: “Ini penjara Iblis, dan dia di sini dalam gua ini sejak zaman Sulaiman alaihissalam.”

Aku berkata: “Apakah dia dipenjara?”

Mereka berkata: “Dan dia dengan itu dirantai dengan besi sebesar gunung-gunung yang membebaninya dalam penjaranya, sehingga dia tidak bergeser dan tidak bergerak.”

Aku berkata: “Dan dia dengan itu telah memenuhi dunia dengan kerusakan, bagaimana jika dia bebas?”

Mereka berkata: “Seandainya dia bebas, niscaya dia menguasai semua manusia. Maka berkumpullah penduduk bumi pada satu syahwat tidak ada yang lain, maka batallah dengan syahwat satu ini segala pengaturan antara mereka, sehingga tidak tegak bagi mereka politik, dan tidak ada di antara mereka yang mencegah. Maka mereka kembali seperti anjing-anjing yang terkena rabies dan mengamuk, taring mereka dalam daging mereka, tidak henti-hentinya sebagian menggigit sebagian, sehingga tidak ada bagi semuanya kecuali satu perbuatan yang menyerahkan mereka kepada kebinasaan, dan menjadilah permukaan bumi lebih telanjang dari punggung kulit.”

Sesungguhnya manusia menjadi baik dengan perbedaan syahwat mereka, pertentangan dan perselisihannya: sebagian menguasai sebagian, dan sesuatu dari itu mencegah dua hal. Dan siapa yang terbebas dari nafsu, dia menekan dengannya nafsu lain, seperti orang yang menikah yang terjaga: dia menghukum dengan cambuk dan rajam orang yang tidak memiliki istri lalu berzina. Seperti orang kaya yang berkecukupan: dia menghukum pencuri yang tidak mendapat lalu mencuri, dan seterusnya.

Manusia tidak tumbuh dalam tiga masa umur, mereka muda, dewasa, dan tua, kecuali agar syahwat mereka berbeda dan berbeda ukuran keinginan padanya. Maka terwujudlah dari situ hikmah Ilahi dalam pengaturan dan syariat mendapat tempatnya di antara mereka, sebagaimana kemaksiatan mendapat tempatnya di antara mereka.

Seandainya suatu umat semuanya anak-anak atau orang dewasa atau orang tua, niscaya mereka binasa dalam satu generasi. Sesungguhnya tidak ada yang lebih buruk dari kejahatan sendirian di bumi kecuali kebajikan sendirian, maka harus ada sesuatu yang memunculkan dengannya sesuatu yang lain seperti lawan dan lawan. Pertempuran jika semua yang di dalamnya menang, maka itu main-main dan menjadi sesuatu selain pertempuran.

Abu al-Hasan berkata: Aku berkata kepada mereka: “Jika syaitan adalah tahanan yang telah dibebani dengan bebannya, bahkan dia dalam penjara dari penjara sebagai pelebihan dalam menahannya dan menyempitkannya, bagaimana dia menggoda manusia di penjuru bumi dan membisikkan di hati mereka, bahkan dia adalah tangan di antara setiap dua tangan, dan bahkan dia adalah mata ketiga bagi dua mata setiap manusia?”

Mereka berkata: “Sesungguhnya dalam roh apinya ada kekuatan yang memisah darinya dan menyebar di bumi, seperti sinar matahari dari matahari: ini adalah bola api mati yang bergantung pada tubuh-tubuh mengawasinya, dan itu adalah bola api hidup yang bergantung pada jiwa-jiwa mengawasinya. Dengan yang ini dan itu, kemakmuran dunia dan penduduk dunia.”

Aku berkata: “Mungkin kalian bermaksud mengatakan: kehancuran dunia dan penduduk dunia. Kalian salah, seharusnya datang sebagai ganti kesalahan…”

Maka salah satu dari mereka berkata: “Wahai Abu al-Hasan, paku merobek kain. Di sini boleh karena tidak ada keraguan bahwa maf’ul bih -yaitu kain- marfu’ dan fa’ilnya -yaitu paku- manshub. Apakah engkau datang -celakalah engkau- mencari nahwu atau mencari syaitan?”

Abu al-Hasan berkata: Jin itu -demi Allah- memotong pembicaraanku dan membuatku malu. Aku melihat sembunyi-sembunyi ke syaikh untuk melihat bagaimana dia mengejekku, maka syaikh telah menghilang sehingga aku tidak melihatnya, dan aku sendirian di antara jin dan berhadapan dengan si pengejek ini yang matanya di dahinya dan mulutnya terbelah di tengkuknya…! Maka hilanglah dariku dan lenyap apa yang kurasakan. Aku berkata dalam hatiku: “Sekarang aku mencapai tujuanku dari syaitan dan urusan akan sesuai dengan apa yang aku inginkan, maka aku tidak menemukan dari siapa aku malu dan tidak ada yang memotong pembicaraanku dari kehormatan syaikh!”

Pikiran ini jatuh dalam hatiku, maka aku berlindung kepada Allah dan melaknat syaitan. Aku berkata: “Ini adalah permainan pertamanya denganku dan menjadikanku dari golongan riya, seolah-olah bagiku ada urusan dalam kehadiran syaikh dan urusan dalam ketidakhadirannya, dan seolah-olah aku munafik yang menampakkan selain apa yang kusembunyikan.” Aku berkata: “Inna lillah! Hampir saja wahai Abu al-Hasan engkau menjadi syaitan!”

Kemudian aku bermaksud mundur ke belakang, karena aku yakin bahwa syaikh hanya meninggalkanku agar aku berada di sini dengan diriku bukan dengannya. Padahal aku tidak berada di sini kecuali dengannya bukan dengan diriku. Maka hampir saja jika aku tetap di tempatku, aku akan binasa! Namun gua itu terbuka untukku tiba-tiba sehingga aku tidak dapat menahan diri untuk tidak melihat. Aku melihat sehingga aku tidak dapat menahan diri untuk tidak berdiri. Aku berdiri melihat, maka asap telah bergolak lalu naik berputar putarannya hingga memenuhi tempat dengannya, kemudian menipis dan lembut.

Dari asap itu menyala api besar yang memiliki bara yang sangat menyala, sebagian menyala dalam sebagian, dan terdengar dari suaranya gemuruh yang kuat, kemudian padam.

Di tempatnya meledak seperti bendungan yang jebol dari air kental putih kuning merah, seolah-olah nanah yang bernanah dalam darah, kemudian surut.

Di tempatnya muncul lumpur busuk yang mulai membengkak dan membesar hingga aku takut akan menelanku dan aku hilang di dalamnya. Aku menyebut nama Allah Ta’ala, maka lumpur itu tenggelam ke dalam bumi.

Kemudian aku melihat seekor anjing hitam dengan mata merah, mengerikan penciptaannya seperti singa, telah berdiri di atas bangkai kotor yang tenggelam di dalamnya moncongnya, minum dari apa yang mengalir darinya.

Aku berkata: “Wahai anjing, apakah engkau syaitan?”

Aku melihat maka dia adalah makhluk jelek seolah-olah dia manusia dalam binatang yang telah bercampur dan sesuatu dari keduanya menguasai sesuatu. Adapun wajahnya, maka itu adalah pemandangan paling jelek, engkau mengira dia telah memakai bentuk perbuatan-perbuatannya.

Dia berbicara dan berkata: “Aku syaitan!”

Aku berkata: “Apa bangkai itu?”

Dia berkata: “Itu dunia kalian dalam syahwat-syahwatnya, dan aku menelan hati orang fasik atau berdosa dari kalian, sebagaimana aku menelan cacing dari bangkai ini.”

Aku berkata: “Semoga laknat Allah atasmu dan atas orang-orang fasik dan berdosa. Bagaimana engkau dahulu asap, kemudian berubah menjadi api, kemudian kembali menjadi nanah, kemudian menjadi lumpur, kemudian menjadi anjing di atas bangkai?”

Dia berkata: “Jangan melaknat orang-orang fasik dan berdosa, karena mereka adalah hamba-hamba yang saleh dengan salah satu dari dua makna, dan engkau serta orang-orang sepertimu adalah hamba-hamba saleh dengan makna yang lain. Bukankah di dunia ada malu dan tidak tahu malu? Maka mereka wahai Abu al-Hasan adalah ketidaktahuan maluku terhadap Allah! Aku dari kalian dalam zuhud kalian adalah kekurangan dari kekurangan, dan kemiskinan dari kemiskinan. Sungguh kalian telah membinasakanku dengan kesengsaraan. Hanya saja aku bersama mereka adalah kenikmatan dari kenikmatan, dan syahwat dari syahwat, dan kekayaan dari kekayaan. Tidak sempurna kenikmatan di bumi, dan tidak manis bagi yang merasakannya walaupun itu halal, kecuali jika aku meletakkan di dalamnya makna dari makna-maknaku atau ketidaktahuan malu dari ketidaktahuan maluku! Bahkan aku menjadikan istri bagi suaminya seperti syair yang fasih jika meminjam untuknya makna dariku. Dan segala yang dengan itu wanita rusak, maka itu adalah majaz dan pinjaman dariku untuknya, aku menjadikannya dengannya fasih.

Dan kalian wahai Abu al-Hasan memotong seluruh hidup kalian berjuang melawan dosa satu jam dari kehidupan hamba-hambaku. Maka lihatlah -semoga Allah merahmatiku- jika satu jam dari kehidupan mereka adalah neraka kalian, bagaimana neraka orang-orang miskin ini?

Sesungguhnya engkau melihatku asap karena aku demikian muncul dalam hati manusia. Maka apabila bergerak di dalamnya gerakan kejahatan, aku seperti tipu daya untuk menyalakan api dengan meniupnya. Dari situ aku menjadi asap. Jika pemilik hati lengah dariku, aku menyala dalam hatinya api yang mencari apa yang memadamkannya. Kemudian dia melakukan dosa dan maksiat dan memenuhi nafsunya, maka aku mendinginkan hatinya. Maka di hatinya seperti luka bakar yang dingin kemudian memakan tempatnya lalu bernanah. Kemudian nanah perbuatan-perbuatannya bercampur dengan materi tanahnya yang bersifat bumi, maka berubah orang miskin ini menjadi lumpur manusia yang tidak henti-hentinya membengkak dan mengembang sebagaimana engkau lihat.”

Aku berkata: “A’udzu billahi minka! Apakah engkau tidak mengetahui sesuatu yang menolak dari hati sementara engkau masih asap?”

Si laknat terkekeh dan berkata: “Alangkah lengahnya engkau wahai Abu al-Hasan, ketika engkau meminta syaitan untuk menciptakan taubat! Seandainya ada sesuatu yang menciptakan taubat di bumi, niscaya kuburlah yang menciptakannya, yang di dalamnya sebagian dari kalian mengubur sebagian setiap sekejap mata dari waktu. Kalian menurunkan di dalamnya mayit yang malang yang telah terputus dari segala sesuatu dan meninggalkannya untuk dosa-dosanya, dan perhitungan dosa-dosanya, dan kebinasaan abadi dalam dosa-dosanya. Kemudian kalian kembali untuk melakukan dosa-dosa ini sendiri.”

Aku berkata: “Atasmu dan atasmu wahai si laknat! Tetapi apakah asap ini tidak tersebar jika dihembus angin atau padam apa yang di bawahnya!”

Dia berkata: “Auh! Sungguh engkau telah menyakitiku seolah-olah engkau memukulku dengan tali dari api. Sesungguhnya Nabi kalian mengetahuinya tetapi kalian bodoh. Kalian mengambil perkataan Nabi kalian seolah-olah itu perkataan bukan perbuatan, dan seolah-olah itu perkataan manusia di zamannya. Perkataan kenabian untuk seluruh masa dan untuk seluruh kehidupan. Oleh karena itu aku mengalahkan para nabi atas manusia, karena aku meletakkan makna-makna yang bekerja, bukan hikmah yang ditinggalkan bagi siapa yang mengamalkannya dan siapa yang tidak mengamalkan.

Tahukah engkau wahai Abu al-Hasan, mengapa pendahulu-pendahulu kalian yang pertama seperti Umar dan Abu Bakar menggagalkanku? Bahkan Islam mereka menjadi salah satu musibah terbesarku, sehingga mereka meninggalkanku suatu masa -dan aku syaitan- ragu bahwa aku adalah syaitan?”

Aku berkata: “Mengapa?”

Dia berkata: “Aku melihatmu sekarang tidak melaknat, maka aku tidak akan mengatakannya kecuali jika engkau merahmatiku.”

Aku berkata: “Atasmu dan atasmu dari laknat-laknat Allah! Katakan mengapa?”

Dia berkata: “Bertanya dan memerintah? Parasit dan memberi saran? Harus engkau merahmatiku!”

Aku berkata: “Semoga Allah merahmati kami darimu! Katakan mengapa?”

Dia berkata: “Dan ini laknat dalam lafazh rahmat. Tidak, kecuali engkau merahmatiku, aku Iblis yang terlaknat!”

Aku berkata: “Maka cukup Allah dari ilmumu. Sungguh roh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengilhamkannya kepadaku: Sesungguhnya kenabian adalah dengan perbuatan-perbuatan dan sifat-sifatnya tafsir bagi lafazh-lafazh pada wajah yang paling tinggi dan paling sempurna. Seolah-olah roh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bagi roh-roh itu seperti ibu bagi anak-anaknya. Mereka telah melihatnya tidak marah untuk dirinya dan tidak untuk bagian dirinya. Dan itu tidak lurus kecuali dengan maksud dalam urusan jiwa, dan menjadikan sisi berlebihan padanya berlebihan dalam amal untuk kebahagiaan manusia.

Setiap kali manusia kembali untuk dirinya dan bagian-bagiannya, dia kembali kepadamu -wahai si laknat- dan menghadap pada kesengsaraan dirinya. Dan setiap kali dia beramal untuk kebahagiaan selainnya, dia menjauh darimu -wahai si terlaknat- dan menghadap pada kebahagiaan dirinya. Meninggalkan kemarahan dan bagian-bagian jiwa adalah sabar terhadap peristiwa-peristiwa seluruh umur, seperti sabar musafir jika itu adalah tekad sepanjang perjalanan. Jika tidak, maka itu kerusakan dalam kekuatan dan terjatuh padanya kehinaan.

Maka inilah kesabaran yang teguh dan mantap, yang dengannya seorang laki-laki memantapkan dirinya untuk menjadi laki-laki sejati hingga akhir, inilah lelahnya dunia, tetapi inilah jiwa surga bersama manusia di dunia. Dan orang mukmin yang sabar adalah seorang laki-laki yang terkunci dengan kunci-kunci malaikat yang tidak dapat ditembus syaitan dan tidak dapat dibuka oleh musibah-musibah dunia; oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang mukmin dapat melelahkan syaitannya sebagaimana salah seorang dari kalian melelahkan untanya dalam perjalanan”, seakan-akan beliau berkata: seandainya musafir tidak sabar terus-menerus dengan tekad bulat sepanjang perjalanannya, niscaya ia tidak akan melelahkan untanya, dan seandainya orang mukmin tidak sabar sepanjang hidupnya, niscaya ia tidak akan melelahkan syaitannya.

Maka berteriaklah syaitan: “Aduh, aduh! Tetapi katakanlah kepadaku wahai Abu al-Hasan: bagaimana kesabaran seorang laki-laki mukmin yang kuat imannya, yang telah mampu dengan kekuatan imannya untuk tersadar dari mabuk kekayaan, sehingga ia terbebas dari bisikan-bisikan syaitan emas kecil yang kalian sebut dinar; aku telah mendorongnya untuk berbohong, tetapi imannya memilih untuk jujur; aku berusaha membuatnya marah, tetapi hikmahnya memilih untuk tenang; aku mencoba membuatnya tamak, tetapi ketenangan batinnya memilih untuk ridha; aku membisikkan kepadanya untuk iri hati, tetapi keutamaannya memilih untuk tidak peduli, dan ia mengambil untuk dirinya dari segala sesuatu dalam kehidupan dengan apa yang ia yakini sebagai iman dan kesabaran dan ketenangan dan keridhaan dan qana’ah; dan ia mengelilingi dirinya dari akhlak-akhlak ini dengan kebahagiaan hati dan merasa cukup dengannya; dan ia membatasi pandangannya pada kebenaran, dan menemukan keindahan dalam jiwanya yang baik dan jernih; dan ia menjalani apa yang menyakitinya dan apa yang membuatnya senang dalam satu alur yang sama; dan memandang seluruh umur seakan-akan hanya satu hari yang menanti terbenamnya matahari; dan ia mengambil dari kehendaknya kekuatan yang membuatnya lupa pada apa yang tidak diberikan dunia kepadanya, sehingga ia tidak peduli dengan apa yang diberikan dunia dan apa yang ditahannya; dan ia hidup dalam kefakirannya dengan semua itu sebagaimana orang mukmin hidup di surga, yang satu di istana dari mutiara atau yakut atau zamrud, dan yang satunya di istana dari hikmah atau dari iman atau dari akal.”

Syaitan berkata: “Ketika ia telah mengalahkanku dengan kebaikan dan keridhaan dan kesabaran dan qana’ah dan iman dan ihtisab, dan ia adalah seorang laki-laki yang berilmu dan faqih, maka aku membisikkan kepadanya untuk keluar ke masjid untuk memberi nasihat kepada orang-orang agar mereka mendapat manfaat darinya, dan menjelaskan kepada mereka tentang agama mereka, dan berbicara tentang nash kalam Allah; maka ia mengadakan majelis dan memberi nasihat, lalu mereka pulang dan ia tinggal sendirian.

Kemudian datanglah seorang wanita bertanya kepadanya tentang sebagian hal yang dibutuhkan para wanita dalam agama dari urusan tabiat mereka; dan wanita itu adalah wanita yang padat, segar, dan berisi, yang bergetar bagian atas dan bawahnya, dan berjalan dengan langkah pendek perlahan-lahan seperti orang yang terbebani oleh rahasia-rahasia kecantikannya dan rahasia-rahasia tubuhnya yang indah; sebagian cara berjalannya terjaga dan sebagian lagi tidur yang lemah bercampur dengan keterbangunan; dan tidaklah seorang laki-laki jantan yang sempurna kejantanannya melihatnya kecuali ia melihat udara itu sendiri telah menjadi betina di sekelilingnya, karena hembusan angin wanginya yang harum dari perhiasan dan tubuhnya.

Dan sang penceramah telah menjanda beberapa bulan yang lalu, dan wanita itu telah menjanda beberapa tahun; ketika ia melihatnya, ia menundukkan pandangannya darinya; tetapi wanita itu bertanya kepadanya dengan kata-kata manisnya tentang perkara-perkara yang merupakan rahasia tabiatnya, dan bertanya kepadanya tentang tabiatnya dengan kata-katanya; maka ia mendengar darinya seperti suara kristal yang pecah satu sama lain.

Dan wanita itu berbicara kepadanya seakan-akan ia sedang berbicara tentang dirinya: maka ia mendengar dengan telinga dan darahnya, kemudian menundukkan matanya justru lebih kuat untuk penglihatan hatinya dan pengumpulan khawatirnya.

Dan ia melihat suaranya yang menggoda; dan aroma wanginya yang tajam memeluknya; dan mengelilinginya dengan suasana seperti suasana tempat tidur; dan nafas-nafasnya kembali seakan-akan bisikan ciuman; dan desah nafasnya seperti panci ketika mendidih sempurna; dan muncul dalam khayalnya telanjang sebagaimana muncul bagi orang mabuk dari gelas anggur seorang bidadari telanjang, yang memiliki tubuh yang terlihat dari kelembutan dan kekenyalan dan kenikmatan seakan-akan dari buih laut?

Abu al-Hasan berkata: “Dan aku seperti orang yang tertidur, maka aku tidak merasakan apa-apa kecuali suara seperti benturan batu dengan batu, bukan seperti pecahan kristal satu sama lain, dan aku mendengar guruku berkata:

“Apakah engkau telah berbuat fasik?”

 

 

Sejarah Berbicara:

Apakah para pembaca tahu bahwa dalam mimpi terdapat mimpi-mimpi yang merupakan cerita mental yang lengkap bagian-bagiannya, rapi susunannya, konsisten strukturnya, indah komposisinya, yang membuat seseorang ketika tidur seolah-olah menyerahkan dirinya kepada “sekelompok malaikat” yang membawanya berkelana di dunia ajaib seakan-akan sihir yang berubah menjadi cerita?

Jika di antara para pembaca ada yang tidak mengetahui hal ini, maka hendaklah ia mengetahuinya dariku; karena aku sering kali menulis dan membaca dalam tidur; dan sering kali disampaikan kepadaku kalam yang indah, dan sering kali aku melihat hal-hal yang jika aku tuliskan akan dianggap sebagai keajaiban dan mukjizat.

Dan cerita yang aku kisahkan hari ini, mukjizatnya adalah bahwa aku berjalan dalam sejarah sebagaimana aku berjalan di jalan yang terbentang; maka aku maju ke arah orang-orang tahun 395 Hijriah dan seterusnya, lalu aku hidup bersama mereka dan mengetahui berita-berita mereka, kemudian aku kembali ke zamanku untuk menceritakan apa yang aku lihat kepada orang-orang tahun 1353.

Kemarin sore aku merasa sedih dalam keadaan yang berat bagi jiwa yang tidak dapat terlepas darinya, yang pertama adalah gangguan pencernaan; dan ketika dimulai dari sini, pergerakan dalam jiwa hanya berputar: pergi sejauh yang bisa pergi kemudian tidak berakhir kecuali pada gangguan pencernaan itu sendiri. Maka aku duduk di tempat yang lembap tempat aku biasa duduk pada malam hari, dan kelembabannya terasa berat seperti yang dirasakan penyelam di air merasakan beratnya air di atasnya; dan aku merokok hookah namun itu bukan udara dan asap yang menyegarkan, melainkan karena beratnya seperti makanan yang masuk di atas makanan; dan aku melihat ke suatu arah maka mataku tertuju pada seorang laki-laki yang buruk perawakan, perutnya menggelembung seolah-olah perutnya ditiup dengan alat, ia membawa dari perutnya sebesar empat perut wanita gemuk yang sedang hamil yang masing-masing berada di bulan kesembilan kehamilannya, dan bersamaku untuk semua musibah ini ada lima surat kabar harian yang ingin kubaca!

Kemudian aku datang ke rumah sementara pertempuran sedang sengit di sarafku; dan gangguan pencernaan bukanlah obat tidur yang mengundang tidur, maka aku masuk ke ruang bukuku dan menginginkan sebuah buku, buku apa saja yang dapat diraih tanganku, maka keluarlah untukku sebuah buku tentang dongeng-dongeng orang-orang terdahulu dan mitos-mitos mereka serta ocehan mereka dan gangguan pencernaan mental mereka, seperti pembicaraan tentang Adonis dan Artemis dan Dionisius dan Semiramis dan Isis dan Atobis dan Athergatis. Maka aku berlindung kepada Allah dan berkata: “Sampai buku-buku pun di malam ini memiliki saraf yang terkena kelesuan dan sakit?”

Dan malam itu berlalu dengan terjaga bersamaku, dan aku tetap gelisah berbolak-balik hingga sakit kepala mulai mendera kepalaku, maka kelelahan berubah menjadi tidur, dan dari tidur datang kelelahan yang lain, dan aku terlempar ke dunia mimpi dalam bom yang menempatkanku di mana ia mau bukan di mana aku mau.

Dan aku melihat diriku berada di tengah kaum yang tidak aku kenal seorang pun dari mereka telah berkumpul dalam kerumunan, dan aku mendengar seorang dari mereka berkata: “Sekarang akan lewat tuan kita yang mulia.” Maka aku berkata kepada orang yang di sampingku: “Siapakah tuan kita yang mulia?” Dia berkata: “Atau kamu termasuk mereka?” Aku berkata: “Termasuk siapa?” Maka perhatiannya teralihkan dari menjawabku oleh keinginan orang-orang untuk melihat dan perhatian mereka kepada seorang laki-laki yang datang mengendarai keledai keabu-abuan. Maka mereka berteriak “Bulan! Bulan!” dan laki-laki yang di sampingku mengangkat suaranya berkata: “Keberkahan dan keagungan bagimu wahai tuan mulia kami.”

Aku berkata: “Inna lillahi! Aku telah jatuh ke tengah kaum zindik yang menentang ‘At-tahiyyatu ash-shalawatu ath-thayyibatu lillah’ (Segala penghormatan, shalawat dan kebaikan bagi Allah).” Kemudian pemilik keledai itu lewat di hadapanku, dan laki-laki itu menunjukku kepadanya, lalu dia berkata: “Mengapa kamu tidak berkata seperti dia?” Aku berkata: “A’udzu billahi min kufrin ba’da iman (Aku berlindung kepada Allah dari kekufuran setelah iman).” Maka seolah-olah dia ingin menamparku lalu mengangkat tangannya, maka aku berteriak kepadanya: “Tetaplah seperti itu -celakalah kamu- atau aku akan menangkapmu dan menyerahkanmu kepada polisi, dan mengadukanmu kepada kejaksaan, dan membawamu ke pengadilan pidana!”

Dia berkata: “Apa yang aku dengar? Laki-laki ini gila, tangkap dia!” Dan sekelompok dari mereka mengelilingiku, tetapi dia turun dari keledainya dan mengambil tanganku dan kami berjalan. Maka aku berkata: “Siapa kamu ini?” Dia berkata: “Aku melihat kamu bukan dari negeri ini; apakah kamu tidak mengenal Al-Hakim bi Amrillah? Akulah dia.” Aku berkata: “Lihatlah -celakalah kamu- apa yang kamu katakan. Aku tidak mengira kamu kecuali orang gila; kemarin aku menulis surat kepada majalah ‘Ar-Risalah’ bertanggal 13 Dzulhijjah tahun 1353 dan 18 Maret tahun 1935, dan aku kirimkan artikel ‘Al-Kharufain’.”

Dia berkata: “Apa yang aku dengar? Kami sekarang di tahun 395; maka laki-laki ini gila. Atau kamu, wahai laki-laki, adalah salah satu mukjizatku, aku telah membawamu dari sejarah, maka kamu akan melihat dan menulis, kemudian kamu kembali ke sejarah maka kamu akan menjadi salah satu mukjizatku, dan kamu akan bercerita tentangku dan bersaksi untukku!”

Aku berkata: “Maka aku mengetahui perbuatan-perbuatanmu hingga kamu dibunuh pada tahun 411!”

Dia berkata: “Atau kamu tuhan sehingga kamu menciptakan enam belas tahun dengan peristiwa-peristiwanya? Kamu hampir dengan kebodohan dan kekonyolanmu merusak klaimku tentang mukjizat!”

Dan sakit kepala mengamuk di kepalaku, dan gangguan pencernaan mencapai batasnya, dan huruf sin dari Isis dan Atobis dan lain-lain bercampur dengan sin Iblis, dan di antara semua ini berlalu peristiwa-peristiwa sang tiran yang bodoh dan sombong. Maka aku melihatnya mengadakan bid’ah di setiap waktu, dan menciptakan hukum-hukum yang memaksa orang untuk mengamalkannya, dan menghukum mereka karena keluar darinya, kemudian dia kembali membatalkan perintahnya dan menghukum karena mengambilnya, seolah-olah yang membatalkan berbeda dengan yang menetapkan, dan seolah-olah ketika dia bodoh sehingga tidak mampu menciptakan yang baru dia menjadikan ciptaannya adalah pembatalan ciptaannya.

Dan aku melihatnya seolah-olah dia menganggap dirinya otak bangsa ini, maka tidak boleh tidak dia menjadi akal untuk akal-akal mereka, kemudian tidak boleh tidak dia meninggikan diri atas manusia dan berbuat sewenang-wenang terhadap mereka dengan kesewenang-wenangan syariat dalam perintah dan larangannya. Maka perbuatan-perbuatannya secara keseluruhan adalah kebalikan dari perbuatan-perbuatan syariat Islam, dan dia menyangka bahwa dia mampu menghapus zaman itu dari pikiran manusia dan membunuh sejarah Islam dengan sejarah pembunuh yang kejam.

Dan kegilaannya membisikkan kepadanya bahwa dia diciptakan untuk mendustakan kenabian; kemudian kegilaan berlebihan padanya sehingga terjadi dalam dirinya bahwa dia diciptakan untuk mendustakan ketuhanan; dan dalam pendustaannya terhadap kenabian dan ketuhanan dia memaksa bangsa dengan kekerasan dan kekuatan untuk tidak percaya kecuali kepadanya; dan dalam upaya membuktikan dirinya dia berbuat apa yang dia perbuat, maka datanglah sejarahnya tidak menafikan ketuhanan atau kenabian, tetapi menafikan akal dari pemiliknya, dan datanglah sejarah ini dalam Islam untuk berbicara suatu hari dalam sejarah Islam.

Aku melihat diriku menjadi penulis untuk Hakim ini, maka aku mulai menyaksikan perbuatan-perbuatannya dan mencatat sejarahnya, dan aku mulai melakukan apa yang dia khususkan untukku dan aku berkata dalam hatiku: “Dunia telah menempatkanku di tempat yang mulia yang tidak pernah dicapai oleh seorang pun dari para penulis dan sastrawan, maka aku akan menulis tentang zaman ini dengan akal yang antara dia dan zaman ini 968 tahun naik dalam ilmu.” Dan aku catat sepuluh jilid tebal, aku terbangun sementara aku menghafalnya semua, ternyata itu adalah kalimat-kalimat kecil, mimpi menjadikan setiap penggalan darinya sebagai kitab tebal sebagaimana terbayang oleh orang tidur bahwa dia hidup lama dan mengalami peristiwa-peristiwa panjang, padahal mimpi itu hanya sesaat.

Dan inilah jilid-jilid yang aku katakan: Sesungguhnya sejarah berbicara dengannya dalam sejarah.

Jilid Pertama: Tiran ini diuji dengan dua kekurangan: satu dari dirinya sendiri, dan yang lain dari selainnya. Adapun yang dari dirinya sendiri, maka aku melihat dia telah diciptakan dan dalam otaknya terdapat lapisan saraf dari yahudi kakeknya yang merupakan kepala dakwah ini; dia adalah Al-Hakim bin Al-Aziz bin Al-Mu’izz bin Al-Qasim Al-Mahdi Ubaidillah, dan mereka berkata: Sesungguhnya Ubaidillah adalah anak seorang wanita yahudi dari pandai besi yahudi, maka terjadilah disebutkan wanita-wanita dalam majelis Al-Husain bin Muhammad Al-Qaddah, maka mereka menggambarkan kepadanya wanita yahudi itu, dan bahwa dia adalah keajaiban dalam kecantikan, dan dia memiliki anak dari pandai besi itu, maka laki-laki itu menikahinya dan mendidik anaknya dan mengajarinya, kemudian mengenalkannya rahasia-rahasia dakwah Alawiyah dan mempercayakannya kepadanya.

Dan dari sebagian lapisan-lapisan saraf dalam otak ada yang turun dengan warisan tercetak pada kebaikan atau keburukannya, tidak ada kekuatan manusia di dalamnya dan tidak ada cara baginya untuk menolak atau melepaskan diri darinya, maka dia menjadi takdir yang bersambung dalam makhluk untuk menghasilkan tujuan-tujuan yang ditakdirkan. Maka ketika jatuh dalam otak manusia, dunia dengannya seperti wanita hamil dan tidak boleh tidak dia melahirkannya.

Lapisan yahudi ini dalam otak tiran ini akan mewujudkan dengannya firman Allah Ta’ala: “Sungguh kamu akan mendapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman adalah orang-orang yahudi” (Al-Ma’idah: 82). Maka dia tidak akan menjadi musuh bagi Islam tanpa menjadi yang paling keras dalam permusuhan ini, dan dia tidak akan menjadi yang paling keras di dalamnya hingga dia melakukan perbuatan-perbuatan yang mungkar. Dan aku tidak melihat menara-menara ini yang berdiri di udara kecuali merobek dengan pemandangannya matanya karena kebenciannya kepada Islam dan mengandung permusuhan terhadapnya, maka celakalah menara-menara itu karenanya!

Adapun kekurangan kedua, maka dia diuji dengan kaum yang memfitnah dia dengan pendapat-pendapat dan mazhab mereka, yaitu Hamzah bin Ali, dan Al-Akhram, dan si anu, dan si anu… dan mereka telah merekayasa untuk dunia sebuah mazhab yang merupakan gambaran akal-akal mereka yang ceroboh, tidak datang kecuali untuk menghancurkan, kemudian tidak meletakkan cangkul pertamanya kecuali di kubah langit untuk menghancurkannya! Dan jika aku kumpulkan mazhab ini dalam satu kata aku akan berkata: Dia adalah kebodohan bodoh yang ingin mengeluarkan Allah dari wujud untuk memasukkan Allah ke dalam sebagian tiran!

Dan mereka bergelar dalam mazhab mereka dengan gelar-gelar ini: Akal, Kehendak, Imam, Qaimuz-Zaman, Illatul-Ilal!

Jilid Kedua: Tiran itu menampakkan bahwa Allah mendukung Islam dengannya, untuk menarik hati tentara dan rakyat dan memikat mereka kepadanya, dan dia dalam hal itu rendah tipu dayanya, hina siasatnya, yahudi makarnya. Maka dia memerintahkan pembangunan madrasah-madrasah untuk fiqih dan tafsir dan hadits dan fatwa, dan mencurahkan harta di dalamnya, dan menempatkan di dalamnya para fuqaha dan syaikh, dan berlebihan dalam menghormati mereka, dan melapangkan untuk mereka, dan merendahkan diri kepada mereka, dan masuk dalam naungan sorban-sorban.

Dan dia hadirkan untuk dirinya dua faqih Maliki “dua bukan satu” yang mengajarinya dan memfaqihinya, dan dia seperti murid dengan syaikh tarekat yang merasa bahagia dengannya dan mengharap berkah; gelar paling mulia baginya adalah bahwa dia adalah pelayan sorban hijau, dan waktu paling bahagia baginya adalah hari ketika syaikh berkata kepadanya: “Aku melihatmu dalam mimpi dan aku melihat untukmu!”

Dan perlakuan Islam yang mulia ini dari tiran ini adalah riba lapisan yahudi dalam otaknya; baik dengan meminjamkan seratus, dan di dalamnya niat kehancuran dengan enam puluh persen! Maka dia tidak sempat menguasai manusia dan mengetahui sambutan mereka kepadanya dan kepercayaan mereka kepadanya, hingga lapisan yahudi menuntut modal dan riba, maka dia memerintahkan mereka menghancurkan madrasah-madrasah itu dan merusaknya, dan membatalkan dua hari raya dan shalat Jumat, dan membunuh para fuqaha dan membunuh bersama mereka dua faqihnya dan guru-gurunya, dan kembali seperti murid munafik dengan syaikh tarekat, berkata dalam hatinya: “Sesungguhnya di sana ada tiga yang bekerja satu pekerjaan dalam berburu: jebakan, sorban, dan jenggot!”

Sesungguhnya tiran ini adalah raja penguasa, dia mampu menjadikan kebodohannya sesuatu yang nyata, maka dia membunuh ulama agama dengan membinasakan mereka, dan membunuh madrasah-madrasah agama dengan merusaknya, dan jika dia mau dia mampu menggantung dari kaum muslim setiap pemilik sorban dengan sorbannya, dan sampai pada kekufurannya sehingga dia sombong dan melihat ini sebagai kekuatan, dan tidak tahu bahwa dia karena kehinaannya di sisi Allah telah dijadikan Allah seperti lalat yang menimpa manusia dengan penyakit, dan nyamuk yang membunuh dengan demam, dan kutu yang merugikan dengan pes. Maka jika lalat menyombongkan diri, atau kutu bersombong atau nyamuk membanggakan diri maka boleh baginya menyangka dengungannya di dunia. Dan apakah dia berbuat lebih dari apa yang mereka perbuat?

Dia telah membinasakan orang-orang yang iman mereka berdiri atas bahwa kematian di jalan kebenaran adalah yang mengabadikan mereka dalam kebenaran, dan bahwa pencabutan mereka dengan pedang dari kehidupan adalah yang menempatkan mereka dalam hakikatnya, dan bahwa ruh Islam ini tidak dihapus oleh kezaliman kecuali untuk menjernihkannya.

Dia -demi Allah- tidak membunuh dan tidak menggantung dan tidak menyiksa, tetapi Islam membutuhkan pada zamannya ini kepada kaum yang mati di jalannya, dan dia kekurangan jenis mulia dari kematian pertama itu yang dahulu menjadi kehidupan pemikiran dan bahan sejarah, maka datanglah kutu membawa pesnya! Dia telah menghidupkan mereka dalam sejarah, adapun mereka maka mereka membunuhnya dalam sejarah, dan dia datang kepada mereka dengan rahmat dari semua kaum muslim, adapun mereka maka mereka datang kepadanya dengan laknat dari semua kaum muslim!

Jilid Ketiga: Tiran ini melihat bahwa agama Islam adalah khurafat dan penyihiran terhadap jiwa, dan bahwa penghapusan akhlak Islam yang agung adalah penciptaan akhlaknya sendiri, dan bahwa Islam dahulu berani ketika datang lalu menguasai dunia ini; maka tidak akan mengusirnya dari dunia kecuali keberanian setan seperti yang kurang ajar kepada Allah ketika berkata: “Demi kemuliaanMu aku pasti akan menyesatkan mereka semua” (Shad: 82). Dan untuk itu dia memerintahkan manusia mencaci sahabat, dan supaya ditulis hal itu di dinding-dinding masjid dan makam dan jalan-jalan!

Allah menghinakannya! Apakah ini sandiwara teater yang ditempel iklannya di setiap tempat? Dan jika dia dengar pasti dia dengar masjid-masjid dan makam dan jalan-jalan berkata: Allah menghinakannya!

Jilid Keempat: Fasiq ini tidak mengendarai kecuali keledai keabu-abuan yang dia namakan: “Bulan”, dan dia telah menjadikan dirinya muhtasib untuk tujuan jahat; maka dia berkeliling dengan keledainya ini di pasar-pasar dan bersamanya budak hitam, maka siapa yang dia dapati telah menipu dia perintahkan si hitam lalu…! Dan dia berdiri melihat dan berkata kepada manusia: Lihatlah…!

Dan karena kemenangan kefasikan atas dirinya dan atas pengikutnya bahwa da’inya “Hamzah bin Ali” memuji keledai dalam bukunya dan mengisyaratkan kepadanya dengan pujian, untuk sifat-sifat: di antaranya bahwa…! Dan Hamzah ini menulis dalam sebagian suratnya; bahwa apa yang dilakukan ahli fasad di samping kebun-kebun yang dilewati “si fasiq” dari kemungkaran dan kekejian, sesungguhnya dilakukan dalam ketaatannya…!

Ini adalah tabiat setiap penguasa fasiq yang kafir, dia melihat dalam dirinya kejelekan-kejelehannya telanjang, maka tidak menjadi perkataannya dan perbuatannya dan pikirannya kecuali kekejian yang telanjang; dan sesungguhnya dalam laki-laki ini naluri fasiq hewani yang berhubungan dengan fase hewan manusia yang pertama; maka tidak diragukan bahwa dalam tubuhnya sel saraf yang bergejolak, yang masih berenang dengan warisan dalam darah makhluk hidup, terbungkus pada sifat-sifatnya, hingga menetap dalam saraf fasiq ini, maka meledak dengan semua sifat-sifat itu.

Dan aku tidak melihat sebagian besar perbuatannya kembali dalam ujungnya kecuali kepada kezaliman naluri ini padanya; maka dia berusaha menghancurkan Islam, karena dia adalah agama kesucian dan agama pemeliharaan wanita, mewajibkan padanya hijab kesucian dan kebanggaannya, dan mencegahnya dari kerendahan dan kebebasan, dan membantunya untuk melepaskan diri dari yang menginginkannya, meskipun dia adalah penguasa. Sesungguhnya dia membenci agama yang kuat ini, sebagaimana pencuri membenci undang-undang; maka dia adalah agama yang berat bagi naluri fasiqnya, dan setiap naluri dalam manusia memiliki perasaan tidak ada ketenangan baginya kecuali menjadi bebas bahkan dalam khayalan; dan apakah mengherankan pemabuk sesuatu atau memuaskannya atau menyenangkannya, sebagaimana mengherankannya bahwa dia melihat semua manusia mabuk, maka dia mabuk dengan khamr, dan nalurinya mabuk dengan melihat kemabukan?

Dan masih tetap pendapat ahli fasad di setiap zaman bahwa kebebasan adalah kebebasan bersenang-senang, dan bahwa pembatasan kenikmatan adalah perusakan kenikmatan.

Jilid Kelima: Tiran mengklaim bahwa dia memuliakan kaumnya, dan aku tidak melihat dia memuliakan mereka, tetapi dia menguji kehinaan dan kelemahan dan kehormatan mereka di sisi bangsa-bangsa; dia berani sedikit demi sedikit, menunggu apa yang mudah, mengawasi apa yang mungkin; dan dia melihat bahwa akhlak Islam kami adalah orang-orang mati kami yang menguburkan dirinya dalam diri kami; maka dari itu dia menghancurkan akhlak dan menyangka pada dirinya bahwa dia menghancurkan kuburan bukan akhlak.

Dan sungguh orang-orang Mesir mengejeknya dengan lelucon dari humor mereka yang indah, dan mereka datang kepadanya dari nalurinya, maka mereka membuat wanita dari kertas yang menyerupai kulit, dan mengenakan sepatu dan kain sarungnya, hingga tidak diragukan orang yang melihatnya bahwa dia manusia, kemudian mereka letakkan di mulutnya surat dan mendirikannya di jalannya; maka ketika dia melihatnya dia menuju kepadanya dan mengambil dari tangannya surat itu dan membacanya, maka ternyata di dalamnya cacian untuknya dan untuk bapak-bapaknya, dan ejekan terhadap kegilaan dan kebodohannya yang menggelikan; maka dia marah dan memerintahkan membunuh wanita itu, maka ini adalah ejekan lain ketika terbukti bahwa dia dari kertas, dan lelucon yang bagus itu mengejutkannya seperti kilat dan guntur; maka dia sangat marah dan memerintahkan budak-budak hitamnya membakar rumah-rumah dan merampas apa yang ada di dalamnya dan menawan wanita-wanita dan berbuat cabul dengan mereka; hingga datanglah suami-suami membeli istri-istri mereka dari budak-budak, setelah badai hitam terbang di putihnya kehormatan.

Meletus revolusi kecabulan di kota, bukan dari budak-budak, tetapi dari hewan kuno yang menetap dalam tiran ini.

Jilid Keenam: Dan ini kebodohan dari kebodohan-kebodohannya yang paling jelek, seolah-olah hewan ini tidak menghitung semua wanita bangsa kecuali wanitanya, maka dia memerintahkan mereka dengan perintah istrinya, dan seolah-olah wanita-wanita dalam pendapatnya tidak lain adalah respons saraf yang dilepaskan dan dikembalikan.

Sesungguhnya bagi gelombang kefasikan dalam naluri yang zalim ada surut dan pasang yang terjadi dalam sejarah ahli fasad; maka tiran ini telah surut padanya gelombang, maka dia memerintahkan supaya dicegah wanita-wanita dari keluar malam dan siang, tidak menginjak tanah kota kaki wanita, dan dia memerintahkan pembuat sepatu supaya tidak membuat untuk mereka sepatu dan alas kaki; dan ketika dia tahu bahwa sebagian wanita keluar ke pemandian dia hancurkan pemandian di atas mereka!

Dan jika gelombang pasang dalam kefasikan si fasiq dia akan wajibkan pada wanita-wanita keluar dan berhubungan dengan laki-laki dan terbuka untuk kebebasan.

Sesungguhnya kebaikan dan kerusakan keduanya adalah kerusakan selama kebaikan bukan kebersihan dalam ruh dan ketinggian dalam hati.

Jilid Ketujuh: Tiran mengklaim bahwa dia akan menghancurkan setiap yang lama; dan aku benar-benar khawatir -demi Allah- bahwa dia akan memerintahkan manusia dalam sebagian kemarahan kegilaannya: bahwa setiap yang memiliki ayah atau ibu yang mencapai enam puluh maka hendaklah dia membunuhnya, untuk membebaskan bangsa dari kelamaan manusiawinya!

Seolah-olah dia tidak tahu bahwa dia hanya menguasai hari-hari orang-orang sezamannya bukan sejarah; dan memerintah ketaatan kaumnya dan pembangkangan mereka bukan hati dan tabiat dan warisan mereka dari leluhur; maka tidak lain dia akan binasa hingga bangkit di dunia dua hal: bau busuk mayatnya di perut bumi, dan bau busuk perbuatan-perbuatannya di atas bumi. Sesungguhnya laki-laki yang berkuasa ini, seperti debu yang berterbangan tidak disapu kecuali setelah jatuh.

Dan sungguh si gila melihat bahwa makan manusia sayur molokhia hijau dan minuman fuqqa’, dan lupine dan selada air, dan kismis dan anggur, adalah kecenderungan lama dalam tabiat manusia, maka dia larang semua itu, tidak dijual dan tidak dimakan, dan ternyata pada sekelompok yang menjual hal-hal darinya maka dia pukul mereka dengan cambuk, dan dia perintahkan lalu diarak mereka di pasar-pasar, kemudian dia penggal leher mereka; seolah-olah yang membawa molokhia hijau di atas kepalanya untuk menjualnya memakai sorban hijau.

Apakah ini -celakalah dia- pembaharuan dalam bangsa, atau pembaharuan dalam perut?

Jilid Kedelapan: Tiran tidak rela kecuali dia menghancurkan kerohanian bangsa seluruhnya, maka dia tidak meninggalkan sesuatu yang rohani yang memiliki dalam saraf manusia bekas dari ketenangan. Dan dengan siapa dia berharap menang -celakalah dia- jika dihancurkan kerohanian bangsa dan kecenderungan agamanya hampir pada kehancuran? Seolah-olah dia tidak tahu bahwa hakikat wujud bagi suatu bangsa dari bangsa-bangsa sesungguhnya mengambil dari imannya kepada cita-cita tertinggi yang mendorongnya dalam damai kepada kehidupan dengan kekuatan, sebagaimana mendorongnya dalam perang kepada kematian dengan kekuatan; dan seolah-olah dia tidak tahu bahwa sejarah seluruhnya ditentukan di bumi oleh beberapa prinsip agama.

Penguasa yang Bodoh ini

Penguasa yang bodoh ini bagiku seperti orang yang berkata pada dirinya sendiri: “Aku tidak mampu menaklukkan negara lain, maka biarlah aku menaklukkan negara di kerajaanku sendiri.” Dia telah memerintahkan untuk menghancurkan gereja-gereja dan rumah ibadah, hingga yang dihancurkannya mencapai tiga puluh ribu lebih.

Orang gila mana yang lebih bodoh gila-nya dari orang ini yang menganggap jiwa-jiwa manusia seperti kayu-kayu yang semuanya tanpa kecuali menerima dipakukan paku?

Dia akan tahu jika terjadi perang antara dia dengan negara lain, bahwa dia telah mematahkan pedang yang paling tajam ketika dia mematahkan agama!

Jilid Kesembilan:

Inilah bencana yang paling besar; aku tidak tahu bagaimana menulis tentangnya. Si gila itu telah melampaui batas hingga ke ketuhanan lalu mengklaimnya, dan dia mulai menulis tentang dirinya: “Atas nama Penguasa Yang Maha Rahman!”

Seandainya orang paling bodoh sekalipun berada di posisinya, dia akan takut akan sesuatu – bukan takut karena agama dan hati nurani, tetapi takut karena kemunafikan politik – sehingga dia akan membuat orang-orang berkata tentangnya: “Bapa kami yang di bumi!”

Kalau tidak, betapa bodoh dan gegabahnya, betapa dungu dan cerobohnya, menjadi tuhan di atas keledai, meskipun nama keledainya adalah “Bulan”!

Jilid Kesepuluh:

Allah akan menghukumnya melalui seorang perempuan; setiap sesuatu memiliki kehancuran dari jenisnya sendiri. Telah sampai pada tingkat kekurangajaran nalurinya sehingga dia memfitnah adiknya, Putri “Sitt al-Mulk”, dan menuduhnya berbuat keji, padahal dia adalah salah satu perempuan yang paling suci dan terbaik. Dia menuduhnya bersama Pangeran “Saif al-Din bin al-Dawas,” dan aku tahu bahwa dia merencanakan pembunuhannya, dan bahwa dia telah bertemu dengan Saif al-Din untuk hal itu.

Maka aku akan berhenti menulis di jilid ini, dan membiarkan sisanya kosong hingga aku pergi kepada mereka berdua untuk membantu mereka dengan pendapat yang kumiliki, kemudian kembali untuk mencatat apa yang terjadi setelahnya.

Aku melihat bahwa aku telah bertemu dengan mereka berdua dan mereka merasa tenang denganku, lalu kami mulai bermusyawarah:

Putri berkata kepada Saif al-Din: “Menurutku, sebaiknya kamu suruh para pemuda mengikutinya dan membunuhnya jika dia keluar besok ke Bukit Muqattam, karena dia akan menyendiri di sana!”

Maka aku berkata: “Ini bukan pendapat yang baik dan bukan rencana yang tepat.”

Dia berkata: “Lalu apa pendapat dan rencana menurutmu?”

Aku berkata: “Kami memiliki ilmu yang disebut ‘ilmu jiwa’ yang belum diketahui oleh para ulama kalian. Dari ilmu ini telah jelas bagiku bahwa orang itu memiliki naluri yang liar dan gila, dan bahwa sinar-sinar halus yang mempesona yang terpancar dari tubuh perempuan adalah yang meledak di otaknya berulang kali. Jika sinar-sinar ini padam dan naluri itu hilang, maka semua motif perbuatan jahatnya akan hilang, dan dia akan berhenti dari usahanya untuk membuat umat dipenuhi dengan naluri tubuhnya dan syahwatnya, bukan dengan kebajikan dan agamanya. Jika kalian mengambil pendapatku dan melaksanakannya, maka dia akan menyangkal perbuatan-perbuatannya ketika dia meninjau dirinya yang baru, dan dengan ini dia akan memperbaiki apa yang telah dirusaknya, dan hidupnya akan mengucapkan kata yang benar sebagaimana dia telah mengucapkan kata yang salah, maka jika…”

Pangeran berkata: “Jika bagaimana?”

Aku berkata: “Jika dikebiri…”

Sitt al-Mulk tertawa dengan tawa yang berdering.

Aku berkata: “Ya, jika penguasa ini dikebiri.”

Dia tertawa lebih keras dari sebelumnya, dan melemparkan saputangan halus yang ada di tangannya mengenai wajahku, lalu aku terbangun sambil berkata: “Ya, jika penguasa ini dikebiri…”

Kekafiran Lalat:

Kalila berkata ketika dia menasehati Dimna dan memperingatkannya serta menunaikan hak Allah padanya; dan Dimna telah dimasuki kesombongan dan dimabukkan kemenangan, dan terlihat darinya kekasaran dan kekerasan, dan rubah-rubah mendapat kesulitan besar dari penyimpangan dan kesesatannya.

“Ketahuilah wahai Dimna, bahwa apa yang kamu klaim sebagai pendapatmu yang sempurna tanpa cacat, itulah justru yang cacat dan tidak sempurna. Kesombongan yang kamu gunakan untuk membuktikan bahwa pendapatmu benar di antara pendapat-pendapat lain, boleh jadi itulah yang membuktikan bahwa pendapat selain pendapatmu yang benar di antara pendapat-pendapat.

Seandainya urusan itu sesuai dengan apa yang dibayangkan setiap orang yang berkhayal, maka setiap orang akan benar dalam apa yang diklaim. Seandainya setiap orang benar dalam apa yang diklaim, maka setiap orang akan berbohong. Sesungguhnya Allah mendorong manusia satu sama lain agar kebenaran semua datang dari semua, dan kesalahan kecil tetap kecil sehingga tidak membesar, dan kebenaran besar tetap pada tempatnya tanpa berkurang, dan yang benar akan tetap benar selama ada kesaksian untuknya, dan yang salah akan rusak selama ada kesaksian terhadapnya. Perumpamaan ini seperti kelinci dan para ulama.”

Dimna berkata: “Bagaimana hal itu terjadi?”

Dia berkata: “Dikisahkan bahwa seekor kelinci mendengar para ulama berbicara tentang nasib dunia ini, kapan Allah mengizinkan kehancurannya, dan bagaimana bencana besar itu terjadi. Mereka berkata: ‘Sesungguhnya di antara bintang-bintang ada bintang-bintang berekor, jika ekor salah satunya melilit bumi kita ini, maka bumi akan terbang seperti hembusan peniup, bahkan lebih lemah seperti hembusan dada orang sakit, bahkan lebih lemah lagi seperti tiupan dari dua bibir.’

Kelinci berkata: ‘Betapa bodohnya kalian wahai para ulama! Demi Allah, kalian sudah pikun, berbohong, dan bodoh. Bumi akan tetap baik bersama makhluk-makhluk berekor. Bukti kebodohan kalian adalah ini!’ Mereka berkata: ‘Dan dia menunjukkan ekornya kepada mereka!'”

Kalila berkata: “Betapa banyak orang sombong yang menempatkan dirinya di antara para nabi pada posisi kelinci ini di antara para ulama itu, lalu berkata: ‘Mereka berbohong dan aku benar, mereka semua salah dan aku benar, mereka bingung dan aku yang jelas, mereka hanya mengira-ngira dan aku yang yakin.’ Padahal dia tidak memiliki bukti kecuali seperti bukti kelinci bodoh itu dari sesuatu yang bergerak di ekornya.

Dan dikatakan: Tidak ada yang berani menampakkan kekafiran di tengah suatu kaum kecuali seorang laki-laki yang hina di mata mereka sehingga mereka tidak peduli padanya – dia adalah yang paling hina dan lemah, atau seorang laki-laki yang mereka hina di matanya sehingga dia tidak peduli pada mereka – dia adalah yang paling kuat dan tiran. Yang pertama tidak mereka takuti sehingga mereka biarkan dia sendiri dan atasnya ada kesaksian kebodohannya. Yang kedua mereka takuti sehingga mereka tinggalkan menentangnya dan atasnya ada kesaksian kezalimannya. Tidak ada yang lebih buruk dari ini kecuali ini.

Para ulama berkata: ‘Jika kamu seorang penguasa yang menggantung orang yang menentang pendapatmu, maka di kepalamu tidak ada akal kecuali yang bernama tali. Jika kamu membunuh orang yang mengingkari kesalahanmu, maka bagimu tidak ada akal kecuali yang bernama besi. Jika kamu memenjarakan orang yang menentangmu dengan pemikiran, maka padamu ada akal yang bernama dinding. Adapun jika kamu berdiskusi dan berdebat, meyakinkan dan diyakinkan, mengajak manusia dengan penjelasan dan tidak mengambil mereka dengan kebutaan, maka padamu ada akal yang namanya akal.'”

Kalila berkata: “Dan aku wahai Dimna, seandainya aku seorang pemimpin yang ditaati, seorang pangeran yang diikuti, yang perintahnya tidak pernah dibantah, pendapatnya tidak pernah ditolak, tidak pernah diingkari dariku apa yang diingkari dari makhluk ketika dia salah, dan tidak pernah dikatakan kepadaku selamanya kecuali salah satu dari dua kata: ‘Benar,’ dan kata itu selalu ‘Benar’; dan tidak ada seorang pun dari kaumku yang menemuiku dengan kata yang lain, karena takut pada murkaku – takutnya para pengecut, atau karena ingin rida-ku – inginnya para munafik, dan mereka mengklaim bahwa niat mereka sudah benar dan batin mereka semua sudah tulus untukku, seandainya aku begitu dan mereka begitu, maka kekurangan mereka akan mengubahku menjadi kekurangan akal setelah kesempurnaannya, dan kefasikan mereka akan mengembalikanku kepada kefasikan pendapat setelah baiknya. Maka pantas bagiku untuk menganggap bahwa penempatan mereka aku di posisi tuhan-tuhan adalah penurunan mereka aku ke tingkat setan-setan. Kalau tidak, aku layak mendapat apa yang menimpa kambing yang mereka klaim sebagai betina gajah.”

Dimna berkata: “Bagaimana hal itu terjadi?”

Dia berkata: “Dikisahkan bahwa di salah satu reruntuhan India ada sekelompok kadal besar, dan di antaranya ada seekor kadal raja yang besar. Kelompok itu membuatnya raja dan pergi untuk mematuhi perintahnya dan berhenti pada larangannya. Lalu lewat di reruntuhan ini seekor gajah besar dari gajah-gajah India yang besar, yang tidak merasakan adanya kadal-kadal itu, dan tidak membedakan antara bangsa serangga ini dengan kerikil yang berserakan berkilau di bumi sana-sini.

Mereka berkata: ‘Maka marahlah kadal raja itu’ – dan dia adalah pemimpin yang besar – kemudian dia memikirkan urusan gajah itu, melihat bagaimana cara menghadapinya dan bagaimana cara menghancurkannya. Dia melihat gajah itu tidak bergerak kecuali dengan kakinya yang dipindahkannya satu per satu. Maka dia memperkirakan dalam dirinya bahwa jika dia memindahkan kaki gajah dari tanah, maka gajah itu sendiri akan hilang. Maka dia datang dan menghadang jalan, serta merayap dengan rayapannya. Ketika gajah mengangkat kakinya, dia memanfaatkan kelengahan ini darinya dan menyelinap di bawahnya, maka dia menyelinap terkubur dalam tanah!

Kemudian kadal-kadal itu kehilangan pemimpin mereka. Setelah gajah itu pergi ke jalannya dan mereka melihat apa yang menimpa mereka, mereka lari ke batu-batu mereka dan bersembunyi di dalamnya sambil mengawasi dan menunggu. Lalu masuklah ke reruntuhan itu seekor kambing yang mulai memungut dan merumput di dalamnya. Kadal-kadal melihatnya lalu berkumpul bermusyawarah.

Salah satu dari mereka berkata: ‘Ini betina gajah.’ Seekor kadal bertanya: ‘Di mana kedua gading besar itu?’

Yang pertama berkata: ‘Sesungguhnya betina itu kurang dari jantan dalam penciptaannya. Betina adalah jantan yang terbalik atau dipendekkan atau cacat. Karena itu mereka membalik kehidupan atau memendekkannya atau mencacatkannya. Tidakkah kamu melihat kedua gading besar yang menonjol pada gajah besar itu, bagaimana mereka tumbuh kecil terbalik di atas kepala betinanya?’

Satu berkata: ‘Jika pendapatmu itu benar, di mana belalainya?’

Yang lain berkata: ‘Itu adalah gelambir yang menggantung dari lehernya, dan itu adalah belalai seukuran kebetinaannya!’

Mereka berkata: ‘Kemudian pendapat mereka sepakat untuk menjadikan betina gajah ini sebagai ratu mereka dan memberikan reruntuhan beserta rakyatnya kepadanya.’

Kambing mendengar pembicaraan mereka lalu berkata dalam hatinya: ‘Tentu saja kambing bisa menjadi gajah di tengah bangsa kadal. Para ulama telah berkata: Tidak ada yang besar kecuali dengan yang kecil, tidak ada yang kuat kecuali dengan yang lemah, tidak ada tiran kecuali dengan yang hina. Sesungguhnya kebesaran tidak lain adalah kesaksian kehinaan atas dirinya sendiri. Sungguh ada penguasa besar yang tiran dan sombong yang tidak berdiri di tengah manusia kecuali seperti berdirinya tipu daya, tidak hidup kecuali seperti hidupnya kebohongan, tidak memerintah kecuali seperti memerintahnya penipuan. Dunia ini bagi orang yang beruntung seolah-olah dunia untuknya sendiri. Kapan pun dunia datang kepadanya, maka dia telah datang. Seandainya dunia berpaling darinya dari satu sisi, dia akan kembali dari sisi lain, untuk membuktikan bahwa keberuntungan itu adalah keberuntungan.’

Kadal-kadal mendekati kambing dan berkata kepadanya: ‘Wahai gajah betina yang besar, sesungguhnya pasangan besarmu telah menyentuh pemimpin kami, kadal raja, dengan kakinya sehingga menguburkannya di bawah tujuh bumi. Kamu adalah betinanya dan pemimpinnya, maka kami telah memilihmu sebagai ratu atas kami dan menghadiahkan reruntuhan beserta isinya kepadamu.’

Kambing berkata: ‘Maka aku menerima hadiah ini dari kalian, dan kalian telah berbuat baik. Namun antara kalian dan aku ada jarak seperti antara kadal dan gajah, antara kerikil dan gunung. Jika aku berkata, maka aku berkata. Jika aku memerintah, maka aku memerintah. Jika aku berbuat, maka aku berbuat. Di sini dalam bangsa ini semua ada “aku” satu yang tidak ada yang lain bersamanya, karena di sini dalam kepala ini ada otak gajah, dalam tubuh ini ada kekuatan gajah, dan dalam reruntuhan semua ada satu gajah. Maka jangan aku kenal dari kalian terhadap yang benar dan yang salah kecuali ketaatan – ketaatan orang buta kepada yang dapat melihat.

Ketahuilah bahwa kebenaran pertama adalah bahwa aku gajah dan kalian kadal. Ketika keyakinan dimulai dari sini, perselisihan antara kita gugur dan keberatan dari kalian batal. Kekuatanku benar karena ia kekuatan, dan kebatilanku juga benar karena dari kekuatanku. Nenek moyang kami, para bijak gajah, telah berkata: Sesungguhnya yang kuat di antara yang lemah adalah kehendak mutlak, maka dia pemaslah bahkan dengan kerusakan, bijak bahkan dengan kebodohan, imam bahkan dengan khurafat, alim bahkan dengan kebodohan, nabi bahkan dengan sihir!’

Mereka berkata: ‘Seekor kadal salehah yang alim mengingkarinya. Dia memiliki pendapat dan agama di antara kaumnya, dan mereka memanggilnya “Surban” karena warna putihnya, kesalehannya, dan kesuciannya. Dia berkata: “Tidak semua seperti ini wahai gajah betina. Kamu telah berbohong bukan kebenaran. Sesungguhnya kamu memerintah kami karena kami bukan karena kamu. Perkataanmu tidak lain adalah kata-kata yang diwujudkan oleh perbuatan kami. Bagimu ketaatan dalam hal yang memperbaiki kami, dan selain itu adalah penolakan atasmu. Pendapatmu adalah sesuatu yang seharusnya bersama dengan pendapat-pendapat kami, agar sebab-sebab persetujuan dan pertentangan menjadi jelas, sehingga kami mengambil dengan penjelasan dan meninggalkan dengan penjelasan.

Dalam hikmah kuno dikatakan: Sesungguhnya wajib bagi orang yang mengajukan pendapat kepada umat yang bijak agar mereka mengambilnya, atau meletakkan syariat untuk mereka agar dia memaksa mereka padanya, atau membuat sunnah untuk mereka agar mereka mengikutinya – wajib bagi orang yang maju ini untuk mengubah atau membebaskan umat bahwa dia maju kepada ahli syura dengan pendapat di kepalanya dan tali di lehernya. Kemudian dia berbicara dengan pendapatnya, menjelaskannya dan membelanya, dia berdebat dengan mereka dan mereka berdebat dengannya. Jika pendapat itu benar mereka ambil pendapat itu, dan jika salah mereka ambil tali lalu gantung di dalamnya orang yang gegabah ini.

Dalam agama kami ketaatan dalam kemaksiatan adalah kemaksiatan lain. Kami dulu memiliki kadal raja yang ahli dalam agama-agama, yang mempelajari kitab-kitabnya, alim dan peneliti. Di antara yang dia ajarkan kepada kami: bahwa makhluk dibangun atas kekurangan ketika dia menuju kepunahan, maka wajib tidak ada yang sempurna darinya kecuali dengan kadar, dan tidak ada kekuatan padanya kecuali dengan kadar. Karena itu akal yang sempurna di bumi adalah kumpulan semua akal-akal besar, dan pendapat yang paling sempurna dan paling benar adalah apa yang dibuktikan oleh pendapat-pendapat sendiri sebagai yang paling benar dan paling sempurna. Maka kamu tidak mengikuti agama wahai gajah betina, dan tidak mengikuti akal pada kami, tidak ada kecuali ‘penggajahan’ palsu ini.”

Ketika kambing mendengar itu, dia marah dan geram, lalu berkata: “Jauhkan dari kalian omong kosong ini dari lidah kalian, dan kebatilan ini dalam akal kalian. Jangan aku dengar dari kalian kata agama dan kata para nabi dan kadal-kadal… Itu wahyu selain wahyuku. Jika itu selain wahyuku maka aku tidak ada di dalamnya, dan jika aku tidak ada di dalamnya maka itu tidak cocok untuk pemerintahan yang syaratnya adalah bahwa dalam negara tidak ada kecuali aku satu. Itu jika tidak membuat kalian asing dariku akan membuat aku asing dari kalian – pasti salah satu dari dua keasingan – maka itu awal perpisahan, dan perpisahan adalah awal kerusakan. Selama dalam agama ada perintah selain perintahku, larangan selain laranganku, halal dan haram yang tidak berubah sesuai kehendakku, maka aku gila jika aku rela ini untuk kalian!”

“Surban” tertawa dan berkata kepada kambing: “Katakanlah: Aku gila dengan ‘aku’. Tidakkah boleh dan kamu makhluk dari makhluk bahwa akalmu tertimpa sesuatu dari apa yang menimpa perkataan? Kami tidak mengingkari bahwa kamu kuat pendapat dalam segi kekuatan, baik perencanaan dalam segi keberanian, melampaui batas dalam segi keteguhan dan perhatian pada kepentingan negara. Tetapi tidakkah para bijak berkata: Sesungguhnya kelebihan yang berlebihan dalam satu segi akal datang dari kekurangan yang mengurangi segi lain? Sungguh ada akal yang sempurna jenius dalam perkara-perkara karena dia lemah bodoh dalam yang lain – dia baik dalam itu apa yang tidak bisa dibaikkan siapa pun, dan dia putuskan dari itu apa yang tidak bisa diputuskan siapa pun, kemudian dia salah dalam yang lain apa yang tidak salah siapa pun di dalamnya?”

Mereka berkata: “Maka kambing itu meluap dan mendidih dari kemarahan seperti letusan tiran, dan terbayang baginya dari kebutaan amarah bahwa dia pergi antara bumi dan langit, dan bahwa gelambir lehernya memanjang menjadi belalai panjang, dan tanduknya membengkak menjadi dua gading besar. Dia berkata: ‘Celakalah kalian! Ambil “Surban” ini dan gantung dia, karena dia seperti yang dia katakan – dia maju kepada kami dengan pendapat dan tali!'”

Di antara kadal-kadal ada yang lemah, kurus, pengecut, dan dimakan oleh setiap pemakan. Maka terbayangkan bagi mereka bahwa betina gajah ini akan menciptakan mereka menjadi gajah jika mereka menaatinya. Jika mereka membangkangnya maka dari ketegasan perangnya dia akan membuat setiap kuku dari kukunya gunung di atas mereka seperti naungan sehingga bumi ambles dengan mereka. Kemudian mereka mundur dan surut, “Surban” yang salehah diambil lalu digantung, pendapat padam setelahnya, perselisihan, agama, dan akal bebas terputus. Negara kadal-kadal menghadap kambing sambil menyeret ekor-ekornya.

Mereka berkata: “Kambing itu terperdaya dan merasa memiliki keberadaan yang tidak ada sebelumnya, dan mengetahui untuk dirinya – walau dia kambing – kedudukan gajah yang kuat. Maka dia tenggelam dalam kebutaannya dan mengingkari jenisnya, dan berkata: ‘Allah tidak menciptakanku gajah tetapi aku menciptakan diriku, maka aku bukan Dia…’ Dan tetap padanya bahwa dia bukan kambing meskipun setiap kambing di dunia menyerupainya. Dia pergi meniru dan hidup dengan cara hidup gajah di antara kadal-kadal. Jika berjalan dia bergoyang dan angkuh seolah-olah bangunan yang berguncang, jika berbaring dia peringatkan bumi untuk berpegang agar tidak dihancarkannya dengan rusuknya!

Gajah itu lewat di reruntuhan ini sekali lagi, maka semua kadal berlindung pada sang ‘gajah betina.’ Dia bersiap untuk berperang, menyiapkan diri untuk berperang tanding dan bertarung… dan ‘berkambing.’ Dia tegakkan tanduknya, gerakkan gelambir lehernya, menunduk, tekan kukunya ke tanah, tegakkan kakinya, keraskan tulangnya, kembangkan bulunya, berduri seperti landak, dan melakukan semua itu dengan keteguhannya. Dia adalah kambing yang suka menanduk sejak mengikuti ibunya. Bagaimana lagi setelah dia menjadi gajah?”

Kemudian ia (kambing betina) berdiri di jalan gajah agar dapat melihat dengan mata kepalanya sendiri kengerian yang dahsyat ini… Maka gajah itu mendekat dan mengulurkan belalainya, lalu meraihnya dengan belalai tersebut, melilitkannya di dalamnya, mencengkeramnya, mengangkatnya, dan melemparkannya hingga seolah-olah ia menghilang ke langit…!

Para biawak pun berhamburan dan bersembunyi di celah-celah batu mereka, kemudian keesokan harinya mereka keluar mencari rezeki. Ternyata bangkai kambing itu tidak jauh dari sana, maka mereka merayap mendekat dan memakan bangkai tersebut. Mereka pun mengetahui bahwa kambing itu telah gila karena kegilaannya, dan mereka menyadari bahwa kebohongan terhadap kebenaran, Allah telah menjadikan baginya kebenaran-kebenaran lain yang akan membunuhnya. Dan bahwa siapa yang mengalahkan kaum biawak dalam urusan mereka, maka hari-hari dan malam-malam bukanlah biawak yang dapat mengalahkannya. Dan bahwa perubahan makhluk-makhluk itu hanya terjadi dengan mengubah batinnya, bukan dengan mengubah lahirnya. Dan bahwa bejana merah memperlihatkan air berwarna merah padahal air itu sendiri tidak ada warna merahnya, hingga ketika bejana itu pecah, air tampak sebagaimana adanya. Dan segala sesuatu yang menyembunyikan kebenaran adalah seperti bejana ini: warna yang ada pada kebenaran, bukan di dalamnya. Kemudian mereka yakin bahwa upaya mengeluarkan suatu umat dari perselisihan seekor kambing yang gila, sama seperti upaya gajah untuk menguasai kambing…!

Kalilah berkata: “Ketahuilah wahai Dimnah, bahwa seandainya kambing bodoh ini tidak kafir seperti kafirnya lalat, niscaya Allah tidak akan mengambilnya seperti mengambil lalat.”

Dimnah berkata: “Bagaimana hal itu terjadi?”

Kalilah berkata: “Dikisahkan bahwa ada seekor lalat hitam yang termasuk lalat-lalat bodoh, kebodohan telah menguasainya selamanya, sehingga seandainya ia berubah menjadi setetes tinta dalam tintero, tidak akan ditulis dengannya kecuali kata kebodohan.

Lalat ini hinggap di wajah seorang wanita berkulit hitam yang gemuk, lalu ia mulai membandingkan antara dirinya dengan wanita tersebut, dan berkata: ‘Sungguh ini adalah dalil yang paling jelas bahwa dunia ini kacau balau tanpa keteraturan, dan bahwa dunia ini dibiarkan begitu saja sesuai dengan kebetulan, sia-sia dalam kesia-siaan. Tidak diragukan lagi bahwa para nabi telah membohongi manusia, karena bagaimana mungkin dalam hikmah dapat disamakan penciptaan “aku” dengan penciptaan lalat besar ini yang aku berada di atasnya?’

Kemudian pada suatu malam ia memandang langit dan melihat bintang-bintang berkilauan dan di antaranya bulan, lalu berkata: ‘Dan ini adalah dalil lain atas apa yang telah kukuatkan dalam diriku tentang kekacauan dunia, kebohongan agama-agama, dan kesia-siaan kebetulan-kebetulan. Maka iman itu tidak lain adalah kekafiran itu sendiri, dan menempatkan akal dalam sesuatu adalah menciptakan ketuhanan di dalamnya. Jika tidak, bagaimana mungkin dalam hikmah dapat disamakan penempatan “aku” di bumi dengan pengangkatan lalat-lalat putih ini dan pemimpin besarnya ke langit?’

Kemudian ia hinggap di rumah seorang petani, lalu ia berkeliaran di sana bolak-balik, hingga sapi betina petani itu pulang dari tempat merumput. Lalat itu pun terpana dan membeku di dahinya dari awal hari hingga akhir hari, seolah-olah ia sedang melakukan suatu pekerjaan. Ketika sore tiba, ia berkata: ‘Dan ini adalah dalil yang paling besar atas kekacauan rezeki di dunia. Dua lalat ini telah melubangi dua lubang di wajah sapi ini dan bersarang di dalamnya, memakan lemaknya sehingga mereka menjadi gemuk. Sedangkan manusia karena kebodohan mereka tentang ilmu kelalaian menyebutnya mata. Dan aku telah menghabiskan sepanjang hari ini mencakar, menggigit, dan menyengat untuk melubangi lubang seperti mereka, namun tidak berhasil mencabut sehelai bulu pun. Apakah dalam hikmah dapat disamakan rezekiku “aku” dengan rezeki dua lalat di wajah sapi ini?’

Kemudian ia melihat seekor kumbang yang merayap rayapannya di kotoran dan najis. Ia memandangnya dan berkata: ‘Ini tidak layak dijadikan dalil atas kekafiran, karena “aku” lebih baik darinya. “Aku” memiliki sayap sedangkan ia tidak, dan “aku” ringan sedangkan ia berat. Ia tidak lain seperti lalat tua dari lalat-lalat zaman dahulu, yang dulunya lamban tidak bergerak sehingga gerakan tidak dijadikan baginya sayap.’ Kemudian ia mendengarkan dan mendengar kumbang itu berkata kepada kumbang lainnya sambil bercakap-cakap: ‘Jika makhluk tidak menemukan dirinya sebagaimana yang diinginkannya, maka biarlah ia kafir sebagaimana yang diinginkannya. Celaka kami! Mengapa kami tidak menjadi kerbau seperti kerbau besar ini, padahal tidak ada perbedaan antara kami dengannya kecuali bahwa ia menemukan yang mengembungkannya sedangkan kami tidak?’

Maka lalat itu berkata: ‘Sungguh ini adalah dalil akal pada makhluk yang berakal ini. Demi umurku, ia tidak berjalan lambat karena ia pelan dan lelah karena kelemahannya, tetapi karena ia berwibawa, berat karena pemikiran-pemikirannya. Dan ia adalah dalil bahwa “aku” yang terdahulu dalam mengungkap kebenaran!’

Lalat itu terus berdengung dan tidak terdengar dari dengungannya kecuali: aku, aku, aku, aku… dari kekafiran ke kekafiran lainnya, ke kekafiran yang lain lagi, hingga seolah-olah seluruh langit menjadi dalam pertempuran melawan seekor lalat. Kemudian datanglah kebenaran kepada kekafiran bodoh ini dengan datangnya. Ketika lalat itu berada di dinding, setelah memakan satu atau dua nyamuk dan merasa bangga dengan dirinya, lalu berdiri menggaruk lengannya dengan lengannya, mendekatlah seekor bebek kecil yang baru menetas dari telurnya kemarin, lalu mengulurkan paruhnya dan mematuknya.

Dan ketika paruh itu menutup atasnya, ia berkata: ‘Aku beriman bahwa tidak ada tuhan selain Yang menciptakan bebek!'”

 

 

Hai Pemuda Arab!

Mereka mengatakan: Sesungguhnya pada pemuda Arab terdapat kepikunan semangat dan tekad, maka para pemuda meluas dalam kehidupan umat-umat sementara mereka menyusut.

Dan sesungguhnya permainan telah menggantikan mereka hingga kehidupan yang serius menjadi berat bagi mereka, maka mereka mengabaikan hal-hal yang mungkin sehingga hal-hal tersebut kembali kepada mereka seperti hal-hal yang mustahil.

Dan sesungguhnya main-main telah meringankan bagi mereka setiap kesulitan lalu mereka mempersingkatnya; maka jika mereka mengolok-olok musuh dalam sebuah kata seakan-akan mereka telah mengalahkannya dalam pertempuran…

Dan sesungguhnya pemuda di antara mereka menjadi laki-laki yang sempurna, dan kedewasaan tubuhnya memprotes kekanak-kanakan perbuatan-perbuatannya.

Dan mereka berkata: Sesungguhnya perkara besar bagi pemuda Arab adalah tidak pernah memikul tanggung jawab perkara besar.

Dan mereka mengklaim bahwa pemuda ini telah terjadi keakraban antara dia dengan kesalahan-kesalahannya, maka hidupnya adalah kehidupan kesalahan-kesalahan ini padanya.

Dan bahwa dia adalah peniru terhebat bagi Barat khususnya dalam keburukan-keburukan; dan dengan ini Barat menjadikannya seperti binatang yang terbatas pada makanan dan minumannya, dan kesenangan-kesenangannya.

Dan mereka mengklaim bahwa botol khamar bekerja di Timur yang malang ini seperti kerja seorang tentara asing penakluk…

Dan mereka saling berpesan bahwa awal politik dalam memperbudak bangsa-bangsa Timur adalah membiarkan mereka kemerdekaan penuh dalam kebebasan kejahatan…

Dan mereka berkata: Sesungguhnya tidak boleh tidak di Timur ada dua alat untuk perusakan: kekuatan Eropa, dan kejahatan-kejahatan Eropa.

Hai pemuda Arab! Dengan siapa selain kalian akan didustakan apa yang mereka katakan dan klaim tentang Timur yang malang ini?

Siapa selain pemuda yang akan menempatkan kekuatan berhadapan dengan kelemahan yang mereka gambarkan ini agar menjadi jawaban atasnya? Siapa selain kalian yang akan menjadikan jiwa-jiwa hukum-hukum yang tegas, yang menjadi pasal pertamanya: kami bisa karena kami mau?

Ketahuilah bahwa pertempuran antara kita dan penjajahan adalah pertempuran psikologis, jika main-main tidak membunuh di dalamnya maka kewajiban akan terbunuh di dalamnya!

Dan kebenaran-kebenaran yang ada antara kita dan penjajahan ini, penelitian analitisnya ada pada kalian, untuk mendustakan atau membenarkan.

Pemuda adalah kekuatan; maka matahari tidak memenuhi siang di akhirnya seperti memenuhinya di awalnya.

Dan dalam pemuda ada jenis kehidupan yang menampakkan kata kematian padanya seakan-akan ia saudara kata tidur.

Dan bagi pemuda ada sifat yang pertama kali dipahaminya adalah kepercayaan pada kelangsungan hidup, maka sifat pertamanya adalah ketekunan pada tekad.

Dan dalam pemuda dibuat setiap pohon dari pohon-pohon kehidupan buah-buahnya; dan setelah itu semua pohon tidak membuat kecuali kayu…

Hai pemuda Arab! Jadikanlah misi kalian: entah Timur hidup terhormat, atau kalian mati.

Selamatkanlah keutamaan-keutamaan kita dari kejahatan-kejahatan kota Eropa ini, niscaya kalian akan menyelamatkan kemerdekaan kita setelah itu, dan menyelamatkannya dengan itu.

Sesungguhnya Timur ini ketika Barat mengajaknya; “mengajak kepada yang madharatnya lebih dekat daripada manfaatnya; maka seburuk-buruk pelindung dan seburuk-buruk teman.”

Seburuk-buruk pelindung jika dia datang dengan kekuatan dan hukum-hukumnya, dan seburuk-buruk teman jika dia datang dengan kejahatan-kejahatan dan ketamakan-ketamakannya.

Wahai orang Timur! Sesungguhnya dinar asing di dalamnya ada peluru tersembunyi, dan hak-hak kita terbunuh dengan dinar-dinar ini.

Wahai orang Timur! Orang asing tidak berkata kepadamu kecuali seperti yang dikatakan setan: “Dan tidaklah ada bagiku kekuasaan atas kalian kecuali bahwa aku mengajak kalian lalu kalian menerima ajakanku” (Surah Ibrahim: 22).

Hai pemuda Arab! Tidak ada yang sulit menjadi sulit bagi nenek moyang kalian yang pertama, seakan-akan di tangan mereka ada kunci-kunci dari unsur-unsur yang mereka buka dengannya.

Apakah kalian ingin mengetahui rahasianya? Rahasianya adalah bahwa mereka naik di atas kelemahan makhluk, maka mereka menjadi perbuatan dari perbuatan-perbuatan Sang Pencipta. Mereka menguasai dunia ketika mereka menguasai dalam diri mereka makna kemiskinan, makna ketakutan, dan makna duniawi.

Dan agama mengajarkan mereka bagaimana hidup dengan kenikmatan-kenikmatan surgawi yang diletakkan dalam setiap hati kebesaran dan keagungannya.

Dan iman menciptakan mereka dengan penciptaan jiwa, tandanya yang tercatat pada setiap dari mereka adalah kata ini: tidak terhina.

Ketika kemiskinan adalah kekurangan harta, maka kebanyakan manusia menjadi miskin, dan kekuatan manusiawi melemah, dan bakat-bakat binasa.

Tetapi ketika kemiskinan adalah kekurangan amal yang baik, setiap manusia bisa menjadi kaya, dan kekuatan bangkit dan setiap bakat bekerja.

Dan ketika ketakutan adalah dari kekurangan kehidupan ini dan penderitaan-penderitaannya, kata ketakutan menafsirkan seratus kejahatan selain ketakutan.

Tetapi ketika ia adalah kekurangan kehidupan akhirat dan siksanya, kata itu menjadi hukum semua keutamaan.

Demikianlah agama menciptakan manusianya yang besar jiwa yang tidak dikatakan padanya: jiwanya kalah.

Hai pemuda Arab! Adalah hikmah Arab yang mereka amalkan: carilah kematian niscaya kehidupan akan dianugerahkan kepadamu.

Dan jiwa jika tidak takut mati maka naluri perjuangan adalah naluri pertamanya yang bekerja.

Dan bagi perjuangan ada naluri yang menjadikan seluruh kehidupan kemenangan, karena pikiran bersamanya hanya menjadi pikiran yang berjuang.

Naluri perjuangan hai pemuda, itulah yang menjadikan singa tidak gemuk seperti gemuknya domba untuk disembelih.

Dan jika suatu hari patah, maka batu keras jika darinya pecah sepotong menjadi petunjuk yang menyingkap bagi mata bahwa semuanya adalah batu keras.

Hai pemuda Arab! Sesungguhnya kata “hakku” tidak hidup dalam politik kecuali jika yang mengatakannya meletakkan hidupnya di dalamnya.

Maka kekuatan, kekuatan hai pemuda! Kekuatan yang membunuh pertama kali yang dibunuhnya adalah pikiran kemewahan dan kelembutan.

Kekuatan yang utama dan tinggi yang meletakkan bagi para pendukung dalam kata “ya” makna ya.

Kekuatan yang tegas dan menembus yang meletakkan bagi musuh-musuh dalam kata “tidak” makna tidak.

Hai pemuda Arab jadikanlah misi kalian: entah Timur hidup terhormat, atau kalian mati.

Andaikan…!

Aku melihat diriku duduk di teater komedi di kota Iskandariah, seperti duduknya hakim dalam kejahatan yang pelakunya membawa di hadapannya dosa-dosa dan perbuatan-perbuatan mereka, dan dia membawa akal dan keputusannya.

Dan aku pergi untuk melihat bagaimana orang-orang profesi ini bertingkah konyol; maka keputusanku adalah bahwa kekonyolan pada kita sangat konyol…

Aku melihat mereka di sana mengkritik cacat-cacat dengan apa yang menimbulkan cacat-cacat baru, dan mereka berenang dengan tangan-tangan mereka renangan mahir; tetapi di darat bukan di laut, dan hampir saja pandangan mereka kepada kebenaran komedi menjadi kebutaan yang nyata dari apa yang menjadikannya kebenaran komedi; dan tidak ada tujuan bagi mereka dari pementasan ini kecuali kekasaran dan kerendahan dan kekacauan dan omong kosong, jika ini lebih mirip dengan penonton mereka yang hadir, dan ini lebih dekat dengan tabiat-tabiat umum yang bodoh yang terbiasa dari memaksakan diri bercanda sehingga menjadikan mereka dalam diri mereka sendiri candaan yang ditertawakan.

Dan tidak ada yang lebih konyol dari memaksakan diri membuat lelucon dingin yang kosong dari makna, kecuali memaksakan diri tertawa buatan yang datang setelahnya seperti bukti bahwa dalam lelucon ini ada makna.

Maka seni yang lucu menurut mereka, hanyalah kekonyolan yang mereka sesuaikan dengan roh umum yang kecil, palsu, dan dipalsukan, yang kadang-kadang kebodohannya sampai pada tertawa untuk lelucon sebelum dilontarkan, karena sangat ringan dan ceroboh, dan lamanya memaksakan diri dan terbiasa, maka seni itu hanyalah apa yang kau lihat dari kekacauan dalam kata-kata, dan perbenturan antara makna-makna, dan menjatuhkan kesalahan dalam hal-hal yang masuk akal, kemudian tidak ada lagi setelah ini, maka tidak ada ketepatan dalam penyusunan, tidak ada kedalaman dalam pikiran, tidak ada politik dalam mengumpulkan pertentangan-pertentangan, tidak ada penetrasi dalam rahasia-rahasia jiwa, tidak ada keseriusan yang diambil dari komedi kehidupan, tidak ada kebesaran yang diekstrak dari hal-hal kecilnya, tidak ada filsafat yang dikenal dari kebodohan-kebodohannya.

Dan jauh perbedaan antara tawa yang adalah industri pikiran untuk menggerakkan jiwa, dan mengasah tabiat, dan memotret kebenaran dengan gambar lain, dan antara tawa yang adalah industri kebodohan untuk hiburan dan permainan, dan kegilaan tidak lebih.

Dan bersamaku ada kerabat dari mahasiswa-mahasiswa cerdas yang mengkhususkan diri untuk sastra Inggris, maka kami tidak berlama kecuali sebentar hingga datang tiga dari perwira angkatan laut Inggris, lalu mereka duduk berhadapan dengan kami berbaris, tampak pada mereka tanda-tanda kemenangan, dan bagi mereka wibawa kepahlawanan, dan dalam mereka jiwa-jiwa perang, dan mereka tampak dalam pakaian putih berbordir mereka seperti tiga elang yang turun dari awan ke bumi, maka bagi mata-mata mereka pandangan-pandangan yang berkeliling ke sana kemari mengingkari dan mengenal.

Dan aku kagum melihat mereka di tempat komedi ini yang penuh dengan orang-orang lemah, seakan-akan mereka tiga kebenaran di antara kesalahan-kesalahan, atau tiga kesalahan besar…

Dan yang paling menakjubkan yang kulihat pada bentuk wajah-wajah mereka dan aku tertarik padanya, kerendahan hati dari kesiapan perang ini dan perubahannya menjadi kesiapan untuk mengejek…

Kemudian aku merenungkan mereka lama; maka ada ketegasan dan keberanian, dan ketenangan dan kelembutan, dan kebaikan sikap dan kemanisan penampilan dalam duduk yang tenang dan berwibawa, tidak menyerupainya dalam rasa jiwa yang mengenal makna-makna kekuatan kecuali posisi tiga meriam yang terarah.

Dan aku mulai membolak-balik mataku pada orang-orang yang ada dan wajah-wajah serta penampilan mereka, kemudian mengembalikan pandangan kepada ketiga orang ini, maka aku melihat orang Mesir seperti yang yakin bahwa dia terbatas oleh kota atau desa tidak mengenal bagi dirinya tempat di selain keduanya, maka dia karenanya tidak berpindah dan tidak berisiko, dan dunia tidak melemparkannya ke sana kemari; dan aku melihat orang Inggris seperti yang yakin bahwa setiap tempat di dunia menunggu orang-orang Inggris.

Dan terbayang bagiku demi Allah bahwa seorang dari orang-orang Inggris yang kuat dan percaya diri ini tidak berpindah dari negerinya kecuali bersamanya dirinya dan kemerdekaannya, dan sejarahnya dan roh negaranya, dan sifat tanahnya; maka dia yakin bahwa Allah tidak memberinya rezeki apa pun yang kebetulan, tetapi rezeki Inggris: yaitu di dalamnya kecukupannya.

Dan aku melihat sesuatu yang menakjubkan dari perbedaan antara cap damai pada wajah-wajah, dan antara cap perang pada wajah-wajah lain; maka pada yang itu ada makna-makna kemudahan dan kelembutan dan kekhawatiran pada materi kehidupan, dan pada yang ini ada makna-makna tekad dan perlawanan dan kekhawatiran pada kemuliaan kehidupan bukan pada materinya.

Dan aku membedakan dua gaya dari gaya-gaya sosial: salah satunya pada individu yang telah membangun urusannya atas dasar bahwa suatu bangsa mengusung dia, maka dia hidup dengan yang paling lemah di dalamnya, dan yang lain pada individu yang telah meletakkan urusan atas dasar bahwa dialah yang mengusung suatu bangsa maka dia tidak membiarkan dalam dirinya kekuatan kecuali menggandakannya.

Dan aku mengenal dua wajah dari wajah-wajah pendidikan politik: salah satunya dengan retorika, gertakan dan teriakan, dan meminjam kata-kata selain kenyataan untuk kenyataan, dan membebankan kata-kata selain yang dibebankan; dan yang lain dengan ketenangan yang menaklukkan peristiwa-peristiwa, dan kesabaran yang mengalahkan zaman, dan keyakinan yang memaksakan perbuatan-perbuatan besarnya pada pemiliknya dan menjadikan upah terbesar atasnya adalah melaksanakannya.

Dan aku membedakan antara dua pengaruh dari pengaruh-pengaruh bumi pada penduduknya: salah satunya pada orang Mesir yang murah hati, tenang, ramah, pemalu yang merupakan kemurahan alam, dan yang lain pada orang Inggris yang sulit, petualang, menjauh, mendesak dunia seakan-akan dia parasit alam.

Dan sepupu yang bersamaku memberikan pendengarannya kepada para perwira ini, dan mereka adalah filosof pendapat sebagaimana tampak dari pembicaraan mereka, kemudian dia memindahkan kepadaku dari mereka, maka yang terbesar berkata: Aku telah selesai dari penelitianku yang kuletakkan dalam filsafat kemalasan orang-orang Timur, dan aku menghasilkan darinya kebenaran-kebenaran menakjubkan, yang paling tampak dan paling tersembunyi sekaligus bahwa suatu bangsa dari bangsa-bangsa ini tidak mungkin bagi orang asing di dalamnya, dan tidak berat pijakannya pada mereka, dan tidak lama tinggalnya di tanah mereka, dan tidak mendudukinya orang yang berambisi padanya, selama para pemimpin, penguasa, dan pembesar mereka tidak seperti mereka di dalamnya negara pendudukan.

Dan para pembesar inilah bencana Timur; maka dari kewajiban terbesar kami adalah menambah dalam mengagungkan mereka, dan mengulurkan kepada mereka harta dan pangkat, dan membentangkan kepada mereka kanan dan kiri, dan mengira mereka bahwa kebesaran mereka demikian lahir dalam mereka dan demikian mereka lahir dengannya dari ibu-ibu mereka seperti mereka lahir dengan tangan-tangan dan kaki-kaki mereka.

Dan khususnya para pembesar tokoh-tokoh agama yang terpesona dengan dunia; maka sesungguhnya kami membuat dengan kesombongan semua dan kekonyolan-kekonyolan mereka dan keserakahan dan ketamakan mereka hal-hal sosial yang berbahaya yang tidak dibuat untuk kami yang serupa kecuali oleh setan-setan dan siapa bagi kami untuk menghakimi setan-setan?

Dan inilah yang disadari oleh “Gandhi” orang India kurus itu yang dunianya berdiri dengan empat shilling, dan tidak berbobot lebih dari beberapa pon kulit dan tulang, dan tidak ada kekuatan padanya dan tidak ada kekuatan di dalamnya, dan dia dengan itu penguasa surgawi di tangannya kilat dan guntur yang dilihat dan didengar di penjuru dunia.

Perwira kanan berkata: Dan dengan industri kesombongan, industri ini, menjadi laki-laki rakyat dari orang-orang Timur ini laki-laki peniruan secara alami, dan laki-laki kehinaan secara kondisi, dan laki-laki ketundukan secara keseluruhan; maka tidak ada dalam dirinya bahwa dia tuan dirinya atau tuan orang lain, tetapi makna terbesarnya adalah bahwa orang lain tuan atasnya maka bersamanya selalu khayalan perbudakannya.

Dan perwira kiri berbicara: Tetapi penerjemah tidak membedakan ucapan-ucapannya, karena tiga belas wanita sedang berteriak dalam drama komedi dengan nada panjang mereka berkata di awalnya: “Kami mau laki-laki yang memanja kami…” Dan musik berteriak bersama mereka dan meraung seakan-akan dia juga wanita yang dirampas…

Kemudian penerjemah mempertajam telinganya maka yang terbesar berkata: Sesungguhnya bagi orang-orang Timur ini ada enam indera: lima yang dikenal, dan indera kemalasan yang alam yang bodoh menipu mereka darinya lalu mereka menamakannya kemewahan dan main-main dan hiburan; dan bangsa Eropa yang menduduki negeri-negeri timur menemukan di dalamnya untuk hal-hal kecil kehidupan tentara yang lebih kuat dari tentaranya; maka sepuluh ribu tentara dengan perlengkapan dan alat-alat mereka, tidak membuat apa-apa kecuali provokasi dan tantangan dan membuktikan bahwa mereka perampas; tetapi apa yang kau katakan tentang sepuluh ribu tempat seperti teater ini dengan penari-penari dan pelacur-pelacur dan khamar-khamar dan drama-dramanya, dan dengan laki-laki banci komedi rendahan ini yang mereka sendiri perjanjian politik yang berhasil antara kami dan pemuda bangsa?

Perwira kanan berkata: Ya sesungguhnya seni pendudukan adalah seni militer pada awalnya, tetapi seni moral pada akhirnya; dan karena itu harus menentukan titik arah bagi pemuda yang bersinar cemerlang menarik menggoda; tetapi pada saat yang sama juga membakar, dan inilah industri membinasakan pemuda dengan cahaya indah, dan tidak ada pada politikus cerdik di Timur kecuali melindungi kejahatan, maka sesungguhnya kejahatan akan mengenal perbuatannya dan melindunginya.

Maka perwira kiri berbicara, tetapi suaranya hilang dalam dua puluh suara dari laki-laki teater dan wanita-wanitanya berteriak semua: “Hai cantik hai ringan, hai yang megilakan pemuda-pemuda…”

Dan ketika aku memahami dialog ketiga perwira itu aku berkata kepada temanku: Mintakan izin untukku pada mereka aku berbicara dengan mereka. Maka dia melakukan dan memperkenalkanku kepada mereka, dan menerjemahkan kepada mereka artikel “Hai pemuda Arab” dan dia membawanya.

Maka seakan-akan dia melempar mereka darinya dengan tentara dan armada.

Kemudian aku berkata kepada yang terbesar: Aku tidak mengingkari bahwa orang Inggris seandainya masuk neraka akan masuknya secara Inggris. Dan aku tidak mengingkari bahwa baginya dalam kehidupan seperti petunjuk binatang, karena dia laki-laki praktis; dalil manfaatnya adalah bahwa itu manfaatnya saja, kemudian tidak ada dalil selain ini dan tidak menerima kecuali ini. Maka jika orang Timur berkata: hakku, dan orang Inggris berkata: manfaatku, batallah semua dalil, dan orang Timur melihat bahwa dia dengan orang Inggris seperti yang berusaha meyakinkan serigala dengan hukum keutamaan dan belas kasihan.

Dan kami telah mengetahui bahwa dalam politik ada keajaiban-keajaiban, di antaranya yang menyerupai bertemu seseorang dengan seseorang lalu berkata kepadanya: tuan yang terhormat, dengan segala hormat aku mohon agar kau menerima dariku tamparan ini… Dan dalam politik ada janji-janji ajaib, di antaranya yang menyerupai menanam pohon untuk orang-orang fakir dan miskin, dan meyakinkan mereka dengan sumpah-sumpah bahwa itu akan berbuah roti yang dipanggang, kemudian setelah itu berbuah maka berbuahlah roti yang dipanggang isinya daging dan lauk.

Dan dalam politik ada memerangi masjid-masjid dengan tempat-tempat dansa, dan memerangi istri-istri dengan pelacur-pelacur, dan memerangi keyakinan-keyakinan dengan guru-guru kebebasan berpikir, dan memerangi seni-seni kekuatan dengan seni-seni kenikmatan, tetapi seandainya pemuda memahami bahwa tempat-tempat hiburan dalam semua maknanya tidak lain kecuali pengkhianatan terhadap tanah air dalam semua maknanya!

Dan seandainya pemuda mengetahui bahwa memerangi hiburan adalah awal pertempuran politik yang menentukan!

Dan seandainya pemuda menyadari bahwa hak pertama tanah air atasnya adalah membawa dalam dirinya makna rakyat bukan makna dirinya!

Dan seandainya agama Islam kembali sebagaimana dalam sifatnya alat perang yang membuat dari pemuda laki-laki kekuatan!

Dan seandainya pemuda mengetahui bahwa roh agama ini bukan: percayalah dan jangan percaya, tetapi lakukanlah dan jangan lakukan.

Dan seandainya pemuda yakin bahwa kewajiban-kewajiban agama ini tidak lain kecuali sarana-sarana ilmiah untuk pengisian jiwa dengan makna-makna pengudusan!

Dan seandainya pemuda memahami bahwa tidak ada di alam kecuali makna-makna ini yang menjadikan jiwa di atas materi dan di atas ketakutan dan di atas kehinaan dan di atas kematian itu sendiri!

Dan seandainya pemuda meneliti jiwa Inggris yang kuat untuk mengetahui dengan bukti bahwa itu setengah muslim maka bagaimana jika itu muslim?

Dan penerjemah memindahkan kepada mereka perkataanku, maka tidak sampai aku ke tempat yang kusampai, hingga perwira memegang tanganku dan menggoyangkannya; maka aku melihat, ternyata aku telah tertidur setelah begadang panjang di teater itu, dan ternyata tangan penerjemah sendiri yang menggoyangkanku agar aku bangun…

 

 

Dalam Cobaan Palestina, Wahai Kaum Muslim!

Palestina bangkit untuk memecahkan simpul yang telah diikat padanya dengan pedang, tipu daya, dan emas.

Simpul politik yang jahat, yang di dalamnya terdapat pembunuhan, penghancuran, dan kemiskinan bagi rakyat yang merdeka itu.

Simpul pemerintahan yang memerintah dengan tiga cara: janji palsu, kehancuran yang perlahan, dan ambisi Yahudi yang buas.

Wahai kaum Muslim! Ini bukanlah cobaan Palestina, tetapi cobaan Islam, mereka ingin agar kepribadiannya yang mulia dan merdeka tidak tegak.

Setiap rupiah yang dibayarkan sekarang untuk Palestina, pergi ke sana untuk berjihad juga.

Mereka adalah saudara-saudara kita yang berjihad; dan maknanya adalah bahwa akhlak kita adalah sekutu mereka dalam jihad ini.

Mereka adalah saudara-saudara kita yang tertimpa musibah; dan maknanya adalah bahwa mereka dalam musibah mereka adalah ujian bagi hati nurani kita semua kaum Muslim.

Mereka adalah saudara-saudara kita yang tertindas; dan maknanya adalah bahwa politik yang menghinakan mereka bertanya kepada kita: apakah kita menerima kehinaan?

Apa arti musibah saudara kecuali nama lain untuk kehormatan saudara-saudara lainnya atau kehinaan mereka?

Wahai kaum Muslim! Setiap rupiah yang dibayarkan untuk Palestina, pergi ke sana untuk memaksakan kepada politik agar menghormati perasaan Islam.

Mereka menguji mereka dengan Yahudi yang membawa dalam darah mereka dua kebenaran yang tetap: dari kehinaan masa lalu dan pengusiran masa kini. Dan membawa dalam hati mereka dua dendam yang meluap: satu dari emas mereka, dan yang lain dari kejahatan mereka.

Dan mereka menyembunyikan dalam otak mereka dua pikiran jahat: agar Arab menjadi minoritas, kemudian agar mereka setelah itu menjadi pelayan Yahudi.

Dalam diri mereka ada kebencian, dalam khayalan mereka ada kegilaan, dalam akal mereka ada tipu daya, dan dalam tangan mereka ada emas yang menjadi hina karena berada di tangan mereka.

Wahai kaum Muslim! Setiap rupiah yang dibayarkan untuk Palestina, pergi ke sana untuk mengucapkan kata yang mengembalikan akal kepada orang-orang ini.

Mereka menguji mereka dengan Yahudi yang lewat seperti lewatnya dinar dengan riba yang keji di tangan orang-orang miskin.

Setiap seratus Yahudi menurut paham kaum itu harus menjadi seratus tujuh puluh dalam satu tahun.

Perhitungan jahat yang dimulai dengan sesuatu dari akal, dan tidak pernah berakhir, dan di dalamnya ada sesuatu dari akal.

Dan politik di belakang Yahudi, dan Yahudi di belakang khayalan agama mereka, dan khayalan agama mereka adalah mengusir kebenaran Islam.

Wahai kaum Muslim! Setiap rupiah yang dibayarkan untuk Palestina, pergi ke sana untuk menegakkan kebenaran yang ingin mereka usir.

Yahudi berkata: bahwa mereka adalah bangsa yang tertindas di semua negara di dunia.

Dan mereka mengklaim: bahwa dari hak mereka untuk hidup bebas di Palestina, seolah-olah Palestina bukan dari semua negara di dunia.

Dan mereka telah membuat untuk Inggris sesuatu yang besar yang tidak berenang di lautan, tetapi di perbendaharaan…

Dan Inggris ingin merasa tenang di Palestina dengan bangsa yang tidak pernah terbiasa berkata: saya.

Tetapi mengapa setiap bangsa menyapu kalian dari tanah mereka dengan sapu, wahai Yahudi?

Apakah kalian tidak mengenal Islam? Islam adalah kekuatan seperti yang menciptakan taring dan cakar pada setiap singa. Kekuatan yang mengeluarkan senjatanya sendiri, karena makhluknya mulia yang tidak diciptakan untuk dimakan, dan tidak diciptakan untuk dihinakan.

Kekuatan yang membuat suara itu sendiri ketika mengaum, seolah-olah mengumumkan sifat singa yang mulia ke empat penjuru.

Kekuatan yang di belakangnya ada hati yang menyala seperti gunung berapi, yang di dalamnya setiap tetes darah berubah menjadi percikan api darah. Dan jika kuku kaki mempersiapkan makhluknya agar ditunggangi penunggang, maka cakar dan taring mempersiapkan makhluknya untuk makna yang lain.

Jika ditanya apa Islam dalam makna sosialnya? Aku akan bertanya: berapa jumlah Muslim?

Jika dikatakan: tiga ratus juta. Aku katakan: maka Islam adalah ide yang harus memiliki tiga ratus juta kekuatan.

Apakah saudara-saudara kalian kelaparan wahai kaum Muslim sementara kalian kenyang? Sesungguhnya kekenyangan ini adalah dosa yang Allah hukum.

Dan kekayaan hari ini ada pada orang-orang kaya yang menahan dari saudara-saudara mereka, dan itu adalah sifat orang kaya dengan kekikiran bukan dengan kekayaan.

Semua yang diberikan kaum Muslim untuk Palestina, menunjukkan banyak petunjuk, yang paling sedikit adalah politik perlawanan.

Nenek moyang kalian wahai kaum Muslim dulu membuka kerajaan-kerajaan. Maka bukalah kalian tangan-tangan kalian…

Mereka melemparkan diri mereka di jalan Allah tanpa peduli, maka lemparkanlah kalian di jalan kebenaran dengan dinar dan dirham.

Mengapa ada kiblat dalam Islam kecuali agar semua wajah terbiasa berpaling ke satu arah?

Mengapa menara-menara masjid ditinggikan kecuali agar kaum Muslim terbiasa mengangkat suara dalam kebenaran?

Wahai kaum Muslim! Beradilah di sana. Beradilah di sana bersama saudara-saudara kalian dengan makna dari makna-makna.

Jika seluruh dunia Islam berpuasa satu hari dan memberikan biaya hari itu untuk Palestina, pasti akan membuatnya kaya. Jika semua Muslim berpuasa satu hari untuk membantu Palestina, pasti Nabi akan berkata dengan bangga kepada para nabi: inilah umatku!

Jika semua Muslim berpuasa satu hari untuk Palestina, pasti Yahudi hari ini akan berkata seperti yang dikatakan bapak-bapak mereka dahulu: sesungguhnya di dalamnya ada kaum yang perkasa…

Wahai kaum Muslim! Ini adalah tempat di mana makna harta yang diberikan bertambah sehingga menjadi sesuatu yang surgawi.

Setiap rupiah yang diberikan Muslim untuk Palestina, akan berbicara di hari perhitungan berkata: ya Tuhan, aku adalah iman si fulan!

 

 

Kisah Tangan-Tangan yang Berwudhu:

Pencerita berkata: Saya pergi ke masjid untuk salat Jumat; masjid menyatukan manusia dengan hati mereka agar setiap orang keluar dari dunia pribadinya, sehingga tidak ada seorang pun yang berpikir bahwa dia lebih mulia dari orang lain; dan mungkin di sampingmu ada tukang atau buruh atau orang miskin atau orang bodoh, sementara kamu adalah pemimpin atau orang besar atau orang kaya atau orang berilmu, maka kamu memandang dia dan dirimu sendiri lalu merasakan seolah-olah pikiranmu berwudhu dan bersuci, dan kamu melihat kata kesombongan telah kehilangan rohnya, sedangkan kata kerendahan hati telah menemukan rohnya; dan kamu merasakan jiwa yang berkumpul telah menyatakan perang terhadap jiwa yang menyendiri; dan jika terlintas dalam pikiranmu sesuatu yang berlawanan dengan itu, kamu akan melihat orang miskin di sampingmu sebagai teguran bagimu, dan kamu memandangnya dalam diam sementara dia berbicara di dalam hatimu, dan kamu merasakan Allah dari atas kalian berdua, dan tampak bagimu ruh masjid seolah-olah hendak mengusirmu darinya, dan kamu merasa seolah-olah bumi akan menampar wajahmu jika kamu sujud di atasnya, dan kamu yakin dari lubuk hatimu bahwa kamu tidak berada di sana dalam duniamu dan temanmu juga tidak dalam dunianya, melainkan kalian berdua berada di sana dalam kemanusiaan yang timbangannya di tangan Allah semata; sehingga kamu tidak tahu siapa di antara kalian yang ringan dan siapa yang berat.

Dia berkata: Yang mengherankan adalah bahwa hal ini yang tidak diabaikan oleh siapa pun dari kaum beragama, diketahui oleh sebagian ulama agama dengan cara lain, maka kamu melihat dia di masjid berjalan sombong, telah berhias dengan perhiasannya, dan memaksakan diri untuk kesombongannya, maka dia mengenakan jubah yang muat untuk dua orang, dan tinggi seolah-olah dia menara, dan memposisikan diri di depan seolah-olah dia kiblat, dan mengembung seolah-olah dia penuh dengan perbedaan antara dirinya dan manusia, dan dia setelah semua ini jika Allah membuka kedoknya akan terungkap sebagai pedagang ilmu yang sebagian syaratnya terhadap keutamaan adalah agar dia bisa makan darinya, maka dia tidak menemukan dunia pribadinya kecuali di masjid, maka dia adalah sejenis kebohongan ulama agama terhadap agamanya.

Pencerita berkata: Dan naiklah khatib ke mimbar dengan pedang kayunya di tangan yang dia jadikan tongkat; maka tidak kunjung dia stabil di puncak hingga terbayang bagiku bahwa orang itu telah masuk dalam rahasia kayu ini, sehingga dia tampak seperti orang sakit yang ditegakkan oleh tongkatnya, dan seperti orang tua renta yang dipegang oleh apa yang dia jadikan sandaran; dan aku memandang maka ternyata dia adalah kebohongan terang-terangan terhadap Islam dan kaum muslimin, seperti keadaan pedang kayunya dalam kebohongannya terhadap pedang-pedang dan logamnya dan pekerjaan-pekerjaannya.

Demi Allah, aku tidak tahu bagaimana seorang ulama dari ulama agama Islam di zaman ini menghalalkan dirinya untuk berkhutbah kepada kaum muslimin dalam khutbah Jumat mereka dengan pedang di tangannya sebagai tanda kehinaan dan kelemahan dan kemunduran dan perpecahan dan mundur dan main-main dan ejekan dan aib dan tawa; dan kapan Islam memerintahkan untuk membuat pedang dari kayu dan memahatnya dan merapikannya dan menajamkan matanya yang tidak memotong apa-apa, kemudian meletakkannya di tangan para ulama yang naik dengannya ke puncak setiap mimbar, agar mata-mata tergantung padanya, dan menyaksikan di dalamnya simbol dan tanda, dan mengambil inspirasi dari sana makna spiritual dalam keagamaan yang harus terwujud agar terlihat?

Apakah dalam pedang dari kayu ada makna spiritual selain makna main-main dan kebodohan, dan bodohnya akal dan hinanya hidup, dan mengubah sejarah yang menaklukkan dan menang, dan simbol tunduknya kata dan kekanak-kanakan kehendak?

Dia berkata: Dan yang menyempurnakan ejekan terhadap pedang kayu ini yang dibuat oleh kementerian wakaf kaum muslimin adalah bahwa panjangnya seperti pedang Amr bin Ma’dikarib Az-Zubaidi, ksatria jahiliah dan Islam, maka sampai ke dada khatib, dan seandainya tidak di tangannya pasti gagangnya tampak di dada pria itu seperti medali dari kayu…

Dia berkata: Dan ketika khatib memaksakan diri dan dibuat-buat dan tampak darinya bahwa dia telah memanas dan bangkit amarahnya, dia terbata-bata dan lupa tangannya, maka bergetarlah gagang pedang di tangannya lalu menusuk dadanya seolah-olah mengingatkannya bahwa di tangannya ada kayu yang tidak cocok untuk semangat ini.

Dia berkata: Dan ulama itu berkhutbah kepada manusia, dan pedang kayunya berkhutbah dengan khutbah lain: adapun yang pertama adalah khutbah yang dihafal dan dikenal dan tidak berakhir hingga pengaruhnya berakhir, karena seperti bacaan untuk mendirikan salat; dan pada masa yang pertama seperti pelajaran untuk mendirikan urusan dari urusan kemasyarakatan dan politik, maka antara dia dan hakikat Islamnya seperti antara pedang kayu ini dan hakikat aslinya. Adapun khutbah yang kedua, aku telah memahaminya dari kayu itu dan menuliskannya, dan inilah ungkapannya:

Celakalah kalian wahai kaum muslimin! Seandainya aku sisa dari kayu kapal Nuh yang dia selamatkan di dalamnya umat manusia, tidak layak bagi kalian menempatkanku di tempat ini; dan Allah tidak menjadikan kalian di tempat kalian kecuali setelah kalian menjadikanku di tempat aku, hampir saja percikan api melenyapkan aku dan kalian bersama, karena pada aku dan pada kalian ada bahan kayu dan bahan yang mengayu.

Celakalah kalian! Seandainya khatib kalian memiliki sesuatu dari kata-kata berapi yang menyala, tidak akan tersisa kayu di tangannya sebagai kayu, dan bagaimana orang itu bisa dipenuhi iman dengan imannya, dan bagaimana dia naik mimbar untuk mengatakan kata agama dari kebenaran yang menang, dan kata hidup dari kebenaran yang wajib, sementara dia seperti yang kalian lihat telah sampai dari kehinaan hingga kehilangan pedang rohnya di tangannya?

Wahai kaum muslimin! Kalian tidak akan berhasil dengan khatib kalian yang berbicara pada kalian ini, kecuali jika kalian berhasil dengan aku sebagai pedang kalian yang membela kalian. Wahai kaum muslimin, ubahlah dia dan ubahlah aku.

Pencerita berkata: Dan ketika salat selesai bergeraklah orang-orang ketika muncul di antara mereka sekelompok pemuda yang berteriak kepada mereka menahan mereka untuk berkhutbah kepada mereka; kemudian berdirilah salah seorang dari mereka lalu berkhutbah, maka dia menyebutkan Palestina dan apa yang menimpa mereka, dan perubahan keadaan penduduknya, dan musibah mereka dan jihad mereka dan kekacauan urusan mereka, kemudian dia meminta pertolongan dan bantuan, dan menyeru orang yang mampu dan yang ringan untuk berderma dan menyumbang dan meminjamkan kepada Allah Ta’ala; dan majulah teman-temannya dengan kotak-kotak yang disegel, maka mereka berkeliling dengan kotak itu kepada orang-orang mengumpulkan di dalamnya yang sedikit dan yang lebih sedikit dari dirham yang dalam keadaan ini adalah dirham pemiliknya dan hati nurani mereka.

Dia berkata: Dan di sampingku ada seorang laki-laki desa dari para petani ini yang kamu kenal kebaikan di wajah mereka, dan kesabaran di tubuh mereka, dan qana’ah di jiwa mereka, dan keutamaan di watak mereka; karena telah bercampur dengan mereka ruh alam yang subur sehingga keluar dari tanah mereka tanaman dan dari jiwa mereka tanaman lain, maka dia berkata kepada seorang laki-laki yang bersamanya: Sesungguhnya khatib ini, khatib masjid telah menipu kita dan para pemuda ini telah mempermalukannya; maka tidak layak khutbah kaum muslimin kecuali dalam keadaan paling khusus kaum muslimin.

Dia berkata: Dan laki-laki sederhana ini menyadarkanku pada makna yang halus dalam hikmah mimbar-mimbar Islam ini; maka Islam tidak menginginkan kecuali agar mimbar-mimbar itu seperti stasiun-stasiun radio, setiap mimbar menangkap berita dari daerah-daerah lain dan menyiarkannya dalam bentuk khitab kepada ruh dan akal dan hati, maka khutbah Jumat adalah kata mingguan dalam politik minggu atau masalah minggu, dan dengan ini tidak datang kata-kata di atas mimbar kecuali hidup dengan kehidupan waktu, maka khatib menjadi ditunggu orang-orang setiap Jumat menunggu sesuatu yang baru; dan dari situ mimbar mampu agar antara dia dan kehidupan ada kerja.

Dia berkata: Dan terbayang bagiku setelah makna ini bahwa setiap khatib di masjid-masjid ini kurang hingga setengah, karena politik memaksanya untuk melepas keislaman luasnya sebelum naik mimbar, dan tidak naik kecuali dalam keislaman sempitnya yang dibatasi oleh batasan nasihat dia dengan itu setengah nasihat… maka khutbah sesungguhnya setengah khutbah, atau seolah-olah bekas khutbah bersamanya bekas pedang…

Dia berkata: Dan petani itu mengeluarkan kantongnya lalu memisahkan darinya dirham dan berkata: Ini untuk makanan yang aku cukupkan dengannya dan untuk kepulanganku ke negeri, kemudian dia tuangkan sisanya ke dalam kotak-kotak kelompok itu; dan aku mencontoh dia maka aku tidak keluar dari masjid hingga aku letakkan dalam kotak-kotak mereka semua yang bersamaku; dan sungguh aku menyangka bahwa jika tersisa bagiku satu dirham pasti dia akan mencaciku selama bersamaku hingga keluar dariku.

Pencerita berkata: Kemudian aku masuk ke makam pemilik masjid untuk menziarahinya dan membaca di dalamnya apa yang mudah dari Al-Qur’an, maka di sana ada laki-laki dari ulama kaum muslimin, dua atau tiga “keraguan pada yang ketiga karena dia mencukur jenggot”. Kemudian datang kepada mereka yang lain maka genaplah tujuh; dan aku melihat mereka telah mencampurkan dengan diri mereka pemilik “tanpa jenggot”, maka aku tahu bahwa dia dari mereka atas mazhab yang tersebar di sebagian ulama kontemporer dan hakim-hakim syariah, aku kira mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (At-Tin: 4); dan setiap orang maka cerminnya yang melihatnya bagaimana dia tampak dalam bentuk yang terbaik, berjenggot atau tanpa jenggot?

Dan aku edarkan mataku di wajah mereka, maka ada wibawa dan sikap dan cahaya yang tidak kulihat satupun darinya di wajah pemilik “tanpa jenggot”; dan aku, aku tidak pernah melihat jenggot seorang laki-laki ulama atau ahli ibadah atau filsuf atau penyair atau penulis atau pemilik seni besar, kecuali aku teringat makna puitis indah ini yang datang dalam sebagian khabar, bahwa Allah Ta’ala memiliki malaikat yang bersumpah: Demi Yang menghias bani Adam dengan jenggot.

Dan di antara yang tujuh ada seorang laki-laki yang membiarkan jenggotnya bebas pada tabiatnya; maka memanjang dan besar hingga menyebarkan di sekelilingnya suasana rohani dari wibawa yang dirasakan jiwa halus dengan alirannya dari jauh, maka ini adalah bantahan paling jelas terhadap itu.

Dia berkata: Dan semua syeikh mendengarkan khutbah-khutbah para pemuda, dan suara-suara mereka kering keras hingga seolah-olah kebisingan perang bukan seni pidato, dan sekadar lemahnya makna dalam kata-kata mereka kuatlah suara; maka mereka berteriak seperti berteriak orang yang meminta tolong dalam teriakan yang lari antara langit dan bumi. Maka berkata salah seorang syeikh yang mulia: Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah! Datang dari khabar: “Celakalah hamba dunia, celakalah hamba dirham”. Demi Allah, kaum muslimin tidak celaka kecuali sejak mereka menyembah keduanya dengan rakus dan kikir; “Dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Al-Hasyr: 9), dan seandainya harta kaum muslimin saling mengenal dalam peristiwa-peristiwa, niscaya peristiwa-peristiwa tidak mengingkari mereka.

Maka berkata yang lain: Dan dalam hadis: “Sesungguhnya Allah mencintai menolong orang yang kesusahan”, tetapi mengapa para pemuda ini tidak memasukkan dalam khutbah mereka hadis-hadis padahal itu adalah kata-kata hati? Seandainya mereka menjelaskan kepada orang awam hadis ini: “Sesungguhnya Allah mencintai menolong orang yang kesusahan” niscaya orang awam bersegera kepada apa yang dicintai Allah.

Yang ketiga berkata: Tetapi datang kepada kita atsar dalam menggambarkan umat ini: “Sesungguhnya dia di awal zaman anak-anak kecilnya belajar dari orang-orang besarnya, maka jika akhir zaman, orang-orang besar mereka belajar dari anak-anak kecil mereka”. Maka kita di akhir zaman, dan telah dikerahkan anak-anak kecil atas orang-orang besar mereka ingin memindahkan mereka dari tabiat mereka kepada kekanak-kanakan baru.

Pencerita berkata: Maka aku berkata kepada teman bersamaku: Katakan kepada syeikh ini: Bukan makna atsar apa yang kamu pahami, tetapi takwilnya bahwa akhir zaman akan menjadi bagi umat ini zaman jihad dan menyerbu, dan tekad dan mengalahkan atas kemerdekaan hidup; maka tidak layak untuk menjaga umat kecuali pemuda mereka yang terpelajar kuat berani, seperti yang kita lihat di hari-hari kita ini, maka mereka turun dari orang-orang besar pada kedudukan itu; karena semangat menyempurnakan kekuatan ilmu. Dan dalam hadis: “Umatku seperti hujan: tidak diketahui awalnya baik atau akhirnya”.

Pencerita berkata: Dan tidak kunjung teman menghafal dariku kata-kata ini dan hendak menyampaikannya, hingga terjadilah teriakan di tempat itu; maka datang salah seorang khatib dan berdiri melakukan apa yang dilakukan guntur: tidak mengulangi kecuali gemuruh satu; dan para syeikh mulia telah mendengar semua yang dikatakan, maka mereka menunduk mendengarkannya kali keempat atau kelima; dan selesailah para pemuda dari gemuruhnya maka dia berpaling kepada mereka dan duduk di hadapan mereka dengan sopan dan khusyuk dan meletakkan kotak yang disegel.

Maka berkata salah seorang syeikh: Tidak tersembunyi dari kami tempatmu, dan kalian telah berikan apa yang kalian mampu; maka barakallahu fiika dan dalam teman-temanmu.

Dan diamlah pemuda itu, dan diamlah para syeikh, dan diamlah kotak juga…

Kemudian bergeraklah jiwa dengan ilham keadaan; maka mengulurkan yang pertama tangannya ke kantongnya, kemudian memasukkannya ke dalamnya, kemudian mengaduk-aduk di dalamnya sedikit; kemudian… kemudian mengeluarkan jam untuk melihat ke dalamnya. Dan menularlah penyakit kepada yang lain, maka salah seorang dari mereka mengeluarkan sapu tangannya untuk membuang ingus, dan tampak di tangan yang ketiga tasbih panjang, dan mengeluarkan yang keempat siwak lalu melewatkannya pada giginya, dan menarik yang kelima buku kecil yang ada di jubahnya, dan mengulurkan pemilik jenggot lebar jari-jarinya ke jenggotnya menyela-nyelainya; adapun yang ketujuh pemilik “tanpa jenggot”, maka tetap tangannya di kantongnya dan tidak keluar, seolah-olah di dalamnya sesuatu yang dia malu jika dia tampakkan, atau dia takut jika dia tampakkan dari mempermalukan kelompok.

Dan diamlah pemuda itu, dan diamlah para syeikh, dan diamlah kotak juga…

Pencerita berkata: Dan aku memandang maka wajah mereka telah mengenakan untuk pemuda itu sikap guru yang menetapkan untuk muridnya kaidah yang telah dia tetapkan sebelumnya seribu kali untuk seribu murid, maka malulah pemuda itu dan membawa kotaknya dan pergi…

Aku berkata: Maka ketika pencerita selesai dari “kisah tangan-tangan yang berwudhu”, aku berkata kepadanya: Barangkali engkau wahai pencerita telah bangun dari mimpi sebelum para syeikh mulia mengisi kotak ini, dan akalmu tidak menutup riwayat ini dengan bab ini kecuali dengan apa yang engkau susahkan pikiranmu dari filsafat berubahnya pedang menjadi kayu, dan seandainya tidurmu berkepanjangan niscaya engkau dengar salah seorang dari mereka berkata kepada yang lain: Dengan siapa saudara-saudara kita yang berjihad bangkit dan dengan siapa mereka menyerang? Untuk itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang bodoh yang dermawan lebih dicintai Allah daripada orang alim yang kikir”. Kemudian mereka mengisi kotak…

 

 

Monolog Patung 1:

Wahai engkau yang berbaring di atas batu, mengencangkan kedua lenganmu dengan kekuatan yang luar biasa seolah-olah ingin mencabut batu itu bersamamu, bangkit dengan dadamu untuk menunjukkan bahwa meskipun engkau merangkak, lompatan ada di tanganmu, meregangkan tulang belakangmu untuk menunjukkan tubuhmu yang tenang kepada makna-makna yang mengintai, duduk di atas ekormu dan bersiap dengan seluruh tubuhmu seolah-olah engkau adalah kekuatan dorongan yang hendak terlepas dari gravitasi bumi.

Dan engkau wahai yang langsing, mewakili kemanusiaan yang beradab dalam kelangsinganmu, dan seperti kemanusiaan ini, memukul dengan kedua lengan singa dengan ketebalan seperti meriam…

Bijaksana dalam pandangan seolah-olah merentangkan pandangan seorang pemikir ke dalam rahasia bangsa-bangsa, tetapi tangannya seperti tangan kebijaksanaan politik dengan susunan akal yang di bawahnya terdapat cakar-cakar…

Tenang seolah-olah dia adalah patung perdamaian, padahal dia berada di samping singa seperti perdamaian di antara bangsa-bangsa; engkau melihat di dalamnya manusia dunia dan binatang buas dunia…

Wahai Abu Hol (Sphinx)!

Apakah engkau jawaban atas teka-teki kuno itu yang berupa perkataan yang tidak berbicara dan keheningan yang tidak diam.

Dan yang menunjukkan dengan kepala manusia di atas tubuh singa bahwa dia adalah kekuatan buta seperti keharusan tetapi dapat melihat seperti pilihan.

Dan yang mengeluarkan dari seni naluri dan akal, seni ketiga yang masih di bumi menunggu wanita yang akan melahirkan manusia yang tulang-tulangnya dari batu?

Dan engkau wahai Mesir:

Apakah engkau berdiri di sana untuk penjelasan dan penafsiran, berkata kepada orang Mesir: Sesungguhnya nenek moyangmu bertanya kepadamu dari ribuan tahun dengan simbol ini: Tidakkah ada keajaiban dari kekuatan yang meregangkan otot-otot batu?

Tidakkah ada keluasan ilmu yang membuatmu wahai orang Mesir seolah-olah engkau kepala bagi tubuh alam? Tidakkah ada seni baru yang dengannya engkau mengangkat Abu Hol ke udara sehingga menambahkan pada kekuatan binatang buas dan kecerdasan manusia kelincahan burung?

Ataukah engkau berkata kepada orang Mesir: Sesungguhnya nenek moyangmu berwasiat kepadamu dengan simbol ini agar engkau menjadi seperti punggung singa yang tidak dapat ditunggangi, dan seperti kepala manusia yang kebebasannya tidak dibatasi, dan seperti gunung yang merangkak yang tidak mudah dipindahkan, dan seperti keraguan yang tersusun dari dua hal yang samar yang tidak mudah dipermainkan oleh orang yang suka bermain-main, dan seperti kejujuran yang terkumpul dari satu unsur yang tidak ada yang salah tentang kebenarannya?

Ataukah engkau berkata wahai Mesir: Bahwa penafsiran Abu Hol yang pertama adalah bahwa kebangkitan Mesir hanya akan terjadi pada hari ketika negara ini mengeluarkan orang yang membuat Abu Hol yang kedua?

Patung kebangkitan ataukah halaman dari batu yang telah digambarkan rakyat pikirannya di atasnya, dan ditulis di dalamnya perasaannya terhadap sejarahnya, dan digambarkan dengannya pemahamannya tentang kehidupan makna-makna yang mulia?

Ataukah dia adalah penulisan bab dari sejarah dengan pena kehidupan dan dengan cara dari kefasihannya, yang takut akan kepunahannya maka menuliskannya dalam gaya dari gaya-gaya keabadian batu yang keras?

Ataukah itu hari dari hari-hari bangsa yang diubah seni dari waktu menjadi materi; dan dari makna menjadi indera, dan dari berita menjadi pemandangan, dan mereka berbicara tentangnya maka seni membuatnya berbicara tentang dirinya sendiri?

Ataukah dia adalah ungkapan tentang makna-makna yang diciptakan jiwa generasi ini untuk berbicara dengannya kepada jiwa-jiwa yang akan datang untuk menyempurnakannya, dan menambahkan di dalamnya kepada makna rahasia makna, dan meletakkan kata manusiawi di lidah alam untuk berbicara dengan patung sebagaimana berbicara dengan generasi?

Ataukah susunan politik yang jika ditafsirkan bahasa artinya bahwa yang tetap jika membutuhkan orang yang menetapkannya… maka tidak akan menghapusnya orang yang mengingkarinya, dan bahwa yang tampak jika membutuhkan orang yang menunjukkannya… maka tidak akan menyembunyikannya orang yang tidak melihatnya?

Bahkan aku melihatmu tidak ada keagungan padamu wahai Abu Hol yang baru.

Apakah itu karena kelembutan yang memasukinmu dan belas kasihan yang datang kepadamu dari sentuhan tangan wanita?

Ataukah keagungan hari ini telah menjadi dalam akal dan perasaan dan memanjangnya pandangan wanita ke kejauhan? Ataukah tidak sempurna di kota ini kepala pria dan tubuh singa kecuali… kecuali dengan jari-jemari wanita?

Tidakkah ada yang mengajariku apakah wanita ini darimu adalah pendidikan bagi manusia dan binatang buas ataukah pelengkap atas keduanya?

Tidakkah ada yang mendatangiku dengan hikmah padamu dari meletakkan pria yang kuat sebagai kepala tanpa tubuh, dan singa yang buas sebagai tubuh tanpa kepala, kemudian tidak sempurna tanpa keduanya kecuali wanita seorang diri.

Sesungguhnya engkau wahai Abu Hol adalah teka-teki keheningan, maka ketika wanita ditambahkan kepadamu, engkau menjadi teka-teki berbicara… betapa mengerikannya!

 

 

Pembuka Langit Mesir 1:

Wahai burung teladan tertinggi!

Engkau telah terlepas dari kehinaan ketakutan dan meninggalkannya di tanah tempat berpijak, dan berkata kepadanya: “Celakalah kamu, telah tiba saatnya bagi pemuda Mesir!” Dia menerjang dalam air petir, bergelombang dalam lautan abadi tempat bintang-bintang tenggelam, terbang dengan roh percikan api, dan turun dengan roh hujan, mengekang dan merangkul langit, serta belajar bagaimana memanggang musuhnya di mata matahari.

Engkau adalah pahlawan pemberani yang melangkah di jalan para malaikat dengan kebajikan ini, dan langit mengangkatmu. Seandainya engkau takut dan berada di atas sayap Jibril, bukan di pesawat, maka Jibril akan takut pada sayapnya sendiri karena kehancuran makna duniawi yang melampaui batas ini, yang menghukum orang hidup dengan kematian tanpa mati, karena itu adalah kehinaan, ketundukan, dan keburukan.

Langit membawamu ke kubah langit, dan di sana dunia melihat bendera kemanusiaan Mesir yang bangkit bernapas di bawah bintang-bintang.

Langit membawamu kepada kami, dan ketika kami mengangkat kepala untuk melihatmu, kami mengangkatnya bersamaan dengan bangsa-bangsa di bumi.

Engkau terbang wahai sayap Mesir di udara, sementara tali-tali langit penuh dengan goncangan, badai, dan angin ribut. Langit dalam musim mendungnya yang setiap saat melepas dan memakai, merobek dan melipat. Dengan keberanianmu, engkau menambahkan dalam bukti-bukti perkara Mesir sebuah bukti kekuatan pengambilan risiko, dan menambahkan pada logikanya kedudukan baru yang membungkam dari roh pengorbanan. Engkau terbang di antara hidup dan mati sehingga keduanya menjadi sama dalam keyakinanmu, karena engkau menghubungkan gagasan kematian dengan rahasia iman, dan kehidupan dengan rahasia tekad.

Engkau adalah laki-laki bangsamu dengan mengingkari dirimu sendiri demi bangsa itu.

Engkau menjadi luas bagi sejarah dengan menempatkan umurmu yang terbatas di pesawat, dan melemparkan dirimu bersamanya ke dalam kolam ajal.

Engkau bertelanjang bagi kesusastraan untuk memberikan negerimu: antara syahid kemuliaan di akhirat, atau kesaksian kebanggaan di dunia.

Engkau berada di pesawatmu yang kecil yang dikejar-kejar di bawah angin, dan di sekelilingmu roh Piramida Terbesar yang berdiri dengan kehendak Mesir seolah-olah paku yang dipakukan di bola bumi antara kedua kutub.

Dan engkau wahai “Faiza” wahai yang kecil ini yang keluar dari harta, usaha, dan tekad pemiliknya sebagaimana kekuatan keluar dari kelemahan, tahukah engkau ketika engkau naik dan turun di antara awan-awan seperti kupu-kupu melompat pada cahaya di taman berbunga, dan ketika engkau merobek dan menenun di kain awan seolah-olah dengan mesinmu yang berputar engkau menenun di langit dengan pemintal, dan ketika engkau di antara tepukan angin liar, di bawah langit yang bersenjata lengkap, di dalam gumpalan musim dingin, seolah-olah perdebatan yang berjalan antara tekad pada manusia dan tekad pada alam, dan ketika engkau di antara serigala-serigala angin topan, dan harimau-harimau awan serta singa-singa mendung yang memiliki surai tebal yang kusut, seolah-olah dengan suara dan desingmu engkau melepaskan pada binatang buas langit senapan mesin yang meninggalkan mereka terbunuh.

Ketika angin melihatmu lalu berkata tentangmu: “Angin yang dibuat manusia.” Dan bintang melihatmu lalu berkata: “Bintang yang terlepas dari sistem bumi.” Dan para malaikat melihatmu lalu berkata: “Celakalah kamu wahai anak Adam, seolah-olah dengan apa yang diciptakan akal engkau mengharapkan dari kami sujud lain seperti yang kami sujudkan kepada Adam ketika Allah menciptakannya.”

Tahukah engkau ketika engkau seperti itu wahai “Faiza”, bahwa sejarah Mesir akan mengubahmu dari pesawat menjadi ayat seperti ayat permulaan penciptaan, karena padamu ada permulaan penerbangan di Mesir?

Salam wahai pembuka langit Mesir, hari-hari telah mengocok undiannya lalu keluarlah undian atasmu, dan kewajiban mewahyukan kepadamu ayat: “Dengan nama Allah naiknya dan jalannya.” (Surat Hud ayat 41)

Engkau terbang lalu engkau dengannya melintas di atas masa kini untuk datang kepada kami dari sisi masa depan.

Engkau turun kepada kami seolah-olah engkau dalam pos langit adalah surat kemuliaan hidup bagi nasionalisme yang menang.

Bahkan surat cerita menakjubkan yang dikarang badai dari dua seni: revolusi langit dan revolusi jiwamu yang Mesir. Dan diceritakannya dalam dua suara: desing pesawat dan teriakan hati nuranimu yang nasionalis. Dan dijadikannya dua bab: engkau dan yang tidak diketahui. Cukuplah bagimu kemuliaan bahwa seluruh rakyat hidup beberapa hari dalam ceritamu!

Maka di atas buaian langit, dan dalam sutra sinar, dan di bawah kelambu awan lahirlah bagi Mesir suatu hari bersejarah.

Keluarlah ucapan selamat yang lama tertahan dalam hati-hati Mesir yang tidak dibebaskan karena penjaranya adalah kezaliman politik.

Tertujulah kegembiraan seluruh rakyat kepada pemuda pemberani yang dilemparkan oleh semangatnya di atas jurang kematian lalu melampauinya.

Perasaan bangsa menerima utusannya yang berani yang tidak memiliki tempat berlindung dalam bahayanya kecuali perasaannya terhadap bangsa ini.

Seluruh lembah berguncang seolah-olah sarung yang bergemerincing ketika pedang ditarik darinya.

Kemudian Mesir menghadiahkan kata untuk anaknya yang menulis di langitnya kata langit yang pertama. Dan itu adalah saat waktu lenyap darinya sehingga naiklah darinya empat ribu tahun dan berteriaklah bersama kami para Firaun: “Dibarkahlah wahai Sidqi.”

Demi Allah sungguh hebat engkau wahai anak tekad! Seolah-olah engkau menyingkap keajaiban wahyu dan turun dalam awan yang bergemuruh. Jika tidak membawa kitab yang diturunkan, maka seolah-olah membawa pribadi yang diturunkan.

Mungkin engkau adalah utusan awan yang cemberut bagi langit Mesir ini yang selalu tertawa tawa filosof yang mengejek sementara kehidupan telah menjadi kekuatan bukan filsafat… Dan mungkin engkau adalah utusan kilat dan guntur bagi kesunyian yang tidur ini yang melipat setiap hari dalam lipatan lupa apa yang terjadi pada hari sebelumnya…

Dan mungkin engkau adalah nabi keseriusan dan kepahitan bagi kemanisan Nil yang berlebihan ini yang hampir saja membuat rakyat menjadi gula akhlak yang dilarutkan dan diminum…

Dan mungkin engkau adalah tafsir yang benar bagi akidah kami yang salah tentang qada dan qadar, bahwa qada adalah maju tanpa takut, dan qadar adalah percaya tanpa peduli.

Adapun demi Allah, sungguh engkau telah membanjiri rakyat dengan gelombang udara baru yang engkau bawa di sayap-sayapmu, dan meniupkan roh pesawatmu yang mulia ke dalam hati-hati sehingga semuanya berkibar seolah-olah engkau memiliki di tulang rusuk setiap orang Mesir sebuah pesawat.

 

 

Sayap-Sayap Pejuang Mesir 1:

Berkibarilah wahai para pejuang Mesir dan terbangkan, sesungguhnya kemuliaan menuntut dari kita manusia petirnya. Sungguh bahasa kekuatan di zaman ini telah merentang hingga penerbangan menjadi sebagian makna berjalan, dan dunia tidak lagi tahu bagaimana wujud gambaran terakhir yang menetap padanya makna manusianya.

Maka biarlah Mesir dimuliakan dengan manusia petirnya yang mengeluarkan api dengan tangannya dari gejala-gejala awan, dan bergemuruh di jari-jarinya getaran guntur, dan menjadikan di kubah langit bunyi gemeretak dan gemuruh, dan membawa nama Mesir ke tempat bergantungnya bintang, lalu meletakkan di sana definisi berapi yang telah ditetapkan negara-negara besar untuk nama-nama mereka.

Dan biarlah Mesir dimuliakan dengan manusia petirnya yang membuatnya merasakan hakikat ketinggian yang tinggi, dan kedalaman yang dalam, dan keluasan yang tidak terbatas; dan menambah pada makna hidup kita makna baru untuk hidup awan-awan, dan pada makna mati kita makna baru untuk mati planet-planet.

Manusia petir yang menyempurnakan dengan keberaniannya di langit kepahlawanan petani kita, manusia matahari di bumi, dan meninggikan kebanggaan Mesir di puncak dunia, sehingga tampak pesawat-pesawatnya yang agung sebagai kekuatan di udara sebagaimana tampak peninggalan-peninggalannya yang agung sebagai kekuatan di tanah.

Ia adalah Mesir, Mesir yang berkuasa yang memesona masa lampau dengan kekuatan dan seninya, maka tetaplah padanya keadaan dan kemuliaannya, dan kalah waktu darinya seolah ia kekuatan atas kekuatan waktu itu sendiri.

Maka berkibarilah wahai para pejuang Mesir dan terbangkan. Sesungguhnya kemuliaan menuntut dari kita manusia petirnya.

Dan ketika dibuka catatan pada suatu pagi untuk menuliskan Mesir nama-nama pasukan pertama elang-elang perangnya, berserulah kemuliaannya yang kekal dari kedalaman sejarah: “Nyalakanlah obor manusia yang pertama wahai Mesir, dan bukalah kubur udara yang pertama, dan kuburkan di dalamnya dari kedua unsurmu Muslim dan Koptik, dan letakkan kehidupan di dasar kehidupan, dan sambutlah zamanmu yang baru dengan azan masjid dan bunyi lonceng agar Allah memberkatinya, dan biarlah rakyat menyambut penerbang-penerbang pertamanya dengan hati yang di dalamnya roh pertempuran, dan hati yang mengenal sentuhan api; dan janganlah mereka memandang pesawat-pesawat pertamanya kecuali setelah melihat dua keranda sehingga melihat kemuliaan mati demi tanah air, maka bersinar pandangan mereka dengan kilauan kebanggaan, dan kilatan tekad, dan sinar iman; dan berkilau di dalamnya cahaya langit yang menjadikan manusia pada sebagian waktu mereka sebagai bintang-bintang cahaya doa rakyat atas orang-orang mati syuhada mereka.”

Dan nasib merespons suara kemuliaan, maka bergolak kegelapan di terang pagi, dan padam pelita siang di kubah langit, dan menutup sisi-sisi udara seperti penutupan malam yang runtuh tiang-tiangnya dan datang kabut menghalangi seperti gunung terapung yang bergoyang di laut, dan awan turun ke bumi sehingga meninggalkan sifat langitnya yang halus, dan unsur-unsur saling mendorong untuk berperang saling menyemangati, dan langit tertutup dengan wajah kematian: cemberut lalu menghitam dan mengembung, dan patah di dalamnya kerutan-kerutan setiap kerutan seperti potongan kegelapan, dan kembali yang paling luas menjadi yang paling sempit, maka alam semesta seperti dada orang yang sekarat; tidak bersamanya kecuali umur satu jam dan nafas-nafasnya.

Dan mendahului menuju kemuliaan kematian pesawat Mesir yang pertama; dan di dalamnya ada dua orang Inggris yang mengendalikannya maka kematian menolaknya, lalu ia pergi dan bunuh diri karena sedih dan jatuh hancur, dan kedua pria itu terlepas dari cakar kebinasaan, dan keduanya di pesawat seperti dua helai daun tumbuhan di mulut belalang yang hendak mengunyah mereka…

Dan berlomba yang kedua maka di dalamnya ada titipan kemuliaan dari kedua unsur Mesir: “Hajjaj dan Daws” dan merupakan rahasia dari rahasia Mesir berkumpulnya keduanya di tempat-tempat licin awan dan luncurannya, untuk menjadi hadiah pertama Mesir kepada kemuliaan perangnya, kemudian untuk menjadi hadiah kemuliaan kepada perasaan rakyat ini merasakan darinya dunia yang terlipat baginya dalam masa depan kemenangan.

Dan pesawat kedua syuhada menerobos jalan kehancuran dan labirin kehidupan, maka hilang darinya pengetahuan bumi, dan buta padanya tanda-tanda langit, dan keluar dari kendali tangan kedua pahlawan kepada kendali ajal mereka, dan menjadi seolah terbang dalam nafas-nafas yang tersisa bagi mereka; tidak maju dan tidak mundur; dan bukan pesawat yang membawa mereka, tetapi sayap yang terbentang dari rahmat Allah. Kemudian kematian menariknya ke jurang, maka turun dari udara condong seperti burung mencari perlindungan dalam badai, kemudian bangkit melompat, dan turun terbalik, lalu terbakar dan menyala sehingga memasak kedua penumpangnya, semoga Allah merahmatinya!

Dan sering kali pemandangan duka dalam kehidupan adalah kesibukannya dalam pekerjaan baru yang darinya ia menciptakan kegembiraan dan kekuatan. Terbakarnya kedua pahlawan agar Mesir menerima dalam keranda mereka abu yang tidak akan membangun sejarah kemulian nasional kecuali dengannya.

Maka berkibarilah wahai para pejuang Mesir dan terbangkan. Sesungguhnya kemuliaan menuntut dari kita manusia petirnya.

Api manusia telah membuat kebenaran, dan meletakkan bagi kita nama indah yang kita berikan kepada penerbang-penerbang pahlawan kita, maka jangan kalian menyebut mereka elang udara, tetapi sebutlah mereka “bara udara”.

Api kita telah membuat kebenaran, dan mengilhami kita untuk mengganti dalam diri kita keadaan dengan keadaan, dan mengejutkan perasaan kita yang bermimpi lalu menghantamnya dengan penderitaan terjaga yang pahit, dan mengubah dasar kehidupan dalam pendidikan Mesir sehingga tidak menjadi: hidup hidup, tetapi kekuatan kekuatan.

Api telah membuat kebenaran, dan membuktikan kepada kita bahwa kehidupan tidak lain adalah alat bagi yang hidup, dan bukan yang hidup alat bagi kehidupan, maka biarlah ia bertindak dengannya atas hukum-hukum roh dan harapan-harapannya sehingga tinggi ia tinggi, dan jangan biarkan ia bertindak atas mazhab-mazhab takdir materi dan pengaruh-pengaruhnya sehingga ia merendahkan dan direndahkan. Dan dalam hukum roh: tidak ada nilai bagi dunia benda-benda kecuali sebagai yang berguna bagi kita; dan dalam hukum materi dan tekanan kehidupan: sebagai yang berguna bagi kita dan sebagai kita berguna baginya…

Ya, sungguh api manusia telah membuat kebenaran, dan memberikan kepada kita kisah kebebasan lengkap dalam satu makna: yaitu bahwa kebebasan ini bagi para pencintanya seperti yang tercantik dari yang cantik bagi yang bersaing untuk mendapatkannya: kecantikannya liar, dan kemanjaaannya buas, dan keanggunannya menumpahkan darah.

Maka berkibarilah wahai para pejuang Mesir dan terbangkan. Sesungguhnya kemuliaan menuntut dari kita manusia petirnya.

Dan ke langit wahai “bara udara”, maka jika kalian duduk tegak di atas awan, maka bukan pesawat lagi pesawat, tetapi hakikat hidup yang bekerja untuk kemuliaan, maka biarlah ia membawa makna Mesirnya dari pahlawan Mesirnya.

Dan jika kalian berenang di tempat turun takdir, maka bukan penerbang lagi penerbang, tetapi kehidupan jenius yang dikirim Mesir untuk menurunkan bagi kehidupan takdir-takdir yang beruntung. Dan jika kalian berperang dalam pertempuran yang sulit yang di dalamnya bertebaran ajal-ajal di angin, maka bukan jasad Mesir di sana dari daging dan darah, tetapi hukum alam yang berjalan menuju tujuan.

Dan jika kalian saling melempar di lautan matahari, maka kalian di sana di atas jala yang kalian lempar untuk menangkap hari-hari yang bercahaya berkilau dalam sejarah Mesir.

Dan jika kalian menembus dari penjuru-penjuru langit, maka pandanglah dengan mata kalian ketinggian-ketinggian Mesir, dan pahamilah dengan hati kalian hakikat tanah air Mesir yang tinggi dan tinggi dan tidak berhenti selamanya tinggi.

Sesungguhnya pesawat dan senjatanya dan penerbangnya adalah susunan dari kemanusiaan dan unsur-unsur, maknanya dalam tekad “harus ada”. Dan ketika pesawat mengaum aumannya maka ia berkata kepada pahlawan dari kalian: marilah dari yang tinggi ke yang lebih tinggi, ke yang lebih tinggi lagi, ke batas terjauh kewajiban atas jiwa ketika kewajiban mengambil semuanya dan ketika jiwa memberikan semuanya.

Maka berkibarilah wahai para pejuang Mesir dan terbangkan. Sesungguhnya kemuliaan menuntut dari kita manusia petirnya.

 

 

Tomat Politik:

“M” Pasha (semoga Allah merahmatinya) adalah salah satu ahli politik ulung Mesir. Ia terkadang berkelok-kelok di tangan seperti tali yang melilit, dan terkadang lurus di tangan seperti pedang yang tegak. Ia tidak pernah terlihat kecuali dalam keadaan mengerut dan berhati-hati, seolah-olah ia memiliki musuh yang tidak diketahui di mana dan kapan akan menyerangnya. Namun seperti para pemimpin lainnya yang menjadi alat kebohongan antara pencari kebenaran dan perampas kebenaran, ia tahu bahwa musuhnya tersembunyi dalam perbuatan-perbuatannya sendiri.

Ia adalah orang yang cerdas dan pandai, namun keterlibatannya dalam politik yang berputar pada porosnya sendiri membuat separuh kecerdasannya menjadi kecerdasan murni dan separuhnya lagi menjadi tipu daya. Dalam kelicikannya, seolah-olah ia memiliki tiga akal: satu Mesir, satu Inggris, dan yang ketiga di luar kedua keadaan itu.

Dengan cara inilah ia maju dan hidup sebagai kesayangan para pemimpin Inggris. Jalannya tetap lancar di hadapan mereka hingga mereka mengangkatnya ke jabatan menteri, karena ia pandai memahami mereka dan cepat merespons mereka. Ia memahami makna kata-kata mereka, makna niat yang tersembunyi di balik kata-kata mereka, dan makna lain yang ia sumbangkan sendiri untuk kata-kata mereka… Maka ia dan orang-orang sejenisnya, menurut pandangan politik lama itu, adalah orang-orang seperti gagasan: salah satu dari mereka ditempatkan di posisi pemerintahan seperti menempatkan formula keraguan untuk merusak keyakinan, atau formula khayalan untuk melahirkan imajinasi, atau formula hawa nafsu untuk menciptakan fitnah.

Sahabatku “si Anu” (semoga Allah merahmatinya) adalah sekretaris pribadinya. Sang Pasha begitu mempercayainya hingga ia menceritakan isi hatinya, mencurahkan kegelisahan dan kesedihannya, dan melihat padanya dunia bebas tempat ia keluar setiap kali dunia jabatannya terasa sempit, dan terkadang meminjam keyakinan darinya bahwa ia masih orang Mesir yang belum sepenuhnya berubah di kursi jabatan…

Sahabat itu menceritakan kepadaku setelah Pasha ini meninggal: “Suatu hari ia memanggilku untuk meminta pendapat tentang salah satu urusannya, lalu berkata: ‘Pemimpin Inggris tidak tenang kepadamu karena ada kebenaran yang jujur tampak di wajahmu. Kamu menatapnya seolah-olah matamu berkata kepadanya: Aku orang Mesir yang merdeka.'”

Sekretaris itu berkata: “Jika itu yang membuatnya marah, maka persoalannya mudah. Mulai hari ini aku tidak akan menatapnya kecuali dari balik kacamata hitam…”

Sang Pasha tertawa dan berkata: “Wahai anakku, orang Inggris ini bagi kita seperti setan: ‘Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka’ (Al-A’raf: 27). Demi Allah wahai anakku, aku lebih bangga darimu, dan dadaku sesak karena kesusahan yang kualami ini, tetapi kita—orang-orang Timur—telah tersesat sejak kehilangan kepribadian sosial.

Apakah kamu memahami sesuatu jika kukatakan kepadamu: manusia, singa, gunung, kota, armada? Struktur sosial kita seperti kata-kata ini: di dalamnya terdapat kebesaran lafal sebesar kehancuran dan lenyapnya makna. Setiap kata bila berdiri sendiri memiliki makna yang benar yang menopangnya dan ditopang olehnya, namun dalam kalimat berubah menjadi makna yang bukan makna.

Orang Timur kini hidup di tengah bangsanya dengan prinsip bahwa ia sendirian, tidak ada hubungan antara dirinya dengan berbagai pihak, baik dalam waktu maupun tempat. Ia lupa makna hadis mulia: ‘Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kamu hidup selamanya.’ Apa yang dikehendaki oleh pembaharu sosial terbesar dari perkataannya ‘seolah-olah kamu hidup selamanya’ selain menetapkan bagi bangsanya bahwa individu adalah mata air semua generasi yang akan datang, maka hendaklah ia bekerja untuk mereka dan untuk dirinya seolah-olah mereka bergantung padanya dan seolah-olah ia berkelanjutan dalam mereka.

Ini adalah hikmah Islam yang mendalam. Kita memiliki lafal itu tetapi tidak mengerti maknanya, sedangkan orang Inggris memiliki maknanya tetapi tidak mengenal lafalnya. Siapakah yang Muslim, mereka atau kita?

Atas dasar keterpisahan—keterpisahan segala sesuatu—orang Timur mengutamakan hidupnya daripada tanah airnya, mendahulukan kesenangannya daripada kewajibannya, dan bertransaksi dengan uang di tempat-tempat yang seharusnya bertransaksi dengan akhlak. Wajar jika dengan hal ini ia mempersingkat agama dengan cara yang membuatnya menjadi sesuatu di antara dua hal, bukan agama dan bukan pula bukan agama, sehingga sesuai dengan individualitasnya dan tunduk di bawah hukumnya sambil memberontak terhadapnya. Maka kamu melihat seseorang dari jutaan orang ini beriman kepada Allah sambil bersumpah atas nama-Nya dengan dusta demi satu dirham, shalat dan berbuat maksiat dalam satu hari, beribadah dalam dirinya dan mengkhianati orang lain pada waktu bersamaan.

Ketika kondisi psikologis bangsa adalah individualitas dengan kepentingan dan motif seperti ini, kebohongan menjadi sifat paling tampak dari bangsa ini, karena ia adalah keterpisahan si pembohong dengan keuntungan, kepentingan, dan motifnya. Tidak ada yang berbohong kepadamu kecuali orang yang berharap kamu bodoh, atau orang yang menganggap dalam dirinya bahwa perlakuan umum dalam bangsa berdasarkan prinsip orang-orang bodoh… Mereka juga berbohong dalam hal ini dengan menyebutnya kecerdikan dan kepandaian serta ‘kecerdikan jalanan.’

Ketika kebohongan merata, darinya muncul main-main; karena setiap pembohong adalah pemaian, dan apakah pembohong menemukan kegembiraan saat berbohong kecuali jika ia gila? Dari main-main ini ada jenis yang berupa bersenda gurau dengan kebohongan, ada jenis kebohongan terhadap kenyataan, dan ada kebohongan terhadap khayalan. Bagaimanapun keadaannya, kamu tidak menemukannya kecuali kebohongan.

Ketika kebohongan menjadi prinsip yang diterapkan, orang-orang meyakini bahwa perkataan hanya diucapkan untuk diucapkan saja. Bukankah kamu melihat dua orang ketika salah satunya memberitahu temannya berita yang agak aneh atau jauh, yang lain tidak berbicara pertama kali kecuali bertanya: “Benar? Sungguh?”

Tidak ada yang lebih merusak bangsa daripada keyakinan ini—keyakinan bahwa perkataan hanya diucapkan untuk diucapkan saja—karena inilah cap main-main pada akhlak bangsa, pada semua keadaannya, dan juga pada pemerintahannya.

Dari main-main dan kebohongan, kita terlihat berlebihan dalam segala hal, hingga satu hal bagi kita seperti banyak hal bagi orang lain, lalu kita membuatnya seratus dengan dua nol: satu kita ambil dari kebiasaan kita berbohong terhadap kenyataan, dan yang lain dari kenyataan kebangkrutan kita.

Ini adalah berlebihan yang berbahaya, dan yang paling berbahaya adalah bahwa dengan ini kita ingin berlebihan dalam menunjukkan berbagai hal, lalu berubah menjadi berlebihan dalam menunjukkan diri kita sendiri, kebohongan tabiat kita, dan kekacauan akal dalam diri kita. Ya, bahkan membuktikan bahwa kita tidak memiliki tekad, karena berlebihan itu tidak memiliki ketepatan makna; bahwa kita tidak memiliki kesabaran, karena tidak ada keteguhan pada kenyataan yang kalah; bahwa kita tidak memiliki ketegasan dalam mencari kebenaran, karena dengan itu kita termasuk orang yang lalai dalam menggambarkan kebenaran; dan bahwa kita tidak memikirkan akibat ketika melepaskan perkataan begitu saja tanpa takut akan akibatnya.

Yang paling mudah dipahami dari berlebihan-berlebihan ini yang telah menjadi cara rakyat dalam berekspresi adalah bahwa rakyat ini tidak baik dalam hal apapun kecuali dengan pemerintahan. Ia sendiri seperti berlebihan, dan pemerintahan baginya seperti pembetulan. Inilah sebab mengapa rakyat pembohong bergantung pada pemerintahannya dalam setiap perkara besar dan kecil dalam pekerjaan, sebagaimana inilah sebab mengapa pemerintahannya berbohong kepadanya dalam setiap perkara kecil dan besar dalam politik.

Dari pengaruh kebohongan rakyat dan berlebihan rakyat, kita melihat perhatian setiap individu terhadap apa yang dikatakan orang tentang perbuatannya. Ia menjalankan perbuatannya berdasarkan hal itu meskipun manfaatnya sedikit, meskipun kenyataannya rusak, meskipun mendatangkan kerugian pada harta dan dirinya. Prinsip mereka adalah ini: Urusan dalam hidup bukan pada pekerjaan itu sendiri, tetapi pada apa yang dikatakan tentangnya; jika tidak ada yang dikatakan, maka jangan berbuat apa-apa…

Inilah wahai anakku, bangsa yang para penguasanya pun tidak lain adalah berlebihan-berlebihan juga…

Sekretaris berkata: “Dari jalan terdengar suara penjual yang menawarkan dagangannya: ‘Lebih baik dari apel, wahai tomat!'”

Sang Pasha tertawa dan berkata: “Begitulah mereka berkata kepada kita tentang tomat politik yang busuk ini: bahwa ia bukan hanya apel, tetapi lebih baik dari apel.

Sesungguhnya bangsa tidak akan berada di tempatnya kecuali jika menempatkan kata di tempatnya, dan yang pertama menunjukkan kebenaran akhlak dalam suatu bangsa adalah kata kebenaran di dalamnya. Bangsa yang tidak diperintah oleh kebenaran, tidak akan menjadikan semua manifestasi pemerintahan bersamanya kecuali kebohongan, main-main, dan berlebihan.”

 

 

Sang Bek dan Pasha:

Sekretaris “M” Pasha menceritakan kepadaku: “Suatu hari datang mengunjungi sang Pasha seorang laki-laki yang masuk dengan wajah berseri-seri dan bercahaya seolah-olah diterangi dari dalam oleh lilin… Kedua bahunya bergoyang seolah-olah digerakkan oleh rahasia kebesarannya; berjalan tertatih-tatih seperti wanita cantik yang dibebani oleh dagingnya dan dibebani oleh banyak makna dari mata orang-orang yang menatapnya. Di bibirnya terdapat bayangan pikiran orang-orang besar dan sombong yang tidak memerintah seseorang yang kecil kecuali untuk memberitahunya bahwa ia besar, sehingga dalam perintah itu ada dua hal: perintah dan kejahatan. Ia menghampiriku dengan sikap angkuh yang seandainya berbicara akan berkata: ‘Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi’ (Al-A’la: 1). Mahasuci Allah yang menciptakan di singa satu helai bulu yang perkasa yang darinya keluar seluruh singa.

Subhanallah wa la ilaha illallah. Ini adalah ‘si Anu Pasha’ yang kubaca di surat kabar kemarin bahwa mereka telah menganugerahinya gelar Pasha; Allah menciptakannya dari tanah dan gelar itu mengubah tanah yang ada padanya menjadi emas murni… Ia menatapku dan dengan keengganan matanya berhenti padaku dan pada dinding, dan jiwanya yang bangga tidak menemukan cara untuk mengekspresikan gelar kecuali dengan penghinaan yang memancar dari kepribadiannya yang agung terhadap orang yang tidak seperti kepribadiannya. Antara kemarin dan hari ini ia bertambah sebesar ini secara manusiawi, atau seolah-olah gambarnya dulunya hanya garis-garis lalu diberi warna…

‘Pasha!’ Ba dan alif dan syin panjang ini bukan huruf-huruf yang keluar dari abjad umum; karena abjad bisa menempatkan ba pada ‘bodoh’ misalnya, dan alif pada ‘tolol’, dan syin panjang pada ‘saksi palsu’ misalnya… Tetapi itu adalah huruf-huruf dari huruf negara, diambil dari kekuatan yang mampu memberikan bentuk pada kehidupan pemiliknya seperti yang diberikan seni pada batu berupa bentuk patung yang didirikan untuk penghormatan.

Katanya: ‘Aku mengenal orang ini, ia adalah orang buta huruf yang tidak bisa menulis kecuali namanya seperti ayam menulis di tanah…’ Maka gelar itu padanya seperti menyebut batu karang yang keras dengan sebutan ‘taman’; dan ini dapat ditoleransi dalam majaz dengan hubungan tertentu; tetapi yang tidak dapat diterima dalam majaz, dalam berlebihan metafora, atau dalam dongeng yang mustahil, adalah bahwa batu karang itu mengklaim kepada orang-orang bahwa sebutan ‘taman’ yang diberikan kepadanya telah menumbuhkan pohon-pohon taman di dalamnya…

Sekretaris berkata: “Aku meminta izin untuknya kepada sang Pasha, lalu ia memberikan izin dengan mudah dan berkata: ‘Orang ini telah menjadi seperti kertas yang distempel dengan cap negara, biarlah ia apa adanya karena ia memiliki pertimbangannya.’ Lalu ia menyambutnya dengan sambutan orang yang main-main dan sinis, dan berkata kepadanya: ‘Aku ucapkan selamat atas gelar tata bahasa… Selamat wahai Pasha.’ Dan ia menghampirinya serta menunjukkan wajah yang ramah.

Dalam diri sang Pasha ada humor yang menarik yang dikenal darinya, ia banyak bercerita lucu dan jenaka. Ia memiliki keistimewaan yang mengagumkan: di hadapannya ada tumpukan kertas yang diajukan kepadanya untuk dilihat, dibaca, dan dipertimbangkan, dan dalam waktu bersamaan ia mendengarkan lawan bicaranya, menanggapi, dan membalasnya. Ia menangani orang dan kertas dalam waktu bersamaan, menggunakan dua sisi pikirannya secara bersamaan tanpa mengurangi ketepatan dalam hal ini maupun itu.

Lalu ia berkata kepada Pasha sambil matanya tertuju pada yang ada di hadapannya: ‘Ini adalah kertas pencurian banteng besar, jadi berapa harga banteng besar sekarang?’

Sahabat kita yang cerdas dan pandai berkata: ‘Jika ia termasuk banteng yang dipamerkan di pameran dan mendapat medali emas, mungkin harganya jauh dan mahal.’

Sang Pasha berkata: ‘Ya ya, sesungguhnya di antara banteng ada banteng-banteng yang dianugerahi penghargaan, tetapi banteng yang kutanyakan kepadamu wahai Pasha adalah banteng bajak bukan banteng pameran…’

Yang lain berkata: ‘Jika ia banteng bajak maka sejenisnya banyak sehingga tidak menjadi banteng besar seperti yang kamu katakan dan tidak memiliki nilai kecuali seperti sejenisnya.’

Sang Pasha berkata: ‘Sepertinya aku salah, dan terkutuklah tergesa-gesa. Ini adalah kertas pencurian keledai!’

Sekretaris berkata: “Aku menyingkir dari mereka berdua dengan kertasku, dan aku melihat tangan sang Pasha penuh dengan sapaan untuk sahabat kita yang semuanya adalah tampar; maka tidak lama kemudian ia keluar dengan gembira, kegembiraan mengayunkan kedua bahunya. Lalu sang Pasha memanggilku dan memberiku kartu dengan keperluan yang datang untuk itu si laki-laki, lalu berkata:

‘Andai kita memiliki dalam gelar-gelar negara gelar “semoga Allah merahmatinya”… yang dianugerahkan kepada orang seperti ini. Tahukah kamu wahai anakku bahwa gelar-gelar dan sebutan-sebutan ini pada zaman dahulu tidak lain adalah seperti menempatkan tanda kejahatan pada orang jahat agar orang-orang takut kepada mereka, hingga seolah-olah ditulis pada salah satu dari mereka dari sebutan bek atau pasha: terlampir pada negara… Dan rakyat adalah buta huruf dan bodoh, tidak mampu memahami dan tidak pandai membedakan, maka gelar-gelar itu seperti hukum-hukum personal yang ditetapkan dalam rumusan yang ada, dipahami, dan jelas petunjuknya. Setiap orang yang menyandang gelar dari pemerintah dapat berkata kepada orang-orang: Pemerintah telah menempatkan kata perintah di bibirku…

Dan seolah-olah gelar itu adalah pengumuman dari pemerintah yang despotik kepada rakyatnya yang bodoh: Bahwa bek dan pasha inilah yang berhak dihormati.

Sungguh main-main jika nama kemenangan perang dibeli atau dihadiahkan atau dipinjamkan; dan lebih buruk lagi dalam hal main-main adalah menganugerahkan orang buta huruf seperti ini dengan gelar pasha. Dan aku tahu bahwa ia telah mengorbankan apa yang dikorbankan dan mensia-siakan apa yang disia-siakan demi gelar itu, seolah-olah orang yang memberikannya kepadanya tidak melakukan apa-apa kecuali menandatangani penerimaan bayaran.

Dan sungguh orang itu telah menjadi di bawah pengaruh kata besar itu tergila-gila oleh sihir khayalnya, sehingga ia menganggap hal itu sebagai penerimaan dalam tugas setiap penguasa, dan persekutuan dalam pemerintahan ketika diperlukan oleh jalannya urusan dan keadaannya, atau kebutuhan sebab dan pengikutnya. Dan di sinilah ia datang meminta haknya, karena orang seperti dia tidak memahami dari gelar ‘pasha’ kecuali bahwa pemerintah telah membolehkan otoritasnya muncul dan bekerja, sehingga memperpanjang lengannya, memperkuat urusannya, dan mengangkat namanya untuk kepentingan dan pekerjaannya. Ia merasa dirinya sejak hari itu telah menyatu dengan keturunan pemerintahan, dan dalam satu kata, ia telah lahir dari rahim pemerintahan…

Tidakkah kamu melihat bahwa jika rakyat memperoleh kembali otoritas penuhnya, dan jika orang-orang yakin bahwa gelar-gelar adalah kata-kata kosong dari perintah, larangan, cara, dan syafaat, tidak akan ada yang peduli dengannya, dan penyandangnya akan menjadi orang pertama yang mengejeknya?

Maka ia adalah sulap dari pemerintahan dan penyesatan terhadap orang buta huruf seperti ini, dan ia adalah jenis intimidasi dan berlebihan pada orang-orang besar dan agung lainnya, seolah-olah menteri yang bergelar pasha membuatnya menjadi dua menteri dengan gelarnya, dan seolah-olah orang buta huruf yang bodoh ini membuatnya menjadi pribadi lain selain orang buta huruf yang bodoh dengan gelarnya.

Aku jarang melihat orang yang membutuhkan gelar untuk membesarkan diri kecuali ia tidak layak mendapatkannya, dan jarang aku melihat orang yang layak mendapatkannya kecuali ia tidak membutuhkannya. Maka di manakah tempat gelar-gelar dan sebutan-sebutan ini?”

 

 

Penghuni Jubah:

Kata pemilik rahasia “M” Pasha: Suatu hari datang kepadaku dua orang syekh agama dari kalangan yang berkedudukan dan memiliki martabat di antara mereka, keduanya berperawakan tinggi dan besar, mengenakan jubah dan sorban, serta memiliki derajat dalam kepemimpinan agama. Mereka membawa aroma wangi yang kusangka berasal dari kepakan sayap malaikat. Mereka memiliki wibawa seperti bayangan pohon hijau di terik matahari yang memberikan naungan ke kanan dan kiri. Maka aku mengarahkan pandanganku kepada mereka, mendekati mereka dengan segenap jiwaku, dan memusatkan seluruh indra untuk melayani mereka. Aku berkata: “Inilah para penegak hukum yang bahan dasarnya adalah hati.”

Betapa sia-sianya kehidupan ini seandainya tidak menunjukkan kemuliaan dan nilainya melalui sebagian orang yang hidup yang kita lihat di dunia tanah ini seolah-olah mereka terbuat dari awan, yang memberikan bayangan, air, dan sejuk bagi orang lain, sementara bagi diri mereka sendiri terdapat kesucian, ketinggian, dan keindahan. Mereka membuktikan kepada orang-orang lemah bahwa yang tidak mungkin sebenarnya mungkin terwujud, karena orang-orang tidak melihat dalam sifat mereka kecuali keikhlasan meski itu berarti kehilangan, kecuali kemuliaan meski itu berarti kesulitan, kecuali cinta kepada kemanusiaan meski itu menyakitkan, kecuali kesungguhan meski itu melelahkan, kecuali qanaah (merasa cukup) meski itu berarti kemiskinan.

Mereka adalah kaum yang disusun oleh tangan kekuasaan, mereka seperti buku-buku yang telah berisi kebenaran-kebenarannya dan disegel sebagaimana adanya, tidak dapat mengeluarkan untuk manusia dari suatu kebenaran setengah kebenaran atau yang menyerupai kebenaran atau pemalsuan atas kebenaran.

Betapa mengagumkan urusan kehidupan manusia ini yang berdiri di atas hukum-hukum ekonomi! Surga sendiri di dalamnya membutuhkan makelar untuk menawarkan surga kepada manusia dengan harga yang dimiliki setiap orang yaitu amal saleh.

Dia berkata: Aku memandang kedua syekh itu dengan menganggap mereka sebagai sisa kenabian yang bekerja di dalamnya syariat itu sendiri. Syariat yang tidak berubah dan tidak berganti agar manusia tidak berubah dan tidak berganti. Kemudian aku bertanya kepada mereka tentang keperluan mereka, ternyata salah satu dari mereka telah membuat beberapa bait syair yang datang untuk memuji Pasha agar dapat mendekatkan diri kepadanya. Aku berkata dalam hati: “Betapa miripnya burung hutan dengan warna bebatuan!” Ini adalah ulama dunia yang dibatasi dari timur oleh roti, dari barat oleh dinar, dari utara oleh kedudukan, dan dari selatan oleh setan.

Kemudian dia membentangkan secarik kertas di tangannya dan mulai membacakan qasidah tersebut yang berima dengan huruf ha, dan berakhir dengan bait-baitnya: Ha. Ha. Ha. Dia membacanya sebagai syair -atau seperti yang dia sebut syair- sementara aku mendengarnya sebagai tawa terbahak-bahak dari setan yang menunggangi pundak ulama agama ini: Ha. Ha. Ha. Ha…

Kata pemilik rahasia: Aku membawa mereka masuk kepada Pasha, maka berdirilah si pujangga memuji dengan qasidahnya, dan jenggotnya yang lebat bergoyang dalam deklamasinya seolah-olah kemoceng yang digunakan untuk mengusir kebosanan dari perasaan Pasha… Sementara yang lain terdiam bekerja dalam dirinya seperti diamnya alam ketika benih pecah di dalamnya, karena kebutuhan itu adalah kebutuhannya, dan dia datang dengan temannya sebagai pendukung dan penolong yang membawa matahari, bulan, singa, dan hujan, agar segala sesuatu berputar mengelilingi yang dipuji sehingga dia terpesona, maka jawaban matahari dalam bahasa ini adalah menerangi hari sang syekh, jawaban bulan adalah memenuhi kegelapannya, jawaban singa adalah memangsa musuhnya, dan jawaban hujan adalah turun di tanahnya.

Pasha tidak meninggalkan kelucuan dan candaannya, dan dia telah melihat di mulut ulama yang menyair itu gigi palsu, maka ketika dia selesai dari syairnya yang buruk itu, dia berkata kepadanya: “Wahai ustaz, aku rasa aku tidak akan menjadi kecuali pembohong jika aku berkata kepadamu: semoga mulutmu tidak rusak.”

Kemudian yang lain menyebutkan keperluannya: yaitu harapannya agar kepala desa dari kerabatnya, bukan dari musuh-musuhnya. Maka Pasha berkata kepadanya: “Dan untuk desamu juga ada Abu Jahal?”

Ketika mereka pergi, Pasha berkata kepadaku: “Untuk suatu alasan, kaum ini membuat untuk diri mereka pakaian khusus yang membedakan mereka di antara manusia, seolah-olah agama adalah pintu profesi dan pekerjaan, sebagian alatnya ada pada pakaiannya. Mereka menghuni jubah dan kaftan seolah-olah itu adalah kantor mereka bukan pakaian mereka…”

Aku dapat memahami makna yang benar untuk ini jika setiap orang dari mereka terbatas pada kewajiban pekerjaannya seperti tentara dalam makna senjatanya, maka pengagungan dan penghormatan untuk pakaian ulama agama seperti memberi hormat kepada pakaian militer: artinya bahwa dalam pakaian ini ada pekerjaan mulia yang dimulai dengan menjual jiwa dan mengorbankan diri serta meninggalkan dunia demi masyarakat. Ini adalah pakaian kematian yang mewajibkan kehidupan untuk mengagungkan dan memuliakannya, dan pakaian pertahanan yang harus dipatuhi dan diikuti, dan pakaian kekuatan yang tidak memiliki selain kewibawaan dan penghormatan di tanah air.

Tetapi apa yang dilakukan jubah hari ini? Dia memberi makan pemiliknya…

Pengaruh tentara dikenal dalam mempertahankan bangsa-bangsa musuh dari negeri, maka di mana pengaruh tentara ulama dalam mempertahankan makna-makna musuh dari penduduk negeri, padahal makna-makna ini telah menduduki dan memukul dan menguasai serta meninggalkan ulama agama ini dalam pakaiannya seperti tentara yang kalah; membawa dari kekalahannya aib dan dari pakaiannya aib lainnya?

Engkau wahai anakku telah melihat “Syekh Muhammad Abduh” dan mengenalnya; maka rahmat Allah untuk lelaki ini, betapa mengagumkan urusannya! Seolah-olah dia -demi Allah- awan yang mengandung petir, dan seandainya aku katakan bahwa antara hatinya dan kepalanya ada jalan bagi sebagian malaikat, sepertinya itu adalah perkataan yang benar.

Dia kadang mengunjungiku dan aku merasa terpaksa menyediakan dua tempat duduk untuknya, salah satunya hatiku. Dia memiliki wajah yang memerintah dengan perintah, karena engkau tidak melihatnya kecuali merasakan dia mengangkatmu ke kebenaran yang mulia.

Seorang lelaki yang tumbuh pada akar-akar yang di dalamnya terdapat kreasi Pencipta Agung yang menyiapkannya untuk misinya, maka badai-badainya seperti wangi dalam pohon wangi yang harum, akhlaknya seperti keindahan langit dalam birunya langit yang jernih, dan keagungannya seperti kemegahan laut dalam pemandangan laut yang bergemuruh. Dan sering gurunya “Sayyid Jamaluddin Al-Afghani” heran kepadanya lalu bertanya dengan kagum: “Demi Allah katakan kepadaku: anak raja mana engkau?”

Dia bukanlah anak raja atau anak pangeran, tetapi dia adalah anak kekuatan-kekuatan rohani yang bekerja di alam semesta ini; maka kekuatan-kekuatan itu yang menyiapkannya, yang mengilhaminya, yang membuatnya berbicara, dan yang mengeluarkannya di antara kaumnya dengan terang-terangan bukan sembunyi-sembunyi, dengan terus terang bukan menipu, dan mereka menjadikan di dalamnya sifat singa, dan mereka melemparkan dalam perkataannya gairah rohani yang dapat dirasakan dan dicintai, seperti manisnya pada yang manis.

Inilah ulama agama: harus menjadi anak kekuatan-kekuatan rohani, bukan anak buku-buku saja, dan harus keluar dengan amalnya ke dunia, bukan memasukkan dunia ke bawah atap masjid…

Dan aku, rasa kagumku tidak habis-habisnya terhadap para ulama ini yang merupakan sisa-sisa yang mengecil di samping asalnya, mereka meneliti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: bagaimana beliau makan dan minum dan berpakaian dan berjalan dan berbicara; seolah-olah mereka dari dunia dalam hukum meja makan, dan adab perjamuan, dan tata cara masyarakat. Adapun kebenaran besar itu, yaitu bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berperang dan bertempur untuk membimbing makhluk, dan bagaimana beliau tinggi di atas dunia dan syahwat-syahwatnya? Dan bagaimana beliau dengan sifat-sifatnya yang kuat dan jujur menjadi perbaikan yang efektif dalam kemanusiaan ini terhadap hukum-hukum yang berlaku? Dan bagaimana beliau membawa kemiskinan untuk mematahkan dengannya kerakusan hukum-hukum ekonomi yang memutuskan menjadikan akhlak sebagai akibat dari kelapangan dan kesempitan, sehingga mengeluarkan dari orang kaya yang menjaga diri dan dari orang miskin pencuri? Dan bagaimana shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kemiskinannya yang mulia dapat mengubah makna kekayaan dalam jiwa para sahabatnya, sehingga menjadikannya apa yang tidak dibutuhkan manusia dari syahwat dunia dan ditinggalkan, bukan apa yang diperoleh darinya dan dikumpulkan? Adapun ini dan semisalnya dari kebenaran-kebenaran kenabian yang bekerja dalam mengatur kehidupan, mereka telah mengabaikannya, karena itu tidak terdapat dalam buku-buku dan syarah-syarahnya dan catatan pinggirnya, tetapi dalam kehidupan dan beban-bebannya dan kesulitan-kesulitannya. Dengan demikian para syekh kita dari umat berada di tempat-tempat yang tidak ditempatkan oleh agama tetapi ditempatkan oleh pekerjaan.

Alangkah baiknya jika mereka menulis di pintu-pintu Al-Azhar hikmah ini: Ditanyakan kepada sebagian orang Arab: Dengan apa si fulan memimpin di antara kalian? Mereka berkata: Kami membutuhkan amalnya dan dia tidak membutuhkan dunia kami…

 

 

Akhlak yang Berperang:

Dan menceritakan kepadaku pemilik rahasia “M” Pasha dengan cerita ini, dia berkata: Kami berada dalam revolusi tahun 1919, tahun goncangan dan fitnah, dan revolusi telah memuncak, dan para pemuda mulai bekerja dan berpikir tentang apa yang dapat mereka kerjakan, dan apa yang harus mereka kerjakan. Kemarahan umum adalah warisan masa itu, maka hati-hati rakyat mengilhami kewajiban-kewajibannya dengan ilham, karena tidak ada dalam hati-hati ini semua kecuali luka darah yang menentukan arah perbuatan mereka dan membatasinya.

Revolusi itu adalah gempa yang terjadi dalam sejarah, maka datang di bawah masa yang stagnan yang tidak berubah kecuali dengan diledakkan, dan tidak meledakkannya kecuali bahan ilahi seperti gerakan kosmik yang mengeluarkan hari baru dari yang lama. Maka takdir bekerja dengan tangan-tangan Inggris dalam pekerjaan Mesir, dan bekerja dengan tangan-tangan orang Mesir dalam pekerjaan lain.

Dan rakyat belajar dari penguburan syuhada-syuhada mereka bagaimana menumbuhkan darah sehingga tumbuh darinya kebebasan, dan bagaimana menanam air mata sehingga keluar darinya tekad, dan bagaimana memanfaatkan kesedihan sehingga berbuah baginya kemuliaan.

Dan peluru orang Inggris mengenai dua sasaran sekaligus: merobohkan syuhada kami, dan membunuh kematian politik yang menduduki bersama mereka negeri ini. Dan mereka telah menganugerahkan kepada rakyat guncangan pertama, maka berkobar pertempuran di mana akhlak kebangsaan bertempur untuk menang. Dan Mesir merasakan dalam perjuangannya bahwa dia adalah Mesir, maka rohnya yang bersejarah mencari lambangnya yang agung dalam umat untuk tampil di dalamnya dengan perkasa dan kuat. Maka lambang yang mulia dan agung ini adalah Saad Zaghlul.

Kata pemilik rahasia: Dan para pelajar telah pergi sejak awal hari untuk berdemonstrasi, dan revolusi telah menjadikan mereka seperti roh-roh yang terlepas dari kematian dengan kematian sehingga tidak takut dan tidak peduli kepadanya, dan mandiri dari akal dengan berubah menjadi perasaan murni, dan keluar dari semua hukum kecuali hukum tersembunyi yang tidak diketahui apa itu.

Mereka berada dalam makna hati mereka bukan yang lain, maka engkau tidak melihat mereka kecuali agung dalam keagungan prinsip yang mereka menangkan, kuat dalam kekuatan iman yang mereka kerjakan dengannya, mulia dalam kemuliaan tanah air yang mereka hidup dan mati demi dia.

Dan mereka dalam rakyat adalah khayalan umat yang bekerja dan menyadari, dan perasaannya yang hidup dan siap melompat, dan kekuatan-kekuatannya yang muncul dari kedalamannya, dan harapannya yang merangkak untuk mengalahkan kesulitan.

Mereka berkorban dengan jiwa mereka yang berharga dan mengutamakannya, dan tidak ada dalam seorang pun dari mereka dirinya sendiri atau kepentingan pribadinya, maka betapa mulia dan betapa agung! Betapa mengagumkan dan betapa tinggi! Wahai kehidupan! Adakah dalam dirimu yang lebih mulia dari kebenaran ini kecuali kebenaran kenabian?

Dia berkata: Dan saudaraku adalah pemimpin para pelajar ini di kota kami; kuat dalam kepemimpinan dan setia kepadanya. Dia membawa hati seperti bara yang menyala, dan memiliki suara yang jauh engkau sangka guntur bergemuruh dengannya. Jika dia berjalan dalam perjuangannya, segala yang ada di bumi adalah tanah di bawah kakinya, dia tidak berjalan kecuali dengan merendahkan dunia ini dan apa yang ada di dalamnya, tidak menganggap suci darinya kecuali agamanya dan tanah airnya. Dan senjatanya adalah bahwa segala sesuatu dalam dirinya adalah senjata terhadap kezaliman dan melawan kezaliman.

Dan pada hari itu dia memimpin “demonstrasi”, dan di sekelilingnya sekelompok orang-orang terpilihnya dan pilihan saudara-saudaranya, berjalan di barisan depan di bawah langit yang menyala seolah-olah di dalamnya ada amarah pemuda, keras seolah-olah bercampur dengannya kemarahan yang mereka gemakan, menakutkan seolah-olah siap meledak. Ketika mereka sampai ke suatu tempat di jalan di mana mereka berbelok, senapan mesin menembaki dia…

Dia berkata: Sungguh aku sedang duduk setelah itu di kantor ketika masuk kepadaku saudaraku ini bergetar marah seolah-olah makna-makna terpancar dari tubuhnya untuk berperang, dan aku melihat matanya yang jika orang memandang ke dalamnya akan melihat api yang ada di hatinya. Maka aku khawatir bahwa kaum itu telah melepaskan kepada mereka kegilaan dan peluru bersama-sama.

Aku menanyakan berita teman-temannya maka dia berkata: Bahwa mereka yang ada di sekelilingnya jatuh bergelimang dalam darah mereka, maka dia berdiri menatap mereka seolah-olah dia mati bersama mereka, dan dia merasakan seolah-olah hukum-hukum alam terlepas dari tubuhnya, sehingga dia tidak tahu apa itu kehidupan dan apa itu kematian. Dan peluru beterbangan di sekelilingnya seolah-olah roh para syuhada menerimanya dan mencerai-beraikannya tidak mengenainya dengan buruk. Dia berkata: Dan aku tidak lupa, tidak akan lupa apa yang kulihat pada saat itu antara dunia dan akhirat; sungguh aku telah melihat dengan mata kepalaku sendiri darah Mesir memberi salam kepada darah Mesir, dan berlari kepadanya lalu memeluknya dengan pelukan kekasih. Kemudian dia berkata: Di mana Pasha ini? Dan mengapa dia tidak berbuat sesuatu dalam kewaspadaan untuk ledakan ini? Hampir-hampir aib -demi Allah- ada dalam jabatan-jabatan ini sebesar gaji…

Kata pemilik rahasia: Dan dia belum menyelesaikan kata-katanya hingga Pasha keluar kepada kami dengan wajah yang kusut karena sedih dan matanya berkaca-kaca, lalu dia mengambil tangan saudaraku ke kamarnya dan kami mengikuti mereka. Kemudian dia berkata: “Tenanglah wahai anakku, sesungguhnya penyakit ada pada kalian wahai pemuda umat, maka segala yang kami alami atau yang akan kami alami adalah dari yang dikehendaki oleh kemalasan kalian dan yang diwajibkan oleh akhlak kalian yang lemah. Sesungguhnya kami tanpa kalian seperti meriam yang kosong dari pelurunya; tidak berguna kecuali bentuk, dan dengan penyakit ini ada pada kami bentuk pemerintahan bukan pemerintahan.”

Tahukah engkau wahai pemuda apa itu pemerintahan yang benar dalam keadaan seperti kami? Yaitu bahwa kalian memerintah rakyat dengan pemerintahan akhlak yang hukumnya berlaku, sehingga kalian mengatur akhlak wanita dan laki-laki, dan mengembalikan semuanya menjadi akhlak yang berperang yang tidak mengenal kecuali keseriusan dan kehormatan serta ketegasan kebenaran. Jika tidak, maka sebagaimana kalian akan dipimpin oleh…

Ini saja yang mengembalikan orang asing kepada kebijaksanaan mereka dan kepada kebenaran, maka aku tidak melihat mereka memperlakukan kami kecuali seolah-olah kami pakaian yang tergantung tidak ada yang memakainya…

Bagaimana orang Mesir merendahkan diri kepada orang asing seandainya dalam orang Mesir ada hakikat kekuatan jiwa? Apakah engkau melihat kapal perang merendahkan diri kepada perahu nelayan yang datang mencari rizki?

Sesungguhnya di negeri kami yang malang ada orang asing, dan harta orang asing, dan kesombongan orang asing; bukan karena di dalamnya ada penjajahan, tidak, tetapi karena di dalamnya ada kelemahan penduduknya, dan kelengahan penduduknya, dan kemurahan hati penduduknya… Sebagian dari ini wahai anakku mirip dengan sebagian, jika tidak, maka apa itu kemurahan hati domba yang lemah kecuali kelezatan dagingnya?

Kami inginkan untuk rakyat ini sifat yang serius dan tegas, yang dia pandang melaluinya kepada kehidupan sehingga merasakan dirinya yang bersejarah yang mulia sehingga bekerja dalam kehidupan dengan hukum-hukumnya. Dan ini adalah perasaan yang tidak diciptakan kecuali oleh sifat akhlak sosial yang kuat yang tidak berkompromi karena kelemahan, dan tidak bermaaf-maafan karena kebohongan, dan tidak bermurah hati karena kelengahan. Dan kebenaran dalam kehidupan seperti kebenaran dalam logika; jika tidak benar dalil atas semua keadaannya, tidak benar atas satu keadaan pun dari keadaan-keadaannya. Jika kami lemah, murah hati, terhormat, pemimpin atas sejarah lama, maka kami hanya lemah…

Sesungguhnya para pembesar di seluruh Timur tidak baik kecuali untuk pendapat, maka jangan meminta kepada mereka selain ini, karena mereka telah menerima pelajaran dari kesalahan-kesalahan mereka yang banyak, dan dengan ini tidak akan berhasil pemerintahan politik di Timur yang bangkit selama pemudanya bukan pemerintahan akhlak yang membantunya dari dirinya dan dari rakyat dalam setiap peristiwa dengan akhlak yang berperang.

Wahai anakku! Sesungguhnya yang kuat seandainya sepakat dengan yang lemah atas satu kata yang tidak berubah, maknanya bagi yang lebih kuat lebih daripada bagi yang lebih lemah. Karena yang kuat ini yang bekerja dengan yang lemah akan selalu ada di dalamnya pribadi lain yang tersembunyi, yaitu yang kuat yang bekerja dengan dirinya sendiri.

Begitulah politik; adapun dalam kemanusiaan maka tidak, karena kebenaran selalu antara dua orang lebih kuat dari dua orang.

 

 

Tunduk

Pemilik rahasia “M” Pasha bercerita kepadaku: “Suatu hari datang konsul dari ‘negara tertentu’ dari negara-negara kecil ini; seandainya lalat-lalat di negara mereka tahu bahwa di Mesir ada hak-hak istimewa asing, maka setiap lalat akan berambisi memiliki nama pesawat tempur di negeri kita…

Aku melihatnya masuk dengan angkuh, sombong, dan tiran, seolah-olah sebelum datang ke kantor ini untuk menemui penguasa Mesir, dia telah berbicara melalui telepon dengan Israfil, memerintahkannya bersiap meniup sangkakala.

Seorang pengangguran dari rakyat negaranya telah melakukan kejahatan terhadap orang Mesir, lalu dia ditangkap sebagaimana semestinya, dan menghabiskan satu atau dua jam di hadapan penyidik yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan mudah dan lembut yang berkaitan dengan identitasnya di Eropa… Konsul itu mengklaim bahwa dia seharusnya hadir menyaksikan pemeriksaan, karena kejahatan orang asing terhadap orang Mesir termasuk dalam urusan asing… yang memiliki kepentingan, perlindungan, dan hak istimewa. Dia mengklaim bahwa para penyidik telah menyusahkan, mempersulit, dan bersikap kasar kepada si penjahat dengan kata-kata, dan karena itulah dia datang memprotes.

Aku melihatnya duduk dengan berlagak berwibawa seolah-olah merasakan dalam dirinya bahwa dia lebih berat dari meriam besar, karena dalam dirinya ada khayalan kekuatan; dan aku merasa bahwa posisinya antara langit-langit dan lantai; karena dia memiliki pemikiran bahwa dialah yang tertinggi. Sikapnya jelas menunjukkan bahwa orang asing yang tinggal di sini bukanlah seluruh orang asing, melainkan masih ada bagian dari dirinya yang dilengkapi oleh negaranya. Secara keseluruhan, orang itu adalah kata yang jelas dan terang yang menyatakan bahwa hukum Mesir memiliki hukum yang mengaturnya di negerinya!

Aku telah mempelajari hukum internasional dan mengetahui apa itu hak-hak istimewa dan asal-usulnya. Ini tidak lebih dari sifat murah hati kelinci yang konon pernah memiliki keledai yang ditungganginya dan dimanfaatkannya. Kelinci lain meminta untuk ikut di belakangnya. Ketika keledai melaju membawa mereka berdua, kelinci kedua merasa nyaman, lalu berkata kepada temannya: ‘Wahai saudariku, alangkah enaknya keledaimu!’ Kemudian dia diam sejenak dan kagum dengan keledai itu, lalu berkata: ‘Wahai saudariku, alangkah enaknya keledai kita.’

Kami – orang-orang Timur – begitu lemah dan lalai sehingga tidak mencapai tingkat kelinci dalam kebijaksanaan, pengaturan, dan kewaspadaannya. Kelinci itu segera mendorong temannya dan berkata: ‘Turunlah – celaka kamu – sebelum kamu berkata: alangkah enaknya keledaiku.’

Dia berkata: “Namun pada saat itu aku melupakan hukum internasional dan hanya berada dalam ilham kemesiran-ku. Menjadi jelas bagiku bahwa tidak ada yang namanya hukum yang benar di dunia ini; tetapi ada kesepakatan antara setiap ketundukan dan setiap penguasaan, dan itulah hukum kedua keadaan ini secara khusus.

Aku bergegas menemui Pasha dan memberitahunya, Pasha pun bergegas mengubah wajahnya, bersikap ramah, ceria, dan bersiap dengan cara ini untuk menyambut tamu terhormat, seolah-olah dia adalah kekasih terdekatnya yang rindu bertemu dengannya, dan telah datang mengunjunginya di rumahnya. Kemudian konsul masuk, dan aku tidak mendengar dari percakapan mereka kecuali kalimat pertama, yaitu ucapan Pasha: ‘Mari kita mulai, Tuan, dari akhir…’

Pasha memiliki bakat luar biasa dalam memikat orang asing khususnya, mengatur mereka dengan lihai seperti cincin di jari; sampai salah seorang dari mereka berkata kepadaku: ‘Pasha ini memiliki indera tambahan, jika disebut indera memuaskan, itulah nama alaminya. Dia menggunakannya sebagaimana pemikir menggunakan pikirannya. Dia menciptakan cara-cara Barat untuk menaikkan dan menurunkan termometer psikologis, dan orang yang duduk bersamanya hampir merasakan dari kemahirannya dalam akting bahwa di atmosfer tempat itu ada tirai yang dinaikkan dan tirai yang diturunkan di antara babak-babak.’

Tidak lama kemudian konsul keluar dengan wajah yang berbeda dari ketika masuk, tetapi dia cemberut kepadaku dan benci kepadaku seolah-olah meremehkan kedudukanku; matanya merendahkanku, maka meloncatlah ke kepalanya pikiran tentang hak-hak istimewa.

Kekuatan zalim ini ‘hak-hak istimewa’; seandainya itu adalah kekuatan yang menguasai dan berlaku, dan seorang parasit dibantu dengannya untuk menyerbu rumah-rumah orang dengan aman dan tenang; parasit ini akan malu makan dengannya karena terkumpul padanya sifat parasit dan kebencian sekaligus. Dan seandainya dikatakan kepada pedang tajam: ‘Kamu memiliki hak istimewa atas sebagian pedang agar tidak bertarung denganmu, dan kamu dilindungi agar kekuatan mereka tidak menimpamu jika kamu bertarung dengan mereka,’ maka pedang itu akan menolak disebut pedang dengan ini, karena kekuatan zalim yang mereka pinjamkan kepadanya tidak lain adalah penghinaan terhadap kehormatan kekuatan adil yang ada padanya.

Pemilik rahasia berkata: “Aku menggambarkan kepada Pasha sikap konsul ketika pergi, dan kerutan wajahnya kepadaku, dan aku berkata kepadanya: ‘Lalat itu jatuh di piringku dari perjamuan ini…’ Maka dia tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata: ‘Hak-hak istimewa ini akan dihapuskan, dan tidak ada antara kita dan akhirnya kecuali rakyat mencapai hakikat kebangsaannya. Yang mempertahankannya di posisinya hanyalah turunnya rakyat dari posisinya. Demi Allah, seolah-olah orang-orang asing ini bertanya kepada kita dengan hak-hak istimewa ini: Di mana tempat kalian di negeri kalian?’

Tahukah kamu apa yang dikatakan konsul ini ketika kami berbincang tentangnya, setelah aku menempatkan diriku di hadapannya dalam posisi pengacara yang tidak didukung dalil, lalu berusaha mendapatkan kemurahan para hakim dengan menampilkan kesengsaraan terdakwa pada belas kasihan mereka, untuk mengambil hati hukum yang ada di tangan mereka dengan hukum yang ada di hati mereka?

Dia berkata: ‘Janganlah orang-orang Timur menyalahkan selain diri mereka sendiri, karena mereka telah mengajari orang asing bahwa mencabuti bulu burung adalah awal memakannya. Dan hak-hak istimewa ini tidak lain adalah perlakuan antara kita dan sifat ketundukan dalam rakyat. Ya, ini merugikan dan memalukan, zalim dan kejam; tetapi dengan demikian itu alami dalam alam; selama rakyat ini mudah diambil, maka ini akan menciptakan baginya orang yang mengambilnya; dan selama kata pertama dalam kamus bahasa politiknya adalah kata “tunduk-menundukkan”, maka kata ini membawa dalam satu maknanya seribu makna, di antaranya: zalim-menzalimi, menunggang-menunggangi, memiliki-menguasai, sewenang-wenang, menipu-menipui, memperdaya-memperdayai; maka apakah berlebihan jika di antaranya ada untuk orang asing “beristimewa-memberikan istimewa”?’

Pemilik rahasia berkata: “Kemudian Pasha menutup mulutnya dan diam, maka aku memahami kata-kata yang ditutup mulutnya meskipun dia tidak mengucapkannya. Kemudian tawa mengalahkannya dan dia berkata: ‘Demi Allah, anakku, seandainya seekor kutu melompat dari baju pengangguran asing, lalu jatuh di baju pengangguran pribumi, lalu mereka berkelahi dan keduanya ditangkap, maka keduanya diambil ketika kutu asing itu rela diadili di pengadilan campuran…’

Kemudian Pasha diam lagi seolah-olah dia mengatakan kata-kata lain yang tidak boleh dipublikasikan, kemudian berkata: ‘Anakku, orang asing tidak meletakkan beban kecuali pada orang yang mau memikul; jika kita mengikuti keinginan mereka, mereka menginginkan untuk diri mereka sendiri bukan untuk kita; dan jika kita menyetujui tujuan mereka, mereka menjadikannya seperti dinar yang berisi seratus qirsh, dan mereka menolak kecuali kita menukarkannya dengan mereka seratus. Mereka – celaka – beristimewa dalam perlakuan kita bukan dalam baris-baris hukum dan perjanjian, maka mari kita batalkan perlakuan ini agar hak istimewa ini batal.

Sesungguhnya hak, anakku, adalah kelayakan bukan klaim; dan pertikaian hidup ini menjadikan sarana alaminya adalah perebutan, tuntutan, pengabdian untuknya, ketekunan di dalamnya, dan tekad padanya. Semua orang kuat tahu bahwa tempat keseimbangan antara merampas hak dan memulihkannya adalah tempat yang tidak ada tempatnya di alam. Orang asing bergantung pada kita dalam menjadikannya lebih besar dari kita dan lebih terhormat; jika rakyat menghilangkan hak-hak istimewa ini dari pikiran, jiwa, dan sarafnya, dan bangkit di dalamnya kebanggaan kebangsaan sehingga enggan dari penghinaan, menjauh dari ketundukan, dan menolak kecuali mengumumkan martabatnya, dan mengalihkan perhatiannya kepada hak-hak martabat ini, dan bersikeras tidak memperlakukan orang asing yang melihat dirinya beristimewa atas pribumi, dan memutuskan itu dalam dirinya, dan memperkuatnya dalam hatinya, dan bersepakat atas itu seperti kesepakatan atas agama – jika ‘jika’ ini datang dengan syaratnya dari rakyat, maka jawab syarat datang dari orang asing dengan turunnya mereka dari hak-hak istimewa dan terselesaikannya masalah. Sesungguhnya kita, anakku, tidak memiliki tekanan politik, tetapi kita memiliki yang lebih kuat; kita memiliki tekanan hidup.

Mereka memiliki hak istimewa karena mereka asing dari kita, maka biarlah kita memiliki hak istimewa lainnya karena kita asing dari mereka dalam perlakuan, sama dengan sama, dan tidak ada yang dapat mengalahkan besi kecuali besi.

Mereka berkata: sistem ekonomi dan modal asing. Tetapi apakah kamu melihat uang di tangan orang asing kecuali sebagai uang, pengaturan, kekuatan, dan kedaulatan, sementara di tangan pribumi sebagai utang, pemborosan, kertas, dan kehinaan?

Baru sekarang jelas bagiku bahwa di antara hikmah pengharaman riba dalam syariat Islam kita adalah perlindungan seluruh umat dalam kekayaan, tanah, dan usahanya, dan perlindungan rakyat dan raja-rajanya dari pemborosan, kerusakan, dan kemurahan hati palsu, serta pengembalian penggunaan ekonomi dan melumpuhkan pengaruh asing.

Seandainya dari awal kita menulis di pintu-pintu ‘Bank Tanah’ dan pintu-pintu keturunannya: ‘Allah memusnahkan riba’ (QS. Al-Baqarah: 276), apakah kata-kata tiga ini akan dibaca di pintu-pintu bank-bank asing itu kecuali begini: ‘Toko kosong untuk disewa’?”

 

 

Mari Kita Fanatik:

Pemilik rahasia “M” Pasha berkata: “Suatu hari datang kepadaku seorang wartawan Inggris dari para penulis fanatik yang dilepaskan Inggris sebagaimana mereka melepaskan meriam-meriamnya; bedanya yang ini untuk mesiu, peluru, dan bom, sedangkan yang itu untuk kebohongan, tuduhan, dan kesalahan.

Dia adalah telinga, mata, lidah, dan pena bagi surat kabar Inggris besar yang dikenal karena beratnya langkah terhadap Timur dan Islam; memperbaiki dengan merusak, mengobati demam dengan wabah, dan bekerja dalam kebangkitan orang Timur dan kemerdekaan mereka seperti memotong payudara ibu yang ada di bibir bayinya yang malang.

Penulis ini masuk kepadaku pada saat keluar dari ruanganku pemilik surat kabar mingguan di kota kami, yang telah menggembungkan katak untuk menjadikannya sapi, mengubah surat kabarnya menjadi harian, padahal dia tidak menemukan materi dan tidak mampu sebab-sebabnya. Namun seperti kebiasaan orang-orang di sini, dia menganggap kebohongan dalam pekerjaan mudah dan gampang seperti kebohongan dalam perkataan, maka dia tidak menganggap perkara besar itu besar, dan meminjam untuk pekerjaannya semua kata-kata sukses dari bahasa…

Dia mengira dalam dirinya bahwa dia akan menakut-nakuti dengan surat kabarnya para pembesar, bangsawan, dan orang kaya sehingga menguasai mereka semua, dan menyelipkan jari-jarinya bersama jari-jari mereka dalam mengeluarkan apa yang dibutuhkannya dari kantong mereka; tetapi surat kabarnya hanya hidup beberapa hari dan merusakkan yang telah dikumpulkannya, menggadaikan rumahnya yang tidak memiliki yang lain; dan akhirnya tahu bahwa orang yang berbohong menyebut domba sebagai unta, tidak diterima darinya berbohong atas kebohongan itu sendiri, sehingga mengklaim bahwa unta itulah yang melahirkan domba ini…

Ketika surat kabar ini berubah menjadi harian, Pasha adalah tempat berlindung dan sandaran orang itu, dan setiap hari di surat kabar ada berita tentang Pasha yang tidak terjadi di dunia dan tidak dikumpulkan dari peristiwa, tetapi terjadi di pikiran penulis dan dikumpulkan dari kotak-kotak huruf; sampai Pasha berkata kepadaku suatu kali: ‘Namaku telah menjadi pegawai di surat kabar ini untuk mengumpulkan langganan…’ Dan wartawan ini berusaha meminta izin suatu hari kepada Pasha saat di majlisnya berkumpul banyak bangsawan, pembesar, dan kepala desa untuk suatu urusan. Begitu wartawan masuk, Pasha langsung bertanya: ‘Wahai ustadz, apa telegram Eropa tentang peristiwa yang akan terjadi besok?’

Majlis itu pun tertawa terbahak-bahak, dan orang malang itu kehilangan lelucon ini dan empat puluh dinar yang diharapkan akan dibawanya keluar. Pasha mengumumkan dengan pengumuman paling cerdas dan efektif tentang kebohongan, kemunafikan, dan kerendahan orang itu, dan bahwa dia termasuk orang pers yang diputar seperti memutar roti.

Dia berkata: “Aku memandang wartawan Inggris itu dengan pandangan yang menyingkapnya, maka perbedaan pertama antara dia dan sejenisnya di sini adalah perasaannya bahwa negerinya telah mendidiknya ‘untuk luar negeri’, sehingga dalam dirinya seolah-olah dia Inggris dua kali lipat; dan dari situ datang perasaannya akan kehormatan pemilik dan kekuatan penjajah, sehingga dia tidak berada di mana pun kecuali dalam kejujuran perintah yang berlaku atau kesamaran tipu daya yang membingungkan; dan dengan ini dan itu menguat sifat praktisnya, sehingga secara naluri dia adalah pejuang dari pejuang pikiran, mencari medannya di antara kekuatan-kekuatan yang berbenturan, tidak peduli ada kematian di dalamnya selama ada pekerjaan; dan dengan semua ini kamu melihatnya tajam pandangan berdiri di tengah jalan lurus, karena Inggris yang batin di dalamnya mengarahkan dan mendukung Inggris yang lahir darinya; dan di kedalaman keduanya kamu temukan Inggris, dan tidak selain Inggris.

Kemudian aku merenungkan orang itu ingin mengetahui esensi dan hakikatnya, maka dia memiliki jiwa yang terbuka sekaligus tertutup, seperti kamar-kamar rumah; satu membuka sebagiannya agar yang di dalamnya terlihat, dan menutup sebagiannya agar yang di dalamnya tidak terlihat.

Dia memiliki wajah praktis yang hampir menghitungmu atas pandanganmu kepadanya; berputar di wajah ini dua mata yang telah terbiasa menimbang benda dan makna; berkilau di kedua mata ini sinar jiwa kuat yang terlatih, kepercayaan diri telah menghilangkan setengah kekhawatiran hidup dari pemiliknya. Jiwa ini memanjangkan sifat yang beriman bahwa kegembiraan terbesarnya ada dalam pekerjaannya, maka kewajibannya dalam hidup adalah melakukan semua yang baik baginya dan semua yang baik darinya.

Terbayang bagiku, saat aku memandang psikologi Inggris ini, bahwa kata kekecewaan pada orang-orang Inggris ini berbeda dengan kata kekecewaan pada kita – orang Timur – karena kekecewaan jiwa tidak pernah lengkap maknanya dalam jiwa yang bekerja dan tekun, yang merasakan kewajiban sebagai sesuatu yang ilahi yang tidak mengecewakan, dan bahwa apa yang ditolak di bumi ini dari pekerjaan baik tidak ditolak di langit. Dan seolah-oleh orang itu telah menyadari tujuanku dengan kemampuan jurnalistiknya yang tajam, maka dia menjawabku tentang pertanyaan yang tidak kutanyakan, dan berkata kepadaku: ‘Dasar kami adalah kepribadian dan rasa kewajiban; dan pada kalian ada segala sesuatu kecuali keduanya; akhlak kami selalu tampak dalam pekerjaan, dan akhlak kalian selalu tampak dalam kata-kata kosong; kami mencari kebenaran, dan kalian mencari kata-kata, sampai-sampai jika orang Mesir kehilangan seribu dinar, kemudian mengumumkan hanya seratus saja, dan orang-orang percaya seratus; maka dalam dirinya seolah-olah dia untung sembilan ratus…’

Pemilik rahasia berkata: “Aku meminta izin untuknya kepada Pasha, maka dia memudahkan dan menyambut; kemudian aku bermaksud pergi dari mereka berdua, tetapi orang Inggris itu berkata: ‘Wahai Pasha! Telah tertanam dalam hatiku bahwa pemilik rahasiamu ini adalah fanatik agama, dan aku tahu bahwa dia anak fulan hakim syar’i, maka tarbusnya adalah anak sorban; dan dia memandangku seolah-olah merenung dari mana akan menyembelihku…’

Pasha tertawa dan berkata kepadaku: ‘Wahai fulan, penulis ini dari murid-murid Bernard Shaw, maka dia seperti gurunya menjadikan setiap kebenaran berekor seperti ekor kucing, kemudian memegangnya dari situ maka dia menggigit dan menggeliat…’

Kemudian dia berpaling kepada orang Inggris itu dan berkata: ‘Suratmu datang, jika kamu ingin pendapatku tentang apa yang kamu sebut fanatisme agama pada orang Muslim, maka aneh bahwa kalian meletakkan kesalahan kemudian bertanya kepada kami tentangnya! Kamu tahu bahwa fanatisme palsu yang banyak kalian bicarakan ini, hanyalah kata dari kata-kata politik Eropa, kalian kirimkan kepada kami untuk memerangi kata fanatisme yang sesungguhnya; dan sebelum ini kalian menciptakan kata ‘minoritas’, dan mengalirkannya dalam bahasa politik kalian, untuk menjadikan dengannya fanatisme kebangsaan kami bentuk lain selain bentuknya sehingga kalian merusakkannya kepada kami dengan bahan perusak ini; dan dengan demikian kalian memukul tangan kanan tanpa menyentuhnya, karena kalian memukulnya dengan melumpuhkan tangan kiri.

Sesungguhnya Islam dalam dirinya adalah musuh keras fanatisme yang kalian pahami, maka dia berkata kepada pengikutnya dalam kitab mulianya: ‘Jadilah kalian orang-orang yang selalu menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri, ibu bapak, dan kaum kerabat’ (QS. An-Nisa: 135).

Jika keadilan dalam agama ini adalah keadilan yang tegas, dan hak murni yang tidak membedakan dengan sesuatu sama sekali, bukan diri yang di dalamnya ada keinginan darah, bukan asal dari kedua orang tua yang darinya datang warisan darah, bukan pula ujung-ujungnya dari kerabat yang mengelilingi nasab darah – jika demikian, maka di mana dalam keadilan ini tempat kezaliman?”

Mungkin kamu menunjuk pada kecerobohan yang kamu kenal pada orang-orang muda yang bodoh dan lalai dari kalangan awam, tetapi ini bukanlah akibat dari agama, melainkan akibat dari kebodohan terhadap agama; ini bukanlah fanatisme, tetapi adalah makna dari makna-makna ghirah psikologis yang kikuk yang kalian tidak menemukan kata untuknya, dan kata yang paling dekat dengannya menurut kalian adalah fanatisme, maka kalian menyebutnya demikian karena makna yang ada pada dirinya dan makna yang ada pada diri kalian. Ketahuilah bahwa Islam kalangan awam hari ini seperti tuntutan yang diterima secara formal namun ditolak setelahnya.

Orang Inggris berkata: “Tetapi orang-orang awam ini memiliki ulama agama yang mengatur mereka dari belakang. Dan mereka menurut kalian adalah pewaris Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu sumber pemikiran dan kekuatannya.”

Pasha berkata: “Namun para ulama ini semuanya atau sebagian besar dari mereka tidak lagi memiliki satu urat nadi pun dari warisan tersebut, dan itulah yang membawa kita pada kondisi yang kamu lihat; kaum tersebut kecuali sedikit dari mereka seperti kabel-kabel listrik yang mati; tidak ada di dalamnya sifat negatif maupun positif; seandainya para ulama ini memiliki listrik kenabian di dalam diri mereka; niscaya mereka akan mengalirkan listrik kepada umat-umat Islam di berbagai negeri mereka. Maka berdirilah menghadapi penjajahan Eropa empat ratus juta Muslim yang tangguh, tegas, dan keras, saling mendukung dan bekerja sama, telah menyiapkan segala yang mereka mampu dari kekuatan ilmu dan kekuatan jiwa, dan mereka jika masing-masing melempar dua batu niscaya akan menimbun lautan.”

Apakah kamu ingin tahu makna fanatisme dalam Islam? Ia persis seperti fanatisme setiap orang Inggris terhadap armada laut; yaitu saling terkaitnya kaum muslimin di seluruh penjuru bumi, dan mereka mengambil sebab-sebab kekuatan hingga batas kemampuan terakhir, untuk menolak kezaliman kekuatan dengan segenap kemampuan.

Dan dengan demikian ia melakukan dua pekerjaan: menyempurnakan wujud Islam, dan mempertahankan kesempurnaannya.

Dan jika kamu menerjemahkan ini ke dalam makna politiknya, maka maknanya adalah keteguhan semua kaum muslimin pada jenis kehidupan dan martabatnya, bukan hanya pada kelangsungan hidup dan keberadaannya saja. Dan itulah prinsip kalian wahai orang-orang Inggris, kalian tidak menerima kecuali kehidupan kedaulatan, pemerintahan, dan kebebasan, maka kalian adalah muslim dalam prinsip ini jika kalian berlaku adil.

Bukankah suatu bala bahwa kaum muslimin hari ini sebagian mereka tidak mempelajari negeri sebagian lainnya kecuali di atas peta… padahal haji tidak disyariatkan dalam agama mereka kecuali untuk membiasakan mereka mempelajari bumi di bumi itu sendiri bukan di atas kertas, kemudian agar menjadi salah satu prinsip praktis mereka bahwa dunia terbuka bukan tertutup?

Sesungguhnya fanatisme dalam hakikatnya adalah pengumuman umat bahwa mereka dalam ketaatan kepada syariat yang sempurna, dan bahwa mereka memiliki roh yang tajam bukan yang tumpul, dan bahwa dasar mereka dalam politik adalah penghargaan diri dan tidak menerima selainnya, dan bahwa pemikiran-pemikiran sosial mereka adalah kebenaran-kebenaran yang tetap bukan bentuk-bentuk teoritis, dan bahwa prinsip mereka adalah kebenaran dan tidak ada selain kebenaran, dan bahwa kaidah mereka adalah “Tidak akan membahayakan kalian orang yang sesat jika kalian mendapat petunjuk” (Surat Al-Ma’idah, ayat 105). Maka petunjuk pertama dan petunjuk terakhir; petunjuk dalam kekuatan, dan petunjuk dalam politik, dan petunjuk dalam kemasyarakatan. Maka katakanlah kepadaku demi hidupmu dan hidup Inggris, apakah hal itu dicela pada kaum muslimin kecuali dengan kata-kata yang dicela pencuri kepada penghuni rumah karena mereka memutuskan di hadapannya untuk mengunci pintu?

Dia berkata: Maka orang Inggris itu terdiam hingga lupa dirinya dan berteriak: “Jika demikian maka marilah kita fanatik, marilah kita fanatik.”

 

 

Menimbang Masa Lalu:

Dan sekretaris “M” Pasha berkata: Sungguh aku sedang duduk pada suatu hari dengan sebuah buku di tanganku karya salah seorang filsuf dari orang-orang atheis Eropa yang ingin memahami apa yang tidak dapat dipahami; dan Pasha pernah melihatku suatu kali memandanginya dan merenungkan masalah-masalahnya yang samar, maka dia berkata kepadaku: “Anakku! Sesungguhya seekor anjing adalah penyair filsuf, maka dia memandang bintang-bintang pada suatu malam lalu terkagum-kagum dan bingung; maka dia bersumpah akan memahaminya dengan akalnya dan meluangkan waktu untuk mempelajarinya dalam waktu yang lama, kemudian menyusun tentangnya sebuah buku berharga yang tebal, yang merupakan buku filsafat terbesar dan paling samar di kalangan anjing-anjing, dan namanya adalah: Tulang-tulang yang Berserakan di Atas Kami.”

Dia berkata: Maka aku sedang duduk membaca tulisan ini yang tidak ada yang benar di dalamnya kecuali bahwa ia tidak benar. Tiba-tiba masuklah kepadaku seorang penulis yang berfilsafat atheis dari orang-orang yang rusak akalnya, yang terpesona dengan Eropa dan mazhab-mazhabnya serta hal-hal tinggi dan rendahnya… dan dia menulis di surat kabar, menyusun risalah-risalah, dan dia datang meminta tolong kepada Pasha terhadap seorang petani yang berserikat dengannya dalam bertani di tanahnya, lalu petani itu menanam dan memanennya, memperdayainya dengan tipu dayanya, mengujinya dengan kekasarannya, dan mengancamnya dengan pembalasan.

Dan petani sederhana yang polos ini telah mendahuluiku dan mengenalkannya kepadaku dengan pengenalan kamus yang lengkap dari bahan kafir yakfuru… kemudian berkata setelah itu: Sesungguhnya dia “penjual kata-kata” yang benar dan dusta sesuai permintaan… dan hati nurani itu sendiri menurutnya tidak lain adalah “operasi perhitungan”; dan dia dalam sisi terkuatnya tidak bermanfaat bagi dunia dengan apa yang bermanfaat bagi dunia dari binatang pada sisi terlemahnya.

Adapun penulis itu berkata tentang petani ini: Sesungguhnya dia tidak tahu apakah dia yang menyempurnakan binatang-binatangnya ataukah binatang-binatangnya yang menyempurnakannya, dan sesungguhnya orang yang mengangkat perkara terhadap makhluk seperti ini ke pengadilan tidak lain seperti orang yang menggedor-gedor dengan tongkat pada lubang yang di dalamnya ada ular berbisa.

Dan si filsuf melihat buku di tanganku, maka dia bergembira dan berkata kepadaku: “Ini adalah nasab di antara kita…” Maka aku memahami dari kata-katanya ini keseluruhan dan perinciannya, dan terbayang bagiku seolah aku melihat di dalamnya jiwa ketimurannya seperti wanita yang dicerai… Maka aku berkata kepadanya: “Aku membeli buku ini dari Eropa, tetapi aku tidak membeli otakku dari sana.”

Dan aku berbicara dengannya untuk mengeluarkan apa yang ada padanya; ternyata dia terhadap kaumnya dan sejarah kaumnya seperti wisatawan di negeri asing; membuka matanya untuknya tetapi tidak membuka hatinya untuknya.

Dan dia berani dalam pembicaraannya dengan Pasha: melancarkan perkataan ke mana dia mau, benar dan batil, kemudian tidak ada sandaran bagi pendapatnya dan tidak ada penetapan bagi hujjahnya kecuali perkataan fulan dan pendapat fulan, seolah di kepalanya ada akal yang meminta-minta… Kemudian dia menyebutkan tujuan kedatangannya, maka Pasha mempermalukannya dan berkata: “Ini masalah seperti semua masalahmu; membutuhkan pendapat filsuf Eropa…” Dan dia berpaling darinya serta tidak masuk dalam urusannya sedikitpun.

Dan ketika dia pergi, Pasha berkata: “Orang ini menyangka dirinya alim, padahal dia adalah gelandangan ilmiah… dan sesungguhnya otaknya dan otak-otak orang sepertinya di sisi para filsuf dan ulama yang mereka sebutkan seperti keranjang sampah di sisi para jurnalis.”

Sesungguhnya orang ini menyempurnakan kelemahan akalnya dalam pendapat dengan kekuatan kekeraskepalaan di dalamnya, untuk menjadikan baginya keteguhan kebenaran sehingga dia menyangka kebenaran, seperti mengocok air dengan tangan dalam wadah kecil memindahkan ke wadah ini sifat ombak; dan menurut orang-orang seperti si terpesona ini dari para gelandangan ilmiah, bahwa jika kamu mengambil suatu masalah lalu salah di dalamnya dengan kesalahan yang berani, maka kamu telah menjadikannya dengan kesalahanmu yang berani sebagai masalah dari ilmu… dan bahwa jika kamu keras kepala lalu menetapkan kesalahan di hadapan para pengkritik selama setahun, maka itu adalah kebenaran selama setahun…

Mereka adalah orang-orang terpesona yang menyimpang, dan dari fitnah mereka bahwa mereka melihat jarak antara mereka dan ahli keutamaan ketimuran, seperti jarak antara alim dan jahil, padahal jika mereka teliti niscaya mereka melihatnya sebagai jarak dalam naluri bukan dalam akal, yaitu seperti jarak antara kefasikan dan yang menyerupai kefasikan, dan antara ketakwaan dan yang menyerupai ketakwaan.

Si bodoh mengklaim bahwa lawannya si petani adalah orang yang mengakar pada masa lalu, seolah dia tinggal di kemarin tidak berpindah darinya, padahal kemarin telah terputus dari waktu, kemudian keluar dari itu bahwa umat harus membuang masa lalunya, kemudian mengklaim bahwa Islam fanatik terhadap masa lalu. Ini tiga kata yang keluar darinya kata keempat yang dia diamkan.

Dan aku jika ingin mengejek orang seperti gelandangan ilmiah ini, aku tidak akan menemukan dalam cara-cara ejekan yang lebih jelas daripada mengirim kepadanya botol kosong dan berkata kepadanya: “Isilah untukku dari pendapat-pendapat para filsuf.”

Orang ini dan yang sepertinya lalai bahwa agama Islam tidak mengenal masa lalu dengan makna apa yang telah berlalu secara mutlak; tetapi dia mensyaratkan di dalamnya agar tidak menyalahi akal dan tidak pula ilmu, dan tidak menentang hidayah; “Mereka berkata: ‘Bahkan kami akan mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.’ Apakah (mereka akan mengikutinya juga) walaupun bapak-bapak mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Surat Al-Baqarah, ayat 170) , dan dalam ayat lain: “Mereka menjawab: ‘Cukup bagi kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.’ Dan apakah (mereka akan mengikuti juga) walaupun bapak-bapak mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak mendapat petunjuk?” (Surat Al-Ma’idah, ayat 104) , “Bahkan mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami mengikuti jejak mereka.’ Dan apakah (kamu akan mengikuti mereka juga) sekalipun syaitan menyeru mereka ke siksa api yang menyala-nyala?” (Surat Luqman, ayat 21) , dan dalam yang keempat: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (Ibrahim) berkata: “Apakah (kamu akan mengikuti mereka juga) sekalipun aku membawa kepadamu (agama) yang lebih memberikan petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?” (Surat Az-Zukhruf, ayat 23-24).

Maka lihatlah bagaimana dia menggambarkan apa yang kita sebut hari ini dengan jumud (stagnasi) dalam firman-Nya: “cukup bagi kami”, dan bagaimana dia menggambarkan apa yang kita sebut dengan reaksioner dalam firman-Nya “kami mengikuti”, dan perhatikanlah bagaimana dia menolak jumud dan reaksioner bersama-sama dalam ilmu, akal, dan hidayah, yaitu dalam jejak-jejaknya dari ilmu-ilmu penemuan dan keutamaan-keutamaan manusiawi, dan bagaimana dia membatalkan dalam ketiga hal tersebut berdalil dengan masa lalu dengan gaya yang halus dan tinggi ini, yaitu firman-Nya dalam setiap ayat, “apakah (sekalipun)”, “apakah (sekalipun)”. Dia tidak mengubahnya; bahkan mengulanginya dengan lafaznya empat kali.

Maka kemukjizatan di sini adalah datangnya ayat-ayat dengan bentuk logis ini untuk menjatuhkan hujjah mereka, dan meniadakan makna pensakralan terhadap masa lalu di dalamnya; karena ilmu selalu berubah, dan akal selalu memperbarui dan berkreasi, dan hidayah keras terhadap tabiat hewani yang merupakan masa lalu jiwa; seolah-olah dia baru bagi jiwa pada setiap syahwat.

Sesungguhnya manusia dengan masa lalu dan masa kininya seolah dibagi dua bagian, yang satu berkata: “Aku ingin menjadi.” Dan yang lain berkata: “Aku telah ada.” Maka Islam dengan ayat-ayat ini telah mewajibkan menimbang kedua kata tersebut di setiap zaman dengan apa yang paling benar, dan dengan apa yang paling bermanfaat, dan dengan apa yang paling memberi petunjuk; dan dengan mensyaratkan hidayah dalam semuanya dia mengisyaratkan bahwa kesempurnaan jiwa bagi individu harus terkait dengan kesempurnaan kemanusiaan bagi jenis.

Dan ini makna yang menakjubkan, dan lebih menakjubkan darinya apa yang kamu lihat bahwa Islam telah memperbaiki ide masa lalu, lalu memindahkannya dari makna bapak-bapak dan kakek-kakek bagi manusia, kepada makna-makna yang seperti bapak-bapak dan kakek-kakek bagi kemanusiaan manusia. Dan mengambil “yang lebih memberi petunjuk” dalam kumpulan suatu umat dari umat-umat, sesungguhnya adalah persis hukum kemajuan dan evolusi. Dan dari rahasia yang paling halus firman-Nya: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama” (Surat Az-Zukhruf, ayat 23) maka kata “agama” ini tidak dikenal siapa pun atas hakikatnya, dan tidak ditafsirkan kecuali oleh ilmu-ilmu zaman ini, maka ia adalah perasaan-perasaan jiwa yang terbentuk darinya temperamen rakyat, dan di dalamnya masa lalu menetap; seolah ayat tersebut telah mengungkapkan dengan akhir apa yang dicapai oleh para ahli jiwa; bahwa manusia adalah anak kedua orang tuanya dan anak bangsanya juga.

Maka fanatisme dalam Islam adalah untuk ilmu yang bermanfaat, dan untuk kemuliaan yang benar, dan untuk hidayah yang mendorong kepada kesempurnaan; dan fanatisme generasi untuk hal seperti ini dalam masa lalunya, dalam namanya adalah fanatisme, namun dalam maknanya sesungguhnya adalah bekerja untuk menyerahkan kemuliaan umat kepada generasi berikutnya.

 

 

Kamus Politik:

Dan menceritakan kepadaku penjaga rahasia “M” Pasha, dia berkata: Kami berada di tahun 1920, yang merupakan putri tahun 1919; dan bangsa telah bersatu untuk memboikot komisi “Milner” untuk tidak berbicara dengannya, sehingga mereka menjadikan keheningan sebagai revolusi, dan rakyat mengumumkan bahwa kata mereka berada di lidah delegasi, delegasi berbicara seperti Nabi berbicara dengan apa yang diwahyukan kepadanya, sehingga tidak ada seorang pun selain mereka yang dapat mengatakannya, dan tidak ada yang dapat mengatakan “telah diwahyukan kepadaku”, dan Lord Milner menolak untuk percaya bahwa orang Mesir memiliki konsensus yang dapat diandalkan, dan bahwa mereka telah memasuki politik dengan kokoh dan mengakar di dalamnya, dan bahwa mereka telah menjadi seperti orang Inggris yang mengatakan tentang diri mereka sendiri dalam pepatah mereka: kita harus bebas seperti perbuatan kita.

Dan Lord mengklaim untuk dirinya sendiri, bahwa partai-partai Mesir ini tidak pernah ada dua yang setuju kecuali akan ada yang ketiga di antara mereka yang mereka perselisihkan, yaitu keserakahan akan jabatan pemerintahan; dan ia menyimpulkan dari itu bahwa orang Mesir dan orang Mesir bagaikan pisau gunting; mereka tidak bergerak dalam pekerjaan kecuali untuk merobek sesuatu di antara mereka; jika tidak ada “sesuatu” di antara mereka, maka tidak akan ada apa-apa dari mereka.

Dan pria itu pergi berprasangka dan menduga-duga atas apa yang dibayangkan prasangkanya, dan dia menghitung bahwa Inggris berhak untuk mengatakan tentang orang Mesir apa yang Allah katakan tentang ciptaan-Nya sebagaimana disebutkan dalam atsar: “Sesungguhnya mereka hanya berbolak-balik dalam genggaman-Ku”. Dan sebagaimana yang mereka katakan hari ini kepada orang Arab Palestina: “Jika Dia berkehendak, niscaya Dia akan membinasakan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru” (Surah Ibrahim: 19), dan Lord ini adalah seorang pria yang berpengalaman dalam masalah-masalah politik, ahli di dalamnya, seorang yang cerdik dari orang-orang cerdik kaumnya, dia memiliki di hatinya dua mata dan dua telinga selain yang ada di wajahnya seperti politisi ulung; dan dia tahu bahwa politik kaumnya tidak masuk ke dalam sesuatu kecuali seperti masuknya jarum dengan benangnya ke dalam kain, jika ia keluar, ia meninggalkan benang yang telah dikumpulkan dan diikat… Maka dia ingin menguji mazhab orang Mesir dalam konsensus mereka terhadap kemerdekaan, dan dia memperkirakan bahwa dia akan menemukan dari para petani bantuan baginya dan bahan untuk tipu daya politiknya, dan dia menganggap delegasi sebagai bentuk baru dari kelas “Pasha” lama, yang turun dari rakyat seperti tangan yang memegang belenggu, dari kaki yang memiliki belenggu, dan mereka meletakkan makna kata kebutuhan dalam kata politik, dan mereka mengatakan: tanah air padahal mereka menginginkan kemegahan, dan mereka menegakkan rakyat seperti tangga yang berdiri tegak untuk menopang kaki mereka yang naik di atasnya.

Maka Lord datang ke Mesir, dan dia menemukan bangsa seluruhnya telah waspada darinya dan terjaga untuknya, sampai Rushdi Pasha menasihatinya bahwa dia tidak akan menemukan seekor kucing pun di Mesir yang akan bernegosiasi dengannya; tetapi dia yakin bahwa telinga politik Inggris seperti “radio” untuk dua suara: suara dinar dan suara massa, maka dia berkeliling di negeri itu menggambar tanda tanya di udara, dan orang-orang menjauhinya dan mengabaikannya, dan dia berjalan dalam lingkaran keheningan yang pusatnya adalah Abu Hul, maka dia mulai dan terus memulai sampai dia berakhir dan masih memulai… Dan dia berkelana di negeri itu dengan perjalanan panjang, seolah-olah dia tidak bepergian kecuali dari bibir bawah Abu Hul ke bibir atasnya.

Penjaga rahasia berkata: Dan Lord datang untuk menemui Pasha, maka dia lewat padaku seperti buku yang terkunci: aku tidak mengenal darinya kecuali judulnya; namun dia adalah seorang pria seukuran pria yang menentang bangsa yang lengkap, kamu hampir menganggapnya terlipat pada badai, dan kamu melihat baginya dua kekuatan yang kamu rasakan dari pengaruhnya rasa takut dan kekaguman, dan jika kamu merenungkannya kamu akan berkata bahwa kelembutan dan kecerdasan adalah sifat terlemahnya, dan bahwa kecerdikan dan hiasan adalah bakat terkuatnya.

Ketika aku bertemu Pasha keesokan harinya, dia bertanya kepadaku: Bagaimana kamu melihat Lord Milner? Maka aku berkata: Demi Allah ya Pasha, sesungguhnya dia seperti keharusan; tidak ada yang mengharapkannya tetapi ia datang.

Maka Pasha tertawa dan berkata: Andai saja bagi kami -kami orang Timur- setiap hari ada keharusan yang melakukan apa yang dilakukan Lord; sesungguhnya dia telah menyingkapkan bagi kami dalam diri kami sendiri tentang kebenaran dari kebenaran politik yang paling tinggi, yaitu bahwa rakyat yang bersikeras dan terus bersikeras membuat rayuan tidak merayu dan ketakutan tidak menakutkan.

Dan andai saja bangsa-bangsa Timur belajar keheningan politik ini dari menjawab kata kolonial kadang-kadang; karena sesungguhnya keheningan bangsa Mesir dari menjawab “Milner” bermakna bahwa kekuatan bangsa adalah yang berbicara dengan keheningan ini, mengumumkan kepada dunia bahwa kewajiban rakyat telah memasang kuncinya pada setiap mulut.

Dan Lord telah menafsirkan keheningan ini dengan tafsiran politiknya, maka dia menyadari darinya bahwa dalam rakyat ada harga diri dan semangat dan kekuatan, dan bahwa perhitungan hati nurani nasional telah menjadi bagi hati-hati ini seperti perhitungan Ilahi bagi jiwa-jiwa beriman: keduanya terbuka takut dan bertakwa, dan keduanya adalah kata yang haram.

Mukjizat apakah ini yang menjadikan kata asing mengambil dalam pikiran bangsa yang lengkap bentuk penuturnya, maka negeri berkumpul untuknya dalam makna penolakan, dan setiap individu menjadi mengetahui tempatnya dari keseluruhan, dan tabiat-tabiat secara keseluruhan tunduk kepada hukum kemuliaan nasional, yang mewajibkan mereka untuk tidak tunduk kepada asing?

Sesungguhnya bangsa-bangsa adalah beberapa masalah psikologis seperti masalah ini; seandainya kita memiliki lima pelajaran politik yang berbeda seperti pelajaran “Milner”, niscaya bagi kita dalam keimanan nasional seperti shalat lima waktu.

Dan sekarang bangsa telah belajar bahwa rakyat yang mulia adalah yang melihat dalam memecahkan masalah-masalahnya kepada solusi dan kepada cara solusi juga, dan “Milner” adalah guru pertama kita dalam mengajarkan kita cara tersebut.

Dan pelajaran ini harus menjadi pelajaran bagi seluruh Timur, karena sesungguhnya politik kolonial berdiri di dalamnya atas penipuan cara dalam memecahkan masalah-masalahnya, maka mereka memecahkannya dan merumitkannya dalam satu teks; dan kata-kata yang mereka sepakati menetapkan bahwa yang dimaksud darinya adalah hilangnya perselisihan, dan pekerjaan setelah itu menetapkan bahwa yang dimaksud adalah hilangnya perlawanan.

Dan dalam politik Eropa ada persetujuan-persetujuan jelek seperti wanita-wanita cacat, jika mereka menampilkan salah satunya kepada orang yang mereka ingin nikahkan… maka dia menolaknya dan membuka matanya untuknya dengan semua kekuatan penglihatan yang ada di dalamnya, mereka membebaskannya darinya dan berkata kepadanya: kami akan mendatangimu dengan yang cantik, kemudian mereka pergi dengannya ke institut kecantikan bahasa, maka mereka memoles dan mewarnainya, dan meletakkan baginya merah politik dan putihnya, kemudian mereka menampilkannya baru kepada orang itu, dan mereka tidak melakukan apa yang menjadikan yang jelek bukan jelek, tetapi apa yang menjadikan orang yang bukan buta kembali seperti buta.

Dan mereka memiliki akal yang menakjubkan dalam menciptakan kata-kata, sampai intensitas kejelasan dalam ungkapan, itulah dengan sendirinya cara untuk menyembunyikan kekaburan dalam ungkapan lain. Dan seringkali mereka datang dengan kata-kata yang mengembung kamu kira gemuk berisi telah dipenuhi maknanya, dan itu dalam politik adalah kata-kata hamil, mereka menyelesaikan kehamilannya suatu masa kemudian melahirkan.

Dan mereka memiliki dari beberapa kata politik, sebagaimana mereka memiliki dari beberapa pria politik; maka pria dari orang-orang cerdik mereka adalah pria seperti manusia, dan dia bagi mereka adalah paku yang mereka pukul di tanah tertentu atau kerajaan tertentu, dan kata itu adalah kata seperti bahasa, dan itu adalah paku yang mereka pukul dalam dokumen atau perjanjian.

Kemudian Pasha tertawa dan berkata: Sesungguhnya tanah kami mengeluarkan kapas, dan politik kami mengeluarkan kata-kata seperti kapas: tidak diletakkan di pemintal kecuali dipanjangkan dan berubah. Dan jika kita pergi menentang mereka dalam takwil dan tafsir, kita tidak menemukan pada kita kamus politik yang mendiktekan teks, tahukah kamu anakku apa itu kamus politik?

Adapun jika itu adalah buku yang dikarang dari sejuta kata, niscaya semuanya akan pergi sia-sia dan batil dan omong kosong, tetapi itu adalah kamus hidup itu, kamus yang dikarang dari sejuta tentara…

 

 

Lidah Tambalan:

Dan penjaga rahasia “M” Pasha berkata: Datang “Yang Mulia Tuan” si fulan untuk mengunjungi Pasha; dan dia adalah seorang pria Mesir yang lahir di salah satu desa, kami tidak tahu bahwa Allah Ta’ala membedakannya dengan esensi selain esensi, atau tabiat selain tabiat, atau susunan selain susunan, atau menambah dalam darahnya setetes kesombongan, atau menempatkannya di posisi tengah antara dua jenis makhluk. Namun dia mengunjungi Prancis, dan berkeliling Inggris, dan berkelana di Italia, dan singgah ke Jerman, dan mewarnai dirinya dengan warna-warna, maka dia adalah orang Mesir berwarna. Dan karena itu dia tidak melihat dalam negerinya dan kaumnya kecuali perbedaan antara apa yang ada di sini dan apa yang ada di sana. Maka tidak tampak baginya agama kaumnya kecuali berhadapan dengan syahwat-syahwat yang dicintainya dan dia berpetualang di dalamnya, dan tidak bahasa kaumnya kecuali dipasangkan dengan bahasa lain yang dia berharap menjadi bagian dari ahlinya, dan tidak sejarah kaumnya kecuali pingsan seperti mayat di antara sejarah-sejarah bangsa.

Dia seperti yang lain dari orang-orang mewah yang dimanjakan ini: Mesir hanya dalam hal harta, karena sebab-sebab dan penghasilan mereka di Mesir; Arab hanya namanya saja, karena nama-nama mereka dari kejahatan keluarga mereka secara alami; Muslim yang telah berlalu tanpa yang hadir; karena tidak ada daya dalam nasab-nasab mereka yang mereka turun darinya.

Dia seperti yang lain dari orang-orang mewah yang dimanjakan yang terpesona dengan peradaban ini, setiap mereka memiliki bangsa Mesirnya dan untuk pikirannya bangsa lain.

Dia berkata: Dan Yang Mulia Tuan berbicara kepada Pasha dengan bahasa Arab yang dilaknat oleh bahasa Arab, naik dengannya dari bahasa fasih dengan kenaikan yang merendah… turun dengannya dari bahasa pasar dengan turunan yang tinggi… Maka dia mengucapkan logat asing, padahal dalam beberapa kata dia adalah nada tinggi yang berdengung, jika dalam kata lain dia adalah suara sakit yang mengerang, jika dalam kata ketiga dia adalah nada musik yang berdering. Dan aku melihatnya memaksakan melupakan beberapa kalimat Arab untuk memutar lidahnya dengan yang lain dari bahasa Prancis, bukan karena kemewahan atau kecerdasan atau menunjukkan kemampuan atau ilmu, tetapi sebagai respons terhadap perasaan asing tersembunyi yang mengakar dalam dirinya. Maka nasionalisme akalnya menolak kecuali untuk membohongi nasionalisme lidahnya, dan dia dengan salah satunya palsu terhadap kaumnya, dan dengan yang lain palsu terhadap selain kaumnya. Ketika pria itu pergi, Pasha berkata: Cih untuk yang ini dan yang serupa dengannya! Cih untuk mereka dan apa yang mereka lakukan! Sesungguhnya orang besar ini mereka beri gelar “Yang Mulia Tuan Kebahagiaan”, dan lebih mulia darinya -demi Allah- seorang pria desa sederhana yang gelarnya “Yang Mulia Tuan Kerbau”… Ya, sesungguhnya petani pada kami bodoh ilmu, tetapi ini lebih jelek darinya kebodohannya, karena dia bodoh nasionalisme.

Kemudian sesungguhnya kerbau dan pemiliknya adalah dua pekerja yang rajin setia kepada tanah air; maka apa pekerjaan Yang Mulia “Tuan Lidah Tambalan” ini? Sesungguhnya pekerjaannya adalah mengumumkan dengan bahasa asing campur aduknya bahwa bahasa tanah airnya hina dan tercela, dan bahwa dia telanjang dari roh politik bahasa kaumnya; karena tidak tampak roh politik suatu bahasa, kecuali dalam semangat menjaganya dan mendahulukannya atas selainnya.

Adalah kewajiban atas orang seperti ini untuk tidak berbicara di negerinya kecuali dengan bahasanya, dan yang lebih wajib adalah dia berfanatik untuknya atas setiap bahasa yang menyainginya di tanahnya, dia meninggalkan ini dan itu dan dia adalah pesaing dengan dirinya sendiri; maka dia walaupun “Yang Mulia Tuan Kebahagiaan”, tidak menurunkan dirinya dari bahasa nasional kecuali kedudukan pelayan asing di kedai.

Tahukah kamu apa rahasia orang-orang besar dan para bangsawan ini yang bergemuruh jika mereka berbicara di antara mereka? Bahwa mereka pada kami adalah lapisan-lapisan:

Adapun satu: maka sesungguhnya mereka melakukan perbuatan ini tertarik kepada asal yang mengakar dalam tabiat mereka, dari apa yang ditinggalkan penindasan dan despotisme dan kebodohan di zaman pemerintahan Turki; maka mereka menampakkan esensi jiwa mereka untuk mata mereka dan mata manusia, seolah-olah bahasa asing di antara mereka adalah tanda pemerintahan dan kekuasaan dan meremehkan rakyat dan kelanjutan kebodohan itu dalam darah… Dan mereka dengannya berbangsawan.

Dan adapun lapisan, maka sesungguhnya mereka memaksakan ini dari apa yang ada dalam jiwa mereka dari tabiat yang diciptakan kemunafikan dan ketundukan dan kehinaan politik di masa pendudukan Inggris; maka bahasa asing di antara mereka adalah kehormatan dan pertimbangan, seolah-olah mereka dengannya dari selain rakyat yang diperintah yang kehilangan kekuasaan, dan mereka dengannya bermegah.

Dan adapun kelompok, maka sesungguhnya mereka dengan sengaja melakukan ini menginginkan dengannya cacat bahasa Arab dan memburukkannya, karena mereka mengambil dari permusuhan bahasa ini sebagai cara yang mereka anut dan mazhab yang mereka nasabkan kepadanya, dan di antara mereka ada sarjana dengan ilmu-ilmu Eropa, dan sastrawan dengan sastra Eropa; dan itu dari permusuhan mereka terhadap agama Islam, karena menjadikan bahasa ini pemerintahan yang kekal di negeri mereka dengan setiap pemerintahan dan di atas setiap pemerintahan; dan mereka meremehkan agama ini dan menggugurkan dari diri mereka semua kewajibannya. Dan mereka ini telah mencampur amal saleh dan yang lain buruk, karena mereka berlebihan dalam kemesiran mereka dengan berlebihan jelek yang berakhir dengan mereka kepada bodoh pendapat, dan ringan mimpi, dan gegabah kecenderungan, dalam apa yang berhubungan dengan agama Islam dan adab dan bahasanya. Dan aku tidak melihat seorang pun dari mereka kecuali telah menutupi sifatnya dari segi dia rendah, atas sifatnya dari segi dia sarjana atau sastrawan atau apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya ini adalah kebencian “Amat besar kebenciannya di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman” (Surah Ghafir: 35).

Dan dari pengaruh kelompok-kelompok tiga itu timbul kelompok keempat, berubah pada mereka percampuran dari pembicaraan itu menjadi cara psikologis dalam jiwa; maka mereka memasukkan dalam tulisan dan pembicaraan mereka kata-kata asing, dan mereka menganggap pekerjaan mereka ini sebagai kecerdasan dan main-main dan gurauan, padahal itulah yang menampakkan bagi mata yang tajam tempat-tempat putusnya sejarah dalam jiwa mereka, dan tempat-tempat kerusakan nasional dalam tabiat mereka, dan sisi-sisi peluruhan agama dalam keyakinan mereka, dan mereka ini salah seorang mereka menulis: “nervosité” padahal dia mampu mengatakan kemarahan, “dan flirt” padahal dia dapat meletakkan di tempatnya rayuan, “dan nuances” padahal dia mengetahui kata jenis dan warna, dan demikian dan demikian; dan tidak -demi Allah- agar jarak antara dua kata itu kecuali jarak yang sama antara hati mereka dan petunjuk hati mereka.

Dan tidak berhenti taklid bodoh tidak mengenal baginya pintu yang dimasuki darinya kepada orang-orang bodoh kecuali pintu kelalaian dan toleransi; dan kami adalah kaum yang diuji dengan memalsukan cacat-cacat atas diri kami dan menghitungnya dalam kebaikan dan keutamaan, karena sedikitnya apa yang ada dalam kami dari keutamaan dan kebaikan, dan dengan tabiat terbalik ini kami mencoba mengambil dari kelebihan orang-orang Eropa, maka kami tidak mengambil kebanyakan apa yang kami ambil kecuali cacat-cacat mereka, karena itulah yang paling mudah bagi kami, dan itulah yang paling mirip dengan tabiat kami yang lemah toleran lalai.

Dan dari ini kamu dapati masalah-masalah sosial kami -walaupun lebih ringan dan mudah dari masalah orang-orang Eropa, dan walaupun dalam agama dan adab kami untuk setiap masalah solusinya- kamu dapatinya bagi kami lebih sulit dan keras, karena kami lemah dan saling mengalah dan peniru dan terpesona, dan semua itu dari satu hal, yaitu bahwa kebanyakan pembesar kami adalah bala terbesar kami.

Penjaga rahasia berkata: Kemudian Pasha tertawa dengan tawa mengejeknya dan berkata: Bagaimana berbuat suatu bangsa yang kebanyakan pekerja mereka adalah pemalas terbesar, karena mereka bekerja tetapi dengan roh yang tidak bekerja.

 

 

Rahasia Topi

Seorang yang mengetahui rahasia “M” Pasha bercerita kepadaku, dia berkata: Di Mesir muncul sebuah gerakan setelah hari-hari bid’ah Turki, ketika di sana tidak tersisa dasar untuk apa pun kecuali satu dasar yang ditetapkan oleh tiang gantungan. Barang siapa yang menolak melepas sorban dari kepalanya, maka mereka akan memenggal kepalanya; dan barang siapa yang berkata “tidak”, maka “tidak” itu berubah menjadi tiang gantungan dan dia digantung di sana.

Gagasan menggunakan topi di Turki sebagai penutup kepala, telah datang setelah gerakan-gerakan serupa, seperti halnya sepatu yang dikenakan paling akhir oleh si pemakai. Tidak ada seorang pun yang meragukan bahwa itu bukan sekadar topi di kepala, melainkan lebih merupakan cara untuk mendidik kepala Muslim dengan pendidikan baru, yang tidak ada rukuk dan sujud di dalamnya. Sebab jika tidak demikian, kita melihat topi ini di kepala orang kulit hitam dan orang primitif, di kepala orang bodoh dan orang gila, namun kita tidak melihatnya membuat yang hitam menjadi putih, tidak pula kita tahu bahwa topi itu memindahkan orang primitif dari tabiatnya, tidak ada yang tahu bahwa topi itu menyempurnakan akal yang kurang atau mengembalikan akal yang hilang, atau berubah menjadi alat untuk memecahkan masalah-masalah kepala yang tumpul, atau memaksa alam untuk memberikan sesuatu dan berkata: ini untuk para pemakai topi, bukan untuk pemakai tarbus dan sorban.

Mereka berdalih pada masa itu untuk pemilik bid’ah tersebut bahwa dia tidak melihat wajah kecuali peradaban, dan tidak mengenal peradaban kecuali peradaban Eropa, maka dia meniru peradaban itu apa adanya dalam kebaikan dan keburukannya, apa yang halal dan apa yang haram, apa yang dibutuhkan dan apa yang tidak dibutuhkan; hingga seandainya orang-orang Eropa secara alami telanjang, maka dia akan membuat kaumnya telanjang secara buatan agar menyerupai orang Eropa. Ya, itu adalah dalil yang sempurna seandainya tidak ada kekurangan sedikit dalam buktinya, yang dapat diatasi dengan menerbitkan edisi baru dari buku-buku penaklukan Usmani, yang menampilkan khalifah-khalifah agung dan para pahlawan pemberani yang mengalahkan orang Eropa dengan mengenakan topi, agar menyerupai orang Eropa.

Pemilik rahasia itu berkata: Sekelompok kaum kami terjerumus dalam kesesatan ini, dan mereka mulai menyeru untuk mengenakan topi di Mesir meniru Turki. Sebagian dari mereka pergi menemui Sa’d Pasha (semoga Allah merahmatinya) untuk meminta pendapatnya, maka pendapatnya adalah “tidak” dengan memanjangkan alif… Sebagian dari mereka mempercayakan kepadaku untuk bertanya kepada Pasha, maka dia berkata:

“Celaka mereka! Tidakkah mereka malu bahwa kita—orang Mesir—menjadi peniru dari peniruan itu sendiri? Sesungguhnya ini adalah bid’ah yang turun satu tingkat dari asalnya pada kita, seolah-olah menjadi dua bid’ah.” Kemudian Pasha tertawa dan berkata: “Dahulu ada seorang lelaki yang mendengar bahwa bawang dengan cuka bermanfaat untuk sakit kuning, maka dia pergi ke kebun yang dimilikinya dan berkata kepada pengelolanya: tanamlah bagiku bawang dengan cuka… Begitulah yang mereka inginkan dari topi; agar menghasilkan bagi mereka orang Turki yang berperilaku seperti orang Eropa.”

Topi ini di Turki bukanlah sekadar topi, melainkan kata cacian untuk orang Arab dan penolakan terhadap Islam, semua cara menjadi sempit untuk menampakkannya dengan jelas dan terang, tidak ada yang memadai kecuali cara ini saja. Dan ini merupakan pengumuman politik berupa permusuhan, penentangan, dan penyimpangan dari kita serta pembuangan kita. Sesungguhnya orang yang keluar dari bangsanya tidak keluar darinya sementara dia masih mengenakan pakaian dan lambang bangsanya; dengan demikian terbukalah bagi mereka pintu keluar melalui topi dan bukan yang lainnya yang dapat ditiru atau dikreasikan dengan inovasi; sebab kalau tidak, apa rahasia dalam topi-topi ini, dan sejak kapan bangsa-bangsa diukur dengan ukuran para penjahit?

Di sini ada pedang yang ingin menjadi gunting, maka pertama-tama dia melakukan apa yang dilakukan pedang yang tajam, lalu dia mahir dan berinovasi dan orang-orang mengagumi dan membesarkannya; kemudian dia melakukan apa yang dilakukan gunting, maka apa yang bisa dia bawa selain apa yang diingkari oleh para pahlawan dan penjahit sekaligus?

Apakah sudah ditetapkan atas kita bahwa kita tetap selamanya mencari-cari dalam peniruan buta, dan tidak hidup orang Timur kecuali sebagai budak yang menunggu dalam segala urusannya orang yang berkata kepadanya: buatlah undang-undang untukku? Jika kita meneliti, maka marilah kita meneliti pakaian baru yang membedakan kita, sehingga kekuatan-kekuatan yang tersembunyi dalam diri kita dan dalam sifat tanah dan iklim kita yang menciptakan untuk penampilannya apa yang menjadikannya penampilannya. Sebagaimana dada singa mengeluarkan surai singa. Puncak dalam manfaat, keindahan, dan kesesuaian.

Aku mengenakan apa yang aku kehendaki, tetapi pada topi aku menemukan batas di mana kepribadianku berhenti, maka aku tidak melihat di sana tempat keunikan tetapi tempat keseragaman, dan aku tidak mengenal sifat manfaat bagiku melainkan sifat kebenaran dariku, dan menghalangi aku dari sana makna yang dengannya spesies menjadi genus dan individu menjadi kelompok. Selama aku Muslim yang shalat, rukuk, dan sujud, maka topi itu sendiri berkata kepadaku: tinggalkan aku karena aku bukan untukmu.

Dan orang-orang yang memakainya di Mesir, sesungguhnya mereka mengambilnya dari sumber yang sama dengan sumber keluarnya kerusakan moral pada wanita, dan keduanya adalah kecenderungan dari penentangan, dan keduanya berlawanan dengan sifat sosial yang menegakkan kebajikan Timur secara umum. Dan tidak ada yang tidak menemukan sisi pembenaran dalam memperindah topi, atau mazhab pemikiran dalam berdalil untuknya, hanya saja mazhab-mazhab filosofis tidak lemah untuk menegakkan bukti bagimu secara dialektik murni bahwa rasa malu dan kesucian wanita tidak lain adalah dua keburukan dalam seni… dan tidak lain adalah penyakit dan kelemahan, dan tidak lain adalah begini dan begitu, kemudian filsafat berakhir dengan menganggap keduanya sebagai kebodohan dan kelalaian, dan tidak ada kelalaian dan kebodohan kecuali bahwa salah satu filsafat dunia ingin memasukkan dalam kitab shalat misalnya satu bab tentang… tentang… tentang pelacuran.

Janganlah engkau takut dengan apa yang aku tetapkan untukmu: bahwa topi Eropa di kepala Muslim Mesir adalah kerusakan moral atau politik atau agama atau semuanya sekaligus, karena engkau tahu bahwa mereka yang memakainya tidak memakainya kecuali baru-baru ini, setelah rusaknya akhlak Timur yang mulia dan terurainya sebagian besar ikatannya, dan setelah kebebasan modern mendekatkan hal-hal yang bertentangan hingga hampir bercampurnya batas-batas linguistik, sehingga kebebasan manfaat misalnya menjadikan orang jujur dan pembohong dengan satu makna, maka tidak dikatakan kecuali bahwa dia menemukan manfaatnya lalu jujur, dan menemukan manfaatnya lalu berbohong; dan menurut kebebasan modern tidak ada perbedaan antara kedua kata itu dan memberikan batas-batas bagi masing-masing kecuali kebodohan orang-orang terdahulu, dan kebajikan orang-orang terdahulu, dan agama orang-orang terdahulu. Dan tiga hal ini: kebodohan, kebajikan, dan agama, juga dalam kamus linguistik filosofis baru adalah sinonim untuk satu makna, yaitu perbudakan atau ilusi atau takhayul.

Dan bila dihapus batas-batas antara makna-makna, maka alamilah bahwa sesuatu bercampur dengan sesuatu dan suatu makna menempati tempat makna yang lain, dan menjadilah yang batil itu batil karena sebab dan benar karena sebab lain, maka orang tidak menghukumi kecuali kumpulan akhlak yang bertentangan, yang menjadikan setiap kebenaran di bumi sebagai syubhat palsu bagi orang yang bukan dari hawa nafsu dan kecenderungannya, sehingga orang membutuhkan dengan niscaya kekuatan yang memisahkan mereka dengan pemisahan bersenjata, maka mereka memperoleh hukum dengan peradaban mereka kekuatan primitif yang memaksanya untuk bersiap menghadapi kebuasan manusia, dan mendorong kebuasan ini untuk bersiap menghadapinya.

Dan dari tercampurnya batas-batas itulah datang topi di kepala Muslim, dan itu tidak lain adalah batas yang menghapus batas, dan gagasan yang mengalahkan gagasan, dan keburukan yang berkata kepada kebajikan: inilah aku telah datang maka pergilah engkau.

Apa yang lebih besar dari dua hal yang di antara keduanya ada batas untuk menentukan yang kecil; dan apa yang lebih kecil dari dua hal yang tidak ada batas di antara keduanya untuk menentukan yang besar? Itulah kekacauan sebagaimana engkau lihat selama batas tidak ada tempatnya dalam pembedaan dan tidak ada tempat baginya dalam adat dan tidak ada pemisahan dengannya dalam kebiasaan; dari sinilah agama pada sebagian kaum adalah kata terbesar kemanusiaan dalam berbagai bahasanya dan paling penuh dengan makna, dan pada yang lain adalah yang terkecil dan paling kosong dari makna, dan tidak besar pada yang pertama kecuali karena dia memuat pergaulan manusia sementara dia dibatasi dengan tujuan-tujuan tertingginya, dan tidak kecil pada yang kedua kecuali karena pergaulan tidak memuatnya maka tidak ada batas baginya, dan seolah-olah dia makna yang dikira-kira tidak ada wujudnya kecuali dalam huruf-huruf katanya.

Maka kelompok topi tidak melihat bagi diri mereka batas yang membatasi mereka dari akhlak kita atau agama kita atau ke-timuran kita, dan mereka telah keluar dari semua itu dan menjadi tidak melihat dalam pakaian nasional kita apa yang ada di dalamnya dari kekuatan rahasia tersembunyi yang mengilhami kita apa yang disimpan sejarah dari kebangsaan kita dan makna-makna leluhur kita.

Dan aku tahu bahwa di antara kita ada kaum yang salah seorang dari mereka melihat dalam prasangka dirinya bahwa dia adalah hukum dari hukum-hukum evolusi; maka dia dalam apa yang dialaminya tidak memandang bahwa dia seorang dari manusia, tetapi seorang dari hukum-hukum alam… dan dari sinilah keangkuhan dan klaim kosong, dan yang lebih besar dari keangkuhan dan kekosongan klaim. Dan sungguh benar bahwa sebagian manusia menjadi nabi, tetapi yang paling buruk dalam kebatilan adalah bahwa setiap manusia menyangka dirinya nabi.

Dan ketahuilah bahwa sering kali apa yang mereka hiasi untuk orang Timur dari keburukan-keburukan peradaban Eropa, tidak lain adalah logika syahwatnya secara keseluruhan, dan engkau mendengar orang lapar berbicara tentang makanan, maka engkau melihat pembicaraan yang di bawahnya ada makna-makna dan makna-makna yang tidak dianggap oleh selain orang lapar kecuali kebodohan pada waktunya.

 

 

Sa’d Zaghlul:

Pemilik rahasia “M” Pasha berkata: Pasha berkata kepadaku suatu hari bahwa “Sa’d” akan mengunjungi kita pagi ini, dan antara kedua lelaki itu ada kekhususan dan hubungan yang erat. Dan Pasha memiliki kedudukan yang aku ketahui dalam jiwa Sa’d sebagaimana aku mengetahui nyala api dalam gunungnya; adapun Sa’d, dia telah sampai pada puncak yang menjadikannya seorang lelaki yang di salah satu tangannya ada kemudahan dan di tangan yang lain ada keajaiban, maka dia dari orang-orang besar negeri ini seperti kamus bahasa dari kata-kata bahasa, setiap yang tunggal dikembalikan kepadanya dalam pendefinisiannya, dan kata tidak benar pada seseorang kecuali jika ada di dalamnya kesaksian atas kebenarannya.

Dan Sa’d datang kepada kami pagi hari, maka aku bergegas mencium tangannya dengan ciuman yang tidak menyerupai ciuman-ciuman lain, karena tergambar bagiku dari kegembiraannya seolah-olah dia dalam pengasingan dan kembali ke tanah air tercintanya ketika diletakkan di tangan itu.

Sesungguhnya lelaki besar jika dia berbakti kepada ayahnya, mengenal kedudukannya, menyadari kebesarannya, dia merasakan ketika mencium tangan ayahnya seolah-olah dia bersujud dengan ruhnya sujud kepada Allah di atas tangan yang diciumnya itu, dan dia menemukan dalam dirinya hubungan listrik antara hatinya dan rahasia keberadaannya, dan dunia mengkhususkannya dengan sentuhan seolah-olah ciumannya berdenyut di alam semesta, dan semua ini telah aku rasakan dalam mencium tangan Sa’d, dan aku tambahkan padanya perasaanku dengan makna seperti yang ada dalam jiwa pahlawan ketika dia mencium pedang kemenangannya.

Dan Sa’d Pasha tertawa kepadaku dengan tawanya yang terkenal, yang dimulai mulutnya, dan disempurnakan matanya, dan dijelaskan seluruh wajahnya, maka engkau menemukan jawabannya dalam ruhmu seolah-olah dia melemparkannya di ruhmu.

Dan seseorang dari manusia jika melihat Sa’d sedang tersenyum, dia melihat baginya senyuman seolah-olah kesempurnaan yang merendah, maka dia merasakan seolah-olah sesuatu yang tidak alami berhubungan darinya dengan sesuatu yang alami, maka dia segar dan melompat dalam keberadaan spiritualnya lompatan tinggi yang menjadi kegembiraan atau kesenangan atau kekaguman atau kekhusyukan atau semuanya sekaligus.

Hanya saja orang dari para bijak jika merenungkan wajah Sa’d, dan dia tertawa dengan tawanya yang tenang yang menguasai maknanya yang menetapkan atau mengingkari atau mengejek atau makna apa pun -sesuai jiwanya- dia melihat bentuk dari perkataan bukan dari tawa, dan tampak baginya senyuman filosofis itu berbicara, seolah-olah sekali dia berkata: ini nyata. Dan sekali dia berkata: ini tidak nyata.

Sesungguhnya Sa’d yang agung adalah seorang lelaki yang tidak dipandang oleh patriot kecuali dengan mata yang di dalamnya ada tanda-tanda mimpi mereka, seolah-olah dia adalah tokoh gagasan bukan tokoh manusia; maka jika engkau melihatnya, dia ada dalam pikiranmu sebelum ada dalam pandanganmu; maka engkau menyaksikannya dengan dua pandangan: salah satunya yang engkau lihat dengannya, dan yang lain itu yang engkau imani dengannya.

Jenius seperti bara yang menyala, engkau tidak mengira dia hidup tetapi terbakar dan membakar; pemberontak seperti gempa bumi maka dia selamanya berguncang dan selamanya mengguncang apa yang ada di sekitarnya; terus terang seperti keterusterangan para rasul, yaitu yang maknanya bahwa akhlak mengucapkan katanya.

Lelaki rakyat yang setiap orang Mesir merasakan bahwa dia memiliki di dalamnya kepemilikan dari kemuliaan. Dan dia telah mencapai dalam sebagian posisinya tingkat syariat, maka dia mampu berkata kepada manusia: letakkanlah makna ini dalam kehidupan, dan cabutlah makna ini dari kehidupan.

Pemilik rahasia berkata: Dan kunjungan berakhir dan Sa’d keluar dengan Pasha di sebelah kirinya, ketika dia kembali dari mengantarnya dia berkata kepadaku: Demi Allah anakku, seolah-olah lelaki ini menambah dalam gelar-gelar negara gelar yang baru, kemudian dia tertawa dan berkata: Tahukah engkau apa hati ini? Aku berkata: Apa itu ya Pasha?

Dia berkata: Demi Allah anakku, tidak ada “pasha” dalam negara ini yang berada di samping Sa’d, kecuali dia merasakan bahwa pangkatnya “setengah pasha”.

Ini adalah lelaki yang telah mencapai dari kebesaran tingkat yang dengannya yang besar menjadi kecil, dan yang agung menjadi lemah, dan yang tinggi menjadi pendek, ya hingga dia meninggalkan kaum dari musuh-musuh besarnya, seperti si anu dan si anu, dan sesungguhnya salah seorang dari mereka tampak bagi rakyat dari kekosongannya dan kelemahannya dan keterbuangannya, seolah-olah dia bayangan lelaki bukan lelaki.

Dan dia telah menjadi kekuatan yang bekerja yang pasti ada kerjanya di setiap yang hidup di bawah cakrawala ini, hingga seolah-olah makna-makna jiwanya yang besar menyebar di udara kepada manusia, maka dia kekuatan yang dikirim yang tidak tertahan, yang berlalu yang tidak tertolak, yang ditakdirkan yang tidak dapat diperdayai dengan tipu daya.

Ini adalah kedudukan ilahi khusus yang tidak menyerupainya seorang pun dalam bangsa ini, seperti medan perang yang tidak menyerupainya tempat-tempat lain; maka Sa’d telah berpetualang dalam Revolusi Urabi, dan keluar darinya, tetapi revolusi itu tidak keluar darinya, bahkan tetap di dalamnya; tetap di dalamnya belajar hukum dan politik, dan memperbaiki kesalahannya, kemudian muncul darinya dalam bentuk hukumnya yang teliti, dan dengan ini engkau melihatnya mengalahkan lelaki-lelaki bagaimanapun cerdasnya, karena ada di dalamnya apa yang tidak ada pada mereka, dan engkau melihat mereka tampak di sampingnya sebagai hal-hal yang tetap dalam makna-maknanya, adapun dia maka engkau melihatnya dari semua sisinya bergelombang seperti ombak yang ganas.

Dan revolusi itulah yang berbicara di mulutnya kadang-kadang maka menjadikan sebagian kata-katanya memiliki kekuatan seperti kekuatan kemenangan, dan ketenaran seperti ketenaran pertempuran perang yang terkenal.

Dan ketika dia adalah yang terpilih untuk menjadi bapak revolusi, Kekuasaan Ilahi mengharamkan baginya keturunan, dan mengalihkan naluri kebapakan padanya kepada karya-karya sejarahnya, maka di dalamnya ada perhatiannya dan hatinya dan kekhawatirannya, dan itu adalah keturunan hidup dari ruhnya yang besar, dan dia hampir dengannya menjadi singa yang mengaum mengelilingi anak-anaknya, dan tidak akan diingat politisi-politisi Mesir bersama Sa’d, dan tidak akan diingat Sa’d sendiri jika dia berubah menjadi politisi, karena tempat kosong dalam alam sekarang adalah tempat lelaki perlawanan bukan lelaki politik, dan inilah sebabnya mengapa Sa’d membuat bangsa merasakan keberadaannya kenikmatan seperti kenikmatan kemenangan dan keberhasilan, walaupun dia tidak menang atas sesuatu dan tidak berhasil atas sesuatu; maka ketenangan rakyat kepada pemimpin perlawanan, secara alami seperti ketenangan pembawa senjata kepada senjatanya.

Dan Sa’d seorang diri adalah yang berhasil menjadi guru perlawanan bagi bangsa ini; maka dia menghapus hukum-hukum, dan menciptakan hukum-hukum, dan memikul rakyat untuk mengagumi karya-karya besarnya, maka dia menyadarkan di dalamnya kekuatan perasaan akan kebesaran maka menjadikannya besar, dan mengalihkannya dengan makna-makna besar dari hal-hal kecil, maka mendorongnya ke jalan masa depannya dia berkreasi dengan kreasinya di dalamnya.

Sesungguhnya Timur ini tidak hidup dengan politik tetapi dengan perlawanan selama Barat itu berhadapan dengannya; dan mangsa tidak terlepas dari tenggorokan buas kecuali dengan menghadang tulang-tulangnya yang keras dan kuat di tenggorokan ini.

Dan betapa banyak di Timur politisi besar yang mereka jadikan menteri, maka jabatan itulah yang menjadi menteri bukan diri sang menteri, hingga seandainya mereka melepas pakaiannya di atas kayu dan menegakkannya di kursinya, niscaya itu lebih bermanfaat bagi bangsa daripadanya, karena itu lebih sedikit kejahatannya daripadanya.

Anakku, semua manusia rela menikmati harta dan kedudukan dan kekuasaan dan pemerintahan, maka bukanlah ini masalah Timur, tetapi masalahnya: siapakah nabi politik yang rela disalib?

 

 

Antusiasme Rakyat:

Dan berkata kepada saya rahasia “M” Pasha: Ketika Sa’d Pasha kembali dari Eropa pada tahun 1921, bangsa menyambutnya bagaikan seekor burung yang mengembangkan sayapnya, tidak ada pertentangan satu bagian dengan bagian lainnya, melainkan semuanya adalah satu kesatuan; dan oposisi pada waktu itu sama mustahilnya dengan keberadaan tambalan pada bulu burung.

Namun baju politik Mesir selalu penuh tambalan, baik yang baru maupun yang usang, ada tambalan dari para penentang, lainnya dari yang keras kepala, yang ketiga dari yang lemah, yang keempat dari yang memusuhi, dan yang kelima, keenam, ketujuh dari para pendengki, pesaing, dan yang berbeda pendapat karena nafsu bertentangan; dan tambalan-tambalan lainnya yang kita ketahui dan yang tidak kita ketahui. Sungguh aneh bahwa iklim yang hanya berubah secara perlahan ini, penghuninya berubah dengan cepat; dan sifat alami yang hampir tidak berubah ini, penghuninya hampir tidak pernah sepakat.

Namun Sa’d, semoga Allah merahmatinya, kembali dari Eropa dengan kepulangan yang bermartabat untuk bangsa yang utuh. Dia menang karena tidak kehilangan sedikitpun dari hak, dia menang karena tidak dikalahkan, dia menunjukkan keteguhannya karena tidak goyah, dia pergi dengan kekuatan dan kembali dengan kekuatan dan tekad; maka iman rakyat yang menyambutnya, dan revolusi yang merayakannya. Semua alasan batal sehingga penentangan tidak menemukan sesuatu untuk ditentang, sebab-sebab bersatu sehingga kata menjadi satu, dan Sa’d tampil seolah-olah dia adalah ruh bangsa yang terwujud dalam kekuatan, memerintah dengan kekuatan, berkuasa dengan keyakinan.

Ya, sang pahlawan tidak menang, tetapi bangsa merayakannya karena dia mewakili kesempurnaan jenis lain di dalamnya yang merupakan rahasia kemenangan; maka antusiasme rakyat pada hari itu adalah antusiasme prinsip yang mantap; menampakkan keberanian hidup, semangat tekad, keutamaan keikhlasan, kekuatan serangan, dan keras hati dalam bertekad; dan membuktikan dengan kekuatan lahirnya kekuatan batinnya. Kegembiraan bangsa adalah keras kepala politik yang bergembira karena masih kuat tidak melemah, dan kegembiraannya adalah kemuliaan yang merasa masih berlimpah tidak berkurang, dan kesepakatan adalah jawaban terhadap keputusasaan, dan antusiasme adalah jawaban terhadap kelemahan.

Bangkitlah kekuatan hidup di seluruh rakyat, dan masa depan dimulai sejak hari itu. Seandainya malaikat turun dari langit dalam awan yang bergemuruh terdengar tasbih mereka untuk mendukung Sa’d, mereka tidak akan menambahkan apapun padanya; karena kedudukannya di hati bagaikan akidah, dan pembenaran diberikan kepadanya bagaikan kata terakhir, dan ketaatan digantungkan padanya bagaikan pendorong alami. Sang pahlawan dalam semua itu menyerupai seorang nabi karena keduanya adalah gambaran sempurna keluhuran dalam pemikiran suatu bangsa.

Kata pemilik rahasia: Dan Pasha kembali dari Kairo setelah melihat kelapangan jiwa, kebenaran janji, kesatuan kata, dan persiapan rakyat untuk latihan dan penderitaan, maka dia berkata:

Demi Allah, Sa’d telah membuktikan kepada seluruh dunia bahwa Mesir yang perkasa ketika menghendaki, membangun laki-laki dengan cara Piramid Agung dalam kebesaran, ketenaran, kedudukan, dan kekuatan. Dan laki-laki agung ini telah melakukan apa yang dilakukan perang besar, mengumpulkan seluruh bangsa pada satu makna yang tidak bertentangan, dan mendorongnya dengan satu jiwa nasional yang tidak berbeda, dan membuat darah politik bergolak sebagaimana darah yang terluka bergolak.

Sesungguhnya bangsa ini berada di antara dua hal yang tidak ada yang ketiga: entah ketegasan sampai akhir atau kehilangan. Dan tidak ada ketegasan kecuali rakyat tetap seperti yang tampak hari ini sebagai banjir yang hidup, rata sifatnya, bergerak maju, meliputi semua yang menghalanginya, hingga urusan selesai dan musuh-musuh kita berkata: “Wahai langit, berhentilah!”

Begitulah tanah air bekerja dengan rakyatnya bagaikan pribadi yang hidup di antara mereka, ketika semuanya sama dalam kepercayaan, semuanya saling mendukung dalam harapan, semuanya berbagi dalam kasih sayang rohani, dan tidak tersisa bagi satu kelompok pun bagian dalam keinginan selain keinginan satu untuk semua. Begitulah tanah air bekerja dengan rakyatnya ketika bekerja bersama rakyatnya.

Musuh-musuh kita mengira kami lalat politik yang tidak ada urusan selain sisa-sisa politik, dan tidak ada kerja dalam bunga, buah, wangi, dan manisnya; maka rakyat memperdengarkan kepada mereka hari ini dengungan lebah, dan memperlihatkan kepada mereka sengat lebah, agar mereka tahu bahwa bunga, buah, wangi, dan manis adalah miliknya secara alami.

Dan mereka menduga bahwa mazhab kami dalam hidup hanya untuk kepentingan penghidupan, dan bahwa orang Mesir, baik penguasa maupun yang dikuasai, tidak memperpanjang harapan kebangsaannya lebih jauh dari umurnya tujuh puluh atau delapan puluh tahun. Jika mereka melepaskan tangan kami di masa kini bangsa, kami melepaskan tangan mereka di masa depannya. Karena itu mereka berambisi agar hak yang kurang dalam dirinya menjadi hak yang sempurna dalam diri kami karena alasan ini; dan mereka mengira bahwa politisi Mesir tidak berani mengatakan apa yang dikatakan politisi Eropa bahwa dia tidak takut mati tetapi takut aib, karena jika dia mati, dia mati sendiri, dan jika dia membawa aib, dia membawanya pada dirinya, bangsanya, dan sejarah bangsanya. Tetapi Sa’d mengatakannya; dan dalam hal seperti ini mengatakan “tidak” adalah pertempuran.

Dan inilah pertempuran sejarah hari ini, karena partikel-partikel hidup yang tercipta dari darah kami -kami orang Mesir- telah bangkit dalam darah ini, di hari ini, menyatakan bahwa mereka tidak rela dilahirkan terikat dengan belenggu.

Tahukah kamu apa yang mereka tawarkan kepada Sa’d? Mereka menawarkan kepadanya sesuatu yang dalam ejekannya menyerupai penggilingan lengkap dengan peralatan dan mesin model terbaru, kemudian tidak diberikan kepadanya kecuali satu biji gandum untuk digiling… hasil yang mengejek sebab-sebabnya, dan sebab-sebab yang meremehkan hasilnya.

Sesungguhnya Eropa tidak menghormati kecuali yang memaksanya menghormati. Maka tidak kulihat bagi politisi di Timur ini pekerjaan yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih bermanfaat daripada menghidupkan antusiasme di setiap rakyat Timur, kemudian melindunginya dan mengarahkannya dengan baik; karena antusiasme rakyat yang permanen, kuat, dan berwawasan ini adalah kekuatan penolakan terhadap apa yang harus ditolak, dan kekuatan dukungan terhadap apa yang harus diterima. Dan setelah itu ia adalah sarana mengumpulkan urusan, mengokohkan perkara, menetapkan tekad dalam akhlak, mendidik kepercayaan diri, dan dengannya terjadi penyulutan perasaan dan membiasakannya memahami karya-karya besar, bersemangat untuknya, dan berkorban di dalamnya.

Dan penyakit dari segala penyakit pada kami hanyalah lemahnya antusiasme rakyat di Timur, buruknya pengelolaannya, dan jeleknya politiknya; dan kami mengambil dari orang Eropa dari sistem, metode, politik, ilmu, dan seni mereka; kami mengambil semua itu dengan jiwa kami yang dingin dalam kelesuan, kelalaian, saling mengandalkan, mementingkan diri sendiri dalam kepentingan, dan sewenang-wenang dalam pendapat. Maka dinar mereka di tangan kami menjadi dirham, dan kami dan mereka dalam satu hal bagaikan lebah dan lalat di atas bunga…

Kami tidak memiliki antusiasme hidup, dan dengan ini berbeda karya kami dan karya mereka. Itulah juga rahasia mengapa sebagian besar antusiasme kami semata-mata verbal; karena teriakan, sorak-sorai, dan berpidato serta yang serupa dari penampilan kosong ini menjadi perbaikan bagi sifat diam dalam diri kami, dan variasi darinya tanpa kami bersusah payah dalam perbaikan dan variasi. Dan dari ini kami memiliki jenis-jenis perkataan yang lidah terlepas di dalamnya untuk keluar dari keheningan saja… dan daripadanya banyak omong kosong politik yang berputar di majelis, partai, dan surat kabar.

Sesungguhnya antusiasme rakyat tidak hanya terhadap musuh-musuhnya; tetapi juga terhadap cacat-cacatnya, dan terutama terhadap kelemahannya. Rakyat yang dingin dalam antusiasmenya seandainya memperoleh dua hak yang dirampas, akan kembali lalu kehilangan salah satunya atau keduanya. Adapun rakyat yang bersemangat dan kuat dalam antusiasmenya, seandainya dua haknya dirampas dan memperoleh salah satunya, akan kembali lalu merebut yang satunya lagi.

 

 

Publik:

Dan berkata pemilik rahasia “M” Pasha: Adalah sebagian dari pekerjaanku di pemerintahan tahun 1922 bahwa aku mengawasi gerakan dan keheningan, menyebarkan mata-mata dan pengawasan, dan mengetahui yang guncang dan berubah di hari-hari fitnah dan musibah cobaan, menjaga keamanan, dan bersiaga untuk yang diperkirakan; maka aku bagaikan observatorium yang disiapkan dengan alatnya untuk mencatat gerakan gempa bumi.

Dan sampai kepada kami suatu hari bahwa gempa dari gempa-gempa ini akan mengguncang si fulan dari ahli pendapat bebas; yang mandiri dan tidak mengikuti, mengkritik dan tidak memihak, terus terang dan tidak ragu-ragu, dan bahwa suatu kaum telah membangkitkan debu manusia dari rakyat biasa dan sejenisnya, dan mereka menunggu waktu untuk mengarahkan tipu daya kepadanya dalam bentuknya yang buas dari publik yang marah ini.

Adapun si fulan ini adalah laki-laki politik keras kepala yang menyia-nyiakan seluruh hak karena dia tidak rela dengan setengah hak… dan katanya dalam politik seakan-akan disampaikan ke lidahnya dari yang gaib; dia tidak berpaling darinya dan tidak mampu berbicara kecuali dengan apa yang dia bicarakan; dan suaranya telah hilang karena dia di antara kaum yang tidak mendengar kecuali apa yang mereka inginkan. Maka dia di antara mereka bagaikan kebenaran yang terkalahkan; tidak mati karena bukan kebatilan, kemudian tidak hidup karena tidak menang. Dan dia adalah laki-laki bagaikan pelita yang menyala lalu mereka lemparkan penutup padanya, maka dia dalam sifat aslinya tetapi tampak kepada manusia bukan dengan sifat aslinya. Dan pendapat bebasnya yang terus terang meninggalkannya bagaikan nabi yang dianggap bohong yang kebenarannya ditolak; bukan karena bukan kebenaran, tetapi karena tidak mungkin, atau tidak sesuai.

Dan di antara bencana kami -kami orang Timur- adalah bahwa kami menikmati permusuhan, dan tunduk pada sebab-sebabnya, dan patuh kepadanya dengan kepatuhan orang-orang kecil pada diri mereka sendiri terhadap apa yang ada dalam diri mereka; seakan-akan para penguasa sewenang-wenang yang ada dalam sejarah kami telah berpindah ke tabiat kami; maka penolakan pikiran terhadap pikiran dalam diskusi yang berlangsung di antara kami tidak dari dorongan kebenaran terhadap kebenaran, tetapi dari penolakan kesewenang-wenangan terhadap kesewenang-wenangan, dan dari lompatan tirani terhadap tirani; maka ia adalah cercaan, tikaman dan luka, dan ia adalah kasar, permusuhan dan keras kepala, dan ia adalah perselisihan, kekerasan dan keberpihakan; dan dengan ini dan itu adalah kejahatan, kerusakan dan kejatuhan. Dan perdebatan di antara orang-orang berakal membangkitkan pikiran lalu berakhir pada kebenaran, tetapi pada kami ia menggerakkan akhlak lalu berakhir pada kejahatan. Dan jawaban terhadap orang besar di antara kami seakan-akan menjawab kedudukannya di antara manusia bukan kedudukannya dalam pendapat, dan mengungkap kesalahan pada kami adalah ungkapan dengan kesalahan bukan pencerahan dengan kebenaran, dan merebut hujah dari pemiliknya dan merusaknya padanya bagaikan merebut kepemilikan dari pemiliknya dan mengusirnya darinya… Karena itu pembelaan dengan keras kepala menjadi asas dari asas-asas tabiat pada kami, dan penganiayaan menjadi hujah bagi hujah yang lemah, dan menyusahkan menjadi dalil bagi dalil yang tidak bangkit dengan sendirinya. Dan bila setiap manusia menganggap dirinya kaisar atas kebenaran… maka tidak heran tidak ada kata yang dijawab kata kecuali dengan perang.

Kata pemilik rahasia: Dan urusan menjadi besar bagi Pasha, maka dia mengumpulkan para pemimpin yang bermusyawarah dengan laki-laki bebas itu, dan mulai membolak-balikkan mereka dengan rayuan dan kelembutan, dan berkata kepada mereka di antara yang dia katakan: Sesungguhnya keutamaan publik adalah yang menjamin pendidikan keutamaan, memeliharanya, dan mengalahkannya atas keburukan-keburukan, dan sesungguhnya setiap yang benar akan menjadi rusak jika publik tidak benar, dan sesungguhnya yang tidak berakal adalah mereka yang menerima kebenaran di suatu hari kemudian menolaknya di hari lain, karena jika kamu pergi berdebat dengan mereka dan berargumen kepada mereka bahwa mereka menerimanya, mereka berkata: ini kemarin… seakan-akan pemisah antara dua waktu menjadikan satu hal menjadi dua yang berlawanan.

Kemudian dia bertanya kepada mereka: Apa dosa laki-laki itu? Maka berkata salah seorang dari mereka: Sesungguhnya dia menentang kami dalam pendapat. Maka berkata Pasha: Sesungguhnya makna bahwa dia menentang kalian adalah bahwa kalian menentang dia; maka kedua belah pihak setara, dan pertentangan dengan pertentangan; apa yang membuat kalian berhak menolaknya dari pendapat tanpa dia memiliki hak seperti ini untuk menolak kalian?

Mereka berkata: Kami adalah mayoritas. Berkata Pasha: Wahai teman-temanku, sesungguhnya ketakutan mayoritas dari pendapat seorang individu atau beberapa individu adalah makna terburuk dalam menafsirkan pendapatnya sendiri; dan sepuluh pound tidak peduli dengan satu pound, karena ia menyerapnya; tetapi ini bukan keadaan sepuluh qirsh wahai teman-temanku…

Ya, memutus perselisihan adalah kebutuhan dari kebutuhan kebangsaan, tetapi jika urusan dalam lahir dan batinnya seperti perselisihan mana yang lebih panjang: tongkat atau menara? Maka itu perdebatan yang terputus dengan sendirinya tanpa perdebatan.

Sesungguhnya dasar kekalahan kami -kami orang Timur- ada di hati kami, karena kami tidak menganggap makna-makna umum kecuali dari segi ia berdiri dengan laki-laki, kemudian kami tidak menganggap laki-laki kecuali dari segi apa yang ada dalam diri kami dari mereka, kemudian kami tidak menganggap diri kami kecuali dari segi apa yang menyenangkan atau membuat kami marah, dan mungkin yang membuat kami marah hanyalah kebenaran dan kesungguhan, dan mungkin yang menyenangkan kami hanyalah kebatilan dan kelalaian, tetapi kami tidak peduli kecuali apa yang menyenangkan dan apa yang membuat marah.

Kalian tidak bebas untuk membuat orang lain tidak bebas, karena jika pendapat yang menentang kalian adalah pendapat yang benar dan kalian meninggalkan peranginya maka kalian telah menolong kebenaran; dan jika ia batil maka menampakkannya batil adalah bukti kebenaran yang kalian ada padanya; dan kalian tidak akan melucuti siapapun dari pilihan pendapat kecuali jika kalian melucuti diri kalian dari pilihan keadilan, jika kalian melakukan itu maka ini adalah kesombongan yang zalim, mengklaim bahwa ia kebenaran, kemudian mengklaim untuk dirinya hikmah, maka ia telah berdusta dua kali.

Dengarlah wahai tuan-tuan: Terjadi antara dua orang dari filosof pendapat perdebatan di sebuah surat kabar, dan mereka bertukar artikel beberapa kali, ketika yang lebih lemah argumentasinya kewalahan dan terbungkam dalam perdebatan, dia menulis artikel terakhirnya maka datang sakit, tidak memuaskannya maka dia simpan dan tidur dengan niat mengirimnya pagi hari setelah merenungkannya kembali dan memperbaiki pendapatnya dengan argumen-argumen yang akan dibukakan kepadanya. Mereka berkata: Ketika dia tidur, artikel itu menampakkan diri kepadanya dalam mimpinya sebagai tubuh yang hidup yang lemah dan rusak, terlepas dari sini patah dari sana, terluka di antaranya; kemudian berbicara kepadanya dan berkata: Celakalah kamu wahai si bodoh! Jika kamu ingin mengalahkan temanmu dan membungkamnya darimu, maka bawalah artikelmu ke kepalanya dengan tongkat bukan di surat kabar…

Kata pemilik rahasia: Dan semua orang tertawa, dan mereka tunduk dan pergi dengan yakin, hati mereka telah bersih terhadap laki-laki bebas itu dan mereka berlepas diri dari kejahatan yang ada di tangan mereka. Dan Pasha tidak datang dengan keajaiban perkataan, tetapi penggambarannya terhadap masalah adalah solusi untuknya di jiwa mereka. Ketika mereka pergi, Pasha bernapas seakan-akan keluar dari laut dan sedang melakukan penyelamatan orang tenggelam dan bersusah payah di dalamnya hingga selamat; kemudian berkata kepadaku: Sesungguhnya ini adalah jawaban tentang sesuatu dalam jiwa mereka, tetapi ia adalah pertanyaan tentang sesuatu dalam jiwa kita: Apa yang membuat manusia di sisi kita takut pada perlawanan dalam pendapat kebangsaan hingga mereka membalasnya dengan hukuman rakyat yang munkar ini? Dan mengapa mereka tidak memberikan pendapat hukumnya dan kebenarannya, tetapi memberikannya dari hukum diri mereka dan kebenaran serta nafsu mereka yang berubah-ubah, hingga perbedaan-perbedaan lemah yang sejenis di anak-anak satu tanah air kembali seakan-akan dari perselisihan dan perbedaan, perbedaan rasial seperti yang terjadi antara manusia dari suatu bangsa, dan manusia dari bangsa lain yang memusuhinya.

Aku berkata: Sesungguhnya pendapat mayoritas adalah hukum wahai Pasha.

Dia berkata: Ini benar, tetapi dengan dua syarat bukan satu syarat: yang pertama agar pendapat tidak keluar dari hukum, dan yang kedua agar kebenaran tidak ada dalam pendapat yang menentangnya; dan usaha memaksa perlawanan adalah kekurangan kedua syarat sekaligus; kemudian sesungguhnya dasar kebangsaan adalah keselamatan hati dan kejernihan niat, dan kesamaan yang setuju dan yang menentang dalam hukum ini. Dan bila terjadi perselisihan antara dua orang dan niat jujur ikhlas, perselisihan mereka tidak lain dari keragaman pendapat, dan berakhir pada kesepakatan dengan kemenangan pendapat yang lebih kuat, dan tidak ada jalan lain selain itu.

Kenyataannya wahai anakku bahwa massa Timur tidak dalam pendidikannya dari massa politik yang diperhitungkan, karena masih dalam awal umur politiknya, dan dengan sebab ini saja perselisihan para pembesar dalam politik tidak menyerupai kecuali dua musuh tanpa saksi dan tanpa hakim yang putusannya berlaku, maka ia perselisihan kekuatan yang menang dengan sarananya, bukan perselisihan hak yang menang dengan dalilnya.

Dan majelis-majelis perwakilan Timur ini semuanya gambaran yang diperankan kering, terputus pertumbuhannya dari sebab-sebabnya, bagaikan dahan yang dipotong dari pohon. Dahan akan segar dan berbuah jika berdiri dengan pohonnya bukan dengan dirinya sendiri, dan pohon dahan politik tidak lain adalah publik politik.

Maka jalan perbaikan di setiap kerajaan Timur adalah bangunnya ahli pendapat dari setiap kota di dalamnya antara ulama, sastrawan, pengacara, dan orang terhormat, dan yang sejalan dengan mereka, lalu mereka menjadikan untuk kota mereka rumah pertemuan untuk berkumpul, meneliti, dan bermusyawarah, mengatakan “ya” dengan dalil dan mengatakan “tidak” dengan dalil. Kemudian mereka mengumumkan itu kepada publik mereka dan turun di antara mereka dengan kedudukan guru, ayah, dan teman dalam mengajar, membimbing, dan mengarahkannya; dan dihubungkan rumah-rumah ini di setiap kerajaan satu sama lain, dan berakhir pada majelis-majelis perwakilan. Dan tanpa itu tidak akan terisi kekosongan yang kita lihat menganga antara rakyat dan pemerintah, dan antara para pembesar dan massa, dan kebanyakan musibah kita dari kekosongan ini; dialah yang menyia-nyiakan apa yang tersia-sia di dalamnya, dan menyembunyikan apa yang tersembunyi.

Di antara kita ada kaum pegawai di pemerintahan; tetapi di mana kaum yang pemerintah sendiri menjadi pegawai pada mereka?

“Permintaan Maaf”: Dengan artikel ini berakhirlah pembicaraan-pembicaraan Pasha; karena pemilik rahasia telah memberitahu kami bahwa dia akan menyimpan rahasia…

 

 

Si Gila “1”

Dia datang berjalan dengan tenang, menghayal dalam langkahnya, dan gemetar di antara langkah demi langkah seolah-olah karena ketuaannya membuat Anda merasakan bahwa bumi menyadari dia sedang berjalan di atasnya… dan dia tidak memindahkan kakinya ketika melangkah sampai dia mengangkat kepalanya dan menggerakkannya ke atas, sehingga Anda tidak tahu apakah dia ingin memastikan bahwa kepalanya bersamanya… ataukah dia membayangkan bahwa kepala besar ini telah diletakkan di tubuhnya seperti posisi bendera negara, maka dia mengayunkannya seperti mengayunkan bendera…

Mata saya menangkapnya dan tidak ada jarak antara saya dan dia kecuali panjang dan lebar ruangan, ternyata pandangannya menyimpang seolah-olah dia tersesat di padang pasir membolak-balikkan matanya ke segala arah dengan bingung dan ragu-ragu, kemudian seolah-olah sebuah gunung diangkat untuknya di ujung terjauh sana, maka dia menuju ke arahnya…

Saya menyambutnya, dan mendudukkannya di samping saya, lalu dia mulai memperkenalkan diri dengan menyebutkan namanya, kelompoknya, dan negerinya, tidak menambahkan apapun selain itu, seolah-olah dia adalah Antarah dari Bani Abs, untuk tanahnya dari sifat alamnya secara geografis, dan dari namanya secara geografis keras… ketika dia melihat saya tidak mengenalinya dengan pasti, dia berkata: “Sesungguhnya engkau pelupa.”

Saya berkata: Dan sering sekali saya lupa, namun namamu bukan termasuk nama-nama yang diingat karena sejarah.

Dia berkata: “Ini kesalahan surat kabar… dan apapun yang engkau lupakan, jangan lupakan bahwa engkau adalah guru ‘Si Jenius Abad ke-20’.”

Maka saya menatapnya dengan seksama, ternyata saya berhadapan dengan orang gila yang menarik, tidak berjanggut, langsing, karena kelembutan dan kelemahannya hampir bukan laki-laki, dan hampir tampak seperti perempuan karena keindahan matanya dan kelesuan matanya.

Saya memperhatikan, ternyata wajah yang tenang dengan kerut-kerut yang mengembang, terhapus maknanya, mengabarkan tentang terputusnya pemiliknya dari sekelilingnya, seolah-olah dunianya bukan dunia manusia, tetapi dunia kepalanya… dan saya merenungkan, ternyata masa kanak-kanak yang mengendap telah menetap di wajah ini untuk keluar dari antara laki-laki dan anak menjadi orang gila yang bukan anak dan bukan laki-laki.

Saya mencermati, ternyata jejak-jejak pertempuran tampak di halaman ini, yang terbunuh adalah pikiran-pikiran si malang dan perasaan-perasaannya.

Saya memperhatikan, ternyata seorang laki-laki yang lemah, badannya lesu, jiwanya bingung, seolah-olah dia baru saja bangun dari tidur sehingga masih ada kantuk di matanya, dan seolah-olah dia berbicara dari sisa-sisa mimpi yang dia lihat.

Terbayang bagi saya dari kemalasan pada pemuda ini, bahwa di atasnya ada suasana menguapnya, dan bahwa seluruh tempat itu menguap, maka saya pun menguap…

Ketika dia melihat itu dari saya, dia tertawa dan berkata: Sesungguhnya “Si Jenius Abad ke-20” adalah orang magnetis yang hebat; maka inilah dia telah menimpakan tidur kepadamu… dan cukuplah bagimu kebanggaan bahwa engkau menjadi gurunya, saudaranya, dan kepercayaannya, “karena tidak ada di atas bumi ini hari ini sastrawan selain aku dan engkau…”

Saya berkata dalam hati: Inna lillahi, apa yang diyakini orang ini bahwa di atas bumi ini tidak ada orang gila selain dia dan aku, dan seolah-olah dia menyadari hal itu lalu berkata: Aku bukan orang gila; tetapi aku pernah di bimaristan…

Saya berkata: Apakah itu bimaristan yang disebut rumah sakit orang gila?

Dia berkata: Tidak; sesungguhnya yang engkau sebut itu, itulah rumah sakit orang gila; adapun yang aku sebut adalah rumah sakit saja…

Dan saya ingat saat itu bahwa di antara orang-orang gila ada sekelompok orang yang menarik yang kerusakan masuk ke dalam akal mereka dari sisi ide yang melekat yang tidak pernah pergi, maka kegilaan mereka bukan kegilaan kecuali dari sisi ini, dan keadaan mereka yang lain seperti keadaan orang berakal, hanya saja mereka karena itu ceroboh dan berubah-ubah, jika sombong maka manusia tidak tahan dengan kesombongan, keangkuhan, dan keangkuhannya, seolah-olah dia satu-satunya di dunia dalam ide ini, dan seolah-olah antara dia dan Allah ada rahasia-rahasia, dan dia mengira pada dirinya bahwa dia yang paling berakal di antara manusia di tingkat akal yang paling tinggi, padahal kegilaannya hanya di tingkat ini saja.

Dan orang seperti ini pasti memerlukan orang yang merespons ocehannya agar menggerakkan kecerobohan, kecerobahan, dan kesombongannya, dan agar menjadi saksi pada dirinya tentang keberadaan khayali yang kreatif ini yang tidak ada kecuali di akalnya yang terganggu, maka jika dia berhasil mendapat orang yang menyanjungnya, atau berdamai dengannya, atau mengimbanginya, dia menganggapnya tunduk, beriman, membenarkan, maka dia tidak meninggalkannya setelah itu dan berpegang teguh padanya dengan sangat erat, dan melihatnya seolah-olah dia dalam kekuasaannya… maka dia menjadikannya sahabat karib padahal dia yakin bahwa dia adalah budak, dan mungkin dia mengklaimnya sebagai gurunya agar dia memahami dari itu dengan perhitungan akalnya… bahwa dia adalah muridnya. Dan saya khawatir bahwa “Si Jenius Abad ke-20” tidak menyebut saya gurunya kecuali dengan perhitungan dari perhitungan ini, maka dia akan memberikan hak keguruan itu haknya, tetapi sebagaimana haknya dalam bahasa kegilaannya… maka dalam pandangannya saya menjadi muridnya dan ciptaannya, pembicara ocehannya, kepercayaannya dan tempatnya berlindung, dan pembela dari belakangnya.

Saya berkata dalam hati: Jika saya membiarkannya duduk, maka majelis ini akan menjadi tempat kembalinya setelah itu, sehingga dia tidak mengenal tempat lain selain ini, dan menjadi seperti yang dikatakan dalam ungkapan hukum “tempat pilihan”, maka dia akan datang kepada saya karena alasan dan tanpa alasan, dan terjadi di waktu-waktu saya seperti terjadinya kelalaian yang tidak ada perhitungannya, dan akan terbuang di dalamnya apa yang terbuang, maka saya bertekad untuk menyingkirkannya dengan senang hati dengan putus asa, dan jiwanya telah selesai dari mengenal saya, dan akalnya sampai pada pendapat bahwa saya tidak cocok untuknya sebagai guru, bukan menurut perhitungannya sendiri dan bukan menurut perhitungan manusia.

Maka saya berkata kepadanya: Sangkaanku tentangmu bahwa engkau guru dirimu sendiri, dan tidak pantas bagi jenius abad ke-20 untuk memiliki guru di abad ke-20; dan saya melihat engkau telah luang untuk sastra, adapun saya sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan jabatan saya, dan telah datang dari pekerjaan yang engkau lihat, dan hampir tidak cukup waktu yang tersisa dan…

Maka dia memotong saya dan berkata: Sesungguhnya waktu bukan dalam jam; dan buktinya aku merusaknya maka waktu rusak, dan tidak ada di dalamnya hari atau jam atau detik atau menit.

Maka saya berkata: Tetapi jika engkau merusaknya, matahari yang menentukan tempat-tempat siang tidak rusak, maka akan berlalu waktu dhuhur dan tiba waktu ashar dan…

Dia berkata: Dan akan datang besok, dan sesungguhnya aku bersamamu hari ini saja… dan engkau harus bergembira bahwa engkau guru “Si Jenius Abad ke-20”, karena aku telah membaca banyak dalam sastra dan membacamu, maka tidak ada bagiku pendapat kecuali aku melihatnya untukmu… dan tidak benar di sisiku teori kecuali aku melihat engkau telah mengemukakannya, dan aku tidak meyakini sastra di Mesir kecuali apa yang kita sepakati bersama “dan aku tidak menyerah dalam perdebatan, dan perdebatan aku tidak menyerah bahwa di Mesir ada sastrawan yang memperoleh sesuatu dariku, maka dia adalah aku dan aku adalah dia”, dan jika mereka tidak tunduk kepada “Si Jenius Abad ke-20” maka hendaklah mereka ketahui bahwa mereka “menempati posisi semut di atas batu dariku… ini dari satu sisi, dan dari sisi lain aku ingin rokok dan tidak ada uang untuk membelinya”.

Maka saya berseri-seri dan bergembira, dan berkata kepadanya: Ini satu qirsh, ambillah dan belilah rokokmu, dan dalam penjagaan Allah, kemudian saya bersiap untuk berdiri, tetapi dia tidak berdiri; bahkan dia mengokohkan diri di tempat duduknya… dan saya tidak suka berubah padanya padahal saya tidak meragukan bahwa dia dalam hal ini benar penilaiannya; maka betapa cepatnya dia berkata: Sesungguhnya “Si Jenius Abad ke-20” pemuda yang kuat kemauan; maka jika dia tidak sabar tidak merokok beberapa jam maka dia bukan penyabar… dan jika tidak tetap bagimu perkara ini dari pengamatan… maka tidak aku berikan haknya.

Maka saya berkata dalam hati: Sungguh aku telah menanam orang ini dari tempat aku ingin mencabutnya, dan saya yakin bahwa dia termasuk orang gila berakal yang berubah dalam mereka emosi kadang-kadang sehingga mengilhami mereka ayat-ayat kecerdasan yang tidak terjadi yang sepertinya kecuali untuk jenius logika; dan saya ingat “Bahlul” si gila yang mereka ceritakan tentangnya bahwa Ibrahim asy-Syaibani lewat padanya sementara dia makan khabish (sejenis makanan manis) lalu berkata kepadanya: Berilah aku makan. Dia berkata: Ini bukan untukku, sesungguhnya ini untuk Atikah binti Khalifah yang mengirimkannya kepadaku untuk aku makan untuknya…

Dan mereka berkata: Sesungguhnya dia lewat di pasar penjual kain lalu melihat orang-orang berkumpul di depan pintu dan telah dilubangi, maka dia melihat ke dalamnya dan berkata: Apakah kalian tahu siapa yang melakukan ini? Mereka berkata: Tidak. Dia berkata: Maka aku tahu.

Maka mereka berkata: Ini orang gila yang melihat mereka di malam hari dan mereka tidak menghindar darinya, maka berlakulah baik kepadanya mudah-mudahan dia memberitahu kalian. Kemudian mereka berkata: Beritahu kami. Dia berkata: Aku lapar. Maka mereka membawakan makanan yang baik dan manisan; ketika dia kenyang dia berdiri lalu melihat ke dalam lubang dan berkata: Ini pekerjaan pencuri…

Dan majalah “ar-Risalah” ada di tangan “Si Jenius Abad ke-20”, maka dia menyambung pembicaraan dengannya dan berkata: Sesungguhnya dia membaca semua artikel-artikelku, dan sesungguhnya dia dan sesungguhnya dia, dan sesungguhnya dia dan sesungguhnya dia. Saya berkata: Maka apa yang engkau anggap bagus darinya? Dia berkata: “Artikel Sima”…

Maka saya berkata: Kapan terakhir kali engkau melihat Sima? Dia berkata: Kemarin.

Saya berkata: Maka aku tidak menulis artikel tentang Sima, tetapi engkau kagum dengan apa yang engkau lihat kemarin lalu berubah apa yang engkau lihat menjadi mimpi dalam artikel.

Maka dia senang dengan takwil ini dan berkata: Dengan seperti ini aku “Si Jenius Abad ke-20”, maka aku membaca artikelmu dalam gaib sebelum engkau menulisnya…

Saya berkata: Sesungguhnya engkau banyak berkata tentang dirimu “Si Jenius Abad ke-20”, dan ini membatasi kejeniusanmu dalam abad tertentu; maka seandainya engkau memotong kata dan berkata: “Si Jenius Abad”, maka benar bahwa engkau menjadi jenius abad ke-19 dan ke-18, dan sebelumnya serta sesudahnya.

Maka saya melihat padanya kebingungan seolah-olah dia berpikir dalam kegilaannya, kemudian dia sadar dan berkata: Tidak. Tidak; dan sesungguhnya di sini ada tempat perenungan, maka seandainya aku rela dengan jenius abad saja, maka akan datang orang yang berkata: Sesungguhnya aku jenius abad domba…

Maka saya berkata dalam hati: Lumpur yang mengalir dengan air, dan sesungguhnya bisikan-bisikan ini tidak berhenti menggoda si malang ini selama dia menemukan orang yang berbicara dengannya; dan pikiran-pikiran dalam kepalanya berkumpul bercampur mengalir seolah-olah revolusi kata-kata yang tidak ada aturannya, maka biarlah aku diam tentangnya dan biarlah aku sibukkan diri dengan apa yang ada di hadapanku.

Dan saya diam dan berpaling darinya; maka dia menjadi terkena serangan gelisah, dan seolah-olah kesunyian telah menguasai pikiran-pikirannya atasnya, dan seolah-olah pikiran-pikiran itu mulai berteriak kepadanya di kepalanya seperti anak-anak jalanan berteriak kepada orang gila, mereka tidak berhenti darinya sampai mereka membuatnya marah dan kehilangan sisa kesabaran dan akalnya bersama-sama. Maka “Si Jenius Abad ke-20” marah dan kemarahan memindahkannya ke keadaan di mana matanya menjadi dingin, dan wajahnya cemberut sampai saya takut kegilaan akan meledak padanya, maka saya menghadapnya dan beralasan dengan bertanya kepadanya: Apakah engkau punya saudara? Apakah tidak ada jenius di antara mereka?

Dia berkata: Sesungguhnya dia punya saudara yang menyiksanya, dan memukuli dia, dan menyusahkannya dengan rantai, dan mengikatnya “dengan tali rami pada batu yang keras”, dan sesungguhnya dia menurunkan kepadanya siksaan yang seandainya dia turunkan pada batu pasti akan merasa sakit.

Saya berkata: Maka engkau memerlukan istirahat, dan baik bagimu untuk berlindung ke tempat di mana engkau bisa berbaring.

Dia berkata: Sesungguhnya aku akan pergi dan akan duduk di kafe begini “ini dari satu sisi, dan dari sisi lain tidak ada padaku uang untuk kopi”.

Saya berkata: Maka ini satu qirsh engkau bayarkan sebagai harganya, maka pergilah dan nikmatilah kopi dan rokok dan istirahat di kafe itu, karena tempat di sini banyak kebisingan dan gerakan. Dan saya bersiap untuk berdiri; tetapi dia tidak bergerak dari tempat duduknya.

Kemudian dia berkata: Aku melihatmu sekarang yakin bahwa aku “Si Jenius Abad ke-20” yang asli.

Saya berkata: Bahkan dengan mata kanan dan kirinya bersama-sama…

Dia berkata: Tidak. Tidak; sesungguhnya engkau lupa bahwa orang Arab berkata dalam penekanan: matanya dan dirinya dan zatnya. “Yaitu aku jenius abad ke-20 dengan matanya dan dirinya dan zatnya, maka tidak ada selain aku jenius abad ke-20”.

Dan hampir saja jiwaku keluar karena kesal, tetapi saya melihat kesabaran terhadap orang seperti ini berjalan seperti sedekah; dan saya berkata: Sesungguhnya sastrawan orang gila sering kali mereka berhasil menciptakan hal yang menarik jika mereka menjelaskan sesuatu, seperti pendongeng yang bercerita kepada orang awam tentang kisah Yusuf alaihissalam lalu berkata kepada mereka dalam apa yang dia katakan: Sesungguhnya serigala yang memakan Yusuf namanya begini, maka mereka menjawabnya: Sesungguhnya Yusuf tidak dimakan serigala. Dia berkata: Maka ini nama serigala yang tidak memakan Yusuf.

Maka saya berkata kepada si gila: Maka apa alasan menurutmu bahwa orang Arab tidak berkata dalam penekanan: matanya dan telinganya dan hidungnya dan mulutnya dan tangannya dan kakinya?

Maka dia melihat dengan pandangan ke udara kemudian berkata: Mereka bukan orang gila sehingga mencampur pencampuran ini, jika tidak wajib mereka berkata selain itu: dan serbannya dan bajunya dan sandalnya dan untanya dan kambingnya dan dirhamnya. “Ini dari satu sisi, dan dari sisi lain tidak ada padaku ongkos kendaraan ke negeriku yaitu dua qirsh”.

Saya berkata: Ini ongkos kendaraan dan selamat jalan, dan saya berdiri; tetapi dia tidak bergerak.

Kemudian dia berkata: Sesungguhnya engkau belum tahu bahwa “aku berkata syair dalam ghazal dan nasib dan pujian dan hinaan dan kebanggaan; dan sesungguhnya aku dalam pidato seperti Quss bin Sa’idah atau Aktham bin Shaifi, dan sesungguhnya aku batu yang tidak meledak… kering yang tidak diperas, aku bukan seperti al-Hajjaj tetapi seperti Umar”.

Saya berkata: Ini hal yang panjang antara kita dan tidak ada kebutuhan bagimu dengan semua bukti ini, karena aku telah beriman bahwa engkau jenius abad ke-20 dalam sastra dan syair dan pidato dan surat-menyurat.

Dia berkata: Dan filsafat?

Saya berkata: Dan filsafat dan setiap yang masuk akal dan yang dinukil; dan kita telah selesai atas itu.

Dia berkata: Tetapi engkau menganggapku gila atau sakit “sebagaimana surat kabar menganggapku yang mengklaim bahwa menghilangnya aku di bimaristan adalah karena kegilaan pikiranku atau karena kecerdasanku yang alami, dan ini yang benar… maka jelaskan kepada surat kabar ini bahwa aku telah keluar, dan bahwa aku akan mencetak sastra dengan cetakan baru”.

Saya berkata: Tetapi aku bukan koresponden surat kabar. Dia berkata: “Maka jadikan aku surat dan berkirim surat tentang aku atau aku tulis untukmu apa yang engkau kirim, dan aku tidak datang kepadamu kecuali untuk ini; dan wajib engkau menghubungkanku dengan surat kabar besar, dan surat kabar ini semuanya mengenalku, dan telah membahasku dari semua sisi sastra; apalagi aku penulis yang luar biasa, dan orator yang luar biasa, dan penyair yang luar biasa, dan ini sedikit dari banyak, maka apakah aku bergantung kepadamu dalam hubunganku dengan surat kabar atau tidak?”.

Saya berkata: Sesungguhnya engkau mengenal mereka dan mereka mengenalmu, dan engkau telah menguji mereka dan mereka menguji darimu, maka engkau tidak memerlukan aku pada mereka. Dia berkata: Sesungguhnya mereka takut keganasanku, dan telah menganggapku gila yang tergoda setan; dan mereka tidak tahu bahwa setan syair yang menggodaku, sebagaimana setan cinta yang menggodamu… ini dari satu sisi, dan dari sisi lain tidak ada padaku uang untuk makan siang, dan aku tidak membebanimu sesuatu…”.

Saya berkata: Maka ini satu qirsh untuk makan siang di restoran rakyat, dan mereka sekarang sedang makan siang dan hampir jika engkau terlambat engkau akan menemui mereka telah menghabiskan makanan, dan engkau tidak mengabaikan bahwa qirsh di restoran rakyat adalah dua qirsh nilainya.

Dia berkata: Benar; hampir aku menemui mereka telah selesai dari makanan mereka dan mencuci piring. Maka biarlah aku simpan ini untuk makan malam dan aku akan berpuasa sampai malam.

Saya berkata: Maka bersamamu sekarang uang rokok, dan kopi, dan makan siang, dan ongkos kendaraan ke negerimu. Dan dahulu ada jenius abad ketiga hijriah yang namanya “Thaq al-Basal” yang bernyanyi dengan satu qirath dan tidak diam kecuali dengan satu daniq. Ini dari satu sisi, dan dari sisi lain ambillah qirsh ini sebagai harga diammu dan pergilah.

Maka hal itu menyusahkannya dan dia berdiri dengan marah dan aku menghela napas panjang setelahnya… dan aku membuka jendela dan menyambut udara bersih dan mulai olah raga pernapasan dalam, kemudian mataku menyimpang ke pintu; ternyata “Si Jenius Abad ke-20” datang dengan jenius abad yang lain…

 

 

Si Gila “2”

Aku melihat dua orang gila masuk bersama-sama, seolah-olah mereka menutup pintu dan menyatukannya dengan dinding, meninggalkan ruangan sebagai tembok kokoh tanpa pintu sama sekali. Hal ini membuatku merasa sesak dan sempit. Aku berkata dalam hati: “Tidak ada jalan bagi akal sehat di antara kedua orang ini kecuali membantu keduanya untuk saling menghadapi, maka sebaiknya aku biarkan mereka dan aku sendiri yang mengatur mereka. Barangkali dari pertemuan dua orang gila ini akan muncul hal-hal unik yang tidak akan muncul dari dua orang berakal sehat yang bertemu untuk menciptakannya. Namun aku khawatir bahwa akulah yang sebenarnya gila di antara mereka, dan aku tidak aman kalau-kalau salah satu dari mereka menyerang yang lain ketika bisikan setan menggodanya. Maka aku memutuskan harus ada yang membantu menghadapi mereka, jika bukan untuk membantu setidaknya untuk memperpanjang kesabaran…”

Dan kebetulan ada teman dekat “A.Sy” tidak jauh dariku, maka aku mengirim seseorang memanggilnya.

Adapun si gila kedua yang dibawa oleh “jenius abad ke-20” ini, aku pernah melihatnya sebelumnya. Dia seperti buku yang halaman-halamannya tercampur aduk satu sama lain, saling bertumpang tindih dan susunannya rusak, sehingga ilmu yang ada di dalamnya berubah menjadi kebodohan dan kekacauan. Pembicaraannya melompat setelah setiap halaman ke halaman asing yang tidak ada hubungannya dengan sebelum atau sesudahnya.

Dia adalah seorang mahasiswa Al-Azhar yang obsesi terbesarnya adalah menjadi hafiz seperti para hafiz terdahulu dari kalangan perawi dan ahli fiqih. Maka dia mulai menghafal kitab demi kitab dan matan demi matan. Dia memiliki telinga yang tajam, sehingga setiap pelajaran, hadits, atau berita yang masuk ke telinganya, turun seperti ketikan pada mesin ketik, tercetak di pikirannya seperti tulisan yang tidak terhapus dan tidak terlupa.

Kemudian dia tertimpa kegilaan ini ketika sedang menghafal matan fiqih Syafi’i (semoga Allah meridhainya). Dia menghabiskan bertahun-tahun untuk menghafalnya, setiap kali sampai di akhir, dia lupa dari awal. Maka dia kembali menghafalnya, kadang-kadang dia berhasil mengingat bagian demi bagian, tetapi ketika sampai di akhir, dia tidak menemukan bagian awal bersamanya. Begitulah kebiasaannya, tidak pernah bosan dan tidak menemukan makna dari penderitaan ini, terus menghadapi buku itu untuk mengumpulkannya, namun buku itu terus tercerai berai dalam ingatannya.

Dia meninggalkan lembaga tempat dia belajar dan menyendiri di rumahnya untuk menghafal. Dia bertekad tidak akan meninggalkan matan ini atau menghafalnya, seolah-olah di dalamnya ada tempat di mana akalnya berpisah dengannya. Dengan demikian, si malang itu menjadi mesin hafalan yang tidak memiliki pegangan, dan menjadi seperti orang yang mengangkat air dari laut, lalu melemparkannya kembali ke laut, untuk mengeringkan laut…

Dan “A.Sy” datang, maka aku berkata kepadanya sambil menunjuk si gila pertama: “Ini jenius abad ke-20.”

Dia berkata: “Apakah abad ke-20 sudah berakhir sehingga bisa diketahui siapa jeniusnya?”

Maka aku berkata kepada si gila: “Jawab dia sendiri.” Lalu dia bertanya: “Apakah abad ke-21 sudah dimulai?”

Dia menjawab: “Tidak.”

Dia berkata: “Maka orang yang di sampingku ini adalah jenius abad ke-21… Sebagaimana diperbolehkan dia menjadi jenius abad yang belum dimulai, diperbolehkan pula aku menjadi jenius abad yang belum berakhir.”

Aku berkata: “Tapi kamu menambah kerumitan masalah padahal kamu mengira menyelesaikannya. Bagaimana mungkin dia bersamamu di saat yang sama padahal antara kalian ada jarak enam puluh lima tahun?”

Maka dia menatap ke angkasa, dan setiap kali dia menginginkan sesuatu yang sulit, dia menatap ke ketiadaan.

Kemudian dia berkata: “Hal-hal ini tidak membingungkan kecuali bagi yang tidak berakal… Bagaimana tidak ada enam puluh lima tahun antara aku dan dia padahal aku mendahuluinya dalam kejeniusan lebih dari ilmu para ulama dalam enam puluh lima tahun?”

Aku berkata kepada yang lain: “Benarkah begitu?”

Dia berkata: “Dari apa yang kami hafal dari Al-Hasan: Kami mendapati suatu kaum yang jika kalian melihat mereka, kalian akan berkata: orang-orang gila. Dan jika mereka mendapati kalian, mereka akan berkata: setan-setan.”

Maka yang pertama tertawa dan berkata: “Dia muridku.”

Yang kedua berkata: “Dia benar, dia memang guruku, tetapi ketika dia lupa, tidak ada yang mengingatkannya selain aku…”

Aku berkata: “Tidak heran, karena dari apa yang kami hafal dari Az-Zuhri: Jika kamu mengingkari akalmu, maka ujilah dengan orang yang berakal…”

Maka jenius abad ke-20 marah dan berkata: “Celakalah orang bodoh, dungu, pengingkar keutamaan ini! Dengan kegilaannya dan kebodohannya, apakah dia menyebutku padahal dia sudah sekian dan sekian tahun menghafal satu matan yang tidak bisa dipegang oleh akalnya kecuali seperti saringan memegang air? Benar, demi Allah, orang yang berkata: musuh yang berakal lebih baik, lebih baik, lebih baik…”

Yang kedua berkata: “…lebih baik dari teman yang bodoh. Lihat, aku telah mengingatkanmu dari kelupaan, dan lihat, kamu telah melihat.”

Maka si jenius tertawa dan berkata: “Tapi aku tidak bermaksud mengatakan itu, melainkan aku ingin menyusun kalimat lain… musuh yang berakal lebih baik, lebih baik, lebih baik, lebih baik dari orang gila yang bodoh…”

Aku melihat bahwa dalam pertemuan dua orang gila ada sesuatu yang menarik selain kegilaan mereka, dan aku yakin bahwa satu orang gila adalah orang gila. Adapun dua orang, dari pertemuan dan percakapan mereka bisa menjadi seni menarik dari sandiwara, jika ada yang mengarahkan mereka dalam pembicaraan, mengeluarkan apa yang ada pada mereka, dan mengungkap kisah akal mereka…

Aku tidak tahu bahwa “jenius abad ke-20” termasuk orang-orang gila yang memiliki telinga selain telinga, mata selain mata, dan hidung selain hidung. Otak mereka menerima suara-suara, bayangan-bayangan, dan bau-bauan dari diri mereka sendiri bukan dari kenyataan, dan mereka menangkapnya dengan ilusi bukan dengan indera. Maka khayalan mereka tercipta ciptaan demi ciptaan, dan ketika sebuah kata dari kalimat terlintas di pikiran salah satu dari mereka, maka keluarlah maknanya berbicara di otaknya atau berjalan atau memujuknya atau menyakitinya atau melakukan perbuatan-perbuatan lain.

Sementara aku sedang memutar pikiran untuk mengeluarkan episode sandiwara dari dialog antara dua orang gila ini, tiba-tiba “jenius abad ke-20” berkata: “Diam, bel telepon berbunyi.”

“A.Sy” berkata: “Aku tidak mendengar suara, dan tidak ada telepon di sini.”

Maka si gila yang lain marah dan berkata: “Kamu lancang kepada para jenius padahal kamu bukan dari kaliber mereka. Pekerjaanmu hanya mengingkari, dan pengingkaran, celakalah kamu, adalah hal termudah bagi orang-orang gila dan yang menyerupai orang gila, dan orang awam serta yang menyerupai orang awam. Kamu tadi mengingkari kejeniusannya, dan sekarang aku lihat kamu mengingkari telefonnya…”

“A.Sy” berkata: “Di mana teleponnya padahal ini ruangan yang kita lihat dengan mata kepala sendiri?”

Maka “jenius abad ke-20” tertawa dan berkata: “Diam, celakalah kamu, kamu telah mengacaukan pikiranku. Bel berbunyi lagi, dan aku tidak mau bicara dengannya sampai dia menunggu lama, sampai berbunyi tiga kali, dan aku khawatir dia sudah berbunyi yang ketiga dan bunyinya hilang dalam suaramu dan kebisinganmu…”

Si gila yang lain berkata: “Dia kekasihnya yang dicintai dan mencintainya. Dia telah membuatnya tergila-gila dan terpesona dan bingung dan gila, sampai dia tidak sabar berpisah dengannya. Maka dia memasang telepon di kepalanya…”

“Si Jenius” berkata: “Dan telepon ini tidak hanya membuatku mendengar suaranya, tetapi juga mencium aromanya. Malaikat kadang-kadang berbicara denganku melaluinya, dan aku marah pada kekasih ini karena dia cemburu dan takut kekuatannya pada mereka yang dia cemburui. Kalau bukan karena itu, salah satu bidadari surga akan bicara denganku melalui telepon ini…”

Kami berkata: “Apakah bidadari surga cemburu padanya?”

Si gila kedua berkata: “Bahkan lebih dari itu, bidadari surga mencacinya dan melaknatnya. Dari apa yang kami hafal, hadits ini: ‘Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia melainkan istrinya dari bidadari surga berkata: Jangan sakiti dia, semoga Allah membunuhmu, karena dia hanya tamu di sisimu yang akan segera berpisah darimu kepada kami.'”

“Jenius abad ke-20” berkata: “Celakalah si gila ini, dia ingin mengosongkan tempatku untuknya, maka dia mengharapkan kehancuranku dan kepindahanku segera di dunia ini. Dia bicara tanpa ilmu karena dia bodoh yang tidak memiliki ikatan akal, lalu menyangka dia menyakitiku. Kalau dia menyakitiku, aku akan marah sebelum itu, dan kalau aku marah, aku akan menutup telepon. Diam, bel berbunyi.”

“A.Sy” berkata: “Para jenius memang punya urusan yang aneh. Di provinsi Syarkiyah ada seorang jenius yang istrinya meninggal dan meninggalkan seorang anak laki-laki, lalu dia menikah lagi dan tinggal di rumah ayahnya. Ketika Idul Adha, dia meminta uang pada ayahnya untuk membeli hewan kurban tetapi tidak diberi. Dia seorang hafiz Quran, lalu teringat Ibrahim alaihissalam dan mimpinya bahwa dia menyembelih anaknya. Maka terbayangkan padanya bahwa ini adalah pintu menuju kenabian, dan bahwa Allah telah memberi wahyu kepadanya. Maka dia mengambil anak itu di pagi hari Idul Adha dan hendak menyembelihnya, kalau saja anak itu tidak berteriak sehingga orang-orang datang menyelamatkannya…”

“Jenius abad ke-20” berkata: “Ini orang gila bukan jenius, bahkan ini dari golongan orang gila yang bodoh, bahkan dia gila sendirian. Aku pernah melihatnya di rumah sakit jiwa ketika aku di rumah sakit… Dia menyangka bahwa dia diperintah menyembelih anaknya atas kehendak Allah. Kalau itu kehendak Allah, pasti terlaksana dengan penyembelihan, dan kalau itu wahyu, pasti turun dari langit seekor domba untuk disembelihnya… Begitulah aku dalam logika, ‘jenius abad ke-20’.”

Kemudian dia menunjuk si gila kedua dan berkata: “Dan aku mendahului dia dalam kejeniusan lebih dari ilmu para ulama dalam enam puluh lima tahun penuh.”

Aku berkata: “Tapi kamu sudah menyebutkan ini sebelumnya, mengapa mengulanginya sekarang?”

Dia berkata: “Sebabnya telah berubah maka berubah pula makna kalimat. Ternyata dia mengharapkan kehancuranku agar dia menjadi jenius abad ke-20. Maka makna kalimat sekarang adalah: seandainya dia hidup enam puluh lima tahun ‘menghafal matan’, dia tidak akan mencapai tingkatku dalam ilmu. Orang ini separuhnya mati karena kegilaan dengan kematian sesungguhnya, dan separuh lainnya mati karena kebodohan dengan kematian maknawi.”

“A.Sy” berkata: “Cukuplah dia menirumu seperti orang awam meniru imamnya dalam shalat, mudah-mudahan kamu tidak keberatan karena dia muridmu.”

Si gila kedua berkata: “Dari apa yang kami hafal: Seandainya akal digambarkan, malam akan terang bersamanya, dan seandainya kebodohan digambarkan, siang akan gelap bersamanya… Jenius abad ke-20 ini tidak tahu cara shalat, dia beberapa hari lalu berdiri shalat dengan syair… Ketika aku melihatnya lupa lalu mengingatkannya dan memberitahu bahwa shalat tidak boleh dengan syair, dia menoleh kepadaku dalam keadaan rukuk lalu mencaciku dan memarahiku dan berteriak: ‘Apa urusanmu denganku? Apakah aku shalat untukmu?'”

Maka “Si Jenius” marah dan berkata: “Demi Allah, kalian menganggapku gila sehingga ingin si bodoh ini meniruku padahal dia tidak punya pendapat yang bisa dipegang. Kalau bukan karena itu, kalian tidak akan berpikir bahwa meniruku adalah hal mudah yang mungkin, dan kalian akan tahu bahwa jenius abad ke-20 sendiri tidak mampu meniru jenius abad ke-20.”

Kami berkata: “Ini aneh, bagaimana bisa begitu?”

Maka dia tertawa dan berkata: “Aku tidak menganggap kalian cerdas kecuali jika kalian memahami bagaimana itu terjadi.”

“A.Sy” berkata: “Ini belum pernah diketahui sebelumnya, bagaimana kami bisa mengetahuinya? Dan tidak ada yang pernah membayangkannya, bagaimana kami bisa membayangkannya?”

Dia berkata: “Kalau kamu bukan guru jenius abad ke-20, kamu tidak akan mengetahuinya. Ini setengah dari kebenaran. Selama kamu guruku, seandainya kami berbeda pendapat, perbedaanmu denganku adalah benar karena dari kamu, dan perbedaanku denganmu adalah benar karena dari aku. Maka kamu ‘tidak salah’ dan aku benar, dan jika kami hilangkan kata ‘tidak’, aku tetap benar dan kamu menjadi salah…”

“Aku tidak melihat ‘jenius abad ke-20’ dalam mimpi, tetapi aku melihatnya di cermin di tempat tukang cukur… Aku melihatnya meniruku dalam segala hal bahkan dalam isyarat, berdiri, dan duduk, tetapi aku berteriak padanya dan mencacinya, maka dia membuka mulutnya, kemudian takut padaku dan tidak bicara…”

Dan dia menunjuk si gila yang lain dan berkata: “Dan aku mendahului dia dalam kejeniusan lebih dari ilmu para ulama dalam enam puluh lima tahun.”

“A.Sy” berkata: “Kamu sudah mengatakannya dua kali dengan makna yang sama, apa maksudmu yang ketiga ini?”

Dia berkata: “Si naif ini menyangka aku tidak tahu cara shalat, dan menjadikan bukti bahwa aku shalat dengan syair dan aku mencacinya dalam keadaan rukuk. Seandainya dia berakal, dia akan tahu bahwa caci makiku padanya saat rukuk adalah pahala untuknya… Dan seandainya dia jenius, dia akan tahu bahwa syair itu dalam pujian untuk pemerintahan Nahas Pasha dan para cendekiawan.”

Kami berkata: “Tapi syair bagaimanapun tidak boleh untuk shalat meskipun dalam pujian pemerintahan Nahas Pasha.”

Dia berkata: “Aku tidak shalat dengannya, tetapi terlintas di pikiranku saat shalat bahwa aku lupa qasidah itu, maka aku ingin memastikan bahwa aku tidak lupa… Maka aku adalah jenius abad ke-20 dalam hafalan, dan itu enam bait. Tidak seperti si dungu ini yang sabar pada matan seperti orang asing sabar pada pengasingan panjang, namun tetap tidak menghafalnya.”

“A.Sy” berkata: “Maka bacakanlah syair itu pada kami.”

Maka dia membacakan:

Wahai teman begadang, katakan padaku
Di mana orang yang bebas dari masa
Jika kau mencintai kijang
Bermata celak yang miring
Aku mencintainya tetapi
Tidak ada jalan untuk bersatu
Sejak dia pergi kukatakan pelan
Sejak dia hilang dalam khayalan
Aku gila karena Laila
Laila, wahai Laila kembalilah

Kami berkata: “Tapi ini bukan pujian.”

Maka dia tertawa dan berkata: “Aku ingin kalian tahu bahwa aku juga bisa ber-ghazal. Adapun pujian adalah:

Manusia terpesona jabatan dan angan-angan
Dan aku terpesona wahai Nahas dengan tanah air
Mereka kira hidup adalah bermegah dan bersenang
Dan aku kira untuk Allah dan tanah air

Kemudian dia terdiam. Si gila yang lain berkata: “Itu enam bait, dan kamu lupa empat, aku tidak mau mengingatkanmu.”

Maka “Si Jenius” berkata: “Kurasa sudah waktunya shalat dan aku ingin shalat…”

Dan dia menatap ketiadaan di angkasa, kemudian berkata, dan bait terakhir:

Aku tidak mengharapkan dalam pujian selain para cendekiawan
Atau Shadiq atau Syauqi atau Mithran

Kemudian dia menyuruh “A.Sy” membacakan syair itu, maka dia membacakannya. Dia berkata: “Bagus, lihat ke atas.”

Maka dia melihat ke atas, kemudian berkata: “Lihat ke bawah.”

Maka dia melihat ke bawah kemudian diam.

“A.Sy” berkata: “Terus?”

Dia berkata: “Terus, manusia melihat entah ke atas atau ke bawah…”

Dan aku sudah bosan, maka aku minta “A.Sy” untuk tinggal bersama mereka dan aku izinkan jenius abad ke-20 untuk menemuiku di klub dan aku pergi…

“A.Sy” berkata kepadaku sambil memberitahu: “Tidak lama kamu pergi sampai si gila mulai mengeluh dan merintih dan berkata: ‘Aku telah dizalimi, dan sesungguhnya Ar-Rafi’i adalah orang yang kejam dan zalim, karena aku menulis semua artikelnya yang diterbitkan di majalah Ar-Risalah… Aku mengumpulkan diriku untuknya, dan bersusah payah dalam penjelasannya, dan melelehkan akalku di dalamnya, sementara dia santai dan tenang. Dia hanya mengklaimnya dan menandatanganinya, dan mengirimnya ke majalah, kemudian dia mengambil emas dan mendapat ketenaran, dan tidak memberiku dari setiap artikel kecuali dua qirsy…'”

“A.Sy” berkata: “Apa yang menghalangimu mengirim artikel-artikel ini sendiri ke majalah sehingga kamu bisa mendapat emas?”

Dia berkata: “Ada rahasia-rahasia yang aku jaga dan sembunyikan, dan tidak pantas ada yang tahu karena itu rahasia…”

Dia berkata padanya: “Tinggalkan Ar-Rafi’i dan tulis artikel-artikel ini untukku, dan aku akan memberimu dua dinar setiap artikel, bukan dua qirsy.”

Dia berkata: “Ini rahasia dan aku tidak bisa menulis kecuali untuk Ar-Rafi’i, karena ‘jenius abad ke-20’ tidak boleh diklaim kata-katanya kecuali oleh guru jenius abad ke-20. Seandainya yang lain mengklaimnya, ini akan merendahkan derajat jenius abad ke-20, dan ini sebagian rahasia bukan semua rahasia.”

Aku berkata: “Kemudian kedua orang gila itu datang di sore hari ke klub.”

 

 

Si Gila “3”:

Dan kami bertiga berada di klub: aku, A.Sy, dan S.A*; dan aku telah menyiapkan suatu rencana yang kami sepakati untuk menggerakkan kedua orang gila ini, dan mencatat apa yang keluar dari mereka berdua. Ketika mereka berdua datang, kami mengelilingi mereka dan bersikap lembut kepada mereka, dan kami bertiga berupaya membuat mereka senang dan memuliakan mereka, hingga mereka mengira bahwa dalam kata “gila” terkandung makna kata pangeran atau putri… Dan aku melihat di mata “jenius abad kedua puluh” -yang adalah mata paling indah- sesuatu yang jika aku terjemahkan, ungkapannya tidak lain adalah bahwa dia percaya memiliki jiwa perempuan yang aku cintai… Maka dia menjadi tepat sasaran, fasih lidahnya, orang menyukai kejenakaan darinya, dan menganggap gerakannya menarik.

Dan ketika kesombongan menguasainya, dan kegilaan membutuhkan sebagaimana kecantikan membutuhkan keangkuhannya ketika mata-mata memandanginya, dia memutar pandangannya di tempat itu, lalu berkata: Ah, sialan kalian dan apa yang kalian sabari dari klub ini dalam kebisingan, keributan dan kegaduhan ini. Mereka ini tidak lain adalah campuran, sampah masyarakat dan endapan. Yang duduk di sana itu. Yang berdiri di sana itu. Yang gelisah itu. Kedua yang saling berhadapan itu. Mereka yang berkumpul itu. Semua ini adalah khayalan kenyataan di kepalaku. Apa itu? Apa itu?

Teriakan keji ini. Pukulan batu dadu ini. Kepadatan yang kami tenggelami ini. Tempat yang bergolak di sekeliling kami ini, semua ini adalah khayalan kenyataan di kepalaku. Dia, dia, dia.

Maka orang gila yang lain terguncang, dan jatuh dalam kengerian khayalnya, dan memandang kami dengan mata berputar-putar, dan merasa curiga akan kejahatan, kemudian pandangannya menyimpang ke pintu, dan dia siap siaga serta mengumpulkan dirinya untuk berdiri; ketika temannya melihat apa yang menimpanya, dia terkekeh dan memperpanjang tawanya dan berkata: Sesungguhnya yang menakuti dia adalah anak-anak dan pukulan untuk membuktikan kepada kalian bahwa dia gila…

Maka yang lain marah dan jengkel dan mulai bergumam dalam hatinya.

“Si Jenius” berkata: Apa pembicaraan yang kau dengunkan seperti dengungan lalat itu, hai si jahat? Dia berkata: “Dari apa yang kami hafal”: bahwa di antara tanda-tanda orang bodoh adalah jika dia diminta berbicara dia kasar, jika dia menangis dia meraung, jika dia tertawa dia meringkik. Seperti yang kau lakukan tadi, kau berkata: haa, huu, hii…

Maka wajah “Si Jenius” berubah, dan dia memandangnya dengan pandangan mengingkari, dan hendak menyerangnya, dan berkata: Hai orang gila, mengapa kau memaksaku untuk menjawabmu jawaban orang gila… Tidak selamat kau jika selamat dariku!

Maka A.Sy bergegas, dan menahan dia; dan S.A menghalangi di hadapannya, dan berkata kepadanya: Kau yang memulainya dan yang memulai lebih zalim.

Dia berkata: Tapi -celaka dia- bagaimana dia berkata seperti itu? Bagaimana dia tidak berkata kecuali itu? Bagaimana dia tidak menemukan kecuali itu untuk dikatakannya? Jenius abad kedua puluh bodoh, padahal Allah telah mengkhususkannya di abad kedua puluh? Aku berniat -demi Allah- untuk memecahkan yang ada di matanya; dia tidak akan berkata kecuali bahwa aku bodoh abad kedua puluh…

Aku berkata: Jika itu yang membuatmu marah kepadanya; maka dalam hadis mulia: “Tidak ada seorang pun kecuali di dalamnya ada kebodohan, dengan itu dia hidup”. Dan kehidupan itu sendiri adalah kebodohan yang teratur dengan keteraturan yang bijak; dan manusia tidak menghadapi sesuatu dari kenikmatan-kenikmatan hidup kecuali dia menghadapi sesuatu dari kebodohan-kebodohannya, dan kenikmatan yang paling menyenangkan adalah yang di dalamnya akal melayang dan keluar dari kaidahnya; seandainya tidak ada kebodohan ini dalam tabiat manusia, dia tidak akan tahan dengan tabiat kehidupan. Bukankah terkesan bagimu bahwa sebagian besarmu tidak hadir dari dunia dan sebagian kecilmu hadir di dalamnya, dan bahwa keterjaganmu yang sesungguhnya sesungguhnya dalam mimpi dan yang menyerupai mimpi, seolah-olah kau diciptakan di suatu planet dan turun darinya ke planet kita ini, maka tidak ada di dalammu untuk bumi dan tidak ada di dalamnya untukmu kecuali sedikit yang menyatu satu sama lain, dan sebagian besarmu saling bertentangan atau saling berlawanan atau saling mundur?

Dia berkata: Ya.

Aku berkata: Maka yang sedikit ini adalah kebodohan yang dengannya kau hidup, dan itu adalah kebumian bumi di dalammu; adapun kesurgaan langit maka jauh, tidak ditahan oleh tabiat bumi; karena itulah ahli hakikat hidup dengan kehidupan orang gila dalam pandangan orang sombong yang disombongkan oleh kehidupan fana, atau orang tertipu yang ditipu oleh penampakan palsu; setiap kali mereka melakukan suatu perbuatan dari perbuatan-perbuatan mulia, berakhir kepada orang bodoh dengan terbalik atau berubah atau dialihkan dengannya; dan mungkin ini penafsiran yang paling benar untuk hadis mulia: “Kebanyakan ahli surga adalah orang-orang polos”.

Orang gila yang lain berkata: “Dari apa yang kami hafal”: Kebanyakan ahli surga adalah orang-orang polos. Maka “Si Jenius” berkata: Masalah padamu adalah bahwa kau adalah kau; ketahuilah bahwa kamu dari orang-orang polos rumah sakit jiwa bukan dari orang-orang polos surga…

Aku berkata: Kemudian sesungguhnya kematian pasti datang kepada semua manusia, maka merampas dari mereka semua yang mereka peroleh dari dunia, dan menyamakan yang memperoleh dengan yang tidak memperoleh; siapa yang senang memperoleh apa yang tidak kekal baginya, kecuali kesenangannya dari kebodohannya? Dan siapa yang sedih karena terlewatkan apa yang tidak kekal baginya, kecuali kesedihannya adalah kebodohan lain? Dan apa sesuatu dalam cinta setelah cinta berlalu kecuali bahwa itu adalah kebodohan yang memukul semua indra memenuhi jiwa; kemudian memenuhi jiwa hingga meluap pada waktu; kemudian meluap pada waktu hingga membuat si pecinta gila dengan kegilaan yang lezat yang di dalamnya hal-hal mengecil dan membesar, dan menjadikan kenyataan dalam jiwa berbeda dengan kenyataan di dunianya? Setiap pecinta menyerupakan kekasihnya dengan bulan, jika bulan mendengar ini dan memahaminya dan bermaksud menjawabnya, apa yang mungkin dikatakannya kecuali heran pada kebodohan dalam perumpamaan ini?

Maka “Si Jenius” tenang dan amarahnya reda dan berkata: Kau benar, karena itu aku tidak menyerupakan kekasihku dengan bulan.

Aku berkata: Dengan apa kau menyerupakannya?

Dia berkata: Tidak akan aku katakan kepadamu hingga aku tahu dengan apa kau menyerupakan kekasihmu. Aku berkata: Dan aku juga demikian tidak menyerupakannya dengan bulan.

Dia berkata: Dengan apa kau menyerupakannya? Aku berkata: Hingga aku tahu dengan apa kau menyerupakan…

Dia berkata: Ini tidak bisa diterima darimu sedangkan kau guru “jenius abad kedua puluh”, dan kau memiliki banyak kekasih sejumlah buku-bukumu, dan telah memukau aku di antara mereka yang ada dalam “Helai-helai Mawar”, dan aku kira kau mencintainya di bulan Mei tahun… tahun…

Orang gila yang lain berkata: Dari tahun 1935; itu aku telah mengingatkanmu.

Dia berkata: Celaka kau! Sesungguhnya “Helai-helai Mawar” terbit beberapa tahun lalu, sesungguhnya kau dari orang-orang polos rumah sakit jiwa bukan dari orang-orang polos helai-helai mawar… Apa yang sedang aku katakan?

A.Sy berkata: Kau sedang berkata: Ini tidak bisa diterima darimu dan kau memiliki banyak kekasih.

Dia berkata: Ya, karena jika kau menyerupakan salah satu dari mereka dengan bulan, bulan berakhir dan perumpamaan selesai maka yang lain-lain tetap tanpa bulan… Kemudian sesungguhnya kata bulan tidak menyenangkan aku, warnanya gelap berdebu terkadang mengarah ke hitam… Jika aku mencintai wanita kulit hitam maka di sinilah tempat perumpamaan dengan bulan… Adapun yang berkulit putih bersih maka menyerupakan mereka dengan bulan adalah kerusakan selera.

S.A berkata: Dan kata-kata memiliki warna menurutmu?

Dia berkata: Seandainya kau jenius pasti kau melihat di dalam dirimu khayalan-khayalan dari surga; bukankah guru kita tadi berkata tentang “jenius abad kedua puluh”: bahwa dia turun dari planet ke planet? Maka di planet pertama kita, kita memiliki pendengaran berwarna; dan perasaan berwarna, kita mendengar pukulan gendang biru, tiupan terompet merah, dering nada indah hijau, dan seluruh wujud adalah gambar-gambar berwarna, baik yang terlihat maupun yang dirasakan, yang tersembunyi maupun yang tampak.

Kemudian dia menunjuk orang gila yang lain dan berkata: Dan nama si bodoh ini seperti lafal tinta, aku tidak mendengarnya kecuali hitam.

Dan “Si Jenius” diam dan kami diam; maka S.A berkata kepadanya: Mengapa kau tidak berbicara? Dia berkata: Karena aku ingin diam. Dia berkata: Mengapa kau ingin diam? Dia berkata: Karena aku tidak ingin berbicara.

Dan dalam dirinya bergerak kemarahan kepada orang gila yang lain, maka dia melempar pandangannya ke angkasa memandang ketiadaan dan berkata: Jika semua perempuan menjadi berjanggut maka orang ini menjadi berakal… Maka yang lain mengetuk dengan kakinya ketukan-ketukan terhitung; maka “Si Jenius” bangkit dan berkata: Siapa ini yang mencaci aku?

S.A berkata: Tidak ada yang mencaci mu, ini hanya kaki mengetuk tanah.

Dia berkata: Bahkan si jahat ini mencaci aku, dan pendengaranku tidak pernah bohong kepadaku, dan aku orang yang banyak prasangka, aku berprasangka buruk kepada setiap orang, dan tanda orang bijak “berakal” adalah prasangka buruknya kepada manusia. Anggaplah seperti yang kau katakan dia mengetuk dengan sepatunya, atau memukul dengan kakinya; apa yang dia maksudkan dari itu, dan aku mendengar apa yang dia maksudkan. Puisi telah meluap di hatiku maka aku harus menghujatnya, dan aku harus menyembelihnya walau dengan kata-kata, karena jika aku menghujatnya aku melihat darahnya dalam kata-kataku, dan aku ingin menjadikannya seperti kambing betina yang ada pada kami dan kami sembelih.

Kemudian dia merebut pena S.A, dan berkata: Ini adalah pisaunya. Tetapi aku meminta kepadamu wahai guruku agar kau menyembelihnya dengan dua kata dan menggambarkan kegilaannya, karena puisi telah hilang dariku… Sesungguhnya ketukan kaki di tanah membuat kelinci-kelinci terbang ketakutan; maka mereka lari ke lubang-lubang mereka dan berhamburan, dan bait-bait puisi di benakku tidak lain adalah kelinci.

Kalian tidak tahu bahwa siapa yang cerdas teguh sepertiku, adalah halus perasaan; dan siapa yang bodoh berat seperti ini, adalah tumpul perasaan kasar tebal; jika aku merasakan dingin aku melihat diriku telah bepergian ke kutub utara; adapun orang gila ini maka jika dia merasakan dingin dia bepergian ke jubah atau selimutnya… karena dia tidak mengenal geografi, dan tidak tahu apa perluasannya.

Aku berkata: Ini darimu lebih jenaka dari anekdot Abu al-Harits. Dia berkata: Apa anekdot Abu al-Harits? Apakah dia jenius?

Aku berkata: Dia duduk makan siang dengan Rasyid dan Isa bin Ja’far, maka dibawa nampan berisi tiga roti, Abu al-Harits memakan rotinya sebelum mereka berdua, dan Rasyid adalah raja besar, tidak makan seperti orang lapar, tetapi hanya menyobek dari sini dan sana; maka rotinya masih tersisa; Abu al-Harits tiba-tiba berteriak: Wahai pelayan, kudaku. Rasyid terkejut dan berkata: Celaka kau, ada apa? Dia berkata: Aku ingin naik ke roti yang di hadapanmu ini…

“Si Jenius” berkata: Tetapi ada perbedaan antara Abu al-Harits dengan “jenius abad kedua puluh”, karena di antara keajaiban adalah aku terkadang memandang orang yang sedang makan maka aku merasa kenyang, hingga seolah-olah dia makan dengan perutku bukan dengan perutnya, tetapi di antara keajaiban bahwa ini tidak pernah terjadi padaku ketika aku lapar…

Adapun orang gila yang di hadapan kami ini, mungkin dia melihat keledai di punggungnya ada beban, maka dia merasa seolah-olah beban di punggungnya dia bukan di punggung keledai.

Yang lain berkata: “Dari apa yang kami hafal” bahwa dicuri keledai seorang badui, maka ditanya kepadanya: apakah keledaimu dicuri? Dia berkata: Ya, dan aku memuji Allah. Ditanya kepadanya: atas apa kau memujinya? Dia berkata: karena aku tidak sedang menungganginya ketika dicuri… Maka aku jika melihat keledai yang punggungnya terbebani, aku memuji Allah karena beban itu tidak ada padaku, bukan seperti yang dikatakan orang ini. Kemudian dia mengetuk dengan kakinya ketukan-ketukan…

Maka “Si Jenius” sangat marah dan berkata: Apakah kalian mendengar bagaimana dia berkata aku gila, kemudian tidak cukup dengan ini tetapi berkata aku keledai yang di punggungnya ada beban?

Aku berkata: Seharusnya kalian bertenggang rasa, dan ini tidak mencela mu darinya dan tidak mencela dia darimu, karena dari kerendahan hati “para jenius” adalah mereka merasakan kesengsaraan hewan, jika mereka merasakan kesengsaraannya maka masuk kepada mereka belas kasihan untuknya, jika masuk kepada mereka belas kasihan maka khayalan beban menjadi beban di hati mereka yang lembut; dan mungkin mereka berbuat lebih dari itu: al-Jahiz menceritakan dari Tsamama berkata: Ada seorang “jenius” yang datang ke saluran air kami di waktu sahur; dia tidak berhenti berjalan dengan binatangnya pergi dan pulang dalam panas terik di hari-hari panas, dan dalam dingin di hari-hari dingin, jika sore dia berwudu dan berkata: Ya Allah, buatlah untuk kami dari kesusahan ini jalan keluar dan pintu keluar, demikian terus hingga dia mati!

Orang gila yang lain berkata: “Dari apa yang kami hafal”: Buah dunia adalah kegembiraan, dan tidak ada kegembiraan bagi orang berakal, seandainya orang ini bukan paling berakal dari orang berakal pasti kegembiraan di dunia tidak lenyap dari dia sampai mati dengan sedih, semoga Allah merahmatnya!

S.A berkata: Maka maafkanlah sekarang temanmu dan jangan sembelih dia dengan hujatan.

Dia berkata: Sungguh kau telah mengingatkan aku dari lupa, dan orang gila ini melihat lupaku dari penyakit akalku, padahal seharusnya -jika dia terbimbing kepada kebenaran- melihatnya sebagai keanehan dalam akal, yaitu kejeniusan besar seperti kejeniusan filosof yang ingin memastikan berapa lama waktu merebus telur; maka dia mengambil dengan tangannya jam dan dengan tangan lainnya telur, kemudian lupa dengan lupa kejeniusan, maka melempar jam ke dalam air di atas api, dan matanya tertuju pada telur memandangnya seolah-olah itu adalah jam. Seandainya si bodoh ini melihatnya pasti menganggapnya gila sebagaimana menganggap aku, karena orang gila melihat orang berakal sakit dengan bakat dan pekerjaan mereka yang mereka kerjakan.

Dan aku, tidak ada yang membuat aku marah sebagaimana tiga kata ini membuatku marah: jika dikatakan kepadaku: gila, atau bodoh, atau tolol. Siapa yang ingin berteman denganku maka hendaklah menghindari ketiga ini sebagaimana menghindari kekafiran dan kekafiran dan kekafiran…

A.Sy berkata: Jika dikatakan kepadamu misalnya, misalnya, yaitu sebagai contoh: lengah.

Maka dia menggaruk kepalanya sedikit dan berkata: Tidak, ini bukan dari martabatku.

Aku berkata: Maka sebagian kata jika dipotong menurutmu mengubah hakikat, seperti tanduk yang dipotong menjadikan sapi menjadi kuda?

Dia berkata: Bagaimana itu?

Aku berkata: Mereka bercerita bahwa seorang badui keluar bersama saudara-saudaranya membeli kuda, maka dia keluar bersama mereka lalu datang dengan membawa anak sapi; ditanya kepadanya: Apa ini? Dia berkata: Kuda yang aku beli. Mereka berkata: Wahai bodoh ini sapi, tidakkah kau lihat tanduknya? Maka dia pulang ke rumahnya lalu memotong tanduknya, kemudian membawanya kepada mereka dan berkata: Aku telah menjadikannya kuda sebagaimana kalian inginkan.

“Si Jenius” berkata: Ini tidak jauh, karena aku pernah melihat kami ketika menyembelih kambing betina dan mematahkan tanduknya kami menjadikannya anjing hitam, maka aku jijik dengannya dan enggan dagingnya dan tidak makan darinya.

Kemudian dia menunjuk yang lain dan berkata: Orang ini tidak tahu apa perluasannya, dan dia seperti kambing betina: mengira tanduknya untuk berperang dan menanduk dan darinya dipegang untuk disembelih; katakanlah tentang orang ini wahai guru “jenius abad kedua puluh”.

Aku berkata kepada yang lain: Apakah kau rela aku berkata dalam makna bukan tentang mu? Dia berkata: Ya. Maka aku tulis bait-bait ini atas keinginan Si Jenius:

Katakan kepada kambing betina yang menanduknya… untuk berperang kotoran dia Mengapa dia membuangnya… di tangan penyembelihnya? Sifat dariku meluruskannya… akal tertipu maka dia berhasil Tidak tahu apa perluasannya… bahkan melihat matahari siangnya Batu seperti batu giling… dan melihat malam menghapusnya Kegelapan panjang jenggotnya

Dan “Si Jenius” senang dan bangga, dan berkata: Panjang jenggotnya, panjang jenggotnya, dan ini tidak lain adalah kegembiraan kecil; adapun kegembiraan besarnya maka datangnya petugas “pos kilat” ke klub, dan di tangannya surat yang alamatnya: Jenius abad kedua puluh si fulan, di klub begini.

Dan orang itu berteriak dengan alamat menanyakan pemiliknya; maka leher-leher orang memanjang, dan mereka mengangkat pandangan memandang “jenius abad kedua puluh” yang telah mengulurkan tangannya mengambil surat seolah-olah dia raja dari zaman dahulu yang dijatuhkan untuknya surat dengan kemenangan besar dan menggabungkan negara kepada negaranya.

Kemudian dia membiarkan surat di antara jari-jarinya membalik-balik dan tidak membukanya dan kami dalam keheranan dari urusannya; maka orang gila itu memandang surat dan berkata kepadanya: Ini aneh wahai saudaraku, bagaimana ini? Sesungguhnya ini tidak dapat dipercaya; sesungguhnya kau tidak memasukkannya ke kotak pos kecuali sejak satu jam…

*Nama-nama dalam teks asli disingkat untuk menjaga privasi

 

 

Si Gila “4”:

“Jenius abad ke-20” muak dengan kebodohan si gila yang lain; ia melihatnya sebagai musibah yang menyakitkan. Setiap kali orang itu berusaha tampak berakal atau cerdas, hal itu justru mengungkap kegilaannya sendiri; si jenius pun terus-menerus merasa kesal, seakan-akan memaki dalam hatinya. Ia ingin menyingkirkan orang itu dari majelis, maka ia berikan surat yang dibawa oleh “pos kilat” sambil berkata: “Ambil ini, pergi buang ke kantor pos, nanti petugas pos akan membawanya lagi, lalu kamu pergi lagi membuangnya untuk kedua kalinya, dan dia akan datang membawanya lagi. Kamu akan terus pergi dan dia akan terus datang, kita akan menertawakannya dan mereka pun akan tertawa.”

  1. A berkata: “Tapi berapa kali orang ini pergi dan berapa kali orang itu datang?”

Si “Jenius” mengedipkan mata menyuruhnya diam; tapi S. A pura-pura tidak mengerti dan berkata: “Berapa kali kamu ingin petugas pos itu datang untuk memanggil jenius abad ke-20?”

Si gila yang lain berkata: “Inilah pendapatnya, aku tidak akan beranjak sebelum tahu berapa kali aku harus pergi; karena petugas pos hanya datang dengan berkendara, sedangkan aku pergi dengan berjalan kaki, dan aku punya kaki manusia bukan kaki hewan…”

Si “Jenius” berkata: “Subhanallah! Dengan sedikit kegilaan saja keluar dari manusia seorang gila sempurna yang hilang akal. Namun seorang jenius tidak muncul kecuali dari banyak hal, dari seluruh kejeniusan dengan segala cara dan sebabnya yang beragam, terpisah, dan sulit berkumpul pada satu orang seperti ‘jenius abad ke-20’. Dialah yang dikumpulkan semua sebab ini, dan seimbang padanya semua sifat itu. Masalahnya bukan pada ilmu atau pengajaran; tetapi pada bakat yang menciptakan inovasi, seperti bakat ‘jenius abad ke-20’. Dengan itu karya-karyanya menjadi harmonis, menunjukkan dirinya pada dirinya sendiri; dan terbedakan meski harmonis, selaras meski terbedakan, menunjukkan dirinya pada dirinya sendiri…”

  1. A ini adalah yang pertama di antara lulusan sekolah Dar al-Ulum, sekolah sastra dan bahasa Arab, logika dan kepandaian berbicara, kefasihan lidah dan ketepatan pandangan; ia tahu bahwa surat dimasukkan ke pos dengan satu perangko, lalu sampai tujuan dengan perangko itu. Kemudian ia melihat dengan mata kepalanya sendiri empat perangko pada surat yang beralamat “jenius abad ke-20”, tapi tidak bisa memahami dengan akalnya bahwa artinya surat ini berhak sampai kepadaku empat kali.

Si gila yang lain bergembira, bergetar di tempat duduknya, bertepuk tangan, dan berkata: “Yang kami hafal” hadis ini: “Allah menghitung manusia sesuai kadar akal mereka.” Jadi jangan salahkan S. A, karena sekolah Dar al-Ulum mengajar mereka: “di dalamnya ada dua pendapat”, dan ada tiga pendapat, dan ada empat segi, tapi tidak mengajar mereka tentang empat perangko…

Kemudian ia menoleh pada S. A dan berkata: “Tidak apa-apa, aku temannya dan sahabatnya, pembawa ilmunya dan perawi sastranya, pendakwah terbesarnya dan orang kepercayaannya, dan aku baru tahu hikmah ini darinya di saat ini.”

  1. Sy berkata: “Jika begitu, boleh seseorang bertanya: mengapa tidak memasang sepuluh perangko pada suratnya, agar petugas pos membawanya sepuluh kali.”

Si “Jenius” berkata: “Ini juga?” “Dan tidak ada yang lebih buruk dari ketiga-tiganya, wahai Ummu Amr, dari temanmu yang tidak kau temani”; lilin di tangan orang berakal hanya untuk cahaya saja, tapi di tangan orang gila untuk cahaya dan membakar jari-jarinya. Jam berapa sekarang?”

Kami berkata: “Jam sembilan.”

Ia berkata: “Kapan orang-orang perkumpulan ini pulang?”

Kami berkata: “Sampai jam dua belas.”

Ia berkata: “Jika petugas pos bolak-balik setiap jam sekali, maka empat kali sampai orang-orang di sini bubar. Di antara itu ada orang yang pergi setelah mengenal ‘jenius abad ke-20’, dan datang orang lain yang akan mengenalnya. Setelah itu petugas pos tidak akan menemukan siapa-siapa di sini; jadi tidak ada gunanya dia datang.”

Si gila yang lain bertepuk tangan dan berkata: “Ini, demi ayahmu, adalah menemukan wajah pendapat yang benar, dan ini adalah perkataan matang yang berdiri di atas dasar hitungan dan geografi… ‘Yang kami hafal’ hadis ini: ‘Tidak ada harta yang lebih menguntungkan dari akal.’ Jadi empat perangko, untuk empat kali, dalam empat jam; selain itu adalah pemborosan dan sia-sia; tidak ada harta yang lebih menguntungkan dari akal.”

Si “Jenius” senang dengan temannya dan berkata: “Jika ada kelemahanmu, ada sisa padamu yang bisa berakal…” Kemudian ia ambil surat itu dan sembunyikan di bajunya.

Kami berkata: “Tapi mengapa tidak kau buka agar kami tahu isinya?”

Ia tertawa dan berkata: “Apakah karena aku ikut-ikutan kalian dalam bercanda dan bergurau, dan ikut si bodoh ini dalam kegilaan dan kebodohannya, kalian mengira begitu adanya, bahwa suratnya kosong kecuali alamatnya, dan jenius abad ke-20 mengirimkannya pada jenius abad ke-20, seperti kata Said Pasha: ‘George V berunding dengan George V’? Benar – demi Allah – bahwa akal besar yang menolak hal-hal kecil, dari sanalah kadang datang hal-hal kecil untuk membuktikan bahwa itu akal besar, begitulah kebenaran mengolok-olok akal-akal besar seperti ‘jenius abad ke-20’…”

Si gila yang lain marah dan hendak bicara, tapi si “Jenius” berkata: “Kamu bohong dalam apa yang akan kamu katakan.”

Kami berkata: “Tapi dia belum mengatakan apa-apa, sebagaimana mungkin dia bohong, mungkin juga jujur.”

Ia berkata: “Dan dia akan salah dalam pendapat yang akan dikemukakannya.”

Kami berkata: “Dan dia belum mengemukakan pendapatnya.”

Ia berkata: “Dan dia tidak tahu kebenaran yang akan dibicarakannya.”

Kami berkata: “Astaga, apakah kamu masuk ke akal orang itu atau tahu hal gaib?”

Ia berkata: “Bukan ini dan bukan itu, tapi analogi logis yang kukira berlaku terus. Dia akan berkata: bahwa aku gila…”

Yang lain menjulurkan lidahnya… Si “Jenius” berkata: “Sial kamu, aku sudah melihat kata-kata di lidahmu seakan tertulis dengan huruf cetak. Astaga wahai si tambal sulam, tidakkah kamu tahu bahwa otakmu berlubang, pikiran-pikiranmu jatuh darinya sebelum kamu mengucapkannya, kalau tidak berlubang pasti kamu hafal teksnya! Setiap kesalahanmu terhadapku adalah pengakuanmu atas kebenaranku.”

Yang lain menatapnya dengan tatapan yang diterjemahkan oleh alisnya, ia mengangkat dan menari-narikan alisnya. Si “Jenius” berkata: “Dan tatapannya jahat, asin rasanya, pahit seperti air laut yang diambil dari laut dan ditambahkan garam pada garam alaminya, aku hampir muntah dari tatapan ini.”

Sekarang aku paham arti mereka berkata: “asin di mata yang dengki.” Karena garam tidak bisa dikalahkan kecuali oleh garam, seperti besi dengan besi baru berhasil. Bawakan segelas anggur tua, lalu si jahat ini menatapnya dengan tatapan itu, karena anggur pasti berubah menjadi “minuman garam Inggris”… Si bodoh ini darahnya berat seakan diambil dari rawa… Apakah orang yang tidak bisa mengatakan tentang apapun di dunia: ‘itu milikku’, kecuali kemiskinan, kegilaan, dan takhayul, membohongi isi surat yang dibawa pos kilat, dan tidak percaya bahwa itu dikirim pada jenius abad ke-20 dari Yang Mulia Pangeran?”

Si hilang akal ini seperti pengecut yang terputus di kesunyian gurun, dalam kegelapan malam: jika mendengar gerakan lemah, berubah dalam wahmnya menjadi cerita kejahatan yang airnya ketakutan dan di dalamnya pembunuhan dan penyembelihan; karena itu ia takut pada isi surat yang datang dari temanku Yang Mulia. Nih bacalah suratnya.”

Kami buka sampulnya, ternyata dua lembar dengan tanda tangan pangeran terkenal, salah satunya cek seribu pound untuk “jenius abad ke-20”, yang kedua perintah penangkapan si gila yang lain… dan mengirimnya ke rumah sakit jiwa…

Aku berusaha mendamaikan keduanya dengan berkata: “Dalam hadis mulia: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para sahabatnya, lewatlah seorang laki-laki, sebagian orang berkata: ‘Ini orang gila.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Ini orang yang tertimpa musibah; sesungguhnya orang gila adalah yang terus-menerus bermaksiat kepada Allah.'”

Penghafal teks berkata: “Yang kami hafal” sesungguhnya orang gila adalah yang terus-menerus bermaksiat kepada Allah.

Aku berkata: “Dan tidak ada di antara kalian yang terus-menerus bermaksiat kepada Allah.”

Si gila berkata: “Yang kami hafal”: dan tidak ada di antara kalian yang terus-menerus bermaksiat kepada Allah.

Aku berkata: “Ini bukan dari hadis tapi dari perkataanku…”

Si “Jenius” berkata: “Aku beritahu kalian bahwa si bodoh ini tersesat di rumahnya seperti orang Arab tersesat di gurun; armada Inggris kalau menetap di saluran air tempat sapi berputar, itu lebih bisa dipercaya daripada menetapnya akal di kepala si bodoh ini.”

Yang lain memanas dan hendak berkata: “Yang kami hafal”, tapi aku diamkan dan berkata pada si “Jenius”: “Kamu selalu di puncak dunia, tidak heran kamu melihat samudra raya sebagai saluran air. Para jenius adalah jenius pada diri mereka, tapi menurut pandangan orang mereka sakit dengan penyakit naik khayali ke puncak dunia. Dari sinilah orang gila adalah yang sakit dengan penyakit turun nyata ke dasar kemanusiaan; di sana mereka bekerja sehingga pikiran mereka dari perbuatan mereka, lalu akal mereka dari pikiran mereka, inilah kegilaan dalam akal mereka, itulah arti hadis: ‘Sesungguhnya orang gila adalah yang terus-menerus bermaksiat kepada Allah.'”

Si “Jenius” berkata: “Demi hidupku ini benar; kejeniusan akal adalah penyakit dari penyakit-penyakit ketinggian di dalamnya; penyair besar gila dengan alam yang dibayangkannya dalam pikirannya, kekasih gila dengan alam lain yang punya dua mata bercelak; filosof gila dengan alam yang dia tekuni mengenalnya; jenius abad ke-20 gila… Tidak. Tidak. Kita lupa A. Sy, dia gila, dan S. A dia gila.

Dan semua orang gila karena Laila… dan Laila tidak mengakui mereka

Dan hak Laila untuk tidak mengakui mereka, karena dia hanya mengakui jenius abad ke-20 saja; betapa ajaib sihir wanita dalam alam kejiwaan pria! Adapun dalam alam nyata dia hanya betina seperti betina-betina hewan. Pria paling berakal adalah yang seperti keledai atau sapi atau jantan hewan lainnya. Keledai tidak mengenal keledai betina kecuali sebagai keledai betina, sapi jantan tidak mengenal sapi betina kecuali sebagai sapi betina; mereka tidak menyusun syair, tidak menulis ‘Daun-daun Mawar’… Betina hewan hanya ibu-ibu, tapi anehnya jantan mereka bukan ayah-ayah; kejantanan ini parasit di dunia, dan parasit tidak makan kecuali dengan tipu daya, maka dia jadi pemilik anekdot, lelucon, dan kebohongan. Karena itu cinta pria pada wanita adalah macam-macam penipuan, kebohongan, lelucon, tipu daya, kelengahan, dan kebodohan; jika kita lihat dari awalnya itu cinta, tapi akhirnya adalah akhir tipu daya dan kebohongan, yaitu kata parasit: aku sudah kenyang dan sudah puas… Astaga kalian, mana awal pembicaraan?”

Kami berkata: “Awalnya: betapa ajaib sihir wanita dalam alam kejiwaan pria!”

Ia berkata: “Ya ini dia. Itu sihir yang tidak lebih ajaib darinya dalam alam kejiwaan ini kecuali sihir emas; kalau wanita cantik disulap menjadi sesuatu, dia akan jadi batangan emas yang berkilau; karena itu ada emas yang menciptakan pencuri di dunia, dan ada wanita cantik yang menciptakan pencuri lain, maka emas harus dijaga dan wanita harus dijaga.”

Aku berkata: “Tapi bukankah dari uang ada perak, dan itu menciptakan pencuri seperti emas?”

Ia berkata: “Ya, dan pada wanita juga ada perak, dan ada tembaga; kalau kamu lempar riyal di jalan akan menimbulkan pertempuran dua orang berebut, lalu yang mengambil riyal hanya yang terkuat, kalau qirsh dua anak akan berkelahi, lalu yang menang hanya yang menggigit yang lain…

Tapi ‘Ford’ si kaya Amerika besar yang menguasai empat ratus juta pound, tidak bicara tentang qirsh; dan ‘jenius abad ke-20’ yang memiliki ‘Laila’, tidak bicara tentang wanita-wanita qirsh lainnya…”

Aku berkata: “Aku kira kamu memberitahuku namanya Fatimah bukan Laila.”

Ia berkata: “Apakah syair lurus jika aku katakan: semua orang gila karena Fatimah, dan Fatimah tidak mengakui mereka?”

Aku berkata: “Tidak.”

Ia berkata: “Kalau begitu dia ‘Laila’ agar syair lurus… Tapi ketika aku katakan: Fatimah sabar sedikit dengan kemanjaan ini, dia Fatimah agar wazannya benar.”

Aku berkata: “Sepertinya – demi Allah – namanya bukan Laila dan bukan Fatimah; dia dinamai sesuai wazn dan bahr, namanya fa’ulun atau mafa’ilatun.”

Kemudian kami berkata: “Apa pendapatmu tentang cinta, karena dikatakan: kamu paling jatuh cinta dan paling pandai merayu?”

Ia berkata: “Itu dikatakan ‘dan itu paling benar’,” lalu tertunduk berpikir. Tampak padanya bahwa dia terpesona hilang akal, seakan dari hatinya pada jarak lebih jauh dari jarak antara dia dan akalnya. Aku bayangkan wanita-wanita berkumpul semua di kepalanya, setiap satu lewat memamerkan pesonanya dan rayuannya, menyesuaikan ocehannya dengan ocehan dari kecantikannya, dia melihat dan mendengar dan memamerkan dan memilih. Lalu berguncang seperti yang berusaha memegang sesuatu yang lepas darinya; yang membangunkannya hanya kata si gila yang lain: “Yang kami hafal” seorang Arab badui perempuan ditanya tentang cinta lalu berkata: Itu penyakit dan kegilaan.

Ia berkata: “Diam kamu celaka, kamu telah padamkan lampu-lampu dengan kata gilamu. Di kepalaku ada dansa besar menyala lampu-lampu antara merah, hijau, dan putih; dan menari di dalamnya yang cantik-cantik dari yang tinggi, pendek, langsing, dan gemuk, kamu datang dengan penyakit dan kegilaan – Allah jelekkan kamu – kamu keluarkan aku dari mereka kepadamu. Aku kira kalau kamu bunuh diri dunia akan baik atau paling tidak aku akan baik… Kalau kamu mau gantung diri aku bawakan talinya yang dulu kamu diikat dengannya yaitu tali yang ada di rumahku… Tapi kepalamu yang kosong sudah tergantung di dalam dirimu dan kamu tidak tahu.”

Yang lain berkata: “Kamu sejak hari ini tidak lain kecuali mau gantung dan siksa aku atau gantung akalku ‘lebih tepatnya’. ‘Yang kami hafal’ kata Ahnaf bin Qais: Aku duduk dengan orang bodoh sebentar lalu kulihat itu pada ‘akalku’.”

Tidak tahunya kami si gila berdiri bersenjata sepatunya di tangan… sepatu tua tebal yang bisa membunuh dengan satu pukulan; kami halangi keduanya dan tahan dia di tempatnya. Kami berkata: “Ini orang yang sudah kalah akalnya tidak tahu apa yang dikatakan; kalau dia tunjukkan bahwa dia gila, tidakkah kamu tunjukkan bahwa kamu berakal? Kami tidak tanya tentang bunuh diri dan kegilaannya, tapi tanya pendapatmu tentang cinta; kami tidak ragu kamu sudah lama berpikir agar jawabannya tepat, karena kamu ‘jenius abad ke-20’, maka lihatlah agar jawabannya begitu.”

Ia berkata: “Ya, orang berakal jika ditanya akan lama berpikir dalam jawaban, tulis wahai fulan ‘S. A’:

‘Duduk jenius abad ke-20 dalam majelis imla secara spontan lalu berkata: Cerita cinta adalah cerita Adam, Allah ciptakan wanita dari tulang rusuknya. Jadi tanda pertama cinta bahwa pria merasa sakit seakan wanita yang dicintainya patahkan tulang rusuknya… Semua yang lama dalam cinta adalah lama dengan arti tidak masuk akal, dan semua yang baru di dalamnya adalah baru dengan arti tidak dipahami; yang tidak masuk akal dan tidak dipahami itulah cinta.

Bara merah jika dikatakan padam dan tetap bara itu lebih dekat pada kebenaran daripada tetap hidupnya cinta dengan arti pertamanya jika padam atau dingin.

Kekasih gila. Dan kegilaannya juga gila, dia seperti yang melihat bara padam, dan melihat bersamanya bahwa itu masih merah, lalu dia dalam khayalnya melihatnya bunga mawar… Jika kamu minta dia gambarkan kecantikan yang dicintainya dia juga gila kegilaan, seperti yang melihat bulan langit sudah hancur dan bertebaran dan jatuh di taman, jadi tebar-tebarannya adalah melati putih cantik harum…

Orang gila melihat dunia dengan kegilaannya dan orang berakal melihatnya dengan akalnya; tapi kekasih yang tergila tidak melihat yang dicintainya kecuali sisa dari ini dan sisa dari itu, dia tidak murni dengan kekasihnya sampai kegilaan atau akal.

‘Yang tidak diketahui’ jika mau tampak di otak manusia tidak muat kecuali salah satu dari dua kepala: kepala orang gila dan kepala kekasih… Tidak ada kesulitan menilai sesuatu baik atau buruk kecuali ketika kebaikan dan keburukan adalah wanita yang dicintai. Adapun gambaran penyair dan penulis tentang kecantikan dan cinta semuanya tiruan yang mereka perluas; asalnya sapi jantan cinta sapi betina lalu berkata padanya: wahai bintang kutub yang turun dari langit untuk berputar di saluran air seperti berputarnya di falak.”

Si “Jenius” berkata: “Ini pendapatku tentang cinta para kekasih; adapun cintaku ‘jenius abad ke-20’ dikumpulkan katamu: Fa, Wa, Za, Ha…”

Kami berkata: “Apa teka-teki ini? Apakah cinta punya teks seperti mereka berkata: huruf qalqalah dikumpulkan katamu ‘qutb jadd’, dan huruf ziyadah dikumpulkan katamu ‘sa’altumuniiha’?”

Si “Jenius” tertawa dan berkata: “Rusa bertambah banyak di hadapan Kharrasy, agar tidak lupa… Setiap huruf adalah awal nama, Fa untuk Fatimah, Lam untuk Laila, Waw untuk Wardah, Ra untuk Rabab, Dal untuk Dalal, Za untuk Zakiyyah, Ha untuk Hind, Ra untuk Rabab…”

Kami berkata: “Rabab sudah lewat di ‘Wardah’.”

Ia berkata: “Kami bermusuhan sebentar lalu berdamai setelah Hind…”

Aku berkata: “Begitulah para jenius, seorang sastrawan berkunyah ‘Abu al-Abbas’ ketika ‘jenius’ dia jadikan ‘Abu al-Ir’ dan kejeniusannya buka untuknya menjadikannya tarikh yang diketahui umurnya. Mereka berkata dia menambah setiap tahun satu huruf sampai mati begini:

Abu al-Ir tarad tail tailiri bak bak bak…”

 

 

Si Gila “5”:

Sesungguhnya “jenius abad kedua puluh” terpesona dengan kegembiraan saat menyebut sahabat-sahabat dan kekasih-kekasihnya dari Fatimah hingga Rabab; dan dari tabiat orang gila adalah bahwa jika ia berbohong, ia membenarkan dirinya sendiri, karena kekuatan pengendalian dalam akalnya tidak ada atau terganggu; dan setiap wajah yang dibayangkannya dalam khayalannya adalah wajah dari wajah-wajah ilmu baginya, karena dunianya sebagian besar ada di dalam dirinya bukan di dunia, maka jika ia berandai-andai atau merasakan atau merasa, maka hal itu terjadi dengan caranya sendiri bukan dengan cara orang-orang berakal; maka akalnya tidak menampung kecuali satu pemikiran yang berjalan sendiri dan mandiri dengan maknanya seolah-olah ia adalah takdir yang menguasai semua pemikiran lainnya, maka tidak ada urusannya dengan kenyataan, dan tidak ada urusan kenyataan dengannya, tetapi ia merealisasikan maknanya sebagaimana terlintas padanya, bukan sebagaimana terwakili dalam apa yang ada di sekitarnya.

Maka antara setiap orang gila dan apa yang ada di sekitarnya adalah otaknya yang mendung dengan awan-awan akal, terus-menerus menampakkan awan demi awan dari gangguan beberapa pusat saraf di dalamnya, dan rusaknya kerja mereka karena gangguan ini, dan berdirinva tabiat di dalamnya atas kerusakan ini.

Dan dari itu berubah kata dari perkataan, dan sesungguhnya ia adalah kejadian yang sempurna dalam akal orang gila seperti cerita nyata yang memiliki waktu dan tempat serta awal dan akhir, tidak menghinggapinya keraguan, dan tidak menimpanya pendustaan; dan bagaimana mungkin, padahal ia berdiri dalam benaknya dari balik pendengarannya dan penglihatannya seperti berdirinva kebenaran dalam penglihatan dan pendengaran?

Dan indra orang gila memiliki dua sisi dalam bekerja, karena ia berada di antara dua alam; salah satunya adalah alam rusak yang ada dalam otaknya; dan dalam hal ini “jenius abad kedua puluh” berkata: bahwa di dalam matanya ada teropong yang dengannya ia melihat sesuatu tidak dalam hakikatnya, yaitu dalam hakikatnya…

Dan Dr. Muhammad ar-Rafi’i menceritakan kepada kami, ia berkata: bahwa di rumah sakit jiwa di kota Lyon, Prancis, ada seorang jenius seperti jenius abad kedua puluh. Disebutkan di hadapannya Kaisar Rusia dan berita pembunuhannya, maka hal ini membuatnya marah dan sakit hati dan berkata: “Celaka mereka! Mereka berdusta atasnya dan atasku.” Maka dokter bertanya kepadanya: “Bagaimana itu?”

Ia berkata: “Adapun berita Kaisar adalah bahwa ia melihatku lalu mencintaiku, dan mengetahui dari setiap sisi yang mungkin diketahui darinya bahwa hatinya bahwa akulah lelaki untuknya bukan Kaisar; maka ia terus-menerus setelah itu menentang Kaisar dan berpaling darinya dan tidak baik untuknya dalam hal apapun hingga Kaisar putus asa darinya lalu menceraikannya, maka ia membawa harta karunnya dan perhiasannya dan berlindung kepada kekasihnya, kemudian jiwa Kaisar mengikutinya dan tidak tahan hidup setelahnya maka bunuh diri… kemudian kaum komunis mengincarnya karena harta karun yang bersamanya, maka ia menyembunyikannya di tempat yang aman yang tidak diketahui kecuali olehnya; kemudian ia sendiri tidak sampai ke tempat yang ia lindungi kecuali jika tidur… agar tidak ada seorangpun dari kaum komunis yang melihatnya lalu mengikutinya lalu mengetahui tempat tinggalnya; dan karena itu dari hikmah bahwa ia lupa tempat itu jika bangun… karena mungkin ia tergelincir suatu kali lalu memberitahukannya atau kerinduan mengalahkan ‘akalnya’ suatu kali… lalu pergi ke sana; mudah-mudahan ada yang melihatnya yang mengadu tentang itu, maka kekasih tercela dan diambil darinya.

Ia berkata: “Dan sesungguhnya Kaisar juga berhati-hati seperti itu maka mengiriminya setiap hari dengan radio surat-surat yang jatuh dari langit ke dalam otaknya lalu ia membacanya sendiri, dan sesungguhnya yang paling ia takuti adalah bahwa kegilaan cinta mengalahkannya suatu hari lalu ia terbang seperti terbangnya perempuan, lalu mengunjunginya di rumah sakit ini… karena mungkin dibunuh jika kaum komunis melihatnya.”

Dokter berkata: “Dan ini adalah ‘jenius’ lain yang tertanam dalam benaknya bahwa seorang perempuan dari perempuan-perempuan tercantik telah tergila-gila padanya dan bahwa ia tertimpa dalam cintanya kepadanya dengan kegilaan cemburu, dan telah mencapai puncaknya hingga ia membunuh dirinya jika mengetahui bahwa kekasihnya memiliki cinta pada perempuan lain. Dan pikiran ini membuatnya gila, maka ia meyakini bahwa kekasihnya karena kegilaan cemburunya berada antara selamat dan binasa; kemudian ia berandai-andai suatu hari bahwa seorang pengadu telah memberitahunya bahwa perempuan-perempuan terpesona padanya; maka akalnya hilang, maka ia datang kepadanya di rumah sakit untuk memarahinya dan menyembuhkan kemarahannya darinya, kemudian bunuh diri di hadapan matanya… dan ‘jenius’ itu memutar pikiran untuk meyakinkannya agar mengetahui bahwa ia tidak mengkhianatinya dengan gaib… maka ia tidak menemukan yang meyakinkan yang dengannya perempuan yakin bahwa tidak ada kepentingan perempuan-perempuan padanya kecuali bahwa… maka ia melakukan dan memotong kedua buah pelirnya dengan tangannya untuk menyerahkannya sebagai bukti bahwa ia untuknya saja…”

Kami berkata: Dan “jenius abad kedua puluh” bergembira karena menyebut sahabat-sahabat dan kekasih-kekasihnya, maka mulai bersenandung dengan syair ini: Mereka berkata engkau gila karena yang engkau cintai maka aku berkata kepada mereka… Tidak ada kenikmatan hidup kecuali bagi orang-orang gila

Maka orang gila yang lain berkata: “Dari yang kami hafal”: Tidak ada kenikmatan “roti” kecuali bagi orang-orang gila…

Maka “jenius” tertawa dan berkata: “Betapa bodohnya kamu, hai dungu. Jika ini adalah maknanya maka katakan: Tidak ada kenikmatan ‘kue’. Bukankah aku telah berkata kepada kalian bahwa si tolol ini jika mengeja kata roti akan berkata: itu adalah l. a. g. i. Dan jika mengeja kata daging akan berkata: r. o. t. i. Sesungguhnya ia adalah anak berusia tiga puluh tahun dan di dalamnya selalu ada kemarahan anak dan kenakalan dan kebodohannya, dan di dalamnya juga kegembiraan anak dan kecerobohan dan mimpi-mimpinya; kecuali bahwa tidak ada di dalamnya akal anak… dan ia begitu lemah, dan sangat membutuhkan perhatian dalam penjagaan dan pengaturan dan kebaikan kepadanya seperti anak kecil sehingga terkadang terbayang bagiku bahwa aku adalah ibunya.”

Kami berkata: “Dan engkau lupa dalam keadaan ini bahwa engkau laki-laki?”

Ia berkata: “Dan kalian juga menuduhku dengan lupa, dan itu secara syariat adalah sisi yang mewajibkan untuk memutuskan kegilaan, karena lupa tidak lain adalah kata lain untuk makna lemahnya akal; dan lemahnya akal adalah lafaz lain untuk makna kegilaanku; dan telah aku beritahukan kepada kalian apa yang aku benci dari perkataan.”

Aku berkata: “Tidak, lupa tidak terjadi darimu sebagai lupa dengan maknanya pada orang gila, tetapi dengan maknanya padamu yaitu dari loncatan pikiran-pikiran jenius dan berdesakannya dalam datangnya ke akal, maka jika meloncat dan berdesakan maka urusannya adalah bahwa sebagian melupakan sebagian, maka tidak terlepas darinya kecuali yang kuat dan benar-benar jenius, maka datang seperti terputus dari sebelumnya; maka dihitung itu lupa padahal bukan demikian. Dan mungkin pikiran-pikiran berdamai dalam pertempuran mental ini jika jenius senang gembira menari kegirangan… maka urusannya adalah bahwa semuanya datang bersama dengan perbedaan makna dan pertentangannya; maka dihitung itu sejenis kebingungan pada yang tidak mengetahui penyebab ‘kejeniusan’; dan maafnya adalah ketidaktahuan penyebab ini, dan itu dalam petunjuk akal bukan lupa dan bukan kebingungan.”

Ia berkata: “Maka beritahukan kepadaku bagaimana lupa orang gila, karena tersembunyi dariku untuk memahami perkara ajaib ini pada mereka, dan aku tidak tahu bagaimana luput dari mereka apa yang mudah bagi mereka dari pikiran setelah telah menetap dan terjadi dalam akal mereka?”

Aku berkata: “Lupa tidak menjadi tuduhan kegilaan kecuali dalam tiga keadaan, semuanya datang dalam riwayat sahih yang terpelihara:

Adapun yang pertama: yaitu yang diriwayatkan tentang seorang laki-laki yang mulia kaya dan berumur hingga pikun menimpanya; maka datang kepadanya juru tulisnya suatu hari meminta bantuan untuk mempersiapkan ibunya yang telah meninggal, maka ia memberikan kepada seorang pelayannya dinar-dinar untuk membeli kain kafan, dan dinar-dinar lain untuk disedekahkan di kuburan, kemudian berkata kepada pelayan lain: pergilah kepada teman kita dan pemandian mayat kita si fulan maka panggillah dia untuk memandikannya. Juru tulis berkata: maka aku malu darinya dan berkata: wahai tuanku, utus si fulanah dan ia adalah tetangga kita untuk memandikannya. Ia berkata: wahai fulan: engkau tidak meninggalkan akalmu dalam duka maupun suka. Bagaimana kita masukkan kepadanya orang yang tidak kita kenal?

Juru tulis berkata: ya, engkau mengizinkan itu. Ia berkata: tidak -demi Allah- tidak memandikannya kecuali si fulan. Maka juru tulis menyempit dengan kebodohan ini dan berkata: wahai tuanku bagaimana laki-laki memandikan perempuan?

Ia berkata: dan apakah ibumu perempuan? Demi Allah sungguh aku lupa…

Adapun keadaan kedua: yaitu yang diriwayatkan tentang seorang laki-laki yang sedang tidur di malam yang dingin maka tangannya keluar dari tempat tidur lalu kedinginan, maka ia dekatkan ke tubuhnya dan ia tidur lalu merasakan dinginnya maka membangunkannya, maka ia bangun terkejut lalu menggenggamnya dengan tangan yang lain dan berteriak: pencuri, pencuri… pencuri ini telah aku tangkap, tolonglah aku jangan sampai di tangannya ada besi ia pukul aku dengannya, maka mereka datang dengan pelita lalu mendapatinya menggenggam dengan tangannya tangannya dan telah lupa bahwa itu tangannya…

Adapun yang ketiga: yaitu riwayat tentang seorang laki-laki yang mewarisi setengah rumah, maka ia berpikir lama bagaimana seluruh rumah menjadi miliknya kemudian menemukan cara; maka ia pergi kepada seorang laki-laki dan berkata kepadanya: aku ingin menjual kepadamu bagianku dari rumah dan membeli dengannya setengah yang tersisa agar seluruh rumah menjadi milikku.”

“Jenius” berkata: “Demi hidupku sesungguhnya inilah kegilaan, dan tidak disebutkan bersama mereka orang gila matan maupun ‘lainnya’.”

Maka yang lain berkata: “Demi Allah seandainya ‘jenius abad kedua puluh’ tidak mengangkat dirinya dari kegilaan niscaya ia datang dalam kegilaan dengan apa yang membuat ‘akal-akal’ bingung.”

Kemudian ia melihat maka ternyata jenius bersiap-siap untuknya… maka ia cepat berkata: “Dari yang kami hafal”: berhati-hatilah seolah engkau polos, dan ingatlah seolah engkau lupa. Maka inilah lupa jenius abad kedua puluh, lupa orang bijak bukan lupa orang gila.

“Jenius” berkata: “Tetapi telah rusak perkataan penyair: Tidak ada kenikmatan hidup kecuali bagi orang gila; maka tidak tersisa bersama kegilaan kenikmatan.”

Aku berkata: “Sesungguhnya penyair tidak menginginkan orang gila yang memang gila karena penyakit, tetapi menginginkan para kekasih yang gila karena keindahan; dan kegilaan kekasih dalam bab ini seperti cacat orang-orang besar dari ahli seni, dan itu adalah cacat yang membela dirinya dengan kebaikan kebesaran, maka tidak seperti cacat-cacat lainnya.”

Ia berkata: “Maka wajib aku membuat bait lain yang menjelaskan syair itu agar lurus bagiku untuk meneladaninya,” kemudian berpikir dan bergumam, kemudian menulis di kertas kemudian melipatnya dan berkata: “buatlah engkau dahulu, dan aku akan mempercayakan S.A. atas syairku dan memberikan kepadanya kertas itu.”

Maka aku melihat dan berkata: “Wajib syair itu begini: Mereka berkata engkau gila karena yang engkau cintai maka aku berkata kepada mereka… Tidak ada kenikmatan hidup kecuali bagi orang gila Akal jika memutus para kekasih lebih berat dari… kemiskinan yang memutus dalam rezeki orang-orang miskin”

Dan S.A. membuka kertas maka ternyata di dalamnya: “Mereka berkata engkau gila karena yang engkau cintai maka aku berkata kepada mereka… Tidak ada kenikmatan hidup kecuali bagi orang gila Sesungguhnya cacat-cacat dari orang gila membela… bahwa ia jenius di abad kedua puluh”

Dan kami semua tertawa; maka jenius berkata: “Semoga Allah menjauhkanmu wahai S.A. Sesungguhnya yang mempercayakan orang gila atas rahasia dan berkata kepadanya simpanlah maka seolah-olah berkata kepadanya: sebar luaskanlah…”

Kemudian berkata: “Aku berharap -demi Allah- bahwa S.A. ini menjadi ‘jenius’, tetapi aku akan menjadikannya jenius, karena telah menjadi baginya atasku hak sahabat dan itu hak yang tidak akan aku sia-siakan dan tidak akan aku abaikan. Maka jika engkau membutuhkan wahai S.A. pidato menggelegar yang engkau sampaikan di acara besar, atau qasidah yang engkau puji dengannya menteri pendidikan, maka berlindunglah kepadaku karena aku tempat berlindung bagimu. Dan kapan engkau mengklaim syairku maka engkau di mata orang adalah Mutanabbi atau Buhturi atau Ibnu Rumi, karena mereka orang-orang terdahulu tidak bermanfaat kecuali bahwa aku tidak ada di antara mereka, dan karena aku tidak ada di antara mereka mereka mengagumkan orang karena aku tidak ada di antara mereka…”

Kami berkata: “Maka apa putusanmu atas mereka dalam sastra?”

Ia berkata: “Jika aku memutuskan atas mereka maka aku telah menjadikan diriku di antara mereka, maka dari wajar bahwa tidak ada seorangpun dari mereka yang aku sukai. Sesungguhnya ‘jenius abad kedua puluh’ tidak berkata tentang makna ini lebih baik, karena ia di atas yang lebih baik, dan tidak berkata tentang jenius ini lebih terkenal, karena ia di atas yang lebih terkenal.”

Aku berkata: “Seolah-olah dunia di bawah kakimu dan engkau di dalamnya zahid agung yang tidak berkata dalam kebaikan ini lebih baik karena ia di atas syahwat, dan tidak dalam kenikmatan ini lebih enak karena ia di atas tamak, dan tidak dalam harta ini lebih banyak karena ia di atas serakah. Dan aku kira seandainya engkau menggembala kambing niscaya engkau yang berhak di zaman kita dengan perkataan penggembala zahid itu: Aku perbaiki urusanku antara aku dan Dia maka Dia perbaiki antara serigala dan kambing.”

Ia berkata: “Dan bagaimana itu?”

Aku berkata: “Diceritakan tentang sebagian orang saleh bahwa ia berpikir suatu malam lalu berkata dalam dirinya: wahai Tuhanku! siapa istriku di surga? Maka ia diperlihatkan dalam mimpinya tiga malam bahwa ia adalah budak perempuan hitam di negeri begini, maka ia datang ke negeri itu lalu bertanya tentang budak perempuan itu, maka seorang laki-laki berkata kepadanya: apa ini? Engkau bertanya tentang budak perempuan hitam gila yang dulu milikku lalu aku memerdekakan nya? Ia berkata: dan apa yang kalian lihat dari kegilaannya? Ia berkata: ia berpuasa siang hari maka jika kami berikan berbukanya ia sedekahkan, dan ia tidak tenang malam hari dan tidak tidur maka kami bosan darinya. Ia berkata: maka di mana ia? Ia berkata ia menggembala kambing untuk kaum di padang pasir.

Maka ia pergi ke padang pasir maka ternyata ia berdiri dalam salatnya, dan melihat kepada kambing-kambing maka ternyata seekor serigala menunjukannya ke padang rumput dan seekor serigala menggiringnya. Maka ketika ia selesai dari salatnya ia mengucapkan salam kepadanya maka ia memberitahukan bahwa ia suaminya di surga dan ia memberitahukan bahwa ia diberi kabar gembira dengannya; kemudian ia bertanya apa serigala-serigala ini dengan kambing-kambing? Ia berkata: ya, aku perbaiki urusanku antara aku dan Dia maka Dia perbaiki antara serigala dan kambing.”

“Jenius” berkata: “Ini bohong karena ajaib, dan ajaib karena bohong.”

Aku berkata: “Dan mana yang ajaib dalam ini? Sesungguhnya serigala dan kambing, dan singa dan kijang, dan ular dan burung pipit, dan setiap pemakan dan yang dimakan dari makhluk hidup, jika mereka masuk dalam lingkaran salat yang hakiki niscaya tersusun semuanya satu barisan rukuk dan sujud. Maka budak perempuan ini menyebarkan ruh salat dan takwa atas semua yang ada di sekitarnya dari hatinya yang suci tenang dengan iman maka serigala jatuh darinya dalam lingkaran magnetis, maka hilang kebuasannya dan kembali tunduk kepada ide kebaikan dan kebaikan karena sejalan di dalamnya kehidupan dengan apa yang ada di sekitarnya, dan selaras jenis dan jenis dalam gerakan saling menjawab selarasnya lelaki magnetis ia dan yang ditidurkannya dalam satu kehendak dan satu pikiran.”

“Jenius” berkata: “Maka jika serigala masuk masjid yang berguncang dengan para musalli, apakah menurutmu ia meluruskan keempat kakinya dan berdiri di antara mereka untuk salat, ataukah ia salat dengan salat serigalanya dalam daging mereka?”

Aku berkata: “Dan mana mereka yang salat dengan hakikat salat, maka keluar dengannya dari jiwa ke alam, dan dari waktu ke keabadian, dan dari sebab-sebab kepada yang menyebabkannya, dan dari apa yang di hati kepada apa yang di atas hati? Sesungguhnya mereka semua salat dengan anggota badannya dan antara mereka dan ruh mereka panjang dunia dan lebarnya; dan tidak ada seorangpun dari mereka kecuali pikirannya terhubung dengan apa yang menguasainya, sebagaimana terhubung pikiran pencuri dengan tangannya, dan pikiran kekasih dengan matanya, dan pikiran tukang numpang makan dengan perutnya. Maka namanya pada mereka salat, dan hakikatnya di sisi Allah sebagaimana engkau lihat.”

“Jenius” berkata: “Tetapi ia serigala dari tabiatnya bahwa ia memakan kambing bukan menggembalanya, maka aku tidak memahami apapun.”

Dan yang lain berkata: “Dari yang kami hafal” serigala merumput di kambing, dan mereka tidak berkata serigala salat di kambing, maka aku tidak memahami apapun.”

Aku berkata: “Aku akan menambah ketidakpahaman kalian berdua… Sesungguhnya hati perempuan agung suci itu terhubung dengan Allah, dan tidak ada di dalamnya sesuatu dari tabiat-tabiat kemanusiaannya dan tidak ada bayangan dari bayangan-bayangan dunia; dan telah terwujud di dalamnya rahasia kehidupan, dan itu adalah rahasia yang tidak makan dan tidak minum dan tidak berpakaian dan tidak berhasrat dan tidak tamak pada sesuatu dan tidak menyimpan sesuatu, tetapi tabiatnya adalah kerinduan-kerinduan kosmisnya, dan hubungannya dengan hembusan kekuatan azali yang menundukkan seluruh wujud. Maka tersebar gelombang listrik eteris ini di sekitar budak perempuan dari hatinya, dan datang serigala maka berguncang di dalamnya dan diliputi kerohanian yang menguasai, maka ternyata ia membuka matanya pada alam aneh yang telah terwujud kedamaian atasnya, maka tidak ada di dalamnya kecuali kekuatan yang memerintah perintahnya dengan bersatunya segala sesuatu dengan segala sesuatu, dan berkumpulnya yang saling menentang dalam keadaan yang dikenal bukan dalam keadaan ingkar. Maka serigala menjadi terjaga, tetapi ia dalam ruh tidur, dan lumpuh di dalamnya keserigalaan alami, maka ternyata ia membawa taring dan cakar dan telah dilupakan penggunaannya; dan tersisa gerakannya yang hewani, tetapi terhenti pendorongnya maka batallah maknanya.

Dan dari semua itu menghilang serigala yang ada dalam serigala, dan tersisa hewan hidup seperti semua yang hidup, maka cocok dengan kambing dan lari kepadanya karena tidak ada hubungan di antara keduanya hubungan tubuh pemakan dengan tubuh yang dimakan, tetapi hubungan ruh hidup dengan ruh hidup sepertinya.”

“Jenius” berkata: “Adapun aku maka telah memahami tetapi orang gila ini tidak memahami. Tulislah wahai S.A.: Duduk jenius abad kedua puluh di majlisnya untuk filsafat tanpa persiapan dan tidak mantap, dan tanpa buku-bukunya sama sekali… dan ini lebih mengumpulkan pendapatnya dan lebih cerdas baginya dan lebih mengundang agar fokus pada dikte dengan semua ‘bakat-bakat akalnya’; dan ketika jenius berpikir diberi penglihatan haknya dan dikumpulkan dalam akalnya yang istimewa ketangguhan pendapat kepada kekuatan variasi dan inovasi, berkata secara spontan: Sesungguhnya filsafat serigala dan kambing ketika ia tidak memakannya dan ia tidak menanduknya, adalah dengan nash dan huruf sebagaimana guru jenius abad kedua puluh berkata.

‘Catatan kaki’: dan sesungguhnya orang gila matan tidak memahami filsafat ini.”

Maka yang lain tersinggung dan berkata “dari yang kami hafal”: “Dan bermalam mengasah sepanjang malam pikirannya… dan menjelaskan air setelah jerih payah dengan air”

Maka “jenius” berkata: “Celakalah engkau wahai tolol! Adapun -demi Allah- seandainya engkau Naftawaih atau Sibawaih niscaya engkau tidaklah padaku kecuali Jahsyawaih atau Baghlawaih…”

Sungguh aku melihat pembicaraan dalam filsafat itu jalan yang bersih indah yang dihiasi pepohonan dan bunga-bunga di kedua sisinya, dan mengalir di dalamnya ‘perahu-perahu’ pikiran secepat kilat. Maka ketika engkau berbicara kami berakhir dari kecunggahanmu kepada jalan batu yang berderak di dalamnya gerobak angkutan yang ditarik bagal-bagal lambat.”

Maka yang lain berkata sambil meminta maaf kepadanya: “Aku tidak bermaksud -demi Allah- menyakitimu dan seandainya aku bermaksudkannya niscaya aku berkata: dan menjelaskan air setelah jerih payah dengan spiritus… maka inilah kesalahan, adapun menjelaskan air setelah jerih payah dengan air maka itu benar.”

“Jenius” berkata: “Tetapi itu penjelasan yang sangat jatuh seperti penjelasan orang gila, maka ia berkata: sesungguhnya aku gila.”

Aku berkata: “Tidak, sesungguhnya penjelasan orang gila terjadi tidak dengan cara ini, seperti yang diceritakan Jahiz, ia berkata: aku mendengar seorang laki-laki berkata kepada yang lain: kami pukul tadi seorang zindiq. Yang lain berkata: dan apa itu zindiq? Ia berkata: yang memotong muzayqa. Ia berkata: dan bagaimana engkau tahu bahwa ia memotong muzayqa? Ia berkata: aku melihatnya makan tin dengan cuka…”

Berikut terjemahan lengkap teks ke dalam bahasa Indonesia:

Si Gila “6”:

Sambungan:

Perbincangan berlangsung lama antara kami dengan kedua orang gila ini, dan pembicaraan mengalir dari satu sisi ke sisi lain dengan berbagai jenisnya, berpindah dari satu makna ke makna lainnya; maka aku bermaksud untuk mencapai tujuan yang mempertemukan kedua orang gila ini, setelah kami berbicara dengan bebas dan terbuka kunci yang terpasang pada akal masing-masing dari mereka.

Pada saat itu lewatlah di majelis tersebut seorang penjual novel-novel terjemahan “polisi, percintaan, dan pencurian!” Orang itu membawa tong sampah moral Eropa yang lengkap untuk ditebarkan ke dalam jiwa para remaja dari pemuda-pemudi kita. Maka kutanya kepada “jenius abad ke-20”: “Apakah kamu membaca novel?” Dia menjawab: “Tidak, kecuali sekali saja kemudian aku tidak mengulanginya lagi, karena novel itu telah membuatku menjadi novel seperti dirinya.”

Kami berkata: “Ini adalah hal paling aneh yang kami alami hari ini, bagaimana kamu bisa menjadi novel?”

Dia berkata: “Kalian tidak mengenal sifat para jenius, karena kalian tidak memiliki perasaan halus mereka, bakat mereka yang kuat, karakteristik gaib mereka, dan bisikan-bisikan mereka yang terkait dengan hal-hal supranatural.”

Aku berkata: “Ya, aku tahu itu; tidak ada ‘jenius’ kecuali dia berada di antara dua alam di ujung yang satu dan ujung yang lain, maka dia keluar masuk di antara kedua alam itu; dan dia memiliki jiwa yang tersusun dengan hukum-hukum yang dikenal dan lainnya yang tidak diketahui; maka jiwa itu mengambil dari yang tampak dan yang tersembunyi sekaligus, terkadang tempat membatasinya dan terkadang melepaskannya, dan terkadang berada dalam waktu bumi, dan terkadang dalam waktu planet-planet dari bulan ke atas… tetapi…”

Lalu dia memotong perkataanku dan berkata: “Tambahkan pada itu bahwa akal-akal ini yang membatasi mereka yang disebut orang berakal dalam waktu dan tempat, tidak memberikan kepada pemiliknya kecuali kekhawatiran dan kesedihan, ambisi-ambisi rendah, dan perbuatan-perbuatan hina, karena mereka hidup di atas tanah.”

Aku berkata: “Ya, dan jika mereka hidup di atas tanah maka dengan terpaksa makna-makna tanah berada di atas, di bawah, di sekitar, dan di hadapan mereka, maka mereka tidak menjalani di bumi ini kecuali umur yang bersifat tanah dalam segala maknanya tetapi…”

Dia berkata: “Dan tambahkan pada itu bahwa mereka terikat seperti ikatan orang gila, hanya saja tali dan rantai mereka bersifat akal yang tidak terlihat; dan dengan belenggu seperti belenggu orang gila mereka menyebut diri mereka orang berakal, dan yang paling berakal di antara mereka adalah yang paling berat belanggunya, dan ini adalah keanehan sebagaimana kamu lihat.”

Aku berkata: “Ya, adapun orang-orang berakal dengan hakikat akal yang sesungguhnya, mereka adalah yang menertawakan orang-orang ini dan mengejek mereka, karena mereka berada dalam keadaan seperti keadaan yang terlepas dari yang terikat, dan dalam posisi seperti posisi yang sehat dari yang sakit tetapi…”

Dia berkata: “Dan lebih dari ini dan itu, sesungguhnya mereka tidak memiliki kebahagiaan, karena mereka tidak memiliki akal yang tertawa, mengejek, dan bermain-main yang dikhususkan untuk para jenius dan merupakan keunikan dari ‘jenius abad ke-20’.”

Aku berkata: “Ya, dan jika mereka memiliki kebahagiaan, mereka tidak merasakannya, adapun para ‘jenius’ mungkin tidak memilikinya, tetapi tidak pernah terlewatkan bagi mereka merasakan kebahagiaan itu, maka datanglah kegembiraan kepada mereka dari sebab-sebabnya dan dari tanpa sebab selama mereka memiliki akal yang tertawa, mengejek, dan bermain-main yang selalu kebiasaannya untuk melupakan agar tertawa, dan tidak ada hukum baginya kecuali kehendak pemiliknya, atas kemauan pemiliknya, untuk kemanfaatan pemiliknya. Tetapi…”

Dia berkata: “Dan yang lebih penting dari semua yang telah disebutkan; bahwa sifat terbesar dari akal yang tertawa, mengejek, dan bermain-main ini adalah mengusir dari pemiliknya apa yang tidak dia sukai dan menjaganya agar tidak kehilangan sesuatu dari dirinya; maka karena itu dia membuat perhitungannya dengan segala sesuatu sebagai perhitungan Yahudi yang harus menguntungkan lima puluh persen.”

Aku berkata: “Ya, dan dia selalu seperti anak kecil; betapa menarik kebodohan anak kecil dan betapa berguna baginya, karena dia selalu menempatkan kebodohannya dalam ruh dan rahasia segala sesuatu sehingga keluar bodoh seperti dirinya, dan dunia berubah baginya seolah-olah dia adalah ibu yang tertawa dengan anaknya dan bermain dengannya tetapi…”

Dia berkata: “Tetapi ini adalah tingkat yang tidak dicapai umat manusia kecuali secara luar biasa dalam individu-individu mereka dari para raksasa akal seperti ‘jenius abad ke-20’.”

Aku berkata: “Ya, ‘tetapi’ bagaimana ‘jenius abad ke-20’ menjadi novel ketika dia membaca novel?”

Dia berkata: “Ini adalah lelucon kejeniusan; seandainya pengarangnya adalah jenius seperti kami yang menerima dalam jiwanya wahyu ether dan isyarat-isyarat ruh yang agung; dia akan tahu dari yang gaib bahwa ‘jenius abad ke-20’ akan membaca novelnya, maka dia akan mencari makna-makna selain maknanya dan berusaha dengan cerita ini untuk membuat posisi lain yang tidak ada di dalamnya kekasih yang khianat, atau pencuri yang ganas, atau pembunuh yang kejam, atau penjara yang gelap, atau pengadilan yang berkata begini dan begitu…”

Aku berkata: “Apa peduli kamu dengan kekasih yang khianat di atas kertas, dan pencuri di antara huruf-huruf cetak dan pembunuh yang tidak membunuh kecuali kata-kata, dan penjara dan pengadilan di atas halaman bukan di atas bumi?”

Dia berkata: “Ini adalah lelucon kejeniusan, maka ketika aku menyelami cerita tersebut sampai tokoh-tokohnya membanjiriku, dan aku terpaksa masuk dalam kengerian yang mengerikan, maka si khianat mengkhianatiku semoga Allah melaknatnya… dan jika bukan karena takut penjara dan pengadilan pasti aku akan membunuhnya dengan pembunuhan yang paling keji, dan menyiksanya dengan siksaan yang paling buruk. Celaka si khianat, bagaimana si jelek tinggi raksasa bertulang besar berotot kekar itu memikatnya? Padahal aku bukan raksasa dan tidak dibangun seperti bangunan tembok, kemudian dia gila dengan nafsunya seperti gila gajah yang mengamuk, dan aku dalam nafsuku berakal seperti akal manusia, kemudian dia kaya dengan kekayaan orang bodoh, dan aku miskin dengan kemiskinan orang alim. Dan para wanita; semoga Allah menghinakan para wanita. Sesungguhnya mereka adalah perhiasan yang mencari perhiasan seperti dirinya dan sesungguhnya wanita itu memberikan wajahnya kepada kera untuk dicium jika emas berjatuhan dari ciumannya. Adapun yang seperti diriku, hartanya adalah kemudaan, kecantikan, akal, dan kejeniusan, maka dia bangkrut di mata mereka seperti bangkrutnya kera di hutan, maka dia di mata mereka adalah kera karena kemiripan ini.”

Aku berkata: “Ini tidak aneh karena ahli bahasa memberikan kepada sesuatu nama apa yang mendekatinya dalam makna.”

Orang gila yang lain berkata: “Yang telah kami hafal”: bahwa ahli bahasa memberikan kepada sesuatu nama apa yang mendekatinya dalam makna…

Maka wajah “Si Jenius” memerah karena marah dan berkata: “Apakah orang gila ini mempermainkanku? Dia mengklaim bahwa ahli bahasa menyebutku kera, maka bawalah semua kamus dan kembalilah kepada kata ‘kera’ dan kata ‘jenius’… memalukan bagimu wahai anak tua… Mari biarkan aku mendidiknya dengan didikan anak-anak karena tamparan keras di wajah anak yang keras kepala sesungguhnya menyentuhkan padanya kebenaran yang dia keras kepalai karena memasukkannya ke akalnya dari jalan terdekat…”

  1. Sy berkata: “Kamu yang berkata: bukan dia. Padahal kamu tidak pernah menjadi kera kecuali di mata wanita cantik menawan yang khayalan dan bermanja-manja, yang meletakkan pelana di punggung pangeran dan menjadikannya keledainya, maka pangeran itu heran bahwa dia menjadi keledainya. Dan kamu bukan kera bersama kutu di samping kambing dan anjing.”

Dia berkata: “Sekarang aku tahu sebabnya, karena si khianat itu khayalan dan pengarang buku-buku dan novel, dan wanita yang mengarang buku, tidak jauh jika dia juga mengarang laki-laki, dan menjadikannya cerita di mana dia adalah kera… dan ini jika dia cantik seperti wanita dalam novel. Adapun jika dia jelek kumpulan kontradiksi, atau nenek tua kumpulan tahun-tahun; maka yang ini dan yang itu semua harinya seperti hari Minggu di kalangan Nasrani… hari libur tidak ada jual beli di dalamnya atau tawar-menawar. Yang ini dan yang itu keduanya menjadikan laki-laki seperti air dalam proses pembekuan… tidak menyala, apalagi berkobar, apalagi terbakar.

Dan pengarang buku wajahnya tidak lain kecuali salah satu dari dua dokumen: jika cantik, maka wajahnya dokumen bahwa dia memiliki hutang pada laki-laki; dan jika tidak cantik, maka wajahnya “lunas” dari semua hutang…”

Kami berkata: “Ini tentang si khianat. Bagaimana pencuri merampokmu padahal kamu tidak kaya?”

Dia berkata: “Ini adalah lelucon kejeniusan; dan dalam kejeniusan ada hal-hal yang tidak terungkap penjelasannya, dan tidak ada bahaya dalam ketidaktahuan terhadapnya, dan ketidaktahuan yang tidak merugikan adalah ilmu yang tidak bermanfaat, tetapi itu ilmu. Dan penelitian tentang sebagian perbuatan ‘Si Jenius’ adalah seperti penelitian tentang rahasia kehidupan di dalamnya, karena dia melakukan perbuatan-perbuatan itu dengan rahasia kehidupan bukan dengan rahasia akal, yaitu dengan akal jenius yang khusus baginya saja bukan dengan akal alami yang sama di antara manusia.”

Aku berkata: “Dan dari keajaibanmu bahwa kamu tidak membaca novel, tetapi meskipun demikian kamu mengarangnya…”

Dia berkata: “Sesungguhnya itu terjadi, dan jika aku tidak mengarangnya maka dia mengarang untuk diriku. Maka jika malam datang dan semua orang tidur, aku terbangun sendirian untuk novel dunia dan aku melihat apa yang aku ingin lihat. Dan dalam cahaya siang aku menemukan orang-orang berakal tetapi aku dalam kegelapan malam melihat mereka gila. Maka malam ini adalah bukti alam tentang kegilaan manusia dan lemahnya akal mereka karena dia membuktikan kebutuhan akal-akal ini kepada sejenis kelupaan bodoh total yang tanpanya tidak berakal di siang hari mereka dan tidak lurus urusan mereka.

Orang-orang terjatuh di malam hari seperti jatuhnya orang gila, mereka memejamkan mata dan tidak melihat apa-apa. Adapun aku, aku melihat dunia di malam hari sebagai panggung komedi yang riuh dengan tawa terhadap manusia bodoh yang memotong siang harinya, sementara dia meyakini bahwa dia mengenggam keberadaan dengan mata, telinga, dan hidung… Apakah jika kamu melihat singa dengan matamu wahai orang bodoh dan mendengar di telingamu aumannya, kamu mengklaim klaim yang luas, dan berdalih bahwa kamu menguasainya dan mengenggamnya, dan kamu tidak tahu dalam hal ini bahwa kamu seperti orang dungu jika mengenggam bayangan dengan tangannya, dan berteriak ‘bawalah tali untuk aku ikat agar tidak lolos’?”

Aku berkata: “Jika seluruh dunia adalah novelmu maka keluarkanlah untuk kami satu bab dari novel itu.”

Dia berkata: “Mana yang lebih kalian sukai, aku menulis atau bermain peran?”

Kami berkata: “Bermain peran lebih kami sukai.” Maka dia memandang orang gila yang lain dan berkata: “Dan sesungguhnya orang gila dalam tabiatnya adalah mata air dari tokoh-tokoh yang mengalir keadaan demi keadaan, seperti mata air yang mengalir gelombang demi gelombang, maka inilah panggungnya, dan novel sekarang adalah novel dokter dan orang gila…

Kamu wahai S. A. adalah paman orang gila ini. Jika dia berkata kepadamu wahai paman, katakan padanya: Aku bukan pamanmu tetapi aku saudara ayahmu… mari kita lihat apakah dia sadar akan perbedaan antara kedua ungkapan itu atau tidak; karena itu perbedaan akal yang halus untuk menguji akal-akal…

Marilah wahai pasien karena aku berharap kesembuhanmu ada di tanganku, dan di tanganku ini ada sentuhan dari sentuhan-sentuhan Isa Al-Masih, karena ‘jenius abad ke-20’ sekarang adalah dokter abad ke-20…

Jagalah agar tidak membuatnya marah atau menakutinya, dan sediakanlah untuknya semua yang dia butuhkan, dan carilah kesenangannya selalu, karena memasukkan sebagian kegembiraan ke jiwa orang gila adalah memasukkan sebagian akal ke kepalanya.

Kapan kamu mengingkari akal keponakanmu wahai S. A. dan apa sebabnya? Dan bagaimana akalnya terkalahkan? Dan apakah A. Sy ini adalah pamannya atau saudara ibunya?

Semoga Allah melimpahkan kemurahan untukmu wahai orang miskin. Katakan padaku: apakah kamu ingat kemarin? Apakah kamu ingat besok? Sesungguhnya kemarin dan besok keduanya hilang dari perhitungan orang gila; dan dari rahmat kepada mereka bahwa dunia dimulai untuk mereka setiap hari, maka mereka beristirahat dari dua pertiga kekhawatiran waktu yang ada pada orang berakal, dan mereka tidak pantas menguntungkan orang seperti orang berakal, tetapi mereka lebih pantas daripada orang berakal untuk mengambil manfaat dari diri mereka sendiri dalam tertawa, kegembiraan, dan kesenangan, dan ini cukup bagi mereka sebagai nikmat atas mereka.

Katakan padaku wahai orang gila: apakah kamu merasa bahwa dunia membuat jiwamu untukmu, ataukah jiwamu yang membuat dunia untukmu? Sesungguhnya ini adalah masalah yang diselesaikan setiap orang gila dengan caranya sendiri yang khusus, maka apa caramu dalam menyelesaikannya?

Mengapa kamu tidak menjawab wahai orang bodoh? ‘Ini dari satu sisi dan dari sisi lain’ berikanlah dia satu qirsy agar lidahnya lancar, dan berikanlah dokter upahnya yang cukup yaitu tidak kurang dari dua qirsy…

Kemudian ‘Si Jenius’ condong pada orang gila matn dan membisikkan sesuatu padanya. Maka kami berkata mengapa urusan uang dirahasiakan; ini satu qirsy untuk pasien dan ini dua qirsy untuk dokter.

Maka orang gila berkata: “Yang telah kami hafal” cukuplah keselamatan sebagai penyakit.

‘Dokter’ berkata: “Ini pasien dengan jenis kegilaan bernama ‘yang telah kami hafal’ dan itu adalah kegilaan kelupaan yang menempatkan di tempat akal kata tetap yang tidak diingat orang gila kecuali dengannya; dan di antara gejalanya adalah kegilaan keraguan maka semua yang di sekitar pasien diragukan, dan mungkin meluas ke kegilaan sentuhan, maka jika kamu menyentuhnya dengan jarimu dia mengira itu kalajengking lalu takut pada jari yang menyentuhnya seperti takutnya pada kalajengking yang menyengatnya, tetapi masih ada hal-hal yang harus diteliti dengan cermat dalam pemeriksaannya, karena ini bukan dari orang gila kejeniusan yang menyimpang dari jalannya atau menyimpang dalam kekuatannya; dan dia bukan termasuk yang pura-pura gila dan bodoh untuk mencari rezeki dan penghidupan seperti yang dikatakan sebagian mereka: kebodohan yang menghidupiku lebih baik daripada akal yang aku hidupi.”

Maka orang gila berkata: “Yang telah kami hafal” kebodohan yang menghidupiku…

Maka ‘Si Jenius’ tertawa dan berkata: “Dia seperti yang telah aku jelaskan kepada kalian terkena kegilaan ‘yang telah kami hafal’ dan itu adalah kegilaan yang paling ringan dan paling mudah, dan obatnya adalah kegembiraan, kesenangan, dan qirsy, dan kadang-kadang pukulan… maka jika penyakit itu berlanjut padanya berubah menjadi kegilaan ‘yang telah kami pukul’… maka penderita menyerang setiap orang yang dilihatnya atau menimpakan pukulan padanya, dan obatnya ketika itu adalah baju bergambar; maka jika penyakit bertambah parah, penyakit berubah menjadi kegilaan ‘yang telah kami bunuh’. Dan obatnya ketika itu adalah rantai dan belenggu.

Dan aku berkata yang sebenarnya kepada kalian bahwa akhir yang dicapai filsafat kedokteran di abad ke-20 bahwa semua manusia adalah gila tetapi sebagian lebih banyak bagiannya daripada sebagian. Seolah-olah hilangnya akal itu juga nasib seperti nasib bakat akal. Dan penduduk Mars karena itu menyebut bumi rumah sakit jiwa alam semesta.

Tetapi masih ada hal-hal yang harus diteliti dengan cermat; dan aku punya di rumah obat pebersin jika aku biarkan orang gila ini menciumnya dia akan bersin keras dengannya maka kegilaannya keluar dari hidungnya… Katakan padaku wahai orang miskin: apakah kamu takut jika berjalan sendirian di lapangan luas seolah-olah lapangan akan membelit mu? Apakah kamu gelisah jika berjalan di tempat sempit seolah-olah tempat akan menimpa mu? Dan jika kamu berada di gerbong kereta apakah terbayang bagimu bahwa rumah sakit jiwa telah ditarik kereta dan lari dengannya? Dan apakah kamu pernah merasa bahwa kamu diwahyui untuk bunuh diri?

Tunjukkan padaku qirsy yang ada di tanganmu.” Maka orang gila mengulurkan tangannya dengan qirsy kepadanya.

‘Si Jenius’ berkata: “Lihatlah sekarang apakah jiwamu berbicara kepadamu untuk merebut qirsy ini dariku atau mencurinya dariku?” Dia berkata: “Ya.”

‘Si Jenius’ berkata: “Kalau begitu aku harus menjaganya di sakuku…” dan dia cepat menyembunyikannya di sakunya.

Maka yang lain berteriak dan membuat keributan, dan berkata: “Dia merampok dan merampokku.” Kami berkata tidak seharusnya terjadi kejahatan di antara kalian berdua dalam pertunjukan novel maka ini qirsy lain, tetapi apakah dalam filsafat ‘Si Jenius’ ada kebolehan mencuri dan merampok?

Dia berkata: “Maka novel sekarang adalah novel filsuf besar Plato dan muridnya Aristoteles.

Katakan padaku celaka mu wahai Aristoteles. Apakah kamu tahu bahwa di antara orang gila ada orang kaya yang mencuri barang sedikit yang tidak berharga sementara mereka kaya dan tidak membutuhkannya. Maka apa sebab itu menurutmu dan apa wajahnya dalam kategori kegilaan?

Apakah kamu tidak bisa menjawab? Kalau begitu ketahuilah wahai Aristoteles bahwa penderita jenis kegilaan ini jika membeli barang ini dengan dirham maka nilainya dari dirham saja, dan dia kaya tidak ada nilai dirham dalam hartanya maka dia tidak peduli dengan pembelian, tetapi jika dia mencurinya maka nilainya baginya dari akal dan tipu dayanya maka mendatangkan padanya kenikmatan yang tidak bisa dibeli semua hartanya dan semua harta dunia. Maka ini kegilaan dengan kenikmatan bukan dengan pencurian, dan dengan itu sejenis cinta yang menjadikan barang jika tidak dicuri seolah-olah dia wanita tercinta yang menolak kekasihnya.

Dan orang lapar jika mencuri untuk makan dan menjaga nyawa mereka, tidak dikatakan dalam bahasa filsafat bahwa mereka mencuri tetapi mengambil… maka dengan terpaksa mereka lapar dan dengan terpaksa seperti itu mereka makan, dan pencuri di sini adalah orang kaya yang menolak kebaikan dan pertolongan kepada mereka.

Maka dunia terbalik posisinya wahai Aristoteles, jika posisi-posisi ini lurus kamu akan menemukan kebahagiaan di bumi untuk semua penghuni bumi. Dan bagaimana bagimu kebahagiaan sementara manusia diciptakan dengan cacat mereka? Dan andai mereka diciptakan hanya dengan cacat mereka saja, tetapi bencana besar bahwa cacat mereka selalu bekerja untuk melihat pada orang lain cacat seperti mereka.

Setiap keledai ingin mengisi perutnya dengan jerami, kacang polong, dan gandum, tetapi aku tidak pernah melihat keledai yang ingin mengisi kandang untuk dirinya; maka jika ada keledai yang ini cita-citanya dan ini pekerjaannya maka namanya manusia bukan keledai.

Wahai Aristoteles, sesungguhnya masalah dari masalah adalah bahwa manusia mencoba menyelesaikan masalah internal murni yang ada dalam jiwa keledai atau tetap dalam akal keledainya… dan seperti itu bahwa keledai mencoba menyelesaikan masalah psikologis dalam akal manusia atau dalam hatinya, maka tidak ada penyelesaian untuk masalah dunia selama-lamanya selama setiap manusia dengan orang lain seperti keledai dengan manusia.

Dan masalah-masalah psikologis adalah pekerjaan setan, maka seharusnya malaikat datang untuk memerangi setan dengan petir dan guntur membela kemanusiaan; tetapi Allah Ta’ala melarangnya, dan mengutus untuk manusia malaikat lain jika manusia ini mau bekerja, dan jika mau lemah; dan itu adalah keutamaan agama-agama yang diturunkan. Maka jika manusia memberikan padanya kehendak dan kekuatannya, lalu dia bekerja maka manusia adalah raja bahkan di atas raja, dan jika dia melemahkannya dan menghapusnya maka manusia adalah setan dan lebih rendah dari setan.

Wahai Aristoteles: ‘Dunia ini bagiku adalah gumpalan ketiadaan yang kebetulan muncul dan akan menghilang. Dan dunia bagiku adalah kelemahan yang terkumpul dan kekuatan yang tersusun. Dan dunia bagiku tidak ada apa-apanya. Dan dunia setengah-setengah. Dan dunia dua bagian: di antara mereka petani penanam dan itu filsafat alam terbaik. Dan dunia membutuhkan kematian dan kematian membutuhkannya. Dan sastra adalah kehidupan dan tidak ada kehidupan tanpa sastra. Dan sastra dua macam: sastra jiwa dan sastra yang diperoleh, dan mungkin alami sebagaimana ada pada jenius abad ke-20. Dan siapa jenius abad ke-20? Dia adalah orang yang mati tanpa mati, dan hidup tanpa hidup’.

Apakah kamu ingin wahai Aristoteles mengetahui rahasia susunan dunia? Perkara itu mudah tidak sulit, karena rahasia susunannya seperti rahasia susunan qirsy yang ada di tanganmu, maka biarkan aku menunjukkan kepadamu kebenaran ini dan ulurkan tanganmu dengan qirsy untuk aku tunjukkan kepadamu rahasia susunan di dalamnya.”

Tetapi orang gila yang lain lebih cepat dan menyembunyikan qirsy di sakunya. Maka ‘Si Jenius’ berkata: “Ini politisi licik jahat. Dan novel sekarang adalah novel politisi abad ke-20.

Tidak ada dalam hakikat politik kecuali yang rendah dari perbuatan para politisi. Dan kata-kata politik yang mengandung lebih dari satu makna adalah yang tidak mengandung makna. Maka hendaklah Timur berhati-hati dari setiap kata politik yang mengandung dua makna, atau makna dan setengah makna, atau makna dan mirip makna; maka jika mereka berkata kepada kita: ‘merah’ kita katakan kepada mereka: tulislah dengan kata ini; maka jika mereka menulisnya kita katakan kepada mereka: gambarlah di sampingnya maknanya dengan warna merah agar alam sendiri bersaksi bahwa maknanya merah tidak lain… dan dengan cara ini harus ditulis perjanjian-perjanjian politik antara Eropa dan Timur…

Sesungguhnya mereka menulis untuk kita koran dengan nama-nama makanan kemudian berkata: kalian makan dan kenyang… dan aku telah melihat ‘demonstrasi’ banyak tetapi tidak ada seperti demonstrasi yang aku inginkan; maka aku tidak berharap kecuali semua orang gila keluar dalam demonstrasi…”

Dan orang bodoh yang ada di hadapan kami ini bukanlah seorang nasionalis dan tidak ada secercah pun rasa nasionalisme dalam dirinya; jika dia memang nasionalis atau mengaku sebagai nasionalis, maka keluarkanlah uang koin yang ada di sakunya… agar menjadi pertanda baik bagi keluarnya tentara pendudukan dari Mesir…

Namun si gila itu tidak mengeluarkan koin tersebut dan membiarkan tentara pendudukan tetap di tempatnya.

Maka berkatalah “si Jenius”: Cerita sekarang adalah cerita polisi dan pencuri. Dan menurut hukum, polisi berhak menggeledah pencuri ini untuk mengeluarkan koin dari sakunya…

Namun si gila itu menolak. Maka berkatalah “si Jenius”: Semua itu tidak berguna dengan orang jahat ini, cerita sekarang adalah cerita Harun ar-Rasyid dengan keluarga Barmaki, dan Rasyid harus menghancurkan para Barmaki ini untuk merebut koin tersebut.

Tetapi kami mencegahnya untuk menghancurkan “para Barmaki” maka dia berkata: Cerita sekarang adalah cerita kekasih dan yang dicintai, dan dia menatap lama si gila itu, memandangnya dari atas ke bawah, mencari-cari namun tidak melihat apa-apa kecuali yang mengingatkan bahwa dia seorang laki-laki, maka tercetuslah pendapat yang aneh. Dia jatuh berlutut di kakinya dan membayangkannya sebagai seorang wanita dengan sepatunya… dan mulai berbisik kepada sepatu itu dengan bisikan ini:

Sesungguhnya kekonyolan cinta adalah dalil terkuat bagi para pencinta bahwa cinta itu tidak konyol; setiap pikiran dalam cinta, betapapun konyolnya, memiliki keagungan cinta; dan sepatu di kakimu wahai kekasihku memiliki keindahan seperti peti yang penuh emas di mata orang kikir, dan segala sesuatu darimu mengandung rahasia kecantikanmu. Dan sepatu di kakimu bukanlah sepatu, tetapi bagian dari batas-batas tubuh indahmu, maka aku tidak akan menjadi kekasih yang sempurna hingga aku merangkul semua batasmu hingga ke sepatu.

Sesungguhnya tubuhmu wahai kekasihku seperti air yang mengalir jernih; di setiap tempat darinya terdapat ruh air keseluruhan; dan di manapun ciuman jatuh dari tubuhmu, di sana terdapat ruh bibir merah mudamu. Ini ciuman di kakimu wahai kekasihku; dan ini ciuman di betismu; dan ini ciuman di bajumu, dan ini ciuman di sakumu…

Dan hampir saja tangan “si Jenius” mengeluarkan koin itu, namun si gila menggigit bahunya dengan gigitan buas, ketakutan tiba-tiba menyerangnya sehingga akalnya hilang; dia berteriak dengan teriakan dahsyat yang memekakkan tempat itu dan bergema seperti jeritan elang di udara, kemudian dia kerasukan, dan kegilaan menguasainya sehingga dia bingung dan mengamuk.

“Dan sekarang ceritanya”?… cerita ambulans…

 

Facebook Comments Box

Artikel Terjkait

Beban Tak Kasat Mata: Mengapa Ibadah Terasa Berat?
SYARAH RIYADHUSHSHALIHIN (Penjelasan Taman Orang-orang Saleh) JILID 03 DARI 03
Fawaid ilmiyah 11
Rukun Iman
Kesaksian Suci dalam Pujian Para Imam terhadap Ibnu Taimiyyah
Beberapa Pelajaran dari Kisah Yusuf Alaihissalam
Al-Bidayah wa An-Nihayah (Permulaan dan Akhir) 01
Haramnya Bersumpah dengan Selain Allah
Berita ini 10 kali dibaca

Artikel Terjkait

Sabtu, 21 Februari 2026 - 02:49 WIB

Beban Tak Kasat Mata: Mengapa Ibadah Terasa Berat?

Rabu, 18 Februari 2026 - 06:11 WIB

SYARAH RIYADHUSHSHALIHIN (Penjelasan Taman Orang-orang Saleh) JILID 03 DARI 03

Rabu, 11 Februari 2026 - 03:38 WIB

ILHAM PENA JILID 2 DARI 3

Rabu, 4 Februari 2026 - 02:42 WIB

Fawaid ilmiyah 11

Kamis, 8 Januari 2026 - 14:22 WIB

Rukun Iman

Artikel Terbaru

Fikih

MENGUTAMAKAN QADHA PUASA RAMADHAN DARIPADA PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Mar 2026 - 15:02 WIB

Fikih

MENYEMPURNAKAN RAMADHAN DENGAN PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Mar 2026 - 14:46 WIB

Ibadah

Istiqomah Pasca Ramadhan

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:30 WIB

Dakwah

Ujian: Surat Cinta yang Mengajak Kembali ke Pelukan Ilahi

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:25 WIB

Dakwah

Rahasia Terbukanya Pintu Rahmat

Rabu, 25 Mar 2026 - 14:45 WIB