Kisah Mualaf: Mantan Pendeta Indonesia Berdarah Belanda Rachmat Purnomo

Sabtu, 25 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dia adalah seorang pria yang ayahnya berkebangsaan Belanda dan ibunya berkebangsaan Indonesia dari kota (Ambon) yang terletak di sebuah pulau kecil di ujung timur kepulauan Indonesia. Kristen adalah agama yang diwarisi keluarganya turun temurun.

Kakeknya adalah pendeta bermazhab Protestan, ayahnya juga pendeta bermazhab Pantecosta, dan ibunya adalah pengajar Injil untuk wanita. Adapun dia sendiri adalah seorang pendeta dan ketua misionaris di gereja (Bethel Gospel Spinoa). Dia berkata ketika menceritakan sebab keislamannya:

“Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya walau sedetik untuk menjadi Muslim, karena sejak kecil saya menerima pendidikan dari ayah saya yang selalu berkata kepada saya: ‘Sesungguhnya Muhammad adalah orang Badui gurun yang tidak memiliki ilmu dan pengetahuan, tidak bisa membaca dan dia buta huruf’, begitulah ayah saya mengajar saya. Bahkan lebih dari itu, saya pernah membaca dari Profesor Dr. Riccoldi, seorang Kristen Prancis, perkataannya dalam sebuah buku: ‘Bahwa Muhammad adalah penipu yang tinggal di neraka tingkat sembilan’. Begitulah banyak tuduhan palsu disebarkan untuk merusak kepribadian Rasul saw. Sejak saat itu terbentuk dalam diri saya pemikiran keliru yang mengakar yang mendorong saya menolak Islam dan tidak menjadikannya sebagai agama saya.

Kemudian dia berkata: Sebenarnya bukan merupakan tujuan saya sama sekali untuk mencari agama Islam, tetapi saya selalu didorong untuk menemukan kebenaran. Tetapi mengapa saya mencari kebenaran yang tidak diketahui? Dan mengapa saya meninggalkan agama saya padahal saya menikmati kedudukan terhormat di antara kaum saya, di mana saya adalah ketua misionaris Kristen di gereja, dan berdasarkan itu saya menjalani kehidupan yang penuh kemewahan dan kemudahan. Lalu mengapa saya memilih Islam?

Kisah ini dimulai sebagai berikut: Suatu hari pimpinan gereja mengutus saya untuk melakukan kegiatan misionaris selama tiga hari tiga malam di wilayah (Dairi) yang berjarak beberapa ratus kilometer dari ibu kota (Medan) yang terletak di utara pulau (Sumatera). Setelah selesai dari kegiatan misionaris dan dakwah, saya menginap di rumah penanggung jawab gereja di daerah tersebut, dan saya sedang menunggu datangnya mobil yang akan membawa saya ke tempat kerja saya. Tiba-tiba seorang lelaki muncul kepada kami. Dia adalah seorang guru Al-Qur’an, atau yang disebut di Indonesia sebagai ustaz di Madrasah, yaitu sekolah sederhana yang mengajarkan Al-Qur’an. Lelaki itu menarik perhatian, bertubuh kurus, berperawakan kecil mengenakan kopiah putih lusuh, dan pakaian yang warnanya telah berubah karena sering dipakai, bahkan sandalnya diikat dengan kawat karena sangat tua.

Lelaki itu mendekat kepada saya, dan setelah memberi salam dia langsung bertanya dengan pertanyaan yang aneh, katanya: ‘Anda menyebutkan dalam pembicaraan anda bahwa Isa Al-Masih adalah tuhan, mana dalil tentang ketuhanannya?’ Saya jawab: ‘Entah ada dalil atau tidak, hal itu tidak penting bagimu: jika mau percaya maka percayalah, jika mau kafir maka kafirlah.’ Di sini lelaki itu membelakangi saya dan pergi. Tetapi urusan tidak berakhir sampai di situ, saya mulai berpikir dalam hati dan berkata: Mustahil lelaki ini masuk surga, karena surga hanya dikhususkan bagi yang beriman kepada ketuhanan Al-Masih saja, begitulah keyakinan saya saat itu.

Tetapi ketika saya kembali ke rumah, saya mendapati suara lelaki itu bergema di jiwa saya dan mengetuk kuat di telinga saya, yang mendorong saya kembali kepada kitab-kitab Injil mencari jawaban yang benar untuk pertanyaannya. Diketahui bahwa ada empat Injil yang berbeda, satu ditulis Matius, lainnya Markus, ketiga Lukas, dan keempat Injil Yohanes. Penamaan ini diambil dari pengarang masing-masing, artinya keempat Injil terkenal itu adalah buatan manusia, dan ini sangat aneh. Kemudian saya bertanya kepada diri sendiri: ‘Apakah ada Al-Qur’an dengan versi berbeda buatan manusia?’ Dan datang jawaban yang tidak bisa dihindari yaitu: ‘Tentu saja tidak ada’. Kitab-kitab ini dan beberapa surat lainnya hanyalah sumber ajaran agama Kristen yang diakui!

Saya mulai mempelajari keempat Injil, apa yang saya temukan? Injil Matius ini apa yang dikatakannya tentang Al-Masih Isa as? Kita membaca di dalamnya: ‘Sesungguhnya Isa Al-Masih berketurunan dari Ibrahim dan Daud…’ (1:1). Jadi siapakah Isa? Bukankah dia dari keturunan manusia? Ya, jadi dia manusia. Dan Injil Lukas berkata: ‘Dan Ia akan memerintah atas kaum Yakub sampai selama-lamanya, dan kerajaan-Nya tidak akan ada kesudahannya’ (1:33). Injil Markus berkata: ‘Inilah silsilah keturunan Isa Al-Masih anak Allah’ (1:1). Dan akhirnya apa yang dikatakan Injil Yohanes tentang Isa Al-Masih as? Dia berkata: ‘Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah’ (1:1). Makna teks ini adalah pada mulanya adalah Al-Masih, dan Al-Masih bersama Allah, dan Al-Masih adalah Allah.

Saya berkata pada diri saya sendiri: Jadi ada perbedaan mencolok antara keempat kitab ini mengenai hakikat Al-Masih Isa alaihissalam, apakah beliau manusia ataukah anak Tuhan ataukah malaikat ataukah beliau adalah Tuhan? Hal itu membingungkan saya, dan saya tidak menemukan jawabannya. Di sini saya ingin bertanya kepada saudara-saudara Nasrani: (Apakah dalam Al-Quran Al-Karim terdapat pertentangan antara satu ayat dengan ayat lainnya?) Tentu saja tidak – mengapa? Karena Al-Quran dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan Injil-injil ini adalah karangan manusia. Kalian tentu mengetahui bahwa Isa alaihissalam sepanjang hidupnya melakukan aktivitas dakwah kepada Allah di sana-sini, dan kita dapat bertanya: Kira-kira apa prinsip dasar yang didakwahkan oleh Isa alaihissalam?

Kemudian saya melanjutkan penelitian, dan saya menemukan dalam Injil Yohanes teks-teks yang menunjukkan doa Al-Masih alaihissalam dan permohonannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saya berkata dalam hati: Jika Isa adalah Tuhan yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, apakah beliau membutuhkan permohonan dan doa ini yang termuat dalam Injil Yohanes? Inilah teks doanya: (Inilah hidup yang kekal yaitu supaya mereka mengenal Engkau satu-satunya Allah yang benar, dan Yesus Kristus yang Engkau utus. Aku telah memuliakan Engkau di bumi dengan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaku untuk kulakukan) (17:3-4). Dan ini adalah doa yang panjang yang pada akhirnya berkata: (Ya Bapa yang benar, dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang mengutus Aku. Dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau kasihi Aku ada di dalam mereka) (17:25-26). Doa ini merupakan pengakuan dari Isa alaihissalam bahwa Allah adalah Yang Maha Esa, dan bahwa Isa adalah utusan Allah yang diutus kepada kaum tertentu, bukan kepada seluruh manusia. Kaum mana gerangan mereka ini? Kita baca jawabannya dalam Injil Matius (15:24) di mana beliau berkata: (Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel). Jadi jika kita gabungkan pengakuan-pengakuan ini, kita dapat mengatakan: (Sesungguhnya Allah itu Maha Esa, dan sesungguhnya Isa alaihissalam adalah utusan Allah kepada Bani Israil).

Kemudian saya melanjutkan penelitian. Saya teringat bahwa ketika saya dalam shalat, saya selalu membaca kalimat-kalimat berikut: (Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus, tiga dalam satu oknum). Saya berkata pada diri saya: Sungguh aneh sekali. Jika kita bertanya kepada murid kelas satu SD (1+1+1=3?), dia akan menjawab: (Ya). Kemudian jika kita katakan kepadanya: (Tetapi juga 3=1), dia tidak akan menyetujui hal itu, karena ada kontradiksi nyata dalam apa yang kita katakan, sebab Isa alaihissalam berkata dalam Injil sebagaimana kita lihat bahwa Allah itu Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Telah terjadi kontradiksi nyata antara akidah yang tertanam dalam diri saya sejak kecil, yaitu: tiga dalam satu, dan apa yang diakui oleh Al-Masih Isa sendiri dalam kitab-kitab Injil yang ada di tangan kita sekarang, yaitu bahwa Allah itu Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Mana yang lebih benar? Saya tidak dapat memutuskan saat itu, dan sejujurnya, bahwa Allah itu Maha Esa. Maka saya mulai meneliti Injil lagi, semoga saya menemukan apa yang saya cari. Saya menemukan dalam Kitab Yesaya teks berikut: (Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala! Bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain; Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku) (46:9). Betapa besar kekaguman saya ketika memeluk Islam dan menemukan dalam Surat Al-Ikhlas firman Allah Ta’ala: Bismillahirrahmanirrahim: “Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” Ya, selama itu adalah firman Allah, maka tidak akan berbeda di mana pun ditemukan. Inilah ajaran pertama atau aksioma pertama dalam agama Kristen sebelumnya. Jadi (tiga dalam satu) tidak lagi memiliki tempat dalam hati saya.

Kemudian saudara Rahmah Bornomo dari Indonesia beralih ke poin mendasar lainnya yang membuatnya memilih Islam sebagai agama, dia berkata:

Adapun aksioma kedua dalam agama Kristen mengatakan bahwa ada yang disebut dosa warisan atau dosa pertama, yang dimaksud adalah bahwa dosa yang dilakukan Adam alaihissalam ketika memakan buah yang diharamkan dari pohon di surga, dosa ini akan diwarisi oleh seluruh umat manusia, bahkan janin dalam kandungan ibunya pun menanggung dosa ini, dia lahir berdosa. Apakah ini benar atau tidak? Saya mulai meneliti kebenaran hal itu, saya merujuk kepada Perjanjian Lama dan menemukan dalam Kitab Yehezkiel sebagai berikut: (Anak tidak akan menanggung kesalahan ayahnya, dan ayah tidak akan menanggung kesalahan anaknya, kebenaran orang benar itu akan ditanggungnya sendiri, dan kefasikan orang fasik itu akan ditanggungnya sendiri. Tetapi jika orang fasik itu bertobat dari segala dosanya yang telah diperbuatnya dan melakukan segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, tidak akan mati. Segala pelanggarannya yang telah diperbuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia) (Yehezkiel 18:20-21).

Mungkin tepat di sini kita sebutkan apa yang dikatakan Al-Quran Al-Karim dalam hal ini: “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun orang itu karib kerabatnya” (Fathir: 18). Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap anak Adam dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Inilah kaidah dalam Islam, dan sejalan dengan apa yang ada dalam Injil. Bagaimana bisa dikatakan: (Bahwa dosa Adam berpindah dari generasi ke generasi, dan manusia lahir berdosa?)

Saudara (Rahmah Bornomo) dari Indonesia berkata:

Jadi ajaran-ajaran Kristen ini telah jelas kebatilannya dan kedustaannya dengan teks tegas dari kitab yang disebut (suci) itu sendiri. Dan ada aksioma ketiga dalam ajaran Nasrani yang mengatakan: Bahwa dosa-dosa umat manusia tidak diampuni kecuali Isa alaihissalam disalib. Saya mulai merenungkan aksioma ini dan bertanya: (Apakah ini benar?) Jawabannya yang tak dapat dihindari: Tentu saja tidak, karena teks yang disebutkan tadi dari Perjanjian Lama menolak keyakinan seperti itu dengan perkataannya: (Tetapi jika orang fasik itu bertobat dari segala dosanya yang telah diperbuatnya dan melakukan segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, tidak akan mati. Segala pelanggarannya yang telah diperbuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia), artinya Allah mengampuni dosa-dosanya tanpa memerlukan perantara siapa pun.

Saudara Indonesia yang pernah menjadi pendeta pada suatu hari melanjutkan menceritakan kepada kita apa yang dilakukannya setelah itu dalam perjalanan panjangnya dari kekafiran menuju Islam, dia berkata:

Saya melanjutkan penelitian dalam sejumlah masalah akidah lainnya. Suatu hari saya meletakkan Injil dan Al-Quran di hadapan saya di atas meja, dan saya mengajukan pertanyaan berikut kepada Injil, saya berkata kepadanya: (Apa yang kamu ketahui tentang Muhammad?) Injil menjawab: (Tidak ada, karena nama Muhammad tidak disebutkan dalam Injil). Kemudian saya mengajukan pertanyaan kepada Isa sebagaimana Al-Quran berbicara, saya berkata: (Wahai Isa anak Maryam, apa yang engkau ketahui tentang Muhammad?) Dia menjawab: (Al-Quran telah menyebutkan tanpa keraguan bahwa seorang rasul harus datang setelahku bernama Ahmad). Allah Ta’ala berfirman atas lisan Isa alaihissalam: “Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata: ‘Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.’ Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: ‘Ini adalah sihir yang nyata.’” (Ash-Shaff: 6). Mana yang benar?

Kemudian dia berkata: Ada satu Injil yaitu Injil Barnabas yang berbeda dari keempat Injil yang kita sebutkan sebelumnya. Injil ini sayangnya diharamkan oleh para pemuka agama Nasrani untuk dilihat oleh pengikut mereka. Tahukah kalian mengapa? Kemungkinan besar karena Injil ini adalah satu-satunya yang memuat kabar gembira tentang Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan di dalamnya tambahan serta perubahan berkurang hingga batas minimum. Juga di dalamnya terdapat kebenaran yang sesuai dengan apa yang ada dalam Al-Quran Al-Karim. Dalam Injil Barnabas (pasal 163) disebutkan: Ketika itu murid-murid bertanya kepada Al-Masih: Wahai guru, siapa yang datang setelahmu? Al-Masih berkata dengan penuh kegembiraan dan suka cita: Muhammad utusan Allah akan datang setelahku seperti awan putih yang menaungi semua orang beriman.

Saudara Rahmah Bornomo melanjutkan: Kemudian saya membaca ayat lain dalam Injil Barnabas yaitu perkataannya dalam (pasal 72): Ketika itu Andreas (murid) bertanya kepada Al-Masih: (Wahai guru! Ketika Muhammad datang, apa tanda-tandanya sehingga kami mengenalnya?) Al-Masih berkata: (Muhammad tidak datang di zaman kita ini, tetapi akan datang setelah ratusan tahun ketika Injil diubah, dan orang-orang beriman ketika itu tidak mencapai jumlah tiga puluh orang. Maka ketika itu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus penutup para nabi dan rasul, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam). Penyebutan hal itu berulang dalam Injil Barnabas beberapa kali, saya hitung dan saya dapati di dalamnya empat puluh lima ayat yang menyebutkan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan saya cukupkan dengan dua ayat sebelumnya sebagai contoh.

Setelah itu saudara yang baru menemukan hidayah dari Indonesia berbicara tentang sisi lain dari studi perbandingannya, dia berkata: Di antara ajaran dasar dalam agama Kristen adalah bahwa Isa alaihissalam adalah penyelamat dunia, artinya jika kamu beriman kepada ketuhanan Isa maka kamu akan selamat. Ini berarti kamu dapat melakukan apa saja tanpa peduli dosa dan maksiat selama kamu beriman kepada Isa sebagai penyelamatmu, dengan syarat kamu yakin bahwa kamu termasuk pengikut. Saya berkata pada diri saya: Saya harus meneliti dalam Injil dan mengetahui yang benar dari yang batil dalam hal itu. Dalam Kitab Kisah Para Rasul, surat Paulus yang pertama kepada jemaat Korintus berkata: Allah telah membangkitkan Tuhan dan akan membangkitkan kita juga dengan kuasa-Nya (6:14). Kisahnya sebagaimana termuat dalam ajaran Kristen adalah sebagai berikut: bahwa ketika mereka menangkap Tuan Al-Masih, mereka menghadapkannya di hadapan keadilan lalu memutuskan untuk menyalibnya, kemudian dikuburkan, maka di sini ayat itu sesuai dengan kisah tersebut.

Di sini saudara Rahmah Bornomo berkomentar: Saya merenungkan ayat ini lama kemudian berkata: Jika Allah tidak campur tangan dalam membangkitkan Al-Masih dari kubur, beliau akan tetap terkubur di bawah tanah hingga hari kiamat. Jadi selama Al-Masih tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri, bagaimana mungkin beliau bisa menyelamatkan orang lain? Pantas kah bagi tuhan –seperti yang mereka klaim– untuk tidak mampu melakukan itu? Saya tidak ragu sejenak bahwa setiap orang berakal akan menyetujui apa yang saya katakan. Bukankah demikian?

Kemudian dia berkata:

Saat itu saya bertekad untuk keluar dari gereja dan tidak pergi ke sana lagi. Itu pada tahun 1969 di mana saya benar-benar keluar dan tidak lagi sering ke gereja. Bukan berarti saya keluar saat itu dari agama Nasrani itu sendiri, karena sebagaimana diketahui ada gereja-gereja dan mazhab-mazhab berbeda dalam agama Nasrani, ada Katolik, Protestan, Metodis, Plei Keselamatan, Unitarian, dan lain-lain banyak, sampai saya dapat mengatakan bahwa ada lebih dari 360 mazhab dalam agama Nasrani. Allah Yang Maha Besar berfirman benar: “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (Al-An’am: 153).

Mungkin ada yang berkata: Dalam Islam pun terdapat beberapa mazhab dan golongan, ada mazhab empat yang terkenal yaitu Hanafi, Syafi’i, Hanbali, dan Maliki serta lainnya… Jawabannya adalah bahwa pengikut mazhab-mazhab… tidak berbeda dalam pokok-pokok agama, bahkan mereka semua sepakat bahwa Allah itu Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, sebagaimana mereka sepakat dalam rukun Islam yang lima. Sisi perbedaan di antara mereka hanya dalam cabang-cabang fiqh saja, bukan dalam pokok-pokok, sedangkan dalam agama Kristen urusannya sama sekali berbeda karena perbedaan dalam inti akidah, dan inilah perbedaan antara Islam dan Kristen.

Bagaimana pun berbedanya mazhab-mazhab dalam Islam, kamu tidak akan menemukan masjid yang khusus untuk mazhab tertentu saja tanpa masjid-masjid lainnya, bahkan sebaliknya, jika muadzin memanggil untuk shalat, kamu akan menemukan setiap Muslim memasuki masjid terdekat untuk shalat di dalamnya. Tapi urusan sama sekali berbeda dalam agama Nasrani: setiap gereja mengikuti mazhab tertentu, dan tidak ada yang masuk kecuali pengikut mazhab itu saja. Katolik tidak shalat di gereja Protestan, dan Protestan juga tidak shalat di gereja Katolik, demikian seterusnya.

Kemudian saudara Rahmah Bornomo melanjutkan kisahnya yang menarik:

Suatu hari saya bertemu dengan teman yang mengajak saya ke Katolik, dan dia mulai menyebutkan kelebihan-kelebihan mazhab ini yang tidak saya temukan dalam mazhab Protestan saya. Teman saya berkata: (Dalam mazhab ini ada ruang pengampunan, yaitu ruangan di gereja yang di dalamnya duduk pendeta berjenggot lebat mengenakan pakaian hitam, duduk di kursi tinggi. Barang siapa meminta maaf dan ampunan pergi kepadanya, dan mengulang beberapa kata yang tidak dipahami, dan begitu selesai membacanya, dikatakan kepadanya bahwa dia bersih dari dosa-dosanya dan kembali seperti hari ibunya melahirkannya). Demikian kata teman saya, dan dia menambahkan: (Semua dosa yang dilakukan tanganmu selama hari-hari dalam seminggu akan diampuni ketika kamu pergi ke gereja pada hari Minggu dan mendapat pengampunan. Kamu tidak perlu shalat dan tidak perlu ibadah, tapi jika kamu meninggalkan semua itu dan pergi ke pendeta, mengaku di hadapannya, dosa-dosamu diampuni).

Saudara Rahmah Bornomo berkata: Saya teringat apa yang ditetapkan Islam dalam hal itu, yaitu bahwa manusia setinggi apa pun pangkat seseorang tidak mungkin diserahkan kepadanya pengampunan dosa-dosa hamba. Sebagaimana taubat dan ampunan tidak menggugurkan kewajiban dan fardhu, bahkan orang yang bertaubat harus menunaikan shalat lima waktu dalam waktunya. Jika dia meninggalkannya maka tidak ada nilai taubatnya dan dia berdosa besar yang tidak mungkin ditanggung orang lain untuknya “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain”. Allah Yang Maha Besar berfirman benar.

Kemudian dia berkata: Saya melihat orang-orang yang masuk ke ruang pengampunan di gereja, di wajah mereka tanda-tanda sedih dan murung karena beratnya dosa, sementara saya melihat yang keluar dari sana telah tersenyum bahagia di wajahnya karena keyakinannya bahwa dosa-dosanya telah diampuni. Adapun saya, ketika mencoba ruangan itu, saya masuk dengan sedih dan keluar dengan sedih. Mengapa? Karena saya berpikir dan bertanya: (Dosa-dosa kita ditanggung pendeta, tapi siapa yang menanggung dosa-dosanya?) Demikianlah saya tidak yakin dengan Katolik, maka saya meninggalkannya dan mencari agama lain.

Kemudian saudara Rahmah Bornomo menceritakan kepada kita tentang tahap selanjutnya dari perjalanannya dari keraguan menuju keyakinan:

Setelah itu saya berkenalan dengan golongan Nasrani lain bernama (Saksi Yehuwa), yaitu mazhab lain dari mazhab-mazhab Nasrani. Saya bertemu pemimpin mereka dan bertanya tentang ajaran mazhabnya. Saya berkata: (Siapa yang kalian sembah?) Dia berkata: (Allah). Saya berkata: (Dan siapa Al-Masih?) Dia berkata: (Isa adalah utusan Allah). Hal itu sesuai dengan apa yang saya imani dan condong kepadanya. Saya masuk gereja mereka dan tidak menemukan satu salib pun di dalamnya. Saya tanya tentang rahasia itu, dia berkata: (Salib adalah tanda kekafiran, karena itu kami tidak menggantungkannya di gereja-gereja kami).

Demikianlah saudara Rahmah Bornomo rela untuk mengetahui lebih banyak tentang Saksi Yehuwa. Dia menggambarkan periode hidupnya ini: Saya menghabiskan tiga bulan penuh menerima ajaran mazhab itu, dan pada akhirnya saya berdialog dengan pemimpin gereja yang berkebangsaan Belanda. Saya berkata kepadanya: (Tuan, jika saya meninggal dengan mazhab ini, ke mana nasib saya?) Dia berkata: (Seperti asap yang hilang di udara). Saya berkata heran: (Tapi saya bukan rokok, saya manusia yang berakal dan hati nurani).

Kemudian saya bertanya kepadanya: “Dan ke mana arah saya setelah kematian?” Dia menjawab: “Kamu akan ditempatkan di suatu lapangan yang luas.” Saya bertanya kepadanya: “Dan di mana lapangan itu?” Dia berkata: “Saya tidak tahu.” Saya berkata: “Tuan, jika saya adalah hamba yang taat dan berpegang teguh pada mazhab ini, apakah saya akan masuk surga?” Dia menjawab: “Tidak.” Saya bertanya: “Lalu ke mana?” Dia berkata: “Orang-orang yang masuk surga jumlahnya hanya 144 ribu orang saja, sedangkan kamu akan tinggal di bumi lagi.” Di sini saya memotong perkataannya dengan berkata: “Tetapi tuan, hari kiamat telah terjadi, dunia telah rusak.” Dia berkata: “Kamu tidak memahami hakikat kiamat. Jika kamu memiliki kursi dan di atasnya ada serangga-serangga yang mengganggu, apakah kamu akan membakar kursi itu untuk menyingkirkan serangga-serangga tersebut?” Saya menjawab: “Tidak.” Dia berkata: “Tetapi kamu akan membunuh serangga-serangga itu dan kursi tetap utuh, dan begitulah bumi akan tetap utuh setelah dibersihkan dari kotoran dan dosa-dosa, dan kemudian manusia akan pindah ke sana dari lapangan itu, jadi tidak ada yang disebut dengan neraka.”

Di sini saya memikirkan dengan baik, mempelajari dan merenungkan masalah tersebut, hingga saya mengambil keputusan akhir untuk meninggalkan agama Kristen dengan semua mazhabnya secara resmi. Itu terjadi pada tahun 1970. Suatu hari ketika saya sedang berjalan mencari kebenaran, saya melihat sebuah kuil Buddha yang indah dan besar, lalu saya mendekatinya. Di dalamnya saya menemukan beberapa patung dan gambar, dan di langit-langit ada patung naga, serta di dinding-dinding seperti itu juga. Saya juga melihat di depan gerbang dua patung berbentuk singa yang diam. Begitu saya masuk dari gerbang, seorang pria datang dan menghentikan saya, bertanya: “Mau ke mana?” Saya berkata: “Saya ingin masuk.” Dia berkata: “Lepas sepatumu sebelum masuk, ini kuil kami jadi hormati tempat ibadah kami.” Saya berkata dalam hati: “Bahkan agama Buddha mengenal kebersihan, sedangkan agama saya sebelumnya tidak ada kebersihannya. Saya ingat ketika saya masuk gereja, saya tidak melepas sepatu saat masuk.”

Kemudian dia berkata: “Saya mencoba agama Buddha untuk beberapa waktu, tetapi segera saya meninggalkannya karena merasa bahwa saya tidak menemukan kebenaran yang saya cari. Kemudian saya berhubungan dengan agama Hindu yang dimulai dan berkembang di India, yang ajarannya tersebar hingga mencapai beberapa pulau Indonesia. Saya berkeliling di antara pulau-pulau tersebut di mana terdapat aktivitas para pengikut agama ini, dan tinggal bersama mereka untuk beberapa waktu di mana saya mempelajari banyak hal. Saya berhasil dalam tahap pertama sampai tingkat di mana saya melakukan keajaiban-keajaiban seperti berjalan di atas api, berjalan di atas paku-paku tajam, menusukkan paku ke anggota tubuh dan lain sebagainya, tetapi ini juga bukan yang saya cari.”

Kemudian saudara Rahmah Bornomo menambahkan: Suatu hari saya bertanya kepada pemimpin kuil Hindu: “Apa yang kalian sembah?” Dia berkata: Kami menyembah Brahma, Wisnu, dan Siwa. Brahma: dewa pencipta, Wisnu: dewa kebaikan, dan Siwa: dewa kejahatan. Tiga dewa yang mewujud dalam satu tubuh manusia bernama Krishna yang dianggap penyelamat dunia menurut orang Hindu. Saya berkata dalam hati: “Jadi tidak ada perbedaan dalam masalah ketuhanan antara Hindu dan Kristen, meskipun namanya berbeda, keduanya menyeru tiga dalam satu.”

Saya berkata kepada pastor Hindu: “Jelaskan kepada saya asal-usul Krishna.” Dia berkata: Di India pada tahun dua ribu sebelum Masehi ada seorang raja yang kejam dan zalim yang tidak mengasihani bahkan anak-anaknya sendiri, dia membunuh bayi laki-laki yang dilahirkan karena takut akan merebut takhtanya secara paksa. Pada salah satu malam yang gelap, raja sedang duduk di depan istananya, tiba-tiba ada bintang bersinar muncul di langit di atas kepalanya, bergerak dengan kecepatan menakjubkan, kemudian berhenti di angkasa dan memancarkan cahayanya yang terang ke kandang sapi. Ketika raja bertanya kepada para ulama dan agamawan, mereka merujuk kitab-kitab suci mereka dan berkata: “Itu adalah tanda penjelmaan para dewa dalam tubuh manusia bernama Sri Krishna.” Saya berkata dalam hati: Kisah ini persis seperti yang ada dalam agama Kristen dengan mengganti tokoh-tokohnya, dan saya dulu menceritakannya kepada orang-orang ketika saya masih menjadi pastor. Perbedaannya adalah desa yang dimaksud adalah Betlehem, dan manusia pada kami adalah Masih. Jadi tidak ada perbedaan antara kedua kisah tersebut dan kedua keyakinan tersebut dalam masalah mendasar yaitu masalah ketuhanan dan identitas penyelamat dunia.

Saya melanjutkan dialog dengan pastor Hindu dan berkata kepadanya: “Tuan, jika saya meninggal dalam agama kalian, ke mana nasib saya?” Dia berkata: “Saya tidak tahu, tetapi kamu harus menahan diri dari membunuh serangga-serangga seperti semut, nyamuk dan lainnya.” Dia berkata: “Mungkin serangga-serangga ini adalah bapak-bapak dan kakek-kakek kalian yang sudah mati.”

Kemudian dia berkata: “Pada akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan semua agama-agama tersebut, dan tidak ada pilihan di hadapan saya kecuali Islam yang tidak ingin saya anut karena yang tertanam dalam diri saya sejak kecil adalah rasa jijik dan benci terhadap agama ini yang saya tidak tahu apa-apa tentangnya kecuali syubhat-syubhat. Saya ingin mencari kebenaran yang tidak diketahui dan pencarian ini memerlukan usaha dan kesabaran. Suatu hari saya berkata kepada istri saya: Mulai malam ini saya tidak ingin diganggu siapa pun, saya ingin shalat dan bermunajat kepada Allah. Demikianlah saya mengunci pintu kamar saya dan mengangkat tangan saya kepada Allah dengan khusyuk dan bermunajat sambil berkata: ‘Ya Tuhan, jika Engkau benar-benar ada, maka bimbinglah ubun-ubunku menuju hidayah dan cahaya, dan tunjukilah aku kepada agama-Mu yang benar yang Engkau ridhai untuk manusia.’”

Saudara Rahmah Bornomo melanjutkan pembicaraannya dengan berkata: “Doa kepada Allah bukan seperti permintaan biasa, sebagaimana doa saya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak hanya dalam waktu singkat saja, tetapi berlanjut dalam waktu yang lama, sekitar delapan bulan. Pada malam tanggal tiga puluh satu Oktober 1971 yang bertepatan dengan tanggal sepuluh Ramadan tahun yang sama, setelah saya selesai dari doa yang biasa, saya tertidur nyenyak. Saat itulah datang kepada saya cahaya hidayah dari Allah Azza wa Jalla. Saya melihat dunia di sekitar saya dalam kegelapan yang pekat, dan saya tidak dapat melihat apa pun. Tiba-tiba sosok seseorang muncul di hadapan saya. Saya mengamatiknya dengan seksama, ternyata cahaya yang indah memancar darinya yang menerangi kegelapan di sekitar saya. Orang yang mulia itu mendekat ke arah saya, saya melihat dia mengenakan jubah putih dan sorban putih, memiliki jenggot keriting, dan wajah yang berseri yang tidak pernah saya lihat sebelumnya, begitu indah dan bercahaya. Orang itu berbicara kepada saya dengan suara yang merdu: ‘Ucapkanlah dua kalimat syahadat.’ Saat itu saya tidak tahu apa yang disebut dua kalimat syahadat, maka saya bertanya: ‘Apa itu dua kalimat syahadat?’ Dia berkata: ‘Katakanlah: Asyhadu an laa ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah‘ (Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). Maka saya mengulanginya setelah dia sebanyak tiga kali, kemudian orang itu pergi meninggalkan saya.”

Saudara Indonesia tersebut berkata setelah itu: “Ketika saya bangun dari tidur, saya mendapati tubuh saya basah oleh keringat. Saya bertanya kepada Muslim pertama yang saya temui: ‘Apa itu dua kalimat syahadat, dan apa nilai keduanya dalam Islam?’ Dia berkata: ‘Dua kalimat syahadat adalah rukun pertama dalam Islam, begitu seseorang mengucapkannya maka dia menjadi Muslim.’ Maka saya bertanya kepadanya tentang maknanya, lalu dia menjelaskan maknanya kepada saya. Saya berpikir panjang dan bertanya-tanya siapa orang yang saya lihat dalam mimpi saya, dan ciri-cirinya jelas bagi saya. Ketika saya menggambarkannya kepada teman Muslim saya, dia langsung berseru: ‘Kamu telah melihat Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.’”

Kemudian saudara Rahmah Bornomo mengakhiri kisahnya dengan berkata: “Dua puluh hari setelah kejadian itu pada malam Idul Fitri, saya mendengar seruan takbir yang diulang-ulang oleh kaum Muslim dari masjid-masjid yang dekat dengan rumah kami. Bulu kuduk saya merinding dan hati saya bergetar, mata saya berlinang air mata bukan karena sedih pada sesuatu, tetapi sebagai rasa syukur kepada Allah atas nikmat ini. Alhamdulillahi yang telah membimbing saya akhirnya kepada apa yang saya cari selama bertahun-tahun. Itu terjadi pada tahun 1971. Saya memberi pilihan kepada istri saya antara Islam dan Kristen, maka dia memilih Islam. Patut disebutkan bahwa pada masa kecilnya dia adalah seorang Muslim dari keluarga Muslim yang masuk Kristen karena bujukan para penginjil dan karena ketidaktahuannya tentang urusan agamanya yang suci. Anak-anak kami juga mengikuti kami dan memeluk Islam. Sejak tanggal dua Februari 1972 kami menjadi Muslim, alhamdulillah.”

Dikutip dari buku (Uluww al-Himmah) karya Syaikh Muhammad bin Ismail hal. (239-254) dengan sedikit perubahan.

 

Artikel Terjkait

Mantan Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Sedunia untuk Afrika Tengah dan Timur, Ashok Colin Yang
Mantan Pastor Irlandia Menangis di Makam Nabi
Uskup Agung Johannesburg Frederick Dolamark
Pastor Terdahulu Pastor Terbesar Kedua di Ghana
Pastor Terdahulu Muhammad Fuad Al-Hashimi
Dosen Teologi Terdahulu Abdul Ahad Daud
Dosen Teologi Terdahulu Dr. Arthur Milastinus
Misionaris Jerman Terdahulu Jي Misyel
Berita ini 6 kali dibaca
Tag :

Artikel Terjkait

Selasa, 28 April 2026 - 16:28 WIB

Mantan Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Sedunia untuk Afrika Tengah dan Timur, Ashok Colin Yang

Selasa, 28 April 2026 - 16:25 WIB

Mantan Pastor Irlandia Menangis di Makam Nabi

Selasa, 28 April 2026 - 16:21 WIB

Uskup Agung Johannesburg Frederick Dolamark

Selasa, 28 April 2026 - 16:16 WIB

Pastor Terdahulu Pastor Terbesar Kedua di Ghana

Selasa, 28 April 2026 - 16:11 WIB

Pastor Terdahulu Muhammad Fuad Al-Hashimi

Artikel Terbaru

Kisah Mualaf

Mantan Pastor Irlandia Menangis di Makam Nabi

Selasa, 28 Apr 2026 - 16:25 WIB

Kisah Mualaf

Uskup Agung Johannesburg Frederick Dolamark

Selasa, 28 Apr 2026 - 16:21 WIB

Kisah Mualaf

Pastor Terdahulu Pastor Terbesar Kedua di Ghana

Selasa, 28 Apr 2026 - 16:16 WIB

Kisah Mualaf

Pastor Terdahulu Muhammad Fuad Al-Hashimi

Selasa, 28 Apr 2026 - 16:11 WIB