12- PERINTAH MEMULAI DAN MENGAKHIRI PUASA ROMADHON DENGAN MELIHAT HILAL, JIKA TIDAK TERLIHAT MAKA BULAN DISEMPURNAKAN
HADITS ABU HUROIROH
:عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – يَقُولُ: قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَو قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ – صلى الله عليه وسلم
«صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ ، فَإِنْ غُبِّىَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ »
Dari Abu Huroiroh -semoga Alloh meridhoinya- dia berkata: Nabi shollallohu ‘alaihi was sallam atau Abul Qasim shollallohu ‘alaihi was sallam bersabda:
“Berpuasalah karena melihatnya (hilal Romadhon), dan berbukalah karena melihatnya (hilal Syawal).
Jika hilal tertutup mendung, maka sempurnakanlah hitungan Sya’ban tiga puluh hari”.
(HR. Bukhori, no. 1909; Muslim, 1081/18; Ahmad, no. 9556, 10060. Kata “Sya’ban” riwayat Bukhori)
HADITS IBNU UMAR
:عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ
«لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلَالَ، وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ»
Dari Ibnu Umar –semoga Alloh meridhoi keduanya- bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi was sallam menyebut tentang Romadhon, lalu bersabda:
“Janganlah kamu berpuasa sampai melihat hilal (Romadhon),
dan janganlah kamu berbuka sampai kamu melihatnya (hilal Syawal).
Jika hilal tertutupi (dengan mendung atau lainnya-pen), maka tetapkanlah untuknya”.
(HR. Bukhori, no. 1906)
Maksud “maka tetapkanlah untuknya” adalah menyempurnakan hitungan bulan tiga puluh hari, sebagaimana di dalam riwayat lain:
«الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ لَيْلَةً، فَلاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْهُ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا العِدَّةَ ثَلاَثِينَ»
“Satu bulan itu (terkadang) duapuluh sembilan hari,
maka kamu jangan berpuasa sampai melihatnya (hilal Romadhon),
jika hilal tertutupi (dengan mendung atau lainnya-pen), maka sempurnakanlah hitungan bulan tiga puluh hari”.
(HR. Bukhori, no. 1907)
FAWAID HADITS:
Ada beberapa faedah yang bisa kita ambil dari hadits-hadits ini, antara lain:
1- Hadits-hadits yang memerintahkan memulai berpuasa Romadhon dan mengakhirinya dengan melihat hilal, dan jika hilal tidak terlihat, maka hitungan bulan disempurnakan tiga puluh hari, berderajat mutawatir.
Sehingga tidak ada keraguan sama sekali kebenarannya dari Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi was sallam, maka wajib diterima kandungan isinya.
2- Perintah Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi was sallam kepada umatnya untuk memulai berpuasa Romadhon dengan melihat hilal (bulan sabit) Romadhon.
Jika hilal terlihat pada tanggal 29 Sya’ban setelah tenggelam matahari, berarti itu tanggal 1 Romadhon, sehingga besoknya mulai berpuasa.
Jika hilal tidak terlihat, berarti itu tanggal 30 Sya’ban, sehingga besoknya belum mulai berpuasa.
3- Perintah Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi was sallam kepada umatnya untuk mengakhiri puasa Romadhon dengan melihat hilal (bulan sabit) Syawal.
Jika hilal terlihat pada tanggal 29 Romadhon setelah tenggelam matahari, berarti itu tanggal 1 Syawal, sehingga besoknya berbuka dan melakukan sholat ‘idul fithri.
Jika hilal tidak terlihat, berarti itu tanggal 30 Romadhon, sehingga besoknya masih berpuasa.
Jika hilal tidak terlihat dengan sebab mendung atau lainnya, Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi was sallam memerintahkan kepada umatnya untuk menyempurnakan hitungan bulan menjadi tigapuluh.
4- Rukyatul hilal (melihat bulan sabit) adalah perintah Nabi shollallohu ‘alaihi was sallam, sehingga hukumnya wajib, yaitu wajib kiyafah.
Ketika sebagian umat Islam sudah melakukan, maka yang lain tidak wajib.
5- Metode penetapan awal bulan hijriyah (qomariyah) adalah dengan dua cara:
• Rukyatul hilal (melihat bulan sabit),
• Dan ikmalul ‘adad (menyempurnakan hitungan bulan menjadi 30 hari) jika hilal tidak terlihat.
6- Agama Islam adalah agama yang sempurna, telah menjelaskan semua yang dibutuhkan oleh umat manusia untuk kebaikan dunia dan agamanya.
Kalau cara masuk WC saja dijelaskan, apalagi cara masuk puasa bulan Romadhon, yang termasuk salah satu rukun Islam.
Yaitu dengan rukyatul hilal, sebagaimana di dalam hadits-hadits ini. Juga di dalam QS. Al-Baqoroh/2: 189.
7- Agama Islam adalah agama yang mengajarkan persatuan dan melarang perpecahan.
Jika umat Islam melaksanakan perintah Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi was sallam di dalam metode memulai berpuasa Romadhon dan mengakhirinya, niscaya akan bersatu dan tidak berselisih.
8- Janganlah seseorang menolak ketetapan, atau perintah, atau larangan Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi was sallam dengan alasan ilmu pengetahuan yang dia miliki.
Sebab di antara sifat orang-orang yang binasa di zaman dahulu adalah menolak ajaran Rasul dan membanggakan ilmu yang mereka miliki. (Lihat. QS. Ghofir/40: 83)
Inilah sedikit penjelasan tentang hadits-hadits yang agung ini.
Semoga Alloh selalu memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.
Dan selalu membimbing kita di atas jalan kebenaran menuju ridho dan sorga-Nya yang penuh kebaikan.
Penulis : Ustadz Muslim Atsari Hafidzahullah Ta'ala
Sumber Berita: Grup Whatsapp Majlis Quran Hadits Ikhwan







