Seorang profesor matematika di Universitas King Fahd untuk Petroleum dan Mineral bernama Gary Miller, berkebangsaan Kanada. Dia dahulu adalah seorang pendeta yang menyeru kepada agama Kristen. Setelah Allah memberinya hidayah Islam, dia berdiri berkhutbah di hadapan orang-orang dengan mengatakan:
“Wahai kaum Muslim, seandainya kalian menyadari kelebihan apa yang kalian miliki dibanding yang dimiliki oleh orang lain, niscaya kalian akan bersyukur kepada Allah bahwa Dia telah menumbuhkan kalian dari tulang punggung Muslim dan membesarkan kalian di lingkungan Muslim serta mendidik kalian dengan agama yang mulia ini. Sesungguhnya makna kenabian, makna ketuhanan, makna wahyu, risalah, kebangkitan, perhitungan – semua makna tersebut – yang ada pada kalian dan pada orang lain – perbedaannya seperti antara langit dan bumi.”
Kemudian dia menambahkan: “Yang menarik saya kepada agama ini adalah kejernihan akidah, kejernihan yang tidak saya temukan dalam akidah agama lain.”
Kisahnya dengan Islam adalah: Ini adalah seorang da’i Kristen terbesar yang menyatakan keislamannya dan berubah menjadi da’i Islam terbesar di Kanada. Dia adalah salah seorang misionaris yang sangat aktif dalam menyeru kepada agama Kristen dan juga termasuk orang yang memiliki pengetahuan yang luas tentang Kitab Suci Bible.
Pria ini sangat menyukai matematika, karena itu dia menyukai logika atau urutan logis dalam berbagai hal.
Pada suatu hari dia ingin membaca Al-Qur’an dengan tujuan menemukan beberapa kesalahan di dalamnya untuk memperkuat posisinya ketika mengajak umat Muslim kepada agama Kristen. Dia mengharapkan akan menemukan Al-Qur’an sebagai kitab kuno yang ditulis 14 abad yang lalu, berbicara tentang gurun pasir dan sebagainya. Namun dia terkejut dengan apa yang ditemukannya di dalamnya. Bahkan dia menemukan bahwa kitab ini mengandung hal-hal yang tidak terdapat dalam kitab lain manapun di dunia ini.
Dia mengharapkan akan menemukan beberapa peristiwa sulit yang dialami Nabi Muhammad ﷺ seperti wafatnya istri beliau Khadijah radhiyallahu ‘anha atau wafatnya anak-anak perempuan dan putra-putra beliau. Namun dia tidak menemukan hal itu sama sekali. Yang membuatnya heran adalah dia menemukan ada satu surat lengkap dalam Al-Qur’an yang disebut Surat Maryam, dan di dalamnya terdapat penghormatan kepada Maryam alaihissalam yang tidak ada bandingannya dalam kitab-kitab Kristen maupun dalam Injil-Injil mereka!
Dan dia tidak menemukan surat dengan nama Aisyah atau Fathimah radhiyallahu ‘anhunna.
Demikian juga dia menemukan bahwa Isa alaihissalam disebut dengan nama 25 kali dalam Al-Qur’an, sementara Nabi Muhammad ﷺ hanya disebut 4 kali saja, maka bertambah heranlah pria itu.
Dia mulai membaca Al-Qur’an dengan lebih teliti berharap menemukan celah padanya. Namun dia terpukau oleh ayat yang agung dan mengagumkan yaitu ayat ke-82 dalam Surat An-Nisa:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka menemukan pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa: 82)
Dr. Miller berkata tentang ayat ini: “Dari prinsip-prinsip ilmiah yang dikenal pada masa sekarang adalah prinsip menemukan kesalahan atau meneliti kesalahan dalam teori-teori hingga terbukti kebenarannya (Falsification test).
Yang mengagumkan adalah Al-Qur’an yang mulia mengajak umat Muslim dan non-Muslim untuk mencari kesalahan di dalamnya dan mereka tidak akan menemukannya.”
Dia juga berkata tentang ayat ini: Tidak ada pengarang di dunia yang memiliki keberanian mengarang sebuah buku kemudian mengatakan buku ini bebas dari kesalahan, tetapi Al-Qur’an sebaliknya justru mengatakan kepadamu tidak ada kesalahan, bahkan menawarkan kepadamu untuk mencari kesalahan di dalamnya dan kamu tidak akan menemukannya.
Dari ayat-ayat yang juga membuat Dr. Miller berhenti lama adalah ayat ke-30 dari Surat Al-Anbiya:
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al-Anbiya: 30)
Dia berkata: “Sesungguhnya ayat ini persis dengan topik penelitian ilmiah yang meraih hadiah Nobel tahun 1973 yaitu tentang teori Big Bang yang menyatakan bahwa alam semesta yang ada adalah hasil dari ledakan dahsyat yang darinya tercipta alam semesta beserta langit dan planet-planetnya. Ratq adalah sesuatu yang menyatu sementara fatq adalah sesuatu yang terpisah, Maha Suci Allah.”
Dr. Miller berkata: “Sekarang kita sampai pada hal yang menakjubkan tentang Nabi Muhammad ﷺ dan tuduhan bahwa setan-setan yang membantunya, padahal Allah Ta’ala berfirman:
“Dan Al-Qur’an itu bukanlah diturunkan oleh setan-setan, dan tidak pantas bagi mereka dan tidak (pula) mereka sanggup berbuat demikian. Sesungguhnya mereka dijauhkan dari pendengaran (Al-Qur’an).” (QS. Asy-Syu’ara: 210-212)
“Apabila kamu membaca Al-Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)
Tahukah kalian? Apakah ini cara setan dalam menulis kitab apapun? Mengarang sebuah kitab kemudian berkata sebelum kamu membaca kitab ini kamu harus berlindung dariku?
Sesungguhnya ayat-ayat ini termasuk hal-hal yang menunjukkan kemukjizatan dalam kitab yang mukjiz ini! Dan di dalamnya terdapat bantahan logis bagi setiap orang yang mengatakan syubhat ini.
Dari kisah-kisah yang memukau Dr. Miller dan dia anggap sebagai mukjizat adalah kisah Nabi ﷺ dengan Abu Lahab.
Dr. Miller berkata: “Pria Abu Lahab ini membenci Islam dengan kebencian yang sangat hingga dia mengikuti Muhammad ﷺ kemana pun beliau pergi untuk mengurangi nilai apa yang dikatakan Rasul ﷺ. Jika dia melihat Rasul berbicara kepada orang-orang asing, maka dia menunggu hingga Rasul selesai dari pembicaraannya lalu mendatangi mereka kemudian bertanya kepada mereka: ‘Apa yang dikatakan Muhammad kepada kalian? Jika dia mengatakan kepada kalian putih maka itu hitam, jika dia mengatakan kepada kalian malam maka itu siang.’ Maksudnya adalah dia menentang apapun yang dikatakan Rasul yang mulia ﷺ dan membuat orang-orang meragukan beliau.
10 tahun sebelum wafatnya Abu Lahab turunlah satu surat dalam Al-Qur’an bernama Surat Al-Masad. Surat ini memutuskan bahwa Abu Lahab akan masuk neraka, dengan kata lain bahwa Abu Lahab tidak akan masuk Islam. Selama sepuluh tahun penuh, yang harus dilakukan Abu Lahab hanyalah datang di hadapan orang-orang dan berkata: ‘Muhammad mengatakan bahwa aku tidak akan masuk Islam dan akan masuk neraka, tetapi sekarang aku nyatakan bahwa aku ingin masuk Islam dan menjadi Muslim! Sekarang bagaimana pendapat kalian, apakah Muhammad jujur dalam apa yang dia katakan atau tidak? Apakah wahyu yang datang kepadanya adalah wahyu ilahi?’
Tetapi Abu Lahab sama sekali tidak melakukan itu meskipun semua perbuatannya adalah menentang Rasul ﷺ, namun dia tidak menentang beliau dalam hal ini. Artinya kisah ini seolah-olah berkata bahwa Nabi ﷺ berkata kepada Abu Lahab: ‘Kamu membenciku dan ingin mengakhiri dakwahku, baiklah kamu punya kesempatan untuk membatalkan perkataanku!’
Tetapi dia tidak melakukannya selama sepuluh tahun penuh! Dia tidak masuk Islam dan bahkan tidak pura-pura masuk Islam!
Sepuluh tahun dia punya kesempatan menghancurkan Islam dalam satu menit! Tetapi karena perkataan ini bukanlah perkataan Muhammad ﷺ melainkan wahyu dari Dzat yang mengetahui yang gaib dan mengetahui bahwa Abu Lahab tidak akan masuk Islam.
Bagaimana Muhammad ﷺ bisa mengetahui bahwa Abu Lahab akan membuktikan apa yang ada dalam surat itu jika ini bukan wahyu dari Allah?
Bagaimana beliau bisa yakin selama sepuluh tahun penuh bahwa apa yang beliau miliki adalah kebenaran jika beliau tidak mengetahui bahwa itu adalah wahyu dari Allah?
Untuk menempatkan seseorang pada tantangan berbahaya ini tidak ada artinya kecuali satu, ini adalah wahyu dari Allah.
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (QS. Al-Masad: 1-5)
Dr. Miller berkata tentang ayat yang memukau dia karena kemukjizatan ghaibnya: “Dari mukjizat-mukjizat gaib Al-Qur’an adalah tantangan terhadap masa depan dengan hal-hal yang tidak mungkin bisa diramalkan manusia dan tunduk pada tes yang sama yaitu Falsification tests atau prinsip menemukan kesalahan hingga terbukti kebenaran sesuatu yang ingin diuji. Di sini kita akan melihat apa yang dikatakan Al-Qur’an tentang hubungan umat Muslim dengan Yahudi dan Nasrani.
Al-Qur’an mengatakan bahwa Yahudi adalah orang yang paling keras permusuhannya terhadap umat Muslim dan ini berlanjut hingga masa kita sekarang, maka orang yang paling keras permusuhannya terhadap umat Muslim adalah Yahudi.”
Dr. Miller melanjutkan: “Bahwa ini merupakan tantangan yang besar karena Yahudi punya kesempatan untuk menghancurkan Islam dengan hal yang sederhana yaitu dengan memperlakukan umat Muslim dengan baik selama beberapa tahun dan berkata: ‘Lihat, kami memperlakukan kalian dengan baik padahal Al-Qur’an mengatakan bahwa kami adalah orang yang paling keras permusuhannya kepada kalian, jadi Al-Qur’an salah!’ Tetapi ini tidak terjadi selama 1400 tahun! Dan tidak akan terjadi karena perkataan ini turun dari Dzat yang mengetahui yang gaib bukan dari manusia.”
Dr. Miller melanjutkan: “Tahukah kalian bahwa ayat yang berbicara tentang permusuhan Yahudi terhadap umat Muslim merupakan tantangan bagi akal!
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang yang mempersekutukan Allah; dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.’ Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul (Al-Qur’an), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (dari Al-Qur’an); seraya berkata: ‘Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad). Mengapa kami tidak beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?’” (QS. Al-Maidah: 82-84)
Secara umum ayat ini berlaku pada Dr. Miller di mana dia termasuk orang Nasrani yang ketika mengetahui kebenaran lalu beriman dan masuk Islam serta menjadi da’i untuknya.
Semoga Allah memberinya taufik.
Dr. Miller melanjutkan tentang gaya unik dalam Al-Qur’an yang membuatnya terpukau karena kemukjizatannya: “Tanpa keraguan sedikit pun terdapat dalam Al-Qur’an pendekatan yang unik dan menakjubkan yang tidak terdapat di tempat lain, yaitu bahwa Al-Qur’an memberimu informasi tertentu dan berkata kepadamu: kamu tidak mengetahuinya sebelum ini.
Contohnya: “Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepada kamu; padahal kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka berselisih.” (QS. Ali Imran: 44)
“Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita yang gaib yang Kami wahyukan kepadamu; tidak kamu ketahui dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Hud: 49)
“Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita yang gaib yang Kami wahyukan kepadamu; dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka sepakat melaksanakan keputusan mereka, sedang mereka berencana (untuk membunuh Yusuf).” (QS. Yusuf: 102)
Dr. Miller melanjutkan: “Tidak ada kitab dari apa yang disebut kitab-kitab suci agama yang berbicara dengan gaya ini. Semua kitab lain berupa kumpulan informasi yang memberitahumu dari mana informasi ini berasal. Misalnya Kitab Suci (Injil yang sudah diubah) ketika membahas kisah-kisah orang dahulu maka dia berkata kepadamu: raja si anu hidup di sini, panglima ini berperang di sini dalam perang tertentu, dan seseorang memiliki sekian anak dengan nama si anu dan si anu, dst.
Tetapi kitab ini (Injil yang sudah diubah) selalu memberitahumu jika kamu ingin informasi lebih lanjut kamu bisa membaca kitab si anu atau kitab si anu karena informasi ini berasal darinya.”
Dr. Gary Miller melanjutkan: “Berbeda dengan Al-Qur’an yang memberikan informasi kepada pembaca kemudian berkata kepadamu ini adalah informasi baru! Bahkan memintamu untuk memastikannya jika kamu ragu terhadap kebenaran Al-Qur’an dengan cara yang tidak mungkin berasal dari akal manusia! Yang menakjubkan adalah penduduk Mekah pada masa itu – yaitu masa turunnya ayat-ayat ini – berulang kali mereka mendengarnya dan mendengar tantangan bahwa ini adalah informasi baru yang tidak diketahui Muhammad ﷺ dan kaumnya. Meskipun demikian mereka tidak berkata: ‘Ini bukan baru, kami mengetahuinya.’ Sama sekali tidak pernah terjadi mereka berkata seperti itu dan tidak berkata: ‘Kami tahu dari mana Muhammad mendapatkan informasi ini.’ Ini juga tidak pernah terjadi. Tetapi yang terjadi adalah tidak ada seorang pun yang berani mendustakannya atau membantahnya karena memang itu benar-benar informasi yang sama sekali baru! Dan bukan dari akal manusia tetapi dari Allah yang mengetahui yang gaib di masa lalu, sekarang dan masa depan.”
Jazakallahu khairan ya Dr. Miller atas tadabbur yang indah ini terhadap Kitab Allah di masa yang langka tadabburnya.
Dan ini adalah artikelnya yang lengkap dengan judul “Al-Qur’an Yang Agung”:
Sekilas tentang pengarang: Dr. Gary Miller (Abdul Ahad Umar) adalah seorang ahli matematika dan teologi Kristen serta mantan misionaris. Dia menjelaskan bagaimana kita bisa membangun iman yang benar dengan menetapkan standar-standar kebenaran. Dan dia menggambarkan cara yang sederhana dan efektif untuk menemukan arah yang benar saat mencari kebenaran.
Dr. Miller pada suatu periode dalam hidupnya pernah aktif dalam kegiatan penginjilan Kristen, namun ia mulai sejak dini menemukan banyak kontradiksi dalam Injil. Pada tahun 1978, ia membaca Al-Qur’an dengan mengharapkan bahwa kitab tersebut juga akan berisi campuran antara kebenaran dan kebohongan. Namun ia tercengang ketika menemukan bahwa pesan Al-Qur’an ternyata sesuai dengan inti kebenaran yang sama yang ia simpulkan dari Injil. Lalu ia masuk Islam, dan sejak saat itu ia menjadi aktif mempresentasikannya kepada orang-orang, termasuk menggunakan radio dan program-program televisi. Ia juga pengarang berbagai artikel dan publikasi Islam, di antaranya: “Jawaban Singkat terhadap Kekristenan – Sudut Pandang Muslim”, “Al-Qur’an yang Agung”, “Renungan tentang (Bukti-bukti) Ketuhanan Kristus”, “Dasar-dasar Akidah Muslim”, “Perbedaan antara Injil dan Al-Qur’an”, dan “Kekristenan Misionaris – Analisis seorang Muslim”.
Artikel:
Menggambarkan Al-Qur’an sebagai agung bukanlah sesuatu yang hanya dilakukan oleh orang-orang Muslim – mereka yang menghargai kitab ini dengan sepatutnya dan sangat bahagia dengannya – tetapi non-Muslim juga telah mengklasifikasikannya sebagai kitab yang agung. Bahkan, bahkan mereka yang sangat membenci Islam masih menyebutnya agung.
Salah satu hal yang mengejutkan non-Muslim yang memeriksa kitab ini dari dekat adalah bahwa Al-Qur’an tidak terungkap kepada mereka seperti yang mereka harapkan. Yang mereka asumsikan adalah bahwa di hadapan mereka ada sebuah kitab kuno yang datang dari gurun Arab empat belas abad yang lalu, dan mereka mengharapkan bahwa kitab itu pasti membawa kesan yang sama – sebuah kitab kuno dari gurun. Namun kemudian mereka mendapati bahwa kitab itu sama sekali tidak seperti apa yang mereka harapkan. Selain itu, salah satu hal pertama yang diasumsikan beberapa orang adalah bahwa kitab kuno ini, dan karena ia datang dari gurun, maka pasti membicarakan tentang gurun. Baiklah, Al-Qur’an memang membicarakan gurun dalam beberapa ungkapan bahasanya yang menggambarkan gurun; tetapi ia juga membicarakan laut, dan telah menggambarkan kepada kita bagaimana badai di permukaan laut.
Beberapa tahun yang lalu, sampai kepada kami sebuah cerita di Toronto (Kanada) tentang seorang laki-laki yang bekerja sebagai pelaut di armada dagang, dan mencari nafkah dari pekerjaannya di laut. Seorang Muslim memberinya terjemahan makna Al-Qur’an untuk dibacanya, dan pelaut ini tidak mengetahui apa pun tentang sejarah Islam, tetapi ia tertarik membaca Al-Qur’an. Ketika ia selesai membacanya, ia membawanya dan mengembalikannya kepada Muslim yang memberikannya, dan bertanya: “Muhammad ini shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, apakah ia seorang pelaut?” Pria itu tercengang dengan ketepatan yang dengannya Al-Qur’an menggambarkan badai di permukaan laut. Dan ketika datang jawaban: “Tidak, sebenarnya tidak. Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam hidup di gurun.” Hal ini cukup baginya untuk langsung menyatakan keislamannya. Ia sangat terpengaruh oleh gambaran Al-Qur’an tentang badai laut. Karena ia sendiri pernah berada di tengah-tengahnya, dan karena itu ia tahu bahwa siapa pun yang menulis deskripsi ini pasti telah mengalami badai ini sendiri. Deskripsi yang datang dalam Al-Qur’an tentang badai bukanlah sesuatu yang bisa ditulis oleh penulis mana pun dari khayalan semata. Dan gelombang yang di atasnya gelombang lagi yang di atasnya awan bukanlah sesuatu yang bisa dibayangkan seseorang dan menulis tentangnya, melainkan deskripsi yang ditulis oleh orang yang benar-benar tahu bagaimana badai laut itu terlihat.
Ini adalah satu contoh bahwa Al-Qur’an tidak terikat pada waktu atau tempat tertentu. Dan tentu saja referensi-referensi ilmiah yang dikatakannya tidak mungkin berasal dari gurun empat belas abad yang lalu. Selama berabad-abad sebelum munculnya risalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, ada teori yang dikenal tentang atom yang dibuat oleh filsuf Yunani Democritus. Filsuf ini dan mereka yang datang setelahnya mengasumsikan bahwa materi terdiri dari partikel-partikel kecil yang tidak terlihat dan tidak dapat dibagi yang disebut atom. Orang Arab juga telah akrab dengan konsep ini, sehingga sebenarnya kata “dzarrah” dalam bahasa Arab berarti bagian terkecil yang dikenal manusia.
Sekarang ilmu pengetahuan modern telah menemukan bahwa unit terkecil materi ini – yaitu atom yang memiliki sifat-sifat yang sama dengan materi yang dimilikinya – dapat dibagi menjadi komponen-komponennya. Dan ini adalah fakta baru yang merupakan hasil dari perkembangan abad yang lalu. Sangat menarik bahwa informasi ini sebenarnya telah didokumentasikan dalam Al-Qur’an empat belas abad sebelumnya, di mana Allah Ta’ala berfirman:
“Dan kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca sesuatu dari Al Quran dan kamu sekalian tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Yunus: 61)
Tanpa keraguan sedikitpun bahwa pernyataan seperti itu bukanlah sesuatu yang biasa bahkan bagi orang Arab pada waktu itu. Bagi mereka atom adalah hal terkecil yang ada. Dan ini benar-benar bukti bahwa Al-Qur’an tidak dimakan waktu.
Contoh lain tentang apa yang bisa diharapkan seseorang temukan dalam “kitab kuno” yang membahas masalah kesehatan atau kedokteran adalah bahwa informasi yang ada di dalamnya akan kuno dan ketinggalan zaman. Berbagai sumber sejarah mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam memberikan nasihat mengenai kesehatan dan kebersihan, tetapi sebagian besar nasihat ini (hadis-hadis mulia) tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Pada pandangan pertama, ini tampak bagi non-Muslim sebagai kelalaian yang tidak bisa ditolerir. Mereka tidak bisa memahami mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mewahyukan informasi yang bermanfaat seperti itu dalam Al-Qur’an.
Beberapa Muslim mencoba menjelaskan ketiadaan informasi ini dari Al-Qur’an dengan argumen berikut: “Meskipun nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam cocok untuk waktu di mana ia hidup, Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hikmah-Nya yang tak terbatas tahu bahwa pada zaman-zaman selanjutnya akan terjadi perkembangan ilmiah dan medis yang mungkin membuat petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tampak seolah-olah ketinggalan zaman. Ketika penemuan-penemuan muncul kemudian, mungkin orang-orang akan mengatakan bahwa mereka bertentangan dengan apa yang dikatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Oleh karena itu, karena Allah Ta’ala tidak akan pernah memberikan kesempatan kepada non-Muslim untuk mengklaim bahwa Al-Qur’an bertentangan dengan dirinya sendiri, atau bertentangan dengan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, maka Dia mewahyukan dalam Al-Qur’an informasi dan contoh-contoh yang dapat bertahan terhadap semua ujian waktu.”
Bagaimanapun, ketika seseorang memeriksa realitas sejati Al-Qur’an, dan mengenai keberadaannya sebagai wahyu dari Allah Ta’ala, maka seluruh masalah segera muncul dalam perspektif yang tepat. Dan kesalahan dalam argumen non-Muslim seperti itu menjadi jelas dan dapat dipahami. Harus dipahami bahwa Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah Ta’ala, dan karena demikian maka semua informasi yang terdapat di dalamnya berasal dari sumber ilahi, dan Allah Ta’ala telah mewahyukannya dari diri-Nya Subhanahu wa Ta’ala, maka itu adalah firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala yang ada sebelum penciptaan, dan dengan demikian tidak ada yang dapat ditambahkan, dihapus, atau dimodifikasi. Al-Qur’an pada dasarnya telah ada dan lengkap sebelum penciptaan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, oleh karena itu tidak mungkin berisi kata-kata atau nasihat khusus Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Dan memasukkan informasi seperti itu akan bertentangan dengan tujuan yang menjadi alasan Al-Qur’an diturunkan, meragukan otoritasnya, dan membuatnya tidak dapat dipercaya sebagai wahyu dari Allah Ta’ala.
Berdasarkan hal itu, tidak ada “resep obat rumahan” dalam Al-Qur’an yang bisa diklaim telah usang seiring berjalannya waktu; dan tidak mengandung sudut pandang siapa pun mengenai manfaat kesehatan, atau makanan mana yang terbaik untuk dimakan, atau apa obat untuk penyakit ini atau itu. Sebenarnya, Al-Qur’an hanya menyebutkan satu hal yang berkaitan dengan pengobatan medis, dan ini tidak ada yang menentangnya, di mana Allah Ta’ala membimbing kita bahwa dalam madu terdapat penyembuhan bagi manusia, dan saya tidak berpikir ada orang yang bisa menentang itu!
Jika seseorang mengasumsikan bahwa Al-Qur’an adalah produk akal manusia, maka ia akan mengharapkan bahwa kitab itu akan mencerminkan apa yang ada di pikiran orang yang mengarangnya. Dan benar-benar ada beberapa ensiklopedia dan buku-buku berbeda yang mengklaim bahwa Al-Qur’an adalah hasil dari halusinasi yang dialami Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Jika klaim-klaim ini benar – yaitu jika Al-Qur’an benar-benar dikarang sebagai hasil dari beberapa masalah psikologis pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam – maka bukti hal itu harus tampak jelas di dalamnya. Apakah bukti seperti itu ada?
Dan untuk menentukan adanya bukti ini atau tidak, maka kita harus terlebih dahulu mengetahui hal-hal yang ada di pikiran beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam pada waktu itu, dan kemudian mencari pemikiran-pemikiran ini dan refleksinya dalam Al-Qur’an.
Diketahui bahwa kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam sangat sulit. Semua putrinya (‘alaihis shalatu was salam) meninggal sebelum beliau kecuali satu, dan beliau (‘alaihis shalatu was salam) selama bertahun-tahun memiliki istri yang dicintainya, dan istri itu sangat penting baginya (radhiyallahu ‘an umminaa Khadijah), dan beliau sangat berduka karena kematiannya di tahap kritis dalam hidupnya. Dan yakinlah bahwa ia adalah wanita sejati, dengan segala arti kata itu. Karena beliau (‘alaihis shalatu was salam) – ketika wahyu datang kepadanya untuk pertama kali – pergi kepadanya dengan tergesa-gesa sambil gemetar ketakutan. Tentu saja kita – bahkan di hari-hari kita ini – tidak bisa dengan mudah menemukan di antara orang Arab yang mengatakan: “Aku sangat takut sampai aku lari ke istriku,” karena orang Arab tidak seperti itu. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam merasa cukup nyaman dengan istrinya untuk dapat melakukan hal itu. Begitulah istrinya (‘alaihis shalatu was salam) adalah wanita yang berpengaruh dan kuat radhiyallahu ‘anhaa.
Dan meskipun contoh-contoh ini adalah sebagian dari hal-hal yang ada di pikiran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, namun cukup kuat untuk membuktikan masalah ini. Meskipun hal-hal ini seharusnya mendominasi seperti hal-hal lain, atau setidaknya disebutkan dalam Al-Qur’an, namun tidak ada satupun yang disebutkan – tidak disebutkan kematian anak-anaknya, tidak kematian istri dan sahabat tercintanya, tidak deskripsi ketakutannya terhadap wahyu; ketakutan yang ia bagikan dengan istrinya dengan cara yang sangat indah; tidak ada yang disebutkan. Padahal hal-hal ini pasti telah melukainya, mengganggunya, dan menyebabkannya rasa sakit dan kesedihan selama tahap-tahap kehidupan psikologisnya (‘alaihis shalatu was salam).
Memahami Al-Qur’an dengan cara yang benar-benar ilmiah sangat mungkin, dan itu karena Al-Qur’an menyediakan sesuatu yang tidak disediakan oleh kitab-kitab suci lain secara khusus atau agama-agama lain secara umum. Dalam Al-Qur’an ada apa yang diminta oleh para ilmuwan. Banyak orang hari-hari ini yang memiliki teori tentang cara kerja alam semesta, mereka ada di mana-mana di sekitar kita, tetapi komunitas ilmuwan bahkan tidak repot mendengarkan mereka. Dan itu karena komunitas ilmiah – selama abad yang lalu – menetapkan syarat untuk menerima diskusi teori-teori baru, yaitu yang disebut “tes kepalsuan (atau kesalahan)”. Mereka berkata: “Jika kamu memiliki teori, jangan ganggu kami dengan teori itu sampai kamu membawa kepada kami bersama teori itu suatu cara yang membuktikan apakah kamu benar atau salah.”
Tes seperti itu tentunya adalah alasan yang membuat para ilmuwan mendengarkan Einstein di awal abad ini. Ia datang dengan teori baru, dan berkata: “Saya percaya bahwa alam semesta bekerja dengan cara ini, dan inilah tiga cara untuk membuktikan apakah saya salah!” Kemudian para ilmuwan menguji teorinya selama enam tahun, dan berhasil lulus tes, dengan ketiga cara semuanya. Tentu saja, ini tidak membuktikan bahwa ia hebat, tetapi hanya membuktikan bahwa ia layak didengarkan, karena ia berkata: “Ini teori saya, dan jika kalian ingin membuktikan bahwa saya salah maka lakukanlah ini atau cobalah itu.”
Dan ini persis yang ditawarkan Al-Qur’an – tes-tes kepalsuan. Beberapa dari tes-tes ini telah terbukti benar dan tidak diragukan lagi, dan yang lain masih berlangsung hingga hari ini. Al-Qur’an pada dasarnya menunjukkan bahwa jika kitab ini bukan apa yang dikatakannya, maka kalian hanya perlu melakukan ini atau itu untuk membuktikan bahwa itu palsu. Dan selama empat belas ratus tahun yang telah berlalu, tentu saja tidak ada yang bisa melakukan ini atau itu untuk membuktikan hal itu, karena itu masih dianggap benar dan asli.
Saya sarankan kepada kalian bahwa jika salah satu dari kalian ingin masuk dalam perdebatan tentang Islam dengan salah satu non-Muslim yang mengklaim bahwa mereka memiliki kebenaran dan kalian berada dalam kebatilan, maka pada awalnya sisihkan semua argumen lain dan tanyakan kepadanya hal berikut: “Apakah ada tes kepalsuan dalam agama Anda? Apakah ada dalam agama Anda yang dapat menunjukkan bahwa kalian salah jika saya bisa membuktikan hal itu; apakah ada sesuatu?!” Baiklah, saya bisa berjanji kepada kalian sekarang bahwa tidak akan ada satu pun dari mereka yang memiliki tes atau bukti apa pun; tidak ada! Dan itu karena mereka tidak memiliki sedikitpun ide bahwa ketika mereka menyajikan apa yang mereka yakini kepada orang-orang, mereka harus memberikan kesempatan kepada mereka untuk membuktikan bahwa mereka salah jika mereka bisa. Namun, Islam memberikan hal itu kepada mereka.
Dan contoh luar biasa tentang bagaimana Al-Qur’an memberikan kesempatan kepada manusia untuk memverifikasi keasliannya, dan (membuktikan kepalsuan-nya) datang dalam surat keempat. Dan saya berkata dengan jujur bahwa saya tercengang ketika saya menemukan tantangan ini untuk pertama kalinya. Allah Ta’ala berfirman:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka menemukan pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An-Nisaa: 82)
Ini mewakili tantangan yang jelas bagi non-Muslim, karena (secara tidak langsung) mengundang mereka untuk menemukan kesalahan apa pun. Dan benar – jika kita menyisihkan keseriusan atau kesulitan dalam tantangan ini – menawarkan tantangan seperti itu – pada tempat pertama – bahkan bukan dari sifat manusia, karena bertentangan dengan pembentukan kepribadian manusia. Manusia tidak maju untuk ujian di sekolah, kemudian setelah menyelesaikan ujian menulis catatan kepada pemeriksa yang mengatakan: “Jawaban-jawaban ini sempurna, dan tidak ada kesalahan di dalamnya. Carilah satu kesalahan jika kamu bisa!” Manusia tidak melakukan itu. Guru itu tidak akan bisa tidur sampai ia menemukan kesalahan! Namun inilah cara Al-Qur’an sampai kepada manusia.
Posisi lain yang menakjubkan yang sering terulang dalam Al-Quran berkaitan dengan nasihat kepada pembaca. Al-Quran memberitahu pembaca tentang berbagai kebenaran, kemudian memberinya nasihat bahwa jika dia ingin mengetahui lebih banyak tentang ini atau itu, atau jika dia meragukan apa yang dikatakan, maka tidak ada cara lain baginya selain bertanya kepada mereka yang memiliki ilmu pengetahuan. Dan ini adalah posisi yang menakjubkan, karena tidak biasa jika sebuah buku ditulis oleh seseorang yang tidak memiliki latar belakang geografis, botani, atau biologi, dll., dan membahas topik-topik semacam itu, kemudian menyarankan pembaca untuk bertanya kepada ahli ilmu jika dia meragukan sesuatu. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran yang agung:
“Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau, melainkan orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (Al-Anbiya: 7)
Di setiap zaman yang telah berlalu – dan hingga sekarang – ada ulama Muslim yang mengikuti petunjuk Al-Quran, dan mereka mencapai penemuan-penemuan yang menakjubkan. Jika seseorang melihat karya-karya ulama Muslim selama berabad-abad yang lalu, dia akan mendapati bahwa karya-karya mereka penuh dengan kutipan-kutipan Al-Quran. Karya-karya mereka menunjukkan bahwa mereka melakukan penelitian di suatu tempat tentang sesuatu, dan mereka menegaskan bahwa alasan mereka meneliti di tempat atau bidang tertentu adalah karena Al-Quran memberikan petunjuk ke arah tersebut. Misalnya, Al-Quran menunjukkan penciptaan manusia, kemudian mendorong pembaca untuk meneliti hal tersebut! Al-Quran memberikan pembaca sekilas pandang tentang di mana harus mencari, dan memberitahunya bahwa dia akan menemukan informasi lebih lanjut tentang hal itu. Dan inilah jenis hal-hal yang tampaknya dicari secara luas oleh Muslim hari ini. Contoh berikut menggambarkan hal itu, dengan mempertimbangkan bahwa itu tidak terjadi secara terus-menerus; dan tidak selalu terjadi dengan cara yang sama.
Beberapa tahun yang lalu, beberapa Muslim dari Riyadh – di Kerajaan Arab Saudi – mengumpulkan semua ayat Al-Quran yang membahas tentang ilmu embriologi, yaitu ilmu yang mempelajari tahap-tahap perkembangan janin dalam rahim; kemudian mereka berkata: “Inilah yang dikatakan Al-Quran. Apakah itu benar?” Sebenarnya, mereka mengambil nasihat Al-Quran: “maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. Kebetulan mereka memilih seorang profesor universitas dalam ilmu embriologi dari Universitas Toronto di Kanada, dan dia bukan seorang Muslim. Profesor ini bernama Keith Moore, dan dia adalah penulis beberapa buku dalam ilmu embriologi, dan dianggap sebagai salah satu ahli terkemuka dunia di bidang ini.
Mereka mengundangnya ke Riyadh, kemudian berkata kepadanya: “Inilah yang dikatakan Al-Quran mengenai bidang spesialisasi Anda. Apakah itu benar? Apa yang bisa Anda ceritakan kepada kami tentang hal itu?” Selama tinggal di Riyadh, mereka memberikan semua bantuan yang dia butuhkan dalam terjemahan dan semua dukungan yang dia minta. Dia sangat terkejut dengan apa yang ditemukannya sehingga dia mengubah beberapa teks dalam buku-bukunya. Faktanya, dalam edisi kedua bukunya “Before We Are Born”, dan dalam edisi kedua “The History of Embryology”, dia menambahkan beberapa materi yang tidak ada dalam edisi pertama, karena apa yang ditemukannya dalam Al-Quran. Dan sungguh, ini dengan jelas menggambarkan bahwa Al-Quran mendahului zamannya, dan bahwa mereka yang beriman kepadanya mengetahui apa yang tidak diketahui orang lain.
Saya senang telah melakukan wawancara televisi dengan Dr. Keith Moore, dan kami membicarakan topik ini secara panjang lebar dengan bantuan ilustrasi dan lainnya. Dia menyebutkan bahwa beberapa hal yang disebutkan Al-Quran tentang perkembangan manusia tidak diketahui sampai tiga puluh tahun yang lalu. Dia sebenarnya menyebutkan topik tertentu secara khusus, yaitu deskripsi Al-Quran tentang manusia sebagai “‘alaqah” (segumpal darah) dalam salah satu tahap perkembangannya, dan bahwa deskripsi ini baru baginya, tetapi ketika dia memeriksa masalah itu dia mendapatinya benar, dan dengan demikian dia menambahkannya ke bukunya. Dia berkata: “Saya tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya.” Karena itu dia pergi ke departemen zoologi dan meminta gambar lintah. Dan ketika dia mendapati bahwa itu sangat mirip dengan janin pada tahap perkembangan ini, dia memutuskan untuk memasukkan kedua gambar dalam salah satu bukunya (gambar janin dan gambar lintah).
Setelah itu Dr. Moore juga menulis buku tentang embriologi klinis, dan ketika dia menerbitkan informasi ini di Toronto, itu menimbulkan kehebohan besar di seluruh Kanada. Itu ada di beberapa surat kabar di halaman depan dan di seluruh Kanada, dan beberapa judul utama sangat menarik. Misalnya, salah satu judul utama berkata: “Sesuatu yang menakjubkan ditemukan dalam buku kuno!” Dan tampak jelas dari contoh ini bahwa orang-orang tidak memahami dengan jelas apa yang menjadi kehebohan itu semua.
Salah satu hal yang benar-benar terjadi adalah seorang jurnalis bertanya kepada Dr. Moore: “Tidakkah Anda pikir bahwa orang Arab mungkin mengetahui informasi ini tentang hal-hal ini, yaitu tentang deskripsi janin, dan tentang bentuknya dan bagaimana ia berubah dan tumbuh? Mungkin tidak ada ilmuwan, tetapi mereka mungkin melakukan semacam anatomi liar dengan cara mereka – yaitu mereka memotong orang dan memeriksa hal-hal ini.” Dr. Moore segera menunjukkan kepadanya bahwa dia lupa sesuatu yang sangat penting, yaitu bahwa semua gambar janin yang ditampilkan dalam film berasal dari gambar-gambar yang diambil melalui mikroskop; dan dia menambahkan: “Masalahnya bukan apakah seseorang telah mencoba menemukan ilmu embriologi empat belas abad yang lalu, tetapi bahwa jika dia mencoba melakukan itu, dia tidak akan dapat melihat apa pun sama sekali!”
Karena semua yang digambarkan Al-Quran tentang bentuk janin adalah ketika ia sangat kecil dan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, jadi seseorang memerlukan mikroskop untuk melihat hal itu. Namun, alat semacam itu tidak ditemukan kecuali sedikit lebih dari dua ratus tahun yang lalu. Dr. Moore menambahkan dengan sarkastis: “Mungkin seseorang – empat belas abad yang lalu – memiliki mikroskop rahasia, jadi dia melakukan penelitian ini, dan tidak membuat kesalahan yang berarti selama itu, kemudian mengajar Muhammad SAW hal itu dengan cara tertentu, dan meyakinkannya untuk memasukkan informasi ini dalam bukunya; dan setelah itu dia menghancurkan mikroskopnya, dan menjaga rahasianya selamanya. Apakah Anda percaya itu?! Anda benar-benar tidak boleh melakukannya, sampai Anda memberikan bukti untuk membuktikannya, karena teori semacam itu hanyalah kebodohan!”
Dan ketika Dr. Moore ditanya: “Bagaimana Anda menjelaskan keberadaan informasi semacam itu dalam Al-Quran?” jawabannya adalah: “Ini tidak mungkin kecuali dengan wahyu dari Allah SWT!”
Meskipun contoh yang disebutkan sebelumnya tentang penelitian manusia terhadap informasi yang terkandung dalam Al-Quran dilakukan oleh seorang ilmuwan non-Muslim, itu dianggap benar, karena orang ini adalah salah satu ahli dalam bidang ini. Jika orang biasa mengklaim bahwa apa yang dikatakan Al-Quran tentang ilmu embriologi adalah benar, kita tidak perlu menerima kata-katanya. Bagaimanapun, posisi bergengsi dan rasa hormat serta penghargaan yang diberikan kepada para ilmuwan membuat orang secara otomatis menganggap benar hasil-hasil yang mereka capai sebagai hasil penelitian dalam suatu topik.
Dan ini mendorong salah satu kolega Dr. Moore – bernama Marshall Johnson, yang bekerja secara intensif di bidang geologi (ilmu lapisan bumi) di Universitas Toronto – untuk menjadi sangat tertarik pada Al-Quran, karena fakta-fakta yang disebutkan tentang ilmu embriologi adalah akurat. Karena itu dia meminta Muslim untuk mengumpulkan segala sesuatu dalam Al-Quran yang berkaitan dengan bidang spesialisasinya. Dan sekali lagi orang-orang sangat terkejut dengan hasilnya!
Sejumlah besar topik disebutkan dalam Al-Quran, yang pasti memerlukan waktu lama untuk merinci setiap topik secara terpisah. Cukup untuk tujuan diskusi ini untuk mengatakan bahwa Al-Quran membuat pernyataan-pernyataan yang jelas dan akurat tentang berbagai topik, dan saat itu menyarankan pembaca untuk memverifikasi kebenarannya dengan mencari tahu dari para ulama. Dan semua yang digambarkan dalam Al-Quran terbukti benar dengan jelas.
Dan tidak diragukan lagi, ada hal dalam Al-Quran yang tidak kita temukan dalam buku lain mana pun!
Yang menarik adalah bahwa ketika Al-Quran menyediakan informasi kepada pembaca, Al-Quran sering memberitahunya bahwa dia tidak mengetahui hal itu sebelumnya. (Seperti firman Allah dalam surat An-Nisa: “Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka hanya menyesatkan diri mereka sendiri, dan tidak dapat membahayakanmu sedikitpun. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Adapun karunia Allah kepadamu, maka amat besar” (113). Dan firman Allah dalam surat Al-Baqarah: “Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, mengajarkan kepadamu Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui” (151).)
Dan tentu saja tidak ada kitab suci yang membuat klaim semacam itu. Semua kitab suci dan naskah kuno yang dimiliki orang memang berisi banyak informasi, tetapi mereka selalu menyebutkan dari mana informasi itu berasal. Misalnya, ketika Injil membahas sejarah kuno, ia menyebutkan bahwa raja ini hidup di wilayah tertentu, dan yang itu berperang dalam pertempuran tertentu, dan yang lain memiliki banyak anak, dll. Dan selalu menyatakan bahwa jika Anda ingin mendapatkan lebih banyak informasi, Anda hanya perlu membaca buku ini atau itu, karena dari situlah informasi itu berasal.
Dengan perbedaan besar dari gaya ini, Al-Quran menyediakan informasi kepada pembaca, kemudian memberitahunya bahwa informasi ini adalah sesuatu yang baru yang tidak diketahui siapa pun ketika itu diturunkan. Dan tentu saja selalu ada undangan untuk meneliti informasi ini, untuk memastikan kebenarannya dan keasliannya (bahwa itu adalah wahyu dari Allah SWT). Yang menakjubkan adalah bahwa pendekatan semacam itu tidak pernah dapat ditantang oleh siapa pun dari non-Muslim empat belas abad yang lalu. Faktanya, penduduk Mekah yang sangat membenci Muslim, dan yang mendengar wahyu ini berulang kali mengklaim bahwa apa yang mereka dengar adalah sesuatu yang baru yang tidak mereka ketahui sebelumnya, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa bersuara keras mengatakan: “Tidak, ini bukan hal baru. Kami tahu dari mana Muhammad SAW mendapat informasi ini, kami mempelajarinya di sekolah!”
Mereka tidak pernah bisa menantang keaslian Al-Quran, karena itu memang sesuatu yang baru!
Dan kita harus menekankan di sini bahwa Al-Quran akurat mengenai semua hal, dan bahwa akurasi ini benar-benar salah satu karakteristik wahyu Ilahi. Misalnya, buku telepon akurat dalam informasinya, tetapi itu bukan wahyu. Masalah sebenarnya adalah bahwa seseorang harus memberikan bukti tentang sumber informasi Al-Quran. Dan memastikan hal itu adalah kewajiban pembaca. Seseorang tidak dapat menyangkal kebenaran Al-Quran – begitu saja – tanpa bukti yang meyakinkan. Tentu saja jika seseorang menemukan kesalahan di dalamnya, maka dia berhak memutuskan ketidakbenarannya, dan inilah yang justru didorong oleh Al-Quran.
Suatu ketika seorang pria datang kepada saya setelah saya menyelesaikan ceramah yang saya berikan di Afrika Selatan. Dia sangat marah dengan apa yang saya katakan, jadi dia mengklaim: “Saya akan pulang malam ini dan pasti akan menemukan kesalahan dalam Al-Quran.” Jadi saya menjawab tentu saja: “Saya ucapkan selamat kepada Anda. Itu adalah hal paling cerdas yang Anda katakan.” Tentu saja, inilah sikap yang harus diambil Muslim terhadap mereka yang meragukan keaslian Al-Quran, karena Al-Quran sendiri memberikan tantangan ini. Pasti setelah menerima tantangan ini, dan menemukan bahwa Al-Quran adalah benar, mereka akan beriman kepadanya karena mereka tidak dapat membantah kebenarannya; bahkan akan mendapat rasa hormat mereka karena mereka memastikan keasliannya sendiri.
Kebenaran mendasar yang harus sering diulang mengenai verifikasi keaslian Al-Quran adalah bahwa ketidakmampuan seseorang untuk menjelaskan fenomena apa pun sendiri tidak mengharuskannya menerima keberadaan fenomena ini, atau menerima penjelasan orang lain tentangnya. Ini berarti bahwa ketidakmampuan manusia untuk menjelaskan sesuatu tidak berarti bahwa dia harus menerima penjelasan orang lain. Namun, penolakan manusia terhadap penjelasan orang lain membebankan dirinya untuk menemukan jawaban yang meyakinkan. Teori umum ini berlaku untuk banyak konsep dalam kehidupan, tetapi sangat cocok dengan tantangan Al-Quran, karena ia membentuk kesulitan besar bagi mereka yang berkata: “Saya tidak percaya pada Al-Quran.” Pada saat dia menolaknya, manusia menemukan dirinya wajib menemukan penjelasan sendiri, karena dia merasa bahwa penjelasan orang lain tidak benar.
Sebenarnya, khususnya dalam salah satu ayat Al-Quran yang biasa saya lihat diterjemahkan salah ke dalam bahasa Inggris, Allah SWT menyebutkan seorang pria yang mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya, tetapi dia pergi tanpa memeriksa kebenaran apa yang dia dengar. Yaitu bahwa manusia – dengan cara apa pun – bersalah jika dia mendengar sesuatu dan tidak meneliti atau memeriksanya untuk melihat apakah itu benar. Dan ini datang dalam firman Allah dalam surat Luqman ayat 7: “Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia tidak mendengarnya, seolah-olah pada kedua telinganya ada sumbatan. Maka berilah dia kabar gembira dengan azab yang pedih”.
Manusia diharapkan menggunakan akalnya terhadap semua informasi yang datang kepadanya, dan memutuskan mana yang omong kosong untuk dibuang jauh-jauh, dan mana yang bermanfaat untuk disimpan dan dimanfaatkan kemudian. Seseorang tidak dapat membiarkan berbagai jenis hal berdesak-desakan di pikirannya begitu saja. Tetapi hal-hal harus diletakkan dalam kategori yang tepat dan dipahami sesuai dengan itu. Misalnya, jika informasi masih memerlukan perenungan, maka seseorang harus membedakan apakah itu lebih dekat dengan kebenaran, atau lebih dekat dengan kesalahan. Tetapi jika semua fakta telah disajikan, maka dia harus memutuskan sepenuhnya antara kedua hal ini.
Dan bahkan ketika seseorang tidak positif mengenai keaslian informasi, dia masih diminta untuk menggunakan akalnya pada semua informasi untuk mengakui bahwa dia hanya tidak tahu hal itu dengan tepat. Dan meskipun poin terakhir ini tampak seolah-olah tidak bernilai secara praktis, itu bermanfaat untuk mencapai hasil positif kemudian, karena ia memaksa seseorang setidaknya untuk mengenal dan meneliti dan meninjau kembali fakta-fakta. Dan keakraban dengan informasi ini akan menyediakan manusia dengan “garis batas” ketika penemuan-penemuan masa depan dibuat dan informasi tambahan disajikan. Hal penting adalah bahwa seseorang berurusan dengan fakta, bukan membuangnya – begitu saja dan sederhana – ke belakang punggungnya karena emosi atau ketidakpedulian.
Keyakinan Sejati tentang Kebenaran Al-Qur’an
Keyakinan sejati mengenai kebenaran Al-Qur’an yang mulia sangat jelas melalui kepercayaan diri yang mendominasi ayat-ayatnya, dan kepercayaan diri ini hadir dengan cara yang berbeda, yaitu “menguras habis semua alternatif”. Al-Qur’an pada dasarnya menegaskan bahwa ia adalah wahyu yang diwahyukan, jika ada yang tidak memercayai hal itu, maka buktikanlah sumber lain baginya! Inilah tantangannya. Di sini kita memiliki sebuah kitab yang terbuat dari kertas dan tinta, dari mana asalnya? Dan ia mengatakan bahwa ia adalah wahyu ilahi; jika bukan demikian, lalu apa sumbernya? Fakta yang menarik adalah tidak ada seorang pun sama sekali yang memiliki penjelasan yang layak untuk menentang apa yang ada dalam Al-Qur’an. Pada kenyataannya, semua alternatif telah habis terkuras. Dan karena pemikiran ini telah dibangun oleh non-Muslim, maka alternatif-alternatif ini telah tereduksi menjadi terbatas pada dua mazhab pemikiran yang saling bergantian, dengan bersikeras pada satu atau yang lainnya.
Di satu sisi, terdapat kelompok besar orang-orang yang telah meneliti Al-Qur’an selama ratusan tahun dan mereka mengklaim (na’udzu billah): “Kami yakin akan satu hal, bahwa lelaki itu, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, mengkhayal bahwa dia adalah seorang nabi. Dia gila!” Mereka yakin bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tertipu dengan suatu cara. Di sisi lain, ada kelompok lain yang mengklaim: “Dengan adanya bukti ini (kegilaan), kami pasti mengetahui satu hal, bahwa lelaki itu, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, adalah seorang pembohong!” Yang menggelikan adalah kedua kelompok ini tampaknya tidak pernah bertemu tanpa kontradiksi. Pada kenyataannya, banyak referensi yang ditulis tentang Islam biasanya mengklaim kedua teori tersebut. Mereka mulai dengan mengatakan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam gila, dan berakhir dengan mengatakan bahwa dia pembohong. Mereka tampaknya tidak pernah menyadari bahwa dia (‘alaihi wa alihi ash-shalatu wa as-salam) tidak mungkin menjadi keduanya sekaligus! Namun banyak referensi biasanya menyebutkan kedua hal ini bersamaan.
Misalnya, jika seseorang menjadi gila dan benar-benar mengira bahwa dia adalah seorang nabi, dia tidak akan menghabiskan malam dengan merencanakan: “Bagaimana aku akan menipu orang-orang besok agar mereka mengira aku seorang nabi?” Karena dia benar-benar yakin bahwa dia adalah seorang nabi, dia yakin bahwa jawaban atas pertanyaan apa pun akan datang kepadanya melalui wahyu. Pada kenyataannya, sebagian besar Al-Qur’an turun dalam bentuk jawaban atas pertanyaan-pertanyaan. Seseorang akan bertanya kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, lalu wahyu turun dengan jawaban. Sudah pasti jika seseorang gila dan percaya bahwa malaikat akan membisikkan jawaban di telinganya, maka ketika seseorang bertanya kepadanya, dia akan mengira bahwa malaikat akan memberinya jawaban. Karena dia gila, dia benar-benar akan mengira demikian. Dan dia tidak akan meminta penanya menunggu sebentar, lalu pergi kepada teman-temannya untuk bertanya: “Apakah ada di antara kalian yang tahu jawabannya?” Perilaku semacam ini adalah ciri khas orang yang tidak percaya bahwa dia adalah seorang nabi.
Apa yang tidak mau diterima oleh non-Muslim adalah bahwa seseorang tidak dapat menjadi keduanya sekaligus, dia hanya bisa berhalusinasi atau pembohong. Dengan kata lain, dia hanya bisa menjadi salah satunya atau tidak keduanya; dan tentu saja dia tidak dapat menjadi keduanya sekaligus! Harus ditekankan di sini bahwa kedua sifat ini –secara intuitif– adalah dua ciri kepribadian yang saling meniadakan (yaitu di mana ada yang satu maka tidak ada yang lain). Dialog berikut adalah contoh yang baik dari lingkaran setan yang selalu dilalui oleh non-Muslim.
Jika Anda bertanya kepada salah seorang dari mereka: “Apa sumber Al-Qur’an?” dia akan menjawab bahwa sumbernya adalah pikiran seorang pria yang gila. Kemudian Anda bertanya kepadanya: “Jika dia mengeluarkannya dari kepalanya, dari mana dia mendapat informasi yang terkandung di dalamnya? Sudah pasti Al-Qur’an menyebutkan banyak hal yang tidak diketahui orang Arab.” Agar dapat menjelaskan fakta yang Anda sampaikan kepadanya, dia akan mengubah posisinya dan berkata: “Baiklah, mungkin dia tidak gila, tapi mungkin beberapa orang asing memberinya informasi itu. Jadi dia berbohong kepada orang-orang dan memberitahu mereka bahwa dia adalah seorang nabi.”
Pada titik ini Anda harus bertanya kepadanya: “Jika Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam pembohong, dari mana dia mendapat kepercayaan dirinya? Dan mengapa dia bertindak seolah-olah dia benar-benar seorang nabi?” Pada akhirnya –ketika dia terpojok– dia seperti kucing akan melompat tiba-tiba dan dengan cepat dengan tanggapan pertama yang terlintas di pikirannya –melupakan bahwa dia sebelumnya mengecualikan kemungkinan itu– mengklaim: “Baiklah, mungkin dia bukan pembohong. Mungkin dia gila dan benar-benar percaya bahwa dia seorang nabi.” Dan dengan demikian dia mulai berputar dalam lingkaran setan lagi.
(Dan ini adalah kebiasaan orang-orang kafir sejak diutusnya Nabi ‘alaihi wa alihi ash-shalatu wa as-salam, di mana Allah Ta’ala menyebutkan hal itu dalam Surat Ad-Dukhan: “Bagaimana mereka dapat menerima peringatan, padahal telah datang kepada mereka seorang rasul yang memberi penjelasan (13) Kemudian mereka berpaling darinya dan berkata: ‘Dia diajari (oleh orang lain) dan gila.’ (14)” (QS. Ad-Dukhan: 13-14).
Seperti yang disebutkan sebelumnya, Al-Qur’an mengandung banyak informasi yang tidak dapat dinisbatkan sumbernya kepada siapa pun kecuali Allah Ta’ala. Misalnya, siapa yang memberitahu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tentang tembok Dzul Qarnain, yang merupakan tempat berjarak ratusan mil ke utara? Dan siapa yang memberitahunya tentang ilmu embriologi? Ketika orang-orang dihadapkan pada fakta-fakta seperti ini, mereka –bahkan jika mereka tidak ingin menisbatkannya kepada sumber ilahi– secara otomatis mengklasifikasikannya berdasarkan hipotesis bahwa seseorang memberikannya kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, dan dia kemudian menggunakannya untuk menipu orang-orang.
Namun, teori ini dapat dibantah dengan pertanyaan sederhana: “Jika Muhammad pembohong (hasha lillah ‘alaihi wa alihi ash-shalatu wa as-salam), dari mana dia mendapat semua kepercayaan diri itu? Dan mengapa dia mengatakan kepada orang-orang secara langsung apa yang tidak pernah dapat dikatakan oleh siapa pun dari mereka?” Kepercayaan diri semacam itu sepenuhnya bergantung pada keyakinannya yang total bahwa apa yang datang kepadanya adalah wahyu ilahi.
Contohnya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam memiliki paman yang dipanggil Abu Lahab. Pria ini sangat membenci Islam sehingga dia mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ke mana pun dia pergi untuk mendustakannya. Jika dia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berbicara dengan seorang asing, dia menunggu hingga mereka berpisah, lalu pergi kepada orang asing itu dan bertanya: “Apa yang dia katakan kepadamu? Apakah dia bilang putih? Tidak, itu hitam. Apakah dia bilang siang? Tidak, itu malam.” Dia gigih mengatakan kebalikan dari apa yang dia dengar dari Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam atau dari Muslim lainnya.
Meskipun demikian, sekitar sepuluh tahun sebelum kematian Abu Lahab, turunlah surat pendek dari Al-Qur’an khusus tentangnya, yang mengatakan bahwa dia akan menjadi penghuni neraka. Dengan kata lain, surat ini menegaskan bahwa dia tidak akan pernah masuk Islam, dan dengan demikian akan dihukum kekal di neraka. Selama sepuluh tahun setelah turunnya surat ini, yang perlu dia katakan hanyalah: “Saya mendengar bahwa telah turun kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bahwa saya tidak akan pernah berubah –yaitu saya tidak akan menjadi Muslim dan akan masuk neraka. Baiklah, saya ingin masuk Islam sekarang. Bagaimana menurutmu? Dan apa pendapatmu tentang wahyu kalian sekarang?” Tetapi dia tidak pernah melakukannya, meskipun perilaku ini persis seperti yang diharapkan dari seseorang seperti dia yang selalu berusaha menentang Islam.
Ini seolah-olah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berkata kepadanya: “Kamu membenciku dan ingin menghancurkanku? Ini, ucapkan kata-kata ini (syahadat), dan itu akan terwujud bagimu. Ayo, ucapkanlah!” Tetapi Abu Lahab –selama sepuluh tahun penuh– tidak pernah mengucapkannya! Bahkan dia tidak menjadi simpatisan Islam. Bagaimana mungkin Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dapat mengetahui dengan pasti bahwa Abu Lahab akan memenuhi nubuatan Al-Qur’an jika dia bukan benar-benar utusan Allah Ta’ala?! Bagaimana mungkin dia (‘alaihi wa alihi ash-shalatu wa as-salam) dapat memiliki kepercayaan diri seperti itu untuk menantang salah satu musuh paling kejam Islam –selama sepuluh tahun– memberinya kesempatan untuk mendustakan klaimnya tentang kenabian?! Satu-satunya jawaban adalah bahwa dia (‘alaihi wa alihi ash-shalatu wa as-salam) adalah utusan Allah Ta’ala. Untuk menempatkan dirinya menghadapi tantangan berbahaya ini, dia pasti memiliki kepercayaan penuh bahwa apa yang datang kepadanya adalah wahyu dari Allah Ta’ala.
Contoh lain tentang kepercayaan diri yang dimiliki Muhammad terhadap kenabiannya shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam –dan perlindungan ilahi yang mengikutinya bagi dia dan pesannya– adalah keluarnya dia dari Makkah dan bersembunyi di gua bersama Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu selama hijrahnya ke Madinah al-Munawwarah. Keduanya dengan jelas melihat bahwa orang-orang kafir telah datang untuk membunuh mereka, dan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu ketakutan. Sudah pasti jika Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam pembohong, atau pemalsu, atau salah satu dari mereka yang mencoba menipu orang-orang untuk percaya pada kenabiannya, diharapkan dia akan berkata kepada temannya dalam keadaan seperti ini: “Wahai Abu Bakar, lihat apakah kamu bisa menemukan jalan keluar dari gua ini.” Atau: “Rendahkan dirimu di sudut itu, dan tetap tenang.”
Tetapi apa yang benar-benar dia katakan dengan jelas menggambarkan kepercayaan absolutnya. Dia berkata (‘alaihi wa alihi ash-shalatu wa as-salam) kepada temannya radhiyallahu ‘anhu: “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Sekarang, jika seseorang mengklaim mengetahui bahwa dia (‘alaihi wa alihi ash-shalatu wa as-salam) menipu orang-orang, dari mana dia (‘alaihi wa alihi ash-shalatu wa as-salam) dapat mengambil sikap khusus ini? Secara realistis, jenis pemikiran ini sama sekali bukan ciri pembohong atau pemalsu. Oleh karena itu –seperti yang disebutkan sebelumnya– non-Muslim terus berputar dan berputar dalam lingkaran setan yang sama, mencari jalan keluar darinya, tetapi dengan menemukan cara mereka menjelaskan penemuan-penemuan dalam Al-Qur’an tanpa menisbatkannya kepada sumber yang tepat. Di satu sisi, semuanya –pada hari Senin, Rabu, dan Jumat– berkata: “Pria itu pembohong”; di sisi lain –pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu– mereka berkata kepadamu: “Dia gila”. Apa yang mereka tolak untuk diterima adalah bahwa seseorang tidak dapat menjadi keduanya; namun mereka membutuhkan kedua argumen untuk menjelaskan apa yang ada dalam Al-Qur’an.
Sekitar tujuh tahun yang lalu, seorang biarawan mengunjungi saya di rumah. Di ruangan tempat kami duduk ada Al-Qur’an di atas meja dengan posisi terbalik, sehingga biarawan itu tidak tahu kitab apa itu. Di tengah diskusi kami, saya menunjuk ke kitab itu berkata: “Saya memiliki kepercayaan pada kitab ini.” Dia menjawab sambil melirik Al-Qur’an tanpa mengetahui apa itu: “Baiklah, dan saya katakan kepadamu bahwa jika kitab itu bukan Injil, maka itu disusun oleh manusia!” Jawaban saya kepadanya: “Biarkan saya menceritakan sesuatu tentang apa yang ada dalam kitab ini.” Dalam hanya tiga atau empat menit saya menyebutkan kepadanya beberapa hal yang ada dalam Al-Qur’an. Setelah hanya tiga atau empat menit itu dia sepenuhnya mengubah sikapnya dan berkata: “Kamu benar. Manusia tidak menyusun kitab ini, tetapi setan yang menyusunnya!”
Tentu saja, mengambil sikap seperti ini sangatlah sial, dan itu karena beberapa alasan, di antaranya adalah bahwa itu adalah alasan yang terburu-buru dan murah sebagai jalan keluar instan dari situasi yang mengganggu itu. Berkaitan dengan hal ini, ada kisah terkenal dalam Injil yang menyebutkan bagaimana beberapa orang Yahudi suatu hari menyaksikan ketika Yesus ‘alaihis salam menghidupkan seorang pria dari kematian. Pria itu telah mati selama empat hari, dan ketika Yesus tiba, dia hanya berkata: “Bangkitlah!” Pria itu bangun dan berjalan. Ketika mereka melihat pemandangan ini, beberapa saksi Yahudi berkata menyangkal: “Ini adalah setan. Setan yang membantunya!”
Kisah ini sekarang sering diulang di gereja-gereja di seluruh dunia, dan orang-orang menangis tersedu-sedu mendengarnya berkata: “Ah, andai aku ada di sana, aku tidak akan sebodoh orang Yahudi!” Ironinya, meski demikian orang-orang ini melakukan persis seperti yang dilakukan orang Yahudi ketika ditunjukkan kepada mereka –dalam tiga atau empat menit– hanya sebagian kecil dari Al-Qur’an; dan yang dapat mereka katakan hanyalah: “Ah, setan yang melakukannya. Setan yang menyusun kitab ini!” Karena mereka benar-benar terpojok; dan ketika mereka tidak memiliki jawaban yang dapat diterima, mereka berlari ke argumen tercepat dan termurah yang tersedia bagi mereka.
Contoh lain penggunaan sikap lemah ini oleh orang-orang dapat ditemukan dalam penjelasan orang kafir Makkah tentang sumber pesan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Mereka biasa mengatakan bahwa setan yang mendiktekan Al-Qur’an kepadanya! Tetapi Al-Qur’an –seperti biasa dengan argumen apa pun dari mereka– memberikan jawaban untuk itu: Allah Ta’ala berfirman dalam Surat At-Takwir: “Dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk (25) Maka ke manakah kamu akan pergi? (26) Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam (27)” (QS. At-Takwir: 25-27).
Dengan demikian Al-Qur’an memberikan jawaban yang jelas terhadap klaim ini. Sebenarnya, ada banyak bukti dalam Al-Qur’an yang datang sebagai jawaban atas klaim bahwa setan yang mendiktekan pesan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Misalnya dalam Surat Asy-Syu’ara: “Dan Al Qur’an itu bukanlah diturunkan oleh setan-setan (210) Dan tidak pantas bagi mereka dan tidak pula mereka mampu (211) Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan dari (mendengar) berita langit (212)” (QS. Asy-Syu’ara: 210-212).
Di tempat lain dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala mengajarkan kepada kita: “Apabila kamu membaca Al Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk (98)” (QS. An-Nahl: 98). Sekarang, apakah dengan cara ini setan menulis sebuah kitab? Dan apakah dia berkata kepada manusia: “Sebelum kamu membaca kitabku, mintalah Allah melindungimu dariku.”? Ini tidak lain adalah fitnah besar, sangat besar. Tentu saja, manusia dapat menulis sesuatu seperti ini, tetapi apakah setan akan melakukannya?
Banyak non-Muslim dengan jelas mengatakan bahwa mereka tidak dapat sampai pada kesimpulan tentang topik ini. Di satu sisi mereka mengklaim bahwa setan tidak akan melakukan hal seperti ini, dan bahkan jika dia mampu, Allah Ta’ala tidak akan mengizinkannya, dan mereka juga percaya bahwa setan jauh lebih rendah dari Allah Ta’ala. Di sisi lain –dalam inti dari apa yang mereka sampaikan– mereka mengklaim bahwa setan mungkin dapat melakukan apa pun yang dapat dilakukan Allah Ta’ala. Sebagai akibatnya, ketika mereka melihat Al-Qur’an –bahkan ketika mereka terkagum-kagum dengan keagungannya– mereka masih bersikeras: “Setan yang melakukannya!”
Alhamdulillah bahwa Muslim tidak memiliki sikap seperti ini. Meskipun setan memiliki beberapa kemampuan, perbedaan antara kemampuannya dan kemampuan Allah Ta’ala sangat besar. Dan seseorang tidak menjadi Muslim kecuali jika dia percaya pada hal itu. Juga jelas –bahkan bagi non-Muslim– bahwa setan dapat dengan mudah membuat kesalahan, dan karena itu diharapkan dia akan bertentangan dengan dirinya sendiri jika dia kebetulan menulis sebuah kitab. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman dalam Surat An-Nisa: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka menemukan pertentangan yang banyak di dalamnya (82)” (QS. An-Nisa: 82).
Selain dari argumen-argumen yang dikemukakan oleh non-Muslim dalam upaya mereka yang sia-sia untuk membenarkan keberadaan ayat-ayat yang tidak mereka pahami dalam Al-Quran yang mulia, ada serangan lain yang sering muncul sebagai gabungan dari kedua teori tersebut, yaitu bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang gila sekaligus pembohong. Orang-orang tersebut pada dasarnya menyatakan bahwa beliau (shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengalami gangguan jiwa, dan akibat khayalannya, beliau berbohong dan menyesatkan manusia. Hal ini memiliki nama dalam ilmu psikologi, yaitu Mythomania (obsesi mitologis: yaitu kecenderungan yang berlebihan atau tidak normal untuk berbohong dan melebih-lebihkan). Ini secara sederhana berarti bahwa seseorang berbohong, kemudian mempercayai kebohongannya sendiri. Inilah yang diklaim oleh non-Muslim tentang apa yang dialami oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun satu-satunya masalah yang mereka hadapi terkait argumen ini adalah bahwa orang yang menderita mythomania sama sekali tidak dapat menghadapi fakta-fakta, padahal Al-Quran yang mulia seluruhnya dibangun di atas fakta-fakta. Segala sesuatu di dalamnya dapat diteliti dan diverifikasi kebenarannya. Sementara itu, fakta-fakta dianggap sebagai masalah besar bagi penderita mythomania. Ketika psikiater mencoba mengobati salah satu orang yang menderita penyakit ini, dia terus-menerus menghadapkannya dengan fakta-fakta.
Sebagai contoh, jika seseorang sakit jiwa dan mengklaim: “Saya adalah raja Inggris,” maka psikiater tidak berkata kepadanya: “Tidak, kamu bukan raja, tapi kamu gila!” Dokter tidak melakukan itu, melainkan menghadapkannya dengan beberapa fakta dengan berkata: “Baiklah, kamu mengatakan bahwa kamu adalah raja Inggris, jadi katakan padaku di mana ratu hari ini? Dan di mana perdana menterimu? Dan di mana para pengawalmu?” Dan ketika pasien ini mengalami kesulitan dalam mencoba menangani pertanyaan-pertanyaan ini, dia akan mencoba mencari alasan: “Ah… ratu… pergi ke rumah ibunya. Ah… perdana menteri… yah, dia sudah meninggal.” Dan pada akhirnya dia akan sembuh total karena dia tidak mampu menghadapi fakta-fakta. Jika psikiater terus menghadapkannya dengan fakta-fakta yang cukup, maka pada akhirnya dia akan menghadapi kenyataan dengan berkata: “Saya rasa saya bukan raja Inggris.”
Al-Quran menjangkau setiap orang yang membacanya dengan cara yang sama seperti cara psikiater mengobati pasiennya yang menderita mythomania. Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Yunus: “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Quran) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)
Pada pandangan pertama, pernyataan ini mungkin tampak samar, tetapi makna ayat ini menjadi jelas ketika dilihat dalam cahaya contoh sebelumnya. Seseorang pada dasarnya disembuhkan dari khayalan-khayalannya dengan membaca Al-Quran yang mulia. Pada hakikatnya, ia adalah obat yang menyembuhkan orang-orang yang sesat dengan menghadapkan mereka dengan fakta-fakta. Salah satu sikap yang lazim dalam Al-Quran adalah cara ia berbicara kepada manusia bahwa mereka mengatakan begini dan begitu tentang sesuatu; lalu bagaimana dengan ini atau itu? Dan bagaimana mereka bisa mengatakan demikian padahal mereka mengetahui? Dan seterusnya. (Seperti firman Allah dalam Surah Al-Baqarah: “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala macam buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 22))
Al-Quran memaksa seseorang untuk merenungkan kebenaran dan apa yang berkaitan dengannya, sementara pada saat yang sama mengobatinya dari khayalan-khayalannya, karena fakta-fakta yang diberikan Allah Ta’ala kepada umat manusia dapat dijelaskan dan dipisahkan dari semua teori dan argumen yang buruk. Ini adalah cara khusus dalam menangani hal-hal – menghadapkan manusia dengan fakta-fakta – sehingga menarik perhatian banyak non-Muslim.
Faktanya, terdapat referensi yang menarik tentang topik ini dalam Ensiklopedia Katolik Baru. Dalam sebuah paragraf tentang topik Al-Quran yang mulia, Gereja Katolik menyatakan: “Selama berabad-abad lampau telah dikemukakan banyak teori tentang asal-usul Al-Quran… dan hari ini tidak ada orang berakal yang menerima salah satu dari teori-teori tersebut!” Inilah Gereja Katolik yang berumur panjang, yang telah ada di sana-sini selama berabad-abad, menolak sikap-sikap sia-sia untuk membantah asal-usul Al-Quran yang mulia.
Al-Quran tentu saja merupakan masalah bagi Gereja Katolik, karena ia menyatakan bahwa ia adalah wahyu dari Allah Ta’ala, dan karena itu mereka mempelajarinya. Pasti mereka ingin menemukan bukti bahwa ia bukan demikian, tetapi mereka tidak mampu. Mereka tidak dapat menemukan penjelasan yang dapat diterima. Namun mereka setidaknya jujur dalam penelitian mereka, dan tidak menerima penjelasan pertama yang tidak didukung bukti yang datang kepada mereka. Gereja menyatakan bahwa – dan selama empat belas abad – belum ada penjelasan yang masuk akal yang dikemukakan. Dengan demikian, setidaknya ia mengakui bahwa Al-Quran yang mulia bukanlah subjek yang mudah untuk disangkal.
Tetapi tentu saja ada orang lain yang kurang jujur ketika dengan tergesa-gesa berkata: “Ah, Al-Quran berasal dari sini atau dari sana.” Dan mereka bahkan tidak memeriksa kredibilitas apa yang mereka nyatakan dalam kebanyakan kasus. Dan tentu saja, pernyataan seperti itu dari Gereja Katolik menyebabkan sedikit kesulitan bagi seorang Kristen biasa. Itu karena mungkin dia memiliki ide-idenya sendiri tentang asal-usul Al-Quran, tetapi sebagai anggota gereja dia tidak benar-benar dapat bertindak menurut teorinya. Tindakan seperti itu mungkin bertentangan dengan ketundukan, kesetiaan, dan kesetiaan yang dituntut oleh gereja.
Berdasarkan keanggotaannya di gereja, dia harus menerima apa yang diumumkan Gereja Katolik tanpa pertanyaan, dan menjadikan ajarannya sebagai bagian dari rutinitas hariannya. Jadi, pada dasarnya, jika Gereja Katolik secara keseluruhan mengatakan: “Jangan dengarkan laporan-laporan yang tidak terkonfirmasi tentang Al-Quran,” maka apa yang bisa dikatakan tentang pandangan Islam? Bahkan non-Muslim mengakui bahwa ada sesuatu dalam Al-Quran – sesuatu yang seharusnya diakui – jadi mengapa orang-orang menjadi keras kepala, agresif, dan bermusuhan ketika Muslim mengajukan teori yang sama? Ini tentu sesuatu bagi orang-orang yang berakal untuk direnungkan – sesuatu untuk direnungkan bagi mereka yang menggunakan akal!
Baru-baru ini, salah satu pemikir terkemuka di Gereja Katolik – bernama Hans – telah mempelajari Al-Quran yang mulia, dan menyatakan pendapatnya tentang apa yang dia baca. Pria ini telah menunjukkan kehadirannya yang kuat di panggung untuk waktu yang lama, dan dia memiliki kedudukan tinggi di Gereja Katolik, dan setelah pemeriksaan yang cermat dia menerbitkan apa yang dia temukan dengan menyimpulkan: “Allah telah berbicara kepada manusia melalui manusia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Dan sekali lagi kesimpulan ini datang dari sumber non-Muslim – seorang pemikir terkemuka besar di Gereja Katolik itu sendiri! Saya tidak berpikir bahwa Paus setuju dengannya, tetapi meskipun demikian, pendapat dari tokoh publik yang terkenal dan bereputasi baik seperti itu harus memiliki bobot dalam membela posisi Islam. Dan dia harus diberi tepuk tangan karena menghadapi kenyataan bahwa Al-Quran yang mulia bukanlah sesuatu yang dapat dibuang dengan mudah, dan bahwa Allah Ta’ala benar-benar adalah sumber kata-kata-Nya.
Jelas dari semua yang telah disebutkan sebelumnya bahwa semua alternatif telah habis, dan oleh karena itu tidak ada kesempatan untuk menemukan kemungkinan lain untuk menyangkal Al-Quran yang mulia. Karena jika kitab ini bukan wahyu, maka ia adalah penipuan; dan jika ia penipuan, maka seseorang harus bertanya: “Apa sumbernya? Dan di bagian mana ia menipu kita?” Dan tentu saja jawaban yang benar atas pertanyaan-pertanyaan ini menyoroti keaslian Al-Quran yang mulia, dan membungkam klaim-klaim kafir yang tajam dan tidak berdasar.
Dan tentu saja, jika orang-orang tersebut terus bersikeras bahwa Al-Quran yang mulia tidak lain adalah penipuan, maka mereka harus memberikan bukti yang mendukung klaim mereka. Beban pembuktian ada pada mereka, bukan pada kita! Seseorang tidak boleh mengajukan teori tanpa fakta-fakta yang cukup untuk mendukungnya; jadi saya berkata kepada mereka: “Tunjukkan kepada saya satu penipuan! Tunjukkan kepada saya di mana Al-Quran yang mulia menipu saya! Tunjukkan itu kepada saya, dan jika kalian tidak melakukannya, jangan katakan kepada saya bahwa itu adalah penipuan!”
Dikutip dari:
PERJALANAN IMAN BERSAMA PRIA DAN WANITA YANG MASUK ISLAM
رحلة إيمانية مع رجال ونساء أسلموا
Disusun oleh:
Abdul Rahman Mahmoud
Terjemah:
Muhamad Abid Hadlori, S.Ag.,Lc.








