Ujian: Surat Cinta yang Mengajak Kembali ke Pelukan Ilahi

Jumat, 27 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ -رَحِمَهُ اللهُ-:
“إِذَا ابْتَلَى اللهُ عَبْدَهُ بِشَيْءٍ مِنْ أَنْوَاعِ الْبَلَايَا وَالْمِحَنِ، فَإِنْ رَدَّهُ ذَلِكَ الِابْتِلَاءُ وَالْمِحَنُ إِلَى رَبِّهِ، وَجَمَعَهُ عَلَيْهِ، وَطَرَحَهُ بِبَابِهِ؛ فَهُوَ عَلَامَةُ سَعَادَتِهِ وَإِرَادَةِ الْخَيْرِ بِهِ.”
[طَرِيْقُ الْهِجْرَتَيْنِ (١٦٣)]

Ibnu al-Qayyim —rahimahullāh— berkata:
“Jika Allah menguji hamba-Nya dengan suatu jenis musibah atau cobaan, lalu ujian tersebut mengembalikannya kepada Tuhannya, memfokuskan (hatinya) kepada-Nya, dan membuatnya bersimpuh di depan pintu-Nya; maka itulah tanda kebahagiaan sang hamba dan tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan baginya.”

Ini adalah kutipan yang sangat menyejukkan hati bagi siapa saja yang sedang menghadapi badai kehidupan.
Imam Ibnu al-Qayyim memberikan perspektif baru bahwa musibah bukanlah sekadar derita, melainkan sebuah “undangan” untuk kembali pulang ke pelukan Ilahi.
Beliau menjelaskan bahwa barometer sebuah musibah itu “buruk” atau “baik” bukanlah terletak pada rasa sakitnya, melainkan pada dampaknya terhadap hubungan kita dengan Allah. Jika rasa sakit itu membuat kita menjauh dari Allah, itulah musibah yang sebenarnya. Namun, jika derita itu justru membuat kita semakin rajin berdoa, semakin rendah hati di hadapan-Nya, dan memutus ketergantungan pada makhluk, maka derita itu sesungguhnya adalah nikmat yang menyamar.

Pelajaran Penting

01. Mendefinisikan Ulang Keberuntungan

Keberuntungan bukanlah hidup yang tanpa masalah, melainkan hidup yang selalu terhubung dengan Allah. Terkadang, Allah harus “mematahkan” hati kita melalui ujian agar tidak ada ruang bagi selain-Nya di dalam hati tersebut.

02. Tanda Cinta Allah

Sebagaimana hadits Nabi ﷺ, “Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka.” Ujian adalah cara Allah menarik hamba-Nya yang sedang lalai untuk kembali ke “pintu-Nya”.

Hati yang Terkumpul (Jam’ul Qalb)

Kalimat “mengumpulkan hatinya kepada-Nya” merujuk pada kondisi di mana seseorang tidak lagi kebingungan mencari pertolongan ke sana kemari, melainkan fokus total hanya kepada Allah sebagai satu-satunya pemberi solusi.

Bersimpuh di Pintu-Nya (Tharhuhu bi Baabihi)

Ini adalah metafora puncak ketundukan (ubudiyah). Menunjukkan bahwa hamba tersebut telah melepas kesombongan dan kekuatannya, menyadari bahwa ia hanyalah fakir yang butuh belas kasih Tuhannya.

 

Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi Hafidzahullah Ta’ala

Artikel Terjkait

TERUSLAH MEMPERBANYAK DZIKIR DI HARI-HARI TASYRIK
Dua Hari Nan Mulia, Hari Arafah dan Hari Nahr
TUNTUNAN QURBAN
MENGENAL HARI TARWIYAH: 8 DZULHIJJAH
Seutama-utama Doa, Seutama-utama Sanjungan
RASUL, TUGAS DAN KEKHUSUSANNYA
Gambaran Kesyukuran Terbesar
JANGAN KOSONGKAN RUMAHMU DARI DZIKIR
Berita ini 20 kali dibaca

Artikel Terjkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 07:37 WIB

TERUSLAH MEMPERBANYAK DZIKIR DI HARI-HARI TASYRIK

Kamis, 28 Mei 2026 - 03:35 WIB

Dua Hari Nan Mulia, Hari Arafah dan Hari Nahr

Kamis, 28 Mei 2026 - 03:21 WIB

TUNTUNAN QURBAN

Senin, 25 Mei 2026 - 05:42 WIB

MENGENAL HARI TARWIYAH: 8 DZULHIJJAH

Senin, 25 Mei 2026 - 04:25 WIB

Seutama-utama Doa, Seutama-utama Sanjungan

Artikel Terbaru

Fikih

TERUSLAH MEMPERBANYAK DZIKIR DI HARI-HARI TASYRIK

Sabtu, 30 Mei 2026 - 07:37 WIB

wallup.net

Fatwa Ulama

Ketenangan Jiwa pada Ketaatan

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:29 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Profesor Universitas Dr. Rusia Alla Olinikova

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:15 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Pemikir Austria Leopold Weiss

Sabtu, 30 Mei 2026 - 06:06 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Sastrawan Prancis Vincent Monteil

Sabtu, 30 Mei 2026 - 05:48 WIB