قَالَ الْإِمَامُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُ اللهُ:
“وَمَنْ تَأَمَّلَ أَحْوَالَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ، وَجَدَهُمْ فِي غَايَةِ الْعَمَلِ مَعَ غَايَةِ الْخَوْفِ، وَنَحْنُ جَمَعْنَا بَيْنَ التَّقْصِيرِ -بَلِ التَّفْرِيطِ- وَالْأَمْنِ.”
[الدَّاءُ وَالدَّوَاءُ ص٣٥، وَالصَّوَاعِقُ الْمُرْسَلَةُ ٢/ ٤٦٩]
Imam Ibnu al-Qayyim —rahimahullāh— berkata:
“Barangsiapa yang merenungkan keadaan para Sahabat —radhiyallāhu ‘anhum— niscaya ia akan menemukan mereka berada pada puncak amal (ketaatan) dibersamai dengan puncak rasa takut (kepada Allah). Sedangkan kita, kita menggabungkan antara kekurangan —bahkan kelalaian— dengan perasaan aman (dari azab).”
Ini adalah kutipan yang sangat mendalam dari kitab legendaris Imam Ibnu al-Qayyim, Al-Da’ wa al-Dawa’. Beliau memotret kontradiksi spiritual yang sering terjadi antara generasi terbaik dengan generasi setelahnya.
Imam Ibnu al-Qayyim sedang melakukan perbandingan psikologi iman. Para sahabat Nabi, meskipun dijamin surga dan memiliki kualitas amal yang tak tertandingi, hati mereka tetap bergetar karena takut amal mereka tidak diterima atau terjatuh dalam murka Allah. Sebaliknya, manusia zaman sekarang yang amalnya jauh dari sempurna, justru sering merasa “percaya diri” akan masuk surga dan merasa aman dari ancaman siksa-Nya. Beliau mengajak kita untuk melakukan muhasabah (evaluasi diri) atas “rasa aman yang semu” ini.
Pelajaran Penting
01. Keseimbangan Amal dan Khauf
Iman yang sehat adalah ketika seseorang semakin banyak beramal, ia justru semakin takut kepada Allah (bukan menjadi sombong). Inilah sifat mukmin sejati sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an (QS. Al-Mu’minun: 60).
02. Bahaya Perasaan Aman (Al-Amru min Makrillah)
Merasa aman dari azab Allah sambil terus melakukan kemaksiatan atau meremehkan ketaatan adalah tipu daya setan yang membinasakan.
03. Definisi Taqshir vs Tafriit
Ibnu al-Qayyim menggunakan kata Tafriit (meremehkan/melalaikan) yang lebih parah dari sekadar Taqshir (kekurangan). Ini menunjukkan bahwa kita sering kali bukan hanya kurang dalam beramal, tapi sengaja melalaikannya.
04. Meneladani Sahabat dalam Metodologi Ibadah
Meneladani sahabat bukan hanya dalam bentuk ritual, tapi juga dalam pengelolaan hati; yakni menanamkan rasa rendah hati dan kekhawatiran yang positif setelah melakukan ketaatan.
Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi Hafidzahullah Ta’ala







