Ramadhan sering terasa seperti sebuah perjalanan sunyi di gurun yang hanya dikenal oleh para pencari. Di perjalanan itu manusia perlahan belajar menanggalkan banyak hal yang selama ini ia genggam terlalu erat. Ia menanggalkan nama, menanggalkan kebanggaan, bahkan menanggalkan dunia yang sering membuat hatinya berat. Puasa seolah mengajarkan bahwa manusia tidak benar-benar memiliki apa pun selain kebutuhan untuk kembali kepada Tuhannya.
Lapar dan haus yang kita rasakan setiap hari bukan sekadar ujian fisik. Ia seperti lentera kecil yang dinyalakan di dalam dada. Dari sanalah kita mulai melihat diri kita dengan lebih jernih. Haus menjadi cermin yang memantulkan betapa rapuhnya manusia, dan malam-malam Ramadhan yang panjang membuka pintu-pintu yang sebelumnya tersembunyi di dalam hati.
Sedikit demi sedikit, sesuatu yang lama membeku dalam jiwa mulai mencair. Dinding yang memisahkan seorang hamba dari Tuhannya perlahan retak, seperti es yang mencair ketika disentuh matahari yang hangat. Doa-doa yang diucapkan dalam kesunyian malam menjadi seperti langkah-langkah kecil menuju sebuah rumah yang sebenarnya selalu kita rindukan.
Kemudian tibalah hari yang ditunggu itu. Pagi Idul Fitri datang bersama gema takbir yang mengalir dari langit ke bumi, seolah-olah hujan cahaya sedang diturunkan untuk membasuh sisa-sisa gelap dalam jiwa manusia. Takbir bukan sekadar suara yang dikumandangkan, tetapi juga pengakuan yang paling jujur bahwa Allah lebih besar dari segala dosa, segala kesalahan, dan segala kelemahan yang pernah kita lakukan.
Karena itu Idul Fitri sebenarnya bukan sekadar hari kemenangan. Ia adalah saat ketika seorang hamba menemukan kembali dirinya yang sempat hilang dalam hiruk-pikuk dunia. Fitrah yang selama ini tertutup oleh debu kehidupan kembali tampak seperti mata air yang jernih.
Sesungguhnya fitrah adalah rahasia pertama yang Allah titipkan dalam ruh manusia. Ia adalah keadaan paling murni yang pernah kita miliki sebelum dunia mengajarkan banyak hal kepada kita.
Maka setiap Idul Fitri, manusia sebenarnya hanya sedang melakukan satu perjalanan yang sangat tua dan sangat sederhana. Ia sedang mengetuk pintu rumahnya sendiri. Rumah yang sejak awal sebenarnya tidak pernah ia tinggalkan, hanya saja sempat terlupakan di tengah panjangnya perjalanan hidup.
by. Madrasah Plus







