Ada sebuah kalimat yang sederhana namun mengguncang kesadaran: ketika kita lahir, wajah kita menyerupai orang tua kita; tetapi ketika kita meninggal, wajah kita menyerupai keputusan-keputusan kita. Kalimat ini seperti cermin yang memaksa manusia melihat dirinya sendiri. Ia mengingatkan bahwa kehidupan tidak berhenti pada asal-usul, melainkan bergerak menuju pilihan-pilihan yang kita ambil setiap hari.
Saat manusia lahir, hampir semua yang melekat padanya adalah pemberian. Kita tidak memilih orang tua, tempat lahir, warna kulit, atau keadaan keluarga. Allah subhanahuwata’ala telah menempatkan setiap manusia pada rahim yang Dia kehendaki. Sebagaimana firman-Nya bahwa Dialah yang membentuk manusia dalam rahim sebagaimana yang Dia kehendaki. Maka awal kehidupan manusia adalah takdir, bukan keputusan.
Namun setelah manusia tumbuh, kehidupan berubah menjadi rangkaian pilihan. Kita mulai menentukan arah hidup: apakah memilih kejujuran atau kepentingan sesaat, apakah memilih kesabaran atau kemarahan, apakah memilih memberi manfaat atau sekadar mengejar keuntungan diri. Di titik inilah manusia tidak lagi sekadar mewarisi wajah orang tuanya, tetapi mulai memahat wajah kehidupannya sendiri.
Para ulama salaf telah lama mengingatkan bahwa manusia sebenarnya sedang membangun dirinya melalui amalnya. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah mengingatkan bahwa dunia hanyalah kumpulan hari. Setiap hari yang berlalu berarti sebagian dari diri kita ikut pergi. Artinya, setiap keputusan yang kita ambil pada hari-hari itu sedang membentuk siapa kita sebenarnya.
Ilmu psikologi modern sampai pada kesimpulan yang serupa. Para pakar perilaku menjelaskan bahwa karakter manusia terbentuk dari keputusan kecil yang dilakukan berulang-ulang. Pilihan untuk menahan lisan, pilihan untuk menjaga amanah, pilihan untuk menahan hawa nafsu, semuanya perlahan membentuk struktur batin seseorang. Tanpa terasa, keputusan-keputusan kecil itu menumpuk menjadi arah hidup.
Di sinilah Ramadhan menjadi sangat istimewa. Selama satu bulan, manusia dilatih membuat keputusan yang mungkin tidak ia lakukan di bulan-bulan lain. Menahan lapar ketika makanan ada di depan. Menahan amarah ketika emosi memuncak. Bangun di malam hari untuk berdiri di hadapan Allah subhanahuwata’ala ketika kebanyakan manusia masih terlelap. Ramadhan sebenarnya adalah latihan keputusan.
Namun yang paling menentukan bukan hanya apa yang kita lakukan di awal Ramadhan, melainkan apa yang tersisa ketika Ramadhan hampir pergi. Di penghujung bulan ini, setiap orang seakan sedang bercermin: apakah keputusan-keputusan selama Ramadhan hanya menjadi ritual sementara, ataukah ia benar-benar mulai membentuk wajah kehidupan kita.
Allah subhanahuwata’ala menggambarkan bahwa pada hari akhir nanti ada wajah-wajah yang berseri-seri karena usaha mereka, dan ada pula wajah-wajah yang muram karena apa yang mereka kerjakan. Wajah itu bukan sekadar ekspresi fisik, melainkan cerminan perjalanan hidup yang dibangun oleh keputusan-keputusan manusia.
Maka ketika Ramadhan hampir meninggalkan kita, pertanyaan yang paling jujur bukanlah seberapa banyak hari yang telah kita lalui, tetapi wajah seperti apa yang sedang kita bangun melalui keputusan-keputusan kita. Karena mungkin kita lahir dengan wajah orang tua kita, tetapi kita akan kembali kepada Allah subhanahuwata’ala dengan wajah yang dibentuk oleh pilihan hidup kita sendiri.
Kartiko Adi Pramono
Learning Partner







