Klasifikasi Manusia: Antara Pohon Peneduh, Buah yang Ranum, dan Duri yang Menyakitkan

Jumat, 13 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

وَقَدْ قِيلَ: “مَثَلُ جُمْلَةِ النَّاسِ كَمَثَلِ الشَّجَرِ وَالنَّبَاتِ:
١- فَمِنْهَا مَا لَهُ ظِلٌّ وَلَيْسَ لَهُ ثَمَرٌ، وَهُوَ مَثَلُ الَّذِي يُنْتَفَعُ بِهِ فِي الدُّنْيَا دُونَ الْآخِرَةِ، فَإِنَّ نَفْعَ الدُّنْيَا كَالظِّلِّ السَّرِيعِ الزَّوَالِ.
٢- وَمِنْهَا مَا لَهُ ثَمَرٌ وَلَيْسَ لَهُ ظِلٌّ.
٣- وَمِنْهَا مَا لَيْسَ لَهُ وَاحِدٌ مِنْهُمَا كَأُمِّ غَيْلَانَ، تُمَزِّقُ الثِّيَابَ وَلَا طَعْمَ فِيهَا وَلَا شَرَابَ.
وَمِثْلُهُ مِنَ الْحَيَوَانِ: الْحَيَّةُ وَالْعَقْرَبُ وَالْفَأْرُ.
وَمِثْلُهُ فِي النَّبَاتِ: الْخُنَّيْزُ، فَإِنَّهُ يُضَيِّقُ عَلَى الزَّرْعِ وَيَضُرُّ مَنْ لَمَسَهُ وَلَا يُؤْكَلُ وَلَا لَهُ ثَمَرٌ يُؤْكَلُ، وَيَشْرَبُ مَاءَ الزَّرْعِ وَيَعُوقُ نُمُوَّهُ… إِذًا فَلَا بُدَّ مِنَ الْإِخْتِيَارِ قَبْلَ الْمُعَامَلَةِ.”

“Telah dikatakan: ‘Perumpamaan manusia secara umum adalah seperti pepohonan dan tumbuh-tumbuhan:
Ada yang memiliki naungan (bayangan) namun tidak berbuah. Ini adalah perumpamaan bagi orang yang memberi manfaat di dunia saja namun tidak untuk akhirat. Karena manfaat dunia itu seperti bayangan yang cepat hilang.
Ada yang memiliki buah namun tidak memiliki naungan.
Ada yang tidak memiliki keduanya (tidak teduh dan tidak berbuah), seperti pohon Ummu Ghailan (pohon berduri); ia merobek pakaian, tidak ada rasa (lezat) padanya, dan tidak pula ada air (untuk diminum).
Perumpamaannya dari jenis hewan adalah ular, kalajengking, dan tikus.
Perumpamaannya dari jenis tumbuhan adalah Khunnais; ia menyempitkan ruang tumbuh tanaman lain, menyakiti orang yang menyentuhnya, tidak bisa dimakan, dan tidak berbuah. Ia menyerap air tanaman lain dan menghambat pertumbuhannya…
Maka, harus ada seleksi (pilihan) sebelum menjalin hubungan (muamalah).'”
Mawariduz zaman 2/213-214

Penulis kitab Mawariduz Zam’an ini mengajak kita melihat realitas sosial melalui kacamata ekosistem. Ada manusia yang manfaatnya fana (hanya urusan materi/dunia), ada yang saleh secara pribadi namun kurang nampak manfaat sosialnya, dan ada tipe “parasit” atau “predator” yang tidak hanya tidak berguna, tetapi justru merusak orang-orang di sekitarnya.

Pelajaran Penting
Pentingnya Selektivitas dalam Bergaul

Kalimat penutup “Lā budda minal ikhtiyār” (Harus ada pilihan) adalah kunci. Kita tidak bisa sembarangan menjadikan seseorang teman dekat atau rekan bisnis tanpa melihat “buah” (karakter) dan “naungan” (manfaat)-nya.

Waspada Terhadap Karakter Parasit

Belajar dari analogi tumbuhan Khunnais, kita harus waspada terhadap orang yang hanya memanfaatkan sumber daya kita (menyerap air), menghambat kemajuan kita, namun justru menyakiti jika didekati.

Orientasi Manfaat yang Kekal

Manfaat duniawi disamakan dengan bayangan (zhill) karena ia bergerak dan hilang seiring matahari terbenam. Jadilah manusia yang tidak hanya memberi “teduh” (kenyamanan duniawi), tapi juga “buah” (pahala/amal jariyah).

Mengenali “Duri” dalam Pergaulan

Ada tipe manusia yang kehadirannya hanya merusak “pakaian” (harga diri atau urusan) orang lain tanpa memberikan solusi atau kebaikan sedikit pun.

 

Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi Hafidzahullah Ta’ala

 

Artikel Terjkait

MENGUTAMAKAN QADHA PUASA RAMADHAN DARIPADA PUASA SYAWWAL
MENYEMPURNAKAN RAMADHAN DENGAN PUASA SYAWWAL
Ujian: Surat Cinta yang Mengajak Kembali ke Pelukan Ilahi
Rahasia Terbukanya Pintu Rahmat
Puncak Takwa di Tengah Badai Khauf
Jembatan Maaf: Kunci Ampunan Ilahi
Anatomi Kejatuhan: Seni Memotong Rantai Kebiasaan Buruk
Apakah Lailatul Qadar Masih Ada atau Sudah Diangkat?
Berita ini 12 kali dibaca

Artikel Terjkait

Minggu, 29 Maret 2026 - 15:02 WIB

MENGUTAMAKAN QADHA PUASA RAMADHAN DARIPADA PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Maret 2026 - 14:46 WIB

MENYEMPURNAKAN RAMADHAN DENGAN PUASA SYAWWAL

Jumat, 27 Maret 2026 - 16:25 WIB

Ujian: Surat Cinta yang Mengajak Kembali ke Pelukan Ilahi

Rabu, 25 Maret 2026 - 14:45 WIB

Rahasia Terbukanya Pintu Rahmat

Minggu, 22 Maret 2026 - 20:14 WIB

Jembatan Maaf: Kunci Ampunan Ilahi

Artikel Terbaru

Fikih

MENGUTAMAKAN QADHA PUASA RAMADHAN DARIPADA PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Mar 2026 - 15:02 WIB

Fikih

MENYEMPURNAKAN RAMADHAN DENGAN PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Mar 2026 - 14:46 WIB

Ibadah

Istiqomah Pasca Ramadhan

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:30 WIB

Dakwah

Ujian: Surat Cinta yang Mengajak Kembali ke Pelukan Ilahi

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:25 WIB

Dakwah

Rahasia Terbukanya Pintu Rahmat

Rabu, 25 Mar 2026 - 14:45 WIB