Kholifah Ali bin Abi Thalib berkata,
ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً ، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً ، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا ، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ
“Dunia telah berjalan pergi menjauh (membelakangi), sedangkan akhirat telah berjalan datang mendekat (menghampiri). Dan bagi masing-masing keduanya (dunia dan akhirat) memiliki anak-anak (pengikut). Maka jadilah kalian anak-anak akhirat, dan janganlah kalian menjadi anak-anak dunia. Karena sesungguhnya hari ini (dunia) adalah tempat beramal dan tidak ada hisab, sedangkan esok (akhirat) adalah tempat hisab dan tidak ada lagi amal.”
(HR. Bukhari, secara mu’allaq dalam Kitab Ar-Riqaq)
1. Hakikat Perjalanan Waktu
Ali bin Abi Thalib menggambarkan dunia dan akhirat seperti dua musafir yang berlawanan arah.
Dunia Mudbirah: Setiap detik yang kita lalui berarti kita semakin menjauh dari dunia. Kita lahir untuk meninggalkan dunia, bukan untuk menetap.
Akhirat Muqbilah: Kematian dan hari kiamat terus berjalan mendekat tanpa bisa dihentikan. Secara logika, sangat aneh jika manusia lebih sibuk mengejar sesuatu yang sedang menjauhinya (dunia) daripada bersiap menyambut sesuatu yang pasti datang (akhirat).
2. Konsep “Anak Dunia” vs “Anak Akhirat”
Penggunaan istilah “Banuun” (Anak-anak) merujuk pada keterikatan hati.
Anak Dunia: Adalah mereka yang hatinya terpaku pada materi, jabatan, dan kesenangan sesaat. Mereka memperlakukan dunia sebagai tujuan akhir.
Anak Akhirat: Adalah mereka yang menjadikan dunia hanya sebagai sarana (jembatan). Fokus utama mereka adalah bagaimana “kepulangan” mereka nanti dalam keadaan baik.
3. Pemisahan Antara Amal dan Hisab
Ini adalah poin yang paling krusial. Ali bin Abi Thalib membagi fase kehidupan secara tegas:
Di Dunia (Amal Tanpa Hisab): Kita memiliki kebebasan untuk memilih tindakan, namun seringkali kita tidak langsung melihat konsekuensi instannya. Ini adalah masa ujian.
Di Akhirat (Hisab Tanpa Amal): Begitu maut menjemput, pintu peluang untuk memperbaiki diri tertutup rapat. Yang tersisa hanyalah audit besar-besaran atas apa yang telah dilakukan. Tidak ada lagi shalat, sedekah, atau taubat yang bisa menambah timbangan di sana.
Catatan Penting:
Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, nasehat ini bukan berarti kita harus meninggalkan urusan dunia secara total. Namun, nasehat ini memerintahkan kita untuk mengatur prioritas. Dunia harus ada di tangan untuk dikelola, namun akhirat harus ada di dalam hati sebagai tujuan utama.
Jadikan nasehat ini sebagai bahan renungan (muhasabah) di tengah kesibukan kita yang seringkali membuat kita lupa akan “garis finish”.
Mari terus memperbaiki diri kita dengan ilmu.
Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi Hafidzahullah Ta’ala







