SURGA DAN NERAKA

Rabu, 18 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SURGA DAN NERAKA

الجنة والنار

Penulis:

Umar bin Sulaiman bin Abdullah Al-Asyqar Al-Utaibi

Terjemah:

Muhamad Abid Hadlori, S.Ag.,Lc.

BAB PERTAMA: NERAKA

Pendahuluan: Neraka – Definisi dan Penjelasan

Neraka adalah tempat yang telah Allah persiapkan bagi orang-orang kafir kepada-Nya, yang membangkang terhadap syariat-Nya, yang mendustakan rasul-rasul-Nya, dan neraka adalah azab-Nya yang dengannya Dia menyiksa musuh-musuh-Nya, dan penjara-Nya yang di dalamnya Dia penjara para penjahat.

Dan neraka adalah kehinaan yang paling besar, dan kerugian yang sangat besar, yang tidak ada kehinaan di atasnya, dan tidak ada kerugian yang lebih besar darinya, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya orang yang Engkau masukkan ke dalam neraka, sungguh telah Engkau hinakan dia, dan tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolongpun” (Ali Imran: 192), “Tidakkah mereka mengetahui bahwasanya barangsiapa yang menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya baginya neraka jahannam, kekal ia di dalamnya. Yang demikian itu adalah kehinaan yang besar” (At-Taubah: 63), dan Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarga-keluarga mereka pada hari kiamat. Ingatlah, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata” (Az-Zumar: 15).

Dan bagaimana neraka tidak sebagaimana yang telah kami gambarkan, padahal di dalamnya terdapat azab, penderitaan, dan kesedihan yang tidak mampu dituliskan oleh pena-pena kami, dan tidak mampu digambarkan oleh lisan-lisan kami, dan neraka bersama dengan itu kekal dan penghuninya di dalamnya kekal, dan oleh karena itu Allah memperpanjang celaan terhadap tempat tinggal penghuni neraka di dalam neraka “Sesungguhnya neraka itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman” (Al-Furqan: 66), “Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka benar-benar tempat kembali yang buruk, (yaitu) neraka jahannam; mereka masuk kedalamnya; maka amat buruklah neraka itu sebagai tempat tinggal” (Shad: 55-56).

Fasal Pertama: Surga dan Neraka Adalah Makhluk yang Telah Diciptakan

Berkata At-Thahawi dalam akidah Salaf yang dinisbatkan kepadanya yang dikenal dengan Akidah Thahawiyyah: “Dan surga dan neraka adalah makhluk yang telah diciptakan, tidak akan binasa selamanya dan tidak akan musnah, maka sesungguhnya Allah Ta’ala telah menciptakan surga dan neraka sebelum makhluk, dan menciptakan untuk keduanya penghuni-penghuni, maka barangsiapa yang Dia kehendaki dari mereka ke surga sebagai karunia dari-Nya, dan barangsiapa yang Dia kehendaki dari mereka ke neraka sebagai keadilan dari-Nya, dan setiap orang bekerja untuk apa yang telah ditetapkan baginya, dan akan sampai kepada apa yang telah diciptakan untuknya, dan kebaikan dan keburukan telah ditakdirkan atas hamba-hamba.”

Dan berkata Muhammad bin Muhammad bin Abi Al-Izz Al-Hanafi, penshrah Thahawiyyah dalam syarahnya terhadap nash ini:

“Adapun perkataannya: ‘Sesungguhnya surga dan neraka adalah makhluk yang telah diciptakan’, maka Ahlus Sunnah sepakat bahwa surga dan neraka adalah makhluk yang telah diciptakan dan ada sekarang, dan Ahlus Sunnah tidak berhenti dari hal itu, hingga muncullah golongan dari kalangan Mu’tazilah dan Qadariyyah yang mengingkari hal itu, dan mereka berkata: Bahkan Allah akan menciptakan keduanya pada hari kiamat. Dan yang mendorong mereka kepada hal itu adalah asas mereka yang rusak yang dengan itu mereka menetapkan syariat untuk apa yang Allah lakukan, dan bahwa Dia seharusnya melakukan begini, dan tidak seharusnya bagi-Nya melakukan begitu. Dan mereka mengqiyaskan Dia dengan makhluk-Nya dalam perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka adalah mushabbihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk) dalam perbuatan, dan masuk ke dalam diri mereka paham Jahmiyyah, maka mereka dengan itu juga menjadi mu’aththilah (yang menafikan sifat-sifat Allah). Dan mereka berkata: Menciptakan surga sebelum pembalasan adalah sia-sia, karena surga akan menjadi terbengkalai dalam masa yang panjang. Maka mereka menolak nash-nash yang menyelisihi syariat batil ini yang mereka tetapkan untuk Rabb Ta’ala, dan mereka mengalihkan nash-nash dari tempatnya, dan mereka menyesatkan dan membid’ahkan orang yang menyelisihi syariat mereka.”

Kemudian dia menyebutkan dalil-dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah yang menunjukkan bahwa surga dan neraka adalah makhluk yang telah diciptakan, “Maka dari nash-nash Al-Quran: firman Allah Ta’ala tentang surga: “yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa” (Ali Imran: 133), “yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya” (Al-Hadid: 21), dan tentang neraka “yang disediakan untuk orang-orang kafir” (Ali Imran: 131), “Sesungguhnya neraka jahannam itu selalu mengintai, bagi orang-orang yang melampaui batas, sebagai tempat kembali” (An-Naba’: 21-22). Dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal” (An-Najm: 13-15).

Dan sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melihat Sidratil Muntaha, dan melihat di dekatnya surga tempat tinggal. Sebagaimana dalam “Ash-Shahihain” dari hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, dalam kisah Isra’, dan di akhirnya: “Kemudian Jibril pergi bersamaku, hingga sampai di Sidratil Muntaha, maka menutupinya warna-warna yang aku tidak tahu apa itu, dia berkata: Kemudian aku masuk surga, maka tiba-tiba itu adalah kubah-kubah mutiara, dan tanahnya adalah misk.”

Dan dalam “Ash-Shahihain” dari hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sesungguhnya salah seorang dari kalian apabila mati, diperlihatkan kepadanya tempat duduknya pada pagi dan sore hari, jika dia dari penghuni surga maka dari penghuni surga, dan jika dia dari penghuni neraka maka dari penghuni neraka, lalu dikatakan: Inilah tempat dudukmu hingga Allah membangkitkanmu pada hari kiamat.”

Dan hadits Al-Bara’ bin ‘Azib dan di dalamnya: “Berteriak penyeru dari langit: Bahwa benar hamba-Ku, maka hamparkanlah untuknya dari surga, dan bukakanlah untuknya pintu ke surga, dia berkata: Maka datang kepadanya dari bau harum dan keharuman surga.”

Dan dalam “Shahih Muslim” dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Matahari mengalami gerhana pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia menyebutkan hadits, dan di dalamnya: Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Aku melihat dalam tempatku berdiri ini segala sesuatu yang dijanjikan kepada kalian, bahkan sungguh aku melihat diriku ingin mengambil setandan buah dari surga ketika kalian melihatku maju ke depan. Dan sungguh aku melihat jahannam sebagiannya menghancurkan sebagian yang lain ketika kalian melihatku mundur ke belakang.”

Dan dalam “Ash-Shahihain” dan lafaznya untuk Al-Bukhari, dari Abdullah bin Abbas, dia berkata: Matahari mengalami gerhana pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia menyebutkan hadits, dan di dalamnya: Maka mereka berkata: Ya Rasulullah, kami melihatmu meraih sesuatu di tempat berdirimu, kemudian kami melihatmu mundur ke belakang? Maka beliau berkata: “Sesungguhnya aku melihat surga, maka aku meraih setandan buah, dan seandainya aku mengambilnya niscaya kalian akan makan darinya selama dunia ini ada, dan aku melihat neraka, maka aku tidak melihat pemandangan seperti hari ini yang paling mengerikan, dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita,” mereka berkata: Dengan apa, ya Rasulullah? Beliau berkata: “Dengan kekafiran mereka” ditanya: Apakah mereka kafir kepada Allah? Beliau berkata: “Mereka kafir kepada suami, dan mereka kafir kepada kebaikan, jika engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian dia melihat darimu sesuatu, dia berkata: Aku tidak melihat kebaikan sama sekali.”

Dan dalam “Shahih Muslim” dari hadits Aisyah yang telah lalu bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam khutbahnya setelah shalat: “Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian akan banyak menangis, dan sedikit tertawa.”

Dan dalam “Al-Muwaththa’ dan As-Sunan” dari hadits Ka’b bin Malik, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sesungguhnya ruh orang mukmin adalah burung yang bergantung di pohon-pohon surga, hingga Allah mengembalikannya ke jasadnya pada hari kiamat.” Dan ini jelas menunjukkan masuknya ruh ke surga sebelum hari kiamat.

Dan dalam “Shahih Muslim dan As-Sunan dan Al-Musnad” dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Ketika Allah menciptakan surga dan neraka, Dia mengutus Jibril ke surga, maka Dia berkata: Pergilah dan lihatlah surga dan apa yang telah Aku persiapkan untuk penghuninya di dalamnya, maka dia pergi dan melihat surga dan apa yang Allah persiapkan untuk penghuninya di dalamnya, lalu dia kembali dan berkata: Demi kemuliaan-Mu, tidak ada seorangpun yang mendengar tentangnya kecuali dia akan masuk ke dalamnya, maka Allah memerintahkan surga, lalu surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai, maka Dia berkata: Kembalilah dan lihatlah surga dan apa yang telah Aku persiapkan untuk penghuninya di dalamnya. Dia berkata: Maka dia melihatnya, kemudian kembali dan berkata: Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku khawatir tidak akan ada seorangpun yang masuk ke dalamnya.

Dia berkata: Kemudian Dia mengutusnya ke neraka, Dia berkata: Pergilah dan lihatlah neraka dan apa yang telah Aku persiapkan untuk penghuninya di dalamnya, dia berkata: Maka dia melihat neraka, maka tiba-tiba neraka sebagiannya menumpuk di atas sebagian yang lain, kemudian dia kembali dan berkata: Demi kemuliaan-Mu, tidak akan ada seorangpun yang masuk ke dalamnya yang mendengar tentangnya, maka Allah memerintahkan neraka lalu neraka dikelilingi dengan syahwat-syahwat, kemudian Dia berkata: Pergilah dan lihatlah apa yang telah Aku persiapkan untuk penghuninya di dalamnya, maka dia pergi dan melihatnya, lalu kembali dan berkata: Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku khawatir tidak akan selamat darinya seorangpun kecuali masuk ke dalamnya.” Dan yang serupa dengan itu dalam As-Sunnah banyak.

Dan Al-Bukhari telah membuat bab dalam Shahihnya dia berkata di dalamnya: “Bab tentang apa yang datang dalam sifat surga dan bahwa surga itu makhluk yang telah diciptakan” dan dia menyebutkan dalam bab ini hadits-hadits banyak yang menunjukkan bahwa surga adalah makhluk yang telah diciptakan, di antaranya hadits yang menyatakan bahwa Allah memperlihatkan kepada mayit ketika dia diletakkan di kuburnya tempat duduknya dari surga dan neraka, dan hadits tentang pandangan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada surga dan neraka, dan hadits tentang penglihatan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap istana Umar bin Khattab di surga, dan selain itu dari hadits-hadits, dan sungguh Ibn Hajar tepat ketika dia berkata: “Dan yang paling jelas dari apa yang disebutkan Al-Bukhari dalam hal itu adalah apa yang dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad yang kuat dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: ‘Ketika Allah menciptakan surga, Dia berkata kepada Jibril: Pergilah dan lihatlah surga.'”

Syubhat dari Orang yang Berkata Neraka Belum Diciptakan:

Dan penshrah Thahawiyyah telah membahas syubhat orang-orang yang berkata: Neraka belum diciptakan, dan dia menolaknya maka berkata:

“Adapun syubhat dari orang yang berkata: Sesungguhnya neraka belum diciptakan, yaitu: Bahwa seandainya neraka makhluk yang telah diciptakan sekarang niscaya wajib secara darurat neraka akan binasa pada hari kiamat dan akan binasa semua yang ada di dalamnya dan mati, karena firman Allah Ta’ala: ‘Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah’ (Al-Qashash: 88), dan ‘Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati’ (Ali Imran: 185), dan telah meriwayatkan At-Tirmidzi dalam Jami’nya, dari hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Aku bertemu Ibrahim pada malam diisra’kan, maka dia berkata: Ya Muhammad, sampaikanlah salam dariku kepada umatmu, dan beritahukan kepada mereka bahwa surga baik tanahnya, manis airnya, dan bahwa surga itu tanah lapang, dan bahwa tanamannya adalah Subhanallah, dan Alhamdulillahi, dan La ilaha illallahu, dan Allahu Akbar.’ Dia berkata: Ini hadits hasan gharib dari jalan ini dari hadits Ibnu Mas’ud. Dan di dalamnya juga dari hadits Abu Az-Zubair, dari Jabir, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau berkata: ‘Barangsiapa berkata Subhanallahi Al-‘Azhimi wa bihamdih, ditanamlah untuknya pohon kurma di surga.’ At-Tirmidzi berkata tentangnya: Ini hadits hasan shahih.

Mereka berkata: Seandainya surga adalah makhluk yang sudah selesai diciptakan niscaya surga tidak akan menjadi tanah lapang, dan tidak akan ada makna bagi penanaman ini. Mereka berkata: Dan demikian pula firman Allah Ta’ala tentang istri Fir’aun bahwa dia berkata: ‘Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga’ (At-Tahrim: 11).

Maka jawabannya: Sesungguhnya kalian jika maksud kalian dengan perkataan kalian bahwa surga sekarang tidak ada seperti halnya tiupan sangkakala dan bangkitnya manusia dari kubur-kubur, maka ini batil, yang menolaknya adalah apa yang telah lalu dari dalil-dalil dan yang serupa dengannya dari apa yang tidak disebutkan, dan jika maksud kalian bahwa surga belum sempurna penciptaan semua yang Allah persiapkan di dalamnya untuk penghuninya, dan bahwa Allah masih menciptakan di dalamnya sesuatu demi sesuatu, dan apabila orang-orang mukmin masuk ke dalamnya Allah ciptakan di dalamnya ketika mereka masuk hal-hal yang lain – maka ini benar tidak mungkin ditolak, dan dalil-dalil kalian ini hanya menunjukkan sebatas ini.

Adapun bantahan kalian dengan firman Allah Ta’ala: ‘Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah’ (Al-Qashash: 88), maka kalian datang dari buruknya pemahaman kalian terhadap makna ayat, dan bantahan kalian dengannya terhadap ketiadaan surga dan neraka sekarang – serupa dengan bantahan saudara-saudara kalian terhadap binasanya keduanya dan rusaknya serta matinya penghuninya!! Maka tidak diberi taufik kalian dan tidak pula saudara-saudara kalian untuk memahami makna ayat, dan sesungguhnya yang diberi taufik untuk itu adalah imam-imam Islam. Maka dari perkataan mereka: bahwa yang dimaksud ‘tiap-tiap sesuatu’ dari apa yang Allah tuliskan atasnya kebinasan dan kehancuran ‘pasti binasa’, dan surga dan neraka diciptakan untuk kekal bukan untuk binasa, dan demikian pula Arasy, maka sesungguhnya Arasy adalah atap surga.

Dan dikatakan: Yang dimaksud kecuali kerajaan-Nya. Dan dikatakan: Kecuali apa yang dimaksudkan dengan wajah-Nya. Dan dikatakan: Sesungguhnya Allah Ta’ala menurunkan: ‘Semua yang ada di atas bumi itu akan binasa’ (Ar-Rahman: 26), maka berkata malaikat-malaikat: Binasa penduduk bumi, dan mereka berharap untuk kekal, maka Allah memberitahukan tentang penduduk langit dan bumi bahwa mereka akan mati, maka Dia berfirman: ‘Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah’ (Al-Qashash: 88) karena Dia hidup tidak akan mati, maka yakinlah malaikat-malaikat pada saat itu akan mati. Dan sesungguhnya mereka berkata demikian sebagai taufiq antara ayat itu dengan nash-nash yang muhkam, yang menunjukkan kekalnya surga, dan kekalnya neraka juga, atas apa yang akan disebutkan tidak lama lagi, insya Allah Ta’ala.”

Fasal Kedua: Penjaga-Penjaga Neraka

Berdiri di atas neraka malaikat-malaikat, penciptaan mereka besar, dan kekerasan mereka sangat, mereka tidak bermaksiat kepada Allah yang menciptakan mereka, dan mereka melakukan apa yang diperintahkan, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (At-Tahrim: 6).

Dan bilangan mereka sembilan belas malaikat, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. Dan tahukah kamu apakah (neraka) Saqar itu? (Saqar) tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. Yang membakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat)” (Al-Muddatstsir: 26-30) dan sungguh orang-orang kafir terfitnahkan dengan bilangan ini, maka mereka menyangka bahwa mungkin untuk mengalahkan bilangan sedikit ini, dan luput dari mereka bahwa satu dari malaikat-malaikat ini memiliki kekuatan yang dengannya dia dapat menghadapi seluruh manusia, dan oleh karena itu Allah menyambung apa yang telah lalu dengan firman-Nya: “Dan tidaklah Kami jadikan penjaga-penjaga neraka itu melainkan dari malaikat-malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir” (Al-Muddatstsir: 31).

Berkata Ibnu Rajab: “Dan yang masyhur di antara Salaf dan Khalaf bahwa fitnah itu datang dari segi penyebutan bilangan malaikat-malaikat yang orang-orang kafir tertipu dengan sedikitnya mereka, dan mereka menyangka bahwa mereka dapat melawan dan menahan mereka, dan mereka tidak mengetahui bahwa setiap satu dari malaikat-malaikat itu tidak mungkin bagi seluruh manusia untuk melawannya.” Dan malaikat-malaikat ini adalah yang Allah namakan “penjaga-penjaga jahannam” dalam firman-Nya: “Dan orang-orang yang di dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga jahannam: ‘Berdoalah kepada Tuhanmu supaya Dia mengurangi azab dari kami barang sehari saja'” (Ghafir: 49).

BAB KETIGA: SIFAT NERAKA

PEMBAHASAN PERTAMA: TEMPAT NERAKA

Para ulama berselisih pendapat tentang lokasi neraka saat ini. Sebagian mengatakan: neraka berada di bumi yang paling bawah, sebagian lain mengatakan: neraka berada di langit, dan sebagian lain bersikap tawaquf (menahan diri) dalam masalah ini, dan pendapat inilah yang benar, karena tidak ada nash yang shahih dan tegas yang menentukan lokasinya. Di antara yang bersikap tawaquf dalam masalah ini adalah Hafizh As-Suyuthi yang berkata: “Dan bersikap tawaquf tentang neraka, artinya: mengatakan dengan sikap tawaquf tentang neraka, yakni tempatnya, karena tidak ada yang mengetahui kecuali Allah, maka tidak ada hadits yang kuat menurut saya yang dapat diandalkan dalam masalah tersebut.”

Syaikh Waliullah Ad-Dahlawi berkata dalam akidahnya: “Dan tidak ada nash yang tegas dalam penentuan tempat keduanya (yaitu surga dan neraka), melainkan di mana Allah Ta’ala menghendaki, karena kita tidak dapat mencakup seluruh ciptaan Allah dan alam-alam-Nya.” Shiddiq Hasan Khan berkata setelah mengutip perkataan Ad-Dahlawi ini: “Saya katakan: Dan pendapat ini adalah pendapat yang paling kuat dan paling hati-hati, insya Allah Ta’ala.”

PEMBAHASAN KEDUA: LUAS NERAKA DAN KEDALAMAN DASARNYA

Neraka sangat luas dan menghampar, dalam dasarnya, terbentang ujung-ujungnya. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa perkara:

Pertama: Orang-orang yang masuk neraka adalah bilangan yang tidak terhitung, dan meskipun jumlah mereka banyak, maka fisik satu orang di antara mereka akan diperbesar hingga giginya di neraka seperti gunung Uhud, dan jarak antara kedua pundaknya adalah perjalanan tiga hari. Meskipun demikian, neraka dapat menampung jumlah yang sangat besar ini yang ada sepanjang kehidupan dunia dari orang-orang kafir yang berdosa dengan besarnya fisik mereka, dan masih ada tempat untuk yang lain. Allah telah memberitahukan kepada kita tentang hakikat ini dalam surat Qaaf: “Dan (ingatlah) hari (ketika) Kami bertanya kepada jahannam: ‘Apakah kamu sudah penuh?’ Dia menjawab: ‘Masih adakah tambahan?'” (Qaaf: 30).

Sesungguhnya neraka menyerupai penggilingan yang mengalir kepadanya ribuan dan ribuan ton biji-bijian, lalu berputar dengan semua itu tanpa lelah dan bosan, biji-bijian habis dan penggilingan terus berputar menantikan yang lebih banyak lagi. Dan dalam hadits tentang perdebatan surga dan neraka disebutkan bahwa Allah berkata kepada neraka: “Sesungguhnya engkau adalah azab-Ku, Aku menyiksa dengan engkau siapa yang Aku kehendaki dari hamba-hamba-Ku, dan bagi masing-masing dari keduanya ada yang mempenuhinya. Adapun neraka, maka tidak akan penuh hingga Dia meletakkan kaki-Nya – dan dalam riwayat lain: hingga Allah Tabaraka wa Ta’ala meletakkan kaki-Nya – lalu neraka berkata: cukup, cukup, cukup, maka saat itulah neraka penuh, dan sebagian darinya mengerut kepada sebagian yang lain, dan Allah tidak menzhalimi seorang pun dari ciptaan-Nya” – diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.

Dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jahannam tidak akan berhenti, dilemparkan kepadanya dan dia berkata: masih adakah tambahan, hingga Rabb Al-‘Izzah meletakkan kaki-Nya padanya, maka sebagian darinya mengerut kepada sebagian yang lain, dan dia berkata: cukup, cukup, demi kemuliaan-Mu dan keagungan-Mu” – muttafaq ‘alaih.

Kedua: Yang menunjukkan kedalaman dasarnya juga adalah bahwa batu jika dilemparkan dari atasnya memerlukan waktu yang lama hingga mencapai dasarnya. Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika kami mendengar suara jatuh, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tahukah kalian apa ini? Kami menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: Ini adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun, dan dia terus jatuh di neraka sampai sekarang.”

Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah, dan Ath-Thabarani dari Mu’adz dan Abu Umamah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Seandainya ada batu sebesar tujuh unta betina, dilemparkan dari tepi jahannam, dia akan jatuh di dalamnya selama tujuh puluh tahun dan tidak mencapai dasarnya.”

Ketiga: Banyaknya jumlah malaikat yang membawa neraka di hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menggambarkan kedatangan neraka di hari kiamat, yang Allah firmankan: “Dan pada hari itu didatangkanlah jahannam” (Al-Fajr: 23), beliau bersabda: “Didatangkanlah jahannam pada hari itu yang memiliki tujuh puluh ribu tali kekang, setiap tali kekang bersama tujuh puluh ribu malaikat” – diriwayatkan oleh Muslim dari Abdullah bin Mas’ud. Dan engkau dapat membayangkan kebesaran makhluk yang mengerikan ini yang memerlukan jumlah yang sangat besar dari malaikat-malaikat yang kuat lagi perkasa yang tidak ada yang mengetahui kadar kekuatan mereka kecuali Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Keempat: Dan yang menunjukkan dahsyatnya neraka dan besarnya adalah bahwa dua makhluk yang besar seperti matahari dan bulan akan menjadi dua banteng yang digulung di neraka. Dalam “Musykil Al-Atsar” karya Ath-Thahawi dari Salamah bin Abdurrahman, dia berkata: Abu Hurairah menceritakan kepada kami dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Matahari dan bulan adalah dua banteng yang digulung di neraka pada hari kiamat.” Dan diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam kitab “Al-Ba’ts wan Nusyur” demikian juga Al-Bazzar, Al-Isma’ili, dan Al-Khaththabi dengan sanad yang shahih menurut syarat Bukhari, dan dia telah mengeluarkannya dalam shahihnya secara ringkas dengan lafazh: “Matahari dan bulan digulung di neraka.”

PEMBAHASAN KETIGA: TINGKATAN-TINGKATAN NERAKA

Neraka berbeda-beda dalam intensitas panasnya, dan apa yang Allah sediakan berupa azab bagi penghuninya, jadi bukan satu tingkatan. Allah Yang Haq Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka” (An-Nisa: 145). Orang Arab menggunakan kata “darik” (tingkat bawah) untuk semua yang turun ke bawah, sebagaimana mereka menggunakan “daraj” (tingkat atas) untuk semua yang naik ke atas, maka dikatakan: surga memiliki tingkatan dan neraka memiliki tingkatan bawah, dan semakin neraka turun ke bawah semakin tinggi panasnya dan semakin menyala apinya, dan orang-orang munafik mendapat bagian yang paling besar dari azab, karena itulah mereka berada di tingkat paling bawah dari neraka.

Dan neraka juga bisa disebut tingkatan, dalam surat Al-An’am Allah menyebutkan penghuni surga dan neraka, kemudian berfirman: “Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan” (Al-An’am: 132), dan berfirman: “Apakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah jahannam? Dan amat buruklah tempat kembali itu. Mereka itu mempunyai tingkatan di sisi Allah” (Ali Imran: 162-163). Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata: “Tingkatan surga naik ke atas, dan tingkatan neraka turun ke bawah.”

Diriwayatkan dari sebagian salaf bahwa orang-orang mukmin yang bermaksiat di antara yang masuk neraka akan berada di tingkat paling atas, dan di tingkat kedua adalah orang-orang Yahudi, di tingkat ketiga orang-orang Nasrani, di tingkat keempat orang-orang Shabiin, di tingkat kelima orang-orang Majusi, di tingkat keenam orang-orang musyrik Arab, dan di tingkat ketujuh orang-orang munafik. Dalam sebagian kitab disebutkan penamaan tingkatan-tingkatan ini: yang pertama Jahannam, yang kedua Lazha, yang ketiga Al-Huthamah, yang keempat As-Sa’ir, yang kelima Saqar, yang keenam Al-Jahim, dan yang ketujuh Al-Hawiyah.

Tidak sahih pembagian manusia di neraka sesuai dengan pembagian ini, sebagaimana tidak sahih penamaan tingkatan neraka dengan cara yang mereka sebutkan, dan yang benar adalah bahwa setiap nama yang mereka sebutkan: Jahannam, Lazha, Al-Huthamah… dst adalah nama untuk neraka secara keseluruhan, dan bukan untuk sebagian neraka tanpa sebagian yang lain, dan sahih bahwa manusia berbeda-beda sesuai dengan kadar kekufuran dan dosa-dosa mereka.

PEMBAHASAN KEEMPAT: PINTU-PINTU NERAKA

Yang Haq memberitahukan bahwa neraka memiliki tujuh pintu sebagaimana firman-Nya: “Dan sesungguhnya jahannam itu benar-benar tempat yang telah dijanjikan bagi mereka semua. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka” (Al-Hijr: 43-44). Ibnu Katsir berkata dalam tafsir ayat: “Artinya telah ditetapkan untuk setiap pintu darinya sebagian dari pengikut Iblis yang akan memasukinya tanpa dapat menghindar darinya, semoga Allah melindungi kita darinya, dan masing-masing masuk dari pintu sesuai dengan amalnya, dan menetap di tingkat sesuai dengan amalnya.” Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib perkataannya ketika berkhutbah: “Sesungguhnya pintu-pintu jahannam seperti ini – Abu Harun berkata – bertingkat-tingkat sebagian di atas sebagian.” Dan diriwayatkan dari dia juga perkataannya: “Pintu-pintu jahannam tujuh sebagian di atas sebagian, maka penuh yang pertama, kemudian yang kedua, kemudian yang ketiga, hingga semuanya penuh.”

Dan ketika orang-orang kafir didatangkan ke neraka, pintu-pintunya dibuka, kemudian mereka memasukinya untuk kekal di dalamnya: “Dan orang-orang kafir digiring ke jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: ‘Apakah belum datang kepada kamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri yang membacakan ayat-ayat Tuhanmu kepadamu dan memperingatkan kamu terhadap pertemuan hari ini?’ Mereka menjawab: ‘Benar, tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang kafir'” (Az-Zumar: 71), dan setelah pengakuan ini dikatakan kepada mereka: “Masuklah kamu ke pintu-pintu jahannam, kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri” (Az-Zumar: 72), dan pintu-pintu ini tertutup atas orang-orang berdosa, maka tidak ada harapan bagi mereka untuk keluar darinya setelah itu, sebagaimana firman Allah: “Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni kiri. Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat” (Al-Balad: 19-20).

Ibnu Abbas berkata: (mu’shadah) tertutup pintunya, dan Mujahid berkata: ashad al-bab dalam bahasa Quraisy artinya menutupnya.

Dan Yang Haq berfirman dalam surat Al-Humazah: “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Tahukah kamu apakah Huthamah itu? (Yaitu) api (azab) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang” (Al-Humazah: 1-9).

Maka Yang Haq memberitahukan bahwa pintu-pintunya tertutup atas mereka, dan Ibnu Abbas berkata: (fi ‘amadin mumaddadah) artinya pintu-pintu itulah yang dipanjangkan, dan Qatadah berkata dalam qira’at Ibnu Mas’ud: Sesungguhnya atas mereka (neraka) tertutup rapat dengan tiang-tiang yang dipanjangkan, dan Athiyyah Al-Aufi berkata: Itu adalah tiang-tiang dari besi, dan Muqatil berkata: Pintu-pintu ditutup rapat atas mereka, kemudian diikat dengan pasak-pasak dari besi, hingga kembali kepada mereka sesak dan panasnya, dan berdasarkan ini maka firman-Nya: (mumaddadah) adalah sifat untuk tiang, artinya bahwa tiang-tiang yang diperkuat dengannya pintu-pintu itu dipanjangkan, dan yang dipanjangkan yang panjang lebih kokoh dan kuat daripada yang pendek.

Dan pintu-pintu neraka mungkin dibuka dan ditutup sebelum hari kiamat, maka Rasul yang terpilih telah memberitahukan bahwa pintu-pintu neraka ditutup di bulan Ramadhan. Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Apabila datang bulan Ramadhan dibukakan pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu setan-setan dan pemberontak dari jin.” Dan Tirmidzi mengeluarkan dari hadits Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Apabila malam pertama dari bulan Ramadhan, dibelenggu setan-setan dan pemberontak jin, ditutup pintu-pintu neraka, tidak dibuka darinya satu pintu pun, dan dibuka pintu-pintu surga, tidak ditutup darinya satu pintu pun.”

PEMBAHASAN KELIMA: BAHAN BAKAR NERAKA

Batu-batu dan orang-orang kafir yang jahat adalah bahan bakar neraka, sebagaimana firman Yang Haq: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (At-Tahrim: 6), dan berfirman: “Maka peliharalah dirimu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir” (Al-Baqarah: 24).

Yang dimaksud dengan manusia yang dijadikan bahan bakar nereka adalah orang-orang kafir musyrik, adapun jenis batu yang menjadi bahan bakar neraka, Allah lebih mengetahui hakikatnya. Sebagian salaf berpendapat bahwa batu-batu ini adalah dari belerang. Abdullah bin Mas’ud berkata: Itu adalah batu-batu dari belerang, diciptakan Allah pada hari Dia menciptakan langit dan bumi di langit dunia, disediakannya untuk orang-orang kafir, diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Dan Ibnu Abbas, Mujahid, dan Ibnu Juraij berpendapat demikian.

Jika pendapat ini diambil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka kita ambil dan tidak membantahnya, dan jika itu adalah masalah ijtihadi yang dibangun atas ilmu tentang sifat-sifat batu dan karakteristiknya, maka ini adalah pendapat yang tidak dapat diterima, karena di antara batu-batu ada yang melebihi batu belerang dalam kekuatan dan penyalaan. Dan orang-orang terdahulu melihat bahwa batu belerang memiliki karakteristik yang tidak dimiliki batu lain maka mereka berkata bahwa itu adalah bahan bahan bakar neraka. Ibnu Rajab berkata: “Dan kebanyakan mufassir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan batu adalah batu belerang yang dijadikan penyala api. Dan dikatakan: Sesungguhnya di dalamnya ada lima macam azab yang tidak ada pada selainnya: cepatnya penyalaan, busuknya bau, banyaknya asap, kuatnya melekat pada badan, dan kuatnya panas ketika dipanaskan.” Dan Allah mungkin menciptakan dari jenis-jenis batu yang melampaui apa yang ada pada belerang dari karakteristik, dan kita yakin bahwa apa yang ada di akhirat berbeda dengan apa yang ada di dunia.

Dan di antara yang dijadikan bahan bakar neraka adalah tuhan-tuhan yang disembah selain Allah: “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah umpan jahannam, kamu semuanya akan masuk ke dalamnya. Sekiranya tuhan-tuhan itu (benar-benar) tuhan tentulah mereka tidak masuk neraka, dan mereka semua akan kekal di dalamnya” (Al-Anbiya: 98-99).

Dan hashab-nya: bahan bakar dan kayunya, dan Al-Jauhari berkata: “Segala yang kamu bakar dengannya api atau kamu kobarkan maka kamu telah menghashab-kannya,” dan Abu Ubaidah berkata: “Segala yang kamu lemparkan ke dalam api maka kamu telah menghashab-kannya dengannya.”

PEMBAHASAN KEENAM: DAHSYATNYA PANAS DAN BESARNYA ASAP SERTA PERCIKANNYA

Allah Ta’ala berfirman: “Dan golongan kiri, alangkah (celakanya) golongan kiri itu. Dalam (siksaan) angin yang amat panas dan air yang mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam, yang tidak sejuk dan tidak menyenangkan” (Al-Waqi’ah: 41-44). Ayat ini mencakup penyebutan apa yang membuat manusia sejuk dari kesusahan dan panas yaitu tiga hal: air, udara, dan naungan, dan ayat menyebutkan bahwa ini semua tidak berguna bagi penghuni neraka sama sekali, maka udara jahannam adalah samum yaitu angin panas yang sangat panasnya, dan airnya adalah hamim yang sangat panas, dan naungannya adalah yahmum yaitu kepingan-kepingan asapnya.

Dan sebagaimana menakut-nakuti dalam ayat ini urusan golongan kiri yaitu penghuni nereka, Dia menakut-nakuti dalam ayat lain urusan nereka dengan berfirman: “Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (amal baik)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas” (Al-Qari’ah: 8-11).

Dan naungan yang ditunjuk ayat “dan dalam naungan asap yang hitam” (Al-Waqi’ah: 43), adalah naungan asap neraka, dan naungan biasanya memberikan kesejukan dan kedinginan, sebagaimana jiwa menyukainya dan beristirahat kepadanya, adapun naungan ini maka tidak sejuk tempatnya dan tidak indah pemandangannya, itu adalah naungan dari yahmum.

Al-Quran telah menceritakan kepada kita tentang naungan ini yaitu asap jahannam yang naik dari neraka, maka berfirman: “Pergilah kamu kepada naungan yang mempunyai tiga cabang, yang tidak melindungi dan tidak berguna sedikitpun untuk (menghalangi) nyala api. Sesungguhnya nereka itu melemparkan bunga api sebesar istana, seakan-akan unta yang kuning” (Al-Mursalat: 30-33). Maka ayat menetapkan bahwa asap yang naik dari api ini karena besarnya terbagi menjadi tiga bagian, dan dia melemparkan bayangan-bayangan tetapi tidak melindungi, dan tidak melindungi dari nyala api yang menyala, adapun percikan api ini yang terbang darinya maka menyerupai benteng-benteng yang besar, sebagaimana percikan ini menyerupai unta-unta kuning, yaitu unta-unta hitam.

Dan Yang Haq berfirman menjelaskan kekuatan api ini, dan sejauh mana pengaruhnya terhadap yang disiksa: “Kelak akan Aku masukkan dia ke dalam (neraka) Saqar. Tahukah kamu apakah (neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. Yang hangus membakar kulit manusia” (Al-Muddatstsir: 26-29), sesungguhnya dia memakan segala sesuatu, dan menghancurkan segala sesuatu, tidak meninggalkan dan tidak membiarkan, membakar kulit-kulit, dan sampai ke tulang-tulang, dan meleburkan apa yang ada di perut, dan naik ke hati.

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitahukan kepada kita bahwa “api kita adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian api jahannam,” dikatakan: Ya Rasulullah, sesungguhnya api itu sudah mencukupi, beliau bersabda: “Maka dia melebihi atasnya dengan enam puluh sembilan bagian, semuanya seperti panasnya” – diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dan lafazhnya untuk Bukhari, dan dalam lafazh Muslim: “Api kalian yang dinyalakan anak Adam…”

Dan api ini tidak padam baranya dengan berlalunya waktu, dan berjalannya hari-hari: “Maka rasakanlah azab itu. Kami tidak akan menambahi kamu selain azab” (An-Naba: 30), “Setiap kali (nyala) api itu akan padam, Kami tambah (lagi) bagi mereka nyalanya” (Al-Isra: 97), dan karena itu orang-orang kafir tidak merasakan rasa kenyamanan, dan tidak diringankan dari mereka azab bagaimana pun lamanya azab: “Maka tidak akan diringankan azab dari mereka dan mereka tidak akan ditolong” (Al-Baqarah: 86). Dan neraka dinyalakan setiap hari sebagaimana dalam hadits di Muslim dari Amr bin Abasah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Shalatlah shalat shubuh, kemudian berhentilah dari shalat, hingga matahari terbit, hingga naik, karena sesungguhnya dia terbit ketika terbit di antara dua tanduk syaitan, dan saat itulah orang-orang kafir bersujud kepadanya, kemudian shalatlah karena sesungguhnya shalat disaksikan dan dihadiri hingga bayangan tegak dengan tombak, kemudian berhentilah dari shalat karena saat itulah jahannam dinyalakan, maka apabila datang bayangan sore maka shalatlah.”

Dan dalam Shahihain dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Apabila panas menjadi sangat, maka sejukkanlah dengan shalat, karena sesungguhnya sangat panasnya panas adalah dari hembusan jahannam.”

Dan neraka dinyalakan pada hari kiamat ketika menyambut penghuninya: “Dan apabila neraka dinyalakan, dan apabila surga didekatkan” (At-Takwir: 12-13), dan makna su’irat: dinyalakan, dan dipanaskan.

Bahasan Ketujuh: Neraka Berbicara dan Melihat

Siapa yang membaca nash-nash dari Al-Qur’an dan Sunnah yang menggambarkan neraka, akan mendapatinya sebagai makhluk yang dapat melihat, berbicara, dan mengeluh. Dalam Al-Qur’an yang mulia disebutkan bahwa neraka melihat penghuninya ketika mereka datang kepadanya dari jauh, maka saat itu neraka mengeluarkan suara-suara mengerikan yang menunjukkan betapa besar amarah dan kegeramannya terhadap para penjahat ini. Allah Ta’ala berfirman: “Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar suara amarah dan desisan nafas neraka itu” (QS. Al-Furqan: 12).

Ibn Jarir meriwayatkan dari Ibn Abbas yang berkata: “Sesungguhnya seseorang diseret ke neraka, maka neraka mengkerut dan sebagiannya mengerut ke sebagian yang lain. Allah Yang Maha Pengasih berkata kepadanya: ‘Apa yang terjadi padamu?’ Neraka menjawab: ‘Dia meminta perlindungan dariku.’ Allah berfirman: ‘Lepaskanlah hamba-Ku.’ Dan sesungguhnya seseorang diseret ke neraka, lalu dia berkata: ‘Ya Tuhanku, ini bukan prasangkaku terhadap-Mu.’ Allah bertanya: ‘Apa prasangkamu?’ Dia menjawab: ‘Bahwa rahmat-Mu akan meliputiku.’ Allah berfirman: ‘Lepaskanlah hamba-Ku.’ Dan sesungguhnya seseorang diseret ke neraka, maka neraka menghirup kepadanya seperti bagal menghirup gandum, dan mendesah dengan desahan yang tidak ada seorang pun kecuali takut karenanya.”

Imam Ahmad dan Tirmidzi telah meriwayatkan dari hadits Al-A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda: “Pada hari kiamat akan keluar leher dari neraka, yang memiliki dua mata yang dapat melihat, dua telinga yang dapat mendengar, dan lidah yang dapat berbicara. Ia berkata: ‘Sesungguhnya aku diberi tugas untuk mengurus tiga golongan: setiap orang yang sombong dan keras kepala, setiap orang yang menyembah tuhan lain selain Allah, dan para pembuat patung.'” Tirmidzi menshahihkannya.

Bahasan Kedelapan: Mimpi Ibn Umar tentang Neraka

Dalam Shahihain dengan lafazh dari Bukhari, dari Ibn Umar bahwa ia melihat dalam mimpi bahwa dua malaikat datang kepadanya, di tangan masing-masing dari mereka ada gada besi. Mereka membawaku menuju Jahannam, kemudian aku bertemu dengan malaikat yang di tangannya ada gada besi. Mereka berkata: “Jangan takut. Kamu adalah sebaik-baik lelaki, seandainya kamu memperbanyak shalat.” Ibn Umar berkata: “Maka mereka membawaku hingga berdiri di tepi Jahannam. Ternyata neraka itu berlipat-lipat seperti lipatan sumur, memiliki tanduk-tanduk seperti tanduk sumur. Di antara setiap dua tanduk ada malaikat yang di tangannya gada besi. Aku melihat di dalamnya laki-laki yang tergantung dengan rantai, kepala mereka di bawah. Aku mengenali di antara mereka laki-laki dari suku Quraisy. Kemudian mereka membawaku menjauh ke arah kanan.” Lalu aku menceritakannya kepada Hafshah, dan Hafshah menceritakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda: “Sesungguhnya Abdullah adalah seorang lelaki yang shalih.”

Bahasan Kesembilan: Apakah Ada yang Melihat Neraka Sebelum Hari Kiamat Secara Langsung?

Yang kita ketahui bahwa Rasul kita shallallahu ‘alaihi wasallam telah melihat neraka sebagaimana ia melihat surga dalam hidupnya. Dalam Shahihain dari Abdullah Ibn Abbas mengenai shalat gerhana bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku melihat surga, lalu aku meraih seikat buah anggur. Seandainya aku mengambilnya, niscaya kalian akan memakannya selama dunia masih ada. Dan aku diperlihatkan neraka, maka aku tidak melihat pemandangan yang lebih mengerikan daripada hari ini, dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah para wanita.”

Dalam Shahih Bukhari dari Asma bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh surga telah mendekat kepadaku, hingga seandainya aku berani mengambilnya, niscaya aku akan membawa kalian buah-buahan darinya. Dan neraka mendekat kepadaku hingga aku berkata: ‘Ya Tuhanku, apakah aku bersama mereka?’ Tiba-tiba ada seorang wanita – aku kira dia berkata – yang dicakar seekor kucing. Aku bertanya: ‘Apa urusan wanita ini?’ Mereka menjawab: ‘Dia mengurungnya hingga mati kelaparan, tidak diberinya makan dan tidak dilepaskannya untuk memakan – Nafi’ berkata: aku kira dia berkata – dari serangga-serangga atau binatang kecil bumi.'”

Dalam Musnad Ahmad dari Mughirah bin Syu’bah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya neraka didekatkan kepadaku hingga aku meniup panasnya dari wajahku. Aku melihat di dalamnya pemilik tongkat berkait, orang yang membelah telinga unta betina, pemilik keledai, dan pemilik kucing.”

Dalam Shahih Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda: “Sesungguhnya surga ditampakkan kepadaku, hingga seandainya aku meraih buahnya, pasti aku akan mengambilnya (atau dia berkata: aku meraih buahnya, namun tanganku tidak sampai). Dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku melihat di dalamnya seorang wanita dari Bani Israil yang disiksa karena seekor kucing miliknya. Dia mengikatnya, tidak memberinya makan, dan tidak membiarkannya makan dari serangga-serangga bumi. Dan aku melihat Amr bin Malik diseret dengan ususnya di neraka.”

Setelah para hamba meninggal, ditampakkan kepada mereka di alam barzakh tempat-tempat mereka di surga jika mereka beriman, dan tempat-tempat mereka di neraka jika mereka kafir. Hal ini telah kami jelaskan dalam pembahasan tentang barzakh.

Bahasan Kesepuluh: Pengaruh Neraka terhadap Dunia dan Penghuninya

Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang berkata: “Neraka mengadu kepada Tuhannya, maka berkata: ‘Ya Tuhanku, sebagianku memakan sebagian yang lain.’ Maka Allah mengizinkannya untuk bernafas dua kali: sekali di musim dingin dan sekali di musim panas. Maka panas yang paling keras yang kalian rasakan, dan dingin yang paling keras yang kalian rasakan.”

Bukhari juga meriwayatkan dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu yang berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sejukkanlah shalat (zhuhur), karena sesungguhnya panasnya terik adalah dari hembusan Jahannam.”

Bab Keempat: Neraka Kekal Tidak Akan Binasa

Neraka adalah kekal, tidak akan punah dan tidak akan binasa, sebagaimana perkataan Ath-Thahawi dalam akidahnya: “Surga dan neraka adalah makhluk, tidak akan punah dan tidak akan binasa.” Ibn Hazm menukil kesepakatan umat tentang hal itu. Dalam kitabnya “Al-Milal wan-Nihal” dia berkata: “Seluruh golongan umat sepakat bahwa tidak ada kepunahan bagi surga dan kenikmatan-kenikmatan di dalamnya, dan tidak ada kepunahan bagi neraka dan siksaan-siksaan di dalamnya, kecuali Jahm bin Shafwan.”

Dalam kitabnya “Maratib al-Ijma'” dia berkata: “…dan bahwa neraka adalah haq, dan ia adalah negeri siksaan yang tidak akan punah, dan tidak akan punah pula penghuninya tanpa akhir.” Nash-nash yang menunjukkan kekekalan neraka sangat banyak, dan cukup bagimu bahwa Allah menamakannya “dar al-khuld” (negeri kekekalan).

Ini adalah madzhab Ahlu Sunnah wal Jama’ah bahwa neraka adalah kekal tidak akan binasa, dan penghuninya kekal di dalamnya. Yang keluar darinya hanyalah orang-orang berdosa dari kalangan muwahhidin (orang yang mentauhidkan Allah), adapun orang-orang kafir dan musyrik maka mereka kekal di dalamnya.

Golongan yang Berpendapat Neraka akan Binasa

Yang menyelisihi madzhab ahlu haq dalam masalah ini ada tujuh golongan:

  1. Jahmiyyah: Yang berpendapat akan binasaknya neraka dan surga juga. Imam Ahmad telah menukil dalam akhir kitab “Ar-Radd ‘ala az-Zanadiqah” madzhab Jahmiyyah bahwa neraka dan surga akan binasa, dan membantah mereka dengan menyebutkan nash-nash yang menunjukkan tidak binasaknya keduanya.
  2. Khawarij dan Mu’tazilah: Mereka berpendapat kekalnya setiap orang yang masuk neraka, meskipun mereka dari ahli tauhid. Rahasia pendapat ini adalah bahwa Khawarij mengkafirkan kaum muslimin karena dosa-dosa. Setiap orang yang melakukan dosa, maka dia kafir yang kekal abadi di neraka Jahannam. Adapun Mu’tazilah berpendapat bahwa orang yang melakukan dosa berada di posisi antara dua posisi, bukan mukmin dan bukan kafir. Mereka berlakukan padanya hukum-hukum Islam di dunia, tetapi di akhirat dia kekal abadi di neraka Jahannam. Kami telah menyebutkan banyak nash yang menunjukkan bahwa ahli tauhid akan keluar dari neraka.
  3. Yahudi: Yang mengklaim bahwa mereka disiksa di neraka dalam waktu terbatas, kemudian digantikan oleh yang lain. Allah telah mendustakan klaim mereka dan menolak perkataan mereka: “Dan mereka berkata: ‘Kami sekali-kali tidak akan disentuh api neraka, kecuali beberapa hari yang dapat dihitung.’ Katakanlah: ‘Sudahkah kamu mengambil janji dari sisi Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?’ Tidak demikian! Barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” (QS. Al-Baqarah: 80-81). “Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian dari kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menjadi hakim di antara mereka, kemudian sebagian dari mereka berpaling dan menolak (putusannya)? Yang demikian itu karena mereka berkata: ‘Kami sekali-kali tidak akan disentuh api neraka kecuali beberapa hari saja.’ Dan apa yang selalu mereka ada-adakan itu menipu mereka dalam agama mereka” (QS. Ali Imran: 23-24).

Ibn Jarir menukil dalam tafsirnya dari Ibn Abbas yang berkata dalam tafsir ayat Al-Baqarah: “Musuh-musuh Allah, yaitu orang Yahudi berkata: Allah tidak akan memasukkan kami ke neraka kecuali untuk memenuhi sumpah, yaitu hari-hari ketika kami menyembah anak sapi: empat puluh hari. Jika hari-hari itu telah berlalu dari kami, maka terputus pula siksaan dari kami.”

Ibn Jarir menyebutkan dari As-Suddi yang berkata: “Orang Yahudi berkata: Sesungguhnya Allah akan memasukkan kami ke neraka empat puluh malam. Ketika neraka telah memakan dosa-dosa kami, seorang penyeru akan memanggil: Keluarkan setiap orang yang berkhitan dari keturunan Bani Israil. Karena itulah kami diperintahkan untuk berkhitan. Mereka berkata: Maka tidak ada seorang pun dari kami yang ditinggalkan di neraka kecuali akan dikeluarkan.”

Ibn Abbas juga menyebutkan: “Disebutkan bahwa orang Yahudi mendapati tertulis dalam Taurat: Sesungguhnya jarak antara dua ujung Jahannam adalah perjalanan empat puluh tahun hingga berakhir pada pohon zaqqum yang tumbuh di dasar Jahim. Ibn Abbas berkata: Sesungguhnya Jahim adalah Saqar, dan di dalamnya terdapat pohon zaqqum. Maka musuh-musuh Allah mengklaim bahwa bilangan yang mereka temukan dalam kitab mereka adalah hari-hari terbatas.”

Ibn Jarir berkata: “Yang dimaksud dengan itu adalah perjalanan yang berakhir di dasar Jahim. Maka mereka berkata: Jika bilangan itu habis maka ajalnya berakhir, tidak ada siksaan lagi, Jahannam hilang dan binasa. Itulah firman-Nya: ‘Kami sekali-kali tidak akan disentuh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung’ (QS. Al-Baqarah: 80), maksudnya ajal itu.” Ibn Abbas berkata: “Ketika mereka masuk dari pintu Jahannam, mereka berjalan dalam siksaan hingga sampai ke pohon zaqqum di hari terakhir dari hari-hari terbatas. Penjaga Saqar berkata kepada mereka: Kalian mengklaim bahwa kalian tidak akan disentuh neraka kecuali beberapa hari terbatas. Sungguh bilangan itu telah habis, dan kalian dalam kekekalan. Maka mereka dibawa naik di Jahannam dengan susah payah.”

  1. Pendapat imam kaum Ittihadiyyah Ibn Arabi Ath-Thai: Dia mengklaim bahwa penghuni neraka disiksa di dalamnya untuk suatu masa, kemudian tabiat mereka berubah menjadi tabiat api, sehingga mereka menikmati api karena sesuai dengan tabiat mereka. Ibn Hajar berkata dalam Al-Fath: “Dan ini adalah pendapat sebagian orang yang dinisbahkan kepada tasawuf dari kalangan zindiq.”
  2. Pendapat orang yang mengklaim bahwa penghuninya keluar darinya, dan neraka tetap dalam keadaannya kekal tidak binasa.
  3. Pendapat Abu Huzail Al-Allaf dari para imam Mu’tazilah yang berpendapat bahwa kehidupan penghuni neraka akan binasa, dan mereka menjadi benda mati yang tidak bergerak dan tidak merasakan sakit. Dia berpendapat demikian karena dia mengatakan kemustahilan adanya kejadian-kejadian tanpa akhir. Dia menyelisihi dalil-dalil yang sharih qath’iyyah ats-tsubut dengan qiyas-qiyas akal yang batil.
  4. Pendapat orang yang berkata: Sesungguhnya Allah mengeluarkan dari neraka siapa yang Dia kehendaki, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits, kemudian neraka tetap ada sebentar, kemudian Allah membinasakannya. Dia menjadikan untuk neraka suatu batas waktu yang berakhir padanya.

Pendapat terakhir ini diikuti oleh lautan ilmu Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah ta’ala wa ghafaralahu, sebagaimana yang dianut oleh muridnya Al-Allamah Ibn Qayyim rahimahullah ta’ala.

Para ulama berturut-turut menulis untuk menjelaskan kesalahan madzhab ini. Ibn Hajar Al-Asqalani berkata setelah menukil pendapat ini: “Sebagian ulama mutaakhirin condong kepada pendapat ini, dan memperkuatnya dengan beberapa segi dari sisi nalar. Ini adalah madzhab yang buruk dan tertolak atas pengikutnya. As-Subki Al-Kabir telah memperpanjang penjelasan tentang kekeliruan-kekeliruannya dengan sangat baik.” Kitab yang beliau tunjuk adalah “Al-I’tibar bi Baqa’ al-Jannah wan-Nar” karya Taqiyyuddin Ali bin Abdul Kafi As-Subki Asy-Syafi’i yang wafat tahun 756 H.

Shiddiq Hasan Khan berkata: “Al-Allamah Syaikh Mar’i Al-Karmi Al-Hanbali telah menulis risalah yang dinamainya: ‘Taufiq al-Fariqain ‘ala Khulud Ahli ad-Darain’. Dalam bab ini ada risalah karya As-Sayyid Al-Imam Muhammad bin Ismail Al-Amir, dan risalah karya Al-Qadhi Al-Allamah Al-Mujtahid Muhammad bin Ali Asy-Syaukani. Intinya adalah kekalnya surga dan neraka serta kekalnya penghuni keduanya di dalamnya.”

Di sini ada beberapa perkara yang ingin kami jelaskan:

Pertama: Bahwa pendapat ini adalah pendapat yang batil meskipun dianut oleh dua ulama besar Islam. Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah dan muridnya Ibn Qayyim telah mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada kebenaran harus didahulukan daripada cinta kepada tokoh-tokoh. Dalil-dalil kebatilannya adalah nash-nash banyak yang menunjukkan kekekalan neraka, yaitu nash-nash qath’iyyah ats-tsubut qath’iyyah ad-dalalah. Kami telah menyebutkan perkataan orang yang menukil ijma’ tentang kekekalan neraka.

Kedua: Tidak boleh sama sekali mencela Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah dan muridnya Ibn Qayyim karena pendapat ini. Ada golongan yang mengkafirkan keduanya, dan ada golongan yang memfasikkan keduanya karena hal itu. Semua ini tidak benar, karena keduanya adalah mujtahid yang mendapat pahala dan ganjaran. Seandainya keduanya mengetahui kebenaran yang menyelisihi pendapat mereka, niscaya mereka akan mengikutinya. Klaim bahwa yang menyelisihi dalam hal seperti ini dikafirkan akan membawa orang-orang yang berkata demikian untuk mengkafirkan para imam umat ini yang tidak diragukan keimaman mereka. Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu berpendapat bahwa musafir jika tidak menemukan air maka tidak bertayamum dan tidak shalat. Umat telah sepakat menyelisihi hal ini. Imam Malik berpendapat bahwa “Bismillahirrahmanirrahim” bukan ayat dari kitab Allah. Umat telah ijma’ bahwa apa yang ada di antara dua sampul mushaf adalah Al-Qur’an. Ada golongan yang berpendapat tidak bertambah dan berkurangnya iman padahal hal itu sudah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah secara sharih, dan ijma’ telah terbentuk atasnya.

Ketiga: Perlu kami tunjukkan bahwa Ibn Taimiyyah dan Ibn Qayyim memiliki pendapat tentang tidak binasaknya neraka. Dalam Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam disebutkan dalam jawaban suatu pertanyaan: “Para salaf umat, para imamnya, dan seluruh Ahlu Sunnah wal Jama’ah telah sepakat bahwa di antara makhluk-makhluk ada yang tidak akan binasa dan musnah secara keseluruhan seperti surga, neraka, Arsy, dan lain-lain. Tidak ada yang berpendapat binasaknya seluruh makhluk kecuali segolongan dari ahli kalam yang bid’ah seperti Jahm bin Shafwan dan orang yang setuju dengannya dari kalangan Mu’tazilah dan semacamnya. Ini adalah pendapat batil yang menyelisihi kitab Allah, sunnah Rasul-Nya, dan ijma’ salaf umat serta para imamnya.”

Jika demikian halnya, yaitu keduanya memiliki dua pendapat, maka tidak boleh kita memastikan bahwa pendapat binasanya neraka adalah pendapat mereka kecuali jika diketahui bahwa itu adalah pendapat terakhir mereka. Jika tidak diketahui pendapat terakhir maka lebih baik berhenti dalam menisbahkan salah satu dari dua madzhab kepada keduanya.

Keempat: Dalil-dalil yang dijadikan hujjah oleh Syaikhul Islam dan Ibn Qayyim untuk binasanya neraka, sebagiannya tidak sahih, dan yang sahih tidak sharih. Bahkan bisa diartikan dengan selain binasanya neraka, yaitu binasanya neraka yang di dalamnya ada orang-orang berdosa dari kalangan muwahhidin. Ash-Shan’ani dalam risalahnya yang membantah Ibn Taimiyyah dan Ibn Qayyim telah mendiskusikan dalil-dalil ini dan menjelaskan tidak cukupnya dalil-dalil itu untuk mendukung apa yang mereka tuju. Risalah ini bernama “Raf’u al-Astar li Ibthali Adillati al-Qa’ilin bi Fana’i an-Nar.”

Dan di antara mereka yang membahas masalah ini adalah al-Qurthubi dalam “at-Tadzkirah”, dia telah menyebutkan nash-nash yang menunjukkan kekalnya surga dan neraka, dan yang mengabarkan bahwa kematian akan disembelih di antara surga dan neraka kemudian dikatakan: “Wahai penghuni surga, kekal tidak ada kematian, dan wahai penghuni neraka, kekal tidak ada kematian” kemudian dia berkata: “Hadits-hadits ini dengan keshahihannya tentang kekalnya penghuni kedua tempat di dalamnya, tidak terbatas pada suatu akhir dan tidak pula sampai pada suatu batas waktu, mereka tinggal selamanya dan abadi tanpa kematian, kehidupan, istirahat, atau keselamatan.”

Dan al-Qurthubi membantah mereka yang mengatakan tentang fananya neraka, dan menjelaskan bahwa yang fana itu hanyalah neraka yang dimasuki oleh orang-orang durhaka dari kalangan para pengesaan Allah. Dia berkata: “Maka barang siapa yang berkata: sesungguhnya mereka keluar darinya, dan sesungguhnya neraka tetap kosong seluruhnya terbengkalai di atas singgasananya, dan sesungguhnya neraka itu akan fana dan hilang, maka dia telah keluar dari tuntutan yang masuk akal, dan menyelisihi apa yang dibawa oleh Rasul, dan apa yang telah disepakati oleh ahli sunnah dan para imam yang adil… Dan sesungguhnya yang kosong adalah jahannam yaitu lapisan atas yang di dalamnya terdapat orang-orang durhaka dari ahli tauhid, dan itulah yang di tepi/bibir neraka itu tumbuh tanaman jarjir (selada air).”

Dan al-Qurthubi mengutip dari Fadhl bin Shalih al-Mu’afiri yang berkata: “Kami pernah berada di sisi Malik bin Anas pada suatu hari, maka dia berkata kepada kami: Pergilah. Ketika sore hari kami kembali kepadanya, maka dia berkata: Sesungguhnya aku berkata kepada kalian untuk pergi, karena ada seorang laki-laki datang kepadaku meminta izin menemuiku, dia mengaku bahwa dia datang dari Syam untuk menanyakan satu masalah. Dia berkata: Wahai Abu Abdillah, apa pendapatmu tentang memakan jarjir (selada air), karena ada yang membicarakan tentangnya bahwa tanaman itu tumbuh di bibir jahannam? Maka aku berkata kepadanya: Tidak ada masalah dengannya. Maka dia berkata: Aku titipkan engkau kepada Allah, dan aku sampaikan salam kepadamu. Ini disebutkan oleh al-Khatib Abu Bakr Ahmad rahimahullah, dan Abu Bakr al-Bazaar menyebutkan dari Amr bin Maimun, dari Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia berkata:

Akan datang pada neraka suatu masa di mana angin-angin menggerakkan pintu-pintunya, tidak ada seorang pun di dalamnya, maksudnya dari kalangan orang-orang yang mengesakan Allah. Demikian diriwayatkan secara mauquf dari Abdullah bin Amr, dan tidak ada penyebutan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalamnya, dan yang seperti ini tidak bisa dikatakan berdasarkan pendapat pribadi, maka itu marfu’.

BAB KELIMA: Penghuni Neraka dan Kejahatan-kejahatan Mereka

Pembahasan Pertama: Penghuni yang Kekal di Dalamnya

Sub Pembahasan Pertama: Definisi Tentang Mereka

Penghuni neraka yang kekal di dalamnya yang tidak akan pindah dan tidak akan binasa – adalah orang-orang kafir dan musyrik. Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” [al-A’raf: 36], dan Allah berfirman: “Sekiranya (berhala-berhala) itu tuhan-tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan mereka semua kekal di dalamnya.” [al-Anbiya: 99], dan Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa kekal di dalam azab jahannam.” [az-Zukhruf: 74], dan Allah berfirman: “Dan orang-orang yang kafir bagi mereka neraka jahannam, mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya.” [Fathir: 36]. Dan Allah berfirman: “Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” [al-Baqarah: 39], dan Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya. Mereka kekal di dalamnya (dalam laknat itu) azab tidak diringankan dari mereka dan tidak (pula) mereka diberi tangguh.” [al-Baqarah: 160-161].

Dan Allah berfirman: “Tidakkah mereka mengetahui bahwa barangsiapa yang menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya baginya neraka jahannam, dia kekal di dalamnya? Yang demikian itu adalah kehinaan yang besar.” [at-Taubah: 63], dan Allah berfirman: “Tidak patut bagi orang-orang musyrik untuk memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui sendiri kekafiran mereka. Itulah orang-orang yang sia-sia amalnya, dan mereka kekal di dalam neraka.” [at-Taubah: 17].

Dan karena mereka kekal di dalamnya maka Allah Yang Maha Benar menggambarkan azab neraka sebagai sesuatu yang tetap, yaitu tidak akan terputus, sebagaimana Dia menyandarkannya kepada kekalnya. Allah Ta’ala berfirman: “Mereka ingin keluar dari neraka, tetapi mereka sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya, dan bagi mereka azab yang kekal.” [al-Maidah: 37] dan Allah berfirman: “Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang zalim itu: ‘Rasakanlah azab yang kekal. Kamu tidak dibalas melainkan dengan apa yang dahulu kamu kerjakan.'” [Yunus: 52].

Dan dalam Shahih al-Bukhari dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

“Penghuni surga masuk surga, dan penghuni neraka masuk neraka, kemudian berdiri seorang penyeru di antara mereka: Wahai penghuni neraka tidak ada kematian, dan wahai penghuni surga tidak ada kematian, kekal.”

Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Dikatakan kepada penghuni surga: Wahai penghuni surga, kekal tidak ada kematian, dan kepada penghuni neraka: Wahai penghuni neraka, kekal tidak ada kematian.”

Dan ini dikatakan setelah penyembelihan kematian sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar di al-Bukhari, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Apabila penghuni surga sampai ke surga, dan penghuni neraka ke neraka, maka kematian didatangkan hingga diletakkan di antara surga dan neraka, kemudian disembelih, lalu seorang penyeru menyeru: Wahai penghuni surga tidak ada kematian, wahai penghuni neraka tidak ada kematian, maka bertambahlah kegembiraan penghuni surga atas kegembiraan mereka, dan bertambahlah kesedihan penghuni neraka atas kesedihan mereka.”

Dan dalam Shahih Muslim dari Abu Sa’id dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Kematian didatangkan pada hari kiamat seperti kambing jantan yang putih kehitam-hitaman, lalu diletakkan di antara surga dan neraka, maka dikatakan: Wahai penghuni surga, apakah kalian mengenal ini? Maka mereka mengangkat kepala dan melihat, lalu berkata: Ya, ini adalah kematian. Dia berkata: Dan dikatakan: Wahai penghuni neraka, apakah kalian mengenal ini? Maka mereka mengangkat kepala dan melihat, lalu berkata: Ya, ini adalah kematian. Dia berkata: Maka diperintahkan untuk menyembelihnya. Dia berkata: Kemudian dikatakan: Wahai penghuni surga kekal tidak ada kematian, dan wahai penghuni neraka kekal tidak ada kematian.”

Dia berkata: Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca: “Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, ketika segala perkara telah diputus, sedang mereka dalam kelalaian dan mereka tidak beriman.” [Maryam: 39].

Dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri secara marfu’ dia berkata:

“Apabila hari kiamat, kematian didatangkan seperti kambing jantan yang putih kehitam-hitaman, lalu diletakkan di antara surga dan neraka, lalu disembelih sementara mereka melihat, maka seandainya ada seseorang yang mati karena gembira niscaya penghuni surga akan mati, dan seandainya ada seseorang yang mati karena sedih niscaya penghuni neraka akan mati.”

Dia berkata: hadits hasan shahih.

Sub Pembahasan Kedua: Neraka adalah Tempat Tinggal Orang-orang Kafir dan Musyrik

Karena orang-orang kafir dan musyrik kekal di neraka maka neraka dianggap bagi mereka sebagai tempat tinggal dan tempat bernaung, sebagaimana surga adalah tempat tinggal orang-orang beriman. “Dan tempat kembali mereka adalah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat kembali orang-orang yang zalim.” [Ali ‘Imran: 151], “Mereka itulah yang tempat kembalinya neraka, disebabkan apa yang dahulu mereka kerjakan.” [Yunus: 8], “Bukankah di dalam jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?” [al-‘Ankabut: 68]. Dan neraka adalah tempat kembali mereka yang mengurus urusan mereka “Tempat kembali kalian adalah neraka, dialah pemimpin kalian.” [al-Hadid: 15].

Dan neraka adalah seburuk-buruk tempat tinggal dan tempat kembali. “Maka cukuplah baginya jahannam, dan sungguh seburuk-buruk tempat tidur.” [al-Baqarah: 206], “Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang melampaui batas benar-benar tempat kembali yang buruk, (yaitu) jahannam; mereka masuk ke dalamnya; maka itulah seburuk-buruk tempat tidur.” [Shad: 55-56].

Sub Pembahasan Ketiga: Para Penyeru ke Neraka

Para pemilik prinsip-prinsip sesat, dan mazhab-mazhab batil yang menyelisihi syariat Allah, para penyeru yang beriman pada kebatilan mereka adalah penyeru-penyeru neraka. “Mereka itu menyeru ke neraka.” [al-Baqarah: 221], “Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru ke neraka.” [al-Qashash: 41], dan di antara mereka adalah setan “Walaupun setan itu menyeru mereka ke azab yang menyala-nyala.” [Luqman: 21], “Sesungguhnya setan itu hanya menyeru golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” [Fathir: 6].

Dan mereka yang menyeru ke neraka di dunia ini memimpin kaum dan pengikut mereka ke neraka di akhirat. Fir’aun misalnya: “Dia mendahului kaumnya pada hari kiamat, lalu membawa mereka ke neraka.” [Hud: 98]. Dan semua pemimpin kejahatan yang menyeru kepada aqidah-aqidah dan prinsip-prinsip yang menyelisihi Islam adalah penyeru-penyeru ke neraka, karena satu-satunya jalan yang menyelamatkan dari neraka dan memasukkan ke surga adalah jalan iman. “Hai kaumku, mengapa aku menyeru kamu kepada keselamatan, sedang kamu menyeru aku ke neraka?” [Ghafir: 41], mereka menyerunya kepada Fir’aun dan kekafiran serta kemusyrikannya, sedangkan dia menyeru mereka kepada Allah dan mentauhidkan-Nya serta beriman kepada-Nya.

Dan karena orang-orang kafir adalah penyeru-penyeru ke neraka maka Allah mengharamkan atas orang-orang beriman menikahi perempuan-perempuan musyrik, sebagaimana mengharamkan atas perempuan-perempuan beriman menikahi laki-laki musyrik. “Dan janganlah kamu menikahi perempuan-perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak perempuan yang beriman lebih baik dari perempuan musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan perempuan-perempuan beriman) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak laki-laki yang beriman lebih baik dari laki-laki musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka menyeru ke neraka, sedang Allah menyeru ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” [al-Baqarah: 221].

Sub Pembahasan Keempat: Kejahatan Terbesar Para Penghuni Kekal Neraka

Al-Qur’an telah memperpanjang penjelasan tentang kejahatan-kejahatan para penghuni kekal yang dengan kejahatan tersebut mereka layak mendapat kekalnya di neraka, dan kami menyebutkan di sini yang terpenting:

  1. Kekafiran dan Kemusyrikan: Allah Yang Maha Benar dan Maha Tinggi telah mengabarkan kepada kita bahwa orang-orang yang kafir diseru ketika mereka berada di neraka. Maka dikatakan kepada mereka: sesungguhnya kebencian Allah kepada kalian lebih besar daripada kebencian kalian kepada diri kalian sendiri karena kekafiran kalian terhadap iman, kemudian dijelaskan bahwa kekal mereka di neraka itu hanyalah karena kekafiran dan kemusyrikan mereka. “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada mereka diseru: ‘Sesungguhnya kebencian Allah (kepada kamu) adalah lebih besar dari kebencian kamu kepada diri kamu sendiri, ketika kamu diseru kepada iman, maka kamu kafir.’ Mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan untuk keluar (dari neraka)?’ Yang demikian itu adalah karena apabila Allah saja yang diseru, kamu kafir; dan jika Allah dipersekutukan dengan sesuatu, kamu percaya. Maka segala keputusan adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” [Ghafir: 10-12].

Dan Allah Yang Maha Benar dan Maha Tinggi menceritakan kepada kita bahwa para penjaga neraka bertanya kepada orang-orang kafir ketika mereka masuk neraka dengan berkata: “Apakah tidak datang kepada kamu rasul-rasul kamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata?” [Ghafir: 50], maka jawabannya adalah: bahwa mereka layak mendapat neraka karena mendustakan para utusan, dan apa yang mereka bawa. “Mereka menjawab: ‘Betul, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang yang memberi peringatan, tetapi kami mendustakan(nya) dan kami katakan: Allah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah dalam kesesatan yang besar.'” [al-Mulk: 9].

Dan Allah berfirman tentang orang-orang yang mendustakan al-Kitab: “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu suatu peringatan dari sisi Kami. Barangsiapa yang berpaling daripadanya, maka sesungguhnya dia akan memikul dosa yang berat pada hari kiamat, mereka kekal dalam keadaan itu; dan amat buruklah dosa itu bagi mereka pada hari kiamat sebagai beban.” [Thaha: 99-101].

Dan Allah berfirman tentang orang-orang yang mendustakan al-Kitab dan musyrik kepada Allah: “Orang-orang yang mendustakan al-Kitab dan wahyu yang Kami kirimkan kepada rasul-rasul Kami, kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai di leher mereka, mereka diseret ke dalam air yang mendidih, kemudian mereka dibakar dalam api. Kemudian dikatakan kepada mereka: ‘Di mana (sembahan-sembahan) yang dahulu kamu persekutukan dengan Allah?’ Mereka menjawab: ‘Mereka telah lenyap dari kami, bahkan kami dahulu sekali-kali tidak menyembah apa pun.’ Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir. Yang demikian itu adalah karena kamu bersuka ria di muka bumi tanpa hak dan karena kamu selalu bersuka ria. Masuklah kamu ke pintu-pintu jahannam, kekal di dalamnya; maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.” [Ghafir: 70-76].

Dan Allah berfirman tentang orang-orang kafir musyrik yang menyamakan tuhan-tuhan mereka dengan Rabb semesta alam: “Maka dilempar mereka ke dalam neraka, mereka dan orang-orang yang sesat, dan semua tentara iblis. Mereka berkata sambil bertengkar di dalam neraka itu: ‘Demi Allah, sesungguhnya kami benar-benar dalam kesesatan yang nyata, ketika kami menyamakan kamu dengan Tuhan semesta alam.'” [asy-Syu’ara: 94-98].

Dan Allah berfirman tentang orang-orang yang mendustakan hari pembalasan: “Bahkan mereka mendustakan hari berbangkit, dan Kami sediakan bagi orang yang mendustakan hari berbangkit itu neraka yang menyala-nyala.” [al-Furqan: 11], “Dan jika kamu (Muhammad) merasa heran, maka yang mengherankan adalah ucapan mereka: ‘Apakah bila kami telah menjadi tanah, apakah kami benar-benar akan (dikembalikan) dalam bentuk makhluk yang baru?’ Mereka itulah orang-orang yang kafir kepada Tuhannya; dan mereka itulah orang-orang yang dileher mereka ada belenggu; dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” [ar-Ra’d: 5]. Dan Allah berfirman: “Tempat tinggal mereka jahannam. Setiap kali api itu akan padam, Kami tambah bagi mereka nyalanya. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada ayat-ayat Kami, dan mereka berkata: ‘Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan menjadi makhluk yang baru?'” [al-Isra: 97-98].

  1. Tidak melakukan kewajiban-kewajiban syariat dengan mendustakan hari pembalasan dan meninggalkan komitmen terhadap batasan-batasan syariat. Allah Yang Maha Benar dan Maha Tinggi telah mengabarkan kepada kita bahwa penghuni surga bertanya kepada penghuni neraka dengan berkata: “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” [al-Muddatstsir: 42], maka mereka menjawab dengan berkata: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang batil bersama orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, sampai datang kepada kami kematian.” [al-Muddatstsir: 43-47].
  2. Menaati pemimpin-pemimpin kesesatan dan tokoh-tokoh kekafiran dalam apa yang mereka tetapkan berupa prinsip-prinsip kesesatan dan langkah-langkah kekafiran yang menghalangi dari agama Allah dan mengikuti para utusan. Allah Ta’ala berfirman tentang mereka: “Dan Kami adakan bagi mereka teman-teman (setan) yang menjadikan mereka memandang baik apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan telah pasti berlaku terhadap mereka vonis (azab) bersama umat-umat yang telah lalu sebelum mereka dari jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi. Dan orang-orang yang kafir berkata: ‘Janganlah kamu mendengar Al-Qur’an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan.’ Maka sesungguhnya Kami akan merasakan kepada orang-orang yang kafir azab yang sangat keras, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan yang lebih buruk dari apa yang telah mereka kerjakan. Itulah balasan musuh-musuh Allah yaitu neraka; bagi mereka di dalamnya tempat yang kekal, sebagai balasan karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami.” [Fushshilat: 25-28].

Dan ketika orang-orang kafir menempati neraka, dan wajah-wajah mereka dibolak-balik di dalamnya, mereka menyesal karena tidak menaati Allah dan Rasul-Nya, dan menaati para pemimpin dan pembesar: “Sesungguhnya Allah mengutuk orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, mereka tidak memperoleh pelindung dan tidak (pula) penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: ‘Alangkah baiknya kalau kami dahulu taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.’ Dan mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).'” [al-Ahzab: 64-67].

  1. Kemunafikan: Allah menjanjikan orang-orang munafik neraka, dan itu adalah janji yang Dia tetapkan atas diri-Nya yang tidak akan Dia ingkari: “Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Neraka itu cukup bagi mereka, dan Allah melaknat mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.” [at-Taubah: 68], dan Allah mengabarkan kepada kita bahwa tempat orang-orang munafik di neraka adalah tingkatan-tingkatan paling bawahnya, dan itu adalah yang paling panas, dan paling menyakitkan. “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.” [an-Nisa: 145].
  2. Kesombongan: Dan ini adalah sifat yang menjadi ciri umum penghuni neraka. Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” [al-A’raf: 36].

Dan Muslim telah membuat bab dalam shahihnya yang dia beri judul: “Bab neraka dimasuki oleh orang-orang yang sombong, dan surga dimasuki oleh orang-orang yang lemah” dan dia menyebutkan di dalamnya perdebatan surga dan neraka dan apa yang mereka katakan dan apa yang Allah katakan kepada mereka, dan dia menyebutkan di dalamnya hadits Abu Hurairah yang dirafa’kan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, dan di dalamnya neraka berkata:

“Yang masuk kepadaku adalah orang-orang yang sombong dan orang-orang yang congkak”

dan dalam riwayat dia berkata:

“Aku diutamakan dengan orang-orang yang sombong dan congkak.”

Dan Allah berkata kepadanya:

“Engkau adalah azab-Ku, Aku mengazab dengan engkau siapa yang Aku kehendaki.”

Dan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim dan Sunan at-Tirmidzi dari Haritsah bin Wahb, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Maukah kalian aku beritahu tentang penghuni surga? Setiap orang yang lemah lagi merendahkan diri, seandainya dia bersumpah atas nama Allah niscaya Allah akan memenuhinya. Maukah kalian aku beritahu tentang penghuni neraka? Setiap orang yang kasar, congkak, dan sombong.”

Dan dalam riwayat Muslim:

“Setiap orang yang congkak, rendah hati, dan sombong.”

Dan pembenaran ini ada dalam Kitab Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Bukankah di dalam jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?” [az-Zumar: 60], dan firman-Nya: “Maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan, karena kamu menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak.” [al-Ahqaf: 20], dan firman-Nya: “Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).” [an-Nazi’at: 37-39].

Bagian Kelima: Berbagai Kejahatan yang Memasukkan ke Neraka

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ditanya: “Apa perbuatan ahli neraka, dan apa perbuatan ahli surga?” Beliau menjawab: “Perbuatan ahli neraka adalah: menyekutukan Allah Ta’ala, mendustakan para rasul, kafir, hasad, dusta, khianat, kezaliman, perbuatan keji, penghianatan, memutuskan silaturrahim, pengecut dalam jihad, kikir, berbeda antara rahasia dan terang-terangan, putus asa dari rahmat Allah, merasa aman dari azab Allah, panik ketika tertimpa musibah, sombong dan takabur ketika mendapat nikmat, meninggalkan kewajiban-kewajiban Allah, melanggar batasan-batasan-Nya, melanggar larangan-larangan-Nya, takut kepada makhluk bukan kepada Khaliq, beramal karena riya dan sum’ah, menyelisihi Al-Quran dan Sunnah dalam keyakinan dan amal, taat kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq, fanatik kepada yang batil, mengolok-olok ayat-ayat Allah, mengingkari kebenaran, menyembunyikan apa yang wajib diterangkan dari ilmu dan kesaksian, sihir, durhaka kepada orang tua, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, memakan harta anak yatim, riba, lari dari medan perang, dan menuduh wanita-wanita baik-baik yang lengah lagi beriman.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan kumpulan dosa-dosa yang memasukkan ke neraka. Dalam Shahih Muslim dari ‘Iyadh bin Himar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khutbah panjang beliau: “Ahli neraka ada lima: orang lemah yang tidak punya ketegasan, yaitu mereka yang ada di antara kalian sebagai pengikut yang tidak mencari keluarga dan harta, pengkhianat yang tidak luput darinya keserakahan, meskipun kecil pasti ia khianati, seorang laki-laki yang tidak pagi dan sore kecuali ia menipu kalian tentang keluarga dan harta kalian.” Dan beliau menyebutkan kikir, dusta, dan syanthir (kasar mulut yang buruk akhlaknya).

Bagian Keenam: Orang-orang Tertentu yang Ada di Neraka

Para kafir musyrik pasti di neraka, tidak diragukan lagi hal itu. Al-Quran yang mulia telah memberitahu kita, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahu bahwa orang-orang tertentu ada di neraka.

Di antara mereka adalah Fir’aun dari Musa: “Dia akan memimpin kaumnya pada hari kiamat lalu memasukkan mereka ke neraka” (Hud: 98).

Di antara mereka adalah istri Nuh dan istri Luth: “Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berada di bawah dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu keduanya berkhianat kepada suaminya, maka suaminya itu tidak dapat menolong mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): ‘Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)'” (At-Tahrim: 10).

Di antara mereka adalah Abu Lahab dan istrinya: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh dia akan binasa. Hartanya dan apa yang dia usahakan tidak memberi manfaat kepadanya. Kelak dia akan memasuki api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut” (Al-Masad).

Di antara mereka adalah ‘Amr bin ‘Amir al-Khuza’i, Rasulullah melihatnya menyeret ususnya di neraka. Di antara mereka adalah orang yang membunuh ‘Ammar dan merampas hartanya. Dalam Mu’jam ath-Thabrani dengan sanad sahih dari ‘Amr bin al-‘Ash dan dari anaknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Pembunuh ‘Ammar dan perampas hartanya di neraka.”

Bagian Ketujuh: Para Jin Kafir di Neraka

Para jin kafir masuk neraka sebagaimana para manusia kafir memasukinya. Jin dibebani taklif seperti manusia: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (Adh-Dhariyat: 56).

Dan pada hari kiamat jin dan manusia dikumpulkan sama rata: “Dan (ingatlah) hari ketika Kami mengumpulkan mereka semuanya, (lalu Kami berfirman): ‘Hai golongan jin, sesungguhnya kalian telah banyak (menyesatkan) manusia'” (Al-An’am: 128).

“Maka demi Tuhanmu, sesungguhnya Kami benar-benar akan mengumpulkan mereka bersama setan-setan (di padang Mahsyar), kemudian akan Kami hadapkan mereka ke sekeliling neraka Jahannam dalam keadaan berlutut. Kemudian akan Kami cabut dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Penyayang. Sesungguhnya Kamilah yang lebih mengetahui tentang orang-orang yang patut dibakar di dalamnya” (Maryam: 68-70).

Kemudian dikatakan kepada para kafir di antara mereka: “Masuklah kalian ke dalam umat-umat yang telah berlalu sebelum kalian dari jin dan manusia ke dalam neraka” (Al-A’raf: 38).

Saat itu mereka dilemparkan ke neraka: “Maka mereka dilemparkan ke dalam neraka, mereka dan orang-orang yang sesat, dan semua tentara iblis” (Asy-Syu’ara: 94-95).

Dengan demikian sempurnalah kalimat Allah yang menetapkan untuk memenuhi neraka dari para jin dan manusia kafir: “Dan telah pasti berlaku perkataan Tuhanmu: ‘Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) seluruhnya'” (Hud: 119). “Dan telah pasti berlaku atas mereka perkataan (ketentuan Allah) bersama umat-umat yang telah berlalu sebelum mereka dari jin dan manusia” (Fushshilat: 25).

Pembahasan Kedua: Mereka yang Tidak Kekal di Neraka

Bagian Pertama: Definisi Mereka

Mereka yang masuk neraka kemudian keluar darinya adalah ahli tauhid yang tidak menyekutukan Allah sedikitpun, tetapi mereka memiliki dosa-dosa banyak yang melebihi kebaikan mereka, sehingga timbangan mereka menjadi ringan. Mereka ini masuk neraka untuk waktu yang Allah Tabaraka wa Ta’ala ketahui, kemudian mereka keluar dengan syafaat para pemberi syafaat, dan Allah mengeluarkan dengan rahmat-Nya kaum-kaum yang sama sekali tidak pernah mengerjakan kebaikan.

Bagian Kedua: Dosa-dosa yang Diancam dengan Neraka

Di sini kami akan menyebutkan beberapa dosa yang nash-nash menyebutkan bahwa pelakunya disiksa karenanya di neraka:

  1. Golongan-golongan yang Menyelisihi Sunnah

Abu Dawud, ad-Darimi, Ahmad, al-Hakim dan lainnya meriwayatkan dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan bahwa ia berkata: Ketahuilah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan kami lalu bersabda: “Ketahuilah bahwa orang-orang sebelum kalian dari Ahli Kitab berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan sesungguhnya umat ini akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga, tujuh puluh dua di neraka, dan satu di surga, yaitu al-jama’ah.” Ini adalah hadis sahih. Al-Hakim berkata setelah menyebutkan sanad-sanadnya: “Ini adalah sanad-sanad yang bisa dijadikan hujjah dalam men-sahih-kan hadis.” Adh-Dzahabi menyetujuinya. Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah berkata tentangnya: “Ini adalah hadis sahih yang masyhur.” Asy-Syathibi men-sahih-kannya dalam “al-I’tisham”. Syaikh Nashiruddin al-Albani telah mengumpulkan jalur-jalurnya dan membahas sanad-sanadnya, serta menjelaskan bahwa ini adalah hadis sahih yang tidak diragukan kesahihannya.

Shiddiq Hasan Khan berpendapat bahwa tambahan dalam hadis yaitu “semuanya binasa kecuali satu” dan yang serupa: “tujuh puluh dua di neraka” adalah tambahan yang lemah. Dia mengutip pendapat pelemahan itu dari gurunya asy-Syaukani dan sebelumnya dari Ibnu al-Wazir dan sebelumnya lagi dari Ibnu Hazm. Dia mengagumi ucapan orang yang berkata: “Sesungguhnya tambahan ini adalah sisipan orang-orang mulhid, karena di dalamnya ada upaya menjauhkan dari Islam dan menakut-nakuti dari memasukinya.”

Syaikh Nashiruddin al-Albani membantah orang yang melemahkan tambahan ini dari dua segi:

Pertama: bahwa kritik ilmiah hadis telah menunjukkan kesahihan tambahan ini, maka tidak ada nilai bagi ucapan orang yang melemahkannya.

Kedua: bahwa orang-orang yang men-sahih-kannya lebih banyak dan lebih berilmu daripada Ibnu Hazm, apalagi dia dikenal di kalangan ahli ilmu dengan kekerasannya dalam kritik, maka tidak pantas berdalil dengannya jika dia menyendiri ketika tidak ada penyelisihan, apalagi jika dia menyelisihi.

Adapun Ibnu al-Wazir, ia menolak tambahan itu dari segi makna bukan dari segi sanad. Hal ini telah dibahas oleh Shiddiq Hasan Khan dalam “Yaqzhah Uli al-I’tibar” yang menjelaskan bahwa konsekuensi tambahan itu adalah yang masuk surga dari umat ini sedikit, padahal nash-nash sahih yang tetap menunjukkan bahwa yang masuk surga dari umat ini sangat banyak, mencapai setengah dari ahli surga.

Bantahan terhadap hal ini dari beberapa segi:

Pertama: bukan berarti pembagian umat menjadi tujuh puluh tiga golongan bahwa kebanyakan umat di neraka, karena kebanyakan umat adalah awam yang tidak masuk dalam golongan-golongan itu, dan mereka yang berpecah, berteori dan berasas menyelisihi sunnah sedikit dibandingkan dengan mereka yang menjauhi semua itu.

Kedua: tidak semua orang yang menyelisihi ahlus sunnah dalam suatu masalah dianggap dari golongan yang menyelisihi sunnah, tapi yang dimaksud adalah mereka yang menganut dasar-dasar yang menjadikan mereka golongan yang mandiri, karena itu mereka meninggalkan banyak nash Al-Quran dan Sunnah, seperti Khawarij, Mu’tazilah, dan Rafidhah.

Adapun mereka yang menganut Al-Quran dan Sunnah dan tidak menyimpang darinya, jika mereka menyelisihi dalam suatu masalah, mereka tidak dianggap sebagai golongan dari golongan-golongan.

Ketiga: tambahan itu menunjukkan bahwa golongan-golongan itu di neraka, tetapi tidak mewajibkan kekalnya mereka di neraka.

Diketahui bahwa sebagian ahli golongan-golongan ini adalah kafir yang kekal di neraka, seperti ghulat bathiniyyah yang menampakkan iman dan menyembunyikan kufur seperti Isma’iliyyah, Duruz, Nushairiyyah dan sejenisnya.

Di antara mereka ada yang menyelisihi ahlus sunnah dalam masalah-masalah besar yang agung, tetapi tidak sampai pada tingkat kufur. Mereka ini tidak memiliki janji mutlak untuk masuk surga, tetapi mereka berada di bawah kehendak Allah, jika Allah berkehendak Dia ampuni mereka dan jika berkehendak Dia siksa mereka. Mungkin mereka memiliki amal-amal saleh yang besar yang menyelamatkan mereka dari neraka, dan mungkin mereka selamat dari neraka dengan syafaat para pemberi syafaat, dan mungkin mereka masuk neraka dan tinggal di dalamnya sekehendak Allah, kemudian keluar darinya dengan syafaat para pemberi syafaat dan rahmat Arham ar-Rahimin.

  1. Mereka yang Enggan Berhijrah

Tidak boleh bagi seorang muslim tinggal di negeri kafir jika ada negeri Islam, apalagi jika tinggalnya di negeri kafir itu membuatnya terpapar fitnah. Allah tidak menerima mereka yang tidak ikut hijrah. Al-Haq telah memberitahu kita bahwa malaikat menegur golongan manusia ini ketika mati, dan tidak memaafkan mereka ketika mereka mengaku bahwa mereka adalah orang-orang yang lemah di bumi: “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: ‘Dalam keadaan bagaimana kalian ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri ini.’ Malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kalian dapat berhijrah di bumi itu?’ Orang-orang itulah yang tempatnya neraka Jahannam, dan neraka Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali orang-orang yang tertindas baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah)'” (An-Nisa: 97-98). Allah tidak memaafkan dari mereka kecuali orang-orang lemah yang tidak menemukan jalan keluar dan tidak mengetahui jalan yang mengantarkan mereka ke negeri Islam.

  1. Para Penguasa yang Berlaku Zalim dalam Hukum

Allah menurunkan syariat agar manusia tegak dengan keadilan, dan Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya dengan keadilan: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan” (An-Nahl: 90). Allah mewajibkan para penguasa dan hakim untuk memutuskan dengan adil dan tidak berbuat zalim: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil” (An-Nisa: 58).

Al-Haq telah mengancam mereka yang tidak memutuskan dengan kebenaran dengan neraka. Buraidah bin al-Hushaib meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Para hakim ada tiga: satu di surga dan dua di neraka. Adapun yang di surga: seorang laki-laki yang mengetahui kebenaran dan memutuskan dengannya. Seorang laki-laki yang mengetahui kebenaran lalu berlaku zalim dalam hukum, maka dia di neraka. Dan seorang laki-laki yang memutuskan untuk manusia dengan kebodohan, maka dia di neraka.” Diriwayatkan Abu Dawud.

  1. Berdusta atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ibnu al-Atsir dalam kitabnya yang besar “Jami’ al-Ushul” membuat bab yang dia paparkan di dalamnya banyak hadis yang memperingatkan dari berdusta atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya adalah yang diriwayatkan Bukhari, Muslim dan Tirmidzi dari Ali bin Abu Thalib, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan berdusta atasku, karena barangsiapa berdusta atasku akan masuk neraka.”

Di antaranya adalah yang diriwayatkan Bukhari dari Salamah bin al-Akwa’, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mengatakan atasku apa yang tidak aku katakan, maka hendaklah ia menempati tempatnya di neraka.”

Di antaranya adalah yang diriwayatkan Bukhari dalam sahihnya dan Abu Dawud dalam sunannya dari Abdullah bin az-Zubair dari bapaknya az-Zubair bin al-‘Awwam, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempatnya dari neraka.”

Di antaranya adalah yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari al-Mughirah bin Shu’bah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya berdusta atasku tidak seperti berdusta atas seseorang, maka barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, hendaklah ia menempati tempatnya dari neraka.”

  1. Kesombongan

Di antara dosa-dosa besar adalah kesombongan. Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Keagungan adalah selendang-Ku, dan kebesaran adalah sarung-Ku, maka barangsiapa merebut salah satunya dari-Ku, Aku masukkan dia ke neraka.'” Dalam riwayat lain: “Aku rasakan kepadanya neraka.” Diriwayatkan Muslim.

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di hatinya ada kesombongan seberat biji zarah.” Seseorang berkata: “Sesungguhnya seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” Diriwayatkan Muslim.

  1. Pembunuh Jiwa tanpa Hak

Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya” (An-Nisa: 93).

Tidak boleh dalam agama Allah membunuh jiwa muslim kecuali dengan salah satu dari tiga sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali dengan salah satu dari tiga: jiwa dengan jiwa, orang yang sudah menikah yang berzina, dan orang yang murtad dari agama yang meninggalkan jamaah.”

Dalam Shahih Bukhari dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang mukmin akan terus dalam kelapangan agamanya selama ia tidak menumpahkan darah yang haram.” Ibnu Umar berkata: “Sesungguhnya di antara perkara-perkara berat yang tidak ada jalan keluar bagi orang yang menjatuhkan dirinya ke dalamnya adalah menumpahkan darah yang haram tanpa haknya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kaum muslimin agar sebagian tidak memerangi sebagian yang lain, dan memberitahu bahwa pembunuh dan yang dibunuh di neraka. Dari Abu Bakrah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika dua orang muslim saling berhadapan dengan pedang mereka, maka pembunuh dan yang dibunuh di neraka.” Dia berkata: Aku bertanya, atau ditanyakan: “Ya Rasulullah, ini si pembunuh, lalu bagaimana dengan yang dibunuh?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya dia sangat ingin membunuh temannya.”

Karena itu hamba yang saleh menolak memerangi saudaranya, karena takut menjadi ahli neraka, maka si pembunuh menanggung dosanya dan dosa saudaranya: “Dan bacakanlah kepada mereka berita dua putera Adam menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain. Ia berkata: ‘Sungguh aku akan membunuhmu!’ Temannya berkata: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh jika kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosaku dan dosamu, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim'” (Al-Maidah: 27-29).

  1. Pemakan Riba

Di antara dosa yang membinasakan pelakunya adalah riba. Allah Al-Haq berfirman tentang mereka yang memakannya setelah sampai kepada mereka pengharaman Allah: “Dan barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” (Al-Baqarah: 275). Dan Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang kafir” (Ali Imran: 130-131).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghitungnya dalam hadis yang disepakati sebagai salah satu dari tujuh dosa yang membinasakan pelakunya. Dalam Shahihain dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan.” Mereka bertanya: “Ya Rasulullah, apa saja itu?” Beliau bersabda: “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, berpaling pada hari perang, dan menuduh wanita-wanita baik-baik yang beriman lagi lengah.”

  1. Pemakan Harta Manusia dengan Batil

Di antara kezaliman besar yang pelakunya layak mendapat neraka adalah memakan harta manusia dengan batil, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (An-Nisa: 29-30).

Di antara memakan harta manusia dengan batil adalah memakan harta anak yatim secara zalim. Al-Haq mengkhususkan harta mereka dengan penyebutan karena kelemahan mereka dan mudahnya memakan harta mereka, dan karena kejinya kejahatan ini: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)” (An-Nisa: 10).

  1. Para Pembuat Gambar

Manusia yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah para pembuat gambar yang menyaingi ciptaan Allah. Dalam Shahihain dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah para pembuat gambar.”

Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap pembuat gambar akan masuk neraka, dijadikan baginya dari setiap gambar yang dibuatnya suatu nyawa, lalu dia disiksa dengannya di neraka jahannam.” Muttafaq ‘alaih. (1)

Dan dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang bantal yang bergambar: “Sesungguhnya pemilik gambar-gambar ini akan disiksa pada hari kiamat, dikatakan kepada mereka: Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan.” Muttafaq ‘alaih. (2)

Dan dari Aisyah juga, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Manusia yang paling keras siksaannya adalah orang-orang yang menyerupai ciptaan Allah.” Muttafaq ‘alaih. (3)

Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang hendak menciptakan seperti ciptaan-Ku, maka hendaklah mereka menciptakan seekor semut, atau hendaklah mereka menciptakan sebutir biji, atau hendaklah mereka menciptakan sebutir gandum.” Muttafaq ‘alaih. (4)

10 – Bersandar kepada orang-orang zalim: Di antara sebab-sebab yang memasukkan ke neraka adalah bersandar kepada orang-orang zalim yang memusuhi Allah dan bersekutu dengan mereka, “Dan janganlah kamu bersandar kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka” (QS. Hud: 113).

11 – Para wanita berpakaian tapi telanjang dan mereka yang mencambuk punggung manusia: Di antara golongan yang akan masuk neraka adalah para wanita fasik yang bersolek ria yang memfitnah hamba-hamba Allah, dan tidak istiqamah dalam ketaatan kepada Allah, sebagaimana Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua golongan dari penghuni neraka yang belum pernah aku lihat, suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang mereka pukul dengannya kepada manusia, dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, condong dan mencondongkan, kepala mereka seperti punuk unta yang condong, mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya tercium dari jarak sekian dan sekian.” Diriwayatkan oleh Muslim, Al-Baihaqi, dan Ahmad. (1)

Al-Qurthubi berkata tentang mereka yang memiliki cambuk seperti ekor sapi: “Dan sifat cambuk ini disaksikan di kalangan kami di Maghrib hingga sekarang.” Shiddiq Hasan Khan berkomentar atas perkataan Al-Qurthubi: “Bahkan hal itu disaksikan di setiap tempat dan zaman, dan bertambah dari hari ke hari di kalangan para penguasa dan pembesar, maka kami berlindung kepada Allah dari semua yang dibenci Allah.” (2) Aku berkata: Dan kita masih melihat golongan manusia ini di banyak negeri yang mencambuk kulit manusia, maka celakalah mereka dan orang-orang seperti mereka.

Dan para wanita berpakaian tapi telanjang sangat banyak di zaman kita, dan mungkin belum pernah terjadi fitnah mereka tersebar seperti tersebar di zaman kita, dan mereka sesuai dengan sifat yang digambarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: berpakaian tapi telanjang, condong dan mencondongkan, kepala mereka seperti punuk unta.

12- Mereka yang menyiksa hewan: Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Jabir berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Neraka diperlihatkan kepadaku, maka aku melihat di dalamnya seorang wanita dari Bani Israil disiksa karena seekor kucing miliknya, dia mengikatnya lalu tidak memberinya makan dan tidak membiarkannya makan dari serangga tanah, hingga mati kelaparan.” (1)

Jika ini adalah keadaan orang yang menyiksa seekor kucing, maka bagaimana dengan orang yang ahli dalam menyiksa para hamba? Maka bagaimana jika penyiksaan itu terhadap orang-orang shalih karena iman dan Islam mereka?

13 – Tidak ikhlas dalam menuntut ilmu: Al-Hafizh Al-Mundziri menyebutkan banyak hadits yang menakut-nakuti dari mempelajari ilmu bukan karena Allah, di antaranya: dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya dicari karena wajah Allah ‘Azza wa Jalla, dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan kepentingan dunia, maka dia tidak akan mencium aroma surga pada hari kiamat” yaitu baunya. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, dan Al-Hakim dan berkata: Shahih atas syarat Bukhari dan Muslim. (2)

Dan dari Jabir berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian mempelajari ilmu untuk membanggakan diri kepada para ulama, dan jangan untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, dan jangan untuk memilih-milih majlis, barangsiapa melakukan itu maka neraka, neraka.” Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, dan Al-Baihaqi. (3)

Dan dari Ibnu Umar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mempelajari ilmu bukan karena Allah, atau menginginkan dengannya selain Allah, maka hendaklah dia menempati tempatnya dari neraka.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, keduanya dari Khalid bin Duraik dari Ibnu Umar, dan dia tidak mendengar darinya. Dan perawi sanad keduanya terpercaya. (4)

14- Mereka yang minum dari bejana emas dan perak: Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Umm Salamah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang minum dari bejana emas dan perak sesungguhnya dia meneguk api jahannam ke dalam perutnya.” Dan dalam riwayat Muslim: “Sesungguhnya orang yang makan dan minum dari bejana perak dan emas…” (1)

Dan dari Hudzaifah, berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian memakai sutera dan brokat, dan janganlah minum dari bejana emas dan perak, dan janganlah makan dari piringnya, karena sesungguhnya itu untuk mereka di dunia, dan untuk kita di akhirat.” Muttafaq ‘alaih. (2)

15- Orang yang menebang pohon sidrah yang menaungi manusia: Dari Abdullah bin Hubasy berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menebang pohon sidrah, Allah akan menelungkupkan kepalanya ke dalam neraka.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud. (3)

Dan Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad shahih dari Aisyah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang menebang pohon sidrah akan dituangkan ke dalam neraka dari atas kepala mereka.” (4)

16- Balasan bunuh diri: Telah tetap dalam Shahihain dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa membunuh dirinya dengan besi, maka besinya di tangannya, dia menusukkan ke perutnya di api jahannam, kekal dan abadi di dalamnya selamanya, dan barangsiapa minum racun lalu membunuh dirinya, maka racun itu di tangannya dia meminumnya di api jahannam, kekal dan abadi di dalamnya selamanya, dan barangsiapa terjun dari gunung lalu membunuh dirinya maka dia terjun di api jahannam, kekal dan abadi di dalamnya selamanya.” (1)

Dan dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang mencekik dirinya akan mencekiknya di neraka, dan orang yang menikam dirinya akan menikamnya di neraka.” (2)

BAB KEENAM: BANYAKNYA PENGHUNI NERAKA

Pembahasan Pertama: Nash-nash yang Menunjukkan Hal Tersebut

Telah datang nash-nash yang banyak dan berlimpah yang menunjukkan banyaknya manusia yang akan masuk neraka, dan sedikitnya yang akan masuk surga di antara mereka.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan kebanyakan manusia tidak beriman walaupun kamu sangat menginginkannya” (Surat Yusuf: 103). Allah juga berfirman: “Dan sungguh Iblis telah membenarkan persangkaannya terhadap mereka, lalu mereka mengikutinya kecuali sebagian dari orang-orang yang beriman” (Surat Saba’: 20). Dan Allah Yang Maha Benar lagi Maha Berkah berfirman kepada Iblis: “Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahannam dengan kamu dan orang-orang yang mengikutimu semuanya” (Surat Shaad: 85). Maka setiap orang yang kafir adalah termasuk penghuni neraka, sebanyak apapun orang yang kafir di antara anak cucu Adam.

Yang menunjukkan banyaknya orang-orang kafir dan musyrik yang menolak dakwah para rasul adalah bahwa seorang nabi datang pada hari kiamat bersama sekelompok kecil pengikutnya yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang, ada nabi yang datang bersama satu atau dua orang, bahkan ada sebagian nabi yang datang sendirian tanpa ada seorangpun yang beriman kepadanya. Dalam Shahih Muslim dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Umat-umat diperlihatkan kepadaku, maka aku melihat seorang nabi bersama sekelompok kecil pengikutnya, seorang nabi bersama satu atau dua orang, dan seorang nabi yang tidak ada seorangpun bersamanya…”

Datang pula nash-nash banyak yang menunjukkan bahwa yang masuk neraka dari anak cucu Adam adalah sembilan ratus sembilan puluh sembilan dari setiap seribu orang, dan hanya satu orang saja yang masuk surga. Telah meriwayatkan Bukhari dalam Shahih-nya dari Abu Sa’id, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah berfirman: Wahai Adam! Maka Adam menjawab: Aku penuhi panggilan-Mu dan semua kebaikan ada di tangan-Mu. Kemudian Allah berfirman: Keluarkanlah utusan (penghuni) neraka! Adam berkata: Siapakah utusan neraka itu? Allah berfirman: Dari setiap seribu, sembilan ratus sembilan puluh sembilan. Pada saat itulah anak kecil menjadi beruban, setiap wanita hamil akan melahirkan kandungannya, dan kamu melihat manusia seperti mabuk padahal mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat pedih. Para sahabat merasa berat mendengar hal itu, lalu mereka bertanya: Wahai Rasulullah, siapa di antara kami orang yang satu itu? Beliau bersabda: Bergembiralah! Sesungguhnya dari Ya’juj dan Ma’juj ada seribu orang dan dari kalian hanya satu orang. Kemudian beliau bersabda: Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku berharap kalian menjadi sepertiga penghuni surga. Dia berkata: Maka kami memuji Allah dan bertakbir. Kemudian beliau bersabda: Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku berharap kalian menjadi separo penghuni surga. Sesungguhnya perumpamaan kalian di antara umat-umat seperti perumpamaan bulu putih pada kulit sapi hitam, atau seperti tanda putih di lengan keledai.”

‘Imran bin Hushain meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika beliau dalam salah satu perjalanannya, dan para sahabatnya berjalan terpencar, beliau meninggikan suaranya dengan membaca dua ayat ini: “Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya goncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar. Pada hari ketika kamu melihat goncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya, dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras” (Surat Al-Hajj: 1-2).

Ketika para sahabat mendengar hal itu, mereka memacu kendaraan mereka karena mengetahui bahwa beliau akan mengatakan sesuatu. Ketika mereka sudah berkumpul di sekelilingnya, beliau bersabda: “Tahukah kalian hari apa itu? Itulah hari ketika Adam ‘alaihissalam dipanggil, lalu Tuhannya ‘azza wajalla memanggilnya dan berfirman: Wahai Adam, kirimkanlah utusan ke neraka! Adam berkata: Wahai Tuhanku, apa itu utusan neraka? Allah berfirman: Dari setiap seribu, sembilan ratus sembilan puluh sembilan ke neraka dan satu ke surga.” Para sahabat menjadi murung hingga tidak ada yang tersenyum. Ketika beliau melihat hal itu, beliau bersabda: “Bergembiralah dan beramallah! Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya kalian bersama dua makhluk yang tidak pernah bersama sesuatu kecuali mereka menjadi mayoritas: Ya’juj dan Ma’juj, serta yang binasa dari Bani Adam dan Bani Iblis.” Kemudian mereka merasa lega. Lalu beliau bersabda: “Beramallah dan bergembiralah! Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalian di antara manusia hanyalah seperti tanda hitam di samping unta atau tanda putih di lengan hewan.” Diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i dalam Kitab Tafsir dalam Sunan mereka. At-Tirmidzi berkata: Hasan Shahih.

At-Tirmidzi meriwayatkan dalam Sunan-nya dari ‘Imran bin Hushain bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika turun ayat: “Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya goncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar” (Surat Al-Hajj: 1). Beliau berkata: “Ayat ini turun kepadanya ketika beliau dalam perjalanan, lalu beliau bersabda: Tahukah kalian hari apa itu? Para sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau bersabda: Itulah hari ketika Allah berfirman kepada Adam: Kirimkanlah utusan neraka! Adam berkata: Wahai Tuhanku, apa itu utusan nereka? Allah berfirman: Sembilan ratus sembilan puluh sembilan ke neraka dan satu ke surga.” Orang-orang Muslim mulai menangis, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bersikap sederhana dan luruskanlah! Sesungguhnya tidak ada kenabian kecuali sebelumnya ada masa jahiliah. Maka bilangan itu akan diambil dari masa jahiliah, jika sudah cukup maka selesai, jika belum maka akan dilengkapi dari orang-orang munafik. Perumpamaan kalian dengan umat-umat lain hanyalah seperti tanda putih di lengan hewan atau tanda hitam di samping unta.” Kemudian beliau bersabda: “Sungguh aku berharap kalian menjadi separuh penghuni surga, maka bertakbirlah!” Lalu beliau berkata: Dan aku tidak tahu apakah beliau mengatakan dua pertiga atau tidak. Imam Ahmad juga meriwayatkan hal serupa, dan At-Tirmidzi berkata tentangnya: Ini hadits hasan shahih.

Mungkin ada yang bertanya bagaimana menggabungkan antara hadits-hadits ini dengan yang telah tetap dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Yang pertama dipanggil pada hari kiamat adalah Adam, lalu dilihatkan kepadanya keturunannya, kemudian dikatakan: Ini adalah bapakmu Adam. Maka Adam berkata: Aku penuhi panggilan-Mu. Allah berfirman: Keluarkanlah utusan Jahannam dari keturunanmu! Adam berkata: Wahai Tuhanku, berapa yang harus aku keluarkan? Allah berfirman: Keluarkan dari setiap seratus, sembilan puluh sembilan! Para sahabat berkata: Wahai Rasulullah, jika dari setiap seratus diambil sembilan puluh sembilan, apa yang tersisa dari kami? Beliau bersabda: Sesungguhnya umatku di antara umat-umat lain seperti bulu putih pada sapi hitam.”

Yang tampak bahwa riwayat ini tidak bertentangan dengan riwayat-riwayat shahih lainnya yang telah kami sebutkan sebelumnya, karena bilangan itu berdasarkan pertimbangan tertentu, dan bilangan yang lain berdasarkan pertimbangan lain.

Hadits-hadits yang menjadikan perbandingan sembilan ratus sembilan puluh sembilan dapat dibawa kepada seluruh keturunan Adam, sedangkan hadits Bukhari yang menjadikannya sembilan puluh sembilan dibawa kepada seluruh keturunannya kecuali Ya’juj dan Ma’juj. Yang menguatkan penggabungan ini – sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar – adalah bahwa Ya’juj dan Ma’juj disebutkan dalam hadits Abu Sa’id tanpa hadits Abu Hurairah. Dapat juga dikatakan bahwa hadits-hadits pertama berkaitan dengan seluruh makhluk, maka jika perbandingan yang masuk nereka dengan yang masuk surga berdasarkan pertimbangan semua umat menjadi (999), dan hadits Bukhari terakhir menjelaskan perbandingan yang masuk neraka dari umat ini saja tanpa yang lainnya. Ibnu Hajar berkata: “Yang menguatkannya – yaitu pendapat ini – adalah ucapan mereka dalam hadits Abu Hurairah ‘jika diambil dari kami’, kemudian dia berkata: Dan kemungkinan pembagian terjadi dua kali: sekali dari semua umat sebelum umat ini, maka dari setiap seribu satu ke surga, dan sekali dari umat ini, maka dari setiap seribu sepuluh.”

Pembahasan Kedua: Rahasia Banyaknya Penghuni Nereka

Bukan sebabnya banyaknya penghuni neraka adalah karena tidak sampainya kebenaran kepada manusia di berbagai zaman dan tempat, karena Allah tidak menghukum hamba-hamba-Nya jika tidak sampai kepada mereka dakwah-Nya. “Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul” (Surat Al-Isra’: 15). Oleh karena itu, Allah mengutus pada setiap umat seorang pemberi peringatan. “Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan” (Surat Fathir: 24).

Tetapi sebab di balik itu kembali kepada sedikitnya orang yang merespons para rasul dan banyaknya yang mengkafiri mereka, dan banyak dari mereka yang merespons, iman mereka tidak murni dan bersih.

Ibnu Rajab dalam kitabnya “At-Takhhwif min An-Nar” telah membahas sebab sedikitnya penghuni surga dan banyaknya penghuni neraka. Dia berkata: “Hadits-hadits ini dan yang semakna dengannya menunjukkan bahwa kebanyakan Bani Adam adalah penghuni neraka, dan juga menunjukkan bahwa pengikut para rasul sedikit dibanding yang lainnya. Selain pengikut para rasul semuanya di neraka kecuali yang tidak sampai kepadanya dakwah atau tidak mampu memahaminya sesuai dengan perbedaan pendapat yang ada tentang hal itu. Yang mengaku sebagai pengikut para rasul, banyak di antara mereka yang berpegang pada agama yang sudah dihapus (mansukh) dan kitab yang sudah diubah, dan mereka juga termasuk penghuni neraka sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa yang mengingkarinya di antara golongan-golongan (yang beriman), maka nerakalah tempat perjanjiannya” (Surat Hud: 17).

Adapun yang mengaku menganut kitab yang muhkam, syariat yang didukung, dan agama yang benar, banyak di antara mereka juga penghuni neraka, yaitu orang-orang munafik yang berada di tingkat paling bawah dari neraka. Adapun yang mengaku menganutnya secara lahir dan batin, banyak di antara mereka terfitnah dengan syubhat, yaitu ahli bid’ah dan kesesatan. Telah datang hadits-hadits bahwa umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh sekian golongan, semuanya di neraka kecuali satu golongan. Banyak di antara mereka juga terfitnah dengan syahwat-syahwat yang diharamkan yang diancam dengan neraka – walaupun hal itu tidak mengharuskan kekal di dalamnya. Maka tidak selamat dari ancaman neraka dan tidak berhak mendapat janji mutlak surga dari umat ini kecuali satu golongan, yaitu yang berada di atas apa yang dianut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya secara lahir dan batin, dan selamat dari fitnah syahwat dan syubhat. Mereka ini sangat sedikit, terutama di zaman-zaman akhir.”

Barangkali sebab terbesar adalah mengikuti syahwat, karena kecintaan kepada syahwat tertanam dalam kedalaman jiwa manusia. “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia” (Surat Ali Imran: 14).

Banyak orang yang ingin mencapai syahwat-syahwat ini melalui jalan yang disukai jiwanya dan dicintai hatinya, dan tidak memperhatikan dalam hal itu syariat Allah yang diturunkan. Ditambah lagi dengan berpegang teguhnya anak-anak kepada warisan para ayah yang bertentangan dengan syariat Allah. “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di dalamnya berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.’ (Rasul itu) berkata: ‘Dan apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu petunjuk yang lebih benar dari apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?’ Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya'” (Surat Az-Zukhruf: 23-24). Terbiasa dengan apa yang dianut para ayah dan menguduskannya adalah penyakit yang menimpa umat-umat, pengaruhnya tidak kurang dari syahwat-syahwat yang tertanam dalam kedalaman manusia, bahkan mungkin ia sendiri adalah syahwat.

At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan An-Nasa’i meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika Allah menciptakan neraka, Dia berfirman kepada Jibril: Pergilah dan lihatlah! Maka Jibril pergi dan melihatnya kemudian datang, lalu berkata: Demi kemuliaan-Mu, tidak ada seorangpun yang mendengar tentangnya lalu memasukinya. Maka Allah mengelilinginya dengan syahwat-syahwat, kemudian berfirman: Pergilah dan lihatlah! Maka Jibril pergi dan melihatnya, ketika kembali berkata: Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku khawatir tidak akan tersisa seorangpun kecuali memasukinya.” Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan Abu Dawud. An-Nasa’i menambahkan setelah ucapannya: “Pergilah dan lihatlah”: “dan kepada apa yang telah Aku sediakan untuk penghuninya di dalamnya.”

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Neraka dihalangi dengan syahwat-syahwat, dan surga dihalangi dengan hal-hal yang tidak disukai.” Dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat Muslim: “dikelilingi” sebagai ganti “dihalangi”.

Shiddiq Hasan Khan berkata: “Yang dimaksud dengan syahwat adalah keinginan-keinginan jiwa, hal-hal yang menyenangkannya dan hawa nafsunya.” Al-Qurthubi berkata: “Syahwat adalah segala yang cocok dengan jiwa dan menyenangkannya, yang diajak kepadanya dan yang cocok dengannya. Asal kata “huffat” adalah yang mengelilingi sesuatu dan melingkupinya, yang tidak bisa dicapai kecuali setelah melewatinya.”

Pembahasan Ketiga: Yang Paling Banyak Masuk Neraka adalah Kaum Wanita

Yang paling banyak masuk neraka dari kalangan orang-orang durhaka yang bertauhid adalah kaum wanita, sebagaimana dalam Shahihain dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda dalam khutbah gerhana: “Aku diperlihatkan neraka, maka aku tidak melihat pemandangan yang lebih mengerikan dari hari ini, dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita.”

Dalam Shahihain dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Wahai sekalian kaum wanita, bersedekahlah! Karena aku melihat kalian adalah kebanyakan penghuni neraka.” Mereka bertanya: Mengapa demikian wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Kalian banyak melaknat dan mengkufuri suami.”

Dalam Shahihain dari hadits Usamah bin Zaid: “Aku berdiri di pintu neraka, ternyata kebanyakan yang memasukinya adalah kaum wanita.”

Dalam Shahih Muslim dari ‘Imran bin Hushain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya yang paling sedikit penghuni surga adalah kaum wanita.”

Hal ini tidak bertentangan dengan bahwa setiap penghuni surga memiliki lebih dari satu istri, karena yang dimaksud dengan wanita yang merupakan kebanyakan penghuni neraka adalah mereka yang dari keturunan Adam, adapun istri-istri penghuni surga yang banyak itu adalah dari bidadari.

“Sesungguhnya kaum wanita menjadi penghuni surga yang paling sedikit karena yang menguasai mereka adalah hawa nafsu dan condong kepada perhiasan dunia yang segera, karena kurang akalnya sehingga mata batin mereka tidak menembus kepada akhirat, maka mereka lemah dalam beramal untuk akhirat dan bersiap-siap untuknya, dan condong kepada dunia dan berhias untuknya. Di samping itu, mereka adalah sebab-sebab dunia yang paling kuat yang memalingkan laki-laki dari akhirat, karena ada pada mereka hawa nafsu dan kecondongan kepada mereka. Maka kebanyakan mereka berpaling dari akhirat dengan diri mereka sendiri dan memalingkan yang lain daripadanya, cepat tertipu oleh ajakan mereka yang berpaling dari agama, sulit merespons orang yang mengajak mereka kepada akhirat dan amal-amalnya dari kalangan orang bertakwa.”

Meskipun demikian, di antara mereka ada yang shalihah dalam jumlah banyak, yang menegakkan batasan-batasan Allah, berkomitmen pada syariat-Nya, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan masuk surga dari mereka dalam jumlah banyak. Di antara mereka ada yang mendahului banyak laki-laki dengan iman dan amal shalih mereka.

Bab Ketujuh: Kebesaran Bentuk Tubuh Ahli Neraka

Ahli neraka akan masuk ke dalam api neraka dengan bentuk tubuh yang sangat besar dan dahsyat yang hanya Allah Yang menciptakan mereka yang mengetahui ukurannya. Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Jarak antara kedua bahu orang kafir di dalam neraka adalah perjalanan tiga hari bagi penunggang kuda yang berjalan cepat.” Diriwayatkan oleh Muslim.

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Gigi geraham orang kafir, atau gigi taring orang kafir, seperti gunung Uhud, dan tebal kulitnya adalah perjalanan tiga hari.”

Zaid bin Arqam berkata: “Sesungguhnya seseorang dari ahli neraka akan dibesarkan untuk neraka, hingga gigi gerahamnya seperti gunung Uhud.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan ini adalah hadis marfu’, tetapi Zaid tidak menyatakan secara tegas bahwa ini marfu’.

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya tebal kulit orang kafir adalah empat puluh dua hasta, gigi gerahamnya seperti gunung Uhud, dan tempat duduknya di neraka Jahannam adalah jarak antara Makkah dan Madinah.” Diriwayatkan oleh Tirmidzi.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Gigi geraham orang kafir pada hari kiamat seperti gunung Uhud, lebar kulitnya tujuh puluh hasta, lengan atasnya seperti gunung Baidha’, pahanya seperti gunung Warqan, dan tempat duduknya di neraka adalah jarak antaraku dan Rabdzah.” Dikeluarkan oleh Hakim dan Ahmad.

Pembesaran tubuh orang kafir ini adalah agar bertambah siksa dan penderitaannya. An-Nawawi berkata dalam syarahnya terhadap hadis-hadis Muslim dalam bab ini: “Semua ini adalah agar lebih menyakitkan dalam menyiksanya, dan semua ini adalah dalam kekuasaan Allah Ta’ala yang wajib diimani karena berita dari Yang Maha Benar.” Ibnu Katsir berkomentar tentang hadis-hadis ini: “Agar hal itu lebih menyakitkan dalam menyiksa mereka, dan lebih besar dalam kepayahan dan penderitaan mereka, sebagaimana yang difirmankan oleh Dzat Yang Maha Keras siksaan-Nya: ‘Agar mereka merasakan azab’ (An-Nisa’: 56).”

Bab Kedelapan: Makanan, Minuman, dan Pakaian Ahli Neraka

Makanan ahli neraka adalah dhari’ dan zaqqum, minuman mereka adalah hamim, ghaslin, dan ghassaq. Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada makanan bagi mereka selain dari dhari’. Yang tidak menggemukkan dan tidak menghilangkan lapar” (Al-Ghasyiyah: 6-7). Dhari’ adalah duri di tanah Hijaz yang disebut syabraq. Dari Ibnu Abbas: Syabraq adalah tumbuhan berduri yang merambat di tanah, jika sudah kering disebut dhari’. Qatadah berkata: termasuk makanan yang paling hina dan paling buruk. Makanan yang dimakan ahli neraka ini tidak bermanfaat bagi mereka, mereka tidak merasakan kelezatan, dan tubuh mereka tidak mendapat manfaat darinya, maka makan mereka itu adalah salah satu jenis siksaan.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya pohon zaqqum. Makanan orang yang berdosa. Seperti cairan tembaga yang mendidih di dalam perut. Seperti didihan air yang sangat panas” (Ad-Dukhan: 43-46). Dia telah menggambarkan pohon zaqqum di ayat lain: “Apakah yang demikian itu lebih baik sebagai hidangan ataukah pohon zaqqum? Sesungguhnya Kami jadikan pohon itu siksaan bagi orang-orang yang zalim. Sesungguhnya pohon itu tumbuh dari dasar neraka Jahim. Buahnya seakan-akan kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar akan makan dari buah pohon itu, lalu mereka memenuhi perut mereka dengannya. Kemudian sesungguhnya mereka akan mendapat campuran dari air yang sangat panas. Kemudian sesungguhnya tempat kembali mereka benar-benar ke neraka Jahim” (Ash-Shaffat: 62-68).

Dan Dia berfirman di tempat lain: “Kemudian sesungguhnya kamu hai orang-orang yang sesat lagi mendustakan. Benar-benar akan memakan pohon zaqqum. Lalu memenuhi perut dengan makanan itu. Kemudian kamu akan meminum air yang sangat panas. Maka kamu minum seperti minumnya unta yang sangat haus. Itulah hidangan mereka pada hari pembalasan” (Al-Waqi’ah: 51-56).

Diambil dari ayat-ayat ini bahwa pohon ini adalah pohon yang buruk, akarnya menancap di dasar neraka, dan cabang-cabangnya menjalar ke seluruh penjuru neraka. Buah pohon ini buruk penampilannya, karena itu diumpamakan dengan kepala setan-setan. Sudah mengakar dalam jiwa keburukan kepala mereka meskipun mereka tidak melihatnya. Meskipun pohon ini buruk dan buahnya buruk, tetapi ahli neraka dilanda rasa lapar sehingga mereka tidak menemukan jalan lain kecuali makan darinya sampai mengisi perut. Ketika perut mereka penuh, makanan itu mulai mendidih di dalam perut mereka seperti mendidihnya ampas minyak, sehingga mereka merasakan kesakitan yang sangat pedih. Ketika keadaan mereka sampai pada tingkat ini, mereka bergegas ke hamim, yaitu air panas yang sangat panas, lalu mereka minum darinya seperti minum unta yang minum terus menerus dan tidak pernah puas karena penyakit yang menimpanya. Pada saat itu hamim memotong usus mereka: “Dan diberi minum air yang mendidih sehingga memotong ususnya” (Muhammad: 15). Itulah hidangan mereka pada hari yang agung itu. Semoga Allah melindungi kita dari keadaan ahli neraka dengan karunia dan kemurahan-Nya.

Ketika ahli neraka makan makanan buruk dari dhari’ dan zaqqum ini, mereka tersedak karenanya akibat keburukan, kehinaan, dan kerusakannya: “Sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang menyala-nyala. Dan makanan yang menyedak dan azab yang pedih” (Al-Muzzammil: 12-13). Makanan yang menyedak adalah makanan yang membuat yang memakannya tersedak, karena tersangkut di tenggorokannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menggambarkan kepada kita keburukan dan kengerian zaqqum, beliau bersabda: “Seandainya setetes dari zaqqum menetes di dunia ini, niscaya akan merusak penghidupan penduduk bumi, maka bagaimana dengan orang yang makanannya adalah zaqqum itu?” Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dia berkata: hadis hasan sahih.

Termasuk makanan ahli neraka adalah ghaslin. Allah Ta’ala berfirman: “Maka tidak ada baginya pada hari ini seorang teman setia pun di sini. Dan tidak ada makanan (baginya) selain dari ghaslin. Yang tidak dimakan kecuali oleh orang-orang yang berdosa” (Al-Haqqah: 35-37). Allah Ta’ala berfirman: “Inilah (azab), maka rasakanlah oleh mereka air yang mendidih dan nanah. Dan yang lain-lain yang sejenis dengan itu berpasang-pasangan” (Shad: 57-58).

Ghaslin dan ghassaq bermakna sama, yaitu cairan yang mengalir dari kulit ahli neraka berupa nanah dan darah busuk. Ada yang mengatakan: cairan yang mengalir dari kemaluan wanita-wanita pezina dan dari busuknya daging dan kulit orang-orang kafir. Al-Qurthubi berkata: itu adalah perasan ahli neraka.

Allah Yang Maha Benar telah mengabarkan bahwa ghaslin adalah salah satu dari banyak jenis yang menyerupai jenis ini dalam kengerian dan keburukannya.

Adapun minuman mereka adalah hamim. Allah Ta’ala berfirman: “Dan diberi minum air yang mendidih sehingga memotong ususnya” (Muhammad: 15). Dia berfirman: “Dan jika mereka meminta pertolongan, niscaya mereka akan ditolong dengan air seperti cairan tembaga yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek” (Al-Kahfi: 29). Dia berfirman: “Dan dia diberi minum air nanah. Yang diminumnya dengan susah payah dan hampir tidak dapat menelannya” (Ibrahim: 16-17). Dia berfirman: “Inilah (azab), maka rasakanlah oleh mereka air yang mendidih dan nanah” (Shad: 57). Ayat-ayat ini menyebutkan empat jenis minuman ahli neraka:

Pertama: Hamim, yaitu air panas yang sangat panas, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Mereka berkeliling di antara neraka itu dan air mendidih yang sangat panas” (Ar-Rahman: 44). “Aan” adalah yang sudah mencapai puncak panasnya. Allah berfirman: “Yang diberi minum dari sumber air yang sangat panas” (Al-Ghasyiyah: 5), yaitu yang sudah mencapai puncak panasnya sehingga tidak ada panas setelahnya.

Jenis kedua: Ghassaq, telah disebutkan pembahasannya, karena disebutkan dalam makanan dan minuman ahli neraka.

Jenis ketiga: Shadid, yaitu cairan yang mengalir dari daging dan kulit orang kafir. Dalam Shahih Muslim dari Jabir, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah berjanji kepada siapa yang meminum khamar untuk memberinya minum thinah al-khabal.” Mereka bertanya: “Ya Rasulullah, apakah thinah al-khabal itu?” Beliau menjawab: “Keringat ahli neraka, atau perasan ahli neraka.”

Keempat: Muhl. Dalam hadis Abu Sa’id Al-Khudri yang diriwayatkan Ahmad dan Tirmidzi, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai firman-Nya: “Seperti ampas minyak, jika didekatkan ke wajah, kulit wajahnya jatuh ke dalamnya.”

Ibnu Abbas berkata dalam tafsir muhl: “Kental seperti ampas minyak.”

Mereka Memakan Api

Di antara orang yang berdosa ada yang Allah beri makan bara api Jahannam sebagai balasan yang setimpal: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api dalam perutnya” (An-Nisa’: 10). Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Allah turunkan dari Al-Kitab dan menukarnya dengan harga yang sedikit, mereka itu sebenarnya tidak memakan ke dalam perutnya melainkan api” (Al-Baqarah: 174).

Adapun pakaian ahli neraka, Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengabarkan kepada kita bahwa untuk ahli neraka dijahitkan pakaian dari api, sebagaimana firman-Nya: “Maka orang-orang yang kafir itu dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka, disiramkan air yang mendidih atas kepala mereka” (Al-Hajj: 19). Ibrahim At-Taimi jika membaca ayat ini berkata: “Maha Suci Dzat yang menciptakan dari api berupa pakaian.”

Allah Ta’ala berfirman: “Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu. Pakaian mereka adalah dari cairan tembaga dan muka mereka ditutup oleh api” (Ibrahim: 49-50). Qithran adalah tembaga yang dicairkan. Dalam Shahih Muslim dari Abu Malik Al-Asy’ari, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Wanita yang meratap jika tidak bertaubat sebelum matinya, akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan memakai baju dari cairan tembaga dan baju besi dari kudis.”

Ibnu Majah mengeluarkan hadis ini dengan lafaz: “Wanita yang meratap jika mati dan tidak bertaubat, Allah membuatkan untuknya pakaian dari cairan tembaga dan baju besi dari kudis.”

Bab Kesembilan: Siksaan Ahli Neraka

Pembahasan Pertama: Beratnya Siksaan yang Dihadapi Ahli Neraka

Neraka siksaannya sangat berat, di dalamnya terdapat berbagai kengerian dan jenis-jenis siksaan yang membuat manusia rela mengorbankan harta yang paling berharga demi terlepas darinya: “Sesungguhnya orang-orang kafir yang mati dalam keadaan kafir, maka tidak akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, sekalipun dia menebus diri dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang pedih dan tidak ada penolong bagi mereka” (Ali Imran: 91). Allah yang Maha Benar berfirman dalam makna ini: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir, sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan ditambah lagi sebanyak itu untuk menebus diri dari azab hari kiamat, niscaya tidak akan diterima dari mereka, dan mereka akan mendapat azab yang pedih” (Al-Ma’idah: 36).

Dalam Shahih Muslim dari Anas bin Malik, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang paling bersenang-senang di dunia dari kalangan ahli neraka akan didatangkan pada hari kiamat, lalu dicelupkan ke dalam neraka sekali celup, kemudian dikatakan kepadanya: ‘Hai anak Adam, apakah kamu pernah melihat kebaikan? Apakah pernah berlalu atasmu kenikmatan?’ Maka dia menjawab: ‘Tidak, demi Allah ya Rabbku.'”

Beberapa saat saja yang membuat orang kafir yang paling bersenang-senang lupa terhadap semua waktu kebahagiaan dan kenikmatan.

Dalam Shahihain dari Anas bin Malik, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman kepada ahli neraka yang paling ringan siksaannya: ‘Seandainya kamu memiliki dunia dan apa yang ada di dalamnya, apakah kamu akan menebus diri dengannya?’ Dia menjawab: ‘Ya.’ Allah berfirman: ‘Aku menginginkan darimu yang lebih mudah dari itu ketika kamu masih di tulang sulbi Adam, yaitu agar kamu tidak menyekutukan-Ku (aku kira dia berkata:) dan Aku tidak akan memasukkanmu ke neraka, tetapi kamu menolak kecuali berbuat syirik.'”

Sesungguhnya beratnya neraka dan kengeriannnya membuat manusia kehilangan akal sehatnya, dan membuatnya rela berkorban dengan semua kekasihnya agar selamat dari neraka, padahal tidak mungkin baginya selamat: “Orang yang berdosa ingin sekiranya ia dapat menebus diri dari azab hari itu dengan anak-anaknya. Dan istri serta saudaranya. Dan kaum keluarganya yang melindunginya. Dan seluruh orang yang ada di bumi, kemudian (tebusan itu) dapat menyelamatkannya. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak. Yang menghanguskan kulit kepala” (Al-Ma’arij: 11-16).

Siksaan yang dahsyat dan berkesinambungan ini membuat kehidupan para penjahat ini dalam kegelisahan yang terus-menerus dan penderitaan yang berkelanjutan.

Pembahasan Kedua: Gambaran-gambaran Siksaan Mereka (Bagian Pertama)

Pembahasan Pertama: Perbedaan Siksaan Ahli Neraka

Karena neraka terdiri dari tingkatan-tingkatan yang sebagiannya lebih berat siksaan dan kengeriannnya dari yang lain, maka penghuninya berbeda-beda dalam siksaan. Dalam hadis yang diriwayatkan Muslim dan Ahmad dari Samurah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda tentang ahli neraka: “Sesungguhnya di antara mereka ada yang api membakarnya sampai mata kakinya, di antara mereka ada yang membakarnya sampai lututnya, di antara mereka ada yang membakarnya sampai pinggangnya, dan di antara mereka ada yang membakarnya sampai tulang selangkanya.” Dalam riwayat lain disebutkan “sampai lehernya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menceritakan kepada kita tentang ahli neraka yang paling ringan siksaannya. Dalam Shahih Bukhari dari Nu’man bin Basyir, dia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ahli neraka yang paling ringan siksaannya pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang diletakkan di telapak kakinya bara api yang membuatnya otaknya mendidih.” Dalam riwayat lain dalam Shahih Bukhari juga dari Nu’man bin Basyir: “Sesungguhnya ahli neraka yang paling ringan siksaannya pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang di telapak kakinya ada dua bara api yang membuatnya otaknya mendidih seperti mendidihnya panci di atas kompor.”

Dalam riwayat dari Nu’man bin Basyir yang diriwayatkan Muslim: “Sesungguhnya ahli neraka yang paling ringan siksaannya adalah orang yang memiliki sandal dan tali sandal dari api, yang membuatnya otaknya mendidih seperti mendidihnya panci. Dia tidak melihat ada yang lebih berat siksaannya darinya, padahal dialah yang paling ringan siksaannya.”

Dalam Shahih Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ahli neraka yang paling ringan siksaannya adalah yang memakai sandal dari api yang membuatnya otaknya mendidih karena panasnya sandalnya.”

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disebutkan di hadapannya pamannya Abu Thalib, maka beliau bersabda: “Mudah-mudahan syafaatku bermanfaat baginya pada hari kiamat, sehingga dia ditempatkan di tempat dangkal dari neraka yang sampai mata kakinya, yang membuat otaknya mendidih.”

Nash-nash Al-Quran juga membenarkan perbedaan ahli neraka dalam siksaan, seperti firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka” (An-Nisa’: 145), firman-Nya: “Dan pada hari terjadinya kiamat: ‘Masukkanlah Fir’aun dan pengikutnya ke dalam azab yang sangat keras'” (Ghafir: 46), dan firman-Nya: “Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka azab di atas azab disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan” (An-Nahl: 88).

Al-Qurthubi berkata dalam topik ini: “Bab ini menunjukkan kepadamu bahwa kekafiran orang yang hanya kafir saja, tidak sama dengan kekafiran orang yang melampaui batas, kafir, durhaka, dan bermaksiat. Tidak diragukan lagi bahwa orang-orang kafir dalam siksaan neraka Jahannam berbeda-beda sebagaimana yang telah diketahui dari Al-Kitab dan As-Sunnah, dan karena kita mengetahui dengan pasti bahwa siksaan orang yang membunuh para nabi dan kaum muslimin, melakukan pembantaian terhadap mereka, berbuat kerusakan di bumi, dan kafir, tidak sama dengan siksaan orang yang hanya kafir saja dan berbuat baik kepada para nabi dan kaum muslimin. Tidakkah kamu lihat Abu Thalib bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeluarkannya ke tempat yang dangkal karena pertolongannya kepada beliau, pembelaannya terhadap beliau, dan kebaikannya kepada beliau? Hadis Muslim dari Samurah dapat diartikan berlaku untuk orang-orang kafir dengan dalil hadis Abu Thalib, dan dapat juga diartikan berlaku untuk orang-orang muwahhid (yang bertauhid) yang disiksa.”

Ibnu Rajab berkata: “Ketahuilah bahwa perbedaan ahli neraka dalam siksaan adalah sesuai dengan perbedaan amal-amal mereka yang menyebabkan mereka masuk neraka.” Kemudian dia menyebutkan dalil-dalil yang menunjukkan hal itu, dan menyebutkan perkataan Ibnu Abbas: “Tidaklah sama hukuman orang yang kekafirannya berat, berbuat kerusakan di bumi, dan menyeru kepada kekafiran dengan orang yang tidak demikian.” Kemudian Ibnu Rajab berkata: “Demikian juga perbedaan siksaan para pelaku maksiat dari kalangan muwahhidin di dalam neraka sesuai dengan amal-amal mereka. Tidaklah sama hukuman ahli dosa besar dengan hukuman ahli dosa kecil. Mungkin ada yang diringankan siksaannya karena kebaikan-kebaikan lain yang dimilikinya atau karena sebab-sebab yang dikehendaki Allah, dan karena itu sebagian dari mereka mati di dalam neraka.”

Pembahasan Kedua: Pematangan Kulit

Api Tuhan Yang Mahaperkasa membakar kulit-kulit penghuni neraka, dan kulit adalah tempat merasakan rasa sakit akibat terbakar. Oleh karena itu, Allah mengganti kulit-kulit mereka dengan kulit-kulit lain selain yang telah terbakar, agar terbakar lagi, dan begitu seterusnya. “Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 56)

Pembahasan Ketiga: Peleburan

Di antara jenis-jenis siksaan adalah menuangkan air mendidih di atas kepala mereka. Hamim adalah air yang telah mencapai panas yang ekstrem. Karena panasnya yang sangat, ia melelehkan usus mereka dan apa yang dikandung perut mereka. “Maka orang-orang yang kafir dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka, disiramkan air yang sangat panas atas kepala mereka. Dengan air panas itu dileburkan apa yang di dalam perut mereka dan juga kulit mereka.” (QS. Al-Hajj: 19-20)

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari hadis Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya hamim (air mendidih) dituangkan di atas kepala mereka, lalu menembus hingga sampai ke dalam perut mereka dan meleburkan apa yang ada dalam perut mereka, hingga keluar dari telapak kaki mereka. Itulah peleburan, kemudian mereka kembali seperti semula.” Ia berkata: hasan gharib sahih.

Pembahasan Keempat: Hembusan Api

Yang paling mulia pada manusia adalah wajahnya, oleh karena itu Rasul shallallahu alaihi wa sallam melarang kita memukul wajah. Di antara penghinaan Allah terhadap penghuni neraka adalah bahwa mereka dikumpulkan pada hari kiamat dengan wajah tersungkur dalam keadaan buta, tuli, dan bisu. “Dan Kami kumpulkan mereka pada hari kiamat dalam keadaan tersungkur atas muka mereka, buta, bisu dan tuli, tempat tinggal mereka ialah Jahannam. Setiap kali api itu akan padam, Kami kobarkan lagi bagi mereka nyalanya.” (QS. Al-Isra: 97). Mereka dilemparkan ke dalam neraka dengan wajah tersungkur “Dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka wajah mereka ditiarapkan ke dalam neraka. Apakah kamu diberi balasan, melainkan (setimpal) dengan apa yang telah kamu kerjakan?” (QS. An-Naml: 90)

Api menyambar wajah mereka dan menutupinya selamanya, mereka tidak menemukan penghalang yang menghalangi antara mereka dengan api tersebut. “Kalau sekiranya orang-orang kafir mengetahui, ketika mereka tidak dapat menghindarkan api neraka dari muka mereka, dan tidak (pula) dari punggung mereka, sedang mereka tidak mendapat pertolongan.” (QS. Al-Anbiya: 39). “Api itu menyambar muka mereka, sedang mereka di dalam neraka itu bermuka masam.” (QS. Al-Mu’minun: 104). “Pakaian mereka adalah dari ter, dan muka mereka ditutup oleh api neraka.” (QS. Ibrahim: 50). “Maka apakah orang yang melindungi mukanya dari azab yang buruk pada hari kiamat (sama dengan orang yang aman daripadanya)?” (QS. Az-Zumar: 24). Lihatlah pemandangan yang mengerikan ini yang membuat bulu kuduk berdiri: “(Ingatlah) hari (ketika) muka mereka dibolak-balik dalam api neraka, mereka berkata: ‘Alangkah baiknya kalau kami dahulu taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.'” (QS. Al-Ahzab: 66). Pernahkah kamu melihat bagaimana daging dibolak-balik di atas api, dan ikan dalam wajan, begitulah wajah mereka dibolak-balik dalam api neraka. Kita berlindung kepada Allah dari siksaan penghuni neraka.

Pembahasan Kelima: Penyeretan

Di antara jenis siksaan yang pedih adalah menyeret orang-orang kafir dalam neraka dengan wajah tersungkur. “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan dan api yang menyala-nyala. (Yaitu) di hari ketika mereka diseret ke dalam api dengan muka mereka tersungkur (kepada mereka dikatakan): ‘Rasakanlah sentuhan Saqar.'” (QS. Al-Qamar: 47-48). Yang menambah kesakitan mereka ketika diseret dalam neraka adalah bahwa mereka dibelenggu dengan belenggu, borgol, dan rantai. “Maka kelak mereka akan mengetahui (akibat kekafiran mereka), yaitu ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang mendidih, kemudian mereka dibakar dalam api.” (QS. Ghafir: 70-72). Qatadah berkata: mereka diseret sekali dalam neraka dan sekali dalam air mendidih.

Pembahasan Keenam: Penghitaman Wajah

Allah menghitamkan wajah penghuni neraka di akhirat. “Pada hari ketika ada muka yang putih berseri, dan ada muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): ‘Mengapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.'” (QS. Ali Imran: 106). Itu adalah kehitaman yang sangat, seakan-akan kegelapan malam menyelimuti wajah mereka. “Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan mendapat balasan yang setimpal dan mereka ditudungi kehinaan. Mereka tiada memperoleh pelindung dari (azab) Allah sedikitpun. Seakan-akan muka mereka ditudungi dengan kepingan-kepingan malam yang sangat gelap. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Yunus: 27)

Gambaran Siksaan Mereka (Bagian Kedua)

Pembahasan Ketujuh: Neraka Mengepung Orang Kafir

Penghuni neraka adalah orang-orang kafir yang dikepung oleh dosa-dosa dan kemaksiatan mereka, sehingga tidak tersisa satu kebaikan pun bagi mereka, sebagaimana firman Allah dalam menjawab orang-orang Yahudi yang berkata: api neraka tidak akan menyentuh kami kecuali beberapa hari saja. “(Bukan demikian) bahkan barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 81). Seseorang tidak akan demikian kecuali jika ia kafir dan musyrik. Shiddiq Hasan Khan berkata: “Yang dimaksud dengan dosa di sini adalah jenisnya, dan pasti sebabnya mengepung dari semua sisinya, sehingga tidak tersisa kebaikan baginya, dan tertutup baginya jalan-jalan keselamatan. Kekal di neraka adalah bagi orang-orang kafir dan musyrik, maka dipastikan penafsiran dosa dan kesalahan dalam ayat ini adalah kekafiran dan kemusyrikan. Dengan ini batal berpegang teguhnya kaum Mu’tazilah dan Khawarij terhadap apa yang telah ditetapkan dalam Sunnah secara mutawatir tentang keluarnya orang-orang mukmin yang durhaka dari neraka.”

Ketika kesalahan dan dosa mengepung orang kafir seperti gelang mengepung pergelangan tangan, maka balasan sesuai dengan amal, oleh karena itu api neraka mengepung orang kafir dari segala penjuru, sebagaimana firman Allah: “Bagi mereka dari neraka Jahannam ada hamparan (di bawah) dan dari atas mereka ada tutupan (pula).” (QS. Al-A’raf: 41). Mihad adalah apa yang ada di bawah mereka, dan ghawasy jamak dari ghasyiyah yaitu yang menutupi mereka dari atas. Yang dimaksud adalah bahwa api mengepung mereka dari atas dan dari bawah, sebagaimana firman Allah: “(Yaitu) hari ketika azab itu meliputi mereka dari atas dan dari bawah kaki mereka.” (QS. Al-Ankabut: 55). Dan berfirman di tempat lain: “Bagi mereka lapisan-lapisan api di atasnya dan lapisan-lapisan (api pula) di bawahnya.” (QS. Az-Zumar: 16). Allah telah menyatakan secara tegas tentang pengepungan ini di tempat lain: “Dan sesungguhnya neraka Jahannam benar-benar meliputi orang-orang kafir.” (QS. At-Taubah: 49). Sebagian salaf menafsirkan mihad dengan tempat tidur dan ghawasy dengan selimut.

Pengepungan datang dari sisi lain, yaitu neraka memiliki dinding yang mengepung orang kafir, sehingga mereka tidak dapat meninggalkannya atau keluar darinya, sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang yang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta pertolongan, niscaya mereka akan diberi pertolongan dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. Al-Kahf: 29). Suradiq neraka adalah dinding dan temboknya yang mengepungnya.

Pembahasan Kedelapan: Api Mencapai Hati

Telah kami sebutkan bahwa tubuh penghuni neraka membesar luar biasa dalam neraka, meskipun demikian api masuk ke dalam tubuh mereka hingga mencapai bagian terdalam dari mereka. “Kelak akan Aku masukkan dia ke dalam Saqar. Tahukah kamu apakah Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. Yang hangus membakar kulit manusia.” (QS. Al-Muddatstsir: 26-29). Sebagian salaf berkata tentang firman-Nya “tidak meninggalkan dan tidak membiarkan”: “Ia memakan tulang, daging, dan sumsum dan tidak meninggalkannya.”

Dan Allah Yang Maha Benar lagi Maha Tinggi berfirman: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Hutamah. Tahukah kamu apakah Hutamah itu? (Yaitu) api (azab) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati.” (QS. Al-Humazah: 4-7).

Muhammad bin Ka’b Al-Qurazi berkata: “Api memakannya sampai ke hatinya, jika telah sampai ke hatinya, diciptakan kembali tubuhnya.” Dari Tsabit Al-Bunani bahwa ia membaca ayat ini, lalu berkata: “Api membakar mereka sampai ke hati sedangkan mereka hidup, sungguh siksaan telah sampai pada mereka,” kemudian ia menangis.

Pembahasan Kesembilan: Tercecernya Usus dalam Neraka

Dalam Shahihain dari Usamah bin Zaid dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam beliau bersabda: “Didatangkan seorang laki-laki pada hari kiamat, lalu dilemparkan ke dalam neraka, maka tercecer ususnya dalam neraka, ia berputar seperti keledai berputar dengan kincirnya. Maka penghuni neraka berkumpul padanya dan berkata: ‘Hai fulan, ada apa denganmu? Bukankah engkau dulu menyuruh kami berbuat makruf dan melarang kami dari yang mungkar?’ Ia menjawab: ‘Aku dulu menyuruh kalian berbuat makruf tetapi aku tidak mengerjakannya, dan aku melarang kalian dari yang mungkar tetapi aku mengerjakannya.'”

Di antara yang menyeret ususnya dalam neraka adalah Amr bin Luhay, yaitu orang pertama yang mengubah agama orang Arab. Rasul shallallahu alaihi wa sallam telah melihatnya menyeret ususnya dalam neraka. Dalam Shahihain dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat Amr bin Amir Al-Khuza’i menyeret ususnya dalam neraka. Dialah orang pertama yang melepas Sa’ibah (unta yang dilepas untuk berhala).”

Pembahasan Kesepuluh: Belenggu, Borgol, Rantai, dan Pemukul Penghuni Neraka

Allah menyediakan untuk penghuni neraka rantai, borgol, belenggu, dan pemukul. “Sesungguhnya Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir rantai, belenggu dan api yang menyala-nyala.” (QS. Al-Insan: 4). “Sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu (yang berat) dan neraka yang menyala-nyala, dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan azab yang pedih.” (QS. Al-Muzzammil: 12-13). Borgol dipasang di leher. “Dan Kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Apakah mereka diberi balasan melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan?” (QS. Saba: 33). “Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret.” (QS. Ghafir: 71). Ankal adalah belenggu, dinamakan ankal karena Allah menyiksa dan menghukum mereka dengannya. “Sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu (yang berat) dan neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Muzzammil: 12). Rantai adalah jenis lain dari siksaan yang digunakan untuk membelenggu para penjahat sebagaimana penjahat dibelenggu di dunia. Lihatlah gambaran yang diberitakan kepada kita oleh Al-Quran: “(Kepada malaikat diperintahkan): ‘Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya, kemudian masukkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala, kemudian belenggulah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.'” (QS. Al-Haqqah: 30-32).

Allah menyediakan untuk penghuni neraka pemukul dari besi, yaitu palu yang menimpa para penjahat ketika mereka berusaha keluar dari neraka, maka palu itu melemparkan mereka kembali ke tengah-tengah neraka. “Dan bagi mereka ada pemukul-pemukul dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka karena kesengsaraan, mereka dikembalikan ke dalamnya (dan dikatakan kepada mereka): ‘Rasakanlah azab yang membakar.'” (QS. Al-Hajj: 21-22).

Pembahasan Kesebelas: Menggabungkan Sembahan dan Setan Mereka Bersama Mereka dalam Neraka

Orang-orang kafir dan musyrik mengagungkan tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah, membela mereka, dan mengorbankan jiwa dan harta demi itu. Pada hari kiamat Allah memasukkan tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah ke dalam neraka sebagai penghinaan bagi penyembahnya dan untuk merendahkan mereka, agar mereka tahu bahwa mereka sesat, menyembah yang tidak mampu memberi mudarat atau manfaat kepada mereka. “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah umpan Jahannam, kamu semua akan masuk ke dalamnya. Sekiranya tuhan-tuhan itu benar-benar tuhan tentulah mereka tidak masuk neraka, dan mereka semua akan kekal di dalamnya.” (QS. Al-Anbiya: 98-99).

Ibnu Rajab berkata: “Ketika orang kafir menyembah tuhan-tuhan selain Allah dan meyakini bahwa mereka akan memberi syafaat di sisi Allah dan mendekatkan mereka kepada-Nya, mereka dihukum dengan dijadikan bersama mereka dalam neraka sebagai penghinaan dan perendahan bagi mereka, serta untuk menyakitkan dan menyempurnakan penyesalan dan kerugian mereka. Karena seseorang jika digabungkan dalam siksaan dengan yang menjadi sebab siksaannya, itu lebih pedih dalam rasa sakit dan penyesalannya.”

Karena itu pada hari kiamat matahari dan bulan dilemparkan ke dalam neraka untuk menjadi bahan bakar neraka, sebagai teguran bagi orang-orang zalim yang menyembah keduanya selain Allah. Dalam hadis: “Matahari dan bulan digulung dalam neraka.”

Al-Qurtubi berkata: “Keduanya dikumpulkan dalam neraka bukan karena api menjadi siksaan bagi keduanya, karena keduanya benda mati, tetapi hal itu dilakukan sebagai tambahan teguran bagi orang kafir dan penyesalan mereka. Demikian kata sebagian ahli ilmu.”

Untuk makna ini orang kafir digabungkan dengan setan-setan mereka agar siksaan mereka lebih pedih: “Dan barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Penyayang, Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu menghalangi mereka dari jalan (yang benar), dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk, hingga apabila orang-orang kafir itu datang kepada Kami, dia berkata: ‘Aduhai, alangkah baiknya kalau antara aku dan kamu ada jarak sejauh timur dan barat, maka setan itu adalah seburuk-buruk teman.’ Dan sekali-kali tidak akan bermanfaat bagi kamu pada hari itu ketika kamu telah menganiaya (diri sendiri), bahwa kamu bersama-sama menanggung azab.” (QS. Az-Zukhruf: 36-39).

Pembahasan Keduabelas: Penyesalan, Kerugian, dan Doa Mereka

Ketika orang kafir melihat neraka, mereka menyesal dengan penyesalan yang sangat, tetapi sudah terlambat untuk menyesal. “Dan mereka menyembunyikan penyesalan ketika mereka melihat azab. Dan diputuskan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dianiaya.” (QS. Yunus: 54). Ketika orang kafir melihat catatan amal perbuatannya dan melihat kekafiran dan kemusyrikannya yang membuatnya pantas kekal dalam neraka, ia berdoa meminta kebinasaan dan kehancuran. “Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka dia akan berteriak: ‘Celakalah aku!’ dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala.” (QS. Al-Insyiqaq: 10-12).

Doa mereka meminta celaka dan kehancuran berulang ketika mereka dilemparkan ke dalam neraka dan merasakan panasnya. “Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana memohon kebinasaan. (Dikatakan kepada mereka): ‘Janganlah kamu memohon kebinasaan yang satu pada hari ini dan mohonlah kebinasaan yang banyak.'” (QS. Al-Furqan: 13-14). Di sana tinggi teriakan mereka dan keras ratapan mereka, mereka berdoa kepada Tuhan mereka berharap agar dikeluarkan dari neraka. “Dan mereka berteriak di dalamnya: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.'” (QS. Fathir: 37). Mereka mengakui pada saat itu kesesatan, kekafiran, dan kebodohan mereka. “Dan mereka berkata: ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya kami tidak termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.'” (QS. Al-Mulk: 10). “Mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan untuk keluar (dari neraka)?'” (QS. Ghafir: 11).

Tetapi permintaan mereka ditolak dengan tegas, dan mereka dijawab dengan jawaban yang pantas bagi binatang ternak. “Mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, kami telah dikalahkan oleh kecelakaan kami dan kami adalah kaum yang sesat. Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari neraka itu, jika kami kembali (juga berbuat dosa), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.’ Allah berfirman: ‘Tinggallah dengan hina di dalamnya dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.'” (QS. Al-Mu’minun: 106-108).

Sungguh telah pasti bagi mereka ketetapan itu, dan mereka sampai pada tempat kembali yang tidak berguna doa dan tidak diterima harapan. “Dan (alangkah ngerinya) kalau kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): ‘Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.’ Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (untuk beriman), akan tetapi telah pasti berlaku perkataan dari-Ku: ‘Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.’ Maka rasakanlah (azab ini) karena kamu melupakan pertemuan dengan harimu ini. Sesungguhnya Kami-pun melupakan kamu dan rasakanlah azab yang kekal disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 12-14).

Setelah itu penghuni neraka beralih menyeru penjaga neraka, meminta mereka untuk memohonkan syafaat agar Allah meringankan sedikit dari yang mereka derita. “Dan orang-orang yang di dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahannam: ‘Berdoalah kepada Tuhanmu supaya Dia mengurangi azab kami barang sehari saja.’ Mereka menjawab: ‘Bukankah telah datang kepada kamu rasul-rasul kamu membawa keterangan-keterangan yang nyata?’ Mereka menjawab: ‘Benar.’ Mereka berkata: ‘Karena itu berdoalah!’ Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka.” (QS. Ghafir: 49-50).

Pada saat itu mereka meminta syafaat agar Tuhan mereka menghancurkan mereka. “Dan mereka berseru: ‘Hai Malik! Biarlah Tuhanmu mematikan kami saja.’ Malik menjawab: ‘Sesungguhnya kamu akan kekal (di neraka ini).'” (QS. Az-Zukhruf: 77).

Itulah penolakan terhadap semua yang mereka minta: tidak ada jalan keluar dari neraka, tidak ada keringanan dari siksaannya, dan tidak ada kehancuran. Yang ada hanyalah siksa abadi yang kekal dan terus-menerus. Pada saat itu dikatakan kepada mereka: “Maka bersabarlah kamu atau tidak bersabar, sama saja bagimu; sesungguhnya kamu hanya diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Ath-Thur: 16).

Di sanalah tangis mereka semakin keras, air mata mereka mengalir deras, dan tangisan mereka berkepanjangan. “Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai balasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. At-Taubah: 82). Sesungguhnya mereka menangis hingga air mata mereka habis, kemudian mereka menangis darah. Air mata mereka meninggalkan bekas di wajah mereka sebagaimana banjir meninggalkan bekas di batu. Dalam Mustadrak Al-Hakim dari Abdullah bin Qais bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya penghuni neraka menangis hingga seandainya kapal dilayarkan di air mata mereka, niscaya kapal itu akan berlayar. Dan sesungguhnya mereka menangis darah menggantikan air mata.”

Dari Anas bin Malik secara marfu’ dengan lafal: “Tangisan dikirimkan kepada penghuni neraka, maka mereka menangis hingga air mata mereka habis, kemudian mereka menangis darah hingga terbentuk di wajah mereka seperti alur. Seandainya kapal dilayarkan di dalamnya, niscaya kapal itu akan berlayar.”

Sungguh, orang-orang zalim ini telah merugikan diri mereka sendiri dan keluarga mereka ketika mereka lebih memilih kekufuran daripada keimanan. Dengarkanlah ratapan mereka ketika mereka mengulang-ulang dalam keadaan tersiksa: “(Ingatlah) hari ketika muka mereka dibolak-balik dalam neraka, mereka berkata: ‘Aduhai kiranya kami dahulu taat kepada Allah dan taat (pula) kepada rasul.’ Dan mereka berkata: ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, berilah mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.'” (QS. Al-Ahzab: 66-68).

Dan renungkanlah firman Allah Ta’ala yang menggambarkan keadaan mereka—semoga Allah melindungi kita dari keadaan mereka: “Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan suara mendesah dan merintih, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (lain).” (QS. Hud: 106). Az-Zajjaj berkata: Zafir adalah suara rintihan yang sangat keras akibat kesedihan yang amat dalam. Dikatakan pula: zafir adalah menahan nafas di dada karena ketakutan yang sangat hingga tulang rusuk mengembang karenanya. Sedangkan syahiq adalah nafas panjang yang memanjang, atau mengembalikan nafas ke dada. Keduanya menunjukkan beratnya kesedihan dan duka mereka serta menyerupakan keadaan mereka dengan orang yang dikuasai panas di hatinya dan jiwanya terkurung di dalamnya.

Al-Laits berkata: Zafir adalah seseorang memenuhi dadanya dengan nafas ketika dalam kesedihan yang sangat dan mengeluarkannya, sedangkan syahiq adalah mengeluarkan nafas tersebut.

Pasal Kesepuluh: Bagaimana Manusia Melindungi Diri dari Api Allah?

Karena kekufuran adalah sebab kekalnya di neraka, maka keselamatan dari neraka adalah dengan iman dan amal saleh. Oleh karena itu, orang-orang Muslim memohon kepada Tuhan mereka dengan iman mereka agar menyelamatkan mereka dari neraka: “(Yaitu) orang-orang yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.'” (QS. Ali Imran: 16). “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan dia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (ada) yang menyeru kepada iman, (yaitu): ‘Berimanlah kamu kepada Tuhanmu’, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS. Ali Imran: 191-194).

Nash-nash telah merinci masalah ini dengan menerangkan amalan-amalan yang melindungi dari neraka. Di antaranya adalah cinta kepada Allah. Dalam Mustadrak Al-Hakim dan Musnad Ahmad dari Anas bin Malik, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Demi Allah, Allah tidak akan melemparkan kekasih-Nya ke dalam neraka.”

Dan puasa adalah perisai dari neraka. Dalam Musnad Ahmad dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman dengan sanad hasan dari Jabir bin Abdullah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Puasa adalah perisai yang dengannya seseorang berlindung dari neraka.'”

Dan dalam Al-Baihaqi dalam As-Syu’ab dari hadis Utsman bin Abi Al-Ash dari Nabi ﷺ: “Puasa adalah perisai dari azab Allah.” Diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ibnu Khuzaimah dengan sanad sahih.

Adapun jika puasa dilakukan ketika berjihad melawan musuh, maka itulah kemenangan yang besar. Dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh tujuh puluh tahun.” Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i.

Di antara yang menyelamatkan dari neraka adalah takut kepada Allah dan jihad di jalan Allah: “Dan bagi orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya ada dua surga.” (QS. Ar-Rahman: 46). At-Tirmidzi dan An-Nasa’i dalam Sunan mereka meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak akan masuk neraka seorang laki-laki yang menangis karena takut kepada Allah hingga susu kembali ke ambing, dan tidak akan berkumpul debu di jalan Allah dengan asap jahannam.”

Dalam Sahih Al-Bukhari dari Ibnu Abbas—yaitu Abdurrahman bin Jubair—dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah berdebu kedua kaki seorang hamba di jalan Allah, lalu api menyentuhnya.” Dalam Sahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak akan berkumpul seorang kafir dengan yang membunuhnya di neraka selamanya.”

Di antara yang melindungi hamba dari neraka adalah meminta perlindungan hamba kepada Allah dari neraka: “Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.'” (QS. Al-Furqan: 65-66). Dalam Musnad Ahmad, Sunan Ibnu Majah, Sahih Ibnu Hibban, dan Mustadrak Al-Hakim dengan sanad sahih dari Anas, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seseorang meminta surga kepada Allah tiga kali, melainkan surga berkata: ‘Ya Allah, masukkan dia ke surga.’ Dan tidaklah seorang Muslim meminta perlindungan kepada Allah dari neraka tiga kali, melainkan neraka berkata: ‘Ya Allah, lindungi dia dariku.'”

Dalam Sahihain dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi ﷺ dalam menyebutkan malaikat-malaikat yang mencari majelis-majelis zikir, di dalamnya disebutkan: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla bertanya kepada mereka padahal Dia lebih tahu tentang mereka, maka Dia berfirman: ‘Dari apa mereka meminta perlindungan?’ Mereka menjawab: ‘Dari neraka.’ Dia berfirman: ‘Apakah mereka melihatnya?’ Mereka menjawab: ‘Tidak demi Allah wahai Tuhan kami, mereka tidak melihatnya.’ Dia berfirman: ‘Bagaimana kalau mereka melihatnya?’ Mereka menjawab: ‘Kalau mereka melihatnya, tentu mereka lebih keras larinya dan lebih takut daripadanya.’ Maka saksikanlah bahwa Aku telah mengampuni mereka.'”

 

 

BAB KEDUA: SURGA

Surga: Definisi dan Penjelasan

Surga adalah balasan yang agung dan pahala yang berlimpah yang Allah sediakan untuk para wali-Nya dan orang-orang yang taat kepada-Nya. Surga adalah kenikmatan yang sempurna, tidak tercampur dengan kekurangan, dan tidak keruh kejernihannya dengan kekeruhan. Apa yang Allah ceritakan kepada kita tentangnya dan apa yang Rasul ﷺ kabarkan kepada kita membuat akal bingung dan terpana, karena membayangkan kebesaran kenikmatan itu membuat akal tidak mampu memahami dan menampungnya.

Dengarkanlah firman-Nya Tabaraka wa Ta’ala dalam hadis qudsi: “Aku telah menyediakan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia.” Kemudian Rasul ﷺ bersabda: “Bacalah jika kalian mau: ‘Tak seorangpun mengetahui berbagai kenikmatan mata yang menanti mereka.'” (QS. As-Sajdah: 17).

Kebesaran kenikmatan itu tampak dengan membandingkannya dengan kesenangan dunia. Sesungguhnya kesenangan dunia di samping kenikmatan akhirat adalah remeh dan hina, tidak ada nilainya sama sekali. Dalam Sahih Al-Bukhari dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Tempat sebesar cambuk di surga lebih baik dari dunia dan seisinya.”

Oleh karena itu, masuk surga dan selamat dari neraka menurut ketentuan dan takdir Allah adalah keberuntungan yang besar, kemenangan yang agung, dan keselamatan yang terbesar. Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.” (QS. Ali Imran: 185). Dan Dia berfirman: “Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (QS. At-Taubah: 72). Dan Dia juga berfirman: “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An-Nisa: 13).

Pasal Pertama: Masuk Surga

Tidak diragukan bahwa kebahagiaan orang-orang beriman tidak ada yang menyamainya ketika mereka digiring dengan terhormat dan dimuliakan secara berkelompok menuju surga-surga yang penuh kenikmatan. Hingga ketika mereka sampai di sana, pintu-pintunya dibuka dan malaikat-malaikat yang mulia menyambut mereka dengan mengucapkan selamat atas keselamatan kedatangan, setelah apa yang mereka alami dari kesedihan dan apa yang mereka saksikan dari kengerian: “Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke surga secara berombongan pula. Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: ‘Keselamatan atasmu, kamu telah berbuat baik, maka masuklah ke dalamnya, sedang kamu kekal di dalamnya.'” (QS. Az-Zumar: 73). Artinya, amal, perkataan, dan keyakinan kalian telah baik, sehingga jiwa kalian menjadi suci dan hati kalian menjadi bersih. Dengan demikian kalian berhak mendapat surga-surga itu.

Pembahasan Pertama: Syafaat untuk Masuk Surga

Telah tetap dalam hadis-hadis sahih bahwa orang-orang beriman ketika lama berdiri di padang mahsyar pada hari pembalasan, mereka meminta para nabi agar membukakan pintu surga untuk mereka. Semuanya menolak dan enggan, serta berkata: “Aku bukan untuk itu,” hingga urusan sampai kepada Nabi kita Muhammad ﷺ lalu beliau memberi syafaat untuk itu, maka diizinkan. Dalam Sahih Muslim dari Huzaifah bin Al-Yaman dan Abu Hurairah radhiyallahu anhuma, keduanya berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah Tabaraka wa Ta’ala mengumpulkan manusia, maka berdirilah orang-orang beriman hingga surga didekatkan kepada mereka. Lalu mereka mendatangi Adam dan berkata: ‘Wahai bapak kami, bukakanlah surga untuk kami.’ Maka dia berkata: ‘Tidakkah dosa bapak kalianlah yang mengeluarkan kalian dari surga? Aku bukan ahli untuk itu…'” (hadis ini panjang).

Dan disebutkan di dalamnya penolakan para nabi untuk itu, hingga mereka mendatangi Muhammad ﷺ, lalu diizinkan untuk mereka.

Pembahasan Kedua: Pendidikan dan Pembersihan Orang-Orang Beriman Sebelum Masuk

Setelah orang-orang beriman melewati shirath, mereka dihentikan di atas jembatan antara surga dan neraka, kemudian mereka dididik dan dibersihkan. Yaitu dengan diambilkan qishas sebagian mereka dari sebagian yang lain jika ada kezaliman di antara mereka di dunia, hingga ketika mereka masuk surga, mereka dalam keadaan suci dan baik, tidak ada seorang pun yang memiliki kezaliman terhadap yang lain, dan tidak ada yang menuntut sesuatu dari yang lain.

Al-Bukhari dalam Sahih-nya meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang-orang beriman diselamatkan dari neraka, lalu mereka ditahan di atas jembatan antara surga dan neraka. Kemudian diambilkan qishas sebagian mereka dari sebagian yang lain karena kezaliman yang ada di antara mereka di dunia, hingga ketika mereka telah dididik dan dibersihkan, diizinkanlah mereka masuk surga. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, salah seorang dari mereka lebih tahu tentang tempat tinggalnya di surga daripada tempat tinggalnya di dunia.”

Rasul kita ﷺ adalah orang pertama yang membuka surga setelah bapak manusia Adam dan para rasul ulul azmi enggan mengambil tugas ini.

Pembahasan Ketiga: Yang Pertama Masuk Surga

Manusia pertama yang masuk surga secara mutlak adalah Rasul kita Muhammad ﷺ, dan umat yang pertama masuk surga adalah umatnya, dan orang pertama yang masuk surga dari umat ini setelah nabinya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu.

Ibnu Katsir telah menyebutkan hadis-hadis yang diriwayatkan tentang hal itu. Di antaranya yang diriwayatkan Muslim dalam Sahih-nya dari Anas, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku yang pertama mengetuk” yaitu pintu surga. Dan di dalamnya juga: “Aku pemberi syafaat pertama di surga.”

Muslim meriwayatkan dari Anas juga, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku datang ke pintu surga lalu meminta dibukakan. Penjaga berkata: ‘Siapa kamu?’ Aku menjawab: ‘Muhammad.’ Dia berkata: ‘Untuk kamulah aku diperintahkan, aku tidak membuka untuk siapa pun sebelum kamu.'”

Dan telah tetap dalam Sahihain dan Sunan An-Nasa’i dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Kami adalah yang terakhir namun yang pertama pada hari kiamat, dan kami yang pertama masuk surga.”

Dalam Sunan Abu Dawud dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Jibril datang kepadaku lalu memperlihatkan pintu surga yang darinya umatku akan masuk.” Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulullah, seandainya aku bersamamu sehingga aku dapat melihatnya.” Rasulullah ﷺ bersabda: “Adapun kamu wahai Abu Bakar, kamu adalah orang pertama dari umatku yang masuk surga.”

Pembahasan Keempat: Yang Masuk Surga Tanpa Hisab

Rombongan pertama yang masuk surga dari umat ini adalah puncak-puncak tertinggi dalam iman, takwa, amal saleh, dan istiqamah di atas agama yang benar. Mereka masuk surga dalam satu barisan, yang pertama tidak masuk hingga yang terakhir masuk, rupa mereka seperti bulan pada malam purnama.

Al-Bukhari dalam Sahih-nya meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Rombongan pertama yang masuk surga, rupa mereka seperti bulan pada malam purnama. Mereka tidak meludah di dalamnya, tidak membuang ingus, dan tidak buang air besar. Piring-piring mereka dari emas, sisir mereka dari emas dan perak, tempat dupa mereka dari kayu aloes, keringat mereka adalah misk. Setiap orang dari mereka memiliki dua istri yang terlihat sumsum tulang kering mereka dari balik daging karena cantiknya. Tidak ada perselisihan di antara mereka dan tidak ada kebencian. Hati mereka seperti hati satu orang. Mereka bertasbih kepada Allah pagi dan petang.”

Al-Bukhari meriwayatkan dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu anhu dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Sungguh akan masuk surga dari umatku tujuh puluh ribu atau tujuh ratus ribu—yang pertama tidak masuk hingga yang terakhir masuk, wajah mereka seperti bulan pada malam purnama.”

Telah sahih bahwa Allah memberikan kepada Rasul-Nya ﷺ bersama setiap orang dari tujuh puluh ribu ini, tujuh puluh ribu lagi. Dalam Musnad Ahmad dengan sanad sahih dari Abu Bakar radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku diberi tujuh puluh ribu dari umatku yang masuk surga tanpa hisab, wajah mereka seperti bulan pada malam purnama, hati mereka seperti hati satu orang. Lalu aku meminta tambahan kepada Tuhanku ‘Azza wa Jalla, maka Dia menambahkan bagiku bersama setiap orang tujuh puluh ribu.”

Dan dalam Musnad Ahmad dan Sunan Tirmidzi dan Shahih Ibnu Hibban dari Abu Umamah dengan sanad yang sahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tuhanku berjanji kepadaku bahwa akan memasukkan ke dalam surga dari umatku tujuh puluh ribu tanpa hisab atas mereka dan tanpa azab, bersama setiap ribu tujuh puluh ribu, dan tiga genggaman dari genggaman-genggaman Tuhanku.” Maka hadits ini menyebutkan tambahan tiga genggaman.

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menggambarkan tujuh puluh ribu yang pertama dan menjelaskan tanda-tanda mereka. Dalam Shahih Bukhari dari Ibnu Abbas berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Umat-umat diperlihatkan kepadaku, maka seorang nabi lewat bersama umatnya, dan seorang nabi lewat bersama sekelompok kecil, dan seorang nabi lewat bersama sepuluh orang, dan seorang nabi lewat bersama lima orang, dan seorang nabi lewat sendirian. Aku melihat, ternyata ada kegelapan yang banyak, aku berkata: ‘Wahai Jibril, apakah mereka umatku?’ Dia berkata: ‘Tidak, tetapi lihatlah ke ufuk.’ Maka aku melihat, ternyata ada kegelapan yang banyak. Dia berkata: ‘Mereka umatmu, dan mereka ini tujuh puluh ribu di depan mereka tanpa hisab atas mereka dan tanpa azab.’ Aku berkata: ‘Mengapa?’ Dia berkata: ‘Mereka tidak berbekam, tidak meminta ruqyah, tidak bertathayur (percaya takhayul), dan kepada Tuhan mereka bertawakal.’ Maka berdirilah Ukasyah bin Muhsin dan berkata: ‘Doakan kepada Allah agar Dia menjadikanku termasuk mereka.’ Dia berkata: ‘Ya Allah, jadikanlah dia termasuk mereka.’ Kemudian berkata kepadanya seorang laki-laki yang lain: ‘Doakan kepada Allah agar Dia menjadikanku termasuk mereka.’ Dia berkata: ‘Ukasyah telah mendahuluimu.'”

Dan barangkali mereka inilah yang disebut oleh Yang Haq sebagai orang-orang yang didekatkan, dan mereka adalah orang-orang yang terdahulu. Dan orang-orang yang terdahulu lagi terdahulu. Mereka itulah orang-orang yang didekatkan. Di dalam surga-surga yang penuh kenikmatan. (Al-Waqi’ah: 10-12). Dan mereka ini sekelompok dari orang-orang terdahulu dan sedikit dari orang-orang kemudian. Sekelompok dari orang-orang terdahulu. Dan sedikit dari orang-orang kemudian. (Al-Waqi’ah: 13-14).

Pembahasan Kelima: Orang-Orang Fakir Mendahului Orang-Orang Kaya Menuju Surga

Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin mendahului orang-orang kaya pada hari kiamat menuju surga dengan empat puluh musim gugur.”

Dan Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Sa’id, dan Ahmad serta Tirmidzi dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin masuk surga sebelum orang-orang kaya mereka dengan lima ratus tahun.”

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan di tempat lain bahwa mereka ini tidak memiliki sesuatu yang akan dihisab atas mereka, ini dengan jihad dan keutamaan mereka. Hakim mengeluarkan dalam Mustadrak-nya dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tahukah kamu kelompok pertama yang masuk surga dari umatku? Aku berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Maka dia berkata: Orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin. Mereka datang pada hari kiamat ke pintu surga dan meminta dibukakan, maka penjaga berkata kepada mereka: ‘Apakah kalian sudah dihisab?’ Mereka berkata: ‘Dengan apa kami dihisab, padahal hanya pedang-pedang kami di pundak-pundak kami di jalan Allah hingga kami mati dalam keadaan itu?’ Dia berkata: Maka dibukakan untuk mereka, mereka bermalam di dalamnya empat puluh tahun sebelum manusia memasukinya.”

Dan dalam Shahih Bukhari dari Usamah bin Zaid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Aku berdiri di pintu surga, maka kebanyakan yang memasukinya adalah orang-orang miskin, dan pemilik keberuntungan ditahan, kecuali penghuni neraka telah diperintahkan kepada mereka menuju neraka.” Dan pemilik keberuntungan adalah orang-orang kaya dari kalangan muslim.

Dan telah terjadi dalam hadits-hadits sebelumnya bahwa orang-orang fakir mendahului orang-orang kaya dengan empat puluh musim gugur, dan datang dalam hadits lain dengan lima ratus tahun. Cara menyelaraskan antara kedua hadits tersebut adalah bahwa orang-orang fakir berbeda keadaan, demikian juga orang-orang kaya – sebagaimana kata Qurthubi. Maka orang-orang fakir beragam dalam kekuatan iman dan kemajuan mereka, dan orang-orang kaya demikian juga. Jika hisab berdasarkan orang fakir pertama yang masuk surga dan orang kaya terakhir yang masuk surga maka masa waktunya lima ratus tahun. Adapun jika kamu melihat orang fakir terakhir yang masuk surga dan orang kaya pertama yang masuk surga maka masa waktunya empat puluh musim gugur, berdasarkan orang fakir pertama dan orang kaya terakhir, wallahu a’lam.

Pembahasan Keenam: Tiga Orang Pertama yang Masuk Surga

Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad hasan dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Diperlihatkan kepadaku tiga orang pertama yang masuk surga: seorang syahid, dan orang yang menjaga kehormatan diri, dan seorang hamba yang memperbaiki ibadah kepada Allah dan menasihati tuannya.”

Pembahasan Ketujuh: Masuknya Orang-Orang Mukmin yang Bermaksiat ke Surga

Pembahasan Pertama: Mengeluarkan Mereka dari Neraka dan Memasukkan Mereka ke Surga dengan Syafaat

Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Sa’id berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Adapun penghuni neraka yang merupakan penghuninya maka mereka tidak mati di dalamnya dan tidak hidup, tetapi orang-orang yang terkena neraka karena dosa-dosa mereka (atau dia berkata: karena kesalahan-kesalahan mereka) sehingga mematikan mereka dengan kematian, hingga apabila mereka menjadi arang, maka diizinkan syafaat, maka mereka didatangkan berkelompok-kelompok, lalu disebarkan di sungai-sungai surga, kemudian dikatakan: ‘Wahai penghuni surga, tuangkanlah kepada mereka,’ maka mereka tumbuh seperti tumbuhnya biji yang berada di aliran banjir.”

Dan untuk Muslim dari hadits Jabir bin Abdullah yang marfu’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya suatu kaum keluar dari neraka, mereka terbakar di dalamnya, kecuali lingkaran wajah-wajah mereka, hingga mereka masuk surga.”

Dan mereka yang keluar dari neraka dan masuk surga disebut oleh penghuni surga dengan sebutan “orang-orang jahannam”. Dalam Shahih Bukhari dari Imran bin Hushain radhiyallahu anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Akan keluar suatu kaum dari neraka dengan syafaat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka mereka masuk surga, disebut orang-orang jahannam.”

Dan dalam Shahih juga dari Jabir radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Akan keluar dari neraka dengan syafaat seperti tha’arir.” Aku berkata: “Apa tha’arir itu?” Dia berkata: “Dhaghabhis (tanaman kecil).”

Dan Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Akan keluar suatu kaum dari neraka setelah terkena darinya hangus, maka mereka masuk surga, maka penghuni surga menyebut mereka orang-orang jahannam.”

Dan dalam Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah yang panjang dalam menggambarkan akhirat: “Hingga apabila Allah selesai dari keputusan di antara hamba-hamba-Nya, dan Dia hendak mengeluarkan dengan rahmat-Nya siapa yang Dia kehendaki dari penghuni neraka, Dia memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan dari neraka orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, dari orang yang Allah kehendaki untuk merahmatinya, dari orang yang mengucapkan: ‘Laa ilaaha illallah’, maka mereka mengenal mereka di neraka, mereka mengenal mereka dengan bekas sujud, neraka memakan dari anak Adam kecuali bekas sujud, Allah mengharamkan atas neraka memakan bekas sujud, maka mereka keluar dari neraka dalam keadaan hangus terbakar, lalu dituangkan kepada mereka air kehidupan, maka mereka tumbuh darinya seperti tumbuhnya biji di aliran banjir.”

Dan telah datang dalam lebih dari satu hadits bahwa Allah mengeluarkan dari neraka orang yang di hatinya seberat dinar atau setengah dinar atau seberat atom dari iman, bahkan mengeluarkan kaum yang tidak pernah mengerjakan kebaikan sama sekali. Dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah memasukkan penghuni surga ke surga, memasukkan siapa yang Dia kehendaki dengan rahmat-Nya, dan memasukkan penghuni neraka ke neraka, kemudian berfirman: ‘Lihatlah siapa yang kalian dapati di hatinya sebiji sawi dari iman maka keluarkanlah dia…'”

Dan dalam hadits Jabir bin Abdullah tentang melewati neraka: “Kemudian berlaku syafaat, dan mereka memberi syafaat hingga keluar dari neraka orang yang berkata: ‘Laa ilaaha illallah’, dan di hatinya dari kebaikan seberat gandum, maka mereka ditempatkan di halaman surga, dan penghuni surga memercikkan air kepada mereka, hingga mereka tumbuh seperti tumbuhnya sesuatu di aliran banjir, dan hilang luka bakarnya, kemudian dia meminta hingga dijadikan baginya dunia dan sepuluh kali lipat bersamanya.”

Dan dalam hadits Anas bin Malik bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Akan keluar dari neraka orang yang berkata: ‘Laa ilaaha illallah’, dan di hatinya dari kebaikan seberat gandum, kemudian akan keluar dari neraka orang yang berkata: ‘Laa ilaaha illallah’, dan di hatinya seberat biji gandum, kemudian akan keluar dari neraka orang yang berkata: ‘Laa ilaaha illallah’ dan di hatinya dari kebaikan seberat atom.” Dan hadits-hadits dalam hal ini banyak.

Pembahasan Kedua: Sikap Kelompok-Kelompok terhadap Syafaat

Khawarij dan Mu’tazilah mengingkari syafaat para pemberi syafaat untuk ahli dosa besar dan mereka yang diperintahkan menuju neraka agar tidak memasukinya, dan mereka yang memasukinya agar keluar darinya. Qurthubi berkata: “Dan syafaat ini diingkari oleh golongan bidah Khawarij dan Mu’tazilah, maka mereka mencegahnya berdasarkan dasar-dasar mereka yang rusak yaitu kewajiban akal yang dibangun atas tahsin dan taqbih.”

Dan perkataan yang menentang hadits-hadits sahih yang mutawatir ini muncul sementara para sahabat masih hidup. Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Yazid al-Faqir, berkata: “Aku pernah tertarik dengan pendapat dari pendapat Khawarij, maka kami keluar dalam kelompok yang banyak hendak menunaikan haji, kemudian kami keluar melawan manusia. Dia berkata: Maka kami melewati Madinah, ternyata Jabir bin Abdullah sedang bercerita kepada orang-orang, duduk di tiang, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ternyata dia menyebutkan orang-orang jahannam. Maka aku berkata kepadanya: ‘Wahai sahabat Rasulullah, apa ini yang kalian ceritakan padahal Allah berfirman: Sesungguhnya barangsiapa yang kamu masukkan ke dalam neraka, maka sungguh kamu telah menghinakannya (Ali Imran: 192), dan Setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan ke dalamnya (As-Sajdah: 20)? Maka apa ini yang kalian katakan?’ Dia berkata: ‘Apakah kamu membaca Al-Qur’an?’ Aku berkata: ‘Ya.’ Dia berkata: ‘Apakah kamu pernah mendengar tentang maqam Muhammad alaihissalam (yaitu yang akan Allah bangkitkan dia di dalamnya)?’ Aku berkata: ‘Ya.’ Dia berkata: ‘Maka itulah maqam Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang terpuji yang akan Allah keluarkan dengannya siapa yang Dia keluarkan.’ Dia berkata: Kemudian dia menggambarkan penempatan shirath dan lewatnya manusia di atasnya. Dia berkata: Dan aku khawatir aku tidak hafal itu. Dia berkata: Kecuali bahwa dia telah menyebutkan bahwa suatu kaum keluar dari neraka setelah mereka berada di dalamnya. Dia berkata: yaitu mereka keluar seperti ranting wijen. Dia berkata: Maka mereka masuk sungai dari sungai-sungai surga lalu mandi di dalamnya, maka mereka keluar seperti kertas. Maka kami kembali berkata: ‘Celaka kalian, apakah kalian mengira orang tua ini berdusta atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?’ Maka kami kembali. Demi Allah, tidak keluar dari kami kecuali satu orang saja.”

Dan Khawarij serta Mu’tazilah berlebihan dalam masalah ini ketika mereka mengklaim bahwa ahli dosa besar tidak keluar dari neraka, dan tidak bermanfaat bagi mereka syafaat para pemberi syafaat, sebagaimana Murji’ah berlebihan di sisi yang berlawanan di mana mereka tidak memastikan masuknya seorang pun dari ahli dosa besar ke neraka, dan mereka mengklaim bahwa ahli dosa besar semuanya di surga tanpa azab. Kedua golongan ini menyelisihi sunnah mutawatir yang tetap dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mereka menyelisihi ijma’ salaf umat dan para imamnya. Allah telah memberi petunjuk kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap apa yang mereka perselisihkan dari kebenaran dengan izin-Nya, di mana mereka berpendapat bahwa ahli dosa besar berada di bawah kehendak Allah, jika Dia kehendaki Dia ampuni mereka dengan rahmat-Nya, dan jika Dia kehendaki Dia azab mereka karena dosa-dosa mereka, kemudian memasukkan mereka ke surga dengan rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah tidak mengampuni (dosa) mempersekutukan-Nya, dan Dia mengampuni apa yang selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki (An-Nisa: 48). Dan Allah berfirman: Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’ (Az-Zumar: 53). Maka syirik tidak diampuni Allah, dan yang selain itu berada di bawah kehendak, dan yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak berdosa.

Dan hujjah Khawarij dalam mengingkari syafaat ini adalah ayat-ayat yang datang dalam mengingkari syafaat yang ditetapkan oleh ahli syirik. Ahli syirik meyakini bahwa syafaat di sisi Allah seperti syafaat di dunia, pemberi syafaat memberi syafaat kepada selainnya tanpa izin darinya, dan pemberi syafaat memberi syafaat kepada selainnya meskipun dia tidak ridha terhadap yang diberi syafaat, dan ini tidak terjadi di sisi Allah tabaraka wa ta’ala. Nash-nash telah datang membatalkan jenis syafaat ini, sebagaimana Allah berfirman: Dan takutlah pada hari yang tidak dapat membalas jiwa dari jiwa lain sedikitpun, dan tidak diterima darinya syafaat dan tidak diambil darinya tebusan (Al-Baqarah: 48). Dan Dia berfirman: Maka tidak bermanfaat bagi mereka syafaat para pemberi syafaat (Al-Muddatstsir: 48). Dan Dia berfirman: Tidak ada bagi orang-orang yang zalim teman dekat dan tidak ada pemberi syafaat yang ditaati (Ghafir: 18). Dan nash-nash telah datang menjelaskan bahwa syafaat di sisi Allah tidak terjadi kecuali dengan izin-Nya, dan tidak terjadi kecuali setelah Dia ridha terhadap pemberi syafaat dan yang diberi syafaat: Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya (Al-Baqarah: 255). Dan Dia berfirman: Dan mereka tidak memberi syafaat kecuali kepada orang yang diridhai (Al-Anbiya: 28). Dan Dia berfirman: Dan berapa banyak malaikat di langit yang syafaat mereka tidak berguna sedikitpun kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridhai (An-Najm: 26). Dan Dia berfirman tentang malaikat juga: Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak memberi syafaat kecuali kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu merasa takut karena takwa kepada-Nya (Al-Anbiya: 28). Dan Dia berfirman: Dan tidak berguna syafaat di sisi-Nya kecuali bagi orang yang diizinkan-Nya (Saba: 23).

Maka nash-nash ini mengingkari syafaat yang ditetapkan oleh orang-orang musyrik untuk malaikat dan nabi serta orang-orang salih dan membatalkannya, dan menetapkan syafaat yang terjadi dengan izin Allah dan keridhaan-Nya terhadap pemberi syafaat dan yang diberi syafaat. Dan Allah tidak ridha terhadap orang-orang kafir musyrik. Adapun orang-orang durhaka dari ahli tauhid, maka para pemberi syafaat memberi syafaat untuk mereka, dan mereka tidak memberi syafaat untuk orang musyrik. Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa dia berkata: Aku berkata: “Ya Rasulullah, siapa yang paling beruntung dengan syafaatmu pada hari kiamat?” Dia berkata: “Sungguh aku telah mengira wahai Abu Hurairah bahwa tidak ada yang bertanya kepadaku tentang hadits ini lebih dahulu darimu, karena aku melihat semangatmu terhadap hadits. Orang yang paling beruntung dengan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan: ‘Laa ilaaha illallah’ dengan ikhlas dari dirinya sendiri.”

Pembahasan Kedelapan: Orang Terakhir yang Masuk Surga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan kepada kami kisah laki-laki terakhir yang keluar dari neraka dan masuk surga, dan apa yang terjadi dari dialog antara dia dengan Tuhannya, dan apa yang Allah berikan kepadanya dari kemuliaan besar yang tidak dia percayai bahwa Allah memuliakan dia dengannya karena kebesarannya. Ibnu Atsir telah mengumpulkan riwayat-riwayat hadits ini dalam Jami’ al-Ushul, dan darinya kami nukil hadits-hadits ini:

1- Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku mengetahui orang terakhir dari penghuni neraka yang keluar darinya, dan orang terakhir dari penghuni surga yang masuk surga: seorang laki-laki yang keluar dari neraka merangkak, maka Allah berfirman kepadanya: ‘Pergi dan masuklah surga.’ Maka dia mendatanginya, lalu terbayang baginya bahwa surga penuh, maka dia kembali dan berkata: ‘Ya Tuhan, aku mendapatinya penuh.’ Maka Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Pergi dan masuklah surga, maka bagimu seperti dunia dan sepuluh kali lipat darinya, atau bagimu seperti sepuluh kali lipat dunia.’ Maka dia berkata: ‘Apakah Engkau mengejekku – atau menertawakanku – padahal Engkau adalah Raja?’ Dia berkata: Maka sungguh aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa hingga tampak gigi taringnya, maka dikatakan: ‘Itulah kedudukan penghuni surga yang paling rendah.'” Dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim.

Dan untuk Muslim berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku mengenal orang terakhir dari penghuni neraka yang keluar dari neraka: seorang laki-laki yang keluar darinya merangkak, maka dikatakan kepadanya: ‘Berangkatlah dan masuklah surga.’ Dia berkata: Maka dia pergi dan masuk surga, lalu mendapati manusia telah mengambil tempat-tempat, maka dikatakan kepadanya: ‘Apakah kamu ingat zaman ketika kamu di dalamnya?’ Maka dia berkata: ‘Ya.’ Maka dikatakan kepadanya: ‘Berangan-anganlah.’ Maka dia berangan-angan, lalu dikatakan kepadanya: ‘Bagimu apa yang kamu angan-angankan, dan sepuluh kali lipat dunia.’ Maka dia berkata: ‘Apakah Engkau mengejekku padahal Engkau adalah Raja?’ Dia berkata: Maka sungguh aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa hingga tampak gigi taringnya.” Dan dalam riwayat Tirmidzi seperti ini yang untuk Muslim.

2- Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: *”Orang terakhir yang masuk surga adalah seorang laki-laki, maka dia berjalan kadang, dan tersandung kadang, dan api membakarnya kadang, maka apabila dia melewatinya, dia menoleh kepadanya dan berkata: ‘Maha suci Dzat yang menyelamatkanku darimu, sungguh Allah telah memberiku sesuatu yang tidak diberikan kepada seorang pun dari orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian.’ Maka diangkatkanlah baginya sebatang pohon, maka dia berkata: ‘Ya Tuhan, dekatkanlah aku kepada pohon ini agar aku berteduh di bawah naungannya dan minum dari airnya.’ Maka Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Wahai anak Adam, barangkali jika Aku berikan kepadamu dia, kamu akan meminta yang lain?’ Maka dia berkata: ‘Tidak, ya Tuhan’ dan berjanji kepada-Nya bahwa tidak akan meminta yang lain. Dia berkata: Dan Tuhannya Azza wa Jalla memaafkannya, karena Dia melihat apa yang tidak ada kesabaran baginya terhadapnya, maka Dia mendekatkan dia kepadanya, lalu dia berteduh di bawah naungannya dan minum dari airnya. Kemudian diangkatkanlah baginya sebatang pohon yang lebih bagus dari yang pertama, maka dia berkata: ‘Ya Tuhan, dekatkanlah aku kepada pohon ini agar aku minum dari airnya dan berteduh di bawah naungannya, aku tidak meminta yang lain.’ Maka Dia berfirman: ‘Wahai anak Adam, bukankah kamu berjanji kepada-Ku bahwa tidak akan meminta yang lain?’ Maka dia berkata: ‘Barangkali jika Aku mendekatkanmu kepadanya kamu akan meminta yang lain?’ Maka dia berjanji kepada-Nya bahwa tidak akan meminta yang lain, dan Tuhannya Ta’ala memaafkannya, karena Dia melihat apa yang tidak ada kesabaran baginya terhadapnya, maka Dia mendekatkan dia kepadanya, lalu dia berteduh di bawah naungannya dan minum dari airnya. Kemudian diangkatkanlah baginya sebatang pohon di pintu surga, dan dia lebih bagus dari dua yang pertama, maka dia berkata: ‘Ya Tuhan, dekatkanlah aku kepada ini agar aku berteduh di bawah naungannya dan minum dari airnya, aku tidak meminta yang lain.’ Maka Dia berfirman: ‘Wahai anak Adam, bukankah kamu berjanji kepada-Ku bahwa tidak akan meminta yang lain?’ Dia berkata: ‘Ya, ya Tuhan, aku tidak meminta yang lain’ – dan Tuhannya Azza wa Jalla memaafkannya, karena Dia melihat apa yang tidak ada kesabaran baginya terhadapnya, maka Dia mendekatkan dia kepadanya, maka ketika Dia mendekatkan dia kepadanya dia mendengar suara-suara penghuni surga, maka dia berkata: ‘Ya Tuhan, masukkan aku ke dalamnya.’ Maka Dia berfirman: ‘Wahai anak Adam, apa yang membuatku puas darimu, apakah akan membuatmu puas jika Aku berikan kepadamu dunia dan seumpamanya bersamanya?’ Dia berkata: ‘Ya Tuhan, apakah Engkau mengejekku padahal Engkau adalah Tuhan semesta alam?’ Maka Ibnu Mas’ud tertawa, lalu berkata: ‘Mengapa kalian tidak bertanya kepadaku tentang apa yang membuatku tertawa?’ Mereka berkata: ‘Apa yang membuatmu tertawa?’ Dia berkata: ‘Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa.’ Maka mereka berkata: ‘Apa yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah?’ Maka dia berkata: ‘Dari tertawa Tuhan semesta alam, ketika dia berkata: Apakah Engkau mengejekku padahal Engkau adalah Tuhan semesta alam? Maka Dia berfirman: Aku tidak mengejekmu, tetapi Aku berkuasa atas apa yang Aku kehendaki..” Diriwayatkan oleh Muslim.

Hadits ini demikian dikeluarkan oleh Humaidi sendiri dalam hadits-hadits yang menjadi kekhususan Muslim, sedangkan yang sebelumnya dalam hadits yang disepakati (Bukhari dan Muslim), dan dia berkata: Sesungguhnya kami mengkhususkannya karena ada tambahan di dalamnya.

Dan dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling rendah kedudukannya di antara penduduk surga adalah: seorang laki-laki yang Allah palingkan wajahnya dari neraka menuju surga, dan diumpamakan baginya sebuah pohon yang bernaung, maka dia berkata: Wahai Tuhanku, dekatkanlah aku pada pohon ini agar aku berada dalam naungannya… dan dia menyebutkan hadits itu seperti hadits Ibnu Mas’ud, namun tidak menyebutkan: ‘Maka Allah berfirman: Wahai anak Adam, apa yang membuatmu puas dariku?… hingga akhir hadits.”

Dan dia menambahkan di dalamnya: “Dan Allah mengingatkannya: Mintalah ini dan itu, maka ketika angan-angannya telah putus, Allah berfirman: Itu untukmu dan sepuluh kali lipat sepertinya. Dia berkata: Kemudian dia masuk ke rumahnya, lalu masuk kepadanya kedua istrinya dari bidadari bermata indah, keduanya berkata: Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkanmu untuk kami, dan menghidupkan kami untukmu. Dia berkata: ‘Maka dia berkata: Tidak ada seorang pun yang diberi seperti apa yang telah diberikan kepadaku.'” Hadits ini dikeluarkan oleh Muslim demikian setelah hadits Ibnu Mas’ud.

Pembahasan Kesembilan: Mereka yang Masuk Surga Sebelum Hari Kiamat

Orang pertama yang masuk surga dari kalangan manusia adalah bapak manusia Adam “Dan Kami berfirman: ‘Hai Adam, diamlah kamu dan istrimu di surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai'” [Al-Baqarah: 35], dan Allah berfirman: “Dan hai Adam, diamlah kamu dan istrimu di dalam surga ini, dan makanlah olehmu berdua dari buahnya dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim” [Al-A’raf: 19]. Namun Adam mendurhakai Tuhannya dengan memakan dari pohon yang Allah larang untuk dia makan darinya, maka Allah turunkan dia dari surga ke negeri kesengsaraan: “Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka dia lupa, dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali Iblis; dia enggan. Maka Kami berfirman: ‘Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak akan ditimpa terik matahari di dalamnya.’ Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: ‘Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa?’ Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Dan durhakalah Adam kepada Tuhannya, maka sesatlah dia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman: ‘Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain'” [Thaha: 115-123].

Dan sesungguhnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melihat surga. Dalam Shahih Bukhari dari Imran bin Hushain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Aku mengintip ke dalam surga dan melihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang miskin, dan aku mengintip ke dalam neraka dan melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita.”

Dan di antara mereka yang masuk surga sebelum hari kiamat adalah para syahid. Dalam Shahih Muslim dari Masruq, dia berkata: Kami bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud tentang ayat ini: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki” [Ali Imran: 169]. Dia berkata: “Sesungguhnya kami telah bertanya tentang itu, maka dia bersabda: ‘Roh-roh mereka di dalam perut burung-burung hijau, yang memiliki lampu-lampu yang tergantung di Arasy, berkeliling di surga kemana saja mereka kehendaki, kemudian kembali ke lampu-lampu itu. Maka Tuhan mereka memandang kepada mereka dengan pandangan-Nya, lalu berfirman: Apakah kalian menginginkan sesuatu? Mereka menjawab: Apa yang kami inginkan, padahal kami berkeliling di surga kemana saja kami kehendaki. Dia melakukan itu kepada mereka tiga kali. Ketika mereka melihat bahwa mereka tidak akan dibiarkan dari ditanya, mereka berkata: Wahai Tuhan kami, kami ingin Engkau kembalikan roh-roh kami ke dalam jasad-jasad kami agar kami terbunuh di jalan-Mu sekali lagi. Ketika Dia melihat bahwa mereka tidak memiliki kebutuhan, mereka dibiarkan.'”

Dan barangsiapa yang mati, maka diperlihatkan kepadanya tempatnya di surga dan neraka pada pagi dan sore hari. Dalam Shahih Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian apabila mati, maka diperlihatkan kepadanya tempatnya pada pagi dan sore hari. Jika dia termasuk ahli surga maka dari ahli surga, dan jika dia termasuk ahli neraka maka dari ahli neraka. Dikatakan: Ini adalah tempatmu hingga Allah membangkitkanmu kepadanya pada hari kiamat.”

Bab Kedua: Surga Kekal dan Penghuninya Kekal

Pembahasan Pertama: Nash-nash yang Menunjukkan Hal Tersebut

Surga kekal tidak akan punah dan tidak akan rusak, dan penghuninya di dalamnya kekal, tidak akan pindah darinya dan tidak akan pergi, tidak akan binasa dan tidak akan mati. “Mereka tidak merasakan maut di dalamnya kecuali mati yang pertama. Dan Allah memelihara mereka dari azab neraka” [Ad-Dukhan: 56]. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, kekal mereka di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah darinya” [Al-Kahf: 107-108].

Dan kami telah menyebutkan ketika membahas tentang kekekalan neraka – hadits-hadits yang di dalamnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang penyembelihan maut antara surga dan neraka, kemudian dikatakan kepada ahli surga dan ahli neraka: “Wahai ahli surga, kekal tanpa maut, dan wahai ahli neraka, kekal tanpa maut.”

Sesungguhnya maksud nash-nash yang menunjukkan bahwa surga diciptakan dengan penciptaan yang tidak dapat binasa, demikian pula penghuninya. Dalam hadits dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Barangsiapa masuk surga akan bersenang-senang, tidak akan sengsara, pakaiannya tidak akan usang, dan masa mudanya tidak akan habis.”

Dan dengarkanlah seruan ilahi rabbani yang menyeru ahli surga setelah mereka masuk surga: “Sesungguhnya bagi kalian adalah sehat sehingga tidak akan pernah sakit, sesungguhnya bagi kalian adalah hidup sehingga tidak akan pernah mati, sesungguhnya bagi kalian adalah muda sehingga tidak akan pernah tua, sesungguhnya bagi kalian adalah bersenang-senang sehingga tidak akan pernah sengsara. Maka itulah firman-Nya yang mulia:” “Dan diumumkan kepada mereka: ‘Inilah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan'” [Al-A’raf: 43].

Pembahasan Kedua: Yang Berpendapat Surga akan Binasa

Yang berpendapat surga akan binasa sebagaimana dia berpendapat neraka akan binasa adalah Jahm bin Shafwan, imam golongan Mu’aththilah, dan dia tidak memiliki pendahulu sama sekali, tidak dari para sahabat, tidak dari tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik, tidak dari imam-imam Muslim, dan tidak dari ahli sunnah, dan kebanyakan ahli sunnah mengingkarinya.

Dan Abu Al-Huzail Al-‘Allaf, syaikh Mu’tazilah, berpendapat binasnya gerakan-gerakan ahli surga dan neraka, sehingga mereka menjadi diam selamanya, tidak ada seorang pun dari mereka yang mampu bergerak. Dan semua ini batil.

Penjelas Aqidah Thahawiyah berkata: “Adapun keabadian surga, dan bahwa surga tidak akan binasa dan tidak akan rusak, maka ini adalah sesuatu yang diketahui dengan pasti bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkannya. Allah Ta’ala berfirman: ‘Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga; mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tidak putus-putusnya’ [Hud: 108], yaitu tidak terputus. Dan tidak menafikan hal itu firman-Nya: ‘Kecuali jika Tuhanmu menghendaki’ [Hud: 108].”

Penjelas Aqidah Thahawiyah telah menyebutkan perbedaan pendapat salaf dalam pengecualian ini, dia berkata: “Para salaf berbeda pendapat dalam pengecualian ini: Ada yang berkata: Maksudnya adalah kecuali masa mereka tinggal di neraka, dan ini berlaku bagi yang masuk ke neraka di antara mereka kemudian dikeluarkan darinya, bukan untuk semuanya. Ada yang berkata: kecuali masa mereka di padang Mahsyar. Ada yang berkata: kecuali masa mereka di kubur dan padang Mahsyar. Ada yang berkata: ini adalah pengecualian Rabb dan Dia tidak akan melakukannya, sebagaimana kamu berkata: Demi Allah aku akan memukulmu kecuali jika aku melihat selainnya, padahal kamu tidak melihatnya, bahkan kamu memastikan akan memukulnya. Ada yang berkata: ‘illa (kecuali) bermakna waw (dan), ini menurut pendapat sebagian ahli nahwu, dan ini lemah. Sibawaih menjadikan illa bermakna lakin (tetapi), maka pengecualiannya terputus, dan Ibnu Jarir menguatkannya dan berkata: Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan mengingkari janji-Nya, dan Dia telah menyambungkan pengecualian dengan firman-Nya: ‘Sebagai karunia yang tidak putus-putusnya’ [Hud: 108]. Mereka berkata: Dan bandingannya adalah kamu berkata: Aku menempatkamu di rumahku setahun kecuali yang aku kehendaki, yaitu selain yang aku kehendaki, tetapi yang aku kehendaki adalah tambahan atasnya. Ada yang berkata: Pengecualian untuk memberitahu mereka bahwa mereka – dengan kekekalan mereka – dalam kehendak Allah, karena mereka tidak keluar dari kehendak-Nya, dan hal itu tidak menafikan keazaman dan kepastian-Nya bagi mereka dengan kekekalan, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala: ‘Dan sungguh jika Kami menghendaki, niscaya Kami hilangkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, kemudian kamu tidak akan mendapat seorang pembela pun terhadap Kami’ [Al-Isra: 86], dan firman Allah Ta’ala: ‘Maka jika Allah menghendaki niscaya Dia mengunci mati hatimu’ [Asy-Syura: 24], dan firman-Nya: ‘Katakanlah: ‘Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu’ [Yunus: 16], dan contoh-contohnya banyak. Allah Subhanahu memberitahu hamba-hamba-Nya bahwa segala urusan dengan kehendak-Nya, apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi.

Ada yang berkata: Sesungguhnya ‘ma’ bermakna ‘man’ (siapa), yaitu: kecuali siapa yang Allah kehendaki masuknya ke neraka karena dosa-dosanya dari kalangan orang yang berbahagia. Dan ada pendapat lainnya.

Dan dalam semua keadaan, pengecualian ini termasuk mutasyabih, dan firman-Nya: ‘Sebagai karunia yang tidak putus-putusnya’ [Hud: 108]. Demikian juga firman Allah Ta’ala: ‘Sesungguhnya ini benar-benar rezki Kami yang tidak ada putus-putusnya’ [Shad: 54]. Dan firman-Nya: ‘Buahnya tetap ada dan naungannya (demikian pula)’ [Ar-Ra’d: 35]. Dan Allah telah menegaskan kekekalan ahli surga dengan keabadian di beberapa tempat dalam Al-Quran, dan mengabarkan bahwa mereka ‘tidak merasakan maut di dalamnya kecuali mati yang pertama’ [Ad-Dukhan: 56]. Dan pengecualian ini terputus. Dan jika kamu gabungkan dengan pengecualian dalam firman Allah Ta’ala: ‘Kecuali jika Tuhanmu menghendaki’ [Hud: 108], menjadi jelas bahwa yang dimaksud dari dua ayat tersebut adalah mengecualikan waktu dimana mereka tidak berada di surga dari masa kekekalan, seperti mengecualikan kematian pertama dari keseluruhan kematian. Maka ini adalah kematian yang mendahului kehidupan abadi mereka, dan itu adalah perpisahan dari surga yang mendahului kekekalan mereka di dalamnya.”

Bab Ketiga: Sifat Surga

Pembahasan Pertama: Surga Tidak Ada Bandingannya

Kenikmatan surga melampaui deskripsi, dan imajinasi tidak mampu menjangkaunya. Tidak ada yang serupa dengan kenikmatan surga dalam pengetahuan ahli dunia, dan betapapun manusia berkembang di dunia mereka, apa yang mereka capai akan tetap menjadi perkara yang mudah dibandingkan dengan kenikmatan akhirat. Surga sebagaimana disebutkan dalam beberapa atsar tidak ada bandingannya, “Ia adalah cahaya yang bersinar, bunga yang bergoyang, istana yang tinggi, sungai yang mengalir, buah yang matang, istri yang cantik lagi indah, dan pakaian-pakaian yang banyak, di tempat yang abadi selamanya, dalam kegembiraan dan kemewahan, di rumah-rumah yang tinggi, sempurna lagi indah.”

Para sahabat bertanya kepada Rasul tentang bangunan surga, maka Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarkan kami dalam jawaban dengan deskripsi yang menakjubkan. Beliau bersabda dalam menggambarkan bangunannya: “Batu bata dari emas, dan batu bata dari perak, semennya adalah minyak kesturi yang wangi, kerikilnya adalah mutiara dan yakut, dan tanahnya adalah za’faran. Barangsiapa masuk ke dalamnya akan bersenang-senang dan tidak akan sengsara, akan kekal dan tidak akan mati, pakaiannya tidak akan usang, dan masa mudanya tidak akan habis.” Dan benar Allah berfirman: “Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat kenikmatan dan kerajaan yang besar” [Al-Insan: 20].

Dan apa yang Allah sembunyikan dari kami tentang kenikmatan surga adalah sesuatu yang besar yang tidak dapat dijangkau akal, dan pikiran tidak dapat mencapai hakikatnya. “Maka tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyejukkan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” [As-Sajdah: 17]. Dalam hadits shahih dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah berfirman: Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shaleh apa yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia. Maka bacalah jika kalian mau:” “Maka tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyejukkan mata” [As-Sajdah: 17]. Muslim meriwayatkannya dari beberapa jalan dari Abu Hurairah dan disebutkan dalam sebagian jalannya: “Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shaleh apa yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia sebagai simpanan, apalagi apa yang Allah perlihatkan kepada kalian, kemudian dia membaca:” “Maka tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyejukkan mata” [As-Sajdah: 17].

Muslim meriwayatkannya dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi, dia berkata: Aku menyaksikan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu majelis dimana beliau menggambarkan surga hingga selesai, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di akhir haditsnya: “Di dalamnya ada apa yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia, kemudian dia membaca ayat ini:” “Lambung mereka jauh dari tempat tidur mereka dan mereka berdoa kepada Tuhannya dengan penuh rasa takut dan harap, serta menafkahkan apa rezki yang Kami berikan. Maka tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyejukkan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” [As-Sajdah: 16-17].

Pembahasan Kedua: Pintu-pintu Surga

Surga memiliki pintu-pintu yang akan dimasuki oleh orang-orang mukmin sebagaimana malaikat juga masuk darinya. “(yaitu) surga ‘Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka” [Shad: 50]. “Dan malaikat-malaikat masuk menemui mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan): ‘Salamun ‘alaikum bima shabartum’ (keselamatan atas kamu karena kesabaranmu). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu” [Ar-Ra’d: 23]. Allah Yang Maha Benar lagi Maha Berkah memberitahu kami bahwa pintu-pintu ini terbuka ketika orang-orang mukmin sampai kepadanya, dan malaikat-malaikat menyambut mereka dengan ucapan selamat atas keselamatan kedatangan: “Sehingga apabila mereka sampai kepadanya (surga), pintu-pintunya dibukakan dan penjaga-penjaganya berkata kepada mereka: ‘Keselamatan atas kamu, kamu telah baik, maka masuklah ke dalamnya, sedang kamu kekal di dalamnya'” [Az-Zumar: 73].

Rasul kami shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahu kami bahwa pintu-pintu surga terbuka setiap tahun di bulan Ramadhan. Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka.”

Jumlah pintu surga ada delapan, dan salah satu dari pintu-pintu ini bernama Ar-Rayyan yang khusus untuk orang-orang yang berpuasa. Dalam Shahihain dari Sahl bin Sa’d bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di surga ada delapan pintu, pintu di antaranya dinamakan Ar-Rayyan, tidak masuk darinya kecuali orang-orang yang berpuasa. Apabila mereka masuk, pintu itu ditutup sehingga tidak masuk selain mereka.”

Dan ada pintu untuk orang-orang yang banyak shalat, pintu untuk orang-orang yang bersedekah, pintu untuk para mujahid, di samping pintu orang-orang yang berpuasa yang bernama Ar-Rayyan. Dalam hadits yang disepakati dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa menafkahkan sepasang (dari hartanya) di jalan Allah, dipanggillah dia dari pintu-pintu surga, dan surga memiliki delapan pintu. Barangsiapa termasuk ahli shalat dipanggil dari pintu shalat, barangsiapa termasuk ahli sedekah dipanggil dari pintu sedekah, barangsiapa termasuk ahli jihad dipanggil dari pintu jihad, dan barangsiapa termasuk ahli puasa dipanggil dari pintu puasa.” Abu Bakr berkata: Demi Allah, tidak ada bahaya bagi seseorang dipanggil dari manapun dia dipanggil, tetapi apakah ada yang dipanggil dari semuanya wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Ya, dan aku berharap kamu termasuk di antara mereka.”

Pertanyaan Abu Bakr maksudnya adalah seseorang yang terkumpul padanya sifat-sifat kebaikan, dari shalat, puasa, sedekah, jihad dan sebagainya, sehingga dipanggil dari semua pintu-pintu tersebut. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahu bahwa orang yang menafkahkan sepasang di jalan Allah dipanggil dari delapan pintu surga, dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahu bahwa orang yang berwudhu lalu memperbaiki wudhu, kemudian mengangkat pandangannya ke langit dan berkata: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, maka terbuka baginya delapan pintu surga, dia masuk dari mana saja yang dia kehendaki.

Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari Amirul Mukminin Umar bin Khattab, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada seorang pun di antara kalian yang berwudhu lalu menyempurnakan wudhu, kemudian berkata: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, melainkan dibuka baginya delapan pintu surga, dia masuk dari mana saja yang dia kehendaki.”

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahu kami bahwa beliau mengkhususkan mereka yang tidak ada hisab atas mereka dengan pintu khusus untuk mereka tanpa yang lain, yaitu pintu surga yang kanan, sedangkan sisanya berbagi dengan umat-umat lainnya di pintu-pintu yang lain. Dalam hadits yang disepakati dari hadits Abu Hurairah dalam hadits syafa’at: “Maka Allah berfirman: Wahai Muhammad, masukkan orang dari umatmu yang tidak ada hisab atas mereka dari pintu kanan, dan mereka berbagi dengan manusia di pintu-pintu yang lain.” Kemudian dijelaskan dalam hadits ini luasnya pintu-pintu surga, dan bahwa jarak antara kedua sisi pintu seperti antara Mekah dan Hajar, atau seperti antara Mekah dan Bushra. Dalam hadits sebelumnya yang disepakati, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya jarak antara kedua daun pintu dari pintu-pintu surga, atau jarak antara kedua tiang pintu, seperti antara Mekah dan Hajar, atau seperti antara Mekah dan Bushra.”

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahu kami bahwa pintu-pintu surga terbuka di bulan Ramadhan. Dalam Shahihain dan Musnad Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu langit dibuka, dan dalam riwayat: pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup.”

Disebutkan dalam beberapa hadits bahwa jarak antara kedua daun pintu adalah perjalanan empat puluh tahun. Ahmad meriwayatkan dalam “Musnad”-nya dan Abu Nu’aim dalam “Al-Hilyah” dari Hakim bin Mu’awiyah dari ayahnya Mu’awiyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya jarak antara kedua daun pintu di surga adalah perjalanan empat puluh tahun, dan sungguh akan datang hari dimana pintu itu penuh sesak.” Dan sanadnya sahih.

Muslim dan Ahmad meriwayatkannya dari Utbah bin Ghazwan, dia berkata: “Sungguh telah disebutkan kepada kami bahwa jarak antara kedua daun pintu di surga adalah perjalanan empat puluh tahun, dan sungguh akan datang hari dimana pintu itu penuh sesak karena berdesakan.”

Dan diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir dari Abdullah bin Salam: “Sesungguhnya jarak antara kedua daun pintu di surga adalah perjalanan empat puluh tahun, namun akan berdesak-desakan seperti desak-desakannya unta yang datang untuk minum setelah lima hari kehausan.” (1)

Pembahasan Ketiga: Tingkatan-tingkatan Surga

Sub Pembahasan Pertama: Dalil-dalil bahwa Surga Bertingkat-tingkat, dan Penghuninya Berbeda-beda dalam Kemuliaan

Surga bertingkat-tingkat, sebagiannya di atas sebagian yang lain, dan penghuninya saling berbeda keutamaan sesuai dengan kedudukan mereka di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa yang datang kepada-Nya dalam keadaan beriman, dan telah mengerjakan amal-amal yang shaleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (di surga).” (QS. Thaha: 75).

Di antara ulama yang menjelaskan masalah ini adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau berkata: “Surga bertingkat-tingkat yang saling berbeda dengan perbedaan yang sangat besar, dan para wali Allah yang mukmin lagi bertakwa berada dalam tingkatan-tingkatan tersebut sesuai dengan iman dan takwa mereka. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki, dan kemudian Kami sediakan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik. Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak terbatas. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Dan sesungguhnya kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatannya dan lebih besar keutamaannya.” (QS. Al-Isra: 18-21).

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa Dia memberikan dari karunia-Nya kepada orang yang menginginkan dunia dan orang yang menginginkan akhirat, dan bahwa karunia-Nya tidak terlarang dari orang yang baik maupun yang jahat. Kemudian Allah Ta’ala berfirman: “Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Dan sesungguhnya kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatannya dan lebih besar keutamaannya.” (QS. Al-Isra: 21). Allah Subhanahu menjelaskan bahwa penghuni akhirat saling berbeda keutamaan di dalamnya lebih dari perbedaan keutamaan manusia di dunia, dan bahwa tingkatan-tingkatan akhirat lebih besar dari tingkatan-tingkatan dunia. Dan perbedaan keutamaan para nabi alaihimus salam seperti perbedaan keutamaan seluruh hamba-Nya yang beriman. Allah Ta’ala berfirman: “Rasul-rasul itu, Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata dengan dia dan Allah meninggikan sebagian mereka beberapa derajat, dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus.” (QS. Al-Baqarah: 253), dan Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah melebihkan sebagian nabi atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan kepada Dawud Kitab Zabur.” (QS. Al-Isra: 55).

Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah, jangan engkau lemah. Dan jika engkau tertimpa sesuatu, maka jangan katakan: ‘Seandainya aku berbuat begini, maka akan terjadi begini dan begitu’, tetapi katakanlah: ‘Qaddarallahu wa maa syaa fa’al (Allah telah menentukan dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan)’, karena sesungguhnya kata ‘seandainya’ membuka pintu perbuatan syaitan.”

Dalam Shahihain dari Abu Hurairah dan Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Apabila seorang hakim berijtihad lalu benar, maka baginya dua pahala. Dan apabila dia berijtihad lalu salah, maka baginya satu pahala.” Allah Ta’ala telah berfirman: “Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan Mekah (dengan orang yang menafkah dan berperang sesudahnya). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Dan kepada masing-masing mereka, Allah menjanjikan pahala yang baik.” (QS. Al-Hadid: 10) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik. Dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat daripada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 95-96).

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kalian menjadikan orang yang memberi minum haji dan mengurus Masjidil Haram sama dengan orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan rahmat dari pada-Nya dan keridhaan-Nya dan surga, yang di dalamnya mereka memperoleh kesenangan yang kekal, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taubah: 19-22) Dan Allah Ta’ala berfirman: “Apakah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya (sama dengan orang yang tidak demikian)? Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9), dan Allah Ta’ala berfirman: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah: 11).” (1)

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mendirikan shalat dan berpuasa Ramadhan, maka menjadi hak atas Allah untuk memasukkannya ke dalam surga, baik dia berjihad di jalan Allah atau dia tinggal di negerinya tempat dia dilahirkan.’ Mereka berkata: ‘Ya Rasulullah, tidakkah kami kabarkan kepada manusia?’ Beliau berkata: ‘Sesungguhnya di surga ada seratus derajat yang Allah persiapkan bagi para mujahid di jalan Allah. Jarak antara dua derajat seperti jarak antara langit dan bumi. Maka apabila kalian memohon kepada Allah, mohonlah Firdaus, karena ia adalah surga yang tengah dan surga yang tertinggi, aku kira beliau berkata: dan di atasnya ada Arsy Ar-Rahman – dan darinya memancar sungai-sungai surga.'” (2)

Dan telah tetap dalam Shahih juga dari Anas bahwa Ummu Haritsah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Haritsah telah terbunuh pada perang Badar, terkena anak panah yang menyimpang. Maka dia berkata: “Ya Rasulullah, sungguh engkau telah mengetahui kedudukan Haritsah di hatiku. Jika dia berada di surga, aku tidak akan menangisinya. Kalau tidak, maka engkau akan melihat apa yang akan kulakukan.” Maka beliau berkata kepadanya: “Apakah surga itu hanya satu? Sesungguhnya surga itu banyak, dan sesungguhnya dia berada di Firdausul A’la.” (1)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa penghuni surga berbeda-beda keutamaan di surga sesuai dengan kedudukan mereka di dalamnya. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sesungguhnya penghuni surga akan melihat penghuni kamar-kamar di atas mereka sebagaimana kalian melihat bintang yang cemerlang yang menghilang di ufuk timur atau barat, karena perbedaan keutamaan di antara mereka.’ Mereka berkata: ‘Ya Rasulullah, itukah tempat-tempat para nabi yang tidak dapat dicapai oleh selain mereka?’ Beliau berkata: ‘Tentu, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, (ada) orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para rasul.'” (3)

Dan dalam Musnad Ahmad dan Sunan at-Tirmidzi dan Sunan Ibnu Majah dan Shahih Ibnu Hibban dari Abu Sa’id dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sesungguhnya penghuni derajat-derajat tinggi akan dilihat oleh orang yang berada di bawah mereka sebagaimana kalian melihat bintang yang terbit di ufuk langit, dan sesungguhnya Abu Bakar dan Umar termasuk di antara mereka dan mereka berdua sangat baik.” (4)

Al-Qurthubi berkata: “Ketahuilah bahwa kamar-kamar ini berbeda dalam ketinggian dan sifat sesuai dengan perbedaan pemiliknya dalam amal perbuatan. Sebagiannya lebih tinggi dari sebagian yang lain dan lebih mulia.. Dan sabda beliau ‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, (ada) orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para rasul’ dan beliau tidak menyebutkan amal, atau sesuatu selain iman dan pembenaran kepada para rasul. Itu agar diketahui bahwa beliau bermaksud iman yang sempurna untuk membenarkan para rasul tanpa meminta mukjizat dan tanpa ragu-ragu. Kalau tidak, bagaimana mungkin kamar-kamar dapat diraih dengan iman dan pembenaran yang dimiliki orang awam. Seandainya demikian, maka semua orang yang bertauhid akan berada di kamar-kamar tertinggi dan derajat yang paling mulia, dan ini mustahil. Allah Ta’ala telah berfirman: “Mereka itulah orang yang dibalas dengan martabat yang tinggi (dalam surga) disebabkan kesabaran mereka” (QS. Al-Furqan: 75), dan kesabaran adalah mengorbankan jiwa dan teguh bersamanya dengan berdiri di hadapan-Nya dengan hati yang penuh penghambaan, dan ini adalah sifat orang-orang yang didekatkan.

Dan Allah berfirman dalam ayat lain: “Dan bukanlah harta benda dan anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi.” (QS. Saba: 37), maka Allah menyebutkan urusan kamar, dan bahwa ia tidak dapat diraih dengan harta dan anak-anak, melainkan hanya dapat diraih dengan iman dan amal shaleh. Kemudian Allah menjelaskan bahwa bagi mereka balasan yang berlipat ganda, dan bahwa tempat mereka adalah kamar-kamar. Ini memberitahumu bahwa ini adalah iman yang penuh ketenangan dan keterikatan hati dengannya, tenang dengannya dalam segala hal yang menimpanya, dan dengan semua urusan dan hukum-hukum-Nya. Maka apabila dia mengerjakan amal shaleh, dia tidak mencampurnya dengan lawannya yaitu yang rusak. Tidak akan ada amal shaleh yang tidak tercampur dengan kerusakan kecuali dengan iman yang sempurna yang membuat pemiliknya tenang dengan siapa yang dia imani dan dengan semua urusan dan hukum-hukum-Nya. Sedangkan orang yang mencampur, iman dan amalnya tidak seperti ini, maka karena itu kedudukannya di bawah yang lain.” (1)

Dan penghuni derajat-derajat tinggi berada dalam kenikmatan yang lebih mulia dari mereka yang di bawahnya. Allah telah menyebutkan bahwa Dia menyediakan dua surga bagi orang-orang yang takut kepada-Nya “Dan bagi orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya ada dua surga” (QS. Ar-Rahman: 46), dan Allah menggambarkan keduanya, kemudian berfirman: “Dan selain daripada kedua surga itu ada dua surga lagi” (QS. Ar-Rahman: 62), yaitu di bawah kedua surga itu dalam kedudukan dan derajat. Barangsiapa yang merenungkan sifat-sifat dua surga yang Allah sebutkan terakhir akan mengetahui bahwa keduanya di bawah dua surga yang pertama dalam keutamaan. Dua surga yang pertama untuk orang-orang yang didekatkan (muqarrabun), dan dua surga yang terakhir untuk ashab al-yamin, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas dan Abu Musa al-Asy’ari. (2)

Al-Qurthubi berkata: “Setelah menggambarkan dua surga, Allah menunjukkan perbedaan antara keduanya. Allah berfirman tentang dua surga yang pertama: ‘Di dalam keduanya ada dua buah mata air yang mengalir’ (QS. Ar-Rahman: 50), dan berfirman tentang dua surga yang terakhir: ‘Di dalam keduanya ada dua buah mata air yang memancar’ (QS. Ar-Rahman: 66), yaitu yang menyembur dengan air, tetapi keduanya tidak seperti yang mengalir, karena pancaran itu di bawah aliran. Dan Allah berfirman tentang dua surga yang pertama: ‘Di dalam keduanya terdapat segala macam buah-buahan berpasang-pasangan’ (QS. Ar-Rahman: 52), yang dikenal dan aneh, basah dan kering, maka Allah menyeluruh dan tidak mengkhususkan. Dan pada dua surga yang terakhir: ‘Di dalam keduanya terdapat buah-buahan dan kurma serta delima’ (QS. Ar-Rahman: 68), dan Allah tidak berfirman ‘segala macam buah-buahan berpasang-pasangan’. Dan Allah berfirman tentang dua surga yang pertama: ‘Mereka bertelekan pada permadani yang sebelah dalamnya terbuat dari sutera tebal’ (QS. Ar-Rahman: 54), yaitu sutera, dan pada dua surga yang terakhir: ‘Mereka bertelekan pada tikar hijau dan permadani yang indah’ (QS. Ar-Rahman: 76), dan permadani adalah kain bercorak, tidak diragukan bahwa sutera lebih tinggi dari kain bercorak, dan tikar adalah lipatan kemah, tidak diragukan bahwa permadani yang disediakan untuk bertelekan lebih baik dari kemah.

Dan Allah berfirman tentang dua surga yang pertama dalam sifat bidadari: ‘Seakan-akan mereka permata yakut dan marjan’ (QS. Ar-Rahman: 58), dan pada dua surga yang terakhir: ‘Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik’ (QS. Ar-Rahman: 70), dan tidak semua kecantikan seperti kecantikan yakut dan marjan. Dan Allah berfirman tentang dua surga yang pertama: ‘Yang mempunyai dahan-dahan yang lebat’ (QS. Ar-Rahman: 48), dan tentang dua surga yang terakhir: ‘Yang menghijau dengan suburnya’ (QS. Ar-Rahman: 64), yaitu hijau seakan-akan karena sangat hijaunya tampak kehitam-hitaman. Allah menggambarkan dua surga yang pertama dengan banyaknya dahan, dan dua surga yang terakhir hanya dengan kehijauan saja.” (1)

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua surga dari perak, bejana-bejana dan segala isinya, dan dua surga dari emas, bejana-bejana dan segala isinya. Dan tidak ada antara kaum dengan melihat kepada Rabb mereka kecuali selendang kebesaran pada wajah-Nya di surga ‘Adn.” (1), dan dalam riwayat at-Tirmidzi: “Sesungguhnya di surga ada dua surga dari perak..” dan menyebutkan hadits tersebut (2).

Allah Tabaraka wa Ta’ala menyebutkan bahwa orang-orang yang berbakti minum gelas yang bercampur dengan kafur: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti minum dari gelas yang campurannya adalah air kafur” (QS. Al-Insan: 5), dan Allah berfirman di tempat lain: “Dan di sana mereka diberi minum gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah jahe” (QS. Al-Insan: 17), dan tampaknya ini – wallahu a’lam – untuk ashab al-yamin. Dan Allah berfirman di tempat lain: “Dan campurannya dari tasnim. (Yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan” (QS. Al-Muthaffifin: 28-28), maka ashab al-yamin minum minuman yang bercampur dari tasnim, yaitu mata air di surga, sedangkan orang-orang yang didekatkan minum dari tasnim murni tidak bercampur.

Sub Pembahasan Kedua: Penghuni Surga yang Tertinggi dan Terendah Kedudukannya

Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari al-Mughirah bin Syu’bah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Musa bertanya kepada Rabbnya: Siapakah penghuni surga yang paling rendah kedudukannya? Allah menjawab: Dia adalah seorang laki-laki yang datang setelah penghuni surga dimasukkan ke surga, lalu dikatakan kepadanya: Masuklah ke surga. Dia berkata: Ya Rabb, bagaimana bisa? Padahal manusia telah menempati tempat-tempat mereka dan mengambil bagian-bagian mereka? Lalu dikatakan kepadanya: Apakah engkau rela jika engkau memiliki seperti kerajaan seorang raja dari raja-raja dunia? Dia menjawab: Aku rela ya Rabb. Allah berfirman: Bagimu itu dan sepertinya, dan sepertinya, dan sepertinya, dan sepertinya. Pada yang kelima dia berkata: Aku rela ya Rabb. Allah berfirman: Bagimu ini dan sepuluh kali lipatnya, dan bagimu apa yang diinginkan jiwamu dan yang menyenangkan matamu. Dia berkata: Aku rela ya Rabb.”

Musa berkata: Ya Rabb, lalu siapakah yang tertinggi kedudukannya? Allah berfirman: ‘Mereka adalah orang-orang yang Aku kehendaki, Aku tanam kemuliaan mereka dengan tangan-Ku dan Aku segel atasnya, maka tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.’ Dan pembenaran atasnya ada dalam Kitab Allah ‘Azza wa Jalla: ‘Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka’ (QS. As-Sajdah: 17).” (1)

Sub Pembahasan Ketiga: Kedudukan Tertinggi di Surga

Kedudukan tertinggi di surga yang akan diperoleh oleh satu orang disebut al-Wasilah, dan akan diperolehnya – insya Allah – oleh Nabi yang terpilih lagi terpilih, pilihan Allah dari makhluk-Nya, nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Katsir berkata dalam an-Nihayah: “Dia menyebutkan kedudukan tertinggi di surga yaitu al-Wasilah, di dalamnya adalah maqam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Beliau bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan ketika mendengar adzan: ‘Allahumma rabba hadzihid da’watit tammati wash salaatil qa’imati, aati Muhammadan al-wasilata wal fadhilata wab’atshu maqaman mahmudanilladzi wa’adtahu’ (Ya Allah, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang tegak, berikanlah kepada Muhammad al-wasilah dan al-fadhilah dan bangkitkanlah dia pada kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya), maka halal baginya syafa’at pada hari kiamat.” (2)

Dan beliau menyampaikan hadits Abdullah bin Amr bin al-Ash dalam shahih Muslim, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti yang dia ucapkan, kemudian bershalawatlah kepadaku, karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Kemudian mohonkanlah kepada Allah Ta’ala untukku al-wasilah, karena barangsiapa yang memohonkan kepada Allah untukku al-wasilah, maka halal baginya syafa’at.” (3) Dan para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apakah al-wasilah itu? Beliau menjawab: Derajat tertinggi di surga, tidak akan diperolehnya kecuali oleh satu orang, dan aku berharap akulah dia.” Diriwayatkan Ahmad dari Abu Hurairah, dan dalam al-Musnad dari Abu Sa’id dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Al-Wasilah adalah derajat di sisi Allah, tidak ada derajat di atasnya, maka mohonlah kepada Allah agar Dia memberikanku al-wasilah.” (1)

Sub Pembahasan Keempat: Mereka yang Menempati Derajat-derajat Tinggi

Di antara mereka yang menempati derajat-derajat tinggi di surga adalah para syuhada, dan yang paling utama di antara mereka adalah mereka yang berperang di barisan terdepan tidak menoleh hingga mereka terbunuh. Dalam Musnad Ahmad dan Mu’jam ath-Thabrani dari Nu’aim bin Himmar (2) dengan sanad shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sebaik-baik syuhada adalah mereka yang berperang di barisan terdepan, tidak memalingkan wajah mereka hingga mereka terbunuh. Mereka itulah yang bergembira di kamar-kamar tinggi surga, Rabb mereka tertawa kepada mereka, dan apabila Rabbmu tertawa kepada seorang hamba di suatu tempat, maka tidak ada hisab atasnya.” (3)

Dan orang yang berusaha untuk janda dan orang miskin memiliki kedudukan seperti mujahid di jalan Allah. Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Orang yang berusaha untuk janda dan orang miskin, seperti mujahid di jalan Allah – dan aku kira beliau berkata: dan seperti orang yang shalat tidak lelah, dan seperti orang yang berpuasa tidak berbuka.” (4) Dan kedudukan orang yang merawat anak yatim dekat dengan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang merawat anak yatim untuknya atau untuk orang lain, aku dan dia seperti ini di surga.” Dan Malik menunjuk dengan jari telunjuk dan jari tengah. (1)

Dan Allah mengangkat derajat para bapak dengan berkah doa anak-anak. Dalam Musnad Ahmad dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat hamba yang shaleh di surga, maka dia berkata: Ya Rabb, dari mana aku memperoleh ini? Allah berfirman: Dengan istighfar anakmu untukmu.”

Ibnu Katsir berkata: Dan ini sanadnya shahih, tidak ada seorang pun dari pemilik kutub sittah yang mengeluarkannya, tetapi hadits ini memiliki syahid dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal: shadaqah jariyah atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang mendoakannya.” (2)

Pembahasan Keempat: Tanah Surga

Telah terbukti dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik dari Abu Dzar dalam hadits Isra’ Mi’raj, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku dimasukkan ke dalam surga, dan di dalamnya terdapat kubah-kubah mutiara, dan tanahnya adalah misk.”

Dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad dari Abu Sa’id bahwa Ibnu Shayyad bertanya kepada Rasul shallallahu alaihi wasallam tentang tanah surga, maka beliau bersabda: “Tanah surga adalah tepung putih dari misk murni.” Dan dalam Musnad Ahmad dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda tentang orang Yahudi: “Sesungguhnya aku akan bertanya kepada mereka tentang tanah surga, yaitu tepung putih. Maka aku bertanya kepada mereka, lalu mereka berkata: ‘Tanah surga adalah roti wahai Abu Qasim.’ Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Roti berasal dari tepung.'”

Ahmad, Tirmidzi, dan Darimi meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Aku bertanya: “Ya Rasulullah, dari apa semua makhluk diciptakan?” Beliau menjawab: “Dari air.” Kami berkata: “Surga, apa bangunannya?” Beliau bersabda: “Bata dari emas dan bata dari perak, semennya adalah misk yang harum, kerikil-kerikil kecilnya adalah mutiara dan yakut, tanahnya adalah za’faran. Siapa yang memasukinya akan bersenang-senang dan tidak akan susah, akan kekal dan tidak akan mati, pakaiannya tidak akan rusak, dan masa mudanya tidak akan hilang.”

Pembahasan Kelima: Sungai-sungai Surga

Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengabarkan kepada kita bahwa surga mengalir di bawahnya sungai-sungai: “Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. Al-Baqarah: 25). Dan kadang-kadang Allah berfirman: mengalir di bawah mereka sungai-sungai: “Mereka itulah yang memperoleh surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. Al-Kahf: 31).

Dan Rasul shallallahu alaihi wasallam telah menceritakan kepada kita tentang sungai-sungai surga dengan hadits yang jelas dan terang. Dalam perjalanan Isra’ beliau shallallahu alaihi wasallam: “Aku melihat empat sungai yang keluar dari pangkalnya, dua sungai yang tampak dan dua sungai yang tersembunyi. Maka aku bertanya: ‘Wahai Jibril, sungai-sungai apa ini?’ Ia berkata: ‘Adapun dua sungai yang tersembunyi, maka keduanya adalah dua sungai di surga. Adapun yang tampak, maka keduanya adalah Sungai Nil dan Sungai Euphrat.'”

Dalam Shahih Bukhari dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Diperlihatkan kepadaku Sidratul Muntaha, maka di sana ada empat sungai: dua sungai yang tampak dan dua sungai yang tersembunyi. Adapun yang tampak adalah Sungai Nil dan Sungai Euphrat, adapun yang tersembunyi adalah dua sungai di surga.”

Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Saihan, Jaihan, Euphrat, dan Nil semuanya adalah sungai-sungai surga.”

“Mungkin yang dimaksud dari keterangan bahwa sungai-sungai ini berasal dari surga adalah bahwa asal-usulnya dari surga sebagaimana asal-usul manusia dari surga. Maka hal ini tidak bertentangan dengan hadits tersebut dengan apa yang diketahui dan disaksikan bahwa sungai-sungai ini mengalir dari sumber-sumbernya yang dikenal di bumi. Jika bukan ini maksudnya atau yang serupa dengannya, maka hadits ini termasuk perkara ghaib yang wajib diimani dan diserahkan kepada yang mengabarkannya.”

Al-Qari berkata: “Sesungguhnya keempat sungai itu dijadikan dari sungai-sungai surga karena kesegarannya dan mudah dicernanya, dan karena mengandung berkah Ilahi, serta kemuliaan dengan didatangi para nabi dan mereka minum darinya.”

Di antara sungai-sungai surga adalah Al-Kautsar yang Allah berikan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (Al-Kautsar).” (QS. Al-Kautsar: 1). Dan Rasul shallallahu alaihi wasallam telah melihatnya dan menceritakan kepada kita tentangnya. Dalam Shahih Bukhari dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Ketika aku sedang berjalan di surga, tiba-tiba aku melihat sebuah sungai yang kedua tepinya adalah kubah-kubah mutiara berongga. Aku bertanya: ‘Apa ini wahai Jibril?’ Ia berkata: ‘Ini adalah Al-Kautsar yang Tuhanmu berikan kepadamu, dan aromanya –atau tanahnya– adalah misk yang harum.'” Hudabah meragu.

Ibnu Abbas menafsirkan Al-Kautsar sebagai kebaikan yang banyak yang Allah berikan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam. Maka Abu Bisyr berkata kepada Sa’id bin Jubair yang meriwayatkan tafsir ini dari Ibnu Abbas: “Sesungguhnya ada orang-orang yang mengira bahwa Al-Kautsar itu adalah sungai di surga.” Maka Sa’id berkata: “Sungai yang di surga itu termasuk kebaikan yang Allah berikan kepadanya.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir telah mengumpulkan hadits-hadits yang Rasul shallallahu alaihi wasallam kabarkan di dalamnya tentang Al-Kautsar. Di antara hadits-hadits tersebut adalah apa yang diriwayatkan Muslim dalam shahihnya dari Anas, bahwa Rasul shallallahu alaihi wasallam ketika diturunkan kepadanya “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar” (QS. Al-Kautsar: 1), beliau bersabda: “Tahukah kalian apa Al-Kautsar itu?” Mereka berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda: “Al-Kautsar adalah sungai yang dijanjikan Allah Azza wa Jalla kepadaku, di atasnya terdapat kebaikan yang banyak.”

Beliau menyebutkan hadits Anas yang ada dalam Musnad Ahmad dari Rasul shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Aku diberi Al-Kautsar, maka ia adalah sungai yang mengalir di atas permukaan bumi, kedua tepinya adalah kubah-kubah mutiara, tidak beratap. Maka aku menggerakkan tanganku ke tanahnya, ternyata tanahnya adalah misk yang harum, dan kerikil-kerikil kecilnya adalah mutiara.”

Dalam riwayat lain di Musnad dari Anas secara marfu’: “Al-Kautsar adalah sungai yang Allah berikan kepadaku di surga, tanahnya adalah misk, airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu. Burung-burung hinggap di atasnya, lehernya seperti leher unta.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir telah menyebutkan riwayat-riwayat lain yang banyak dalam topik ini, maka kembalilah kepadanya jika kamu ingin tambahan.

Sungai-sungai surga bukan hanya air saja, tetapi ada yang berupa air, ada yang berupa susu, ada yang berupa khamar (anggur), dan ada yang berupa madu yang jernih.

Allah Ta’ala berfirman: “Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa ialah (di dalamnya) ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (anggur) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring.” (QS. Muhammad: 15).

Dalam Sunan Tirmidzi dengan sanad shahih dari Hakim bin Mu’awiyah (dia adalah kakek Bahz bin Hakim) bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di surga ada lautan madu, lautan khamar, lautan susu, dan lautan air, kemudian sungai-sungai mengalir setelah itu.”

Maka sungai-sungai surga mengalir dari lautan-lautan yang disebutkan Rasul shallallahu alaihi wasallam. Dan Rasul shallallahu alaihi wasallam mengabarkan kepada kita tentang sungai yang bernama Bariq yang berada di pintu surga, dan para syuhada berada di alam barzakh di sungai ini. Dalam Musnad Ahmad, Mu’jam Thabrani, dan Mustadrak Hakim dari Ibnu Abbas dengan sanad hasan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Para syuhada berada di Bariq, sungai di pintu surga, dalam kubah hijau, keluar kepada mereka rezeki mereka dari surga pagi dan sore.”

Pembahasan Keenam: Mata Air-mata Air Surga

Di surga terdapat mata air yang banyak dengan berbagai rasa dan minuman yang berbeda-beda: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam taman-taman dan mata air-mata air.” (QS. Al-Hijr: 45), “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan dan mata air-mata air.” (QS. Al-Mursalat: 41). Dan Allah berfirman dalam menggambarkan dua surga yang dipersiapkan bagi orang yang takut kepada Tuhannya: “Di dalam keduanya ada dua buah mata air yang mengalir.” (QS. Ar-Rahman: 50). Dan Allah berfirman dalam menggambarkan dua surga yang di bawah keduanya: “Di dalam keduanya terdapat dua mata air yang memancar.” (QS. Ar-Rahman: 66).

Di surga terdapat dua mata air yang para muqarrabun (orang-orang yang didekatkan) minum airnya murni tanpa dicampur, dan para abrar (orang-orang yang berbuat baik) minum darinya minuman yang dicampur dengan yang lain.

Mata air pertama: mata air kafur. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat baik minum dari gelas yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air yang hamba-hamba Allah minum daripadanya, mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Insan: 5-6). Allah telah mengabarkan bahwa orang-orang abrar minum minuman mereka yang dicampur dari mata air kafur, sedangkan hamba-hamba Allah minum darinya dalam keadaan murni.

Mata air kedua: mata air Tasnim. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat baik benar-benar berada dalam kenikmatan. Di atas dipan-dipan mereka memandang. Kamu dapat mengetahui di wajah mereka kecerahannya kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang masih tersegel. Yang segel-segelnya adalah misk. Dan untuk yang demikian itu hendaklah berlomba-lomba orang yang berlomba-lomba. Dan campurannya adalah dari Tasnim. (Yaitu) mata air yang diminum oleh orang-orang yang didekatkan.” (QS. Al-Muthaffifin: 22-28).

Di antara mata air-mata air surga ada mata air yang bernama As-Salsabil. Allah Ta’ala berfirman: “Dan di sana mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Dari) mata air di sana yang dinamakan Salsabil.” (QS. Al-Insan: 17-18). Mungkin ini adalah mata air pertama itu sendiri.

Pembahasan Ketujuh: Istana-istana Surga dan Kemah-kemahnya

Allah membangun untuk ahli surga di surga tempat-tempat tinggal yang baik dan indah sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Dan tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn.” (QS. At-Taubah: 72). Dan Allah telah menyebut dalam beberapa tempat dalam kitab-Nya tempat-tempat tinggal ini dengan sebutan ghurfah (kamar-kamar). Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka berada dalam kamar-kamar dengan aman.” (QS. Saba’: 37). Dan Allah berfirman dalam balasan hamba-hamba Ar-Rahman: “Mereka itulah orang yang dibalas dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.” (QS. Al-Furqan: 75). Dan Allah Ta’ala berfirman dalam menggambarkan kamar-kamar ini: “Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, mereka mendapat tempat-tempat yang tinggi, di atasnya bangunan-bangunan yang tinggi yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, sebagai janji Allah. Allah tidak menyalahi janji.” (QS. Az-Zumar: 20).

Ibnu Katsir berkata: “Allah Azza wa Jalla mengabarkan tentang hamba-hamba-Nya yang berbahagia bahwa bagi mereka ada kamar-kamar di surga, yaitu istana-istana yang tinggi menjulang, ‘di atasnya bangunan-bangunan yang tinggi’ (QS. Az-Zumar: 20), bertingkat-tingkat di atas tingkatan lain yang dibangun dengan kokoh, dihiasi, dan tinggi.”

Rasul shallallahu alaihi wasallam telah menggambarkan istana-istana ini kepada kita. Dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dalam Musnadnya dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya dari Abu Malik Al-Asy’ari dan Tirmidzi dari Ali bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di surga ada kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari bagian dalamnya, dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya. Allah Ta’ala menyiapkannya bagi orang yang memberi makan, berkata lemah lembut, puasa secara berkesinambungan, dan shalat di malam hari ketika manusia sedang tidur.”

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan kepada kita bahwa di surga terdapat kemah-kemah. Allah Ta’ala berfirman: “(Bidadari-bidadari) yang jelita, dipingit dalam kemah.” (QS. Ar-Rahman: 72).

Dan kemah-kemah ini adalah kemah-kemah yang menakjubkan, karena terbuat dari mutiara, bahkan dari satu mutiara yang berongga, tingginya di langit enam puluh mil, dan dalam sebagian riwayat lebarnya enam puluh mil. Dalam Shahih Bukhari dari Abdullah bin Qais, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kemah itu adalah mutiara berongga, tingginya di langit tiga puluh mil, di setiap sudutnya terdapat keluarga bagi orang mukmin yang tidak dapat dilihat oleh yang lain.” Abu Abd As-Shamad dan Al-Harits dari Abu Imran berkata: “Enam puluh mil.”

Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin Qais dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya bagi orang mukmin di surga ada kemah dari satu mutiara yang berongga, tingginya enam puluh mil. Bagi orang mukmin di dalamnya ada keluarga-keluarga, ia berkeliling menemui mereka, maka sebagian mereka tidak melihat sebagian yang lain.”

Dalam riwayat Muslim: “Di surga ada kemah dari mutiara berongga, lebarnya enam puluh mil, di setiap sudutnya ada keluarga yang tidak melihat yang lain, orang mukmin berkeliling menemui mereka.”

Rasul shallallahu alaihi wasallam telah mengabarkan kepada kita tentang sifat-sifat istana beberapa istrinya dan beberapa sahabatnya. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, ia berkata: Jibril mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu berkata: “Ya Rasulullah, ini Khadijah datang membawa bejana yang berisi lauk dan makanan. Jika ia datang kepadamu, maka sampaikanlah salam kepadanya dari Tuhannya dan dariku, dan berilah kabar gembira kepadanya dengan rumah di surga dari mutiara berlubang, tidak ada keributan di dalamnya dan tidak ada kelelahan.”

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Jabir, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Aku masuk surga, maka aku melihat Ar-Rumaisha istri Abu Thalhah, dan aku mendengar suara gemerisik. Aku bertanya: ‘Siapa ini?’ Maka dikatakan: ‘Ini Bilal.’ Dan aku melihat istana dengan halaman yang di dalamnya ada budak wanita. Aku bertanya: ‘Milik siapa ini?’ Mereka berkata: ‘Milik Umar bin Khattab.’ Aku ingin memasukinya dan melihat ke dalamnya, namun aku teringat akan cemburumu.” Maka Umar berkata: “Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu ya Rasulullah, apakah aku cemburu kepadamu?”

Rasul shallallahu alaihi wasallam telah mengabarkan cara yang dengan cara itu orang mukmin memperoleh tambahan rumah-rumah di surga. Orang yang membangun masjid untuk Allah, maka Allah akan membangun rumah untuknya di surga. Dalam Musnad Ahmad dari Ibnu Abbas dengan sanad shahih bahwa Rasul shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa membangun masjid untuk Allah, walau seperti sarang burung qatha untuk bertelur, maka Allah akan membangun rumah untuknya di surga.”

Dalam Musnad Ahmad, Shahih Bukhari dan Muslim, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibnu Majah dari Utsman bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa membangun masjid dengan mengharap wajah Allah, maka Allah akan membangun untuknya yang serupa di surga.”

Dalam Shahih Muslim, Musnad Ahmad, Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah dari Umm Habibah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa shalat dalam sehari semalam dua belas rakaat sunnah, maka Allah akan membangun rumah untuknya di surga.”

Pembahasan Kedelapan: Cahaya Surga

Al-Qurthubi berkata: “Para ulama berkata: Di surga tidak ada malam dan siang, tetapi mereka berada dalam cahaya yang terus-menerus selamanya. Mereka hanya mengetahui ukuran malam dengan diturunkannya hijab dan ditutupnya pintu-pintu, dan mereka mengetahui ukuran siang dengan diangkatnya hijab dan dibukanya pintu-pintu. Ini disebutkan oleh Abu Al-Faraj Ibnu Al-Jauzi.”

Ibnu Katsir berkata dalam tafsir firman Allah Ta’ala: “Dan mereka memperoleh rezeki di dalamnya pada pagi dan petang. Itulah surga yang Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang bertakwa.” (QS. Maryam: 62-63): “Yaitu dalam waktu seperti waktu pagi dan waktu sore, bukan bahwa di sana ada malam dan siang, tetapi mereka dalam waktu-waktu yang bergantian yang mereka ketahui berlalunya dengan cahaya-cahaya dan sinar-sinar.”

Ibnu Taimiyah berkata dalam topik ini: “Dan surga tidak ada matahari dan bulan di dalamnya, tidak ada malam dan siang, tetapi pagi dan sore diketahui dengan cahaya yang tampak dari arah Arsy.”

Pembahasan Kesembilan: Aroma Surga

Surga memiliki aroma yang harum dan wangi yang memenuhi sisi-sisinya, dan aroma ini dirasakan oleh orang-orang mukmin dari jarak yang sangat jauh. Dalam Musnad Ahmad, Sunan An-Nasa’i dan Ibnu Majah, dan Mustadrak Hakim dengan sanad shahih bahwa Rasul shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa membunuh seorang laki-laki dari ahli dzimmah (non-Muslim yang dilindungi), maka ia tidak akan mencium aroma surga, padahal aromanya dapat tercium dari perjalanan tujuh puluh tahun.”

Dalam Shahih Bukhari, Musnad Ahmad, Sunan An-Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah dari Abdullah bin Amr bahwa Rasul shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa membunuh orang yang dijamin keamanannya, maka ia tidak akan mencium aroma surga, padahal aromanya dapat tercium dari perjalanan empat puluh tahun.”

Pembahasan Kesepuluh: Pohon-Pohon Surga dan Buah-Buahnya

Bagian Pertama: Pohon-Pohonnya dan Buah-Buahnya yang Banyak, Beragam, dan Kekal

Pohon-pohon surga sangat banyak, baik, dan beragam. Allah telah memberitahu kita bahwa di surga terdapat pohon anggur, pohon kurma, dan pohon delima, sebagaimana di dalamnya juga terdapat pohon bidara dan pohon talh. “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa memperoleh kemenangan, (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur” (Surah An-Naba’: 31-32), “Di dalamnya ada buah-buahan, pohon kurma dan delima” (Surah Ar-Rahman: 68), “Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon talh yang tersusun (buah-buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang mengalir, dan buah-buahan yang banyak” (Surah Al-Waqi’ah: 27-32).

Bidara adalah pohon nabak yang berduri, tetapi di surga durinya sudah dipotong, yaitu dicabut. Dan talh adalah pohon dari pohon-pohon Hijaz dari jenis akasia yang berduri, tetapi di surga ia tersusun dan siap untuk dimakan tanpa kesulitan dan kesusahan.

Yang disebutkan Al-Quran tentang pohon-pohon surga hanyalah sebagian kecil dari yang terkandung dalam surga tersebut, oleh karena itu Allah berfirman: “Di dalam keduanya terdapat segala macam buah-buahan berpasang-pasangan” (Surah Ar-Rahman: 52). Karena banyaknya, maka penghuninya dapat meminta buah apa saja yang mereka inginkan, dan memilih apa yang mereka kehendaki: “Mereka meminta di dalamnya buah-buahan yang banyak dan minuman” (Surah Sad: 51), “Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih” (Surah Al-Waqi’ah: 20), “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan dan mata air, dan buah-buahan dari apa yang mereka inginkan” (Surah Al-Mursalat: 41-42).

Secara keseluruhan, di surga terdapat dari berbagai jenis buah-buahan dan kenikmatan segala sesuatu yang diinginkan jiwa dan menyenangkan mata: “Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala. Dan di dalamnya terdapat segala apa yang diinginkan hati dan sedap dipandang mata” (Surah Az-Zukhruf: 71).

Ibnu Katsir mengatakan perkataan yang indah ketika menjelaskan keagungan buah-buahan surga, ketika ia menyimpulkan bahwa Allah mengingatkan dari yang sedikit kepada yang banyak, dan dari yang ringan kepada yang besar ketika menyebutkan bidara dan talh. Dia berkata: “Jika bidara yang di dunia hanya berbuah buah yang lemah yaitu nabak, dan durinya banyak, serta talh yang tidak dimanfaatkan di dunia kecuali untuk naungan, maka keduanya di surga berada dalam keadaan sangat banyak buah-buahannya dan sangat baik, hingga satu buah saja dari keduanya terbuka menjadi tujuh puluh jenis rasa dan warna, yang sebagiannya mirip dengan sebagian lainnya, maka bagaimana menurutmu dengan buah-buahan pohon yang di dunia memiliki buah yang baik, seperti apel, kurma, anggur, dan lain sebagainya? Dan bagaimana menurutmu dengan berbagai jenis bunga-bungaan dan kembang-kembang? Secara keseluruhan, di dalamnya terdapat apa yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia. Kami memohon kepada Allah dari karunia-Nya.”

Pohon-pohon surga memberikan hasil yang kekal, mereka tidak seperti pohon-pohon dunia yang memberikan hasil pada waktu tertentu tanpa waktu lain, dan musim tertentu tanpa musim lain, tetapi mereka selalu berbuah dan memberikan naungan: “Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa ialah mengalir sungai-sungai di bawahnya; buahnya kekal dan naungannya (demikian pula)” (Surah Ar-Ra’d: 35), “Dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang (mengambilnya)” (Surah Al-Waqi’ah: 32-33). Artinya kekal dan terus-menerus, dan dengan kekekalannya itu, penghuni surga tidak dilarang mengambilnya.

Di antara hal-hal indah yang dijumpai penghuni surga ketika buah-buahan datang kepada mereka adalah mereka mendapati buah-buahan itu mirip dalam penampilan, tetapi berbeda dalam isinya: “Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan di dalamnya, mereka berkata: ‘Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.’ Dan mereka diberi buah-buahan yang serupa” (Surah Al-Baqarah: 25).

Pohon-pohon surga memiliki cabang dan ranting yang tinggi dan tumbuh subur: “Dan bagi orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya ada dua surga. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Yang mempunyai dahan-dahan” (Surah Ar-Rahman: 46-48), dan mereka sangat hijau: “Dan selain dari kedua surga itu ada dua surga lagi. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Kedua surga itu (kelihatan) hijau tua” (Surah Ar-Rahman: 62-64). Surga tidak disebut hijau tua kecuali jika pohon-pohonnya condong ke warna hitam karena sangat hijaunya, dan karena rimbunnya pohon-pohonnya.

Adapun buah-buahan dari pohon-pohon tersebut, mereka dekat dan mudah dijangkau, penghuni surga dapat meraihnya dengan mudah dan gampang: “Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera. Dan buah-buahan kedua surga itu dapat dipetik dari dekat” (Surah Ar-Rahman: 54), “Dan buahnya dimudahkan dipetik semudah-mudahnya” (Surah Al-Insan: 14).

Adapun naungannya sebagaimana firman Allah: “Dan Kami masukkan mereka ke dalam naungan yang teduh” (Surah An-Nisa’: 57), dan “dan naungan yang terbentang luas” (Surah Al-Waqi’ah: 30), “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan dan mata air” (Surah Al-Mursalat: 41).

Bagian Kedua: Deskripsi Beberapa Pohon Surga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menceritakan kepada kita tentang beberapa pohon surga dengan cerita yang menakjubkan yang memberitahu kita tentang ciptaan yang indah dan luar biasa yang membuat khayalan berkelana lama dalam memperkirakan dan mengenalnya. Kami sampaikan kepadamu sebagian dari apa yang diceritakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kami.

1- Pohon yang Seorang Penunggang Berjalan dalam Naungannya Selama Seratus Tahun:

Ini adalah pohon yang sangat besar yang tidak dapat diperkirakan ukurannya kecuali oleh Yang menciptakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan kebesaran pohon ini dengan memberitahu bahwa penunggang kuda dari kuda-kuda yang dipersiapkan untuk lomba membutuhkan seratus tahun untuk melewatinya jika berjalan dengan kecepatan maksimalnya. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya di surga ada pohon yang dapat ditempuh oleh penunggang kuda yang cepat dan kuat selama seratus tahun namun tidak dapat melewatinya.”

Dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya di surga ada pohon yang seorang penunggang berjalan dalam naungannya selama seratus tahun, dan bacalah jika kalian mau: ‘dan naungan yang terbentang luas'” (Surah Al-Waqi’ah: 30).

Muslim meriwayatkannya dari Abu Hurairah dan Sahl bin Sa’d dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya di surga ada pohon yang seorang penunggang berjalan dalam naungannya selama seratus tahun namun tidak dapat melewatinya.”

2- Sidratul Muntaha:

Pohon ini disebutkan Allah dalam Al-Quran yang mulia, dan Allah memberitahu bahwa Rasul kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melihat Jibril dalam bentuk aslinya yang Allah ciptakan di dekatnya, dan bahwa pohon ini berada di dekat Jannatul Ma’wa. Sebagaimana Allah memberitahu kita bahwa pohon itu telah diselimuti oleh sesuatu yang menyelimutinya yang tidak diketahui kecuali oleh Allah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihatnya: “Dan sesungguhnya dia (Muhammad) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, yaitu di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada Jannatul Ma’wa. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dan tidak (pula) melampau batas” (Surah An-Najm: 13-17).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitahu kita tentang pohon ini dengan sesuatu yang beliau lihat: “Kemudian diangkat untukku Sidratul Muntaha, maka nabaknya seperti tempayan Hajar dan daunnya seperti telinga gajah. Dia (Jibril) berkata: ‘Ini adalah Sidratul Muntaha’, dan ternyata ada empat sungai, dua sungai batin dan dua sungai zahir. Aku bertanya: ‘Apa kedua sungai ini wahai Jibril?’ Dia menjawab: ‘Adapun yang batin adalah dua sungai di surga, dan adapun yang zahir adalah sungai Nil dan Furat.'” Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga: “Kemudian aku dibawa pergi hingga sampai ke Sidratul Muntaha, nabaknya seperti tempayan Hajar, dan daunnya seperti telinga gajah, hampir satu daun dapat menutupi umat ini. Maka diselimuti warna-warna yang tidak aku ketahui apa itu, kemudian aku dimasukkan ke surga, maka di dalamnya ada kubah-kubah mutiara, dan tanahnya adalah misk.”

3- Pohon Tuba:

Ini adalah pohon yang besar dan agung yang membuat pakaian penghuni surga. Dalam Musnad Ahmad, Tafsir Ibnu Jarir, dan Shahih Ibnu Hibban dari Abu Sa’id Al-Khudri dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tuba adalah pohon di surga, perjalanan seratus tahun, pakaian penghuni surga keluar dari kuntumnya.”

Telah menunjukkan bahwa pakaian penghuni surga terbelah dari buah-buahan surga – hadis yang diriwayatkan Ahmad dalam Musnadnya dari Abdullah bin Amru, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: Wahai Rasulullah, beritahu kami tentang pakaian penghuni surga, apakah diciptakan atau ditenun? Maka sebagian orang tertawa, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mengapa kalian tertawa, dari orang yang tidak tahu yang bertanya kepada orang yang tahu?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menunduk lalu berkata: “Mana penanya?” Dia berkata: “Ini saya wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Tidak, tetapi terbelah dari buah surga, tiga kali.”

Bagian Ketiga: Penghulu Bunga Wangi Surga

Allah memberitahu kita bahwa di surga ada bunga wangi: “Maka adapun jika dia termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga kenikmatan” (Surah Al-Waqi’ah: 88-89). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahu kita bahwa penghulu bunga wangi penghuni surga adalah pacar (henna). Dalam Mu’jam Ath-Thabrani Al-Kabir dengan sanad shahih menurut syarat Syaikhain dari Abdullah bin Amru dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Penghulu bunga wangi surga adalah pacar.”

Bagian Keempat: Batang Pohon-Pohon Surga dari Emas

Di antara hal menakjubkan yang diberitahukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita adalah bahwa batang pohon-pohon surga dari emas. Dalam Sunan Tirmidzi, Shahih Ibnu Hibban, Sunan Baihaqi, dengan sanad shahih, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada pohon di surga kecuali batangnya dari emas.”

Bagian Kelima: Bagaimana Orang Beriman Memperbanyak Bagiannya dari Pohon-Pohon Surga?

Khalilurrahman Abu Al-Anbiya Ibrahim alaihissalam meminta kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pada malam Isra’ agar menyampaikan salam kepada umatnya dan memberitahu mereka cara yang dapat mereka gunakan untuk memperbanyak bagian mereka dari pohon-pohon surga. Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad hasan dari Ibnu Mas’ud, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku bertemu Ibrahim pada malam aku diisra’kan, maka dia berkata: ‘Wahai Muhammad, sampaikanlah kepada umatmu bahwa surga adalah tanah yang baik tanahnya, manis airnya, dan bahwa dia adalah dataran, dan tanamannya adalah Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar.'”

Pembahasan Kesebelas: Hewan-Hewan Surga dan Burung-Burungnya

Di surga terdapat burung-burung dan hewan-hewan yang tidak diketahui kecuali oleh Allah Ta’ala. Allah berfirman mengenai apa yang diperoleh penghuni surga dari kenikmatan: “Dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. Dan bidadari” (Surah Al-Waqi’ah: 21-22).

Dalam Sunan Tirmidzi dari Anas, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya: Apa itu Al-Kautsar? Beliau menjawab: “Itu adalah sungai yang diberikan Allah kepadaku – yaitu di surga – lebih putih dari susu, dan lebih manis dari madu, di dalamnya ada burung-burung yang lehernya seperti leher unta.” Umar berkata: “Sesungguhnya burung-burung ini indah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Yang memakannya lebih indah darinya.”

Abu Nu’aim mengeluarkan dalam Al-Hilyah, dan Hakim dalam Mustadraknya dari Ibnu Mas’ud, dia berkata: “Seorang laki-laki datang dengan unta yang dikekang, lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, unta ini di jalan Allah.’ Maka beliau bersabda: ‘Untukmu dengan unta itu tujuh ratus unta yang dikekang di surga.'” Hakim berkata: Shahih menurut syarat Syaikhain, dan Dzahabi menyetujuinya, dan Syaikh Nashiruddin Al-Albani menyetujui mereka. Muslim meriwayatkannya dalam shahihnya dari Abu Mas’ud Al-Anshari, dia berkata: Seorang laki-laki datang dengan unta yang dikekang, lalu berkata: “Ini di jalan Allah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Untukmu dengan unta itu pada hari kiamat tujuh ratus unta semuanya dikekang.” Diriwayatkan Muslim.

Bab Keempat: Penghuni Surga

Pembahasan Pertama: Amalan-Amalan yang Membuat Mereka Berhak Mendapat Surga

Penghuni surga adalah orang-orang beriman yang bertauhid, maka setiap orang yang menyekutukan Allah atau kafir kepada-Nya, atau mendustakan salah satu pokok iman maka dia diharamkan dari surga, dan akan berada di neraka.

Al-Quran sering menyebutkan bahwa penghuni surga adalah orang-orang beriman yang beramal saleh, dan kadang-kadang merinci amalan saleh yang dengannya pelakunya berhak mendapat surga.

Di antara tempat-tempat yang Al-Quran menegaskan hak penghuni surga mendapat surga dengan iman dan amalan saleh adalah firman Allah: “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bahwa untuk mereka disediakan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan di dalamnya, mereka berkata: ‘Inilah rezeki yang pernah diberikan kepada kami dahulu.’ Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya” (Surah Al-Baqarah: 25).

Dan firman-Nya: “Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, pasti Kami masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Di dalamnya mereka mempunyai istri-istri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman” (Surah An-Nisa’: 57).

Dan firman-Nya: “Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Kami tidak membebani seseorang kecuali menurut kemampuannya, mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya” (Surah Al-A’raf: 42).

Dan firman-Nya: “Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan tempat-tempat yang baik di surga ‘Adn. Dan keridaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar” (Surah At-Taubah: 72).

Dan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Tuhan mereka akan membimbing mereka karena keimanannya. Di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan. Doa mereka di dalamnya ialah: ‘Subhanaka Allahumma’, dan salam mereka di dalamnya ialah: ‘Salam’. Dan penutup doa mereka ialah: ‘Alhamdulillahi rabbil ‘alamin'” (Surah Yunus: 9-10).

Dan firman Allah: “Mereka itulah yang akan memperoleh surga ‘Adn, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka dihiasi dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk bertelekan di atas dipan yang indah. Itulah sebaik-baik pahala, dan tempat istirahat yang indah” (Surah Al-Kahf: 31).

Dan firman Allah: “Dan barangsiapa datang kepada-Nya dalam keadaan beriman, sesudah mengerjakan amal-amal yang saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh derajat yang tinggi (mulia), (yaitu) surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan demikian itulah balasan orang yang menyucikan diri” (Surah Thaha: 75-76).

Kadang-kadang Allah menyebutkan bahwa mereka berhak mendapat surga karena mewujudkan salah satu perkara iman atau amalan saleh, dan mungkin merinci amalan saleh, dan memperpanjang dalam hal itu.

Kadang-kadang disebutkan bahwa mereka berhak mendapat surga dengan iman dan Islam: “Wahai hamba-hamba-Ku! Tidak ada kekhawatiran terhadap kamu pada hari ini dan tidak (pula) kamu bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka orang-orang yang berserah diri (kepada Kami). Masuklah ke dalam surga, kamu dan istri-istrimu dengan gembira” (Surah Az-Zukhruf: 68-70).

Kadang-kadang disebutkan bahwa mereka berhaknya karena mengikhlaskan agama mereka untuk Allah: “Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). Mereka itulah yang memperoleh rezeki yang tertentu, (yaitu) buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam surga yang penuh kenikmatan” (Surah Ash-Shaffat: 40-43).

Kadang-kadang disebutkan hak mereka karena kuatnya hubungan mereka dengan Allah dan keinginan mereka kepada-Nya serta ibadah mereka kepada-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami ialah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka menyungkur sujud dan bertasbih seraya memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri. Lambung mereka tidak mau melekat dengan tempat tidurnya karena mereka menyeru Tuhannya dengan rasa takut dan harap, serta mereka menginfakkan rezeki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan mata sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan” (Surah As-Sajdah: 15-18).

Di antara amalan adalah sabar dan tawakkal: “Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh benar-benar akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal” (Surah Al-Ankabut: 58-59).

Syarat-syarat Masuk Surga

Diantara syarat-syarat tersebut adalah istiqamah dalam iman: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah’, kemudian mereka teguh istiqamah, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Mereka itulah penghuni surga, kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan” (Al-Ahqaf: 13-14).

Diantaranya juga adalah khusyu’ kepada Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta bersikap khusyu’ kepada Tuhan mereka, mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya” (Hud: 23).

Diantara hal tersebut adalah takut kepada Allah: “Dan bagi orang yang takut kepada kedudukan Tuhannya ada dua surga” (Ar-Rahman: 46).

Diantara hal tersebut adalah membenci orang-orang kafir musyrik dan tidak mencintai mereka: “Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya” (Al-Mujadilah: 22).

Pada beberapa kesempatan, ayat-ayat memberikan rincian yang sangat detail tentang amal saleh yang membuat pelakunya berhak mendapat surga. Disebutkan dalam surat Ar-Ra’d bahwa mereka berhak mendapatkannya karena keyakinan mereka bahwa apa yang diturunkan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kebenaran, karena mereka menepati janji, tidak mengingkari perjanjian, menyambung apa yang diperintahkan Allah untuk disambung, takut kepada Allah, dan takut dari hisab yang buruk, sabar karena Allah, mendirikan shalat, berinfak secara tersembunyi maupun terang-terangan, dan menolak kejahatan dengan kebaikan: “Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran. (Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian. Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuki bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapak mereka, isteri-isteri mereka dan anak cucu mereka, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): ‘Salamun ‘alaikum bima shabartum’. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu” (Ar-Ra’d: 19-24).

Pada permulaan surat Al-Mu’minun ditetapkan bahwa keberuntungan hanyalah milik orang-orang beriman, kemudian dijelaskan amal-amal yang membuat mereka layak meraih keberuntungan, dan diberitahukan kepada kita bahwa keberuntungan mereka hanyalah dengan dimasukkan ke Firdaus, kekal di dalamnya selamanya: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi. Yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya” (Al-Mu’minun: 1-11).

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menceritakan kepada kita tentang tiga amal besar yang membuat pelakunya berhak mendapat surga. Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari ‘Iyadh bin Himar Al-Mujasyi’i bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari berkata dalam khutbahnya: “…Dan penghuni surga ada tiga: (1) penguasa yang adil, dermawan lagi diberi taufiq, (2) seorang laki-laki yang penyayang, lembut hatinya terhadap setiap kerabat dan muslim, dan (3) orang yang menjaga diri, memelihara kehormatan diri dan mempunyai tanggungan keluarga”.

Pembahasan Kedua: Jalan Menuju Surga Penuh Kesulitan

Surga adalah derajat yang tinggi, dan naik ke tempat yang tinggi membutuhkan usaha yang besar. Jalan menuju surga mengandung penentangan terhadap hawa nafsu dan keinginan-keinginannya, dan ini membutuhkan tekad yang kuat dan kemauan yang kokoh. Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Neraka tertutup oleh syahwat-syahwat, dan surga tertutup oleh hal-hal yang tidak disukai”. Dalam riwayat Muslim: “dikelilingi” sebagai pengganti “tertutup”.

Dalam Sunan An-Nasa’i, At-Tirmidzi dan Abu Dawud dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketika Allah menciptakan surga, Dia berkata kepada Jibril: ‘Pergilah dan lihatlah surga itu’. Maka Jibril pergi dan melihatnya, lalu berkata: ‘Demi kemuliaan-Mu, tidak ada seorang pun yang mendengar tentang surga kecuali pasti akan memasukinya’. Maka Allah mengelilinginya dengan hal-hal yang tidak disukai, kemudian berkata: ‘Pergilah dan lihatlah surga itu’. Jibril pergi dan melihatnya, kemudian datang dan berkata: ‘Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku khawatir tidak ada seorang pun yang akan memasukinya'”.

An-Nawawi dalam “Syarah-nya atas Muslim” mengomentari hadits pertama dengan berkata: “Ini termasuk ucapan yang indah, fasih, dan ringkas yang diberikan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa perumpamaan yang baik. Maknanya adalah tidak dapat mencapai surga kecuali dengan menerjang hal-hal yang tidak disukai, dan neraka dengan syahwat-syahwat. Demikianlah keduanya tertutup oleh hal-hal tersebut. Barangsiapa yang merobek tabir akan sampai kepada yang tertutup. Merobek tabir surga dengan menerobos hal-hal yang tidak disukai, dan merobek tabir neraka dengan menerjang syahwat-syahwat. Adapun hal-hal yang tidak disukai meliputi bersungguh-sungguh dalam ibadah, konsisten melakukannya, sabar atas kesulitannya, menahan amarah, memaafkan, sabar, bersedekah, berbuat baik kepada yang berbuat jahat, menahan diri dari syahwat-syahwat, dan sebagainya”.

Pembahasan Ketiga: Penghuni Surga Mewarisi Bagian Penghuni Neraka di Surga

Allah menjadikan bagi setiap anak Adam dua tempat tinggal: tempat tinggal di surga dan tempat tinggal di neraka. Kemudian orang-orang yang ditakdirkan celaka dari kalangan kafir dan musyrik akan mewarisi tempat-tempat penghuni surga yang tadinya untuk mereka di neraka, sedangkan orang-orang yang ditakdirkan bahagia dari kalangan penghuni surga akan mewarisi tempat-tempat penghuni neraka yang tadinya untuk mereka di surga. Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang beriman yang beruntung setelah menyebutkan amal-amal mereka yang memasukkan mereka ke surga: “Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi. Yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya” (Al-Mu’minun: 10-11).

Ibnu Katsir berkata dalam tafsir ayat ini: “Ibnu Abi Hatim berkata -dan dia menyebutkan sanad sampai Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu- berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali dia memiliki dua tempat tinggal: tempat tinggal di surga dan tempat tinggal di neraka. Adapun orang beriman, maka dia membangun rumahnya yang di surga dan menghancurkan rumahnya yang di neraka’.

Dia meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair serupa dengan itu. Maka orang-orang beriman mewarisi tempat-tempat orang-orang kafir, karena mereka diciptakan untuk beribadah kepada Allah semata tanpa sekutu. Ketika orang-orang ini menunaikan kewajiban ibadah yang dibebankan kepada mereka, sementara orang-orang lain meninggalkan apa yang diperintahkan kepada mereka dari tujuan penciptaan mereka, maka orang-orang ini memperoleh bagian orang-orang lain seandainya mereka taat kepada Tuhan mereka ‘azza wa jalla. Bahkan lebih dari itu lagi, yaitu apa yang shahih dalam Muslim dari Abu Burdah dari Abu Musa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: ‘Pada hari kiamat akan datang orang-orang dari kalangan muslim dengan dosa-dosa sebesar gunung-gunung, maka Allah mengampuni mereka dan meletakkannya pada orang-orang Yahudi dan Nasrani’. Dalam lafaz lain: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Apabila hari kiamat, Allah memberikan kepada setiap muslim seorang Yahudi atau Nasrani, lalu dikatakan: Ini adalah tebusanmu dari neraka’. Hadits ini seperti firman Allah Ta’ala: ‘Itulah surga yang Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang bertakwa’ (Maryam: 63), dan firman-Nya: ‘Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan’ (Az-Zukhruf: 72). Maka mereka mewarisi bagian orang-orang kafir di surga”.

Pembahasan Keempat: Orang-orang Lemah adalah Mayoritas Penghuni Surga

Kebanyakan yang masuk surga adalah orang-orang lemah yang tidak dipedulikan manusia, namun mereka mulia di sisi Allah karena kekhusyu’an mereka kepada Tuhan mereka, kerendahan mereka kepada-Nya, dan penunaian mereka atas hak penghambaan kepada Allah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Haritsah bin Wahb, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maukah aku beritahu kalian tentang penghuni surga?” Mereka berkata: “Ya”. Beliau berkata: “Setiap orang lemah yang dilemahkan, jika dia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan memenuhinya”.

An-Nawawi berkata dalam syarah hadits: “Maknanya adalah manusia meremehkannya, menghina, dan berbuat sombong kepadanya karena lemahnya keadaannya di dunia. Yang dimaksud adalah kebanyakan penghuni surga adalah mereka… Dan bukan dimaksudkan keseluruhan”.

Dalam Shahihain dan Musnad Ahmad dari Usamah bin Zaid, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku berdiri di pintu surga, ternyata kebanyakan yang memasukinya adalah orang-orang miskin, sedangkan orang-orang kaya tertahan. Tetapi penghuni neraka sudah diperintahkan masuk ke neraka. Dan aku berdiri di pintu neraka, ternyata kebanyakan yang memasukinya adalah wanita”.

Dalam Shahihain dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku melihat ke dalam surga, ternyata kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir. Dan aku melihat ke dalam neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita”.

Pembahasan Kelima: Apakah Laki-laki Lebih Banyak di Surga atau Perempuan?

Laki-laki dan perempuan bertengkar tentang hal ini ketika para sahabat masih hidup. Dalam Shahih Muslim dari Ibnu Sirin, dia berkata: Laki-laki dan perempuan bertengkar: siapa yang lebih banyak di surga? Dalam riwayat lain: entah mereka saling bermegah atau saling berdiskusi: apakah laki-laki di surga lebih banyak atau perempuan? Maka mereka bertanya kepada Abu Hurairah. Abu Hurairah berargumen bahwa perempuan di surga lebih banyak dengan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya rombongan pertama yang masuk surga seperti bulan purnama, dan rombongan setelahnya seperti bintang paling terang di langit. Setiap orang di antara mereka memiliki dua istri, terlihat sumsum betis mereka dari balik daging, dan tidak ada yang bujangan di surga”.

Hadits ini jelas menunjukkan bahwa perempuan di surga lebih banyak dari laki-laki. Sebagian orang berargumen bahwa laki-laki lebih banyak dengan hadits: “Aku melihat kalian (perempuan) adalah mayoritas penghuni neraka”. Jawabannya adalah tidak harus jika mereka mayoritas penghuni neraka maka mereka minoritas penghuni surga, sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar Al-‘Asqalani. Maka penggabungan kedua hadits adalah bahwa perempuan adalah mayoritas penghuni neraka dan mayoritas penghuni surga, sehingga mereka lebih banyak dari laki-laki dalam penciptaan.

Dapat dikatakan: hadits Abu Hurairah menunjukkan bahwa jenis perempuan di surga lebih banyak, baik dari perempuan dunia maupun dari bidadari. Pertanyaannya adalah: siapa yang lebih banyak di surga: laki-laki dunia atau perempuannya? Al-Qurthubi mendamaikan kedua nash dengan mengatakan bahwa perempuan akan menjadi mayoritas penghuni neraka sebelum syafa’at dan keluarnya orang-orang berdosa muwahhid dari neraka. Ketika mereka keluar darinya dengan syafa’at para pemberi syafa’at dan rahmat Yang Maha Pengasih, mereka menjadi mayoritas penghuni surga.

Yang menunjukkan sedikitnya perempuan di surga adalah riwayat Ahmad dan Abu Ya’la dari ‘Amr bin Al-‘Ash, dia berkata: “Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di lembah ini, tiba-tiba beliau berkata: ‘Lihatlah, apakah kalian melihat sesuatu?’ Kami berkata: ‘Kami melihat gagak-gagak, di antaranya ada gagak yang berwarna belang, merah paruh dan kakinya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tidak akan masuk surga dari kalangan perempuan kecuali yang seperti gagak ini di antara gagak-gagak'”.

Pembahasan Keenam: Mereka yang Meninggal Sebelum Mukallaf

Subtopik Pertama: Anak-anak Orang Beriman

Anak-anak orang beriman yang belum baligh adalah penghuni surga insya Allah Ta’ala dengan karunia dan rahmat Allah. Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya” (Ath-Thur: 21).

Ali bin Abi Thalib berdalil dengan firman Allah Ta’ala: “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya” (Al-Muddatstsir: 38), bahwa anak-anak orang beriman di surga, karena mereka tidak berbuat maka tidak terikat dengan perbuatan mereka.

Bukhari membuat bab dalam shahihnya dengan judul: “Bab keutamaan orang yang anaknya meninggal dan dia ihtisab”. Dia menyebutkan hadits Anas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim yang meninggal tiga anaknya yang belum baligh, melainkan Allah memasukkannya ke surga dengan karunia rahmat-Nya kepada mereka”. Dan hadits Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu bahwa para wanita berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Buatlah hari khusus untuk kami.” Beliau menasihati mereka dan berkata: “Siapa saja wanita yang meninggal tiga anaknya, mereka menjadi penghalang baginya dari neraka.” Seorang wanita bertanya: “Bagaimana dengan dua?” Beliau berkata: “Dan dua”.

Dia membuat bab lain dengan judul: “Bab apa yang dikatakan tentang anak-anak orang musyrik” dan menyebutkan hadits Anas yang telah disebutkan, dan hadits Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa meninggal tiga anaknya yang belum baligh, mereka menjadi penghalang baginya dari neraka atau masuk surga”. Dan hadits Al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Ketika Ibrahim ‘alaihis salam meninggal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya dia memiliki penyusu di surga'”.

Dalil dalam hadits-hadits yang disebutkan Bukhari bahwa anak-anak orang beriman di surga -sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar-: “Sesungguhnya orang yang menjadi sebab terhalangnya neraka dari orangtuanya lebih layak untuk terhalang sendiri, karena dia adalah asal rahmat dan sebabnya”.

Telah datang nash-nash yang jelas tentang memasukkan keturunan orang beriman ke surga. Di antaranya hadits Ali secara marfu’ dari Abdullah bin Ahmad dalam tambahan Musnad: “Sesungguhnya orang-orang muslim dan anak-anak mereka di surga”.

Dan hadits Abu Hurairah dari Ahmad dalam musnadnya secara marfu’: “Tidaklah sepasang muslim yang meninggal tiga anaknya yang belum baligh, melainkan Allah memasukkan mereka berdua beserta anak-anak mereka ke surga dengan karunia rahmat-Nya”.

Muslim meriwayatkan dalam shahihnya, dan Ahmad dalam musnadnya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Anak-anak kecil mereka adalah ulat-ulat surga. Salah seorang di antara mereka menyambut ayahnya -atau beliau berkata: kedua orangtuanya-, lalu mengambil bajunya -atau beliau berkata: tangannya-, sebagaimana aku mengambil ujung bajumu ini, maka dia tidak berhenti -atau beliau berkata: tidak berakhir- hingga Allah memasukkannya beserta anaknya ke surga”.

Imam Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Keturunan orang-orang muslim di surga, Ibrahim shallallahu ‘alaihi wa sallam mengasuh mereka”.

Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahan, Ad-Dailami, dan Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Anak-anak orang beriman di surga diasuh oleh Ibrahim dan Sarah, hingga mereka menyerahkannya kepada ayah-ayah mereka pada hari kiamat”.

An-Nawawi menukil ijma’ ulama muslim yang diperhitungkan bahwa anak-anak muslim yang meninggal berada di surga, dan dia menukil dari sebagian mereka bahwa ada yang ragu tentang hal itu.

Al-Qurthubi menceritakan keraguan dari Hammad bin Zaid, Hammad bin Salamah, dan Ishaq bin Rahuyah.

An-Nawawi berkata: “Sebagian mereka ragu karena hadits Aisyah, yaitu yang dikeluarkan Muslim dengan lafaz: ‘Seorang anak dari Anshar meninggal, maka aku berkata: Beruntunglah dia, tidak berbuat jahat dan tidak mencapai (baligh). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Selain itu wahai Aisyah, sesungguhnya Allah menciptakan untuk surga penduduknya…’“. Dia berkata: “Jawabannya mungkin beliau melarangnya dari tergesa-gesa memutuskan tanpa dalil, atau beliau mengatakannya sebelum mengetahui bahwa anak-anak muslim di surga”.

Saya katakan: Mungkin yang benar adalah hadits tersebut menunjukkan bahwa tidak boleh kita memastikan untuk seseorang tertentu bahwa dia dari penghuni surga, meskipun kita bersaksi untuk mereka secara umum tentang surga. Hal kedua adalah tidak boleh tergesa-gesa dalam hal itu agar manusia tidak berani melakukan hal serupa sebagaimana yang terjadi di zaman kita, di mana para penyeru jenazah mengklaim bahwa mayat mereka di surga, meskipun dia orang paling fasik.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah Ta’ala berkata: “Tidak bersaksi untuk setiap anak orang beriman secara khusus bahwa dia di surga, meskipun bersaksi untuk mereka secara umum”.

Pembahasan Kedua: Anak-Anak Orang Musyrik

Bukhari membuat bab dalam kitab sahihnya dengan judul “Bab tentang Apa yang Dikatakan Mengenai Anak-Anak Orang Musyrik” dan dia menyebutkan di dalamnya hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang anak-anak orang musyrik, maka beliau menjawab: Allah ketika menciptakan mereka lebih mengetahui apa yang akan mereka perbuat.”

Dan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang keturunan orang musyrik, maka beliau menjawab: Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka perbuat.”

Dan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani atau Majusi, sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak, apakah kalian melihat padanya yang cacat?”

Bukhari rahimahullahu ta’ala – sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar – melalui judul bab ini mengisyaratkan bahwa beliau ragu-ragu tentang anak-anak orang musyrik. Setelah itu dia memastikan dalam tafsir surat Ar-Rum dalam kitab sahihnya dengan apa yang menunjukkan pemilihan pendapat yang menyatakan bahwa mereka di surga. Dia juga menyusun hadits-hadits bab ini dengan susunan yang menunjuk kepada mazhab yang dipilih, karena dia memulai dengan hadits yang menunjukkan keraguan, kemudian menyusul dengan hadits yang menguatkan bahwa mereka di surga, kemudian yang ketiga dengan hadits yang menyatakan hal itu secara tegas dalam perkataannya dalam konteksnya: “Adapun anak-anak di sekitarnya adalah anak-anak manusia.” Bukhari telah mengeluarkannya dalam kitab penafsiran mimpi dengan lafaz: “Adapun anak-anak yang berada di sekitarnya adalah setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka sebagian kaum muslimin berkata: Bagaimana dengan anak-anak orang musyrik? Maka beliau menjawab: Dan anak-anak orang musyrik pula.”

Ibnu Hajar berkata: Hal ini diperkuat oleh apa yang diriwayatkan Abu Ya’la dari hadits Anas secara marfu’: “Aku meminta kepada Tuhanku terhadap anak-anak kecil dari keturunan manusia agar Dia tidak menyiksa mereka, maka Dia memberikan mereka kepadaku.” Sanadnya hasan. Dan datang penafsiran “anak-anak kecil” bahwa mereka adalah anak-anak dari hadits Ibnu Abbas secara marfu’ yang dikeluarkan Bazzar. Dan Ahmad mengeluarkan dari jalur Khansa’ binti Mu’awiyah bin Suraim dari bibinya yang berkata: “Aku berkata: Wahai Rasulullah, siapa yang di surga? Beliau menjawab: Nabi di surga, syahid di surga, dan bayi yang baru lahir di surga.” Dan sanadnya hasan.

Mereka juga berdalil dengan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Anak-anak orang musyrik adalah pelayan penduduk surga” diriwayatkan oleh Ibnu Mandah dalam Al-Ma’rifah, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, dan Abu Ya’la dalam musnadnya. Syaikh Nashiruddin Al-Albani menilainya sahih dengan keseluruhan jalurnya.

Pendapat bahwa mereka di surga adalah pendapat sekelompok ulama, dan ini adalah pilihan Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi. An-Nawawi berkata tentang mazhab ini: “Dan ini adalah mazhab yang benar dan terpilih yang dipegang oleh para peneliti karena firman Allah Ta’ala: “Dan Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul” (Al-Isra’: 15), dan berdalil dengan dalil-dalil yang dikemukakan Bukhari dan yang lainnya.”

Saya katakan: Pendapat ini juga yang dikuatkan oleh Al-Qurtubi. Al-Qurtubi telah memadukan antara nash-nash yang tampak bertentangan dalam masalah ini dengan mengatakan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pada awal perkara berkata mereka bersama ayah-ayah mereka yaitu di neraka, kemudian terjadi keraguan beliau dalam hal itu, maka beliau bersabda: Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka perbuat. Kemudian diwahyukan kepadanya bahwa Dia tidak menyiksa seseorang karena dosa orang lain (“Dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain”) (Al-Isra’: 15), maka beliau memutuskan bahwa mereka di surga. Dia menyebutkan dalam hal itu hadits yang diriwayatkan Abdurrazzaq, tetapi hadits tersebut dhaif sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar Al-Asqalani.

Yang menjadi masalah pada penyelarasan yang disebutkan Ibnu Hajar ini adalah bahwa masalah ini bukan termasuk masalah-masalah nalar dan ijtihad, tetapi ia adalah masalah gaib yang tidak boleh dibicarakan kecuali dengan wahyu, wallahu a’lam.

Yang mungkin menjadi masalah pada pendapat bahwa anak-anak mukmin dan musyrik di surga adalah apa yang datang dari nash-nash yang menunjukkan bahwa Allah mengetahui penduduk surga dan neraka sejak azali, dan bahwa malaikat ketika mengunjungi rahim menuliskan rizki janin, ajalnya, dan kesengsaraan serta kebahagiaannya. Mungkin dikatakan dalam jawaban: Sesungguhnya siapa yang mati kecil sebelum mukallaf maka dia akan tertulis sebagai orang yang berbahagia sejak dalam perut ibunya, wallahu a’lam bis-shawab.

Sekelompok ulama berpendapat bahwa mereka dalam kehendak Allah Ta’ala, dan ini dinukil dari Hammad bin Zaid, Hammad bin Salamah, Ibnu al-Mubarak, dan Ishaq. Al-Baihaqi menukil dalam “Al-I’tiqad” dari Asy-Syafi’i khusus tentang anak-anak orang kafir. Ibnu Abdil Barr berkata: Dan ini adalah konsekuensi dari praktik Malik, dan tidak ada nash darinya dalam hal ini, kecuali bahwa para pengikutnya menyatakan dengan tegas bahwa anak-anak muslimin di surga dan anak-anak kafir khususnya dalam kehendak Allah. Dalil dalam hal ini adalah hadits: “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka perbuat.”

Pendapat ini diceritakan oleh Abul Hasan Al-Asy’ari dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan ini adalah pilihan Syaikhul Islam. Beliau memilih bahwa anak-anak orang musyrik dalam kehendak Allah, dan bahwa mereka akan diuji pada hari kiamat. Beliau menisbatkan pendapat ini kepada Abul Hasan Al-Asy’ari dan Imam Ahmad. Syaikhul Islam berkata: “Yang benar adalah dikatakan tentang mereka: Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka perbuat, dan tidak dihukumi bagi yang tertentu dari mereka dengan surga atau neraka. Telah datang dalam beberapa hadits bahwa mereka pada hari kiamat akan diuji di padang mahsyar, mereka diperintah dan dilarang, maka siapa yang taat masuk surga, dan siapa yang durhaka masuk neraka. Inilah yang disebutkan Abul Hasan Al-Asy’ari dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”

Beliau berkata di tempat lain: “Anak-anak orang musyrik yang tidak mukallaf di dunia akan mukallaf di akhirat, sebagaimana datang dalam hadits-hadits yang beragam tentang hal itu, dan ini adalah pendapat yang diceritakan Abul Hasan Al-Asy’ari tentang anak-anak orang musyrik, sebagaimana tetap dalam dua kitab sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau ditanya tentang mereka maka bersabda: “Allah lebih mengetahui apa yang akan mereka perbuat.”

Ibnu Hajar menyebutkan bahwa mereka akan diuji di akhirat dengan diangkatkannya api untuk mereka, maka siapa yang masuk ke dalamnya akan menjadi sejuk dan selamat baginya, dan siapa yang menolak akan disiksa. Ini dikeluarkan Bazzar dari hadits Anas dan Abu Sa’id, dan dikeluarkan Ath-Thabrani dari hadits Mu’adz bin Jabal. Telah sahih masalah ujian bagi orang gila dan orang yang hidup di masa fatrah dari jalur-jalur yang sahih. Al-Baihaqi menceritakan dalam “Kitab Al-I’tiqad” bahwa ini adalah mazhab yang benar.

Yang menunjukkan kebenaran pendapat ini adalah apa yang datang dalam muhkam Al-Qur’an dalam kisah hamba shalih yang didatangi oleh Nabi Allah Musa di pertemuan dua lautan, karena dia berkata menjelaskan rahasia dalam membunuh anak muda itu: “Adapun anak muda itu, kedua orang tuanya adalah mukmin, maka kami khawatir dia akan membebani keduanya dengan kesesatan dan kekafiran” (Al-Kahf: 80). Dalam sahih Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang anak muda yang dibunuh Khidr: “Dia diciptakan pada hari diciptakan sebagai kafir, dan jika dibiarkan pasti akan membebani kedua orang tuanya dengan kesesatan dan kekafiran.” Ibnu Taimiyyah mengomentari hadits tersebut: “Maksudnya Allah menciptakannya dalam Ummul Kitab, yaitu menetapkan dan menuliskannya sebagai kafir, yaitu jika dia hidup pasti kafir dalam perbuatan.”

Al-Qurtubi melemahkan mazhab ini dengan berdalil bahwa akhirat adalah dar al-jaza’ (tempat pembalasan) bukan tempat cobaan. Dalam “At-Tadzkirah” pengarang berkata (maksudnya dirinya sendiri): “Yang melemahkannya (pendapat tentang ujian mereka di padang mahsyar) dari segi makna adalah bahwa akhirat bukan tempat taklif, melainkan tempat pembalasan: pahala.” Al-Halimi berkata: “Hadits ini tidak tetap, dan bertentangan dengan prinsip-prinsip kaum muslimin, karena akhirat bukan tempat ujian, karena ma’rifah kepada Allah Ta’ala di sana bersifat daruri, dan tidak ada ujian dengan yang daruri.”

Yang diberikan keberatan ini bahwa taklif terputus dengan kematian tidaklah benar, dan ini telah dibantah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Beliau berkata: “Taklif hanya terputus dengan masuk dar al-jaza’ yaitu surga dan neraka. Adapun padang mahsyar maka mereka diuji di dalamnya sebagaimana mereka diuji di barzakh, maka dikatakan kepada salah seorang dari mereka: Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa nabimu?” Allah Ta’ala berfirman: “(Ingatlah) hari ketika betis disingkapkan dan mereka diseru untuk bersujud, tetapi mereka tidak mampu” (Al-Qalam: 42). Telah tetap dalam sahih dari berbagai wajah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Allah menampakkan diri kepada hamba-hamba-Nya di tempat berdiri, ketika dikatakan hendaklah setiap kaum mengikuti apa yang mereka sembah, maka orang-orang musyrik mengikuti tuhan-tuhan mereka, dan tinggallah orang-orang mukmin. Maka Tuhan yang Haq menampakkan diri kepada mereka dalam selain bentuk yang mereka kenal, maka mereka mengingkarinya. Kemudian Dia menampakkan diri kepada mereka dalam bentuk yang mereka kenal, maka orang-orang mukmin bersujud kepadanya, dan punggung orang-orang munafik tetap seperti tanduk sapi, mereka ingin bersujud tetapi tidak mampu, dan itu karena firman-Nya: (Hari ketika betis disingkapkan)”* (Al-Qalam: 42).

Ujian tidak berhenti kecuali dengan masuk surga dan neraka. Apa yang disebutkan Al-Qurtubi bahwa ma’rifah kepada Allah pada hari itu bersifat daruri adalah benar, kecuali bahwa ujian adalah dengan perintah dan larangan sebagaimana datang dalam beberapa nash bahwa Allah menugaskan mereka pada hari itu untuk masuk ke dalam neraka, maka yang taat akan menjadi ahli kebahagiaan, dan yang durhaka akan menjadi ahli kesengsaraan.

Pembahasan Ketujuh: Kadar yang Masuk Surga dari Umat Ini

Yang masuk surga dari umat ini adalah kelompok-kelompok banyak yang Allah lebih mengetahui bilangan mereka. Dalam sahih Bukhari dari Sa’id bin Jubair dia berkata: Ibnu Abbas menceritakan kepadaku, dia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Umat-umat diperlihatkan kepadaku, maka lewatlah nabi dengan umatnya, nabi lewat dengan sekelompok orang, nabi lewat dengan sepuluh orang, nabi lewat dengan lima orang, dan nabi lewat sendirian. Aku melihat maka tiba-tiba ada kegelapan yang banyak, aku berkata: Wahai Jibril, apakah ini umatku? Dia berkata: Tidak, tetapi lihatlah ke ufuk. Aku melihat maka tiba-tiba ada kegelapan yang banyak. Dia berkata: Ini adalah umatmu, dan ini tujuh puluh ribu di depan mereka tidak ada hisab atas mereka dan tidak ada azab.”

Kegelapan pertama yang dikira Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai umatnya adalah Bani Israil, sebagaimana dalam beberapa riwayat dalam sahih: “Aku berharap mereka adalah umatku, maka dikatakan: Ini adalah Musa dan kaumnya.”

Tidak diragukan bahwa umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih banyak dari Bani Israil. Dalam hadits: “Maka tiba-tiba ada kegelapan yang banyak.” Ibnu Hajar berkata: “Dalam riwayat Sa’id bin Manshur: ‘besar’ dan menambahkan: ‘Dikatakan kepadaku: Lihatlah ke ufuk, aku melihat maka tiba-tiba ada kegelapan besar. Dikatakan kepadaku: Lihatlah ke ufuk yang lain seperti itu.'” Dalam riwayat Ibnu Fudhail: “Maka tiba-tiba kegelapan telah memenuhi ufuk, dikatakan kepadaku: Lihatlah ke sini dan ke sini di ufuk-ufuk langit.” Dalam hadits Ibnu Mas’ud: “Maka tiba-tiba ufuk telah tertutup dengan wajah-wajah laki-laki.” Dalam lafaz Ahmad: “Aku melihat umatku telah memenuhi daratan dan gunung, aku kagum dengan banyaknya mereka dan penampilan mereka. Dikatakan: Apakah engkau ridha wahai Muhammad? Aku berkata: Ya, wahai Tuhanku.”

Datang dalam beberapa hadits bahwa bersama setiap ribu dari tujuh puluh ribu ada tujuh puluh ribu, dan tiga genggaman dari genggaman Allah. Dalam musnad Ahmad, sunan Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Umamah, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tuhanku berjanji kepadaku akan memasukkan surga dari umatku tujuh puluh ribu tanpa hisab atas mereka dan tanpa azab, bersama setiap ribu tujuh puluh ribu, dan tiga genggaman dari genggaman Tuhanku.” Tidak diragukan bahwa tiga genggaman akan memasukkan surga makhluk yang banyak.

Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam berharap agar umat ini menjadi setengah penduduk surga. Dalam hadits muttafaq ‘alaih dari Abu Sa’id Al-Khudri dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyebutkan pengutusan neraka, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di akhirnya: “Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, aku berharap kalian menjadi seperempat penduduk surga” maka kami bertakbir. Beliau bersabda: “Aku berharap kalian menjadi sepertiga penduduk surga” maka kami bertakbir. Beliau bersabda: “Aku berharap kalian menjadi setengah penduduk surga” maka kami bertakbir. Beliau bersabda: “Kalian di antara manusia hanyalah seperti bulu hitam di kulit sapi putih, atau seperti bulu putih di kulit sapi hitam.”

Bahkan datang dalam beberapa hadits bahwa umat ini mencapai dua pertiga penduduk surga. Dalam sunan Tirmidzi dengan sanad hasan, sunan Darimi, dan “Al-Ba’ts wan-Nusyur” karya Al-Baihaqi dari Buraidah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Penduduk surga seratus dua puluh shaf, delapan puluh di antaranya dari umat ini, dan empat puluh dari umat-umat lainnya.” Dalam sahih Muslim dari Anas radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku adalah pemberi syafa’at pertama di surga, tidak ada nabi dari para nabi yang dipercaya sebagaimana aku dipercaya, dan di antara para nabi ada nabi yang tidak dipercaya dari umatnya kecuali satu orang saja.”

Rahasia banyaknya yang beriman dari umat ini adalah bahwa mukjizat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang besar adalah wahyu yang dibaca yang menyapa akal dan hati, dan ia adalah mukjizat yang kekal terpelihara hingga hari kiamat. Dalam dua kitab sahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada dari para nabi seorang nabi pun kecuali telah diberi tanda-tanda yang seperti itu manusia beriman kepadanya, dan hanyalah yang aku berikan adalah wahyu yang Allah wahyukan kepadaku, dan aku berharap menjadi yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat.”

Pembahasan Kedelapan: Para Pemimpin Penduduk Surga

Pembahasan Pertama: Pemimpin Orang Tua Penduduk Surga

Sekelompok sahabat meriwayatkan di antaranya Ali bin Abi Thalib, Anas bin Malik, Abu Juhafah, Jabir bin Abdullah, dan Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Abu Bakar dan Umar adalah pemimpin orang tua penduduk surga dari yang terdahulu dan yang terkemudian.”

Syaikh Nashiruddin Al-Albani telah menyebutkan jalur-jalurnya dalam kitab-kitab sunnah, dan berkata dalam penutup takhrij hadits: “Kesimpulannya bahwa hadits dengan keseluruhan jalurnya sahih tanpa keraguan, karena sebagian jalurnya hasan li dzatihi, dan sebagiannya untuk istisyhad.”

Pembahasan Kedua: Pemimpin Pemuda Penduduk Surga

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita bahwa Hasan dan Husain adalah pemimpin pemuda penduduk surga. Hal ini tetap dari jalur-jalur banyak yang mencapai derajat mutawatir. Syaikh Nashiruddin Al-Albani telah mengumpulkan jalur-jalur hadits dalam kitabnya yang berharga: “Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah”. Tirmidzi, Al-Hakim, Ath-Thabrani, Ahmad dan yang lainnya meriwayatkannya dari Abu Sa’id Al-Khudri dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hasan dan Husain adalah pemimpin pemuda penduduk surga.”

Tirmidzi, Ibnu Hibban, Ahmad, Ath-Thabrani dan yang lainnya meriwayatkannya dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku shalat bersamanya Maghrib, kemudian beliau berdiri shalat hingga Isya, kemudian keluar, aku mengikutinya, maka beliau bersabda: “Seorang malaikat menemuiku, dia meminta izin kepada Tuhannya untuk memberi salam kepadaku dan memberi kabar gembira kepadaku bahwa Hasan dan Husain adalah pemimpin pemuda penduduk surga.”

Al-Hakim dan Ibnu Asakir mengeluarkannya dari Abdullah bin Umar bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kedua anakku ini adalah pemimpin pemuda penduduk surga.”

Pembahasan Ketiga: Pemimpin Wanita Penduduk Surga

Pemimpin yang haq adalah yang dipuji oleh Tuhannya dan disaksikan untuknya, dan pemimpin wanita yang utama adalah yang diridhai oleh Tuhannya, dan diterimanya dengan penerimaan yang baik. Wanita terbaik adalah mereka yang mendapat surga kenikmatan. Wanita penduduk surga memiliki keutamaan, dan pemimpin wanita penduduk surga adalah: Khadijah, Fatimah, Maryam, dan Asiyah. Dalam musnad Ahmad, Musykil al-Atsar karya Ath-Thahawi, Mustadrak Al-Hakim dengan sanad sahih dari Ibnu Abbas dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggaris di tanah empat garis, kemudian berkata: “Tahukah kalian apa ini?” Mereka berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Beliau bersabda: “Wanita terbaik penduduk surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun.”

Maryam dan Khadijah adalah yang terbaik dari keempat itu. Dalam sahih Bukhari dari Ali bin Abi Thalib dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik wanita mereka adalah Maryam, dan sebaik-baik wanita mereka adalah Khadijah.”

Maryam adalah pemimpin wanita yang pertama dan wanita terbaik secara mutlak. Ath-Thabrani meriwayatkan dengan sanad sahih sesuai syarat Muslim dari Jabir dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pemimpin wanita penduduk surga setelah Maryam binti Imran: Fatimah, Khadijah, dan Asiyah istri Fir’aun.” Kenyataan bahwa dia wanita terbaik secara mutlak dinyatakan dengan tegas oleh Al-Qur’an: “Dan (ingatlah) ketika malaikat berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, mensucikanmu dan melebihkanmu atas wanita-wanita sekalian alam'” (Ali Imran: 42). Bagaimana tidak demikian sedangkan Yang Haq telah menyatakan dengan tegas bahwa Dia menerimanya “dengan penerimaan yang baik dan menumbuhkannya dengan pertumbuhan yang baik” (Ali Imran: 37).

Keempat wanita ini adalah teladan yang luar biasa bagi wanita-wanita kamil yang shalihah. Maryam binti Imran dipuji oleh Tuhannya dalam firman-Nya: “Yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya roh dari Kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat” (At-Tahrim: 12).

Khadijah Ash-Shiddiqah yang beriman kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa ragu-ragu, meneguhkannya, dan menghiburnya dengan diri dan hartanya. Tuhannya memberi kabar gembira kepadanya dalam hidupnya dengan istana di surga dari mutiara tanpa keributan di dalamnya dan tanpa kesusahan. Bukhari meriwayatkan dalam sahihnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata: “Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: Wahai Rasulullah, ini Khadijah telah datang membawa bejana berisi lauk atau makanan atau minuman, jika dia datang kepadamu maka bacakan salam kepadanya dari Tuhannya dan dariku, dan beri kabar gembira kepadanya dengan rumah di surga dari mutiara, tidak ada keributan di dalamnya dan tidak ada kesusahan.”

Asiyah istri Fir’aun yang meremehkan kerajaan dunia dan kenikmatan, maka dia kafir kepada Fir’aun dan ketuhanannya. Suaminya menyiksanya maka dia sabar hingga rohnya keluar kepada Penciptanya “Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir’aun, ketika dia berkata: ‘Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim'” (At-Tahrim: 11).

Fatimah Az-Zahra putri Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sabar, ikhlas, bertakwa, wara’, cabang dari pohon yang suci, dan didikan guru kemanusiaan.

Bahasan Kesembilan: Sepuluh Orang yang Dijamin Masuk Surga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan secara tegas bahwa sepuluh orang dari para sahabatnya adalah penghuni surga. Dalam Musnad Ahmad dari Sa’id bin Zaid, dan Sunan Tirmidzi dari Abdurrahman bin Auf dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Zubair di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Sa’d bin Abi Waqqash di surga, Sa’id bin Zaid di surga, dan Abu Ubaidah bin Jarrah di surga.” Sanadnya shahih.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Dhiya’ dalam Al-Mukhtarah dari Sa’id bin Zaid dengan lafadz yang sedikit berbeda dari yang sebelumnya, yaitu: “Sepuluh orang di surga: Nabi di surga, Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Zubair bin Awwam di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Sa’id bin Zaid di surga.” Sanadnya shahih.

Kitab-kitab Sunnah menceritakan kepada kita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam suatu hari sedang duduk di sumur Aris dan Abu Musa Al-Asy’ari menjadi penjaga pintu untuknya. Lalu datang Abu Bakar Ash-Shiddiq meminta izin, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Izinkan dia masuk dan beri kabar gembira kepadanya dengan surga.” Kemudian datang Umar, lalu beliau bersabda: “Izinkan dia masuk, dan beri kabar gembira kepadanya dengan surga.” Kemudian datang Utsman, maka beliau bersabda: “Izinkan dia masuk dan beri kabar gembira kepadanya dengan surga atas cobaan yang akan menimpanya.”

Ibnu Asakir meriwayatkan dengan sanad shahih dari Ibnu Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang memimpin setelahku di surga, dan orang yang memimpin setelahnya di surga, dan yang ketiga serta keempat di surga.” Yang dimaksud dengan “yang memimpin setelahnya” adalah orang yang memegang kekuasaan setelah kematiannya, dan keempat orang ini adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

Tirmidzi dan Hakim meriwayatkan dengan sanad shahih dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar: “Engkau adalah orang yang dibebaskan dari neraka.”

Bahasan Kesepuluh: Beberapa Orang yang Disebutkan Masuk Surga Selain yang Telah Disebutkan

1-2. Ja’far bin Abi Thalib dan Hamzah bin Abdul Muthalib

Di antara orang-orang yang diberitakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa mereka di surga adalah Ja’far dan Hamzah. Dalam Sunan Tirmidzi, Musnad Abu Ya’la, Mustadrak Hakim dan lainnya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat Ja’far bin Abi Thalib sebagai malaikat yang terbang di surga dengan dua sayap.”

Thabrani, Ibnu Adi, dan Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku masuk surga tadi malam, lalu aku melihat ke dalamnya, ternyata Ja’far terbang bersama para malaikat, dan Hamzah bersandar di tempat tidur.” Sanadnya shahih.

Telah shahih bahwa Rasul bersabda: “Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib.”

  1. Abdullah bin Salam

Ahmad, Thabrani, dan Hakim meriwayatkan dengan sanad shahih dari Mu’adz berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Abdullah bin Salam adalah yang kesepuluh dari sepuluh orang di surga.”

  1. Zaid bin Haritsah

Ruyani dan Dhiya’ meriwayatkan dari Buraidah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku masuk surga, lalu seorang budak wanita muda menyambutku. Aku bertanya: ‘Untuk siapa engkau?’ Dia menjawab: ‘Untuk Zaid bin Haritsah.'”

  1. Zaid bin Amr bin Nufail

Ibnu Asakir meriwayatkan dengan sanad hasan dari Aisyah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku masuk surga, lalu aku melihat untuk Zaid bin Amr bin Nufail dua derajat.” Zaid ini adalah orang yang mengajak kepada tauhid di masa jahiliah, dan dia menganut agama hanif, agama Ibrahim.

  1. Haritsah bin Nu’man

Tirmidzi dan Hakim meriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku masuk surga, lalu aku mendengar bacaan di dalamnya. Aku bertanya: ‘Siapa ini?’ Mereka menjawab: ‘Haritsah bin Nu’man, begitulah orang yang berbakti, begitulah orang yang berbakti.'”

  1. Bilal bin Rabah

Thabrani dan Ibnu Adi meriwayatkan dengan sanad shahih dari Abu Umamah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku masuk surga, lalu aku mendengar suara gemerisik di depanku. Aku bertanya: ‘Apa suara gemerisik ini?’ Lalu dikatakan: ‘Ini Bilal berjalan di depanmu.'”

Dalam Musnad dengan sanad shahih dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku masuk surga pada malam aku diisra’kan, lalu aku mendengar suara dari sisinya. Aku bertanya: ‘Wahai Jibril, apa ini?’ Dia menjawab: ‘Bilal sang muazin.'”

  1. Abu Dahdah

Muslim dalam Shahih-nya, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad meriwayatkan dari Jabir bin Samurah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Betapa banyak tandan kurma yang tergantung untuk Abu Dahdah di surga.”

Abu Dahdah ini adalah orang yang menyedekahkan kebunnya: Bairaha, kebun terbaik di Madinah ketika dia mendengar Allah berfirman: “Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan untuknya dengan lipatan yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki), dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)

  1. Waraqah bin Naufal

Hakim meriwayatkan dengan sanad shahih dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian mencela Waraqah bin Naufal, karena aku telah melihat untuknya satu atau dua surga.”

Waraqah beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika Khadijah datang kepadanya membawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk pertama kalinya, dan dia berharap kepada Allah agar dia dapat menyaksikan kemunculan urusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menolongnya.

Bahasan Kesebelas: Surga Bukanlah Upah untuk Amal

Surga adalah sesuatu yang agung, tidak mungkin seseorang meraihnya dengan amal-amal yang telah dikerjakannya, melainkan diperoleh dengan rahmat dan karunia Allah. Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan ada seorang pun dari kalian yang amalnya memasukkannya ke surga.” Para sahabat bertanya: “Termasuk engkau juga, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Termasuk aku juga, kecuali jika Allah melimpahkan kepadaku karunia dan rahmat-Nya.”

Mungkin ada yang merasa bermasalah dengan nash-nash yang menunjukkan bahwa surga adalah upah untuk amal, seperti firman Allah: “Maka tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan mata sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17), dan firman-Nya: “Itulah surga yang kamu warisi, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 43)

Tidak ada pertentangan antara ayat-ayat tersebut dengan apa yang ditunjukkan oleh hadits, karena ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa amal-amal adalah sebab untuk masuk surga, bukan upahnya. Sedangkan hadits meniadakan bahwa amal-amal itu adalah upah surga. Telah sesat dalam hal ini dua golongan: Jabariyah yang berdalil dengan hadits bahwa balasan tidak berkaitan dengan amal-amal, karena hamba tidak memiliki perbuatan dalam amalnya, dan Qadariyah berdalil dengan ayat-ayat dan berkata: “Sesungguhnya ayat-ayat itu menunjukkan bahwa surga adalah upah untuk amal, dan bahwa hamba berhak masuk surga dari Tuhannya dengan amalnya.”

Penjelas Aqidah Thahawiyah berkata dalam masalah ini: “Adapun berkaitan balasan dengan amal-amal, maka telah sesat di dalamnya Jabariyah dan Qadariyah, dan Allah memberi petunjuk kepada Ahli Sunnah, bagi-Nya segala puji dan karunia. Sesungguhnya huruf ba’ dalam peniadaan berbeda dengan huruf ba’ dalam penetapan. Yang diniadakan dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘Tidak akan masuk surga seorang pun dengan amalnya’ – adalah ba’ pengganti, yaitu bahwa amal itu seperti harga untuk masuk surga seseorang, sebagaimana yang diklaim Mu’tazilah bahwa orang yang beramal berhak masuk surga dari Tuhannya dengan amalnya, bahkan itu dengan rahmat dan karunia Allah. Sedangkan huruf ba’ dalam firman-Nya: ‘sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan’ (QS. As-Sajdah: 17) dan lainnya adalah ba’ sebab, yaitu karena amal kalian, dan Allah Ta’ala-lah yang menciptakan sebab-sebab dan akibat-akibatnya, maka semuanya kembali kepada murni karunia dan rahmat Allah.”

Bab Kelima: Sifat Penghuni Surga dan Kenikmatan Mereka di Dalamnya

Penghuni surga masuk surga dalam bentuk yang paling sempurna dan terindah, dalam bentuk bapak mereka Adam alaihissalam. Tidak ada yang lebih sempurna dan lengkap dari bentuk dan penciptaan yang Allah ciptakan untuk bapak manusia Adam. Allah Ta’ala menciptakannya dengan tangan-Nya sehingga menyempurnakan penciptaannya dan memperindah bentuknya. Setiap orang yang masuk surga akan berbentuk seperti Adam dan penciptaannya. Allah menciptakannya tinggi seperti pohon kurma yang tinggi menjulang, tingginya di langit enam puluh hasta. Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah Azza wa Jalla menciptakan Adam menurut bentuk-Nya, tingginya enam puluh hasta… Maka setiap orang yang masuk surga akan berbentuk seperti Adam, tingginya enam puluh hasta, dan makhluk terus mengecil setelahnya.”

Jika penciptaan lahiriah mereka sama, maka demikian pula penciptaan batin mereka sama, jiwa-jiwa mereka jernih, dan ruh-ruh mereka suci lagi bersih. Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah dalam hadits yang di dalamnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan masuknya penghuni surga, termasuk rombongan yang masuk surga dengan cahaya seperti bulan purnama, beliau bersabda: “Akhlak mereka seperti akhlak satu orang, menurut bentuk bapak mereka Adam, enam puluh hasta di langit.”

Di antara keindahan bentuk mereka adalah mereka akan gundul tanpa bulu dengan mata yang seolah bercelak, dan semua masuk surga dalam usia kekuatan, masa muda, dan pemuda berusia tiga puluh tiga tahun. Dalam Musnad Ahmad dan Sunan Tirmidzi dari Mu’adz bin Jabal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Penghuni surga masuk dalam keadaan gundul tanpa bulu, seolah bercelak, berusia tiga puluh tiga tahun.”

Penghuni surga – sebagaimana datang dalam hadits Abu Hurairah dalam Shahihain – “tidak meludah, tidak berlendir, dan tidak buang air besar.”

Penghuni surga tidak tidur. Telah datang dalam hadits Jabir bin Abdullah dan Abdullah bin Abi Aufa bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidur adalah saudara kematian, dan penghuni surga tidak tidur.”

Bab Keenam: Kenikmatan Penghuni Surga

Bahasan Pertama: Keutamaan Kenikmatan Surga atas Kemewahan Dunia

Kemewahan dunia adalah kenyataan yang disaksikan, sedangkan kenikmatan surga adalah ghaib yang dijanjikan. Manusia terpengaruh oleh apa yang mereka lihat dan saksikan, dan berat bagi hati mereka meninggalkan apa yang ada di hadapan mereka untuk sesuatu yang akan mereka peroleh di masa mendatang, apalagi jika yang dijanjikan itu diperoleh setelah kematian. Karena itu Allah Tabaraka wa Ta’ala membandingkan antara kemewahan dunia dan kenikmatan surga, dan menjelaskan bahwa kenikmatan surga lebih baik dan lebih utama dari dunia. Allah memperpanjang celaan terhadap dunia dan penjelasan keutamaan akhirat, dan itu tidak lain agar hamba-hamba bersungguh-sungguh dalam mencari akhirat dan meraih kenikmatannya.

Engkau akan menemukan celaan terhadap dunia, pujian terhadap kenikmatan akhirat, dan pengutamaan apa yang ada di sisi Allah atas kemewahan dunia yang dekat dan segera di banyak tempat, seperti firman Allah: “Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya memperoleh surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal dari sisi Allah. Dan apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.” (QS. Ali Imran: 198), dan firman-Nya: “Dan janganlah kamu tujukan pandanganmu kepada apa yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 131). Dan Allah berfirman di tempat ketiga: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. Katakanlah: ‘Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?’ Untuk orang-orang yang bertakwa (disediakan) pada sisi Tuhan mereka surga-surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. (Dan mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran: 14-15)

Jika kita mencari rahasia keutamaan kenikmatan akhirat atas kemewahan dunia, maka kita akan menemukannya dari berbagai segi:

Pertama: Kemewahan dunia sedikit. Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa.'” (QS. An-Nisa’: 77)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menggambarkan kepada kita sedikitnya kemewahan dunia dibandingkan dengan kenikmatan akhirat dengan perumpamaan yang beliau buat, bersabda: “Demi Allah, dunia di akhirat tidak lain hanyalah seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ini – dan beliau menunjuk dengan jari telunjuk – ke laut, maka lihatlah apa yang dibawanya kembali.” Apa yang diambil jari jika dicelupkan ke laut yang luas? Jari itu tidak mengambil setetes pun darinya. Itulah perbandingan dunia dengan akhirat.

Karena kemewahan dunia sedikit, maka Allah menegur orang-orang yang mengutamakan kemewahan dunia atas kenikmatan akhirat: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu apabila dikatakan kepadamu: ‘Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah,’ kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (QS. At-Taubah: 38). Dan telah kami sebutkan dalam kitab ini nash-nash yang menunjukkan banyaknya kenikmatan dunia dan tidak akan habis serta terputus.

Kedua: Ia lebih utama dari segi jenis, maka pakaian penghuni surga, makanan, minuman, perhiasan, dan istana-istana mereka – lebih utama dari yang ada di dunia, bahkan tidak ada tempat untuk perbandingan, karena tempat sebesar cambuk di surga lebih baik dari dunia dan segala isinya. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tempat sebesar cambuk di surga lebih baik dari dunia dan segala isinya.” Dan dalam hadits lain yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim juga dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dan tempat busur salah seorang dari kalian di surga lebih baik dari apa yang disinari matahari.”

Bandingkan wanita-wanita penghuni surga dengan wanita-wanita dunia untuk mengetahui keutamaan apa yang ada di surga atas apa yang ada di dunia. Dalam Shahih Bukhari dari Anas berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya seorang wanita dari wanita penghuni surga menampakkan diri ke bumi, niscaya dia akan menerangi apa yang di antara keduanya, dan akan memenuhi apa yang di antara keduanya dengan harum, dan kerudung di kepalanya lebih baik dari dunia dan segala isinya.”

Ketiga: Surga terbebas dari kotoran-kotoran dunia dan keruhnya. Makanan penghuni dunia dan minuman mereka mengharuskan adanya tinja dan air kencing, serta bau-bau yang tidak sedap. Jika seseorang minum khamr dunia maka hilang akalnya, wanita-wanita dunia mengalami haid dan melahirkan, dan haid itu adalah gangguan. Surga terbebas dari semua itu, maka penghuninya tidak kencing dan tidak buang air besar, tidak meludah dan tidak meludah, dan khamr surga sebagaimana digambarkan Penciptanya: “Putih bersih, lezat bagi orang-orang yang meminumnya, tidak ada dalam khamr itu yang menyebabkan mabuk dan mereka tidak mabuk karenanya.” (QS. Ash-Shaffat: 46-47) Air surga tidak basi, dan susunya tidak berubah rasanya: “(Di dalamnya) ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya.” (QS. Muhammad: 15), dan wanita-wanita penghuni surga disucikan dari haid, nifas, dan segala kotoran wanita-wanita dunia, sebagaimana firman Allah: “Dan bagi mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang disucikan.” (QS. Al-Baqarah: 25)

Dan hati penduduk surga itu bersih, ucapan mereka baik, dan perbuatan mereka saleh, maka kamu tidak mendengar di surga kata-kata kasar yang meresahkan hati, mengeruhkan suasana, dan membangkitkan emosi. Surga bebas dari ucapan dan perbuatan yang batil. “Tidak ada perkataan yang sia-sia di dalamnya dan tidak pula perbuatan dosa” (QS. At-Tur: 23). Tidak sampai ke telinga kecuali kata-kata yang benar, baik, dan selamat dari cacat-cacat perkataan penduduk dunia. “Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula dusta” (QS. An-Naba’: 35). “Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia kecuali ucapan salam” (QS. Maryam: 62). “Kamu tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia” (QS. Al-Ghasyiyah: 11). Sesungguhnya surga adalah tempat yang suci, bersih, dan jernih yang bebas dari kotoran dan kekeruhan. Surga adalah negeri kedamaian dan keselamatan. “Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perbuatan dosa, kecuali ucapan ‘salam, salam'” (QS. Al-Waqi’ah: 25-26).

Oleh karena itu, penduduk surga apabila telah diselamatkan dari neraka, mereka ditahan di atas jembatan antara surga dan neraka, kemudian mereka dibersihkan dan disucikan dengan cara saling meminta maaf satu sama lain. Lalu mereka masuk surga dalam keadaan hati yang telah bersih dan hilang dari jiwa mereka rasa saling benci, dengki, dan hal-hal serupa yang ada di dunia. Dalam Sahih Bukhari dan Muslim disebutkan sifat penduduk surga ketika memasuki surga: “Tidak ada perselisihan di antara mereka dan tidak ada saling benci. Hati mereka bagaikan satu hati. Mereka bertasbih kepada Allah pada pagi dan sore hari.” Dan Allah berfirman dengan benar: “Dan Kami cabut rasa dengki yang ada dalam dada mereka; mereka menjadi bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan” (QS. Al-Hijr: 47).

Ghill artinya dendam. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Ali bin Abi Thalib bahwa penduduk surga ketika memasuki surga, mereka minum dari mata air sehingga Allah menghilangkan dengki yang ada di hati mereka. Kemudian mereka minum dari mata air yang lain sehingga warna kulit mereka berseri dan wajah mereka bersih. Barangkali mereka mengambil manfaat dari firman Allah: “Dan Tuhan mereka memberi mereka minum dengan minuman yang suci” (QS. Al-Insan: 21).

Keempat: Kenikmatan dunia akan lenyap, sedangkan kenikmatan akhirat kekal dan abadi. Karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut apa yang dihiasi untuk manusia dari perhiasan dunia sebagai kesenangan (mata’), karena itu dinikmati kemudian lenyap. Adapun kenikmatan akhirat adalah kekal, tidak ada habisnya. “Apa yang ada pada kalian akan habis, dan apa yang ada pada Allah adalah kekal” (QS. An-Nahl: 96). “Sungguh ini adalah rezeki Kami yang tidak akan habis” (QS. Shad: 54). “Buahnya tidak putus-putus dan naungannya” (QS. Ar-Ra’d: 35). Allah telah memberikan perumpamaan untuk cepatnya lenyapnya dunia dan berakhirnya: “Dan buatlah perumpamaan untuk mereka kehidupan dunia seperti air yang Kami turunkan dari langit, lalu bercampur dengan tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian ia menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebaikan yang kekal lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan” (QS. Al-Kahf: 45-46). Allah memberikan perumpamaan untuk cepatnya lenyapnya dunia dengan air yang turun dari langit yang bercampur dengan tumbuhan bumi sehingga menghijau, berbunga, dan berbuah. Tidak lama kemudian keindahannya lenyap, layu dan menguning, kemudian diterbangkan angin ke mana-mana. Begitulah perhiasan dunia berupa pemuda, harta, anak-anak, ladang, dan tanaman… semuanya akan lenyap dan berakhir. Masa muda akan layu dan pergi, kesehatan dan keselamatan berubah menjadi tua dan sakit, harta dan anak-anak mungkin hilang, dan manusia mungkin dipisahkan dari keluarga dan hartanya. Adapun akhirat tidak ada kepergian, tidak ada kehancuran, dan tidak ada kelenyapan. “Dan kampung akhirat itu lebih baik, dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang-orang yang bertakwa. Surga ‘Adn yang mereka masuki, mengalir sungai-sungai di bawahnya” (QS. An-Nahl: 30-31).

Kelima: Bekerja untuk kesenangan dunia dan melupakan akhirat akan diikuti penyesalan dan kesengsaraan serta masuk neraka. “Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya” (QS. Ali Imran: 185).

Pembahasan Kedua: Makanan dan Minuman Penduduk Surga

Sebelumnya telah kita bahas tentang pepohonan surga dan buah-buahannya, serta buah-buahan yang mudah dijangkau yang telah dimudahkan sepenuhnya, dan pilihan penduduk surga dari buah-buahannya sesuai yang mereka inginkan dan kehendaki. Di surga ada apa yang diinginkan jiwa dari makanan dan minuman. “Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan” (QS. Al-Waqi’ah: 20-21). “Dan di dalamnya apa yang diinginkan dan menyenangkan mata” (QS. Az-Zukhruf: 71). Allah telah membolehkan mereka mengambil dari kebaikan-kebaikan dan aneka makanan serta minumannya sesuai yang mereka inginkan. “Makan dan minumlah dengan nikmat karena apa yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang lalu” (QS. Al-Haqqah: 24).

Kita juga telah menyebutkan sebelumnya bahwa di surga ada lautan air, lautan khamar, lautan susu, dan lautan madu, dan sungai-sungai surga mengalir dari lautan-lautan ini. Di surga terdapat mata air yang banyak, dan penduduk surga minum dari lautan, sungai-sungai, dan mata air tersebut.

Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti minum dari gelas yang campurannya adalah kafur. (Yaitu) mata air yang minum daripadanya hamba-hamba Allah, mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya” (QS. Al-Insan: 5-6).

Dan Allah berfirman: “Dan di sana mereka diberi minum dengan gelas yang campurannya adalah jahe. (Yaitu) mata air di sana yang dinamakan Salsabila” (QS. Al-Insan: 17-18). Dan Allah berfirman: “Dan campurannya dari Tasnim. (Yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah” (QS. Al-Muthaffifin: 27-28).

Pembahasan Pertama: Khamar Penduduk Surga

Di antara minuman yang Allah berikan kepada penduduk surga adalah khamar. Khamar surga bebas dari cacat dan keburukan yang menjadi sifat khamar dunia. Khamar dunia menghilangkan akal, memecah kepala, menyakitkan perut, menyakiti badan, mendatangkan penyakit, dan mungkin cacat dalam pembuatan, warna, atau hal lainnya. Adapun khamar surga bebas dari semua itu, indah, jernih, dan menyegarkan. “Mereka diedarkan kepadanya gelas dari mata air yang mengalir. Putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. Tidak ada padanya gangguan dan tidak pula mereka mabuk karenanya” (QS. Ash-Shaffat: 45-47).

Allah menggambarkan keindahan warnanya (putih) kemudian menjelaskan bahwa ia menyenangkan peminumnya tanpa merusak akalnya, sebagaimana firman-Nya: “Dan sungai-sungai khamar yang lezat rasanya bagi orang-orang yang minum” (QS. Muhammad: 18). Kemudian peminumnya tidak bosan meminumnya “dan tidak pula mereka mabuk karenanya” (QS. Ash-Shaffat: 47). Dan Allah berfirman di tempat lain menggambarkan khamar surga: “Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang kekal. Dengan membawa gelas, cerek, dan sloki berisi minuman yang diambil dari mata air yang mengalir. Mereka tidak pusing karenanya dan tidak pula mabuk” (QS. Al-Waqi’ah: 17-19).

Ibnu Katsir berkata dalam tafsir ayat-ayat ini: “Tidak memecah kepala mereka dan tidak menghilangkan akal mereka, bahkan tetap bersama kekuatan yang menggembirakan dan kelezatan yang diperoleh. Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata: Dalam khamar ada empat sifat: mabuk, sakit kepala, muntah, dan kencing. Maka Allah menyebutkan khamar surga dan membersihkannya dari sifat-sifat ini.”

Allah berfirman di tempat ketiga: “Mereka diberi minum dari rahiq yang tertutup rapat. Penutupnya adalah misk” (QS. Al-Muthaffifin: 25-26). Rahiq adalah khamar, dan khamar ini digambarkan dengan dua sifat: Pertama, ia tertutup rapat, yaitu diberi segel. Kedua: ketika mereka meminumnya, di akhir minuman mereka merasakan aroma misk.

Pembahasan Kedua: Makanan Pertama Penduduk Surga

Makanan pertama yang Allah berikan kepada penduduk surga adalah tambahan hati ikan paus. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bumi pada hari kiamat akan menjadi satu roti, Yang Mahakuasa membolak-baliknya dengan tangan-Nya, sebagaimana salah seorang dari kalian membolak-balik rotinya dalam perjalanan, sebagai makanan untuk penduduk surga.” Lalu datang seorang laki-laki Yahudi berkata: Semoga Ar-Rahman memberkahi engkau wahai Abul Qasim, maukah aku beritahu tentang makanan penduduk surga pada hari kiamat? Beliau berkata: “Ya.” Ia berkata: Bumi akan menjadi satu roti sebagaimana yang dikatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kepada kami, kemudian tertawa hingga tampak gigi gerahamnya, lalu berkata: “Maukah aku beritahu lauk-pauknya? Balam dan Nun.” Mereka berkata: Apa itu? Beliau berkata: “Lembu dan ikan, dimakan dari tambahan hati keduanya tujuh puluh ribu orang.”

An-Nawawi dalam syarah hadits meringkas: “An-nuzul adalah apa yang disiapkan untuk tamu ketika turun, ‘yatakaffa’uha biyadihi’ artinya memindahkannya dari tangan ke tangan hingga berkumpul dan rata, karena tidak rata seperti roti tipis dan semacamnya. Makna hadits: Allah Ta’ala menjadikan bumi seperti roti besar, dan akan menjadi makanan dan santapan penduduk surga. An-Nun adalah lembu, dan ‘balam’ adalah kata Ibrani yang artinya lembu. Tambahan hati ikan adalah bagian yang terpisah yang menggantung pada hati, dan itu adalah bagian yang paling lezat.” Dalam Sahih Bukhari bahwa Abdullah bin Salam bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika pertama kali datang ke Madinah beberapa pertanyaan di antaranya: “Apa makanan pertama yang dimakan penduduk surga?” Beliau berkata: “Tambahan hati ikan.”

Dalam Sahih Muslim dari Tsauban bahwa seorang Yahudi bertanya kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apa hidangan mereka ketika masuk surga?” Beliau berkata: “Tambahan hati ikan.” Ia berkata: “Apa makanan mereka setelahnya?” Beliau berkata: “Disembelih untuk mereka lembu surga yang memakan dari ujung-ujungnya.” Ia berkata: “Apa minuman mereka?” Beliau berkata: “Dari mata air yang disebut Salsabila.” Ia berkata: Benar.

Pembahasan Ketiga: Makanan dan Minuman Penduduk Surga Tidak Ada Kotoran

Mungkin terbersit dalam pikiran bahwa makanan dan minuman di surga menghasilkan apa yang dihasilkan makanan dan minuman penduduk dunia berupa air kencing, kotoran, ingus, ludah, dan semacamnya. Hal itu tidak demikian. Surga adalah tempat yang bersih dari gangguan, dan penduduknya disucikan dari kotoran penduduk dunia. Dalam hadits yang diriwayatkan pemilik dua kitab sahih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata menafikan dugaan ini: “Rombongan pertama yang masuk surga, bentuk mereka seperti bulan pada malam purnama, tidak meludah di dalamnya, tidak mengeluarkan ingus, dan tidak membuang air liur.” Ini bukan khusus untuk rombongan pertama yang masuk surga, tetapi umum untuk semua yang masuk surga. Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Rombongan pertama yang masuk surga dari umatku seperti bulan malam purnama, kemudian yang mengikuti mereka seperti bintang paling terang di langit, kemudian mereka setelah itu bertingkat-tingkat. Mereka tidak buang air besar, tidak buang air kecil, dan tidak meludah.”

Yang membedakan penduduk surga yang disebutkan dalam hadits adalah kekuatan cahaya masing-masing. Adapun bebas dari gangguan, mereka semua sama di dalamnya. Mereka tidak buang air besar, tidak buang air kecil, tidak meludah, tidak membuang air liur, dan tidak mengeluarkan ingus.

Mungkin dikatakan: kemana perginya sisa makanan dan minuman? Pertanyaan ini pernah diajukan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh para sahabatnya. Beliau menjelaskan bahwa sisa makanan dan minuman berubah menjadi keringat seperti keringat misk yang mengalir dari tubuh mereka, dan sebagiannya juga berubah menjadi sendawa, tetapi sendawa yang mengeluarkan bau-bau harum yang wangi. Dalam Sahih Muslim dari Jarib bin Abdullah berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya penduduk surga makan dan minum di dalamnya, tidak meludah, tidak buang air kecil, tidak buang air besar, dan tidak mengeluarkan ingus.” Mereka bertanya: Bagaimana dengan makanan? Beliau berkata: “Sendawa seperti sendawa misk.”

Pembahasan Keempat: Mengapa Penduduk Surga Makan, Minum, dan Menyisir?

Jika penduduk surga kekal di dalamnya, dan surga bebas dari rasa sakit, penyakit, tidak ada lapar dan haus, tidak ada kotoran dan noda, mengapa penduduk surga makan dan minum, mengapa mereka memakai wewangian dan menyisir?

Al-Qurthubi dalam At-Tadzkirah menjawab pertanyaan ini: “Kenikmatan penduduk surga dan pakaian mereka bukan untuk menolak rasa sakit yang menimpa mereka. Makan mereka bukan karena lapar, minum mereka bukan karena haus, memakai wewangian mereka bukan karena bau busuk. Itu adalah kelezatan yang berturut-turut dan kenikmatan yang berkesinambungan. Tidakkah engkau lihat firman Allah kepada Adam: ‘Sesungguhnya bagimu tidak lapar di dalamnya dan tidak telanjang, dan sesungguhnya engkau tidak haus di dalamnya dan tidak kepanasan’ (QS. Thaha: 118-119).” Hikmahnya adalah Allah Ta’ala mengenalkan mereka di surga jenis kenikmatan yang mereka nikmati di dunia, dan menambahkan kepada mereka apa yang hanya Allah Azza wa Jalla yang mengetahuinya.”

Pembahasan Kelima: Peralatan Makanan dan Minuman Penduduk Surga

Peralatan makanan penduduk surga yang mereka gunakan untuk makan dan minum terbuat dari emas dan perak. Allah berfirman: “Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala” (QS. Az-Zukhruf: 71), yaitu piala-piala dari emas. Allah berfirman: “Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bagaikan gelas. Gelas-gelas dari perak yang telah mereka tentukan ukurannya dengan sebaik-baiknya” (QS. Al-Insan: 15-16), yaitu terkumpul padanya kejernihan gelas dan putihnya perak. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam kedua kitab sahih mereka dari Abu Musa Al-Asy’ari berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya bagi mukmin di surga terdapat kemah dari mutiara tunggal yang berlubang… dan dua surga dari perak, peralatan keduanya dan apa yang ada di dalamnya, dan dua surga dari emas, peralatan keduanya dan apa yang ada di dalamnya.”

Di antara peralatan yang mereka gunakan untuk minum adalah gelas, cerek, dan piala. “Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang kekal dengan membawa gelas, cerek, dan sloki berisi minuman yang diambil dari mata air yang mengalir” (QS. Al-Waqi’ah: 17-18). Al-Kub (gelas): yang tidak ada telinga, pegangan, atau corong. Al-Abariq (cerek): yang mempunyai telinga dan pegangan. Al-Ka’s (piala): gelas yang berisi minuman.

Pembahasan Ketiga: Pakaian, Perhiasan, dan Dupa Penduduk Surga

Penduduk surga memakai pakaian mewah di dalamnya, dan berhias dengan berbagai perhiasan dari emas, perak, dan mutiara. Di antara pakaian mereka adalah sutera, dan di antara perhiasan mereka adalah gelang emas, perak, dan mutiara. Allah berfirman: “Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera” (QS. Al-Insan: 12). “Mereka dihiasi dengan gelang emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera” (QS. Al-Hajj: 23). “Surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka dihiasi dengan gelang emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera” (QS. Fathir: 33). “Dan mereka diberi gelang perak dan Tuhan mereka memberi mereka minuman yang suci” (QS. Al-Insan: 21).

Pakaian mereka berwarna-warni. Di antara warna pakaian yang mereka kenakan adalah hijau dari sutera halus dan sutera tebal. “Di dalamnya mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sambil bertelekan di atas dipan-dipan yang indah. Itulah sebaik-baik balasan dan tempat istirahat yang indah” (QS. Al-Kahf: 31). “Pakaian mereka adalah sutera halus hijau dan sutera tebal, dan mereka diberi gelang perak” (QS. Al-Insan: 21).

Pakaian mereka lebih tinggi dari pakaian apa pun yang dibuat manusia. Bukhari meriwayatkan dalam sahihnya dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu anhuma berkata: “Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi kain sutera, lalu mereka kagum pada keindahan dan kehalusannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Sapu tangan Sa’d bin Mu’adz di surga lebih baik dari ini.'”

Dan telah memberitahukan kepada kita Rasulullah ﷺ bahwa penghuni surga memiliki sisir-sisir dari emas dan perak, dan mereka membakar dupa dengan kayu gaharu yang harum, meskipun aroma misk sudah tercium dari tubuh-tubuh mereka yang suci. Dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah dari Rasulullah ﷺ dalam sifat orang-orang yang masuk surga: “Bejana-bejana mereka dari emas dan perak, sisir-sisir mereka dari emas, bahan bakar untuk tempat dupa mereka adalah kayu aloes –Abu al-Yaman berkata: kayu harum– dan keringat mereka adalah misk.”

Dan dari perhiasan mereka adalah mahkota-mahkota. Dalam Sunan Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Al-Miqdam bin Ma’di Karib dari Rasulullah ﷺ dalam menyebutkan keistimewaan-keistimewaan yang diberikan kepada syahid: “Dan diletakkan di kepalanya mahkota kemuliaan, yakut darinya lebih baik dari dunia dan seisinya.”

Dan pakaian serta perhiasan penghuni surga tidak akan rusak dan tidak akan habis. Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ bersabda: “Siapa yang masuk surga akan bersenang-senang dan tidak akan sengsara, pakaiannya tidak akan rusak, dan masa mudanya tidak akan berakhir.”

Pembahasan Keempat: Permadani Penghuni Surga

Istana-istana surga telah disiapkan, dan tempat-tempat duduk di taman-tamannya dan kebun-kebunnya dengan berbagai warna permadani yang mewah dan indah untuk duduk dan bersandar dan sebagainya. Maka dipan-dipan yang banyak dan mulia serta permadani-permadani yang sangat berharga yang bagian dalamnya dari sutera tebal, apalagi bagian luarnya. Dan di sana terlihat bantal-bantal tersusun dengan cara yang menyenangkan hati dan membahagiakan jiwa, dan permadani-permadani tersebar dalam bentuk yang teratur dan sempurna.

Allah Ta’ala berfirman: “Di dalamnya ada dipan-dipan yang ditinggikan * dan piala-piala yang tersedia * dan bantal-bantal yang tersusun * dan permadani-permadani yang terhampar” (Al-Ghasyiyah: 13-16), “Mereka bertelekan di atas permadani yang bagian dalamnya dari sutera tebal” (Ar-Rahman: 54), “Mereka bertelekan di atas dipan-dipan yang tersusun dan Kami berikan kepada mereka bidadari bermata jeli” (At-Tur: 20), “Segolongan dari orang-orang terdahulu * dan sedikit dari orang-orang kemudian * di atas dipan-dipan yang bertatah * bertelekan di atasnya saling berhadapan” (Al-Waqi’ah: 13-16).

Dan bertelekan mereka di atasnya dengan cara ini adalah jenis kenikmatan yang dinikmati penghuni surga ketika mereka berkumpul sebagaimana Allah Ta’ala kabarkan: “Dan Kami cabut kedengkian yang ada dalam dada mereka; mereka menjadi bersaudara duduk berhadapan di atas dipan-dipan” (Al-Hijr: 47). Dan Allah berfirman: “Bertelekan di atas permadani hijau dan permadani indah yang tebal” (Ar-Rahman: 76), “Bertelekan di dalamnya di atas dipan-dipan” (Al-Kahf: 31).

Yang dimaksud dengan namariqi adalah bantal-bantal kepala, dan wasa’id adalah sandaran-sandaran, dan zarabiyi adalah permadani-permadani, dan ‘abqariyi adalah permadani-permadani yang bagus. Dan rafrafi adalah taman-taman surga. Ada yang berkata: sejenis pakaian, dan ara’iki adalah dipan-dipan.

Pembahasan Kelima: Pelayan Penghuni Surga

Penghuni surga dilayani oleh anak-anak muda yang Allah ciptakan untuk melayani mereka, mereka dalam keadaan sangat cantik dan sempurna, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Mereka dilayani oleh anak-anak muda yang kekal * dengan membawa piala-piala, kendi-kendi dan gelas berisi minuman yang mengalir” (Al-Waqi’ah: 17-18). Dan Allah berfirman di tempat lain: “Dan berkeliling melayani mereka anak-anak muda yang kekal, apabila engkau melihat mereka, engkau akan mengira mereka mutiara yang bertaburan” (Al-Insan: 19).

Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala berkata: “Berkeliling melayani penghuni surga adalah anak-anak muda dari anak-anak muda penghuni surga yang kekal, yaitu dalam keadaan yang tetap, kekal dalam keadaan itu, tidak berubah darinya, umur mereka tidak bertambah dari usia tersebut. Dan yang menafsirkan mereka sebagai yang beranting, di telinga mereka ada anting-anting, maka sesungguhnya dia menjelaskan makna, karena anak kecillah yang pantas untuk hal itu, bukan yang dewasa. Dan firman Allah Ta’ala: ‘Apabila engkau melihat mereka, engkau akan mengira mereka mutiara yang bertaburan’ (Al-Insan: 19), yaitu apabila engkau melihat mereka dalam penyebaran mereka dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan para tuan dan banyaknya mereka serta kecantikan wajah-wajah mereka dan keindahan warna kulit mereka dan pakaian-pakaian mereka dan perhiasan-perhiasan mereka, engkau akan mengira mereka mutiara yang bertaburan, dan tidak ada dalam perumpamaan yang lebih indah dari ini, dan tidak ada dalam pemandangan yang lebih indah dari mutiara yang bertaburan di tempat yang indah.”

Dan sebagian ulama berpendapat bahwa anak-anak muda ini adalah mereka yang meninggal kecil dari anak-anak orang beriman atau musyrik. Dan Al-Allamah Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala menolak pendapat ini, dan menjelaskan bahwa anak-anak muda yang kekal adalah makhluk dari makhluk surga. Beliau berkata: “Dan anak-anak muda yang berkeliling melayani penghuni surga adalah makhluk dari makhluk surga, bukan dari anak-anak dunia, bahkan anak-anak penghuni dunia apabila masuk surga disempurnakan penciptaan mereka seperti penghuni surga, dengan bentuk bapak mereka Adam.”

Pembahasan Keenam: Pasar Penghuni Surga

Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya di surga ada pasar, mereka mendatanginya setiap Jumat, maka bertiuplah angin utara, lalu meniupkan ke wajah-wajah dan pakaian-pakaian mereka, maka bertambahlah mereka keindahan dan kecantikan, lalu mereka kembali kepada keluarga-keluarga mereka dan sungguh mereka telah bertambah keindahan dan kecantikan, maka keluarga-keluarga mereka berkata kepada mereka: Demi Allah, kalian sungguh telah bertambah keindahan dan kecantikan setelah kami, maka mereka berkata: Dan kalian juga, demi Allah, sungguh kalian telah bertambah keindahan dan kecantikan setelah kami.”

An-Nawawi berkata dalam syarahnya terhadap hadits ini: “Yang dimaksud dengan pasar adalah tempat berkumpul bagi mereka, mereka berkumpul sebagaimana manusia berkumpul di dunia di pasar. Dan makna ‘mereka mendatanginya setiap Jumat’, yaitu dalam ukuran setiap Jumat, yaitu seminggu, dan di sana tidak ada hakikat minggu, karena tidak ada matahari dan malam dan siang… Dan mengkhususkan angin surga dengan utara, karena itulah angin hujan menurut orang Arab, biasa bertiup dari arah Syam, dan dengannya datang awan hujan, dan mereka mengharapkan awan Syam. Dan dalam hadits disebutkan nama angin ini sebagai angin yang membangkitkan, yaitu yang menggerakkan, karena ia membangkitkan ke wajah-wajah mereka apa yang dibangkitkannya dari misk tanah surga dan lainnya dari kenikmatan surga.”

Pembahasan Ketujuh: Perkumpulan Penghuni Surga dan Percakapan-Percakapan Mereka

Penghuni surga saling mengunjungi, dan berkumpul dalam majelis-majelis yang baik untuk berbincang-bincang, dan menyebut apa yang terjadi dari mereka di dunia, dan apa yang Allah karuniakan kepada mereka dengan memasukkan mereka ke surga.

Allah Ta’ala berfirman dalam menggambarkan perkumpulan penghuni surga: “Dan Kami cabut kedengkian yang ada dalam dada mereka; mereka menjadi bersaudara duduk berhadapan di atas dipan-dipan” (Al-Hijr: 47). Dan Allah memberitahukan kepada kita tentang jenis dari jenis-jenis percakapan yang mereka bicarakan dalam perkumpulan-perkumpulan mereka: “Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling bertanya * Mereka berkata: Sesungguhnya dahulu kami di antara keluarga kami merasa takut (terhadap azab Allah) * Maka Allah menganugerahkan nikmat kepada kami dan memelihara kami dari azab yang menyiksa * Sesungguhnya dahulu kami menyembah-Nya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Berbakti lagi Maha Penyayang” (At-Tur: 25-27).

Dan di antaranya adalah mengingat mereka terhadap orang-orang jahat yang dulu meragukan orang-orang beriman, dan mengajak mereka kepada kekufuran: “Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling bertanya * Berkata salah seorang di antara mereka: Sesungguhnya aku dahulu mempunyai teman * yang berkata: Apakah engkau termasuk orang-orang yang membenarkan? * Apakah apabila kami mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, kami benar-benar akan diberi balasan? * Dia berkata: Apakah kalian ingin melihat? * Maka dia melihat lalu melihatnya di tengah-tengah neraka * Dia berkata: Demi Allah, sungguh engkau hampir menyesatkanku * Dan kalau bukan karena nikmat Tuhanku, niscaya aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka) * Maka apakah kami tidak akan mati * kecuali kematian kami yang pertama, dan kami tidak akan diazab? * Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar * Untuk yang seperti inilah hendaknya orang-orang bekerja” (Ash-Shaffat: 50-61).

Pembahasan Kedelapan: Angan-Angan Penghuni Surga

Sebagian penghuni surga mengangan-angankan angan-angan di dalamnya yang terwujud dengan cara yang menakjubkan, tidak menyerupai keadaan yang terjadi di dunia. Dan Rasulullah ﷺ telah menceritakan kepada kita tentang sebagian angan-angan ini dan bagaimana terwujudnya.

Maka ini seorang dari penghuni surga meminta izin kepada Tuhannya untuk bercocok tanam, maka Allah mengizinkannya, maka hampir saja dia menaburkan benih, sampai benih itu berakar di tanah, kemudian tumbuh, dan sempurna, dan matang dalam waktu yang bersamaan. Dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ sedang berbicara –dan di sisinya ada seorang laki-laki dari penduduk desa–: “Sesungguhnya seorang laki-laki dari penghuni surga meminta izin kepada Tuhannya untuk bercocok tanam, maka Allah berkata kepadanya: Bukankah engkau dalam apa yang engkau kehendaki? Dia berkata: Ya, tetapi aku suka bercocok tanam. Maka dia menaburkan benih, lalu lebih cepat dari kedipan mata tumbuhnya, dan tegaknya, dan panennya, maka tanaman itu seperti gunung-gunung, maka Allah Ta’ala berfirman: Ambillah hai anak Adam, karena sesungguhnya tidak ada sesuatu yang bisa membuatmu kenyang.” Maka orang Badui itu berkata: “Demi Allah, engkau tidak akan mendapatinya kecuali orang Quraisy atau Anshar, karena mereka adalah ahli pertanian, adapun kami maka kami bukan ahli pertanian,” maka Rasulullah ﷺ tertawa.”

Dan yang lain mengangan-angankan anak, maka Allah mewujudkan angan-angannya dalam satu jam, di mana (istri) mengandung dan melahirkan dalam satu jam. Dan Tirmidzi meriwayatkan dalam sunannya, dan Ahmad dalam musnadnya, dan Ibnu Hibban dalam shahihnya dengan sanad shahih dari Abu Sa’id bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Orang mukmin apabila menginginkan anak di surga, maka kehamilannya dan kelahirannya dan umurnya dalam satu jam sesuai yang dia inginkan.”

Pembahasan Kesembilan: Wanita-Wanita Penghuni Surga

Bagian Pertama: Istri Orang Mukmin di Dunia Menjadi Istrinya di Akhirat Jika Dia Beriman

Apabila orang mukmin masuk surga, maka jika istrinya shalihah, maka dia akan menjadi istrinya di surga juga: “Surga ‘Adn yang mereka masuki bersama dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapak mereka, istri-istri mereka dan keturunan mereka” (Ar-Ra’d: 23). Dan mereka di surga-surga bersenang-senang bersama istri-istri, bertelekan dalam naungan surga dengan gembira dan senang: “Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan” (Yasin: 56), “Masuklah surga, kamu dan istri-istrimu dengan gembira” (Az-Zukhruf: 70).

Bagian Kedua: Wanita untuk Suami Terakhirnya

Abu Ali Al-Harrani meriwayatkan dalam “Tarikh Ar-Riqqah” dari Maimun bin Mihran berkata: Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu melamar Ummu Darda’, maka dia menolak untuk menikahinya, dan berkata: Aku mendengar Abu Darda’ berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Wanita untuk suami terakhirnya.” Dan para perawi sanad ini terpercaya kecuali Al-Abbas bin Shalih yang tidak ada biografinya. Dan Abu Asy-Syaikh meriwayatkannya dalam Tarikh dengan sanad shahih hanya mengambil bagian marfu’nya saja. Dan Thabrani meriwayatkannya dalam Mu’jam Al-Awsath dengan sanad dha’if, tetapi dengan gabungan dua jalur menjadi kuat, dan bagian marfu’nya shahih. Dan hadits ini memiliki dua syahid mauquf: Yang pertama diriwayatkan Ibnu Asakir dari Ikrimah: “Sesungguhnya Asma’ binti Abu Bakar pernah menjadi istri Zubair bin Al-Awwam, dan dia keras terhadapnya, maka dia mendatangi ayahnya, dan mengadu hal itu kepadanya, maka dia berkata: Wahai putriku, bersabarlah, karena sesungguhnya wanita apabila dia memiliki suami yang shalih, kemudian meninggal darinya, lalu dia tidak menikah setelahnya, maka akan dikumpulkan antara keduanya di surga.”

Dan para perawinya tsiqah kecuali ada irsal karena Ikrimah tidak bertemu Abu Bakar kecuali dia menerimanya dari Asma’.

Dan yang lain dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunan bahwa Hudzaifah berkata kepada istrinya: “Jika engkau ingin menjadi istriku di surga, maka jangan menikah setelahku, karena sesungguhnya wanita di surga untuk suami terakhirnya di dunia.” Oleh karena itu Allah mengharamkan kepada istri-istri Nabi ﷺ untuk menikah setelahnya, karena mereka adalah istri-istrinya di akhirat.

Bagian Ketiga: Bidadari Bermata Jeli

Allah menikahkan orang-orang mukmin di surga dengan istri-istri cantik selain istri-istri mereka yang ada di dunia, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Demikianlah dan Kami nikahkan mereka dengan bidadari bermata jeli” (Ad-Dukhan: 54). Dan Hurun adalah jamak dari Haura’, yaitu yang putih matanya sangat putih, dan hitamnya sangat hitam. Dan ‘Iin adalah jamak dari ‘Aina’, dan ‘Aina’ adalah yang luas matanya.

Al-Qur’an menggambarkan bidadari bermata jeli sebagai gadis-gadis muda yang sebaya, Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa ada tempat kemenangan * kebun-kebun dan buah anggur * dan gadis-gadis muda yang sebaya” (An-Naba’: 31-33). Dan Ka’ib adalah wanita cantik yang payudaranya menonjol, dan Atrab adalah yang sebaya umurnya. Dan bidadari bermata jeli adalah makhluk Allah di surga, Allah menciptakan mereka dengan penciptaan khusus lalu menjadikan mereka perawan, yang suka memanjakan suami dan sebaya: “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung * lalu Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan * yang penuh cinta lagi sebaya umurnya” (Al-Waqi’ah: 35-37). Dan kenyataan mereka perawan mengharuskan bahwa tidak ada seorang pun yang menyentuh mereka sebelum mereka, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Yang tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka dan tidak pula oleh jin” (Ar-Rahman: 56). Dan ini meniadakan pendapat yang berkata: Bahwa yang dimaksud dengan istri-istri yang Allah ciptakan di surga adalah istri-istri mereka di dunia ketika Allah mengembalikan mereka menjadi muda setelah tua dan renta. Dan makna ini benar, maka Allah memasukkan wanita-wanita mukminat ke surga dalam usia muda, tetapi mereka bukanlah bidadari bermata jeli yang Allah ciptakan dengan penciptaan khusus.

Yang dimaksud dengan ‘Urub adalah yang manja dan memanjakan suami-suami mereka.

Al-Qur’an menceritakan kepada kita tentang kecantikan wanita-wanita surga maka berfirman: “Dan bidadari bermata jeli * seperti mutiara yang tersimpan” (Al-Waqi’ah: 22-23). Yang dimaksud dengan Maknun adalah yang tersembunyi dan terpelihara, yang tidak mengubah kejernihan warnanya sinar matahari, dan tidak pula sentuhan tangan-tangan. Dan menyerupakan mereka di tempat lain dengan yakut dan marjan: “Di dalamnya ada bidadari yang menundukkan pandangan, yang tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka dan tidak pula oleh jin * Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan * Mereka seperti yakut dan marjan” (Ar-Rahman: 56-58). Dan yakut dan marjan adalah dua batu mulia yang memiliki keindahan, dan memiliki pemandangan yang indah dan menakjubkan. Dan bidadari bermata jeli digambarkan sebagai yang menundukkan pandangan, yaitu mereka yang menundukkan pandangan mereka kepada suami-suami mereka, maka pandangan mereka tidak tertuju kepada selain suami-suami mereka. Dan Allah telah bersaksi untuk bidadari surga dengan kebaikan dan kecantikan, dan cukuplah Allah bersaksi dengan ini hingga mencapai puncak kebaikan dan kecantikan: “Di dalamnya ada bidadari-bidadari yang baik dan cantik * Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan * Bidadari yang jelita, dipingit dalam kemah” (Ar-Rahman: 70-72).

Dan wanita-wanita surga tidak seperti wanita-wanita dunia, karena mereka suci dari haid dan nifas, dan ludah dan ingus dan air kencing dan kotoran. Dan ini adalah konsekuensi firman Allah Ta’ala: “Dan bagi mereka di dalamnya istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya” (Al-Baqarah: 25).

Dan Rasulullah ﷺ telah menceritakan kepada kita tentang kecantikan wanita-wanita penghuni surga. Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Rombongan pertama yang masuk surga bentuk mereka seperti bulan pada malam purnama, mereka tidak meludah dan tidak bersin, bejana-bejana mereka di dalamnya emas, sisir-sisir mereka dari emas dan perak, dan tempat dupa mereka kayu aloes, dan keringat mereka misk, dan bagi setiap seorang dari mereka dua istri, terlihat sumsum betis mereka dari balik daging karena kecantikannya.”

Dan lihatlah kecantikan ini yang diceritakan Rasulullah ﷺ, apakah engkau mendapati bandingannya dari yang engkau kenal? “Dan seandainya seorang wanita dari penghuni surga menampakkan diri kepada penghuni bumi, niscaya dia menerangi apa yang di antara keduanya, dan memenuhinya dengan harum, dan kerudung di kepalanya lebih baik dari dunia dan seisinya” –diriwayatkan Bukhari.

Dan penetapan jumlah istri setiap orang di surga dengan dua orang tampaknya adalah jumlah minimum, karena telah diriwayatkan bahwa syahid dinikahkan dengan dua puluh dua istri dari bidadari bermata jeli [maksudnya tujuh puluh dua]. Dalam Sunan Tirmidzi dan Sunan Ibnu Majah dengan sanad shahih dari Al-Miqdam bin Ma’di Karib berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Bagi syahid di sisi Allah ada tiga keistimewaan: diampuni pada tetesan pertama darahnya, melihat tempatnya di surga, dilindungi dari azab kubur, aman dari ketakutan yang besar, diletakkan di kepalanya mahkota kemuliaan, yakut darinya lebih baik dari dunia dan seisinya, dinikahkan dengan tujuh puluh dua istri dari bidadari bermata jeli, dan memberi syafaat untuk tujuh puluh dari kerabatnya.”

Nyanyian Bidadari Bermata Jeli

Dan Rasulullah ﷺ telah memberitahukan kepada kita bahwa bidadari bermata jeli di surga bernyanyi dengan suara-suara yang indah dan merdu. Dalam Mu’jam Thabrani Al-Awsath dengan sanad shahih dari Ibnu Umar dari Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya istri-istri penghuni surga bernyanyi untuk suami-suami mereka dengan suara-suara terindah yang tidak pernah didengar seorang pun. Di antara yang mereka nyanyikan: Kami adalah wanita-wanita yang baik dan cantik, istri-istri kaum yang mulia, memandang dengan mata yang jernih. Dan di antara yang mereka nyanyikan: Kami adalah yang kekal maka tidak akan mati, kami adalah yang aman maka tidak akan takut, kami adalah yang menetap maka tidak akan pindah.”

Dan Samawayh meriwayatkan dalam “Fawa’idnya” dari Anas, dari Rasulullah ﷺ: “Sesungguhnya bidadari bermata jeli bernyanyi di surga, mereka berkata: Kami adalah bidadari yang cantik, disimpan untuk suami-suami yang mulia.”

Kecemburuan Bidadari Atas Para Suami Mereka di Dunia

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita bahwa para bidadari cemburu kepada suami-suami mereka di dunia jika seorang istri di dunia menyakitinya. Dalam Musnad Ahmad dan Sunan At-Tirmidzi dengan sanad yang sahih dari Mu’adz dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Jangan seorang wanita menyakiti suami di dunia, kecuali istri bidadarinya berkata: ‘Jangan menyakitinya, semoga Allah membunuhmu! Dia hanya tumpangan sementara di sisimu, tidak lama lagi dia akan berpisah darimu menuju kami.'”

Pembahasan Keempat: Orang Beriman Diberi Kekuatan Seratus Pria di Surga

Dari Anas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Orang beriman di surga diberi kekuatan sekian dalam hal hubungan intim.” Ditanya: “Wahai Rasulullah, apakah dia mampu melakukan hal tersebut?” Beliau berkata: “Dia diberi kekuatan seratus pria.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.

Pembahasan Kesepuluh: Tawa Penghuni Surga Terhadap Penghuni Neraka

Setelah Allah memasukkan ahli surga ke dalam surga, mereka memanggil musuh-musuh mereka dari kalangan kafir penghuni neraka dengan mengejek dan mencela: “Dan penghuni surga menyeru penghuni neraka: ‘Kami telah menemukan apa yang dijanjikan Tuhan kami kepada kami sebagai kebenaran, maka apakah kamu menemukan apa yang dijanjikan Tuhanmu sebagai kebenaran?’ Mereka menjawab: ‘Ya.’ Maka seorang penyeru mengumumkan di antara mereka: ‘Laknat Allah atas orang-orang yang zalim.'” (Al-A’raf: 44)

Sungguh, orang-orang kafir di dunia telah bermusuhan dengan orang-orang beriman, mengejek mereka, dan memperolok-olokkan mereka. Di hari itu, orang-orang beriman menang, dan saat mereka berada dalam kenikmatan yang kekal, mereka melihat kepada para penjahat, lalu mengejek mereka dan memperolok-olokkan mereka: “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti berada dalam kenikmatan * di atas dipan-dipan mereka memandang * kamu mengetahui di wajah mereka sinar kenikmatan * mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak * laknya adalah kasturi, dan untuk yang demikian itu hendaklah berlomba-lomba orang yang berlomba * dan campurannya dari tasnim * (yaitu) mata air yang diminum oleh orang-orang yang didekatkan (kepada Allah) * Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, dahulu mereka tertawa kepada orang-orang yang beriman * dan apabila mereka melewati orang-orang beriman itu, mereka saling mengedip-ngedipkan mata * dan apabila mereka kembali kepada keluarga mereka, mereka kembali dengan gembira * dan apabila mereka melihat orang-orang beriman, mereka berkata: ‘Sesungguhnya mereka benar-benar sesat’ * padahal mereka tidak diutus untuk menjaga mereka * maka pada hari ini, orang-orang yang beriman tertawa kepada orang-orang kafir * sambil berbaring di atas dipan-dipan mereka memandang * apakah orang-orang kafir itu dibalasi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan?” (Al-Muthaffifin: 22-36)

Ya, demi Allah, sungguh orang-orang kafir telah dibalas dengan serupa apa yang mereka perbuat, dan balasan sesuai dengan jenis perbuatan. Orang beriman di taman-taman kenikmatan mengingat teman atau sahabat yang dulunya menghias-hiasi kekafiran untuknya di dunia, dan mengajaknya kepada prinsip-prinsip sesat yang menempatkannya dalam barisan orang-orang kafir yang memusuhi Allah. Maka dia menceritakan kepada saudara-saudaranya tentang teman itu, dan mengajak mereka untuk melihatnya di tempatnya yang disiksa di sana. Ketika dia melihat siksaan yang dialaminya, dia mengetahui besarnya nikmat Allah kepadanya, dan bagaimana Allah menyelamatkannya dari keadaan itu, kemudian dia menghadap kepadanya dengan celaan dan teguran: “Maka sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling bertanya * berkatalah salah seorang di antara mereka: ‘Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman * yang berkata (kepadaku): “Apakah kamu termasuk orang-orang yang membenarkan? * Apabila kami mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, apakah kami benar-benar akan dihisab?”‘ * Dia berkata: ‘Apakah kamu ingin melihat (ke bawah)?’ * Maka dia melihat lalu melihat temannya itu berada di tengah-tengah neraka * dia berkata: ‘Demi Allah, sesungguhnya kamu hampir saja membinasakanku * dan kalau bukan karena nikmat Tuhanku, tentulah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka)’ * maka apakah kita tidak akan mati * kecuali kematian yang pertama dan tidaklah kita akan disiksa? * Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar.'” (Ash-Shaffat: 50-60)

Pembahasan Kesebelas: Tasbih dan Takbir Termasuk Kenikmatan Ahli Surga

Surga adalah tempat balasan dan pemberian nikmat, bukan tempat pembebanan dan ujian. Mungkin ada yang merasa bingung dengan hal ini berdasarkan apa yang diriwayatkan Bukhari dan yang lainnya dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sifat kelompok pertama yang masuk surga, beliau berkata di akhirnya: “Mereka bertasbih kepada Allah pagi dan sore.”

Tidak ada kebingungan dalam hal itu insya Allah Ta’ala, karena ini bukan termasuk pembebanan. Ibn Hajar berkata dalam penjelasannya terhadap hadits: “Al-Qurthubi berkata: Tasbih ini bukan karena pembebanan dan kewajiban! Jabir telah menjelaskannya dalam haditsnya di Muslim dengan perkataannya: ‘Mereka diberi ilham untuk bertasbih dan bertakbir sebagaimana kalian diberi ilham untuk bernapas.’ Wajah perumpamaan adalah bahwa napas manusia tidak ada beban padanya, dan pasti ada, maka dijadikan napas mereka sebagai tasbih. Sebabnya adalah karena hati mereka menjadi bercahaya dengan ma’rifah kepada Rabb Subhanahu, dan dipenuhi dengan cinta kepada-Nya, dan barangsiapa mencintai sesuatu, dia banyak menyebutnya.”

Syaikhul Islam telah memutuskan bahwa tasbih dan takbir ini adalah warna dari warna-warna kenikmatan yang dinikmati ahli surga. Beliau berkata: “Ini bukan termasuk amal pembebanan yang diminta untuknya pahala yang terpisah, bahkan amal ini sendiri termasuk kenikmatan yang dengannya jiwa-jiwa merasa nikmat dan menikmatinya.”

Pembahasan Kedua Belas: Yang Terbaik yang Diberikan kepada Ahli Surga adalah Ridha Allah dan Melihat Wajah-Nya yang Mulia

Dari Abu Sa’id, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman kepada ahli surga: ‘Wahai ahli surga!’ Maka mereka menjawab: ‘Kami penuhi panggilan-Mu wahai Tuhan kami, kami beruntung, dan segala kebaikan ada di tangan-Mu.’ Maka Dia berfirman: ‘Apakah kalian ridha?’ Maka mereka berkata: ‘Mengapa kami tidak ridha wahai Tuhan kami, padahal Engkau telah memberi kami apa yang tidak Engkau berikan kepada siapapun dari makhluk-Mu?’ Maka Dia berfirman: ‘Tidakkah Aku berikan kepada kalian yang lebih baik dari itu?’ Maka mereka berkata: ‘Wahai Tuhan kami, apa yang lebih baik dari itu?’ Maka Dia berfirman: ‘Aku turunkan ridha-Ku kepada kalian, maka Aku tidak akan murka kepada kalian selama-lamanya.'” Muttafaq ‘alaih.

Dan kenikmatan yang paling agung adalah melihat wajah Allah yang mulia di taman-taman kenikmatan. Ibnul Atsir berkata: “Melihat Allah adalah tujuan tertinggi dalam kenikmatan akhirat, dan derajat tertinggi dari pemberian-pemberian Allah yang mewah, semoga Allah sampai kan kita kepada apa yang kita harapkan darinya.”

Allah Yang Maha Benar dan Maha Berkah telah menyatakan secara tegas tentang penglihatan hamba-hamba kepada Tuhan mereka di taman-taman kenikmatan: “Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri * kepada Tuhannyalah mereka melihat” (Al-Qiyamah: 22-23). Sedangkan orang-orang kafir dan musyrik diharamkan dari kenikmatan yang agung ini, dan kemuliaan yang cemerlang: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka” (Al-Muthaffifin: 15).

Muslim telah meriwayatkan dalam Shahihnya dan At-Tirmidzi dalam Sunannya dari Shuhaib Ar-Rumi radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila ahli surga masuk surga, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu yang Aku tambahkan untuk kalian?’ Maka mereka berkata: ‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke surga, dan menyelamatkan kami dari neraka?’ Dia berkata: ‘Maka Dia menyingkap hijab, maka mereka tidak diberi sesuatu yang lebih mereka cintai daripada melihat kepada Tuhan mereka Tabaraka wa Ta’ala.'” Dalam riwayat lain ditambahkan: “Kemudian dia membaca ayat ini: ‘Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada (pahala) yang terbaik (surga) dan tambahannya’ (Yunus: 26).”

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-Asy’ari, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya bagi orang mukmin di surga ada kemah dari mutiara yang berlubang, lebarnya -dan dalam riwayat lain panjangnya- enam puluh mil, di setiap sudutnya ada keluarga yang tidak dapat melihat yang lainnya, orang mukmin berkeliling kepada mereka. Dan dua surga dari perak, bejana-bejana dan apa yang ada di dalamnya, dan dua surga dari emas, bejana-bejana dan apa yang ada di dalamnya. Dan tidak ada antara kaum itu dan melihat kepada Tuhan mereka kecuali selubung kebesaran di atas wajah-Nya di surga ‘Adn.”

Dan melihat wajah Allah Ta’ala adalah termasuk tambahan yang Allah janjikan kepada orang-orang yang berbuat baik: “Bagi mereka apa yang mereka kehendaki di dalamnya, dan pada sisi Kami ada tambahannya” (Qaf: 35), “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada (pahala) yang terbaik (surga) dan tambahannya” (Yunus: 26). Al-Husna ditafsirkan sebagai surga, dan az-ziyadah (tambahan) sebagai melihat wajah Allah yang mulia. Hal ini ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan Muslim yang telah kami sebutkan tadi.

Dan melihat Allah adalah penglihatan yang hakiki, bukan sebagaimana yang diklaim beberapa golongan yang menafikan penglihatan kepada Allah Ta’ala dengan ukuran-ukuran akal yang batil dan penyimpangan lafal yang zalim. Imam Malik bin Anas, imam Dar Al-Hijrah, pernah ditanya tentang firman Allah Ta’ala: “kepada Tuhannyalah mereka melihat” (Al-Qiyamah: 23). Dikatakan: Sesungguhnya ada kaum yang berkata: kepada pahala-Nya. Maka Malik berkata: Mereka berdusta, maka di mana mereka dari firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka” (Al-Muthaffifin: 15)? Malik berkata: Manusia melihat Allah pada hari kiamat dengan mata mereka. Dan dia berkata: Seandainya orang-orang mukmin tidak melihat Tuhan mereka pada hari kiamat, Allah tidak akan mengungkapkan orang-orang kafir dengan hijab, maka Dia berfirman: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka” (Al-Muthaffifin: 15). Diriwayatkan dalam “Syarh As-Sunnah”.

Di antara yang menetapkan penglihatan orang-orang mukmin kepada Tuhan mereka di surga adalah Ath-Thahawi dalam akidah yang terkenal dengan nama “Al-Akidah Ath-Thahawiyyah”. Dia berkata: “Dan penglihatan adalah hak bagi ahli surga, tanpa meliputi dan tanpa cara, sebagaimana yang diucapkan oleh kitab Tuhan kita: ‘Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri * kepada Tuhannyalah mereka melihat’ (Al-Qiyamah: 22-23). Dan penafsirannya sesuai dengan apa yang Allah Ta’ala kehendaki dan ketahui. Dan semua yang datang dalam hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagaimana yang beliau katakan, dan maknanya sesuai dengan apa yang beliau kehendaki. Kita tidak masuk ke dalamnya dengan menta’wil menurut pendapat kita dan tidak pula dengan menebak-nebak menurut hawa nafsu kita, karena tidak selamat dalam agamanya kecuali orang yang menyerahkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla dan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengembalikan ilmu tentang apa yang samar baginya kepada Yang Mengetahuinya.”

Penjelas Ath-Thahawiyyah berkata, menjelaskan mazhab golongan-golongan sesat dalam masalah ini dan mazhab ahli kebenaran:

“Yang menyelisihi dalam masalah penglihatan adalah Jahmiyyah dan Mu’tazilah serta yang mengikuti mereka dari Khawarij dan Imamiyyah. Pendapat mereka batil dan tertolak dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Dan telah berkata dengan penetapan penglihatan para sahabat dan tabi’in, dan para imam Islam yang dikenal dengan kepemimpinan dalam agama, dan ahli hadits, serta seluruh golongan ahli kalam yang dinisbatkan kepada Sunnah dan Jama’ah.”

Kemudian dia menjelaskan pentingnya masalah ini, lalu berkata: “Dan masalah ini termasuk masalah paling mulia dan paling agung dari masalah-masalah ushul ad-din, dan ini adalah tujuan yang diperjuangkan oleh para pejuang, dan diperebutkan oleh para pesaing, dan diharamkan bagi mereka yang terhalang dari Tuhan mereka dan tertolak dari pintu-Nya.”

Kemudian dia menjelaskan bahwa firman Allah Ta’ala: “Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri * kepada Tuhannyalah mereka melihat” (Al-Qiyamah: 22-23) termasuk dalil yang paling jelas atas masalah ini. Adapun mereka yang menolak kecuali mentahrif ayat dengan apa yang mereka sebut ta’wil: maka menta’wil nash-nash tentang hari kebangkitan, surga, neraka, dan hisab lebih mudah daripada menta’wilnya menurut ahli ta’wil. Dan tidak ada orang yang batil yang ingin menta’wil nash-nash dan menyimpangkannya dari tempatnya kecuali dia menemukan jalan untuk itu sebagaimana yang ditemukan oleh penta’wil nash-nash ini.

Dan dia menjelaskan bahayanya ta’wil: “Dan inilah yang telah merusak dunia dan agama. Demikianlah yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani terhadap nash-nash Taurat dan Injil, dan Allah memperingatkan kita agar tidak berbuat seperti mereka. Dan orang-orang yang batil menolak kecuali menempuh jalan mereka. Betapa banyak kejahatan yang ditimbulkan ta’wil yang rusak terhadap agama dan ahlinya. Apakah Utsman radhiyallahu ‘anhu dibunuh kecuali karena ta’wil yang rusak? Demikian pula apa yang terjadi pada hari Jamal, Shiffin, terbunuhnya Husain, dan Al-Harrah? Dan apakah keluarnya Khawarij, i’tizalnya Mu’tazilah, penolakannya Rafidhah, dan terpecahnya umat menjadi tujuh puluh tiga golongan, kecuali karena ta’wil yang rusak?!”

Kemudian dia menjelaskan bahwa petunjuk ayat atas penglihatan dari dua segi: yang pertama adalah fiqih nash, dan yang kedua adalah fiqih ulama salaf terhadap nash ini. Pada yang pertama dia berkata: “Dan penisbatan penglihatan kepada wajah, yang merupakan tempatnya, dalam ayat ini, dan meng-adi-kannya dengan alat ‘ila’ yang jelas dalam penglihatan mata, dan mengosongkan kalam dari qarinah yang menunjukkan selainnya – adalah hakikat yang ditetapkan secara sharih bahwa Allah bermaksud dengan itu penglihatan mata yang ada di wajah kepada Rabb jalla jalaluh.

Karena penglihatan memiliki beberapa penggunaan, sesuai dengan hubungan dan ta’diyahnya dengan dirinya: jika di-ta’di-kan dengan dirinya maka maknanya: berhenti dan menunggu: ‘Tunggulah kami supaya kami mengambil sebahagian dari cahayamu’ (Al-Hadid: 13). Dan jika di-ta’di-kan dengan ‘fi’ maka maknanya: berpikir dan mengambil pelajaran, seperti firman-Nya: ‘Dan mengapa mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi’ (Al-A’raf: 185). Dan jika di-ta’di-kan dengan ‘ila’ maka maknanya: melihat dengan mata, seperti firman Allah Ta’ala: ‘Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah’ (Al-An’am: 99). Bagaimana jika dinisbatkan kepada wajah yang merupakan tempat penglihatan?”

Dan pada yang kedua dia menyebutkan beberapa nash dari para salaf yang menjelaskan fiqih mereka terhadap ayat. Dari Al-Hasan dia berkata: Melihat kepada Tuhannya lalu berseri karena cahaya-Nya. Dan Abu Shalih berkata dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “kepada Tuhannyalah mereka melihat” (Al-Qiyamah: 23), dia berkata: Melihat kepada wajah Tuhannya ‘azza wa jalla. Dan Ikrimah berkata: “Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri” (Al-Qiyamah: 22), dia berkata: Karena kenikmatan, “kepada Tuhannyalah mereka melihat” (Al-Qiyamah: 23), dia berkata: Melihat kepada Tuhannya dengan penglihatan, kemudian dia meriwayatkan dari Ibnu Abbas seperti itu. Dan ini adalah pendapat para mufassir dari Ahlu Sunnah wal Hadits.

Dan Allah Ta’ala berfirman: “Bagi mereka apa yang mereka kehendaki di dalamnya, dan pada sisi Kami ada tambahannya” (Qaf: 35). Ath-Thabari berkata: Ali bin Abi Thalib dan Anas bin Malik berkata: Yaitu melihat wajah Allah ‘azza wa jalla. Kemudian dia menyebutkan makna az-ziyadah dalam firman Allah Ta’ala: “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada (pahala) yang terbaik (surga) dan tambahannya” (Yunus: 26), dan bahwa itu adalah melihat wajah Allah yang mulia. Dan dia menyebutkan dalam hal itu apa yang diriwayatkan Muslim dalam Shahihnya dari Shuhaib, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca: “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada (pahala) yang terbaik (surga) dan tambahannya” (Yunus: 26), beliau berkata: “Apabila ahli surga masuk surga, dan ahli neraka masuk neraka, seorang penyeru menyeru: Wahai ahli surga, sesungguhnya bagi kalian di sisi Allah ada janji yang ingin Dia penuhi untuk kalian. Maka mereka berkata: Apa itu? Bukankah Dia telah memberatkan timbangan kami dan memutihkan wajah kami dan memasukkan kami ke surga dan menyelamatkan kami dari neraka? Maka Dia menyingkap hijab, lalu mereka melihat kepada-Nya, maka mereka tidak diberi sesuatu yang lebih mereka cintai daripada melihat kepada-Nya, dan itulah az-ziyadah.”

Dan selain Muslim meriwayatkannya dengan sanad-sanad yang beragam dan lafal-lafal lain yang maknanya bahwa az-ziyadah adalah melihat wajah Allah ‘azza wa jalla. Demikian pula para sahabat radhiyallahu ‘anhum menafsirkannya. Ibnu Jarir meriwayatkan itu dari sekelompok orang, di antaranya: Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, dan Hudzaifah, dan Abu Musa Al-Asy’ari, dan Ibnu Abbas, radhiyallahu ‘anhum.

Di antara dalil-dalil atas masalah ini adalah firman Allah Ta’ala: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka” (Al-Muthaffifin: 15).

Dan penyusun menyebutkan bahwa Asy-Syafi’i rahimahullah dan para imam lainnya berdalil dengan ayat ini atas penglihatan bagi ahli surga. Ath-Thabari dan lainnya menyebutkan itu dari Al-Muzani dari Asy-Syafi’i. Dan Al-Hakim berkata: Menceritakan kepada kami Al-Asham, menceritakan kepada kami Ar-Rabi’ bin Sulaiman, dia berkata: Aku menghadiri Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, dan telah datang kepadanya secarik kertas dari Sha’id yang isinya: Apa pendapatmu tentang firman Allah ‘azza wa jalla: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka” (Al-Muthaffifin: 15). Maka Asy-Syafi’i berkata: Ketika Allah menghalangi mereka dalam kemurkaan, maka dalam hal ini ada dalil bahwa para wali-Nya melihat-Nya dalam keridhaan.

Kemudian dia membahas dalil Mu’tazilah dengan firman Allah Ta’ala: “Kamu sekali-kali tidak akan dapat melihat-Ku” (Al-A’raf: 143), dan dengan firman-Nya: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata” (Al-An’am: 103). Dan dia menyebutkan bahwa kedua ayat itu adalah dalil atas mereka. Ayat yang pertama menunjukkan penetapan penglihatan kepada-Nya dari beberapa wajah:

Pertama: Tidak pantas disangka kepada Kalimu-Llah dan Rasul-Nya yang mulia dan orang yang paling mengetahui Tuhannya di zamannya bahwa dia meminta apa yang tidak boleh atasnya, bahkan itu menurut mereka termasuk kemustahilan yang paling besar.

Kedua: Bahwa Allah tidak mengingkari permintaannya, dan ketika Nuh meminta kepada Tuhannya keselamatan anaknya, Allah mengingkari permintaannya dan berfirman: “Sesungguhnya aku menasehatimu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang jahil” (Hud: 46).

Ketiga: Bahwa Allah Ta’ala berfirman: “Kamu sekali-kali tidak akan dapat melihat-Ku”, dan tidak berfirman: Sesungguhnya Aku tidak dapat dilihat, atau tidak boleh melihat-Ku, atau Aku bukan yang dapat dilihat. Perbedaan antara kedua jawaban itu jelas. Tidakkah engkau lihat bahwa orang yang dalam lengannya ada batu lalu seseorang menyangkanya makanan, sah dikatakan: Sesungguhnya kamu tidak akan memakannya. Dan ini menunjukkan bahwa Dia Subhanahu dapat dilihat, tetapi Musa tidak mampu dengan kekuatannya melihat-Nya di dunia ini, karena lemahnya kekuatan manusia di dunia untuk melihat Allah Ta’ala.

Keempat: Memperjelas wajah yang ketiga adalah firman Allah Ta’ala: “Tetapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagaimana adanya) niscaya kamu dapat melihat-Ku” (Al-A’raf: 143). Maka Allah memberitahukan bahwa gunung dengan kekuatan dan kekerasannya tidak dapat bertahan untuk tajalli di dunia ini, bagaimana dengan manusia yang diciptakan dari kelemahan?

Kelima: Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berkuasa untuk menjadikan gunung tetap, dan itu mungkin, dan Dia telah menggantungkan dengannya penglihatan. Seandainya itu mustahil, maka serupa dengan mengatakan: Jika gunung tetap maka Aku akan makan dan minum dan tidur. Dan semuanya menurut mereka sama saja.

Keenam: Firman Allah Ta‘ala: “Maka tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh” (Al-A‘raf: 143). Jika boleh bagi Allah untuk menampakkan diri kepada gunung, yang merupakan benda mati yang tidak mendapat pahala dan tidak pula siksa, maka bagaimana mungkin dikatakan mustahil jika Allah menampakkan diri kepada Rasul-Nya dan wali-wali-Nya di negeri kemuliaan? Akan tetapi Allah memberi tahu Musa bahwa gunung saja tidak mampu tegak ketika melihat-Nya di dunia ini, maka manusia tentu lebih lemah lagi.

Ketujuh: Sesungguhnya Allah telah berbicara kepada Musa dan memanggilnya. Barang siapa yang boleh baginya berbicara, memperdengarkan firman-Nya tanpa perantara, maka melihat-Nya lebih utama lagi untuk boleh terjadi. Oleh karena itu, pengingkaran terhadap ru’yah (melihat Allah) tidak sempurna kecuali dengan pengingkaran terhadap kalam-Nya, padahal keduanya telah digabungkan.

Kemudian beliau menjawab klaim mereka bahwa kata “lan” menunjukkan kekekalan (selamanya), dan mereka menjadikannya dalil untuk menolak ru’yah di akhirat. Syekh menjelaskan bahwa andaikan “lan” itu benar-benar bermakna kekal, tetap tidak bisa dijadikan dalil untuk menafikan ru’yah di akhirat, apalagi jika tanpa ikatan kekekalan. Hal ini punya banyak padanan di dalam Al-Qur’an. Allah Ta‘ala berfirman: “Dan sekali-kali mereka tidak akan menginginkan mati selama-lamanya” (Al-Baqarah: 95). Namun Allah juga berfirman: “Dan mereka berseru: ‘Wahai Malik, biarlah Tuhanmu membinasakan kami saja’” (Az-Zukhruf: 77).

Seandainya “lan” benar-benar bermakna menafikan selamanya, tentu tidak boleh ada pembatasan waktu sesudahnya, padahal itu ada. Allah berfirman: “Maka aku sekali-kali tidak akan meninggalkan negeri ini, sampai ayahku mengizinkan kepadaku” (Yusuf: 80). Maka terbuktilah bahwa “lan” tidak menuntut penafian abadi.

Syekh Jamaluddin bin Malik rahimahullah berkata:

“Barang siapa mengira bahwa ‘lan’ bermakna penafian selamanya ××× maka tolaklah perkataannya dan dukunglah selainnya.”

Adapun ayat kedua: dalilnya atas bolehnya ru’yah (melihat Allah) adalah dari sisi yang sangat indah, yaitu bahwa Allah menyebutkannya dalam konteks pujian terhadap diri-Nya. Padahal sudah maklum, pujian hanya layak dengan sifat-sifat yang menetap (tsubutiyyah). Adapun ketiadaan murni bukanlah kesempurnaan, sehingga tidak layak untuk dijadikan pujian. Allah hanya dipuji dengan penafian jika mengandung makna yang menetapkan suatu kesempurnaan. Seperti pujian-Nya dengan menafikan rasa kantuk dan tidur yang menunjukkan kesempurnaan sifat qiyam-Nya; menafikan kematian yang menunjukkan kesempurnaan hidup-Nya; menafikan lelah dan letih yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan-Nya; menafikan sekutu, istri, anak, dan penolong yang menunjukkan kesempurnaan sifat ash-shamad dan kekayaan-Nya; menafikan kezhaliman yang menunjukkan kesempurnaan keadilan, ilmu, dan kekayaan-Nya; menafikan lupa dan hilangnya sesuatu dari ilmu-Nya yang menunjukkan kesempurnaan ilmu dan meliputinya; menafikan keserupaan yang menunjukkan kesempurnaan zat dan sifat-Nya.

Karena itu, Allah tidak pernah memuji diri-Nya dengan sekadar ketiadaan yang murni, sebab orang yang tidak ada pun sama-sama memiliki ketiadaan itu. Tidaklah pantas sifat itu disebut sebagai kesempurnaan.

Maka maknanya adalah: Allah dapat dilihat tetapi tidak dapat dijangkau dan diliputi. Firman-Nya: “Penglihatan tidak dapat menjangkau-Nya” (Al-An‘am: 103) menunjukkan kesempurnaan kebesaran-Nya, bahwa Dia lebih agung dari segala sesuatu, sehingga karena begitu agung-Nya tidak bisa dijangkau secara total. Sebab “idrak” (menjangkau) itu maknanya meliputi sesuatu, dan ini lebih luas daripada sekadar melihat. Sebagaimana firman-Nya: “Maka tatkala kedua golongan itu saling melihat, berkatalah para pengikut Musa: ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.’ Musa menjawab: ‘Sekali-kali tidak’” (Asy-Syu‘ara: 61-62). Musa tidak menafikan ru’yah, tetapi menafikan idrak (jangkauan). Maka ru’yah dan idrak itu bisa ada bersama-sama atau terpisah. Maka Allah dapat dilihat, namun tidak dapat dijangkau sepenuhnya, sebagaimana Dia diketahui tetapi tidak meliputi seluruh ilmu tentang-Nya.

Inilah yang dipahami para sahabat dan imam dari ayat itu. Bahkan matahari saja sebagai makhluk, orang yang melihatnya tidak dapat menjangkau hakikatnya sebagaimana adanya.

Kemudian syekh menyebutkan bahwa hadits-hadits dari Nabi ﷺ dan para sahabatnya yang menunjukkan tentang ru’yah (melihat Allah) adalah mutawatir, diriwayatkan dalam kitab-kitab shahih, musnad, dan sunan.

Di antaranya hadits Abu Hurairah: “Ada sekelompok orang berkata: Wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat Tuhan kita pada hari kiamat? Rasulullah ﷺ bersabda: Apakah kalian berdesak-desakan ketika melihat bulan purnama? Mereka menjawab: Tidak, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Apakah kalian berdesak-desakan ketika melihat matahari tanpa ada awan yang menutupinya? Mereka menjawab: Tidak. Beliau bersabda: Sesungguhnya kalian akan melihat-Nya demikian pula.” Hadits ini dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim.

Juga hadits Abu Sa‘id Al-Khudri dalam “shahihain” yang semakna. Dan hadits Jarir bin Abdullah Al-Bajali: “Kami duduk bersama Nabi ﷺ, lalu beliau melihat ke bulan malam ke-14, kemudian bersabda: Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian dengan nyata sebagaimana kalian melihat bulan ini, kalian tidak berdesak-desakan dalam melihat-Nya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Dan hadits Shuhaib yang terdahulu, diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya. Dan hadits Abu Musa dari Nabi ﷺ: “Dua surga dari perak, bejana-bejananya dan segala yang ada di dalamnya. Dua surga dari emas, bejana-bejananya dan segala yang ada di dalamnya. Dan tidak ada yang menghalangi kaum itu untuk melihat Tuhan mereka Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi kecuali selendang kebesaran pada wajah-Nya di surga ‘Adn.” (HR. Bukhari-Muslim).

Dan hadits Adi bin Hatim: “Sungguh salah seorang dari kalian akan menemui Allah pada hari bertemu dengan-Nya, sedang tidak ada tabir antara dia dengan Allah, dan tidak ada penerjemah. Allah berfirman: Bukankah Aku telah mengutus utusan kepada-Mu lalu ia menyampaikan risalah-Ku kepadamu? Ia menjawab: Benar, wahai Rabbku. Allah berfirman: Bukankah Aku telah memberimu harta dan melimpahkannya kepadamu? Ia menjawab: Benar, wahai Rabbku.” (HR. Bukhari).

Pembahasan Ketiga Belas: Meraih kenikmatan surga tidak mengharuskan meninggalkan kesenangan dunia

Para rahib dan banyak ahli ibadah dari umat ini menyangka bahwa kenikmatan akhirat tidak bisa diraih kecuali dengan menolak kenikmatan dunia yang baik. Karena itu mereka menyiksa tubuh mereka, memberatkan diri dengan terus berpuasa dan shalat malam. Sebagian dari mereka mengharamkan makanan, minuman, dan pakaian yang baik, bahkan meninggalkan kerja dan pernikahan. Padahal ini adalah pemahaman yang keliru. Allah menciptakan hal-hal yang baik untuk orang-orang beriman dan mencela orang yang mengharamkan perhiasan Allah yang Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya. “Katakanlah: Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik? Katakanlah: Semua itu adalah untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus untuk mereka (saja) di hari kiamat” (Al-A‘raf: 32).

Dunia itu tercela jika melalaikan dari akhirat, tetapi jika dijadikan sarana untuk menggapai akhirat, maka bukan sebagaimana yang disangka sebagian orang.

Pembahasan Keempat Belas: Doa terakhir mereka

Orang-orang beriman melewati kedahsyatan besar di padang mahsyar, kemudian melewati shirath dan melihat kengerian, lalu Allah memasukkan mereka ke surga penuh kenikmatan setelah Dia menghilangkan kesedihan mereka. Mereka melihat kebaikan besar yang Allah sediakan bagi mereka, lalu lisan mereka meninggi dengan tasbih dan pengagungan. Allah telah menghilangkan kesedihan mereka, menepati janji-Nya, dan mewariskan kepada mereka surga.

“Dan mereka berkata: Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sesungguhnya Rabb kami Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal karena karunia-Nya, di dalamnya kami tidak akan merasa lelah dan tidak akan merasa letih” (Fathir: 34–35).

“Dan mereka berkata: Segala puji bagi Allah yang telah menepati janji-Nya kepada kami dan mewariskan kepada kami bumi (surga), kami menempati tempat dalam surga di mana saja kami kehendaki. Maka itulah sebaik-baik balasan bagi orang yang beramal” (Az-Zumar: 74).

Dan doa terakhir mereka di surga penuh kenikmatan adalah: “Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam”. Sebagaimana firman Allah: “Doa mereka di dalamnya ialah: ‘Maha Suci Engkau, ya Allah’, salam penghormatan mereka ialah: ‘Salam’. Dan doa penutup mereka ialah: ‘Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam’” (Yunus: 10).

Bab Ketujuh: Perdebatan antara Surga dan Neraka

Rasul kita ﷺ memberitakan bahwa surga dan neraka saling berdebat di hadapan Rabb keduanya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Surga dan neraka saling berdebat. Neraka berkata: Aku dikhususkan dengan orang-orang sombong dan angkuh. Surga berkata: Lalu mengapa hanya orang-orang lemah dan hina dari manusia yang masuk kepadaku? (Dalam riwayat lain: orang-orang yang remeh dan sederhana). Maka Allah Azza wa Jalla berkata kepada surga: Engkau adalah rahmat-Ku, denganmu Aku merahmati siapa saja dari hamba-Ku yang Aku kehendaki. Dan berkata kepada neraka: Engkau adalah azab-Ku, denganmu Aku mengazab siapa saja dari hamba-Ku yang Aku kehendaki. Dan masing-masing akan penuh. Adapun neraka, ia tidak penuh hingga Allah meletakkan kaki-Nya di dalamnya – dalam riwayat: hingga Allah Tabaraka wa Ta‘ala meletakkan kaki-Nya – maka neraka berkata: Cukup, cukup, cukup. Maka di situlah ia penuh, sebagian sisinya menyatu dengan sebagian lainnya. Allah tidak menzhalimi seorang pun dari makhluk-Nya. Adapun surga, maka Allah akan menciptakan makhluk baru untuknya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Dalam riwayat lain Bukhari: “Surga dan neraka berselisih di hadapan Rabbnya. Surga berkata: Wahai Rabb, mengapa hanya orang-orang lemah dan hina yang masuk kepadaku? Neraka berkata… Maka Allah berfirman kepada surga: Engkau adalah rahmat-Ku. Dan kepada neraka: Engkau adalah azab-Ku, Aku menimpakanmu kepada siapa saja yang Aku kehendaki. Dan masing-masing akan penuh. Adapun surga, Allah tidak menzhalimi seorang pun dari makhluk-Nya. Dan sesungguhnya Dia menciptakan untuk neraka makhluk-makhluk baru yang dilemparkan ke dalamnya. Neraka berkata: Apakah masih ada tambahan? Dimasukkan lagi ke dalamnya, lalu ia berkata: Apakah masih ada tambahan? Hingga Allah meletakkan kaki-Nya di dalamnya, maka ia penuh, sebagian sisinya menyatu, dan ia berkata: Cukup, cukup, cukup.”

Dalam riwayat lain: “Dikatakan kepada Jahannam: Apakah engkau telah penuh? Ia berkata: Apakah masih ada tambahan? Lalu Allah meletakkan kaki-Nya di atasnya, maka ia berkata: Cukup, cukup.”

Muslim meriwayatkan yang semakna, berhenti pada firman beliau: “Dan masing-masing akan penuh.”

Dan dalam riwayat lain disebutkan: “Mengapa hanya orang-orang lemah dan hina serta remeh yang masuk kepadaku?” Dan pada akhirnya disebutkan: “Adapun neraka, maka tidak akan penuh hingga Allah meletakkan kaki-Nya di atasnya. Maka saat itulah ia penuh, dan sebagian sisinya menyatu dengan sebagian yang lain.”

Dan Tirmidzi meriwayatkan yang semakna.

 

Facebook Comments Box

Artikel Terjkait

PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 03 DARI 16
PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 04 DARI 16
PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 02 DARI 16
PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 01 DARI 16
PENYAKIT DAN OBATNYA
PENYEMBUHAN ORANG SAKIT Dalam Masalah-masalah Takdir, Qada, Hikmah, dan Alasan
PERJALANAN IMAN BERSAMA PRIA DAN WANITA YANG MASUK ISLAM
Pertengahan dalam Apa yang Dikatakan tentang Maulid Nabi antara Berlebihan dan Mengabaikan
Berita ini 5 kali dibaca

Artikel Terjkait

Rabu, 18 Februari 2026 - 07:27 WIB

PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 03 DARI 16

Rabu, 18 Februari 2026 - 07:26 WIB

PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 04 DARI 16

Rabu, 18 Februari 2026 - 07:25 WIB

PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 02 DARI 16

Rabu, 18 Februari 2026 - 07:24 WIB

PENJELASAN HUKUM-HUKUM DARI KITAB BULUGH AL-MARAM JILID 01 DARI 16

Rabu, 18 Februari 2026 - 07:23 WIB

PENYAKIT DAN OBATNYA

Artikel Terbaru

Fikih

MENGUTAMAKAN QADHA PUASA RAMADHAN DARIPADA PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Mar 2026 - 15:02 WIB

Fikih

MENYEMPURNAKAN RAMADHAN DENGAN PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Mar 2026 - 14:46 WIB

Ibadah

Istiqomah Pasca Ramadhan

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:30 WIB

Dakwah

Ujian: Surat Cinta yang Mengajak Kembali ke Pelukan Ilahi

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:25 WIB

Dakwah

Rahasia Terbukanya Pintu Rahmat

Rabu, 25 Mar 2026 - 14:45 WIB