«عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ مِنْكُمْ قَارَفَ ذَنْبًا فَلَا تَدْعُوا اللهَ عَلَيْهِ وَلَا تَسُبُّوهُ، وَلَكِنِ ادْعُوا اللهَ أَنْ يُعَافِيَهُ، وَأَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِ. فَإِنَّا كُنَّا إِذَا رَأَيْنَا الرَّجُلَ خُتِمَ لَهُ بِخَيْرٍ رَجَوْنَا لَهُ، وَإِذَا خُتِمَ لَهُ بِشَرٍّ خِفْنَا عَلَيْهِ.»
“Dari Abi Ubaidah, dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: ‘Jika kalian melihat seseorang di antara kalian melakukan suatu dosa, maka janganlah kalian berdoa keburukan atasnya dan jangan pula mencelanya. Akan tetapi, berdoalah kepada Allah agar Dia menyelamatkannya (memberinya afiat) dan menerima taubatnya. Karena sesungguhnya kami dahulu, apabila kami melihat seseorang ditutup (usianya) dengan kebaikan, kami berharap (surga) baginya. Dan jika ia ditutup dengan keburukan, kami mengkhawatirkannya’.”
(At-Taubah karya Ibnu Abi ad-Dunya, 1/99)
📝 Penjelasan Singkat
Ibnu Mas’ud mengingatkan bahwa tujuan utama sesama muslim adalah saling menyelamatkan, bukan saling menjatuhkan. Ketika seseorang bermaksiat, ia sedang “sakit” secara spiritual. Mencelanya atau mendoakan kehancurannya hanya akan membantu setan untuk semakin menjauhkannya dari jalan Allah.
Beliau juga menekankan prinsip Husnul Khatimah (akhir yang baik); bahwa penilaian sejati seseorang ada pada akhir hayatnya. Selama seseorang masih hidup, pintu taubat masih terbuka, maka tugas kita adalah mendoakan keselamatannya.
💡 Pelajaran Penting (Fawaid)
Larangan Merasa Suci
Jangan mencela pelaku dosa dengan rasa sombong seolah kita terbebas dari kesalahan. Kita tetap baik hanya karena Allah masih menutupi aib-aib kita.
Doa adalah Bentuk Pertolongan
Mendoakan hidayah bagi orang yang bersalah adalah bukti ketulusan iman dan kasih sayang sesama mukmin.
Jangan Membantu Setan
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa mencaci orang yang berdosa justru akan membuat mereka semakin keras hati dan semakin jauh dari kebenaran.
Fokus pada Akhir Hayat
Jangan menghakimi masa depan seseorang hanya berdasarkan masa lalunya yang kelam. Banyak orang yang awalnya buruk namun berakhir mulia, begitu pula sebaliknya.
✅ Kesimpulan
Jadilah “penyembuh” bagi saudara yang sedang sakit hatinya karena dosa, bukan menjadi “hakim” yang menambah beban penderitaannya. Kekuatan doa tulus untuk saudara kita seringkali lebih ampuh mengubah keadaan daripada ribuan kata makian.
Nasihat dari sahabat mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ini adalah pelajaran berharga tentang adab sosial dan empati spiritual dalam Islam. Beliau mengajarkan kita bagaimana bersikap terhadap sesama muslim yang sedang tergelincir dalam dosa.
Wallahu alam
Semoga bermanfaat.
Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi Hafidzahullah Ta’ala








