Tazkiyah An-Nufus (Penyucian Jiwa)

Sabtu, 14 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tazkiyah An-Nufus (Penyucian Jiwa)

تَزْكِيَةُ النُّفُوسِ

Pengarang:
Ahmad Farid

 Terjemah:
Muhamad Abid Hadlori, S.Ag.,Lc.

 

MUQADDIMAH PENGARANG

 

Kami memohon kepada Allah Ta’ala kebaikan akhir

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan dari keburukan perbuatan-perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan-Nya maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, semoga Allah memberikan shalawat kepadanya, kepada keluarganya, dan para sahabatnya serta memberikan salam dengan sebaik-baiknya.

Amma ba’d (selanjutnya):

Lebih dari lima belas tahun yang lalu, bersamaan dengan menyingsignya fajar kebangkitan Islam, Allah Azza wa Jalla telah memberi taufik kepadaku untuk menyusun sebuah kitab ringkas tentang raqaiq (penyejuk hati) dan aku beri nama “Daqaiq al-Akhbar fi Raqaiq al-Akhbar”.

Kitab ini telah dicetak dalam beberapa edisi yang belum ditahqiq, kemudian saudara Syaraf Hijazi meminta izin kepadaku untuk mencetak kitab tersebut setelah ditahqiq oleh beberapa saudara yang mulia, lalu aku izinkan dan berlalu beberapa waktu. Kemudian kitab tersebut terbit dengan nama “Tazkiyah An-Nufus” dengan tahqiq saudara “Majid Abu al-Lail” dan kitab tersebut tersebar dengan karunia Allah Azza wa Jalla. Aku terkejut dengan adanya cetakan-cetakan dari Beirut atas nama Dar al-Qalam yang tidak memiliki kendali dan aturan yang jelas. Aku tidak tahu apakah ini atas persetujuan dengan muhaqiq ataukah dengan cara percetakan ala Beirut, dan dalam kondisi apapun hal tersebut tidak atas izin pengarang.

Karena kitab ini adalah salah satu karya pertama yang aku tulis dengan sedikitnya referensi dan sedikitnya ilmu serta pengalaman, kitab ini mengandung beberapa hadits yang lemah. Maka aku ingin membersihkan diriku dari hadits-hadits tersebut dan menanganinya sebagaimana aku menangani “Al-Bahr ar-Raiq” dan “Mukhtashar Bughyah al-Insan” dan lainnya dengan menghapus yang lemah dan mentahqiq ulang kitab serta mempersiapkannya untuk edisi ekonomis, dan memudahkan para saudara pemula dalam menuntut ilmu untuk mendapatkannya.

Pada edisi ini aku menambahkan beberapa tambahan dan mengganti beberapa hadits lemah dengan hadits yang sahih, dan mungkin mengganti sebagian hadits sahih yang tidak terdapat dalam Sahihain dengan yang dapat menggantikannya dari hadits-hadits Sahihain. Tidak diragukan bahwa pengarang kitab lebih berhak untuk mentahqiqnya, dan orang yang melihat usaha yang dilakukan akan mendapatkan manfaat baru dengan izin Allah Ta’ala. Betapa banyak kitab yang ditahqiq oleh lebih dari satu muhaqiq dan manusia memperoleh manfaat dari usaha setiap muhaqiq. Aku mempertahankan nama kitab untuk menghindari penipuan dan agar seseorang tidak membelinya padahal dia sudah memilikinya dengan mengira bahwa ini adalah karya baru.

Adapun tentang topik kitab ini, maka ini adalah kitab ringkas tentang tazkiyah an-nufus (penyucian jiwa). Yang dimaksud dengan tazkiyah an-nufus adalah membersihkan dan menyucikannya, hingga ia merespons Rabbnya dan beruntung di dunia dan akhiratnya sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams: 9-10).

Dan ini adalah doa Nabi saw: “Ya Allah, berilah jiwa ku takwa dan sucikanlah ia, Engkau sebaik-baik yang menyucikannya, Engkau pelindung dan penguasanya.”

Maka kitab ini dimulai dengan mengetahui apa yang dengannya ilmu dapat diterima dari dua syarat yaitu keikhlasan dan ittiba’ (mengikuti), kemudian keutamaan ilmu dan para ulama, lalu penjelasan tentang keadaan-keadaan hati dan pembagiannya serta tanda-tanda sakit dan lemahnya, dan sebab-sebab kesehatannya serta sebab-sebab kelemahannya. Sesungguhnya manusia tidak memerlukan wasiat untuk tubuh mereka dalam menjaga kehidupannya dan menolak kehancurannya, karena mereka semua memakan apa yang bermanfaat baginya dan meninggalkan apa yang jelas-jelas membahayakan. Namun mereka mengonsumsi racun-racun berbahaya yang merusak hati mereka, dan enggan terhadap makanan yang bermanfaat baginya, hingga tubuh-tubuh menjadi kubur bagi hati-hati kecuali yang dirahmati Rabbmu dan sedikit sekali mereka.

Kemudian aku sebutkan bab tentang muhasabah an-nafs (introspeksi diri), dan bab tentang zuhud serta bahaya cinta dunia. Sayangnya topik ini terpecah dalam semua edisi sebelumnya padahal ini adalah satu topik, maka bersatulah bagian-bagiannya dengan karunia Allah Azza wa Jalla dalam edisi ini.

Kemudian aku sebutkan beberapa ibadah dari ibadah-ibadah yang paling dicintai Allah Azza wa Jalla yang tidak akan baik hati kecuali dengannya seperti sabar, syukur, harapan, takut, cinta, tawakal, dan rida. Aku tutup perjalanan yang baik ini dalam raqaiq dan apa yang dengannya jiwa menjadi suci dengan taubat yang merupakan tugas seumur hidup dan sebab untuk sampai kepada cinta Allah Azza wa Jalla: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (Al-Baqarah: dari ayat 222).

Maka kami memohon kepada Allah agar Dia memberi taufik kepada kami untuk taubat nasuha dan menerima dari kami amal-amal yang saleh, dan memaafkan kekurangan dan kesalahan yang ada padanya, dan menjadikan sebaik-baik amal kami adalah penutupnya dan sebaik-baik hari kami adalah hari bertemu dengan-Nya. Semoga Allah memberikan shalawat, salam, dan berkah atas Muhammad, keluarganya, dan sahabatnya. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

Pengarang

 

 

1 – Keikhlasan dan Ittiba’ (Mengikuti)

 

Dua Syarat untuk Diterimanya Amal

Allah Azza wa Jalla tidak menerima suatu amal dari amal-amal hingga terpenuhi padanya dua syarat. Yang pertama: adalah keikhlasan dan ini adalah syarat batin. Yang kedua: adalah mengikuti sunnah Rasul saw dan ini adalah syarat zahir. Makna ini ditunjukkan oleh Kitab Allah yang diturunkan dan sunnah Nabi yang diutus saw.

Allah Ta’ala berfirman: “Yang menciptakan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Al-Mulk: dari ayat 2).

Fudhail bin Iyadh berkata: Yaitu yang paling ikhlas. Sesungguhnya amal jika ikhlas tetapi tidak benar tidak akan diterima, dan jika benar tetapi tidak ikhlas tidak akan diterima.

Allah Ta’ala berfirman: “Maka barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabbnya.” (Al-Kahf: dari ayat 110).

Amal saleh adalah yang sesuai dengan sunnah dan tidak mempersekutukan adalah keikhlasan.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan.” (An-Nisa: dari ayat 125).

Menyerahkan wajah adalah keikhlasan, dan ihsan adalah mengikuti sunnah Nabi saw.

A – Keikhlasan

Keikhlasan: adalah memurnikan niat mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dari segala kotoran.

Dikatakan juga: adalah mengkhususkan Allah Azza wa Jalla dengan niat dalam ketaatan.

Dikatakan juga: adalah melupakan pandangan makhluk dengan senantiasa memandang kepada Khaliq.

Keikhlasan adalah syarat untuk diterimanya amal saleh yang sesuai dengan sunnah Rasulullah saw. Allah Azza wa Jalla telah memerintahkan kita dengannya, maka Dia berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (Al-Bayyinah: dari ayat 5).

Dari Abu Umamah ra berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw lalu berkata: “Bagaimana pendapat Anda tentang seseorang yang berperang mencari pahala dan kemasyhuran, apa yang diperolehnya?” Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada apa-apa baginya.” Beliau mengulanginya tiga kali dan Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada apa-apa baginya.” Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menerima dari amal kecuali yang ikhlas untuk-Nya dan mengharap wajah-Nya.”

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra dari Nabi saw bahwa beliau bersabda dalam haji wada’: “Semoga Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar perkataanku lalu memahaminya. Betapa banyak pembawa fiqih yang bukan ahli fiqih. Tiga hal yang tidak membuat hati seorang mukmin berdengki: mengikhlaskan amal untuk Allah, menasihati para pemimpin Muslim, dan berpegang teguh pada jamaah mereka.”

Maknanya: bahwa ketiga hal ini dapat memperbaiki hati. Barangsiapa yang berakhlak dengannya maka hatinya akan bersih dari khianat, tipu daya, dan kejahatan.

Seorang hamba tidak dapat lepas dari setan kecuali dengan keikhlasan karena firman Allah Azza wa Jalla: “Kecuali hamba-hamba-Mu di antara mereka yang dipilih.” (Shad: ayat 83). Diriwayatkan bahwa salah seorang orang saleh berkata kepada dirinya: “Wahai jiwaku, ikhlaskanlah maka engkau akan selamat.”

Setiap kesenangan dari kesenangan dunia yang membuat jiwa tenang dan hati condong kepadanya, sedikit atau banyak, jika menyelinap ke dalam amal, akan mengkeruhkan kejernihannya dan menghilangkan keikhlasannya. Manusia terikat dalam kesenangannya, tenggelam dalam syahwatnya, jarang sekali suatu perbuatan dari perbuatannya dan ibadah dari ibadah-ibadahnya lepas dari kesenangan dan tujuan-tujuan segera dari jenis-jenis ini. Oleh karena itu dikatakan: “Barangsiapa yang selamat baginya dari umurnya satu saat yang ikhlas untuk wajah Allah maka dia selamat.” Hal itu karena langkanya keikhlasan dan sulitnya membersihkan hati dari kotoran-kotoran.

Keikhlasan adalah: membersihkan hati dari segala kotoran, sedikit atau banyaknya, hingga murni padanya niat mendekatkan diri sehingga tidak ada padanya pendorong selain itu. Ini tidak dapat dibayangkan kecuali dari pencinta Allah yang tenggelam perhatiannya dengan akhirat, sehingga tidak tersisa bagi cinta dunia dari hatinya tempat. Orang seperti ini jika makan, atau minum, atau memenuhi hajatnya, adalah ikhlas amalnya dan benar niatnya. Adapun yang tidak demikian maka pintu keikhlasan tertutup baginya kecuali jarang sekali.

Sebagaimana orang yang dikalahkan oleh cinta Allah dan cinta akhirat, maka gerakan-gerakan kebiasaannya memperoleh sifat perhatiannya dan menjadi keikhlasan, maka orang yang dikalahkan dirinya oleh dunia, ketinggian, dan kepemimpinan, dan secara keseluruhan selain Allah, semua gerakannya memperoleh sifat tersebut, maka tidak selamat baginya ibadah dari puasa, shalat, dan selainnya kecuali jarang sekali.

Obat keikhlasan adalah mematahkan kesenangan jiwa, memutus tamak dari dunia, dan bertelanjang untuk akhirat, sehingga hal itu menguasai hati. Ketika itu keikhlasan menjadi mudah baginya. Betapa banyak amal yang membuat manusia lelah dan dia mengira bahwa itu ikhlas untuk wajah Allah, padahal dia termasuk orang-orang yang tertipu, karena dia tidak melihat sisi cacat.

Sebagaimana diceritakan tentang seseorang: bahwa dia selalu shalat di shaf pertama, lalu suatu hari dia terlambat shalat dan shalat di shaf kedua, maka dia merasa malu kepada manusia karena mereka melihatnya di shaf kedua. Dia mengetahui bahwa kegembiraan dan ketenangan hatinya dari shalat di shaf pertama adalah karena pandangan manusia kepadanya. Ini adalah hal yang halus dan samar yang jarang amal selamat dari semacamnya, dan jarang yang menyadarinya kecuali yang diberi taufik oleh Allah Ta’ala. Orang-orang yang lalai darinya akan melihat kebaikan-kebaikan mereka di hari kiamat sebagai kejahatan, dan mereka yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala: “Dan tampaklah bagi mereka dari Allah apa yang tidak pernah mereka perkirakan. Dan tampaklah bagi mereka kejahatan-kejahatan dari apa yang mereka kerjakan.” (Az-Zumar: dari ayat 47-48).

Dan dengan firman-Nya Azza wa Jalla: “Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sesat usahanya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.'” (Al-Kahf: ayat 103-104).

Beberapa Jejak tentang Keikhlasan

Yaqub berkata: “Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan keburukan-keburukannya.”

As-Susi berkata: “Keikhlasan adalah hilangnya pandangan terhadap keikhlasan itu sendiri, karena barangsiapa yang melihat keikhlasan dalam keikhlasannya maka keikhlasannya itu membutuhkan keikhlasan lagi.” Yang disebutkan ini menunjukkan kepada pembersihan amal dari rasa takjub terhadap perbuatan, karena menoleh kepada keikhlasan dan memandangnya adalah takjub, dan itu termasuk dari berbagai penyakit. Sedangkan yang murni adalah yang bersih dari semua penyakit.

Ayyub berkata: “Memurnikan niat-niat bagi para pelaku amal lebih berat bagi mereka daripada semua amal itu sendiri.”

Dan ada yang berkata: “Keikhlasan satu saat adalah keselamatan untuk selamanya, tetapi keikhlasan itu langka.”

Ditanyakan kepada Sahl: “Apakah yang paling berat bagi jiwa?” Ia menjawab: “Keikhlasan, karena jiwa tidak mempunyai bagian di dalamnya.”

Al-Fudhail berkata: “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya (pamer), dan beramal karena manusia adalah syirik, sedangkan keikhlasan adalah Allah memberikan keselamatan kepadamu dari keduanya.”

Keutamaan Niat

Dari Umar bin Al-Khattab radiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata: “Sebaik-baik amal adalah menunaikan apa yang diwajibkan Allah Ta’ala, kehati-hatian dari apa yang diharamkan Allah, dan kejujuran niat dalam hal yang ada di sisi Allah Ta’ala.”

Sebagian salaf berkata: “Betapa banyak amal kecil yang dibesarkan oleh niat, dan betapa banyak amal besar yang dikecilkan oleh niat.”

Dari Yahya bin Abi Katsir: “Pelajarilah niat, karena sesungguhnya niat itu lebih besar manfaatnya daripada amal.”

Diriwayatkan dengan sahih dari Ibnu Umar bahwa ia mendengar seorang laki-laki ketika berihram berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku berkehendak untuk haji dan umrah.” Maka ia berkata kepadanya: “Apakah kamu mengajarkan manusia? Bukankah Allah mengetahui apa yang ada dalam jiwamu?” Hal itu karena niat adalah maksud hati, dan tidak wajib mengucapkannya dalam sesuatu dari ibadah-ibadah. Hanya saja yang disyariatkan dalam haji dan umrah adalah mengucapkan: “Labbaik Allahumma bi hajjah” atau “bi umrah” atau “bi umratin wa hajjah” jika ia melakukan qiran (haji dan umrah bersamaan), dan inilah yang disebut dengan ihlal.

B – Mengikuti Sunnah

Syarat kedua untuk diterimanya amal adalah amal itu sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan hadits Aisyah radiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan dari padanya maka ia tertolak.” Dalam riwayat Muslim: “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada perintah kami padanya maka ia tertolak.”

Hadits ini adalah dasar yang agung dari dasar-dasar Islam. Sebagaimana hadits “Sesungguhnya amal-amal itu dengan niat-niat” adalah timbangan bagi amal-amal dalam batinnya, maka hadits ini adalah timbangan bagi amal-amal dalam lahirnya. Sebagaimana setiap amal yang tidak dimaksudkan dengannya wajah Allah Ta’ala maka tidak ada pahala bagi pelakunya, demikian juga setiap amal yang tidak ada padanya perintah Allah dan Rasul-Nya maka ia tertolak bagi pelakunya. Sabda beliau: “yang tidak ada padanya perintah kami” menunjukkan bahwa amal-amal para pelaku semuanya sepatutnya berada di bawah hukum-hukum syariat, sehingga hukum-hukum syariat menjadi hakim atasnya dengan perintah dan larangannya. Barangsiapa yang amalnya berjalan di bawah hukum-hukum syariat dan sesuai dengannya maka ia diterima, dan barangsiapa yang keluar dari itu maka ia tertolak.

Allah Azza wa Jalla mewajibkan kepada kita untuk menaati Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka ambillah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Allah Azza wa Jalla menjadikan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tanda kecintaan kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.'” (QS. Ali Imran: 31)

Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Ada sekelompok orang yang mengaku mencintai Allah Azza wa Jalla, maka Allah menguji mereka dengan ayat ini: ‘Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku’… ayat.”

Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berwasiat untuk berpegang teguh dengan sunnahnya dan sunnah khulafa’ rasyidin, beliau bersabda: “Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang hidup (sepeninggalku) akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian (berpegang teguh) dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah (berpeganglah teguh) dengan geraham kalian, dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap bid’ah adalah kesesatan.”

Az-Zuhri berkata: “Berpegang teguh dengan sunnah adalah keselamatan, karena sunnah sebagaimana kata Malik: seperti bahtera Nuh, barangsiapa yang menaikinya selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya binasa.”

Sufyan berkata: “Tidak diterima perkataan kecuali dengan amal, dan tidak lurus perkataan dan amal kecuali dengan niat, dan tidak lurus perkataan, amal, dan niat kecuali dengan mengikuti sunnah.”

Dari Ibnu Syudzub, ia berkata: “Sesungguhnya di antara nikmat Allah kepada pemuda apabila ia bertaqwa adalah Allah memberikan taufik kepadanya kepada sahabat sunnah yang membawanya kepada sunnah.”

 

 

2 – Keutamaan Ilmu dan Para Ulama

Ilmu adalah apa yang ditegakkan atasnya dalil, dan yang dimaksud dengannya adalah ilmu Kitab dan Sunnah dengan pemahaman salaf umat radiyallahu ‘anhum.

Ilmu adalah “Allah berfirman”, “Rasul-Nya berfirman”, “para sahabat berkata”, bukan untuk menipu Ilmu bukanlah menjadikanmu menentang dengan bodoh antara Rasul dan perkataan seorang faqih

Keutamaan-keutamaannya dalam Al-Quran banyak, di antaranya firman Allah Azza wa Jalla:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah: 11)

Dan firman Allah Azza wa Jalla:

“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?'” (QS. Az-Zumar: 9)

Adapun hadits-hadits, maka sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan baginya, maka Allah memberikan kepadanya pemahaman dalam agama.” Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.”

Menempuh jalan untuk mencari ilmu termasuk di dalamnya menempuh jalan yang hakiki yaitu berjalan kaki menuju majelis-majelis ulama, dan termasuk di dalamnya menempuh jalan-jalan maknawi yang mengantarkan kepada memperoleh ilmu seperti menghafalnya dan mempelajarinya.

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Allah mudahkan baginya jalan menuju surga” mungkin yang dimaksud dengan itu adalah Allah memudahkan baginya ilmu yang ia cari dan tempuh jalannya, dan memudahkannya atas dirinya, karena ilmu adalah jalan yang mengantarkan kepada surga, sebagaimana kata sebagian salaf: “Adakah pencari ilmu sehingga dibantu atasnya?” Dan mungkin yang dimaksud dengannya adalah jalan surga pada hari kiamat yaitu shirath dan apa yang sebelumnya dan sesudahnya.

Ilmu juga menunjukkan kepada Allah Ta’ala dari jalan yang paling dekat. Barangsiapa yang menempuh jalannya sampai kepada Allah Ta’ala dan kepada surga dari jalan yang paling dekat. Ilmu juga menjadi petunjuk dalam kegelapan kebodohan, syubhat, dan keraguan-keraguan. Karena itu Allah menyebut kitab-Nya dengan cahaya.

Dari Abdullah bin Amr dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari dada manusia, tetapi Allah mencabutnya dengan mewafatkan para ulama. Apabila tidak tersisa seorang alim, maka manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh, lalu mereka ditanya dan mereka berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.”

Ubadah bin Ash-Shamit ditanya tentang hadits ini, maka ia berkata: “Seandainya aku mau, niscaya aku kabarkan kepadamu ilmu pertama yang diangkat dari manusia: khusyu’.”

Ubadah radiyallahu ‘anhu mengatakan ini karena ilmu itu dua bagian: pertama, apa yang buahnya dalam hati manusia, yaitu ilmu tentang Allah Ta’ala, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang mengharuskan untuk takut kepada-Nya, segan kepada-Nya, mengagungkan-Nya, mencintai-Nya, mengharap-Nya, dan bertawakkal kepada-Nya. Inilah ilmu yang bermanfaat sebagaimana kata Ibnu Mas’ud: “Sesungguhnya ada sekelompok orang yang membaca Al-Quran tidak melampaui tenggorokan mereka, tetapi apabila jatuh dalam hati lalu mengakar di dalamnya maka bermanfaat.” Al-Hasan berkata: “Ilmu itu dua: ilmu lisan, maka itu hujjah atas anak Adam, sebagaimana dalam hadits ‘Al-Quran adalah hujjah untukmu atau atasmu’, dan ilmu dalam hati, maka itulah ilmu yang bermanfaat.”

Yang pertama diangkat dari ilmu adalah ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu batin yang bercampur dengan hati dan memperbaikinya. Tinggal ilmu lisan, maka manusia meremehkannya dan tidak mengamalkan apa yang dikehendakinya, baik pembawanya maupun selainnya. Kemudian ilmu ini hilang dengan hilangnya para pembawanya dan hari kiamat tegak atas seburuk-buruk makhluk.

Di antara dalil-dalil keutamaan ilmu dan ahlinya juga:

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak ada hasad (iri) kecuali pada dua hal: seorang laki-laki yang Allah berikan kepadanya harta lalu Allah menguasakan dia untuk membinasakannya dalam kebenaran, dan seorang laki-laki yang Allah berikan kepadanya hikmah lalu ia memutuskan dengannya dan mengajarkannya.”

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya dunia ini hanya untuk empat orang: seorang hamba yang Allah rizqikan kepadanya harta dan ilmu, lalu ia bertaqwa dalam hartanya kepada Rabbnya, menyambung silaturrahim dengannya, dan mengetahui hak Allah di dalamnya, maka ini berada pada tempat yang paling baik di sisi Allah. Seorang laki-laki yang Allah berikan kepadanya ilmu dan tidak diberikan harta, lalu ia berkata: ‘Seandainya aku mempunyai harta niscaya aku akan beramal dengan amal si fulan’, maka ia mendapat pahala sesuai niatnya dan keduanya sama dalam pahala. Seorang laki-laki yang Allah berikan kepadanya harta dan tidak diberikan ilmu, lalu ia berbuat sembrono dengan hartanya, tidak bertaqwa di dalamnya kepada Rabbnya, tidak menyambung silaturrahim dengannya, dan tidak mengetahui hak Allah di dalamnya, maka ini berada pada tempat yang paling buruk di sisi Allah. Dan seorang laki-laki yang tidak diberikan Allah harta dan tidak pula ilmu, lalu ia berkata: ‘Seandainya aku mempunyai harta niscaya aku akan beramal dengan amal si fulan’, maka ia mendapat dosa sesuai niatnya dan keduanya sama dalam dosa.” Maka kebahagiaan dengan seluruhnya kembali kepada ilmu dan apa yang diwajibkannya, dan kecelakaan dengan seluruhnya kembali kepada kebodohan dan buahnya.

Imam Ahmad berkata: “Manusia lebih membutuhkan ilmu daripada kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman, karena makanan dan minuman dibutuhkan dalam sehari sekali atau dua kali, sedangkan ilmu dibutuhkan sebanyak nafas.”

Sufyan bin Uyainah berkata: “Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang berada antara Allah dan hamba-hamba-Nya, yaitu para nabi dan ulama.”

Kebanggaan hanya untuk ahli ilmu, sesungguhnya mereka… atas petunjuk bagi yang mencari petunjuk adalah penunjuk jalan Dan kadar setiap orang adalah apa yang ia kuasai… dan orang-orang bodoh adalah musuh bagi ahli ilmu Maka menangkanlah dengan ilmu, hiduplah dengannya selamanya… manusia adalah mayat dan ahli ilmu adalah orang-orang yang hidup

 

 

3 – Jenis-jenis Hati dan Pembagiannya

 

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’: 36)

Karena hati bagi anggota-anggota tubuh ini seperti raja yang bertasarruf dalam tentara, yang semuanya keluar dari perintahnya, dan ia menggunakan mereka dalam apa yang ia kehendaki. Semuanya berada di bawah penghambaan dan kekuasaannya, dan memperoleh darinya kelurusan dan penyimpangan, serta mengikutinya dalam apa yang ia putuskan dari tekad atau ia batalkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah bahwa dalam jasad ada segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.”

Maka hati adalah rajanya, dan anggota-anggota tubuh adalah pelaksana apa yang diperintahkannya, yang menerima apa yang datang kepadanya dari petunjuknya. Tidak akan lurus bagi mereka sesuatu dari amal-amal mereka hingga keluar dari maksud dan niatnya. Dan hati yang dimintai pertanggungjawaban atas mereka semua, karena setiap pengembala dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya. Maka perhatian untuk memperbaikinya dan meluruskannya adalah yang paling utama bagi para salik (orang yang menempuh jalan spiritual), dan melihat penyakit-penyakitnya serta pengobatannya adalah yang paling penting untuk ditaati oleh orang-orang yang bertaqwa.

Karena hati dapat digambarkan dengan kehidupan dan lawannya, maka hati terbagi menjadi tiga bagian: hati yang sehat atau selamat, hati yang mati, dan hati yang sakit.

1. Hati yang Sehat

Hati yang sehat adalah hati yang selamat yang tidak akan selamat pada hari kiamat kecuali mereka yang datang kepada Allah Ta’ala dengan hati tersebut, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Pada hari ketika harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat” (Asy-Syu’ara: 88-89).

Dalam definisinya dikatakan bahwa hati yang sehat adalah hati yang selamat dari setiap syahwat yang bertentangan dengan perintah dan larangan Allah, dan dari setiap syubhat yang bertentangan dengan kabar-Nya. Maka hati tersebut selamat dari penghambaan kepada selain Allah, dan selamat dari menjadikan selain rasul-Nya sebagai hakim. Sehingga penghambaan kepada Allah Ta’ala menjadi murni, dalam hal keinginan, kecintaan, tawakal, kembali kepada-Nya, ketundukan, rasa takut, dan harapan. Amalnya pun murni untuk Allah. Jika ia mencintai, ia mencintai karena Allah. Jika ia membenci, ia membenci karena Allah. Jika ia memberi, ia memberi karena Allah. Jika ia menahan, ia menahan karena Allah. Hal ini belum cukup sampai hati tersebut selamat dari tunduk dan menjadikan hakim selain rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ia mengikat hatinya bersama rasul dengan ikatan yang kuat dalam hal ketaatan dan keteladanan kepadanya saja, tanpa orang lain dalam perkataan dan perbuatan. Ia tidak mendahului di hadapannya dengan akidah, perkataan, atau perbuatan. Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Al-Hujurat: 1).

2. Hati yang Mati

Hati yang mati adalah kebalikan dari hati yang selamat. Ia tidak mengenal Tuhannya dan tidak menyembah-Nya dengan perintah-Nya dan apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Bahkan ia berhenti pada syahwat dan kesenangan-kesenangannya, meskipun di dalamnya terdapat murka dan kemarahan Tuhannya. Ia tidak peduli ketika meraih syahwat dan bagiannya apakah Tuhannya ridha atau murka. Ia menyembah selain Allah. Jika ia mencintai, ia mencintai karena hawa nafsunya. Jika ia membenci, ia membenci karena hawa nafsunya. Jika ia memberi, ia memberi karena hawa nafsunya. Jika ia menahan, ia menahan karena hawa nafsunya. Hawa nafsunya lebih utama dan lebih dicintai daripada ridha Tuhannya. Hawa nafsu adalah imamnya, syahwat adalah pemimpinnya, kebodohan adalah penggembala, dan kelalaian adalah kendaraannya. Ia tenggelam dalam pemikiran untuk meraih tujuan-tujuan duniawinya dan mabuk dengan kemabukan hawa nafsu dan cinta kepada yang segera. Ia dipanggil kepada Allah dan negeri akhirat dari tempat yang jauh namun tidak merespons kepada penasihat, dan mengikuti setiap setan yang durhaka. Dunia membuatnya murka dan ridha. Hawa nafsu membuatnya tuli dari selain kebatilan dan membutakannya. Bergaul dengan pemilik hati seperti ini adalah penyakit, berinteraksi dengannya adalah racun, dan duduk bersamanya adalah kebinasaan.

3. Hati yang Sakit

Hati yang sakit adalah hati yang memiliki kehidupan namun terdapat penyakit yang kadang menguatkannya dan kadang melemahkannya, tergantung mana yang lebih dominan. Di dalamnya terdapat kecintaan kepada Allah Ta’ala, iman kepada-Nya, keikhlasan untuk-Nya, dan tawakal kepada-Nya, yang merupakan bahan kehidupannya. Namun di dalamnya juga terdapat kecintaan kepada syahwat, mengutamakannya, semangat untuk meraihnya, hasad, kesombongan, dan ujub, yang merupakan bahan kebinasaan dan kerusakannya. Hati ini diuji oleh dua penyeru: penyeru yang menyerunya kepada Allah, rasul-Nya, dan negeri akhirat, dan penyeru yang menyerunya kepada yang segera. Ia hanya merespons yang paling dekat pintunya dan paling dekat bertetangga dengannya.

Hati yang pertama: hidup, tunduk, lembut, dan sadar. Hati yang kedua: kering dan mati. Hati yang ketiga: sakit, antara lebih dekat kepada keselamatan atau lebih dekat kepada kebinasaan.

Tanda-tanda Penyakit dan Kesehatan Hati

Tanda-tanda Penyakit Hati

Hati seorang hamba mungkin sakit dan penyakitnya semakin parah, namun pemiliknya tidak mengetahuinya. Bahkan hati tersebut mungkin mati sementara pemiliknya tidak mengetahui kematiannya. Tanda penyakit atau kematiannya adalah bahwa pemiliknya tidak merasa sakit karena luka-luka maksiat dan tidak merasa sakit karena ketidaktahuannya terhadap kebenaran dan akidah-akidah batilnya. Karena jika hati masih hidup, ia akan merasa sakit ketika keburukan-keburukan menimpanya dan merasa sakit karena ketidaktahuannya terhadap kebenaran sesuai dengan kehidupannya. Mungkin ia merasakan penyakit dan merasa berat terhadap pahitnya obat, sehingga ia lebih memilih bertahan dengan rasa sakit daripada kesulitan mengonsumsi obat.

Di antara tanda-tanda penyakit hati adalah berpalingnya dari makanan yang bermanfaat kepada yang berbahaya, dan berpalingnya dari obat yang bermanfaat kepada penyakit yang berbahaya. Hati yang sehat lebih memilih yang bermanfaat dan menyembuhkan daripada yang berbahaya dan menyakitkan, sedangkan hati yang sakit sebaliknya. Makanan yang paling bermanfaat adalah makanan iman, dan obat yang paling bermanfaat adalah obat Al-Qur’an.

Tanda-tanda Kesehatan Hati

Tanda kesehatan hati adalah ia berpindah dari dunia sampai turun ke akhirat dan menetap di dalamnya sampai ia seolah-olah menjadi penduduknya atau anak-anaknya. Ia datang ke negeri ini sebagai orang asing, mengambil keperluannya dan kembali ke tanah airnya, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abdullah bin Umar: “Jadilah di dunia seolah-olah kamu orang asing atau musafir.”

Semakin sakit hati, semakin ia memilih dunia dan menetap di dalamnya, sampai ia menjadi penduduknya.

  • Di antara tanda-tanda kesehatan hati: hati tersebut senantiasa memukul pemiliknya sampai ia kembali kepada Allah, tunduk kepada-Nya, dan bergantung kepada-Nya seperti bergantungnya kekasih yang terpaksa kepada kekasihnya. Sehingga ia merasa cukup dengan cinta-Nya dari mencintai selain-Nya, dengan mengingat-Nya dari mengingat selain-Nya, dan dengan melayani-Nya dari melayani selain-Nya.
  • Di antara tanda-tanda kesehatan hati: ketika ia melewatkan wirid atau salah satu ketaatan, ia merasakan sakit yang lebih besar daripada sakitnya orang yang tamak karena hilangnya harta dan kehilangannya.
  • Di antara tanda-tanda kesehatannya: ia merindukan pelayanan sebagaimana orang lapar merindukan makanan dan minuman.
  • Yahya bin Mu’adz berkata: “Barangsiapa senang melayani Allah, maka segala sesuatu akan senang melayaninya. Barangsiapa tenang matanya dengan Allah, maka tenang mata setiap orang dengan melihatnya.”
  • Di antara tanda-tanda kesehatannya: perhatiannya hanya satu, yaitu kepada Allah – maksudnya dalam ketaatan kepada Allah.
  • Di antara tanda-tanda kesehatannya: ia lebih kikir dengan waktunya agar tidak terbuang sia-sia seperti orang yang paling kikir dengan hartanya.
  • Di antara tanda-tanda kesehatannya: ketika ia masuk dalam shalat, hilang darinya perhatian dan kesedihan tentang dunia dan ia menemukan di dalamnya ketenangan, kenikmatan, penyejuk mata, dan kegembiraan hati.
  • Di antara tanda-tanda kesehatannya: ia tidak bosan dari mengingat Tuhannya, tidak jemu melayani-Nya, dan tidak senang dengan selain-Nya kecuali dengan orang yang menunjukkannya kepada Allah dan mengingatkannya kepada-Nya.
  • Di antaranya: perhatiannya untuk memperbaiki amal lebih besar daripada perhatiannya kepada amal itu sendiri. Ia bersemangat untuk ikhlas di dalamnya, nasihat, mengikuti, dan berbuat baik, sambil menyaksikan karunia Allah kepadanya dalam amal tersebut dan kekurangannya dalam hak Allah.

Sebab-sebab Penyakit Hati

Fitnah-fitnah yang dipaparkan kepada hati adalah penyebab penyakitnya, yaitu fitnah syahwat dan syubhat. Yang pertama menyebabkan rusaknya tujuan dan keinginan, yang kedua menyebabkan rusaknya ilmu dan keyakinan.

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Fitnah-fitnah dipaparkan kepada hati seperti tikar yang dianyam batang demi batang. Hati mana saja yang menyerapnya, maka dituliskan padanya titik hitam. Hati mana saja yang mengingkarinya, maka dituliskan padanya titik putih, sampai hati menjadi dua jenis: hati hitam yang gelap seperti gelas yang terbalik, tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang munkar kecuali apa yang diserap dari hawa nafsunya, dan hati putih yang tidak membahayakannya fitnah selama langit dan bumi masih ada.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi hati ketika fitnah dipaparkan kepadanya menjadi dua bagian: hati yang ketika dipaparkan fitnah kepadanya menyerapnya seperti spons menyerap air, lalu dituliskan padanya titik hitam. Ia terus menyerap setiap fitnah yang dipaparkan kepadanya sampai menghitam dan terbalik. Itulah makna sabdanya “seperti gelas yang terbalik”, yaitu tertelungkup dan terbalik. Ketika menghitam dan terbalik, ia terkena dua penyakit berbahaya yang membawanya kepada kebinasaan:

Pertama: kerancuan antara yang ma’ruf dan munkar, sehingga ia tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari yang munkar. Bahkan mungkin penyakit ini semakin parah sampai ia meyakini yang ma’ruf sebagai munkar dan yang munkar sebagai ma’ruf, sunnah sebagai bid’ah dan bid’ah sebagai sunnah, kebenaran sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai kebenaran.

Kedua: menjadikan hawa nafsunya sebagai hakim atas apa yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, tunduk kepada hawa nafsu dan mengikutinya.

Dan hati putih: telah bersinar di dalamnya cahaya iman dan menyala di dalamnya pelitanya. Ketika fitnah dipaparkan, ia mengingkarinya dan menolaknya, sehingga bertambah cahaya dan sinarnya.

 

 

4 – Empat Racun Hati

Ketahuilah bahwa semua maksiat adalah racun bagi hati dan penyebab penyakit dan kebinasaannya. Maksiat menghasilkan penyakit hati dan keinginannya menjadi berbeda dengan keinginan Allah Azza wa Jalla, dan menjadi sebab bertambahnya penyakitnya.

Ibnu Mubarak berkata: “Kulihat dosa-dosa mematikan hati… dan melakukan terus-menerus mewariskan kehinaan Meninggalkan dosa menghidupkan hati… dan lebih baik bagi jiwamu bermaksiat kepadanya”

Barangsiapa menginginkan keselamatan dan kehidupan hatinya, hendaknya ia membersihkan hatinya dari bekas-bekas racun tersebut, kemudian menjaganya dengan tidak mengonsumsi racun-racun baru. Jika ia mengonsumsi sesuatu dari itu karena kesalahan, hendaknya ia segera menghapus bekasnya dengan taubat, istighfar, dan kebaikan-kebaikan yang menghapus.

Yang kami maksud dengan empat racun adalah: berlebihan dalam berbicara, berlebihan dalam melihat, berlebihan dalam makan, dan berlebihan dalam bergaul. Ini adalah racun-racun yang paling terkenal penyebarannya dan paling keras pengaruhnya terhadap kehidupan hati.

1. Berlebihan dalam Berbicara

Segala puji bagi Allah yang telah membuat manusia dengan baik dan menyempurnakannya, mengilhaminya dengan cahaya iman sehingga menghiasinya dan memperindahnya, mengajarkannya keterangan sehingga mendahulukannya dan mengutamakannya, memberikan kepadanya lisan yang menerjemahkan apa yang dikandung hati dan akalnya. Lisan adalah salah satu nikmat Allah yang besar dan keajaiban ciptaan-Nya yang aneh. Ia kecil bendanya namun besar ketaatan dan dosanya, karena kufur dan iman tidak dapat dibedakan kecuali dengan kesaksian lisan, dan keduanya adalah puncak ketaatan dan kemaksiatan. Barangsiapa melepaskan kekangan lisan dan mengabaikannya dengan membiarkan tali kekangnya, setan akan membawanya ke setiap medan dan menggiringnya ke tepi jurang yang runtuh sampai memaksanya kepada kebinasaan. Tidaklah manusia dilemparkan ke dalam neraka atas hidung mereka kecuali karena hasil panen lisan mereka. Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apakah yang melemparkan manusia ke dalam neraka atas wajah mereka – atau beliau bersabda: atas hidung mereka – kecuali hasil panen lisan mereka?”

Yang dimaksud dengan hasil panen lisan adalah balasan dari perkataan yang haram dan hukumannya. Karena manusia menanam dengan perkataan dan perbuatannya kebaikan dan keburukan, kemudian ia menuai pada hari kiamat apa yang ditanamnya. Barangsiapa menanam kebaikan dari perkataan atau perbuatan, ia menuai keselamatan. Barangsiapa menanam keburukan dari perkataan atau perbuatan, ia menuai penyesalan.

Telah datang banyak kabar yang memperingatkan dari bahaya lisan dan menjelaskan bahayanya. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pencatat yang selalu siap mencatat” (Qaaf: 18).

Dari Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi berkata: Saya berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau takutkan atasku?” Beliau bersabda: “Ini,” sambil memegang lisannya.

Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu berkata: Saya berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang menyelamatkan?” Beliau bersabda: “Tahanlah lisanmu…”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam.”

Ini adalah salah satu kalimat ringkas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perkataan itu ada dua: baik, maka hamba diperintahkan mengatakannya, atau bukan demikian, maka ia diperintahkan diam darinya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang tidak ia pikirkan, ia tergelincir karenanya ke dalam neraka lebih jauh dari jarak antara timur dan barat.”

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Demi Allah yang tidak ada tuhan selain-Nya, tidak ada sesuatu yang lebih memerlukan penjara panjang daripada lisanku.”

Ia berkata: “Wahai lisan, katakanlah kebaikan maka engkau beruntung. Diamlah dari keburukan maka engkau selamat sebelum engkau menyesal.”

Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berkata: “Berikan keadilan kepada kedua telingamu dari mulutmu. Engkau hanya diberi dua telinga dan satu mulut agar engkau mendengar lebih banyak daripada berbicara.”

Dari Hasan Bashri berkata: Mereka berkata: “Sesungguhnya lisan orang mukmin di belakang hatinya. Jika ia ingin berbicara sesuatu, ia memikirkannya dengan hatinya kemudian melaksanakannya. Sedangkan lisan orang munafik di depan hatinya. Jika ia berniat sesuatu, ia melaksanakannya dengan lisannya dan tidak memikirkannya dengan hatinya.”

Jika engkau bertanya: Apakah sebab keutamaan besar diam ini?

Ketahuilah bahwa sebabnya adalah banyaknya bahaya lisan dari kesalahan, kebohongan, ghibah, namimah, kekejian, perdebatan, menyucikan diri, membahas kebatilan, permusuhan, hal-hal yang berlebihan, mengubah, menambah dan mengurangi, menyakiti makhluk, dan membuka aib. Ini adalah bahaya-bahaya yang banyak dan mudah bagi lisan, tidak memberatkannya, dan memiliki manisnya di hati. Ada pendorong-pendorong dari tabiat dan dari setan. Karena itu menjadi besar keutamaan diam, dengan apa yang ada di dalamnya berupa mengumpulkan perhatian, ketenangan yang terus-menerus, kesempatan untuk berpikir, berdzikir, dan beribadah, keselamatan dari akibat perkataan di dunia, dan dari perhitungannya di akhirat. Allah Ta’ala berfirman: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pencatat yang selalu siap mencatat” (Qaaf: 18).

2 – Sikap Berlebihan dalam Memandang

Sikap berlebihan dalam memandang adalah: melepaskan pandangan kepada sesuatu dengan mata yang penuh, dan memandang kepada apa yang tidak halal untuk dipandang, dan ini adalah kebalikan dari menundukkan pandangan.

Menundukkan pandangan berarti mengurangi, dan Allah Azza wa Jalla telah memerintahkannya dengan firman-Nya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya” (Surat An-Nur: ayat 30 – dan sebagian dari ayat 31).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Telah ditetapkan bagi anak Adam bagiannya dari zina dan dia pasti akan mengalaminya tanpa dapat dihindari. Kedua mata, zinanya adalah memandang; kedua telinga, zinanya adalah mendengar; lidah, zinanya adalah berbicara; tangan, zinanya adalah meraba; kaki, zinanya adalah melangkah; dan hati berkeinginan dan berangan-angan, kemudian kemaluan membenarkan atau mendustakannya.”

Dari Jarir radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang tiba-tiba, maka beliau bersabda: “Palingkan pandanganmu.”

Sikap berlebihan dalam memandang mengajak kepada mengagumi dan masuknya gambaran yang dipandang ke dalam hati si pemandang, sehingga menimbulkan berbagai jenis kerusakan dalam hati hamba, di antaranya:

Bahwa pandangan adalah anak panah beracun dari anak-anak panah Iblis. Barangsiapa yang menundukkan pandangannya karena Allah, Allah akan memberinya kemanisan yang akan dia rasakan di hatinya hingga hari dia bertemu dengan-Nya.

Di antaranya: masuknya setan bersama pandangan, karena setan masuk bersamanya lebih cepat daripada masuknya udara ke tempat yang kosong, untuk menghiasi gambaran yang dipandang dan menjadikannya berhala yang dipatuhi oleh hati, kemudian setan memberinya janji-janji dan angan-angan kosong, menyalakan api syahwat di hati dan melemparkan kayu bakar maksiat yang tidak dapat dicapai tanpa gambaran tersebut.

Di antaranya: pandangan itu menyibukkan hati dan membuatnya lupa akan kepentingannya, menghalangi antara hati dengan kepentingannya, sehingga urusannya menjadi berantakan dan dia jatuh dalam mengikuti hawa nafsu dan kelalaian.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” (Surat Al-Kahf: sebagian dari ayat 28).

Melepaskan pandangan menyebabkan ketiga perkara ini:

Para dokter hati berkata: antara mata dan hati ada jalan dan lorong. Jika mata rusak dan binasa, maka hati akan rusak dan binasa serta menjadi seperti tempat sampah yang merupakan tempat najis, kotoran, dan keji, sehingga tidak layak untuk ditempati ma’rifat kepada Allah, kecintaan kepada-Nya, kembali kepada-Nya, tenteram bersama-Nya, dan gembira dengan kedekatan-Nya. Yang menempatinya justru kebalikan dari semua itu.

Melepaskan pandangan adalah maksiat kepada Allah Azza wa Jalla berdasarkan firman-Nya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (Surat An-Nur: ayat 30).

Tidaklah seseorang berbahagia di dunia kecuali dengan mentaati perintah Allah, dan tidak ada keselamatan bagi hamba di akhirat kecuali dengan mentaati perintah-perintah Allah Azza wa Jalla.

Melepaskan pandangan juga mengenakan kegelapan pada hati, sebagaimana menundukkan pandangan karena Allah Azza wa Jalla mengenakan cahaya padanya.

Allah Azza wa Jalla telah menyebutkan ayat cahaya: “Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar” (Surat An-Nur: sebagian dari ayat 35), setelah firman-Nya Azza wa Jalla: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya…” (Surat An-Nur: sebagian dari ayat 30).

Jika hati bercahaya, rombongan kebaikan akan datang kepadanya dari segala penjuru. Sebagaimana jika hati gelap, awan-awan bala dan kejahatan akan datang kepadanya dari segala tempat.

Melepaskan pandangan juga membutakan hati dari membedakan antara yang hak dan yang batil, antara sunnah dan bid’ah. Sedangkan menundukkan pandangan karena Allah Azza wa Jalla akan mewariskan firasat yang benar untuk membedakannya.

Salah seorang salih berkata: “Barangsiapa yang memakmurkan lahirnya dengan mengikuti sunnah, batinnya dengan senantiasa muraqabah, menundukkan pandangannya dari yang haram, menahan dirinya dari yang syubhat, dan memakan yang halal, maka firasatnya tidak akan pernah salah.”

Balasan sesuai dengan perbuatan. Barangsiapa yang menundukkan pandangannya dari yang diharamkan Allah, Allah akan melepaskan cahaya mata batin (bashirah)nya.

3 – Sikap Berlebihan dalam Makan

Sedikitnya makanan menyebabkan lembutnya hati, kuatnya pemahaman, patahnya jiwa, lemahnya hawa nafsu dan kemarahan. Sedangkan banyaknya makanan menyebabkan kebalikan dari itu.

Dari Al-Miqdad bin Ma’dikarib berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Anak Adam tidak mengisi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukup bagi anak Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika memang harus, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya.”

Sikap berlebihan dalam makan mengajak kepada berbagai jenis kejahatan, karena ia menggerakkan anggota tubuh untuk bermaksiat dan memberatkannya untuk melakukan ketaatan dan ibadah. Cukuplah kedua hal ini sebagai kejahatan. Berapa banyak maksiat yang didatangkan oleh kenyang dan berlebihan dalam makan, dan berapa banyak ketaatan yang terhalangi karenanya. Barangsiapa yang terlindung dari kejahatan perutnya, maka dia telah terlindung dari kejahatan yang besar. Setan paling berkuasa atas manusia ketika dia memenuhi perutnya dengan makanan. Karena itu dalam sebagian atsar disebutkan: Jika perut penuh, pikiran tidur, hikmah bisu, dan anggota tubuh malas beribadah.

Sebagian salaf berkata: Ada pemuda-pemuda yang beribadah dari Bani Israil. Ketika mereka berbuka, berdirilah seorang di antara mereka dan berkata: “Jangan makan terlalu banyak, sehingga kalian minum terlalu banyak, lalu tidur terlalu banyak, sehingga kalian rugi banyak.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya sering lapar – meskipun itu karena tidak tersedianya makanan – namun Allah tidak memilih untuk rasul-Nya kecuali keadaan yang paling sempurna dan terbaik. Karena itu Ibnu Umar menyerupai beliau dalam hal itu meskipun dia mampu mendapatkan makanan, demikian juga ayahnya sebelumnya.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah kenyang sejak tiba di Madinah dengan roti gandum tiga malam berturut-turut hingga beliau wafat.”

Ibrahim bin Adham berkata: “Barangsiapa yang mengendalikan perutnya, dia mengendalikan agamanya. Barangsiapa yang menguasai rasa laparnya, dia menguasai akhlak yang baik. Sesungguhnya maksiat kepada Allah itu jauh dari orang yang lapar dan dekat dari orang yang kenyang.”

4 – Sikap Berlebihan dalam Bergaul

Ini adalah penyakit kronis yang mendatangkan segala kejahatan. Berapa banyak pergaulan dan pertemanan yang merampas nikmat, berapa banyak yang menabur permusuhan, dan berapa banyak yang menanam dendam di hati yang gunung-gunung yang kokoh pun akan lenyap sementara dendam di hati tidak akan hilang. Dalam sikap berlebihan bergaul terdapat kerugian dunia dan akhirat. Sesungguhnya seorang hamba hendaknya mengambil dari pergaulan sekadar kebutuhan, dan menjadikan manusia dalam hal ini empat bagian. Apabila dia mencampuradukkan salah satu bagian dengan bagian lain dan tidak membedakannya, maka kejahatan akan masuk kepadanya:

Pertama: Orang yang bergaul dengannya seperti makanan pokok yang tidak bisa ditinggalkan siang dan malam. Jika sudah mengambil kebutuhannya darinya, dia meninggalkan pergaulan itu. Kemudian jika membutuhkannya, dia bergaul lagi dengannya, begitu seterusnya. Mereka adalah para ulama yang mengetahui Allah dan perintah-Nya serta tipu daya musuh-Nya, penyakit-penyakit hati dan obat-obatnya, yang menasihati Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan makhluk-Nya. Golongan ini dalam bergaul dengan mereka adalah keuntungan sepenuhnya.

Bagian kedua: Orang yang bergaul dengannya seperti obat, dibutuhkan ketika sakit. Selama kamu sehat, tidak ada kebutuhan untuk bergaul dengannya. Mereka adalah orang-orang yang tidak bisa ditinggalkan pergaulannya dalam kepentingan penghidupan dan apa yang kamu butuhkan dari berbagai jenis muamalah, konsultasi, dan semacamnya. Jika kebutuhanmu dari bergaul dengan golongan ini telah terpenuhi, pergaulan dengan mereka menjadi termasuk:

Bagian ketiga: Mereka yang bergaul dengannya seperti penyakit dengan berbagai tingkatan, jenis, kekuatan, dan kelemahannya. Di antara mereka ada yang bergaul dengannya seperti penyakit kronis yang sulit disembuhkan, yaitu orang yang dari dia kamu tidak mendapat keuntungan agama maupun dunia, bahkan kamu pasti akan rugi dalam agama dan dunia atau salah satunya. Jika pergaulan dengan orang ini menguasaimu dan berkelanjutan, maka itu adalah penyakit kematian yang menakutkan. Di antara mereka ada yang tidak pandai berbicara sehingga memberi manfaat kepadamu, tidak pandai mendengarkan sehingga mendapat manfaat darimu, tidak mengenal dirinya sehingga menempatkan dirinya pada tempatnya. Bahkan jika dia berbicara, ucapannya seperti tongkat yang menimpa hati para pendengar sambil dia kagum dengan ucapannya dan gembira karenanya. Dia melukai mulut orang yang berbicara dengannya dan mengira bahwa itu adalah misk yang mewangikan majlis. Jika dia diam, dia lebih berat daripada setengah batu gilingan besar yang tidak bisa diangkat atau diseret di atas tanah.

Secara ringkas, bergaul dengan setiap orang yang menyalahi adalah demam bagi roh, baik yang sementara maupun yang menetap. Termasuk kemalangan dunia bagi seorang hamba adalah jika dia diuji dengan salah satu dari golongan ini dan dia tidak punya pilihan selain bergaul dengannya. Maka hendaklah dia bergaul dengannya dengan cara yang baik, memberikan lahirnya dan kikir dengan batinnya hingga Allah menjadikan baginya jalan keluar dan pintu keluar dari urusannya.

Bagian keempat: Orang yang bergaul dengannya adalah kebinasaan total, seperti memakan racun. Jika kebetulan bagi yang memakannya ada penawar, jika tidak maka semoga Allah memberikan takziah yang baik. Betapa banyaknya golongan ini di antara manusia – semoga Allah memperbanyak mereka – yaitu ahli bid’ah dan kesesatan, yang menghalangi dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengajak kepada yang menyelisihinya. Mereka menjadikan sunnah sebagai bid’ah dan bid’ah sebagai sunnah. Golongan ini tidak pantas bagi orang berakal untuk duduk bersama atau bergaul dengan mereka. Jika dia melakukannya, maka akibatnya adalah kematian hatinya atau sakit.

Kami memohon kepada Allah untuk kami dan mereka kesehatan dan rahmat.

 

 

5 – Sebab-sebab Kehidupan Hati dan Makanan yang Bermanfaat

Ketahuilah bahwa ketaatan itu wajib bagi kehidupan hati hamba sebagaimana wajibnya makanan dan minuman bagi kehidupan tubuh. Semua kemaksiatan seperti makanan beracun yang pasti merusak hati. Hamba membutuhkan ibadah kepada Tuhannya Azza wa Jalla dan fakir kepada-Nya dengan kefakiran yang hakiki. Sebagaimana hamba mengambil sebab-sebab untuk kehidupan tubuhnya dengan terus-menerus mengonsumsi makanan bergizi pada waktu-waktu yang berdekatan, dan jika ternyata dia mengonsumsi makanan beracun karena kelalaian, dia segera mengeluarkan cairan buruk dari tubuhnya, maka kehidupan hati hamba lebih layak untuk diperhatikan daripada tubuhnya. Jika kehidupan tubuh membuatnya layak untuk hidup yang tidak terganggu penyakit di dunia, maka kehidupan hati membuatnya layak untuk kehidupan yang baik di dunia dan kebahagiaan yang tidak terbatas di akhirat. Demikian pula kematian tubuh memutuskannya dari dunia, dan kematian hati, kesakitannya akan kekal selamanya.

Salah seorang salih berkata: “Sungguh aneh manusia menangisi orang yang tubuhnya mati dan tidak menangisi orang yang hatinya mati, padahal itu lebih parah.”

Maka semua ketaatan wajib untuk kehidupan hati, dan yang khusus disebutkan di sini – karena kebutuhan mendesak hati hamba dan sangat membutuhkannya – adalah: dzikir kepada Allah Azza wa Jalla, tilawah Al-Qur’an, istighfar, doa, shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan qiyamul lail.

1 – ZIKIR ALLAH DAN TILAWAH AL-QUR’AN

Pentingnya zikir bagi hati sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah -semoga Allah memuliakan rohnya-: “Zikir bagi hati bagaikan air bagi ikan, bagaimana keadaan ikan jika dikeluarkan dari air”. Imam Syamsuddin Ibnu Qayyim telah menyebutkan hampir delapan puluh faedah dalam kitabnya “Al-Wabil As-Sayyib”, dan kami akan menyampaikan sebagian darinya dengan izin Allah, dan kami menyarankan untuk kembali kepada kitab tersebut karena manfaatnya yang besar. Di antara faedah-faedah tersebut:

Bahwa zikir adalah makanan hati dan ruh, jika seorang hamba kehilangannya maka ia akan seperti jasad yang terhalang dari makanannya. Di antaranya juga bahwa zikir mengusir setan, memukul mundur, mematahkan, dan meridhakan Ar-Rahman, menghilangkan kegelisahan dan kesedihan dari hati, mendatangkan kegembiraan, kesenangan dan kelapangan, menerangi hati dan wajah, memberi kehormatan, kemanisan dan kecerahan kepada orang yang berzikir, mewariskan cinta Allah dan takwa kepada-Nya serta bertaubat kepada-Nya, demikian juga mewariskan zikir Allah kepada hamba, sebagaimana firman-Nya: “Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepada kalian” (Surat Al-Baqarah: 152).

Seandainya dalam zikir hanya terdapat faedah ini saja, sudah cukup sebagai keutamaan dan kemuliaan, dan zikir mewariskan kejernihan hati dari kelalaian, serta menggugurkan kesalahan-kesalahan.

Meskipun zikir termasuk ibadah yang paling mudah, namun pemberian dan keutamaan yang ditetapkan padanya tidak ditetapkan pada amalan-amalan lainnya.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa mengucapkan ‘Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir’ dalam sehari seratus kali, maka baginya sama dengan memerdekakan sepuluh budak, ditulis baginya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus keburukan, dan menjadi perlindungan dari setan pada hari itu hingga sore, dan tidak ada seorang pun yang datang dengan yang lebih utama dari apa yang dibawanya kecuali seseorang yang beramal lebih banyak darinya”.

Dari Jabir dari Nabi bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa mengucapkan ‘Subhanallahi wa bihamdihi’ maka ditanam baginya sebatang pohon kurma di surga”.

Ibn Mas’ud berkata: “Sungguh aku bertasbih kepada Allah dengan beberapa tasbih lebih aku sukai daripada aku menafkahkan sejumlah dinar setara dengan tasbih tersebut di jalan Allah.”

Zikir adalah obat untuk kekerasan hati, sebagaimana seorang laki-laki berkata kepada Al-Hasan: “Wahai Abu Sa’id, aku mengadukan kepadamu kekerasan hatiku.” Ia berkata: “Lelehkanlah dengan zikir.” Makhul berkata: “Zikir Allah adalah obat dan zikir manusia adalah penyakit.” Seorang laki-laki bertanya kepada Salman: “Amalan apakah yang paling utama?” Ia berkata: “Bukankah kamu membaca Al-Qur’an: ‘Dan sungguh, mengingat Allah itu lebih besar’” (Surat Al-Ankabut: 45).

Dari Abu Musa dari Nabi bahwa beliau bersabda: “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berzikir kepada Tuhannya adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati”.

Berkesinambungan dalam zikir akan memperbanyak saksi hamba di hari kiamat, dan menjadi sebab kesibukan hamba dari perkataan batil seperti ghibah, namimah dan lainnya, karena lisan itu antara berzikir atau berbicara sia-sia. Barangsiapa dibukakan baginya pintu zikir maka telah dibukakan baginya pintu masuk kepada Allah, maka hendaklah ia bersuci dan masuk menemui Tuhannya, ia akan mendapatkan di sisi-Nya apa yang diinginkannya. Jika ia mendapatkan Tuhannya maka ia mendapatkan segala sesuatu, dan jika ia kehilangan Tuhannya maka ia kehilangan segala sesuatu.

Zikir memiliki berbagai jenis: di antaranya zikir nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, memuji dan menyanjung-Nya dengannya, seperti “Subhanallah”, “Alhamdulillah”, “Laa ilaaha illallah”. Di antaranya juga memberitakan tentang Allah dengan hukum-hukum nama dan sifat-Nya, seperti: Allah mendengar suara-suara hamba-Nya dan melihat gerakan-gerakan mereka. Di antaranya juga zikir perintah dan larangan, seperti mengatakan: Sesungguhnya Allah memerintahkan demikian dan melarang demikian.

Di antara zikir kepada-Nya adalah zikir karunia-karunia dan kebaikan-Nya. Zikir yang paling utama adalah tilawah Al-Qur’an, karena ia mengandung obat-obatan hati dan pengobatannya dari segala penyakit. Allah berfirman: “Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian nasihat dari Tuhan kalian dan penyembuh bagi apa yang ada dalam dada” (Surat Yunus: 57).

Allah berfirman: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an apa yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Surat Al-Isra: 82).

Penyakit hati terbagi menjadi penyakit syubhat (keragu-raguan) dan syahwat (hawa nafsu), dan Al-Qur’an adalah penyembuh untuk kedua jenis tersebut. Di dalamnya terdapat keterangan-keterangan dan dalil-dalil yang pasti yang menjelaskan yang haq dari yang batil sehingga hilang penyakit-penyakit syubhat yang menghasilkan ilmu, konsepsi dan pemahaman sehingga dapat melihat segala sesuatu sebagaimana adanya.

Barangsiapa mempelajari Al-Qur’an dan menyatu dengan hatinya, ia akan melihat yang haq dan yang batil serta membedakan antara keduanya, sebagaimana ia membedakan dengan kedua matanya antara malam dan siang. Adapun penyembuhannya terhadap penyakit syahwat adalah dengan apa yang terkandung di dalamnya berupa hikmah dan nasihat yang baik, dengan mengurangi kecintaan dunia dan meningkatkan keinginan terhadap akhirat.

Kesimpulannya, hal yang paling bermanfaat bagi hamba adalah zikir Allah: “Ingatlah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Surat Ar-Ra’d: 28).

Zikir yang paling utama adalah tilawah kitab Allah. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang membaca kitab Allah dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian dari apa yang Kami rizkikan kepada mereka secara sembunyi dan terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. Agar Dia menyempurnakan pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Mensyukuri” (Surat Fathir: 29-30).

Dari Utsman bahwa Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya”.

Dari Aisyah ia berkata: Rasulullah bersabda: “Orang yang membaca Al-Qur’an dan mahir di dalamnya bersama para malaikat yang mulia lagi baik. Orang yang membaca Al-Qur’an dan terbata-bata di dalamnya dan sulit baginya, maka baginya dua pahala”.

Dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan dan kebaikan itu sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf”.

Khabbab berkata: “Dekatkanlah dirimu kepada Allah semampumu, karena kamu tidak akan mendekatkan diri kepada-Nya dengan sesuatu yang lebih dicintai-Nya daripada kalam-Nya”.

Utsman bin Affan berkata: “Seandainya hati-hati kalian bersih, niscaya kalian tidak akan pernah kenyang dari kalam Tuhan kalian”.

Ibn Mas’ud berkata: “Barangsiapa ingin mengetahui bahwa ia mencintai Allah maka hendaklah ia menguji dirinya dengan Al-Qur’an, jika ia mencintai Al-Qur’an maka ia mencintai Allah, karena Al-Qur’an adalah kalam Allah”.

2 – ISTIGHFAR

Istighfar adalah memohon ampunan, dan ampunan adalah perlindungan dari keburukan dosa-dosa dengan menutupinya. Penyebutan istighfar banyak terdapat dalam Al-Qur’an, terkadang diperintahkan seperti firman-Nya: “Dan mohonlah ampun kepada Allah, sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (Surat Al-Muzzammil: 20).

Terkadang memuji pelakunya seperti firman-Nya: “Dan orang-orang yang memohon ampun pada waktu sahur” (Surat Ali Imran: 17).

Terkadang menyebutkan bahwa Allah mengampuni orang yang memohon ampun kepada-Nya seperti firman-Nya: “Dan barangsiapa berbuat kejahatan atau menzalimi dirinya kemudian memohon ampun kepada Allah, niscaya ia akan mendapati Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (Surat An-Nisa: 110).

Seringkali istighfar disandingkan dengan taubat, maka istighfar di sini adalah memohon ampunan dengan lisan. Adapun taubat adalah berhenti dari dosa-dosa dengan hati dan anggota badan. Hukum istighfar seperti hukum doa, jika Allah menghendaki maka Dia akan mengabulkannya dan mengampuni pelakunya, terutama jika keluar dari hati yang hancur karena dosa-dosa atau bertepatan dengan waktu-waktu dikabulkannya doa seperti waktu sahur dan setelah shalat.

Diriwayatkan dari Luqman bahwa ia berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, biasakan lisanmu mengucapkan ‘Allahummaghfir li’ (Ya Allah ampunilah aku) karena Allah memiliki waktu-waktu di mana Dia tidak menolak orang yang memohon”. Al-Hasan berkata: “Perbanyaklah istighfar di rumah-rumah kalian, di meja makan kalian, di jalan-jalan kalian, di pasar-pasar kalian, di majelis-majelis kalian, dan di mana pun kalian berada, karena kalian tidak tahu kapan ampunan turun”.

Dari Ibn Umar ia berkata: “Kami menghitung untuk Rasulullah dalam satu majelis seratus kali beliau mengucapkan: ‘Rabbi ghfir li wa tub ‘alayya innaka antat-tawwabul ghafur’ (Tuhanku ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat, Maha Pengampun)”.

Dari Abu Hurairah dari Nabi bahwa beliau bersabda: “Demi Allah, sungguh aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali”.

Dari beliau bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya hatiku tertutup kabut dan sungguh aku memohon ampun kepada Allah dalam sehari seratus kali”.

Allah telah menjelaskan dalam hadits qudsi tiga sebab terbesar dari sebab-sebab ampunan. Dari Anas ia berkata: Rasulullah bersabda, Allah berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya selama kamu berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampuni apa yang ada padamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu sampai ke langit kemudian kamu memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu. Wahai anak Adam, seandainya kamu datang kepada-Ku dengan kesalahan sebesar bumi kemudian kamu menemui-Ku tanpa menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sebesar bumi”.

Kesimpulannya, obat dosa-dosa adalah istighfar. Qatadah berkata: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini menunjukkan kepada kalian penyakit dan obat kalian. Adapun penyakit kalian adalah dosa-dosa, dan obat kalian adalah istighfar”. Ali berkata: “Allah tidak mengilhami seorang hamba untuk beristighfar sedangkan Dia hendak menyiksanya”.

3 – DOA

Allah berfirman: “Dan Tuhan kalian berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan untuk kalian'” (Surat Ghafir: 60). Allah memerintahkan kita untuk berdoa dan menjanjikan akan mengabulkannya, kemudian dilanjutkan dengan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina” (Surat Ghafir: 60).

Maha Suci Allah Yang Maha Agung, Pemilik kemurahan yang melimpah dan kedermawanan yang berkesinambungan, Dia menjadikan permintaan hamba untuk kebutuhannya dan pemenuhan keinginannya sebagai ibadah kepada-Nya, dan meminta kepada-Nya serta mencela yang meninggalkannya dengan celaan yang paling keras, menjadikannya sebagai orang yang sombong kepada-Nya.

Dari Abu Hurairah dari Nabi bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa tidak meminta kepada Allah maka Allah murka kepadanya”. Betapa baiknya ucapan sang penyair:

“Janganlah kamu meminta kepada anak Adam suatu hajat Dan mintalah kepada Dzat yang pintu-pintu-Nya tidak tertutup Allah murka jika kamu meninggalkan meminta kepada-Nya Dan jika kamu meminta kepada anak Adam mereka murka”

Allah berfirman: “Atau siapakah yang mengabulkan orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya dan yang menghilangkan kesusahan” (Surat An-Naml: 62).

Allah berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku” (Surat Al-Baqarah: 186).

Dari An-Nu’man bin Basyir bahwa beliau bersabda: “Doa adalah ibadah” kemudian membaca ayat: “Dan Tuhan kalian berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk nereka Jahannam dalam keadaan hina'” (Surat Ghafir: 60).

Doa pasti dikabulkan berdasarkan ayat-ayat umum yang telah kami sebutkan, demikian juga hadits-hadits berikut – jika memenuhi syarat-syarat kebenaran.

Dari Salman bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Mulia, Dia malu jika seorang laki-laki mengangkat kedua tangannya untuk kemudian mengembalikannya dengan hampa dan kecewa”.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa Nabi bersabda: “Tidaklah seorang muslim berdoa dengan doa yang tidak mengandung dosa dan tidak memutus silaturahmi melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga: Atau Dia menyegerakan doanya, atau Dia menyimpannya di akhirat, atau Dia menjauhkan darinya keburukan yang setara”.

Dari Umar bin Khattab: “Aku tidak memikul beban pengabulan tetapi aku memikul beban doa, maka barangsiapa diilhami untuk berdoa maka pengabulan bersamanya”.

Doa adalah sebab yang menuntut pengabulan jika terpenuhi syarat-syarat dan hilang penghalang-penghalangnya, yaitu jika hamba memperhatikan adab-adab doa. Maka apa saja adab-adab doa?

ADAB-ADAB DOA

  1. Memilih waktu-waktu mulia untuk doanya: seperti hari Arafah dari tahun, bulan Ramadhan dari bulan-bulan, hari Jum’at dari minggu, dan waktu sahur dari malam.
  2. Memanfaatkan keadaan-keadaan mulia: seperti turunnya hujan, barisan pasukan di jalan Allah, dan ketika sujud, berdasarkan hadits Abu Hurairah dari Rasulullah bahwa beliau bersabda: “Saat paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa”.

Demikian juga antara adzan dan iqamah, berdasarkan sabda beliau: “Doa antara adzan dan iqamah tidak ditolak”.

  1. Bersungguh-sungguh dalam berdoa dan yakin akan dikabulkan. Beliau bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian berkata: ‘Ya Allah ampunilah aku jika Engkau kehendaki, ya Allah rahmatilah aku jika Engkau kehendaki’, hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam meminta karena tidak ada yang memaksa-Nya”.
  2. Dalam keadaan suci, menghadap kiblat, dan mengulangi doa tiga kali.

Dari Ibn Mas’ud ia berkata: “Rasulullah apabila berdoa, beliau berdoa tiga kali, dan apabila meminta, beliau meminta tiga kali”.

Adab Berdoa

Dimulai dengan memuji Allah Yang Maha Mulia, memuji-Nya dengan nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan karunia-karunia-Nya, kemudian dilanjutkan dengan shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu menyebutkan hajatnya, dan diakhiri juga dengan shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pujian kepada Allah Yang Maha Mulia.

Hendaklah ia menjaga makanannya halal, dan tidak berdoa dengan dosa atau memutuskan silaturrahim.

Dan tidak pantas tergesa-gesa mengharapkan jawaban, dan tidak berkata: “Aku telah berdoa tetapi tidak dikabulkan bagiku,” berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Salah seorang dari kalian akan dikabulkan doanya selama ia tidak tergesa-gesa dengan berkata: Aku telah berdoa tetapi tidak dikabulkan bagiku.”

Ibnu Bathal berkata: “Maknanya adalah bahwa ia bosan lalu meninggalkan doa sehingga menjadi seperti orang yang mengungkit-ungkit doanya, atau bahwa ia telah melakukan doa yang layak mendapat jawaban, lalu ia bersabar seperti orang yang kikir kepada Rabb Yang Maha Mulia yang tidak lemah dalam menjawab dan tidak berkurang pemberian-Nya.”

Dalam hadits ini terdapat adab dari adab-adab doa, yaitu hendaknya terus memohon dan tidak berputus asa dari jawaban, karena di dalamnya terkandung penyerahan diri, ketundukan, dan menunjukkan kemiskinan (kepada Allah).

4. Shalawat Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: Maksud dari ayat ini adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahu hamba-hamba-Nya tentang kedudukan hamba dan nabi-Nya di sisi-Nya di Malaikatil A’la bahwa Dia memujinya di Malaikatil A’la di sisi malaikat-malaikat yang dekat dan bahwa malaikat-malaikat bershalawat untuknya, kemudian Allah Ta’ala memerintahkan alam bawah untuk bershalawat dan memberi salam kepadanya agar terkumpul pujian kepadanya dari penduduk dua alam, alam atas dan alam bawah semuanya.

Ibnu Qayyim berkata: Maknanya adalah bahwa jika Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk rasul-Nya, maka bershalawatlah kalian juga untuknya karena apa yang kalian peroleh berkat berkah risalahnya dan kebaikan kedutaannya berupa kebaikan kehormatan dunia dan akhirat. Shalawat dari Allah Azza wa Jalla adalah pujian dan menampakkan kehormatan, serta kehendak untuk memuliakan, sedangkan shalawat makhluk adalah doa dengan tambahan kehormatan dan pemuliaan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.”

Yaitu sepuluh shalawat dan itu karena kebaikan dengan sepuluh kali lipatnya dan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk kebaikan yang paling agung.

Ibnu Arabi berkata: “Jika dikatakan: Allah Ta’ala berfirman: ‘Barangsiapa yang datang dengan kebaikan maka baginya sepuluh kali lipat’ (QS. Al-An’am: 160). Maka apa faedah hadits ini? Kami katakan: Faedah yang paling agung dan itu adalah bahwa Al-Quran menunjukkan bahwa barangsiapa datang dengan kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh kali, dan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kebaikan berdasarkan Al-Quran bahwa ia akan diberi sepuluh derajat di surga, maka diberitahukan bahwa Allah Ta’ala akan bershalawat kepada orang yang bershalawat kepada rasul-Nya sepuluh kali, dan dzikir Allah kepada hamba lebih agung daripada kebaikan yang dilipatgandakan, dan yang membenarkan hal itu adalah bahwa Allah Ta’ala tidak menjadikan balasan dzikir-Nya kecuali dzikir-Nya, dan demikian juga Dia menjadikan balasan dzikir nabi-Nya adalah dzikir orang yang mendzikir-Nya.”

Al-Iraqi berkata: Dan tidak terbatas pada itu saja bahkan ditambah dengan penulisan sepuluh kebaikan, penghapusan sepuluh keburukan, dan pengangkatan sepuluh derajat, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hinaalah hidung seorang laki-laki yang aku disebutkan di hadapannya tetapi ia tidak bershalawat kepadaku, dan hinaalah hidung seorang laki-laki yang mendapati kedua orang tuanya dalam keadaan tua di sisinya tetapi keduanya tidak memasukkannya ke surga, dan hinaalah hidung seorang laki-laki yang memasuki bulan Ramadhan kemudian berlalu sebelum diampuni untuknya.”

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling menyampaikan kepadaku salam dari umatku.”

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa bershalawat kepadaku atau memintakan wasilah untukku, maka wajib bagiku syafaat kepadanya di hari kiamat.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah suatu kaum duduk dalam majlis yang mereka tidak berdzikir kepada Allah dan tidak bershalawat kepada nabi mereka shallallahu ‘alaihi wa sallam, melainkan majlis mereka itu menjadi penyesalan bagi mereka di hari kiamat, jika Allah kehendaki Dia mengampuni mereka dan jika Dia kehendaki Dia menghukum mereka.”

Disunahkan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Jumat berdasarkan hadits Aus bin Aus radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Di antara hari-hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia diwafatkan, pada hari itu ditiup sangkakala, dan pada hari itu terjadi kematian mendadak, maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu karena shalawat kalian diperlihatkan kepadaku.” Mereka bertanya: “Ya Rasulullah, bagaimana shalawat kami diperlihatkan kepadamu sedangkan engkau telah hancur?” yaitu telah lapuk? Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengharamkan bumi memakan jasad para nabi.”

Lafaz Shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Dari Ibnu Mas’ud Al-Anshari, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada kami sementara kami berada dalam majlis Sa’d bin Ubadah, maka Basyir bin Sa’d berkata kepadanya: Allah memerintahkan kami untuk bershalawat kepadamu ya Rasulullah, maka bagaimana kami bershalawat kepadamu? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terdiam hingga kami berharap ia tidak menanyakannya, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Katakanlah: ‘Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama shallaita ‘ala ali Ibrahim, wa barik ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali Muhammad, kama barakta ‘ala ali Ibrahim fil ‘alamina, innaka hamidun majid, was-salamu kama qad ‘alimtum’ (Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan shalawat kepada keluarga Ibrahim, dan berikanlah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan berkah kepada keluarga Ibrahim di seluruh alam, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia, dan salam sebagaimana telah kalian ketahui).”

5. Qiyamul Lail (Shalat Malam)

Ayat-ayat tentang keutamaan qiyamul lail:

Allah Ta’ala berfirman: “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di waktu pagi mereka memohon ampun.” (QS. Adz-Dzariyat: 17-18). Dan ini dalam sifat orang-orang yang berbuat baik.

Dari Qatadah dan Mujahid, keduanya berkata: Mereka tidak tidur semalaman sampai pagi.

Dari Ibnu Abbas: Tidak berlalu malam bagi mereka kecuali mereka mengambil sesuatu darinya.

Allah Ta’ala berfirman dalam sifat hamba-hamba Ar-Rahman: “Dan orang-orang yang bermalam hari dengan sujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (QS. Al-Furqan: 64)

Allah Ta’ala menyebutkan ibadah yang mulia ini kemudian menyusul dengan balasannya, Allah Ta’ala berfirman: “Lambung mereka jauh dari tempat tidur mereka, mereka berdoa kepada Rabb mereka dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka.” (QS. As-Sajdah: 16)

Kemudian menyusul dengan firman-Nya Ta’ala: “Maka tak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17)

Dan ketika mereka menyembunyikan amal dan berselimut dengan kegelapan malam, Allah Azza wa Jalla menyembunyikan untuk mereka pahala.

Hadits-hadits:

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalat yang paling utama setelah yang fardhu adalah qiyamul lail.”

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat antara selesai dari shalat Isya sampai Fajar sebelas rakaat, salam di antara setiap dua rakaat dan witir dengan satu rakaat.”

Dalam hadits disebutkan bahwa ada seorang laki-laki yang tidur sepanjang malam sampai pagi, maka dikatakan shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Itu adalah laki-laki yang syetan kencing di kedua telinganya.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Syetan mengikat tengkuk salah seorang kalian ketika ia tidur dengan tiga ikatan, ia memukul tempat setiap ikatan: ‘Kamu masih punya malam yang panjang, maka tidurlah.’ Jika ia bangun dan berdzikir kepada Allah Ta’ala terlepas satu ikatan, jika ia berwudhu terlepas satu ikatan, jika ia shalat terlepas satu ikatan, maka ia akan pagi dalam keadaan giat dan hati yang baik, jika tidak maka ia akan pagi dalam keadaan hati yang buruk dan malas.”

Atsar-atsar:

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu jika mata-mata telah tenang, ia berdiri dan terdengar darinya suara seperti suara lebah sampai pagi.

Dikatakan kepada Hasan: “Mengapa orang-orang yang shalat malam paling bagus wajahnya di antara manusia?” Ia berkata: “Karena mereka berduaan dengan Ar-Rahman maka Dia memakaikan kepada mereka cahaya dari cahaya-Nya.”

Dan ia berkata: “Sesungguhnya seseorang berbuat dosa sehingga ia terhalang dari qiyamul lail karenanya.”

Seorang laki-laki berkata kepada salah seorang orang shalih: “Aku tidak mampu qiyamul lail, maka berilah aku obat.” Ia berkata: “Jangan bermaksiat kepada-Nya di siang hari maka Dia akan membangunkanmu di hadapan-Nya di malam hari.” Diriwayatkan dari Sufyan Ats-Tsauri bahwa ia berkata: “Aku terhalang dari qiyamul lail selama lima bulan karena dosa yang aku perbuat.”

Ibnu Mubarak berkata: Ketika malam gelap mereka berjuang menghadapinya, Maka fajar menyingkap mereka sedang mereka tidur Ketakutan mengusir tidur mereka maka mereka bangun, Sedangkan orang-orang yang aman di dunia sedang tidur

Abu Sulaiman berkata: “Ahli malam dalam malam mereka lebih nikmat daripada ahli kesenangan dalam kesenangan mereka, dan kalau bukan karena malam, aku tidak akan suka tinggal di dunia.”

Ibnu Munkadir berkata: “Yang tersisa dari kenikmatan dunia hanya tiga: qiyamul lail, bertemu saudara-saudara, dan shalat berjamaah.”

 

 

  1. Zuhud di Dunia dan Penjelasan tentang Kekecilan (hina)nya

Zuhud adalah: berpaling dari sesuatu kepada apa yang lebih baik darinya. Adapun ilmu yang berbuah pada keadaan ini adalah ilmu tentang kehinaan yang ditinggalkan dibandingkan dengan yang diambil. Maka barangsiapa yang tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah itu kekal, dan bahwa akhirat lebih baik dan lebih kekal sebagaimana permata lebih baik dan lebih kekal daripada es, maka dunia seperti es yang diletakkan di bawah matahari yang senantiasa dalam pencairan menuju kehancuran, dan akhirat seperti permata yang tidak ada kemusnahannya. Sesuai dengan keyakinan terhadap perbedaan antara dunia dan akhirat akan kuat keinginan dalam jual beli. Al-Quran telah memuji zuhud di dunia dan mencela keinginan kepadanya.

Allah Ta’ala berfirman: “Bahkan kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 16-17)

Allah Ta’ala berfirman: “Kamu menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat.” (QS. Al-Anfal: 67)

Allah Ta’ala berfirman: “Dan mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (QS. Ar-Ra’d: 26)

Hadits-hadits tentang celaan dunia dan penjelasan kehinaannya di sisi Allah sangat banyak sekali.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati pasar sedangkan orang-orang berada di kedua sisinya, maka beliau melewati anak kambing yang mati berwarna putih keabu-abuan lalu mengambilnya dan memegang telinganya, maka beliau bersabda: “Siapa di antara kalian yang suka bahwa ini miliknya dengan satu dirham?” Mereka berkata: “Kami tidak suka ini menjadi milik kami dengan sesuatu apa pun dan apa yang akan kami lakukan dengannya?” Beliau berkata: “Apakah kalian suka bahwa itu milik kalian?” Mereka berkata: “Demi Allah, kalau ia hidup pun sudah cacat karena ia berwarna putih keabu-abuan, bagaimana lagi kalau ia sudah mati?” Maka beliau bersabda: “Demi Allah, dunia lebih hina di sisi Allah daripada ini di sisi kalian.”

Dari Al-Mustaurid bin Syaddad Al-Fahri dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidaklah dunia di akhirat kecuali seperti salah seorang kalian memasukkan jarinya ke laut, maka hendaklah ia melihat apa yang kembali (di jarinya).”

Dari Sahl bin Sa’d dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Jika dunia sebanding di sisi Allah dengan sayap nyamuk, niscaya Dia tidak akan memberi minum seorang kafir pun darinya seteguk air.”

Zuhud adalah: berpaling dari sesuatu karena menganggapnya sedikit, meremehkannya, dan tingginya cita-cita darinya. Dikatakan: sesuatu yang zuhud yaitu sedikit dan hina.

Yunus bin Maisarah berkata: “Zuhud di dunia bukanlah mengharamkan yang halal, dan bukan pula menyia-nyiakan harta, tetapi zuhud di dunia adalah engkau lebih yakin dengan apa yang ada di tangan Allah daripada yang ada di tanganmu, dan keadaanmu ketika ditimpa musibah sama dengan keadaanmu ketika tidak ditimpa musibah, dan orang yang memujimu dan yang mencacimu dalam kebenaran sama saja.”

Maka ia menafsirkan zuhud di dunia dengan tiga hal yang semuanya dari amal hati bukan dari amal anggota badan, dan karena itulah Abu Sulaiman berkata: “Jangan bersaksi untuk seseorang dengan zuhud.”

Pertama: hendaknya hamba lebih yakin dengan apa yang ada di tangan Allah daripada yang ada di tangan dirinya, dan ini timbul dari kebenaran dan kekuatan keyakinan. Dikatakan kepada Abu Hazim Az-Zahid: “Apa hartamu?” Ia berkata: “Dua harta yang aku tidak takut kemiskinan bersamanya: kepercayaan kepada Allah, dan berputus asa dari apa yang ada di tangan orang-orang.”

Dikatakan kepadanya: “Tidakkah engkau takut miskin?” Ia berkata: “Apakah aku takut miskin sedangkan Tuanku memiliki apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah?”

Al-Fudhail berkata: “Pokok zuhud adalah ridha kepada Allah Azza wa Jalla.”

Dan ia berkata: “Orang yang qana’ah adalah zahid, dan ia adalah kaya.” Maka barangsiapa yang membenarkan keyakinan, ia akan percaya kepada Allah dalam semua urusannya, ridha dengan pengaturan-Nya untuknya, dan terputus dari bergantung kepada makhluk dengan harap dan takut, dan hal itu membuatnya tidak menuntut dunia dengan sebab-sebab yang dibenci. Barangsiapa yang demikian maka ia zahid yang sejati, dan ia termasuk orang yang paling kaya, meskipun ia tidak memiliki sesuatu pun dari dunia, sebagaimana Ammar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Cukup kematian sebagai pengingat, cukup keyakinan sebagai kekayaan, dan cukup ibadah sebagai kesibukan.”

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Keyakinan adalah engkau tidak memuaskan orang-orang dengan murka Allah, tidak iri kepada seseorang atas rezeki Allah, dan tidak menyalahkan seseorang atas apa yang tidak Allah berikan kepadamu, karena rezeki Allah tidak didatangkan oleh keserakahan orang yang serakah, dan tidak ditolak oleh kebencian orang yang benci. Sesungguhnya Allah dengan keadilan, ilmu, dan hikmah-Nya, menjadikan ketenangan dan kegembiraan dalam keyakinan dan ridha, dan menjadikan kesedihan dan kedukaan dalam murka dan keraguan.”

Kedua: hendaknya hamba ketika ditimpa musibah dalam dunianya, seperti hilangnya harta, atau anak, atau lainnya, lebih menginginkan pahala itu daripada apa yang hilang darinya dari dunia jika itu kekal untuknya, dan ini juga timbul dari kesempurnaan keyakinan.

Ali karramallahu wajhah berkata: “Barangsiapa zuhud di dunia, musibah-musibah menjadi ringan baginya.”

Sebagian salaf berkata: “Kalau bukan karena musibah-musibah dunia, niscaya kami akan datang ke akhirat sebagai orang-orang yang bangkrut.”

Yang ketiga: Hendaknya seorang hamba menyamakan antara orang yang memujinya dan yang mencela dalam kebenaran. Apabila dunia telah besar dalam hati seorang hamba, dia akan memilih pujian dan membenci celaan, bahkan hal itu terkadang mendorongnya meninggalkan banyak kebenaran karena takut dicela, atau melakukan banyak kebatilan dengan harapan mendapat pujian.

Barang siapa yang menyamakan antara orang yang memujinya dan yang mencelakannya dalam kebenaran, hal itu menunjukkan bahwa kedudukan makhluk telah jatuh dari hatinya dan hatinya dipenuhi dengan cinta kebenaran dan hal-hal yang mendatangkan ridha Tuhannya. Sebagaimana Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Keyakinan adalah tidak menyenangkan manusia dengan murka Allah.”

Allah Azza wa Jalla telah memuji orang-orang yang berjihad di jalan-Nya dan tidak takut celaan orang yang mencela. Telah diriwayatkan dari para salaf berbagai riwayat lain dalam menafsirkan zuhud.

Al-Hasan berkata: “Orang yang zuhud adalah yang ketika melihat seseorang berkata: ‘Dia lebih zuhud dariku’.” Seseorang ditanya – saya kira Imam Ahmad – tentang orang yang memiliki harta, apakah dia bisa menjadi zuhud? Dia menjawab: “Jika dia tidak bergembira dengan bertambahnya harta dan tidak bersedih dengan berkurangnya, maka dia zuhud.”

Ibrahim bin Adham berkata: “Zuhud terbagi menjadi tiga bagian: zuhud wajib, zuhud keutamaan, dan zuhud keselamatan.”

Adapun zuhud wajib: yaitu zuhud terhadap yang haram. Zuhud keutamaan: yaitu zuhud terhadap yang halal. Zuhud keselamatan: yaitu zuhud terhadap yang syubhat.

Setiap orang yang menjual dunia untuk akhirat, maka dia zuhud terhadap dunia. Dan setiap orang yang menjual akhirat untuk dunia, maka dia juga zuhud, tetapi terhadap akhirat.

Seorang laki-laki berkata kepada salah seorang yang saleh: “Aku tidak melihat orang yang lebih zuhud darimu.” Dia menjawab: “Kamu lebih zuhud dariku. Aku zuhud terhadap dunia yang tidak kekal dan tidak setia, sedangkan kamu zuhud terhadap akhirat. Siapa yang lebih zuhud darimu?”

Tetapi kebiasaan berlaku untuk mengkhususkan nama zuhud kepada zuhud terhadap dunia. Zuhud itu terhadap sesuatu yang mampu diperoleh. Karena itu dikatakan kepada Ibnu Mubarak: “Wahai orang yang zuhud!” Dia berkata: “Yang zuhud adalah Umar bin Abdul Aziz, ketika dunia datang kepadanya dengan tunduk lalu dia meninggalkannya. Adapun aku, dalam hal apa aku zuhud?”

Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Aku mendapati kaum-kaum dan bergaul dengan kelompok-kelompok yang tidak bergembira dengan sesuatu dari dunia yang datang, dan tidak menyesal atas sesuatu darinya yang pergi. Dunia itu dalam pandangan mereka lebih hina dari debu. Salah seorang dari mereka hidup lima puluh atau enam puluh tahun, pakaiannya tidak pernah dilipat, periuknya tidak pernah dipasang, tidak ada pembatas antara dirinya dengan tanah, dan tidak pernah menyuruh orang di rumahnya membuat makanan. Jika malam tiba, mereka berdiri dengan kaki mereka, menjadikan wajah mereka sebagai hamparan, air mata mengalir di pipi mereka, bermunajat kepada Tuhan mereka untuk membebaskan leher mereka. Jika mereka melakukan kebaikan, mereka tekun bersyukur atasnya dan memohon kepada Allah agar diterima. Jika melakukan keburukan, hal itu menyedihkan mereka dan memohon kepada Allah agar diampuni. Mereka terus seperti itu. Demi Allah, mereka tidak selamat dari dosa dan tidak terlepas kecuali dengan pengampunan. Maka rahmat Allah atas mereka dan ridha-Nya.”

Tingkatan-tingkatan Zuhud

Tingkatan Pertama: Yaitu orang yang zuhud terhadap dunia padahal dia menginginkannya, hatinya condong kepadanya, dan jiwanya tertarik kepadanya, tetapi dia mujahidah (berjuang melawan) nafsunya dan menahan diri. Ini disebut: mutazahhid (orang yang berusaha zuhud).

Tingkatan Kedua: Yaitu orang yang meninggalkan dunia dengan sukarela karena meremehkannya dibandingkan dengan apa yang dia harapkan, tetapi dia melihat zuhudnya dan memperhatikannya, seperti orang yang meninggalkan satu dirham demi dua dirham.

Tingkatan Ketiga: Yaitu orang yang zuhud terhadap dunia dengan sukarela dan zuhud terhadap zuhudnya, sehingga dia tidak melihat bahwa dia meninggalkan sesuatu. Dia seperti orang yang meninggalkan pecahan keramik dan mengambil permata. Pemilik tingkatan ini diumpamakan seperti orang yang dicegah masuk menemui raja oleh anjing di pintunya, lalu dia melemparkan sepotong roti kepadanya sehingga anjing itu sibuk dengannya, kemudian dia masuk menemui raja dan memperoleh kedekatan dengannya. Syetan adalah anjing di pintu Allah Azza wa Jalla yang menghalangi manusia masuk, padahal pintu terbuka dan hijab terangkat. Dunia seperti sepotong makanan. Barang siapa yang meninggalkannya untuk meraih kemuliaan sang Raja, bagaimana dia akan memperhatikannya.

Celaan terhadap Dunia

Ketahuilah bahwa celaan yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah bukan kembali kepada waktu dunia yaitu malam dan siang yang bergantian sampai hari kiamat, karena Allah Azza wa Jalla menjadikan keduanya bergantian bagi siapa yang ingin mengingat atau ingin bersyukur.

Dalam hadis disebutkan: “Sesungguhnya malam dan siang ini adalah dua perbendaharaan, maka perhatikanlah apa yang kalian lakukan di dalamnya.”

Mujahid berkata: “Tidak ada hari kecuali dia berkata: ‘Wahai anak Adam, aku telah masuk atasmu hari ini dan tidak akan kembali kepadamu setelah hari ini. Maka lihatlah apa yang kamu kerjakan padaku. Jika telah berlalu, aku dilipat, kemudian disegel dan tidak dibuka sampai Allah yang memutuskannya pada hari kiamat’.”

Seseorang membaca syair: “Sesungguhnya dunia kepada surga dan neraka adalah jalan, Malam-malam adalah toko dagang manusia dan hari-hari adalah pasar.”

Waktu adalah modal pokok seorang hamba. Telah sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barang siapa yang mengucapkan: Subhanallahi wa bihamdihi, ditanamlah baginya sebatang kurma di surga.”

Maka lihatlah orang yang menyia-nyiakan waktu, betapa banyak pohon kurma yang terlewatkan darinya.

Salah seorang yang saleh, jika orang-orang terlalu lama duduk di sisinya, dia berkata: “Tidakkah kalian ingin berdiri? Sesungguhnya malaikat matahari menariknya tanpa lelah.”

Seorang laki-laki berkata kepada salah seorang ulama: “Berhentilah, aku ingin berbicara denganmu.” Dia menjawab: “Hentikanlah matahari.”

Demikian juga, celaan dunia bukan kembali kepada tempat dunia yaitu bumi dan apa yang disimpan di dalamnya berupa gunung-gunung, lautan, sungai-sungai, dan tambang-tambang, karena semua itu adalah nikmat Allah kepada hamba-hamba-Nya untuk kemaslahatan mereka di dalamnya, untuk pelajaran, dan dalil atas keesaan Sang Pencipta Subhanahu, kekuasaan dan keagungan-Nya.

Sesungguhnya celaan itu kembali kepada perbuatan-perbuatan anak Adam yang terjadi di dunia, karena kebanyakannya terjadi tidak sesuai dengan cara yang dipuji akibatnya, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla: “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba memperbanyak harta dan anak.” (Surat Al-Hadid, ayat 20)

Anak Adam terbagi dalam dunia menjadi dua bagian:

Pertama: Orang yang mengingkari bahwa para hamba memiliki tempat tinggal setelah dunia untuk pahala dan hukuman. Mereka inilah yang Allah firmankan tentang mereka: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengannya dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (Surat Yunus, ayat 7-8)

Mereka ini perhatiannya adalah bersenang-senang di dunia dan meraih kenikmatannya sebelum mati, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang dan mereka makan seperti makannya binatang ternak dan neraka adalah tempat mereka.” (Surat Muhammad, ayat 12)

Bagian kedua: Orang yang mengakui adanya tempat tinggal setelah mati untuk pahala dan hukuman. Mereka adalah orang-orang yang menisbatkan diri kepada para rasul. Mereka terbagi menjadi tiga bagian: yang zalim terhadap dirinya, yang pertengahan, dan yang terdepan dalam kebaikan dengan izin Allah.

Yang zalim terhadap dirinya: Mereka adalah yang paling banyak. Kebanyakan mereka terpaku dengan kemegahan dan perhiasan dunia, mengambilnya bukan dari jalurnya dan menggunakannya bukan pada jalurnya. Dunia menjadi perhatian terbesarnya, karenanya dia ridha dan karenanya dia marah, untuknya dia bersahabat dan karenanya dia bermusuhan. Mereka inilah ahli permainan, senda gurau, dan perhiasan. Meski mereka beriman kepada akhirat dengan iman global, mereka tidak mengetahui maksud dari dunia dan bahwa dunia adalah tempat singgah untuk berbekal bagi kehidupan setelahnya.

Yang pertengahan: Yaitu orang yang mengambil dunia dari jalan-jalan yang dibolehkan, menunaikan kewajibannya, dan menyisakan untuk dirinya yang lebih dari kewajiban untuk bersenang-senang dengan syahwat dunia. Mereka ini tidak ada hukuman atasnya dalam hal itu, hanya saja mengurangi derajat mereka. Sebagaimana Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Seandainya tidak mengurangi kebaikanku, niscaya aku akan menyelisihi kalian dalam kelembutan hidup kalian. Tetapi aku mendengar Allah mencela suatu kaum, maka Dia berfirman: ‘Kamu telah menghabiskan rezeki yang baik dalam kehidupan duniawimu dan kamu telah bersenang-senang dengannya.'” (Surat Al-Ahqaf, ayat 20)

Adapun yang terdepan dalam kebaikan dengan izin Allah: Mereka adalah orang-orang yang memahami maksud dari dunia dan beramal sesuai dengan tuntutannya. Mereka mengetahui bahwa Allah hanya menempatkan hamba-hamba-Nya di rumah ini untuk menguji mereka siapa yang paling baik amalnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (Surat Al-Kahf, ayat 7)

Maksudnya: paling zuhud terhadap dunia dan paling berminat kepada akhirat. Kemudian Allah Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (semua) yang ada di atasnya tanah yang tandus lagi rata.” (Surat Al-Kahf, ayat 8)

Maka orang-orang yang terdepan mencukupkan diri darinya dengan apa yang cukup bagi musafir dari bekal, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apa urusanku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain hanya seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon kemudian pergi dan meninggalkannya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada Ibn Umar radhiyallahu ‘anhu: “Jadilah di dunia seolah-olah kamu orang asing atau pengembara.”

Apabila seseorang yang mengambil syahwat-syahwat yang dibolehkan berniat untuk bertakwa kepada Allah, maka syahwat-syahwatnya menjadi ketaatan yang dia diberi pahala karenanya, sebagaimana Mu’adz radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya aku menghitung tidurku sebagaimana aku menghitung bangunku.”

Sa’id bin Jubair berkata: “Kesenangan yang menipu adalah apa yang melalaikanmu dari mencari akhirat. Dan apa yang tidak melalaikanmu bukanlah kesenangan yang menipu, tetapi kesenangan untuk sampai kepada yang lebih baik darinya.”

Yahya bin Mu’adz berkata: “Bagaimana aku tidak mencintai dunia yang ditakdirkan bagiku di dalamnya rezeki yang dengannya aku memperoleh kehidupan, meraih ketaatan, dan memperoleh surga.”

Abu Shafwan Ar-Ru’aini ditanya: “Apakah dunia yang dicela Allah dalam Al-Qur’an dan yang sepatutnya dihindari oleh orang berakal?” Dia menjawab: “Setiap yang kamu peroleh di dunia dan kamu menginginkan dengannya dunia, maka itu tercela. Dan setiap yang kamu peroleh darinya dan kamu menginginkan dengannya akhirat, maka itu bukan darinya.”

Al-Hasan berkata: “Sebaik-baik rumah adalah dunia bagi orang mukmin, karena dia beramal sedikit dan mengambil bekalnya darinya untuk surga. Dan seburuk-buruk rumah bagi orang kafir dan munafik, karena dia menyia-nyiakan malam-malamnya dan bekalnya darinya menuju neraka.”

Aun bin Abdullah berkata: “Dunia dan akhirat di dalam hati seperti dua timbangan, mana yang berat salah satunya akan ringan yang lain.”

Wahb berkata: “Sesungguhnya dunia dan akhirat seperti laki-laki yang memiliki dua istri. Jika dia menyenangkan salah satunya, dia akan memarahi yang lain.”

Abu Darda’ berkata: “Sungguh jika kalian bersumpah kepadaku atas seseorang bahwa dia paling zuhud di antara kalian, niscaya aku akan bersumpah kepada kalian bahwa dia paling baik di antara kalian.”

Seorang laki-laki berkata kepada para tabi’in: “Kalian lebih banyak amal daripada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi mereka lebih baik dari kalian karena mereka lebih zuhud terhadap dunia.”

Kerusakan Cinta Dunia

Cinta dunia adalah yang memakmurkan neraka dengan penghuninya, sedangkan zuhud terhadap dunia adalah yang memakmurkan surga dengan penghuninya. Mabuk karena cinta dunia lebih besar daripada mabuk karena khamar, karena pemiliknya tidak akan sadar kecuali dalam kegelapan liang kubur.

Yahya bin Mu’adz berkata: “Dunia adalah khamarnya setan, barangsiapa yang mabuk karenanya maka ia tidak akan sadar kecuali di tengah barisan orang-orang mati dalam keadaan menyesal di antara orang-orang yang merugi.” Dan yang paling ringan dari cinta dunia adalah ia melalaikan dari cinta Allah dan mengingat-Nya. Barangsiapa yang dilalaikan oleh hartanya maka ia termasuk orang-orang yang merugi. Jika hati lalai dari mengingat Allah, maka setan akan menempatinya dan mengarahkannya ke mana ia kehendaki… Dan termasuk kepandaiannya dalam kejahatan adalah ia memuaskannya dengan sebagian amal kebaikan agar ia melihat bahwa dirinya berbuat baik.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidak ada seorang pun yang bangun pagi di dunia kecuali sebagai tamu dan hartanya adalah pinjaman. Tamu akan pergi dan pinjaman akan dikembalikan.”

Para ulama mengatakan: Sesungguhnya cinta dunia menjadi pangkal segala dosa dan merusak agama dari beberapa segi:

Pertama: Cinta dunia menuntut untuk memuliakan dunia padahal dunia hina di sisi Allah, dan termasuk dosa besar adalah memuliakan apa yang dihina oleh Allah.

Kedua: Allah melaknat, membenci, dan tidak menyukainya, kecuali apa yang menjadi milik-Nya di dalamnya. Barangsiapa mencintai apa yang dilaknat, dibenci, dan tidak disukai Allah, maka ia telah menghadapi fitnah, kebencian, dan murka-Nya.

Ketiga: Jika seseorang mencintai dunia, ia menjadikannya sebagai tujuan dan menggunakan amal-amal yang dijadikan Allah sebagai wasilah kepada-Nya dan kepada negeri akhirat untuk mencapai dunia. Maka ia telah membalik perkara dan memutar balik hikmah. Di sini ada dua perkara: pertama, menjadikan wasilah sebagai tujuan; kedua, menggunakan amal akhirat sebagai wasilah untuk dunia. Ini adalah keburukan yang terbalik dari segala segi dan hati yang terbalik dengan kemunduran yang sangat. Inilah yang sesuai dengan firman Allah Ta’ala: “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, Kami berikan balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh apa-apa di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Surat Hud: 15-16)

Hadis-hadis tentang hal ini banyak, di antaranya hadis Abu Hurairah tentang tiga orang yang pertama kali dijadikan bahan bakar neraka: orang yang berperang, orang yang bersedekah, dan orang yang membaca Al-Qur’an, yang menginginkan dengan amal-amal tersebut kehidupan dunia dan bagian duniawi. Hadis ini diriwayatkan Muslim.

Lihatlah bagaimana cinta dunia telah menghalangi mereka dari pahala, merusak amal mereka, dan menjadikan mereka sebagai orang pertama yang masuk neraka.

Keempat: Cinta dunia menghalangi antara hamba dengan melakukan apa yang akan bermanfaat baginya di akhirat karena kesibukan dengan yang dicintainya. Manusia dalam hal ini memiliki tingkatan: di antara mereka ada yang disibukkan oleh yang dicintainya dari iman dan syariat-syariatnya; di antara mereka ada yang disibukkan oleh cinta dunia dari banyak kewajiban; di antara mereka ada yang disibukkan dari kewajiban yang bertentangan dengan mendapatkan dunia meskipun ia melaksanakan yang lain; di antara mereka ada yang disibukkan dari melaksanakan kewajiban pada waktu yang semestinya dengan cara yang semestinya, sehingga ia berlebihan dalam waktunya dan hak-haknya; di antara mereka ada yang disibukkan dari pengabdian hatinya dalam kewajiban dan mengosongkannya untuk Allah ketika melaksanakannya, sehingga ia melaksanakannya secara lahir bukan batin. Di mana hal ini dari para pencinta dan pecinta dunia? Ini termasuk yang paling langka di antara mereka. Tingkat paling rendah dari cinta dunia adalah menyibukkan dari kebahagiaan hamba, yaitu mengosongkan hati untuk cinta Allah, lisannya untuk mengingat-Nya, mengumpulkan hatinya pada lisannya, dan mengumpulkan lisannya dan hatinya pada Tuhannya. Cinta dan kecintaan terhadap dunia pasti akan merugikan akhirat, sebagaimana cinta akhirat akan merugikan dunia.

Kelima: Cinta dunia menjadikannya sebagai perhatian terbesar hamba. Tirmidzi meriwayatkan dari hadis Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang akhirat menjadi perhatiannya, Allah akan menjadikan kekayaan di hatinya, mengumpulkan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina. Barangsiapa yang dunia menjadi perhatiannya, Allah akan menjadikan kemiskinan di antara kedua matanya, mencerai-beraikan urusannya, dan tidak akan datang kepadanya dari dunia kecuali apa yang telah ditakdirkan untuknya.”

Keenam: Pencinta dunia adalah orang yang paling keras siksaannya karenanya. Ia disiksa dalam tiga fase: disiksa di dunia dengan mengumpulkannya, berusaha mencarinya, dan berselisih dengan para pencarinya; di alam barzakh karena kehilangannya dan penyesalan karenanya, serta terhalang dari yang dicintainya dengan cara yang tidak membuatnya berharap akan bertemu dengannya lagi, dan tidak mendapat yang dicintai di sana yang dapat menggantikannya. Inilah orang yang paling keras siksaannya di kuburnya. Kegelisahan, kesedihan, kepedihan, dan penyesalan bekerja pada rohnya seperti cacing dan hewan tanah bekerja pada jasadnya.

Yang dimaksud: bahwa pencinta dunia disiksa di kuburnya dan disiksa pada hari bertemu Tuhannya. Allah Ta’ala berfirman: “Maka janganlah harta dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki agar dengan harta dan anak-anak itu Dia menyiksa mereka dalam kehidupan dunia dan agar jiwa mereka melayang sedang mereka dalam keadaan kafir.” (Surat At-Taubah: 55)

Sebagian salaf berkata: “Dia menyiksa mereka dengan mengumpulkannya, dan jiwa mereka melayang karena cintanya, sedang mereka kafir karena menahan hak Allah padanya.”

Ketujuh: Pencinta dan pecinta dunia yang mengutamakannya atas akhirat adalah orang yang paling bodoh dan paling sedikit akalnya, karena ia mengutamakan khayalan atas kenyataan, mimpi atas terjaga, bayangan yang hilang atas kenikmatan yang kekal, rumah yang fana atas rumah yang kekal, dan menjual kehidupan abadi dalam kehidupan yang paling sejahtera dengan kehidupan yang hanyalah mimpi tidur atau seperti bayangan yang hilang. Orang yang berakal tidak akan tertipu dengan hal semacam itu. Sebagian salaf sering mengutip syair ini:

Wahai ahli kenikmatan dunia yang tidak kekal… Sesungguhnya tertipu dengan bayangan yang hilang adalah kebodohan

Yunus bin Abdul A’la berkata: “Aku tidak menyerupakan dunia kecuali seperti orang yang tidur lalu melihat dalam mimpinya apa yang ia benci dan apa yang ia cintai, sementara ia dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba ia terbangun.”

Yang paling mirip dengan dunia adalah bayangan. Kamu menyangka ia memiliki kenyataan yang tetap padahal ia dalam kemunduran dan penyusutan. Kamu mengikutinya untuk meraihnya tapi tidak mengejarnya. Yang paling mirip dengannya adalah fatamorgana yang disangka orang yang kehausan sebagai air, hingga ketika ia datang kepadanya, ia tidak mendapatinya sebagai sesuatu, dan mendapati Allah di sisinya lalu Dia memberikan perhitungan kepadanya, dan Allah Maha Cepat perhitungan-Nya. Yang paling mirip dengannya adalah nenek tua yang buruk rupa, jelek pemandangan dan karakternya, pengkhianat terhadap suami-suami, yang berhias untuk para pelamar dengan segala perhiasan dan menutupi segala keburukan. Maka tertipu dengannya orang yang pandangannya tidak melampaui lahirnya, lalu ia meminta untuk menikah. Nenek itu berkata: “Tidak ada mahar kecuali kehilangan akhirat, karena kami adalah madu, dan pertemuan kami tidak diizinkan dan tidak dihalalkan.” Maka para pelamar mengutamakan yang segera, dan berkata: “Tidak ada dosa bagi orang yang berhubungan dengan kekasihnya.” Ketika ia menyingkap kerudungnya dan membuka kain penutupnya, ternyata setiap bencana dan musibah. Di antara mereka ada yang bercerai dan lega, dan di antara mereka ada yang memilih untuk tinggal, maka tidak sempurna malam pengantinnya kecuali dengan tangisan dan jeritan.

Demi Allah, sungguh penyeru dunia telah mengumandangkan di atas kepala makhluk dengan panggilan selain keberuntungan. Maka berdirilah orang-orang yang bersungguh-sungguh dan orang-orang yang shalat untuknya, lalu mereka berhubungan dalam mencarinya pagi dan sore, dan berjalan di malam hari. Kaum itu tidak terpuji perjalanannya ketika pagi. Mereka terbang dalam berburunya, maka tidak ada seorang pun dari mereka yang kembali kecuali dalam keadaan patah sayap. Mereka terjatuh dalam jeratnya, lalu ia menyerahkan mereka kepada penyembelih.

 

 

7 – Keadaan-Keadaan Jiwa dan Perhitungannya

Para pejalan menuju Allah sepakat meskipun berbeda jalan dan cara mereka bahwa jiwa adalah penghalang antara hati dan sampai kepada Tuhan, dan bahwa tidak ada yang masuk kepada-Nya dan tidak ada yang sampai kepada-Nya kecuali setelah mematikannya, meninggalkannya dengan menyelisihinya, dan menguasainya.

Sesungguhnya manusia terbagi dua: bagian yang dikuasai oleh jiwanya sehingga jiwa menguasai dan membinasakannya, dan ia menjadi patuh kepadanya di bawah perintah-perintahnya; dan bagian yang menguasai jiwa mereka sehingga mereka menaklukkannya dan jiwa menjadi patuh kepada mereka, tunduk pada perintah mereka.

Sebagian orang arif berkata: Berakhirnya perjalanan para pencari adalah pada penguasaan jiwa mereka. Barangsiapa yang menguasai jiwanya maka ia beruntung dan berhasil, dan barangsiapa yang dikuasai oleh jiwanya maka ia rugi dan binasa. Allah Ta’ala berfirman: “Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sungguh nerakalah tempat tinggalnya. Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan jiwa dari keinginan hawa nafsu, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” (Surat An-Nazi’at: 37-41)

Jiwa mengajak kepada kedurhakaan dan mengutamakan kehidupan dunia, sedangkan Tuhan mengajak hamba-Nya untuk takut kepada-Nya dan menahan jiwa dari hawa nafsu. Hati berada di antara dua pengajak, condong kepada pengajak ini suatu waktu dan kepada yang ini di waktu lain. Inilah tempat ujian dan cobaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menggambarkan jiwa dalam Al-Qur’an dengan tiga sifat: yang tenang, yang mencela, dan yang selalu menyuruh kepada kejahatan. Manusia berbeda pendapat: apakah jiwa itu satu dan ini adalah sifat-sifatnya, ataukah hamba memiliki tiga jiwa?

Yang pertama adalah pendapat para fuqaha dan mufassir, yang kedua adalah pendapat banyak ahli tasawuf. Kebenaran adalah bahwa tidak ada perselisihan antara kedua kelompok, karena jiwa itu satu dari segi zatnya dan tiga dari segi sifat-sifatnya.

Jiwa yang Tenang

Jika jiwa tenang kepada Allah Azza wa Jalla dan tenteram dengan mengingat-Nya, kembali kepada-Nya, rindu untuk bertemu-Nya, dan senang dengan kedekatan-Nya, maka ia adalah jiwa yang tenang. Inilah yang dikatakan kepadanya ketika wafat: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.” (Surat Al-Fajr: 27-28)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: yang tenang adalah yang membenarkan. Qatadah berkata: ia adalah orang mukmin yang jiwanya tenang kepada apa yang dijanjikan Allah. Pemiliknya tenang dalam pintu mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah kepada berita yang diberitakan-Nya tentang diri-Nya dan yang diberitakan oleh rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian ia tenang kepada berita-Nya tentang apa yang setelah kematian dari perkara-perkara barzakh dan apa yang setelahnya dari keadaan-keadaan kiamat hingga seolah-olah ia menyaksikan semua itu dengan mata kepala. Kemudian ia tenang kepada takdir Allah Azza wa Jalla lalu berserah kepada-Nya dan ridha, maka ia tidak marah, tidak mengeluh, dan tidak goyah imannya. Ia tidak bersedih atas apa yang terlewatkan dan tidak bergembira dengan apa yang diberikan kepadanya, karena musibah itu sudah ditakdirkan sebelum sampai kepadanya dan sebelum ia diciptakan. Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Barangsiapa beriman kepada Allah, Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (Surat At-Taghabun: 11)

Beberapa salaf berkata: ia adalah hamba yang ditimpa musibah lalu mengetahui bahwa itu dari sisi Allah maka ia ridha dan berserah.

Adapun ketenangan ihsan adalah ketenangan kepada perintah-Nya dengan melaksanakan, ikhlas, dan nasihat. Ia tidak mendahulukan perintah-Nya dengan keinginan, hawa nafsu, atau taqlid. Ia tidak berdiam dengan syubhat yang menentang berita-Nya atau syahwat yang menentang perintah-Nya. Bahkan jika hal itu melewatinya, ia menempatkannya pada posisi was-was yang jika ia jatuh dari langit ke bumi lebih ia cintai daripada mendapatinya. Inilah sebagaimana yang dikatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Iman yang murni.” Demikian juga ia tenang dari kegelisahan maksiat dan keresahannya kepada ketenangan taubat dan manisnya.

Jika ia tenang dari keraguan kepada keyakinan, dari kebodohan kepada ilmu, dari kelalaian kepada dzikir, dari khianat kepada taubat, dari riya kepada ikhlas, dari dusta kepada jujur, dari kelemahan kepada kecerdasan, dari serangan ujub kepada kehinaan tawadhu, dari kesombongan kepada rendah hati, maka saat itulah jiwanya menjadi tenang.

Asal dari semua itu adalah terjaga, yang telah menyingkap kantuk kelalaian dari hatinya dan menerangi untuknya istana-istana surga, sehingga ia berteriak: “Wahai jiwa, celaka engkau, bantulah aku dengan usahamu dalam kegelapan malam-malam, mudah-mudahan engkau di hari kiamat dapat menang dengan kehidupan yang baik di tempat-tempat tinggi itu.”

Ia melihat dalam cahaya keterbangungan ini apa yang diciptakan untuknya dan apa yang akan ditemuinya di hadapan-Nya mulai dari saat kematian hingga masuk rumah ketetapan. Ia melihat cepatnya berlalunya dunia, sedikitnya kesetiaan dunia kepada anak-anaknya, dan pembunuhannya terhadap para pencintanya, serta perbuatannya kepada mereka berbagai jenis siksaan. Maka ia bangkit dalam cahaya itu dengan kaki tekadnya sambil berkata: “Aduhai sesalku atas kelalaianku terhadap (kewajiban kepada) Allah.” (Surat Az-Zumar: 56)

Ia menyambut sisa umurnya dengan berusaha mengejar yang telah terlewat, menghidupkan yang telah mati, menyambut apa yang telah didahulukannya dari kesalahan-kesalahan, memanfaatkan kesempatan kemungkinan yang jika terlewat maka terlewatlah semua kebaikan. Kemudian ia melihat dalam cahaya keterbangunan itu melimpahnya nikmat Tuhannya kepadanya, dan melihat bahwa ia putus asa untuk membatasinya dan menghitungnya, lemah untuk menunaikan haknya. Ia melihat dalam keterbangunan itu cacat-cacat jiwanya, kerusakan amalnya, dan apa yang telah didahulukannya dari kejahatan-kejahatan, keburukan-keburukan, dan ketertinggalan dari banyak hak dan kewajiban. Maka hancurlah jiwanya, khusyuk anggota tubuhnya, dan ia berjalan menuju Allah dengan menundukkan kepala di antara menyaksikan nikmat-nikmat-Nya dan melihat kejahatan-kejahatannya serta cacat jiwanya. Ia juga melihat dalam cahaya keterbangunan itu kemuliaaan waktunya dan bahayanya, dan bahwa waktu adalah modal kebahagiaannya. Maka ia kikir dengannya untuk hal yang tidak mendekatkannya kepada Tuhannya, karena dalam menyia-nyiakannya adalah kerugian dan penyesalan, dan dalam menjaganya adalah keuntungan dan kebahagiaan.

Inilah bekas-bekas keterbangungan dan yang mengharuskannya, dan inilah manzilah pertama jiwa yang tenang yang darinya timbul perjalanannya menuju Allah dan negeri akhirat.

Jiwa yang Mencela

Suatu kelompok berkata: ia adalah yang tidak tetap pada satu keadaan, maka ia banyak berubah dan berwarna-warni. Ia mengingat dan lalai, menghadap dan berpaling, mencintai dan membenci, gembira dan sedih, ridha dan marah, taat dan takwa.

Kelompok lain berkata: ia adalah jiwa orang mukmin. Hasan Al-Bashri berkata: Sesungguhnya orang mukmin tidak kamu lihat kecuali selalu mencela dirinya, berkata: “Apa yang aku inginkan ini? Mengapa aku berbuat ini? Ini lebih baik dari ini?” atau ucapan semacam itu.

Kelompok lain berkata: mencela di hari kiamat, karena setiap orang akan mencela dirinya, jika ia berbuat buruk atas keburukannya, dan jika ia berbuat baik atas kekurangannya.

Imam Ibnu Qayyim berkata: Semua ini benar.

Jiwa yang mencela ada dua jenis: yang mencela dan tercela, dan yang mencela tapi tidak tercela.

An-Nafs al-Lawwamah al-Malumah dan An-Nafs al-Lawwamah Ghair al-Malumah

An-Nafs al-Lawwamah al-Malumah (Jiwa yang Tercela dan Patut Dicela): Yaitu jiwa yang jahil dan zalim, yang dicela oleh Allah dan para malaikat-Nya.

An-Nafs al-Lawwamah Ghair al-Malumah (Jiwa yang Mencela tapi Tidak Patut Dicela): Yaitu jiwa yang senantiasa mencela pemiliknya karena kelalaiannya dalam ketaatan kepada Allah – meskipun ia telah berusaha semaksimal mungkin – maka jiwa ini tidak patut dicela. Jiwa yang paling mulia adalah yang mencela dirinya dalam ketaatan kepada Allah, dan menanggung celaan orang-orang yang mencela dalam mencari ridha Allah, sehingga ia tidak peduli dengan celaan siapa pun dalam perkara Allah. Jiwa inilah yang telah terbebas dari celaan Allah. Adapun jiwa yang merasa puas dengan amal-amalnya, tidak mencela dirinya sendiri, dan tidak mau menanggung celaan dalam perkara Allah, maka jiwa inilah yang akan dicela oleh Allah Azza wa Jalla.

An-Nafs al-Ammarah bis-Su’ (Jiwa yang Menyuruh kepada Kejahatan)

Inilah jiwa yang tercela, karena ia menyuruh kepada segala kejahatan, dan hal ini merupakan tabiatnya. Tidak seorang pun yang dapat terlepas dari kejahatannya kecuali dengan taufik dari Allah, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang mengisahkan tentang istri Al-Aziz:

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surat Yusuf: Ayat 53)

Dan Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Dan kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya.” (Surat An-Nur: sebagian dari Ayat 21)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada mereka khutbah hajat: “Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, dan memohon ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan dari keburukan amal-amal kami.”

Kejahatan itu tersembunyi dalam jiwa, dan ia mengakibatkan keburukan amal. Jika Allah membiarkan hamba dengan jiwanya sendiri, maka ia akan binasa karena kejahatan jiwa dan akibat keburukan amal yang ditimbulkannya. Namun jika Allah memberi taufik dan pertolongan kepadanya, maka ia akan selamat dari semua itu.

Maka kami memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar melindungi kami dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan dari keburukan amal-amal kami.

Kesimpulan: Sesungguhnya jiwa itu satu, yang dapat menjadi: ammarah (menyuruh kejahatan), kemudian lawwamah (mencela), kemudian muthma’innah (tenang), dan inilah puncak kesempurnaan dan kebaikannya.

An-Nafs al-Muthma’innah (Jiwa yang Tenang) memiliki malaikat sebagai temannya yang mengaturnya, membimbingnya, melontarkan kebenaran ke dalamnya, membuatnya tertarik kepada kebenaran, menunjukkan keindahan kebenaran, mencegahnya dari kebatilan, membuatnya benci kepada kebatilan, dan menunjukkan keburukan kebatilan. Secara keseluruhan, apa yang untuk Allah dan dengan Allah, itulah yang berasal dari An-Nafs al-Muthma’innah.

Adapun An-Nafs al-Ammarah, maka setan dijadikan sebagai temannya dan sahabat yang mengaturnya. Setan memberi janji-janji palsu, memberikan angan-angan kosong, melontarkan kebatilan ke dalamnya, menyuruhnya berbuat jahat, menghiasi kejahatan, menanamkan harapan panjang, dan menampilkan kebatilan dalam bentuk yang dapat diterima dan dipandang baik oleh jiwa.

An-Nafs al-Muthma’innah dan malaikat menuntut dari jiwa yang tenang: tauhid, ihsan, kebaikan, takwa, tawakal, taubat, kembali kepada Allah, menghadap kepada Allah, memendekkan angan-angan, dan bersiap-siap menghadapi kematian dan apa yang setelahnya.

Setan dan tentaranya dari kalangan kafir menuntut dari An-Nafs al-Ammarah hal yang sebaliknya. Perkara yang paling sulit bagi An-Nafs al-Muthma’innah adalah membersihkan amal-amal dari setan dan dari An-Nafs al-Ammarah. Seandainya satu amal saja sampai (diterima Allah), niscaya hamba akan selamat dengannya. Namun An-Nafs al-Ammarah dan setan tidak mau membiarkan satu pun amalnya sampai kepada Allah.

Sebagaimana dikatakan oleh salah seorang yang mengenal Allah dan dirinya sendiri: “Demi Allah, seandainya aku tahu bahwa aku memiliki satu amal yang sampai kepada Allah, niscaya aku akan lebih gembira dengan kematian daripada orang yang tidak hadir yang akan bertemu dengan keluarganya.”

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Seandainya aku tahu bahwa Allah menerima satu sujudku, tidak ada yang tidak hadir yang lebih aku cintai daripada kematian.”

An-Nafs al-Ammarah telah berdiri berhadapan dengan An-Nafs al-Muthma’innah. Setiap kali jiwa yang tenang mendatangkan kebaikan, jiwa ammarah menyainginya dan mendatangkan kejahatan yang melawannya sehingga merusaknya. Ia menampilkan hakikat jihad dalam bentuk membunuh jiwa, mengawini istri, menjadikan anak-anak yatim, dan membagi-bagi harta. Ia menampilkan hakikat zakat dan sedekah dalam bentuk berpisah dengan harta, berkurangnya harta, kosongnya tangan dari harta, membutuhkan manusia, dan menyamai orang fakir.

Muhasabah An-Nafs (Introspeksi Diri)

Tanda berkuasanya An-Nafs al-Ammarah bis-Su’ atas hati mukmin adalah melakukan muhasabah (introspeksi), memperketatnya, dan menanyainya tentang setiap perkataan dan perbuatan.

Al-Hasan berkata: “Mukmin adalah orang yang berdiri atas dirinya sendiri, ia melakukan muhasabah terhadap dirinya karena Allah. Sesungguhnya hisab pada hari kiamat menjadi ringan bagi kaum yang telah melakukan muhasabah terhadap diri mereka di dunia, dan hisab pada hari kiamat menjadi berat bagi kaum yang mengambil perkara ini tanpa muhasabah.”

Sesungguhnya mukmin tiba-tiba dihadapkan pada sesuatu yang mengagumkannya, lalu ia berkata: “Demi Allah, sungguh aku menginginkanmu, dan engkau termasuk keperluanku, tetapi demi Allah tidak ada jalan untuk mencapaimu. Jauh sekali, telah dihalangi antara aku dan kamu.” Dan apabila terjadi kelalaian darinya, ia kembali kepada dirinya dan berkata: “Apa yang aku inginkan dengan ini?! Apa urusanku dengan ini?! Demi Allah, aku tidak akan kembali kepada ini selamanya.”

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah kaum yang dihentikan oleh Al-Qur’an dan dihalangi dari kebinasaan mereka. Sesungguhnya mukmin adalah tawanan di dunia yang berusaha membebaskan lehernya, ia tidak merasa aman dari apa pun hingga bertemu dengan Allah. Ia tahu bahwa ia dituntut pertanggungjawaban atas pendengarannya, penglihatannya, lisannya, dan anggota tubuhnya – dituntut pertanggungjawaban atas semua itu.

Malik bin Dinar berkata: “Semoga Allah merahmati hamba yang berkata kepada jiwanya: ‘Bukankah engkau pelaku ini dan itu? Bukankah engkau pelaku ini dan itu?’ Kemudian ia mencela jiwanya, lalu mengekangnya, kemudian mewajibkan atasnya Kitab Allah Azza wa Jalla, sehingga menjadi pemimpin baginya.”

Maka wajib bagi orang yang bijaksana yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk tidak lalai dari muhasabah terhadap dirinya, dan memperketat pengawasan atas gerak-geriknya, diamnya, dan khayalan-khayalannya. Karena setiap napas dari umur adalah permata berharga yang dapat dibeli dengannya harta karun yang kenikmatan-nya tidak berakhir selama-lamanya. Menyia-nyiakan napas-napas ini, atau membelinya dengan apa yang mendatangkan kebinasaan, adalah kerugian besar yang tidak akan dilakukan kecuali oleh orang yang paling jahil, paling bodoh, dan paling kurang akalnya. Hakikat kerugian ini hanya akan tampak pada hari at-taghabun (hari penuh penyesalan).

Allah Ta’ala berfirman:

“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan yang dikerjakannya dihadapkan (kepadanya), dan segala kejahatan yang dikerjakannya, ia ingin kalau kiranya antara ia dengan kejahatan itu ada masa yang jauh.” (Surat Ali Imran: sebagian dari Ayat 30)

Muhasabah terhadap jiwa ada dua jenis: sebelum beramal dan sesudahnya:

Jenis pertama: Yaitu berhenti pada awal keinginan dan niatnya, tidak terburu-buru beramal hingga jelas baginya bahwa melakukannya lebih baik daripada meninggalkannya.

Al-Hasan rahimahullah berkata: “Semoga Allah merahmati hamba yang berhenti pada niatnya, jika untuk Allah ia laksanakan, jika untuk selain Allah ia tunda.”

Sebagian ulama menjelaskan hal ini: “Apabila jiwa bergerak untuk suatu amal dan hamba berniat melakukannya, maka ia berhenti terlebih dahulu dan melihat: apakah amal itu dapat dilakukan atau tidak dapat dilakukan dan tidak mampu. Jika tidak dapat dilakukan, maka ia tidak melakukannya. Jika dapat dilakukan, ia berhenti lagi dan melihat: apakah melakukannya lebih baik daripada meninggalkannya, ataukah meninggalkannya lebih baik daripada melakukannya. Jika yang kedua, maka ia tinggalkan dan tidak melakukannya. Jika yang pertama, ia berhenti ketiga kalinya: apakah yang mendorongnya adalah keinginan wajah Allah Azza wa Jalla dan pahala-Nya, ataukah keinginan akan kedudukan, pujian, dan harta dari makhluk. Jika yang kedua, ia tidak melakukannya meski membawanya kepada tujuannya, agar jiwa tidak terbiasa dengan syirik dan ringan melakukan amal untuk selain Allah. Seberat jiwa melakukan hal itu, seberat pula ia melakukan amal untuk Allah Ta’ala hingga menjadi perkara yang paling berat baginya. Jika yang pertama, ia berhenti lagi dan melihat: apakah ia ditolong untuk itu dan memiliki penolong yang membantunya jika amal itu memerlukan hal tersebut, ataukah tidak? Jika tidak memiliki penolong, ia menahan diri seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menahan diri dari jihad di Mekah hingga ia memiliki kekuatan dan penolong. Jika ia mendapati dirinya ditolong, maka hendaklah ia melaksanakannya karena ia akan ditolong dengan izin Allah.”

Kesuksesan tidak akan luput kecuali dari orang yang melewatkan salah satu sifat dari sifat-sifat ini. Jika semuanya terkumpul, kesuksesan tidak akan luputnya. Inilah empat maqam yang perlu dilakukan muhasabah oleh hamba sebelum beramal.

Jenis kedua: Muhasabah terhadap jiwa setelah beramal, dan ini ada tiga jenis:

Pertama: Muhasabah atas ketaatan yang ia kurangi dari hak Allah Ta’ala, sehingga tidak melaksanakannya sebagaimana yang seharusnya. Hak Allah dalam ketaatan ada enam perkara: ikhlas dalam amal, nasihat kepada Allah dalam amal itu, mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyaksikan maqam ihsan, menyaksikan karunia Allah kepadanya, dan menyaksikan kekurangannya dalam amal itu setelah semua hal tersebut. Maka ia melakukan muhasabah: apakah ia telah memenuhi hak maqam-maqam ini? Dan apakah ia telah melakukannya dalam ketaatan ini?

Kedua: Muhasabah atas setiap amal yang meninggalkannya lebih baik daripada melakukannya.

Ketiga: Muhasabah atas perkara mubah mengapa ia lakukan: apakah ia bermaksud karena Allah Ta’ala dan akhirat sehingga mendapat keuntungan, ataukah bermaksud untuk dunia dan hal yang segera, sehingga ia rugi dan terlewat dari kemenangan.

Yang paling buruk adalah mengabaikan, meninggalkan muhasabah, berlarut-larut, mempermudah urusan dan membiarkannya begitu saja. Karena hal ini akan membawanya kepada kebinasaan, dan inilah keadaan ahli ghurur (tertipu). Seseorang menutup matanya dari akibat-akibat dan mengandalkan ampunan, sehingga mengabaikan muhasabah terhadap dirinya dan tidak memperhatikan akibat. Jika ia melakukan itu, mudahlah baginya melakukan dosa-dosa dan merasa senang dengannya, serta sulit baginya meninggalkannya.

Intinya adalah ia melakukan muhasabah terhadap dirinya:

  • Pertama pada kewajiban-kewajiban: jika ia ingat ada kekurangan, ia perbaiki dengan qadha atau perbaikan.
  • Kemudian pada larangan-larangan: jika ia tahu telah melakukan sesuatu darinya, ia perbaiki dengan taubat, istighfar, dan amal-amal baik yang menghapus dosa.
  • Kemudian ia melakukan muhasabah atas kelalaian: jika ia lalai dari apa yang ia diciptakan untuknya, ia perbaiki dengan dzikir dan menghadap kepada Allah Ta’ala.
  • Kemudian ia melakukan muhasabah atas apa yang diucapkannya, atau yang dilangkah kakinya, atau yang diperbuat tangannya, atau yang didengar telinganya: apa yang dimaksud dengan ini, mengapa melakukannya, untuk siapa melakukannya, dan bagaimana cara melakukannya.

Ia tahu bahwa pasti akan dibukakan untuk setiap gerakan dan kata dua catatan: untuk siapa engkau lakukan? Dan bagaimana engkau lakukan? Yang pertama: pertanyaan tentang keikhlasan. Yang kedua: pertanyaan tentang mengikuti sunnah.

Allah Ta’ala berfirman:

“Supaya Dia menanyai orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka.” (Surat Al-Ahzab: sebagian dari Ayat 8)

Jika orang-orang yang benar ditanya tentang kebenaran mereka dan dihisab atas kebenaran mereka, bagaimana dengan orang-orang yang dusta.

Manfaat Muhasabah Diri

  1. Mengetahui Cacat-Cacat Diri

Barangsiapa yang tidak mengetahui cacat-cacat dirinya, maka ia tidak akan mampu menghilangkannya. Yunus bin Ubaid berkata: “Sungguh aku menemukan seratus sifat kebaikan, namun aku tidak tahu apakah dalam diriku ada satu pun dari sifat-sifat tersebut.”

Muhammad bin Wasi’ berkata: “Seandainya dosa-dosa memiliki bau, niscaya tidak ada seorang pun yang sanggup duduk bersamaku.”

Dari Abu Darda’, ia berkata: “Seorang laki-laki tidak akan memahami agama secara sempurna hingga ia membenci manusia karena Allah, kemudian ia kembali kepada dirinya sendiri dan menjadi lebih membenci dirinya.”

  1. Mengetahui Hak Allah Yang Maha Tinggi Atas Dirinya

Hal ini akan melahirkan kebencian terhadap dirinya sendiri, meremehkan diri, dan membebaskannya dari sikap ujub dan melihat amal perbuatan. Ini akan membukakan baginya pintu kerendahan hati, kehinaan, dan kepatahan di hadapan Tuhannya, serta putus asa dari dirinya sendiri, dan bahwa keselamatan tidak akan diperoleh kecuali dengan ampunan Allah, maghfirah-Nya, dan rahmat-Nya. Sesungguhnya hak Allah adalah untuk ditaati dan tidak durhaka, untuk diingat dan tidak dilupakan, dan untuk disyukuri dan tidak dikufuri.

 

 

  1. Sabar dan Syukur

Ketika iman terdiri dari dua bagian yaitu setengah sabar dan setengah syukur, maka pantas bagi orang yang menasihati dirinya, mencintai keselamatannya, dan mengutamakan kebahagiaannya untuk tidak mengabaikan dua dasar agung ini, dan menjadikan perjalanannya kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Perkasa melalui dua jalan yang lurus ini, agar Allah menjadikannya pada hari kiamat bersama golongan yang terbaik.

A. Sabar

Keutamaan-keutamaannya:

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan sabar sebagai kuda yang tidak tersandung, pedang yang tidak tumpul, tentara yang menang dan tidak terkalahkan, dan benteng yang kuat yang tidak dapat dihancurkan. Sabar dan kemenangan adalah dua saudara kembar. Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Perkasa telah memuji orang-orang yang sabar dalam kitab-Nya, dan memberitahukan bahwa Dia akan memberikan pahala kepada mereka tanpa hitungan, dan memberitahukan bahwa Dia bersama mereka dengan petunjuk-Nya, pertolongan-Nya yang mulia, dan kemenangan-Nya yang nyata. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)

Maka orang-orang yang sabar mendapat kemenangan dengan kebersamaan ini untuk kebaikan dunia dan akhirat, mereka beruntung dengan nikmat-nikmat batiniah dan lahiriah. Allah Subhanahu menjadikan kepemimpinan dalam agama bergantung pada sabar dan keyakinan. Allah Ta’ala berfirman – dan dengan firman-Nya orang-orang yang mendapat petunjuk telah mendapat petunjuk:

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24)

Allah Ta’ala memberitahukan bahwa sabar adalah kebaikan bagi pemiliknya dengan dikuatkan sumpah. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan sesungguhnya jika kamu bersabar, itu lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126)

Allah memberitahukan bahwa dengan sabar dan takwa, tipu daya musuh tidak akan membahayakan meski musuh itu memiliki kekuasaan. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak akan membahayakan kamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran: 120)

Allah mengaitkan kemenangan dengan sabar dan takwa. Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200)

Allah memberitahukan tentang kecintaan-Nya kepada orang-orang sabar, dan dalam hal itu terdapat dorongan terbesar bagi orang-orang yang berminat. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 146)

Allah memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar dengan tiga hal, yang masing-masing lebih baik daripada apa yang dimiliki penduduk dunia yang saling dengki. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan berilah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’ (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali). Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)

Allah menjadikan kemenangan surga dan keselamatan dari neraka hanya dapat diraih oleh orang-orang yang sabar. Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Perkasa berfirman:

“Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka pada hari ini karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.” (QS. Al-Mu’minun: 111)

Allah mengkhususkan dalam memanfaatkan ayat-ayat-Nya kepada ahli sabar dan ahli syukur, sebagai pembeda bagi mereka dengan keistimewaan yang berlimpah. Allah berfirman dalam empat ayat dari kitab-Nya Yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi:

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.” (QS. Ibrahim: 5, Luqman: 31, Saba’: 19, Asy-Syura: 33)

Sabar adalah tumpuan mukmin yang ia berkeliling kemudian kembali kepadanya, dan tiang imannya yang tidak ada sandaran baginya kecuali padanya. Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki sabar, dan jika ada maka iman yang sedikit dalam keadaan sangat lemah. Pemiliknya termasuk orang yang menyembah Allah di tepi jurang, jika mendapat kebaikan ia merasa tenang dengannya, dan jika ditimpa fitnah ia berpaling dengan mukanya sehingga rugi dunia dan akhirat, dan tidak mendapat apa-apa kecuali kerugian. Kehidupan terbaik yang diraih oleh orang-orang bahagia adalah dengan kesabaran mereka, dan mereka naik ke tingkatan tertinggi dengan syukur mereka. Mereka berjalan di antara dua sayap sabar dan syukur menuju surga-surga yang penuh kenikmatan, sesuai firman Allah Ta’ala:

“Yang demikian itu adalah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Hadid: 21)

Makna dan Hakikat Sabar

Sabar secara bahasa: adalah mencegah dan menahan. Secara syariat adalah menahan diri dari kegelisahan, lisan dari keluhan, dan anggota badan dari menampar pipi, merobek baju, dan sejenisnya.

Ada yang berkata: Sabar adalah akhlak mulia dari akhlak jiwa yang dengannya seseorang dapat menahan diri dari melakukan apa yang tidak baik dan tidak pantas. Sabar adalah kekuatan dari kekuatan-kekuatan jiwa yang dengannya kebaikan urusan dan tegaknya perkara.

Al-Junaid ditanya tentang sabar, maka ia berkata: “Menelan kepahitan tanpa meringis.”

Dzun Nun Al-Mishri berkata: “Sabar adalah menjauh dari pelanggaran, tenang ketika menelan kepedihan bala, dan menampakkan kekayaan di tengah kemiskinan yang menimpa kehidupan.”

Ada yang berkata: “Sabar adalah berdiri tegak dengan bala dengan adab yang baik.”

Ada yang berkata: “Sabar adalah kaya dalam bala tanpa menampakkan keluhan.”

Salah seorang saleh melihat seorang laki-laki mengadu kepada saudaranya, maka ia berkata kepadanya: “Wahai orang ini, demi Allah, engkau tidak lebih dari mengeluh kepada yang menyayangimu kepada yang tidak menyayangimu.”

Ada yang berkata dalam hal itu: “Jika engkau mengadu kepada anak Adam, sesungguhnya engkau mengadu kepada Yang Maha Penyayang kepada yang tidak menyayangi.”

Keluhan ada dua macam: keluhan kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Perkasa dan ini tidak bertentangan dengan sabar, seperti ucapan Yakub alaihissalam:

“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86)

Bersamaan dengan ucapannya:

“Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku).” (QS. Yusuf: 83)

Jenis kedua: keluhan orang yang diuji dengan lisan keadaan atau ucapan, maka ini tidak sejalan dengan sabar bahkan bertentangan dan membatalkannya.

Lapangan afiat lebih luas bagi hamba daripada lapangan sabar, dan ini tidak bertentangan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Tidak ada seorang pun yang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada sabar.” Karena ini setelah turunnya bala, maka lapangan sabar adalah lapangan yang paling luas, adapun sebelum turunnya maka lapangan afiat lebih luas.

Jiwa adalah tunggangan hamba yang ia kendarai menuju surga atau neraka, dan sabar baginya seperti tali kekang dan kendali bagi tunggangan. Jika tunggangan tidak memiliki tali kekang dan kendali, ia akan lari ke segala arah. Dari khutbah Al-Hajjaj: “Tahanlah jiwa-jiwa ini karena ia suka meloncat kepada setiap keburukan. Maka rahmat Allah bagi orang yang menjadikan untuk jiwanya tali kekang dan kendali, lalu ia pimpin dengan tali kekangnya kepada ketaatan Allah, dan ia palingkan dengan kendalinya dari kemaksiatan Allah. Sesungguhnya sabar dari hal-hal yang diharamkan Allah lebih mudah daripada sabar atas azab-Nya.”

Jiwa memiliki dua kekuatan: kekuatan maju dan kekuatan mundur. Hakikat sabar adalah menjadikan kekuatan maju digunakan untuk apa yang bermanfaat baginya, dan kekuatan mundur untuk menahan dari apa yang membahayakannya. Di antara manusia ada yang sabar dalam qiyamullail dan kesulitan puasa, tetapi tidak sabar dari pandangan yang haram. Di antara mereka ada yang sabar dari pandangan dan menoleh kepada gambar-gambar, tetapi tidak memiliki kesabaran untuk menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran serta berjihad.

Ada yang berkata: Sabar adalah keberanian jiwa, dari sinilah diambil ucapan: “Keberanian adalah sabar sesaat.” Sabar dan gelisah adalah dua hal yang berlawanan, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan tentang penghuni neraka:

“Sama saja bagi kami, apakah kami mengeluh ataukah bersabar, tidak ada tempat lari bagi kami.” (QS. Ibrahim: 21)

Pembagian Sabar Berdasarkan Objeknya

Sabar berdasarkan objeknya terbagi tiga: sabar atas perintah dan ketaatan hingga menunaikannya, sabar dari larangan dan pelanggaran hingga tidak jatuh ke dalamnya, dan sabar atas takdir hingga tidak membencinya. Pembagian inilah yang dimaksud dalam ucapan:

“Hamba harus memiliki perintah yang dilaksanakan, larangan yang dijauhi, dan takdir yang disabari.”

Sabar juga dua macam: ikhtiari (pilihan) dan idhtirari (terpaksa). Sabar ikhtiari lebih sempurna daripada idhtirari, karena sabar idhtirari semua orang ikut serta di dalamnya dan bisa terjadi pada orang yang tidak bisa melakukan sabar ikhtiari. Karena itulah sabar Yusuf alaihissalam dari mengikuti istri Al-Aziz lebih agung daripada sabarnya atas apa yang menimpanya dari saudara-saudaranya ketika mereka melemparkannya ke dalam sumur.

Manusia tidak bisa tidak memerlukan sabar dalam keadaan apa pun karena ia berganti-ganti antara perintah yang wajib dilaksanakan dan ditaati, larangan yang wajib dijauhi dan ditinggalkan, takdir yang menimpanya secara kebetulan, dan nikmat yang wajib disyukuri kepada Yang Memberi nikmat. Jika keadaan-keadaan ini tidak lepas darinya, maka sabar wajib baginya hingga mati.

Semua yang dialami hamba di dunia ini tidak lepas dari dua jenis: Pertama: yang sesuai dengan hawa nafsu dan keinginannya. Kedua: yang bertentangan dengannya, dan ia memerlukan sabar dalam keduanya.

Adapun jenis yang sesuai dengan tujuannya seperti kesehatan, kedudukan, dan harta, maka ia sangat memerlukan sabar dalam hal-hal tersebut dari beberapa segi:

Pertama: agar tidak bersandar padanya, tidak tertipu dengannya, dan tidak membuatnya sombong serta gembira yang tercela yang Allah tidak menyukai pemiliknya.

Kedua: agar tidak tenggelam dalam meraihnya.

Ketiga: agar sabar menunaikan hak Allah di dalamnya.

Keempat: agar sabar tidak menggunakannya untuk yang haram.

Sebagian salaf berkata: “Bala disabari oleh mukmin dan kafir, tetapi tidak ada yang sabar atas afiat kecuali orang-orang siddiq.”

Abdurrahman bin Auf berkata: “Kami diuji dengan kesulitan maka kami sabar, dan kami diuji dengan kemudahan maka kami tidak sabar!!” Karena itulah Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya dari fitnah harta, istri, dan anak-anak. Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9)

Adapun jenis kedua yang bertentangan dengan hawa nafsu, tidak lepas dari: berkaitan dengan pilihan hamba seperti ketaatan dan kemaksiatan, atau tidak berkaitan dengan pilihannya seperti musibah, atau berkaitan awalnya dengan pilihannya tetapi tidak ada pilihan baginya untuk menghilangkannya setelah masuk ke dalamnya.

Di sini ada tiga pembagian:

Pembagian Pertama: Yang berkaitan dengan pilihannya, yaitu semua perbuatannya yang disifati sebagai ketaatan atau kemaksiatan. Adapun ketaatan, maka hamba memerlukan sabar padanya karena jiwa secara alami menolak banyak dari ibadah. Dalam shalat karena adanya kemalasan dan mengutamakan kenyamanan terutama jika bertepatan dengan kerasnya hati, tertutupnya dosa, kecenderungan kepada syahwat, dan bergaul dengan ahli kelalaian.

Adapun zakat karena sifat pelit dan kikir yang ada dalam jiwa, demikian juga haji dan jihad karena kedua hal tersebut. Hamba memerlukan sabar dalam tiga keadaan: sebelum memulai ketaatan yaitu dengan membenarkan niat dan ikhlas dalam ketaatan, ketika memulai ketaatan yaitu dengan sabar atas hal-hal yang mendorong untuk mengurangi dan menyia-nyiakan, serta memelihara niat dan tidak membiarkan anggota badan beribadah mengganggu kehadiran hatinya di hadapan Allah Subhanahu.

Ketiga setelah selesai dari ketaatan, yaitu dengan sabar atas hal-hal yang membatalkannya. Bukan masalahnya datang dengan ketaatan, tetapi masalahnya adalah menjaganya dari hal-hal yang membatalkannya. Maka ia sabar dari melihatnya, ujub dengannya, dan sombong. Demikian juga ia sabar dari memindahkannya dari daftar rahasia ke daftar terang-terangan, karena hamba beramal secara rahasia antara dirinya dan Allah Subhanahu, maka dituliskan dalam daftar rahasia, jika ia menceritakannya maka dipindahkan dari daftar rahasia ke daftar terang-terangan. Jangan dikira bahwa hamparan sabar terlipat dengan selesainya amal.

Adapun sabar dari kemaksiatan maka urusannya jelas, dan yang paling membantu adalah memutus kebiasaan-kebiasaan dan meninggalkan para pembantu dalam pergaulan dan percakapan.

Pembagian Kedua: Yang tidak masuk dalam pilihan, dan hamba tidak memiliki cara untuk menolaknya seperti musibah. Musibah ada yang tidak ada campur tangan manusia di dalamnya seperti kematian dan penyakit, dan kedua: yang menimpanya dari manusia seperti makian dan pukulan.

Jenis pertama: hamba memiliki empat maqam di dalamnya: maqam lemah yaitu gelisah dan keluhan, kedua: maqam sabar, ketiga: maqam ridha, keempat: maqam syukur yaitu dengan menyaksikan bala sebagai nikmat maka ia syukur kepada Yang Menguji atasnya.

Yang menimpanya dari manusia, ia memiliki maqam-maqam ini ditambah empat lainnya: pertama: maqam maaf, kedua: maqam selamatnya dada dari keinginan balas dendam, ketiga: maqam takdir, keempat: maqam berbuat baik kepada yang berbuat jahat.

Hadits-hadits tentang Keutamaan Sabar

Dari Ummu Salamah, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang Muslim ditimpa musibah lalu mengucapkan apa yang diperintahkan Allah (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Allahumma ajirni fi mushibati wakhluf li khairan minha – Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku dan gantilah untukku yang lebih baik darinya), melainkan Allah akan menggantikan untuknya yang lebih baik darinya.” Ummu Salamah berkata: “Ketika Abu Salamah meninggal, aku berkata: ‘Muslim mana yang lebih baik dari Abu Salamah, rumah pertama yang didatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hijrahnya?’ Kemudian aku mengucapkan doa itu, maka Allah menggantikan untukku dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam…”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan mengujinya.”

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang mukmin ditimpa musibah melainkan Allah akan menghapus dosanya dengan musibah itu, bahkan sampai duri yang menusuknya.”

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, maka ditulis baginya seperti amal yang biasa ia kerjakan ketika mukim dan sehat.”

Dari Khabbab bin Al-Aratt, ia berkata: Kami mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang bersandar pada kain burda di bawah naungan Ka’bah. Kami berkata: “Tidakkah engkau meminta pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa untuk kami?” Beliau bersabda: “Sungguh, orang-orang sebelum kalian ada yang ditangkap, lalu digali lubang di tanah untuknya, kemudian ia dimasukkan ke dalamnya, lalu didatangkan gergaji dan diletakkan di atas kepalanya sehingga tubuhnya terbelah dua. Dan ada yang disisir dengan sisir besi hingga menembus daging dan tulangnya, namun hal itu tidak membuatnya berpaling dari agamanya. Demi Allah, Allah pasti akan menyempurnakan urusan ini hingga seorang penunggang unta berjalan dari Sana’a ke Hadramaut, ia tidak takut kecuali kepada Allah dan serigala yang mengancam kambingnya. Tetapi kalian terburu-buru.”

Atsar (Perkataan Salaf)

Sebagian salaf berkata: “Andai tidak ada musibah dunia, niscaya kita akan datang ke akhirat dalam keadaan bangkrut.”

Sufyan bin Uyainah berkata tentang firman Allah Ta’ala: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah: 24). “Ketika mereka mengambil pokok perkara, Kami jadikan mereka pemimpin.”

Ketika mereka hendak memotong kaki Urwah bin Az-Zubair, mereka berkata kepadanya: “Seandainya kami beri kamu minuman agar kamu tidak merasakan sakit.” Ia berkata: “Sesungguhnya Allah menguji aku agar melihat kesabaranku, maka apakah aku akan menentang perintah-Nya?!”

Umar bin Abdul Aziz berkata: “Tidaklah Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba lalu mencabutnya darinya dan memberikan gantinya berupa kesabaran, melainkan apa yang digantikan-Nya itu lebih baik daripada yang dicabut-Nya.”

Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah sakit, lalu orang-orang menjenguknya dan berkata: “Tidakkah kami panggil dokter untukmu?” Ia berkata: “Dokter sudah melihatku.” Mereka bertanya: “Apa yang dikatakannya kepadamu?” Ia menjawab: “Dia berkata: ‘Sesungguhnya Aku berbuat apa yang Aku kehendaki.'”

Diriwayatkan bahwa Said bin Jubair berkata: “Sabar adalah: pengakuan hamba kepada Allah atas apa yang menimpanya dari-Nya, mengharap pahala dari Allah, dan berharap pahala-Nya. Terkadang hamba bersedih namun ia menahan diri, sehingga tidak terlihat darinya kecuali kesabaran.”

Perkataannya “pengakuan hamba kepada Allah atas apa yang menimpanya” seakan-akan tafsir dari firman-Nya: “Sesungguhnya kami milik Allah” (Al-Baqarah: 156). Ia mengakui bahwa dirinya adalah milik Allah yang dapat berbuat apa saja yang dikehendaki Pemiliknya. Dan “berharap pahala dari Allah” seakan-akan tafsir dari firman-Nya: “dan kepada-Nya kami kembali” (Al-Baqarah: 156), yakni kami kembali kepada-Nya maka Dia akan membalas kesabaran kami dan tidak akan menyia-nyiakan pahala musibah.

B – Syukur

Syukur adalah: pujian kepada pemberi nikmat atas kebaikan yang telah diberikan-Nya.

Syukur hamba berporos pada tiga rukun – tidak dapat disebut syukur kecuali dengan ketiga-tiganya – yaitu: mengakui nikmat secara batin, menyebutkannya secara lahir, dan menggunakan nikmat itu untuk ketaatan kepada Allah. Syukur berkaitan dengan hati, lisan, dan anggota badan untuk menggunakannya dalam ketaatan kepada Yang disyukuri dan menahan diri dari maksiat kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah merangkaikan syukur dengan iman, dan mengabarkan bahwa Dia tidak bermaksud menyiksa makhluk-Nya jika mereka bersyukur dan beriman kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman?” (An-Nisa: 147)

Allah Subhanahu menceritakan tentang ahli syukur bahwa mereka adalah orang-orang yang dikhususkan dengan karunia-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan demikianlah Kami uji sebagian mereka dengan sebagian yang lain agar mereka berkata: ‘Apakah mereka ini yang diberi karunia Allah di antara kita?’ Bukankah Allah lebih mengetahui orang-orang yang bersyukur?” (Al-An’am: 53)

Allah membagi manusia menjadi yang bersyukur dan yang kufur. Hal yang paling dibenci-Nya adalah kekufuran dan ahlinya, dan hal yang paling dicintai-Nya adalah syukur dan ahlinya. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (Al-Insan: 3)

Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'” (Ibrahim: 7)

Allah menggantungkan tambahan nikmat pada syukur, dan tambahan dari-Nya tidak ada batasnya sebagaimana tidak ada batasnya syukur. Allah telah menggantungkan banyak balasan pada kehendak-Nya.

Seperti firman-Nya: “Maka Allah akan membebaskan kamu dari kemiskinan dengan karunia-Nya, jika Dia menghendaki.” (At-Taubah: 28)

Dan firman-Nya tentang ampunan: “Dan Dia mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Maidah: 40)

Dan firman-Nya tentang taubat: “Dan Allah menerima taubat siapa yang dikehendaki-Nya.” (At-Taubah: 15)

Namun Allah melepaskan balasan syukur secara mutlak di mana pun Dia menyebutkannya, seperti firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali Imran: 145)

Ketika musuh Allah, Iblis, mengetahui kedudukan maqam syukur dan bahwa itu termasuk maqam yang paling mulia dan tinggi, ia menjadikan tujuannya untuk berusaha memutus manusia darinya. Ia berkata: “Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (Al-A’raf: 17)

Allah Subhanahu menggambarkan orang-orang yang bersyukur bahwa mereka sedikit dari hamba-hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (Saba: 13)

Dalam Shahihain diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau shalat hingga kedua telapak kakinya pecah-pecah. Dikatakan kepada beliau: “Apakah engkau melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?” Beliau bersabda: “Tidakkah aku menjadi hamba yang bersyukur?”

Dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah ridha kepada hamba yang makan satu kali makan lalu memuji-Nya karenanya, dan minum satu kali minum lalu memuji-Nya karenanya.”

Inilah balasan yang agung yang merupakan jenis balasan terbesar sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan keridaan dari Allah adalah lebih besar.” (At-Taubah: 72) sebagai imbalan syukurnya dengan pujian dan syukur adalah pengikat nikmat dan sebab penambahan nikmat.

Umar bin Abdul Aziz berkata: “Ikatlah nikmat-nikmat Allah dengan syukur kepada Allah.”

Ibnu Abi Ad-Dunya menyebutkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata kepada seorang laki-laki dari Hamadzan: “Sesungguhnya nikmat itu bersambung dengan syukur, dan syukur tergantung pada tambahan nikmat, dan keduanya terikat dalam satu ikatan. Maka tidak akan terputus tambahan dari Allah hingga terputus syukur dari hamba.”

Al-Hasan berkata: “Perbanyaklah menyebut nikmat-nikmat ini, karena menyebutnya adalah syukur.” Allah telah memerintahkan Nabi-Nya untuk menceritakan nikmat Tuhannya, Allah berfirman: “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (Ad-Dhuha: 11).

Allah Ta’ala senang melihat bekas nikmat-Nya pada hamba-Nya, karena itu adalah syukur dengan lisan al-hal.

Abu Al-Mughirah, ketika ditanya: “Bagaimana pagi-paginya wahai Abu Muhammad?” ia berkata: “Kami bangun pagi tenggelam dalam nikmat, lemah dalam syukur. Tuhan kami mencintai kami padahal Dia tidak membutuhkan kami, dan kami benci kepada-Nya padahal kami membutuhkan-Nya.”

Syuraih berkata: “Tidaklah seorang hamba ditimpa musibah melainkan Allah memiliki tiga nikmat untuknya: tidak menimpa agamanya, tidak lebih besar dari yang sebenarnya, dan karena pasti terjadi maka telah terjadilah.”

Yunus bin Ubaid berkata: Seorang laki-laki bertanya kepada Abu Tamimah: “Bagaimana pagi-paginya?” Ia berkata: “Aku bangun pagi di antara dua nikmat yang tidak tahu mana yang lebih utama: dosa-dosa yang Allah tutupi sehingga tidak ada seorang pun yang bisa mencela aku karenanya, dan kasih sayang yang Allah masukkan ke dalam hati hamba-hamba yang tidak bisa dicapai oleh amalku.”

Tentang Sufyan dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kehancuran) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (Al-Qalam: 44). Ia berkata: “Dia melimpahkan nikmat kepada mereka dan mencegah mereka dari syukur.” Yang lain berkata: “Setiap kali mereka berbuat dosa, Dia berikan kepada mereka nikmat.”

Seorang laki-laki bertanya kepada Abu Hazim: “Apa syukur mata wahai Abu Hazim?” Ia berkata: “Jika aku melihat kebaikan dengan mata, aku umumkan. Jika aku melihat keburukan, aku tutupi.”

Ia bertanya: “Apa syukur telinga?” Ia berkata: “Jika aku mendengar kebaikan dengan keduanya, aku ingat. Jika aku mendengar keburukan dengan keduanya, aku tolak.”

Ia bertanya: “Apa syukur tangan?” Ia berkata: “Tidak mengambil dengan keduanya apa yang bukan haknya, dan tidak menahan hak Allah yang ada padanya.”

Ia bertanya: “Apa syukur perut?” Ia berkata: “Bagian bawahnya makanan dan bagian atasnya ilmu.”

Ia bertanya: “Apa syukur kemaluan?” Ia berkata: Allah Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Mu’minun: 5-7).

Ia bertanya: “Apa syukur kedua kaki?” Ia berkata: “Jika aku tahu ada orang mati yang aku iri, aku gunakan keduanya untuk mengerjakan amalnya. Jika aku benci padanya, aku hindari amalnya sambil bersyukur kepada Allah.”

Adapun orang yang bersyukur dengan lisannya namun tidak bersyukur dengan seluruh anggota badannya, maka perumpamaannya seperti seorang yang memiliki pakaian lalu memegang ujungnya namun tidak memakainya. Itu tidak bermanfaat baginya dari panas, dingin, salju, dan hujan.

Sebagian ulama menulis kepada saudaranya: “Amma ba’du, sungguh kami telah bangun pagi dengan nikmat-nikmat Allah yang tidak dapat kami hitung karena banyaknya kemaksiatan kami. Kami tidak tahu mana yang harus kami syukuri, indahnya yang dimudahkan ataukah buruknya yang ditutupi?!”

9 – Tawakal

Tawakal adalah: kejujuran dalam bergantung hati kepada Allah Azza wa Jalla dalam meraih kemaslahatan dan menolak kemudharatan dalam urusan dunia dan akhirat.

Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (At-Thalaq: 2-3).

Barangsiapa yang merealisasikan takwa dan tawakal, maka itu cukup baginya dalam urusan agama dan dunianya.

Dari Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian diberi rezki sebagaimana burung diberi rezki, pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (Hadits hasan shahih)

Abu Hatim Ar-Razi berkata: “Hadits ini adalah dasar dalam tawakal dan bahwa tawakal termasuk sebab-sebab terbesar untuk meraih rezki.”

Said bin Jubair berkata: “Tawakal adalah inti iman.” Merealisasikan tawakal tidak bertentangan dengan mengambil sebab-sebab yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan dengan sebab-sebab itu, dan berlaku sunnatullah dalam makhluk-Nya dengan itu. Allah Ta’ala memerintahkan mengambil sebab-sebab bersama perintah-Nya untuk bertawakal. Berusaha dengan sebab-sebab melalui anggota badan adalah ketaatan kepada Allah, dan bertawakal dengan hati kepada-Nya adalah iman kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu.” (An-Nisa: 71).

Sahl berkata: “Barangsiapa mencela gerakan – maksudnya usaha dan kerja – maka ia telah mencela sunnah. Barangsiapa mencela tawakal maka ia telah mencela iman. Tawakal adalah hal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kerja adalah sunnahnya. Barangsiapa beramal dengan halnya maka jangan tinggalkan sunnahnya.”

Dikatakan: “Tidak mengambil sebab adalah mencela syariat, dan meyakini pengaruh sebab adalah mencela tauhid.”

Amal yang dikerjakan hamba ada tiga bagian:

Bagian Pertama: Ketaatan yang Allah perintahkan kepada hamba-hamba-Nya dan dijadikan-Nya sebagai sebab untuk selamat dari neraka dan masuk surga. Ini harus dikerjakan dengan bertawakal kepada Allah Azza wa Jalla di dalamnya dan meminta pertolongan kepada-Nya, karena tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya. Apa yang Allah kehendaki terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak terjadi. Barangsiapa yang meremehkan sesuatu yang wajib atasnya dari itu, ia berhak mendapat hukuman di dunia dan akhirat secara syar’i dan takdir.

Yusuf bin Asbath berkata: “Beramallah seperti amal seorang yang tidak akan selamat kecuali dengan amalnya, dan bertawakallah seperti tawakal seorang yang tidak akan menimpanya kecuali apa yang telah ditulis untuknya.”

Bagian Kedua: Apa yang Allah jadikan kebiasaan di dunia dan perintahkan hamba-hamba-Nya untuk melakukannya seperti makan ketika lapar, minum ketika haus, berteduh dari panas, menghangatkan diri dari dingin, dan semacamnya. Ini juga wajib bagi seseorang untuk mengambil sebab-sebabnya. Barangsiapa yang meremehkannya hingga dirugikan karena meninggalkannya – padahal mampu melakukannya – maka ia berlebih-lebihan dan berhak mendapat hukuman.

Bagian Ketiga: Apa yang Allah jadikan kebiasaan di dunia pada umumnya, dan terkadang Dia merubah kebiasaan itu untuk siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Ini ada beberapa jenis seperti obat-obatan misalnya. Para ulama berbeda pendapat: Apakah yang lebih utama bagi orang yang sakit, berobat atau meninggalkannya bagi yang merealisasikan tawakal kepada Allah? Ada dua pendapat yang masyhur. Zhahir perkataan Imam Ahmad bahwa tawakal bagi yang kuat melakukannya lebih utama karena shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Akan masuk surga dari umatku tujuh puluh ribu tanpa hisab.” Kemudian beliau bersabda: “Mereka adalah orang-orang yang tidak bertathayyur (percaya nasib buruk), tidak meminta ruqyah, tidak berbekam, dan kepada Tuhan mereka bertawakal.”

Yang menguatkan pengobatan berkata: “Itu adalah keadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau lakukan terus-menerus – dan beliau tidak melakukan kecuali yang terbaik -” dan memahami hadits tentang ruqyah yang makruh yang dikhawatirkan mengandung syirik, dengan dalil bahwa hadits menyejajarkannya dengan bekam dan tathayyur yang keduanya makruh.

Mujahid, Ikrimah, An-Nakha’i, dan tidak sedikit dari salaf berkata: “Tidak boleh meninggalkan sebab sama sekali kecuali bagi yang hatinya benar-benar terputus dari berharap kepada makhluk.”

Ishaq bin Rahawayh ditanya: “Bolehkah seseorang memasuki padang pasir tanpa bekal?” Ia berkata: “Jika orang itu seperti Abdullah bin Jubair maka boleh ia memasuki padang pasir tanpa bekal, selain itu tidak boleh baginya.”

 

 

10 – Cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Cinta kepada Allah adalah tujuan tertinggi dari semua maqam (kedudukan spiritual), dan puncak yang paling tinggi dari semua derajat. Tidak ada maqam setelah meraih cinta ini kecuali ia adalah buah dari buah-buahnya dan pengikut dari pengikut-pengikutnya, seperti kerinduan, keintiman, dan ridha. Dan tidak ada maqam sebelum cinta ini kecuali ia adalah persiapan dari persiapan-persiapannya, seperti taubat, sabar, zuhud, dan lain-lainnya.

Cinta yang paling bermanfaat secara mutlak, yang paling wajib, paling tinggi, dan paling mulia adalah cinta kepada Dzat yang hati-hati telah diciptakan untuk mencintai-Nya, dan makhluk telah difitrahkan untuk menyembah-Nya. Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang hati-hati mencintai-Nya dengan penuh cinta, pengagungan, pemuliaan, kerendahan hati kepada-Nya, ketundukan, penyembahan. Dan ibadah tidak layak kecuali hanya untuk-Nya semata. Ibadah adalah kesempurnaan cinta dengan kesempurnaan ketundukan dan kerendahan hati.

Allah Subhanahu wa Ta’ala dicintai karena Dzat-Nya dari segala sisi, sedangkan selain-Nya hanya dicintai karena mengikuti cinta kepada-Nya. Semua kitab yang diturunkan-Nya, dakwah semua rasul, fitrah yang telah Dia ciptakan pada hamba-hamba-Nya, akal yang telah Dia anugerahkan kepada mereka, dan nikmat yang telah Dia limpahkan kepada mereka, semuanya menunjukkan wajibnya mencintai-Nya. Sesungguhnya hati-hati telah difitrahkan dan diciptakan untuk mencintai siapa yang telah berbuat baik kepadanya dan berbuat kebaikan kepadanya. Apalagi kepada Dzat yang segala kebaikan berasal dari-Nya, dan segala nikmat yang mereka nikmati semuanya berasal dari-Nya semata tanpa sekutu bagi-Nya, sebagaimana firman-Nya: “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), kemudian apabila kamu ditimpa bahaya, maka kepada-Nya-lah kamu meminta tolong.” (An-Nahl: 53)

Dan apa yang telah Dia perkenalkan kepada hamba-hamba-Nya dari nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi, serta apa yang ditunjukkan oleh bekas-bekas ciptaan-Nya dari kesempurnaan-Nya dan puncak keagungan serta kebesaran-Nya. Allah berfirman: “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)

Dan Allah berfirman: “Dan orang-orang yang beriman berkata: ‘Inikah orang-orang yang bersumpah dengan nama Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh, bahwa mereka benar-benar beserta kamu?’ Amal mereka menjadi sia-sia, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi. Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (Al-Maidah: 53-54)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersumpah bahwa: “Tidaklah beriman seorang hamba sehingga aku lebih dia cintai daripada anaknya, ayahnya, dan semua manusia.”

Dan beliau berkata kepada Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu: “Tidak, hingga aku lebih kamu cintai daripada dirimu sendiri.” Artinya, kamu tidak beriman hingga cintamu mencapai tingkatan ini.

Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih berhak dicintai daripada diri kita sendiri dalam hal cinta dan konsekuensi-konsekuensinya, bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih berhak untuk dicintai dan disembah daripada diri kita sendiri?

Segala sesuatu yang datang dari-Nya kepada hamba-Nya mengajak untuk mencintai-Nya, baik yang dicintai maupun yang dibenci oleh hamba. Pemberian-Nya dan pencegahan-Nya, kesehatan yang diberikan-Nya dan ujian-Nya, menggenggam dan melapangkan-Nya, keadilan dan karunia-Nya, mematikan dan menghidupkan-Nya, kebaikan dan rahmat serta ihsan-Nya, menutupi aib-Nya, ampunan dan kesabaran-Nya, sabar-Nya terhadap hamba-Nya, mengabulkan doa-Nya, menghilangkan kesusahan dan menolong kegundahan serta menghilangkan kesulitan-Nya, tanpa membutuhkan darinya, bahkan dengan kekayaan-Nya yang sempurna dari segala sisi, semua itu mengajak hati untuk mencintai dan menyembah-Nya. Seandainya seorang makhluk berbuat kepada makhluk lain sekecil apapun dari hal tersebut, niscaya dia tidak akan mampu menahan hatinya dari mencintainya. Bagaimana mungkin hamba tidak mencintai dengan segenap hati dan anggota tubuhnya kepada Dzat yang berbuat baik kepadanya secara terus-menerus sebanyak napas-napasnya, padahal dia berbuat buruk?

Kebaikan-Nya turun kepadanya, dan keburukan darinya naik kepada-Nya. Dia menunjukkan cinta kepada hamba dengan nikmat-nikmat-Nya padahal Dia tidak membutuhkannya, sedangkan hamba menunjukkan kebencian kepada-Nya dengan maksiat-maksiat, padahal dia membutuhkan-Nya. Tidak ada kebaikan, kebajikan, dan pemberian nikmat-Nya yang menghalanginya dari bermaksiat, dan tidak ada maksiat hamba serta kejinya yang memutus kebaikan Tuhannya dari dirinya.

Juga, setiap orang yang kamu cintai dari makhluk dan mereka mencintaimu, mereka menginginkanmu untuk diri mereka sendiri dan tujuan mereka darimu, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkanmu untuk dirimu sendiri.

Juga, setiap orang yang kamu ajak berurusan dari makhluk, jika dia tidak mendapat keuntungan darimu, dia tidak akan berurusan denganmu, dan dia pasti butuh pada suatu jenis keuntungan. Sedangkan Allah Ta’ala berurusan denganmu agar kamu mendapat keuntungan darinya dengan keuntungan yang paling besar dan tinggi. Satu dirham dengan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat sampai berlipat-lipat yang banyak, sedangkan kejahatan hanya satu dan itu adalah yang paling cepat terhapus.

Juga, Dia Subhanahu menciptakanmu untuk-Nya, dan menciptakan segala sesuatu untukmu di dunia dan akhirat. Siapa yang lebih berhak daripada-Nya untuk mencurahkan segala upaya dalam mencintai-Nya dan mengerahkan usaha dalam meraih ridha-Nya?

Juga, segala keperluan-mu, bahkan keperluan semua makhluk semuanya, ada pada-Nya. Dia adalah Yang Maha Dermawan dari semua yang dermawan, Yang Maha Mulia dari semua yang mulia. Dia memberikan kepada hamba-Nya sebelum dia meminta melebihi apa yang dia harapkan. Dia bersyukur atas amal yang sedikit dan mengembangkannya, dan mengampuni kesalahan yang banyak serta menghapuskannya. Dia diminta oleh siapa yang ada di langit dan bumi setiap hari Dia dalam kesibukan. Tidak menghalangi-Nya pendengaran dari pendengaran, dan tidak membuat-Nya salah banyaknya pertanyaan, dan Dia tidak bosan dengan desakan orang-orang yang mendesak dalam berdoa. Dia suka ditanya dan marah jika tidak ditanya. Dia malu kepada hamba-Nya di saat hamba tidak malu kepada-Nya. Dia menutupi aib hamba di saat hamba tidak menutupi dirinya sendiri. Dia menyayangi hamba di saat hamba tidak menyayangi dirinya sendiri. Dia mengajak hamba dengan nikmat, kebaikan, dan pemberian-Nya kepada kemuliaan dan ridha-Nya namun hamba menolak. Maka Dia mengutus rasul-rasul untuk mencarinya, dan mengirim kepada hamba perjanjian-Nya bersama mereka. Kemudian Dia Subhanahu turun sendiri kepadanya dan berfirman: “Barangsiapa meminta kepada-Ku maka Aku berikan kepadanya, barangsiapa meminta ampun kepada-Ku maka Aku ampuni dia.”

Bagaimana hati-hati tidak mencintai Dzat yang tidak ada yang mendatangkan kebaikan selain Dia, dan tidak ada yang mengabulkan doa, mengampuni kesalahan, mengampuni dosa, menutupi aib, menghilangkan kesusahan, menolong kegundahan, dan mengabulkan permintaan selain-Nya?

Dia paling berhak disebut, paling berhak disyukuri, paling berhak disembah, paling berhak dipuji, paling menolong bagi yang meminta pertolongan, paling penyayang di antara yang berkuasa, paling dermawan di antara yang diminta, paling luas di antara yang memberi, paling penyayang di antara yang diminta belas kasihan, paling mulia di antara yang dituju, paling mulia di antara yang dicari perlindungan, paling mencukupi bagi yang bertawakal kepada-Nya, dan lebih penyayang kepada hamba-Nya daripada ibu kepada anaknya. Dia lebih gembira dengan taubat orang yang bertaubat daripada orang yang kehilangan kendaraannya yang di atasnya ada makanan dan minumannya di tanah yang membinasakan ketika dia telah putus asa dari kehidupan kemudian dia menemukannya. Dia adalah Raja yang tidak ada sekutu bagi-Nya, Yang Esa yang tidak ada tandingan bagi-Nya. Segala sesuatu binasa kecuali wajah-Nya. Dia tidak akan ditaati kecuali dengan izin-Nya, dan tidak akan dimaksiat kecuali dengan sepengetahuan-Nya. Dia ditaati maka Dia bersyukur, dan dengan taufik dan nikmat-Nya Dia ditaati. Dia dimaksiat maka Dia memaafkan dan mengampuni sedangkan hak-Nya disia-siakan. Dia adalah saksi yang paling dekat, penjaga yang paling mulia, paling menepati janji, paling adil dalam menegakkan keadilan. Dia menghalangi jiwa-jiwa dan memegang ubun-ubun, menulis jejak-jejak dan menyalin ajal-ajal. Hati-hati terbuka bagi-Nya, dan rahasia di sisi-Nya adalah terang-terangan, dan yang gaib di sisi-Nya terbuka. Setiap orang kepada-Nya berharap, dan wajah-wajah tunduk kepada cahaya wajah-Nya. Akal-akal lemah dari memahami hakikat-Nya, dan fitrah serta dalil-dalil semuanya menunjukkan mustahilnya ada yang menyerupai dan menyamai-Nya. Cahaya wajah-Nya menerangi kegelapan-kegelapan dan karena-Nya bumi dan langit bersinar, dan dengan-Nya semua makhluk menjadi baik. Dia tidak tidur dan tidak pantas bagi-Nya tidur. Dia menurunkan timbangan dan mengangkatnya. Kepada-Nya dinaikkan amal malam sebelum siang, dan amal siang sebelum malam. Hijab-Nya adalah cahaya, seandainya Dia membukanya niscaya sinar wajah-Nya akan membakar apa yang dicapai oleh pandangan-Nya dari makhluk-Nya.

Cinta kepada Allah Azza wa Jalla adalah kehidupan hati-hati, makanan ruh-ruh. Tidak ada kelezatan, kenikmatan, keberuntungan, dan kehidupan bagi hati kecuali dengannya. Jika hati kehilangan cinta ini, maka sakitnya lebih besar daripada sakit mata jika kehilangan cahayanya, dan telinga jika kehilangan pendengarannya. Bahkan kerusakan hati jika kosong dari cinta kepada Pencipta, Pembuat, dan Tuhan yang benar lebih besar daripada kerusakan badan jika kosong dari ruh. Perkara ini tidak akan dipercayai kecuali oleh orang yang di dalamnya ada kehidupan, dan tidak ada rasa sakit bagi mayat.

Atsar-atsar: Fath Al-Mausili berkata: “Orang yang mencintai tidak merasakan kelezatan dunia, dan tidak lengah dari mengingat Allah walau sekejap mata.”

Sebagian mereka berkata: “Orang yang mencintai adalah burung hati, banyak berdzikir, berusaha meraih ridha-Nya dengan segala cara yang mampu dia lakukan dari wasilah-wasilah dan sunnah-sunnah secara terus-menerus dan dengan kerinduan.”

Sebagian mereka bersyair: Jadilah bagi Tuhanmu orang yang mencintai agar kamu mengabdi kepada-Nya Sesungguhnya orang-orang yang mencintai adalah pelayan bagi yang dicintai

Seorang wanita dari salaf berwasiat kepada anak-anaknya, dia berkata kepada mereka: “Biasakanlah mencintai Allah dan taat kepada-Nya, sesungguhnya orang-orang yang bertakwa telah terbiasa dengan ketaatan sehingga anggota tubuh mereka merasa asing dengan selainnya. Jika yang terkutuk itu menawarkan kepada mereka kemaksiatan, kemaksiatan itu melewati mereka dengan malu, maka mereka mengingkarinya.”

Ibnu Mubarak bersyair: Kamu maksiat kepada Allah padahal kamu mengaku mencintai-Nya Ini demi umurku dalam ukuran adalah hal yang keji Seandainya cintamu benar niscaya kamu taat kepada-Nya Sesungguhnya orang yang mencintai kepada yang dicintainya adalah taat

 

 

11 – Ridha terhadap Qadha Allah Azza wa Jalla

Bagi hamba dalam hal yang dibencinya ada dua tingkatan: tingkatan ridha dan tingkatan sabar. Ridha adalah keutamaan yang dianjurkan, sedangkan sabar adalah kewajiban yang pasti bagi orang mukmin.

Ahli ridha terkadang memperhatikan hikmah Yang Menguji dan pilihan-Nya untuk hamba-Nya dalam ujian dan bahwa Dia tidak dituduh dalam keputusan-Nya. Terkadang mereka memperhatikan keagungan Yang Menguji, keagungan dan kesempurnaan-Nya sehingga mereka tenggelam dalam menyaksikan hal tersebut hingga tidak merasakan sakit. Ini dicapai oleh orang-orang khusus dari ahli ma’rifah dan cinta, hingga terkadang mereka menikmati apa yang menimpa mereka karena memperhatikan bahwa itu berasal dari kekasih mereka.

Perbedaan antara ridha dan sabar: Sabar adalah menahan jiwa dan mencegahnya dari kemarahan meskipun ada rasa sakit dan berharap hilangnya hal tersebut, serta menahan anggota tubuh dari beramal sesuai dengan kegundahan. Sedangkan ridha adalah kelapangan dada dan keluasannya dengan takdir, dan meninggalkan keinginan hilangnya rasa sakit meskipun merasakan sakit. Namun ridha meringankannya dengan apa yang menyentuh hati dari ruh yakin dan ma’rifah. Jika ridha menguat, maka bisa menghilangkan rasa sakit sama sekali.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya Allah Ta’ala dengan keadilan dan ilmu-Nya menjadikan ketenangan dan kegembiraan dalam yakin dan ridha, dan menjadikan kerisauan dan kesedihan dalam keraguan dan kemarahan.”

Alqamah berkata tentang firman Allah Ta’ala: “Dan barangsiapa beriman kepada Allah niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (At-Taghabun: 11) Yaitu musibah yang menimpa seseorang lalu dia mengetahui bahwa itu dari sisi Allah maka dia pasrah dan ridha kepadanya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Merasakan manisnya iman adalah orang yang ridha dengan Allah sebagai Tuhan, dengan Islam sebagai agama, dan dengan Muhammad sebagai rasul.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa berkata ketika mendengar adzan: ‘Aku ridha dengan Allah sebagai Tuhan, dengan Islam sebagai agama, dan dengan Muhammad sebagai rasul’, maka dosa-dosanya diampuni.”

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu melihat Adi bin Hatim dalam keadaan sedih, lalu berkata: “Mengapa aku melihatmu sedih dan berduka?” Dia menjawab: “Apa yang menghalangiku sedangkan kedua anakku telah terbunuh dan mataku telah dicongkel?” Maka Ali berkata: “Wahai Adi, barangsiapa ridha dengan takdir Allah maka takdir berjalan atasnya dan dia mendapat pahala, dan barangsiapa tidak ridha dengan takdir Allah maka takdir tetap berjalan atasnya dan amalnya sia-sia.”

Abu Darda radhiyallahu ‘anhu masuk kepada seseorang yang sedang sekarat dan dia memuji Allah. Maka Abu Darda berkata: “Kamu benar, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla jika memutuskan suatu keputusan, Dia suka jika hamba ridha dengannya.”

Abu Mu’awiyah berkata tentang firman Allah Ta’ala: “Maka sungguh akan Kami hidupkan ia dengan kehidupan yang baik.” (An-Nahl: 97) Yaitu ridha dan qana’ah.

Hasan berkata: “Barangsiapa ridha dengan apa yang dibagikan untuknya maka itu mencukupinya dan Allah memberkahi dirinya. Barangsiapa tidak ridha maka tidak mencukupinya dan tidak diberkahi untuknya.”

Umar bin Abdul Aziz berkata: “Tidak tersisa bagiku kegembiraan kecuali di tempat-tempat takdir.” Dan dikatakan kepadanya: “Apa yang kamu inginkan?” Dia menjawab: “Apa yang diputuskan Allah Azza wa Jalla.”

Abdul Wahid bin Zaid berkata: “Ridha adalah pintu Allah yang paling besar, surga dunia, dan tempat istirahat para ahli ibadah.”

Sebagian mereka berkata: “Tidak akan terlihat di akhirat derajat yang lebih tinggi daripada orang-orang yang ridha kepada Allah Ta’ala dalam setiap keadaan. Barangsiapa dianugerahi ridha maka dia telah mencapai derajat yang paling utama.”

Seorang badui bangun pagi dan unta-untanya yang banyak telah mati, lalu dia berkata: Tidak, demi Dzat yang aku adalah hamba dalam ibadah kepada-Nya Seandainya bukan karena cemoohan musuh-musuh yang dengki Tidaklah menggembirakan aku bahwa unta-untaku di tempat baringnya Dan bahwa sesuatu yang ditetapkan Allah tidak terjadi

 

 

12 – Khauf (Takut) dan Raja’ (Harap)

Khauf dan raja’ adalah dua sayap yang dengannya orang-orang yang didekatkan terbang ke setiap maqam yang ditentukan, dan dua kendaraan yang dengannya mereka memotong dari jalan-jalan akhirat setiap tanjakan yang sulit. Tidak ada yang mengantar kepada kedekatan Ar-Rahman dan ketenangan surga meskipun jauh harapannya, berat bebannya, dikelilingi oleh hal-hal yang dibenci hati dan kesulitan anggota tubuh, kecuali tali kekang harapan. Dan tidak ada yang menghalangi dari api neraka dan azab yang pedih meskipun dikelilingi oleh kelembutan syahwat dan keajaiban kelezatan kecuali cambuk ketakutan dan kekuatan ancaman. Maka tidak ada pilihan selain menjelaskan hakikat keduanya, keutamaan keduanya, dan cara-cara untuk mencapai penggabungan antara keduanya. Allah yang memberi taufik untuk kebaikan-kebaikan dan yang memberi petunjuk kepada derajat-derajat yang paling tinggi.

A – HARAPAN

Harapan adalah ketenangan hati dalam menanti sesuatu yang dicintainya.

Jika sebab-sebabnya tidak ada, maka lebih tepat disebut tipu daya dan kebodohan. Dan jika perkara itu sudah pasti, maka tidak disebut harapan, karena tidak dikatakan: “Saya berharap matahari terbit,” dan tidak mungkin dikatakan: “Saya berharap hujan turun.”

Para ulama hati telah mengetahui bahwa dunia adalah ladang akhirat, dan hati seperti tanah, iman seperti benih di dalamnya, ketaatan mengalir seperti menggemburkan tanah dan membersihkannya, serta seperti menggali sungai dan mengalirkan air kepadanya.

Hati yang terbuai oleh dunia dan tenggelam di dalamnya seperti tanah yang bergaram yang tidak dapat menumbuhkan benih. Hari kiamat adalah masa panen, dan seseorang tidak akan menuai kecuali apa yang telah ditanamnya. Tidak ada benih yang tumbuh kecuali benih iman, dan jarang sekali iman bermanfaat dengan hati yang rusak dan akhlak yang buruk, sebagaimana benih tidak tumbuh di tanah yang bergaram.

Maka sudah selayaknya harapan seorang hamba akan ampunan diukur dengan harapan pemilik tanaman. Setiap orang yang mencari tanah yang baik, menaburkan benih yang baik yang tidak busuk atau dimakan ulat, kemudian memberikan apa yang dibutuhkannya pada waktunya, lalu membersihkan duri dan rumput liar serta segala yang menghalangi tumbuhnya benih atau merusaknya, kemudian duduk menanti dari karunia Allah Ta’ala untuk menolak petir dan bencana yang merusak, hingga tanaman sempurna dan mencapai tujuannya, maka penantiannya disebut harapan.

Namun jika ia menaburkan benih di tanah keras bergaram yang tinggi yang tidak dapat dijangkau air, dan sama sekali tidak mau repot merawat benih itu kemudian menanti hasil panennya, maka penantiannya disebut kebodohan dan tipu daya, bukan harapan.

Maka nama harapan hanya tepat untuk penantian terhadap sesuatu yang dicintai yang telah dipersiapkan semua sebab-sebabnya yang berada dalam pilihan hamba, dan tidak tersisa kecuali apa yang tidak berada dalam pilihan hamba, yaitu karunia Allah Ta’ala dengan menolak penghalang dan perusak.

Jadi hamba yang telah menaburkan benih iman, menyiraminya dengan air ketaatan, membersihkan hatinya dari duri akhlak buruk, dan menanti dari karunia Allah Ta’ala untuk menetapkannya dalam hal itu hingga mati, dan husnul khatimah yang mengantarkan kepada ampunan, maka penantiannya adalah harapan yang hakiki.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah serta berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surat Al-Baqarah: ayat 218)

Maksudnya mereka layak mengharapkan rahmat Allah, dan tidak dimaksudkan untuk mengkhususkan adanya harapan, karena selain mereka juga mungkin berharap, tetapi mereka dikhususkan dengan kelayakan berharap.

Barangsiapa harapannya membimbingnya kepada ketaatan dan mencegahnya dari maksiat, maka itu adalah harapan yang benar. Dan barangsiapa harapannya mengajaknya kepada kemalasan dan tenggelam dalam kemaksiatan, maka itu adalah tipu daya.

Yang perlu diketahui bahwa barangsiapa berharap terhadap sesuatu, harapannya mengharuskan tiga perkara: Pertama: Mencintai apa yang diharapkannya. Kedua: Takut kehilangannya. Ketiga: Berusaha untuk mencapainya.

Adapun harapan yang tidak disertai dengan hal-hal tersebut, maka itu termasuk angan-angan belaka. Harapan adalah sesuatu dan angan-angan adalah sesuatu yang lain.

Setiap orang yang berharap pasti takut, dan orang yang berjalan di jalan jika takut akan mempercepat jalannya karena takut ketinggalan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa takut hendaklah berangkat di malam hari, dan barangsiapa berangkat di malam hari akan sampai ke tempat tujuan. Ketahuilah bahwa barang dagangan Allah itu mahal, ketahuilah bahwa barang dagangan Allah itu surga.”

Berita-berita tentang Harapan

Ayat-ayat: Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'” (Surat Az-Zumar: ayat 53)

Dan firman-Nya ‘Azza wa Jalla: “Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan bagi manusia atas kezaliman mereka, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar keras siksaan-Nya.” (Surat Ar-Ra’d: sebagian dari ayat 6)

Hadits-hadits: Yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Tidaklah mati seorang muslim kecuali Allah memasukkan sebagai gantinya ke dalam neraka seorang Yahudi atau Nasrani.”

Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu: Datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam para tawanan, maka ada seorang wanita dari tawanan itu berlari ketika menemukan seorang anak kecil di antara tawanan, lalu mengambilnya dan menempelkannya ke perutnya dan menyusukannya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apakah kalian melihat wanita ini akan membuang anaknya ke dalam api?” Kami menjawab: “Tidak, demi Allah.” Maka beliau bersabda: “Allah lebih menyayangi hamba-Nya yang beriman daripada wanita ini terhadap anaknya.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri-Nya sendiri sebelum menciptakan makhluk: ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku.'”

Dalam riwayat lain: “Telah mengalahkan murka-Ku,” dan dalam riwayat lain: “Mendahului murka-Ku.”

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai anak Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampuni apa yang ada padamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan kesalahan sebesar bumi kemudian bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sebesar itu pula.'”

Yahya bin Mu’adz berkata: “Di antara tipu daya yang paling besar adalah terus-menerus berbuat dosa sambil berharap maaf tanpa penyesalan, mengharapkan kedekatan dengan Allah Ta’ala tanpa ketaatan, menanti panen surga dengan menanam benih neraka, menuntut rumah orang-orang yang taat dengan kemaksiatan, menanti balasan tanpa amal, dan berangan-angan kepada Allah ‘Azza wa Jalla sambil berlebihan.”

“Engkau berharap keselamatan namun tidak menempuh jalannyaKarena sesungguhnya kapal tidak berlayar di daratan”

B – RASA TAKUT

Rasa takut adalah cambuk Allah yang digunakan-Nya untuk menggiring hamba-hamba-Nya kepada ilmu dan amal agar mereka meraih kedekatan dengan Allah Ta’ala dengannya. Rasa takut adalah ungkapan dari: kesakitan hati dan terbakarnya karena menduga adanya sesuatu yang dibenci di masa mendatang. Rasa takut itulah yang menahan anggota badan dari kemaksiatan dan mengikatnya dengan ketaatan.

Rasa takut yang kurang akan mengajak kepada kelengahan dan keberanian berbuat dosa, sedangkan berlebihan dalam rasa takut akan mengajak kepada putus asa dan putus harapan.

Rasa takut kepada Allah Ta’ala terkadang karena mengenal Allah Ta’ala dan sifat-sifat-Nya, bahwa seandainya Dia membinasakan seluruh alam, Dia tidak akan peduli dan tidak ada yang mencegah-Nya. Terkadang karena banyaknya kejahatan hamba dengan melakukan kemaksiatan. Terkadang karena keduanya, atau sesuai dengan pengetahuannya tentang cacat dirinya dan pengetahuannya tentang keagungan Allah Ta’ala dan kekayaan-Nya, bahwa Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya sedangkan mereka akan ditanya, maka kekuatan rasa takutnya sesuai dengan hal itu.

Maka orang yang paling takut kepada Tuhannya adalah yang paling mengenal dirinya dan Tuhannya. Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling mengenal Allah di antara mereka dan paling takut kepada-Nya.”

Dikatakan kepada Imam Asy-Sya’bi: “Wahai orang yang berilmu!” Dia berkata: “Sesungguhnya orang yang berilmu adalah yang takut kepada Allah,” berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Surat Fathir: sebagian dari ayat 28)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai ilmu dan cukuplah tipu daya sebagai kebodohan.”

Karena itu dikatakan: Bukanlah orang yang takut itu yang menangis dan mengusap matanya, tetapi yang meninggalkan apa yang ditakutinya akan dihukum karenanya. Dikatakan kepada Dzun Nun Al-Mishri: “Kapan seorang hamba menjadi takut?” Dia berkata: “Jika dia menempatkan dirinya pada posisi orang sakit yang berpantang karena takut sakitnya berkepanjangan.”

Abu Al-Qasim Al-Hakim berkata: “Barangsiapa takut terhadap sesuatu, dia akan lari darinya, dan barangsiapa takut kepada Allah, dia akan lari kepada-Nya.”

Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata: “Jika dikatakan kepadamu: ‘Apakah kamu takut kepada Allah?’ maka diamlah, karena jika kamu berkata: ‘Ya,’ maka kamu berdusta, dan jika kamu berkata: ‘Tidak,’ maka kamu kafir.”

Rasa takut membakar syahwat-syahwat yang haram sehingga kemaksiatan yang dicintainya menjadi dibenci, sebagaimana madu menjadi dibenci oleh orang yang menginginkannya jika dia tahu bahwa di dalamnya ada racun. Maka syahwat terbakar oleh rasa takut, anggota badan menjadi terdidik, dan terjadi dalam hati kekhusyukan, kehinaan, dan ketundukan. Kesombongan, dendam, dan hasad meninggalkannya. Bahkan dia menjadi tenggelam perhatiannya karena rasa takutnya dan melihat bahaya akibatnya, sehingga tidak sempat untuk yang lain, dan tidak ada kesibukan baginya kecuali muraqabah (mengawasi), muhasabah (introspeksi), mujāhadah (berjuang melawan nafsu), berhati-hati dengan napas dan saat-saat, menuntut diri dengan pikiran, langkah, dan perkataan. Keadaannya adalah keadaan orang yang jatuh dalam cakar binatang buas yang berbahaya, tidak tahu apakah binatang itu akan lengah darinya sehingga dia bisa lolos, atau menyerangnya sehingga dia binasa. Maka dia dengan lahir dan batinnya disibukkan oleh apa yang ditakutinya, tidak ada ruang untuk yang lain. Inilah keadaan orang yang dikuasai rasa takut.

Keutamaan Rasa Takut

Allah ‘Azza wa Jalla mengumpulkan bagi ahli takut: petunjuk, rahmat, ilmu, dan ridha. Allah Ta’ala berfirman: “Petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka.” (Surat Al-A’raf: sebagian dari ayat 154)

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Surat Fathir: sebagian dari ayat 28)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (Surat Al-Bayyinah: sebagian dari ayat 8)

Allah ‘Azza wa Jalla telah memerintahkan untuk takut dan menjadikannya syarat dalam iman. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Surat Ali ‘Imran: sebagian dari ayat 175)

Karena itu tidak dapat dibayangkan seorang mukmin terlepas dari rasa takut meskipun lemah, dan lemahnya rasa takutnya sesuai dengan lemahnya pengetahuan dan imannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang didatangi kematian. Ketika dia putus asa dari kehidupan, dia berwasiat kepada keluarganya: ‘Jika aku mati, kumpulkanlah untukku kayu bakar yang banyak dan nyalakanlah api padanya, hingga jika api itu memakan dagingku dan sampai ke tulangku lalu hancur, maka ambillah dan gilinglah, kemudian lihatlah hari yang berangin dan hamburkanlah (abuku) di laut.’ Maka mereka pun melakukannya. Lalu Allah mengumpulkannya dan berfirman kepadanya: ‘Mengapa kamu melakukan itu?’ Dia berkata: ‘Karena takut kepada-Mu.’ Maka Allah pun mengampuninya.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah Ta’ala hingga susu kembali ke dalam puting.”

Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata: “Barangsiapa takut kepada Allah, rasa takut akan menunjukkannya kepada setiap kebaikan.”

Yahya bin Mu’adz berkata: “Tidaklah seorang mukmin mengerjakan keburukan kecuali akan menyusulnya dua surga: takut akan hukuman dan harap akan maaf.”

Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah kaum yang pendengaran, penglihatan, dan anggota badan mereka tunduk -demi Allah- hingga orang bodoh mengira mereka sakit, padahal -demi Allah- mereka adalah orang-orang yang sehat. Tetapi masuk ke dalam diri mereka rasa takut yang tidak masuk ke dalam diri selain mereka, dan mencegah mereka dari dunia adalah pengetahuan mereka tentang akhirat. Maka mereka berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan rasa takut dari kami.’ Demi Allah, tidaklah menyedihkan mereka apa yang menyedihkan manusia, dan tidak membesar di hati mereka sesuatu yang mereka minta untuk surga. Sesungguhnya barangsiapa tidak berpegang pada penghiburan Allah, jiwanya akan putus karena dunia dengan penyesalan-penyesalan. Dan barangsiapa tidak melihat nikmat Allah atasnya selain dalam makanan atau minuman, maka sedikit ilmunya dan dekat azabnya.”

Berita-berita tentang Rasa Takut

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut kepada Tuhan mereka, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apa pun), dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, sedang hati mereka penuh dengan rasa takut, karena mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang terdahulu dalam (mengerjakan) kebaikan-kebaikan itu.” (Surat Al-Mu’minun: ayat 57-61)

Imam Tirmidzi meriwayatkan dalam Jami’nya dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat ini, aku berkata: “Apakah mereka itu orang-orang yang minum khamar, berzina, dan mencuri?” Maka beliau bersabda: “Tidak, wahai putri Ash-Shiddiq, tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat, bersedekah, dan takut tidak diterima (amal) mereka. Mereka itulah yang bersegera dalam kebaikan-kebaikan.”

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah dengan khutbah yang tidak pernah aku dengar sepertinya. Beliau bersabda: “Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian sedikit tertawa dan banyak menangis.” Maka para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menutupi wajah mereka dan mereka mengeluarkan suara isak tangis.

Dalam riwayat lain: Sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuatu dari para sahabatnya, maka beliau berkhutbah dan bersabda: “Diperlihatkan kepadaku surga dan neraka, maka aku tidak melihat seperti hari ini dari kebaikan dan keburukan. Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian sedikit tertawa dan banyak menangis.” Maka tidak pernah datang kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hari yang lebih berat daripada hari itu. Mereka menutupi kepala mereka dan mereka mengeluarkan suara isak tangis.

Dan makna hadis tersebut adalah: Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui tentang keagungan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia, dan siksa-Nya kepada orang yang bermaksiat kepada-Nya, niscaya kalian akan lama menangis, bersedih, dan takut terhadap apa yang menanti kalian, dan kalian sama sekali tidak akan tertawa. Yang sedikit di sini bermakna tidak ada sama sekali, dan ini dipahami dari konteksnya.

Sayyidah Aisyah radhiyallahu anha meriwayatkan: Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam apabila cuaca berubah dan angin kencang bertiup, beliau berubah (wajahnya) dan mondar-mandir di dalam kamar, masuk dan keluar, semua itu karena takut kepada azab Allah.

Abdullah bin Asy-Syakhir meriwayatkan: Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam apabila masuk dalam shalat, terdengar dari dadanya suara seperti suara ketel yang mendidih.

Barangsiapa yang merenungkan keadaan para sahabat radhiyallahu anhum dan orang-orang saleh setelah mereka dari generasi terdahulu umat ini, akan mendapati mereka dalam puncak amal dengan puncak ketakutan, sedangkan kita menggabungkan antara kelalaian bahkan keteledoran dengan rasa aman.

Inilah Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu berkata: “Aku berharap menjadi bulu di sisi seorang hamba yang beriman.” Dan ketika ia berdiri untuk shalat, ia seperti kayu karena takut kepada Allah Azza wa Jalla.

Dan inilah Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu membaca Surah Ath-Thur hingga sampai pada ayat: “Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi” (Ath-Thur: 7). Ia menangis dan tangisannya sangat keras hingga ia sakit dan orang-orang menjenguknya. Ketika ia akan meninggal, ia berkata kepada anaknya: “Celakalah engkau, letakkan pipiku di atas tanah, mudah-mudahan Allah merahmati aku.” Kemudian ia berkata: “Celaka ibuku jika Allah tidak mengampuni aku” – tiga kali – lalu ia meninggal. Ia biasa melewati ayat dalam wiridnya yang membuatnya takut kepada Allah, lalu ia tinggal di rumah berhari-hari dijenguk orang karena mereka mengira ia sakit. Di wajahnya ada dua garis hitam karena banyak menangis.

Ibnu Abbas berkata kepadanya: “Allah telah membangun negeri-negeri dengan perantaraanmu, membuka kemenangan-kemenangan melaluimu, dan berbuat (kebaikan).” Maka ia berkata: “Aku berharap selamat tanpa pahala dan tanpa dosa.”

Dan inilah Utsman bin Affan radhiyallahu anhu, ketika ia berdiri di atas kubur, ia menangis hingga jenggotnya basah. Ia berkata: “Seandainya aku berada di antara surga dan neraka dan tidak tahu ke mana aku akan pergi, niscaya aku memilih menjadi abu sebelum aku tahu ke mana aku akan pergi.”

Dan inilah Abu Darda radhiyallahu anhu berkata: “Seandainya kalian mengetahui apa yang akan kalian temui setelah mati, niscaya kalian tidak akan makan makanan karena nafsu, tidak akan minum minuman karena nafsu selamanya, tidak akan masuk rumah untuk berteduh, dan kalian akan keluar ke tanah lapang memukul dada kalian dan menangisi diri kalian. Aku berharap menjadi pohon yang ditebang lalu dimakan.”

Ibnu Abbas radhiyallahu anhu di bawah kedua matanya seperti tali sandal yang usang karena banyaknya air mata.

Ali karramallahu wajhah berkata setelah selesai dari shalat fajar, dan ia diliputi kesedihan sambil membolak-balik tangannya: “Sungguh aku telah melihat sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, namun aku tidak melihat hari ini sesuatu yang menyerupai mereka. Sungguh mereka di pagi hari tampak kusut, kuning, berdebu, di antara mata mereka seperti lutut kambing, mereka bermalam dengan sujud dan berdiri membaca Kitab Allah, bergantian antara dahi dan kaki mereka. Ketika pagi tiba, mereka mengingat Allah hingga mereka terhuyung seperti pohon terhuyung di hari berangin, mata mereka meneteskan air mata hingga pakaian mereka basah. Demi Allah, seakan-akan kaum tersebut bermalam dalam kelalaian.” Kemudian ia berdiri dan tidak terlihat tertawa setelah itu hingga ia dibunuh oleh Ibnu Muljam.

Musa bin Mas’ud berkata: “Ketika kami duduk bersama Sufyan, seakan-akan api telah mengelilingi kami karena apa yang kami lihat dari ketakutan dan kegelisahannya.”

Seseorang menggambarkan Al-Hasan: “Ketika ia datang seakan-akan ia baru saja datang dari mengubur kekasihnya, ketika ia duduk seakan-akan ia tawanan yang diperintahkan untuk dipotong lehernya, dan ketika disebutkan neraka seakan-akan neraka itu tidak diciptakan kecuali untuknya.”

Diriwayatkan bahwa Zurarah bin Abi Aufa mengimami orang-orang shalat fajar dengan Surah Al-Muddatstsir, ketika ia membaca firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Maka apabila sangkakala ditiup, maka pada hari itulah hari yang sulit” (Al-Muddatstsir: 8-9), ia tersedak dan meninggal.

Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash berkata: “Menangislah, jika kalian tidak bisa menangis maka berpura-puralah menangis. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya salah seorang di antara kalian mengetahui ilmu (tentang akhirat), niscaya ia akan berteriak hingga suaranya putus, dan shalat hingga tulang punggungnya patah.”

 

 

13 – Taubat

Taubat dari dosa-dosa dengan kembali kepada Dzat Yang Menutupi aib, Yang Maha Mengetahui yang gaib, adalah permulaan jalan para salik, modal pokok orang-orang yang beruntung, langkah pertama para murid, kunci kelurusan orang-orang yang menyimpang, dan permulaan terpilih serta terpilihnya orang-orang yang didekatkan.

Maqam taubat adalah yang pertama dari semua maqam, yang tengah, dan yang terakhir. Hamba yang salik tidak akan meninggalkannya dan akan senantiasa berada di dalamnya hingga mati. Jika ia berpindah ke maqam lain, ia berpindah bersamanya dan membawanya serta, dan singgah bersamanya. Taubat adalah permulaan hamba dan akhirnya. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan bertaubatlah kepada Allah semuanya, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung” (An-Nur: 31)

Ayat ini dalam surah Madaniyah, Allah menyeru dengan ayat ini kepada ahli iman dan pilihan makhluk-Nya agar bertaubat kepada-Nya setelah iman, sabar, hijrah, dan jihad mereka, kemudian Allah menggantungkan keberuntungan pada taubat dan mendatangkan kata “la’alla” (mudah-mudahan) sebagai isyarat bahwa jika kalian bertaubat, kalian berada dalam harapan keberuntungan. Maka tidak ada yang mengharapkan keberuntungan kecuali orang-orang yang bertaubat, semoga Allah menjadikan kita termasuk mereka. Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (Al-Hujurat: 11)

Maka Allah membagi hamba kepada: “yang bertaubat” dan “yang zalim”, dan tidak ada pembagian ketiga. Allah menjatuhkan nama zalim kepada orang yang tidak bertaubat, dan tidak ada yang lebih zalim darinya karena kebodohannya terhadap Tuhannya, hak-Nya, aib dirinya, dan kerusakan amal-amalnya. Dalam hadis sahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah, demi Allah sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.”

Taubat adalah: kembalinya hamba kepada Allah dan meninggalkan jalan orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang sesat.

Syarat-syarat taubat ada tiga: jika dosanya berkaitan dengan hak Allah Azza wa Jalla.

Yaitu: “penyesalan”, “meninggalkan (dosa)”, dan “bertekad untuk tidak mengulangi”.

Adapun penyesalan, maka taubat tidak akan terwujud kecuali dengannya, karena orang yang tidak menyesal atas perbuatan buruk, itu adalah dalil ridanya terhadap perbuatan itu dan berkeras melakukannya. Dalam Musnad: “Penyesalan adalah taubat.”

Adapun “meninggalkan (dosa)”, maka taubat mustahil terwujud sambil tetap melakukan dosa.

Syarat ketiga adalah: “bertekad untuk tidak mengulangi”, dan ini bergantung pada keikhlasan tekad ini dan kejujuran di dalamnya. Sebagian ulama mensyaratkan tidak mengulangi dosa dan berkata: kapan saja ia kembali kepada dosa, maka jelaslah bahwa taubatnya adalah batil dan tidak sah. Mayoritas ulama berpendapat bahwa itu bukan syarat. Adapun jika dosa itu mengandung hak manusia, maka orang yang bertaubat harus memperbaiki apa yang telah dirusaknya, atau meminta kerelaan dari orang yang haknya telah dilanggar, berdasarkan hadis yang shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang memiliki kezaliman terhadap saudaranya berupa harta dan kehormatan, hendaklah ia meminta kehalalannya hari ini sebelum tidak ada lagi dinar dan dirham kecuali kebaikan dan kejahatan.”

Dosa ini mengandung dua hak: hak Allah dan hak manusia. Taubat darinya adalah dengan meminta kehalalan dari manusia untuk haknya, dan menyesal antara dirinya dengan Allah untuk hak-Nya.

Ada beberapa taubat khusus yang akan kami sebutkan dengan pertolongan Allah Ta’ala sebagai berikut: Jika kezaliman berupa mencela manusia dengan ghibah atau qadzaf, apakah disyaratkan memberitahukan kepadanya?

Madzhab Abu Hanifah dan Malik mensyaratkan pemberitahuan, dan mereka berdalil dengan hadis sebelumnya. Pendapat lain: bahwa tidak disyaratkan pemberitahuan, cukup dengan taubatnya antara dirinya dengan Allah, dan menyebut orang yang dighibah atau diqadzaf di tempat-tempat di mana ia dighibah atau diqadzaf dengan kebalikan dari apa yang disebutkan tentangnya, dan meminta ampun untuknya. Ini adalah pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, ia berdalil bahwa memberitahukan kepadanya adalah kerusakan murni yang tidak mengandung kemaslahatan, dan apa yang demikian maka syari’ tidak membolehkannya apalagi mewajibkan atau memerintahkannya.

Adapun taubat orang yang merampas harta, maka ia harus mengembalikan harta itu kepada pemiliknya. Jika sulit baginya mengembalikannya karena tidak mengetahui pemiliknya, atau karena mereka sudah punah, atau karena sebab lain, maka ia harus menyedekahkan harta-harta itu atas nama pemiliknya. Jika tiba hari penunaian hak-hak, maka ia memiliki pilihan antara mereka merestui apa yang telah dilakukannya dan pahala menjadi milik mereka, atau mereka tidak merestui dan mengambil dari kebaikan-kebaikannya sesuai dengan keadaan mereka, dan pahala sedekah itu menjadi miliknya karena Allah Subhanahu tidak akan menyia-nyiakan pahalanya.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, ia membeli budak wanita dari seseorang dan masuk untuk menimbang harganya, lalu pemilik budak wanita itu pergi. Ia berkata: “Jika ia rela maka pahala untuknya, jika ia tidak mau maka pahala untukku dan ia mendapat dari kebaikan-kebaikanku sesuai dengan haknya.”

Adapun taubat orang yang bermuamalah dengan orang lain dalam muamalah yang haram dan mengambil imbalan seperti penjual khamar, penyanyi, dan saksi palsu kemudian bertaubat sedangkan imbalan ada di tangannya: sekelompok ulama berkata ia mengembalikannya kepada pemiliknya karena itu adalah hartanya, dan ia tidak mengambilnya dengan izin syari’ dan pemiliknya tidak mendapat manfaat yang halal sebagai gantinya. Sekelompok lain berkata – dan ini pendapat yang lebih benar -: taubatnya adalah dengan menyedekahkan harta itu. Bagaimana ia mengembalikan kepada pemberinya harta yang telah digunakan untuk bermaksiat kepada Allah? Demikian juga taubat orang yang hartanya halal bercampur dengan haram dan sulit baginya membedakannya, ia menyedekahkan sejumlah yang haram dan menyucikan sisa hartanya. Wallahu a’lam.

Masalah: Jika hamba bertaubat dari dosa, apakah ia kembali kepada keadaan sebelum dosa dari derajat yang diturunkan oleh dosa darinya atau tidak kembali kepadanya?

Sekelompok berkata: ia kembali kepada derajatnya karena taubat menghapus dosa seluruhnya dan menjadikannya seakan tidak pernah ada.

Kelompok lain berkata: ia tidak kembali kepada derajat dan keadaannya karena sebelumnya ia tidak dalam keadaan berhenti, melainkan dalam keadaan naik. Dengan dosa ia menjadi dalam keadaan turun, jika bertaubat berkurang padanya kadar yang ia persiapkan untuk naik.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: Yang benar: di antara orang-orang yang bertaubat ada yang tidak kembali kepada derajatnya, dan di antara mereka ada yang kembali lebih tinggi darinya sehingga menjadi lebih baik dari sebelum dosa. Dawud setelah taubat lebih baik darinya sebelum kesalahan. Di sini ada perumpamaan: seorang musafir yang berjalan di jalan dengan tenang dan aman, kadang berlari kadang berjalan, kadang beristirahat kadang tidur. Sementara ia demikian, tiba-tiba muncul dalam perjalanannya naungan yang teduh, air yang dingin, tempat istirahat, dan taman yang berbunga. Nafsunya mengajaknya untuk singgah di tempat-tempat itu maka ia singgah. Tiba-tiba musuh menyerangnya dan menangkapnya, membelenggunya dan mencegahnya dari berjalan. Ia melihat kebinasaan dan mengira bahwa ia terputus darinya, bahwa ia menjadi rezeki binatang buas dan binatang liar, dan bahwa ia terhalang dari tujuan yang ditujunya. Sementara ia dalam keadaan itu dipermainkan prasangka, tiba-tiba ayahnya yang penyayang lagi berkuasa berdiri di atas kepalanya, melepas belenggu dan rantainya, dan berkata kepadanya: “Naiklah ke jalan dan hati-hatilah terhadap musuh ini karena ia mengintaimu di pos-pos jalan, dan ketahuilah bahwa selama engkau berhati-hati terhadapnya dan waspada kepadanya, ia tidak akan mampu mengalahkanmu. Jika engkau lengah, ia akan menyerangmu. Aku mendahuluimu ke tempat tujuan dan menjadi pelopormu, maka ikutilah aku.” Jika musafir ini cerdas, pintar, bijak, hadir akal dan pikirannya, ia akan memulai perjalanannya dengan permulaan lain yang lebih kuat dari yang pertama, lebih sempurna dan lebih waspada. Kewaspadaannya meningkat dan ia bersiap untuk musuh ini, menyiapkan peralatannya. Perjalanan keduanya lebih kuat dari yang pertama dan lebih baik, dan sampainya ke tujuan lebih cepat. Jika ia lengah terhadap musuhnya dan kembali seperti keadaan pertama tanpa tambahan, pengurangan, kekuatan kewaspadaan, atau persiapan, ia kembali seperti semula dan ia terancam dengan apa yang mengancamnya pertama kali. Jika hal itu menyebabkan kemalasan dalam perjalanannya, kelemahan, dan mengingat-ingat nikmatnya tempat istirahat, keindahan taman itu, atau segarnya air itu, ia tidak akan kembali seperti perjalanan pertamanya dan berkurang dari keadaan sebelumnya.

Taubat Nasuha

Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang nasuha (taubat yang semurni-murninya), mudah-mudahan Tuhan kalian akan menutupi kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai” (At-Tahrim: 8)

An-nush (ketulusan) dalam taubat adalah: membersihkannya dari segala penipuan, kekurangan, dan kerusakan. Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Yaitu hamba menyesal atas yang telah lalu dan bertekad untuk tidak mengulanginya.”

Al-Kalbi berkata: “Yaitu meminta ampun dengan lisan, menyesal dengan hati, dan menahan dengan badan.” Sa’id bin Al-Musayyab berkata: “Taubat nasuha: kalian menasihati diri kalian dengannya.” Ibnu Qayyim berkata: “An-nush dalam taubat mengandung tiga hal”:

Pertama: Menyeluruh terhadap dosa-dosa dan meliputi semua dengan taubat sehingga tidak meninggalkan dosa kecuali dijangkau olehnya.

Kedua: Mengumpulkan tekad dan kesungguhan dengan keduanya sehingga tidak tersisa padanya keragu-raguan, kemalasan, atau penantian, tetapi mengumpulkan seluruh keinginan dan tekadnya untuk segera melakukannya.

Ketiga: Membersihkannya dari kotoran dan sebab-sebab yang merusak keikhlasannya dan kejadiannya semata-mata karena takut kepada Allah, takut kepada-Nya, rindu kepada apa yang ada di sisi-Nya, dan takut kepada apa yang ada pada-Nya. Bukan seperti orang yang bertaubat untuk menjaga keperluannya, kehormatannya, jabatannya, dan kepemimpinannya, atau untuk menjaga waktunya dan hartanya, atau untuk mendapatkan pujian manusia, atau lari dari celaan mereka, atau agar orang-orang bodoh tidak menguasainya, atau untuk memuaskan keinginannya terhadap dunia, atau karena bangkrut dan lemah, dan sebagainya dari sebab-sebab yang merusak kesahihan dan keikhlasannya kepada Allah Azza wa Jalla. Yang pertama berkaitan dengan apa yang bertaubat darinya, yang tengah berkaitan dengan dzat orang yang bertaubat, dan yang ketiga berkaitan dengan Dzat yang dituju taubat. Ketulusan taubat adalah: kejujuran di dalamnya, keikhlasan, dan menyeluruh terhadap dosa-dosa dengannya. Tidak diragukan bahwa taubat ini mengharuskan istighfar dan mengandungnya, menghapus semua dosa, dan merupakan yang paling sempurna dari taubat.

Taubat hamba kepada Allah dikelilingi oleh taubat dari Allah kepadanya sebelumnya dan taubat dari-Nya sesudahnya. Taubatnya berada di antara dua taubat dari Tuhannya yang mendahului dan yang mengikuti. Karena Allah bertaubat kepadanya:

Pertama: Berupa izin, taufik, dan ilham, maka hamba bertaubat, lalu Allah bertaubat kepadanya.

Kedua: Berupa penerimaan dan pemberian pahala, sesuai firman Allah Azza wa Jalla: “Dan terhadap tiga orang yang ditinggalkan (tidak diizinkan ikut berperang) hingga apabila bumi yang luas itu menjadi sempit bagi mereka, dan jiwa mereka pun menjadi sempit (pula), dan mereka yakin bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka bertaubat (sungguh-sungguh). Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (At-Taubah: 118)

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan: bahwa taubat-Nya kepada mereka mendahului taubat mereka, yaitu taubat Allah itulah yang menjadikan mereka bertaubat, sehingga menjadi sebab yang mengharuskan taubat mereka. Dan inilah bagian dari rahasia nama-Nya “Al-Awwal dan Al-Akhir” (Yang Awal dan Yang Akhir), maka Dia yang menyediakan dan yang memberi, dan dari-Nya sebab dan yang disebabkan. Hamba itu tawwab (sering bertaubat) dan Allah Tawwab (Maha Penerima Taubat), maka taubat hamba adalah kembalinya dia kepada tuannya setelah melarikan diri, sedangkan taubat Allah ada dua macam: izin dan taufik, serta penerimaan dan pertolongan.

Dan taubat itu memiliki permulaan dan akhir. Permulaan taubat adalah: kembali kepada Allah dengan menempuh jalan-Nya yang lurus yang diperintahkan kepada mereka untuk menempuhnya dengan firman-Nya: “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153)

Dan akhir taubat adalah: kembali kepada-Nya di akhirat dan menempuh jalan-Nya yang Dia bentangkan sebagai penghubung menuju surga-Nya. Maka barangsiapa kembali kepada Allah di dunia ini dengan taubat, dia akan kembali kepada-Nya di akhirat dengan pahala. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan barangsiapa yang bertaubat dan mengerjakan amal yang saleh, maka sesungguhnya ia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-Furqan: 71)

Rahasia-rahasia Taubat dan Kehalusan-kehalusannya

Ketahuilah bahwa hamba yang berakal ketika melakukan dosa, maka dia memiliki pandangan terhadap beberapa perkara:

Pertama: Dia memandang kepada perintah dan larangan Allah, maka hal itu menimbulkan pengakuan bahwa perbuatan itu adalah dosa dan mengakui kesalahan atas dirinya.

Kedua: Dia memandang kepada janji dan ancaman, maka hal itu menimbulkan rasa takut dan khawatir yang mendorongnya untuk bertaubat.

Ketiga: Dia memandang kepada pemberian kesempatan dari Allah kepadanya untuk melakukan dosa tersebut dan membiarkannya antara dia dan dosa itu serta takdir Allah atasnya, dan bahwa seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia akan menjaganya dari dosa tersebut. Maka hal itu menimbulkan berbagai macam ma’rifat kepada Allah dan nama-nama-Nya serta sifat-sifat-Nya, hikmah-Nya, rahmat-Nya, kesabaran-Nya dan kemuliaan-Nya, dan mewajibkan baginya penghambaan dengan nama-nama ini yang sama sekali tidak akan diperoleh tanpa konsekuensi-konsekuensinya. Dan dia mengetahui keterkaitan penciptaan dan perintah serta ancaman dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan bahwa hal itu adalah konsekuensi dari nama-nama dan sifat-sifat serta pengaruhnya dalam wujud. Dan pemandangan ini menampakkan kepadanya taman-taman yang dipenuhi ma’rifat dan keimanan serta rahasia-rahasia takdir dan hikmah yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Di antaranya: agar hamba mengenal kemuliaan Allah dalam ketetapan-Nya, yaitu bahwa Dia Subhanahu adalah Yang Mulia yang memutuskan apa yang Dia kehendaki, dan karena kesempurnaan kemuliaan-Nya, Dia menghukumi hamba dan menetapkan atasnya dengan membolak-balik hatinya dan mengalihkan kehendaknya kepada apa yang Dia kehendaki serta menghalangi antara hamba dan hatinya.

Dan dari ma’rifat kemuliaan-Nya dalam ketetapan-Nya adalah mengetahui bahwa dia adalah makhluk yang diatur lagi ditundukkan, ubun-ubunnya berada di tangan selain-Nya, tidak ada penjagaan baginya kecuali dengan penjagaan Allah dan tidak ada taufik baginya kecuali dengan pertolongan-Nya, maka dia hina dan rendah dalam genggaman Yang Mulia lagi Terpuji. Dan dari menyaksikan kemuliaan-Nya dalam ketetapan-Nya adalah menyaksikan bahwa kesempurnaan, pujian, dan kemuliaan semuanya milik Allah, dan bahwa hamba itu sendiri lebih pantas dengan kekurangan, celaan, aib, kezaliman, dan kebutuhan. Dan semakin bertambah penyaksiannya terhadap kehinaan, kekurangan, aib, dan kefakirannya, semakin bertambah pula penyaksiannya terhadap kemuliaan Allah dan kesempurnaan-Nya semata serta kekayaan-Nya.

Di antaranya: agar dia mengetahui kebaikan Allah Subhanahu dalam menutupinya ketika melakukan maksiat padahal Allah melihatnya dengan sempurna, dan seandainya Allah menghendaki niscaya Dia akan mempermalukannya di hadapan makhluk-Nya. Dan di antaranya adalah menyaksikan kesabaran Allah Azza wa Jalla dalam memberi tempo kepada pelaku dosa, dan seandainya Allah menghendaki niscaya Dia akan menyegerakan hukuman, maka hal itu menimbulkan ma’rifat kepada Rabbnya Subhanahu dengan nama-Nya “Al-Halim” (Maha Penyabar).

Di antaranya: mengenal karunia Allah dalam ampunan-Nya, karena sesungguhnya ampunan adalah karunia dari Allah, sebaliknya seandainya Dia menghukum dengan hak-Nya semata, Dia tetap adil dan terpuji. Hanya saja pengampunan-Nya adalah karena karunia-Nya, bukan karena kamu berhak mendapatkannya, maka hal itu mewajibkan baginya rasa syukur, cinta, kembali kepada Allah, dan ma’rifat dengan nama-Nya “Al-Ghaffar” (Maha Pengampun).

Di antaranya: agar Dia sempurnakan bagi hamba-Nya tingkatan-tingkatan kehinaan, kepatuhan, kepatahan hati, dan kebutuhan, yaitu empat tingkatan:

Tingkatan pertama: hina karena kebutuhan dan kefakiran, dan ini berlaku umum bagi seluruh makhluk.

Tingkatan kedua: hina karena ketaatan dan penghambaan, dan ini khusus bagi ahli ketaatan kepada-Nya.

Tingkatan ketiga: hina karena cinta, maka orang yang mencintai itu hina secara hakiki, dan sesuai kadar cintanya maka akan menjadi kadar kehinaannya.

Tingkatan keempat: hina karena maksiat dan kejahatan, dan hakikat dari itu adalah kefakiran.

Maka ketika keempat tingkatan ini berkumpul, maka kehinaan kepada Allah dan kepatuhan kepada-Nya menjadi lebih sempurna dan lengkap.

Di antaranya: bahwa nama “Ar-Razzaq” (Maha Pemberi Rezeki) mengharuskan adanya yang diberi rezeki, dan “As-Sami’ Al-Bashir” (Maha Mendengar lagi Maha Melihat) mengharuskan adanya yang didengar dan yang dilihat, demikian juga nama-nama “Al-Ghafur, Al-‘Afuww, At-Tawwab” (Maha Pengampun, Maha Pemaaf, Maha Penerima Taubat) mengharuskan adanya yang diampuni, yang ditaubati, dan yang dimaafkan, dan mustahil menganggurkan nama-nama dan sifat-sifat ini.

Dan telah mengisyaratkan hal ini orang yang paling mengetahui Allah yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau bersabda: “Seandainya kalian tidak berdosa, niscaya Allah akan menghilangkan kalian dan mendatangkan kaum yang berdosa kemudian memohon ampun lalu Dia mengampuni mereka.”

Di antara rahasia-rahasianya: apa yang diriwayatkan dalam Shahihain dari hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya ketika dia bertaubat kepada-Nya daripada salah seorang di antara kalian yang berada di atas kendaraannya di tanah tandus lalu kendaraan itu lepas darinya padahal di atasnya ada makanan dan minumannya, lalu dia berputus asa darinya, kemudian dia mendatangi sebatang pohon dan berbaring di bawah naungannya karena telah berputus asa dari kendaraannya. Ketika dia dalam keadaan demikian, tiba-tiba kendaraan itu berdiri di sisinya, lalu dia mengambil tali kekangnya kemudian berkata karena sangat gembira: ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhanmu’, dia salah ucap karena sangat gembira.”

Maka bagaimana sangkamu terhadap kekasih yang kamu cintai dengan cinta yang sangat, lalu musuhmu menawannya dan menghalangi antara kamu dan dia, dan kamu mengetahui bahwa musuh itu akan menyiksanya dengan siksaan yang buruk dan menghadapkannya kepada berbagai macam kebinasaan, padahal kamu lebih berhak terhadapnya daripada musuh itu dan dia adalah tanamanmu dan didikanmu, kemudian dia berhasil meloloskan diri dari musuhnya dan mendatangimu tanpa janji, lalu tidak ada yang mengejutkanmu kecuali dia sudah berada di pintumu memohon dan mencari ridha serta menggesek-gesekkan pipinya di atas debu ambang pintumu, maka bagaimana kegembiraan kamu terhadapnya padahal kamu telah mengkhususkannya untuk dirimu dan meridhainya untuk dekatmu serta mengutamakannya atas selain dia? Ini padahal kamu bukan yang mewujudkan, menciptakan, dan melimpahkan nikmat kepadanya. Sedangkan Allah Azza wa Jalla adalah yang mewujudkan hamba-Nya, menciptakannya, melimpahkan nikmat kepada-Nya, dan Dia suka menyempurnakan nikmat itu atas hambanya.

Dan sampai di sini berakhir apa yang dimudahkan bagi kami untuk mengumpulkan dan menyusunnya. Kami memohon kepada Allah agar diterima dan agar Dia menganugerahkan kepada kami di hari kiamat kebaikan dan simpanan-Nya. Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas apa yang Dia kehendaki dan pantas untuk mengabulkan. Dan akhir doa kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

 

14 – Daftar Pustaka

 

1 – Ihya Ulum al-Din, karya Al-Ghazali dengan tahqiq Al-Iraqi, cetakan Al-Sya’b.

2 – Ighathat al-Lahfan min Mashayid al-Shaytan, karya Ibnu Qayyim, cetakan Al-Halabi.

3 – Tuhfat al-Ashraf, karya Al-Mizzi. Abdul Shamad Syaraf al-Din, cetakan Dar al-Qayyimah di India.

4 – Tafsir al-Quran al-Azhim, karya Ibnu Katsir, cetakan Dar al-Ma’rifah Beirut.

5 – Tafsir al-Mu’awwidzatain, karya Ibnu Qayyim, cetakan Al-Mathba’ah al-Salafiyyah.

6 – Al-Targhib wa al-Tarhib, karya Al-Mundziri.

7 – Jami’ al-Ushul, karya Ibnu al-Atsir dengan tahqiq Abdul Qadir al-Arna’uth, cetakan Dar al-Fikr.

8 – Jami’ al-Ulum al-Hikam, karya Ibnu Rajab, cetakan Al-Halabi.

9 – Jala’ al-Afham, karya Ibnu Qayyim, cetakan Dar Umar bin al-Khaththab.

10 – Al-Jawab al-Kafi, karya Ibnu Qayyim.

11 – Riyadh al-Shalihin, karya An-Nawawi dengan tahqiq Al-Albani, cetakan Al-Maktab al-Islami.

12 – Ar-Ruh, karya Ibnu Qayyim, cetakan Muhammad Ali Subayh.

13 – Sunan Ibnu Majah, cetakan Al-Maktabah al-Ilmiyyah.

14 – Sunan al-Darimi, cetakan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.

15 – Silsilat al-Ahadits al-Shahihah, karya Al-Albani.

16 – Sunan an-Nasa’i dengan syarah As-Suyuthi dan hasyiah As-Sindi, cetakan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.

17 – Syarh as-Sunnah, karya Al-Baghawi dengan tahqiq Syu’aib al-Arna’uth.

18 – Shahih Ibnu Dawud, karya Al-Albani, cetakan Maktab at-Tarbiyah al-Arabi.

19 – Shahih at-Tirmidzi, karya Al-Albani, cetakan Maktab at-Tarbiyah al-Arabi.

20 – Shahih Ibnu Majah, karya Al-Albani, cetakan Maktab at-Tarbiyah al-Arabi.

21 – Shahih Muslim, dengan syarah An-Nawawi, Al-Maktabah al-Mishriyyah.

22 – Shahih an-Nasa’i, karya Al-Albani, cetakan Maktab at-Tarbiyah al-Arabi.

23 – Aridhat al-Ahwadzi bi Syarh Jami’ at-Tirmidzi, karya Ibnu al-Arabi, cetakan Dar al-Wa’yi.

24 – Uddat as-Shabirin wa Dzakhirat asy-Syakirin, karya Ibnu Qayyim, Zakariya Ali Yusuf.

25 – Aun al-Ma’bud bi Syarh Sunan Abi Dawud, karya Syams al-Haqq Abadi, cetakan Al-Maktabah as-Salafiyyah di Madinah al-Munawwarah.

26 – Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari, karya Ibnu Hajar, cetakan As-Salafiyyah.

27 – Majma’ az-Zawa’id wa Manba’ al-Fawa’id, karya Nur ad-Din al-Hasyimi, cetakan Dar al-Kitab al-Arabi.

28 – Madarij as-Salikin, karya Ibnu Qayyim, cetakan Dar al-Fikr al-Arabi.

29 – Mustadrak al-Hakim dan bersamanya Talkhish adz-Dzahabi, cetakan Dar al-Ma’rifah.

30 – Musnad Ahmad dengan indeks Al-Albani, cetakan Al-Maktab al-Islami.

31 – Misykat al-Mashabih, karya At-Tabrizi dengan tahqiq Al-Albani, cetakan Al-Maktab al-Islami.

32 – Miftah Dar as-Sa’adah, karya Ibnu Qayyim, cetakan Maktabat as-Sa’adah.

33 – Muwaththa’ Malik, dengan penomoran Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, cetakan Al-Halabi.

34 – Mawarid azh-Zham’an fi Zawa’id Ibnu Hibban, cetakan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.

35 – Mau’izhat al-Mu’minin, karya Al-Qasimi, cetakan Al-Maktabah at-Tijariyyah.

36 – Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits, karya sekelompok orientalis, cetakan Dar ad-Da’wah.

37 – Al-Wabil ash-Shayyib, karya Ibnu Qayyim, cetakan Al-Mathba’ah as-Salafiyyah.

 

Facebook Comments Box

Artikel Terjkait

Jembatan Maaf: Kunci Ampunan Ilahi
Anatomi Kejatuhan: Seni Memotong Rantai Kebiasaan Buruk
Topeng Kewibawaan Semu
Sifat Pecinta Sejati (Al-Muhibb As-Shadiq)
Hati Adalah Mata Air: Menelusuri Akar Perilaku dan Lisan
MENJAGA JEMARI DI ERA DIGITAL
Memperbaiki Diri Sebelum Menilai Orang Lain
Ramadhan dan Empati yang Disengaja di Dunia Digital
Berita ini 10 kali dibaca

Artikel Terjkait

Minggu, 22 Maret 2026 - 20:14 WIB

Jembatan Maaf: Kunci Ampunan Ilahi

Kamis, 19 Maret 2026 - 19:31 WIB

Anatomi Kejatuhan: Seni Memotong Rantai Kebiasaan Buruk

Rabu, 11 Maret 2026 - 18:14 WIB

Topeng Kewibawaan Semu

Rabu, 11 Maret 2026 - 18:05 WIB

Sifat Pecinta Sejati (Al-Muhibb As-Shadiq)

Senin, 2 Maret 2026 - 00:24 WIB

Hati Adalah Mata Air: Menelusuri Akar Perilaku dan Lisan

Artikel Terbaru

Fikih

MENGUTAMAKAN QADHA PUASA RAMADHAN DARIPADA PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Mar 2026 - 15:02 WIB

Fikih

MENYEMPURNAKAN RAMADHAN DENGAN PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Mar 2026 - 14:46 WIB

Ibadah

Istiqomah Pasca Ramadhan

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:30 WIB

Dakwah

Ujian: Surat Cinta yang Mengajak Kembali ke Pelukan Ilahi

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:25 WIB

Dakwah

Rahasia Terbukanya Pintu Rahmat

Rabu, 25 Mar 2026 - 14:45 WIB