“SURAT-MENYURAT ANTARA SUAMI ISTRI”
رسائل متبادلة بين زوجين
Ditulis oleh:
Abdul Malik bin Muhammad Al-Qasim
عبد الملك بن محمد القاسم
Diterjemahkan oleh:
Muhamad Abid Hadlori, S.Ag.,Lc.
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan kasih sayang dan rahmat di antara pasangan suami istri. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi yang paling mulia dan para rasul, Nabi kita Muhammad ﷺ, keluarganya dan seluruh sahabatnya. Selanjutnya:
Keluarga dalam Islam adalah pilar dan fondasi masyarakat. Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadapnya. Banyak ayat dalam kitab Allah Yang Maha Mulia yang mengatur keluarga ini, menegakkan pondasinya dan menyelesaikan masalah-masalahnya. Sunnah Nabi ﷺ yang suci telah menjelaskan dan menyempurnakan hal ini. Dan perjalanan hidup Rasulullah ﷺ adalah contoh terbaik dalam menjaga keluarga dengan baik, mendidiknya, memeliharanya dan memenuhi hak-haknya.
Karena sedikitnya buku-buku kecil di ranah Islam yang membahas masalah keluarga, menghidupkan kebahagiaannya dan mengembalikan posisi agungnya… saya menulis buku ini dengan gaya baru, dengan harapan di dalamnya terdapat kebaikan dan manfaat agar keluarga Muslim menjadi stabil, bahagia dan tenteram; untuk menghasilkan generasi yang menyejukkan mata kaum muslimin. Semoga Allah memberkahi Nabi kita Muhammad ﷺ, keluarganya dan seluruh sahabatnya.
SEBELUM MEMBUKA SURAT
Surat-surat secara umum memiliki dampak khusus dalam jiwa… Dan dalam surat-menyurat antara orang-orang yang saling mencintai dan bersahabat terdapat banyak tanda-tanda keluhuran, pendidikan yang baik, dan kemuliaan kasih sayang! Surat-surat ini mendekatkan hati, menghilangkan kebencian dalam dada, menyebarkan kasih sayang, dan menjaga cinta!
Dan ini adalah surat-surat teguran dan kasih sayang antara suami istri yang menceritakan realitas yang nyata dan teramati… Saya tidak membawa sesuatu yang baru di dalamnya, tetapi ini adalah hal-hal yang sudah jelas yang saya ingin menarik perhatian kepadanya, dan menekankan pentingnya, dengan harapan di dalamnya ada perbaikan apa yang telah rusak, menyambung apa yang telah terputus, dan mengumpulkan apa yang telah tercerai-berai… Ini adalah isyarat-isyarat berurutan untuk setiap suami dan istri.
WAHAI SUAMIKU…
Beberapa tahun yang lalu, aku berbahagia saat dinikahkan denganmu, bangga dengan kepemimpinanmu atasku, bahagia dengan pernikahan kita… Dan hari ini tidak ada penyesalan atau air mata kesedihan atas pernikahanku denganmu… Bahkan untukmu kasih sayang yang tertinggi, dan cinta yang paling sempurna dan mulia… Maka segala puji bagi Allah yang telah menjadikanmu ketenangan dalam hatiku, ketentraman dalam jiwaku, dan kebanggaan serta kemuliaan dalam ucapanku.
Aku memuji Allah Yang Maha Mulia karena tidak tampak antara aku dan kamu pertentangan dalam akhlak, tidak ada perbedaan dalam temperamen, tidak ada perbedaan dalam tabiat… Bahkan aku mendapatimu sebagai sebaik-baik lelaki yang berpegang pada firman Allah Ta’ala: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” [[1]]
Dan aku menemukan pengaruh hadits Rasulullah ﷺ dalam ucapan dan perbuatanmu: “…dan berbuat baiklah kepada para wanita…”[[2]]
Alangkah nikmatnya engkau sebagai lelaki yang menunaikan hak-hak Allah Ta’ala dan hak-hak rumahnya, dan berbahagialah dengan bagian yang besar dari hadits Rasulullah ﷺ: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik terhadap istri-istri mereka.”[[3]]
Kita berjalan bersama di dunia ini, kita melihat dan mendengar dari orang yang telah menyimpang dari jalan yang lurus, atau tergelincir kakinya… Maka ia menyelisihi perintah Allah dan petunjuk Nabi-Nya dalam hal kepemimpinan, pergaulan yang baik dan memaafkan kesalahan keluarganya… Sebagian mengabaikan mereka dan merampas hak-hak mereka…
Meskipun aku, wahai suamiku, mengangkatmu dari memiliki sifat dari sifat-sifat itu dan kesalahan dari kesalahan-kesalahan itu, maka aku menulisnya sebagai pengingat, dan seorang mukmin adalah cerminan saudaranya, orang-orang mukmin adalah pemberi nasihat, sedangkan orang-orang munafik adalah penipu… Dan aku mengenalmu suka berdialog dan mendengarkannya, dan bagimu teladan pada Rasulullah ﷺ, Abu Bakar dan Umar, dan orang yang mengikuti jejak mereka.
Orang yang berakal, cerdas dan bijaksana adalah yang mendengarkan perkataan yang benar, apalagi orang yang mencari kebenaran… Dan karena panjangnya perjalanan, mungkin terjadi apa yang mengeruhkan perjalanan kehidupan pernikahan, dan mungkin kesalahan-kesalahan ini menjadi pintu keburukan, jalan maksiat, dan persimpangan jalan, maka aku ingin mengingatkanmu dengannya semoga engkau menasihati orang-orang yang di belakangmu dari orang-orang yang dicintai dan para sahabat… Ini adalah keluhan para istri dan rintihan para ibu…
Ini adalah pertemuan dan pembicaraan dari seorang istri kepada suaminya dan lelaki yang berakal tidak meremehkan pembicaraan nasihat… Bahkan dia adalah pendengar yang diam yang diangkat oleh adab dan dihiasi oleh akal, mengharapkan perbaikan sebagai pahala dan ganjaran!
Wahai Suamiku yang Tercinta…
Aku tidak melihat perhatianmu terhadap masalah akidah yang menjadi poros Islam dan iman… Engkau telah longgar dalam hal tawakal kepada Allah, dan menyerahkan urusan hanya kepada sebab-sebab.
Ibnu Rajab berkata tentang tawakal: “Ia adalah ketulusan kepercayaan hati kepada Allah dalam mendatangkan manfaat dan menolak bahaya dari urusan dunia dan akhirat…”
Ibnul Qayyim berkata: “Tawakal adalah setengah dari agama”. Dan manusia di zaman ini terbagi dalam tiga tingkatan:
Pertama: Mereka yang pasrah dan berhenti bekerja dan tidak mengambil sebab-sebab, ini bertentangan dengan sunnatullah di alam semesta.
Kedua: Mereka yang melakukan sebab-sebab tapi meninggalkan tawakal, mereka adalah kaum materialistis dan pengikutnya.
Ketiga: Ahlul haq yang melakukan sebab-sebab dan bertawakal kepada Allah, ini adalah jalannya para nabi dan rasul. Mereka beramal untuk surga dan bertawakal kepada Allah, mereka menjalankan kepentingan mereka sambil bertawakal kepada Allah, dan mereka berjihad dalam keadaan siap dan bertawakal.
Maka jadilah, wahai suamiku, pada tingkatan tertinggi dan termulia: bertawakal sambil beramal, sebagaimana teladan kita Muhammad ﷺ.
Wahai Suamiku yang Kucintai…
Telah tampak hal-hal berbahaya yang menghancurkan agama dari fondasinya, dan di antara alat penghancur yang paling berbahaya: persetujuanmu untuk pergi kepada orang yang dalam hati kecilmu kau tahu dia adalah dukun dan penipu, padahal Allah dan Rasul-Nya telah memperingatkan dari hal itu. Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa mendatangi peramal atau dukun dan membenarkan apa yang dia katakan, maka dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.”[[4]]
Meskipun mereka mengaburkan dengan nama dan mengatakan: dia adalah tabib tradisional. Nama-nama tidak akan mengubah hakikat!
Dan aku mendengar – wahai suamiku – di kalangan lelaki pembicaraan yang sampai pada kemurtadan – na’udzubillah – berupa mengolok-olok agama dan perintah-perintahnya seperti hijab, memanjangkan jenggot, dan memendekkan pakaian.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sesungguhnya mengolok-olok Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya adalah kekafiran yang membuat pelakunya kafir setelah imannya.”
Dan Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata: “Sesungguhnya mengolok-olok Allah dan Rasul-Nya adalah kekafiran yang mengeluarkan dari agama, karena pokok agama dibangun di atas pengagungan Allah, pengagungan agama-Nya dan rasul-rasul-Nya, dan mengolok-olok sesuatu dari itu bertentangan dengan pokok ini dan menyelisihinya dengan penyelisihan yang paling keras.”
Wahai suamiku, engkau tidak punya pilihan kecuali mengingkari mereka jika mampu, atau bangkit jika tidak mampu. Dan dengarkanlah firman Allah: “Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al-Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di dalam neraka Jahannam.” [[5]]
Maka sadarlah, wahai suamiku, akan hal yang berbahaya ini, dan berhati-hatilah agar kakimu tidak tergelincir setelah tegak.
Wahai Suamiku yang Tercinta…
Allah menciptakan kita untuk urusan yang agung yaitu beribadah kepada-Nya… Maka dimanakah posisi urusan ini dalam menit-menit kehidupanmu?! Dan aku mengingatkanmu akan firman Allah: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” [[6]]
Aku melihatmu bekerja keras siang dan malam demi rupiah yang engkau kumpulkan, dan dunia yang fana telah membuatmu lupa akan akhirat yang kekal… Engkau bekerja untuk dunia dengan giat dan semangat seolah-olah engkau akan kekal di dalamnya, dan engkau meremehkan urusan akhirat seolah-olah engkau tidak akan pergi kepadanya… Setiap kali aku melihatmu berlari dan terengah-engah, aku teringat perkataan Yahya bin Mu’adz: “Kasihan anak Adam, seandainya dia takut neraka seperti takutnya pada kefakiran, niscaya dia masuk surga.”
Wahai Suamiku yang Mulia…
Apakah kebutuhanmu kepada Allah telah terputus sehingga engkau mengabaikan doa?! Siapa yang menolak penyakit darimu, siapa yang memperbaiki istri dan anak-anakmu, siapa yang menolongmu atas musibah-musibah zaman? Apakah engkau lupa bahwa di antara doa Nabi umat ini adalah doa untuk tetap teguh di atas agama ini?! Bahkan bapak para nabi berdoa untuk dirinya dan anak-anaknya agar Allah menjauhkan mereka dari menyembah berhala… “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.'” [[7]]
Maka sebaiknya engkau, wahai suamiku, memperbanyak doa di zaman dimana fitnah-fitnah merenggut agama seseorang, dan perkara ini seperti yang disabdakan: “Sesungguhnya di hadapan kalian ada fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita, seseorang di pagi hari beriman dan di sore hari kafir, di sore hari beriman dan di pagi hari kafir…” [[8]]
Wahai suamiku…
Janganlah meremehkan maksiat kepada Allah, karena sesungguhnya maksiat membawa keburukan, kehinaan dan aib di dunia dan akhirat. Bisa jadi Allah menutup hati seseorang karena maksiat kecil yang dia remehkan… Telah disebutkan dalam Al-Quran bahwa Allah telah membenamkan ke dalam bumi umat-umat yang berlebihan dalam melakukan perbuatan keji dan dosa. Kemudian renungkanlah orang yang Allah benamkan ke dalam bumi karena dia keluar dalam dosa yang mungkin engkau anggap ringan padahal di sisi Allah itu besar… Rasulullah ﷺ bersabda: “Ketika seorang laki-laki berjalan dengan sombong dalam pakaiannya yang dia kagumi, tiba-tiba Allah memerintahkan bumi lalu menelannya, maka dia akan terus tenggelam di dalamnya hingga hari kiamat.” [[9]]
Wahai Suamiku yang Mulia…
Aku melihat kekurangan dan kemalasan darimu dalam menunaikan shalat berjamaah, dan terkadang aku melihatmu shalat di sampingku! Padahal engkau tahu tentang kewajiban shalat berjamaah, maka ada apa denganmu dan apa yang menimpamu! Aku khawatir ada padamu sifat dari sifat-sifat orang munafik, sebagaimana Abdullah bin Mas’ud berkata: “Tidaklah yang meninggalkannya kecuali orang munafik yang jelas kemunafikannya.” [[10]]
Adapun dalam hal mengawasi shalatku dan shalat anak-anak kita, aku melihat darimu sikap berpaling dan tidak peduli, padahal ini membutuhkan kesabaran darimu sebagaimana Allah berfirman: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” [[11]] Dan kami hari ini, meskipun kami adalah orang-orang yang engkau cintai dan rakyatmu, maka besok pada hari kiamat kami adalah lawan-lawanmu jika engkau lalai, karena engkau memiliki kewajiban memimpin kami sekarang dan bertanggung jawab serta akan dihisab atasnya besok.
Wahai suamiku…
Aku melihat dalam sebagian tindakanmu ada kekerasan dan engkau dikuasai amarah, padahal Rasulullah ﷺ telah memperingatkan dari hal itu dengan sabdanya: “Janganlah marah” beliau mengulanginya berkali-kali. [[12]]
Banyak masalah yang terjadi dalam keluarga adalah akibat dari tindakan gegabah dan amarah… Aku menasihatimu dengan hadits Rasulullah ﷺ “Janganlah marah” dan jadilah teladan bagi kami semua… Kami melihat padamu sosok lelaki yang berakal, suami yang bijaksana, dan ayah yang seimbang.
Aku akan menyampaikan kepadamu apa yang disebutkan oleh Ibnu Sa’d dalam Thabaqat Al-Kubra, dari Ummu Dzarrah dari Maimunah (Ummul Mukminin) radhiallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah ﷺ keluar pada suatu malam dari tempatku, lalu aku mengunci pintu di hadapannya. Beliau datang meminta pintu dibuka tapi aku menolak membukanya. Beliau berkata: “Aku bersumpah kecuali engkau membukanya untukku.” Aku berkata kepadanya: “Engkau pergi ke istri-istrimu pada malamku ini?” Beliau menjawab: “Aku tidak melakukannya, tetapi aku merasa ingin buang air kecil.”
Apakah engkau melihat, wahai suamiku, Nabi umat ini ﷺ, pemimpinnya dan gurunya keluar untuk keperluannya lalu pintu dikunci di hadapannya di malam yang gelap, dan beliau meminta pintu dibuka tapi istrinya menolak! Lalu beliau bersumpah agar dia membuka pintu dan menjelaskan kepadanya dengan kata-kata yang cukup alasan mengapa beliau keluar, barulah Ummul Mukminin ridha dan membuka pintu. Masalah selesai karena kelembutan Nabi ﷺ kepada istri-istrinya, kesabarannya terhadap mereka dan penanganannya terhadap situasi dengan tenang dan seimbang.
Aku mendengar, wahai suamiku, bahwa tetangga kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghafal bagian-bagian Al-Quran dan suaminya mendorongnya untuk itu, bahkan memberikan hadiah berharga setiap kali dia menyelesaikan hafalan surat tertentu, dan lebih dari itu dia sendiri mulai mengulang apa yang dia hafal… Seandainya engkau berusaha bersamaku dalam hal ini dan mendorongku padanya. Yakinlah bahwa jika aku melihat kegembiraanmu, kebahagiaanmu dan pengawasanmu, aku akan seperti tetangga kita bahkan lebih… Mari kita bekerja sama dalam kebaikan dan menuai pahala.
Aku akan menyampaikan kepadamu, wahai suamiku, gambaran yang selama ini aku impikan dalam kehidupan pernikahan… Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun di malam hari lalu shalat dan membangunkan istrinya lalu dia shalat, jika dia menolak dia memercikkan air ke wajahnya. Dan Allah merahmati seorang wanita yang bangun di malam hari lalu shalat dan membangunkan suaminya lalu dia shalat, jika dia menolak dia memercikkan air ke wajahnya.” [[13]] Maka tidakkah aku melihat darimu sentuhan-sentuhan keimanan itu…
Wahai suamiku…
Islam sedang diserang dari segala penjuru dan aku melihatmu tidur dengan nyenyak… Tidak peduli dengan urusan Islam dan kaum muslimin! Yang lebih mengherankan, engkau dulu adalah orang yang terdepan dalam aktivitas dakwah, maka apa yang terjadi denganmu? Apakah engkau sedang menurun dan mundur? Ataukah ini awal kemunduran – na’udzubillah?! Sungguh aku mengangkat orang sepertimu dari menjadikan kekhawatirannya terbatas pada kantong dan perutnya saja tanpa ada tempat untuk Islam di hatinya!
Wahai Suamiku…
Seandainya para sahabat -ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in- tidak menyampaikan risalah kepada kita, apakah agama akan sampai kepada umat setelah mereka? Sesungguhnya mereka adalah orang-orang pilihan yang melaksanakan dakwah dan diteruskan oleh generasi setelahnya hingga hari kiamat! Maka apa bagianmu dari kebaikan yang agung ini. Sungguh jalan-jalan telah dimudahkan, beragam, bervariasi dan murah dalam rangka dakwah.
Berhentilah dan koreksi dirimu karena umat membutuhkan semangatmu dan tekadmu. Setiap yang sedikit ditambah sedikit akan diberkahi Allah… Seandainya setiap lelaki menyadari posisinya dan melihat hak Islam atasnya, niscaya panji akan terangkat dan benteng-benteng akan ditegakkan!
Wahai suamiku…
Harta wanita yang datang kepadanya sebagai hadiah, atau dari warisan, atau dari pekerjaan yang dia lakukan adalah harta khusus miliknya yang tidak boleh diambil sedikitpun darinya kecuali dengan kerelaan hatinya dan persetujuannya! Prinsip ini adalah salah satu keindahan agama Islam dan syariatnya dalam memuliakan wanita dan membangun entitas finansial khusus untuknya.
Namun sayangnya, akhir-akhir ini banyak terjadi pelanggaran terhadap harta istri dengan alasan atau tanpa alasan. Banyak suami yang membuat masalah agar istri melepaskan hartanya dalam keadaan terpaksa untuk menyenangkan suaminya. Ada yang menggunakan ancaman dan intimidasi sebagai tangga untuk mencapai tujuan mereka. Yang lain menipu istri mereka, baik secara langsung seperti mengaku membeli tanah atau rumah untuknya padahal tidak melakukannya, atau mengambil harta dalam bentuk pinjaman yang tidak dikembalikan! Ini termasuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil.
Wahai suamiku…
Aku melihat teman-teman buruk mulai melangkah menuju rumah kita! Aku sudah memberitahumu tentang ini sebelumnya dan kau berkata: bahwa kau adalah pria bijaksana, dewasa, berpengalaman dan dapat menilai situasi dengan baik! Namun aku melihatmu mulai terbawa arus bersama mereka dan mulai mengabaikan urusan agamamu dan menunda shalatmu… dan hujan deras pun sudah sangat dekat! Dan teman-teman buruk wahai suamiku tidak terbatas pada anak muda saja…
Bahkan Abu Jahal mendatangi seorang pria tua yang merupakan paman Nabi ﷺ… Abu Jahal mendatanginya untuk menjadi teman buruk yang menghalanginya dari mengucapkan “Laa ilaha illallah”… Dan teman buruk itu berhasil dengan keinginannya sehingga paman Nabi ﷺ meninggal, meskipun ia seorang pria tua yang bijaksana dan cerdas, dalam keadaan musyrik. Inilah teman buruk yang datang seperti pencuri hingga ketika menemukan celah darimu, ia akan menerobos masuk!
Wahai suamiku tersayang…
Musyawarah adalah hal yang Allah ﷻ anjurkan “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu”.[[14]] Ada hal-hal yang menurutku menjadi hakku agar kau bermusyawarah denganku tentangnya, dan ada hal-hal yang merupakan urusanmu! Terkadang justru aku adalah orang terakhir yang mengetahui keputusanmu!
Ini adalah Ummul Mukminin – Ummu Salamah -, Nabi ﷺ mendatanginya pada perang Hudaibiyah dalam keadaan sedih dan gundah, lalu beliau bermusyawarah dengannya, dan menemukan solusi terbaik dan jawaban yang tepat darinya.
Ketika Rasulullah ﷺ selesai menulis perjanjian damai dengan Quraisy, beliau berkata kepada para sahabatnya: “Berdirilah, sembelihlah (hewan kurban) lalu bercukurlah.” Namun hal ini terasa berat bagi para sahabat karena kerinduan mereka pada Mekah. Maka beliau menemui Ummu Salamah dan menceritakan apa yang dialaminya dengan orang-orang. Ummu Salamah berkata: “Wahai Nabi Allah, apakah engkau menginginkan itu? Keluarlah, jangan berbicara sepatah kata pun dengan siapapun hingga engkau menyembelih hewan kurbanmu dan memanggil tukang cukurmu untuk mencukurmu.” Maka beliau keluar dan tidak berbicara dengan siapapun hingga melakukan hal tersebut, menyembelih hewan kurbannya dan memanggil tukang cukurnya untuk mencukurnya. Ketika para sahabat melihat perbuatan beliau, mereka berdiri lalu menyembelih dan sebagian dari mereka mencukur sebagian yang lain.
Wahai suamiku, dengarkanlah aku, dan perhatikanlah dengan hatimu. Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman: Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memegang, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Aku beri, dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Aku lindungi.” [[15]]
Jika engkau menunaikan ibadah wajib dengan sempurna dan mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan sunnah, maka Allah akan memuliakanmu dengan kemuliaan yang agung dan memberimu karunia terbaik. Al-Khattabi rahimahullah menjelaskan tentang hadits ini: “Maknanya adalah taufik Allah kepada hamba-Nya dalam menggunakan anggota tubuh ini, dan memudahkan kecintaan padanya dengan menjaga anggota tubuhnya dan melindunginya dari hal-hal yang dibenci seperti mendengarkan hal-hal yang sia-sia, melihat apa yang dilarang Allah, menggunakan tangan untuk hal yang tidak halal, dan kaki melangkah menuju kebatilan.”
Hati, wahai suamiku… dapat berkarat seperti besi berkarat… dan aku melihat hatiku mulai berkarat?! Pembersihnya adalah dzikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an, mendengar nasihat, pelajaran dan ceramah… Dan sekarang aku meminta padamu untuk menghadirkan untukku pelajaran dan ceramah para ulama melalui kaset atau buku?! Mengapa engkau kikir padaku dalam hal ini. Tidakkah engkau ingin aku memahami agamaku, mengetahui hak-hak Tuhanku, dan mempersiapkan bekal dari duniaku untuk akhiratku… Tidakkah membuatmu senang jika aku mendengar nasihat yang melunakkan hatiku dan membuat air mataku mengalir karena takut kepada Allah dan mengharap apa yang ada di sisi-Nya?! Tidakkah engkau suka melihatku mendengarkan pelajaran para ulama tentang tauhid, akidah, hukum-hukum bersuci dan lainnya! Agar aku memahami agamaku dan mengetahui jalan menuju surgaku?!
Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” [[16]]
Wahai Suamiku…
Kita telah sepakat sejak awal bahwa ini adalah surat-surat keterbukaan yang didorong oleh keinginan untuk berdamai dan perbaikan.
Oleh karena itu, untuk pertama kalinya wahai suamiku, aku akan memberitahumu bahwa engkau adalah orang yang telah menyimpang dari jalan kebersihan dalam berpakaian dan penampilanmu. Aku tidak melihatmu menggunakan sikat gigi, sedangkan siwak telah hilang dari sakumu sejak berbulan-bulan, padahal itu termasuk sunnah Nabi ﷺ! Maka dimanakah kebersihan yang dianjurkan oleh Rasul? Dan dimana berhias untuk istri?! Janganlah marah dan introspeksi dirilah! Jika keadaanku menjadi seperti keadaanmu, apa yang akan engkau lakukan? Ibnu Abbas berkata: “Sesungguhnya aku suka berhias untuk istriku sebagaimana aku suka dia berhias untukku.”
Allah berfirman: “Dan bergaullah dengan mereka (istri-istrimu) dengan cara yang baik.”
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Yaitu perbaikilah ucapan kalian kepada mereka, perbaikilah perbuatan dan penampilan kalian sesuai kemampuan, sebagaimana engkau menyukai hal itu darinya, maka lakukanlah hal yang sama untuknya, sebagaimana Allah berfirman: ‘Dan mereka (para istri) memiliki hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut.’”
Wahai suamiku…
Seiring berjalannya waktu, telah muncul penghalang semu antara aku dan engkau… Keterbukaan tidak lagi menjadi jalan kita dan kita tidak lagi berbicara dengan sederhana seperti sebelumnya… Bahkan aku harus memikirkan seribu kali untuk setiap kata yang akan kuucapkan? Dan apa yang harus kukatakan? Sampai sejauh inikah penghalang di antara kita telah tumbuh dan berkembang! Aku khawatir hari-hari berlalu dan bulan-bulan berganti sementara aku masih ragu untuk menceritakan kekhawatiranku dan kekhawatiran anak-anak kita.
Wahai suamiku yang mulia…
Persamaan ini tidak lengkap dan timbangan yang kulihat lebih berpihak pada suami… Wanita terbagi menjadi dua: ada yang bekerja di luar rumah, atau yang tetap di rumah dan bekerja, begitu juga dengan laki-laki… Ini semua di waktu pagi, dan ketika semua waktu kerja bersama ini berakhir, suami datang menginginkan istirahat dan ketenangan sedangkan istri tidak mendapatkan istirahat maupun ketenangan, karena ia dituntut bekerja dari pagi hingga tidur dan memiliki beban lain seperti mengajar anak-anak, mendidik mereka, membersihkan rumah dan… daftar pekerjaan yang sangat panjang, bukankah begitu?!
Bertakwalah kepada Allah dalam memperlakukan istrimu wahai suami… dan cobalah bekerja satu hari saja seperti bekerjanya istri agar engkau tahu besarnya tanggung jawab dan banyaknya pekerjaannya… Dan aku melihat bahwa engkau adalah orang terbaik yang dapat berlaku adil terhadap istri, saudari dan putrimu, maka marilah bekerja, dan bantulah dia dalam beban rumah tangga, mengawasi anak-anak dan mengulang pelajaran mereka, dan harapkanlah pahala dalam semua itu. Aisyah ditanya: “Apa yang Rasulullah kerjakan di rumahnya?” Beliau menjawab: “Beliau adalah manusia biasa: beliau menjahit pakaiannya sendiri, memerah susu kambingnya, dan melayani dirinya sendiri.” [[17]]
Wahai suamiku, dengarlah suara putrimu yang memanggilmu… Dia membutuhkan kasih sayang dan kelembutan… Jika dia tidak menemukannya dari kita, dia akan mencarinya di tempat lain… Maka perhatikanlah! Dekatkanlah dirimu dengannya dan lembutkanlah sikapmu padanya, biarkan dia bahagia dengan kebapakanmu dan cara baikmu mendengarkannya. Dan engkau memiliki teladan yang baik dari sejarah sebaik-baik makhluk… Rasulullah ﷺ ketika melihat putrinya Fatimah, beliau menyambutnya dan berkata: “Selamat datang putriku” kemudian mendudukkannya di sebelah kanan atau kiri beliau.[[18]]
Dan Bara’ berkata: “…Lalu aku masuk bersama Abu Bakar ke rumahnya, dan ternyata Aisyah putrinya sedang berbaring karena demam, maka aku melihat ayahnya mencium pipinya dan berkata: ‘Bagaimana keadaanmu wahai putriku?'” [[19]]
Banyak laki-laki yang mencari-cari kesalahan dan mengumpulkan kekeliruan, dan engkau lihat dia mengungkit kesalahan yang telah berlalu bertahun-tahun?! Dan mengumpulkan kesalahan-kesalahan istrinya?! Bagaimana ini bisa dibenarkan?! Dimana sikap menahan amarah?! Dimana sikap maaf dan pengampunan?! Bahkan dimana sebenarnya kebaikan?! “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” [[20]]
Tidakkah engkau mendengar wahai suamiku tentang derajat tinggi dan kedudukan mulia itu? Dikatakan: “Sesungguhnya seseorang dapat mencapai dengan akhlak baiknya derajat orang yang berpuasa dan shalat malam.”[[21]]
Wahai suamiku…
Tidakkah engkau ingin kedudukanmu di surga dekat hingga berdekatan dengan Rasulullah ﷺ: “Sesungguhnya yang paling dekat kedudukannya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” [[22]]
Wahai suamiku…
Kita berada dalam nikmat-nikmat yang besar, yang pertama dan utamanya adalah nikmat Islam yang Allah muliakan kita dengannya… Allah muliakan kita dengannya… Lihatlah ke timur atau ke barat untuk melihat umat-umat kafir dan bagaimana Allah memberi kita karunia dengan agama yang agung ini. Dan diantara nikmat-nikmat wahai suamiku… nikmat keamanan dan stabilitas, nikmat akal, nikmat pendengaran dan penglihatan… Dan benarlah Allah ketika berfirman: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” [[23]] Dan kewajiban kita terhadap nikmat-nikmat ini adalah mensyukuriNya dan menunaikan hakNya.
Dan diantara cara mensyukurinya adalah menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah ﷻ dan menjauhi apa yang membuat Allah murka: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” [[24]] Dan diantara cara mensyukurinya adalah menegakkan penghambaan kepada Allah ﷻ dalam diri kita dan anak-anak kita, dan menyebarkan itu dalam masyarakat kita melalui amar ma’ruf nahi munkar, saling menasihati dalam kebenaran dan memperbanyak pujian kepada Allah serta memperbaiki ibadah kepada-Nya.
Wahai suamiku tercinta…
Rumah kita kosong dari majelis keimanan… Aku ingin engkau membacakan untuk kami sebuah hadits dari Riyadhus Shalihin setiap hari, atau kami mendengar suaramu yang lantang menceritakan sejarah Rasulullah ﷺ dari kitab-kitab sirah… Maka kapan engkau akan memulai?! Jangan katakan besok… tapi hari ini aku akan menyiapkan kitab untukmu dan mari kita mendengar suaramu dan merasakan ketenangan dengan kehadiranmu dan semua anak-anak kita berbahagia dengan kebapakanmu.
Rasulullah ﷺ memanggil istri-istrinya dengan nama yang paling mereka sukai… bahkan melembutkan nama untuk menunjukkan kasih sayang dan cinta, beliau memanggil Aisyah dengan “Ya ‘Aisy”! [[25]] Dan sudah berbulan-bulan aku tidak mendengar namaku dengan suara lembutmu hingga aku lupa namaku, dan muncul dari lisanmu nama-nama dan julukan yang sebagiannya dilarang syariat karena mengandung penghinaan dan merendahkan! Maka dimanakah hakku dari teladan yang engkau ikuti!
Di jalan ketika kita berjalan atau di waktu istirahat, aku melihatmu wahai suamiku melepaskan lisanmu merendahkan temanmu dan menggunjing atasanmu dan mencela ini dan mencemooh itu! Tidakkah engkau tahu bahwa “Tidak ada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” [[26]] Apakah engkau lupa bahwa lembaran-lembaran amalmu dilipat untukmu hari ini dan akan dibuka di depanmu pada hari kiamat!
Imam Syafi’i rahimahullah berkata: “Jika seseorang ingin berbicara, maka ia harus berpikir sebelum berbicara. Jika tampak ada maslahat, barulah ia berbicara, dan jika ragu maka jangan berbicara sampai jelas maslahatnya.”
Pernahkah engkau bersikap seperti ini wahai suamiku?! Dan ketahuilah bahwa musuh-musuhmu pada hari kiamat banyak… Al-Hasan berkata: “Sesungguhnya seseorang akan bergantung pada orang lain pada hari kiamat dan berkata: ‘Antara aku dan engkau ada Allah.’ Orang itu menjawab: ‘Demi Allah aku tidak mengenalmu!’ Dia berkata: ‘Engkau mengambil tanah dari tembokku,’ dan yang lain berkata: ‘Engkau mengambil benang dari pakaianku.'”
Wahai suamiku…
Diantara fenomena yang menyalahi sunnah Nabi ﷺ adalah mencukur jenggot dan jiwa-jiwa telah menganggap biasa kemungkaran ini sehingga engkau tidak melihat seorangpun yang mengingatkan tentang kemaksiatan ini, atau menjelaskan hukumnya kepada yang tidak mengetahui. Memelihara jenggot adalah petunjuk para nabi dan rasul, begitu juga para sahabat mulia dan salaf yang shalih. Beliau bersabda: “Bedakanlah diri kalian dari orang-orang musyrik, panjangkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis.” [[27]]
Dan beliau bersabda: “Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot.” [[28]] Ibnu Taimiyah berkata: “Haram mencukur jenggot.” Imam Al-Qurthubi berkata: “Tidak boleh mencukurnya, mencabutnya, atau memotongnya.” Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Memelihara jenggot dan membiarkannya panjang adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan.”
Dan mencukur jenggot wahai suamiku bukanlah perkara kecil seperti yang disangka sebagian orang, bahkan mungkin mencukurnya lebih besar dosanya dari beberapa maksiat lainnya, karena mencukurnya termasuk terang-terangan dalam maksiat, dan mungkin pelakunya tidak dimaafkan dan tidak diampuni karena keterang-terangan ini, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Setiap umatku dimaafkan kecuali yang terang-terangan.” [ [29]]
Sebagaimana membenci jenggot atau mengolok-olok jenggot dan pemiliknya, dikhawatirkan pelakunya jatuh dalam kemurtadan dan kekufuran – na’udzubillah, karena diantara pembatal keislaman adalah mengolok-olok dan mencemooh petunjuk Nabi ﷺ atau membenci apa yang dibawanya. Dan mencukur jenggot bisa menunjukkan kebencian terhadapnya dan keinginan untuk membebaskan diri darinya. Dan membencinya juga bisa menjadi sebab terhapusnya amal seperti firman Allah: “Yang demikian itu karena mereka mengikuti apa yang membuat Allah murka dan membenci keridhaan-Nya, maka Dia menghapus amal-amal mereka.” [[30]]
Kebakhilan adalah penyakit yang ditolak oleh jiwa-jiwa yang suci, apalagi jika Islam melarangnya?! Allah ﷻ berfirman: “Dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [[31]] Dan dampak kebakhilan terlihat jelas pada rumah kita, pada dakwah, dan pada orang-orang muslim yang fakir! Maka dimanakah bagian mereka dari apa yang Allah rezekikan kepadamu.
Dan untuk siapa wahai suamiku tercinta engkau mengumpulkan dinar dan dirham sementara engkau kikir dengannya terhadap kami? Apakah engkau ingin kami melihat kepada apa yang ada di tangan orang lain sedangkan engkau masih hidup dan diberi rezeki?!
Dari Anas berkata: Sesungguhnya Nabi ﷺ biasa berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir dan malas…”[[32]]
Tidakkah engkau tahu wahai suamiku tercinta bahwa engkau mendapat pahala atas nafkah?! Sebagaimana beliau bersabda: “Jika seseorang menafkahkan hartanya kepada keluarganya dengan mengharap pahala, maka itu menjadi sedekah baginya.”[[33]]
Wahai suamiku, periksalah keadaanmu dan lihatlah hadits Nabi ﷺ: “Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.”[[34]]
Dan renungkanlah besarnya dan pentingnya keempat tempat pengeluaran tersebut, kemudian lihatlah mana yang paling tinggi kedudukannya dan paling besar pahalanya.
Wahai suamiku tercinta…
Aku mengalami kondisi lemah secara mental dan gangguan fisik dan terkadang aku terkena sakit dan penyakit! Namun engkau tidak memperhatikan hal itu. Padahal aku adalah wanita yang lemah, miskin, dan patah sayap! Renungkanlah keadaan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Ketika Ruqayyah sakit, suaminya Utsman bin Affan tidak ikut dalam perang Badar. Namun Rasulullah tetap memberikan bagian ghanimahnya dan bersabda: “Tinggallah bersamanya, dan bagimu pahala orang yang menghadiri perang Badar dan bagiannya.”[[35]] Dan itu tidak lain karena besarnya urusan memperhatikan istri dan bahwa ia bisa menahan seorang laki-laki dari jihad jika ia membutuhkan perawatan dan perhatiannya.
Temanku menceritakan bahwa suaminya memuji kelucuanmu, kejenakaan dan kecepatan spontanitasmu dan bahwa engkau selalu punya lelucon! Apakah ini benar?! Karena aku hanya melihat muka masam dan pengabaian jika di rumah! Aku tidak pernah melihatmu tersenyum atau melemparkan candaan kepadaku! Aku khawatir temanku salah dalam menggambarkanmu atau engkau adalah pria yang memiliki lebih dari satu kepribadian! Dan aku membawamu kembali berabad-abad agar Abdullah bin Al-Harits berbicara kepadamu dengan berkata: “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum dari Rasulullah.”[[36]] Dan senyuman wahai suamiku adalah sedekah dari sedekah-sedekah yang engkau diberi pahala atasnya. Beliau bersabda: “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah.”[[37]]
Wahai suamiku…
Al-Wala’ (loyalitas) dan Al-Bara’ (berlepas diri) adalah di antara rukun akidah, dan syarat dari syarat-syarat Islam, yang banyak orang lalai darinya dan sebagian mengabaikannya. Al-Wala’ adalah mencintai Allah, Rasul-Nya, para sahabat dan orang-orang mukmin yang bertauhid serta menolong mereka.
Dan Al-Bara’ adalah membenci orang yang menentang Allah, Rasul-Nya, para sahabat dan orang-orang mukmin yang bertauhid dari kalangan orang-orang kafir, musyrik, munafik, ahli bid’ah dan orang-orang fasik.
Maka setiap mukmin yang bertauhid yang berpegang pada perintah-perintah dan larangan-larangan syariat, wajib mencintainya, loyal kepadanya dan menolongnya, dan setiap yang menentang itu wajib mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan membencinya, memusuhinya dan berjihad melawannya dengan hati dan lisan sesuai kemampuan dan kesanggupan.
Rasulullah ﷺ berkata: “Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan (tidak memberi) karena Allah, maka sungguh telah sempurna imannya.”[[38]]
Syekh Hamad bin Atiq – semoga Allah merahmatinya – berkata: “Adapun mengenai permusuhan terhadap orang-orang kafir dan musyrik, ketahuilah bahwa Allah ﷻ telah mewajibkan hal itu dan menegaskan kewajibannya, serta mengharamkan loyalitas kepada mereka. Allah sangat tegas dalam hal ini, sampai-sampai tidak ada hukum dalam Kitab Allah yang memiliki dalil lebih banyak dan lebih jelas daripada hukum ini setelah kewajiban tauhid dan pengharaman lawannya.”
Beberapa bentuk loyalitas kepada orang kafir termasuk:
- Meniru mereka dalam berpakaian, berbicara, dan bepergian ke negeri mereka untuk tujuan rekreasi dan kesenangan diri.
- Berpartisipasi dalam perayaan mereka atau membantu menyelenggarakannya, atau mengucapkan selamat pada kesempatan tersebut atau menghadiri acaranya.
- Memuji dan mengagungkan peradaban dan kemajuan mereka.
- Mengagumi akhlak dan keterampilan mereka tanpa memperhatikan keyakinan mereka yang batil dan agama mereka yang rusak.
- Memintakan ampunan dan rahmat untuk mereka.
- Mempekerjakan mereka tanpa adanya kebutuhan mendesak.
Wahai suamiku…
Aku mengakui kebaikan dan keutamaanmu atasku. Engkau membelanjakan harta dan memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dan mencatatnya dalam timbangan kebaikanmu. Aku mengingatkanmu, sebagai lelaki yang mulia, akan hadits Nabi ﷺ: “Saling memberi hadiahlah, niscaya kalian akan saling mencintai.”[[39]] Hadiah adalah kunci hati yang menunjukkan cinta dan kedekatan. Sudah bertahun-tahun aku tak menerima, walau hadiah sederhana yang kau berikan di akhir pekan atau saat kembali dari perjalanan… Aku tak peduli nilai hadiahnya, nilainya adalah karena datang darimu seorang!
Wahai Suamiku…
Telah berlalu bertahun-tahun pernikahan kita, dan apa yang terjadi tadi malam telah melukai hatiku! Apakah setelah kebersamaan yang panjang ini engkau menghinaku di depan anak-anak kita dan mencaciku dengan julukan terburuk…
Aku mendengar kata-kata kasar dan tidak pantas! Yang menyedihkan adalah semua anak mendengarnya! Apakah ini perilaku yang pantas bagi kita sebagai suami istri? Apakah bijaksana jika anak-anak mendengar masalah kita dan kita mengumbarnya di hadapan mereka? Tidakkah kau lihat bahwa hal itu berdampak negatif pada pendidikan dan rasa hormat mereka kepada kita!
Dan masalah seperti ini – wahai suamiku – seharusnya diselesaikan secara pribadi antara aku dan engkau! Bukankah engkau telah mendengar firman Allah Ta’ala: “Dan pisahkanlah mereka di tempat tidur.”[[40]] Allah tidak mengatakan “Pisahkanlah mereka dari tempat tidur”, karena ini lebih baik agar orang lain tidak mengetahui perselisihan antara suami istri. Ini adalah pemisahan di tempat tidur, tempat yang tersembunyi di mana tidak ada seorang pun yang tahu apa yang terjadi di dalamnya! Ini adalah pemisahan di dalam rumah, bukan di hadapan kerabat dan anak-anak! Tujuannya adalah untuk perbaikan, bukan untuk mempermalukan atau menghinakan! Jadi apa yang engkau dapatkan dari kejadian tadi malam!
Ini masalah serius, suamiku… Dengarkanlah aku dan bukalah hatimu! Jika ada lelaki yang membicarakan sifat-sifatku, tinggi dan lebar tubuhku di depan rekan-rekanmu, bagaimana sikapmu?! Yang mengherankan, engkau melakukan peran ini dengan gembira dan senang… Ingatlah apa yang terjadi di antara kita dan apa yang engkau lakukan. Ini adalah rahasia rumah tangga dan privasi suami istri…?
Nabi ﷺ telah memperingatkan dengan bersabda: “Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang berhubungan dengan istrinya dan istrinya berhubungan dengannya, kemudian ia menyebarkan rahasianya.”[[41]] Maka berhati-hatilah agar lidahmu tidak menjadi seperti ‘kamera’ yang menggambarkan apa yang terjadi di antara kita karena ini masalah serius!
Jangan marah, suamiku, jika kukatakan bahwa engkau tidak konsisten dalam metode dan tidak jelas dalam langkah… Engkau tidak rela aku melihat laki-laki di pasar, toko, bahkan di jalan, namun engkau mendudukkanku di depan layar untuk melihat aktor tampan yang penuh godaan dan ketampanan!! Bagaimana bisa ada kontradiksi seperti ini padamu?! Bukankah melihat itu haram di mana pun dan dalam hal ini aku tidak wajib menaatimu, karena ketaatan hanya dalam kebaikan. “Katakanlah kepada orang-orang mukmin laki-laki agar mereka menundukkan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan mukmin agar mereka menundukkan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka.”[[42]]
Kemudian katakan padaku demi Tuhanmu…
Bagaimana engkau menaati Allah Azza wa Jalla dengan tidak memandang wanita yang tertutup dan sopan di jalan… tapi di rumah engkau membiarkan matamu melihat wanita-wanita tanpa hijab dengan segala perhiasannya di layar… Maka di manakah ketaatan, kepatuhan, dan menundukkan pandangan itu?! Dan aku mengingatkanmu akan perkataan mengagumkan yang kubaca di mana Ibnu Sirin berkata: “Sesungguhnya aku melihat wanita dalam mimpi dan aku tahu bahwa ia tidak halal bagiku, maka aku memalingkan pandanganku darinya.”
Wahai suamiku, engkau telah masuk ke dalam jalan yang berbahaya dan berliku ketika engkau mulai meremehkan dari mana harta itu datang! Apakah dari yang halal atau haram… Dan kita seperti yang dikatakan oleh salah satu putri salaf kepada ayahnya: “Kami akan bersabar atas lapar namun tidak akan bersabar atas api neraka!” Dan dalam yang halal ada kecukupan meskipun sedikit!!
Ini dompetmu berisi kartu-kartu yang sebagiannya haram dan para ulama telah berfatwa tentang keharamannya! Dan ini engkau bergegas mengambil asuransi komersial ketika membeli mobil, dan suap telah menyebar di antara pegawai dengan berbagai nama dan bentuk yang beragam, dan riba serta transaksinya ada di setiap sudut, dan dalam menyia-nyiakan waktu kerja dan meremehkannya adalah memakan harta tanpa hak. Gaji ini diberikan kepadamu sebagai pekerja yang bekerja untuk Baitul Mal kaum muslimin. Maka apakah engkau telah menunaikannya atau malah ada kelalaian, kemalasan, dan penyia-nyiaan?! Jika demikian, ketahuilah bahwa mungkin telah masuk kepadamu harta haram yang engkau ambil tanpa haknya?!
Dan wahai suamiku…
Meninggalkan dosa lebih mudah daripada meminta taubat! Maka kapan fajar kejujuran akan terbit dalam hidupmu… kapan engkau akan memulai taubat dan memperbaharui kembali? Dan ketahuilah bahwa harta itu adalah dengan keberkahannya bukan dengan banyaknya, berapa banyak orang yang memiliki miliaran namun dia dalam kesengsaraan? Dan berapa banyak orang yang bahagia padahal dia hanya memiliki kecukupan?!
Dan Ali bin Abi Thalib pernah ditanya tentang dunia, maka dia menjawab: “Yang halalnya akan dihisab dan yang haramnya akan masuk neraka.”
Dan Al-Hasan berkata: “Wahai anak Adam, sesungguhnya perutmu hanya sejengkal kali sejengkal, maka mengapa engkau membiarkannya memasukkanmu ke neraka? Dan berkali-kali engkau mengejar harta tanpa bertanya apakah itu halal atau haram!”
Menaati orang tua dalam kebaikan adalah wajib, dan itu termasuk di antara pendekatan diri yang paling agung kepada Allah Azza wa Jalla. Aku melihat engkau gelisah ketika aku meminta untuk mengunjungi orang tuaku… dan engkau merasa berat dengan permintaanku untuk pergi kepada mereka sekali atau dua kali setiap minggu, khususnya saat mereka sakit atau lemah. Engkau selalu beralasan… bahwa ada telepon dan cukup menghubungi mereka melalui telepon. Semoga mulai hari ini engkau membantuku untuk mengunjungi mereka, memperhatikan kebutuhan mereka, berbakti dan menyambung silaturahmi dengan mereka!
Wahai Suamiku…
Akhir-akhir ini muncul banyak pemuda yang mensucikan diri mereka… Dan engkau mensucikan dirimu seolah-olah telah melewati jembatan. Renungkanlah keadaanmu… Engkau tidak pergi shalat kecuali ketika mendengar iqamah… dan dari Ramadhan lalu hingga Ramadhan ini engkau belum mengkhatamkan Al-Qur’an, bahkan engkau telah melipat mushaf dan meninggalkannya berbulan-bulan… Adapun qiyamul lail dan puasa ayyamul bidh serta puasa Senin Kamis, mungkin engkau belum pernah mendengarnya!
Wahai suamiku, janganlah marah, tapi jangan mensucikan dirimu karena engkau masih di awal perjalanan. Tapi seperti yang dikatakan Ahmad bin ‘Ashim: “Ini adalah kesempatan yang baik, perbaikilah sisa umurmu niscaya diampuni apa yang telah lalu.”
Bertahun-tahun kita hidup bersama di bawah satu atap… dan selama tahun-tahun itu aku tidak pernah mendengar kata-kata lembut dan bisikan kasih. Aku hidup di padang pasir yang gersang tanpa bisikan lembut atau kata-kata yang baik, dan jarang sekali aku mendengar kata terima kasih darimu atas makanan yang kusiapkan atau pakaian indah yang kukenakan…
Suamiku tercinta…
Aku melihatmu sebagai lelaki yang berakal sempurna dan cerdas… namun dengan semua itu engkau tidak menghargai usahaku! Terkadang aku menghabiskan berjam-jam berdiri untuk memasak makanan yang engkau sukai, dan aku menahan letih demi mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dengan melayanimu, dan pendapatmu penting bagiku… Aku ingin mendengar kata terima kasih atas perbuatan ini, tapi engkau mengejutkanku karena kesalahan kecil dalam penyiapannya! Dan engkau melupakan semua usaha itu!! Padahal teladan kita tidak pernah mencela makanan sama sekali, jika menyukainya beliau memakannya, dan jika tidak menyukainya beliau meninggalkannya.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah tidak pernah mencela makanan sama sekali. Jika beliau menyukainya, beliau memakannya, dan jika beliau tidak menyukainya, beliau meninggalkannya.”[[43]]
Wahai suamiku tercinta…
Akhir pekan berarti ada hari-hari yang tidak biasa di rumah kita! Engkau keluar bersama teman-teman dan rekan-rekanmu, meninggalkan aku dan anak-anak kecil kita. Sudah sering aku mendengar tangisan mereka dan keinginan mereka untuk keluar bersamamu melihat musim semi dan bersenang-senang di oasis padang pasir yang indah, tetapi engkau tidak peduli dengan itu… Engkau mempercepat langkahmu lalu menutup pintu dan meninggalkan aku dan anak-anak dalam tangisan dan kesedihan! Kami tidak ingin menghalangi kesenangan dan kebahagiaanmu, tetapi aku punya hak, dan anak-anak punya hak, maka bagilah dan berlaku adillah antara kami dan teman-teman serta rekan-rekanmu!
Wahai suamiku…
Di antara laki-laki di sekitarmu telah menyebar kebiasaan memanjangkan pakaian dan mishlah (jubah), dan ini bertentangan dengan petunjuk Nabi. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: Aku melewati Rasulullah ﷺ dan kainku terjulur, maka beliau bersabda: “Wahai Abdullah, angkatlah kainmu!” Maka aku mengangkatnya, kemudian beliau bersabda: “Tambah lagi!” Maka setelah itu aku selalu memperhatikannya. Sebagian kaum bertanya: “Sampai mana?” Beliau menjawab: “Sampai pertengahan betis.”[[44]]
Dan beliau bersabda: “Apa yang di bawah mata kaki dari kain sarung maka di neraka.”[[45]]
Adapun hadits-hadits ini dan lainnya untuk orang yang memanjangkan pakaiannya tanpa kesombongan dan keangkuhan, setan telah memakaikannya dan melemparkan padanya selendang kesombongan dan keangkuhan, karena Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.”[[46]]
Janganlah gelisah, suamiku, dengan pertanyaan yang sering aku ajukan pada diriku sendiri dan sering kudengar dari anak-anak kecil kita yaitu: Di mana engkau menghabiskan waktumu selama seminggu?! Kami melihat bahwa teman-teman, rekan-rekan, perjalanan, dan tempat istirahat telah mengambil seluruh waktumu dan kami hanya memiliki beberapa menit untuk melihatmu, dan di beberapa hari salah satu anak kecil tertidur sehingga dia melewati dua hari tanpa melihatmu?! Dan apakah – wahai suamiku – rekan-rekan dan jual beli bisnismu lebih berhak atas waktu daripada kami?!
Aku akan membawamu kembali, suamiku tersayang, bertahun-tahun dan berabad-abad yang lalu… agar engkau melihat siapa yang lebih banyak darimu dalam hal pekerjaan, dakwah, pertemuan, dan pengajaran… Arahkan pandanganmu ke kitab-kitab hadits untuk melihat Nabi umat ini, pemimpinnya dan pendidiknya, meskipun banyak tanggungannya, namun beliau ﷺ memberikan hak kepada setiap yang berhak… Bukankah beliau telah menjadi teladan bagimu!! Ya, demi Allah, bagi kita semua beliau adalah teladan yang terbaik…
Wahai suamiku…
Kegelisahan kita banyak dan bercabang, tetapi aku akan menjadikannya dalam hal terindah yang pernah kulihat… Kitab Allah Azza wa Jalla dan sunnah Nabi kita yang mulia dalam hal pergaulan yang baik dan kebaikan kasih sayang:
Allah Ta’ala berfirman: “Dan bergaullah dengan mereka (istri-istri) dengan cara yang baik.”[[47]] Dan Nabi bersabda: “Berwasiatlah kebaikan kepada para wanita…”[[48]] Dan sabdanya: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik terhadap istri-istri mereka.”[[49]]
Wahai suamiku…
Jika aku melakukan kesalahan dalam kata-kata ini, maka engkau termasuk orang-orang mulia yang memaafkan kesalahan dan memaklumi kekeliruan.
Suamiku, semoga Allah memberimu kesehatan dan mengenakan padamu pakaian iman dan takwa, menyenangkan matamu dengan kesalehan anak-anak kita, dan mengumpulkan aku, engkau, dan orang tua kita di Firdaus yang tertinggi dari surga, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang dipanggil pada hari kiamat: “Masuklah ke dalam surga, kamu dan pasangan-pasanganmu dalam keadaan gembira.”[[50]]
Selesai Surat untuk Suami.
WAHAI ISTRIKU…
Saat pertama kali aku melihatmu, hadits Rasulullah ﷺ memenuhi pendengaran dan penglihatanku: “Maka pilihlah wanita yang memiliki agama, niscaya engkau akan beruntung.” [ [51]] Dan engkaulah wanita beragama yang selama ini aku cari dan usahakan… Dan aku tidak menyembunyikan rahasia darimu bahwa Allah telah mengumpulkan padamu sifat-sifat lain bersama ketakwaan dan kesucian.
Padamu ada akhlak yang baik, pergaulan yang indah, dan keramahan yang menenangkan jiwaku. Allah telah menganugerahimu kecantikan yang memenuhi mataku, dan aku tidak melihatmu kecuali sebagai mimpi-mimpi indah yang mendahuluiku di malam pernikahan! Dan setelah berlalu bertahun-tahun dan anak-anak mulai berdatangan ke keluarga kecil kita, aku harus berhenti denganmu beberapa saat, dan aku tidak mengetahui darimu kecuali kebaikan, dan aku tidak menganggapmu kecuali sebagai wanita yang suka bertaubat dan selalu kembali kepada Allah, yang jika mendengar firman Allah dan sabda Rasul-Nya, ia langsung berserah diri dan taat.
Wahai istriku…
Ketika engkau membalik halaman-halaman dan melihat pada momen-momen yang kutulis dengan tangan yang mencintaimu ini, sesungguhnya engkau sedang membalik halaman-halaman hatiku dan melihat ekspresi wajahku… dan mengusap tetesan-tetesan lelah di keningku!
Aku berdoa kepada Allah Azza wa Jalla agar engkau menjadi wanita terbaik… Nabi ﷺ pernah ditanya: “Wanita manakah yang terbaik?” Beliau menjawab: “Yang menyenangkannya jika ia memandang, menaatinya jika ia memerintah, dan tidak menentangnya dalam hal yang ia benci tentang diri dan hartanya.”[[52]]
Suami memiliki hak-hak yang agung dan kewajiban-kewajiban yang tidak tersembunyi bagi wanita yang berakal dan cerdas sepertimu… Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Tidak ada kewajiban bagi wanita setelah hak Allah dan Rasul-Nya yang lebih wajib daripada hak suami.”[[53]]
Bagimu pahala dan ganjaran dari Allah Azza wa Jalla, kemudian terima kasih dariku atas suratmu yang membangunkanku dari kelalaianku!! Sungguh firman Allah Azza wa Jalla dan sabda Nabi ﷺ telah mengenai hatiku sehingga menghilangkan gemanya dan menerangi jalannya. Inilah keadaannya jika nasihat yang jujur dan kata-kata yang ikhlas terlontarkan… Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan!! Dan jika engkau telah mendahului kepada kebaikan, maka inilah aku berjalan di jalan itu dan aku menyampaikan kepadamu momen-momen yang tidak hilang dari ingatanmu, tetapi ini untuk pengingat karena Allah Ta’ala berfirman: “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.”[ [54]]
Dan sebelum aku mulai dengan momen-momen ini, aku memberimu kabar gembira dengan hadits Rasulullah ﷺ:
Dari Asma’ binti Yazid bin As-Sakan radhiallahu ‘anha, ia datang kepada Nabi dan berkata: “Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku, aku adalah utusan para wanita kepadamu. Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada laki-laki dan wanita semuanya, maka kami beriman kepadamu dan membenarkanmu. Kami para wanita adalah penghuni rumah kalian, pemuas hasrat kalian, dan pembawa anak-anak kalian. Dan kalian para laki-laki diberi keutamaan atas kami dalam shalat Jum’at dan berjamaah, menjenguk orang sakit, menghadiri jenazah, haji dan jihad di jalan Allah. Dan jika seorang laki-laki keluar untuk haji atau umrah atau jihad, kami menjaga harta kalian, menenun pakaian kalian, dan mendidik anak-anak kalian. Tidakkah kami mendapat bagian dalam pahala?” Maka Rasulullah ﷺ menoleh kepada para sahabatnya dan berkata: “Pernahkah kalian mendengar perkataan wanita yang lebih baik dari ini?” Kemudian beliau berkata kepadanya: “Pahamilah wahai wanita muslimah, dan beritahukan kepada wanita-wanita di belakangmu: bahwa kebaikan pelayanan seorang istri kepada suaminya dan usahanya mencari keridhaan suami serta mengikuti keinginannya, menyamai semua itu.” [55]
Maka selamat untukmu atas pahala dan kedudukan mulia ini, dan inilah momen-momen yang akan aku sebutkan:
MOMEN PERTAMA:
Nabi ﷺ memperingatkan dari keluar rumah tanpa keperluan, dan wanita jika keluar dari rumahnya maka dia telah membuka diri terhadap anak panah dan tombak yang diarahkan kepadanya. Beliau ﷺ bersabda: “Wanita adalah aurat, maka jika dia keluar, setan akan memperindahnya bagi laki-laki.”[[56]] Dan aku melihatmu terlalu memudahkan dalam hal keluar rumah, baik dengan keperluan maupun tanpa keperluan, dengan alasan-alasan yang lemah… Terkadang engkau keluar untuk membeli sepatu kemudian keluar untuk mengembalikannya, dan di lain waktu karena warnanya tidak cocok dengan gaunmu, dan terkadang untuk mengunjungi teman dan kerabat, dan begitulah keluarmu menjadi kebiasaan dan engkau menjadi wanita yang sering keluar masuk. Maka di manakah menetap di rumah sebagai pelaksanaan firman Allah Azza wa Jalla: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu.”[[57]]
Abdullah bin Mas’ud berkata: “Tidak ada cara bagi wanita untuk mendekatkan diri kepada Allah yang lebih besar daripada duduk di rumahnya.”
Ummul Mukminin Aisyah membaca ayat “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu” sambil menangis hingga kerudungnya basah.
Wahai istriku, aku memiliki banyak kecemburuan dan segala puji bagi Allah. Tidakkah kamu mendengar perkataan Ali bin Abi Thalib yang mengatakan: “Telah sampai kepadaku bahwa istri-istri kalian berdesak-desakan dengan orang-orang kasar di pasar. Tidakkah kalian cemburu? Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak memiliki kecemburuan!”
Ummul Mukminin Aisyah merangkum masalah ini dalam kata-kata emas dengan mengatakan: “Sungguh lebih baik bagi wanita untuk tidak melihat laki-laki dan tidak dilihat oleh mereka.”
Syekh Abdullah bin Jibreen ditanya tentang hukum wanita pergi ke pasar, beliau menjawab: “Tidak diperbolehkan pergi dalam segala keadaan kecuali dalam keadaan sangat darurat, yaitu ketika tidak ada yang bisa mewakilinya untuk membeli kebutuhan khususnya, atau tidak ada yang mengetahui apa yang dia inginkan selain dirinya. Ketika dia keluar, dia harus dalam keadaan sangat sopan dan tertutup, menutupi seluruh tubuhnya. Tidak boleh bagi wanita yang masuk ke pasar untuk menampakkan bagian tubuhnya di hadapan laki-laki seperti telapak tangan, wajah, kaki dan lainnya karena itu adalah aurat. Begitu juga tidak boleh menampakkan perhiasan di tangannya meskipun tertutup dengan kaos kaki. Juga tidak boleh masuk ke pasar dengan memakai wewangian yang memiliki aroma yang jelas. Dia juga harus ditemani mahramnya yaitu suaminya atau kerabat yang haram baginya. Diperbolehkan jika ditemani wanita-wanita yang terpercaya dan aman dari fitnah serta berkomitmen dengan kesopanan yang sempurna dan menjauh dari bahaya dan penyebabnya.”
Renungkanlah kesucian dan rasa malu Fatimah binti Muhammad ﷺ ketika dia berkata kepada Asma binti Umais: “Aku merasa tidak enak dengan apa yang dilakukan terhadap wanita, kain diletakkan di atas wanita sehingga menampakkan bentuk tubuhnya” – maksudnya ketika meninggal dan diletakkan di keranda. Asma berkata: “Wahai putri Rasulullah, maukah aku tunjukkan sesuatu yang aku lihat di Habasyah?” Lalu dia mengambil dahan-dahan kurma yang masih basah, melengkungkannya, kemudian meletakkan kain di atasnya. Fatimah berkata: “Alangkah bagus dan indahnya. Jika aku meninggal, mandikanlah aku, engkau dan Ali, dan jangan biarkan siapapun masuk.”
Wahai istriku yang mulia… Inilah rasa malu dan kesucian dari seseorang yang tumbuh di rumah kenabian. Dia tidak ingin tubuhnya dilihat bahkan ketika berada di keranda, dan dia bergembira dengan penempatan ranting-ranting ini yang ditutupi kain untuk mencegah orang melihatnya! Semoga Allah meridhainya.
MOMEN KEDUA:
Terjebak dalam mengoleksi gambar dan patung serta menggantungnya di dinding dan di atas rak sampai rumah kita menjadi museum yang mengumpulkan berbagai jenis maksiat. Nabi ﷺ telah memperingatkan tentang hal itu dengan sabdanya: “Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada anjing atau gambar.”[[58]] Dan jika malaikat tidak memasukinya, maka setan-setan akan berkeliaran di dalamnya! Bukankah kamu yakin bahwa hari-hari kita di rumah-rumah ini hanyalah sebentar, kemudian kita akan pindah ke rumah lain yang luasnya tidak sebanding dengan luas jendela rumah kita, dan kubur adalah kegelapan yang hanya dapat diterangi oleh amal saleh!
Imam Ahmad berkata: “Ini hanyalah makanan di bawah makanan, dan pakaian di bawah pakaian, dan ini hanyalah hari-hari yang sedikit…”
MOMEN KETIGA:
Allah telah memberi kita nikmat yang besar yaitu nikmat anak-anak dan mereka adalah amanah di pundak kita yang akan kita pertanggungjawabkan pada hari kiamat. Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”[[59]] Dan amanah besar ini, aku tidak melihatmu memperhatikan pendidikan dan pembentukan mereka dalam ketaatan… Bahkan kebanyakan perhatianmu hanya pada apa yang mereka makan dan minum! Apa pakaian mereka dan kemana mereka keluar dan pergi?! Apakah kamu berpikir bahwa pendidikan seperti ini yang akan melahirkan untuk kita orang-orang seperti Mush’ab, Khalid dan Mu’adz?!
MOMEN KEEMPAT:
Wahai Istriku, aku melihatmu sangat mementingkan kemewahan dan pakaian yang mencolok dan menghabiskan uang untuk itu, padahal Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji zarah.”[[60]]
Renungkanlah hadits Rasulullah ﷺ: “Barangsiapa meninggalkan pakaian karena tawadhu’ kepada Allah, padahal dia mampu memakainya, Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan semua makhluk hingga dia diberi pilihan dari perhiasan iman mana yang dia ingin pakai.”[[61]]
Dan aku tahu, wahai istri yang terjaga, bahwa kamu adalah wanita yang menyukai perhiasan dan keindahan, tetapi setiap perkara ada batasnya. Maka janganlah kamu berlebihan sampai pada pemborosan dan mubazir yang dicela oleh Allah Azza wa Jalla, terutama karena kamu melihat dan mendengar keadaan saudari-saudarimu muslimah yang mencari sesuap nasi namun tidak mendapatkannya. Kemudian aku bertanya padamu… Bukankah cara jalanmu, cara bicaramu, bahkan cara memandangmu berubah ketika kamu mengenakan pakaian yang paling indah dan mewah? Aku khawatir kamu akan terkena sedikit kesombongan, kemewahan, kebanggaan dan kekaguman sehingga kamu mendapat bagian dari hadits sebelumnya dan membuatmu tergelincir!
MOMEN KELIMA:
Di antara hal paling berbahaya yang dirusak oleh media pada wanita-wanita kita adalah menanamkan konsep mengurangi kelahiran dan berusaha membatasi keturunan, sehingga hal itu menjadi sesuatu yang diterima begitu saja oleh wanita-wanita yang bodoh. Mereka dengan hal itu menentang perintah Rasulullah ﷺ yang bersabda: “Nikahilah wanita yang penyayang dan subur, karena aku akan berbangga dengan jumlah kalian di hadapan umat-umat lain.”[[62]]
Dan Rasulullah memuji wanita yang subur dengan bersabda: “Sebaik-baik wanita kalian adalah yang penyayang dan subur…”[[63]]
Maka hitunglah pahala dalam kehamilan, melahirkan, menyusui dan mendidik, karena mendidik anak-anak dengan pendidikan yang baik adalah salah satu bentuk ibadah… Dan bergembiralah dengan kebaikan yang besar dan pahala yang banyak, karena di dunia matamu akan sejuk dan di akhirat kamu akan mendapatkan pahala yang besar.
MOMEN KEENAM:
(Darurat) adalah kata yang diremehkan… Mungkin kamu akan heran dengan hal itu. Bukankah kamu terkadang pergi ke rumah sakit dan menganggap enteng untuk masuk ke dokter laki-laki! Dan kamu tidak berusaha untuk masuk ke dokter wanita padahal itu hal yang mudah! Dan keluhan yang kamu alami bisa ditunda dan tidak ada bahaya dalam penundaannya! Maka dimana letak darurat dalam mencabut gigi atau memeriksa penyakit mata atau telinga?! Wahai istriku, klinik-klinik wanita ada di mana-mana bahkan jika aku harus membayar dari uangku sendiri agar kamu tidak dilihat oleh dokter laki-laki!
Kemudian renungkanlah keadaan mereka yang datang ke dokter… Salah seorang dari mereka masuk ke dokter dengan anaknya yang kecil, kemudian ketika duduk dia membuka wajahnya dan dokter bertanya: “Apa keluhanmu?” Dia menjawab: “Anakku yang sakit!” Dan yang lain merasakan sakit di telinganya lalu dia membuka seluruh wajahnya?! Maka dimana letak daruratnya!
Said bin Al-Musayyib berkata: “Tidaklah setan putus asa dari sesuatu kecuali dia mendatanginya dari arah wanita.” Maka berhati-hatilah wahai istriku agar kamu tidak tergelincir lalu menimbulkan fitnah atau terkena fitnah! Dan ketahuilah bahwa kamu akan menanggung dosa orang yang kamu fitnahkan! Sebagian pemuda menceritakan bahwa awal jalan kehancurannya adalah ketika dia melihat wanita yang berhias lalu dia tertarik dan mulailah langkah-langkah penyimpangan darinya. Maka berhati-hatilah dari dosa-dosa yang datang kepadamu seperti gunung-gunung yang kamu tidak mengetahuinya di dunia.
Dan di jalan ini kaki sebagian wanita tergelincir ke dosa besar yaitu zina – kita berlindung kepada Allah – yang dikatakan oleh Imam Ahmad – semoga Allah merahmatinya – “Aku tidak mengetahui dosa yang lebih besar setelah pembunuhan daripada zina.”
Dan karena inilah Allah Azza wa Jalla melarang bahkan sekedar mendekati apa yang bisa menyebabkan kemaksiatan besar ini, Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mendekati zina”[[64]] dan tidak mengatakan “janganlah kamu berzina”, karena zina memiliki pendahuluan-pendahuluan di antaranya berkhalwat (berduaan) dengan laki-laki asing atau berbicara dengannya…!
MOMEN KETUJUH:
Sebagian ulama menganggap amar ma’ruf nahi munkar sebagai rukun keenam dari rukun-rukun Islam karena pentingnya dan besarnya urusan ini. Aku tidak melihat kamu melakukan amar atau nahi di kalangan wanita padahal hadits tersebut masyhur: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”[[65]]
Perubahan dan pengingkaran dengan lisan serta nasihat yang baik masih tersedia di kalangan wanita, maka bersungguh-sungguhlah – semoga Allah memberkahimu – dalam urusan ini, dan berhati-hatilah jangan sampai kamu meninggalkannya sehingga kita tertimpa apa yang menimpa orang lain berupa tersebarnya kerusakan dan hancurnya masyarakat. Bersungguh-sungguhlah agar di tasmu ada buku-buku atau selebaran untuk dibagikan di setiap tempat yang kamu kunjungi, dan rasakanlah besarnya pahala dan bebasnya tanggungan!
Sesungguhnya amar ma’ruf adalah bagian dari kebaikan umat ini dan termasuk sebab-sebab kedudukan di bumi dan termasuk sebab-sebab terbesar kemenangan, dan di dalamnya ada penghapusan dosa-dosa dan pengangkatan derajat serta perlindungan dari kebinasaan dan azab. Meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar termasuk penghalang terkabulnya doa dan termasuk sebab-sebab berkuasanya orang-orang kafir dan munafik!
Syaikh Hamad bin Atiq rahimahullah berkata: “Seandainya ada seseorang yang berpuasa di siang hari, beribadah di malam hari, dan zuhud terhadap seluruh dunia, dia tidak marah karena Allah, wajahnya tidak berubah dan tidak memerah, dia tidak memerintahkan yang ma’ruf dan tidak mencegah yang munkar, maka orang ini termasuk manusia yang paling dibenci di sisi Allah, paling sedikit agamanya, dan pelaku dosa-dosa besar lebih baik di sisi Allah daripada dia.”
Dan di antara tipu daya Iblis terhadap orang-orang yang lemah jiwanya adalah: kelalaian dari amar ma’ruf nahi munkar, dan mereka menganggap itu sebagai campur tangan dalam urusan orang lain. Ini adalah karena kurangnya pemahaman dan lemahnya iman. Dari Abu Bakar berkata: “Wahai manusia! Sesungguhnya kalian membaca ayat ini: ‘Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.’[[66]] Dan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya manusia apabila melihat orang zalim dan mereka tidak mencegah tangannya, hampir-hampir Allah akan meratakan mereka dengan azab dari-Nya.'”[[67]]
MOMEN KEDELAPAN:
Wahai istriku… Kamu adalah wanita terpelajar namun setiap bulan aku melihatmu berada dalam kebingungan dan keraguan menguasaimu sepenuhnya, hingga kamu tidak mengetahui waktu suci dari yang lainnya. Dan aku bertanya padamu… Sudah berapa lama dari umurmu dan kamu masih membutuhkan setiap bulan untuk mengetahui hukum-hukum bersuci dan haid!? Tidakkah kamu berpikir untuk memiliki buku tentang bersuci yang bisa memberi manfaat untuk dirimu dan bermanfaat bagi wanita lain, dan aku khawatir kamu berdosa karena kelalaian dan kesembronoan ini!!
MOMEN KESEMBILAN:
Bahaya lisan sangatlah besar dan di zaman ini tersebar ghibah dan namimah (mengadu domba). Yang satu mengghibahi kerabat atau teman, yang lain mengghibahi keluarga suami, yang ketiga mengghibahi pembantunya… yang keempat mengghibahi kepala sekolah dan teman-temannya di sekolah… Dan juga tersebar di sebagian majelis yang kosong berupa mengolok-olok muslimah yang beriman dan yang paling keras adalah mengolok-olok wanita yang religius dan berhijab yang bisa menyeret kepada kekufuran – kita berlindung kepada Allah. Bacalah tafsir surat At-Taubah untuk mengetahui bahayanya perkara ini.
Dan yang juga tersebar adalah sindiran dan celaan kepada orang-orang yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan mengatakan bahwa mereka mencampuri kebebasan orang lain! Aku ingatkan kamu wahai istriku akan bahayanya perkara ini. Disebutkan dalam Hasyiyah Ibnu Abidin: “Bahwa siapa yang mengatakan ‘fudhuli’ (cerewet/sok ikut campur) kepada orang yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran maka dia murtad.”
Dan dalam Ad-Durr Al-Mukhtar disebutkan dalam bab Fudhuli: “Dia adalah orang yang menyibukkan diri dengan apa yang tidak menjadi urusannya. Maka orang yang mengatakan kepada orang yang memerintahkan kebaikan: ‘kamu fudhuli’, dikhawatirkan kekufuran atasnya.”
MOMEN KESEPULUH:
Niqab… niqab… Banyak pembicaraan tentangnya tetapi semua sepakat bahwa itu adalah pintu keburukan dan fitnah dengan penampilan yang kita lihat ini dan kamu wahai wanita yang berniqab mengumpulkan dosa-dosa dan beban untuk setiap orang yang melihat kedua matamu yang bercelak! Dan kamu tidak tahu berapa banyak pemuda yang akan kamu tanggung dosanya pada hari kiamat dan janganlah kamu tertipu oleh orang-orang yang menyebarkan keraguan di bumi dan alasan-alasan mereka yang lemah. Jangan katakan aku ingin melihat jalan… Nenekmu dan ibumu dan kamu bertahun-tahun bisa melihat jalan tanpa niqab kemudian sekarang kamu di mobil dan suamimu yang mengendarainya… Maka apa lagi yang ingin kamu lihat! Dan apa yang kamu takutkan untuk jatuh ke dalamnya sedangkan kamu adalah penumpang tetapi setan berkeliaran dan kamu mengikutinya!
Maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah orang-orang yang memandangmu menjadi yang paling ringan sedangkan kamu dalam keadaan yang tidak diridhai-Nya!
MOMEN KESEBELAS:
Terkadang aku khawatir kamu termasuk orang yang dimaksud Rasulullah ﷺ dalam sabdanya: “…dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang”[[68]] dan disebutkan bahwa mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya! Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sesungguhnya wanita yang berpakaian tetapi telanjang itu bisa karena tipis pakaiannya, atau pendeknya, atau ketatnya.”
Renungkanlah gaun pesta yang kamu pakai… terbuka bagian dada dan punggung dan juga kaki mendapat bagian dari bukaan! Maka dimana letak penutup dan kesucian dan kesopanan dan rasa malu! Dan aku khawatir akan datang hari dimana: kamu memakai pakaian sedikit yang tidak cukup untuk menutupi tubuhmu karena sedikitnya harta dan kerasnya kemiskinan, karena Allah Azza wa Jalla mampu untuk mencabut nikmat-Nya…
Adapun celana panjang… itu adalah tanda keburukan, dimulai dengan celana longgar kemudian ketat kemudian pendek dan itu dalam tahapan yang rapi! Dan Allah lebih tahu apa yang direncanakan musuh-musuh Islam untukmu dalam ketersembunyian! Dan tidak cukup kamu hanya meninggalkan celana panjang saja bahkan ingkarilah setiap orang yang memakainya dan takut-takutilah dia dengan Allah Azza wa Jalla!
Syaikh Muhammad bin Uthaimin berkata tentang celana panjang: “Sesungguhnya itu menggambarkan bentuk kaki wanita dan juga perutnya dan pinggangnya dan lainnya, dan pemakainya masuk dalam sabdanya: ‘berpakaian tetapi telanjang’ meskipun longgar dan lebar karena membedakan satu kaki dari kaki lainnya ada padanya sesuatu dari ketidak-tertutupan, kemudian dikhawatirkan hal itu juga termasuk penyerupaan wanita dengan laki-laki karena celana panjang adalah pakaian laki-laki.”
Ini untukmu, adapun anak perempuan kecil kita yang mendekati usia sepuluh tahun maka penampilan umumnya mengesankan dia adalah gadis barat yang ayah dan ibunya tidak mengetahui ajaran-ajaran Islam dan kegigihannya dalam mendidik generasi dan membimbing mereka menuju penutupan aurat dan kesucian.
Bagaimana anak kecil akan tumbuh dalam penutupan aurat sedangkan dia dididik seperti ini!! Jika dia tidak memahami maka kamu memahami, dan jika dia belum mukallaf (dibebani kewajiban) maka kamu wahai istri adalah mukallaf dalam menjaganya. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata tentang anak-anak perempuan kecil yang memakai pakaian pendek: “Dan tidak boleh bermudah-mudahan dalam hal itu dengan anak-anak perempuan kecil karena mendidik mereka di atasnya akan membawa kepada pembiasaan mereka terhadapnya dan kebencian mereka terhadap selainnya ketika mereka besar sehingga terjadilah hal yang dikhawatirkan dan fitnah yang terjadi pada wanita-wanita dewasa.”
MOMEN KEDUA BELAS:
Wahai Ummu Abdullah… gajimu bulanan – segala puji bagi Allah – aku tidak mengambil satu riyal pun darinya sejak kamu mulai bekerja karena itu tidak halal bagiku kecuali dengan kerelaan dan persetujuanmu… tetapi aku melihatmu membelanjakannya seperti orang-orang bodoh yang boros. Itu jam yang kamu beli dengan sekian dan ini gaun dengan sekian… dan betapa kasihannya kamu ketika berdiri berjam-jam untuk memberikan pelajaran kemudian buah jerih payahmu adalah uang yang terbuang ini!! Dimana anak-anak yatim dan para janda dan orang yang berhak mendapat sedekah! Rasulullah bersabda: “Wahai para wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar, karena aku melihat kalian adalah penduduk neraka yang terbanyak.”[[69]]
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Sesungguhnya siapa yang kikir dengan hartanya untuk diinfakkan di jalan Allah dan meninggikan kalimat-Nya, Allah akan mencabutnya darinya atau menakdirkan pembelanjaannya pada apa yang tidak bermanfaat baginya di dunia dan akhirat. Dan jika dia menahannya dan menyimpannya, Allah akan mencegahnya menikmatinya dan memindahkannya kepada orang lain sehingga orang lain yang mendapat ucapan selamatnya, dan bagi yang meninggalkannya mendapat dosanya. Begitu juga siapa yang memanjakan badannya dan kehormatannya dan lebih mengutamakan istirahatnya daripada lelah di jalan Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melelahkannya berlipat-lipat dari itu bukan di jalan-Nya dan keridhaan-Nya.”
Wahai istriku yang tercinta, urusan mengharap pahala dalam pengajaran telah kamu lupakan. Untuk memperbarui apa yang telah ada padamu dalam urusan ini, aku akan memberikan satu contoh berdasarkan hadits Rasulullah ﷺ: “Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun…”[[70]]
Bagaimana jika kamu mengajarkan satu murid surat Al-Fatihah saja, maka murid ini ketika wajib atasnya shalat akan membaca surat ini tujuh belas kali setiap hari hanya dalam shalat wajib saja. Dan setiap kali murid ini membaca surat Al-Fatihah, bagimu insya Allah (1400 kebaikan). Bagaimana jika dia adalah orang yang rajin shalat dan qiyamul lail, dan setelah itu dia menjadi guru dan mengajarkan surat ini kepada ratusan murid! Oleh karena itu Rasulullah ﷺ mendapat seperti pahala umatnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.
Dan renungkanlah akhir hadits sebelumnya dimana beliau bersabda: “…dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka baginya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.” Maka berhati-hatilah jangan sampai kamu menunjukkan kepada mereka tabarruj atau membuka aurat atau membangkitkan syubhat pada mereka karena dosa dan beban itu atasmu sampai hari kiamat.
MOMEN KETIGA BELAS:
Di antara hal-hal aneh yang kontradiktif adalah aku melihatmu sangat memperhatikan urusan membeli gaun atau cat kuku dan membuatmu gelisah dan khawatir selama berhari-hari tentang apa yang akan kamu pakai di acara pernikahan yang akan datang! Kekhawatiran yang menyertaimu dan kesedihan yang menemanimu, aku tidak melihat Islam di hatimu dan tidak ada pembicaraan di lidahmu! Apakah kamu telah zuhud dalam agamamu? Apakah gaun pernikahan lebih penting bagimu daripada meningkatkan agamamu dan mengangkatnya?
Wahai istriku… aku melihat hatimu membawa kekhawatiran-kekhawatiran yang tidak melampaui gaji dan gaun dan tatanan rambut! Adapun Islam dan pengabdian kepadanya dan pelaksanaannya, maka urusan itu bukan kepadamu dan hanya Allah tempat memohon pertolongan.
MOMEN KEEMPAT BELAS:
Ketika engkau shalat, aku tidak melihatmu khusyuk dengan anggota tubuh dan hati yang hadir. Engkau melakukannya dengan tergesa-gesa dan cepat. Wahai istriku, khusyuk adalah ruh dari shalat, dan Allah memuji orang-orang yang khusyuk dalam shalat. Kemudian, tidakkah engkau mengevaluasi dirimu ketika meninggalkan shalat sunnah rawatib yang memiliki pahala yang besar! Engkau hanya duduk di tempat shalatmu beberapa menit seolah-olah dalam penjara! Maka di manakah kenikmatan ibadah dan ketulusan munajat? Di manakah kebahagiaan bertemu Allah? Nabi ﷺ bersabda: “Tidaklah seorang hamba muslim yang mengerjakan shalat sunnah dua belas rakaat setiap hari selain shalat wajib, melainkan Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga.”[[71]]
Shalat sunnah rawatib adalah: dua rakaat sebelum Subuh, empat rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah Maghrib, dan dua rakaat setelah Isya. Jika engkau tidak beramal untuk akhirat di masa mudamu, maka kapan lagi engkau akan beramal?!
MOMEN KELIMA BELAS:
Mendidik anak-anak tentang yang halal dan menjauhkan mereka dari yang haram adalah bagian penting dari pendidikan yang baik.
Nabi ﷺ berkata kepada Hasan bin Ali ketika dia mengambil kurma sedekah dan memasukkannya ke mulutnya saat masih kecil, Rasulullah mendidik dan mengajarinya dengan berkata: “Kakh, kakh” (untuk membuangnya) kemudian berkata: “Tidakkah engkau tahu bahwa kami (keluarga Muhammad) tidak memakan sedekah?”[[72]]
Maka wahai istriku, apakah anak-anak kita mendapat bagian dari pendidikan yang baik dan penanaman nilai-nilai mulia dalam jiwa mereka?
MOMEN KEENAM BELAS:
Wahai istriku: Kita semua memiliki dosa dan kesalahan, tidak ada di antara kita yang terbebas dari kekeliruan dan kesalahan. Namun yang terbaik di antara kita adalah yang bersegera bertaubat dan kembali (kepada Allah), didorong oleh langkah-langkah dan air mata. Renungkanlah hadits yang agung dan kabar gembira yang menggembirakan hati ini. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat buruk di siang hari, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat buruk di malam hari, hingga matahari terbit dari barat.”[[73]]
Dan bergembiralah, karena “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.”[[74]]
MOMEN KETUJUH BELAS:
Keluarga memiliki hak-hak yang agung, dan yang terbesar adalah hak kedua orang tua kemudian saudara-saudara. Saya telah tumbuh dan dididik di rumah orang tua saya selama bertahun-tahun, dan makan bersama saudara-saudara saya selama bertahun-tahun berturut-turut. Di antara kami ada kasih sayang, cinta, hormat dan penghargaan yang saya rasa kamu tahu dan lihat!
Namun akhir-akhir ini kamu mulai mengeluh dan terkadang melontarkan kata-kata ketika saya mengunjungi keluarga saya. Dan saya melihat secara pribadi ada awan kesombongan dan sikap dingin ketika kamu menyambut ayahku atau ketika kamu melihat ibuku! Ini bukanlah sikap yang baik dan bukan sifat seorang mukminah yang shalihah, bertakwa dan suci. Jangan tertipu dengan senyuman saya padamu dan banyaknya percakapan saya denganmu… mereka adalah keluargaku, itu ayahku dan itu ibuku!
Mereka didahulukan dalam berbuat baik, kebaikan, dan pemberian dibandingkan kamu dan semua pria dan wanita lainnya. Maka cintailah apa yang Allah cintai dan perintahkan berupa kebajikan dan silaturahmi, dan cintailah apa yang kamu lihat saya mencintainya dan bantulah saya dalam berbakti dan menyambung silaturahmi dengan mereka. Ingatkan saya jika saya lupa dan bangunkan saya jika saya lalai.
Saya mendengar bahwa banyak suami yang berbalik melawan keluarganya dan hubungan mereka menjadi keruh karena mendengarkan satu suara yaitu suara istrinya, kebohongannya dan pemburuan kesalahannya. Dia (istri) yang berperangai buruk dan berhati jahat memindahkan situasi kepadanya ketika seseorang berbuat salah padanya (tanpa sengaja) dan tidak memindahkan situasi di mana dia yang berbuat salah kepada mereka dengan sengaja!
Berapa banyak rumah yang hancur bangunannya, keluarganya bercerai-berai dan suami menjadi durhaka kepada ibu dan ayahnya karena seekor ular yang tinggal di sisinya dan melahirkan anak-anaknya!
Dan istri – wahai istriku – ada istri pengganti darinya dan wanita itu banyak!! Tapi orang tua dan keluarga tidak ada penggantinya. Dan saya lihat kamu memahami perkataanku! Dan kamu ingat terakhir kali ketika ada perselisihan dan pertengkaran antara kita, saya kembali kepada mereka dan meminta nasihat mereka! Mereka adalah penasihat terbaik… dan mereka memujimu dengan kebaikan dan mewajibkan saya untuk menyelesaikan masalah.
Maka di mana balasan untuk mereka!!
MOMEN KEDELAPAN BELAS:
Telah menyebar di kalangan wanita banyaknya candaan, tawa dan lelucon yang tidak pantas serta tawa yang keras hingga sebagian lelucon itu menodai rasa malu dan menjatuhkan kehormatan. Ini termasuk buruknya pendidikan, lemahnya agama dan sedikitnya rasa malu. Lelucon-lelucon ini bisa jadi mengandung serangan terhadap orang-orang baik dan shalih sehingga membawa pelakunya kepada tingkat kemurtadan – na’udzubillah.
Syaikh Muhammad bin Ibrahim – rahimahullah – berkata: “Di antara manusia ada yang kebiasaannya mengikuti ulama, baik bertemu mereka atau tidak, seperti perkataannya: Para Muthowwi’ah (ulama) begini begitu, maka orang ini dikhawatirkan menjadi murtad dan dia tidak mencelanya kecuali karena mereka adalah ahli ketaatan.”
Dan dalam jawaban Lajnah Daimah untuk Fatwa tentang orang yang berkata kepada yang lain: “Wahai jenggot” dengan mengejek, Lajnah berkata bahwa mengejek jenggot adalah kemungkaran yang besar. Jika si pembicara bermaksud dengan perkataannya “wahai jenggot” untuk mengolok-olok, maka itu adalah kekufuran, dan jika bermaksud untuk pengenalan maka bukan kekufuran, namun tidak sepatutnya memanggilnya dengan sebutan itu.
MOMEN KESEMBILAN BELAS:
Memuliakan tamu adalah sunnah para nabi dan rasul, dan Rasulullah telah menjadikannya sebagai bagian dari iman dengan bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya…”[[75]] Maka di mana penghormatan terhadap tamu sedangkan kamu mengeluh dan merasa terganggu ketika saya mengundang tetangga, kenalan atau teman… Dan kamu tahu kesungguhan saya untuk tidak mengundang ke rumah saya kecuali orang yang taat, mengikuti perintah Rasulullah ﷺ: “Dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa…”[[76]]
MOMEN KEDUA PULUH:
Rumah kita telah dianugerahi Allah dengan cinta dan kasih sayang dan dihiasi dengan anak-anak bagai bunga dan taman… Kita menikmati kata-kata mereka dan bergembira dengan langkah-langkah mereka, tetapi yang kurang di rumah ini adalah senyuman… Jangan heran istriku, kita kekurangan senyuman! Ya, aku suamimu membutuhkan senyuman indahmu dan aku bersyukur kepada Allah bahwa tidak ada masalah atau teriakan di antara kita, tetapi kita membutuhkan senyuman yang akan diberi pahala… karena senyuman menghidupkan jiwa dan menghilangkan kebencian dalam dada. Sudah lama aku tidak melihat mutiara-mutiara senyuman menghiasi wajahmu… Wahai Ummu Abdullah, tersenyumlah… “dan senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah…” Janganlah kikir dan jangan menganggap berat untuk melakukan perbuatan mudah yang ada kebaikan di dalamnya untukku dan untukmu.
MOMEN KEDUA PULUH SATU:
Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi teman saya dan dia menyebutkan dengan gembira dan berbinar tentang semangat istrinya menghadiri ceramah dan pelajaran Islam. Dia menceritakan kabar yang menggembirakan… bahwa istrinya hampir menghafal sepuluh juz Al-Qur’an dengan terus mengikuti sekolah tahfidz Al-Qur’an untuk wanita yang tersebar di mana-mana… Wahai istriku, tidakkah kamu cemburu ketika mendengar para mukminah berlomba-lomba dalam kebaikan sedangkan kamu selama lima tahun atau lebih belum menghafal satu ayat atau hadits! Bukankah ini celaan bagimu dan kekurangan dalam agamamu?! Dan karena cintaku pada ibu anak-anakku, aku menasihatimu untuk memilih teman yang baik, suci, dan bertakwa yang menunjukkanmu pada kebaikan, memerintahkan yang makruf, dan mencegah yang mungkar, serta menjadi penolong bagimu. Sesungguhnya saling mencintai karena Allah adalah sebaik-baik pendekatan dan seagung-agung ketaatan. Maka carilah teman yang beragama dan berakhlak baik yang membantumu dalam urusan agama dan duniamu.
MOMEN KEDUA PULUH DUA:
Wahai istriku… Aku merasa bingung dan sedih karena sejak beberapa bulan aku memperhatikan kamu bersikap keras terhadapku dan mencari-cari kesalahan dan kekeliruanku serta menampakkannya di depan anak-anak kita… Contoh terdekat adalah tadi malam ketika kamu menegurku dengan suara keras karena aku terlambat membawa keperluan rumah! Apakah ini pantas terhadap suami, dan meskipun aku akan menanggung kekeliruanmu, tetapi ini tidak sepatutnya keluar dari ibu anak-anakku dan istriku yang penyayang. Meskipun aku berterima kasih atas akhlak baikmu selama bertahun-tahun, tetapi menyakitkan bagiku ketika hal seperti ini muncul darimu.
MOMEN KEDUA PULUH TIGA:
Saya mendengar dalam peribahasa bahwa jalan terdekat untuk mencapai hati seorang pria adalah melalui perutnya! Namun Allah Azza wa Jalla menciptakan kita untuk urusan yang agung yaitu beribadah kepada-Nya, bukan hanya untuk makan dan minum semata. Allah mencela orang-orang kafir dengan firman-Nya: “Biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), kelak mereka akan mengetahui (akibatnya).”[[77]] Saya tidak mengharamkan yang halal, tetapi apa yang kamu lakukan dengan memasak beberapa jenis makanan itu membuang-buang waktu, berlebihan dalam makanan dan mengalihkan jiwa dari tujuan penciptaannya! Cukup dari tanganmu yang penyayang makanan yang baik, berkah dan ringan di perut, dan kamu akan mencapai hatiku melalui pikiranku dan jiwaku… Kamu telah menempati lubuk hatiku sejak aku menikahimu, dan minggu lalu malam hari aku merasa gembira ketika mengetahui bahwa salah satu kerabatku bertekad untuk membaca satu juz Al-Qur’an setiap hari… Ini adalah jalan termudah menuju surga dan juga ke hatiku.
MOMEN KEDUA PULUH EMPAT:
Acara-acara sosial jika tidak ada kemungkaran di dalamnya dapat menyatukan hati dan mendekatkan jiwa. Aku melihatmu – semoga Allah memberimu taufik – meskipun bersemangat untuk hadir, namun kamu mengabaikan kewajiban yang lebih besar dari silaturahmi yaitu shalat… Aku melihatmu menunda shalat – khususnya shalat Isya – sampai kamu pulang karena menggunakan bedak dan riasan ketika keluar… Dan terkadang kamu tidak pulang ke rumah kecuali setelah tengah malam ketika waktu shalat Isya telah habis! Aku khawatir kamu termasuk orang-orang yang Allah sebutkan dalam firman-Nya: “Maka celakalah orang-orang yang shalat, yang lalai dari shalatnya.”[[78]] Demi Allah, aku khawatir kamu keluar dari rumah dan tidak pernah kembali lagi.
MOMEN KEDUA PULUH LIMA:
Selama bertahun-tahun kita hidup di bawah satu atap dan melihat satu sama lain setiap hari! Namun sampai sekarang, wahai istriku, kamu masih belum tahu apa yang aku suka dan apa yang aku benci? Kapan waktu tidurku dan jenis makanan apa yang aku sukai! Bukankah ini kekurangan dalam hakku?!
MOMEN KEDUA PULUH ENAM:
Wahai istriku… Aku melihat darimu penolakan dan keengganan terhadap beberapa keinginan jiwaku dan kebutuhan fitrahku… Aku melihat darimu alasan-alasan yang lemah dan upaya untuk menghindar, padahal Nabi ﷺ bersabda: “Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya lalu dia menolak untuk datang, sehingga suaminya tidur dalam keadaan marah, maka para malaikat akan melaknatnya hingga pagi.”[[79]]
MOMEN KEDUA PULUH TUJUH:
Adalah kebiasaan para nabi dan rasul serta hamba-hamba Allah yang shalih untuk berdoa bagi diri mereka, anak-anak mereka dan keturunan mereka… “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”[[80]] “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini aman dan jauhkanlah aku beserta anak-anakku dari menyembah berhala.”[[81]] Dan masih banyak lagi dalam Al-Qur’an. Maka dimanakah bagian anak-anak kita dari doa untuk mereka agar mendapat hidayah dan taufik… Bahkan sayangnya aku melihatmu terkadang mengeraskan suaramu untuk mendoakan keburukan bagi mereka, dan bisa jadi bertepatan dengan waktu terkabulnya doa sehingga doa itu terkabul dan terjadilah hal tersebut… Dan kamu akan menyesal atas hal itu.
MOMEN KEDUA PULUH DELAPAN:
Aku melihatmu, wahai istriku, melepaskan lisanmu menggambarkan teman-teman kerjamu, yang ini tinggi, yang lain putih, dan yang lain telah memotong rambutnya hingga terlihat cantik! Padahal Nabi ﷺ telah memperingatkan dari hal itu dengan sabdanya: “Janganlah seorang wanita bersentuhan dengan wanita lain lalu menggambarkannya kepada suaminya seolah-olah dia melihatnya.” Atau belum pernahkah kamu mendengar bahwa telinga adalah sekutu dalam cinta, kasih sayang dan membangkitkan syahwat?
MOMEN KEDUA PULUH SEMBILAN:
Wahai istriku, dengarkanlah dan bacalah firman Allah: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka.”[[82]] Ayat ini aku lihat kamu menerapkannya pada dirimu, alhamdulillah. Tetapi mengapa pembantumu membuka wajah dan kepalanya, apakah kamu mengira ayat ini khusus untukmu saja! Ini adalah ayat yang umum, mengapa kamu membeda-bedakan dan terkadang aku melihatmu meremehkan urusan keluarnya dia ke jalan atau pasar. Pada hari kiamat kamu akan dimintai pertanggungjawaban karena dia adalah amanah di bawah tanganmu dan lihatlah dia seperti salah satu putrimu atau saudari-saudarimu.
MOMEN TERAKHIR:
Meskipun kita hidup dalam kebahagiaan, kesenangan dan kenyamanan hidup, namun aku khawatir kita akan melewatkan kesempatan terbesar dan paling berharga tanpa manfaat. Kesempatan terbesar adalah keberadaan kita dalam kehidupan ini! Maka marilah kita meluruskan jalan dan berjalan sesuai dengan apa yang Allah tetapkan untuk kita…
Bergegaslah wahai istriku sebelum kamu pergi dengan kafan dan wewangian! Adapun lemari pakaianmu yang penuh, kamu tidak akan membawa satu potong pun darinya! Kamu akan pergi dengan lima helai kain yang merupakan kafanmu, dan akan ditemani dalam perjalanan ke pemakaman oleh suamimu, anakmu, saudara-saudaramu dan keluargamu. Dalam setengah jam semua akan berpisah dan kembali, sedangkan kamu akan tetap tergadai dengan amalmu.
Maka bergegaslah untuk bertaubat dan bersegeralah untuk kembali. Janganlah kamu tertipu oleh angan-angan dan fatamorgana dunia karena ia telah menipu orang-orang sebelummu yang telah diturunkan ke dalam kubur dan ditutup oleh liang lahat… Dan di sana ada pertanyaan dan jawaban, surga dan neraka.
Aku memberimu kabar gembira dengan hadits Nabi ﷺ: “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak punya dosa.”[[83]]
Dan dalam hadits lain beliau bersabda: “Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang menaatiku akan masuk surga, dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka dia telah enggan.”[[84]]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Yang membahayakan pelakunya adalah apa yang tidak terjadi taubat darinya. Adapun apa yang telah bertaubat darinya, maka bisa jadi pelakunya setelah taubat lebih utama daripada sebelum kesalahan.”
Janganlah kamu mengira, wahai istriku, bahwa taubat hanya dalam meninggalkan kemungkaran dan maksiat saja, tetapi bersungguh-sungguhlah untuk bertaubat dari menyia-nyiakan waktu, meninggalkan amalan sunnah, meremehkan amalan kebajikan dan kontinuitas dalam kebaikan.
Istriku dan ibu anak-anakku: Aku memberimu kabar gembira dengan hadits Rasulullah ﷺ: “Wanita mana saja yang meninggal dalam keadaan suaminya ridha kepadanya, dia akan masuk surga.”[[85]]
Istriku… Semoga Allah menjadikanmu penyejuk mata bagiku di dunia dan menjadikanmu istriku di surga, memperbaiki keturunan kita, memberkahi amal dan umur kita, dan menjadikan surga tempat kembali kita. “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”[[86]]
Dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang dimaksud dalam ayat ini: “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.”[[87]]
Selesai.
[[2]] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban.
[[3]] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
[[4]] Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi.
[[5]] Surah An-Nisa, ayat 140.
[[6]] Surah Az-Zariyat, ayat 56.
[[8]] Diriwayatkan oleh Abu Daud.
[[9]] Disepakati (diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
[[10]] Diriwayatkan oleh Muslim.
[[12]] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.
[[14]] Surah Ali ‘Imran Ayat 159.
[[22]] Riwayat Ahmad dan Tirmidzi.
[[29]] Riwayat Bukhari no. 6069 dan Muslim no. 2990
[[33]] Riwayat Bukhari & Muslim.
[[39]] Riwayat Bukhari di Adabul Mufrad.
[[43]] Riwayat Bukhari Muslim.
[[48]] Riwayat Bukhari dan Muslim.
[[51]] HR. Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466
[55] Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq (69/121) dan juga oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman (8369) dengan sanad yang lemah. Meskipun demikian, maknanya sejalan dengan banyak hadis lain yang menunjukkan keutamaan seorang istri dalam ketaatan kepada suami dan perannya dalam keluarga.
[[58]] Riwayat Bukhari dan Muslim.
[[59]] Riwayat Bukhari dan Muslim.
[[71]] Riwayat Bukhari dan Muslim.
[[76]] Riwayat Ahmad dan Abu Dawud.
[[79]] Riwayat Bukhari dan Muslim.







