Tak terasa… Ramadhan hampir pergi.
Hari-hari yang penuh ampunan itu kini tinggal hitungan.
Pertanyaannya bukan lagi: “Apa yang sudah kita lakukan?”
Tapi: “Apa yang akan kita bawa pulang dari Ramadhan ini?”
Betapa banyak orang yang memulai Ramadhan…
Namun tidak semuanya keluar sebagai pemenang.
Allah Ta’ala berfirman :
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan Ramadhan bukan sekadar lapar dan haus…
Tapi lahirnya ketakwaan.
Rasulullah ﷺ bersabda :
“مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ”
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Al-Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760, shahih)
Namun… apakah kita termasuk yang diampuni?
Atau justru termasuk yang hanya mendapatkan lelah tanpa pahala?
Ini menjadi cermin…
Kalau setelah Ramadhan kita lebih dekat kepada Allah—itu tanda keberhasilan.
Kalau kembali jauh—itu tanda kegagalan.
Renungan penting di akhir Ramadhan :
Sudahkah dosa-dosa kita benar-benar kita tangisi?
Sudahkah hati kita lebih lembut dibanding sebelum Ramadhan?
Sudahkah kita siap berpisah dengan maksiat… atau justru rindu kembali kepadanya?
Jangan sampai Ramadhan pergi…
Tapi hati kita tetap sama.
Yang kita butuhkan bukan Ramadhan yang berlalu…
Tapi ampunan Allah yang kita bawa setelahnya.
Jika hari ini Ramadhan hampir pergi, maka jangan biarkan ia pergi tanpa meninggalkan bekas dalam hati kita.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendapatkan ampunan, dibebaskan dari neraka, dan dipertemukan kembali dengan Ramadhan berikutnya dalam keadaan lebih baik.
Amin.
Penulis : Ustadz Agus Dwiyanto Nugroho, Lc.,M.P.I







