Ramadhan membuat banyak orang berubah.
Bangun lebih awal untuk sahur.
Menahan lapar dan haus seharian.
Berbuka dengan doa dan harap.
Namun ada satu pertanyaan lembut tapi mendalam untuk diri kita sendiri:
Bagaimana dengan shalat kita?
Jangan-jangan kita sangat menjaga agar puasa tidak batal, tetapi kurang menjaga agar shalat tidak tertinggal.
Padahal shalat adalah tiang agama. Ia bukan amalan tambahan, melainkan fondasi kehidupan seorang muslim.
Allah Ta’ala berfirman :
﴿ فَإِن تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ ﴾
“Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka mereka adalah saudara-saudaramu seagama.”
(QS. At-Taubah: 11)
Perhatikan bagaimana Allah menjadikan shalat sebagai tanda kokohnya iman.
Rasulullah ﷺ bersabda :
“ إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ ”
“Sesungguhnya amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalnya.”
(HR. At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah – hadits shahih)
Karena itu, persoalannya bukan sekadar puasa kita sah atau tidak.
Tetapi apakah hubungan kita dengan Allah benar-benar terjaga.
Puasa menahan lapar dan haus.
Namun shalat adalah sujudnya hati kepada Rabb semesta alam.
Jangan sampai kita mampu menahan makan dan minum seharian,
tetapi tidak mampu berdiri beberapa menit untuk shalat kepada Allah.
Ramadhan datang bukan hanya untuk membuat kita lapar, tetapi untuk menghidupkan kembali hati yang mungkin mulai lalai.
Mari jadikan puasa dan shalat berjalan beriringan.
Lapar dan haus menundukkan tubuh, shalat menundukkan hati.
Semoga Allah menjaga shalat kita, menerima puasa kita, dan menjadikan Ramadhan ini sebagai titik awal istiqamah kita.
Amin.
Penulis: Ustadz Agus Dwiyanto Nugroho, Lc.,M.P.I
Sumber: Saluran Whatsapp : Agus Dwiyanto Nugroho







