Menyembelih Tamak dengan Pisau Keputusasaan: Resep Ikhlas Ibnul Qayyim

Rabu, 11 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Imam Ibnul Qayyim berkata,
لَا يَجْتَمِعُ الْإِخْلَاصُ فِي الْقَلْبِ، وَمَحَبَّةُ الْمَدْحِ وَالثَّنَاءِ، وَالطَّمَعُ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ، إِلَّا كَمَا يَجْتَمِعُ الْمَاءُ وَالنَّارُ، وَالضَّبُّ وَالْحُوتُ
فَإِذَا حَدَّثَتْكَ نَفْسُكَ بِطَلَبِ الْإِخْلَاصِ، فَأَقْبِلْ عَلَى الطَّمَعِ أَوَّلًا فَاذْبَحْهُ بِسِكِّينِ الْيَأْسِ، وَأَقْبِلْ عَلَى الْمَدْحِ وَالثَّنَاءِ فَازْهَدْ فِيهِمَا زُهْدَ عُشَّاقِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ، فَإِذَا اسْتَقَامَ لَكَ ذَبْحُ الطَّمَعِ، وَالزُّهْدُ فِي الثَّنَاءِ وَالْمَدْحِ؛ سَهُلَ عَلَيْكَ الْإِخْلَاصُ

“Tidak akan pernah berkumpul di dalam hati: antara keikhlasan dengan kecintaan terhadap pujian (sanjungan) serta ketamakan terhadap apa yang dimiliki manusia, kecuali (sebatas mustahilnya) berkumpulnya air dengan api, dan (hewan) Dhab (kadal gurun) dengan ikan paus.
Maka, jika jiwamu mengajakmu untuk menuntut keikhlasan, hadapilah terlebih dahulu ketamakan itu lalu sembelihlah ia dengan pisau keputusasaan (berputus asa dari mengharap pemberian makhluk).
Dan hadapilah (keinginan terhadap) pujian dan sanjungan, lalu zuhudlah (tinggalkanlah) keduanya sebagaimana zuhudnya para pencinta dunia terhadap akhirat.
Maka jika telah lurus bagimu penyembelihan terhadap ketamakan dan zuhud terhadap sanjungan serta pujian, niscaya akan mudah bagimu untuk ikhlas.”
Sumber : Al-Fawa’id hlm 195

Imam Ibnul Qayyim menggunakan analogi yang sangat kuat untuk menggambarkan betapa sulitnya menjaga keikhlasan jika hati masih terikat pada makhluk.

1. Kemustahilan Menyatukan Ikhlas dengan Riya’ & Tamak
Ibnul Qayyim membuat perumpamaan kontradiktif (lawan yang tidak mungkin bersatu):
Air dan Api: Saling memadamkan atau menguapkan.
Dhab dan Ikan Paus: Dhab hidup di gurun yang kering dan panas, sedangkan Ikan Paus hidup di laut dalam. Mereka tidak akan pernah bertemu di satu tempat.
Maknanya: Ikhlas adalah memurnikan tujuan hanya untuk Allah. Sedangkan cinta pujian dan tamak adalah mengharapkan sesuatu dari manusia. Keduanya tidak bisa berada di satu hati pada waktu yang sama.
2. “Menyembelih Tamak dengan Pisau Keputusasaan”
Ini adalah istilah yang sangat indah namun sering disalahpahami.
Pisau Keputusasaan (Ya’us): Maksudnya bukan putus asa dari rahmat Allah, melainkan putus asa (berhenti berharap) dari apa yang ada di tangan manusia.
Selama seseorang masih berharap orang lain memberinya uang, jabatan, atau bantuan, ia sulit ikhlas karena ia akan beramal demi mendapatkan simpati orang tersebut.
Cara mengobatinya adalah meyakini bahwa manusia itu lemah dan tidak memiliki apa-apa. Hanya Allah yang memiliki segalanya.

3. “Zuhud Seperti Para Pencinta Dunia terhadap Akhirat”
Ini adalah tasybih (penyerupaan) yang sarkastik dan mendalam.
Orang yang gila dunia biasanya sama sekali tidak peduli pada akhirat; mereka melupakannya total.
Ibnul Qayyim menyuruh kita untuk tidak mempedulikan pujian manusia sebesar ketidakpedulian ahli dunia terhadap akhirat. Anggaplah pujian itu tidak ada harganya sama sekali.

Kesimpulan
Jalan menuju Ikhlas menurut Ibnul Qayyim harus melalui dua gerbang utama:
Mematikan rasa harap kepada manusia (hanya berharap pada Allah).
Mengabaikan pujian/celaan manusia (hanya mencari ridha Allah).
Jika dua hal ini berhasil dilakukan, maka Ikhlas akan menjadi ringan dan mudah dilakukan.
———————-
Mari terus memperbaiki diri kita dengan ilmu.

 

Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi Hafidzahullah Ta’ala

Artikel Terjkait

Bila puasa kurang dari 29 hari atau lebih dari 30 hari di Romadhan
Beban Dosa Menghambat Perjalanan Menuju Allah
Bahaya Menolak Kebenaran
The Power of Deep Thinking Mengasah Otak dengan Tadabbur Alam.
Ilmu: Mahkota Kehormatan dalam Pergulatan Zaman
IHSAN DALAM ILMU AGAMA UNGGUL DALAM ILMU DUNIA
Jihad dengan Harta dan Jihad dengan Jiwa
Akibat Dosa Menyebabkan Bencana Alam – Faedah 10
Berita ini 4 kali dibaca

Artikel Terjkait

Kamis, 19 Maret 2026 - 19:26 WIB

Bila puasa kurang dari 29 hari atau lebih dari 30 hari di Romadhan

Rabu, 11 Maret 2026 - 18:25 WIB

Menyembelih Tamak dengan Pisau Keputusasaan: Resep Ikhlas Ibnul Qayyim

Rabu, 11 Maret 2026 - 18:09 WIB

Beban Dosa Menghambat Perjalanan Menuju Allah

Minggu, 8 Maret 2026 - 03:03 WIB

Bahaya Menolak Kebenaran

Selasa, 24 Februari 2026 - 16:48 WIB

The Power of Deep Thinking Mengasah Otak dengan Tadabbur Alam.

Artikel Terbaru

Fikih

MENGUTAMAKAN QADHA PUASA RAMADHAN DARIPADA PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Mar 2026 - 15:02 WIB

Fikih

MENYEMPURNAKAN RAMADHAN DENGAN PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Mar 2026 - 14:46 WIB

Ibadah

Istiqomah Pasca Ramadhan

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:30 WIB

Dakwah

Ujian: Surat Cinta yang Mengajak Kembali ke Pelukan Ilahi

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:25 WIB

Dakwah

Rahasia Terbukanya Pintu Rahmat

Rabu, 25 Mar 2026 - 14:45 WIB