Di zaman media sosial, satu kalimat bisa lebih tajam dari sebilah pedang. Sekali kirim, tak bisa ditarik kembali.
Banyak dosa hari ini bukan karena tangan memukul, tetapi karena jari mengetik. Bukan karena kaki melangkah ke maksiat, tetapi karena lisan dan tulisan yang tak terjaga. Ghibah, fitnah, sindiran, caci maki — semua terasa ringan di layar, namun berat di timbangan amal.
Seorang mukmin sejati bukan hanya menjaga lisannya saat berbicara, tetapi juga saat menulis dan berkomentar. Karena setiap kata akan dipertanggungjawabkan. Jika tidak mampu berkata baik, maka diam adalah kemuliaan.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾
“Tidaklah seseorang mengucapkan satu kata pun melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qaf: 18)
Nabi ﷺ bersabda:
“مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ”
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim, shahih)
Sebelum berbicara atau menulis hari ini, tanyakan pada diri: ini pahala atau petaka? Yuk jaga lisan, jaga kehormatan, jaga akhirat…
Penulis: Ustadz Agus Dwiyanto Nugroho, Lc.,M.P.I







