Puasa bukan hanya kuat di siang hari. Ramadhan menjadi sempurna ketika malamnya ikut hidup.
Banyak yang sanggup menahan lapar, tapi tidak semua sanggup berdiri lama di hadapan Allah. Padahal kemuliaan Ramadhan ada pada qiyamnya.
Di antara sunnah yang sangat ditekankan adalah :
Menghidupkan Malam Ramadhan (Qiyam)
Rasulullah ﷺ bersabda :
“مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ”
“Barangsiapa menghidupkan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Sahih al-Bukhari no. 37; Sahih Muslim no. 759)
Qiyam bukan sekadar rutinitas.
Ia adalah tanda iman dan harapan akan ampunan.
Shalat dengan Tuma’ninah
Shalat malam tidak boleh tergesa-gesa hingga hilang ketenangan dalam ruku’ dan sujud.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada seorang yang shalatnya terlalu cepat :
“ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ”
“Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.”
(HR. Sahih al-Bukhari no. 757; Sahih Muslim no. 397)
Para ulama menjelaskan bahwa tuma’ninah adalah rukun shalat. Tanpanya, shalat bisa tidak sah.
Menghadirkan Hati dalam Tarawih
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ هُمْ فِى صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴾
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) mereka yang khusyuk dalam shalatnya.”
(QS. Al-Mu’minun: 1-2)
Tarawih bukan perlombaan cepat atau banyak rakaat.
Ia adalah momen berdiri dengan hati yang tunduk.
Ya Allah, hidupkan malam-malam Ramadhan kami dengan qiyam yang khusyuk, shalat yang penuh tuma’ninah, dan hati yang selalu kembali kepada-Mu.
Aamiin.
Penulis: Ustadz Agus Dwiyanto Nugroho, Lc.,M.P.I
Sumber: Saluran Whatsapp : Agus Dwiyanto Nugroho







