قَالَ ابْنُ الْقَيِّمِ رحمه الله:
“طُوبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوبِ النَّاسِ، وَوَيْلٌ لِمَنْ نَسِيَ عَيْبَهُ وَتَفَرَّغَ لِعُيُوبِ النَّاسِ. فَالْأَوَّلُ عَلَامَةُ السَّعَادَةِ، وَالثَّانِي عَلَامَةُ الشَّقَاوَةِ.”
Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata:
“Beruntunglah bagi siapa yang disibukkan oleh aibnya sendiri sehingga ia tidak sempat (mengurusi) aib orang lain. Dan celakalah bagi siapa yang melupakan aibnya sendiri namun justru meluangkan waktu untuk mencari-cari aib orang lain. Yang pertama adalah tanda kebahagiaan, sedangkan yang kedua adalah tanda kesengsaraan.” (Thariq al-Hijratain, 1/172)
Ibnu Al-Qayyim memberikan sebuah parameter kebahagiaan yang sangat praktis. Seseorang yang fokus pada kekurangan dirinya sendiri akan memiliki kerendahan hati (tawadhu) dan terus berusaha memperbaiki diri (proses tazkiyatun nafs). Sebaliknya, orang yang sibuk dengan kesalahan orang lain biasanya merasa lebih baik (ujub) dan hatinya dipenuhi dengan kedengkian atau penyakit hati lainnya.
Istilah “Thuba” dalam teks tersebut tidak hanya berarti beruntung, tapi juga merujuk pada kebaikan yang melimpah.
Pelajaran dari nasehat
Fokuslah pada Perbaikan Diri
Waktu kita terbatas; gunakanlah untuk menambal kekurangan sendiri daripada menjadi “hakim” bagi dosa orang lain.
Indikator Kesengsaraan Jiwa
Salah satu tanda hati yang sakit adalah ketika seseorang merasa puas dengan dirinya (merasa suci) sehingga yang terlihat di matanya hanyalah noda di baju orang lain.
Ketenangan Pikiran
Orang yang tidak sibuk dengan urusan orang lain akan hidup lebih tenang, karena ia terhindar dari penyakit ghibah dan prasangka buruk.
Keadilan dalam Menilai
Sebelum lisan mengomentari kekurangan kawan atau saudara, hendaknya hati mengingat kembali tumpukan kesalahan kita yang mungkin masih ditutupi oleh Allah.
Semoga bermanfaat.
Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi Hafidzahullah Ta’ala







