Jihad dengan harta disebutkan bergandengan dengan jihad dengan jiwa dalam Al-Qur’an di sepuluh ayat. Di antaranya, jihad dengan harta disebutkan lebih dahulu dalam sembilan ayat, sedangkan jihad dengan jiwa lebih dahulu dalam satu ayat saja. Hal ini mengandung hikmah dan rahasia yang telah dijelaskan oleh para mufasir, semoga Allah merahmati mereka.
Ibnu Qayyim—semoga Allah merahmati beliau—berkata tentang perbedaan tingkatan pemahaman manusia terhadap Al-Qur’an:
«مِنْهُمْ مَنْ يَفْهَمُ مِنْ الْآيَةِ حُكْماً أَوْ حُكْمَيْنِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَفْهَمُ مِنْهَا عَشَرَةَ أَحْكَامٍ أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَقْتَصِرُ فِي الْفَهْمِ عَلَى مُجَرَّدِ اللَّفْظِ دُونَ سِيَاقِهِ وَدُونَ إيمَائِهِ وَإِشَارَتِهِ وَتَنْبِيهِهِ وَاعْتِبَارِهِ، وَأَخَصُّ مِنْ هَذَا وَأَلْطَفُ، ضَمُّهُ إلَى نَصٍّ آخَرَ مُتَعَلِّقٌ بِهِ؛ فَيَفْهَمُ مِنْ اقْتِرَانِهِ بِهِ قَدْراً زَائِداً عَلَى ذَلِكَ اللَّفْظِ بِمُفْرَدِهِ. وَهَذَا بَابٌ عَجِيبٌ مِنْ فَهْمِ الْقُرْآنِ لَا يَتَنَبَّهُ لَهُ إلَّا النَّادِرُ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ؛ فَإِنَّ الذِّهْنَ قَدْ لَا يَشْعُرُ بِارْتِبَاطِ هَذَا بِهَذَا وَتَعَلُّقِهِ بِهِ
“Di antara mereka ada yang memahami dari sebuah ayat satu atau dua hukum, ada pula yang memahami sepuluh hukum atau lebih darinya. Ada juga yang terbatas pemahamannya hanya pada lafaz ayat semata, tanpa mempedulikan konteksnya, isyaratnya, petunjuknya, dan pertimbangannya. Yang lebih khusus dan halus lagi adalah menyambungkannya dengan ayat lain yang terkait dengannya; sehingga dari keterkaitannya itu, ia memahami tambahan makna di luar lafaz tunggal tersebut. Ini adalah pintu yang luar biasa dalam memahami Al-Qur’an, yang hanya sedikit orang berilmu yang menyadarinya; karena pikiran seseorang mungkin tidak menyadari keterkaitan yang satu dengan yang lain.” (I’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabb al-‘Alamin: 1/484.)
Ayat-ayat yang Menyebut Jihad Harta Lebih Dahulu daripada Jihad Jiwa:
- Allah Ta’ala berfirman:
{انفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالاً وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ} [التوبة: 41].
{Berangkatlah kamu ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui}[At-Taubah: 41].
- Allah Ta’ala berfirman:
{تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ} [الصف: ١١].
{Kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihadlah di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui}[As-Shaff: 11].
- Allah Ta’ala berfirman:
{لا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْـمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُوْلِي الضَّرَرِ وَالْـمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْـمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلاًّ وَعَدَ اللَّهُ الْـحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْـمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا} [النساء: 95].
{Tidaklah sama orang-orang mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak punya keuzuran dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah telah mengistimewakan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk dengan derajat yang tinggi. Dan kepada masing-masing (kelompok) Allah telah menjanjikan pahala yang baik (surga), dan Allah telah mengistimewakan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar}[An-Nisa’: 95].
- Allah Ta’ala berfirman:
إنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوا وَّنَصَرُوا أُوْلَئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُم مِّن وَلايَتِهِم مِّن شَيْءٍ حَتَّى يُهَاجِرُوا وَإنِ اسْتَنصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إلاَّ عَلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَاقٌ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ} [الأنفال: 72].
{Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah, serta orang-orang yang memberikan tempat tinggal dan memberikan pertolongan, mereka itulah sebaik-baik teman satu sama lain. Adapun orang-orang yang beriman tetapi tidak berhijrah, tidak ada pertemanan apa pun dari mereka bagimu hingga mereka berhijrah. Dan jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam urusan agama, maka wajib atasmu untuk menolong mereka, kecuali terhadap kaum yang ada perjanjian antara kamu dan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan}[Al-Anfal: 72].
- Allah Ta’ala berfirman:
{الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللَّهِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ} [التوبة: 20].
{Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah memiliki derajat tertinggi di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang beruntung}[At-Taubah: 20].
- Allah Ta’ala berfirman:
{لا يَسْتَئْذِنُكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ أَن يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالْـمُتَّقِينَ} [التوبة: ٤٤].
{Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak meminta izin kepadamu untuk berjihad dengan harta dan jiwanya. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa}[At-Taubah: 44].
- Allah Ta’ala berfirman:
{إنَّمَا الْـمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ} [الحجرات: 15].
{Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sesungguhnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar}[Al-Hujurat: 15].
- Allah Ta’ala berfirman:
{فَرِحَ الْـمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَن يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لا تَنفِرُوا فِي الْـحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَّوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ} [التوبة: 81].
{Mereka yang tertinggal merasa senang dengan posisinya yang bertentangan dengan Rasulullah, dan benci untuk berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka berkata, ‘Janganlah berangkatlah kamu pada musim panas.’ Katakanlah, ‘Api neraka Jahannam lebih panas lagi, sekiranya mereka memahami’}[At-Taubah: 81].
- Allah Ta’ala berfirman:
{لَكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ وَأُوْلَئِكَ لَهُمُ الْـخَيْرَاتُ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْـمُفْلِحُونَ} [التوبة: ٨٨].
{Akan tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berjihad dengan harta dan jiwanya. Mereka itulah yang memiliki kebaikan-kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung}[At-Taubah: 88].
Ayat yang Menyebut Jihad Jiwa Lebih Dahulu daripada Jihad Harta adalah firman Allah :
{إنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْـمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْـجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ} [التوبة: ١١١].
{Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan memberikan surga kepada mereka. Mereka berperang di jalan Allah, maka mereka membunuh atau terbunuh. Janji yang benar atas-Nya tertulis dalam Taurat dan Injil serta Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah? Maka bergembiralah kamu dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kesuksesan yang besar}[At-Taubah: 111].
Hikmah Penyebutan Jihad Harta Lebih Dahulu Menurut Pendapat Ulama:
Al-Alusi—semoga Allah merahmati beliau—berkata:
لعل تقديم الأموال على الأنفس لِـمَا أن المجاهدة بالأموال أكثر وقوعاً، وأتم دفعاً للحاجة؛ حيث لا يُتصَوَر المجاهدة بالنفس بلا مجاهدة بالمال، وقيل: ترتيب هذه المتعاطفات في الآية على حسب الوقوع؛ فالجهاد بـ (المال) لنحو التأهب للحرب، ثم الجهاد بالنفس
“Mungkin penyebutan harta lebih dahulu daripada jiwa karena jihad dengan harta lebih sering terjadi dan lebih sempurna dalam memenuhi kebutuhan; sebab tidak mungkin dibayangkan jihad dengan jiwa tanpa jihad dengan harta. Dikatakan pula bahwa urutan ini sesuai dengan urutan kejadian; jihad dengan harta seperti persiapan perang, kemudian jihad dengan jiwa.” (Al-Alusi: 7/141)
Ibnu Hayyan—semoga Allah merahmati beliau—berkata:
تقديم الأموال على الأنفس؛ لأن المجاهد بائع، فأخَّر ذكرها تنبيهاً على أنَّ المضايقة فيها أشد؛ فلا يرضى ببذلها إلا في آخِر المراتب. والمشتري قُدِّمت له النفس تنبيهاً على أنَّ الرغبة فيها أشد، وإنما يرغب أولاً في الأَنْفَسِ الغالي
“Penyebutan harta lebih dahulu daripada jiwa karena mujahid adalah penjual, sehingga disebutkan belakangan untuk menunjukkan bahwa pengorbanannya lebih berat; sehingga ia baru rela mengorbankannya di akhir tingkatan. Bagi pembeli (Allah), jiwa disebutkan lebih dahulu untuk menunjukkan bahwa keinginannya terhadapnya lebih kuat, dan sesungguhnya yang pertama diinginkan adalah jiwa yang paling berharga.”. (Al-Bahr al-Muhith: 4/242.)
Pengarang Al-Burhan—semoga Allah merahmati beliau—berkata:
وجه التقديم أن الجهاد يستدعي تقديم إنفاق الأموال أولاً؛ فهو من باب السبق بالسببية
“Alasan penyebutan lebih dahulu adalah bahwa jihad memerlukan pengeluaran harta terlebih dahulu; ini seperti mendahulukan sebab.” (Al-Burhan: 3/256).
Ibnu Qayyim—semoga Allah merahmati beliau—berkata tentang hikmah penyebutan harta lebih dahulu daripada jiwa:
أولاً: هذا دليل على وجوب الجهاد بالمال كما يجب بالنفس، فإذا دهم العدو وجب على القادر الخروج بنفسه، فإن كان عاجزاً وجب عليه أن يكتري بماله.
ومن تأمَّل أحوال النبي – صلى الله عليه وسلم – وسيرته في أصحابه – رضي الله عنهم – وأَمْرَهم بإخراج أموالهم في الجهاد، قطع بصحة هذا القول. والمقصود: تقديم المال في الذكر، وأن ذلك مشعِرٌ بإنكارِ وَهْمِ مَنْ يتوهم أن العاجز بنفسه إذا كان قادراً على أن يغزو بماله لا يجب عليه شيء؛ فحيث ذكر الجهاد قدَّم ذكر المال؛ فكيف يقال: لا يجيب به؟
ولو قيل: إن وجوبه بالمال أعظم وأقوى من وجوبه بالنفس، لكان هذا القول أصحَّ من قول من قال: لا يجب بالمال، وهذا بَيِّن، وعلى هذا فتظهر الفائدة في تقديمه في الذكر.
وفائدة ثانية: على تقدير عدم الوجوب؛ وهي أن المال محبوب النفس ومعشوقها التي تبذل ذاتَها في تحصيله وترتكب الأخطار وتتعرض للموت في طلبه، وهذا يدل على أنه هو محبوبها ومعشوقها، فندب الله – تعالى – محبِّيه المجاهدين في سبيله إلى بذل معشوقهم ومحبوبهم في مرضاته؛ فإن المقصود أن يكون الله هو أحب شيء إليهم، ولا يكون في الوجود شيء أحبَّ إليهم منه، فإذا بذلوا محبوبهم في حبه نقلهم إلى مرتبة أخرى أكمل منها؛ وهي بذل نفوسهم له؛ فهذا غاية الحب؛ فإن الإنسان لا شيء أحبَّ إليه من نفسه، فإذا أحب شيئاً بذل له محبوبه من نفسه وماله، فإذا آل الأمر إلى بَذْلِ نفسه ضنَّ بنفسه وآثرها على محبوبه.
هذا هو الغالب وهو مقتضى الطبيعة الحيوانية والإنسانية؛ ولهذا يدافع الرجل عن ماله وأهله وولده فإذا أحس بالمغلوبية والوصول إلى مهجته ونفسه فرَّ وتركهم، فلم يرضَ الله من محبيه بهذا، بل أمرهم أن يبذلوا له نفوسهم بعد أن بذلوا له محبوباتهم. وأيضاً فبذل النفس آخر المراتب؛ فإن العبد يبذل ماله أولاً يقي به نفسه، فإذا لم يبقَ له ماله بذل نفسه؛ فكان تقديم المال على النفس في الجهاد مطابقاً للواقع.
وأما قوله – تعالى -: {إنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْـمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم} [التوبة: ١١١]، فكان تقديم الأنفس هو الأَوْلَى ؛ لأنها هي المشتراة في الحقيقة، وهي مورد العقد، وهي السلعة التي استلمها ربها وطلب شراءها لنفسه، وجعل ثمن هذا العقد رضاه وجنَّته، فكانت هي المقصودة بعقد الشراء. والأموال تَبَع لها فإذا مَلَكها مشتريها ملك مالها؛ فإن العبد وما يملكه لسيده، ليس له فيه شيء؛ فالمالك الحق إذا ملك النفس ملك أموالها ومتعلقاتها
“Pertama: Ini bukti bahwa jihad dengan harta wajib sebagaimana jihad dengan jiwa. Jika musuh datang menyerang, wajib bagi yang mampu keluar dengan jiwanya; jika tidak mampu, wajib baginya menyewa orang dengan hartanya.Barang siapa yang memperhatikan kondisi Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan sifat beliau terhadap para sahabat—radhiyallahu ‘anhum—serta perintahnya untuk mengeluarkan harta dalam jihad, tentu yakin dengan kebenaran pendapat ini. Maksudnya: penyebutan harta lebih dahulu menunjukkan bantahan terhadap anggapan orang yang mengira bahwa orang yang tidak mampu dengan jiwanya tetapi mampu dengan hartanya tidak wajib apa-apa; padahal disebutkan jihad dengan mendahulukan harta, lalu bagaimana dikatakan tidak wajib dengannya?Bahkan jika dikatakan bahwa kewajiban dengan harta lebih besar dan kuat daripada dengan jiwa, pendapat itu lebih benar daripada pendapat yang mengatakan tidak wajib dengan harta. Ini jelas, dan hikmah penyebutannya pun tampak.
Hikmah kedua: Bahkan jika tidak wajib, harta adalah sesuatu yang dicinta jiwa dan kekasihnya yang rela mengorbankan jiwa untuk mendapatkannya, mempertaruhkan bahaya, dan menghadapi maut demi mengejarnya. Ini menunjukkan bahwa harta adalah kekasihnya. Maka Allah—Ta’ala—mendorong para mujahid yang mencintai-Nya untuk mengorbankan kekasih dan dicintanya demi keridhaan-Nya; agar Allah menjadi yang paling dicinta bagi mereka, tidak ada yang lebih dicinta daripada-Nya. Jika mereka mengorbankan yang dicinta demi cinta-Nya, mereka naik ke tingkatan lebih sempurna, yaitu mengorbankan jiwa bagi-Nya; inilah puncak cinta, karena manusia tidak ada yang lebih dicinta daripada jiwanya senjiwa. Jika ia mencintai sesuatu, ia mengorbankan yang dicinta darinya, yaitu jiwa dan hartanya. Jika sampai pada pengorbanan jiwa, ia pelit terhadapnya dan lebih memilihnya daripada yang dicinta.Ini adalah sifat umum sesuai fitrah hewani dan manusiawi; sehingga seseorang membela hartanya, keluarga, dan anaknya. Jika merasa akan kalah dan nyawanya terancam, ia lari meninggalkan mereka. Allah tidak meridai hal itu dari orang-orang yang dicintai-Nya, melainkan memerintahkan mereka mengorbankan jiwa setelah mengorbankan yang dicinta. Selain itu, pengorbanan jiwa adalah tingkatan akhir; hamba mengorbankan hartanya terlebih dahulu untuk melindungi jiwa, jika harta habis baru mengorbankan jiwa. Maka penyebutan harta lebih dahulu sesuai realitas.
Adapun firman Allah—Ta’ala—
{Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka}[At-Taubah: 111], penyebutan jiwa lebih dahulu lebih tepat karena itulah yang dibeli secara hakiki, pokok transaksi, dan barang yang diambil oleh Pemiliknya serta diminta untuk jiwa-Nya senjiwa, dengan bayaran ridha-Nya dan surga. Harta adalah pengikutnya; jika Pembeli memiliki jiwa, maka hartanya pun dimiliki-Nya, karena hamba dan miliknya milik tuannya.” (Bada’i’ al-Fawa’id: hlm. 86.)
Asy-Syingqithy —semoga Allah merahmati beliau—berkata:
وحقيقة الجهاد بَذْلُ الجهد والطاقة، والمال هو عصب الحرب، وهو مدد الجيش، وهو أهم من الجهاد بالسلاح؛ فبالمال يُشتَرَى السلاح، وقد تُستَأجَر الرجال؛ كما في الجيوش الحديثة من الفِرَق الأجنبية، وبالمال يجهَّز الجيش؛ ولذا لما جاء الإذن بالجهاد أعذر الله المرضى والضعفاء، وأعذر معهم الفقراء الذين لا يستطيعون تجهيز أنفسهم، وأعذر معهم الرسـولَ – صلى الله عليه وسلم -؛ إذ لم يوجد عنده مـا يجهزهم به؛ كما في قوله – تعالى -: {لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلا عَلَى الْـمَرْضَى} [التوبة: 91]، إلى قوله: {وَلا عَلَى الَّذِينَ إذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَّأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلاَّ يَجِدُوا مَا يُنفِقُونَ} [التوبة: 92].
وكذلك من جانب آخر: قد يجاهد بالمال من لا يستطيع بالسلاح كالنساء والضعفاء، كما ورد عن زيد بن خَالِدٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: «مَنْ جَهَّزَ غَازِياً فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا، وَمَنْ خَلَفَ غَازِياً فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا»[6].
أما الآية الثانية: فهي في مَعْرِض الاستبــدال والعرض والطلب أو ما يسمى بالمساومة؛ فقدَّم النفس؛ لأنها أعزُّ ما يملك الحي، وجعل في مقابلها الجنة؛ وهي أعزُّ ما يوهَب، وأحسن ما قيل في ذلك.
أُثامِـــنُ بالنفس النفيسةِ ربَّها
وليس لها في الخَلْقِ كلِّهـم ثمن
بها تملك الأخرى؛ فإن أنا بعتُها
بشيء من الدنيا؛ فذاك هو الغبـن
لئن ذهبتْ نفسٌ بدنيــا أصيبها
لقد ذهبت نفسي وقَدْ ذهب الثمَن
فالتجارة هنا معاملة مع الله إيماناً بالله وبرسوله، وجهاداً بالمال والنفس والعمل الصالح، كما قيل أيضاً:
فاعمل لنفسك قبل الموت مجتهداً؛
فإنما الربح والخسران في العملِ»
“Hakikat jihad adalah pengorbanan tenaga dan kemampuan. Harta adalah tulang punggung perang, bantuan pasukan, dan lebih penting daripada jihad dengan senjata; karena dengan harta senjata dibeli, dan orang bisa disewa seperti di pasukan modern dengan brigade asing. Dengan harta pasukan dilengkapi. Karena itu, ketika izaj jihad turun, Allah memaafkan orang sakit dan lemah, juga orang miskin yang tidak mampu melengkapi jiwa, serta Rasul—shallallahu ‘alaihi wa sallam—karena tidak ada yang melengkapi mereka, seperti firman-Nya:
{Tidak ada dosa atas orang-orang lemah…}[At-Taubah: 91] hingga {dan tidak ada dosa atas orang-orang yang apabila datang kepadamu untuk kamu angkut mereka, kamu katakan: ‘Aku tidak menemukan apa yang aku angkut kamu dengannya,’ maka mereka berpaling sedang mata mereka berlinang air mata karena bersedih hati karena tidak menemukan apa yang mereka infakkan}[At-Taubah: 92].
Dari sisi lain: Orang yang tidak mampu jihad dengan senjata seperti wanita dan lemah bisa jihad dengan harta, sebagaimana jiwawayatkan dari Zaid bin Khalid—radhiyallahu ‘anhu—bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda: ‘Barang siapa melengkapi seorang pejuang di jalan Allah, maka ia seperti telah berperang. Dan barang siapa menjaga (keluarga) seorang pejuang di jalan Allah dengan kebaikan, maka ia seperti telah berperang.'(Shahih al-Bukhari: Bab Fadl man Jahhaza Ghaziyan aw Khalfahu bi Khair (2631).)
Adapun ayat kedua (At-Taubah: 111) berada dalam konteks penawaran, permintaan, atau tawar-menawar; sehingga jiwa disebutkan lebih dahulu karena itulah yang paling berharga dimiliki makhluk hidup, dan dijadikan imbalannya surga, yang paling mulia diberikan.
Sebagaimana bait puisi:
Tuhan menebus jiwa yang mulia dengan jiwa-Nya senjiwa,
Tidak ada harga baginya di seluruh makhluk.
Dengan itu engkau miliki yang lain; jika aku menjualnya
Dengan sesuatu duniawi, itulah kerugian besar.
Jika jiwa pergi demi dunia yang kugapai,
Sungguh jiwaku hilang dan harga pun lenyap.
Perdagangan ini adalah transaksi dengan Allah melalui iman kepada-Nya dan Rasul-Nya, jihad dengan harta dan jiwa, serta amal shaleh. Sebagaimana juga dikatakan:
Beramallah untuk jiwamu sebelum mati dengan sungguh-sungguh;
Karena untung dan rugi hanya dari amal. (Adhwa’ al-Bayan: 8/248.)
Abu Bakr Al-Jazairi berkata:
يخبر – تعالى – مرغباً في الجهاد بالمال لتقدُّمه على الجهاد بالنفس؛ لأن العدة أولاً والرجال ثانياً
“Allah memberitahu sambil mendorong jihad dengan harta karena disebutkan lebih dahulu daripada jihad dengan jiwa; karena persiapan (perlengkapan) lebih dahulu, dan orang (pejuang) sesudahnya.” (Ayisar al-Tafasir: 134.)
Pembagian Jihad dengan Harta Menjadi Dua Bagian:
Bagian pertama: Berpartisipasi dengan harta untuk mendukung para mujahid dan keluarga mereka.
Bagian kedua: Memutus dukungan ekonomi dan finansial terhadap penjajah yang zalim; ini juga jihad dengan harta. Jika seseorang kikir, tidak mampu, atau lemah sehingga tidak bisa berpartisipasi dengan hartanya untuk membebaskan negeri-negeri suci ini, setidaknya ia memutus dukungan terhadap musuh yang menjajah dan merampas.
Dalam pertanyaan kepada Syaikh Ibnu Utsaimin—semoga Allah merahmati beliau—seseorang bertanya: “Kami melihat Allah—’Azza wa Jalla—dalam banyak ayat jihad menyebut jihad dengan harta lebih dahulu daripada jihad dengan jiwa; apa hikmahnya?”
Beliau menjawab:
“Menurut saya—wallahu a’lam—karena pasukan Islam mungkin lebih membutuhkan harta daripada orang; dan jihad dengan harta lebih mudah daripada dengan jiwa.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin: 25/312.)
Dalam Sunnah Juga ada Penyebutan Jihad Harta Lebih Dahulu:
Dari Anas—radhiyallahu ‘anhu—bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda:
جَاهِدُوا الـمُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ
“Perangilah orang-orang musyrik dengan harta, jiwa, dan lisanmu.”
Jihad yang Ditentukan untuk Menangkal Bahaya: Jika mujahid berutang dan jihad ditentukan untuk menangkal bahaya—seperti saat musuh datang atau berada di barisan depan—maka jihad dengan harta didahulukan daripada membayar utang. (Musnad Ahmad: Musnad Anas bin Malik (11798).)
Ibnu Taimiyyah—semoga Allah merahmati beliau—berkata:
فَإِنْ كَانَ الْجِهَادُ الـمُتَعَيِّنُ لِدَفْعِ الضَّرَر؛ِ كَمَا إذَا حَضَرَهُ الْعَدُوُّ، أَوْ حَضَرَ الصَّفَّ قُدِّمَ عَلَى وَفَاءِ الدَّيْنِ كَالنَّفَقَةِ وَأَوْلَى
“Jika jihad ditentukan untuk menangkal bahaya, seperti saat musuh datang atau berada di barisan, maka didahulukan atas pembayaran utang seperti nafkah, dan itu lebih utama.”( Al-Fatawa al-Kubra: 5/537.)
Beberapa Contoh Jihad dengan Harta Sesuai Kondisi Umat Islam Saat Ini:
Pertama: Menginfakkan harta untuk melengkapi mujahid dengan senjata. Wajib atas setiap muslim membayar hak tertentu dari hartanya kepada pemimpin muslim yang bertanggung jawab atas jihad—dalam keyakinan, syariat, ucapan, dan perbuatan. Ambillah pelajaran dari sifat Rasul—shallallahu ‘alaihi wa sallam—di mana para sahabat dan muslimin awal bersaing meraih kehormatan melengkapi pasukan untuk perang:
{Maka pada yang demikian itu hendaklah bersaing orang-orang yang bersaing}[Al-Muthaffifin: 26]. Persaingan Abu Bakr dan Umar—radhiyallahu ‘anhuma—dalam melengkapi salah satu perang adalah teladan yang wajib ditiru muslimin.
Kedua: Menginfakkan harta untuk menanggung keluarga mujahid yang menjawab panggilan jihad, meninggalkan anak dan istri mereka. Keluarga ini membutuhkan harta mendesak untuk kebutuhan hidup seperti makanan, minuman, dan tempat tinggal.Ketenangan hati mujahid karena ada mujahid lain yang tidak pelit hartanya untuk keluarganya adalah salah satu bentuk persiapan melawan kafir yang memerangi Islam.
Ketiga: Menginfakkan harta untuk anak-anak syuhada yang mengalirkan darahnya demi Islam dan mempertahankannya. Orang-orang berkecukupan berhutang hak kepada mereka; mujahid dengan jiwanya, sekurang-kurangnya engkau berjuang dengan sebagian hartamu untuk istri dan anaknya, agar mereka tumbuh kuat dan melanjutkan estafet.Anak-anak syuhada menunggu hak mereka dari orang kaya umat Islam, bukan sebagai pemberian atau karunia, melainkan hak yang ditetapkan Allah dalam firman-Nya:
{Dan orang-orang yang di antara hartanya ada hak yang tetap * untuk orang yang meminta dan yang kekurangannya terlihat}[Al-Ma’arij: 24-25].
Keempat: Menginfakkan harta untuk membangun kembali rumah-rumah muslim yang dirusak baik yang disebabkan perang atau bencana alam.
Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi Hafidzahullah Ta’ala







