Serial Fikih Puasa (Edisi 15) : Ingin I’tikaf Tapi Masih Bekerja, Bisakah?

Jumat, 13 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah waktu yang sangat agung.
Di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Karena itu banyak kaum muslimin ingin melakukan i’tikaf.
Namun muncul pertanyaan yang sering terjadi di zaman sekarang:

“Saya masih bekerja di siang hari, apakah tetap bisa i’tikaf?”

Jawabannya : bisa, in sya Allah.

Karena para ulama menjelaskan bahwa i’tikaf tidak disyaratkan harus sepuluh hari penuh, bahkan seseorang boleh melakukan i’tikaf sesuai waktu yang ia mampu.

Para ulama juga menjelaskan bahwa lamanya i’tikaf tidak memiliki batas minimal yang pasti.

Imam An-Nawawi menjelaskan :

“الصَّحِيحُ الَّذِي عَلَيْهِ الْجُمْهُورُ أَنَّهُ لَا يُشْتَرَطُ لِلِاعْتِكَافِ زَمَانٌ مُعَيَّنٌ، بَلْ يَصِحُّ وَلَوْ لَحْظَةً إِذَا مَكَثَ فِي الْمَسْجِدِ بِنِيَّةِ الِاعْتِكَافِ”

“Pendapat yang shahih yang dipegang mayoritas ulama adalah bahwa i’tikaf tidak disyaratkan waktu tertentu, bahkan sah meskipun hanya sesaat selama ia menetap di masjid dengan niat i’tikaf.” (Al-Majmū’ Syarḥ Al-Muhadzdzab, 6/514).

Demikian pula disebutkan oleh Imam Ibnu Qudamah :

“وَلَا حَدَّ لِأَقَلِّ الِاعْتِكَافِ، فَيَصِحُّ وَلَوْ سَاعَةً أَوْ لَحْظَةً”

“Tidak ada batas minimal i’tikaf, sehingga sah walaupun hanya satu jam atau sesaat.” (Al-Mughnī, 4/456).

Karena itu bagi orang yang masih bekerja :
* Datang ke masjid setelah Maghrib atau Isya
* Berniat i’tikaf
* Menghidupkan malam dengan shalat, tilawah, dzikir, dan doa, lalu pulang karena besok harus bekerja

Dengan cara ini, seseorang tetap mendapatkan bagian dari pahala i’tikaf sesuai kemampuannya.

Dalam kaidah fiqih disebutkan :

“مَا لَا يُدْرَكُ كُلُّهُ لَا يُتْرَكُ كُلُّهُ”

“Apa yang tidak mampu dilakukan seluruhnya, jangan ditinggalkan seluruhnya.”

Semoga Allah memberi kita taufik untuk menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan dan mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar.

Ya Allah, berikan kami taufik untuk beri’tikaf dan pertemukan kami dengan Lailatul Qadar.

Amin.

 

Penulis : Ustadz Agus Dwiyanto Nugroho, Lc.,M.P.I

Artikel Terjkait

MENGUTAMAKAN QADHA PUASA RAMADHAN DARIPADA PUASA SYAWWAL
MENYEMPURNAKAN RAMADHAN DENGAN PUASA SYAWWAL
INTEGRITAS MUSLIM IDEAL DI TEMPAT KERJA
Serial Fikih Puasa (Edisi 20) :Agar Mudik Menjadi Berkah
Serial Fikih Puasa (Edisi 19) :Renungan di Akhir Ramadhan
Serial Fikih Puasa (Edisi 18) :Siapakah yang Berhak Menerima Zakat Fitrah?
Serial Fikih Puasa (Edisi 17) :Kewajiban Zakat Fitrah
Serial Fikih Puasa (Edisi 16) : Tanda-Tanda Lailatul Qadar
Berita ini 16 kali dibaca

Artikel Terjkait

Minggu, 29 Maret 2026 - 15:02 WIB

MENGUTAMAKAN QADHA PUASA RAMADHAN DARIPADA PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Maret 2026 - 14:46 WIB

MENYEMPURNAKAN RAMADHAN DENGAN PUASA SYAWWAL

Kamis, 19 Maret 2026 - 19:12 WIB

INTEGRITAS MUSLIM IDEAL DI TEMPAT KERJA

Kamis, 19 Maret 2026 - 19:07 WIB

Serial Fikih Puasa (Edisi 20) :Agar Mudik Menjadi Berkah

Kamis, 19 Maret 2026 - 19:04 WIB

Serial Fikih Puasa (Edisi 19) :Renungan di Akhir Ramadhan

Artikel Terbaru

Fikih

MENGUTAMAKAN QADHA PUASA RAMADHAN DARIPADA PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Mar 2026 - 15:02 WIB

Fikih

MENYEMPURNAKAN RAMADHAN DENGAN PUASA SYAWWAL

Minggu, 29 Mar 2026 - 14:46 WIB

Ibadah

Istiqomah Pasca Ramadhan

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:30 WIB

Dakwah

Ujian: Surat Cinta yang Mengajak Kembali ke Pelukan Ilahi

Jumat, 27 Mar 2026 - 16:25 WIB

Dakwah

Rahasia Terbukanya Pintu Rahmat

Rabu, 25 Mar 2026 - 14:45 WIB