DZAMMU AL-HAWA
(CELAAN TERHADAP HAWA NAFSU)
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Segala puji bagi Allah dengan pujian orang-orang yang bersyukur, dan semoga shalawat-Nya tercurah kepada pemimpin para rasul, Muhammad Nabi yang ummi dan keluarganya yang suci, serta salam sejahtera yang berlimpah.
Seseorang yang keluhannya telah membangkitkan semangatku untuk menyusun kitab ini telah mengadu kepadaku tentang ujian yang menimpanya dan hawa nafsu yang menyeretnya ke dalamnya. Ia memintaku untuk menjelaskan secara mendalam tentang obat penyakitnya. Maka aku persembahkan kepadanya nasihat dari seorang sahabat yang tulus untuk teman-temannya. Sungguh aku telah menyusunnya dengan susunan yang sangat baik, dan tidaklah taufik bagiku melainkan dengan pertolongan Allah, kepada-Nya aku bertawakkal dan kepada-Nya aku kembali.
Ketahuilah wahai saudaraku—semoga Allah memberi taufik kepada kami dan kepadamu untuk mencapai keridhaan-Nya, dan menjaga kami dan kamu dari bermaksiat kepada-Nya—bahwa engkau tidak mengadukan penyakitmu melainkan masih ada sisa harapan padamu untuk memperoleh keselamatan. Maka segeralah menggunakan obat, dan bersungguh-sungguhlah dalam menjaga pantangan, dan aku mengharapkan kesembuhan bagimu.
Adapun jika engkau tetap berjalan dalam penyakitmu dan tidak sabar terhadap kepedihan obat yang kuresepkan untukmu, maka sesungguhnya engkau akan melelahkan diriku dan dirimu sendiri.
Ketahuilah bahwa aku telah turun daripadamu dalam kitab ini dari puncak kewibawaan ke lembah kemudahan dalam apa yang aku sampaikan, demi menarik keselamatanmu dan mendatangkan kesembuhanmu. Sungguh aku telah memperpanjang pembahasannya dengan agak panjang, karena orang sepertimu memerlukan sesuatu yang dapat mengalihkannya dari cerita-cerita, dari pemikiran tentang bahaya yang sedang dihadapinya. Maka jadikanlah kitab ini sebagai teman dudukmu, dan pengamalan apa yang kuperintahkan kepadamu di dalamnya sebagai kesibukanmu. Allah adalah pelindung kebaikanmu, karena tidak ada yang melindungi kecuali atas rahmat-Nya.
Aku telah memasukkan ke dalam kitab ini lima puluh bab, dan berikut ini judul-judul babnya:
Bab Pertama: Tentang akal, keutamaannya, dan apa yang disebutkan tentangnya.
Bab Kedua: Tentang celaan terhadap hawa nafsu dan syahwat.
Bab Ketiga: Tentang perjuangan melawan nafsu, muhasabahnya, dan tegurannya.
Bab Keempat: Tentang pujian terhadap kesabaran dan anjuran kepadanya.
Bab Kelima: Tentang menjaga hati dari menghadapi hal-hal yang mengganggu dan fitnah.
Bab Keenam: Tentang apa yang mengotori hati.
Bab Ketujuh: Tentang apa yang menghilangkan karat hati.
Bab Kedelapan: Tentang bolak-baliknya hati dan permohonan kepada Allah Taala untuk memperbaikinya.
Bab Kesembilan: Tentang pemberi nasihat dari dalam hati.
Bab Kesepuluh: Tentang perintah mengosongkan hati dari selain cinta kepada Allah.
Bab Kesebelas: Tentang perintah menundukkan pandangan.
Bab Kedua belas: Tentang celaan terhadap kelebihan memandang.
Bab Ketiga belas: Tentang peringatan dari bahaya memandang.
Bab Keempat belas: Tentang larangan memandang kepada anak muda tampan dan duduk bersama mereka.
Bab Kelima belas: Tentang dosa memandang dan hukumannya.
Bab Keenam belas: Tentang orang yang menghukum dirinya sendiri karena memandang.
Bab Ketujuh belas: Tentang orang yang memohon kepada Allah Taala untuk mengambil penglihatannya karena takut fitnah.
Bab Kedelapan belas: Tentang pahala orang yang menundukkan pandangannya dari yang haram.
Bab Kesembilan belas: Tentang pengobatan kesedihan dan pikiran yang timbul dari memandang.
Bab Kedua puluh: Tentang apa yang harus dilakukan oleh orang yang melihat seorang perempuan lalu tertarik kepadanya.
Bab Kedua puluh satu: Tentang pengharaman bersepi-sepian dengan perempuan asing.
Bab Kedua puluh dua: Tentang peringatan dari fitnah perempuan.
Bab Kedua puluh tiga: Tentang peringatan dari fitnah-fitnah dan tipu daya setan.
Bab Kedua puluh empat: Tentang peringatan dari kemaksiatan dan buruknya dampaknya.
Bab Kedua puluh lima: Tentang celaan terhadap zina.
Bab Kedua puluh enam: Tentang peringatan dari perbuatan kaum Luth.
Bab Kedua puluh tujuh: Tentang hukuman bagi pelaku homoseksual di dunia.
Bab Kedua puluh delapan: Tentang hukuman bagi pelaku homoseksual di akhirat.
Bab Kedua puluh sembilan: Tentang peringatan dari hukuman-hukuman.
Bab Ketiga puluh: Tentang anjuran kepada taubat dan istighfar.
Bab Ketiga puluh satu: Tentang kebanggaan dengan sifat memelihara kehormatan.
Bab Ketiga puluh dua: Tentang orang yang mengingat Tuhannya lalu meninggalkan dosanya.
Bab Ketiga puluh tiga: Tentang anjuran menikah.
Bab Ketiga puluh empat: Tentang celaan kepada orang yang menghasut seorang perempuan terhadap suaminya.
Bab Ketiga puluh lima: Tentang hakikat cinta dan kebenaran hakikatnya.
Bab Ketiga puluh enam: Tentang sebab cinta.
Bab Ketiga puluh tujuh: Tentang celaan terhadap cinta.
Bab Ketiga puluh delapan: Tentang pahala orang yang jatuh cinta namun menjaga diri, memelihara kesucian, dan menyembunyikannya.
Bab Ketiga puluh sembilan: Tentang bencana yang menimpa orang yang jatuh cinta berupa penyakit, kelemahan, kegilaan, dan lain sebagainya.
Bab Keempat puluh: Tentang tipu daya dan taruhan dengan jiwa serta melemparkannya ke dalam kebinasaan demi berjumpa dengan kekasih.
Bab Keempat puluh satu: Tentang orang-orang yang dijadikan perumpamaan dari kalangan pencinta.
Bab Keempat puluh dua: Tentang orang yang terdorong oleh cinta sehingga berzina dengan mahramnya.
Bab Keempat puluh tiga: Tentang orang yang kafir karena cinta.
Bab Keempat puluh empat: Tentang orang yang terdorong oleh cinta sehingga membunuh orang-orang.
Bab Keempat puluh lima: Tentang berita-berita orang yang membunuh kekasihnya.
Bab Keempat puluh enam: Tentang berita-berita orang yang terbunuh dari kalangan pencinta.
Bab Keempat puluh tujuh: Tentang berita-berita orang yang terbunuh karena cinta.
Bab Keempat puluh delapan: Tentang orang yang membunuh dirinya sendiri karena cinta.
Bab Keempat puluh sembilan: Tentang obat-obat penyakit cinta.
Bab Kelima puluh: Berisi kumpulan wasiat-wasiat, pencegahan-pencegahan, dan nasihat-nasihat.
Inilah seluruh bab-bab kitab ini. Semoga shalawat Allah tercurah kepada junjungan kami Muhammad Nabi yang ummi, kepada keluarganya, dan semoga salam sejahtera.
۞۞۞۞۞
Bab Pertama: Tentang Akal, Keutamaannya, Dan Hakikatnya
Hakikat Akal
Manusia berbeda pendapat tentang hakikat akal dengan perbedaan yang sangat banyak.
Segolongan orang berkata: Akal adalah sejenis ilmu daruri (pengetahuan yang diperoleh tanpa melalui proses berpikir).
Golongan lain berkata: Akal adalah naluri yang dengannya dapat diraih berbagai ilmu pengetahuan.
Golongan lain lagi berkata: Akal adalah kekuatan untuk membedakan hakikat-hakikat pengetahuan.
Golongan lain berkata: Akal adalah substansi sederhana. Dan ada golongan yang berkata: Akal adalah jasad yang transparan.
Al-Harits al-Muhasibi berkata: Akal adalah cahaya.
Pendapat ini juga dikemukakan oleh Abu al-Hasan at-Tamimi dari kalangan sahabat-sahabat kami. Ibrahim al-Harbi meriwayatkan dari Ahmad bahwa ia berkata: Akal adalah naluri. Dan telah diriwayatkan juga dari al-Muhasibi seperti itu.
Kesimpulan dalam hal ini adalah bahwa akal adalah naluri yang seolah-olah merupakan cahaya yang dicurahkan ke dalam hati sehingga siap untuk menangkap berbagai hal. Dengan akal, seseorang mengetahui kemungkinan hal-hal yang mungkin dan kemustahilan hal-hal yang mustahil, serta dapat memperhatikan konsekuensi-konsekuensi dari berbagai perkara.
Cahaya itu bisa sedikit dan bisa banyak. Apabila cahaya itu kuat, maka dengan memperhatikan konsekuensi-konsekuensi, ia dapat mengendalikan keinginan yang mendesak.
Tempat Kedudukan Akal
Kebanyakan ulama dari kalangan kami berpendapat bahwa tempat kedudukan akal adalah hati, dan ini diriwayatkan dari Imam asy-Syafi’i semoga Allah meridhainya.
Dalil mereka adalah firman Allah Ta’ala: “Maka mereka akan memiliki hati yang dengannya mereka berakal” (QS. al-Hajj: 46), dan firman-Nya: “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat peringatan bagi orang yang memiliki hati” (QS. Qaf: 37). Mereka berkata: Yang dimaksud adalah bagi orang yang memiliki akal, maka Dia menyebut hati sebagai pengganti akal karena hati adalah tempatnya.
Al-Fadhl bin Ziyad menyampaikan dari Ahmad semoga Allah meridhainya bahwa tempat kedudukan akal adalah otak.
Ini adalah pilihan para sahabat Abu Hanifah semoga Allah meridhainya.
Keutamaan Akal dari Jalur Hadits
Ali bin Muhammad bin Abi Umar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ali bin al-Husain bin Ayyub memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdul Ghaffar bin Muhammad al-Muaddib memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Makhlad al-Jauhari memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Harits bin Muhammad bin Abi Usamah menceritakan kepada kami, ia berkata: Dawud bin al-Muhabbar menceritakan kepada kami, ia berkata: Abbad bin Katsir memberitahukan kepada kami dari Ibnu Juraij dari Atha’ dari Ibnu Abbas bahwa ia masuk menemui Aisyah semoga Allah meridhainya lalu berkata: Wahai ibu kaum mukminin, bagaimana menurutmu tentang seseorang yang sedikit shalatnya dan banyak tidurnya, dan yang lain banyak shalatnya dan sedikit tidurnya, mana yang lebih engkau sukai? Aisyah berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana engkau bertanya kepadaku, maka beliau bersabda: Yang lebih baik akalnya. Aku berkata: Wahai Rasulullah, aku bertanya tentang ibadah mereka berdua. Beliau bersabda: Wahai Aisyah, sesungguhnya mereka berdua tidak ditanya tentang ibadah mereka, melainkan ditanya tentang akal mereka. Maka siapa yang lebih berakal, dialah yang lebih utama di dunia dan akhirat.
Abdul Haq mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Marzuq memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibnu Razqawaih memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Muhammad al-Khalladi menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Harits bin Abi Usamah at-Tamimi menceritakan kepada kami, ia berkata: Dawud bin al-Muhabbar menceritakan kepada kami, ia berkata: Ghiyats bin Ibrahim menceritakan kepada kami dari ar-Rabi’ bin Luth al-Anshari dari ayahnya dari kakeknya al-Bara’ bin Azib, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya bagi setiap jalan ada kendaraan dan jalan yang jelas, dan orang yang paling kokoh kendaraannya, paling baik petunjuknya dan pengetahuannya tentang jalan yang jelas adalah yang paling sempurna akalnya.
Ibnu Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu al-Hasan Ahmad bin Ali memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdul Baqi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Bisyr bin Musa menceritakan kepada kami, ia berkata: Manshur bin Shaqir menceritakan kepada kami, ia berkata: Musa bin A’yan menceritakan kepada kami dari Abu Ubaidillah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya seseorang bisa menjadi ahli puasa, ahli shalat, ahli haji, dan ahli jihad, namun ia tidak diberi balasan pada hari kiamat kecuali sesuai kadar akalnya.
Al-Mubarak bin Ali mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Ali bin al-Mahdi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ubaidillah bin Umar bin Syahin memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Muhammad al-Baghandi menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abdul Nur menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin al-Mufadhdhal menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Habib bin Abi Tsabit dari Ashim dari Ali, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sungguh telah mendahului ke surga-surga Adn suatu kaum yang bukan karena mereka paling banyak shalat, puasa, haji atau umrah di antara manusia, tetapi karena mereka berakal dalam menerima nasihat-nasihat Allah Azza wa Jalla. Hati mereka bergetar karenanya, jiwa mereka tenang kepada-Nya, dan anggota tubuh mereka khusyuk, sehingga mereka melampaui makhluk lain dalam kebaikan kedudukan dan keindahan derajat di sisi manusia di dunia dan di sisi Allah di akhirat.
Penulis berkata: Yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan akal sangat banyak, namun jauh dari keshahihan. Maka kita cukupkan pada kadar ini saja.
Abu Hatim bin Hibban al-Hafizh berkata: Aku tidak menghafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hadits shahih tentang akal, karena Aban bin Abi Ayyasy, Salamah bin Wardan, Umair bin Imran, Ali bin Zaid, al-Hasan bin Dinar, Abbad bin Katsir, Maisarah bin Abdurabbih, Dawud bin al-Muhabbar, Manshur bin Shaqir dan yang semisalnya bukanlah orang-orang yang aku jadikan hujjah dengan hadits mereka sehingga aku keluarkan hadits-hadits tentang akal yang ada pada mereka.
Umar bin al-Khaththab berkata: Orang yang berakal bukanlah yang mengenal kebaikan dari keburukan, tetapi yang mengenal mana yang lebih baik dari dua keburukan.
Ibnu Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Abdullah al-Anmathi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin al-Husain al-Marwazi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin al-Harits memberitahukan kepada kami, ia berkata: Kakekku Muhammad bin Abdul Karim menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Haitsam bin Adi menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami dari Amr bin Murrah dari Abdurrahman bin Sabit dari Ibnu Abbas, ia berkata: Ketika Allah menciptakan akal, Dia berfirman kepadanya: Berpalinglah! Maka ia berpaling. Kemudian Dia berfirman: Datanglah! Maka ia datang. Allah berfirman: Demi kemuliaan-Ku, Aku tidak pernah menciptakan makhluk yang lebih baik darimu. Denganmu Aku memberi, denganmu Aku mengambil, dan denganmu Aku menghukum.
Ibnu Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu al-Hasan Ahmad bin Ali menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu ash-Shawwaf menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah menceritakan kepada kami, ia berkata: Hasyim bin Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Haitsam bin Adi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Habib bin Abi Tsabit menceritakan kepada kami dari ayahnya dari Amr bin al-Ash, ia berkata: Anak laki-laki berganti gigi pada usia tujuh tahun, baligh pada empat belas tahun, pertumbuhannya berhenti pada dua puluh satu tahun, dan akalnya mencapai kesempurnaan pada dua puluh delapan tahun, dan setelah itu adalah pengalaman-pengalaman.
Aisyah berkata: Sungguh beruntung orang yang Allah jadikan baginya akal.
Muhammad bin Abi Manshur mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Ahmad al-Faqih memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu al-Hasan al-Hammami memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Ahmad al-Qarmisini memberitahukan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Ahmad bin Shalih berkata: Ibnu Aisyah menceritakan kepada kami, ia berkata: Seorang anak lahir untuk Kisra, maka ia memerintahkan agar didatangkan sebagian ahli sastra dan anak yang baru lahir itu dihadapkan kepadanya. Kisra berkata kepadanya: Apa kebaikan terbaik yang diberikan kepada bayi ini? Ia berkata: Akal yang lahir bersamanya. Kisra berkata: Jika tidak ada? Ia berkata: Adab yang baik yang dengannya ia hidup di antara manusia. Kisra berkata: Jika tidak ada? Ia berkata: Petir yang membakarnya.
Sebagian ulama berkata: Ketika Allah menurunkan Adam ke bumi, Jibril mendatanginya dengan tiga hal: agama, akal, dan akhlak yang baik. Ia berkata: Sesungguhnya Allah menyuruhmu memilih satu dari tiga hal ini. Adam berkata: Wahai Jibril, aku tidak melihat yang lebih baik dari ketiganya ini kecuali di surga. Maka ia mengulurkan tangannya kepada akal dan memeluknya. Allah berfirman kepada dua yang lain: Naiklah kalian berdua! Keduanya berkata: Kami tidak mau. Allah berkata: Apakah kalian mendurhakai-Ku? Keduanya berkata: Kami tidak mendurhakai-Mu, tetapi kami diperintahkan untuk berada bersama akal di mana pun ia berada.
Maka jadilah ketiganya bagi Adam.
Wahb bin Munabbih berkata: Aku mendapati dalam sebagian wahyu yang Allah turunkan kepada para nabi-Nya bahwa setan tidak menghadapi sesuatu yang lebih sulit baginya daripada seorang mukmin yang berakal, dan bahwa ia menghadapi seratus orang jahil lalu menggiring mereka hingga ia menunggangi punggung mereka, maka mereka tunduk kepadanya ke mana pun ia kehendaki. Setan menghadapi mukmin yang berakal namun sulit baginya hingga ia tidak mendapat apa pun dari kebutuhannya.
Wahb berkata: Memindahkan gunung batu demi batu dan bebatuan demi bebatuan lebih sulit bagi setan daripada menghadapi mukmin yang berakal. Apabila ia tidak mampu menguasainya, ia berpindah kepada orang jahil lalu menawannya dan menguasai tali kendalinya hingga menyerahkannya kepada aib-aib yang dengannya ia segera mendapat cambuk, gundulan, hitamnya wajah, potong tangan, rajam, dan salib di dunia. Sesungguhnya dua orang bisa sama dalam amal kebajikan namun jarak antara keduanya seperti jarak antara timur dan barat atau lebih jauh jika salah satunya lebih berakal dari yang lain. Tidak ada yang digunakan untuk beribadah kepada Allah yang lebih utama daripada akal.
Mu’adz bin Jabal berkata: Seandainya orang yang berakal di sore dan pagi hari memiliki dosa sejumlah pasir, ia akan cepat selamat dan terlepas darinya. Dan seandainya orang jahil di sore dan pagi hari memiliki kebaikan dan amal shalih sejumlah pasir, ia akan cepat tidak selamat darinya seberat atom pun. Dikatakan: Bagaimana itu? Ia berkata: Karena orang yang berakal apabila tergelincir akan memperbaikinya dengan taubat dan akal yang telah dibagikan untuknya. Sedangkan orang jahil seperti orang yang membangun lalu merobohkannya, kebodohannya mendatangkan apa yang merusak amal shalihnya.
Al-Hasan berkata: Agama seseorang tidak sempurna hingga akalnya sempurna. Allah tidak menitipkan akal kepada seseorang melainkan menyelamatkannya dengannya suatu hari.
Dikatakan kepada Atha’ bin Abi Rabah: Apa pemberian terbaik yang diberikan kepada manusia? Ia berkata: Berakal dalam menerima perintah Allah Ta’ala.
Mu’awiyah bin Qurrah berkata: Sesungguhnya suatu kaum berhaji, berumrah, berjihad, shalat, dan berpuasa, namun mereka tidak diberi pada hari kiamat kecuali sesuai kadar akal mereka.
Abdul Haq mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu Marzuq memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar al-Khatib memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdul Wahid bin Muhammad bin Utsman al-Bajali memberitahukan kepada kami, ia berkata: Umar bin Muhammad bin Umar bin al-Fayyad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Thalhah Ahmad bin Abdul Karim menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Khubaiq menceritakan kepada kami, ia berkata: Yusuf bin Asbath menceritakan kepada kami, ia berkata: Akal adalah pelita batin, pengatur tampak, pengendali jasad, dan perhiasan setiap orang. Kehidupan tidak baik kecuali dengannya, dan urusan tidak berjalan kecuali atasnya.
Ibnu al-Mubarak ditanya: Apa pemberian terbaik yang diberikan kepada seseorang? Ia berkata: Naluri akal. Ditanyakan: Jika tidak ada? Ia berkata: Adab yang baik. Ditanyakan: Jika tidak ada? Ia berkata: Saudara yang shalih untuk dimintai nasihat. Ditanyakan: Jika tidak ada? Ia berkata: Diam yang panjang. Ditanyakan: Jika tidak ada? Ia berkata: Kematian yang cepat.
Keutamaan Akal dari Segi Penalaran
Keutamaan sesuatu baru tampak dari buahnya dan faedahnya. Telah diketahui buah dan faedah akal, karena dialah yang menunjukkan kepada Tuhan, memerintahkan untuk taat kepada-Nya dan melaksanakan perintah-Nya, menetapkan mukjizat-mukjizat para rasul dan memerintahkan untuk taat kepada mereka, memperhatikan akibat-akibat lalu mempertimbangkannya dan mengawasinya serta beramal sesuai dengan kemaslahatan-kemaslahatan, melawan hawa nafsu sehingga menolak serangannya, memahami perkara-perkara yang samar, mengatur pemanfaatan makhluk-makhluk sehingga memanfaatkannya, mendorong pada keutamaan-keutamaan dan melarang dari sifat-sifat tercela, menguatkan ikatan keteguhan dan menguatkan sandaran kemauan keras, menarik apa yang menghiasi dan menolak apa yang merusak. Apabila akal dibiarkan dengan kekuasaannya, ia menawan kelebihan hawa nafsu lalu menahannya dalam penjara pencegahan. Cukuplah sifat-sifat ini sebagai keutamaan.
Tidak sepantasnya hawa nafsu membangga-banggakan diri atasnya karena hawa nafsu adalah musuhnya yang merendahkannya dari kedudukannya dan menurunkannya dari derajatnya. Tidak boleh dijadikan dan ia adalah hakim yang dihakimi, atau dijadikan dan ia adalah tali kendali yang dikendali, atau dijadikan dan ia adalah yang diikuti menjadi pengikut. Barangsiapa yang bersabar atas kepahitan bermusyawarah dengannya akan menuai manisnya cita-cita dalam akibat-akibatnya.
Abu al-Qasim Ibnu al-Qadhi menceritakan kepadaku dari Abu al-Wafa Ibnu Aqil, ia berkata: Hasan al-Mutathabbib menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku dipanggil ke istana khilafah lalu dimasukkan ke sebuah ruangan, di sana ada tirai yang tergantung dan seorang laki-laki yang kakinya dikeluarkan dari balik tirai dengan tanda-tanda kenikmatan. Aku melihatnya ternyata terkilir. Aku berkata: Kaki ini, pemiliknya membutuhkan dua orang yang kuat untuk menahannya agar tidak bergerak sehingga dapat diperbaiki dan dikembalikan ke tempatnya. Aku mendengar suara dari balik tirai: Lakukan tugasmu, karena akal yang menahan.
Bab Kedua Tentang Celaan Terhadap Hawa Nafsu Dan Syahwat
Ketahuilah bahwa hawa nafsu adalah kecenderungan tabiat kepada sesuatu yang sesuai dengannya. Kecenderungan ini telah diciptakan pada manusia karena kebutuhan untuk kelangsungan hidupnya. Sebab seandainya tidak ada kecenderungannya kepada makanan, niscaya ia tidak akan makan, dan kepada minuman, niscaya ia tidak akan minum, dan kepada pernikahan, niscaya ia tidak akan menikah. Demikian pula semua yang ia inginkan, maka hawa nafsu mengundangnya kepada apa yang bermanfaat sebagaimana kemarahan menolak darinya apa yang menyakiti. Maka tidak pantas mencela hawa nafsu secara mutlak, dan yang dicela hanyalah yang berlebihan darinya, yaitu apa yang melampaui batas dalam meraih kemaslahatan dan menolak bahaya.
Karena yang umumnya terjadi pada orang yang mengikuti hawa nafsu adalah bahwa ia tidak berhenti pada batas yang bermanfaat, maka dicelalah hawa nafsu dan syahwat secara mutlak karena umumnya menimbulkan bahaya. Sebab jarang orang yang memahami maksud dari diciptakannya hawa nafsu pada diri. Dan jika sudah paham, sulit untuk menemukan amalan yang sesuai dengannya dan jarang contohnya. Sesungguhnya syahwat terhadap makanan diciptakan hanya untuk mendapatkan gizi. Maka jaranglah orang yang mengonsumsi sesuai dengan kemaslahatannya dan tidak melampaui batas. Jika ditemukan hal itu, maka sebutan hawa nafsu menjadi hilang bagi orang ini dan ia menjadi orang yang menggunakan kemaslahatan. Adapun kebanyakan manusia, mereka mengikuti hawa nafsu. Jika terwujud kemaslahatan, maka itu terwujud secara tidak sengaja dan ikut-ikutan. Karena inilah yang umum terjadi, maka disebutkan dalam bab ini celaan terhadap hawa nafsu dan syahwat secara mutlak, dan saya memberi nama kitab saya dengan “Celaan Hawa Nafsu” karena makna tersebut.
Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu bahwa ia berkata: Allah Azza wa Jalla tidak menyebut hawa nafsu di tempat manapun dalam kitab-Nya kecuali untuk mencelanya. Dan Asy-Sya’bi berkata: Sesungguhnya ia dinamakan hawa (hawa nafsu) karena ia menjerumuskan pemiliknya.
Pasal: Ketahuilah bahwa hawa nafsu secara mutlak mengajak kepada kelezatan yang ada sekarang tanpa memikirkan akibatnya
dan mendorong untuk meraih syahwat dengan segera meskipun itu menjadi sebab rasa sakit dan penderitaan di waktu dekat dan menghalangi kelezatan di waktu kemudian.
Adapun orang yang berakal, ia mencegah dirinya dari kelezatan yang mengakibatkan kesakitan dan syahwat yang mendatangkan penyesalan. Dan cukuplah dengan kadar ini sebagai pujian bagi akal dan celaan bagi hawa nafsu.
Tidakkah engkau lihat bahwa anak kecil memilih apa yang ia inginkan meskipun membawanya kepada kebinasaan. Maka orang berakal lebih utama darinya dengan mencegah dirinya dari hal itu. Dan boleh jadi terjadi kesamaan antara keduanya dalam kecenderungan terhadap hawa nafsu.
Dengan kadar inilah manusia menjadi lebih utama dari binatang, yaitu dengan kekuatan kehendak. Karena binatang berhenti pada tabiatnya, tidak ada pertimbangan baginya terhadap akibat dan tidak ada pemikiran tentang masa depan. Maka ia mengambil apa yang dipanggil oleh tabiat dari makanan jika hadir, dan melakukan apa yang dibutuhkan dari kotoran dan kencing kapan saja terjadi. Sedangkan manusia menahan diri dari hal itu dengan menguasai akalnya atas tabiatnya.
Jika orang berakal mengetahui bahwa hawa nafsu menjadi pengalah, wajib baginya mengajukan setiap kejadian kepada hakim akal. Maka ia akan memberinya nasihat dengan memperhatikan kemaslahatan di masa depan dan memerintahkannya ketika terjadi keraguan untuk menggunakan kehati-hatian dalam menahan hawa nafsu sampai ia yakin akan keselamatan dari keburukan di masa depan.
Sepatutnya bagi orang berakal untuk melatih diri menolak hawa nafsu yang akibatnya aman agar terus-menerus meninggalkan apa yang akibatnya menyakitkan.
Dan hendaklah orang berakal mengetahui bahwa orang-orang yang kecanduan syahwat akan sampai pada keadaan di mana mereka tidak menikmatinya, namun mereka tidak mampu meninggalkannya karena hal itu telah menjadi bagi mereka seperti kehidupan yang terpaksa. Karena itulah engkau melihat pecandu khamr dan persetubuhan tidak menikmati hal itu sepersepuluh kenikmatan orang yang tidak kecanduan. Namun kebiasaan menuntutnya untuk itu, maka ia menjatuhkan dirinya ke dalam kebinasaan untuk meraih apa yang dituntut oleh kebiasaannya. Seandainya hilang karat hawa nafsu dari pandangan hati nuraninya, niscaya ia melihat bahwa ia sengsara dari arah yang ia kira kebahagiaan, sedih dari arah yang ia sangka kegembiraan, dan sakit dari arah yang ia inginkan kelezatan.
Maka ia seperti binatang yang tertipu karena cinta perangkap, tidak ia memperoleh apa yang diperdayakan dengannya dan tidak mampu melepaskan diri dari apa yang ia terjebak di dalamnya.
Jika seseorang berkata: Bagaimana orang yang sudah terjebak dalam hal ini bisa terlepas darinya? Dikatakan kepadanya: Dengan tekad yang kuat dalam meninggalkan apa yang menyakiti dan bertahap dalam meninggalkan apa yang tidak aman bahayanya. Ini membutuhkan kesabaran dan perjuangan yang dimudahkan oleh tujuh hal:
Pertama: Berpikir bahwa manusia tidak diciptakan untuk hawa nafsu, melainkan disiapkan untuk mempertimbangkan akibat dan beramal untuk masa depan. Yang menunjukkan hal ini adalah bahwa binatang memperoleh dari kelezatan makanan, minuman, dan persetubuhan apa yang tidak dapat diraih manusia dengan kehidupan yang nyaman bebas dari pikiran dan kekhawatiran.
Karena itulah binatang digiring ke tempat penyembelihan sementara ia tenggelam dalam syahwatnya karena tidak memiliki pengetahuan tentang akibat.
Sedangkan manusia tidak memperoleh apa yang diperoleh binatang karena kuatnya pikiran yang menyibukkan, kekhawatiran yang mengganggu, dan lemahnya alat yang digunakan.
Seandainya meraih yang diinginkan itu suatu keutamaan, niscaya bagian manusia yang mulia tidak dikurangi darinya dan bagian binatang tidak ditambah. Dalam melimpahnya bagian manusia dari akal dan sedikitnya bagiannya dari hawa nafsu terdapat apa yang cukup sebagai keutamaan yang satu ini dan celaan yang itu.
Kedua: Ia berpikir tentang akibat hawa nafsu.
Betapa banyak keutamaan yang telah dihilangkannya, betapa banyak kehinaan yang ditimbulkannya, betapa banyak makanan yang menyebabkan penyakit, betapa banyak kesalahan yang mewajibkan hancurnya kehormatan dan buruknya sebutan beserta dosa.
Namun pemilik hawa nafsu tidak melihat kecuali hawa nafsu.
Maka yang paling mendekati perumpamaan dengannya adalah orang yang berada di tempat penyamakan kulit, ia tidak merasakan baunya sampai ia keluar lalu mengetahui di mana ia berada.
Ketiga: Orang berakal membayangkan selesainya tujuannya dari hawa nafsunya, kemudian membayangkan bahaya yang terjadi setelah kelezatan. Maka ia melihat hal itu berlipat ganda melebihi hawa nafsu. Sebagian orang bijak telah membaca syair:
Dan orang terbaik adalah yang tidak melakukan sesuatu sebab hingga ia membedakan apa yang diakibatkan oleh akibatnya
Keempat: Ia membayangkan hal itu pada orang lain kemudian memperhatikan akibatnya dengan pikirannya. Maka ia akan mengetahui aibnya jika ia berdiri di tempat itu.
Kelima: Ia berpikir tentang apa yang ia cari dari kelezatan. Maka akal akan mengabarinya bahwa itu bukanlah sesuatu dan sesungguhnya mata hawa nafsu itu buta.
Dalam hadits dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu: Jika salah seorang kalian terkagum dengan seorang wanita, hendaklah ia mengingat kotorannya.
Ini lebih baik dari perkataan Abu Ath-Thayyib:
Seandainya orang yang jatuh cinta berpikir tentang kesudahan Keindahan orang yang membuatnya terpesona, niscaya ia tidak terpesona
Karena Ibnu Mas’ud menyebut keadaan sekarang yang melekat, sedangkan Abu Ath-Thayyib mengacu pada hal-hal yang tertunda. Kecuali jika ia mengisyaratkan kepada makna ini.
Keenam: Ia merenungkan kemuliaan kemenangan dan kehinaan kekalahan. Sebab tidak ada seorang pun yang mengalahkan hawa nafsunya kecuali ia merasakan kekuatan kemuliaan, dan tidak ada seorang pun yang dikalahkan oleh hawa nafsunya kecuali ia menemukan dalam dirinya kehinaan kekalahan.
Ketujuh: Ia berpikir tentang faedah menyelisihi hawa nafsu berupa perolehan sebutan yang baik di dunia dan keselamatan jiwa serta kehormatan dan pahala di akhirat.
Kemudian ia membalikkan dan berpikir seandainya ia mengikuti hawa nafsunya dalam terjadinya kebalikan dari itu selamanya. Dan hendaklah ia membayangkan untuk kedua keadaan ini keadaan Adam dan Yusuf alaihimassalam.
Dalam satu gigitan yang satu ini dan kesabaran yang satu ini.
Wahai saudaraku yang penuh nasihat, hadirkan untukku hatimu pada kata-kata ini dan katakan kepadaku demi Allah, di mana kelezatan Adam yang ia rasakan dibanding semangat Yusuf yang tidak ia laksanakan? Siapakah Yusuf seandainya ia meraih kelezatan itu?
Ketika ia meninggalkannya dan bersabar darinya dengan perjuangan sesaat, ia menjadi orang yang telah engkau ketahui.
Pasal: Ketahuilah bahwa hawa nafsu mengalir dengan pemiliknya dalam berbagai bidang dan mengeluarkannya dari rumah akal menuju lingkaran kegilaan
Boleh jadi hawa nafsu ada dalam ilmu, maka ia mengeluarkan pemiliknya kepada lawan apa yang diperintahkan oleh ilmu.
Boleh jadi ada dalam kezuhudan, maka ia mengeluarkan kepada riya.
Kitab kami ini untuk mencela hawa nafsu dalam syahwat indera, meskipun mencakup celaan hawa nafsu secara mutlak.
Setelah kami menyebutkan dalam pasal ini dari celaan hawa nafsu apa yang didiktekan oleh akal, maka biarlah kami menyebutkan dari hal itu apa yang terkandung dalam dalil.
Pasal: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah memuji penyelisihan terhadap hawa nafsu
Maka Dia berfirman: “Dan mencegah diri dari hawa nafsu” (QS. An-Nazi’at: 40). Para mufassir berkata: Yaitu mencegah diri dari apa yang Allah haramkan kepadanya.
Muqatil berkata: Yaitu orang yang berniat melakukan maksiat lalu ia mengingat kedudukannya untuk dihisab, maka ia meninggalkannya.
Dan Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan mengikuti hawa nafsunya, maka perumpamaannya seperti anjing” (QS. Al-A’raf: 176). Dan Dia berfirman: “Dan mengikuti hawa nafsunya, dan keadaannya melewati batas” (QS. Al-Kahf: 28). Dan Dia berfirman: “Maka apakah kamu telah melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya” (QS. Al-Furqan: 43). Dan Dia berfirman: “Bahkan orang-orang yang zalim mengikuti hawa nafsu mereka tanpa ilmu. Maka siapa yang akan memberi petunjuk kepada orang yang telah disesatkan Allah” (QS. Ar-Rum: 29). Dan Dia berfirman: “Dan mereka mengikuti hawa nafsu mereka” (QS. Al-Qomar: 3). Dan Dia berfirman: “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah” (QS. Al-Qashash: 50). Dan Dia berfirman: “Supaya mereka menyesatkan dengan hawa nafsu mereka tanpa ilmu” (QS. Al-An’am: 119). Dan Dia berfirman: “Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, dan dia mengikuti hawa nafsunya” (QS. Al-Kahf: 28). Dan Dia berfirman: “Dan jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka” (QS. Al-Baqarah: 120). Dan Dia berfirman: “Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu agar kamu dapat berlaku adil” (QS. An-Nisa: 135). Dan Dia berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu yang akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (QS. Shad: 26).
Telah mengabarkan kepada kami Al-Husain bin Muhammad Al-Bari’ dan Muhammad bin Al-Husain Al-Muzarrifi dan Ali bin Ahmad Al-Muwahhid dan Ahmad bin Muhammad Az-Zauzani dan Badr bin Abdullah Asy-Syaikhi, mereka berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Al-Muslamah, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman Az-Zuhri, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Al-Firyabi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farukh, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Mubarak bin Fadhalah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan tentang ayat ini: “Maka apakah kamu telah melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya” (QS. Al-Furqan: 43), ia berkata: Yaitu orang munafik, ia tidak menginginkan sesuatu kecuali ia mengerjakannya.
Al-Firyabi berkata: Dan telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Khalid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu’aib bin Harb, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abul Asyhab dari Al-Hasan, ia berkata: Orang munafik menyembah hawa nafsunya, ia tidak menginginkan sesuatu kecuali ia mengerjakannya.
Al-Firyabi berkata: Dan telah menceritakan kepada kami Hudbah bin Khalid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hammam bin Yahya dari Qatadah tentang ayat: “Maka apakah kamu telah melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya” (QS. Al-Furqan: 43), ia berkata: Jika ia menginginkan sesuatu, ia mengerjakannya.
Telah mengabarkan kepada kami Hibatullah bin Muhammad bin Al-Husain, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Al-Hasan bin Ali Al-Wa’izh, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Bakar bin Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hasan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Surga dikelilingi dengan kesulitan-kesulitan dan neraka dikelilingi dengan syahwat-syahwat.
Muslim menyendiri dalam mengeluarkannya dari jalur ini. Dan keduanya (Bukhari dan Muslim) telah sepakat mengeluarkannya dari hadits Abu Hurairah, kecuali dalam lafazh hadits Bukhari terdapat “ditutupi” sebagai ganti “dikelilingi”.
Telah mengabarkan kepada kami Hibatullah bin Muhammad, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abul Hasan bin Ali, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ja’far, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Amr, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Ketika Allah Azza wa Jalla menciptakan surga dan neraka, Dia mengutus Jibril yaitu ke surga, lalu berfirman: Lihatlah kepadanya dan kepada apa yang Aku persiapkan untuk penghuninya di dalamnya. Maka ia datang dan melihat kepadanya dan kepada apa yang Allah Azza wa Jalla persiapkan untuk penghuninya di dalamnya, lalu ia kembali kepada-Nya dan berkata: Demi kemuliaan-Mu, tidak ada seorang pun yang mendengar tentangnya kecuali ia akan memasukinya.
Maka Dia memerintahkannya lalu ditutup dengan kesulitan-kesulitan, dan berfirman: Kembalilah kepadanya dan lihatlah kepadanya. Maka ia kembali dan ternyata ia telah ditutup dengan kesulitan-kesulitan, ia berkata: Sungguh aku khawatir tidak akan ada seorang pun yang memasukinya.
Dia berfirman: Lihatlah kepada neraka dan kepada apa yang Aku persiapkan untuk penghuninya di dalamnya. Maka ia mendatanginya dan melihat kepadanya dan kepada apa yang Dia persiapkan untuk penghuninya di dalamnya, ternyata sebagiannya menimpa sebagian yang lain. Lalu ia kembali kepada-Nya dan berkata: Demi kemuliaan-Mu, tidak ada seorang pun yang mendengar tentangnya lalu memasukinya.
Maka Dia memerintahkannya lalu dikelilingi dengan syahwat-syahwat, dan berfirman kepadanya: Kembalilah kepadanya dan lihatlah kepadanya. Ternyata ia telah dikelilingi dengan syahwat-syahwat, maka ia kembali kepada-Nya dan berkata: Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku khawatir tidak akan selamat seorang pun kecuali memasukinya.
At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan shahih.
Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Muhammad bin Muhammad As-Sallal, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Syawaisy, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Hamid Al-Isfara’ini, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ibrahim bin Muhammad bin Abdak, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Sufyan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Al-Hasan Al-A’yan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab bin Abdul Majid Ats-Tsaqafi dari Hisyam bin Hassan dari Muhammad bin Sirin dari Uqbah bin Aus dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: Tidak beriman salah seorang kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.
Telah mengabarkan kepada kami Al-Mubarak bin Ali, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhammad Al-Allaf, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim Al-Kindi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Al-Khara’ithi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Badr, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Hibban dari Abul Hakam dari Abu Burdah Al-Aslami, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Yang paling aku takutkan atas kalian adalah syahwat kesesatan pada perut dan kemaluan kalian, dan kesesatan-kesesatan hawa nafsu.
Dan dengan sanad kami menceritakan kepada kami Al-Kharaiti berkata menceritakan kepada kami Ali bin Zaid Al-Faraidi berkata menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al-Hunayni dari Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf Al-Muzani dari ayahnya dari kakeknya berkata, berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku adalah penguasa yang zalim, kekeliruan seorang alim, dan hawa nafsu yang diikuti.
Dan dengan sanad kami menceritakan kepada kami Al-Kharaiti berkata menceritakan kepada kami Ali bin Abbad bin Al-Walid berkata menceritakan kepada kami Ismail Ash-Shaffar berkata menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Dinar dari Hushaib bin Jahdar dari Rasyid bin Sa’d dari Abu Umamah Al-Bahili berkata, berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Tidak ada di bawah naungan langit sesembahan yang disembah yang lebih besar di sisi Allah daripada hawa nafsu yang diikuti.
Dan dengannya berkata menceritakan kepada kami Al-Kharaiti berkata menceritakan kepada kami Ibrahim bin Al-Junayd berkata menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdullah bin Yunus berkata menceritakan kepada kami Ayyub bin Utbah dari Al-Fadhl bin Bakr Al-Abdi dari Qatadah dari Anas bin Malik berkata, berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Tiga hal yang membinasakan: kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri. Dan dengannya berkata menceritakan kepada kami Al-Kharaiti berkata menceritakan kepada kami Ahmad bin Mula’ib berkata menceritakan kepada kami Muhammad bin Mush’ab Al-Qarqasani dari Abu Bakr bin Abi Maryam dari Khalid bin Muhammad dari Bilal bin Abi Ad-Darda dari ayahnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Kecintaanmu terhadap sesuatu membutakan dan memekakkan.
Mengabarkan kepada kami Abu Al-Mu’ammar Al-Anshari berkata memberitakan kepada kami Al-Mubarak bin Abdul Jabbar berkata memberitakan kepada kami Abu Ahmad Al-Baqilawi berkata memberitakan kepada kami Abu Al-Husayn Muhammad bin Ahmad Al-Muhamili berkata menceritakan kepada kami Abu Ja’far bin Yazid berkata menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Al-Murzaban berkata menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad Al-Azrami berkata menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Al-Jahsyi berkata menceritakan kepadaku Bakr bin Sulayman Ash-Shawwaf dari Abu Hazim dari Abu Hurairah berkata, berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Tiga hal yang menyelamatkan dan tiga hal yang membinasakan. Adapun yang menyelamatkan adalah takwa kepada Allah dalam keadaan sembunyi dan terang-terangan, berkata benar dalam keadaan ridha dan marah, dan pertengahan dalam keadaan kaya dan miskin. Adapun yang membinasakan adalah hawa nafsu yang diikuti, kikir yang dituruti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri, dan ini adalah yang paling buruk dari ketiganya.
Mengabarkan kepada kami Muhammad bin Nashir berkata memberitakan kepada kami Al-Hasan bin Ahmad Al-Faqih berkata memberitakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad berkata memberitakan kepada kami Ahmad bin Umar Al-Jazari berkata menceritakan kepada kami Ali bin Abi Hassan berkata menceritakan kepada kami Al-Khalil bin Khaduwayh berkata Ibrahim Al-Khalil (Ibrahim alaihissalam) lewat lalu melihat seorang hamba di udara yang sedang beribadah, maka ia bertanya kepadanya: Dengan apa engkau mencapai kedudukan ini dari Allah? Ia menjawab: Dengan perkara yang mudah, aku menyapih diriku dari dunia, tidak berbicara dalam hal yang tidak menjadi urusanku, memperhatikan apa yang diperintahkan kepadaku lalu aku mengerjakannya, memperhatikan apa yang dilarang dariku lalu aku meninggalkannya, maka aku jika meminta kepada-Nya Dia memberi kepadaku, jika berdoa kepada-Nya Dia mengabulkan doaku, dan jika bersumpah kepada-Nya Dia membenarkan sumpahku. Aku meminta kepada-Nya agar menempatkanku di udara maka Dia menempatkanku.
Mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir berkata memberitakan kepada kami Al-Husayn bin Ahmad bin Thalhah dan mengabarkan kepada kami Ali bin Muhammad bin Hasun berkata memberitakan kepada kami Ahmad bin Ali bin Abi Utsman keduanya berkata memberitakan kepada kami Qadhi Abu Al-Qasim bin Al-Mundzir berkata memberitakan kepada kami Al-Husayn bin Shafwan berkata menceritakan kepada kami Abu Bakr Al-Qurasyi berkata menceritakan kepadaku Salamah bin Syabib berkata menceritakan kepada kami Sahl bin Ashim dari Sulaym bin Maymun dari Al-Mu’afa bin Imran dari Idris berkata, aku mendengar Wahb bin Munabbih berkata: Dahulu di Bani Israil ada dua orang laki-laki, ibadah keduanya sampai pada tingkat berjalan di atas air. Ketika keduanya sedang berjalan di laut, tiba-tiba keduanya melihat seorang laki-laki berjalan di udara. Maka keduanya bertanya kepadanya: Wahai hamba Allah, dengan apa engkau mencapai kedudukan ini? Ia menjawab: Dengan hal mudah dari dunia, aku menyapih diriku dari syahwat, menahan lisanku dari hal yang tidak menjadi urusanku, berminat pada apa yang mengajakku kepadanya, dan melazimkan diam. Maka jika aku bersumpah kepada Allah Dia membenarkan sumpahku, dan jika meminta kepada-Nya Dia memberi kepadaku.
Mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi berkata memberitakan kepada kami Hamad bin Ahmad Al-Haddad berkata memberitakan kepada kami Abu Nu’aim Al-Hafizh berkata menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Ja’far berkata menceritakan kepada kami Ibnu Muhammad bin Al-Hajjaj berkata menceritakan kepada kami Muhammad bin Ali bin Khalaf berkata menceritakan kepada kami Zuhayr bin Abbad berkata menceritakan kepada kami Manshur bin Ammar berkata, berkata Sulayman bin Daud alaihissalam: Yang mengalahkan hawa nafsunya lebih kuat daripada orang yang menaklukkan kota sendirian.
Mengabarkan kepada kami Abu Bakr bin Habib Ash-Shufi berkata memberitakan kepada kami Ali bin Abi Shadiq Al-Hayri berkata memberitakan kepada kami Abu Abdullah bin Bakuwayh Asy-Syirazi berkata mengabarkan kepadaku Abu Ya’qub Al-Kharrath berkata memberitakan kepada kami Abu Muhammad Al-Ghauthi berkata mengabarkan kepadaku Utsman bin Ali Al-Kasyi berkata mengabarkan kepadaku Nabhan bin Al-Mughallas berkata mengabarkan kepadaku Hudzayfah bin Qatadah Al-Mar’asyi berkata: Aku berada di kapal lalu kapal rusak dan hancur bersama kami, maka aku dan seorang wanita jatuh di atas sebuah papan dari papan-papan kapal, kami tinggal selama tujuh hari. Maka wanita itu berkata: Aku haus. Lalu aku meminta kepada Allah Taala agar memberinya minum, maka turunlah kepada kami dari langit sebuah rantai yang padanya tergantung sebuah gelas berisi air, lalu ia minum.
Maka aku mengangkat kepalaku melihat rantai itu, lalu aku melihat seorang laki-laki duduk di udara bersila. Maka aku bertanya: Siapa engkau? Ia menjawab: Dari kalangan manusia. Aku bertanya: Apa yang membawamu mencapai kedudukan ini? Ia menjawab: Aku mengutamakan kehendak Allah atas hawa nafsuku, maka Dia mendudukkanku sebagaimana engkau lihat.
Mengabarkan kepada kami Abu Al-Qasim Al-Hariri dari Abu Thalib Al-Asyari berkata menceritakan kepada kami Mubadir bin Ubaydillah Ash-Shufi berkata, aku mendengar sebagian sahabat-sahabat kami berkata: Aku melihat sebuah kamar di udara dan di dalamnya seorang laki-laki, lalu aku bertanya kepadanya tentang keadaannya yang membawanya sampai ke kedudukan itu. Maka ia menjawab: Aku meninggalkan hawa nafsu maka aku dimasukkan ke dalam udara.
Mengabarkan kepada kami Muhammad bin Nashir berkata memberitakan kepada kami Al-Mubarak bin Abdul Jabbar berkata memberitakan kepada kami Ali bin Umar Al-Qazwini dan Al-Husayn bin Ali Al-Jawhary dan Ali bin Al-Muhsin At-Tanukhi mereka berkata memberitakan kepada kami Abu Umar bin Huwayyih berkata menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf berkata menceritakan kepada kami Ja’far bin Muhammad Al-Makhrami berkata menceritakan kepadaku Sa’id bin Shalih dari Abdullah bin Ash-Shalt berkata, berkata Mu’awiyah: Kemuliaan adalah meninggalkan kelezatan dan durhaka terhadap hawa nafsu.
Mengabarkan kepada kami Muhammad bin Nashir dan Abdullah bin Ali keduanya berkata memberitakan kepada kami Thirad bin Muhammad berkata memberitakan kepada kami Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Bisyran berkata menceritakan kepada kami Al-Husayn bin Shafwan berkata menceritakan kepada kami Abu Bakr Al-Qurasyi berkata menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Wafid berkata menceritakan kepada kami Faraj bin Fadhalah dari Mu’awiyah bin Shalih dari Abu Ad-Darda berkata: Ketika pagi tiba pada seseorang, berkumpullah hawa nafsunya dan amalnya. Jika amalnya mengikuti hawa nafsunya maka harinya adalah hari yang buruk, dan jika hawa nafsunya mengikuti amalnya maka harinya adalah hari yang saleh.
Mengabarkan kepada kami Abu Bakr Ash-Shufi berkata memberitakan kepada kami Ali bin Abi Shadiq berkata memberitakan kepada kami Ibnu Bakuwayh berkata menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Ja’far berkata menceritakan kepada kami Ibrahim bin Muhammad bin Al-Harits berkata menceritakan kepada kami Sulayman bin Daud berkata menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulayman berkata, aku mendengar Malik bin Dinar berkata: Barangsiapa yang mengalahkan syahwat dunia, maka dialah yang ditakuti syaitan dari bayangannya.
Mengabarkan kepada kami Abdul Khaliq bin Ahmad berkata memberitakan kepada kami Al-Mubarak bin Abdul Jabbar berkata memberitakan kepada kami Muhammad bin Ali bin Al-Fath berkata memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Akhi Maymi berkata memberitakan kepada kami Al-Husayn bin Shafwan berkata menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Al-Qurasyi berkata menceritakan kepadaku Al-Abbas bin Al-Fadhl berkata menceritakan kepada kami As-Sari bin Yahya berkata, aku mendengar Malik bin Dinar berkata: Seburuk-buruk hamba adalah hamba yang perhatiannya adalah hawa nafsunya dan perutnya.
Berkata Al-Qurasyi dan menceritakan kepadaku Abu Ali Al-Marwazi berkata memberitakan kepada kami Abdan bin Utsman berkata memberitakan kepada kami Abdullah berkata memberitakan kepada kami Sa’id bin Abi Ayyub berkata menceritakan kepadaku Bakr bin Amr dari Shafwan bin Sulaym berkata: Sungguh akan datang kepada manusia suatu zaman yang perhatian salah seorang mereka di dalamnya adalah perutnya dan agamanya adalah hawa nafsunya.
Memberitakan kepada kami Ali bin Ubaydillah berkata memberitakan kepada kami Abdul Wahid bin Ali bin Fahd berkata memberitakan kepada kami Abu Al-Fath bin Abi Al-Fawaris berkata memberitakan kepada kami Umar bin Ahmad berkata menceritakan kepada kami Ubaydillah bin Abdurrahman berkata menceritakan kepada kami Zakariya bin Yahya berkata menceritakan kepada kami Al-Ashma’i berkata, aku mendengar seorang Arab Badui berkata: Jika padamu meragukan dua perkara, engkau tidak tahu mana yang lebih benar, maka salahilah yang paling dekat dari hawa nafsumu, karena sesungguhnya paling banyak terjadi kesalahan adalah dengan mengikuti hawa nafsu.
Mengabarkan kepada kami Abu Al-Mu’ammar Al-Anshari berkata memberitakan kepada kami Al-Mubarak bin Abdul Jabbar berkata memberitakan kepada kami Al-Hasan bin Ahmad Al-Baqilani berkata memberitakan kepada kami Abu Al-Husayn Muhammad bin Ahmad Al-Muhamili berkata menceritakan kepada kami Abu Ja’far bin Bariyyah berkata menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf berkata menceritakan kepada kami Ahmad bin Al-Harits Al-Khazzaz berkata menceritakan kepada kami Al-Madaini berkata, berkata Ibnu As-Sammak: Jika engkau mau aku beritahu tentang penyakitmu, dan jika engkau mau aku beritahu tentang obatmu. Penyakitmu adalah hawa nafsumu, dan obatmu adalah meninggalkan hawa nafsumu.
Dan dengan sanad menceritakan kepada kami Ibnu Khalaf berkata menceritakan kepada kami Abu Muhammad At-Tamimi berkata menceritakan kepada kami Abu Al-Hasan Al-Madaini berkata, berkata seorang laki-laki kepada Al-Hasan: Wahai Abu Sa’id, jihad mana yang paling utama? Ia menjawab: Jihadmu terhadap hawa nafsumu.
Mengabarkan kepada kami Ibnu Habib berkata menceritakan kepada kami Ibnu Abi Shadiq berkata memberitakan kepada kami Ibnu Bakuwayh berkata menceritakan kepada kami Ar-Riyasyi dari Al-Ashma’i berkata: Aku lewat di seorang Arab Badui yang padanya sakit mata yang parah dan air matanya mengalir, maka aku bertanya: Mengapa engkau tidak mengusap matamu? Ia menjawab: Tabib melarangku, dan tidak ada kebaikan pada orang yang jika dilarang tidak terlarang dan jika diperintah tidak menaati. Maka aku bertanya: Apakah engkau tidak menginginkan sesuatu? Ia menjawab: Aku menginginkan tetapi aku menahan diri, karena sesungguhnya penghuni neraka syahwat mereka mengalahkan maka mereka tidak menahan diri sehingga binasa.
Mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir berkata memberitakan kepada kami Abdul Qadir bin Muhammad berkata memberitakan kepada kami Abu Ishaq Al-Barmaki berkata memberitakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman Az-Zuhri berkata menceritakan kepadaku ayahku berkata menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Abbas berkata, aku mendengar Wahb bin Nu’aim berkata, berkata Bisyr: Ketahuilah bahwa bencana semuanya ada dalam hawa nafsumu, dan kesembuhan semuanya ada dalam menyelisihinya.
Mengabarkan kepada kami Umar bin Zhafar berkata memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad berkata menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Ali berkata menceritakan kepada kami Ibnu Jahdham berkata menceritakan kepada kami Abu Bakr An-Naqqasy berkata menceritakan kepada kami Idris bin Abdul Karim berkata menceritakan kepada kami Khalaf bin Hisyam berkata, aku mendengar Al-Fudhail bin Iyadh berkata: Barangsiapa yang dikuasai oleh syahwat-syahwat, maka terputuslah darinya sumber-sumber taufik.
Mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir berkata memberitakan kepada kami Ali bin Ahmad bin Al-Basri dari Abu Abdullah bin Baththah berkata menceritakan kepadaku Abu Shalih berkata menceritakan kepadaku Al-Husayn bin Abdul Aziz berkata menceritakan kepada kami Sa’dan bin Yazid berkata, berkata kepadaku Sunayd: Aku mendengar Hajjaj berkata: Kekufuran ada dalam empat hal: dalam kemarahan, syahwat, keserakahan, dan ketakutan. Kemudian berkata Hajjaj: Aku melihat darinya dua hal, seorang laki-laki yang marah lalu membunuh ibunya, dan aku melihat seorang laki-laki yang jatuh cinta lalu menjadi Nasrani.
Mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir berkata memberitakan kepada kami Al-Mubarak bin Abdul Jabbar berkata memberitakan kepada kami Al-Jawhary berkata menceritakan kepada kami Ibnu Huwayyih dari Ibnu Al-Murzaban berkata menceritakan kepadaku Ahmad bin Abdurrahman dari Al-Abbas bin Al-Fadhl Al-Hasyimi berkata menceritakan kepadaku Muhammad bin Ali bin Khalaf berkata menceritakan kepadaku Husayn bin Hasan Al-Asadi dari ayahnya berkata: Abdullah bin Hasan bin Hasan sedang thawaf di Baitullah lalu melihat seorang wanita cantik, maka ia berjalan di sampingnya kemudian berkata:
Aku mencintai cinta agama, sedangkan kelezatan-kelezatan menarik hatiku Maka bagaimana untukku antara cinta kelezatan dan agama
Maka wanita itu berkata kepadanya: Tinggalkan salah satunya niscaya engkau akan mendapat yang lain. Dan diriwayatkan kepada kami hikayah ini dengan cara yang lain selain ini.
Maka sampai kepada kami dari Umar bin Syabbah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Ghassan Ahmad bin Utsman dari ayahnya, dia berkata: Abdullah bin Hasan bertemu dengan seorang wanita cantik ketika sedang thawaf. Ketika wanita itu melihat dirinya dan kegagahannya, dia condong kepadanya dan menginginkannya. Maka Abdullah menghadap kepadanya dan berkata:
Aku mencintai kecintaan agama, padahal kenikmatan-kenikmatan duniawi menarik bagiku Lalu bagaimana bagiku antara kecintaan pada kenikmatan dan agama? Jiwaku menghiasi bagiku dunia dan perhiasannya Sedangkan yang menahan diriku dari rasa takut akan kematian membuatku berbalik arah
Maka wanita itu meninggalkannya dan berlalu.
Telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ali bin Tsabit, dia berkata: telah mengabarkan kepadaku Ahmad bin Umar bin Ruh, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ubaidillah bin Ahmad al-Miqri, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Abi Said, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad yaitu Ibnu Fahm, dia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Ishaq al-Mushili, dia berkata: al-Mu’tashim berkata kepadaku: “Wahai Ishaq, apabila hawa nafsu menang, maka akal akan hilang.”
Telah mengabarkan kepada kami Abdul Khaliq bin Ahmad, dia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Mubarak bin Abdul Jabbar, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ali bin al-Fath, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Akhi Maimi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Husain bin Shafwan, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Idris, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abi al-Hawari, dia berkata: aku mendengar Abu Sulaiman ad-Darani tentang firman Allah Azza wa Jalla “Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera” (Surat al-Insan: 12), dia berkata: mereka bersabar dari syahwat-syahwat.
Telah mengabarkan kepada kami Umar bin Zhafar, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Ali, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Jahdham, dia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Mufid, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ahmad, dia berkata: aku mendengar Muhammad bin Muhammad bin Abi al-Ward berkata: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memiliki hari yang tidak akan selamat dari keburukannya orang yang tunduk pada hawa nafsunya.
Dan sesungguhnya orang yang paling lambat bangkit pada hari kiamat adalah orang yang terpuruk karena syahwat.
Dan sesungguhnya ketika akal-akal berlari di medan-medan pencarian, maka yang paling beruntung dari mereka yang menuntutnya adalah sesuai dengan kadar kesabaran yang dibawanya.
Dan sesungguhnya akal adalah tambang dan pemikiran adalah beliung.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Habib, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Abi Shadiq, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Bakuwaih, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Bakr, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad al-Maristani, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sahl, dia berkata: aku mendengar Yahya bin Mu’adz berkata: surga dilindungi dengan kesulitan-kesulitan padahal engkau membencinya, dan neraka dilindungi dengan syahwat-syahwat padahal engkau mencarinya. Maka engkau tidak lain seperti orang sakit yang sakitnya sangat parah, jika dia menyabarkan dirinya atas kepahitan obat, dia akan mendapatkan kesehatan dengan kesabaran, dan jika jiwanya tidak tahan dengan apa yang dialami, maka penyakit yang melemahkan akan berkepanjangan padanya.
Ibnu Bakuwaih berkata: dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Daud, dia berkata: aku mendengar al-Hasan bin Alawiyah berkata: aku mendengar Yahya bin Mu’adz dan dikatakan kepadanya: siapakah manusia yang paling kuat tekadnya? Dia berkata: orang yang mengalahkan hawa nafsunya.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Husain ash-Shairafi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad al-Jauhari, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Haiwayh, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar bin Khalaf, dia berkata: telah mengabarkan kepadaku Said bin al-Hasan al-Asadi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Walid bin Hisyam al-Qahdhami, dia berkata: Khalaf bin Khalifah masuk menemui Sulaiman bin Habib bin al-Muhallab di al-Ahwaz, dan di sisi Sulaiman ada budak perempuannya yang dipanggil al-Badr, salah satu budak perempuan yang paling cantik wajahnya dan paling sempurna. Maka Sulaiman berkata kepada Khalaf: bagaimana menurutmu budak perempuan ini? Maka dia berkata: semoga Allah memperbaiki sang Amir, mataku tidak pernah melihat budak perempuan yang lebih cantik darinya.
Maka dia berkata: pegang tangannya! Maka Khalaf berkata: aku tidak akan melakukannya dan tidak akan merampasnya dari sang Amir padahal aku tahu kekagumannya padanya.
Maka dia berkata: ambillah dia, celakalah engkau, meskipun aku kagum padanya, agar diketahui keinginanku bahwa aku yang menang. Maka dia memegang tangannya dan keluar sambil berkata:
Sungguh dia telah memberiku, menganugerahiku, dan mengutamakanku Tanpa aku meminta, Sulaiman Dia memberiku al-Badr, gadis yang bertubuh indah Sedangkan bulan purnama tidak diberikan kepada manusia maupun jin Sungguh aku tidak akan melupakan kebaikannya selamanya Hingga aku disembunyikan oleh liang kubur dan kain kafan
Telah memberitakan kepada kami Abdul Wahhab al-Hafizh, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin al-Hasan bin Ismail, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Marwan, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mihraz, dia berkata: aku mendengar Yahya bin Yahya berkata: sebagian ahli ibadah berkata: yang paling mulia dari ulama adalah yang lari dengan agamanya dari dunia dan menyulitkan kendalinya atas hawa nafsu.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Zhafar, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu as-Sarraj, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Aziz bin Ali, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Jahdham, dia berkata: aku mendengar Abu Ali al-Maghazili berkata: aku mendengar al-Hasan bin Muhammad al-Jurairi berkata: tunggangan yang paling cepat menuju surga adalah zuhud di dunia, dan tunggangan yang paling cepat menuju neraka adalah kecintaan pada syahwat. Maka barangsiapa yang duduk di atas pelana syahwat dari syahwat-syahwat, dia akan cepat dipimpin kepada apa yang dibencinya.
Ibnu Jahdham berkata: dan aku mendengar Muhammad bin Ali berkata: Ibnu Atha berkata: barangsiapa yang hawa nafsunya mengalahkan akalnya dan ketidaksabarannya mengalahkan kesabarannya, maka dia akan terhina.
Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar ash-Shufi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Sa’d al-Hairi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Bakuwaih, dia berkata: aku mendengar Ibnu Daduwaih, dia berkata: aku mendengar Abdullah bin Sahl berkata: aku mendengar Yahya bin Mu’adz berkata: barangsiapa yang memuaskan anggota tubuhnya dalam kelezatan-kelezatan, maka sungguh dia telah menanam untuk dirinya pohon penyesalan.
Telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar al-Khatib, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Jabbar bin Ali ath-Thabari, dia berkata: al-Hasan bin Ali ath-Thau’i berkata: berhala setiap manusia adalah hawa nafsunya, maka jika dia menghancurkannya dengan menentangnya, dia berhak mendapat nama futuwwah (kepahlawanan).
Telah mengabarkan kepada kami al-Mubarak bin Ali, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhammad bin al-Allaf, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim al-Kindi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin al-Junaid, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Zakariya bin Yazid, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Washil, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Mas’ud al-Mu’addib dari Abu Amr asy-Syaibani, dia berkata: seorang ulama dari kalangan ulama bertemu dengan seorang rahib dari kalangan rahib, maka dia berkata kepadanya: bagaimana menurutmu masa ini? Maka dia berkata: dia merusak badan-badan, memperbarui angan-angan, menjauhkan harapan, dan mendekatkan kematian. Dia berkata kepadanya: siapakah sahabat yang paling berbakti? Dia berkata: amal shalih. Dia berkata: lalu apa yang paling berbahaya? Dia berkata: jiwa dan hawa nafsu.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Zhafar, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Aziz bin Ali, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ali bin Jahdham, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ja’far al-Warraq, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Yunus ar-Rus’ani dari Ahmad bin Abi al-Hawari, dia berkata: seorang laki-laki bertemu dengan seorang rahib, maka dia berkata kepadanya: apa ibadah yang paling utama menurut kalian wahai rahib? Dia berkata: apa yang meletihkan badan-badan dan melonggarkan persendian karena kesinambungan. Dia berkata: lalu apa yang paling baik? Dia berkata: lemah lembut hati ketika mengingat. Dia berkata: lalu apa yang paling adil? Dia berkata: tunduk kepada kebenaran. Dia berkata: lalu apa haknya? Dia berkata: meninggalkan syahwat-syahwat dan menetapi pada kesendiriaan.
Dan dengan sanad yang sama dari Ibnu Abi al-Hawari, dia berkata: aku melewati seorang rahib lalu aku menemukannya kurus, maka aku berkata kepadanya: apakah engkau sakit? Dia berkata: ya. Aku berkata: sejak kapan? Dia berkata: sejak aku mengenal diriku sendiri. Aku berkata: apakah engkau berobat? Dia berkata: obat sudah membuatku lelah dan aku telah bertekad untuk kay (pengobatan dengan membakar). Aku berkata: apa itu kay? Dia berkata: menentang hawa nafsu.
Telah mengabarkan kepada kami Ismail bin Ahmad, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu an-Nuqur, dia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Mukhlish, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad as-Sukari, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Ya’la al-Munqiri, dia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Ashma’i dan al-Utbi, keduanya berkata: kami mendengar seorang Badui berkata: betapa kerasnya perubahan pendapat ketika ada hawa nafsu. Dia adalah kehinaan dan hanya saja orang salah menyebutnya, maka diturunkan untuknya dari jenisnya. Dan tidaklah mengerti apa yang aku katakan kecuali orang yang ditangisi oleh tempat-tempat tinggal dan puing-puing.
Telah mengabarkan kepada kami Umar bin Zhafar, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Aziz bin Ali, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Jahdham, dia berkata: aku mendengar Umar bin Rufail, syaikh yang shalih, berkata: aku melihat di Jabal al-Lakam seekor burung tergantung terbalik sambil berteriak. Maka aku mendekatinya untuk melepaskannya, ternyata di bawahnya ada batu besar yang tertulis pahatan di atasnya: penyakitmu adalah hawa nafsumu, maka jika engkau mengalahkan hawa nafsumu, maka itulah obatmu.
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Nashir, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin al-Hasan as-Salami, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ubaidillah bin Utsman, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Amr bin as-Sammak, dia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin Amr as-Subai’i, dia berkata: aku mendengar Bisyr bin al-Harits berkata kepada Hasan al-Fallas: barangsiapa yang meletakkan syahwat-syahwat dunia di bawah kakinya, maka setan takut pada bayangannya. Dan barangsiapa yang ilmunya mengalahkan hawa nafsunya, maka dia adalah orang yang sabar lagi mengalahkan. Dan ketahuilah bahwa semua bala adalah dalam hawa nafsumu, dan semua kesembuhan adalah dalam menentangnya.
Dan telah diceritakan dari Anusyirwan bahwa dia ditanya: apa yang paling berhak untuk diwaspadai? Maka dia berkata: yang paling besar bahayanya.
Dikatakan: jika tidak tahu kadar bahaya? Dia berkata: yang paling besar bagiannya dari hawa nafsu.
Dan dikatakan kepada al-Muhallab bin Abi Shufrah: dengan apa engkau mencapai apa yang engkau capai? Dia berkata: dengan taat kepada kehati-hatian dan durhaka kepada hawa nafsu.
Dan Bisyr al-Hafi berkata: aku bertemu Ali al-Jarjarai di Jabal Lubnan di sebuah mata air, ketika dia melihatku dia berkata: karena dosaku aku bertemu dengan manusia hari ini.
Maka aku berlari mengikutinya dan berkata: berilah aku wasiat.
Maka dia berpaling kepadaku dan berkata: apakah engkau meminta wasiat? Peluk kemiskinan, bergaullah dengan kesabaran, musuhi hawa nafsu, bersih diri dari syahwat-syahwat, dan jadikan rumahmu lebih kosong dari liang kuburmu pada hari engkau dipindahkan kepadanya. Dengan inilah enak perjalanan kepada Allah Azza wa Jalla.
Abu Ali ad-Daqqaq berkata: barangsiapa yang menguasai syahwatnya pada masa mudanya, Allah akan menjadikannya raja pada masa tuanya, seperti Yusuf alaihissalam: “Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (Surat Yusuf: 90).
Dan Abdush-Shamad az-Zahid berkata: barangsiapa yang tidak tahu bahwa syahwat-syahwat adalah jebakan, maka dia adalah orang yang bermain-main.
Seorang Arab Badui berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, siapa yang takut kepada kematian akan terburu-buru mengejar kebaikan, dan siapa yang tidak mengendalikan dirinya dari syahwat akan terburu-buru menuju kebinasaan. Surga dan neraka ada di hadapanmu.”
Sebagian orang bijak berkata, “Orang yang paling adil adalah yang memihak akalnya dari hawa nafsunya.” Yang lain berkata, “Orang berakal adalah yang memiliki pengawas dari akalnya atas semua syahwatnya.”
Yang lain berkata, “Hawa nafsu adalah raja yang zalim dan penguasa yang kejam. Hati-hati tunduk kepadanya dan jiwa-jiwa patuh kepadanya.”
Yang lain berkata, “Jiwa apabila menginginkan sesuatu, ia akan condong kepadanya sehingga keberadaannya lebih banyak di tempat yang ia inginkan daripada di tubuhnya.”
Yang lain berkata, “Sesungguhnya segala sesuatu memiliki pangkal dasar, dan pangkal dasar hikmah adalah mengusir hawa nafsu dan menimbang amal perbuatan.”
Penyebutan Syair-syair yang Diucapkan dalam Mencela Hawa Nafsu
Al-Mubarak bin Ali memberitakan kepada kami, dia berkata: Fatimah binti Abdullah al-Khabari memberitakan kepada kami, dia berkata: Ali bin al-Hasan bin al-Fadhl memberitakan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Muhammad al-Katib memberitakan kepada kami, dia berkata: Ibnu al-Mughirah al-Jauhari memberitakan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Said ad-Dimasyqi menceritakan kepada kami, dia berkata: Az-Zubair bin Bakkar menceritakan kepada kami, dia berkata: Ali bin Shalih menceritakan kepadaku dari Amir bin Shalih, dia berkata: Al-Walid bin Yazid memasuki salah satu gereja di Syam lalu menulis di dindingnya dengan arang:
Aku tidak melihat kehidupan kecuali mengikuti jiwa dalam hawa nafsunya, baik salah maupun benar…
Maka Abdullah bin Ali melihat bait syair itu lalu menulis di bawahnya: Jika engkau tahu saat pagi bahwa engkau aman, bahwa kematian jika engkau tetap akan tetap Maka tetaplah pada hawa nafsumu sebagaimana engkau ridha, karena sesungguhnya tidak ada kenikmatan seperti itu dalam kenikmatan
Aku melihat dari sebagian orang terdahulu dalam makna ini: Dan dengan manusia hiduplah manusia dahulu, dan tidak pernah dari manusia kecuali ada yang diharapkan dan yang mengharap Dan tidak sama yang masih beranak-anak dengan yang meninggalkan masa kanak-kanak, dan sesungguhnya masa kanak-kanak untuk kehidupan seandainya tidak ada akibatnya
Ismail bin Ahmad memberitakan kepada kami, dia berkata: Ibnu an-Nuqur memberitakan kepada kami, dia berkata: Al-Mukhlish memberitakan kepada kami, dia berkata: Abu Muhammad as-Sukkari menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Ya’la al-Munqari menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Asma’i menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar seorang laki-laki berkata:
Sesungguhnya kehinaan adalah hawa nafsu, namanya dibalik, maka jika engkau mengikuti hawa nafsu maka engkau telah mendapat kehinaan
Penulis berkata: Ibnu al-Muqaffa’ ditanya tentang hawa nafsu, maka dia menjawab: “Kehinaan yang huruf nunnya dicuri.” Lalu seorang penyair menyusunnya dalam syair dan berkata:
Nun kehinaan dari hawa nafsu dicuri, maka jika engkau mengikuti hawa nafsu maka engkau telah mendapat kehinaan
Abdul Khaliq bin Ahmad memberitakan kepada kami, dia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Ali bin Abi al-Fath memberitakan kepada kami, dia berkata: Ibnu Akhi Maimi memberitakan kepada kami, dia berkata: Al-Husain bin Shafwan menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Bakr al-Qurasyi menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Hasan bin Salman al-Abli membacakan syair kepadaku:
Betapa banyak orang yang ditawan oleh syahwat dan dibunuh, celaka bagi yang diinginkan berbeda dengan yang baik Syahwat-syahwat manusia mewariskan kehinaan dan melemparkannya dalam bencana yang panjang
Ibnu Nashir memberitakan kepada kami, dia berkata: Ibnu Sawwar memberitakan kepada kami, dia berkata: Abu al-Qasim at-Tanukhi membacakan syair kepada kami, dia berkata: Ali bin Abdul Aziz bin Hajib an-Nu’man membacakan syair kepadaku:
Betapa banyak orang yang tertutupi dirusak oleh masa mudanya, lalu tersingkaplah penutupnya sehingga dilanggar Pemilik syahwat adalah budak, maka jika ia mengalahkan syahwat maka ia menjadi raja
Mereka membacakan syair untuk Ibnu al-Mubarak:
Dan termasuk bencana yang bencana memiliki tanda adalah tidak terlihat bagimu dari hawa nafsumu pelepasan Budak adalah budak jiwa dalam syahwatnya, dan orang merdeka kadang kenyang dan kadang lapar
Dan untuk Muhammad bin Abdullah bin Munadzir:
Sebaik-baik yang diusahakan oleh seseorang adalah takwa, maka jadikanlah ia sebagai bekal selain persediaan Dan aku melihat syahwat adalah kunci kebinasaan, maka jauhilah dan menjauh serta menjauhlah darinya
Dan untuk Shalih bin Abdul Quddus:
Durhakailah hawa nafsu, sesungguhnya hawa nafsu adalah kendaraan yang sulit setelah lemah lembut darinya yang hina Jika hari ini hawa nafsu mendatangkan kelezatan, maka besok darinya tangisan dan ratapan Antara apa yang terpuji di dalamnya dan apa yang mengundangmu pada celaan hanyalah sedikit
Dan untuk Ibnu ar-Rumi:
Ikutilah akal, sesungguhnya ia adalah hakim Allah, dan janganlah berjalan di jalan penentangannya Hawa nafsu dalam kelompoknya jika engkau perhatikan, bukanlah lawan bagi akal dalam pasukannya Jangan engkau merendahkan ketepatan pendapatmu untuk dicela atasnya dari orang yang kurang dalam ketepatannya
Yang lain berkata:
Jika engkau tidak mendurhakai hawa nafsu, hawa nafsu akan memimpinmu ke sebagian apa yang di dalamnya ada celaan atasmu
Yang lain berkata:
Dan aku meninggalkan sesuatu yang aku cintai dan menyenangkanku, aku takut akibat apa yang ada di dalamnya dari aib
Yang lain berkata:
Sesungguhnya cermin tidak memperlihatkan kepadamu cacat wajahmu dengan kejujurannya Dan demikian pula jiwamu tidak memperlihatkan kepadamu cacat jiwamu dengan hawa nafsunya
Yang lain berkata:
Dan setiap orang mengetahui tempat-tempat kecerdasannya, tetapi ia buta, tawanan hawa nafsunya Para penasehat menasehatinya dengan sungguh-sungguh, tetapi ia menolak menerima nasehat padahal ia melihatnya Hawa nafsu jiwanya membutakannya dari jalan kecerdasannya, dan ia melihat dengan pemahaman cacat-cacat orang lain
Bab Ketiga dalam Penyebutan Mujahah Jiwa, Menghisab dan Menegurnya
Ketahuilah, semoga Allah memberimu taufik, bahwa jiwa diciptakan atas dasar cinta kepada hawa nafsu, dan telah dijelaskan sebelumnya bahaya-bahayanya. Untuk itu, ia membutuhkan perjuangan dan penentangan. Jika tidak dicegah dari hawa nafsu, maka pemikiran akan menyerang untuk mencari apa yang dicintainya, lalu ia merasa senang dengan pendapat-pendapat yang rusak, angan-angan yang bohong, dan harapan-harapan yang mengherankan, khususnya jika masa muda yang merupakan cabang dari kegilaan mendukung dan tangan kekuasaan terbentang untuk mencapai yang diinginkan.
Muhammad bin Abdul Baqi al-Bazzaz memberitakan kepada kami, dia berkata: Abu Ya’la bin al-Farra’ memberitakan kepada kami, dia berkata: Ali bin Umar as-Sukkari memberitakan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin al-Hasan ash-Shufi memberitakan kepada kami, dia berkata: Al-Harits bin Syuraih menceritakan kepada kami.
Dan Ibnu al-Husain memberitakan kepada kami, dia berkata: Ibnu al-Madzhab memberitakan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Ja’far memberitakan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepadaku, dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Ali bin Ishaq menceritakan kepada kami. Dan Abdul Wahhab dan Ibnu Nashir memberitakan kepada kami, keduanya berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, dia berkata: Al-Hasan bin Ali al-Jauhari memberitakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Abdurrahman memberitakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin al-Qasim al-Anbari menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Yunus menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Sinan al-Harawi menceritakan kepada kami, mereka berkata: Abdullah bin al-Mubarak memberitakan kepada kami.
Dan Muhammad bin Nashir dan Abdullah bin Ali memberitakan kepada kami, keduanya berkata: Tharrad bin Muhammad memberitakan kepada kami, dia berkata: Ibnu Bisyran memberitakan kepada kami, dia berkata: Ibnu Shafwan memberitakan kepada kami, dia berkata: Abu Bakr al-Qurasyi menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Haitsam bin Kharijah menceritakan kepada kami, dia berkata: Baqiyyah bin al-Walid menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abu Bakr bin Abdullah bin Abi Maryam memberitakan kepada kami, dia berkata: Dhamrah bin Habib menceritakan kepadaku dari Syaddad bin Aus, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang cerdas adalah yang menghisab dirinya dan beramal untuk apa yang setelah kematian, dan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsu jiwanya dan berangan-angan kepada Allah.” Abu Bakr al-Qurasyi berkata, “yang mengikuti hawa nafsu jiwanya.” Dan Ibnu al-Anbari berkata, “Orang cerdas adalah yang menghisab jiwanya dan orang jahat” menggantikan orang lemah.
Dia berkata: Ahmad bin Yahya an-Nahwi berkata kepada kami: “Orang cerdas menurut orang Arab adalah orang berakal, dan cerdas adalah akal.”
Dan dia membacakan syair kepada kami:
Maka jadilah yang paling cerdas dari orang-orang cerdas jika engkau menjumpai mereka, dan jadilah orang bodoh jika engkau menjumpai orang-orang bodoh
Dia berkata: Dan sabdanya “yang menghisab dirinya” maknanya mengambil untuk dirinya dari dirinya, dari kesehatannya untuk sakitnya, dan dari kayanya untuk miskinnya.
Dan siapa yang meriwayatkan “yang memperbudak dirinya” maknanya yang memperbudak dirinya dan menghinakannya untuk ketaatan kepada Allah. Al-A’sya berkata: “Dia memperbudak ar-Rabab, jika mereka membenci agama dengan kemuliaan dan kebanggaan.” Maknanya: dia memperbudak ar-Rabab.
Abdullah bin Ali dan Muhammad bin Nashir memberitakan kepada kami, keduanya berkata: Ali bin Muhammad bin al-Allaf memberitakan kepada kami, dia berkata: Abdul Malik bin Bisyran memberitakan kepada kami, dia berkata: Abu Bakr al-Ajurri menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Muhammad al-Atsyasi menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Yahya al-Aquli menceritakan kepada kami, dia berkata: Ar-Rabi’ bin Ruh menceritakan kepada kami. Dan Ibnu Nashir memberitakan kepada kami, dia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, dia berkata: Abu Abdullah ash-Shuri memberitakan kepada kami, dia berkata: Abdurrahman bin Umar menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Ahmad as-Sa’di menceritakan kepada kami, dia berkata: Yusuf bin Yazid al-Qarathisi menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Mu’alla bin al-Walid menceritakan kepada kami, dia berkata: Yusuf bin Baqiyyah menceritakan kepada kami, dan lafaznya, keduanya berkata: Sa’d bin Sinan menceritakan kepada kami dari Abu az-Zahiriyyah dari Jubair bin Nufair dari Ibnu al-Bujair, dan dia adalah dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suatu hari tertimpa kelaparan yang sangat, maka beliau meletakkan batu di atas perutnya, kemudian berkata: “Ketahuilah, betapa banyak jiwa yang kenyang dan bersenang-senang di dunia akan lapar dan telanjang pada hari kiamat. Ketahuilah, betapa banyak orang yang memuliakan dirinya padahal ia menghinakannya. Ketahuilah, betapa banyak orang yang menghinakan dirinya padahal ia memuliakannya. Ketahuilah, betapa banyak orang yang bergelimang dan bersenang-senang dalam apa yang Allah anugerahkan kepada Rasul-Nya, tidak ada bagian baginya di sisi Allah. Ketahuilah, sesungguhnya amal surga adalah susah di tempat tinggi. Ketahuilah, sesungguhnya amal neraka adalah mudah di tempat landai. Ketahuilah, betapa banyak syahwat sesaat mewariskan kesedihan yang panjang.”
Ibnu al-Bujair tidak diketahui namanya kecuali ad-Daraquthni berkata bahwa namanya adalah Affan. Dan dalam sahabat ada kelompok yang tidak dikenal kecuali dengan nisbat kepada ayah mereka saja, di antara mereka Ibnu Tsa’labah, Ibnu Jariyah, Ibnu Jamil, Ibnu Hamathah, Ibnu Hanzhalah, Ibnu ar-Rasim, Ibnu Ayisy dan bukan Abdurrahman bin Ayisy, Ibnu Abs, Ibnu Isham, Ibnu Ghannam, Ibnu al-Fakih, Ibnu Mas’adah, Ibnu al-Muntafiq, Ibnu Nadhilah dan lain-lain.
Dan dalam sahabat ada yang terkenal dengan nisbat kepada ayahnya dengan pengetahuan namanya seperti Ibnu Zamil, Ibnu Sabrah, Ibnu Raslan, Ibnu asy-Syiyab, Ibnu A’idz, Ibnu al-Qusyaib, Ibnu al-Litbiyyah, semuanya namanya adalah Abdullah dan hanya terkenal dengan ayahnya.
Dan kesusahan adalah lawan kemudahan.
Dan rabwah adalah tempat yang tinggi dari bumi.
Yang dimaksud dari hadits adalah bahwa amal surga itu sulit dan amal neraka itu mudah, karena yang itu menentang tabiat dan ini sesuai dengannya.
Muhammad bin Nashir dan Abdullah bin Ali memberitakan kepada kami, keduanya berkata: Ali bin Muhammad memberitakan kepada kami, dia berkata: Abdul Malik bin Bisyran memberitakan kepada kami, dia berkata: Abu Bakr al-Ajurri menceritakan kepada kami, dia berkata: Ja’far al-Faryabi menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Musayyab bin Wadhih menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibnu al-Mubarak menceritakan kepada kami dari Haiwah bin Syuraih dari Abu Hani’ al-Khaulani dari Amr bin Malik dari Fadhalah bin Ubaid, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mujahid adalah yang berjihad melawan dirinya untuk Allah Azza wa Jalla.”
Sa’id bin Ahmad memberitakan kepada kami, dia berkata: Ibnu al-Basri memberitakan kepada kami, dia berkata: Al-Mukhlish memberitakan kepada kami, dia berkata: Al-Baghawi menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibnu Sha’id menceritakan kepada kami, dia berkata: Lauwin menceritakan kepada kami.
Dan al-Mubarak bin Ali memberitakan kepada kami, dia berkata: Ali bin Muhammad bin al-Allaf memberitakan kepada kami, dia berkata: Ali bin Ahmad al-Hammami menceritakan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Yusuf menceritakan kepada kami, dia berkata: Ismail bin Ishaq al-Qadhi menceritakan kepada kami, dia berkata: Musaddad menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abu al-Ahwash menceritakan kepada kami, dia berkata: Sa’id bin Masruq menceritakan kepada kami dari Abu Hazim dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukanlah orang kuat yang mengalahkan manusia, tetapi orang kuat adalah yang mengalahkan dirinya.” Lafaz Musaddad.
Abdurrahman bin Muhammad memberitakan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitakan kepada kami, dia berkata: Washil bin Hamzah ash-Shufi memberitakan kepada kami, dia berkata: Abu Sahl Abdul Karim bin Abdurrahman bin Muhammad memberitakan kepada kami, dia berkata: Khalaf bin Muhammad bin Ismail menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Hatim bin Nu’aim menceritakan kepada kami, dia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, dia berkata: Isa bin Musa menceritakan kepada kami dari al-Hasan yaitu Ibnu Hisyam dari Yahya bin al-Ala’, dia berkata: Laits menceritakan kepadaku dari Atha’ bin Abi Rabah dari Jabir, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang dari perangnya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada mereka: “Kalian telah datang dengan sebaik-baik kedatangan, dan kalian telah datang dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar.” Mereka bertanya, “Apakah jihad yang besar itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Jihad seorang hamba melawan hawa nafsunya.”
Ketahuilah bahwa sesungguhnya jihad melawan hawa nafsu lebih besar daripada jihad melawan musuh karena nafsu adalah sesuatu yang dicintai dan apa yang diserunya juga dicintai. Karena nafsu tidak menyeru kecuali kepada apa yang diinginkannya, dan memenuhi keinginan yang dicintai dalam perkara yang dibenci adalah sesuatu yang dicintai, apalagi jika ia menyeru kepada sesuatu yang dicintai.
Maka ketika keadaan berbalik dan dikehendaki untuk menyelisihi yang dicintai dalam apa yang diserunya dari hal yang dicintai, maka jihadnya menjadi sangat berat dan perkaranya menjadi sulit. Berbeda dengan jihad melawan orang-orang kafir, karena tabiat manusia mendorong untuk memusuhi musuh.
Ibn al-Mubarak berkata mengenai firman Allah Ta’ala “Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad” (QS. Al-Hajj: 78) katanya: “Itu adalah jihad melawan nafsu dan hawa nafsu.”
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Nashir dan Abdullah bin Ali, keduanya berkata: Telah memberitakan kepada kami Thirad, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ali bin Bisyran, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ibn Shafwan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr al-Qurasyi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ismail.
Dan telah mengabarkan kepada kami Ibn Nashir, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abdul Qadir bin Yusuf, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ibn al-Madzhab, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Bakr bin Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku.
Dan telah mengabarkan kepada kami Muhammad dan Abdullah bin Ali, keduanya berkata: Telah memberitakan kepada kami Ibn al-Allaf, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr al-Ajurri, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Banan bin Ahmad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Harun bin Abdullah, mereka berdua berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Ja’far bin Burqan dari Tsabit bin al-Hajjaj, ia berkata: Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Hitunglah diri kalian sebelum kalian dihitung, dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, karena sesungguhnya lebih ringan bagi kalian dalam perhitungan esok hari jika kalian menghitung diri kalian sendiri pada hari kiamat. Dan berhiaslah untuk hari pemaparan yang besar.” “Pada hari itu kalian dihadapkan (kepada Allah), tidak ada sesuatu pun dari (keadaan) kalian yang tersembunyi (bagi Allah).” (QS. Al-Haqqah: 18)
Telah mengabarkan kepada kami Ibn Nashir, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abdul Qadir bin Yusuf, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Ali at-Tamimi, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ibn Hamdan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Mush’ab bin Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Malik bin Anas dari Ishaq bin Abdullah bahwa Anas bin Malik berkata: Aku mendengar Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu pada suatu hari, aku keluar bersamanya hingga ia masuk ke sebuah kebun, lalu aku mendengarnya berkata sedangkan antara aku dan dirinya ada dinding: “Umar bin al-Khaththab, sungguh kamu harus bertakwa kepada Allah atau Dia akan menyiksamu.”
Dan dengan sanad yang sama, Abdullah bin Ahmad berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin al-Qasim, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami al-Mubarak dari al-Hasan, ia berkata: Orang yang paling ringan perhitungannya pada hari kiamat adalah orang-orang yang menghitung diri mereka sendiri untuk Allah di dunia. Mereka berhenti pada niat-niat dan perbuatan-perbuatan mereka. Jika yang mereka niatkan adalah untuk Allah, mereka lanjutkan, dan jika bertentangan dengan-Nya, mereka menahan diri.
Sesungguhnya yang berat perhitungannya pada hari kiamat adalah orang-orang yang sembarangan dalam urusan di dunia, mereka menjalaninya tanpa perhitungan, lalu mereka mendapati Allah telah menghitung bagi mereka seberat dzarrah.
Kemudian ia membaca: “Celakalah kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar, melainkan ia mencatatnya.” (QS. Al-Kahf: 49)
Telah mengabarkan kepada kami Ibn Nashir dan Abdullah bin Ali, keduanya berkata: Telah memberitakan kepada kami Ibn al-Allaf, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sha’id, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibn al-Mubarak, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Yahya bin al-Mukhtar dari al-Hasan, ia berkata: Sesungguhnya orang beriman adalah orang yang teguh terhadap dirinya sendiri, ia menghitung dirinya untuk Allah. Sesungguhnya ringannya perhitungan pada hari kiamat bagi suatu kaum adalah karena mereka telah menghitung diri mereka di dunia. Dan sesungguhnya beratnya perhitungan pada hari kiamat bagi suatu kaum adalah karena mereka mengambil urusan ini tanpa perhitungan.
Sesungguhnya orang beriman, kadang ia terkejut oleh sesuatu yang mengagumkannya, lalu ia berkata: “Demi Allah, sungguh aku menginginkanmu dan engkau adalah kebutuhanku, tetapi demi Allah tidak ada jalan menuju kepadamu. Jauh, jauh sekali! Telah dihalangi antara aku dan dirimu.” Dan kadang tergelincir darinya sesuatu, lalu ia kembali kepada dirinya dan berkata: “Apa yang aku inginkan dengan ini? Apa urusanku dengan ini? Demi Allah, aku tidak akan kembali kepada ini selamanya insya Allah.”
Sesungguhnya orang-orang beriman adalah kaum yang diikat oleh Al-Quran dan ia menghalangi antara mereka dengan kebinasaan mereka.
Sesungguhnya orang beriman adalah tawanan di dunia yang berusaha membebaskan lehernya. Ia tidak merasa aman dari sesuatu pun hingga ia berjumpa dengan Allah. Ia mengetahui bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban atas pendengarannya, penglihatannya, lisannya, dan anggota tubuhnya.
Dan dengan sanad yang sama, al-Ajurri berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibn Makhlad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ibrahim, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Muqatil, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Aun bin Abi Syaddad dari al-Hasan dalam wasiat Luqman kepada anaknya: “Wahai anakku, sesungguhnya iman adalah pemimpin, amal adalah penggerak, dan nafsu itu keras kepala. Jika penggeraknya lemah, ia akan tersesat dari jalan, dan jika pemimpinnya lemah, ia akan keras kepala. Jika keduanya berkumpul, ia akan lurus.
Sesungguhnya nafsu jika diberi harapan, ia akan berharap terus. Jika diserahkan kepadanya urusan, ia akan merusak. Jika engkau bawa ia kepada perintah Allah, ia akan baik. Dan jika engkau tinggalkan urusan kepadanya, ia akan rusak.
Maka waspadalah terhadap nafsumu dan curigailah ia terhadap agamamu. Tempatkan ia pada posisi orang yang tidak ada kebutuhan kepadanya namun engkau tidak bisa lepas darinya.
Sesungguhnya orang bijaksana menghinakan nafsunya dengan hal-hal yang tidak menyenangkan hingga ia mengakui kebenaran. Sedangkan orang bodoh membiarkan nafsunya memilih akhlak, maka apa yang disukainya ia sukai, dan apa yang dibencinya ia benci.”
Dan dengan sanad yang sama, al-Ajurri berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad bin Abdul Hamid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Harun bin Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sayyar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin al-Aswad, ia berkata: Aku mendengar Qatadah berkata: “Wahai anak Adam, jika engkau menginginkan bahwa kebaikan tidak datang kecuali dari semangat, maka sesungguhnya nafsumu lebih dekat kepada kejenuhan, kelesuan, dan kebosanan. Tetapi orang beriman adalah orang yang bersemangat. Orang beriman adalah orang yang berhati-hati. Orang beriman adalah orang yang kuat. Sesungguhnya orang-orang beriman adalah orang-orang yang bersemangat kepada Allah di malam dan siang hari. Demi Allah, tidaklah berhenti orang-orang beriman menyebut ‘Wahai Tuhan kami, wahai Tuhan kami’ secara sembunyi maupun terang-terangan hingga Dia mengabulkan bagi mereka.”
Dan dengannya, al-Ajurri berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdul Hamid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin Muhammad az-Za’farani, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab bin ‘Atha, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ubaidah an-Naji bahwa ia mendengar al-Hasan berkata: “Perbaruikanlah hati-hati ini karena ia cepat lapuk. Dan ketukanlah jiwa-jiwa ini karena ia bangkit dan ia menuju kepada keburukan yang paling jauh. Sesungguhnya jika kalian mendekatinya, ia tidak akan meninggalkan bagi kalian sedikitpun dari amal-amal kalian. Maka bersabarlah dan kuatkanlah diri kalian, karena sesungguhnya ini hanyalah malam-malam yang terhitung dan sesungguhnya kalian adalah kafilah yang berhenti yang hampir salah seorang dari kalian dipanggil lalu ia menjawab dan tidak menoleh. Maka kembalilah dengan kebaikan apa yang ada di hadapan kalian.
Sesungguhnya kebenaran ini telah melelahkan manusia dan menghalangi antara mereka dengan syahwat-syahwat mereka. Tidaklah bersabar atas kebenaran ini kecuali orang yang mengetahui keutamaannya dan mengharap akibatnya.”
Dan dengannya, al-Ajurri berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Dawud, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu’aib bin Abdul Hamid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Warqa dari Ibn Abi Najih dari Mujahid tentang firman-Nya “Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)” (QS. Al-Qiyamah: 2), ia berkata: Ia menyesali apa yang telah lewat dan mencela dirinya sendiri.
Abu Bakr bin Abi Dawud berkata: Dan telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Ja’far bin Burqan dari Maimun bin Mihran, ia berkata: Tidaklah seseorang menjadi bertakwa hingga ia menghitung dirinya sendiri sebagaimana perhitungannya terhadap rekannya.
Telah mengabarkan kepada kami Ibn Nashir, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Rizqullah dan Thirad, keduanya berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu al-Husain bin Bisyran, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ibn Shafwan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr al-Qurasyi, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Syuraih bin Yunus, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Hayyan dari Ja’far bin Burqan dari Maimun bin Mihran, ia berkata: Tidaklah seseorang menjadi bertakwa hingga ia terhadap dirinya sendiri lebih keras dalam menghitung daripada rekan terhadap rekannya.
Dan dengan sanad yang sama, Abu Bakr al-Qurasyi berkata: Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Khiddasy dari Hammad bin Zaid dari Raziq bin Radih dari Salamah bin Manshur dari seorang bekas budak mereka yang pernah menemani al-Ahnaf bin Qais, ia berkata: Aku menemaninya, dan kebanyakan shalatnya di malam hari adalah doa. Ia datang kepada lampu lalu meletakkan jarinya kemudian berkata: “Aduh.” Kemudian ia berkata: “Wahai Hunaif, apa yang mendorongmu kepada apa yang kamu lakukan pada hari itu? Apa yang mendorongmu kepada apa yang kamu lakukan pada hari itu?”
Dan dengannya, al-Qurasyi berkata: Telah menceritakan kepadaku Ismail bin Ibrahim, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Amir bin Yasar dari Malik bin Dinar, ia berkata: Sesungguhnya suatu kaum dari Bani Israil berada di masjid mereka, lalu datanglah seorang pemuda hingga berdiri di pintu masjid. Lalu ia berkata: “Bukan seperti aku ini yang masuk bersama kalian. Aku adalah pelaku ini, aku adalah pelaku itu,” ia merendahkan dirinya. Maka Allah menurunkan wahyu kepada nabi mereka: “Si fulan adalah orang yang jujur.”
Dan dengannya, al-Qurasyi berkata: Telah menceritakan kepada kami Sa’d bin Sulaiman dari Muhammad bin Yazid bin Hubaisy, ia berkata: Wahb bin al-Ward berkata: Ketika seorang wanita sedang thawaf pada suatu hari, ia berkata: “Ya Tuhanku, telah pergi kenikmatan-kenikmatan dan tersisa akibat-akibatnya. Ya Tuhanku, Mahasuci Engkau, sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyayang dari semua yang menyayangi. Ya Tuhanku, tidak ada hukuman bagimu kecuali neraka.”
Maka berkatalah teman wanitanya: “Wahai saudariku, engkau memasuki rumah Tuhanmu hari ini?” Ia menjawab: “Demi Allah, aku tidak melihat kedua kaki ini”—dan ia menunjuk kepada kedua kakinya—”pantas untuk thawaf mengelilingi rumah Tuhanku. Bagaimana aku melihat keduanya pantas menginjak rumah Tuhanku sedangkan aku telah mengetahui ke mana keduanya melangkah dan di mana keduanya melangkah?”
Dan dengannya, al-Qurasyi berkata: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdullah bin Muhammad dari Abdul Jabbar bin an-Nadhr, ia berkata: Hassan bin Abi Sinan melewati sebuah bangunan bertingkat lalu berkata: “Kapan ini dibangun?” Kemudian ia menghadap kepada dirinya sendiri dan berkata: “Kamu bertanya tentang apa yang tidak penting bagimu? Aku akan menghukummu dengan puasa setahun.” Maka ia pun berpuasa setahun.
Ia berkata: Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Yunus bin Yahya dari Mankadir bin Muhammad dari ayahnya bahwa Tamim ad-Dari tidur pada suatu malam dan tidak bangun untuk tahajjud di dalamnya, maka ia bangun selama setahun tidak tidur di dalamnya sebagai hukuman atas apa yang ia lakukan.
Telah mengabarkan kepada kami Ibn Nashir, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami al-Jauhari, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ibn Hayuwaih, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Bakr bin al-Anbari, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah ath-Thusi, ia berkata: Mu’awiyah bin Hisyam bin Abdul Malik berkata kepada Khalid bin Shafwan: Dengan apa al-Ahnaf bin Qais mencapai apa yang ia capai di tengah kalian? Maka ia menyebutkan pembicaraan yang panjang hingga ia berkata: Ia adalah orang yang paling keras terhadap dirinya sendiri.
Telah mengabarkan kepada kami Ibn Nashir dan Ali bin Abi Umar, keduanya berkata: Telah memberitakan kepada kami Rizqullah dan Thirad, keduanya berkata: Telah memberitakan kepada kami Ibn Bisyran, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibn Shafwan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr al-Qurasyi, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Sa’id ad-Darimi dari ayahnya, ia berkata: Dikatakan kepada seorang laki-laki: “Sifatkanlah kepada kami al-Ahnaf bin Qais.” Maka ia berkata: “Aku tidak melihat seorang pun yang lebih besar kekuasaannya terhadap dirinya sendiri daripada dia.”
Telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahhab, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Syuja’ bin Faris, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Syuja’ bin Ali, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdullah ad-Daqqaq, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami al-Husain bin Shafwan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr al-Qurasyi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin al-Haitsam, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hafs bin ‘Amr al-‘Umari dari Syaib bin Syaibah, ia berkata: Sulaiman bin Abdul Malik bin Hisyam berkata kepada Khalid bin Shafwan: Dengan apa al-Ahnaf bin Qais mencapai apa yang ia capai di tengah kalian? Ia berkata: Jika engkau mau aku kabarkan kepadamu tentang dia seribu hal, dan jika engkau mau aku potong pembicaraan tentangnya. Ia berkata: Potonglah. Ia berkata: Jika engkau mau tiga, jika engkau mau dua, dan jika engkau mau satu. Ia berkata: Berikan yang tiga. Ia berkata: Ia tidak tamak, tidak menyimpang, dan tidak menghalangi seorang pun dari haknya. Ia berkata: Berikan yang dua. Ia berkata: Ia diberi taufik untuk kebaikan dan dilindungi dari keburukan. Ia berkata: Berikan yang satu. Ia berkata: Aku tidak melihat seorang pun yang lebih kuat kekuasaannya terhadap dirinya sendiri daripada dia.
Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Umar, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Thirad, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ibn Bisyran, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibn Shafwan, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Bakr bin Ubaid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad al-Abdi dari Abdullah bin Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ibn Abi Syumailah, ia berkata: Seorang laki-laki yang dikenal dengan akal dan adabnya masuk menemui Abdul Malik bin Marwan. Lalu Abdul Malik berkata kepadanya: “Berbicaralah.” Maka ia berkata: “Tentang apa aku berbicara, sedangkan aku telah mengetahui bahwa setiap ucapan yang diucapkan oleh pembicara adalah tanggungan atasnya kecuali apa yang untuk Allah?” Maka Abdul Malik menangis, kemudian berkata: “Semoga Allah merahmatimu. Tidaklah berhenti manusia saling menasihati dan saling berwasiat.”
Dia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya manusia pada hari kiamat akan mengalami masa-masa sulit yang tidak akan selamat dari kepahitan dan kegetiran kecuali orang yang merelakan Allah dengan mengorbankan keinginan nafsunya.”
Ismail bin Ahmad mengabarkan kepada kami, dia berkata Ibnu An-Nuqur mengabarkan kepada kami, dia berkata Al-Mukhlis mengabarkan kepada kami, dia berkata Abu Muhammad As-Sukari menceritakan kepada kami, dia berkata Abu Ya’la Al-Munqari menceritakan kepada kami dari Al-Asma’i, dia berkata Al-Fadhl bin Abdul Malik menceritakan kepada kami, dia berkata Abdullah bin Al-Ahtam berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, awasilah nafsumu, karena sesungguhnya dalam menentangnya terdapat petunjukmu.”
Ibnu Nashir dan Abdullah bin Ali mengabarkan kepada kami, keduanya berkata Tharad mengabarkan kepada kami, dia berkata Ibnu Bisyran mengabarkan kepada kami, dia berkata Ibnu Shafwan mengabarkan kepada kami, dia berkata Abdullah bin Muhammad Al-Qurasyi menceritakan kepada kami, dia berkata Muhammad bin Al-Husain menceritakan kepadaku, dia berkata Sulaiman bin Harb menceritakan kepada kami, dia berkata Mahdi bin Maimun menceritakan kepada kami dari Abdul Hamid sahabat Az-Ziyadi dari Wahb bin Munabbih bahwa seorang laki-laki beribadah selama beberapa waktu kemudian dia memiliki suatu hajat kepada Allah, maka dia berpuasa tujuh puluh pekan, pada setiap pekan dia makan sebelas butir kurma, kemudian dia meminta hajatnya namun tidak dikabulkan. Maka dia kembali mengoreksi dirinya dan berkata, “Darimu datang masalah ini, seandainya ada kebaikan padamu niscaya hajatmu dikabulkan.” Maka turunlah malaikat kepadanya dan berkata, “Wahai anak Adam, waktu ini lebih baik bagimu daripada ibadahmu yang telah berlalu, dan Allah telah mengabulkan hajatmu.”
Dengan sanad yang sama dia berkata Al-Qurasyi menceritakan kepada kami, dia berkata Ali bin Muhammad menceritakan kepada kami, dia berkata Abdullah bin Shalih menceritakan kepada kami, dia berkata Ya’qub bin Abdurrahman Al-Qari menceritakan kepadaku, dia berkata Muhammad bin Al-Munkadir berkata, “Aku meninggalkan Ziyad bin Abi Ziyad bekas budak Ibnu Iyyasy sementara dia sedang berbicara kepada dirinya sendiri di masjid, dia berkata, ‘Duduklah! Mau kemana kamu? Mau pergi kemana? Apakah kamu ingin keluar ke tempat yang lebih baik dari masjid ini? Lihatlah apa yang ada di dalamnya. Apakah kamu ingin melihat rumah si fulan dan rumah si fulan?'”
Dia berkata dan dia biasa berkata kepada dirinya sendiri, “Kamu tidak punya makanan selain roti dan minyak ini, dan kamu tidak punya pakaian selain dua pakaian ini, dan kamu tidak punya wanita selain nenek tua ini, apakah kamu ingin mati?” Maka dia (nafsunya) berkata, “Aku akan bersabar atas kehidupan ini.”
Dengan sanad yang sama dia berkata Al-Qurasyi menceritakan kepada kami, dia berkata Salamah bin Syabib menceritakan kepadaku, dia berkata Sahl bin Ashim menceritakan kepada kami dari Abu Yazid Ar-Raqi, dia berkata Hudzaifah bin Qatadah berkata, ditanyakan kepada seorang laki-laki, “Bagaimana kamu memperlakukan syahwatmu?” Dia berkata, “Tidak ada jiwa di bumi ini yang lebih aku benci selain jiwaku, maka bagaimana aku akan memberinya syahwatnya?”
Dengannya dia berkata Al-Qurasyi menceritakan kepada kami, dia berkata Abu Abdurrahman menceritakan kepadaku, dia berkata Sa’dan bin Samurah Al-Ijli menceritakan kepadaku, dia berkata aku mendengar Ahmad bin Az-Zarqan, dia berkata aku mendengar Abdullah bin Al-Mubarak berkata, “Sesungguhnya orang-orang shalih di masa lalu, jiwa mereka mengikuti mereka pada kebaikan dengan mudah, sementara jiwa kami hampir tidak mengikuti kami kecuali dengan terpaksa, maka sepatutnya kami memaksa jiwa kami.”
Ibnu Nashir mengabarkan kepada kami, dia berkata Abdul Qadir bin Muhammad mengabarkan kepada kami, dia berkata Al-Hasan bin Ali mengabarkan kepada kami, dia berkata Abu Bakar bin Malik mengabarkan kepada kami, dia berkata Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, dia berkata ayahku menceritakan kepada kami, dia berkata Hasyim bin Al-Qasim menceritakan kepada kami, dia berkata Ibnu Al-Mubarak menceritakan kepada kami, dia berkata Sufyan menceritakan kepada kami dari Yasir dari Jamilah bin Al-Harits bahwa dia biasa berkata, “Kendalikilah jiwa-jiwa ini seperti mengendalikan kuda dengan kekang, demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya aku memakai pakaian yang bernilai tiga dirham lalu aku tetap melihat dari ujung lenganku.”
Muhammad mengabarkan kepada kami, dia berkata Abdul Qadir mengabarkan kepada kami, dia berkata Ibnu Al-Madzhab mengabarkan kepada kami, dia berkata Ibnu Malik menceritakan kepada kami, dia berkata Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, dia berkata Al-Hasan bin Abdul Aziz menceritakan kepada kami, dia berkata Abdullah bin Yusuf mengabarkan kepada kami, dia berkata Muhammad bin Sulaiman bin Bilal bin Abi Ad-Darda menceritakan kepada kami bahwa ibunya Utsamah mengalami kebutaan, maka anaknya masuk menemuinya suatu hari setelah shalat lalu dia berkata, “Apakah kalian sudah shalat, anakku?” Dia berkata, “Ya.” Maka dia berkata:
Utsman, mengapa kamu lalai … Musibah besar telah menimpamu Tangisi shalat pada waktunya … Jika suatu hari kamu pernah menangis Dan tangisi Al-Quran ketika dibaca … Sungguh kamu dulu pernah membacanya Kamu membacanya dengan renungan … Dan air mata mengalir dari matamu Kini kamu tidak membacanya … Kecuali ada yang membacakannya untukmu Kesedihanku padamu sangat mendalam … Selama kamu hidup sepanjang hidupmu
Ali bin Abi Umar mengabarkan kepada kami, dia berkata Rizqullah dan Tharad mengabarkan kepada kami, keduanya berkata Ibnu Bisyran mengabarkan kepada kami, dia berkata Ibnu Shafwan mengabarkan kepada kami, dia berkata Abu Bakar Al-Qurasyi menceritakan kepada kami, dia berkata Maslamah bin Syabib menceritakan kepadaku, dia berkata Sahl bin Ashim menceritakan kepada kami dari Abu Rabi’ah, dia berkata Umar bin Abdul Aziz berkata, “Amal yang paling utama adalah yang dilakukan dengan memaksa jiwa.”
Umar bin Zhafar mengabarkan kepada kami, dia berkata Ja’far bin Ahmad mengabarkan kepada kami, dia berkata Abul Qasim Al-Azaji mengabarkan kepada kami, dia berkata Abul Hasan bin Jahdham mengabarkan kepada kami, dia berkata Abu Bakar An-Naqqasy berkata aku mendengar Umar bin Washil berkata, aku mendengar Sahl berkata, “Barangsiapa menemani nafsunya akan binasa, dan barangsiapa yang nafsunya menemaninya tidak akan selamat.”
Ibnu Jahdham berkata dan Al-Husain bin Al-Hasan bin Ma’bad menceritakan kepada kami, dia berkata Muhammad bin Al-Balkhi menceritakan kepada kami, dia berkata aku mendengar Muhammad bin Ahmad bin Sa’id berkata, aku mendengar Abu Bakar Al-Warraq berkata, “Mintalah bantuan dalam perjalananmu kepada Allah dengan meninggalkan apa yang menyibukkanmu dari Allah, dan tidak ada yang menyibukkanmu dari Allah seperti nafsumu yang berada di antara kedua rusukmu.”
Dia berkata dan Abul Qasim Al-Mukharrami menceritakan kepadaku, dia berkata aku mendengar Abu Ali Ar-Rudzabari berkata, “Nafsu diciptakan dengan perilaku buruk, sementara hamba diperintahkan untuk berpegang teguh pada adab. Nafsu berjalan dengan tabiatnya di medan kemaksiatan, sedangkan hamba berusaha keras mengendalikannya. Maka apabila dia membantunya, dia menjadi sekutunya dalam kerusakannya.”
Ibnu Jahdham berkata dan Khalaf bin Al-Hasan Al-Abbadani menceritakan kepadaku, dia berkata aku mendengar Samnun berkata, “Awal pertemuan hamba dengan Allah adalah meninggalkan nafsunya, dan awal perpisahan hamba dari Allah adalah berhubungan dengan nafsunya.”
Dia berkata dan Muhammad bin Ahmad Az-Zubairi menceritakan kepada kami, dia berkata Abu Bakar Al-Kanani menceritakan kepada kami, dia berkata Ali bin Sa’id berkata kepadaku, “Aku melihat dalam mimpi seorang wanita yang tidak mirip wanita-wanita dunia, maka aku berkata, ‘Siapa kamu?’ Dia berkata, ‘Bidadari.’ Aku berkata, ‘Nikahkanlah aku dengan dirimu.’ Dia berkata, ‘Lamarkanlah aku kepada tuanku.’ Aku berkata, ‘Berapa maharmu?’ Dia berkata, ‘Menahan nafsumu dari kebiasaan-kebiasaannya.’”
Ali bin Abi Umar mengabarkan kepada kami, dia berkata Rizqullah dan Tharad mengabarkan kepada kami, keduanya berkata Ibnu Bisyran mengabarkan kepada kami, dia berkata Ibnu Shafwan menceritakan kepada kami, dia berkata Abu Bakar bin Ubaid menceritakan kepada kami, dia berkata Salamah bin Syabib menceritakan kepada kami dari Ibrahim bin Al-Asy’ats mendengar Al-Fadhl bin Iyadh berkata tentang firman-Nya “Dan janganlah kamu membunuh dirimu” (An-Nisa: 29), keduanya berkata, “Janganlah kamu lalai dari dirimu, karena barangsiapa lalai dari dirinya maka sungguh dia telah membunuhnya.”
Abu Bakar Ash-Shufi mengabarkan kepada kami, dia berkata Ibnu Abi Shadiq mengabarkan kepada kami, dia berkata Ibnu Bakuwaih mengabarkan kepada kami, dia berkata aku mendengar Ahmad bin Ali Al-Buwaziji berkata, aku mendengar Abu Imran Al-Haditsi berkata, “Aku tidak mengulurkan tanganku sejak aku berakal dari Allah dan nafsuku memiliki bagian di dalamnya. Seandainya bukan karena Allah menitipkan jiwa-jiwa ini kepada kami untuk menjaganya bagi-Nya, niscaya kami letakkan di setiap puncak gunung sepotong darinya.”
Ibnu Nashir mengabarkan kepada kami, dia berkata Abu Bakar bin Khalaf mengabarkan kepada kami, dia berkata Abu Abdurrahman As-Sulami mengabarkan kepada kami, dia berkata Ahmad bin Abdullah bin Yusuf Al-Qarmisini mengabarkan kepada kami bahwa ayahnya menceritakan kepadanya, dia berkata Ali bin Abdul Hamid Al-Ghadha’iri menceritakan kepada kami, dia berkata aku mendengar As-Sari berkata, “Kejantanan yang paling kuat adalah kemenanganmu atas nafsumu, dan barangsiapa tidak mampu mendidik nafsunya sendiri, dia lebih tidak mampu lagi mendidik orang lain. Dan di antara tanda-tanda istidraj adalah kebutaan dari aib-aib nafsu.”
As-Sulami berkata dan aku mendengar Nashr bin Abi Nashr Al-Aththar berkata, aku mendengar Ahmad bin Sulaiman berkata, aku menemukan dalam bukuku dari Hatim Al-Asham berkata, “Kematian merah adalah menentang nafsu.”
As-Sulami berkata dan Muhammad bin Ahmad Ar-Razi mengabarkan kepada kami, dia berkata Al-Abbas bin Hamzah menceritakan kepada kami, dia berkata aku mendengar Ahmad bin Abi Al-Hawari berkata, “Barangsiapa tidak mengenal dirinya, maka dia dalam kekeliruan dari agamanya.”
As-Sulami berkata dan aku mendengar Manshur bin Abdullah berkata, aku mendengar Muhammad bin Hamid berkata, seorang laki-laki berkata kepada Ahmad bin Khadrawih, “Berilah aku nasihat.” Maka dia berkata, “Matikan nafsumu, niscaya kamu menghidupkannya.”
Dia berkata dan aku mendengar Abul Husain Al-Farisi berkata, aku mendengar Al-Hasan bin Alawiyyah berkata, Yahya bin Mu’adz berkata, “Kamu tidak akan mendapat keuntungan atas nafsumu dengan sesuatu yang lebih mulia daripada menyibukkannya pada setiap waktu dengan apa yang lebih utama baginya.”
Dia berkata dan aku mendengar Muhammad bin Ahmad Asy-Syabhi berkata, aku mendengar Ahmad bin Hamdun berkata, aku mendengar ayahku berkata, “Barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk tidak buta dari kekurangan nafsunya, hendaklah dia melakukannya.”
Dia berkata dan aku mendengar Abul Hasan Al-Farisi berkata, aku mendengar Al-Hasan bin Alawiyyah berkata, Muhammad bin Al-Fadhl berkata, “Tempatkan nafsumu pada posisi orang yang tidak membutuhkannya namun tidak bisa tanpanya, karena barangsiapa menguasai nafsunya dia akan mulia, dan barangsiapa dikuasai nafsunya dia akan hina.”
As-Sulami berkata dan Ahmad bin Muhammad bin Ya’qub Al-Harawi menceritakan kepada kami, dia berkata Ahmad bin Atha menceritakan kepadaku, dia berkata Abu Shalih menceritakan kepadaku, dia berkata Abu Sa’id Al-Kharraz berkata, “Perumpamaan nafsu seperti air yang menggenang, jernih dan bersih. Jika kamu menggerakkannya, tampaklah lumpur yang ada di bawahnya.”
Demikian pula nafsu, dia tampak ketika ada ujian, kefakiran, dan penentangan. Barangsiapa tidak mengenal apa yang ada dalam nafsunya, bagaimana dia mengenal Tuhannya?
Dia berkata dan aku mendengar Abul Husain Al-Farisi berkata, aku mendengar Abu Muhammad Al-Jurairi berkata, “Barangsiapa dikuasai oleh nafsu, dia menjadi tawanan dalam hukum syahwat, terkurung dalam penjara hawa nafsu. Allah mengharamkan atas hatinya manfaat-manfaat, sehingga dia tidak merasakan nikmat kalam-Nya dan tidak merasakan manisnya meskipun sering diulang di lisannya.”
Dia berkata dan aku mendengar Muhammad bin Abdullah Ar-Razi berkata, Muhammad bin Ahmad bin Salim Al-Bashri berkata, “Barangsiapa bersabar atas menentang nafsunya, Allah akan sampaiakan dia kepada maqam kedekatan-Nya.”
Aku membaca kepada Abul Qasim Al-Hariri dari Abu Thalib Al-Asyari, dia berkata Abdul Wahid bin Abdul Aziz At-Tamimi menceritakan kepada kami, dia berkata aku mendengar ayahku berkata, aku mendengar Abu Bakar bin Adh-Dharir Al-Muqri berkata, “Aku menentang syahwat-syahwat hingga syahwatku menjadi penentangan itu sendiri.”
Abdurrahman bin Muhammad mengabarkan kepada kami, dia berkata Ahmad bin Ali bin Tsabit mengabarkan kepada kami, dia berkata Ahmad bin Ali Al-Muhtasib mengabarkan kepadaku, dia berkata Muhammad bin Al-Husain Ash-Shufi mengabarkan kepada kami, dia berkata aku mendengar Muhammad bin Abdullah Ar-Razi berkata, aku mendengar Al-Jurairi berkata, aku mendengar Al-Junaid berkata, “Kami tidak mengambil tasawuf dari katanya saja, tetapi dari kelaparan, meninggalkan dunia, memutus kebiasaan-kebiasaan dan hal-hal yang dianggap baik.”
Ali bin Abdullah mengabarkan kepada kami, dia berkata Abdul Wahid bin Ali bin Fahd mengabarkan kepada kami, dia berkata Abul Fath bin Abil Fawaris mengabarkan kepada kami, dia berkata Al-Hasan bin Ahmad Ash-Shufi mengabarkan kepada kami, dia berkata Firas Al-Abid berkata, aku berkata kepada seorang rahib, “Berilah aku nasihat.” Maka dia berkata, “Lakukanlah apa yang dibenci nafsumu lalu tancapkanlah di hatimu, karena hal itu akan membawamu kepada apa yang kamu cintai. Dan jauhilah apa yang kamu cintai, karena hal itu akan menghentikanmu pada apa yang kamu benci.”
Penyebutan Syair-Syair yang Diucapkan dalam Hal Itu
Telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad Al-Qazzar, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar Al-Khatib, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Sa’id Ash-Shairafi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah Al-Ashfahani, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Qurasy, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Al-Husain bin Abdurrahman, ia berkata: Sa’id bin Wahb melakukan haji dengan berjalan kaki sehingga ia sangat lelah dan berkata:
Kedua kakiku menyusuri pasir bukit pasir Dan menginjak air keruh dari sumur yang sedikit airnya Wahai Tuhanku, suatu hari keduanya berjalan di atas keindahan Dunia dan di lembah yang subur Dan mendengar keindahan dari kecantikan Riuhnya kecapi seperti anak rusa Maka hitunglah yang itu dengan yang ini dan bersabarlah Dan ambillah dari setiap jenis dengan bagian Sesungguhnya aku hanya petang karena aku berdosa Maka mudah-mudahan Allah mengampuni dosaku
Telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Muhammad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ali bin Tsabit, ia berkata: telah melantunkan kepadaku Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad Asy-Syirazi sang pengkhotbah:
Apabila aku menaati nafsu dalam setiap kelezatan Aku dinisbatkan kepada selain akal dan kemuliaan Apabila aku menjawab nafsu dalam setiap ajakan Ia mengajakmu kepada perkara buruk yang diharamkan
Dan Abdullah bin Al-Mu’tazz berkata:
Berapa banyak orang celaka dari nafsunya Maka janganlah engkau dimakan oleh taringnya Dan jika ada kesempatan terhadap musuh Maka janganlah perbuatanmu terlihat kecuali dengannya Dan waspadalah dari penyesalan setelahnya Dan berharap yang lain, dan dari mana ia datang
Telah melantunkan kepadaku Abu Zaid bin Al-Hasan Ath-Thabari:
Apabila nafsu menuntutmu suatu hari dengan hajat Maka ada padanya jalan menuju keburukan Maka tinggalkanlah dan selahlilah apa yang engkau sukai, maka sesungguhnya Keinginanmu adalah musuh dan menyelisihinya adalah teman
Ketahuilah bahwa orang yang dikalahkan dengan mengikuti hawa nafsu dan nafsu adalah orang yang ditundukkan, dan oleh karena itu engkau mendapati dalam dirinya kehinaan karena tempat penundukan. Dan orang yang mengalahkan hawa nafsu memiliki kekuatan.
Oleh karena itu, kedudukannya agung dalam syariat dan di sisi makhluk.
Adapun dalam syariat, maka sesungguhnya mengalahkan hawa nafsu mewajibkan kebanggaan.
Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Abdullah, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu An-Nuqur, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh Al-Kattani, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Baghawi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Kamil bin Thalhah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu ‘Asyanah, ia berkata: Aku mendengar Uqbah bin Amir berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tuhan kami kagum kepada pemuda yang tidak memiliki kebodohan masa muda.”
Telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahhab dan Yahya bin Ali, keduanya berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad Ash-Shuraifini, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Al-Hasan bin Abdan, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Harun Al-Hadhrami dari Abdul Hamid Al-Bahrami dari Yazid bin Maisarah, ia berkata: Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Wahai pemuda yang meninggalkan syahwatnya karena Aku, engkau di sisi-Ku seperti sebagian malaikat-Ku.”
Telah mengabarkan kepada kami Al-Mubarak bin Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhammad bin Al-‘Allaf, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim Al-Kindi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Khara’ithi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Nashr bin Dawud, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Haitsam bin Kharijah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Isma’il bin ‘Ayyasy dari Abdurrahman bin ‘Adi dari Yazid bin Maisarah, ia berkata: Sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala berfirman: “Wahai pemuda yang meninggalkan syahwatnya karena Aku, yang menyia-nyiakan masa mudanya karena Aku, engkau di sisi-Ku seperti sebagian malaikat-Ku.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar bin Khalaf, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Abdurrahman As-Sulami, ia berkata: Aku mendengar Muhammad bin Abdullah bin Syadzan berkata: Aku mendengar Yusuf bin Al-Husain berkata: Aku mendengar Dzun Nun berkata: Allah ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang taat kepada-Ku, Aku menjadi walinya. Maka hendaklah ia percaya kepada-Ku dan hendaklah ia memutuskan kepada-Ku. Demi kemuliaan-Ku, seandainya ia meminta kepada-Ku untuk melenyapkan dunia, niscaya Aku lenyapkan untuknya.”
Adapun di sisi makhluk, maka sesungguhnya mereka kagum kepada orang yang zuhud dan merendahkan diri kepadanya serta mencari berkah darinya karena ia kuat dalam memikul apa yang mereka lemah terhadapnya dan meninggalkan apa yang mereka tidak mampu meninggalkannya.
Para ahli ketegasan telah membiasakan diri mereka untuk menyelisihi hawa nafsu mereka meskipun itu mubah, agar terjadi latihan bagi jiwa untuk meninggalkan hawa nafsu secara mutlak, dan untuk mencari keuntungan dalam mu’amalah dengan meninggalkan yang mubah.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Hamad bin Ahmad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Nu’aim, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Sinan, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq As-Sarraj, ia berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Zurarah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ubaidah Al-Haddad dari Abdullah bin Abi ‘Utsman, ia berkata: Abdullah bin Umar memerdekakan budak perempuannya yang bernama Rumaisah dan berkata: Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman dalam kitab-Nya: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (Surah Ali ‘Imran: 92) Dan sesungguhnya demi Allah, aku benar-benar mencintaimu di dunia. Pergilah, maka engkau bebas karena wajah Allah.
Telah mengabarkan kepada kami Al-Mubarak bin Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhammad bin Al-‘Allaf, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim Al-Kindi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Ja’far Al-Khara’ithi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abul Fadhl Ar-Rabi’i, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dari Al-Haitsam bin ‘Adi, ia berkata: Fathimah binti Abdul Malik bin Marwan, istri Umar bin Abdul Aziz, memiliki seorang budak perempuan yang sangat cantik. Umar sangat kagum kepadanya sebelum ia mendapatkan khilafah. Lalu ia memintanya darinya dan sangat berharap, namun ia menolak menyerahkannya kepadanya dan ia cemburu karenanya. Maka budak perempuan itu tetap ada dalam pikiran Umar. Ketika ia menjadi khalifah, Fathimah memerintahkan budak perempuan itu untuk dipersiapkan kemudian didandani sehingga ia menjadi perbincangan dalam kecantikan dan keindahannya. Kemudian Fathimah masuk menemui Umar dengan membawa budak perempuan itu, lalu berkata: “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya engkau kagum kepada si fulan budak perempuanku dan engkau memintanya dariku lalu aku menolak hal itu kepadamu. Dan sesungguhnya jiwaku telah rela untukmu dengannya hari ini, maka ambillah dia.” Ketika ia mengatakan itu, terlihat kegembiraan di wajahnya. Kemudian berkata: “Kirimkan ia kepadaku.” Lalu ia melakukannya. Ketika budak perempuan itu masuk menemuinya, ia melihat sesuatu yang mengagumkannya sehingga ia bertambah kagum kepadanya. Lalu ia berkata kepadanya: “Lepaskan pakaianmu.” Ketika ia hendak melakukannya, ia berkata: “Pelan-pelan, duduklah. Beritahukan kepadaku, untuk siapa engkau dulu dan dari mana asalmu bagi Fathimah?” Ia berkata: “Al-Hajjaj bin Yusuf pernah mendenda seorang pekerja dari penduduk Kufah dengan harta dan aku termasuk budak pekerja itu. Lalu ia menyitaku darinya bersama budak-budaknya dan harta-hartanya, kemudian ia mengirimku kepada Abdul Malik bin Marwan sedangkan aku saat itu masih anak kecil, lalu Abdul Malik menghadiahkanku kepada putrinya Fathimah.”
Ia berkata: “Bagaimana nasib pekerja itu?” Ia berkata: “Ia telah meninggal.” Ia berkata: “Apakah ia meninggalkan anak?” Ia berkata: “Ya.”
Ia berkata: “Bagaimana keadaan mereka?” Ia berkata: “Buruk.” Ia berkata: “Kencangkan pakaianmu.”
Kemudian ia menulis kepada Abdul Hamid pekerjaanya: “Kirimkan kepadaku si fulan bin fulan dengan pos cepat.” Ketika ia datang, ia berkata kepadanya: “Angkatlah kepadaku seluruh apa yang telah didendakan Al-Hajjaj kepada ayahmu.” Maka ia tidak mengangkat kepadanya sesuatu pun kecuali ia menyerahkannya kepadanya. Kemudian ia memerintahkan budak perempuan itu untuk diserahkan kepadanya. Ketika ia memegang tangannya, ia berkata: “Waspadalah terhadapmu dan terhadapnya, karena sesungguhnya engkau masih muda usia dan mungkin ayahmu telah menggaulinya.” Maka pemuda itu berkata: “Wahai Amirul Mukminin, ia untukmu.”
Ia berkata: “Aku tidak membutuhkannya.” Ia berkata: “Belilah ia dariku.” Ia berkata: “Aku bukan termasuk orang yang melarang jiwa dari hawa nafsu.”
Maka pemuda itu pergi membawanya. Lalu budak perempuan itu berkata: “Lalu di mana kesedihanmu kepadaku wahai Amirul Mukminin?” Ia berkata: “Sesungguhnya hal itu masih seperti keadaannya dan sungguh bertambah.”
Maka budak perempuan itu tetap dalam pikiran Umar hingga ia meninggal.
Telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar Al-Khatib, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Isa bin Abdul Aziz, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abul Hasan Rasyiq Ar-Raqqi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sa’id Al-Warraq, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Umar bin Sa’id dari Abdurrahman bin Mahdi, ia berkata: Aku melihat Sufyan Ats-Tsauri dalam mimpi, lalu aku berkata: “Apa yang dilakukan Allah kepadamu?” Ia berkata: “Tidak ada apa-apa kecuali ketika aku diletakkan di liang kubur hingga aku berdiri di hadapan Allah ta’ala, lalu Dia menghisabku dengan hisab yang mudah kemudian memerintahkan aku ke surga. Sementara aku berkeliling di antara pepohonannya dan sungai-sungainya dan aku tidak mendengar suara dan tidak ada gerakan, tiba-tiba aku mendengar orang yang berkata: Sufyan bin Sa’id. Lalu aku berkata: Sufyan bin Sa’id. Ia berkata: Apakah engkau ingat bahwa engkau mengutamakan Allah atas hawa nafsumu suatu hari?” Ia berkata: Aku berkata: Benar, demi Allah. Lalu aku menerima limpahan hadiah dari seluruh surga.
Telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar Al-Khatib, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Rizq, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibrahim bin Muhammad Al-Muzakki, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abul Abbas Muhammad bin Ishaq As-Sarraj, ia berkata: Aku mendengar Muhammad bin Sahl bin ‘Askar berkata: Aku mendengar Abdurrazzaq berkata: Abu Ja’far mengutus para tukang kayu ketika ia keluar menuju Mekah, lalu berkata: “Jika kalian melihat Sufyan Ats-Tsauri maka salibkan ia.”
Ia berkata: Lalu para tukang datang dan mendirikan kayu dan Sufyan dipanggil, sedangkan kepalanya di pangkuan Al-Fadhl dan kakinya di pangkuan Ibnu ‘Uyainah.
Ia berkata: Lalu mereka berkata kepadanya: “Wahai Abu Abdullah, bertakwalah kepada Allah dan janganlah engkau membuat musuh gembira atas kami.”
Ia berkata: Lalu ia maju ke tirai kemudian mengambilnya kemudian berkata: “Aku berlepas diri darinya jika Abu Ja’far memasukinya.”
Ia berkata: Maka ia meninggal sebelum memasuki Mekah. Lalu Sufyan diberitahu tentang hal itu, namun ia tidak mengatakan apa-apa.
Perhatikanlah wahai saudaraku, pengaruh menyelisihi hawa nafsu, bagaimana ia terlihat dalam kedudukan seandainya ia bersumpah dan membedakan apa yang ada antara kebanggaan orang yang taat dan kehinaan orang yang bermaksiat.
Dan aku telah mendengar bahwa Umar ketika Munkar dan Nakir datang kepadanya, ia menarik rambut yang satu ini dan rambut yang satu ini dan berkata: “Siapa Tuhan kalian berdua?” Dan seandainya bukan karena menahan tangannya dari hawa nafsu, niscaya tidak akan terulur kepada Munkar dan Nakir.
Dan sebagian orang bijak telah berkata: “Zahir takwa adalah kehormatan dunia dan batinnya adalah kehormatan akhirat.”
Dan ketahuilah bahwa jika engkau membalikkan keadaan ini dalam hal orang yang mengikuti hawa nafsu dan nafsu, engkau akan melihat kehinaan yang melekat dan kehormatan yang terbalik. Demikian pula perkara di sisi makhluk dalam kedua perkara tersebut, karena sesungguhnya barangsiapa yang dikenal di sisi mereka dengan mengalahkan hawa nafsu ia diagungkan, dan barangsiapa yang diberi julukan bahwa ia dikalahkan hawa nafsu ia dihinakan. Maka sungguh mengherankan dari mabuknya orang yang memiliki hawa nafsu, bagaimana ia menguasainya, sehingga ketika ia sadar, ia tidak melihat selain celaan.
Bab Keempat Tentang Pujian Terhadap Kesabaran Dan Anjuran Untuk Melakukannya
Setelah kami mengemukakan celaan terhadap hawa nafsu dan memerintahkan untuk menentangnya, dan tidak mungkin menentang hawa nafsu kecuali dengan kesabaran, maka marilah kita berbicara tentang keutamaan dan kemuliaan kesabaran serta perintah untuk melakukannya. Allah-lah yang memberi taufik.
Kesabaran dalam bahasa Arab berarti menahan, dan setiap orang yang menahan sesuatu maka ia telah bersabar. Dari sinilah istilah al-mashburah yang dilarang olehnya, yaitu ayam dan sejenisnya yang dijadikan sasaran tembakan hingga mati. Ramadan dinamai bulan kesabaran karena di bulan itu jiwa ditahan dari makanan, minuman, dan hubungan suami istri yang diinginkannya. Orang yang sabar adalah orang yang menahan dirinya dari apa yang diinginkannya atau dari keluhan atas rasa sakit. Orang yang sabar dalam musibah dinamai sabar karena ia menahan dirinya dari kepanikan.
Abu Bakar bin al-Anbari meriwayatkan dari sebagian ulama yang berkata: “Sesungguhnya kesabaran dinamai sabar karena kepahitannya di hati dan gangguan yang ditimbulkannya terhadap jiwa seperti kepahitan daun lidah buaya di mulut.”
Ketahuilah, semoga Allah memberikan taufik kepadamu, bahwa kesabaran adalah sesuatu yang diperintahkan oleh akal, sementara hawa nafsu melarangnya. Apabila manfaat kesabaran dan kebaikan yang dibawanya baik di dunia maupun di akhirat telah jelas, maka pada saat itulah tampak keutamaan akal dan kehinaan hawa nafsu.
Ketahuilah bahwa kesabaran terbagi menjadi dua bagian: kesabaran dari yang dicintai dan kesabaran atas yang dibenci. Ketaatan membutuhkan kesabaran dalam melakukannya, dan kemaksiatan membutuhkan kesabaran untuk meninggalkannya.
Karena jiwa diciptakan dengan kecenderungan mencintai hawa nafsu, maka secara alami ia berusaha mengejarnya, sehingga membutuhkan pengendalian dari hal-hal yang akibatnya buruk.
Tidak ada yang mampu menerapkan kesabaran kecuali orang yang mengetahui keburukan hawa nafsu dan melihat hasil akhir kesabaran. Pada saat itulah kesabaran yang dilakukannya atau kesabaran meninggalkan sesuatu menjadi ringan baginya. Penjelasannya adalah dengan contoh: seorang wanita cantik lewat di hadapan dua orang laki-laki. Ketika ia muncul di hadapan mereka, keduanya tertarik untuk melihatnya. Salah satu dari mereka berjuang melawan dirinya dan menundukkan pandangannya, maka tidak lama kemudian ia lupa apa yang telah terjadi. Sedangkan yang lain terus memandang sehingga wanita itu melekat di hatinya, dan hal itu menjadi sebab fitnah baginya dan hilangnya agamanya. Maka jelaslah bagimu bahwa menahan diri dari maksiat hingga hilang lebih mudah daripada berusaha bertobat hingga diterima. Sebagian ulama salaf berkata: “Barangsiapa membayangkan pahala, maka ilmu menjadi ringan baginya.”
Pasal: Allah Azza wa Jalla telah menganjurkan kesabaran
Dalam kitab-Nya dan memerintahkannya serta memuji pelakunya. Kesabaran disebutkan dalam sekitar tujuh puluh tempat dalam Al-Quran, dan banyak dalam hadits yang diriwayatkan. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Said al-Khudri dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Tidak ada seorang pun yang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” Ali radhiyallahu anhu berkata: “Ketahuilah bahwa kesabaran dalam keimanan adalah seperti kepala pada tubuh. Ketahuilah bahwa tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki kesabaran.” Al-Asyats bin Qais berkata: “Sesungguhnya jika engkau bersabar dengan iman dan mengharap pahala, jika tidak, engkau akan melupakan seperti hewan melupakan.”
Kami diberitahu oleh Abdul Wahhab, ia berkata: kami diberitahu oleh al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: kami diberitahu oleh Ahmad bin Ali at-Tuzi, ia berkata: kami diberitahu oleh Umar bin Tsabit, ia berkata: kami diberitahu oleh Ali bin Ahmad bin Abi Qais, ia berkata: menceritakan kepada kami Abu Bakar al-Qurasyi, ia berkata: menceritakan kepada kami Ishaq bin Ismail, ia berkata: menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaim ath-Thaifi, ia berkata: menceritakan kepada kami Amr bin Yunus dari orang yang menceritakan kepadanya dari Ali alaihi salam, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kesabaran ada tiga: kesabaran atas musibah, kesabaran dalam ketaatan, dan kesabaran dari kemaksiatan. Barangsiapa bersabar atas musibah hingga ia menerimanya dengan penghiburan yang baik, Allah akan mencatatkan baginya tiga ratus derajat, antara satu derajat ke derajat lainnya seperti jarak antara langit dan bumi. Barangsiapa bersabar dalam ketaatan, Allah akan mencatatkan baginya enam ratus derajat, antara satu derajat ke derajat lainnya seperti jarak antara ujung bumi hingga Arsy. Barangsiapa bersabar dari kemaksiatan, Allah akan mencatatkan baginya sembilan ratus derajat, antara satu derajat ke derajat lainnya seperti jarak antara ujung bumi hingga Arsy dua kali.”
Dengan sanad yang sama, ia berkata: menceritakan kepada kami Yahya bin Yusuf adh-Dhimmi, ia berkata: menceritakan kepada kami Abu al-Mulayh dari Maimun bin Mihran, ia berkata: “Kesabaran ada dua: kesabaran atas musibah itu baik, dan yang lebih utama dari itu adalah kesabaran dari kemaksiatan. Tidak ada seorang pun yang memperoleh sesuatu dari seluruh kebaikan, baik nabi maupun yang di bawahnya, kecuali dengan kesabaran.”
Dengan sanad yang sama, ia berkata: menceritakan kepada kami al-Qurasyi, ia berkata: menceritakan kepada kami Muhammad bin Idris, ia berkata: menceritakan kepada kami Muhammad bin Rauh, ia berkata: menceritakan kepada kami al-Qasim bin Katsir, ia berkata: aku mendengar Sulaiman bin al-Qasim berkata: “Setiap amalan diketahui pahalanya kecuali kesabaran.” Allah Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala mereka tanpa batas.” (Surat az-Zumar: 10) Ia berkata: “Seperti air yang mengalir deras.”
Dengannya ia berkata: menceritakan kepada kami al-Qurasyi, ia berkata: menceritakan kepada kami Ali bin Muslim, ia berkata: menceritakan kepada kami Sayyar, ia berkata: menceritakan kepada kami Jafar, ia berkata: menceritakan kepada kami Malik bin Dinar, ia berkata: Isa bin Maryam berkata: “Ketakutan kepada Allah Azza wa Jalla dan cinta kepada surga Firdaus menjauhkan dari kemilau dunia dan mewariskan kesabaran atas kesulitan.”
Dengannya ia berkata: menceritakan kepada kami al-Qurasyi, ia berkata: menceritakan kepada kami Ali bin al-Hasan dari Zuhair bin Abbad dari Abu Sulaiman an-Nashibi, ia berkata: Para hawariyun berkata kepada Isa bin Maryam: “Wahai Ruhullah, bagaimana kami dapat mencapai kesempurnaan kesabaran?” Ia berkata: “Jadikanlah tekad kalian dalam semua urusan di hadapan hawa nafsu kalian, kemudian jadikanlah kitab Allah Azza wa Jalla sebagai pemimpin bagi kalian dalam agama kalian.”
Kami diberitahu oleh al-Mubarak bin Ali, ia berkata: kami diberitahu oleh Muhammad bin al-Mukhtar, ia berkata: kami diberitahu oleh Muhammad bin Ali bin Abi al-Fath, ia berkata: kami diberitahu oleh Muhammad bin Yusuf al-Allaf, ia berkata: kami diberitahu oleh Yahya bin Shaid, ia berkata: kami diberitahu oleh Muslim bin Junadah dari Waki dari Syubah dari Abdul Hamid sahabat az-Ziyadi dari Tsabit dari Anas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Di antara beratnya ujian adalah sedikitnya kesabaran.”
Kami diberitahu oleh Ibn Nashir, ia berkata: kami diberitahu oleh al-Hasan bin Ahmad, ia berkata: kami diberitahu oleh Hilal bin Muhammad, ia berkata: menceritakan kepada kami Muhammad bin Amr bin al-Bakhtari, ia berkata: menceritakan kepada kami Abdullah bin Ghannam, ia berkata: menceritakan kepada kami Harb bin al-Hasan, ia berkata: menceritakan kepada kami Ibn Yaiman dari al-Amasy dari al-Hasan, ia berkata: “Sesungguhnya anak Adam hanya mencapai kebutuhannya dengan kesabaran sesaat.”
Kami diberitahu oleh al-Mubarak bin Ali, ia berkata: kami diberitahu oleh Ali bin Muhammad bin al-Allaf, ia berkata: kami diberitahu oleh Abdul Malik bin Bisyran, ia berkata: kami diberitahu oleh Ahmad bin Ibrahim al-Kindi, ia berkata: menceritakan kepada kami Abu Bakar al-Kharaiti, ia berkata: menceritakan kepada kami Ali bin Daud, ia berkata: menceritakan kepada kami Abdullah bin Shalih, ia berkata: menceritakan kepada kami Yaqub bin Ibrahim az-Zuhri dari ayahnya, ia berkata: Suatu hari Ziyad, maula Ibn Ayyasy, duduk di sisiku lalu berkata: “Wahai Abdullah.” Aku berkata: “Apa yang engkau inginkan?” Ia berkata: “Tidak ada selain surga dan neraka.” Aku berkata: “Demi Allah, tidak ada selain surga dan neraka.” Ia berkata: “Tidak ada tempat di antaranya yang ditempati oleh para hamba?” Aku berkata: “Tidak ada tempat di antaranya yang ditempati oleh para hamba.” Ia berkata: “Demi Allah, sesungguhnya diriku adalah jiwa yang aku sangat berharga untuk neraka, dan kesabaran hari ini atas kemaksiatan kepada Allah lebih baik daripada kesabaran atas belenggu.”
Kami diberitahu oleh Muhammad bin Nashir, ia berkata: kami diberitahu oleh Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Khalaf, ia berkata: menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman as-Sulami, ia berkata: aku mendengar Muhammad bin Abdullah ar-Razi berkata: aku mendengar Abu Utsman al-Asadi berkata: al-Harits al-Muhasibi berkata: “Segala sesuatu memiliki inti, inti manusia adalah akal, inti akal adalah kesabaran.”
Dengannya menceritakan kepada kami as-Sulami, ia berkata: aku mendengar Muhammad bin Abdullah bin Syazan berkata: aku mendengar Abu Bakar bin Ahmad berkata: Umar bin Utsman al-Makki berkata: “Sungguh Allah telah menegur orang-orang yang meninggalkan kesabaran atas agama mereka sebagaimana Dia memberitahu tentang orang-orang kafir bahwa mereka berkata: ‘Berjalanlah dan bersabarlah terhadap tuhan-tuhan kalian.’ (Surat Shad: 6) Ini adalah teguran bagi orang-orang mukmin yang meninggalkan kesabaran atas agamanya.”
As-Sulami berkata: aku mendengar Abu Nashr ath-Thusi berkata: aku mendengar Muhammad bin Daud ad-Dinawari berkata: Abdul Khazzaz ditanya tentang tanda kesabaran, maka ia berkata: “Meninggalkan keluhan, menyembunyikan kesabaran dan ujian.”
Aktsam bin Shaifi berkata: “Siasat bagi yang tidak memiliki siasat adalah kesabaran.”
Ibn Masruq membaca syair:
Jika kesusahan menghadangimu, berlindunglah dengan kesabaran Jika tidak, pahala akan hilang, maka tidak ada ini dan tidak ada itu
Bab Kelima Tentang Menjaga Hati Dari Terpapar Gangguan Dan Fitnah
Ketahuilah bahwa hati pada asalnya selamat dari segala keburukan, dan lima panca indera menyampaikan berita kepadanya sehingga terukir di permukaannya.
Maka seharusnya seseorang memastikan menutup jalan-jalan yang dikhawatirkan akan mendatangkan fitnah baginya. Karena apabila hati sibuk dengan sesuatu dari fitnah tersebut, ia akan berpaling dari apa yang diciptakan untuknya, yaitu mengagungkan Sang Pencipta dan memikirkan kemaslahatan.
Betapa banyak fitnah yang melekat padanya karena syahwat, sehingga menjadi sebab kebinasaannya.
Kami diberitahu oleh Hibatullah bin Muhammad bin al-Husain asy-Syaibani, ia berkata: kami diberitahu oleh al-Hasan bin Ali at-Tamimi, ia berkata: kami diberitahu oleh Ahmad bin Jafar al-Qathii, ia berkata: menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, ia berkata: menceritakan kepada kami ayahku. Dan kami diberitahu oleh Abu Bakar az-Zaghuni, ia berkata: kami diberitahu oleh Abu al-Fath asy-Syasyi. Dan kami diberitahu oleh Abu Abdurrahman al-Marwazi, ia berkata: kami diberitahu oleh Abu Abdullah al-Farawi, mereka berkata: kami diberitahu oleh Abdul Ghafir al-Farisi, ia berkata: kami diberitahu oleh Abu Amrawiyah, ia berkata: menceritakan kepada kami Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan, ia berkata: menceritakan kepada kami Muslim bin al-Hajjaj, ia berkata: menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi, ia berkata: kami diberitahu oleh Abdur Razzaq.
Dan kami diberitahu oleh Abdul Awwal, ia berkata: kami diberitahu oleh ad-Dawudi, ia berkata: kami diberitahu oleh Ibn Ain, ia berkata: kami diberitahu oleh al-Firabri, ia berkata: menceritakan kepada kami al-Bukhari, ia berkata: menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Ala, ia berkata: menceritakan kepada kami Ibn al-Mubarak, mereka berkata: menceritakan kepada kami Mamar dari Hammam bin Munabbih dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Seorang nabi berperang, lalu ia berkata kepada kaumnya: ‘Jangan mengikutiku seorang laki-laki yang telah menikahi seorang wanita dan ia ingin menggaulinya tetapi belum menggaulinya, dan jangan yang lain yang telah membangun rumah-rumah tetapi belum memasang atapnya, dan jangan yang lain yang telah membeli kambing atau unta bunting dan ia menunggu anaknya.'”
Kami diberitahu oleh Ibn al-Husain, ia berkata: kami diberitahu oleh Ibn al-Madzhab, ia berkata: kami diberitahu oleh Ahmad bin Jafar, ia berkata: menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, ia berkata: menceritakan kepada kami ayahku, ia berkata: menceritakan kepada kami Yahya bin Said. Dan kami diberitahu oleh Abdul Awwal, ia berkata: kami diberitahu oleh ad-Dawudi, ia berkata: kami diberitahu oleh Ibn Ain, ia berkata: menceritakan kepada kami al-Firabri, ia berkata: menceritakan kepada kami al-Bukhari, ia berkata: menceritakan kepada kami Abu Nuaim.
Dan kami diberitahu oleh Abu Bakar az-Zaghuni, ia berkata: kami diberitahu oleh asy-Syasyi. Dan kami diberitahu oleh al-Marwazi, ia berkata: kami diberitahu oleh al-Farawi, mereka berkata: kami diberitahu oleh Abdul Ghafir al-Farisi, ia berkata: menceritakan kepada kami Ibn Amrawiyah, ia berkata: menceritakan kepada kami Ibrahim bin Muhammad, ia berkata: menceritakan kepada kami Muslim bin al-Hajjaj, ia berkata: menceritakan kepada kami Ibn Numair, ia berkata: menceritakan kepada kami ayahku.
Dan kami diberitahu oleh al-Karukhi, ia berkata: kami diberitahu oleh Abu Amir al-Azdi dan Abu Bakar al-Ghurji, ia berkata: kami diberitahu oleh al-Jarrahi, ia berkata: menceritakan kepada kami al-Mahbubi, ia berkata: menceritakan kepada kami at-Tirmidzi, ia berkata: menceritakan kepada kami Hannad, ia berkata: menceritakan kepada kami Waki, mereka berkata: menceritakan kepada kami Zakariya bin Abi Zaidah, ia berkata: menceritakan kepada kami Amir, ia berkata: aku mendengar an-Numan bin Basyir berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ketahuilah bahwa dalam diri manusia ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” Lafadz Ahmad.
Kami diberitahu oleh Hibatullah bin Ahmad al-Hariri, ia berkata: kami diberitahu oleh Muhammad bin Ali bin Abi al-Fath al-Asyari, ia berkata: kami diberitahu oleh Abu al-Hasan bin Samun, ia berkata: menceritakan kepada kami Muhammad bin Jafar ash-Shairafi, ia berkata: menceritakan kepada kami Hammad bin al-Hasan, ia berkata: menceritakan kepada kami Muhammad bin Sabiq, ia berkata: menceritakan kepada kami Ibrahim bin Thahman dari Manshur dari asy-Syabi dari an-Numan bin Basyir dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Dalam diri manusia ada segumpal daging, jika ia sehat maka sehatlah seluruh tubuh karenanya, dan jika ia sakit maka sakitlah seluruh tubuh karenanya, yaitu hati.”
Hadits ini dan yang sebelumnya diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim.
Kami diberitahu oleh Ibn Nashir, ia berkata: kami diberitahu oleh Jafar bin Ahmad, ia berkata: kami diberitahu oleh Abu Ali at-Tamimi, ia berkata: menceritakan kepada kami Ahmad bin Jafar, ia berkata: menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, ia berkata: menceritakan kepada kami ayahku, ia berkata: menceritakan kepada kami Rauh, ia berkata: menceritakan kepada kami Sulaiman bin al-Mughirah dari Tsabit, ia berkata: Dikatakan kepada Isa: “Seandainya engkau mengambil keledai untuk dikendarai untuk keperluanmu.” Ia berkata: “Aku lebih mulia di sisi Allah daripada Dia menjadikan bagiku sesuatu yang menyibukkanku dengannya.”
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abi Manshur, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Hasan bin Ali at-Tamimi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar bin Malik, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, dia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Ibnu Ishaq, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdullah, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Wuhaib bahwa Ibnu Umar menjual seekor unta, lalu dikatakan kepadanya: “Seandainya engkau menahannya (tidak menjualnya).” Ia berkata: “Sungguh unta itu cocok (bagus), tetapi ia telah menghilangkan sebagian dari hatiku, maka aku tidak suka jika hatiku disibukkan oleh sesuatu.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Ali, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ja’far, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Ali bin Muslim, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Sayyar, dia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Harits bin Nabhan, dia berkata: Aku datang dari Makkah lalu menghadiahkan kepada Malik bin Dinar sebuah rakwah (tempat air). Rakwah itu berada di sisinya. Pada suatu hari aku datang dan duduk di majelisnya. Ketika majlis selesai, ia berkata kepadaku: “Wahai Harits, kemari ambillah rakwah itu karena ia telah menyibukkan hatiku.” Aku berkata: “Wahai Abu Yahya, sesungguhnya aku membelinya untukmu agar engkau berwudhu dengannya dan minum darinya.” Ia berkata: “Wahai Harits, sesungguhnya aku jika masuk masjid, setan datang kepadaku lalu berkata: ‘Wahai Malik, sesungguhnya rakwah itu telah dicuri.’ Maka ia telah menyibukkan hatiku.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Zhafar, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Aziz bin Ali, telah menceritakan kepada kami Ibnu Jahdham, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Husain al-Hamidi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, dia berkata: Aku mendengar Harits bin Asad berkata: “Ujian bagi seorang hamba adalah terhentinya hati dari berfikir tentang akhirat, ketika itu timbullah kelalaian dalam hati.”
Telah mengabarkan kepada kami al-Mubarak bin Ali, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu al-Allaf, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Abbas al-Kindi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar al-Khara’ithi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin al-Junaid, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Husain, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Muhammad, dia berkata: Rabi’ah berkata: “Mereka telah menyibukkan hati-hati mereka dengan cinta dunia dari Allah Azza wa Jalla. Seandainya mereka meninggalkannya, niscaya hati mereka berkelana di alam kerajaan (malakut) kemudian kembali kepada mereka dengan berbagai manfaat yang indah.”
Muhammad bin al-Husain berkata: dan telah menceritakan kepadaku ash-Shalt bin Hakim, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Ibnu as-Sammak dari seorang wanita yang tinggal di padang pasir, dia berkata: Aku mendengarnya berkata: “Seandainya hati-hati orang mukmin melihat dengan fikirannya kepada apa yang disimpan untuk mereka di balik tirai ghaib berupa kebaikan pahala, niscaya hidup mereka di dunia tidak akan jernih dan mata mereka di dunia tidak akan tenteram.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ali bin Khalaf, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Abdurrahman as-Sulami, dia berkata: Aku mendengar Manshur bin Abdullah berkata: Aku mendengar Muhammad bin Hamid berkata: Ahmad bin Khadrawiyah berkata: “Hati-hati adalah wadah-wadah. Jika terisi dengan kebenaran, maka ia menampakkan kelebihan cahayanya pada anggota badan. Dan jika terisi dengan kebatilan, maka ia menampakkan kelebihan kegelapannya pada anggota badan.”
As-Sulami berkata: dan aku mendengar Ibnu Alwan berkata: Aku mendengar Ali bin al-Husain berkata: Abu Turab berkata: “Tidak ada dari ibadah-ibadah sesuatu yang lebih bermanfaat daripada memperbaiki bisikan-bisikan hati.”
As-Sulami berkata: dan aku mendengar Abu al-Hasan bin Muhammad berkata: Abu al-Khair at-Tinatiy berkata: “Haram bagi hati yang terkurung dengan cinta dunia untuk berkelana dalam cahaya ghaib.”
Ibrahim bin Adham berkata: “Para raja mencari sesuatu lalu mereka luput darinya, dan kami mencarinya lalu kami mendapatkannya. Perhatianku tidak melampaui selimutku ini.”
Abu Muhammad al-Murta’isy berkata: “Tidak ada dari ibadah-ibadah yang memberi manfaat kepadaku seperti apa yang memberi manfaat kepadaku yaitu mengumpulkan perhatian.”
Ibrahim bin al-Hasan ditanya tentang keselamatan hati, maka ia berkata: “Uzlah, diam, meninggalkan mendengarkan omongan kosong manusia, tidak mengikat hati pada dosa atau pada kedengkian, dan memberikan kepada orang yang menzaliminya haknya.”
Abu Bakar Muhammad bin Umar al-Anbari berkata ketika berpamitan kepada kekasihnya:
“Aku menitipkan kepada Allah hati yang sejak aku berduka karenanya Dan dengan orang-orang tercinta aku tidak pernah tenang pada tempat tinggal Sungguh ia dulu memikul dari kesedihanku dan kesusahanku Apa yang tidak dapat dipikul oleh jiwaku dan tidak pula oleh badanku Aku tidak akan kembali jika hatiku kembali kepadaku, aku akan menyiksanya Dengan kebaikan, betapa banyak keburukan yang datang dari kebaikan”
Bab Keenam tentang Menyebut Apa yang Mengotori Hati
Telah mengabarkan kepada kami Hibatullah bin Muhammad, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Hasan bin Ali at-Tamimi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Ja’far, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, dia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Shafwan bin Isa, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Ajlan dari al-Qa’qa’ bin Hakim dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang mukmin apabila berbuat dosa, maka ada titik hitam di hatinya. Jika ia bertaubat, berhenti, dan memohon ampun, maka hatinya dibersihkan. Jika ia menambah (dosa), maka titik hitam itu bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah ar-ran (karat) yang disebutkan Allah Azza wa Jalla dalam kitab-Nya:” “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (Surat al-Muthaffifin: 14)
At-Tirmidzi berkata: Ini hadits hasan shahih.
Hudzaifah berkata: “Apabila seorang hamba berbuat dosa, ditotolkan di hatinya titik hitam. Jika ia berbuat dosa lagi, ditotolkan di hatinya titik hitam hingga hatinya menjadi seperti domba ar-rabda (yang hitam bercampur putih).”
Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ahmad al-Mutawakkili, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar bin al-Khatib, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Sa’d bin Syazan, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdullah ash-Shaffar, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi ad-Dunya, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Hasan bin Mahbub, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Hajjaj, dia berkata: Ibnu Juraij berkata: telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Katsir bahwa ia mendengar Mujahid berkata: “Ar-rain lebih ringan dari ath-thab’u, dan ath-thab’u lebih ringan dari al-iqfal, dan al-iqfal lebih berat dari itu.” Hasan bin Mahbub berkata: dan telah menceritakan kepada kami al-Faidh bin Ishaq, dia berkata: Hudzaifah al-Mar’asyi berkata: telah memberitakan kepada kami Ammar bin Saif dari al-A’masy, dia berkata: Kami berada di sisi Mujahid, maka ia berkata: “Hati itu begini,” dan ia membentangkan telapak tangannya. “Jika seseorang berbuat dosa, ia berkata begini,” dan ia menekuk satu jari. “Kemudian jika ia berbuat dosa lagi, ia berkata begini,” dan ia menekuk dua jari. “Kemudian tiga, kemudian empat, kemudian ibu jari dilipat pada jari-jari pada dosa kelima, maka hatinya dimeterai.” Mujahid berkata: “Siapa di antara kalian yang mengira bahwa hatinya belum dimeterai?”
Yahya bin Muadz berkata: “Sakit badan dengan penyakit-penyakit dan sakit hati dengan dosa-dosa. Sebagaimana badan tidak merasakan kelezatan makanan ketika sakit, maka begitu pula hati tidak merasakan manisnya ibadah bersama dosa-dosa.” Sebagian ulama berkata: “Apabila hati tidak digunakan untuk apa ia diciptakan yaitu berfikir dalam meraih kemaslahatan dalam agama dan dunia serta menghindari kerusakan, maka ia menganggur lalu hakikat substansinya tertutup. Jika ditambahkan pada itu perbuatan yang menambah kegelapannya seperti minum khamr, tidur yang panjang, dan banyak kelalaian, maka ia menjadi seperti besi yang diliputi karat lalu merusaknya.”
Bab Ketujuh tentang Menyebut Apa yang Menghilangkan Karat dari Hati
Telah mengabarkan kepada kami al-Mubarak bin Ali, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhammad bin al-Allaf, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Abbas al-Kindi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ja’far al-Khara’ithi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdurrahim bin Harun, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abi Rawwad dari Nafi’ dari Ibnu Umar, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya hati-hati ini berkarat sebagaimana besi berkarat.” Ditanyakan: “Wahai Rasulullah, apa pemolesan (pembersih)nya?” Beliau menjawab: “Membaca al-Quran.”
Muhammad bin Ja’far berkata: dan telah menceritakan kepada kami Hammad bin al-Hasan, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Sayyar dari Ja’far bin Sulaiman dari al-Mu’alla bin Ziyad, dia berkata: Seorang laki-laki berkata kepada Hasan: “Wahai Abu Sa’id, aku mengadu kepadamu tentang kerasnya hatiku.” Ia berkata: “Cairkan ia dengan dzikir.”
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Aisyah: “Apa obat kerasnya hati?” Maka ia memerintahkannya untuk menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, mengharapkan kematian, dan mengingat kematian. Seorang laki-laki mengadu tentang itu kepada Malik bin Dinar, maka ia berkata: “Teruslah berpuasa, jika engkau masih merasakan kekerasan maka perbanyaklah qiyamullail (shalat malam), jika engkau masih merasakan kekerasan maka kurangilah makanan.”
Ibnu al-Mubarak ditanya: “Apa obat hati?” Ia berkata: “Mengurangi bertemu (dengan orang).”
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Nashir, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ali bin Khalaf, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Abdurrahman as-Sulami, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Wahid bin Bakr al-Wartsani, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu al-Azhar al-Maifarqini, dia berkata: Aku mendengar Fath bin Syakhraf berkata: telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Khubayq, dia berkata: “Allah menciptakan hati-hati sebagai tempat tinggal bagi dzikir, lalu ia menjadi tempat tinggal bagi syahwat. Tidaklah yang menghapus syahwat dari hati kecuali ketakutan yang mengguncang atau kerinduan yang meresahkan.”
As-Sulami berkata: dan aku mendengar Ahmad bin Ali bin Ja’far berkata: Aku mendengar al-Azdi berkata: Aku mendengar Ibrahim al-Khash berkata: “Obat hati ada lima perkara: membaca al-Quran dengan tadabbur (perenungan), mengosongkan perut, qiyamullail (shalat malam), tunduk memohon pada waktu sahur, dan bergaul dengan orang-orang shalih.”
Bab Kedelapan tentang Menyebut Pembolak-balikan Hati dan Permintaan kepada Allah Taala dalam Memperbaikinya
Telah mengabarkan kepada kami Abdul Awwal, dia berkata: telah memberitakan kepada kami ad-Dawudi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu A’yan. Dan telah memberitakan kepada kami Ibrahim bin Khurim, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ubaid bin Humaid, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ubaidullah bin Musa, keduanya dari Sufyan. Dan telah mengabarkan kepada kami al-Karukhi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Amir al-Azdi dan Abu Bakar al-Ghurji, keduanya berkata: telah memberitakan kepada kami al-Jarrahi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Mahbubi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami at-Tirmidzi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ali bin Hajar, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin al-Mubarak, keduanya dari Musa bin Uqbah dari Salim dari Ibnu Umar, dia berkata: Sumpah Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah: “Tidak, demi Dzat yang membolak-balikkan hati.”
Hanya Bukhari yang mengeluarkannya.
Dan telah mengabarkan kepada kami Ibnu al-Hushin, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu al-Madzhab, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ja’far, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, dia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku. Dan telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar az-Zaghuni, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Fath asy-Syasyi. Dan telah mengabarkan kepada kami Abu Abdurrahman al-Marwazi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Abdullah al-Farawi, keduanya berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Ghafir, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Amrawiyah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muslim bin al-Hajjaj, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Zuhair, keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman al-Muqri. Dan telah mengabarkan kepada kami Abdul Awwal, dia berkata: telah memberitakan kepada kami ad-Dawudi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami as-Sarakhsi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibrahim bin Khurim, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ubaid bin Humaid, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abdul Hamid al-Hammani, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu al-Mubarak, keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Haiwah, dia berkata: telah mengabarkan kepadaku Abu Hani’ bahwa ia mendengar Abu Abdurrahman al-Hubuli bahwa ia mendengar Abdullah bin Amr bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya hati-hati semua anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari ar-Rahman Tabaraka wa Taala seperti satu hati, Dia membolak-balikkannya bagaimana Dia kehendaki.”
Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, bolak-balikkanlah hati-hati kami kepada ketaatan-Mu.”
Hanya Muslim yang mengeluarkannya.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu al-Hushin, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu al-Madzhab, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ja’far, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, dia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku. Dan telah mengabarkan kepada kami al-Karukhi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Azdi dan al-Ghurji, keduanya berkata: telah memberitakan kepada kami al-Jarrahi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Mahbubi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami at-Tirmidzi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Hannad, keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami al-A’masy dari Abu Sufyan dari Anas, dia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam sering mengucapkan: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.”
Dia berkata: Maka kami berkata: “Wahai Rasulullah, kami beriman kepada-Mu dan kepada apa yang engkau bawa, apakah engkau khawatir terhadap kami?” Beliau bersabda: “Ya, sesungguhnya hati-hati berada di antara dua jari dari jari-jari Allah Azza wa Jalla, Dia membolak-balikkannya Tabaraka wa Taala bagaimana Dia kehendaki.”
Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Qasim al-Hariri, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Ishaq al-Barmaki, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar bin Bukhayts, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ismail bin Musa al-Hasib, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Jabbarah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq al-Khamisi dari Yazid ar-Raqasyi dari Anas, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sering mengucapkan dalam doanya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.”
Telah mengabarkan kepada kami Abu Al-Qasim Al-Hariri, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Talib Al-Asyari, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Husain ibn Sam’un, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad ibn Sulaiman ibn Zaban, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Hisyam ibn Ammar, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Shadaqah ibn Khalid, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdurrahman ibn Yazid ibn Jabir, ia berkata: aku mendengar Bisyr ibn Ubaidullah, ia berkata: aku mendengar Abu Idris Al-Khaulani berkata: telah menceritakan kepadaku Nawwas ibn Sam’an, ia berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Tidaklah suatu hati melainkan berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman jalla wa azza. Jika Dia berkehendak, Dia menegakkannya, dan jika Dia berkehendak, Dia memalingkannya.
Dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam biasa berdoa: Wahai Pengubah hati, tetapkanlah hati-hati kami di atas agama-Mu.
Perawi berkata: Dan timbangan berada di tangan Ar-Rahman azza wa jalla, Dia mengangkat suatu kaum dan merendahkan kaum lain hingga hari kiamat.
Telah mengabarkan kepada kami Al-Mubarak ibn Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali ibn Muhammad ibn Al-Allaf, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Malik ibn Muhammad ibn Bisyran, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad ibn Ibrahim Al-Kindi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad ibn Ja’far Al-Khara’ithi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Sa’dan ibn Yazid, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Hisyam ibn Jamil, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Hammad ibn Zaid dari Ali ibn Zaid dari Ummu Muhammad dari Aisyah. Al-Khara’ithi berkata: dan telah menceritakan kepada kami At-Turqufi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Faryabi dari Ats-Tsauri dari Al-A’masy dari Abu Sa’id Sufyan dari Jabir bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sering berdoa: Wahai Pengubah hati, tetapkanlah hatiku di atas ketaatan kepada-Mu. Maka aku berkata: Wahai Rasulullah, sungguh engkau sering berdoa dengan doa ini, apakah engkau khawatir?
Beliau berkata: Apa yang membuatku aman wahai Aisyah, padahal hati-hati para hamba berada di antara dua jari dari jari-jari Allah. Jika Dia berkehendak untuk membalikkan hati seorang hamba, Dia membalikkannya. Yaitu jari tengah dan telunjuk.
Lafazh ini dari Sa’dan. Dan dalam bab ini ada riwayat dari Abu Dzar dan Ummu Salamah.
Telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman ibn Muhammad Al-Qazzaz, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad ibn Ali Ad-Dajjaji, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali ibn Ma’ruf, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad ibn Al-Haitsam, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad ibn Abdul Jabbar, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibn Ayyasy dari Abu Sufyan dari Anas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Perumpamaan hati adalah seperti bulu di tanah lapang yang dibolak-balikkan oleh angin.
Telah mengabarkan kepada kami Abdullah ibn Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Husain ibn Ahmad ibn Thalhah, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Umar ibn Mahdi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Husain ibn Ismail Al-Muhamili, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad ibn Amr, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Faraj ibn Fadhalah, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Sulaiman ibn Sulaim dari Yahya ibn Jabir dari Miqdad ibn Al-Aswad, ia berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Sungguh hati anak Adam lebih cepat berbolak-balik daripada kuali ketika mendidih dengan kuat.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad ibn Ali ibn Khalaf, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad ibn Al-Husain As-Sulami, ia berkata: aku mendengar Manshur ibn Abdullah berkata: aku mendengar Muhammad ibn Al-Fadhl berkata: aku mendengar Ahmad ibn Khudrawayh berkata: Hati-hati itu mengembara, baik mengembara mengelilingi Arsy atau mengembara mengelilingi jamban.
Bab Kesembilan: Tentang Penyeru dari Hati
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abdul Wahid Asy-Syaibani, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Hasan ibn Ali At-Tamimi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad ibn Ja’far Al-Qathi’i, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah ibn Ahmad, ia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Hasan ibn Sawwar, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Laits yaitu Ibnu Sa’d dari Mu’awiyah ibn Shalih bahwa Abdurrahman ibn Jubair menceritakan kepadanya dari ayahnya dari Nawwas ibn Sam’an dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: Allah telah membuat perumpamaan jalan yang lurus, dan di kedua sisi jalan itu ada dua tembok yang di dalamnya terdapat pintu-pintu terbuka, dan di atas pintu-pintu itu ada tirai-tirai yang terulur. Dan di pintu jalan itu ada penyeru yang berseru: Wahai sekalian manusia, masuklah ke jalan lurus semua dan janganlah kalian menyimpang.
Dan ada penyeru yang menyeru dari dalam jalan, maka jika seorang hamba bermaksud membuka sesuatu dari pintu-pintu tersebut, ia berkata: Celakalah engkau, jangan membukanya, karena sesungguhnya jika engkau membukanya, engkau akan memasukinya.
Jalan lurus itu adalah Islam, dua tembok itu adalah batasan-batasan Allah, pintu-pintu yang terbuka adalah larangan-larangan Allah, penyeru yang berada di ujung jalan adalah Kitab Allah azza wa jalla, dan penyeru dari atas adalah penyeru Allah di dalam hati setiap muslim.
Telah mengabarkan kepada kami Al-Mubarak ibn Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Al-Allaf, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Malik ibn Bisyran, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abul Abbas Al-Kindi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad ibn Ja’far, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abbas At-Turqufi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Faryabi dari Ats-Tsauri dari Tsaur ibn Yazid dari Khalid ibn Mi’dan, ia berkata: Tidaklah seorang hamba melainkan ia memiliki dua mata di wajahnya yang dengannya ia melihat urusan dunia, dan dua mata di hatinya yang dengannya ia melihat urusan akhirat. Maka jika Allah menghendaki kebaikan untuk seorang hamba, Dia membukakan dua matanya yang ada di hatinya sehingga ia dapat melihat dengannya apa yang Allah janjikan dari hal gaib. Dan jika Allah menghendaki selain itu untuk hamba-Nya, Dia membiarkannya dalam keadaannya.
Kemudian ia membaca: Atau apakah pada hati-hati mereka ada kunci-kuncinya? (Surah Muhammad ayat 24)
Dengan sanad yang sama, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad ibn Ja’far, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ali ibn Al-A’rabi, ia berkata: Abu Al-Atahiyah berkata: Aku bertemu Abu Nuwas di masjid jami’, lalu aku menasihatinya dan berkata kepadanya: Sudah saatnyakah engkau berhenti? Sudah saatnyakah engkau tersadar?
Maka ia mengangkat kepalanya kepadaku sambil berkata:
Apakah engkau melihatku wahai Atahi Meninggalkan kesenangan-kesenangan itu Apakah engkau melihatku merusak dengan kesalehan Kedudukan dan kehormatanku di hadapan kaum
Perawi berkata: Maka ketika aku terus menerus menasihatinya, ia mulai bersyair:
Jiwa-jiwa tidak akan kembali dari kesesatannya Selama tidak ada dari dirinya yang menahannya
Maka aku berharap seandainya aku yang mengucapkan bait ini dengan mengorbankan segala yang telah aku ucapkan.
Bab Kesepuluh: Tentang Perintah Mengosongkan Hati dari Selain Kecintaan kepada Tuhan
Telah mengabarkan kepada kami Umar ibn Zhafar, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far ibn Ahmad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Aziz ibn Ali, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Jahdam, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdus Salam ibn Muhammad, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Sa’id ibn Abdul Aziz, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad ibn Abul Hawari, ia berkata: Mahmud bertanya kepada Abu Sulaiman sedangkan aku hadir: Apakah cara paling dekat untuk mendekatkan diri kepada Allah azza wa jalla?
Maka Abu Sulaiman menangis kemudian berkata: Orang sepertiku ditanya tentang hal ini?
Cara paling dekat untuk mendekatkan diri kepada-Nya adalah bahwa Dia melihat hatimu sedangkan engkau tidak menginginkan dari dunia dan akhirat kecuali Dia.
Dengan sanad yang sama, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Jahdam, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Mufid, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah ibn Sahl, ia berkata: aku mendengar Yahya ibn Mu’adz berkata: Kesalehan adalah perhatian terhadap hal-hal tersembunyi dan mengeluarkan selain Allah azza wa jalla dari hati.
Dengan sanad itu, Ibnu Jahdam berkata: dan telah menceritakan kepadaku Ahmad ibn Ali, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abbas ibn Abdullah Al-Hasyimi, ia berkata: aku mendengar Sahl ibn Abdullah berkata: Tidaklah suatu waktu melainkan Allah azza wa jalla melihat hati-hati para hamba. Maka hati mana pun yang Dia lihat di dalamnya ada selain-Nya, Dia menguasakan iblis atasnya.
Perawi berkata: dan telah menceritakan kepada kami Abdul Jabbar ibn Bisyran, ia berkata: aku mendengar Sahl berkata: Barangsiapa yang memandang Allah azza wa jalla dekat darinya, maka menjauh dari hatinya segala sesuatu selain Allah azza wa jalla. Dan barangsiapa yang mencari keridhaan-Nya, Allah azza wa jalla meredhai dia. Dan barangsiapa yang menyerahkan hatinya, Allah azza wa jalla mengatur anggota-anggota tubuhnya.
Perawi berkata: dan telah menceritakan kepadaku Ali ibn Muhammad, ia berkata: aku mendengar Ibrahim Al-Khawwash berkata: Muhammad ibn Al-Fadhl berkata kepadaku: Aku tidak melangkahkan kaki selama empat puluh tahun melangkah untuk selain Allah azza wa jalla, dan selama empat puluh tahun aku tidak memandang sesuatu yang aku anggap baik karena malu kepada Allah azza wa jalla.
Telah mengabarkan kepada kami Al-Mubarak ibn Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali ibn Muhammad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Malik ibn Bisyran, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad ibn Ibrahim Al-Kindi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad ibn Ja’far Al-Khara’ithi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh An-Nasa’i, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ahmad ibn Abul Hawari, ia berkata: Salm Al-Khawwash berkata: Kalian meninggalkan-Nya dan sebagian kalian menghadap kepada sebagian yang lain. Seandainya kalian menghadap kepada-Nya, niscaya kalian akan melihat keajaiban-keajaiban.
Dengan sanad itu, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Khara’ithi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnul Junaid, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad Al-Husain dari Hakim ibn Ja’far, ia berkata: Dhaigham berkata kepada Kilab: Sesungguhnya cinta kepada-Nya tabaraka wa ta’ala menyibukkan hati-hati orang-orang yang mencintai-Nya dari menikmati kecintaan kepada selain-Nya. Maka tidak ada bagi mereka di dunia bersama cinta-Nya kenikmatan yang mendekati kecintaan kepada-Nya, dan mereka tidak mengharapkan di akhirat dari kemuliaan pahala yang lebih besar menurut mereka daripada melihat wajah kekasih mereka.
Perawi berkata: Maka Kilab jatuh pingsan.
Telah mengabarkan kepada kami Ahmad ibn Ahmad Al-Mutawakkili, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar Al-Khatib, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdurrahman ibn Muhammad An-Naisaburi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad ibn Abdullah ibn Bahlul, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad ibn Ali ibn Abi Khumairah, ia berkata: aku mendengar Sahl ibn Abdullah berkata: Haram bagi hati untuk mencium aroma keyakinan sedangkan di dalamnya ada ketenangan kepada selain Allah. Dan haram bagi hati untuk dimasuki cahaya sedangkan di dalamnya ada sesuatu yang dibenci Allah azza wa jalla.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Mubarak ibn Abdul Jabbar, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ash-Shauri, ia berkata: aku mendengar Hasan ibn Ahmad berkata: Abu Bakar Al-Hilali berkata kepadaku sambil menunjuk ke sebuah pohon di rumahnya: Pohon ini, aku tidak pernah memandangnya dengan pandangan kemudian pandanganku kembali kepadaku kecuali dengan hukuman atau teguran di hatiku. Dikatakan kepadaku: Engkau berada di hadapan Kami dan memandang kepada selain Kami?
Aku membaca kepada Abu Al-Qasim Al-Hariri dari Abu Talib Al-Asyari, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Mubadir ibn Ubaidillah Ash-Shufi, ia berkata: aku mendengar Abu Al-Azhar Abdul Wahid ibn Muhammad Al-Farisi berkata: Aku bertemu Ibrahim Al-Jabali di suatu jalan setelah ia kembali ke negerinya dan menikah dengan anak pamannya. Ia dahulu telah melintasi padang pasir dengan bertelanjang kaki. Maka ia menceritakan kepadaku bahwa ketika ia kembali ke negerinya dan menikah, ia sangat terpikat oleh anak pamannya sehingga ia tidak pernah berpisah darinya sesaat pun.
Ia berkata: Pada suatu malam aku memikirkan tentang banyaknya kecondonganku kepadanya dan kegemaranku kepadanya. Maka aku berkata: Tidak pantas bagiku untuk menghadapi hari kiamat sedangkan di hatiku ada hal ini. Maka aku bersuci dan shalat dua rakaat, dan aku berkata: Tuanku, kembalikanlah hatiku kepada yang lebih layak. Maka keesokan harinya ia terserang demam dan meninggal pada hari ketiga. Dan aku berniat untuk keluar dengan bertelanjang kaki dari waktuku itu menuju Mekah.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad ibn Ali ibn Khalaf, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Abdurrahman As-Sulami, ia berkata: aku mendengar Manshur ibn Abdullah berkata: aku mendengar Muhammad ibn Hamid berkata: Ahmad ibn Khudrawayh ditanya: Amalan apakah yang paling utama? Ia berkata: Menjaga rahasia dari berpaling kepada sesuatu selain Allah.
As-Sulami berkata: dan aku mendengar Muhammad ibn Abdullah Ar-Razi berkata: aku mendengar Abu Muhammad Al-Murta’isy berkata: Ketenangan hati kepada selain Maulana adalah percepatan hukuman dari Allah di dunia.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Zhafar, ia berkata: telah memberitakan kepada kami As-Siraj, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Aziz ibn Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Jahdam, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Umar ibn Yahya An-Naqqasy, ia berkata: Asy-Syabil ditanya tentang firman Allah azza wa jalla: Katakanlah kepada orang-orang mukmin agar mereka menahan sebagian dari pandangan mereka (Surah An-Nur ayat 30). Maka ia berkata: Pandangan kepala dari apa yang diharamkan Allah, dan pandangan hati dari selain Allah azza wa jalla.
Ibnu Jahdam berkata: dan aku mendengar Ibnu Sam’un berkata dalam majelis: Aku tidak mendengar sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Sesungguhnya malaikat tidak masuk ke rumah yang di dalamnya ada gambar atau patung. Jika malaikat tidak masuk ke rumah yang di dalamnya ada gambar atau patung, maka bagaimana bukti-bukti kebenaran masuk ke hati yang di dalamnya ada sifat-sifat selain-Nya dari manusia?
Telah mengabarkan kepada kami Ibrahim ibn Dinar Al-Faqih, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad ibn Sa’id ibn Nabhan, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Husain ibn Al-Hasan An-Na’ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad ibn Nashr Adz-Dzari’, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Harb, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Manshur ibn Muhammad, ia berkata: Ruqayyah Al-Abidah Al-Maushiliyyah berkata: Sesungguhnya aku mencintai Tuhanku dengan cinta yang sangat. Seandainya Dia memerintahkanku ke neraka, aku tidak akan merasakan panasnya neraka bersama cinta kepada-Nya. Dan seandainya Dia memerintahkanku ke surga, aku tidak akan merasakan kenikmatan surga bersama cinta kepada-Nya, karena cinta kepada-Nya adalah yang menguasai diriku.
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad ibn Abi Manshur, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad ibn Muhammad Al-Bukhari, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali ibn Mahmud Az-Zauzani, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Talib Ahmad ibn Ali Al-Fami, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali ibnul Mutsanna, ia berkata: aku mendengar Ibrahim ibn Syaiban berkata: aku mendengar Muhammad ibn Hassan atau Ibnu Abi Hassan berkata: Aku sedang berjalan di padang pasir, tiba-tiba aku bertemu dengan seorang rahib yang telah terbakar oleh panas terik dan angin. Maka aku berkata kepadanya: Berilah aku nasihat. Maka ia berkata kepadaku: Berhati-hatilah, karena sesungguhnya Dia Maha Pencemburu, Dia tidak suka melihat di hati hamba-Nya ada seseorang selain-Nya.
Telah memberitakan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad ibn Al-Hasan Al-Baqilani, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Qadhi Abul Ala Al-Wasithi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Al-Fath Muhammad ibn Al-Husain Al-Azdi, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad ibn Ubaidillah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad ibn Al-Husain, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad ibn Sa’id At-Tamimi Al-Abid, ia berkata: Aku melihat seorang pemuda di sebagian pantai Syam. Maka aku berkata: Wahai pemuda, sudah berapa lama engkau di sini? Ia berkata: Aku tidak tahu.
Maka aku berkata: Mengapa? Ia berkata: Karena sesungguhnya jelek bagi orang yang mencintai untuk menghitung waktu terhadap yang dicintainya. Kemudian ia membacakan syair kepadaku:
Jika Engkau memisahkan antara dua kekasih sebagai penghiburan… maka cintamu padaku hingga kematian adalah teman setia
Aku akan memurnikan kasih sayangku padamu selama aku hidup, maka jika aku mati… maka dengan cintamu tulangku dikubur dalam tanah
Sampai kepadaku tentang salah seorang bangsawan bahwa ia melewati sebuah pekuburan lalu tiba-tiba ada seorang budak perempuan yang cantik mengenakan pakaian hitam yang menarik hatinya, maka ia menulis surat kepadanya:
Aku mengira bahwa matahari itu satu… dan bulan dalam penampakannya berhias dengan kecantikan
Hingga aku melihatmu dalam pakaian berkabung… yang hitam dan pelipismu melengkung di atas pipi
Maka aku pergi sementara hatiku tergila-gila dan lemah… dan hati terbakar serta air mata mengalir
Balaslah surat ini, di dalamnya ada syukur dan manfaatkanlah… pertemuan kekasih yang terhenti karena cinta
Dan ia melemparkan surat itu kepadanya, maka ketika ia membacanya ia menulis balasan:
Jika engkau memiliki kehormatan yang kekal dan keturunan… maka sesungguhnya orang yang mulia itu menahan pandangannya dan dikenal
Sesungguhnya para pezina adalah orang-orang yang tidak memiliki akhlak… maka ketahuilah bahwa engkau pada hari pembalasan akan dimintai pertanggungjawaban
Dan putuskanlah harapanmu, semoga Allah melindungimu dari seorang laki-laki… maka sesungguhnya hatiku telah berpaling dari perbuatan keji
Maka ketika ia membaca surat itu, ia menegur dirinya sendiri dan berkata: “Sungguh buruk seorang perempuan yang lebih berani darimu!” Kemudian ia bertaubat dan mengenakan pakaian dari bulu dan berlindung ke Masjidil Haram. Maka ketika ia sedang tawaf suatu hari, tiba-tiba ada budak perempuan mengenakan jubah dari wol dan ternyata ia adalah budak perempuan itu.
Maka ia berkata: “Betapa pantas ini bagi bangsawan! Apakah engkau ingin yang halal?” Maka ia menjawab: “Aku menginginkan ini sebelum aku mengenal kebenaran dan mencintainya, namun sekarang cintanya telah menyibukkanku dari mencintai selainnya.” Maka ia berkata kepadanya: “Engkau benar, demi Allah aku tidak mengatakan ini kepadamu kecuali untuk mengujimu agar aku tahu batas yang telah engkau capai.”
Kemudian ia melakukan tawaf dan melantunkan syair:
Dan kami bertawaf, lalu terlihat dalam tawaf isyarat-isyarat… kami merasa cukup dengannya dari apa yang disaksikan dengan akal
Bab Kesebelas: Tentang Perintah Menundukkan Pandangan
Ketahuilah, semoga Allah memberimu taufik, bahwa mata adalah pembawa berita bagi hati yang memindahkan kepadanya berita-berita tentang yang terlihat dan mengukir di dalamnya bentuknya, maka pikiran berkelana di dalamnya sehingga hal itu menyibukkannya dari berpikir tentang apa yang bermanfaat baginya dari urusan akhirat.
Dan karena melepas pandangan adalah sebab jatuhnya hawa nafsu ke dalam hati, maka syariat memerintahkanmu untuk menundukkan pandangan dari apa yang ditakuti akibatnya. Jika engkau membiarkan diri terjerumus dalam kesalahan padahal telah diperintahkan untuk berhati-hati, maka engkau akan jatuh dalam kerugian, maka janganlah mengeluh dari rasa sakit yang pedih.
Allah Azza wa Jalla berfirman: Katakanlah kepada orang-orang mukmin agar mereka menundukkan sebagian pandangan mereka, dan katakanlah kepada perempuan-perempuan mukmin agar mereka menundukkan sebagian pandangan mereka. Kemudian Dia mengisyaratkan kepada akibat dari sebab ini dan memberitahukan tentang apa yang akan berujung pada keburukan ini dengan firman-Nya: Dan menjaga kemaluan mereka, dan menjaga kemaluan mereka.
Memberitakan kepada kami Hibatullah bin Muhammad ia berkata: memberitakan kepada kami Al-Hasan bin Ali ia berkata: memberitakan kepada kami Abu Bakar bin Malik ia berkata: menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad ia berkata: menceritakan kepadaku ayahku ia berkata: menceritakan kepada kami Husyaim ia berkata: memberitakan kepada kami Yunus dari Amr bin Said dari Abu Zur’ah bin Amr dari Jarir bin Abdullah ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang pandangan yang tidak disengaja, maka beliau bersabda: Palingkan pandanganmu. Diriwayatkan secara tersendiri oleh Muslim yang meriwayatkannya dari Qutaibah dari Yazid bin Zurai’ dari Yunus dan ia adalah Ibnu Ubaid.
Memberitakan kepada kami Abu Nashr At-Tusi, Abu Al-Qasim As-Samarqandi, Abu Abdullah bin Al-Bana, Abu Al-Fadhl Ibnu Al-Allamah, dan Abu Al-Hasan Al-Khayyath mereka berkata: memberitakan kepada kami Ibnu An-Nuqur ia berkata: memberitakan kepada kami Ibnu Hababah. Dan memberitakan kepada kami Ismail bin Ahmad, Abdul Wahhab bin Al-Mubarak, dan Yahya bin Ali mereka berkata: memberitakan kepada kami Abu Muhammad Ash-Sharifini ia berkata: menceritakan kepada kami Umar bin Ibrahim Al-Kanani mereka berdua berkata: memberitakan kepada kami Al-Baghawi ia berkata: menceritakan kepada kami Thalut bin Abbad ia berkata: menceritakan kepada kami Fidhal bin Jubair ia berkata: Aku mendengar Abu Umamah Al-Bahili berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Jaminlah bagiku enam perkara, aku menjamin kalian dengan surga: Jika salah seorang dari kalian berbicara maka jangan berbohong, jika dipercaya maka jangan berkhianat, jika berjanji maka jangan mengingkari, tundukkan pandangan kalian, tahan tangan kalian, dan jagalah kemaluan kalian.
Memberitakan kepada kami Ibnu Al-Husain ia berkata: memberitakan kepada kami Ibnu Al-Madzhab ia berkata: memberitakan kepada kami Ahmad bin Ja’far ia berkata: menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad ia berkata: menceritakan kepadaku ayahku ia berkata: menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad ia berkata: menceritakan kepada kami Harb dari Ayyub dari Al-Hakam bin Utaibah dari Ibnu Abbas dari saudaranya Al-Fadhl ia berkata: Aku membonceng di belakang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari Muzdalifah ke Mina, sementara beliau sedang berjalan tiba-tiba seorang Badui muncul di hadapan beliau memboncengkan putrinya yang cantik dan ia berjalan sejajar dengannya. Ia (Al-Fadhl) berkata: Maka aku melihat kepadanya, lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam melihatku dan memalingkan wajahku dari wajahnya, kemudian aku kembali melihat maka beliau memalingkan wajahku dari wajahnya hingga beliau melakukan itu tiga kali.
Memberitakan kepada kami Ibnu Nashir ia berkata: memberitakan kepada kami Abu Bakar Asy-Syirazi ia berkata: memberitakan kepada kami Abu Abdurrahman As-Sulami ia berkata: memberitakan kepada kami Abdul Wahid bin Bakr Al-Wartsani ia berkata: menceritakan kepada kami Abu Al-Azhar Al-Mayafariqini ia berkata: Aku mendengar Fath bin Syakhraf berkata: Abdullah bin Khubaiq berkata kepadaku: “Wahai orang Khurasan! Sesungguhnya hanya ada empat perkara, tidak lebih: matamu, lisanmu, hatimu, dan hawa nafsumu. Maka perhatikanlah matamu jangan melihat dengannya kepada apa yang tidak halal, perhatikanlah lisanmu jangan mengatakan dengannya sesuatu yang Allah mengetahui berbeda dari hatimu, perhatikanlah hatimu jangan ada di dalamnya kedengkian dan kebencian terhadap seorang pun dari kaum muslimin, dan perhatikanlah hawa nafsumu jangan menginginkan sesuatu dari keburukan. Jika tidak ada padamu keempat sifat ini maka taburkanlah abu di atas kepalamu karena engkau celaka.”
Memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi ia berkata: memberitakan kepada kami Ahmad bin Ahmad bin Hanbal ia berkata: menceritakan kepada kami Harun bin Abdullah ia berkata: menceritakan kepada kami Sayyar ia berkata: menceritakan kepada kami Ja’far ia berkata: menceritakan kepada kami Malik bin Dinar ia berkata: Nabi Allah Daud alaihissalam berkata: “Wahai para orang bertakwa! Kemarilah, akan kuajarkan kalian takut kepada Allah Azza wa Jalla.
Siapa pun hamba di antara kalian yang ingin hidup dan melihat amal-amal saleh, maka hendaklah ia menjaga matanya agar tidak melihat kepada keburukan dan lisannya agar tidak mengucapkan kebohongan. Mata Allah tertuju kepada orang-orang yang jujur dan Dia Maha Mendengar terhadap mereka.”
Memberitakan kepada kami Muhammad bin Nashir ia berkata: memberitakan kepada kami Abu Bakar Asy-Syirazi ia berkata: memberitakan kepada kami Abu Abdurrahman As-Sulami ia berkata: Aku mendengar Abu Bakar Muhammad bin Abdullah Ar-Razi berkata: Aku mendengar Abu Al-Abbas Al-Farghani berkata: Aku mendengar Al-Junaid berkata: Aku mendengar As-Sari berkata: Aku mendengar Ma’ruf Al-Karkhi berkata: “Tundukkan pandangan kalian, walaupun dari seekor domba betina.”
Memberitakan kepada kami Al-Muhammadan Ibnu Nashir dan Ibnu Abdul Baqi mereka berdua berkata: memberitakan kepada kami Hamad bin Ahmad ia berkata: memberitakan kepada kami Abu Nuaim Ahmad bin Abdullah ia berkata: menceritakan kepada kami Ahmad bin Ishaq ia berkata: menceritakan kepada kami Ahmad bin Al-Husain Al-Anshari ia berkata: menceritakan kepada kami Abu Ishmah ia berkata: Aku berada di sisi Dzun Nun dan di hadapannya ada seorang pemuda tampan yang mendiktekan sesuatu kepadanya, lalu lewatlah seorang perempuan yang cantik dan rupawan serta berakhlak baik, maka pemuda itu mulai mencuri pandang kepadanya. Dzun Nun menyadari hal itu lalu memelintir leher pemuda itu dan melantunkan syair:
Tinggalkanlah yang dibentuk dari air dan tanah… dan sibukkan cintamu dengan bidadari bermata indah
Memberitakan kepada kami Umar bin Zhafar ia berkata: memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad ia berkata: memberitakan kepada kami Abdul Aziz bin Ali ia berkata: memberitakan kepada kami Ali bin Abdullah ia berkata: menceritakan kepada kami Al-Khaldi ia berkata: Aku mendengar Al-Junaid berkata: “Alihkan perhatianmu kepada Allah Ta’ala dan janganlah engkau melihat dengan mata yang dengannya engkau menyaksikan Allah Azza wa Jalla kepada selain Allah Azza wa Jalla, maka engkau akan jatuh dari pandangan Allah Azza wa Jalla.”
Memberitakan kepada kami Ibnu Nashir ia berkata: memberitakan kepada kami Abdul Qadir bin Muhammad ia berkata: memberitakan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Ali Al-Khayyath ia berkata: memberitakan kepada kami Ibnu Abi Al-Fawaris ia berkata: memberitakan kepada kami Ahmad bin Ja’far bin Muslim ia berkata: menceritakan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Abdul Khaliq ia berkata: menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Marwazi ia berkata: Aku berkata kepada Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal: “Seorang laki-laki bertaubat dan berkata: ‘Sekalipun punggungku dipukul dengan cambuk, aku tidak akan masuk ke dalam kemaksiatan Allah, kecuali bahwa ia tidak meninggalkan pandangan.'” Maka ia (Ahmad bin Hanbal) berkata: “Taubat macam apa ini?”
Jarir berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang pandangan yang tidak disengaja, maka beliau bersabda: Palingkan pandanganmu.
Bab Kedua Belas: Tentang Celaan Terhadap Pandangan yang Berlebihan
Memberitakan kepada kami Ibnu Al-Husain ia berkata: memberitakan kepada kami Ibnu Al-Madzhab ia berkata: memberitakan kepada kami Ahmad bin Ja’far ia berkata: menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad bin Hanbal ia berkata: menceritakan kepadaku ayahku ia berkata: menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq ia berkata: menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Ibrahim dari Salamah dari Abu Thufail dari Ali ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepadaku: Jangan ikuti pandangan demi pandangan, karena bagimu yang pertama dan bukan bagimu yang kedua.
Memberitakan kepada kami Ismail bin Ahmad, Abdullah bin Muhammad Al-Hakim, dan Yahya bin Ali Al-Mudir mereka berkata: memberitakan kepada kami Ibnu An-Nuqur ia berkata: menceritakan kepada kami Ibnu Hababah ia berkata: menceritakan kepada kami Al-Baghawi ia berkata: menceritakan kepada kami Hudbah ia berkata: menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Ibrahim At-Taimi dari Salamah bin Abi Thufail dari Ali alaihissalam bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata: Wahai Ali, sesungguhnya bagimu di surga ada harta karun dan sesungguhnya engkau adalah pemilik dua tanduknya, maka jangan ikuti pandangan demi pandangan karena bagimu yang pertama dan bukan bagimu yang kedua. Salamah meriwayatkan dari Ali juga.
Memberitakan kepada kami Ibnu Nashir ia berkata: memberitakan kepada kami Al-Mubarak bin Abdul Jabbar ia berkata: memberitakan kepada kami Abu Ishaq Al-Barmaki ia berkata: menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Bakhit ia berkata: menceritakan kepada kami Abu Ja’far bin Dzurih ia berkata: menceritakan kepada kami Hannad ia berkata: menceritakan kepada kami Waki’ dari Syarik dari Abu Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari ayahnya ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Jangan ikuti pandangan demi pandangan, karena bagimu yang pertama dan bukan bagimu yang kedua.
Memberitakan kepada kami Ibnu Nashir dan Umar bin Zhafar mereka berdua berkata: memberitakan kepada kami Muhammad bin Al-Husain Al-Baqilawi ia berkata: memberitakan kepada kami Qadhi Abu Al-Ala Al-Wasithi ia berkata: memberitakan kepada kami Abu Nashr Ahmad bin Muhammad An-Niyazaki ia berkata: memberitakan kepada kami Abu Al-Khair Ahmad bin Muhammad Al-Bazzaz ia berkata: menceritakan kepada kami Al-Bukhari ia berkata: menceritakan kepada kami Ali bin Al-Ajlah dari Abdullah bin Abi Al-Hudzail ia berkata: Abdullah bin Mas’ud menjenguk orang sakit dan bersamanya ada sekelompok orang, dan di dalam rumah ada seorang perempuan. Maka seorang laki-laki dari kelompok itu mulai melihat kepada perempuan itu, lalu Abdullah berkata: “Seandainya matamu tercungkil, itu lebih baik bagimu.”
Memberitakan kepada kami Ibnu Nashir ia berkata: memberitakan kepada kami Abdul Qadir bin Muhammad ia berkata: memberitakan kepada kami Abu Ali At-Tamimi ia berkata: memberitakan kepada kami Ibnu Hamdan ia berkata: menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad ia berkata: menceritakan kepada kami Abu Musa Al-Anshari ia berkata: menceritakan kepada kami Ubadah bin Kulaib ia berkata: Seorang laki-laki berkata kepada Daud Ath-Tha’i: “Seandainya engkau memerintahkan agar apa yang ada di langit-langit rumah berupa sarang laba-laba dibersihkan.”
Maka ia berkata kepadanya: “Tidakkah engkau tahu bahwa ia (Daud) membenci pandangan yang berlebihan?”
Kemudian Daud Ath-Tha’i berkata: “Aku diberitahu bahwa Mujahid memiliki loteng di rumahnya selama tiga puluh tahun dan ia tidak menyadarinya.”
Memberitakan kepada kami Ibnu Abi Manshur ia berkata: memberitakan kepada kami Al-Mubarak bin Abdul Jabbar ia berkata: memberitakan kepada kami Abu Ishaq Al-Barmaki ia berkata: memberitakan kepada kami Abu Al-Husain Az-Zainabi ia berkata: menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf ia berkata: menceritakan kepadaku sebagian perawi dari Al-Madaini dari para syaikhnya ia berkata: Daud bin Abdullah dicari oleh sebagian penguasa Bashrah, maka ia berlindung kepada seorang laki-laki dari sahabat-sahabatnya dan rumahnya berada di ujung Bashrah.
Dan lelaki itu adalah seorang yang sangat cemburu, lalu dia menempatkannya di rumahnya. Dia memiliki seorang istri bernama Zarqa yang cantik. Suatu ketika lelaki itu pergi untuk suatu keperluan dan berpesan kepada istrinya agar bersikap baik dan melayani Dawud. Ketika lelaki itu pulang, dia bertanya kepadanya, “Bagaimana menurutmu Zarqa dan bagaimana kebaikannya kepadamu?” Dawud menjawab, “Zarqa siapa?” Lelaki itu berkata, “Istri pemilik rumahmu.” Dawud berkata, “Aku tidak tahu apakah dia Zarqa atau perempuan lain, aku sama sekali tidak pernah mengangkat pandanganku kepadanya.” Lalu suaminya mendatangi istrinya dan berkata, “Aku telah berwasiat kepadamu tentang Dawud agar kamu bersikap baik dan melayaninya, tapi kamu tidak melakukannya.” Istrinya menjawab, “Kamu mewasiati aku tentang seorang lelaki yang buta. Demi Allah, dia tidak pernah mengangkat pandangannya kepadaku sekalipun.”
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ahmad, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Ja’far, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Nashr, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim ad-Duruqi, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Isa, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdullah az-Zarrad, dia berkata: Hassan keluar menuju perayaan Idul Fitri. Ketika dia pulang, dikatakan kepadanya, “Wahai Abu Abdullah, kami tidak pernah melihat perayaan yang lebih banyak perempuannya dari hari ini.” Dia menjawab, “Tidak ada seorang perempuan pun yang aku jumpai hingga aku kembali.”
Ad-Duruqi berkata: dan telah menceritakan kepadaku Ghassan bin al-Mufadhdhal, dia berkata: telah menceritakan kepada kami seorang syaikh kami yang bernama Abu Hakim, dia berkata: Hassan bin Abi Sinan keluar pada hari raya. Ketika dia pulang, istrinya bertanya kepadanya, “Berapa banyak perempuan cantik yang kamu lihat hari ini?” Hassan menjawab, “Celaka kamu! Aku tidak melihat selain ibu jari tanganku sejak aku keluar dari sisimu hingga aku kembali kepadamu.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, dia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Mubarak bin Abdul Jabbar, dia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Hasan bin Ali al-Jauhari, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Haiwayah, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu al-Marzuban dengan izin, dia berkata: telah mengabarkan kepadaku al-Hasan bin ‘Alil al-Anazi dari Abu Jabir adh-Dhabbi, dia berkata: Bani Kilab tiba di Bashrah, lalu aku mendatangi mereka. Ternyata ada seorang perempuan tua bersama seorang gadis yang belum pernah kulihat yang lebih cantik darinya. Saat itu aku masih muda, lalu aku terus-menerus menatapnya. Perempuan tua itu menyadari pandanganku dan berkata kepadaku, “Wahai anakku, betapa kamu membutuhkan sesuatu yang dapat menahan pandanganmu. Tidakkah kamu mendengar ucapan penyair:
Barangsiapa yang membiarkan matanya mengikuti orang-orang, maka selamanya Dia akan melihat kebutuhan yang terlarang yang tidak dapat diraihnya
Dia berkata: Aku pun pergi, dan demi Allah, aku tidak dapat menjawab sedikitpun, sementara di hatiku bagaikan terbakar api.
Dari Sufyan ats-Tsauri tentang firman Allah Ta’ala: Dan manusia dijadikan bersifat lemah, dia berkata: “Seorang perempuan lewat di hadapan seorang lelaki, lalu dia tidak mampu menahan dirinya untuk tidak melihatnya padahal dia tidak bisa mendapatkan manfaat darinya. Maka kelemahan apa yang lebih parah dari ini?”
Dan Miskin ad-Darimi membacakan syair:
Tidak ada yang merugikanku jika tetanggaku yang kutemani Pintu rumahnya tidak memiliki tirai Aku menjadi buta ketika tetanggaku keluar Hingga kamar wanita menutupi tetanggaku Dan telingaku tuli dari apa yang ada di antara mereka Hingga menjadi seolah-olah itu adalah tuli permanen
Dan di zaman kami ada Abu al-Hasan bin Ahmad bin Jahsyuwaih al-Harbi yang tidak berjalan kecuali dengan mengenakan kerudung di kepalanya untuk menahan pandangannya agar tidak berkeliaran.
Dia memasuki rumah saudara perempuannya dan melihat seorang perempuan yang sedang mengunyah sesuatu, lalu dia berkata, “Jauhkan perempuan yang sedang mengunyah itu agar aku tidak melihatnya.”
Bab Ketiga Belas: Peringatan dari Bahaya Pandangan
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu al-Hushain, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu al-Madzhab, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ja’far, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, dia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Affan, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Suhail bin Abi Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kedua mata berzina dan zinanya adalah pandangan.”
Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim bersama-sama dari hadits Ibnu Abbas dari Abu Hurairah.
Telah mengabarkan kepada kami Hibatullah bin al-Hushain, dia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Hasan bin Ali at-Tamimi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ja’far, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, dia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Marwan bin Mu’awiyah al-Fazari, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Tsabit bin Amarah al-Hanafi dari Ghunaim bin Qais dari al-Asy’ari, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap mata itu berzina.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu al-Hushain, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Abi Ali al-Qadhi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Hassan, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muttain, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Harits al-Harrani, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah dari al-Fazari dari Abu Syu’bah atau Syaibah dari an-Nu’man bin Sa’d dari Ali ‘alaihissalam, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Ali, takutlah pada pandangan setelah pandangan, karena ia adalah anak panah beracun yang menumbuhkan syahwat di dalam hati.”
Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Mubarak, dia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Mubarak bin Abdul Jabbar, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad al-Khallal, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdullah bin Ahmad at-Tammar, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ali al-Khallal, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakr al-Qurasyi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Abdullah ar-Raqqi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdurrahman al-Qurasyi dari Khushaif dari Anas, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pandangan seorang lelaki kepada keindahan seorang perempuan adalah anak panah beracun dari anak panah iblis.”
Telah mengabarkan kepada kami Ahmad, dia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Mubarak, dia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Khallal, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Muhammad al-Farisi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad al-Mishri, dia berkata: telah menceritakan kepada kami ar-Rabi’ bin Sulaiman, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, dia berkata: telah mengabarkan kepadaku Sulaiman bin Bilal dari Yahya bin Sa’id, dia berkata: Isa bin Maryam biasa berkata: “Pandangan menabur syahwat di dalam hati, dan itu sudah cukup sebagai dosa.”
Telah memberitakan kepada kami Abdul Wahhab al-Hafizh, dia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Mubarak bin Abdul Jabbar, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu al-Hasan al-‘Atiqi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Umar bin Amr bin al-Misyab, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad Abdullah bin Sulaiman al-Fami, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Habib al-Bazzaz, dia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Fadhl bin Musa al-Bashri, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Basyar ar-Ramadi dari Sufyan, dia berkata: Isa bin Maryam berkata: “Berhati-hatilah dari pandangan, karena ia menabur syahwat di dalam hati, dan itu sudah cukup sebagai fitnah bagi pemiliknya.”
Sufyan berkata: Ar-Rabi’ bin Khutsaim menundukkan pandangannya. Suatu ketika perempuan-perempuan lewat di dekatnya, lalu dia menundukkan kepalanya hingga perempuan-perempuan itu mengira dia buta, maka mereka berlindung kepada Allah dari kebutaan.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, dia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Mubarak bin Abdul Jabbar, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Ishaq al-Barmaki, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakr bin Bukhait, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Shalih, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Hannad, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari al-A’masy dari Muhammad bin Abdurrahman bin Yazid dari Abu al-Ahwash, dia berkata: Abdullah berkata: “Setiap pandangan, maka setan memiliki harapan padanya.”
Hannad berkata: dan telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Aban bin Shama’ah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Setan berada pada lelaki di tiga tempat: pada pandangannya, hatinya, dan kemaluannya. Dan dia berada pada perempuan di tiga tempat: pada pandangannya, hatinya, dan pantatnya.”
Hannad berkata: dan telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur, dia berkata: Ibnu Abbas berkata tentang firman Allah Ta’ala: Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat, yaitu: “Seorang lelaki berada di tengah kaum, lalu seorang perempuan lewat di hadapan mereka. Dia memperlihatkan kepada mereka bahwa dia menundukkan pandangannya darinya. Jika dia melihat mereka lengah, dia melihatnya. Jika dia khawatir mereka akan menyadarinya, dia menundukkan pandangannya. Padahal Allah Azza wa Jalla telah melihat dari hatinya bahwa dia berharap dapat melihat auratnya.”
Hannad berkata: dan telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Laits dari Atha’, dia berkata: “Setiap pandangan yang disukai hati, maka tidak ada kebaikan padanya.”
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Hamad bin Ahmad, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Hamid bin Hablah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq, dia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Fadhl bin Sahl, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sabiq, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Malik bin Mughul, dia berkata: Aku mendengar Sa’id bin Sinan berkata: Amr bin Murrah berkata: “Aku tidak suka jika aku menjadi orang yang dapat melihat. Aku masih ingat ketika aku melihat satu pandangan saat aku masih muda.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Yusuf, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu al-Madzhab, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Malik, dia berkata: Telah sampai kepada kami bahwa Sulaiman berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, berjalanlah di belakang singa dan ular hitam, dan jangan berjalan di belakang perempuan.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Dinar, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Nabhan, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Duma, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Nashr adz-Dzari’, dia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Husain bin Ali al-Mu’addib, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakr al-Hanafi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin al-‘Aizar, dia berkata: Al-Hasan berkata: “Barangsiapa melepaskan pandangannya, maka panjang penyesalannya.”
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Hamad bin Ahmad, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Malik, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, dia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Mu’tamar dari Ishaq bin Suwaid dari al-‘Ala’ bin Ziyad, dia berkata: “Jangan biarkan pandanganmu mengikuti pakaian seorang perempuan, karena pandangan menimbulkan syahwat di dalam hati.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Yusuf, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakr al-Hannath, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Fath bin Abi al-Fawaris, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ja’far al-Khatli, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Abdul Khaliq, dia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Marwazi, dia berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdullah: “Seorang lelaki melihat budak perempuan?” Dia menjawab: “Jika dia takut fitnah, jangan melihat. Betapa banyak pandangan yang telah melemparkan kegundahan ke dalam hati pemiliknya.”
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abi Manshur, dia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Mubarak bin Abdul Jabbar, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Abdullah ash-Shuri, dia berkata: telah mengabarkan kepadaku Abu al-Fadhl al-Hasan bin Ahmad al-Qadhi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Atha’ ar-Rudzabari, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ubaid bin Muhammad al-Muqri, dia berkata: Muhammad bin Ya’qub berkata: Dzun Nun berkata: “Lirikan-lirikan menimbulkan penyesalan. Awalnya adalah kesedihan dan akhirnya adalah kebinasaan. Barangsiapa mengikuti pandangannya, maka dia mengikuti kehancurannya.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Dinar, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Nabhan, dia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Husain bin al-Hasan bin Duma, dia berkata: telah memberitakan kepada kami adz-Dzari’, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Mu’adz, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Hammad bin Ishaq dari ayahnya, dia berkata: Sebagian orang bijak berkata: “Awal cinta adalah pandangan, dan awal kebakaran adalah percikan api.”
Adz-Dzari’ berkata: dan telah menceritakan kepada kami Shadaqah bin Musa, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Mahdi bin Sabiq, dia berkata: Beberapa orang filsuf berkumpul di hadapan Iskandar. Suatu hari mereka membicarakan tentang lahirnya cinta dari pandangan. Salah seorang dari mereka berkata: “Pandangan, awalnya adalah kesedihan dan akhirnya adalah kebinasaan.”
Dan yang lain berkata: “Barangsiapa menaati pandangannya, maka dia mengikuti kehancurannya.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, dia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Mubarak bin Abdul Jabbar, dia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Jauhari, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Haiwayah, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu al-Marzuban dengan izin, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ali bin Bisyr al-Mishri, dia berkata: telah menceritakan kepadaku al-Fadhl bin ‘Ashim al-Munqiri, dia berkata: Ketika seorang lelaki sedang thawaf di Ka’bah, tiba-tiba dia melihat seorang perempuan yang memiliki kecantikan dan tubuh yang menawan, lalu dia terpesona dan hatinya terganggu. Maka dia mulai membacakan syair:
Aku tidak pernah mengira bahwa cinta akan menimpaku Saat thawaf di Baitullah yang memiliki tirai Hingga aku diuji, maka hati menjadi guncang Karena cinta pada gadis yang cantik bagai bulan purnama Seandainya aku tidak pernah melihat rupanya Ya Allah, apa yang ditimpakan pandanganku kepadaku
Maka berhati-hatilah wahai saudaraku, semoga Allah memberimu taufik, dari bahaya pandangan. Betapa banyak ahli ibadah yang telah dibinasakan karenanya, dan tekad seorang zahid yang menjadi luluh. Kamu akan melihat dalam pembahasan-pembahasan kitab ini kisah-kisah orang yang terfitnah karena pandangan, maka ambillah pelajaran dari itu. Perhatikanlah makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Pandangan adalah anak panah beracun,” karena anak panah menjalar ke hati dan bekerja di dalam batin sebelum terlihat kerjanya di lahir. Maka berhati-hatilah dari pandangan karena ia adalah sebab bencana, kecuali bahwa pengobatannya di awal-awalnya masih mudah. Jika diulang-ulang, keburukan akan mengakar dan pengobatannya menjadi sulit.
Aku akan memberikan perumpamaan untukmu tentang hal itu: Jika kamu melihat seekor kuda yang membawa penunggangnya menyimpang ke gang sempit lalu masuk dengan sebagian badannya, dan karena sempitnya tempat tidak mungkin kuda itu dapat berbalik di dalamnya, maka seseorang berteriak kepadanya: “Mundurkan dia segera sebelum masuknya bertambah!” Jika dia mau dan menariknya selangkah ke belakang, perkaranya mudah. Namun jika dia lalai hingga kuda itu masuk seluruhnya lalu dia berdiri menariknya dari ekornya, lelahnya akan panjang dan mungkin tidak dapat melakukannya. Demikian pula pandangan, jika sudah berbekas di hati. Jika orang yang berhati-hati segera menundukkannya dan memutus penyebab dari awalnya, pengobatannya mudah. Namun jika pandangan diulang-ulang, menyelidiki keindahan-keindahan bentuk dan memindahkannya ke hati yang kosong lalu menggambarnya di dalamnya, setiap kali pandangan berlanjut maka ia seperti air yang menyirami pohon sehingga terus tumbuh. Maka hati menjadi rusak dan berpaling dari pemikiran terhadap apa yang diperintahkan kepadanya. Dia mengeluarkan pemiliknya kepada cobaan, mengakibatkan melakukan hal-hal yang terlarang, dan melemparkan ke dalam kebinasaan.
Sebab dari kehancuran ini adalah bahwa orang yang melihat mendapatkan kenikmatan pada pandangan pertama, lalu dia mengulanginya untuk mencari kenikmatan dari melihat dengan menganggap remeh hal itu. Maka apa yang dia anggap remeh itu mengakibatkan kebinasaan. Seandainya dia menundukkan pandangan pada pandangan pertama, niscaya dia selamat sepanjang sisa hidupnya.
Banyak penyair telah memperbanyak puisi dalam menggambarkan bencana yang menimpa orang-orang yang memandang.
Farazdaq berkata:
Ia mengambil pandangan darinya yang tidak menyisakan baginya Hati, dan ia tidak menyadari apa yang telah ia ambil Aku tidak pernah melihat orang terbunuh dan tidak pernah melihat pembunuh Tanpa senjata seperti dia ketika menyerang
Ibrahim bin Abbas bin Saul al-Katib berkata:
Siapa yang diserang oleh musuh dan orang yang dengki Maka aku diserang dari mataku dan dari hatiku Keduanya menyerangku dengan pandangan lalu pikiran Mereka tidak menyisakan bagiku tidur dan akal
Abu Bakar bin Duraid meriwayatkan dari Abdurrahman dari pamannya, ia berkata: Aku duduk di dekat seorang Badui yang dipanggil Ismail bin Ammar, dan tiba-tiba dia memelintir jari-jarinya dan menyesali. Aku bertanya: Mengapa engkau menyesali? Lalu ia mulai berkata:
Kedua mataku membawa sial, celaka keduanya Dan hati yang bingung yang diuji oleh keduanya Keduanya mengenalkannya cinta karena kezaliman mereka Semoga aku kehilangan keduanya sebelum ini Keduanya hingga saat ini memimpin dan keduanya Menunjukkan apa yang aku sembunyikan air mata mereka Keduanya membantu hati dalam cintanya sehingga Sebab bencana ini bukan selain keduanya
Mubarak bin Ali mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ali bin Muhammad bin al-Allaf mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abdul Malik bin Bisyran mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ibrahim mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Daulaabi membacakan padaku:
Hatiku berkata kepada mataku: engkau membangkitkan penyakit bagiku Dan mata mengklaim bahwa hati membuatnya menangis Dan tubuh menyaksikan bahwa mata itu bohong Dialah yang membangkitkan bencana untuk hati Seandainya bukan mata dan apa yang mereka sembunyikan dari penyakit Aku tidak akan tergeletak dalam rahasia dari yang melihatnya
Ia berkata: Daulaabi membacakan padaku:
Hatiku berkata kepada mataku ketika ia menangis ketakutan Engkau menangis dan engkaulah yang membuatku menanggung kepedihan Mataku berkata kepadanya sambil menegurnya Bahkan engkaulah yang membuatku menanggung harapan dan keserakahan Hingga ketika masing-masing sendirian dengan kawannya Keduanya telah puas dengan penyakit yang panjang Hatiku memanggil mereka: jangan kalian hancurkan, sungguh Kalian berdua telah memotongku dengan apa yang kalian hadapi, terpotong
Ia berkata: Abu Abdullah al-Maristani membacakan padaku:
Mataku melemparku dengannya hingga tidak meleset sasaranku Dan tidak semua yang dilempar, sasaran mautnya tertimpa Jika aku mati, tangisi aku sebagai korban pandangannya Korban musuh yang hadir yang tidak ia tinggalkan
Dan dari sinilah Ibnu al-Mu’taz berkata:
Pecinta yang menggembalakan bintang-bintang malam Penegur menangisinya karena kasihan Mataku menumpahkan darahku dalam cinta Maka tangislah korban yang sebagiannya adalah pembunuhnya
Dan dari sinilah ia berkata:
Mutanabbi: Dan aku adalah orang yang matanya menarik kematian Maka siapa yang menuntut sedangkan yang terbunuh adalah pembunuh
Ia juga berkata:
Wahai pandangan yang mengusir tidur dan meninggalkan Di tepi hatiku selama aku hidup, pedang Ia adalah dari yang bercelak hitam, permintaanku hanyalah Ajalku terwujud di hatiku secara ringan
Ia juga berkata:
Lindungi sang pangeran dari cinta mata karena itu Harta yang tidak lenyap dengan keberaniannya dan kedermawanannya Ia menawan pahlawan perkasa dengan pandangan Dan menghalangi antara hatinya dan kekuatannya
Ibnu al-Mu’taz berkata:
Dan aku tidak tahu jika malamku gila Kerinduan di hatiku atau kebakaran Wahai kedua mataku, kalian telah menimpaku Dengan pandangan kalian, maka rasakan lalu rasakan
Dan untuknya:
Celakalah hati karena mata, sungguh Hari kiamat mereka telah terjadi di dunia
Untuk Khalid al-Katib:
Dan orang yang kelopak matanya beristirahat dari begadang Mewariskan kepadaku dengan panjangnya berpaling Wahai mataku, ini yang engkau lakukan, rasakanlah Kegelisahanmu hari ini dari kemarin yang lalu
Dan untuknya:
Ya Tuhan, apa yang mataku lakukan pada tubuhku Dari penyakit, andai mata itu tidak ada Jiwa tidak pergi kecuali saat melihatnya Dan cukup baginya bahwa ia melihat budak yang memiliki diriku Tubuhku dan jiwaku berpasangan dalam ikatan Keduanya dibebani dengan penyakit dan kesedihan yang panjang
Abdul Wahhab al-Hafidz mengabarkan kepada kami, ia berkata: Humaidi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ali bin Hamzah ash-Shiqilli membacakan padaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Thahir al-Baghdadi membacakan dalam majelis ceramahnya:
Aku menegur hatiku ketika Aku melihat tubuhku kurus Hati mewajibkan mataku Dan berkata: engkaulah utusan itu Mataku berkata kepada hatiku Bahkan engkaulah wakil itu Aku berkata: cukup kalian berdua Kalian berdua menjadikan aku terbunuh
Abu al-Ma’mar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Hasan bin Muzhaffar al-Hamadzani mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan, ia berkata: Abu Manshur Muhammad bin Umar al-Ashbahani membacakan padaku, ia berkata: Muhammad al-Ashfari membacakan padaku, ia berkata: Seorang penyanyi masuk ke Isfahan dan ia menyanyikan syair-syair ini:
Dengarlah wahai hamba-hamba Allah dariku Dan menjauhlah dari memandang yang cantik Sesungguhnya cinta akhirnya adalah kematian Dan awalnya menyerupai gurauan
Abu al-Ma’mar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Ali al-Hasan bin al-Muzhaffar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ayahku membacakan padaku, ia berkata: Abu Badr Muhammad bin Ali al-Ashbahani membacakan kepada kami:
Dan pemuda ketika ia menyanyikan Menyerahkanku kepada kebinasaan Dengan matanya dan keanggunannya Dan kelemahlembutan ketika ia muncul Aku ingin memburuanya Namun hatiku yang berburu dan pergi
Untuk sebagian mereka dalam menegur mata:
Demi Allah wahai mataku yang melakukan kesalahan pada tubuhku Aku akan memadamkan dengan air mataku api kesedihan Demi Allah, apakah engkau berharap aku akan menanggung cinta dan penderitaan Sedangkan engkau memberi makan dari tidur dan kantuk Mustahil, hingga engkau melihat mata tanpa pandangan Sebagaimana aku melihat diriku orang tanpa tubuh
Abu Abdullah bin al-Hajjaj berkata:
Wahai yang melihat penyakitku bertambah Dan sakitku membuat dokter tidak berdaya Jangan heran, karena begitulah Mata melakukan kesalahan pada hati
Abu Manshur bin al-Fadhl berkata:
Setiap hari mata memiliki peristiwa Manusianya yang ambisius di dalamnya terluka Seandainya mereka tidak terluka pada hari pertemuan mereka Tidak akan mengalir dari pelupuk mata darah
Ia juga berkata:
Pandangan kami melakukan kesalahan tanpa pengetahuan padanya Dan jiwa kami ditangkap dengan kejahatan Dan aku tidak melihat yang lebih bodoh dari jiwa yang suci Yang membenarkan berita mata-mata yang jahat Dan barangsiapa kelopak mata adalah penghalang hatinya Ia mengizinkan isi perutnya dengan bencana
Ia juga berkata:
Selalu kejahatan mata Lautan mereka membakar hati
Untuk Abu Muhammad bin al-Khafaji:
Matanya melempar mataku lalu pergi dengan selamat Maka siapa hakim antara yang bercelak dan yang menangis Wahai mataku, aku telah memperingatkanmu pandangan yang Engkau curi, engkau tidak memperhatikan larangan dan tegahan Wahai hati, ia telah menghancurkanmu dari sebelumnya sekali Celakalah engkau, mengapa engkau menaatinya sekali lagi
Dan untuknya:
Bukankah aku katakan padamu jangan mencuri kecantikannya Karena matamu dirugikan dari pencurian Rusa yang mataku lemparkan kepadanya jaring Dan aku tidak tahu bahwa singa ada dalam sarangnya
Ibnu Hayyus berkata:
Wahai para lelaki karena pandangan yang menumpahkan darah Dan kejadian yang aku tidak hadapi dengan menyerah Aku melihat panah menuju yang dituju dengannya Mengapa panah pandangan membunuh yang melempar
Abdul Muhsin bin Ghalib ash-Shuri berkata:
Tidak ada pandangan kecuali padanya ada mabuk Seakan-akan matamu adalah khamar Ini cinta yang keluar darinya kerinduan Diikuti oleh api dan pikiran Dan ini perbuatan-perbuatannya ini Tidak ada setelah penglihatan mata, kabar Dan bukan yang pertama yang mengecohku Setiap yang tertipu mata adalah penipu
Ia juga berkata:
Jika engkau tidak menjaga kilatan yang bersinar Dan tidur, mengalir di bawahmu banjir yang mengalir Engkau menanam cinta dengan pandangan lalu meremehkannya Lalu mengabaikannya dengan tenang dan toleran Dan engkau tidak tahu hingga cabang-cabangnya berbuah Dan angin perpisahan bertiup padanya yang membakar Dan engkau menjadi meminta dari kesabaran yang menjauh Darimu dan mendekatkan dari tidur yang pergi
Ia juga berkata:
Engkau memaparkanku, seandainya aku berhati-hati Mataku tidak memerintah dalam kesenangan melihat Dan aku memejamkan mata dan tidak memenuhi keinginannya Darinya karena pengetahuanku tentang akibat pandangan itu Dan orang selama ia memiliki mata yang ia putar Di mata-mata yang cantik, terhenti pada bahaya Menyenangkan pelupuk matanya apa yang membahayakan jiwanya Tidak ada sambutan pada kegembiraan yang berubah menjadi bahaya
Ia juga berkata:
Dan jika kekuatan telah sempurna padamu, maka berhati-hatilah terhadap yang lemah kelopak mata
Ia berkata… dan Mihyar berkata:
Betapa sucilah jiwa wahai temanku keluhanku, seandainya bukan karena kemunculan kelopak mata
Dan untuknya:
Mataku bepergian dengan rombongan di lereng Dan hati kembali dengan gila Pandangan yang tertipu melakukan kesalahan, pertarungan Di dalamnya pengecut membunuh yang berani
Abu Ali bin asy-Syibil berkata:
Wajib bagi mata yang ambisi untuk tunduk Dengan paksa kepada mata yang indah Betapa lebih bermanfaatnya celaan pencela seandainya Hatiku ada di sumur sebelumku
Untuk Wazir Abu Syuja’:
Aku akan menyiksa mata tanpa berpikir Padanya mengalir air mata atau darah mengalir Dan aku akan meninggalkan dari tidur yang nikmat Hingga ia menjadi haram pada kelopak mata Ia menumpahkan darahku, maka aku akan menumpahkan air matanya Dan dialah yang memulai sehingga lebih zalim Dialah yang menjatuhkanku dalam jaring fitnah Seandainya ia tidak memandang, aku akan selamat
Syaikh kami Abu Abdullah al-Bari’ berkata:
Dan panah-panah pandangan menghalalkan pada waktu jatuh Lalu mereka pergi, mereka tidak pergi kecuali dari korban
Ali bin Aflah berkata:
Ia pergi mengikuti rusa di lereng dengan bebas Lalu kembali saudara kesedihan kembalinya terikat Ia melempar pada hari Sal’ matanya dengan remeh Lalu pulang dengan panah di isi perutnya yang tertancap Aku berkata kepadanya: Wahai Sa’d, Zainab menipu engkau Engkau mencuri pandangan darinya di tepian Jaliq Maka ambillah ketika engkau melempar rusa yang lewat Engkau akan menemui sasarannya, maka barangsiapa melempar akan tertimpa
Dan untuknya juga:
Mataku adalah asal penyakitku dalam cinta Semoga Allah tidak memberi mataku kantuk Seandainya ia berhati-hati dalam sasaran lemparannya Pada hari Sal’, tidak akan menderita aku apa yang menderita
Yang lain berkata:
Wahai mataku, engkaulah yang membunuhku Dan menjadikan dosamu dari dosaku Dan aku melihatmu mengecilkan air mata Seakan-akan mereka adalah kelembutan kekasih Demi Allah aku bersumpah dengan jujur Dan kejujuran adalah dari sifat yang bijak Seandainya masa-masa zaman membedakan Dari yang jauh ke yang dekat Mereka tidak akan menjadi kecuali di bawah apa Yang mata lakukan pada hati
Yang lain berkata:
Dan pembuka pintu bencana dengan pandangan Mengambil darinya hatinya penyesalan sepanjang masa Demi Allah, ia tidak tahu, apakah ia tahu dengan apa yang dilakukan Pada hatinya atau menghancurkannya dan ia tidak tahu
Yang lain berkata:
Aku berada di antara dua musuh, mereka adalah hatiku dan mataku Mata memandang dan hati mencintai sedangkan yang dituju adalah kematianku
Ibnu al-Hariri berkata:
Maka lihatlah dan jangan cium setiap kilat Betapa banyak kilat di dalamnya petir waktu Dan pejamkan mata, engkau akan beristirahat dari cinta Engkau mengenakan pakaian penghinaan dan aib di dalamnya Karena bencana pemuda adalah menyetujui jiwa Dan awal cinta adalah ambisi mata
Bab: Larangan Memandang dan Berkumpul dengan Pemuda Tampan
Pasal Pertama
Suatu hari seseorang yang terkena musibah ini berkata kepadaku: “Aku telah mendengar darimu tentang haramnya memandang, dan engkau telah sangat menekankan peringatan dari memandang.
Suatu hari aku memandang seorang wanita dengan satu pandangan, lalu aku jatuh cinta kepadanya dan cintaku kepadanya semakin kuat. Nafsuku berkata kepadaku: ‘Sesungguhnya engkau berada dalam ujian yang berat dari hal yang tidak kau yakini kebenarannya. Karena pandangan pertama tidak memastikan sosok tersebut, maka seandainya engkau mengulangi pandangan, mungkin kepastian itu akan menimbulkan ketenangan. Maka apa pendapatmu tentang peristiwa ini?'”
Aku katakan kepadanya: “Ini tidak boleh dilakukan karena empat alasan:
Pertama, bahwa ini tidak halal.
Kedua, seandainya kau memandang, yang jelas akan menguatkan apa yang ada padamu. Karena apa yang membuatmu terpesona dengan pandangan pertama, yang jelas adalah keindahannya. Maka tidak baik kau mengambil risiko dengan mengukuhkan perkara itu bagimu, karena mungkin kau akan melihat sesuatu yang melebihi sangkaanmu, sehingga siksaanmu bertambah.
Ketiga, bahwa iblis saat kau bermaksud melakukan pandangan ini akan berdiri di atas kendaraannya untuk menghiasi bagimu apa yang tidak baik, kemudian kau tidak akan diberi pertolongan terhadapnya, karena apabila kau berpaling dari menaati perintah syariat, pertolongan akan meninggalkanmu.
Keempat, bahwa kau sekarang dalam posisi bermuamalah dengan Allah Yang Maha Mulia untuk meninggalkan yang dicintai, sedangkan kau ingin memastikan hingga jika yang dipandang itu tidak disukai, kau meninggalkannya. Jika demikian, berarti meninggalkannya karena tidak sesuai dengan tujuanmu, bukan karena Allah Ta’ala.
Maka di manakah bermuamalah dengan-Nya dengan meninggalkan yang dicintai karena-Nya? Padahal Allah Subhanahu telah berfirman: “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya” (QS. Al-Insan: 8), dan Allah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), hingga kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai” (QS. Ali Imran: 92). Maka berhati-hatilah, berhati-hatilah!”
Bab Keempat Belas: Larangan Memandang Pemuda Tampan dan Berkumpul dengan Mereka
Ketahuilah, semoga Allah memberimu taufik, bahwa bab ini termasuk bab-bab fitnah yang paling besar. Banyak orang telah mengabaikan pengawasannya. Sesungguhnya setan hanya masuk kepada hamba dari tempat yang memungkinkan baginya untuk masuk, hingga ia membawanya kepada ujung maksimal dari fitnah yang mampu ia lakukan.
Setan tidak datang kepada ahli ibadah lalu menghiaskan kepadanya zina pada awalnya. Namun ia menghiaskan pandangan kepadanya. Ahli ibadah dan ahli ilmu telah menutup rapat-rapat pada diri mereka sendiri pintu memandang kepada wanita asing karena jauhnya pergaulan dengan mereka dan terhalangnya percampuran dengan mereka. Sedangkan anak laki-laki (pemuda) bergaul dengan mereka berdua, maka hendaklah berhati-hati dari fitnahnya. Betapa banyak kaki yang tergelincir karenanya, betapa banyak tekad yang hancur, dan sedikit orang yang mendekati fitnah ini kecuali terjerumus di dalamnya.
Dengan metode kehati-hatian inilah salaf umat ini berlalu, dan dengan ini para ulama dan imam memerintahkan.
Hadits-Hadits tentang Larangan Berkumpul dengan Pemuda Tampan
Kami diberitahu oleh Abu Manshur Abdurrahman bin Muhammad Al-Qazzaz, ia berkata: Kami diceritakan oleh Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit, ia berkata: Aku diberitahu oleh Abu Thalib Umar bin Ibrahim Al-Faqih, ia berkata: Kami diberitakan oleh Muhammad bin Al-Abbas Al-Kharraz, ia berkata: Kami diberitakan oleh Muhammad bin Khalaf bin Al-Marzuban secara ijazah, dan diceritakan kepada kami darinya oleh Muhammad bin Abdullah bin Huraith Al-Katib, ia berkata: Aku diceritakan oleh Ahmad bin Hisyam Al-Harbi, ia berkata: Aku diceritakan oleh Ali bin Daud Al-Marwazi dan bukan Al-Qanthuri, ia berkata: Aku diceritakan oleh Abdurrahman bin Wafid, dari Amr bin Azhar, dari Aban, dari Anas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian duduk bersama anak-anak raja, karena sesungguhnya jiwa merindukan kepada mereka sebagaimana tidak merindukan kepada gadis-gadis perawan.”
Dan kami diberitahu oleh Ibnu Nashir, ia berkata: Kami diberitakan oleh Al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: Kami diberitakan oleh Abu Muhammad Al-Jauhari, ia berkata: Kami diberitakan oleh Ibnu Haiwiyah, lalu ia menyebutkan hadits tersebut.
Kami diberitahu oleh Ahmad bin Al-Mubarak, ia berkata: Kami diberitakan oleh Al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: Kami diberitakan oleh Abu Muhammad Al-Khallal, ia berkata: Kami diceritakan oleh Umar bin Syahin, ia berkata: Kami diceritakan oleh Muhammad bin Abi Sa’d Al-Muqri, ia berkata: Kami diceritakan oleh Ahmad bin Hammad Al-Mishishi, ia berkata: Kami diceritakan oleh Abbas bin Muhriz, ia berkata: Kami diceritakan oleh Abu Usamah, dari Mujalid bin Sa’id, dari Asy-Sya’bi, ia berkata: Datang delegasi Abdul Qais kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, di antara mereka ada seorang pemuda yang tampan dan bersih. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendudukkannya di belakang punggungnya dan bersabda: “Kesalahan Daud adalah pandangan.”
Kami diberitakan oleh Ismail bin Ahmad As-Samarqandi, ia berkata: Kami diberitakan oleh Ismail bin Al-Fadhl Al-Isma’ili, ia berkata: Kami diberitakan oleh Hamzah bin Yusuf As-Sahmi, ia berkata: Kami diberitakan oleh Abu Ahmad bin Adi Al-Hafizh, ia berkata: Kami diceritakan oleh Yahya bin Abdurrahman bin Najiyah dan Muhammad bin Hatim Ath-Tha’i, keduanya berkata: Kami diceritakan oleh Shalih bin Ziyad As-Susi, ia berkata: Kami diceritakan oleh Khaththab bin Sayyar Al-Harrani, ia berkata: Kami diceritakan oleh Baqiyyah, dari Al-Wazi’, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seorang laki-laki memusatkan pandangan kepada pemuda tampan.
Kami diberitahu oleh Ahmad bin Manazil, ia berkata: Kami diberitakan oleh Al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: Kami diberitakan oleh Abu Muhammad Al-Khallal, ia berkata: Kami diceritakan oleh Ibnu Syahin, ia berkata: Kami diceritakan oleh Abdullah bin Sulaiman, ia berkata: Kami diceritakan oleh Abu Tuqi Hisyam bin Abdul Malik, ia berkata: Kami diceritakan oleh Baqiyyah, ia berkata: Kami diceritakan oleh Al-Wadhin, dari Atha’ Ad-Dimasyqi, dari sebagian syaikh, ia berkata: Dahulu dimakruhkan seorang laki-laki memusatkan pandangan kepada pemuda yang tampan.
Kami diberitahu oleh Al-Mubarak bin Ali, ia berkata: Kami diberitakan oleh Ali bin Muhammad bin Al-‘Allaf, ia berkata: Kami diberitakan oleh Abdul Malik bin Bisyran, ia berkata: Kami diceritakan oleh Ahmad bin Ibrahim Al-Kindi, ia berkata: Kami diceritakan oleh Abu Bakar Al-Khara’ithi, ia berkata: Kami diceritakan oleh Nushair bin Daud Ash-Shaghani, ia berkata: Kami diceritakan oleh Ali bin Bahr, ia berkata: Kami diceritakan oleh Baqiyyah, ia berkata: Kami diceritakan oleh Al-Wadhin, dari Atha’, dari para syaikh mereka bahwa mereka memakruhkan seorang laki-laki memusatkan pandangan kepada pemuda yang tampan wajahnya.
Kami diberitahu oleh Ibnu Nashir dan Abdullah bin Ali, keduanya berkata: Kami diceritakan oleh Abu Bakar Al-Qurasyi, ia berkata: Kami diceritakan oleh Isa bin Abdullah At-Tamimi, ia berkata: Kami diberitakan oleh Baqiyyah bin Al-Walid, dari Al-Wadhin bin Atha’, dari sebagian Tabi’in, ia berkata: Dahulu mereka memakruhkan seorang laki-laki memusatkan pandangan kepada pemuda yang tampan.
Dengan sanad yang sama, ia berkata: Kami diceritakan oleh Baqiyyah, ia berkata: Berkata sebagian Tabi’in: “Aku tidak lebih takut terhadap ahli ibadah dari binatang buas daripada dari pemuda tampan yang duduk bersamanya.”
Dengan sanad yang sama, ia berkata: Kami diceritakan oleh Abu Bakar Al-Qurasyi, ia berkata: Aku diceritakan oleh Abu Suwaid, keduanya berkata: Kami diceritakan oleh Ibrahim bin Harasah, dari Utsman bin Shalih, dari Al-Hasan bin Dzakwan, ia berkata: “Janganlah kalian duduk bersama anak-anak orang kaya, karena sesungguhnya mereka memiliki rupa seperti rupa wanita, dan mereka lebih menimbulkan fitnah daripada gadis-gadis perawan.”
Dengan sanad yang sama, ia berkata: Kami diceritakan oleh Al-Qurasyi, ia berkata: Kami diceritakan oleh Al-Haitsam bin Kharijah, ia berkata: Kami diceritakan oleh Muhammad bin Humaid, dari An-Najib bin As-Sarri, ia berkata: Dahulu dikatakan: “Janganlah seorang laki-laki bermalam di rumah bersama pemuda tampan.”
Kami diberitahu oleh Ibnu Nashir, ia berkata: Kami diberitakan oleh Al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: Kami diberitakan oleh Al-Hasan bin Ali Al-Jauhari, ia berkata: Kami diceritakan oleh Muhammad bin Al-Muzhaffar, ia berkata: Kami diceritakan oleh Al-Haitsam bin Khalaf Ad-Dauri, ia berkata: Kami diceritakan oleh Mahna bin Yahya, ia berkata: Kami diceritakan oleh Muhammad bin Humaid, dari An-Najib bin As-Sarri, bahwa ia memakruhkan seorang laki-laki tidur bersama pemuda tampan.
Berkata An-Najib: Dahulu mereka memakruhkan seorang laki-laki memusatkan pandangan kepada pemuda yang tampan wajahnya.
Dan kami telah meriwayatkan dari Sa’id bin Al-Musayyab, bahwasanya ia berkata: Apabila kalian melihat seorang laki-laki terus-menerus memandang kepada pemuda tampan, maka tuduh lah ia.
Kami diberitahu oleh Al-Mubarak bin Ali, ia berkata: Kami diberitakan oleh Ali bin Ahmad bin Al-‘Allaf, ia berkata: Kami diberitakan oleh Abdul Malik bin Bisyran, ia berkata: Kami diberitakan oleh Ahmad bin Ibrahim Al-Kindi, ia berkata: Kami diceritakan oleh Muhammad bin Ja’far Al-Khara’ithi, ia berkata: Aku diceritakan oleh saudaraku Ahmad bin Ja’far, ia berkata: Kami diceritakan oleh Kardus bin Al-Wasithi, ia berkata: Kami diceritakan oleh Ismail bin Aban Al-Warraq, ia berkata: Kami diceritakan oleh ‘Abbad bin Ibrahim, dari Mughirah, dari Ibrahim An-Nakha’i, ia berkata: Dahulu mereka memakruhkan duduk bersama anak-anak raja, dan ia berkata: “Duduk bersama mereka adalah fitnah, dan sesungguhnya mereka seperti wanita.”
Kami diberitahu oleh Ibnu Nashir, ia berkata: Kami diberitakan oleh Al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: Kami diberitakan oleh Abu Muhammad Al-Jauhari, ia berkata: Kami diberitakan oleh Ibnu Haiwiyah, dari Ibnu Al-Marzuban, ia berkata: Aku diceritakan oleh Abu Ali Al-Marwazi, ia berkata: Kami diceritakan oleh Muhammad bin Ibrahim, ia berkata: Aku mendengar Qasim Al-Jau’i berkata: Aku mendengar Ibnu Abi As-Sa’ib berkata: “Aku lebih takut terhadap pembaca Al-Qur’an dari pemuda tampan daripada aku takut terhadapnya dari tujuh puluh gadis perawan.”
Kami diberitahu oleh dua Muhammad: Ibnu Nashir dan Ibnu Abdul Baqi, keduanya berkata: Kami diberitakan oleh Hamad bin Ahmad, ia berkata: Kami diberitakan oleh Abu Nu’aim Al-Hafizh, ia berkata: Kami diceritakan oleh Abu Bakar Muhammad bin Ahmad Al-Mufid, ia berkata: Kami diceritakan oleh Abdullah bin Al-Faraj, ia berkata: Kami diceritakan oleh Al-Qasim bin Utsman yaitu Al-Jau’i, ia berkata: Kami diceritakan oleh Abdul Aziz bin Abi As-Sa’ib, dari ayahnya, ia berkata: “Aku lebih takut terhadap ahli ibadah dari seorang pemuda daripada dari tujuh puluh gadis perawan.”
Kami diberitahu oleh Ibnu Nashir, ia berkata: Kami diberitakan oleh Al-Hasan bin Ahmad Al-Faqih, ia berkata: Kami diberitakan oleh Abu Al-Fath Ibnu Abi Al-Fawaris, ia berkata: Kami diberitakan oleh Ibrahim bin Muhammad Al-Muzakki, ia berkata: Kami diberitakan oleh Muhammad bin Al-Musayyab, ia berkata: Kami diceritakan oleh Yusuf bin Sa’id, ia berkata: Aku diceritakan oleh Yahya bin Zakariya, dari Atha’ bin Muslim, ia berkata: Sufyan Ats-Tsauri tidak membiarkan pemuda tampan duduk bersamanya.
Kami diberitahu oleh Abdurrahman bin Muhammad Al-Qazzaz, ia berkata: Kami diberitakan oleh Ahmad bin Ali Al-Hafizh, ia berkata: Sampai kepadaku bahwa Ahmad bin Shalih, yaitu Abu Ja’far Al-Mishri, adalah salah seorang hafizh hadits yang alim tentang ‘illat hadits, ahli dalam perbedaan-perbedaannya. Ia datang ke Baghdad dan berjumpa dengan para hafizh di sana, terjadi perbincangan antara dirinya dengan Ahmad bin Hanbal, dan Abu Abdullah (Ahmad bin Hanbal) menyebutnya dan memujinya. Telah meriwayatkan darinya para imam seperti Al-Bukhari, Abu Daud, dan lain-lain. Ia tidak mau meriwayatkan kecuali kepada yang berjenggot, dan tidak membiarkan pemuda tampan hadir di majlisnya. Ketika Abu Daud As-Sijistani membawa anaknya kepadanya agar mendengar darinya, dan ketika itu ia masih tampan, Ahmad bin Shalih mengingkari Abu Daud karena menghadirkan anaknya di majelis. Maka Abu Daud berkata kepadanya: “Ia walaupun tampan, lebih hafal dari yang berjenggot. Maka ujilah ia dengan apa yang engkau kehendaki.” Lalu ia bertanya kepadanya tentang beberapa hal, dan ia menjawabnya. Maka ia meriwayatkan kepadanya, dan tidak meriwayatkan kepada pemuda tampan selainnya.
Kami diberitakan oleh Ismail bin Ahmad, ia berkata: Kami diberitakan oleh Abu Al-Qasim Yusuf bin Al-Hasan At-Tafkiri, ia berkata: Aku mendengar Abu Ali Al-Hasan bin Ali bin Bundar Az-Zanjani, ia berkata: Ahmad bin Shalih menolak meriwayatkan hadits kepada para pemuda sebagai bentuk menjaga diri, kehormatan, dan menjauhkan prasangka dari dirinya. Abu Daud menghadiri majlisnya dan mendengar darinya, dan ia memiliki seorang anak yang tampan yang ia ingin agar anaknya mendengar haditsnya. Ia mengetahui kebiasaannya dalam menolak, maka Abu Daud berakal dengan mengikatkan pada dagu anaknya sepotong rambut untuk menipu bahwa ia telah berjenggot. Kemudian ia menghadirkannya di majelis dan memperdengarkannya satu juz. Maka syaikh diberi tahu tentang hal itu, lalu ia berkata kepada Abu Daud: “Orang sepertiku diperlakukan seperti ini?” Ia berkata kepadanya: “Wahai syaikh, jangan ingkari apa yang kulakukan, dan kumpulkanlah anakku dengan para syaikh fuqaha dan perawi. Jika ia tidak mampu menandingi mereka dengan pengetahuannya, maka cegahlah ia dari mendengar.” Maka berkumpullah sekelompok syaikh, lalu anak ini menghadapi mereka dengan perdebatan dan mengalahkan semuanya dengan pemahamannya. Namun dengan itu, syaikh tidak meriwayatkan kepadanya satu hadits pun dari haditsnya, dan ia hanya mendapatkan juz pertama itu saja. Ibnu Abi Daud bangga dengan periwayatan satu juz itu saja.
Berkata Abu Ali: Malik bin Anas melarang masuknya para pemuda ke majlisnya untuk mendengar. Maka Hisyam bin ‘Ammar berakal dengan masuk di tengah-tengah orang banyak, bersembunyi di antara mereka, sedangkan ia masih tampan, lalu ia mendengar bersama mereka enam belas hadits. Maka Malik diberi tahu tentang hal itu, lalu ia menghadirkannya dan memukulnya enam belas cambuk. Maka Hisyam berkata: “Seandainya aku mendengar seratus hadits dan ia memukulku seratus cambuk.”
Dan telah meriwayatkan Abu Ali bin Ash-Shawwaf, ia berkata: Kami diceritakan oleh Abdullah bin Ahmad, ia berkata: Aku mendengar Ibrahim bin Hani berkata: Aku mendengar Yahya bin Ma’in berkata: Tidak ada pemuda tampan yang berhasil mendampingiku atau Ahmad bin Hanbal dalam perjalanan.
Telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ali bin Tsabit, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku Hasan bin Abi Bakr, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdul Wahid Abu Umar az-Zahid mengenai apa yang ia izinkan untuk diriwayatkan darinya, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Anas asy-Sya’ubi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Sawwak, ia berkata: kami berada di sisi Abu Nashr bin al-Harits, lalu seorang budak perempuan datang kepadanya dan kami tidak melihat yang lebih cantik darinya. Ia berkata: “Wahai Syekh, di mana letak Bab Harb?” Ia menjawabnya: “Ini pintu yang disebut Bab Harb.” Kemudian setelahnya datang seorang pemuda dan kami tidak melihat yang lebih tampan darinya, lalu ia bertanya: “Wahai Syekh, di mana letak Bab Harb?” Maka Bisyr menundukkan kepalanya. Pemuda itu mengulangi pertanyaannya, lalu ia memejamkan matanya. Kami berkata kepada pemuda itu: “Kemari, apa yang kamu inginkan?” Ia berkata: “Bab Harb.” Kami berkata: “Di depanmu.” Ketika ia pergi, kami berkata: “Wahai Abu Nashr, datang kepadamu seorang budak perempuan lalu engkau menjawabnya dan berbicara dengannya, tetapi datang kepadamu seorang pemuda namun engkau tidak berbicara dengannya.” Ia berkata: “Ya, diriwayatkan dari Sufyan ats-Tsauri bahwa ia berkata: Bersama budak perempuan ada satu setan, sedangkan bersama pemuda ada dua setan, maka aku khawatir terhadap diriku dari dua setannya.”
Telah mengabarkan kepada kami Abul Hasan bin Ali bin Abdul Wahid, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Umar al-Qazwini, ia berkata: aku membaca kepada Yusuf bin Umar, aku berkata kepadanya: telah menceritakan kepada kalian Ahmad bin Sulaiman secara imlak, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Harits bin Muhammad, ia berkata: aku mendengar Muhammad bin Amr menyebutkannya dari Syuja’ bin Makhlad bahwa ia mendengar Bisyr bin al-Harits berkata: Berhati-hatilah kalian terhadap para pemuda ini.
Telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ali bin Tsabit, dan telah memberitakan kepada kami Umar bin Zhafar, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad, keduanya berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Aziz bin Ali al-Azji, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Jahdham, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ali bin al-Ma’mun, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Ali ar-Rudzabari di Mesir, ia berkata: berkata kepadaku Abu al-Abbas bin Ahmad al-Mu’addib: “Wahai Abu Ali, dari mana para sufi zaman kita ini mengambil keakraban dengan para pemuda?” Aku berkata kepadanya: “Wahai tuanku, engkau lebih mengenal mereka, dan keselamatan menyertai mereka dalam banyak perkara.” Ia berkata: “Jauh sekali! Kami telah melihat orang yang imannya lebih kuat dari mereka, ketika melihat pemuda datang, ia melarikan diri seperti larinya dari medan perang. Sesungguhnya hal itu sesuai dengan waktu-waktu yang kondisi spiritual menguasai para pemiliknya sehingga mengambil alih dari pengendalian tabiat. Betapa banyaknya bahaya, betapa banyaknya kesalahan.” Berkata Abu Ali: dan aku mendengar Junaid berkata: seorang laki-laki datang kepada Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal bersama seorang pemuda yang tampan wajahnya. Ia berkata kepadanya: “Siapa ini?” Ia menjawab: “Anakku.” Maka Ahmad berkata: “Jangan bawa dia bersamamu lagi.” Ketika ia berdiri, Muhammad bin Abdurrahman al-Hafizh berkata kepadanya—dan dalam riwayat al-Khatib dikatakan kepadanya: “Semoga Allah menguatkan Syekh, sesungguhnya ia orang yang terjaga dan anaknya lebih baik darinya.” Maka Ahmad berkata: “Yang kami maksudkan dari pintu ini bukan mencegah karena terjaganya mereka berdua. Demikianlah kami melihat para guru kami dan demikianlah mereka mengabarkan kepada kami dari pendahulu mereka, semoga Allah merahmati mereka.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abul Qasim bin al-Busri dari Abu Abdullah Ibnu Baththah, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin al-Husain al-Ajurri, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Kurdi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakr al-Marwazi, ia berkata: Hasan bin al-Bazzaz datang kepada Abu Abdullah—yakni Ahmad bin Hanbal—dan bersamanya seorang pemuda yang tampan wajahnya, lalu ia berbincang dengannya. Ketika ia hendak pergi, Abu Abdullah berkata kepadanya: “Wahai Abu Ali, jangan berjalan bersama pemuda ini di jalan.” Ia berkata kepadanya: “Sesungguhnya ia anak saudara perempuanku.” Ia berkata: “Meskipun demikian, jangan kamu membuat orang berdosa karenamu.”
Telah mengabarkan kepada kami Abdul Khaliq bin Ahmad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Abi Nashr, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ahmad ath-Thubsi, dan telah memberitakan kepada kami Abu Bakr ash-Shufi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Abdullah bin Abi Shadiq dan Abdul Ghaffar bin Muhammad asy-Syirazi, mereka berkata: telah memberitakan kepada kami Abdullah bin Bakawayh, ia berkata: aku mendengar Muhammad bin Ahmad an-Najjar berkata: aku mendengar Walid as-Saqqa’ di Nashibin berkata: aku mendengar Abu Abdullah al-Khudhari berkata: aku mendengar Fath al-Mushili berkata: Aku bergaul dengan tiga puluh Syekh yang dihitung dari kalangan Abdal, mereka semua berwasiat kepadaku ketika aku berpisah dari mereka: Takutlah kalian bergaul dengan para pemuda.
Berkata Muhammad bin Ahmad: aku bertemu Abu Abdullah al-Khudhari di Maushil, lalu aku mengingatkannya tentang hal itu dan ia tidak mengingkarinya. Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdul Malik, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ali bin Tsabit, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Ayyub al-Qummi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Ubaidillah al-Marzbani, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Abdullah al-Hakimi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, ia berkata: kami berada di sisi seorang Syekh yang mengajar, lalu tersisa bersamanya seorang pemuda yang membaca kepadanya, dan aku hendak berdiri, maka ia memegang tanganku dan berkata: “Bersabarlah sampai pemuda ini selesai.” Ia membenci untuk berduaan dengan pemuda itu.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Zhafar, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Aziz bin Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Jahdham, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ali, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Abil Qasim, ia berkata: kami masuk menemui Muhammad bin al-Husain, sahabat Yahya bin Ma’in, dan dikatakan bahwa ia tidak mengangkat kepalanya ke langit sejak empat puluh tahun. Bersama kami ada seorang pemuda yang terjadi di majelis di hadapannya, maka ia berkata kepadanya: “Berdirilah dari hadapanku.” Lalu ia mendudukkannya di belakangnya.
Telah mengabarkan kepada kami Syahdah binti Ahmad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad bin as-Sarraj, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Ishaq Ibrahim bin Sa’id di Mesir, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Shalih as-Samarqandi ash-Shufi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Husain bin al-Qasim bin al-Yasa’, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakr Ahmad bin Muhammad bin Amr ad-Dainuri, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Ja’far bin Abdullah ash-Shufi, ia berkata: berkata Abu Hamzah: Muhammad bin Ubaidillah bin al-Asy’ats ad-Dimasyqi—dan ia termasuk dari orang-orang terbaik hamba Allah—melihat kepada seorang pemuda yang tampan, lalu ia pingsan. Ia dibawa ke rumahnya dan penyakit menimpanya sehingga ia tidak bisa berdiri dengan kedua kakinya dalam waktu yang lama. Kami datang menjenguknya dan menanyakan keadaannya, dan ia tidak mengabarkan kepada kami kisahnya atau sebab sakitnya. Orang-orang membicarakan cerita pandangannya. Hal itu sampai kepada pemuda tersebut, lalu ia datang menjenguknya. Ia gembira kepadanya, bergerak, tertawa di wajahnya, dan bergembira melihatnya. Pemuda itu terus menjenguknya sampai ia bisa berdiri dengan kakinya dan kembali seperti keadaan semula. Suatu hari pemuda itu memintanya untuk pergi bersamanya ke rumahnya, namun ia menolak melakukannya. Ia memintaku agar aku meminta pemuda itu pindah kepadanya, maka aku memintanya tetapi ia menolak. Aku berkata: “Apa yang engkau benci dari hal itu?” Ia berkata: Aku tidak terlindungi dari cobaan dan tidak aman dari fitnah, dan aku takut cobaan dari setan menimpaku sehingga terjadi kemaksiatan antaraku dan dia, maka aku termasuk orang-orang yang merugi.
Telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ali bin Tsabit, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku Abdush-Shamad bin Muhammad al-Khatib, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin al-Husain bin Hakman, ia berkata: aku mendengar Abu al-Faraj ar-Rustami ash-Shufi berkata: aku mendengar al-Muhtariq al-Bashri berkata: Aku melihat Iblis dalam tidur, lalu aku berkata kepadanya: Bagaimana menurutmu kami telah berpaling dari dunia dan kenikmatannya serta hartanya, maka tidak ada jalanmu kepada kami? Ia berkata: Bagaimana menurutmu apa yang telah memikat hati kalian dengan mendengarkan musik dan bergaul dengan para pemuda?
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakr Ahmad bin Ali asy-Syirazi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Abdurrahman as-Sulami, ia berkata: aku mendengar Abu Abdullah ar-Razi berkata: aku mendengar Abu al-Abbas ash-Shayyad berkata: aku mendengar Abu Sa’id al-Jazzar berkata: Aku melihat Iblis dalam tidur dan ia lewat menjauh dariku, lalu aku berkata: Kemari. Ia berkata: Apa yang harus kulakukan terhadap kalian? Kalian telah membuang dari diri kalian apa yang dengannya aku menipu manusia. Aku berkata: Apa itu? Ia berkata: Dunia. Ketika ia pergi, ia menoleh kepadaku dan berkata: Namun aku punya satu kelembutan terhadap kalian. Aku berkata: Apa itu? Ia berkata: Pergaulan dengan para pemuda.
Berkata Abu Sa’id: Sedikit dari kalangan sufi yang selamat dari ini.
Dan dengan sanad ini as-Sulami berkata: dan aku mendengar Abu Bakr ar-Razi berkata: berkata Yusuf bin al-Husain: Aku melihat ke segala penjuru makhluk, lalu aku mengetahui dari mana mereka datang, dan aku melihat bencana kaum sufi adalah bergaul dengan para pemuda, bergaul dengan orang-orang yang berlawanan, dan bersikap baik kepada perempuan. Dan segala yang kalian lihat aku lakukan, maka lakukanlah, kecuali bergaul dengan para pemuda, karena sesungguhnya itu adalah bencana fitnah.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Zhafar, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Aziz bin Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Jahdham, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Amr bin Abdullah, ia berkata: aku mendengar al-Halabi berkata: Salam al-Aswad melihat seorang laki-laki yang menatap seorang pemuda, lalu ia berkata kepadanya: “Wahai ini, jagalah kehormatanmu di sisi Allah Azza wa Jalla, karena sesungguhnya engkau senantiasa memiliki kehormatan selama engkau mengagungkan-Nya.”
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abi Manshur, ia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Hasan bin al-Fadhl al-Adami, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Abdul Ghaffar, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Muhammad bin Ali bin Amr an-Naqqasy, ia berkata: aku mendengar Abu Nashr as-Sarraj berkata: aku mendengar Ahmad bin Atha’ ar-Rudzabari berkata: aku mendengar al-Husain bin Ali ad-Dimasyqi berkata dari Abu Hamzah ash-Shufi, ia berkata: Abdul Wahhab bin Aflah melihat kepada seorang pemuda tampan yang cantik wajahnya sekali, lalu ia mengangkat tangannya berdoa dan berkata: Ini adalah dosa yang aku bertobat kepada-Mu darinya dan kembali kepada-Mu darinya, maka balaslah aku dengan apa yang tidak henti-hentinya aku kenal dari-Mu dahulu dan sekarang.
Dan dengan sanad ini an-Naqqasy berkata: dan aku mendengar Abu Bakr bin Syadzan ar-Razi berkata: aku mendengar Khairan an-Nassaj berkata: aku mendengar Abu Hamzah berkata: Muhammad bin Humaid bertemu seorang pemuda yang tampan, lalu ia berkata: Wahai Dzat yang menciptakan makhluk sesuai dengan apa yang Dia kehendaki dari kehendak-Nya, jangan Engkau jadikan bagi setan jalan ke hatiku dengan pandanganku ini, wahai Yang Maha Indah dalam cobaan.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ali bin Khalaf, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin al-Husain, ia berkata: berkata Muzhaffar al-Qarmisini: Barang siapa bergaul dengan para pemuda dengan syarat keselamatan dan nasihat, maka hal itu akan membawanya kepada bencana, bagaimana lagi dengan orang yang bergaul dengan mereka bukan atas dasar keselamatan?
Telah mengabarkan kepada kami Abdul Khaliq bin Ahmad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Abi Nashr, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ahmad ath-Thubsi, ia berkata: aku mendengar Abu Manshur Abdul Qahir bin Thahir berkata: Barang siapa bergaul dengan para pemuda, maka ia akan jatuh dalam peristiwa-peristiwa.
Telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Tharrad bin Muhammad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abul Husain bin Bisyran, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Shafwan, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Ubaid, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin Yusuf, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku Ubaid bin al-Walid bin Abi as-Sa’ib dari Abu Sahl, ia berkata: Akan ada dalam umat ini suatu kaum yang disebut kaum Luthi dalam tiga golongan: suatu golongan yang melihat, suatu golongan yang berjabat tangan, dan suatu golongan yang melakukan perbuatan itu.
Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Ubaidillah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Ahmad bin al-Maslamah dari Abul Hasan bin Akhi Maimi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abul Hasan Ali bin Sa’id al-Mushili, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Ya’qub al-Kusaj, ia berkata: aku mendengar Abu Bakr bin Ayyub berkata: aku mendengar Ibrahim al-Harbi berkata: Jauhkan anak-anak kalian dari teman buruk sebelum kalian mencelupkan mereka dalam bencana seperti kain yang dicelup.
Ia berkata: dan aku mendengarnya berkata: Awal kerusakan anak-anak adalah sebagian dari sebagian yang lain.
Telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakr al-Khatib, ia berkata: telah memberitakan kepada kami at-Tanukhi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad bin Abi Shabir ad-Dallal, ia berkata: aku berdiri di sisi asy-Syibli di Qubbah asy-Syu’ara’ di masjid al-Manshur dan orang-orang berkumpul kepadanya. Lalu berdiri kepadanya di halaqah itu seorang pemuda yang tidak ada di Baghdad pada waktu itu yang lebih tampan wajahnya darinya, dikenal dengan Ibnu Muslim. Ia berkata kepadanya: “Menyingkirlah.” Ia tidak menyingkir. Ia berkata kepadanya yang kedua: “Menyingkirlah wahai setan dari kami.” Ia tidak menyingkir. Ia berkata kepadanya yang ketiga: “Menyingkirlah, kalau tidak demi Allah aku akan merobek semua yang ada padamu.”
Pasal: Telah tertipu dengan para pemuda banyak orang dari kalangan orang-orang utama.
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abi Thahir al-Bazzaz, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abul Husain Muhammad bin Ali bin al-Mahdi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Fadhl Muhammad bin al-Hasan bin al-Ma’mun, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin al-Anbari, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Marzuban, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin al-Miqdam, ia berkata: Ibnu Ammar bin Abi al-Hushayb mengadu kepada Yahya bin Aktsam tentang pewaris ayahnya, dan ia sangat indah kecantikannya. Ia berkata kepadanya: “Wahai Qadhi, tolonglah aku terhadap mereka.” Ia berkata: Lalu siapa yang menolongku terhadap matamu?
Ia berkata: maka ibunya melarikannya ke Baghdad. Ia berkata kepadanya dan ia telah memperingatkannya: “Demi Allah, aku tidak akan melaksanakan keputusan untukmu atau engkau mengembalikannya, karena ia lebih berhak menuntut daripada engkau.”
Berkata Ibnu al-Marzuban: dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Nashr, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Yunus adh-Dhabi, ia berkata: Zaidan al-Katib menulis di hadapan Yahya bin Aktsam al-Qadhi, dan ia tampan dengan ketampanan yang sangat. Qadhi mencubit pipinya, lalu ia malu dan melempar pena dari tangannya. Yahya berkata kepadanya: “Tulislah apa yang kudiktekan kepadamu.” Kemudian ia berkata:
Wahai rembulan yang kucubit lalu ia marah Dan menjadi menjauh dariku karena kesombongannya Jika engkau membenci cubitan dan cinta Maka bercadarlah selamanya wahai tuanku Dan jangan perlihatkan pelipis kepada manusia sebagai fitnah Dan engkau jadikan darinya di atas pipimu kalajengking Lalu engkau membunuh orang yang rindu dan memfitnah ahli ibadah Dan meninggalkan qadhi kaum muslimin tersiksa
Ibnu al-Marzuban berkata: Muhammad bin al-Jahm menceritakan kepadaku, ia berkata: al-Ala’ bin Shalih menceritakan kepadaku, ia berkata: Yahya bin Aktsam berada di sisi al-Watsiq, dan di sana ada seorang pemuda tampan dari para pelayan Khalifah yang berdiri di hadapannya. Maka Yahya menatapnya terus-menerus dan tersenyum. Al-Watsiq berkata kepadanya: “Wahai Yahya, demi hidupku, seperti sikapmu.” Ia menjawab: “Ya, demi hidupmu, sekali saja.”
Penulis (Ibnu al-Jauzi) berkata: Ini adalah ucapan yang salah cetak, dan kata pertama sebenarnya dua kata yang salah tulis, dan yang dimaksud adalah menyebutkan perbuatan keji.
Ibnu al-Marzuban berkata: Ali bin Muslim al-Katib menceritakan kepada kami, ia berkata: Dua putra Mas’adah masuk menemui Yahya bin Aktsam, dan keduanya sangat tampan. Ketika ia melihat keduanya berjalan di halaman, ia mulai membaca syair:
Wahai dua pengunjung kami dari kemah-kemah, semoga Allah memberkati kalian dengan salam Kalian tidak datang kepadaku sementara aku bangkit, untuk yang halal maupun yang haram Menyedihkanku bahwa kalian berhenti di hadapanku, padahal tidak ada padaku selain kata-kata
Kemudian ia mendudukkan keduanya di hadapannya dan mulai bercanda dengan mereka hingga keduanya pergi.
Ibnu al-Anbari berkata: Aku mendengar selain Ibnu al-Marzuban dari para guru kami menceritakan bahwa Yahya dicopot dari jabatan hakim karena bait-bait syair ini yang ia baca ketika dua putra Mas’adah masuk menemuinya.
Dan sampai kepada kami tentang Yahya bin Aktsam bahwa ia melihat pemuda-pemuda yang wajahnya segar di istana al-Ma’mun, maka ia berkata: “Seandainya bukan karena kalian, sungguh kami telah menjadi orang-orang beriman.” Hal itu sampai kepada al-Ma’mun lalu ia menegurnya. Yahya berkata: “Itulah pelajaranku yang sampai di sini.”
Abu al-Faraj al-Ashbahani meriwayatkan dari pamannya dari Abu al-Aina’, ia berkata: Al-Ma’mun melihat Yahya bin Aktsam melirik seorang pelayannya. Maka ia berkata kepada pelayan itu: “Temui dia ketika aku bangkit, karena aku akan pergi berwudhu.” Dan ia memerintahkannya untuk tidak beranjak, “dan kembalilah kepadaku dengan apa yang ia katakan kepadamu.”
Al-Ma’mun bangkit dan memerintahkan Yahya untuk tetap duduk. Ketika ia bangkit, pelayan itu mengedipkan matanya kepadanya. Maka Yahya berkata: “Seandainya bukan karena kalian, sungguh kami telah menjadi orang-orang beriman.” Pelayan itu pergi kepada al-Ma’mun dan memberitahunya.
Al-Ma’mun berkata kepadanya: “Kembalilah kepadanya dan katakan: Apakah kami yang menghalangi kalian dari petunjuk setelah datang kepada kalian? Tidak, kalian adalah orang-orang yang berdosa.” (Surat ash-Shaffat: 32)
Pelayan itu keluar menemuinya dan mengatakan hal itu kepadanya. Maka ia tertunduk dan hampir mati karena takut.
Al-Ma’mun keluar sambil berkata:
Kapan dunia akan baik dan penghuninya baik, sementara qadhi para qadhi kaum muslimin melakukan liwath (homoseksual)?
“Bangunlah dan pergilah, bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah niatmu.”
Maka perhatikanlah orang malang ini bagaimana tersiar baginya nama buruk ini meskipun ilmunya melimpah, hingga sebagian hakim setelahnya yang dicopot, orang-orang berkata kepadanya: “Sungguh engkau telah menjaga diri dari harta kami.” Ia menjawab: “Dan dari anak-anak kalian,” menyindir Yahya.
Penulis berkata: Dan sampai kepada kami bahwa al-Ma’mun masuk ke kantor Ahmad bin Yusuf lalu mendapati di sekitarnya pemuda-pemuda tampan. Maka ia berkata:
Singa yang mengintai, di sekelilingnya rusa-rusa, tidak akan selamat dari singa itu rusa-rusa
Shahdah binti Ahmad memberitakan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad as-Sarraj memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Ishaq Ibrahim bin Sa’id memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Shalih Muhammad bin Abi Adiy ash-Shufi menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Husain bin al-Qasim bin al-Yasa’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Amr ad-Dainuri menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad Ja’far bin Abdullah ash-Shufi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Hamzah ash-Shufi berkata: Abdullah bin Musa adalah salah satu pemimpin kaum sufi dan tokoh-tokoh mereka. Ia melihat seorang pemuda di salah satu pasar lalu ia terpesona dengannya dan hampir kehilangan akalnya karena rindu dan cinta. Ia berdiri setiap hari di jalannya hingga melihatnya ketika datang dan ketika pergi. Cobaan itu berlangsung lama dan membuatnya tidak bisa bergerak, ia tidak mampu berjalan satu langkah pun. Pada suatu hari aku mendatanginya untuk menjenguknya. Aku berkata: “Wahai Abu Muhammad, apa kisahmu dan apa perkara ini yang sampai membuatmu seperti yang kulihat?” Ia berkata: “Berbagai perkara yang Allah Taala ujikan kepadaku, lalu aku tidak sabar atas cobaan di dalamnya dan aku tidak mampu menghadapinya. Betapa banyak dosa yang dianggap remeh oleh manusia padahal ia lebih besar di sisi Allah daripada gunung Tsabir. Dan pantas bagi siapa yang terjerumus dalam pandangan haram untuk mengalami penyakit yang berkepanjangan.” Kemudian ia menangis. Aku berkata: “Apa yang membuatmu menangis?” Ia berkata: “Aku takut kesengsaraanku akan panjang di neraka.”
Aku pulang darinya dengan perasaan kasihan kepadanya karena kondisi buruk yang kulihat padanya.
Abdurrahman bin Muhammad memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Sa’d al-Malini memberitakan kepada kami, ia berkata: al-Hasan bin Ibrahim al-Laitsi menceritakan kepadaku, ia berkata: al-Husain bin al-Qasim menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Daud cenderung kepada Muhammad bin Jami’ ash-Shaidalani, dan karena dia ia menulis kitab az-Zahrah. Dan sampai kepada kami bahwa Muhammad bin Jami’ masuk ke pemandian umum, memperbaiki wajahnya, mengambil cermin lalu melihat wajahnya. Kemudian ia menutupnya dan menunggangi kendaraan menuju Muhammad bin Daud. Ketika ia melihatnya dengan wajah tertutup, ia khawatir telah menimpanya musibah. Ia bertanya: “Apa kabarnya?” Ia menjawab: “Aku melihat wajahku tadi di cermin lalu aku menutupnya, dan aku ingin tidak ada yang melihatnya sebelum engkau.”
Maka Muhammad bin Daud pun pingsan.
Abu Manshur memberitakan kepada kami, ia berkata: al-Khatib memberitakan kepada kami, ia berkata: Makki bin Ibrahim menceritakan kepadaku, ia berkata: Ibnu Kamil ad-Dimasyqi membacakan kepada kami untuk Abu Bakar bin Daud tentang kekasihnya:
Wahai Yusuf yang tampan sebagai perumpamaan dan perbandingan, wahai penampakan yang tidak ada selain bulan yang menyerupainya Siapa yang ragu tentang bidadari hendaklah melihat kepadamu, karena maknamu tidak dibentuk kecuali dari maknanya Apa urusan bulan dengan pemangkasan wahai harapanku, cahaya bulan tidak butuh pemangkasan Sungguh dinar tidak dipoles meskipun telah lama, dan tidak ditambah pada ukiran yang ada padanya
Abdurrahman bin Muhammad memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar al-Khatib memberitakan kepada kami, ia berkata: Isma’il bin Ahmad al-Hairi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Nashr bin Abi Abdullah asy-Syirazi menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin al-Husain azh-Zhahiri menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin al-Husain bin ash-Shabbah ad-Dawudi menceritakan kepada kami, ia berkata: Qadhi Abu Umar Muhammad bin Yusuf al-Azdi memberitakan kepada kami, ia berkata: Aku berjalan beriringan dengan Muhammad bin Daud bin Ali di Baghdad, tiba-tiba ada seorang budak perempuan bernyanyi dengan sebagian syairnya:
Aku mengadu gejolak hati yang engkau binasakan, pengaduan orang sakit kepada kekasih yang menghiburnya Sakitku bertambah banyak seiring hari, sementara engkau dalam kebesaran apa yang kualami menganggapnya ringan Allah mengharamkan pembunuhanku dalam cinta secara sia-sia, sementara engkau wahai pembunuhku secara zalim menghalalkannya
Muhammad bin Daud berkata: “Bagaimana cara mengambil kembali ini?” Qadhi Abu Umar berkata: “Mustahil, rombongan telah membawanya pergi.”
Al-Qazzaz memberitakan kepada kami, ia berkata: al-Khatib memberitakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Ayyub memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah al-Marzubani, Abu Umar bin Haiwiyah dan Abu Bakar bin Syazan memberitakan kepada kami, mereka berkata: Ibrahim bin Muhammad bin Arafah Naftawaih menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku masuk menemui Muhammad bin Daud al-Ashbahani dalam sakitnya yang membuatnya meninggal. Aku berkata: “Bagaimana keadaanmu?” Ia berkata: “Cinta pada yang kamu ketahui mewariskan kepadaku apa yang kamu lihat.” Aku berkata: “Apa yang menghalangimu dari menikmatinya padahal kamu mampu melakukannya?” Ia berkata: “Adapun pandangan yang dibolehkan, maka itu mewariskan kepadaku apa yang kamu lihat. Adapun kenikmatan yang diharamkan, maka yang menghalangiku darinya adalah apa yang ayahku ceritakan kepadaku, ia berkata: Suwaid bin Sa’id menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Mushir menceritakan kepada kami dari Abu Yahya al-Qattat dari Mujahid dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: ‘Barangsiapa yang jatuh cinta lalu menutupinya, menjaga diri, dan bersabar, maka Allah mengampuninya dan memasukkannya ke surga.’”
Jika ada yang berkata: Orang ini telah menyatakan dengan tegas bahwa pandangan itu dibolehkan, apa pendapatmu tentang hal itu? Jawabannya: Pandangan kepada pemuda tampan hanya dibolehkan tanpa syahwat. Jika tidak ada syahwat tetapi ia khawatir syahwat akan bangkit dengan pandangan, maka para ulama kami memiliki dua pendapat tentang hal itu. Apabila tabiat itu sehat maka syahwat itu ada, dan pengharaman itu melekat. Barangsiapa yang mengaku ia tidak bersyahwat maka ia pembohong. Seandainya kita anggap ia jujur, ia adalah binatang bukan manusia. Perkataan Ibnu Daud yang jelas menunjukkan bahwa ia tidak menganggap pandangan itu haram.
Sungguh ia telah salah dalam hal itu, dan kesalahannya itu membawa kepadanya kehancuran setelah ia terkenal di antara manusia dan terbuka aibnya, hingga Abu al-Abbas bin Suraij jika berdebat dengannya akan berkata kepadanya: “Engkau harus membaca kitab az-Zahrah wahai Ibnu Daud.” Seandainya orang ini menundukkan pandangannya pada awalnya, pasti ia selamat. Tetapi ia tidak menganggap yang haram kecuali perbuatan keji itu sendiri.
Di antara berita-beritanya yang mengherankan adalah apa yang Shahdah binti Ahmad ceritakan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad bin as-Sarraj memberitakan kepada kami, ia berkata: Qadhi Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Salamah al-Qadhi al-Qudha’i memberitakan kepada kami dari Abu al-Hasan bin Ali bin Nashr bin ash-Shabbah, ia berkata: Abu Umar Abdullah bin Ahmad as-Simsar menceritakan kepada kami bahwa Abu Bakar bin Daud al-Ashbahani biasa masuk masjid dari pintu para penjual buku. Setelah beberapa waktu, ia berpaling darinya dan masuknya melalui pintu lain. Aku cukup berani kepadanya lalu aku bertanya tentang hal itu. Ia berkata: “Wahai anakku, sebabnya adalah bahwa pada Jumat yang lalu aku ingin masuk dari sana lalu aku menemui di dekat pintu dua pemuda yang sedang bercakap-cakap dan masing-masing senang dengan temannya. Ketika mereka melihatku, keduanya berkata: ‘Abu Bakar telah datang,’ lalu mereka berpisah. Maka aku berjanji pada diriku untuk tidak masuk dari pintu yang memisahkan dua orang yang bersama.”
Bab: Terkadang jiwa membuat takwil dalam menemani pemuda yang telah muncul bulu-bulu halus di wajahnya, maka jiwa berkata: “Ini bukan pemuda tampan, ia adalah laki-laki, maka tidak apa-apa berteman dengannya.” Takwil ini terjadi padanya karena apa yang ia lihat dari hawa nafsunya. Maka dikatakan kepadanya: “Cukuplah dirimu hari ini sebagai penghitung atasmu. Jika engkau memiliki kecenderungan kepadanya dan merasakan kenikmatan melihatnya, maka hukumnya adalah hukum pemuda tampan, karena makna yang ada pada yang itu juga ada pada yang ini. Seandainya seseorang merasakan kenikmatan dengan melihat anak perempuan berusia dua bulan, maka tidak boleh baginya melihatnya, atau anak laki-laki berusia lima puluh tahun. Tidakkah engkau mendengar perkataan Aisyah ketika wanita-wanita bertanya kepadanya tentang minuman memabukkan, ia berkata: ‘Seandainya salah satu dari kalian mengira bahwa air pencelupannya akan memabukkannya, maka janganlah ia meminumnya.’”
Ketahuilah bahwa banyak dari anak-anak yang wajahnya menjadi tampan dengan keluarnya bulu-bulu halus, sehingga mereka bertambah tampan dibanding pemuda tanpa jenggot. Sejumlah orang telah terpesona dengan mereka hingga Abu Bakar bin Daud berkata tentang kekasihnya:
Apa urusan mereka mengingkari kehitaman di pipinya, padahal mereka tidak mengingkari mawar di ranting…
Abu Manshur al-Qazzaz memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar al-Khatib memberitakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Ayyub memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Umar bin Haiwiyah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Muhammad bin Arafah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Daud membacakan kepada kami untuk dirinya sendiri dalam sakit kematiannya:
Lihatlah ke laut yang mengalir di pandangannya, dan lihatlah ke kegelapan di matanya yang tenang Dan lihatlah ke rambut-rambut di atas pipinya, seolah-olah mereka semut yang merayap di gading
Dan ia membacakan kepada kami untuk dirinya:
Apa urusan mereka mengingkari kehitaman di pipinya, padahal mereka tidak mengingkari mawar di ranting Jika cacat pipinya adalah munculnya rambut, maka cacat mata adalah rambut kelopak mata
Aku berkata kepadanya: “Engkau menafikan qiyas dalam fikih tetapi menetapkannya dalam syair.” Ia berkata: “Kuatnya hawa nafsu dan penguasaan jiwa memanggilku kepadanya.”
Ia berkata: Dan ia meninggal pada malamnya atau pada hari kedua.
Orang lain berkata:
Sungguh telah bertambah pada rubi kedua bibirnya bagiku, dan mutiara giginya adalah zamrud kumisnya Dan di dekat itu ukiran tahi lalat seolah-olah ia penutup di atas air surga untuk yang meminumnya
Shahdah binti Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad bin As-Sarraj memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin As-Sawwaq memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ahmad bin Faris menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ibrahim Al-Bashri menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Khalaf menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ubaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abdullah mengabarkan kepadaku, ia berkata: Abu Muhammad Abdullah bin Abi Ubaid memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Sa’id Al-Qurashi menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Jaham bin Utsman bin Abi Jahmah memberitakan kepada kami, ia berkata: Ayahku mengabarkan kepadaku dari kakekku, ia berkata: Pada suatu malam ketika Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu sedang berkeliling di salah satu gang-gang di Madinah, tiba-tiba ia mendengar seorang wanita yang berseru dari kamarnya dan mengatakan:
Adakah jalan untuk minum khamar, Atau adakah jalan menuju Nashr bin Hajjaj Menuju pemuda mulia keturunannya, muda belia, Wajahnya berseri, mulia, tidak keras
Maka Umar berkata, “Aku tidak melihat ada bersamaku di negeri ini seorang lelaki yang diseru-seru oleh para gadis dari kamar mereka. Bawalah kepadaku Nashr bin Hajjaj.”
Maka ia didatangkan dan ternyata ia adalah orang yang paling tampan wajahnya dan paling bagus rambutnya. Maka Umar berkata, “Bawalah tukang cukur kepadaku.” Lalu rambutnya dicukur dan tampaklah kedua pipinya bagaikan dua belahan bulan. Maka Umar berkata, “Pakai sorban!” Maka ia memakai sorban, namun orang-orang tetap terpesona. Maka Umar berkata, “Demi Allah, kamu tidak boleh tinggal senegeri denganku dalam negeri tempat aku berada.” Ia berkata, “Mengapa demikian wahai Amirul Mukminin?” Umar berkata, “Seperti yang telah kukatakan kepadamu.” Maka ia mengasingkannya ke Bashrah.
Wanita yang ucapannya didengar Umar khawatir Umar akan melakukan sesuatu terhadapnya, maka ia mengirimkan kepadanya beberapa bait syair yang mengatakan:
Katakanlah kepada pemimpin yang kutakuti tindakannya, Apa urusanku dengan khamar atau Nashr bin Hajjaj Sungguh aku telah menghiasi Abu Hafsh (Umar) dengan selain keduanya, Minum susu dan pandangan yang sayu mengantuk Sungguh nafsu telah dikekang oleh takwa sehingga terikat, Hingga patuh dengan kekangan dan pelana Janganlah menjadikan prasangka sebagai kebenaran sebelum kamu menjelaskannya, Sesungguhnya jalan adalah jalan orang yang takut dan berharap
Ia berkata: Maka Umar mengirim utusan kepadanya: “Sungguh telah sampai kepadaku kebaikan darimu, dan sungguh aku tidak mengusirnya karena kamu, tetapi telah sampai kepadaku bahwa ia masuk kepada para wanita dan aku tidak mempercayai mereka.” Dan Umar menangis seraya berkata, “Segala puji bagi Allah yang mengekang nafsu hingga patuh dengan kekangan dan pelana.”
Kemudian Umar menulis surat kepada gubernurnya di Bashrah. Utusan itu tinggal di sana beberapa hari, lalu penyeru Umar berseru, “Ketahuilah bahwa utusan kaum muslimin akan berangkat, maka barangsiapa yang memiliki keperluan hendaklah menulis surat.” Maka Nashr bin Hajjaj menulis surat dan menyelipkannya di antara surat-surat: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Untuk hamba Allah Umar Amirul Mukminin, salam atasmu. Amma ba’du, wahai Amirul Mukminin:
Apakah karena si bermata jeli menyanyi suatu hari dengan angan-angan, Dan sebagian angan-angan para wanita adalah kebohongan Kamu berprasangka kepadaku dengan prasangka yang tidak ada setelahnya, Keberlangsungan, maka aku tidak punya ucapan dalam meratap Dan yang menghalangiku dari apa yang kamu sangkakan adalah kemuliaan, Dan bapak-bapak yang jujur dan mulia yang telah lalu Dan yang menghalanginya dari apa yang kamu sangkakan adalah shalatnya, Dan keadaan yang ia miliki dalam kaumnya dan puasanya Maka inilah keadaan kami berdua, apakah kamu akan mengembalikanku, Sungguh telah terpotong dariku tulang punggung dan punuk
Ketika Umar membaca surat itu, ia berkata, “Adapun selama aku memiliki kekuasaan, maka tidak.” Maka ia tidak kembali ke Madinah kecuali setelah wafatnya Umar.
Bab Kelima Belas tentang Penyebutan Dosa Pandangan dan Hukumannya
Al-Mubarak bin Ali Ash-Shairafi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Wahhab bin Ahmad memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Muhammad Al-Khallal menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Al-Muzhaffar Al-Hafizh menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far bin Rabbah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abbad bin Ya’qub menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman bin Muhammad Al-Muharibi menceritakan kepada kami dari Sinan bin Abdurrahman dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan berlumuran darah. Beliau bertanya kepadanya, “Ada apa denganmu?” Ia berkata, “Wahai Rasulullah, seorang wanita melewatiku lalu aku memandangnya dan aku terus mengikutinya dengan pandanganku, maka aku bertemu dengan dinding yang menabrakku sehingga menjadikan diriku seperti yang engkau lihat.” Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla apabila menghendaki kebaikan untuk seorang hamba, maka Dia akan menyegerakan hukumannya di dunia.”
Ahmad bin Ubaid Al-Baqi bin Manazil mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad Al-Khallal memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdul Wahid bin Ali menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak Muhammad bin Tsabit memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abdul Malik Ad-Daqiqi menceritakan kepada kami, ia berkata: Yazid bin Harun menceritakan kepada kami, ia berkata: Warqa’ memberitakan kepada kami dari Abu Az-Zinad dari Al-A’raj dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seandainya seseorang mengintip ke dalam rumahmu dan kamu tidak mengizinkannya, lalu kamu melemparnya dengan kerikil dan mencongkel matanya, tidak ada hukuman atasmu.”
Ibnu Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu Yusuf memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Barmaki memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar bin An-Najib memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Shalih memberitakan kepada kami, ia berkata: Hannad menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Muharibi menceritakan kepada kami dari Laits dari Thalhah dari Khaitsamah bin Abdurrahman dari Hudzaifah, ia berkata: Barangsiapa yang memperhatikan tubuh seorang wanita dari balik pakaian maka sungguh ia telah membatalkan puasanya.
Muhammad bin Abdul Baqi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ahmad Al-Haddad memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar bin Malik menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Ma’mar menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Mu’awiyah Adh-Dharir menceritakan kepada kami dari Abu Sinan dari Amr bin Murrah, ia berkata: Aku memandang seorang wanita dan ia menarik perhatianku, lalu pandanganku tertutup, maka aku berharap itu menjadi balasanku.
Umar bin Zhafar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdul Aziz bin Ali memberitakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Abdullah Ash-Shufi memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Al-Hasan bin Al-Julandi Al-Muqri menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abdullah bin Al-Jalla’ berkata: Aku sedang berdiri memandang seorang pemuda Nasrani yang tampan wajahnya, lalu Abu Abdullah Al-Balkhi melewatiku dan berkata, “Apa yang membuatmu berdiri?” Aku berkata, “Wahai paman, tidakkah kamu melihat wajah ini akan disiksa dengan api?” Maka ia memukul dengan tangannya di antara kedua bahuku dan berkata, “Kamu akan menemukan akibatnya walau setelah beberapa waktu.”
Ibnu Al-Jalla’ berkata: Maka aku menemukan akibatnya setelah empat puluh tahun, aku lupa Al-Qur’an.
Abdurrahman bin Muhammad Al-Qazzaz mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Hatim Ahmad bin Al-Hasan Ar-Razi menulis kepadaku menyebutkan bahwa ia mendengar Muhammad bin Ahmad bin Abdul Wahhab Al-Hafizh berkata: Abu Sa’id Ahmad bin Muhammad Ash-Shufi berkata, ia berkata: Abdurrahman bin Ahmad bin Isa menceritakan kepada kami dari Abu Al-Adyan, ia berkata: Aku bersama guruku Abu Bakar Az-Zaqqaq, lalu seorang pemuda lewat dan aku memandangnya. Guruku melihatku sedang memandangnya, maka ia berkata, “Wahai anakku, kamu akan menemukan akibatnya walau setelah beberapa waktu.” Maka aku menunggu selama dua puluh tahun dan aku mengawasinya namun tidak menemukan akibat itu. Pada suatu malam aku tidur sambil memikirkannya, lalu aku bangun dan aku telah lupa seluruh Al-Qur’an.
Abu Bakar Ash-Shufi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Sa’id Al-Hairi memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah Asy-Syirazi memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah Asy-Syirazi mengabarkan kepadaku, ia berkata: Abu Ya’qub An-Naharjuri mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku melihat dalam thawaf seorang laki-laki bermata satu dan ia berkata dalam thawafnya, “Aku berlindung kepada-Mu dari-Mu.” Maka aku berkata kepadanya, “Apa doa ini?” Ia berkata, “Sungguh aku mujawir (tinggal) sejak lima puluh tahun, lalu pada suatu hari aku memandang seseorang dan menganggapnya bagus, tiba-tiba ada tamparan jatuh pada mataku lalu mataku mengalir di pipiku. Maka aku berkata, ‘Aduh,’ lalu jatuh tamparan yang lain dan ada yang berkata, ‘Jika kamu menambah, Kami akan menambahkanmu.'”
Abdurrahman bin Muhammad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Al-Khatib memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abi Al-Hasan As-Sahili menceritakan kepadaku, ia berkata: Ammar bin Abdullah Ash-Shufi memberitakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Muhammad bin Hammad Ar-Rahabi berkata: Aku mendengar Abu Amr bin Alwan berkata: Pada suatu hari aku keluar ke pasar Ar-Rahbah untuk suatu keperluan, lalu aku melihat jenazah dan mengikutinya untuk menyalatinya. Aku berdiri di antara orang banyak hingga mayat dikubur. Pandanganku jatuh pada seorang wanita yang tidak bercadar tanpa sengaja, lalu aku terus memandang dan mengucapkan istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) dan meminta ampunan kepada Allah, kemudian kembali ke rumahku. Seorang nenek berkata kepadaku, “Wahai tuanku, mengapa wajahmu hitam?” Maka aku mengambil cermin dan melihat, ternyata wajahku hitam. Aku kembali meneliti dari mana aku tertimpa musibah, lalu aku teringat pandangan itu. Maka aku menyendiri di suatu tempat meminta ampunan kepada Allah dan memohon pengampunan-Nya selama empat puluh hari. Lalu terlintas di hatiku untuk mengunjungi gurumu Al-Junaid. Maka aku turun ke Baghdad, dan ketika aku datang ke kamar tempat ia berada, aku mengetuk pintu. Ia berkata kepadaku, “Masuklah wahai Abu Amr, kamu berbuat dosa di Ar-Rahbah dan meminta ampunan kepada Tuhanmu di Baghdad.”
Abu Bakar bin Habib Ash-Shufi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Sa’d bin Abi Shadiq Al-Hairi memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah Asy-Syirazi memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ahmad An-Najjar memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Al-Kattani mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku melihat salah seorang sahabat kami dalam mimpi, lalu aku berkata, “Apa yang Allah perbuat denganmu?” Ia berkata, “Keburukan-keburukanku diperlihatkan kepadaku dan Dia berkata, ‘Kamu telah berbuat begini dan begitu,’ maka aku berkata, ‘Ya.’ Dia berkata, ‘Dan kamu telah berbuat begini dan begitu,’ maka aku berkata, ‘Ya.’ Kemudian Dia berkata, ‘Dan kamu telah berbuat begini dan begitu,’ maka aku malu untuk mengakuinya. Dia berkata, ‘Aku mengampunimu dengan apa yang kamu akui, bagaimana dengan apa yang kamu malu karenanya?'” Maka aku berkata kepadanya, “Dosa apa itu?” Ia berkata, “Seorang pemuda tampan bermuka cantik melewatiku, lalu aku memandangnya.”
Dan telah diriwayatkan kisah seperti ini dari Abu Abdullah Az-Zarrad bahwa ia terlihat dalam mimpi, lalu dikatakan kepadanya, “Apa yang Allah perbuat denganmu?” Ia berkata, “Dia mengampuniku setiap dosa yang aku akui di dunia kecuali satu yang aku malu untuk mengakuinya, maka Dia menghentikanku dalam keringat hingga daging wajahku jatuh.” Dikatakan kepadanya, “Dosa apa itu?” Ia berkata, “Aku memandang seseorang yang cantik, lalu aku malu untuk menyebutkannya.”
Dan Abu Thalib Al-Makki menyebutkan kisah ini dari Manshur Al-Faqih, ia berkata: Aku melihat Abu Abdullah As-Sukri dalam tidur, lalu aku berkata kepadanya, “Apa yang Allah perbuat denganmu?” Ia berkata, “Dia menghentikanku dalam keringat hingga daging pipiku jatuh.” Aku berkata, “Mengapa?” Ia berkata, “Aku memandang seorang pemuda dari depan dan belakang.”
Dan aku diberitahu dari Muhammad bin Ali bin Abi Ash-Shaqr Al-Wasithi, ia berkata: Abdullah bin Harun Al-Qattan menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Hasan Al-Wa’izh menceritakan kepada kami, ia berkata: Ketika Abu Nashr Habib An-Najjar Al-Wa’izh meninggal di Bashrah, ia terlihat dalam mimpi dengan wajahnya seperti bulan purnama pada malam purnama, dan di wajahnya ada titik hitam. Orang yang melihatnya berkata kepadanya, “Habib, mengapa aku melihat titik ini di wajahmu?” Ia berkata, “Dia berkata kepadaku, ‘Kamu sedang berjalan di Bashrah di Bani Abas, lalu kamu melihat seorang pemuda tampan yang mengenakan pakaian tipis yang tubuhnya memancar darinya, lalu kamu memandangnya. Ketika kamu sampai kepada Tuhanmu, Dia berkata kepadaku, Habib.'”
Aku berkata, “Labbaik (aku penuhi panggilan-Mu).”
Dia berkata, “Lewatlah di atas api.” Maka aku melewatinya, lalu api itu menyemburkan padaku semburan ini. Maka aku berkata, “Aduh.”
Lalu Dia memanggilku, “Semburan untuk sekali pandang, dan jika kamu menambah, Kami akan menambahkanmu.” Dan telah sampai kepada kami dari Abu Ya’qub Ath-Thabari bahwa ia berkata: Bersamaku ada seorang pemuda tampan wajahnya dan ia melayani aku. Lalu datang kepadaku seseorang dari Baghdad, seorang sufi, dan ia sering melirik kepada pemuda itu, maka aku marah kepadanya karenanya. Pada suatu malam aku tidur, lalu aku melihat Tuhan Yang Maha Mulia dalam mimpi. Dia berkata, “Wahai Abu Ya’qub, mengapa kamu tidak melarangnya,” dan Dia menunjuk kepada orang Baghdad itu, “dari memandang para pemuda? Maka demi keagungan dan kebesaran-Ku, sungguh Aku tidak menyibukkan dengan para pemuda kecuali orang yang Aku jauhkan dari kedekatan-Ku.”
Abu Ya’qub berkata: Maka aku terbangun dalam keadaan gemetar, lalu aku menceritakan mimpi itu kepada orang Baghdad itu, maka ia berteriak sekali teriak dan meninggal. Maka kami memandikannya dan menguburkannya. Hatiku tersibukkan dengannya, lalu aku melihatnya setelah sebulan dalam tidur. Aku berkata, “Apa yang Allah perbuat denganmu?” Ia berkata, “Dia menegurku hingga aku takut tidak akan selamat, kemudian Dia memaafkanku.”
Bab Keenam Belas: Tentang Orang-Orang Yang Menghukum Dirinya Karena Memandang
Abu al-Qasim al-Hariri mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abu Talib al-‘Asyari memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu al-Husain bin Syam’un memberitahukan kepada kami, dia berkata: Utsman bin Ahmad memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ishaq bin Ibrahim al-Khatli menyampaikan hadits kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Hatim al-Tusi menyampaikan hadits kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Abdullah al-Harawi menyampaikan hadits kepada kami, dia berkata: Ishaq bin Ibrahim menyampaikan hadits kepada kami, dia berkata: Muqatil menyampaikan hadits kepada kami dari al-Dhahhak dari Ibnu Abbas, dia berkata: Isa bin Maryam keluar bersama orang-orang untuk meminta hujan, maka Allah azza wa jalla mewahyukan kepadanya: “Janganlah orang yang berdosa meminta hujan bersamamu.”
Maka Isa memberitahukan hal itu kepada mereka dan berkata: “Barangsiapa yang termasuk ahli dosa, hendaklah ia menyingkir.”
Maka semua orang menyingkir kecuali seorang laki-laki yang matanya yang kanan sakit. Isa bertanya kepadanya: “Mengapa engkau tidak menyingkir?” Dia menjawab: “Wahai Ruhullah, aku tidak pernah bermaksiat kepada Allah sekejap mata pun. Aku pernah menoleh dan melihat dengan mata ini pada kaki seorang wanita tanpa aku bermaksud melihatnya, maka aku mencongkelnya. Seandainya aku melihatnya dengan mata kiri, aku juga akan mencongkelnya.”
Isa pun menangis hingga jenggotnya basah oleh air matanya, kemudian berkata: “Berdoalah, karena engkau lebih berhak untuk berdoa daripada aku. Aku terjaga dengan wahyu, sedangkan engkau tidak terjaga namun tidak berbuat maksiat.” Maka laki-laki itu maju, mengangkat kedua tangannya dan berdoa: “Ya Allah, Engkau telah menciptakan kami dan Engkau telah mengetahui apa yang akan kami kerjakan sebelum Engkau menciptakan kami. Hal itu tidak menghalangi-Mu untuk menciptakan kami. Sebagaimana Engkau telah menciptakan kami dan menjamin rezeki kami, maka turunkanlah hujan yang terus-menerus kepada kami.”
Demi Zat yang jiwa Isa berada di tangan-Nya, belum sempat kalimat itu selesai dari mulutnya hingga langit menurunkan hujannya dengan deras, dan yang hadir maupun yang jauh mendapatkan air.
Jika ada yang bertanya: Orang ini telah berbuat maksiat dengan mencongkel matanya sendiri, bagaimana hal itu menjadi ketaatan yang dijadikan wasilah?
Jawabannya adalah: Jika riwayat darinya shahih, maka itu diartikan bahwa dalam syariat mereka hal itu diperbolehkan. Adapun dalam syariat kita, hal itu haram.
Syahdah memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu Muhammad al-Sarraj memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu Tahir bin al-Sawwaq memberitahukan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Ahmad bin Faris menyampaikan hadits kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Ibrahim al-Zainabi menyampaikan hadits kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Khalaf al-‘Asi menyampaikan hadits kepada kami, dia berkata: Abu Bakr al-Qurasyi menyampaikan hadits kepada kami, dia berkata: Muhammad bin al-Husain menyampaikan hadits kepadaku, dia berkata: al-Salt bin Hakim menyampaikan hadits kepadaku, dia berkata: Musa bin Salih menyampaikan hadits kepadaku, dia berkata: “Seorang laki-laki ahli ibadah dari Bani Israil melihat seorang wanita cantik dengan pandangan syahwat, maka dia sengaja mencongkel kedua matanya.”
Ibnu Nashir dan Abdullah bin Ali mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Tharad memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu al-Husain bin Bisyran memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ibnu Shafwan memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu Bakr al-Qurasyi memberitahukan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin al-Husain menyampaikan hadits kepadaku, dia berkata: Malik bin Daigham menyampaikan hadits kepadaku, dia berkata: Bibiku Habibah binti Maimun al-‘Atkiyyah menyampaikan hadits kepadaku, dia berkata: Aku melihat ayahmu Daigham suatu malam turun dari atas rumah dengan kendi yang telah didinginkan untuknya lalu menuangkannya, kemudian mengambil air panas dari gandum yang tidak diminum. Aku bertanya kepadanya setelah itu: “Aku telah melihat apa yang engkau lakukan, mengapa demikian?” Dia berkata: “Suatu kali aku memandang seorang wanita, maka aku menjadikan hukuman atas diriku untuk tidak merasakan air dingin sepanjang hari dunia, agar hidupku sengsara.”
Al-Qurasyi berkata: Ahmad bin Ibrahim menyampaikan hadits kepada kami dari Ali bin Ishaq dari Ibnu al-Mubarak dari al-Auza’i dari Harun bin Zibab bahwa Ghazwan dalam salah satu peperangannya, seorang budak perempuan terbuka auratnya, maka Ghazwan melihatnya. Lalu dia mengangkat tangannya dan menampar matanya sendiri hingga luka dan berkata: “Sungguh engkau suka memandang apa yang merugikanmu.”
Al-Qurasyi berkata: Muhammad bin Qudamah menyampaikan hadits kepadaku dari Muhammad bin Sabiq dari Malik bin Mughawwal dari Abu Sinan, dia berkata: Amru bin Murrah berkata: “Aku tidak senang jika aku bisa melihat, karena aku pernah memandang satu pandangan ketika aku masih muda.”
Muhammad bin Abi Manshur mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abdul Qadir bin Yusuf memberitahukan kepada kami, dia berkata: Yusuf bin Muhammad al-Mahrawani menyampaikan hadits kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Muhammad bin Hasnun menyampaikan hadits kepada kami, dia berkata: Ja’far al-Khawwash menyampaikan hadits kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Muhammad menyampaikan hadits kepada kami, dia berkata: Muhammad bin al-Husain menyampaikan hadits kepadaku, dia berkata: Harun bin Ma’ruf menyampaikan hadits kepadaku, dia berkata: Sa’id bin Abdullah menyampaikan hadits kepadaku, dia berkata: Aku mendengar seorang laki-laki bercerita dari Wahb, dia berkata: Di kalangan Bani Israil ada sebuah biara yang di dalamnya ada sekelompok ahli ibadah. Mereka memiliki perayaan di mana mereka berkumpul. Suatu hari mereka keluar pada hari perayaan mereka, maka seorang ahli ibadah melihat seorang budak perempuan dari Bani Israil yang alim. Ketika perempuan itu melihat pandangannya yang tajam kepadanya, dia berkata tanpa menyangka bahwa dia menginginkannya: “Mahasuci Zat yang menerangi mata sehingga bisa melihat,” padahal dia sedang terpapar pada apa yang diharamkan atasnya. Maka pendeta itu sujud dengan wajahnya dan berkata: “Tuhanku, jangan cabut penglihatanku sebagai hukuman atas pandanganku. Demi kemuliaan-Mu, aku akan menangis setelah ini selama aku mampu menangis, baik aku buta atau tidak buta.” Maka dia menangis hingga buta.
Ibnu Nashir mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abu Ali al-Hasan bin al-Fadhl bin al-Hasan al-Adami memberitahukan kepada kami, dan Abu Sa’d Ahmad bin Muhammad al-Baghdadi memberitahukan kepada kami, keduanya berkata: Abu al-Abbas Ahmad bin Abdul Ghaffar memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu Sa’d Muhammad bin Ali bin Amru al-Naqqasy menyampaikan hadits kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Muhammad bin Abdul Aziz al-Wa’izh, dia berkata: Aku mendengar Khairan al-Nassaj berkata: Aku bersama Abu Hamzah di Syam, tiba-tiba kami berada di dekat biara seorang rahib antara Ramlah dan Mesir. Aku mendengar tangisan dan isakannya, maka Abu Hamzah memanggilnya tiga kali tetapi dia tidak menjawab. Lalu Abu Hamzah berkata kepadanya: “Aku memohon kepadamu dengan hak Zat yang berhak atas-Mu, agar engkau mau berbicara denganku.”
Maka dia berkata dengan suara lemah: “Apa yang mendorongmu untuk berbicara denganku?” Abu Hamzah berkata: “Aku ingin bertanya tentang suatu masalah yang terjadi padaku.”
Dia berkata: “Aku sedang sibuk dari pertanyaanmu dan perkataanmu, maka pergilah dengan selamat, semoga Allah memberimu kesehatan.”
Abu Hamzah berkata: “Perlihatkanlah wajahmu kepadaku.” Dia berkata: “Apa yang akan engkau lakukan dengan melihat orang yang terkena musibah karena melihat?” Abu Hamzah berkata: “Aku ingin berbicara denganmu secara langsung tentang pertanyaanku.” Dia berkata: “Jika engkau ingin jawaban atas pertanyaanmu, maka bertanyalah hingga aku memberitahumu. Jika engkau ingin melihat, pergilah untuk urusanmu karena aku telah memberitahumu bahwa aku punya musibah.”
Abu Hamzah berkata: “Apa musibahmu?” Dia berkata: “Aku mengintip dari biaraku ini dua puluh tahun yang lalu, maka mataku jatuh pada seseorang yang merusak hatiku. Aku dalam upaya mengobati dan melawannya sejak hari itu hingga sekarang. Aku tahu bahwa aku tidak pernah melihat siapa pun dari manusia sampai engkau berbicara denganku.”
Abu Hamzah berkata: “Demi umurku, pandangan itu sungguh sial bagimu yang membuatmu mengalami penderitaan panjang dan mewariskan tangisan yang terus-menerus.”
Dia berkata: “Demi umurku, memang begitu. Aku telah menangis hingga air mataku habis dan mengering, sehingga aku tidak mampu mengeluarkan setetes pun kecuali pada beberapa hari. Jika aku menangis, aku merasakan kenyamanan dan sedikit ketenangan.”
Abu Hamzah berkata: “Pandangan seperti apa yang membawamu sampai ke keadaan ini?” Dia berkata: “Pada salah satu perayaan kami datang kepadaku sekelompok orang, di antara mereka ada seseorang yang kecantikannya membuat akalku bingung. Aku mengulangi pandanganku kepadanya berulang kali, maka tertanamlah di hatiku tanaman yang tidak bisa dipanen dengan sabit, tidak bisa dihancurkan dengan tombak, dan tidak bertambah seiring berjalannya hari kecuali kesegaran dan keteguhan. Ketika aku melihat hal itu, aku menegur hatiku agar kembali padaku, tetapi dia menolak kecuali untuk terikat padanya, terpapar padanya, dan mencari sebab-sebab kedekatan dengannya. Ketika aku melihatnya tetap pada penentangannya dan terus pada kemaksiatannya, aku berjanji kepada Allah bahwa aku tidak akan melihat siapa pun dan tidak ada yang melihatku. Ini adalah hukuman bagi setiap mata yang condong pada selain yang Allah perintahkan, hingga dia kembali pada yang diperintahkan atau dia tahu bahwa telah dimaafkan atas apa yang dia perbuat.”
Kemudian dia menangis, maka kami pergi dan meninggalkannya.
Syahdah binti Ahmad bin al-Faraj memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ibrahim bin Sa’id memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu Shalih al-Samarqandi menyampaikan hadits kepada kami, dia berkata: al-Husain bin al-Qasim bin al-Yasa’ menyampaikan hadits kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Muhammad bin Amru al-Dainuri memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ja’far bin Abdullah al-Sufi menyampaikan hadits kepada kami, dia berkata: Abu Hamzah berkata: Abu al-Amr Hussam bin al-Madha’ al-Mishri menyampaikan hadits kepadaku, dia berkata: Aku berperang pada zaman Harun al-Rasyid di salah satu kapal, maka kami terdampar di salah satu pulau Sisilia. Keluarlah orang yang selamat dan aku keluar bersama mereka. Aku melihat di salah satu pulau seorang laki-laki yang tidak bisa menahan air matanya karena banyaknya menangis. Aku bertanya tentang keadaannya dan berkata kepadanya: “Sayangilah matamu karena menangis telah merugikannya.” Dia berkata: “Kecuali itu.” Aku berkata: “Apa kejahatan keduanya terhadapmu hingga engkau berharap cobaan untuknya?” Dia berkata: “Kejahatan yang tidak akan aku henti memohon maaf kepada Allah karenanya sepanjang hidupku.” Aku berkata: “Apa itu?” Dia berkata: “Cepatnya keduanya melihat hal-hal yang diharamkan. Keduanya telah menjatuhkanku pada dosa, jika bukan karena harapan pada rahmat Allah, aku putus asa akan dimaafkan. Demi Allah, seandainya Allah memaafkanku dan memasukkanku ke surga lalu aku memandang-Nya, aku akan malu melihat-Nya dengan dua mata yang telah bermaksiat kepada-Nya.”
Kemudian dia pingsan dan jatuh tidak sadarkan diri.
Dan telah sampai kepada kami dari Abu Hamzah al-Sufi, dia berkata: Aku berdiri di dekat seorang rahib di salah satu negeri Syam, dia telah mengintip dari biaranya dan sedang berbicara dengan seorang pemuda tampan dari orang-orang Nasrani sambil tersenyum kepadanya. Aku berkata kepadanya: “Sepatutnya bagi orang yang berada di jalanmu untuk tidak tersenyum di hadapan orang yang fitnahnya tidak aman.” Dia berkata: “Demi umurku, memang seperti yang engkau katakan. Tetapi aku berjanji kepada Allah bahwa aku tidak akan membuka mataku selama setahun sebagai hukuman untuknya.”
Dia menutup matanya dan memasukkan kepalanya sambil menangis, lalu aku pergi.
Al-Muhammadan bin Nashir dan bin Abdul Baqi mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Hamad bin Ahmad memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu al-Husain Muhammad bin Muhammad bin Abdullah memberitahukan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar saudaraku Abu Abdullah Muhammad bin Muhammad berkata: Aku mendengar Muhammad bin Abdullah al-Sufi berkata: Aku mendengar Khairan al-Nassaj berkata: Aku bersama Umayyah bin al-Shamit al-Sufi, maka dia melihat seorang pemuda dan membaca “Dan Dia bersama kamu di mana pun kamu berada, dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Surat al-Hadid, 57:4) Kemudian berkata: “Dan ke mana lari dari penjara Allah yang telah diperkuat-Nya dengan malaikat-malaikat yang kasar dan keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Surat at-Tahrim, 66:6)
“Mahasuci Allah, betapa besarnya cobaan yang menimpaku dengan melihat pemuda ini. Aku tidak menyamakan pandanganku kepadanya kecuali seperti api yang jatuh pada bambu di hari berangin yang tidak menyisakan dan tidak meninggalkan apa-apa.”
Kemudian dia berkata: “Aku memohon ampun kepada Allah dari bencana yang ditimbulkan oleh mataku pada hati dan isi perutku. Aku takut tidak akan selamat dari akibat buruknya dan tidak akan terlepas dari dosanya. Seandainya aku datang pada hari kiamat dengan amal tujuh puluh orang shiddiq…” Kemudian dia menangis hingga hampir binasa. Aku mendengarnya berkata dalam tangisannya: “Wahai mata, sungguh akan aku sibukkan engkau dengan menangis daripada melihat bencana.”
Bab Ketujuh Belas: Tentang Orang-Orang Yang Memohon Kepada Allah Ta’ala Agar Penglihatannya Diambil Karena Takut Fitnah
Abdul Malik bin Abi al-Qasim al-Karukhi mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abu Abdullah Muhammad bin Ali al-‘Umairi memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu al-Fadhl Muhammad bin Muhammad al-Fami memberitahukan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Ahmad bin Yusuf al-Marwani memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu Abdurrahman Muhammad bin al-Mundzir Syukr menyampaikan hadits kepadaku, dia berkata: Ahmad bin Muhammad bin al-Hajjaj al-Muqri menyampaikan hadits kepada kami, dia berkata: Abdurrahman bin Abdullah bin Abdul Hakam menyampaikan hadits kepada kami, dia berkata: Abu Dhamrah ‘Ashim bin Abi Bakr al-Zuhri menyampaikan hadits kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Malik bin Anas berkata: Yunus bin Yusuf termasuk ahli ibadah atau termasuk sebaik-baik manusia – Abdurrahman ragu – maka suatu hari dia datang pulang dari masjid, lalu dia bertemu seorang wanita dan jatuh hati kepadanya. Dia berkata: “Ya Allah, Engkau telah menjadikan penglihatanku sebagai nikmat, dan aku takut akan menjadi laknat, maka ambillah kembali.” Maka dia menjadi buta, dan dia pergi ke masjid dipandu oleh anak saudaranya. Jika anak itu mengarahkannya pada tiang, dia sibuk bermain dengan anak-anak lain. Jika dia kehilangan sesuatu, dia melemparkan kerikil pada anak itu, maka anak itu kembali kepadanya. Suatu hari siang di masjid dia merasakan sesuatu di perutnya, maka dia melemparkan kerikil pada anak itu, tetapi anak itu sibuk bermain dengan anak-anak lain hingga orang tua itu takut pada dirinya. Maka dia berkata: “Ya Allah, Engkau telah menjadikan penglihatanku sebagai nikmat, dan aku takut akan menjadi laknat, maka aku memohon kepada-Mu dan Engkau mengambilnya. Aku telah takut akan aib, maka kembalikanlah kepadaku.” Maka dia kembali ke rumahnya dengan sehat dan berjalan.
Malik berkata: “Aku melihatnya buta dan aku melihatnya sehat.”
Dan telah diriwayatkan kepada kami kisah ini dengan terbaliknya nama laki-laki ini.
Ahmad bin Ali bin al-Mujalla mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abu Bakr Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ali bin Muhammad al-Mu’addil memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ibnu Shafwan menyampaikan hadits kepada kami, dia berkata: Abu Bakr al-Qurasyi menyampaikan hadits kepada kami, dia berkata: al-Hasan bin Abdul Aziz al-Jarawi menyampaikan hadits kepadaku, dia berkata: ‘Ashim bin Abi Bakr al-Zuhri menyampaikan hadits kepada kami, dia berkata: Malik bin Anas, Ibnu Abi Harum, dan al-Mughirah bin Abdurrahman memberitahukan kepada kami bahwa Yusuf bin Yunus bin Hammas melihat seorang wanita yang jatuh hati kepadanya, maka dia berdoa kepada Allah dan penglihatannya hilang. Dia tinggal setelah itu dalam waktu yang lama, pergi ke masjid dalam keadaan buta dan dipandu. Kemudian sesuatu bergerak di hatinya dan pembantunya telah pergi, dia tidak menemukan yang membantunya. Masjid sepi, maka dia berdoa kepada Allah ta’ala dan penglihatannya dikembalikan. Dia tetap sehat penglihatannya hingga meninggal.
Dengan sanad yang sama, Al-Qurasyi berkata: Ibrahim bin Sa’id menyampaikan hadits kepadaku, dia berkata: Musa bin Ayyub menyampaikan hadits kepada kami, dia berkata: ‘Ubaid al-Bairuti menyampaikan hadits kepada kami dari al-Auza’i dari Yahya, dia berkata: Ketika seorang wanita sedang berdiri di dekat lampu menyalakannya, seorang laki-laki melihatnya. Wanita itu sadar dan tahu bahwa dia telah memperhatikannya, maka dia menoleh kepadanya dan berkata: “Engkau melihat dengan penuh mata pada sesuatu milik orang lain.”
Dia berkata: Ziyad bin Muhammad menambahkan kepadaku dari ‘Uqbah bahwa dia berdoa kepada Tuhannya agar penglihatannya diambil, maka hilang. Dia tinggal dua puluh tahun dalam keadaan buta tidak bisa melihat. Ketika sudah tua, dia berdoa kepada Tuhannya agar penglihatannya dikembalikan, maka Allah mengembalikan penglihatannya.
Yahya bin Abi Katsir berkata: Dan sebagian orang yang melihatnya sebelum buta memberitahuku bahwa dia melihatnya sebagai orang tua yang bisa melihat setelah buta.
Umar bin Zhafar mengabarkan kepada kami, dia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abdul Aziz al-Azaji memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ibnu Jahdam menyampaikan hadits kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Muhammad bin Ahmad al-Zubairi, dia berkata: Aku mendengar Abu al-Abbas al-Farghani, dia berkata: Aku mendengar Manshur bin Ismail berkata: “Ketika aku melihat sesuatu yang indah yang sangat menyentuh hatiku, aku memohon kepada Allah azza wa jalla agar penglihatanku diambil, maka hilang.”
Bab Kedelapan Belas Tentang Pahala Orang Yang Menundukkan Pandangannya Dari Yang Haram
Ismail bin Ahmad, Abdul Wahhab bin Al-Mubarak, dan Yahya bin Ali memberitahukan kepada kami, mereka berkata: Abu Muhammad Ash-Sharifini mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Hafsh Al-Kattani mengabarkan kepada kami. Dan Ahmad bin Muhammad Ath-Thusi, ‘Ayil bin Ahmad, Yahya bin Al-Hasan, Ahmad bin Al-Hasan Al-Muqri, dan Ali bin Al-Mubarak memberitahukan kepada kami, mereka berkata: Ibnu An-Nuqur menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Habbabah mengabarkan kepada kami. Keduanya berkata: Al-Baghawi menceritakan kepada kami, ia berkata: Thalut bin ‘Abbad menceritakan kepada kami, ia berkata: Fadhal bin Jubair menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Umamah berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jaminlah bagiku enam perkara, niscaya aku jamin bagi kalian surga: jika salah seorang di antara kalian berbicara maka janganlah ia berdusta, jika diberi amanah maka janganlah ia berkhianat, jika berjanji maka janganlah ia mengingkari, tundukkan pandangan kalian, tahanlah tangan kalian, dan jagalah kemaluan kalian.”
Yahya bin Ali memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abul Hasan bin Al-Muhtadi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu Syahin menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Shalih bin Zughail menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Wahid bin Ghiyats dan Thalut bin ‘Abbad menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Fadhal bin Jubair menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Umamah berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jaminlah bagiku enam perkara, niscaya aku jamin bagi kalian surga: jika salah seorang di antara kalian berbicara maka janganlah ia berdusta, jika berjanji maka janganlah ia mengingkari, jika diberi amanah maka janganlah ia berkhianat, tundukkan pandangan kalian, jagalah kemaluan kalian, dan sambunglah tali persaudaraan kalian.”
Hibatullah bin Muhammad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Ali mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ja’far mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: ‘Attab menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah yaitu Ibnu Al-Mubarak menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Ayyub mengabarkan kepada kami dari Abdullah bin Zuhr dari Ali bin Yazid dari Al-Qasim dari Abu Umamah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim memandang kepada kecantikan seorang wanita pada pandangan pertama kemudian menundukkan pandangannya, melainkan Allah akan mengadakan baginya ibadah yang ia merasakan manisnya.”
Muhammad bin Abdul Baqi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Hamad bin Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Ibrahim bin Muhammad bin Al-Husain menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ya’qub menceritakan kepada kami, ia berkata: Abul Yaman menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Mahdi Sa’id bin Sinan menceritakan kepada kami dari Abuz Zahiriyyah dari Katsir bin Murrah dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Pandangan pertama adalah kesalahan, yang kedua adalah kesengajaan, dan yang ketiga membinasakan. Pandangan lelaki kepada kecantikan wanita adalah anak panah dari anak-anak panah Iblis yang beracun. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah dan mengharap apa yang ada di sisi-Nya, Allah akan memberinya pahala berupa ibadah yang membuatnya merasakan kelezatannya.”
Al-Mubarak bin Ali memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ali bin Muhammad bin Al-‘Allaf mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abdul Malik bin Bisyran mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ibrahim Al-Kindi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far Al-Khara’ithi menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Harb menceritakan kepada kami, ia berkata: Ishaq bin Abdul Wahid menceritakan kepada kami, ia berkata: Husyaim menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman bin Ishaq menceritakan kepada kami dari Muharib bin Ditsar dari Shilah dari Hudzaifah bin Al-Yaman, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Pandangan kepada wanita adalah anak panah dari anak-anak panah Iblis yang beracun. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah Azza wa Jalla, Allah Ta’ala akan memberinya iman yang ia merasakan manisnya di dalam hatinya.”
Abdul Wahhab bin Al-Mubarak memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Hakim Abu Muhammad Yahya bin Al-Hasan bin Al-Mundzir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ismail bin Sa’id Al-Mu’addil mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar bin Al-Anbari menceritakan kepada kami, ia berkata: ‘Ubaid bin Abdul Wahid menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Abi Maryam menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Ayyub menceritakan kepada kami dari Abdullah bin Zuhr dari Ali bin Yazid dari Al-Qasim dari Abu Umamah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memandang kepada seorang wanita lalu menundukkan pandangannya pada dorongan pertama, Allah akan memberinya rizki berupa ibadah yang ia merasakan manisnya.”
Ibnu Al-Anbari berkata: Para ahli bahasa berkata: Tafsir “ghadhdha” adalah “yaghudhudhu”, dikatakan “telah aku ghadhdhadh terhadap seseorang” jika engkau mencela dan merendahkannya.
Ahmad bin Abdul Baqi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad Al-Khallal mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepada kami, ia berkata: Qasim bin Ali Ad-Duhri menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ishaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Sahl bin Muhammad Al-Farisi menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayyub bin Sulaiman menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Marwan menceritakan kepada kami dari Abdurrahman bin Ishaq dari An-Nu’man bin Sa’id dari Ali, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman: Pandangan adalah anak panah dari anak-anak panah Iblis yang beracun. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada-Ku, Aku gantikan baginya sebagai gantinya iman yang ia merasakan manisnya di dalam hatinya.”
Muhammad bin Abdul Baqi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Hamad bin Ahmad Al-Haddad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah Al-Hafizh mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Ghufair Al-Anshari menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’aib bin Salamah menceritakan kepada kami, ia berkata: ‘Ishmah bin Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Musa bin ‘Uqbah menceritakan kepada kami dari Al-Qasim bin Muhammad dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang hamba menahan pandangannya dari kecantikan seorang wanita padahal seandainya ia mau ia dapat memandangnya, melainkan Allah Azza wa Jalla memasukkan ke dalam hatinya ibadah yang ia merasakan manisnya.”
Abdul Wahhab bin Al-Mubarak memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ali bin Ahmad Al-Malthi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Yusuf mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Husain bin Shafwan mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Muhammad Al-Qurasyi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Sa’id Al-Madani menceritakan kepada kami, ia berkata: Umar bin Sahl Al-Mazini menceritakan kepadaku, ia berkata: Umar bin Muhammad bin Shahban menceritakan kepadaku, ia berkata: Shafwan bin Sulaim menceritakan kepadaku dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Setiap mata akan menangis pada hari Kiamat kecuali mata yang ditundukkan dari larangan-larangan Allah, mata yang begadang di jalan Allah, dan mata yang keluar darinya air mata sebesar kepala lalat karena takut kepada Allah.”
Ibnu Nashir memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Ahmad Al-Faqih mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ahmad bin Abil Fawaris mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Ahmad Al-Muzakki mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Al-Musayyab mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Khubaiq menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Mujahid menceritakan kepadaku, ia berkata: Menundukkan pandangan dari larangan-larangan Allah akan mewariskan cinta kepada Allah.
Muhammad bin Nashir memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Asy-Syirazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Abdurrahman As-Sulami mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Bakar Muhammad bin Ahmad berkata: Aku mendengar Abul Husain Al-Warraq berkata: Barangsiapa menundukkan pandangannya dari yang haram, Allah mewariskan baginya dengan itu hikmah pada lisannya yang dengannya para pendengarnya mendapat petunjuk. Dan barangsiapa menundukkan pandangannya dari yang syubhat, Allah menerangi hatinya dengan cahaya yang dengannya ia mendapat petunjuk menuju jalan ridha-Nya.
Abu Bakar Ash-Shufi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Sa’d bin Abi Shadiq mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah Asy-Syirazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abdul Wahid bin Bakr Al-Wartsani menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ahmad Al-Maristani menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Isa Al-Qurasyi menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Al-Muhallad As-Sa’ih menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku melihat di antara Tsa’labiyyah dan Khuzaimiyyah seorang pemuda yang berdiri shalat, ia telah terpisah dari manusia. Maka aku menunggunya hingga ia menghentikan shalatnya, kemudian aku berkata kepadanya: Tidakkah ada yang menemanimu? Ia berkata: Ada. Aku berkata: Di mana dia? Ia berkata: Di depanku, bersamaku, di belakangku, di sebelah kananku, di sebelah kiriku, dan di atasku.
Maka aku tahu bahwa ia memiliki ma’rifat (pengenalan kepada Allah).
Aku berkata: Tidakkah ada bekalmu? Ia berkata: Ada. Aku berkata: Di mana bekalnya? Ia berkata: Keikhlasan kepada Allah Azza wa Jalla, mentauhidkan-Nya, mengikrarkan Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam, iman yang benar, dan tawakal yang yakin.
Aku berkata: Apakah kamu mau menemaniku? Ia berkata: Teman akan menyibukkan dari Allah, dan aku tidak suka menemani siapa pun sehingga aku disibukkan daripadanya sekalipun sekejap mata.
Aku berkata: Tidakkah kamu merasa sepi di padang ini sendirian? Ia berkata: Sesungguhnya ketenangan bersama Allah telah memutuskan dariku setiap kesepian, hingga seandainya aku berada di antara binatang buas niscaya aku tidak takut dan tidak merasa sepi karenanya.
Aku berkata: Dari mana kamu makan? Ia berkata: Yang telah memberi rizki kepadaku di kegelapan rahim ketika kecil, telah menjamin rizkiku ketika besar.
Aku berkata: Pada waktu apa sebab-sebabnya datang kepadamu? Ia berkata: Bagiku ada batas waktu yang ditentukan dan waktu yang dipahami. Jika aku membutuhkan makanan, aku mendapatkannya di tempat mana pun aku berada. Dan Dia telah mengetahui apa yang memperbaiki keadaanku dan Dia tidak lalai dariku.
Aku berkata: Apakah ada keperluanmu? Ia berkata: Ada. Aku berkata: Apa itu? Ia berkata: Jika kamu melihatku maka janganlah kamu ajak aku bicara dan janganlah kamu beritahukan kepada siapa pun bahwa kamu mengenalku.
Aku berkata: Itu untukmu. Apakah ada keperluan lain? Ia berkata: Ada. Aku berkata: Apa itu? Ia berkata: Jika kamu mampu untuk tidak melupakanku dalam doamu dan ketika kesulitan menimpamu maka lakukanlah.
Aku berkata: Bagaimana orang sepertiku mendoakan orang sepertimu sedangkan kamu lebih utama dariku dalam ketakwaan dan tawakal? Ia berkata: Jangan kamu katakan ini. Sesungguhnya kamu telah shalat untuk Allah Azza wa Jalla sebelumku, dan bagimu ada hak Islam dan pengenalan iman.
Aku berkata: Sesungguhnya bagiku juga ada keperluan. Ia berkata: Apa itu? Aku berkata: Doakanlah aku kepada Allah. Ia berkata: “Semoga Allah menutup pandanganmu dari setiap maksiat dan mengilhamkan hatimu untuk berpikir tentang apa yang melaziminya hingga tidak ada perhatianmu kecuali kepada-Nya.” Aku berkata: Wahai kekasihku, kapan aku menemuimu dan di mana aku mencarimu? Ia berkata: “Adapun di dunia maka janganlah kamu buat dirimu berharap menemuiku di dalamnya. Dan adapun akhirat maka itu adalah tempat berkumpulnya orang-orang bertakwa. Maka hati-hatilah agar kamu tidak menyelisihi Allah dalam apa yang Dia perintahkan dan yang Dia serukan kepadamu. Jika kamu benar-benar ingin menemuiku maka carilah aku bersama orang-orang yang memandang kepada Allah Azza wa Jalla dalam barisan mereka.”
Aku berkata: Bagaimana kamu mengetahui hal itu? Ia berkata: “Dengan menundukkan pandanganku untuk-Nya dari setiap yang haram dan menjauhi di dalamnya setiap kemungkaran dan dosa. Dan aku telah memohon kepada-Nya agar menjadikan surgaku adalah memandang kepada-Nya.”
Kemudian ia berteriak dan berjalan dengan cepat hingga hilang dari pandanganku.
Maka pahamilah wahai saudaraku apa yang aku wasiatkan kepadamu. Sesungguhnya pandanganmu adalah nikmat dari Allah kepadamu, maka janganlah kamu bermaksiat kepada-Nya dengan nikmat-nikmat-Nya. Perlakukanlah-Nya dengan menundukkan pandangan dari yang haram, niscaya kamu akan untung. Dan berhati-hatilah agar hukumannya adalah dicabutnya nikmat itu. Jadikanlah setiap waktu untuk berjihad dalam menundukkan pandangan sebagai rencana. Jika kamu melakukan itu, niscaya kamu akan mendapatkan kebaikan yang banyak dan selamat dari kejahatan yang panjang. Tidakkah kamu mendengar perkataan seseorang:
“Sesungguhnya aku ketika orang yang tamak hina Aku mulia dalam naungan qana’ah (merasa cukup) Dan aku katakan kepada jiwa: Tenangkanlah Karena keberanian adalah kesabaran sesaat”
Yang lain berkata:
“Bukanlah orang pemberani yang melindungi tunggangannya Pada hari pertempuran dan api perang menyala Tetapi pemuda yang menundukkan pandangan atau memalingkan penglihatannya Dari yang haram, maka dialah penunggang kuda yang pemberani”
Yang lain berkata:
“Aku bersabar dari kelezatan-kelezatan hingga ia berlalu Dan aku mewajibkan jiwaku bersabar maka ia menjadi terbiasa Dan adalah pada masa-masa jiwaku mulia Maka ketika ia melihat kesabaranku terhadap kehinaan, ia menjadi hina Dan tidaklah jiwa itu kecuali di mana pemuda menempatkannya Jika diberi harapan ia merindukan dan jika tidak maka ia menghibur diri”
Bab Kesembilan Belas Tentang Pengobatan Kegelisahan Dan Pikiran Yang Timbul Dari Pandangan
Ketahuilah, semoga Allah memberimu taufik, bahwa jika engkau melaksanakan perintah menundukkan pandangan pada pandangan pertama, niscaya engkau akan selamat dari bahaya-bahaya yang tak terhitung. Jika engkau mengulangi pandangan, engkau tidak aman dari ditanamnya benih di hatimu yang sulit dicabut. Jika itu telah terjadi, maka pengobatannya adalah menjaga diri dengan menundukkan pandangan setelah itu dan memutus keinginan pikiran dengan menutup pintu pandangan. Ketika itu akan mudah mengobati yang telah terjadi di hati, karena jika berkumpul aliran air lalu dirusak alirannya, mudah mengeringkan yang telah terkumpul. Dan tidak ada pengobatan untuk yang telah terjadi di hati yang lebih kuat daripada memutus sebab-sebabnya, kemudian menegur kegelisahan karenanya dengan takut dari hukuman Allah Azza wa Jalla. Maka ketika engkau mulai menggunakan obat ini, diharapkan bagimu kesembuhan yang dekat. Dan jika engkau menenangkan kegelisahan, ia akan naik ke tingkat ketetapan hati, kemudian menggerakkan anggota badan.
Muhammad bin Nashir memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar bin Khalaf mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Al-Husain mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Muhammad bin Ahmad An-Nasawi berkata: Aku mendengar Ali bin Ibrahim berkata: Aku mendengar Ibrahim bin Al-Maulid berkata: Aku mendengar Muhammad bin Ahmad Ar-Rafiq berkata: Aku mendengar Ali bin Al-Husain At-Tamimi berkata: Aku mendengar Abu Turab An-Nakhsyabi berkata: Jagalah kegelisahanmu karena ia adalah pendahulu segala sesuatu. Barangsiapa benar kegelisahannya, maka benar baginya apa yang setelah itu dari perbuatan-perbuatannya dan keadaan-keadaannya.
Ahmad bin Ahmad Al-Mutawakkili mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Musa Ash-Shairafi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abdullah Al-Ashbahani menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Al-Qurasyi menceritakan kepada kami, ia berkata: Dikatakan kepada salah seorang ahli hikmah: Apa sebab dosa? Ia berkata: Bisikan. Jika kamu menghadapi bisikan dengan kembali kepada Allah, ia akan hilang. Jika tidak kamu lakukan, akan terlahir darinya pikiran. Jika kamu menghadapinya dengan kembali kepada Allah, ia akan batal. Jika tidak, maka pada saat itu bisikan akan bercampur dengan pikiran dan terlahir darinya syahwat. Dan semua itu masih tersembunyi di dalam hati, belum tampak pada anggota badan. Jika kamu tidak mengatasi syahwat, jika tidak maka akan terlahir darinya pencarian. Jika kamu tidak mengatasi pencarian, jika tidak maka akan terlahir darinya perbuatan.
Jika ada yang berkata: Bagaimana aku mampu menolak bisikan-bisikan yang membisikkan yang tidak aku kuasai?
Maka jawabannya adalah: Selama itu belum menjadi ketetapan hati, tidak akan membahayakan. Namun tidak sepatutnya kamu dihukum karena takut kepada Dia yang mengetahui apa yang disembunyikan dada-dada sehingga hati sibuk dengan tugas-tugas yang jauh yang melalaikan dari perkara yang ia diciptakan untuknya. Ketika kamu menahan anggota badanmu dan tidak menetapkan hati untuk kesalahan-kesalahan, maka telah dimaafkan bagimu dari bisikan dan gangguan pikiran. Jika kamu menegurnya dengan rasa takut, maka kamu telah bersungguh-sungguh dalam kesucian.
Ibnu Nashir memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar bin Khalaf mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Al-Husain mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Bakar Ar-Razi berkata: Aku mendengar Ja’far Al-Khuldi berkata: Abu Al-‘Abbas bin Masruq berkata: “Barangsiapa memperhatikan Allah dalam bisikan-bisikan hatinya, Allah akan menjaganya dalam gerak-gerik anggota badannya.”
Bab Dua Puluh: Tentang Apa Yang Harus Dilakukan Seseorang Yang Melihat Seorang Wanita Lalu Terpesona Karenanya
Telah mengabarkan kepada kami Hibatullah bin Muhammad bin al-Ja’bin, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Ali al-Hasan bin Ali, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ja’far, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul Shamad, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Harb dari Abu al-Zubair dari Jabir bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seorang wanita lalu terpesona karenanya, maka beliau mendatangi Zainab dan memenuhi kebutuannya. Beliau bersabda: “Sesungguhnya wanita datang dalam bentuk setan dan pergi dalam bentuk setan. Maka apabila salah seorang di antara kalian melihat wanita lalu terpesona karenanya, hendaklah ia mendatangi istrinya, karena hal itu akan menghilangkan apa yang ada dalam dirinya.”
Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Muslim.
Hadits ini menunjukkan dua perkara: Pertama, menghibur diri dari sesuatu yang diinginkan dengan jenisnya. Kedua, pemberitahuan bahwa sebab terpesona adalah kuatnya syahwat, maka diperintahkan untuk menguranginya.
Bab Dua Puluh Satu: Tentang Haramnya Berduaan Dengan Wanita Asing
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abdul Wahid al-Syaibani, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami al-Hasan bin Ali al-Tamimi, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amr dari Abu Ma’bad dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita, dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Nama Abu Ma’bad adalah Nafidz, budak Ibnu Abbas.
Telah mengabarkan kepada kami Hibatullah bin Muhammad, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami al-Hasan bin Ali, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ja’far, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahiah dari Abu al-Zubair dari Jabir, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia berduaan dengan seorang wanita yang tidak ada mahramnya bersamanya, karena sesungguhnya yang ketiga adalah setan.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu al-Hushain, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ibnu al-Madzhab, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ja’far, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku.
Dan telah mengabarkan kepada kami Sa’id bin Ahmad bin al-Hasan bin al-Banna, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ali bin Ahmad al-Basri, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Thahir Muhammad bin Abdurrahman al-Mukhallish, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad al-Baghawi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin Arafah. Mereka berdua berkata: Telah menceritakan kepada kami Jarir bin Abdul Hamid dari Abdul Malik bin Umair dari Jabir bin Samurah, ia berkata: Umar radhiyallahu ‘anhu berkhutbah kepada manusia di al-Jabiyah, lalu berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di tempat seperti tempat saya ini, lalu bersabda: “Ketahuilah, janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita, karena yang ketiga dari mereka adalah setan.”
Telah mengabarkan kepada kami al-Mubarak bin Ali, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhammad bin al-Allaf, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim al-Kindi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far al-Khara’ithi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hubairah al-Ghadhiri, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin Qutaibah, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Yunus dari Abdul Malik bin Umair dari Abdullah bin al-Zubair, ia berkata: Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berdiri di hadapan kami, lalu berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di hadapan kami sebagaimana aku berdiri di hadapan kalian, kemudian bersabda: “Ketahuilah, janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita, karena yang ketiga dari mereka adalah setan.”
Telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Ali al-Mudir, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Manshur Abdul Aziz al-Ukbari, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ubaidullah bin Muhammad al-Fardhi, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Muhammad al-Khalladi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Umar bin Makhlad al-Sijistani, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ibrahim al-Marwazi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahiah dari Abu Qatil dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang bukan mahramnya, kecuali ia akan berniat atau wanita itu akan berniat kepadanya.”
Ditanyakan: “Ya Rasulullah, bagaimana jika keduanya orang saleh?”
Beliau menjawab: “Sekalipun dia Maryam binti Imran dan Yahya bin Zakariya.”
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Nashir, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Ali al-Tamimi. Dan telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Hamad bin Ahmad, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah. Mereka berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Bakr bin Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ma’mar bin Sulaiman dari Furat dari Maimun bin Mihran, ia berkata: Tiga hal yang jangan kau uji dirimu dengannya: Jangan kau menemui penguasa meskipun kau berkata akan memerintahkannya dengan ketaatan kepada Allah. Jangan kau menemui seorang wanita meskipun kau berkata akan mengajarkannya Kitab Allah Azza wa Jalla. Dan jangan kau condongkan pendengaranmu kepada orang yang memiliki hawa nafsu, karena engkau tidak tahu apa yang akan melekat di hatimu darinya.
Telah mengabarkan kepada kami dari Abdurrahman bin Muhammad, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Bakr al-Khatib, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami al-Tanukhi, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Yusuf bin al-Bahlul, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami al-Mutsanna bin Jami’, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syuraih bin Yunus, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Faraj bin Fadhalah dari Kalb bin Maimun dari Maimun bin Mihran, ia berkata: Umar bin Abdul Aziz berwasiat kepadaku, lalu berkata: “Wahai Maimun, janganlah kau berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal bagimu, sekalipun kau mengajarkannya al-Quran. Janganlah kau mengikuti penguasa sekalipun kau melihat bahwa kau akan memerintahkannya dengan kebaikan atau melarangnya dari kemungkaran. Dan janganlah kau duduk bersama orang yang memiliki hawa nafsu karena ia akan memasukkan ke dalam dirimu sesuatu yang akan membuat Allah murka kepadamu.”
Telah memberitakan kepada kami Isma’il bin Ahmad, dan telah menceritakan kepada kami darinya al-Mubarak bin Ali, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ibnu al-Nuqur, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami al-Mukhallish, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad al-Yaskuri, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ya’la al-Maqri, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami al-Ashma’i, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid, ia berkata: Yunus bin Ubaid berkata kepada kami: Aku wasiatkan kepada kalian tiga hal, ambillah dariku baik aku masih hidup atau sudah mati: Janganlah kau biarkan pendengaranmu untuk orang yang suka bermain-main. Janganlah kau berduaan dengan seorang wanita yang bukan mahrammu sekalipun kau membacakan al-Quran kepadanya. Dan janganlah kau menemui seorang penguasa sekalipun kau menasihatinya.
Telah mengabarkan kepada kami al-Mubarak bin Ali, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhammad bin al-Allaf, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Da’laj bin Ahmad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Harun, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim al-Maushili, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid, ia berkata: Yunus bin Ubaid berkata: Hafalkan dariku tiga hal, baik aku mati atau hidup: Janganlah salah seorang di antara kalian menemui pemilik kekuasaan untuk menasihatinya dan mengajarinya. Janganlah berduaan dengan wanita muda sekalipun membacakan al-Quran kepadanya. Dan janganlah memberikan pendengaranmu kepada orang yang memiliki hawa nafsu.
Telah memberitakan kepada kami Isma’il bin Ahmad, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ashim, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhammad, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ibnu Shafwan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr al-Qurasyi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdul A’la, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Faraj bin Fadhalah dari Ubaidurrahman bin Ziyad, ia berkata: Ketika Musa sedang duduk, tiba-tiba Iblis datang, lalu Musa berkata kepadanya: “Apa yang jika dilakukan oleh manusia, engkau akan menguasainya?” Iblis menjawab: “Apabila ia mengagumi dirinya sendiri, menganggap banyak ilmunya, dan melupakan dosa-dosanya.”
“Dan aku memperingatkanmu akan tiga hal: Janganlah berduaan dengan wanita yang tidak halal bagimu, karena tidak ada seorang laki-laki yang berduaan dengan wanita yang tidak halal baginya kecuali aku menjadi temannya tanpa teman-temanku yang lain hingga aku memfitnahnya dengannya. Janganlah kau berjanji kepada Allah dengan suatu janji kecuali kau menepatinya, karena tidak ada seseorang yang berjanji kepada Allah dengan suatu janji kecuali aku menjadi temannya tanpa teman-temanku yang lain hingga aku menghalangi antara dia dan penepatan janjinya. Dan janganlah kau keluarkan sedekah kecuali kau laksanakan, karena tidak ada seseorang yang mengeluarkan sedekah lalu tidak melaksanakannya kecuali aku menjadi temannya tanpa teman-temanku yang lain hingga aku menghalangi antara dia dan penepatan sedekahnya.”
Kemudian ia berpaling sambil berkata: “Celakalah dia tiga kali, Musa telah mengetahui apa yang ia peringatkan kepada bani Adam.”
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Nashir, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Bakr bin Khalaf, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Abdurrahman al-Sulami, ia berkata: Dikatakan kepada Abu al-Qasim bin al-Nashrabadzi bahwa sebagian orang duduk bersama wanita-wanita dan berkata: “Aku terpelihara dalam melihat mereka.”
Maka ia berkata: “Selama jasad masih ada, maka perintah dan larangan masih ada, dan halal dan haram masih dikenakan. Dan tidak akan berani terhadap perkara syubhat kecuali orang yang berada di tengah-tengah perkara haram.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu al-Husain al-Hammami, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad al-Hasan bin Ali, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ibnu Hayuwaih, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Bakr bin Khalaf, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad al-Balkhi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Musa al-Hanafi, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku pamanku Walid bin Ya’qub, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: Maslamah bin Abdul Malik menemui saudaranya Hisyam bin Abdul Malik, dan di sisinya ada pelayan yang tampan mengenakan sorban hitam dan pakaian yang indah. Maslamah berkata: “Wahai Amirul Mukminin, siapakah pemuda kita ini?” Hisyam menjawab: “Ini pelayanku.” Maslamah berkata: “Wahai Amirul Mukminin, apakah orang seperti ini masuk ke tempat istri-istrimu?” Hisyam menjawab: “Sesungguhnya ia dikebiri, tidak mampu terhadap wanita.” Maslamah berkata: “Sesungguhnya jika ia tidak mampu kepadanya, ia akan mengingatkannya akan laki-laki.”
Maka Hisyam mengeluarkannya.
Berhati-hatilah, semoga Allah merahmatimu, dari mendekati sebab bencana, karena jauh bagi orang yang mendekati fitnah untuk selamat darinya.
Sebagaimana kehati-hatian berpasangan dengan keselamatan, maka mendekati fitnah berpasangan dengan kebinasaan.
Jarang yang selamat dari fitnah dengan mendekatinya.
Padahal ia tidak akan selamat dari pikiran, bayangan, dan keinginan.
Dan semua ini adalah kesalahan.
Ini jika berduaan dengan wanita asing itu halal, tidak akan selamat dari bencana-bencana ini, apalagi jika itu haram.
Bab Dua Puluh Dua: Peringatan Terhadap Fitnah Wanita
Ibn al-Hushain memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibn al-Madzhab memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad ibn Ja’far memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdullah ibn Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Yahya ibn Sa’id menceritakan kepada kami. Dan Abdul Awwal memberitahukan kepada kami, ia berkata: al-Dawudi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibn A’yan memberitahukan kepada kami, ia berkata: al-Farbari menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Bukhari menceritakan kepada kami, ia berkata: Adam menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami.
Dan Abu Bakar al-Zaghuni memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu al-Fath al-Syasyi memberitahukan kepada kami. Dan Abu Abdurrahman al-Marwazi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah al-Farawi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdul Ghafir menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibn Amrawayh memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibrahim ibn Muhammad ibn Sufyan menceritakan kepada kami, ia berkata: Muslim ibn al-Hajjaj menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibn Rahawayh menceritakan kepada kami, ia berkata: Jarir menceritakan kepada kami.
Dan Ibn al-Hushain serta Ibn Abdul Baqi memberitahukan kepada kami, keduanya berkata: Abu al-Thayyib al-Thabari memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Ahmad al-Ghathrifi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Khalifah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibrahim ibn Basyar al-Ramadi menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami. Dan Abu al-Qasim al-Hariri memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Thalib al-‘Asyari memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu al-Husain ibn Syam’un memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad ibn Muhammad ibn Abi Hudzaifah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibn Abi al-Khanajir menceritakan kepada kami, ia berkata: Musa ibn Dawud menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Qasim ibn Ma’n menceritakan kepada kami. Dan Ali ibn Abdullah memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad al-Sharifini memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Hafsh al-Kattani memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad ibn Ubaidillah ibn al-‘Ala al-Katib menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad ibn Burik menceritakan kepada kami, ia berkata: Asbath menceritakan kepada kami. Dan Mawhub ibn Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibn al-Basri memberitahukan kepada kami, ia berkata: al-Mukhallish memberitahukan kepada kami, ia berkata: al-Baghawi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar ibn Abi Syaibah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Khalid al-Ahmar menceritakan kepada kami. Mereka berkata: Sulaiman al-Taimi memberitahukan kepada kami, dari Abu Utsman, dari Usamah ibn Zaid, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.”
Ibn al-Hushain memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibn al-Madzhab memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar ibn Malik memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdullah ibn Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku. Dan Abu Bakar al-Zaghuni memberitahukan kepada kami, ia berkata: al-Syasyi memberitahukan kepada kami. Dan al-Marwazi memberitahukan kepada kami, ia berkata: al-Farawi memberitahukan kepada kami, keduanya berkata: Abdul Ghafir menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibn Amrawayh menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibrahim ibn Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Muslim ibn al-Hajjaj menceritakan kepada kami, ia berkata: Bundar menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Muhammad ibn Ja’far menceritakan kepada kami. Dan Abdul Awwal memberitahukan kepada kami, ia berkata: al-Dawudi menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Sarakhsi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibrahim ibn Khurim menceritakan kepada kami, ia berkata: Abbad ibn Humaid menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Nadhr ibn Syumil menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Abu Salamah, ia berkata: Aku mendengar Abu Nadhrah menceritakan dari Abu Sa’id al-Khudri, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau, dan sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menjadikan kalian khalifah di dalamnya untuk melihat bagaimana kalian beramal. Maka bertakwalah terhadap dunia dan bertakwalah terhadap wanita, karena sesungguhnya fitnah pertama Bani Israil adalah pada wanita.”
Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Muslim, sedangkan hadits sebelumnya disepakati dalam Shahihain.
Ibn al-Hushain memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibn al-Madzhab memberitahukan kepada kami, ia berkata: al-Qathi’i memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdullah ibn Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Mu’awiyah menceritakan kepada kami, ia berkata: al-A’masy menceritakan kepada kami, dari Ibrahim, dari al-Aswad, dari Aisyah, ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sakit keras, Bilal datang memberitahukan kepada beliau tentang shalat, maka beliau bersabda: “Suruhlah Abu Bakar agar mengimami shalat bersama orang-orang.” Aisyah berkata: Maka aku berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Bakar adalah laki-laki yang lembut hati, dan apabila ia berdiri di tempatmu, orang-orang tidak dapat mendengarnya. Seandainya engkau menyuruh Umar.” Maka beliau bersabda: “Suruhlah Abu Bakar agar mengimami shalat bersama orang-orang.” Aisyah berkata: Maka aku berkata kepada Hafshah: “Katakanlah kepadanya.” Maka Hafshah mengatakan hal itu kepada beliau. Beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian adalah seperti sahabat-sahabat Yusuf.”
Hadits ini diriwayatkan oleh keduanya dalam Shahihain.
Hibatullah ibn Muhammad memberitahukan kepada kami, ia berkata: al-Hasan ibn Ali al-Tamimi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad ibn Ja’far memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdullah ibn Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya ibn Adam menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abdurrahman ibn Ayyasy, dari Zaid ibn Ali, dari ayahnya, dari Abdullah ibn Abi Rafi’, dari Ali alaihissalam, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membonceng al-Fadhl, kemudian berjalan hingga sampai ke Jamrah lalu beliau melemparnya. Kemudian datanglah seorang wanita muda dari Khat’am, ia berkata: “Sesungguhnya ayahku adalah seorang yang sudah tua renta, dan ia telah terkena kewajiban Allah Ta’ala untuk berhaji, apakah boleh aku berhaji mewakilinya?” Beliau bersabda: “Ya.” Ali berkata: Maka beliau memalingkan leher al-Fadhl. Abbas berkata kepadanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau memalingkan leher putra pamanmu?” Beliau bersabda: “Aku melihat seorang pemuda dan pemudi, maka aku khawatir syaitan menggoda keduanya.”
Ibn al-Hushain memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibn al-Madzhab memberitahukan kepada kami, ia berkata: al-Qathi’i memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdullah ibn Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Ishaq ibn Isa menceritakan kepada kami, ia berkata: Malik memberitahukan kepada kami, dari Muhammad ibn al-Munkadir, dari Umaimah binti Rafiqah bahwa ia berkata: Aku datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersama sejumlah wanita untuk berbaiat kepadanya, maka beliau bersabda: “Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita.”
Hibatullah ibn Muhammad ibn al-Hushain memberitahukan kepada kami, ia berkata: al-Hasan ibn Ali al-Tamimi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar ibn Malik memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdullah ibn Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Ma’mar menceritakan kepada kami, dari Isma’il ibn Umayyah, dari Amrah, dari Aisyah, ia berkata: “Seandainya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat apa yang diperbuat wanita pada hari ini, niscaya beliau akan melarang mereka keluar, atau mengharamkan keluar bagi mereka.”
Ibn Nashir memberitahukan kepada kami, ia berkata: Rizqullah ibn Abdul Wahhab dan al-Husain ibn Muhammad ibn Thalhah memberitahukan kepada kami, keduanya berkata: Ali ibn Muhammad ibn Bisyran memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad ibn Amr ibn al-Bahtari menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad ibn al-Khalil ibn Tsabit menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Waqidi menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya ibn al-‘Ala menceritakan kepada kami, dari Abdul Majid ibn Sahl, dari Ikrimah, dari Ibn Abbas, ia berkata: Dahulu para wanita dewasa dan yang lainnya keluar menghadiri hari raya bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Ketika Sa’id ibn al-Ash berkuasa, ia bertanya kepadaku tentang keluarnya wanita-wanita, maka aku berpendapat agar wanita-wanita muda dilarang keluar. Maka ia menyuruh penyerunya: “Janganlah keluar pada hari raya seorang wanita muda pun.” Maka yang keluar hanyalah para wanita tua.
Muhammad ibn Abdul Baqi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Hamad ibn Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Nu’aim Ahmad ibn Abdullah al-Hafizh memberitahukan kepada kami, ia berkata: Sulaiman ibn Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya ibn Utsman ibn Shalih menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya ibn Bukair menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya ibn Shalih al-Aili menceritakan kepadaku, dari Isma’il ibn Umayyah, dari Ubaid ibn Umair, dari Ibn Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Iblis berkata kepada Rabbnya Azza wa Jalla: ‘Wahai Tuhanku, Engkau telah menurunkan Adam, dan aku tahu bahwa ia akan memiliki kitab dan rasul-rasul. Maka apakah kitab dan rasul-rasul mereka?’ Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Rasul-rasul mereka adalah para malaikat dan para nabi dari mereka, dan kitab-kitab mereka adalah Taurat, Injil, Zabur, dan Furqan.’ Iblis berkata: ‘Lalu apakah kitabku?’ Allah berfirman: ‘Kitabmu adalah tato, bacaanmu adalah syair, utusan-utusanmu adalah para dukun, makananmu adalah apa yang tidak disebut nama Allah Azza wa Jalla atasnya, minumanmu adalah setiap yang memabukkan, kebenaranmu adalah dusta, rumahmu adalah tempat pemandian, perangkapmu adalah wanita, muadzinmu adalah seruling, dan masjidmu adalah pasar-pasar.'”
Hadits ini diriwayatkan secara khusus oleh Yahya ibn Shalih.
Abdurrahman ibn Muhammad al-Qazzaz memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad ibn Ali ibn Tsabit memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad ibn Ahmad ibn Rizq memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibrahim ibn Muhammad ibn Yahya al-Muzakki memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad ibn Ishaq al-Sarraj memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Muhammad ibn Khalaf al-Haddadi menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Hudzail ibn Umair ibn Abi al-‘Arif menceritakan kepada kami, ia berkata: Musa ibn Hilal al-Nakha’i menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ishaq menceritakan kepada kami, dari Hubairah ibn Maryam, dari Ali, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku adalah wanita dan khamar.”
Al-Mubarak ibn Ali memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ali ibn Muhammad ibn al-Allaf memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdul Malik ibn Bisyran memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad ibn Ibrahim al-Kindi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad ibn Ja’far al-Khara’ithi menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa’dan ibn Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Haitsam ibn Jamil menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammad ibn Zaid menceritakan kepada kami, dari Ali ibn Zaid, dari Abu Utsman al-Nahdi, dari Abdullah ibn Mas’ud dan Abdullah ibn Abbas bahwa keduanya berkata: Ketika Bani Adam bertambah banyak dan mereka berbuat maksiat, para malaikat serta langit, bumi, dan gunung-gunung berdoa: “Wahai Tuhan kami, binasakanlah mereka!”
Maka Allah Azza wa Jalla mewahyukan kepada para malaikat: “Jika Aku turunkan syahwat dan syaitan kepada kalian seperti kedudukannya pada Bani Adam, niscaya kalian akan berbuat seperti yang mereka perbuat.” Maka mereka berkata dalam hati bahwa seandainya mereka diuji, niscaya mereka akan berpegang teguh. Maka Allah Azza wa Jalla mewahyukan kepada mereka: “Pilihlah dua malaikat terbaik dari kalian.” Maka mereka memilih Harut dan Marut, kemudian keduanya diturunkan ke bumi sebagai hakim, dan Zuhrah diturunkan kepada keduanya dalam wujud seorang wanita. Maka keduanya melakukan kesalahan. Dahulu para malaikat memohonkan ampun bagi orang-orang yang beriman, namun ketika keduanya melakukan kesalahan, mereka memohonkan ampun bagi yang ada di bumi.
Abu Manshur Abdurrahman ibn Muhammad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad ibn Ali ibn Tsabit memberitahukan kepada kami, ia berkata: al-Hasan ibn Abi Bakar memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Sahl Ahmad ibn Muhammad ibn Ziyad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdul Karim ibn al-Haitsam memberitahukan kepada kami, ia berkata: Sanad ibn Dawud menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Faraj ibn Fadhalah menceritakan kepada kami, dari Mu’awiyah ibn Shalih, dari Nafi’, ia berkata: Aku bepergian bersama Ibn Umar. Ketika menjelang akhir malam, ia berkata: “Wahai Nafi’, apakah si merah telah terbit?” Aku menjawab: “Belum,” dua atau tiga kali. Kemudian aku berkata: “Sudah terbit.” Ia berkata: “Tidak ada sambutan baik dan tidak ada penerimaan untuknya.” Aku berkata: “Subhanallah, bintang yang mendengar dan taat!” Ia berkata: “Aku tidak berkata kecuali apa yang aku dengar dari Rasulullah” atau ia berkata: “Rasulullah bersabda: ‘Sesungguhnya para malaikat berkata: Wahai Tuhan, bagaimana kesabaranMu terhadap Bani Adam dalam kesalahan dan dosa-dosa mereka?’ Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku menguji mereka dan menyejahterakan kalian.’ Mereka berkata: ‘Seandainya kami berada di tempat mereka, niscaya kami tidak akan bermaksiat kepadaMu.’ Allah berfirman: ‘Pilihlah dua malaikat dari kalian.’ Maka mereka tidak lalai dan memilih Harut dan Marut. Keduanya turun, maka Allah limpahkan syahwat kepada keduanya.'” Nafi’ berkata: “Aku bertanya: ‘Apa itu syahwat?'” Ia berkata: “Nafsu.” Ia berkata: “Maka keduanya turun, lalu datanglah seorang wanita yang disebut Zuhrah, dan wanita itu terbesit dalam hati keduanya. Maka masing-masing dari keduanya menyembunyikan dari temannya apa yang ada dalam hatinya. Salah satu dari keduanya kembali kepadanya, kemudian yang satunya datang, maka ia berkata: ‘Apakah terbesit dalam hatimu apa yang terbesit dalam hatiku?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Maka keduanya memintanya (untuk berzina), lalu ia berkata: ‘Tidak, demi Allah, hingga kalian berdua mengajariku nama yang kalian gunakan untuk naik ke langit dan turun dengannya.’ Keduanya menolak, kemudian keduanya memintanya lagi, namun ia tetap menolak. Akhirnya keduanya melakukannya. Ketika ia terbang naik, Allah hapus jejaknya menjadi bintang dan putuskan sayap-sayapnya. Kemudian keduanya memohon tobat kepada Tuhan mereka, maka Dia memberi pilihan kepada keduanya. Dia berfirman: ‘Jika kalian menghendaki, Aku kembalikan kalian kepada keadaan semula, dan pada hari kiamat Aku akan menyiksa kalian. Dan jika kalian menghendaki, Aku siksa kalian di dunia, dan pada hari kiamat Aku kembalikan kalian kepada keadaan semula.’ Salah satu dari keduanya berkata kepada temannya: ‘Sesungguhnya siksa dunia akan terputus dan hilang.’ Maka keduanya memilih siksa dunia daripada siksa akhirat. Allah mewahyukan kepada keduanya: ‘Datanglah ke Babil.’ Maka keduanya pergi ke Babil, lalu ditenggelamkan. Keduanya berada di sana dalam keadaan terbalik antara langit dan bumi, disiksa hingga hari kiamat.”
Ibn al-Hushain memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibn al-Madzhab memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad ibn Ja’far memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdullah ibn Ahmad ibn Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Yahya ibn Bukair menceritakan kepada kami, ia berkata: Zuhair ibn Muhammad menceritakan kepada kami, dari Musa ibn Jubair, dari Nafi’, dari Ibn Umar bahwa ia mendengar Nabi Allah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya ketika Allah menurunkan Adam ke bumi, para malaikat berkata: ‘Wahai Tuhan kami, Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?‘ (Surah Al-Baqarah: 30)”
Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Surah Al-Baqarah: 30)
Mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, kami lebih taat kepadaMu daripada Bani Adam.”
Allah Ta’ala berfirman kepada para malaikat: “Berikanlah dua malaikat dari kalian hingga Kami turunkan keduanya ke bumi, maka Kami akan melihat bagaimana mereka beramal.”
Mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, Harut dan Marut.”
Maka keduanya diturunkan ke bumi, lalu Zuhrah menampakkan dirinya kepada keduanya sebagai wanita cantik, yang terindah di antara para wanita. Ia datang kepada keduanya, maka keduanya memintanya (untuk berzina). Ia berkata: “Tidak, demi Allah, hingga kalian berdua mengucapkan kalimat syirik ini.” Keduanya berkata: “Demi Allah, kami tidak akan pernah menyekutukan Allah.” Maka ia pergi dari keduanya, kemudian kembali dengan membawa seorang anak yang dipanggulnya. Keduanya memintanya, maka ia berkata: “Tidak, demi Allah, hingga kalian membunuh anak ini.” Keduanya berkata: “Demi Allah, kami tidak akan pernah membunuhnya.” Maka ia pergi, kemudian kembali dengan membawa gelas berisi khamar. Keduanya memintanya, maka ia berkata: “Tidak, demi Allah, hingga kalian berdua meminum khamar ini.” Maka keduanya minum hingga mabuk, lalu keduanya menggaulinya dan membunuh anak tersebut. Ketika keduanya sadar, wanita itu berkata: “Demi Allah, tidak ada sesuatu pun yang kalian tolak dariku kecuali kalian telah melakukannya ketika kalian mabuk.”
Maka keduanya diberi pilihan antara siksa dunia dan akhirat, lalu keduanya memilih siksa dunia.
Muhammad bin Nasir memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Hasan bin Khairun memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Ali bin Shadzzan memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Ali ath-Thumari memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Hasan bin al-Barra’ memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdul Mun’im bin Idris menceritakan kepada kami dari ayahnya, ia berkata: Wahb bin Munabbih menyebutkan bahwa ada seorang ahli ibadah di kalangan Bani Israil, dan ia termasuk orang yang paling tekun beribadah di zamannya. Di zamannya ada tiga orang bersaudara yang memiliki seorang adik perempuan yang masih perawan.
Ketika mereka harus berangkat perang, mereka bingung kepada siapa akan menitipkan adik perempuan mereka, kepada siapa mereka bisa mempercayakannya, dan di mana mereka akan menempatkannya. Akhirnya mereka sepakat untuk menitipkannya kepada ahli ibadah Bani Israil tersebut. Mereka mendatanginya dan memintanya untuk menitipkan adik mereka kepadanya agar berada dalam perlindungan dan tetangganya hingga mereka kembali. Ia menolak permintaan itu dan memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia dari mereka dan dari adik perempuan mereka. Namun mereka terus memaksanya hingga akhirnya ia memberi mereka harapan dan berkata: “Tempatkan dia di rumah yang berseberangan dengan biara saya.”
Mereka menempatkannya di rumah itu, lalu pergi meninggalkannya. Maka perempuan itu tinggal di samping ahli ibadah tersebut selama beberapa waktu. Ahli ibadah itu turun dari biaranya membawakan makanan untuknya dan meletakkannya di pintu biara, kemudian menutup pintunya dan naik kembali ke biaranya. Kemudian ia menyuruhnya keluar dari rumahnya untuk mengambil makanan yang telah disiapkan untuknya.
Ia (Wahb) berkata: Syaitan mulai merayunya dengan halus. Syaitan tidak henti-hentinya mendorongnya untuk berbuat kebaikan dan melebih-lebihkan di matanya bahaya keluarnya perempuan muda itu dari rumahnya di siang hari. Syaitan menakut-nakutinya jangan sampai ada yang melihatnya dan tertarik kepadanya. (Syaitan berkata): “Seandainya kamu berjalan membawakan makanan untuknya hingga meletakkannya di pintu rumahnya, itu akan lebih besar pahalamu.” Syaitan terus merayunya hingga ia berjalan membawakan makanannya dan meletakkannya di pintu rumahnya tanpa berbicara dengannya.
Ia (Wahb) berkata: Ia melakukan itu selama beberapa waktu. Kemudian Iblis datang kepadanya dan membuatnya tertarik pada kebaikan dan pahala serta mendorongnya untuk itu. Iblis berkata kepadanya: “Seandainya kamu berjalan membawakan makanannya hingga meletakkannya di dalam rumahnya, itu akan lebih besar pahalamu.” Syaitan terus merayunya hingga ia berjalan membawakan makanannya dan meletakkannya di dalam rumahnya.
Ia (Wahb) berkata: Ia melakukan itu selama beberapa waktu. Kemudian Iblis datang kepadanya, membuatnya tertarik pada kebaikan dan mendorongnya untuk itu, lalu berkata kepadanya: “Seandainya kamu berbicara dengannya dan bercakap-cakap agar ia merasa terhibur dengan pembicaraanmu, karena ia telah merasa sangat kesepian.”
Ia (Wahb) berkata: Syaitan terus merayunya hingga ia berbicara dengannya selama beberapa waktu, melihat ke arahnya dari atas biaranya.
Ia (Wahb) berkata: Kemudian Iblis mendatanginya setelah itu dan berkata: “Seandainya kamu turun kepadanya lalu duduk di pintu biaramu dan ia duduk di pintu rumahnya kemudian berbicara denganmu, itu akan lebih menenangkan baginya.” Syaitan terus merayunya hingga menurunkannya dan mendudukkannya di pintu biaranya untuk berbicara dengannya, dan perempuan muda itu keluar dari rumahnya hingga duduk di pintu rumahnya. Ia (Wahb) berkata: Mereka berdua melakukan itu selama beberapa waktu saling berbicara. Kemudian Iblis datang kepadanya dan membuatnya tertarik pada kebaikan dan pahala dalam apa yang ia lakukan untuknya, lalu berkata: “Seandainya kamu keluar dari pintu biaramu dan duduk dekat dengan pintu rumahnya kemudian berbicara dengannya, itu akan lebih menenangkan baginya.”
Syaitan terus merayunya hingga ia melakukannya.
Mereka berdua melakukan itu selama beberapa waktu. Kemudian Iblis datang kepadanya dan berkata: “Seandainya kamu mendekat ke pintu rumahnya,” kemudian berkata: “Seandainya kamu masuk ke rumah dan berbicara dengannya serta tidak membiarkannya menampakkan wajahnya kepada siapa pun, itu akan lebih baik.”
Syaitan terus merayunya hingga ia masuk ke rumah dan berbicara dengannya sepanjang hari. Ketika malam tiba, ia naik ke biaranya.
Ia (Wahb) berkata: Kemudian Iblis mendatanginya setelah itu dan tidak henti-hentinya menampakkannya indah di matanya hingga ahli ibadah itu menepuk pahanya dan menciumnya. Iblis tidak berhenti memperbagus perempuan itu di matanya dan membujuknya hingga ia menyetubuhinya dan membuatnya hamil, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki.
Iblis datang kepadanya dan berkata: “Bagaimana pendapatmu jika saudara-saudara perempuan ini datang dan ia telah melahirkan darimu, apa yang akan kamu lakukan? Aku tidak merasa aman bahwa kamu akan terungkap aibmu atau mereka akan membeberkan aibmu. Maka ambillah anaknya dan sembelihlah, lalu kubur. Ia akan menyembunyikan itu untukmu karena takut kepada saudara-saudaranya agar mereka tidak mengetahui apa yang telah kamu lakukan padanya.” Maka ia melakukannya. Kemudian Iblis berkata kepadanya: “Apakah kamu pikir ia akan menyembunyikan dari saudara-saudaranya apa yang telah kamu lakukan padanya? Ambillah dia, sembelihlah, dan kubur bersama anaknya.” Maka ia menyembelihnya dan melemparkannya ke dalam lubang bersama anaknya, menutupnya dengan batu besar, meratakan tanah di atasnya, lalu naik ke biaranya untuk beribadah.
Ia melakukan itu selama sekehendak Allah hingga saudara-saudaranya kembali dari perang. Mereka mendatanginya dan menanyakan tentang adik mereka. Ia memberitahukan kematiannya kepada mereka, mendoakan rahmat untuknya, menangisinya, dan berkata: “Ia adalah sebaik-baik wanita, dan ini kuburannya, lihatlah.” Saudara-saudaranya mendatangi kubur itu, menangisi adik mereka, mendoakan rahmat untuknya, dan tinggal di kuburnya selama beberapa hari.
Kemudian mereka pulang ke keluarga mereka.
Ia (Wahb) berkata: Ketika malam tiba dan mereka sudah tidur, syaitan mendatangi mereka dalam mimpi. Ia memulai dengan yang tertua dan menanyakan tentang adik mereka. Ia memberitahu dengan perkataan ahli ibadah dan kematiannya. Syaitan mendustakannya dan berkata: “Ia tidak jujur tentang urusan adikmu. Sesungguhnya ia menghamili adikmu dan ia melahirkan darinya seorang anak laki-laki, lalu ia menyembelihnya dan menyembelihnya bersama anaknya karena takut kepada kalian, kemudian melemparkannya ke dalam lubang di belakang pintu rumah.” Kemudian ia mendatangi yang tengah dalam tidurnya dan berkata kepadanya seperti itu.
Kemudian ia mendatangi yang termuda dan berkata kepadanya seperti itu.
Ketika orang-orang itu bangun, mereka bangun dengan heran terhadap apa yang dilihat oleh masing-masing mereka. Mereka saling berhadapan satu sama lain dan berkata: “Aku melihat sesuatu yang aneh.” Mereka saling menceritakan apa yang mereka lihat.
Yang tertua berkata: “Ini hanya mimpi, tidak ada apa-apa, mari kita pergi dan lupakan ini.” Yang termuda berkata: “Aku tidak akan pergi hingga aku mendatangi tempat itu dan melihatnya.” Mereka pergi dan menggali tempat itu, lalu menemukan adik mereka dan anaknya dalam keadaan tersembelih. Mereka menanyakan ahli ibadah tentangnya, dan ia membenarkan perkataan Iblis tentang apa yang ia lakukan padanya.
Mereka mengadu kepada raja mereka.
Ia diturunkan dari biaranya dan dibawa untuk disalib. Ketika mereka menempatkannya di kayu salib, syaitan mendatanginya dan berkata: “Kamu sudah tahu bahwa aku adalah temanmu yang telah memperdayamu dalam urusan perempuan itu hingga kamu menghamilinya dan menyembelihnya bersama anaknya. Jika kamu menaatiku hari ini dan kafir kepada Allah yang menciptakanmu, aku akan menyelamatkanmu dari apa yang menimpamu.”
Maka ahli ibadah itu kafir kepada Allah. Ketika ia kafir, syaitan membiarkannya dengan orang-orang (yang akan menyalibnya), maka mereka menyalibnya.
Ia (Wahb) berkata: Pada saat itulah turun ayat ini: “(Setan itu) seperti syaitan ketika dia berkata kepada manusia: ‘Kafirlah!’ Maka ketika manusia itu kafir, syaitan berkata: ‘Sesungguhnya aku berlepas diri darimu, sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.’ Maka kesudahan keduanya adalah keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim.” (Surah al-Hasyr: 16-17)
Kisah lelaki ini telah disebutkan dengan cara yang berbeda dari ini dalam kitab tafsir, namun yang dimaksudkan adalah adanya fitnah dengan pembunuhan, zina, dan kekafiran, dan itu disebutkan dalam semua riwayat.
Maka perhatikanlah—semoga Allah memberimu taufik—sebab terjerumusnya ia dalam keburukan ini, yaitu ia memberi kelonggaran pada dirinya dalam hal yang telah dilarang, yaitu berbicara dengan perempuan asing dan berduaan dengannya. Ia seperti orang yang diperintahkan untuk diet tetapi malah sembarangan makan karena merasa yakin dengan kesehatannya, lalu itu menghantarkannya pada kebinasaan dirinya. Seandainya ia mengikuti nasihat dokternya, ia akan selamat dari keburukan yang menimpanya.
Kami berlindung kepada Allah dari kehinaan.
Muhammad bin Abi Manshur memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Mutahhar memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Nu’aim al-Ashbahani menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ahmad bin Hasan menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Asy’ats bin Sulaim, ia berkata: Aku mendengar Raja’ bin Haiwah menceritakan dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata: “Kalian telah diuji dengan fitnah kesulitan, lalu kalian bersabar. Dan kalian akan diuji dengan fitnah kemakmuran.
Dan yang paling aku takutkan atas kalian adalah fitnah wanita, ketika mereka mengenakan emas, memakai kain sutra dari Syam dan sorban dari Yaman, sehingga melelahkan orang kaya dan membebani orang miskin dengan apa yang tidak ia miliki.”
Mubarak bin Ali memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ali bin Muhammad bin al-‘Allaf memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdul Malik bin Bisyran memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ibrahim al-Kindi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far memberitahukan kepada kami, ia berkata: Hasan bin ‘Arfah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Mu’awiyah adh-Dharir menceritakan kepada kami dari Laits dari Thawus dari Ibnu Abbas, bahwasanya ia berkata: “Tidaklah kekafiran orang-orang yang telah lalu kecuali karena wanita, dan akan terjadi kekafiran orang-orang yang tersisa karena wanita.”
Muhammad bin Abdul Baqi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Hamad bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah memberitahukan kepada kami, ia berkata: Sulaiman bin Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Syu’aib al-Harrani menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Auza’i menceritakan kepada kami, ia berkata: Hassan bin ‘Athiyah menceritakan kepada kami, ia berkata: “Tidaklah aku mendatangi suatu umat melainkan (kehancurannya) dari arah wanita mereka.”
Ismail bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Umar bin Ubaidillah al-Baqqal memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Husain bin Bisyran memberitahukan kepada kami, ia berkata: Utsman bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah menceritakan kepadaku, ia berkata: Husyaim menceritakan kepada kami dari Ali bin Zaid dari Ayyub al-Lakhmi dari Ibnu Umar, bahwasanya pada hari perang Jalula (Persia) dalam bagiannya jatuh seorang budak perempuan yang lehernya seperti teko perak.
Ia berkata: “Aku tidak sabar hingga aku berdiri dan menciumnya sementara orang-orang melihat.”
Mubarak bin Ali memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibnu al-‘Allaf memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibnu Bisyran memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ibrahim menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Nashr bin Dawud al-Khallanji menceritakan kepada kami, ia berkata: ‘Abbad bin Musa menceritakan kepada kami dari Sufyan ats-Tsauri dari Ibnu Thawus dari ayahnya tentang firman Allah Ta’ala: “Dan manusia diciptakan (bersifat) lemah” (Surah an-Nisa’: 28), ia berkata: “Apabila ia melihat wanita, ia tidak bisa bersabar.”
Dan dengannya ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Harb menceritakan kepada kami. Dan Muhammad bin Abdul Baqi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Hamad bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Hamid bin Jablah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ishaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Harun bin Abdullah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Sufyan bin ‘Uyainah menceritakan kepada kami dari Ali bin Zaid dari Sa’id bin Musayyab, ia berkata: “Tidaklah syaitan berputus asa dari anak Adam melainkan ia mendatanginya dari arah wanita.”
Kemudian ia berkata—dan ia berusia delapan puluh sembilan tahun—dan Harun berkata—dan ia berusia delapan puluh empat tahun—dan salah satu matanya telah hilang dan ia hanya melihat samar-samar dengan mata yang lain: “Tidak ada sesuatu yang lebih aku takuti daripada wanita.”
Muhammad bin Abdul Baqi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Hamad bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Hamid Ahmad bin Muhammad bin Husain menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam al-Balisi menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Mas’ud menceritakan kepada kami, ia berkata: Haitsam bin Jamil menceritakan kepada kami, ia berkata: Shalih bin Musa menceritakan kepada kami dari Mu’awiyah bin Ishaq, ia berkata: Aku mendengar Sa’id bin Jubair berkata: “Sungguh dipercaya atas sebuah rumah berisi mutiara lebih aku sukai daripada dipercaya atas seorang wanita cantik.”
Muhammad bin Abdul Baqi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Hamad bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Nu’aim memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar bin Malik menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Muhammad menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdullah bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Mulih menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Maimun bin Mihran berkata: “Sungguh dipercaya atas perbendaharaan lebih aku sukai daripada dipercaya atas seorang wanita.”
Abdul Wahhab al-Hafizh memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdul Aziz bin Hasan adh-Dharrab memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Marwan menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Yusuf bin Asbath berkata: “Seandainya seorang lelaki mempercayaiku atas perbendaharaan, aku menyangka bahwa aku akan menunaikan amanah kepadanya. Tetapi seandainya ia mempercayaiku atas seorang budak perempuan berkulit hitam untuk berduaan dengannya selama satu jam, aku tidak akan mempercayai diriku atasnya.”
Aku telah mendengar Syaikh yang shalih Sufyan ats-Tsauri berkata: “Allah Azza wa Jalla tidak mengutus seorang nabi pun melainkan Dia mengkhawatirkan fitnah dari wanita atasnya.”
Telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahhab, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ali At-Tuzi, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdullah Ad-Daqqaq, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Ridwan bin Ahmad, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Qurasyyi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Hisyam Al-Bazzaz, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Syihab Al-Khayyath, ia berkata: aku mendengar Sufyan Ats-Tsauri berkata: “Percayakanlah kepadaku rumah yang penuh harta dan jangan percayakan kepadaku budak perempuan berkulit hitam yang tidak halal bagiku.”
Al-Qurasyyi berkata: dan telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Musa, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Hakkam bin Salm, ia berkata: aku sedang berada di sisi Sufyan Ats-Tsauri, lalu datanglah seorang perempuan dan berkata: aku ingin bertanya kepadamu tentang sesuatu. Maka ia berkata kepadanya: mundurlah ke pintu, kemudian berbicaralah dari balik pintu.
Telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahhab bin Al-Mubarak, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Al-Hasan bin Abdul Jabbar, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Al-Hasan Al-Atiqi, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Ath-Thayyib bin Al-Muntab, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad Abdullah bin Sulaiman Al-Fami, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Habib Al-Bazzaz, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Fadhl bin Musa, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Basyar dari Sufyan, ia berkata: dikatakan bahwa Iblis berkata: “Anak panahku yang jika aku melemparkannya tidak pernah meleset adalah para wanita.”
Telah mengabarkan kepada kami Al-Mubarak bin Ali, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Ali bin Muhammad bin Al-Allaf, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ibrahim Al-Kindi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Khara’ithi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Yusuf Az-Zuhri, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Az-Zubair bin Bakkar, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Sulaiman bin Daud Al-Makhzumi, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ismail bin Yaqub At-Tamimi dari Abdurrahman bin Abi Az-Zinad dari ayahnya, ia berkata: datang seorang perempuan dari suku Hudzail dan ia adalah perempuan yang cantik, maka orang-orang meminangnya dan hampir saja ia menghilangkan akal kebanyakan mereka. Maka Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah berkata tentangnya:
Aku mencintaimu dengan cinta yang jika engkau tahu sebagiannya… engkau pasti akan bermurah hati dan tidak akan sulit bagimu hal yang berat
Aku mencintaimu dengan cinta yang tidak ada yang mencintaimu sepertinya… baik yang dekat maupun yang jauh di antara para pecinta
Dan cintamu wahai ibu ash-Shabiy membuatku bingung… saksiku adalah Abu Bakar, maka itulah saksinya
Dan mengetahui kesendirianku Al-Qasim bin Muhammad… dan Urwah apa yang aku alami karenamu dan Saeed
Dan mengetahui apa yang ada padaku Sulaiman, ia mengetahuinya… dan Kharijah yang menyatakan dan mengulangi tentang kami
Kapan pun engkau bertanya tentang apa yang aku katakan lalu engkau diberi tahu… maka demi Allah di sisiku ada yang baru dan yang lama
Maka Saeed bin Al-Musayyab berkata: sungguh aku percaya bahwa engkau tidak akan menanyakan kami dan seandainya engkau menanyakan kami, kami tidak akan berharap untuk bersaksi palsu. Dan mereka yang dijadikan saksi oleh penyair bersama dengannya adalah tujuh fuqaha Madinah: Abu Bakar bin Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam, Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq, Urwah bin Az-Zubair, Saeed bin Al-Musayyab, Sulaiman bin Yasar, dan Kharijah bin Zaid bin Tsabit.
Telah mengabarkan kepada kami Al-Mubarak bin Ali, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Ali bin Muhammad bin Al-Allaf, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ibrahim Al-Kindi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Jafar Al-Khara’ithi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Mubarrad, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Abu Ubaidah Mamar bin Al-Mutsanna, ia berkata: Abdul Malik bin Marwan menunaikan haji dan bersama dengannya Khalid bin Yazid bin Muawiyah yang termasuk di antara tokoh-tokoh Quraisy yang terhitung dan ulama mereka, dan ia sangat mulia kedudukannya di sisi Abdul Malik. Ketika ia sedang thawaf di Baitullah, tiba-tiba ia melihat Ramlah binti Az-Zubair bin Al-Awwam, maka ia jatuh cinta kepadanya dengan sangat keras dan mendalam, dan ia jatuh di hatinya dengan sangat kuat. Ketika Abdul Malik hendak pulang, Khalid bermaksud untuk tidak ikut bersamanya. Maka timbul kecurigaan di hati Abdul Malik, lalu ia mengutus seseorang kepadanya dan menanyakan perihalnya. Maka ia berkata: wahai Amirul Mukminin, Ramlah binti Az-Zubair, aku melihatnya thawaf di Baitullah telah menghilangkan akalku dan demi Allah aku tidak menampakkan kepadamu apa yang ada padaku hingga kesabaranku habis. Sungguh aku telah mencoba tidur pada mataku namun tidak diterima dan mencoba melupakan di hatiku namun menolak.
Maka Abdul Malik sangat heran akan hal itu dan berkata: aku tidak menyangka bahwa cinta bisa menguasai orang sepertimu.
Maka ia berkata: dan aku lebih heran dari keheiranmu terhadapku. Sungguh dahulu aku mengatakan bahwa cinta tidak bisa menguasai kecuali dua golongan manusia: para penyair dan orang-orang Arab badui.
Adapun para penyair, sesungguhnya mereka mewajibkan hati mereka untuk berpikir tentang wanita dan merayu, maka condong keinginan mereka kepada wanita, sehingga lemah hati mereka untuk menolak cinta, lalu mereka menyerah kepadanya dengan patuh.
Adapun orang-orang Arab badui, sesungguhnya salah seorang dari mereka menyendiri dengan istrinya, maka tidak ada yang lebih dominan padanya selain cintanya kepadanya dan tidak ada yang menyibukkannya selain hal itu, sehingga mereka lemah untuk menolak cinta dan menguasai mereka.
Dan kesimpulan urusanku adalah aku tidak melihat pandangan yang menghalangi antara aku dan ketegasan dan membuatku baik untuk melakukan dosa seperti pandanganku ini.
Maka Abdul Malik tersenyum dan berkata: apakah semua ini telah menimpamu? Ia berkata: demi Allah, aku tidak mengenal diriku malam ini sebelum waktuku ini.
Maka Abdul Malik mengirim utusan kepada keluarga Az-Zubair untuk meminang Ramlah untuk Khalid. Mereka menyampaikan hal itu kepadanya, maka ia berkata: tidak demi Allah, kecuali ia menceraikan istri-istrinya. Maka ia menceraikan dua istri yang ada padanya, salah satunya dari Quraisy dan yang lainnya dari Azd, dan ia berangkat bersamanya ke Syam. Tentang hal ini ia berkata:
Bukankah kerinduan bertambah di setiap malam… dan di setiap hari kedekatan dari kekasih kita
Kedua temanku, tidak ada satu saat pun kalian mengingatnya… dari masa kecuali ia melapangkan dariku kesedihan
Aku mencintai Bani Al-Awwam semuanya karena cintanya… dan karenanya aku mencintai pamannya Kalb
Bergoyang gelang-gelang para wanita namun aku tidak melihat… untuk Ramlah gelang yang bergoyang dan tidak pula kalung
Telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Al-Khatib, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Ali bin Ayyub, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Imran, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Umar bin Daud Al-Umani, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ali bin Al-Fadhl Al-Madini, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Al-Husain bin Ali Al-Muhallibi, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku Musaddad, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abdul Wahhab setahuku atau yang lainnya, ia berkata: Ziyad bin Mikhraq biasa duduk bersama Iyas bin Muawiyah, lalu ia tidak hadir selama dua atau tiga hari. Maka ia mengirim utusan kepadanya dan mendapatinya sakit, lalu ia mendatanginya dan berkata: apa yang terjadi denganmu? Ziyad berkata kepadanya: sakit yang aku rasakan.
Iyas berkata kepadanya: demi Allah bukan demam yang ada padamu dan bukan pula sakit yang aku ketahui, maka beritahu aku apa yang kau rasakan. Maka ia berkata: wahai Abu Watsilah, telah datang kepadamu seorang perempuan, maka aku melihatnya di dalam cadar mereka ketika ia berdiri dari sisimu, lalu ia jatuh di hatiku, maka inilah sakitnya darinya.
Telah mengabarkan kepada kami Al-Mubarak bin Ali, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Ali bin Muhammad bin Al-Allaf, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Ibnu Bisyran, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ibrahim Al-Kindi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Jafar Al-Khara’ithi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Abbas bin Al-Fadhl Ar-Raji, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Abbas bin Hisyam bin Muhammad bin As-Sa’ib, ia berkata: Al-Hajjaj bin Yusuf mengangkat Saeed bin Salm sebagai hakim Qandabil dan Kirman. Maka ia datang ke sana dan di Kirman ada seorang perempuan asing yang dipanggil Ardzak, dan ia termasuk wanita tercantik dan ia adalah pelacur yang para lelaki menginap di tempatnya dengan sejumlah harta. Maka sampailah kepada Saeed beritanya, lalu ia mengutus kepadanya, maka ia dibawa. Ketika ia melihatnya, ia berkata: wahai musuh Allah, engkau telah memfitnah pemuda-pemuda negeri dan merusak mereka. Kemudian ia berkata: bukalah kepalamu! Maka ia membuka rambutnya yang bagus dan lebat yang menjuntai hingga pantatnya. Kemudian ia berkata: lepaskan baju jangkimu! Maka ia melepaskannya dan berdiri telanjang dengan sarung, lalu ia melihat apa yang membuatnya bingung dan menghilangkan akalnya, maka ia tidak dapat menahan dirinya hingga ia mulai menunjuk dengan jarinya pada lipatannya, dan ternyata lipatan yang lembut dan payudara kecil dan pundak yang tinggi yang tidak pernah ia lihat sepertinya. Kemudian ia berkata: wahai musuh Allah, berbaliklah! Maka ia berbalik, lalu ia melihat punggung yang seperti aliran air dan pantat seperti bantal sutra yang isinya kapas sutra. Kemudian ia berkata: kembalilah! Maka ia kembali, lalu ia terpesona dengannya karena apa yang ia lihat dari kecantikannya. Maka ia melompat kepadanya dan tidak meninggalkannya hingga ia melakukan perbuatan.
Maka sampailah kepada Al-Hajjaj perbuatannya, lalu ia berkata: beberapa hal yang menimpa si pelaku adalah nafsu berahi. Dan ia memecat Saeed.
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abu Thahir Al-Bazzaz, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Al-Husain Muhammad bin Ali Al-Muhtadi, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Al-Fadhl Muhammad bin Al-Hasan bin Al-Ma’mun, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Al-Hasan bin Al-Anbari, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Marzuban, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Amru, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Al-Hasan Ali bin Saeed Al-Karwani, ia berkata: di Basrah ada budak penyanyi yang dipanggil Mutayyam, ia sangat cantik dan sangat mahir. Maka ia datang kepada Al-Hasan bin Ubaidillah Al-Anbari sang hakim menampakkan taubat dan memintanya untuk mengurus penjualannya. Maka ia melakukan hal itu dan ia membuka wajahnya, lalu orang-orang terpesona dengannya. Dan sekelompok orang menyebarkan bahwa sang hakim terpesona dengannya. Maka Abdul Shamad bin Al-Muaddil berkata:
Dan ketika cadar tersingkap darinya Mutayyam… kembali darinya Al-Anbari terpesona
Ibnu Ubaidillah melihat sementara ia adalah hakim… atasnya baginya pandangan yang dihukumi atasnya
Maka jika hati Al-Anbari tepat sasaran, sebelumnya… tepat sasaran dengan At-Tayami hati Yahya bin Aktsam
Dan telah menceritakan Al-Qasim bin Muhammad An-Numairi, ia berkata: aku tidak melihat pemuda maupun orang tua dari keturunan Abbas yang lebih menjaga dirinya dan lebih mengontrol sisi-sisinya dan lebih menjaga lisan dan kemaluannya daripada Abdullah bin Al-Muktaz. Dan ia kadang-kadang kami bercanda dengan merayu di majelis, maka ia mengikuti kami di dalamnya dalam hal yang tidak ada yang mencela padanya. Dan yang paling banyak ia sibukkan dirinya adalah mendengarkan nyanyian. Dan ia banyak mencela cinta, dan berkata: cinta adalah bagian dari kebodohan.
Dan ia jika melihat dari kami orang yang berlebihan atau yang berpikir, ia mencurigainya dengan makna ini dan berkata: engkau jatuh demi Allah wahai fulan, dan kurang akalmu dan bodohmu.
Hingga kami melihatnya dan sungguh telah terjadi padanya kelalaian yang keras dan pikiran yang terus menerus dan hembusan nafas yang beruntun. Dan kami mendengarnya membacakan syair-syair, di antaranya:
Mengapa aku melihat bintang Tsuraya… dan tidak melihat pengawas
Wahai yang mengirimkan rusa… tidakkah engkau takut serigala
Dan kami mendengarnya lain kali membacakan sementara ia minum di dalam bejana yang ia senangi, lalu kami mencurigainya padanya dan ia menulis di atasnya syair ini:
Tidak sedikit bagiku darimu dengan sedikit… wahai harapan jiwaku dan tujuan keinginanku
Tanyakan dengan hak Allah matamu tentangku… apakah merasakan dalam cinta ciumanku
Engkau merusak hidupku dengan perpisahan… dan kematianku dengan perhitungan yang panjang
Dan ia juga membacakan:
Cinta menawan seorang pangeran… yang sebelumnya tidak pernah tertawan
Maka kasihanilah kehinaan orang yang mulia… yang menjadi budak yang meminta perlindungan
Dan ia juga membacakan suatu hari dan ia telah melihat rumah sebagian orang:
Wahai rumah kalian di dalammu ada kelezatan… dan kehidupan bagi kami yang sangat nikmat
Dan dari penyanyi yang merusak ahli ibadah… dan baginya dalam takwa ada kedudukan
Dan juga untuknya:
Sungguh telah menyerang kedua matamu jiwa yang mulia… maka jangan merasa aman jika aku mati pukulan yang membalas
Seakan-akan hatiku di langit… tergantung jika engkau hilang dari mataku dengan cakar burung
Dan ia membacakan sementara di tangannya ada cincin:
Aku mendapatkan darimu… cincin yang digenggam jari
Maka tidak pernah meninggalkan tanganku… seakan-akan aku penjaga kunci
Wahai ahli cintaku kalian menjauh… dan kalian adalah tetangga
An-Numairi berkata: maka kami berkata kepadanya: semoga Allah menjadikan kami tebusanmu, ini adalah hal-hal yang dahulu engkau mencela yang sepertinya dari kami, dan kami sekarang mengingkarinya darimu. Maka ia kembali dari sebagian hal itu dengan berpura-pura, kemudian tidak lama tersembunyinya muncul hingga yakin pada kami cintanya dan masuk dalam golongan orang-orang yang dikasihani. Maka aku mendengarnya suatu hari membacakan:
Maktum wahai sebaik-baik makhluk Allah… jangan tinggalkan aku begini demi Allah
Kemudian ia menghela nafas, maka aku menjawabnya:
Sungguh cinta telah menang atas Abdullah… dan terbuka tirai dengan memuji Allah
Maka katakan kepadanya sebutkan untuk kami tuanku… ini yang engkau cintai dengan hak Allah
Maka ia tertawa dan berkata: tidak dan tidak akan terjadi.
Maka aku menulis kepadanya dari keesokan harinya:
Menangis matanya dan mengeluh panas… dari rindu di hati yang tidak padam
Maka aku berkata kepadanya tuanku apa yang… aku lihat padamu, ia berkata sakit yang tersembunyi
Maka aku berkata engkau jatuh cinta, maka ia berkata berhentilah… pada apa yang engkau lihat padaku, tidakkah engkau cukup
Dan ia menulis kepadaku:
Wahai yang menceritakan tentangku… dengan sangkaan pendengaran dan mata
Jika engkau melamar rahasiaku… maka kembalilah dengan tangan hampa
Maka aku menulis kepadanya:
Jauh sekali pandanganmu padaku… mengakui cintamu
Tinggalkan darimu kembali dengan tangan hampa… dan bersemangatlah untuk melepaskan ikatan lehermu
Kemarilah kita berdaya upaya dalam apa… yang engkau cintai dengan lemah lembutku dan lemah lembutmu
Dan aku mendatanginya, maka ia berkata kepadaku: wahai Abu Ath-Thayyib, sungguh aku telah mendurhakai Iblis lebih banyak daripada ia mendurhakai Tuhannya hingga ia menjatuhkanku dalam jeratnya. Maka aku membacakan kepadanya:
Dari mana tidak jadi Iblis… datang kepadaku denganmu bergegas
Menampakkanmu kepadaku dari jauh… maka aku berkata mendengar dan taat
Maka ia mengabarkan kepadaku kisahnya, lalu aku berusaha untuknya dengan cara yang halus dan ia membantuku dengan ketegasan pendapat hingga ia meraih kemenangan.
Dan Abu Bakar Ash-Shauli berkata: Abdullah bin Al-Muktaz sakit, maka ayahnya mendatanginya untuk menjenguk dan berkata: apa yang menimpamu wahai anakku? Maka ia membacakan:
Berkata wahai para pencela jangan kalian mencela aku… dan lihatlah cantik wajahnya kalian akan memaafkanku
Dan lihatlah apakah kalian melihat lebih baik darinya… jika kalian melihat yang serupa dengannya maka celalah aku
Padaku kegilaan cinta dan tidak ada padaku kegilaan, dan kegilaan cinta adalah kegilaan kegilaan
Ia berkata: maka ayahnya melacak keadaan hingga ia menemukannya, lalu ia membeli budak perempuan yang ia sangat cintai dengan tujuh ribu dinar dan mengirimkannya kepadanya.
Dan Abdul Wahab membacakan kepada kami, Abu al-Fadl bin Khairun membacakan kepada kami, ia berkata: Hakim Abu al-Ala al-Wasiti membacakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Muhammad bin Warqa membacakan kepada kami, ia berkata: Tsa’lab membacakan kepada kami, ia berkata: Ibnu al-A’rabi membacakan kepada kami dalam penggambaran tentang wanita:
Dia adalah tulang rusuk yang bengkok, tidak akan engkau luruskan… Ketahuilah bahwa meluruskan tulang rusuk adalah mematahkannya Apakah mereka menggabungkan kelemahan dan kekuasaan atas pemuda… Bukankah mengherankan kelemahannya dan kekuasaannya
Dan yang lain membacakan kepada kami:
Demi Allah apa yang diperbuat kepada kami… Oleh mata-mata itu di pelupuk mata Lebih tajam dan lebih dalam ke hati… Daripada belati-belati di kerongkongan
Bab Dua Puluh Tiga tentang Peringatan dari Fitnah dan Tipu Daya Setan
Hibatullah bin Muhammad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Ali memberitakan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepadaku, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku. Dan Abu Bakar al-Zaghuni mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Syasyi memberitakan kepada kami. Dan al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Farawi memberitakan kepada kami, keduanya berkata: Abdul Ghafir al-Farisi memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Amrawiyyah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Muslim bin al-Hajjaj menceritakan kepada kami, ia berkata: Harun al-Aili menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdullah bin Wahb menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Sakhr memberitakan kepadaku dari Ibnu Qusaith dari Urwah dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari sisiku pada suatu malam, maka aku cemburu kepadanya. Lalu beliau datang dan melihat apa yang aku lakukan, maka beliau berkata: “Ada apa denganmu wahai Aisyah, apakah kamu cemburu?” Aku berkata: “Mengapa aku tidak cemburu, orang sepertiku pada orang sepertimu?” Maka beliau berkata: “Apakah setanmu telah menguasaimu?” Aku berkata: “Atau bersamaku ada setan?” Beliau berkata: “Ya.” Aku berkata: “Dan bersama setiap manusia?” Beliau berkata: “Ya.” Aku berkata: “Dan bersamamu wahai Rasulullah?” Beliau berkata: “Ya, tetapi Tuhanku Azza wa Jalla telah menolongku atasnya hingga dia masuk Islam.”
Muslim menyendiri dalam mengeluarkannya.
Dan mayoritas perawi meriwayatkan hadits ini “menolongku atasnya lalu dia masuk Islam” dengan bentuk kata kerja lampau, mereka bermaksud bahwa setan itu telah masuk Islam, kecuali Sufyan bin Uyainah, maka sesungguhnya dia berkata: “Maka aku selamat dari kejahatannya.” Dan dia berkata: “Setan tidak masuk Islam.” Dan ini yang dituju oleh Sufyan adalah pendapat yang baik yang menampakkan pengaruh dari perjuangan, kecuali bahwa Muslim telah meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dari hadits Ibnu Mas’ud, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tidak ada seorang pun dari kalian melainkan telah ditugaskan bersamanya temannya dari jin dan temannya dari malaikat.” Mereka berkata: “Dan dirimu juga wahai Rasulullah?” Beliau berkata: “Dan diriku juga, tetapi Allah Azza wa Jalla telah menolongku maka dia masuk Islam, maka dia tidak memerintahkanku kecuali dengan kebaikan.” Dan ini menunjukkan bahwa setan itu masuk Islam, karena seandainya dia tidak masuk Islam niscaya dia tidak akan memerintah dengan kebaikan. Dan cukuplah ini sebagai bantahan atas perkataan Ibnu Uyainah.
Ibnu al-Hushain mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu al-Madzhab memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar bin Malik memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Ma’mar menceritakan kepada kami dari al-Zuhri dari Ali bin al-Husain dari Shafiyyah binti Huyay, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia mengalirnya darah.”
Keduanya (Bukhari dan Muslim) mengeluarkannya dalam dua kitab Shahih.
Abu al-Qasim al-Hariri mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Thalib al-Asyari memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu al-Husain bin Syam’un memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Sulaiman bin al-Asy’ats menceritakan kepada kami, ia berkata: Mahmud bin Khalid dan Amr bin Utsman menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Al-Walid menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Jabir menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Abd Rabb berkata: Aku mendengar Mu’awiyah bin Abi Sufyan berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya tidak tersisa dari dunia kecuali cobaan dan fitnah.”
Ahmad bin Ahmad memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar al-Khatib memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Sa’id bin Syazan memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abdullah al-Ashbahani memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar al-Qurasyi menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Husain bin Abi al-Asad menceritakan kepadaku, ia berkata: Al-Mu’alla bin Asad menceritakan kepada kami, ia berkata: Adi bin Abi Umarah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ziyad al-Numairi menceritakan kepada kami dari Anas bin Malik dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya setan meletakkan moncongnya di hati anak Adam, maka jika dia mengingat Allah, setan itu mundur, dan jika dia lupa kepada Allah, setan itu menelan hatinya.”
Al-Qurasyi berkata: Dan Ishaq bin Isma’il menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami dari Tsaur bin Zaid dari Khalid bin Ma’dan, ia berkata: Tidak ada seorang manusia pun melainkan ada setan yang berada di dalam tulang punggungnya, melilit lehernya di bahunya, mengangakan mulutnya pada hatinya.
Muhammad bin Abi Manshur mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu al-Madzhab memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Malik memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Bahz menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, ia berkata: Qatadah menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Yunus bin Jubair berkata: Kami mengantarkan Jundub bin Abdullah, maka ketika sampai di Khash al-Mukatib, kami berkata kepadanya: Berilah kami wasiat. Ia berkata: Aku wasiatkan kepada kalian bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla dan Al-Quran, karena sesungguhnya ia adalah cahaya malam yang gelap dan petunjuk siang hari, maka beramallah dengannya atas apa pun dari kesungguhan dan kefakiran. Maka jika muncul bencana, maka tawarkan hartamu sebelum dirimu. Maka jika bencana itu melampaui, maka dahulukan hartamu dan dirimu sebelum agamamu. Karena sesungguhnya orang yang kena musibah adalah orang yang dirampok agamanya, dan orang yang dirampok adalah orang yang diambil agamanya. Sesungguhnya tidak ada kekayaan setelah neraka dan tidak ada kefakiran setelah surga. Dan sesungguhnya neraka tidak membebaskan tawanannya dan tidak mencukupi orang miskinnya.
Ibnu Abi Manshur mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Umar al-Barmaki memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu al-Husain Abdullah bin Ibrahim al-Zainabi memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Khalaf menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Fudhail bin Abdul Wahhab menceritakan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Sulaiman menceritakan kepada kami dari Tsabit, ia berkata: Mutharrif berkata: Aku memperhatikan, ternyata anak Adam diletakkan antara Allah Azza wa Jalla dan antara Iblis. Maka jika Dia berkehendak melindunginya, Dia melindunginya, dan jika Dia membiarkannya, Iblis membawanya pergi.
Ibnu Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu al-Madzhab memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Hamdan memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Muslim menceritakan kepadaku, ia berkata: Sayyar menceritakan kepada kami, ia berkata: Hayyan al-Jariri menceritakan kepada kami, ia berkata: Suwaid al-Qatadi menceritakan kepada kami dari Qatadah, ia berkata: Sesungguhnya Iblis memiliki setan yang disebut Qabqab yang dijaganya selama empat puluh tahun. Maka jika anak laki-laki masuk ke jalan ini, dia berkata kepadanya: Inilah kamu, sesungguhnya aku menjagamu untuk yang seperti ini, doronglah dia dan fitnahi dia.
Abdullah berkata: Dan Syuraih menceritakan kepadaku, ia berkata: Anbasah bin Abdurrahman menceritakan kepada kami dari Malik bin Mighwal dari Abdul Aziz bin Rufi’, ia berkata: Jika roh orang mukmin dinaikkan ke langit, para malaikat berkata: Maha Suci Dia yang menyelamatkan hamba ini dari setan, celaka dia bagaimana dia bisa selamat.
Al-Karrukhi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Muhammad al-Anshari memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abdurrahman memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Abi al-Hasan memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin al-Musayyab memberitakan kepada kami, ia berkata: Yusuf bin Nuh menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Ishmah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah memberitakan kepada kami, ia berkata: Sufyan memberitakan kepada kami dari Abu Sinan bahwa seorang rahib berkata kepada Sa’id bin Jubair: Dalam fitnah akan jelas siapa yang menyembah Allah dan siapa yang menyembah Thaghut.
Abu Bakar al-Shufi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Sa’d Ali bin Abdullah memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah Ibnu Bakuwayh memberitakan kepada kami, ia berkata: Sahl bin Abdullah al-Umawi menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin al-Hasan al-Bukhari menceritakan kepada kami, ia berkata: Isa bin Basyir menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad bin Syabuwayh menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku mendengar Hafsh bin Humaid berkata: Seorang laki-laki berkata kepada Abdullah Ibnu al-Mubarak: Aku melihat seorang laki-laki mencium seorang pemuda, maka aku menyangka dalam diriku bahwa aku lebih baik darinya. Ia berkata: Kepercayaanmu pada dirimu sendiri lebih berat daripada dosanya.
Abu Manshur al-Qazzaz mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar al-Khatib memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abdul Malik al-Qurasyi memberitakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Umar al-Hafizh memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Makhlad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Muhammad al-Khundafi menceritakan kepada kami, ia berkata: Syuraih bin Yusan menceritakan kepada kami, ia berkata: Bisyr bin al-Sirri menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan bin Uyainah menceritakan kepadaku, ia berkata: Seandainya engkau melihat orang-orang yang dulu duduk bersamaku, dan aku diuji dengan anak-anak muda ini, maka aku memberikan kepada mereka sebab-sebab fitnah, maka aku hampir tidak bisa terlepas dari mereka.
Abdullah bin al-Mubarak menceritakan kepadaku – dan dia adalah orang yang berakal – dari para syaikh Ahlus Syam, mereka berkata: Barangsiapa memberikan sebab-sebab fitnah dari dirinya pada awalnya, dia tidak akan selamat pada akhirnya meskipun dia bersungguh-sungguh.
Abdullah bin Ali al-Muqri mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Ahmad al-Na’ali memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ubaidillah al-Hanna’i memberitakan kepada kami, ia berkata: Utsman bin Ahmad al-Daqqaq memberitakan kepada kami, ia berkata: Ishaq bin Ibrahim al-Khatali menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Mu’alla al-Kufi menceritakan kepada kami dari Yahya bin Bastham, ia berkata: Salamah al-Afqam menceritakan kepadiku, ia berkata: Aku berkata kepada Ubaidah binti Abi Kilab: Apa yang engkau inginkan? Ia berkata: Kematian. Aku berkata: Mengapa? Ia berkata: Karena demi Allah, pada setiap hari aku bangun, aku khawatir bahwa aku melakukan pada diriku suatu perbuatan yang akan menjadi kecelakaanku di hari-hari akhirat.
Bab Dua Puluh Empat tentang Peringatan dari Kemaksiatan dan Buruknya Pengaruhnya
Al-Karrukhi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Ghurji dan al-Azdi memberitakan kepada kami, keduanya berkata: Al-Jarrahi memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Mahbubi menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Tirmidzi menceritakan kepada kami. Dan Ali bin Ubaidillah dan Ahmad bin al-Hasan dan Abdurrahman bin Muhammad memberitakan kepada kami, mereka berkata: Ibnu al-Mamun memberitakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Umar al-Harbi memberitakan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad bin al-Shabbah menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Humaid bin Mas’adah menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan bin Habib menceritakan kepada kami. Dan Ibnu al-Hushain mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu al-Madzhab memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Qathi’i memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Sulaiman bin Daud menceritakan kepada kami, ia berkata: Harb dan Aban menceritakan kepada kami, semuanya dari Yahya bin Abi Katsir, ia berkata: Abu Salamah menceritakan kepadaku dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah cemburu dan orang mukmin cemburu, dan cemburu Allah Azza wa Jalla adalah jika orang mukmin mendatangi apa yang diharamkan atasnya.”
Bukhari dan Muslim sama-sama mengeluarkannya.
Hibatullah bin Muhammad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Ali menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ja’far memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami dari Syaqiq dari Abdullah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah Azza wa Jalla, maka karena itu Dia mengharamkan perbuatan-perbuatan keji, yang tampak darinya dan yang tersembunyi. Dan tidak ada seorang pun yang lebih menyukai pujian daripada Allah Azza wa Jalla.”
Keduanya sama-sama mengeluarkannya.
Hibatullah bin Muhammad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Ali memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ja’far memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, ia berkata: Zakariya bin Abi Zaidah menceritakan kepada kami, ia berkata: Amir menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Al-Nu’man bin Basyir berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketahuilah bahwa bagi setiap raja ada kawasan terlarang, dan sesungguhnya kawasan terlarang Allah adalah apa yang Dia haramkan.”
Dan ini disepakati (oleh Bukhari dan Muslim).
Muhammad bin Umar Al-Faqih mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Hasan bin Al-Muhtadi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abdullah Al-Mu’addil memberitahukan kepada kami, ia berkata: Utsman bin Muhammad Ad-Daqqaq memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ibrahim Al-Marwazi menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Al-Hasan bin Syaqiq menceritakan kepada kami, ia berkata: Kharijah bin Mush’ab menceritakan kepada kami dari Daud bin Abi Hind, ia berkata: Makhul bin Abi Tsa’labah Al-Khusyani menceritakan kepadaku, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mewajibkan kewajiban-kewajiban, maka janganlah kalian menyia-nyiakannya; dan menetapkan batas-batas, maka janganlah kalian melampauinya; dan mengharamkan beberapa perkara, maka janganlah kalian melanggarnya; dan diam dari beberapa perkara sebagai rahmat bukan karena lupa, maka janganlah kalian mencari-carinya.
Abdul Wahhab Al-Anmathi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Muhammad Al-Kufi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ya’la memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Ja’far bin Duhaim menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Amr bin Abi Gharzah menceritakan kepada kami, ia berkata: Utsman bin Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Husain bin Ali menceritakan kepada kami dari Za’idah dari Hisyam dari Al-Hasan dari Jabir, ia berkata: Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, hijrah apakah yang paling utama?” Beliau menjawab: Bahwa engkau meninggalkan apa yang Allah haramkan atasmu.
Al-Mubarak bin Ali mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ali bin Muhammad bin Al-Allaf memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdul Malik bin Bisyran memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ibrahim Al-Kindi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammad bin Al-Hasan bin Anbasah menceritakan kepada kami, ia berkata: Sayyar bin Hatim menceritakan kepada kami dari Ja’far bin Sulaiman, ia berkata: Abu Thariq menceritakan kepada kami dari Al-Hasan dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Bertakwalah dari perkara-perkara yang diharamkan, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling beribadah.
Ibnu Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ahmad Al-Hafizh menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Yusuf bin Jallad menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa’id bin Nashr menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Hasyim bin Marzuq menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Amr bin Abi Qais menceritakan kepadaku dari Sufyan dari Amr bin Nabhan dari Al-Hasan dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya kebaikan memiliki cahaya di dalam hati, keindahan di wajah, dan kekuatan dalam amal; dan sesungguhnya kesalahan memiliki kegelapan di dalam hati, kelemahan dalam amal, dan keburukan di wajah.
Ibnu Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Hamad bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Nu’aim menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin As-Sindi menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Alawiyyah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ismail bin Isa menceritakan kepada kami, ia berkata: Ishaq bin Basyir menceritakan kepada kami dari Juwaibir dari Ad-Dhahhak dari Ibnu Abbas bahwa ia berkata: Wahai pelaku dosa, janganlah engkau merasa aman dari buruknya akibat dosamu, karena apa yang mengikuti dosa itu lebih besar daripada dosanya apabila engkau mengetahuinya:
Sedikitnya rasa malumu dari (malaikat) yang ada di kanan dan di kiri sementara engkau sedang berbuat dosa, itu lebih besar daripada dosanya.
Tawamu sementara engkau tidak tahu apa yang akan Allah perbuat terhadapmu, itu lebih besar daripada dosanya.
Kegembiraan engkau atas dosa ketika engkau berhasil melakukannya, itu lebih besar daripada dosanya.
Kesedihanmu atas dosa ketika engkau gagal melakukannya, itu lebih besar daripada dosa ketika engkau berhasil melakukannya.
Takutmu terhadap angin ketika menggerakkan tirai pintumu sementara engkau sedang berbuat dosa, namun hatimu tidak berguncang karena Allah melihatmu, itu lebih besar daripada dosa ketika engkau mengerjakannya.
Ibnu Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu As-Sarraj memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibnu Al-Madzhab memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibnu Malik memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Zakariya menceritakan kepada kami dari Amir, ia berkata: Aisyah menulis kepada Mu’awiyah: Amma ba’du, sesungguhnya seorang hamba apabila ia beramal dengan kemaksiatan kepada Allah, orang yang tadinya memujinya akan menjadi mencelanya.
Dan dengan sanad yang sama, ia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Bakkar menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Wahb berkata: Sesungguhnya Rabb Yang Maha Mulia berkata dalam sebagian firman-Nya kepada Bani Israil: Sesungguhnya Aku apabila ditaati, Aku ridha; dan apabila Aku ridha, Aku beri berkah; dan tidak ada yang dapat menghalangi berkah-Ku. Dan apabila Aku dimaksiati, Aku murka; dan apabila Aku murka, Aku melaknat; dan laknat-Ku mencapai hingga anak keturunan yang ketujuh.
Ali bin Abdul Wahid mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ali bin Umar Al-Qazwini memberitahukan kepada kami, ia berkata: Yusuf bin Umar menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Isa As-Samsar menceritakan kepada kami, ia berkata: Yusuf bin Musa menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abdullah bin As-Sindi berkata: Al-Hasan berkata: Tidaklah seorang hamba bermaksiat kepada Allah melainkan Allah Tabarak wa Ta’ala akan menghinakannya.
Ali mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ali memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ibrahim bin Syazan memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Baghawi menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Mu’tamir menceritakan kepada kami dari Ali bin Zaid, ia berkata: Aku menyaksikan Umar bin Abdul Aziz berkhutbah, dan aku mendengarnya berkata: Sesungguhnya ibadah yang paling utama adalah menunaikan kewajiban-kewajiban dan menjauhi perkara-perkara yang diharamkan.
Muhammad bin Abdul Baqi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad Al-Jauhari memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Hasan bin Lulu memberitahukan kepada kami, ia berkata: Hamzah bin Muhammad Al-Katib memberitahukan kepada kami, ia berkata: Nu’aim bin Hammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Al-Mubarak menceritakan kepada kami dari Al-Auza’i, ia berkata: Aku mendengar Bilal bin Sa’id berkata: Janganlah engkau memandang kecilnya kesalahan, tetapi pandanglah kepada siapa engkau bermaksiat.
Muhammad bin Abi Manshur mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu As-Sarraj memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibnu Al-Madzhab memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibnu Malik menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Umar menceritakan kepadaku, ia berkata: Al-Hasan bin Muslim menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Al-Hasan berkata: Wahai anak Adam, meninggalkan kesalahan lebih mudah daripada memohon taubat.
Ahmad bin Ahmad Al-Mutawakkili memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakr Al-Khatib memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Musa Ash-Shairafi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abdullah Al-Ashbahani menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakr Al-Qurasyi menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Al-Ashma’i menceritakan kepada kami dari Al-Mu’tamir bin Sulaiman dari ayahnya, ia berkata: Sesungguhnya seseorang melakukan dosa secara tersembunyi, lalu ia bangun pagi dengan kehinaan menyelimutinya.
Al-Qurasyi berkata: Dan Muhammad bin Al-Husain menceritakan kepadaku, ia berkata: Ismail bin Umar menceritakan kepada kami, ia berkata: Ma’ruf bin Washil menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Muharib bin Ditsar berkata: Sesungguhnya seseorang melakukan dosa, lalu ia merasakan kelemahan dalam hatinya karenanya.
Al-Qurasyi berkata: Dan Abu Abdullah At-Taimi menceritakan kepadaku, ia berkata: Yasar menceritakan kepada kami dari Ja’far dari Malik bin Dinar, ia berkata: Sampai kepadaku bahwa di masa lalu ada seorang pemuda yang melakukan dosa, lalu ia mendatangi sungai untuk mandi. Ketika ia mengingat dosanya, ia berhenti dan merasa malu, lalu kembali. Sungai itu memanggilnya: Wahai orang yang bermaksiat, seandainya engkau mendekat, niscaya aku akan menenggelamkanmu.
Muhammad bin Abi Manshur mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Ishaq Al-Barmaki memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Hasan Az-Zainabi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Khalaf memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Manshur menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Abi Maryam menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa’id bin Abdurrahman menceritakan kepada kami, ia berkata: Shalih bin Muhammad bin Za’idah menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku berkata kepada Sa’id bin Al-Musayyab: Aku tidak melihat pemuda-pemuda masjid ini yang lebih utama ibadahnya, sesungguhnya salah seorang dari mereka keluar di tengah hari dan terus berdiri shalat hingga ashar. Ibnu Al-Musayyab berkata: Kami tidak menganggap ini sebagai ibadah. Kami berkata kepadanya: Wahai Abu Muhammad, lalu apakah ibadah itu? Ia berkata: Memikirkan urusan Allah dan bersikap wara’ dari apa yang diharamkan Allah Azza wa Jalla.
Ibnu Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abdul Qadir bin Yusuf memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Umar Al-Barmaki memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Fadhl Az-Zuhri memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Isa Al-Hasyimi menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Abdullah Al-Makhrami menceritakan kepadaku, ia berkata: Bisyr bin Al-Harits menceritakan kepada kami dari Ibnu Al-Mubarak, ia berkata: Ditanyakan kepada Wuhaib bin Al-Ward: Apakah orang yang bermaksiat merasakan nikmat ibadah? Ia menjawab: Tidak, bahkan tidak pula orang yang berniat (bermaksiat).
Dan telah diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri bahwa ia apabila menyebut orang-orang yang bermaksiat, ia berkata: Mereka hina di sisi-Nya, maka mereka bermaksiat kepada-Nya; seandainya mereka mulia di sisi-Nya, niscaya Dia akan menjaga mereka.
Dan Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhzhi berkata: Tidaklah Allah disembah dengan sesuatu yang lebih Dia cintai daripada meninggalkan kemaksiatan.
Dan Al-Fadhl berkata: Seukuran apa engkau menganggap kecil dosa di sisimu, sebesar itu pula ia menjadi besar di sisi Allah; dan seukuran apa engkau menganggapnya besar di sisimu, sebesar itu pula ia menjadi kecil di sisi-Nya.
Dan Bisyr berkata: Sesungguhnya seorang hamba melakukan dosa, lalu karena itu ia terhalang dari shalat malam.
Ibnu Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Khalaf memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Abdurrahman Ash-Shufi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abdullah bin Ali berkata: Aku mendengar Ahmad bin Atha’ berkata: Aku mendengar Muhammad bin Al-Hasan berkata: Sahl berkata: Ada amalan-amalan yang dikerjakan oleh orang baik dan orang jahat, namun tidak ada yang menghindari kemaksiatan kecuali orang yang jujur (shiddiq).
Ash-Shufi berkata: Dan aku mendengar Ahmad bin Muhammad bin Zakariya berkata: Dan dengan sanad yang sama dari Al-Hasan bin Abdullah Al-Qurasyi, ia berkata: Aku mendengar Banan Al-Hammal berkata: Barangsiapa yang senang dengan apa yang akan membahayakannya, kapan ia akan beruntung?
Ash-Shufi berkata: Dan aku mendengar Abu Bakr Ar-Razi berkata: Aku mendengar Abu Al-Hasan Al-Muzayyin berkata: Dosa setelah dosa adalah hukuman atas dosa, dan kebaikan setelah kebaikan adalah pahala atas kebaikan.
Ketahuilah, semoga Allah memberimu taufik, bahwa kemaksiatan buruk akibatnya dan jelek akhirnya. Meskipun menyenangkan di awalnya, ia membahayakan di akhirnya, dan terkadang bahayanya segera terjadi. Barangsiapa menginginkan kehidupan yang baik, hendaklah ia berpegang pada takwa. Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Rabb kalian Azza wa Jalla berfirman: Seandainya hamba-hamba-Ku menaati-Ku, niscaya Aku akan menurunkan hujan pada mereka di malam hari, menyinari mereka dengan matahari di siang hari, dan tidak membiarkan mereka mendengar suara guntur.
Dan dua Muhammad yaitu Ibnu Abdul Malik dan Ibnu Nashir mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Ahmad bin Al-Hasan Asy-Syahid memberitahukan kepada kami, ia berkata: Utsman bin Muhammad Al-Allaf memberitahukan kepada kami, ia berkata: Umar bin Ja’far bin Salm menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali Al-Abbar menceritakan kepada kami, ia berkata: Utsman bin Thalut menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Ashma’i menceritakan kepada kami dari ayahnya, ia berkata: Ada seorang syaikh yang berkeliling ke majelis-majelis dan berkata: Barangsiapa ingin kesejahteraan terus bersamanya, hendaklah ia bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla.
Maka apabila engkau melihat, semoga Allah memberimu taufik, kekeruhan dalam keadaan, ingatlah dosa yang telah terjadi. Al-Fudhail bin Iyadh berkata: Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, lalu aku mengetahui hal itu dari perilaku kuda dan budak perempuanku. Dan Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: Barangsiapa yang memurnikan (amalnya), akan dimurnikan untuknya; dan barangsiapa yang mengotori (amalnya), akan dikotori atasnya. Dan barangsiapa yang berbuat baik di malamnya, akan diberi balasan di siangnya; dan barangsiapa yang berbuat baik di siangnya, akan diberi balasan di malamnya.
Dan kami meriwayatkan dari sebagian orang saleh bahwa tali sandalnya putus ketika ia bergegas menuju shalat Jumat, maka ia berkata, “Putusnya tali ini karena aku tidak mandi untuk shalat Jumat.”
Maka renungkanlah, semoga Allah memberimu taufik, bahwa dosa-dosa itu lezatnya sirna sedangkan akibatnya tetap ada, sebagaimana telah mengabarkan kepada kami al-Mubarak bin Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhammad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abbas ad-Dauri, ia berkata: aku mendengar sebagian sahabat kami berkata: Sufyan ats-Tsauri sering kali membaca syair:
Sirna kelezatan dari orang yang meraih kemurniannya… dari yang haram, dan tinggallah dosa serta aib Tersisa akibat buruk di akhirnya… tidak ada kebaikan dalam kelezatan yang setelahnya ada api neraka
Muhammad bin Ja’far berkata: telah membacakan padaku Abu Ja’far al-Adawi untuk al-Husain bin Muthir:
Dan jagalah dirimu dari banyak perkara hina… karena engkau tidak memiliki diri setelahnya yang dapat dipinjam Dan janganlah mendekati perkara haram karena sesungguhnya… manisnya akan sirna dan pahitnya akan tetap ada
Kemudian renungkanlah, semoga Allah memberimu taufik, tentang rasa malu yang ditimbulkan oleh dosa. Sungguh telah dikatakan kepada al-Aswad bin Yazid ketika menjelang wafatnya, “Bergembiralah dengan ampunan.”
Maka ia berkata, “Kemana rasa malu dari hal yang diampuni itu?”
Dan sebagian ulama berkata, “Jika engkau mampu untuk tidak berbuat buruk kepada orang yang engkau cintai, maka lakukanlah.”
Ditanyakan kepadanya, “Bagaimana manusia berbuat buruk kepada orang yang ia cintai?” Maka ia menjawab, “Jika engkau bermaksiat kepada Allah, berarti engkau berbuat buruk kepada dirimu sendiri, padahal dirimu adalah yang paling engkau cintai.” Dan ditanyakan kepada sebagian ulama, “Siapakah manusia yang paling tertipu?” Maka ia menjawab, “Orang yang paling meremehkan dosa.” Ditanyakan kepadanya, “Atas dasar apa engkau menangis?” Maka ia menjawab, “Atas waktu-waktu berbuat dosa.”
Ditanyakan, “Atas dasar apa engkau menyesal?” Ia menjawab, “Atas waktu-waktu kelalaian.”
Dan sebagian ulama berkata, “Anggaplah bahwa orang yang berbuat buruk telah diampuni, bukankah ia telah kehilangan pahala orang-orang yang berbuat baik?”
Dan berkata Abu Ali ar-Rudzabari, “Termasuk tertipu adalah engkau berbuat buruk lalu diberi kebaikan, kemudian engkau meninggalkan taubat karena menyangka bahwa engkau dimaafkan dalam kesalahan-kesalahan.”
Bab Kedua Puluh Lima tentang Celaan Zina
Allah Azza wa Jalla berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Surat al-Isra’: 32)
Dan telah mengabarkan kepada kami Hibatullah bin Muhammad asy-Syaibani, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Ali al-Hasan bin Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar bin Malik, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, ia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Hammam bin Munabbih dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak mencuri seorang pencuri ketika ia mencuri sedang ia mukmin, dan tidak berzina seorang pezina ketika ia berzina sedang ia mukmin.”
Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam Shahihain.
Telah mengabarkan kepada kami Hibatullah bin Muhammad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Hasan bin Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Malik, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah, ia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Affan, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Suhail bin Abi Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap anak Adam memiliki bagian dari zina. Kedua mata berzina dan zinanya adalah melihat. Kedua tangan berzina dan zinanya adalah meraba. Kedua kaki berzina dan zinanya adalah berjalan. Mulut berzina dan zinanya adalah mencium. Hati menginginkan dan berangan-angan. Dan kemaluan membenarkan hal itu atau mendustakannya.”
Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Abdul Wahid ad-Dinawari, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Umar al-Qazwini, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Umar bin Sahl al-Hariri, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin al-Qasim bin Nashr, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Hammam, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ismail yaitu Ibnu Ja’far, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku al-‘Ala’ dari ayahnya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kedua mata berzina, lidah berzina, kedua tangan berzina, dan kedua kaki berzina. Kemaluan membenarkan hal itu atau mengingkarinya.”
Ini adalah hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Suhail, dan telah diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu Abbas dan Abu Hurairah.
Telah mengabarkan kepada kami Abdul Awwal, ia berkata: telah memberitakan kepada kami ad-Dawudi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu A’yan, ia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Farbari, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Bukhari, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Hisyam dari ayahnya dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai umat Muhammad, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah ketika melihat hamba-Nya atau hamba perempuan-Nya berzina.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abdul Wahid, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu al-Madzhab, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Malik, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, ia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Jarir, ia berkata: aku mendengar Abu Raja’ al-‘Atharadi menceritakan dari Samurah bin Jundub, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku bermimpi tadi malam, dua orang laki-laki datang kepadaku dan membawaku keluar, lalu aku berjalan bersama mereka, dan tiba-tiba ada sebuah rumah yang dibangun seperti bangunan tanur, bagian atasnya sempit dan bagian bawahnya lebar, dinyalakan api di bawahnya, di dalamnya ada laki-laki dan perempuan telanjang. Jika api dinyalakan, mereka terangkat hingga hampir keluar, dan jika api dipadamkan mereka kembali ke dalamnya.”
Aku bertanya, “Apa ini?” Mereka menjawab, “Mereka adalah para pezina.”
Aku meringkas hadits ini dan ia adalah hadits yang disepakati.
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Hamad Ahmad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Ja’far, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Isa bin Mahan ar-Razi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mushaffa, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abbad bin Katsir dari Imran dari Anas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya amal-amal umatku diperlihatkan setiap hari Jumat, dan kemarahan Allah yang paling keras adalah kepada para pezina.”
Telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Tharad bin Muhammad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Abdullah al-Hasyimi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Amr, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abi Thalib, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Umar bin Abdul Ghaffar, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-‘Awwam bin Hausyab, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ali bin Mudrik dari Abu Zur’ah dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya iman adalah pakaian yang Allah kenakan kepada siapa yang Dia kehendaki. Jika hamba berzina, pakaian iman dicabut darinya. Jika ia bertaubat, pakaian itu dikembalikan kepadanya.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Ishaq al-Barmaki, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Husain az-Zainabi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu al-Marzuban, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar al-Qurasyi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ammar bin Nashr, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Baqiyyah dari Abu Bakar bin Abi Maryam dari al-Haitsam bin Malik ath-Tha’i dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Tidak ada dosa setelah syirik yang lebih besar di sisi Allah daripada nuthfah (sperma) yang diletakkan seorang laki-laki dalam rahim yang tidak halal baginya.”
Telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ali bin Tsabit, ia berkata: telah menceritakan kepadaku at-Tanukhi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ka’b bin Amr bin Ja’far al-Balkhi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Arus bin Fahd al-Maushili, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin Arfah al-Abdi, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Yazid bin Harun dari Humaid dari Anas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jauhilah zina, karena sesungguhnya dalam zina ada enam sifat: tiga di dunia dan tiga di akhirat. Adapun yang di dunia yaitu hilangnya cahaya wajah, terputusnya rezeki, dan cepatnya kebinasaan. Adapun yang di akhirat yaitu kemurkaan Rabb, buruknya hisab, dan kekal di neraka kecuali jika Allah menghendaki.”
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Hamad bin Ahmad bin al-Haddad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah al-Hafizh, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin al-Muzhaffar, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sa’id ad-Dimasqi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Maslamah bin Ali dari al-A’masy dari Syaqiq dari Hudzaifah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jauhilah zina, karena sesungguhnya di dalamnya ada enam sifat: tiga di dunia dan tiga di akhirat. Adapun yang di dunia yaitu menghilangkan kecantikan, mewariskan kemiskinan, dan mengurangi rezeki. Adapun yang di akhirat yaitu mewariskan kemurkaan Rabb, buruknya hisab, dan kekal di neraka.”
Telah mengabarkan kepada kami al-Mubarak bin Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhammad al-Allaf, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim al-Kindi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far al-Khara’ithi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Abbas bin Abdullah at-Turqufi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Mushir, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Shadaqah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Jabir dari Sulaim bin Amir, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Umamah al-Bahili, ia berkata: aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketika aku sedang tidur, datang dua orang laki-laki kepadaku lalu memegang ketiak keduaku dan membawaku keluar. Tiba-tiba aku melihat sekelompok orang yang sangat bengkak dan sangat busuk baunya seperti bau jamban. Aku bertanya, ‘Siapa mereka ini?’ Dijawab, ‘Mereka adalah laki-laki dan perempuan pezina.'”
Telah mengabarkan kepada kami Abdul Khaliq bin Ahmad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ali bin al-Fath, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdullah ad-Daqqaq, ia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Husain bin Shafwan, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, ia berkata: telah menceritakan kepadaku al-Abbas bin Ja’far, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar bin Ayyasy, ia berkata: telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki dari Makhul secara marfu’, ia berkata, “Penghuni surga mencium bau harum lalu berkata, ‘Wahai Rabb kami, kami tidak pernah mencium bau yang lebih harum dari ini sejak masuk surga.’ Maka Allah berfirman, ‘Ini adalah bau mulut orang-orang yang berpuasa.’ Dan penghuni neraka mencium bau busuk lalu berkata, ‘Wahai Rabb kami, kami tidak pernah mencium bau yang lebih busuk dari ini sejak masuk neraka.’ Maka Allah berfirman, ‘Ini adalah bau kemaluan para pezina.'”
Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ali bin al-Mujalla, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ali bin Tsabit, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhammad bin Bisyran, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Shafwan, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Ubaid, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Hasan bin Syaqiq, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibrahim bin al-Asy’ats, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Zaid al-‘Ajami dari ayahnya dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum mengurangi takaran atau mengurangi timbangan melainkan Allah mencegah hujan dari mereka. Dan tidaklah tampak pada suatu kaum zina melainkan tampak pada mereka kematian. Dan tidaklah tampak pada suatu kaum perbuatan kaum Luth melainkan tampak pada mereka gerhana bumi.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Husain bin Quraisy, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Umar al-Barmaki, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin al-Abbas bin Huwaih secara ijazah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abi Dawud, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Haitsam, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab bin Atha’ dari Laits bin Abi Sulaim dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari Abdullah bin Umar, ia berkata, “Allah Azza wa Jalla mewahyukan kepada Musa ‘alaihissalam, ‘Aku membunuh para pembunuh dan memiskinkan para pezina.'”
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abi Manshur, ia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Ishaq al-Barmaki, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Husain az-Zainabi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu al-Marzuban, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Muhammad at-Tamimi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Dawud bin al-Muhabbar, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Maisarah bin Abdirabbihi dari Abu Aisyah as-Sa’di dari Yazid bin Umar bin Abdul Aziz dari Abu Maslamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas, keduanya berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah lalu bersabda dalam khutbahnya, ‘Barangsiapa yang mampu (menguasai) seorang perempuan atau budak perempuan dengan cara haram lalu menyetubuhinya, maka Allah mengharamkan surga untuknya dan memasukkannya ke neraka. Dan barangsiapa yang memandang perempuan dengan pandangan haram, Allah akan memenuhi matanya dengan api kemudian memerintahkannya ke neraka. Dan barangsiapa yang berjabat tangan dengan perempuan secara haram, ia akan datang pada hari kiamat dengan tangannya terbelenggu ke lehernya, kemudian diperintahkan dengannya ke neraka. Dan barangsiapa yang bergurau dengannya, ia akan ditahan untuk setiap kata yang ia ucapkan di dunia selama seribu tahun. Dan perempuan mana saja yang mematuhi laki-laki dengan cara haram lalu ia memeluknya atau menciumnya atau menyentuhnya atau bergurau dengannya atau menyetubuhinya, maka atasnya dosa seperti apa yang ada pada laki-laki itu.'”
Dan dengan sanad yang sama, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Marzaban, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ismail, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Jarir dari Laits dari Ibnu Abi Najih dari ayahnya dari Abdullah bin Amru, dia berkata: Yang pertama kali diciptakan Allah dari manusia adalah kemaluannya, maka Allah berfirman: “Ini adalah amanat-Ku pada dirimu, maka janganlah engkau letakkan kecuali pada tempatnya yang benar.”
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abi Manshur, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Ali bin Al-Muhtadi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ubaidullah bin Umar bin Syahin, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Al-Husain bin Kautsar, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ali bin Al-Fadhl, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Awwam bin Hausyab dari Ali bin Mudarrik dari Abu Zur’ah dari Abu Hurairah, dia berkata: Sesungguhnya iman itu adalah pakaian, maka barangsiapa yang berzina maka iman itu meninggalkannya. Jika dia mencela dirinya sendiri dan bertaubat, maka iman itu kembali kepadanya.
Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar bin Abi Thahir, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad Al-Jauhari, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Haiwayh, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Ayyub Sulaiman bin Ishaq Al-Hallabi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Harits bin Abi Usamah, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Sa’d, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Abdullah bin Yunus, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Syihab dari Al-A’masy dari Mujahid dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata kepada budak-budak: “Menikahlah, karena sesungguhnya seorang budak apabila berzina, Allah mencabut darinya cahaya iman. Apakah Allah mengembalikannya kepadanya atau menahannya?”
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ahmad dalam kitabnya, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ayyub, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Isa bin Ibrahim, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Afif bin Salim, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Atha’ Al-Khurasani, dia berkata: Sesungguhnya neraka Jahanam memiliki tujuh pintu, yang paling keras kesukarannya, kesedihannya, panasnya, dan paling busuk baunya adalah untuk para pezina yang melakukan perbuatan itu setelah memiliki ilmu.
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Nu’aim, dia berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Yazid, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad Al-Kattani, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al-Qasim, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Ma’syar dari Manshur bin Gharib dari Atha’ Al-Khurasani, dia berkata: Apabila zina merebak, kematian akan banyak terjadi. Apabila riba dimakan, akan terjadi kemusnahan dan gempa bumi. Apabila para hakim berbuat zalim, hujan akan tertahan. Dan apabila zakat tidak ditunaikan, hewan ternak akan binasa.
Dan Ahmad bin Hanbal berkata: Tidak ada dosa setelah pembunuhan yang lebih berat daripada zina.
Pasal: Ketahuilah bahwa zina termasuk dosa yang paling besar, namun pada hakikatnya ada yang lebih parah daripada yang lain.
Di antara yang paling keji adalah zina seseorang dengan sebagian mahramnya.
Dan kita akan menyebutkan kelak, insya Allah, kisah-kisah orang yang didorong oleh cinta untuk berzina dengan mahram.
Di antara yang paling keji adalah zina seseorang dengan istri orang lain sehingga bercampur air mani dan nasab.
Yang paling keji dari itu adalah apabila wanita itu adalah istri tetangga atau kerabat.
Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Ubaidullah, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad Ash-Sharifini, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Amatus Salam binti Ahmad bin Kamil, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ismail As-Suddar, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Abdul Maufi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Manshur.
Dan telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Ali, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Al-Ma’mun, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Hababah, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Sha’id, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ya’qub Ad-Dauraqi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Al-A’masy, keduanya dari Abu Wa’il dari Abu Maisarah dari Abdullah, dia berkata: Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar?” Beliau bersabda: “Bahwa engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dia yang menciptakanmu.” Aku bertanya: “Kemudian apa?” Beliau bersabda: “Bahwa engkau membunuh anakmu karena takut dia akan makan bersamamu.” Aku bertanya: “Kemudian apa?” Beliau bersabda: “Bahwa engkau berzina dengan istri tetanggamu.”
Keduanya (Bukhari dan Muslim) mengeluarkannya dalam kitab Shahih.
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Nashir dan Umar bin Zhafar, keduanya berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Al-Hasan Al-Baqlawi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Qadhi Abu Al-Ala Al-Washithi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Nashr An-Niyazaki, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Al-Khair Ahmad bin Muhammad bin Al-Bazzaz, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Bukhari, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Humaid, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail dari Muhammad bin Sa’id, dia berkata: Aku mendengar Abu Thaibah Al-Kala’i berkata: Aku mendengar Al-Miqdad bin Al-Aswad berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya tentang zina, maka beliau bersabda: “Haram, Allah dan Rasul-Nya mengharamkannya.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya bagi seseorang berzina dengan sepuluh wanita itu lebih ringan daripada berzina dengan istri tetangganya.”
Telah mengabarkan kepada kami Al-Mubarak bin Ali, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhammad bin Al-Allaf, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim Al-Kindi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Al-Khara’ithi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mula’ib, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim Al-Fadhl bin Dukain, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdus Salam bin Syaddad dari Azwan bin Jarir dari ayahnya bahwa mereka membicarakan tentang perbuatan keji di hadapan Ali bin Abi Thalib alaihissalam, maka dia berkata kepada mereka: “Apakah kalian tahu zina yang mana yang paling besar di sisi Allah jalla tsanauhu?” Mereka berkata: “Wahai Amirul Mukminin, semuanya besar.” Dia berkata: “Tetapi aku akan memberitahukan kepada kalian zina yang paling besar di sisi Allah tabaraka wa ta’ala, yaitu seorang hamba berzina dengan istri seorang muslim, maka dia menjadi pezina dan telah merusak istri seorang muslim itu baginya.”
Kemudian dia berkata saat itu: Sesungguhnya pada hari kiamat, manusia akan ditiup angin yang busuk baunya sehingga semua orang yang berbuat baik dan durhaka merasa terganggu karenanya. Sehingga ketika angin itu telah memenuhi mereka dan hampir menahan napas semua orang, seorang penyeru memanggil mereka dengan suara yang mereka dengar, lalu dia berkata kepada mereka: “Apakah kalian tahu apa angin ini yang telah mengganggu kalian?” Maka mereka menjawab: “Kami tidak tahu, demi Allah, kecuali bahwa ia telah membuat kami sangat menderita.” Maka dikatakan: “Ketahuilah bahwa ini adalah bau kemaluan para pezina yang menemui Allah dengan zinaannya dan tidak bertaubat darinya.”
Bab Kedua Puluh Enam: Peringatan Dari Perbuatan Kaum Luth
Telah mengabarkan kepada kami Hibatullah bin Muhammad Asy-Syaibani, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Hasan bin Ali At-Tamimi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ja’far, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, dia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah dari Muhammad bin Ishaq dari Amru bin Abi Amru dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Terlaknat, terlaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnul Hashain, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnul Madzhab, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ja’far, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, dia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Zuhair dari Amru yaitu Ibnu Abi Amru dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth, Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth, Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth.”
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi Al-Bazzaz, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Al-Husain bin Al-Farra’, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Umar As-Sukri, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Hamid bin Bilal, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah yaitu Al-Bukhari, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Yahya bin An-Nadhr, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ghanjar dari Umar bin Ash-Shabah dari Muqatil bin Hayyan dari Abul Jarud Al-Absi dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: Sampai kepadaku sebuah hadits tentang qishash dan pemilik hadits itu berada di Mesir, maka aku membeli seekor unta dan mengikat pelana padanya, kemudian aku berjalan selama sebulan. Lalu dia menyebutkan hadits tersebut hingga dia berkata: Maka aku menemui orang itu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku sepeninggalku adalah perbuatan kaum Luth. Maka hendaklah umatku menanti azab apabila laki-laki bersama laki-laki dan perempuan bersama perempuan.”
Telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Ali, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnul Allaf, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abul Qasim bin Bisyran, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Ajurri, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Muslim Al-Kasyyi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Sulaiman Asy-Syadzkuni.
Dan telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Tharad, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhammad bin Bisyran, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Shafwan, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Qurasyi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Umar Al-Jasymi, keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Abdul Warits, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Qasim bin Abdul Wahid dari Abdullah bin Muhammad bin Aqil bahwa dia mendengar Jabir bin Abdullah berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku adalah perbuatan kaum Luth.”
Telah mengabarkan kepada kami Al-Mubarak bin Ali, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdullah bin Ahmad As-Samarqandi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Abdul Wahid, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad As-Salmi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far As-Samiri, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Al-Junaid, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Abi Umayyah Ats-Tsaqafi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa’d Al-Kindi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al-Ahmar dari Adh-Dhahhak bin Utsman dari Makhramah bin Sulaiman dari Kuraib dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Allah tidak akan melihat kepada seorang laki-laki yang mendatangi laki-laki atau perempuan pada duburnya.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ali bin Maimun, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Al-Muhsin At-Tanukhi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdullah bin Ibrahim Az-Zainabi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Sufyan Al-Hana’i, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isa bin Hayyan, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash-Shabbah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Zaid Muhammad bin Hassan, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Yahya dari Ibnu Abi Dzi’b dari Nafi’ dari Ibnu Umar, dia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada pejantan yang menaiki pejantan lain hingga terjadi pada kaum Luth. Maka ketika pejantan menaiki pejantan, bergetarlah atau bergoncang Arsy Ar-Rahman azza wa jalla, maka para malaikat mengintip karena mengagungkan perbuatan keduanya, lalu mereka berkata: ‘Wahai Rabb, tidakkah Engkau memerintahkan bumi untuk menelan mereka dan memerintahkan langit untuk melempari mereka?’ Maka Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku Maha Penyabar, tidak ada sesuatu pun yang luput dari-Ku.'”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Manazil, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Mubarak bin Abdul Jabbar, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad Al-Khallal, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Abbas bin Ahmad Al-Hasyimi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ali bin Ahmad bin Nuh, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahman, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Fadhl bin Dukain, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Mis’ar dari Simak bin Harb dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata: Sesungguhnya apabila seorang laki-laki mendatangi laki-laki, maka bumi di bawah mereka menjerit, begitu juga langit di atas mereka, rumah dan atapnya, semuanya berkata: “Wahai Rabb, izinkanlah kami agar sebagian dari kami menimpa sebagian yang lain sehingga kami jadikan mereka sebagai hukuman dan peringatan.” Maka Allah azza wa jalla berfirman: “Sesungguhnya kesabaran-Ku melampaui mereka dan mereka tidak akan luput dari-Ku.”
Telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Ali dan Muhammad bin Abi Manshur, keduanya berkata: telah memberitakan kepada kami Tharad, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abul Hasan bin Bisyran, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Shafwan, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Qurasyi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Khalid bin Khidasy, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Salm bin Qutaibah, dia berkata: Aku mendengar Sufyan Ats-Tsauri berkata: Seandainya seorang laki-laki bermain-main dengan anak laki-laki di antara dua jari dari jari-jari kakinya dengan maksud syahwat, maka itu adalah perbuatan liwath.
Bab Ketahuilah Bahwa Hubungan Perempuan Dengan Perempuan Itu Sama Seperti Laki-Laki Dengan Laki-Laki
Telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Ali dan Muhammad bin Nashir, keduanya berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhammad bin al-Allaf, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin al-Husain, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin al-Hasan bin Abdul Jabbar ash-Shufi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ammar bin Nashr al-Khurasani, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Utsman bin Abdurrahman al-Harrani dari Anbasah bin Abdurrahman al-Qurasyi dari al-Ala dari Makhul dari Wailah bin al-Asqa’, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sihaq (hubungan seksual sesama) perempuan adalah zina di antara mereka.”
Bab Kedua Puluh Tujuh: Tentang Hukuman Pelaku Liwath (Homoseksual) Di Dunia
Ketahuilah bahwa Allah azza wa jalla telah mengisahkan kepada kita tentang kisah perbuatan kaum Luth, yaitu pilihan mereka terhadap perbuatan keji itu dan kecenderungan mereka kepadanya, serta Dia menjelaskan hukuman-Nya terhadap mereka di dunia. Allah memperpanjang penyebutan tentang hal itu, yang tidak diperpanjang dalam penyebutan kekafiran mereka. Sudah diketahui bahwa kekafiran itu lebih besar daripada perbuatan keji itu, tetapi Dia bermaksud memperingatkan kita dari perbuatan-perbuatan tersebut. Kisah kaum itu ada di dalam Al-Quran di beberapa tempat, dan kita telah mengetahui darinya bahwa Dia menghukum mereka di dunia dengan hukuman rajam dan batu-batuan.
Telah diriwayatkan tentang hukuman pelaku liwath di dunia beberapa hadits:
Telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Ali dan Ibnu Nashir, keduanya berkata: telah memberitakan kepada kami Tharrad bin Muhammad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Husain bin Bisyran, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Shafwan, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar al-Qurasyi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Khalid bin Khaddasy, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ad-Darawardi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Amr bin Abi Amr dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda tentang orang yang melakukan perbuatan kaum Luth: “Bunuhlah pelaku dan yang diperlakukan.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu al-Hushain, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu al-Madzhab, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ja’far, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, ia berkata: ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu al-Qasim bin Abi az-Zinad, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abi Habibah dan Dawud bin al-Hushain dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bunuhlah pelaku dan yang diperlakukan dalam perbuatan kaum Luth.”
Telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu al-Allaf, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar al-Ajurri, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Dawud, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin ash-Shabbah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab bin Atha’. Dan telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Qadir bin Muhammad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Jauhari, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu al-Muzhaffar, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Haitsam bin Khalaf, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abbas, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Isa bin Syu’aib, keduanya dari Abbad bin Manshur dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Bunuhlah pelaku dan yang diperlakukan.”
Telah mengabarkan kepada kami al-Mubarak bin Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdullah bin Ahmad as-Samarqandi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Abdul Wahid, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin al-Walid, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far as-Samiri, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ali bin Dawud al-Qanthuri, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Shalih, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dari Abbad bin Katsir bahwa Abdullah bin Muhammad bin Muhammad bin Aqil menceritakan kepadanya dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa melakukan perbuatan kaum Luth maka bunuhlah dia.”
Ia (as-Samiri) berkata: dan telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mula’ib, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin az-Zubairi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abdullah bin Umar dari Suhail bin Abi Shalih dari ayahnya dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa kalian temui melakukan perbuatan kaum Luth maka rajamlah yang di atas dan yang di bawah.”
PENYEBUTAN APA YANG DIRIWAYATKAN DARI ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ DAN SELAIN MEREKA DARI PARA SAHABAT TENTANG HAL ITU
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir dan Abdullah bin Ali, keduanya berkata: telah memberitakan kepada kami Tharrad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Husain bin Bisyran, ia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Husain bin Shafwan, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar al-Qurasyi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Umar, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abi Hazim dari Dawud bin Bakr dari Muhammad bin al-Munkadir bahwa Khalid bin al-Walid menulis surat kepada Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu bahwa ia menemukan seorang laki-laki di salah satu tempat pengorbanan hewan yang disetubuhi sebagaimana perempuan disetubuhi.
Maka Abu Bakar mengumpulkan untuk masalah itu para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, di antara mereka adalah Ali bin Abi Thalib. Ali berkata: “Sesungguhnya ini adalah dosa yang tidak dilakukan kecuali oleh satu umat, lalu Allah berbuat kepada mereka apa yang telah kalian ketahui. Aku berpendapat hendaknya ia dibakar dengan api.” Maka berkumpullah pendapat para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk membakarnya dengan api. Lalu Abu Bakar memerintahkan untuk membakarnya dengan api. Ia (perawi) berkata: dan Ibnu Zubair serta Hisyam bin Abdul Malik telah membakar mereka (para pelaku liwath).
Dengan sanad tersebut ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Qurasyi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Suwaid, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Zaidah dari Ibnu Abi Laila dari Yazid bin Qais bahwa Ali alaihissalam merajam seorang pelaku liwath. Dan telah diriwayatkan dari Umar bahwa ia berkata: “Barangsiapa melakukan perbuatan kaum Luth maka bunuhlah dia.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir dan Abdullah bin Ali, keduanya berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhammad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar al-Ajurri, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Makhlad, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq ash-Shaghani, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma’ruf, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ghassan bin Mudhar dari Sa’id bin Yazid, ia berkata: Ibnu Abbas ditanya tentang hukuman pelaku liwath, ia berkata: “Dilihat bangunan tertinggi di kampung lalu ia dilempar dari sana dengan kepala di bawah kemudian diikuti dengan batu-batuan.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Qadir bin Muhammad bin Yusuf, ia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Jauhari, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu al-Muzhaffar, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Haitsam bin Khalaf, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abbas bin Yazid, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ghassan, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Muslimah dari Abu Nadhrah, ia berkata: Ibnu Abbas ditanya tentang hukuman pelaku liwath, ia berkata: “Dilihat bangunan tertinggi di kampung lalu ia dilempar dari sana dengan kepala terbalik kemudian diikuti dengan batu-batuan.”
PENYEBUTAN PERKATAAN PARA TABIIN DAN ORANG-ORANG SESUDAH MEREKA TENTANG HAL ITU
Telah mengabarkan kepada kami al-Mubarak bin Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Abdul Wahid, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Ahmad as-Salmi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far al-Khara’ithi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ali bin Harb, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Waki’, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Jabir dari asy-Sya’bi, ia berkata: “Pelaku liwath dirajam, sudah menikah atau belum.”
Dengan sanad tersebut ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Khara’ithi, ia berkata: dan telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshur ar-Ramadi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ash-Shabbah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Shalih bin Kaisan dari az-Zuhri dari Sa’id bin al-Musayyab, ia berkata: “Atas pelaku liwath adalah rajam, sudah menikah atau belum.”
Ia berkata: dan telah menceritakan kepada kami Abbas ad-Duri, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Musa, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Hammad dari Ibrahim, ia berkata: “Hukuman pelaku liwath adalah hukuman pezina.” Sufyan berkata: dan telah menceritakan kepada kami Hammad dari Qatadah dari Jabir bin Zaid tentang pelaku liwath: “Dia dirajam.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Qadir bin Muhammad bin Yusuf, ia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Hasan bin Ali al-Jauhari, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Muzhaffar al-Hafizh, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Haitsam bin Khalaf ad-Duri, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin an-Nadhr, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah bin Amr, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr dari Sufyan dari Ibnu Abi Nujaih dari Atha’, ia berkata: “Hukuman pelaku liwath adalah hukuman pezina.”
Dan dari Sufyan dari Manshur dari Ibrahim, ia berkata: “Pelaku liwath hukumannya adalah hukuman pezina, jika sudah menikah dirajam dan jika tidak dicambuk.” Dengan sanad ini al-Haitsam berkata: dan telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Manshur, ia berkata: Mu’adz bin Hisyam berkata: dan ayahku menceritakan kepadaku dari Qatadah dari al-Hasan bahwa ia berkata tentang laki-laki yang menyetubuhi laki-laki: “Jika ia sudah menikah dicambuk dan dirajam, dan jika ia belum menikah dicambuk dan dibuang.”
Mu’adz berkata: dan ayahku menceritakan kepadaku dari Qatadah dari Jabir bin Zaid dan Ubaidillah bin Abdullah bin Mu’ammar bahwa keduanya berkata: “Atasnya adalah rajam jika ia sudah menikah dan jika belum.” Qatadah berkata: dan pendapat al-Hasan lebih aku sukai.
Qatadah berkata: dan al-Hasan berkata tentang laki-laki yang menyetubuhi hewan: “Jika ia sudah menikah dicambuk dan dirajam, dan jika belum menikah dicambuk dan dibuang.” Dengan sanad tersebut dari al-Haitsam, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa’id al-Kindi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Hammad bin Khalid dari Malik bin Anas dari az-Zuhri, ia berkata: “Dirajam, sudah menikah atau belum.” Dan demikian pula Rabi’ah dan Ibnu Hurmuz serta Malik berkata: “Dirajam, sudah menikah atau belum.” Az-Zuhri berkata: “Sunnah yang berlaku.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir dan Abdullah bin Ali, keduanya berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu al-Allaf, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Bisyran, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Ajurri, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin al-Abbas ath-Thayalisi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ishaq al-Kausaj, ia berkata: aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal: “Apakah pelaku liwath dirajam, sudah menikah atau belum?” Ia berkata: “Dirajam, sudah menikah atau belum.”
Ishaq bin Rahawaih berkata sebagaimana Ahmad berkata.
Dan telah diriwayatkan dari Ahmad bahwa hukuman pelaku liwath adalah seperti hukuman pezina, berbeda antara yang sudah menikah dan yang masih perawan. Ini adalah pendapat Abu Yusuf dan Muhammad.
Dari asy-Syafi’i ada seperti dua riwayat dari Ahmad.
Al-Hakam berkata: “Pelaku liwath dipukul di bawah hukuman had.” Dan kepada ini cenderung Abu Hanifah.
An-Nakha’i berkata: “Seandainya ada seseorang yang pantas dirajam dua kali, maka pelaku liwath pantas dirajam dua kali.”
Telah mengabarkan kepada kami Syahdah binti Ahmad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad as-Sarraj, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Aziz bin Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Ja’far ash-Shufi, ia berkata: aku mendengar al-Muwazini berkata: seorang laki-laki dari para jamaah haji berkata kepadaku: “Aku melewati negeri kaum Luth lalu aku mengambil sebuah batu dari yang mereka dirajam dengannya, lalu aku melemparkannya ke dalam tas dan masuk ke Mesir. Aku menginap di salah satu rumah di lantai tengah, dan di lantai bawah rumah ada anak muda (homoseksual). Maka aku mengeluarkan batu itu dari tasku dan meletakkannya di jendela kecil di ruangan. Anak muda yang di lantai bawah itu mengajak seorang bocah ke tempatnya dan berkumpul dengannya, lalu batunya jatuh mengenai anak muda itu dari jendela kecil dan membunuhnya.”
Telah mengabarkan kepada kami Syahdah, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Hasan Muhammad bin Utsman bin Makki, ia berkata: kakekku Abu al-Hasan Ahmad bin Abdullah bin Hamad mengabarkan kepadaku, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Abbas Ahmad bin Isa al-Wasyya al-Muqri, ia berkata: aku mendengar Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam berkata: aku mendengar Yunus bin Abdul A’la berkata: “Aku keluar berhaji ke Mekah, dan ketika malam Arafah imam yang membawa kami berhaji malam itu melihat mimpi. Ketika kami sampai ke Mekah setelah berakhirnya haji, kami mendengar penyeru menyeru di atas Hijir: ‘Diamlah wahai sekalian jamaah haji!’
Maka orang-orang diam, lalu ia berkata: ‘Wahai sekalian jamaah haji, sesungguhnya imam kalian bermimpi bahwa Allah azza wa jalla telah mengampuni setiap orang yang datang ke Baitullah tahun ini kecuali satu orang saja, karena ia berzina dengan seorang anak laki-laki.'”
Bab Kedua Puluh Delapan: Menyebutkan Siksa Pelaku Homoseksual Di Akhirat
Ahmad bin Manazil mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad Al-Khallal memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Abbas bin Ahmad Al-Hasyimi menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Ahmad bin Nuh menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abi Abdullah Asy-Sya’rani menceritakan kepada kami, ia berkata: Dawud bin Al-Muhabbir menceritakan kepada kami dari Abu Aisyah As-Sa’di dari Yazid bin Umar bin Abdul Aziz dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas, keduanya berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkhutbah kepada kami, maka beliau bersabda dalam khutbahnya: “Barang siapa menyetubuhi seorang wanita di duburnya, atau seorang anak laki-laki, atau seorang lelaki, ia akan dibangkitkan pada hari kiamat lebih busuk dari bangkai. Manusia akan berteriak memanggilnya hingga Allah memasukkannya ke dalam neraka Jahanam, dan Allah akan menggugurkan amalnya serta tidak menerima darinya tebusan dan pengganti apa pun. Ia akan dimasukkan ke dalam peti dari neraka dan dipaku dengan paku-paku dari besi neraka, lalu paku-paku itu akan dicabut mengenai wajahnya dan tubuhnya.” Abu Hurairah berkata: Ini bagi orang yang tidak bertobat.
Umar bin Hadiyyah Ash-Shawwaf mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ali bin Ahmad bin Bayyan memberitakan kepada kami, ia berkata: Abul Hasan bin Makhlad memberitakan kepada kami, ia berkata: Ismail bin Muhammad Ash-Shaffar memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Arafah memberitakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Tsabit Al-Juruzi menceritakan kepadaku dari Muslim bin Ja’far dari Hassan bin Humaid dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tujuh orang yang Allah tidak akan memandang mereka pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka, dan tidak akan mengumpulkan mereka bersama orang-orang yang beramal, mereka masuk neraka sebagai orang-orang yang pertama kali masuk kecuali jika mereka bertobat. Barang siapa yang bertobat, maka Allah akan menerima tobatnya: orang yang menyetubuhi tangannya sendiri, pelaku homoseksual aktif dan pasif, peminum khamr yang kecanduan, orang yang memukul kedua orang tuanya hingga mereka meminta tolong, orang yang menyakiti tetangganya hingga mereka melaknatnya, dan orang yang menyetubuhi istri tetangganya.”
Ahmad bin Manazil mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Khallal memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Abbas bin Ahmad Al-Hasyimi menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Ahmad bin Nuh menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Yunus menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Hayyan menceritakan kepada kami, ia berkata: Rauh bin Musafir memberitakan kepada kami dari Hammad dari Ibrahim dari Alqamah dari Abdullah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kedua pelaku homoseksual, seandainya mereka mandi dengan air laut, itu tidak akan mencukupi bagi mereka kecuali jika mereka bertobat.”
Abu Manshur bin Abdurrahman Al-Qazzaz mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ja’far bin Hamdan mengabarkan kepadaku, ia berkata: Abu Bakar Muhammad bin Ahmad Al-Qadhi menceritakan kepada kami, ia berkata: Muslim bin Isa menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami dari Suhail dari Anas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa mati dari umatku melakukan perbuatan kaum Luth, Allah akan memindahkannya kepada mereka hingga ia dibangkitkan bersama mereka.”
Abdullah bin Ali dan Muhammad bin Nashir mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Tharad bin Muhammad memberitakan kepada kami, ia berkata: Abul Husain bin Bisyran memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Husain bin Shafwan menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Al-Qurasyi menceritakan kepada kami, ia berkata: Suwaid bin Sa’id menceritakan kepada kami, ia berkata: Muslim bin Khalid menceritakan kepada kami dari Ismail bin Katsir dari Mujahid, ia berkata: Seandainya orang yang melakukan perbuatan itu, maksudnya perbuatan kaum Luth, mandi dengan setiap tetes air di langit dan setiap tetes air di bumi, ia tetap akan najis.
Ibnu Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abdul Qadir bin Muhammad bin Yusuf memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Jauhari memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Al-Muzhaffar menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Haitsam bin Khalaf memberitakan kepada kami, ia berkata: Abbad bin Al-Walid Al-Ghanawi menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Ibrahim bin Sya’s berkata: Aku mendengar Al-Fudhail bin Iyadh berkata: Seandainya pelaku homoseksual mandi dengan setiap tetes air dari langit, ia akan menemui Allah dalam keadaan tidak suci.
Ibnu Manazil mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Khallal memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Abbas bin Ahmad Al-Hasyimi menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Ahmad bin Nuh menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ar-Rahman menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ayyub bin Sulaiman menceritakan kepada kami dari Thalhah bin Zaid dari Burd bin Sinan dari Abul Munayyib dari Abdullah bin Amr, ia berkata: Para pelaku homoseksual akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam bentuk kera dan babi.
Ibnu Manazil mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Khallal memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Abbas Al-Hasyimi menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Yahya Al-Azdi menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Nushair menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa’dan bin Amr Al-Mu’afiri menceritakan kepada kami dari Abush Shahba’ dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata: Barang siapa yang keluar dari dunia dalam suatu keadaan, ia akan keluar dari kuburnya dalam keadaan itu, hingga sesungguhnya pelaku homoseksual akan keluar dengan kemaluannya tergantung di dubur pasangannya, dalam keadaan mempermalukan diri di hadapan semua makhluk pada hari kiamat.
Bab Kedua Puluh Sembilan: Peringatan Dari Siksa-Siksa
Ketahuilah bahwa siksa berbeda-beda, terkadang disegerakan dan terkadang ditunda, terkadang terlihat jejaknya dan terkadang tersembunyi.
Siksa yang paling aneh adalah yang tidak dirasakan oleh orang yang disiksa, dan yang paling keras adalah siksa berupa pencabutan iman dan ma’rifat. Di bawah itu adalah matinya hati, hilangnya kelezatan bermunajat kepada-Nya, menguatnya keserakahan terhadap dosa, lupa Al-Quran, mengabaikan istighfar, dan hal-hal sejenis yang bahayanya dalam agama.
Terkadang siksa merayap di batin seperti merayapnya kegelapan hingga ufuk hati penuh dan mata batin menjadi buta.
Siksa yang paling ringan adalah yang menimpa tubuh di dunia. Terkadang siksa atas penglihatan ada pada mata. Barang siapa mengetahui dari dirinya dosa-dosa yang mengharuskan siksa, hendaklah ia segera mendahului turunnya siksa dengan tobat yang jujur, semoga ia dapat menolak apa yang akan ditolak.
Ibnu Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Sawar memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Muhammad Al-Jundi memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Sulaiman memberitakan kepada kami, ia berkata: Salamah bin Syabib menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Ma’mar memberitakan kepada kami dari Ayyub dari Abu Qilabah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Kebaikan tidak akan usang, dosa tidak akan dilupakan, dan Yang Maha Membalas tidak akan tidur. Maka jadilah sesukamu, sebagaimana kamu berbuat, demikian pula kamu akan dibalas.”
Ahmad bin Ahmad Al-Mutawakkili mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Al-Khatib memberitakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Al-Qasim Asy-Syahid memberitakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Ishaq Al-Madara’i menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Mufadhdhal bin Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ishaq bin Ibrahim Ath-Thabari menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Fudhail bin Iyadh berkata: Allah Azza wa Jalla berfirman: Wahai anak Adam, jika Aku bolak-balikkan kamu dalam nikmat-Ku sementara kamu berpindah-pindah dalam maksiat kepada-Ku, maka berhati-hatilah jangan sampai Aku merobohkan kamu di antara maksiat-maksiatmu. Wahai anak Adam, takutlah kepada-Ku dan tidurlah di mana pun kamu mau. Sesungguhnya jika kamu mengingat-Ku, Aku akan mengingatmu, dan jika kamu melupakan-Ku, Aku akan melupakanmu. Waktu yang kamu tidak mengingat-Ku di dalamnya, itu adalah waktu yang merugikanmu, bukan menguntungkanmu.
Muhammad bin Abi Manshur mengabarkan kepada kami, ia berkata: Hamid bin Ahmad memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Nu’aim menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Salamah Muhammad bin Hayyan menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Muhammad bin Al-Abbas menceritakan kepada kami, ia berkata: Sahl yaitu Ibnu Hasyim menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Ibrahim bin Adham berkata: Aku mendengar Fudhail berkata: Tidakkah kamu takut bahwa kamu telah berhadapan dengan Allah dengan suatu amalan yang Dia membencimu karenanya, lalu Dia menutup pintu-pintu ampunan bagimu sementara kamu tertawa? Bagaimana menurutmu keadaanmu?
Ahmad bin Ali bin Al-Mujalla mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Ahmad bin Ali Al-Khatib memberitakan kepada kami, ia berkata: Abul Husain bin Bisyran memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Shafwan menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Al-Qurasyi menceritakan kepada kami, ia berkata: Mujahid bin Musa menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Walid bin Muslim menceritakan kepada kami, ia berkata: Tsaur menceritakan kepada kami dari Khalid bin Ma’dan dari Jubair bin Nufair, ia berkata: Ketika kaum muslimin menaklukkan Siprus, mereka memisahkan antara penduduknya, lalu sebagian dari mereka menangis kepada sebagian yang lain. Maka Abu Ad-Darda menangis. Aku berkata kepadanya: Apa yang membuatmu menangis di hari yang Allah memuliakan Islam dan ahlinya serta menghinakan syirik dan ahlinya?
Ia berkata: Biarkanlah kami darimu wahai Jubair. Betapa remehnya makhluk di hadapan Allah jika mereka meninggalkan perintah-Nya. Ketika suatu umat berkuasa dan mampu, namun mereka meninggalkan perintah Allah Ta’ala, maka mereka menjadi seperti yang kamu lihat.
Ibnu Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abdul Qadir bin Yusuf memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad Al-Jauhari memberitakan kepada kami, ia berkata: Abul Fadhl Az-Zuhri menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman bin Al-Hasan Adz-Dzahabi menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Manshur Ar-Ramadi menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Al-Mutsanna menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Quddus menceritakan kepada kami, ia berkata: Hisyam menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Sirin pernah bersedih, lalu dikatakan kepadanya: Wahai Abu Bakar, apa kesedihan ini? Ia berkata: Ini adalah kesedihan karena dosa yang aku lakukan empat puluh tahun yang lalu.
Kami telah menyebutkan dalam bab siksa pandangan kisah orang yang memandang seorang anak lalu lupa Al-Quran setelah empat puluh tahun.
Ahmad bin Ali Al-Mujalli memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitakan kepada kami, ia berkata: Abul Husain bin Bisyran memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Shafwan menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Al-Qurasyi menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Sa’id menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Usamah menceritakan kepada kami dari Mis’ar dari Alqamah bin Martsad, ia berkata: Ketika seorang laki-laki sedang thawaf mengelilingi Ka’bah, tiba-tiba lengan seorang wanita terlihat, lalu ia meletakkan lengannya pada lengan wanita itu untuk bersenang-senang dengannya. Maka kedua lengan mereka melekat. Ia mendatangi salah seorang syaikh, maka ia berkata: Kembalilah ke tempat di mana kamu melakukan ini, lalu berjanji kepada Rabb Baitullah bahwa kamu tidak akan mengulanginya. Maka ia melakukannya, lalu dilepaskanlah darinya.
Al-Qurasyi berkata: Dan Khalid bin Ma’dan bin Khaddasy menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Awanah menceritakan kepada kami dari Abu Basyir dari Ibnu Abi Nujaih bahwa Asaf dan Nailah adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan yang berhaji dari Syam, ia menciumnya saat mereka sedang thawaf, maka mereka diubah bentuknya menjadi dua batu. Keduanya tetap berada di Masjidil Haram hingga Islam datang, lalu keduanya dikeluarkan.
Muhammad bin Abi Manshur mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Jauhari memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Imran Al-Marzbani memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah bin Makhlad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Abdawaih menceritakan kepadaku, ia berkata: Yahya bin An-Nadhr bin Junaid menceritakan kepadaku, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Al-Muqattil Al-Aqili menceritakan kepadaku, ia berkata: Kami berbincang-bincang di padang pasir bahwa Majnun Bani Amir ketika ia berkata:
Dia menentukan takdirnya untuk orang lain dan menguji aku dengan cintanya Mengapa bukan dengan sesuatu selain Laila Dia menguji aku?
Penglihatannya hilang.
Bab Ketiga Puluh: Dorongan Untuk Bertobat Dan Beristighfar
Hibatullah bin Muhammad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Ali memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepadaku, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Yahya bin Sa’id menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami. Dan Abdul Awwal mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ad-Dawudi memberitakan kepada kami, ia berkata: As-Sarakhsi memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Khurim memberitakan kepada kami, ia berkata: Abd bin Humaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Aun menceritakan kepada kami, ia berkata: Mis’ar memberitakan kepada kami. Keduanya berkata: Amr bin Murrah menceritakan kepada kami dari Abu Burdah dari Al-Agharr dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Wahai manusia, bertobatlah kepada Rabb kalian, sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.”
Lafazh dari Ahmad. Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Muslim.
Dengan sanad yang sama, Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Yunus menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammad bin Zaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Tsabit menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Burdah menceritakan kepada kami dari Al-Agharr Al-Muzani, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya hatiku tertutup, dan sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah seratus kali dalam sehari.”
Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Muslim. Al-Agharr tidak memiliki hadits lain dalam Shahih. Mungkin ada yang mengira bahwa Al-Agharr ini adalah yang disebutkan dalam hadits sebelumnya, dan bukan demikian. Yang ini adalah sahabat, sedangkan yang itu adalah tabiin.
Dengan sanad yang sama, Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Numair menceritakan kepada kami dari Malik bin Mighwal dari Muhammad bin Suqah dari Nafi’ dari Ibnu Umar, ia berkata: Sesungguhnya kami menghitung bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam suatu majelis: “Ya Rabb, ampunilah aku dan terimalah tobatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Tobat lagi Maha Pengampun” seratus kali. At-Tirmidzi berkata: Ini adalah hadits shahih.
Ibnul Hashin mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnul Madzhab memberitakan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad memberitakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami dari Ibrahim At-Taimi dari Al-Harits bin Suwaid dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla lebih gembira dengan tobat salah seorang dari kalian daripada seorang laki-laki yang keluar ke padang pasir yang membinasakan bersama untanya yang di atasnya ada makanannya, minumannya, bekalnya, dan segala yang ia perlukan, lalu ia kehilangan untanya. Ia keluar mencarinya hingga ketika kematian menjemputnya dan ia tidak menemukannya, ia berkata: Aku akan kembali ke tempatku di mana aku kehilangan untaku lalu aku akan mati di sana. Maka ia mendatangi tempatnya, lalu matanya tertutup. Ia terbangun dan mendapati untanya ada di dekat kepalanya dengan makanannya, minumannya, bekalnya, dan segala yang ia perlukan.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya. Makna ini telah diriwayatkan dari hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melalui Al-Bara’ bin Azib, An-Nu’man bin Basyir, Abu Hurairah, dan Anas bin Malik.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Al-Hushain, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Al-Madzhab, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar bin Malik, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, dia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Adi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Husain Al-Mu’allim dari Abdullah bin Yazid dari Busyair bin Ka’ab dari Syaddad bin Aus, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Penghulu istighfar adalah: Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada tuhan selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perjanjian dan janji-Mu sesuai kesanggupanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau. Barangsiapa mengucapkannya setelah pagi hari dengan yakin kepadanya lalu meninggal pada hari itu, maka dia termasuk penduduk surga. Dan barangsiapa mengucapkannya setelah petang hari dengan yakin kepadanya lalu meninggal pada malam itu, maka dia termasuk penduduk surga. Hanya Bukhari yang mengeluarkan hadits ini.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abdul Wahid, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Al-Madzhab, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Malik, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, dia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Salamah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Laits dari Yazid bin Al-Hadi dari Amru bin Abi Sa’id Al-Khudri, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Iblis berkata kepada Tuhannya ‘Azza wa Jalla: Demi kemuliaan-Mu dan keagungan-Mu, aku tidak akan berhenti menyesatkan anak Adam selama roh masih ada dalam diri mereka. Maka Tuhannya ‘Azza wa Jalla berfirman kepadanya: Demi kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku, Aku tidak akan berhenti mengampuni mereka selama mereka memohon ampun kepada-Ku.
Telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahhab bin Al-Mubarak, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin An-Nuqur, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Isa bin Ali bin Isa, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Baghawi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Kamil bin Thalhah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihran dari Ibnu Abbas bahwa seorang laki-laki datang kepada Umar bin Al-Khaththab lalu berkata: Sesungguhnya seorang perempuan datang untuk menjual kepadaku, lalu aku memasukkannya ke dalam kamar dan aku melakukan segala sesuatu terhadapnya kecuali persetubuhan. Umar berkata: Mungkin dia sedang ditinggal suaminya yang berjihad di jalan Allah? Dia menjawab: Benar. Umar berkata: Datanglah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata seperti itu kepada beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: Mungkin dia sedang ditinggal suaminya yang berjihad di jalan Allah? Dia menjawab: Benar. Lalu beliau diam tentang hal itu dan turunlah Al-Quran: “Dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam” (Surat Hud, ayat 114) hingga akhir ayat. Maka laki-laki itu berkata: Apakah ini khusus untukku atau untuk semua manusia? Maka Umar memukul dadanya dengan tangannya dan berkata: Tidak, dan bukan pula kegembiraan mata, tetapi untuk semua manusia. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa dan berkata: Umar benar.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Mubarak bin Abdul Jabbar, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibrahim bin Umar Al-Barmaki, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Al-Husain Abdullah bin Ibrahim Az-Zainabi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Lahi’ah dari Abu Qabil dari Malik bin Abi An-Nasyiri bahwa dia mendengar Abdullah bin Umar berkata: Barangsiapa mengingat kesalahan yang telah diperbuatnya lalu hatinya gemetar karenanya dan dia memohon ampun kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka tidak ada sesuatu pun yang menahannya hingga dosa itu terhapus. Dan kami telah meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa dia berkata: Sesungguhnya aku mengetahui dua ayat, tidaklah seorang hamba membacanya ketika melakukan dosa lalu memohon ampun kepada Allah kecuali dia diampuni, yaitu firman-Nya: “Dan barangsiapa berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya” (Surat An-Nisa, ayat 110) hingga akhir ayat, dan firman-Nya: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji” (Surat Ali Imran, ayat 135) hingga akhir ayat.
Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Muhammad Al-Mutawakkili, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ali, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Sa’id Ibnu Shadzan, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah Ash-Shaffar, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Qurasyi, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Sa’id, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Salim Al-Atki, dia berkata: Aku mendengar Bakar bin Abdullah Al-Muzani berkata: Sesungguhnya amal-amal anak Adam diangkat, maka apabila diangkat lembaran yang di dalamnya terdapat istighfar, ia diangkat dengan putih bersih. Dan apabila diangkat lembaran yang tidak ada istighfar di dalamnya, ia diangkat dengan hitam.
Berkata Al-Qurasyi: dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-Husain, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Khalid bin Yazid dari Hazim bin Abi Husain dari Malik bin Dinar, dia berkata: Menangis atas kesalahan dapat menghapuskan kesalahan-kesalahan sebagaimana angin menghapuskan dedaunan yang kering.
Berkata Muhammad bin Al-Husain: dan telah menceritakan kepadaku Yahya bin Abi Bukair, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Imarah bin Dzadzan Ash-Shaidalani, dia berkata: Aku mendengar Yazid Ar-Raqasyi berkata: Telah sampai kepadaku bahwa barangsiapa menangis atas salah satu dosanya, maka kedua malaikat penjaganya melupakan dosa tersebut.
Telah mengabarkan kepada kami Umar bin Zhafar, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Ali, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah Ash-Shufi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Harun, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Thahir bin Isma’il, dia berkata: Aku mendengar Yahya bin Mu’adz berkata: Yang menghalangi manusia dari taubat adalah panjang angan-angan, dan tanda orang yang bertaubat adalah air mata yang terus mengalir, mencintai kesendirian, dan menghisab diri pada setiap keinginan.
Aku mendengar Zhafar bin Ali Al-Hamdani berkata: Aku mendengar Abu Al-Fath Muhammad bin Ahmad Al-Mu’allim berkata: Aku mendengar Abu Zur’ah Ruh bin Ali Al-Busti berkata: Aku mendengar Al-Hasan bin Ali At-Tamimi berkata: Aku mendengar Ali bin Muhammad bin Al-Ala’ berkata: Aku mendengar Yahya bin Mu’adz Ar-Razi berkata: Orang yang merugi adalah orang yang menyia-nyiakan hari-harinya dengan kebatilan, mengarahkan anggota tubuhnya kepada kebinasaan, dan mati sebelum sadar dari kejahatan-kejahatannya.
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul Malik, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Al-Hasan bin Khairun, dia berkata: Aku mendengar Ahmad bin Abdullah Al-Harbi berkata: Aku mendengar Abu Bakar An-Najjad berkata: Barangsiapa mencela manusia, maka teman-temannya akan sedikit. Barangsiapa mencela dosanya sendiri, maka tangisannya akan panjang. Dan barangsiapa mencela makanannya, maka laparnya akan panjang.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Zhafar, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu As-Sarraj, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Azaji, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Jahdham, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Mufid, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sahl dari Mudhar bin Jarir, dia berkata: Aku masuk menemui Abu Al-Hajjaj Al-Jurjani pada suatu hari lalu aku berbicara kepadanya tetapi dia tidak berbicara kepadaku. Maka aku berkata kepadanya: Engkau dalam kesempitan jika ada ilmu padamu kecuali yang engkau ajarkan kepadaku.
Maka dia berkata kepadaku: Apakah engkau bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan suatu kemaksiatan? Aku menjawab: Ya. Dia berkata: Apakah itu dicatat atasmu dan diangkat kepada Allah ‘Azza wa Jalla? Aku menjawab: Ya. Dia berkata: Apakah engkau tahu bahwa Dia mengampuninya? Aku menjawab: Tidak. Dia berkata: Lalu apa gunanya engkau duduk dan diam? Pergilah dan menangislah atas dirimu sendiri selama hidup hingga engkau tahu bagaimana keadaanmu di sisi-Nya dalam kemaksiatan ini. Berkata: Kemudian Mudhar menangisi hal ini selama tiga puluh tahun karena ketakutan hingga dia meninggal.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar Asy-Syirazi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Abdurrahman, dia berkata: Aku mendengar Manshur bin Abdullah berkata: Aku mendengar Abu Ali Ar-Rudzabadi berkata: Termasuk kekeliruan adalah jika engkau berbuat buruk lalu Dia berbuat baik kepadamu, namun engkau meninggalkan pertaubatan dan taubat dengan sangkaan bahwa engkau akan diberi toleransi dalam kesalahan-kesalahan.
Bab Tiga Puluh Satu: Tentang Berbangga dengan Menjaga Kehormatan
Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ahmad Al-Mutawakkili dan Abdurrahman bin Muhammad Al-Qazzaz, keduanya berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Ahmad bin Al-Musallimah, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Isma’il bin Sa’id bin Suwaid, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Ali Al-Kaukabi, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Ishaq Al-Bashri, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Ali bin Ash-Shabbah, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Hisyam bin Muhammad dari Awanah bin Al-Hakam, dia berkata: Abdul Muththalib tidak pernah bepergian kecuali bersama anaknya Al-Harits, dan dia adalah anak tertuanya. Dia mirip dengannya dalam kecantikan dan kebaikan. Lalu dia pergi ke Yaman dan biasa duduk-duduk bersama salah seorang pembesar mereka. Maka orang itu berkata kepadanya: Seandainya engkau memerintahkan anakmu ini untuk duduk bersamaku dan menemani aku.
Maka istri orang itu jatuh cinta kepada Al-Harits dan berkirim surat kepadanya, tetapi dia menolaknya. Perempuan itu terus mendesaknya, maka dia mengirim surat kepadanya:
Janganlah berharap pada apa yang ada padaku, karena sesungguhnya aku Mulia dalam persahabatanku, menjaga kehormatanku Aku berusaha meraih kemuliaan kaum yang dibangun oleh Amru, penghuni Baitullah di Al-Masy’ar Tahanlah malumu dan ketahuilah bahwa aku seorang laki-laki Yang enggan bagi diriku untuk dicela kaumku Bagaimana mungkin aku menodai tetanggaku atau mertuaku Atau dikatakan aku terpikat oleh istri orang Himyar
Dan dia mengabarkan hal itu kepada ayahnya. Ketika perempuan itu putus asa darinya, dia memberinya minum racun sebulan. Maka Abdul Muththalib berangkat pulang hingga ketika sampai di Mekah, Al-Harits meninggal.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Mubarak bin Abdul Jabbar, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Jauhari, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Huwaiyah, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Al-Marzuban dengan ijazah, dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Huwaits dari dia, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi As-Sirri, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Muhammad dari ayahnya, dia berkata: Abdul Muththalib bin Hasyim apabila datang ke Yaman, dia singgah di tempat salah seorang rajanya. Dan sesungguhnya dia datang pada suatu waktu lalu singgah di tempat salah seorang rajanya sebagaimana yang biasa dia lakukan. Maka raja itu mengirim utusan kepadanya agar menemaninya dan berbincang-bincang dengannya. Abdul Muththalib tidak minum minuman keras. Lalu raja itu mengirim utusan kepadanya: Kirimkanlah Al-Harits kepada kami agar berbincang-bincang dengan kami. Maka Abdul Muththalib mengirimnya. Ketika dia datang, istri raja melihatnya lalu jatuh cinta kepadanya dan berkirim surat kepadanya menginginkan dirinya, tetapi dia menolak melakukan itu dan menjaga kehormatannya. Maka perempuan itu memberinya minum racun sebulan.
Berkata Al-Kalbi: Para raja memiliki racun untuk setahun, untuk sebulan, untuk sehari, dan untuk sejam.
Maka Al-Harits jatuh sakit karenanya lalu Abdul Muththalib pulang membawanya ke Mekah. Ketika hampir memasuki Mekah, Al-Harits meninggal. Lalu dia membawanya masuk ke Mekah dan menguburkannya. Abdul Muththalib meratapi dia dalam sebuah qasidah:
Dan Al-Harits yang dermawan adalah pemimpinku yang mulia Di hari-hari dia merebut cawan dari pemberi minum
Dan kami telah meriwayatkan dari Abu Sufyan bin Al-Harits, dan dialah yang telah disebutkan kisahnya, bahwa ketika kematian mendatanginya, dia berkata kepada keluarganya: Janganlah kalian menangisi aku, karena sesungguhnya aku tidak pernah melakukan kesalahan sedikitpun sejak aku masuk Islam.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Mahfuzh bin Ahmad. Dan telah mengabarkan kepada kami Syahdah binti Ahmad, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad Ibnu As-Sarraj, keduanya berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Al-Husain Al-Jaziri, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Mu’afa bin Zakariya, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hafs Al-Aththar, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Abi Rasyid bin Sulaiman Al-Adami, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Utsman Ats-Tsaqafi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Mufadhdhal bin Fadhalah dari Muhammad bin Sirin dari Ubaidah As-Salmani, dia berkata: Di masa Jahiliyah ada dua saudara dari suatu kabilah yang disebut Bani Kanah, salah satunya sudah menikah dan yang lain masih bujangan. Terjadilah bahwa yang sudah menikah pergi dalam salah satu kepergian manusia, dan yang satunya lagi tinggal bersama istri saudaranya.
Pada suatu hari perempuan itu keluar tanpa tutup kepala, dan ternyata dia adalah orang yang paling cantik wajahnya dan paling bagus rambutnya. Ketika dia tahu bahwa laki-laki itu telah melihatnya, dia melolong dan berteriak sambil menutupi wajahnya dengan gelang tangannya. Hal itu justru menambah fitnah bagi laki-laki itu. Cinta membakar tubuhnya hingga tidak tersisa kecuali kepalanya dan kedua matanya yang berputar di kepalanya.
Ketika saudaranya pulang, dia berkata: Wahai saudaraku, apa yang aku lihat padamu? Maka dia berbohong kepadanya. Dia berkata: Asy-Syawshah. Berkata: Orang Arab menyebutnya Al-Lawa dan Dzat Al-Janb (penyakit radang selaput dada). Maka sepupu mereka berkata kepadanya: Janganlah dia membohongimu. Utuslah memanggil Al-Harits bin Kaldah, karena dia termasuk tabib paling pandai di kalangan Arab. Maka dia didatangkan. Lalu dia meraba nadinya, dan ternyata yang tenang tenang, yang berdenyut berdenyut. Maka dia berkata: Tidak ada penyakit pada saudaramu selain cinta. Laki-laki itu berkata: Maha Suci Allah, apakah engkau mengatakan ini untuk orang yang hampir mati? Dia berkata: Begitulah adanya. Apakah kalian punya minuman? Maka didatangkanlah. Dia meminta corong, lalu menuangkan di dalamnya, membuka salah satu bungkusan obatnya dan menaburkannya di dalamnya, lalu memberinya minum. Kemudian memberinya minum yang kedua. Kemudian memberinya minum yang ketiga. Maka laki-laki itu mabuk dan bernyanyi dalam keadaan mabuk, maka dia berkata:
Singgahlah kepadaku di rumah-rumah Dari Khaif yang kuikat Seekor rusa yang belum pernah aku lihat hari ini Di rumah Bani Kanah Rusa bermata indah Dan dalam ucapannya ada kelembutan
Maka laki-laki itu berkata: Rumah kaum kami! Aku ingin tahu siapa dia? Al-Harits berkata: Tidak ada yang mendengar selain hari ini, tetapi aku akan datang lagi kepada kalian besok.
Maka dia melakukan seperti yang dilakukannya kemarin. Laki-laki itu mabuk dan bernyanyi dalam keadaan mabuk. Adapun istri saudaranya bernama Riya, maka dia berkata:
Wahai kaum, selamatkanlah diri kalian Agar kalian hidup dan selamat Keluar awan dari laut Riya menggelegar Dialah iparku Dan dia mengira bahwa aku adalah iparnya
Maka laki-laki itu berkata kepada orang-orang yang hadir: Aku menjadikan kalian saksi bahwa dia dicerai tiga kali, agar hati saudaraku kembali, karena perempuan bisa didapatkan tetapi saudara tidak bisa didapatkan.
Maka orang-orang datang berlarian: Selamat untukmu wahai Abu Fulan, karena sesungguhnya Fulan telah melepaskan Fulanah untukmu. Maka dia berkata kepada orang-orang yang hadir: Aku menjadikan kalian saksi bahwa dia bagiku seperti ibuku jika aku menikahinya.
Berkata Ubaidah: Aku tidak tahu mana di antara kedua laki-laki itu yang lebih mulia, yang pertama atau yang kedua.
Ismail bin Ahmad memberitakan kepada kami, ia berkata Muhammad bin Hibatullah At-Thabari memberitakan kepada kami, ia berkata Muhammad bin Al-Husain bin Al-Fadhl memberitakan kepada kami, ia berkata Abdullah bin Ja’far bin Durustawaih memberitakan kepada kami, ia berkata Ya’qub bin Sufyan memberitakan kepada kami, ia berkata Nuh bin Al-Haitsam Al-‘Asqalani menceritakan kepada kami, ia berkata Al-Walid bin Abdullah bin Nafi’ bin Duraid menceritakan kepada kami dari ayahnya, ia berkata: Urwah bin Az-Zubair datang menemui Al-Walid bin Abdul Malik, lalu keluar di kakinya luka yang memakan (daging). Para dokter bersepakat untuk memotongnya, dan jika tidak dilakukan, luka itu akan membunuhnya. Maka ia mengirim (utusan) kepada Al-Walid meminta agar mengirimkan para dokter kepadanya. Al-Walid mengirimku bersama mereka kepadanya. Para dokter berkata, “Kami akan memberimu obat tidur.” Ia berkata, “Untuk apa?” Mereka berkata, “Agar kamu tidak merasakan apa yang dilakukan padamu.” Ia berkata, “Silakan saja kalian mengerjakan (tugas kalian) padanya.”
Ia berkata: Mereka memotong betisnya dengan gergaji. Ia berkata: Anggota demi anggota tidak bergerak sama sekali hingga mereka selesai memotongnya, kemudian mereka membakarnya (untuk menghentikan pendarahan). Ketika ia melihatnya di tangan mereka, ia mengambilnya dan berkata, “Segala puji bagi Allah. Demi (Allah) Yang membawaku padamu, sesungguhnya Dia tahu bahwa aku tidak pernah melangkahkanmu menuju yang haram sama sekali.”
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ia berkata, “Sesungguhnya yang menenangkan hatiku tentangmu adalah bahwa aku tidak pernah memindahkanmu untuk bermaksiat kepada Allah sama sekali.”
Abdul Wahhab dan Muhammad bin Nashir memberitakan kepada kami, keduanya berkata Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, ia berkata Al-Hasan bin Ali Al-Jauhari memberitakan kepada kami, ia berkata Muhammad bin Abdurrahim Al-Mazini memberitakan kepada kami, ia berkata Abu Bakar bin Al-Anbari menceritakan kepada kami, ia berkata Muhammad bin Al-Marzuban menceritakan kepada saya, ia berkata Abu Bakar Al-‘Amiri menceritakan kepada kami, ia berkata Ali bin Muhammad yaitu Al-Mada’ini menceritakan kepada kami, ia berkata Abu Abdurrahman Al-‘Ajlani menceritakan kepadaku dari Ibnu Sahl bin Sa’d As-Sa’idi, ia berkata: Aku berada di Syam, lalu ada yang berkata kepadaku, “Apakah kamu mau (menemui) Jamil karena dia sedang sekarat?” Ia berkata: Aku menemuinya saat ia sedang menghadapi kematian, tidak terbayang bagiku bahwa kematian begitu menyusahkannya. Ia berkata kepadaku, “Wahai Ibnu Sa’d, apa pendapatmu tentang seorang laki-laki yang tidak pernah menumpahkan darah yang haram sama sekali, tidak pernah meminum khamr sama sekali, tidak pernah berzina sama sekali, bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah sejak lima puluh tahun yang lalu?”
Aku berkata, “Siapa ini? Aku yakin ia pasti selamat.” Allah Ta’ala berfirman: Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara apa yang dilarang kepadamu, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia. “Apakah kamu maksudkan dirimu sendiri?”
Ia berkata, “Ya.” Aku berkata, “Bagaimana bisa sedangkan kamu telah memuji-muji Butsainah selama dua puluh tahun?”
Ia berkata, “Ini adalah waktu terakhir dari waktu-waktu dunia dan waktu pertama dari waktu-waktu akhirat. Maka tidak akan aku dapatkan syafaat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam jika aku pernah meletakkan tanganku padanya untuk hal yang meragukan sama sekali, dan paling banyak yang aku peroleh darinya hanyalah aku mengambil tangannya lalu meletakkannya di hatiku, maka aku merasa tenang karenanya.”
Kemudian ia pingsan dan sadar, lalu melantunkan syair:
Kabar kematian berteriak dan tidak menyamarkan (nama) Jamil / Dan ia berdiam di Mesir, tinggal tanpa kembali
Sungguh aku telah menyeret kain (berjalan bebas) di Lembah Al-Qura / Dalam keadaan gembira di antara kebun-kebun dan pohon-pohon kurma
Bangunlah Butsainah, ratapilah dengan tangisan keras / Dan tangisi kekasihmu sebelum semua kekasih
Kemudian ia pingsan dan meninggal dunia.
Ibnu Sahl namanya adalah ‘Iyyasy.
Al-Mubarak bin Ali memberitakan kepada kami, ia berkata Ali bin Muhammad bin Al-‘Allaf memberitakan kepada kami, ia berkata Abdul Malik bin Bisyran memberitakan kepado kami, ia berkata Ahmad bin Ibrahim Al-Kindi memberitakan kepada kami, ia berkata Abu Bakar Muhammad bin Ja’far Al-Khara’ithi memberitakan kepada kami, ia berkata Ismail bin Ahmad bin Mu’awiyah Al-Bahili menceritakan kepada kami dari ayahnya dari Al-Ashma’i dari Abu Sufyan bin Al-‘Ala’, ia berkata: Ats-Tsuraiya melihat Umar bin Abi Rabi’ah sedang thawaf mengelilingi Ka’bah, lalu ia menyamar dan di tangannya ada khaluq (pewangi kuning). Ia mendesak (mendekatinya) hingga khaluq itu menempel di pakaiannya. Orang-orang berkata, “Wahai Abu Al-Khaththab, ini bukan pakaian orang yang berihram.”
Maka ia melantunkan syair:
Semoga Allah Tuhan Musa dan Isa / Memasukkan ke surga Firdaus orang yang menuangkan khaluq kepadaku
Ia mengusapkan tangannya di kerah bajuku / Ketika kami thawaf di Ka’bah, usapan yang lembut
Abdullah bin Umar berkata kepadanya, “Apakah seperti ini ucapan yang kamu katakan di tempat ini?” Ia berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdurrahman, kamu telah mendengar dariku apa yang kamu dengar. Demi Tuhan Bangunan (Ka’bah) ini, aku tidak pernah melepas kain sarungku untuk yang haram sama sekali.”
Muhammad bin Adh-Dhahhak meriwayatkan bahwa ketika Umar bin Abi Rabi’ah sakit menjelang kematian, saudaranya Al-Harits bersedih atasnya. Umar berkata kepadanya, “Wahai saudaraku, jika kesedihanmu karena apa yang kamu dengar dari ucapanku ‘aku berkata kepadanya dan ia berkata kepadaku’, maka setiap budak yang kumiliki adalah merdeka jika aku pernah membuka (melihat) aurat yang haram sama sekali.”
Al-Harits berkata, “Segala puji bagi Allah, kamu menenangkan hatiku.”
Al-Mubarak bin Ali memberitakan kepada kami, ia berkata Ibnu Al-‘Allaf memberitakan kepada kami, ia berkata Abdul Malik bin Bisyran memberitakan kepada kami, ia berkata Ahmad bin Ibrahim Al-Kindi memberitakan kepada kami, ia berkata Abu Bakar Al-Khara’ithi memberitakan kepada kami, ia berkata Ismail bin Abi Hasyim menceritakan kepadaku, ia berkata Abdullah bin Abi Al-Laits menceritakan kepada kami, ia berkata Abdul Malik bin Marwan berkata kepada Laila Al-Akhyaliyyah, “Demi Allah, apakah pernah terjadi antara kamu dan Taubah sesuatu yang buruk?” Ia berkata, “Demi (Allah) Yang mengambil nyawanya dan Dia berkuasa atas hilangnya nyawaku, tidak pernah terjadi sesuatu yang buruk antara aku dan dia sama sekali, kecuali bahwa ia datang dari bepergian lalu berjabat tangan denganku dan meremas tanganku, maka aku menduga ia bermaksud untuk sesuatu.”
Ia berkata, “Lalu apa maksud (syair):
Dan orang yang punya hajat, kami katakan kepadanya: jangan ungkapkan itu / Karena tidak ada jalan untuknya selama kamu hidup
Kami punya teman yang tidak pantas kami khianati / Dan kamu adalah kekasih bagi yang lain, sejauh yang kuketahui”
Ia berkata, “Tidak, demi (Allah) Yang mengambil nyawanya, ia tidak pernah berbicara denganku dengan perkataan buruk sama sekali hingga kematian memisahkan antara aku dan dia.”
Al-Mubarak bin Ali memberitakan kepada kami, ia berkata Ibnu Al-‘Allaf memberitakan kepada kami, ia berkata Abdul Malik bin Bisyran memberitakan kepada kami, ia berkata Ahmad bin Ibrahim memberitakan kepada kami, ia berkata Abu Bakar Al-Khara’ithi memberitakan kepada kami, ia berkata Ibrahim bin Al-Junaid menceritakan kepada kami, ia berkata Muhammad bin Al-Husain menceritakan kepada kami, ia berkata Yusuf bin Al-Hakam Ar-Raqqi menceritakan kepada kami, ia berkata Marwan bin Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Azzah menemui Ummu Al-Banin, saudara perempuan Umar bin Abdul Aziz. Ia berkata kepadanya, “Wahai Azzah, apa (maksud) ucapan Kutsayyir:
Setiap yang berhutang telah melunasi krediturnya / Sedangkan Azzah ditunda-tunda, krediturnya tersiksa
Apa hutang itu?” Ia berkata, “Aku pernah menjanjikannya sebuah ciuman, kemudian aku merasa berdosa karenanya.”
Al-Mubarak bin Ali memberitakan kepada kami, ia berkata Ahmad bin Ali At-Tauzi memberitakan kepada kami, ia berkata Al-Husain bin Shafwan memberitakan kepada kami, ia berkata Abu Bakar Al-Qurasyi menceritakan kepada kami, ia berkata Muhammad bin Al-Husain menceritakan kepadaku, ia berkata Yusuf bin Al-Hakam menceritakan kepadaku, ia berkata Marwan bin Muhammad bin Abdul Malik bin Marwan menceritakan kepadaku, ia berkata: Azzah menemui Ummu Al-Banin, lalu ia berkata kepadanya, “Apa yang dikatakan Kutsayyir:
Setiap yang berhutang, kuketahui, telah (melunasi) krediturnya / Sedangkan Azzah ditunda-tunda, krediturnya tersiksa
Apa hutang itu wahai Azzah?” Ia malu lalu berkata, “Itu tanggunganku.” Ia berkata, “Aku pernah menjanjikannya sebuah ciuman lalu merasa berdosa karenanya.” Ummu Al-Banin berkata, “Penuhilah untuknya dan dosanya menjadi tanggunganku.”
Muhammad bin Al-Husain berkata: Yusuf bin Al-Hakam berkata kepadaku: Seorang laki-laki dari Bani Umayyah yang berkunya Abu Sa’id menceritakan kepadaku, ia berkata: Sampai kepadaku bahwa Ummu Al-Banin memerdekakan karena ucapannya ini empat puluh budak, dan ia setiap kali mengingatnya menangis dan berkata, “Andai aku bisu dan tidak mengucapkannya.”
Ibnu Abi Manshur memberitakan kepada kami, ia berkata Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, ia berkata Ibrahim bin Umar Al-Barmaki memberitakan kepado kami, ia berkata Abu Al-Husain Az-Zainabi memberitakan kepada kami, ia berkata Ibnu Al-Marzuban menceritakan kepada kami, ia berkata Ahmad bin Zuhair menceritakan kepadaku, ia berkata Harun bin Muslim menceritakan kepadaku, ia berkata Abu Hilal Al-Asadi menceritakan kepadaku, ia berkata ‘Imarah bin Tsaur menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Dza Ar-Rummah ketika kematian mendatanginya berkata, “Sungguh aku tetap jatuh cinta kepada Mayy selama dua puluh tahun tanpa keraguan dan tanpa kerusakan.”
Ibnu Al-Marzuban berkata: Ahmad bin Shalih menceritakan kepadaku, ia berkata Syu’aib bin Shakhr memberitakan kepadaku, ia berkata: Ada dua sifat pada (suku) Tamim yang mereka ungguli manusia dalam keduanya: kesabaran dan kesucian diri.
Ibnu Nashir memberitakan kepada kami, ia berkata Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, ia berkata Ibrahim bin Umar memberitakan kepada kami, ia berkata Abu Al-Hasan Az-Zainabi memberitakan kepada kami, ia berkata Muhammad bin Khalaf menceritakan kepada kami, ia berkata Abdullah bin Amr dan Ahmad bin Harb menceritakan kepada kami, keduanya berkata Zubair bin Abi Bakar menceritakan kepada kami, ia berkata Muhammad bin Al-Mu’ammal bin Thalut menceritakan kepada kami, ia berkata ayahku menceritakan kepada kami dari Adh-Dhahhak bin Utsman Al-Khuzami, ia berkata: Aku keluar di akhir musim haji lalu singgah di sebuah tenda di Al-Abwa’ pada seorang wanita. Aku kagum dengan apa yang kulihat dari kecantikannya dan itu membuatku gembira. Lalu aku mengucapkan syair Nushayb:
Singgahlah di (rumah) Zainab sebelum rombongan berangkat / Dan katakan jika kami bosan, maka hati tidak dapat dikuasai
Kekasihku dari (suku) Ka’b, singgahlah berdua kalian / Di (rumah) Zainab, jangan sampai kalian kehilangan Ka’b selamanya
Dan katakan kepadanya: Tidak ada dalam perpisahan bagi yang rindu / Perpisahan, dan tidak ada di dalamnya bagi patah hati penyambung
Barangsiapa yang menginginkan putus atau berkata zalim / Kepada temannya ada kesalahan, padahal ia tidak punya kesalahan
Ketika ia mendengarku mengucapkan bait-bait itu, ia berkata kepadaku, “Wahai pemuda, apakah kamu kenal penyair syair ini?” Aku berkata, “Ya, itu Nushayb.” Ia berkata, “Ya, benar itu. Apakah kamu kenal Zainab?” Aku berkata, “Tidak.” Ia berkata, “Aku demi Allah adalah Zainab.” Aku berkata, “Semoga Allah menghidupkanmu.” Ia berkata, “Ketahuilah bahwa hari ini adalah janjinya dari Amirul Mukminin. Ia keluar menemuinya tahun lalu dan menjanjikanku hari ini, dan mudah-mudahan kamu tidak beranjak hingga kamu melihatnya.”
Ia berkata: Aku tidak beranjak dari tempat dudukku hingga tiba-tiba ada seorang pengendara yang bergoyang dengan fatamorgana. Ia berkata, “Apakah kamu melihat pengendara itu? Aku menduga itu dia.” Ia berkata: Pengendara itu mendekat ke arah kami hingga mengikatkan (unta)-nya dekat tenda. Ternyata itu adalah Nushayb. Kemudian ia menurunkan kakinya dari tunggangannya lalu turun, kemudian mendekat dan memberi salam kepadaku dan duduk di salah satu sisi, lalu memberi salam kepadanya dan saling bertanya kabar. Mereka berbincang secara rahasia, kemudian ia memintanya agar melantunkan syair baru yang ia buat setelahnya, lalu ia terus melantunkan untuknya.
Aku berkata dalam hati, “Dua kekasih yang lama berpisah, pasti salah satu dari mereka punya hajat kepada yang lain.” Lalu aku bangkit menuju tungganganku untuk mengikatnya. Ia berkata kepadaku, “Pelan-pelan, aku bersamamu.” Aku duduk hingga ia bangkit dan aku bangkit bersamanya, lalu kami berjalan bersama sebentar. Kemudian ia menoleh dan berkata, “Kamu berkata dalam hatimu: Dua kekasih yang bertemu setelah lama berpisah, pasti salah satu dari mereka punya hajat kepada yang lain?” Aku berkata, “Ya, memang demikian.” Ia berkata, “Tidak, demi Tuhan Bangunan (Ka’bah) yang kami tuju, aku tidak pernah duduk bersamanya lebih dekat dari tempat dudukku yang kamu lihat, dan tidak pernah terjadi sesuatu yang dibenci antara kami sama sekali.”
Muhammad bin Abdul Baqi memberitakan kepada kami, ia berkata Hamad bin Ahmad memberitakan kepada kami, ia berkata Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah memberitakan kepada kami, ia berkata Abu Ahmad Muhammad bin Ahmad Al-Jurjani memberitahukan kepada kami, ia berkata Zakariya As-Saji menceritakan kepada kami, ia berkata Abbas Al-Baksa’i menceritakan kepada kami, ia berkata Muhammad bin Yusuf Al-Firyabi menceritakan kepada kami dari Sufyan Ats-Tsauri dari Hisyam dari Muhammad bin Sirin, ia berkata, “Mereka jatuh cinta tanpa keraguan.”
Diriwayatkan dari Al-Harits bin Khalid bin Al-‘Ash bin Hisyam Al-Makhzumi bahwa ia adalah kekasih Aisyah binti Thalhah dan ia punya syair-syair untuknya yang panjang untuk disebutkan. Ibnu Al-Marzuban mengkhususkan untuknya sebuah kitab. Ketika Mush’ab bin Az-Zubair terbunuh (meninggal) darinya, dikatakan kepada Al-Harits, “Apa yang menghalangimu sekarang darinya?” Ia berkata, “Demi Allah, tidak akan diceritakan oleh para lelaki Quraisy bahwa puji-pujianku adalah untuk hal yang meragukan atau untuk sesuatu yang batil.”
Muhammad bin Nashir memberitakan kepada kami, ia berkata Abdul Qadir bin Muhammad memberitakan kepada kami, ia berkata Yusuf bin Muhammad Al-Mahrawani memberitakan kepada kami, ia berkata Ahmad bin Muhammad bin Hasnun memberitakan kepada kami, ia berkata Ja’far Al-Khawash memberitakan kepada kami, ia berkata Ahmad bin Muhammad yaitu Ibnu Masruq memberitakan kepada kami, ia berkata Sulaiman bin Amr Al-Bahili menceritakan kepadaku, ia berkata Al-‘Utbi menceritakan kepada kami dari ayahnya, ia berkata Abdullah bin ‘Ilatsah menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku menemui seorang laki-laki Arab Badui di tendanya sedang merintih. Aku berkata, “Ada apa dengannya?” Mereka berkata, “Kekasih.” Aku berkata kepadanya, “Dari kaum mana laki-laki itu?” Ia berkata, “Dari kaum yang jika mereka jatuh cinta, mereka mati karena kesucian diri.” Ia berkata: Aku mulai menasihatinya dan mengingatkannya untuk meninggalkan apa yang ia alami. Ia menghela napas panjang kemudian melantunkan syair:
Tidak ada yang mendukungku sehingga aku bisa mengadu kepadanya / Sesungguhnya yang mendukung orang sedih adalah orang sedih
Tidak ada dan tidak ada yang mendukung selain air mataku / Dan jalanku di tempat di mana ia dulu berada
Dan Ibn Nashir memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdul Qadir bin Muhammad memberitakan kepada kami, ia berkata: Yusuf bin Muhammad memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Muhammad bin Hasnun memberitakan kepada kami. Dan Syahdah memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad Ibn As-Sarraj memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Al-Husain Al-Jaziri memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Muafa bin Zakariya memberitakan kepada kami. Keduanya berkata: Ja’far bin Muhammad Al-Khawwash memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Abbas bin Masruq menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Syabib menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abdul Shamad Al-Bakri menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Uyainah menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa’id bin Uqbah bertanya kepada seorang Arab badui, “Dari mana engkau?” Ia menjawab, “Dari kaum yang jika mereka jatuh cinta, mereka akan mati.” Sa’id berkata, “Mereka dari suku Udzrah, demi Tuhan Ka’bah.”
Aku bertanya, “Mengapa demikian?” Ia menjawab, “Karena para wanita kami cantik-cantik dan para laki-laki kami menjaga kehormatan.”
Al-Mubarak bin Ali memberitakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Muhammad memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdul Malik Ibn Bisyran memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ibrahim memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far Al-Khara’ithi menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Abbas bin Al-Fadhl menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Abdullah Al-Utbi dari Sufyan bin Ziyad, ia berkata: Aku bertanya kepada seorang wanita dari Bani Udzrah yang aku lihat memiliki cinta yang mendalam hingga aku khawatir ia akan mati, “Mengapa cinta membunuh kalian wahai kaum Udzrah, dari antara semua kabilah Arab?”
Ia menjawab, “Karena kami memiliki kecantikan dan menjaga kehormatan. Kecantikan membuat kami menjaga kesucian, dan menjaga kesucian membuat hati kami lembut. Cinta menghabiskan umur kami, dan kami melihat keindahan yang tidak kalian lihat.”
Muhammad bin Abdul Malik memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Muhammad bin Ali memberitakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Ayyub memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Imran menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Duraid menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Utsman Sa’id bin Harun menceritakan kepada kami, ia berkata: At-Tauzi memberitahukan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Ubaidah berkata: Seorang laki-laki dari Bani Fazarah berkata kepada seorang laki-laki dari Bani Udzrah, “Kalian menganggap kematian kalian karena cinta sebagai keistimewaan, padahal itu hanya karena kelemahan fisik, rapuhnya tekad, dan sempitnya pikiran.”
Maka laki-laki Udzrah itu berkata, “Seandainya kalian melihat mata yang indah cemerlang memancarkan pandangan mata yang lembut, di atasnya alis yang melengkung, dan bibir yang kemerahan menampakkan gigi depan yang putih bersih seperti untaian mutiara, niscaya kalian akan menjadikan mereka sebagai Lata dan Uzza, dan meninggalkan Islam di belakang punggung kalian.”
Abu Manshur Abdurrahman bin Muhammad Al-Qazzaz memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali Ibn Tsabit memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Khallal memberitahukan kepadaku, ia berkata: Ali bin Imran bin Muhammad An-Nakha’i memberitakan kepada mereka, ia berkata: Ibrahim bin Ishaq Az-Zuhri menceritakan kepada kami, ia berkata: Nashr bin Al-Walid Al-Kindi menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Yusuf berkata dalam sakitnya yang menyebabkan ia meninggal, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak pernah menggauli kemaluan yang haram sekalipun, dan aku tahu. Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak pernah memakan dirham haram sekalipun, dan aku tahu.”
Dan Abu Manshur Al-Qazzaz memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ahmad bin Ya’qub memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Nu’aim Adh-Dhabbi memberitakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Al-Walid Hassan bin Muhammad Al-Faqih berkata: Aku mendengar Abu Al-Abbas bin Suraij berkata: Aku mendengar Ismail bin Ishaq Al-Qadhi berkata: Aku menemui Al-Mu’tadhid dan di dekatnya ada pemuda-pemuda Romawi yang tampan. Aku memandang mereka lalu Al-Mu’tadhid melihatku sedang memperhatikan mereka. Ketika aku hendak berdiri, ia memberi isyarat kepadaku lalu aku tinggal sebentar. Ketika tempat itu sepi, ia berkata kepadaku, “Wahai Qadhi, demi Allah, aku tidak pernah membuka celanaku untuk yang haram sekalipun.”
Dan Ibn Nashir memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Muhammad bin Qusyaisy memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Umar bin Huwaih memberitakan kepada kami, ia berkata: Ash-Shauli menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad Ath-Thaliqani menceritakan kepada kami, ia berkata: Fadhl Al-Baridi menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Nashr bin Manshur bin Bassam duduk dan di dekatnya sepuluh pelayan yang tidak pernah terlihat yang lebih tampan dari mereka, tidak ada satu pun dari mereka yang harganya seribu dinar kecuali lebih. Orang-orang memandang mereka, maka Muhammad berkata, “Mereka semua merdeka karena Allah jika Allah telah menuliskan bagiku dosa bersama salah satu dari mereka sekalipun. Barangsiapa yang tahu kebalikan dari ini dari mereka, maka pergilah karena ia telah merdeka dan ia dalam keadaan halal mengambil dari hartaku.”
Abdurrahman bin Muhammad memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Muhammad Al-Muaddil memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Husain bin Shafwan memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Al-Qurasyi menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Al-Mutsanna menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Ibrahim bin Syas berkata: Aku mendengar Ibrahim bin Abi Bakar bin Ayyasy berkata, “Aku menyaksikan ayahku ketika menjelang ajal lalu aku menangis. Ia berkata, ‘Wahai anakku, apa yang membuatmu menangis? Ayahmu tidak pernah melakukan perbuatan keji sekalipun.'”
Abdurrahman memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali memberitakan kepada kami, ia berkata: Aku membaca di hadapan Al-Hasan bin Abi Bakar dari Ahmad bin Kamil Al-Qadhi, ia berkata: Aku mendengar Muhammad bin Utsman berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Umar bin Hafsh bin Ghiyats berkata, “Ketika ayahku menjelang wafat, ia pingsan lalu aku menangis di dekat kepalanya. Ia sadar lalu berkata, ‘Apa yang membuatmu menangis?’ Aku berkata, ‘Aku menangis karena perpisahan denganmu dan karena aku telah masuk dalam urusan ini’ —yakni jabatan hakim— Maka ia berkata, ‘Jangan menangis karena aku tidak pernah membuka celanaku untuk yang haram sekalipun.'”
Abdurrahman bin Muhammad Al-Qazzaz memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Muhammad bin Abdullah Al-Muaddil memberitakan kepada kami, ia berkata: Utsman bin Ahmad Ad-Daqqaq memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ahmad bin Al-Barra’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan Al-Mashshishi menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku menyaksikan Al-Haitsam bin Humaid ketika ia akan meninggal, ia dihadapkan ke arah kiblat. Budaknya berdiri memijat kakinya, maka ia berkata, “Pijatlah karena sesungguhnya Dia (Allah) mengetahui bahwa kedua kaki ini tidak pernah berjalan menuju yang haram sekalipun.”
Al-Mubarak bin Ali memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnul Allaf memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdul Malik Ibn Bisyran memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ibrahim memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Al-Khara’ithi memberitakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Ahmad bin Ishaq Al-Warraq berkata: Aku mendengar Muslim bin Ibrahim berkata, “Telah berlalu lebih dari tujuh puluh tahun bagiku, aku tidak pernah membuka celanaku untuk yang halal maupun yang haram.”
Al-Khara’ithi berkata: Dan Umar bin Syabbah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ghassan Muhammad bin Yahya menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar sebagian penduduk Madinah berkata: Dahulu seorang laki-laki mencintai seorang gadis maka ia berkeliling di rumahnya selama setahun, ia bergembira jika melihat orang yang melihatnya. Jika ia beruntung mendapat kesempatan duduk bersamanya, mereka saling berkeluh kesah dan saling melantunkan syair-syair.
Sedangkan hari ini ia memberi isyarat kepadanya dan ia memberi isyarat kepadanya, lalu ia menjanjikannya dan ia menjanjikannya. Ketika mereka bertemu, tidak ada yang berkeluh kesah cinta dan tidak melantunkan syair, lalu ia langsung mendatanginya seolah-olah ia telah menghadirkan Abu Hurairah sebagai saksi pernikahannya.
Muhammad bin Nashir memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Ishaq Al-Barmaki memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Husain Abdullah bin Ibrahim Az-Zaynabi memberitakan kepada kami dengan ijazah, ia berkata: Muhammad bin Khalaf menceritakan kepada kami, ia berkata: Isa bin Ja’far Al-Katib menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Sa’id menceritakan kepadaku, ia berkata: Ishaq bin Ja’far Al-Farisi menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Umar bin Abdurrahman bercerita dari sebagian keturunan Umar, ia berkata: Suatu hari ketika aku berada di rumahku, tiba-tiba pelayanku masuk dan berkata kepadaku, “Di pintu ada seorang laki-laki membawa surat.”
Aku berkata kepadanya, “Masukkanlah dia atau ambil suratnya.” Lalu ia mengambil surat darinya, dan di dalamnya tertulis:
Semoga keburukan menjauhinmu dan engkau mendapat kebaikan Dan semoga Yang Mahakuasa menyelamatkanmu dari kesedihan Aku mengadukan isi hatiku kepadamu Cintanya ketika aku menemukan diriku menyembunyikannya Mereka meminta surat dariku untukmu tentang Apa yang menguasai mereka, semoga engkau tertebus dari kesedihan Mereka berkata: Wahai putra kedermawanan, sesungguhnya kami Bosan memperhatikan bintang-bintang Dan padamu, jika engkau berkenan, ada penyembuh sakit Bagi anggota tubuh yang penuh luka berdarah
Ketika aku membaca syair-syair itu, aku berkata, “Seorang yang sedang jatuh cinta.”
Lalu aku berkata kepada pelayan, “Masukkanlah dia.”
Ia keluar tetapi tidak menemukannya. Aku berkata, “Kau salah, lalu apa yang harus dilakukan?” Aku curiga terhadap urusannya dan pikiran terus berputar di hatiku. Aku memanggil semua budakku, yang keluar dari mereka dan yang tidak keluar, lalu aku mengumpulkan mereka semua. Kemudian aku berkata, “Beritahukanlah kepadaku sekarang kisah pemilik surat ini.” Mereka bersumpah dan berkata, “Wahai tuan kami, kami tidak tahu sebab surat ini dan ini adalah kebohongan dari orang yang membawa surat ini.” Aku berkata, “Ia telah luput dariku dan aku tidak bermaksud dengan perkataan ini karena aku sayang kepadanya tentang siapa yang ia cintai dari kalian. Barangsiapa dari kalian yang mengenal urusan laki-laki ini maka ia untuknya, maka hendaklah ia pergi kepadanya kapan pun ia mau dan mengambil suratku untuknya.”
Ia berkata: Dan aku menulis surat kepadanya, aku berterima kasih atas perbuatannya dan aku bertanya tentang keadaannya, lalu aku meletakkan surat itu di suatu tempat di rumah. Aku berkata, “Barangsiapa yang tahu sesuatu maka ambillah.”
Surat itu tetap di tempatnya untuk beberapa waktu, tidak ada satu pun dari mereka yang mengambilnya dan aku tidak melihat jejak laki-laki itu. Aku sangat sedih lalu aku berkata, “Mungkin ia salah satu pemuda kami.” Kemudian aku berkata, “Sesungguhnya pemuda ini telah memberitahukan tentang dirinya dengan menjaga diri dan ia telah puas dari yang ia cintai hanya dengan melihat.” Lalu aku merencanakan terhadapnya, aku menghalangi semua budakku untuk keluar.
Tidak lama, sekitar sehari lebih sedikit, tiba-tiba pelayan masuk dengan membawa surat. Aku berkata kepadanya, “Apa ini?” Ia berkata, “Dikirimkan kepadamu oleh si fulan,” dan ia menyebutkan salah satu temanku. Aku membukanya dan di dalamnya tertulis:
Apa yang engkau maksudkan terhadap jiwa yang tergantung Di kerongkongan sementara penyeru kematian menyerunya Engkau memacu penyerunya dengan zalim lalu ia memaksanya Dalam perjalanan hingga ia pergi dari kerongkongannya Engkau halangi orang yang jiwaku hidup ketika melihatnya Dan yang menyembuhkan kami adalah melihatnya Jiwa condong ke arah kezaliman dengan bodoh Sedangkan hatiku sehat, tidak menyetujuinya Demi Allah, seandainya dikatakan kepadaku: Lakukanlah perbuatan keji Dan ganjaranmu adalah dunia dan isinya Niscaya aku akan berkata: Tidak, demi Dia yang aku takuti hukuman-Nya Dan tidak dengan kelipatannya, aku tidak akan melakukannya Seandainya bukan karena malu, kami akan ungkapkan apa yang disembunyikan Oleh putri hati dan kami tampakkan harapannya
Ia berkata: Maka aku diam dan berkata, “Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dalam urusan laki-laki ini.”
Dan aku berkata kepada pelayan, “Jika ada yang datang kepadamu membawa surat, tangkaplah ia hingga engkau membawanya kepadaku.”
Kemudian aku tidak tahu kabarnya setelah itu.
Ketika aku sedang thawaf di Ka’bah, tiba-tiba ada seorang pemuda datang ke arahku dan mulai thawaf di sisiku serta melirikku. Ia sudah menjadi kurus seperti tongkat. Ketika aku selesai thawafku, aku keluar dan ia mengikutiku lalu berkata kepadaku, “Wahai orang ini, apakah engkau mengenalku?” Aku berkata, “Aku tidak mengingkarimu karena buruk.” Ia berkata, “Aku adalah pemilik dua surat.”
Ia berkata: Aku tidak dapat menahan diri untuk tidak mencium kepalanya dan di antara kedua matanya, lalu aku berkata, “Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, demi Allah, engkau telah menyibukkan hatiku dan memperpanjang kesedihanku dengan kuatnya engkau menyembunyikan urusanmu. Apakah engkau menginginkan apa yang engkau minta dan cari?”
Ia berkata, “Semoga Allah memberkatimu dan menyejukkan matamu. Sesungguhnya aku datang kepadamu meminta kehalalan dari pandangan yang pernah aku lihat yang tidak sesuai dengan hukum Kitab dan Sunnah, dan hawa nafsu mengajak kepada setiap bencana, dan aku memohon ampun kepada Allah.”
Aku berkata, “Wahai kekasihku, aku ingin engkau pergi bersamaku ke rumahku agar aku merasa senang denganmu dan terjadi ikatan kekeluargaan antara aku dan engkau.” Ia berkata, “Tidak ada jalan menuju itu, maka maafkanlah dan penuhilah apa yang aku minta darimu.”
Aku berkata, “Wahai kekasihku, semoga Allah mengampuni dosamu, dan aku telah menghibahkannya untukmu bersama seratus dinar agar engkau hidup dengannya.”
Dan untukmu setiap tahun sekian dan sekian.”
Ia berkata, “Semoga Allah memberkatimu padanya. Seandainya bukan karena janji-janji yang telah aku ikat dengan Allah dan hal-hal yang telah aku pastikan atas diriku, tidak ada di dunia ini sesuatu yang lebih aku cintai daripada apa yang engkau tawarkan kepadaku ini, tetapi tidak ada jalan menuju itu, dan dunia ini fana dan akan berakhir.” Aku berkata kepadanya, “Jika engkau menolak datang kepada apa yang kami ajak, maka beritahukanlah kepadaku siapakah dia dari budak-budakku agar aku memuliakannya untukmu selama aku masih hidup.”
Ia berkata, “Aku tidak akan menyebutkan namanya kepada siapa pun selamanya.”
Kemudian ia mengucapkan salam kepadaku dan pergi, dan aku tidak melihatnya setelah itu.
Telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad Al-Qazzaz, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ali bin Tsabit, dan telah mengabarkan kepada kami Al-Mubarak bin Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Al-Allaf, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim Al-Kindi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Ja’far Al-Khara’ithi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ahmad bin Muawiyah Al-Bahili dari ayahnya, ia berkata: berkata Al-Ashma’i: aku berkata kepada seorang Arab Badui, “Ceritakanlah kepadaku tentang malammu bersama si Fulanah.” Ia berkata, “Baiklah, aku menyendiri bersamanya sementara bulan memperlihatkan dirinya kepadaku, dan ketika bulan terbenam, ia menunjukkan bulan itu kepadaku.” Aku bertanya, “Lalu apa yang terjadi di antara kalian berdua?” Ia menjawab, “Isyarat tanpa masalah dan mendekat tanpa bersentuhan. Demi umurku, jika hari-hari terasa panjang setelahnya, sungguh hari-hari itu singkat bersamanya, dan cukuplah bagimu dengan cinta.”
Dan dengan sanad yang sama, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Khara’ithi, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ali bin Ismail, ia berkata: dikatakan kepada sebagian orang Arab Badui yang telah lama jatuh cinta kepada seorang budak perempuan, “Apa yang akan kamu lakukan jika kamu berhasil dan tidak ada yang melihat kalian berdua selain Allah Azza wa Jalla?” Ia menjawab, “Kalau begitu demi Allah, aku tidak akan menjadikan-Nya sebagai pengamat yang paling remeh. Namun aku akan melakukan terhadapnya apa yang kulakukan di hadapan keluarganya: pembicaraan yang panjang, pandangan dari jauh, dan meninggalkan apa yang dibenci Tuhan dan memutuskan cinta.”
Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar bin Habib Ash-Shufi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Sa’d bin Abi Shadiq Al-Hairi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Abdullah bin Bakuwaih Asy-Syirazi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad Al-Ajli, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Nashr bin Manshur Al-Ardabili, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Mahmud, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ishaq, ia berkata: As-Sariy bin Dinar tinggal di sebuah rumah di Mesir di mana terdapat seorang wanita cantik yang memesona orang-orang dengan kecantikannya. Wanita itu mengetahui hal ini dan berkata, “Aku akan memesonanya.” Ketika ia masuk dari pintu gang, ia membuka dan menampakkan dirinya.
As-Sariy berkata, “Ada apa denganmu?” Ia menjawab, “Apakah semuanya ada di tempat tidur yang nyaman dan kehidupan yang lapang?”
Maka ia menghadap kepadanya sambil berkata:
Berapa banyak orang yang berbuat maksiat yang meraih kenikmatan darinya Lalu ia mati dan meninggalkannya serta merasakan bencana Kenikmatan perbuatan maksiat itu berakhir dan lenyap Dan konsekuensi perbuatan maksiat tetap ada sebagaimana adanya Betapa buruknya, demi Allah yang melihat dan mendengar Seorang hamba di hadapan mata Allah melakukan perbuatan maksiat
Telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahhab dan Muhammad bin Nashir, keduanya berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Hasan bin Ali Al-Jauhari, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahim Al-Marwazi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Umar bin Bukair, ia berkata: berkata seorang Arab Badui: aku tergantung (jatuh cinta) pada seorang wanita dan aku mendatanginya lalu berbincang-bincang dengannya selama bertahun-tahun, tidak pernah terjadi kecurigaan di antara kami sama sekali, kecuali bahwa aku melihat putihnya telapak tangannya di malam yang gelap, lalu aku meletakkan tanganku di atas tangannya. Ia berkata, “Jangan, jangan merusak apa yang telah baik, karena cinta yang dinodai tidak pernah tidak rusak.” Ia berkata: aku pun berdiri sementara keringatku bercucuran karena malu terhadapnya, dan aku tidak mengulangi hal seperti itu lagi.
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abi Manshur, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Hasan bin Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Haiwiyah, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar bin Khalaf secara ijazah, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Muhammad, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Qurasyi, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Muhammad Al-Jumuhi, ia berkata: telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki dari Quraisy, ia berkata: kami keluar menuju Mekkah hingga ketika kami berada di Al-Farsy dari Milal, aku melihat seorang wanita yang belum pernah kulihat yang lebih cantik wajahnya dan lebih manis bicaranya. Ia berkata: aku dan seorang temanku berbincang-bincang dengannya sebentar, lalu temanku menyinggung kata-kata kepadanya dan membacakan syair-syairnya. Ia berkata:
Allah melihat bahwa kami bukan pendamping bagi kalian Maka pergilah dengan selamat dan selamatlah wahai para penunggang kuda
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq Al-Barmaki, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Al-Husain Abdullah bin Ibrahim Az-Zainabi secara ijazah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ja’far bin Al-Qasim, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku Abdurrahman bin Akhi Al-Ashma’i dari pamannya, ia berkata: seorang laki-laki dari kalangan zahid jatuh cinta kepada seorang budak perempuan dari Bashrah, lalu ia mengirim utusan untuk melamarnya namun ia menolak dan berkata, “Jika kamu menginginkan selain itu, akan kulakukan.” Maka ia mengirim kepadanya, “Subhanallah, wahai wanita ini, aku mengajakmu kepada urusan yang benar dan halal yang tidak ada cacat padanya dan tidak ada dosa, sementara kamu mengajakku kepada apa yang tidak pantas bagiku dan bagimu.” Ia berkata: maka ia mengirim kepadanya, “Aku telah memberitahumu apa yang ada padaku, jika kamu mau maka majulah, dan jika kamu benci maka mundurlah.”
Maka pemuda itu berkata:
Aku memintanya yang halal sementara ia mengarahkan hatiku Kepada apa yang diinginkannya dari yang haram Seperti orang yang menyeru keluarga Fir’aun kepada dirinya Sementara mereka menyerunya menuju nafsu Maka ia pun tetap dalam kenikmatan di surga berjalan Sementara mereka berada dalam neraka dan dalam siksaan
Ketika ia tahu bahwa ia telah menolaknya dari perbuatan keji, ia mengirim kepadanya, “Aku ada di hadapanmu atas apa yang kamu cintai.” Maka ia menulis kepadanya, “Heihat, tidak ada kebutuhan bagiku terhadap orang yang menyeruku kepada maksiat sementara aku menyerunya kepada ketaatan.” Dan ia berkata:
Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak menjaga Tuhannya Ketika ada hawa nafsu dan takut kepada-Nya kadang-kadang Sesungguhnya orang yang mengejar hawa nafsu dan menginginkannya Seperti orang yang menyewakan setannya kepada setan Ketakwaan menutupi pintu hawa nafsu, maka orang yang bertakwa Bersih akhlaknya, bertambah imannya
Ibnu Khalaf berkata: dan telah mengabarkan kepadaku Abu Bakar Al-Amiri dari Ghaits bin Abdul Karim, ia berkata: Atikah Al-Muzayyah jatuh cinta kepada sepupunya, lalu ia menginginkannya untuk dirinya sendiri namun ia menolak dan enggan terhadapnya, dan berkata:
Tidaklah rasa air apapun yang kamu katakan Yang mengalir dari putih-putih tinggi yang berambut panjang Di lekukan atau perut lembah yang melengkung Terhadapnya angin musim panas dari setiap sisi Berkilauan air hujan di dalamnya dan bertemu Terhadapnya hembusan angin-angin yang lembut Aliran air menghilangkan kotoran dari permukaannya Sehingga tidak ada cacat padanya yang terlihat oleh peminum Lebih nikmat dari apa yang deskripsinya tidak dapat meraihnya Takwa kepada Allah dan rasa malu akan konsekuensi-konsekuensi itu
Telah mengabarkan kepada kami Al-Mubarak bin Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Al-Allaf, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Ja’far, ia berkata: telah membacakan kepadaku Abu Yusuf Az-Zuhri, ia berkata: telah membacakan kepadaku Az-Zubair bin Bakkar, ia berkata: telah membacakan kepadaku ayahku untuk kakekku.
Ia berkata:
Utsman berkata, kunjungi Habhabah Di halaman untuk bertukar sapa dan salam Lalu bermain-main hingga pagi dan jangan Mendekati dalam permainan dan pembicaraan yang haram Mereka menggambarkannya, maka aku tidak berhenti demi ilmu Allah menginginkannya, sangat terpesona Apakah ada dosa atasnya dalam sebuah pandangan Dari pemuda yang tidak berkunjung kecuali sesekali Islam telah menghalangi antara hawa nafsunya dan ia Maka ia mencintai dan menjaga Islam Dan hawa nafsu menariknya kemudian ia takut Untuk menaati hawa nafsu lalu menemui dosa
Ibnu Ja’far berkata: dan telah membacakan kepada kami Ibnu Al-Mardzaban, ia berkata: telah membacakan kepada kami Abdullah bin Syabib:
Dan di halaman putih jika kamu mengunjungi penghuninya Rusa-rusa yang terlantar, tidak ada penggembalanya atas mereka Mereka keluar karena cinta bermain tanpa kecurigaan Suci, orang yang menginginkan kejahatan dari mereka adalah putus asa
Ia berkata: dan telah membacakan kepadaku Ali bin Al-Hasan Al-Iskaafi:
Tidaklah hawa nafsu menyeruku untuk perbuatan keji Kecuali rasa malu dan kemuliaan mencegahku Maka tidak kepada yang keji aku mengulurkan tanganku Dan tidak berjalan bagiku dengan kecurigaan kaki
Ia berkata: dan telah membacakan kepadaku Al-Hasan bin Amru Ar-Raqi untuk Al-Abbas bin Al-Ahnaf:
Adapun demi Dzat yang memanggil hamba-Nya dari Gunung Thur Dan menurunkan Al-Furqan dan mewahyukan kepada lebah Sungguh telah melahirkan Hawa darimu bencana Atasku yang kurasakan dan kegilaan dari kegilaan Dan sesungguhnya aku dan kalian walaupun cinta menyakitiku Sungguh adalah keluarga yang suci, tidak dinodai dengan kebodohan
Ia berkata: dan telah membacakan kepadaku Imran bin Musa Al-Mu’addib untuk An-Numairi:
Mereka menutupi ujung-ujung jari karena takwa Dan mereka keluar di waktu fajar dengan berkerudung Tercium harum misk di perut Nu’man ketika berjalan Di dalamnya Zainab bersama wanita-wanita yang harum Ketika ia melihat rombongan An-Numairi, ia berpaling Dan mereka sangat berhati-hati untuk tidak bertemu dengannya
Telah memberitakan kepada kami Abdul Wahhab, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Al-Hasan Adh-Dharrab, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Marwan, ia berkata: telah membacakan kepada kami Ibnu Qutaibah untuk Ibrahim bin Harmah:
Sungguh pemuda dapat meraih kemuliaan sementara bajunya Usang dan saku bajunya bertambal Jika kamu melihatku pucat dan sederhana Seperti pedang yang usang sarungnya lalu terbuang Maka sungguh banyak kenikmatan malam yang telah kuraih Dan yang haramnya dengan yang halalnya terbayar
Al-Mubarak bin Ali mengabarkan kepada kami, ia berkata: Fatimah binti Abdullah bin Ibrahim Al-Khabari mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Manshur Ali bin Al-Hasan bin Al-Fadhl Al-Katib memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah bin Muhammad bin Khalid Al-Katib memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad Ali bin Abdullah bin Al-Abbas Al-Jauhari memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Sa’id Ad-Dimasyqi memberitahukan kepada kami. Dan Ibn Nashir memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Umar An-Nahrawani memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Mu’afa dari Zakariya memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Mazid menceritakan kepada kami. Mereka berdua berkata: Az-Zubair bin Bakkar menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Malik bin Abdul Aziz menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu As-Sa’ib Al-Makhzumi berkata kepadaku: Wahai anak saudaraku, bacakan untukku (syair) Al-Ahwash. Maka aku membacakan kepadanya ucapannya:
Ia berkata dan aku berkata: Berhati-hatilah dan sambunglah Tali seorang lelaki yang mencintaimu dengan penuh kasih Seorang teman yang mendengar suamiku, maka aku berkata kepadanya: Pengkhianatan adalah sesuatu yang bukan dari cabangku Ada dua (wanita) yang tidak akan kudekati untuk berhubungan dengannya Istri sahabat dan tetangga yang dekat Adapun sahabat, maka aku tidak akan menyakitinya Dan tetangga, Tuhanku telah berwasiat kepadaku tentang dia Belok seperti itu, kami menyebutkan untuk sang wanita cantik Sebagian pembicaraan adalah kendaraan persahabatanku Dan kami katakan kepadanya: Mengapa berpaling padahal kami Tidak berbuat dosa, bahkan engkau yang memulai dosa itu Jika engkau menerima, kami terima dan kami tempatkan kamu Dari kami di tempat yang mudah dan lapang Atau jika engkau berpaling, engkau akan mengotori kehidupan kami Dan memecah belah apa yang telah kami satukan
Maka ia menghadap kepadaku dan berkata: Ini wahai anak saudaraku, demi Allah, adalah (gambaran) pencinta yang sesungguhnya, bukan orang yang mengatakan:
Dan aku adalah jika kekasih ingin memutuskanku Aku menemukan di sisiku tempat yang lapang dan luas
Pergilah! Semoga Allah tidak menyertaimu dan tidak melapangkan untukmu.
Al-Mubarak bin Ali mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Allaf memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdul Malik memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ibrahim memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Muhammad bin Ja’far membacakan kepada kami untuk Abu Abdullah Naftawaih:
Dan para pengadu kabar memberitahunya bahwa bayangannya Jika aku tidur, menutupi tempat tidurku dan bantalku Maka rasa malu yang berlebihan membuatnya malu, lalu ia mengirim Mencercaku dengan marah karena tidurku yang panjang
Dan di antara yang mereka bacakan dalam menggambarkan orang yang menjaga kesucian secara berlebihan:
Terjaga dan tidurnya adalah syariat Semuanya saling berhubungan, maka ia mirip Jika ia bermimpi melakukan perbuatan keji Kesuciannya menegurnya lalu ia terbangun
Ibrahim bin Ismail Al-Katib meriwayatkan bahwa Ulayah binti Al-Mahdi biasa berkata:
Semoga Allah tidak mengampuni perbuatan keji yang pernah aku lakukan, dan aku tidak mengatakan dalam syairku kecuali main-main saja.
Bab Tiga Puluh Dua Tentang Keutamaan Orang Yang Mengingat Tuhannya Lalu Meninggalkan Dosanya
Penyebutan pahala bagi orang yang melakukan hal itu di akhirat
Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan bagi orang yang takut akan kedudukan Tuhannya ada dua surga.” (Surah Ar-Rahman: 46)
Abdul Wahhab bin Al-Mubarak dan Muhammad bin Nashir mengabarkan kepada kami, mereka berdua berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Ali Al-Jauhari memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abdurrahman Al-Mazini memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Muhammad bin Al-Qasim Al-Anbari menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Yunus menceritakan kepada kami, ia berkata: Musa bin Ziyad Al-Makhdhuji menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Manshur dari Mujahid tentang firman-Nya Ta’ala: “Dan bagi orang yang takut akan kedudukan Tuhannya ada dua surga,” ia berkata: Adalah orang yang jika berniat melakukan maksiat, ia mengingat kedudukan Allah atasnya dalam hal itu lalu ia berhenti.
Muhammad bin Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar dan Abdul Qadir bin Muhammad memberitahukan kepada kami, mereka berdua berkata: Abu Ishaq Al-Barmaki memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar bin Bukhait memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Ja’far bin Dharih memberitahukan kepada kami, ia berkata: Hannad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Ahwash menceritakan kepada kami dari Manshur dari Mujahid tentang firman-Nya Ta’ala: “Dan bagi orang yang takut akan kedudukan Tuhannya ada dua surga,” ia berkata: Adalah seorang lelaki yang mengingat Allah saat hendak bermaksiat lalu ia menahan diri darinya.
Dan Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy dari Mujahid: “Dan bagi orang yang takut akan kedudukan Tuhannya ada dua surga,” ia berkata: Barangsiapa takut kepada Allah saat ia berdiri di hadapan maksiat di dunia.
Ibn Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abdul Qadir bin Muhammad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Al-Khayyath memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Fath bin Abi Al-Fawaris memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ja’far Al-Khatali memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Muhammad bin Abdul Khaliq menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Al-Marwazi menceritakan kepada kami, ia berkata: Dibacakan di hadapan Abu Abdullah Muhammad bin Ja’far dan Abu Qathan, mereka berdua berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami dari Manshur dari Ibrahim: “Dan bagi orang yang takut akan kedudukan Tuhannya ada dua surga,” ia berkata: Jika ia ingin berbuat dosa, ia menahan diri dari dosa itu karena takut kepada Allah Azza wa Jalla.
Dan dibacakan di hadapan Abu Abdullah dan aku mendengar, ia berkata: Affan dan Aswad bin Amir menceritakan kepada kami, mereka berdua berkata: Hammad bin Salamah memberitahukan kepada kami dari Abu Imran dari Abu Bakar bin Abi Musa dari ayahnya tentang firman-Nya: “Dan bagi orang yang takut akan kedudukan Tuhannya ada dua surga,” ia berkata: Dua surga dari emas untuk orang-orang yang terdahulu dan dua surga dari perak untuk para pengikut.
Muhammad bin Abi Manshur mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Umar Al-Barmaki memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Husain Abdullah bin Ibrahim Az-Zainabi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Khalaf menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Sabiq menceritakan kepadaku, ia berkata: Za’idah menceritakan kepada kami dari Manshur dari Mujahid tentang firman-Nya: “Dan bagi orang yang takut akan kedudukan Tuhannya ada dua surga,” ia berkata: Adalah orang yang jika berniat melakukan maksiat, ia mengingat Allah Azza wa Jalla lalu meninggalkannya.
Ibn Khalaf berkata: Dan Abdullah bin Muhammad menceritakan kepadaku, ia berkata: Ali bin Al-Ja’d menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’bah memberitahukan kepada kami dari Manshur dari Ibrahim dan Mujahid: “Dan bagi orang yang takut akan kedudukan Tuhannya ada dua surga,” ia berkata: Adalah seorang lelaki yang ingin berbuat dosa lalu ia mengingat kedudukan Tuhannya maka ia meninggalkan dosa itu.
Dan dengannya berkata: Hibatullah bin Muhammad bin Al-Husain memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Ali At-Tamimi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ja’far bin Malik memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepadaku, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku. Dan Abdul Awwal mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ad-Dawudi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibn A’yan memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Farbari menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Bukhari menceritakan kepada kami, ia berkata: Musaddad menceritakan kepada kami.
Dan Abu Bakar Az-Zaghuni mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Fath Asy-Syasyi memberitahukan kepada kami.
Dan Abu Abdurrahman Al-Marwazi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah Al-Farawi memberitahukan kepada kami, mereka berdua berkata: Abdul Ghafir memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibn Amrawayh memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muslim bin Al-Hajjaj menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Musa Muhammad bin Al-Mutsanna menceritakan kepada kami. Mereka berkata: Yahya Al-Qaththan menceritakan kepada kami dari Ubaidullah.
Dan Al-Karukhi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Amir Al-Azdi dan Abu Bakar Al-Ghurji memberitahukan kepada kami, mereka berdua berkata: Al-Jarrahi menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Mahbubi menceritakan kepada kami, ia berkata: At-Tirmidzi menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Anshari menceritakan kepada kami, ia berkata: Ma’n menceritakan kepada kami.
Dan Abdul Awwal mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Ashim Al-Fadili memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman bin Abi Syuraih memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Qasim Al-Mani’i memberitahukan kepada kami, ia berkata: Mush’ab bin Abdullah Az-Zubairi menceritakan kepada kami. Mereka berdua berkata: Malik menceritakan kepada kami, keduanya dari Khubaib bin Abdurrahman dari Hafsh bin Ashim dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tujuh (golongan) yang Allah Azza wa Jalla menaungi mereka dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah Azza wa Jalla, seorang lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang lelaki yang saling mencintai karena Allah Azza wa Jalla, mereka berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, seorang lelaki yang bersedekah dengan sedekah lalu menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang tangan kanannya infakkan, seorang lelaki yang mengingat Allah Azza wa Jalla dalam kesendirian lalu kedua matanya meneteskan air mata, dan seorang lelaki yang diajak oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan kepada dirinya lalu ia berkata: Sesungguhnya aku takut kepada Allah Azza wa Jalla.”
Hadits ini dikeluarkan oleh keduanya (Bukhari dan Muslim) dalam Shahihain.
Ibn Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Ahmad Al-Faqih memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Husain bin Muhammad bin Ja’far memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ibrahim memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Khalaf menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad At-Tamimi menceritakan kepadaku, ia berkata: Dawud bin Al-Muhabbir menceritakan kepada kami, ia berkata: Maisarah bin Abdur Rabbih menceritakan kepada kami dari Abu A’isyah As-Sa’di dari Yazid bin Umar bin Abdul Aziz dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah dan Ibn Abbas, mereka berdua berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah sebelum wafatnya lalu beliau bersabda dalam sebagian khutbahnya: “Dan barangsiapa mampu (menguasai) seorang wanita atau budak yang haram lalu meninggalkannya karena takut kepada-Ku, Aku akan mengamankannya pada hari ketakutan yang besar, mengharamkannya dari api neraka, dan memasukkannya ke dalam surga.”
Abdul Khaliq bin Yusuf mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ali bin Al-Fatih memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abdullah Ad-Daqqaq memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Husain bin Shafwan memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Al-Qurasyi menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Idris menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku diceritakan dari Riyah Al-Absi, ia berkata: Aku mendengar Malik bin Dinar berkata: Surga-surga kenikmatan berada di antara surga-surga Firdaus dan surga-surga Adn, di dalamnya terdapat bidadari-bidadari yang diciptakan dari mawar surga. Dikatakan: Siapa yang akan menempatinya? Ia berkata: Orang-orang yang berniat melakukan maksiat, namun ketika mereka mengingat keagungan-Ku, mereka mengawasi-Ku, dan orang-orang yang punggung mereka membungkuk karena takut kepada-Ku.
Demi keagungan-Ku, sesungguhnya Aku berniat mengazab penduduk bumi, namun jika Aku melihat orang-orang yang lapar dan haus karena takut kepada-Ku, Aku palingkan azab dari mereka.
Muhammad bin Abi Manshur mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Ali memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibn Hamdan memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepadaku, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Husain bin Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Mulaih menceritakan kepada kami dari Maimun, ia berkata: Dzikir itu ada dua macam: dzikir kepada Allah Azza wa Jalla dengan lisan adalah baik.
Dan yang lebih utama darinya adalah jika ia mengingat Allah ketika ia hampir jatuh ke dalam maksiat-Nya.
Abdul Wahhab Al-Hafizh mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ali bin Ayyub memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Al-Barqani memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ibrahim Al-Isma’ili memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ishaq bin Ibrahim mengabarkan kepadaku, ia berkata: Hisyam bin Ammar menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdul Hamid menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Auza’i menceritakan kepada kami dari Yahya bin Abi Katsir, ia berkata: Tidak terpuji atau tidak baik sikap wara’ seseorang hingga ia menghadapi keadaan tamak dan mampu melakukannya, kemudian ia meninggalkannya semata-mata karena Allah Azza wa Jalla.
Dan telah diriwayatkan oleh Sa’id dari Qatadah, ia berkata: Telah disebutkan kepada kami bahwa Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidaklah seseorang mampu melakukan suatu yang haram kemudian ia meninggalkannya semata-mata karena takut kepada Allah Azza wa Jalla, melainkan Allah akan menggantinya di dunia sebelum akhirat dengan sesuatu yang lebih baik baginya daripada itu.
Muhammad bin Abdul Baqi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Hamad bin Ahmad Al-Haddad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah Al-Hafizh memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Syubl menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar bin Abi Syaibah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu ‘Uyainah menceritakan kepada kami dari ‘Amr bin Dinar dari ‘Ubaid bin ‘Umair, ia berkata: Termasuk kebenaran iman dan kebajikannya adalah apabila seorang laki-laki bersepi dengan seorang wanita cantik, lalu ia meninggalkannya, dan ia tidak meninggalkannya kecuali karena Allah Azza wa Jalla.
Pasal: Dahulu rasa takut saat mampu melakukan dosa terkadang menguasai para laki-laki sehingga merekalah yang menahan diri, dan terkadang menguasai para wanita sehingga merekalah yang menahan diri.
Dan ini adalah rangkaian berita tentang para laki-laki yang menahan diri dari dosa-dosa padahal mereka mampu melakukannya:
Abdul Awwal mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman bin Muhammad Ad-Dawudi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ubaidullah bin Ahmad bin Hamawaih As-Sarkhasi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Yusuf bin Muhammad bin Mathar menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Al-Mundzir menceritakan kepada kami.
Dan Abu Bakar Az-Zaghuni mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Fath Asy-Syasyi memberitahukan kepada kami. Dan Abu Abdurrahman Al-Maruzi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah Al-Farawi memberitahukan kepada kami. Keduanya berkata: Abdul Ghafir memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibnu ‘Amruwaih memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan menceritakan kepada kami, ia berkata: Muslim bin Al-Hajjaj menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ishaq Al-Musaibi menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Abu Dhamrah Anas bin ‘Iyadh menceritakan kepada kami, ia berkata: Musa bin ‘Uqbah menceritakan kepada kami. Al-Bukhari berkata: Dan Sa’id bin Abi Maryam menceritakan kepada kami, ia berkata: Isma’il bin Ibrahim bin ‘Uqbah menceritakan kepada kami. Keduanya berkata: Nafi’ menceritakan kepada kami dari Ibnu Umar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
Ketika tiga orang sedang berjalan, hujan menimpa mereka, maka mereka masuk ke sebuah gua di gunung. Lalu sebuah batu besar jatuh dari gunung dan menutup mulut gua mereka. Maka sebagian mereka berkata kepada yang lain: Ingatlah amal-amal yang kalian kerjakan karena Allah dengan ikhlas, lalu berdoalah kepada Allah dengan amal tersebut, semoga Dia memberikan jalan keluar bagi kita.
Salah seorang dari mereka berkata: Ya Allah, sesungguhnya aku memiliki kedua orang tua yang sudah tua renta dan aku memiliki anak-anak kecil. Aku menggembalakan ternak untuk mereka. Apabila aku pulang dari menggembalakan, aku memerah susu dan aku dahulukan memberi minum kedua orang tuaku sebelum anak-anakku. Pada suatu hari aku pergi jauh mencari rumput, sehingga aku tidak datang hingga sore hari. Aku dapati keduanya telah tidur. Maka aku memerah susu sebagaimana biasanya aku memerah, lalu aku datang membawa hasil perahan. Aku berdiri di dekat kepala keduanya, aku tidak suka membangunkan mereka dari tidurnya dan aku tidak suka mendahulukan anak-anak kecilku sebelum keduanya. Sementara anak-anak kecil itu menangis di dekat kakiku. Hal itu terus menjadi kebiasaanku dan kebiasaan mereka hingga terbit fajar.
Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu mengharap wajah-Mu, maka bukalah untuk kami celah sehingga kami dapat melihat langit.
Maka Allah membukakan untuk mereka celah hingga mereka dapat melihat langit darinya.
Yang kedua berkata: Ya Allah, sesungguhnya aku memiliki seorang anak paman perempuan yang aku cintai seperti cinta laki-laki yang paling keras kepada perempuan. Aku meminta dirinya, namun ia menolak hingga aku memberinya seratus dinar. Maka aku berusaha hingga mengumpulkan seratus dinar, lalu aku menemuinya dengan uang itu. Ketika aku duduk di antara kedua kakinya, ia berkata: Wahai hamba Allah, bertakwalah kepada Allah dan janganlah engkau buka cincin kecuali dengan haknya. Maka aku berdiri darinya. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu mengharap wajah-Mu, maka bukalah untuk kami celah darinya.
Maka Allah membukakan celah untuk mereka.
Yang terakhir berkata: Sesungguhnya aku pernah mempekerjakan seorang pekerja dengan upah sefaraq beras. Ketika ia menyelesaikan pekerjaannya, ia berkata: Berikanlah hakku. Maka aku tawarkan kepadanya haknya, namun ia meninggalkannya dan tidak mau menerimanya. Maka aku terus menanam beras upahnya itu hingga aku mengumpulkan darinya sapi-sapi dan penggembalanya. Lalu ia datang kepadaku dan berkata: Bertakwalah kepada Allah, jangan zalimi aku dan berikanlah hakku. Maka aku berkata: Pergilah ke sapi-sapi itu beserta penggembalanya. Ia berkata: Bertakwalah kepada Allah dan jangan menghinaku. Maka aku berkata: Sesungguhnya aku tidak menghinamu, ambillah sapi-sapi itu beserta penggembalanya. Maka ia mengambilnya dan pergi dengan sapi-sapi itu. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu mengharap wajah-Mu, maka lepaskanlah dari kami apa yang tersisa.
Maka Allah melepaskan mereka.
Ini adalah lafazh hadits Isma’il bin Ibrahim bin ‘Uqbah, dan ia adalah anak saudara Musa bin ‘Uqbah. Mereka berdua (Bukhari dan Muslim) sepakat mengeluarkan hadits dari Isma’il. Dan tidak ada hadits lain bagi Isma’il dari Nafi’ dari Ibnu Umar di dalam kitab Shahih selain hadits ini.
Ibnu Al-Hushain mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu Al-Madzhab memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibnu Malik memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Asbath menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami dari Abdullah bin Abdullah dari Sa’d maula Thalhah dari Ibnu Umar, ia berkata: Sungguh aku telah mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebuah hadits, seandainya aku tidak mendengarnya kecuali sekali atau dua kali – hingga ia menghitung sampai tujuh kali – tetapi aku telah mendengarnya lebih dari itu. Beliau bersabda: Dahulu Al-Kifl dari Bani Israil tidak berhati-hati dari dosa yang ia kerjakan. Lalu seorang wanita datang kepadanya, maka ia memberinya enam puluh dinar agar ia dapat menggaulinya. Ketika ia duduk dari wanita itu sebagaimana duduknya laki-laki dari istri, wanita itu gemetar dan menangis. Maka ia berkata: Apa yang membuatmu menangis? Apakah aku memaksamu? Wanita itu berkata: Tidak, tetapi ini adalah perbuatan yang belum pernah aku lakukan sebelumnya, dan yang mendorongku melakukannya hanyalah kebutuhan. Ia berkata: Apakah engkau melakukan ini padahal belum pernah melakukannya sebelumnya? Kemudian ia turun dan berkata: Pergilah, dan dinar-dinar itu untukmu. Kemudian ia berkata: Demi Allah, Al-Kifl tidak akan bermaksiat kepada Allah selamanya. Maka ia meninggal pada malam itu, dan keesokan paginya tertulis di pintunya: Sesungguhnya Allah telah mengampuni Al-Kifl.
At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan.
Abdul Malik bin Abdullah Al-Karukhi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah Muhammad bin Ali Al-‘Umairi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ahmad Al-Fami memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ahmad Al-Marwani memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Al-Mundzir Syukr menceritakan kepadaku, ia berkata: Al-Fadhl bin Abdul Jabbar Al-Bahili menceritakan kepadaku, ia berkata: Ibrahim bin Al-Asy’ats memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Mu’tamir bin Sulaiman memberitahukan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Ka’b menceritakan dari Al-Hasan, ia berkata:
Dahulu ada seorang wanita pezina yang memiliki sepertiga kecantikan, ia tidak mau memberikan dirinya kecuali dengan seratus dinar. Seorang ahli ibadah melihatnya dan ia tertarik kepadanya. Maka ia pergi dan bekerja dengan tangannya serta berusaha keras hingga mengumpulkan seratus dinar. Lalu ia datang dan berkata: Sesungguhnya engkau telah menarik perhatianku, maka aku pergi dan bekerja dengan tanganku serta berusaha keras hingga mengumpulkan seratus dinar.
Wanita itu berkata: Serahkanlah kepada bendahara agar ia menghitung dan menimbangnya. Maka ia melakukan itu. Wanita itu berkata: Ia telah menghitung seratus dinar dariku. Ia berkata: Ya. Wanita itu berkata: Masuklah. Dan wanita itu memiliki kecantikan dan keindahan yang Allah lebih mengetahui tentangnya, dan ia memiliki kamar khusus dan dipan dari emas. Wanita itu berkata: Mari. Ketika ia duduk dari wanita itu seperti duduknya orang yang berkhianat, ia teringat berdirinya di hadapan Allah, maka rasa gemetar menyerangnya dan syahwatnya mati. Maka ia berkata: Tinggalkanlah aku, biarkanlah aku keluar dan seratus dinar untukmu.
Wanita itu berkata: Apa yang terjadi denganmu padahal engkau telah melihatku sebagaimana engkau klaim sehingga aku menarik perhatianmu, lalu engkau pergi dan berusaha keras serta bersusah payah hingga mengumpulkan seratus dinar, kemudian ketika engkau berkuasa atasku engkau melakukan apa yang engkau lakukan?
Ia berkata: Aku takut kepada Allah dan berdiri di hadapan Allah, dan perbuatan itu telah aku benci.
Wanita itu berkata: Demi Allah, jika engkau jujur, aku tidak memiliki suami selain engkau.
Ia berkata: Tinggalkanlah aku untuk keluar.
Wanita itu berkata: Tidak, kecuali engkau berjanji kepadaku bahwa engkau akan menikaiku.
Ia berkata: Tidak hingga aku keluar.
Wanita itu berkata: Maka engkau terikat janji kepadaku jika aku mendatangimu bahwa engkau akan menikaiku.
Ia berkata: Baiklah. Kemudian ia menutupi dirinya dengan kainnya lalu keluar menuju negerinya. Wanita itu pun berangkat dengan hartanya dalam keadaan menyesal atas apa yang telah terjadi darinya hingga ia tiba di negerinya. Lalu ia menanyakan namanya dan kediamannya, maka ia ditunjukkan kepadanya. Dikatakan kepadanya: Ratu datang menanyakan tentangmu. Ketika ia melihatnya, ia terengah-engah kemudian meninggal.
Wanita itu pun sangat menyesal. Ia berkata: Adapun orang ini telah luput dariku, apakah ia memiliki kerabat? Dikatakan: Saudaranya seorang laki-laki yang miskin. Maka ia berkata: Sesungguhnya aku akan menikaumu karena cinta pada cinta saudaramu. Maka ia menikahinya, lalu wanita itu melahirkan tujuh nabi untuknya.
Abdul Wahhab bin Al-Mubarak dan Muhammad bin Nashir mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Ali Al-Jauhari memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abdurrahim Al-Mazini memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Muhammad bin Al-Qasim Al-Anbari menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Al-Marzuban menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Al-Husain menceritakan kepadaku dari Musa bin Dawud dari Abu Az-Zinad dari ayahnya, ia berkata:
Dahulu ada seorang rahib yang beribadah di biara (menara ibadahnya). Ia melihat dari menara itu sehingga melihat seorang wanita, maka ia terpesona kepadanya. Lalu ia mengeluarkan kakinya dari menara untuk turun kepadanya. Ketika ia mengeluarkan kakinya, terjagalah ia oleh penjagaan Allah dan keberuntungan mendatanginya. Maka ia berkata: Wahai jiwaku, satu kaki telah keluar dari menara untuk bermaksiat kepada Allah, apakah ia akan kembali ke menara dan bersamaku di biara? Demi Allah, tidak akan pernah terjadi ini selamanya. Maka ia membiarkan kakinya tergantung di luar menara, salju dan hujan jatuh menimpanya, matahari dan angin menyentuhnya hingga kaki itu terputus-putus, berguguran, dan jatuh.
Maka Allah mensyukuri perbuatannya itu dan menurunkan dalam salah satu kitab dan menyebut pemilik kaki itu dengan memujinya karena hal tersebut.
Syahdah binti Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad As-Sarraj memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Thahir Ahmad bin Ali As-Sawwaq memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ahmad bin Faris menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ibrahim Az-Zainabi menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Khalaf menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Harb menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Walid bin Muslim menceritakan kepada kami, ia berkata: Marhum bin Abdul Aziz menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu ‘Imran Al-Jauni menceritakan kepada kami, ia berkata:
Dahulu ada seorang tukang daging Bani Israil yang tidak berhati-hati dari apapun. Sebuah keluarga dari Bani Israil mengalami kesulitan, maka mereka mengutus seorang budak perempuan dari mereka untuk meminta kepadanya. Ia berkata: Wahai tukang daging Bani Israil, berikanlah kepada kami. Ia berkata: Tidak, kecuali engkau membolehkan aku menguasai dirimu. Maka ia kembali. Mereka mengalami kesulitan yang sangat berat, maka ia kembali kepadanya dan berkata: Wahai tukang daging Bani Israil, berikanlah kepada kami. Ia berkata: Tidak, kecuali engkau membolehkan aku menguasai dirimu. Maka ia kembali. Mereka mengalami kesulitan yang sangat berat, maka mereka mengirimnya kepadanya. Ia berkata: Wahai tukang daging Bani Israil, berikanlah kepada kami. Ia berkata: Tidak, kecuali engkau membolehkan aku menguasai dirimu. Ia berkata: Silakan. Ketika ia bersepi dengannya, ia mulai gemetar seperti gemetarnya pelepah yang baru keluar dari air. Ia berkata kepadanya: Apa yang terjadi denganmu? Ia berkata: Aku takut kepada Allah, ini adalah sesuatu yang belum pernah aku lakukan. Ia berkata: Engkau takut kepada Allah padahal belum pernah melakukannya, lalu aku yang melakukannya? Aku berjanji kepada Allah bahwa aku tidak akan kembali pada apapun yang pernah aku lakukan.
Maka Allah Azza wa Jalla mewahyukan kepada nabi Bani Israil: Sesungguhnya catatan tukang daging Bani Israil pada pagi hari telah berada dalam catatan ahli surga. Maka nabi itu mendatanginya dan berkata: Wahai tukang daging Bani Israil, tidakkah engkau tahu bahwa catatanmu pada pagi hari telah berada dalam catatan ahli surga?
Muhammad bin Nashir memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Umar Al-Barmaki memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Husain Az-Zaynabi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibnu Al-Marzaban menceritakan kepada saya, ia berkata: Abu Ahmad Al-Khurasani menceritakan kepada saya, ia berkata: Ahmad bin Abi Nashr menceritakan kepada saya, ia berkata: Ibrahim bin Khalid menceritakan kepada kami, ia berkata: Umayyah bin Syabal menceritakan kepada saya dari Abdullah bin Wahb. Ibrahim berkata: Saya kira hal ini dari ayahnya, bahwa seorang ahli ibadah dari Bani Israil sedang beribadah di biara-nya. Kemudian sekelompok orang-orang sesat mendatangi seorang pelacur dan berkata kepadanya: “Mungkin kamu bisa menggoyahkannya.” Maka pelacur itu mendatanginya pada suatu malam yang gelap dan hujan. Ia memanggilnya, lalu ahli ibadah itu menampakkan diri kepadanya. Perempuan itu berkata: “Wahai hamba Allah, beri aku tempat berlindung.” Namun ia membiarkannya dan kembali melakukan shalatnya sementara lampunya menyala terang. Perempuan itu berkata: “Wahai hamba Allah, beri aku tempat berlindung. Tidakkah kamu melihat kegelapan dan hujan ini?” Ia terus mendesaknya hingga akhirnya ahli ibadah itu memberinya tempat berlindung. Perempuan itu berbaring dekat dengannya dan mulai memperlihatkan keindahan tubuhnya hingga nafsunya tergugah kepada perempuan itu. Ia berkata: “Tidak, demi Allah, sampai saya melihat bagaimana kesabaranmu terhadap api neraka.” Kemudian ia mendekati lampu atau lentera dan menaruh salah satu jarinya ke dalamnya hingga terbakar. Kemudian ia kembali ke shalatnya. Nafsunya kembali menggodanya dan ia kembali ke lampu lalu menaruh jari yang lain hingga terbakar. Nafsunya terus menggodanya dan ia terus kembali ke lampu hingga semua jarinya terbakar sementara perempuan itu memperhatikan. Akhirnya perempuan itu pingsan dan meninggal.
Ibnu Al-Marzaban berkata: Ahmad bin Harb memberitahukan kepada saya, ia berkata: Ubaidullah bin Muhammad menceritakan kepada saya, ia berkata: Abu Abdullah Al-Balkhi menceritakan kepada saya bahwa ada seorang pemuda di Bani Israil yang belum pernah terlihat pemuda yang lebih tampan darinya. Ia berprofesi menjual keranjang. Suatu hari ketika ia berkeliling menjual keranjangnya, seorang perempuan keluar dari rumah salah satu raja Bani Israil. Ketika melihatnya, perempuan itu segera kembali dan berkata kepada putri raja: “Wahai fulanah, saya melihat seorang pemuda di pintu yang menjual keranjang. Saya belum pernah melihat pemuda yang lebih tampan darinya.”
Putri raja berkata: “Persilakan ia masuk.”
Maka perempuan itu keluar kepadanya dan berkata: “Wahai pemuda, masuklah, kami akan membeli darimu.” Ia pun masuk, lalu pintu ditutup di belakangnya. Kemudian perempuan itu berkata: “Masuklah.” Ia masuk lagi, lalu pintu lain ditutup di belakangnya. Kemudian putri raja menemuinya dengan wajah dan lehernya terbuka.
Pemuda itu berkata kepadanya: “Belilah, semoga Allah memberimu kesehatan.” Putri raja berkata: “Kami tidak memanggilmu untuk ini, kami memanggilmu untuk yang lain,” yaitu merayunya untuk berbuat maksiat. Pemuda itu berkata kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah.”
Putri raja berkata kepadanya: “Jika kamu tidak menuruti apa yang aku inginkan, aku akan memberitahu raja bahwa kamu masuk kepadaku untuk memaksaku.” Ia tetap menolak dan menasihatinya, tetapi putri raja tetap menolak. Pemuda itu berkata: “Sediakan air wudhu untukku.” Putri raja berkata: “Apakah kamu mencari alasan? Wahai budak perempuan, sediakan air wudhu untuknya di atas menara.” Dari menara itu ia tidak bisa melarikan diri, dan jarak dari menara ke tanah adalah empat puluh hasta. Ketika berada di atas menara, ia berkata: “Ya Allah, aku dipanggil untuk bermaksiat kepada-Mu, maka aku lebih memilih menjatuhkan diriku dari menara ini daripada melakukan maksiat.” Kemudian ia berkata: “Bismillah,” dan menjatuhkan dirinya dari atas menara. Maka Allah menurunkan malaikat yang menangkap ketiaknya sehingga ia jatuh berdiri di atas kedua kakinya. Ketika sudah di tanah, ia berkata: “Ya Allah, jika Engkau kehendaki, berikanlah aku rezeki yang membuatku tidak perlu menjual keranjang ini.”
Kemudian Allah mengirimkan kepadanya belalang dari emas, ia mengambilnya hingga memenuhi pakaiannya. Ketika sudah di pakaiannya, ia berkata: “Ya Allah, jika ini rezeki yang Engkau berikan kepadaku di dunia, maka berkahilah untukku. Namun jika ini mengurangi bagianku di sisi-Mu di akhirat, maka aku tidak memerlukannya.”
Kemudian ia diseru: “Sesungguhnya apa yang Kami berikan kepadamu adalah satu bagian dari dua puluh lima bagian karena kesabaranmu menjatuhkan dirimu dari menara ini.”
Ia berkata: “Ya Allah, aku tidak memerlukan sesuatu yang mengurangi bagianku di sisi-Mu di akhirat.”
Maka emas itu diangkat.
Ibnu Al-Marzaban berkata: Abdullah bin Abi Abdullah Al-Kufi menceritakan kepada saya, ia berkata: Muhammad bin Yahya bin Abi Hatim menceritakan kepada saya, ia berkata: Ja’far bin Abi Ja’far Ar-Razi menceritakan kepada kami dari Abu Ja’far As-Saih dari Ar-Rabi’ bin Shabih dari Al-Hasan, ia berkata: Ada seorang pemuda pada zaman Umar bin Al-Khaththab yang selalu berada di masjid dan beribadah. Seorang budak perempuan jatuh cinta kepadanya, lalu mendatanginya dalam kesendirian dan berbicara kepadanya. Hal itu terlintas dalam hatinya, lalu ia menjerit dan pingsan. Pamannya datang dan membawanya ke rumahnya. Ketika sadar, ia berkata: “Wahai paman, pergilah kepada Umar, sampaikanlah salamku kepadanya dan katakan: Apa balasan bagi orang yang takut akan kedudukan Tuhannya?” Pamannya pergi dan memberitahu Umar, lalu Umar mendatanginya. Pemuda itu menjerit sekali lagi dan meninggal. Umar berdiri di sampingnya dan berkata: “Bagimu dua surga.”
Dan kisah ini telah sampai kepada kami dengan cara lain.
Syahdah binti Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad bin As-Sarraj memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Thahir Ahmad bin Ali As-Sawwaq memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ahmad bin Faris menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Husain Abdullah bin Ibrahim Az-Zaynabi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakr Muhammad bin Khalaf menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Manshur Ar-Ramadi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Shalih menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Ayyub menceritakan kepadaku bahwa ada seorang pemuda yang dikagumi oleh Umar bin Al-Khaththab. Umar berkata: “Sesungguhnya pemuda ini mengagumkanku.” Suatu malam ia pulang dari shalat Isya, tiba-tiba seorang perempuan muncul di hadapannya dan menawarkan dirinya. Ia terpesona olehnya dan perempuan itu berlalu. Ia mengikutinya hingga berhenti di pintunya. Ketika berhenti di pintu, ia tersadar dan tersingkaplah darinya, dan ayat ini terlintas di lisannya: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, apabila mereka ditimpa godaan setan, mereka ingat (kepada Allah), maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan mereka).” (Surat Al-A’raf: 201) Kemudian ia roboh pingsan. Perempuan itu memperhatikannya dan ternyata ia seperti orang mati. Perempuan itu bersama budak perempuannya terus berusaha hingga mereka menaruhnya di pintu rumahnya.
Ia memiliki ayah yang sudah tua yang biasa menunggunya pulang setiap malam. Ayahnya keluar dan mendapatinya tergeletak di pintu rumah dalam kondisi demikian. Ayahnya membawanya masuk. Setelah itu ia sadar, lalu ayahnya bertanya: “Apa yang terjadi padamu, anakku?” Ia berkata: “Wahai ayah, jangan tanyakan aku.” Ayahnya terus mendesaknya hingga ia menceritakan dan membaca ayat tersebut. Kemudian ia menjerit sekali dan nyawanya keluar, lalu dikubur.
Hal itu sampai kepada Umar bin Al-Khaththab, lalu ia berkata: “Mengapa kalian tidak memberitahuku tentang kematiannya?” Ia pergi hingga berdiri di kuburnya dan memanggil: “Wahai fulan, ‘Dan bagi orang yang takut akan kedudukan Tuhannya ada dua surga.'” (Surat Ar-Rahman: 46)
Pemuda itu menjawab dari dalam kubur: “Tuhanku telah memberikannya kepadaku, wahai Umar.”
Ibnu Al-Marzaban berkata: Abdullah bin Muhammad Al-Marwazi menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Ashim menceritakan kepada kami, ia berkata: Hushain bin Abdurrahman memberitahukan kepada kami, ia berkata: Sampai kepadaku bahwa seorang pemuda dari penduduk Madinah yang selalu menghadiri semua shalat bersama Umar bin Al-Khaththab. Umar memerhatikannya jika ia tidak hadir. Seorang perempuan dari penduduk Madinah jatuh cinta kepadanya, lalu menceritakan hal itu kepada salah satu perempuan kerabatnya. Perempuan itu berkata kepadanya: “Maukah aku membantumu memasukkannya kepadamu?” Ia berkata: “Ya.”
Maka perempuan itu duduk menunggunya di jalan. Ketika pemuda itu melewatinya, ia berkata: “Aku adalah perempuan tua dan memiliki kambing, aku tidak mampu memerahnya. Jika kamu berniat mencari pahala, masuklah dan perahkan untukku.” Ia masuk tetapi tidak melihat kambing. Perempuan itu berkata: “Masuklah ke rumah sampai aku membawa kambingnya untukmu.” Ia masuk dan ternyata ada perempuan di balik pintu. Pintu ditutup rapat. Ketika melihat itu, ia pergi ke mihrab di rumah dan duduk di sana. Perempuan itu merayunya untuk berbuat maksiat tetapi ia menolak dan berkata: “Bertakwalah kepada Allah, wahai perempuan.” Perempuan itu tidak mau berhenti dan tidak memedulikan perkataannya. Ketika ia tetap menolaknya, perempuan itu berteriak. Orang-orang datang dan masuk kepadanya. Perempuan itu berkata: “Sesungguhnya pemuda ini masuk kepadaku ingin memaksaku.” Mereka menyerangnya dan memukulinya, lalu mengikatnya.
Ketika Umar melaksanakan shalat Subuh, ia merasa kehilangannya. Tiba-tiba orang-orang datang membawanya dalam keadaan terikat. Ketika Umar melihatnya, ia berkata: “Ya Allah, jangan sia-siakan sangkaanku tentangnya.”
Ia berkata: “Ada apa dengan kalian?” Mereka berkata: “Seorang perempuan meminta tolong pada malam hari, kami datang dan menemukan pemuda ini di sisinya, maka kami memukulnya dan mengikatnya.” Umar berkata kepadanya: “Katakan yang sejujurnya.” Maka ia menceritakan kisahnya dan apa yang dikatakan perempuan tua itu. Umar berkata kepadanya: “Apakah kamu mengenalinya?” Ia berkata: “Aku tidak pernah melihatnya.”
Umar mengutus untuk mengumpulkan perempuan-perempuan tetangganya dan perempuan-perempuan tua, lalu membawa mereka. Umar memperlihatkan mereka kepadanya, tetapi ia tidak mengenali siapa pun hingga perempuan tua itu lewat. Ia berkata: “Ini dia, wahai Amirul Mukminin.” Umar mengangkat tongkatnya kepada perempuan itu dan berkata: “Katakan yang sebenarnya.” Perempuan itu menceritakan seperti yang diceritakan pemuda itu. Umar berkata: “Segala puji bagi Allah yang menjadikan di antara kami orang yang menyerupai Yusuf.”
Abdul Wahhab Al-Anmathi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Hasan Ali bin Ahmad Al-Malthi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Muhammad bin Yusuf memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Ali Al-Barda’i memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakr Al-Qurasyi menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Al-Husain menceritakan kepada saya, ia berkata: Abdul Aziz bin Yahya Al-Uwaisi menceritakan kepada saya dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, ia berkata: Atha’ bin Yasar dan Sulaiman bin Yasar keluar untuk berhaji dari Madinah bersama para sahabat mereka. Ketika sampai di Al-Abwa’, mereka turun di suatu tempat. Sulaiman dan para sahabatnya pergi untuk suatu keperluan, sementara Atha’ tinggal di tempat itu untuk shalat. Seorang perempuan Arab yang cantik masuk kepadanya. Ketika Atha’ melihatnya, ia mengira perempuan itu memiliki keperluan, maka ia mempersingkat shalatnya. Kemudian ia berkata: “Apakah kamu punya keperluan?” Perempuan itu berkata: “Ya.”
Ia berkata: “Apa itu?” Perempuan itu berkata: “Bangkitlah dan gaulilah aku, karena aku sudah sangat berhasrat dan tidak memiliki suami.” Atha’ berkata: “Pergilah dariku, jangan kamu membakar diriku dan dirimu dengan api neraka.” Ia melihat perempuan cantik itu merayunya untuk berbuat maksiat dan tidak mau kecuali apa yang diinginkannya. Atha’ menangis dan berkata: “Celakalah kamu, pergilah dariku, pergilah dariku.” Tangisannya semakin keras. Ketika perempuan itu melihatnya dan tangisan serta kepanikan yang dialaminya, perempuan itu ikut menangis karena tangisannya. Atha’ menangis dan perempuan itu di hadapannya juga menangis.
Sementara dalam keadaan demikian, Sulaiman datang dari keperluannya. Ketika melihat Atha’ menangis dan perempuan itu di hadapannya menangis, ia ikut menangis melihat tangisan keduanya tanpa tahu apa yang membuat mereka menangis. Para sahabat mereka mulai berdatangan satu per satu. Setiap kali ada yang datang dan melihat mereka menangis, ia duduk ikut menangis karena tangisan mereka tanpa menanyakan perihal mereka, hingga tangisan bertambah banyak dan suara meninggi.
Ketika perempuan Arab itu melihat hal tersebut, ia berdiri dan keluar. Orang-orang berdiri dan masuk. Sulaiman setelah itu tidak menanyakan saudaranya tentang kisah perempuan tersebut karena menghormatinya dan segan kepadanya. Ia lebih tua darinya. Kemudian mereka berdua pergi ke Mesir untuk suatu keperluan dan tinggal di sana sekehendak Allah. Suatu malam Atha’ terbangun dalam keadaan menangis. Sulaiman berkata: “Apa yang membuatmu menangis, wahai saudaraku?” Ia berkata: “Mimpi yang aku lihat malam ini.” Sulaiman berkata: “Apa itu?” Atha’ berkata: “Jangan ceritakan kepada siapa pun selama aku masih hidup.
Aku melihat Nabi Yusuf alaihissalam dalam mimpi. Aku datang memandangnya di antara orang-orang yang memandang. Ketika aku melihat ketampanannya, aku menangis. Ia memandangku di antara orang-orang dan berkata: ‘Apa yang membuatmu menangis, wahai orang ini?’ Aku berkata: ‘Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, wahai Nabi Allah. Aku teringat dirimu dan istri Al-Aziz, apa yang kamu alami dari perkaranya, penderitaan penjara, dan perpisahan dengan Syekh Ya’qub, maka aku menangis karena itu dan merasa takjub.’ Ia shallallahu alaihi wasallam berkata: ‘Mengapa kamu tidak merasa takjub kepada orang yang mengalami perkara dengan perempuan Badui di Al-Abwa’?’ Aku mengetahui apa yang ia maksudkan, maka aku menangis dan terbangun dalam keadaan menangis.”
Sulaiman berkata: “Wahai saudaraku, bagaimana keadaan perempuan itu?” Atha’ menceritakan kisahnya kepadanya. Sulaiman tidak memberitahu kisah itu kepada siapa pun hingga Atha’ meninggal, lalu ia menceritakannya kepada seorang perempuan dari keluarganya. Hadits ini tidak tersebar di Madinah kecuali setelah kematian Sulaiman bin Yasar. Dan telah diriwayatkan kepada kami bahwa kisah ini terjadi pada Sulaiman bin Yasar, bukan pada Atha’.
Ibnu Nashir memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Ishaq Al-Barmaki memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Husain Az-Zaynabi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibnu Al-Marzaban menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakr Al-Amiri dan Sulaiman bin Ayyub Al-Madini menceritakan kepada saya, mereka berkata: Mush’ab bin Abdullah Az-Zubairi menceritakan kepada kami, ia berkata: Mush’ab bin Utsman menceritakan kepada kami, ia berkata: Sulaiman bin Yasar adalah salah satu orang yang paling tampan wajahnya. Seorang perempuan masuk kepadanya dan merayunya untuk berbuat maksiat, tetapi ia menolaknya. Perempuan itu berkata kepadanya: “Mendekatlah.” Ia keluar melarikan diri dari rumahnya dan membiarkan perempuan itu di dalamnya. Sulaiman bin Yasar berkata: Setelah itu aku melihat Yusuf alaihissalam dalam mimpi, dan seolah-olah aku berkata kepadanya: ‘Apakah kamu Yusuf?’ Ia berkata: ‘Ya, aku Yusuf yang sempat tergoda, dan kamu Sulaiman yang tidak tergoda.’
Telah mengabarkan kepada kami Mubarak bin Ali, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhammad bin Al-Allaf, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Al-Kharaiti, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Yusuf Az-Zuhri, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Zubair bin Bakkar, ia berkata: Dahulu Abdurrahman bin Abi Ammar dari Bani Jusym Muawiyah tinggal di Mekah dan ia termasuk ahli ibadah di sana, sehingga ia dijuluki Al-Qiss (pendeta) karena ibadahnya. Suatu hari ia melewati Salamah yang sedang menyanyi dan ia mendengar nyanyiannya. Tuannya melihatnya lalu mengajaknya untuk masuk menemuinya, namun ia menolak. Maka tuannya berkata kepadanya: “Duduklah di suatu tempat di mana engkau dapat mendengar nyanyiannya tanpa melihatnya.” Maka ia pun melakukannya. Lalu ia menyanyi dan ia terkesan. Tuannya berkata kepadanya: “Apakah engkau mau jika aku pindahkan dia kepadamu?” Ia menolak beberapa kali, kemudian ia menyetujui hal itu. Lalu ia melihatnya dan ia terkesan. Ia jatuh cinta kepadanya dan dia pun jatuh cinta kepadanya, dan ia adalah seorang yang tampan. Maka ia berkata padanya:
Wahai Ummu Salam, andai engkau merasakan kerinduan Sepersepuluh dari apa yang aku rasakan karenamu Wahai Ummu Salam, engkau adalah kegelisahan dan kesibukanku Dan Yang Maha Perkasa, Maha Memelihara, Sang Pencipta Wahai Ummu Salam, setiap kali aku mengingatmu Tersedak air mata dari pelupuk mataku
Ia berkata: Dan hal itu diketahui oleh penduduk Mekah, maka mereka menamakannya Salamah Al-Qiss. Suatu hari dia berkata kepadanya: “Demi Allah, aku mencintaimu.” Ia menjawab: “Dan aku demi Allah mencintaimu.” Dia berkata: “Demi Allah, aku ingin menempelkan mulutku pada mulutmu.”
Ia berkata: “Dan aku demi Allah menginginkan hal itu.” Dia berkata: “Lalu apa yang menghalangimu? Demi Allah, tempat ini sepi.” Ia berkata kepadanya: “Celakalah engkau! Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman: Teman-teman akrab pada hari itu sebagian mereka menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. Dan aku demi Allah tidak suka jika persahabatan antara aku dan engkau di dunia menjadi permusuhan pada hari kiamat.”
Kemudian ia bangkit sementara kedua matanya berlinang karena cintanya, dan ia kembali kepada jalan yang telah ia tempuh sebelumnya berupa kesalehan dan ibadah.
Ia biasa melewati pintunya setiap beberapa hari dan mengirim salam kepadanya. Maka dikatakan kepadanya: “Masuklah,” namun ia menolak. Di antara yang ia katakan padanya:
Sesungguhnya Salamah yang telah Membuatku kehilangan keteguhanku Seandainya engkau melihatnya dengan alat musik Di pangkuannya ketika ia memulai Untuk lagu As-Surayji, Al-Gharid Dan untuk Al-Qurm Mu’abbad Engkau akan mengira mereka di bawah alat musiknya Ketika ia memanggilnya dengan tangan
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nasir dan Abdullah bin Ali, keduanya berkata: Telah memberitakan kepada kami Tarrad, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Al-Husain Ibnu Bisyran, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ali Ibnu Shafwan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Qurasyi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Yazid An-Numairi, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Khallad bin Yazid, ia berkata: Aku mendengar para syaikh kami dari penduduk Mekah, di antaranya Sulaiman, menyebutkan bahwa Al-Qiss adalah di antara mereka yang paling baik ibadahnya dan paling suci dalam kesendiriannya. Bahwa ia suatu hari melewati Salamah, budak perempuan milik seorang laki-laki dari Quraisy, dan dialah yang dibeli oleh Yazid bin Abdul Malik. Ia mendengar nyanyiannya lalu berhenti untuk mendengarkan. Tuannya melihatnya lalu mendekat kepadanya dan berkata: “Apakah engkau mau masuk untuk mendengarkan?” Ia menolaknya, namun tuannya terus membujuknya hingga ia mau dan berkata: “Dudukkan aku di tempat di mana aku tidak melihatnya dan dia tidak melihatku.” Ia berkata: “Aku akan lakukan.”
Lalu ia masuk, dia menyanyi dan ia terkesan. Tuannya berkata: “Apakah engkau mau jika aku pindahkan dia kepadamu?” Ia menolak, kemudian menyetujuinya. Ia tidak berhenti mendengar nyanyiannya hingga ia jatuh cinta kepadanya dan dia jatuh cinta kepadanya. Hal itu diketahui oleh penduduk Mekah.
Suatu hari dia berkata kepadanya: “Demi Allah, aku mencintaimu.”
Ia berkata: “Dan aku demi Allah mencintaimu.”
Dia berkata: “Dan aku ingin menempelkan mulutku pada mulutmu.”
Ia berkata: “Dan aku demi Allah.”
Dia berkata: “Dan aku ingin menempelkan dadaku pada dadamu dan perutku pada perutmu.”
Ia berkata: “Dan aku demi Allah.” Dia berkata: “Lalu apa yang menghalangimu? Demi Allah, tempat ini sepi.” Ia berkata: “Sesungguhnya aku mendengar Allah berfirman: Teman-teman akrab pada hari itu sebagian mereka menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. Dan aku tidak suka jika persahabatan antara aku dan engkau berujung pada permusuhan kami pada hari kiamat.” Dia berkata: “Wahai, apakah engkau mengira bahwa Tuhanku dan Tuhanmu tidak akan menerima kami jika kami bertaubat kepada-Nya?” Ia berkata: “Tentu, tetapi aku tidak aman dari kematian mendadak.”
Kemudian ia bangkit sementara kedua matanya berlinang, lalu ia tidak kembali lagi dan kembali kepada apa yang ia lakukan sebelumnya berupa kesalehan.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nasir, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Ishaq Al-Barmaki, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Al-Husain Az-Zainabi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Marzuban, ia berkata: Berkata Ishaq bin Manshur: Telah menceritakan kepadaku Jabir bin Nuh, ia berkata: Aku berada di kota Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di dekat salah seorang penjual di pasar, lalu seorang laki-laki tua yang tampan wajahnya dan bagus pakaiannya melewatiku. Penjual itu berdiri menghampirinya lalu memberi salam dan berkata kepadanya: “Wahai Abu Muhammad, mintalah kepada Allah agar Dia mengagungkan pahala Anda dan menguatkan hatimu dengan kesabaran.”
Maka laki-laki tua itu menjawabnya:
Dan dia adalah tangan kananku dalam peperangan dan penolongku Maka aku menjadi seseorang yang tangan kanannya telah mengkhianatinya Dan aku menjadi orang yang tak mau beranjak karena kedukaan, kebingungan Seorang yang terpukul yang menyempit atasnya tempat-tempatnya
Penjual itu berkata kepadanya: “Wahai Abu Muhammad, bergembiralah karena sesungguhnya kesabaran adalah alat orang beriman dan aku benar-benar berharap Allah tidak menghalangimu dari pahala atas musibahmu.”
Aku berkata kepada penjual itu: “Siapakah laki-laki tua ini?” Ia berkata: “Seorang laki-laki dari kami, dari Anshar, dari Khazraj.” Aku berkata: “Apa kisahnya?” Ia berkata: “Ia ditimpa musibah karena anaknya yang berbakti kepadanya, yang telah mencukupi segala yang diperlukan. Dan kematiannya adalah kematian yang paling mengherankan.” Aku berkata: “Apa penyebab kematiannya?” Ia berkata: “Seorang perempuan dari Anshar mencintainya lalu mengutus seseorang kepadanya untuk mengadukan cintanya dan meminta kunjungan dan mengajaknya kepada perbuatan keji. Perempuan itu bersuami. Maka ia mengutus seseorang kepadanya:
Sesungguhnya yang haram adalah jalan yang tidak akan aku tempuh Dan tidak akan aku lewati selama aku hidup di antara manusia Maka carilah celaan karena aku tidak akan mengikuti Apa yang engkau inginkan, maka putus asalah darinya Sesungguhnya aku akan menjaga di antara kalian orang yang menjaga kalian Maka jangan engkau menjadi orang yang bodoh dan was-was
Ketika ia membaca surat itu, ia menulis kepadanya:
Tinggalkan hal yang engkau sebutkan ini Dan datanglah kepada keperluanku wahai orang yang keras Tinggalkan kesalehan, sesungguhnya aku bukan orang saleh Dan tidak masuk apa yang kau tunjukkan ke dalam kepalaku
Ia berkata: Maka ia membocorkan hal itu kepada seorang temannya. Temannya berkata kepadanya: “Seandainya engkau mengutus salah seorang keluargamu untuk menasihatinya dan mencegahnya, aku berharap dia akan berhenti darimu.” Ia berkata: “Demi Allah, aku tidak akan melakukannya dan tidak akan menjadi bahan pembicaraan di dunia. Dan aib di dunia lebih baik daripada neraka di akhirat.” Dan ia berkata:
Aib dalam masa dunia dan sedikitnya Akan fana dan tetap apa yang ada dalam aib yang menyakitiku Dan neraka tidak akan berakhir selama ada nafasku Dan aku bukan seseorang yang mati darinya sehingga aku fana Tetapi aku akan bersabar dengan kesabaran orang mulia yang mengharap pahala Semoga Tuhanku mendekatkanku dari surga Firdaus
Ia berkata: Dan ia berhenti darinya, lalu ia mengutus: “Kunjungilah aku atau aku akan mengunjungimu.” Maka ia mengutus kepadanya: “Bersabarlah wahai perempuan itu atas dirimu dan tinggalkan tergesa-gesa kepada perkara ini.”
Ketika ia putus asa darinya, ia pergi kepada seorang perempuan yang biasa membuat sihir. Ia memberikan hadiah kepadanya untuk membangkitkan nafsunya. Maka ia membuat sihir untuknya. Ketika ia sedang duduk suatu malam bersama ayahnya, tiba-tiba ingatannya terlintas di hatinya dan bangkit darinya suatu perkara yang tidak ia kenali, dan ia menjadi kacau.
Maka ia bangkit dari hadapan ayahnya dengan tergesa-gesa, lalu shalat dan berlindung, dan ia mulai menangis sementara perkara itu semakin bertambah. Ayahnya berkata kepadanya: “Wahai anakku, apa yang terjadi padamu?” Ia berkata: “Wahai ayah, tolonglah aku dengan belenggu karena aku merasa telah dikuasai atas akalku.”
Ayahnya mulai menangis dan berkata: “Wahai anakku, ceritakan kepadaku kisahnya.” Maka ia menceritakan kisahnya. Ayahnya bangkit menghampirinya lalu membelenggunya dan memasukkannya ke dalam sebuah kamar. Ia mulai menggeliat dan melenguh seperti lenguhan lembu, kemudian tenang sejenak. Tiba-tiba ia mati dan darah mengalir dari kedua lubang hidungnya.
Ibnu Al-Marzuban berkata: Dan telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Muhammad Al-Kufi, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Al-Utbi, ia berkata: Seorang laki-laki Arab jatuh cinta kepada seorang perempuan dan perkara itu berlangsung lama baginya dan baginya. Ketika mereka bertemu dan ia berkuasa atasnya dan berada di antara kedua kakinya, ia teringat akhirat dan datang penjagaan untuknya. Ia berkata: “Demi Allah, sesungguhnya seorang laki-laki yang menjual surga yang luasnya seluas langit dan bumi dengan celah di antara kedua kakimu sungguh sedikit penglihatan tentang ukurannya.”
Ibnu Al-Marzuban berkata: Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Muhammad Al-Harawi, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-Husain, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Al-Hakim bin Nashr, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdurrahman, ia berkata: Aku mendengar Ja’far bin Aun berkata: Aku mendengar seorang laki-laki tua dari Muzainah menceritakan dari ayahnya, ia berkata: Aku jatuh cinta kepada seorang budak perempuan dari Arab yang memiliki kecantikan dan kesempurnaan, dan aku pada saat itu tidak mencegah diri dari sesuatu yang aku inginkan. Aku tinggal beberapa waktu mengutus seseorang kepadanya dan dia mengutus seseorang kepadaku. Ketika hari-hari berlalu, aku mengutus seseorang kepadanya bahwa tidak ada yang lebih baik daripada pertemuan. Maka ia mengutus seseorang kepadaku dengan waktu. Aku berkata: “Malam ini di tempat ini dan ini.”
Ketika malam itu tiba, aku keluar dan dia keluar, lalu kami bertemu dan aku duduk mengadukan kepadanya. Ketika kami dalam keadaan seperti itu, seorang laki-laki tua berdiri di hadapan kami lalu memberi salam. Aku membalas salamnya. Ia berkata: “Apa yang membuatmu duduk di sini?” Aku berkata: “Ada keperluanku.” Ia berkata: “Dan siapakah perempuan ini?” Aku berkata: “Salah seorang keluargaku.” Ia berkata: “Subhanallah, engkau membawanya keluar pada waktu seperti ini?” Aku berkata: “Ada keperluan yang muncul.” Ia berkata kepadaku: “Wahai, sesungguhnya Allah ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: Atau apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira…” dan ia membaca ayat itu. “Maka berhati-hatilah wahai, jangan sampai engkau menjadi orang yang melakukan kejahatan, karena sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban setiap jiwa atas apa yang ia kerjakan. Maka berhati-hatilah, jangan sampai Dia mempermalukanmu ketika ditanya sedangkan tidak ada alasan bagimu.” Kemudian ia berkata: “Bangkitlah, semoga Allah memberkahimu berdua.”
Maka kami berdua bangkit dan aku tidak mampu melangkah karena malu darinya dan karena sangat takut kepadanya. Ketika aku berpaling, ia berkata: “Perhatikan apa yang aku wasiatkan kepadamu karena Dia bersamamu dan Dia melihatmu di mana pun engkau berada.”
Kemudian ia pergi. Aku mendengarnya berkata: “Ya Allah, jagalah mereka berdua agar mereka tidak bermaksiat kepada-Mu.” Dan seolah-olah telah hilang dari hatiku apa yang aku rasakan. Aku pulang dan aku bertekad untuk meninggalkannya. Utusannya datang kepadaku dengan salam. Aku berkata kepadanya: “Jangan kembali lagi kepadaku setelah hari ini.”
Ketika kabar itu sampai kepadanya, ia menulis kepadaku dengan syair ini:
Sesungguhnya aku membayangkan suatu perkara yang tidak aku pastikan Dan terkadang sebagian prasangka adalah penipuan Jika yang aku sangkakan hari ini wahai kekasihku Benar, maka panjang sudah penyiksaanku dan pemikiranku
Ketika aku membacanya, aku menulis kepadanya:
Wahai yang menyangka bahwa aku seperti yang engkau kenali Jangan engkau dustai, aku tidak lagi pada prasangka dan harapan Sesungguhnya aku takut siksa Allah menimpaku Dan ajalku mendekatkan aku dari ajal Maka dustakanlah prasangka pada kami dan tempuhlah jalan Yang akan menghentikanmu setelah cinta dari kami pada amal
Telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahhab dan Ibnu Nasir, keduanya berkata: Telah memberitakan kepada kami Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Al-Hasan bin Ali Al-Jauhari, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahim Al-Mazini, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Al-Qasim Al-Anbari, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-Marzuban, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Husain dengan sanad yang tidak dihafal oleh Abdullah, bahwa seorang pemuda yang memiliki kecantikan dan penampilan biasa sering melewati pintu seorang perempuan dari anak paman mertuanya. Ia melihatnya lalu jatuh cinta kepadanya. Ia melamarnya dari ayahnya namun ayahnya tidak berkenan dengannya. Hal itu sampai kepadanya, lalu ia mengutus seseorang kepada pemuda itu: “Telah sampai kepadaku apa yang terjadi darimu dan aku telah mencintaimu karena cintamu kepadaku. Jika engkau suka aku akan datang kepadamu, aku akan melakukannya, dan jika engkau ingin, aku akan memudahkan izin untukmu hingga engkau sampai kepadaku.”
Ia berkata: “Tidak, aku tidak mau. Sesungguhnya aku takut cintamu akan menjatuhkanku ke dalam neraka yang tidak padam dan siksa yang tidak terputus.”
Ketika pesannya sampai kepadanya, ia berkata: “Tidakkah aku melihatmu seorang pendeta sedangkan aku tidak tahu? Demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih berhak atas ini daripada yang lain. Dan sesungguhnya makhluk dalam janji dan ancaman adalah sama.”
Kemudian ia beribadah dan mengenakan kain wol. Hal itu menjadi besar bagi ayahnya dan menjadi besar dalam jiwa keluarganya. Ia tetap pada jalan ibadah ini hingga ia meninggal. Pemuda itu biasa mendatangi kuburnya setiap Jumat lalu berdoa dan memintakan ampun untuknya.
Ia berkata: Maka aku melihatnya suatu malam dalam mimpi. Aku berkata: “Si fulan?” Ia berkata: “Ya.”
Sebaik-baik cinta wahai yang aku tanyakan adalah cintamu Cinta yang menarik kepada kebaikan dan kebaikan
Aku berkata kepadanya: “Wahai kekasihku, kepada apa engkau kembali?” Ia berkata:
Kepada kenikmatan dan kerajaan yang tidak ada kemusnahannya Di surga Adn, keabadian yang bukan keabadian yang fana
Aku berkata kepadanya: “Wahai kekasih, apakah engkau mengingatku di sana?” Ia berkata: “Demi Allah, sesungguhnya aku menginginkanmu dari Tuanku dan Tuanmu. Maka tolonglah aku dengan amal saleh darimu, semoga Allah mengumpulkan kami di rumah-Nya, rumah kediaman yang kekal.” Kemudian ia memalingkan wajahnya untuk pergi.
Aku berkata kepadanya: “Wahai kekasihku, kapan aku melihatmu?” Ia berkata: “Segera, insya Allah.”
Maka pemuda itu hidup beberapa hari sedikit kemudian meninggal. Ia dikuburkan di sampingnya.
Telah mengabarkan kepada kami Al-Mubarak bin Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhammad bin Al-Allaf, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim Al-Kindi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar Al-Kharaiti, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yazid Al-Mubarrad, ia berkata: dari Ibnu Abi Kamil, dari Ishaq bin Ibrahim, dari Raja’ bin Amru An-Nakha’i, ia berkata: Di Kufah ada seorang pemuda yang tampan, sangat rajin beribadah dan bersungguh-sungguh, dan ia adalah salah seorang zahid. Ia tinggal di lingkungan kaum Nakha’, lalu ia melihat seorang gadis cantik dari mereka, maka ia jatuh cinta dan akalnya tergila-gila kepadanya. Gadis itu pun mengalami hal yang sama seperti yang dialami pemuda itu.
Maka pemuda itu mengirim lamaran kepada ayah gadis itu, namun ayahnya memberitahukan bahwa gadis itu sudah dijodohkan untuk anak saudaranya. Ketika keduanya sangat menderita karena rasa cinta, gadis itu mengirim pesan kepada pemuda tersebut: “Telah sampai kepadaku betapa keras cintamu kepadaku, dan aku pun sangat menderita karenamu. Jika kamu mau, aku akan mengunjungimu, dan jika kamu mau, aku akan memudahkan bagimu untuk datang kepadaku.”
Pemuda itu berkata kepada utusan: “Tidak satupun dari kedua pilihan ini akan kulakukan. Sesungguhnya aku takut, jika aku durhaka kepada Tuhanku, akan menerima azab di hari yang dahsyat. Aku takut api neraka yang apinya tidak pernah padam dan nyalanya tidak pernah mati.”
Ketika utusan itu kembali dan menyampaikan apa yang dikatakan pemuda itu, gadis itu berkata: “Aku melihatnya dengan sikap seperti ini adalah seorang zahid yang takut kepada Allah. Demi Allah, tidak ada yang lebih berhak atas sikap ini daripada yang lain, dan sesungguhnya para hamba Allah sama dalam hal ini.”
Kemudian ia meninggalkan dunia dan melemparkan segala keterkaitan dunia ke belakang punggungnya, mengenakan kain kasar dan mulai beribadah. Meski demikian, ia terus merana dan kurus karena cinta kepada pemuda itu dan duka karenanya, hingga akhirnya ia meninggal karena rindu kepadanya. Ia pun dikuburkan. Pemuda itu biasa datang ke kuburnya, menangis di sisinya dan mendoakan untuknya. Suatu hari matanya tertidur di kuburan gadis itu, lalu ia bermimpi melihatnya dalam penampilan yang paling indah.
Ia bertanya: “Bagaimana keadaanmu dan apa yang engkau alami sepeninggalku?”
Gadis itu menjawab dengan bait syair: Sebaik-baik cinta wahai kekasihku adalah cintamu, cinta yang membimbing kepada kebaikan dan kemuliaan.
Pemuda itu bertanya: “Lalu apa yang terjadi padamu setelah itu?”
Gadis itu menjawab: Kepada kenikmatan dan kehidupan yang tidak pernah lenyap, di surga Khuld, kerajaan yang tidak akan sirna.
Pemuda itu berkata kepadanya: “Ingatlah aku di sana, karena aku tidak akan melupakanmu.”
Gadis itu menjawab: “Aku pun demi Allah tidak akan melupakanmu. Sungguh aku telah memohon kepada Tuhanku dan Tuhanmu agar kita berdekatan, maka bantulah aku dalam hal itu dengan kesungguhan ibadahmu.” Kemudian ia berpaling pergi.
Pemuda itu bertanya: “Kapan aku akan melihatmu lagi?”
Gadis itu menjawab: “Engkau akan datang kepada kami tidak lama lagi dan akan melihat kami.”
Pemuda itu tidak hidup setelah mimpi itu kecuali tujuh malam saja.
Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar bin Habib Ash-Shufi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Abi Shadiq Al-Hairi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah bin Bakuwayh Asy-Syirazi, ia berkata: aku mendengar Al-Husain bin Ahmad Al-Farisi berkata: aku mendengar Ad-Duqi berkata: aku mendengar Abul Kiraz Mu’ammar berkata: aku mendengar Abu Zur’ah Al-Khaini berkata: Seorang wanita memperdayaiku, lalu ia berkata: “Wahai Abu Zur’ah, tidakkah engkau ingin menjenguk orang yang sedang sakit yang akan mendapat pahala dengan melihatnya?”
Aku menjawab: “Ya.” Ia berkata: “Masuklah ke rumah.”
Ketika aku masuk ke rumah, ia menutup pintu dan aku tidak melihat seorang pun. Aku mengetahui maksudnya, maka aku berdoa: “Ya Allah, hitamkanlah dia.” Maka ia menjadi hitam, ia bingung dan membuka pintu. Aku pun keluar dan berdoa: “Ya Allah, kembalikanlah ia kepada keadaan semula.” Maka Allah mengembalikannya kepada keadaan semula.
Telah memberitakan kepada kami Abdul Wahhab bin Al-Mubarak, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ali bin Al-Fatih, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdullah Ad-Daqqaq, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Hasan bin Shafwan, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Ubaid, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-Husain, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Utsman bin Zafar At-Taimi, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Umar Yahya bin Amir At-Taimi bahwa seorang lelaki dari kaumnya pergi berhaji. Di suatu malam ia bertemu seorang wanita yang menguraikan rambutnya di salah satu sumber air. Ia berkata: Lalu aku berpaling darinya, ia berkata: “Kemarilah, mengapa engkau berpaling dariku?”
Aku berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam.”
Maka ia mengenakan jilbabnya, lalu berkata: “Sungguh engkau telah menghormati (Allah). Sesungguhnya orang yang paling layak untuk bersamamu dalam penghormatan ini adalah orang yang ingin bersamamu dalam kemaksiatan.”
Ia berkata: Kemudian ia pergi, lalu aku mengikutinya. Ia masuk ke salah satu kemah orang-orang Arab. Ketika pagi tiba, aku mendatangi salah seorang dari mereka dan menggambarkan ciri-cirinya. Aku berkata: “Seorang gadis dengan begini dan begini dari kecantikannya, dari tutur katanya.” Seorang syaikh dari mereka berkata: “Demi Allah, itu anakku.”
Aku berkata: “Maukah engkau menikahkannya denganku?”
Ia berkata: “Dengan orang yang sekufu.”
Aku berkata: “Seorang lelaki dari Taim Allah.”
Ia berkata: “Kufu dan mulia.” Aku tidak beranjak hingga menikah dengannya dan menikahi/menikahinya. Kemudian aku berkata: “Siapkanlah ia untukku saat aku pulang dari haji.” Ketika aku pulang, aku membawanya ke Kufah, dan ia bersamaku. Aku memiliki anak-anak lelaki dan perempuan darinya.
Ia berkata: Aku berkata kepadanya: “Celaka engkau! Apa maksudmu menggodaku waktu itu?”
Ia berkata: “Wahai orang ini, janganlah engkau mendustakan. Tidak ada kebaikan bagi wanita selain dengan orang yang sekufu. Janganlah engkau kagum dengan wanita yang berkata ‘aku jatuh cinta’. Demi Allah, seandainya salah seorang berkulit hitam pun segera memberikan kepadanya sebagian dari apa yang ia inginkan dari cintanya, niscaya ialah yang menjadi cinta di sisinya, bukan cinta yang lain.”
Telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Tsabit bin Bundar, ia berkata: telah memberitakan kepadaku ayahku, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Abdullah Al-Husain bin Ja’far As-Salmasi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abul Abbas Al-Walid bin Bakr Al-Andalusi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abul Hasan Ali bin Ahmad bin Zakariya Al-Hasyimi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Shalih bin Ahmad bin Abdullah bin Muslim Al-Ijli, ia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku Abdullah, ia berkata: Ada seorang wanita cantik di Mekah dan ia memiliki suami. Suatu hari ia melihat wajahnya di cermin, lalu berkata kepada suaminya: “Menurutmu, adakah orang yang melihat wajah ini tidak terpesona?”
Ia menjawab: “Ada.”
Ia bertanya: “Siapa?”
Ia menjawab: “Ubaid bin Umair.”
Ia berkata: “Izinkanlah aku mendatanginya, aku akan memesonakannya.”
Ia berkata: “Aku telah mengizinkanmu.”
Ia berkata: Maka wanita itu mendatanginya seolah-olah meminta fatwa. Ubaid bin Umair menyendiri dengannya di sudut Masjidil Haram. Ia berkata: Lalu wanita itu menyingkap wajahnya yang bagaikan belahan bulan purnama.
Ubaid bin Umair berkata kepadanya: “Wahai hamba Allah…”
Ia berkata: “Sesungguhnya aku telah terpesona kepadamu, maka lihatlah urusanku.”
Ia berkata: “Aku akan menanyakan sesuatu kepadamu, jika engkau menjawabku dengan jujur, aku akan mempertimbangkan urusanmu.”
Ia berkata: “Tidak akan aku ditanya tentang sesuatu melainkan aku akan menjawabmu dengan jujur.”
Ia berkata: “Beritahukanlah kepadaku, seandainya malaikat maut datang kepadamu untuk mencabut nyawamu, apakah engkau akan senang bahwa aku telah memenuhi hajatmu ini?”
Ia menjawab: “Ya Allah, tidak.”
Ia berkata: “Engkau benar.”
Ia berkata: “Seandainya engkau dimasukkan ke dalam kuburmu dan didudukkan untuk dimintai pertanggungjawaban, apakah engkau akan senang bahwa aku telah memenuhi hajatmu ini?”
Ia menjawab: “Ya Allah, tidak.”
Ia berkata: “Engkau benar.”
Ia berkata: “Seandainya manusia diberi catatan amal mereka dan engkau tidak tahu apakah engkau akan menerima catatan amalmu dengan tangan kananmu atau tangan kirimu, apakah engkau akan senang bahwa aku telah memenuhi hajatmu ini?”
Ia menjawab: “Ya Allah, tidak.”
Ia berkata: “Engkau benar.”
Ia berkata: “Seandainya datang timbangan amal dan engkau didatangkan namun tidak tahu apakah timbanganmu ringan atau berat, apakah engkau akan senang bahwa aku telah memenuhi hajatmu ini?”
Ia menjawab: “Ya Allah, tidak.”
Ia berkata: “Engkau benar.”
Ia berkata: “Seandainya engkau berdiri di hadapan Allah untuk dimintai pertanggungjawaban, apakah engkau akan senang bahwa aku telah memenuhi hajatmu ini?”
Ia menjawab: “Ya Allah, tidak.”
Ia berkata: “Engkau benar.”
Ia berkata: “Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah. Sungguh Allah telah memberi nikmat kepadamu dan berbuat baik kepadamu.”
Ia berkata: Wanita itu kembali kepada suaminya. Suaminya bertanya: “Apa yang terjadi?”
Ia menjawab: “Engkau adalah orang yang menganggur dan kami adalah orang-orang yang menganggur.” Lalu ia menyibukkan diri dengan shalat, puasa, dan ibadah.
Ia berkata: Suaminya berkata: “Apa urusanku dengan Ubaid bin Umair? Ia telah merusak isteriku. Dulunya setiap malam seperti pengantin baru, sekarang ia menjadikannya rahib.”
Telah memberitakan kepada kami Syahdah, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad bin As-Sarraj, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad Ahmad bin Ali bin Al-Husain bin Abi Utsman dalam ijazahnya kepada kami, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abul Hasan Ahmad bin Musa Al-Qurasyi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Al-Anbari, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Marzuban, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Harun Al-Muqri, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Abdullah bin Rasyid, ia berkata: Seorang gadis Arab jatuh cinta kepada seorang pemuda dari kaumnya, dan pemuda itu adalah orang yang berakal.
Gadis itu sering mendatanginya, dan ketika sudah lama, ia jatuh sakit dan berubah. Ia berdaya upaya agar dapat bertemu muka dengannya, lalu ia mendekatinya dengan suatu urusan, namun pemuda itu menolaknya dan menjauhkannya. Penyakitnya bertambah parah hingga ia terbaring di tempat tidur. Ibu pemuda itu berkata kepadanya: “Sesungguhnya si fulanah telah sakit dan ia memiliki hak atas kita.”
Pemuda itu berkata: “Jenguklah ia dan katakan kepadanya: Ia bertanya kepadamu, apa kabarmu?”
Ibunya mendatanginya dan berkata kepadanya: “Apa yang kamu derita?”
Ia menjawab: “Sakit di hatiku yang menjadi pangkal penyakitku.”
Ibunya berkata: “Anakku bertanya kepadamu, apa penyakitmu?”
Gadis itu menghela nafas panjang dan berkata dengan bait syair: Ia bertanya tentang penyakitku padahal dialah penyakitku, sungguh aneh berita yang datang dari kabar ini.
Ibunya kembali dan memberitahukan kepadanya. Ibunya berkata: “Aku ingin engkau memintanya datang kepada kita agar kita dapat menunaikan haknya dan melayaninya.”
Pemuda itu berkata: “Mintalah hal itu kepadanya.”
Ibunya berkata: “Aku memang berniat melakukannya, tetapi aku ingin hal itu dari pendapatmu.”
Maka ibunya pergi kepadanya dan menyampaikan hal itu dari pemuda tersebut. Gadis itu menangis dan berkata dengan bait syair: Ia menjauhkanku dari kedekatan dan pertemuannya, maka ketika penyakit meluluhkan tubuhku, barulah ia berbelaskasihan.
Aku tidak akan datang ke tempat yang di dalamnya ada pembunuhku, cukuplah bagiku sebagai penyakit bahwa aku mati seperti ini, cukup.
Penyakit gadis itu semakin parah dan bertambah hingga akhirnya ia meninggal.
Telah memberitakan kepada kami Ali bin Ubaidillah, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Ja’far bin Al-Muslimah, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ismail bin Suwaid, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Al-Qasim Al-Kaukabi, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ibnu Abid Dunya, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Zaid Al-Utbi, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku kakekku Al-Hasan bin Zaid, ia berkata: Kami mengangkat seorang lelaki sebagai penguasa di tanah Mesir, lalu ia marah kepada salah seorang pegawainya, maka ia memenjarakannya dan membelenggunya. Putri penguasa itu melihatnya dari atas, lalu ia jatuh cinta kepadanya. Ia menulis surat kepadanya, dan pemuda itu pun telah melihatnya.
Wahai yang memanah dengan matanya, dan di pandangan itu ada kematian.
Jika engkau menginginkan perjumpaan maka sesungguhnya kijang jinak telah berada dalam genggamanmu.
Pemuda itu menjawabnya: Jika engkau melihatku sebagai pezina mata, maka kemaluanku suci.
Tidak ada kecuali pandangan yang lembut dan syair yang indah.
Maka gadis itu menulis kepadanya: Kami menginginkanmu dengan cintamu sebagai manusia yang suci.
Namun engkau menolak, maka semoga engkau selamanya menjadi teman belenggumu.
Pemuda itu menjawabnya: Aku tidak menolak karena aku benci kepada kijang itu.
Tetapi aku takut kepada Tuhan yang berbuat baik dan lembut kepadaku.
Syair itu tersebar dan berita itu sampai kepada penguasa. Ia memanggil pemuda itu, lalu menikahkannya dengan putrinya dan menyerahkannya kepadanya.
Dan diriwayatkan bahwa seorang lelaki menikahi seorang wanita dari negeri lain, lalu ia mengutus budaknya untuk membawanya kepadanya. Wanita itu merayu budak tersebut dan meminta agar budak itu mau bersetubuh dengannya. Budak itu berjuang melawan nafsunya dan meminta pertolongan kepada Allah Taala, maka Allah menjadikannya nabi di kalangan Bani Israil.
Telah menceritakan kepadaku Abu Muhammad Abdullah bin Ali Al-Muqri, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Sa’d bin Abi Umamah bahwa seorang lelaki mencintai seorang wanita dan wanita itu pun mencintainya. Keduanya bertemu, lalu wanita itu merayunya untuk bersetubuh. Pemuda itu berkata: “Sesungguhnya ajalku tidak di tanganku dan ajalmu tidak di tanganmu. Mungkin saja ajal sudah dekat, lalu kita bertemu Allah dalam keadaan berbuat maksiat.”
Wanita itu berkata: “Engkau benar.” Maka keduanya bertaubat dan keadaan keduanya menjadi baik.
Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ahmad al-Mutawakkili, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar al-Khatib, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad an-Naisaburi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Syazan, dia berkata: aku mendengar Abu Abdullah al-Qurasyi berkata: dahulu aku memiliki tetangga yang masih muda, dia adalah seorang sastrawan dan dia jatuh cinta pada seorang pemuda yang juga sastrawan. Suatu hari dia melihat beberapa helai rambut putih di kedua sisi wajahnya (si pemuda), maka timbullah sesuatu (kesadaran) dari kebenaran dalam dirinya, lalu dia meninggalkan dan membenci pemuda itu. Ketika pemuda itu melihat pemutusan hubungan tersebut, dia menulis kepadanya:
Mengapa aku dijauhi padahal aku tidak pernah menjauhi, dan tanda-tanda penolakan tidak tersembunyi. Aku melihatmu meminumku dicampur, padahal aku tahu dulu kau meminumku murni.
Dia (tetangga itu) membalik kertas surat dan menulis di belakangnya:
Bersikap kekanak-kanakan dengan uban, sesuatu yang kau namakan kepadaku sebagai langkah yang berlebihan. Jangan salahkan aku atas penolakanku, cukuplah bagiku apa yang telah terjadi. Aku adalah sandera atas apa yang telah kuperbuat, maka biarkanlah aku dari kesalahan. Sungguh kami telah melihat bapak semua makhluk, dalam satu kesalahan terjatuh.
Rangkaian Kisah Wanita-Wanita yang Menolak Perbuatan Keji Meskipun Mereka Mampu Melakukannya
Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ahmad bin al-Mutawakkili, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Ali, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Musa ash-Shairafi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah al-Ashbahani, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar al-Qurasyi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin ash-Shabbah, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Zaid bin al-Hubab, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Nasyith, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Bakar bin Abdullah al-Muzani bahwa seorang tukang daging jatuh cinta pada seorang budak wanita milik salah satu tetangganya. Keluarganya mengirimnya untuk suatu keperluan mereka ke desa lain, lalu dia mengikutinya dan membujuknya, maka wanita itu berkata: “Jangan lakukan itu, karena aku lebih mencintaimu daripada kau mencintaiku, tetapi aku takut kepada Allah.”
Dia berkata: “Kau takut kepada-Nya sedangkan aku tidak takut kepada-Nya?” Lalu dia kembali dengan bertobat. Kemudian kehausan menimpanya hingga hampir lehernya putus. Tiba-tiba dia bertemu dengan utusan salah satu nabi Bani Israil, lalu dia bertanya kepadanya. Dia (utusan) berkata: “Ada apa denganmu?” Dia berkata: “Kehausan.” Dia berkata: “Mari kita berdoa agar awan menaungi kita hingga kita masuk desa.” Dia berkata: “Tidak ada amal bagiku untuk berdoa.”
Dia berkata: “Aku yang akan berdoa dan kau mengamini saja.” Maka utusan itu berdoa dan dia mengamini, lalu awan menaungi mereka berdua hingga mereka sampai di desa. Tukang daging itu pergi ke tempatnya dan awan itu condong mengikutinya. Utusan itu kembali lalu berkata kepadanya: “Kau mengira tidak ada amal bagimu, padahal aku yang berdoa dan kau yang mengamini, lalu awan menaungi kita, kemudian aku mengikutimu agar kau memberitahuku apa urusanmu.”
Maka dia memberitahunya, lalu utusan itu berkata: “Orang yang bertobat kepada Allah berada di tempat yang tidak ada seorang pun dari manusia yang berada di tempatnya.”
Telah mengabarkan kepada kami Syahdah binti Ahmad al-Ibri, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad al-Qari, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Thahir Ahmad bin Ali as-Sawwaq, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Faris, dia berkata: telah menceritakan kepada kami az-Zainabi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Zuhair, dia berkata: berkata Ghailan, telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Ismail bin Salim dari Abu Idris al-Audi, dia berkata: ada dua orang laki-laki di kalangan Bani Israil yang beribadah, dan ada seorang budak wanita yang disebut Susan yang juga beribadah. Mereka biasa datang ke sebuah taman untuk mendekatkan diri dengan persembahan mereka. Kedua orang yang beribadah itu jatuh cinta pada Susan, dan masing-masing menyembunyikannya dari yang lain. Masing-masing bersembunyi di balik pohon untuk melihatnya. Lalu masing-masing dari mereka melihat temannya, maka masing-masing berkata kepada temannya: “Apa yang membuatmu tinggal di sini?” Maka masing-masing mengungkapkan kepada temannya cintanya pada Susan. Mereka bersepakat untuk membujuknya. Ketika dia datang untuk mendekatkan diri, mereka berdua berkata kepadanya: “Kau tahu ketaatan Bani Israil kepada kami, dan jika kau tidak menuruti kami, kami akan mengatakan besok pagi bahwa kami mendapatimu bersama seorang laki-laki dan laki-laki itu lolos dari kami sedangkan kami menangkapmu.” Maka dia berkata kepada mereka berdua: “Aku tidak akan pernah menuruti kalian.” Maka mereka menangkapnya dan membawanya keluar, lalu berkata: “Kami menangkap Susan bersama seorang laki-laki dan laki-laki itu mendahului kami dan pergi.”
Maka mereka menempatkan Susan di atas mimbar. Mereka biasa menempatkan orang yang bersalah selama tiga hari, lalu turunlah hukuman dari langit yang menimpanya.
Mereka menempatkan Susan, dan ketika hari ketiga tiba, datanglah Daniel yang berusia tiga belas tahun. Mereka meletakkan kursi untuknya, lalu dia duduk di atasnya dan berkata: “Hadapkan dia kepadaku.” Maka mereka berdua datang seperti orang yang mengejek. Dia berkata kepada salah satu dari mereka: “Di balik pohon apa kau melihatnya?” Dia berkata: “Di balik pohon apel.” Dan dia berkata kepada yang lain: “Di balik pohon apa kau melihatnya?” Maka mereka berbeda pendapat. Lalu turunlah api dari langit yang membakar mereka berdua, dan Susan pun selamat.
Abu Bakar berkata: dalam riwayat lain disebutkan bahwa dia berdiri untuk dirajam, lalu turunlah wahyu kepada Daniel yang berusia tujuh tahun.
Wahab bin Munabbih berkata: ada seorang laki-laki di kalangan Bani Israil dari kalangan para ahli ibadah yang sangat tekun dalam beribadah. Suatu hari dia melihat seorang wanita, maka tertanamlah dia di hatinya pada pandangan pertama. Dia berdiri dengan cepat hingga mengejarnya dan berkata: “Tunggu sebentar, wahai wanita ini.”
Maka dia berhenti dan mengenalnya, lalu berkata: “Apa keperluanmu?” Dia berkata: “Apakah kau memiliki suami?” Dia berkata: “Ya, lalu apa yang kau inginkan?” Dia berkata: “Seandainya bukan ini, ada pertimbangan bagi kita dalam hal itu.” Dia berkata: “Dan apa pertimbanganmu?” Dia berkata: “Ada sesuatu yang muncul di hatiku dari melihatmu.” Dia berkata: “Dan apa yang mencegahmu dari melaksanakannya?” Dia berkata: “Dan apakah kau akan mengikutiku dalam hal itu?” Dia berkata: “Ya.” Maka dia berduaan dengannya di suatu tempat. Ketika dia melihatnya bersungguh-sungguh dalam apa yang akan diperoleh, dia berkata: “Tunggu sebentar, wahai orang malang, jangan jatuhkan kedudukanmu di sisi-Nya.” Dia tersadar karenanya dan tenang dari hatinya apa yang dia rasakan dari fitnahnya.
Dia berkata kepadanya: “Semoga Allah tidak menghilangkan pahalamu atas perbuatanmu.”
Kemudian dia menyingkir ke suatu tempat dan berkata kepada dirinya: “Pilihlah, apakah kebutaan kedua mata atau pemotongan kemaluan atau pengembaraan di jalan-jalan binatang buas dan singa.” Maka dia memilih pengembaraan. Dia mengenakan pakaian pengembaraan dan keluar berkelana di padang pasir dan gurun hingga dia meninggal sambil menangisi pandangan itu.
Telah mengabarkan kepada kami Syahdah, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad bin as-Sarraj, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Thahir bin as-Sawwaq, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu al-Fath Muhammad bin Ahmad bin Faris, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ibrahim az-Zainabi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu al-Marzuban, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Muhammad bin Ubaid, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin al-Husain, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Sallam al-Jumahi, dia berkata: aku mendengar Kharijah bin Ziyad, seorang laki-laki dari Bani Salimah menyebutkan, dia berkata: aku jatuh cinta pada seorang wanita dari kampung, dan aku mengikutinya ketika dia keluar dari masjid. Dia mengetahui hal itu dariku, maka pada suatu malam dia berkata kepadaku: “Apakah kau memiliki keperluan?” Aku berkata: “Ya.” Dia berkata: “Dan apa itu?” Aku berkata: “Cintamu.” Dia berkata: “Tinggalkanlah itu untuk hari penyesalan.” Dia berkata: maka demi Allah dia membuatku menangis, dan aku tidak kembali lagi pada hal itu.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, dia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Mubarak bin Abdul Jabbar, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Ishaq al-Barmaki, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ja’far bin Salim, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Abdul Khaliq, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Yusuf al-Batti, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Umar bin Muhammad dari Abdussalam bin Ubaid dari seorang Arab, dia berkata: aku keluar pada salah satu malam yang gelap, tiba-tiba aku bertemu dengan seorang budak wanita seolah-olah dia adalah panji. Aku menginginkannya untuk diriku, maka dia berkata: “Celakalah kau, tidakkah kau memiliki pencegah dari akal jika kau tidak memiliki pencegah dari agama?” Aku berkata kepadanya: “Sungguh, demi Allah, tidak ada yang melihat kita kecuali bintang-bintang.” Dia berkata: “Lalu di mana yang menciptakan bintang-bintangnya?”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, dia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Mubarak bin Abdul Jabbar, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Ishaq al-Barmaki, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Hasan az-Zainabi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu al-Marzuban, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Manshur, dia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu al-Abbas at-Taimi, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdullah bin Yazid, dia berkata: telah menceritakan kepadaku ibuku dari ayahnya, dia berkata: aku mencintai seorang budak wanita dari Arab dan dia memiliki akal dan adab. Aku terus berdaya upaya dalam urusannya hingga aku berkumpul dengannya pada suatu malam yang gelap gulita yang sangat hitam di tempat yang sepi. Aku berbincang dengannya beberapa saat, kemudian jiwaku memanggilku kepadanya. Aku berkata: “Wahai ini, sungguh telah lama rinduku kepadamu.” Dia berkata: “Aku juga demikian.” Aku berkata: “Dan telah sulit pertemuan.”
Dia berkata: “Kami juga demikian.” Aku berkata: “Malam ini telah berlalu dan subuh telah dekat.” Dia berkata: “Begitulah syahwat-syahwat habis dan kenikmatan-kenikmatan terputus.” Aku berkata kepadanya: “Seandainya kau mendekatkanku darimu.”
Dia berkata: “Jauh, sangat jauh.”
Sesungguhnya aku takut akan hukuman dari Allah.
Aku berkata kepadanya: “Lalu apa yang memanggilmu untuk hadir bersamaku di tempat ini?”
Dia berkata: “Kecelakaan dan ujianku.”
Aku berkata: “Kapan aku melihatmu?” Dia berkata: “Aku tidak melihatku melupakanmu, adapun berkumpul bersamamu maka aku tidak melihat hal itu akan terjadi.”
Kemudian dia berpaling dari hadapanku, maka aku malu dengan apa yang aku dengar darinya. Aku kembali dan telah keluar dari hatiku apa yang aku rasakan dari cintanya.
Kemudian aku membuat syair:
Dia menjaga dari azab yang tidak tertahankan balasannya, dan tidak melakukan apa yang dia khawatirkan akan disiksa karenanya. Dia berkata perkataan yang hampir dari hebatnya malu, aku bingung di wajahku dalam keadaan hidup dan heran. Ketahuilah, celakalah cinta yang mewariskan kebutaan, dan menghadirkan api yang tidak bosan untuk melompat. Maka aku kembali dengan akhirku di atas permulaanku sambil berpikir, dan telah hilang dari hatiku kebutaan lalu menyelinap pergi.
Dia berkata: maka aku tidak melihat wanita yang lebih menjaga agamanya dan lebih berakal darinya.
Dan dengan sanad tersebut, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu al-Marzuban, dia berkata: telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Muhammad, dia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Husain bin Abdurrahman, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Muhammad asy-Syaibani, dia berkata: ada seorang laki-laki di Bashrah yang memiliki seorang petani, dan petani itu memiliki istri yang cantik jelita banyak dagingnya. Maka timbullah keinginan pada dirinya, lalu dia naik kendaraannya menuju istananya dan berkata kepada petani: “Petiklah untuk kami kurma basah dan simpan di ruang dalam.”
Kemudian dia berkata kepadanya: “Bawalah kepada fulan dan fulan.” Maka dia pergi membawanya. Ketika dia telah pergi, dia berkata kepada istrinya: “Tutuplah pintu istana.” Maka dia menutupnya.
Kemudian dia berkata kepadanya: “Tutuplah setiap pintu.” Maka dia melakukannya. Lalu dia berkata kepadanya: “Apakah masih ada pintu yang belum kau tutup?” Dia berkata: “Ya, satu pintu yang belum kututup.”
Dia berkata: “Dan pintu apa itu?” Dia berkata: “Pintu yang ada antara kita dan Allah Azza wa Jalla.”
Maka dia menangis, kemudian berdiri sambil berkeringat dan pergi tanpa melakukan dosa.
Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ahmad al-Mutawakkili, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar al-Khatib.
Dan telah mengabarkan kepada kami al-Mubarak bin Ali, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim al-Kindi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far al-Khara’ithi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin al-Junaid, dia berkata: telah menceritakan kepada kami seorang syaikh dari Bani Abdul Qais, dia berkata: aku mendengar mereka berkata bahwa seorang laki-laki menginginkan seorang wanita untuk dirinya, maka dia berkata: “Kau telah mendengar hadits dan membaca Alquran, maka kau lebih tahu.”
Maka dia berkata kepadanya: “Tutuplah pintu-pintu istana.” Maka dia menutupnya. Lalu dia mendekatinya, maka dia berkata: “Masih ada pintu yang belum kututup.”
Dia berkata: “Pintu apa?” Dia berkata: “Pintu yang ada antara kau dan Allah Ta’ala.” Maka dia tidak mengganggunya.
Telah mengabarkan kepada kami al-Mubarak bin Ali, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Fathimah binti Abdullah al-Khabariyyah, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin al-Hasan bin al-Fadhl, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Khalid, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu al-Mughirah al-Jauhari, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sa’id ad-Dimasyqi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami az-Zubair bin Bakkar, dia berkata: telah mengabarkan kepadaku Ali bin Utstsam, dia berkata: ada seorang syaikh dari penduduk Kufah yang berkuniah Abu asy-Sya’tsa’ yang bercanda dengan Dananir, budak wanita Ibnu Kunasah, dan dia menampakkan kepadanya bahwa dia mencintainya. Maka dia berkata tentangnya:
Bagi Abu asy-Sya’tsa’ ada cinta yang abadi, tidak ada di dalamnya tuduhan bagi yang menuduh. Wahai hatiku, maka terpelanglah darinya, dan wahai main-main cinta dengannya, maka duduklah dan berdirilah. Datang kepadaku darinya perkataan yang memikat, dan surat-surat orang yang jatuh cinta adalah perkataan. Pemburu yang gazelle-gazellenya memercayainya, seperti gazelle-gazelle dari tanah haram memercayai. Shalatlah jika kau suka diberi keinginan, wahai Abu asy-Sya’tsa’ demi Allah dan berpuasalah. Kemudian janjimu setelah kematian di surga Khuldi, sesungguhnya Allah Maha Penyayang. Di mana aku menemuimu sebagai pemuda yang tumbuh, bersenang-senang, sungguh telah sempurna padamu nikmat-nikmat.
Az-Zubair berkata: namun Ashim al-Mubarsam, yang merupakan keturunan Nafi’ maula Umar bin al-Khaththab, biasa bolak-balik mendatangi Ja’farah, budak wanita ar-Rawwas, dan mencintainya serta menampakkan kepadanya hal seperti itu hingga dia berduaan dengannya, lalu dia menawar dirinya. Maka dia berkata: “Maha Suci Allah, wahai Ashim, sesungguhnya aku mengira cintamu adalah cinta kepada pandangan dan candaan. Adapun yang haram, maka tidak ada jalan kepadanya denganku. Aku berlindung kepada Tuhanku dari hal itu.”
Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin al-Muhsin at-Tanukhi, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Umar bin Hayawaih, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Khalaf, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad Ja’far bin al-Fadhl al-Askari, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Mahbub bin Shalih dari ayahnya bahwa seorang laki-laki dari Arab melihat seorang wanita, maka tertanamlah dia di hatinya, lalu dia menyembunyikan hal itu selama bertahun-tahun. Kemudian urusan itu memuncak dan kerinduan menguasainya serta cinta membelenggunya. Maka dia mengirim kepadanya meminta dirinya dan mengabarkan kepadanya tentang apa yang dia rasakan dari cintanya. Maka dia menulis kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah, wahai laki-laki ini, dan jagalah dirimu serta malulah dari hasrat ini yang telah menempel padamu, karena hal itu lebih layak bagi orang-orang yang berakal.”
Ketika suratnya sampai kepadanya, bisikan menguasainya dan setan menguasainya, dan urusan terus bertambah hingga akalnya hilang. Dia tidak berakal kecuali tentang kabar atau ingatannya. Dia biasa datang pagi-pagi setiap hari lalu berdiri di depan pintu rumah tempat wanita itu tinggal, lalu berkata:
Wahai rumah, dihormati jika salam kami mencukupi, meskipun dalam salam ada kesembuhanku. Aku tidak berhenti menangisimu selama kaki kami berdiri, dan aku mencari kesembuhan denganmu dari sakitku dan penyakitku.
Kemudian dia pergi seperti orang yang bingung di wajahnya, dan tidak berhenti seperti itu hingga dia meninggal.
Telah mengabarkan kepada kami Mauhub bin Ahmad, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Ahmad bin al-Busri, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahman al-Mukhallish, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Nashr bin Buhair, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Ahmad bin Bakkar, dia berkata: telah menceritakan kepadaku al-Qasim bin Muhammad bin al-Harits al-Maruzi dari Ahmad bin Zuhair, dia berkata: aku mendengar Ibnu al-Mubarak berkata: Harun jatuh cinta pada seorang budak wanita, lalu dia menginginkannya. Dia menyebutkan bahwa ayahnya pernah menyentuhnya. Maka Harun sangat tergila-gila padanya hingga berkata:
Aku melihat air padahal dahagaku sangat, tetapi tidak ada jalan untuk minum. Tidakkah cukup bagimu bahwa kau memiliki diriku, dan bahwa semua manusia adalah hambaku. Dan bahwa jika kau memotong tangan dan kakiku, aku akan berkata dari keridhaan: kau telah berbuat baik, tambahlah.
Dia berkata: maka dia bertanya kepada Abu Yusuf tentangnya, lalu dia berkata: “Atau setiap kali seorang budak wanita berkata kau membenarkannya.”
Ibnu al-Mubarak berkata: dan aku tidak tahu siapa yang lebih mengherankan, Amirul Mukminin ketika dia tidak menginginkannya, ataukah dia ketika tidak menginginkan Amirul Mukminin, ataukah Abu Yusuf ketika dia memerintahkan untuk menyerangnya.
Shahidah memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Ali as-Sawwaq memberitahukan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Ahmad bin Faris menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Ibrahim al-Bashri menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Khalaf menceritakan kepada kami, dia berkata: Sebagian ahli sastra mengabarkan kepadaku dari Utsman bin Amr, dia berkata: Abdullah bin Shalih menceritakan kepadaku, dia berkata: Bilal bin Murrah menceritakan kepadaku, dia berkata: Telah sampai kepadaku bahwa seorang Arab Badui berduaan dengan seorang budak perempuan dari kaumnya, lalu dia merayunya untuk menuruti keinginannya. Perempuan itu berkata, “Celakalah engkau! Demi Allah, seandainya apa yang engkau ajak itu halal, sungguh hal itu tetaplah buruk.” Dia berkata, “Bagaimana bisa begitu?” Perempuan itu berkata, “Karena Allah adalah saksinya.” Dia berkata: Maka lelaki itu tidak mengulangi lagi.
Ibnu Khalaf berkata: Abu Bakar al-Qurasyi menceritakan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin al-Abbas an-Numayri menceritakan kepadaku, dia berkata: Abu Utsman at-Taymi menceritakan kepadaku, dia berkata: Seorang lelaki melewati seorang rahib perempuan yang termasuk wanita tercantik, lalu dia terpesona olehnya. Dia berusaha dengan halus untuk naik menemuinya dan bermaksud menggaulinya, tetapi perempuan itu menolak dan berkata, “Jangan tertipu dengan apa yang engkau lihat, karena sesungguhnya ini sama sekali bukan sesuatu (yang sepele).” Namun lelaki itu tetap memaksakan kehendaknya hingga dia menguasai dirinya. Di samping perempuan itu ada pedupaan kemenyan, lalu dia meletakkan tangannya ke dalamnya hingga terbakar. Setelah lelaki itu memenuhi hasratnya, dia berkata kepadanya, “Apa yang mendorongmu melakukan apa yang telah kau lakukan?” Perempuan itu menjawab, “Ketika engkau memaksaku, aku khawatir aku ikut merasakan kelezatan bersamamu sehingga aku akan ikut berbagi dalam kemaksiatan. Maka aku melakukan itu karena alasan tersebut.”
Lelaki itu berkata, “Demi Allah, aku tidak akan pernah bermaksiat kepada Allah lagi,” dan dia bertobat dari apa yang telah dia lakukan. Dan sampai kepada kami bahwa salah seorang wanita ahli ibadah dari Bashrah jatuh di hati seorang lelaki dari keluarga Muhallabi. Dia cantik dan pernah dipinang tetapi selalu menolak. Sampai kepada lelaki Muhallabi itu bahwa dia ingin menunaikan haji, maka dia membeli tiga ratus unta dan mengumumkan, “Siapa yang hendak berhaji, silakan menyewa dari fulan al-Muhallabi.” Perempuan itu pun menyewa darinya. Ketika berada di tengah perjalanan, lelaki itu mendatanginya di malam hari dan berkata, “Engkau harus menikahkan dirimu kepadaku atau yang lainnya.” Perempuan itu berkata, “Celakalah engkau! Bertakwalah kepada Allah!” Dia berkata, “Yang ada hanyalah apa yang engkau dengar. Demi Allah, aku bukanlah pemilik unta, dan aku tidak keluar dalam perjalanan ini kecuali karena engkau.”
Ketika perempuan itu takut atas dirinya, dia berkata, “Celakalah engkau! Lihatlah, apakah masih ada seorang pun dari kaum lelaki yang belum tidur?” Dia berkata, “Tidak ada.”
Perempuan itu berkata, “Kembalilah dan lihatlah lagi.”
Maka dia pergi dan kembali, lalu berkata, “Tidak ada yang tersisa kecuali semuanya sudah tidur.” Perempuan itu berkata, “Celakalah engkau! Apakah Rabb semesta alam tidur?” Kemudian dia menjerit sekali jeritan dan rebah mati.
Lelaki Muhallabi itu rebah pingsan. Kemudian dia berkata, “Celakalah aku! Aku telah membunuh seorang jiwa dan tidak mencapai keinginanku.” Maka dia keluar melarikan diri.
Az-Zubair bin Bakkar meriwayatkan, dia berkata: Thariq bin Abdul Wahid menceritakan kepadaku dari Abu Abdurrahman al-Makhzumi, dia berkata: Umar bin Abi Rabi’ah bertemu Laila binti al-Harits bin Auf ketika dia sedang mengendarai keledainya pulang dari haji. Maka dia berkata, “Berhentilah, aku akan membacakan untukmu sebagian dari apa yang telah aku buat tentangmu.” Lalu dia berkata:
Aku menjadi gila jika melihat keindahan Sa’da Dan aku menangis jika melihat teman kencannya Wahai Sa’d, sesungguhnya obat penyakitku Adalah pemberianmu jika engkau memberikannya, maka berikanlah kepada kami Sungguh telah tiba waktu kepergian dan dekat sudah Perpisahan kami darimu, maka lihatlah apa yang engkau perintahkan kepada kami
Perempuan itu berkata, “Aku memerintahkanmu untuk bertakwa kepada Allah dan meninggalkan apa yang sedang engkau lakukan.” Abu Abdullah al-Husain bin Muhammad ad-Damaghani meriwayatkan bahwa salah seorang raja Ajam keluar berburu dan terpisah dari para sahabatnya. Dia melewati sebuah desa dan melihat seorang wanita cantik, lalu merayunya untuk menuruti keinginannya. Perempuan itu berkata, “Aku sedang tidak suci, maka aku akan bersuci dan datang.” Dia masuk ke rumahnya dan mengeluarkan sebuah kitab darinya, lalu berkata, “Lihatlah kitab ini hingga aku datang.” Raja itu melihat ke dalamnya, ternyata di dalamnya disebutkan hukuman untuk zina. Maka dia melupakan perempuan itu dan keluar, lalu mengendarai kuda. Ketika suaminya datang, perempuan itu menceritakan kejadiannya. Suaminya tidak mau mendekatinya karena khawatir raja masih menginginkannya, maka dia menjauhinya. Keluarga perempuan itu mengadu kepada raja, mereka berkata, “Semoga Allah memuliakan raja. Sesungguhnya kami memiliki tanah yang dikuasai lelaki ini, tetapi dia tidak memakmurkannya dan tidak mengembalikannya kepada kami. Dia telah menelantarkannya.” Raja berkata kepadanya, “Apa katamu?” Dia berkata, “Sesungguhnya aku melihat di tanah ini bekas singa, dan aku takut masuk karenanya.”
Raja memahami persoalannya, lalu berkata, “Makmurkan tanahmu, karena singa tidak akan memasukinya. Tanahmu itu sangat baik.”
Asbahd Wadast ad-Dailami, sang penyair, menulis kepada seorang wanita di masa mudanya:
Apa katamu tentang pemuda yang mencintaimu Dan cita-citanya adalah melihatmu setiap saat Dia telah menyepi dengan kegundahan karenamu Lidahnya tidak henti menyebutmu
Perempuan itu menjawabnya:
Aku bukan termasuk orang yang menginginkan pertemuan yang haram Sesungguhnya melakukan yang haram seperti syirik Jika engkau menginginkan yang halal dari kami, kami patuhi Dan jika tidak, maka beralilah kepada menahan diri Sesungguhnya sebaik-baik perbuatan adalah yang akibatnya Keselamatan dari bahaya dan kebinasaan
Bab Ketiga Puluh Tiga: Anjuran Untuk Menikah
Hibatullah bin Muhammad asy-Syaibani memberitahukan kepada kami, dia berkata: al-Hasan bin Ali at-Tamimi memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Ja’far memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, dia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, dia berkata: Ya’la bin Ubaid menceritakan kepada kami.
Dan Abdul Awwal memberitahukan kepada kami, dia berkata: ad-Dawudi memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ibnu A’yan memberitahukan kepada kami, dia berkata: al-Farbari menceritakan kepada kami, dia berkata: al-Bukhari menceritakan kepada kami, dia berkata: Umar bin Hafsh menceritakan kepada kami, dia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami.
Dan Abu Bakar az-Zaghuni memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abul Fath asy-Syasyi memberitahukan kepada kami.
Dan Abu Abdurrahman al-Marwazi memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu Abdullah al-Farawi memberitahukan kepada kami, keduanya berkata: Abdul Ghafir al-Farisi memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ibnu Amrawayh memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan menceritakan kepada kami, dia berkata: Muslim bin al-Hajjaj menceritakan kepada kami, dia berkata: Utsman bin Abi Syaibah menceritakan kepada kami, dia berkata: Jarir menceritakan kepada kami.
Dan al-Karukhi memberitahukan kepada kami, dia berkata: al-Azdi dan al-Ghurji memberitahukan kepada kami, keduanya berkata: al-Jarrahi memberitahukan kepada kami, dia berkata: al-Mahbubi menceritakan kepada kami, dia berkata: at-Tirmidzi menceritakan kepada kami, dia berkata: Mahmud bin Ailan menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Ahmad menceritakan kepada kami, dia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami, dia berkata: al-A’masy memberitahukan kepada kami dari Amarah bin Umair dari Abdurrahman bin Yazid, dia berkata: Abdullah berkata, “Kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai para pemuda yang tidak memiliki apa-apa. Maka beliau bersabda: ‘Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah, karena hal itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena puasa itu baginya adalah pengekang.'”
Al-Khaththabi berkata: Al-ba’ah adalah kinayah dari nikah, dan asal kata al-ba’ah adalah tempat yang dituju oleh manusia, dan darinya diambil kata maba’ah al-ghanam yaitu tempat berlindung yang dituju pada malam hari. Al-waja’ adalah penghancuran buah zakar, dan pengebirian adalah mencabutnya.
Dalam hadits ini terdapat dalil tentang bolehnya berobat untuk memutus kemampuan pernikahan dengan obat-obatan karena sabdanya, “Maka hendaklah dia berpuasa.”
Ibnul Hashshin memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ibnul Madzhab memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Ja’far memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, dia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, dia berkata: Hajjaj menceritakan kepada kami, dia berkata: Laits menceritakan kepada kami, dia berkata: Uqail menceritakan kepadaku dari Ibnu Syihab, dia berkata: Sa’id bin al-Musayyab memberitahukan kepadaku bahwa dia mendengar Sa’d bin Abi Waqqash berkata, “Utsman bin Mazh’un berniat untuk hidup membujang, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam melarangnya. Seandainya beliau mengizinkan hal itu, niscaya kami akan mengebiri diri kami.”
Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, begitu juga hadits sebelumnya.
At-tabattul adalah terputus untuk beribadah dari pernikahan. Darinya diambil kata thalqah batlah (cerai yang putus). Dan dikatakan kepada Maryam al-Batul karena terputusnya dia dari suami-suami.
Ibnul Hashshin memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ibnul Madzhab memberitahukan kepada kami, dia berkata: al-Qathi’i memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, dia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Rasyid memberitahukan kepada kami dari Makhul dari seorang lelaki dari Abu Dzar, dia berkata, “Seorang lelaki yang dipanggil Ikkaf bin Bisyr at-Tamimi masuk menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: ‘Wahai Ikkaf, apakah engkau memiliki istri?’ Dia berkata, ‘Tidak.’ Beliau berkata, ‘Tidak pula budak perempuan?’ Dia berkata, ‘Tidak.’ Beliau berkata, ‘Dan engkau orang mampu?’ Dia berkata, ‘Dan aku orang mampu.’ Beliau berkata, ‘Kalau begitu engkau termasuk saudara-saudara setan.
Seandainya engkau termasuk orang Nasrani, niscaya engkau termasuk para pendeta mereka. Sesungguhnya sunnah kami adalah menikah. Orang-orang terburuk kalian adalah para jejaka, dan orang-orang yang paling hina yang meninggal di antara kalian adalah para jejaka.
Apakah kalian bergaul dengan setan? Tidak ada senjata bagi setan yang lebih ampuh terhadap orang-orang shalih selain wanita, kecuali orang-orang yang sudah menikah. Mereka itulah orang-orang yang disucikan dan dibebaskan dari perbuatan keji. Celakalah engkau wahai Ikkaf! Sesungguhnya mereka (wanita) adalah teman-teman Ayyub, Daud, Yusuf, dan Karsaf.'” Bisyr bin Athiyyah berkata kepadanya, “Siapakah Karsaf wahai Rasulullah?” Beliau berkata, “Seorang lelaki yang beribadah kepada Allah di pantai laut selama tiga ratus tahun, berpuasa di siang hari dan shalat di malam hari. Kemudian dia kafir kepada Allah Yang Maha Agung karena seorang wanita yang dia cintai dan meninggalkan apa yang dia lakukan berupa ibadah kepada Allah Azza wa Jalla. Kemudian Allah menjangkaunya dengan sebagian dari apa yang ada padanya, lalu Dia menerima tobatnya. Celakalah engkau wahai Ikkaf! Menikahlah, jika tidak maka engkau termasuk orang-orang yang ragu-ragu.” Dia berkata, “Nikahkanlah aku wahai Rasulullah.” Beliau berkata, “Aku telah menikahkanmu dengan Karimah binti Kaltsum al-Humairi.”
Abdurrahman bin Muhammad memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitahukan kepada kami, dia berkata: al-Qadhi Abul Ala al-Wasithi memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Muhammad al-Muzani memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu Ya’la Ahmad bin Ali bin al-Mutsanna memberitahukan kepada kami, dia berkata: al-Husain bin al-Hasan asy-Syailmani menceritakan kepada kami, dia berkata: Khalid bin Ismail al-Makhzumi menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Umar menceritakan kepada kami dari Shalih bin Abi Shalih, maula at-Tau’amah, dari Jabir, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Pemuda mana saja yang menikah di masa mudanya, setannya berteriak: ‘Celakalah aku! Dia telah menjaga agamanya dariku.'”
Hibatullah bin Ahmad al-Hariri memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu Ishaq al-Barmaki memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu Bakar bin Bukhaits memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ismail bin Musa menceritakan kepada kami, dia berkata: Jabbarah menceritakan kepada kami, dia berkata: Mandal menceritakan kepada kami dari Yahya bin Abdurrahman bin Labibah dari ayahnya dari kakeknya, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang anaknya sudah mencapai usia nikah dan dia memiliki kemampuan untuk menikahkannya tetapi tidak menikahkannya, lalu anak itu berbuat dosa, maka dosanya ditanggung keduanya.”
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abi Manshur, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abdul Qadir bin Yusuf, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Bakar Al-Khayyath, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Al-Fath bin Abi Al-Fawaris, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ja’far Al-Khatli, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Abdul Khaliq, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Marwazi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Ibnu Thawus dari ayahnya, ia berkata: Wanita adalah separuh agama laki-laki.
Al-Marwazi berkata: Aku mendengar Abu Abdillah berkata: Membujang bukanlah bagian dari urusan Islam sama sekali. Nabi shallallahu alaihi wasallam menikah dengan empat belas wanita dan wafat meninggalkan sembilan istri. Kemudian ia berkata: Seandainya Bisyr bin Al-Harits menikah, niscaya sempurnalah seluruh urusannya. Seandainya manusia meninggalkan pernikahan, mereka tidak akan berperang dan tidak akan berhaji serta tidak akan begini dan tidak akan begitu. Nabi shallallahu alaihi wasallam ada kalanya di pagi hari tidak memiliki sesuatu pun di sisi mereka dan di sore hari pun tidak memiliki apa-apa, dan beliau wafat meninggalkan sembilan istri, namun beliau memilih menikah dan mendorong untuk melakukannya.
Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang membujang. Barangsiapa berpaling dari perbuatan Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka ia tidak berada di atas kebenaran.
Yakub dalam kesedihannya tetap menikah dan dikaruniai anak. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: Dijadikan kecintaan kepadaku terhadap wanita. Aku berkata: Sesungguhnya Ibrahim bin Adham diceritakan tentangnya bahwa ia berkata: Sungguh mengharukan orang yang memiliki tanggungan keluarga. Aku tidak mampu menyelesaikan hadits itu hingga ia berteriak kepadaku dan berkata: Kita telah terjatuh ke dalam hal yang tidak penting. Perhatikanlah, semoga Allah memberimu kesejahteraan, apa yang Muhammad dan para sahabatnya jalani. Dan ia berkata: Tangisan seorang anak di hadapan ayahnya dengan tidak sabar, meminta roti darinya, lebih utama dari ini dan itu. Di mana ahli ibadah yang membujang dapat menyamai hal itu?
Telah mengabarkan kepada kami Syahdah binti Ahmad, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad bin As-Sarraj, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Al-Husain Al-Jazari, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Muafa bin Zakariya, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Al-Anbari, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ar-Rabi’ Al-Khazzaz, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Yunus bin Bukair Asy-Syaibani, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abu Ishaq dari As-Sa’ib bin Jubair, maula Ibnu Abbas, dan ia telah bertemu dengan para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ia berkata: Aku terus mendengar hadits Umar bin Al-Khaththab bahwa ia keluar pada suatu malam berkeliling di Madinah, dan ia sering melakukan hal itu. Tiba-tiba ia melewati seorang wanita dari wanita Arab yang pintu rumahnya tertutup, dan ia sedang berkata:
Panjang malam ini, bintang-bintangnya berjalan Dan aku tidak bisa tidur karena tidak ada kekasih yang kubercandai Aku bercanda dengannya kadang-kadang, dan kadang-kadang seolah-olah Bulan purnama muncul dalam kegelapan malam, keningnya Orang yang bermain-main dekat dengannya merasa senang Lemah lembut hatinya, kerabatnya tidak dapat memeluknya Demi Allah, seandainya bukan karena Allah, tidak ada yang lain selain-Nya Niscaya akan terguncang sisi-sisi tempat tidur ini Tetapi aku takut kepada pengawas yang ditugaskan Atas diri kami, tidak akan berhenti sepanjang masa penulisnya
Kemudian ia menarik napas panjang dan berkata: Sungguh ringan bagi Umar bin Al-Khaththab kesepianku dan ketidakhadiran suamiku dariku.
Umar berdiri mendengarkan perkataannya, lalu ia berkata kepadanya: Semoga Allah merahmatimu, semoga Allah merahmatimu. Kemudian ia mengirimkan kepadanya pakaian dan nafkah, dan menulis agar suaminya dipulangkan kepadanya.
Bab
Dianjurkan bagi orang yang hendak menikah untuk melihat calon istrinya. Telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: Barangsiapa hendak menikahi seorang wanita, hendaklah ia melihat darinya apa yang mendorongnya untuk menikahinya, karena hal itu lebih mungkin untuk memperkuat kecocokan di antara keduanya. Hendaknya ia memilih wanita yang beragama disertai dengan kecantikan. Beliau shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: Pilihlah yang beragama, niscaya tanganmu beruntung.
Adapun orang yang diuji dengan cinta, lalu ia ingin menikah, hendaklah ia berusaha keras untuk menikahi wanita yang ia cintai jika hal itu benar dan diperbolehkan baginya. Jika tidak, hendaklah ia memilih apa yang ia perkirakan dapat menghiburnya dari hal itu, yaitu apa yang jatuh di hatinya ketika melihatnya. Tanda dari hal itu adalah ketika ia melihat seseorang, hatinya terikat padanya dan pandangannya membeku, hampir tidak dapat berpaling darinya. Inilah tanda kecintaan.
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Hamad bin Ahmad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Ahmad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul Jabbar bin Abi Amir As-Sailahini, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Salam Al-Khatsa’mi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Atha’ Al-Khurasani, ia berkata: Tertulis dalam Taurat: Setiap pernikahan tanpa kecintaan adalah penyesalan dan kesedihan hingga hari kiamat.
Bab Ketiga Puluh Empat tentang Celaan bagi Orang yang Menghasut Istri Melawan Suaminya
Telah mengabarkan kepada kami Ismail bin Abi Shalih Al-Mu’azzin, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abdullah bin Ali bin Ishaq Al-Faqih, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Hassan Muhammad bin Ahmad Al-Muzakki, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Al-Attar, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Ishaq, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Sulaiman Al-Mishri, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Malik bin Anas dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa menghasut seorang istri melawan suaminya, maka ia bukan termasuk golongan kami.
Telah mengabarkan kepada kami Abu Manshur Al-Qazzaz, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Ali, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Syahriyar, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Sulaiman bin Ahmad Ath-Thabrani, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdus Salam bin Sahl As-Sukri, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah Al-Azdi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Tsumailah Yahya bin Wadhih dari Abu Zhabyah Al-Khurasani, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Mijlaz dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah bersabda: Barangsiapa menghasut seorang istri melawan suaminya atau seorang budak melawan tuannya, maka ia bukan termasuk golongan kami.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Al-Hushain, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ibnu Al-Maz-hab, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Bakar bin Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki’, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Walid bin Tsa’labah dari Abdullah bin Yazid dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Bukan termasuk golongan kami orang yang bersumpah dengan amanah, dan barangsiapa menghasut istri atau budak seorang laki-laki, maka ia bukan termasuk golongan kami.
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi Al-Bazzaz, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ali bin Al-Husain bin Ahmad Al-Ukbari, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Al-Hasan bin Ahmad Al-Farisi, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Mihraz Al-Adami, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Fadhl bin Salamah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muawiyah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ath-Thayyib dari Yahya bin Sa’id dari Sa’id bin Al-Musayyab dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa merusak seorang istri terhadap suaminya, maka ia bukan dari golonganku, dan barangsiapa merusak seorang budak terhadap tuannya, maka ia bukan dari golonganku.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Al-Hushain, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Ali At-Tamimi, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Bakar bin Hamdan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Jawwab, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ammar bin Raziq dari Abdullah bin Isa dari Ikrimah dari Yahya bin Ya’mar dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa menghasut pembantu melawan keluarganya, maka ia bukan dari golongan kami, dan barangsiapa merusak seorang istri terhadap suaminya, maka ia bukan dari golongan kami.
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Nashir, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad bin As-Sarraj, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami hakim Abu Al-Husain At-Tauzi, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Umar bin Syahin, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ali, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Yunus, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Rauh bin Aslam, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Atha’ bin As-Sa’ib dari Maisarah, ia berkata: Dahulu ada seorang laki-laki dari Bani Israil, termasuk ahli ibadah Bani Israil, bekerja dengan sekop. Ia memiliki istri yang termasuk wanita terjelita dari Bani Israil. Kecantikannya sampai ke telinga seorang penguasa zalim dari penguasa-penguasa Bani Israil, lalu ia mengutus seorang wanita tua kepadanya dan berkata: Hasutlah ia untuk melawan suaminya dan katakan kepadanya: Apakah kamu ridha berada di sisi orang seperti ini yang bekerja dengan sekop? Seandainya kamu bersamaku, aku akan menghiasimu dengan emas, memakaimu dengan sutra, dan memberikan banyak pelayan kepadamu.
Wanita itu mendekatinya. Istri itu biasa menghidangkan makanan berbuka puasa suaminya dan membentangkan tempat tidurnya, tetapi ia tidak melakukannya lagi dan berubah terhadapnya. Suaminya berkata: Wahai wanita, apa sikap ini yang tidak aku kenal? Ia menjawab: Ini seperti yang kamu lihat. Ia berkata: Maka aku menceraikanmu. Ia menjawab: Ya. Lalu ia menceraikannya, dan penguasa Bani Israil itu menikahinya. Ketika ia masuk kepadanya dan tirai diturunkan, ia menjadi buta dan istrinya pun menjadi buta. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuhnya, maka tangannya kaku. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuhnya, maka tangannya kaku. Mereka berdua menjadi tuli dan bisu, dan syahwat dicabut dari keduanya.
Ketika pagi tiba dan tirai diangkat, ternyata mereka tuli, buta, dan bisu. Kabar tentang keduanya dilaporkan kepada nabi Bani Israil. Nabi itu melaporkan kabar mereka kepada Allah, maka Allah berfirman: Aku tidak akan mengampuni keduanya selamanya. Apakah mereka mengira bahwa tidak ada di hadapan mata-Ku apa yang mereka lakukan terhadap pemilik sekop itu?
Kisah ini telah diriwayatkan kepada kami dari Salman Al-Farisi.
Telah mengabarkan kepada kami Syahdah binti Ahmad, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad bin As-Sarraj, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Amir Abu Muhammad Al-Hasan bin Isa bin Al-Muqtadir billah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Abbas Ahmad bin Manshur Al-Yaskuri, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah bin Arafah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Musa Asy-Syami, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Rauh bin Aslam, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Atha’ bin As-Sa’ib dari Abu Al-Bakhtari dari Salman, ia berkata: Dahulu di Bani Israil ada seorang wanita yang cantik, ia berada di sisi seorang laki-laki yang bekerja dengan sekop. Ketika ia pulang di malam hari, istrinya menghidangkan makanannya dan membentangkan tempat tidurnya.
Kabar tentangnya sampai kepada raja pada masa itu, lalu ia mengutus seorang wanita tua dari Bani Israil kepadanya. Wanita itu berkata kepadanya: Apa yang kamu lakukan dengan orang yang bekerja dengan sekop ini? Seandainya kamu di sisi raja, ia akan memakaimu dengan sutra dan membentangkan untukmu permadani sutra.
Ketika perkataan itu masuk ke telinganya, suaminya pulang di malam hari, tetapi ia tidak menghidangkan makanannya dan tidak membentangkan tempat tidurnya. Suaminya berkata kepadanya: Apa sikap ini, wahai wanita? Ia menjawab: Ini seperti yang kamu lihat.
Ia berkata: Aku menceraikanmu. Ia berkata: Ya. Lalu ia menceraikannya dan raja itu menikahinya. Ketika ia dibawa kepadanya, raja itu melihatnya dan menjadi buta. Ia mengulurkan tangannya kepadanya, maka tangannya kaku. Nabi pada masa itu melaporkan kabar mereka kepada Allah, lalu Allah memberi wahyu kepadanya: Beritahukan kepada mereka bahwa Aku tidak akan mengampuni keduanya. Tidakkah mereka tahu bahwa di hadapan mata-Ku ada apa yang mereka lakukan terhadap pemilik sekop itu?
Telah mengabarkan kepada kami dua Muhammad, yaitu Ibnu Nashir dan Ibnu Abdul Baqi, keduanya berkata: Telah memberitakan kepada kami Hamad bin Ahmad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah bin Al-Hafiz, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Zur’ah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Asad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Dhamrah dari Utsman bin Atha’ dari ayahnya, ia berkata: Dahulu Abu Muslim Al-Khaulani apabila pulang dari masjid ke rumahnya bertakbir di depan pintu rumahnya, maka istrinya menjawab dengan takbir. Ketika ia berada di halaman rumahnya, ia bertakbir, maka istrinya menjawabnya. Ketika ia sampai di pintu kamarnya, ia bertakbir, maka istrinya menjawabnya. Pada suatu malam ia pulang, lalu bertakbir di depan pintu rumahnya, tetapi tidak ada yang menjawabnya. Ketika ia berada di halaman, ia bertakbir, tetapi tidak ada yang menjawabnya. Ketika ia berada di pintu kamarnya, ia bertakbir, tetapi tidak ada yang menjawabnya. Biasanya ketika ia masuk rumahnya, istrinya mengambil selendang dan sandalnya, kemudian membawakan makanannya.
Ia berkata: Ia masuk, ternyata di dalam rumah tidak ada pelita, dan istrinya duduk di dalam rumah dengan kepala tertunduk, menusuk-nusuk dengan sebatang kayu yang dibawanya.
Ia berkata kepadanya: Ada apa denganmu? Ia berkata: Kamu memiliki kedudukan di sisi Muawiyah, tetapi kami tidak memiliki pembantu. Seandainya kamu memintanya, maka ia memberi kami pembantu dan memberimu.
Ia berkata: Ya Allah, barangsiapa merusak istriku, maka butakanlah penglihatannya.
Ia berkata: Sebelum itu, seorang wanita datang kepadanya dan berkata: Suamimu memiliki kedudukan di sisi Muawiyah. Seandainya kamu mengatakan kepadanya untuk meminta kepada Muawiyah agar memberinya pembantu dan memberinya, kalian akan hidup berkecukupan.
Ia berkata: Ketika wanita itu sedang duduk di rumahnya, tiba-tiba ia tidak bisa melihat, lalu ia berkata: Ada apa dengan pelita kalian, apakah padam? Mereka berkata: Tidak. Ia menyadari kesalahannya, lalu ia datang kepada Abu Muslim sambil menangis, memohon kepadanya agar berdoa kepada Allah agar mengembalikan penglihatannya.
Ia berkata: Abu Muslim merasa kasihan kepadanya, lalu ia berdoa kepada Allah, dan Allah mengembalikan penglihatannya.
Bab Ketiga Puluh Lima: Tentang Hakikat Dan Realitas Cinta (‘Isyq)
Pendapat orang-orang berbeda-beda dalam hal ini. Kebanyakan mereka menamakannya dengan nama sebabnya atau dengan nama akibat yang ditimbulkannya.
Pendapat Orang-Orang Terdahulu Tentang Hal Ini
Plato berkata: Cinta adalah gerakan jiwa yang kosong tanpa pemikiran.
Yudujanus ditanya tentang cinta, maka ia menjawab: Cinta adalah pilihan buruk yang menemui jiwa yang kosong.
Aristoteles berkata: Cinta bukanlah kebutaan indra dari menyadari cacat-cacat orang yang dicintai.
Pythagoras berkata: Cinta adalah keserakahan yang tumbuh dalam hati, ia bergerak dan berkembang, kemudian dipelihara dan terkumpul padanya bahan-bahan keserakahan. Maka semakin ia menguat, pemiliknya semakin bertambah dalam keguncangan, keras kepala, terus-menerus dalam keserakahan dan berpikir tentang angan-angan, serta bersemangat dalam pencarian, hingga semua itu mengantarkannya kepada kesedihan yang meresahkan.
Dalam makna ini Al-Mutanabbi berkata:
Cinta hanyalah tipuan dan keserakahan … hati menawarkan dirinya lalu terluka
Syahdah binti Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad ibn As-Sarraj memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Qasim Al-Azaji memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad ibn Al-Abbas memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakr ibn Al-Marzuban menceritakan kepada kami, ia berkata: Sokrates Al-Hakim berkata: Cinta adalah kegilaan, dan ia memiliki warna-warna sebagaimana kegilaan memiliki warna-warna.
Ibn Khairun memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakr Al-Khatib memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ali ibn Ayyub memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad ibn Imran memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Muzaffar ibn Yahya mengabarkan kepadaku, ia berkata: Sebagian filsuf berkata: Aku tidak melihat kebenaran yang lebih menyerupai kebatilan, dan tidak pula kebatilan yang lebih menyerupai kebenaran daripada cinta. Candanya adalah serius, keseriusannya adalah canda. Awalnya adalah permainan dan akhirnya adalah kehancuran.
Ibn Imran berkata: Ahmad ibn Yahya mengabarkan kepadaku, ia berkata: Abu Al-Aina menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibn Aisyah menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku bertanya kepada seorang dokter yang dikenal mahir: Apakah cinta itu? Ia menjawab: Kesibukan hati yang kosong.
Aku (penulis) berkata: Sebagian dari mereka berpendapat bahwa cinta adalah penyakit waswas yang menyerupai melankolia.
Pendapat Para Ulama Islam Tentang Hal Ini
Syahdah binti Ahmad Al-Ibri mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ja’far ibn Ahmad ibn As-Sarraj memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Ali Muhammad ibn Al-Husain Al-Jaziri memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Faraj Al-Muaffa ibn Zakariya Al-Jariri menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad ibn Al-Hasan ibn Ziyad Al-Muqri menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad ibn Yahya Tsa’lab menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Aliyah Asy-Syami menceritakan kepada kami, ia berkata: Amirul Mukminin Yahya ibn Aktsam ditanya tentang cinta, apakah itu? Maka ia menjawab: Ia adalah ilham-ilham yang muncul pada seseorang sehingga hatinya peduli dengannya dan jiwanya menyukainya.
Kemudian Tsamanah berkata kepadanya: Diamlah wahai Yahya! Sesungguhnya kewajibanmu hanyalah menjawab masalah talak atau orang yang berihram memburu rusa atau membunuh semut. Adapun masalah-masalah seperti ini adalah masalah kami.
Maka Al-Ma’mun berkata kepadanya: Katakanlah wahai Tsamanah, apakah cinta itu?
Tsamanah menjawab: Cinta adalah teman yang menyenangkan, sahabat yang menghibur, dan pendamping yang menguasai. Jalannya lembut, cara-caranya tersembunyi, dan hukum-hukumnya dzalim. Ia menguasai badan-badan dan roh-rohnya, hati-hati dan bisikan-bisikannya, mata-mata dan pandangannya, akal dan pendapat-pendapatnya. Ia diberi kendali ketaatan dan dituntun dalam pergerakannya. Pintunya tersembunyi dari pandangan dan jalannya tertutup dalam hati-hati.
Al-Ma’mun berkata kepadanya: Demi Allah engkau benar wahai Tsamanah! Lalu ia memerintahkan untuk memberinya seribu dinar.
Abu Manshur Abdurrahman ibn Muhammad Al-Qazzaz memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad ibn Ali ibn Abdullah Al-Muqri memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad ibn Ja’far ibn Harun At-Tamimi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Rauq Al-Hazani memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Fadhl ibn Ya’qub menceritakan kepada kami, ia berkata: Ketika Tsamanah ibn Asyras dan Yahya ibn Aktsam berkumpul di hadapan Al-Ma’mun, ia berkata kepada Yahya: Beritahu aku tentang cinta, apakah itu? Ia menjawab: Wahai Amirul Mukminin, ilham-ilham yang muncul pada orang yang jatuh cinta, ia menyukainya dan terpesona dengannya yang disebut cinta.
Maka Tsamanah berkata kepadanya: Wahai Yahya, engkau lebih paham dalam masalah-masalah fikih daripada dalam hal ini, dan kami lebih mahir dalam hal ini daripada engkau.
Al-Ma’mun berkata: Keluarkanlah apa yang ada padamu.
Maka ia berkata: Wahai Amirul Mukminin, ketika unsur-unsur jiwa bercampur dengan hubungan keserupaan, mereka menghasilkan kilatan cahaya yang memancar yang dengannya hubungan akal menerangi, dan tergambar dari kilatan itu cahaya khusus bagi jiwa yang terhubung dengan unsur-unsurnya yang disebut cinta.
Al-Ma’mun berkata kepadanya: Demi ayahmu, inilah jawabannya!
Ahmad ibn Al-Hasan ibn Al-Banna memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Qadhi Abu Ya’la Muhammad ibn Al-Husain memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ismail ibn Suwaid memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Ali Al-Kaukabi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Fadhl Al-Ashbahani memberitahukan kepada kami, ia berkata: Bundar memberitahukan dari Al-Ashma’i, ia berkata: Aku menemui Harun Ar-Rasyid, lalu ia berkata kepadaku: Wahai Ashma’i, sesungguhnya aku tidak bisa tidur malam ini. Aku berkata: Kenapa? Semoga Allah menenangkan mata Amirul Mukminin.
Ia berkata: Aku berpikir tentang cinta, dari mana asalnya? Namun aku tidak menemukannya, maka gambarkan untukku sehingga aku seolah-olah melihatnya sebagai jasad yang terwujud.
Al-Ashma’i berkata: Demi Allah, sebelum itu aku tidak memiliki pengetahuan apa pun tentangnya. Maka aku menunduk lama, kemudian aku berkata: Baiklah wahai tuanku, ketika akhlak-akhlak yang serupa saling berbenturan dan roh-roh yang mirip bercampur, mereka menyulut kilatan cahaya yang memancar yang dengannya akal menerangi, dan karena pancaran itu tabiat kehidupan bergetar, dan tergambar dari cahaya itu akhlak yang khusus bagi jiwa yang terhubung dengan unsur-unsurnya yang disebut cinta.
Ia berkata: Demi Allah engkau benar! Wahai pelayan, berilah dia, berilah dia, berilah dia!
Maka aku diberi tiga puluh ribu dirham.
Syahdah binti Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ja’far ibn Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Thahir Muhammad ibn Ali ibn Al-Allaf memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Hafsh Umar ibn Ahmad ibn Utsman menceritakan kepada kami, ia berkata: Ja’far Al-Khaldi menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad ibn Muhammad Ath-Thusi menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali ibn Abdullah Al-Qummi menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdullah ibn Ja’far Al-Madini berkata kepadaku: Aku bertanya kepada Abu Zuhair Al-Madini: Apakah cinta itu? Ia menjawab: Kegilaan dan kehinaan, dan ia adalah penyakit orang-orang yang bersopan santun.
Muhammad ibn Abi Thahir memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ali ibn Al-Muhsin memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad ibn Al-Abbas memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibn Khalaf menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Fadhl Al-Marwarudzi menceritakan kepadaku, ia berkata: Seorang Arab Badui menggambarkan cinta, lalu ia berkata: Jika ia bukan jenis dari kegilaan, maka sesungguhnya ia adalah sari dari sihir.
Diriwayatkan dari Al-Ashma’i bahwa ia berkata: Sesungguhnya orang-orang telah banyak berbicara tentang cinta, namun aku tidak mendengar yang lebih ringkas dan lebih indah dari perkataan sebagian wanita Arab ketika ditanya tentang cinta, maka ia berkata: Kehinaan dan kegilaan.
Aku (penulis) berkata: Ini adalah sifat buah cinta dan akibatnya. Penjelasan yang tepat adalah bahwa cinta adalah kuatnya kecenderungan jiwa kepada bentuk yang sesuai dengan tabiatnya. Ketika pikirannya kuat tentang hal itu, ia membayangkan mendapatkannya dan mengharapkan itu, maka timbullah dari kuatnya pikiran itu suatu penyakit.
Pasal Tentang Tingkatan-Tingkatan Cinta
Pertama yang timbul adalah menganggap baik terhadap seseorang, kemudian mendatangkan keinginan untuk dekat dengannya, kemudian kasih sayang yaitu berharap untuk memilikinya, kemudian kasih sayang menguat menjadi kecintaan, kemudian menjadi khullah (cinta yang mendalam), kemudian menjadi hawa (nafsu) sehingga ia jatuh bersama pemiliknya dalam hal-hal yang dicintai orang yang dicintai tanpa bisa mengendalikan diri, kemudian menjadi cinta yang berlebihan (‘isyq), kemudian menjadi tayyim. Tayyim adalah keadaan di mana orang yang dicintai menguasai pencinta sehingga tidak ada dalam hatinya selain dia, dan dari kata ini berasal “Taymullah” (hamba Allah).
Kemudian tayyim bertambah menjadi walah. Walah adalah keluar dari batas keteraturan dan terlepas dari kondisi kemampuan membedakan.
Sebagian ulama berkata: Tingkatan pertama cinta adalah kecenderungan kepada yang dicintai, kemudian hawa menguat menjadi kasih sayang, kemudian bertambah dengan keakraban dan berkurang dengan kekasaran dan penyiksaan, kemudian khullah, kemudian shababah yaitu kehalusan kerinduan yang dilahirkan oleh keakraban dan didorong oleh rasa kasihan dan digugah oleh ingatan, kemudian menjadi ‘isyq dan ia adalah tingkat yang paling tinggi.
Permulaannya menjernihkan pemahaman dan memperbaiki akal sebagaimana dikatakan oleh Dzur-Riyasatain kepada teman-temannya: Bercinta-cintalah dan janganlah bercinta kepada yang haram, karena sesungguhnya cinta yang halal akan melonggarkan lidah yang kelu, mengangkat kebodohan, menjadikan tangan si pelit dermawan, mendorong kepada kebersihan dan mengajak kepada kecerdasan.
Ketika bertambah, maka tubuh sakit. Ketika bertambah lagi, maka hati terluka dan hilang pendapat serta akal terhapus. Kemudian meningkat menjadi walah dan pemilik walah disebut mudallah, mustahham, mustahtir, dan hairan. Kemudian setelahnya tayyim, maka ia disebut mutayyam. Tayyim adalah puncak hawa dan akhir cinta.
Dari tayyim timbul penyakit yang kronis dan kegilaan yang menyibukkan.
Sebagian ahli hikmah berkata: Permulaan cinta adalah ‘alaqah (keterikatan), yaitu sesuatu yang ditimbulkan oleh pandangan atau pendengaran yang terlintas di benak dan muncul pada pikiran serta hati merasa senang dengannya. Kemudian tumbuh dengan tabiat dan keras kepala serta terus-menerus mengingat, kemudian menguat menjadi cinta, kemudian menjadi hawa, kemudian khullah, kemudian ‘isyq, kemudian walah sehingga pemiliknya disebut mudallah, mustahham, mustahtir, ha’im, dan hairan. Kemudian menjadi tayyim dan ia adalah kedudukan cinta yang paling tinggi karena tayyim adalah penghambaan. Al-wajd adalah rasa sakit cinta, al-hayman adalah pergi dalam pencarian tujuan yang tidak ada batasnya, al-kalaf dan asy-syagaf adalah ketagihan dalam mengejar tujuan.
Al-Farra berkata: Al-lau’ah adalah terbakarnya hati karena cinta.
Abu Ubaid Al-Qasim ibn Sallam berkata: Al-‘alaqah adalah cinta yang melekat pada hati, al-jawa adalah hawa yang tersembunyi, al-lau’ah adalah terbakarnya hawa, al-la’ij adalah hawa yang membakar, asy-syagaf adalah cinta mencapai syigaf hati yaitu kulit yang menutupinya, at-tayyim adalah hawa yang memperbudaknya dan dari kata ini berasal “Taymullah” dan seseorang disebut mutayyam, at-tabl adalah hawa yang menyakitinya, dikatakan seseorang matbul, at-tadlih adalah hilangnya akal karena hawa, dikatakan mudallah, al-huyum adalah pergi tanpa tujuan, asy-syagaf adalah terbakarnya hati oleh cinta dengan kelezatan yang dirasakannya dan ia mirip dengan al-lau’ah.
Abu Bakr ibn Al-Anbari berkata: Dikatakan istahtarra ar-rajulu bi kadza ketika akalnya hilang karenanya dan perhatiannya tertuju padanya.
Abu Abdullah ibn Arafah berkata: Al-iradah (keinginan) sebelum al-mahabbah (kecintaan), kemudian al-mahabbah, kemudian al-hawa, kemudian al-‘isyq, kemudian at-tayyim. Ia membacakan syair buatannya sendiri:
Wahai kaum, berapa banyak orang yang mencinta dicela … sedangkan makna kepada hawa mengalir
Rahmatku adalah kasih sayang dan cintaku adalah ‘isyq … dan kerinduanku adalah shababah yang tidak tertahankan
Ibn Duraid berkata: Ash-shababah adalah kehalusan hawa, dan asal kata al-hubb (cinta) dari ahabbab-ba’iru ketika unta berbaring karena kelelahan.
Ketahuilah bahwa cinta itu adalah genus (jenis umum) dan cinta yang berlebihan (asyiq) adalah spesies (jenis khusus). Seseorang bisa mencintai ayah dan anaknya, namun hal itu tidak mendorongnya untuk menghancurkan dirinya sendiri, berbeda dengan orang yang sedang kasmaran.
Telah diriwayatkan bahwa sebagian orang yang sedang kasmaran ketika melihat seorang budak perempuan yang dicintainya, gemetar anggota badannya dan pingsan. Lalu ditanyakan kepada salah seorang ahli hikmah, “Apa yang menimpanya?” Dia menjawab, “Dia melihat orang yang dicintainya, maka hatinya terbuka lebar, sehingga tubuhnya bergetar karena terbuaknya hati itu.”
Ditanyakan kepadanya, “Kami mencintai keluarga kami tetapi tidak mengalami hal seperti itu.” Dia berkata, “Itu adalah cinta akal, sedangkan ini adalah cinta ruh.”
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi al-Bazzaz, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu al-Qasim at-Tanukhi dan Abu Muhammad al-Jauhari, keduanya dari Abu Abdullah al-Marzbani, dia berkata: telah mengabarkan kepadaku ash-Shufi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yazid al-Mubarrad, dia berkata: Aku mendengar al-Jahizh berkata: Setiap cinta berlebihan (asyiq) disebut cinta (hubb), tetapi tidak setiap cinta disebut cinta berlebihan (asyiq), karena asyiq adalah nama untuk sesuatu yang berlebihan dari cinta, sebagaimana pemborosan (saraf) adalah nama untuk sesuatu yang melampaui kedermawanan (jud), dan kebakhilan (bukhl) adalah nama untuk sesuatu yang kurang dari kehematan (iqtishad), dan pengecut (jubn) adalah nama untuk sesuatu yang berlebihan dari kehati-hatian, dan ceroboh (hauj) adalah nama untuk sesuatu yang berlebihan dari keberanian.
Bab Ketiga Puluh Enam tentang Penyebab Cinta dan Kasmaran
Para ahli hikmah terdahulu menyebutkan bahwa jiwa itu ada tiga: jiwa yang berbicara (an-nafs an-nathiqah), dan kecintaannya tertuju kepada pengetahuan dan memperoleh keutamaan.
Jiwa hewani yang berkaitan dengan saraf, maka kecintaannya tertuju kepada kekuasaan, dominasi, dan kepemimpinan.
Dan jiwa syahwat, maka kecintaannya tertuju kepada makanan, minuman, dan pernikahan.
Kita sekarang akan memulai menjelaskan cinta jiwa syahwat ini. Kami katakan: Penyebab cinta berlebihan adalah ketika jiwa menemukan sesuatu yang sesuai dengan wataknya, lalu ia menganggapnya baik dan condong kepadanya. Kebanyakan penyebab pertemuan itu adalah pandangan, dan hal itu tidak terjadi dengan sekilas pandang saja, melainkan dengan menatap terus-menerus dan mengulanginya. Ketika yang dicintai tidak ada di depan mata, jiwa mencarinya dan menginginkan kedekatan dengannya, kemudian berharap untuk menikmatinya. Maka pikiran dan khayalan tentangnya ketika tidak hadir menjadi seperti hadir, dan seluruh kesibukan jiwa hanya padanya. Dari sinilah timbul berbagai penyakit karena pikiran tertuju pada makna tersebut. Semakin kuat syahwat jasmani, semakin kuat pula pikiran tentang hal itu.
Di antara penyebab cinta berlebihan adalah mendengar rayuan dan nyanyian, karena hal itu melukiskan dalam jiwa bentuk-bentuk gambaran. Lalu terjadilah fermentasi berupa gambaran yang dilukiskan, kemudian pandangan menemukan sesuatu yang indah, maka jiwa bergantung pada apa yang dicarinya dalam keadaan penggambaran tadi.
Sebagian ahli hikmah menyebutkan bahwa cinta berlebihan tidak terjadi kecuali kepada yang sejenis, dan ia melemah atau menguat sesuai dengan tingkat kesesuaian. Mereka berdalil dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Ruh-ruh itu adalah pasukan yang terhimpun, maka yang saling mengenal di antara mereka akan bersatu, dan yang saling mengingkari akan berselisih.”
Dia berkata: Ruh-ruh itu telah ada sebelum jasad, maka jenis condong kepada jenisnya. Ketika terpisah dalam jasad-jasad, tertinggal dalam setiap jiwa kecintaan kepada yang pernah dekat dengannya. Maka ketika jiwa menyaksikan dari jiwa lain sejenis kecocokan, ia condong kepadanya dengan mengira bahwa itulah pasangannya yang dulu. Jika kesesuaian itu dalam makna-makna (batin), maka menjadi persahabatan dan kasih sayang. Jika dalam makna yang berkaitan dengan bentuk (lahir), maka menjadi cinta berlebihan. Adapun kebosanan dan berpaling yang terdapat pada sebagian orang, itu karena pengalaman menunjukkan hilangnya kesamaan jenis dan kesesuaian. Mereka membawakan syair tentang hal itu:
Ada yang bertanya bagaimana kalian bisa berpisah Maka aku berkata dengan perkataan yang mengandung keadilan Dia bukan dari jenisnya maka aku berpisah dengannya Dan manusia adalah bentuk-bentuk dan kelompok-kelompok
Telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Dinar, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Said bin Nabhan, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami al-Hasan bin al-Husain an-Na’ali, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Nashr adh-Dhara’, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Khalaf bin al-Walid, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Sahl bin Amr al-Faqimi, dia berkata: Ditanyakan kepada salah seorang ahli hikmah, “Cinta yang mana yang paling kuat?” Dia berkata, “Cinta antara dua orang yang sejenis.”
Telah meriwayatkan Abu al-Qasim Sa’d bin Ali al-Jurjani, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah al-Husain bin Ahmad bin Sulaiman al-Anshari, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Ali Harun bin Abdul Aziz al-Katib, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad al-Ghanawi, dia berkata: Aku pergi ke Kufah, lalu para pemuda elegan datang kepadaku dan berkata, “Ada di sini dua pemuda yang saling mencintai, salah satunya sakit, dan kami ingin menjenguknya.” Aku berkata, “Bawalah aku untuk menjenguk yang sakit dan aku akan menjenguk yang sehat.” Kami pergi dan menemukan seorang pemuda terbaring di tempat tidur dan seorang pemuda membungkuk di atasnya, mengipasi dan menatap wajahnya. Ketika dia melihat kami, dia memberi kami jalan ke temannya, lalu teman-temanku duduk di sekelilingnya dan aku duduk berhadapan dengan yang sehat. Ketika yang sakit berkata, “Aduh pahaku,” yang sehat berkata, “Aduh pahaku.” Ketika dia berkata, “Aduh tanganku,” yang sehat berkata, “Aduh tanganku,” sampai mereka berkata, “Dia telah meninggal, semoga Allah merahmatinya.” Maka teman-temanku mengikat dagu yang sakit dan aku mengikat dagu yang sehat. Kami tidak beranjak sampai kami menguburkan keduanya, semoga Allah merahmati keduanya.
Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Ma’mar al-Anshari, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Abdul Wahhab bin Mandah, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Thahir Muhammad bin Ahmad al-Katib, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad bin Hayyan, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abi Bakr dari Suwaid bin Nashr, dia berkata: Ibnu al-Mubarak membeli seorang budak perempuan lalu mencintainya. Kemudian dia pergi haji, lalu menulis kepadanya:
Angin berhembus dari timur Membawakan kepadaku wangimu Maka aku menghirup nafas kehidupan Dari harum baumu yang menyebar Aku membayangkanmu sampai Aku mengira berada di antara pinggangmu Bagaimana aku melupakanmu sedangkan ruhku Terbuat dari jenis ruhmu
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami al-Mubarak bin Abdul Jabbar, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami al-Jauhari, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Hayawaih, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Khalaf, dia berkata: telah mengabarkan kepadaku Ali bin Shalih bin Nashr dari ayahnya, dia berkata: Dhu ar-Riyasatain ditanya tentang kasih sayang, maka dia menjawab: Apabila esensi jiwa-jiwa saling mendekat dengan ikatan kesesuaian, maka terpancarlah kilatan cahaya bersinar di alam ruh, lalu disebarkan ke seluruh penjurunya sehingga pandangan akal meneranginya dan tabiat kehidupan bergetar karena sinarnya. Maka terwujud dari itu makhluk khusus bagi jiwa yang berhubungan dengan esensinya yang disebut kasih sayang. Ibnu Khalaf berkata: Ali bin Ubaidah berkata: Kasih sayang adalah saling menyayangi hati, keserasian ruh, kerinduan jiwa untuk berbagi rahasia, merasa nyaman dengan yang tersimpan dalam naluri, merasa asing ketika berpisah, dan munculnya kegembiraan dengan sering saling mengunjungi. Sesuai dengan kesesuaian esensi, terjadilah kesepakatan dalam sifat-sifat.
Mereka mengklaim bahwa jenis condong kepada jenis pada yang tidak berakal. Telah mengabarkan kepada kami asy-Syarif Abu al-Ma’mar al-Anshari, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Ja’far bin Ahmad bin as-Sarraj, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami al-Qadhi Abu al-Husain Ahmad bin Ali at-Tauzi, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Ubaidillah Muhammad bin Imran al-Marzbani, dia berkata: telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Ahmad al-Hakimi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abi Khaitsamah dari Zuhair bin Harb, dia berkata: Aku mendengar Abu Muslimah al-Minqari berkata: Kami memiliki di Bashrah sebatang pohon kurma—dia menyebutkan keindahan dan manisnya buahnya—dia berkata: Lalu rusak sampai menjadi tidak layak. Pemiliknya memanggil seorang tua yang tahu tentang pohon kurma, dia melihatnya dan melihat pohon-pohon kurma di sekitarnya lalu berkata: Ini sedang jatuh cinta kepada pohon jantan yang dekat dengannya. Maka dilakukan penyerbukan darinya, dan pohon itu kembali ke keadaan terbaiknya.
Jika dikatakan: Jika penyebab cinta berlebihan adalah kecocokan antara dua orang dalam watak, bagaimana salah satunya mencintai yang lain sedangkan yang lain tidak mencintainya?
Jawabannya: Terjadi dalam watak yang dicintai sesuatu yang cocok dengan watak yang mencintai, tetapi tidak terjadi dalam watak yang mencintai sesuatu yang sesuai dengan watak yang dicintai. Jika penyebab cinta berlebihan adalah kesepakatan dalam watak, batallah perkataan orang yang mengatakan bahwa cinta berlebihan tidak terjadi kecuali kepada hal-hal yang indah. Cinta berlebihan itu terjadi karena kesesuaian dan kecocokan. Kemudian sesuatu bisa indah menurut seseorang tetapi tidak indah menurut yang lain.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu al-Husain bin Abdul Jabbar, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami al-Hasan bin Ali, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Ibnu Hayawaih, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Ibnu al-Marzaban dengan izin dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Harits darinya, dia berkata: telah mengabarkan kepadaku Abu Abdullah at-Tamimi, dia berkata: telah mengabarkan kepadaku Ali bin al-Hasan al-Qurasyhi dari seorang lelaki dari penduduk Madinah yang merupakan sastrawan elegan pencari adab dan humor, dia berkata: Suatu hari aku berada di majelis seorang lelaki dari Quraisy di Madinah, bersama kami ada penyanyi perempuan yang elegan dan cantik memiliki kecantikan luar biasa dan keindahan memukau. Bersama kami ada seorang pemuda yang paling buruk rupa yang pernah dilihat mata, paling bodoh, dan paling dungu. Penyanyi itu menghadap kepadanya dengan pembicaraan dan nyanyiannya.
Ketika kami dalam keadaan seperti itu, masuklah kepada kami seorang pemuda yang paling tampan, paling bagus pakaiannya, dan paling harum wanginya. Tuan rumah menghampiriku dan berkata, “Sungguh ada keajaiban dalam urusan dua orang ini.” Aku berkata, “Apa itu?” Dia berkata, “Gadis ini mencintai yang buruk rupa ini, tetapi tidak ada cinta untuknya dalam hatinya. Dan yang tampan ini mencintainya, tetapi tidak ada cinta untuknya dalam hatinya.”
Ketika kami dalam minuman kami, pemuda tampan itu merasa senang lalu bernyanyi:
Demi tangan yang membuat hati tergila-gila dengan kalian Sembuhkanlah apa yang aku alami dari penyakit Yakinkanlah bahwa aku telah terpesona dengan kalian Kemudian lakukan apa yang kalian kehendaki dengan sadar
Dia menghadap kepadanya dan berkata, “Kami sudah tahu itu, jadi bagaimana?”
Kemudian dia meninggalkannya dan menghadap kepada yang buruk rupa. Kami tinggal sebentar, lalu pemuda itu bernyanyi lagi:
Alangkah baiknya jika aku buta dan tuli, dipandu oleh Butsainah, tidak tersembunyi bagiku ucapannya
Dia berkata: Maka dia berkata, “Ya Allah, berikanlah kepada hamba-Mu apa yang dia minta.” Hal itu sangat membuatku marah dan aku tidak bisa bersabar, maka aku berkata kepadanya, “Wahai perempuan tidak bermoral! Kau memilih yang ini—yang lebih jelek dari dosa orang-orang yang terus berbuat dosa—daripada yang ini—yang lebih tampan dari tobatnya orang-orang yang bertobat?”
Dia berkata kepadaku, “Cinta itu bukan pilihan.” Kemudian dia mulai bernyanyi:
Jangan mencela yang mencintai karena cintanya Setiap orang yang terpesona adalah orang yang tergila-gila buta Mengira kekasihnya tampan dan indah Meskipun kekasih itu dari jenis kera
Maka aku berkata, “Benar, seperti yang kau katakan dan tidak ada cara dalam hal ini.” Aku teringat perkataan Umar bin Abi Rabi’ah:
Mereka tertawa dan berkata kepadanya Indah di setiap mata adalah yang dicintai
Dan perkataan yang lain:
Tidakkah kau lihat bahwa cinta memperbudak pemuda Dan memanggilnya dalam sebagian urusan kepada kekafiran
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abdul Mubarak bin Abdul Jabbar dan Abdul Qadir bin Muhammad bin Yusuf, keduanya berkata: telah mengabarkan kepada kami al-Jauhari, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Ibnu Hayawaih, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Khalaf bin al-Marzaban, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Bassam, dia berkata: telah mengabarkan kepadaku sebagian ahli sastra, dia berkata: Ismail bin Jami’ menikahi di Hijaz seorang budak perempuan hitam milik suatu kaum yang dipanggil Maryam. Ketika dia berada di tempat yang dituju ar-Rasyid, dia merindukan perempuan hitam itu, maka dia berkata mengingat dia dan mengingat tempat di mana dia biasa menghampiri dan berkumpul dengannya:
Apakah malamku di al-Hashash akan kembali Di dalam kubah yang memiliki hiasan dan dekorasi Pedupanya berasap dengan cendana bagaikan Tiang asap badai yang bergejolak Minyak kesturi tampak kepada kami dari pakaiannya Dan kayu cendana yang berbau harum dinyalakan di atas api Dan Maryam di antara pakaian yang mewah Kadang dan kadang dia bernyanyi untukku dengan senar
Maka ar-Rasyid berkata kepadanya ketika mendengar syairnya, “Celakalah kau! Siapa Maryam-mu ini yang kau gambarkan seperti penggambaran bidadari surga?” Dia berkata, “Istriku.” Maka dia menggambarkannya dengan kata-kata berkali-kali lipat dari penggambarannya dengan syair. Ar-Rasyid mengirim ke Hijaz sampai dia dibawa. Ternyata dia perempuan hitam pelat bibirnya tebal. Ar-Rasyid berkata kepadanya, “Celakalah kau! Ini Maryam yang kau penuhi dunia dengan penyebutannya? Laknat Allah atasmu dan atasnya.” Dia berkata, “Wahai tuanku, sesungguhnya Umar bin Abi Rabi’ah berkata:
Mereka tertawa dan berkata kepadanya Indah di setiap mata adalah yang dicintai”
Shahadah binti Ahmad memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu Muhammad bin As-Sarraj memberitahukan kepada kami, dia berkata: Al-Hasan bin Muhammad Al-Khallal memberitahukan kepada kami, dia berkata: Yahya bin Ali bin Yahya Al-Ma’mari melantunkan syair kepada kami, dia berkata: Ja’far bin Muhammad Ash-Shufi melantunkan syair kepada kami, dia berkata: Beberapa saudaraku melantunkan syair kepadaku yang digubah oleh Abu Bakar Muhammad bin Daud Al-Faqih:
Aku memikul beban gunung cinta kepadamu, sementara aku
Tak mampu memikul baju dan sangat lemah
Dan cinta bukan dari ketampanan atau kedermawanan
Tetapi ia sesuatu yang membebani jiwa
Pasal: Seseorang mungkin menghadapkan dirinya pada sebab-sebab cinta, lalu ia pun jatuh cinta. Karena sesungguhnya ia melihat seseorang, dan penglihatan itu tidak langsung menimbulkan kecintaan kepadanya, namun ia terus menerus menatap dan bergaul, lalu terjerumus pada sesuatu yang tidak pernah ia perhitungkan, sebagaimana kata penyair:
Dia tergila-gila dengan cinta hingga jatuh cinta
Ketika cinta menguasainya, dia tidak sanggup
Dia melihat lautan luas yang dikira ombak
Ketika sudah terbenam di dalamnya, dia tenggelam
Di antara manusia ada yang penglihatannya menimbulkan sejenis kecintaan, namun jika dia berpaling dari yang dicintai, perasaan itu akan hilang. Jika dia terus menerus menatap, cinta akan bertambah seperti taman yang ditanami—jika diabaikan akan layu, dan jika disiram akan tumbuh.
Abdurrahman bin Muhammad Al-Qazzaz memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ali bin Ayyub Al-Qummi memberitahukan kepadaku, dia berkata: Muhammad bin Imran Al-Marzbani memberitahukan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Yahya memberitahukan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Musa menceritakan kepadaku, dia berkata: Abu Abdullah Muhammad bin Ali Al-Hasyimi memberitahukan kepadaku dari Abu Syu’aib Ahmad bin Yazid, dia berkata: Aku berkata kepada Abu Al-‘Atahiyah: Ceritakan kepadaku kisahmu dengan Utbah. Maka dia berkata kepadaku: Aku akan menceritakannya kepadamu.
Sesungguhnya kami datang dari Kufah, tiga pemuda yang bersahabat dan beradab. Kami tidak memiliki kenalan di Baghdad yang bisa kami datangi, maka kami menginap di sebuah kamar di dekat jembatan. Kami biasa pergi pagi-pagi dan duduk di masjid yang berada di pintu jembatan setiap pagi. Suatu hari seorang wanita berkuda melewati kami, ditemani budak-budak berkulit hitam. Kami bertanya: “Siapakah ini?” Mereka menjawab: “Khalishah.” Salah seorang dari kami berkata: “Aku telah jatuh cinta kepada Khalishah,” dan dia menggubah syair untuknya. Kami pun membantunya.
Tidak lama kemudian wanita lain berkuda melewati kami, ditemani budak-budak berkulit putih. Kami bertanya: “Siapakah ini?” Mereka menjawab: “Utbah.” Aku berkata: “Aku telah jatuh cinta kepada Utbah.” Begitulah setiap hari hingga terkumpul banyak syair dari kami.
Temanku menyerahkan syairnya kepada Khalishah, dan aku menyerahkan syairku kepada Utbah.
Kami terus seperti itu dan sangat mendesak. Kadang mereka menerima syair-syair kami dan kadang mengusir kami, hingga akhirnya mereka bersungguh-sungguh mengusir kami.
Suatu hari Utbah duduk di antara para pedagang perhiasan. Aku pergi dan mengenakan pakaian rahib, menyerahkan pakaianku kepada seseorang yang bersamaku, dan bertanya tentang seorang laki-laki terkemuka dari penduduk pasar. Aku diberitahu tentang seorang syekh, lalu aku mendatanginya dan berkata: “Sesungguhnya aku ingin masuk Islam melalui tangan wanita ini.” Dia berdiri bersamaku, mengumpulkan sekelompok orang dari penduduk pasar, lalu mendatanginya dan berkata: “Sesungguhnya Allah telah membawa kebaikan kepadamu. Rahib ini ingin masuk Islam melalui tanganmu.”
Dia berkata: “Bawalah dia.” Aku mendekatinya dan berkata: “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya,” lalu aku memotong ikat pinggang, mendekat dan mencium tangannya. Ketika aku melakukan itu, aku mengangkat tudung kepalaku, maka dia mengenaliku dan berkata: “Seperti ini! Semoga Allah melaknatnya!” Mereka berkata: “Jangan melaknatnya karena dia sudah masuk Islam.” Dia berkata: “Aku hanya melakukan itu karena kekotorannya.”
Mereka menawarkan pakaian kepadaku, namun aku berkata: “Aku tidak membutuhkan ini. Aku hanya ingin mendapat kehormatan dengan kewaliannya. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku dengan kehadiran kalian.”
Mereka mulai mengajarkanku surat Al-Fatihah, dan aku shalat Ashar bersama mereka. Selama itu aku berada di hadapannya menatapnya, dan dia tidak bisa berbuat apa-apa terhadapku.
Ketika aku pulang, aku bertemu Khalishah. Utbah mengadu kepadanya, maka Khalishah berkata: “Tidak lain kedua orang ini pasti pencinta atau peminta-minta.”
Mereka bersepakat untuk menguji kami dengan harta, dengan syarat kami meninggalkan upaya mendekati mereka. Jika kami menerima harta itu, maka kami adalah peminta-minta, dan jika tidak menerimanya, maka kami adalah pencinta sejati. Keesokan harinya Khalishah lewat, temanku menghadangnya. Para budak berkata: “Ikuti kami,” maka dia mengikuti mereka. Tidak lama kemudian Utbah lewat, para budak berkata kepadaku: “Ikuti kami,” maka aku mengikuti mereka. Dia membawaku ke rumah rekan bisnisnya yang berdagang kain. Ketika dia duduk, dia memanggilku dan berkata kepadaku: “Wahai orang ini, sesungguhnya kamu pemuda dan aku melihat adabmu. Aku adalah wanita istri khalifah, dan aku telah menolakmu. Jika kamu berhenti—kalau tidak aku akan melaporkan hal ini kepada Amirul Mukminin. Aku tidak merasa aman atasmu.”
Aku berkata: “Kalau begitu lakukanlah—ayah dan ibuku menjadi tebusanmu. Jika kamu menumpahkan darahku, kamu akan meringankanku. Aku mohon kepadamu demi Allah untuk melakukan itu jika aku tidak memiliki nasib padamu. Adapun penjara dan hidup tanpa melihatmu, itu adalah kesulitan bagimu.”
Dia berkata: “Jangan lakukan itu, wahai orang ini. Sayangi dirimu dan ambillah lima ratus dinar ini dan keluarlah dari negeri ini.” Ketika aku mendengar penyebutan harta, aku lari. Dia berkata: “Kembalikanlah dia.” Dia terus menarikku kembali, lalu aku berkata: “Semoga aku menjadi tebusanmu, apa yang akan aku lakukan dengan kemewahan dunia sementara aku tidak melihatmu? Jika kamu menunda naik kuda satu hari saja, bumi menjadi sempit bagiku meskipun luasnya.”
Dia tetap menolak dan hanya menyebut harta, hingga dia memberiku seribu dinar. Aku menolak dan berdebat dengannya dengan keras. Aku berkata: “Seandainya kamu memberiku semua yang dimiliki khalifah, aku tidak membutuhkannya, selama aku tidak melihatmu setelah aku mendapat jalan untuk melihatmu.” Lalu aku keluar dan datang ke kamar yang kami tinggali. Temanku sudah ada di sana dengan telinga bengkak, karena dia diuji seperti ujianku. Ketika dia mengulurkan tangannya untuk mengambil harta, mereka menamparnya, dan Khalishah bersumpah jika dia melihatnya lagi, dia akan memenjarakannya. Dia memintaku nasihat tentang tinggal, maka aku berkata: “Pergilah dan jangan sampai mereka menguasaimu.” Kemudian keduanya bertemu dan masing-masing menceritakan kepada yang lain. Utbah memuji aku dan yakin bahwa aku adalah pencinta sejati. Beberapa hari kemudian dia memanggilku dan berkata: “Demi hidupmu, jika kamu menghormatinya, ambillah apa yang diberikan budak kepadamu untuk memperbaiki keadaanmu, karena kondisimu yang buruk membuatku sedih.” Aku menolak. Dia berkata: “Ini bukan yang kamu kira, tetapi aku tidak suka melihatmu dalam penampilan ini.” Aku berkata: “Seandainya aku bisa membuatmu melihatku dalam penampilan Al-Mahdi, aku akan melakukannya.” Dia bersumpah kepadaku, maka aku mengambil kantong itu dan di dalamnya tiga ratus dinar. Aku membeli pakaian bagus dan membeli seekor keledai.
Pasal: Cinta menjadi semakin kuat dengan terus menerus menatap, sering bertemu, dan percakapan yang panjang. Jika ditambah dengan pelukan atau ciuman, maka kesempurnaannya menjadi lengkap. Para filosof terdahulu menyebutkan bahwa ketika ciuman terjadi antara dua orang yang saling mencintai dan air liur dari masing-masing masuk ke perut yang lain, itu akan bercampur dengan seluruh tubuh dan sampai ke hati.
Demikian pula ketika masing-masing bernafas di wajah yang lain, karena dengan nafas itu keluar sesuatu dari hembusan masing-masing yang bercampur dengan partikel udara. Ketika mereka menghirup udara itu, masuk ke hidung, sebagiannya sampai ke otak lalu menyebar seperti penyebaran cahaya dalam kristal, dan sebagiannya sampai ke paru-paru kemudian ke jantung, lalu mengalir dalam pembuluh nadi yang berdenyut di seluruh tubuh. Maka terbentuklah dari tubuh yang satu apa yang larut dari tubuh yang lain, sehingga menjadi campuran yang darinya lahir cinta dan berkembang.
Bab Ketiga Puluh Tujuh: Tentang Celaan terhadap Cinta
Orang-orang berbeda pendapat tentang cinta, apakah itu terpuji atau tercela.
Sekelompok orang berkata: Ia terpuji karena tidak terjadi kecuali dari kelembutan tabiat dan tidak terjadi pada orang yang berwatak keras dan kasar. Barangsiapa tidak merasakan sedikitpun darinya, itu karena kasarnya tabiatnya.
Cinta itu memurnikan akal dan membersihkan pikiran selama tidak berlebihan.
Jika berlebihan, ia akan menjadi racun yang mematikan.
Yang lain berkata: Bahkan ia tercela karena menguasai orang yang jatuh cinta dan menjadikannya dalam posisi yang diperbudak.
Aku berkata: Penyelesaian hukum dalam bab ini adalah bahwa kami katakan: Adapun kecintaan, kasih sayang, dan kecenderungan kepada hal-hal yang baik dan sesuai, itu tidak tercela, dan tidak akan kehilangan itu kecuali orang yang sangat kasar.
Adapun cinta yang melampaui batas kecenderungan dan kasih sayang, sehingga menguasai akal dan membelokkan pemiliknya dari tuntutan hikmah, maka itu tercela dan para bijaksana menghindari yang seperti itu.
Adapun bagian yang pertama, maka banyak orang besar yang mengalaminya, dan itu bukan cacat bagi mereka.
Muhammad bin Abi Al-Qasim memberitahukan kepada kami, dia berkata: Hamad bin Ahmad memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu Nu’aim Al-Hafizh memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu Ahmad Al-Ghathrifi menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Al-Fadhl Muhammad bin Al-Fadhl menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Sa’id Al-Qazzaz menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Umayyah menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibrahim bin Muhammad Al-Hudzali menceritakan kepada kami dari Husyaim dari Mujalid dari Asy-Sya’bi bahwa dia biasa berkata:
Jika kamu tidak jatuh cinta dan tidak tahu apa itu rindu
Maka kamu dan keledai di padang pasir adalah sama
Abu Abdullah Al-Marzbani meriwayatkan bahwa Abu Naufal ditanya: Apakah ada yang selamat dari cinta? Dia menjawab: Ya, orang yang kasar dan keras yang tidak memiliki kelebihan atau pemahaman. Adapun orang yang dalam tabiatnya ada sedikit saja keanggunan atau memiliki kelembutan penduduk Hijaz dan kehalusan penduduk Irak, maka jangan harap.
Muhammad bin Nashir memberitahukan kepada kami, dia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitahukan kepada kami, dia berkata: Qadhi Abu Al-Qasim Ali bin Al-Hasan At-Tanukhi memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu Bakar Muhammad bin Abdurrahman bin Ahmad Al-Mazini menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Hasan bin Al-Qasim bin Ja’far Al-Kaukabi menceritakan kepada kami, dia berkata: Isa bin Muhammad Abu Nazhirah As-Sadusi menceritakan kepada kami, dia berkata: Qabishah bin Muhammad Al-Muhallibi menceritakan kepadaku, dia berkata: Al-Yaman bin Amru, maula Dzur Riyasatain memberitahukan kepadaku, dia berkata: Dzur Riyasatain biasa mengutusku dan mengutus beberapa pemuda dari keluarganya kepada seorang syekh di Khurasan yang beradab dan memiliki pengetahuan baik tentang berbagai urusan. Dia berkata kepada kami: “Belajarlah darinya hikmah, karena dia adalah orang bijaksana.”
Kami mendatanginya, dan ketika kami pulang darinya, Dzur Riyasatain bertanya kepada kami dan menanyakan apa yang kami hafal, lalu mereka memberitahunya.
Suatu hari kami mendatangi syekh itu, dia berkata: “Kalian adalah orang-orang beradab dan telah mendengar banyak, kalian memiliki nenek moyang dan nikmat. Apakah di antara kalian ada yang jatuh cinta?” Kami berkata: “Tidak.”
Dia berkata: “Jatuh cintalah! Karena cinta dapat melonggarkan lidah yang kelu, membuka akal orang bodoh dan yang mengalami kesulitan, mendorong untuk berpakaian bersih dan memperbaiki penampilan, mendorong untuk makanan yang baik, mengajak kepada pergerakan dan kecerdasan serta mengangkat cita-cita. Hindarilah yang haram!”
Kami pulang darinya kepada Dzur Riyasatain, dia bertanya kepada kami tentang apa yang kami pelajari hari itu. Kami segan memberitahunya, namun dia bersikeras kepada kami, maka kami berkata: “Sesungguhnya dia memerintahkan kami dengan begini dan begitu.” Dia berkata: “Demi Allah dia benar! Tahukah kalian dari mana dia mengambil ini?” Kami berkata: “Tidak.” Dzur Riyasatain berkata: “Sesungguhnya Bahram Gur memiliki seorang putra yang telah dia persiapkan untuk kekuasaan setelahnya. Pemuda itu tumbuh dengan cita-cita yang lemah, kehormatan yang rendah, jiwa yang hina, dan adab yang buruk. Hal itu menyedihkan dia, maka dia menugaskan para guru dan orang bijak untuk menjaganya dan mengajarinya. Dia bertanya kepada mereka tentangnya, mereka menceritakan kepadanya apa yang menyedihkannya tentang buruknya pemahaman dan kurangnya adabnya, hingga suatu hari dia bertanya kepada salah seorang gurunya. Guru itu berkata kepadanya: ‘Kami dulu khawatir tentang buruknya adabnya, namun telah terjadi sesuatu yang membawa kami kepada keputusasaan akan keberhasilannya.’
Dia berkata: ‘Apa yang terjadi?’ Guru itu berkata: ‘Dia melihat putri fulan marzban (penguasa daerah), lalu jatuh cinta kepadanya hingga cinta itu menguasainya. Dia tidak tenang kecuali dengannya dan tidak sibuk kecuali dengan menyebut namanya.’ Bahram berkata: ‘Sekarang aku berharap akan keberhasilannya.’ Kemudian dia memanggil ayah gadis itu dan berkata kepadanya: ‘Aku akan mempercayakan sebuah rahasia kepadamu, jangan sampai keluar darimu.’ Dia berjanji akan merahasiakannya. Dia memberitahunya bahwa putranya telah tergila-gila pada putrinya, dan dia ingin menikahkannya dengannya. Dia memerintahkannya agar memerintahkan putrinya untuk memberi harapan kepadanya dan berkirim surat dengannya tanpa dia melihatnya atau pandangannya jatuh padanya. Ketika harapannya sudah kuat padanya, dia harus berlaku kasar kepadanya dan menjauhinya. Jika dia meminta maaf, dia memberitahunya bahwa dia tidak layak kecuali untuk raja dan orang yang cita-citanya adalah cita-cita raja, dan yang mencegahnya berhubungan dengannya adalah bahwa dia tidak layak untuk kerajaan. Kemudian dia harus memberitahukan kabar tentangnya dan tentang putranya, dan jangan memberitahukan kepadanya tentang apa yang dia rahasiakan.
Ayahnya menerima hal itu darinya.
Kemudian dia berkata kepada guru yang ditugaskan padanya: “Takuti dia dan beranikan dia untuk berkirim surat dengan wanita itu.” Dia melakukannya, dan wanita itu melakukan apa yang diperintahkan ayahnya. Ketika dia sampai pada berlaku kasar kepadanya dan pemuda itu mengetahui alasan dia tidak menyukainya, dia mulai mempelajari adab, mencari hikmah dan ilmu, berkuda, memanah, dan bermain polo hingga mahir dalam hal itu. Kemudian dilaporkan kepada ayahnya bahwa dia membutuhkan kuda, peralatan, makanan, pakaian, dan teman lebih dari sebelumnya. Raja sangat senang dengan itu dan memerintahkan untuk diberikan. Kemudian dia memanggil gurunya dan berkata: “Sesungguhnya posisi yang ditempati putraku dengan mencintai wanita ini tidak mencemarkan namanya. Perintahkan kepadanya untuk mengangkat urusannya kepadaku dan memintaku untuk menikahkannya dengannya.”
Dia melakukannya.
Pemuda itu mengangkat hal itu kepada ayahnya. Dia memanggil ayah gadis itu dan menikahkannya dengannya, memerintahkan untuk menyegerakan pernikahannya dengannya, dan berkata kepadanya: “Ketika kalian berkumpul dengannya, jangan lakukan apa-apa sampai aku datang kepadamu.” Ketika mereka berkumpul, dia datang kepadanya dan berkata: “Wahai anakku, jangan sampai berkirim suratnya kepadamu dan dia belum dalam ikatanmu membuatmu meremehkannya. Karena aku yang memerintahkannya untuk melakukan itu. Dia adalah orang yang paling menghormatimu dengan apa yang dia ajak kamu kepadanya yaitu menuntut hikmah dan berakhlak dengan akhlak raja, hingga kamu mencapai tingkat yang layak untuk kerajaan setelahku. Maka tambahkan penghormatan dan pengagungan kepadanya sesuai dengan apa yang dia layak darimu.”
Pemuda itu melakukan hal itu dan hidup bahagia dengan gadis itu. Ayahnya hidup bahagia dengannya. Dia memberikan balasan yang baik kepada ayah gadis itu dan mengangkat kedudukannya serta memuliakannya karena menjaga rahasianya dan ketaatannya. Dia memberi hadiah yang baik kepada guru karena menjalankan perintahnya dan mengangkat putranya untuk kerajaan setelahnya.
Al-Yaman, maula Dzur Riyasatain berkata: Kemudian Dzur Riyasatain berkata kepada kami: “Tanyakan kepada syekh itu mengapa dia membawa kalian kepada cinta.” Maka kami bertanya kepadanya, lalu dia menceritakan kepada kami kisah Bahram Gur dan putranya.
Bab
Adapun bagian kedua dari cinta adalah cinta yang tercela, tidak diragukan lagi. Penjelasan tentang kecelaannya adalah bahwa sesuatu itu diketahui terpuji atau tercela dengan memperhatikan hakikatnya, manfaatnya, dan akibatnya. Hakikat cinta adalah ketertarikan pada bentuk, dan ini tidak mengandung keutamaan yang dapat dipuji. Tidak ada manfaat cinta bagi jiwa yang berbicara (jiwa rasional). Cinta hanyalah pengaruh dari dominasi jiwa syahwat, karena ketika jiwa syahwat menguat, ia mencintai apa yang sesuai dengannya. Tidakkah engkau melihat bahwa anak-anak mencintai patung-patung dan mainan lebih dari kecintaan mereka kepada manusia, karena kelemahan jiwa mereka dan karena jiwa mereka serupa dengan bentuk-bentuk karena kosong dari latihan. Ketika jiwa mereka terlatih, cita-cita mereka terangkat kepada yang lebih tinggi, yaitu cinta terhadap bentuk-bentuk yang berbicara. Ketika jiwa mereka terlatih dengan ilmu pengetahuan dan makrifat, mereka terangkat dari cinta terhadap dzat-dzat yang terbuat dari daging dan darah menuju kepada yang lebih mulia.
Keadaan sempurna jiwa syahwat adalah keberadaannya bersama syahwatnya tanpa pengganggu. Keadaan sempurna jiwa hewani adalah tercapainya tujuannya dalam hal kekuasaan dan kepemimpinan. Keadaan sempurna jiwa yang berbicara adalah keberadaannya dalam menyadari hakikat segala sesuatu dengan ilmu dan makrifat. Jiwa ini tidak ditawan oleh hawa nafsu. Jika tabiatnya menariknya, pikirannya akan menegakkannya dan akalnya serta pemahamannya akan menyelamatkannya dari tangannya, karena ia merenungkan apa yang menimpanya lalu melihat akhirnya dan melihat batasnya. Bukan dari sifatnya untuk berhenti, karena ia dalam perjalanan selamanya naik dari ilmu ke ilmu. Sementara orang yang jatuh cinta berhenti pada bentuk yang kaku tidak bergerak, dan orang yang mengenal Allah Subhanahu dalam perjalanannya tidak pernah lemah. Tidak dapat disangkal bahwa tabiatnya mungkin menguasainya pada suatu keadaan dan kecintaan pada bentuk-bentuk kadang-kadang menariknya, tetapi ia tidak menjadi tawanan, ia hanya condong sedikit.
Salah seorang ahli hikmah berkata: Cinta bukan termasuk penyakit orang berakal. Cinta hanyalah penyakit orang-orang dungu yang menjadikan kebiasaan dan kesukaan mereka mengikuti jiwa, melonggarkan tali syahwat, dan melepaskan pandangan pada bentuk-bentuk yang indah. Di sanalah jiwa terikat pada sebagian bentuk lalu merasa senang, kemudian terbiasa, kemudian rindu, lalu terpesona sehingga dikatakan jatuh cinta. Ini bukan sifat para ahli hikmah, karena orang yang bijaksana adalah orang yang pendapatnya mengungguli hawa nafsunya dan kebijaksanaannya menguasai syahwatnya. Tabiat-tabiat liarnya selamanya terikat seperti anak kecil di hadapan gurunya atau budak di pandangan tuannya. Cinta tidak pernah terjadi kecuali pada orang dungu yang menganggur. Jarang terjadi pada orang yang sibuk dengan pekerjaan atau perdagangan, apalagi pada orang yang sibuk dengan ilmu pengetahuan dan hikmah karena hal itu memalingkannya. Karena itu, engkau hampir tidak menemukannya pada para ahli hikmah.
Syahdah binti Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad al-Jauhari memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Umar bin Hayawaih memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin al-Marzuban menceritakan kepada kami, ia berkata: Harun bin Muhammad menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Abdullah al-Qurasyi mengabarkan kepadaku, ia berkata: al-Hakam menceritakan kepadaku, ia berkata: Dikatakan kepada seorang laki-laki dari Bani Amir: Apakah kalian mengenal di antara kalian orang gila yang mati karena cinta? Ia berkata: Hanya orang-orang Yaman yang lemah hati itu yang mati karena cinta.
Ibnu Aqil berkata: Cinta adalah penyakit yang menimpa jiwa-jiwa yang menganggur dan hati-hati yang kosong serta yang memperhatikan bentuk-bentuk karena dorongan dari jiwa dan dibantu oleh pergaulan yang terus-menerus, sehingga kebiasaan menguat dan kesenangan membekas, lalu dengan kebiasaan menjadi cinta yang mendalam. Tidak pernah jatuh cinta kecuali orang yang kosong. Ia termasuk penyakit orang-orang yang menganggur dan penyakit orang-orang yang kosong dari merenungkan dalil-dalil pelajaran dan mencari hakikat-hakikat yang menjadi dalil atas keagungan Sang Pencipta. Karena itu, jarang engkau melihatnya kecuali pada orang dungu yang sombong dan orang-orang dungu yang lancang. Tidak pernah seorang yang bijaksana jatuh cinta, karena hati para ahli hikmah lebih kuat menahan diri daripada dihentikan oleh bentuk dari bentuk-bentuk alam dengan kekuatan pencarian mereka. Mereka selamanya memperhatikan dan menyambar pandangan tetapi tidak berhenti. Jarang terjadi cinta dari pandangan sekilas dan jarang seorang yang bijaksana menambahkan pada pandangan sekilas pandangan lagi, karena ia sedang berjalan mencari makna-makna. Barangsiapa yang mencari makrifat kepada Allah, tidak dihentikan oleh bentuk dari pencarian karena itu menghalanginya dari Sang Pembentuk. Hati para ahli hikmah yang mencari, apalagi yang sampai dan yang mengenal, terlalu mulia untuk dipenjarakan oleh bentuk-bentuk atau diperdaya oleh rupa-rupa dari naik dalam tangga-tangga tujuan mereka atau diturunkan dari kedudukan mereka ke tempat beban-beban yang berat. Mereka selamanya dalam pendakian, merobek hijab-hijab dan tabir-tabir dengan kekuatan pandangan.
Bab
Telah jelas dengan apa yang kami sebutkan bahwa tujuan jiwa syahwat adalah kelezatan. Mari kita kritisi kelezatan-kelezatan secara mutlak dengan apa yang menjelaskan aib cinta, kemudian kita khususkan dengan apa yang layak baginya. Kami katakan: Ketahuilah bahwa kelezatan inderawi bukanlah sesuatu yang dicari pada dirinya sendiri. Ia hanyalah penolakan sesuatu yang menyakitkan yang baru terjadi agar manusia kembali ke keadaannya sebelum kejadian itu. Contohnya seperti orang yang keluar dari tempat teduh lalu berjalan di bawah matahari sehingga terkena panas, kemudian kembali ke tempat teduh. Ia merasakan kelezatan di tempat itu sampai ia kembali ke keadaan pertamanya, kemudian ia kehilangan perasaan nikmat itu. Kuatnya kelezatan sesuai dengan kuatnya sakitnya panas yang menimpanya. Orang yang merasakan kelezatan mungkin membayangkan bahwa kelezatan itu terjadi tanpa ada rasa sakit sebelumnya, padahal tidak demikian. Tidak mungkin terjadi kelezatan inderawi kecuali sebesar rasa sakit karena keluar dari tabiat, sebagaimana sebesar rasa sakit lapar dan haus adalah kelezatan dengan makanan dan minuman. Ketika orang lapar dan haus kembali ke keadaan pertamanya, memaksanya untuk mengonsumsi keduanya adalah hal yang paling menyakitkan baginya. Para pencari kelezatan hanya melihat bentuk tercapainya tujuan, dan mereka buta dengan hijab hawa nafsu yang telah kami sebutkan kecelaannya sebelumnya dari memahami apa yang kami katakan, lalai dari apa yang terkandung dalam kelezatan berupa pertaruhan dengan jiwa, hancurnya kehormatan, dosa yang terjadi, dan lain sebagainya. Seandainya fajar kewaspadaan menyingkap tirai malam hawa nafsu, lalu mereka melihat dengan mata hati apa yang terkandung dalam hawa nafsu dari berbagai bencana, niscaya mudah bagi mereka untuk meninggalkan tujuan mereka.
Socrates berkata: Kelezatan adalah tali gantungan dari madu. Yang lain berkata: Kelezatan bercampur dengan keburukan, maka renungkanlah terputusnya kelezatan dan tersisanya ingatan akan keburukan. Yang lain berkata: Aib kehinaan mengotori kelezatannya.
Bab
Ketika telah terbukti aib kelezatan-kelezatan pada akal-akal yang terang dengan apa yang kami isyaratkan, maka aib ini melekat dalam bab cinta, bahkan ia lebih pantas dengan aib itu. Sesungguhnya mempergunakan pandangan dalam mengulangi melihat menyuntikkan ke dalam diri orang yang jatuh cinta keinginan untuk mendapat kelezatan. Setiap kali ia memperoleh kelezatan dengan satu pandangan, ia menolak sebagian rasa sakit yang ia tarik kepada dirinya sendiri. Namun dengan pandangan itu ia menarik keburukan berlipat ganda dari apa yang ia tolak, karena mengulangi pandangan menguatkan kegelisahan kepada kekasih. Tidak ada obat untuk itu kecuali sampai kepada batasnya yang dicari dari kenikmatan yang terus-menerus yang memanjang hingga awal kebosanan. Sebagian dari itu mungkin menyebabkan kehinaan dunia dan akhirat.
Bab
Ketahuilah bahwa para pencinta telah melampaui batas binatang dalam tidak menguasai jiwa dalam tunduk kepada syahwat-syahwat, karena mereka tidak rela untuk mendapatkan syahwat persetubuhan—yang merupakan syahwat paling buruk menurut jiwa yang berbicara—dari mana saja, sampai mereka menginginkannya dari orang tertentu. Mereka menambahkan syahwat kepada syahwat dan merendahkan diri untuk hawa nafsu dengan kerendahan di atas kerendahan. Binatang hanya bermaksud menolak rasa sakit darinya saja. Mereka ini menggunakan akal mereka untuk mengatur cara mendapatkan syahwat-syahwat mereka.
Bab
Telah jelas bagimu dengan apa yang kami sebutkan tentang aib kelezatan-kelezatan dan aib cinta dari sisi kemiripannya dengan kelezatan-kelezatan. Kami jelaskan bahwa aibnya bertambah dari aib kelezatan-kelezatan secara mutlak. Kami tambahkan penjelasan itu di sini, maka kami katakan: Cinta jelas berbahaya dalam agama dan dunia.
Adapun dalam agama, sesungguhnya cinta pertama-tama menyibukkan hati dari berpikir tentang apa yang ia diciptakan untuknya, yaitu mengenal Tuhan, takut kepada-Nya, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Kemudian sebesar apa yang ia peroleh dari mengikuti tujuannya yang haram adalah kerugian akhiratnya dan terpaparnya pada siksa Penciptanya. Semakin dekat ia kepada hawa nafsunya, semakin jauh ia dari Tuhannya. Cinta hampir tidak terjadi pada yang halal yang dikuasai. Jika terjadi, betapa cepatnya hilangnya. Para ahli hikmah berkata: Setiap yang dimiliki akan membosankan. Penyair berkata:
Dan menambah kecintaanku pada cinta karena ia dilarang Dan cinta pada sesuatu bagi manusia adalah apa yang dilarang
Jika yang dicintai tidak boleh didapat, kegelisahan dan pencarian menjadi sangat kuat. Jika diperoleh darinya suatu tujuan, siksaan yang berat dalam menghadapinya, sedangkan tercapainya tujuan menambah rasa sakitnya. Pahitnya perpisahan bertambah dari kelezatan pertemuan, sebagaimana perkataan seseorang:
Segala sesuatu yang kauuntungkan dalam pertemuan Dan kedekatan, kaurugi dalam perpisahan
Jika takut kepada Allah Taawala menghalanginya dari mencapai tujuan, maka penahan diri adalah siksa yang berat. Ia tersiksa dalam setiap keadaan.
Bab
Adapun bahaya cinta dalam dunia, sesungguhnya ia mendatangkan kesedihan yang terus-menerus, pikiran yang melekat, was-was, susah tidur, kurang makan, dan banyak begadang. Kemudian menguasai anggota badan sehingga timbul warna kuning pada tubuh, gemetar pada anggota badan, tergagap pada lidah, dan kurus pada badan. Pendapat terbengkalai, hati absen dari mengatur kemaslahatan, air mata bercucuran, penyesalan berurutan, keluhan berdatangan, napas tidak memanjang, perut terbakar. Ketika hati pingsan sepenuhnya, keluar menjadi gila. Betapa dekatnya ketika itu dari kebinasaan. Ini belum lagi berapa banyak kejahatan yang ia perbuat pada kehormatan dan lemahnya martabat di antara makhluk. Kadang-kadang jatuh ke dalam hukuman badan dan penegakan hukum had. Mereka mendendangkan syair:
Tidak ada orang berakal di antara manusia yang terpuji urusannya Dan disebutkan kecuali ia dalam cinta menjadi bodoh Tidak ada pemuda yang merasakan kesengsaraan kehidupan Di antara manusia kecuali ia merasakannya ketika jatuh cinta
Galenus berkata: Cinta dari perbuatan jiwa, dan ia tersembunyi di otak, jantung, dan hati. Di otak ada tiga tempat: tempat untuk imajinasi di bagian depan kepala, tempat untuk berpikir di bagian tengahnya, tempat untuk ingatan di bagian belakangnya. Tidak disebut jatuh cinta kecuali orang yang ketika berpisah dari yang dicintai tidak kosong dari membayangkannya, sehingga ia menahan diri dari makanan dan minuman karena sibuknya hati, dan dari tidur karena sibuknya otak dengan imajinasi, pikiran, dan ingatan. Semua tempat tinggal jiwa telah disibukkan dengannya.
Bab
Sungguh para ahli hikmah telah menggambarkan keburukan yang ada pada para pencinta dengan sangat fasih. Kadang-kadang datang kepada para pencinta yang berakal masa-masa sadar, lalu mereka menggambarkan keburukan keadaan mereka.
Ibrahim bin Dinar memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibnu Nabhan memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibnu Dauma memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad Nashr al-Dzari’ memberitahukan kepada kami, ia berkata: Shadaqah bin Musa menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Jahizh menceritakan kepada kami, ia berkata: Disebutkan kepadaku tentang salah seorang ahli hikmah India bahwa ia berkata: Jika cinta muncul pada kami pada seorang laki-laki atau perempuan, kami pergi kepada keluarganya di pagi hari untuk menyampaikan takziah. Al-Jahizh berkata: Sampai kepadaku bahwa seorang pencinta mati di India karena cinta, lalu raja India mengirim kepada yang dicintai untuk membunuhnya sebagai balasan.
Al-Mubarak bin Ali memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ali bin Muhammad bin al-Allaf memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdul Malik bin Bisyran memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ibrahim al-Kindi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu al-Fadhl al-Rabi’i menceritakan kepada kami, ia berkata: Seorang laki-laki dari India berkata: Jika cinta muncul pada kami pada seseorang, kami pergi kepadanya di pagi hari untuk menyampaikan takziah.
Al-Rabi’i berkata: Aku mendengar seorang perempuan Arab berkata: Kasihan orang yang jatuh cinta, segala sesuatu adalah musuhnya. Hembusan angin membuatnya gelisah, kilatan petir membuatnya terjaga, bekas-bekas rumah membakarnya, celaan menyakitinya, kenangan membuatnya sakit, kejauhan melemahkannya, kedekatan membangkitkannya, malam melipat gandakan musibahnya, tidur lari darinya. Sungguh aku telah berobat dengan dekat dan jauh tetapi tidak berhasil obat padanya dan tidak menghibur penghiburan. Sungguh baik orang yang berkata:
Mereka mengira bahwa pencinta jika dekat Akan bosan dan bahwa jauh menyembuhkan dari rindu Kami berobat dengan keduanya tetapi tidak sembuh yang ada pada kami Padahal dekatnya rumah lebih baik dari jauh
Muhammad bin Ja’far berkata: Al-Maristani mendengungkan kepadaku:
Jika rumahnya dekat, aku terpesona, dan jika jauh Aku sedih, maka tidak dengan dekat aku lupa dan tidak jauh Jika ia berjanji, cinta bertambah karena menunggunya Dan jika ia pelit dengan janji, aku mati pada janji Dalam setiap cinta pasti ada kegembiraan Dan cintamu tidak ada di dalamnya selain kesulitan yang pasti
Al-Mubarak bin Ali memberitahukan kepada kami, ia berkata: Fathimah binti Abdullah al-Khabariyyah memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ali bin al-Hasan bin al-Fadhl memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Muhammad al-Katib memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibnu al-Mughirah al-Jauhari menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Sa’id al-Dimasyqi menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Zubair bin Bakkar menceritakan kepada kami, ia berkata: Mauhub bin Rasyid menceritakan kepadaku, ia berkata: Seorang perempuan dari Bani Aqil datang kepada saudara perempuannya lalu berkata kepadanya: Wahai fulanah, bagaimana keadaanmu pagi ini dengan cinta fulan? Ia berkata: Demi Allah, cintanya menggelisahkan yang diam dan mendiamkan yang bergerak. Kemudian ia mendendangkan kepadanya:
Seandainya apa yang ada pada kerikil membelah kerikil Dan pada angin tidak terdengar bagi mereka hembusan Seandainya aku memohon ampun kepada Allah setiap kali Aku mengingatmu, tidak akan ditulis atasku dosa
Ia berkata: Tidak mengapa demi Allah, aku tidak akan berhenti sampai aku bertanya kepadanya bagaimana ia pagi ini karena cintamu. Ia datang kepadanya lalu bertanya kepadanya. Ia berkata: Sesungguhnya cinta itu kehinaan, ia hanya dibedakan dengan namanya. Hanya mengerti apa yang aku katakan orang yang seperti aku. Menangiskanku kenangan-kenangan dan jejak-jejak.
Muhammad bin Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata Abu Mubarak bin Abdul Jabbar memberitahukan kepada kami, ia berkata Al-Hasan bin Ali memberitahukan kepada kami, ia berkata Abu Umar bin Huwayyih memberitahukan kepada kami dari Ibnu Al-Mirzaban, ia berkata Abu Bakar Al-Amiri dan Abu Muhammad Al-Balkhi menceritakan kepadaku, keduanya berkata Abu Abdullah Al-Qurasyi memberitahukan kepada kami, ia berkata Muslim bin Abdullah bin Jundub Al-Hudzali menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku dan Zaban As-Sawwaq keluar menuju Al-Aqiq, lalu kami bertemu dengan beberapa wanita yang turun dari Al-Aqiq yang cantik-cantik, dan di antara mereka ada seorang budak perempuan yang cantik matanya. Maka Zaban melantunkan syair ayahnya:
Wahai hamba-hamba Allah, ini adalah saudaramu Yang terbunuh, maka apakah di antara kalian ada yang membalaskannya hari ini Ambillah darahku jika aku mati dari setiap gadis jelita Yang sakit kelopak matanya dan pandangannya mempesona
Ia berkata: Lalu ia menghampiriku dan menunjuk ke arah gadis itu seraya berkata: Wahai putra orang-orang mulia, demi Allah darah ayahmu ada di pakaiannya, maka janganlah mencari bekas setelah ada yang nyata.
Ia berkata: Lalu seorang wanita mendatangiku bersama seorang wanita cantik yang lebih cantik dari gadis itu, ia berkata: Apakah engkau putra Jundub? Aku menjawab: Ya. Ia berkata: Sesungguhnya tawanan kami tidak dibebaskan dan orang yang terbunuh dari kami tidak dibayar diyatnya, maka terimalah (kematian) ayahmu dan selamatkanlah dirimu. Lalu mereka berlalu.
Bab yang Berisi Syair-syair yang Diucapkan dalam Mencela Asmara
Ibrahim bin Dinar mengabarkan kepada kami, ia berkata Ibnu Nabhan memberitahukan kepada kami, ia berkata Ibnu Duma memberitahukan kepada kami, ia berkata Ahmad bin Nashr Adz-Dzari’ memberitahukan kepada kami, ia berkata Shadaqah bin Musa memberitahukan kepada kami, ia berkata Al-Ashma’i menceritakan kepada kami, ia berkata: Seorang badui ditanya tentang cinta, maka ia menjawab: Apa itu cinta dan apa sebenarnya cinta? Bukankah ia hanya sihir atau kegilaan? Kemudian ia mulai berkata:
Apakah cinta itu selain desahan demi desahan Dan panas pada hati yang tidak ada dinginnya Dan luapan air mata dari kelopak mataku setiap kali Tampak tanda dari negerimu yang sebelumnya tidak tampak
Al-Ashma’i berkata: Dan aku berkata kepada seorang badui: Apa itu cinta? Maka ia menjawab:
Cinta adalah kesibukan dari setiap kebaikan Dan mabuk cinta menghilangkan mabuk kantuk
Al-Mubarak bin Ali mengabarkan kepada kami, ia berkata Ibnul Allaf memberitahukan kepada kami, ia berkata Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata Ash-Shaydalani melantunkan syair kepadaku:
Ia berkata: Engkau gila di kepalaku, maka aku katakan kepadanya Asmara lebih besar daripada apa yang ada pada orang-orang gila Asmara itu pemiliknya tidak akan sadar selamanya Dan sesungguhnya orang gila hanya kejang sesaat
Abdurrahman bin Muhammad mengabarkan kepada kami, ia berkata Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitahukan kepada kami, ia berkata Ali bin Ayyub Al-Qummi menceritakan kepada kami, ia berkata Muhammad bin Imran bin Musa menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku menemukan dengan tulisan tangan Abu Abdullah Al-Yazidi dari pamannya Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad untuk ayahnya Muhammad bin Ahmad Al-Yazidi:
Bagaimana manusia sanggup menggambarkan cinta Padahal ia agung dan tidak ada ukurannya Bahkan bagaimana bisa jernih bagi kekasih cinta Kehidupan padahal di dalamnya ada perpisahan dan pengabaian
Dan ia juga berkata: Dan cinta adalah urusan yang ajaib keadaannya Terkadang putus asa dan kadang harapan Bukan keajaiban orang yang mati karenanya Yang mengherankan adalah orang yang selamat darinya
Kedua Muhammad, Ibnu Abdul Malik dan Ibnu Abi Mansur mengabarkan kepada kami, keduanya berkata Al-Hasan bin Ahmad bin Khayrun memberitahukan kepada kami, ia berkata Abu Umar Ibnul Faluwah melantunkan syair kepada kami:
Ia mencurahkan pada hatiku dari cintanya kepedihan Seandainya aku mendinginkannya dengan air, ia tidak akan minum Seandainya aku menguasai hatiku atau ia menaatiku Aku akan menjaganya dan cukup bagiku dikatakan jatuh cinta
Dan Muhammad bin Abdullah bin Munaadzir berkata:
Siapa pemuda yang di pagi hari dalam cinta Yang memberinya minum cinta adalah racun Setiap kali ia menyembunyikan sakit cinta Air mata atasnya tumbuh Yang terjaga tidak merasakan tidur Jika malam telah gelap Setiap kali ia mengawasi bintang Yang jatuh, ia mengawasi bintang lain Kalian adalah kekhawatiranku, maka jika tidak Kalian menghubungiku, aku mati sedih Wahai orang-orang kepercayaanku, cinta telah mengendalikan Untuk kalian hidungku dan tali kendali Wahai saudaraku, penyakitku adalah sakit cinta Dan penyakit manusia adalah demam Jangan kau cela orang yang terbuka dalam cinta Sesungguhnya cinta itu buta
Dan untuk Muhammad bin Abi Umayyah: Demi Allah aku tidak tahu apakah dari perih cinta Aku bersabar atas kekurangan ataukah aku tidak punya hati Yang paling buruk urusanku padahal hati menyukainya, apakah aku gila hatiku dalam cinta ataukah ia adalah cinta
Dan untuknya:
Kolam-kolam cinta penuh dengan kematian Yang dikelilingi dengan kelezatan kenikmatan Teman cinta merasa akrab dengan kesedihan Dan banyak pemikiran hati yang sehat Dan paling besar ia dalam kegembiraan Atas bahaya dan tempat terbit yang besar
Dan Al-Buhturi berkata:
Ia mengatakan sia-sia dan menyimpangkan pendapat orang Yang tidak berkata bahwa kematian ada di mata Jika engkau menghitung dari yang telah binasa Dengan nasib buruk, maka hitunglah yang jatuh cinta
Dan Abu Tammam berkata:
Adapun cinta maka ia adalah azab, jika mengalir Di dalamnya perpisahan, maka paling menyakitkan dari setiap yang menyakitkan
Dan untuk Ibnu Abi Hashinah:
Dan asmara menarik jiwa-jiwa menuju kebinasaan Dengan tabiat, maka aku iri pada yang tidak jatuh cinta Bayangan datang lalu membangkitkan bagiku dengan kedatangannya Dan untuknya, andai bayangan mereka tidak datang
Dan untuk Ibnur Rumi:
Buruk cinta, raja langit, maka ia tidak berhenti Agama yang ditaati yang kuat untuk yang lemah Dan celaan kepada masa muda setelah uban, karena sesungguhnya ia Jarak yang memperlihatkan orang merdeka di belakang budaknya
Dan untuknya:
Cinta adalah penyakit keras yang tidak ada obatnya Yang di dalamnya para dokter bingung Sungguh aku mengira bahwa orang-orang yang jatuh cinta berlebihan Dalam menggambarkannya, ternyata kaum itu kurang
Dan untuk Shalih bin Abdul Quddus: Durhaka pada cinta, sesungguhnya cinta adalah kendaraan Yang menjadi sulit setelah kelembutan darinya yang rendah Jika hari ini cinta membawa kelezatan Maka besok darinya tangisan dan ratapan
Dan untuk Ibnu Al-Mu’tazz:
Sungguh aku dahulu waktu yang lama keras lagi teguh Atas apa yang menimpa, kuat lagi kokoh Lalu cinta menjadikanku tidak mampu Mengangkat dengan tanganku dari bumi sebatang kayu
Dan untuknya:
Wahai rombongan, sampaikanlah kepadanya salamku Dan takutlah pada pandangan matanya yang mempesona Sesungguhnya sentuhan cinta yang tersembunyi seperti penyakit Kusta yang menular lalu merusak orang-orang baik
Dan untuknya:
Dan cinta adalah penguasa yang memiliki budak-budak Yang gila yang tidak dibeli dengan harga
Dan untuknya:
Berapa banyak kami melihat yang menguasai kekuasaannya Yang memakai cinta lalu kekuasaannya menghinakannya
Dan untuknya:
Dan seakan-akan cinta adalah orang Alawi Yang menyangka bahwa aku yang membunuh Husain Dan seakan-akan aku di sisinya adalah anak Ziyad Maka ia memilih yang paling menyakitkan dari dua pembunuhan
Dan untuknya:
Wahai hati rasakanlah, engkau telah menentangku dan mendurhakaisku Aku melarangmu dari apa yang merugikanku, maka engkau menolak Engkau mendurhakai ucapanku dalam tergesa-gesa dalam cinta Dan engkau menentangku di dalamnya, maka bagaimana pendapatmu
Syahdah binti Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata Abu Muhammad Ibnus Sarraj memberitahukan kepada kami, ia berkata Ali bin Al-Muhsin At-Tanukhi memberitahukan kepada kami, ia berkata Abu Umar bin Huwayyih memberitahukan kepada kami, ia berkata Muhammad bin Khalaf menceritakan kepada kami, ia berkata Abu Ali Al-Hasan bin Shalih menceritakan kepadaku, ia berkata Musawir Al-Warraq berkata: Aku berkata kepada seorang gila yang ada di tempat kami dan ia adalah seorang penyair, dikatakan bahwa akalnya hilang karena kehilangan sepupu yang ia miliki: Sempurnakanlah bait syair ini:
Dan cinta bukanlah selain bara api yang dinyalakan dengannya Mata-mata rusa dengan pandangan di antara rusuk
Maka ia berkata saat itu juga:
Dan api cinta tersembunyi namun dalam hati ada pengaruhnya Seperti pengaruh yang dibawa oleh tangan penyala api
Dan Abu Abdullah bin Al-Hajjaj berkata:
Celakalah engkau wahai hati, betapa lalainya engkau Engkau jatuh cinta pada yang suka membunuhmu Dan engkau wahai mataku telah menjatuhkanku Celakalah engkau wahai mata, apa urusanku denganmu Sungguh sudah seharusnya tangisanku atas Yang tertimpa cinta agar menyibukkanmu Hingga engkau tersambung ke hatiku, maka tidak Engkau ada dan tidak ada yang mengutusmu
Dan untuknya:
Wahai yang bertanya kepadaku tentang darahku, jangan mencari siapa pun Setelahku dengannya, maka darahku yang tertumpah ada di leherku Sesungguhnya aku memikul atas diriku untuk kemalangan diriku Seperti gunung-gunung dari bencana, maka ia tidak kuat
Dan untuknya:
Katakan kepada hatiku: Mengapa engkau mengeluh Tidak sembuh Allah dahagamu Engkau wahai yang malang Bercampur dan banyak kesibukanmu Hari kau menjadikan kepada bulan Kegelapan dariku utusanmu Meminta sesuatu yang jauh, wahai hatiku Yang tidak sepadan untukmu
Dan untuk Abul Faraj Al-Wa’wa’:
Jalan-jalan cinta sulit Manis cinta pahit Dingin cinta panas Hari cinta adalah masa Rahasia cinta terang
Dan untuk Abu Muhammad Ali bin Hassan:
Kalau bukan karena engkau, tidak turun uban di kepalaku Dan menjadikanku sakit di hadapan teman-teman dudukku Aku petang dan pagi tunduk merendahkan diri Setelah lama aniaya dan kesombongan Kalau bukan takdir Allah dan Dia yang menjadikanku Untukmu sebagai teman, aku tidak akan termasuk sahabat-sahabatmu Dan seandainya tersingkap dari pandanganku kegelapan Yang menutupi, aku akan melihatmu seperti semua orang
Syahdah mengabarkan kepada kami, ia berkata Abu Muhammad Ibnus Sarraj memberitahukan kepada kami, ia berkata: Dilagukan kepadaku untuk Abu Al-Hasan Ali bin Abdurrahman Ash-Shiqilli permulaan qashidahnya dan aku telah bertemu dengannya di Iskandariyah:
Inilah pipi-pipi dan inilah mata-mata Maka mendekatlah orang yang hatinya yakin Kalau mereka jatuh cinta, mereka tidak akan mencela Tetapi mereka mencela dan tidak menderita Mereka memarahiku dengan celaan mereka secara bodoh Seandainya mereka meneguk gelas cinta, mereka akan lembut Hati tidak bersamaku, maka ketahuilah apa Yang telah menimpanya dari kerinduan dan kegelisahan Cinta bukanlah selain jalan berbahaya Sulit keselamatan dan tempat yang cemas
Dan untuk Abu Bakar Hibatullah bin Al-Hasan Al-Allaf:
Aku berkata dan sungguh serius asmara dengan jiwaku Dan kelopak mataku meluap setelah air matanya menjadi darah Jika engkau ingin bertemu dari manusia orang mati Dalam rupa orang hidup, maka temuilah orang yang jatuh cinta
Dan Abdul Muhsin bin Ghalib Ash-Shuri berkata:
Cinta memberitahuku tentang yang gaib Maka aku menjadi tahu hari ini apa yang ada di esok hari Demi Allah, aku tidak ditentang dalam jiwaku Kecuali agar aku mengangkat darinya tanganku
Dan ia juga berkata:
Dan adalah permulaan yang ada padaku main-main Maka ketika ia mantap, ia menjadi kegilaan Dan aku mengira cinta itu ringan Lalu aku mendapat darinya azab yang menghinakan
Dan ia juga berkata:
Kembalikanlah kepada kami apa yang kalian ambil dari kami Dan kembalilah kepada kami di dalamnya jika kami kembali Tidak berhenti rahasia-rahasia tersimpan Tidak didengar orang dan tidak kami katakan Yang paling mudah dalam urusan kami adalah bahwa kami Ketika kami menjaga janji kalian, kami tersia-sia
Dan untuknya:
Gelas cinta dan khamr adalah satu Semuanya menguasai atas akal
Dan untuknya:
Dan untuk cinta ada batas-batas dan yang paling mudahnya adalah kebinasaan Dan telah menjadi di sisiku ketika menimpaku mudah
Dan Abu Manshur bin Al-Fadhl berkata:
Maka tidak ada dalam cinta penggembalaan yang enak bagi yang merasakan Dan tidak tempat minum yang manis yang enak baginya yang meminumnya Bertanya pada bekas-bekas tempat tinggal yang rebahannya adalah gema yang bisu Dan keluhan kepada orang yang hatinya adalah kelembutan yang keras
Dan untuknya:
Tertimpa, aku berteguh dengan yang aku mampu Apakah di dalam kecuali kemampuan manusia Dan meskipun aku lari dari cinta dengan nyawaku Maka cinta adalah seburuk-buruk pembinasa makhluk hidup
Dan untuknya:
Kami menyukai dada dan kami mencintai bibir Dan kami tahu bahwa kami mencintai tenggorokan
Dan untuknya:
Selamat selamat dari negeri Najd Sebelum hati tergantung dengan kerinduan Berapa banyak orang kosong yang pergi ke sana dan petang Dan ia mengigau dengan Ulwah dan dengan Hind
Dan untuk Abu Bakar Muhammad bin Umar Al-Anbari:
Wahai teman, sesungguhnya aku sejak mengenal cinta Tenggelam dalam laut tanpa pantai Mataku celakakan aku, ia melihat satu pandangan Aku pergi karenanya dalam kesibukan yang menyibukkan Aku jatuh cinta padanya di rumah dari Persia Tetapi ia dalam sihir dari Babil Ia menzhalimiiku padahal keadilan dari sifatnya Betapa menyakitkan kezhaliman dari yang adil
Dan guru kami Abu Abdullah Al-Bari’ berkata:
Wahai hati, sabarlah untuk anak panah kemanjaan Dari mata rusa yang cantik Inilah yang dahulu di petang Aku melarangmu darinya dan di pagi hari Hingga ketika engkau jatuh di dalamnya Dan menjadi dalam keadaan yang buruk Engkau datang dari cinta meminta tolong Engkau memintaku hiburan yang menenangkan Seperti yang meminta petunjuk dari orang buta Dan yang meminta api di Al-Bathihah Aku akan memanggil atasmu hingga Engkau menjadi di antara orang banyak aib Ini adalah balasan dari yang aku nasihati dengan sungguh-sungguhku Untuknya, maka ia tidak menerima nasihat
Dan untuknya juga:
Api hatimu menolak kecuali menyala Dan air kelopak matamu kecuali mengalir Dan engkau sabar sebelum perpisahan Maka mengapa engkau tidak kuat atasnya bersabar Penyeru perpisahan memanggil hatimu Pagi perpisahan: jangan lari Maka ia bertekad ketika mereka bertekad niat Perpisahan hatimu dan mereka berjalan maka ia berjalan Maka engkau tidak melihatmu kurus setelahnya Mata-mata kebiasaan hingga engkau ragu Seakan-akan tidak mengelilingi selainmu cinta Dan tidak menempati selain hatimu rumah Dan sungguh mati Qays karenanya jatuh cinta Maka Amir tidak mendapat darinya pembalasan Dan binasa Urwah sebelumnya Maka Udzrah tidak berperang darinya untuk kemenangan Dan mati dengan penyakit keduanya Taubah Mereka mencintai orang-orang mulia dan mati dengan bebas Dan engkau di belakang mereka menempuh Jalan mereka, maka pelarian adalah pelarian Dan aku dan Laila adalah penyusuan cinta Dan tetanggaku murni yang tidak kau cela tetangga Maka ia menjadi telah serius tali penyambungan Dan serius perpisahan, maka jauh tempat kunjungan Dan sungguh ia meninggalkanku mengurus bintang-bintang Di mana terbit ini dan di mana tenggelam itu
Dan yang lain berkata:
Wahai orang-orang yang tidur di sekelilingku dengan enak Beginilah aku ketika aku adalah kosong Siapa yang melihatku, maka janganlah ia melanggengkan pandangan Dan hendaklah ia dari teman duduknya seperti Samiri
Dan yang lain berkata:
Siapa yang senang bahwa ia melihat kematian Dengan matanya pemandangan yang jelas Maka hendaklah ia merasakan gelas dari kezhaliman Dan hendaklah ia jatuh cinta pada wajah-wajah yang cantik Wahai mata-mata yang mengirim yang sakit Lalu mencuri mata-mata yang sehat
Dan yang lain berkata:
Siapa yang tidak merasakan cinta, maka hendaklah ia mendatangiku Aku akan mengabarkannya dari pengobatannya yang merasakan Cinta awalnya enak rasanya Maka jika engkau mengalami, engkau mengalami seburuk-buruk rasa
Dan yang lain berkata:
Betapa membunuhnya cinta padahal manusia tidak mengetahuinya Dan semua yang tidak ia rasakan maka ia tidak diketahui Pergi para pemanah menuju sebagian rusa, maka tiba-tiba Sebagian pemanah dengan sebagian buruan terbunuh
Bab Tiga Puluh Delapan Tentang Pahala Orang Yang Jatuh Cinta, Menjaga Kesucian, Dan Menyimpan Rahasia
Al-Mubarak bin Ali mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ali bin al-Allaf memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdul Malik bin Bisyran memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ibrahim al-Kindi memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far bin Sahl menceritakan kepada kami, ia berkata: Ya’qub bin Isa dari keturunan Abdurrahman bin Auf menceritakan kepada kami dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa jatuh cinta lalu menjaga kesucian lalu meninggal, maka ia mati syahid.”
Abu Manshur Abdurrahman bin Muhammad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitakan kepada kami, ia berkata: al-Hasan bin al-Husain an-Na’ali memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Ahmad bin Nashr adz-Dzari’ memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Mahmud al-Anbari menceritakan kepada kami, ia berkata: Suwaid bin Sa’id al-Hadatsani menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Mushir menceritakan kepada kami dari Abu Yahya al-Qattat dari Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa jatuh cinta lalu meninggal, maka ia mati syahid.”
Ibrahim bin Dinar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Ali Muhammad bin Sa’id bin Nabhan memberitakan kepada kami, ia berkata: al-Hasan bin al-Husain bin Dauma memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Nashr adz-Dzari’ memberitakan kepada kami, ia berkata: Shadaqah bin Musa, Ahmad bin Mahmud al-Anbari, dan al-Qasim bin Ahmad menceritakan kepada kami, mereka berkata: Suwaid bin Sa’id al-Hadatsani menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Mushir menceritakan kepada kami dari Abu Yahya al-Qattat dari Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa jatuh cinta, menyimpan rahasia, dan menjaga kesucian lalu meninggal, maka ia mati syahid.”
Adz-Dzari’ berkata: Umar bin Zakariya al-Muaddib berkata kepada kami: Makna “menyimpan rahasia” adalah menyembunyikan dari orang yang dicintainya bahwa ia mencintainya.
Dengan sanad yang sama, ia berkata: Adz-Dzara’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Khalaf menceritakan kepada kami, ia berkata: Zakariya bin Yahya al-Kufi menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Huraits menceritakan kepada kami dari Mathar dari ayahnya dari Abu Sa’id al-Baqqal dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Barangsiapa jatuh cinta lalu menjaga kesucian lalu meninggal, ia masuk surga.”
Abdurrahman bin Muhammad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Thalhah an-Na’ali memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Muhammad ash-Sharshiri menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Ja’far al-Faqih menceritakan kepada kami dari Suwaid bin Sa’id, ia berkata: Ali bin Mushir menceritakan kepada kami dari Abu Yahya al-Qattat dari Mujahid dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa jatuh cinta, menyimpan rahasia, dan menjaga kesucian kemudian meninggal, ia mati syahid.”
Abdurrahman mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali memberitakan kepada kami, ia berkata: al-Muammal bin Ahmad ash-Shaffar menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Hafsh Umar bin Ibrahim al-Kattani menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu al-Qasim Ibnu Bukair at-Tamimi menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Zakariya menceritakan kepada kami, ia berkata: Suwaid bin Sa’id menceritakan kepada kami dari Ali bin Mushir dari Abu Yahya al-Qattat dari Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa jatuh cinta lalu menjaga kesucian dan menyimpan rahasia kemudian meninggal, maka ia mati syahid.”
Syahdah binti Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad as-Sarraj memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Ahmad bin Ali al-Hafizh memberitakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Ayyub al-Qummi menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Imran menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ahmad bin Makhzum menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Hasan bin Ali al-Asynaniy dan Ahmad bin Muhammad bin Masruq menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Suwaid bin Sa’id menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Mushir menceritakan kepada kami dari Abu Yahya al-Qattat dari Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa jatuh cinta lalu mendapatkan kesempatan tetapi menjaga kesucian lalu meninggal, ia mati syahid.”
Muhammad bin Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Ahmad bin Ali asy-Syirazi memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdurrahman as-Sulami memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ali ath-Thusi memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin al-Husain ar-Razi menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Yusuf bin al-Husain berkata: Salah seorang temanku menceritakan kepadaku dari Abu Bakar bin Dawud al-Ashbahani dari ayahnya dari Suwaid bin Sa’id dari Ali bin Mushir dari Abu Yahya al-Qattat dari Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa jatuh cinta lalu menjaga kesucian dan menyimpan rahasia kemudian meninggal, maka ia mati syahid.”
Syahdah binti Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad as-Sarraj memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Ahmad bin Ali al-Hafizh memberitakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Ayyub al-Qummi menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Imran menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ahmad bin Makhzum menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Hasan bin Ali al-Asynaniy dan Ahmad bin Muhammad bin Masruq menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Suwaid bin Sa’id menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Mushir menceritakan kepada kami dari Abu Yahya al-Qattat dari Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa jatuh cinta lalu mendapatkan kesempatan tetapi menjaga kesucian lalu meninggal, ia mati syahid.”
Muhammad bin Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Ahmad bin Ali asy-Syirazi memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdurrahman as-Sulami memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ali ath-Thusi memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ahmad bin al-Husain ar-Razi menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Yusuf bin al-Husain berkata: Salah seorang temanku menceritakan kepadaku dari Abu Bakar bin Dawud al-Ashbahani dari ayahnya dari Suwaid bin Sa’id dari Ali bin Mushir dari Abu Yahya al-Qattat dari Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa jatuh cinta lalu menjaga kesucian dan menyimpan rahasia, maka ia mati syahid.”
Ibnu Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Umar al-Barmaki memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu al-Husain az-Zainabi memberitakan kepada kami secara ijazah, ia berkata: Ibnu al-Marzuban menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar al-Azraq menceritakan kepada kami, ia berkata: Suwaid bin Sa’id menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Mushir menceritakan kepada kami dari Abu Yahya al-Qattat dari Mujahid dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Barangsiapa jatuh cinta lalu menyimpannya dan menjaga kesucian lalu meninggal, maka ia mati syahid.”
Ibnu al-Marzuban berkata: Abu Bakar al-Azraq menceritakan hadits ini kepadaku dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu aku menegurnya tentang hal itu, maka ia menghilangkan penyebutan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Aku menegurnya lagi tentang hal itu, dan setelah itu bila ditanya tentang hadits ini ia tidak memarfu’kannya.
Abu Manshur al-Qazzaz mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitakan kepada kami, ia berkata: al-Azhari mengabarkan kepadaku, ia berkata: al-Mu’afa bin Zakariya menceritakan kepada kami, ia berkata: Qutnah bin al-Mufaddhal bin Ibrahim al-Anshari menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Muhammad bin Masruq menceritakan kepada kami, ia berkata: Suwaid bin Sa’id menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Mushir menceritakan kepada kami dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa jatuh cinta lalu menjaga kesucian kemudian meninggal, ia mati syahid.”
Abu al-Mu’ammar al-Anshari mengabarkan kepada kami, ia berkata: Sha’id bin Sayyar memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Ahmad bin Sahl al-Ghauraji memberitakan kepada kami, ia berkata: Ishaq bin Ibrahim al-Hafizh memberitakan kepada kami secara ijazah, ia berkata: Abu Ali bin Abi Bakar menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin al-Husain al-Bukhari menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah al-Umari menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar al-Jahizh berkata: Syarik bin Abdullah ditanya tentang orang-orang yang jatuh cinta, maka ia menjawab: “Orang yang paling kuat cintanya adalah yang paling besar pahalanya.”
Bab Tiga Puluh Sembilan Tentang Berbagai Bencana Yang Menimpa Orang Yang Jatuh Cinta Berupa Penyakit, Kelemahan, Kegilaan Dan Lain Sebagainya
Al-Husain bin Muhammad bin Abdul Wahhab mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Ja’far bin al-Muslamah memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Thahir al-Mukhlish memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Sulaiman bin Dawud memberitakan kepada kami, ia berkata: az-Zubair bin Bakkar memberitakan kepada kami, ia berkata: Pamanku Mush’ab bin Abdullah menceritakan kepadaku, ia berkata: Kaum Quraisy mengirim Umarah bin al-Walid bersama Amru bin al-Ash kepada Raja Najasyi untuk berbicara dengannya tentang kaum Muhajirin yang datang kepadanya.
Umarah bin al-Walid mengirim pesan kepada budak perempuan milik Amru bin al-Ash yang bersamanya hingga perempuan itu tertarik kepadanya. Amru bin al-Ash mengetahui hal itu lalu berkata:
“Ketahuilah wahai Umarah, bahwa termasuk sifat terburuk Bagi orang sepertimu adalah dipanggil anak sepupu padahal ia anak Apakah karena engkau memiliki dua jubah dan rambut hitam tergerai Engkau tidak memandang anak sepupumu sebagai yang diharamkan Bila seseorang tidak meninggalkan makanan yang dicintainya Dan tidak melarang hati yang tersesat ke mana ia menuju Ia telah memenuhi keinginannya namun meninggalkan aib Yang bila disebutkan yang semisalnya akan memenuhi mulut”
Umarah pernah memberitahu Amru bahwa istri Raja Najasyi jatuh cinta padanya dan memasukkannya. Ketika Amru bin al-Ash putus asa dari urusan kaum Muhajirin di sisi Najasyi, ia tidak rela Umarah berada di sisinya dan memberitahu Raja Najasyi tentang keadaan Umarah dan keadaan istrinya. Najasyi berkata: “Datangkan kepadaku tanda yang dapat aku jadikan bukti atas apa yang kau katakan.” Umarah kembali lalu memberitahu Amru tentang keadaannya dan keadaan istri Najasyi. Amru berkata kepadanya: “Aku tidak menerima ini darimu kecuali jika kau tidak rela dari perempuan itu melainkan ia memberimu minyak wangi milik Raja yang tidak digunakan oleh orang lain.” Umarah meminta minyak wangi itu kepada perempuan tersebut. Ia berkata: “Aku takut kepada Raja.” Tetapi Umarah menolak untuk rela kecuali ia memberinya minyak wangi itu, maka perempuan itu memberikannya. Ia memberikannya kepada Amru, lalu Amru membawanya kepada Raja Najasyi. Ia meniupkan sihir ke dalam kemaluannya, maka Umarah pergi bersama binatang-binatang liar menurut cerita Quraisy. Ia terus berkeliaran mendatangi mata air di sebuah pulau di tanah Habasyah hingga Abdullah bin Abi Rabi’ah keluar mencarinya bersama sekelompok temannya. Mereka mengintainya di mata air lalu menangkapnya. Umarah berteriak kepadanya: “Wahai Buhair, lepaskan aku, sungguh aku akan mati jika kau menahanku.” Tetapi ia menahannya, maka Umarah meninggal di tangannya.
Ibrahim bin Dinar al-Faqih mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Sa’id bin Nabhan memberitakan kepada kami, ia berkata: al-Hasan bin al-Husain bin Dauma memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Nashr adz-Dzari’ memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abdullah al-Katib menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdul Aziz bin Muhammad al-Farisi memberitakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Kisra memiliki seorang penjaga istana yang jatuh cinta pada seorang budak perempuan. Suatu hari perempuan itu menegurnya, tetapi ia tidak tahu harus menjawab apa dan pikirannya buntu. Ia berusaha berbicara tetapi tergagap-gagap.
Perawi berkata: Setelah itu ia menjadi bisu, bila diajak bicara ia tidak dapat berbicara. Kisra mengumpulkan para dokter untuknya agar mengobatinya tetapi tidak ada cara untuk menyembuhkannya, dan ia meninggal dalam keadaan demikian.
Muhammad bin Abdul Baqi al-Bazzaz memberitakan kepada kami, ia berkata: Ali bin al-Muhsin at-Tanukhi memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Umar Muhammad bin al-Abbas bin Haiwayh mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Muhammad bin Khalaf bin al-Marzuban mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Muhammad bin Manshur bin Sayyar menceritakan kepada kami, ia berkata: Nuh bin Yazid al-Mu’allim menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Sa’d menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ishaq menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Ja’far bin az-Zubair menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar seorang laki-laki dari Bani Udzrah di sisi Urwah bin az-Zubair menceritakan kepadanya, maka Urwah berkata: “Wahai saudaraku, benarkah yang kalian katakan bahwa kalian adalah orang-orang yang paling lembut hatinya?”
Laki-laki itu berkata: “Ya, demi Allah, sungguh aku telah meninggalkan di kampung tiga puluh pemuda yang terkena penyakit TBC, tidak ada penyakit pada mereka kecuali penyakit cinta.”
Dengan sanad yang sama, Ibnu al-Marzuban menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Zuhair menceritakan kepadaku, ia berkata: Ali bin Shalih menceritakan kepadaku dari Ibnu Daab, ia berkata: Amru bin Manah al-Khuza’i melewati Laila al-Khuza’iyyah ketika ia berada di bawah pohon arak bersama para wanita dari kaumnya. Amru dikenal karena kepandaiannya bertutur kata dan kelembutan syairnya. Para wanita itu berkata kepadanya: “Ceritakan kepada kami.” Maka ia duduk menceritakan kepada mereka. Ia melihat Laila binti Uyainah lalu jatuh cinta padanya. Keadaannya semakin parah hingga ia menjadi linglung sehingga ia hanya tidur di tempat ia dapat melihat rumah keluarga perempuan itu, bila tidak demikian ia tidak bisa tidur. Ia terkena gangguan jiwa dan kehilangan akalnya. Ia hanya tenang bila menyebut namanya. Ia membuat banyak syair tentangnya.
Di antara syairnya tentang perempuan itu:
“Aku membaringkan kepala di atas batu dan tanah yang tandus Tidur seperti budak kaum yang tidak dihormati Aku melihat rumah Laila ketika pintunya ditutup Lebih nikmat dan lebih menyenangkan daripada ranjang yang empuk”
Dengan sanad yang sama, Ibnu al-Marzuban menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin al-Fadhl menceritakan kepadiku dari Ahmad bin Muhammad al-Azdi dari Abdullah bin Hammam, ia berkata: Aku keluar untuk suatu keperluan, tiba-tiba aku melihat Ibnu Abi Malik sedang duduk di padang pasir antara Hirah dan Kufah. Aku berkata: “Apa yang kau lakukan di sini?” Ia menjawab: “Aku melakukan apa yang dilakukan teman kami.” Aku bertanya: “Siapa teman kalian?” Ia menjawab: “Si gila dari Bani Amir, kekasih Laila.”
Perawi berkata: Di sampingnya ada batu, ia mengambilnya dan mengejarku. Batu itu melewatiku, lalu aku berlari dan duduk jauh darinya.
Ia berkata: Lalu ia berkata kepadaku: “Demi Allah, tidaklah baik dan tidak indah ketika ia berkata:
‘Aku jatuh cinta padamu ketika mataku masih tertutup tabir Ketika tabir itu terbuka, aku menyalahkan diriku sendiri’
Mengapa ia tidak berkata seperti yang aku katakan:
‘Cinta melemparkanku dengan kesedihan yang sangat besar Dan perpisahan berkemah di sekitarku, jauh dari kekasih Maka bersabarlah, semoga masa akan menyatukan kita Dengan keakraban kekasih atau kematian pengawas’”
Perawi berkata: Kemudian ia berkata: “Tidakkah kau mengatakan apa yang lebih baik dari ini? Laa ilaaha illallah Yang Maha Esa lagi Maha Tunggal, Dia menciptakan lalu menentukan, Dia memerintah lalu berbuat adil.”
Dan dengan sanad ini, diriwayatkan kepada kami oleh Ibnu Marzaban, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abbas bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Anshari, ia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: aku mendengar Abdullah bin Idris berkata: aku melihat Ibnu Abi Malik duduk di tempat yang dulunya ada abu dan di tangannya ada sepotong kapur. Dia menggoreskan kapur itu dan tampak jelas putihnya kapur di hitamnya abu. Aku bertanya kepadanya: “Wahai Ibnu Abi Malik, apa yang sedang kamu lakukan?” Dia menjawab: “Apa yang dilakukan sahabat kita—maksudnya Majnun Bani ‘Amir.” Aku bertanya: “Apa yang dia lakukan?” Dia menjawab: “Aku mendengarnya berkata:
Di sore hari aku tak punya cara selain bahwa … aku tenggelam dalam memungut kerikil dan menggores di halaman Aku menggores dan aku hapus apa yang telah kugoreskan … dengan air mataku dan burung gagak hinggap di halaman
Aku berkata: “Aku tidak mendengarnya.” Dia tertawa lalu berkata: “Tidakkah kamu mendengar Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Tidakkah kamu memperhatikan Tuhanmu bagaimana Dia memanjangkan bayang-bayang’ (Surah Al-Furqan, ayat 45). Apakah kamu mendengarnya atau melihatnya wahai Ibnu Idris? Ini adalah ungkapan orang Arab.”
Dan dengan sanad ini, diriwayatkan kepada kami oleh Ibnu Marzaban, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Fadhl, ia berkata: telah menceritakan kepadaku sebagian ahli sastra dari Muhammad bin Abi Nashr Al-Azdi, ia berkata: aku melihat di Bashrah seorang yang gila duduk di pinggir jalan di Mirbad. Setiap ada rombongan yang lewat, dia berkata:
Wahai rombongan orang-orang Yaman, singgahlah … pada kami, karena cinta kami telah menjadi cinta Yaman Agar kami bertanya kepadamu, apakah Nu’man masih mengalir setelah kami … betapa kami cinta lembah Nu’man
Aku bertanya tentangnya, lalu dikatakan: “Ini adalah seorang laki-laki dari Bashrah. Dia memiliki seorang anak paman perempuan yang dia cintai, lalu seorang laki-laki dari penduduk Thaif menikahinya dan membawanya pergi, maka cintanya mengambil alih akalnya.”
Dan dengan sanad ini, diriwayatkan kepada kami oleh Ibnu Marzaban, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Mu’adz bin Yazid Al-Kattani, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ziyad Al-A’rabi, ia berkata: aku melihat di padang pasir seorang Arab yang di lehernya terdapat jimat-jimat dan dia telanjang, di kemaluannya ada secarik kain, di kakinya ada tali, dan di belakangnya ada seorang nenek tua yang memegang ujung tali itu. Dia menggigit lengannya sendiri. Aku bertanya kepada nenek tua itu: “Siapa ini?” Dia menjawab: “Anak dari putriku.” Aku bertanya: “Apa keadaannya? Apakah ada gangguan jin padanya?” Dia berkata: “Tidak, demi Allah. Tetapi dia tumbuh bersama dengan putri pamannya di satu tempat, lalu dia mencintainya dan dia pun mencintainya. Keluarganya menahannya dari dia dan melarangnya, maka hilang akalnya dan menjadi seperti yang kamu lihat.” Aku bertanya: “Siapa namanya?” Dia menjawab: “Ikrimah.” Aku berkata: “Wahai Ikrimah, apa yang menimpamu?” Dia menjawab:
Yang menimpaku adalah penyakit Qais … dan Urwah dan Jamil Jasadku kurus … dan di dalam hatiku ada kepedihan
Aku meninggalkannya dan pergi.
Dan dengan sanad ini, diriwayatkan kepada kami oleh Ibnu Marzaban, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Abdullah As-Saraksi, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abbas bin Ubaidah, ia berkata: ada di Madinah seorang budak perempuan yang cantik dan pandai bernyanyi. Dia jatuh cinta kepada seorang pemuda dari Quraisy. Dia tidak pernah meninggalkannya dan dia pun tidak pernah meninggalkannya. Pemuda itu menjadi bosan padanya, sementara dia semakin bertambah cintanya. Dia bersedih, cemburu, dan kehilangan akal. Tuannya tidak peduli dengan hal itu dan tidak kasihan pada keluhannya. Perkaranya semakin buruk hingga dia mengembara tanpa tujuan, merobek pakaiannya, dan memukul siapa saja yang ditemuinya. Ketika tuannya melihat itu, dia mengobatinya tetapi pengobatannya tidak berhasil. Dia berkeliling di malam hari di jalan-jalan setelah thawaf. Suatu hari tuannya bertemu dengannya di jalan dan bersamanya ada teman-temannya. Dia mulai menangis dan berkata:
Cinta pada awalnya adalah sikap keras kepala … yang datang padamu dan dibawa oleh takdir Hingga ketika pemuda itu terjun ke lautan cinta … datanglah perkara-perkara yang tidak tertahankan, besar-besar
Tidak ada seorang pun yang tersisa kecuali merasa kasihan padanya. Tuannya berkata kepadanya: “Wahai fulanah, pergilah bersama kami ke rumah.” Dia menolak dan berkata: “Kesibukan perhiasan menghalangi pemiliknya untuk dipinjamkan.” Salah seorang yang melihatnya pada suatu malam menceritakan bahwa dia bertemu dengan perempuan gila yang lain. Perempuan itu berkata kepadanya: “Wahai fulanah, bagaimana keadaanmu?” Dia menjawab: “Seperti yang tidak aku sukai, bagaimana dengan kegilaanmu dan cintamu?” Dia menjawab: “Seperti yang tidak pernah berhenti bertambah seiring berlalunya hari.” Dia berkata kepadanya: “Nyanyikanlah salah satu lagumu karena aku mirip denganmu.” Dia mengambil sebatang buluh untuk mengiringi dan bernyanyi:
Wahai orang yang mengeluh kesakitan cinta yang menyerupainya … dengan api di hati dari kesedihan dan kenangan Sungguh yang terbesar dari apa yang ada padaku adalah bahwa aku menyerupakannya … dengan sesuatu yang diukur dengan perumpamaan dan ukuran Andai hatiku berada dalam api niscaya aku membakarnya … karena kesedihanku lebih menyala daripada api
Lalu dia pergi.
Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhsin dari ayahnya, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku Abu Faraj Al-Ashfahani, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Habib bin Nashr Al-Muhalabi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abi Sa’d, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Nashr Al-Marwazi, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdullah Ath-Thalhi, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Sulaiman bin Yahya bin Mu’adz, ia berkata: Ibrahim bin Sayabah, penyair dari Bashrah, datang ke Naisabur, lalu aku menampungnya di rumahku. Pada suatu malam dia datang dalam keadaan sedih dan gelisah, lalu dia mulai berteriak kepadaku: “Wahai Abu Yusuf!” Aku khawatir dia tertimpa musibah, lalu aku bertanya: “Apa yang kamu inginkan?” Dia berkata:
Anak rusa muda itu membuatku lelah …
Aku bertanya: “Dengan apa?” Dia menjawab:
Aku mengeluh tetapi dia tidak menjawab …
Aku berkata: “Penyakitnya dan obatnya.” Dia berkata:
Dari mana aku mencari penyembuhan penyakitku … padahal penyakitku adalah tabibnya
Aku berkata: “Kalau begitu Allah Azza wa Jalla akan memberikan jalan keluar.” Dia berkata:
Ya Tuhan, berikanlah jalan keluar dan segerakanlah … karena Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan
Lalu dia pergi.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Mubarak bin Abdul Jabbar, dan telah mengabarkan kepada kami Syahdah, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu As-Sarraj, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad Al-Jauhari, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Haiwayh, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Al-Marzaban dengan izin, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Umar, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ali bin Muhammad bin Sulaiman An-Naufali, ia berkata: Abu Mukhtar menyebutkan dari Muhammad bin Qais Al-Abdi, ia berkata: aku berada di Muzdalifah antara tidur dan terjaga, tiba-tiba aku mendengar tangisan pedih dan napas yang tinggi. Aku mengikuti suara itu, ternyata ada seorang budak perempuan yang cantik seperti matahari, dan bersamanya ada seorang nenek tua. Aku menempel di tanah untuk memperhatikannya dan memanjakan mataku dengan kecantikannya. Aku mendengarnya berkata:
Aku menyeru Engkau wahai Tuanku secara rahasia dan terang-terangan … seruan yang lemah hatinya dari beban cinta Aku diuji dengan yang hatinya keras, tidak mengenal cinta … dan yang paling membunuh makhluk Allah bagi yang gila karena cinta Jika Engkau belum mengabulkan cinta di antara kami … maka janganlah hatiku kosong dari cintanya selamanya Aku ridha dengan ini selama aku hidup, jika aku mati … maka cukuplah bagiku pahala di akhirat sebagai balasanku
Dia terus mengulang syair-syair ini sambil menangis. Aku berdiri mendekatinya dan berkata: “Demi diriku, dengan wajah ini, kecantikan ini, orang yang kamu inginkan menolakmu?” Dia berkata: “Ya, demi Allah, dan Allah melakukan ini dengan sabar sementara di hatinya lebih banyak daripada yang ada di hatiku.” Aku berkata: “Sampai kapan menangis?” Dia berkata: “Selamanya, atau sampai air mata menjadi darah dan jiwaku binasa karena sedih.” Aku berkata: “Ini adalah malam terakhir dari malam-malam haji. Seandainya kamu meminta kepada Allah Azza wa Jalla untuk bertaubat dari apa yang ada padamu, aku berharap Allah akan menghilangkan cintanya dari hatimu.” Dia berkata: “Wahai orang ini, urusanmu sendiri dalam mencari keinginanmu. Sungguh aku telah mengajukan keinginanku kepada yang tidak bodoh tentang tujuanku.” Dia memalingkan wajahnya dariku dan kembali pada tangisannya dan syairnya. Perkataanku dan nasihatku tidak berpengaruh padanya.
Telah memberitakan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad Al-Qazzaz, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ali bin Tsabit, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abdul Shamad bin Muhammad bin Mukrim, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ismail bin Sa’id bin Suwaid, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Husain bin Qasim Al-Kaukabi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Musa Al-Maristani, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Zubair bin Bakkar, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Ma’dzal, ia berkata: Sawar bin Abdullah Al-Qadhi telah tercampur di hatinya sesuatu dari kerinduan, lalu dia berkata:
Kamu merampas daging tulangku dan meninggalkannya … telanjang dalam kulitnya yang patah-patah Dan kamu mengosongkan sumsumnya sehingga seolah-olah … botol-botol yang di dalamnya angin bersiul Ambillah tanganku lalu angkat kain dan lihatlah … kerusakan tubuhku tetapi aku menutupinya
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Al-Jauhari, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Haiwayh, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Al-Marzaban dengan izin, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Basyir, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Hasan, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ummu Ibrahim bin Jamil, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ubaidullah Asy-Syarawi, kepala rumah tangga Sulaiman bin Abi Ja’far, ia berkata: Harun Ar-Rasyid masuk menemui Sulaiman bin Abi Ja’far ketika dia sedang sakit. Dia melihat di sisinya seorang budak perempuannya bernama Dha’ifah yang sangat cantik, indah, dan sempurna bentuknya. Dia jatuh hati padanya. Harun berkata kepada Sulaiman: “Berikanlah dia sebagai hadiah untukku.” Dia menjawab: “Dia untukmu, wahai Amirul Mukminin.” Ketika dia mengambilnya, Sulaiman sakit karena sangat mencintainya. Sulaiman berkata:
Aku mengadu kepada Pemilik Arasy apa … yang kualami dari urusan Khalifah Keadilannya meliputi semua makhluk … tetapi dia ingin menganiayaku dalam hal Dha’ifah Hatiku tergantung cintanya seperti tinta melekat pada lembaran
Hal itu sampai kepada Harun Ar-Rasyid, lalu dia mengembalikannya kepadanya.
Telah mengabarkan kepada kami Syahdah, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad bin As-Sarraj, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Thahir Muhammad bin Al-Allaf, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Syahin, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Muhammad, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Masruq, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ali Al-Qummi, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Mush’ab Al-Madini, ia berkata: aku masuk menemui Rabi’ bin Ubaid, dan akalnya telah hilang karena cinta. Aku mendengarnya berbicara pada dirinya sendiri dan berkata:
Cinta meskipun memotongku … aku tidak akan mengatakan cinta itu zalim Aku dahulu bebas suatu waktu … hari ini menjadi jelas apa yang tersembunyi
Aku berkata: “Semoga Allah merahmatimu.” Dia berkata: “Siapa kamu?” Aku berkata: “Aku saudaramu Abu Mush’ab.” Dia berkata: “Di sore hari kamu datang dan di waktu lain kamu pergi, sementara aku menunggu kematian di antara waktu itu.” Aku berkata: “Allah di antara kamu dan orang yang menganiyayamu.” Dia berkata: “Cukup! Demi Allah, aku tidak suka dia mendapat keburukan.” Lalu dia menghela napas hingga aku kasihan padanya dan akalnya hilang. Aku bangun meninggalkannya.
Telah memberitakan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Mubarak bin Abdul Jabbar, dan telah mengabarkan kepada kami Syahdah, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad, keduanya berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Jauhari, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Haiwayh, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdurrahman Al-Qurasyi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Ubaid, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Mikhnaf dari Hisyam bin Urwah, ia berkata: Mu’awiyah bin Abi Sufyan mengizinkan orang-orang pada suatu hari. Di antara yang masuk adalah seorang pemuda dari Bani Udzrah. Ketika orang-orang telah mengambil tempat duduknya, pemuda Udzri itu berdiri di antara dua barisan lalu mulai berkata:
Mu’awiyah wahai pemilik keutamaan, kesabaran, dan akal … dan kebaikan, ihsan, kedermawanan, dan kemurahan Aku datang kepadamu ketika sempit jalanku di bumi … dan aku mengingkari karena apa yang menimpa akalku Maka berikanlah jalan keluar bagiku, semoga Allah melindungimu, karena sesungguhnya aku … mengalami apa yang tidak dialami siapa pun sebelumku Dan ambillah untukku, semoga Allah memberimu petunjuk, hakku dari orang yang … melemparku dengan anak panah yang paling ringannya adalah membunuhku Aku berharap keadilannya jika aku mendatanginya … tetapi semakin sering aku bolak-balik dengan penjara dan belenggu Aku menceraikannya karena kesusahan yang menimpaku … maka ini wahai Amirul Mukminin, mana keadilan
Maka Muawiyah berkata, “Mendekatlah, semoga Allah memberkahimu. Ada perlu apa?” Ia menjawab, “Semoga Allah memperpanjang umur Amirul Mukminin. Sesungguhnya aku adalah seorang laki-laki dari Bani Udzrah. Aku menikahi putri pamanku. Aku memiliki sekawanan unta dan beberapa kambing, lalu aku menghabiskan semua itu untuknya. Ketika musibah zaman menimpaku dan bencana masa mengenaiku, ayahnya menjadi tidak tertarik padaku. Ia adalah seorang gadis yang memiliki rasa malu dan kedermawanan, maka ia tidak ingin menentang ayahnya. Kemudian aku mendatangi walikota engkau, Ibnu Ummi al-Hakam, dan menyampaikan hal itu kepadanya. Kecantikan gadis itu sampai kepadanya, maka ia memberikan ayahnya sepuluh ribu dirham dan menikahinya. Ia menangkapku, memenjarakanku, dan menyempitkanku. Ketika aku merasakan sentuhan besi dan siksaan yang menyakitkan, aku menceraikannya. Sekarang aku datang kepadamu, wahai Amirul Mukminin, dan engkau adalah penolong orang yang terampas dan sandaran orang yang dirampok. Adakah jalan keluar?” Kemudian ia menangis dan berkata dalam tangisannya:
Di dalam hatiku ada api, dan api itu memiliki percikan Tubuhku kurus, dan warnanya menguning Mata menangis dengan sedih, air matanya mengalir deras Cinta adalah penyakit yang sulit, padanya dokter kebingungan Aku menanggung beban yang berat, tidak ada kesabaran untuknya Malamku bukan malam, dan siangku bukan siang
Muawiyah merasa kasihan kepadanya dan menulis surat keras kepada Ibnu Ummi al-Hakam, dan menulis di akhirnya:
Engkau melakukan sesuatu yang besar yang tidak aku kenal, aku mohon ampun kepada Allah dari kezaliman orang yang berzina Engkau dulunya menyerupai seorang sufi yang memiliki kitab-kitab tentang kewajiban atau ayat-ayat Al-Quran Hingga pemuda Udzri itu datang kepadaku sambil terisak, mengadu kepadaku dengan hak yang tidak palsu Aku berjanji kepada Allah dengan janji-janji yang tidak akan aku langgar, atau jika tidak, aku berlepas diri dari agama dan iman Jika engkau membalasku tentang apa yang aku tulis, sungguh aku akan menjadikanmu daging di antara burung-burung elang Ceraikanlah Suad dan tinggalkanlah dia di hadapan orang banyak, saksikanlah hal itu Nashr dan Ibnu Thibiyan Aku tidak pernah mendengar keajaiban seperti yang telah sampai kepadaku, dan perbuatanmu sesungguhnya bukanlah perbuatan manusia
Ketika surat Muawiyah sampai kepada Ibnu Ummi al-Hakam, ia menghela napas panjang dan berkata, “Aku berharap Amirul Mukminin membiarkan diriku dan dia selama setahun, kemudian menjatuhkan pedang kepadaku.”
Ia mulai bermusyawarah dengan dirinya sendiri tentang menceraikannya. Ketika utusan mendesaknya, ia menceraikannya, kemudian berkata, “Wahai Suad, keluarlah!”
Maka keluarlah seorang wanita yang anggun, menawan, memiliki penampilan dan kecantikan. Ketika utusan itu melihatnya, mereka berkata, “Wanita ini tidak pantas kecuali untuk Amirul Mukminin, bukan untuk seorang Badui.”
Ia menulis balasan suratnya:
Jangan melanggar sumpah, Amirul Mukminin, karena engkau telah memenuhi janjimu dengan lemah lembut dan baik Aku tidak melakukan yang haram ketika ia menyenangkanku, lalu mengapa aku disebut dengan nama pengkhianat dan pezina Akan datang kepadamu matahari yang tidak tersembunyi, yang paling indah dari semua makhluk dari jin dan manusia Seorang bidadari yang pujian tidak cukup menggambarkannya jika dipuji, aku katakan itu dengan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi
Ketika surat itu sampai kepada Muawiyah, ia berkata, “Jika ia diberi keindahan suara dengan sifat ini, maka ia adalah makhluk yang paling sempurna.” Maka ia meminta wanita itu berbicara, ternyata ia adalah orang yang paling baik bicaranya, paling sempurna bentuknya dan pesonanya. Ia berkata, “Wahai Badui, apakah engkau bisa melupakan dia dengan tawaran yang lebih baik?” Ia menjawab, “Ya, jika Anda memisahkan kepalaku dari tubuhku.” Kemudian si Badui mulai berkata:
Jangan jadikan aku sebagai perumpamaan yang diperbincangkan orang, seperti orang yang meminta pertolongan dari panas terik dengan api Kembalikanlah Suad kepada orang yang bingung dan sedih, yang pagi dan petangnya dalam kesedihan dan ingatan Yang telah diselimuti kegelisahan yang tiada tara, dan hatinya tersulut dengan penyulutan yang dahsyat Demi Allah dan demi Allah, aku tidak akan melupakan kecintaanku padanya, hingga aku tersembunyi dalam kubur dan batu-batu Bagaimana mungkin melupakan, padahal hati telah tergila-gila padanya, dan hati tidak sabar tanpanya
Maka Muawiyah sangat marah, kemudian berkata kepadanya, “Pilihlah! Jika engkau mau aku, jika engkau mau Ibnu Ummi al-Hakam, dan jika engkau mau si Badui!” Maka Suad mulai berkata:
Orang ini, meskipun ia dalam kain compang-camping, dan berada dalam kekurangan harta Lebih banyak di sisiku daripada ayahku dan tetanggaku, dan pemilik dirham dan dinar Aku takut jika aku berkhianat, panasnya api neraka…
Maka Muawiyah berkata, “Ambillah dia, semoga Allah tidak memberkahimu dengannya!”
Maka si Badui mulai berkata:
Menyingkirlah dari jalan untuk si Badui, tidakkah kalian melihat keadaanku
Muawiyah tertawa dan memerintahkan untuk memberinya sepuluh ribu dirham, seekor unta, dan alas, dan memerintahkan agar wanita itu dimasukkan ke salah satu istananya hingga masa iddahnya dari Ibnu Ummi al-Hakam selesai, kemudian memerintahkan untuk menyerahkannya kepada si Badui.
Abdurrahman bin Muhammad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitahukan kepada kami, ia berkata: al-Azhari memberitahukan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin al-Hasan bin al-Makmun menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar al-Hasyimi menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ahmad al-Muqaddimi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad at-Tamimi menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abdurrahman maula al-Anshar menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Ashmahi berkata: ar-Rasyid berkata kepadaku, “Aku ingin mendengar cerita yang bisa menghiburku, ceritakanlah sesuatu kepadaku.”
Aku berkata, “Wahai Amirul Mukminin, kami memiliki seorang teman di pedalaman Bani Fulan yang sering aku kunjungi dan berbincang dengannya. Usianya sudah mencapai sembilan puluh enam tahun, paling sehat pikirannya, paling baik makannya, dan paling kuat tubuhnya. Aku tidak menjumpainya beberapa waktu, kemudian aku mendatanginya dan mendapatinya kurus, murung, dan berubah keadaannya. Aku berkata, ‘Ada apa denganmu? Apakah ada musibah yang menimpamu?’ Ia menjawab, ‘Tidak.’
Aku berkata, ‘Apakah ada penyakit yang menghinggapimu?’ Ia berkata, ‘Tidak.’
Aku berkata, ‘Lalu apa penyebab yang aku lihat padamu?’
Ia berkata, ‘Aku mengunjungi beberapa kerabat di perkampungan Bani Fulan, lalu aku menemukan di tempat mereka seorang gadis yang mengikat rambutnya, mengenakan gaun dan kerudung berwarna, di lehernya ada rebana yang ia mainkan sambil mendendangkan:
Keindahannya adalah anak panah kematian, terbuat dari berbagai kesedihan Ketetapan takdir telah mengasah anak panah bagi mereka, yang mengenai mata panah jiwa-jiwa hati
Aku menjawabnya:
Berhentilah, sembuhkanlah aku di tempat rebana itu, naiklah, sebagaimana engkau telah memberikan rebana di leher indahmu Anggaplah aku sebagai kayu berlubang di bawah kantong air, nikmatilah antara dadamu dan dagumu
Ketika ia mendengar syair dariku, ia melepas rebana dan melemparkannya ke wajahku, lalu bergegas ke kemah dan masuk.
Aku tetap berdiri hingga matahari membakar ubun-ubunku, ia tidak keluar kepadaku dan tidak memberi jawaban. Aku berkata, ‘Demi Allah, aku bersamanya seperti kata penyair:
Demi Allah wahai Salma, lama aku berdiri tanpa sesuatu yang aku tunggu, wahai Sulayma
Kemudian aku pergi dengan mata panas dan hati terluka, inilah yang engkau lihat dari perubahanku karena cintaku padanya.”
Maka ar-Rasyid tertawa hingga berbaring, kemudian berkata, “Celakalah engkau wahai Abdul Malik, anak sembilan puluh enam tahun jatuh cinta?” Aku berkata, “Hal itu memang terjadi, wahai Amirul Mukminin.”
Muhammad bin Abi Manshur mengabarkan kepada kami, ia berkata: al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitahukan kepada kami, ia berkata: al-Hasan bin Ali memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Umar bin Hayawiyah memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Khalaf memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu al-Abbas al-Marwazi memberitahukan kepadaku, ia berkata: Sebagian ahli sastra memberitahukan kepadaku bahwa al-Mutawakkil memiliki seorang budak wanita bernama Mahbubah. Ia memiliki kesusastraan dan keindahan dalam menyanyi pada tingkat tertinggi yang bisa dicapai oleh orang sepertinya. Al-Mutawakkil sangat jatuh cinta padanya, dan ia juga demikian kepadanya. Ketika terjadi peristiwa dengan al-Mutawakkil, para budak wanita bercerai-berai kepada para panglima, maka Mahbubah jatuh ke tangan Washif. Ia memakai pakaian putih kasar dan selalu mengingatnya, sehingga ia menangis tersedu-sedu.
Suatu hari Washif duduk untuk minum dan para budak wanita yang dulunya milik al-Mutawakkil duduk dengan perhiasan dan pakaian indah. Mahbubah datang dengan kerudung putih lalu duduk. Tidak lama kemudian anggur beredar di antara para sahabat. Washif menghadap kepada para budak wanita al-Mutawakkil yang hadir, dan ada sekelompok dari mereka di sisinya. Ia berkata, “Menyanyilah!” Tidak ada satu pun dari mereka yang tidak menyanyi, bergembira, tertawa, dan minum, hingga Washif memberi isyarat kepada Mahbubah untuk menyanyi. Ia berkata, “Jika panglima berkenan membebaskanku?” Ia menolak dan budak-budak wanita berkata kepadanya, “Seandainya dalam kesedihan ada keringanan, kami akan bersedih bersamamu.” Lalu didatangkan kecapi dan diletakkan di pangkuannya. Ia menyetelnya dan mulai berkata:
Kehidupan apa yang manis bagiku, jika aku tidak melihat Ja’far di dalamnya Seorang raja yang mataku lihat terluka dan berlumuran darah Setiap orang yang tergila-gila dan sakit telah sembuh Kecuali Mahbubah yang jika ia melihat kematian bisa dibeli Ia akan membelinya dengan semua yang ia miliki untuk dikuburkan Sesungguhnya kematian orang yang sedih lebih manis daripada hidup panjang
Hal itu sangat berat bagi Washif, maka ia memerintahkan untuk mengeluarkannya. Ia pergi ke Qabihah. Setelah beberapa saat, Washif bertanya tentangnya, lalu dikatakan kepadanya bahwa ia telah pergi ke Qabihah. Ia mengirim utusan kepadanya, lalu ia berkata, “Ia sudah bersuci dan pergi. Demi Allah, aku tidak tahu kemana ia pergi.”
Muhammad bin Abdul Baqi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ali bin al-Muhsin memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin al-Abbas memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Khalaf menceritakan kepada kami, ia berkata: Lihatlah orang yang jatuh cinta ketika ia melihat orang yang dicintainya atau mendengar sebutannya, bagaimana darahnya lari, warnanya berubah, jantungnya berdebar, dan gemetar menguasainya, bahkan terkadang ia tidak mampu berbicara dan tidak sanggup membalas jawaban.
Sebagian penyair berkata:
Tanda orang yang memiliki cinta dalam hatinya, jika ia melihat kekasihnya, ia akan bingung Warna wajah menguning setelah merah, dan jika diajak bicara, ia menjadi gugup
Abdul Wahhab al-Anmathi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abi Nashr al-Humaidi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Seorang teman memberitahukan kepadaku di Maghrib, ia berkata: Sulaiman bin Muhammad al-Muqri ash-Shiqilli memberitahukan kepadaku, ia berkata: Di Susah, Afrika, ada seorang laki-laki sastrawan penyair yang jatuh cinta pada seorang pemuda tampan dari pemuda-pemuda di sana. Ia sangat tergila-gila padanya, sedangkan pemuda itu menghindar darinya dan menyakitinya. Suatu malam, seperti yang ia ceritakan tentang dirinya sendiri, ia minum sendirian dan anggur telah menguasainya. Tiba-tiba terpikir olehnya untuk mengambil nyala api dan membakar rumahnya karena perlakuannya yang menyakitkan. Ia bangkit saat itu juga dengan nyala api dan meletakkannya di pintu pemuda itu, lalu terbakar menjadi api. Kebetulan beberapa tetangga melihatnya dan segera memadamkan api. Ketika pagi tiba, mereka pergi ke hakim dan memberitahukan serta mengadu tentangnya. Hakim mengirim utusan kepadanya dan berkata, “Untuk apa engkau membakar pintu orang ini?” Maka ia mulai berkata:
Ketika ia terus-menerus menjauhiku, dan menyulut api dalam hatiku Dan aku tidak menemukan pengganti dari cintanya, dan tidak ada penolong untuk begadangku Aku memaksakan diriku untuk berdiri di pintunya, pemaksaan seperti kuda Berputarlah sebagian api hatiku, lebih sedikit dalam penggambaran daripada korek apiku Maka terbakarlah pintu tanpa sepengetahuanku, dan itu bukan dari kehendakku
Hakim menganggapnya cerdas dan menanggung apa yang telah ia rusak, lalu membebaskannya, atau semacam itu.
Muhammad bin Abdul Baqi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ali bin Al-Muhsin memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ali bin Muhammad membacakan syair kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Ash-Shanaubari membacakan syair kepada kami untuk dirinya sendiri:
Mereka telah bersiap untuk perjalanan, dan kami telah bersiap dengan kesedihan. Mereka mengklaim bahwa perpisahan adalah besok, dan pisahnya ruh adalah lusa.
Al-Asma’i menceritakan, ia berkata: Saya melihat seorang wanita sedang tawaf dan ia berkata: “Ya Allah, Pemilik Hari Pembalasan dan Pencipta bumi dan langit, rahmatilah para pecinta karena sesungguhnya Engkau dekat dengan siapa yang berdoa.” Kemudian ia mulai bersyair:
Ya Rabb, sesungguhnya Engkau memiliki karunia dan ampunan, tetapkanlah kesejahteraan dari-Mu bagi para kekasih.
Maka saya berkata: “Wahai wanita ini, apakah engkau berbicara sembrono sedangkan engkau sedang tawaf?” Ia menjawab: “Menjauhlah dariku, semoga cinta tidak menimpamu.”
Saya berkata kepadanya: “Apakah cinta itu?” Ia menjawab: “Terlalu agung untuk tersembunyi dan terlalu halus untuk terlihat. Ia tersembunyi seperti tersembunyinya api dalam batu. Jika engkau pukul ia akan menyala, dan jika engkau tinggalkan ia akan tersembunyi.”
Ia berkata: Maka saya mengikutinya hingga saya mengetahui rumahnya. Ketika keesokan harinya turun hujan lebat, saya melewati pintunya dan ia sedang duduk bersama teman-temannya. Ia berkata kepada mereka: “Hujan telah mengganggu kami dan seandainya tidak demikian, kami akan keluar untuk tawaf.” Kemudian ia bersyair:
Mereka berkata hujan dan tetesan airnya mengganggu kami, ketika mereka melihatnya meniru air mataku. Jangan heran dengan apa yang kalian lihat, karena sesungguhnya langit ini menangis karena belas kasihannya terhadapku.
Dan sampai kepada kami dari sebagian orang yang mengikuti jamaah haji bahwa ia berkata: Saya berada di tawaf dan sebagian besar malam telah berlalu, tiba-tiba saya melihat seorang wanita seperti matahari di atas cabang yang ditanam di bukit pasir, dan ia berkata:
Saya melihat cinta itu manis ketika pertemuan terwujud, dan pahit saat perpisahan, bahkan ia adalah pembunuhan. Barang siapa yang tidak merasakan rasa perpisahan, maka sesungguhnya ketika ia merasakan rasa pertemuan, ia tidak akan tahu apa itu pertemuan. Saya telah merasakan keduanya dalam kedekatan dan kejauhan, maka yang terjauh adalah pembunuhan dan yang terdekat adalah kegilaan.
Kemudian ia menoleh dan melihatku, lalu berkata: “Wahai ini, sangkalah yang baik karena sesungguhnya orang yang lemah kekuatannya untuk memikul sesuatu akan melemparkannya mencari kenyamanan dan melarikan diri dari beratnya cinta. Saya telah mengucapkan apa yang Allah ketahui dan yang kedua malaikat catat. Jika Dia memaafkan ahli rahasia, saya akan termasuk di antara mereka, dan jika mereka dihukum, maka celakalah orang-orang yang berdosa.” Kemudian ia menangis dan saya tidak pernah melihat mutiara yang putus talinya lalu berserakan lebih indah dari bertaburannya air matanya.
Maka saya menyingkir karena takut hatiku condong kepadanya. Dan Al-Asma’i menceritakan, ia berkata: Abu As-Sa’ib Al-Makhzumi terlihat berpegang pada tirai Ka’bah dan ia berkata: “Ya Allah, rahmatilah para pencinta.” Maka dikatakan: “Wahai Abu As-Sa’ib, di tempat seperti ini engkau mengucapkan perkataan ini?” Ia menjawab: “Menjauhlah dariku, demi Allah sesungguhnya doa untuk mereka lebih utama daripada haji dengan umrah.” Kemudian ia bersyair:
Wahai perpisahan, berhentilah dari cinta dan tinggalkanlah cinta untuk para pecinta agar menyenangkan, wahai perpisahan. Apa yang engkau inginkan dari orang-orang yang kelopak matanya terluka dan isi hati mereka adalah bara api. Dan kesedihan mengisi dada mereka dan wajah mereka kuning dari apa yang tersembunyi di dada mereka. Dan air mata yang mendahului di atas dada mereka adalah mutiara yang bersinar seperti hujan. Tergeletak di jembatan cinta karena kesengsaraan mereka, jiwa mereka dimainkan oleh takdir.
Seseorang menceritakan kepadaku bahwa seorang wanita naik kapal bersama mereka, lalu tiba di suatu tempat dan berkata: “Naikkan aku.”
Mereka berkata: “Ini bukan tempat untuk naik.” Ia berkata: “Harus.” Maka ia naik. Ia berkata: Dan kami berlayar, ketika kami kembali, kami mendapatinya telah melahirkan dan meninggal di sana.
Ini adalah seorang wanita yang telah melarikan diri dari negerinya karena aib yang ia lakukan, maka ia memilih kematian daripada aib. Lihatlah apa yang dilakukan cinta terhadap pemiliknya.
Shahdah binti Ahmad bin Al-Faraj memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdul Aziz bin Al-Hasan bin Ismail Ad-Dharrab memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Ahmad bin Marwan menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdullah bin Salam bin Qutaibah menceritakan kepadaku, ia berkata: Saya membaca dalam sejarah Persia bahwa Ardasyir ketika urusannya sudah kokoh dan raja-raja suku tunduk kepadanya dengan ketaatan, ia mengepung raja Suriah yang bertahan di sebuah kota bernama Al-Hadhar. Ia mengepungnya tetapi tidak mampu menaklukkannya hingga suatu hari putri raja naik ke benteng dan melihat Ardasyir, lalu ia jatuh cinta kepadanya. Ia turun dan mengambil sebuah anak panah, lalu menulis di atasnya: “Jika engkau menjanjikan kepadaku untuk menikahiku, saya akan menunjukkan kepadamu tempat untuk menaklukkan kota ini dengan cara termudah dan beban teringan.”
Kemudian ia melempar anak panah itu ke arah Ardasyir. Ia membacanya dan mengambil anak panah lalu menulis di atasnya: “Bagimu janji untuk memenuhi apa yang engkau minta.”
Kemudian ia melemparkannya kepadanya, maka ia menunjukkan tempat itu kepadanya. Lalu ia mengutus kepadanya dan menaklukkan kota itu.
Ia masuk dan penduduk kota lengah tidak menyadari, maka ia membunuh raja dan banyak membunuh di kota itu, lalu menikahinya.
Pada suatu malam ketika ia berada di ranjangnya, ia merasa tidak nyaman dengan tempatnya hingga ia terjaga hampir sepanjang malamnya. Maka ia berkata kepadanya: “Ada apa denganmu?” Ia berkata: “Aku merasa tidak nyaman dengan ranjangku.” Mereka melihat di bawah ranjang dan ternyata di bawahnya ada setangkai daun myrtle yang telah meninggalkan bekas di kulitnya. Ia kagum dengan lembutnya kulitnya, lalu berkata kepadanya: “Apa yang biasa ayahmu berikan kepadamu sebagai makanan?” Ia berkata: “Kebanyakan makananku padanya adalah madu, sumsum, dan mentega.” Maka ia berkata kepadanya: “Tidak ada seorang pun yang mencapai tingkat kebaikan ayahmu terhadapmu, meskipun balasanmu terhadapnya atas usaha kebaikannya dengan kelemahlembutan kekerabatan dan besarnya haknya adalah keburukanmu terhadapnya. Aku tidak merasa aman dari hal serupa darimu.”
Kemudian ia memerintahkan agar rambutnya diikat pada ekor kuda yang lari kencang dan liar, lalu kuda itu dipacu. Maka hal itu dilakukan terhadapnya hingga tubuhnya tercerai-berai anggota demi anggota.
Muhammad bin Abdul Malik memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitahukan kepada kami, ia berkata: Hakim Abu Al-Qasim Abdullah bin Al-Husain Ar-Rahbi menceritakan kepadaku, ia berkata: Ali bin Ahmad bin Muhammad Al-Jarmi menceritakan kepadaku, ia berkata: Al-Husain bin Ali bin Ahmad Al-Muhalabi menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Al-Abbas Ibnu Atha’ memberitahukan kepadaku, ia berkata: Ada seorang pemuda tampan yang hadir di majelisaku, ia menyembunyikan tangannya. Ia berkata: Terbesit dalam pikiranku bahwa orang itu telah dipotong tangannya dalam suatu keadaan. Ia berkata: Suatu hari Jumat ia datang kepadaku dan langit telah menurunkan berkah, dan tidak ada seorang pun yang datang kepadaku pada hari itu. Ia berkata: Jiwaku mendesakku untuk berbicara dengannya dan aku menolaknya berkali-kali hingga keinginan untuk berbicara dengannya mengalahkanku, maka aku berbicara dengannya dan berkata: “Wahai pemuda, mengapa aku melihat tanganmu engkau sembunyikan lalu tidak mengeluarkannya? Jika ada penyakit padanya, mari kita berdoa kepada Allah Yang Maha Tinggi untuk kesembuhanmu.”
Maka ia mengeluarkannya dan aku melihat padanya seperti kelumpuhan.
Maka aku berkata: “Wahai pemuda, apa yang terjadi pada tanganmu?” Ia berkata: “Ceritaku panjang.” Aku berkata: “Aku tidak bertanya kepadamu kecuali aku ingin mendengarnya.”
Maka ia berkata kepadaku: Aku adalah fulan bin fulan, ayahku meninggalkan untukku tiga puluh ribu dinar. Aku datang dengannya dan jiwaku terikat pada seorang budak wanita di antara para budak penyanyi, maka aku menghabiskan padanya sejumlah besar. Kemudian mereka menyarankan aku untuk membelinya, maka aku membelinya dengan enam ribu dinar. Ketika ia berada di sisiku dan aku memilikinya, ia berkata: “Mengapa engkau membeliku padahal tidak ada di bumi yang lebih kubenci darimu? Sesungguhnya aku melihat pandanganku kepadamu adalah hukuman. Ambil kembali uangmu karena tidak ada kesenangan bagimu denganku dengan kebencianku terhadapmu.”
Ia berkata: Maka aku tawarkan kepadanya segala yang ditawarkan orang-orang, tetapi ia tidak bertambah kecuali semakin tinggi. Maka aku berniat untuk mengembalikannya. Pengasuhku berkata kepadaku: “Biarkan ia mati dan jangan engkau yang mati.” Pengasuh berkata: Maka ia mengurung diri di sebuah kamar dan tidak makan dan tidak minum kecuali menangis dan memohon hingga suaranya melemah dan kami merasakan kematian darinya.
Tidak berlalu sehari kecuali aku mendatanginya dan menawarkan kepadanya hal-hal yang diinginkan, tetapi itu tidak bermanfaat dan ia tidak bertambah kecuali kebencian.
Ketika hari keempat, aku menghadapnya dan menanyakan apa yang ia inginkan. Ia menginginkan bubur, maka aku bersumpah tidak ada yang membuatnya selain aku. Maka aku menyalakan api dan memasang panci, dan aku terus mengaduk apa yang dimasukkan ke dalamnya dan api bekerja. Ia menghadapku mengeluhkan penderitaan yang ia alami selama hari-hari ini. Pengasuhku datang dan berkata: “Wahai tuanku, angkat tanganmu.” Maka aku mengangkatnya dan tanganku telah terkelupas seperti yang engkau lihat.
Abu Al-Abbas berkata: Maka aku pingsan dan berkata: “Demi leluhurku, ini terjadi dalam cinta pada makhluk yang menghadapmu, dan semua ini menimpamu?”
Umar bin Zhafar memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdul Aziz bin Ali Al-Azji memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Hasan bin Jahdam memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ali bin Muhammad Az-Zayyat menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Muhammad Al-Hasan bin Muhammad Al-Jarawi menceritakan kepadaku, ia berkata: Samnun menceritakan kepadaku, ia berkata: Ada seorang laki-laki di tetanggaku yang memiliki budak wanita dan ia sangat condong kepadanya. Budak wanita itu sakit parah, maka ia duduk menyiapkan sup untuknya. Ketika ia sedang mengaduk panci, tiba-tiba budak wanita itu berkata: “Aduh.” Maka jatuh apa yang ada di tangannya dan ia mulai mengaduk panci dengan tangannya hingga daging jari-jarinya jatuh dan ia tidak menyadarinya. Budak wanita itu melihatnya dan berkata: “Apa ini?” Ia berkata: “Ini adalah tempat ucapanmu ‘aduh’.”
Shahdah memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad Al-Jauhari memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Umar bin Haiwayh memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Khalaf menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Abdullah Ahmad bin Abdurrahman memberitahukan kepadaku dari Al-Abbas bin Ali, ia berkata: Sebagian penduduk Madinah menceritakan kepadaku, ia berkata: Seorang pemuda dari penduduk Madinah mengajakku ke seorang budak wanita yang menyanyi. Ketika kami masuk menemuinya, ternyata ia adalah wanita paling cantik dan ternyata ada kelangsingan wajah, kekosongan pandangan, dan keheningan. Kami berusaha membuatnya rileks dengan bercanda dan berbicara, tetapi ia terhalangi dari itu karena apa yang ia sembunyikan. Maka aku berkata dalam hatiku: “Demi Allah, sesungguhnya padanya ada kegilaan dan sentuhan cinta.” Maka aku menghadapnya dan berkata: “Demi Allah, ceritakan kepadaku yang sebenarnya tentang apa yang ada padamu.” Ia berkata: “Ingatan yang menyakitkan, pikiran yang terus-menerus, tibanya siang hari, dan kerinduan kepada orang yang telah pergi.” Ia mengambil alat musik dan menyanyi:
Ingatan akan membawaku menerjang bahaya, dan aku tidak akan meninggalkan ingatan pada kekasih. Allah tidak menghendaki kecuali aku mati karena cinta, dan aku tidak dapat menolak apa yang Allah takdirkan. Seakan di hatiku ketika jarak memisahkan kita dan meninggalkanku sendirian, seperti dada tombak yang terhunus. Kabar terputus antaraku dan dia karena jauhnya jarak dan tertutupnya jalan-jalan.
Ia berkata: Demi Allah, aku takut kehilangan akalku ketika ia menyanyi.
Maka aku berkata: “Semoga Allah menjadikanku tebusanmu, dan ini yang membuatmu seperti yang kulihat, apakah pantas ini darimu? Demi Allah, orang banyak. Seandainya engkau menghibur diri dengan yang lain, mungkin apa yang ada padamu akan reda atau meringan. Orang terdahulu telah berkata:
Aku bersabar atas kenikmatan hingga berlalu, dan aku wajibkan diriku bersabar maka ia berlanjut. Jiwa itu tidak lain kecuali di mana pemuda menempatkannya, jika ia tamak ia akan merindukan, dan jika tidak ia akan terhibur.”
Maka ia menghadapku dan berkata: “Demi Allah, aku telah mencoba itu dan aku seperti yang dikatakan Qais bin Al-Mulawwah:
Ketika hatiku menolak kecuali memberontak, dan tidak terhibur dari Laila dengan harta atau keluarga. Aku mencoba terhibur dengan wanita lain selainnya, maka ternyata wanita yang kugunakan untuk terhibur membuatku semakin teringat Laila dan tidak terhibur.”
Ia berkata: Demi Allah, ia membuatku terdiam dengan kuat hujahnya dari berdebat dengannya, dan aku tidak pernah melihat seperti ucapannya, bentuknya, dan adabnya.
Telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad Al-Qazzaz, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ali bin Tsabit, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abul Qasim Al-Azhari, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Utsman bin Amru Al-Muqri, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Muhammad Al-Khawwash, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Muhammad Ath-Thusi, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ali Ar-Rabi’i, ia berkata: aku mendengar Shalih bin Sulaiman Al-Abdi berkata: Muhammad bin Abdul Malik Az-Zayyat dahulu sangat mencintai seorang budak perempuan dari kalangan penyanyi. Kemudian budak itu dijual kepada seorang lelaki dari penduduk Khurasan dan dibawa pergi. Maka akal Muhammad bin Abdul Malik menjadi tidak karuan hingga dikhawatirkan akan dirinya. Kemudian ia mulai melantunkan syair:
Betapa panjang jam-jam malam bagi sang kekasih yang lemah, Dan panjangnya ia memandang bintang di kegelapan. Apa yang disembunyikan pakaianku dari saudaraku yang terbakar, Seolah-olah jasad daripadanya adalah tipis huruf alif. Tidaklah Ya’qub berkata “aduhai kesedihanku” dari duka nestapa, Kecuali karena panjangnya apa yang ia rasakan dari kesedihan. Barangsiapa yang senang melihat mayat cinta yang lemah, Maka hendaklah ia mencari petunjuk kepada Az-Zayyat dan berhenti.
Dan telah sampai kepada kami tentang Mush’ab bin Az-Zubair bahwa ketika ia keluar dari Kufah dan berada pada jarak sepuluh mil, ia menulis surat kepada Sukaynah binti Husain, istrinya:
Dan adalah berat bagiku untuk bermalam sementara di antara kita, Ada penghalang, sesungguhnya aku kini berjarakmu sepuluh. Dan yang paling membuat mata menangis, demi Allah ketahuilah, Bila aku menambah dua kali lipatnya, aku akan berjarak satu bulan. Dan yang membuat hatiku menangis hari ini adalah, Aku khawatir kita tidak akan bertemu lagi di akhir zaman.
Bab Keempat Puluh tentang Penyebutan Tipu Daya dan Mempertaruhkan Jiwa serta Melemparkannya ke dalam Kebinasaan demi Kekasih
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Nashir, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Mubarak Abdul Jabbar, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Al-Muhsin At-Tanukhi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahim Al-Mazini, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ali bin Al-Husain bin Al-Qasim Al-Kaukabi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abul Abbas Al-Karimi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami As-Sulaimi dari Muhammad bin Nafi’ maula mereka dari Abu Raihanah Ahmad, penjaga Abdul Malik bin Marwan. Ia berkata: Abdul Malik biasa mengadakan majelis umum dua hari dalam setiap pekan. Suatu ketika saat ia duduk di balai istananya dan surat-surat pengaduan telah dibawa kepadanya, tiba-tiba jatuh di tangannya sebuah surat yang tidak disegel yang isinya: “Jika Amirul Mukminin berkenan memerintahkan budak perempuannya si fulanah untuk menyanyi tiga lagu, kemudian melaksanakan putusan apa pun yang ia kehendaki, silakan lakukan.”
Maka Abdul Malik sangat marah karenanya dan berkata: “Wahai Rabah, bawa kepadaku pemilik surat ini!” Maka keluarlah semua orang, kemudian dimasukkan kepadanya seorang pemuda yang tampan seperti pemuda yang suci, paling tampan dari mereka. Abdul Malik berkata kepadanya: “Wahai pemuda, apakah ini suratmu?” Ia menjawab: “Ya, ya Amirul Mukminin.” Ia berkata: “Apa yang membuatmu berani terhadapku? Demi Allah aku akan menghukummu dan menjadikanmu pelajaran bagi orang-orang yang sombong sepertimu. Bawa kemari budak perempuan itu!” Maka didatangkanlah seorang budak perempuan yang seperti belahan bulan, di tangannya ada alat musik kecapi. Diletakkanlah untuknya sebuah kursi dan ia duduk. Abdul Malik berkata: “Perintahkan dia, wahai pemuda!” Maka ia berkata kepadanya: “Nyanyikanlah untukku, wahai budak perempuan, dengan syair Qais bin Dzarih:
Sungguh aku mengira jiwa ini, andai kasih kita langgeng, Tetapi sesungguhnya dunia hanyalah barang dagangan yang menipu. Dan kami dahulu bersama sebelum cinta terungkap, Dalam keadaan yang paling membahagiakan dan menyenangkan. Maka para pengadu tidak henti-hentinya hingga tampak bagi kami, Perut cinta yang terbalik dengan punggungnya.”
Ia berkata: Maka keluarlah pemuda itu dari semua pakaian yang dikenakannya dengan cara merobeknya. Kemudian Abdul Malik berkata kepadanya: “Perintahkan dia untuk menyanyikan lagu kedua untukmu.” Maka ia berkata: “Nyanyikanlah untukku dengan syair Jamil:
Ketahuilah, apakah aku akan bermalam suatu malam, Di Lembah Al-Qura? Sesungguhnya aku saat itu akan bahagia. Jika aku berkata: Apa yang ada padaku, wahai Butsainah, membunuhku, Dari cinta, ia berkata: Tetap dan bertambah. Dan jika aku berkata: Kembalikanlah sebagian akalku agar aku hidup dengannya, Bersama manusia, ia berkata: Itu jauh darimu. Maka aku tidak dikembalikan dengan apa yang aku datangkan sebagai pencari, Dan cintanya dalam hal yang binasa, tidak binasa. Cinta itu mati dariku jika aku bertemu dengannya, Dan hidup jika aku berpisah darinya lalu kembali.”
Maka budak perempuan itu menyanyikannya, lalu pemuda itu jatuh pingsan sejenak kemudian sadar. Abdul Malik berkata kepadanya: “Perintahkan dia untuk menyanyikan lagu ketiga untukmu.” Maka ia berkata: “Wahai budak perempuan, nyanyikanlah untukku dengan syair Qais bin Al-Mulawwah (Si Majnun):
Dan di antara tetangga yang pergi pagi dari perut Wajrah, Ada seekor kijang bermata sayu yang terpelihara. Janganlah kamu mengira bahwa orang asing adalah yang jauh, Tetapi orang asing adalah yang kamu jauhkan darinya.”
Maka budak perempuan itu menyanyikannya, lalu pemuda itu melemparkan dirinya dari balai istana sehingga ia tidak sampai ke tanah kecuali sudah tercabik-cabik. Abdul Malik berkata: “Celakalah dia, sungguh ia tergesa-gesa terhadap dirinya sendiri. Perkiraanku terhadapnya bukan seperti yang ia lakukan.” Dan ia memerintahkan agar budak perempuan itu dikeluarkan dari istananya. Kemudian ia bertanya tentang pemuda itu, mereka berkata: “Orang asing yang tidak dikenal kecuali bahwa sejak tiga hari ia berseru di pasar-pasar dengan tangannya di atas kepalanya:
Besok akan banyak pengadu dari kita dan dari kalian, Dan rumahku akan bertambah jauh dari rumah kalian.”
Aku (penulis) berkata: Dan telah diriwayatkan kepada kami bahwa yang serupa ini terjadi di majelis Sulaiman bin Abdul Malik. Maka telah sampai kepada kami dari Al-Jahizh bahwa ia berkata: Sulaiman bin Abdul Malik suatu hari duduk untuk menangani pengaduan dan surat-surat dihadapkan kepadanya. Maka lewatlah di hadapannya sebuah surat yang isinya: “Jika Amirul Mukminin berkenan mengeluarkan si fulanah kepadaku” – maksudnya salah satu budak perempuannya – “untuk menyanyi tiga lagu, silakan lakukan.”
Maka Sulaiman sangat marah dan memerintahkan agar orang itu dikeluarkan kepadanya dan dibawa kepadanya kepalanya. Kemudian ia menyusulkan utusan itu dengan utusan lain dan memerintahkan agar orang itu dimasukkan kepadanya. Maka dimasukkanlah, dan ketika ia berdiri di hadapannya, ia berkata kepadanya: “Apa yang mendorongmu melakukan apa yang kamu lakukan?” Ia menjawab: “Kepercayaan pada kesabaranmu dan menyandarkan pada maafmu.”
Maka ia memerintahkannya untuk duduk hingga ketika tidak tersisa seorang pun dari Bani Umayyah, ia memerintahkan agar budak perempuan itu dikeluarkan kepadanya dengan membawa kecapi. Kemudian ia berkata kepadanya: “Pilihlah!” Maka ia berkata: “Nyanyilah dengan perkataan Qais bin Al-Mulawwah:
Ruhku melekat pada ruhnya sebelum kami diciptakan, Dan sejak setelah kami ada, pada masa disapih dan di buaian. Maka ia hidup sebagaimana kami hidup lalu bertambah, Dan tidaklah, meski kami mati, perjanjian itu dibatalkan. Tetapi ia kekal dalam setiap keadaan, Dan mengunjungi kami dalam kegelapan kubur dan liang lahat. Hampir-hampir cipratan air menggores kulitnya, Jika ia mandi dengan air karena lembutnya kulit. Dan sesungguhnya aku sangat rindu kepada aroma kerahnya, Sebagaimana Idris merindukan surga keabadian.”
Maka ia menyanyi kemudian ia berkata: “Perintahkan untukku satu ratal (ukuran minuman)!” Maka ia meminumnya kemudian berkata: “Nyanyilah dengan perkataan Jamil:
Aku menaruh cinta padanya sejak masih anak-anak, dan tidak henti-hentinya, Hingga hari ini cintanya bertambah dan makin besar. Dan aku habiskan umurku menunggu pemberiannya, Dan aku peroleh dengan itu masa, dan ia masih baru. Maka aku tidak dikembalikan dengan apa yang aku datangkan sebagai pencari, Dan cintanya dalam hal yang binasa, tidak binasa. Jika aku berkata: Apa yang ada padaku, wahai Butsainah, membunuhku, Dari cinta, ia berkata: Tetap dan bertambah. Dan jika aku berkata: Kembalikanlah sebagian akalku agar aku hidup dengannya, Bersama manusia, ia berkata: Itu jauh darimu.”
Maka ia menyanyi, lalu Sulaiman berkata kepadanya: “Katakan apa yang kamu inginkan!” Ia berkata: “Perintahkan untukku satu ratal!” Maka ia meminumnya kemudian berkata: “Nyanyilah dengan perkataan Qais bin Dzarih:
Sungguh aku mengira jiwa ini, andai kasih kita langgeng, Tetapi sesungguhnya dunia hanyalah barang dagangan yang menipu. Dan kami dahulu bersama sebelum cinta diketahui, Dalam keadaan yang paling baik, membahagiakan dan menyenangkan. Maka para pengadu tidak henti-hentinya hingga tampak bagi kami, Perut cinta yang terbalik dengan punggungnya.”
Maka ia menyanyi, lalu Sulaiman berkata: “Katakan apa yang kamu kehendaki!” Ia berkata: “Perintahkan untukku satu ratal!” Maka ia belum selesai meminumnya hingga ia melompat dan naik ke atas kubah kemudian melemparkan dirinya di atas kepalanya. Maka Sulaiman berkata: “Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali. Apakah kamu mengira bahwa orang bodoh itu menyangka aku akan mengeluarkan budak perempuanku kepadanya dan mengembalikannya ke kepemilikanku? Wahai budak, genggamlah tangannya dan pergilah dengannya kepada keluarganya jika ia mempunyai keluarga, dan jika tidak maka juallah dia dan sedekahkanlah harganya untuknya!”
Maka ketika mereka pergi dengannya, ia melihat sebuah lubang di rumah Sulaiman yang telah disiapkan untuk air hujan. Maka ia menarik tangannya dari tangan-tangan mereka dan mulai berkata:
Barangsiapa mati karena cinta, maka hendaklah ia mati seperti ini, Tidak ada kebaikan dalam cinta tanpa kematian.”
Maka ia melemparkan dirinya ke dalam lubang itu di atas kepalanya lalu mati.
Aku (penulis) berkata: Dan telah sampai kepada kami bahwa yang serupa ini terjadi di majelis Ar-Rasyid. Maka telah mengabarkan kepada kami Al-Mubarak bin Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhammad bin Al-Allaf, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim Al-Kindi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Al-Khara’ithi, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Bakr Muhammad bin Ali Al-Makhrami. Ia berkata: Aku membeli untuk Harun Ar-Rasyid seorang budak perempuan dari Madinah, maka ia sangat kagum dengannya dan memerintahkan Al-Fadhl bin Ar-Rabi’ untuk mengirim orang membawa keluarganya dan para pelindungnya agar mereka kembali dengan hadiahnya, dan ia bermaksud dengan itu untuk memuliakannya. Maka datanglah ke Madinatus Salam (Baghdad) delapan puluh orang lelaki, dan datang bersama mereka seorang lelaki dari penduduk Irak yang menetap di Madinah yang dahulu mencintai budak perempuan itu. Maka ketika berita mereka sampai kepada Ar-Rasyid, ia memerintahkan Al-Fadhl untuk keluar kepada mereka dan menulis nama setiap orang dari mereka beserta keperluannya. Maka ia melakukan itu. Ketika sampai kepada orang Irak itu, ia berkata kepadanya: “Apa keperluanmu?” Maka ia berkata kepadanya: “Jika kamu menulisnya dan menjamin bagiku untuk menyampaikannya bersama apa yang kamu sampaikan, aku akan memberitakanmu dengannya.” Maka ia berkata: “Aku akan melakukan itu.” Ia berkata: “Keperluanku adalah agar aku duduk bersama si fulanah hingga ia menyanyikan untukku tiga lagu dan aku minum tiga ratal dan aku beritahu dia apa yang disimpan tulang rusukku dari cintanya.” Maka Al-Fadhl berkata: “Kamu orang gila yang kemasukan setan dalam akalmu.” Maka ia berkata: “Wahai orang ini, sesungguhnya kamu telah diperintahkan untuk menulis apa yang dikatakan setiap orang dari kami, maka tulislah apa yang aku katakan dan sampaikan, jika aku diberi apa yang aku minta maka itulah yang aku inginkan, dan jika tidak maka kamu dalam kelapangan uzur.”
Maka Al-Fadhl masuk dengan marah lalu berdiri di hadapan Ar-Rasyid dan membacakan kepadanya apa yang ia tulis. Ketika ia selesai, ia berkata: “Ya Amirul Mukminin, di antara mereka ada seorang gila yang meminta sesuatu yang terlalu mulia untuk diucapkan di majelis Amirul Mukminin.” Maka ia berkata: “Katakan dan jangan takut!” Maka ia berkata: “Ia berkata begini dan begini.” Maka ia berkata: “Keluarlah kepadanya dan katakan kepadanya: Jika telah lewat tiga hari maka hadirlah untuk kami selesaikan untukmu apa yang kamu minta, dan kamulah yang akan menangani izin masuk untuknya.” Dan ia memanggil seorang pelayan lalu berkata: “Pergilah kepada si fulanah dan katakan kepadanya: Telah hadir seorang lelaki yang meminta begini dan begini, dan kami telah mengabulkan untuknya apa yang ia minta, maka bersiaplah!”
Kemudian Al-Fadhl keluar kepada pemuda itu dan menyampaikan kepadanya apa yang dikatakan Ar-Rasyid. Maka ia pulang. Ketika tiba hari ketiga, ia hadir dan Ar-Rasyid diberitahu tentang kehadirannya. Maka ia berkata: “Diletakkanlah untuknya sebuah kursi dari perak dan untuk budak perempuan itu sebuah kursi dari emas dan dikeluarkanlah kepadanya tiga ratal.” Maka duduklah pemuda itu di kursi dan budak perempuan itu di hadapannya, ia berbincang dengannya sementara Ar-Rasyid melihat mereka berdua. Pelayan berkata: “Kamu tidak masuk untuk musim panas dan musim dingin!” Maka ia mengambil satu ratal dan sujud lalu berkata: “Jika kamu ingin menyanyi maka nyanyilah:
Wahai dua sahabatku, singgahlah, semoga Allah memberkati kalian berdua, Dan meski Hind tidak ada di negeri kalian yang dituju. Dan katakan kepadanya: Bukan kesalahan yang mengiringi kami, Tetapi kami lewat untuk bertemu kalian dengan sengaja. Besok akan banyak yang menangis dari kami dan dari kalian, Dan rumahku akan bertambah jauh dari rumah kalian.”
Maka ia menyanyi kemudian ia minum satu ratal dan berbincang dengannya sejenak. Lalu pelayan mendesaknya, maka ia mengambil ratal itu dengan tangannya dan berkata: “Nyanyilah, semoga Allah menjadikanku tebusanmu:
Mata-mata kami berbicara dari kami pada wajah-wajah, Maka kami diam dan cinta yang berbicara. Dan kami kadang marah dan ridha dengan pandangan kami, Dan itu di antara kami, tidaklah diketahui.”
Maka ia menyanyikannya untuknya, lalu ia minum ratal kedua dan berbincang dengannya sejenak. Lalu pelayan mempercepatnya, maka ia sujud sambil menangis dan mengambil ratal itu dengan tangannya dan menitipkannya kepada Allah. Ia berdiri dengan kedua kakinya dan air matanya berlomba-lomba seperti air hujan dan berkata: “Jika kamu ingin menyanyi maka nyanyilah:
Paling baik ketika kami, kami berpisah, Dan zaman mengkhianati kami padahal kami tidak mengkhianatinya. Maka andai saja zaman ini bagi kami sekali, Kembali kepada kami suatu hari sebagaimana kami dahulu.”
Maka ia menyanyikan lagu itu untuknya, lalu pemuda itu memalingkan pandangannya dan melihat sebuah tangga, maka ia menujunya. Pelayan-pelayan mengikutinya untuk menunjukkan jalan kepadanya, tetapi mereka terlambat, dan ia naik tangga lalu melemparkan dirinya ke tanah di atas kepalanya, maka ia jatuh mati. Maka Ar-Rasyid berkata: “Pemuda itu tergesa-gesa, dan andai ia tidak tergesa-gesa, kami akan menghadiahkannya kepadanya.”
Telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahhab bin Al-Mubarak Al-Hafizh, dia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Muhammad bin Abi Nashr Al-Humaidi, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abu Muhammad Ali bin Abi Umar Al-Yazidi, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Barakat Muhammad bin Abdul Wahid Az-Zubairi, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abu Ali Hasan bin Al-Asykari Al-Mishri, dia berkata: Aku adalah salah satu teman duduk Amir Tamim bin Al-Mu’izz dan termasuk orang yang sangat dekat dengannya. Dia berkata: Ia mengirimku ke Baghdad untuk membelikan untuknya seorang budak perempuan yang cantik luar biasa, yang terbaik yang bisa ditemukan dalam kecantikan dan nyanyian. Ketika budak itu sampai kepadanya, ia mengadakan jamuan untuk para teman duduknya. Dia berkata: Dan aku berada di antara mereka, kemudian tirai dipasang lalu ia memerintahkannya untuk bernyanyi, maka ia bernyanyi:
Dan menampakkan dirinya setelah cinta yang telah sembuh… Kilat yang berkilau di tengah malam, cahayanya berkelip-kelip
Ia muncul seperti ujung selendang, dan di baliknya… Puncak yang sulit, benteng yang tidak terjamah
Dalam riwayat lain, kedua bait ini:
Maka ia muncul untuk melihat bagaimana ia bersinar namun tidak sanggup… Memandangnya, sujudnya menghalanginya
Api adalah yang dilingkupi oleh tulang rusuknya… Dan air adalah yang diberikan oleh kelopak matanya
Dia berkata: Maka ia menyanyikan dengan sangat indah dan Tamim serta semua yang hadir sangat terhibur, kemudian ia bernyanyi:
Akan menghiburmu dari yang telah lalu, negara yang utama… Awal-awalnya terpuji dan akhir-akhirnya
Allah memberkati dua bahunya dan menyatukan dirinya… Atas kebaikan sejak ikat pinggangnya dikenakan padanya
Maka Amir Tamim dan semua yang hadir sangat terhibur dengan sangat, kemudian ia bernyanyi:
Aku titipkan kepada Allah di Baghdad untukku bulan purnama… Di Karkh dari falak kancing-kancing, tempat terbitnya
Maka ketertarikan Amir Tamim sangat meningkat dan berlebihan sekali, kemudian ia berkata kepadanya: Mintalah apa yang kau inginkan maka bagimu permintaanmu. Maka ia berkata: Aku berharap kesehatan Amir dan kelanggengannya. Maka ia berkata: Demi Allah, kau harus meminta sesuatu. Maka ia berkata: Dengan janji setia wahai Amir terhadap apa yang aku harapkan? Maka ia berkata: Ya. Maka ia berkata kepadanya: Bahwa aku bernyanyi giliran ini di Baghdad. Dia berkata: Maka warna Tamim berubah dan wajahnya berubah dan majelis menjadi keruh lalu ia berdiri dan kami semua berdiri.
Ibnu Al-Asykari berkata: Maka salah satu pelayannya menyusulku dan berkata kepadaku: Kembalilah karena Amir memanggilmu. Maka aku kembali dan mendapatinya sedang duduk menungguku, lalu aku memberi salam dan duduk di hadapannya. Maka ia berkata: Celakalah kau, apakah kau melihat apa yang menimpa kami? Aku berkata: Ya wahai Amir. Maka ia berkata: Tidak ada jalan lain kecuali menepati janji kepadanya dan aku tidak mempercayai hal ini pada selain kau, maka bersiaplah untuk membawanya ke Baghdad. Jika ia sudah bernyanyi di sana maka lepaskanlah ia. Aku berkata: Mendengar dan taat. Dia berkata: Kemudian aku berdiri dan bersiap-siap dan ia memerintahkan untuknya untuk bersiap-siap dan menyertakannya dengan budak perempuan hitam yang mendampinginya dan melayannya, dan memerintahkan unta dan mahmal lalu ia dimasukkan ke dalamnya dan menjadikannya bersamaku, kemudian aku berangkat ke Mekkah bersama kafilah. Kami menunaikan haji kami kemudian kami masuk ke kafilah Irak dan berjalan.
Dia berkata: Ketika kami tiba di Al-Qadisiyah, budak hitam itu datang kepadaku dari pihaknya dan berkata: Tuanku bertanya kepadamu di mana kita sekarang? Maka aku berkata kepadanya: Kita singgah di Al-Qadisiyah. Maka ia kembali kepadanya dan mengabarinya, dan tidak lama aku mendengar suara yang meninggi dengan nyanyian:
Ketika kami tiba di Al-Qadisiyah… Di mana berkumpulnya rombongan
Dan aku mencium dari tanah Irak… Hembusan nafas-nafas Irak
Aku yakin untukku dan bagi yang aku cintai… Dengan terkumpulnya pertemuan dan kesepakatan
Dan aku tertawa dari kegembiraan perjumpaan… Sebagaimana aku menangis dari perpisahan
Maka orang-orang dari penjuru kafilah berteriak-teriak: Ulangi demi Allah, ulangi demi Allah!
Dia berkata: Maka tidak terdengar lagi kata-katanya.
Dia berkata: Kemudian kami singgah di Al-Yasiryah dan antara ia dengan Baghdad dekat di kebun-kebun yang bersambungan, orang-orang singgah di sana dan bermalam semalam kemudian pagi-pagi mereka masuk Baghdad.
Ketika mendekati subuh, tiba-tiba aku melihat budak hitam itu telah datang kepadaku dalam keadaan ketakutan.
Maka aku berkata: Ada apa denganmu? Ia berkata: Sesungguhnya tuanku tidak ada.
Maka aku berkata: Dan di mana ia?
Ia berkata: Demi Allah aku tidak tahu.
Dia berkata: Maka aku tidak merasakan jejaknya setelah itu dan aku masuk Baghdad dan menyelesaikan keperluanku di sana dan kembali kepadanya lalu mengabarkan kepadanya kabar itu, maka hal itu menjadi besar baginya dan ia bersedih karenanya, kemudian ia tetap mengingatnya dan murung karenanya.
Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr Muhammad bin Abdul Baqi, dia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Al-Qasim Ali bin Al-Muhsin At-Tanukhi dari ayahnya, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abu Al-Faraj Ahmad bin Utsman bin Ibrahim Al-Faqih yang dikenal dengan Ibnu An-Narsi, dia berkata: Aku sedang duduk di hadapan ayahku dan aku masih muda dan di sisinya sekelompok orang, lalu ia menceritakan kepadaku hadits tentang sampainya nikmat kepada manusia dengan cara-cara yang menarik.
Dan termasuk yang hadir adalah teman ayahku, maka aku mendengarnya menceritakan kepada ayahku, dia berkata: Aku hadir di tempat seorang temanku dari para pedagang yang diperkirakan memiliki seratus ribu dinar dalam sebuah jamuan dan ia adalah orang yang baik budi pekertinya. Maka ia menghadirkan hidangannya dan menghadirkan di atasnya dankirikih namun ia tidak memakannya, maka kami menahan diri. Maka ia berkata: Makanlah karena aku terganggu dengan memakan makanan ini. Maka kami berkata: Maka kami menemanimu untuk meninggalkannya. Maka ia berkata: Tidak, aku menemani kalian untuk makan dan menanggung gangguan itu, lalu ia makan. Ketika ia hendak mencuci tangannya, ia mencuci lama sekali sehingga aku menghitung ia telah mencucinya empat puluh kali. Maka aku berkata: Wahai ini, apakah kau terobsesi? Maka ia berkata: Ini adalah gangguan yang aku takuti darinya. Aku berkata: Dan apa sebabnya? Maka ia enggan menyebutkannya, lalu aku memaksa kepadanya. Maka ia berkata: Ayahku meninggal dan umurku dua puluh tahun dan meninggalkan untukku kekayaan kecil dan modal serta barang dagangan di tokonya, dan toko kami berada di Karkh. Maka ia berkata kepadaku ketika kematian mendatanginya: Wahai anakku, sesungguhnya tidak ada ahli waris bagiku selain kau dan tidak ada hutang atasku dan tidak ada kezaliman. Jika aku meninggal maka perbaikilah pengurusanku dan bersedekah untukku dengan sekian dan sekian dan keluarkan untukku haji dengan sekian dan semoga Allah memberkahimu dalam sisanya. Tetapi jagalah wasiatku. Maka aku berkata: Katakanlah.
Ia berkata: Jangan boros dalam hartamu sehingga kau membutuhkan apa yang ada di tangan orang-orang dan tidak kau dapatkan, dan ketahuilah bahwa yang sedikit dengan perbaikan itu banyak dan yang banyak dengan kerusakan itu sedikit. Maka lazimilah pasar dan jadilah orang pertama yang memasukinya dan terakhir yang keluar darinya. Dan jika kau mampu untuk memasukinya sebelum fajar di malam hari maka lakukanlah karena kau akan mendapatkan dengan itu manfaat-manfaat yang akan disingkapkan untukmu oleh hari-hari.
Dan ia meninggal, maka aku melaksanakan wasiatnya dan mengamalkan apa yang ia sarankan, dan aku masuk pasar sebelum fajar dan keluar darinya di sore hari, maka aku tidak kehilangan orang yang datang kepadaku meminta kain kafan dan tidak menemukan yang sudah buka selain aku maka aku menguasai atasnya, dan orang yang menjual sesuatu dan pasar belum berdiri maka aku menjualkannya untuknya, dan hal-hal dari jenis manfaat-manfaat ini.
Dan berlalu atasnya aku melazimi pasar setahun lebih, maka jadilah untukku dengan itu kedudukan di antara para pedagangnya dan mereka mengetahui kejujuranku maka mereka memuliakanku. Maka tatkala aku sedang duduk suatu hari dan pasar belum lengkap, tiba-tiba seorang perempuan mengendarai keledai Mesir dan di atas bagian belakangnya sapu tangan dbiqi dan seorang pelayan dan ia dengan penampilan pengurus rumah tangga, lalu ia sampai ke ujung pasar kemudian kembali dan turun di tempatku. Maka aku berdiri kepadanya dan memuliakannya dan berkata kepadanya: Apa yang kau perintahkan? Dan aku memperhatikannya maka tiba-tiba seorang perempuan yang aku tidak pernah melihat sebelumnya dan tidak sesudahnya hingga sekarang yang lebih baik darinya dalam segala hal. Maka ia berbicara dan berkata: Aku ingin begini dan aku ingin begini, kain-kain yang ia minta. Maka aku mendengar suara dan melihat bentuk yang membunuhku dan aku jatuh cinta kepadanya pada saat itu dengan cinta yang paling kuat dan berkata: Bersabarlah hingga orang-orang keluar maka aku mengambil untukmu itu karena tidak ada padaku kecuali sedikit dari yang cocok untukmu. Dan aku mengeluarkan yang ada padaku.
Maka ia duduk berbincang denganku dan pisau-pisau di hatiku dari cintanya dan ia menyingkap jari-jemari yang aku lihat seperti mayang kurma dan wajah seperti bulan purnama. Maka aku berdiri agar tidak bertambah atasku perkara itu dan aku mengambil untuknya dari pasar apa yang ia inginkan dan adalah harganya bersama yang untukku sekitar lima ratus dinar. Maka ia mengambilnya dan naik dan tidak memberiku sesuatu pun dan hilang dariku karena apa yang memasukkiku dari nafsuku kepadanya bahwa aku mencegahnya dari barang dagangan kecuali dengan uang atau aku mengetahui rumahnya dan dari siapa rumah ia.
Maka ketika ia menghilang dariku terlintas bagiku bahwa ia adalah penipu dan bahwa itu adalah sebab kefakiranku. Maka aku bingung dalam perkaraku dan kiamatku tegak dan aku sembunyikan kabarku agar aku tidak dipermalukan dengan apa yang milik orang-orang atasku, dan aku bekerja untuk menjual apa yang ada di tanganku dari barang dagangan dan menambahkannya kepada apa yang ada padaku dari dirham-dirham dan menyerahkan harta orang-orang kepada mereka dan melazimi rumah dan membatasi diri pada hasil tanah yang aku warisi dan aku menenangkan diriku atas cobaan dan aku mulai mengerjakan itu selama seminggu, maka tiba-tiba ia telah turun di tempatku.
Maka ketika aku melihatnya aku lupa semua yang terjadi padaku dan aku berdiri kepadanya. Maka ia berkata: Wahai pemuda, kami terlambat darimu karena kesibukan yang menimpa kami dan kami tidak meragukan bahwa kau tidak ragu bahwa kami menipu atasmu. Maka aku berkata: Allah telah mengangkat kedudukanmu dari ini. Maka ia berkata: Hadirkan kotak dan keranjang. Maka aku hadirkan, lalu ia mengeluarkan dinar-dinar lama dan memberiku uang semuanya, dan mengeluarkan catatan dengan hal-hal lain. Maka aku kirimkan kepada para pedagang uang mereka dan meminta dari mereka apa yang ia inginkan dan aku berada di tengah mendapatkan keuntungan yang bagus. Dan para pedagang menghadirkan kain-kain maka aku berdiri dan menilainya bersama mereka untuk diriku sendiri kemudian menjualnya kepadanya dengan keuntungan yang besar dan aku dalam hal itu memandangnya dengan pandangan orang yang binasa dari cintanya dan ia memandangku dengan pandangan orang yang telah memahami itu dan tidak mengingkarinya. Maka aku berniat untuk melamarnya dan tidak berani maju. Maka terkumpullah barang dagangan dan adalah harganya seribu dinar, lalu ia mengambilnya dan naik dan aku tidak bertanya kepadanya tentang tempatnya. Ketika ia menghilang dariku aku berkata: Ini sekarang adalah tipu daya yang rapi, ia memberiku lima ratus dinar dan mengambil seribu dinar dan tidak ada kecuali menjual tanahku sekarang dan sampai pada kefakiran yang memiskinkan.
Kemudian jiwa ku rela melihatnya dengan kefakiran dan ketidakhadirannya memanjang sekitar sebulan dan para pedagang mendesak ku dengan tuntutan, maka aku tawarkan tanahku untuk dijual dan salah satu pedagang melazimiiku. Maka aku timbang semua yang aku miliki, perak dan emas. Maka aku seperti itu ketika ia turun di tempatku, maka hilanglah dariku semua yang aku alami dengan melihatnya.
Maka ia meminta keranjang dan kotak, lalu ia timbang uang dan menyerahkan kepadaku catatan yang di dalamnya melebihi dua ribu dinar dengan banyak. Maka aku sibuk dengan menghadirkan para pedagang dan menyerahkan harta mereka kepada mereka dan mengambil barang dagangan dari mereka. Maka panjang lah pembicaraan antara kami, lalu ia berkata: Wahai pemuda, apakah kau punya istri? Maka aku berkata: Tidak demi Allah, aku tidak pernah mengenal perempuan sama sekali. Dan hal itu membuatku berharap kepadanya dan aku berkata: Ini waktunya melamarnya dan diam darinya adalah kelemahan dan mungkin ia kembali atau tidak kembali.
Dan aku ingin berbicara dengannya maka aku takut kepadanya dan aku berdiri seolah-olah aku mendesak para pedagang untuk mengumpulkan barang dagangan dan aku mengambil tangan pelayan dan mengeluarkan kepadanya dinar-dinar dan memintanya untuk mengambilnya dan menyelesaikan untukku keperluan. Maka ia berkata: Aku akan lakukan dan menyampaikan untukmu kecintaanmu. Dan aku ceritakan kepadanya kisahku dan memintanya untuk menjadi perantara perkaraku dengannya. Maka ia tertawa dan berkata: Sesungguhnya ia kepadamu lebih cinta darimu kepadanya. Demi Allah tidak ada padanya keperluan pada lebih dari ini yang kau belikan dan hanya saja ia datang kepadamu karena cinta kepadamu dan jalan untuk memperpanjang denganmu, maka lamarlah ia dengan sopan dan biarkanlah aku karena aku akan selesaikan untukmu dari perkara itu.
Maka hal itu membuatku berani kepadanya, lalu aku melamarnya dan menyingkapkan untuknya cintaku dan kecintaanku dan aku menangis. Maka ia tertawa dan menerima itu dengan penerimaan yang terbaik dan berkata: Pelayan akan datang kepadamu dengan pesanku. Dan ia bangkit dan tidak mengambil sesuatu pun dari barang dagangan, maka aku kembalikan ke orang-orang dan telah aku dapatkan dari apa yang aku beli pertama dan kedua ribuan dirham keuntungan dan tidur tidak membawaku di malam itu karena rindu kepadanya dan takut dari terputusnya sebab antara kami. Maka ketika setelah beberapa hari pelayan itu datang kepadaku, lalu aku memuliakan nya dan bertanya kepadanya tentang kabarnya. Maka ia berkata: Ia demi Allah sakit dari kerinduannya kepadamu. Maka aku berkata: Jelaskan untukku perkaranya. Maka ia berkata: Ini adalah budak perempuan As-Sayyidah Umm Al-Muqtadir dan ia dari budak-budaknya yang paling dekat dengannya dan ia ingin melihat orang-orang dan masuk dan keluar, maka ia berusaha hingga dijadikannya pengurus rumah tangga dan ia telah demi Allah menceritakan kepada As-Sayyidah tentang kisahmu dan menangis di hadapannya dan memintanya untuk menikahkannya kepadamu. Maka As-Sayyidah berkata: Aku tidak akan melakukan atau aku melihat lelaki ini, maka jika ia pantas untukmu maka baik dan jika tidak aku tidak membiarkanmu dan pendapatmu. Dan kau perlu berdaya upaya dalam memasukkanmu ke rumah dengan tipu daya, maka jika itu sempurna kau sampai dengannya untuk menikahkannya dan jika tersingkap akan dipotong lehermu dalam hal ini. Dan ia telah mengirimku kepadamu dengan pesan ini dan berkata kepadamu: Jika kau sabar atas ini maka baik dan jika tidak maka tidak ada jalan demi Allah untukmu kepadaku dan tidak untukku kepadamu setelahnya.
Maka apa yang ada di jiwaku membuatku berkata: Aku sabar.
Maka dia berkata, “Jika tiba malam nanti, menyeberanglah ke al-Makhram, masuklah ke masjid dan bermalamlah di sana.” Maka aku pun melakukannya. Ketika waktu sahur tiba, tiba-tiba ada perahu yang datang dan para pelayan naik sambil membawa peti-peti kosong lalu meletakkannya di masjid kemudian pergi. Lalu keluarlah budak perempuan itu naik ke masjid bersama pelayan yang aku kenal. Dia duduk dan menyebarkan pelayan-pelayan lainnya untuk berbagai keperluan. Kemudian dia memanggilku, menciumku dan memelukku lama sekali, padahal sebelum itu aku belum pernah mendapat ciuman darinya. Kemudian dia mendudukkanku di dalam salah satu peti dan menguncinya.
Matahari terbit dan para pelayan datang membawa pakaian-pakaian dan barang-barang dari tempat-tempat yang tadi dia kirim mereka ke sana. Dia meletakkan semua itu di hadapan mereka ke dalam peti-peti lainnya lalu menguncinya dan memuat semuanya ke perahu, kemudian perahu pun berangkat.
Ketika sudah berada di dalamnya, aku menyesal dan berkata pada diriku sendiri, “Aku telah membunuh diriku sendiri karena nafsu.” Aku mulai menyalahkan diriku sendiri kadang-kadang dan memberanikan diriku di lain waktu. Aku bernazar-nazar untuk keselamatanku dan terkadang menyiapkan diriku untuk kematian, sampai akhirnya kami tiba di rumah. Para pelayan mengangkat peti-peti itu dan pelayan yang tahu perihal ini mengangkat petiku. Dia bergegas dengan petiku di depan peti-peti lainnya sementara dia bersamaku dan para pelayan mengangkat sisanya sambil mengikutinya. Setiap kali dia melewati satu kelompok pelayan dan penjaga pintu, mereka berkata, “Kami ingin memeriksa peti itu,” maka dia pun berteriak kepada mereka dan berkata, “Sejak kapan ada aturan sepertiku ini terhadapku?” Maka mereka pun diam sementara nyawaku melayang, sampai kami tiba pada seorang pelayan yang dia panggil dengan sebutan “Guru” maka aku tahu bahwa dia adalah pelayan yang paling senior. Dia berkata, “Peti yang bersamamu harus diperiksa.” Dia berbicara dengannya dengan lembut dan merendah tetapi dia tidak menjawabnya, dan aku tahu bahwa dia tidak merendah kepadanya kecuali karena memiliki akal. Maka aku pun pingsan dan peti pun diturunkan untuk dibuka. Maka habislah urusanku dan aku kencing ketakutan hingga air kencingku mengalir dari celah peti. Dia berkata, “Wahai Guru, engkau telah merusak barang kami senilai lima ribu dinar di dalam peti ini yaitu pakaian-pakaian yang dicelup dan air mawar yang telah tumpah ke pakaian-pakaian itu dan sebentar lagi warnanya akan bercampur dan ini akan menjadi kecelakaanku dengan Nyonya.”
Maka dia berkata kepadanya, “Ambillah petimu bersama laknat Allah untukmu dan peti itu, dan pergilah!” Maka dia berteriak kepada para pelayan, “Angkat peti ini!” dan aku pun masuk ke dalam rumah dan nyawaku pun kembali. Sementara kami sedang berjalan, tiba-tiba dia berkata, “Aduh celaka, Khalifah, demi Allah!” Maka datanglah kepadaku ketakutan yang lebih besar dari yang pertama dan aku mendengar suara-suara pelayan dan budak-budak perempuan sementara suara dia terdengar di antara mereka, “Celakalah engkau wahai fulan, apa yang ada di dalam petimu? Tunjukkan padaku!” Dia berkata, “Pakaian-pakaian untuk nyonyaku, ya tuanku. Sebentar lagi aku akan membukanya di hadapannya dan engkau akan melihatnya.” Dia berkata kepada para pelayan, “Cepatlah kalian, celakalah kalian!” Maka mereka pun bergegas dan membawaku masuk ke sebuah kamar. Dia membuka mataku dan berkata, “Naiklah tangga ini ke ruang atas dan duduklah di sana.” Dengan tergesa-gesa dia membuka peti lain lalu memindahkan sebagian isinya ke peti yang tadi aku berada di dalamnya, lalu mengunci semuanya. Al-Muqtadir datang dan berkata, “Bukalah!” Maka dia pun membukanya tetapi dia tidak melihat sesuatu yang mencurigakan lalu pergi. Kemudian dia naik ke tempatku dan mulai menciumku dan mencium bibirku hingga aku pun hidup kembali dan lupa apa yang telah terjadi. Dia meninggalkanku dan mengunci pintu kamar pada hari itu, kemudian datang kepadaku pada malam hari, memberiku makan dan minum lalu pergi. Ketika keesokan harinya tiba, dia datang kepadaku dan berkata, “Nyonya sebentar lagi akan datang, lihatlah bagaimana engkau berbicara dengannya.” Kemudian dia kembali setelah satu jam bersama Nyonya dan berkata, “Turunlah.” Maka aku pun turun dan ternyata Nyonya itu duduk di atas kursi dan tidak ada bersamanya kecuali dua budak perempuan dan kekasihku. Aku pun mencium tanah dan berdiri di hadapannya. Dia berkata, “Duduklah.” Aku berkata, “Aku adalah hamba Nyonya dan pelayannya dan bukan kedudukanku untuk duduk di hadapannya.” Dia memperhatikanku dan berkata, “Engkau tidak memilih kecuali yang tampan dan beradab wahai fulan,” lalu bangkit. Kekasihku datang kepadaku setelah satu jam dan berkata, “Bergembiralah karena demi Allah dia telah mengizinkanku untuk menikahimu dan sekarang tidak ada halangan lagi kecuali keluar.” Aku berkata, “Semoga Allah menyelamatkan.” Ketika keesokan harinya tiba, dia membawaku di dalam peti, maka aku pun keluar sebagaimana aku masuk setelah menghadapi bahaya lain dan ketakutan kedua. Aku turun di masjid dan kembali ke rumahku. Aku bersedekah dan memuji Allah Yang Mahatinggi atas keselamatan. Beberapa hari kemudian pelayan itu datang kepadaku membawa kantong berisi tiga ribu dinar tunai lalu berkata, “Nyonyaku memerintahkanku untuk mengirim ini kepadamu dari hartanya.” Dia berkata, “Belilah dengan itu pakaian, kendaraan, dan pelayan-pelayan, perbaikilah penampilanmu lalu datanglah pada hari pawai ke pintu istana, berdirilah sampai engkau dipanggil karena Khalifah telah setuju untuk menikahkanmu di hadapannya.”
Maka aku pun menjawab surat yang dibawanya dan mengambil uang itu. Aku membeli apa yang mereka katakan dengan sedikit dari uang itu sementara sebagian besarnya masih ada padaku. Aku berkendara ke pintu istana pada hari pawai dengan penampilan yang bagus. Orang-orang datang dan masuk ke tempat Khalifah sementara aku menunggu sampai dipanggil. Aku pun masuk dan ternyata aku berada di hadapan al-Muqtadir yang sedang duduk bersama para hakim, para panglima, dan keluarga Hasyim. Aku kagum dengan majelis itu dan tahu bagaimana cara memberi salam maka aku pun melakukannya. Al-Muqtadir memerintahkan salah satu hakim yang hadir untuk menikahkanku dan dia pun menikahkanku. Aku keluar dari hadapannya dan ketika berada di salah satu lorong dekat pintu, aku dibawa ke sebuah rumah besar yang dilengkapi dengan berbagai perabotan mewah dan di dalamnya ada alat-alat, pelayan-pelayan, dan kain-kain yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Aku didudukkan di sana dan ditinggalkan sendirian sementara orang yang membawaku masuk pergi. Aku duduk sepanjang hari tidak melihat orang yang aku kenal dan tidak meninggalkan tempatku kecuali untuk salat. Para pelayan masuk dan keluar dan makanan besar dipindahkan sementara mereka berkata, “Malam ini fulan,” dengan menyebut nama kekasihku, “akan dibawa kepada suaminya si pedagang kain.” Aku tidak percaya karena gembira.
Ketika malam tiba, aku merasa lapar dan pintu-pintu dikunci. Aku putus asa dari budak perempuan itu maka aku pun berdiri berkeliling rumah. Aku menemukan dapur dan mendapati para juru masak sedang duduk. Aku meminta makanan kepada mereka tetapi mereka tidak mengenalku dan mengira aku salah satu wakil. Mereka memberiku jenis makanan ini bersama dua potong roti. Aku memakannya dan mencuci tanganku dengan sabun yang ada di dapur, aku kira tanganku sudah bersih lalu kembali ke tempatku.
Ketika malam sudah larut, tiba-tiba terdengar gendang, terompet, dan suara-suara besar. Pintu-pintu dibuka dan kekasihku dibawa kepadaku. Mereka datang membawanya lalu menunjukkannya kepadaku sementara aku mengira bahwa semua itu dalam mimpi karena gembira. Mereka meninggalkannya bersamaku di ruang itu dan orang-orang pun bubar.
Ketika kami berdua saja, aku mendekatinya lalu menciumnya dan dia menciumku. Dia mencium jengotku lalu menendangku dan melemparku dari tempat duduk tinggi itu sambil berkata, “Tidakkah engkau beruntung wahai orang rendah, wahai hina!” Dia bangkit untuk keluar maka aku pun berdiri dan berpegang padanya, mencium tanah dan kakinya, lalu berkata, “Beritahuku kesalahanku dan setelah itu lakukanlah apa yang engkau kehendaki.”
Dia berkata, “Celakalah engkau! Engkau makan dan tidak mencuci tanganmu.” Maka aku pun menceritakan kisahku kepadanya. Ketika sampai pada akhirnya aku berkata, “Atasku, atasku,” lalu aku bersumpah dengan talaknya dan talak setiap perempuan yang akan aku nikahi, dengan sedekah hartaku dan semua yang aku miliki, dengan haji berjalan kaki, dan dengan kufur kepada Allah dan semua yang disumpahi oleh kaum Muslim, bahwa aku tidak akan makan setelah ini kue kering kecuali mencuci tanganku empat puluh kali. Maka dia pun malu dan tersenyum lalu berteriak, “Wahai budak-budak perempuan!” Maka datanglah sekitar sepuluh budak perempuan dan pelayan. Dia berkata, “Bawalah sesuatu untuk kami makan.” Maka dihidangkanlah kepadaku jenis-jenis makanan yang lezat dan makanan dari makanan para khalifah. Kami makan dan mencuci tangan kami. Dia meminta minuman maka kami pun minum dan para budak perempuan itu menyanyi dengan nyanyian yang paling indah dan paling baik. Kemudian kami pergi ke tempat tidur dan aku masuk kamar bersama dia. Aku menghabiskan malam seperti malam-malam para khalifah. Kami tidak berpisah selama seminggu dan hari ketujuh adalah pesta yang luar biasa di mana para budak perempuan berkumpul. Ketika keesokan harinya tiba, dia berkata, “Sesungguhnya istana khalifah tidak memungkinkan tinggal di dalamnya lebih dari ini. Seandainya tidak diminta izin dan diizinkan setelah kesulitan, ini tidak akan terjadi bagi kami. Tetapi ini adalah sesuatu yang belum pernah dilakukan untuk budak perempuan manapun selain aku karena kecintaan Nyonya kepadaku. Semua yang engkau lihat ini adalah pemberian untukku dari Nyonya dan dia telah memberiku lima puluh ribu dinar berupa uang tunai, perak, permata, dinar, dan barang-barang berharga yang aku miliki di luar istana, banyak barang dari setiap jenis dan semuanya untukmu. Keluarlah ke rumahmu dan bawalah uang lalu belilah rumah yang baik dengan halaman yang luas, taman yang besar, banyak kamar, dengan lokasi yang mewah, lalu pindahlah ke sana dan beritahuku agar aku dapat memindahkan semua ini kepadamu. Jika sudah ada padamu, aku akan datang kepadamu.” Dia menyerahkan kepadaku sepuluh ribu dinar tunai yang dibawa pelayan bersamaku. Aku membeli rumah itu dan menulis surat kepadanya dengan kabar tersebut. Maka dia membawakan seluruh kenikmatan itu untukku. Semua yang aku miliki adalah darinya. Dia tinggal bersamaku sekian tahun hidup bersamaku dengan kehidupan para khalifah dan aku tidak meninggalkan perdagangan sehingga hartaku bertambah, kedudukanku meningkat, dan keadaanku menjadi kaya. Dia melahirkan anak-anak laki-laki ini untukku,” sambil menunjuk anak-anaknya. “Kemudian dia meninggal, semoga Allah merahmatinya, dan tinggal padaku dari bahaya kue kering itu apa yang telah kalian saksikan.”
Di antara orang yang memperoleh kenikmatan besar karena dia jatuh cinta adalah Muhammad bin Ja’far yang dikenal sebagai suami al-Hurrah.
Telah mengabarkan kepada kami Abdurrahman bin Muhammad al-Qazzaz, dia berkata, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ali bin Tsabit, dia berkata, telah memberitakan kepada kami Ali bin al-Muhsin al-Qadhi, dia berkata, telah menceritakan kepadaku ayahku, dia berkata, telah menceritakan kepadaku Amirul Mukminin Abu al-Fadhl Ja’far bin al-Muktafi billah, dia berkata: Binti Badr, maula al-Mu’tadhid billah, adalah istri Amirul Mukminin al-Muqtadir billah. Dia tinggal bersamanya bertahun-tahun dan dia sangat menghormatinya dan mengutamakannya dengan pengutamaan yang luar biasa. Maka keadaannya menjadi mapan dan ditambah dengan kenikmatan besar yang diwarisinya. Al-Muqtadir terbunuh maka dia selamat dari musibah dan semua harta serta barang berharganya selamat sehingga tidak ada yang hilang darinya. Dia keluar dari rumah. Ada seorang pemuda yang masuk ke dapurnya untuk membawa barang di atas kepalanya yang dikenal dengan nama Muhammad bin Ja’far. Dia pandai sehingga berhasil pada pengurus dapur dengan pelayanannya. Mereka memindahkannya sampai dia menjadi wakil dapur dan urusannya meningkat sampai dia mengurus ladang-ladang dan propertinya serta menguasainya. Maka dia berbicara dengannya dari balik tirai dan di balik pintu atau tirai. Kedekatannya dengannya bertambah sampai dia terpaut di hatinya. Dia memintanya untuk menikah dengannya tetapi dia tidak berani melakukan itu, maka dia memberanikannya dan memberikan harta sampai hal itu terjadi baginya.
Keadaannya telah mapan dengannya dan dia telah memberikan kepadanya ketika dia menginginkan itu darinya harta yang dijadikannya untuk dirinya sendiri sebagai kenikmatan yang nyata agar para walinya tidak mencegahnya darinya karena kemiskinan dan bahwa dia bukan jodoh yang setara. Kemudian dia memberikan hadiah-hadiah besar kepada para hakim sampai mereka menikahkannya dengannya. Para wali keberatan tetapi dia melawan mereka dengan hukum dan uang sehingga hal itu terjadi baginya dan baginya. Dia tinggal bersamanya bertahun-tahun kemudian dia meninggal. Maka dia memperoleh dari hartanya sekitar tiga ratus ribu dinar yang tampak dan tersembunyi dan dia masih hidup sampai sekarang dengan itu.
Ayahku berkata: Aku telah melihat orang ini dan dia adalah seorang syekh yang berakal, saksi yang diterima. Dia mencapai dengan harta sehingga Abu al-Sa’ib al-Qadhi menerimanya sampai dia mengakui di tangannya wakaf-wakaf al-Hurrah dan wasiatnya karena dia berwasiat kepadanya tentang harta-hartanya dan wakaf-wakafnya. Sampai sekarang dia hanya dikenal sebagai suami al-Hurrah. Dia dinamakan al-Hurrah karena pernikahan al-Muqtadir dengannya dan demikianlah kebiasaan para khalifah karena dominasi budak-budak atas mereka; jika mereka memiliki seorang istri, disebut al-Hurrah (perempuan merdeka).
Al-Khatib berkata: Abu Ali bin Syadzaan berkata kepada kami: Muhammad bin Ja’far suami al-Hurrah adalah tetangga kami dan aku mendengar darinya majlis-majlis dari imlaknya. Hadir di majlis haditsnya al-Qadhi al-Jarahi, Abu al-Hasan bin al-Muzhaffar, Abu Umar bin Hayawayh, Abu al-Hasan ad-Daraquthni, dan selain mereka dari para syekh.
Dia meninggal pada bulan Safar tahun tiga ratus tujuh puluh dua dan dikuburkan dekat dengan kubur Ma’ruf al-Karkhi.
Telah mengabarkan kepada kami al-Mubarak bin Ali, dia berkata, telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhammad bin al-Allaf, dia berkata, telah memberitakan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, dia berkata, telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim al-Kindi, dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ja’far al-Khara’ithi, dia berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad, dia berkata, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin ash-Shaif dari Abu Mushar, dia berkata: Wadhdhah al-Yaman tumbuh bersama Umm al-Banin sejak kecil. Dia mencintainya dan dia mencintainya. Dia tidak bisa bersabar tanpanya sampai ketika dia dewasa, dia dijauhkan darinya. Maka penderitaan pun panjang bagi keduanya. Al-Walid bin Abdul Malik melaksanakan haji maka sampai kepadanya kecantikan Umm al-Banin dan keanggunannya. Dia menikahinya dan membawanya ke Syam.
Dia berkata: Akal Wadhdhah hilang karenanya dan dia mulai meleleh dan kurus. Ketika penderitaan panjang baginya, dia pergi ke Syam. Dia mulai berkeliling istana al-Walid bin Abdul Malik setiap hari tidak menemukan jalan keluar sampai suatu hari dia melihat seorang budak perempuan kuning. Dia tidak berhenti sampai akrab dengannya. Dia berkata kepadanya, “Apakah engkau mengenal Umm al-Banin?” Dia berkata, “Sungguh engkau menanyakan tentang nyonyaku.” Dia berkata, “Sesungguhnya dia adalah anak pamanku dan dia pasti akan senang dengan kedudukanku dan tempatku. Seandainya engkau memberitahunya.” Dia berkata, “Aku akan memberitahunya.”
Maka budak perempuan itu pergi dan memberitahu Umm al-Banin. Dia berkata, “Celakalah engkau! Apakah dia masih hidup?” Dia berkata, “Ya.” Dia berkata, “Katakan kepadanya tetaplah di tempatmu sampai utusanku datang kepadamu karena aku tidak akan berhenti mencari akal untukmu.” Maka dia mencari akal sampai memasukkannya kepadanya di dalam peti. Dia tinggal bersamanya beberapa waktu. Jika dia merasa aman, dia mengeluarkannya lalu dia duduk bersamanya dan jika dia takut mata pengawas, dia memasukkannya ke peti. Suatu hari al-Walid bin Abdul Malik dihadiahkan permata. Dia berkata kepada salah seorang pelayannya, “Ambil permata ini dan pergilah dengannya kepada Ummul Mukminin dan katakan kepadanya bahwa ini dihadiahkan kepada Amirul Mukminin maka dia mengirimkannya kepadamu.” Pelayan itu masuk tanpa meminta izin sementara Wadhdhah bersamanya. Dia melihatnya sekilas dan Umm al-Banin tidak menyadari. Dia bergegas ke peti lalu masuk ke dalamnya. Pelayan itu menyampaikan pesan kepadanya dan berkata kepadanya, “Berikanlah kepadaku dari permata ini satu biji.” Dia berkata, “Tidak ada ibu bagimu! Apa yang akan engkau lakukan dengan ini?”
Maka dia keluar sementara dia marah kepadanya. Dia datang kepada al-Walid lalu mengabarkan kepadanya berita itu dan menggambarkan kepadanya peti yang dia lihat dimasukinya. Dia berkata kepadanya, “Engkau berbohong, tidak ada ibu bagimu!” Kemudian al-Walid bangkit tergesa-gesa lalu masuk kepadanya sementara dia berada di ruangan itu dan di dalamnya ada sejumlah peti. Dia datang sampai duduk di atas peti yang digambarkan pelayan kepadanya itu. Dia berkata kepadanya, “Wahai Umm al-Banin, berikanlah kepadaku satu peti dari peti-petimu ini.” Dia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, peti-peti itu dan aku adalah untukmu.” Dia berkata, “Aku tidak menginginkan selain yang di bawahku ini.” Dia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya di dalamnya ada sesuatu dari urusan-urusan perempuan.” Dia berkata, “Aku tidak menginginkan yang lain.” Dia berkata, “Itu untukmu.” Maka dia memerintahkannya untuk diangkat dan memanggil dua budak lalu memerintahkan mereka untuk menggali sumur. Mereka menggali sampai ketika sampai pada air, dia meletakkan mulutnya di atas peti itu dan berkata, “Wahai peti, sesungguhnya telah sampai kepada kami sesuatu tentangmu. Jika itu benar maka kami telah menguburkan beritamu dan menghapus jejakmu, dan jika itu bohong maka tidak ada dosa bagi kami dalam menguburkan peti dari kayu.”
Kemudian dia memerintahkannya untuk dilempar ke dalam lubang itu dan memerintahkan pelayan itu untuk dilempar di tempat itu di atasnya, lalu tanah ditimbun di atas keduanya.
Dia berkata: Umm al-Banin sering ditemukan di tempat itu sedang menangis sampai suatu hari dia ditemukan telungkup di wajahnya dalam keadaan meninggal.
Aku berkata: Al-Mu’afa bin Zakariya telah meriwayatkan kisah ini dan menyebutkan bahwa Khalifah itu adalah Yazid bin Abdul Malik.
Shahdah binti Ahmad memberitakan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad bin as-Sarraj memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Ali Muhammad bin al-Husain al-Jaziri memberitakan kepada kami, ia berkata: al-Mu’afa bin Zakariya menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Ahmad al-Khatali menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Hafs an-Nasa’i menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Hayyan bin Shadaqah menceritakan kepadaku dari Muhammad bin Abi as-Sirri dari Hisham bin Muhammad bin as-Sa’ib, ia berkata: Ummu al-Banin berada di sisi Yazid bin Abdul Malik bin Marwan dan ia memiliki kedudukan istimewa di hatinya. Ia berkata: Didatangkan kepadanya dari wilayah Mesir perhiasan yang memiliki nilai dan harga tinggi.
Ia berkata: Ia memanggil seorang kasimnya lalu berkata: Bawalah ini kepada Ummu al-Banin dan katakan kepadanya bahwa ini baru saja datang dan aku mengirimkannya untukmu. Ia berkata: Pelayan itu mendatanginya dan menemukan di sisinya Wadhdhah al-Yaman, yang merupakan salah satu orang Arab yang paling tampan dan paling rupawan. Ummu al-Banin jatuh cinta kepadanya dan memasukkannya ke tempatnya, sehingga ia berada di sisinya. Jika ia merasakan Yazid bin Abdul Malik akan masuk menemuinya, ia memasukkannya ke dalam salah satu peti penyimpanannya. Pelayan itu melihatnya dan melihat peti yang ia masuki, lalu ia meletakkan perhiasan di hadapannya dan menyampaikan pesan Yazid, kemudian berkata: Wahai tuanku, berikanlah kepadaku sebutir mutiara darinya. Ia berkata: Tidak, dan tidak akan pernah.
Maka pelayan itu marah dan datang kepada tuannya lalu berkata: Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya aku masuk menemuinya dan di sisinya ada seorang laki-laki. Ketika ia melihatku, ia memasukkannya ke dalam sebuah peti, dan ia berada dalam peti yang ciri-cirinya begini dan begini, yaitu peti yang ketiga atau keempat. Yazid berkata kepadanya: Engkau berdusta, wahai musuh Allah, penggallah lehernya! Maka mereka memenggal lehernya dan menyingkirkannya darinya.
Ia berkata: Kemudian ia menunggu sebentar, lalu berdiri, memakai sandalnya, dan masuk menemui Ummu al-Banin. Ia sedang menyisir rambutnya di ruang penyimpanannya. Ia datang hingga duduk di atas peti yang telah digambarkan oleh pelayan kepadanya. Lalu ia berkata: Wahai Ummu al-Banin, betapa engkau menyukai ruangan ini. Ia berkata: Wahai Amirul Mukminin, aku memasukinya untuk keperluanku dan di dalamnya ada penyimpananku, sehingga apa yang aku inginkan dapat kuambil dengan dekat. Ia berkata: Lalu apa yang ada di dalam peti-peti yang kulihat ini? Ia berkata: Perhiasan dan barang-barangku. Ia berkata: Berikanlah kepadaku satu peti. Ia berkata: Semuanya, wahai Amirul Mukminin, untukmu. Ia berkata: Aku tidak menginginkan kecuali satu, dan aku akan memberimu seberat timbangannya dan seberat timbangan isinya emas. Ia berkata: Ambillah yang engkau kehendaki. Ia berkata: Yang ini yang di bawahku. Ia berkata: Wahai Amirul Mukminin, beralihlah dari yang ini dan ambillah yang lain, karena di dalamnya ada sesuatu yang berkaitan dengan cintaku. Ia berkata: Aku tidak menginginkan yang lain. Maka ia berkata: Itu untukmu.
Ia berkata: Maka ia mengambilnya dan memanggil para pengatur kasur, lalu mereka mengangkat peti itu. Ia pergi dengannya ke tempat duduknya, lalu duduk dan tidak membukanya serta tidak melihat apa yang ada di dalamnya. Ketika malam tiba, ia memanggil seorang budaknya yang Ajam, lalu berkata kepadanya: Upahkanlah pekerja-pekerja asing yang bukan dari penduduk negeri ini. Ia berkata: Maka ia datang kepadanya dengan mereka, dan ia memerintahkan mereka, lalu mereka menggali lubang untuknya di tempat duduknya hingga mencapai air. Kemudian ia berkata: Dekatkanlah peti itu kepadaku. Maka ia melemparkannya ke dalam lubang itu, kemudian ia meletakkan mulutnya di tepinya dan berkata: Wahai orang ini, telah sampai kepada kami berita tentangmu. Jika itu benar, maka kami telah memutus jejaknya, dan jika itu dusta, maka sesungguhnya kami hanya menguburkan kayu. Kemudian mereka menutupinya dengan tanah hingga rata.
Ia berkata: Maka Wadhdhah al-Yaman tidak terlihat lagi hingga saat ini.
Ia berkata: Demi Allah, tidak tampak baginya di wajahnya, tidak dalam perangainya, dan tidak dalam hal apapun hingga kematian memisahkan antara keduanya.
Muhammad bin Nashir memberitakan kepada kami, ia berkata: al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Huwayyih memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Khalaf memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakr an-Nasa’i memberitakan kepadaku, ia berkata: Ali bin Muhammad bin Sulaiman al-Maushili memberitakan kepadiku, ia berkata: Seorang laki-laki yang ia sebutkan namanya memberitakan kepadaku, aku kira ia menyebut Muhammad bin Ishaq, ia berkata:
Luqman bin ‘Ad adalah salah seorang yang paling kuat dan paling tangguh dari kaumnya. Mereka berkata kepadanya: Seandainya engkau menikah, maka keturunanmu akan tetap ada di ‘Ad. Ia berkata: Sesungguhnya aku tidak menyukai wanita. Namun mereka terus mendesaknya hingga ia menikahi seorang wanita dari Mina. Kemudian ia membangun sebuah rumah yang tinggi dan membuat pintu di bagian bawahnya. Ia tinggal di bagian atasnya bersama istrinya dan memasang tali pada genta, sehingga jika ada yang datang menginginkannya, ia menggerakkan genta agar istrinya tidak mendengar suara laki-laki. Istrinya melahirkan seorang anak perempuan untuknya.
Seorang pemuda dari ‘Ad berkata kepada kaumnya: Aku ingin melihat istri Luqman bin ‘Ad. Mereka mencegahnya dari hal itu. Ia berkata: Demi Allah, jika aku tidak melihatnya, aku akan mendatangkan atas ‘Ad sesuatu yang akan menyebabkan kehancuran ‘Ad. Ia berkata: Maka mereka mengumpulkan pedang-pedang dan senjata, lalu memasukkannya ke dalam ikatan di antaranya, kemudian mereka mendatangi Luqman dan berkata: Sesungguhnya kami ingin pergi mencari padang rumput kami dan kami ingin menitipkan senjata kami kepadamu. Maka mereka memberikannya kepadanya, ia naik dengannya dan meletakkannya di sisinya. Kaum itu kembali dan mengambil pedang-pedang mereka setelah beberapa hari.
Sementara Luqman bersama istrinya, tiba-tiba ia melihat dahak di langit-langit rumahnya, lalu berkata: Siapa yang meludahkan ini? Ia berkata: Aku. Ia berkata: Apakah sambil berdiri atau berbaring? Ia berkata: Sambil berdiri. Ia berkata: Kalau begitu meludahlah. Maka ia meludah tetapi tidak sampai. Ia berkata: Pedang-pedang telah memperdayaku, yang kemudian menjadi peribahasa. Ia berkata: Maka ia membunuhnya dan turun, lalu menemui putrinya dan membunuhnya. Kemudian ia mendatangi kaumnya dan berkata: Demi Allah, kalian harus jujur kepadaku. Maka mereka jujur kepadanya. Ia berkata: Bawalah pemuda itu kepadaku. Pemuda itu ketakutan dan bergabung dengan binatang-binatang liar, ia berlindung bersama mereka. Maka Luqman menahan diri dari kaumnya ketika sampai kepadanya berita tentang pemuda itu.
Dikatakan kepadanya tentang pembunuhan anak perempuan itu: Apa dosanya dan mengapa engkau membunuhnya? Ia berkata: Sesungguhnya ia dari golongan wanita. Kisah ini telah diriwayatkan kepada kami lebih lengkap dari ini.
Shahdah binti Ahmad memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad bin as-Sarraj memberitakan kepada kami, ia berkata: al-Qadhi Abu Abdullah Muhammad bin Salamah al-Qudha’i memberitakan kepada kami, dan aku bertemu dengannya di kota Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata: Abu Muslim al-Katib memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Durayd memberitakan kepada kami, ia berkata: al-‘Ukli menceritakan kepada kami dari Ibnu Abi Khalid dari al-Haitham dari Mujalid dari asy-Sya’bi, ia berkata: Luqman bin ‘Ad bin ‘Adiya adalah orang yang berumur panjang selama tujuh ekor elang, yang diuji dengan perempuan. Ia biasa menikahi seorang wanita lalu ia mengkhianatinya, hingga ia menikahi seorang gadis kecil yang belum mengenal laki-laki. Kemudian ia menggali untuknya sebuah rumah di lereng gunung dan membuat untuknya tangga dengan rantai yang ia turun dan naik dengannya. Jika ia keluar, rantai itu diangkat. Hingga seorang pemuda dari bangsa Amaliq tertarik kepadanya, maka ia jatuh dalam hatinya. Ia mendatangi saudara-saudara ayahnya dan berkata: Demi Allah, aku akan mendatangkan atas kalian peperangan yang tidak akan kalian sanggup. Mereka berkata: Apa itu? Ia berkata: Istri Luqman bin ‘Ad adalah orang yang paling kucintai.
Mereka berkata: Bagaimana kami akan menyiasatinya? Ia berkata: Kumpulkanlah pedang-pedang kalian, kemudian letakkan aku di antaranya dan ikatlah menjadi ikatan yang besar. Kemudian datangilah Luqman dan katakan kepadanya bahwa kami ingin bepergian dan kami menitipkan pedang-pedang kami kepadamu hingga kami kembali, dan sebutkan hari tertentu untuknya.
Maka mereka melakukannya dan datang dengan pedang-pedang itu, lalu menyerahkannya kepada Luqman. Ia meletakkannya di sudut rumahnya dan Luqman keluar. Laki-laki itu bergerak, maka gadis itu melepaskannya. Ia biasa mendatanginya, dan jika ia merasakan Luqman, ia meletakkannya di antara pedang-pedang hingga habis hari-hari itu.
Kemudian mereka datang kepada Luqman dan mengambil kembali pedang-pedang mereka. Luqman mengangkat kepalanya setelah itu, tiba-tiba ada dahak yang menggantung di langit-langit. Ia berkata kepada istrinya: Siapa yang meludahkan ini? Ia berkata: Aku. Ia berkata: Kalau begitu meludahlah. Ia melakukannya tetapi tidak berhasil. Ia berkata: Celakalah aku, pedang-pedang telah memperdayaku. Kemudian ia melemparkannya dari puncak gunung, maka ia terpenggal-penggal. Ia turun dengan marah, tiba-tiba ada putrinya yang bernama Shakhar. Ia berkata kepadanya: Wahai ayahku, apa yang terjadi denganmu? Ia berkata: Dan engkau juga dari golongan wanita. Maka ia memukulkan kepalanya dengan batu dan membunuhnya. Maka orang Arab berkata: Tidak berdosa kecuali dosa Shakhar, yang kemudian menjadi peribahasa.
Muhammad bin Abi Manshur memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdul Muhsin bin Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Manshur Muhammad bin Ali al-Wasithi menceritakan kepadaku, ia berkata: al-Amir Muntakhab al-Mulk menceritakan kepadaku, ia berkata: Ibnu al-Maghribi bersembunyi di Kairo dan Sultan menginginkan darahnya. Di Mesir ada seorang anak muda yang tampan yang kecantikannya mencapai puncak pada zamannya. Ia ingin melihatnya, lalu diberitahukan kepadanya bahwa anak itu berenang di kanal. Maka ia keluar dan mempertaruhkan nyawanya, lalu melihatnya. Ia berkata:
Aku mengetahui bahasa kedua alisnya, sementara perpisahan mengembangkan dua benderanya Aku mengenali jejak kenikmatan dengan ciuman di kedua pipinya Inilah aku telah rela dari kehidupan seluruhnya, pandanganku kepadanya Dan sungguh aku melihatnya di kanal membelahnya dari kedua sisinya Dan ombak seperti pedang, dan ia adalah kilaunya di dua permukaannya Janganlah kalian minum dari airnya selamanya dan janganlah kalian datang kepadanya Sungguh telah larut di dalamnya sihir dalam gerakan-gerakannya dari kedua pipinya Maka seakan-akan ia di dalam ombak adalah hatiku di antara kerinduanku kepadanya
Bab Keempat Puluh Satu: Tentang Mereka yang Dijadikan Peribahasa dalam Cinta
Yang paling terkenal di antara mereka adalah Majnun Laila.
Ia memiliki banyak kisah dan banyak syair, dan aku hanya memilih yang terbaik di antaranya.
Para ahli nasab berbeda pendapat tentang namanya dan nasabnya.
Muhammad bin Nashir memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Muhammad al-Bukhari memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad al-Hasan bin Ali al-Jauhari memberitakan kepada kami.
Dan Ibnu Nashir memberitakan kepada kami, ia berkata: al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu al-Qasim Ali bin al-Muhsin at-Tanukhi memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Umar bin Huwayyih memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Khalaf menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Dab berkata dari Rabah bin Habib al-‘Amiri, ia berkata: Ia adalah Qais bin al-Mulawwah bin Muzahim.
Abu ‘Ubaidah berkata: Ia adalah al-Bakhtari bin al-Ja’di.
Abu ‘Amr asy-Syaibani berkata: Abu Bakr al-Walibi memberitakan kepadaku dari sebagian keturunan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ia adalah Qais bin Mu’adh al-‘Uqaili.
Abu al-‘Aliyah berkata: Ia adalah al-Aqra’ bin Mu’adh.
Muhammad bin Abdul Baqi memberitakan kepada kami, ia berkata: Ali bin al-Muhsin memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Huwayyih memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Khalaf memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Harb memberitakan kepadiku, ia berkata: Ibnu Abi Karim memberitakan kepadiku, ia berkata: Abu Qilabah al-‘Amiri memberitakan kepada kami dari al-Qasim bin Suwaid al-Harami, ia berkata: Di Bani ‘Amir ada tiga orang gila: Mu’adh Laila, dan ia adalah Mu’adh bin Kulaib salah seorang dari Bani ‘Amir bin ‘Ubaid, dan Qais bin Mu’adh, dan Mahdi bin al-Mulawwah al-Ja’di.
Adapun Laila, mereka berbeda pendapat tentang nasabnya. Sebagian berkata: Laila binti Mahdi.
Sebagian berkata: Laila binti Ward dari Bani Rabi’ah.
Tentang kuniahnya ada dua pendapat: Pertama Ummu Malik, dan demikianlah Majnun memanggilnya dalam syairnya. Yang kedua Ummu al-Khalil.
Awal Perkenalan Majnun dengan Laila
Mereka berbeda pendapat tentang hal itu.
Muhammad bin Nashir memberitakan kepada kami, ia berkata: al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitakan kepada kami.
Dan Shahdah binti Ahmad memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad bin as-Sarraj memberitakan kepada kami, mereka berdua berkata: Ali bin al-Muhsin at-Tanukhi memberitakan kepada kami.
Dan Ibnu Nashir memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Muhammad al-Bukhari memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad al-Jauhari memberitakan kepada kami, mereka berdua berkata: Ibnu Huwayyih memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Khalaf menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad bin al-Balkhi memberitakan kepadiku, ia berkata: Abdul Aziz bin Shalih memberitakan kepadiku dari ayahnya dari Ibnu Dab, ia berkata: Seorang laki-laki dari Bani ‘Amir yang bernama Rabah bin Habib menceritakan kepadaku, ia berkata: Di Bani ‘Amir ada seorang gadis yang termasuk wanita tercantik, memiliki akal dan adab, namanya Laila binti Mahdi. Kabar tentangnya sampai kepada Majnun, tentang kecantikan, akal, dan adabnya. Ia adalah orang yang terpesona dengan berbincang dengan wanita. Maka ia menuju pakaian terbaiknya, memakainya, dan berhias. Ketika ia duduk di sisinya dan berbincang di hadapannya, ia kagum kepadanya dan jatuh di hatinya.
Ia menghabiskan harinya berbincang dengannya dan ia berbincang dengannya hingga sore, lalu kembali kepada keluarganya. Ia bermalam dengan malam yang sangat panjang hingga ketika pagi tiba, ia pergi kepadanya dan tidak meninggalkannya hingga sore, kemudian kembali. Ia bermalam lebih panjang dari malam pertamanya dan berusaha keras untuk memejamkan mata tetapi tidak mampu melakukannya. Maka ia mulai berkata:
Siang hariku adalah siang orang-orang, hingga ketika malam muncul bagiku, tempat tidur menggoncangku kepadamu Aku menghabiskan siangku dengan perbincangan dan harapan, dan malam mengumpulkanku dengan kesedihan yang mengumpulkan
Dan ia terus mengunjunginya dan meninggalkan kedatangan kepada setiap orang yang biasa ia kunjungi.
Maka jatuh di hatinya seperti yang jatuh di hatinya. Ia datang suatu hari berbincang dengannya, lalu ia mulai berpaling darinya dan menghadap kepada yang lain, ingin mengujinya dan mengetahui apa yang ada di hatinya. Ketika ia melihat itu darinya, hal itu sangat berat baginya dan ia keluar. Ketika ia khawatir atasnya, ia menghadap kepadanya dan berkata:
Kami berdua menampakkan kepada orang-orang kebencian, sementara masing-masing di sisi temannya kokoh
Maka ia merasa lega dengan hal itu. Ia berkata: Sesungguhnya aku hanya ingin mengujimu, dan yang ada padaku untukmu lebih banyak daripada yang ada padamu untukku. Dan aku memberikan kepada Allah janji bahwa jika aku duduk setelah hariku ini dengan seorang laki-laki selain engkau hingga aku merasakan kematian, kecuali jika aku dipaksa untuk itu.
Maka ia kembali dan ia adalah orang yang paling bahagia. Ia mulai berkata:
Aku mengira cintanya meninggalkanku di tempat sesat dari bumi, tidak ada harta bagiku dan tidak ada keluarga Dan tidak ada seorang pun yang aku sampaikan kepadanya wasiatku, dan tidak ada pewaris kecuali kendaraan dan pelana Cintanya menghapus cinta kepada mereka yang sebelumnya, dan ia menempati tempat yang tidak pernah ditempati sebelumnya
Aku berkata: Kami telah menyebutkan dalam kisah ini perkataannya “menggoncangku kepadamu tempat tidur” (hazatni ilaika al-madhaji’) dan tidak diriwayatkan kepada kami kecuali dengan huruf za, dan kami tidak mendengar seorang pun menyebutkannya kecuali demikian.
Kemudian kami melihat al-Fath bin Jinni menyebutkannya dengan huruf ra, ia berkata: “haratni ilaika al-madhaji'” (tempat tidur membuatku muak kepadamu). Ia berkata: Dan huruf za adalah kesalahan bagi mereka. Ia berkata: Dikatakan “harra asy-syai’u yahurru wa yahurruhu” jika ia membencinya, maka makna “haratni” adalah membuatku muak sehingga aku tidak betah.
Aku berkata: Dan tentang awal perkenalan mereka ada pendapat lain.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Muhammad al-Bukhari, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad al-Jauhari. Dan telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin al-Muhsin, keduanya berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Umar bin Huwayyih, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf, ia berkata: al-Umari berkata dari Laqith bin Bukair al-Muharibi bahwa Majnun jatuh cinta kepada Laila sejak masa kanak-kanak, dan itu terjadi karena keduanya masih kecil menggembalakan kambing-kambing untuk kaum mereka, maka masing-masing dari mereka jatuh cinta pada yang lain, kecuali bahwa Majnun lebih banyak (perasaannya).
Mereka terus dalam keadaan seperti itu hingga keduanya tumbuh dewasa. Ketika urusan mereka diketahui, Laila pun disembunyikan darinya, maka hilanglah akalnya. Tentang hal itu ia berkata:
Aku jatuh cinta pada Laila saat ia masih berkepang Belum tampak bagi teman-teman sebaya payudaranya yang menonjol Kami berdua kecil menggembalakan kambing, alangkah baiknya jika Hingga hari ini kami tidak besar dan kambing-kambing pun tidak besar
Telah mengabarkan kepada kami Shahdah binti Ahmad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar al-Ardastani, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Abdurrahman al-Sulami, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sa’id, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’id, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abbas al-Tarqafi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Amru, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin Ali, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Ghiyats al-Bashri dari Ibrahim bin Muhammad al-Syafi’i, ia berkata: ketika Ibnu Abi Mulaikah sedang mengumandangkan adzan, tiba-tiba ia mendengar al-Akhdar al-Jaddi bernyanyi di rumah al-Ash bin Wa’il dan berkata:
Kami berdua kecil menggembalakan kambing, alangkah baiknya jika Hingga sekarang kami tidak besar dan kambing-kambing pun tidak besar
Ia berkata: maka ia mempercepat adzannya, dan ketika hendak mengucapkan “hayya ‘ala al-shalah” (marilah ke shalat), ia malah mengucapkan “hayya ‘ala al-bahm” (marilah ke kambing) hingga penduduk Makkah mendengarnya, lalu ia datang meminta maaf kepada mereka.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Qasim al-Tanukhi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Huwayyih, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Khalaf, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Amru, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Yahya bin Abi Jabir, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Rabi’ah bin Abdul Hamid, ia berkata: Majnun adalah dari keturunan Abu Bakar bin Kilab. Telah berlalu suatu masa yang lama ia tidak mengenal Laila, kemudian ia jatuh cinta padanya lalu melamarnya tetapi mereka tidak mau menikahkannya. Maka keadaannya menjadi parah, perasaannya bertambah dan urusannya tersebar di kalangan manusia. Sepupu laki-lakinya menemuinya lalu berkata: wahai saudaraku, bertakwalah kepada Allah terhadap dirimu, sesungguhnya keadaan yang kamu alami ini adalah perbuatan setan, maka usir dia darimu. Lalu ia mulai berkata:
Alangkah baiknya perbuatan setan Jika mencintainya termasuk perbuatan setan Jiwaku mengharapkannya hingga membahayakannya Dan menimbulkan watak karena apa yang kuharapkan darinya
Ibnu Khalaf berkata: Abu Ubaidah berkata: Majnun biasa duduk di perkumpulan kaumnya sementara mereka berbincang-bincang. Sebagian orang menghadap kepadanya dan berbicara dengannya sementara ia terpana menatapnya dan tidak memahami apa yang diceritakan kepadanya. Kemudian akalnya kembali lalu ia bertanya tentang pembicaraan tersebut tetapi tidak mengenalinya. Suatu kali salah seorang keluarganya menceritakan suatu cerita kepadanya, kemudian keesokan harinya ia bertanya kepadanya tentang cerita itu tetapi ia tidak mengenalinya, maka orang itu berkata: sesungguhnya kamu itu gila. Lalu ia berkata:
Sesungguhnya aku duduk di perkumpulan berbincang dengan mereka Lalu aku tersadar dan hantu telah mencelakakanku Pembicaraan jiwa membawa hatiku meninggalkan kalian Hingga temanku berkata: kamu itu gila
Abu Ubaidah berkata: urusan bertambah parah padanya hingga ia kehilangan akalnya. Ia tidak bisa tinggal di satu tempat, tidak ada kendaraan yang menampungnya, dan tidak ada pakaian yang menutupinya kecuali ia akan merobeknya. Ia menjadi tidak memahami apa pun yang dibicarakan kepadanya kecuali jika Laila disebutkan, maka ketika ia disebutkan, ia akan menjawab panggilan itu dan akalnya kembali.
Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin al-Muhsin, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Huwayyih, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf, ia berkata: Rabbah bin Habib meriwayatkan dari seorang laki-laki dari Bani Amir, ia berkata: ketika penyebutan Majnun terhadap Laila semakin banyak dan urusannya semakin terkenal, berkumpullah kepada ayahnya keluarganya, dan ia adalah seorang pemimpin. Mereka berkata kepadanya: nikahkan Qais, karena ia akan berhenti menyebut-nyebut Laila dan melupakannya. Ayahnya menawarkan kepadanya untuk menikah tetapi ia menolak dan berkata: aku tidak memerlukan itu. Salah seorang pemuda kaum itu yang dulu iri dan memusuhi Qais datang kepada Laila lalu mengabarkan kepadanya bahwa ia akan menikah.
Majnun datang sebagaimana biasanya ia datang, lalu Laila menyembunyikan diri darinya dan tidak menampakkan diri kepadanya. Ia pun kembali sambil berkata:
Demi Allah aku tidak tahu mengapa kamu menjauhi aku Dan urusan apa darinya, wahai Laila, yang harus aku lakukan Apakah aku memutuskan tali persahabatan sedangkan kematian ada di hadapannya Ataukah aku minum keruh dari kalian yang tidak diminum Ataukah aku lari hingga tidak terlihat tetanggaku Ataukah aku berbuat apa, atau aku ungkapkan lalu aku dikalahkan Demi Allah aku tidak tahu padahal aku bersungguh-sungguh Aku memikirkan apa kesalahanku kepadanya lalu aku heran
Ia berkata: ucapannya sampai kepada Laila, maka ia mulai berkata: sungguh benar Qais ketika ia berkata:
Barangsiapa mentaati para pengadu, mereka tidak akan meninggalkan baginya Seorang teman walaupun ia adalah kekasih yang dekat
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abi Manshur, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Muhammad al-Bukhari. Dan telah mengabarkan kepada kami Shahdah, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad bin al-Sarraj, keduanya berkata: telah memberitakan kepada kami al-Hasan bin Ali al-Jauhari, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Huwayyih, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf, ia berkata: Abu Amru al-Syaibani berkata: ketika yang tampak dari Majnun itu tampak dan kaumnya melihat apa yang menimpanya, kaumnya berkumpul kepada ayahnya dan berkata: wahai engkau, sungguh kamu melihat apa yang menimpa anakmu, seandainya kamu membawanya keluar ke Makkah lalu ia berdoa di Baitullah dan mengunjungi makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdoa kepada Allah Azza wa Jalla, kami berharap akalnya akan kembali dan Allah Ta’ala akan menyembuhkannya. Ayahnya keluar hingga sampai di Makkah, lalu ia membawa anaknya tawaf dan berdoa kepada Allah untuk kesembuhannya, sementara ia berkata:
Para muhrim berdoa kepada Allah memohon ampunan-Nya Di Makkah dan di sini agar dosa-dosa mereka terhapus Aku menyeru: wahai Tuhan, permintaanku yang pertama Untuk diriku adalah Laila, kemudian Engkau yang akan menghitungnya Jika aku diberi Laila dalam hidupku, tidak akan bertobat Kepada Allah seorang makhluk dengan tobat yang tidak akan aku tobati
Hingga ketika ia berada di Mina, seorang penyeru menyeru dari salah satu kemah itu: wahai Laila! Maka Qais jatuh pingsan, orang-orang berkumpul di sekelilingnya dan memercikkan air ke wajahnya, sementara ayahnya menangis di dekat kepalanya. Kemudian ia sadar sambil berkata:
Seorang penyeru menyeru ketika kami di Khaif dari Mina Lalu mengguncang ujung-ujung hati padahal ia tidak tahu Ia menyeru dengan nama Laila yang lain, seolah-olah Ia menerbangkan dengan Laila seekor burung yang ada di dadaku
Telah mengabarkan kepada kami Shahdah, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Ja’far bin Ahmad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad al-Jauhari, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Abbas, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf, ia berkata: Muhammad bin Habib menyebutkan dari Hisyam bin Muhammad al-Kalbi dan Ghaits al-Bahili dan Abu Amru al-Syaibani dari Ibnu Da’b dari Rabbah, ia berkata: telah menceritakan kepadaku sebagian para syaikh, ia berkata: aku keluar berhaji hingga ketika aku berada di Mina, tiba-tiba ada sekelompok orang di atas salah satu gunung dari gunung-gunung itu, lalu aku naik kepada mereka, tiba-tiba di antara mereka ada seorang pemuda berkulit putih, tampan wajahnya, telah terkena warna kuning dan badannya kurus, sementara mereka memegangnya.
Aku bertanya kepada mereka tentang dirinya, mereka berkata: ini adalah Qais yang dipanggil Majnun. Ayahnya membawanya keluar karena yang menimpanya, memohon pertolongan untuknya di Baitullah al-Haram dan makam Muhammad ‘alaihi afdhalush shalati was salam, semoga Allah menyembuhkannya.
Aku berkata kepada mereka: mengapa kalian memegangnya? Mereka berkata: kami khawatir ia akan mencelakai dirinya yang akan membinasakan dirinya. Ia berkata: sementara ia berkata kepada mereka: biarkanlah aku menghirup angin Najd. Salah seorang dari mereka berkata kepadaku: ia tidak mengenalmu, seandainya kamu mau mendekatinya lalu mengabarkan kepadanya bahwa kamu telah datang dari Najd dan mengabarinya tentang Najd. Aku berkata: baiklah, aku akan melakukannya. Lalu aku mendekatinya, mereka berkata: wahai Qais, ini adalah seorang laki-laki yang datang dari Najd. Ia berkata: maka ia menghela napas hingga aku mengira hatinya telah pecah. Kemudian ia mulai bertanya kepadaku tentang tempat demi tempat dan lembah demi lembah, sementara aku mengabarinya dan ia menangis. Kemudian ia mulai berkata:
Alangkah baiknya Najd dan harumnya tanahnya Dan angin-anginnya jika Najd masih dalam keadaan seperti dulu Alangkah baiknya jika aku tahu tentang dua gunung yang miring di Qana Dengan panjangnya malam, apakah keduanya berubah setelahku Dan tentang dua tetangga kami di Butail hingga Hima Dalam keadaan kami seperti dulu, ataukah keduanya tidak tetap dalam keadaan dulu Dan tentang angin-angin yang tinggi ketika berhembus Dengan aroma lavender, apakah berhembus ke Najd Dan tentang chamomile pasir apa yang ia lakukan Jika ia subur semalam dengan hujan deras
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abi Manshur, ia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin al-Muhsin, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Umar bin Huwayyih, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf, ia berkata: Muhammad bin Ziyad bin al-A’rabi berkata: ketika Majnun menggubah puisi untuk Laila dan terkenal dengan cintanya, keluarga Laila berkumpul kepadanya lalu melarangnya berbincang-bincang dengannya dan mengunjunginya, dan mereka mengancamnya dengan pembunuhan. Ia biasa datang kepada seorang perempuan yang memberinya kabar tentang Laila, tetapi mereka melarang perempuan itu dari hal itu. Maka ia biasa datang pada waktu lengah kaum itu di malam hari.
Ketika hal itu sering terjadi, ayah Laila keluar bersama beberapa orang dari kaumnya menemui Marwan bin al-Hakam, lalu mereka mengadu kepadanya apa yang mereka terima dari Qais bin al-Muluh dan memintanya menulis surat kepada gubernurnya atas mereka agar melarangnya berbicara dengan Laila.
Maka Marwan menulis untuk mereka surat kepada gubernurnya memerintahkannya agar menghadirkan Qais dan memberitahunya untuk meninggalkan kunjungan kepada Laila. Jika keluarganya mendapatinya di tempat mereka, maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan darahnya.
Ketika surat itu sampai kepada gubernurnya, ia mengutus kepada Qais, ayahnya, dan keluarganya, lalu ia mengumpulkan mereka dan membacakan kepada mereka surat Marwan. Ia berkata kepada Qais: bertakwalah kepada Allah terhadap dirimu, jangan sampai darahmu sia-sia. Maka Qais pergi sambil berkata:
Laila disembunyikan dan pemimpinnya bersumpah Kepadaku dengan sumpah yang sungguh-sungguh agar aku tidak mengunjunginya Dan mengancamku tentangnya beberapa laki-laki yang ayah mereka Adalah ayahku dan ayahnya yang telah mengasarkan dadanya kepadaku Bukan karena sesuatu kecuali bahwa aku mencintainya Dan bahwa hatiku di sisi Laila menjadi tawanannya
Ketika ia putus asa darinya dan mengetahui bahwa tidak ada jalan kepadanya, ia menjadi seperti orang yang akalnya hilang, ia menyukai kesendirian dan berbicara sendiri. Urusannya bertambah parah hingga akalnya hilang, ia bermain dengan kerikil dan tanah, dan ia tidak mengenali apa pun kecuali menyebutnya dan mengatakan puisi untuknya. Berita tentang keadaan Qais sampai kepada Laila, maka ia pun sedih karena perpisahan dengannya dan sangat menderita.
Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin al-Muhsin, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Ibnu Huwayyih, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Khalaf, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Muhammad, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Mu’adz al-Numairi bahwa Marwan bin al-Hakam mengangkat seorang laki-laki dari Qais atas sedekah-sedekah Ka’b bin Rabi’ah bin Amir, dan mereka adalah Qais, al-Harisy, dan Ja’dah. Ia mendengar berita tentang Qais bin Mu’adz dan ia adalah Majnun Bani Amir, maka ia memerintahkan agar ia didatangkan. Ia pun didatangkan, lalu ia bertanya kepadanya tentang keadaannya dan memintanya membaca puisi, maka ia membacakannya puisi. Ia kagum padanya dan berkata kepadanya: tetaplah bersamaku, karena kamu akan aku usahakan dalam urusan Laila hingga aku mengumpulkan antara kamu dan dia. Ia pun tetap bersamanya dan biasa datang kepadanya lalu berbincang-bincang dengannya.
Bani Amir memiliki tempat pertemuan yang mereka kumpuli setiap tahun, dan gubernur keluar bersama mereka ke tempat pertemuan itu agar tidak terjadi perselisihan di antara mereka. Ketika waktu itu hadir, Qais berkata kepada gubernur: apakah kamu mengizinkanku keluar bersamamu ke tempat pertemuan ini? Ia pun mengizinkannya.
Ketika ia bertekad untuk keluar, datanglah kepadanya orang-orang dari kerabat Qais, mereka berkata kepadanya: sesungguhnya ia meminta keluar bersamamu hanya agar ia melihat Laila dan berbicara dengannya, padahal sebagian keluarganya telah mengadu tentangnya dan penguasa telah menghalalkan darah mereka jika ia mendatangi mereka. Ketika mereka berkata demikian kepadanya, ia melarangnya keluar bersamanya dan memerintahkan untuknya beberapa ekor unta betina muda dari unta sedekah, tetapi ia mengembalikannya dan menolak menerimanya, lalu ia mulai berkata:
Aku mengembalikan unta-unta betina orang Quraisy ketika Tampak bagiku pengingkaran darinya terhadap janji Mereka berusaha untuk pertemuan itu dan meninggalkanku Kepada kesedihan yang aku hadapi yang sangat berat
Ketika Qais bin Mu’adz mengetahui bahwa ia telah dilarang dan tidak ada jalan kepadanya, hilanglah akalnya. Ia menjadi tidak mengenakan pakaian kecuali ia akan merobeknya, dan ia berkeliaran tanpa arah dengan telanjang, tidak berakal terhadap apa pun yang dibicarakan kepadanya, dan tidak shalat. Ketika ayahnya melihat apa yang ia perbuat terhadap dirinya, ia khawatir atas kebinasaannya, maka ia mengurungnya dan membelenggunya. Ia lalu memakan dagingnya sendiri dan memukul dirinya ke tanah. Ketika ayahnya melihat itu, ia melepas belenggunya dan membebaskannya. Ia lalu berkeliling di padang-padang mereka dengan telanjang, bermain dengan tanah. Ia memiliki seorang pengasuh perempuan, ia tidak merasa dekat dengan siapa pun selain dia. Perempuan itu biasa datang kepadanya setiap hari dengan sepotong roti dan air, lalu meletakkannya di hadapannya. Terkadang ia memakannya dan terkadang ia meninggalkannya dan tidak memakannya.
Shahdah binti Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad as-Sarraj mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Umar al-Barmaki memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin al-Abbas bin Hayawayh memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Khalaf menceritakan kepada kami, ia berkata: Zakariya bin Musa menceritakan kepada kami, ia berkata: Syu’aib bin as-Sakan menceritakan kepadaku dari Yunus an-Nahwi, ia berkata: Ketika Qais bin al-Mulawwah menjadi kacau dan akalnya hilang serta menolak makan dan minum, ibunya mendatangi Laila lalu berkata kepadanya: Sesungguhnya anakku telah gila karenamu dan cintanya telah menghilangkan akalnya, dan ia telah menolak makanan dan minuman. Jika engkau berkenan untuk pergi bersamaku menemuinya, mungkin jika ia melihatmu, sebagian penderitaannya akan mereda. Laila berkata kepadanya: Adapun di siang hari, aku tidak bisa melakukan itu, karena jika penduduk kampung mengetahui hal itu, aku tidak merasa aman dari mereka atas diriku. Namun aku akan mendatanginya di malam hari.
Ketika malam tiba, ia mendatanginya sementara dia sedang menunduk mengigau. Laila berkata kepadanya: Wahai Qais, sesungguhnya ibumu menyangka bahwa engkau menjadi gila karenaku dan apa yang menimpamu telah terjadi. Qais pun mengangkat kepalanya dan memandangnya serta menghela napas panjang, lalu mulai berkata:
Ia berkata: Engkau gila karenaku, maka aku katakan kepadanya … Cinta lebih besar daripada apa yang ada pada orang-orang gila Cinta tidak akan sembuh selamanya penderitanya … Dan sesungguhnya orang gila itu hanya akan jatuh tersungkur pada suatu waktu
Dan dalam riwayat lain ada tambahan:
Seandainya engkau tahu ketika engkau tidak ada, betapa sakitnya aku … Dan bagaimana mataku terjaga, mereka tidak mencaci aku
Ibnu Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, dan Shahdah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu as-Sarraj memberitakan kepada kami, keduanya berkata: Ali bin al-Muhsin memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Hayawayh memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Khalaf menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ishaq menceritakan kepadaku, ia berkata: Ibnu Aisyah menceritakan kepadaku dari ayahnya, ia berkata: Naufal bin Musahiq mengelola sedekah-sedekah Ka’b bin Rabi’ah, lalu ia singgah di salah satu perkumpulan dari perkumpulan-perkumpulan itu. Ia melihat Qais bin Mu’adz si Majnun sedang bermain dengan tanah. Ia mendekat kepadanya dan berbicara dengannya, namun Qais menjawabnya dengan lain dari yang ditanyakan. Seorang laki-laki dari keluarganya berkata kepadanya: Jika engkau ingin ia berbicara kepadamu dengan pembicaraan yang benar, maka sebutlah Laila kepadanya. Naufal berkata kepadanya: Apakah engkau mencintai Laila? Ia berkata: Ya. Ia berkata: Ceritakan kepadaku kisahmu dengannya. Qais pun mulai membacakan syairnya tentang Laila, lalu mulai berkata:
Aku disibukkan dari memahami pembicaraan selain … Apa yang ada padamu, maka kalianlah kesibukanku Dan aku mengarahkan (perhatian) kepada lawan bicaraku agar ia melihat … Bahwa aku telah memahami, padahal di sisimu ada akalku
Dan ia membacakan:
Ia berjalan di kegelapan hati hingga ketika sampai … Perjalanannya dan mencari kehormatan hati, ia singgah Maka bagi mata mengalir (air mata) ketika hati melupakannya … Dan bagi hati ada bisikan ketika mata lupa Demi Allah, tidak ada di dalam hati sesuatu dari cinta … Bagi yang lain selain dia, banyak atau sedikit
Dan ia membacakan:
Aku ingat di waktu sore Shadafain akan Laila … Dan sepanjang masa kenangan akan dia adalah baru Aku bersumpah jika aku tahu … Apakah cinta Laila berkurang ataukah bertambah
Ketika Naufal melihat keadaannya, ia memasukkannya ke dalam sebuah rumah dan membelenggunya sambil berkata: Aku akan mengobatinya. Namun Qais memakan daging lengan dan tangannya sendiri. Naufal pun melepaskannya dan mengeluarkannya.
Ia biasa tinggal bersama binatang-binatang liar. Ia memiliki seorang pengasuh yang merawatnya sejak kecil, dan ia tidak akrab dengan siapa pun selain dia dan tidak ada yang bisa mendekatinya selain dia. Pengasuh itu biasa keluar mencarinya di padang pasir dan membawa roti dan air untuknya. Terkadang ia makan sebagian, dan terkadang ia tidak makan. Ia terus seperti itu hingga ia meninggal.
Shahdah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad bin as-Sarraj mengabarkan kepada kami, ia berkata: al-Jauhari memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Umar bin Hayawayh menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Khalaf menceritakan kepada kami, ia berkata: Ishaq bin Muhammad mengabarkan kepadaku, ia berkata: Abu Mu’adz an-Numairi menceritakan kepadaku, ia berkata: Majnun Bani Amir bertemu dengan al-Ahwash bin Muhammad al-Anshari, lalu ia berkata kepadanya: Ceritakan kepadaku kisah Urwah bin Hizam. Al-Ahwash pun mulai menceritakan kepadanya sementara ia mendengarkan hingga ia selesai dari ceritanya. Kemudian Qais mulai berkata:
Aku heran pada Urwah al-Udzri, ia menjadi … Cerita-cerita bagi kaum demi kaum Dan Urwah mati suatu hari dengan tenang … Sedangkan aku mati setiap hari
Ibnu Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Muhammad al-Bukhari memberitakan kepada kami, dan Shahdah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad as-Sarraj mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Abu Muhammad al-Jauhari memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Hayawayh memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Khalaf memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Muhammad ath-Thalaqqani mengabarkan kepadaku, ia berkata: as-Sari bin Yahya al-Azdi mengabarkan kepadaku dari ayahnya dari al-Fadhl bin al-Hasan al-Makhzumi, ia berkata: Katsir Azzah menemui Abdul Malik bin Marwan lalu mulai membacakan syair tentang Azzah kepadanya sementara matanya meneteskan air mata. Abdul Malik berkata kepadanya: Semoga Allah membunuhmu wahai Katsir, apakah engkau pernah melihat seseorang yang lebih jatuh cinta darimu? Ia berkata: Ya wahai Amirul Mukminin, aku pernah keluar berjalan di padang pasir dengan unta yang berjalan cepat. Sementara aku berjalan, tiba-tiba tampak seorang laki-laki, maka aku menujunya. Ternyata seorang laki-laki yang telah memasang jerat untuk rusa dan duduk agak jauh darinya. Aku memberi salam kepadanya dan ia membalas salam. Aku berkata kepadanya: Apa yang mendudukkanmu di sini? Ia berkata: Aku memasang jerat untuk rusa dan aku mengawasinya. Aku berkata: Jika aku tinggal bersamamu lalu engkau berburu, apakah engkau akan memberiku makan? Ia berkata: Ya, demi Allah. Aku pun turun dan mengikat untaku dan duduk berbincang dengannya. Ternyata ia adalah orang yang paling baik pembicaraannya di antara makhluk Allah, paling lembut dan paling mulia.
Ia berkata: Tidak lama kemudian seekor rusa terjerat. Ia melompat dan aku ikut melompat bersamanya. Ia melepaskan rusa itu dari jerat, kemudian memandang wajahnya agak lama, lalu melepaskannya dan mulai berkata:
Wahai penyerupai Laila, janganlah engkau takut, sesungguhnya aku … Bagimu hari ini di antara binatang buas adalah teman Wahai penyerupai Laila, semoga engkau senantiasa di taman … Di atasmu awan yang terus-menerus dan kilat Maka tidaklah aku ketika menyerupainya kemudian tidak kembali … Selamat atasnya dalam kehidupan yang penyayang Maka larilah, sungguh aku telah melepaskanmu karena cintanya … Maka engkau bagi Laila selama aku hidup adalah bebas
Kemudian ia memperbaiki jeratnya dan kami kembali ke tempat kami.
Aku berkata: Demi Allah, aku tidak akan pergi hingga aku mengetahui urusan laki-laki ini. Kami tinggal sisa hari kami dan tidak ada yang terjerat. Ketika sore tiba, ia pergi ke sebuah gua yang dekat dari tempat kami berada, dan aku pergi bersamanya. Kami bermalam di sana. Ketika pagi tiba, ia pergi memasang jeratnya. Tidak lama kemudian seekor rusa terjerat yang mirip dengan saudaranya kemarin. Ia melompat kepadanya dan aku ikut melompat bersamanya. Ia mengeluarkannya dari jerat dan memandang wajahnya agak lama, kemudian melepaskannya. Rusa itu pun berlalu. Ia mulai berkata:
Pergilah dalam penjagaan ar-Rahman … Engkau dariku dalam jaminan dan keamanan Engkau menghindariku, padahal leher darimu untuk Laila … Dan hati dan suara dan kedua mata Janganlah engkau takut akan diserang dengan keburukan … Selama burung merpati bernyanyi di dahan-dahan
Kemudian kami kembali ke tempat kami. Hari kami itu tidak ada yang terjerat. Ketika sore tiba, kami pergi ke gua dan bermalam di sana. Ketika pagi tiba, ia pergi ke jeratnya dan aku pergi bersamanya. Ia memasangnya dan kami duduk berbincang. Pembicaraannya yang bagus telah menyibukkanku wahai Amirul Mukminin dari rasa lapar. Sementara kami berbincang, tiba-tiba seekor rusa terjerat. Ia melompat kepadanya dan aku ikut melompat bersamanya. Ia mengeluarkannya dari jerat, kemudian memandang wajahnya dan hendak melepaskannya. Aku memegang tangannya dan berkata: Apa yang ingin engkau lakukan? Aku tinggal bersamamu tiga hari, setiap kali engkau berburu sesuatu, engkau melepaskannya. Ia memandang wajahku sementara matanya meneteskan air mata dan mulai berkata:
Apakah engkau mencaci kekasih yang hatinya bingung ketika ia melihat … Penyerupai yang ia cintai dalam tali terikat Maka ketika ia mendekat kepadanya, ia teringat kesedihannya … Dan ia mengingatkannya akan yang telah menjauh, maka ia merindukan
Aku pun merasakasihaninya demi Allah wahai Amirul Mukminin dan menangis karena tangisannya. Aku menanyakan nasabnya dan ternyata ia adalah Qais bin Mu’adz si Majnun.
Itulah demi Allah yang lebih jatuh cinta dariku wahai Amirul Mukminin.
Ibnu Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, dan Shahdah binti Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad as-Sarraj mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: al-Hasan bin Ali al-Jauhari memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Hayawayh memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Khalaf memberitakan kepada kami, ia berkata: Qasim bin al-Hasan menceritakan kepadaku dari al-Umari, ia berkata: al-Haitsam bin Adi memberitakan kepada kami, ia berkata: Utsman bin Umarah memberitakan kepada kami dari orang-orang tua mereka dari Bani Murrah, ia berkata: Seorang laki-laki dari kami pergi ke wilayah Syam yang berbatasan dengan Taima’ dan asy-Syarah untuk mencari keperluan. Tiba-tiba ia melihat sebuah kemah yang didirikan untuknya dan ia terkena hujan, maka ia singgah ke sana. Ia berdehem dan tiba-tiba seorang wanita berbicara kepadanya. Wanita itu berkata kepadanya: Turunlah. Ia pun turun. Unta-unta dan kambing-kambing mereka pulang dan ternyata banyak sekali serta banyak penggembalanya. Wanita itu berkata kepada salah seorang budak: Tanyakan kepada laki-laki ini dari mana ia datang. Aku berkata: Dari wilayah Yamamah dan Najd. Wanita itu berkata: Wilayah Najd mana yang engkau injak? Aku berkata: Semuanya. Ia berkata: Di mana engkau singgah di sana? Aku berkata: Di Bani Amir. Ia menghela napas panjang dan berkata: Di Bani Amir yang mana? Aku berkata: Di Bani al-Harisy. Ia pun menangis tersedu-sedu, kemudian berkata: Apakah engkau mendengar tentang seorang pemuda yang disebut Qais dan dijuluki si Majnun? Aku berkata: Ya, demi Allah, dan aku singgah di rumah ayahnya dan aku mendatanginya hingga aku melihatnya mengembara di padang pasir itu dan bersama binatang-binatang liar, tidak berakal dan tidak paham kecuali jika engkau menyebut Laila kepadanya, maka ia menangis dan membacakan syair-syair yang ia ucapkan untuknya. Ia berkata: Wanita itu mengangkat tirai antara aku dan dia, dan tiba-tiba ia seperti penggalan bulan yang mataku tidak pernah melihat sepertinya. Ia menangis dan terisak hingga aku kira demi Allah bahwa hatinya telah terbelah.
Aku berkata kepadanya: Wahai wanita, bertakwalah kepada Allah, demi Allah aku tidak mengatakan sesuatu yang buruk. Ia diam cukup lama dalam keadaan menangis dan terisak itu, kemudian berkata:
Alangkah ingin aku tahu, padahal musibah banyak … Kapan kendaraan Qais yang siap berangkat akan kembali Demi jiwaku bagi yang tidak siap dengan kendaraannya … Dan yang jika tidak dijaga oleh Allah adalah tersia-sia
Kemudian ia menangis hingga pingsan. Ketika ia sadar, aku berkata: Siapakah engkau wahai hamba Allah? Ia berkata: Aku adalah Laila yang membawa sial baginya, tidak membantunya.
Shahdah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad bin as-Sarraj memberitakan kepada kami, ia berkata: al-Jauhari memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Umar al-Khazzaz memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Khalaf menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Umari menceritakan kepada kami dari Atha’ bin Mush’ab, ia berkata: Si Majnun keluar bersama sekelompok orang dalam suatu perjalanan. Sementara mereka berjalan, tiba-tiba terbentang bagi mereka jalan menuju air tempat Laila berada. Si Majnun berkata kepada teman-temannya: Jika kalian berkenan untuk berhenti dan menggembalakan (unta) serta menungguku hingga aku pergi ke air itu. Mereka menolaknya dan mencacinya. Ia berkata kepada mereka: Aku memohon kepada kalian demi Allah, seandainya seorang laki-laki menemani kalian dan berlindung kepada kalian, lalu untanya hilang, apakah kalian akan tinggal bersamanya sehari hingga ia mencari untanya? Mereka berkata: Ya. Ia berkata: Demi Allah, Laila memiliki kehormatan yang lebih besar daripada unta. Kemudian ia mulai berkata:
Apakah aku meninggalkan Laila, padahal tidak ada antara aku dan dia … Selain satu malam, sesungguhnya aku jika begitu adalah penyabar Anggaplah aku seorang laki-laki dari kalian yang untanya hilang … Baginya ada jaminan, sesungguhnya jaminan itu besar Dan bagi sahabat yang tidak ditinggalkan ada kehormatan yang lebih besar … Atas sahabat daripada hilangnya unta Semoga Allah memaafkan Laila pada pagi hari, sesungguhnya ia … Jika ia berkuasa sebagai hakim atasku, ia berbuat zalim
Ia berkata: Maka mereka tinggal bersamanya hingga ia pergi dan kembali.
Ibnu Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: al-Humaidi memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Ghalib bin Bisyran memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu al-Husain bin Dinar memberitakan kepada kami, ia berkata: Ali bin al-Husain al-Katib memberitakan kepada kami, ia berkata: al-Hasan bin Ali mengabarkan kepadaku, ia berkata: Abdullah bin Amr bin Abi Sa’d menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin ash-Shabbah menceritakan kepada kami dari Ibnu al-Kalbi, ia berkata: Si Majnun keluar bersama beberapa orang dari kaumnya yang hendak melakukan perjalanan. Mereka melewati jalan yang bercabang dua arah, salah satunya didiami oleh rombongan Laila dan di sana ada tambahan satu hari perjalanan. Ia meminta kepada mereka untuk menyimpang bersamanya ke arah itu, namun mereka menolak. Maka ia pergi sendirian dan berkata: Apakah aku meninggalkan Laila… lalu menyebutkan syair-syair itu.
Dan telah diriwayatkan dari al-Utbi, ia berkata: Si Majnun suatu hari melewati suami Laila sementara ia sedang duduk menghangatkan diri di hari yang dingin. Ia berhenti di hadapannya kemudian berkata:
Demi Tuhanmu, apakah engkau memeluk Laila … Menjelang subuh atau mencium mulutnya? Dan apakah tanduk-tanduk Laila mengayun di atasmu … Ayunan bunga aster di embunnya?
Suami itu berkata: Ya Allah, karena engkau telah menyumpahku, maka ya. Qais pun menggenggam dengan kedua tangannya segenggam bara api dan tidak melepaskannya hingga ia terjatuh pingsan. Bara api pun jatuh bersama daging telapak tangannya.
Muhammad bin Abdul Baqi memberitakan kepada kami, ia berkata: Ali bin al-Muhsin at-Tanukhi memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Umar bin Hayawayh menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Khalaf memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Amr menceritakan kepadaku, ia berkata: Ali bin al-Hasan menceritakan kepada kami, ia berkata: Dawud bin Muhammad menceritakan kepada kami dari Amr bin Razzam, ia berkata: Seorang pemuda dari Nahd yang disebut Shabah bin Amir menghadap kepada al-Mulawwah, ayah Qais si Majnun. Ia memberi salam kepadanya dan mengabarkan nasabnya, lalu berkata kepadanya: Sesungguhnya aku telah datang dari negeriku untuk melihat Qais dan mendengar syairnya, maka bagaimana keadaannya?
Orang tua itu pun menangis hingga pingsan, kemudian tenang dan berkata: Bagaimana engkau mendapatkan Qais? Sesungguhnya Qais jatuh cinta kepada putri pamannya dan ia menjadi gila karenanya. Ia tidak akrab dengan siapa pun, ia kembali bersama binatang liar pada hari mereka datang ke air dan pulang bersama mereka ketika mereka pulang. Namun ada seorang pemuda di sini yang pergi kepadanya setiap waktu dan ia akrab dengannya serta mengambil dari apa yang ia ucapkan. Ia telah menghafal untuknya sebuah qasidah yang disebut al-Mu’nisah (yang menghibur). Jika ia membacakannya kepadanya, ia akan akrab dengannya dan berbicara dengannya. Jika engkau mau, pergilah kepadanya.
Shabah berkata: Aku pun pergi kepada pemuda itu dan ia menyambutku dengan baik serta menanyakan keadaanku. Aku mengabarkan kepadanya. Ia berkata kepadaku: Apakah engkau meriwayatkan sesuatu untuk Qais bin Dzarih? Sesungguhnya si Majnun sangat mengagumi syairnya. Aku berkata: Aku adalah orang yang paling hafal di antara manusia terhadap syair Qais. Ia berkata: Pergilah ke tempat ini dan itu lalu carilah ia di padang pasir itu, maka engkau akan menemukannya. Ketahuilah bahwa jika ia melihatmu, ia akan lari darimu dan mengarahkan batu kepadamu, janganlah engkau takut. Duduklah seolah-olah engkau tidak menginginkannya. Jika engkau melihat ia telah tenang, sebutlah Laila kepadanya, maka ia akan kembali ke akalnya dan kembali sehat serta akan menceritakan keadaannya kepadamu. Kemudian bacakanlah kepadanya sesuatu dari syair Qais, sesungguhnya ia sangat mencintainya. Shabah berkata: Aku melakukan apa yang dipesankan oleh pemuda itu kepadaku. Aku terus mencarinya hingga tengah hari. Tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki telanjang yang rambut kepalanya telah jatuh menutupi alisnya, dan ternyata ia telah membuat kandang dari tanah dan ia duduk di tengahnya. Di sampingnya ada batu-batu dan ia menggambar dengan jarinya di tanah. Ketika ia melihatku, ia mengarahkan ke batu dan bangkit hendak berdiri. Aku pun duduk di sisi lain sambil melemparkan pandanganku ke yang lain dan tidak menghiraukannya. Kemudian ia kembali bermain-main dan menggambarnya. Aku berkata kepadanya: Apakah engkau mengenal Laila? Ia berkata: Demi ayahku, demi Allah dialah ia, bagaimana aku tidak mengenalnya?
Aku berkata: Semoga Allah memberkahi Qais bin Dzarih di mana ia berkata:
Dan sesungguhnya aku menahan air mata mataku dengan tangisan … Karena takut pada apa yang telah terjadi atau yang akan terjadi Dan mereka berkata: Besok atau setelah itu semalaman … Perpisahan kekasih yang belum berpisah padahal ia akan berpisah Dan aku tidak menyangka kematianku … Di tanganmu kecuali bahwa apa yang ditakdirkan akan terjadi
Ia berkata: Demi Allah, aku lebih pandai bersyair darinya di mana aku berkata:
Burung gagak berkoak tentang perpisahan Laila, sesungguhnya … Ketetapan itu tentang perpisahan mereka telah tertulis Aku menjadi dari keluargaku yang aku cintai … Seperti anak panah yang bulu-bulunya telah tercabut
Kemudian ia melompat dengan cepat menuju kijang-kijang yang muncul di hadapannya lalu menghilang dariku. Aku pun mengikutinya dan terus melacak jejaknya hingga akhir hari, namun mataku tidak melihatnya. Kemudian pada hari kedua aku mencarinya lagi dan terus berkeliling mencarinya di padang-padang pasir tersebut hingga malam tiba, lalu aku kembali. Pada hari ketiga aku mencarinya dan tiba-tiba aku menemukannya dalam keadaan telanjang di antara bebatuan, sudah meninggal.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abi Manshur, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Muhammad al-Bukhari, dan telah memberitakan kepada kami Shahdah, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad bin as-Sarraj, keduanya berkata: telah memberitakan kepada kami al-Hasan bin Ali, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Haiwiyah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin al-Haitsam al-Qurasyi, ia berkata: telah menceritakan kepadaku al-Abbas bin Hisyam dari ayahnya Hisyam bin Muhammad bin as-Sa’ib bahwa seorang laki-laki dari penduduk Syam yang memiliki pengetahuan sastra mendengar tentang Majnun dan diceritakan kepadanya kisahnya. Ia ingin melihatnya dan mendengar syairnya, maka ia berangkat mencarinya hingga tiba di kampungnya. Ia bertanya tentangnya dan diberitahu bahwa Majnun tidak memiliki tempat tinggal tetap dan biasanya berada bersama binatang-binatang liar. Ia bertanya, “Bagaimana caranya agar aku bisa melihatnya?” Dikatakan kepadanya bahwa Majnun tidak akan berhenti untuk siapa pun yang ingin berbicara dengannya kecuali untuk pengasuhnya yang telah membesarkannya. Maka ia berbicara dengan pengasuh tersebut dan mengirim pesan kepadanya. Pengasuh itu keluar bersamanya untuk mencarinya di tempat-tempat yang biasa ia datangi di padang pasir. Mereka mencarinya sepanjang hari itu namun tidak menemukannya. Kemudian pada hari kedua mereka kembali mencarinya. Ketika mereka sedang mencari, tiba-tiba mereka melihat sebuah lembah yang banyak bebatuan, dan di sana Majnun berada di antara bebatuan dalam keadaan meninggal. Maka laki-laki itu dan pengasuhnya membawanya kembali ke kampung. Mereka memandikan, mengafani, dan menguburkannya.
Dan telah diriwayatkan tentang kematian Majnun Bani Amir selain apa yang telah disebutkan sebelumnya.
Disebutkan bahwa Katsir berkata: Ketika aku berada di sisi Majnun Bani Amir, datang seorang laki-laki kepadanya dan berkata, “Bersabarlah wahai Qais.” Ia bertanya, “Atas siapa?” Laki-laki itu menjawab, “Atas Laila.” Maka ia berdiri menuju untanya dan aku pun menuju untaku. Kemudian kami mendatangi kampung dan kami diberi petunjuk menuju kuburannya. Ia terus mencium kubur itu, memeluknya, mencium tanahnya, dan melantunkan syair. Kemudian ia terengah-engah dan meninggal. Maka aku menguburkannya. Berikut adalah bait-bait dari syair-syairnya yang terbaik.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abi Manshur, ia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin al-Muhsin, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Haiwiyah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Sulaiman bin Ayyub al-Madini, ia berkata: aku mendengar Mush’ab az-Zubairi berkata: Majnun Bani Amir berkelana bersama binatang-binatang liar dan menebarkan syair-syairnya. Para penunggang kendaraan mengambil syair-syair darinya dan meriwayatkannya. Ibnu Khalaf berkata: al-Qahdami berkata, ketika Majnun melantunkan:
“Dia menakdirkannya untuk orang lain dan menguji aku dengan cintanya… Mengapa bukan dengan sesuatu selain Laila Engkau menguji aku?”
Akal sehatnya hilang.
Ibnu Khalaf berkata: Mush’ab bin az-Zubair melantunkan syair Majnun:
Wahai hati yang terus menerus terombang-ambing cintanya… Masih kecil pada Laila yang jimat-jimatnya belum terlepas Sadarlah, orang-orang yang jatuh cinta telah sadar dan bagi… Penyakitmu perlu tabib yang sesuai Mengapa engkau kehilangan kesabaran seolah-olah… Engkau melihat kepergian Laila adalah kerugian yang harus engkau tanggung Sungguh tidak ada yang melupakanmu dari Laila, bukan musibah… Yang datang dan tidak ada yang melupakanmu dari janji yang telah lama
Ibnu Khalaf berkata: Abu Amr asy-Syaibani melantunkan syair Majnun:
Kerinduan dan cinta memanggilmu hingga berkicau… Burung dara pagi di antara dahan-dahan yang bersahutan Mereka saling bersahutan, burung-burung yang mendengar suaranya… Maka semuanya saling mendukung dan menjawab Wahai burung dara di pepohonan, mengapa engkau menangis… Apakah engkau berpisah dengan kekasih ataukah kekasihmu mengabaikanmu
Telah mengabarkan kepada kami Shahdah, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad al-Jauhari, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Umar bin Haiwiyah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Muhammad ar-Raqasyi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin al-Mu’addal, ia berkata: aku mendengar al-Ashma’i berkata ketika menyebut Majnun Bani Amir: Dia adalah Qais bin Mu’adz. Kemudian ia berkata: Dia tidak gila, hanya saja ada gangguan padanya. Dialah yang berkata:
Aku tidak melihat Laila setelah tempat berdiri kami yang… Di Khaif Mina melempar jumrah al-Muhassab Dan kerikil menampakkan darinya ketika ia melemparkannya… Dari kedinginan ujung-ujung jemari yang dicelup pacar
Telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahhab dan Muhammad bin Nashir, keduanya berkata: telah memberitakan kepada kami al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Yahya bin al-Hasan al-Qadhi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Suwaid, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakr bin al-Anbari, ia berkata: telah melantunkan kepada kami Ahmad bin Yahya syair Qais bin Mu’adz:
Jika rumahnya mendekat aku tergila-gila dan jika menjauh… Aku sedih, maka tidak dengan kedekatan aku lupa dan tidak pula dengan kejauhan Jika ia berjanji, kerinduan bertambah karena menunggunya… Dan jika ia pelit dengan janji, aku mati karena janji itu Dalam setiap cinta pasti ada kegembiraan… Namun cintamu tidak ada di dalamnya selain kesulitan yang kokoh
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ia bertemu dengan Laila pada suatu hari, dan ketika tiba saatnya berpisah, ia melantunkan bait-bait ini.
Telah mengabarkan kepada kami Shahdah, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakr Muhammad bin Ahmad al-Ardustani, ia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Hasan bin Muhammad bin Habib, ia berkata: aku mendengar Abu Ali al-Husain bin Ahmad al-Baihaqi, ia berkata: aku mendengar Abu Bakr bin al-Anbari berkata: aku mendengar al-Abbas bin Salim asy-Syaibani berkata: aku mendengar Ibnu al-A’rabi berkata: Di antara syairnya yang bagus, maksudnya Majnun Bani Amir:
Mereka datang kepadanya dengan jampi-jampi dan mantra… Dan mereka menyiramkan air kepadanya karena sakit gila Mereka berkata ada tatapan dari mata jin padanya… Seandainya mereka berakal mereka berkata ada tatapan mata manusia padanya
Dan diriwayatkan bahwa sekelompok orang berkata kepada ayahnya: Carikan dia seorang tabib. Maka ayahnya mendatangkan seorang tabib untuknya. Qais pun melantunkan:
Wahai tabib jiwa, engkaulah tabibnya… Maka lembutlah pada jiwa yang kekasihnya telah mengabaikannya Dorongan-dorongan cinta Laila memanggilku dan di hadapanku… Puncak-puncak yang kesedihan telah memakan hatinya Maka aku menjawab panggilan yang memanggil, seandainya aku… Gema di antara bebatuan pasti akan tetap menjawabnya Jiwa tidak meninggalkanmu karena… Engkau sedikit, tetapi karena sedikit bagianku darimu
Dan dalam sebuah qasidah ia berkata:
Semoga Allah memberi minum tetangga-tetangga Laila yang berjauhan… Takdir membawa mereka ke tempat peristirahatan yang tinggi Di Tsamdain terlihat api Laila dan teman-temanku… Di Qar’ al-Gadha mendorong unta-unta yang lemas Orang yang tajam penglihatan dari kaum berkata kilatan bintang… Muncul dalam kegelapan malam sendirian dari arah Yaman Maka aku berkata kepada mereka, tetapi itu adalah api Lailaku yang dinyalakan… Di tempat tinggi cahayanya menjulang dan terlihat olehku Benar, itu api Laila wahai kawan, tidakkah kalian lihat… Unta-unta itu, jangan menuju mereka dan jangan mendekat Apakah kerinduan padahal belum lewat bagiku selain satu malam… Pelan-pelan wahai cinta hingga malam-malam berlalu Wahai kawan, demi Allah aku tidak mampu menahan tangis… Jika tanda dari tanah Laila terlihat olehku Wahai kawan, demi Allah aku tidak mampu menghadapi apa yang… Allah takdirkan untuk Laila dan apa yang Dia takdirkan untukku Dia menakdirkannya untuk orang lain dan menguji aku dengan cintanya… Mengapa bukan dengan sesuatu selain Laila Engkau menguji aku Dan kalian memberitahuku bahwa Taima adalah tempat tinggal… Laila ketika musim panas meletakkan jangkar-jangkarnya Maka ini bulan-bulan musim panas telah berlalu… Mengapa takdir melemparkan Laila ke tempat yang jauh Seandainya pengumpat tinggal di Yamamah… Dan rumahnya di atas Hadramaut, ia akan menemukan jalannya kepadaku Apa untungnya bagi mereka, semoga Allah tidak menjaga mereka… Dari keberuntungan dalam memutuskan tali Laila denganku Dan aku dulu lebih tinggi cinta Laila, namun tidak berhenti… Denganku penolakan dan penerimaan hingga cinta itu mengalahkanku Ya Rabb, samakan cinta antara aku dan dia… Agar menjadi seimbang, tidak atasku dan tidak atasnya Tidaklah terbit bintang yang dengannya dicari petunjuk… Dan tidak pagi kecuali keduanya membangkitkan kenangannya kepadaku Dan tidaklah aku berjalan satu mil dari Damaskus dan tidak pula terbit… Bintang Suhail untuk penduduk Syam kecuali terlihat olehku Dan tidaklah disebutkan di sisiku orang yang namanya seperti namanya… Dari manusia kecuali air mataku membasahi pakaianku Dan tidaklah bertiup angin selatan dari tanahnya… Di malam hari kecuali aku bermalam tunduk pada angin Hari yang seperti bayangan tombak, aku pendekkan panjangnya… Dengan Laila, ia melalaikanku padahal aku tidak lalai Wahai malam, betapa banyak keperluanku yang penting… Jika aku datang kepada kalian di malam hari aku tidak tahu apa itu Wahai kawan, jika kalian tidak menangis untukku aku mencari… Kawan yang jika air mataku kering menangis untukku Sesungguhnya Allah dapat mengumpulkan dua yang berpisah setelah… Keduanya mengira dengan sangkaan kuat tidak akan bertemu Jika kalian menghalangi Laila dan melindungi tanahnya… Dari ku, maka kalian tidak akan melindungi qasidah dariku Maka aku bersaksi di sisi Allah bahwa aku mencintainya… Inilah yang aku miliki di sisiku untuknya, lalu apa yang dia miliki untukku Allah menakdirkan kebaikan darinya untuk orang lain… Dan dengan kerinduan dari kami dan kesulitan ditakdirkan untukku Dan sesungguhnya yang aku harapkan dari Ummu Malik… Telah memutihkan kepalaku dan membuat hatiku bingung Aku menghitung malam-malam, malam demi malam… Padahal aku telah hidup bertahun-tahun tidak menghitung malam-malam Dan aku keluar dari antara rumah-rumah agar aku… Bicara pada diri tentangmu wahai malam sendirian Jika aku berjalan di tanah lapang, aku melihatku… Merapikan pelanaku agar tidak miring simpainya Ke kanan jika ke kanan dan jika ke… Kiri kerinduan menarikku dari kiriku Aku melihatku jika shalat menghadap ke arahnya… Dengan wajahku meskipun tempat shalat di belakangku Dan tidaklah ada kemusyrikan padaku tetapi cintanya… Seperti duri yang besar yang membuat tabib yang mengobati tidak berdaya Aku cinta dari langit apa yang sesuai dengan namanya… Dan menyerupainya atau yang dekat dengannya Wahai kawan, Laila adalah hajiku yang terbesar dan harapan… Maka siapa yang akan mempertemukanku dengan Laila atau siapa yang memiliki dia untukku Sungguh telah lama engkau menahan aku dari teman-temanku… Dan dari keperluan yang penyelesaiannya adalah kesembuhanku Demi umurku, sungguh engkau telah membuatku menangis wahai burung dara… Al-Aqiq dan engkau membuat mata-mata yang menangis menangis Dan aku dahulu teguh hati, tidak tergoyahkan olehku… Angin-angin pagi meskipun menangis tangisan yang dekat Maka aku menjadi setelah keakraban teman padang pasir… Yang melewatiku melewati padang tandus, padang luas Wahai kawan, apa yang aku harapkan dari kehidupan setelah… Aku melihat kebutuhanku dijual dan tidak dibeli untukku Dan Laila berbuat dosa kemudian mengira bahwa aku… Lupa, padahal tidak tersembunyi dari manusia apa yang terjadi padaku Aku tidak melihat seperti kami berdua wahai kawan dalam kejahatan… Yang lebih keras atasku meskipun musuh, tetap setia Dua kekasih yang tidak mengharap pertemuan dan tidak terlihat… Dua kekasih kecuali mereka mengharapkan pertemuan Dan aku sungguh malu kepadamu untuk menampakkan harapan… Untuk bersatu denganmu atau engkau menampakkan dalam harapan untukku Orang-orang berkata mungkin Majnun Amir… Berusaha lupa, aku berkata sesungguhnya yang terjadi padaku Padaku keputusasaan atau penyakit cinta yang menimpaku… Maka jauhilah aku, jangan sampai padamu apa yang padaku Jika masa meliputmu wahai Ummu Malik… Maka urusan kematian yang menakdirkan dan urusanku Jika mataku dicelak dengan matamu tidak akan berhenti… Dalam kebaikan dan terangkatlah kesedihan dari hatiku Dan engkaulah yang jika engkau mau engkau menyengsarakan kehidupanku… Dan jika engkau mau setelah Allah engkau menyelamatkan aku Dan engkaulah yang tidak ada teman dan tidak saudara… Yang melihat kekurusan apa yang engkau tinggalkan kecuali merinduku Dan aku sungguh menutupkan kelopak mata padahal tidaklah padaku kantuk, berharap khayalan darimu bertemu khayalanku Itu adalah sihir kecuali bahwa untuk sihir ada mantra… Dan aku sungguh tidak menemukan untuk sihirku orang yang memantra Jika kami berjalan di malam hari dan engkau di depan kami… Cukuplah untuk kendaraan kami kenanganmu sebagai penunjuk jalan Menyala api kerinduan dalam hatiku maka menjadilah… Untuknya kobaran yang berkobar dalam hatiku Wahai para penunggang kendaraan yang menuju Yaman, singgahlah… Kepada kami karena sesungguhnya kerinduan kami menuju Yaman Kami bertanya kepada kalian, apakah an-Nu’man bertanya setelah kami… Dan cinta kepada kami adalah lembah an-Nu’man Wahai burung dara lembah an-Nu’man, kalian berdua membangkitkan… Atasku kerinduan ketika kalian berdua berkicau untukku Wahai dua burung perkutut, sahut-sahutlah… Dengan lagu kalian berdua kemudian berkicaulah bergiliran Jika kalian berdua bergembira dan kalian berdua ingin… Mengikuti bekas-bekas al-Gadha maka ikutlah aku Wahai, aku tidak tahu apa urusan Laila dan apa urusan kami… Dan apa urusan masa muda setelah uban menghampiri kami Wahai pengumpat Laila, tidakkah engkau lihat… Kepada siapa engkau mengadu atau dengan siapa engkau datang mengadu Jika kami berniat meninggalkannya, cintanya merangkul… Rangkulan dada merangkul sayap-sayap burung Jika orang-orang terkasih pergi wahai Ummu Malik… Maka tidaklah pergi cinta yang ada di hatiku Ya Rabb, ketika Engkau jadikan Laila adalah harapan… Maka lihatkan aku dengan matanya sebagaimana Engkau lihatkan dia kepadaku Dan jika tidak, maka bencilah dia bagiku dan keluarganya… Karena sesungguhnya dengan Laila aku telah mengalami malapetaka Wahai, tidaklah aku cinta berjalan kecuali naik… Dan tidaklah kilat kecuali jika dari arah Yaman Karena seperti Laila seseorang membunuh dirinya sendiri… Meskipun aku dari Laila dalam keputusasaan yang menyiksa Wahai kawan, jika mereka pelit dengan Laila maka dekatkanlah… Kepadaku keranda dan kafan-kafan dan mohonkanlah ampun untukku Wahai burung dara pohon talh, jika engkau menangis… Maka penuhi maka bangkitkanlah karena sesungguhnya telah tiba waktuku Wahai saudaraku Hazm, tidakkah kalian berdua memberi petunjuk… Kepada penghuni ar-Raiyan kemudian ingatlah aku
Dan ia berkata:
Dan aku sungguh gila karena Laila yang ditakdirkan… Dan aku tidak enggan dari cintanya dan tidak tabah Jika Laila disebutkan aku menangis karena rindu… Karena mengingatnya hingga tangisan membasahi pipi
Dan diriwayatkan baginya dalam syair lain:
Wahai tiang-tiang pagar kampung pada hari mereka berangkat… Di Dzi Salam, semoga hujan tidak menghampiri kalian Kepada Allah aku mengadu bahwa tongkat telah terbelah… Hari ini mereka terpisah padahal kemarin mereka bersatu Sesungguhnya mengalirnya air mata wahai malam setiap kali… Aku mengingatmu sendirian adalah cepat Seandainya yang menggusarku bukanlah orang-orang yang pergi, yang menggusarku… Burung-burung dara di rumah-rumah yang hinggap Mereka bersahutan lalu membuat menangis siapa yang memiliki… Kerinduan, burung-burung ratap yang tidak mengalir bagi mereka air mata Demi umurmu, sesungguhnya aku pada hari Jar’a Malik… Benar-benar durhaka pada perintah orang-orang yang memberi nasihat, tersia-sia Berlalu masa dan manusia meminta syafaat denganku… Maka apakah bagiku kepada Laila pagi ini seorang pemberi syafaat Aku menyesal atas apa yang terjadi dariku, engkau kehilanganku… Sebagaimana menyesal orang yang tertipu ketika menjual Engkau kehilanganmu dari diriku cahaya, maka sesungguhnya… Aku melarangmu dari ini padahal engkau masih utuh Maka engkau dekatkan bagiku yang bukan dekat dan menjulanglah… Harapanku pada liku-liku yang tidak ada pendakiannya
Dan ia berkata:
Menyenangkan mataku kedekatannya dan menambahkanku… Dengan dia keheranan dari orang yang di sisiku mencela dia Betapa banyak yang berkata di antara kalian yang dekat aku durhaka padanya… Dan itu demi umurku adalah tobat yang tidak aku bertobat darinya Wahai diri, bersabarlah, demi Allah ketahuilah… Aku bukan diri pertama yang kekasihnya pergi darinya
Dan ia berkata:
Aku menghindari Laila agar tidak menjadi-jadi cinta padamu… Jauh sekali, cinta telah ada sebelum penghindaran Dan aku tidak melihat Laila sebelum berdiri sesaat… Di lembah Mina melempar jumrah al-Muhassab
Dan ia berkata dalam syair lain:
Dan aku mengalami dari cinta yang membakar gejolak… Yang ada di antara kulitku dan tulang getar Sungguh telah menghabiskan diri ini bahwa tidak akan pergi… Baginya kesedihan yang tidak dapat didekatkan Maka janganlah engkau tinggalkan diriku cahaya karena sesungguhnya… Dari gundah ia hampir hancur karenamu
Bab Di Antara Orang-Orang Terkenal yang Mencintai adalah Urwah bin Hizam
Telah mengabarkan kepada kami Syahdah binti Ahmad, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ja’far bin Ahmad As-Sarraj, ia berkata: Aku menyalin dari tulisan tangan Abu Umar bin Hayawayh, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Al-Marzaban, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abu Al-Abbas Fadhl bin Muhammad Al-Yazidi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al-Maushili, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Laqith bin Bukair Al-Muharibi bahwa Urwah bin Hizam dan Afra’ binti Malik Al-Udzriyyain, dan mereka berdua adalah satu kaum dari suku Udzrah yang disebut Bani Hind bin Hizam bin Dhinnah bin Abd bin Bukair bin Udzrah. Dan dikatakan bahwa keduanya tumbuh bersama, maka ia (Urwah) mencintainya dengan cinta masa kecil. Urwah adalah seorang yatim dalam asuhan pamannya hingga ia dewasa. Ia selalu meminta kepada pamannya agar menikahkannya dengan Afra’, namun pamannya terus menunda. Hingga suatu ketika kafilah keluarganya berangkat ke Syam dan Urwah ikut dalam kafilah itu.
Lalu datanglah seorang sepupu pamannya dari Balqa’ yang hendak menunaikan haji. Ia melamar Afra’ dan pamannya menikahkannya dengannya. Lalu ia membawanya pergi. Urwah kembali dengan kafilahnya itu. Ketika ia berada di Tabuk, ia melihat rombongan yang datang dari arah Madinah, di dalamnya ada seorang wanita di atas unta merah. Maka ia berkata kepada teman-temannya: “Demi Allah, seakan-akan ini adalah ciri-ciri Afra’.” Maka mereka berkata: “Celakalah kamu! Kamu tidak pernah meninggalkan penyebutan Afra’ untuk hal apa pun.”
Ia berkata: Rombongan itu datang. Ketika mereka mendekat darinya dan keadaan menjadi jelas, ia membeku berdiri, tidak bergerak, tidak dapat berbicara, dan tidak dapat menjawab hingga rombongan itu menjauh. Maka itulah yang dimaksudkannya ketika ia berkata dalam syairnya:
Sesungguhnya aku menggigil ketika menyebut namamu / Gemetar yang merasuk di antara kulitku dan tulangku
Sesungguhnya aku tidak dapat berbuat apa-apa ketika melihatnya tiba-tiba / Maka aku terpana hingga hampir tidak dapat menjawab
Dan aku berkata kepada dukun Yamamah: obatilah aku / Karena jika engkau menyembuhkanku, sungguh engkau adalah tabib yang hebat
Tidak ada demam padaku dan bukan pula sentuhan jin / Tetapi pamanku Al-Himyari adalah seorang pendusta
Abu Bakar berkata: Dukun Yamamah yang disebutkan oleh Urwah dan penyair lainnya ini adalah Riyah bin Rasyid, yang berkunyah Abu Kuhailah, seorang budak Bani Yaskur. Ia menikahi wanita tuannya dari Bani Al-A’raj, lalu tuannya memberikan mas kawin untuknya. Kemudian ia mengklaim nasab kepada Bani Al-A’raj.
Kemudian Urwah kembali kepada keluarganya dan ia terus menangis dan meracau hingga tubuhnya menjadi kurus dan tidak ada yang tersisa darinya. Sebagian orang berkata: “Ia terkena sihir.” Sebagian lain berkata: “Ia kerasukan jin.” Yang lain berkata: “Ia mengalami gangguan jiwa. Di Yamamah ada seorang tabib yang memiliki jin pengikut dan ia adalah tabib terbaik di antara manusia. Seandainya kalian mendatanginya, semoga Allah menyembuhkannya.”
Maka mereka pergi kepadanya dari tanah Udzrah hingga ia mengobatinya. Ia terus memberinya minum obat dan merawatnya, tetapi penyakitnya justru bertambah parah. Maka Urwah berkata kepadanya: “Wahai orang baik, apakah engkau memiliki obat atau jampi untuk cinta?” Ia menjawab: “Tidak, demi Allah.” Maka mereka kembali hingga melewati seorang tabib di Hajr yang mengobatinya dan melakukan hal yang sama. Maka Urwah berkata kepadanya: “Penyakitku dan obatku hanyalah pada seseorang yang tinggal di Balqa’. Ia adalah penyakitku dan obatku ada padanya.”
Maka mereka kembali membawanya. Ia mulai membaca syair ketika mereka membawanya kembali:
Aku memberi keputusan kepada dukun Yamamah / Dan dukun Hajr jika keduanya menyembuhkanku
Keduanya berkata: Ya, kami menyembuhkan dari segala penyakit / Dan keduanya bangkit bersama para penjenguk berlomba-lomba
Mereka tidak meninggalkan jampi apa pun yang mereka ketahui / Dan tidak pula obat penenang kecuali telah mereka minumkan kepadaku
Keduanya berkata: Allah menyembuhkanmu, dan demi Allah kami tidak memiliki / Apa yang disimpan tulang rusukmu dalam kendali kami
Ketika ia tiba di keluarganya, dan ia memiliki empat saudara perempuan, seorang ibu, dan seorang bibi yang merawatnya dalam waktu lama, maka ia berkata kepada mereka suatu hari: “Ketahuilah bahwa jika aku melihat Afra’ satu kali saja, penyakitku akan hilang.”
Maka mereka pergi membawanya hingga turun di Balqa’ secara sembunyi-sembunyi. Ia tidak berhenti mendekati Afra’ dan melihatnya. Afra’ berada di sisi seorang laki-laki yang mulia, seorang pemimpin yang banyak harta dan pengikutnya. Pada suatu hari ketika Urwah berada di pasar Balqa’, ia bertemu dengan seorang laki-laki dari Bani Udzrah yang menanyakan keadaannya dan kedatangannya.
Ia memberitahunya. Laki-laki itu berkata: “Demi Allah, aku telah mendengar bahwa kamu sakit dan aku melihatmu telah sembuh.” Ketika sore hari, laki-laki itu masuk menemui suami Afra’ dan berkata: “Sejak kapan anjing ini yang telah mempermalukan kalian datang kepada kalian?” Suami Afra’ berkata: “Anjing yang mana?” Ia berkata: “Urwah.” Ia berkata: “Dan ia telah datang?” Ia berkata: “Ya.” Ia berkata: “Demi Allah, engkau lebih pantas darinya untuk menjadi anjing. Aku tidak tahu tentang kedatangannya, dan seandainya aku tahu, pasti aku akan mengawasinya.”
Ketika pagi hari, ia pergi mencarinya hingga menemui Urwah dan berkata: “Kamu datang ke negeri ini tetapi tidak singgah di tempat kami dan tidak merasa perlu memberitahu kami tentang keberadaanmu, padahal seharusnya tempat tinggalmu di tempat kami. Kewajibanku adalah agar kalian tidak memiliki tempat tinggal kecuali di tempatku.”
Urwah berkata: “Ya, kami akan pindah kepadamu malam ini atau besok.”
Ketika ia pergi, Urwah berkata kepada keluarganya: “Telah terjadi apa yang kalian lihat. Dan jika kalian tidak pergi bersamaku, sungguh aku akan mempertaruhkan hidupku dan bergabung dengan kaummu, karena tidak ada bahaya bagiku.”
Maka mereka berangkat dan menempuh perjalanan mereka. Urwah menjadi sakit parah dan terus lemah hingga mereka turun di Wadi Al-Qura.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Hizam meninggal dan meninggalkan anaknya Urwah dalam asuhan pamannya Uqal bin Muhashir. Afra’ adalah teman bermain Urwah, mereka bermain bersama hingga masing-masing terbiasa dengan yang lain. Uqal biasa berkata kepada Urwah: “Bergembiralah, karena Afra’ akan menjadi istrimu jika Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki.”
Ketika mereka dewasa, Urwah mendatangi bibinya yang bernama Hind binti Muhashir. Ia mengadu kepadanya tentang cintanya kepada Afra’ dan berkata: “Wahai bibiku, aku berbicara kepadamu dan aku malu padamu, tetapi aku tidak melakukan ini hingga aku sangat terdesak dengan keadaanku.” Maka bibinya mendatangi saudaranya dan berkata: “Wahai saudaraku, aku datang kepadamu untuk suatu keperluan yang Allah akan memberimu pahala atasnya, nikahkanlah Urwah dengan Afra’.” Ia berkata: “Tidak ada halangan darinya, tetapi ia tidak memiliki harta dan tidak ada kesegeraan atasnya.” Ibu Afra’ tidak menginginkan untuknya kecuali seseorang yang memiliki harta. Maka seorang laki-laki yang memiliki harta melamar Afra’. Urwah mendatangi pamannya dan berkata: “Engkau telah mengetahui kekerabatanku, dan telah sampai kepadaku bahwa seorang laki-laki melamar Afra’. Jika engkau menerimanya, kamu akan membunuhku.” Ia berkata: “Aku tidak akan mengeluarkannya kepada selainmu, tetapi ibunya menginginkan mahar yang tinggi, maka mohonlah rezeki kepada Allah dan berusahalah.”
Maka ia pergi kepada sepupunya yang kaya di Yaman dan berjanji kepada orang tua Afra’ agar tidak melakukan tindakan apa pun terhadapnya. Mereka menjaminnya. Ia pergi kepada sepupunya yang menghubunginya dan memberinya seratus ekor unta.
Terjadilah bahwa seorang laki-laki melamar Afra’, dan ia memiliki harta. Ayahnya meminta maaf kepadanya, tetapi ibunya menerimanya dan mengubah pendapat ayahnya. Ia berkata: “Kekayaan telah datang ke pintu kami dan kami tidak tahu apakah Urwah hidup atau mati, dan apakah ia akan membawa sesuatu atau tidak.”
Maka ia menikahkannya dan laki-laki itu berangkat membawanya ke Syam. Ayahnya mendatangi kuburan tua, memperbaruinya, dan meratakan. Ia berkata: “Kebenaran adalah menyembunyikan keadaan.”
Urwah datang dan ayahnya memberitahukan kematiannya kepadanya. Maka ia terus berpindah ke kuburan itu beberapa hari. Kemudian ia diberi tahu tentang keadaan sebenarnya, maka ia berangkat ke Syam. Ia singgah di rumah laki-laki itu yang tidak mengenalinya. Laki-laki itu memberikan sambutan baik kepadanya. Kemudian Afra’ mengetahui tentangnya.
Seorang laki-laki datang dan berkata: “Kalian membiarkan orang ini di rumah kalian mempermalukan kalian.” Suami itu mengingkari perkataan orang itu dan memanggil Urwah serta berkata: “Jangan pergi dari tempatku.” Kemudian ia keluar dan meninggalkan Afra’ di sisi Urwah. Ia memerintahkan pelayan pintu untuk mengawasi apa yang mereka katakan. Urwah berkata: “Laki-laki ini telah berbuat baik dan aku tidak akan tinggal setelah ia mengetahui, sesungguhnya aku akan pergi menuju ajalku.” Kemudian ia berangkat dan penyakit-penyakit menyerangnya.
Telah mengabarkan kepada kami Al-Mubarak bin Ali, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Fathimah binti Abdullah Al-Khabbiriyyah, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Al-Hasan bin Al-Fadhl, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Khalid Al-Katib, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Abdullah bin Al-Mughirah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sa’id Ad-Dimasqi, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Az-Zubair bin Bakkar, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abdul Malik bin Abdul Aziz dari Abu As-Sa’ib Al-Makhzumi, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ibn Abi Atiq, ia berkata: “Aku sedang berjalan di tanah Udzrah, tiba-tiba ada seorang wanita membawa seorang pemuda yang gemuk tidak seperti dirinya yang berjalan tertatih-tatih. Aku heran dengan itu, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berjenggot.” Ia berkata: “Maka wanita itu berkata kepadaku: ‘Pernahkah kamu mendengar tentang Urwah bin Hizam?'” Aku berkata: “Ya.” Ia berkata: “Ini demi Allah adalah Urwah bin Hizam.” Maka aku berkata: “Apakah kamu Urwah? Bicaralah denganku.” Dan kedua matanya berputar di kepalanya. Maka ia berkata: “Ya, aku demi Allah yang berkata:
Aku memberi keputusan kepada dukun Yamamah / Dan dukun Najd jika keduanya menyembuhkanku
Keduanya berkata: Ya, kami menyembuhkan dari segala penyakit / Dan keduanya pergi bersama para penjenguk berlomba-lomba
Mereka tidak meninggalkan obat penenang apa pun yang mereka ketahui / Dan tidak pula minuman kecuali telah mereka minumkan kepadaku
Keduanya berkata: Allah menyembuhkanmu, dan demi Allah kami tidak memiliki / Apa yang disimpan tulang rusukmu dalam kendali kami
Maka Afra’ adalah orang yang paling beruntung di sisiku dalam cinta / Dan Afra’ dariku berpaling dan menjauh”
Ia berkata: “Kemudian aku pergi dan aku belum kembali dari air hingga aku mendengar teriakan.” Maka aku berkata: “Apa ini?” Dikatakan: “Urwah telah meninggal.”
Abdul Malik berkata: “Maka aku berkata: ‘Wahai Abu As-Sa’ib, demi Allah aku tidak melihatnya kecuali tersedak.'” Ia berkata: “Tersedak apa?” Aku berkata: “Tersedak ludahnya. Apakah engkau melihat manusia yang mati karena cinta?”
Maka ia berkata: “Panaskah matamu?”
Telah mengabarkan kepada kami Syahdah binti Ahmad, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad As-Sarraj, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Tsabit, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Al-Husain bin Ruh, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Muaffa bin Zakariya, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Salman Al-Akhfasy, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Yazid, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Mas’ud bin Bisyr Al-Mazini, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Al-Utbi dari ayahnya dari seorang laki-laki dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari An-Nu’man bin Basyir Al-Anshari, ia berkata: “Aku ditugaskan mengurus sedekah Bani Udzrah.” Ia berkata: “Aku diberikan kepada seorang pemuda di bawah kain. Aku menyingkap darinya, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang tidak tersisa kecuali kepalanya.” Maka aku berkata: “Ada apa denganmu?” Maka ia berkata:
Seakan-akan burung qathah tergantung dengan sayapnya / Di atas hatiku karena hebatnya degupan
Aku memberi keputusan kepada dukun Yamamah / Dan dukun Najd jika keduanya menyembuhkanku
Kemudian ia menarik napas hingga memenuhi kain yang ia kenakan. Kemudian ia membeku dan ia telah meninggal. Maka aku mengurus urusannya dan menshalatkannya. Lalu dikatakan: “Tahukah kamu siapa ini? Ini adalah Urwah bin Hizam.”
Telah menceritakan kepada kami Al-Mubarak bin Ali, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Abdul Jabbar dan telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abi Thahir, keduanya dari Ibrahim bin Umar Al-Barmaki dari Ahmad bin Ja’far bin Salm, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abu Dalf Hasyim bin Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Abbas bin Al-Faraj Ar-Riyasyi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Umar bin Bukair, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Haitsam bin Adi dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku An-Nu’man bin Basyir, ia berkata: “Umar bin Al-Khaththab radiallahu anhu menugaskanku, atau ia berkata Utsman – perawi ragu – mengurus sedekah Sa’d Hudzaim. Ketika aku mengumpulkan sedekah dan membagikannya kepada yang berhak, aku kembali. Ketika aku berada di tanah Udzrah di sebuah perkampungan mereka yang disebut Bani Hind, tiba-tiba aku melihat sebuah rumah yang terisolasi terpisah dari perkampungan. Aku condong kepadanya, tiba-tiba ada seorang wanita tua duduk di sudut rumah dan tiba-tiba ada seorang pemuda tidur di bawah naungan rumah. Ketika aku mendekat dan mengucapkan salam, ia bersenandung dengan suara yang lemah:
Aku memberi keputusan kepada dukun Yamamah / Dan dukun Najd jika keduanya menyembuhkanku
Keduanya berkata: Ya, kami menyembuhkan dari segala penyakit / Dan keduanya bangkit bersama para penjenguk berlomba-lomba
Ya dan tentu keduanya berkata: Sejak kapan kamu seperti ini / Untuk menanyaiku, aku berkata: Sejak dahulu
Mereka tidak meninggalkan jampi apa pun yang mereka ketahui / Dan tidak pula obat penenang kecuali dengannya mereka minumkan kepadaku
Keduanya berkata: Allah menyembuhkanmu, dan demi Allah kami tidak memiliki / Apa yang dipikul tulang rusukmu dalam kendali kami
Kemudian ia tertarik napas pelan. Aku melihat dan ia telah meninggal. Maka aku berkata: “Wahai wanita tua, aku tidak menyangka orang yang tidur ini di halaman rumahmu kecuali ia telah meninggal.” Maka ia berkata: “Dirinya demi Allah dirinya” tiga kali.
Maka masuk ke dalam diriku sesuatu yang tidak diketahui kecuali oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Aku bersedih dan takut bahwa kematiannya karena perkataanku. Ketika wanita tua itu melihat kesedihanku, ia berkata: “Tenangkan dirimu, karena sesungguhnya ia telah meninggal pada ajalnya dan beristirahat dari apa yang ia alami, dan ia telah menghadap kepada Tuhan Yang Maha Pengampun. Apakah kamu bersedia menyempurnakan pahala? Rumah-rumah ini dekat darimu, datangilah mereka dan beritakan kematiannya kepada mereka, serta mintalah mereka untuk menghadirinya.”
Maka aku mengendarai (kendaraanku) dan mendatangi rumah-rumah mereka yang berjarak sekitar satu mil. Aku memberitakan kematiannya kepada mereka dan aku telah menghafal syair itu. Maka laki-laki demi laki-laki dari mereka mengucapkan istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un).
Ketika aku berkeliling, tiba-tiba ada seorang wanita keluar dari tendanya menyeret kerudungnya terurai seakan-akan ia adalah matahari terbit. Maka ia berkata: “Wahai pembawa kabar, dengan mulutmu yang berdebu, dengan mulutmu yang berbatu, siapa yang kamu kabarkan kematiannya?” Aku berkata: “Urwah bin Hizam.” Ia berkata: “Demi Dzat yang mengutus Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dengan kebenaran dan memilihnya dengan kenabian, apakah ia benar-benar meninggal?” Aku berkata: “Ya.” Ia berkata: “Apa yang ia lakukan sebelum kematiannya?” Maka aku membacakan syair kepadanya. Demi Allah, aku belum selesai hingga ia berkata:
Yang menghalangiku untuk menziaratimu wahai kekasihku / Adalah sekelompok orang yang semuanya adalah pengumpat yang dengki
Mereka menyebarkan apa yang aku dengar dari bencana / Dan mereka mencela kami padahal tidak ada orang yang bijak di antara mereka
Maka jika hari ini engkau berada di liang lahad / Dan rumah manusia semuanya adalah lahad
Maka tidak akan enak bagiku dunia ini sedikitpun / Dan tidak bagi mereka, dan tidak banyak harta
Kemudian ia pergi bersamaku dan bersama kaum itu berteriak dan meratap hingga kami sampai kepadanya. Kami memandikannya, mengafaninya, menshalatkannya, dan menguburkannya. Ia datang dan merebahkan diri di atas kubur.
Aku menggerakkan kendaraanku dan memasuki Syam. Aku masuk menemui Yazid dan menyerahkan surat kepadanya serta memberitahukan urusan yang aku datang untuknya. Maka ia berkata kepadaku: “Apakah kamu melihat sesuatu di perjalananmu?” Maka aku menceritakan kepadanya…” dan ia menyebutkan hadits hingga ia berkata: “Wanita itu merebahkan diri di atas kubur selama tiga hari tidak makan dan tidak minum. Ia tidak diangkat kecuali sudah meninggal.”
Aku (penulis kitab) berkata: Hikayat ini, aku tidak menyangka perawi dari Al-Haitsam menghafalnya. Dan hikayat ini telah diriwayatkan kepada kami dari jalur selain ini yang lebih sahih.
Muhammad bin Abi Manshur mengabarkan kepada kami, dia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu al-Hasan Ahmad bin Abdullah al-Anmathi memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu Hamid Ahmad bin al-Husain al-Maruzi memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu al-Abbas Ahmad bin al-Harith bin Muhammad bin Abdul Karim al-Maruzi memberitahukan kepada kami, dia berkata: Kakekku Muhammad bin Abdul Karim menceritakan kepadaku, dia berkata: Al-Haitsam bin Adi menceritakan kepada kami, dia berkata: Hisyam bin Urwah memberitahukan kepada kami dari ayahnya dari Nu’man bin Basyir, dia berkata: Umar bin Khaththab atau Utsman bin Affan—perawi ragu—mengangkatku sebagai pengumpul zakat dari Sa’d Hudzaim, mereka adalah Udzrah, Salaman, dan al-Harits, mereka dari suku Qudha’ah. Ketika aku telah mengumpulkan zakat dan membagikannya kepada yang berhak menerimanya, lalu aku kembali membawa dua bagian yang tersisa kepada Umar atau Utsman. Ketika aku berada di tanah Udzrah di sebuah perkampungan yang disebut Bani Hind, tiba-tiba aku melihat sebuah rumah yang terpencil, terpisah dari perkampungan. Aku menghampirinya, dan ternyata ada seorang wanita tua duduk di pojok rumah, dan ada seorang pemuda tertidur di bayangan rumah itu. Ketika aku mendekat dan mengucapkan salam, dia bersenandung dengan suara yang lemah lalu berkata:
Aku telah menjadikan dukun Yamamah sebagai hakimku Dan dukun Najd jika keduanya dapat menyembuhkanku Keduanya berkata: Ya, kami akan menyembuhkan dari segala penyakit Lalu keduanya bangkit bersama para penjenguk berlomba-lomba Ya dan tentu, keduanya bertanya: Sejak kapan kau seperti ini? Untuk menanyakanku, aku berkata: Sejak lama Maka tidak ada jampi yang mereka ketahui Dan obat penenang kecuali dengannya mereka memberi minumanku Lalu keduanya berkata: Semoga Allah menyembuhkanmu, demi Allah tidak ada bagi kami Terhadap apa yang tersimpan darimu di dalam dada, daya upaya
Kemudian dia menghela napas pelan. Aku memperhatikan, ternyata dia telah meninggal. Aku berkata: Wahai wanita tua, kurasa pemuda yang tertidur di halaman rumahmu ini telah meninggal.
Dia berkata: Demi Allah, aku juga berpikir demikian. Lalu dia bangkit dan melihatnya, kemudian berkata: Telah terlaksana, demi Tuhan Muhammad. Aku berkata: Wahai hamba Allah, siapa ini? Dia berkata: Urwah bin Hizam al-Udzri, dan aku ibunya. Aku bertanya: Apa yang membawanya ke kondisi ini? Dia menjawab: Cinta. Tidak, demi Allah, aku tidak mendengar perkataannya sejak setahun kecuali di awal hari ini, karena aku mendengarnya berkata:
Siapa saja dari ibuku yang menangis selamanya Maka hari ini aku melihat diriku hari ini dicabut nyawaku Dengarkanlah kepadaku karena aku tidak akan mendengar Jika aku naik ke atas pundak-pundak orang-orang terbaring
Nu’man berkata: Demi Allah, aku tinggal bersamanya hingga dia dimandikan, dikafani, diberi wangi-wangian, dishalatkan, dan dikuburkan. Dia berkata: Aku bertanya kepada Nu’man: Apa yang mendorongmu melakukan itu? Dia berkata: Mengharap pahala demi Allah padanya.
Telah diriwayatkan oleh Hisyam bin Muhammad as-Sa’ib dari Abu Miskin bahwa Afra ketika sampai kepadanya berita kematian Urwah berkata kepada suaminya: Wahai suamiku, telah terjadi pada lelaki ini apa yang telah sampai kepadamu, demi Allah itu tidak lain kecuali atas kebaikan yang indah, dan sungguh telah sampai kepadaku bahwa dia telah meninggal sebelum sampai ke negerinya di tanah asing. Jika engkau memandang untuk mengizinkanku maka aku akan keluar bersama beberapa wanita dari kaumku untuk meratapi dan menangisinya. Dia berkata: Jika engkau mau. Lalu dia mengizinkannya, maka keluarlah dia dan berkata meratapi Urwah:
Wahai rombongan yang sedang bergegas, celakalah kalian Dengan benar kalian kabarkan kematian Urwah bin Hizam Maka tidak menyenangkan para pemuda setelahmu serangan Dan tidak kembali mereka dari ketidakhadiran dengan selamat Maka katakan kepada wanita hamil jangan berharap pada yang gaib Dan tidak ada yang gembira setelahnya dengan anak laki-laki
Dia berkata: Dia tidak berhenti mengulang syair-syair ini dan menangis hingga dia meninggal, lalu dikuburkan di sampingnya.
Berita itu sampai kepada Mu’awiyah, maka dia berkata: Seandainya aku tahu tentang kedua orang mulia ini, niscaya aku akan menyatukan keduanya.
Aku berkata: Dan telah diriwayatkan dari Umar bin Khaththab juga bahwa dia berkata: Seandainya aku tahu tentang keduanya, niscaya aku akan menyatukan keduanya.
Syahdah binti Ahmad bin al-Faraj mengabarkan kepada kami, dia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahukan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin al-Abbas bin Huwaiyah menyebutkan, dia berkata: Abu Bakar Muhammad bin Khalaf menceritakan kepadaku, dia berkata: Abu Muhammad al-Balkhi menceritakan kepadaku, dia berkata: Ahmad bin Suraqah menceritakan kepadaku, dia berkata: Al-Abbas bin al-Faraj menceritakan kepadaku, dia berkata: Aku mendengar al-Ashma’i berkata dari Ibnu Abi az-Zinad, dia berkata: Umar bin Khaththab berkata: Seandainya aku mendapati Afra dan Urwah, niscaya aku akan menyatukan keduanya.
Abu Bakar bin Daud telah menyebutkan dalam kitab az-Zahrah kisah kematian Afra secara terperinci. Dia berkata: Ketika Urwah bin Hizam pulang dari tempat Afra binti Iqal lalu meninggal sendirian, ada rombongan yang melewatinya dan mengenalinya. Ketika mereka sampai ke rumahnya, salah seorang dari mereka berseru:
Wahai istana yang lupa penghuninya Dengan benar kami kabarkan kematian Urwah bin Hizam
Maka dia menjawab dengan berkata:
Wahai rombongan yang sedang bergegas, celakalah kalian Dengan benar kalian kabarkan kematian Urwah bin Hizam
Mereka menjawabnya:
Ya, kami telah meninggalkannya di tanah yang jauh Berdiam di sana di bukit-bukit pasir dan bukit-bukit
Maka dia berkata kepada mereka:
Jika benar apa yang kalian katakan, maka ketahuilah Bahwa sungguh kalian telah kabarkan cahaya setiap kegelapan Maka tidak mendapat para pemuda setelahmu kenikmatan Dan tidak kembali dari ketidakhadiran dengan selamat Dan tidak melahirkan seorang perempuan dengan sempurna sepertinya Dan tidak bergembira setelahnya dengan anak laki-laki Dan tidak, tidak sampai kalian ke mana kalian tuju untuknya Dan kalian benci lezatnya setiap makanan
Kemudian dia bertanya kepada mereka di mana mereka menguburkannya. Mereka memberitahunya. Maka dia pergi ke kuburnya. Ketika dekat dengan lokasi kuburnya, dia berkata: Aku ingin buang hajat. Maka mereka menurunkannya, lalu dia menyelinap ke kuburnya dan menungging di atasnya. Mereka tidak terkejut kecuali dengan suaranya. Ketika mereka mendengarnya, mereka segera mendatanginya, ternyata dia terbaring di atas kubur dan jiwanya telah keluar. Maka mereka menguburkannya di sampingnya.
Muhammad bin Abdul Malik memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ali bin Ayyub al-Qummi menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Imran menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Muhammad bin Abi Sa’id menceritakan kepada kami, dia berkata: Ishaq bin Muhammad an-Nakha’i menceritakan kepadaku, dia berkata: Mu’adz bin Yahya ash-Shan’ani menceritakan kepadaku, dia berkata: Aku keluar dari Mekah menuju Shan’a. Ketika kami berjarak lima mil dari Shan’a, aku melihat orang-orang turun dari tandu mereka dan mengendarai hewan tunggangan mereka. Aku bertanya: Kalian mau ke mana? Mereka berkata: Kami ingin melihat kubur Afra dan Urwah. Maka aku turun dari tunduku dan mengendarai keledaiku dan bergabung dengan mereka. Aku sampai ke dua kubur yang berdekatan. Dari kubur ini telah keluar batang pohon dan dari kubur ini keluar batang pohon, hingga ketika keduanya mencapai tinggi satu qamah (ukuran tinggi orang), keduanya bertemu. Orang-orang berkata: Keduanya bersatu dalam kehidupan, dalam kematian. Dalam riwayat lain, Ishaq berkata: Aku bertanya kepada Mu’adz: Jenis pohon apakah itu? Dia berkata: Aku tidak tahu.
Aku telah bertanya kepada penduduk kampung tentangnya, mereka berkata: Pohon seperti ini tidak dikenal di negeri kami. Di antara syair-syair Urwah yang indah:
Seandainya orang yang paling kuat rindu dan yang sepertinya Dari jin setelah manusia bertemu Lalu keduanya mengeluh rindu kemudian aku mengeluh Rinduku yang terlemah di atas apa yang mereka rasakan Sungguh dia telah meninggalkanku tidak mengerti pembicara Pembicaraan meskipun aku berbisik dengannya dan dia berbisik kepadaku Dan sungguh Afra telah meninggalkan hatiku seakan-akan Sayap burung elang yang terus berdebar
Pasal: Di antara orang-orang yang terkenal dengan cinta adalah al-Abbas bin al-Ahnaf bin al-Aswad, asalnya dari Khurasan dan tumbuh di Baghdad
Muhammad bin Abdul Malik memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ali bin Ayyub mengabarkan kepadaku, dia berkata: Muhammad bin Imran menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Yahya mengabarkan kepadaku, dia berkata: Al-Abbas bin al-Ahnaf berkata:
Celaka para kekasih betapa sengsaranya nasib mereka Jika seperti yang ada padaku pada para kekasih Mereka menderita di dunia ini dengan cinta mereka Tidak meraih dengannya dunia dan tidak agama Hatiku lembut kepada orang-orang yang mencinta, sesungguhnya mereka Jika melihatku dan apa yang aku alami, mereka melembutkan
Dia berkata: Dan dia juga berkata:
Wahai yang meratapi kaum yang telah binasa Bumi menjadi atas mereka berlapis-lapis Ratapilah para pencinta bukan selain mereka Sesungguhnya yang binasa adalah yang telah mencinta
Muhammad bin Abdul Malik memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu al-Husain bin al-Muhtadi memberitahukan kepada kami, dia berkata: Abu al-Fadhl Muhammad bin al-Hasan bin al-Ma’mun memberitahukan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Abi Ayyub menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Nuwas dan al-Abbas bin al-Ahnaf bertemu.
Abu Nuwas meminta al-Abbas membacakan syair, maka dia membacakan untuknya:
Cinta wanita Hijaz telah melapukkan tulang-tulang
Ketika sampai pada ucapannya:
Tuanku, tuanku, sesungguhnya Tidak ada bagi apa yang ada pada para pencinta penyembunyian Tuanku, tuanku, sesungguhnya aku Lemah dari memikul cobaan-cobaan besar Tuanku, tuanku, maka dengarlah Seruan orang mati yang mencinta dan terpesona
Dan dia melanjutkan dalam banyak bait yang setiap awal baitnya “tuanku, tuanku”. Maka Abu Nuwas berkata kepadanya: Sungguh engkau telah merendah kepada wanita ini dengan kerendahan yang membuatku mengira bahwa engkau akan mati sebelum selesai qasidah ini.
Abu Manshur al-Qazzaz mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitahukan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin al-Hasan al-Ahwazi memberitahukan kepada kami, dia berkata: Al-Hasan bin Abdullah al-Lughawi memberitahukan dari Muhammad bin Yahya, dia berkata: Aku mendengar Abdullah bin al-Mu’tazz berkata: Seandainya dikatakan kepadaku: Apakah syair paling indah yang kau ketahui? Niscaya aku akan berkata: Syair al-Abbas bin al-Ahnaf:
Sungguh orang-orang telah menyeret ekor prasangka kepada kami Dan orang-orang terpecah tentang kami perkataan mereka terpecah Maka pembohong telah melempar dengan prasangka selain kalian Dan yang jujur tidak tahu bahwa dia benar
Abu Manshur mengabarkan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Ali memberitahukan kepada kami, dia berkata: Al-Jauhari memberitahukan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin al-Abbas menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin al-Qasim al-Anbari menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin al-Marzuban menceritakan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Abi Thahir menceritakan kepada kami, dia berkata: Salah seorang sahabat kami berkata kepadaku, dia berkata: Basysyar berkata: Kami tidak menghitung pemuda ini di antara para penyair—maksudnya al-Abbas bin al-Ahnaf—hingga dia mengatakan dua bait ini:
Tangisan telah menguras air mata matamu, maka carilah Mata untuk orang lain darimu air matanya mengalir deras Siapa yang akan meminjamkan matanya kepadamu untuk menangis dengannya Wahai yang untuk mata untuk tangisan dipinjam
Abu Manshur al-Qazzaz mengabarkan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Ali memberitahukan kepada kami, dia berkata: Ali bin Ayyub menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Abdullah al-Marzubani membacakan kepada kami dari Muhammad bin Yahya ash-Shuli untuk al-Abbas bin al-Ahnaf:
Dengan tidak ridaku aku memperpanjang sikap dingin darimu dan aku diuji Dengan hijrahmu, hati yang tidak berhenti darimu lelah Dan aku bukan dalam sikap dingginku orang pertama yang punya rindu Melihat sebagian yang tidak dia inginkan lalu menjauhi Menjauhi yang mencari ketenangan namun tidak menemukan Untuknya darimu di bumi yang jauh jalan keluar
Ibnu al-Marzuban berkata: Dan Ali bin Harun menceritakan kepada kami, dia berkata: Ayahku memberitahukan kepadaku, dia berkata: Di antara syair al-Abbas bin al-Ahnaf yang bagus adalah ucapannya:
Sungguh musuh-musuhku telah melembutkan karena apa yang menimpaku Maka seandainya kekasih-kekasihku seperti musuh-musuhku Aku berharap dengan perpisahan bagiku kenyamanan Dari bara api di antara isi perutku Maka bertambah usahaku dan cobaanku dengannya Aku adalah yang mencari kesembuhan dengan penyakit
Dia berkata: Dan ucapannya:
Wahai yang mengingkariku pandangannya Karena tubuhku telah kurus dan pucat meliputiku Tidak menimpaku bahaya tetapi aku Menelantarkan diriku ketika kekasih menelantarkanku
Abu Mansur memberitahuku, ia berkata: Ahmad bin Ali memberitahu kami, ia berkata: Ali bin Ayyub memberitahu kami, ia berkata: Al-Marzbani memberitahu kami, ia berkata: Ash-Shauli memberitahu kami, ia berkata: Diriwayatkan dari Az-Zubair bin Bakkar bahwa Bisyar melantunkan syair Al-Abbas bin Al-Ahnaf ketika pertama kali ia mengucapkan syair:
Ketika kulihat malam menutup jalannya dariku, dan kegelapan yang diam menyiksaku Bintang di tengah langit seolah-olah orang buta yang bingung tanpa penuntun Kupanggil orang yang tidurnya terusir oleh tidur, tentang apa yang kualami sementara ia tidur dengan tenang
Maka ia (Bisyar) berkata: “Semoga Allah membunuh pemuda ini, ia tidak puas menjadikannya buta sampai ia menjadikannya tanpa penuntun.”
Aku berkata: Dan telah gugur dari qasidah ini bait lain:
Kupanggil orang yang tidurnya dicegah oleh keengganannya, sampai kapan aku terjaga wahai yang tidur
Dan Al-Abbas bin Al-Ahnaf berkata:
Aku menjauhi mereka namun hati merindukan kepada mereka, demi jiwaku tempat yang dijauhi itu Jika mereka disebut aku berpaling bukan karena bosan, padahal menyebut mereka adalah sesuatu yang kucintai Meskipun mereka lebih manis daripada kehidupan bagiku, lebih lezat dari jernihnya hidup dan lebih harum
Dan ia berkata:
Jika aku ingin melupakan, yang menolongmu adalah hatiku, maka apakah aku bisa menang atas hatiku Maka perbanyaklah atau kurangilah keburukanmu, semua itu ditanggung atas takdir Kutaruh pipiku untuk yang paling dekat dari yang mengelilingimu, hingga aku diremehkan padahal orang sepertiku tak layak diremehkan
Dan ia berkata:
Hatiku berkata kepada mataku setiap kali melihat: Berapa banyak kau melihat, semoga Allah melemparimu dengan kebutaan Wahai yang bertanya tentang Fauz dan rupanya, jika kau belum melihatnya maka lihatlah bulan Aku terus mengira matahari itu hanya satu, hingga kulihat ia punya saudara dari manusia
Abdulwahhab dan Ibnu Nashir memberitahu kami, keduanya berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitahu kami, ia berkata: Yahya bin Al-Hasan bin Al-Mundzir memberitahu kami, ia berkata: Ismail bin Suwaid memberitahu kami, ia berkata: Abu Bakar bin Al-Anbari menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku melantunkan kepadaku untuk Al-Abbas bin Al-Ahnaf, ia berkata: Dan diriwayatkan untuk selainnya:
Sungai mengalir membuatku menangis ketika mengalir, dan menggugah darinya dari mataku air mata Itu tidak lain karena ketika kukabarkan bahwa ia melewati lembah yang kau dekat darinya Ia asin tanpamu, maka jika sampai kepadamu ia menemui keharumanmu lalu menjadi harum Wahai penghuni timur Sungai Dijlah kalian semua, ke hati dari cinta kekasih adalah kekasih
Abu Al-Ma’mar Al-Anshari memberitahu kami, ia berkata: Sha’id bin Sayyar memberitahu kami, ia berkata: Ahmad bin Abi Sahl Al-Ghurji memberitahu kami, ia berkata: Ishaq bin Ibrahim Al-Hafizh memberitahu kami dengan ijazah, ia berkata: Aku mendengar Al-Hasan bin Ali As-Sijistani berkata: Aku mendengar Abu Al-Qasim An-Numairi berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku mendengar Ahmad bin Umar Az-Zanbqi berkata: Al-Abbas bin Al-Ahnaf berkata:
Urusan cinta tidak diatur dengan akal, tidak dengan analogi dan pemikiran Sesungguhnya urusan cinta hanyalah bisikan-bisikan yang menciptakan perkara-perkara setelah perkara-perkara
Abu Mansur Al-Qazzaz memberitahu kami, ia berkata: Ahmad bin Ali Al-Hafizh memberitahu kami, ia berkata: Abu Al-Qasim Al-Azhari memberitahuku, ia berkata: Muhammad bin Ja’far Al-Adib menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Al-Qasim As-Sakuni menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Husain bin Makram menceritakan kepada kami, ia berkata: Yazid Ats-Tsumali menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Atahiyah, Al-Abbas bin Al-Ahnaf, dan Ibrahim Al-Maushili meninggal dalam satu hari, maka berita mereka dilaporkan kepada Ar-Rasyid lalu Al-Ma’mun diperintahkan untuk menshalatkan mereka. Maka Al-Ma’mun datang dan mereka telah dibariskan untuknya di tempat jenazah. Maka ia berkata: “Siapa yang kalian kedepankan?” Mereka berkata: “Ibrahim.” Ia berkata: “Akhirkan dia dan kedepankan Abbas.” Ketika selesai dari shalat, seseorang menghadangnya dan berkata kepadanya: “Mengapa kau kedepankan Abbas?” Ia berkata: “Karena ucapannya:
Sekelompok orang menyebutkan namamu kepadaku dan berkata bahwa dialah yang membuatmu menderita dan bersusah payah Maka aku mengingkari mereka agar sangkaan mereka adalah selainmu, sungguh aku kagum dengan kekasih yang mengingkari”
Al-Khatib berkata: Dalam hal ini ada yang perlu ditinjau karena wafatnya Al-Abbas adalah di Bashrah.
Abdurrahman bin Muhammad memberitahu kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitahu kami. Dan Muhammad bin Nashir memberitahu kami, ia berkata: Abu Thahir bin Sawwar memberitahu kami, keduanya berkata: Ali bin Al-Muhsin At-Tanukhi memberitahu kami, ia berkata: Ubaidullah bin Abdurrahman Az-Zuhri memberitahu kami, ia berkata: Muhammad bin Al-Qasim Asy-Syathawi menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ubaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Al-Ashma’i berkata: Suatu hari ketika aku duduk di suatu majelis di Bashrah, tiba-tiba ada seorang pemuda yang paling tampan wajahnya dan pakaiannya berdiri di kepalaku, lalu berkata: “Sesungguhnya tuanku ingin berwasiat kepadamu.” Maka aku bangkit bersamanya lalu ia memegang tanganku hingga membawaku keluar ke padang pasir, tiba-tiba aku mendapati Al-Abbas bin Al-Ahnaf tergeletak di tempat tidurnya sedang menghembuskan nafas terakhir dan ia berkata:
Wahai yang jauh rumahnya dari tanah airnya, sendirian menangis atas kesedihannya Setiap kali tangisan keras padanya, bertambahlah penyakit di tubuhnya
Kemudian ia pingsan sesaat lalu tersadar oleh suara burung di atas pohon dan ia berkata:
Dan sungguh hati bertambah sedih, ada yang memanggil menangis di atas dahannya Ia dirindukan oleh apa yang merinduku lalu menangis, kita semua menangis atas penghuni kita
Kemudian ia pingsan lagi maka kusangka seperti yang pertama, lalu kugerakkan dia ternyata ia telah meninggal.
Pasal: Dan di antara orang-orang yang terkenal dengan cinta adalah Dzu Ar-Rummah
Ali bin Ubaidullah memberitahu kami, ia berkata: Abu Ja’far Muhammad bin Ahmad bin Al-Maslamah memberitahu kami, ia berkata: Abu Ubaidillah Muhammad bin Imran Al-Marzbani memberitahu kami, ia berkata: Muhammad bin Ahmad Al-Katib menceritakan kepadaku, ia berkata: Ahmad bin Abi Khaitsama menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Ziyad Al-A’rabi, ia berkata: Abu Shalih Al-Fazari menceritakan kepadaku, ia berkata: Dzu Ar-Rummah disebut dalam majelis yang ada beberapa orang Arab Badui, maka Ishmah bin Malik Al-Fazari, seorang syaikh di antara mereka yang mencapai seratus dua puluh tahun berkata: “Tanyakan kepadaku tentang dia. Dia manis matanya, bagus senyumnya, berseri giginya, ringan pipinya. Jika ia berbicara denganmu kau tidak bosan dengan bicaranya, dan jika ia melantunkan syair ia bergumam dan suaranya serak. Suatu kali kami bertemu di suatu padang rumput, lalu ia datang kepadaku dan berkata: ‘Ayo Ishmah, sesungguhnya Mayya dari Bani Munqir, dan Munqir adalah kabilah paling jahat. Aku akan mengikuti jejaknya dan menetapnya dalam pandangan dan mengenalnya dengan pengelihatan. Dan mereka telah mengetahui jejak untaku, apakah ada unta yang kita awasi untuk Mayya?'”
Aku berkata: “Ya demi Allah, Al-Ju’dzar.” Ia berkata: “Mari kita ambil.” Maka kudatangkan unta itu lalu ia naik dan kunaiki di belakangnya, kemudian kami berangkat hingga kami turun ke perkampungan Mayya, dan kampung itu kosong. Ketika para wanita melihat kami, mereka mengenali Dzu Ar-Rummah lalu berhamburan dari rumah-rumah mereka hingga berkumpul kepada Mayya. Kami menambatkan unta dekat dan kami memberi salam kepada mereka. Maka seorang wanita yang cerdas di antara mereka berkata: “Lantunkanlah untuk kami Dzu Ar-Rummah.” Maka ia berkata kepadaku: “Lantunkanlah untuk mereka.” Maka aku melantunkan untuk mereka ucapannya:
Aku berhenti dengan untaku di bekas rumah Mayyah, maka aku terus menangis di sana dan berbicara dengannya
Ketika aku sampai pada ucapannya:
Aku melihat ke rombongan Mayya seolah-olah mereka puncak pohon kurma atau pohon tamariska yang cabang-cabangnya melambai Maka kedua mata menangis dan hati menyimpan, dengan air mata yang melimpah yang mengalir mengadukan diriku Menangis seorang pecinta yang datang perpisahan dan belum terbuka rahasia-rahasia dan teguran-tegurannya
Wanita cerdas itu berkata: “Tetapi hari ini biarlah terbuka.”
Kemudian aku melanjutkan hingga sampai pada ucapannya:
Dan sungguh Mayyah bersumpah demi Allah bahwa yang kuperbicarakan dengannya hanyalah yang aku dustakan Jika demikian semoga Allah melempari aku dari tempat yang tak kulihat, dan tetap ada musuh di tanahku yang kuperangi
Mayyah berkata: “Celakalah engkau wahai Dzu Ar-Rummah, takutilah akibat Allah Azza wa Jalla.”
Kemudian aku melanjutkan hingga sampai pada ucapannya:
Jika terlepas dari cinta Mayya berbagai hal ke hati, kembalilah semuanya secara lengkap
Maka wanita cerdas itu berkata: “Kau membunuhnya, semoga Allah membunuhmu.”
Maka Mayyah berkata: “Sungguh benar itu dan untunglah untuknya.”
Ia (perawi) berkata: Maka Dzu Ar-Rummah menarik nafas sekali hingga panasnya hampir menerbangkan jenggotnya. Kemudian aku melanjutkan hingga sampai pada ucapannya:
Jika Mayyah berdebat denganmu atau wajahnya tampak atau baju besinya ditanggalkan oleh yang menanggalkan Maka untukmu dari pipi yang halus dan ucapan yang lembut dan dari akhlak yang menghibur yang gerah
Maka wanita cerdas itu berkata: “Wajah ini telah tampak dan ucapan ini telah didebatkan, maka siapa untuk kita agar baju besi ditanggalkan oleh yang menanggalkan?”
Maka Mayyah menoleh kepadanya dan berkata: “Apa urusanmu, semoga Allah membunuhmu, apa yang kau jawab?”
Maka para wanita tertawa, lalu wanita cerdas itu berkata: “Sesungguhnya keduanya ini punya urusan, maka marilah kita tinggalkan mereka berdua.”
Maka mereka bangkit dan aku bangkit lalu aku pergi ke rumah dekat mereka berdua, aku melihat mereka tapi tidak mendengar pembicaraan mereka kecuali huruf demi huruf. Demi Allah aku tidak melihatnya beranjak dari tempatnya dan tidak bergerak, dan aku mendengarnya (Mayyah) berkata: “Kau berdusta demi Allah.”
Demi Allah aku tidak tahu apa yang ia dustakan darinya. Mereka berbicara sejenak kemudian ia datang kepadaku dan bersamanya botol kecil berisi minyak wangi, lalu berkata: “Ini minyak wangi yang Mayya hadiah kepada kita, maka terserah kau dengannya. Dan ini kalung-kalung yang ia bekali untuk Al-Ju’dzar, demi Allah aku tidak akan pernah mengalungkannya pada unta selamanya.” Kemudian ia mengikatnya di ujung pedangnya.
Ia berkata: Dan kami pulang, maka kami terus saling mengunjungi padang rumput kami hingga selesai.
Kemudian suatu hari ia datang kepadaku dan berkata: “Wahai Ishmah, Mayya telah pergi, maka tidak tersisa kecuali rumah-rumah dan melihat bekas-bekas, maka pergilah dengan kami untuk melihat bekas-bekasnya.”
Maka kami keluar hingga berhenti di rumah-rumahnya, lalu ia mulai memandang kemudian berkata:
Selamatlah wahai rumah Mayya atas kehancuran, dan tidak akan berhenti tempat minum di lembahmu hujan Meskipun kau tidak lain hanya padang gersang di gurun, diseret di sana ekor-ekor awan musim panas yang keruh
Kemudian kedua matanya basah dengan air mata, maka aku berkata: “Sudahlah.” Ia berkata: “Sungguh aku tegar meskipun dariku ada apa yang kau lihat.”
Maka aku tidak melihat kesedihan sama sekali dan ketegaran yang lebih baik dari kesedihan dan ketegarannya hari itu.
Kemudian kami pulang dan itu adalah pertemuan terakhir dengannya.
Pasal: Dan di antara mereka adalah Taubah bersama Laila Al-Akhyaliyah
Abdulwahhab dan Ibnu Nashir memberitahu kami, keduanya berkata: Abu Al-Hasan bin Abdul Jabbar memberitahu kami, ia berkata: Al-Husain bin Muhammad An-Nushaibi memberitahu kami, ia berkata: Ismail bin Suwaid memberitahu kami, ia berkata: Abu Bakar bin Al-Anbari menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Ahmad bin Ubaid menceritakan kepada kami dari Abu Al-Hasan Al-Mada’ini dari yang menceritakan kepadanya dari budak Anbasah bin Sa’id bin Al-Ash, ia berkata: Aku biasa masuk bersama Anbasah bin Sa’id ketika ia masuk kepada Al-Hajjaj, lalu suatu hari ia masuk maka aku masuk kepada mereka berdua dan tidak ada di sisi Al-Hajjaj selain Anbasah, maka aku duduk. Datanglah penjaga pintu lalu berkata: “Seorang wanita di pintu.” Al-Hajjaj berkata: “Masukkanlah dia.” Maka ia masuk, ketika Al-Hajjaj melihatnya ia menundukkan kepalanya.
Ia datang hingga duduk di hadapannya, lalu ia (Al-Hajjaj) memandangnya, ternyata ia seorang wanita sudah tua, baik penampilannya, dan bersamanya dua budak wanitanya. Ternyata ia adalah Laila Al-Akhyaliyah.
Maka Al-Hajjaj bertanya kepadanya tentang nasabnya, lalu ia menyebutkan nasabnya kepadanya. Ia berkata: “Wahai Laila, apa yang membawamu kepadaku?”
Ia berkata: “Bintang-bintang yang mengingkari janji, sedikitnya awan, kerasnya dingin, beratnya kesulitan, dan kau setelah Allah adalah penolong.”
Maka ia berkata kepadanya: “Sifatkanlah jalan-jalan.”
Ia berkata: “Jalan-jalan berdebu, bumi mengerut, tempat bersandar sakit, yang punya tanggungan menderita, yang binasa adalah yang miskin, dan orang-orang mengharapkan rahmat Allah. Dan menimpa kami tahun-tahun yang memusnahkan dan menghancurkan, tidak meninggalkan bagi kami anak domba yang menyusu atau anak domba yang disapih, tidak yang kentut atau yang bersin, menghilangkan harta, memisahkan laki-laki, dan membinasakan tanggungan.”
Kemudian ia berkata: “Sesungguhnya aku telah mengucapkan untuk Amir ucapan.” Ia berkata: “Kemukakalah.” Maka ia mulai mengucapkan:
Wahai Hajjaj, jangan tumpul senjatamu, sesungguhnya kematian ada di tangan Allah di mana Ia melihatnya Wahai Hajjaj, jangan beri para pembangkang keinginan mereka, dan Allah tidak memberi para pembangkang keinginan mereka Jika Al-Hajjaj turun ke tanah yang sakit, ia mengikuti ujung penyakitnya lalu menyembuhkannya Ia menyembuhkannya dari penyakit kronis yang ada padanya, pemuda yang jika mengayunkan tombak ia memberinya minum Memberinya minum lalu memuaskannya dengan minuman ember penuh, darah laki-laki di mana ia berkata ia melindungi Jika Al-Hajjaj mendengar hiruk pikuk pasukan, ia menyiapkan untuknya sebelum turun jamu tamunya Ia menyiapkan untuknya (pedang) Persia yang beracun, di tangan laki-laki yang memerah susunya Maka tidak melahirkan anak sulung dan yang pertengahan seperti dia, di Najd atau tanah yang tanahnya ringan
Dia berkata: Ketika dia (Layla) mengatakan ini, Hajjaj berkata: “Semoga Allah membinasakan dia! Tak ada penyair yang menggambarkan sifatku sejak aku masuk Irak selain dia.” Kemudian dia menoleh kepada Anbasah bin Sa’id dan berkata: “Demi Allah, sungguh aku mempersiapkan untuk perkara yang mungkin tidak akan pernah terjadi.” Kemudian dia menoleh kepadanya dan berkata: “Cukup, celakalah kamu, cukup!” Lalu dia berkata: “Wahai pemuda, pergilah kepada si fulan dan katakan kepadanya: potong lidahnya.”
Dia berkata: Maka dia memerintahkan menghadirkan tukang bekam. Layla menoleh kepadanya dan berkata: “Semoga ibumu kehilangan dirimu! Tidakkah kamu mendengar apa yang dia katakan? Sesungguhnya dia memerintahkanmu untuk memotong lidahku dengan pemberian.” Maka Hajjaj mengirim utusan kepadanya untuk memastikan, lalu Hajjaj sangat marah dan bermaksud memotong lidahnya (tukang bekam itu) dan berkata: “Kembalikan dia!” Ketika dia (Layla) masuk menemuinya, dia berkata: “Hampir saja, demi Allah, dia memotong ucapanku.” Kemudian dia mulai membacakan syair:
Hajjaj, engkau yang tak ada seorang pun di atasmu Kecuali Khalifah dan Yang Maha Pengampun, Yang Maha Terpuji
Hajjaj, engkau adalah nyala api perang ketika berkobar Dan engkau bagi manusia adalah bintang di kegelapan yang membimbing
Kemudian Hajjaj menghadap kepada para hadirin dan berkata: “Tahukah kalian siapa wanita ini?” Mereka berkata: “Tidak, demi Allah wahai Amirul Mukminin, tetapi kami belum pernah melihat wanita yang lebih fasih lisannya, lebih baik percakapannya, lebih cantik wajahnya, dan lebih bagus syairnya selain dia.” Maka dia berkata: “Ini adalah Layla al-Akhyaliyyah yang Taubah al-Khufaji mati karena cintanya.”
Kemudian dia menoleh kepadanya dan berkata: “Bacakanlah untuk kami wahai Layla sebagian dari yang Taubah katakan untukmu.”
Maka dia berkata: “Baik, wahai Amir, dia yang berkata:
Apakah Layla akan menangisiku jika aku mati sebelumnya Dan para wanita yang meratap berdiri di kuburanku
Sebagaimana jika kematian menimpa Layla, aku akan menangisinya Dan air mata mengalir deras untuknya dari mata yang mencurah
Aku iri kepada orang yang mendapat dari Layla apa yang tak kumiliki Memang, semua yang menyenangkan mata itu baik
Seandainya Layla al-Akhyaliyyah memberi salam Kepadaku sementara di antaraku dengannya ada tanah dan lempengan batu
Niscaya aku akan menjawab salamnya dengan wajah ceria atau Gema dari sisi kubur akan berteriak kepadanya
Lalu dia berkata kepadanya: “Tambahkan untuk kami dari syairnya.” Maka dia berkata: “Dia yang berkata:
Wahai burung merpati lembah keduanya, berkicaulah Semoga hujan lebat dari awan yang berarak memberimu minum
Jelaskanlah kepada kami, semoga bulumu tetap halus Dan semoga engkau tetap di tempat hijau yang segar dan subur
Aku berdiri di bukit yang tinggi, mudah-mudahan Aku melihat api Layla atau yang melihatku melihatnya
Aku heran dengan sikapnya yang menjauh yang kulihat Dan berpaling darinya dari kebutuhanku dan kemarahannya
Aku dulu jika datang kepada Layla, dia bercadar Maka mengherankanku darinya pagi ini dia membuka cadar
Orang-orang berkata tidak akan membahayakanmu keterpisahannya Memang, semua yang menyakiti jiwa itu membahayakan
Memang, mata bisa terluka karena terlalu banyak menangis Dan mencegah tidurnya dan kegembiraannya
Layla mengklaim bahwa aku orang fasik Apakah ketakwaannya untuk jiwaku atau kefasikannya untuknya
Lalu Hajjaj berkata kepadanya: “Wahai Layla, apa yang membuatnya heran dengan pembukaan cadarmu?”
Dia berkata: “Wahai Amir, dia sering mengunjungiku, lalu suatu hari dia mengirim pesan kepadaku bahwa dia akan datang kepadaku, dan kaum kami mengetahui lalu mereka mengintainya. Ketika dia datang kepadaku, aku membuka cadarku, maka dia tahu bahwa itu adalah pertanda buruk, lalu dia tidak lebih dari sekedar memberi salam dan kembali.”
Dia berkata: “Demi Allah, bagus jawabanmu! Apakah kamu melihat sesuatu darinya yang kamu benci?”
Dia berkata: “Tidak, demi Allah yang aku memohon kepadaNya agar memperbaikimu, kecuali bahwa dia berkata kepadaku suatu kali ucapan yang aku kira dia telah tunduk pada sebagian perkara, lalu aku mulai berkata:
Dan orang yang punya hajat, kami katakan kepadanya jangan ungkapkan Karena tidak ada jalan kepadanya selama kamu hidup
Kami punya teman yang tidak pantas kami khianati Dan kamu untuk yang lain kosong dan bebas
Tidak, demi Dia yang aku memohon kepadaNya agar memperbaikimu, aku tidak melihat sesuatu darinya hingga kematian memisahkan antara aku dan dia.” Dia berkata: “Lalu apa lagi?” Dia berkata: “Kemudian tidak lama dia keluar dalam perangnya, lalu dia berwasiat kepada putra pamannya: ‘Jika kamu datang ke perkemahan Bani Ibadah, maka serulah dengan suara paling kerasmu: Semoga Allah memaafkannya, apakah aku akan melewatkan satu malam dari masa tanpa khayalnya datang kepadaku.‘”
Maka aku keluar sambil berkata:
Dan semoga Tuhanku memaafkannya dan memperbaiki keadaannya Maka berat bagi kami kebutuhan yang tidak bisa dia capai
Dia berkata: “Lalu apa lagi?” Dia berkata: “Kemudian tidak lama dia meninggal, lalu berita kematiannya datang kepada kami.”
Dia berkata: “Bacakanlah untuk kami sebagian ratapanmu untuknya.” Maka dia membacakan:
Biarlah gadis-gadis dari Khufajah, para wanita menangis Dengan air mata yang mengalir deras
Seakan-akan pemuda para pemuda, Taubah, tidak menunggangi Unta-unta betina yang menggali kerikil dengan telapak kakinya
Dia berkata: “Bacakan untuk kami.” Maka dia membacakan untuknya. Ketika dia selesai dari qasidah itu, Muhsin al-Faq’asi berkata – dan dia adalah salah satu hadirin Hajjaj – “Siapakah orang yang wanita ini katakan ini tentang dia? Demi Allah, aku kira dia berbohong.”
Maka dia menatapnya lalu berkata: “Wahai Amir, sesungguhnya orang yang berkata ini, seandainya dia melihat Taubah, pasti dia senang kalau tidak ada perawan di rumahnya kecuali hamil darinya.” Maka Hajjaj berkata: “Ini, demi ayahmu, adalah jawaban yang baik, dan kamu tidak membutuhkannya.”
Kemudian dia berkata kepadanya: “Mintalah wahai Layla, akan diberi.” Dia berkata: “Berilah, karena orang sepertimu memberi dengan baik.” Dia berkata: “Untukmu dua puluh.” Dia berkata: “Tambahkan, karena orang sepertimu menambah dengan bagus.” Dia berkata: “Untukmu empat puluh.” Dia berkata: “Tambahkan, karena orang sepertimu menambah dengan lebih baik.” Dia berkata: “Untukmu enam puluh.” Dia berkata: “Tambahkan, karena orang sepertimu menambah dengan sempurna.” Dia berkata: “Untukmu delapan puluh.” Dia berkata: “Tambahkan, karena orang sepertimu menambah dengan lengkap.” Dia berkata: “Untukmu seratus, dan ketahuilah wahai Layla bahwa itu adalah kambing.”
Dia berkata: “Aku berlindung kepada Allah, wahai Amir, engkau lebih dermawan, lebih mulia, dan lebih mudah dinyalakan apinyanya daripada kami menjadikannya kambing.” Dia berkata: “Lalu apa itu, celakalah kamu wahai Layla?” Dia berkata: “Seratus ekor unta dengan penggembala mereka.” Maka dia memerintahkan untuk diberikan kepadanya. Kemudian dia berkata: “Apakah kamu punya kebutuhan setelah itu?” Dia berkata: “Serahkan kepadaku al-Nabighah al-Ja’di dalam belenggu.” Dia berkata: “Sudah dilakukan.” Dan dia dulu menghujatnya dan dia menghujat dia.
Lalu hal itu sampai kepada al-Nabighah, maka dia melarikan diri berlindung kepada Abdul Malik. Lalu dia mengikutinya ke Syam, maka dia melarikan diri kepada Qutaibah bin Muslim di Khurasan. Lalu dia mengikutinya dengan pos kilat membawa surat Hajjaj kepada Qutaibah, maka dia meninggal di Qumis. Dan dikatakan di Hulwan.
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Nasir, dia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu al-Husain bin Abdul Jabbar, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu al-Thayyib Thahir bin Abdullah al-Thabari, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami al-Qadhi Abu al-Faraj bin Tharrad, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami ayahku, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad al-Khatali, dia berkata: Telah memberitakan kepada kami Umar bin Muhammad bin al-Hakam al-Nasa’i, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Zaid al-Naisaburi bahwa Layla al-Akhyaliyyah setelah kematian Taubah menikah, kemudian suaminya setelah itu melewati kubur Taubah sementara Layla bersamanya. Maka dia berkata kepadanya: “Wahai Layla, apakah kamu mengenal kubur ini?” Maka dia berkata: “Tidak.” Dia berkata: “Ini kubur Taubah, maka berilah salam kepadanya.” Dia berkata: “Teruslah urusanmu, apa yang kamu inginkan dari Taubah sementara tulang-tulangnya sudah lapuk.”
Dia berkata: “Aku ingin mendustakan dia. Bukankah dia yang berkata:
Seandainya Layla al-Akhyaliyyah memberi salam Kepadaku sementara di antaraku dengannya ada tanah dan lempengan batu
Niscaya aku akan menjawab salamnya dengan wajah ceria atau Gema dari sisi kubur akan berteriak kepadanya
Demi Allah, kamu tidak akan bergerak sampai kamu memberi salam kepadanya.”
Maka dia berkata: “Semoga keselamatan atasmu wahai Taubah dan rahmat Allah, dan semoga Dia memberkahimu dalam apa yang kamu tuju.”
Maka tiba-tiba seekor burung keluar dari kubur hingga menghantam dadanya, lalu dia menghela napas sekali dan meninggal. Maka dia dikuburkan di samping kuburnya, lalu tumbuh di kuburnya pohon dan di kuburnya pohon, keduanya tinggi lalu bertemu.
Di antara syair-syair indah Taubah:
Orang-orang berkata tidak akan membahayakanmu keterpisahannya Ketahuilah, semua yang menyakiti jiwa itu membahayakan
Bukankah mata terluka karena terlalu banyak menangis Dan mencegah tidurnya dan kegembiraannya
Aku melihat hari datang tanpa Layla seakan-akan Datang tanpa Layla masa haji dan bulan-bulannya
Wahai dua temanku, tidak ada satu jam pun yang kita lewati Dari malam kecuali seperti yang lain yang kita lalui
Wahai burung merpati lembah keduanya, berilah salam Semoga hujan lebat dari awan yang berarak memberimu minum
Jelaskanlah kepada kami, semoga bulumu tetap halus Dan telurmu di tempat hijau yang segar dan subur
Aku dulu jika mengunjungi Layla, dia bercadar Maka mengherankanku darinya pagi ini dia membuka cadar
Wahai kesucian jiwa, bagaimana kamu mengatakannya Seandainya orang yang diusir dan ketakutan meminta perlindungannya
Atas darah tubuh, jika suaminya Melihat dosaku hanya karena aku mengunjunginya
Sesungguhnya aku jika mengunjunginya berkata: ‘Berilah salam!’ dan tidak ada dalam hatiku untuknya apa yang membahayakannya
Layla mengklaim bahwa aku orang fasik Apakah ketakwaannya untuk jiwaku atau kefasikannya untuknya
Dan dia berkata:
Seandainya Layla al-Akhyaliyyah memberi salam Kepadaku sementara di antaraku dengannya ada tanah dan lempengan batu
Niscaya aku akan menjawab salamnya dengan wajah ceria atau Gema dari sisi kubur akan berteriak kepadanya
Jika orang-orang berkata ‘bagaimana kabarmu’ sementara telah nampak Isi hatiku yang tersimpan, aku berkata kepada orang-orang ‘baik’
Apakah Layla akan menangisiku jika aku mati sebelumnya Dan para wanita yang meratap berdiri di kuburanku
Sebagaimana jika kematian menimpa Layla, aku akan menangisinya Dan air mata mengalir deras untuknya dari mata yang mencurah
Dan syairnya untuk yang lain:
Jika kalian menghalangi Layla dan indahnya percakapannya Apakah kalian akan menghalangi dariku tangisan dan qasidah
Mengapa kalian tidak menghalangi ketika kalian menghalangi percakapannya Khayalan yang mendatangi kami di atas kejauhan sebagai pembimbing
Orang-orang yang mencela mencela dirimu karenanya dengan jelas Maka semoga cinta ada pada orang-orang yang mencela menggantikanku
Demi umurku, sungguh burung merpati Aqiq telah membuatku terjaga Dan telah membuat menangis orang yang menangis
Seandainya Layla di negeri yang jauh Di ujung negeri Allah, maka gurun adalah lembahnya
Niscaya dia adalah pembicaraan jiwa, tidak ada yang mencelaku karenanya Jika rombongan memulai pembicaraan, hatiku tertaut
Aku mengingatmu di bukit Tihamah, maka pecahlah Kesedihan cinta hingga sampai ke tulang leher
Di dua telaga, api Layla terlihat sementara sahabatku Di Qar’ al-Ghada menggiring unta-unta yang cepat
Bab: Di antara mereka adalah Jamil dan Butsainah
Telah mengabarkan kepada kami Syahdah binti Ahmad, dia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad, dia berkata: Aku melewati antara Taima dan Wadi al-Qura pulang dari Makkah, lalu aku melihat batu besar yang halus di dalamnya ada petak seukuran tempat duduk beberapa orang seperti bangku. Maka sebagian orang Arab yang bersamaku berkata – dan aku kira dia dari suku Juhainah – “Ini adalah majlis Jamil dan Butsainah, maka kenalilah.”
Shahidah binti Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad as-Sarraj memberitahu kami, ia berkata: Abu Muhammad al-Hasan bin Ali memberitahu kami, ia berkata: Ibnu Haiwayah memberitahu kami, ia berkata: Muhammad bin Khalaf menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakr mengabarkan kepadaku, ia berkata: Al-Mada’ini mengabarkan kepada kami, ia berkata: Hisyam bin Muhammad berkata, ia berkata: Aku mendengar seorang lelaki dari Bani Udzrah bercerita, ia berkata: Ketika Jamil jatuh cinta kepada Butsainah dan mulai menyebutnya dalam syair-syairnya, keluarga Butsainah mengadukan hal ini kepada Rabi’ bin Dajajah yang saat itu menjadi penguasa Taima’.
Maka Jamil pun melarikan diri hingga tiba di tempat seorang lelaki dari Bani Udzrah di wilayah paling ujung negeri mereka, dan lelaki itu adalah seorang pemimpin, lalu ia meminta perlindungan kepadanya.
Lelaki itu memiliki tujuh anak perempuan. Ketika ia melihat Jamil, ia tertarik padanya dan ingin menikahkannya agar Jamil lupa dari Butsainah. Maka ia berkata kepada anak-anak perempuannya: “Kenakanlah pakaian kalian yang paling bagus, berhiaslah dengan perhiasan kalian yang paling indah, dan tampakkanlah diri kalian kepadanya, semoga matanya jatuh pada salah satu dari kalian sehingga aku dapat menikahkannya dengannya.”
Diriwayatkan bahwa Jamil jika hendak buang hajat akan pergi jauh. Ketika ia kembali, mereka (anak-anak perempuan itu) mengangkat sisi tenda, namun ketika Jamil melihat mereka, ia memalingkan wajahnya.
Diriwayatkan bahwa mereka melakukan hal itu berkali-kali, hingga Jamil mengetahui maksud lelaki tua itu. Maka ia berkata (dalam syair):
Aku bersumpah agar engkau tahu kejujuranku Dan kejujuran adalah yang terbaik dan paling berhasil dalam segala urusan Berbicara satu hari saja dengan Butsainah Dan melihatnya bagiku lebih lezat dan menyenangkan Daripada sepanjang masa jika aku menyendiri dengan kalian, sesungguhnya Aku mengatasi hati yang membumbung tinggi ketika ia membumbung
Maka lelaki tua itu berkata: “Turunkan tenda kalian! Demi Allah, orang ini tidak akan pernah berhasil.”
Hibatullah bin Muhammad bin al-Husain mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad al-Hasan bin Isa bin al-Muqtadir memberitahu kami, ia berkata: Ahmad bin Manshur menceritakan kepada kami, ia berkata: Ash-Shauli memberitahu kami, ia berkata: Muhammad bin Zakariya al-Ghulabi menceritakan kepada kami dari ayahnya, ia berkata: Ketika kematian mendatangi Jamil di Mesir, ia berkata: “Siapa yang akan memberitahu Butsainah untukku?” Seorang lelaki berkata: “Saya.”
Ketika Jamil meninggal, lelaki itu pergi ke kabilah Butsainah dan berkata (dalam syair):
Kabar duka datang pagi-pagi dan tidak menyamarkan tentang Jamil Dan ia tinggal di Mesir dalam kepergian yang tidak kembali Kabar duka datang tentang kesatria yang bersemangat Pahlawan yang ketika mengangkat panji selalu menang
Butsainah mendengarnya lalu keluar dengan kepala terbuka seraya berkata (dalam syair):
Sungguh jika aku lupa Jamil sejenak saja Dari waktu, saat itu tidak datang dan waktunya tidak tiba Sama saja bagi kami wahai Jamil bin Ma’mar Jika engkau mati, kesusahan hidup dan kemudahannya
Dan sampai kepada kami dari jalur-jalur lain dari Jamil bahwa ketika kematian mendatanginya, ia berkata: “Siapa yang mau mengambil untaku dan apa yang ada di atasnya, mendatangi mata air Bani Fulan dan menyampaikan dua bait syair ini?”
Kabar duka datang pagi-pagi dan tidak menyamarkan tentang Jamil Dan ia tinggal di Mesir dalam kepergian yang tidak kembali Zaman mengkhianati kesatria yang bersemangat Yang teguh ketika mengangkat panji turun
Ketika ia menyelesaikan hidupnya, lelaki itu mendatangi mata air dan menyampaikan dua bait syair tersebut. Maka keluarlah Butsainah dengan rambut terurai, baju robek, menampar pipinya sambil berkata: “Wahai pembawa kabar, semoga batu mengisi mulutmu! Demi Allah, jika engkau berdusta kepadaku sungguh engkau telah membuatku malu, dan jika engkau jujur kepadaku sungguh engkau telah membunuhku!” Kemudian ia menyampaikan syair:
Sungguh jika aku lupa Jamil sejenak saja Dari waktu, saat itu tidak datang dan waktunya tidak tiba Sama saja bagi kami wahai Jamil bin Ma’mar Jika engkau mati, kesusahan hidup dan kemudahannya
Dan dikatakan bahwa ia tidak pernah mengucapkan syair selain itu. Di antara syair-syair Jamil yang indah:
Shahidah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahu kami, ia berkata: Abu al-Husain at-Tauzi memberitahu kami, ia berkata: Muhammad bin al-Hasan bin al-Ma’mun memberitahu kami, ia berkata: Abu Bakr al-Anbari menceritakan kepada kami, ia berkata: Jamil bin Ma’mar berkata (dalam syair):
Kedua temanku, singgahlah hari ini hingga kalian memberi salam Kepada yang manis giginya, harum baunya Sesungguhnya kalian berdua jika menyinggah untukku sejenak Aku akan berterima kasih kepada kalian hingga aku hilang dalam kuburku Dan sesungguhnya kalian berdua jika tidak menyinggah, sesungguhnya aku Akan memalingkan kerinduanku, maka izinkanlah hari ini untuk berpisah Dan mengapa aku tidak menangis sementara di rimbun ada yang meratap Dan telah meninggalkanku yang langsing pinggang dan pinggulnya Apakah burung merpati rimbun menangis karena kehilangan pasangannya Sedangkan aku bersabar, sedangkan apa yang ada padaku terhadap Butsainah tidak ada kesabaran Mereka berkata: tersihir, ia menjadi gila dengan menyebutnya Dan aku bersumpah tidak ada padaku kegilaan dan tidak pula sihir Dan aku bersumpah tidak akan melupakanmu selama timur bersinar Dan selama fatamorgana bergetar di padang pasir yang tandus Dan selama bintang bersinar di langit tergantung Dan selama dahan-dahan menghijau dari daun pohon sidr Sungguh jiwaku tergila-gila dengan Butsain menyebutmu Sebagaimana pemabuk tergila-gila wahai Butsain dengan arak Aku mengingat keberadaanku pada malam berada di dekat pohon ban memegang Telapak tangan bidadari yang berlinang air mata seperti bulan purnama
Dan aku hampir tidak menguasai diriku kepadanya karena kerinduan Aku meracau dan air mata mengalir dariku di leher Maka semoga aku tahu apakah aku akan bermalam semalam Seperti malam kita hingga kita melihat fajar yang bersinar Ia dermawan kepada kita dengan percakapan dan terkadang Ia dermawan kepada kita dengan air liur dari mulut Maka semoga Tuhanku telah mengizinkan itu sekali Maka Tuhanku akan tahu saat itu apa rasa syukurku Dan seandainya ia meminta dariku hidupku, akan kuberikan Dan aku akan bersikap dermawan dengannya jika itu atas perintahnya Dan di antara syair-syairnya:
Aku melihatmu datang ke rumah membenci penghuninya Sedangkan hatimu di rumah yang engkau tinggalkan Sungguh engkau tidak akan melupakan Jamal dan menyebutnya Malam yang panjang ini memanjang kemudian memendek Dan untuknya pada yang lain:
Aku gembira dan rindu menggerakkanku dan terkadang Aku gembira dan burung merpati yang berkicau membuatku menangis Dan aku menjadi telah menyimpan dalam dadaku kepanasan Dan di dalam dada ada kegalauan yang lama dan yang baru Jika jiwa mengingatmu, ia tetap seolah-olah aku Mengupas luka yang mengupas di hatiku Dan aku berkata kepada hati yang telah terlampau jauh dalam cinta Dan cinta dari Butsainah yang mengikuti telah mengauskannya Demi umurmu, seandainya bukan karena mengingat, cinta akan terputus Dan seandainya bukan karena cinta, tidak ada yang gila karena perpisahan yang akrab Dan berteriak di lembah tempat tinggal dari kami dan dari mereka Pagi hari ketika kami berangkat untuk berpisah, penyeru Dan untuknya pada yang lain:
Ketahuilah aku tidak peduli dengan penolakan orang setelah Tampak darimu pendapat wahai Butsain yang baik Dan selama engkau tidak menaati penghasut dan tidak mengganti Dengan kami pengganti atau hilang darimu kelupaan Dan sesungguhnya kerinduanku kepadamu banyak Butsain dan melupakanmu sangat sedikit Dan untuknya pada yang lain:
Bekas tempat tinggal yang aku berdiri di reruntuhannya Aku hampir menghabiskan hidup dari keagungannya Sunyi tidak terlihat di dalamnya siapa pun Angin merajut pakaian yang datang kepadanya Sungguh aku menjaga pembicaraan dari teman Aku tidak takut menyakiti dari pihaknya Tanpa kebencian dan bukan untuk menjauhi Hanya saja pencinta dari kegelisahannya Dan untuknya:
Aku menjadi dan mengucapkan selamat tinggal kepada kerinduan dan kebodohan Dan uban yang telah meninggi berkata kepadamu pelan-pelan Dan berkata orang-orang yang dulu teman sebayamu apakah engkau melihat Kepada uban maka perbaruilah keseriusan kami dan tinggalkan main-main Maka bagaimana dan sungguh pandangan mata yang berlebihan Kepada Butsainah menolak untuk memutuskan talinya Dan mata kembali dengan ridha dari bertemu dengannya Dan tidak pernah merelakan kekikiran betapa buruknya kekikiran Engkau melihat mata darinya apa yang seandainya engkau mampu Atasnya ketika itu tidak akan mencari harta dan tidak pula keluarga Butsainah dari jenis yang membalikkan tangan para pemanah Dan mereka tidak membawa busur dan tidak pula anak panah Dan seandainya mereka berburu hati dengan jaring Tidak heran tetapi bagaimana mereka memburunya dengan benang pintal Dan untuknya pada yang lain:
Berapa banyak yang kami lihat yang berusaha dengan fitnah Kepada yang lain tidak bekerja dengan tangan dan tidak pula kaki Jika kami saling mengingatkan apa yang ada di antara kami Air mata mengalir dari mata Butsainah dengan celak Kami berdua menangis atau hampir menangis karena kerinduan Kepada kekasihnya dan air mata terburu-buru mendahuluiku Maka celaka diriku, cukup diriku apa yang ada padanya Dan celaka keluargaku apa yang menimpa keluargaku Dan seandainya ia meninggalkan akalku bersamaku tidak akan kucari ia Tetapi mencariku dia karena apa yang hilang dari akalku Kedua temanku selama kalian hidup apakah kalian pernah melihat Orang terbunuh yang menangis karena cinta pembunuhnya sebelumku Maka jika ia dekat tidak bermanfaat kedekatan di sisinya Dan jika ia jauh akan menambahkanmu kegilaan atas kegilaan Mereka itulah jika mereka mencegah maka pencegahan adalah sifat Bagi mereka dan jika mereka memberi, mereka memberi dengan kikir
Dan untuknya pada yang lain:
Apakah mengganggumu dengan perpisahan rombongan yang berpisah Dan dari cintanya di dalam hati yang hitam masuk Sungguh telah menjadikan malam yang pendek bagi kami dengan dia Atasku dengan guncangan cinta semakin panjang Jika kegelisahan menimpaku lalu aku mengingatnya Kerinduanku baru dan burung bulbul menimpaku Maka aku bermalam berbicara kepada kesedihan begadang Dan ia tidur maka tidak begadang untuk itu para pencela Ketahuilah berapa banyak pencela seandainya tanpa cinta tidak dicela Tetapi dia dari dahsyatnya cinta bodoh Dan untuknya pada yang lain:
Dan berapa banyak yang menghalangi bagi kami menyambungkannya Dengan kesungguhan mencampurnya dengan perkataan yang main-main Maka aku menjawabnya dengan perkataan setelah menyembunyikan Cintaku kepada Butsainah dari bertemumu menyibukkanku Seandainya ada di hatiku sebesar kuku Kelebihan akan kusambung engkau atau datang kepadamu surat-suratku Dan untuknya pada yang lain:
Dan ketika aku durhaka kepada para penasehat dan tidak menaati Perkataan mereka, mereka melemparkan di atas tengkukku tali Butsainah sesungguhnya aku telah durhaka kepada para pencelaku Dan sesungguhnya engkau tidak durhaka kepada yang mencela karena aku Engkau ingin membunuhku tidak menginginkan selainnya Dan apa yang akan memuaskanmu wahai Butsain dari membunuhku Dan untuknya pada yang lain:
Apakah mengganggumu tempat-tempat yang dikenal dan reruntuhan Yang terhapus dan hilang darinya tempat tinggal Ya maka aku mengingat dunia yang telah berlalu Dan kenikmatan dunia mana yang tidak lenyap Di dataran tinggi angin menjadi gila di dalamnya Sebagaimana gila wanita yang tergila-gila bodoh Tempat tinggal Butsainah di mana pun ia tinggal Seolah-olah tempat tinggal itu memahami apa yang kukatakan Maka teman-temanku bermaksud mencela aku Maka aku berkata kepada mereka bukankah kalian punya akal
Celaan kalian atasku adalah menyakitkan dan merugikan Dan berdiri sejenak dari kalian sedikit Dan untuknya pada yang lain:
Ketahuilah wahai hati yang keras kepala tidakkah engkau lupa Bukankah engkau memiliki akal maka bermanfaat bagimu akal Maka tinggalkanlah kebodohan ini suatu hari untuk yang lain Jika engkau tidak diketahui bagi orang sepertimu kebodohan Aku kira cintanya meninggalkanku dalam kesesatan Dari bumi tidak ada harta bagiku dan tidak pula keluarga Dan tidak ada seorang pun yang kusampaikan kepadanya wasiatku Dan tidak ada pewaris kecuali tunggangan dan pelana Cintanya menghapus cinta mereka yang sebelumnya Dan ia menempati tempat yang tidak pernah ditempati sebelumnya Dan untuknya pada yang lain:
Allah melaknat yang tidak bermanfaat cinta di sisinya Dan yang talinya jika diulurkan tidak kuat Dan yang ia jika diceritakan kepadanya mata memandang Ia memutuskan karenanya tali setiap teman Dan yang ia memiliki dua warna tidak tetap Pada akhlak pengkhianat setiap yang amanah Semoga lelaki-lelaki yang untukmu telah bernazar darahku Dan bermaksud membunuhku wahai Butsain menemui aku Jika mereka melihatku muncul dari jalan mendaki Mereka berkata siapa ini padahal mereka mengenalku Mereka berkata kepadaku selamat datang dan selamat dan terhormat Dan seandainya mereka mendapatkan aku sejenak akan membunuhku Mereka ingin agar mereka membunuhku dan tidak membayar Darahku selain bahwa para pelindung melindungiku Dan bagaimana dan tidak membayar darah mereka darahku Dan tidak pula harta mereka yang memiliki kemakmuran sehingga membayarku Dan untuknya pada yang lain:
Butsainah tinggal dari hatiku di tempat Di antara rusuk tulang tidak tinggal di sana siapa pun Ia menangkap hatiku dengan matanya dan senyuman Seolah-olah ketika ia menampakkannya kepada kami embun
Dan para pencela mencela aku dalam cintanya Semoga mereka menemukan seperti apa yang kutemukan Ketika mereka memperpanjang celaan kepadaku tentangmu aku berkata kepada mereka Jangan berlebihan sebagian celaan ini dan bersikap sedang Sungguh telah mati sebelumku saudara Nahd dan temannya Imru’ul-Qais dan sembuh dari Urwah kesedihan Dan semua mereka berada dalam cinta kematiannya Dan sungguh aku menemukan dengannya di atas apa yang mereka temukan Sesungguhnya aku mengira atau hampir mengetahuinya Bahwa akan membawakanku ke telaga yang mereka datangi Jika engkau tidak memberiku dengan kebaikan yang engkau dermakan Atau Allah menghalau dariku Yang Maha Esa Yang Maha Kekal Dan untuknya pada yang lain:
Wahai pencelaku engkau banyak bodoh dari kebodohan Atas bukan sesuatu dari celaan dan dari pencela Wahai pencela dalam cintaku kepada Butsainah kesesatan Dan sungguh berjalan cintaku di tulangku dan di akalku Seolah-olah engkau tidak tahu apa yang ditemukan pemilik cinta Dan engkau tidak tahu di kalangan manusia yang memiliki gairah sebelumku Mereka berkata carilah dengan menjauh untuk cinta kelupaan Dan tidak mendapatkan panjangnya menjauh dari cintanya membuatku lupa Dan engkau adalah percakapan jiwa jika aku sendirian Dan sungguhan percakapanku jika aku bersungguh-sungguh dan dalam main-main Dan tidak menemukan an-Nahdi dari dalam cinta Seperti apa yang kutemukan dan tidak ada yang memiliki kebaruan sebelumku Dan untuknya pada yang lain:
Aku mengingat pemilik tahi lalat dari berlebihannya cintanya Pagi hari dan unta Arab yang tangkas berlari dengan kami Maka tidak menguasai kedua mataku ketika mengingat dia Air matanya seperti kalung mutiara mengalir di pipiku Maka teman-temanku mencela aku dan berkata dari cinta Engkau menangis dan seandainya mereka dengannya akan menemukan apa yang kutemukan Ketika mereka mencelaku dalam menangis karenanya Dan berapa banyak dari aku tetapi aku tergila-gila dengannya sendirian Dan mereka berkata sungguh kami dulu mengetahuimu suatu ketika Kokoh maka ini bukan perbuatan pemuda yang kokoh Tidakkah engkau menjaga diri dari bahwa merindukanmu menyebutnya Dan engkau di atas mengerikan berjalan bersama rombongan Maka aku berkata tinggalkan celaan aku maka aku bukan walaupun ia jauh Dengan berpaling darinya cintaku dan tidak pula kemesraanku
Dan aku bukan walaupun jauh dengan dia keterasingan masa jauh Dengan melupakan cintanya atau aku hilang di liang lahad Dan engkau tidak ada bagiku kecuali bayangan dan fitnah Maka semoga aku mati ketika aku berada di buaian Dan aku tidak berada di dunia terpaut keterikatan Dan tidak ada pengenalan mu kecuali belah kakekku
Dia menyamar sehingga ia tidak mengenalinya, lalu ia condong kepadanya. Maka wanita itu berkata, “Lalu bagaimana dengan ucapanmu tentang Azzah?” Ia menjawab, “Seandainya Azzah adalah milikku, niscaya aku jadikan dia budak untukmu.”
Kami akan menyebutkan kisahnya ini dalam bab obat-obatan cinta ketika menyebut penghiburan.
Barangsiapa yang berada dalam keadaan seperti ini, maka ia tidaklah benar-benar jujur dalam cintanya.
Namun demikian, sekelompok orang telah memuji Katsir melebihi Jamil dalam hal cinta karena ucapannya.
Maka Syahdah memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad as-Sarraj memberitahukan kepada kami, ia berkata: al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari memberitahukan kepada kami, ia berkata: al-Mu’afa bin Zakariya menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Yahya ash-Shauli menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu ‘Aisyah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Seorang laki-laki dari Bani ‘Amir bin Lu’ayy menceritakan kepadaku—aku tidak pernah melihat di Hijaz orang yang lebih berilmu darinya—ia berkata: Katsir menceritakan kepadaku bahwa ia berdiri di dekat sekelompok orang yang sedang berbicara panjang lebar tentang dirinya dan Jamil, siapakah di antara keduanya yang lebih jujur dalam cinta. Mereka tidak mengenalinya dari wajahnya, lalu mereka memilih Jamil lebih unggul dalam cintanya. Maka aku berkata kepada mereka: Kalian telah berbuat zalim kepada Katsir. Bagaimana mungkin Jamil lebih jujur cintanya daripada Katsir, padahal ketika datang kepadanya dari Butsainah beberapa hal yang ia benci, ia berkata:
Semoga Allah melemparkan kotoran ke mata Butsainah, dan pada gigi serinya yang putih dengan al-qawadih (cacat)
Al-qawadih adalah sesuatu yang melubangi dan mencacat giginya. Sedangkan Katsir, ketika datang kepadanya dari Azzah hal yang ia benci, ia berkata:
Selamat dan nikmat tanpa penyakit yang bersembunyi bagi Azzah dari kehormatan kami yang telah ia halalkan
Ia berkata: Mereka tidak bubar kecuali setelah memilihku.
Aku katakan: Demi umurku, sesungguhnya ucapan Katsir menunjukkan kuatnya cintanya. Namun perbuatannya—sebagaimana akan kami sebutkan—yaitu memilih wanita lain lebih diutamakan daripada ucapannya yang mengandung kemungkinan benar dan dusta, serta yang keluar bukan dari kehendak.
Abd al-Wahhab bin al-Mubarak dan Muhammad bin Nashir memberitahukan kepada kami, keduanya berkata: Abu al-Hasan bin Abd al-Jabbar memberitahukan kepada kami, ia berkata: al-Jauhari memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibnu Huwayyih memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar bin al-Anbari memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Yahya menceritakan kepada kami dari az-Zubair bin Bakkar, ia berkata: Ishaq bin Ibrahim al-Maushili menulis kepadaku, ia berkata: Abu al-Musyayyi’ menceritakan kepadaku, ia berkata: Katsir keluar mencari Azzah, bersamanya terdapat tempat air (syunaynah) yang berisi air. Kemudian ia kehausan lalu ia mengambil tempat air tersebut, ternyata itu adalah tulang yang tidak ada sedikit pun air di dalamnya. Api dinampakkan untuknya lalu ia menuju ke sana, ternyata di dekatnya ada tenda, di halamannya ada seorang nenek tua. Nenek itu berkata kepadanya: Siapa kamu? Ia menjawab: Aku Katsir. Nenek itu berkata: Aku sudah lama ingin bertemu denganmu, maka segala puji bagi Allah yang telah memperlihatkanmu kepadaku. Ia berkata: Apa yang engkau cari dariku? Nenek itu berkata: Bukankah engkau yang mengatakan:
Apabila datang kepada kami seorang sahabat yang ingin kami sambungkan, kami menolak dan berkata: al-Hajibiyyah lebih dahulu
Ia menjawab: Benar. Nenek itu berkata: Mengapa engkau tidak berkata sebagaimana tuanmu Jamil berkata:
Wahai Tuhan, ada seorang wanita yang datang kepada kami untuk berhubungan dengannya, dengan sungguh-sungguh yang bercampur dengan perkataan yang main-main
Maka aku menjawabnya dalam ucapan setelah merenung: Cintaku kepada Butsainah menyibukkanku dari berhubungan denganmu
Seandainya ada di dalam hatiku sebesar potongan kuku, kelebihan untuk selain engkau, niscaya tidak datang kepadamu surat-suratku
Ia berkata: Tinggalkan ini dan berilah aku minum air. Nenek itu berkata: Demi Allah, aku tidak akan memberimu minum apa pun. Ia berkata: Celakalah engkau, sesungguhnya kehausan telah menyakitiku. Nenek itu berkata: Semoga Butsainah kehilangan anaknya jika engkau mencicipi setetes pun di tempatku. Maka usahanya hanyalah memacu untanya dan pergi mencari air, dan ia tidak mendapatkannya hingga siang hari, dan kehausan hampir membunuhnya.
Muhammad bin Abi Manshur dan Syahdah binti Ahmad memberitahukan kepada kami, keduanya berkata: Ja’far bin Ahmad as-Sarraj memberitahukan kepada kami. Dan Muhammad bin Abd al-Baqi al-Bazzaz memberitahukan kepada kami, keduanya berkata: Ali bin al-Muhsin at-Tanukhi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ali bin Isa ar-Rummani memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar bin Duraid memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abd al-Awwal bin Murid memberitahukan kepada kami, ia berkata: Hammad bin Ishaq memberitahukan kepadaku dari ayahnya, ia berkata: Katsir keluar menuju Abd al-Aziz bin Marwan, maka ia memuliakannya, meninggikan kedudukannya, dan memberikan hadiahnya dengan baik. Lalu ia berkata: Mintalah kepadaku apa yang engkau inginkan dari kebutuhan-kebutuhan. Ia berkata: Ya, aku ingin engkau mencarikan bagiku orang yang mengetahui kuburan Azzah sehingga ia bisa membawaku ke sana. Maka seorang laki-laki dari kaum tersebut berkata: Sesungguhnya aku mengetahuinya. Maka laki-laki itu pergi bersamanya hingga sampai ke tempat kuburannya. Ia meletakkan tangannya di atasnya dan kedua matanya mengalir air mata, sementara ia mengatakan:
Aku berhenti dengan untaku di bekas rumah Azzah, dan dalam dingin terdapat titisan air mata yang mengalir
Maka wahai Azzah, engkau adalah bulan purnama yang telah terhalang darinya oleh tumpukan tanah dan batu lembaran yang berserakan
Sungguh aku menangisi perpisahanmu sekian lama, maka ini demi umurku hari ini lebih jauh dan lebih menyedihkan
Mengapa tidak kematian menjadi tebusanmu dari orang yang engkau adalah hiasannya, dan dari orang yang keadaannya lebih buruk dan lebih jelek darimu
Ketahuilah, aku tidak melihat setelah putri an-Nadhr, kenikmatan untuk sesuatu dan tidak juga keindahan bagi orang yang mencari keindahan
Maka semoga lembah kuburan Azzah senantiasa mengalir, di dalamnya terdapat nikmat dari rahmat Allah yang mengalir
Sesungguhnya wanita yang aku cintai telah terhalang darinya oleh panjangnya malam-malam dan kuburan yang tersembunyi
Aku telah melelahkan kedua mataku dengan tangisan setiap malam, maka hampir saja aliran air mata kedua mataku luka
Apabila tidak ada air, keduanya mengeluarkan darah, dan seburuk-buruk tangisan adalah yang dipinjam dan dipaksakan
Pasal
Telah terkenal dengan cinta sekelompok orang yang panjang untuk menyebutkan mereka, dan mayoritas mereka disebutkan di berbagai tempat dalam kitab kami. Sesungguhnya kami hanya menyebutkan orang-orang yang sangat terkenal, maka marilah kita cukupkan pada itu.
Bab Empat Puluh Dua: Menyebutkan Orang yang Cinta Membawanya untuk Berzina dengan Mahramnya
Muhammad bin Abd al-Baqi al-Bazzaz memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu al-Qasim Ali bin al-Muhsin at-Tanukhi memberitahukan kepada kami dari ayahnya, ia berkata: Abu Ishaq Ibrahim bin Ali bin Sa’id an-Nushibi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu al-Hasan bin Najih menceritakan kepadaku, ia berkata: Seorang laki-laki terhormat yang merupakan temanku menceritakan kepadaku, dan ia tinggal di dekat kuburan-kuburan al-Khaizuran di Baghdad. Ia berkata: Aku melihat suatu malam dalam mimpiku seolah-olah aku mengintip dari rumahku ke pekuburan sesuai kebiasaanku di waktu terjaga, maka tiba-tiba aku melihat kuburan-kuburan terbuka dan penghuninya keluar darinya dengan rambut kusut, berdebu, bertelanjang kaki, telanjang. Mereka berkumpul di suatu tempat di sana hingga tidak tersisa kuburan melainkan yang ada di dalamnya telah keluar. Kemudian mereka berteriak dengan tangisan dan doa serta memohon kepada Allah Taala agar menjauhkan dari mereka penguburan wanita yang akan dikubur di dekat mereka besok. Seolah-olah aku bertanya kepada sebagian mereka, maka ia berkata: Ini adalah seorang wanita dari penghuni neraka. Jika ia dikubur di dekat kami, kami akan terganggu dengan mendengar azabnya dan apa yang terjadi padanya, maka kami memohon kepada Allah agar menjauhkan penguburannya dari kami.
Ia berkata: Maka aku terbangun dan sangat heran dengan ini, dan malam terasa panjang bagiku. Ketika pagi tiba, aku bertanya kepada para penggali apakah mereka menggali kuburan untuk seorang wanita. Sebagian dari mereka menunjukkan kepadaku sebuah kubah besar milik pedagang-pedagang kaya raya, istri salah seorang mereka telah meninggal dan ia ingin menguburnya di kuburan itu, dan telah digali untuknya.
Ia berkata: Maka aku menceritakan mimpi itu kepada para penggali, lalu mereka segera menutup kuburan dan aku memperhatikan urusan wanita itu. Maka datanglah utusan kaum tersebut menanyakan tentang kuburan. Para penggali berkata: Sesungguhnya tempat itu tidak memungkinkan untuk kuburan karena kami telah menemukan lumpur di bawah tanah yang tidak bisa menahan mayat. Lalu mereka meminta kepada sekelompok pemilik kubah agar menggali di tempat mereka, namun mereka menolak. Berita itu telah tersebar di antara para penggali dan menyebar. Maka mereka pergi ke pekuburan lain dan menggali untuk wanita itu. Aku mencari tahu tempat keluarnya jenazah, lalu aku datang dan mengikuti jenazah itu. Kumpulan orang sangat besar dan mengejutkan, dan laki-laki itu terhormat. Aku melihat di belakang jenazah seorang pemuda berjanggut yang tampan, disebutkan bahwa ia adalah anak wanita itu, dan ia serta ayahnya menerima ucapan belasungkawa, dan keduanya sangat terpukul oleh musibah itu. Ketika wanita itu dikubur, aku mendekati keduanya dan berkata: Sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku tentang urusan almarhum ini, maka jika kalian suka, aku ceritakan kepada kalian. Syekh yang merupakan suami almarhum berkata: Adapun aku, maka aku tidak suka akan hal itu. Pemuda itu datang dan berkata: Jika engkau berkenan, lakukanlah. Aku berkata: Menyendirilah bersamaku. Ia berdiri, lalu aku berkata: Sesungguhnya mimpi itu besar, maka tahanlah aku. Ia berkata: Katakan.
Maka aku ceritakan kepadanya mimpi itu dan berkata: Wajib bagimu untuk melihat urusan ini yang mewajibkan dari Allah untuk wanita ini apa yang telah aku sebutkan kepadamu, sehingga engkau menjauhi yang sepertinya. Dan jika boleh engkau memberitahukan kepadaku agar aku menjauhi yang sepertinya, maka lakukanlah. Ia berkata: Demi Allah wahai saudaraku, aku tidak mengetahui dari keadaan ibuku apa yang mewajibkan ini lebih banyak daripada bahwa ibuku biasa meminum anggur, mendengarkan nyanyian, dan dituduh (berhubungan) dengan wanita-wanita. Ini tidak mewajibkan urusan besar ini. Tetapi di rumah kami ada seorang nenek tua yang berumur sekitar sembilan puluh tahun, ia adalah pengasuhnya dan penata riasnya. Jika engkau bersemangat, datanglah bersamaku maka kami akan bertanya kepadanya, semoga ia memberitahukan kepada kami apa yang mewajibkan ini sehingga kami menghindarinya.
Maka aku berdiri bersamanya dan kami menuju rumah yang merupakan milik almarhum. Ia membawaku masuk ke sebuah kamar di dalamnya, dan ternyata ada seorang nenek tua yang sangat tua. Ia berbicara kepadanya tentang apa yang terjadi, dan aku menceritakan kepadanya mimpi itu. Maka ia berkata: Aku memohon kepada Allah agar mengampuninya. Ia terlalu berlebihan terhadap dirinya sendiri. Pemuda itu berkata kepadanya: Wahai ibuku, lebih dari minum, mendengar (nyanyian) dan (berhubungan dengan) wanita-wanita? Ia berkata: Ya, anakku. Seandainya bukan karena aku akan menyakitimu, niscaya aku akan memberitahumu apa yang aku ketahui.
Sesungguhnya apa yang dilihat oleh laki-laki ini sedikit dari banyaknya apa yang aku takutkan untuknya dari azab. Pemuda itu berkata: Aku ingin engkau memberitahuku. Dan aku berlembut kepada nenek tua itu, maka aku berkata: Beritahukanlah kami agar kami menghindarinya dan mengambil pelajaran darinya. Ia berkata: Jika aku memberitahukan kepada kalian semua yang aku ketahui tentangnya dan tentang diriku bersamanya, akan panjang. Ia menangis dan berkata: Adapun aku, maka Allah telah mengetahui bahwa aku telah bertaubat sejak bertahun-tahun, dan aku berharap ia juga bertaubat, namun ia tidak melakukannya. Tetapi aku akan memberitahukan kepada kalian tiga keadaan dari perbuatannya, dan menurutku itu adalah dosa-dosanya yang paling besar. Maka kami berkata: Katakanlah.
Ia berkata kepada pemuda itu: Ia adalah orang yang paling keras dalam berzina. Tidak berlalu satu hari pun melainkan ia memasukkan ke rumah ayahmu tanpa sepengetahuannya seorang atau dua orang laki-laki yang menyetubuhinya, kemudian mereka keluar. Masuknya mereka dengan banyak cara tipu daya, sementara ayahmu di pasarnya. Ketika engkau tumbuh dan mencapai umur laki-laki, engkau keluar dalam puncak kegantengan. Aku melihatnya memandangmu dengan pandangan syahwat, maka aku heran dengan itu, hingga suatu hari ia berkata kepadaku: Wahai ibuku, telah menguasai hatiku cinta kepada anakku ini, dan tidak ada cara lain bagiku kecuali ia menyetubuhiku. Maka aku berkata kepadanya: Wahai putriku, bertakwalah kepada Allah, dan bagimu ada laki-laki lain yang luas. Ia berkata: Tidak ada jalan lain dari itu. Maka aku berkata: Bagaimana ini bisa terjadi atau bagaimana ia datang kepadamu sedang ia masih anak-anak, dan engkau akan malu, dan engkau tidak akan mencapai tujuanmu? Tinggalkanlah ini karena Allah Azza wa Jalla. Ia berkata: Tidak ada jalan lain kecuali engkau membantuku. Maka aku berkata: Aku harus melakukan apa? Ia berkata: Engkau pergi kepada fulan sang guru—dan ia adalah seorang guru di dekat kami yang pandai, dan kebiasaannya adalah menulis surat-surat untuknya kepada para kekasihnya dan menjawab untuknya, lalu ia membuatnya gembira dan memberinya setiap waktu—ia berkata: Katakan kepadanya agar menulis kepadanya surat yang di dalamnya menyebutkan cinta, kegandrungan, dan kerinduan, serta meminta pertemuan. Sampaikanlah surat itu seolah-olah dari fulanah—dan ia menyebutkan seorang gadis dari tetangga yang cantik. Nenek tua itu berkata: Maka aku melakukan itu, mengambil surat itu dan datang kepadamu dengannya. Ketika engkau mendengar penyebutan gadis itu, hatimu terbakar api, dan engkau menjawab surat itu memintanya untuk bertemu di tempatnya dan menyebutkan bahwa tidak ada tempat untukmu. Maka aku menyerahkan jawaban itu kepada ibumu, lalu ia berkata: Tulislah kepadanya atas nama gadis itu bahwa tidak ada tempat untuknya, dan jalan untuk ini adalah di tempatnya. Jika ia berkata kepadamu tidak ada tempat bagiku, maka siapkan untuknya kamar fulan, hamparkanlah, dan letakkan di dalamnya wewangian dan buah-buahan, dan katakan kepadanya bahwa ia adalah gadis dan ia malu, tetapi cintamu telah menguasai, dan ia akan datang kepadamu ke sini di malam hari dan tidak akan ada cahaya di hadapan kalian berdua agar ia tidak malu dan ibumu serta ayahmu tidak menyadari perkara itu jika mereka melihat cahaya pelita di kamar. Jika ia menjawabmu menyetujui ini, maka beritahukanlah aku.
Ia berkata: Maka aku melakukan itu, dan engkau menyetujui ini, dan janji ditetapkan pada suatu malam tertentu. Aku memberitahunya, maka ia mengenakan pakaian, membakar dupa, memakai wewangian, dan naik ke kamar. Engkau datang dan menurutmu gadis itu ada di sana, maka engkau menggaulinya dan menyetubuhinya hingga pagi. Ketika waktu sahur tiba, aku datang membangunkanmu dan menurunkanmu sementara engkau tidur. Naiknya ia kepadamu setelah ayahmu tidur. Setelah beberapa hari, ia berkata kepadaku: Wahai ibuku, demi Allah aku telah hamil dari anakku, bagaimana caranya? Maka aku berkata: Aku tidak tahu. Ia berkata: Aku tahu. Kemudian ia terus bertemu denganmu dengan cara tipu daya yang telah kauketahui hingga mendekati kelahiran. Maka ia berkata kepada ayahmu bahwa ia sakit dan ia takut akan kematiannya sendiri, dan ia ingin pergi ke rumah ibunya untuk berobat di sana. Maka ia mengizinkannya, dan ia pergi. Ia berkata kepada ibunya bahwa ia sakit, lalu ia dimasukkan, dan aku bersamanya di sebuah kamar dari rumahnya. Kami datangkan seorang bidan. Ketika ia melahirkan, ia membunuh anaknya dan membawanya keluar, lalu kami menguburnya dengan tipu daya dan tersembunyi. Ia tinggal beberapa hari dan kembali ke rumahnya. Ia berkata kepadaku setelah beberapa hari: Aku menginginkan anakku. Maka aku berkata: Celakalah engkau, tidakkah cukup bagimu apa yang telah berlalu? Ia berkata: Tidak ada jalan lain. Maka aku datang kepadamu dengan tipu daya yang sama persis. Ia berkata kepadaku keesokan harinya: Demi Allah aku telah hamil, dan ini demi Allah adalah sebab kematianku dan malustriku. Ia terus bertemu denganmu dengan cara tipu daya hingga mendekati kelahiran, maka ia pergi ke ibunya dan melakukan sebagaimana yang ia lakukan. Ia melahirkan seorang anak perempuan yang cantik, maka ia tidak rela membunuhnya. Aku mengambilnya darinya di malam hari dan membawanya keluar kepada orang-orang lemah yang memiliki bayi, maka aku menyerahkannya kepada mereka dan memberikan kepada mereka dari harta ayahmu dirham yang banyak. Aku bersepakat dengan mereka untuk menyusui dan merawatnya, dan bahwa aku akan memberikan kepada mereka setiap bulan sesuatu yang tertentu. Ia mengirimkannya kepada mereka setiap bulan dan memberikan kepada mereka dua kali lipatnya hingga gadis itu dimanja, dan mengirimkan kepadanya pakaian-pakaian yang lembut. Maka ia tumbuh dalam kemanjaan dan kenikmatan, dan ia melihatnya setiap hari ketika merindukannya. Ayahmu melamar untukmu dari para wanita, maka engkau menikah dengan istrimu fulanah. Terputuslah apa yang ada antara engkau dan ibumu, padahal ia dari orang yang paling keras cintanya kepadamu dan cemburu kepadamu dari istrimu. Tidak ada tipu daya untuknya kepadamu hingga gadis itu mencapai umur sembilan tahun, maka ia memperlihatkan bahwa ia adalah budak yang telah dibelinya. Ia memindahkannya ke rumahnya agar melihatnya setiap waktu karena kuatnya cintanya kepadanya. Gadis itu tidak mengetahui bahwa ia adalah anak perempuannya. Ia menamainya dengan nama-nama budak. Gadis itu tumbuh menjadi wanita yang paling cantik wajahnya, maka ia mengajarinya bernyanyi dengan alat musik ‘ud, dan ia mahir di dalamnya. Ia mencapai umur wanita dewasa.
Suatu hari dia berkata kepadaku, “Wahai ibuku, lihatlah betapa besarnya kecintaanku pada putriku ini. Tidak ada yang tahu bahwa dia adalah putriku selain engkau. Aku tidak mampu menampakkan identitasnya. Dia telah mencapai usia di mana jika aku tidak menikahkannya dengan seorang laki-laki, aku khawatir dia akan lepas dari tanganku dan akan mencari laki-laki. Dia akan mencari penjualan karena mengira dirinya budak. Jika aku melarangnya, hidupnya dan hidupku akan sengsara. Jika aku menjualnya dan berpisah dengannya, aku akan sangat kehilangannya. Aku telah memikirkan untuk menikahkannya dengan putraku.”
Aku berkata, “Wahai kau, bertakwalah kepada Allah! Cukuplah apa yang telah terjadi.”
Dia berkata, “Itu harus dilakukan.”
Aku berkata, “Bagaimana hal ini bisa terlaksana?”
Dia berkata, “Pergilah dan tulislah secarik kertas yang menyebutkan cinta dan asmara, lalu bawalah kepada istri putraku. Katakan bahwa surat itu dari fulan si tentara, tetangga kita.” Dia menyebutkan seorang pemuda yang baru tumbuh kumisnya, sangat tampan, yang pernah saling mencintai dengan istri putramu. “Bersikaplah lembut dan berdayalah sehingga engkau mendapat balasannya untuknya.”
Aku melakukannya. Istrimu mempermalukanku, mengusirku, dan meremehkanku. Aku terus menemuinya dan tidak berhenti membujuknya hingga dadanya melunak. Dia membaca surat itu dan menjawabnya dengan tulisan tangannya sendiri. Aku membawa jawaban itu kepada ibumu. Dia mengambilnya dan membawanya kepada ayahmu. Dia mencemarkan nama istri putramu dan menyebarkan keburukan antara dia dengan ayahnya, antara ayahmu dengan ibunya. Kami dalam keadaan seperti itu berbulan-bulan hingga akhirnya ayahmu menuntutmu untuk menceraikan istrimu atau pindah darinya, dan dia akan memutuskan hubungan denganmu selamanya. Dia menawarkan untuk memberikan seberat mahar dari hartanya. Engkau menaati kedua orang tuamu dan menceraikan wanita itu. Ayahmu membayar maharnya. Engkau sangat bersedih, menangis, dan menolak makan. Ibumu datang kepadamu dan berkata, “Mengapa engkau bersedih atas pelacur ini? Aku akan memberikanmu budak penyanyi milikku. Dia lebih cantik darinya, masih perawan dan baik, sedangkan wanita itu janda yang tidak bermoral.” Ibumu memperlihatkannya kepadamu sebagaimana dilakukan terhadap wanita merdeka dan melengkapinya dari hartaku dan harta ayahmu dengan perlengkapan yang lebih baik dari yang dibawa kepadamu. Ketika engkau mendengar itu, kesedihanmu hilang dan engkau menerimanya. Ibumu setuju akan hal itu, menyiapkan perlengkapan dan membuat perhiasan untukmu. Wanita itu melahirkan anak-anakmu ini dan sekarang dia adalah penghuni rumahmu.
Ini adalah satu bab dari apa yang aku ketahui tentang ibumu, dan ada bab lain…” Dia mulai bercerita.
Dia berkata, “Cukup! Cukup! Hentikan! Jangan katakan apa pun lagi. Allah melaknat wanita itu dan tidak merahmatinya, dan melaknatmu bersamanya!” Dia berdiri memohon ampun kepada Allah dan menangis sambil berkata, “Demi Allah, rumahku hancur dan aku harus berpisah dari ibu anak-anakku.”
Dia mengambil tanganku dan aku berdiri dengan hati yang menyesal karena tidak mendengar sisa cerita yang ingin diceritakan wanita tua itu kepada kami.
Muhammad bin Abdul Baqi Al-Bazzaz memberitahu kami, dia berkata: Abu Al-Qasim Ali bin Al-Muhsin At-Tanukhi memberitahu kami dari ayahnya, dia berkata: Ibrahim bin Ali An-Nasibi menceritakan kepadaku, dia berkata: Abu Bakr An-Nahwi menceritakan kepadaku, dia berkata: Abu Ali bin Fath menceritakan kepadaku, dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata:
Pada suatu tahun aku duduk di gang rumahku ketika seorang pemuda tampan dengan penampilan baik masuk, terlihat bekas kemakmuran padanya. Dia menanyakan rumah kosong di gang itu untuk disewa. Sebagian besar gang itu milikku, jadi aku pergi bersamanya ke sebuah rumah besar yang bagus dan kosong. Aku menunjukkannya kepadanya. Dia menyukainya dan membayar sewanya untuk sebulan serta mengambil kuncinya.
Keesokan harinya dia datang bersama seorang budak. Mereka membuka pintu. Budak itu menyapu rumah dan menyiraminya dengan air. Dia duduk sementara budak itu pergi. Budak itu kembali setelah Asar bersama beberapa kuli angkut dan seorang wanita. Mereka masuk ke rumah dan menutup pintunya. Kami tidak mendengar gerakan apa pun dari mereka. Budak itu keluar sebelum Isya sementara laki-laki dan wanita itu tetap di rumah. Mereka tidak membuka pintu selama beberapa hari.
Pada hari keempat dia keluar menemuiku. Aku berkata, “Celakalah kamu, ada apa?” Dia memberi isyarat bahwa dia bersembunyi dari utang dan memintaku untuk menunjuk seseorang yang bisa membelikan kebutuhannya setiap hari sekaligus. Aku melakukannya. Setiap minggu dia keluar menimbang banyak dirham dan memberikannya kepada budak yang kutunjuk untuk membeli apa yang cukup untuk banyak hari: roti, daging, buah-buahan, anggur, sayuran, dan menuangkan air ke dalam banyak kendi yang telah disiapkannya untuk hari-hari itu. Dia tidak membuka pintu sampai perbekalan itu habis.
Begitulah selama setahun. Tidak ada yang datang kepadanya, tidak ada yang keluar darinya. Aku dan yang lain tidak melihat apa pun sampai suatu malam waktu Maghrib dia mengetuk pintuku. Aku keluar dan bertanya, “Ada apa?”
Dia berkata, “Ketahuilah bahwa istriku sedang dalam proses melahirkan. Tolonglah aku dengan seorang bidan.”
Kebetulan di rumahku ada bidan untuk ibu dari anak-anakku. Aku membawanya kepadanya. Dia tinggal bersamanya semalam. Keesokan harinya dia datang kepadaku dan menceritakan bahwa istrinya melahirkan seorang putri di malam hari, bahwa dia telah mengurus urusannya, dan bahwa wanita yang baru melahirkan itu dalam kondisi sekarat. Bidan itu kembali kepadanya. Waktu tengah hari, wanita muda itu meninggal. Bidan datang memberitahu kami.
Dia berkata, “Demi Allah, jangan biarkan ada wanita datang, jangan ada yang meratap, jangan ada tetangga yang datang menyampaikan belasungkawa atau berkumpul.” Aku melakukan itu. Aku mendapatinya dalam tangisan dan isak tangis yang sangat hebat. Aku menyiapkan jenazah untuknya antara waktu Maghrib dan Isya. Aku telah mengutus orang untuk menggali kuburan di pemakaman dekat kami. Penggali kembali saat sore dan dia telah menyetujuiku untuk memulangkan mereka. Dia berkata, “Aku tidak ingin ada yang melihatku. Engkau dan aku akan memikul jenazah jika engkau berkenan dan mengharapkan pahala, dan kami akan menguruskan pemakamannya sendiri.”
Aku malu dan berkata kepadanya, “Aku akan melakukannya.”
Ketika waktu Isya dekat, aku keluar kepadanya dan berkata, “Apakah jenazahnya akan keluar?” Dia berkata, “Berkenankah engkau dulu memindahkan bayi ini ke rumahmu dengan syarat tertentu?” Aku berkata, “Apa itu?”
Dia berkata, “Jiwaku tidak sanggup duduk di rumah ini setelah kepergian kekasihku, tidak juga tinggal di kota ini. Aku memiliki harta besar dan barang-barang. Berkenankah engkau mengambilnya, mengambil bayi ini, dan membelanjakan untuknya dari hasil penjualan barang-barang itu sampai bayi ini besar? Jika dia meninggal dan masih tersisa sesuatu, itu untukmu, semoga Allah memberkahimu. Jika dia hidup, itu akan cukup untuknya sampai dia mencapai usia dewasa. Saat itu urus urusannya sebagaimana menurutmu baik. Aku akan pergi setelah pemakaman dan meninggalkan kota.”
Aku menasihatinya dan berusaha meyakinkannya tetapi tidak ada jalan. Aku memindahkan bayi itu ke rumahku. Aku dan dia memikul jenazah. Ketika kami tiba di tepi kuburan, dia berkata kepadaku, “Berkenankah engkau menjauh? Aku ingin berpamitan dengannya. Aku akan membuka wajahnya, melihatnya, kemudian menguburkannya.”
Aku melakukannya. Dia membuka wajahnya dan menciumnya, kemudian mengikat kembali kainnya dan menurunkannya ke liang lahad. Kemudian aku mendengar teriakan dari kuburan. Aku terkejut dan datang mengintip. Ternyata dia telah mengeluarkan pedang yang tergantung di bawah pakaiannya, sudah terhunus, dan aku tidak mengetahuinya. Dia bersandar padanya sehingga masuk ke jantungnya dan keluar dari punggungnya. Dia meneriakkan teriakan itu dan mati seolah-olah sudah mati sejak seribu tahun lalu.
Aku sangat heran dengan hal itu dan takut jika diketahui akan menjadi masalah. Aku membaringkannya di atasnya di liang lahad, menutup mereka dengan batu bata, menimbun tanah, merapikan kuburan, dan menuangkan kendi-kendi air yang kami miliki di tempat itu. Aku kembali dan memindahkan semua yang ada di rumah itu ke rumahku, menyimpannya di sebuah kamar dan menyegelnya. Aku berkata, “Ini pasti akan terungkap akibatnya. Seharusnya aku tidak menyentuh harta dan barang-barang ini sama sekali.” Nilainya ribuan dinar. Aku menghitung pengeluaran untuk bayi ini dan menganggapnya sebagai anak pungut dari jalan yang kubesarkan untuk mendapat pahala. Aku melakukan itu.
Sekitar setahun setelah kematian pemuda dan wanita itu, suatu hari aku duduk di depan pintuku ketika seorang syekh dengan tanda-tanda kemuliaan dan kemakmuran lewat, mengendarai bagal mewah dengan seorang budak hitam di depannya. Dia memberi salam dan berhenti, bertanya, “Apa nama gang ini?”
Aku berkata, “Gang Fath.”
Dia berkata, “Apakah engkau penduduk gang ini?”
Aku berkata, “Ya.”
Dia berkata, “Sejak kapan engkau tinggal di sini?”
Aku berkata, “Sejak aku tumbuh dewasa. Gang ini dinisbatkan kepadaku dan sebagian besarnya milikku.”
Dia turun dari tunggangannya. Aku berdiri menemui dan menghormatinya. Dia duduk berhadapan denganku berbincang dan berkata, “Aku punya keperluan.”
Aku berkata, “Katakanlah.”
Dia berkata, “Apakah engkau mengenal di daerah ini seseorang yang datang dua tahun lalu, seorang pemuda dengan keadaan dan sifat…” Dia menggambarkan pemuda itu dan menyewa rumah di sini.
Aku berkata, “Ya.”
Dia berkata, “Apa kisahnya dan bagaimana akhirnya?”
Aku berkata, “Siapa engkau baginya sehingga aku memberitahumu?”
Dia berkata, “Beritahu aku.”
Aku berkata, “Aku tidak akan melakukannya kecuali engkau jujur kepadaku.”
Dia berkata, “Aku ayahnya.”
Aku menceritakan kisah itu secara lengkap. Dia menangis tersedu-sedan dan berkata, “Musibahku adalah aku tidak bisa memohonkan rahmat untuknya.”
Aku mengira dia mengisyaratkan tentang bunuh diri putranya. Aku berkata, “Mungkin akalnya hilang sehingga dia membunuh dirinya sendiri.”
Dia menangis dan berkata, “Bukan itu yang kumaksud.”
Aku berkata, “Di mana bayinya?”
Dia berkata, “Di rumahku bersama barang-barangnya.”
Aku berkata, “Berikan aku bayinya.”
Aku berkata, “Aku tidak akan melakukannya kecuali engkau jujur kepadaku.”
Dia berkata, “Bebaskan aku.”
Aku berkata, “Aku bersumpah kepadamu demi Allah untuk melakukannya.”
Dia berkata, “Wahai saudaraku, musibah dunia banyak. Di antaranya adalah putraku ini tumbuh dewasa. Aku mendidiknya dan mengajarinya. Dia memiliki saudara perempuan yang tidak ada yang lebih cantik darinya di Baghdad. Dia lebih muda darinya. Mereka saling jatuh cinta dan kami tidak tahu. Kemudian urusan mereka terungkap. Aku menegur mereka berdua dan mengingkari perbuatan mereka. Urusan berlanjut hingga dia memperkosanya. Berita itu sampai kepadaku. Aku memukulnya dengan cambuk, begitu juga ibunya. Aku merahasiakan berita mereka agar tidak memalukan. Aku memisahkan mereka, mengurung mereka, dan ibu mereka mengawasi mereka dengan ketat seperti pengawasanku. Namun mereka tetap bertemu dengan tipu daya seperti orang asing. Berita itu sampai kepada kami. Aku mengeluarkan pemuda itu dari rumah dan membelenggu gadis itu. Mereka dalam keadaan seperti itu selama berbulan-bulan. Ada budak yang melayani aku seperti anakku sendiri. Putraku membuat tipu daya kepadaku melaluinya dengan saling berkirim surat sampai mereka mengambil dariku harta yang banyak dan barang-barang berharga, lalu melarikan diri bertahun-tahun lalu. Mereka merencanakan pengambilan itu dan pelarian dengan tipu daya yang panjang penjelasannya. Aku tidak mendapat kabar tentang mereka. Kehilangan harta ringan bagiku karena kepergian mereka. Aku merasa lega dari mereka meski jiwaku rindu kepada mereka. Aku mendengar bahwa budak itu berada di salah satu gang beberapa hari lalu. Aku menyergap rumahnya. Dia naik ke atap. Aku berkata kepadanya, ‘Demi Allah, wahai fulan, apa yang dilakukan kedua anakku? Kerinduan telah membunuhku. Engkau aman.’ Dia berkata kepadaku, ‘Carilah di Gang Fath di sisi barat, tanyakan tentang mereka di sana.’ Dia melompat ke atap lain dan melarikan diri. Aku mengenal fulan dari pedagang kaya di sisi timur.” Dia menangis dan berkata, “Tunjukkan aku kuburannya.”
Aku membawanya hingga berdiri di kuburan itu. Kemudian dia datang dan aku membawanya masuk ke rumahku. Aku menunjukkan bayinya. Dia menciumnya berkali-kali dan menangis. Dia mengambilnya dan berdiri. Aku berkata, “Tunggu di tempat. Aku akan pindahkan barang-barangmu.”
Dia berkata, “Engkau bebas darinya dan lega.”
Aku terus membujuknya hingga aku bersikeras kepadanya dan berkata, “Ambil hartanya dan bebaskan aku dari tanggung jawabnya.”
Dia berkata, “Dengan syarat kita bagi dua antara aku dan engkau.”
Aku berkata, “Demi Allah, aku tidak akan ambil sedikitpun darinya.”
Dia berkata, “Carilah kuli angkut.”
Aku datang dengan mereka. Mereka memikul harta warisan itu dan bayinya lalu pulang.
Bab Empat Puluh Tiga tentang Orang yang Kafir karena Cinta
Ibnu Al-Husain memberitahu kami, dia berkata: Ibnu Al-Madzhab memberitahu kami, dia berkata: Ahmad bin Ja’far memberitahu kami, dia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepadaku, dia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, dia berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Rasyid memberitahu kami dari Makhul dari seseorang dari Abu Dzar dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Ada seorang laki-laki yang beribadah kepada Allah di pantai laut selama tiga ratus tahun. Dia berpuasa di siang hari dan shalat di malam hari. Kemudian dia kafir kepada Allah Yang Maha Agung karena seorang wanita yang dicintainya. Dia meninggalkan ibadah kepada Allah Azza wa Jalla yang biasa dilakukannya. Kemudian Allah menolongnya dengan sebagian ibadahnya yang pernah dilakukan, lalu dia bertaubat kepada-Nya.”
Al-Mubarak bin Ali Ash-Shairafi menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdul Wahhab bin Ahmad Al-Musta’mal memberitahu kami, dia berkata: Al-Hasan bin Ahmad Al-Khallal menceritakan kepada kami, dia berkata: Umar bin Ahmad Al-Wa’idz menceritakan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Muhammad bin Syaibah menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Bakr Al-Qashir menceritakan kepada kami, dia berkata: Ubaidullah bin Al-Abbas bin Ar-Rabi’ Al-Haritsi menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Abdurrahman As-Salmani dari ayahnya dari Ibnu Umar, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Mereka adalah teman-teman Daud dan Sulaiman serta Kursuf” – yakni wanita-wanita. Ditanyakan, “Siapa Kursuf?” Beliau menjawab, “Seorang laki-laki dari umat sebelum kalian yang beribadah kepada Allah Azza wa Jalla di pantai laut selama tiga ratus tahun. Kemudian seorang wanita asing lewat di hadapannya lalu dia kafir kepada Allah Azza wa Jalla. Kemudian Allah menolongnya dengan sebagian ibadahnya yang dikehendaki-Nya, lalu Dia menerima taubatnya.”
Muhammad bin Nashir memberitahu kami, dia berkata: Abu Al-Qasim bin Al-Bisri memberitahu kami dari Abu Abdullah Ibnu Bathah, dia berkata: Abu Shalih menceritakan kepadaku, dia berkata: Al-Husain bin Abdul Aziz menceritakan kepadaku, dia berkata: Sa’dan bin Yazid menceritakan kepada kami, dia berkata: Sunaid berkata kepadaku: Aku mendengar Hajjaj berkata: Aku melihat seorang laki-laki yang jatuh cinta lalu menjadi Nasrani.
Aku mendengar guru kami Abu Al-Hasan Ali bin Ubaidullah Az-Zaghuni menceritakan bahwa seorang laki-laki lewat di depan pintu seorang wanita Nasrani. Dia melihatnya dan jatuh cinta padanya saat itu juga. Cintanya bertambah hingga menguasai akalnya sehingga dia dibawa ke rumah sakit jiwa. Dia memiliki teman yang sering mengunjunginya dan menjadi perantara antara dia dengan wanita itu. Kemudian keadaannya semakin parah.
Ibunya berkata kepada temannya, “Aku datang kepadanya tapi dia tidak mau bicara denganku.”
Temannya berkata, “Mari ikut denganku.”
Ibunya datang bersamanya. Temannya berkata kepada orang sakit itu, “Kekasihmu telah mengirimu pesan.”
Dia berkata, “Bagaimana?”
Temannya berkata, “Ibumu ini akan menyampaikan pesannya.”
Ibunya mulai berbicara dengannya tentang wanita itu dengan kebohongan. Kemudian keadaannya semakin memburuk dan kematian datang kepadanya. Dia berkata kepada temannya, “Ajal telah tiba dan waktunya sudah dekat. Aku tidak bertemu kekasihku di dunia dan aku ingin bertemu dengannya di akhirat.”
Temannya berkata, “Bagaimana caramu?”
Dia berkata, “Aku akan meninggalkan agama Muhammad dan berkata, ‘Isa dan Maryam serta Salib yang Agung.'”
Dia mengucapkan itu dan meninggal. Temannya pergi menemui wanita itu dan mendapatinya sakit. Dia masuk menemui dan berbincang dengannya. Wanita itu berkata, “Aku tidak bertemu kekasihku di dunia dan aku ingin bertemu dengannya di akhirat. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Aku berlepas diri dari agama Nasrani.”
Ayahnya berdiri dan berkata kepada laki-laki itu, “Ambillah dia sekarang karena dia dari kalian.”
Laki-laki itu berdiri hendak keluar. Wanita itu berkata kepadanya, “Tunggu sebentar.”
Dia menunggu, lalu wanita itu meninggal.
Sampai kepadaku tentang seorang laki-laki di Baghdad yang disebut Shalih Al-Muadzdzin. Dia menjadi muadzin selama empat puluh tahun dan dikenal dengan kesalehannya. Suatu hari dia naik ke menara untuk adzan. Dia melihat putri seorang laki-laki Nasrani yang rumahnya di samping masjid. Dia terpesona olehnya. Dia datang mengetuk pintu. Wanita itu bertanya, “Siapa?”
Dia berkata, “Aku Shalih Al-Muadzdzin.”
Wanita itu membukakan pintu untuknya. Ketika dia masuk, dia memeluknya. Wanita itu berkata, “Kalian adalah orang-orang yang dapat dipercaya. Apa pengkhianatan ini?”
Dia berkata, “Jika engkau mau melakukan yang kuinginkan, kalau tidak aku akan membunuhmu.”
Wanita itu berkata, “Tidak, kecuali engkau meninggalkan agamamu.”
Dia berkata, “Aku berlepas diri dari Islam dan dari apa yang dibawa Muhammad.”
Kemudian dia mendekatinya. Wanita itu berkata, “Engkau hanya mengatakan ini untuk memenuhi nafsumu, kemudian engkau akan kembali ke agamamu. Makanlah daging babi.”
Dia makan. Wanita itu berkata, “Minumlah arak.”
Dia minum. Ketika arak merasuki tubuhnya, dia mendekatinya. Wanita itu masuk ke sebuah kamar dan menutup pintu, berkata, “Naiklah ke atap. Ketika ayahku datang, aku akan menikahkanmu denganku.”
Dia naik lalu terjatuh dan meninggal. Wanita itu keluar dan membungkusnya dengan kain kasar. Ayahnya datang. Dia menceritakan kejadiannya. Ayahnya mengeluarkannya di malam hari dan membuangnya di jalan. Beritanya terungkap dan dia dibuang ke tempat sampah.
Bab Keempat Puluh Empat: Tentang Orang-Orang Yang Cinta Birahi Membawa Mereka Kepada Pembunuhan
Telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahhab dan Muhammad bin Nashir, keduanya berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Husain bin Abdul Jabbar, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Husain bin Muhammad an-Nushaibi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ismail bin Suwaid, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin al-Anbari, ia berkata: telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ubaid dari al-Haitham, ia berkata: telah menceritakan kepadaku seorang laki-laki dari Bajilah dari para syekh kaumnya bahwa Abdurrahman bin Muljam, semoga Allah melaknatnya, melihat seorang wanita dari Taim ar-Rabab yang bernama Qatham. Wanita itu termasuk yang paling cantik, menganut paham Khawarij, dan kaumnya telah dibunuh karena paham ini pada Perang Nahrawan. Ketika ia melihatnya, ia jatuh cinta kepadanya lalu melamarnya. Wanita itu berkata, “Aku tidak akan menikah denganmu kecuali dengan tiga ribu (dinar) dan pembunuhan Ali bin Abi Thalib.” Maka ia menikahinya dengan mahar tersebut. Ketika ia menggaulinya, wanita itu berkata kepadanya, “Wahai engkau, engkau sudah selesai (menggauliku), maka selesaikanlah (janjimu)!” Maka keluarlah ia dengan memakai senjata, dan Qatham keluar lalu memasang tenda untuknya di masjid. Ali keluar sambil berkata, “Salat! Salat!” Maka Abdurrahman mengikutinya dan memukulnya dengan pedang di ubun-ubun kepalanya. Maka penyair berkata:
Aku tidak pernah melihat mahar yang diberikan orang dermawan, seperti mahar Qatham di antara kami yang tidak samar, tiga ribu, seorang budak, dan seorang penyanyi wanita, dan pembunuhan Ali dengan pedang yang tajam. Tidak ada mahar yang lebih mahal dari Ali meskipun mahal, dan tidak ada pembunuh kecuali di bawah pembunuhan Ibn Muljam.
Telah mengabarkan kepada kami Abdul Awwal bin Isa, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdul Aziz al-Farisi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdurrahman bin Abi Syuraih, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdullah bin Muhammad al-Baghawi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu al-Jahm al-Ala’ bin Musa, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Laits bin Sa’d dari Nafi’, bahwa ada seorang budak wanita di Madinah pada masa khalifah Mu’awiyah yang memiliki kekasih. Ia berkata kepada tuannya, “Aku tidak rela sampai engkau membunuh si fulan.” Maka tuannya membunuhnya dan wanita itu membantunya dalam hal itu. Laki-laki itu ditangkap dan wanita itu pun ditangkap bersamanya. Wanita itu mengaku hamil, maka mereka meninggalkannya hampir tiga bulan. Ketika jelas bagi mereka bahwa ia tidak hamil, mereka membunuhnya.
Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Mu’ammar al-Anshari, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Qasim Hibatullah bin Abdullah al-Wasithi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Abdullah Muhammad bin Abi Nashr al-Humaidi, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku Abu Abdullah Muhammad bin Idris bahwa Abu Abdul Malik bin Marwan bin Abdurrahman bin Marwan bin Abdurrahman an-Nashir yang dikenal dengan at-Thaliq dari Bani Umayyah jatuh cinta kepada seorang budak wanita yang telah dibesarkan ayahnya bersamanya dan menyebutkannya untuknya. Kemudian ayahnya mengambilnya untuk dirinya sendiri dan berduaan dengannya. Dikatakan bahwa kecemburuannya sangat keras karenanya, lalu ia menghunus pedang dan lengah terhadap ayahnya di salah satu kesunyiannya, kemudian ia membunuhnya. Maka al-Manshur Muhammad bin Abi Amir memenjarakannya bertahun-tahun. Ia berkata dalam penjara syair-syair yang menakjubkan yang membuatnya terkenal, kemudian ia dibebaskan dan diberi julukan at-Thaliq (yang dibebaskan). Dikatakan bahwa ia mengalami semacam kegilaan dan ia tersungkur pada waktu-waktu tertentu. Abu al-Hasan Nafi’ bin Riyadh asy-Sya’ir mengabarkan kepadaku bahwa ia masuk menemuinya setelah kejadian itu dan mendapatinya duduk di tepi air. Ia membacakan syair kepadanya, maka ia memerintahkan hadiah untuknya, sementara di dekatnya ada pelayan Saqalibi yang mendesaknya dan mempercepat keluarnya. Ketika ia keluar, pelayan itu mengabarkan kepadanya bahwa ia sering tersungkur dan bahwa ketika ia merasakan akan tersungkur, ia melemparkan dirinya ke dalam air, dan itu kebiasaannya, ia mengklaim bahwa ia merasakan keringanan karenanya. Pendesakan kepadanya adalah karena itu, karena takut mendadak terjadi. Abu Abdullah bin Idris berkata kepadaku: Di antara syair-syairnya dalam penjara:
Kematian adalah keadaan yang lebih baik dari keadaanku, yang paling kecilnya adalah perpisahan dengan keluarga dan harta. Aku tidak mengeluh kepada Allah, tetapi aku mengeluh kepada-Nya, betapa aku menangis dan kesedihanku baru, tidak usang. Lidahku dan tanganku menjadi temanku, kakiku telah dibelenggu tanpa ucapan dan perbuatan. Aku di tempat yang sepi antara dua kematianku di dalamnya, kematian kebodohan dalam kematian dari keadaan. Tidak ada singa yang mengeluh tentang sempitnya gelang kaki sebelumku, dan tidak pula mereka menguburkannya di antara gunung-gunung. Setiap hari berlalu padaku dari musibah-musibahnya apa yang tidak terlintas dalam pikiran atau bayangan. Dan setiap keadaan dari keadaan-keadaan berubah, dan tidak berubah dari keadaan-keadaan keadaanku. Dan aku tidak hidup karena kehidupan lebih terpuji bagiku, tetapi aku hidup karena kematian lebih hidup bagiku. Dan bagaimana masaku berani melihat kosong keadaanku dengannya, padahal ia karena kemuliaanku dengannya berkemulian. Betapa aku memberi zamanku ketika aku direndahkan dengannya, dan betapa kemuliaan direndahkan pada hari penghinaanku. Semoga aku tahu apakah akan muncul bagi kami suatu zaman yang menampakkan di hari-harinya keutamaan bagi orang yang diutamakan.
Ia berkata: Di antara yang dipandang bagus darinya dalam penggambaran piala:
Ia menjadi matahari dan mulutnya menjadi barat, dan tangan pemberi minum yang menghidupkan menjadi timur. Maka ketika ia tenggelam di dalam mulutnya, ia meninggalkan di pipi darinya senja kemerah-merahan.
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Nashir, ia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin Ali al-Jauhari, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibn Haiwayah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Muhammad bin al-Qasim bin al-Hasan, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Umar al-Bahili, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Harb, ia berkata: Raqqasy adalah seorang wanita dari Iyad bin Nizar. Ayahnya sangat mencintainya. Seorang laki-laki dari kaumnya melamarnya, dan wanita itu tertarik kepadanya dan jatuh hati. Namun ayahnya menolak menikahkannya. Maka ia memberi ayahnya minuman (racun). Ketika ayahnya merasakan sakaratul maut, ia berkata, “Wahai Raqqasy, engkau membunuhku untuk orang yang lebih jauh dariku, dan engkau akan mendapat balasan murka.” Ketika ayahnya meninggal, ia menikahi laki-laki itu. Tidak lama kemudian laki-laki itu memukulnya. Dikatakan kepadanya, “Wahai Raqqasy, suamimu memukulmu!” Ia berkata, “Siapa yang sedikit penolongnya, mengakui kehinaan.” Kemudian tidak lama lagi ia menikah lagi (dengan wanita lain). Dikatakan, “Wahai Raqqasy, suamimu menikah dengan wanita lain. Seandainya engkau meminta cerai kepadanya!” Ia berkata, “Aku tidak mencari kejahatan dengan kejahatan, dan cukuplah perceraian sebagai aib bagi wanita merdeka.”
Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Qasim Ali bin al-Muhsin at-Tanukhi dari ayahnya, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Muhammad, ia berkata: telah menceritakan kepadaku asy-Syarif Abu Ahmad al-Husain bin Musa al-Alawi an-Naqib, ia berkata: telah menceritakan kepadaku seorang syekh yang pernah melayani aku bahwa ia bersumpah dengan talak untuk tidak pernah lagi menghadiri undangan. Aku bertanya kepadanya tentang sebab hal itu, maka ia berkata: Aku pernah turun ke Bashrah dari Baghdad, lalu aku naik ke salah satu pelabuhan Bashrah. Tiba-tiba seorang laki-laki menyambutku dan memanggilku dengan kunyah yang bukan kunyahku, menyambutku dengan ramah, dan mulai bertanya kepadaku tentang orang-orang yang tidak aku kenal. Aku adalah orang asing yang tidak mengenal tempat, maka aku berkata (dalam hati), “Aku akan bermalam di tempatnya malam ini sampai besok, lalu aku akan mencari tempat.” Aku berpura-pura dalam pembicaraan dengannya. Ia menarikku ke rumahnya, dan bersamaku ada seorang laki-laki saleh, dan di sakuku ada banyak dirham. Aku masuk ke tempatnya dan melihat rumah yang bagus dan keadaan yang sedang-sedang saja, dan ternyata di sana ada pesta dan mereka sedang minum nabidz (minuman anggur), dan ia telah keluar untuk suatu keperluan, lalu ia menyangka aku adalah temannya. Di antara yang hadir ada seorang budak tampan. Ketika kami berbaring untuk tidur, aku menyesal atas perbuatanku, dan semua orang tertidur. Setelah beberapa waktu, aku melihat salah satu dari mereka bangun menuju budak tampan itu lalu berbuat maksiat dengannya, kemudian kembali ke tempatnya. Ia dekat dengan pemilik budak itu. Pemilik budak itu terbangun dan menggerakkannya, lalu budak itu berkata kepadanya, “Apa yang kau mau? Bukankah tadi kau datang kepadaku dan melakukan ini dan itu kepadaku?” Ia berkata kepadanya, “Tidak.” Budak itu berkata, “Tadi ada yang datang kepadaku dan melakukan ini dan itu kepadaku, dan aku mengira itu kau, maka aku tidak bergerak dan tidak mengira ada orang yang berani terhadapmu.” Laki-laki itu mendengus dan menghunus pisau di pinggangnya. Kebetulan ia memulai dengan pelaku kejahatan itu, sementara aku gemetar ketakutan. Seandainya ia memulai denganku dan mendapatiku gemetar, ia pasti akan membunuhku, dan ia mengira akulah pelaku kejadian itu. Tetapi Allah menghendaki keselamatanku, maka ia memulai dengan pelaku kejadian itu. Ia meletakkan tangannya di hati laki-laki itu dan mendapatinya berdebar, dan laki-laki itu berpura-pura tidur berharap akan selamat. Maka ia meletakkan pisau di jantungnya dan menutup mulutnya. Laki-laki itu menggeliat dan mati. Ia mengambil tangan budaknya dan pergi.
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi al-Bazzaz, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin al-Muhsin dari ayahnya, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abu al-Qasim Bahlul bin Abi Thalib al-Qadhi, pemilik ar-Rub’ di Bab asy-Syam, ia berkata: Aku bekerja dengan kepala polisi di Baghdad. Ia mengeluarkan para pencuri dari penjara dan meminta izin kepada Mu’izz ad-Daulah untuk membunuh mereka dan menyalib mereka di dekat jembatan. Ia memberi izin, maka ia menyalib mereka di waktu petang. Mereka adalah dua puluh orang laki-laki. Ia menugaskan sekelompok orang untuk menjaga mereka, dan aku termasuk di dalamnya, dan pemimpin kami adalah si fulan. Mereka berkata, “Kalian berada di dekat kayu-kayu mereka sisa hari dan malam kalian, sehingga ketika besok pagi, leher mereka akan dipenggal.” Kami pun bermalam dan tertidur. Salah satu pencuri berhasil memotong tali dan turun dari kayu, dan kami tidak terbangun kecuali oleh suara jatuhannya dan pelariannya. Pemimpin kami berlari dan aku di belakangnya, tetapi kami tidak bisa mengejarnya. Kami takut para tahanan yang tersisa akan ribut sehingga orang lain akan lolos. Maka kami kembali dengan tergesa-gesa dan duduk dengan sedih memikirkan apa yang harus kami lakukan. Pemimpin kami berkata, “Kepala polisi tidak akan memaafkan kesalahan dan tidak menerima alasan, dan ia akan berpikir bahwa aku telah mengambil uang dari pencuri itu dan melepaskannya, maka ia akan memukulku untuk interogasi. Aku tidak akan mengaku, maka ia akan berpikir aku ketegaran, dan ia akan memperpanjang pukulan kepadaku sampai aku mati. Apa pendapat kalian?” Kami berkata kepadanya, “Mari kita lari.” Ia berkata, “Lalu dari mana kita akan hidup?” Aku berkata, “Ini tengah malam dan tidak ada yang tahu apa yang terjadi. Bangkitlah, pasti akan ada orang sial yang ditakdirkan ajalnya jatuh ke tangan kita, kita ikat dan kita salib, dan kita katakan ‘yang diserahkan kepada kami adalah dua puluh orang dan ini dua puluh orang’, karena ia tidak mencatat ciri-ciri mereka.” Ia berkata, “Ini benar.” Maka kami bangun berkeliling dan melewati jalan jembatan untuk menyeberang ke sisi barat. Kami melihat di bawah tiang jembatan seorang laki-laki sedang buang air kecil. Kami mendatanginya dan menangkapnya. Ia berteriak, “Wahai orang-orang, ada apa dengan kalian? Aku nelayan, aku naik dari perahuku untuk buang air kecil, dan ini perahuku!” Ia menunjuknya. “Ada urusan apa antara aku dan kalian?” Kami memukulnya dan berkata, “Kau adalah pencuri yang lari dari kayu salib!” Kami membawanya dan menaikkannya ke kayu salib dan menyalibnya di tempat yang melarikan diri. Ia berteriak sepanjang malam dan menangis, sehingga hati kami hancur kasihan kepadanya. Kami berkata, “Ia teraniaya, tetapi apa boleh buat?” Ketika pagi hari, kepala polisi berkuda dan orang-orang berkumpul. Ia datang untuk memenggal leher orang-orang itu. Nelayan itu berteriak kepadanya, “Demi kedudukanmu di hadapan Allah, panggil aku dan dengarkan perkataanku! Aku bukan termasuk pencuri yang kau keluarkan dan kau perintahkan untuk disalib, dan aku teraniaya, dan telah terjadi padaku suatu tipu daya.” Ia menurunkannya dan berkata, “Apa kisahmu?” Maka ia menceritakan kepadanya kisahnya yang sebenarnya. Ia memanggil kami dan berkata, “Siapa orang ini?” Kami berkata, “Kami tidak tahu apa yang ia katakan. Yang diserahkan kepada kami adalah dua puluh orang dan ini dua puluh orang.” Ia berkata, “Kalian telah mengambil dirham dari pencuri itu dan melepaskannya, dan kalian mencegat seorang laki-laki asing dari jalan lalu menangkapnya!” Kami berkata, “Kami tidak melakukan ini, dan pencuri yang diserahkan kepada kami adalah orang ini.” Maka ia memenggal leher semua orang itu dan meninggalkan nelayan. Ia berkata, “Bawa para penjaga penjara dan para penjaga pintu!” Mereka datang, maka ia berkata, “Apakah orang ini termasuk dari dua puluh orang yang kami keluarkan?” Mereka semua memperhatikannya dan berkata, “Tidak.” Ia berpikir, kemudian ia memerintahkan untuk membebaskannya. Kemudian ia berkata, “Bawa ia kepadaku!” Maka kami membawanya kembali. Ia berkata kepadanya, “Ceritakan kepadaku kisahmu.” Maka ia mengulangi kisahnya. Ia berkata kepadanya, “Di tengah malam apa yang kau lakukan di tempat itu?” Ia berkata, “Aku telah bermalam di perahuku, lalu aku merasa ingin buang air kecil, maka aku naik untuk buang air kecil.” Ia berkata, kemudian ia berpikir sebentar, lalu berkata kepadanya, “Jujurlah padaku tentang urusanmu yang sebenarnya supaya aku membebaskanmu. Apa yang kau lakukan di sana supaya aku membebaskanmu?” Ia tidak mengabarkan kepadanya kecuali itu. Ia berkata: Kebiasaannya adalah jika ia ingin menginterogasi seseorang, ia menginterogasinya sementara orang itu berdiri di hadapannya, dan di belakangnya ada sekelompok orang dengan cambuk. Jika ia menggaruk kepalanya, orang yang diinterogasi dipukul satu kali dengan keras, maka ia berkata kepada yang memukulnya, “Semoga Allah memotong tangan dan kakimu, wahai si fulan, wahai si fulan! Siapa yang memerintahkanmu memukulnya? Kenapa kau memukulnya? Majulah, wahai si fulan, tidak apa-apa, jujurlah, dan kau akan selamat!” Jika ia mengaku (maka selamat), jika tidak, ia menggaruk kepalanya kedua kalinya dan ketiga kalinya, terus-menerus seperti itu. Begitulah kebiasaannya terhadap semua penjahat. Ketika nelayan itu memperpanjang (ceritanya), ia menggaruk kepalanya, maka salah satu yang berdiri memukulnya dengan cambuk yang keras di tengkuknya. Ia berteriak dengan keras. Ia (kepala polisi) berkata, “Siapa yang memerintahkanmu ini, wahai si fulan, wahai si fulan? Semoga Allah memotong tanganmu!” Kemudian ia berkata kepada nelayan, “Jujurlah dan selamatkan dirimu!” Ia berkata kepadanya, “Demi nelayan! Allah adalah saksi atasku, aku aman atas diriku dan anggota tubuhku sampai aku jujur!” Ia berkata kepadanya, “Ya.” Maka ia berkata, “Aku seorang nelayan yang bekerja di pelabuhan si fulan. Tetanggaku mengenalku sebagai orang yang terjaga. Aku telah mengirim perahuku tadi malam setelah isya untuk berjalan-jalan di bawah sinar bulan. Lalu turun seorang pelayan dari rumah yang tidak aku kenal dan berteriak, ‘Wahai nelayan!’ Aku maju, maka ia menyerahkan kepadaku seorang wanita cantik dan bersamanya dua anak perempuan kecil, dan ia memberiku satu dirham yang baik, lalu berkata, ‘Bawa mereka ke Bab asy-Syammasiyah!’ Aku membawa mereka naik melewati sebagian jalan, lalu wanita itu membuka wajahnya, ternyata ia adalah salah satu wanita tercantik, seperti bulan purnama. Aku menginginkannya, maka aku mengaitkan dayungku di tepi perahu dan mengeluarkan perahu ke tengah sungai Tigris, lalu aku mendekati wanita itu dan merayunya. Ia mulai berteriak, maka aku berkata, ‘Demi Allah, jika kau berteriak, aku akan menenggelamkanmu sekarang juga!’ Ia diam dan mulai menolakku. Aku berusaha untuk menguasainya tetapi tidak bisa. Aku berkata kepadanya, ‘Siapa dua anak perempuan ini darimu?’ Ia berkata, ‘Anak-anakku.’ Aku berkata kepadanya, ‘Mana yang lebih kau sukai, kau mengizinkanku atau aku menenggelamkan yang ini?’ Dan aku memegang salah satu dari mereka. Ia berkata, ‘Adapun aku, aku tidak akan menaatimu, maka lakukan apa yang kau mau!’ Maka aku melemparkan salah satu anak kecil itu ke air. Ia berteriak, maka aku memukul mulutnya dan aku ikut berteriak bersamanya, ‘Demi Allah, aku tidak akan melepaskanmu meskipun kau membunuhku, supaya hal itu membingungkan siapa pun yang mungkin mendengar teriakan di malam hari.’ Ia diam dan mulai menangis. Aku meninggalkannya sebentar, kemudian aku berkata kepadanya, ‘Biarkan aku atau aku akan menenggelamkan yang lain!’ Ia berkata, ‘Demi Allah, tidak akan aku lakukan!’ Maka aku mengambil anak kecil yang lain dan melemparkannya ke air. Ia berteriak dan aku berteriak bersamanya. Kemudian aku berkata kepadanya, ‘Tidak ada lagi kecuali aku akan membunuhmu! Biarkan aku atau aku akan membunuhmu!’ Aku mengambilnya dan mengangkat tanganku untuk melemparkannya ke air. Ia berkata, ‘Aku akan membiarkanmu.’ Aku mengembalikannya ke perahu, maka ia mengizinkanku menyetubuhinya, dan aku menyetubuhinya. Aku berjalan untuk melanjutkan perjalanannya ke pelabuhan. Aku berkata (dalam hati), ‘Sekarang ia akan naik ke rumahnya dan ke tempat yang ia tuju, lalu ia akan melaporkan aku, maka aku akan ditangkap dan dibunuh. Tidak ada jalan lain kecuali menenggelamkannya.’ Maka aku mengumpulkan tangan dan kakinya lalu melemparkannya ke air, dan ia tenggelam. Aku memikirkan apa yang telah aku lakukan dan kejahatan yang telah aku perbuat, maka aku menyesal, dan aku seperti orang yang mabuk lalu tersadar. Aku berkata, ‘Apa yang harus aku lakukan? Tidak ada jalan lain kecuali aku turun dengan perahuku ini ke Bashrah dan menyelam di sungai-sungainya sehingga aku tidak dikenal.’ Aku turun, dan ketika aku berada di seberang jembatan, perutku sakit, maka aku naik untuk membersihkan diri dan kembali ke perahuku, tetapi orang-orang ini menangkapku.” Kepala polisi berkata kepadanya dengan santai, “Lalu urusan apa antara orang sepertimu dan aku? Pergilah dengan selamat!” Karena kebodohannya ia mengira itu sungguh-sungguh, maka ia pergi. Kepala polisi berteriak kepadanya, “Wahai pemuda, kau pergi dan meninggalkan kami dari hakku? Setidaknya kau kembali supaya kami bersumpah kepadamu agar tidak mengulangi seperti ini lagi!” Ia kembali, maka ia berkata, “Tangkap dia!” Mereka menangkapnya. Ia berkata, “Potong tangannya!” Ia berkata, “Wahai tuanku, kau potong tanganku? Bukankah kau telah mengamankanku?” Ia berkata, “Wahai anjing! Keamanan untuk orang sepertimu? Kau telah membunuh tiga jiwa, berzina, dan membuat jalan tidak aman!” Maka dipotong kedua tangan dan kedua kakinya, kemudian lehernya dipenggal, dan tubuhnya dibakar di tempatnya.
Bab Empat Puluh Lima: Kisah-Kisah Orang Yang Membunuh Kekasihnya
Muhammad bin Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, dan Syahdah binti Ahmad memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad bin As-Sarraj memberitakan kepada kami. Keduanya berkata: Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali Al-Jauhari memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Hayuwayh memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Khalaf menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah Al-Yamami menceritakan kepadaku dari Al-‘Utbi dari ayahnya.
Ia berkata: Ada seorang laki-laki Arab yang menikahi putri pamannya. Ia sangat mencintainya dan istrinya itu adalah wanita yang cantik. Karena cintanya yang begitu besar, ia biasa duduk di serambi rumahnya bersama teman-temannya, kemudian masuk sebentar demi sebentar untuk melihat istrinya, lalu kembali kepada teman-temannya karena cintanya kepadanya.
Seorang sepupu perempuan itu lalu merencanakan sesuatu untuknya. Ia menyewa rumah di sampingnya, kemudian terus mengiriminya surat sampai perempuan itu menanggapi keinginannya. Perempuan itu pun membuat tipu muslihat dan turun kepadanya. Sang suami masuk seperti kebiasaannya untuk melihat istrinya tapi tidak menemukannya. Ia bertanya kepada ibu istrinya: “Mana si fulanah?” Ia menjawab: “Sedang buang hajat.”
Ia mencarinya di tempat itu tapi tidak menemukannya. Ternyata perempuan itu telah turun dan ia melihatnya. Ia berkata kepadanya: “Apa yang terjadi? Demi Allah, kau harus jujur padaku!” Perempuan itu berkata: “Demi Allah, aku akan jujur padamu tentang yang terjadi, begini dan begini.” Ia mengakui semuanya kepadanya.
Ia pun menghunus pedang dan memenggal lehernya, kemudian membunuh ibunya dan melarikan diri. Ia membuat syair:
Wahai sosok yang kematian mendatanginya Dan kutanganku telah menuai buah kebinasaan untuknya
Tanah kusirami dengan darahnya, padahal dulu Cinta telah menyirami bibirku dari bibirnya
Ibnu As-Sarraj berkata:
Kuhukum pedangku di tempat tercekiknya Dan air mataku mengalir di pipinya
Aku membunuhnya bukan karena aku tidak Menangis jika lalat hinggap padanya
Tapi aku kikir membiarkan mata-mata melihat kecantikannya Dan kasihan melihat pemuda menatapnya
Ibnu As-Sarraj berkata: “Dan aku tidak rela mata-mata menatapnya.”
Ibnu As-Sarraj menambahkan dalam riwayatnya dari Khalaf, ia berkata: Selain Abu Abdullah menambahkan kepadaku bahwa perempuan itu punya saudara perempuan yang penyair. Ia berkata menjawabnya:
Seandainya engkau kasihan atau iba padanya Niscaya engkau angkat pedangmu dari urat lehernya
Dan engkau sayangi air matanya dan panjang rindu kepadanya Dan engkau takut dari keburukan yang menimpanya
Siapakah yang akan melakukan seperti yang engkau lakukan pada yang sepertinya Ketika ia mentaatimu dan menyelisihi kedua orang tuanya
Lalu engkau tinggalkan ia di kamarnya terbunuh Secara zalim dan engkau menangisi, wahai orang celaka, atasnya
Abu Al-Ma’mar Al-Anshari mengabarkan kepada kami, ia berkata: Sha’id bin Sayyar memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Sahl Al-Ghurji memberitakan kepada kami, ia berkata: Ishaq bin Ibrahim Al-Hafizh menceritakan kepada kami dengan ijazah, ia berkata: Aku mendengar Al-Khalil bin Ahmad Al-Qadhi berkata: Dik Al-Jinn—salah seorang penyair—melihat seorang budak laki-lakinya memperhatikan budak perempuannya dan budak perempuan itu menatapnya, maka ia membunuh keduanya sekaligus. Kemudian ia menunjukkan penyesalan dan membuat syair:
Wahai jiwa yang kematian hinggap padanya Dan kutanganku telah menuai buah kebinasaan untuknya
Aku membunuhnya bukan karena aku tidak Menangis jika lalat hinggap padanya
Tapi aku cemburu pada mata-mata dengan satu pandangan Dan tidak rela pemuda menatapnya
Nama Dik Al-Jinn adalah Abdul Salam bin Raghban. Ia dijuluki Dik Al-Jinn. Ali bin Al-Husain Al-Ashbahani telah meriwayatkan bahwa Dik Al-Jinn jatuh cinta pada seorang perempuan Nasrani. Ia mengajaknya masuk Islam lalu ia masuk Islam. Namanya Ward. Ia menikahinya. Ia punya sepupu yang membencinya yang menyebarkan bahwa Ward mencintai budak laki-laki Dik Al-Jinn. Ia pun memukulnya dengan pedang dan membunuhnya. Penguasa mencarinya dan ia melarikan diri. Kemudian ia mengetahui bagaimana kejadian sebenarnya, tapi ia tetap tinggal di tempat jauh. Ia berkata:
Wahai sosok yang kematian mendatanginya Dan kutanganku telah menuai buah kebinasaan untuknya
Tanah kusirami dengan darahnya, padahal dulu Cinta telah menyirami bibirku dari bibirnya
Pedangku bermalam di tempat sabuknya Dan air mataku mengalir di pipinya
Demi sendalnya, tidak ada yang menginjak tanah Sesuatu yang lebih mulia bagiku dari sendalnya
Aku membunuhnya bukan karena aku tidak Menangis jika lalat hinggap padanya
Tapi aku kikir membiarkan mata-mata melihat kecantikannya Dan tidak rela orang yang dengki menatapnya
Al-Ashbahani telah meriwayatkan bahwa As-Sulaik bin Mujma’ adalah salah seorang penunggang kuda. Ia dicari oleh berbagai suku karena darah orang-orang yang ia bunuh. Ia mencintai putri pamannya dan meminangnya, tapi ayahnya menolak. Kemudian ayahnya menikahkannya kepadanya karena takut padanya. Ia menikahi perempuan itu di rumah ayahnya, kemudian memindahkannya setelah seminggu ke keluarganya.
Tiga puluh penunggang kuda dari Fazarah menemuinya—semuanya menuntut balas darinya karena darah. Mereka menyerangnya dan berkelahi dengannya sampai ia terluka parah dan yakin akan mati. Ia mendatangi istrinya dan berkata: “Aku tidak rela meninggalkanmu untuk mereka dan aku ingin mendahuluimu sebelum aku.” Perempuan itu berkata: “Lakukanlah, dan jika engkau tidak melakukannya, aku yang akan melakukannya.” Ia memukulnya dengan pedangnya dan membunuhnya. Ia membuat syair:
Wahai sosok yang kematian mendatanginya…
Ia menyebutkan bait-bait sebelumnya. Kemudian ia turun kepadanya, berguling-guling dalam darahnya dan berlumuran dengannya. Lalu ia maju dan bertempur sampai terbunuh.
Muhammad bin Abi Manshur mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Ali memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Hayuwayh memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abi Khalaf memberitakan kepada kami dengan izin, ia berkata: Abu Bakar Al-‘Amiri mengabarkan kepadaku dari Ahmad bin Hisyam, ia berkata: Para syekh dari Bani Sa’d dan Malik bin Zaid bin Manat mengabarkan kepadaku dari para syekh kaum mereka yang menyaksikan masa itu.
Abu Al-Bilad—yaitu Bisyr bin Al-‘Ala, saudara Bani Thahiyah kemudian salah satu dari Bani Saud—adalah orang terhormat dari kaumnya. Ia yatim dalam asuhan pamannya. Pamannya punya putri bernama Salma yang merupakan gadis tercantik di Najd, terkenal dengan itu. Abu Al-Bilad jatuh cinta padanya sementara pamannya tidak mengetahuinya. Ia segan kepada pamannya untuk meminangnya.
Abu Al-Bilad pergi dalam perjalanan. Ayahnya menikahkan Salma dengan salah satu sepupunya. Berita itu sampai kepada Abu Al-Bilad dan akalnya hilang. Ia datang ke tenda tempat Salma berada seperti biasanya. Salma melihat kepucatan di wajahnya dan melihat kegelisahan padanya. Ia mengira ia lapar, lalu memberikan kepadanya dari balik tirai sebuah mangkuk berisi masakan daging burung yang dibawa oleh penggembala mereka.
Ia mulai makan dengan lahap seperti orang kelaparan. Gadis itu mengira ada yang menimpanya dari jin, maka ia keluar dari bagian rumah menuju ke saudara perempuannya Laila. Ia mendengar gemerisik bajunya lalu keluar menghadangnya dengan pedang dan memukulnya di urat lehernya, membunuhnya.
Kisah ini telah sampai kepada kami dengan lebih lengkap.
Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ali bin Al-Muhsin At-Tanukhi memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Al-Abbas memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Khalaf memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Al-‘Amiri mengabarkan kepadaku dari Ahmad bin Hisyam, ia berkata: Para syekh dari Bani Sa’d dan Malik bin Zaid Manat mengabarkan kepadaku dari para syekh kaum mereka yang menyaksikan masa itu bahwa Abu Al-Bilad—yaitu Bisyr bin Al-‘Ala, salah satu dari Bani Thahiyah kemudian salah satu dari Bani Saud—adalah orang terhormat dari kaumnya.
Ia yatim dari ibunya dan pamannya melindunginya. Nama pamannya Hanif bin ‘Amr dan ia punya harta warisan dari ayahnya. Pamannya punya putri bernama Salma yang merupakan gadis tercantik di Najd, terkenal dengan itu. Ia segan kepada pamannya untuk meminangnya.
Ia pergi dalam perjalanan lalu ayahnya menikahkannya dengan salah satu sepupunya. Berita itu sampai kepada Abu Al-Bilad dan akalnya hilang. Ia datang ke tenda tempat Salma berada seperti biasanya. Salma melihat kepucatan di wajahnya dan melihat kegelisahan padanya. Ia mengira ia lapar, lalu memberikan kepadanya dari balik tirai sebuah mangkuk berisi masakan daging burung yang dibawa oleh penggembala mereka.
Ia mulai makan dengan lahap seperti orang kelaparan. Gadis itu mengira ada yang menimpanya dari jin yang tersembunyi, maka ia keluar dari bagian rumah menuju rumah saudara perempuannya Laila. Ia mendengar gemerisik bajunya lalu keluar menghadangnya dengan pedang dan memukulnya di urat lehernya.
Laila mendengar suara jatuh itu dan mendatanginya dengan tongkat. Ia mundur dan gadis itu mengejarnya lalu memukul kepalanya sehingga ia terjatuh. Kemudian ia bangkit dan lari. Ia berkata tentang itu:
Sesungguhnya Laila (meninggalkan bekas) di antara telingaku dan bahuku Seperti pukulan Salma di hari Na’f Asy-Syaqaiq
Ia berkata: Ayahnya, pamannya dan saudara-saudaranya meminta tolong, lalu mereka datang. Abu Al-Bilad berlindung di bukit menghadap rumah-rumah mereka. Ia berada di sana pada siangnya dan turun pada malam untuk melihat api keluarganya. Salma berguling-guling dalam pakaian-pakaiannya karena sakaratul maut dan ia melihatnya. Ayahnya diberitahu tentang itu lalu berkata: “Aku tidak akan membunuh anak yang belum dilahirkan.”
Abu Al-Bilad berkata saat melihat api Salma yang dinyalakan untuknya sebelum kematian:
Wahai penyala api, lemah penyala api Di sisi tumbuhan dari Riqshat A’yar
Wahai penyala api, sulutlah dengan kayu bakar Untuk siapa yang ingin cahayanya dari musafir malam
Api yang menerangi Salma sementara ia tersibak Semoga penyala api itu diberi minum dari api
Ia berkata: Salma meninggal dan Abu Al-Bilad terus mengalami kegilaan dan kebingungan sampai ia meninggal.
Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ali bin Al-Muhsin At-Tanukhi memberitakan kepada kami dari ayahnya, ia berkata: Abdullah bin Muhammad menceritakan kepadaku, ia berkata: Seorang syekh yang melayani aku menceritakan kepadaku dan kami saling bertukar cerita, ia berkata:
Pada suatu malam aku bermalam di suatu tempat. Seorang laki-laki membunuh seorang laki-laki. Aku keluar saat tengah malam tidak tahu mau ke mana dan takut pada patroli. Aku melihat tungku pemanas air pemandian yang belum dinyalakan. Aku berkata: “Aku akan bersembunyi di sini sampai pemandian dibuka.” Aku masuk dan duduk di sudut tungku.
Tidak lama kemudian aku mendengar derap kuku kuda. Ternyata seorang laki-laki membawa budak perempuan. Ia membawanya masuk ke tungku, menyembelihnya, meninggalkannya dan pergi. Aku melihat kilauan dua gelang di kakinya, lalu mencabutnya dan bersabar sebentar. Kemudian aku keluar dan terus berjalan di jalan yang tidak kukenal dengan bingung sampai aku melewati pemandian yang sudah dibuka. Aku masuk dan menyembunyikan apa yang kubawa di pakaianku, lalu keluar.
Aku mengenal jalan dan tahu bahwa aku dekat dengan rumah temanku. Aku mencarinya dan mengetuk pintunya. Ia membukakan untukku dan senang dengan kedatanganku. Ia mempersilakan aku masuk. Aku memberikan kepadanya uangku untuk disimpan dan dua gelang itu. Ketika ia melihatnya, wajahnya berubah. Aku bertanya: “Ada apa?” Ia berkata: “Dari mana kau dapat dua gelang ini?”
Aku mengabarkan kepadanya semua ceritaku di malam itu. Ia berkata kepadaku: “Apakah kau mengenal laki-laki yang membunuh budak perempuan itu?” Aku berkata: “Kalau dari wajahnya tidak, karena gelap menghalangi antara kami, tapi kalau aku mendengar suaranya aku akan mengenalinya.”
Ia menyiapkan makanan dan mengaturnya, kemudian keluar dan kembali setelah beberapa saat membawa seorang laki-laki dari tentara. Ia berbicara dengannya dan memberi isyarat kepadaku tentangnya. Aku berkata: “Ya, dialah orangnya.” Kemudian kami makan dan minum anggur. Ia memuatnya dengan anggur sampai mabuk dan tidur di tempatnya. Ia mengunci pintu dan menyembelih laki-laki itu.
Ia berkata kepadaku: “Sesungguhnya yang terbunuh itu adalah saudaraku dan laki-laki ini telah merusaknya. Aku sejak lama mencari tahu tapi tidak percaya, sampai aku mengusir saudaraku dan menjauhkannya dariku. Ia pergi kepadanya dan aku tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka sampai ia membunuhnya. Aku mengenali gelang itu lalu masuk dan bertanya tentang keduanya. Mereka berkata kepadaku: ‘Ia ada di tempat si fulan.’ Aku berkata: ‘Aku telah meridhai dia.’ Mereka pergi untuk mengetahui kabarnya. Laki-laki itu gugup, maka aku tahu bahwa ia telah membunuhnya seperti yang kau ceritakan. Aku membunuhnya. Ayo bangun kita kubur dia.”
Kami keluar malam, aku dan laki-laki itu sampai kami menguburnya. Aku kembali ke dermaga, melarikan diri dari Basrah sampai tiba di Baghdad. Aku bersumpah tidak akan pernah menghadiri undangan selamanya.
Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi, dia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhsin At-Tanukhi dari ayahnya, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Ali An-Nushaibi, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abu Ali bin Hamid bin Abi Bakr bin Abi Hamid, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku sebagian sahabat ayahku, dia berkata: Kakekmu Abu Hamid adalah pengelola Baitul Mal pada masa itu, ketika dia berjalan-jalan di istana khalifah, dia baru pulang setelah seperempat malam atau sepertiga malam berlalu. Lalu dia naik perahunya dan naik ke rumahnya. Kami membutuhkan perahu yang disewa bulanan, jadi ketika dia naik perahunya, kami turun ke perahu kami. Ada seorang kelasi yang bertugas mengatur waktu-waktu tersebut.
Suatu malam aku keluar bersama kakekmu, lalu aku memanggil kelasiku tetapi tidak menemukannya. Maka salah seorang teman kakekmu membawaku dengan perahunya. Keesokan harinya aku mencarinya sejak pagi tetapi tidak menemukan kabarnya sama sekali. Keadaan ini berlangsung bertahun-tahun.
Setelah beberapa tahun, aku melihatnya di Karkh mengenakan jubah dan sepatu kokoh serta pakaian layaknya pedagang kaya. Aku berkata, “Fulan!” Ketika dia melihatku, dia terguncang. Aku berkata, “Celakalah kamu, apa ceritamu?” Dia menjawab, “Baik-baik saja.” Aku berkata, “Lalu pakaian ini apa?” Dia menjawab, “Aku meninggalkan pekerjaan sebagai kelasi dan menjadi pedagang.” Aku berkata, “Modal dari mana kamu dapatkan?” Dia berusaha melarikan diri, tetapi aku berkata, “Jangan membuatku menunggu lama. Demi Allah, kita tidak akan berpisah sampai kamu memberitahuku ceritamu dan mengapa kamu meninggalkanku malam itu, lalu kita tidak melihatmu hingga sekarang.” Dia berkata, “Dengan syarat kamu merahasiakannya.” Aku berkata, “Akan kulakukan.” Lalu dia meminta aku bersumpah, maka aku bersumpah.
Dia berkata: “Kamu terlambat malam itu dan aku ingin buang air kecil, maka aku naik dari istana khalifah ke muara sungai Mualla. Aku buang air kecil, tiba-tiba ada seorang pria turun dan berkata, ‘Bawa aku!’ Aku berkata, ‘Aku sedang bersama penumpang yang tidak mungkin aku tinggalkan.’ Dia berkata, ‘Ambil satu dinar dariku dan bawa aku!’ Ketika aku mendengar penyebutan dinar, aku tamak dan mengira dia seorang buronan. Aku berkata, ‘Ke mana akan kubawa kamu?’ Dia berkata, ‘Ke Dabbaghin.’ Aku berkata, ‘Aku tidak akan membawamu.’ Dia berkata, ‘Ambil dua dinar!’ Aku berkata, ‘Berikan!’ Maka dia memberiku dua dinar dan aku memasukkannya ke lengan bajuku.
Dia memiliki seorang budak, lalu dia berkata, ‘Pergilah dan bawa apa yang bersamamu!’ Budak itu pergi dan tidak lama kemudian kembali membawa seorang wanita yang tidak pernah kulihat wajah yang lebih cantik dan pakaian yang lebih bagus darinya. Dia juga membawa sebuah peti besar yang bagus, piring-piring buah, es, anggur, dan alat musik kecapi. Itu adalah malam bulan purnama. Budak itu mengambil kecapi dan duduk di pangkuannya. Aku merasa ringan meninggalkanmu karena kesenangan saat itu. Kemudian pria itu berkata kepada budak, ‘Pergilah kamu!’ Maka budak itu pergi.
Dia berkata, ‘Dayung!’ Maka aku mendayung. Wanita itu membuka wajahnya dan ternyata dia lebih cantik dari bulan purnama. Ketika sampai di Dabbaghin, dia menghunus pedang yang bersamanya dan berkata, ‘Dayung ke tempat yang kukatakan atau aku akan memenggal lehermu!’ Aku berkata, ‘Tidak perlu sampai begini, aku akan mendengar dan taat.’ Maka aku menurunkan perahu.
Dia berkata kepadanya, ‘Maukah kamu makan sesuatu?’ Dia menjawab, ‘Ya.’ Maka dia mengeluarkan apa yang ada di dalam peti, ternyata makanan yang bersih dan lezat. Mereka berdua makan, lalu dia melemparkan peti kepadaku. Kemudian wanita itu mengambil kecapi dan bernyanyi dengan nyanyian paling indah dan paling merdu.
Dia berkata kepadaku, ‘Wahai kelasi, kalau bukan karena aku takut kamu mabuk, aku akan memberimu minum.’ Aku berkata, ‘Wahai tuanku, aku bisa minum dua puluh ratl anggur dan tidak akan mabuk.’ Maka dia memberiku bejana berisi lima ratl dan berkata, ‘Minumlah untuk dirimu sendiri!’ Aku pun minum sambil mendengarkan nyanyian dan mendayung, sementara mereka berdua minum. Sampai dia mendekatinya dan menciumnya berkali-kali, nafsunya bangkit lalu dia menyetubuhinya dan aku melihatnya. Dia mengulanginya berkali-kali hingga mabuk.
Lalu dia berkata, ‘Wahai Fulanah, kamu mengkhianati janji dan perjanjianku, kamu membolehkan Fulan menyentuhmu hingga dia melakukan ini dan itu denganmu, dan Fulan dan Fulan…’ Dia terus memarahinya sementara wanita itu berkata, ‘Tidak, demi Allah, tidak, wahai tuanku! Aku tidak melakukan ini. Mereka berbohong tentangku kepadamu agar kamu menjauhkanku darimu.’
Dia berkata, ‘Kamu berbohong! Aku berhasil masuk dan berada bersama kalian pada malam tertentu di rumah tertentu, Fulan mengundangmu dan kalian melakukan ini dan itu, dan aku melihat kalian dengan mata kepalaku sendiri. Tidak ada yang tersisa setelah ini. Tahukah kamu mengapa aku membawamu ke tempat ini dan memarahimu di sini?’ Dia berkata, ‘Tidak.’ Dia berkata, ‘Agar aku meninggalkanmu dan menjadikan ini akhir pertemuanku denganmu, aku akan membunuhmu dan melemparmu ke dalam air!’
Kelasi berkata: Wanita itu sangat ketakutan, lalu berkata, ‘Wahai tuanku, apakah hatimu rela?’ Dia berkata, ‘Ya, demi Allah!’ Kemudian dia menyetubuhinya dan mengeluarkan ikat pinggangnya lalu mengikat tangannya.
Aku berkata, ‘Wahai tuanku, bertakwalah kepada Allah! Wajah seperti ini, padahal kamu hancur karena cintamu kepadanya, kamu melakukan ini kepadanya?’ Dia berkata, ‘Sekarang, demi Allah, aku akan memulai darimu!’ Dia mengambil pedang. Aku ketakutan dan diam. Dia mendekatinya lalu menyembelihnya, memegangnya sampai darahnya mengalir dan dia mati. Kemudian dia mulai melepas perhiasannya dan melemparkannya ke tengah perahu. Lalu dia menanggalkan pakaiannya, membelah perutnya, dan mulai memotong-motongnya menjadi potongan-potongan dan melemparkannya ke dalam air.
Kami sudah mendekati Madain dan sebagian besar malam telah berlalu. Aku melihat pemandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku mati karena ketakutan dan berkata dalam hati, ‘Sebentar lagi dia akan membunuhku agar aku tidak membocorkan rahasianya.’ Aku tidak menemukan cara apa pun, maka aku pasrah.
Dia melemparkan dirinya seperti orang yang pingsan, menangis dan berkata, ‘Aku telah memuaskan nafsku tetapi membunuh jiwaku!’ Dia menampar wajahnya sendiri dan melemparkan kecapi serta semua yang bersamanya dari buah-buahan, makanan, dan minuman ke dalam air.
Fajar menyingsing dan terang, tinggal setengah farsakh lagi ke Madain. Aku mulai berharap bisa menipunya. Aku berkata kepadanya, ‘Wahai tuanku, hari sudah pagi. Tidakkah kamu ingin shalat?’ Aku ingin dia naik ke daratan agar aku bisa menurunkan perahu dan meninggalkannya.
Dia berkata, ‘Ya, bawa aku ke daratan!’ Aku mendekatkan perahu ke daratan dan menurunkannya. Ketika dia naik beberapa hasta dari perahu, tiba-tiba seekor singa melompat kepadanya dan menyambarnya. Demi Allah, aku melihatnya di mulut singa seperti tikus di mulut tungku api! Aku tidak akan pernah lupa kegembiraan yang melanda hatiku saat itu!
Aku menurunkan perahu. Ketika melewati Madain, aku ke daratan, mengumpulkan perhiasan dan menyembunyikannya di bawah tikar perahu. Aku memeriksa pakaian-pakaian itu, mencuci yang terkena darah, dan menyembunyikannya. Lalu aku turun ke Bashrah tanpa ada yang menghentikanku. Aku melihat aku memiliki perhiasan senilai seribu dinar dan pakaian yang kujual dengan banyak dinar. Aku tinggal di Bashrah berdagang dan takut kembali ke Baghdad agar budak itu tidak melihatku atau menuntutku tentang pria itu atau aku ditanya tentang kejadian itu.
Setelah waktu yang lama berlalu dan tahun-tahun berganti, aku berpikir bahwa urusan itu sudah dilupakan. Aku merindukan Baghdad dan harta dagangan sudah bertambah banyak. Aku membeli barang dagangan dengan semua uangku untuk dibawa ke Baghdad. Aku masuk ke Baghdad dan sudah di sana sekitar setahun hingga kamu melihatku hari ini.
Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi, dia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhsin At-Tanukhi dari ayahnya, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Muhammad, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Syarif Abu Ahmad Al-Husain bin Musa Al-Alawi An-Naqib, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku seorang syekh yang melayani aku bahwa dia bersumpah dengan talak untuk tidak mengiringi jenazah. Aku bertanya kepadanya tentang sebabnya.
Dia berkata: Suatu hari aku keluar di Baghdad pada tengah hari yang panas untuk sebuah keperluan. Tiba-tiba jenazah yang dibawa oleh dua orang menghadangku. Aku berkata, ‘Orang asing yang miskin, aku akan membantunya sebagai pahala.’ Maka aku masuk menggantikan salah satu pembawa jenazah. Ketika jenazah itu stabil di pundakku, aku kehilangan pembawa yang lain. Aku berkata, ‘Wahai pembawa! Wahai pembawa!’ Pembawa yang lain berkata, ‘Mau apa kamu? Jalan dan diam! Pembawa itu sudah pergi.’
Aku berkata, ‘Sekarang, demi Allah, aku akan membuangnya!’ Dia berkata, ‘Demi Allah, jika kamu melakukan itu, aku akan berteriak!’ Aku malu dan menanggung penderitaan itu, berkata dalam hati, ‘Ini untuk pahala.’ Aku terus berjalan di bawah matahari dan pasir panas hingga Syuniziyah.
Ketika kami menurunkan jenazah di masjid jenazah, pembawa yang lain kabur. Aku berkata dalam hati, ‘Apa urusan orang-orang terkutuk ini? Demi Allah, aku akan menyelesaikan pahalanya!’ Aku mengeluarkan dirham dari lengan bajuku dan berteriak, ‘Wahai penggali! Di mana kuburan jenazah ini?’ Dia berkata, ‘Aku tidak tahu.’ Aku berkata, ‘Gali!’ Dia mengambil dua dirham dariku dan menggali kuburan.
Ketika jenazah diturunkan agar mayatnya diambil untuk dikuburkan, dia melompat dari liang lahat, menerjangku, melilit sorbanku di leherku dan berteriak, ‘Wahai orang-orang, ada orang terbunuh!’ Orang-orang berkumpul dan bertanya kepadanya. Dia berkata, ‘Orang ini membawa seorang pria yang kepalanya terpotong agar aku menguburkannya untuknya!’ Kain kafan dibuka dan ditemukan keadaannya seperti yang dikatakan penggali.
Aku terkejut dan bingung. Aku mengalami perlakuan buruk dari rakyat yang nyaris membunuhku hingga aku dibawa ke kepala polisi. Dia diberitahu kejadiannya, maka aku disiapkan untuk dicambuk sementara aku diam dan bingung.
Dia memiliki seorang sekretaris. Ketika sekretaris itu melihat kebingunganku, dia berkata kepada kepala polisi, ‘Tunda dulu sampai aku selidiki urusan pria ini karena aku rasa dia teraniaya.’ Dia berbicara empat mata denganku dan bertanya, maka aku menceritakan kisahku tanpa menambah atau mengurangi.
Dia menjauhkan mayat dari keranda dan memeriksanya, menemukan tulisan bahwa keranda itu milik masjid tertentu di daerah tertentu. Dia membawa anak buahnya dan pergi. Dia memasuki masjid dengan menyamar dan menemukan seorang penjahit di dalamnya. Dia bertanya tentang keranda seolah-olah dia ingin membawa mayat. Penjahit itu berkata, ‘Masjid memiliki keranda tetapi diambil pagi ini untuk membawa mayat dan belum kembali.’
Dia berkata, ‘Siapa yang mengambilnya?’ Dia berkata, ‘Penghuni rumah itu,’ sambil menunjuk rumah tersebut. Sekretaris itu menyerbu rumah dengan anak buah polisi dan menemukan beberapa pria di dalamnya. Dia menangkap mereka dan membawa mereka ke polisi, lalu memberitahu atasannya.
Para pria itu dibawa dan diinterogasi. Mereka mengaku bahwa mereka cemburu pada seorang anak muda tampan yang bersama mereka, lalu membunuhnya, memotong kepalanya, dan menguburkannya di sumur yang mereka gali di rumah. Mereka membawanya dengan cara itu dan kedua pembawa keranda adalah bagian dari kelompok mereka.
Leher para pria itu dipancung dan aku dibebaskan. Inilah sebab tobatku untuk tidak menghadiri jenazah.
Telah memberitakan kepada kami Syahdah binti Ahmad, dia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad As-Sarraj, dia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Al-Husain Ahmad bin Ali At-Tauzi, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Said bin Suwaid, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Al-Qasim, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Khurdazbah, dia berkata: Telah memberitakan kepadaku Musa bin Al-Makmun, dia berkata: Farukh Az-Zana’ mencintai seorang budak wanita di Madinah yang bernama Rahbah. Kemudian dia membelinya dan berkata:
Wahai Rahab, tidak tersisa bagiku sesuatu yang membuatku senang
Selain duduk, kamu meminumiku dan aku meminummu
Kamu mencampur bagiku gelas dengan air liurmu
Dan jiwaku terpuaskan olehmu dan aku memuaskanmu
Wahai Rahab, tidak ada yang menyentuhku yang membuatku sedih
Kecuali kesedihan itu hilang dariku ketika aku mendatangimu
Dia berkata: Kemudian dia menemukan kecurigaan antara Rahbah dan seorang budak wanita, maka dia membunuhnya.
Telah memberitakan kepada kami dengan sanad tinggi Ali bin Ubaidillah, dia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Al-Maslamah, dia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ismail bin Said, lalu dia menyebutkannya dan berkata, bernama Wahbah. Maka dia berkata: Wahai Wahab (dengan huruf waw).
Telah memberitakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Thahir, dia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhsin At-Tanukhi dari ayahnya, dia berkata: Telah memberitakan kepadaku Abu Al-Qasim Al-Juhani, dia berkata: Ada seorang wanita cantik yang terpelihara di dekatku di Baghdad. Dia memiliki sepupu yang mencintainya dan dibesarkan bersamanya. Ayahnya menikahkan dia dengan orang asing, bukan dengan sepupunya.
Sepupunya terus mendatangi pintu rumahnya karena berharap bisa bersamanya. Suaminya menyadari hal itu dan berhati-hati. Suatu hari suaminya keluar. Wanita itu ingin mandi, menanggalkan pakaiannya, mandi, dan meninggalkan cincin-cincin emasnya di dekat pakaiannya.
Seekor burung gagak mengambil cincin-cincin itu dan keluar ke pintu. Keluarnya bertepatan dengan sepupunya yang ada di sana. Sepupunya mengambil cincin-cincin dari burung gagak itu, memakainya, dan duduk di pintu agar dilihat suami wanita itu sehingga dia mengira sepupunya tadi bersama wanita itu dan menceraikannya.
Suaminya datang. Sepupunya berdiri menyalaminya dan sengaja memperlihatkan cincin-cincin di tangannya. Suaminya melihatnya dan mengenalinya. Dia masuk dan menemukan istrinya sedang mandi. Dia tidak ragu bahwa itu adalah mandi setelah berzina dan bahwa sepupunya tadi bersama dia.
Dia berkata kepada budak perempuannya, ‘Pergilah!’ Budak itu pergi. Dia menutup pintu dan menyembelih wanita itu tanpa bertanya apa pun. Budak itu datang dan melihat tuannya terbunuh, maka dia berteriak. Pria itu dibawa ke penguasa dan dibunuh sebagai balasannya.
Sepupunya menceritakan kejadian itu dan hal itu menjadi sebab tobatnya. Dia melazimkan ibadah hingga meninggal.
Bab Keempat Puluh Enam: Tentang Kisah-Kisah Orang Yang Terbunuh Karena Cinta
Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Nashir, dia berkata: Telah memberitakan kepada kami Al-Mubarak bin Abdul Jabbar, dia berkata: Telah memberitakan kepada kami Al-Hasan bin Ali Al-Jauhari, dia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ibnu Haiwayah, dia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Bakr bin Khalaf dengan izin, dan telah menceritakan kepada kami tentang dia Muhammad bin Huraith, dia berkata: Telah memberitakan kepada kami Qasim bin Al-Hasan, dia berkata: Telah memberitakan kepada kami Al-Umari, dia berkata: Telah memberitakan kepada kami Al-Haitsam bin Adi dari Abdullah bin Iyyasy dari Mujalid dari Asy-Sya’bi, dia berkata:
Amr bin Ma’dikarib suatu hari masuk menemui Umar bin Al-Khaththab. Umar berkata kepadanya, “Wahai Amr, ceritakan kepadaku tentang orang paling berani dan paling pengecut yang pernah kamu temui!”
Dia berkata, “Baik, wahai Amirul Mukminin. Suatu kali aku keluar hendak menyerang. Saat aku berjalan, tiba-tiba ada seekor kuda yang diikat, tombak yang tertancap, dan seorang pria duduk. Dia adalah pria dengan tubuh paling besar yang pernah kulihat, dan dia memeluk pedang. Aku berkata kepadanya, ‘Bersiaplah, karena aku akan membunuhmu!’ Dia berkata, ‘Siapa kamu?’ Aku berkata, ‘Aku Amr bin Ma’dikarib.’ Dia menghela napas panjang dan mati. Inilah orang paling pengecut yang pernah kulihat, wahai Amirul Mukminin.
“Pada hari lain aku keluar hingga sampai di sebuah perkampungan. Tiba-tiba ada seekor kuda yang diikat dan tombak yang tertancap, dan pemiliknya ada di lubang sedang buang air. Aku berkata kepadanya, ‘Bersiaplah, karena aku akan membunuhmu!’ Dia berkata, ‘Siapa kamu?’ Aku berkata, ‘Aku Amr bin Ma’dikarib.’ Dia berkata, ‘Wahai Abu Tsaur, kamu tidak adil kepadaku. Kamu di atas kudamu dan aku di lubang! Berikan aku janji bahwa kamu tidak akan membunuhku sampai aku naik kudaku dan bersiap-siap!’
“Aku memberinya janji bahwa tidak akan membunuhnya sampai dia naik kudanya dan bersiap. Dia keluar dari tempat itu lalu memeluk pedangnya dan duduk. Aku berkata kepadanya, ‘Apa ini?’ Dia berkata, ‘Aku tidak akan naik kudaku dan tidak akan melawanmu. Jika kamu mengingkari janji, itu urusanmu.’ Maka aku meninggalkannya dan pergi. Inilah orang paling lihai yang pernah kulihat, wahai Amirul Mukminin.
“Kemudian suatu hari aku keluar ke tempat yang biasa kudatangi tetapi tidak melihat siapa pun. Aku menjalankan kudaku ke kanan dan kiri, tiba-tiba ada seorang penunggang kuda. Ketika dia mendekati, ternyata dia seorang pemuda yang kumisnya baru tumbuh, yang paling tampan yang pernah kulihat. Ternyata dia datang dari arah Yamamah. Ketika dia mendekat, dia memberi salam. Aku membalas salamnya dan berkata, ‘Siapa pemuda ini?’ Dia berkata, ‘Aku Al-Harits bin Sa’d, penunggang kuda Asy-Syahba’.’
“Aku berkata kepadanya, ‘Bersiaplah, karena aku akan membunuhmu!’ Dia berkata, ‘Celakalah kamu! Siapa kamu?’ Aku berkata, ‘Aku Amr bin Ma’dikarib.’ Dia berkata, ‘Si hina dan rendah? Demi Allah, tidak ada yang menghalangiku membunuhmu kecuali aku menganggapmu kecil.’
“Diriku merasa kecil di hadapanku dan apa yang dia sampaikan kepadaku terasa besar. Aku berkata kepadanya, ‘Bersiaplah! Demi Allah, tidak akan pulang kecuali salah satu dari kita!’ Dia berkata, ‘Pergilah, semoga ibumu kehilanganmu! Aku dari keluarga yang tidak pernah mundur dari penunggang kuda mana pun!’ Aku berkata, ‘Inilah yang kamu dengar, maka pilihlah untuk dirimu sendiri!’ Dia berkata, ‘Kamu berlari untukku atau aku yang berlari untukmu?’ Aku memanfaatkan kesempatan itu dan berkata, ‘Larilah untukku!’
“Dia berlari dan aku menyerangnya hingga ketika kukira aku telah menancapkan tombak di antara bahunya, tiba-tiba dia sudah menjadi tali pelana kudanya! Lalu dia mengejarku, memukul kepalaku dengan tombak dan berkata, ‘Wahai Amr, ambillah ini satu kali! Demi Allah, kalau bukan karena aku tidak suka membunuh orang sepertimu, aku akan membunuhmu!’
“Diriku merasa kecil di hadapanku dan demi Allah, wahai Amirul Mukminin, kematian lebih kucintai daripada apa yang kulihat. Aku berkata, ‘Demi Allah, tidak akan pulang kecuali salah satu dari kita!’ Dia berkata, ‘Pilihlah untuk dirimu!’ Aku berkata, ‘Larilah untukku!’ Dia berlari dan kukira aku sudah menguasainya. Aku mengikutinya hingga ketika kukira aku telah menancapkan tombak di antara bahunya, tiba-tiba dia sudah menjadi tali kekang kudanya! Lalu dia mengejarku, memukul kepalaku dengan tombak dan berkata, ‘Wahai Amr, ambillah ini dua kali!’
“Diriku merasa kecil di hadapanku. Aku berkata, ‘Demi Allah, tidak akan pulang kecuali salah satu dari kita!’ Dia berkata, ‘Pilihlah untuk dirimu!’ Aku berkata, ‘Larilah untukku!’ Dia berlari hingga ketika kukira aku telah menancapkan tombak di antara bahunya, dia melompat dari kudanya dan berada di tanah. Aku meleset dan berlalu. Dia kembali naik kudanya, mengejarku, memukul kepalaku dengan tombak dan berkata, ‘Wahai Amr, ambillah ini tiga kali! Kalau bukan karena aku tidak suka membunuh orang sepertimu, aku akan membunuhmu!’
“Aku berkata kepadanya, ‘Membunuhku lebih kucintai daripada apa yang kurasakan pada diriku dan apa yang akan didengar para pemuda Arab tentang hal ini!’ Dia berkata kepadaku, ‘Wahai Amr, maaf hanya tiga kali. Jika aku menguasaimu yang keempat kalinya, aku akan membunuhmu!’ Lalu dia mulai bersyair:
Aku hampir mengucapkan sumpah-sumpah yang keras
Jika kamu kembali, wahai Amr, ke pertempuran
Kamu akan merasakan panasnya mata tombak
Jika tidak, maka aku bukan dari Bani Syaiban”
Ketika dia mengatakan ini, aku membenci kematian dan sangat takut karenanya. Aku berkata kepadanya, “Aku punya permintaan padamu.” Dia bertanya, “Apa itu?” Aku menjawab, “Aku ingin menjadi temanmu dan aku rela dengan itu, wahai Amirul Mukminin.” Dia berkata, “Kamu bukan dari teman-temanku.” Hal itu lebih berat dan lebih besar bagiku daripada apa yang telah dia lakukan. Aku terus memohon kepadanya hingga dia berkata, “Celakalah kamu! Apakah kamu tahu kemana aku hendak pergi?” Aku menjawab, “Tidak.” Dia berkata, “Aku mencari kematian dengan nyata.” Aku berkata, “Aku rela mati bersamamu.” Dia berkata, “Mari kita pergi.”
Kami berjalan bersama sepanjang hari hingga malam tiba dan sebagiannya berlalu. Kami sampai di sebuah perkampungan Arab. Dia berkata, “Wahai Amru, di perkampungan ini ada kematian.” Kemudian dia menunjuk ke sebuah kemah di perkampungan itu dan berkata, “Dan di kemah itu ada kematian merah. Kamu bisa memegangi kudaku lalu aku pergi untuk keperluanku, atau aku yang memegangi kudamu sementara kamu turun dan pergi untuk keperluanku.” Aku berkata, “Tidak, turunlah kamu karena kamu lebih tahu di mana keperluanmu berada.”
Dia melemparkan tali kekang kudanya kepadaku lalu turun. Demi Allah, wahai Amirul Mukminin, aku rela menjadi pelayannya. Kemudian dia pergi hingga masuk ke dalam kemah dan mengeluarkan seorang gadis yang tidak pernah mataku melihat sepertinya dalam hal keindahan dan kecantikan. Dia membawanya naik ke atas unta, kemudian berkata kepadaku, “Wahai Amru.” Aku menjawab, “Siap.” Dia berkata, “Kamu melindungiku dan aku yang memimpin, atau aku yang melindungimu dan kamu yang memimpin?” Aku berkata, “Tidak, kamu yang melindungiku dan aku yang memimpin.”
Dia melemparkan tali kekang unta kepadaku. Kami berjalan di depannya sementara dia di belakang kami. Ketika pagi tiba, dia berkata kepadaku, “Wahai Amru.” Aku menjawab, “Siap, apa yang kamu kehendaki?” Dia berkata, “Lihatlah ke belakang, apakah kamu melihat seseorang?” Aku menoleh dan berkata, “Aku melihat unta-unta.” Dia berkata, “Percepatlah perjalanan.” Kemudian dia berkata, “Wahai Amru.” Aku menjawab, “Siap.” Dia berkata, “Lihatlah, jika mereka sedikit maka ini soal kekuatan dan kesungguhan, dan itu berarti kematian. Jika mereka banyak, mereka bukan apa-apa.” Aku menoleh dan berkata, “Mereka empat atau lima orang.” Dia berkata, “Percepatlah perjalanan.” Aku melakukannya. Dia mendengar derap kuda yang sudah dekat lalu berkata kepadaku, “Wahai Amru.” Aku menjawab, “Siap.” Dia berkata, “Berdirilah di sebelah kanan jalan dan arahkan muka hewan-hewan kita ke jalan.”
Aku melakukannya dan berdiri di sebelah kanan tunggangan. Dia berdiri di sebelah kirinya. Orang-orang itu mendekat, ternyata mereka tiga orang—seorang syekh tua yang merupakan ayah gadis itu dan dua pemuda, saudara laki-lakinya. Mereka memberi salam dan kami membalas salam. Mereka berdiri di sebelah kiri jalan. Syekh itu berkata, “Lepaskan gadis itu, wahai keponakanku.” Dia menjawab, “Aku tidak akan melepaskannya dan bukan untuk ini aku mengambilnya.” Syekh itu berkata kepada anak bungsunya, “Keluarlah kepadanya.” Anak itu keluar sambil menyeret tombaknya. Al-Harits menyerangnya sambil berkata:
Sebelum apa yang kamu harapkan, darah telah tertumpah, Dari seorang ksatria bersenjata lengkap yang siap bertempur, Yang nasabnya sampai kepada Syaiban, sebaik-baik Wail, Perjalananku menuju ke sana bukanlah sia-sia.
Kemudian dia menyerangnya dan menikamnya dengan tikaman yang menghancurkan punggungnya hingga jatuh mati.
Syekh itu berkata kepada anaknya yang lain, “Keluarlah kepadanya, wahai anakku, karena tidak ada kebaikan dalam hidup yang penuh kehinaan.” Anak itu keluar kepadanya. Al-Harits datang sambil berkata:
Sungguh kamu telah melihat bagaimana tikamanku, Dan tikaman kepada musuh adalah hasratku yang kuat, Dan kematian lebih baik daripada berpisah dengan kekasihku, Kematianku hari ini, bukan kehinaanku.
Kemudian dia menyerangnya dan menikamnya hingga jatuh mati. Syekh itu berkata kepadanya, “Lepaskan tunggangan itu, wahai keponakanku, karena aku bukan seperti yang telah kamu lihat.” Dia menjawab, “Aku tidak akan melepaskannya dan bukan untuk ini aku datang.” Syekh itu berkata kepadanya, “Pilihlah, wahai keponakanku. Jika kamu mau, aku akan mengejarmu, atau jika kamu mau, kita berkelahi secara langsung.” Pemuda itu memanfaatkannya lalu turun, dan syekh itu pun turun sambil berkata:
Apa yang kuharapkan setelah usia tua ini, Aku akan jadikan tahun-tahun seperti sebulan, Seorang syekh yang melindungi gadis-gadis berkulit putih, Jika gadis berkulit putih itu dilanggar, punggung akan patah, Kamu akan melihat bagaimana kesabaranku.
Al-Harits mendekat sambil berkata:
Setelah kepergianku dan perjalanan yang panjang, Dan aku telah menang serta melegakan hatiku, Dan kematian lebih baik daripada pakaian pengkhianatan, Dan kehinaan kuberikan kepada Bani Bakr.
Kemudian dia mendekat. Syekh itu berkata kepadanya, “Wahai keponakanku, jika kamu mau, aku yang memukul kamu, dan jika masih ada tenagamu, kamu memukul aku. Atau jika kamu mau, pukulah aku, dan jika masih ada tenagaku, aku yang memukul kamu.” Pemuda itu memanfaatkannya dan berkata, “Aku yang mulai duluan.” Dia berkata, “Silakan.” Al-Harits mengangkat pedang. Ketika syekh itu melihat bahwa pedang itu akan mengenai kepalanya, dia memukulnya dengan pukulan yang memotong usus perutnya, sementara pukulan Al-Harits mengenai kepalanya. Mereka berdua jatuh mati.
Wahai Amirul Mukminin, aku mengambil empat ekor kuda dan empat bilah pedang, lalu aku mendekat ke unta itu. Aku mengikat tali kekang kuda-kuda itu satu sama lain dan mulai memimpin. Gadis itu berkata kepadaku, “Wahai Amru, kemana? Kamu bukan pemilikku dan kamu tidak seperti yang telah aku lihat. Kalau kamu pemilikku, kamu akan menempuh jalan mereka.” Aku berkata, “Diamlah.” Dia berkata, “Jika kamu jujur, berikanlah aku pedang atau tombak. Jika kamu mengalahkanku, aku milikmu, dan jika aku mengalahkanmu, aku akan membunuhmu.” Aku berkata kepadanya, “Aku tidak akan memberikanmu itu karena aku tahu asal-usulmu dan keberanian serta kesatria kaummu.” Dia melemparkan dirinya dari unta lalu mendekat kepadaku sambil berkata:
Setelah ayahku dan saudara-saudaraku, Aku mencari kehidupan setelah mereka dalam kenikmatan, Alangkah baiknya jika kematianku sebelum itu.
Kemudian dia menjangkau tombak dan hampir mencabutnya dari tanganku. Ketika aku melihat itu darinya, aku takut jika dia menguasaiku, dia akan membunuhku, maka aku membunuhnya.
Inilah orang yang paling keras yang pernah aku lihat, wahai Amirul Mukminin.
Umar berkata, “Kamu benar, wahai Amru.”
Saad bin Ahmad bin Al-Hasan memberitahu kami, dia berkata: Abu Saad Muhammad bin Ar-Rustami memberitahu kami, dia berkata: Abu Al-Husain bin Bisyran memberitahu kami, dia berkata: Ismail bin Muhammad Ash-Shaffar memberitahu kami, dia berkata: Saadan bin Nashr menceritakan kepada kami, dia berkata: Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri dari Al-Qasim bin Muhammad dari Ubaid bin Umair bahwa seorang laki-laki menumpang kepada sekelompok orang dari suku Hudzail. Seorang budak perempuannya pergi mencari kayu bakar, lalu salah seorang dari mereka hendak menggaulinya. Budak perempuan itu melemparnya dengan batu besar dan membunuhnya. Hal itu dilaporkan kepada Umar bin Al-Khaththab. Dia berkata, “Itu korban terbunuh oleh kehendak Allah. Demi Allah, dia tidak akan dibayar diyatnya selamanya.”
Syahdah binti Ahmad memberitahu kami, dia berkata: Abu Muhammad bin As-Sarraj memberitahu kami, dia berkata: Abu Thahir Ahmad bin Ali As-Sawwaq memberitahu kami, dia berkata: Muhammad bin Ahmad bin Faris menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Al-Husain Abdullah bin Ibrahim Az-Zainibi memberitahu kami, dia berkata: Abu Bakar bin Khalaf menceritakan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Manshur Ar-Ramadi menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Shalih menceritakan kepada kami, dia berkata: Al-Laits menceritakan kepadaku, dia berkata: Suatu hari Umar bin Al-Khaththab didatangi seorang pemuda tampan yang ditemukan terbunuh di jalan. Dia menanyakan tentang keadaannya dan berusaha keras tetapi tidak mendapatkan berita tentangnya dan tidak mengetahui pembunuhnya. Hal itu menyulitkan Umar dan dia berkata, “Ya Allah, pertemukanlah aku dengan pembunuhnya.”
Hingga setelah setahun atau mendekati itu, seorang bayi ditemukan tergeletak di tempat korban terbunuh itu. Bayi itu dibawa kepada Umar. Dia berkata, “Aku telah menemukan jejak darah korban terbunuh itu, insya Allah.”
Dia menyerahkan bayi itu kepada seorang perempuan dan berkata kepadanya, “Urusulah dia, ambillah nafkah darinya dari kami, dan perhatikanlah siapa yang mengambilnya darimu. Jika kamu menemukan seorang perempuan yang menciumnya dan memeluknya ke dadanya, beritahukanlah aku tentang tempatnya.”
Ketika anak itu tumbuh besar, datanglah seorang budak perempuan dan berkata kepada perempuan itu, “Sesungguhnya tuanku mengirimku kepadamu agar kamu mengirim anak itu kepadanya untuk dilihatnya, lalu dia akan mengembalikannya kepadamu.” Perempuan itu berkata, “Baiklah, bawalah dia kepadanya dan aku akan menemanimu.” Dia pergi dengan anak itu sementara perempuan itu menemaninya hingga masuk kepada tuannya. Ketika perempuan itu melihatnya, dia mengambilnya, menciumnya, dan memeluknya ke dadanya. Ternyata dia adalah putri seorang syekh Anshar dari para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Perempuan itu memberitahu Umar tentang keadaan perempuan itu. Umar menyelimutkan pedangnya lalu pergi ke rumahnya. Dia menemukan ayahnya bersandar di pintu rumahnya. Umar berkata, “Wahai Abu Fulan, bagaimana keadaan putrimu Fulanah?” Dia menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan. Dia termasuk orang yang paling mengenal hak Allah dan hak ayahnya, dengan shalatnya yang baik, puasanya, dan komitmennya terhadap agamanya.”
Umar berkata, “Aku ingin masuk menemuinya untuk menambah semangatnya dalam kebaikan dan mendorongnya pada hal itu.” Dia berkata, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, wahai Amirul Mukminin. Tetaplah di tempatmu hingga aku kembali kepadamu.”
Dia meminta izin untuk Umar. Ketika masuk, Umar memerintahkan siapa pun yang ada di sisinya untuk keluar. Tinggallah dia dan Umar di rumah, tidak ada orang lain bersama mereka. Umar menyingkap pedangnya dan berkata, “Katakanlah yang sebenarnya kepadaku.” Dan Umar tidak pernah berbohong. Dia berkata, “Sabarlah, wahai Amirul Mukminin. Demi Allah, aku akan mengatakan yang sebenarnya. Seorang perempuan tua biasa masuk kepadaku dan aku menjadikannya seperti ibu. Dia mengurus urusanku seperti yang dilakukan seorang ibu, dan aku baginya seperti anak perempuan. Hal itu berlangsung beberapa waktu. Kemudian dia berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku akan bepergian dan aku memiliki seorang putri di suatu tempat yang aku khawatirkan akan tersia-sia. Aku ingin menggabungkannya denganmu hingga aku kembali dari perjalananku.’ Dia kemudian menyiapkan anak laki-lakinya yang tampan dan berwajah lembut seperti gadis dan membawanya kepadaku. Aku tidak meragukannya bahwa itu adalah gadis. Dia melihat dariku apa yang dilihat gadis dari gadis. Hingga suatu hari dia menyelinap kepadaku saat aku sedang tidur. Aku tidak sadar hingga dia menaiki dan bercampur denganku. Aku mengulurkan tanganku ke pisau yang ada di sampingku dan membunuhnya. Kemudian aku memerintahkan untuk membuangnya di tempat yang telah kamu lihat. Aku mengandung darinya dan melahirkan pemuda ini. Ketika aku melahirkannya, aku membuangnya di tempat ayahnya. Inilah, demi Allah, cerita mereka berdua sebagaimana yang telah aku beritahukan kepadamu.”
Umar berkata, “Kamu benar, semoga Allah memberkatimu.” Kemudian dia memberinya wasiat, menasihatinya, dan mendoakan untuknya. Dia berkata kepada ayahnya, “Semoga Allah memberkatimu dengan putrimu, sebaik-baik anak adalah putrimu.” Syekh itu berkata, “Semoga Allah menghubungkanmu, wahai Amirul Mukminin, dan membalasmu dengan kebaikan atas rakyatmu.”
Syahdah memberitahu kami, dia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahu kami, dia berkata: Abu Ali, anak tiri Abu Haiwiyah Al-Qadhi memberitahu kami, dia berkata: Abu Al-Hasan Ahmad bin Muhammad bin Nashr menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Amru Utsman bin Muhammad As-Samarqandi menceritakan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Syaiban menceritakan kepada kami, dia berkata: Mu’ammal menceritakan kepada kami dari Hammad bin Salamah dan Hammad bin Zaid dari Ayyub bahwa seorang laki-laki keluar berperang. Seorang laki-laki dari tetangganya juga keluar. Suatu malam dia melihat lampu di rumahnya. Dia berdiri dekat rumahnya lalu mendengar:
Seorang yang kusut rambutnya yang kutipu dengan Islam, Aku bersendirian dengan istrinya di malam gelap, Aku bermalam di dadanya sementara dia di pagi hari, Di atas kuda perang yang ramping ikat pinggangnya, Seolah-olah tempat kedua payudaranya darinya, Adalah berdiri yang berhubungan dengan berdiri.
Dia masuk kepadanya dan membunuhnya, lalu membuangnya. Ketika pagi, Umar diberitahu tentang hal itu. Dia berdiri berkhutbah kepada orang-orang dan berkata, “Aku memohon dengan nama Allah dan aku mewajibkan kepada orang yang mengetahui tentang laki-laki ini untuk memberitahukan kami.” Laki-laki itu berdiri dan memberitahunya tentang apa yang dia lihat dan dengar. Umar berkata, “Bunuh.” Dia berkata, “Aku telah melakukannya, wahai Amirul Mukminin.”
Syahdah memberitahu kami, dia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahu kami, dia berkata: Abu Thahir Ahmad bin Ali As-Sawwaq memberitahu kami, dia berkata: Muhammad bin Ahmad bin Faris menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Al-Husain Ibnu Bayyan Az-Zainibi menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Bakar Muhammad bin Khalaf Al-Mahwali menceritakan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Zuhair menceritakan kepada kami, dia berkata: Dawud bin Rasyid menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Al-Mulaih menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dia berkata: Seorang laki-laki mencintai seorang perempuan dan menginginkannya. Perempuan itu menutup pintu di hadapannya. Laki-laki itu memasukkan kepalanya dari ambang pintu. Perempuan itu mengambil batu atau kayu dan memukul kepalanya hingga remuk. Hal itu dilaporkan kepada Abdul Malik bin Marwan. Dia berkata, “Dia seperti kijang, bukan manusia,” dan dia mengabaikan darahnya.
Al-Mubarak bin Ali memberitahu kami, dia berkata: Ali bin Muhammad bin Al-Allaf memberitahu kami, dia berkata: Abdul Malik bin Bisyran memberitahu kami, dia berkata: Ahmad bin Ibrahim Al-Kindi memberitahu kami, dia berkata: Muhammad bin Ja’far Al-Khara’ithi memberitahu kami, dia berkata: Al-Husain bin Ayyub menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Abdullah Ibnu Asbath menceritakan kepada kami, dia berkata: Dia berkata, Dia berkata: Aku berada di perbatasan lalu diumumkan peringatan. Aku keluar bersama orang-orang. Tiba-tiba aku bersama seorang pemuda yang menyeret tombaknya di depanku. Dia menoleh dan melihatku lalu berkata, “Apakah kamu Dia?” Aku menjawab, “Ya.” Dia berkata, “Dengarkanlah dariku dua baris syair,” lalu dia membacakan untukku:
Aku dalam urusanku adalah petunjuk, Antara perang dan jihad, Tubuhku berperang melawan musuhku, Dan cinta berperang melawan hatiku.
Kemudian dia berkata, “Bagaimana menurutmu?” Aku berkata, “Bagus.” Dia berkata, “Demi Allah, aku tidak keluar kecuali melarikan diri dari cinta.”
Kemudian kami bertemu dan dia adalah orang pertama yang terbunuh.
Cerita ini telah sampai kepada kami tentang Dua’bil dengan cara yang berbeda dari yang itu, bahwa ia berkata: “Aku bersama orang Dimasyqi dalam perangnya melawan anjing-anjing Romawi. Ketika kedua pasukan berhadapan, seorang raksasa Romawi maju dan membunuh tujuh orang jagoan Muslim yang bermubarak dengannya, kemudian ia menyeret tombaknya dan menantang duel tetapi tidak ada seorang pun yang berani maju menghadapinya. Ketika hal itu berlangsung lama dan kami khawatir akan kekalahan, keluarlah seorang pemuda berwajah cerah, sangat tampan, dengan dua ikatan rambut di belakangnya. Ia berhadapan dengan raksasa itu dan membunuhnya. Kemudian sepuluh raksasa Romawi menyerangnya dan ia membunuh mereka semua serta memukul mundur pasukan Romawi yang kalah. Pada hari itu terbunuh tujuh ribu orang dari mereka. Orang-orang mulai mengambil harta rampasan, sementara pemuda itu naik ke sebuah bukit, turun dari kudanya, memegang tali kekangnya dengan tangannya, dan air matanya bercucuran ke tanah seperti hujan.
Dua’bil berkata: “Aku turun dari kudaku lalu berkata: ‘Wahai anakku, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menganugerahkan kemenangan besar ini melalui tanganmu untuk Islam dan pengikutnya, tetapi aku tidak melihatmu mengambil sesuatu pun dari harta rampasan, dan engkau justru dalam keadaan menangis seperti ini. Ceritakanlah kisahmu kepadaku.’ Ia terdiam sejenak kemudian mulai membaca syair:
Aku dalam urusanku teguh Antara berperang dan berjihad Badanku berperang melawan musuhku Sementara cinta berperang melawan hatiku
Kemudian ia pergi dan aku tidak mengetahui nama maupun nasabnya.”
Syahdah binti Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Thahir Ahmad bin Ali as-Sawwaq memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ahmad bin Faris memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ibrahim az-Zaynabi menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Khalaf menceritakan kepada kami, ia berkata: Ishaq bin Muhammad mengabarkan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Ziyad al-A’rabi menceritakan kepada kami, ia berkata: “Seorang laki-laki Arab menginap di rumah seorang perempuan dari suku Bahilah sementara suaminya tidak ada. Perempuan itu menghormatinya dan memberikan tempat tidur. Ketika ia tidak melihat siapa pun di sana dan tidak ada yang mendekat padanya, ia meminta perempuan itu untuk berhubungan dengannya. Ketika ia takut, perempuan itu berkata: ‘Tunggulah, aku akan bersiap untukmu.’ Kemudian ia pergi dan mengambil sebilah belati lalu menyembunyikannya. Kemudian ia kembali kepadanya, dan ketika ia melihatnya, ia bangkit menyerangnya, lalu perempuan itu menikamnya di lehernya. Ketika ia melihat darah, ia jatuh pingsan, dan laki-laki itu jatuh mati. Salah seorang keluarganya datang dan menemukannya dalam keadaan seperti itu, lalu mendudukkannya hingga sadar.” A’sya Bahilah membuat syair tentang hal itu:
Demi umurku, sungguh Ma’adzah telah menakuti tamunya Dan merapikan tempat tidurnya untuknya, kemudian berbuat baik kepadanya Namun ketika ia menghendaki dirinya, ia marah untuknya Urat-urat yang tumbuh di tengah tanah, maka ia teguh Dan ia mengeratkan pada tangan yang memegang belati, pergelangan tangan Yang bersih, dan ia menjaga dirinya maka ia kokoh Ia tusukkan belati itu di lehernya sementara ia mencari perzin ahan, maka belati itu menembus dan merobek isi perutnya Maka darah mengucur seolah-olah Sungai Nil di dalam dadanya Dan kelemahan perempuan menguasainya maka ia jatuh
Ibnu Khalaf berkata: Abu Bakr al-Amiri menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Umar menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Abbad, seorang syekh tua menceritakan kepada kami, ia berkata: “Aku bertemu dengan pelayan yang dulu berdiri di dekat Hajjaj, lalu aku berkata kepadanya: ‘Ceritakanlah kepadaku tentang hal paling menakjubkan yang engkau lihat dari Hajjaj.’
Ia berkata: ‘Putra saudaranya adalah gubernur di Wasith.’ Ia berkata: ‘Di Wasith ada seorang perempuan yang konon tidak ada perempuan yang lebih cantik darinya di Wasith pada masa itu. Putra saudaranya mengirim utusan kepadanya melalui pelayannya untuk menggodanya, tetapi perempuan itu menolak dan berkata: Jika engkau menginginkanku, maka pinang aku kepada saudara-saudaraku.’ Ia berkata: ‘Perempuan itu memiliki empat orang saudara laki-laki.’
Ia menolak dan berkata: ‘Tidak, kecuali dengan cara seperti itu,’ dan ia kembali mendatanginya tetapi perempuan itu menolak kecuali ia melamarnya. Adapun cara yang haram, maka tidak. Ia berkata: ‘Dan ia tetap menginginkan cara yang haram.’ Ia mengirim hadiah kepadanya dan perempuan itu menerimanya lalu menyimpannya.
Ia berkata: ‘Ia mengirim kabar kepadanya pada sore hari Jumat bahwa ia akan mendatanginya malam itu. Perempuan itu berkata kepada ibunya bahwa gubernur telah mengirim kabar demikian dan demikian.’ Ibunya mengingkari hal itu dan ibunya berkata kepada saudara-saudaranya: ‘Saudari kalian mengklaim demikian dan demikian.’ Mereka mengingkari hal itu dan mendustakannya. Perempuan itu berkata: ‘Ia telah berjanji akan mendatangiku malam ini, maka kalian akan melihatnya.’
Ia berkata: ‘Saudara-saudaranya duduk di sebuah ruangan di hadapan ruangan tempat perempuan itu berada. Di sana ada lampu dan mereka dapat melihat siapa yang masuk kepadanya. Seorang budak perempuan duduk di pintu rumah. Ketika ia datang, ia turun dari kendaraannya dan berkata kepada pelayannya: Jika muazin mengumandangkan azan fajar, datangilah aku dengan kendaraanku, lalu ia masuk.
Budak perempuan berjalan di depannya dan berkata kepadanya: Masuklah. Ia masuk dan perempuan itu terbaring di atas ranjang. Ia berbaring di sampingnya kemudian meletakkan tangannya di atasnya dan berkata: ‘Sampai kapan penundaan ini?’ Perempuan itu berkata kepadanya: ‘Jauhkan tanganmu, wahai orang fasik!’ Ia berkata: ‘Saudara-saudaranya masuk kepadanya membawa pedang, lalu memotong-motongnya, kemudian membungkusnya dalam kain tebal dan membawanya ke salah satu gang di Wasith, lalu membuangnya di sana. Pelayan datang dengan kendaraannya dan mulai mengetuk pintu dengan pelan dan tidak ada yang menjawabnya. Ketika ia khawatir pagi akan tiba dan kendaraan itu akan dikenali, ia pergi.
Mereka menemukan mayat itu di pagi hari dan membawanya kepada Hajjaj. Ia menangkap penduduk gang itu dan berkata: ‘Beritahukan kepadaku apa ini dan apa kisahnya?’ Mereka berkata: ‘Kami tidak tahu keadaannya selain bahwa kami menemukannya tergeletak.’ Hajjaj menyadari sesuatu lalu berkata: ‘Datangkan kepadaku orang yang melayaninya.’
Pelayan khusus yang menjadi utusan itu didatangkan. Mereka berkata: ‘Ini adalah orang yang mengetahui rahasianya.’
Hajjaj berkata kepadanya: ‘Katakan yang sebenarnya, bagaimana keadaan dan kisahnya.’
Ia menolak. Hajjaj berkata kepadanya: ‘Jika engkau jujur kepadaku, aku tidak akan memenggal lehermu. Dan jika engkau tidak jujur kepadaku, aku akan memenggal lehermu dan melakukan ini dan itu kepadamu.’
Ia memberitahukan Hajjaj kejadian yang sebenarnya. Hajjaj memerintahkan agar perempuan itu, ibunya, dan saudara-saudaranya dibawa. Perempuan itu dipisahkan dari mereka. Ia bertanya kepadanya dan perempuan itu memberitahukan seperti yang diceritakan oleh pelayan khusus itu. Kemudian ia memisahkannya dan menanyai saudara-saudaranya. Mereka memberitahukan seperti itu juga dan berkata: ‘Kami yang melakukan apa yang engkau lihat kepadanya.’ Ia memisahkan mereka dan memerintahkan agar budak-budak, kendaraan, dan hartanya diberikan kepada perempuan itu. Perempuan itu berkata: ‘Aku masih menyimpan hadiahnya.’ Ia berkata: ‘Semoga Allah memberkatimu dengannya. Semoga banyak perempuan sepertimu di kalangan perempuan. Itu untukmu, dan semua yang ditinggalkannya adalah untukmu.’ Ia berkata kepada pelayan khusus itu: ‘Adapun engkau, aku telah berkata kepadamu bahwa aku tidak akan memenggal lehermu,’ lalu ia memerintahkan agar pinggangnya dipukul.
Ibnu Rasyādah ath-Thabib menceritakan kepadaku bahwa ada seorang dokter Kristen di Wasith, ia seorang pemuda yang tampan dan disukai para perempuan. Ia masuk ke rumah istri salah seorang Kurdi untuk membekamnya. Perempuan itu mengeluarkan lengannya dan dokter itu terpesona oleh keindahannya, kemudian ia mulai menyentuhnya dengan sentuhan orang yang menikmatinya. Hal itu tidak luput dari perhatian perempuan itu.
Kemudian ia berkata kepadanya: ‘Hari ini tidak memungkinkan untuk membekam, tunda sampai besok,’ lalu ia keluar. Suaminya datang dan perempuan itu menceritakan kejadian itu kepadanya. Ia keluar dan memanggil dokter itu. Dokter itu datang. Ia berkata kepadanya: ‘Mari ikut aku untuk melihat pasien.’ Mereka turun ke sebuah perahu kecil dan ia membawa dokter itu ke daerah rawa-rawa, kemudian memotong-motongnya dengan pedang.
Bab Keempat Puluh Tujuh: Tentang Orang-Orang Yang Dibunuh Oleh Cinta
Al-Mubarak bin Ali memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ali bin Muhammad al-Allaf memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdul Malik bin Bisyran memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ibrahim al-Kindi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far al-Khara’ithi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Yusuf az-Zuhri menceritakan kepada kami, ia berkata: az-Zubayr bin Bakkar menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Isa bin Bakkar menceritakan kepada kami dari Fulaih bin Ismail bin Ja’far dari Abdul Malik bin Shalih dari pamannya Sulayman bin Ali dari Ikrimah, ia berkata: “Kami bersama Abdullah bin Abbas pada sore hari Arafah, tiba-tiba datanglah beberapa pemuda membawa seorang pemuda dari Bani Udzrah yang badannya telah lemah. Ia memiliki wajah yang manis dan rupawan. Mereka membawanya berdiri di hadapan Ibnu Abbas, kemudian berkata: ‘Mintakan kesembuhan untuk pemuda ini, wahai putra paman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.’
Ibnu Abbas berkata: ‘Apa yang menimpanya?’ Pemuda itu melagukan dengan suara lemah yang hampir tidak terdengar sambil berkata:
Pada kami ada kesedihan dan cinta yang membakar Yang hampir membuat jiwa orang yang pedih mati karenanya Tetapi yang tersisa hanyalah harapan seorang yang lelah Pada apa yang ada padanya, tongkat yang kokoh di sana Dan tidaklah mengherankan kematian para pencinta dalam cinta Tetapi yang mengherankan adalah bertahannya para pecinta
Kemudian ia mengerang sekali lalu meninggal.”
Ikrimah berkata: “Ibnu Abbas terus sepanjang sisa harinya berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari cinta.”
Muhammad bin Abi Manshur memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu al-Qasim bin al-Basri memberitahukan kepada kami dari Abu Abdullah bin Bathah, ia berkata: Muhammad bin Abi al-Qasim al-Anbari menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu al-Hasan bin al-Barra’ menceritakan kepada kami, ia berkata: az-Zubayr menceritakan kepada kami dari Muhammad bin Isa dari Fulaih bin Ismail, ia berkata: Abdul Malik bin Shalih menceritakan kepadaku, ia berkata: Pamanku Sulayman bin Ali menceritakan kepadaku dari Ikrimah, ia berkata: “Aku bersama Ibnu Abbas pada sore hari Arafah, tiba-tiba beberapa pemuda membawa seorang pemuda dalam selimut, wajahnya pucat, badannya kurus, ia adalah pemuda paling manis yang pernah kulihat. Mereka meletakkannya di hadapan Ibnu Abbas lalu berkata: ‘Mintakan kesembuhan untuknya, wahai putra paman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.’
Ibnu Abbas berkata: ‘Apa yang menimpanya?’ Pemuda itu mulai membaca syair:
Pada kami ada kesedihan dan cinta yang membakar Yang hampir membuat jiwa orang yang pedih mati karenanya Tetapi yang tersisa hanyalah harapan seorang yang lelah Pada apa yang ada padanya, tongkat yang kokoh di sana
Ia berkata: “Pemuda itu mulai membaca syair:
Padaku ada kepedihan yang jika batu pejal mengeluhkan sepertinya Niscaya batu-batu keras itu pecah dan jatuh Dan seandainya Allah membagi apa yang ada padaku dari kesedihan Kepada setiap jiwa bagiannya, niscaya mereka semua menderita Tetapi yang tersisa hanyalah harapan seorang yang lelah Pada apa yang ada padanya, kayu salib tukang kayu itu terbentang
Ia berkata: “Kemudian ia dibawa lalu pingsan dan mati di tangan mereka.
Ibnu Abbas berkata: ‘Ini adalah korban cinta, tidak ada diyat dan tidak ada qishash.’
Ikrimah berkata: “Kami tidak melihat Ibnu Abbas memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada sore itu hingga petang kecuali meminta kesejahteraan dari apa yang menimpa pemuda itu.”
Abu Bakr Muhammad bin al-Husayn memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Muhammad bin an-Nuqur memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Thahir al-Mukhlish memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ridwan bin Muhammad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Umar al-Atardi memberitahukan kepada kami dari Yunus dari Ibnu Ishaq, ia berkata: Ya’qub bin Utbah menceritakan kepadaku dari az-Zuhri, ia berkata: Ibnu Hudarad menceritakan kepadaku dari ayahnya, ia berkata: “Aku berada di pasukan berkuda Khalid bin al-Walid radhiyallahu anhu yang mengalahkan Bani Judzaimah. Tiba-tiba ada seorang pemuda dari mereka yang tangannya diikat ke lehernya dengan tali, ia berkata: Kurus.
Ia berkata kepadaku: ‘Wahai pemuda, maukah engkau mengambil tali ini lalu membawaku kepada para perempuan itu agar aku dapat menyampaikan keperluanku kepada mereka, kemudian kalian berbuat apa yang kalian kehendaki.’ Aku berkata: ‘Itu mudah yang engkau minta.’ Aku mengambil talinya dan membawanya kepada mereka. Ia berkata: ‘Selamatlah Hubaysy pada kehidupan yang berjauhan.’ Kemudian ia berkata:
Apakah engkau melihat ketika aku mencarimu lalu menemukanmu Di Hulyah atau aku menemukanmu di al-Khawaniq Bukankah sepantasnya seorang pecinta mendapat balasan Yang telah menanggung perjalanan malam dan tempat-tempat yang jauh Tidak ada dosaku, sungguh aku telah berkata ketika keluarga kami bersama Berikanlah cinta sebelum salah satu dari dua pisah terjadi Berikanlah cinta sebelum jarak memisahkan perjalanan Dan pemimpin memisahkan kekasih yang berpisah Sesungguhnya aku tidak menyia-nyiakan rahasia yang kusimpan Dan tidak ada yang menarik pandanganku setelah wajahmu, yang menarik pandangan Walau apa yang menimpa keluarga sangat menyibukkan Dari kesenangan kecuali jika ada cinta yang saling
Perempuan itu berkata: ‘Dan engkau juga, semoga engkau hidup sepuluh, dan tujuh ganjil, dan delapan berturut-turut.’
Kemudian kami membawanya ke depan dan memenggal lehernya.”
Ibnu Ishaq berkata: “Abu Firas menceritakan kepadaku dari para tetua kaumnya yang menyaksikan bersama Khalid bin al-Walid radhiyallahu anhu, mereka berkata: ‘Ketika ia dibunuh, perempuan itu berdiri mendatanginya dan terus mencium-ciumnya hingga ia mati di sisinya.'”
Kisah ini telah diriwayatkan kepada kami dengan lebih lengkap dari ini dan di dalamnya ada permulaan cinta ini.
Shahdah memberitahu kami, dia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahu kami, dia berkata: Abu Umar bin Huwayyih menyebutkan—dan aku menyalinnya dari tulisan tangannya—bahwa Abu Bakar bin al-Marzaban menceritakan kepada mereka, dia berkata: Muhammad bin Yusuf al-Kufi menceritakan kepada kami, dia berkata: al-Haitham bin Adi menceritakan kepada kami, dia berkata: Sa’id bin Shaiban menceritakan kepadaku dari Abu Mas’ud al-Aslami dari ayahnya, dia berkata:
Di antara kami tumbuh seorang pemuda yang bernama Abdullah bin Alqamah, dan dia tampan. Dia jatuh cinta kepada seorang gadis dari kabilah lain yang bernama Hubaishah, dan dia biasa mendatanginya dan berbincang dengannya. Suatu hari dia keluar dari sisinya bersama ibunya, lalu melihat seekor rusa di atas bukit, maka dia mulai berkata:
Wahai ibuku, beritahu aku tanpa berdusta … dan apa yang dikehendaki pemberi harapan kebaikan dengan dusta Hubaish lebih cantik ataukah rusa di bukit … tidak, justru Hubaishah yang seperti mutiara dan emas
Kemudian dia kembali dari sisinya di lain waktu, lalu hujan turun kepadanya, maka dia mulai berkata:
Aku tidak tahu jika suatu hari aku melihat … apakah air hujan yang turun lebih indah ataukah Hubaish Hubaish, demi Dia yang menciptakan petunjuk … meskipun di sisi Hubaish tidak ada kehidupan
Ketika hal itu sering terjadi darinya dan dia menyebar-nyebarkan tentangnya, kaumnya berkata kepada ibunya: “Sesungguhnya pemuda ini sudah terpesona, dan sesungguhnya keluarga wanita ini membanggakan diri mereka dari kalian, maka carilah seorang gadis dari kaummu yang tidak menolakmu, lalu hiaslah dia dan perkenaklah kepadanya, mudah-mudahan dia tertarik padanya dan melupakan yang itu.”
Maka dia melakukannya dan para wanita datang, mereka mulai memperkenalkan kepadanya wanita-wanita kampung itu, kemudian berkata kepadanya: “Wahai Abdullah, bagaimana menurutmu?” Maka dia berkata: “Demi Allah, dia cantik dan indah.”
Hingga seseorang berkata: “Apakah dia lebih cantik ataukah Hubaishah?” Maka dia berkata: “Padang rumput, tapi bukan seperti pohon sa’dan.”
Ketika mereka putus asa bahwa dia akan berpaling darinya, sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: “Kalian harus mendatangi Hubaishah,” dan mereka berharap bisa menyelesaikan urusan dari sisinya. Maka mereka berkata: “Demi Allah, jika dia datang kepadamu dan kamu tidak menghina dan bermuka masam kepadanya dan berkata kepadanya, ‘Kamu adalah makhluk yang paling kubenci, jangan dekati aku,’ maka kami akan melakukan sesuatu yang menyakitimu.”
Maka dia datang kepadanya, tetapi dia tidak mengatakan kepadanya sesuatu pun dari apa yang mereka katakan, dan tidak lebih dari sekedar menatapnya dan dia menatapnya, kemudian dia membiarkan matanya menangis. Maka dia pergi darinya sambil berkata:
Bukanlah cintaku tentang pemberian yang kau berikan … dan bukanlah yang menghibur adalah bermuka masam dan berpaling Hanya saja penyakitku darimu adalah penyakit cinta … sudah lama dan tidak bercampur sebagaimana bercampurnya anggur Dan aku tidak lupa dari hal-hal yang aku tidak lupa air matanya … dan air matanya hingga kubur menyembunyikanku
Ketika mereka berdua dalam keadaan yang paling keras dalam cinta dan nafsu, tiba-tiba Khalid bin al-Walid menyerang mereka pada hari al-Ghumaysha. Pemuda itu ditangkap oleh seorang dari sahabat Khalid yang ingin membunuhnya.
Maka dia berkata kepadanya: “Izinkan aku mendatangi penghuni rumah-rumah itu untuk menyelesaikan keperluanku kepada mereka, kemudian lakukanlah apa yang terlintas bagimu.”
Kata perawi: Maka aku datang bersamanya hingga sampai ke sebuah kemah di antaranya, maka dia berkata:
Selamatlah Hubaish setelah terputusnya kehidupan
Maka dia menjawabnya dan berkata:
Semoga kamu selamat dan Allah menghidupkanmu sepuluh dan sembilan ganjil dan delapan berturut-turut, sungguh aku tidak melihat sepertimu yang dibunuh dengan ditahan
Dan dia keluar berlari sambil mengenakan kerudung hitam yang dililitkan di kepalanya, dan wajahnya seperti bulan purnama.
Maka dia berkata ketika melihatnya:
Tahukah kamu jika aku mencarimu lalu aku menemukan kalian … di Barzah atau aku mendapatkan kalian di al-Khawaniq Bukankah sudah seharusnya orang yang mencintai diberi … yang menanggung beban perjalanan malam dan wadai’ Sungguh aku tidak ada rahasia pada diriku yang kusembunyikan … dan tidak ada yang menarik mataku setelah wajahmu yang menarik Meskipun apa yang menimpa kaum adalah menyibukkan … maka tidak ada sebutan kecuali jika itu saling mencintai Maka inilah aku tertawan di sisimu terbelenggu … dan aku tidak melihat diriku setelah hari ini berbicara
Maka dia menjawabnya:
Aku melihat bagimu sebab-sebab, kukira kamu akan mengeluarkan … dengannya jiwa dari sisiku dan roh yang akan pergi
Maka dia menjawabnya dan berkata:
Jika mereka membunuhku wahai Hubaish, maka tidak tertinggal … cintamu bagi mereka dariku selain panas dada Dan kamu yang mengunci kulitku di atas darahku … dan tulangku dan menumpahkan air mata di leher
Maka dia menjawabnya dan berkata:
Dan kami menangis dari perpisahanmu sekali … dan lagi dan kami mengukur untukmu kesulitan dengan kemudahan Maka kamu jangan menjauh, sungguh sebaik-baik saudara kedermawanan … cantik wajah dalam kemuliaan dan riang
Kata orang yang menangkapnya: Maka aku memukulnya dengan pukulan yang memutuskan tangannya dan lehernya. Ketika dia melihatnya jatuh, dia berkata: “Izinkan aku untuk mengumpulkan sebagiannya ke sebagian yang lain.” Maka aku mengizinkannya, lalu dia mengumpulkannya dan mulai menyeka debu dari wajahnya dengan kerudungnya sambil menangis, kemudian dia menjerit sekali dan keluar bersamanya nyawanya.
Kisah ini telah diriwayatkan kepada kami dan di dalamnya disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bahwa beliau menceritakan tentang keadaan laki-laki ini.
Shahdah binti Ahmad bin al-Faraj memberitahu kami, dia berkata: Ja’far bin Ahmad bin al-Sarraj memberitahu kami, dia berkata: Abu Umar bin Huwayyih menyebutkan—dan aku menyalinnya dari tulisan tangannya—bahwa Abu Bakar Muhammad bin Khalaf menceritakan kepada mereka, dia berkata: Abu al-Abbas Muhammad bin Musa al-Qurashi menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibrahim bin Bashar al-Ramadi menceritakan kepada kami, dia berkata: Sufyan bin Uyaynah menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdul Malik bin Naufal bin Musahiq menceritakan kepada kami dari Ibnu Isham al-Muzani dari ayahnya, dia berkata:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami dalam sebuah pasukan ke Bathn Nakhlah, lalu tiba-tiba ada seorang laki-laki bersama rombongan wanitanya yang dia giring di depannya. Kami datang kepadanya dan berkata kepadanya: “Masuk Islamlah!”
Dia berkata: “Apa itu Islam?” Maka kami menjelaskannya kepadanya, ternyata dia tidak mengenalnya. Kami berkata kepadanya: “Sesungguhnya kami akan membunuhmu.”
Maka dia berkata: “Apakah kalian membiarkanku hingga aku menyusul rombongan wanita ini?”
Kata perawi: Kami berkata: “Ya, dan kami pasti akan menyusulmu tidak terelakkan.”
Kata perawi: Maka dia mendatangi tandu seorang wanita di antara mereka yang telah dia sifatkan dengan sesuatu dari kecantikan dan keindahan, maka dia berkata:
Tahukah kamu jika aku mencarimu lalu aku menyusul kalian … di Hilyah atau aku mendapatkan kalian di al-Khawaniq Bukankah sudah seharusnya orang yang mencintai diberi … yang menanggung beban perjalanan malam dan wadai’
Kemudian dia berkata:
Maka tidak ada dosaku, sungguh aku telah berkata ketika keluarga kami bersama … berilah cinta sebelum salah satu dari dua pasukan Berilah cinta sebelum jarak memisahkan … dan pemimpin menjauhkan kekasih yang berpisah
Kemudian dia berkata:
Selamatlah Hubaish sebelum terputusnya kehidupan
Maka dia berkata kepadanya:
Semoga kamu selamat sepuluh dan sembilan ganjil dan delapan berturut-turut
Kemudian dia datang dan mengulurkan lehernya lalu berkata: “Urusan kalian, lakukanlah apa yang akan kalian lakukan.” Maka kami mendahulukannya lalu kami memenggal lehernya. Aku melihat wanita tandu itu turun dari tandunya lalu membungkuk ke atasnya dan tidak berhenti menciumnya hingga dia meninggal.
Kata perawi: Maka kami menceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku melihat beliau tertawa hingga terlihat gigi taringnya.
Shahdah memberitahu kami, dia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahu kami, dia berkata: Abu Bakar Ahmad bin Ali al-Hafizh memberitahu kami, dia berkata: Abu Nu’aim al-Hafizh menceritakan kepada kami, dia berkata: Sulaiman bin Ahmad al-Thabarani menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Abdurrahman al-Nasa’i menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Ali bin Harb al-Marrauzi menceritakan kepada kami, dia berkata: Ali bin al-Husain bin Wafid menceritakan kepada kami dari ayahnya dari Yazid al-Nahwi dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa:
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus sebuah pasukan, lalu mereka mendapat rampasan perang dan di antara mereka ada seorang laki-laki. Maka dia berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku bukan dari mereka, aku mencintai seorang wanita lalu aku menyusulnya, maka biarkanlah aku melihatnya sekali pandang, kemudian lakukanlah apa yang terlintas bagi kalian.”
Maka tiba-tiba ada seorang wanita tinggi berkulit cokelat kemerahan, lalu dia berkata:
Selamatlah Hubaish sebelum habisnya kehidupan
Tahukah kamu jika aku mengikuti kalian lalu aku menyusul kalian … di Hilyah atau aku mendapatkan kalian di al-Khawaniq Bukankah sudah seharusnya orang yang mencintai diberi … yang menanggung beban perjalanan malam dan wadai’
Maka dia berkata: “Ya, semoga engkau ditebus.”
Maka mereka mendahulukannya lalu memenggal lehernya. Wanita itu datang lalu jatuh ke atasnya, lalu dia menjerit sekali atau dua kali kemudian meninggal.
Ketika mereka datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menceritakan beritanya, maka beliau bersabda: “Bukankah ada di antara kalian seorang yang penyayang?”
Muhammad bin Nashir memberitahu kami, dia berkata: Mahfuzh bin Ahmad memberitahu kami, dia berkata: Abu Ali Muhammad bin al-Husain al-Jaziri memberitahu kami, dia berkata: Muhammad bin al-Qasim al-Anbari menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin al-Marzaban menceritakan kepadaku, dia berkata: Ibrahim bin Muhammad al-Tha’ifi menceritakan kepada kami, dia berkata: Yusuf bin Muhammad al-Tustari menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Mas’adah al-Akhfash menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Mahzhurah al-Warraq menceritakan kepada kami, dia berkata: Abu Malik al-Rawiyah menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar al-Farazdaq berkata:
Dua budak laki-laki milik seorang laki-laki dari Bani Nahshal yang bernama al-Khadhir melarikan diri. Maka al-Khadhir menceritakan kepadaku, dia berkata: Aku keluar mencari mereka dan menuju ke arah Yamamah dengan menunggang untaku yang ‘absa’ dan kauma’.
Kata Ibnu al-Anbari: al-‘absa’ adalah yang putih dan al-kauma’ adalah yang punuknya besar.
Maka muncul awan lalu bergemuruh dan berkilat dan turunlah hujannya dengan deras, lalu aku condong ke salah satu kampung Bani Hanifah dan menuju sebuah rumah serta meminta keramahan.
Maka dikatakan kepadaku: “Masuklah.” Maka aku menambatkan untaku dan masuk lalu duduk di bawah naungan dari pelepah kurma, dan di rumah itu ada seorang gadis kecil berkulit hitam. Lalu masuklah seorang gadis seperti batangan perak dan kedua matanya seperti dua bintang. Maka dia berkata kepada gadis hitam itu: “Untuk siapa unta ini?” Si hitam berkata: “Untuk tamu kalian ini.” Maka dia memberi salam kepadaku dan berkata: “Dari mana orang ini?” Aku berkata: “Dari Bani Hanzhalah.” Dia berkata: “Dari yang mana di antara mereka?” Aku berkata: “Dari Bani Nahshal.”
Dia berkata: “Maka kamu dari keluarga yang dikatakan tentang mereka oleh al-Farazdaq:
Sesungguhnya Dia yang meninggikan langit membangun untuk kami … rumah yang tiang-tiangnya paling mulia dan paling tinggi Rumah yang dibangun untuk kami oleh Sang Raja dan tidak dibangun … Raja langit maka sesungguhnya itu tidak akan runtuh Rumah Zurarah yang duduk di halamannya … dan Mujashi’ dan Abu al-Fawaris Nahshal”
Maka hal itu mengagumkanku dari ucapannya.
Dia berkata: “Hanya saja Ibnu al-Khathfi membatalkannya, maka dia berkata:
Menghinakan Dia yang meninggikan langit Mujashi’ … dan membangun bangunanmu di dasar yang paling rendah Rumah yang berkemah tukang musikmu di halamannya … kotor tempat duduknya buruk jalan masuknya”
Maka aku malu dan merasa tidak enak, lalu aku berkata kepadanya: “Apakah kamu janda ataukah bersuami?” Maka dia berkata:
Jika orang-orang tidur maka sesungguhnya Amr … kesusahan membuatnya terjaga hingga pagi Kenangan memotong hatinya dan hatiku … maka dia tidak bebas dan tidak sehat Semoga Allah memberi air Yamamah kampung suatu kaum … di sana Amr merindukan kesegaran
Maka aku berkata kepadanya: “Siapa Amr ini?” Maka dia berkata:
Kamu bertanya dan seandainya kamu tahu kamu akan menahan darinya … dan siapa bagimu dengan jawaban selain yang mengetahui Maka jika kamu bertanya tentangnya maka Amr … bersama bulan purnama yang bercahaya
Kemudian dia berkata: “Ke mana kamu menuju?” Aku berkata: “Yamamah.” Maka dia menarik napas panjang kemudian berkata:
Kamu mengingatkanku pada negeri yang berdiam keluargaku … di sana ahli cinta dan kemuliaan Ketahuilah maka semoga Allah memberi air suara yang kasar … yang mencurahkan hujannya pada negeri Yamamah Dan menghidupkan dengan salam Abu Nujaid … maka layaklah untuk penghormatan dan salam
Kemudian dia berkata:
Terbayang bagiku wahai Ka’b bin Amr … bahwa kamu telah diangkat di atas usungan Maka jika demikian wahai Amr … sesungguhnya aku akan mendatangimu pagi-pagi ke kubur
Kemudian dia menjerit sekali lalu meninggal. Maka aku bertanya tentangnya, dikatakan kepadaku: “Dia dari keturunan Mu’arriq bin al-Nu’man bin al-Mundzir, dan Amr bin Ka’b adalah yang dia cintai di Yamamah.”
Maka aku mengendarai untaku dan pergi ke Yamamah lalu aku bertanya tentang Amr bin Ka’b, maka aku diberitahu bahwa dia meninggal pada waktu yang sama ketika gadis itu mengatakan apa yang dia katakan.
Syahdah binti Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad bin As-Sarraj memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Qasim At-Tanukhi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ali bin Isa bin Ali An-Nahwi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakr bin Durayd menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Hatim menceritakan kepada kami dari Al-Asma’i, ia berkata: Abdul Aziz bin Abi Salamah menceritakan kepada kami dari Ayyub As-Sakhtiyani dari Ibnu Sirin, ia berkata: Abdullah bin Ajlan An-Nahdi berkata di masa Jahiliah:
Ketahuilah bahwa Hind kini terlarang bagimu
Dan kamu menjadi haram dari keluarga terdekatnya
Kamu menjadi seperti pejudi yang kehilangan senjatanya
Membolak-balik dengan kedua tangannya busur dan anak panah
Dan ia mengeraskan suaranya dengan syair itu hingga ia meninggal.
Al-Mubarak bin Ali mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ali bin Muhammad bin Al-Allaf memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdul Malik bin Bisyran memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ibrahim Al-Kindi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far Al-Khara’iti memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Fadl Ar-Rib’i menceritakan kepada kami, ia berkata: Ar-Riyasyi menceritakan kepada kami dari Al-Asma’i dari Abu Amr bin Al-Ala’, ia berkata: Seorang lelaki dari Bani Tamim menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku keluar mencari unta yang hilang. Saat aku berkeliling di tanah Bani Udzrah mencari untaku yang hilang, tiba-tiba ada sebuah rumah yang terpisah dari rumah-rumah lainnya, dan di sudut rumah itu ada seorang pemuda yang sedang tidak sadarkan diri, dan di dekat kepalanya ada seorang wanita tua yang masih memiliki sisa kecantikan, bengong menatapnya.
Aku mengucapkan salam dan ia menjawab salamku. Aku bertanya kepadanya tentang untaku yang hilang, tetapi ia tidak tahu apa-apa. Aku berkata: Wahai wanita tua, siapa pemuda ini? Ia berkata: Anakku. Kemudian ia berkata: Apakah kamu tertarik dengan pahala yang tidak menyusahkan? Aku berkata: Demi Allah, aku memang menyukai pahala meskipun aku dirugikan. Ia berkata: Sesungguhnya anakku ini dahulu mencintai putri pamannya, dan ia jatuh cinta padanya saat mereka masih kecil. Ketika mereka dewasa, gadis itu dijauhkan darinya. Lalu ia seperti terkena kegilaan. Kemudian ia melamar gadis itu kepada ayahnya, tetapi ayahnya menolak menikahkannya. Orang lain melamarnya dan ayahnya menikahkannya dengan orang itu. Maka kurus lah tubuh anakku, pucat wajahnya, dan hilang akalnya. Lima hari yang lalu gadis itu diantarkan ke suaminya, maka ia seperti yang kamu lihat, tidak makan tidak minum, tidak sadarkan diri. Jika kamu turun menemuinya dan menasihatinya…
Perawi berkata: Maka aku turun menemuinya dan aku tidak meninggalkan satu nasihat pun melainkan aku telah menasihatinya dengannya, hingga aku berkata di antara yang aku katakan: Sesungguhnya mereka adalah wanita-wanita nakal teman-teman Yusuf, yang mengingkari janji. Telah berkata Katsir Azzah tentang mereka:
Apakah pertemuan dengan Azzah kecuali pertemuan dengan wanita nakal
Dalam pertemuan dengan wanita nakal dari pertemuannya ada penipuan
Perawi berkata: Maka ia mengangkat kepalanya dengan mata memerah seperti orang marah dan berkata: Aku tidak seperti Katsir Azzah. Sesungguhnya Katsir adalah lelaki yang bodoh sedangkan aku adalah lelaki yang setia. Tetapi aku seperti saudaraku Tamim ketika ia berkata:
Ketahuilah, cinta tidak membahayakan bila tampak
Tetapi apa yang merongrong hati itulah yang membahayakan
Ketahuilah, semoga Allah membinasakan cinta, bagaimana ia mengikatku
Seperti terikatnya orang yang terbelenggu tangannya sebagai tawanan
Aku berkata kepadanya: Sesungguhnya telah datang dari Nabi kami shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa di antara kalian ditimpa musibah, hendaklah ia mengingat musibahnya karena kehilanganku.” Maka ia mulai berkata:
Mengapa si cantik tidak menjengukku
Apakah si cantik kikir ataukah berpaling
Aku sakit lalu seluruh keluargaku menjengukku
Mengapa kamu tidak terlihat di antara yang menjenguk
Aku kehilangan dirimu di antara mereka maka aku menangis rindu
Dan kehilangan kekasih wahai harapanku sungguh berat
Aku tidak menunggu selain dirimu ketahuilah itu
Dan di sekelilingku banyak kerabatku
Seandainya kamu yang sakit, aku pasti akan berlari
Kepadamu dan ancaman tidak akan menghalangiku
Perawi berkata: Kemudian ia menarik napas panjang dan gemetar, lalu ia meninggal.
Wanita tua itu menangis dan berkata: Demi Allah, nyawanya telah hilang. Maka hatiku dipenuhi perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Ketika wanita tua itu melihat apa yang menimpaku, ia berkata: Wahai pemuda, jangan takut. Demi Allah, anakku meninggal pada ajalnya dan ia telah beristirahat dari penderitaan dan kepedihannya. Kemudian ia berkata: Apakah kamu mau melengkapi kebaikanmu? Aku berkata: Katakan apa yang kamu kehendaki.
Ia berkata: Kamu datangi rumah-rumah lalu kabarkan kematiannya kepada mereka agar mereka membantuku menguburkannya, karena aku sendirian.
Perawi berkata: Maka aku mengendarai kudaku menuju rumah-rumah, tiba-tiba ada seorang gadis paling cantik yang pernah aku lihat, rambutnya terurai, baru saja menikah. Ia berkata: Semoga mulutmu penuh batu, siapa yang kamu kabarkan kematiannya? Aku berkata: Aku mengabarkan kematian si Fulan.
Ia berkata: Apakah ia sudah meninggal? Aku berkata: Ya, demi Allah, ia telah meninggal.
Ia berkata: Apakah kamu mendengar kata-katanya?
Aku berkata: Ya ampun, tidak, kecuali syair. Ia berkata: Apa syairnya? Perawi berkata: Maka aku membacakan syairnya:
Mengapa si cantik tidak menjengukku
Apakah si cantik kikir ataukah berpaling
Maka ia menangis dan mulai berkata:
Yang menghalangiku menjengukmu wahai cita-citaku
Adalah sekelompok orang yang semuanya pengumpat dan dengki
Mereka menyebarkan berbagai bencana yang kamu ketahui
Dan mereka mencela kami padahal tidak ada yang bijak di antara mereka
Maka ketika hari ini kamu berada di liang lahat
Semua orang rumahnya adalah liang lahat
Maka tidak menyenangkan bagiku dunia ini sejenak pun
Dan tidak pula bagi mereka, dan tidak berkembang pula keturunan
Kemudian ia menarik napas panjang dan jatuh tidak sadarkan diri. Wanita-wanita keluar dari rumah-rumah dan ia bergejolak sebentar lalu meninggal.
Demi Allah, aku tidak meninggalkan kampung itu hingga aku menguburkan keduanya bersama-sama.
Hikayat ini telah diriwayatkan kepada kami dari jalur lain.
Muhammad bin Nashir Al-Hafizh memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad bin As-Simsar yang dikenal dengan Ibnu Qasyisy mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad Al-Katib mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Bakr Al-Anbari menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Ahmad bin Ubaid menceritakan kepadaku dari Abu Abdullah Az-Ziyadi, ia berkata: Muhammad bin Qais Al-Ubaidi berkata: Gubernur Madinah mengutusku kepada Yazid bin Abdul Malik, yang saat itu menjabat sebagai khalifah, untuk urusan dari urusan-urusan rakyat, dan ia menulis surat bersamaku. Kami berjalan hingga ketika kami telah meninggalkan Madinah sejauh perjalanan tiga hari, tiba-tiba aku melihat seorang lelaki muda di pinggir jalan, meletakkan kepalanya di pangkuan seorang wanita berjilbab yang telah tua tetapi masih memiliki sisa kecantikan. Pemuda itu gelisah dan bergerak-gerak, dan setiap kali kepalanya bergerak dari pangkuannya, wanita itu mengembalikan kepalanya ke pangkuannya. Aku mengendarai bagal, lalu aku mengucapkan salam. Wanita itu menjawab tetapi pemuda itu tidak menjawab. Aku menatapnya lama kemudian ia berkata: Wahai hamba Allah, apakah kamu tertarik dengan pahala tanpa dirugikan?
Aku berkata: Ya, demi Allah, aku memang menyukai pahala meskipun aku dirugikan.
Ia berkata: Sesungguhnya anakku ini dahulu mencintai putri pamannya, dan ia jatuh cinta padanya saat mereka masih kecil. Ketika ia dijauhkan, ia melamarnya kepada ayahnya, tetapi ayahnya menolak menikahkannya. Kami kaum Arab, jika seorang lelaki di antara kami dekat dengan seorang wanita di masa kecilnya, mereka tidak menikahkannya karena takut ia dituduh cacat, dikatakan telah ada keburukan antara keduanya sebelum pernikahan.
Ia berkata: Sepupu wanita itu yang lain melamarnya, lalu ia dinikahkan dengannya.
Maka ia dalam keadaan seperti yang kamu lihat sejak ia mendengar berita itu, tidak makan tidak minum tidak shalat tidak berakal, maka sebaiknya kamu menasihatinya.
Perawi berkata: Maka aku turun menemuinya dan aku tidak meninggalkan satu nasihat pun melainkan aku telah menasihatinya dengannya, dan aku berkata kepadanya: Apakah kamu menginginkan orang yang tidak menginginkanmu? Jika musibahmu karenanya begitu besar, maka ingatlah musibahmu karena kehilangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, karena beliau bersabda: “Barangsiapa ditimpa musibah dan ia merasa besar karenanya, hendaklah ia mengingat musibahnya karena kehilanganku, karena itu adalah musibah yang paling besar.”
Perawi berkata: Demi Allah, aku tidak meninggalkan satu nasihat pun melainkan aku telah menasihatinya dengannya, dan aku telah memaksanya habis-habisan, tetapi ia tidak menjawab sepatah kata pun, tidak lebih dari berkata:
Mengapa si cantik tidak menjengukku
Apakah si cantik kikir ataukah berpaling
Aku sakit lalu seluruh keluargaku menjengukku
Mengapa kamu tidak terlihat di antara yang menjenguk
Aku kehilangan dirimu di antara mereka maka aku menangis rindu
Dan kehilangan kekasih wahai harapanku sungguh berat
Aku tidak menunggu selain dirimu ketahuilah itu
Dan di sekelilingku banyak kerabatku
Seandainya kamu yang sakit, aku pasti akan berlari
Kepadamu dan ancaman tidak akan menghalangiku
Perawi berkata: Kemudian ia menarik napas panjang dan gemetar, lalu ia meninggal. Aku dipenuhi perasaan yang sangat berat dan aku takut bahwa ia meninggal karena nasihat dan perkataanku. Ketika wanita itu melihat keadaanku, ia berkata: Tenangkan dirimu, ia hidup dengan ajalnya dan meninggal dengan takdirnya dan datang kepada Tuhan Yang Maha Pengampun, dan ia telah beristirahat dari apa yang ia derita dari cobaan. Apakah kamu mau melengkapi apa yang telah kamu perbuat?
Aku merasa lega dengan perkataannya dan berkata: Apa itu? Ia berkata: Ini rumah-rumah kami tidak jauh dari sini, maka kamu datangi mereka lalu kabarkan kematiannya kepada mereka dan perintahkan mereka untuk hadir. Maka aku pergi mengabarkan kematiannya kepada mereka, dan aku telah menghafal syairnya. Ketika aku mengabarkan kematiannya kepada mereka, tiba-tiba ada sebuah kemah yang salah satu sisinya dibuka, lalu keluarlah seorang wanita seperti bulan purnama, rambutnya terurai, menarik jilbabnya, dan ia berkata: Semoga mulutmu penuh batu, siapa yang kamu kabarkan kematiannya?
Aku berkata: Si Fulan bin Fulan. Ia berkata: Demi Allah, apakah kematian telah menjemputnya? Aku berkata: Ya.
Ia berkata: Apakah ia mengucapkan sesuatu sebelum wafatnya? Aku berkata: Ya, dan aku telah menghafalnya.
Maka aku membacakan syairnya, maka demi Allah, ia langsung berkata:
Yang menghalangiku menjengukmu wahai kekasihku
Adalah sekelompok orang yang semuanya pengumpat dan dengki
Mereka menyebarkan berbagai bencana yang kamu dengar
Dan mereka mencela kami padahal tidak ada yang bijak di antara mereka
Maka ketika hari ini kamu berada di liang lahat
Dan rumah semua orang adalah liang lahat
Maka tidak menyenangkan bagiku dunia ini sejenak pun
Dan tidak pula bagi mereka, dan tidak berkembang pula keturunan
Dengan sanad yang sama, perawi berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Al-A’rabi menceritakan kepada kami, ia berkata: Adh-Dhabbi berkata: Kamil bin Al-Wadhin jatuh cinta kepada istri Abdullah bin Musafir, putri pamannya. Cinta itu tidak henti-hentinya menyiksanya hingga ia menjadi seperti kulit tua yang usang. Ayahnya mengadu kepada ayahnya tentang apa yang menimpa anaknya. Maka ia memerintahkan agar gadis itu dibawa ke rumahnya untuk dinikahkan dengannya, dan Kamil bin Al-Wadhin tidak diberitahu. Ketika ia mengetahuinya, ia berkata: Apakah Asma’ mendengar perkataanku? Dikatakan: Ya. Maka ia menarik napas panjang dan meninggal di tempat. Lalu dikatakan kepada Asma’: Ia meninggal karena penderitaan rindunya. Ia berkata: Demi Allah, aku akan mati seperti itu juga. Sesungguhnya aku mampu menjenguknya tetapi yang menghalangiku adalah buruknya tuduhan fitnah. Ia pun jatuh sakit, dan ketika sakitnya bertambah parah, ia berkata kepada wanita yang paling peduli kepadanya: Buatkan aku gambar wajahnya, karena aku ingin menjenguknya sebelum aku mati. Wanita itu melakukannya. Ketika gambar itu sampai, ia memeluknya dan menarik napas panjang lalu meninggal. Ayah pemuda itu meminta kepada ayah gadis itu agar ia menguburkannya di dekat makam anaknya. Ia pun melakukannya dan ia menulis di atas dua kuburan mereka:
Demi diriku, keduanya tidak menikmati cintanya
Sepanjang masa hingga mereka disembunyikan di kuburan
Mereka berdua tinggal tanpa saling mengunjungi untuk waktu yang lama
Maka ketika mereka meninggal, mereka didekatkan dengan saling mengunjungi
Maka betapa indahnya kubur yang mengunjungi kubur yang dicintainya
Dan betapa indahnya kunjungan yang datang dengan kecurigaan takdir
Dengan sanad yang sama, perawi berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Abbas Ash-Sha’igh menceritakan kepadaku, ia berkata: Ahmad bin Mu’awiyah bin Bakr Al-Bahili menceritakan kepadaku, ia berkata: Seorang lelaki dari Bani Udzrah menceritakan kepadaku, ia berkata: Ada seorang pemuda tampan yang romantis di antara kami, dan ia sering berbicara dengan wanita-wanita. Ia jatuh cinta kepada seorang gadis dari kampung itu, lalu ia mengirim surat kepadanya, tetapi gadis itu menunjukkan sikap dingin. Maka ia jatuh sakit parah dan lemah, keadaannya tampak jelas dan kelemahan hatinya terlihat. Para wanita dari keluarganya dan keluarga gadis itu tidak henti-hentinya berbicara kepada gadis itu tentangnya hingga ia menjawabnya, lalu ia datang menjenguk dan memberi salam. Ketika ia melihat mereka, air matanya mengalir dan ia mulai berkata:
Tidakkah kamu lihat jika jenazahku lewat di hadapanmu
Diangkat oleh tangan-tangan panjang dan kuat
Tidakkah kamu mengikuti keranda hingga kamu memberi salam
Kepada makam orang mati di lubang yang dikubur
Aku kehilangan dirimu di antara mereka maka aku menangis rindu
Dan kehilangan kekasih wahai harapanku sungguh berat
Aku tidak menunggu selain dirimu ketahuilah itu
Dan di sekelilingku banyak kerabatku
Seandainya kamu yang sakit, aku pasti akan berlari
Kepadamu dan ancaman tidak akan menghalangiku
Perawi berkata: Ia menangis karena kasihan kepadanya dan berkata: Aku tidak menyangka bahwa keadaanmu telah sampai seperti ini. Demi Allah, aku akan menemanimu dan akan terus menerus menjumpaimu. Maka air matanya mengalir deras dan ia mulai berkata:
Ia datang saat bayangan kematian berada di antara aku dan dirinya
Dan ia berjanji dengan perjumpaan ketika perjumpaan tidak bermanfaat lagi
Kemudian ia menarik napas panjang dan nyawanya keluar. Gadis itu menjatuhkan diri di atasnya menciumnya dan menangis, lalu ia diangkat dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ia tidak bertahan setelahnya kecuali beberapa hari hingga ia meninggal.
Syahdah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad bin As-Sarraj memberitahukan kepada kami, ia berkata: Aku menemukan tulisan tangan Ahmad bin Muhammad bin Ali Al-Abnusi dan aku menyalinnya dari aslinya, ia berkata: Abu Muhammad Ali bin Abdullah bin Al-Mughirah Al-Jauhari menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Muhammad bin Asad Al-Azdi menceritakan kepada kami, ia berkata: As-Saji memberitahukan kepada kami dari Al-Asma’i, ia berkata: Aku melihat di padang pasir seorang lelaki yang tubuhnya membesar dan dagingnya menyusut, kulitnya menipis. Aku heran lalu aku mendekat kepadanya untuk bertanya tentang keadaannya, tetapi ia tidak menjawab. Aku bertanya kepada sekelompok orang di sekelilingnya tentang keadaannya. Mereka berkata: Sebutkanlah kepadanya sesuatu dari syair, ia akan berbicara denganmu. Aku berkata:
Takdir telah mendahului bahwa aku akan mencintaimu
Hingga mati, maka ke mana tempat pelarian dariku
Ia menarik napas panjang, aku mengira nyawanya telah meninggalkannya, kemudian ia mulai berkata:
Aku menyendiri dengan kenanganmu, aku tidak menginginkan orang yang berbicara
Dan cukup dengan itu sebagai nikmat dan kebahagiaan
Aku menangis maka tangisan itu membuatku gembira, dan terkadang
Ia menolak maka datanglah orang yang aku cintai sebagai tawanan
Perawi berkata: Aku berkata kepadanya: Ceritakan kepadaku tentang dirimu. Ia berkata: Jika kamu ingin mengetahui itu, maka bawalah aku dan letakkan aku di pintu kemah itu. Aku melakukannya, lalu ia mulai berkata dengan suara lemah yang ia angkat dengan susah payah:
Mengapa si cantik tidak menjenguk
Apakah si cantik kikir ataukah berpaling
Seandainya kamu yang sakit, aku pasti akan berlari
Kepadamu dan ancaman tidak akan menghentikanku
Tiba-tiba keluarlah seorang gadis seperti bulan purnama, ia menjatuhkan dirinya di atasnya, maka mereka berdua berpelukan dan itu berlangsung lama. Aku menutupi mereka berdua dengan kainku karena takut orang-orang melihat mereka. Ketika aku takut mereka akan malu, aku memisahkan keduanya, ternyata keduanya sudah meninggal. Aku tidak meninggalkan tempat itu hingga aku menshalatkan keduanya dan menguburkan keduanya. Aku bertanya tentang keduanya, lalu dikatakan kepadaku: Amir bin Ghalib dan Jamilah binti Umail Al-Muzani. Maka aku pergi.
Telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahhab bin Al-Mubarak dan Muhammad bin Nashir, keduanya berkata: Telah memberitahukan kepada kami Al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: Telah memberitahukan kepada kami Al-Hasan bin Ali Al-Jauhari, ia berkata: Telah memberitahukan kepada kami Muhammad bin Abdurrahim Al-Mazini, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Qasim Al-Anbari, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-Marzuban, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Muadz Al-Qaisi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman bin Aisyah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Mani’, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul Ali Al-Harits bin Ubaid, ia berkata: Aku melihat seorang lelaki tua duduk di atas bukit sambil menangis. Maka aku bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Belas kasihan kepada seorang budak perempuan kami yang tinggal di ujung negeri Kalb, kemudian ia dinikahi oleh seorang lelaki dari penduduk Kufah. Lalu kerinduan mengalahkannya dan penderitaan sangat menyakitinya. Maka ia naik ke atas loteng dan mulai membacakan syair:
Demi umurku, jika aku naik ke tempat tertinggi yang tampak Dan mataku dipaksa melihat pemandangan yang jauh Dan kukatakan: Wahai Ziyad, apakah engkau dan keluargamu menghiburku Ataukah kerinduan mendekatkan kepadaku apa yang tidak dekat Dan kukatakan kepada lembah Jin ketika aku melihatnya Semoga Allah menyirami puncakmu dengan awan yang membawa hujan
Kemudian ia meninggal dunia pada saat itu di tempatnya.
Lembah Jin adalah sebuah lembah.
Telah mengabarkan kepada kami Syahdah, ia berkata: Telah memberitahukan kepada kami Ja’far bin Ahmad, ia berkata: Aku menyalin dari tulisan Ibnu Haiwawaih dari Ibnu Al-Marzuban, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku sebagian sahabat Al-Madaini, ia berkata: Telah memberitahukan kepada kami Hisyam bin Muhammad bin As-Saib, ia berkata: Ada seorang lelaki di Madinah dari keturunan Abdurrahman bin Auf, ia adalah seorang penyair dan memiliki seorang putri paman yang ia cintai dan sangat tergila-gila padanya. Kemudian ia mengalami kesulitan yang sangat berat dan ingin pergi menemui Hisyam ke Ar-Rashafah, namun yang menghalanginya dari itu adalah perasaannya terhadap wanita itu dan ia tidak suka berpisah dengannya. Maka pada suatu hari wanita itu berkata kepadanya ketika kesulitan telah mencapainya, “Wahai putra pamanku, mengapa engkau tidak menemui Khalifah, semoga Allah memberikan rezeki kepadamu darinya sehingga dapat menghilangkan sebagian dari apa yang kita alami.” Ketika ia mendengar itu darinya, ia menjadi bersemangat untuk berangkat. Maka ia bersiap dan pergi hingga ketika ia berjarak beberapa mil dari Ar-Rashafah, kenangan tentang wanita itu terlintas di hatinya dan bayangan wanita itu tampak padanya. Maka ia diam sejenak seperti orang yang pingsan, kemudian ia sadar dan berkata kepada penggembala unta, “Hentikan!” Maka ia menghentikan unta-untanya. Lalu ia mulai membacakan syair:
Sementara kami dari Balakats menuju dataran rendah Dengan cepat dan unta-unta berlari dengan lajunya Tiba-tiba terlintas di hati dari kenanganmu Yang melemahkan, maka aku tidak mampu melanjutkan perjalanan Kukatakan: Aku penuhi panggilanmu ketika kerinduan memanggilku kepadamu Dan kepada para penggembala: Kembalikanlah tunggangan itu
Kemudian ia berkata kepada penggembala unta, “Kembalikan kami.” Maka penggembala itu berkata kepadanya, “Subhanallah, engkau telah sampai dan ini rumah-rumah Ar-Rashafah.” Ia berkata, “Demi Allah, tidak akan melangkah satu langkah pun kecuali kembali.”
Maka ia kembali hingga ketika ia berjarak sekitar satu mil dari Madinah, ia bertemu dengan sebagian kerabatnya yang memberitahunya bahwa istrinya telah meninggal dunia. Maka ia menangis keras dan jatuh dari punggung unta dalam keadaan meninggal.
Telah mengabarkan kepada kami Umar bin Zhafar Al-Muqri dan Syahdah binti Ahmad Al-Ibri, keduanya berkata: Telah memberitahukan kepada kami Ja’far bin Ahmad Al-Qari, ia berkata: Telah memberitahukan kepada kami Abdul Aziz bin Ali Al-Azaji, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abul Hasan Ibnu Jahdham Ash-Shufi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim bin Ali, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Al-Katib dari Muhammad bin Al-Husain Al-Barjulani dari Ja’far bin Muadz, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ahmad bin Sa’id Al-Abid dari ayahnya, ia berkata: Di Kufah ada seorang pemuda yang beribadah, selalu berada di masjid jami’ dan hampir tidak pernah meninggalkannya. Ia tampan, bertubuh tinggi, dan berperilaku baik. Maka ada seorang wanita yang cantik dan berakal melihatnya dan jatuh cinta kepadanya. Hal itu berlangsung lama baginya. Ketika pada suatu hari ia berdiri di jalannya ketika ia hendak pulang ke rumahnya, maka wanita itu berkata kepadanya, “Wahai pemuda, dengarkanlah beberapa kalimat dariku yang akan kukatakan kepadamu, kemudian lakukan apa yang engkau kehendaki.” Maka ia berlalu dan tidak berbicara dengannya. Kemudian ia berdiri lagi di jalannya ketika ia hendak pulang, maka wanita itu berkata kepadanya, “Wahai pemuda, dengarkanlah beberapa kalimat dariku yang akan kukatakan kepadamu.” Maka ia menunduk lama dan berkata kepadanya, “Ini adalah tempat yang menimbulkan prasangka buruk dan aku tidak suka menjadi tempat prasangka buruk.”
Maka wanita itu berkata kepadanya, “Demi Allah, aku tidak berdiri di tempatku ini karena ketidaktahuanku tentang keadaanmu, tetapi Maha Suci Allah bahwa para ahli ibadah mengharapkan yang seperti ini dariku. Demi Allah, yang membuatku menemui engkau sendiri dalam hal ini adalah pengetahuanku bahwa yang sedikit dari ini di kalangan manusia adalah banyak, dan kalian wahai para ahli ibadah seperti gelas kristal, hal yang paling kecil saja dapat mencacatnya. Dan ringkasan yang akan kukatakan kepadamu adalah bahwa seluruh anggota tubuhku tersibukkan olehmu. Maka demi Allah, demi Allah dalam urusanku dan urusanmu.”
Ia berkata: Maka pemuda itu pergi ke rumahnya dan ingin shalat tetapi ia tidak bisa berkonsentrasi bagaimana ia shalat. Maka ia mengambil secarik kertas dan menulis surat, kemudian ia keluar dari rumahnya dan ternyata wanita itu berdiri di tempatnya. Maka ia melemparkan surat itu kepadanya dan kembali ke rumahnya.
Dan surat itu berbunyi: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Ketahuilah wahai wanita, bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala apabila didurhakaiNya, Dia bersabar. Maka apabila hamba mengulangi kemaksiyatan, Dia menutupnya. Maka apabila ia mengenakan pakaiannya, Allah Azza wa Jalla marah untuk diriNya sendiri dengan kemarahan yang membuat langit, bumi, gunung-gunung, pepohonan, dan hewan-hewan menjadi sempit karenanya. Maka siapa yang sanggup menanggung kemarahanNya?
Jika apa yang engkau sebutkan adalah batil, maka aku mengingatkanmu pada hari ketika langit seperti logam cair dan gunung-gunung menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan dan umat-umat berlutut karena dahsyatnya Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung. Dan demi Allah, aku telah lemah untuk memperbaiki diriku sendiri, bagaimana lagi memperbaiki orang lain.
Dan jika apa yang engkau sebutkan adalah benar, maka aku tunjukkan kepadamu seorang tabib yang lebih berhak terhadap luka yang menyakitkan dan penyakit yang membakar. Yaitu Allah Rabbul ‘Alamin. Maka mintalah kepadaNya dengan kesungguhan permintaan, karena aku tersibukkan darimu dengan firmanNya Azza wa Jalla: “Dan peringatkanlah mereka akan hari yang dekat (kiamat) ketika hati (mereka naik) sampai ke kerongkongan karena menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorang pun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafaat yang diterima syafaatnya. Allah mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (Ghafir: 18-19). Maka ke manakah tempat lari dari ayat ini?
Kemudian setelah beberapa hari ia datang dan berdiri di jalannya. Ketika ia melihatnya dari jauh, ia ingin kembali ke rumahnya agar tidak melihatnya.
Maka wanita itu berkata, “Wahai pemuda, jangan kembali, karena tidak akan ada pertemuan setelah ini selamanya kecuali di hadapan Allah Azza wa Jalla.”
Dan ia menangis dengan tangisan yang keras, kemudian berkata, “Aku mohon kepada Allah Azza wa Jalla yang di tanganNya kunci hatimu agar memudahkan apa yang telah sulit dari urusanmu.” Kemudian ia mengikutinya dan berkata, “Berilah aku nasihat yang akan kubawa darimu dan berwasiatlah kepadaku dengan wasiat yang akan kukerjakan.”
Maka pemuda itu berkata kepadanya, “Aku berpesan kepadamu untuk menjaga dirimu dari dirimu sendiri dan aku ingatkan engkau pada firmanNya Azza wa Jalla: “Dan Dialah yang mewafatkan kamu pada malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari.” (Al-An’am: 60)
Ia berkata: Maka ia menunduk dan menangis dengan tangisan yang lebih keras dari tangisan pertamanya. Kemudian ia sadar, lalu menetap di rumahnya dan mulai beribadah.
Ia berkata: Apabila keadaan menjadi berat baginya, ia meminta suratnya lalu meletakkannya di atas matanya. Maka dikatakan kepadanya, “Apakah ini memberikan manfaat sesuatu?” Maka ia menjawab, “Apakah aku punya obat selain ini?”
Dan ketika malam datang, ia berdiri di tempat shalatnya dan terus seperti itu hingga ia meninggal karena sedih yang mendalam.
Maka pemuda itu menyebutnya kemudian menangisi dirinya. Maka dikatakan kepadanya, “Mengapa engkau menangis padahal engkau yang membuat ia putus asa?” Maka ia berkata, “Sesungguhnya aku telah menyembelih harapanku darinya pada kesempatan pertama dan menjadikan pemutusan hubungan dengannya sebagai simpanan bagiku di sisi Allah Azza wa Jalla, dan sesungguhnya aku malu kepada Allah Azza wa Jalla untuk mengambil kembali simpanan yang telah kusimpan di sisNya.”
Ibnu As-Sarraj berkata: Abul Qasim Al-Azaji berkata kepada kami: Dan aku menemukan dalam naskah yang didengarkan dari Az-Zabanbiy tambahan: Kemudian gadis itu tidak lama kemudian ditimpa ujian pada tubuhnya. Maka dokter memotong daging darinya beberapa ratl (satuan berat). Dan dokter itu telah mengetahui ceritanya dengan pemuda itu. Maka apabila ia hendak memotong dagingnya, ia menceritakan kepadanya kisah pemuda itu, maka ia tidak merasakan sakit dari pemotongan dagingnya dan tidak mengerang. Namun apabila ia diam, ia mengerang. Maka ia terus seperti itu hingga ia meninggal karena sedih yang mendalam.
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abi Manshur, ia berkata: Telah memberitahukan kepada kami Al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Umar Al-Barmaki, ia berkata: Telah memberitahukan kepada kami Abul Husain Az-Zainabi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Al-Marzuban, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Muadz bin Amru Al-Bahili dari Musa bin Dawud, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ziyad bin Umayyah, ia berkata: Aku mendengar Muafa Al-Kufi berkata: Di Kufah ada seorang pemuda dari keturunan Al-Muhallab bin Abi Shufrah, ia adalah seorang ahli ibadah yang memiliki kesalehan, dan ia tinggal di daerah Kindah. Ia sering menghadiri majelis-majelis dzikir dan menangis hingga orang-orang di masjid itu kasihan kepadanya dan mereka menangis karena tangisannya. Ia tampan dan berbicara dengan baik.
Ia berkata: Maka seorang wanita dari orang-orang yang menghadiri majelis itu melihatnya dan jatuh cinta kepadanya. Ia hampir tidak pernah meninggalkan majelis-majelis yang ia tahu pemuda itu hadir. Apabila pemuda itu pulang, ia berdiri di jalan, maka apabila ia melewatinya, ia menghela napas panjang kemudian berkata:
Wahai orang yang berjalan dengan sikap dan penampilan Dan wajah yang cantik, tidak ada harapan kami padamu Aku mati dan hidup ketika menyebutmu kadang-kadang Maka di hatiku ada bara api yang tidak bisa diangkat Bukankah ini aneh, seorang kekasih yang menyembunyikan cinta Menghibur dengan angan-angan hati yang terpotong-potong Kepada seseorang yang tidak tahu bahwa aku dalam belenggunya Di taman kesedihan yang di dalamnya kesedihan tumbuh
Ia berkata: Kemudian ia pergi dan ini menjadi kebiasaannya selama beberapa waktu, sementara pemuda itu dalam kelalaian tidak mengetahui apa pun tentang itu. Ketika hal itu telah lama berlangsung dan ia khawatir akan membuatnya jelas, ia berdiri di salah satu jalan yang biasa ia lewati, lalu berkata:
Wahai orang yang lalai padahal bukan orang yang lalai Pelan-pelan, sesungguhnya aku tentangmu bukan orang yang bermain-main
Ia berkata: Maka ia berhenti dan berkata kepadanya, “Apa keperluanmu?” Maka ia berkata, “Apakah engkau akan berlaku adil kepada orang yang berbicara denganmu ataukah engkau akan berbuat sewenang-wenang dalam keputusanmu padanya ketika ia menyerahkan urusannya kepadamu?”
Maka ia berkata kepadanya, “Celakalah engkau, sesungguhnya aku telah mengingkari perkataanmu dengan sangat dan anggota tubuhku merasa asing dengannya, dan aku tidak menemukan cara untuk berdiri bersamamu yang dapat kujadikan alasan di hadapan Rabbku besok.” Kemudian ia pergi dan meninggalkannya.
Maka ia datang ke rumahnya dalam keadaan sedih dan menetap di rumahnya. Ia tidak keluar darinya karena takut bertemu dengannya dan ia akan berbicara dengannya.
Ia berkata: Dan wanita itu adalah seorang wanita yang cantik dan berwibawa. Ia terus mencarinya dan bertanya tentangnya kepada orang yang mengenalnya, maka ia memberitahunya bahwa ia telah menetap di rumahnya. Ketika hal itu telah lama berlangsung baginya, ia menulis syair-syair ini:
Berkata wanita yang telah disembuhkan oleh cinta ahli ibadah Dan membuatnya sakit hingga keadaannya berubah Dan menjadikannya seperti ranting di taman Yang digoyangkan oleh kelemahannya, angin utara di sana Dan membiarkannya untuk kesedihan sendirian tersiksa Dan apa urusanku dengan kesedihan, apa urusanku dengannya Apakah dalam ibadah engkau tidak mengasihani hari ini seorang kekasih Yang mengadu bara api di hati dari orang yang zalim baginya
Ia berkata: Dan ia mengirimkannya kepadanya dan berkata kepada utusan, “Beritahukan kepadanya apa yang engkau lihat dari hebatnya penderitaan, semoga Allah memudahkan urusannya dan melembutkan hatinya, dan jangan engkau gagal dalam membuatnya berminat pada apa yang akan ia dapatkan dari pahala dalam hal itu.”
Ia berkata: Maka wanita itu datang kepadanya dan meminta izin, maka ia mengizinkannya. Ia masuk kepadanya dan memberi salam, lalu berkata, “Wahai lelaki, sesungguhnya aku telah memikul diriku pada urusan yang bukan dari urusanku, namun aku memikulnya karena mengharap pahala dan balasan yang baik dari Allah Azza wa Jalla. Dan sesungguhnya aku ingin menyampaikan kepadamu suatu urusan, aku tidak suka di dalamnya meninggalkan kebenaran, karena sesungguhnya aku melihat setiap kebatilan di hadapan kebenaran lenyap dan setiap urusan yang mengajak kepada bahaya di akhirat adalah rusak.”
Maka ia berkata, “Katakanlah wahai wanita, apa yang terlintas bagimu untuk mengatakannya dan tinggalkan banyak bicara, karena siang hari berlalu dan jam-jam dihitung.”
Ia berkata: Maka ia membacakan syair itu kepadanya dan memberitahukan keadaan wanita itu. Maka ia berkata, “Wahai wanita, sesungguhnya Allah memiliki ujian yang Dia uji hamba-hambaNya, kekasih-kekasihNya, dan kesayangan-kesayanganNya dengannya untuk melihat bagaimana ketaatan mereka kepadaNya dan bagaimana mereka lebih mendahulukanNya ketika syahwat hati mereka berkumpul. Dan aku tidak mengira kecuali bahwa Allah telah menguji aku dengan apa yang engkau sebutkan tentang urusan wanita ini untuk menguji aku. Dan demi Allah, aku tidak memiliki kekuatan terhadap ujian Rabbku jika Dia tidak memberiku taufik dan meneguhkan aku. Dan demi Allah, meninggalkan orang-orang terkasih dalam ridaNya lebih aku cintai daripada tinggal bersama mereka dan tersibukkan dengan apa yang memotongku dari pengabdian kepadaNya dan mencari kecintaan kepadaNya. Maka sampaikanlah kepadanya salamku dan katakanlah kepadanya: Aku telah mendengar gugatanmu dan apa yang engkau sebutkan. Dan demi Allah, aku tidak ridha terhadap diriku sendiri dalam pengabdian kepada Zat yang kepadaNya kefakiranku dan kebutuhanku, bagaimana lagi jika aku melibatkannya dengan ujian yang tidak mungkin aku lepas darinya.”
Ia berkata: Maka wanita itu keluar dari sisinya dan mendatanginya serta memberitahukan perkataannya. Maka ia menangis kemudian berkata kepadanya, “Lalu bagaimana perhatiannya terhadap ucapanmu ketika engkau membacakan syair itu kepadanya?” Ia berkata, “Wahai saudariku, aku melihat seorang lelaki yang menunduk dan berwibawa seakan-akan ia telah memasang akhirat di antara kedua matanya dan ia melihatnya. Maka tetaplah pada dirimu dan jangan engkau membinasakan dirimu sehingga engkau menyesal ketika penyesalan tidak ada gunanya.”
Ia berkata: Maka ia menetap di rumahnya dan berkata, “Demi Allah, aku tidak akan keluar darinya ke tempat mana pun selamanya dan aku akan menjadikannya kuburanku selama hari-hari hidupku.”
Ia berkata: Kemudian ia rajin shalat dan ia tidak terlelap siang dan malam karena shalat. Mereka mendengarnya dan ia menangis dengan tangisan yang keras. Maka dikatakan kepadanya tentang itu.
Maka ia berkata, “Sesungguhnya demi Allah, telah menguasai hatiku menyebutnya hingga tidak meninggalkanku. Dan sesungguhnya aku menyebut dosa-dosaku maka aku menangis atas kelalaianku, kemudian aku menyebutnya maka aku menangis karenanya, maka bangkit dari hatiku kesedihan yang tidak menyerupai kesedihan lain. Dan sesungguhnya aku mohon kepada Zat yang mengharamkan kedekatanku dengannya di dunia agar melupakan aku dari menyebutnya dan agar mengumpulkan antara aku dan dia di rumahNya.”
Ia berkata: Dan ia menderita sakit yang keras dan ditimpa pada tubuhnya ujian yang besar. Ia berkata: Maka apabila yang mengobatinya mulai mengobatinya, ia mengajaknya berbicara dan berkata, “Wahai fulanah, apa kepanikan ini yang engkau panik? Maka demi Allah, aku tidak melihat seorang lelaki yang lebih baik keadaannya, tidak lebih baik petunjuknya, dan tidak lebih sabar terhadap ujian apabila menimpanya daripada seorang pemuda di antara tetanggaku yang dipanggil fulan” —yaitu maksudnya kekasihnya. Maka ia diam kemudian berkata, “Dia, ceritakanlah,” sementara ia memotong dari dagingnya dan seakan-akan ia karena cinta yang menguasai hatinya untuk menyebutnya tidak merasakan apa yang ia lakukan padanya. Namun apabila ia berhenti dari menyebutnya, ia merasakan sakit dan panik. Maka ia terus dalam keadaannya itu hingga meninggal.
Sungguh aku melihatnya dalam pemakamannya dengan kepala tertutup hingga ia menguburkannya. Dan aku sering apabila melewati pemakaman aku melihatnya di kuburannya.
Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Ma’mar al-Anshari, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Sa’id bin Sayyar, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Abi Sahl al-Ghurji, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim al-Hafizh, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin al-Abbas, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdullah bin Musa al-Salami, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ya’fur, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Ala’ bin Manshur, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Asma’i, ia berkata: Aku bermalam di rumah salah seorang Arab Badui di padang pasir, dan ia memiliki seorang anak yang sakit parah terbaring di tempat tidurnya. Ayahnya berkata kepadaku: “Anakku ini telah tertimpa penyakit yang kau lihat akibat cinta yang membakar.” Aku mendekatinya lalu ia berkata: “Bacakanlah untukku sesuatu.” Aku berkata: “Aku bukan penyair.” Ia berkata: “Seandainya engkau bukan tamu, aku akan memintamu bercerita kepadaku, tetapi dari hak keramahan adalah sang tamu yang bercerita.” Aku berkata kepadanya: “Bagaimana keadaanmu?” Ia menceritakan kepadaku cerita yang panjang, kemudian ia menarik napas panjang dan berkata: Seakan-akan jantungku adalah burung yang telah tiba saatnya untuk kembali… Ia mengepakkan kedua sayapnya karena rindu kepada tempat kembali
Kemudian nyawanya melayang, dan aku adalah di antara orang-orang yang menyalatkannya.
Telah mengabarkan kepada kami Shahdah, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu al-Sarraj, ia berkata: aku menemukan dalam tulisan Ibnu Hayawayh yang berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abdul Wahid bin Muhammad, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin al-Haytham bin Adi dari al-Haytham, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Malik, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Utsman bin Umar al-Tamimi, ia berkata: Seorang pemuda dari Bani Asad jatuh cinta kepada seorang gadis dari kaumnya. Ia lebih kaya dan lebih makmur darinya. Ayahnya melarangnya menikahi gadis itu dan menginginkan untuknya yang lebih mulia dan lebih kaya, dan menawarkan kepadanya yang lain, tetapi ia menolak kecuali gadis itu. Ayah gadis itu telah menahan putrinya untuknya dengan harapan ia akan menikahinya. Ketika ayahnya merasa sudah terlalu lama dan berputus asa, ia menikahkan putrinya dengan orang lain. Suatu hari pemuda itu bertemu dengannya dan berkata kepadanya:
Demi hidupku wahai Sa’da, terlalu lama aku hidup membujang… Dan pembangkanganku terhadap ayahku karenamu, keduanya Dan meninggalkanku dari kedua kabilah ini, aku tidak menginginkan dari mereka… Selain dirimu dan cintaku tidak pernah mengembara kepada mereka
Gadis itu berkata:
Kekasihku, jangan tergesa-gesa agar kau memahami pembelaanku… Cukuplah bagiku ujian dan kesulitan yang aku rasakan Dan air mata yang menghinggapiku dan desahan… Yang hampir membuatku nyawaku tercabut karena kerinduan yang membakar Aku dikalahkan atas diriku sendiri dengan perjuangan dan aku tidak mampu menentang keluargaku dengan main-main atau serius Dan mereka tidak akan mencegahku untuk mati dengan rela mereka… Besok di dalam gua ini di sebuah liang sendirian Maka janganlah kau lupa untuk datang ke sana dan mencari… Tempatku, agar kau melepaskan apa yang telah kutanggung dari kesulitan
Ketika keesokan harinya, ia mendatanginya di tempat yang ia sebutkan, maka ia menemukannya sudah mati. Ia memasukkannya ke dalam sebuah celah kemudian memeluknya erat, lalu ia pun mati bersamanya. Dikatakan bahwa mereka dicari selama setahun tetapi tidak dapat ditemukan dan tidak diketahui kabar mereka. Tiba-tiba ada suara yang berteriak di atas gunung tempat mereka berada, dan gunung itu disebut A’raf:
Sesungguhnya dua orang mulia yang saling setia… Yang pergi dengan kesetiaan yang murni Demi Allah, aku tidak pernah menemukan dalam pengembaraanku… Yang lebih jauh dari pengkhianatan dan ingkar janji Selain dua orang mati di puncak A’raf…
Dikatakan bahwa kaum itu naik ke gunung dan menemukan mereka berdua sudah mati, lalu mereka menguburkan mereka.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad al-Jawhari, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Hayawayh, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Khalaf, ia berkata: Dan sebagian perawi menyebutkan dari al-Umari, ia berkata: Abu Abdullah al-Habsyani jatuh cinta kepada Shafra’ al-Alaqimiyyah, dan ia berkulit hitam. Ia mengeluhkan cintanya dan merana hingga mencapai ambang kematian. Sebagian keluarganya berkata kepada tuannya: “Andai kau mengirim Shafra’ kepada Abu Abdullah al-Habsyani, mungkin ia akan sadar ketika melihatnya.” Maka ia melakukannya. Ketika Shafra’ masuk menemuinya, ia berkata: “Bagaimana kabarmu pagi ini wahai Abu Abdullah?” Ia berkata: “Baik selama kau tidak pergi.” Ia berkata: “Apa yang kau inginkan?” Ia berkata: “Kedekatan darimu.” Ia berkata: “Lalu apa yang kau keluhkan?” Ia berkata: “Cintamu.” Ia berkata: “Apakah kau berwasiat dengan sesuatu?” Ia berkata: “Ya, aku berwasiat tentang dirimu jika mereka menerima dariku.” Ia berkata: “Aku ingin pulang.” Ia berkata: “Kalau begitu percepatlah pahala menyalatkan aku.” Ia berdiri lalu pergi. Ketika ia melihatnya berbalik, ia menarik napas panjang dan mati pada saat itu juga.
Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi al-Bazzaz dari Abu Ishaq al-Barmaki dari Abu Bakar bin Salim, ia berkata: Menyebutkan Muhammad bin Musa al-Barbari, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Abi al-Sirri al-Azdi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Muhammad al-Kalbi dari Awanah bin al-Hakam bahwa Abdullah bin Ja’far datang menghadap Abdul Malik bin Marwan lalu menceritakan kepadanya, ia berkata: Aku membeli seorang budak perempuan kelahiran dalam dengan sepuluh ribu dirham. Ia diceritakan kepada Yazid bin Muawiyah, maka ia mengirim kepadaku: “Entah kau berikan ia kepadaku atau kau jual dengan harga yang kau tentukan.” Aku mengirim kepadanya: “Demi Allah, ia tidak akan keluar dari kepemilikanku dengan dijual atau dihadiahkan selamanya.”
Ia tinggal di sisi ku dalam keadaan seperti itu, aku tidak bertambah kecuali cinta kepadanya, hingga datang kepadaku seorang nenek tua dari nenek-nenek kami. Ia menyebutkan bahwa salah seorang pemuda Madinah yang belum menikah mencintainya dan bahwa ia datang setiap hari dengan menyamar lalu berdiri di pintu hingga mendengar nyanyiannya. Aku mengamati kedatangannya pada suatu malam, dan tiba-tiba ia datang dengan kepala tertutup hingga duduk bersembunyi. Aku memanggil pengurus budak perempuan itu lalu berkata: “Pergilah sekarang dan perbaiki budak perempuan ini dengan sebaik mungkin dan segerakan ia kepadaku.” Ketika ia datang membawanya, aku turun sambil memegang tangannya dan membuka pintu, kemudian aku menggerakkan orang itu sehingga ia terbangun dengan ketakutan. Aku berkata: “Tidak apa-apa atasmu, ambillah tangan budak perempuan ini, ia untukmu. Jika kau berniat menjualnya, maka kembalikanlah ia kepadaku.” Pemuda itu terkejut dan terpana. Aku mendekat ke telinganya lalu berkata: “Celakalah kau! Sungguh Allah Azza wa Jalla telah memberikanmu apa yang kau inginkan, maka pulanglah ke rumahmu.” Tiba-tiba pemuda itu mati seakan tidak pernah ada. Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih menakjubkan dari itu. Budak perempuan itu menjadi hina di mataku, dan aku membenci mengirimnya kepada Yazid karena khawatir ia mengetahui keadaannya atau ia mengabarkan tentang dirinya kepadanya sehingga ia mendendam kepadaku. Ia tinggal lama, kemudian meninggal, dan aku tidak mengira ia mati kecuali karena sedih dan penyesalan terhadap pemuda itu.
Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin al-Muhsin al-Tanukhi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Umar Muhammad bin al-Abbas bin Hayawayh, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Khalaf bin al-Marzuban, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Manshur bin Sayyar, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Nashr al-Marwazi, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Suwayd dari ayahnya, ia berkata: Aku mendengar Ali bin Ashim berkata: Seorang laki-laki dari penduduk Kufah dari sebagian saudaraku berkata kepadaku: “Apakah kau mau melihat orang yang sedang jatuh cinta?”
Aku pergi bersamanya dan aku melihat seorang pemuda seakan-akan nyawa telah dicabut dari tubuhnya. Ia mengenakan sarung dan berselimut dengan sarung lainnya, dan ia sedang merenung sambil menggores tanah kemudian menatap lengannya, kemudian menarik napas panjang hingga aku berkata: “Sungguh nyawanya telah keluar.” Ia dengan itu seperti tusuk gigi karena kesulitan yang dialaminya.
Dikatakan: Aku menoleh dan tiba-tiba ada bunga mawar merah diikat di lengannya. Dikatakan: Aku berkata kepada temanku: “Apa ini? Demi Allah, aku tidak melihat tahun ini ada bunga mawar sebelum ini.” Ia berkata: “Aku kira si fulan (ia menyebut namanya) mengirimkannya kepadanya.” Ketika ia menyebut namanya, ia mengangkat kepalanya dan menatap kami kemudian berkata:
Aku jadikan dari bunga mawarnya… Jimat di lenganku Aku hirup baunya karena cintanya… Ketika kesedihan menimpaku Siapa yang melihat seperti aku pemuda… Yang dengan kesedihan ia menjadi berselimut Cinta membuatnya sakit dan sungguh… Ia menjadi sedikit sandaran Dan menjadi lalai sepanjang hidupnya… Selalu bersama dengan kesedihan Tidakkah ada yang merahmati atau… Menaruh belas kasihan kepadaku karena kesedihan
Kemudian ia menunduk. Aku berkata: “Apa masalahnya?” Mereka berkata: “Orang yang jatuh cinta kepada budak perempuan milik sebagian keluarganya. Ia telah memberikan semua yang ia miliki yaitu tujuh ratus dinar tetapi mereka menolak menjualnya, maka turunlah kepadanya apa yang kau lihat dan ia kehilangan akalnya.”
Dikatakan: Kami keluar dan tinggal sekian lama sekehendak Allah, kemudian ia meninggal. Aku menghadiri pemakamannya. Ketika ia diratakan di kuburannya, tiba-tiba ada seorang budak perempuan bertanya tentang kuburan itu. Aku menunjukkan kepadanya, maka ia tidak berhenti menangis dan mengambil tanah lalu menaruhnya di rambutnya.
Ketika ia dalam keadaan seperti itu, datanglah sekelompok orang berlari. Mereka mendatanginya dengan memukul. Ia berkata: “Urusan kalian, demi Allah kalian tidak akan mendapat manfaat dariku setelahnya selamanya.”
Dan telah diriwayatkan kepada kami hikayat ini lebih lengkap dari ini.
Telah mengabarkan kepada kami Shahdah binti Ahmad al-Ibri, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad al-Maqri, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ali bin al-Fath, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Husayn Muhammad bin Abdullah dengan ijazah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ja’far al-Khuldi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Masruq, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Husayn, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Suwayd bin Sa’id, ia berkata: Aku mendengar Ali bin Ashim berkata: Seorang laki-laki dari penduduk Kufah dari sebagian saudaraku berkata kepadaku: “Aku tunjukkan kepadamu seorang pemuda yang sedang jatuh cinta.” Aku berkata: “Ya, demi Allah, karena aku mendengar orang-orang mengingkari cinta dan hilangnya akal karenanya, dan aku suka melihatnya.” Ia menjanjikan kepadaku suatu hari untuk aku datang bersamanya.
Dikatakan: Aku menjanjikan kepadanya suatu hari, lalu kami pergi. Temanku mulai menceritakan kepadaku tentang kesalehannya, ibadahnya, dan kesungguhannya. Aku berkata: “Dan kepada siapa ia terikat?” Ia berkata: “Kepada budak perempuan milik sebagian keluarganya. Ia sering mengunjungi mereka lalu ia jatuh ke dalam hatinya. Ia meminta mereka untuk menjualnya kepadanya tetapi mereka menolak. Ia memberikan kepada mereka seluruh hartanya yaitu tujuh ratus dinar tetapi mereka menolak karena iri dan dengki agar ia tidak memiliki yang seperti dia.”
Ketika mereka menolaknya, budak perempuan itu mengirim kepadanya, dan ia sangat mencintainya: “Perintahkan aku dengan perintahmu, demi Allah aku akan menaatimu dan akan menuruti perintahmu dalam segala apa yang kau perintahkan kepadaku.” Ia mengirim kepadanya: “Berpegang teguhlah pada ketaatan kepada Allah, karena di atas itulah sandaran dan ketenangan, dan pada ketaatan kepada yang memiliki perhambaan dirimu, karena itu tergabung dengan ketaatan kepada Tuhanmu Azza wa Jalla. Tinggalkanlah memikirkan urusanku, mudah-mudahan Allah memberikan kepada kita jalan keluar pada suatu hari. Demi Allah, aku tidak akan rela dengan meraih sesuatu yang aku cintai selamanya dalam kepemilikanku jika aku mencegahnya dengan mengulurkan tanganku kepadanya secara haram tanpa harga, tetapi aku memohon pertolongan Allah atas urusanku. Jadikanlah ini sebagai surat terakhir darimu kepadaku dan jangan kembali lagi, karena aku tidak suka, demi Allah, bahwa Allah Taala melihatku dan aku dalam genggaman-Nya mencari sesuatu yang Ia benci dariku. Berpegang teguhlah pada takwa kepada Allah Azza wa Jalla, karena itu adalah pelindung bagi orang-orang yang taat kepada-Nya, dan di dalamnya ada penghiburan dari kemaksiatan kepada-Nya.”
Dikatakan: Kemudian ia melekat pada kesungguhan yang keras, mengenakan bulu, dan menyendiri. Ia tidak masuk ke rumahnya kecuali dari malam ke malam, dan ia dengan itu hatinya sibuk dengan mengingat budak perempuan itu, hampir tidak pernah meninggalkannya.
Demi Allah, keadaan tidak berhenti padanya hingga membuatnya putus, maka ia sekarang hilang akal dan bingung di rumahnya.
Dikatakan: Kemudian kami sampai di pintu dan meminta izin, lalu kami diizinkan masuk.
Ali berkata: Aku masuk ke rumah yang luas dan sunyi, dan tiba-tiba aku melihat seorang pemuda di tengah rumah di atas tikar mengenakan sarung dan berselimut dengan sarung lainnya.
Dikatakan: Kami mengucapkan salam kepadanya tetapi ia tidak menjawab salam kami. Kami duduk di sampingnya, dan ia adalah orang yang paling tampan yang pernah aku lihat wajahnya. Ia menunduk sambil menggores tanah, kemudian menatap lengannya, kemudian menarik napas panjang hingga aku berkata: “Sungguh nyawanya telah keluar.” Ia dengan itu seperti lidi karena kesulitan yang dialaminya.
Dikatakan: Aku menoleh dan tiba-tiba aku melihat bunga mawar merah diikat di lengannya. Dikatakan: Aku berkata kepada temanku: “Apa ini? Demi Allah, aku tidak melihat tahun ini ada bunga mawar sebelum ini.” Ia berkata: “Aku kira si fulanah (ia menyebut namanya) mengirimkannya kepadanya.” Ketika ia menyebut namanya, ia mengangkat kepalanya dan menatap kami kemudian berkata:
Aku jadikan dari bunga mawarnya… Jimat di lenganku Aku hirup baunya karena cintanya… Ketika kesedihan menimpaku Siapa yang melihat seperti aku pemuda… Yang dengan kesedihan ia menjadi berselimut Cinta membuatnya sakit sehingga… Ia menjadi teman sandaran Dan menjadi lalai sepanjang hidupnya… Selalu bersama dengan kesedihan
Dikatakan: Kemudian ia menunduk. Aku berkata: “Sekarang demi Allah ia akan mati.”
Ali bin Ashim berkata: Datang kepadaku dari urusannya apa yang tidak aku kuasai, dan aku berdiri menyeret pakaianku. Demi Allah, aku belum sampai di pintu hingga aku mendengar tangisan. Aku berkata: “Apa ini?” Mereka berkata: “Ia telah mati, demi Allah.”
Ali berkata: Aku berkata: “Demi Allah, aku tidak akan pergi hingga aku menyaksikannya.”
Dikatakan: Orang-orang mendengar dan mereka datang dengan tabib. Ia berkata: “Urus teman kalian, sungguh ia telah pergi ke jalannya.” Mereka memandikan, mengafani, dan menguburkannya, dan orang-orang pulang. Temanku berkata kepadaku: “Mari kita pergi.” Aku berkata: “Pergilah kau, karena aku ingin duduk di sini sebentar.” Ia pergi. Aku tidak berhenti menangis dan mengambil pelajaran darinya, mengingat orang-orang yang mencintai Allah Azza wa Jalla dan apa yang mereka alami.
Dikatakan: Ketika aku dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba ada seorang budak perempuan datang seakan-akan ia seekor kijang, dan ia banyak menoleh. Ia berkata kepadaku: “Wahai orang ini, di mana pemuda ini dikubur?” Ali berkata: Aku melihat wajahnya, aku tidak pernah melihat yang sepertinya sebelumnya. Aku menunjuk ke kuburannya.
Dikatakan: Ia pergi ke sana, dan demi Allah ia tidak meninggalkan di tanah banyak tanah kecuali ia melemparkannya ke wajahnya, dan ia berguling-guling di dalamnya hingga aku mengira ia akan mati. Tidak lama kemudian orang-orang datang berlari hingga mereka sampai kepadanya dan menangkapnya, lalu mereka mulai memukulnya. Aku berdiri kepada mereka lalu berkata: “Lembutlah dengannya, semoga Allah merahmati kalian.” Ia berkata: “Biarkan mereka wahai orang ini mencapai tujuan mereka, demi Allah mereka tidak akan mendapat manfaat dariku selamanya setelahnya di hari-hari hidupku. Biarlah mereka berbuat kepadaku apa yang mereka kehendaki.”
Ternyata ia adalah yang dicintai pemuda itu, maka aku pulang.
Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Tanukhi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Hayawayh, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu al-Marzuban, ia berkata: Sebagian perawi menyebutkan dari Muhammad bin Muawiyah, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Utsman al-Udzri, dan ia tinggal di Kufah. Ia berkata: Aku melihat Umar bin Maysarah, dan ia bagaikan bayangan, seakan-akan ia dicelup dengan kunyit. Ia hampir tidak berbicara dengan siapa pun dan tidak bergaul. Mereka berpendapat bahwa ia sedang jatuh cinta. Mereka bertanya kepadanya tentang kisahnya, maka ia berkata:
Orang berakal bertanya kepadaku tentang panjangnya penyakitku… Dan aku tidak akan menampakkan kepada orang-orang penyakitku Aku akan menyembunyikannya dengan sabar di atas panasnya baranya… Dan aku menyembunyikannya ketika dalam kerahasiaan ada kenyamananku Jika aku telah melihat tempat penyakitku… Dan obatku ada di tempat kenikmatanku Aku bersabar atas penyakitku dengan mengharap pahala dan keinginan… Dan aku tidak menjadi cerita keluargaku dan teman dekatku
Dikatakan: Ia tidak menampakkan urusannya dan tidak ada yang mengetahui kisahnya hingga ketika kematian, maka ia berkata: “Sesungguhnya penyakit yang ada padaku adalah karena fulanah anak paman ku. Demi Allah, tidak ada yang menghalangiku darinya dan membuatku menderita kesulitan kecuali takut kepada Allah Azza wa Jalla, tidak lain. Barangsiapa yang diuji di dunia ini dengan sesuatu, maka janganlah ada yang lebih terpercaya padanya dengan rahasianya selain dirinya sendiri. Seandainya bukan karena kematian turun kepadaku saat ini, aku tidak akan menceritakan kepada kalian. Sampaikanlah salam dariku kepadanya.” Kemudian ia mati.
Telah mengabarkan kepada kami Shahdah, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad, ia berkata: Aku menemukan dalam tulisan Ibnu Hayawayh dan aku menyalinnya darinya, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin al-Marzuban, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku Shalih bin Yusuf, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku Abu Utsman al-Mazini, ia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Utbi dari Syababah bin al-Walid al-Udzri bahwa seorang pemuda dari Udzrah yang disebut Abu Malik bin al-Nadhr adalah orang yang jatuh cinta kepada anak paman perempuannya dengan cinta yang sangat. Ia tidak berhenti dalam keadaan seperti itu selama waktu tertentu, kemudian ia duduk belasan tahun lebih tanpa terdengar kabarnya.
Syababah berkata: “Unta-untaku pernah tersesat, lalu aku keluar untuk mencarinya. Ketika aku sedang berjalan di padang pasir, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil dengan suara lemah:
Wahai putra Walid, tidakkah engkau melindungi tetanggamu … dan menjaga baginya hak-hak kekerabatan Janji kita jika suatu kaum tertimpa musibah … menolong mereka dari segala kesulitan yang membelenggu Inilah Abu Malik yang berada di padang tandus … bersama hyena, singa-singa, dan hutan Terkapar rindu, terbakar api cinta … menimpanya desahan demi desahan beruntun Di siang hari, kenangannya membuatnya menderita … dan di malam hari menanti-nanti apakah fajar akan datang Dia mengigau menyebut seorang gadis dari Bani Udzrah yang telah mencuri … hatinya, sehingga dia dalam kesengsaraan karenanya”
Aku berkata: “Tunjukkan dia kepadaku, semoga Allah merahmatimu.” Dia berkata: “Baiklah, ikutilah suara itu.” Ketika aku mengikuti, aku mendengar rintihan dari sebuah kemah, dan seseorang berkata:
Wahai pemimpin cinta, engkau telah melumatkan hatiku … dan memenuhi dadaku dengan siksaan yang pedih
Aku mendekat dan berkata: “Abu Malik?” Dia menjawab: “Ya.” Aku berkata: “Apa yang membawa engkau ke kondisi yang kulihat ini?” Dia berkata: “Cintaku kepada Suad binti Abul Haidzam Al-Udzri. Suatu hari aku mengadukan apa yang kurasakan dari cinta kepadanya kepada seorang sepupu kami, lalu dia membawaku ke lembah ini sejak belasan tahun yang lalu. Setiap hari dia mendatangiku dengan kabar tentangnya dan memberi makan dari hartanya.”
Aku berkata: “Aku akan mendatangi keluarganya dan memberitahu mereka tentang apa yang kulihat.” Dia berkata: “Silakan.” Maka aku pergi dan memberitahu mereka. Mereka merasa kasihan kepadanya, lalu menikahkannya dengannya di hadapanku. Aku kembali kepadanya untuk menggembirakan dia. Ketika aku memberitahu kabar itu, dia menatapku tajam, lalu mendesah dengan sangat keras yang menyayat hatiku, kemudian berkata:
Sekarang ketika napas ini tercabut dan yang menghadapinya … adalah perpisahan dunia dan pemanggilnya memanggilnya
Kemudian dia mengeluarkan desahan dan meninggal. Aku menguburkannya di tempatnya, lalu pulang dan memberitahu mereka kabar itu. Gadis itu bertahan setelah kematiannya selama tiga hari tanpa makan, kemudian meninggal.
Kami diberitahu oleh Mubarak bin Ali, dia berkata: Ali bin Muhammad bin Al-Allaf memberitahu kami, dia berkata: Abdul Malik bin Bisyran memberitahu kami, dia berkata: Ahmad bin Ibrahim Al-Kindi memberitahu kami, dia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, dia berkata: Abul Fadhl Ar-Rabi’i menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Ubaidillah Al-Utbi menceritakan kepada kami dari orang yang menceritakan kepadanya, dia berkata: Aku melihat seorang wanita bersujud di atas kuburan sambil berkata:
Wahai kuburan, andai engkau memberi syafaatku padanya sekali … lalu mengeluarkannya dari kegelapan kubur dan liang lahat Maka aku akan melihat apakah tanah telah mengubah wajahnya … dan apakah cacing kubur telah merusak liang lahat itu
Aku berkata kepadanya: “Siapa pemilik kubur ini bagimu?” Dia menjawab: “Putra pamanku yang menikahiku, dia tidak pernah kenyang dariku dan aku tidak pernah bosan darinya, hingga tahun yang lalu suku Sulaim menyerang kami dan tidak ada di perkampungan kecuali aku dan dia. Dia keluar untuk melindungi sambil berkata:
Bani Zubaid menuduhku jika aku mengadukan istriku … kelemahan dan larianku ketika pasukan berkuda menyerang Jika aku mati, maka seranglah setiap siang dan malam … dengan kenanganku dan jangan lupa Umaimah, temanku”
Demi Allah, dia terus berperang hingga terbunuh.
Aku berkata: “Sudah berapa tahun usianya?” Dia berkata: “Aku lebih tua darinya dan usiaku sembilan belas tahun. Demi Allah, aku tidak akan mencium aroma dunia lebih dari saat ini.” Aku mengira dia bercanda. Ketika pagi tiba, aku melihat jenazah, lalu aku bertanya tentangnya. Dikatakan kepadaku: “Ini adalah gadis yang berbicara denganmu kemarin di kuburan tentang suaminya.” Demi Allah, sungguh dia telah menepati janji kepada suaminya dan jujur terhadap dirinya sendiri.
Dengan sanad yang sama, dia berkata: Muhammad bin Ja’far menceritakan kepada kami, dia berkata: Ali bin Al-Fadhl Al-Umari menceritakan kepada kami dari Ar-Rabi’ bin Ziyad, dia berkata: Aku melihat seorang gadis di sebuah kuburan sambil berkata:
Dengan jiwaku, seorang pemuda yang paling setia dari seluruh manusia … dan paling kuat di antara mereka dalam kesabaran menghadapi cinta hingga mati
Aku berkata: “Dengan apa dia menjadi yang paling kuat dan paling setia?” Dia berkata: “Dia jatuh cinta, dan keluargaku jika dia terang-terangan dengan cintanya kepadaku, mereka mencela dia, dan jika dia menyembunyikannya, mereka menegurnya. Ketika perkara ini menimpanya, dia mengucapkan dua bait syair dan terus mengulanginya hingga meninggal.” Aku berkata: “Apa itu?” Dia berkata: Ucapannya:
Mereka berkata jika aku terang-terangan, cinta telah mengigitmu … dan jika aku tidak menyatakan cinta, mereka bilang bersabarlah Maka tidak ada jalan bagi yang mencintai dan menyembunyikan cintanya … kecuali mati lalu dimaafkan
Demi Allah wahai orang ini, aku tidak akan beranjak hingga kubur kami bersambung.
Kemudian dia menjerit sekali, lalu para wanita berteriak dan berkata: “Dia telah meninggal, dan Yang memilihkan kematian untuknya adalah yang paling baik.”
Aku tidak pernah melihat yang lebih cepat dan lebih singkat dari perihalnya.
Kami diberitahu oleh Syahdah binti Ahmad, dia berkata: Abu Muhammad bin As-Sarraj memberitahu kami, dia berkata: Abu Thahir Muhammad bin Ali bin Al-Allaf memberitahu kami, dia berkata: Umar bin Ahmad bin Syahin memberitahu kami, dia berkata: Ja’far bin Muhammad Ash-Shofi menceritakan kepada kami, dia berkata: Ahmad bin Muhammad Ath-Thusi memberitahu kami, dia berkata: Al-Qasim bin Yazid menceritakan kepada kami, dia berkata: Muhammad bin Sallam menceritakan kepada kami, dia berkata: Jallad bin Yazid Al-Arqath menceritakan kepada kami, dia berkata: Uwaimir Al-Aqili sangat jatuh cinta kepada putri pamannya yang bernama Riya. Lalu dia dinikahkan dengan seorang lelaki yang membawanya ke negerinya. Kesedihan Uwaimir sangat mendalam dan dia jatuh sakit serta mengigau. Mereka memanggil tabib untuk memeriksanya. Tabib berkata kepadanya: “Beritahu aku apa yang kau rasakan.” Maka dia mengangkat suaranya dan berkata:
Aku merawat rahasia-rahasiamu lalu menutupinya … dengan kain kerahasiaan yang tidak akan robek Aku memiliki dua air mata yang tak henti, satu air mata … yang mengalir dan yang lain karena rindu yang tercekik Dan bagian terbesarku darimu adalah bahwa jika angin berhembus … untukku dari arahmu, aku mencium baunya
Kemudian akalnya hilang, dan dia hanya bertahan beberapa malam hingga meninggal.
Kami diberitahu oleh Muhammad bin Nashir, dia berkata: Mubarak bin Abdul Jabbar memberitahu kami, dia berkata: Abu Muhammad Al-Jauhari memberitahu kami, dia berkata: Ibnu Haiwayh memberitahu kami, dia berkata: Muhammad bin Khalaf memberitahu kami, dia berkata: Abu Bakar Al-Amiri memberitahu kami dari Mush’ab bin Abdullah Az-Zubairi, dia berkata: Malik bin Amr Al-Ghassani menikahi putri paman An-Nu’man bin Basyir. Keduanya sangat jatuh cinta satu sama lain. Malik adalah seorang yang pemberani dan gagah berani. Dia mensyaratkan kepadanya agar tidak berperang jika bertemu musuh karena khawatir dan sayangnya kepada dia. Namun dia menyerang sebuah kabilah dari Lakhm dan terlibat dalam pertempuran sehingga terluka parah. Dia berkata dalam kondisi terluka berat:
Alangkah ingin aku tahu tentang kijang yang kutinggalkan … jika kabar kematianku sampai kepadanya, bagaimana dia akan berbuat Seandainya aku yang ditinggalkan setelahnya … jiwaku tidak akan berhenti berduka untuknya
Dia bertahan sehari semalam kemudian meninggal karena luka-lukanya. Ketika kabar itu sampai kepada istrinya, dia menangis selama setahun, kemudian lidahnya terkunci dan dia berhenti berbicara. Banyak yang melamarnya, lalu paman-pamannya dan wali-walinya berkata: “Nikahkanlah dia, mungkin lidahnya akan terlepas dan kesedihannya hilang, karena dia hanyalah dari kalangan wanita biasa.” Maka mereka menikahkannya dengan salah seorang putra raja yang mengirimkan mahar seribu ekor unta. Ketika malam di mana dia diantar kepadanya, dia berdiri di pintu tenda dan berkata:
Orang-orang berkata mereka menikahkannya agar … dia tenang dan rela setelahnya dengan suami lain Maka aku sembunyikan dalam jiwa yang setelahnya tidak ada … harapan bagi mereka, dan kejujuran adalah ucapan terbaik Setelah putra pamanku, penunggang kuda kaum, Malik … aku dijodohkan dengan suami yang bodoh dan dungu Sahabat-sahabatnya menceritakan kepadaku bahwa Malik … telah bersiap dan memanggil sahabat-sahabatnya untuk berangkat Sahabat-sahabatnya menceritakan kepadaku bahwa Malik … seorang pengguna pedang yang tajam, tidak pengecut Sahabat-sahabatnya menceritakan kepadaku bahwa Malik … dermawan dengan apa yang ada di perkemahan, tidak kikir Sahabat-sahabatnya menceritakan kepadaku bahwa Malik … ringan dalam menghadapi musibah, tidak berat Sahabat-sahabatnya menceritakan kepadaku bahwa Malik … pemberani seperti mata pedang yang tajam dan mengkilat
Abu Bakar Al-Amiri berkata: Musykadanah menceritakan kepada kami, dia berkata: Amr bin Muhammad Al-Abqari menceritakan kepada kami, dia berkata: Seorang syekh yang kupercaya memberitahu kami – dan dia menyebutkan hadits tersebut dan menambahkan: Ketika dia selesai dari syair itu, dia menjerit sekali lalu meninggal.
Kami diberitahu oleh Syahdah binti Ahmad, dia berkata: Ja’far bin Ahmad bin As-Sarraj memberitahu kami, dia berkata: Abul Husain Muhammad bin Muhammad Al-Warraq memberitahu kami, dia berkata: Abul Husain Ali bin Al-Husain Ash-Shofi yang dikenal dengan Rabbah menceritakan kepadaku, dia berkata: Salah seorang temanku menceritakan kepadaku bahwa dia memasuki salah satu rumah sakit di Baghdad, lalu dia melihat seorang pemuda tampan berpakaian bersih duduk di atas tikar bersih, di sebelah kirinya ada bantal bersih, di tangannya ada kipas, dan di sampingnya ada tempat air. Dia berkata: “Aku memberi salam kepadanya, dia membalas salam dengan sangat baik. Aku berkata kepadanya: ‘Apakah ada yang kau butuhkan?’ Dia berkata: ‘Ya, aku ingin dua potong roti dengan halusah (makanan manis) di atasnya.’ Maka aku pergi dan membawakan itu untuknya dan duduk di hadapannya hingga dia makan. Kemudian aku berkata kepadanya: ‘Apakah masih ada yang kau butuhkan?’ Dia berkata: ‘Ya, dan kupikir engkau mampu melakukannya.’ Aku berkata: ‘Sebutkan, mudah-mudahan Allah memudahkannya.’ Dia berkata: ‘Pergilah ke Nahr Ad-Dajaj, gang Ahmad Ad-Dahqan, ke sebuah rumah di mulut gang Al-Ghaflah, ketuklah pintu dan katakan: Si Fulan berkata kepadaku:
Sampaikan kepada kekasih dan katakan kepadanya … orang gilamu, siapa yang akan menyembuhkannya?‘”
Dia berkata: “Maka aku pergi dan bertanya tentang gang dan lorong itu, lalu ditunjukkan kepadaku. Aku mengetuk pintu, keluarlah seorang nenek tua. Aku sampaikan pesan itu, lalu dia masuk dan hilang dariku sesaat, kemudian keluar dan berkata:
Kembalilah kepadanya dan katakan kepadanya … atas kalian siapa yang akan menyembuhkannya
Aku kembali kepada pemuda itu dan memberitahu jawabannya. Dia menjerit sekali lalu meninggal. Aku kembali kepada orang-orang itu untuk memberitahu mereka tentang hal itu, lalu kudapati tangisan di rumah itu dan gadis itu telah meninggal.” – atau sebagaimana yang dia katakan.
Kami diberitahu oleh Mubarak bin Ali, dia berkata: Abu Ali Muhammad bin Muhammad Al-Mahdi memberitahu kami, dia berkata: Abul Hasan Ahmad bin Al-Atiq memberitahu kami, dia berkata: Abu Bakar bin Syazan memberitahu kami, dia berkata: Abu Bakar bin Abil Azhar menceritakan kepada kami, dia berkata: Ar-Riyasyi berkata, Ibnu Aisyah berkata: Seorang lelaki jatuh cinta kepada putri pamannya. Dia berkata: “Orang-orang telah banyak membicarakan tentang kita, seandainya engkau membawa kita keluar dari negeri ini.” Dia berkata: “Maka dia membawanya keluar, dan saudara laki-lakinya keluar menyusul mereka. Dia tidak melewatkan tempat kecuali dikatakan kepadanya: ‘Mereka telah singgah dan berangkat lagi,’ hingga dia tiba di suatu tempat dan dikatakan kepadanya: ‘Mereka singgah di mata air ini, lalu wanita itu sakit dan meninggal, maka kami menguburkannya, kemudian lelaki itu datang ke kuburannya menangis lalu pergi.’ Dia terus begitu hingga meninggal dan dikuburkan di sampingnya. Inilah keduanya.”
Maka dia mulai berkata:
Bangunlah wahai Murr, sesungguhnya cinta adalah teman setia terburuk … atau matilah jika engkau tidak mampu Sungguh cinta telah membawa Laila hingga menempatkannya … di Baradzan, sebuah kubur yang tidak terlalu dalam Di antara orang-orang mati kami, dikuburkan seorang wanita asing … maka jangan jauh wahai pemilik cinta dan kerinduan
Kami diberitahu oleh Abdul Wahhab bin Al-Mubarak, dia berkata: Ahmad bin Al-Hasan bin Khairun memberitahu kami, dia berkata: Abu Ath-Thayyib Ath-Thabari memberitahu kami, dia berkata: Al-Muafa bin Zakariya memberitahu kami.
Dan Syahdah memberitahu kami, dia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahu kami, dia berkata: Abu Thahir bin Al-Allaf memberitahu kami, dia berkata: Umar bin Ahmad bin Syahin memberitahu kami, keduanya berkata: Ja’far bin Muhammad Al-Khawwash menceritakan kepada kami, dia berkata: Abul Abbas bin Masruq menceritakan kepada kami, dia berkata: Fadhl Al-Yazidi menceritakan kepada kami, dia berkata: Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepada kami bahwa Al-Mahdi bin Amr Al-Hilali berkata: Aku menyaksikan Abu Yahya At-Taimi berkata: “Seorang pemuda dari kalangan ahli zuhud yang bernama Abul Hasan biasa pergi bersama kami kepada Mas’ar bin Kidam. Bersamanya pergi seorang pemuda tampan yang memukau orang-orang jika melihatnya. Orang-orang banyak membicarakan tentangnya dan persahabatannya dengannya. Keluarganya melarangnya untuk menemaninya dan berbicara dengannya. Maka akalnya terganggu hingga dikhawatirkan dia akan binasa. Hal itu sampai kepada Mas’ar, lalu dia berkata: ‘Katakan kepadanya jangan mendekatiku dan jangan datang ke majelisitku karena aku tidak menyukainya.’ Aku bertemu dengannya dan memberitahu hal itu, maka dia menghela napas panjang kemudian berkata:
Wahai yang keindahan bentuknya yang menakjubkan … menarik kendali pandangan kepadanya Aku mendapat darimu seperti yang semua orang dapatkan … pandangan dan salam di jalan Tetapi mereka beruntung dengan keamanan mereka … dan aku celaka ketika melihatmu karena perpisahan
Kemudian dia berteriak sekali, matanya menatap ke langit dan jatuh. Aku menggerakkannya, ternyata dia sudah meninggal.
Muhammad bin Abdul Baqi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abul Qasim Ali bin Al-Muhsin mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Umar bin Haiwayah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Khalaf mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Al-Amiri mengabarkan kepadaku, ia berkata: Sulaiman bin Ar-Rabi’ Al-Kadhi mengabarkan kepadaku, ia berkata: Abdul Aziz bin Al-Majasyun menceritakan kepada kami dari Ayyub dari Ibnu Sirin, ia berkata: Abdullah bin Ajlan adalah kekasih Hind binti Ka’b bin Amru. Ia jatuh cinta kepadanya hingga sakit parah sampai sangat kurus. Keluarganya tidak mengetahui apa yang dideritanya. Seorang wanita tua masuk menemuinya dan berkata: “Sesungguhnya orang kalian ini sedang jatuh cinta. Sembelihlah seekor kambing untuknya, bawalah kepadanya, dan sembunyikan jantungnya.” Mereka melakukannya dan membawakan makanan kepadanya. Ia mulai mengangkat sepotong daging dan meletakkan yang lain, kemudian berkata: “Apakah kambing kalian tidak punya jantung?”
Saudaranya berkata: “Tidakkah kulihat engkau sedang jatuh cinta, namun engkau tidak memberitahu kami?”
Sampailah kepadaku, dan Allah lebih mengetahui, bahwa setelah itu ia berkata kepada mereka: “Ah,” lalu meninggal dunia.
Syahdah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad bin As-Sarraj mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Umar bin Haiwayah menyebutkan dalam apa yang kunukil dari tulisan tangannya, ia berkata: Muhammad bin Khalaf menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Husain bin Ja’far menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad Al-Abdi menceritakan kepadaku, ia berkata: Sulaiman bin Ali Al-Hasyimi menceritakan kepadaku bahwa Ali bin Salih bin Dawud menyebutkan dari seorang budak wanita penyanyi yang condong kepadanya karena cinta dan ketertarikan. Wanita itu terkenal pandai bersastra dan pandai berpuisi. Pada suatu hari ia hadir di tempat salah seorang penduduk Bashrah. Ketika wanita itu melihatnya, ia berkata: “Kehidupan kami menyenangkan pada hari ini.” Namun ia tidak menoleh kepadanya. Maka wanita itu menulis di sebuah sapu tangan:
Mudah-mudahan siapa yang membuatmu menderita karena cintamu, wahai pemuda, Akan mengembalikanmu kepadaku suatu hari pada masa yang paling baik
Kemudian ia mengalihkan perhatian orang-orang di majelis itu dan melemparkan sapu tangan kepadanya.
Ia berkata: “Tidak lama setelah aku membaca puisi itu, aku merasakan dalam hatiku sesuatu tentangnya seperti api. Maka aku berdiri dan pulang karena takut malu. Kemudian aku terus berusaha membelinya tanpa ia ketahui, namun hal itu sulit. Akhirnya aku memberitahukan kepadanya apa yang telah kuputuskan untuk membelinya. Ia membantuku dalam hal itu hingga aku memilikinya. Aku tidak lebih mementingkan siapa pun dari istri dan keluargaku atas dirinya, dan tidak ada sesuatu di sisiku yang sebanding dengannya. Kemudian ia meninggal dunia. Aku tidak memiliki kehidupan dan tidak ada kegembiraan. Demi Allah, ia tidak bertahan setelah perkataan ini kecuali beberapa hari hingga meninggal karena kesedihan dan duka cita atasnya, lalu ia dikubur di sampingnya.”
Syahdah binti Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad bin As-Sarraj mengabarkan kepada kami, dan Ibnu Al-Husain mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Abu Muhammad Al-Hasan bin Isa bin Al-Muqtadir Billah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abul Abbas Ahmad bin Manshur Al-Yasykuri mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abul Qasim Ash-Shaigh mengabarkan kepada kami dengan sanadnya dari Ibnu Al-Asydaqq, ia berkata: Aku sedang thawaf mengelilingi Ka’bah, lalu aku melihat seorang pemuda di bawah Miqat yang memasukkan kepalanya ke dalam selimutnya, mengerang seperti orang yang demam. Aku memberi salam dan ia membalasnya, kemudian berkata: “Dari mana engkau?” Aku menjawab: “Dari Bashrah.” Ia berkata: “Dan akan kembali ke sana?” Aku menjawab: “Ya.” Ia berkata: “Jika engkau masuk ke Nabbaj, keluarlah ke perkampungan itu kemudian panggillah ‘Wahai Hilal!’ Akan keluar kepadamu seorang budak wanita, bacakan kepadanya bait ini:
Aku dulu berharap ajalku berada di matamu, Sehingga engkau melihat orang yang mati karena cinta
Lalu ia meninggal di tempat itu.
Ketika aku masuk ke Nabbaj, aku datang ke perkampungan itu dan memanggil: “Wahai Hilal! Wahai Hilal!” Keluarlah kepadaku seorang budak wanita yang tidak pernah kulihat yang lebih cantik darinya. Ia berkata: “Apa yang ada di belakangmu?” Aku menjawab: “Seorang pemuda di Makkah membacakan kepadaku bait ini.” Ia bertanya: “Apa yang terjadi padanya?” Aku menjawab: “Ia meninggal.” Maka ia jatuh tersungkur di tempat itu dalam keadaan meninggal.
Muhammad bin Abdul Baqi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abul Qasim At-Tanukhi dan Abu Muhammad Al-Jauhari keduanya dari Abu Abdullah Al-Marzbani mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu Duraid mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Abbas bin Al-Faraj Ar-Riyasyi mengabarkan kepada kami dari Muhammad bin Salam, ia berkata: Sebagian penduduk Kufah menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku berhaji lalu aku melihat seorang wanita sebelum Faid dan ia berkata:
Maka jika kalian memukul punggung dan perutku keduanya, Maka tidak ada bagi hati di antara kedua rusukku yang memukul
Aku bertanya tentangnya, maka dikatakan: “Ia seorang yang jatuh cinta.”
Kemudian aku kembali pada tahun berikutnya, dan ternyata ia telah berubah warnanya meski masih cantik, dan ia berkata:
Maka jika Isa telah mematuhi musuh-musuh karena diriku, Maka tidak, demi ayahnya, aku tidak mematuhi musuh-musuhku Mereka berkata kepadaku: “Ia seorang budak, maka janganlah engkau mendekatinya,” Demi hidup ayahku, sesungguhnya aku mencintai para budak
Kemudian aku kembali pada tahun ketiga, ternyata ia terbelenggu dan kehilangan akalnya, dan ia berkata:
Wahai Thalhah, para penggembala, naunganmu sejuk, Dan airmu segar, mudah ditelan bagi yang minum
Kemudian aku bertanya tentangnya setelah itu, maka aku diberitahu bahwa ia telah meninggal.
Syahdah binti Ahmad Al-Ibriy mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad Ja’far bin Ahmad Al-Qari’ mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Muhammad bin Ahmad Al-Ardustani mengabarkan kepada kami dengan bacaanku kepadanya di Makkah di Bab An-Nadwah, ia berkata: Abul Qasim Al-Hasan bin Muhammad bin Habib mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abul Fadhl Ja’far bin Muhammad Nasaf menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ya’la Muhammad bin Malik Ar-Raqqi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Abdul Aziz As-Samiri menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku melewati Dair Hizqil bersama seorang temanku. Ia berkata: “Apakah engkau mau masuk melihat orang-orang gila yang tampan di dalamnya?” Aku menjawab: “Terserah kamu.” Maka kami masuk dan ternyata ada seorang pemuda tampan wajahnya, rapi rambutnya, bercelak matanya, alisnya melengkung seperti bulu sayap burung nasar yang mencuat dari kelopak matanya, dan padanya ada kemolekan yang melampaui kemanisan, terikat dengan rantai ke dinding.
Ketika ia melihat kami, ia berkata: “Selamat datang rombongan! Semoga Allah mendekatkan yang jauh dari kalian. Demi ayahku, kalian!”
Kami menjawab: “Dan engkau juga. Semoga Allah memberi manfaat kepada orang khusus dan umum dengan kedekatanmu, dan menghibur kumpulan orang-orang yang mulia dengan kehadiranmu, dan menjadikan kami dan seluruh orang yang mencintaimu sebagai tebusanmu.”
Ia berkata: “Semoga Allah membalas dengan baik atas perkataan yang indah sebagaimana ia menguasai balasanku kepada kalian berdua.”
Kami berkata: “Apa yang engkau lakukan di tempat ini yang engkau lebih pantas berada di tempat lain?”
Ia menjawab:
Allah mengetahui bahwa aku berduka cita, Aku tidak mampu mengungkapkan apa yang kurasakan Dua ruh bagiku, satu ruh tertahan dalam suatu negeri, Dan yang lainnya dikuasai oleh negeri lain Adapun yang menetap, tidak bermanfaat baginya kesabaran, Dan tidak ada ketabahan di dekatnya Dan kukira yang tidak hadir sepertiku yang hadir, Di tempatnya ia menemukan apa yang kutemukan
Kemudian ia menoleh kepada kami dan berkata: “Apakah aku baik?” Kami menjawab: “Ya,” dan kami pergi. Ia berkata: “Demi ayahku, kalian! Betapa cepatnya kalian bosan! Demi Allah, berikanlah kepadaku pemahaman dan perhatian kalian.” Kami berkata: “Silakan.” Ia berkata:
Ketika mereka menurunkan unta-unta mereka menjelang subuh, Dan membawanya pergi, maka berjalanlah dengan cinta unta-unta itu Ia membalikkan pandangannya dari balik gorden, Menatapku dan air mata mengalir deras Ia memberi isyarat perpisahan dengan jari-jarinya yang lembut, Aku berteriak: Semoga kakimu tidak membawa, wahai unta! Celakalah aku dari perpisahan! Apa yang menimpaku dan dia? Wahai yang jauh rumahnya, perpisahan terjadi maka berangkatlah Wahai pengendara unta, singgahlah agar aku berpamitan padanya, Wahai pengendara unta, dalam kepergianmu adalah ajal Sesungguhnya aku pada janji, tidak kuingkari cinta kalian, Semoga aku tahu, dan janji sudah panjang, apa yang mereka lakukan
Maka kami berkata tanpa mengetahui hakikat apa yang ia gambarkan dengan bercanda: “Mereka meninggal.” Maka ia berkata: “Aku bersumpah kepada kalian, apakah mereka meninggal?” Kami menjawab: “Perhatikan apa yang engkau lakukan. Ya, mereka meninggal.” Ia berkata: “Sesungguhnya demi Allah, aku akan mati menyusul mereka.” Kemudian ia menarik dirinya di dalam rantai dengan tarikan yang membuat lidahnya menjulur, matanya melotot, dan bibirnya memancarkan darah. Ia menggelinjang sejenak kemudian meninggal. Aku tidak melupakan penyesalan kami atas apa yang telah kami lakukan.
Kisah ini telah diriwayatkan kepada kami dengan cara lain.
Syahdah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Ali Al-Hasan bin Muhammad bin Isa mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abul Hasan Ahmad bin Muhammad bin Al-Qasim bin Marzuq mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Ali Al-Baghdadi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Yahya menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ismail menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarrad menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku keluar bersama sekelompok temanku bersama Al-Makmun. Ketika kami mendekati Raqqah, ternyata ada biara besar. Salah seorang temanku mendekatiku dan berkata: “Mari kita ke biara ini untuk melihat siapa yang ada di dalamnya dan bersyukur kepada Allah Subhanahu atas keselamatan yang diberikan kepada kami.” Ketika kami masuk ke biara, kami melihat orang-orang gila terbelenggu dan mereka dalam keadaan sangat kotor. Di antara mereka ada seorang pemuda mengenakan pakaian bagus. Ketika ia melihat kami, ia berkata: “Dari mana kalian datang, wahai para pemuda? Semoga Allah melindungi kalian.” Kami menjawab: “Kami dari Irak.” Ia berkata: “Demi ayahku, Irak dan penduduknya! Demi Allah, bacakanlah puisi untuk kami atau kami yang akan membacakan untuk kalian.” Al-Mubarrad berkata: “Demi Allah, puisi dari orang ini pasti menarik.” Maka kami berkata: “Bacakan untuk kami.” Ia mulai membaca:
Allah mengetahui bahwa aku berduka cita, Aku tidak mampu mengungkapkan apa yang kurasakan Dua ruh bagiku, satu ruh tertahan dalam suatu negeri, Dan yang lainnya dikuasai oleh negeri lain Dan kulihat yang menetap tidak bermanfaat baginya kesabaran, Dan tidak mampu ia dengan ketabahan Dan kukira yang tidak hadir sepertiku yang hadir, Di tempatnya ia menemukan apa yang kutemukan
Al-Mubarrad berkata: “Sesungguhnya ini menarik, demi Allah! Tambahkan untuk kami.” Ia mulai membaca:
Ketika mereka menurunkan unta-unta mereka menjelang subuh, Dan membawanya pergi, maka bergolak karena cinta unta-unta itu Ia membalikkan pandangannya dari balik gorden, Menatapku dan air mata mengalir deras Dan ia memberi isyarat perpisahan dengan jari-jarinya yang lembut, Aku berteriak: Semoga kakimu tidak membawa, wahai unta! Celakalah aku dari perpisahan! Apa yang menimpaku dan dia? Dari yang turun perpisahan, perpisahan datang dan berangkatlah Wahai pengendara unta, singgahlah hingga kami berpamitan padanya, Wahai pengendara unta, dalam kepergianmu adalah ajal Sesungguhnya aku pada janji, tidak kuingkari cinta mereka, Semoga aku tahu untuk panjangnya janji, apa yang mereka lakukan
Seorang laki-laki dari orang-orang yang membenci yang bersama kami berkata: “Mereka meninggal.” Ia menjawab: “Kalau begitu aku akan mati.” Ia lalu merenggangkan tubuhnya dan bersandar pada tiang tempat ia diikat, dan kami tidak beranjak hingga menguburkannya.
Syahdah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Qadhi Abul Husain Ahmad bin Ali At-Tauzi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ubaidullah bin Ahmad Al-Jaradi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ja’far mengabarkan kepada kami.
Dan Al-Husain bin Muhammad bin Thahir Ad-Daqqaq mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abul Hasan Ahmad bin Muhammad bin Al-Muktafi Billah mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Ibnu Duraid menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman mengabarkan kepada kami dari pamannya dari Yunus, ia berkata: Aku pulang dari haji lalu melewati Mawiyah. Aku mempunyai seorang teman di sana dari Bani Amir bin Sha’sha’ah. Aku mendatanginya untuk memberi salam dan ia memberiku tempat menginap. Sementara aku bersamanya dan kami duduk di halaman rumahnya, tiba-tiba ada para wanita yang gembira dan mereka berkata: “Ia berbicara! Ia berbicara!” Aku bertanya: “Apa ini?” Mereka menjawab: “Seorang pemuda dari kami yang jatuh cinta pada anak perempuan pamannya. Wanita itu menikah dan dibawa ke wilayah Hijaz. Ia berbaring di tempat tidurnya sejak setahun yang lalu dan tidak berbicara.” Aku berkata: “Aku ingin melihatnya.” Ia berdiri dan aku berdiri bersamanya. Kami berjalan tidak jauh dan ternyata ada seorang pemuda terbaring di halaman salah satu rumah itu, tidak tersisa darinya kecuali bayangan. Orang tua itu merebahkan diri di atasnya dan menanyainya, sementara ibunya berdiri. Ia berkata: “Wahai Malik, ini pamanmu Abu Fulan menjengukmu.” Ia membuka matanya dan mulai membaca:
Biarlah hari ini aku ditangisi oleh orang-orang yang penuh kasih dan kepedulian, Tidak tersisa dari jiwaku sesuatu selain sisa napas Hari ini adalah akhir janjiku dengan kehidupan, maka sesungguhnya, Aku telah terbebas dari belenggu kesedihan dan kegelisahan
Kemudian ia mendesah panjang dan ternyata ia meninggal. Orang tua itu berdiri dan aku berdiri, lalu aku kembali ke kemahnya. Ternyata ada seorang wanita gemuk yang menangis dan bersedih. Orang tua itu berkata: “Mengapa engkau menangis?” Ia mulai membaca:
Tidakkah aku menangis untuk orang yang menderita yang jiwanya telah terkuras, Lama kesakitan dan tubuhnya telah sangat kurus karena duka cita Wahai kiranya yang berada di belakang hati yang kalut karenanya, Ada padaku agar aku mengadukan kepadanya sebagian dari apa yang kurasakan Apakah angin menyampaikan kepadaku aroma dari tanahmu, Ataukah engkau berada di tempat sihir dan hati digantung?
Kemudian ia merebahkan diri di atas perutnya dan berteriak, dan ternyata ia meninggal.
Yunus berkata: “Aku berdiri dari tempat orang tua itu dan aku terluka.”
Syahdah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad bin As-Sarraj mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abul Husain Al-Madaini menyebutkan dari Muhammad bin Shalih Ats-Tsaqafi bahwa salah seorang Badui jatuh cinta pada seorang budak wanita dari sukunya. Ia biasa berbicara dengannya. Ketika keluarganya mengetahui tempatnya dan majelisnya dengan wanita itu, mereka membawanya pergi. Ia mengikuti mereka sambil memandangi mereka, hingga mereka menyadari kehadirannya. Ketika ia tahu bahwa ia telah diketahui, ia pulang sambil berkata:
Rombongan telah pergi maka mereka menyakitkan hatiku, Cukuplah bagiku apa yang telah mereka wariskan, cukup bagiku Jika kalian menulis, kami akan menulis, dan jika kalian tidak menulis, Surat-suratku akan datang kepada kalian di tempat kalian Sungguh-sungguh kepergian itu dan ia adalah perpisahan di antara kami, Tidak diragukan bahwa aku akan mengakhiri ajalku
Ia berkata: Kemudian ia berdiri di atas bukit memandang mereka yang pergi. Ketika mereka menghilang dari pandangannya, ia jatuh dalam keadaan meninggal.
Syahdah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Ali bin Syazan menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad menceritakan kepadaku, ia berkata: Ahmad bin Sulaiman at-Thusi menceritakan kepada kami, ia berkata: az-Zubair bin Bakkar menceritakan kepada kami, ia berkata: Harun Abu Musa menceritakan kepadaku, ia berkata: Musa bin Ja’far dan Abdul Malik bin al-Majisyun menceritakan kepadaku bahwa Yazid bin Abdul Malik ketika menguburkan Habibah, ia pulang dan tidak keluar dari rumahnya hingga ia keluar dalam keranda.
Dalam riwayat lain bahwa Yazid bin Abdul Malik berkata: Sesungguhnya ada orang-orang yang mengira tidak ada seorang pun yang hidupnya bersih dari pagi hingga malam tanpa ada yang mengotorinya. Saya akan mencoba itu.
Kemudian ia berkata kepada orang-orang yang bersamanya: Jika besok tiba, jangan memberitahuku apa pun dan jangan ada surat yang datang kepadaku.
Ia menyendiri bersama Habibah lalu mereka dibawakan makanan. Habibah memakan buah delima lalu tersedak oleh satu bijinya dan meninggal. Yazid tetap tidak menguburkannya hingga jasadnya berubah dan membusuk sementara ia mencium dan menciumnya. Orang-orang menegurnya atas hal itu, lalu ia mengizinkan untuk memandikannya dan keluar bersamanya. Ketika ia dikuburkan, ia berkata: Demi Allah, aku telah menemani sebagaimana yang dikatakan Kutsayyir:
Jika jiwamu bertanya tentangmu atau kau tinggalkan masa muda Maka dengan putus asa engkau akan melupakanmu, bukan dengan ketabahan
Ia hanya bertahan lima belas malam hingga dikuburkan di sampingnya.
Dalam riwayat lain, ia bertahan empat puluh hari dan suatu hari keluar lalu berkata: Gali kuburnya agar aku dapat melihatnya. Dikatakan kepadanya: Ini akan menjadi perbincangan orang. Maka ia diam.
Al-Ashfahani meriwayatkan dari al-Mada’ini bahwa ia memerintahkan untuk menggali kuburnya setelah tiga hari, maka digalilah dan wajahnya dibukakan untuknya, sudah berubah dengan perubahan yang buruk. Dikatakan kepadanya: Tidakkah kau lihat bagaimana ia menjadi? Ia berkata: Aku tidak pernah melihatnya lebih cantik dari hari ini. Keluarkan dia.
Mereka terus membujuknya hingga ia diam.
Kemudian ia meninggal setelah kejadian itu.
Syahdah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu al-Husain bin at-Tauzi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Muhammad ar-Rasafi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Kamil menceritakan kepada kami, ia berkata: Musa bin Hammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah al-Adawi menceritakan kepadaku, ia berkata: Al-Husain menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar ayahku berkata: Aku mendengar Mush’ab berkata: Aku membaca di dua papan yang tertulis di atasnya pada dua kuburan:
Apakah penglihatanku tertutup darimu dalam cinta ataukah engkau manusia yang paling sempurna kecantikannya Dan pembicaraan yang kulezatkan adalah dari apa yang digambarkan oleh para penggambaran ditimbang dengan timbangan
Dan aku melihat seorang wanita di dekat dua kuburan tersebut berkata: Dengan ayahku, dunia tidak membuatmu menikmati kesenangannya, aku menitipkan dirimu pada yang telah memberikanmu kepadaku kemudian merampasmu kembali dengan sangat senang aku bersamamu. Aku berkata kepadanya: Siapa ini? Ia berkata: Anakku dan ini anak pamannya, ia dijodohkan dengannya, malam ia dibawa kepadanya ia diserang sakit yang merenggut nyawanya lalu ia meninggal, hati anakku pun pecah dan rohnya menyusul rohnya, maka aku menguburkan mereka berdua dalam satu waktu.
Aku berkata: Siapa yang menulis dua bait ini? Ia berkata: Aku. Ia sering sekali mengulang-ulangnya. Aku berkata: Kau dari suku mana? Ia berkata: Fazariyah. Aku berkata: Siapa yang mengatakannya? Ia berkata: Malik bin Asma’ bin Kharijah bin Hushain mengatakannya untuk istrinya Habibah binti Abi Jundub al-Anshari.
Kemudian ia berkata: Dan dialah yang mengatakan:
Wahai tempat turunnya hujan setelah mereka putus asa, wahai pelindung atas nikmat dan karunia Terjadilah apa yang Engkau kehendaki terjadi dan apa yang Engkau takdirkan tidak terjadi, tidak akan terjadi Seandainya Engkau menghendaki ketika cintanya adalah keadaan, tidak Engkau perlihatkan kepadaku wajahnya dan tidak ia melihatku Wahai tetangga kampung, dahulu kau adalah ketenanganku ketika tidak semua tetangga adalah ketenangan Aku menyebut dari tetanggaku kebaikannya, cara-cara dari pembicaraannya yang baik Dan dari pembicaraan yang menambahku kecintaan, tidak ada untuk pembicaraan orang yang dicela dari harga
Ia berkata: Lalu aku menulisnya kemudian ia berdiri dan pergi.
Sampai kepadaku dari al-Haitsam bin Adi bahwa ia menceritakan dari seorang laki-laki dari Bani Nahd, ia berkata: Ada seorang laki-laki dari kami yang disebut Murrah yang menikahi anak pamannya yang cantik yang disebut Laila dan ia sangat tergila-gila padanya. Lalu ia terkena wajib militer ke Khurasan, ia tidak suka berpisah dengannya dan hal itu sangat berat baginya namun ia tidak menemukan jalan lain. Ia menitipkannya kepada seorang laki-laki dari kaumnya di Baradzan. Ia berperang kemudian buru-buru pulang. Ketika sampai di Baradzan ia duduk dekat istana dan tidak suka masuk di siang hari. Keluarlah dari istana seorang budak perempuan, ia berkata kepadanya: Apa kabar wanita yang kutitipkan pada kalian? Ia berkata: Tidakkah kau lihat kuburan baru itu, itu kuburannya. Ia tidak percaya hingga keluar yang lain lalu ia bertanya, ia mengatakan seperti itu. Ia mendatangi kuburan lalu menangis dan berguling-guling di atasnya sambil berkata:
Wahai kuburan Laila, seandainya kami menyaksikanmu, akan menangisi dirimu para wanita dari yang fasih dan yang ajam Wahai kuburan Laila, tidaklah kau mengandung sepertinya, yang serupa dengan Laila dalam kesopanan dan kemuliaan Wahai kuburan Laila, muliakanlah tempatnya, akan menjadi bagimu selama kami hidup atasnya nikmat Wahai kuburan Laila, sesungguhnya Laila adalah orang asing di Baradzan, tidak menyaksikanmu paman dan anak paman
Ia terus menangis hingga meninggal lalu dikuburkan di sampingnya.
Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu al-Qasim Ali bin al-Muhsin memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Umar bin Haiwiyah memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Khalaf memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Musa mengabarkan kepadaku dari Sa’id bin Abdullah bin Maisarah, ia berkata: Seorang syekh dari penduduk Syam menceritakan kepadaku, ia berkata: Seorang pemuda menemaniku dalam salah satu perjalananku dan aku sering mendengarnya melantunkan bait-bait ini:
Ketahuilah bahwa takwa adalah kendaraan yang berjalan malam, dan meraih orang yang berjalan di malam hingga ia tidak tidur Dalam persahabatan takwa ada kecukupan dan kekayaan, dan dalam persahabatan hawa nafsu ada kehinaan dengan penyesalan Maka jangan berteman dengan hawa nafsu dan tinggalkan kekasihnya, jadilah untuk takwa sebagai teman dan jadilah dalam takwa sebagai penanda
Aku berkata kepadanya suatu hari: Apa bait-bait ini yang kusering mendengarmu melantunkannya? Ia tertawa dan berkata: Mengapa kau bertanya kepadaku tentangnya? Aku berkata: Karena aku melihatmu sering melantunkannya, maka aku ingin tahu dari ucapanmu siapa yang mengatakannya. Ia berkata: Bukan, tetapi dari ucapan saudaraku dan ia memiliki cerita yang menakjubkan. Aku berkata kepadanya: Ceritakanlah kepadaku. Ia berkata: Baik.
Aku memiliki seorang saudara dan aku mencintainya dengan cinta yang tidak ada setelahnya. Kami bertahan dengan hal itu untuk beberapa waktu, ia menekuni hadits, fikih, dan adab. Aku tidak pernah melihat pemuda yang dengan takwa lebih jenaka darinya.
Ia berkata: Kemudian ia berubah dari sebagian hal yang biasa kukenal darinya berupa kejenakaan, kegembiraan, dan kebaikan pembicaraan. Ketika aku melihat hal itu darinya, aku sedih dan mengingkarinya. Aku menyendiri dengannya suatu hari lalu berkata: Wahai saudaraku, apa kisahmu dan apa keadaanmu dan apa yang menimpamu? Beritahukan kepadaku, jika itu dari urusan akhirat aku akan senang dengannya, dan jika dari urusan dunia aku akan membantumu. Ia berkata: Demi Allah wahai saudaraku, ini bukan dari urusan akhirat tetapi dari urusan dunia, dan aku tidak akan menampakkannya hingga urusan mencapai akhirnya dan keluar dari tanganku dan aku tidak mampu mengembalikannya. Ia berkata: Ia terus-menerus melantunkan bait-bait ini:
Ketahuilah bahwa takwa adalah kendaraan yang berjalan malam…
Ia berkata: Maka besarlah bagiku apa yang menimpanya dan hatiku disibukkan, ia diambil seperti kelalaian dan berkata di beberapa waktu: Tuhanku, jangan cabut dariku agamaku dan jangan fitnah aku setelah Engkau membimbingku.
Aku berkata dalam hatiku: Tidaklah aku melihatnya kecuali telah dikuasai oleh bisikan dari setan maka ia takut. Ia bertahan dengan hal itu untuk beberapa waktu, tidak bertambah kecuali kurus. Keluarganya mulai bertanya kepadaku lalu aku berkata: Demi Allah, pengetahuanku tentangnya hanya seperti pengetahuan kalian. Sungguh aku telah bertanya kepadanya tentang keadaannya tetapi ia tidak memberitahuku apa pun.
Urusannya semakin berat lalu ia jatuh di ranjang. Orang-orang datang menjenguknya dan para dokter masuk kepadanya, sebagian berkata: TBC, dan sebagian berkata: Kesedihan. Ucapan-ucapan tentang urusannya berbeda-beda pada kami. Ia tidak berbicara dengan sesuatu lebih banyak dari ucapannya:
Ketahuilah bahwa takwa adalah kendaraan yang berjalan malam, dan meraih orang yang berjalan di malam hingga ia tidak tidur
Ia berkata: Urusannya terus berlanjut hingga akalnya dikuasai dan tempatnya menyempit, maka kami memasukkannya ke sebuah rumah. Ia berteriak sepanjang malam, jika ia lelah berteriak ia merintih sebagaimana orang yang sangat lemah dari sakitnya merintih. Mereka menyarankan kepada kami untuk membebaskannya dan berkata: Jika kalian membebaskannya ia akan senang dan lega. Maka kami bebaskan ia. Jika pagi ia keluar lalu duduk di depan pintu rumahnya. Setiap orang yang lewat ia bertanya kepadanya: Ke mana kau pergi? Ia berkata: Aku pergi ke tempat begini dan begini. Ia berkata: Pergilah dengan terjaga, seandainya jalanmu sesuai keinginan kami, kami telah mengantarmu dengan ucapan.
Ia berkata: Salah seorang sahabatnya lewat, ia berkata: Ke mana kau pergi? Ia berkata: Pergi ke mana yang kau suka, apakah kau punya keperluan? Ia berkata: Ya. Ia berkata: Apa itu? Ia berkata:
Kau sampaikan salam kepada kekasih sebagai penghormatan, dan kau sampaikan kepadanya dengan panjangnya penyakit Dan kau katakan kepadanya bahwa takwa telah mengekang hawa nafsu ketika ia naik dengan tergesa-gesa dengan tali kekang
Ia berkata: Aku akan melakukannya insya Allah. Ia berkata: Ia pergi dan tidak lebih cepat dari kembalinya lalu berkata: Aku telah menyampaikan pesanmu kepada orang-orang. Ia berkata: Apa yang mereka katakan? Ia berkata: Mereka berkata:
Jika takwa kepada Allah mengekangmu untuk mendapatkan perkara-perkara yang dilarang darinya maka itu adalah haram Maka kunjungilah kami agar kami penuhi dari pembicaraan yang memuaskan hasrat dan menyembuhkan jiwa-jiwa yang mengancam dengan penyakit
Ia berkata: Ia bangkit berdiri kemudian mulai berkata:
Katakanlah selain ini dan di dalamnya untuk pemilik cinta adalah kesembuhan, dan terkadang pemuda dilupakan oleh pencinta sejati Jika putus asa menempati hati, tangisan tidak bermanfaat, dan apakah bermanfaat bagi yang dicintai air mata pencinta
Ia berkata: Ia pergi dan aku berdiri di belakangnya lalu berkata kepada keluarganya: Jangan ada yang mengikutiku. Aku mengikutinya hingga ia sampai ke rumah seorang laki-laki dari ahli keutamaan, pendapat, dan agama. Ia memiliki seorang putri dari wanita-wanita tercantik. Ia berdiri di pintu lalu berkata:
Inilah aku telah datang mengadukan kerinduan dan memberitahu kalian tentang apa yang kulalui dari cinta Dan aku menampakkan salam kepada kalian agar kalian tahu bahwa aku penyambung kemudian itu adalah keperluanku dari kalian
Ia berkata: Ketika aku memahami kisahnya dan aku khawatir ada yang menyusulku atau ada yang mengenalinya atau memahami kisahnya, aku keluar kepadanya lalu berkata: Apa dudukmu di pintu orang-orang padahal mereka tidak mengizinkanmu? Ia berkata: Bahkan sudah. Aku berkata: Bagaimana sedangkan mereka berkata:
Demi Allah Tuhanmu jangan lewat di pintu kami, sesungguhnya kami takut ucapan orang-orang yang iri Dan tinggalkanlah teguran dan pengingatan, sesungguhnya itu dipindahkan darimu oleh orang-orang mulia yang penjenguk
Ia berkata: Wahai Salih, mereka benar-benar mengatakan ini? Aku berkata: Ya. Ia mulai mengigau dan berkata:
Jika mereka membenci kunjungan pencinta, maka banyak yang dicintai mengunjungi pencinta
Ketika aku kembali mereka bertanya kepadaku tentang kisahnya, lalu aku berkata: Pengecut tidak meleset.
Aku meninggalkannya di rumah, ia tidak berhenti hilang akalnya hingga meninggal.
Syahdah binti Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad al-Qari’ memberitahukan kepada kami, ia berkata: al-Muhsin bin Hamzah bin Ubaidillah al-Warraq memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Ali al-Husain bin Ali ad-Daibali menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar bin Duraid menceritakan kepada kami, ia berkata: Ubaid an-Na’ali, budak Abu al-Hudzail menceritakan kepada kami, ia berkata:
Aku pulang dari sebuah pemakaman pada waktu tengah hari yang sangat panas, lalu aku mencari gang yang teduh, kemudian aku berbaring di depan pintu sebuah rumah. Tiba-tiba aku mendengar nyanyian yang menarik hati, maka aku mengetuk pintu dan meminta air minum. Ternyata yang membukakan pintu adalah seorang pemuda yang kecantikannya membuatku terpesona, namun tanda-tanda sakit dan lemah terlihat jelas padanya. Ia memasukkanku ke dalam tenda yang bersih dan membentangkan permadani, lalu datanglah seorang pelayan perempuan membawa baskom dan handuk, ia membasuh kakiku. Kemudian datang pelayan lain membawa baskom untuk membasuh tanganku sebelum makan. Pemuda itu datang sambil tertawa untuk menghiburku, tetapi aku mengetahui ada air mata di matanya. Ia mulai makan seolah-olah tersedak dengan apa yang dimakannya, namun di tengah itu ia berusaha menyemangatiku. Setelah kami selesai makan, minuman dihidangkan. Ia minum segelas dan aku minum segelas lain. Kemudian ia mendesah sebuah desahan yang kukira anggota tubuhnya akan hancur. Lalu ia berkata kepadaku: “Wahai saudaraku, aku memiliki seorang teman akrab, marilah kita menemuinya.”
Maka aku berdiri dan ia berjalan di depanku, lalu masuk ke sebuah ruangan. Ternyata di sana ada sebuah kuburan yang ditutupi kain hijau, dan di dalam ruangan itu ada pasir yang ditaburkan. Ia duduk di atas pasir dan melemparkan alas shalat untukku. Aku berkata: “Demi Allah, aku tidak akan duduk kecuali sebagaimana engkau duduk.” Ia mulai meneteskan air mata, lalu minum segelas dan aku pun minum, kemudian ia mulai bersyair:
Aku menginjak tanah sementara engkau tertahan di dalam liang kubur Tanganku gemetar menaburi tanahmu Sungguh aku lebih pengkhianat dari yang berjalan jika aku tidak menginjak Dengan kelopak mataku selama aku hidup, sisi kuburmu Seandainya bara api dadaku menyatu Dengan api, niscaya panasnya akan padam dan mencairkannya
Kemudian ia menjatuhkan diri ke atas kuburan dalam keadaan pingsan. Seorang budak datang membawa air dan menuangkannya ke wajahnya hingga ia sadar. Lalu ia minum dan mulai bersyair:
Hari ini kegembiraan kembali kepadaku karena sesungguhnya Aku yakin bahwa dengan cepat aku akan menyusulmu Besok aku akan berbagi kebusukan denganmu dan menuntunku Dengan sukarela kepadamu dari kematian seorang pengendara
Kemudian ia berkata kepadaku: “Hakku telah wajib atasmu, maka hadiri pemakamanku besok.” Aku berkata: “Semoga Allah memperpanjang umurmu.”
Ia berkata: “Sesungguhnya aku akan mati, tidak ada pilihan lain.” Maka aku mendoakan agar ia tetap hidup, lalu ia berkata: “Sungguh engkau telah mendurhakaku. Mengapa tidak engkau katakan:
Berdampinganlah dengan kekasihmu dengan bahagia di dalam kuburnya Agar engkau mendapatkan dalam kebusukan apa yang didapatkannya”
Maka aku pulang dan malamku terasa panjang. Keesokan harinya aku datang, ternyata ia telah meninggal.
Syahdah memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah Muhammad bin Salamah al-Quda’i memberitahukan kepada kami, ia berkata: Yusuf bin Ya’qub bin Harzad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Syazan al-Qummi memberitahukan kepada kami, ia berkata:
Amr bin Yuhanna an-Nashrani tinggal di Dar ar-Rum di Baghdad di bagian timur. Ia adalah salah satu orang yang paling tampan dan paling indah penampilannya. Midrak bin Ali asy-Syaibani jatuh cinta kepadanya. Kemudian ia menjadi gila, badannya kurus, akalnya hilang, dan ia terbaring di tempat tidur. Sekelompok orang datang menjenguknya, lalu ia berkata kepada mereka: “Bukankah aku teman lama kalian? Tidak adakah di antara kalian yang akan membahagiakan aku dengan melihat wajah Amr?”
Maka mereka semua pergi menemuinya dan berkata kepadanya: “Jika membunuh pemuda ini adalah agama, maka menghidupkannya adalah kemuliaan.”
Ia berkata: “Apa yang terjadi?” Mereka berkata: “Ia telah sampai pada kondisi yang kukira engkau tidak akan menjumpainya lagi.”
Maka ia mengenakan pakaiannya dan bangkit bersama mereka. Ketika mereka masuk menjumpainya, Amr mengucapkan salam kepadanya dan memegang tangannya seraya berkata: “Bagaimana keadaanmu wahai tuanku?” Ia memandangnya, lalu pingsan sejenak. Kemudian ia sadar dan membuka matanya sambil berkata:
Aku dalam keadaan sehat kecuali Dari kerinduan kepadamu Wahai penjenguk, apa yang ada padaku Darimu tidak tersembunyi bagimu Jangan menjenguk jasad, tetapi jenguklah hati yang tertawan di tanganmu Bagaimana tidak binasa orang yang kehausan Dengan dua anak panah dari kedua matamu
Kemudian ia menjerit sebuah jeritan yang dengannya ia meninggalkan dunia. Kami tidak beranjak hingga mereka menguburkannya.
Syahdah memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad bin as-Sarraj memberitahukan kepada kami, ia berkata: Aku menemukan di tulisan tangan Abu Amr bin Huwayyih yang mengatakan: Abu Bakar bin al-Marzuban menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ja’far Ahmad bin al-Harits mengabarkan kepadaku, ia berkata: Abu al-Hasan al-Mada’ini memberitahukan kepada kami dari sebagian orang-orangnya, ia berkata:
Ibnu Abi al-Anbas ats-Tsaqafi pergi haji lalu ia tinggal (di Makkah), bersamanya cucu laki-lakinya. Di sampingnya ada sekelompok dari keluarga Abu al-Hakam yang juga tinggal di sana.
Pemuda itu biasa duduk di tempat yang bisa melihat seorang budak perempuan dari mereka, lalu ia jatuh cinta kepadanya. Ia mengutus seseorang kepadanya dan ia menjawab, maka ia sering datang kepadanya untuk berbincang. Ketika kakeknya hendak berangkat pulang, pemuda itu menolak. Kakeknya berkata kepadanya: “Apa yang membuatmu menangis wahai cucuku? Barangkali engkau teringat Mesir?” Dan mereka memang berasal dari penduduk Mesir. Ia berkata: “Ya.” Lalu ia mulai bersyair:
Kakekku bertanya kepadaku pagi hari perpisahan Sementara air mata telah membasahi dadaku Apakah engkau menangis karena takut mengingat Mesir? Maka aku berkata: Ya, padahal bagiku bukan mengingat Mesir Tetapi karena yang kutinggalkan di belakangku Mataku menangis dan hari ini kesabaranku hilang Siapa yang akan memberitahu ayahku tentang penyakit dan keadaanku Jika aku binasa dan hariku tiba? Maka ia akan menjaga penduduk Makkah dalam cintaku Meskipun mereka menyebabkan kematian dan kesulitanku
Ia berkata: Maka mereka berangkat. Ketika mereka keluar dari rumah-rumah Makkah, ia mulai bersyair:
Mereka berangkat dan semuanya merindukan Dengan kerinduan ke Mesir sedangkan rumahku di tanah haram Seandainya untanya pada pagi hari perpisahan kami Adalah daging yang dibagikan di atas tempat pemotongan Mereka pulang dengan cepat mengendarai tunggangan mereka Ke depan sedangkan aku terjaga sepanjang malam karena cinta Beruntunglah mereka yang berjalan menuju tujuan mereka sedangkan hati tergadai di rumah Abu al-Hakam
Kemudian pemuda itu sakit dan sakitnya semakin parah. Ketika mereka tiba di pinggiran Syam, pemuda itu meninggal. Kakeknya menguburkannya dan sangat berduka cita atasnya, lalu ia meratapi dengan berkata:
Wahai penghuni kubur yang asing Di Syam dari ujung bukit pasir Ketika aku mendengar erangannya Dan panggilannya pada waktu magrib Aku datang mencari pengobatan Sedangkan kematian mempersulit dokter
Syahdah memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahukan kepada kami. Abu Amr bin Huwayyih menyebutkan dan aku menyalinnya dari tulisan tangannya, ia berkata: Abu Bakar Muhammad bin Khalaf memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar al-Amiri mengabarkan kepadaku, ia berkata: Riyah bin Qutaib al-Asadi mengabarkan kepadaku dari Qaribah binti Abaq ad-Dubairiyyah, ia berkata:
Abdul Makhbal—yaitu Ka’ab bin Malik—mencintai sepupunya yang dipanggil Ummu Amr. Ia adalah orang yang paling dicintainya. Suatu hari ia menyendiri dengannya, lalu ia memandangnya saat ia melepas pakaiannya. Ia berkata kepadanya: “Wahai Ummu Amr, apakah menurutmu ada perempuan yang lebih cantik darimu?” Ia berkata: “Ya, saudariku Maila’ lebih cantik dariku.” Ia berkata: “Bagaimana caranya aku bisa melihatnya?” Ia berkata: “Jika ia tahu tentangmu, ia tidak akan keluar menemuimu. Tetapi aku akan menyembunyikanmu di balik tirai dan mengutus seseorang kepadanya.” Maka ia melakukannya. Maila’ datang, dan ketika ia melihatnya, ia jatuh cinta kepadanya. Ketika ia pulang dari rumah saudarinya, ia menghadangnya dari tempat yang tidak disangka-sangka, lalu ia mengadukan cintanya dan memberitahunya bahwa ia telah melihatnya. Ia berkata: “Demi Allah wahai putra pamanku, apa yang engkau rasakan terhadapku, sungguh aku merasakan hal yang sama terhadapmu.” Ummu Amr mengira ia telah jatuh cinta pada saudarinya, maka ia mengikuti mereka hingga melihat keduanya duduk bersama. Lalu ia pergi langsung kepada saudara-saudaranya—dan mereka ada tujuh orang—lalu berkata: “Kalian harus menikahkan Ka’ab dengan Maila’ atau kalian jauhkan ia dariku.” Ketika berita itu sampai kepadanya bahwa hal itu telah sampai kepada saudara-saudaranya, ia melarikan diri menuju Syam dan berkata:
Apakah setiap hari engkau dari angin cinta Ke pegunungan dari tanda-tanda Maila’ engkau memandang
Seorang lelaki dari penduduk Syam meriwayatkan bait ini. Kemudian ia keluar menuju Makkah dan melewati Ummu Amr dan saudarinya Maila’, padahal ia telah tersesat. Ia mengucapkan salam kepada mereka dan bertanya tentang jalan. Ummu Amr berkata: “Wahai Maila’, jelaskan jalan kepadanya.” Lelaki itu mengucapkan bait syair tersebut, maka ia mengenali syair itu. Ia berkata: “Wahai hamba Allah, dari mana engkau?” Ia berkata: “Dari Syam.”
Ia berkata: “Dari mana engkau meriwayatkan syair ini?” Ia berkata: “Aku meriwayatkannya dari seorang Arab badui di Syam.” Ia berkata: “Apakah engkau tahu namanya?” Ia berkata: “Ka’ab.” Ia berkata: “Maka aku bersumpah kepadamu agar engkau tidak beranjak hingga saudara-saudara kami melihatmu, lalu mereka akan memuliakanmu dan menunjukkan jalan kepadamu.”
Maka lelaki itu turun. Saudara-saudara mereka datang dan mereka memberitahu berita tersebut. Mereka sangat peduli terhadap Ka’ab karena ia adalah putra paman mereka. Maka mereka pergi mencari Ka’ab di Syam dan menemukan dia. Mereka membawanya pulang hingga ketika ia sampai ke negeri mereka, ia turun di sebuah rumah di sudut perkampungan. Ia melihat orang-orang berkumpul di dekat rumah-rumah. Ka’ab berkata kepada seorang budak yang berdiri—dan ia telah meninggalkan seorang anak kecil: “Wahai budak, siapa ayahmu?” Ia berkata: “Ka’ab.” Ia berkata: “Untuk apa orang-orang ini berkumpul?” Ia berkata: “Untuk bibiku Maila’, ia meninggal tadi.”
Maka ia mendesah sebuah desahan yang membuatnya jatuh mati. Lalu ia dikuburkan di samping kuburnya.
Syahdah binti Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad bin as-Sarraj memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah al-Husain bin Muhammad bin Thahir ad-Daqqaq memberitahukan kepada kami, ia berkata: al-Amir Abu al-Hasan Ahmad bin Muhammad bin al-Muktafi Billah memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibnu Duraid menceritakan kepada kami, ia berkata: ar-Riyasyi mengabarkan kepadaku dari al-Ashma’i dari Jabr bin Habib, ia berkata:
Aku datang dari Makkah menuju Yamamah, lalu aku singgah di sebuah perkampungan Amir. Mereka memuliakan tempat menginapku. Tiba-tiba seorang pemuda berpakaian bagus datang kepadaku dan mengucapkan salam. Ia berkata: “Kemana tujuanmu wahai penunggang?” Aku berkata: “Yamamah.”
Ia berkata: “Apakah engkau mengizinkanku menemanimu ke Yamamah?” Aku berkata: “Aku suka ada teman.”
Maka ia berdiri, tidak lama kemudian ia datang dengan seekor unta putih seperti benteng, dengan perlengkapan yang bagus. Ia mengikatnya dekat tempat menginapku dan bantal pada lengannya. Ketika aku hendak berangkat, aku membangunkannya, seolah-olah ia tidak tidur. Ia bangkit lalu merapikan barang-barangnya, kemudian ia naik dan aku pun naik. Ia mempersingkat hariku dengan kebersamaannya, dan ia hanya membacakan untukku bait-bait yang mengagumkan tentang cinta. Ketika kami mendekati Yamamah, ia menyimpang dari jalan menuju beberapa rumah yang dekat dengan kami. Kemudian ia berkata: “Apakah engkau akan memenuhi hak persahabatan?” Aku berkata: “Aku akan melakukannya.” Ia berkata: “Beloklah bersamaku.” Maka aku belok bersamanya. Ketika penduduk perkampungan melihatnya, mereka menyambutnya dengan gembira. Kemudian ia berkata: “Berdirilah jika kalian mau.” Maka kami pergi ke sebuah kuburan yang baru diplester. Ia menjatuhkan dirinya ke atasnya dan mulai bersyair:
Jika mereka melarangku di masa hidupku mengunjungi Untuk melindungi jiwa yang tersedot oleh cinta Maka mereka tidak akan melarangku berdampingan dengan liang lahadnya Maka akan berkumpul dua tubuh kami, ketetanggaan dan tanah
Kemudian ia mengerang lalu meninggal.
Maka aku tinggal bersama para pemuda hingga kami menguburkannya. Aku bertanya tentangnya, mereka berkata: “Ia adalah anak dari pemimpin dataran ini, dan ini adalah putri pamannya. Ia sangat mencintainya, lalu ia meninggal tiga hari yang lalu.”
Maka aku naik, demi Allah, seolah-olah aku telah kehilangan orang yang kucintai.
Ibnu Duraid berkata: as-Sakan bin Sa’id menceritakan kepada kami dari al-Abbas bin Hisyam dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata: Musadda’ bin Ghulab al-Humairi menceritakan kepadaku—dan ia adalah seorang yang hidup di dua masa. Aku menjumpainya saat ia berusia seratus delapan belas tahun dan tidak ada uban di rambut dan janggutnya. Ia berkata: Ayahku Ghulab menceritakan kepadaku, ia berkata:
Di Dzamar ada seorang pemuda dari Himyar yang dipanggil Zur’ah bin Ruqaim. Ia tampan dan penyair. Tidak ada perempuan yang melihatnya kecuali tertarik kepadanya. Di belakang Dzamar ada seorang syaikh kaya yang memiliki seorang putri bernama Mufdah, sangat cantik dan cerdas. Zur’ah biasa berbincang dengannya. Ia dirundung cinta yang menguasai akalnya. Mufdah mulai menghindarinya. Ia menolak bergerak dan makan. Ia tetap seperti itu selama setahun, kemudian meninggal seorang pembesar dari pembesar-pembesar kabilah. Zur’ah mendengar bahwa Mufdah ada di majelis takziah dari majelis takziah itu. Maka ia mengangkat diri hingga naik ke dataran tinggi, lalu ia menjerit dan meninggal.
Berita itu sampai kepada Mufdah. Ia datang hingga berdiri di atasnya, ia hampir menjatuhkan dirinya ke atasnya, tetapi ia menahan diri dan bergegas ke tendanya. Ia jatuh dengan akal yang hilang, ia berbicara tetapi tidak menjawab. Ketika malam tiba, ia mengangkat suaranya dan berkata:
Dengan diriku wahai Zur’ bin Arqam, luka Yang kusimpan dalam hati dengan rahasia yang tersembunyi Jika aku tidak mati karena berduka atasnya, maka sesungguhnya aku Lebih hina dari yang dikalungi jimat Jika ia luput dariku saat hidup, maka tidak akan luput dariku Berdampingan denganmu saat mati di tempat tulang-belulang membusuk
Kemudian ia menarik napas yang membangunkan orang-orang di sekitarnya, ternyata ia telah meninggal. Maka ia dikuburkan di sampingnya.
Seorang perempuan dari Himyar berkata:
Ia menepati janji kepada Ibnu Malik bin Arthah Sebagaimana Mufdah menepati janji kepada Zur’ah Demi Allah, aku akan mencarinya atau menemukannya Di tempat di mana pencinta bertemu dengan yang dicintainya
Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi Al-Bazzaz, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Al-Muhsin At-Tanukhi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Umar bin Huwayyih, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Khalaf, ia berkata: aku menemukan dalam kitab salah seorang saudaraku dari kalangan ahli ilmu, telah menceritakan kepada kami Zakariya bin Ishaq, ia berkata: aku mendengar Malik bin Sa’id berkata: telah menceritakan kepadaku para syekh dari Khuza’ah bahwa dahulu ada di antara mereka di Thaif seorang budak perempuan yang suci dan salehah, dan ia memiliki seorang ibu dari sebaik-baik wanita yang memiliki keutamaan dan agama. Mereka memiliki modal bersama seorang laki-laki dari penduduk Thaif, dan laki-laki itu berdagang untuk mereka dengan modal tersebut dan memberikan keuntungannya kepada mereka. Ia berkata: suatu hari laki-laki itu mengutus putranya kepada mereka untuk suatu keperluan, dan ia adalah seorang pemuda yang tampan. Ia masuk sementara budak perempuan itu sedang duduk dan tidak mengetahui kedatangannya. Pemuda itu melihatnya, dan budak perempuan itu sangat cantik, maka jatuh cintanya di dalam hatinya. Ia keluar dari rumah mereka dalam keadaan tidak tahu harus ke mana. Keadaannya semakin bertambah parah hingga akalnya berubah, tubuhnya kurus, ia menyendiri dan selalu melamun, menyembunyikan keadaannya, dan menjadi gelisah tidak bisa diam.
Ketika keluarganya melihat hal itu, mereka mengurungnya di dalam kamar dan mengikatnya. Terkadang ia berhasil melepaskan diri, lalu anak-anak kecil berkumpul di sekelilingnya dan berkata kepadanya: “Matilah karena cinta! Matilah karena cinta!”
Ia berkata: dan pemuda itu biasa berkata ketika mereka banyak mengerumuninya:
Apakah aku ungkapkan kepada kalian sebagian yang telah menimpaku Ataukah kesabaran lebih baik bagi seorang pemuda ketika ia menghadapi cobaan Salam untuk orang yang tidak kusebut namanya Sekalipun aku menjadi seperti burung yang tergeletak di rimba lebat Wahai para anak kecil, seandainya kalian merasakan cinta Niscaya kalian yakin bahwa aku berkata jujur kepada kalian Aku mencintai kalian karena cintaku padanya, dan aku melihat kalian Berkata kepadaku: Matilah wahai Syuja’ karena cinta padanya Kalian tidak berlaku adil kepadaku, begitu pula dia tidak berlaku adil Maka bersikaplah lembutlah sedikit pada pemuda ini, celaka kalian, lembutlah
Ia berkata: ketika hal itu menjadi pasti bagi keluarganya dan mereka mengetahui bahwa ia sedang jatuh cinta, mereka mulai menanyakan keadaannya tetapi ia tidak menceritakan kisahnya dan tidak menjawab mereka. Ketika mereka melihat sikapnya itu, mereka mengurungnya di dalam kamar dan membelengunya. Ketika malam tiba, ia akan berseru dengan suara yang menyedihkan:
Wahai malam, engkau adalah temanku Di antara keluarga dan hartaku Wahai malam, engkau adalah teman setia Dari kesepianku dan kegelisahanku Wahai malam, sesungguhnya keluhanku Kepadamu tentang panjangnya kesibukan Dengan orang yang telah membuat tubuh kekasih yang sedih menjadi kurus Hingga menjadi seperti duri kering Tubuhku menjadi sangat kurus Tidak tersisa kecuali bayanganku Dan kerinduan telah melemahkan tubuhku Sedangkan tidak rusak keadaanku Seandainya musuhku melihatku, ia akan kasihan dan mengasihiku
Ia berkata: keadaannya terus seperti itu hingga ia meninggal dunia.
Dan kisah ini telah diriwayatkan kepada kami dengan lebih lengkap dari ini.
Telah mengabarkan kepada kami Syahdah binti Ahmad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad As-Sarraj, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Thahir Muhammad bin Ali bin Al-Allaf, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Umar bin Ahmad bin Syahin, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Muhammad Ash-Shufi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Masruq, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Husain, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Zakariya bin Ishaq, ia berkata: aku mendengar Malik bin Sa’id berkata: telah menceritakan kepadaku para syekh dari Khuza’ah bahwa dahulu ada di antara mereka di Thaif seorang budak perempuan yang ahli ibadah, memiliki harta dan wara’, dan ia memiliki seorang ibu yang lebih keras ibadahnya darinya. Ibu itu terkenal dengan ibadahnya, dan keduanya jarang bergaul dengan orang. Mereka memiliki modal bersama seorang laki-laki dari penduduk Thaif, dan ia mengelola modal itu untuk keduanya, lalu Allah memberi rizki kepada mereka dari apa yang didatangkannya.
Ia berkata: suatu hari laki-laki itu mengutus putranya – seorang pemuda tampan yang suka berlebih-lebihan terhadap dirinya – kepada mereka untuk membawakan sebagian keperluan mereka. Ia mengetuk pintu, lalu ibunya bertanya: “Siapa ini?” Ia menjawab: “Aku putra si fulan.” Ia berkata: “Masuklah.” Maka ia masuk, sementara putrinya berada di dalam kamar dan tidak mengetahui masuknya pemuda itu. Ketika ia duduk dengan ibunya, putrinya keluar dan ia mengira bahwa itu adalah salah seorang wanita mereka, hingga ia duduk di hadapannya. Ketika melihatnya, ia segera bangkit, dan pemuda itu melihatnya ternyata ia adalah salah satu wanita tercantik dari orang Arab.
Ia berkata: dan jatuh cintanya kepada gadis itu di dalam hatinya, maka ia keluar tidak tahu harus ke mana. Ia menjadi kurus dan merana, menyendiri dan selalu melamun hingga ia terjatuh pingsan di tempat tidurnya. Ayahnya mendatangkan para tabib untuknya, dan setiap dokter memberikan obat. Ketika penyakitnya berlangsung lama, ayahnya memanggil para pemuda dari kampung dan teman-temannya yang biasa menemaninya, lalu berkata: “Berduaan dengan dia dan tanyakan tentang penyakitnya, semoga ia mengabarkan kepada kalian sebagian dari apa yang ia rasakan.” Maka mereka mendatanginya dan bertanya, lalu ia berkata: “Demi Allah, aku tidak memiliki penyakit yang aku ketahui sehingga bisa aku jelaskan kepada kalian dan aku kabarkan apa yang aku rasakan darinya, maka kurangilah pembicaraan.”
Pemuda itu adalah orang yang berakal. Ketika kerinduan telah lama melandanya, ia memanggil seorang wanita dari keluarganya dan berkata: “Sesungguhnya aku akan melemparkan kepadamu sebuah pembicaraan yang tidak aku lemparkan kecuali ketika putus asa dari diriku. Jika engkau jamin untukku untuk menyimpan rahasianya, aku akan mengabarimu, jika tidak maka aku akan bersabar hingga Allah memutuskan urusanku. Dan selanjutnya, demi Allah aku tidak pernah mengabarkannya kepada siapa pun sebelum engkau, dan sungguh jika engkau menyimpan rahasiaku, aku tidak akan mengabarkannya kepada siapa pun setelahmu. Dan sesungguhnya bencana yang engkau lihat ini tidak diragukan akan membunuhku, dan sesungguhnya wajib atasku dalam cintaku kepada orang yang aku cintai bahwa aku menjaganya dan mengkhawatirkannya dari berlebihan orang-orang dan banyaknya pembicaraan mereka. Maka demi Allah demi Allah dalam urusanku, dan jadikanlah ia tersimpan di dalam dadamu.”
Maka wanita itu berkata kepadanya: “Katakanlah wahai anakku, maka demi Allah aku akan menyimpan rahasiamu selama aku hidup.”
Maka ia berkata: “Sesungguhnya dari kisahku adalah begini dan begini.” Ia berkata: “Wahai anakku, mengapa engkau tidak mengabarkan kepada kami? Demi Allah aku tidak pernah melihat sebuah kalimat yang menenangkan hati dan tidak meninggalkannya seperti kalimat seorang pencinta yang mengabarkan kepada orang yang dicintainya bahwa ada orang yang mencintainya. Kalimat itu menumbuhkan di dalam hati orang-orang berakal pohon yang tidak dapat dijangkau akar-akarnya.”
Maka ia berkata: “Siapa yang akan menyampaikan kepadanya? Dan bagaimana jalan untuk sampai kepadanya? Dan sungguh telah sampai kepadamu keadaannya dan kerasnya ibadahnya.”
Ia berkata: “Wahai anakku, aku akan datang kepadamu dengan apa yang akan membuatmu senang.”
Maka ia memakai pakaiannya dan mendatangi rumah budak perempuan itu, lalu masuk dan memberi salam kepada ibunya serta berbincang dengannya sebentar. Ibunya bertanya kepadanya tentang keadaan pemuda itu dan sakitnya, maka ia berkata: “Demi Allah, aku telah melihat berbagai penyakit dan rasa sakit, tapi aku tidak pernah melihat penyakit seperti sakitnya, dan sesungguhnya itu bertambah dan meningkat, dan ia dalam keadaan itu bersabar tanpa mengeluh.”
Ia berkata: “Tidakkah kalian mendatangkan para tabib untuknya?”
Ia berkata: “Demi Allah, tidak seorang pun dari mereka yang mengetahui penyakitnya.” Kemudian ia bangkit dan masuk menemui budak perempuan itu, lalu memberi salam kepadanya dan berbincang dengannya sebentar. Dan sesungguhnya telah sampai kepada budak perempuan itu kabar tentangnya, maka ia mengetahui bahwa itu karena dirinya. Maka wanita itu berkata kepadanya: “Wahai putriku, engkau menghabiskan masa mudamu dan menghabiskan hari-harimu dengan keadaan seperti ini.”
Ia berkata: “Wahai bibiku, keadaan buruk apa yang engkau lihat padaku?” Ia berkata: “Tidak wahai putriku, tetapi orang sepertimu seharusnya bergembira di dunia dan menikmati sebagian dari apa yang Allah halalkan tanpa meninggalkan ketaatan kepada Tuhanmu dan tidak meninggalkan ibadah kepada-Nya, maka Allah akan mengumpulkan untukmu kedua negeri sekaligus.”
Ia berkata: “Wahai bibiku, apakah dunia ini adalah negeri keabadian yang dapat dipercayai oleh anggota badan sehingga memberikan kepada Allah setengahnya dan kepada dunia setengahnya, ataukah negeri fana?” Ia berkata: “Tidak wahai putriku, tetapi negeri fana, akan tetapi Allah Taala telah menjadikan bagi hamba-hamba-Nya di dalamnya saat-saat sebagai sedekah dari-Nya kepada jiwa-jiwa untuk mendapatkan di dalamnya apa yang Dia halalkan.” Maka ia berkata: “Engkau benar, tetapi bagi Allah ada hamba-hamba yang jiwa-jiwa mereka telah tenang dan rida dengan kesabaran atas ketaatan untuk mendapatkan kemuliaan yang sempurna. Dan sesungguhnya perkataanmu menunjukkan kepadaku bahwa di baliknya ada maksud, dan itulah yang membawamu untuk berdebat denganku tentang hal seperti ini.
Dan sungguh demi Allah sebelum hari ini aku mengira tentangmu bahwa engkau menyuruh untuk bersemangat dalam ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal-amal yang suci. Maka kini engkau telah berubah dari apa yang aku ketahui tentangmu, maka kabarkanlah kepadaku apa yang ada padamu.”
Maka ia berkata: “Wahai putriku, sesungguhnya dari kisah si fulan adalah begini dan begini.”
Ia berkata: “Aku memang telah menduganya. Maka sampaikanlah kepadanya dariku salam, dan katakanlah: Wahai saudaraku, sesungguhnya aku demi Allah telah menghibahkan diriku kepada Raja yang membalas orang yang memberi-Nya pinjaman dengan pemberian yang besar dan menolong orang yang terputus kepada-Nya dan mengabdi kepada-Nya. Dan tidak ada jalan untuk kembali setelah hibah.
Maka bertawasullah kepada Tuhanmu dengan cara yang Dia cintai, dan merendahlah kepada-Nya dalam pengampunan atas apa yang telah dilakukan oleh kedua tanganmu dari perbuatan yang tidak engkau hibahkan untuk-Nya. Maka itulah yang pertama wajib atasmu untuk meminta kepada-Nya, dan yang pertama wajib atasku untuk menasihatimu dengannya. Maka jika engkau telah mengabdi kepada-Nya sesuai kadar maksiatmu kepada-Nya, barulah baik bagimu untuk luang dari meminta syahwat hati dan bisikan dada. Karena sesungguhnya tidak pantas bagi seorang hamba yang dulu bermaksiat kepada tuannya untuk melupakan dosa-dosanya dan permintaan maaf darinya, lalu meminta kebutuhan-kebutuhan. Maka selamatkanlah dirimu wahai saudaraku dari dosa-dosa yang membinasakan, dan aku tidak membuatmu putus asa dari karunia-Nya jika Dia melihatmu bertahajud kepada-Nya bahwa Dia akan memberikan aku kepadamu. Dan hendaklah apa yang aku kabarkan kepadamu menjadi di hadapan matamu, dan jangan engkau mengulangi pertanyaan, karena aku tidak akan menjawabmu. Wassalam.”
Maka wanita itu bangkit dan mengabarkan kepadanya ucapan gadis itu. Maka ia menangis dengan sangat keras. Lalu wanita tua itu berkata: “Demi Allah wahai anakku, aku tidak pernah melihat seorang wanita yang Allah Azza wa Jalla taruh di dalam dadanya seperti wanita ini. Maka amalkanlah dengan apa yang ia perintahkan kepadamu, karena sungguh demi Allah ia telah berlebihan dalam nasihat. Maka jangan engkau lemparkan dirimu ke dalam hal-hal yang membinasakan sehingga engkau menyesal di mana penyesalan tidak berguna. Dan seandainya aku tahu wahai anakku bahwa ada tipu daya yang berhasil niscaya aku akan melakukannya, tetapi aku melihatnya telah menjadikan Allah Azza wa Jalla di hadapan matanya, dan barangsiapa melakukan itu akan lalai dari perhiasan dunia.” Maka ia terus menangis dan berkata: “Bagaimana aku bisa mencapai apa yang ia serukan? Dan kapan akan datang akhir masa yang kita akan bertemu di dalamnya?”
Dan sakitnya semakin parah. Ketika orang-orang melihat bahwa ia tidak bisa diam, mereka mengurungnya di dalam kamar dan mereka menduga bahwa yang ada padanya adalah karena cinta.
Terkadang ia berhasil melepaskan diri, lalu keluar dari rumahnya dan anak-anak kecil berkumpul kepadanya dan berkata: “Matilah karena cinta! Matilah karena cinta!” Maka ia biasa berkata:
Apakah aku ungkapkan kepada kalian sebagian yang melukaiku Ataukah kesabaran lebih utama bagi seorang pemuda ketika ia menghadapi cobaan Salam untuk orang yang tidak kusebut namanya Sekalipun aku menjadi seperti burung yang tergeletak di rimba lebat Wahai para anak kecil, seandainya kalian merasakan cinta Niscaya kalian yakin bahwa aku berkata jujur kepada kalian Aku mencintai kalian karena cintaku padanya, dan aku melihat kalian Berkata kepadaku: Matilah wahai Syuja’ karena cinta padanya Kalian tidak berlaku adil kepadaku, begitu pula dia tidak berlaku adil Maka bersikaplah lembutlah perlahan, celaka kalian, lembutlah pada pemuda ini
Ketika hal itu menjadi pasti bagi keluarganya dan mereka mengetahui bahwa ia sedang jatuh cinta, mereka mulai menanyakan keadaannya tetapi ia tidak menjawab mereka, dan wanita tua itu menyimpan kisahnya. Maka mereka menangkapnya dan mengurungnya di dalam kamar, dan ia terus di dalamnya hingga meninggal dunia, semoga Allah merahmatinya.
Telah mengabarkan kepada kami Syahdah binti Ahmad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad As-Sarraj, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Ishaq Ibrahim bin Sa’id, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Shalih As-Samarqandi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Al-Qasim bin Al-Yasa’, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Amr Ad-Dainuri, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Ja’far bin Abdullah Ash-Shufi Al-Khayyath, ia berkata: berkata Abu Hamzah: aku melihat bersama Muhammad bin Qathan Ash-Shufi seorang pemuda tampan, dan keduanya tidak pernah berpisah dalam perjalanan maupun di tempat. Mereka seperti itu dalam waktu yang lama. Maka pemuda itu meninggal dunia, dan Muhammad bin Qathan sangat berduka cita atasnya hingga ia menjadi hanya kulit dan tulang. Aku melihatnya suatu hari telah keluar ke pekuburan, maka aku mengikutinya. Ia berdiri di kuburannya sambil menangis dan memandangnya sementara langit menurunkan hujan. Ia terus berdiri dari waktu Dhuha hingga matahari terbenam, tidak berpindah dan tidak duduk, tangannya di pipinya. Maka aku pulang darinya sementara ia masih seperti itu berdiri. Ketika keesokan harinya, aku keluar untuk mengetahui kabarnya dan apa yang terjadi padanya, maka aku pergi ke kuburan itu, ternyata ia tersungkur dengan wajahnya dalam keadaan meninggal. Maka aku memanggil orang-orang yang ada di tempat itu, lalu mereka membantuku mengangkatnya. Aku memandikannya, mengkafaninya dengan pakaiannya, dan menguburkannya di samping kuburan itu.
Telah memberitakan kepada kami Abdul Wahhab bin Al-Mubarak Al-Anmathi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Abdullah Muhammad bin Abi Nashr Al-Humaidi, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Muhammad Ali bin Ahmad Al-Faqih Al-Hafizh, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Abdullah Muhammad bin Al-Hasan Al-Madzhaji Al-Adib, ia berkata: aku biasa pergi belajar nahwu kepada Abdullah Muhammad bin Khaththab An-Nahwi bersama sekelompok orang di masa muda, dan bersama kami ada Aslam bin Ahmad bin Sa’id bin qadhi para qadhi Andalus. Berkata Muhammad bin Al-Hasan: dan ia adalah salah satu orang paling tampan yang pernah dilihat mata. Dan bersama kami di tempat Muhammad bin Khaththab ada Ahmad bin Kulaib, dan ia adalah dari kalangan ahli sastra dan syair. Maka ia sangat tergila-gila dengan Aslam dan hilang kesabarannya, dan ia menyusun syair untuknya dengan cara tersembunyi hingga syair-syairnya tentangnya tersebar dan beredar di lidah-lidah orang serta dibacakan di majlis-majlis. Maka aku masih ingat sebuah pernikahan di salah satu jalan dan An-Nakuri sang pemain musik di tengah-tengah majlis meniup seruling dengan syair Ahmad bin Kulaib untuk Aslam:
Ia membiarkanku dalam cinta Aslam, kijang ini Kijang yang memiliki pandangan Yang mengenai siapa yang ia kehendaki Seorang pendengki mengadu di antara kami Ia akan ditanya tentang apa yang ia adukan Dan seandainya ia mau untuk menerima suap Atas perjumpaan, rohku akan menyuap
Dan seorang penyanyi yang baik menyertainya. Ketika hal ini mencapai tingkat itu, Aslam terputus dari semua majlis belajar dan tinggal di rumahnya serta duduk di pintunya. Dan Ahmad bin Kulaib tidak memiliki kesibukan kecuali melewati pintu rumah Aslam pergi atau pulang sepanjang harinya. Maka Aslam terputus dari duduk di pintu rumahnya di siang hari. Jika telah shalat Maghrib dan gelap malam telah bercampur, ia keluar untuk mendapatkan udara segar dan duduk di pintu rumahnya. Maka kesabaran Ahmad bin Kulaib habis, lalu ia bertipu daya pada salah satu malam, memakai jubah wol dari jubah-jubah penduduk pedalaman, memakai sorban seperti sorban mereka, mengambil dengan salah satu tangannya ayam dan dengan tangan yang lain keranjang berisi telur seolah-olah ia datang dari salah satu ladang. Ia menunggu waktu duduknya Aslam ketika gelap malam bercampur di pintunya, maka ia maju kepadanya dan mencium tangannya serta berkata: “Wahai tuanku, siapa yang menerima ini?” Maka Aslam berkata kepadanya: “Siapa engkau?” Ia berkata: “Pekerjamu di ladang si fulan.” Dan ia telah mengetahui nama-nama ladangnya dan para pekerja di dalamnya. Maka Aslam memerintahkan para pelayannya untuk menerima itu darinya sesuai kebiasaan mereka dalam menerima hadiah para pekerja di ladang-ladang mereka. Kemudian ia mulai menanyainya tentang keadaan ladang. Ketika ia menjawabnya, ia mengingkari pembicaraan itu, maka ia menatapnya dan mengenalinya. Lalu ia berkata kepadanya: “Wahai saudaraku, sampai ke sini kah engkau mengikutiku? Tidakkah cukup bagimu terputusnya aku dari majlis-majlis belajar dan dari keluar sama sekali serta dari duduk di pintuku di siang hari hingga engkau memutuskan bagiku semua yang di dalamnya ada kenyamanan bagiku? Sungguh aku telah menjadi dalam penjaramu. Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan setelah malam ini dasar rumahku dan tidak akan duduk setelahnya di pintuku, tidak malam dan tidak siang.”
Kemudian ia bangkit dan Ahmad bin Kulaib pulang dalam keadaan sedih dan susah.
Muhammad berkata: Hal itu sampai kepada kami, lalu kami berkata kepada Ahmad bin Kulaib, “Kamu telah kehilangan ayammu dan telurmu.” Ia menjawab, “Jika setiap malam aku bisa mencium tangannya, aku rela kehilangan berkali lipat dari itu.”
Muhammad berkata: Ketika ia benar-benar putus asa untuk dapat melihatnya lagi, penyakit menggerogotinya dan sakit membuatnya terbaring.
Muhammad bin al-Hasan berkata: Guru kami Muhammad bin Khattab mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku menjenguknya dan mendapatinya dalam keadaan yang sangat buruk. Aku berkata kepadanya, “Mengapa kamu tidak berobat?” Ia menjawab, “Obatku sudah diketahui, tetapi para dokter sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.” Aku bertanya kepadanya, “Apa obatmu?” Ia berkata, “Sekadar pandangan dari Aslam. Jika engkau bersedia berusaha agar ia mengunjungiku, Allah akan memberimu pahala yang besar atas hal itu, begitu pula ia.”
Muhammad berkata: Aku merasakan kasihan kepadanya dan hatiku hancur karena penyesalan untuknya. Lalu aku bangkit menuju Aslam dan meminta izin untuk menemuinya. Ia mengizinkanku dan menyambutku dengan semestinya. Aku berkata kepadanya, “Aku memiliki sebuah keperluan.” Ia bertanya, “Apa itu?” Aku berkata, “Kamu tahu apa yang menyatukan kamu dengan Ahmad bin Kulaib dari ikatan menuntut ilmu bersamaku.” Ia menjawab, “Ya, tetapi kamu juga tahu bahwa ia telah membanggakan diri di hadapanku, menyebarkan namaku, dan menyakitiku.” Aku berkata kepadanya, “Semua itu bisa dimaafkan dalam kondisi seperti ini yang sedang dialaminya. Orang itu sedang sekarat. Berkenanlah untuk menjenguknya.” Ia berkata kepadaku, “Demi Allah, aku tidak sanggup melakukan itu. Jangan paksa aku untuk ini.” Aku berkata, “Kamu harus melakukannya. Ini bukan beban apa-apa bagimu. Ini hanya menjenguk orang sakit.”
Muhammad berkata: Aku terus mendesaknya hingga ia menyanggupi. Aku berkata kepadanya, “Kalau begitu bangkitlah sekarang.” Ia menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan melakukannya sekarang, tetapi besok.” Aku berkata kepadanya, “Tidak ada ingkar janji?” Ia menjawab, “Ya.”
Lalu aku pergi meninggalkannya menuju Ahmad bin Kulaib dan mengabarkan kepadanya tentang janjinya setelah penolakannya. Ia sangat gembira dengan itu dan jiwanya merasa lega. Ketika pagi tiba, aku segera mendatangi Aslam dan berkata kepadanya, “Janjinya.” Ia terdiam dan berkata, “Demi Allah, sungguh kamu telah membebankaku dengan langkah yang sulit bagiku dan aku tidak tahu bagaimana aku mampu melakukannya.” Aku berkata kepadanya, “Kamu harus menepati janjimu kepadaku.” Ia mengambil selendangnya dan bangkit bersamaku dengan berjalan kaki. Ketika kami tiba di rumah Ahmad bin Kulaib—ia tinggal di gang yang panjang—dan memasuki tengah gang, ia berhenti, wajahnya memerah, dan ia merasa malu. Ia berkata kepadaku, “Wahai tuanku, sekarang demi Allah aku akan mati. Aku tidak sanggup melangkahkan kakiku dan tidak sanggup menghadapkan diriku pada hal ini.” Aku berkata, “Jangan lakukan itu setelah kamu sampai di rumahnya.” Ia berkata, “Tidak ada jalan untuk itu, demi Allah sama sekali tidak.” Muhammad berkata: Ia berbalik dan melarikan diri. Aku mengikutinya dan memegang selendangnya. Ia terus berjalan dan selendangnya robek, sebagian darinya tertinggal di tanganku karena kuatnya peganganku, dan ia pergi sehingga aku tidak dapat mengejarnya.
Aku kembali dan masuk menemui Ahmad bin Kulaib. Pelayannya telah masuk menemuinya ketika melihat kami dari awal gang untuk memberitahunya. Ketika ia melihatku, wajahnya berubah dan berkata, “Mana Abu al-Hasan?” Aku menceritakan kepadanya kisah itu. Ia berubah seketika itu juga, menjadi bingung, dan mulai berbicara dengan kata-kata yang sebagian besar tidak dapat dimengerti kecuali ucapan istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un). Aku merasa tidak enak dengan keadaan itu dan mulai merintih, lalu aku bangkit. Muhammad berkata: Kesadarannya kembali dan ia berkata kepadaku, “Wahai Abu Abdillah.” Aku menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Dengarkan dariku dan hafalkanlah dariku.” Kemudian ia mulai bersyair:
Aslam wahai pelepas lelah orang yang sakit / Kasihanlah pada yang merana dan kurus Bertemu denganmu lebih aku dambakan di hatiku / Daripada rahmat Pencipta Yang Mahamulia
Aku berkata kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah! Apa kata-kata besar ini?” Ia berkata, “Sudah terjadi.”
Muhammad berkata: Aku keluar darinya. Demi Allah, aku belum sampai tengah gang hingga aku mendengar tangisan untuknya dan ia telah meninggalkan dunia.
Al-Humaidi berkata: Abu Muhammad berkata kepada kami, “Ini adalah kisah yang terkenal di kalangan kami. Muhammad bin al-Hasan adalah orang yang terpercaya, Muhammad bin Khattab juga terpercaya. Aslam ini dari Bani Khalid, dan di kalangan mereka ada jabatan menteri dan hajib (pengawal istana). Ia adalah pemilik diwan terkenal dalam nyanyian Ziryab. Ayahnya masih hidup sekarang dengan julukan Abu al-Ja’d.” Abu Muhammad berkata, “Sungguh aku telah menyebutkan kisah ini kepada Abu Abdillah bin Sa’id al-Khaulani al-Katib. Ia mengenalnya dan berkata kepadaku, ‘Sungguh orang terpercaya telah mengabarkan kepadaku bahwa ia melihat Aslam ini pada hari dengan hujan yang sangat deras sehingga hampir tidak ada orang yang bisa berjalan di jalan, dan ia duduk di atas kuburan Ahmad bin Kulaib yang disebutkan tadi, mengunjunginya, memanfaatkan lengahnya orang-orang di hari seperti itu.'”
Al-Humaidi berkata: Abu Muhammad Ali bin Ahmad membacakan syair kepadaku. Ia berkata: Muhammad bin Abd al-Rahman bin Ahmad al-Tujibi membacakan syair kepadaku untuk Ahmad bin Kulaib ketika ia menghadiahkan kepada Aslam kitab al-Fashih karya Tha’lab:
Ini kitab al-Fashih / Dengan setiap lafal yang indah Kuberikan kepadamu dengan sukarela / Sebagaimana aku memberikanmu jiwaku
Abu al-Mu’ammar al-Ansari mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abd al-Jabbar memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu al-Hasan Muhammad bin Abd al-Wahid memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar bin Shadhan memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibrahim bin Muhammad bin Arafah memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Yahya memberitahukan kepada kami bahwa al-Zubair mengabarkan kepada mereka dari Muhammad bin Ibrahim al-Laithi, ia berkata: Muhammad bin Ma’n al-Ghifari menceritakan kepadaku, ia berkata: Kekeringan menghantam Madinah sehingga orang-orang Arab Badui datang. Rombongan dari Bani Kilab singgah di tempat pemerah susu, dan mereka menyebut tahun itu sebagai al-Jaraf (tahun yang keras). Aku mendatangi mereka dan ternyata seorang pemuda dari mereka telah menjadi kulit dan tulang, dalam kondisi sempit, lemah, dan sakit. Tiba-tiba ia berteriak nyaring dengan syair yang ia ucapkan:
Wahai cahaya kilat di puncak Hima / Alangkah mulianya kilat itu bagiku Aku bermalam dengan siku-siku keras melihatnya / Seolah-olah aku adalah orang yang sangat merindukan kilat di tirai Apakah ada yang meminjamkanku pandangan mata yang kosong / Karena sesungguhnya biji mata si al-Amiri terluka Kilat itu melemparkan hatinya dengan lemparan / Dengan ingatan akan Hima sehingga melemahkannya dan hampir membuatnya gila
Aku berkata kepadanya, “Apa yang kamu alami terlalu berat untuk diungkapkan dengan syair.” Ia berkata, “Kamu benar, tetapi kilat itu membangunkanku.” Demi Allah, ia tidak bertahan lama di hari itu hingga ia meninggal. Tidak ada penyakit padanya selain kerinduan yang mendalam.
Shahdah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu al-Sarraj memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ibnu Huwayyih menyebutkan, ia berkata: Abu Bakar bin Khalaf menceritakan kepada kami, ia berkata: Ishaq bin Muhammad al-Kufi menceritakan kepadaku, ia berkata: Ubaidullah bin Muhammad bin Hafs menceritakan kepadaku dari ayahnya, ia berkata: Musafir bin Abi Amr bin Abi Umayyah jatuh cinta kepada seorang budak perempuan dari penduduk Mekah. Keluarganya mengetahui hal itu, lalu ia melarikan diri dan bergabung dengan al-Nu’man bin al-Mundhir. Ia kemudian jatuh sakit. Seorang laki-laki dari penduduk Mekah datang kepadanya, lalu ia bertanya, “Apa kabar si Fulanah?” Orang itu menjawab, “Ia sudah menikah.” Ia langsung tersentak dan meninggal di tempatnya.
Ibnu Khalaf berkata: Abu Ubaidillah al-Tamimi menceritakan kepada kami, ia berkata: Ziyad bin Salih memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Ala’ bin Abd al-Rahman al-Taghlibi adalah orang yang beradab dan anggun. Seorang budak perempuan menjalin hubungan dengannya, tetapi ia menampakkan sesuatu yang tidak ada di hatinya, sementara budak itu sangat mencintainya. Ia akhirnya meninggal karena cintanya. Ia menyesal atas sikap kerasnya dan penolakan yang telah dilakukannya kepada perempuan itu. Suatu malam ia melihatnya dalam mimpi dan perempuan itu berkata:
Apakah kamu menangis setelah membunuhku? / Seharusnya itu dilakukan ketika aku masih hidup Kamu mencurahkan air mata matamu untukku / Padahal sebelum kematian kamu bersikap buruk padaku Wahai bulan yang telah menghancurkan tubuh dan jiwaku / Yang membunuhku dan tidak mengasihiku Kurangi ratapan dan kepura-puraanmu / Karena aku tidak melihat kamu melakukan sesuatu
Penyesalan dan kesedihan serta tangisannya bertambah hingga nyawanya melayang dan ia meninggal.
Abu al-Mu’ammar al-Ansari mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Ali al-Hasan bin al-Muzaffar bin al-Hasan al-Hamadhani memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, ia berkata: Kakekku membacakan syair kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Nasir membacakan syair kepadaku, ia berkata: Ibnu Masruq membacakan syair kepadaku, ia berkata: Al-Barjalani membacakan syair kepadaku:
Aku ingat seorang pemuda di masa lalu yang jatuh cinta / Lalu perubahan zaman membuatnya layu dan mengkhianatinya Ia hidup sedih dan lemah sepanjang hidupnya / Hingga ia pergi tanpa orang-orang mengetahui kondisinya Namun ia berkata saat kematian, ‘Alangkah sesalku atas / Seorang pemuda yang tidak akan kusebut namanya,’ dan ia menggigit jarinya Ia memutar kedua matanya, menundukkan kepalanya / Merintih dengan sesenggukan, dan meninggal di tempatnya Wahai para pencinta, beginilah cinta dalam asmara / Tetapi ini bukan zamannya
Shahdah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Ali Muhammad bin al-Husain al-Jaziri memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Muaffa bin Zakariya menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Husain bin al-Qasim al-Kaukabi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad Abdullah bin Malik al-Nahwi menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya bin Abi Hammad menceritakan kepadaku dari ayahnya, ia berkata: Seorang budak perempuan dideskripsikan kepada al-Ma’mun dengan segala kesempurnaan dan keindahan yang bisa dideskripsikan pada seorang perempuan. Ia mengutus orang untuk membelinya, lalu perempuan itu dibawa kepadanya pada saat ia hendak berangkat ke negeri Romawi. Ketika ia hendak memakai baju besinya, perempuan itu terlintas di pikirannya. Ia memerintahkan agar perempuan itu dikeluarkan kepadanya. Ketika ia melihatnya, ia terpesona, dan perempuan itu pun terpesona padanya. Ia bertanya, “Apa ini?” Al-Ma’mun menjawab, “Aku hendak berangkat ke negeri Romawi.” Perempuan itu berkata, “Kamu telah membunuhku, demi Allah wahai tuanku,” dan air matanya mengalir di pipinya seperti untaian mutiara. Ia mulai bersyair:
Aku akan berdoa dengan doa orang yang terdesak kepada Tuhan / Yang membalas doa dan mengabulkannya Semoga Allah melindungimu dari peperangan / Dan menyatukan kita sebagaimana hati menginginkan
Al-Ma’mun memeluknya ke dadanya dan mulai membaca syair:
Alangkah cantiknya ia ketika air mata membasuh celatnya / Saat ia meneteskan air mata dengan jari-jarinya Di pagi hari ketika ia berkata dalam tegur, ‘Kamu telah membunuhku’ / Dan kematianku oleh apa yang ia katakan di sana sangat diinginkan
Kemudian ia berkata kepada pelayannya, “Wahai Masrur, jaga dia dengan baik, muliakan tempatnya, dan siapkan semua yang ia butuhkan dari ruangan, pelayan, dan budak-budak perempuan hingga aku kembali. Kalau bukan karena apa yang dikatakan al-Akhtal:
Kaum yang ketika berperang mereka mengikat ikat pinggang mereka / Di hadapan para perempuan meskipun mereka dalam keadaan suci”
Kemudian ia berangkat. Budak perempuan itu terus diperhatikan dan semua yang diperintahkannya dipersiapkan. Budak perempuan itu jatuh sakit parah yang sangat mengkhawatirkan. Lalu datang kabar kematian al-Ma’mun. Ketika berita itu sampai kepadanya, ia menarik napas panjang dan meninggal.
Shahdah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: al-Qadhi Abu al-Tayyib al-Tabari memberitahukan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu Ja’far al-Musa’i al-Alawi berkata: Muhammad bin Ahmad al-Rasafi menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdul Malik bin Muhammad berkata kepadaku, “Aku keluar dari Basrah hendak menunaikan haji, dan tiba-tiba ada seorang pemuda kurus yang telah digerogoti penyakit. Ia berhenti di setiap unta yang diberi pelana dan setiap palankin, lalu mengintip ke dalamnya. Aku heran dengan dirinya dan perbuatannya.” Ia berkata:
Wahai para peziarah Baitullah, di palankin mana / Dan di tirai mana dari tirai-tirai kalian hatiku berada Apakah aku tetap menjadi tawanan cinta di negeri asing / Sementara penggiring untamu menggiring hatiku bersama rombongan
Aku terus mengawasinya hingga tiba di tempat persinggahan. Ia bersandar di dinding, lalu berkata:
Biarkanlah air mata mengalir deras / Berpisahlah orang yang kamu cintai, mereka telah pergi Setiap air mata yang dilindungi oleh orang yang jatuh cinta / Maka pada hari perpisahan ia menjadi sia-sia
Muhammad berkata: Kemudian ia menarik napas panjang dan tersentak. Aku menggoyangkannya, ternyata ia sudah meninggal.
Shahdah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ja’far memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Umar bin Huwayyih menceritakan, ia berkata: Ibnu al-Marzuban menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Abbas bin al-Fadhl al-Asadi menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Ziyad al-A’rabi menceritakan kepadaku, ia berkata: al-Ahwash bin Muhammad pergi ke Damaskus bersama budak perempuannya yang bernama Busyra. Ia sangat terpesona padanya dan hampir tidak bisa berpisah darinya. Budak itu pun mencintainya lebih dari itu. al-Ahwash jatuh sakit dan meninggal. Perempuan itu sangat bersedih atasnya dan terus meratapi dirinya hingga ia tersentak dan meninggal. Ia dikubur di samping kuburnya.
Abdul Wahhab bin al-Mubarak memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu al-Husain bin Abd al-Jabbar memberitahukan kepada kami, ia berkata: al-Qadhi Abu Abdillah al-Husain bin Muhammad al-Nasibi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Isma’il bin Suwaid memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar al-Anbari menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Khalaf memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar al-Amiri mengabarkan kepadaku, ia berkata: Du’bil bin Abdullah al-Khuza’i mengabarkan kepadaku, ia berkata: Ada seorang laki-laki dari Bani Asad di Kufah yang jatuh cinta kepada budak perempuan salah satu penduduk Kufah. Urusannya dan urusan perempuan itu menjadi besar. Ia menulis syair untuknya dan sebagian penduduk Kufah menyebutkan bahwa ia meninggal karena cintanya. Mereka membuat kitab untuknya dalam hal itu seperti kitab Jamil dan Butsainah, Afra’ dan Urwah, Katsir dan Azzah. Tuannya menjual perempuan itu kepada seorang laki-laki dari penduduk Baghdad dari kalangan Hasyimiyyin. Diriwayatkan bahwa ia meninggal ketika perempuan itu dikeluarkan dari Kufah. Ketika berita kematiannya sampai kepadanya, ia meninggal karena kesedihan atasnya. Di antara syairnya ketika perpisahan dengannya:
Perjalanan sungguh-sungguh dan teman-temanku mendesakku / Mereka berkata perjalanan lalu menerbangkan hatiku Aku merindukan dengan kerinduan yang hampir membunuhku / Jiwaku hampir mencapai kematiannya Tidak ada orang yang jatuh cinta yang mengalami saat perpisahan / Seperti kesedihan yang kualami Tidak ada kesabaran bagiku saat perpisahan atas / Kehilangan kekasih dan panasnya cinta
Mengabarkan kepada kami Abdul Khaliq bin Al-Badan, dia berkata: Mengabarkan kepada kami Abu Al-Husain Ahmad bin Muhammad As-Simnani, dia berkata: Menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Musa bin As-Salt, dia berkata: Menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Al-Anbari, dia berkata: Menceritakan kepadaku Ibnu Al-Mirzaban, dia berkata: Menceritakan kepada kami Muhammad bin Harun Al-Muqri, dia berkata: Menceritakan kepada kami Said bin Rasyid, dia berkata: Seorang gadis Arab jatuh cinta pada seorang pemuda dari kaumnya, dan pemuda itu adalah orang yang berakal dan berbudi luhur. Gadis itu sering bolak-balik mendatanginya dan bertanya kepadanya tentang berbagai urusan wanita, padahal tujuannya tidak lain hanya untuk memandangnya dan mendengar perkataannya. Ketika hal itu berlangsung lama, dia pun jatuh sakit dan berubah keadaannya. Dia berupaya agar wajah pemuda itu menghadapnya sendirian, lalu dia menghadapinya dengan suatu urusan namun pemuda itu menolaknya. Penyakitnya pun bertambah parah hingga dia terbaring di tempat tidur. Ibu pemuda itu berkata kepadanya: Sesungguhnya si fulanah telah sakit dan dia memiliki hak atas kita. Dia berkata: Jenguklah dia dan katakan kepadanya, dia bertanya apa kabarmu? Maka ibu pemuda itu pergi kepadanya dan berkata: Apa yang kamu derita? Dia menjawab: Sakit di hatiku, itulah sumber penyakitku. Ibu pemuda berkata: Sesungguhnya anakku bertanya kepadamu apa penyakitmu? Maka gadis itu menghela napas panjang dan berkata:
Dia bertanya tentang penyakitku padahal dialah penyakitku / Sungguh aneh berita yang dibawa oleh kabar ini
Ibunya kembali kepadanya dan mengabarkan serta berkata kepadanya: Aku ingin kamu memintanya datang kepada kita agar kita menunaikan haknya dan melayaninya. Dia berkata: Tawarkan hal itu kepadanya. Ibunya berkata: Aku ingin melakukan itu tetapi aku ingin itu atas pendapatmu. Maka ibunya pergi kepadanya dan menyampaikan hal itu atas namanya. Gadis itu menangis dan berkata:
Dia menjauhkanku dari kedekatannya dan perjumpaannya, ketika tubuhku telah luluh karena belas kasihannya
Aku tidak akan datang ke tempat yang di sana ada pembunuhku / Cukuplah bagiku penyakit ini bahwa aku mati demikian, cukuplah
Penyakitnya terus melanda dan bertambah parah hingga dia meninggal.
Telah diriwayatkan Abu Bakar bin Al-Anbari, dia berkata: Menceritakan kepadaku Muhammad bin Al-Mirzaban, dia berkata: Menceritakan kepadaku Ahmad bin Abdullah bin Muhammad Al-Kufi, dia berkata: Badar bin Said bin Al-Walid Al-Hamdani jatuh cinta pada Ni’am binti Hajib bin Atarid. Sebab cintanya adalah karena dia melihatnya sedang tawaf di Ka’bah sehingga dia terpesona, lalu dia membaca syair:
Aku tidak pernah mengira bahwa cinta akan menimpaku / Di saat tawaf di Rumah Allah yang memiliki tirai
Hingga muncul dalam tawaf di Ka’bah seorang gadis / Kukira dia adalah fitnah yang bukan dari manusia
Kemudian urusannya menjadi berat di malamnya dan tidur tidak bisa mendatanginya. Ketika subuh terbit, dia membaca syair:
Wahai subuh, kau datang dengan putus asa / Dari para pencinta yang mati dengan bisikan hati
Sabar dan berserah diri pada apa yang telah ditakdirkan / Pemilik karunia dan kemurahan atas kepalaku
Ni’am tinggal di Kufah. Ketika dia bertekad untuk berangkat, Badar membaca syair:
Kepergian telah pasti, bagaimana celakanya kau akan berbuat / Apakah kau akan sabar ataukah kukira kau akan gelisah / Wahai Badar, sungguh kau telah celaka dengan apa yang kau lihat / Allah telah menetapkan atasmu apa yang tidak dapat ditolak
Aku melihat di Ka’bah seorang wanita rupawan / Menghilangkan akalmu, jampi-jampi tidak berguna
Kemudian dia berangkat bersamanya ke Kufah dan Ni’am singgah di istana Hajib. Badar duduk di seberang istana dan berkata:
Wahai istana Hajib, kau telah menjadi penjara bagiku / Tidak tersisa bagiku dari isimu pendengaran dan penglihatan
Wahai istana Hajib, apakah aku memiliki harapan padamu / Ataukah itu darimu, jiwaku menebus engkau, telah menjadi sulit
Allah mengetahui bahwa aku tidak mengingatmu / Kecuali air mata bercucuran lalu mengalir
Suatu hari dia melihat burung merpati di atas atap istana, kemudian seekor merpati lain turun kepadanya, maka dia membaca syair:
Subuh telah menampakkan kepadaku sesuatu yang indah / Menghilangkan kesedihan dari hati yang terluka
Dari merpati yang kulihat ketika dia hinggap / Di atas atap memanggil dengan suara yang fasih
Maka datanglah kepadanya seekor merpati betina lalu mendekatinya / Mendekat tanpa perintah yang buruk
Maka aku menegur merpati diriku dengan keyakinan / Dan aku menegur yang lain saudara kembar jiwaku
Beritanya sampai kepada Ni’am, dan banyak orang yang mencela Badar atas apa yang dia bebankan kepada dirinya tentang urusan wanita ini. Maka dia membaca syair:
Wahai para pencela, demi Allah berhentilah / Dari mencela aku karena aku telah melepas celaku
Demi Allah aku tidak akan menerima dari pencela / Yang tidak memberi petunjuk kepadaku dalam cinta
Badar dikenal dengan keberanian, ketangkasan, akal, dan kefasihan. Dia dihadapkan kepada Al-Hajjaj, lalu berbicara dengannya sehingga Al-Hajjaj kagum dan hatinya tertarik. Al-Hajjaj memberinya hadiah yang baik dan mengirimnya bersama pasukan untuk memerangi Ibnu Al-Asy’ats. Badar bekerja dalam perang dengan perbuatan yang mengagumkan dan banyak membunuh di antara pengikut Ibnu Al-Asy’ats. Luka-lukanya sangat parah hingga dia berkata dengan sisa nafasnya: Bawa aku ke Kufah dan kuburkan aku di sana. Maka mereka melakukannya. Beritanya sampai kepada Ni’am, dia datang ke kuburannya dan membaca syair:
Wahai yang dapat menolong mata dengan air mata yang bercucuran / Menangisi orang yang terbunuh terbaring di lubang
Wahai Badar, kau telah menyedihkanku dan meninggalkanku / Dalam kesusahan yang menimpaku dan tangisan
Dengan ayah dan ibuku dari orang mulia pemimpin / Pemberi hadiah yang melimpah untuk ribuan orang
Celaka aku padamu ketika perang berkobar / Dan menyala dan berapi-api dengan nyala
Sungguh aku akan menangisimu selama aku hidup dengan kesedihan / Dan merobek karena duka cita atasku pakaianku
Aku menangisimu wahai Badar dengan mata yang mengalir / Dan hati yang terluka dan berduka
Tidak ada kebaikan bagiku wahai Badar setelahmu dalam kehidupan / Apa gunanya hidup setelah binasanya kekasih
Dia terus tinggal di kuburannya, berguling-guling di atasnya dan menangis hingga dia meninggal. Lalu dia dikuburkan di sana di sampingnya.
Abu Bakar Muhammad bin Daud Al-Ashbahani berkata: Sampai kepadaku bahwa seorang pemuda Arab yang disebut Imru’ul Qais jatuh cinta pada seorang gadis dari kaumnya. Ketika wanita itu tahu bahwa dia mencintainya, dia meninggalkannya. Maka akalnya hilang, dia kesurupan dan hampir binasa, menjadi belas kasihan orang. Ketika berita keadaannya sampai kepada wanita itu dan kondisinya, wanita itu datang dan memegang kedua ambang pintu lalu berkata: Bagaimana keadaanmu wahai Imru’ul Qais? Dia berkata:
Dia mendekat dan bayangan kematian antara aku dan dirinya / Dan memberikan perjumpaan ketika perjumpaan tidak berguna
Kemudian tidak lama dia meninggal.
Ar-Rayyan bin Ali Al-Adib berkata: Seorang pemuda dari anak-anak salah satu temanku jatuh cinta pada seorang budak perempuan. Cinta itu membuatnya kurus dan tergila-gila hingga akalnya hilang dan dia mulai mengigau dan meracau. Aku melewatinya suatu hari di salah satu reruntuhan, aku berkata kepadanya: Wahai Abu fulan, bagaimana keadaanmu? Dia berkata: Keadaan terburuk, akal yang hilang, duka yang melekat, dan pikiran yang terus-menerus. Kemudian dia membaca syair:
Cintanya membuatku tergila-gila dan melemahkanku / Dan di lautan duka telah melemparkanku
Bagaimana caraku padahal aku tidak memiliki ketahanan / Dalam menolak apa yang menimpaku dan menghilangkan kesedihanku
Ya Tuhan, luluhkanlah hatinya, mudah-mudahan / Dia merahmati kelemahanku dan panjangnya kesedihanku
Kemudian aku melewatinya beberapa hari kemudian dan dia sedang menangis dan menggelinding di tanah. Ketika dia melihatku dia berkata: Wahai paman, aku akan mati malam ini. Aku berkata: Allah menyembuhkanmu. Maka dia meninggal di malamnya.
Ishaq Ar-Rafiqi berkata: Aku berada di suatu majelis di Rafiqah bersama beberapa orang bijak dan sekelompok pemuda. Bersama kami ada seorang pemuda yang paling tampan yang pernah kulihat, namun padanya ada tanda kehinaan cinta. Dia terus mengeluh dan menangis. Salah seorang dari mereka menyanyikan:
Sesungguhnya aku membenci setiap yang sabar / Dari kekasihnya dalam perjumpaan dan perpisahan
Kesabaran itu baik pada tempatnya / Apa hubungan pemuda yang bersedih dengan kesabaran
Dia berkata: Pemuda itu memandangnya dan air matanya berjatuhan, kemudian dia berdiri dengan kedua kakinya dan meletakkan tangannya di atas kepalanya dan berkata:
Besok akan banyak yang menangis dari kita dan kalian / Dan rumahku akan bertambah jauh dari rumah kalian
Kemudian dia melemparkan dirinya dan jatuh tersungkur dari posisi berdirinya, maka kami membawanya dalam keadaan mati.
Bab Keempat Puluh Delapan: Tentang Berita Orang-Orang yang Membunuh Diri Karena Cinta
Mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abi Manshur, dia berkata: Memberitakan kepada kami Al-Mubarak bin Abdul Jabbar, dia berkata: Memberitakan kepada kami Al-Hasan bin Ali Al-Jauhari, dia berkata: Menceritakan kepada kami Abu Umar bin Haiwiyah, dia berkata: Menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Khalaf, dia berkata: Menceritakan kepada kami Abu Said bin Syabib, dia berkata: Menceritakan kepadaku Al-Utbi, dia berkata: Khalid bin Abdullah pada suatu malam bersama para ahli fikih dari penduduk Kufah, di antaranya Abu Hamzah Ats-Tsumali, ketika Khalid berkata: Ceritakan kepada kami kisah cinta yang tidak ada kekejian di dalamnya.
Maka Abu Hamzah Ats-Tsumali berkata: Semoga Allah memperbaiki Amir. Mereka menyebutkan bahwa disebutkan di hadapan Hisyam bin Abdul Malik tentang pengkhianatan wanita dan cepatnya mereka menikah lagi. Maka Hisyam berkata: Sungguh telah sampai kepadaku tentang itu hal yang mengherankan. Salah seorang yang duduk bersamanya berkata: Aku ceritakan kepadamu tentang apa yang sampai kepadaku tentang itu. Sampai kepadaku bahwa seorang laki-laki dari Bani Yaskur yang disebut Ghassan bin Jahm bin Al-Udzafir mempunyai istri putri pamannya yang disebut Ummu Uqbah binti Amr bin Al-Abjar. Dia mencintainya dan dia juga mencintainya. Ketika kematian mendatanginya dan dia yakin akan meninggalkan dunia, dia membaca tiga bait syair kemudian berkata: Wahai Ummu Uqbah, dengarlah apa yang aku katakan dan jawablah dengan benar karena jiwaku telah merindukan untuk bertanya tentang dirimu setelah tanah menguburku. Dia berkata: Katakanlah, maka demi Allah aku tidak akan menjawabmu dengan dusta dan aku tidak akan menjadikannya sebagai akhir bagianmu dariku. Dia berkata sambil menangis dengan tangisan yang hampir menghalanginya berbicara:
Kabarkan kepadaku apa yang kau inginkan setelahku dan apa yang kau sembunyikan wahai Ummu Uqbah
Apakah kau akan menjagaku setelah kematianku karena apa yang telah / Ada dari akhlak yang baik dan persahabatan
Ataukah kau menginginkan pemilik keindahan dan harta / Dan aku di dalam tanah dalam penjara kesendirian
Maka dia menjawabnya dengan tangisan dan isak tangis:
Kami telah mendengar apa yang kau katakan dan apa yang telah / Kau khawatirkan wahai Ghassan dari Ummu Uqbah
Aku adalah wanita yang paling menjaga dan paling memelihara / Apa yang telah kau berikan dari persahabatan yang baik
Aku akan menangisimu selama aku hidup dengan kesedihan / Dan ratapan yang akan aku ucapkan dan keluhan
Dia berkata: Ketika dia mengatakan itu, jiwanya tenang meskipun di dalam jiwa ada apa yang ada. Maka dia berkata:
Demi Allah aku mempercayaimu tetapi / Kadang aku khawatir darimu pengkhianatan wanita
Setelah kematian suami, wahai sebaik-baik yang dipergauli / Maka jagalah hakku dengan pemeliharaan yang baik
Sesungguhnya aku telah berharap kau akan menjaga janji / Maka jadilah jika aku mati pada harapan itu
Kemudian lidahnya terkunci dan tidak dapat berbicara hingga dia meninggal.
Tidak lama kemudian dia dipinang dari segala penjuru dan para suami menginginkannya karena berkumpulnya sifat-sifat mulia padanya dari akal, kecantikan, kesucian, dan kehormatan. Maka dia berkata menjawab mereka:
Aku akan menjaga Ghassan meskipun rumahnya jauh / Dan aku akan memeliharanya hingga kami bertemu di hari dibangkitkan
Dan sesungguhnya aku sibuk dari semua manusia / Maka berhentilah karena tidak sepantasnya sespertiku berkhianat kepada orang yang mati
Aku akan menangisinya selama aku hidup dengan air mata / Yang mengalir di kedua pipiku dariku lalu banyak
Maka orang-orang berputus asa darinya untuk beberapa waktu. Ketika hari-hari berlalu, dia melupakan janjinya dan berkata: Siapa yang mati telah pergi. Maka dia menerima salah satu pinangannya dan menikah. Ketika malam di mana dia akan digauli, Ghassan datang kepadanya dalam mimpi ketika dia tertidur, lalu berkata:
Kau berkhianat dan tidak memelihara kehormatan suamimu / Dan tidak mengenal hak dan tidak menjaga janji
Dan tidak bersabar sebentar untuk menjaga teman / Yang kau bersumpah kepadanya suatu hari dan tidak menepati janji
Kau berkhianat kepadanya ketika dia terbaring di makamnya / Demikianlah terlupakan setiap orang yang tinggal di liang lahat
Ketika dia membaca bait-bait ini, dia terbangun dengan ketakutan dan malu darinya seolah-olah dia bermalam bersamanya di sisi rumah. Hal itu dianggap aneh oleh wanita-wanita yang hadir bersamanya, maka mereka berkata: Ada apa denganmu, apa keadaanmu, dan apa yang menimpamu? Dia berkata: Ghassan tidak meninggalkan setelahnya keinginan dalam kehidupan dan tidak ada kegembiraan dan hasrat dalam hidup setelahnya. Dia datang kepadaku dalam mimpiku tadi lalu membacakan kepadaku bait-bait ini. Dia membacakannya sambil menangis dengan air mata yang banyak dan isak tangis yang keras.
Ketika mereka mendengar itu darinya, mereka membawanya dalam pembicaraan lain agar dia melupakan apa yang dialaminya. Dia pura-pura tidak peduli kepada mereka, kemudian dia berdiri dan mereka tidak dapat menyusulnya hingga dia menyembelih dirinya sendiri karena malu dari apa yang hampir dia lakukan setelahnya berupa pengkhianatan kepadanya dan melupakan janjinya.
Telah mengabarkan kepada kami Al-Mubarak bin Ali, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhammad bin Al-Allaf, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Malik bin Bisyran, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim Al-Kindi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Al-Khara’ithi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Abbas bin Al-Fadhl, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dari Abu Miskin, dia berkata: Seekor unta milik seorang pemuda dari Tamim hilang, maka dia pergi ke sebuah perkampungan Bani Syaiban untuk mencarinya. Ketika sedang mencari, tiba-tiba dia melihat seorang gadis yang cantik seperti matahari dalam hal kecantikan dan keindahan, maka dia jatuh cinta padanya dengan cinta yang sangat dalam. Dia kembali ke kaumnya dalam keadaan sudah hilang akal, dan tidak bisa menahan diri hingga kembali lagi ke perkampungan mereka. Ketika malam telah sunyi, dia berkata (pada dirinya): “Semoga aku dapat menenangkan (diriku) dengan melihatnya dari apa yang kurasakan.” Maka dia mendatanginya dan gadis itu sedang duduk sementara saudara-saudaranya tertidur di sekelilingnya. Dia berkata kepadanya: “Wahai penyejuk mataku, demi Allah, kerinduan telah menghilangkan akalku dan mengacaukan hidupku.” Gadis itu berkata: “Pergilah, jika tidak aku akan membangunkan saudara-saudaraku dan mereka akan membunuhmu.” Dia berkata kepadanya: “Sesungguhnya dibunuh lebih ringan bagiku daripada keadaan yang kualami ini.” Gadis itu berkata: “Apakah ada sesuatu yang lebih berat daripada dibunuh?” Dia menjawab: “Ya, apa yang kurasakan dari cintaku padamu.” Gadis itu berkata: “Lalu apa yang kamu inginkan?” Dia berkata: “Berilah aku tanganmu agar dapat kutaruh di atas jantungku, dan bagimu ada janji Allah Azza wa Jalla bahwa aku akan kembali.” Maka gadis itu melakukannya dan dia pun kembali. Ketika malam berikutnya, dia datang lagi dan menemukan gadis itu dalam keadaan yang sama. Gadis itu berkata kepadanya seperti ucapan pertamanya. Dia berkata: “Berilah aku bibirmu agar dapat kucium dan aku akan pergi.” Ketika gadis itu melakukan hal itu, tercetuslah di hatinya (perasaan) terhadapnya seperti api, maka dia mulai menemuinya setiap malam. Perkampungannya dan saudara-saudaranya curiga padanya, dan mereka berkata: “Mengapa anjing ini sudah lama tinggal di gunung ini dan dia terus datang ke tempat kami?” Maka mereka bersiap untuk mencarinya pada malam itu. Gadis itu mengirim pesan kepadanya: “Orang-orang menginginkanmu, maka berhati-hatilah dan jangan lengah.” Kemudian hujan turun dari langit yang menghalangi mereka dari mencarinya. Lalu awan tersingkap dan bulan muncul. Gadis itu memakai wewangian dan menggerai rambutnya, dan dia merasa kagum pada dirinya sendiri. Dia ingin agar pemuda itu melihatnya dalam keadaan seperti itu, maka dia berkata kepada temannya yang telah mengetahui urusannya: “Wahai Fulanah, bantulah aku untuk pergi menemuinya.” Maka keduanya keluar menuju pemuda itu yang berada di gunung dalam keadaan takut akan pengejaran. Dia melihat dua sosok berjalan di bawah sinar bulan, maka dia tidak ragu bahwa keduanya adalah orang-orang yang mengejarnya. Dia mengambil anak panah dan tidak meleset mengenai jantung kekasihnya. Gadis itu jatuh tersungkur berlumuran darahnya dan terus bergerak-gerak hingga meninggal. Pemuda itu terpaku menatapnya, kemudian dia membacakan syair:
Burung gagak telah berkokok dengan apa yang kubenci, namun tidak ada yang dapat mengubah takdir Kamu menangis padahal kamu yang membunuhnya, maka bersabarlah atau bunuh diri sajalah
Kemudian dia mengumpulkan anak-anak panahnya dan terus menusukkan ke urat lehernya hingga dia membunuh dirinya sendiri.
Telah mengabarkan kepada kami Al-Mubarak bin Ali, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Muhammad, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abdul Malik, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Khara’ithi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Ad-Daulabi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ali bin Isa dari Abdurrahman bin Ishaq, dia berkata: Aku turun dari Surra Man Ra’a bersama Ishaq bin Ibrahim. Ketika kami tiba di tempat yang disebut Al-Alats, dia meminta makanan, maka kami pun makan. Di sekitar perahu yang berisi para pelayan ada dua budak perempuan, seorang penyanyi dan seorang pemain gambus, dan tirai dipasang. Pemain gambus bernyanyi:
Wahai kasihan bagi para pecinta, aku tidak melihat penolong bagi mereka Berapa kali mereka dijauhi dan dijauhkan, dipukuli namun mereka bersabar
Maka penyanyi berkata kepadanya: “Mereka melakukan apa jika tidak bersabar?” Maka dia merobek tirai dan berkata: “Mereka melakukan seperti ini,” dan melemparkan dirinya ke Sungai Tigris lalu tenggelam. Di hadapan Ishaq bin Ibrahim ada seorang budak lelaki yang paling tampan wajahnya di antara manusia. Ketika dia melihat apa yang dilakukan budak perempuan itu, dia berkata:
Engkaulah yang menenggelamkanku setelah takdir, andai kamu mengetahui Tidak ada kebaikan setelahmu jika kami tetap hidup, dan kematian adalah perhiasan para pecinta
Dan dia melemparkan dirinya mengikutinya lalu tenggelam. Hal itu sangat menyedihkan Ishaq, maka dia memerintahkan agar keduanya dikeluarkan dari air, lalu keduanya dikeluarkan dari air dan dikuburkan.
Kisah ini telah diriwayatkan kepada kami dengan versi lain.
Telah mengabarkan kepada kami Syahdah binti Ahmad, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Ja’far bin Ahmad As-Sarraj, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Hasan bin Ali Al-Jauhari, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Al-Abbas, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad Al-Katib, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Maimun bin Harun Al-Katib, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Ishaq Al-Qadhi, dia berkata: Aku turun dari Surra Man Ra’a bersama Muhammad bin Ibrahim, saudara Ishaq, dan Sungai Tigris sedang menggelora karena banyaknya air. Ketika kami berlayar sebentar, dia berkata: “Sandarkan kami.” Kemudian dia meminta makanannya dan kami makan. Lalu dia berkata: “Bagaimana menurutmu tentang nabidz (minuman anggur)?” Aku berkata kepadanya: “Semoga Allah memuliakan sang Amir, Sungai Tigris ini telah datang dengan arus yang sangat besar yang menakutkan, dan antara Anda dan tempat tujuan Anda ada satu malam perjalanan. Jika Anda mau, sebaiknya tunda.” Dia berkata: “Aku harus minum.” Maka tirai dipasang dan seorang penyanyi mulai bernyanyi, kemudian yang lain bernyanyi:
Wahai kasihan bagi para pecinta, aku tidak melihat penolong bagi mereka Berapa kali mereka dimaki dan dipukuli, dijauhi namun mereka bersabar
Maka penyanyi pertama berkata kepadanya: “Mereka melakukan apa?” Dia berkata: “Mereka melakukan seperti ini,” lalu mengangkat tirai dan melemparkan dirinya ke Sungai Tigris. Di hadapan Muhammad ada seorang budak lelaki yang dikisahkan harganya seribu dinar, di tangannya ada kipas, aku belum pernah melihat yang lebih tampan darinya. Dia meletakkan kipas dan melemparkan dirinya ke Sungai Tigris sambil berkata:
Engkaulah yang menenggelamkanku setelah takdir, andai kamu mengetahui
Maka para pelaut ingin melemparkan diri mereka mengikuti keduanya, namun Muhammad berteriak kepada mereka: “Biarkan mereka tenggelam, laknat Allah!”
Dia berkata: Aku melihat keduanya telah keluar dari air dalam keadaan berpelukan, kemudian tenggelam.
Telah sampai kepadaku dari Jamil bin Ma’mar Al-Udzri bahwa dia berkata: Aku masuk menghadap Abdul Malik bin Marwan, maka dia berkata: “Wahai Jamil, ceritakan kepadaku sebagian kisah Bani Udzrah, karena telah sampai kepadaku bahwa mereka adalah orang-orang yang beradab dan pandai dalam ghazal (puisi cinta).”
Maka aku berkata: “Baik, wahai Amirul Mukminin. Suatu kali mereka pergi mencari tempat penggembalaan dari perkampungan mereka, dan mereka menemukan penggembalaan di tempat yang jauh, maka mereka menetap di sana. Aku keluar mencari mereka, dan ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku tersesat dan malam telah datang. Tampaklah untukku sebuah pintu, maka aku menuju ke sana hingga sampai pada seorang penggembala di kaki gunung yang telah menggiring kambingnya ke sebuah gua di gunung. Aku memberi salam kepadanya, dia menjawab salam dan berkata: ‘Aku kira kamu telah tersesat.’ Aku berkata: ‘Benar demikian, maka tunjukkanlah aku jalan.’ Dia berkata: ‘Turunlah hingga kamu beristirahat dan bermalam, jika sudah pagi aku akan menunjukkan jalan yang benar kepadamu.’
Maka aku turun, dia menyambutku dan memuliakan aku, lalu menyembelih seekor kambing, menyalakan api, mulai memanggang dan memberikan kepadaku sambil berbincang denganku. Kemudian dia pergi ke sebuah kain yang ada bersamanya, memotong sebagian untuk menutup sisi kemah, meratakan untukku satu sisi dan meninggalkan sisi lainnya kosong.
Ketika malam tiba, aku mendengarnya menangis dan mengeluh kepada sosok yang bersamanya, maka aku terjaga sepanjang malam. Ketika pagi tiba, aku meminta izin namun dia menolak dan berkata: ‘Jamuan tamu itu tiga hari.’ Maka aku tinggal bersamanya dan menanyakan tentang namanya, nasabnya, dan keadaannya. Dia menyebutkan nasabnya kepadaku dan ternyata dia dari Bani Udzrah dari orang-orang mulia mereka. Aku berkata: ‘Wahai ini, apa yang membawamu ke tempat ini?’ Dia memberitahuku bahwa dia mencintai putri pamannya dan dia mencintainya, dan bahwa dia melamarnya kepada ayahnya namun ayahnya menolak menikahkannya dengannya karena sedikitnya hartanya, dan dia menikahkannya dengan seorang lelaki dari Bani Kilab, lalu membawanya keluar dari perkampungan dan tinggal di tempat itu, dan bahwa dia menyamar dan rela menjadi penggembala agar putri pamannya datang kepadanya dan dia dapat melihatnya.
Dia terus mengeluhkan kerinduannya dan cintanya padanya hingga ketika malam datang dan waktunya dia datang tiba, dia mulai gelisah, berdiri dan duduk seperti orang yang menunggu. Namun gadis itu terlambat dari waktu biasanya, kerinduan menguasainya, maka dia bangkit berdiri dan membacakan syair:
Mengapa Mayyah tidak datang seperti biasanya, apakah dia dihantui kerinduan ataukah ada kesibukan yang menghalanginya Namun hatiku tidak terlalaikan oleh selain kalian hingga kematian, dan aku tidak punya harapan selain kalian Kamu tidak tahu apa yang kurasakan dari perpisahan dengan kalian, ketika aku sakit dan tidak ada yang menyenangkan untukmu Jiwaku menjadi tebusanmu, kamu telah membangkitkan penyakit bagiku yang panasnya hampir memisahkan anggota badan Jika ada keadaanku yang menimpa gunung, niscaya gunung itu akan runtuh dan hancur dari fondasinya
Kemudian dia berkata: ‘Wahai saudaraku dari Bani Udzrah, tunggulah di sini hingga aku kembali kepadamu, karena aku tidak menyangka keadaan putri pamanku baik-baik saja.’
Kemudian dia pergi, tidak lama dia kembali dengan membawa sesuatu di tangannya dan suara isak tangisnya meninggi. Dia berkata: ‘Wahai saudaraku dari Bani Udzrah, ini putri pamanku, dia ingin datang kepadaku namun diserang singa lalu dimakan.’
Kemudian dia meletakkannya dari tangannya dan berkata: ‘Tunggulah sebentar hingga aku kembali kepadamu,’ dan dia pergi. Dia lama hingga aku putus asa akan kepulangannya, kemudian dia datang dengan kepala singa di tangannya. Dia mulai menusuk-nusuk gigi singa itu sambil berkata:
Wahai singa yang menghancurkan dirinya sendiri, celakalah kamu, tanganmu telah membawa kesedihan bagi kami Dan meninggalkanku sendirian padahal aku dulunya berpasangan, dan menjadikan perut bumi sebagai penjara bagi kami Aku berkata kepada zaman yang mengkhianatiku dengan perpisahan ini: aku berlindung kepada Tuhanku agar aku tidak menjadi kekasihnya
Kemudian dia berkata: ‘Wahai saudaraku dari Bani Udzrah, kamu akan melihatku mati di hadapanmu. Jika aku mati, datangilah aku dan putri pamanku, kafani kami dalam satu kain kafan dan gali untuk kami satu liang kubur, lalu kuburkan kami di dalamnya. Tulislah di atas kuburan kami dua bait ini:
Kami di atas (permukaan)nya dengan kehidupan yang tenteram, dan kebersamaan mengumpulkan kami, rumah dan tanah air Maka zaman dan perubahan memisahkan keakraban kami, lalu kain kafan mengumpulkan kami di dalam (perut)nya
Kembalikan kambing-kambing kepada pemiliknya dan beritahukan kepadanya kisah kami.’
Kemudian dia mengambil tali dan melemparkannya ke lehernya. Aku memohon kepadanya demi Allah agar tidak melakukannya namun dia menolak, dan terus mencekik dirinya hingga jatuh mati. Maka aku mengafani keduanya dan menguburkan mereka dalam satu kubur sebagaimana dia perintahkan, dan menuliskan dua bait itu di atas kubur mereka. Aku mengembalikan kambing-kambing kepada pemiliknya dan memberitahukan kepadanya kisah mereka. Dia bersedih sangat dalam, aku khawatir padanya atas dirinya sendiri karena penyesalannya atas kelalaiannya dalam menyatukan mereka.”
Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abi Manshur, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Al-Mubarak bin Abdul Jabbar, dia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar Al-Khatib, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Hakim Abu Al-Qasim Hibatullah bin Al-Husain Ar-Rahabi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Ali bin Ahmad bin Muhammad Al-Harami, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Ali bin Ahmad Al-Muhalabi, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Abdullah Al-Qurasyi, dia berkata: Aku melihat seorang lelaki menegur kekasihnya di jembatan, dan aku dekat dengan mereka sehingga aku mendengar apa yang mereka bicarakan. Dia berkata kepadanya: “Bukankah aku telah berbuat ini kepadamu? Bukankah aku telah melakukan itu kepadamu?” Dia terus menghitung apa yang telah dia berikan kepadanya. Maka kekasih itu berkata: “Apa yang kamu lakukan itu karena cintamu atau cintaku?” Dan pembicaraan di antara mereka berlanjut hingga dia berkata: “Kamu telah membuatku jengkel, apa yang kamu ingin aku lakukan pada diriku hingga kamu puas?” Dia berkata: “Lemparkan dirimu ke air ini jika kamu jujur dalam klaimmu.”
Maka aku melihat dia dengan selendang di kepalanya, dia telah melilit kepalanya dengan selendangnya dan melemparkan dirinya ke Sungai Tigris. Sesuatu masuk ke dalam diriku yang menguasaiku hingga aku pingsan dan tidak tahu apa yang terjadi setelah itu.
Telah sampai kepada kami dari Sa’id bin Ahmad, dia berkata: Aku melihat di Bashrah di Khan Atha bin Muslim seorang pemuda dengan pisau di tangannya dan dia berseru dengan suara keras sementara orang-orang di sekelilingnya:
Hari perpisahan lebih panjang dari hari kiamat, dan kematian lebih indah daripada rasa sakit perpisahan Mereka berkata: Kepergian. Maka aku berkata: Aku tidak akan pergi, namun jiwaku yang akan pergi
Kemudian dia menusuk perutnya dengan pisau dan jatuh mati. Aku bertanya tentang dia dan urusannya, maka dikatakan kepadaku bahwa dia mencintai seorang pemuda milik salah satu raja dan (pemuda itu) dihalangi darinya selama satu hari saja.
Dan Abu Abdullah Al-Husain bin Muhammad Ad-Damagani bercerita, dia berkata: Ada seorang sufi besar di negeri Persia, dia diuji dengan (cinta pada) seorang pemuda muda, maka dia tidak dapat menahan dirinya ketika jiwanya mengajaknya kepada kemaksiatan. Dia takut kepada Allah Ta’ala, kemudian menyesal atas keinginan ini. Rumahnya berada di tempat yang tinggi dan di belakang rumahnya ada lautan air. Ketika penyesalan menguasainya, dia naik ke atap dan melemparkan dirinya ke air sambil membaca ayat: “Maka bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu sendiri” (Al-Baqarah: 54), lalu tenggelam di air.
Para ahli sejarah menyebutkan bahwa Syirin dilahirkan di Madain dan dia adalah anak yatim di rumah seorang lelaki dari kalangan bangsawan di lingkungan Hurmuz Anu Syarawun. Abarwaiz (Khusrau Parviz) masih kecil dan sering masuk ke rumah lelaki ini, bermain dengan Syirin dan bercanda dengannya, dan dia bercanda dengannya. Maka Syirin mengambil tempat di hatinya. Lelaki yang rumahnya ditempati Syirin melarangnya untuk mendekati Abarwaiz. Kemudian suatu hari dia melihat Syirin telah mengambil cincin dari jari Abarwaiz, maka dia berkata: “Bukankah aku telah memerintahkanmu untuk berhenti mendekati anak ini agar tidak menyeret kami pada kebinasaan?” Kemudian dia memerintahkan seseorang yang dipercayainya untuk membawa Syirin ke tepi Sungai Efrat dan menenggelamkannya. Orang itu membawanya ke tepi Sungai Efrat untuk menenggelamkannya. Syirin berkata kepadanya: “Apa yang kamu dapatkan dari menenggelamkan aku?” Dia berkata: “Aku telah bersumpah kepada tuanku dan tidak ada jalan lain.” Dia berkata: “Tidak ada salahnya bagimu kecuali membawaku ke tempat di Efrat yang airnya dangkal, lemparkan aku ke sana dan tinggalkan aku dan pergilah. Jika aku selamat, aku tidak akan menampakkan diri selama masih hidup, dan jika aku mati, tidak ada dosa bagimu.” Dia berkata: “Aku akan melakukan itu.” Maka dia datang ke tempat yang airnya sebatas lutut, lalu mendorongnya ke sana dan meninggalkannya bergerak-gerak dan dia pergi tanpa menoleh padanya. Lalu dia menemui tuannya dan memberitahunya serta bersumpah kepadanya bahwa dia telah menenggelamkannya. Kemudian Syirin keluar dari air dan datang ke salah satu biara yang ada di tepi Sungai Efrat, dia berlindung di sana dan memberitahu para rahib bahwa dia telah mengabdikan dirinya kepada Allah Ta’ala. Maka mereka berbuat baik kepadanya. Ketika kerajaan menetap untuk Abarwaiz setelah ayahnya Hurmuz dan dia mengirim utusannya kepada Kaisar, utusan-utusan itu melewati biara. Syirin bertanya tentang hal itu dan diberitahu bahwa orang-orang itu adalah utusan Raja Abarwaiz membawa hadiah untuk Kaisar. Mereka memberitahunya tentang kerajaannya dan keadaannya. Maka dia mengirim surat kepada pemimpin utusan sebagai nasihat, memberitahu bahwa dia adalah budak untuk Raja Abarwaiz, dan memintanya mengirim utusan kepadanya untuk memberitahu tentang tempatnya. Dia mengirim cincin itu bersamanya. Maka lelaki itu mengutus utusan yang langsung pergi kepada raja untuk memberitahukan kabar Syirin, tempatnya, dan cincinnya.
Ketika utusan tiba pada Abarwaiz, dia memberikan kepada utusan harta yang besar dan memberikan jabatan yang tinggi karena kabar gembiranya, dan mengirim bersamanya pelayan, kendaraan, tandu, pakaian, perhiasan, wewangian, dan budak-budak perempuan hingga mereka membawa Syirin kepadanya. Dia menerima kegembiraan darinya yang tidak pernah dia alami dari apapun, dan dia adalah wanita paling sempurna dalam kesempurnaan, keindahan, dan kecerdasan.
Abarwaiz menyebutkan bahwa dia tidak pernah menyetubuhinya kecuali mendapatinya seperti perawan. Dia telah membuat syarat pada dirinya bahwa dia tidak akan mendatangi wanita merdeka atau budak kecuali satu kali, dan setiap dari mereka berjanji kepada yang lain untuk tidak berkumpul dengan orang lain untuk bersetubuh. Ketika Abarwaiz meninggal, Syirawayh menginginkannya namun dia menolak dan memberitahukan kepadanya tentang janji-janji. Maka dia menuduhnya dengan segala macam perzinaan dan mengutus para penyair untuk mencelanya. Ketika dia memaksa dan Syirin tidak menemukan jalan keluar setelah dia merampas semua hartanya dan tanah-tanahnya, dia berkata: “Aku akan melakukan apa yang kamu minta setelah kamu mengabulkan tiga permintaanku: kembalikan harta dan tanah-tanahku, serahkan kepadaku para pembunuh suamiku, dan panggil para ulama dan bangsawan, naiklah ke mimbar dan bersihkan aku dari tuduhan zina yang kamu tuduhkan kepadaku.”
Maka dia melakukan itu, dan Syirin membunuh para pembunuh suaminya dengan cara pembunuhan yang paling keji. Dia berkata kepadanya: “Apakah masih ada kebutuhanmu?” Dia berkata: “Ya, sesungguhnya raja menitipkan kepadaku sesuatu dan menjadikannya amanah di leherku bahwa jika aku menikah, aku akan mengembalikannya kepadanya. Maka perintahkanlah membuka peti mati agar aku dapat menyerahkan amanah kepadanya.” Maka dia membukakan peti mati untuknya. Dia masuk dan mencabut batu cincin di tangannya yang di bawahnya ada racun, lalu dia menghisapnya, kemudian memeluk Abarwaiz dan melilitkan tangan dan kakinya padanya hingga meninggal.
Ketika dia lama (tidak keluar) pada para pengasuh dan pelayan, mereka memanggilnya namun dia tidak menjawab. Mereka masuk dan menemukan dia telah mati dalam posisi memeluk Abarwaiz. Mereka kembali dan memberitahu Syirawayh, maka dia menyesal dengan penyesalan yang tidak dapat digambarkan dan mulai menggigit jari-jarinya atas perbuatannya.
Aku berkata: Telah disebutkan sebelumnya dalam bab tipu muslihat dan pengambilan risiko beberapa orang yang membunuh diri mereka karena cinta, maka kami tidak perlu mengulang penyebutan mereka.
Pasal
Lihatlah, semoga Allah memberimu taufik, kepada apa yang telah diperbuat oleh cinta pada orang-orang yang tertipu ini, antara yang membunuh dirinya sendiri dan membunuh orang lain.
Adapun membunuh orang lain, Allah Azza wa Jalla telah berfirman: “Barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (Surah An-Nisa: 93) Dan Allah berfirman: “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar.” (Surah Al-An’am: 151) Dalam Shahihain dari hadits Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau menyebutkan perbuatan-perbuatan yang membinasakan, dan beliau menghitung di antaranya: membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar.
Adapun membunuh diri sendiri, Allah Ta’ala telah berfirman: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri.” (Surah An-Nisa: 29) Telah mengabarkan kepada kami Hibatullah bin Muhammad bin Al-Hushain, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Ali bin Al-Madzhab, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ja’far, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Waki’, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa meminum racun lalu membunuh dirinya sendiri, maka ia akan meminumnya di neraka Jahanam, kekal selamanya di dalamnya. Barangsiapa membunuh dirinya dengan besi, maka besinya akan menusuk-nusuk perutnya di neraka Jahanam, kekal selamanya di dalamnya. Dan barangsiapa menjatuhkan dirinya dari gunung lalu membunuh dirinya, maka ia akan terus menjatuhkan dirinya di neraka Jahanam, kekal selamanya di dalamnya.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahihain.
Perkataan “kekal selamanya di dalamnya” dipahami bagi orang yang menghalalkan perbuatan itu.
Dalam Shahihain dari hadits Jundub bin Abdullah Al-Bajali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: Ada seorang laki-laki di kalangan orang-orang sebelum kalian yang menderita luka, lalu ia gelisah dan mengambil pisau kemudian menyayat tangannya, maka darahnya tidak berhenti hingga ia meninggal. Allah Ta’ala berfirman: “Hamba-Ku telah mendahului-Ku dengan jiwanya, maka Aku haramkan surga untuknya.”
Bab Empat Puluh Sembilan: Tentang Obat-obatan Cinta
Pantangan yang harus dijaga di masa sehat tidak boleh ditinggalkan.
Apabila telah diketahui penyebab-penyebab suatu penyakit, maka wajib menghindarinya.
Diketahui bahwa semua tabiat sama dalam kecenderungan pada hawa nafsu, maka seharusnya orang yang berhati-hati menghindari penyebab-penyebabnya. Apabila ia terkena sesuatu dari penyakit itu, wajib baginya segera menemui tabib sebelum sulit untuk diperbaiki atau terlanjur binasa.
Pasal
Di antara kelalaian buruk yang menyebabkan kejahatan paling berat pada diri adalah berbincang-bincang dengan wanita asing dan berduaan dengan mereka.
Telah menjadi kebiasaan sekelompok orang Arab yang berpendapat bahwa hal itu bukan aib, dan mereka yakin pada diri mereka untuk tidak melakukan zina, lalu mereka puas dengan melihat dan berbincang-bincang. Hal-hal seperti itu bekerja di dalam batin sedangkan mereka lalai dari hal itu hingga binasa.
Inilah yang menimpa Majnun Laila dan lainnya yang mengeluarkan mereka kepada kegilaan dan kehancuran.
Kesalahan mereka dari dua sisi:
Pertama, menyelisihi syariat yang melarang dari melihat dan berduaan.
Kedua, menghadapkan tabiat pada apa yang telah diciptakan untuk condong kepadanya, kemudian berusaha menahannya dari hal itu. Maka tabiat akan mengalahkan. Jika ia mengalahkan, terjadilah maksiat. Dan jika dikalahkan, terjadilah kerusakan dengan mencegah orang haus dari mengambil air.
Ketahuilah bahwa penyakit cinta berbeda-beda, maka seharusnya pengobatannya pun berbeda.
Bukan pengobatan orang yang baru permulaan penyakitnya seperti pengobatan orang yang telah sampai pada akhir penyakitnya.
Sesungguhnya penyakit ini diobati bagi yang belum naik ke puncaknya. Karena jika telah sampai puncak, ia menyebabkan kegilaan dan kehilangan kesadaran, dan itu adalah keadaan yang tidak menerima pengobatan.
Berkata Buqrat (Hippocrates): Aku memadamkan penyakit-penyakit dengan obat-obatan dan menempatkannya setara dengan penyebabnya, namun aku tidak mampu menemukan obat cinta setelah menguat untuk menyembuhkannya.
Berkata Al-Buhturi:
Sungguh telah berkata tabibku Dan tabibku adalah orang yang pandai Keluhkanlah apa yang engkau mau selain cinta Maka sesungguhnya aku tidak peduli Sakit cinta itu murah Dan obat cinta itu mahal
Berkata Abu Ghalib bin Bisyran:
Seorang penasihat berkata kepadaku ketika melihat Air mataku telah melukai pelupuk mataku Kapan engkau sadar dan melupakan cinta Maka aku berkata: Jika hatiku bersamaku
Berkata yang lain:
Masukmu ke pintu cinta jika engkau menginginkannya Itu mudah, tetapi keluarnya sangat sulit
Pasal
Jika ada yang berkata: Bagaimana disebutkan obat untuk cinta sedangkan ia adalah kegelisahan tanpa ketenangan dan kemabukan tanpa kesadaran, lalu dikatakan kepada yang jatuh cinta di udara: “Tahanlah dirimu”?
Jawabannya dari dua sisi:
Pertama, kami telah mengatakan bahwa penyakit ini hanya diobati sebelum sampai akhirnya, karena itu adalah keadaan-keadaan yang mungkin diobati.
Kedua, bahwa setiap sesuatu memiliki sebab yang melemahkannya dan menguatkannya.
Maka aku akan memberitahumu sebab yang melemahkan cinta dan meringankannya, dan aku memperingatkanmu dari sebab yang menambah kekuatannya.
Maka aku tidak berkata kepadamu: “Cegahlah api agar tidak membakar,” tetapi aku berkata: “Padamkanlah ia.” Dan tidak aku katakan: “Tolaklah air agar tidak menenggelamkan,” tetapi aku mengajarimu berenang. Dan inilah saat kita memulai menyebutkan penyakit dan pengobatan, dan Allah-lah yang memberi taufik.
Pasal
Ketahuilah bahwa permulaan cinta pada umumnya terjadi saat melihat keindahan.
Untuk terjadinya cinta dengan penglihatan ini ada tanda, yaitu jika penglihatan jatuh pada yang dianggap indah, berdetak-detaklah hati seperti hampir terbang kepadanya. Jika seseorang mengembalikan pandangan, hati menjadi gelisah hingga kembali. Jika dilepaskan kemudian ditarik, kendali terlepas dengan paksa dan kembali melihat.
Ini adalah tanda cinta yang hampir tidak pernah meleset.
Hanya saja di antara manusia ada yang hatinya terikat pada yang dipandang pada pandangan pertama. Jika ia mengulangi pandangannya, tampaklah baginya cacat-cacat yang belum tampak, maka hilanglah apa yang terikat di hatinya. Karena jiwa membayangkan pada awal pandangan dari bentuk itu suatu makna yang dibantu oleh khayalan syahwat dan bayangan kenikmatan, lalu sifat itu bertambah dari kadar pandangan mata. Jika pandangan diulang dan diteliti, terbukti hakikat bentuk yang sebenarnya, maka hilanglah tambahan-tambahan khayalan dan percikan-percikan bayangan, lalu dinginlah hati sang pencinta karena hilangnya bayangan. Betapa banyak wanita yang dianggap indah dengan cadarnya, namun jika ia membuka wajahnya tidak dianggap indah.
Telah memberitakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Thahir, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Al-Thayyib Al-Thabari, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Mu’afa bin Zakariya, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Sahl Al-Razi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abdullah, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami pamanku, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami sebagian ulama Bashrah bahwa seorang laki-laki dan istrinya bersengketa kepada seorang amir dari para amir Irak. Wanita itu bercadar dengan baik namun buruk wajahnya saat terbuka, dan ia memiliki lidah yang fasih. Seolah-olah hakim condong padanya, lalu ia berkata: “Salah seorang dari kalian bermaksud menikahi wanita yang mulia, kemudian berbuat buruk kepadanya.”
Maka laki-laki itu mengangkat cadar dari wajahnya. Hakim berkata: “Laknat atasmu, perkataan orang yang teraniaya, namun wajah yang menzalimi.”
Pasal
Adapun jika pandangan itu dengan penelitian dan kepastian, dan dengan pengulangannya penyakit bertambah, maka itulah cinta yang telah menguat.
Yang wajib bagi siapa yang pandangannya jatuh pada yang dianggap indah lalu menemukan kenikmatan pandangan itu di hatinya, hendaklah ia memalingkan pandangannya. Apabila ia menelaah pandangan itu atau mengulanginya, ia jatuh dalam celaan menurut syariat dan akal.
Jika dikatakan: Jika cinta terjadi pada pandangan pertama, celaan apa bagi yang melihat?
Jawabannya: Jika pandangan itu sekilas, hampir tidak menyebabkan cinta. Yang menyebabkannya hanyalah perhatian mata pada yang dipandang sejumlah waktu untuk mengamatinya, dan itu dilarang.
Seandainya kita memperkirakan terjadinya pada sekilas, maka pengaruh cinta yang timbul mudah untuk dihilangkan dengan apa yang terjadi. Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Nashir, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Al-Mubarak bin Al-Jabbar, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad Al-Jauhari dari Abu Umar bin Haiwih dari Ibnu Al-Marzuban, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Amr, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Al-Mundzir, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abdul Aziz bin Imran dari yang menceritakan kepadanya, ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Umar bin Al-Khaththab lalu berkata: “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya aku melihat seorang wanita cantik lalu aku jatuh cinta padanya.” Umar berkata: Itu adalah sesuatu yang tidak dikuasai.
Jika dikatakan: Apa pengobatan cinta jika terjadi pada pandangan pertama?
Dikatakan: Pengobatannya adalah berpaling dari melihat. Karena melihat seperti biji yang dilemparkan ke tanah. Jika tidak diperhatikan, ia akan kering. Dan jika disiram, ia akan tumbuh. Demikian pula pandangan jika diikuti dengan yang serupa.
Pasal
Jika terjadi kelalaian dengan mengikuti satu pandangan dengan pandangan lain, maka pandangan kedua itulah yang ditakuti dan diwaspadai. Maka tidak sepatutnya meremehkan pandangan ini, karena mungkin ia menimbulkan kerinduan yang menumpahkan darah si pencinta.
Telah membacakan syair kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: Telah membacakan syair kepada kami Abu Zakariya, ia berkata: Telah membacakan syair kepada kami Ibnu Nahriz Al-Baghdadi:
Ia terlena dengan cinta hingga jatuh cinta Lalu ketika cinta itu menguasainya, ia tidak kuat Ia melihat lautan luas, mengiranya ombak Lalu ketika cinta itu menguasai kami, ia tenggelam Dan ketika ia melihat air mata bercucuran Dan melihat isi dadanya terbakar Ia berharap sadar dari mabuknya Namun tidak mampu dan tidak sadar
Pengobatan pandangan ini adalah dengan melihat pada apa yang telah disebutkan sebelumnya tentang perintah menundukkan pandangan, peringatan dari bahaya melihat, takut akan hukuman dari Allah Subhanahu baik segera maupun nanti, dan waspada dari akibat buruknya serta apa yang ditarik dan diperbuat. Maka terbaharulah dari tekad untuk menundukkan pandangan suatu makna yang disebut putus asa (ya’s), dan ia adalah obat yang memutuskan.
Berkata para ahli hikmah: Putus asa adalah salah satu dari dua ketenangan.
Berkata penyair:
Aku berusaha untuk suatu perkara namun takdir tidak menjalankannya Dan aku tidak melihat seorang pun yang melampaui takdir Maka aku telah bersabar atas perintah Allah dengan mengharap pahala Dan putus asa dari sesuatu yang paling mirip dengan kemenangan
Jadikanlah bagimu dalam penundukan pandangan dari yang diinginkan ini niat yang engkau harapkan pahalanya, engkau peroleh keutamaannya, dan engkau masuk dalam golongan orang yang mencegah jiwa dari hawa nafsu.
Dan lihatlah pada bab pahala orang yang menundukkan pandangannya dari yang haram, karena telah disebutkan sebelumnya.
Pasal
Jika pengulangan pandangan telah mengukir bentuk sang kekasih di hati dengan ukiran yang kuat, dan tanda hal itu adalah penuhnya hati dengan sang kekasih seolah-olah ia melihatnya berada di dalam dada, seolah-olah memeluknya saat tidur dan berbincang dengannya di tempat sepi, maka ketahuilah bahwa sebab hal ini adalah berharap untuk mendapatkan yang dicari. Dan cukuplah harapan itu sebagai penyakit. Jarang terjadi kerusakan kecuali pada yang diharapkan.
Karena sesungguhnya jika seseorang melihat istri raja lalu mencintainya, hatinya hampir tidak terikat padanya karena putus asa dari yang sepertinya.
Adapun yang berharap pada sesuatu, maka harapan itu membawanya untuk mencarinya dan menyiksanya jika tidak mendapatkannya. Telah berkata penyair:
Tidaklah jiwa kecuali di mana pemuda menempatkannya Jika ia diberi harapan, ia merindukan, dan jika tidak, ia lupa
Berkata yang lain:
Maka aku berkata kepadanya: Wahai Azza, setiap musibah Jika jiwa telah menenangkannya suatu hari, ia akan tenang
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ali bin Khalaf, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Abdurrahman Al-Sulami, ia berkata: Aku mendengar Abu Nashr Al-Thusi berkata: Aku mendengar Abu Muslim Al-Ishfahani berkata: Berkata Ali bin Sahl: Aku mencari ketenangan dan aku mendapatkannya dalam putus asa.
Pengobatan penyakit ini adalah tekad yang kuat untuk menjauh dari sang kekasih, keputusan yang tegas untuk menundukkan pandangan darinya, meninggalkan harapan padanya, dan menenangkan jiwa pada putus asa darinya, serta melihat pada apa yang telah disebutkan sebelumnya tentang celaan hawa nafsu dan peringatan dari hal itu.
Pasal
Jika pengulangan pandangan telah memperkuat ukiran bentuk sang kekasih di hati lalu hal itu berpengaruh dengan kuatnya pikiran, bertambahnya syahwat, dan kerasnya kegelisahan, maka sebab hal itu adalah bertambahnya harapan dan kekuatannya.
Telah aku beritahu kepadamu bahwa cinta itu seperti pohon dan pandangan-pandangan itu seperti air yang mengalir kepadanya. Setiap kali ia menyiraminya, ia bertambah tinggi dan kuat. Sesungguhnya malapetaka-malapetaka ini masuk dari pintu melepaskan pandangan pada apa yang dilarang syariat. Dengan hal itu, kekuasaan hawa nafsu menguasai hati, lalu menyebar bala tentara kerusakan di wilayah badan. Betapa banyak penyakit ini menguasai seseorang namun tidak berpengaruh padanya celaan yang mencelanya dan pukulan yang memukulnya.
Telah memberitakan kepada kami Ali bin Ubaidullah, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abi Nashr, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Manshur bin Al-Nu’man, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Muslim Al-Katib, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Duraid, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami Abu Hatim, ia berkata: Berkata Al-Ashma’i: Seorang Arab Badui menikahi seorang wanita dari Bani Uqail. Ia mendengarnya membaca syair cinta, lalu ia berkata kepadanya: “Apa ini yang engkau baca? Mungkin engkau sedang jatuh cinta. Jika aku mendengarmu mengulangi seperti ini, sungguh aku akan memukul punggungmu dan perutmu.” Maka wanita itu mulai mengatakan:
Jika mereka memukul punggungku dan perutku keduanya Maka tidak ada yang memukul hati di antara tulang rusukku
Maka ia menceraikannya.
Pengobatan penyakit ini dari jenis yang telah disebutkan sebelumnya, hanya saja ia harus lebih kuat darinya. Karena ia memerlukan kekuatan yang sangat dalam tekad untuk menundukkan pandangan dan meninggalkan sang kekasih dengan putusnya yang tegas, agar kembali dengan penundukan pandangan itu layu tumbuhan cinta yang telah disiram dengan air pandangan-pandangan menjadi hancur.
Engkau tahu bahwa jika air lembah terputus, angin akan meniupnya dan mengeringkannya, lalu kembali seolah tidak pernah ada.
Dan keadaan terus berpisah dari kekasih bekerja dalam menghapus apa yang terukir di hati, maka ia menghapus sedikit demi sedikit tanpa disadari, sebagaimana berlalunya waktu menghapus bekas musibah dari hati.
Dan apabila tekad sudah kuat sehingga memutus harapan dan mengukuhkan rasa putus asa, kemudian dipikirkan tentang ketakutan akan akibat-akibat di dunia dan hukuman di akhirat, dan diulang-ulang kepada jiwa tentang apa yang telah disebutkan mengenai celaan terhadap hawa nafsu dan apa yang telah dilakukannya kepada para pengikutnya sehingga melemahkan mereka, menyakiti mereka, menghilangkan agama dan dunia mereka serta kehormatan mereka di antara manusia, maka mereka meminta pertolongan setelah terlambat, sebagaimana yang dikatakan Muhammad bin Munadzir:
Siapa pemuda yang berada dalam cinta Yang minumannya adalah racun cinta Setiap kali ia menyembunyikan kesakitan cinta Air mata menunjukkannya Terjaga, tidak bisa tidur Ketika malam menjadi gelap Setiap kali memandang bintang Yang jatuh, ia memandang bintang lain Wahai orang-orang kepercayaanku, cinta telah mengikat Hidungku dan mulutku Wahai saudaraku, penyakitku adalah kesakitan cinta Sedangkan penyakit manusia adalah demam Jangan mencela orang yang terbuka aibnya dalam Cinta, karena cinta itu buta
Pasal: Jika seseorang berkata: Sungguh besar dosa yang telah kulakukan terhadap diriku, aku telah berulang kali memandang dan terukir gambaran kekasih di hatiku, dan ini menimbulkan kegelisahan yang terus-menerus. Jiwaku melihat bahwa ia bisa sembuh dari penyakit ini dengan mengulang pandangan dan kunjungan kepada kekasih. Namun ketika kulakukan, keadaan semakin parah dan aku tidak mampu bersabar meninggalkan kekasih sejenak pun. Apakah ada obat untuk ini agar aku bisa memperbaiki keadaanku sebelum binasa?
Jawabannya: Bagaimana aku menyuruhmu meninggalkan orang yang tidak bisa kamu sabari sejenak pun? Dan bagaimana aku tidak menyuruhmu padahal kamu berada di tepi kehancuran, sudah bermain-main dengan badanmu dan agamamu? Kamu seperti kata penyair:
Banyak celaan terhadapmu Dan di mana pendengaranku dan mereka
Dan yang lain berkata:
Para penasehat datang pagi-pagi Sedangkan bisikan cinta membunuhnya Ia berada di lembah yang tidak ada padanya Dan cinta menyibukkannya dari mereka Mereka berharap ia melupakan Sedangkan harapannya adalah yang menghubunginya
Dan dengan ini, aku tetap harus menasihatimu selama ucapan masih sampai ke pendengaranmu.
Jika keinginan mendatangi kekasihmu masih berputar di hatimu:
Maka jangan datang kepada pemberi nasihat Karena kamu tidak akan mendapat manfaat dari nasihat-nasihat
Sesungguhnya obat hanya diresepkan untuk orang yang mau menerima. Adapun orang yang bingung, maka obat akan sia-sia baginya. Jika sungguh-sungguh tekadmu untuk menggunakannya, maka dengarlah, aku akan menjelaskan untukmu.
Ketahuilah bahwa khayalan yang terjadi padamu bahwa saling mengunjungi dan memandang akan menyembuhkan sebagian penyakit adalah khayalan yang rusak.
Jika kamu berkata: Aku merasa tenang dalam keadaan itu.
Jawabannya: Sesungguhnya kerinduan hanya tenang karena kedekatan. Ketika terjadi perpisahan, api kerinduan semakin menyala-nyala. Maka kamu dalam perumpamaan seperti orang yang kehausan minum khamar, ia merasakan kelembaban melepas dahaga saat meneguknya, kemudian khamar itu membakarnya sehingga menambah kehausan.
Demikian juga kedekatan pencinta dengan yang dicintai menambah luka pada luka dan kerusakan pada kerusakan. Setiap kali sebab-sebab lahiriah bertambah, cinta bertambah kuat pada alat-alat batiniah, maka racunnya bekerja pada pembunuh, dan yang terbunuh tidak melihat pembunuh, sebagaimana kata penyair:
Aku menciumnya untuk sembuh dengan ciumannya Tetapi itu menambah rasa sakitku Dan ia bertanya kepadaku tentang awal sakitku Yang menyakitimu adalah kedua matamu yang menyakitiku dengan keduanya
Dan yang lain berkata:
Aku memeluknya dan jiwa masih merindukan Kepadanya, apakah setelah pelukan ada kedekatan Dan aku mencium mulutnya agar hilang kerinduanku Tetapi bertambah apa yang kualami dari kebingungan
Dan berkata Muhammad bin Abi Umayah al-Katib:
Mereka berkata: Seandainya kamu bertemu dengannya akan tenang apa yang Di hatimu wahai yang rindu dan putus kesedihan Maka inilah aku telah bertemu dengannya seperti kata mereka Agar tenang hatiku dengan pertemuan tetapi tidak tenang
Dan berkata Ibnu ar-Rumi:
Mataku senang dengannya tetapi lama siksaannya Dan betapa banyak siksaan yang ditimbulkan oleh kenikmatan Aku memandang maka anak panahnya mengenai hatiku Kemudian ia berpaling kepadaku maka aku hampir bingung Celakalah jika ia memandang dan jika ia berpaling Jatuhnya anak panah dan pencabutannya menyakitkan
Dan berkata Abu Abdullah bin al-Hajjaj:
Yang menyenangkan mataku kemudian meninggalkan untukku Hati yang dengan kerinduanku kepadanya telah terluka Dan hati rugi setelah kepergiannya Apa yang telah diuntungkan mataku padanya
Dan yang lain berkata:
Tidak ada di bumi yang lebih sengsara dari pencinta Meskipun ia mendapati cinta manis rasanya Kamu melihatnya menangis setiap saat Karena takut perpisahan atau karena kerinduan Maka ia menangis jika mereka jauh karena rindu kepada mereka Dan menangis jika mereka dekat karena takut perpisahan Maka matanya panas saat berjauhan Dan matanya panas saat bertemu
Jika kamu telah mengetahui tipuan setan dalam dakwaannya bahwa kedekatan adalah obat dan bahwa pandangan adalah penyembuhan dengan apa yang telah aku jelaskan untukmu bahwa ucapannya mustahil dan bahwa itu adalah perkara yang menambah buruk keadaan dengan melakukan yang terlarang yang tidak ada kesanggupan menanggung siksanya dan tidak ada kekuatan menghadapi hukumannya, maka kamu akan tahu saat itu bahwa tidak ada obat kecuali dengan meninggalkan dan memotong kebiasaan tanpa ragu-ragu.
Ibrahim bin Dinar memberitahu kami, ia berkata: Ibnu Nabhan memberitahu kami, ia berkata: Ibnu Duma memberitahu kami, ia berkata: Ahmad bin Nashr adz-Dzari’ memberitahu kami, ia berkata: Shidqah bin Musa menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Asma’i menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku berkata kepada seorang Arab Badui: Jelaskan cinta! Maka ia berkata: Ia adalah tanaman yang benihnya adalah pandangan, airnya adalah saling mengunjungi, pertumbuhannya adalah pertemuan, sedikitnya adalah meninggalkan, dan panennya adalah pengkhianatan.
Umar bin Zhafar memberitahu kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahu kami, ia berkata: Abdul Aziz bin Ali memberitahu kami, ia berkata: Ibnu Jahdham memberitahu kami, ia berkata: Muhammad bin Ali al-Wajihi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ali ar-Rudzabari ditanya: Mengapa manusia mengalami siksaan saat bertemu orang yang dicintainya lebih keras dari waktu perpisahan? Maka ia menjawabnya dengan bait syair:
Ia menangis untuknya hingga ketika ia didapat Ia menangis untuknya karena takut dari yang lain
Pasal: Dan renungkanlah langkah-langkahmu menuju pertemuan kekasihmu, maka ketahuilah bahwa dengan apa yang telah kami jelaskan dari bahaya rasa sakit kunjungan itu tercatat atasmu dan kamu akan dituntut karenanya.
Muhammad bin Nashir memberitahu kami, ia berkata: Abdul Qadir bin Muhammad bin Yusuf memberitahu kami, ia berkata: Ibnu al-Madzhab memberitahu kami, ia berkata: Abu Bakar bin Malik memberitahu kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepadaku, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Yahya menceritakan kepada kami dari Sufyan dari Muslim dari Masruq, ia berkata: Tidaklah seseorang melangkah satu langkah kecuali ditulis atasnya kebaikan atau kejahatan.
Ahmad berkata: Husain bin Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ma’syar menceritakan kepada kami dari Sa’id, ia berkata: Marwan bin al-Hakam berkhutbah lalu berkata:
Wahai manusia, seandainya Allah Yang Maha Tinggi mengabaikan sesuatu dari amal-amalmu, niscaya Dia mengabaikan bekas ini yang diterbangkan angin padanya. Kemudian ia membaca: “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami menuliskan apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas mereka.” (Yasin: 12)
Pasal: Dan renungkanlah percakapanmu dengan kekasihmu, maka sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang kamu katakan, di samping percakapan itu menyalakan api cinta.
Hibatullah bin Muhammad memberitahu kami, ia berkata: al-Hasan bin Ali memberitahu kami, ia berkata: Ahmad bin Ja’far memberitahu kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepadaku, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Qutaibah menceritakan kepada kami, ia berkata: Bakar bin Mudhar menceritakan kepada kami dari Yazid bin al-Had dari Muhammad bin Ibrahim dari Isa bin Thalhah dari Abu Hurairah bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang menyebabkannya tergelincir ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.” Dikeluarkan oleh keduanya dalam Shahih: Muslim dan Bukhari.
Ibnu Abdul Wahid memberitahu kami, ia berkata: al-Hasan bin Ali memberitahu kami, ia berkata: Ahmad bin Ja’far memberitahu kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepadaku, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Amr menceritakan kepada kami dari ayahnya dari kakeknya Alqamah dari Bilal bin al-Harits, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang laki-laki mengucapkan sebuah kalimat dari kemurkaan Allah Azza wa Jalla yang ia tidak menyangka akan mencapai apa yang dicapainya, maka Allah Azza wa Jalla menulis dengannya kemurkaan-Nya kepadanya hingga hari kiamat.”
At-Tirmidzi berkata: Ini adalah hadits hasan shahih.
Dan ar-Rabi’ bin Khutsaim pernah berkata: Tidak ada sesuatu yang kamu ucapkan kecuali ditulis.
Mujahid berkata: Bahkan rintihan hamba dalam sakitnya.
Yahya bin Ali al-Mudir memberitahu kami, ia berkata: Abu Bakar al-Khayyath memberitahu kami, ia berkata: Abu Ali bin Hamkan memberitahu kami, ia berkata: Abu Ali as-Sarkhasi menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Muhammad bin al-Husain berkata: Aku mendengar al-Hasan bin Ali berkata: Aku mendengar Hatim (yaitu al-Asham) berkata: Seandainya pemilik berita duduk kepadamu untuk menulis ucapanmu, tentu kamu akan berhati-hati darinya, padahal ucapanmu ditampilkan kepada Allah namun kamu tidak berhati-hati.
Dan demikianlah diceritakan kepada kami dari Sufyan ats-Tsauri bahwa ia berkata: Beritahu aku, seandainya bersama kalian ada orang yang menyampaikan pembicaraan kepada penguasa, apakah kalian akan berbicara sesuatu? Mereka berkata: Tidak. Ia berkata: Maka sesungguhnya bersama kalian ada yang menyampaikan pembicaraan kepada Allah Azza wa Jalla.
Pasal: Jika sebab-sebab cinta semakin kuat sehingga membawamu untuk berduaan dengan kekasihmu, maka sesungguhnya kamu telah menghadapkan diri pada singa di sarangnya, dan jauh keselamatan bagi orang sepertimu.
Maka lari, larilah! Tidak ada keselamatan selain dengan itu.
Jika hawa nafsu menahan-mu, maka tariklah dirimu dari tangannya dengan rasa takut kepada Yang melihatmu saat kamu berdiri, dan malulah dari pandangan-Nya kepadamu, karena Dia hadir bersamamu.
Ibnu al-Hushain memberitahu kami, ia berkata: Abu Ali at-Tamimi memberitahu kami, ia berkata: Ibnu Malik memberitahu kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepadaku, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Ubaid menceritakan kepada kami, ia berkata: Aban bin Ishaq menceritakan kepada kami dari ash-Shabbah bin Muhammad dari Murrah al-Hamadzani dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda suatu hari: “Malulah kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu.”
Ia berkata: Kami berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami malu, dan segala puji bagi Allah.
Ia berkata: “Bukan itu, tetapi barangsiapa malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu, hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang ada di dalamnya, dan perut serta apa yang dimasukinya, dan hendaklah ia mengingat kematian dan kebusukan. Dan barangsiapa menghendaki akhirat, ia meninggalkan perhiasan dunia. Maka barangsiapa melakukan itu, sungguh ia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu.”
Muhammad bin Nashir memberitahu kami, ia berkata: al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitahu kami, ia berkata: Ibrahim bin Umar al-Barmaki memberitahu kami, ia berkata: Abdullah bin Ibrahim az-Zainabi memberitahu kami secara ijazah, ia berkata: Muhammad bin al-Marzaban menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Qasim bin Hasyim menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa’idah binti Hukamah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibuku Hukamah binti Utsman bin Dinar menceritakan kepadaku dari ibunya dari Malik bin Dinar dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Takut kepada Allah adalah kepala segala hikmah, dan barangsiapa tidak memiliki kehati-hatian yang menghalanginya dari maksiat kepada Allah ketika sendirian, maka Allah tidak akan peduli dengan sesuatu pun dari amalnya.”
Ibnu Nashir memberitahu kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Khalaf memberitahu kami, ia berkata: Abu Abdurrahman as-Sulami memberitahu kami, ia berkata: Aku mendengar Abdullah bin Ali ath-Thusi berkata: Aku mendengar Abu Ja’far ar-Razi berkata: Aku mendengar Yusuf bin al-Husain berkata: Kaum itu mengetahui bahwa Allah melihat mereka, maka mereka malu dari pandangan-Nya untuk memperhatikan sesuatu selain-Nya.
As-Sulami berkata: Dan aku mendengar Abu al-Husain al-Farisi berkata: Muhammad bin Ali at-Tirmidzi berkata: Jadikanlah pengawasanmu kepada Yang tidak gaib dari pandangan-Nya kepadamu, jadikanlah syukurmu kepada Yang tidak terputus nikmat-Nya darimu, dan jadikanlah ketundukanmu kepada Yang kamu tidak keluar dari kepemilikan dan kekuasaan-Nya.
Dan telah kami sebutkan dalam bab tentang orang yang mengingat Tuhannya lalu meninggalkan dosanya dari kitab ini apa yang cukup sebagai pelajaran.
Pasal
Putarlah dalam kenikmatanmu ingatan akan pahitnya kematian yang telah dinamai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai penghancur kenikmatan. Ingatlah dahsyatnya sakaratul maut dan renungkanlah orang-orang mati yang telah ditahan untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatan mereka agar dibalas dengannya. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang mampu menghapus kesalahan atau menambah kebaikan. Maka janganlah berbuat kerusakan wahai orang yang bebas berbuat.
Muhammad bin Abi Manshur mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ali bin Al-Fath memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Akhi Maimi memberitakan kepada kami, ia berkata: Ja’far Al-Khawwash menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Masruq menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Al-Husain menceritakan kepada kami, ia berkata: Hasan bin Ar-Rabi’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Mukhlad bin Al-Husain menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku menjenguk seorang yang sakit lalu aku bertanya kepadanya, “Bagaimana keadaanmu?” Dia menjawab, “Ini adalah kematian.” Aku bertanya, “Bagaimana kamu tahu bahwa ini adalah kematian?” Dia menjawab, “Aku merasa diriku tertarik-tarik, seolah-olah ada belati-belati yang bergantian menikam perutku, dan seolah-olah perutku adalah tanur yang dipanaskan dan menyala-nyala.”
Aku berkata, “Kalau begitu buatlah wasiat.” Dia menjawab, “Aku melihat urusan ini lebih cepat dari itu.”
Lalu dia meminta tinta dan kertas. Demi Allah, belum sempat barang itu datang, matanya telah melotot dan dia pun meninggal.
Ibrahim bin Yazid Al-Abdi berkata: Riyah Al-Qaisi mendatangiku lalu berkata, “Wahai Abu Ishaq, marilah kita pergi kepada ahli akhirat untuk memperbaharui ingatan dengan kedekatan mereka.” Maka aku pergi bersamanya dan kami mendatangi pekuburan. Kami pun duduk di dekat sebagian kubur tersebut. Dia berkata, “Wahai Abu Ishaq, menurutmu apa yang dikehendaki orang ini seandainya dia dikabulkan?” Aku menjawab, “Demi Allah, dia menginginkan dikembalikan ke dunia agar dapat menikmati ketaatan kepada Allah dan memperbaiki diri.”
Dia berkata, “Nah, kita ini!” Kemudian dia bangkit dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Tidak lama kemudian dia pun meninggal.
Pasal
Bayangkanlah bagi dirimu ketika hawa nafsu menghadang dirimu di hadapan Tuhanmu dan Dia mempermalukanmu dengan teguran yang menyakitkan atas perbuatan yang telah Dia larang.
Al-Karukhi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Azdi dan Al-Ghurji memberitakan kepada kami, keduanya berkata: Al-Jarrahi memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Mahbubi menceritakan kepada kami, ia berkata: At-Tirmidzi menceritakan kepada kami, ia berkata: Hannad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-A’masy menceritakan kepada kami dari Khaitsamah bin Adi bin Hatim, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan Tuhannya Tabaraka wa Ta’ala akan berbicara kepadanya tanpa ada penerjemah di antara keduanya.” Keduanya (Bukhari dan Muslim) mengeluarkannya dalam Shahih.
Ibnu Abdul Wahid mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Ali At-Tamimi memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar bin Malik memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Affan menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammam menceritakan kepada kami, ia berkata: Qatadah menceritakan kepada kami dari Shafwan bin Muhriz, ia berkata: Aku sedang memegang tangan Ibnu Umar ketika seorang laki-laki menghadangnya lalu bertanya, “Bagaimana engkau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara tentang pembicaraan rahasia pada hari kiamat?”
Dia menjawab: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mendekatkan orang mukmin lalu meletakkan perlindungan-Nya atasnya dan menutupinya dari manusia, lalu meminta pengakuannya atas dosa-dosanya. Allah berfirman kepadanya: ‘Apakah kamu mengakui dosa ini? Apakah kamu mengakui dosa ini?’ Sampai ketika Dia telah meminta pengakuannya atas semua dosanya dan dia melihat dalam dirinya bahwa dia telah binasa, Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku telah menutupinya untukmu di dunia dan Aku mengampuninya untukmu hari ini.'” Keduanya (Bukhari dan Muslim) mengeluarkannya dalam Shahih.
Pasal
Bayangkanlah kesaksian tempat yang kamu berbuat maksiat di dalamnya pada hari kiamat.
Abu Al-Qasim Asy-Syaibani mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Ali At-Tamimi memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Al-Qathi’i memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Ibrahim menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Al-Mubarak menceritakan kepada kami dari Sa’id bin Abi Ayyub, ia berkata: Yahya bin Abi Sulaiman menceritakan kepadaku dari Sa’id Al-Maqburi dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca “Pada hari itu bumi menceritakan berita-beritanya” (surah Az-Zalzalah ayat 4), lalu bersabda, “Tahukah kalian apa berita-beritanya? Yaitu bumi akan bersaksi atas setiap hamba laki-laki dan perempuan tentang apa yang dia kerjakan di atas permukaannya. Bumi akan berkata: ‘Dia mengerjakan begini dan begitu pada hari ini dan itu.’ Itulah berita-beritanya.”
At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan shahih gharib.
Pasal
Bayangkan dalam dirimu ketika salah satu kesalahanmu, bagaimana kamu diperintahkan menuju neraka yang tidak ada makhluk yang mampu menahannya. Bayangkanlah lenyapnya kenikmatan dan kekalnya aib serta azab. Penyair telah berkata:
Lenyap kenikmatan bagi orang yang meraih syahwatnya Dari yang haram, dan yang tersisa adalah dosa dan aib Tersisa akibat-akibat buruk pada akhirnya Tidak ada kebaikan pada kenikmatan yang setelahnya adalah neraka
Hibatullah bin Muhammad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Ali memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar bin Malik memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdur Razzaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Ma’mar menceritakan kepada kami dari Hammam dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda, “Api kalian yang dinyalakan oleh Bani Adam ini hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian dari panasnya Jahannam.”
Mereka berkata, “Demi Allah, sesungguhnya api ini sudah cukup.”
Beliau bersabda, “Sesungguhnya api itu (Jahannam) dilebihkan atasnya dengan enam puluh sembilan bagian, semuanya seperti panasnya.”
Keduanya (Bukhari dan Muslim) mengeluarkannya dalam Shahih.
Muhammad bin Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu As-Sarraj memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Al-Madzhab memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Hamdan memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdul Wahhab menceritakan kepada kami, ia berkata: Auf menceritakan kepada kami dari Qasamah bin Zuhair, ia berkata: Abu Musa berkhutbah kepada kami seraya berkata, “Wahai manusia, menangislah! Jika kalian tidak bisa menangis maka berpura-puralah menangis. Sesungguhnya penghuni neraka menangis air mata sampai habis, kemudian mereka menangis darah sehingga seandainya kapal-kapal dilepaskan di dalamnya niscaya mengapung.” Ahmad berkata: Ibrahim bin Khalid menceritakan kepada kami, ia berkata: Riyah menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku diceritakan dari Wahb bin Munabbih bahwa dia berkata: Apabila gunung-gunung dijalankan lalu mendengar desisan api dan kemarahannya serta embusan dan raungnya, gunung-gunung itu berteriak sebagaimana wanita berteriak, kemudian yang di depannya kembali menimpa yang di belakangnya saling menghancurkan satu sama lain.
Abdullah bin Muhammad Al-Baidhawi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Muhammad bin An-Nuqur memberitakan kepada kami, ia berkata: Isa bin Ali memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Baghawi menceritakan kepada kami, ia berkata: Dawud bin Amr Al-Utbi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Ahwash menceritakan kepada kami dari Al-A’masy dari Mujahid dari Ubaid bin Umar, ia berkata: Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksaannya adalah seorang laki-laki yang memiliki sandal dari api dan tali sandal dari api, gigi-gigi gerahamnya bara api, telinganya bara api, kelopak matanya dari nyala api, isi perutnya keluar dari kedua kakinya, dan yang lainnya seperti biji sedikit di dalam air yang banyak, api itu mendidih karena mereka.
Bisyr Al-Hafi biasa berkata: Apa sangkaan kalian terhadap suatu kaum yang berdiri di hadapan Allah Ta’ala selama lima puluh ribu tahun, mereka tidak makan dan tidak minum sehingga hati mereka terpotong-potong karena kehausan, perut mereka karena kelaparan, dan leher mereka karena mendongak berharap kelegaan, lalu mereka diperintahkan menuju neraka.
Pasal
Jika ada yang berkata: Aku telah mengetahui kebenaran semua yang engkau sebutkan dan telah mengetahui bahwa tidak ada obat seperti putus asa. Aku telah bertekad untuk meninggalkan yang kucintai sama sekali dan telah memutuskan harapanku darinya dengan pasti, namun aku dalam kegelisahan yang tidak mereda, panas yang tidak padam, dan kobaran yang tidak terpadamkan. Apakah ada pengobatan untuk itu?
Jawabannya adalah: Jika yang dicintai itu dapat diperoleh dan halal, seperti budak perempuan yang dapat dibeli atau wanita yang dapat dikawini, maka tidak ada obat untuk itu selain itu. Sesungguhnya banyak orang yang dilemahkan oleh cinta, lalu ketika mereka memperoleh yang dicintai, kesehatan mereka kembali dengan cepat karena pernikahan menghilangkan cinta berahi.
Abdul Wahhab bin Al-Mubarak memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Al-Muzhaffar bin Bakran menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Muhammad Al-Atiqi menceritakan kepada kami, ia berkata: Yusuf bin Ahmad bin Ad-Dakhil memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Ja’far Al-Aqili menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Khuzaimah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Yusuf At-Tinisi menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Muslim Ath-Thaifi menceritakan kepada kami dari Ibrahim bin Maisarah dari Thawus dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada yang lebih baik bagi dua orang yang saling mencintai selain menikah.”
Muhammad bin Nashir dan Ibnu Abi Umar mengabarkan kepada kami, keduanya berkata: Ali bin Ayyub memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Ali bin Shadzan memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Fawaris Ahmad bin Ali, muhtasib Mashshishah, menceritakan kepada kami, ia berkata: Hayyan bin Bisyr menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Harb menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami, ia berkata: Amr bin Dinar menceritakan kepada kami dari Jabir, ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, di antara kami ada seorang yatim yang dilamar oleh dua orang laki-laki, yang satu kaya dan yang lain miskin. Dia mencintai yang miskin sedangkan kami menyukai yang kaya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada yang lebih baik bagi dua orang yang saling mencintai selain pernikahan.”
Muhammad bin Nashir memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Jauhari memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Haiwayh memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Al-Marzaban memberitakan kepada kami dengan ijazah, dan Muhammad bin Huraith menceritakan kepada kami darinya, ia berkata: Dawud bin Rasyid menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Haitsam bin Adi menceritakan kepadaku, ia berkata: dari Ibnu Syabramah, ia berkata: Aku biasa duduk dengan si fulanah penerjemah, dia cantik dan pandai. Suatu hari rumah kosong maka aku berkata kepadanya, “Bagaimana pendapatmu tentang apa yang Allah Azza wa Jalla halalkan dan perintahkan?” Dia berkata, “Apakah engkau menyukaiku?” Aku berkata, “Ya.” Dia berkata, “Kalau begitu jangan tolak, karena sesungguhnya cinta jika sudah menikah akan rusak.”
Muhammad bin Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Muhammad Al-Bukhari memberitakan kepada kami, dan Syahdah memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad bin As-Sarraj memberitakan kepada kami, keduanya berkata: Al-Hasan bin Ali Al-Jauhari memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Haiwayh memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Khalaf menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Dab menyebutkan bahwa Mu’adz bin Kulaib mencintai Laila Al-A’lamiyyah dari Bani Uqail, dan cintanya telah melumpuhkan kedua kakinya. Lalu saudara Laila mendatanginya bersama Laila. Ketika dia melihatnya dan dia berbicara kepadanya, hilang semua yang menimpanya dan dia pulang dalam keadaan sembuh.
Pasal
Jika memperoleh yang dicintai itu mungkin dan diperbolehkan dalam syariat namun sulit, hendaklah sang pencinta berlindung kepada Allah Subhanahu dalam memudahkannya dan hendaklah dia memperlakukan-Nya dengan bersabar atas apa yang Dia larang. Boleh jadi Allah akan menyegerakan keinginannya.
Al-Mubarak bin Ali mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ali bin Muhammad bin Al-Allaf memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdul Malik bin Bisyran memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ibrahim Al-Kindi memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far memberitakan kepada kami, ia berkata: Saudaraku menceritakan kepadaku, ia berkata: Ismail bin Al-Hasan Al-Jauhari menceritakan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Al-Abbas bin Al-Haitsam menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Ubaid Az-Zahid menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku memiliki seorang budak perempuan lalu aku menjualnya. Jiwaku mengikutinya, maka aku mendatangi tuannya bersama sekelompok saudaraku. Aku memintanya untuk membatalkan jual beli dengan keuntungan dua puluh dinar, namun dia menolak. Aku pun pulang dari sisinya. Aku mencoba berbuka puasa tapi tidak mampu, maka aku bermalam dengan gelisah tidak tahu harus berbuat apa. Dia khawatir aku akan kembali lagi besok, maka dia membawanya ke Madain. Ketika aku melihat kesulitan yang menimpaku, aku menulis namanya di telapak tanganku dan menghadap kiblat. Setiap kali muncul ingatan tentangnya, aku mengangkat tanganku ke langit dan berkata, “Wahai Tuanku, inilah keadaanku.”
Sampai ketika tiba waktu sahur pada hari kedua, tiba-tiba ada seorang laki-laki mengetuk pintuku. Aku bertanya, “Siapa ini?” Dia menjawab, “Aku adalah tuan budak perempuan itu.” Aku turun dan ternyata benar dia. Dia berkata, “Ambillah budak perempuan itu, semoga Allah memberkahimu dengannya.” Aku berkata, “Ambillah dinarmu dan keuntungannya.” Dia berkata, “Aku tidak akan mengambil dinar atau dirham darimu.” Aku bertanya, “Mengapa?” Dia menjawab, “Karena sesungguhnya tadi malam ada yang mendatangiku dalam mimpiku lalu berkata kepadaku: ‘Kembalikan budak perempuan itu kepada Ibnu Ubaid dan bagimu dari Allah adalah surga.'”
Al-Mubarak bin Ali memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Al-Allaf memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdul Malik bin Bisyran memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ibrahim Al-Kindi memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Kharaythi memberitakan kepada kami, ia berkata: Hammad bin Al-Hasan menceritakan kepada kami, ia berkata: Sayyar bin Hatim menceritakan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Sulaiman menceritakan kepada kami, ia berkata: Tsabit Al-Bunani menceritakan kepada kami, ia berkata: Ubaidullah bin Ziyad menangkap keponakan Shafwan bin Muhriz Al-Mazini lalu memenjarakannya. Shafwan meminta bantuan kepada orang-orang untuk membebaskannya. Tidak tersisa seorang pun kecuali dia berbicara kepadanya, namun dia tidak melihat keberhasilan hajatnya. Lalu ada yang mendatanginya dalam mimpinya dan berkata, “Wahai Shafwan, bangkitlah dan mintalah keperluanmu dari sumbernya.” Maka dia bangun, berwudhu, shalat, dan berdoa. Dia berkata: Ubaidullah bin Ziyad terbangun untuk keperluan Shafwan pada tengah malam lalu berkata, “Datangkan keponakan Shafwan kepadaku.” Maka datanglah penjaga, polisi, dan obor-obor, dibukakanlah penjara-penjara sampai dia dikeluarkan dan dibawa kepada Ubaidullah. Dia bertanya, “Apakah kamu keponakan Shafwan?” Dia menjawab, “Ya.” Maka dia melepaskannya. Shafwan tidak menyadari apa-apa sampai keponakannya mengetuk pintunya. Dia bertanya, “Siapa ini?” Dia menjawab, “Fulan. Penguasa terbangun pada tengah malam, lalu datang penjaga dan polisi, dibawakanlah obor-obor, dibukakanlah penjara-penjara, lalu aku dibawa kepadanya dan dia membebaskanku tanpa jaminan.”
Al-Kharaythi berkata: Abu Hafsh An-Nasa’i menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Abi Al-Hawari menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Salamah Ath-Tha’i menceritakan kepada kami dari Abu Abdullah An-Nabaji, ia berkata: Aku mendengar suara yang berseru: Sungguh mengherankan bagi orang yang mendapati keperluannya di sisi Tuannya lalu dia meletakkannya kepada para hamba.
Serangkaian kisah tentang sekelompok orang yang memperoleh keinginan mereka untuk menikahi wanita-wanita yang mereka cintai atau memiliki budak-budak perempuan.
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Nasir, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin al-Hasan al-Baqlawi, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami al-Qadhi Abu al-‘Ala al-Wasithi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu al-Fath Muhammad bin al-Husain al-Azdi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin Ali, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Sa’id, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu al-Ahwash dari ‘Atha’ bin al-Sa’ib dari Abu al-Bakhtari, ia berkata: Ali radhiyallahu ‘anhu memiliki seorang budak perempuan, dan ia memiliki seorang muazin di Ruhbah yang mengumandangkan azan saat subuh. Budak perempuan itu biasa keluar untuk mengambil air tawar untuknya dari sungai Furat. Setiap kali ia melewati muazin itu, muazin tersebut berkata kepadanya: “Demi Allah wahai fulanah, aku mencintaimu.” Ketika hal itu sudah terlalu sering, ia mengadukan hal tersebut kepada Ali. Ali berkata kepadanya: “Jika ia berkata kepadamu ‘Demi Allah aku mencintaimu’, maka katakan kepadanya ‘Demi Allah aku juga mencintaimu, lalu bagaimana?'” Ia (muazin) berkata kepadanya (budak perempuan): “Kita bersabar sampai Allah memutuskan, dan Dia adalah sebaik-baik hakim.”
Kemudian ia (budak perempuan) datang kepada Ali dan mengabarkan hal tersebut kepadanya. Ali berkata: “Pergilah dan bawalah ia kepadaku.” Ketika muazin itu masuk menemui Ali, ia menyambutnya dengan baik dan mendekatkannya, lalu berkata kepadanya: “Wahai fulan, apakah ada sesuatu di hatimu terhadap fulanah?” Ia menjawab: “Ya, wahai Amirul Mukminin.” Ali bertanya: “Apakah ada orang lain yang mengetahui hal itu?” Ia menjawab: “Tidak, demi Allah.”
Ali meminta sumpahnya tiga kali, dan setiap kali ia bersumpah kepadanya. Kemudian Ali berkata: “Uruslah ia, ambillah tangannya, ia untukmu. Inilah hukum Allah, dan Dia adalah sebaik-baik hakim.”
Telah mengabarkan kepada kami Syahdah binti Ahmad, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad Ja’far bin Ahmad al-Sarraj, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Ali Muhammad bin al-Husain al-Jaziri, jika bukan secara sima’ maka secara ijazah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami al-Mu’afa bin Zakariyya al-Jariri, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu al-Nadhr al-‘Uqaili, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Ahmad bin Hamdun al-Nadim dari Abu Bakr al-‘Ijli dari sekelompok ulama Quraisy dari penduduk Madinah, mereka berkata: Abdullah bin Ja’far memiliki seorang budak penyanyi bernama ‘Imarah. Ia sangat mencintainya dengan cinta yang luar biasa, dan ia memiliki kedudukan yang tidak dimiliki oleh budak-budak perempuannya yang lain. Ketika Abdullah bin Ja’far menghadap Mu’awiyah, ia membawa ‘Imarah bersamanya. Pada suatu hari Yazid mengunjunginya, lalu Abdullah mengeluarkan ‘Imarah untuknya. Ketika Yazid melihatnya dan mendengar nyanyiannya, ia jatuh hati kepadanya. Perasaan yang menguasainya terhadap ‘Imarah tidak dapat ia tahan, dan tidak ada yang menghalanginya untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan terhadapnya kecuali kedudukan ayahnya (Mu’awiyah) dan rasa putus asa untuk mendapatkannya. Ia terus menyembunyikan perasaannya terhadap ‘Imarah dari orang-orang sampai Mu’awiyah meninggal dan kekuasaan berpindah kepadanya.
Ia berkonsultasi dengan beberapa orang dari penduduk Madinah yang datang menemuinya dan orang-orang yang ia percayai tentang urusan ‘Imarah dan bagaimana caranya untuk mendapatkannya. Mereka berkata kepadanya: “Sesungguhnya urusan Abdullah bin Ja’far tidak bisa dipaksakan, kedudukannya di mata orang-orang khusus dan awam serta di sisimu sudah engkau ketahui. Engkau tidak boleh memaksanya, dan ia tidak akan pernah menjual ‘Imarah dengan harga berapapun. Dalam hal ini tidak ada jalan lain kecuali dengan tipu muslihat.”
Yazid berkata: “Carikan aku seorang laki-laki dari Irak yang memiliki adab, kepandaian, dan pengetahuan.” Mereka mencarinya dan membawa orang tersebut kepadanya. Ketika ia masuk, Yazid melihat kefasihan, kelembutan, dan kecerdasan pada dirinya. Yazid berkata: “Aku memanggilmu untuk suatu urusan. Jika engkau berhasil, itu akan menjadi keberuntunganmu sepanjang masa dan aku akan membalas jasamu, insya Allah.”
Kemudian ia mengabarkan kepadanya tentang urusannya. Orang Irak itu berkata kepadanya: “Sesungguhnya Abdullah bin Ja’far tidak bisa didekati untuk hal yang ada padanya kecuali dengan tipu daya. Tidak ada seorangpun yang mampu melakukan apa yang engkau minta, dan aku berharap dapat menjadi orang itu, dengan pertolongan Allah. Maka bantulah aku dengan harta.”
Yazid berkata: “Ambillah apa yang engkau inginkan.” Ia mengambil barang-barang dari Syam dan kain-kain dari Mesir, serta membeli barang dagangan berupa budak, hewan ternak, dan lain-lain. Kemudian ia berangkat ke Madinah dan singgah di halaman rumah Abdullah bin Ja’far. Ia menyewa sebuah rumah di sebelahnya, lalu mencari jalan untuk mendekatinya dan berkata: “Saya seorang laki-laki dari penduduk Irak yang datang dengan dagangan, dan saya ingin berada dalam perlindungan dan naunganmu sampai saya menjual barang yang saya bawa.”
Abdullah bin Ja’far mengirim utusan kepada bendaharanya agar memuliakan orang tersebut dan memberikan tempat tinggal yang luas untuknya. Ketika orang Irak itu telah merasa tenang, ia memberi salam kepada Abdullah dan memperkenalkan dirinya. Ia menyiapkan seekor bagal yang bagus, pakaian-pakaian dari Irak, dan berbagai hadiah, lalu mengirimnya kepada Abdullah disertai surat: “Wahai tuanku, sesungguhnya aku seorang pedagang dan nikmat Allah kepadaku sangat melimpah. Aku telah mengirimkan kepadamu beberapa hadiah berupa pakaian, wewangian, dan seekor bagal yang ringan kendalinya dan nyaman punggungnya. Aku mohon kepadamu dengan hubungan kekerabatanmu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar engkau menerima hadiahku dan tidak mengecewakan aku dengan menolaknya. Sesungguhnya aku beragama dengan cinta kepada Allah Ta’ala terhadapmu dan keluargamu, dan sesungguhnya harapan terbesarku dalam perjalananku ini adalah agar aku mendapat keakraban denganmu dan kehormatan dengan menjalin hubungan denganmu.”
Abdullah memerintahkan untuk menerima hadiahnya. Ketika ia keluar untuk shalat dan kembali, ia melewati orang Irak itu di tempat tinggalnya. Orang Irak itu berdiri menemuinya dan mencium tangannya. Abdullah melihat adab, kepandaian, dan kefasihannya, maka ia kagum kepadanya dan senang dengan kehadirannya. Orang Irak itu terus mengirimkan hadiah kepada Abdullah setiap hari. Abdullah berkata: “Semoga Allah memberikan kebaikan kepada tamu kita ini. Ia telah membuat kita penuh rasa syukur, dan kita tidak mampu membalasnya.”
Demikianlah sampai Abdullah mengundangnya dan memanggil ‘Imarah beserta budak-budak perempuannya. Ketika suasana menjadi nyaman bagi mereka berdua dan ia mendengar nyanyian ‘Imarah, ia takjub dan terus bertambah takjub. Ketika Abdullah melihat hal itu, ia senang, hingga ia berkata: “Apakah engkau pernah melihat yang seperti ‘Imarah?” Ia menjawab: “Tidak, demi Allah wahai tuanku. Aku tidak pernah melihat yang sepertinya. Ia hanya pantas untukmu. Aku tidak menyangka bahwa di dunia ini ada budak perempuan seperti ini, cantik wajahnya dan bagus pekerjaannya.”
Abdullah bertanya: “Menurut pendapatmu berapa harganya?” Ia menjawab: “Ia tidak memiliki harga kecuali kekhalifahan.” Abdullah berkata: “Engkau berkata demikian untuk membuat aku senang dengan pendapatku tentangnya dan menarik kesenanganku?” Ia menjawab: “Wahai tuanku, sesungguhnya aku mencintai kesenanganmu, dan aku tidak berkata kepadamu kecuali dengan sungguh-sungguh. Lagipula, aku adalah seorang pedagang yang mengumpulkan dirham demi dirham untuk mencari keuntungan. Seandainya engkau memberikannya kepadaku dengan harga sepuluh ribu dinar, pasti aku akan mengambilnya.”
Abdullah berkata kepadanya: “Sepuluh ribu?” Ia menjawab: “Ya.” Pada masa itu tidak ada budak perempuan yang dikenal dengan harga seperti ini. Abdullah berkata kepadanya: “Aku jual ia kepadamu dengan sepuluh ribu dinar.” Ia menjawab: “Aku terima.” Abdullah berkata: “Ia untukmu.” Ia berkata: “Jual beli telah sah.” Kemudian orang Irak itu pulang.
Ketika pagi hari tiba, Abdullah tidak menyadari bahwa uang telah datang dibawa oleh orang Irak itu. Dikatakan kepada Abdullah: “Orang Irak itu telah mengirimkan sepuluh ribu dinar dan berkata ini adalah harga ‘Imarah.” Abdullah menolaknya dan menulis kepadanya: “Sesungguhnya aku hanya bercanda denganmu, dan aku memberitahumu bahwa orang sepertiku tidak menjual orang sepertinya.”
Orang Irak itu berkata kepadanya: “Semoga engkau menjadi tebusanku, sesungguhnya kesungguhan dan kejenakaan dalam jual beli adalah sama.” Abdullah berkata kepadanya: “Celakalah engkau! Aku tidak tahu budak perempuan yang senilai dengan apa yang engkau bayarkan. Seandainya aku menjualnya kepada seseorang, pasti aku akan mendahulukanmu. Tetapi aku hanya bercanda dan aku tidak akan menjualnya dengan harga kerajaan dunia karena kehormatan yang ia miliki bagiku dan kedudukannya di hatiku.”
Orang Irak itu berkata: “Jika engkau bercanda, maka aku sungguh-sungguh. Aku tidak mengetahui apa yang ada di dalam hatimu. Aku telah memiliki budak perempuan itu dan telah mengirimkan harganya kepadamu. Ia tidak halal lagi untukmu dan aku tidak boleh tidak mengambilnya.”
Abdullah menolak memberikannya. Orang Irak itu berkata kepadanya: “Aku tidak memiliki saksi, tetapi aku akan meminta engkau bersumpah di sisi makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mimbarnya.”
Ketika Abdullah melihat kesungguhan orang itu, ia berkata: “Sungguh buruk engkau sebagai tamu. Tidak pernah datang kepada kami tamu, dan tidak pernah singgah kepada kami perantau yang lebih membawa bencana daripada engkau. Engkau mau menyumpahku sehingga orang-orang akan berkata: Abdullah telah menekan tamunya dan memaksanya hingga ia terpaksa menyumpahnya? Ketahuilah, demi Allah, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla pasti mengetahui bahwa aku akan meminta-Nya kesabaran dalam urusan ini dan keteguhan hati yang baik.”
Kemudian ia memerintahkan bendaharanya untuk menerima uang tersebut dan mempersiapkan budak perempuan itu dengan pelayan, pakaian, dan wewangian yang sesuai dengannya. Ia mempersiapkannya dengan sekitar tiga ribu dinar dan berkata: “Ini untukmu, dan ini sebagai gantinya atas hadiah-hadiah yang telah engkau berikan kepada kami. Dan kepada Allah kami memohon pertolongan.”
Orang Irak itu menerima budak perempuan itu dan pergi bersamanya. Ketika ia keluar dari Madinah, ia berkata kepada ‘Imarah: “Wahai ‘Imarah, demi Allah aku tidak pernah memilikimu dan engkau bukan milikku. Orang sepertiku tidak membeli budak perempuan dengan harga sepuluh ribu dinar. Aku tidak akan berani mendatangi putra paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu merampas orang yang paling dicintainya untuk diriku sendiri. Tetapi aku adalah utusan dari Yazid bin Mu’awiyah dan dalam mencarimulah ia mengutusku. Maka bersembunyilah dariku, dan jika syaitan memasukkiku atau jiwaku menginginkanmu, maka tolak aku.”
Kemudian ia pergi bersamanya hingga tiba di Damaskus. Orang-orang menemuinya dengan kabar pemakaman Yazid, dan ia telah mengangkat anaknya Mu’awiyah bin Yazid sebagai khalifah. Orang itu tinggal beberapa hari, kemudian mencari cara untuk masuk menemui Mu’awiyah bin Yazid dan menceritakan kisah tersebut kepadanya.
Diriwayatkan bahwa tidak ada seorangpun dari Bani Umayyah yang seadil Mu’awiyah bin Yazid pada masanya dalam hal kesalehan dan ibadah. Ketika orang Irak itu mengabarkan kisah tersebut, Mu’awiyah berkata: “Ia untukmu, dan semua yang diberikan ayahku kepadamu dalam urusannya adalah untukmu. Berangkatlah hari ini juga dan jangan sampai aku mendengar kabarmu di wilayah Syam manapun.”
Orang Irak itu berangkat, kemudian berkata kepada budak perempuan itu: “Sesungguhnya aku telah berkata kepadamu apa yang aku katakan ketika aku keluar bersamamu dari Madinah, dan aku telah memberitahumu bahwa engkau untuk Yazid. Sekarang engkau menjadi milikku, dan aku bersaksi kepada Allah bahwa engkau adalah milik Abdullah bin Ja’far dan sesungguhnya aku telah mengembalikanmu kepadanya. Maka bersembunyilah dariku.”
Kemudian ia pergi bersamanya hingga tiba di Madinah dan singgah dekat rumah Abdullah. Beberapa keluarga Abdullah masuk menemuinya dan berkata kepadanya: “Ini orang Irak tamumu yang telah melakukan apa yang ia lakukan dan ia telah singgah di halaman. Semoga Allah tidak menghidupkannya.”
Abdullah berkata: “Jangan! Terimalah orang itu dan muliakanlah ia.”
Ketika orang Irak itu telah menetap, ia mengirim utusan kepada Abdullah: “Semoga engkau menjadi tebusanku, jika engkau berkenan mengizinkan aku untuk menemui dan berbicara langsung kepadamu tentang sesuatu, silakan.” Abdullah mengizinkannya. Ketika ia masuk menemui Abdullah, ia memberi salam dan mencium tangannya. Abdullah mendekatkannya, kemudian orang itu menceritakan seluruh kisahnya hingga selesai. Ia berkata: “Demi Allah, aku telah menghibahkannya kepadamu sebelum aku melihatnya atau meletakkan tanganku padanya. Ia untukmu dan dikembalikan kepadamu. Allah Ta’ala telah mengetahui bahwa aku tidak melihat wajahnya kecuali bersamamu.”
Ia mengirim utusan kepada ‘Imarah dan ia datang. Ia juga membawa semua yang telah disiapkan untuknya dengan lengkap. Ketika ‘Imarah melihat Abdullah, ia jatuh pingsan. Abdullah bergegas ke arahnya dan memeluknya. Orang Irak itu keluar, sementara penghuni rumah berteriak: “‘Imarah! ‘Imarah!” Abdullah berkata sambil air matanya mengalir: “Apakah ini mimpi? Apakah ini nyata? Aku tidak percaya dengan ini.”
Orang Irak itu berkata kepadanya: “Semoga engkau menjadi tebusanku, aku mengembalikannya kepadamu karena engkau mengutamakan menepati janji, kesabaranmu terhadap kebenaran, dan ketundukanmu kepadanya.”
Abdullah berkata: “Segala puji bagi Allah. Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku telah bersabar untuk tidak memilikinya, mengutamakan menepati janji, dan menyerahkan diri kepada perintah-Mu, lalu Engkau mengembalikannya kepadaku dengan karunia-Mu. Maka bagi-Mu segala puji.”
Kemudian ia berkata: “Wahai saudaraku dari Irak, tidak ada di bumi ini yang lebih berjasa daripada engkau, dan Allah Ta’ala akan membalasmu.”
Orang Irak itu tinggal beberapa hari. Abdullah menjual kambing seharga tiga belas ribu dinar dan berkata kepada bendaharanya: “Bawalah ini kepadanya.” Ia berkata kepada orang Irak itu: “Maafkanlah kami dan ketahuilah bahwa seandainya aku memberimu semua yang aku miliki, pasti aku melihatmu pantas mendapatkan lebih dari itu.” Orang Irak itu pulang dengan kehormatan, harta yang melimpah, dan nama baik.
Telah meriwayatkan Mush’ab al-Zubairi dari Muhammad bin Abdullah bin Abdullah bin Abi Mulaikah dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata: Abdullah bin Abi ‘Ammar—yang pada saat itu merupakan ahli fikih penduduk Hijaz—masuk menemui seorang pedagang budak dan jatuh cinta kepada seorang gadis. Cintanya kepada gadis itu terkenal hingga ‘Atha’, Thawus, dan Mujahid datang kepadanya untuk mencelakannya. Jawabannya adalah syair:
Orang-orang yang kusering berkumpul dengannya mencelaku karenamu Maka aku tidak peduli apakah celaan itu berterbangan atau jatuh
Kabar itu sampai kepada Abdullah bin Ja’far, dan ia tidak memiliki perhatian selain kepada Abdullah bin Abi ‘Ammar. Ketika ia menunaikan haji, ia mengirim utusan kepada tuan budak perempuan itu dan membelinya dengan harga empat puluh ribu. Ia memerintahkan pembantu budak-budak perempuannya untuk menghias dan mempercantiknya, maka mereka melakukannya. Kabar kedatangan Abdullah bin Ja’far sampai kepada orang-orang dan mereka masuk menemuinya. Ia berkata: “Mengapa aku tidak melihat Ibnu Abi ‘Ammar mengunjungi kami?” Sang syaikh diberitahu dan ia datang menemuinya. Ketika ia hendak bangkit, Abdullah memintanya untuk tetap duduk dan ia duduk. Abdullah bin Ja’far berkata kepadanya: “Bagaimana nasib cintamu kepada fulanah?” Ia menjawab: “Cinta itu telah menyatu dengan dagingku, darahku, uratku, sumsum tulangku, dan tulangku.” Abdullah bertanya: “Apakah engkau akan mengenalinya jika engkau melihatnya?” Ia menjawab: “Aku bahkan mengenali keledainya.” Abdullah berkata: “Sesungguhnya aku telah membelinya, dan demi Allah aku tidak melihatnya.”
Ia memerintahkan agar gadis itu dikeluarkan dan dibawa dengan mengenakan perhiasan dan pakaian mewah. Abdullah bertanya: “Apakah ini dia?” Ia menjawab: “Ya, semoga ayahku dan ibuku menjadi tebusanmu.” Abdullah berkata: “Ambillah tangannya, Allah telah menjadikannya untukmu. Apakah engkau ridha?” Ia menjawab: “Ya, demi Allah, semoga ayahku dan ibuku menjadi tebusanmu, lebih dari ridha.” Abdullah bin Ja’far berkata kepadanya: “Tetapi demi Allah, aku tidak ridha memberikannya kepadamu dalam keadaan kosong. Wahai budak, bawalah bersamanya seratus ribu dirham agar ia tidak khawatir dengan biaya perawatannya.”
Ia (Ibnu Abi ‘Ammar) pulang dengan gadis itu dan hartanya.
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Nasir, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Thalhah bin Muhammad al-‘Aquli, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad al-Jauhari, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah bin Baththah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Duraid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Utsman al-Mazini dari Abu ‘Ubaidah Ma’mar bin al-Mutsanna, ia berkata: Ada seorang laki-laki di Hijaz yang memiliki seorang putri cantik. Anak pamannya jatuh cinta kepadanya dan menawarkan kepada ayahnya empat ribu dirham, tetapi ayahnya menolak menikahkannya dengannya. Gadis itu menjadi kurus dan harta ayahnya habis. Kemudian ayah gadis itu pindah bersama keluarganya dari Syam. Banyak orang yang melamar gadis itu. Ketika kabar itu sampai kepada anak pamannya, ia datang kepada ayah gadis itu dan menyampaikan keluhannya. Ayah gadis itu berkata kepadanya: “Engkau dulu menawarkan empat ribu dirham, jika engkau memberikannya, kami akan memberikannya (menikahkannya denganmu), karena ia lebih kami cintai daripada hubungan kekerabatanmu.” Ia berkata: “Beri aku waktu sebulan.”
Orang Arab itu tidak memiliki apa-apa kecuali seekor unta. Ia menungganginya dan pergi menemui Abdul Malik bin Marwan. Untanya hilang, maka ia memikul kain pelana dan pelana itu di lehernya dan masuk menemui Abdul Malik bin Marwan. Ketika ia meletakkan kain pelana dan pelana itu di hadapannya, ia mulai bersyair:
Apa yang akan dikatakan Amirul Mukminin kepada seseorang Yang datang kepadanya tanpa kerabat dan tanpa nasab Akalnya hilang karena cinta kepada seorang gadis Yang terkenal dengan kesempurnaan daya tarik dan adabnya Aku melamarnya ketika melihat orang-orang sibuk Menyebut namanya, dan cinta membawa kepada kebinasaan Aku berkata: Aku memiliki nasab tinggi dan kehormatan Mereka berkata: Dirham lebih baik daripada orang yang memiliki nasab Sesungguhnya kami menginginkan darimu empat ribu Dan aku tidak memiliki apa-apa kecuali kain pelana dan pelana Maka jiwaku takjub ketika aku hendak melamarnya Dariku, dan kefakiran aku mentertawakan ketakjuban itu Seandainya aku memiliki harta atau menguasainya Aku akan memberikan kepada mereka seribu qinthar emas Maka bermurah hatilah kepadaku wahai Amirul Mukminin dengannya Dan satukanlah dengannya kehidupan orang yang malang dan belum menikah ini Maka tidak ada setelahmu selain Allah yang menjadi tempat tujuan Engkau adalah harapan dan dariku puncak permintaan
Abdul Malik tertawa dan memerintahkan untuk memberikan kepadanya empat ribu. Ia berkata: “Jadikan ini sebagai mas kawinnya,” dan empat ribu lagi. Ia berkata: “Adakan pesta dengannya,” dan empat ribu lagi. Ia berkata: “Gunakan ini untuk modal.”
Pemuda itu mengambil uang tersebut dan kembali kepada syaikh itu, lalu syaikh itu menikahkan putrinya kepadanya.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nasir, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Mahfuzh bin Ahmad, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Ali Muhammad bin al-Husain al-Jaziri, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami al-Mu’afa bin Zakariyya, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Hasan bin Duraid, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami al-Abbas bin al-Faraj al-Riyasyi, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Sallam, ia berkata: Ada seorang pemuda di Madinah dari Bani Umayyah, dari keturunan Sa’id bin Utsman bin Affan. Ia sering datang ke tempat seorang budak penyanyi yang dimiliki salah satu suku Quraisy. Ia adalah pemuda yang tampan dan cerdas. Budak perempuan itu mencintainya tetapi ia tidak tahu tentang cintanya, dan ia mencintainya tetapi ia tidak tahu. Pada suatu hari ia ingin menguji hal itu darinya, maka ia berkata kepada salah satu sahabatnya: “Mari kita pergi menemui fulanah.” Mereka berdua pergi dan masuk menemuinya. Ketika ia duduk di tempatnya dan memegang kecapinya, pemuda Umayyah itu berkata: “Nyanyikanlah:
Aku mencintai kalian dengan cinta di semua anggota tubuhku Maka apakah kalian tahu tentang apa yang kalian miliki pada diriku Dan apakah kalian membalas dengan cinta yang berlipat ganda sepertinya Maka sesungguhnya orang yang mulia adalah orang yang membalas cinta dengan cinta”
Ia (budak perempuan itu) berkata: “Ya,” dan lebih baik dari itu, lalu menyanyikan: “Yang telah memberikan cinta kepada kita, kita balas dengan dua kali lipat, dan keutamaan orang yang memulai tidak dapat dibalas.
Seandainya apa yang ada pada diri kami untukmu tampak, niscaya akan memenuhi bumi Dan penjuru Syam dan Hijaz”
Orang-orang takjub dengan kecepatan jawabannya meski hatinya sedang sibuk, dan dengan kecerdasan serta keindahan jawabannya. Pemuda itu semakin jatuh cinta dan mengungkapkan apa yang ada di hatinya. Ia bersyair:
Engkau adalah alasan pemuda ketika ia merobek tirai Meskipun ia adalah Yusuf yang terjaga Barangsiapa yang terjerumus dalam cintamu, celaan akan berhenti Dan ketika melihatmu, yang tercela adalah yang mencela
Umar bin Abdul Aziz ketika menjadi gubernur Madinah mendengar kabarnya, lalu membelinya dengan sepuluh kebun dan menghibahkannya kepada pemuda itu beserta apa yang layak untuknya. Budak perempuan itu tinggal bersamanya selama setahun, kemudian meninggal. Ia meratapi kematiannya dengan syair:
“Engkau telah menginginkan surga yang kekal dengan sungguh-sungguh… dan engkau memasukinya tanpa harus menghimpun amal yang pantas.
Kemudian engkau pergi setelah sempat merasakan nikmat darinya, dan kematian adalah keadaan yang lebih terpuji.”
Ia mengulang bait-bait puisi ini berkali-kali, lalu ia pun wafat. Maka kami menguburkan keduanya bersama.
Muhammad bin Nashir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad Al-Jauhari memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Haiwiyah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar bin Al-Marzaban menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad At-Tamimi mengabarkan kepada saya, ia berkata: Muhammad bin Amr Al-Muaddib mengabarkan kepada saya dari Muhammad bin Abdurrahman bin Al-Qasim Al-Makki, ia berkata: Mutharrif bin Abdullah menceritakan kepada saya bahwa di Madinah ada seorang budak perempuan yang telah menghafal Al-Quran dan meriwayatkan syair-syair, ia adalah manusia yang paling cantik wajahnya. Al-Ahwash dan Abdurrahman bin Hassan keduanya sering mengunjunginya untuk saling berbalas pantun, lalu keduanya jatuh cinta padanya dan ia pun jatuh cinta pada Abdurrahman. Jika ia berbicara, ia menghadapkan pembicaraannya kepada Abdurrahman, dan jika Abdurrahman berbicara, ia mendengarkannya dengan saksama. Hal ini membuat Al-Ahwash marah lalu berkata, “Demi Allah, aku akan menggodanya dengan sebuah bait syair.” Lalu ia berkata:
Kulihat engkau menghadap pada kekasihku … sementara tak ada bagianku dalam pembicaraanmu
Maka budak perempuan itu menjawabnya:
Karena Allah telah menautkan hatiku padanya … maka cinta dan kekasih menghalangimu
Lalu Abdurrahman berkata:
Kekasihku, jangan cela ia dalam cintanya, kehidupan yang paling nikmat adalah apa yang dicintai hati
Maka Al-Ahwash berkata: Demi Allah, aku akan berusaha keras untuk memisahkan kalian berdua.
Ia pun pergi menemui Yazid bin Abdul Malik dan memujinya, lalu Yazid memberinya hadiah dan memperlakukannya dengan baik. Ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, ada sebuah nasihat.” Yazid bertanya, “Apa itu?” Ia menjawab, “Aku meninggalkan seorang budak perempuan di Madinah yang cantik, telah menghafal Al-Quran dan meriwayatkan syair-syair, ia hanya cocok untuk menemani Amirul Mukminin.”
Yazid berkata, “Celakalah engkau, gambarkanlah ia dalam beberapa bait syair.” Maka ia berkata:
Sempurna dalam kecantikan, keindahan dan keanggunan … dan sempurna dalam akal dan kesuciannya
Muda, lembut, gadis belia … langsing pinggangnya, montok pinggulnya
Ia matahari siang dalam kecantikan … namun ia lebih unggul dengan belaian keanggunan
Ia memiliki penampilan dan rayuan yang memesona … dan pembicaraan yang teratur tidak kaku
Diciptakan melebihi harapan yang diinginkan … maka terimalah nasihat ini wahai putra Abdul Manaf
Yazid berkata, “Aku telah menerimanya.” Lalu ia mengutus orang untuk membelinya dengan seratus ribu dirham. Ketika ia sampai di Syam, Al-Ahwash keluar dari Syam hingga tiba di Madinah. Ia melewati Abdurrahman bin Hassan yang sedang duduk di halaman rumahnya menggaruk tanah, lalu ia berhenti di hadapannya dan mulai berkata:
Wahai yang diuji dengan cinta yang menghancurkan … mengalami kesedihan dari cinta
Cinta telah mengekangnya sehingga ia tak berpaling … kecuali dengan terkang cinta yang menguasai
Yang ia sukai menjadi tertutup … darinya, dan yang ia benci terbuka
Telah memilikinya orang yang di sisinya … ia mencapai bau harum dan aroma wanginya
Khalifah Allah, maka tanyakanlah pada cinta … dan terhiburlah hati yang terluka
Maka Abdurrahman mengangkat kepalanya kepadanya sambil berkata:
Tak ada kesabaran bagiku dari kijang yang pandangannya … membawa kesedihan dengan lirikan
Seandainya angin sampai ke tubuhnya … sentuhan angin akan membuatnya terluka
Tak ada bagian bagiku darinya kecuali bahwa aku … dari arahnya menghirup aroma
Dan setiap kali aku menghirupnya sekali … aku menganggapnya keuntungan dan kegembiraan
Dan kebetulan saat itu seorang pemuda dari Bani Umayyah keluar menemui Yazid bin Abdul Malik, lalu ia berkata kepada Abdurrahman bin Hassan, “Apakah kamu punya keperluan?” Ia menjawab, “Ya, surat ini, bersikaplah lemah lembutlah dalam menyampaikannya kepadanya.” Dan ia menulis surat kepadanya memberitahukan apa yang terjadi antara dirinya dan Al-Ahwash dari syair-syair dan ejekan Al-Ahwash terhadapnya. Maka budak perempuan itu menulis kepadanya:
Wahai yang mengadukan cinta dan kobaran apinya … hatiku karena dirimu menjadi terluka
Mataku tak tenang dengan apa yang kuraih … dan aku tak menganggap kerajaan sebagai kegembiraan
Kerinduan pada wajahmu itu … yang tak menyisakan nyawa di tanganku
Ketika ia membaca suratnya, hal itu membuatnya tergugah hingga ia keluar ke Syam dan memuji Yazid, lalu Yazid memperlakukannya dengan baik dan memberinya hadiah. Kemudian ia tinggal beberapa hari dan budak perempuan itu mengetahui kedatangannya, lalu ia mulai mengutus pelayan untuk menanyakan kabarnya. Yang sering mengunjunginya adalah seorang pelayan miliknya. Suatu hari ia berkata kepadanya, “Carilah akal agar kau bisa memasukkannya.” Maka ia datang kepada Yazid dan memberitahukan tentang malam ketika ia akan masuk. Yazid duduk di tempat yang bisa melihat mereka tetapi mereka tidak melihatnya dan mendengar pembicaraan mereka. Ketika ia masuk, budak perempuan itu berdiri mendatanginya lalu memegang tangannya kemudian duduk di suatu sudut sambil berbincang dan menangis hingga terbit fajar. Ketika ia bangkit untuk pulang, ia mulai berkata:
Barangsiapa yang telah putus asa dalam meninggalkan kekasih … maka sesungguhnya aku darimu tidak akan pernah melupakan
Demi Allah dan demi Allah, aku tak akan melupakanmu wahai kekasihku … hingga roh meninggalkan tubuhku
Maka ia menjawabnya:
Kini para pencinta setelah perjumpaan telah putus asa … dan aku telah putus asa namun tidak lupa dalam keadaan apapun
Ia berkata: Ketika Yazid bangun pagi, ia mengutus kepada mereka berdua dan menghadap kepada mereka berdua lalu berkata, “Ceritakanlah kepadaku apa yang terjadi antara kalian berdua di malam ini, karena sebagian yang hadir di majelis kalian telah mengabariku.” Maka keduanya mengabarkan apa yang terjadi. Yazid menghadap kepada Abdurrahman dan berkata, “Apakah kamu mencintainya?” Ia menjawab, “Ya demi Allah wahai Amirul Mukminin, cinta yang lama bukan yang baru atau yang diperbaharui.”
Lalu ia menghadap kepadanya dan berkata, “Apakah kamu mencintainya?” Ia menjawab, “Ya demi Allah wahai Amirul Mukminin, cinta yang telah merobek selaput hatiku.”
Maka ia berkata, “Ambillah tangannya.” Kemudian berkata, “Tetaplah di tempatmu, sesungguhnya ia tidak bermanfaat bagimu tanpa yang memperbaiki kalian berdua.” Lalu ia memerintahkan untuk memberikan seratus ribu dirham kepadanya.
Maka ia kembali dengannya ke Madinah. Dan Abu Bakar bin Duraid meriwayatkan dari Abdurrahman bin saudara Al-Asma’i dari pamannya, ia berkata: Yazid bin Abdul Malik menunaikan haji pada masa kekhalifahan saudaranya Sulaiman. Ditawarkan kepadanya seorang budak perempuan penyanyi yang cantik, ia sangat terkesan dengannya hingga membelinya dengan empat ribu dinar. Namanya adalah Al-Aliyah lalu ia menamainya Habibah. Al-Harits bin Khalid Al-Makhzumi mencintainya, lalu ia berkata kepadanya ketika mengetahui kepergian Yazid bersamanya:
Amir telah pergi dengan sebaik-baik makhluk … dan telah pergi dengan hatimu terbit timur
Dan Sulaiman mendengar kabarnya lalu berkata, “Sungguh aku ingin melarang Yazid membeli budak perempuan dengan empat ribu dinar.”
Yazid takut dan berhati-hati terhadapnya, ketika ucapannya sampai kepadanya, ia mengembalikannya kepada tuannya dan mengambil kembali uangnya. Tuannya menjual budak itu kepada seorang laki-laki dari penduduk Mesir dengan harga tersebut. Yazid tinggal dalam kesedihan dan penyesalan atasnya. Tidak berlalu waktu lama hingga Yazid memegang kekuasaan. Suatu hari ketika ia bersama istrinya Sa’dah binti Amr bin Utsman, ia berkata kepadanya, “Apakah masih ada di hatimu sesuatu dari urusan dunia yang belum kamu capai?” Ia menjawab, “Ya, Habibah.” Maka ia diam hingga keesokan harinya ia mengutus salah seorang kepercayaannya ke Mesir dan menyerahkan kepadanya harta, lalu memerintahkannya untuk membeli Habibah. Ia pergi dan tidak lama kemudian ia datang membawa Habibah yang telah dibelinya.
Sa’dah memerintahkan pengasuh budak-budaknya untuk mempercantiknya dan mengenakan padanya pakaian terindah serta membuat untuknya perhiasan termewah. Ia berkata kepadanya, “Amirul Mukminin sangat menyesalimu dan untuknya aku membelimu.” Maka ia gembira dan mendoakan Sa’dah. Ia tinggal beberapa hari, pengasuh itu mempercantiknya hingga hilang lelah perjalanannya. Sa’dah berkata kepada Yazid, “Aku ingin kamu pergi bersamaku ke kebunmu di Ghuthah untuk bersantai di sana.” Ia berkata, “Aku akan melakukannya, maka dahului aku ke sana.” Maka ia pergi dan mendirikan kemah beludru yang dihias dengan permadani dan membuat di dalamnya kelambu bambu serta mendudukkan Habibah di dalamnya.
Yazid datang, mereka makan dan duduk minum. Sa’dah mengulangi lagi padanya, “Apakah masih ada di hatimu dari dunia sesuatu yang belum kamu capai?” Ia menjawab, “Ya, Habibah.”
Ia berkata, “Sesungguhnya aku telah membeli seorang budak perempuan yang dikatakannya telah mempelajari semua nyanyiannya, ia bernyanyi sepertinya. Apakah kamu bersemangat untuk mendengarkannya?” Ia menjawab, “Ya demi Allah.”
Maka ia membawanya ke kemah dan mereka duduk di hadapannya. Ia berkata, “Bernyanyilah wahai budak.” Maka ia menyanyikan lagu yang dimaksudkan untuk Yazid ketika ia membelinya, dari syair Katsir:
Dan antara tulang leher dan hati ada panas … tempat tangis yang ringan lalu mendingin
Maka Yazid berkata, “Habibah demi Allah!” Sa’dah berkata, “Habibah demi Allah, untukmu aku membelinya dan aku telah menghadiahkannya untukmu.”
Maka ia sangat gembira dan berterima kasih dengan sangat kepada Sa’dah. Ia pulang dan meninggalkannya bersama Habibah di kebun. Ketika sore hari, ia naik bersamanya ke tempat peristirahatan di kebun dan berkata kepadanya, “Nyanyikanlah: Dan antara tulang leher dan hati ada panas.” Maka ia menyanyikannya, lalu ia hendak menjatuhkan dirinya dan berkata, “Aku akan terbang demi Allah!” Maka Habibah memegangnya dan berkata, “Demi Allah, demi Allah wahai Amirul Mukminin!”
Ia tinggal bersamanya tiga hari di kebun kemudian mereka pulang. Ia tinggal beberapa hari kemudian sakit dan meninggal. Ia sangat bersedih atasnya dan menolak makan dan minum, lalu sakit dan meninggal.
Hibatullah bin Ahmad Al-Hariri memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ali bin Al-Fath Al-Asyari memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Husain bin saudara Maimi memberitakan kepada kami, ia berkata: Ja’far Al-Khaldi menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Muhammad bin Masruq menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Al-Husain Al-Barjalani menceritakan kepada kami, ia berkata: Asyras bin An-Nu’man menceritakan kepada saya, ia berkata: Al-Jazari menceritakan kepada saya, ia berkata: Musa bin Alqamah Al-Makki menceritakan kepada saya, ia berkata: Dahulu di sini ada seorang pedagang budak, ia memiliki seorang budak perempuan yang digambarkan kecantikan dan kesempurnaannya dengan hal yang mengagumkan. Ia membawanya keluar pada hari-hari musim haji dan orang-orang menawarkan harga tinggi untuknya tetapi ia menolak menjualnya dan meminta tambahan harga.
Ia terus seperti itu untuk waktu yang lama dan penduduk negeri-negeri mendengar tentangnya, mereka sengaja berhaji untuk melihatnya.
Ia berkata: Ada seorang pemuda dari kalangan zahid yang pindah kepada kami dari negerinya dan ia menetap di antara kami. Suatu hari ia melihat budak perempuan itu pada hari-hari pamerannya lalu ia tertarik padanya. Ia terus datang sepanjang hari-hari pameran untuk melihatnya lalu pulang. Ketika ia disembunyikan, hal itu menyedihkannya dan membuatnya sakit parah, tubuhnya kurus dan melemah. Ia mengasingkan diri dari orang-orang dan terus merasakan penderitaan sepanjang tahunnya hingga hari-hari musim haji. Jika budak perempuan itu keluar untuk pameran, ia keluar lalu melihatnya sehingga apa yang ada padanya mereda hingga ia disembunyikan.
Ia tetap seperti itu bertahun-tahun, semakin kurus dan melemah. Aku terus mendatanginya dan mendesaknya hingga ia menceritakan kepadaku kisahnya dan apa yang ia derita, lalu meminta agar aku tidak menyebarkan hal itu dan tidak ada seorang pun yang mendengarnya.
Aku mengasihaninya karena apa yang ia derita dan apa yang menimpanya. Aku masuk menemui tuan budak perempuan itu dan terus berbincang dengannya hingga aku menceritakan kepadanya kisah pemuda itu, apa yang ia derita dan apa yang menimpanya, bahwa ia dalam keadaan mendekati kematian. Ia berkata, “Mari kita datangi dia agar aku bisa melihatnya dan menyaksikan keadaannya.” Maka kami berdua bangkit dan masuk menemuinya. Ketika tuan budak perempuan itu masuk dan melihatnya serta menyaksikan apa yang menimpanya, ia tidak dapat menahan diri lalu kembali ke rumahnya dan mengeluarkan pakaian-pakaian indah yang tersembunyi dan berkata, “Perbaikilah si anu dan kenakanlah padanya pakaian-pakaian ini dan lakukanlah apa yang kalian lakukan padanya pada hari-hari musim haji.” Mereka melakukan hal itu padanya. Lalu ia memegang tangannya dan membawanya keluar ke pasar dan memanggil orang-orang, maka mereka berkumpul. Ia berkata, “Wahai sekalian manusia, saksikanlah bahwa aku telah menghadiahkan budak perempuanku si anu untuk orang ini beserta apa yang ada padanya, mengharapkan apa yang ada di sisi Allah.”
Kemudian ia berkata kepada pemuda itu, “Terimalah budak perempuan ini, ia adalah hadiah dariku untukmu beserta apa yang ada padanya.”
Maka orang-orang mulai mencela dan berkata, “Celakalah engkau, apa yang telah kamu lakukan? Telah ditawarkan kepadamu harga tinggi untuknya tetapi kamu tidak menjualnya, dan kamu menghadiahkannya untuk orang ini?” Ia berkata, “Menyingkirlah dariku, sesungguhnya aku telah menghidupkan setiap orang yang ada di muka bumi. Allah Taala berfirman: Dan barangsiapa menghidupkannya, maka seakan-akan ia telah menghidupkan seluruh manusia.” (Surat Al-Maidah ayat 32)
Abdurrahman bin Muhammad al-Qazzaz memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Umar bin Ruh an-Nahruwani memberitahukan kepada kami, ia berkata: al-Mu’afa bin Zakariya al-Jurairi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abi al-Azhar memberitahukan kepada kami, ia berkata: Hammad bin Ishaq al-Mushili menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Bisyr bin al-Walid menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku berada di sisi Abu Yusuf al-Qadhi, lalu ia menceritakan kepadaku, ia berkata:
“Ketika aku tadi malam sudah berbaring di tempat tidurku, tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu dengan sangat keras. Aku mengambil kain sarungku dan keluar, ternyata itu Hartsama bin A’yan. Aku memberinya salam dan ia berkata: ‘Jawablah panggilan Amirul Mukminin.’ Aku berkata: ‘Wahai Abu Hatim, kau memiliki kehormatan di sisiku, dan ini adalah waktu seperti yang kau lihat. Aku tidak merasa aman jika ternyata Amirul Mukminin memanggilku untuk suatu urusan. Jika kau bisa menunda hal itu hingga besok, mungkin ia akan mengubah keputusannya.’ Ia berkata: ‘Aku tidak punya cara untuk menundanya.'”
“Aku bertanya: ‘Bagaimana awalnya?’ Ia berkata: ‘Masrur al-Khadim datang kepadaku dan memerintahkanku untuk membawamu kepada Amirul Mukminin.’ Aku berkata: ‘Izinkan aku untuk menyiramkan air padaku dan memakai wewangian. Jika ini adalah suatu urusan berat, aku sudah mempersiapkan diriku, dan jika Allah memberikan keselamatan, maka tidak akan ada mudarat.’ Ia mengizinkanku.”
“Lalu aku masuk, mengenakan pakaian baru, dan memakai wewangian sebaik mungkin, kemudian kami keluar dan pergi hingga tiba di istana Amirul Mukminin ar-Rasyid. Ternyata Masrur sedang berdiri. Hartsama berkata kepadanya: ‘Aku telah membawanya.’ Aku berkata kepada Masrur: ‘Wahai Abu Hasyim, pengabdianku dan kehormatanku, dan ini waktu yang sempit, apakah kau tahu mengapa Amirul Mukminin memanggilku?’ Ia berkata: ‘Tidak.’ Aku bertanya: ‘Siapa yang bersamanya?’ Ia berkata: ‘Isa bin Ja’far.’ Aku bertanya: ‘Siapa lagi?’ Ia berkata: ‘Tidak ada orang ketiga bersamanya.'”
“Ia berkata: ‘Masuklah. Ketika kau sampai di halaman, ia sedang duduk di serambi. Gesekan kakimu di tanah, nanti ia akan bertanya kepadamu, maka katakan: Aku Ya’qub.’ Aku datang dan melakukannya. Ia bertanya: ‘Siapa ini?’ Aku menjawab: ‘Ya’qub.’ Ia berkata: ‘Masuklah.’ Aku masuk dan ternyata ia sedang duduk dan di sebelah kanannya ada Isa bin Ja’far. Aku memberi salam dan ia membalas salamku, lalu berkata: ‘Kukira kami membuatmu ketakutan.’ Aku berkata: ‘Ya, demi Allah, dan begitu juga orang-orang yang di belakangku.’ Ia berkata: ‘Duduklah.’ Aku duduk hingga ketakutanku reda. Kemudian ia menoleh kepadaku dan berkata: ‘Wahai Ya’qub, apakah kau tahu mengapa aku memanggilmu?’ Aku berkata: ‘Tidak.’ Ia berkata: ‘Aku memanggilmu untuk menjadi saksiku terhadap orang ini. Ia memiliki seorang budak perempuan. Aku memintanya untuk menghibahkannya kepadaku, tetapi ia menolak. Aku memintanya untuk menjualnya, ia juga menolak. Demi Allah, jika ia tidak melakukannya, aku akan membunuhnya.'”
“Aku menoleh kepada Isa dan berkata: ‘Sampai di mana Allah membawa dirimu karena seorang budak perempuan sehingga kau menolak Amirul Mukminin dan membiarkan dirimu berada pada kedudukan seperti ini?’ Ia berkata kepadaku: ‘Kau terburu-buru dalam berbicara sebelum mengetahui apa yang ada padaku.’ Aku berkata: ‘Apa jawaban untuk hal ini?’ Ia berkata: ‘Sesungguhnya aku telah bersumpah dengan talak, memerdekakan budak, dan menyedekahkan semua yang kumiliki, bahwa aku tidak akan menjual budak perempuan ini dan tidak akan menghibahkannya.'”
“Ar-Rasyid menoleh kepadaku dan berkata: ‘Apakah ada jalan keluar untuk hal ini?’ Aku berkata: ‘Ya.’ Ia bertanya: ‘Apa itu?’ Aku menjawab: ‘Ia menghibahkan kepadamu setengahnya dan menjual kepadamu setengah lainnya, sehingga ia tidak menjual dan tidak menghibahkan.’ Isa berkata: ‘Apakah hal itu diperbolehkan?’ Aku berkata: ‘Ya.’ Ia berkata: ‘Aku persaksikan kepadamu bahwa aku telah menjual kepadanya setengahnya dan menghibahkan setengah sisanya dengan harga seratus ribu dinar.'”
“Budak perempuan itu lalu didatangkan bersama dengan uangnya. Ia berkata: ‘Ambillah dia, wahai Amirul Mukminin, semoga Allah memberkahi untukmu.’ Ia berkata: ‘Wahai Ya’qub, tersisa satu hal lagi.’ Aku bertanya: ‘Apa itu?’ Ia berkata: ‘Ia adalah budak dan harus menjalani masa iddah (istibra). Demi Allah, jika aku tidak bermalam dengannya malam ini, kukira nyawaku akan melayang.’ Aku berkata: ‘Wahai Amirul Mukminin, merdekakanlah ia dan nikahilah ia, karena perempuan merdeka tidak perlu menjalani istibra.’ Ia bertanya: ‘Siapa yang akan menikahkannya untukku?’ Aku menjawab: ‘Aku.'”
“Ia memanggil Masrur dan Hasan. Aku memberikan khutbah, memuji Allah, dan menikahkannya dengan mahar dua puluh ribu dinar. Ia memanggil untuk membawa uang dan menyerahkannya kepada perempuan itu. Kemudian ia berkata kepadaku: ‘Wahai Ya’qub, pulanglah.’ Ia mengangkat kepalanya kepada Masrur dan berkata: ‘Wahai Masrur.’ Masrur berkata: ‘Aku siap melayanimu, wahai Amirul Mukminin.’ Ia berkata: ‘Bawalah kepada Ya’qub dua ratus ribu dirham dan dua puluh peti pakaian.’ Maka semua itu dibawa bersamaku.”
Bisyr bin al-Walid berkata: “Ya’qub menoleh kepadaku dan berkata: ‘Apakah kau melihat ada masalah dalam apa yang kulakukan?’ Aku berkata: ‘Tidak.’ Ia berkata: ‘Ambillah hakmu darinya.’ Aku bertanya: ‘Apa hakku?’ Ia berkata: ‘Sepersepuluh.’ Aku berterima kasih kepadanya dan mendoakan untuknya, lalu aku hendak berdiri ketika seorang perempuan tua masuk dan berkata: ‘Wahai Abu Yusuf, putrimu menyampaikan salam kepadamu dan berkata: Demi Allah, tidak ada yang sampai kepadaku di malamku ini dari Amirul Mukminin kecuali mahar yang telah kau ketahui. Aku telah mengirimkan kepadamu setengahnya dan menyisakan sisanya untuk apa yang kubutuhkan.’ Ia berkata: ‘Kembalikanlah. Demi Allah, aku tidak akan menerimanya. Aku mengeluarkannya dari perbudakan dan menikahkannya dengan Amirul Mukminin, dan kau rela bagiku dengan hal ini?’ Kami terus memohon kepadanya, aku dan paman-pamanku, hingga ia menerimanya dan memerintahkan untukku darinya seribu dinar.”
Abu Manshur al-Qazzaz memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakr Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitahukan kepada kami, ia berkata: al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari memberitahukan kepada kami, ia berkata: al-Mu’afa bin Zakariya menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin al-Qasim al-Anbari menceritakan kepadaku, ia berkata: Ayahku berkata: Manshur al-Barmaki berkata:
“Harun ar-Rasyid memiliki seorang budak perempuan yang berpenampilan seperti pemuda, ia menuangkan air di tangannya dan berdiri di atasnya. Al-Ma’mun sangat terpesona padanya ketika ia masih berpipi merah. Suatu ketika ketika budak itu sedang menuangkan air dari teko yang dibawanya untuk Harun, dan al-Ma’mun bersama Harun ar-Rasyid menghadapkan wajahnya ke wajah budak perempuan itu, ia memberi isyarat kepadanya untuk mencium. Budak itu menolaknya dengan alisnya dan lambat dalam menuangkan air selama jeda itu.”
“Harun melihatnya dan berkata: ‘Apa ini?’ Ia ragu-ragu. Ia berkata: ‘Letakkan apa yang kau bawa di sana. Demi…, jika kau tidak memberitahuku, aku akan membunuhmu.’ Ia berkata: ‘Abdullah memberi isyarat kepadaku untuk mencium.’ Ia menoleh kepadanya dan ternyata ia telah diliputi rasa malu dan ketakutan hingga ia merasa kasihan padanya. Lalu ia memeluknya dan berkata: ‘Apakah kau mencintainya?’ Ia berkata: ‘Ya, wahai Amirul Mukminin.’ Ia berkata: ‘Bangunlah dan bersendirian denganya di kubah itu.’ Ia bangkit dan melakukannya. Harun berkata kepadanya: ‘Buatlah syair tentang hal ini.'”
Lalu ia mulai bersyair:
Rusa yang kukirimkan surat dengan mataku Dari yang tersembunyi kepadanya Kucium dari jauh Lalu ia sakit dari bibirnya Ia membalas sebaik-baiknya balasan Dengan patahan dari alisnya Aku tidak beranjak dari tempatku Hingga aku berkuasa atasnya
Ali bin Abdullah memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Ja’far bin al-Muslimah memberitahukan kepada kami, ia berkata: Isma’il bin Sa’id bin Suwaid memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Ali al-Husain bin al-Qasim al-Kaukabi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu al-Fadhl ar-Rib’i menceritakan kepada kami dari ayahnya, ia berkata:
“Ummu Ja’far telah membesarkan dan mendidik seorang budak perempuan. Budak itu bolak-balik dalam urusan-urusan pentingnya kepada para penulis, pegawai, dan kantornya. Ummu Ja’far memiliki tempat untuk mengawasi kantor, ia bisa melihat siapa yang ada di sana sementara mereka tidak bisa melihatnya.”
“Suatu hari ia berkata kepada budaknya itu: ‘Wahai fulanah, siapa yang paling tampan di kantor?’ Ia menjawab: ‘Fulan, budak milikmu.’ Ia berkata: ‘Bagaimana bisa, padahal di sana ada fulan al-Hasyimi, fulan sang penulis, dan fulan dan fulan?’ Ia berkata: ‘Demi Allah, dialah yang paling tampan karena aku mencintainya.’ Ia bertanya: ‘Bagaimana kau tahu bahwa ia mencintaimu?’ Ia menjawab: ‘Karena aku keluar ke kantor untuk urusan dari urusanmu, dan ketika ia melihatku datang, ia meninggalkan pekerjaannya dan terus memandangiku hingga aku berbalik, kemudian ia terus memandangiku saat aku pergi hingga aku hilang dari pandangannya. Maka aku tahu ia mencintaiku, lalu aku mencintainya.'”
“Ia berkata: ‘Pergilah kepadanya sekarang dan ciumlah mulutnya sekali.’ Ia pergi, dan ketika laki-laki itu melihatnya datang, ia melemparkan kertas dan penanya dari tangannya, lalu terpaku memandangnya. Ketika budak itu mendekat, ia mengira bahwa ia datang membawa pesan dari Ummu Ja’far, maka ia menghadapinya seperti orang yang mendengarkan. Lalu budak itu menciumnya. Ia terkejut dengan hal itu, kemudian akalnya kembali dan ia tahu bahwa ia tidak melakukan ini kecuali atas perintah. Ia memanggilnya kemudian menulis secarik surat dan berkata: ‘Angkatlah ini kepada Ummu Ja’far.’ Ternyata di dalamnya tertulis:
Kami telah merasakan manisnya yang haram Maka rasakan kepada tuanmu manisnya yang halal
Ummu Ja’far menulis di bawah suratnya:
Tidak ada harapan di dalamnya bagi yang mencinta Kami hanya memelihara untuk selain laki-laki
Maka ia putus asa darinya. Kemudian ia memerintahkan untuk menikahkan budak itu kepadanya dan memerintahkan untuknya tiga puluh ribu dirham serta mempersiapkan perlengkapan pengantinnya dengan baik.”
Abdurrahman bin Muhammad al-Qazzaz memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu al-Qasim al-Azhari memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin al-Abbas al-Khazzaz menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Khalaf bin al-Marzuban menceritakan kepada kami, ia berkata: Ya’qub an-Nakha’i menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Zaid penulis al-Abbas bin al-Ma’mun menceritakan kepada kami, ia berkata: Ishaq bin Ibrahim al-Maushili menceritakan kepadaku, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata:
“Ar-Rasyid pergi haji dan bersamanya Ja’far bin Yahya al-Barmaki, dan aku bersama mereka. Ketika kami tiba di kota Rasul shallallahu alaihi wasallam, Ja’far bin Yahya berkata kepadaku: ‘Aku ingin kau carikan untukku seorang budak perempuan, dan jangan tinggalkan usaha maksimal dalam keahliannya bernyanyi, memukul alat musik, kesempurnaan dalam keanggunan dan adab, dan jauhkan aku dari ucapan mereka: kuning pucat.'”
“Aku diarahkan kepada seorang budak perempuan milik seorang laki-laki. Aku masuk menemuinya dan melihat tanda-tanda kenikmatan. Ia mengeluarkannya kepadaku dan aku tidak melihat yang lebih cantik, lebih cerah, atau lebih beradab darinya. Kemudian ia bernyanyi beberapa lagu dan menguasainya dengan baik. Aku berkata kepada tuannya: ‘Katakan berapa yang kau mau.’ Ia berkata: ‘Aku akan mengatakan kepadamu suatu angka yang tidak akan kukurangi sedirham pun.’ Aku berkata: ‘Katakan.’ Ia berkata: ‘Empat puluh ribu dinar.’ Aku berkata: ‘Aku telah mengambilnya dan mensyaratkan kepadamu waktu untuk meninjau.’ Ia berkata: ‘Itu untuknya.'”
“Aku datang kepada Ja’far bin Yahya dan berkata: ‘Aku telah mendapatkan kebutuhanmu dengan keanggunan, adab, kecantikan, kejernihan warna, dan kebaikan dalam seni dan nyanyian yang maksimal. Aku telah mensyaratkan waktu meninjau, maka bawalah uangnya dan lewatlah bersama kami.’ Ia membawa uang dengan dua tukang pikul dan Ja’far datang secara sembunyi-sembunyi. Kami masuk menemui laki-laki itu dan ia mengeluarkannya. Ketika Ja’far melihatnya, ia sangat kagum padanya dan mengetahui bahwa aku telah jujur kepadanya. Kemudian ia bernyanyi dan kekagumannya bertambah. Ia berkata kepadaku: ‘Selesaikan urusannya.'”
“Aku berkata kepada tuannya: ‘Ini uangnya, kami telah menimbang dan menghitungnya. Jika kau puas, terima, jika tidak, utuslah siapa yang kau inginkan untuk menghitungnya.’ Ia berkata: ‘Tidak, aku puas dengan apa yang kalian katakan.’ Budak perempuan itu berkata: ‘Wahai tuanku, apa yang sedang kau lakukan?’ Ia berkata: ‘Kau telah tahu apa yang kami alami dari kenikmatan dan apa yang kau alami dari kelonggaran tangan. Dan itu telah terputus karena berubahnya zaman atas kami. Aku memutuskan agar kau menjadi milik raja ini agar kau bisa memenuhi keinginan dan kehendakmu.'”
“Budak perempuan itu berkata: ‘Demi Allah, wahai tuanku, seandainya aku memilikimu seperti kau memiliki aku, aku tidak akan menjualmu dengan dunia dan isinya. Lagipula, ingatlah janji itu.’ Dan ia pernah bersumpah kepadanya untuk tidak memakan harganya. Mata tuannya itu berkaca-kaca dan ia berkata: ‘Saksikanlah bahwa ia merdeka karena Allah dan bahwa aku telah menikahi dia dan memberikannya mahar rumahku.'”
“Ja’far berkata kepadaku: ‘Mari kita pergi.’ Aku memanggil para tukang pikul untuk membawa uang itu. Ja’far berkata: ‘Tidak, demi Allah, tidak ada sedirham pun darinya yang akan menyertai kami.’ Kemudian ia menghadap kepada tuannya dan berkata: ‘Ini untukmu, diberkahi untukmu. Belanjakan untuk dia dan untukmu.’ Kemudian kami berdiri dan keluar.”
Syahdah binti Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ali bin Abi Ali al-Mu’addil memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Rauq al-Hazani meriwayatkan dari ar-Riyasyi bahwa:
“Seorang dari penduduk Bashrah membeli seorang budak perempuan muda, lalu ia mendidiknya dengan baik dan mengajarinya. Ia mencintainya dengan sepenuh cinta dan membelanjakan untuknya hingga ia jatuh miskin dan terlilit kesulitan yang sangat berat. Budak perempuan itu berkata: ‘Sesungguhnya aku merasa kasihan kepadamu, wahai tuanku, dari apa yang kulihat padamu berupa buruknya keadaan. Jika kau menjualku dan melapangkan diri dengan hargaku, mungkin Allah akan membuat untukmu dan aku jatuh pada tempat yang baik keadaanku, sehingga itu akan lebih baik bagi kita berdua.'”
“Ia membawanya ke pasar dan ditawarkan kepada Umar bin Ubaidillah bin Mu’ammar at-Taimi yang saat itu menjadi amir Bashrah. Ia terkesan padanya lalu membelinya dengan harga seratus ribu dirham. Ketika tuannya menerima harga dan hendak pulang, masing-masing dari mereka menangis terisak kepada yang lain. Budak perempuan itu mulai bersyair:
Beruntunglah bagimu harta yang telah kau dapat Dan tidak tersisa di tanganku selain kenangan Kukatakan kepada jiwaku sementara ia dalam kesedihan yang mencekik Kurangilah, karena sang kekasih telah pergi, atau perbanyaklah Jika tidak ada cara bagimu untuk urusan ini Dan kau tidak menemukan sesuatu selain sabar, maka bersabarlah
Tangisan tuannya bertambah keras, kemudian ia mulai bersyair:
Seandainya bukan karena masa yang membuatku terduduk jauh darimu Tidak akan ada yang memisahkan kita selain kematian, maka maafkanlah Aku pergi dengan hati yang terluka di dalam dada Kuajak bicara hati yang sangat memikirkan Salam bagimu, tidak ada kunjungan antara kita Dan tidak ada pertemuan kecuali jika Ibnu Mu’ammar menghendaki
Ibnu Mu’ammar berkata: ‘Aku telah menghendakinya. Ambillah dia dan untukmu uangnya. Pergilah kalian berdua dengan sejahtera. Demi Allah, aku tidak akan menjadi sebab bagi perpisahan dua kekasih.'”
Abu Mansur Al-Qazzaz mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Qasim Al-Azhari memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ibrahim bin Arafah memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Al-Husain menceritakan kepada kami dari Hisyam, ia berkata: Ali bin Al-Jahm menceritakan kepada kami dari ayahnya, ia berkata: Suatu hari aku bangun pagi dalam keadaan sangat terdesak. Aku mencari pelayan tetapi tidak menemukannya. Kemudian ia datang, maka aku berkata: “Ke mana saja kamu?” Ia menjawab: “Aku sedang mengusahakan sesuatu untukmu dan pakan untuk hewanmu, namun demi Allah aku tidak mampu mendapatkannya.” Aku berkata: “Pasangkan pelana untukku.” Lalu aku menunggang kuda. Ketika aku sampai di pasar Yahya, tiba-tiba aku berada di tengah iring-iringan besar, dan ternyata itu adalah Al-Fadhl bin Yahya bin Khalid. Ketika ia melihatku, ia berkata: “Jalan terus.” Maka kami berjalan sedikit, dan ada seorang budak yang mengangkat nampan di depan pintu sambil memanggil seorang budak perempuan. Al-Fadhl berhenti cukup lama, kemudian berkata: “Jalan.” Kemudian ia berkata: “Tahukah kamu sebab aku berhenti?” Aku menjawab: “Jika berkenan tuan memberitahuku.” Ia berkata: “Saudariku memiliki seorang budak perempuan dan aku sangat mencintainya dengan cinta yang sangat, namun aku malu pada saudariku untuk memintanya darinya. Saudariku menyadari hal itu, maka pada hari ini ia memakaikan pakaian dan menghiasnya lalu mengirimkannya kepadaku. Tidak ada hari dalam hidupku yang lebih menyenangkan dari hari ini. Namun pada saat seperti ini datanglah utusan Amirul Mukminin yang membuatku tergesa-gesa dan memutus kesenanganku. Ketika aku sampai di tempat ini, budak pembawa nampan itu memanggil dengan nama budak perempuan tersebut, maka aku merasa lega dengan panggilannya dan aku berhenti.”
Maka aku berkata: “Yang menimpa tuan sama seperti yang menimpa saudara Bani Amir ketika ia berkata:
‘Seorang penyeru memanggil saat kami berada di Khaif dari Mina, maka ia menggerakkan ujung-ujung hati padahal ia tidak tahu Ia memanggil dengan nama Laila, bukan dia, namun seolah-olah dengan Laila ia menerbangkan burung yang ada di dadaku’
Maka ia berkata kepadaku: “Tuliskan kedua bait ini.” Kami menepi untuk mencari secarik kertas untuk menuliskannya, namun aku tidak menemukannya. Maka aku gadaikan cincinku pada seorang pedagang sayur dan mengambil secarik kertas. Aku menuliskan kedua bait tersebut di dalamnya dan menyusulnya dengannya.
Ia berkata kepadaku: “Kembalilah ke rumahmu.” Maka aku kembali. Pelayan berkata kepadaku: “Berikan cincinmu, akan kugadaikan untuk makananmu.”
Aku berkata: “Sudah kugadaikan.”
Belum sampai petang, ia mengirimkan kepadaku tiga puluh ribu dirham sebagai hadiah dan sepuluh ribu dirham sebagai uang muka dari gaji yang ia tetapkan untukku.
Syahdah binti Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad bin Al-Sarraj memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Qasim Abdul Aziz bin Bandar Al-Syirazi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Alal memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Harb memberitahukan kepadaku dari sebagian gurunya, ia berkata: Ibrahim bin Al-Mahdi bersembunyi pada zaman Al-Makmun di rumah bibinya. Bibinya sangat memuliakan dan menghormatinya dengan penghormatan yang tinggi. Ia mewakilkan seorang budak perempuan yang telah ia didik dan telah ia keluarkan untuk itu banyak harta. Budak perempuan itu cerdas dan hafal syair. Ia pernah diminta dengan harga seratus lima puluh ribu dirham. Ia melayani Ibrahim dan berdiri di sisinya. Ibrahim jatuh cinta padanya namun enggan memintanya dari bibinya. Ketika kerinduannya semakin kuat dan ia mabuk, ia mengambil alat musik dan menyanyikan syairnya untuk budak perempuan itu sementara ia berdiri di sisinya:
‘Wahai kijang yang untuknya aku memiliki perantara dari dua matanya Demi Dia yang aku agungkan pipinya lalu kucium tangannya Demi ayahku wajahmu, betapa banyaknya orang yang iri padaku karenanya Aku adalah tamu, dan balasan bagi tamu adalah berbuat baik kepadanya’
Budak perempuan itu mendengar syair tersebut dan memahami maknanya karena kelembutan dan kecerdasannya. Majikannya biasa menanyakan kabarnya dan kabar Ibrahim setiap hari. Maka pada hari itu ia mengabarinya tentang apa yang ada di hati Ibrahim tentang dirinya dan apa yang ia dengar darinya berupa syair dan nyanyian. Maka majikannya berkata kepadanya: “Pergilah, aku telah menghibahkanmu untuknya.”
Maka ia kembali kepadanya. Ketika ia melihatnya, ia mengulangi lagu tersebut. Budak perempuan itu membungkuk dan mencium kepalanya. Ia berkata: “Cukup.” Ia berkata: “Majikanku telah menghibahkanku untukmu dan aku adalah utusannya.” Ia berkata: “Kalau begitu, sekarang, iya.”
Abdurrahman bin Muhammad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitahukan kepada kami, ia berkata: Hakim Abu Al-Thayyib Al-Thabari memberitahukan kepada kami, ia berkata: Al-Muafa bin Zakariya menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Manshur Al-Haritsi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ishaq Al-Talhi menceritakan kepadaku, ia berkata: Ubaidillah bin Al-Qasim menceritakan kepadaku, ia berkata: Al-Taimi – yaitu Abdullah bin Ayyub atau Muhammad Al-Taimi penyair – jatuh cinta pada budak perempuan di tempat salah seorang pedagang budak. Ia mengadukan kerinduannya pada Abu Isa bin Al-Rasyid. Maka Abu Isa berkata kepada Al-Makmun: “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Al-Taimi sangat rindu pada budak perempuan milik salah seorang pedagang budak dan ia telah menulis kepadaku dua bait yang ia tanyakan kepadaku di dalamnya.” Ia berkata kepadanya: “Apa yang ia tulis kepadamu?” Maka ia membacakan:
‘Wahai Abu Isa, kepadamulah keluhan ini, dan saudara kesabaran jika ia lelah maka ia mengadu Aku tidak memiliki kesabaran atas perpisahannya, dan aku tidak suka tempat minum yang dipakai bersama’
Maka ia memerintahkan untuknya tiga puluh ribu dirham, lalu ia membelinya.
Dan sampai kepada kami tentang Al-Muhallab bin Abi Shufrah bahwa ia melihat seorang pemuda berbicara dengan salah satu budak perempuannya. Maka ia memanggil budak perempuan itu dan berkata kepadanya: “Apa yang membuatmu berbicara dengan orang yang kulihat?” Ia menjawab: “Wahai tuanku:
‘Karena ia memiliki kecintaan murni dari hatiku, untuknya di bawah lengkungan tulang rusuk ada yang bergetar Kepada sesuatu selain keburukan maka ketahuilah pembicaraan kami, tetapi untuk kerinduan, dan orang yang cinta itu merindukan’
Maka ia memanggil pemuda itu dan berkata kepadanya: “Apa yang membuatmu berbicara dengan budak perempuan ini?” Ia menjawab:
‘Karena ia memiliki kecintaan di hatiku dariku, dan di dalam lipatan dadaku ada bara dan kobaran api Dan sesungguhnya aku mencintainya dalam segala keadaan, dan sesungguhnya aku kepadanya selama aku hidup, aku merindukan’
Maka Al-Muhallab berkata:
‘Demi umurku, sesungguhnya aku penyayang kepada orang-orang yang cinta, dan sesungguhnya aku menjaga hak orang-orang yang sedang jatuh cinta Aku akan menyatukan dari kalian berdua ikatan cinta yang terpisah, karena sesungguhnya aku dengan apa yang kalian harapkan adalah layak’
Kemudian ia menghibahkannya kepadanya dan memerintahkan untuknya lima ribu dinar.
Abdurrahman bin Muhammad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ubaidillah bin Abi Al-Fath menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Al-Hasan Ali bin Umar Al-Daruquthni menceritakan kepada kami dari hafalannya sebagai pengingat, ia berkata: Abu Daud Hamid Al-Marwarudzi jarang masuk menemui Ibnu Abi Hamid, pemilik Baitul Mal (bendahara negara). Di majelisnya ada seorang laki-laki dari kalangan ahli fikih. Ia tidak hadir beberapa hari. Maka ia bertanya tentangnya dan diberitahu bahwa ia sedang disibukkan oleh suatu urusan yang menghalanginya hadir di majelis. Maka ia menghadirkannya dan menanyakan keadaannya. Ia menyebutkan bahwa ia telah membeli seorang budak perempuan untuk dirinya sendiri dan nafkahnya terputus serta tangannya sempit pada tahun itu karena terputusnya bantuan dari negerinya. Ia memiliki utang kepada sejumlah pedagang di pasar. Ia tidak menemukan cara untuk melunasinya kecuali dengan menjual budak perempuan itu. Ketika ia menerima uangnya, ia mengingatnya dan merindukannya serta merasa kesepian dengan kejauhan darinya sehingga ia tidak mampu disibukkan dengan fikih atau yang lainnya karena sangat terikatnya hatinya kepadanya. Ia menyebutkan bahwa Ibnu Abi Hamid telah membelinya. Maka keadaan mengharuskan Abu Hamid Al-Faqih pergi menemui Ibnu Abi Hamid meminta pembatalan jual beli dan mengambil uang dari penjual. Maka ia pergi bersamanya (si ahli fikih). Ketika ia meminta izin kepada Ibnu Abi Hamid, ia segera memberinya izin. Ketika masuk menemuinya, ia menyambutnya, berdiri untuknya dan memuliakan dengan penghormatan yang tinggi. Ia menanyakan keadaannya dan apa yang terjadi. Abu Hamid mengabarinya tentang kisah ahli fikih tersebut, penjualan budak perempuan, dan memintanya menerima uang dan mengembalikan budak perempuan kepada pemiliknya.
Ibnu Abi Hamid tidak mengetahui kabar budak perempuan itu dan tidak memiliki pengetahuan tentang urusannya. Itu karena istrinya yang membelinya dan ia tidak mengetahui hal itu. Maka menimpanya sesuatu yang tampak di wajahnya.
Kemudian ia berdiri dan masuk menemui istrinya. Ia menanyakan kepadanya tentang budak perempuan yang dibeli dari pasar pedagang budak dengan sifat dan ciri-ciri tertentu. Kebetulan istrinya sedang duduk dan budak perempuan itu hadir, dan mereka sedang memperbaiki wajahnya. Ia telah dihias dengan pakaian bagus dan perhiasan serta hal-hal lain yang sejenis. Maka istrinya berkata: “Wahai tuanku, ini adalah budak perempuan yang aku cari.” Maka ia sangat senang karena ia memiliki keinginan untuk memenuhi kebutuhan Abu Hamid dan menyelesaikan apa yang ia maksudkan. Ia kembali kepada Abu Hamid dan berkata kepadanya: “Aku khawatir budak perempuan itu tidak ada di rumahku, namun sekarang alhamdulillah ia ada di tempat kami, dan keputusan ada pada Syaikh semoga Allah memuliakannya tentang urusannya.” Ia memerintahkan untuk mengeluarkan budak perempuan itu kepada rombongan. Ketika ia dikeluarkan, wajah pemuda itu berubah dengan sangat. Ia mengetahui dari itu bahwa urusan sebagaimana yang disebutkan ahli fikih tentang cintanya kepadanya dan kerinduannya padanya. Maka Ibnu Abi Hamid berkata kepadanya: “Ini budak perempuanmu.” Ia berkata: “Ya, ini budak perempuanku,” dan bicaranya tergagap dari hebatnya apa yang menimpanya saat melihatnya. Maka ia berkata kepadanya: “Ambillah, semoga Allah memberkatimu dengannya.” Abu Hamid membalas kebaikannya dan berterima kasih kepadanya serta memintanya menerima uang karena jumlahnya adalah tiga ribu dirham. Ia menolak mengambilnya dan panjang pembicaraan tentang itu. Abu Hamid berkata kepadanya: “Kami hanya datang meminta pembatalan jual beli, kami tidak bermaksud mengambilnya dengan cara ini.”
Maka Ibnu Abi Hamid berkata kepadanya: “Orang ini adalah ahli fikih dan ia menjualnya karena kebutuhannya dan sedikitnya hartanya. Jika uang diambil darinya, dikhawatirkan ia menjualnya kepada orang yang tidak akan mengembalikannya kepadanya, maka uang akan menjadi tanggungannya. Jika nafkah datang dari negerinya, boleh ia mengembalikan itu.”
Maka ia menghibahkan uang untuknya. Dan pada budak perempuan itu ada perhiasan dan pakaian yang bernilai banyak. Maka Abu Hamid berkata kepadanya: “Jika berkenan semoga Allah mendukungnya, untuk mengirimkan bersama budak perempuan ini orang yang menerima pakaian dan perhiasan yang ada padanya, karena ahli fikih ini tidak memiliki orang yang ia kirimkan dengannya.”
Ia berkata kepadanya: “Subhanallah! Ini adalah sesuatu yang kami hibahkan kepadanya dan kami hadiahkan untuknya, sama saja apakah ia dalam kepemilikan kami atau keluar dari genggaman kami, kami tidak menarik kembali apa yang telah kami hadiahkan darinya dan tidak boleh.”
Abu Hamid mengetahui bahwa yang benar adalah apa yang ia katakan, maka ia tidak mendesaknya dalam hal itu, bahkan hal itu bagus tempatnya di hatinya dan hati pemilik budak perempuan. Ketika ia hendak bangkit dan berpamitan, Ibnu Abi Hamid berkata: “Aku ingin menanyainya tentang sesuatu sebelum pulang.” Maka ia berkata kepadanya: “Wahai budak perempuan, mana yang lebih kamu cintai, kami atau tuanmu ini yang telah menjualmu dan sekarang kamu miliknya?” Ia berkata: “Wahai tuanku, adapun anda, semoga Allah membalas kebaikan anda, berbuat demikian dan demikian, karena anda telah berbuat baik kepadaku dan membantu aku. Adapun tuanku ini, seandainya aku memiliki darinya apa yang ia miliki dariku, aku tidak akan menjualnya dengan harga yang sangat mahal.”
Rombongan menganggap bagus hal itu darinya dan akal yang ia miliki meski masih muda. Mereka berpamitan, kemudian pulang.
Ibnu Abi Hamid namanya Ahmad bin Muhammad bin Musa bin Al-Nadhr. Ia adalah pemilik Baitul Mal dan ia terpercaya, dermawan. Al-Daruquthni dan lainnya meriwayatkan darinya. Ia wafat pada tahun tiga ratus dua puluh satu.
Abu Abdullah Al-Husain bin Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Bari’ memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Jawaiz Al-Hasan bin Ali Al-Wasithi Al-Katib menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku berhaji pada suatu tahun dari sebagian tahun. Ketika aku sedang dalam thawaf, aku melihat seorang budak perempuan dan aku tidak pernah melihat secantik kecantikannya. Hatiku terpaut padanya. Aku bertanya tentang namanya. Ia berkata: “Namaku Ni’mah dan nasabku kepada Fahm.”
Aku terus menikmati melihatnya selama aku tinggal di Mekah. Ketika kami meninggalkan Mekah, aku tidak tahu arah mana ia pergi. Maka aku berkata:
‘Katakan kepada si penzalim: tidakkah engkau datang ke hakim jika engkau mengingkari kezalimanku Dan dari musibah bahwa bermalam kekasih tubuhku, dan ia adalah lawanku Atau ia melihat bintangku, padahal aku memanggilnya, disibukkan dengan melemparinya Gadis yang mengenai kehitaman hatiku, padahal ia melempar jumrah Berapa kali jiwa-jiwa kami bertemu di kancah Hajar Aswad Ketika mengusap Rukun pada suatu waktu, sedang air mata mengalir deras Maka aku menghapus apa yang kututis dengan basahnya ciuman, dengan sengaja Tetapkan pada hari nafar, panahmu di hati, dan panahku meleset’
Ia berkata: Dan bertambah kerinduanku padanya dan kegemaranku pada kecantikannya. Maka berkata kepadaku sebagian orang yang akrab denganku: “Seandainya kamu menikah untuk menenangkan apa yang ada padamu.” Aku menolaknya, kemudian aku cenderung kepada apa yang ia katakan dengan harapan sembuh.
Maka aku meminta bantuan seorang perempuan untuk mencari perempuan yang akan aku nikahi. Ia datang kepadaku setelah beberapa hari dan berkata: “Telah kudapatkan untukmu seorang perempuan yang sesuai dengan keinginanmu dari segi kecantikan dan rumah tangga.”
Maka aku hadirkan walinya dan aku menikahinya. Ketika ia dibawa kepadaku, aku memperhatikannya, ternyata ia adalah temanku itu. Maka aku takjub dengan baiknya kebetulan.
Abu Mansur Al-Qazzaz mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Al-Khathib memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Jawaiz adalah seorang sastrawan, penyair, bagus syairnya dalam pujian, deskripsi, dan percintaan. Aku mencatat darinya berita-berita, hikayat-hikayat, dan syair-syair. Aku mendengarnya berkata: “Aku lahir pada tahun tiga ratus lima.
Pasal (Bab)
Jika ada orang yang bertanya: “Anda telah menyebutkan pengobatan orang yang sedang jatuh cinta dengan cara memperoleh yang dicintainya jika itu halal, dan Anda telah memberikan harapan bahwa hal itu mungkin terjadi dan telah terwujud bagi sekelompok orang. Lalu bagaimana pendapat Anda tentang cinta kepada seseorang yang tidak mungkin bisa diperoleh, seperti perempuan yang sudah bersuami atau mahram yang diharamkan selamanya seperti anak laki-laki? Apakah ada pengobatan untuk perkara ini padahal ia telah membuat tubuh kurus, menyebabkan terus-menerus begadang, dan hampir membawa pemiliknya ke tingkat kegilaan?”
Jawabannya adalah bahwa pengobatan menyeluruh untuk semua penyakit cinta adalah menahan diri (al-himyah), dan menahan diri itu terjadi dengan tekad yang kuat untuk meninggalkan yang dicintai. Jika pengendalian diri ini tercapai, maka pengobatan akan baik, dan pengobatan saat itu berlaku untuk lahir dan batin. Maka hendaknya si sakit memulai dengan berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memperbanyak doa, karena ia adalah orang yang terdesak, dan “Dia mengabulkan (doa) orang yang terdesak apabila ia berdoa kepada-Nya.” Kemudian hendaknya ia berobat, karena sebab-sebab (usaha) tidak bertentangan dengan tawakal dan doa.
Beberapa Pasal tentang Pengobatan Lahiriah
Pasal
Ketahuilah bahwa badan orang yang sedang jatuh cinta apabila menjadi kurus, maka panas akan cepat menyalakan dan membakarnya. Maka sebaiknya ia menggunakan hal-hal yang melembabkan seperti mencium bunga violet dan teratai, masuk ke pemandian tanpa berlama-lama di dalamnya, tidur yang cukup lama, dan makan makanan yang lembab. Hendaknya ia melihat air yang jernih di taman-taman yang hijau dan dihibur dengan cerita-cerita lucu yang menggelikan.
Pasal
Di antara pengobatan adalah bepergian (safar), karena dengan bepergian akan terwujud jauhnya jarak dari yang dicintai, dan setiap yang jauh dari badan akan mempengaruhi jauhnya dari hati. Maka hendaklah ia bersabar atas rasa sakit kerinduan di awal perjalanan seperti kesabaran orang yang ditimpa musibah di awal musibahnya, kemudian dengan berlalunya hari-hari, perkara itu akan menjadi ringan.
Zuhair bin al-Habbab al-Kalbi berkata:
“Jika engkau ingin melupakan kekasih… maka perbanyaklah malam-malam (waktu) di antara kalian
Tidak ada yang melupakan kekasihmu selain jauhnya jarak… dan tidak ada yang memudarkan barumu selain pemakaian”
Imru’ al-Qais berkata:
“Sungguh engkau tidak dapat memutuskan ikatan orang yang sedang jatuh cinta… dengan cara yang seperti pergi di pagi hari atau kembali di sore hari yang cepat pulang”
Makna “ma’ub” adalah ia mempercepat perjalanan sehingga temannya kembali menjelang malam, artinya istirahatnya pada waktu malam.
Pasal
Demikian juga segala yang menyibukkan hati seperti urusan penghidupan dan pekerjaan, karena hal itu dapat melupakan. Sebab cinta adalah kesibukan orang yang menganggur. Ia membayangkan sosok yang dicintai dalam kesendirian karena kerinduannya kepadanya, maka pembayangan itu adalah lemparan ke dalam batinnya. Apabila ia disibukkan dengan hal yang mengharuskan kesibukan hati dengan selain yang dicintai, maka cinta akan pudar dan cinta itu akan hilang, serta terjadilah kelupaan.
Pasal
Di antaranya adalah melihat-lihat perempuan untuk dinikahi dan budak perempuan untuk dijadikan gundik, dan hendaknya ia mencari kecantikan yang sempurna karena hal itu dapat melupakan. Para ahli hikmah telah menggambarkan keindahan dan kecantikan.
Ahmad bin Ali al-Majli memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu al-Husain bin al-Muhtadi memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu al-Fadl Muhammad bin al-Hasan bin al-Ma’mun memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakr bin al-Anbari menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Yahya menceritakan kepada kami dari Ibn al-A’rabi, ia berkata: Seorang Arab Badui berkata: “Apabila kedua rahasia perempuan itu baik, maka ia menjadi baik.” Dua rahasianya adalah ucapannya dan pijakannya di bumi.
Ia berkata: Dikatakan bahwa paling cantik keadaan perempuan adalah setelah pernikahannya, setelah melahirkan, dan setelah hujan.
Ia berkata: Masa muda perempuan adalah antara tiga belas hingga dua puluh tahun. Apabila telah mencapai tiga puluh tahun maka ia sudah berumah tangga (kahilat). Apabila mencapai empat puluh tahun maka ia sudah tua (shahilat). Apabila mencapai lima puluh tahun maka ceraikanlah ia dengan talak.
Ahmad bin Yahya berkata: Al-Shahilah adalah perempuan tua.
Dan telah dikatakan: Perempuan tidak menjadi cantik hingga putih darinya empat hal yaitu kulit, putih mata, gigi, dan kuku. Dan hitam darinya empat hal yaitu rambut kepala, bulu alis, bulu mata, dan hitam mata.
Dan merah darinya empat hal: lidah, bibir, pipi, dan kemaluan. Dan lebar darinya empat hal: dahi, kedua telapak tangan, kedua pinggul, dan dada. Dan sempit darinya empat hal: lubang hidung, lubang telinga, belahan mulut, dan kemaluan. Dan panjang darinya empat hal: tubuh, leher, lengan, dan jari-jari. Dan besar darinya empat hal: kedua betis, kedua pinggul, pantat, dan pangkal kemaluan yaitu tempat tumbuhnya rambut kemaluan. Dan pendek darinya empat hal: langkahnya, pandangannya, lidahnya, dan kemaluannya.
Hind binti Utbah biasa berkata: “Para perempuan adalah belenggu, maka hendaklah laki-laki memilih belenggu untuk tangannya.”
Pasal
Inilah yang disebutkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan keindahan. Dan keindahan menurut orang yang sedang jatuh cinta adalah apa yang jatuh di hatinya.
Maka hendaklah ia berusaha sungguh-sungguh dalam melihat-lihat perempuan dan budak, karena yang dominan adalah terwujudnya sesuatu yang mengalahkan apa yang ada padanya.
Jika tidak terwujud baginya, hendaknya ia terus mencari, karena jiwa tidak berhenti pada satu hal dan tidak tetap pada satu keadaan. Betapa banyak yang kedua menghapus yang pertama.
Ibn Nashir memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Mubarak bin Abd al-Jabbar memberitakan kepada kami. Dan Syahdah memberitakan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitakan kepada kami, keduanya berkata: Al-Hasan bin Ali al-Jauhari memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Umar ibn Huwayyih memberitakan kepada kami, ia berkata: Ibn al-Marzuban menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakr al-Amiri mengabarkan kepadaku, ia berkata: Al-Husain bin Ali, maula Bani Umayyah, menceritakan kepadaku dari ayahnya, ia berkata:
Aku keluar menuju Syam, dan ketika aku berada di al-Syarah dan malam menjelang, tiba-tiba ada sebuah istana. Aku menuju ke sana, dan di pintu istana ada seorang perempuan yang tidak pernah kulihat sepertinya dalam hal kemuliaan dan kecantikan. Aku memberi salam kepadanya, ia membalas, kemudian berkata: “Siapa kamu?” Aku berkata: “Laki-laki dari Bani Umayyah, dari penduduk Hijaz.” Ia berkata: “Selamat datang, semoga Allah memberikan kehidupan yang baik kepadamu. Turunlah, kamu berada di tengah keluargamu.” Aku berkata: “Siapa kamu, semoga Allah memberimu kesehatan?” Ia berkata: “Perempuan dari kaummu.”
Ia memerintahkan untukku tempat tinggal dan jamuan, dan aku bermalam dalam malam terbaik. Ketika pagi tiba, ia mengutus seseorang kepadaku: “Bagaimana pagi Anda dan bagaimana malam Anda?” Aku berkata: “Malam yang terbaik, demi Allah aku tidak pernah melihat yang lebih mulia darimu dan tidak yang lebih terhormat dari perbuatanmu.” Ia berkata: “Aku punya keperluan kepadamu. Pergilah hingga kamu mendatangi biara itu—biara yang ditunjuknya—lalu datanglah kepada anak pamanku yang ada di sana, dan ia adalah suamiku. Ia telah dikuasai oleh seorang perempuan Nasrani di biara itu, ia meninggalkanku dan melekat padanya. Lihatlah dia dan beritahukan kepadanya tentang malammu dan apa yang kukatakan kepadamu.” Aku berkata: “Aku akan melakukannya dengan senang hati.”
Aku keluar hingga sampai ke biara itu, tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki duduk di halamannya, seindah-indahnya pemuda. Aku memberi salam, ia membalas dan bertanya kepadaku. Aku memberitahukan kepadanya siapa aku, di mana aku bermalam, dan apa yang dikatakan perempuan itu kepadaku. Ia berkata: “Kamu benar, aku adalah laki-laki dari kaummu, dari keluarga al-Harith bin Hakim.” Kemudian ia berteriak: “Wahai Qustha!” Lalu keluarlah kepadanya seorang perempuan Nasrani mengenakan pakaian sutra dan sabuk, aku tidak pernah melihat sebelumnya sepertinya dan tidak sesudahnya yang lebih cantik darinya. Ia berkata: “Ini adalah Qustha, dan yang itu adalah Arwa. Dan akulah yang mengatakan:
‘Aku mengganti Qustha setelah Arwa dan cintanya… Demikianlah, demi umurku, cinta menghilangkan cinta'”
Dan dengan sanad yang sama, Ibn Khalaf berkata: Yazid bin Muhammad menceritakan kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Sallam al-Jumahi mengabarkan kepadaku, ia berkata:
Azzah ingin tahu apa yang ada padanya di sisi Kutsayyir, maka ia menyamar darinya dan lewat di hadapannya dengan menampakkan diri. Ia pun bangkit mengikutinya dan berbicara kepadanya. Perempuan itu berkata kepadanya: “Lalu di mana cintamu kepada Azzah?” Ia berkata: “Aku menjadi tebusan bagimu, seandainya Azzah adalah budakku, niscaya aku akan menghadiahkannya untukmu.” Ia berkata: “Celakalah kamu, jangan lakukan itu! Telah sampai kepadaku bahwa ia untukmu dalam ketulusan kasih sayang, keikhlasan cinta, dan kerinduan sesuai dengan apa yang biasa kamu tunjukkan kepadanya, bahkan lebih. Lagipula, di mana ucapanmu:
‘Jika persahabatan disambung agar kami memutuskannya… kami menolak dan berkata: kebutuhan adalah yang pertama'”
Kutsayyir berkata: “Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, hentikan pembicaraan tentangnya dan dengarkanlah apa yang akan kukatakan kepadamu:
‘Apakah sambungan Azzah kecuali sambungan perempuan cantik… dalam sambungan perempuan cantik, ada pengganti dari sambungannya'”
Ia berkata kepadanya: “Apakah kamu mau bersahabat?” Ia berkata kepadanya: “Bagaimana aku bisa mendapatkan itu?” Ia berkata: “Bagaimana dengan apa yang telah kamu katakan tentang Azzah dan kirimkan kepadanya?” Ia berkata: “Aku akan membalikkannya, ia akan berubah kepadamu dan menjadi milikmu.” Ia berkata: Maka ia menyingkap wajahnya saat itu dan berkata: “Apakah pengkhianatan dan pembatalan janji, wahai orang fasik? Dan sungguh kamu ada di sini wahai musuh Allah?” Ia berkata: Maka ia terkejut, bingung, tidak dapat berkata-kata, kebingungan, dan malu.
Ia berkata: “Semoga Allah melaknat orang yang tidak bermanfaat kasih sayangnya padanya… dan yang talinya jika direntangkan tidak kuat
Dan orang yang berwajah dua bagiku tidak tetap… pada janji, banyak bersumpah dengan setiap sumpah”
Maka Kutsayyir mulai dengan kekalahan, kekakuan, kepatahan meminta maaf kepadanya, membersihkan diri dari apa yang terjadi darinya, dan mengutip ucapan Jamil. Dan dikatakan bahkan ia mencurinya dari Jamil dan menisbatkannya kepada dirinya sendiri, maka ia berkata:
“Alangkah baiknya jika sebelum apa yang kukatakan, telah dicampurkan untukku… racun yang mematikan dan racun berbahaya
Maka aku mati dan kamu tidak mengetahui pengkhianatan dariku… Sungguh betapa banyak pencari keuntungan yang tidak mendapat keuntungan
Janganlah kamu memikul itu, jadikanlah ia kejahatan… yang kulakukan dalam tindakan sia-sia
Aku mengakui dosaku, sungguh aku telah menzhaliminya… dan sungguh aku tidak akan membocorkan sisanya rahasianya”
Al-Haitsam bin Adi meriwayatkan dari Ibn Abbas, ia berkata: Al-Nimr bin Taulab menceraikan istrinya, kemudian ia sangat bersedih atasnya hingga dikhawatirkan akalnya. Ia tinggal beberapa hari tidak makan dan tidak tidur. Kaumnya mencelanya, menenangkannya, dan menyebutkan kepadanya seorang perempuan yang disebut Da’d yang cantik, maka ia menikahinya. Perempuan itu membuatnya sibuk dari mengingat istri pertamanya. Dan tentang dia ia berkata:
“Aku terpesona dengan Da’d selama aku hidup, jika aku mati… maka sungguh sedih siapa yang terpesona dengannya setelahku”
Dan sampai kepada kami bahwa seorang laki-laki mendatangi Umar bin Abi Rabi’ah, lalu berkata kepadanya: “Aku telah mengatakan dua bait, maka lengkapilah:
‘Aku bertanya kepada para pecinta yang telah menanggung… keajaiban cinta ini di masa lampau'”
Maka aku berkata kepada mereka:
‘Apa yang menghilangkan cinta setelah… ia mengakar di antara tulang rusuk dan dada?'”
Umar tinggal beberapa hari tidak mampu melengkapinya. Lalu seorang budak perempuannya melihatnya sedang bersedih, ia bertanya kepadanya, maka ia memberitahukan. Budak itu berjalan sebentar kemudian kembali sambil berkata:
“Maka mereka berkata: ‘Obat cinta adalah cinta yang kamu dapatkan… dari yang lain atau jauhnya jarak yang jauh dalam perpisahan
Dan jika tidak, maka putus asa, hati bersabar setelah… berharap suatu harapan, dan putus asa adalah penolong atas kesabaran'”
Maka Umar berkata: “Kamu telah membebaskanku.”
Pasal
Di antara obat-obatan lahiriah adalah banyak bersetubuh meskipun bukan dengan yang dicintai. Alasan hal itu menjadi obat adalah karena hal itu mengurangi panas yang darinya cinta menyebar. Dan apabila panas alamiah melemah, terjadilah kelesuan dan hati menjadi dingin, maka bara cinta menjadi terpuji. Ibn al-Rumi telah berkata:
“Bersetubuh dengan perempuan tua mencukupimu… dari gadis cantik yang di puncak”
Pasal
Di antara obat-obatan adalah menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, berziarah ke kuburan, melihat orang-orang mati, dan memikirkan kematian dan apa yang setelahnya. Sesungguhnya hal itu memadamkan api hawa nafsu, sebagaimana mendengarkan nyanyian dan hiburan menguatkannya. Maka apa yang seperti lawan itu melemahkannya. Demikian juga terus-menerus menghadiri majelis peringatan dan duduk bersama orang-orang zahid, mendengarkan berita-berita orang saleh, dan nasihat-nasihat.
Dan semua itu mengeluarkan manusia dari dominasi syahwat menuju kondisi kesedihan dan pemikiran, dan itu berlawanan dengan cinta.
Pasal
Sekelompok orang telah menyebutkan bahwa taman-taman yang indah dan musik-musik yang menghibur dapat melupakan. Dan ini terkadang justru menambah cinta sebagian orang.
Beberapa Pasal tentang Pengobatan Batiniah
Pasal
Pengobatan pertama batin dan yang paling berhasil adalah memutus harapan dengan putus asa dan kekuatan tekad untuk menundukkan hawa nafsu. Apabila perkara itu terus-menerus berguncang di hadapan jiwa atau lemahnya tekad, maka tidak akan bermanfaat obat sama sekali.
Pasal
Di antaranya adalah menegur semangat yang tinggi agar tidak berada di tempat-tempat kehinaan, mendapatkan sifat-sifat tercela, dan kehilangan keutamaan-keutamaan. Barang siapa yang tidak memiliki semangat tinggi, ia hampir tidak dapat terbebas dari bencana ini. Karena orang yang memiliki semangat tinggi akan merasa terhina jika sesuatu memiliki perbudakannya. Dan cinta selalu menghinakan orang yang mulia.
Telah disebutkan dalam kitab kami bahwa al-Rasyid jatuh cinta kepada seorang budak perempuan dan ia menolaknya, maka ia berkata:
“Aku melihat air padahal aku sangat haus… tetapi tidak ada jalan menuju meminumnya
Tidakkah cukup bagimu bahwa kamu memiliki diriku… dan bahwa semua manusia adalah budak-budakku
Dan sesungguhnya jika kamu memotong tangan dan kakiku… akan kukatakan dengan rela: kamu telah berbuat baik, tambahlah”
Abu Manshur al-Qazzaz memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakr Ahmad bin Ali memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Nu’aim al-Hafizh memberitakan kepada kami, ia berkata: Sulaiman bin Ahmad al-Thabrani menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Musa bin Hammad al-Barbari menceritakan kepada kami, ia berkata: Ya’qub bin Ibrahim bin Shalih menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Shalih menceritakan kepada kami, ia berkata: Harun al-Rasyid berkata tentang tiga budak perempuan:
“Tiga perempuan cantik telah memiliki diriku… dan mereka berdiam di hatiku di setiap tempat
Apa yang terjadi padaku, semua makhluk menaatiku… dan aku menaati mereka padahal mereka dalam pembangkangan terhadapku
Itu tidak lain karena kekuasaan cinta… dan dengannya mereka diberi kekuatan, lebih mulia dari kekuasaanku”
Dan cinta telah menguasai al-Rasyid dalam cintanya kepada budak perempuan milik Isa bin Ja’far, maka Abu Yusuf mencari akal baginya untuk membebaskannya. Dan kami telah menyebutkan kisah ini tadi beberapa lembar sebelumnya. Dan ia mencintai seorang budak bernama Jinan, maka ia membuat syair tentangnya. Pada suatu malam ia mengusir al-Abbas bin al-Ahnaf di rumahnya karena satu bait yang dikatakannya tentangnya.
Telah mengabarkan kepada kami Abu Manshur al-Qazzaz, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Bakar al-Hafizh, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abul Hasan Muhammad bin Abdul Wahid, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Abdur Rahim al-Mazini, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Qasim al-Anbari, ia berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abi Sa’d, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin ar-Rabi’, ia berkata: telah menceritakan kepada kami seorang sahabat kami, ia berkata: Harun ar-Rasyid mengucapkan sebuah bait syair di waktu malam dan ingin menyambungnya dengan bait lain namun tidak mampu, dan kata-kata terhalang darinya. Maka ia berkata: panggil untukku al-Abbas bin al-Ahnaf. Ketika ia datang pada waktu tengah malam, ia ketakutan dan keluarganya cemas. Ketika ia berdiri di hadapan ar-Rasyid, ia berkata: aku memanggil engkau karena sebuah bait yang kuucapkan dan aku ingin menyambungnya dengan yang serupa namun kata-kata terhalang dariku. Ia berkata: wahai Amirul Mukminin, biarkan aku sampai jiwaku kembali kepadaku, karena sungguh aku telah meninggalkan keluargaku dalam keadaan kecemasan yang besar, dan ketakutan yang menimpaku melampaui batas dan deskripsi.
Maka ar-Rasyid menunggu sebentar kemudian membacakan bait itu kepadanya:
Taman-taman yang telah kami lihat… namun kami tidak melihat manusia sepertinya
Maka al-Abbas berkata:
Wajahnya menambahkan kepadamu keindahan… jika engkau menambahkan pandanganmu kepadanya
Maka ar-Rasyid berkata kepadanya: tambahkan untukku. Ia berkata:
Ketika malam condong… atasmu dengan kegelapannya dan menjadi kelam Tinggalkan apa yang engkau lihat sebagai bulan… lalu keluarkan ia, engkau akan melihat bulan
Maka ar-Rasyid berkata kepadanya: sungguh kami telah membuatmu ketakutan dan membuat keluargamu cemas, maka yang wajib adalah kami memberimu agamamu (maksudnya memberikannya hadiah). Maka ia memerintahkan untuk memberinya sepuluh ribu dirham dan memulangkannya.
Penulis berkata: dan sungguh kami telah meriwayatkan bahwa ar-Rasyid marah kepada salah seorang budaknya dalam suatu perkara, dan ia sangat mencintainya. Maka ia bersumpah tidak akan memasuki kamarnya namun budak itu tidak merelakan hatinya. Maka ia berkata:
Ia menyakitiku ketika melihatku terpesona… dan memperpanjang penjauhan ketika menyadari Dulunya ia adalah milikku lalu menjadi pemilikku… sungguh ini termasuk keajaiban zaman
Kemudian ia mengirim kepada Abu al-Atahiyah memerintahkannya untuk melengkapinya, maka ia berkata:
Kemuliaan cinta memperlihatkan kepadanya kehinaanku… dalam cintaku kepadanya dan ia memiliki wajah yang indah Maka karena inilah aku menjadi budaknya… dan karena inilah tersebar urusanku dan diketahui
Penulis berkata: semoga Allah mengampuninya, dan kehinaan ini tidak dapat ditanggung oleh orang yang memiliki kehormatan diri. Sesungguhnya orang-orang yang memiliki kehormatan diri, keinginan mereka untuk meninggikan kedudukan telah membawa mereka untuk membunuh jiwa-jiwa dan melelahkan badan-badan dalam mencari kemuliaan. Dan kita melihat pencari ilmu begadang dan meninggalkan kelezatan karena tidak mau dikatakan kepadanya sebagai orang bodoh. Dan musafir menghadapi bahaya untuk mendapatkan apa yang meninggikan kedudukannya berupa harta, sehingga sungguh orang-orang yang memiliki sifat rendah terkadang mereka menanggung banyak kesulitan agar mereka memiliki kedudukan. Maka orang yang berusaha ini melelahkan dirinya dengan berlari dan bersabar dari kelezatan jimak untuk mendapatkan kedudukan. Dan sungguh penyair telah berkata:
Dan setiap orang membunuh dirinya sendiri… agar dikatakan kepadanya sesungguhnya ia
Adapun orang yang tidak memiliki rasa kehormatan dari kehinaan dan tunduk mengikuti hawa nafsunya, maka itu adalah orang yang keluar dari kedua pembeda tersebut.
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, ia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Mubarak bin Abdul Jabbar, ia berkata: telah memberitakan kepada kami al-Jauhari dan at-Tanukhi dan al-Qazwini, mereka berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu Hayuwaih, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ibnu al-Marzuban, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin al-Harits, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Madaini, ia berkata: Muawiyah bin Abi Sufyan berkata kepada Amr bin al-Ash: apakah sesuatu yang paling nikmat? Ia berkata: wahai Amirul Mukminin, perintahkanlah orang-orang cerdas Quraisy untuk berdiri. Ketika mereka berdiri, ia berkata: melepaskan kehormatan diri. Maksudnya adalah bahwa seseorang jika ia tidak peduli dengan kehormatan dirinya, maka ia melakukan apa yang ia inginkan dan tidak peduli dengan celaan. Dan ini adalah sifat-sifat binatang. Adapun para pemilik kehormatan diri, maka seperti yang dikatakan Ibnu al-Mu’tazz:
Dan sungguh aku meskipun condong kepadamu hatiku… namun tidak sekecil cintaku untuk menghinakan kedudukanku
Dan Abu Firas berkata:
Sungguh telah sesat orang yang diatur hawa nafsunya oleh seorang gadis… dan sungguh hina orang yang diputuskan atasnya oleh para gadis Namun aku alhamdulillah seorang yang tegas… aku mulia ketika hina untuk mereka leher-leher Dan tidak menguasai perempuan cantik seluruh hatiku… meskipun ia dipenuhi kelembutan dan masa muda Dan aku mengalir dan tidak memberikan kepada hawa nafsu kelebihan kekangku… dan aku condong namun tidak tersembunyi dariku kebenaran Bersabar meskipun tidak tersisa dariku sisa… berbicara meskipun pedang-pedang adalah jawaban
Dan Abdulwahid bin Nashr al-Babagha’ berkata:
Tanyakan kepada kerinduanku tentangku, apakah aku berduaan dengan orang yang… aku cintai bersama kerinduan kecuali kesucian bersamaku Tidak menemani diriku sebuah jiwa jika aku bermaksud untuk… melemparkannya ke mulut kematian ia tidak mau taat Menolak kerendahan untukku sebuah jiwa yang mulia… ia berusaha untuk selain ridha dengan kenyang dan kenyang Dengan tekad yang aku tidak menyangka keberuntungan dapat meraihnya… kecuali sungguh telah melampaui diriku setiap yang mustahil
Dan ia berkata:
Dan sungguh cinta ini ingin memperbudakku… maka menolongku kesabaran atasku yang indah
Dan ia berkata:
Jangan kira dirimu bahwa jiwaku seperti jiwa-jiwa ketika… aku membawanya dalam cintamu kehinaan ia menanggung Dan terkadang mengirimkan kenangan ke arah kalian… air mataku namun mengingkarinya kelopak mata dan biji mata Jadilah sebagaimana engkau kehendaki baik penjauhan atau penyambungan… maka tidaklah diingkari kesabaran unta yang tangguh Berapa banyak aku merasakan bagi zaman musibah dan engkau yang paling ringan darinya… namun tidak menekuk lipatan kesabaranku peristiwa yang besar
Dan ia berkata:
Selainku yang dituju anak panah angan-angan… dan selainnya dari keserakahan dimudahkan kehinaannya Dan jika aku termasuk orang yang menerima kehinaan dirinya… maka aku menjauhkan penjauhan diriku dari yang diinginkan jiwa penyambungan dengannya Hawa nafsu meninggikan hatiku untuk taat kepada hukumnya… maka mendahuluiku sebelum orang-orang yang menasihati celaan darinya Mendugaku seperti orang-orang yang mencintai, menakutiku… penjauhan darinya atau menghancurkan keseriusanku main-mainnya Dan sungguh aku menghadapinya dengan ketenangan orang yang zuhud… dan di tangannya ikatan hati dan perhiasannya Aku memalingkan pandanganku dalam merenungkan keindahannya… dan aku membuat marah apa yang merelakan selainku sedikit darinya
Dan tidak ada kebaikan pada orang yang menguasai cinta pendapatnya… meskipun menguasai hati yang terpesona tali ikatannya
Dan untuk Abu Ali bin asy-Syibil:
Dan aku enggan untuk membebaskan hatiku seorang gadis… dengan pandangan dan agar memuaskan dahagaku air liur Dan bagi hati dariku pencegah dari kehormatan diri… menjauhkannya jalan hawa nafsu maka ia dijawab
Dan untuk Manshur bin al-Harawi:
Aku diciptakan enggan jiwa, aku tidak mengikuti hawa nafsu… dan tidak mengambil air kecuali dari tempat minum yang jernih Dan tidak memikul beban-beban dalam mencari kekayaan… dan tidak mencari kebaikan dari orang yang memberiku kehinaan Dan tidak mengejar kemuliaan yang menghinakanku… dan tidak melamar pekerjaan-pekerjaan agar tidak melihat pembalikan Dan aku tidak atas tabiat lalat ketika ia diusir… dari sesuatu ia jatuh di dalamnya dan ia melihat kematian
Dan ia berkata:
Cukup kesedihan bahwa mengunjungiku orang yang aku cintai… maka aku berpaling darinya bukan karena bosan dan bukan karena benci Namun jiwaku darinya adalah jiwa yang enggan… jika tidak mendapatkan semua yang diinginkan ia menolak sebagian
Bab Dan termasuk yang menghinakan orang-orang yang mencintai adalah kezaliman kekasih, dan kezaliman menghancurkan kecintaan di dalam hati-hati
yang memiliki kehormatan diri. Al-A’sya berkata:
Aku melihat kebodohan pada manusia menggantungkan hatinya… dengan seorang perempuan cantik, kapan ia mendekat ia menjauh
Telah mengabarkan kepada kami Abu Manshur al-Qazzaz, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ahmad bin Ali bin Tsabit, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku Ali bin Ayyub al-Qummi, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu Ubaidillah al-Marzubani, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Yahya, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ali bin Muhammad bin Nashr bin Bassam, ia berkata: telah menceritakan kepadaku pamanku Ahmad bin Hamdun al-Katib, ia berkata: terjadi pertengkaran antara al-Watsiq dan salah seorang budaknya, maka ia keluar dengan malas. Maka aku tidak berhenti aku dan al-Fath bin Khaqan berakal untuk menggiatkannya. Maka ia melihatku tertawa bersama al-Fath bin Khaqan, maka ia berkata: semoga Allah membunuh al-Abbas bin al-Ahnaf di mana ia berkata:
Adil dari Allah membuatku menangis dan membuat kalian tertawa… maka segala puji bagi Allah, adil semua yang Ia perbuat Hari ini aku menangis atas hatiku dan meratapnya… hati yang keras atasnya cinta maka terbelah Bagi cinta di setiap anggota tubuhku sendiri-sendiri… jenis yang berpisah darinya kesabaran dan berkumpul
Dan Ibnu ad-Damminah berkata:
Adapun demi Allah kemudian Allah sungguh… sumpah kemudian aku ikutkan sumpah Sungguh telah turun Umaimah dari hatiku… lembah-lembah yang tidak aku jaga dan tidak aku pelihara Namun kekasih ketika ia menjauhi kami… dan mengutamakan dengan kecintaan orang-orang lain Aku berpaling dengan mulia darinya dengan diriku… meskipun hati dengannya pelit
Bab Dan termasuk kehormatan diri adalah kehormatan diri dari mencintai orang yang tabiatnya pengkhianat, dan ini adalah tabiat paling mulia para wanita. Dan sungguh kami telah menyebutkan dalam lipatan kitab kami dari pengkhianatan mereka bagian, dan termasuk itu adalah apa yang kami sebutkan dalam bab tipu daya dan risiko dalam kisah Luqman bin ‘Ad dan kami sebutkan dalam bab orang yang membunuh kekasihnya dan selain itu. Dan sungguh para ulama telah berkata: jangan percaya kepada perempuan. Dan penyair berkata:
Jika mengkhianati seorang cantik ia menepati janjinya… dan dari janjinya adalah bahwa tidak langgeng baginya sebuah janji
Telah membacakan syair kepada kami Ali bin Ubaidillah, ia berkata: telah membacakan syair kepada kami Abu Muhammad at-Tamimi:
Sadarlah wahai hatiku dari cintamu dan dengarlah… ucapan orang yang sedih atasmu yang peduli Engkau bergantung pada seorang gadis yang hatinya bergantung… kepada selainmu maka engkau terikat dengan tidak kuat Dan engkau menjadi terikat dan ia pergi bebas… maka berapa banyak antara orang yang terikat dan orang yang bebas
Pasal
Dan di antara yang dapat menjadi obat bagi batin adalah bahwa seseorang harus mengetahui bahwa istri yang dicintainya, jika dia meninggal dunia, maka istrinya akan berpaling kepada orang lain dan melupakannya dengan sangat cepat, meskipun dia pernah mencintainya, karena wanita tidak memiliki kesetiaan.
Telah mengabarkan kepada kami al-Husain bin Muhammad ad-Dabbas, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Ja’far bin al-Muslimah, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Thahir al-Mukhlis, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Sulaiman bin Daud ath-Thusi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami az-Zubair bin Bakkar, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Muhammad bin adh-Dhahhak al-Khuzami dari ayahnya, dan Ahmad bin Ubaidillah dari Abdullah bin Ashim bin al-Mundzir bin az-Zubair, dan salah seorang dari mereka menambahkan atas yang lain, dia berkata: Abdullah bin Abu Bakar ash-Shiddiq semoga Allah meridhai keduanya menikahi Atikah binti Zaid bin Amru bin Nufail. Dia adalah wanita cantik jelita yang berbudi pekerti luhur, hingga dia melalaikan Abdullah dari peperangan-peperangannya. Maka ayahnya memerintahkannya untuk menceraikannya dan berkata: “Sesungguhnya dia telah melalaikanmu dari peperangan-peperanganmu.” Maka dia berkata:
Mereka berkata: ceraikan dia padahal dia sangat buruk tempatnya
Kesedihan yang tetap menimpa dirimu seperti mimpi orang yang tidur
Dan sesungguhnya meninggalkan keluarga yang telah kukumpulkan
Di usia tuaku ini adalah salah satu perkara yang sangat besar
Kemudian dia menceraikannya. Lalu ayahnya melewatinya sedang dia berkata:
Tidak kulihat sepertiku yang menceraikan tahun ini seperti dirinya
Dan tidak seperti dirinya yang diceraikan tanpa kesalahan
Dia memiliki akhlak mulia, pendapat dan kedudukan
Dan budi pekerti lurus dalam kehidupan dan membenarkan
Maka ayahnya merasa kasihan kepadanya lalu dia rujuk dengannya. Kemudian dia turut serta dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam perang Thaif, lalu dia terkena anak panah dan meninggal setelahnya di Madinah. Maka Atikah berkata untuk meratapi dia:
Aku kehilangan sebaik-baik manusia setelah nabi mereka
Dan setelah Abu Bakar dan tidaklah dia kekurangan
Maka aku bersumpah mataku tidak akan berhenti bersedih
Atasmu dan tidak akan berhenti kulitku berdebu
Demi Allah, mata siapa yang melihat pemuda seperti dia
Yang lebih berani dan lebih melindungi dalam pertempuran dan lebih sabar
Jika tombak-tombak ditujukan kepadanya, dia menerobosnya
Menuju kematian hingga dia menjadikan tombak itu merah
Kemudian Umar bin al-Khaththab semoga Allah meridhainya menikahinya, lalu dia mengadakan walimah dan di antara yang dia undang adalah Ali bin Abu Thalib karramallahu wajhah. Maka dia berkata: “Wahai Amirul Mukminin, izinkan aku berbicara dengan Atikah.” Maka dia berkata: “Bicaralah dengannya wahai Abu al-Hasan.” Maka Ali alaihissalam memegang sisi tirai kemudian berkata: “Wahai musuh dirinya sendiri:
Maka aku bersumpah mataku tidak akan berhenti senang
Atasmu dan tidak akan berhenti kulitku berwarna kuning
Maka dia menangis. Lalu Umar berkata: “Apa yang mendorongmu untuk ini wahai Abu al-Hasan? Semua wanita melakukan ini.” Kemudian Umar terbunuh dan meninggalkannya. Kemudian az-Zubair menikahinya dan dia biasa keluar ke masjid, sedangkan az-Zubair tidak suka keluarnya dia dan merasa sungkan untuk melarangnya. Maka pada suatu malam dia keluar ke masjid dan az-Zubair keluar lalu mendahuluinya ke tempat gelap di jalannya. Ketika dia melewatinya, dia meletakkan tangannya pada sebagian tubuhnya, maka dia kembali sambil terisak-isak kemudian tidak keluar lagi setelah itu. Maka az-Zubair berkata kepadanya: “Kenapa kamu tidak keluar ke masjid sebagaimana biasanya kamu lakukan?” Maka dia berkata: “Orang-orang telah rusak.” Dia berkata: “Aku yang melakukan itu.” Dia berkata: “Bukankah selain kamu mampu melakukan seperti itu?” Dan dia tidak keluar hingga az-Zubair terbunuh dan meninggalkannya.
Dan dengan sanad yang sama, dia berkata: telah menceritakan kepada kami az-Zubair bin Bakkar, dia berkata: al-Hasan bin al-Hasan pernah meminang kepada pamannya al-Husain bin Ali, maka al-Husain berkata kepadanya: “Wahai keponakanku, aku telah menunggu ini darimu, pergilah bersamaku.” Maka dia keluar bersamanya hingga memasukkannya ke rumahnya, kemudian dia mengeluarkan kepadanya putrinya Fathimah dan Sukainah semoga Allah meridhai keduanya. Maka dia berkata: “Pilihlah.” Maka dia memilih Fathimah, lalu dia menikahkannya dengannya. Maka dikatakan: ketika kematian mendatangi al-Hasan, dia berkata kepada Fathimah: “Sesungguhnya kamu adalah wanita yang diinginkan. Seolah-olah aku melihat Abdullah bin Amru bin Utsman ketika keluar dengan jenazahku, dia datang dengan menunggang kuda dengan jidat yang disisir, mengenakan pakaian bagusnya, berjalan di samping orang-orang, menampakkan diri kepadamu. Maka nikahilah siapa yang kamu kehendaki selain dia, karena sesungguhnya aku tidak meninggalkan kekhawatiran dari dunia sepeninggalku selain dirimu.”
Maka dia berkata kepadanya: “Aku aman dari itu.” Dan dia menenangkannya dengan sumpah-sumpah dari memerdekakan budak dan sedekah bahwa dia tidak akan menikahinya.
Dan al-Hasan bin al-Hasan meninggal dan jenazahnya dibawa keluar, lalu Abdullah bin Amru bin Utsman menemuinya dalam keadaan yang digambarkan oleh al-Hasan. Dan dikatakan kepada Abdullah bin Amru bin Utsman al-Muthrif karena ketampanannya. Maka dia melihat Fathimah dengan kepala terbuka memukuli wajahnya, lalu dia mengutus kepadanya: “Sesungguhnya kami memiliki keperluan pada wajahmu, maka lembutlah terhadapnya.”
Maka kedua tangannya terkulai dan dia mengetahui hal itu padanya, dan dia menutup wajahnya. Ketika masa iddahnya selesai, dia mengutus kepadanya dan meminangnya. Maka dia berkata: “Bagaimana dengan sumpahku yang telah aku ikrarkan?” Maka dia mengutus kepadanya untuk mengganti setiap budak dengan dua budak dan mengganti setiap sesuatu, maka dia mengganti sumpahnya. Lalu dia menikahinya dan melahirkan untuknya Muhammad ad-Dibaj dan al-Qasim.
Az-Zubair berkata: dan telah menceritakan kepadaku Mush’ab bin Abdullah, dia berkata: mereka menyangka bahwa Hamzah bin Abdullah bin az-Zubair melihat Fathimah binti al-Qasim menangis di kepalanya sedang dia sekarat. Maka dia berkata kepadanya: “Ketahuilah demi Allah, seolah-olah aku melihat al-A’iraj Thalhah bin Umar telah mengutus kepadamu ketika kamu selesai iddah, lalu kamu menikahinya.”
Dia berkata: “Setiap budak yang dimilikinya merdeka dan setiap sesuatu yang dimilikinya di jalan Allah Ta’ala jika dia menikahinya selamanya.”
Maka ketika dia selesai iddah, Thalhah bin Umar mengutus kepadanya: “Sesungguhnya aku telah mengetahui sumpahmu dan untukmu dengan setiap sesuatu dua sesuatu.” Maka dia memberinya mahar tiga ratus ribu dirham, lalu dia menikahinya. Maka dia melahirkan untuknya Ibrahim dan Ramlah.
Az-Zubair berkata: dan telah menceritakan kepadaku Umar bin Abu Bakar al-Maushili dari Ibrahim bin Muhammad bin Abdul Aziz az-Zuhri, dia berkata: Ummu Hisyam binti Utsman bin Abdullah berada di sisi Abdurrahman bin Umar bin Sahl al-Amiri, dan Abdullah bin Ikrimah bin Abdurrahman al-Makhzumi adalah sahabatnya. Maka dia berkata: “Aku masuk menemuinya sedang dia sekarat, dan ternyata dia sangat cemas. Maka aku berkata kepadanya: ‘Apa yang membuatmu cemas wahai saudaraku? Apakah karena kematian kamu cemas?’ Dia berkata: ‘Demi Allah, bukan itu yang membuatku cemas, tetapi aku khawatir Ummu Hisyam menikah dengan Umar bin Abdul Aziz,’ sedangkan Umar saat itu adalah gubernur Madinah.”
Dia berkata: “Dan ada tirai di rumah, lalu aku mendengar gerakan di dalamnya, dan tidak lama tirai itu dibuka dan ternyata budak-budak wanita telah berdiri di antara wanita itu kemudian dia berkata: ‘Aku telah mendengar ucapanmu wahai anak pamanku dan apa yang menyibukkanmu.’ Dan dia menyatakan sumpah yang berat dengan nazar dan segala sesuatu yang dimilikinya di jalan Allah Azza wa Jalla dan memerdekakan apa yang dimilikinya jika dia menikahinya. ‘Maka tenangkanlah jiwamu.’ Maka dia berkata: ‘Alhamdulillah, aku tidak peduli kapan kematian datang kepadaku.'”
Abdullah bin Ikrimah berkata: “Maka aku keluar ke rumah, dan demi Allah aku belum sampai hingga aku mendengar teriakan dan datang kepadaku utusan: ‘Datanglah kepada saudaramu karena dia telah meninggal.'”
Dia berkata: “Maka aku datang kepadanya, lalu kami mengurus keperluannya. Dia dibawa pada siang hari dan Ummu Hisyam berada di antara orang-orang. Tidak ada perhatianku selain melihat bagaimana dia dan Umar berbuat.”
Ketika kami berada di kuburan, Umar menoleh ke orang-orang yang berkabung, dan ternyata seorang wanita telah melampaui wanita-wanita lain dalam tinggi dan kecantikan, dan dia memukul pipinya dengan pukulan yang keras. Maka dia berkata: “Siapa ini?” Dikatakan: “Anak bibi paternal Anda wahai Amir, Ummu Hisyam binti Utsman.” Maka dia mengutus: “Jagalah pipimu karena sesungguhnya kami memiliki keperluan padanya.”
Dia berkata: “Maka pelayan datang dan berbicara dengannya, lalu aku melihat kedua tangannya telah terkulai. Dan tidak lama hingga masa iddahnya selesai, lalu dia mengganti apa yang dia sumpahkan dan meninggikannya, kemudian menikahinya.”
Dan hal itu sampai kepadaku, maka aku menulis kepadanya mengingatkannya tentang apa yang telah sampai kepada kami dari pengkhianatan wanita-wanita, dan kami berada di antara yang membenarkan dan yang mendustakan hingga hal itu jelas bagiku padanya. Dan aku menyerupakan untuknya:
Jika kamu menemukan kebaikan maka janganlah itu menyenangkannya
Dan jika kamu tersandung maka untuk kedua tangan dan mulut
Maka dia menulis kepadaku: “Aku telah memahami suratmu, dan sesungguhnya aku tidak menemukan perumpamaan bagiku kecuali apa yang dikatakan Artha’ah bin Syahbah:
Berapa banyak yang kamu lihat dari pemilik kesedihan dan kegundahan
Yang melipat lambungnya setelah kerinduan yang kembali
Dan al-Mutawakkil al-Laitsi berkata dalam hal yang berkaitan dengan melupakan wanita-wanita karena pengkhianatan mereka:
Dan kami telah naik dalam pendakian cinta
Maka ketika kami naik padanya, dia tetap dan aku tergelincir
Dan kami telah mengikat ikatan washal di antara kami
Maka ketika kami saling berjanji, aku mengikat dan dia melepaskan
Maka jika para pemfitnah bertanya mengapa aku memutuskannya
Maka katakan: jiwa orang merdeka yang ditenangkan maka dia tenang
Dan telah diceritakan bahwa Ja’far bin Qudamah berkata: Musa al-Hadi memiliki budak wanita yang dipanggil Ghadir, termasuk orang yang paling cantik wajahnya dan matanya. Dan dia sangat mencintainya. Maka pada suatu hari ketika dia menyanyikan untuknya, dia termenung dan lalai dan warna wajahnya berubah. Maka orang yang hadir bertanya kepadanya tentang hal itu. Maka dia berkata: “Terpikir olehku bahwa aku meninggal dan saudaraku Harun menggantikan tempatku dan menikahi budak wanitaku ini.” Dikatakan kepadanya: “Semoga Allah melindungimu dan mendahulukan semua orang sebelummu.” Maka dia memerintahkan untuk menghadirkan saudaranya dan memberitahukan kepadanya tentang apa yang terpikir olehnya. Maka dia menjawabnya dengan apa yang mewajibkan hilangnya pikiran itu. Maka dia berkata: “Aku tidak ridha hingga kamu bersumpah kepadaku bahwa jika aku meninggal, kamu tidak akan menikahinya.” Maka dia menyempurnakan sumpah-sumpah darinya dari haji dengan berjalan kaki, menceraikan istri-istri, memerdekakan budak-budak, dan mewakafkan apa yang dimilikinya. Kemudian dia bangkit kepadanya dan membuat dia bersumpah seperti itu. Dan tidak lama, hanya sekitar sebulan hingga dia meninggal. Maka Harun mengutus meminang budak wanita itu. Maka dia berkata: “Bagaimana dengan sumpahku dan sumpahmu?” Maka dia berkata: “Aku akan membayar kaffarah untuk semuanya dan berhaji dengan berjalan kaki.”
Maka dia menikahinya dan kesibukannya dengannya melebihi kesibukan saudaranya, karena dia biasa meletakkan kepalanya di pangkuannya dan tidur, maka dia tidak bergerak hingga dia terbangun. Maka pada suatu hari ketika dia dalam keadaan seperti itu, dia terbangun dengan ketakutan dan panik. Maka dia menanyakan tentang hal itu. Maka dia berkata: “Aku melihat saudaramu tadi dan dia berkata:
Kamu melanggar janjiku setelah
Aku bertetangga dengan penghuni kubur
Dan kamu melupakanku dan melanggar dalam
Sumpah-sumpahmu yang dusta dan keji
Dan kamu menikahi pengkhianat saudaraku
Benarlah yang menamakanmu pengkhianat
Aku berada di antara ahli kebinasaan
Dan kamu menjadi di antara bidadari yang cantik
Tidak akan menyenangkanmu kekasih yang baru
Dan tidak akan berpaling darimu bencana-bencana
Dan kamu menyusulku sebelum subuh
Dan menjadi di mana kamu menjadi
Demi Allah wahai Amirul Mukminin, seolah-olah aku mendengar keduanya dan seolah-olah keduanya ditulis di hatiku, maka aku tidak lupa sedikitpun darinya.” Maka ar-Rasyid berkata kepadanya: “Mimpi yang kacau.” Maka dia berkata: “Tidak sama sekali.” Kemudian dia terus gemetar di hadapannya dan menggigil hingga dia meninggal.
Pasal
Dan di antara yang dapat menjadi obat bagi batin adalah bahwa kamu berpikir maka kamu mengetahui bahwa kekasihmu tidak sebagaimana yang ada di dalam jiwamu. Maka pergunakanlah pikiranmu pada cacat-cacatnya, niscaya kamu akan melupakan, karena sesungguhnya anak Adam penuh dengan najis dan kotoran. Dan sesungguhnya orang yang jatuh cinta hanya melihat yang dicintainya dalam keadaan sempurna, dan hawa nafsu tidak menggambarkan baginya cacat, karena hakikat tidak tersingkap kecuali dengan keseimbangan. Dan sultan hawa nafsu adalah hakim yang zalim yang menutupi aib, maka orang yang jatuh cinta melihat yang buruk dari yang dicintainya menjadi baik.
Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Mu’ammar al-Anshari, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Sha’id bin Sayyar, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Abu Sahl al-Ghurji, dia berkata: telah mengabarkan kepada kami Ishaq bin Ibrahim al-Hafizh dengan ijazah, dia berkata: telah menceritakan kepadaku Ali bin Ahmad al-Wazzan, dia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin Abu al-Hasan, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Yahya ash-Shuli, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad al-Yazidi, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin saudara al-Ashma’i dari pamannya, dia berkata: ar-Rasyid berkata kepadaku: “Apa batas cinta dan sifatnya?” Maka aku berkata: “Bahwa bau bawang merah dari yang dicintai lebih harum bagi orang yang jatuh cinta daripada bau misk dengan selainnya.” Dan para ahli hikmah berkata: Mata hawa nafsu itu cacat.
Dengan sebab ini seseorang berpaling dari istrinya dan lebih memilih yang bukan istrinya, padahal bisa jadi istrinya lebih baik. Dan sebab dalam hal itu adalah bahwa cacat-cacat yang bukan istrinya belum tampak baginya, padahal pergaulan akan mengungkapkannya. Dan untuk ini, jika dia bergaul dengan kekasih yang baru ini dan pergaulan mengungkapkan kepadanya apa yang tersembunyi, dia bosan dan mencari yang lain tanpa akhir.
Dan telah sampai kepada kami tentang al-Mutawakkil bahwa dia keluar pada suatu hari dengan murung, maka wazirnya bertanya kepadanya tentang keadaannya. Maka dia berkata: “Di rumah ada seratus dua puluh budak wanita, tidak ada di antara mereka yang diiginkan oleh jiwaku.”
Penulis berkata: Maka menggunakan pemikiran pada tubuh anak Adam dan apa yang ada di dalamnya dari kotoran dan apa yang disembunyikan pakaian dari yang dibenci, dapat meringankan cinta. Dan untuk ini Ibnu Mas’ud berkata: “Jika salah seorang dari kalian terpikat dengan seorang wanita, maka hendaklah dia mengingat bau busuknya.”
Sebagian orang bijak berkata: “Barangsiapa mencium bau tidak sedap dari kekasihnya, ia akan berpaling darinya.” Dan cukuplah dengan merenungkan perkara ini untuk menolak cinta yang meresahkan.
Telah sampai kepada kami bahwa seorang laki-laki jatuh cinta kepada seorang perempuan, lalu ia mengulurkan tangannya kepadanya dengan gegabah. Perempuan itu berkata kepadanya: “Renungkanlah urusanmu! Tahukah engkau apa yang hendak engkau lakukan? Sesungguhnya engkau hendak buang air kecil di lubang pembuangan. Seandainya engkau melihat bagian dalamnya, niscaya engkau akan mendapatinya lebih busuk daripada jamban.” Maka laki-laki itu pun mendingin dan tenang, serta tidak mengulanginya lagi.
Abu Nasr bin Nabbatah berkata:
Aku tidak mengetahui aib orang yang kucintai Hingga aku berpaling, lalu aku tidak lagi rindu Dan apabila gejolak cinta telah hilang dan hasrat telah sembuh Hati-hati pun melihat, sementara mata-mata tidak melihat
Pasal
Untuk makna yang telah saya isyaratkan ini, banyak orang yang sedang jatuh cinta mengeluhkan kekasihnya dan bosan kepada mereka, lalu berpaling dari mereka. Sebabnya tidak lain karena pergaulan telah menampakkan aib-aib kemanusiaan, sehingga mereka lari darinya. Dan berlalulah keresahan serta rusaknya kehormatan dengan sia-sia.
Syahdah binti Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Musa as-Sarraj memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Umar bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Husain bin Ahmad bin Shadaqah menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Abi Khaitsamah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ma’mar menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan bin Uyainah mendiktekan kepada kami dari Yahya bin Yahya al-Ghassani, ia berkata: Aku mendengar Urwah menceritakan bahwa Abdurrahman bin Abi Bakar keluar bersama sekelompok orang Quraisy ke Syam untuk membeli gandum. Mereka melewati seorang perempuan yang bernama Laila, lalu ia menyebutkan tentang kecantikannya. Ia pulang dan dalam hatinya telah jatuh sesuatu darinya, dan ia pun bersyair dan berkata:
Aku teringat Laila, sementara padang pasir di antara kami Apa urusanku dengan putri al-Jaudi, Laila, dan apa urusannya denganku
Mush’ab menambahkan dua bait syair yang bukan dari hadits Ibnu Uyainah:
Bagaimana hatiku dapat meraih seorang perempuan Harits Yang menetap di Bushra atau tinggal di al-Jawani Dan bagaimana aku dapat menemuinya? Ya, mungkin saja Jika manusia berhaji tahun depan, aku dapat bertemu dengannya
Kemudian kembali kepada hadits Sufyan, ia berkata: Ketika masa Umar bin al-Khaththab radiyallahu ‘anhu, Khalid bin al-Walid menaklukkan Syam, maka perempuan itu pun jatuh kepadanya.
Al-Husain bin Muhammad bin Abdul Wahhab memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Ja’far bin al-Muslimah memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Thahir al-Mukhlis memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Sulaiman bin Daud memberitahukan kepada kami, ia berkata: az-Zubair bin Bakkar memberitahukan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin adh-Dhahhak al-Khuzami menceritakan kepadaku dari ayahnya bahwa Abdurrahman bin Abi Bakar ash-Shiddiq radiyallahu ‘anhu datang ke Syam untuk berdagang, lalu ia melihat di sana seorang perempuan yang disebut putri al-Jaudi di atas permadani miliknya yang memiliki budak-budak perempuan. Perempuan itu menarik perhatiannya, maka ia bersyair tentangnya:
Aku teringat Laila, sementara padang pasir di antara kami Apa urusanku dengan putri al-Jaudi, Laila, dan apa urusannya denganku Bagaimana kenangan itu dapat meraih seorang perempuan Harits Yang menetap di Bushra atau tinggal di al-Jawani Dan bagaimana aku dapat menemuinya? Ya, mungkin saja Jika manusia berhaji tahun depan, kita dapat bertemu
Ia berkata: Ketika Umar bin al-Khaththab radiyallahu ‘anhu mengutus pasukannya ke Syam, ia berkata kepada panglima pasukan: “Jika engkau menang atas Laila putri al-Jaudi dengan paksa, serahkanlah dia kepada Abdurrahman bin Abi Bakar.”
Maka ia pun menang atas perempuan itu dan menyerahkannya kepada Abdurrahman. Abdurrahman sangat kagum kepadanya dan mengutamakannya di atas istri-istrinya yang lain, hingga mereka mengadukan hal itu kepada Aisyah radiyallahu ‘anha. Aisyah pun menegurnya tentang hal itu. Ia berkata: “Demi Allah, seakan-akan aku menyeruput dengan gigi depannya biji delima.” Kemudian perempuan itu terkena sakit yang menyebabkan gigi-giginya tanggal, maka ia pun menjauhinya hingga perempuan itu mengadukannya kepada Aisyah. Aisyah radiyallahu ‘anha berkata kepadanya: “Sungguh engkau telah mencintai Laila secara berlebihan, dan engkau membencinya secara berlebihan. Jadi, engkau harus berlaku adil kepadanya atau engkau persiapkan dia untuk pulang ke keluarganya.” Maka ia pun mempersiapkannya untuk pulang ke keluarganya.
Ia berkata: Dan Abdullah bin Nafi’ ash-Shaigh menceritakan kepadaku dari Abdurrahman bin Abi az-Zinad dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya bahwa Umar bin al-Khaththab radiyallahu ‘anhu memberikan sebagai bagian perang kepada Abdurrahman bin Abi Bakar, Laila binti al-Jaudi ketika Damaskus ditaklukkan. Ia adalah putri penguasa Damaskus. Di antara yang diriwayatkan dari Abdurrahman tentang Laila binti al-Jaudi:
Dengan putri al-Jaudi, hatiku tetap Tergila-gila padanya, tidak kembali Ia bertetangga dengan saudaranya dari kaum Akk Semoga engkau mendapat bagian dari hatiku Sungguh mereka telah mencela, lalu aku berkata: Biarkanlah aku Sesungguhnya orang yang kalian cela padanya adalah kekasih Dahan pohon ban yang tidak kosong pinggangnya Kemudian bagian bawah dari itu adalah bukit pasir
Aisyah radiyallahu ‘anha berkata: “Aku biasa menegurnya karena terlalu banyak mencintainya, kemudian aku menegurnya karena berlaku buruk kepadanya hingga ia mengembalikannya kepada keluarganya.”
Muhammad bin Abi Nu’aim al-Balkhi menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdurrahman bin Ibrahim an-Nahwi menceritakan kepadaku bahwa Yazid bin Abdul Malik mengutus kepada adh-Dhahhak, gubernur Madinah: “Kirimkan kepadaku al-Ahwash bin Muhammad al-Anshari dan Mu’bad al-Mughanni.” Maka keduanya berangkat menuju tempat-tempat persinggahan dan tinggal di sana menikmati perjalanan hingga singgah di sebuah kolam air dan taman hijau di tanah yang luas. Di sana ada seorang laki-laki dari Bani Makhzum di istananya, hingga mereka singgah di al-Balqa’, yaitu tanah Syam. Pada malam hari mereka kehujanan dan di pagi hari kolam-kolam penuh terisi air. Al-Ahwash berkata kepada Mu’bad: “Bagaimana kalau kita tinggal hari ini dan makan siang di kolam-kolam ini?” Mereka pun melakukannya. Terlihat oleh mereka sebuah istana. Setelah mereka makan dan meletakkan minuman mereka, pintu istana terbuka dan keluarlah seorang budak perempuan yang sangat putih, termasuk orang yang paling putih dan paling bagus rambutnya, di tangannya ada kendi. Ia pergi ke kolam dengan kendi itu dan mengambil air dari air itu. Ketika ia telah lima kali atau sekitar itu, ia melempar kendi dan memecahkannya, lalu duduk dan mulai bernyanyi dengan mahir:
Wahai rumah Atikah yang menjadi syairku Takut musuh, padahal hati tertambat padanya Sesungguhnya aku memberikan kepadamu sikap menolak, padahal sesungguhnya Aku bersumpah, kepadamu meski dengan penolakan, aku tetap condong
Mu’bad berkata: “Demi Allah, itu nyanyianku!” Dan al-Ahwash berkata: “Demi Allah, itu syairku!” Ketika mereka mendengar itu dari perempuan itu, mereka berdua mendatanginya dan memberi salam, lalu memintanya mengulangi lagu itu. Ia pun mengulanginya. Mereka berkata kepadanya: “Dari mana engkau?” Ia berkata: “Aku dari Mekah. Dahulu aku milik keluarga al-Walid. Orang Makhzum yang aku tinggal bersamanya ini berhaji, lalu membeliku dari keluargaku dengan lima puluh ribu dirham. Aku turun di hatinya dengan kedudukan terbaik. Kemudian datanglah seorang putri pamannya, lalu perempuan itu mendapat kedudukan yang sangat baik dan kedudukannya semakin tinggi, sementara kedudukanku semakin rendah, hingga kedudukannya mencapai tingkat di mana ia berkata: ‘Aku tidak rela sampai engkau menyuruhnya mengambil air dari kolam setiap hari dua kendi.’ Maka ia pun melakukannya. Jadi, ketika aku teringat kenikmatan yang dulu kumiliki, aku pecahkan kendinya. Dan ketika aku mengakui posisiku sebagai budak, aku sampaikan kepada mereka kendi mereka dalam keadaan penuh.”
Salah seorang saudaraku menceritakan kepadaku dari temannya bahwa ia jatuh cinta kepada seorang perempuan yang sangat cantik dan indah, dan bahwa ia berani mempertaruhkan nyawanya agar dapat bertemu dengannya.
Ia berkata: Suatu hari ia berkata kepadaku: “Demi Allah, seandainya aku bertemu dengannya kemudian aku maju lalu leherku dipotong, aku tidak peduli.” Kemudian ia menikahinya, berlalu sedikit waktu, lalu ia menceraikannya.
Ia berkata: Suatu hari aku dan dia melewati sejenis jalan yang ada lumpur busuk. Ia berkata kepadaku: “Wahai fulan, demi Allah, sesungguhnya fulanah (nama perempuan itu) hari ini lebih jelek di sisiku daripada lumpur busuk ini.”
Pasal
Kadang-kadang terjadi perpindahan hati karena sesuatu yang tidak disangka-sangka, seperti seseorang mencintai seorang perempuan, ternyata ia adalah kerabat salah satu temannya yang paling akrab, maka ia merasa segan akan hal itu dan berpalinglah ia darinya.
Muhammad bin Abi al-Qasim mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abi Nashr al-Humaidi memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad Ali bin Ahmad memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar Muhammad bin Ishaq al-Muhallibi memberitahukan kepadaku dari sebagian saudaranya—dan aku kira ia adalah Abu al-Walid Ibnu al-Faradhi—dari Abu Umar Yusuf bin Harun, ia berkata: Suatu hari aku keluar untuk shalat Jumat, lalu aku melewati sungai Cordova berjalan-jalan ke taman-taman Bani Marwan. Tiba-tiba ada seorang budak perempuan yang belum pernah kulihat yang lebih cantik darinya. Aku memberi salam kepadanya, ia pun membalasnya. Kemudian aku berbincang dengannya dan aku melihat adab yang sempurna. Ia menguasai hatiku sepenuhnya. Aku berkata: “Aku bertanya kepadamu demi Allah, apakah engkau orang merdeka ataukah budak?” Ia berkata: “Bahkan budak.” Aku berkata: “Siapa namamu?” Ia berkata: “Hulwah (Manis).” Ketika waktu shalat mendekat, aku pergi dan mulai mengikuti jejaknya. Ketika ia sampai di ujung jembatan, ia berkata: “Engkau harus maju atau mundur, karena demi Allah aku tidak akan melangkah selangkah pun sementara engkau bersamaku.” Aku berkata kepadanya: “Berapa hargamu jika pemilikmu menjualmu?” Ia berkata: “Tiga ratus dinar.”
Ia berkata: Aku keluar pada Jumat lain dan menemuinya seperti biasa, maka bertambahlah kegilaanku kepadanya. Lalu aku pergi kepada Abdurrahman at-Tujibi, penguasa Saragossa, dan memujinya dengan qasidah mimiyah yang terkenal untuknya. Aku menyebutkan dalam syair cintanya tentang Hulwah dan menceritakan kepadanya kisahku dengannya. Ia memberiku tiga ratus dinar emas selain bekal perjalanan pergi dan pulang.
Aku kembali ke sungai Cordova dan terus berada di taman-taman beberapa Jumat, tidak melihat jejaknya sama sekali. Langitku telah tertutup ke bumiku dan dadaku sesak, hingga suatu hari salah seorang temanku mengundangku. Aku masuk ke rumahnya dan ia mendudukkanku di tempat terhormat majelis itu. Kemudian ia berdiri untuk suatu urusan. Aku tidak sadar kecuali tirai yang di hadapanku telah terangkat, dan ternyata itu dia! Aku berkata: “Hulwah?” Ia berkata: “Ya.” Aku berkata: “Engkau budaknya?” Ia berkata: “Tidak, demi Allah, tetapi aku saudara perempuannya.” Ia berkata: Seakan-akan Allah Ta’ala menghapus cintanya dari hatiku. Aku berdiri saat itu juga, meminta maaf kepada pemilik rumah karena ada urusan yang menimpaku, lalu pergi. Awal qasidahnya:
Berhentilah, saksikanlah penderitaanku dan pengingkaran orang yang mencelaku Atas tangisanku di reruntuhan yang terhapus Apakah ia berharap dapat selamat dari apinya napasku Atau tidak tenggelam dalam air mata yang mengalir deras Ambillah pendapatnya jika ia mengikuti setiap orang Yang meratapi puing-puingnya dengan celaan Inilah burung merpati di pepohonan yang menangis meratap Tangisanku, maka biarlah ia berlindung dari celaan burung-burung merpati Ia tidak lain hanyalah perpisahan yang membangkitkan kesedihan Apabila menimpa manusia atau binatang Yang membuka mataku dari tidurnya setelah kesepian Kapankah dariku ada tidur pukulan yang melekat
Dan dari syairnya:
Mereka berkata: Bersabarlah, padahal itu sesuatu yang tidak kuketahui Orang yang tidak mengenal kesabaran, bagaimana ia dapat bersabar Aku pesan kepada orang yang kosong hatinya agar menutup pandangan Dari wajah-wajah yang putih bersih, karena dalam memandangnya ada bahaya Dan kecantikan yang luar biasa adalah pembunuh cinta yang dilihat mataku Kepadanya, maka jadilah kematian dan pandangan Kemudian aku membalas dengan mataku, padahal ia pembunuhku Apa yang engkau inginkan dengan hatiku ketika engkau membalas Wahai separuh jiwaku, sambungkanlah dia dengan separuhnya Karena sesungguhnya jiwa-jiwa musuh berpisah Engkau telah menzhalimiku, kemudian aku datang meminta maaf Cukuplah bagiku bahwa aku terzhalimi dan meminta maaf
Pasal
Di antara hal yang dapat mengobati batin adalah membayangkan kehilangan kekasih, baik karena kematiannya atau karena perpisahan yang terjadi tanpa pilihan, atau karena sejenis kebosanan, atau karena perubahan penampilannya. Dengan demikian akan hilang cobaan-cobaan yang berlebihan yang menyebabkan orang yang jatuh cinta kehilangan kehormatan agama dan dunia. Betapa banyak orang yang mati dalam keadaan seperti itu.
Telah diceritakan bahwa sebagian orang bijak berkata kepada seorang budak lelakinya—yang telah jatuh cinta kepada seorang budak perempuan—: “Wahai fulan, tidak ada jalan lain dari perpisahan dengan perempuan ini.” Ia berkata: “Tidak ada jalan lain.” Ia berkata: “Maka segerakanlah dan menangkanlah apa yang ada di antaranya.” Dan Katsir berkata:
Sadarlah, sesungguhnya orang-orang yang jatuh cinta telah sadar dan meninggalkan cinta, dan usus-usus telah mengalir dengan laki-laki Anggaplah dia seperti sesuatu yang tidak pernah ada, atau seperti orang yang jauh Yang rumahnya jauh atau seperti orang yang diliputi kuburan
Apabila seseorang membayangkan hal-hal seperti ini dan merenungkan akibat-akibatnya dengan pikirannya, mudahlah baginya mengobati apa yang ada di hatinya. Dan apabila ia terus-menerus menikmati cintanya, ia akan ditimpa cobaan yang melebihi kenikmatannya, dan mungkin itu menjadi sebab kehancurannya.
Al-Mubarak bin Ali mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu al-Allaf memberitahukan kepada kami, ia berkata: Abdul Malik bin Bisyran memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ibrahim menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far memberitahukan kepada kami, ia berkata: Ali bin al-A’rabi menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Amrus menceritakan kepada kami bahwa Yazid bin Abdul Malik suatu hari setelah kematian Habibah—ia adalah kekasihnya—masuk ke gudang dan kamar-kamarnya. Ia berkeliling di sana, bersamanya ada seorang budak perempuan dari budak-budak perempuannya. Budak perempuan itu menyampaikan syair:
Cukuplah kesedihan bagi orang yang tergila-gila yang dilanda cinta bahwa ia melihat Tempat-tempat orang yang dicintainya kosong dan sunyi
Maka ia berteriak keras dan jatuh pingsan. Ia tidak sadar hingga berlalu sebagian malam. Ia terus menangis sepanjang malam itu. Ketika hari kedua tiba—dan ia menyendiri di sebuah ruangan menangisinya—mereka datang kepadanya dan menemukan dia telah meninggal dunia.
Shahdah binti Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ja’far bin Ahmad memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Ali Ibnu Shadzan menceritakan, ia berkata: Ahmad bin Sulaiman At-Tusi menceritakan kepada saya, ia berkata: Az-Zubair bin Bakkar menceritakan kepada saya, ia berkata: Harun bin Musa menceritakan kepada saya, ia berkata: Musa bin Ja’far menceritakan kepada saya bahwa Yazid bin Abdul Malik ketika sedang bersama Habibah – ia menyembunyikannya dari orang-orang – melemparkan biji delima atau anggur kepadanya dan ia tertawa, lalu buah itu masuk ke dalam mulutnya dan ia tersedak lalu meninggal. Jenazahnya tetap berada di rumah sampai hampir membusuk atau benar-benar membusuk, kemudian ia keluar dan menguburkannya. Ia tinggal beberapa hari kemudian keluar hingga berdiri di atas kuburnya lalu berkata:
Jika jiwa bertanya tentangmu atau meninggalkan kegalauan Maka dengan putus asalah akan melupakan dirimu, bukan dengan berpura-pura tegar
Kemudian ia kembali dan tidak keluar dari rumahnya hingga keluar dengan kerandanya (meninggal).
Abdul Wahhab Al-Hafizh memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Husain bin Abdul Jabbar memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali At-Tuzi memberitakan kepada kami, ia berkata: Umar bin Tsabit memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Hasan bin Abi Qais memberitakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Muhammad Al-Qurashi menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Shalih Al-Qurashi menceritakan kepada saya, ia berkata: Muhammad bin Al-Khaththab Al-Azdi menceritakan kepada saya, ia berkata: Al-Walid bin Salamah Al-Qadhi memberitakan kepada kami dari Abu Shura’ah Humaid bin Harun Al-Kindi, ia berkata: Yahya bin Asquth Al-Kindi menceritakan kepada saya, ia berkata: Habibah meninggal dan membuat Yazid bin Abdul Malik bersedih, maka ia keluar dalam pemakamannya namun kakinya tidak mampu membawanya, maka ia tinggal dan memerintahkan Maslamah untuk menyalatkannya. Kemudian ia tidak bertahan lama setelahnya kecuali sebentar hingga meninggal.
Abdurrahman bin Muhammad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Ayyub Al-Qummi memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Imran Al-Marzabani memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Abdullah Al-Hakimi menceritakan kepada kami, ia berkata: Yamut bin Al-Muzara’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Haffan menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Dalf Al-‘Ijli memiliki budak perempuan bernama Jannan dan ia mencintainya. Karena sangat terpesona dan kagum, ia memanggilnya “sahabatku”. Di antara syairnya untuknya:
Aku mencintaimu wahai Jannan dan engkau bagiku Seperti ruh dari jasad yang lemah Dan jika aku mengatakan seperti ruhku Aku khawatir padamu dari kejutan zaman Dan keberanianku ketika pasukan kuda mundur Dan para pahlawannya takut akan panasnya tombak
Abu Haffan berkata: Kemudian ia meninggal dan ia meratap untuknya dengan ratapan yang bagus.
Abu Manshur Al-Qazzaz mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali Al-Hafizh memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Hasan bin Ali Al-Jauhari memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Imran Al-Marzabani memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Muhammad bin Isa Al-Makki memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Al-Qasim bin Jallad menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Ashma’i menceritakan kepada kami, ia berkata: Ar-Rasyid sangat mencintai Hailanah dan ia sebelumnya milik Yahya bin Khalid. Suatu hari ia masuk menemui Yahya sebelum masa kekhalifahan, lalu ia menemuinya di lorong dan ia memegang ujung bajunya dan berkata: Kami tidak mendapat bagian hari darimu. Ia berkata: Tentu, bagaimana caranya? Ia berkata: Kau ambil aku dari lelaki tua ini. Ia berkata kepada Yahya: Aku ingin kau hibahkan untukku si anu. Maka ia menghibahkannya kepadanya hingga ia menguasainya. Ia sering mengatakan “hiya al-anah” maka ia menamainya Hailanah. Ia tinggal bersamanya selama tiga tahun kemudian meninggal, maka ia merasa sangat sedih.
Dan ia membaca syair: Aku telah berkata ketika mereka mengubur engkau dalam tanah Dan duka berputar dalam dadaku Pergilah, demi Allah tidaklah membuatku gembira Setelahmu sesuatu pun hingga akhir masa
Abu Manshur mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ali Al-Ashfahani memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Ahmad Al-Hasan bin Abdullah Al-‘Askari memberitakan kepada kami dari Muhammad bin Abi Yahya Ash-Shauli, ia berkata: Al-Ghullabi menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Abdurrahman menceritakan kepada kami, ia berkata: Ketika Hailanah budak perempuan Ar-Rasyid meninggal, ia memerintahkan Al-‘Abbas bin Al-Ahnaf untuk meratapnya, maka ia berkata:
Wahai orang yang hati-hati bergembira dengan kematiannya Zaman menyasar untuk menyakitiku maka memanah engkau Aku mencari teman namun tidak kulihat bagiku yang menenangkan Kecuali berjalan-jalan di mana aku biasa melihatmu Raja menangisi engkau dan lama kesedihannya setelahmu Seandainya ia mampu dengan kerajaannya untuk menebusmu Ia melindungi hati dari wanita-wanita karena menjaga Agar tidak menempati kehormatan hati selain engkau
Maka ia memerintahkan untuknya empat puluh ribu dirham, setiap bait sepuluh ribu dirham dan berkata: Seandainya kau menambah kami, kami akan menambahmu.
Pasal: Di antara obat batin adalah manusia membayangkan berlalunya tujuannya atau membayangkan yang lain di posisinya
Kemudian ia memperhatikan akibat-akibat keadaan. Apakah menurutmu Yusuf ‘alaihissalam seandainya tergelincir, bagaimana jadinya atau tidakkah pujian terhadap kesabarannya tetap abadi? Apakah menurutmu kau tidak mendengar tentang apa yang mulia, dan tidak diragukan bahwa ia dalam nilai dikenal meskipun taubat telah menghapus dosanya. Namun perhatikanlah akibat-akibat orang yang sabar dan yang tidak sabar, dan gunakan pikiranmu dalam kedua keadaan, semoga pelajaran ini merobek tabir nafsu sehingga masuk ke hati tanpa izin dan membuka kesedihan ini. Orang berakal adalah yang menimbang apa yang terkandung dalam cinta dari kelezatan dan kepedihan, maka kepedihannya banyak dan gangguannya keras. Ia pada hakikatnya menghinakan jiwa yang tak ternilai harganya. Kebanyakan kelezatannya haram, kemudian ia bercampur dengan kesedihan dan kekhawatiran serta ketakutan akan perpisahan dan aib dunia dan penyesalan akhirat. Maka orang yang menimbang antara dua perkara akan mengetahui bahwa kelezatan tenggelam dalam sisi gangguan. Al-Babagha’ berkata:
Dan sebaik-baik manusia adalah yang tidak menempuh sebab Hingga ia membedakan apa yang dipetik oleh akibat-akibatnya
Dan Al-Mutanabbi berkata:
Di antara yang merugikan para pecinta adalah mereka Jatuh cinta dan tidak mengenal dunia dan tidak mengerti Mata mereka hancur dengan air mata dan jiwa mereka Mengikuti setiap wajah buruk yang rupawan Mereka memikul bebanmu setiap unta selamat Maka setiap kejelasan sekarang aku percaya Tidaklah dalam tandu-tandumu pengganti jiwaku Jika aku mati kerinduan dan tidak di dalamnya ada harganya Aku terjaga setelah kepergianku karena kesepian untukmu Kemudian penyakitku terus dan kantuk reda
Pasal: Di antara obat batin adalah mengetahui bahwa ujian adalah untuk menampakkan esensi para lelaki
Mungkin ujianmu adalah agar dilihat kesabaranmu, jika kau sabar maka mungkin Ia memindahkanmu ke dalam kecintaan-Nya. Abu Thalib Al-Makki berkata: Seorang murid berkata kepada gurunya: Aku telah dikaruniai sesuatu dari kecintaan. Ia berkata: Wahai anakku, apakah Ia mengujimu dengan kekasih selain-Nya lalu kau mengutamakannya atas-Nya? Ia berkata: Tidak. Ia berkata: Maka jangan berharap pada kecintaan, karena Ia tidak memberikannya kepada hamba hingga Ia mengujinya. Asy-Syafi’i telah berkata: Tidak ada kemantapan kecuali setelah kecintaan. Jika manusia diuji lalu sabar, ia akan dimantapkan. Tidakkah kau lihat bahwa Allah ta’ala menguji Ibrahim kemudian memantapkannya, dan menguji Ayyub kemudian memantapkan untuknya, Ia berfirman:
“Dan Kami anugerahkan kepadanya keluarganya dan bersama mereka yang sebanyak mereka” (Surah Shaad: 43)
Dan Ia menguji Sulaiman kemudian menganugerahkan kepadanya kerajaan, demikian pula Yusuf ‘alaihissalam.
Aku katakan: Barangsiapa memperhatikan ini hendaknya ia mengetahui bahwa masa ujian ini adalah langkah-langkah di medan pengabdian dan betapa dekatnya akhir. Maka hendaknya ia bersabar menghadapi teriknya kesabaran, betapa cepatnya hari berlalu. Dan hendaknya ia berhati-hati dari kerugian di musim ujian, mungkin modal pokok akan hilang. Dan hendaknya ia membayangkan ketika sabar keangkuhannya akan kesombongannya, hendaknya ia berhias dengannya, tidak ada yang setara dengan kesabarannya, amal ahli ibadah, dan tidak pula kezuhudan zahid. Dan mungkin Ia memandangnya dalam keadaan itu dengan pandangan ridha yang menjadi kecukupan abadi. Dan semua ini dalam kejutan pertama, karena mungkin terjadi kebosanan atau pelupa.
Pasal: Di antara obat batin adalah manusia berpikir tentang apa yang terlewatkan karena kesibukannya dengan yang dicintai
Dari keutamaan-keutamaan, karena para pemilik kewaspadaan, kecintaan mereka terhadap keutamaan-keutamaan seperti ilmu, fikih, menjaga diri, kedermawanan, dan selain itu dari sifat-sifat terpuji lebih setia daripada kecenderungan mereka terhadap nafsu-nafsu indrawi, karena nafsu-nafsu indrawi adalah bagian jiwa, sedangkan sifat-sifat itu adalah bagian akal. Dan jiwa rasional yang berbicara yang utama lebih condong kepada apa yang diutamakan akal, meskipun tabiat menariknya kepada nafsu-nafsu indrawi.
Dan di antara yang paling mengherankan yang dinukil kepada kami dari itu adalah apa yang diberitakan kepada kami oleh Abu Manshur Al-Qazzaz, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Qadhi Abu Al-‘Ala’ Al-Wasithi memberitakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja’far At-Tamimi berkata: Aku diceritai tentang Abu Bakr bin Al-Anbari bahwa ia pada suatu hari pergi ke para pedagang budak dan seorang budak perempuan dipamerkan, cantik dan sempurna ciri-cirinya. Ia berkata: Maka ia masuk ke dalam hatiku, kemudian aku pergi ke rumah Amirul Mukminin Ar-Radhi, maka ia berkata kepadaku: Di mana kau hingga sekarang? Maka aku memberitahunya. Maka ia memerintahkan sebagian pembantunya lalu pergi dan membelinya serta membawanya ke rumahku. Aku datang dan mendapatinya, maka aku tahu perkara bagaimana terjadi. Maka aku berkata kepadanya: Tinggallah di atas hingga aku memastikan kesucianmu. Dan aku sedang mencari masalah yang membingungkanku maka hatiku sibuk. Maka aku berkata kepada pelayan: Ambil dia dan pergilah dengannya kepada pedagang budak, karena harganya tidak sepadan hingga menyibukkan hatiku dari ilmuku.
Maka pelayan mengambilnya, lalu ia berkata: Biarkan aku berbicara dengannya dua kata. Maka ia berkata: Kau adalah lelaki yang memiliki kedudukan dan akal, dan jika kau mengeluarkanku dan tidak menjelaskan kesalahanku padaku, aku tidak aman bahwa orang-orang akan berprasangka buruk padaku, maka beritahukan aku sebelum kau keluarkan aku. Maka aku berkata kepadanya: Tidak ada cacatmu di sisiku kecuali engkau menyibukkan aku dari ilmuku. Maka ia berkata: Ini lebih mudah bagiku.
Ia berkata: Maka sampai kepada Ar-Radhi perkaranya, maka ia berkata: Tidak pantas ilmu berada di hati seseorang lebih manis daripada di dada lelaki ini. Muhammad bin Ja’far berkata: Dan Abu Al-Hasan Al-‘Arudhi menceritakan kepadaku darinya, ia berkata: Aku dan ia berkumpul di sisi Ar-Radhi untuk makan dan juru masak telah menciduk apa yang dimakan Abu Bakr, ia memanggang untuknya gorengan kering. Maka kami makan dari berbagai jenis makanan dan lezat-lezatnya sedangkan ia menghadapi gorengan itu. Kemudian kami selesai dan dihidangkan kepada kami manisan, maka ia tidak memakannya dan bangkit, kami pun bangkit ke permadani lalu ia tidur di antara dua permadani dan kami tidur di permadani yang kami rebut. Ia tidak minum air hingga ashar. Ketika setelah ashar ia berkata kepada pelayan bertugas, maka ia membawakan air dari tempayan dan meninggalkan air yang dingin dengan es. Maka perbuatannya membuatku jengkel, maka aku berteriak menasihatinya. Amirul Mukminin memerintahkan menghadirkan aku dan berkata: Apa nasihatmu? Maka aku memberitahunya dan berkata: Ini wahai Amirul Mukminin memerlukan untuk dihalangi antara dirinya dan pengurusan dirinya karena ia membunuhnya dan tidak baik bergaul dengannya. Maka ia tertawa dan berkata: Dalam ini ada kelezatan dan telah menjadi kebiasaan maka tidak akan membahayakannya. Kemudian aku berkata: Wahai Abu Bakr, mengapa kau lakukan ini terhadap dirimu? Ia berkata: Aku menjaga hafalanku. Aku berkata kepadanya: Orang-orang banyak berbicara tentang hafalanmu, berapa banyak? Ia berkata: Aku menghafal tiga belas peti.
Muhammad bin Ja’far berkata: Dan ketika ia jatuh dalam penyakit kematian, ia makan segala yang ia inginkan dan berkata: Ini penyakit kematian.
Aku katakan: Dan dalam makna yang kami sebutkan ini, Abu Ali Al-Hasan bin Ahmad Al-Manthiqi berkata:
Selainku yang hatinya terpesona oleh mata rusa Dan terpesona olehnya taman pipi dengan mawarnya Dan jika melengkung cabang pohon ban, aku bukanlah Di antara yang usus perutnya dipotong oleh tajamnya tubuhnya Bukan tabiatku disentuh oleh tabiat dan bukan Aku batu keras yang cinta terpental darinya Tetapi esensi upayaku menghalangi aku Dari menindas hatiku dalam kecantikan dan kerasnya Dan jika anak tekad tidak berdiri dengan telanjang Untuk kejadian-kejadian maka pedang dalam sarungnya Dan pedang dinamai dalam bencana sebagai bekal Karena ketajamannya di dalamnya bukan karena hiasannya
Pasal: Di antara obat batin adalah kesombongan jiwa yang mulia agar tidak menjadi tunduk
Karena orang berakal adalah hina dan tunduk, dan setiap orang yang mengikuti hawa nafsu terjatuh padanya kehinaan yang sebabnya adalah ia ditaklukkan. Dan kami telah menyebutkan dalam bab membanggakan kesucian dari ini sedikit, maka hendaknya dilihat dari sana.
Pasal: Di antara obat batin yang paling besar adalah menggunakan pemikiran dalam kejelekan keadaan ini dan mendengarkan pengajaran dari penceramah hati
Karena barangsiapa tidak memiliki dari hatinya penceramah, nasihat-nasihat tidak akan bermanfaat baginya. Di antara manusia ada yang mendengar nasihat lalu takut, dan di antara mereka ada yang melihat yang lain lalu berhenti, dan di antara mereka ada yang melihat sehelai uban lalu meninggalkan. Dan kami telah mendahulukan bab tentang orang yang mengingat Tuhannya lalu meninggalkan dosanya, maka hendaknya dilihat. Dan di antara mereka ada yang ditegur dengan mimpi lalu terjaga.
Abdurrahman bin Muhammad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Ali bin Tsabit memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Hanifah Al-Muaddib memberitakan kepada kami, ia berkata: Al-Mu’affa bin Zakariya menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Husain bin Al-Qasim Al-Kaukabi menceritakan kepada kami, ia berkata: ‘Asal bin Dhakwan menceritakan kepada kami, ia berkata: Ziyad dari Hammad bin Syafiq menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Salamah Al-Ghanawi berkata: Aku berkata kepada Abu Al-‘Atahiyah: Apa yang mengalihkanmu dari mengatakan rayuan kepada mengatakan kezuhudan?
Ia berkata: Kalau begitu demi Allah aku akan memberitahumu, sesungguhnya ketika aku berkata:
Allah antara aku dan majikanku Ia menghadiahkan kepadaku penolakan dan kebosanan Aku anugerahkan kepadanya jiwaku dan ketulusanku Maka penolakannya adalah balasanku Cintanya menguasaiku dan menjadikan aku Bahan pembicaraan di semua tetangganya
Aku melihat dalam mimpi malam itu seakan-akan ada yang datang kepadaku lalu berkata: Kau tidak mendapatkan seseorang yang kau jadikan perantara antara kau dan Utbah untuk memutuskan untukmu atasnya dengan kemaksiatan kecuali Allah ta’ala. Maka aku terbangun ketakutan dan bertaubat kepada Allah ta’ala dari saat itu dari mengatakan rayuan.
Pasal
Jika ada yang bertanya, “Apa pendapatmu tentang orang yang bersabar dari kekasihnya dan bersungguh-sungguh dalam menerapkan kesabaran, namun bayangan sang kekasih di dalam hati tidak hilang dan bisikan jiwa tentangnya tidak terputus?”
Jawabannya adalah: Apabila engkau menahan anggota tubuhmu, maka sesungguhnya engkau telah memutus sumber-sumber air yang mengalir, dan air yang terkumpul di lembah itu akan mengering seiring waktu, terutama jika matahari musim panas ketakutan menyinarinya dan angin panas pengawasan terhadap Dzat Yang Melihat yang tersembunyi meniupnya, maka betapa cepatnya ia akan hilang. Kemudian mintalah pertolongan kepada Dzat yang engkau bersabar karena-Nya dan katakanlah, “Ya Tuhanku, aku telah melakukan apa yang aku mampu, maka jagalah bagiku apa yang tidak aku mampu menjaganya.”
Mowhub bin Ahmad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ali bin Ahmad al-Basri memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Thahir al-Mukhlis memberitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Nashr menceritakan kepada kami, ia berkata: Ali bin Utsman al-Harrani menceritakan kepada kami, ia berkata: al-Qasim bin Ma’n menceritakan kepada kami dari Mis’ar dari Qatadah dari Zurarah bin Abi Aufa dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memaafkan umatku dari apa yang terbersit dalam jiwa mereka, selama mereka tidak mengucapkannya atau mengamalkannya.” Hadits ini diriwayatkan oleh keduanya (Bukhari dan Muslim) dalam Shahihain.
Abdurrahman bin Muhammad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Bakar al-Khatib memberitakan kepada kami, ia berkata: Abu Nu’aim al-Hafizh memberitakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Abu al-Hasan bin al-Qasim berkata: Aku mendengar Abu al-Qasim an-Naqqash berkata: Aku mendengar al-Junaid berkata: “Manusia tidak dicela karena apa yang ada dalam tabiatnya. Dia hanya dicela jika dia melakukan sesuatu berdasarkan apa yang ada dalam tabiatnya.”
Bab Lima Puluh: Wasiat, Nasihat, Dan Peringatan
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Abi Manshur, dia berkata: Telah memberitahukan kepada kami Ja’far bin Ahmad, dia berkata: Telah memberitahukan kepada kami Al-Hasan bin Ali, dia berkata: Telah memberitahukan kepada kami Abu Bakar bin Malik, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ahmad, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku ayahku, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Walid bin Muslim, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Auza’i, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Yahya bin Abi Katsir bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah berkata dalam khutbahnya: “Di manakah orang-orang berkulit putih dengan wajah tampan mereka? Di manakah orang-orang yang kagum dengan masa muda mereka? Di manakah para raja yang membangun kota-kota dan membentenginya dengan tembok-tembok? Di manakah mereka yang dahulu meraih kemenangan di medan perang? Masa telah melemahkan mereka, kini mereka berada dalam kegelapan kubur. Cepatlah! Cepatlah! Selamatkanlah dirimu! Selamatkanlah dirimu!”
Ahmad berkata: Dan telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sa’id, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ubaidullah bin Al-Walid, dia berkata: Aku mendengar Ibnu Hujarah menceritakan dari ayahnya dari Ibnu Mas’ud bahwa dia pernah berkata: Sesungguhnya kalian berada dalam perjalanan malam dan siang dalam ajal yang terus berkurang dan amal yang terus dicatat, dan kematian datang tiba-tiba. Barangsiapa menanam kebaikan maka akan segera menuai keinginan, dan barangsiapa menanam keburukan maka akan segera menuai penyesalan. Bagi setiap orang yang menanam, ia akan mendapat apa yang ditanamnya.
Telah mengabarkan kepada kami Isma’il bin Ahmad, dia berkata: Telah memberitahukan kepada kami Rizqullah bin Abdul Wahhab, dia berkata: Telah memberitahukan kepada kami Abu Ali bin Syadzhan, dia berkata: Telah memberitahukan kepada kami Abu Ja’far bin Burayh, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Qurasyi, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Idris dari Abu Zakariya At-Taimi, dia berkata: Ketika Sulaiman bin Abdul Malik berada di Masjidil Haram, didatangkan kepadanya sebuah batu yang berukiran tulisan. Dia meminta seseorang yang bisa membacanya, lalu didatangkanlah Wahb bin Munabbih. Dia membacanya dan ternyata di dalamnya tertulis: Wahai anak Adam, seandainya engkau melihat betapa dekatnya sisa ajalmu, niscaya engkau akan bersikap zuhud terhadap panjangnya angan-anganmu, akan bersemangat dalam menambah amalmu, dan akan mengurangi keserakahanmu dan tipu dayamu. Sesungguhnya engkau akan menemui penyesalanmu ketika kakimu telah tergelincir, keluarga dan pelayanmu telah melepaskan dirimu, ayah dan sanak saudara telah menjauh darimu, anak dan kerabat telah meninggalkanmu. Maka engkau tidak akan kembali ke duniamu dan tidak pula menambah kebaikanmu. Beramallah untuk hari kiamat sebelum datangnya penyesalan dan kekecewaan.
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abi Manshur, dia berkata: Telah memberitahukan kepada kami Ali bin Muhammad bin Al-Allaf, dia berkata: Telah memberitahukan kepada kami Ali bin Ahmad Al-Hammami, dia berkata: Telah memberitahukan kepada kami Muhammad bin Al-Husain Al-Hariri, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Musa, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abdul Malik, dia berkata: Al-Auza’i menulis kepada saudaranya: Amma ba’du (Adapun setelah itu), sesungguhnya engkau telah dikepung dari setiap penjuru. Ketahuilah bahwa engkau dijalankan dalam setiap siang dan malam. Maka berhati-hatilah terhadap Allah dan berdiri di hadapan-Nya, dan semoga itu tidak menjadi akhir perjanjianmu dengan-Nya. Wassalam.
Telah mengabarkan kepada kami dua Muhammad yaitu Ibnu Abdul Malik dan Ibnu Nashir, keduanya berkata: Telah memberitahukan kepada kami Ahmad bin Al-Hasan Al-Mu’addil, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Ali, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Ahmad Al-Hafizh, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Nashr, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Basyar, dia berkata: Aku mendengar Fudhail bin ‘Iyadh berkata: Sampai kepadaku bahwa seorang laki-laki menulis kepada Dawud Ath-Tha’i: Berilah aku nasihat.
Dia berkata: Maka dia menulis kepadanya: Amma ba’du (Adapun setelah itu), jadikanlah dunia seperti hari yang engkau puasakan dari syahwatmu, dan jadikanlah berbukamu adalah kematian, seolah-olah telah tiba. Wassalam.
Dia berkata: Lalu dia menulis kepadanya: Tambahkanlah untukku. Maka dia menulis kepadanya: Amma ba’du (Adapun setelah itu), ridhailah dari dunia dengan yang sedikit dengan keselamatan agamamu, sebagaimana suatu kaum ridha dengan yang banyak dengan hilangnya agama mereka. Wassalam.
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Nashir, dia berkata: Telah memberitahukan kepada kami Al-Mubarak bin Abdul Jabbar, dia berkata: Telah memberitahukan kepada kami Al-Barmaki, dia berkata: Telah memberitahukan kepada kami Ahmad bin Ja’far bin Salm, dia berkata: Telah memberitahukan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin Abdul Khaliq, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Yusuf As-Sunni, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Khalid Al-Bazzaz, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abdul Majid, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku An-Nu’man bin Abdul Salam dari Sufyan, dia berkata: “Allah Ta’ala mewahyukan kepada Musa bin Imran: Sesungguhnya siksaan-Ku terhadap orang yang mengenal-Ku namun berani melanggar (perintah)-Ku tidaklah sama dengan (siksa terhadap) orang yang tidak mengenal-Ku.”
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Nashir, dia berkata: Telah memberitahukan kepada kami Ahmad bin Ali bin Khalaf, dia berkata: Telah memberitahukan kepada kami Abu Abdurrahman As-Sulami, dia berkata: Aku mendengar Abu Bakar Muhammad bin Abdullah Ar-Razi berkata: Aku mendengar Muhammad bin Hatim At-Tirmidzi berkata: Modal pokokmu adalah hatimu dan waktumu. Sungguh engkau telah menyibukkan hatimu dengan berbagai sangkaan buruk dan menyia-nyiakan waktu-waktumu dengan melakukan hal yang tidak bermanfaat bagimu. Kapankah akan untung orang yang telah merugi modal pokoknya?
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abi Manshur dan Al-Mubarak bin Ali, keduanya berkata: Telah memberitahukan kepada kami Ali bin Muhammad Al-Allaf, dia berkata: Telah memberitahukan kepada kami Ali bin Ahmad Al-Hammami, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Muhammad Al-Khaldi, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Nashr, dia berkata: Aku mendengar Ibrahim bin Basyar berkata: Aku dan Abu Yusuf Al-Fasuli melewati jalan Syam, tiba-tiba seorang laki-laki menghampirinya, mengucapkan salam kepadanya, kemudian berkata: Wahai Abu Yusuf, berilah aku nasihat yang dapat aku hafal darimu.
Dia berkata: Maka dia menangis kemudian berkata: Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya pergantian malam dan siang serta perjalanannya mempercepat kehancuran badanmu, lenyapnya umurmu, dan berakhirnya ajalmu.
Maka sepatutnya bagimu wahai saudaraku untuk tidak merasa tenang sampai engkau mengetahui di mana tempat kembali dan tujuanmu, apakah Tuhanmu murka kepadamu karena kemaksiatanmu dan kelalaianmu ataukah ridha kepadamu dengan karunia dan rahmat-Nya. Wahai anak Adam yang lemah, kemarin adalah nuthfah (air mani) dan esok adalah bangkai. Jika engkau tidak ridha dengan ini, engkau akan dikembalikan, akan mengetahui, dan akan menyesal di waktu penyesalan tidak bermanfaat bagimu.
Dia berkata: Lalu Abu Yusuf menangis, laki-laki itu menangis, dan aku pun menangis karena tangisan mereka berdua. Keduanya pingsan.
Seorang Arab badui memberi nasihat kepada anaknya, dia berkata: Masa tidak memberimu pelajaran, hari-hari tidak memberi peringatan kepadamu, jam-jam dihitung bagimu, nafas-nafas dihitung darimu, dan yang paling engkau cintai dari urusanmu adalah yang paling banyak membawa bahaya kepadamu.
Seorang ahli hikmah menulis kepada saudaranya: Amma ba’du (Adapun setelah itu), sesungguhnya dunia adalah mimpi, akhirat adalah kesadaran, dan yang memisahkan keduanya adalah kematian. Kami berada dalam kekacauan mimpi-mimpi. Wassalam.
AKHIR KITAB
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan semoga shalawat-Nya tercurah kepada junjungan kami Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung.
Telah mendengar kitab ini dari lisanku kecuali satu juz dari awalnya karena dia membacanya kepadaku, maka telah sempurna baginya seluruh kitab dengan mendengar: pemiliknya yaitu Syaikh yang mulia, Tuan yang alim Shalahudin Abu Ali Al-Hasan bin Saif bin Al-Hasan Asy-Syahrabani. Dan telah menulis Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Al-Jauzi pada bulan Sya’ban tahun lima ratus enam puluh enam, dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Rasul-Nya Muhammad dan keluarganya yang suci.
AKHIR KITAB
Segala puji bagi Allah dengan sebenar-benar pujian. Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada junjungan kami Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya dan semoga keselamatan tercurah. Selesai disalin pada hari Jumat tanggal dua bulan Muharram tahun tujuh ratus empat puluh enam, semoga Allah memperbaiki pengakhirannya. Dan itu di Madrasah Al-Karusiyyah, semoga Allah merahmati pendirinya. Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baik Pelindung.
Penulis : Jamaluddin Abu al-Faraj Abdurrahman bin Ali bin Muhammad al-Jauzi
Editor : Muhammad Abid Hadlori S,Ag.,Lc.







