Sufyan bin Husein berkata:
ذَكَرْتُ رَجُلًا بِسُوءٍ عِنْدَ إِيَاسِ بْنِ مُعَاوِيَةَ، فَنَظَرَ فِي وَجْهِي، وَقَالَ: أَغَزَوْتَ الرُّومَ؟
قُلْتُ: لَا، قَالَ: فَالسِّنْدَ وَالْهِنْدَ وَالتُّرْكَ؟
قُلْتُ: لَا، قَالَ: أَفَتَسْلَمُ مِنْكَ الرُّومُ وَالسِّنْدُ وَالْهِنْدُ وَالتُّرْكَ، وَلَمْ يَسْلَمْ مِنْكَ أَخُوكَ الْمُسْلِمُ؟! قَالَ: فَلَمْ أَعُدْ بَعْدَهَا
“Aku menyebutkan keburukan seseorang di hadapan Iyas bin Mu’awiyah. Ia menatap wajahku dan berkata:
‘Apakah kamu pernah berperang melawan Romawi?’
Aku menjawab: ‘Tidak.’
Ia bertanya lagi:
‘Apakah kamu pernah berperang melawan Sindh, India, dan Turki?’
Aku menjawab: ‘Tidak.’
Ia berkata:
‘Romawi, Sindh, India, dan Turki selamat darimu, tetapi saudaramu sesama muslim tidak selamat darimu?’
Aku (Sufyan) berkata:
‘Setelah itu aku tidak pernah mengulanginya lagi.’”
(Al-Bidayah wa An-Nihayah oleh Ibnu Katsir)
Kisah ini mengandung sindiran yang sangat cerdas dan mendalam dari Iyas bin Mu’awiyah, seorang hakim (qadhi) yang terkenal dengan kecerdasannya yang luar biasa. Beberapa faedah:
1. Logika Terbalik yang Menampar Ego
Iyas bin Mu’awiyah menggunakan logika perbandingan. Beliau ingin menunjukkan betapa ironisnya ketika seseorang tidak memberikan “gangguan” kepada musuh-musuh di medan perang, namun justru memberikan “serangan” lisan kepada saudaranya sendiri yang seharusnya mendapatkan rasa aman darinya.
2. Definisi Muslim yang Hakiki
Nasehat ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad ﷺ:
“Seorang Muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang Islam lainnya.”
(HR. Bukhari & Muslim)
3. Bahaya Ghibah (Menggunjing)
Membicarakan keburukan orang lain (ghibah) seringkali dianggap remeh, padahal dampaknya merusak kehormatan seseorang. Iyas mengingatkan bahwa jika kita tidak bisa memberikan manfaat besar bagi Islam (seperti berjihad), setidaknya jangan sampai kita menjadi sumber kerusakan bagi internal umat Islam.
4. Seni Menasehati dengan Kiasan
Iyas tidak langsung menghardik dengan kata “Jangan ghibah!”, melainkan melalui pertanyaan-pertanyaan yang membuat lawan bicaranya berpikir dan menyimpulkan sendiri kesalahannya. Ini adalah metode edukasi yang sangat efektif.
5. Respons Terhadap Kebenaran
Sufyan bin Husain menunjukkan sikap seorang salaf (pendahulu yang saleh). Begitu ia menyadari kesalahannya melalui sindiran tersebut, ia langsung bertaubat dan berkata, “Setelah itu aku tidak pernah mengulanginya lagi.” Ini adalah contoh ketundukan total pada kebenaran.
Kesimpulan
Jangan sampai energi kita habis untuk mencari dan menyebarkan aib sesama muslim, sementara musuh-musuh nyata atau masalah-masalah besar umat lainnya justru “aman” dari perhatian dan perjuangan kita.
Jaga lisan agar menjadi sumber kedamaian, bukan sumber perpecahan.
Sumber : Saluran WhatsApp Ustadz Kholid Syamhudi, 9 Februari 2026
📌 Ikuti Saluran WhatsApp Ustadz Kholid Syamhudi untuk mendapatkan faedah harian seputar akidah, manhaj salaf, dan tazkiyatun nafs:







