Kisah Mualaf: Ibrahim Khalil Phisobos, Mantan Profesor Teologi Mesir

Kamis, 16 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Profil Singkat:

  • Meraih gelar Magister Teologi dari Universitas Princeton Amerika.
  • Di antara buku-bukunya: (Muhammad dalam Taurat, Injil dan Al-Quran), (Al-Masih adalah Manusia bukan Tuhan), (Islam dalam Kitab-kitab Samawi), (Kenalilah Musuhmu Israel), (Orientalisme dan Kristenisasi serta Hubungannya dengan Imperialisme Global), (Para Misionaris dan Orientalis di Dunia Arab Islam), (Pengampunan antara Kristen dan Islam).

Dia pernah menjadi pendeta Gereja Injili dan profesor teologi, banyak orang masuk Islam atas tangannya.

Jawaban Akal yang Bebas:

Haji Ibrahim menceritakan perjalanannya menuju Islam, dia berkata:

“Dalam sebuah konferensi misionaris saya diundang untuk berbicara, lalu saya memperpanjang pembicaraan dengan mengulang-ulang semua kritik yang dihafal terhadap Islam. Setelah saya selesai berbicara, saya mulai bertanya pada diri sendiri: mengapa saya mengatakan hal ini padahal saya tahu bahwa saya berbohong?! Saya meminta izin sebelum konferensi berakhir, keluar sendirian menuju rumah saya. Saya terguncang dari lubuk hati, sangat terpuruk, dan di rumah saya menghabiskan sepanjang malam sendirian di perpustakaan membaca Al-Quran, dan saya berdiri lama di hadapan ayat yang mulia:

“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (Al-Hasyr: 21)

Dan pada malam itu saya mengambil keputusan hidup saya lalu masuk Islam, kemudian semua anak-anak saya bergabung dengan saya, dan yang paling bersemangat adalah anak laki-laki tertua saya (Osama) yang merupakan doktor filsafat dan bekerja sebagai profesor psikologi di Universitas Sorbonne.”

Dan dengan keislaman mereka, rumah-rumah Islam bertambah satu rumah.

Kisah Keislamannya:

Profesor terdahulu di Fakultas Teologi Injili (Ibrahim Khalil Phisobos) adalah salah satu dari jutaan orang yang mengikuti apa yang ditemukan oleh nenek moyang mereka dari selain penganut Islam. Tumbuh di gereja, naik tingkat di sekolah-sekolah teologi, dan menempati posisi terhormat dalam tangga kristenisasi. Dengan jemarinya dia menulis sari pengalamannya yang panjang beberapa ratus halaman tesis magister dengan judul: (Bagaimana Kita Menghancurkan Islam dengan Kaum Muslim)?! Dalam ilmu teologi, (Phisobos) adalah spesialis yang tak tertandingi. Dan dalam kacamata (kemanusiaan) dia adalah anak Gereja Injili Amerika yang berjalan dengan sombong. Dan karena alasan kekuatan, kenikmatan dan perlindungan yang tersedia, (Ibrahim) tidak memberikan bobot atau penghargaan apapun kepada ulama Al-Azhar yang telah dilemahkan oleh kehidupan yang susah!

Namun pemberontakan kepalsuan tidak lama kemudian tiba-tiba padam, dan kesesatan penyimpangan Injil serta kebohongan Taurat retak tanpa jadwal, dan gugur saat itu selubung khayalan, lalu terbuka mata batin fitrah sehingga Ibrahim Khalil Phisobos – yang telah menginjak ambang empat puluh tahun pada tanggal 25 tahun 1959 – mendapat kelahiran baru.

Dengan Profesor Ibrahim Khalil Ahmad… dai hari ini terjadi pertemuan ini. Dan melalui lorong-lorong kesesatan dan kepalsuan menuju dunia kebenaran, hidayah dan cahaya terjadilah dialog ini.

  • Bagaimana perjalanan hidayah yang mengantarkanmu ke pantai iman dan Islam, dan dari mana permulaaannya?
  • Di kota Iskandariah dan pada tanggal 13 Januari tahun 1919 saya dilahirkan. Saya tumbuh dengan pendidikan Kristen yang komit dan dididik di sekolah-sekolah misi Amerika. Kebetulan saya mencapai tahap (budaya) sekolah bersamaan dengan pecahnya Perang Dunia Kedua dan kota Iskandariah mengalami horor pemboman pesawat terbang. Maka kami terpaksa hijrah ke Asyut di mana saya melanjutkan pendidikan asrama di fakultasnya dan memperoleh diploma tahun 1941/1942. Tidak lama jalan kerja terbuka di hadapan saya maka saya bergabung dengan pasukan Amerika dari tahun 1942 hingga tahun 1944.
  • Apa sifat pekerjaan ini dan bagaimana Anda memperolehnya?
  • Pasukan Amerika saat itu memiliki laboratorium kimia untuk menganalisis logam dari pesawat yang jatuh untuk mengetahui komposisi dan jenisnya. Karena latar belakang budaya saya di fakultas Asyut dan penguasaan bahasa Inggris, dan karena orang Amerika sangat memperhatikan lulusan dan menampung mereka di perusahaan mereka, saya menghabiskan dua tahun dalam pekerjaan ini. Tapi berita perang dan musibah mendorong saya untuk memandang dunia dengan pandangan yang lebih dalam yang membawa saya menuju seruan damai dan ke gereja yang memantau keinginan saya dan menggerakkan orientasi saya. Maka saya masuk fakultas teologi tahun 1945 dan menghabiskan tiga tahun di sana.
  • Apa garis-garis umum kurikulum fakultas dan di mana posisi Islam di dalamnya?
  • Dalam delapan bulan pertama kami mempelajari kajian teoretis. Profesor menyampaikan kuliah dalam bentuk poin-poin utama, dan kami harus melengkapi penelitian dari perpustakaan. Kami harus mempelajari tiga bahasa: Yunani, Aram, dan Ibrani selain bahasa Arab sebagai dasar dan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Setelah itu kami mempelajari pengantar Perjanjian Lama dan Baru, tafsir dan penjelasan, sejarah gereja, kemudian sejarah gerakan kristenisasi dan hubungannya dengan kaum Muslim. Di sini kami mulai mempelajari Al-Quran yang mulia dan hadis-hadis Nabi, dan kami fokus pada firqah-firqah yang keluar dari Islam seperti Ismailiyah, Alawiyah, Qadianiyah, Bahaiyah… Dan tentu saja perhatian kepada mahasiswa sangat ketat, cukup saya sebutkan bahwa kami sekitar 12 mahasiswa diajar oleh 12 profesor Amerika dan 7 lainnya orang Mesir.
  • Kajian-kajian tentang Islam dan tentang firqah-firqah ini, apakah hanya untuk pengetahuan ilmiah saja ataukah ada tujuan lain di baliknya?
  • Sebenarnya kami membangun dialog masa depan kami dengan kaum Muslim atas dasar kajian-kajian ini dan menggunakan pengetahuan kami untuk memerangi Al-Quran dengan Al-Quran… dan Islam dengan titik-titik hitam dalam sejarah kaum Muslim! Kami berdialog dengan santri Al-Azhar dan anak-anak Islam dengan Al-Quran untuk memfitnah mereka, maka kami menggunakan ayat-ayat yang dipotong jauh dari konteks teks dan melayani tujuan kami dengan kesalahan ini. Ada buku-buku kami dalam topik ini yang terpenting adalah buku (Al-Hidayah) 4 jilid dan (Sumber Islam) selain memanfaatkan tulisan-tulisan agen orientalisme seperti Taha Hussein yang gereja memanfaatkan bukunya (Syair Jahiliyah) seratus persen, dan mahasiswa fakultas teologi menganggapnya sebagai buku dasar untuk mengajar mata kuliah Islam!

Dengan metode inilah tesis magister saya dengan judul (Bagaimana Kita Menghancurkan Islam dengan Kaum Muslim) tahun 1952 yang saya habiskan 4 tahun mempersiapkannya melalui praktik dakwah dan kristenisasi di antara kaum Muslim sejak lulus tahun 1948.

  • Bagaimana kemudian terjadi perubahan dalam dirimu… dan kapan kamu menuju untuk memeluk Islam?
  • Saya memiliki – seperti yang saya sebutkan – serangan dan pertempuran di bawah bendera gerakan kristenisasi Amerika, dan melalui interaksi yang panjang, dan setelah mengetahui secara langsung rahasia mereka, saya yakin bahwa para misionaris di Mesir tidak datang untuk menyebarkan agama tetapi untuk mendukung penjajahan dan memata-matai negara!
  • Bagaimana?
  • Bukti-buktinya banyak, dalam masalah apapun. Jika negara bersiap untuk bangkit melawan kezaliman, gereja adalah yang pertama menyadarinya karena Kristen Koptik dan Muslim hidup di satu tanah. Hari seorang Muslim mengeluh, tidak lama Kristen mendengar keluhannya lalu menyampaikannya kepada kami untuk kami analisis dan terjemahkan. Dari sisi lain, jemaat gereja dalam angkatan bersenjata adalah alat langsung untuk menyampaikan informasi militer dan rahasianya. Melalui pusat-pusat kristenisasi yang tunduk pada Amerika dan menikmati perlindungan Amerika, perang mata-mata dijalankan. Kamu harus tahu di sini bahwa Kristen di Mesir memiliki dua kewarganegaraan dan dua kesetiaan: kesetiaannya pada tanah air tempat dia dilahirkan yaitu kesetiaan sipil yang diekspresikan oleh kewarganegaraan Mesirnya, dan kesetiaan agama yang lebih kuat yang diwakili oleh kewarganegaraan Kristen. Dia merasa di Eropa dan Amerika sebagai benteng utama, sementara Kristen di Mesir merasa mereka orang asing! Persis seperti kesetiaan Israel yang menganggap kesetiaannya secara rohani kepada tanah Yerusalem sebagai kesetiaan agama dan kesetiaannya kepada tanah air tempat dia dilahirkan hanya kesetiaan sipil! Karena itu rencana misionaris dan gereja dibuat untuk menjadikan Mesir berputar dalam orbit penjajahan sehingga tidak bisa hidup jauh darinya. Hal ini membuat saya merasakan ke-Mesir-an saya dan merasa bahwa mereka orang asing bagiku dan tetangga Muslimku lebih dekat kepadaku daripada mereka. Maka saya mulai toleran… maaf saya katakan toleran dan maksud saya membaca Al-Quran dengan cara yang berbeda dari cara saya membacanya sebelumnya. Pada bulan Juni sekitar tahun 1955 saya mendengarkan firman Allah SWT:

“Katakanlah: “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami, dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak.” (Al-Jin: 1-3)

Ayat yang mulia ini anehnya tertanam dalam hati, dan ketika saya kembali ke rumah saya bergegas ke mushaf dan memegangnya dalam keheranan dari surah ini. Bagaimana? Sesungguhnya Allah SWT berfirman:

“Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (Al-Hasyr: 21)

Ibrahim Khalil yang sampai masa dekat memerangi Islam dan mendirikan argumen dari Al-Quran dan Sunnah serta dari firqah-firqah yang keluar dari Islam untuk memerangi Islam… berubah menjadi manusia lembut yang menangani Al-Quran yang mulia dengan waqar dan penghormatan. Seolah-olah mataku diangkat darinya selubung dan penglihatanku menjadi besi… untuk melihat apa yang tidak terlihat… dan merasakan sinar-sinar Allah ta’ala sebagai cahaya yang berkilauan di antara baris-baris yang membuatku tekun membaca kitab Allah dari firman-Nya ta’ala:

“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-A’raf: 157)

Dan dalam surah Ash-Shaff:

“Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah untukmu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”” (Ash-Shaff: 6)

Jadi Al-Quran yang mulia menegaskan bahwa ada ramalan-ramalan dalam Taurat dan Injil tentang Nabi Muhammad SAW. Dari sini saya mulai selama beberapa tahun mempelajari ramalan-ramalan ini dan menemukan kebenaran yang tidak tersentuh perubahan dan penggantian karena Bani Israel mengira bahwa itu tidak akan keluar dari lingkaran mereka. Sebagai contoh, dalam (Kitab Ulangan) yaitu buku kelima dari kitab-kitab Taurat disebutkan: (Aku akan membangkitkan bagi mereka seorang nabi dari antara saudara-saudara mereka seperti engkau, dan Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, maka ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Aku perintahkan kepadanya). Saya berhenti pertama pada kata (saudara-saudara mereka) dan bertanya: apakah yang dimaksud di sini dari Bani Israel? Seandainya demikian pasti dikatakan (dari mereka sendiri), adapun karena dikatakan (dari antara saudara-saudara mereka) maka yang dimaksud adalah anak-anak paman. Dalam Kitab Ulangan pasal 2 ayat 4 Allah berfirman kepada Musa AS: (Kamu akan melewati wilayah saudara-saudaramu Bani Esau…). (Esau) yang kami sebut dalam Islam (Al-‘Ish) adalah saudara Yakub AS, maka anak-anaknya adalah anak-anak paman Bani Israel, meskipun demikian dikatakan (saudara-saudaramu). Demikian juga anak-anak (Ishaq) dan anak-anak (Ismail) adalah anak-anak paman, karena (Ishaq) adalah saudara (Ismail) AS, dan dari (Ishaq) keturunan Bani Israel, dan dari (Ismail) adalah (Qaidar) dan dari keturunannya adalah Nabi Muhammad SAW. Cabang inilah yang ingin dijatuhkan Bani Israel dan yang ditegaskan Taurat ketika mengatakan (dari antara saudara-saudara mereka) yaitu dari anak-anak paman mereka.

Kemudian saya berhenti pada lafaz (seperti engkau) dan meletakkan tiga nabi: Musa, Isa, dan Muhammad AS untuk perbandingan lalu menemukan bahwa Isa AS sama sekali berbeda dari Musa dan Muhammad AS, menurut akidah Kristen itu sendiri yang tentu kami tolak. Dia adalah Tuhan yang menjelma, dan dia anak Allah sungguhan, dan dia pribadi kedua dalam Trinitas, dan dia yang mati di salib. Adapun Musa AS adalah hamba Allah, dan Musa adalah laki-laki, dan nabi, dan mati dengan kematian alami dan dikubur dalam kubur seperti manusia lainnya. Demikian juga Rasulullah Muhammad SAW. Jadi kemiripan hanya berlaku pada Muhammad SAW, sementara perbedaan antara Al-Masih dan Musa AS terbukti, menurut akidah Kristen itu sendiri!

Jika kita lanjutkan ke sisa kalimat: (dan Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya…) kemudian mencari dalam kehidupan Muhammad SAW maka kita dapati dia ummi yang tidak bisa baca tulis, kemudian tidak lama tiba-tiba mengucapkan Al-Quran yang mulia yang merupakan mukjizat ketika mencapai usia empat puluh tahun. Jika kita kembali ke ramalan lain dalam Taurat kitab Yesaya pasal 29 yang mengatakan: (atau diberikan kitab kepada orang yang tidak bisa membaca dan menulis dan dikatakan kepadanya bacalah, dia berkata saya tidak bisa membaca…) maka kita dapati kesesuaian sempurna antara kedua ramalan ini dengan peristiwa turunnya Jibril dengan wahyu kepada Rasulullah di gua Hira, dan turunnya lima ayat pertama dari surah Al-‘Alaq:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-‘Alaq: 1-5)

  • Ini tentang Taurat, bagaimana dengan Injil dan Anda yang dulu menganutnya?

Jika kita mengecualikan nubuat-nubuat Barnaba yang jelas dan tegas tentang pengutusan Muhammad dengan menyebut namanya, dan itu karena Gereja sama sekali tidak mengakui Injil ini, maka Isa alaihissalam telah bernubuat dalam Injil Yohanes dengan sembilan nubuat, dan (Parakletos) yang dikabarkan gembira oleh Yohanes berkali-kali… kata ini memiliki lima makna: Penghibur, Syafi’, Pembela, Muhammad, dan Mahmud, dan mana saja dari makna-makna ini sangat tepat jika diterapkan pada Rasulullah saw. Beliau adalah Penghibur yang menghibur jamaah yang beriman dan berada di atas kebenaran setelah kesesatan dan kemerosotan, dan beliau adalah Pembela yang membela Isa putra Maryam alaihissalam dan semua nabi dan rasul setelah orang-orang Yahudi dan Nasrani merusak citra mereka dan mengubah ajaran yang mereka bawa yaitu Islam. Oleh karena itu dalam Injil Yohanes pasal 14 ayat 16-17 disebutkan: (Aku akan berdoa kepada Allah agar Dia memberi kalian penghibur yang lain untuk tinggal bersama kalian selamanya, yaitu Roh Kebenaran)… Dan dia berkata dalam nubuat lain pasal 16 ayat 13-14: (Dan apabila Dia datang, yaitu Roh Kebenaran itu, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran, sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku). Dan ini adalah kebenaran firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.’” (QS. Al-Kahf: 110).

  • Bagaimana saat-saat pengumuman masuk Islam Anda dan bagaimana awal kehidupan baru dalam naungan hidayah dan kebenaran?
  • Setelah sampai pada keyakinan dan merasakan kebenaran-kebenaran dengan tangan saya, saya harus berbicara dengan orang terdekat yaitu istri saya, tetapi pembicaraan itu bocor melaluinya kepada misi sayangnya, dan dengan cepat mereka menangkap saya dan memindahkan saya ke rumah sakit dan di bawah pengawasan ketat dengan menuduh saya gila! Dan selama empat bulan berikutnya saya mengalami penderitaan yang sangat berat, mereka memisahkan saya dari istri dan anak-anak saya, dan menyita perpustakaan saya yang berisi buku-buku induk dan ensiklopedia… bahkan nama saya sebagai anggota majelis Asyut, dan dalam konferensi (sinode) dicoret, dan berkas saya sebagai pemegang gelar magister dari fakultas teologi hilang… Dan dari ironi yang mengherankan bahwa orang-orang Inggris pada masa itu telah menurunkan Raja Talal dari tahta Yordania dengan tuduhan gila… maka saya takut hal yang sama akan terjadi pada saya. Oleh karena itu saya berkomitmen untuk tenang dan sabar serta bertahan hingga saya dibebaskan, lalu saya mengajukan pengunduran diri dari pelayanan keagamaan dan beralih bekerja di perusahaan Amerika untuk peralatan kantor, tetapi pengawasan di sana sangat keras, karena Gereja tidak membiarkan siapa pun dari anak-anaknya yang keluar dan masuk Islam, mereka akan membunuhnya atau menyusupkan intrik untuk menghancurkan hidupnya. Di sisi lain, masyarakat Muslim pada waktu itu tidak mampu membantu saya… karena era lima puluhan dan enam puluhan seperti yang Anda ketahui adalah masa pembersihan Ikhwanul Muslimin, dan bergabung dengan Islam serta membelanya pada waktu itu tidak berarti apa-apa selain kehancuran! Oleh karena itu saya harus berjuang sesuai kemampuan saya, lalu saya mulai bekerja berdagang, dan mendirikan kantor dagang. Begitu selesai, saya bergegas mengirim telegram kepada (Dr. John Thompson) kepala misi Amerika pada waktu itu, dan tanggalnya adalah 25 Desember 1959 yang bertepatan dengan Natal, dan isi telegram: Saya beriman kepada Allah Yang Maha Esa, dan kepada Muhammad sebagai Nabi dan Rasul. Tetapi pengumuman resmi memeluk Islam mengharuskan saya sesuai prosedur hukum untuk bertemu dengan komisi dari kebangsaan yang saya miliki untuk meninjau dan mendiskusikan dengan saya. Pada saat semua perusahaan Eropa dan Amerika menolak berurusan dengan saya, terbentuklah komisi yang bersangkutan dari tujuh pendeta bergelar doktor… mereka berbicara kepada saya dengan ancaman dan intimidasi lebih dari mendiskusikan! Dan memang saya diusir dari apartemen saya karena saya terlambat dua atau tiga bulan membayar sewa, dan Gereja terus menyusupkan intrik kepada saya ke mana pun saya pergi… dan terputuslah sumber perdagangan saya… tetapi saya terus pada kebenaran yang saya anut… hingga Allah menakdirkan bahwa kabar saya sampai kepada Menteri Wakaf pada waktu itu Abdullah Thu’aimah, yang memanggil saya untuk bertemu dengannya dan meminta saya dengan kehadiran Ustadz Al-Ghazali untuk berkontribusi dalam kerja Islam dengan jabatan sekretaris komite ahli di Majelis Tinggi Urusan Islam, maka saya sangat bahagia pada awalnya, tetapi suasana yang saya masuki itu – sayangnya – beracun, karena para pemuda dilatih untuk memata-matai alih-alih menuju ilmu! Dan para pegawai sibuk dengan instruksi (organisasi pemuda) dari semua tugas pekerjaan mereka, dan ada mata-mata terhadap pegawai, dan terhadap direktur, dan terhadap wakil menteri… hingga penguasa dapat mengendalikan mereka semua dengan tangan besi! Dan berapa kali saya meninggalkan barang-barang saya tertata rapi semua di laci meja kerja saya untuk menemukan keesokan harinya berantakan! Dan demikianlah hari-hari berlalu dan Allah Subhanahu menghendaki Dr. Muhammad Al-Bahi datang sebagai Menteri Wakaf setelah Thu’aimah Al-Jurf. Dan Dr. Al-Bahi telah dididik dengan pendidikan Jerman yang disiplin, tetapi Taufiq Awaidah sekretaris Majelis Tinggi Urusan Islam dan salah satu perwira tingkat kedua revolusi menentangnya… Dan terjadilah bahwa Dr. Al-Bahi memanggil saya suatu hari setelah buku saya terbit: (Para Orientalis dan Misionaris di Dunia Arab dan Islam) dan ingin mengenal saya… maka kabar itu sampai kepada Taufiq Awaidah dan dia mengira saya dari kubu Dr. Al-Bahi dan Ustadz Al-Ghazali… dan tiba-tiba saya mendapati diri saya menerima penghinaan dari direktur kantornya Raja Al-Qadi yang berkata kepada saya: Silakan ke kementerian yang melindungi Anda! Saya keluar dengan air mata di mata saya, dan saya mendapati mereka telah menyita buku-buku pribadi saya dari kantor saya dan tidak menyisakan apa pun kecuali sedikit yang saya bawa dan kembali ke kementerian… dan di sana saya bekerja sebagai penulis surat masuk dengan perantara!! Maka hari keluar pensiun saya adalah tanggal 12/1/1979 dan saya telah mencapai usia enam puluh, dan sejak hari itu Ibrahim Khalil mulai menduduki posisinya sebagai da’i Islam, dan yang pertama Allah menolongkan saya adalah bertemu dengan Dr. Jamil Ghazi rahimahullah bersama 13 pendeta di Sudan dalam debat terbuka yang berakhir dengan mereka semua memeluk Islam, dan mereka inilah yang menjadi sebab kebaikan dan hidayah bagi Sudan barat di mana ribuan penyembah berhala dan lainnya masuk agama Allah melalui tangan mereka.

Debat tersebut ada di halaman ini: http://212.37.222.34/islam/multimedia.htm

  • Akhirnya kami berterima kasih kepada Anda dan kami berdoa kepada Allah agar Dia mengambil tangan-tangan yang tulus kepada apa yang mengandung kebaikan umat Islam, dan jazakumullahu khairan, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dan inilah yang diterbitkan majalah Ad-Da’wah tentang beliau pada Oktober 1976:

Profesor Teologi yang Bertanggung Jawab atas Kristenisasi Sebagian Mesir

Dia bekerja sebagai gembala Gereja Injili dan profesor akidah serta teologi di Fakultas Teologi Asyut hingga tahun 1953, kemudian sekretaris umum Misi Jerman-Swiss di Aswan, dan misionaris di antara kaum Muslim antara provinsi-provinsi dari Asyut hingga Aswan sampai tahun 1955… Dia memperoleh kualifikasi khusus dalam teologi, memperoleh diploma Fakultas Teologi Injili Kairo tahun 1948, kemudian magister Filsafat dan Teologi dari Universitas “Princeton” di Amerika Serikat tahun 1952.

Dan “Ibrahim Khalil Ahmad” bercerita tentang kisah masuk Islamnya:

“Pada salah satu sore tahun 1955 saya mendengar Al-Qur’an disiarkan di radio, dan saya mendengar dalam firman-Nya Ta’ala: {Katakanlah: “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya telah mendengarkan sekumpulan jin, lalu mereka berkata: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami} [Al-Jin: 1, 2] Kedua ayat ini bagaikan obor suci yang menerangi pikiran dan hati saya untuk mencari kebenaran… Pada sore itu saya tekun membaca Al-Qur’an hingga matahari pagi bersinar, dan seolah-olah ayat-ayat Al-Qur’an adalah cahaya yang berkilau, dan seolah-olah saya hidup dalam lingkaran cahaya… Kemudian saya membaca sekali lagi, ketiga, keempat hingga saya menemukan firman-Nya Ta’ala: {(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung} [Al-A’raf: 157]

… Dari ayat ini saya memutuskan untuk melakukan kajian bebas terhadap Kitab Suci, dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan saya sebagai pendeta dan sekretaris umum Misi Amerika di Aswan.

Dan ketika saya melaksanakan keputusan saya, sekelompok dokter berkonspirasi terhadap saya dan menyebarkan bahwa saya gila, maka saya sabar dan bertahan dengan penuh keyakinan kepada Allah, lalu saya bepergian ke Kairo di mana saya bekerja di perusahaan penjualan “Standard Stationery”, dan selama bekerja di sana direktur perusahaan meminta saya mencetak tafsir Juz ‘Amma dalam bahasa Inggris, maka saya berkomitmen kepadanya untuk menyelesaikan pekerjaan ini, dan dia mengira saya Muslim, dan saya memuji Allah bahwa dia tidak menyadari kekristenan saya, maka itu bagi saya adalah kajian Islam yang bebas dari jubah diplomasi hingga Allah melapangkan dada saya untuk Islam, dan saya mendapati bahwa saya harus mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai langkah untuk mengumumkan Islam saya, dan memang saya mengajukan pengunduran diri pada tahun 1959 dan mendirikan kantor dagang dan berhasil dalam pekerjaan baru saya. Dan pada 25 Desember 1959 saya mengirim telegram kepada Misi Amerika di Mesir Baru bahwa saya beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan kepada Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, kemudian saya mengajukan permohonan kepada gubernur untuk menjalankan prosedur resmi… dan nama saya diubah dari “Ibrahim Khalil Phillips” menjadi “Ibrahim Khalil Ahmad”, dan keputusan tersebut mencakup perubahan nama anak-anak saya sebagai berikut: Ishaq menjadi Usamah, dan Samuel menjadi Jamal, dan Majdah menjadi Najwa.”

Kemudian dia menarik napas untuk melanjutkan menceritakan kisahnya dan perjalanannya menuju keimanan kepada Islam, dia berkata tentang kesulitan yang dia alami: “Istri saya meninggalkan saya setelah mengingkari Islam saya dan anak-anak saya, sebagaimana rumah-rumah asing yang bergerak di bidang peralatan kantor dan perlengkapan kantor memutuskan untuk tidak berurusan dengan saya, dan kemudian saya tutup kantor dagang saya, dan bekerja sebagai penulis di perusahaan dengan 15 pound sebulan setelah penghasilan saya sebelumnya 80 pound… dan pada saat ini saya belajar Sirah Nabawiyah, dan mempelajarinya adalah hiburan dan rahmat bagi saya… tetapi bahkan pekerjaan sederhana ini pun saya tidak dapat melanjutkannya, karena agen-agen Amerika berhasil menghasut perusahaan terhadap saya hingga mereka memecat saya, dan saya tetap setelahnya tiga bulan tanpa pekerjaan hingga ditunjuk di Majelis Tinggi Urusan Islam, dan itu setelah ceramah yang pernah saya sampaikan dengan judul mengapa saya masuk Islam?”

Kemudian dia tertawa dengan kepahitan dan sarkasme sambil berkata: “Gereja telah mengambil alih untuk menghasut pihak-pihak yang berwenang terhadap saya, hingga Kementerian Wakaf dan Dalam Negeri meminta saya untuk berhenti memberikan ceramah atau saya akan dikenai penerapan undang-undang persatuan nasional dengan dituduh menghasut dan menimbulkan fitnah, dan itu setelah saya memberikan banyak ceramah dalam ilmu perbandingan agama di masjid-masjid di Alexandria, Mahallah Al-Kubra, Asyut, Aswan dan provinsi-provinsi lainnya, karena Gereja terguncang oleh ceramah-ceramah ini setelah mengetahui bahwa banyak pemuda Kristen telah memeluk Islam”

Kemudian dia diam dalam kesedihan untuk berkata setelahnya: “Kekangan ini mendorong saya untuk memutuskan hijrah ke Kerajaan Arab Saudi di mana saya menempatkan semua keahlian saya untuk melayani Fakultas Dakwah dan Ushuluddin”

Kemudian dia kembali menjelaskan dan memperjelas apa yang sebelumnya dia isyaratkan tentang alasan-alasan memeluk Islam, dia berkata: “Sesungguhnya iman harus muncul dari hati terlebih dahulu, dan kenyataannya iman saya kepada Islam meresap ke hati saya selama periode-periode panjang saya selalu membaca Al-Qur’an Al-Karim dan membaca sejarah Rasul yang mulia dan berusaha menemukan satu dasar yang dapat meyakinkan saya bahwa Muhammad, manusia yang buta huruf, miskin, sederhana ini mampu sendirian menciptakan seluruh revolusi yang mengubah sejarah dunia dan masih terus berlangsung.

Yang sangat menarik bagi saya adalah sistem tauhid dalam Islam dan ini merupakan salah satu ciri paling menonjol dalam Islam: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” (QS. Asy-Syura: 11), “Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa (1) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu” (QS. Al-Ikhlas: 1-2).

Dia mengangkat kepalanya merenungkan langit dan berkata:

“Ya… Tauhid membuat saya menjadi hamba Allah semata, dan saya bukanlah hamba dari manusia mana pun… Tauhid di sini membebaskan manusia dan membuatnya tidak tunduk kepada manusia siapa pun, dan itulah kebebasan yang sesungguhnya, tidak ada penghambaan kecuali kepada Allah semata… Sangat agung sistem pengampunan dalam Islam, karena dasar pokok keimanan berdiri atas hubungan langsung antara hamba dan Tuhannya, maka manusia dalam Islam bertobat kepada Allah semata, tidak ada perantara, tidak ada surat pengampunan atau buku pengakuan dosa; karena hubungannya langsung antara manusia dan Tuhannya.”

Dan dia mengakhiri perkataannya dengan ungkapan yang mengalir jernih:

“Kamu tidak tahu betapa saya merasakan ketenangan jiwa yang mendalam ketika saya membaca Al-Quran Al-Karim, saya berdiri lama di hadapan ayat yang mulia: ‘Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah’ (QS. Al-Hasyr: 21).

Begitu juga ayat yang mulia: ‘Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang yang mempersekutukan Allah; dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri (82) Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (dari Al-Quran); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Quran dan kenabian Muhammad saw.) (83)” (QS. Al-Maidah).

Karena semua itu, saya mengambil keputusan untuk menyatakan keislaman saya, bahkan saya harus melakukan dakwah untuk agama Islam yang dulunya saya adalah musuh yang paling keras terhadapnya. Cukuplah bahwa saya pada awalnya tidak mempelajari Islam kecuali agar saya tahu bagaimana cara menyerangnya dan memeranginya, tetapi hasilnya justru sebaliknya, posisi saya mulai goyah dan saya mulai merasakan konflik batin antara diri saya dengan hati nurani saya, dan saya menemukan bahwa apa yang selama ini saya serukan dan katakan kepada manusia semuanya adalah kepalsuan dan kebohongan.”

Untuk mendengar kisah keislamannya dengan suaranya:

Bagian Pertama: http://www.alhakekah.com/aduio/b1.mp3

Bagian Kedua: http://www.alhakekah.com/aduio/b2.mp3

Dan nasihat darinya untuk orang Kristen:

Bagian Pertama: http://www.alhakekah.com/aduio/fe1.mp3

Bagian Kedua: http://www.alhakekah.com/aduio/fe2.mp3

 

Dikutip dari:

PERJALANAN IMAN BERSAMA PRIA DAN WANITA YANG MASUK ISLAM

رحلة إيمانية مع رجال ونساء أسلموا

Disusun oleh:

Abdul Rahman Mahmoud

Terjemah:

Muhamad Abid Hadlori, S.Ag.,Lc.

Artikel Terjkait

Kisah Mualaf: Mantan Biarawan Filipina Marco Corbus
Kisah Mualaf: Mantan Uskup Agung Lutheran Tanzania Abu Bakar Mwayipopo
Kisah Mualaf: Kenneth Jenkins – Pendeta Amerika Serikat yang Dahulu
Kisah Mualaf: Dr. Wadee’ Ahmad (mantan) Pendeta Mesir
Kisah Mualaf: Yusuf Estes, Mantan Pendeta Amerika
Kisah Mualaf: Ketua Komite Kristenisasi di Afrika, Mantan Pendeta Mesir Ishaq Hilal Masihah
Berita ini 0 kali dibaca
Tag :

Artikel Terjkait

Kamis, 16 April 2026 - 07:33 WIB

Kisah Mualaf: Mantan Biarawan Filipina Marco Corbus

Kamis, 16 April 2026 - 07:28 WIB

Kisah Mualaf: Mantan Uskup Agung Lutheran Tanzania Abu Bakar Mwayipopo

Kamis, 16 April 2026 - 07:06 WIB

Kisah Mualaf: Kenneth Jenkins – Pendeta Amerika Serikat yang Dahulu

Kamis, 16 April 2026 - 06:57 WIB

Kisah Mualaf: Dr. Wadee’ Ahmad (mantan) Pendeta Mesir

Kamis, 16 April 2026 - 06:53 WIB

Kisah Mualaf: Yusuf Estes, Mantan Pendeta Amerika

Artikel Terbaru

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Mantan Biarawan Filipina Marco Corbus

Kamis, 16 Apr 2026 - 07:33 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Dr. Wadee’ Ahmad (mantan) Pendeta Mesir

Kamis, 16 Apr 2026 - 06:57 WIB

Kisah Mualaf

Kisah Mualaf: Yusuf Estes, Mantan Pendeta Amerika

Kamis, 16 Apr 2026 - 06:53 WIB