Ada satu pandangan pribadi yang belakangan ini cukup sering terlintas dalam pikiran saya. Seandainya Allah mentakdirkan saya memiliki kelapangan harta yang sangat besar, maka saya merasa lebih cenderung untuk membantu, menopang, dan menguatkan pesantren-pesantren yang sudah eksis daripada membangun pesantren baru dari nol.
Saya sampaikan ini bukan untuk mengecilkan orang-orang yang memiliki semangat merintis lembaga baru. Sama sekali bukan. Mendirikan pesantren tentu merupakan cita-cita yang mulia. Banyak pesantren besar hari ini pun pada awalnya lahir dari keberanian, keikhlasan, dan pengorbanan orang-orang yang memulai dari titik nol. Karena itu, saya sangat menghormati para perintis. Hanya saja, jika berbicara tentang pilihan pribadi, saya merasa hati saya lebih condong kepada jalan yang pertama: memperkuat yang sudah ada.
Mengapa demikian? Karena membangun lembaga baru bukan perkara sederhana. Ia bukan hanya soal membeli tanah, mendirikan bangunan, lalu menerima santri. Di balik itu ada persoalan manajemen, kaderisasi, pembiayaan jangka panjang, kualitas SDM, kultur lembaga, keberlangsungan program, hingga kemampuan bertahan di tengah perubahan zaman. Tidak sedikit lembaga yang lahir dengan niat baik, tetapi kemudian terseok-seok karena beban pengelolaan yang ternyata jauh lebih besar daripada yang dibayangkan di awal.
Sebaliknya, pesantren yang sudah eksis biasanya telah melewati fase-fase berat itu. Mereka telah diuji oleh waktu. Mereka sudah memiliki santri, guru, jaringan alumni, kultur pendidikan, serta manfaat yang nyata di tengah umat. Membantu lembaga seperti itu, dalam pandangan saya, terasa seperti menyiram pohon yang sudah tumbuh dan sudah berbuah. Kita tidak memulai dari nol, tetapi ikut menjaga agar manfaat yang sudah hidup itu tetap berlanjut, bahkan berkembang lebih besar.
Saya juga merasa bahwa pilihan semacam ini, setidaknya bagi diri saya, lebih dekat dengan semangat kolaborasi daripada semangat membangun poros sendiri. Kadang saya berpikir, umat ini mungkin tidak selalu membutuhkan semakin banyak lembaga kecil yang berjalan sendiri-sendiri, dengan kekuatan yang terbatas, jaringan yang sempit, dan daya tahan yang rapuh. Dalam banyak keadaan, justru akan lebih bermakna jika energi, dana, dan perhatian umat diarahkan untuk memperkuat lembaga-lembaga yang sudah terbukti memberi manfaat. Dengan begitu, yang tumbuh bukan sekadar jumlah, tetapi kualitas, kesinambungan, dan daya jangkau manfaat.
Di titik ini, saya teringat bahwa kebaikan dalam Islam tidak selalu harus hadir dalam bentuk “mendirikan sendiri”. Ada kalanya justru nilai amal terletak pada kesediaan kita untuk ikut mengambil bagian dalam kebaikan yang telah lebih dahulu dirintis oleh orang lain. Kita tidak harus menjadi pendiri agar bisa mendapat pahala besar. Kita tidak harus menjadi tokoh utama agar kontribusi kita bernilai istimewa di sisi Allah.
Karena itu, saya sangat tersentuh dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ، أَوْ أَصْغَرَ، بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
“Siapa yang membangun masjid karena Allah, walaupun hanya sebesar tempat burung kecil bertelur, atau bahkan lebih kecil dari itu, maka Allah bangunkan baginya rumah di surga”. H.R. Ibnu Majah dengan sanad shahih.
Bagi saya, hadits ini memberi pelajaran yang sangat dalam: bahwa dalam pandangan Allah, kontribusi yang kecil dalam sebuah proyek besar tetap memiliki nilai yang agung. Seseorang tidak harus membangun seluruhnya. Tidak harus menjadi penyumbang terbesar. Tidak harus dikenal manusia. Cukup ia ikut mengambil bagian, meski sedikit, tetapi benar-benar lillah. Maka amal itu tetap tercatat, tetap bernilai, tetap bisa menjadi jalan menuju balasan yang besar di akhirat.
Logika inilah yang membuat saya merasa bahwa membantu pesantren yang sudah berjalan pun merupakan pilihan amal yang sangat indah. Mungkin kita tidak membangun satu lembaga utuh atas nama kita sendiri. Mungkin kita hanya membantu sebagian biaya asrama, menggaji beberapa guru, memperbaiki ruang kelas, menyediakan kitab, menambah fasilitas makan santri, atau menopang operasional yang selama ini terseok. Namun bukankah bisa jadi justru bagian-bagian kecil itulah yang sangat menentukan keberlangsungan manfaat yang besar?
Selain itu, saya juga merasa bahwa jalan ini lebih aman untuk menjaga hati. Ketika seseorang membangun sendiri, godaan untuk merasa memiliki, menonjol, atau terlalu lekat dengan identitas lembaga kadang lebih besar. Tentu tidak selalu demikian, dan saya tidak ingin menggeneralisir. Banyak orang yang membangun lembaga sendiri dengan keikhlasan luar biasa. Tetapi bagi diri saya pribadi, membantu yang sudah ada, terlebih jika bisa dilakukan diam-diam, terasa lebih dekat dengan upaya menyelamatkan niat. Tidak sibuk dengan nama, tidak terlalu terikat dengan pengakuan, dan lebih fokus pada harapan agar amal itu diterima Allah.
Saya juga melihatnya dengan perumpamaan yang cukup sederhana. Dalam dunia investasi, seseorang yang bijak tidak selalu tergesa-gesa membangun perusahaan baru di bidang yang belum ia kuasai, sementara di hadapannya ada perusahaan yang sudah berjalan, sudah terbukti manfaatnya, dan hanya membutuhkan penguatan modal agar bisa berkembang lebih besar. Dalam kadar tertentu, saya melihat amal sosial dan pendidikan juga bisa dipahami dengan cara seperti itu. Menaruh harta pada lembaga yang sehat, amanah, dan terbukti bermanfaat sering kali terasa lebih rasional, lebih efektif, dan lebih berdampak daripada memulai sesuatu dari nol tanpa kesiapan yang memadai.
Tentu saja saya sadar, ini bukan rumus baku. Ada kondisi tertentu yang memang menuntut lahirnya lembaga baru. Ada daerah yang belum memiliki pesantren yang memadai. Ada kebutuhan khusus yang belum terjawab oleh lembaga yang ada. Ada pula sosok-sosok tertentu yang memang diberi kemampuan oleh Allah untuk menjadi perintis, pembangun, sekaligus pengelola. Semua itu harus dihormati. Saya tidak sedang mengatakan bahwa membangun pesantren baru adalah pilihan yang keliru. Bukan itu maksud saya.
Yang ingin saya sampaikan hanyalah ini: dalam pandangan pribadi saya, menguatkan lembaga yang telah hidup, memperbesar manfaat yang telah berjalan, dan berkontribusi dalam semangat kebersamaan terasa sebagai pilihan yang sangat layak dipertimbangkan. Bahkan mungkin, dalam banyak keadaan, justru itulah bentuk amal yang lebih realistis, lebih rendah risiko, lebih mudah dijaga keikhlasannya, dan lebih besar daya gunanya bagi umat.
Pada akhirnya, mungkin persoalannya bukan semata apakah kita membangun yang baru atau membantu yang sudah ada. Persoalannya adalah: di mana harta kita bisa memberi manfaat paling nyata, paling luas, dan paling berkelanjutan untuk agama Allah. Dan untuk saya pribadi, jika suatu hari Allah benar-benar melapangkan rezeki, saya merasa lebih tenang bila bisa ikut menjadi penopang bagi pesantren-pesantren yang sudah berjuang, agar mereka tetap kokoh, tetap hidup, dan tetap menebarkan manfaat untuk generasi-generasi setelah kita.
Sebab tidak semua orang harus menjadi pendiri. Ada yang justru lebih tepat menjadi penguat. Ada yang tidak tercatat di papan nama, tetapi namanya dicatat di langit. Dan bisa jadi, di situlah letak kemuliaan amal yang sesungguhnya.
Wallahu a’lam.
Oleh: Aminullah Yasin (Guru di Pesantren Al Andalus, Bogor)
Sumber: Saluran WhatsApp Madrasah Plus








