Syeikh as Sa’di rahimahullah berkata mengenai latihan berfikir:
” *وَكَذَلِكَ التَّفَكُّرُ فِيمَا دَعَا اللَّهُ عِبَادَهُ إِلَى التَّفَكُّرِ فِيهِ؛ مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا أَوْدَعَ فِيهِمَا مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ وَالْمَنَافِعِ لِيَسْتَدِلَّ بِهَا عَلَى التَّوْحِيدِ وَالْمَعَادِ وَالنُّبُوَّةِ وَبَرَاهِينِ ذَلِكَ، وَلِيَسْتَخْرِجَ مَا فِيهَا مِنَ الْمَنَافِعِ النَّافِعَةِ لِلنَّاسِ فِي أُمُورِ دِينِهِمْ وَدُنْيَاهُمْ.
فَمَنْ عَوَّدَ نَفْسَهُ وَدَرَّبَهَا عَلَى كَثْرَةِ التَّفَكُّرِ فِي هَذِهِ الْأُمُورِ وَمَا يَتْبَعُهَا، فَلَا بُدَّ أَنْ تَتَرَقَّى أَفْكَارُهُ وَتَتَّسِعَ دَائِرَةُ عَقْلِهِ وَيَنْشَحِذَ ذِهْنُهُ.
وَمَنْ تَرَكَ التَّفَكُّرَ جَمَدَتْ قَرِيحَتُهُ وَكَلَّ ذِهْنُهُ، وَاسْتَوْلَتْ عَلَيْهِ الْأَفْكَارُ الَّتِي لَا تُسْمِنُ وَلَا تُغْنِي مِنْ جُوعٍ، بَلْ ضَرَرُهَا أَكْثَرُ مِنْ نَفْعِهَا.*”.
“Demikian pula تفكر (merenung/berpikir mendalam) tentang apa yang Allah serukan kepada hamba-hamba-Nya untuk mereka pikirkan; yaitu mengenai langit dan bumi, serta segala makhluk dan manfaat yang Dia titipkan di dalamnya.
Tujuannya adalah agar manusia mengambil dalil dari hal-hal tersebut mengenai Tauhid (Keesaan Allah), Al-Ma’ad (Hari Kebangkitan), kenabian, dan bukti-bukti atas hal itu. Dan juga agar manusia menggali manfaat-manfaat yang berguna bagi mereka, baik dalam urusan agama maupun dunia.
Maka, barang siapa membiasakan dan melatih dirinya untuk banyak berpikir mendalam (tafakkur) dalam urusan-urusan ini dan hal-hal yang mengikutinya, niscaya pemikirannya akan meningkat (tatarqa), cakrawala akalnya akan meluas, dan kecerdasannya akan terasah (yansyahidz dhihnuhu).
Adapun barang siapa meninggalkan tafakkur, maka nalurinya akan membeku (jamadat qarihatuhu), akalnya akan tumpul, dan ia akan dikuasai oleh pikiran-pikiran yang tidak mengenyangkan dan tidak pula mencukupi dari rasa lapar, bahkan bahayanya lebih besar daripada manfaatnya.”
[ Ar-Riyadh An-Nadhirah hal. 155 ]
Syeikh as-Sa’dy menjelaskan bahwa Allah mengajak hamba-Nya untuk merenungi penciptaan langit, bumi, dan segala isinya. Tujuannya ada dua:
Sisi Spiritual: Untuk memperkuat bukti tauhid, hari kebangkitan, dan kebenaran kenabian.
Sisi Praktis: Untuk menggali potensi manfaat alam demi kemaslahatan agama dan dunia.
Seseorang yang melatih akalnya untuk terus berpikir akan mengalami peningkatan kecerdasan dan perluasan cakrawala berpikir. Sebaliknya, orang yang enggan berpikir akan mengalami kemandulan ide, tumpul otak, dan pikirannya hanya akan dipenuhi oleh hal-hal yang tidak bermanfaat.
Pelajaran yang Dapat Diambil
Tafakkur sebagai Ibadah Akal
Berpikir bukan sekadar aktivitas duniawi, melainkan sarana mengenal Allah (Ma’rifatullah) melalui ayat-ayat kauniyah-Nya.
Inovasi dan Eksplorasi
Umat Islam didorong untuk mengekstraksi manfaat dari alam. Ini adalah dasar bagi ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi yang bermanfaat bagi urusan dunia.
Ketajaman Intelektual (The Sharpened Mind)
Kemampuan berpikir adalah otot yang perlu dilatih. Jika dibiasakan (training the mind), ia akan semakin tajam (yansyahidzh dzihnuhu).
Bahaya Pikiran Kosong
Jika akal tidak digunakan untuk memikirkan kebenaran, ia akan otomatis terisi oleh pikiran sampah (sia-sia) yang justru merusak mental dan kualitas hidup seseorang.
Penjelasan ini selaras dengan prinsip mengasah gergaji (sharpen the saw) dan pemikiran mendalam (deep thinking). Berpikir sistematis adalah kunci kesuksesan agama dan dunia.
_Menarik sekali melihat bagaimana ulama klasik menghubungkan ketajaman mental dengan objek tafakkur._
Inti Pesan: Syekh As-Sa’di menekankan bahwa merenungkan ciptaan Allah (langit dan bumi) adalah kunci untuk menguatkan iman (Tauhid dan Ma’ad) sekaligus menghasilkan manfaat duniawi. Latihan berpikir ini akan meningkatkan kecerdasan dan memperluas wawasan seseorang, sebaliknya meninggalkan tafakkur akan menumpulkan akal.
Semoga bermanfaat
Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi Hafidzahullah Ta’ala







