تَيْسِيرُ الْكَرِيمِ الرَّحْمٰنِ فِي تَفْسِيرِ كَلَامِ الْمَنَّانِ
Taisir Karimirrahman fi Tafsir Kalamil Mannan
(Kemudahan dari Yang Maha Pemurah dalam Menafsirkan Firman Yang Maha Pemberi)
Pengarang:
Abdul Rahman bin Nashir bin Abdullah As-Sa’di (wafat tahun 1376 H)
Terjemah:
Muhamad Abid Hadlori, S.Ag.,Lc.
Surah Al-Mulk Ayat 1-4:
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Maha Suci Allah yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang telah menciptakan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya pandangan(mu) akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan ia (pandangan itu) dalam keadaan payah.”
“Maha Suci Allah yang di tangan-Nya segala kerajaan” artinya: Maha Agung dan Maha Tinggi, banyak kebaikan-Nya, dan merata kemurahan-Nya. Dari keagungan-Nya adalah bahwa di tangan-Nya kerajaan alam atas dan bawah, maka Dia-lah yang menciptakannya, dan menguasainya dengan apa yang dikehendaki-Nya, dari ketentuan-ketentuan qadari dan ketentuan-ketentuan syariat yang mengikuti hikmah-Nya. Dan dari keagungan-Nya adalah kesempurnaan kekuasaan-Nya yang dengan itu Dia berkuasa atas segala sesuatu, dan dengan itu pula Dia mewujudkan makhluk-makhluk yang agung seperti langit dan bumi.
Dan Dia menciptakan mati dan hidup, yaitu: Dia menentukan bagi hamba-hamba-Nya bahwa Dia menghidupkan mereka kemudian mematikan mereka, “supaya Dia menguji kamu siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” yaitu: yang paling ikhlas dan paling benar. Sesungguhnya Allah menciptakan hamba-hamba-Nya, dan mengeluarkan mereka ke dunia ini, serta memberitahukan kepada mereka bahwa mereka akan dipindahkan dari sini, lalu memerintahkan dan melarang mereka, serta menguji mereka dengan syahwat-syahwat yang bertentangan dengan perintah-Nya. Maka barang siapa yang tunduk kepada perintah Allah dan berbuat baik, Allah akan membalas dengan kebaikan di kedua alam, dan barang siapa yang mengikuti syahwat nafsu serta mengabaikan perintah Allah, maka baginya balasan yang buruk.
“Dan Dia Maha Perkasa” yang memiliki segala kekuasaan yang dengannya Dia mengalahkan segala sesuatu, dan semua makhluk tunduk kepada-Nya.
“Maha Pengampun” kepada orang-orang yang berbuat jahat, lalai, dan berdosa, khususnya jika mereka bertobat dan kembali kepada-Nya, maka Dia mengampuni dosa-dosa mereka walau setinggi langit, dan menutupi aib-aib mereka walau sepenuh dunia.
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis” yaitu: masing-masing di atas yang lainnya, bukan dalam satu lapisan, dan menciptakannya dalam keadaan sangat indah dan sempurna. “Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang” yaitu: cacat dan kekurangan.
Dan jika kekurangan telah tiadakan dari segala segi, maka jadilah bagus sempurna, seimbang dari segala segi, dalam warna, bentuk, dan ketinggiannya, serta apa yang ada padanya berupa matahari, bulan, dan bintang-bintang yang bercahaya, yang tetap dan yang bergerak.
Dan karena kesempurnaannya sudah diketahui, maka Allah Ta’ala memerintahkan untuk mengulangi pandangan kepadanya dan merenungkan segala sisinya, firman-Nya:
“Maka lihatlah berulang-ulang” yaitu: kembalikanlah pandangan kepadanya sambil memperhatikan dan mengambil pelajaran, “adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang” yaitu: kekurangan dan cacat.
“Kemudian pandanglah sekali lagi” yang dimaksud dengan itu: banyak pengulangan. “Niscaya pandangan(mu) akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan ia (pandangan itu) dalam keadaan payah” yaitu: lemah karena tidak mampu melihat cacat atau kekurangan, walau berusaha sekuat tenaga.
Kemudian Dia menyebutkan secara tegas keindahannya, firman-Nya:
Surah Al-Mulk Ayat 5-10:
“Dan sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa api yang menyala-nyala. Dan orang-orang yang kafir kepada Tuhannya memperoleh azab jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara yang mengerikan dari neraka itu, dan neraka itu menggelegak. Hampir-hampir neraka itu pecah karena amarah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), malaikat penjaganya bertanya kepada mereka: ‘Apakah belum pernah datang kepada kamu seorang pemberi peringatan?’ Mereka menjawab: ‘Benar, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan: Allah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.’ Dan mereka berkata: ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.'”
Artinya: dan sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat yang kalian lihat dan dekat dengan kalian, dengan lampu-lampu yaitu: bintang-bintang, dalam berbagai cahaya dan sinar. Karena seandainya tidak ada bintang-bintang di dalamnya, niscaya langit akan menjadi atap yang gelap, tidak ada keindahan dan kebaggusannya.
Tetapi Allah menjadikan bintang-bintang ini sebagai hiasan langit, keindahan, cahaya, dan petunjuk yang digunakan untuk menunjuk jalan di kegelapan darat dan laut. Dan tidak bertentangan pemberitaan-Nya bahwa Dia menghiasi langit dunia dengan lampu-lampu, dengan adanya banyak bintang di atas tujuh langit, karena langit-langit itu tembus pandang, dan dengan demikian tercapailah hiasan bagi langit dunia, walau bintang-bintang itu tidak berada di dalamnya. “Dan Kami jadikan bintang-bintang itu” yaitu: lampu-lampu, “alat-alat pelempar syaitan” yang ingin mencuri berita langit, maka Allah menjadikan bintang-bintang ini sebagai penjaga langit dari penangkapan syaitan terhadap berita-berita bumi. Maka meteor-meteor yang dilempar dari bintang-bintang ini, Allah sediakan di dunia untuk syaitan-syaitan, “dan Kami sediakan bagi mereka” di akhirat “siksa api yang menyala-nyala” karena mereka durhaka kepada Allah, dan menyesatkan hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu pengikut-pengikut mereka dari kalangan orang kafir seperti mereka, Allah telah sediakan bagi mereka azab api yang menyala-nyala, maka karena itulah Dia berfirman: “Dan orang-orang yang kafir kepada Tuhannya memperoleh azab jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali” yang penghuninya dihinakan serendah-rendahnya.
“Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya” dengan cara penghinaan dan kerendahan “mereka mendengar suara yang mengerikan” yaitu: suara yang tinggi dan menakutkan, “dan neraka itu menggelegak.”
“Hampir-hampir neraka itu pecah karena amarah” yaitu: hampir-hampir dengan berkumpulnya ia, sebagiannya berpisah dari sebagian yang lain, dan terputus-putus karena hebatnya amarahnya kepada orang-orang kafir, maka bagaimana sangkaanmu apa yang dilakukannya kepada mereka, jika mereka telah berada di dalamnya? Kemudian Dia menyebutkan teguran penjaga kepada penghuninya, firman-Nya: “Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), malaikat penjaganya bertanya kepada mereka: ‘Apakah belum pernah datang kepada kamu seorang pemberi peringatan?'” yaitu: keadaan kalian ini dan kepatutan kalian mendapat neraka, seakan-akan kalian tidak diberitahu tentangnya, dan para pemberi peringatan tidak memperingatkan kalian darinya.
“Mereka menjawab: ‘Benar, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan: Allah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.'” Maka mereka menggabungkan antara pendustaan khusus mereka, dan pendustaan umum terhadap semua yang diturunkan Allah. Dan tidak cukup bagi mereka dengan itu, sampai mereka mengumumkan kesesatan para rasul pemberi peringatan, padahal mereka adalah para pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk. Dan mereka tidak puas dengan sekedar kesesatan, tetapi menjadikan kesesatan mereka sebagai kesesatan yang besar. Maka kedengkian, kesombongan, dan kezaliman manakah yang menyamai ini?
“Dan mereka berkata” sambil mengakui ketidaklayakan mereka untuk mendapat hidayah dan petunjuk: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” Maka mereka menafikan dari diri mereka jalan-jalan hidayah, yaitu pendengaran terhadap apa yang diturunkan Allah dan dibawa oleh para rasul, dan akal yang bermanfaat bagi pemiliknya, dan menghentikannya pada hakikat-hakikat perkara, mengutamakan kebaikan, dan menjauhkan diri dari segala yang akibatnya tercela. Maka tidak ada pendengaran bagi mereka dan tidak ada akal, dan ini berlawanan dengan ahli keyakinan dan pengetahuan, dan pemilik kejujuran dan keimanan, karena mereka menguatkan iman mereka dengan dalil-dalil sam’iyyah, maka mereka mendengar apa yang datang dari sisi Allah, dan dibawa oleh Rasulullah, berupa ilmu, pengetahuan, dan amal.
Dan dalil-dalil aqliyyah: pengetahuan tentang petunjuk dari kesesatan, kebaikan dari keburukan, dan kebaikan dari keburukan, dan mereka -dalam keimanan- sesuai dengan apa yang dianugerahkan Allah kepada mereka berupa mengikuti yang masuk akal dan yang dinukil, maka Maha Suci Allah yang mengkhususkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan menganugerahkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya, dan menghinakan orang yang tidak layak untuk kebaikan.
Surah Al-Mulk Ayat 11:
Allah Ta’ala berfirman tentang orang-orang yang masuk neraka ini, yang mengakui kezaliman dan kedengkian mereka: “Maka mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala” yaitu: jauh bagi mereka dan kerugian serta kesengsaraan.
Maka alangkah sengsara dan celakanya mereka, di mana mereka kehilangan pahala Allah, dan mereka senantiasa melekat pada api yang menyala dalam badan-badan mereka, dan menjalar ke hati-hati mereka!
Surah Al-Mulk Ayat 12:
“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.”
Setelah menyebutkan keadaan orang-orang celaka yang durhaka, Dia menyebutkan keadaan orang-orang beruntung yang berbakti, firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak nampak oleh mereka” yaitu: dalam semua keadaan mereka, bahkan dalam keadaan di mana tidak ada yang melihat mereka kecuali Allah, maka mereka tidak melakukan kemaksiatan-kemaksiatan-Nya, dan tidak mengurangi apa yang diperintahkan-Nya. “Mereka akan memperoleh ampunan” untuk dosa-dosa mereka, dan jika Allah mengampuni dosa-dosa mereka; Dia melindungi mereka dari kejahatannya, dan melindungi mereka dari azab neraka, dan bagi mereka pahala yang besar yaitu apa yang disediakan-Nya bagi mereka di surga, berupa kenikmatan yang kekal, kerajaan yang besar, kelezatan-kelezatan yang berkesinambungan, dan hal-hal yang diinginkan, istana-istana dan tempat-tempat tinggi, bidadari-bidadari yang cantik, dan pelayan-pelayan dan anak-anak muda.
Dan yang lebih agung dari itu dan lebih besar adalah keridhaan Ar-Rahman, yang Allah turunkan kepada ahli surga.
Surah Al-Mulk Ayat 13-14:
“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang diciptakan-Nya)? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”
Ini adalah pemberitahuan dari Allah tentang luasnya ilmu-Nya, dan menyeluruhnya kelemahlembutan-Nya, firman-Nya: “Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah” yaitu: semuanya sama bagi-Nya, tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sedikitpun darinya, maka “sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati” yaitu: apa yang ada di dalamnya berupa niat-niat dan kehendak-kehendak, maka bagaimana dengan perkataan dan perbuatan yang didengar dan dilihat?!
Kemudian Dia berfirman -dengan berdalil dengan dalil akal atas ilmu-Nya-: “Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang diciptakan-Nya)?” Maka barang siapa yang menciptakan makhluk dan menyempurnakan serta memperindahnya, bagaimana Dia tidak mengetahuinya?! “Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui” yang halus ilmu dan pengetahuan-Nya, hingga mencapai rahasia-rahasia dan hati nurani, dan hal-hal tersembunyi dan rahasia serta gaib-gaib, dan Dialah yang “mengetahui yang rahasia dan yang lebih tersembunyi.” Dan di antara makna Al-Lathif adalah bahwa Dia yang berlaku lemah lembut kepada hamba dan kekasih-Nya, maka Dia mengalirkan kepadanya kebajikan dan ihsan dari arah yang tidak disadarinya, dan melindunginya dari kejahatan, dari arah yang tidak diperhitungkannya, dan menaikkannya ke derajat-derajat yang tertinggi, dengan sebab-sebab yang tidak terduga oleh hamba, hingga Dia memberikan kepadanya hal-hal yang tidak disukai, untuk sampai dengannya kepada hal-hal yang dicintai yang mulia, dan kedudukan-kedudukan yang mulia.
Surah Al-Mulk Ayat 15:
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”
Yaitu: Dialah yang memudahkan bagi kalian bumi dan menjinakkannya, untuk kalian dapatkan darinya segala yang dibutuhkan kalian, berupa penanaman, bangunan, pertanian, dan jalan-jalan yang dengannya kalian sampai ke negeri-negeri yang jauh dan daerah-daerah yang luas. “Maka berjalanlah di segala penjurunya” yaitu: untuk mencari rezeki dan penghidupan.
“Dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” yaitu: setelah kalian pindah dari dunia ini yang Allah jadikan sebagai ujian, dan bekal yang digunakan untuk menuju alam akhirat, kalian dibangkitkan setelah kematian kalian, dan dikumpulkan kepada Allah, agar Dia membalas kalian atas amal-amal baik dan buruk kalian.
Surah Al-Mulk Ayat 16-18:
“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang? Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit, bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu? Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka alangkah hebatnya akibat penolakan-Ku.”
Ini adalah ancaman dan peringatan, bagi orang yang terus menerus dalam kedurhakaan dan pelanggaran, serta kemaksiatan yang mewajibkan siksaan dan turunnya hukuman, firman-Nya: “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit” yaitu Allah Ta’ala, Yang Maha Tinggi atas makhluk-Nya.
“Bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang” bersama kalian dan bergejolak, hingga merusak dan membinasakan kalian.
“Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit, bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu?” yaitu: azab dari langit yang melempari kalian dengan batu, dan Allah membalas dendam dari kalian. “Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku” yaitu: bagaimana datangnya apa yang diperingatkan kepada kalian oleh para rasul dan kitab-kitab. Maka jangan kalian kira bahwa rasa aman kalian dari Allah bahwa Dia akan menghukum kalian dengan hukuman dari bumi dan dari langit akan bermanfaat bagi kalian, maka kalian akan menemukan akibat urusan kalian, baik waktu diperpanjang bagi kalian atau dipersingkat, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian, mendustakan sebagaimana kalian mendustakan, maka Allah Ta’ala membinasakan mereka, maka lihatlah bagaimana pengingkaran Allah terhadap mereka, Dia menyegerakan kepada mereka hukuman duniawi, sebelum hukuman akhirat, maka hati-hatilah jangan sampai menimpa kalian apa yang menimpa mereka.
Surah Al-Mulk Ayat 19:
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu.”
Dan ini adalah teguran dan dorongan untuk memperhatikan keadaan burung-burung yang dimudahkan Allah, dan dimudahkan baginya udara dan angin, ia mengembangkan sayap-sayapnya di dalamnya untuk terbang, dan mengatupkannya untuk hinggap, maka ia tetap melayang di udara, berputar-putar di dalamnya sesuai dengan kehendak dan kebutuhannya.
“Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah” karena Dialah yang memudahkan baginya udara, dan menjadikan tubuh-tubuh dan penciptaan mereka dalam keadaan siap untuk terbang. Maka barang siapa yang memperhatikan keadaan burung dan mengambil pelajaran darinya, ia akan menunjukkan kepadanya kekuasaan Sang Pencipta, dan perhatian ketuhanan-Nya, dan bahwa Dialah Yang Maha Esa lagi Maha Tunggal, yang tidak pantas disembah kecuali Dia. “Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu” maka Dialah yang mengatur hamba-hamba-Nya dengan apa yang layak bagi mereka, dan dituntut oleh hikmah-Nya.
Surah Al-Mulk Ayat 20-21:
“Atau siapakah dia yang akan menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain daripada Allah Yang Maha Pemurah? Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu. Atau siapakah dia yang dapat memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya? Sebenarnya mereka tetap bersikeras dalam kesesatan dan penolakan (kepada kebenaran).”
Allah Ta’ala berfirman kepada orang-orang yang sombong yang menolak perintah-Nya, yang berpaling dari kebenaran: “Atau siapakah dia yang akan menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain daripada Allah Yang Maha Pemurah?” yaitu: menolongmu jika Ar-Rahman menghendaki kejahatan bagimu, lalu menolaknya dari kalian? Yaitu: siapa yang menolong kalian terhadap musuh-musuh kalian selain Ar-Rahman? Karena Dialah Yang Maha Penolong, Yang Memuliakan, Yang Menghinakan, dan selain-Nya dari makhluk, seandainya mereka berkumpul untuk menolong seorang hamba, tidak akan memberi manfaat kepadanya seberat zarrah, terhadap musuh manapun. Maka kesinambungan orang-orang kafir dalam kekafiran mereka, setelah mereka mengetahui bahwa tidak ada yang menolong mereka selain Ar-Rahman, adalah kekeliruan dan kebodohan.
“Atau siapakah dia yang dapat memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya?” yaitu: rezeki seluruhnya dari Allah, maka seandainya Dia menahan dari kalian rezeki-Nya, siapa yang mengalirkannya untuk kalian? Karena makhluk tidak mampu merezeki diri mereka sendiri, maka bagaimana dengan yang lainnya? Maka Ar-Razzaq Yang Maha Pemberi Nikmat, yang hamba-hamba tidak mendapat nikmat kecuali dari-Nya, Dialah yang berhak untuk disembah sendirian, tetapi orang-orang kafir “bersikeras” yaitu: terus menerus “dalam kesesatan” yaitu: kekerasan hati dan tidak lemah lembut kepada kebenaran “dan penolakan” yaitu: lari dari kebenaran.
Surah Al-Mulk Ayat 22:
“Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapat petunjuk, ataukah orang yang berjalan tegak di atas jalan yang lurus?”
Yaitu: siapa di antara dua orang ini yang lebih mendapat petunjuk? Orang yang tersesat dalam kesesatan, tenggelam dalam kekafiran yang hatinya telah terbalik, sehingga yang benar menurutnya menjadi batil dan yang batil menjadi benar? Ataukah orang yang mengetahui kebenaran, mengutamakannya, mengamalkannya, berjalan di atas jalan yang lurus dalam perkataan, perbuatan, dan semua keadaannya? Maka dengan sekedar melihat kepada keadaan kedua orang ini, diketahui perbedaan antara keduanya, dan yang mendapat petunjuk dari yang sesat di antara keduanya, dan keadaan-keadaan adalah saksi yang lebih besar daripada perkataan-perkataan.
Surah Al-Mulk Ayat 23-26:
“Katakanlah: ‘Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati.’ (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. Katakanlah: ‘Dia-lah yang menjadikan kamu berkembang biak di muka bumi dan kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.’ Mereka berkata: ‘Bilakah janji ini (akan terlaksana) jika kamu adalah orang-orang yang benar?’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan.'”
Allah Ta’ala berfirman -menjelaskan bahwa Dialah yang disembah seorang diri, dan menyeru hamba-hamba-Nya untuk bersyukur kepada-Nya, dan menyembah-Nya seorang diri-: “Katakanlah: ‘Dia-lah yang menciptakan kamu'” yaitu: mewujudkan kalian dari ketiadaan, tanpa ada yang membantu dan mendukung-Nya. Dan ketika Dia menciptakan kalian, Dia sempurnakan bagi kalian wujud dengan pendengaran, penglihatan, dan hati, yang merupakan anggota-anggota tubuh yang paling bermanfaat dan paling sempurna di antara kekuatan-kekuatan jasmaniah. Tetapi dengan semua nikmat ini “(tetapi) amat sedikit kamu bersyukur” kepada Allah, sedikit di antara kalian yang bersyukur, dan sedikit di antara kalian yang bersyukur.
“Katakanlah: ‘Dia-lah yang menjadikan kamu berkembang biak di muka bumi'” yaitu: menyebarkan kalian di penjuru-penjurunya, dan menempatkan kalian di segala sisinya, serta memerintahkan dan melarang kalian, dan mengalirkan kepada kalian nikmat-nikmat yang dengannya kalian memperoleh manfaat, kemudian setelah itu Dia mengumpulkan kalian pada hari kiamat.
Tetapi janji balasan ini, diingkari oleh orang-orang yang menentang ini “dan mereka berkata” dengan mendustakan:
“Bilakah janji ini (akan terlaksana) jika kamu adalah orang-orang yang benar?” Mereka menjadikan tanda kebenaran mereka adalah bahwa mereka memberitahukan waktu kedatangannya, dan ini adalah kezaliman dan kedengkian karena hanyalah ilmu itu ada pada Allah, tidak pada siapapun dari makhluk, dan tidak ada keharusan antara kebenaran berita ini dengan pemberitahuan waktu kedatangannya, karena kebenaran diketahui dengan dalil-dalilnya, dan Allah telah menegakkan dalil-dalil dan bukti-bukti atas kebenarannya yang dengan itu tidak tersisa keraguan sedikit pun bagi orang yang memperhatikan dan menyaksikan.
{Ayat 27-30} {Surat Al-Mulk ayat 27-30}
Ayat 27: “Maka ketika mereka melihat azab itu sudah dekat, muka orang-orang yang kafir menjadi muram, dan dikatakan (kepada mereka): ‘Inilah (azab) yang dahulu kamu minta supaya disegerakan.'”
Ayat 28: “Katakanlah: ‘Bagaimana pendapat kamu, jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersama denganku atau memberi rahmat kepada kami, (maka hal itu tidak akan mengubah nasib kamu), siapakah yang dapat melindungi orang-orang kafir dari azab yang pedih?'”
Ayat 29: “Katakanlah: ‘Dia-lah Allah Yang Maha Penyayang yang kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah kami bertawakkal. Maka kamu akan mengetahui siapakah yang berada dalam kesesatan yang nyata.'”
Ayat 30: “Katakanlah: ‘Bagaimana pendapat kamu jika air kamu menjadi surut ke dalam tanah, maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?'”
Penjelasan:
Maksudnya adalah bahwa tempat pendustaan orang-orang kafir dan keangkuhan mereka terhadapnya ketika mereka berada di dunia. Maka ketika tiba hari pembalasan, dan mereka melihat azab sudah dekat dari mereka, hal itu menyedihkan mereka dan mengejutkan mereka, serta mengguncang hati mereka. Karena itu wajah-wajah mereka berubah, dan mereka dicela karena pendustaan mereka, serta dikatakan kepada mereka: “Inilah yang dahulu kamu dustakan, maka hari ini kamu telah melihatnya dengan mata kepala sendiri, dan urusan telah menjadi jelas bagi kamu, segala sebab telah terputus dari kamu dan tidak tersisa kecuali menghadapi azab secara langsung.”
Dan ketika para pendusta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang menolak dakwahnya, menanti-nanti kebinasaannya dan menunggu-nunggu kematiannya, Allah memerintahkan beliau untuk mengatakan kepada mereka: “Kalian, meskipun angan-angan kalian terwujud dan Allah membinasakan aku beserta orang-orang yang bersamaku, hal itu tidak akan bermanfaat bagi kalian sedikitpun, karena kalian telah mengingkari ayat-ayat Allah dan berhak mendapat azab. Maka siapa yang akan melindungi kalian dari azab yang pedih yang pasti menimpa kalian? Jadi, usaha kalian dan keserakahan kalian terhadap kebinasaanku tidaklah bermanfaat dan tidak akan menolak apapun dari kalian.”
Dan dari perkataan mereka bahwa mereka berada di atas petunjuk, sedangkan Rasul dalam kesesatan, mereka mengulangi hal itu berulang-ulang, berdebat dan berperang karenanya. Maka Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menceritakan tentang keadaannya dan keadaan para pengikutnya, yang dengannya akan jelas bagi setiap orang tentang petunjuk dan ketakwaan mereka, yaitu dengan mengatakan: “Kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah kami bertawakkal.” Iman mencakup pembenaran batin, dan amal-amal batin serta lahir. Dan karena amal-amal, keberadaannya dan kesempurnaannya, bergantung pada tawakkal, maka Allah mengkhususkan tawakkal dari antara semua amal yang lain, padahal ia termasuk dalam iman dan merupakan bagian dari konsekuensi-konsekuensinya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar beriman.” Maka jika inilah keadaan Rasul dan keadaan orang yang mengikutinya, yaitu keadaan yang pasti menuju keberuntungan dan kebahagiaan bergantung padanya, sedangkan keadaan musuh-musuhnya berlawanan dengannya, tidak beriman dan tidak bertawakkal, maka dengan itu diketahui siapa yang berada di atas petunjuk dan siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata.
Kemudian Allah memberitahukan tentang keunikan-Nya dalam memberikan nikmat, khususnya air yang Allah jadikan darinya segala sesuatu yang hidup. Maka Dia berfirman: “Katakanlah: ‘Bagaimana pendapat kamu jika air kamu menjadi surut'” yaitu: hilang ke dalam tanah, “maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir” yang kamu minum darinya, dan kamu beri minum hewan-hewan, pohon-pohon, dan tanaman-tanaman kamu? Dan ini adalah pertanyaan yang bermakna penafian, yaitu: tidak ada seorangpun yang mampu melakukan hal itu selain Allah Ta’ala.
Selesai, dan segala puji bagi Allah.
Surat ini adalah Makkiyyah
Ayat 1-7
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Nun. Demi kalam (pena) dan apa yang mereka tulis. Engkau (wahai Muhammad) bukanlah, berkat nikmat Tuhanmu, seorang yang gila. Dan sesungguhnya engkau benar-benar mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya. Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak engkau akan melihat dan mereka pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dia paling mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Allah bersumpah dengan pena, yaitu nama jenis yang mencakup semua pena yang digunakan untuk menulis berbagai macam ilmu, dan digunakan untuk menulis prosa maupun puisi. Hal itu karena pena dan apa yang mereka tulis dari berbagai macam kalimat termasuk ayat-ayat Allah yang agung, yang patut Allah bersumpah dengannya, atas kebersihan nabi-Nya Muhammad dari tuduhan gila yang dilontarkan musuh-musuhnya kepadanya. Maka Allah menafikan kegilaan darinya dengan nikmat Tuhannya kepadanya dan kebaikan-Nya, di mana Allah menganugerahkan kepadanya akal yang sempurna, pendapat yang matang, dan perkataan yang tegas, yang merupakan sebaik-baik yang pernah ditulis oleh pena dan dicatat oleh manusia. Inilah kebahagiaan di dunia.
Kemudian Allah menyebutkan kebahagiaannya di akhirat, maka Dia berfirman: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar mendapat pahala” yaitu pahala yang besar, sebagaimana ditunjukkan oleh bentuk nakira (tidak tertentu), “yang tidak ada putus-putusnya” artinya tidak terputus, bahkan kekal dan berkesinambungan. Hal itu karena apa yang telah diperbuat Nabi dari amal-amal saleh dan akhlak yang sempurna. Oleh karena itu Allah berfirman: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung” artinya tinggi dengannya, mulia dengan akhlakmu yang Allah anugerahkan kepadamu.
Hakikat akhlak agungnya adalah sebagaimana ditafsirkan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha kepada orang yang bertanya kepadanya tentang hal itu, maka ia berkata: “Akhlaknya adalah Al-Quran.” Dan hal itu seperti firman Allah kepadanya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang jahil” (Al-A’raf: 199). “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka” (Ali Imran: 159). “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (At-Taubah: 128). Dan ayat-ayat serupa yang menunjukkan sifat-sifat mulia Nabi dan ayat-ayat yang mendorong kepada akhlak yang agung.
Maka Nabi memiliki akhlak yang paling sempurna dan paling mulia darinya, dan ia berada di puncak tertinggi dalam setiap sifat tersebut. Nabi adalah sosok yang mudah, lembut, dekat dengan manusia, mengabulkan panggilan orang yang memanggilnya, memenuhi kebutuhan orang yang meminta bantuannya, menenangkan hati orang yang meminta kepadanya, tidak menolaknya dan tidak mengembalikannya dengan kecewa. Jika para sahabatnya menginginkan sesuatu darinya, ia menyetujui mereka dan mengikuti mereka selama tidak ada larangan di dalamnya. Dan jika ia bertekad pada suatu perkara, ia tidak menyendiri tanpa mereka, tetapi bermusyawarah dan meminta pendapat mereka.
Ia menerima dari orang yang berbuat baik di antara mereka dan memaafkan orang yang berbuat salah. Ia tidak pernah bergaul dengan seorang teman kecuali dengan pergaulan yang paling sempurna dan terbaik. Ia tidak pernah bermuka masam kepadanya, tidak kasar dalam perkataannya, tidak menyembunyikan keceriaannya darinya, tidak menahan kesalahan lisannya, dan tidak menyalahkannya atas sikap kasar yang keluar darinya. Bahkan ia berbuat baik kepada temannya dengan sebaik-baiknya dan bersabar kepadanya dengan kesabaran yang luar biasa.
Maka ketika Allah menempatkannya di tempat tertinggi dari segala segi, sementara musuh-musuhnya menuduhnya gila dan terganggu, Allah berfirman: “Maka kelak engkau akan melihat dan mereka pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila.” Dan telah jelas bahwa ia adalah manusia yang paling terpetunjuk dan paling sempurna bagi dirinya dan orang lain, sedangkan musuh-musuhnya adalah manusia yang paling sesat dan paling jahat bagi manusia, dan mereka itulah yang telah memfitnah hamba-hamba Allah dan menyesatkan mereka dari jalan-Nya. Cukuplah dengan pengetahuan Allah akan hal itu, karena Dialah Yang menghisab dan membalas.
“Dan Dia paling mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” Dalam hal ini terdapat ancaman bagi orang-orang yang sesat dan janji bagi orang-orang yang mendapat petunjuk, serta penjelasan tentang hikmah Allah, di mana Dia memberi petunjuk kepada orang yang layak mendapat petunjuk, bukan yang lainnya.
Ayat 8-16
Maka janganlah engkau mengikuti orang-orang yang mendustakan. Mereka ingin agar engkau bersikap lunak (berkompromi), maka mereka pun akan bersikap lunak (kepadamu). Dan janganlah engkau mengikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang suka mencela, yang suka mengadu domba. Yang kikir terhadap kebaikan, yang melampaui batas lagi banyak dosa. Yang kasar, di samping itu (juga) tercelanya keturunan. (Apakah) karena dia mempunyai harta dan anak-anak (maka dia menjadi demikian)? Apabila ayat-ayat Kami dibacakan kepadanya, dia berkata: “Dongeng-dongeng orang terdahulu.”
Allah berfirman kepada nabi-Nya: “Maka janganlah engkau mengikuti orang-orang yang mendustakan” yang telah mendustakanmu dan menentang kebenaran, karena mereka tidak layak untuk diikuti, sebab mereka hanya memerintahkan apa yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, dan mereka hanya menginginkan kebatilan. Maka orang yang mengikuti mereka berarti mengambil langkah yang merugikan dirinya. Ini berlaku umum untuk setiap pendusta dan setiap ketaatan yang lahir dari pendustaan, meskipun konteksnya mengenai hal khusus, yaitu bahwa orang-orang musyrik meminta Nabi untuk diam dari mencela tuhan-tuhan dan agama mereka, dan mereka akan diam tentang Nabi. Oleh karena itu Allah berfirman: “Mereka ingin” yaitu orang-orang musyrik “agar engkau bersikap lunak” yaitu menyetujui mereka dalam sebagian yang mereka yakini, baik dengan perkataan, perbuatan, atau dengan diam tentang apa yang wajib dibicarakan, “maka mereka pun akan bersikap lunak (kepadamu).”
Tetapi sampaikanlah perintah Allah, dan tampakkanlah agama Islam, karena kesempurnaan menampakkannya adalah dengan membantah apa yang bertentangan dengannya dan mencela apa yang menentangnya.
“Dan janganlah engkau mengikuti setiap orang yang banyak bersumpah” yaitu yang sering bersumpah, karena ia tidak akan seperti itu kecuali ia adalah pembohong, dan tidaklah ia pembohong kecuali ia “hina” yaitu jiwa yang rendah, cita-cita yang kurang, tidak memiliki semangat dalam kebaikan, bahkan keinginannya hanya pada nafsu-nafsunya yang rendah.
“Yang suka mencela” yaitu banyak mencela orang dan menyerang mereka dengan ghibah, mengolok-olok, dan lain sebagainya.
“Yang suka mengadu domba” yaitu berjalan di antara manusia dengan namimah (adu domba), yaitu memindahkan perkataan sebagian orang kepada sebagian yang lain dengan tujuan merusak di antara mereka dan menimbulkan permusuhan dan kebencian.
“Yang kikir terhadap kebaikan” yang wajib ia lakukan berupa nafkah-nafkah wajib, kafarat, zakat, dan lain sebagainya. “Yang melampaui batas” kepada makhluk dalam menzalimi mereka pada darah, harta, dan kehormatan. “Lagi banyak dosa” yaitu banyak dosa dan perbuatan yang berkaitan dengan hak Allah.
“Yang kasar, di samping itu” yaitu kasar, buruk budi pekerti, keras, tidak tunduk pada kebenaran. “Tercelanya keturunan” yaitu anak angkat, tidak memiliki asal dan sumber yang menghasilkan kebaikan, bahkan akhlaknya adalah akhlak yang paling buruk, dan tidak diharapkan darinya kebaikan. Ia memiliki tanda keburukan yang dikenal karenanya.
Intinya, Allah melarang untuk menaati setiap orang yang suka bersumpah, pembohong, jiwa yang hina, buruk akhlak, khususnya akhlak yang mengandung kesombongan diri, takabur terhadap kebenaran dan makhluk, meremehkan manusia, seperti ghibah, namimah, mencela mereka, dan banyak bermaksiat.
Ayat-ayat ini – meskipun turun berkenaan dengan sebagian orang musyrik, seperti Al-Walid bin Al-Mughirah atau lainnya, sesuai dengan firman Allah tentangnya: “(Apakah) karena dia mempunyai harta dan anak-anak (maka dia menjadi demikian)? Apabila ayat-ayat Kami dibacakan kepadanya, dia berkata: ‘Dongeng-dongeng orang terdahulu'” yaitu karena banyaknya harta dan anaknya, ia menjadi sombong dan takabur terhadap kebenaran, dan menolaknya ketika datang kepadanya, serta menganggapnya sebagai dongeng-dongeng orang terdahulu yang bisa benar atau salah – maka ayat-ayat ini berlaku umum bagi setiap orang yang memiliki sifat ini, karena Al-Quran turun untuk memberi petunjuk kepada seluruh makhluk, dan mencakup awal umat dan akhir umat. Terkadang turun sebagian ayat karena sebab tertentu atau tentang seseorang untuk memperjelas kaidah umum dan mengetahui hal-hal khusus yang termasuk dalam permasalahan umum.
“Kelak akan Kami beri dia tanda pada belalainya (hidungnya).”
Kemudian Allah mengancam orang yang melakukan apa yang Allah sifatkan, bahwa Allah akan memberi tanda pada hidungnya dalam siksaan, dan akan menyiksanya dengan siksaan yang tampak, yang akan menjadi tanda dan pertanda padanya, pada bagian yang paling berat baginya, yaitu wajahnya.
Ayat 17-33
Sesungguhnya Kami telah menguji mereka sebagaimana Kami menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah akan memetik (buah)nya di waktu pagi. Dan mereka tidak mengucapkan “insya Allah”. Maka berputarlah pada (kebun) itu suatu bencana dari Tuhanmu, sedang mereka tidur.
Hingga akhir kisah, Allah berfirman: Sesungguhnya Kami telah menguji para pendusta ini dengan kebaikan dan memberi mereka tangguh, serta memberi mereka apa yang Kami kehendaki berupa harta, anak, umur panjang, dan semacam itu yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, bukan karena mereka mulia di sisi Kami, bahkan mungkin itu adalah penjerumusan bagi mereka tanpa mereka sadari. Maka tertipu mereka dengan hal itu seperti terpedayanya pemilik kebun yang mereka berserikat di dalamnya, ketika buah-buahnya berkembang, pohon-pohonnya berbuah, dan tiba waktu memetiknya. Mereka yakin bahwa kebun itu ada di tangan mereka dan dalam kekuasaan mereka, dan tidak ada penghalang yang menghalangi mereka darinya. Oleh karena itu mereka bersumpah tanpa pengecualian bahwa mereka akan memetiknya di waktu pagi, dan mereka tidak menyadari bahwa Allah mengintai, dan bahwa azab akan mendahului mereka dan menyusul mereka.
“Maka berputarlah pada (kebun) itu suatu bencana dari Tuhanmu” yaitu azab yang turun padanya di malam hari “sedang mereka tidur” sehingga memusnahkannya dan merusaknya. “Maka jadilah (kebun) itu seperti tanaman yang sudah dipetik buahnya.” Yaitu seperti malam yang gelap, hilang pohon-pohon dan buah-buahnya, sedangkan mereka tidak menyadari musibah yang menimpa ini. Oleh karena itu mereka saling berteriak di antara mereka ketika pagi, sebagian berkata kepada sebagian: “Pergilah pagi-pagi ke tanaman kalian jika kalian hendak memetik (buahnya). Maka berangkatlah mereka” menuju kebun itu “sambil berbisik-bisik: ‘Jangan sekali-kali ada orang miskin yang masuk ke dalamnya menemui kalian pada hari ini.'” Yaitu: bangunlah sebelum orang-orang tersebar, dan mereka saling berwasiat untuk mencegah fakir miskin, dan karena sangat kikir dan bakhilnya mereka, mereka berbisik-bisik dengan pembicaraan ini karena takut ada yang mendengar sehingga memberitahu orang-orang fakir.
“Dan mereka pergi pagi-pagi” dalam keadaan buruk ini, keras hati, dan tidak berbelaskasihan “dengan niat mencegah” yaitu menahan dan mencegah hak Allah, yakin dengan kemampuan mereka atasnya.
“Maka tatkala mereka melihat (kebun itu)” dalam keadaan yang Allah sebutkan seperti tanaman yang sudah dipetik buahnya “mereka berkata” karena bingung dan terkejut: “Sesungguhnya kita benar-benar tersesat” yaitu: tersesat darinya, mungkin ini bukan kebun kita. Ketika mereka yakin bahwa itu kebun mereka dan akal mereka kembali, mereka berkata: “Bahkan kita benar-benar tidak mendapat bagian (apa-apa).” Mereka menyadari saat itu bahwa itu adalah hukuman. Maka “yang paling adil di antara mereka berkata” yaitu yang paling adil dan paling baik jalannya: “Bukankah aku sudah mengatakan kepada kalian: ‘Mengapa kalian tidak bertasbih (kepada Allah)?'” Yaitu: mensucikan Allah dari apa yang tidak layak bagi-Nya, termasuk dugaan kalian bahwa kekuatan kalian berdiri sendiri. Seharusnya kalian membuat pengecualian dan berkata: “Insya Allah” dan menjadikan kehendak kalian mengikuti kehendak Allah, niscaya tidak akan terjadi kepada kalian apa yang telah terjadi.
Maka mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.” Yaitu: mereka menyesal setelah itu, tetapi setelah azab menimpa kebun mereka yang tidak dapat ditolak lagi. Tetapi mungkin tasbih mereka ini dan pengakuan mereka atas kezaliman diri mereka bermanfaat dalam meringankan dosa dan menjadi taubat. Oleh karena itu mereka menyesal dengan penyesalan yang besar.
“Lalu sebagian dari mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling menyalahkan.” Tentang apa yang mereka lakukan.
“Mereka berkata: ‘Aduhai celaka kami! Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang melampaui batas.'” Yaitu: melampaui batas dalam hak Allah dan hak hamba-hamba-Nya.
“Mudah-mudahan Tuhan kami akan memberi kami gantinya yang lebih baik daripada itu. Sesungguhnya kami berharap kepada Tuhan kami.” Maka mereka berharap kepada Allah agar memberi mereka ganti yang lebih baik darinya, dan berjanji bahwa mereka akan berharap kepada Allah dan memohon kepada-Nya dengan sungguh-sungguh di dunia. Jika mereka benar-benar seperti yang mereka katakan, maka tampaknya Allah memberi mereka ganti di dunia yang lebih baik darinya, karena orang yang berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh, berharap kepada-Nya dan memohon kepada-Nya, Allah akan mengabulkan permohonannya.
Allah berfirman menjelaskan apa yang terjadi: “Demikianlah azab (Kami)” yaitu azab duniawi bagi orang yang melakukan sebab-sebab azab, yaitu Allah mencabut dari hamba sesuatu yang membuatnya sombong dan durhaka, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, serta menghilangkannya darinya ketika ia sangat membutuhkannya.
“Dan sesungguhnya azab akhirat itu lebih besar seandainya mereka mengetahui.” Karena orang yang mengetahui hal itu akan menjauhkan diri dari setiap sebab yang mendatangkan azab dan menurunkan hukuman.
Ayat 34-41
Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) di sisi Tuhan mereka surga-surga yang penuh kenikmatan. Patutkah Kami menjadikan orang-orang yang berserah diri (kepada Kami) sama dengan orang-orang yang berdosa? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Ataukah kamu mempunyai sebuah kitab yang kamu pelajari dari padanya. Bahwa sesungguhnya kamu akan memperoleh apa yang kamu pilih? Ataukah kamu mempunyai perjanjian dengan Kami yang berlaku sampai hari kiamat, bahwa sesungguhnya kamu akan memperoleh apa yang kamu putuskan? Tanyakanlah kepada mereka: “Siapa di antara mereka yang menjamin hal yang demikian itu?” Ataukah mereka mempunyai sekutu-sekutu (tuhan)? Maka hendaklah mereka datangkan sekutu-sekutu mereka itu jika mereka orang-orang yang benar.
Allah mengabarkan tentang apa yang telah Dia siapkan bagi orang-orang yang bertakwa dari kekafiran dan kemaksiatan, berupa berbagai macam kenikmatan dan kehidupan yang sempurna di sisi Yang Paling Mulia dari yang mulia. Dan bahwa hikmah Allah tidak menghendaki menjadikan orang-orang muslim yang taat kepada Tuhan mereka, tunduk pada perintah-perintah-Nya, mengikuti apa yang diridhai-Nya, sama dengan orang-orang yang berdosa yang tenggelam dalam kemaksiatan-Nya, kufur terhadap ayat-ayat-Nya, menentang rasul-rasul-Nya, dan memerangi wali-wali-Nya. Dan bahwa orang yang mengira Allah akan menyamakan mereka dalam pahala, maka ia telah salah dalam keputusan, dan keputusannya adalah keputusan yang batil, dan pendapatnya rusak.
Dan bahwa orang-orang yang berdosa jika mengklaim hal itu, maka mereka tidak memiliki sandaran, tidak ada kitab yang mereka pelajari di dalamnya bahwa mereka termasuk ahli surga, dan bahwa mereka akan mendapat apa yang mereka minta dan pilih.
Dan mereka tidak memiliki perjanjian dan sumpah yang kuat di sisi Allah sampai hari kiamat bahwa mereka akan mendapat apa yang mereka putuskan. Dan mereka tidak memiliki sekutu dan penolong untuk mencapai apa yang mereka minta. Jika mereka memiliki sekutu dan penolong, maka hendaklah mereka datangkan jika mereka orang-orang yang benar. Dan telah diketahui bahwa semua itu tidak ada, maka mereka tidak memiliki kitab, tidak memiliki perjanjian di sisi Allah dalam keselamatan, dan tidak memiliki sekutu yang menolong mereka. Maka diketahui bahwa klaim mereka batil dan rusak.
Dan firman-Nya: “Tanyakanlah kepada mereka: ‘Siapa di antara mereka yang menjamin hal yang demikian itu?'” Yaitu: siapa di antara mereka yang menjamin klaim palsu ini, karena tidak mungkin memimpin dan memimpin di dalamnya.
Ayat 42-43
Pada hari ketika betis disingkapkan dan mereka diseru untuk sujud, maka mereka tidak kuasa (melakukannya). Pandangan mereka tunduk, mereka diliputi kehinaan. Padahal dahulu mereka pernah diseru untuk sujud ketika mereka (masih) selamat.
Yaitu: ketika hari kiamat, dan tersingkap di dalamnya dari kegelisahan, goncangan, dan kengerian yang tidak dapat dibayangkan, dan datang Pencipta untuk memutuskan perkara di antara hamba-hamba-Nya dan membalas mereka, maka Dia menyingkap betis-Nya yang mulia yang tidak ada yang menyerupainya, dan makhluk melihat dari keagungan Allah dan kebesaran-Nya yang tidak dapat dinyatakan, maka saat itu mereka diseru untuk sujud kepada Allah. Maka orang-orang mukmin yang dahulu sujud kepada Allah dengan sukarela dan pilihan akan sujud, dan orang-orang fasik munafik akan pergi hendak sujud tetapi tidak mampu sujud, dan punggung mereka menjadi seperti tanduk sapi, tidak bisa membungkuk. Ini adalah balasan yang sesuai dengan perbuatan mereka, karena mereka dahulu diseru di dunia untuk sujud kepada Allah, mentauhidkan-Nya, menyembah-Nya, dan mereka sehat, tidak ada penyakit pada mereka, tetapi mereka sombong dan menolak.
Maka jangan bertanya tentang keadaan mereka dan buruknya nasib mereka saat itu, karena Allah telah murka kepada mereka, dan ketetapan azab telah berlaku atas mereka, terputuslah segala sebab mereka, dan tidak bermanfaat bagi mereka penyesalan dan permintaan maaf di hari kiamat. Dalam hal ini terdapat yang menggetarkan hati dari bermukim dalam kemaksiatan dan mewajibkan memperbaiki selagi masih mungkin. Oleh karena itu Allah berfirman:
Ayat 44-52
Maka biarkanlah Aku dengan orang yang mendustakan perkataan ini (Al-Quran). Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kehancuran) dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku beri mereka tangguh. Sesungguhnya tipu daya-Ku amat teguh. Ataukah engkau meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani hutang? Ataukah mereka mengetahui yang ghaib lalu mereka menuliskannya? Maka sabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah. Kalau tidaklah ia termasuk orang-orang yang banyak berzikir. Niscaya ia akan tetap tinggal dalam perut ikan sampai hari mereka dibangkitkan. Kemudian Tuhannya memilihnya, maka dijadikan-Nya ia termasuk orang-orang yang saleh. Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar (bermaksud) menjatuhkanmu dengan pandangan mata mereka, ketika mereka mendengar Al-Quran dan mereka berkata: “Sesungguhnya dia benar-benar gila.” Padahal Al-Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam.
Yaitu: biarkanlah Aku dengan orang-orang yang mendustakan Al-Quran yang agung, karena pembalasan mereka ada pada-Ku, dan jangan tergesa-gesa untuk mereka. “Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur dengan cara yang tidak mereka ketahui” maka Kami beri mereka tambahan harta dan anak, Kami beri mereka tambahan rezeki dan pekerjaan, agar mereka tertipu dan terus pada apa yang merugikan mereka. Dan ini termasuk tipu daya Allah kepada mereka, dan tipu daya Allah kepada musuh-musuh-Nya kokoh dan kuat, mencapai kerugian dan azab mereka melebihi segala batas.
“Ataukah engkau meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani hutang?” Yaitu: bukan karena penolakan mereka terhadapmu dan ketidakpercayaan mereka pada apa yang engkau bawa, ada sebab yang mewajibkan hal itu bagi mereka, karena engkau mengajari mereka dan menyeru mereka kepada Allah, murni demi kemaslahatan mereka, tanpa meminta harta mereka yang memberatkan mereka.
“Ataukah mereka mengetahui yang ghaib lalu mereka menuliskannya” apa yang ada pada mereka dari hal-hal ghaib, dan telah mereka temukan di dalamnya bahwa mereka benar, dan bahwa mereka mendapat pahala di sisi Allah? Ini adalah perkara yang tidak ada, dan sesungguhnya keadaan mereka adalah keadaan penentang yang zalim.
Maka tidak tersisa kecuali sabar terhadap gangguan mereka, dan bertahan terhadap apa yang keluar dari mereka, serta terus menyeru mereka. Oleh karena itu Allah berfirman: “Maka sabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu” yaitu terhadap apa yang Dia tetapkan secara syariat dan takdir. Ketetapan takdir, bersabarlah terhadap yang menyakitkan darinya, dan jangan menerima dengan murka dan gelisah. Ketetapan syariat, hadapi dengan penerimaan, penyerahan, dan ketundukan penuh pada perintah-Nya.
Dan firman-Nya: “Dan janganlah engkau seperti orang yang berada dalam (perut) ikan” yaitu Yunus bin Matta, alaihi shalatu wa salam. Artinya: jangan menyerupainya dalam keadaan yang membawanya dan menyebabkan ia terkurung dalam perut ikan, yaitu ketidaksabarannya terhadap kaumnya dengan kesabaran yang diharapkan darinya, dan perginya dalam keadaan murka kepada Tuhannya, hingga ia naik kapal di laut. Maka penumpang kapal mengundi ketika kapal menjadi berat karena penumpangnya, siapa yang akan dilempar agar kapal menjadi ringan, maka undian jatuh padanya sehingga ikan memangsa dia dalam keadaan tercela.
[Dan firman-Nya] “Ketika dia berseru dan dia dalam keadaan terkurung” (Surat Al-Qalam ayat 48) artinya: dia berada di dalam perut ikan paus yang mengurungnya, atau dia berseru dalam keadaan sedih dan gelisah dengan mengucapkan “Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim” (Surat Al-Anbiya ayat 87). Maka Allah mengabulkan doanya, dan ikan paus memuntahkannya dari perutnya ke tanah lapang dalam keadaan sakit. Allah menumbuhkan untuknya pohon labu. Karena itulah Allah berfirman di sini: “Kalau sekiranya dia tidak mendapat nikmat dari Tuhannya, niscaya dia akan dilemparkan ke tanah lapang” (Surat Al-Qalam ayat 49) artinya: dia akan dibuang ke tanah lapang, yaitu tanah yang kosong “dalam keadaan tercela”. Namun Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadanya, sehingga dia dilemparkan dalam keadaan terpuji, dan keadaannya menjadi lebih baik dari keadaan semula. Karena itulah Allah berfirman: “Maka Tuhannya memilihnya” (Surat Al-Qalam ayat 50) artinya: Allah memilih, memilahnya, dan membersihkannya dari segala kotoran, “lalu menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh” yaitu orang-orang yang baik amal perbuatan, perkataan, niat, dan keadaan mereka.
Maka Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mematuhi perintah Tuhannya, dan bersabar terhadap ketetapan Tuhannya dengan kesabaran yang tidak ada seorang pun di antara penduduk dunia yang dapat menandinginya. Allah menjadikan baginya akibat yang baik “dan akibat yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa” (Surat Al-A’raf ayat 128). Musuh-musuhnya tidak mendapatkan darinya kecuali hal yang menyedihkan mereka, hingga mereka berusaha keras untuk “melirik tajam dengan mata mereka” (Surat Al-Qalam ayat 51) yaitu menyakitinya dengan pandangan mata mereka karena dengki, kemarahan, dan kebencian mereka. Ini adalah batas maksimal kerusakan nyata yang dapat mereka lakukan, sedangkan Allah adalah pelindung dan penolongnya. Adapun kerusakan ucapan, mereka mengatakan tentang beliau berbagai perkataan sesuai dengan bisikan hati mereka, kadang mereka berkata “gila”, kadang “penyihir”, dan kadang “penyair”.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam” (Surat Al-Qalam ayat 52) artinya: Al-Quran yang mulia ini dan peringatan yang bijaksana ini tidak lain adalah peringatan bagi semesta alam, mereka mengingat dengannya kemaslahatan agama dan dunia mereka.
Selesai tafsir Surat Al-Qalam, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.
Surat ini Makiyyah
{Ayat 1-8} “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hari kiamat. Apakah hari kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu? Kaum Tsamud dan ‘Ad telah mendustakan hari kiamat. Adapun Tsamud, mereka telah dibinasakan dengan suara keras yang memekakkan telinga. Dan adapun ‘Ad, mereka dibinasakan dengan angin yang amat gemuruh lagi amat keras, yang Allah menimpakan kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus; maka kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul kurma yang telah kosong (lapuk). Maka adakah kamu lihat seorang pun yang tersisa di antara mereka?” (Surat Al-Haqqah ayat 1-8).
“Al-Haqqah” adalah salah satu nama hari kiamat, karena ia akan benar-benar terjadi dan menimpa makhluk, dan akan tampak di dalamnya hakikat-hakikat perkara serta rahasia-rahasia hati. Allah mengagungkan kedudukannya dan membesarkannya dengan pengulangan firman-Nya: “Hari kiamat. Apakah hari kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu?” Sesungguhnya hari itu memiliki kedudukan yang agung dan kengerian yang dahsyat, dan di antara keagungannya adalah bahwa Allah membinasakan umat-umat yang mendustakannya dengan azab yang segera.
Kemudian Allah menyebutkan contoh dari keadaan-keadaan yang ada di dunia yang dapat disaksikan, yaitu hukuman-hukuman berat yang Allah timpakan kepada umat-umat yang durhaka. Allah berfirman: “Kaum Tsamud telah mendustakan” yaitu suku yang terkenal, penghuni Hijr, yang Allah utus kepada mereka rasul-Nya Salih alaihissalam untuk melarang mereka dari kesyirikan yang mereka lakukan dan memerintahkan mereka bertauhid. Mereka menolak seruannya, mendustakannya, dan mendustakan apa yang dia kabarkan kepada mereka tentang hari kiamat, yaitu Al-Qari’ah (hari kiamat) yang akan menggoncang makhluk dengan kehebatannya. Demikian juga kaum ‘Ad yang pertama, penghuni Hadramaut, ketika Allah mengutus kepada mereka rasul-Nya Hud alaihissalam yang menyeru mereka untuk menyembah Allah saja. Mereka mendustakannya dan mendustakan apa yang dia kabarkan tentang kebangkitan. Maka Allah membinasakan kedua kelompok tersebut dengan kebinasaan yang dipercepat.
“Adapun Tsamud, mereka telah dibinasakan dengan suara keras yang memekakkan telinga” yaitu teriakan dahsyat yang mengerikan, yang membuat hati mereka terbelah dan roh mereka melayang, sehingga mereka mati dan yang terlihat hanyalah rumah-rumah dan mayat-mayat mereka.
“Dan adapun ‘Ad, mereka dibinasakan dengan angin yang amat gemuruh” yaitu kuat dan sangat keras hembusan yang suaranya lebih keras dari suara petir yang membelah “lagi amat keras” yaitu melampaui batas terhadap penjaga-penjaganya menurut pendapat banyak mufassir, atau melampaui batas terhadap kaum ‘Ad dan melampaui batas sebagaimana pendapat yang benar.
“Yang Allah menimpakan kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus” yaitu sial dan keburukan yang mengerikan bagi mereka, sehingga menghancurkan dan membinasakan mereka. “Maka kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan” yaitu binasa dan mati “seakan-akan mereka tunggul kurma yang telah kosong” yaitu seperti batang-batang kurma yang telah dipotong ujungnya, kosong, dan sebagian jatuh menimpa sebagian lainnya.
“Maka adakah kamu lihat seorang pun yang tersisa di antara mereka?” Ini adalah pertanyaan yang bermakna penafian yang pasti.
{Ayat 9-12} “Dan datanglah Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya serta negeri-negeri yang dijungkirbalikkan karena kesalahan. Maka mereka mendurhakai rasul Tuhan mereka, lalu Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang amat keras. Sesungguhnya ketika air naik (pada zaman Nuh), Kami angkut kamu ke dalam bahtera yang terapung, agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diingat oleh telinga yang mau mendengar” (Surat Al-Haqqah ayat 9-12).
Artinya: demikian juga selain kedua umat yang durhaka ini, ‘Ad dan Tsamud, datang yang lain dari para pendurhaka yang keras kepala seperti Fir’aun Mesir yang Allah utus kepadanya hamba dan rasul-Nya Musa bin Imran alaihissalam dan memperlihatkan kepadanya tanda-tanda yang jelas sehingga mereka yakin dengan kebenaran, tetapi mereka mengingkarinya dan kafir karena kezaliman dan kesombongan. Dan datang sebelumnya orang-orang yang mendustakan, “dan negeri-negeri yang dijungkirbalikkan” yaitu negeri-negeri kaum Lut. Semuanya datang “karena kesalahan” yaitu dengan perbuatan yang melampaui batas, yaitu kekafiran, pendustaan, kezaliman, pembangkangan, dan yang menyertainya dari berbagai jenis kekejian dan kefasikan.
“Maka mereka mendurhakai rasul Tuhan mereka” dan ini adalah nama jenis, yaitu setiap orang dari mereka mendustakan rasul yang Allah utus kepada mereka. Maka Allah menyiksa semuanya “dengan siksaan yang amat keras” yaitu melampaui batas dan ukuran yang dengannya terjadi kebinasaan mereka.
Di antara mereka adalah kaum Nuh yang Allah tenggelamkan di lautan ketika air meluap di muka bumi dan naik ke tempat-tempat yang tinggi. Allah menganugerahkan kepada makhluk yang ada setelah mereka bahwa Allah mengangkut mereka “ke dalam bahtera yang terapung” yaitu kapal, dalam tulang punggung bapak-bapak dan ibu-ibu mereka yang Allah selamatkan.
Maka bersyukurlah kepada Allah dan berterima kasihlah kepada-Nya yang menyelamatkan kalian ketika membinasakan orang-orang yang durhaka dan ambillah pelajaran dari tanda-tanda-Nya yang menunjukkan keesaan-Nya. Karena itulah Allah berfirman: “agar Kami jadikan peristiwa itu” yaitu bahtera dan yang dimaksud adalah jenisnya, “peringatan bagi kamu” yang mengingatkan kalian pada kapal pertama yang dibuat, apa kisahnya, dan bagaimana Allah menyelamatkan di atasnya orang-orang yang beriman kepada-Nya dan mengikuti rasul-Nya serta membinasakan seluruh penduduk bumi. Sesungguhnya jenis sesuatu mengingatkan pada asalnya.
Dan firman-Nya: “dan agar diingat oleh telinga yang mau mendengar” yaitu dipahami oleh orang-orang yang berakal dan mereka mengetahui maksudnya serta segi pelajaran darinya.
Ini berbeda dengan orang-orang yang berpaling dan lalai serta orang-orang yang tumpul dan tidak cerdas, karena mereka tidak mendapat manfaat dari tanda-tanda Allah karena tidak memahami dari Allah dan tidak memikirkan tanda-tanda Allah.
{Ayat 13-18} “Apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itulah terjadi hari kiamat. Dan terbelahlah langit, maka pada hari itu langit menjadi lemah. Dan malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Allah), tidak ada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi” (Surat Al-Haqqah ayat 13-18).
Setelah menyebutkan apa yang Allah lakukan terhadap orang-orang yang mendustakan rasul-rasul-Nya dan bagaimana Dia membalas mereka serta menyegerakan hukuman bagi mereka di dunia, dan bahwa Allah menyelamatkan para rasul dan pengikut-pengikut mereka, hal ini menjadi pendahuluan untuk menyebutkan balasan akhirat dan penyempurnaan pembalasan amal secara lengkap pada hari kiamat. Maka Allah menyebutkan perkara-perkara menakutkan yang terjadi menjelang kiamat, dan yang pertama adalah Israfil meniup “sangkakala” ketika jasad-jasad telah sempurna tumbuh. “Sekali tiup” maka keluarlah roh-roh dan masuklah setiap roh ke jasadnya, maka tiba-tiba manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.
“Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur” yaitu gunung-gunung hancur dan lenyap, tercampur dengan bumi dan tersebar di atas bumi, sehingga semuanya menjadi dataran yang rata, tidak terlihat lekukan dan bukit. Inilah yang terjadi pada bumi dan apa yang ada di atasnya.
Adapun yang terjadi pada langit, ia akan bergoncang dan bergerak serta terbelah dan berubah warnanya, dan menjadi lemah setelah kekuatan dan kekukuhan yang besar itu. Hal itu tidak lain karena perkara besar yang mengganggunya dan kesedihan yang besar dan menakutkan yang melemahkan dan meringankannya.
“Dan malaikat” yaitu para malaikat yang mulia “berada di penjuru-penjuru langit” yaitu di sisi-sisi dan sudut-sudut langit, tunduk kepada Tuhan mereka, merendahkan diri karena keagungan-Nya.
“Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka” yaitu malaikat-malaikat yang sangat kuat ketika Allah datang untuk memutuskan di antara hamba-hamba dan memutuskan di antara mereka dengan keadilan, kebenaran, dan karunia-Nya.
Karena itulah Allah berfirman: “Pada hari itu kamu dihadapkan” kepada Allah “tidak ada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi” tidak dari tubuh dan jasad kalian maupun dari amal-amal dan sifat-sifat kalian, karena sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata.
Para hamba dibangkitkan dalam keadaan telanjang kaki, telanjang badan, dan tidak bersunat di bumi yang rata, yang dapat mendengar seruan penyeru dan dapat dilihat oleh pandangan. Pada saat itulah Allah membalas mereka sesuai dengan apa yang mereka kerjakan. Karena itulah Allah menyebutkan cara pembalasan, maka Dia berfirman:
{Ayat 19-24} “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: ‘Ambillah, bacalah kitabku (ini). Sesungguhnya aku yakin, bahwa aku akan menemui perhitunganku.’ Maka dia berada dalam kehidupan yang diridai, (yaitu) di dalam syurga yang tinggi, buah-buahannya dekat. (Kepada mereka dikatakan): ‘Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu'” (Surat Al-Haqqah ayat 19-24).
Mereka inilah orang-orang yang berbahagia. Mereka diberi kitab-kitab mereka yang berisi amal-amal saleh mereka dengan tangan kanan mereka sebagai pembeda bagi mereka, penghormatan terhadap kedudukan mereka, dan peninggian derajat mereka. Salah seorang di antara mereka berkata ketika itu karena kegembiraan dan kebahagiaan serta kecintaan agar makhluk melihat karunia yang Allah anugerahkan kepadanya: “Ambillah, bacalah kitabku (ini)” yaitu ambillah kitabku dan bacalah, karena ia memberikan kabar gembira tentang surga-surga dan berbagai jenis kemuliaan serta ampunan dosa-dosa dan penutupan aib-aib.
Yang mengantarkanku pada keadaan ini adalah apa yang Allah anugerahkan kepadaku berupa keimanan kepada kebangkitan dan hisab serta persiapan untuknya dengan amal yang mungkin. Karena itulah dia berkata: “Sesungguhnya aku yakin, bahwa aku akan menemui perhitunganku” yaitu aku yakin, maka “zan” di sini bermakna keyakinan.
“Maka dia berada dalam kehidupan yang diridai” yaitu yang mencakup apa yang diinginkan jiwa-jiwa dan menyenangkan mata, dan mereka ridha dengannya serta tidak memilih selainnya.
“(yaitu) di dalam syurga yang tinggi” tempat-tempat tinggal dan istana-istana yang tinggi kedudukannya.
“Buah-buahannya dekat” yaitu buah-buahan dan hasil panennya dari berbagai jenis buah-buahan yang dekat dan mudah dijangkau oleh penghuninya. Penghuni surga dapat meraihnya baik dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring.
Dan dikatakan kepada mereka sebagai penghormatan: “Makan dan minumlah” yaitu dari setiap makanan yang lezat dan minuman yang nikmat, “dengan sedap” yaitu sempurna tanpa ada yang mengotori dan mengganggu.
Balasan itu kalian peroleh “disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu” dari amal-amal saleh dan meninggalkan amal-amal buruk, seperti salat, puasa, sedekah, haji, berbuat baik kepada makhluk, zikir kepada Allah, dan kembali kepada-Nya.
Maka amal-amal perbuatan dijadikan Allah sebagai sebab untuk memasuki surga dan bahan untuk kenikmatan surga serta dasar untuk kebahagiaannya.
Surat Al-Haaqah ayat 25-37:
“Dan adapun orang yang diberikan kitabnya dengan tangan kirinya, maka dia berkata: ‘Aduhai, alangkah baiknya jika aku tidak diberikan kitabku ini, dan aku tidak mengetahui perhitunganku. Aduhai, alangkah baiknya kematian itu saja yang menyelesaikan segala-galanya. Hartaku sama sekali tidak bermanfaat bagiku. Telah lenyap kekuasaanku dariku.’ (Allah berfirman): ‘Tangkaplah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya, kemudian masukkan dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala, kemudian dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta, belitlah dia.'”
Mereka ini adalah ahli kesengsaraan yang diberikan buku catatan amal-amal buruk mereka dengan tangan kiri mereka sebagai pembeda bagi mereka dan sebagai kehinaan, aib, dan kemaluan. Maka salah satu dari mereka berkata karena kesedihan, duka cita, dan kehinaan: “Aduhai, alangkah baiknya jika aku tidak diberikan kitabku ini” karena buku itu mengabarkan tentang masuknya ke neraka dan kerugian yang abadi.
“Dan aku tidak mengetahui perhitunganku” yaitu: andaikan saja aku menjadi sesuatu yang terlupakan dan tidak dibangkitkan serta dihisab. Oleh karena itu dia berkata:
“Aduhai, alangkah baiknya kematian itu saja yang menyelesaikan segala-galanya” yaitu: andaikan saja kematianku adalah kematian yang tidak ada kebangkitan setelahnya.
Kemudian dia menoleh kepada harta dan kekuasaannya, ternyata itu menjadi bencana baginya karena dia tidak mengirimkan sesuatu darinya untuk akhiratnya, dan tidak bermanfaat baginya untuk menebus dari azab Allah. Maka dia berkata: “Hartaku sama sekali tidak bermanfaat bagiku” yaitu: tidak bermanfaat bagiku, tidak di dunia karena aku tidak mengirimkan sesuatu darinya, dan tidak di akhirat karena waktu manfaatnya telah berlalu.
“Telah lenyap kekuasaanku dariku” yaitu: hilang dan musnah sehingga tidak bermanfaat tentara yang banyak, jumlah yang besar, kedudukan yang tinggi, bahkan semua itu hilang lenyap, dan karena itu terlewatlah kesempatan perdagangan dan keuntungan, dan hadir sebagai gantinya kesedihan, duka cita, dan penderitaan. Maka ketika itu diperintahkan untuk menyiksanya, dikatakan kepada para malaikat penjaga yang kasar dan keras: “Tangkaplah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya” yaitu: berilah di lehernya belenggu yang mencekiknya.
“Kemudian masukkan dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala” yaitu: bolak-baliklah dia di atas bara dan api neraka.
“Kemudian dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta” dari rantai-rantai neraka yang sangat panas “belitlah dia” yaitu: masukkan dia ke dalamnya dengan cara memasukkan rantai dari duburnya dan mengeluarkannya dari mulutnya, dan dia digantung padanya. Maka dia senantiasa disiksa dengan siksaan yang mengerikan ini. Maka seburuk-buruk siksaan dan hukuman, dan betapa celakanya orang yang mendapat teguran keras dan celaan.
Sesungguhnya sebab yang mengantarkannya ke tempat ini: “Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar” yaitu dia adalah orang kafir kepada Tuhannya, menentang para rasul-Nya, menolak apa yang mereka bawa berupa kebenaran.
“Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin” yaitu: tidak ada rasa kasih sayang di hatinya untuk merahmati orang-orang fakir dan miskin sehingga dia tidak memberi makan mereka dari hartanya dan tidak menganjurkan orang lain untuk memberi makan mereka, karena tidak ada penghalang dalam hatinya. Dan itu karena pokok kebahagiaan dan bahan dasarnya adalah dua perkara: keikhlasan kepada Allah yang dasarnya adalah beriman kepada Allah, dan berbuat baik kepada makhluk dengan berbagai macam kebaikan, yang di antara yang terbesar adalah menghilangkan kebutuhan orang-orang yang memerlukan dengan memberi makan mereka apa yang mereka butuhkan untuk hidup. Dan mereka ini tidak memiliki keikhlasan dan tidak berbuat baik, maka karena itu mereka mendapat balasan yang pantas mereka terima.
“Maka tidak ada baginya pada hari ini seorang teman setia pun, dan tidak ada makanan kecuali dari darah dan nanah, yang tidak memakannya kecuali orang-orang yang berdosa.”
“Maka tidak ada baginya pada hari ini” yaitu: hari kiamat “seorang teman setia” yaitu: kerabat atau sahabat yang memberi syafa’at baginya agar selamat dari azab Allah atau memperoleh pahala Allah: “Dan syafa’at tidak bermanfaat di sisi-Nya kecuali bagi orang yang diizinkan-Nya” “Tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang teman setia pun dan tidak ada pemberi syafa’at yang ditaati.”
Dan tidak ada baginya makanan kecuali dari darah dan nanah yaitu darah dan nanah ahli neraka, yang sangat panas, bau busuknya sangat menyengat, rasanya sangat buruk dan pahit. Tidak ada yang memakan makanan yang tercela ini “kecuali orang-orang yang berdosa” yang telah salah dari jalan yang lurus dan menempuh jalan-jalan neraka. Maka karena itu mereka pantas mendapat azab yang pedih.
Surat Al-Haaqah ayat 38-52:
“Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat, dan apa yang tidak kamu lihat, sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril). Dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan penyair. Sedikit sekali kamu beriman. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami untuk menghukumnya). Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Dan sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang-orang yang mendustakan(nya). Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar penyesalan bagi orang-orang kafir. Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kebenaran yang diyakini. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar.”
Allah Ta’ala bersumpah dengan apa yang dilihat makhluk dari segala sesuatu dan apa yang tidak mereka lihat, maka masuk dalam itu semua makhluk bahkan masuk dalam itu Zat-Nya yang suci, atas kebenaran Rasul dengan apa yang dibawanya berupa Al-Qur’an yang mulia ini, dan bahwa Rasul yang mulia itu menyampaikannya dari Allah Ta’ala.
Dan Allah menyucikan rasul-Nya dari apa yang dituduhkan kepadanya oleh musuh-musuhnya, bahwa dia adalah penyair atau tukang sihir. Dan yang mendorong mereka kepada itu adalah karena tidak beriman dan tidak mengambil pelajaran. Seandainya mereka beriman dan mengambil pelajaran, niscaya mereka mengetahui apa yang bermanfaat dan merugikan mereka. Di antara itu adalah supaya mereka memperhatikan keadaan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengamati sifat-sifat dan akhlaknya, niscaya mereka melihat perkara yang seperti matahari yang menunjukkan kepada mereka bahwa dia benar-benar utusan Allah, dan bahwa apa yang dibawanya adalah wahyu dari Tuhan semesta alam, tidak pantas menjadi perkataan manusia, bahkan itu adalah kalam yang menunjukkan kebesaran Dzat yang berfirman dengannya, keagungan sifat-sifat-Nya, kesempurnaan pendidikan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya, dan ketinggian-Nya di atas hamba-hamba-Nya.
Dan juga, sesungguhnya ini adalah prasangka mereka terhadap sesuatu yang tidak pantas bagi Allah dan hikmah-Nya. Karena sesungguhnya seandainya dia mengada-ada atas nama-Nya dan berbuat dusta “sebagian perkataan” yang palsu.
“Niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat jantungnya” yaitu urat yang berhubungan dengan jantung, jika putus maka manusia akan mati karenanya. Seandainya diandaikan bahwa Rasul -jauh sekali hal itu- mengada-ada atas nama Allah, niscaya Allah menyegerakan hukuman kepadanya, dan mengambilnya dengan pengambilan yang perkasa lagi kuasa, karena Dia Maha Bijaksana dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Hikmah-Nya mengharuskan untuk tidak memberi kesempatan kepada orang yang berdusta atas nama-Nya, yang mengklaim bahwa Allah menghalalkan baginya darah orang yang menyelisihinya dan harta mereka, dan bahwa dia beserta pengikutnya memperoleh keselamatan, sedangkan yang menyelisihinya akan binasa.
Jika Allah telah menyokong rasul-Nya dengan mukjizat-mukjizat, dan memberikan bukti atas kebenaran apa yang dibawanya dengan ayat-ayat yang jelas, dan menolongnya atas musuh-musuhnya, dan memberikan kekuasaan kepadanya atas mereka, maka itu adalah kesaksian yang paling besar dari-Nya atas kerasulannya.
Dan firman-Nya: “Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami untuk menghukumnya)” yaitu: seandainya Allah membinasakannya, dia tidak dapat mencegah dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mampu mencegahnya dari azab Allah.
“Dan sesungguhnya” yaitu: Al-Qur’an yang mulia “benar-benar pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa” mereka mengambil pelajaran darinya tentang kemaslahatan agama dan dunia mereka, maka mereka mengetahuinya dan mengamalkannya. Al-Qur’an mengingatkan mereka tentang akidah-akidah agama, akhlak-akhlak yang diridhai, dan hukum-hukum syariat, maka mereka menjadi ulama-ulama rabbani, hamba-hamba yang mengenal Allah, dan imam-imam yang mendapat petunjuk.
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang-orang yang mendustakan(nya)” dan ini mengandung ancaman dan peringatan bagi orang-orang yang mendustakan, karena sesungguhnya Allah akan menghukum mereka atas pendustaan mereka dengan hukuman yang berat.
“Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar penyesalan bagi orang-orang kafir” karena sesungguhnya mereka ketika mengingkari Al-Qur’an, dan melihat apa yang dijanjikan kepada mereka, mereka menyesal karena tidak mendapat petunjuk darinya, dan tidak tunduk kepada perintahnya, maka terlewatlah pahala bagi mereka, dan mereka memperoleh azab yang sangat pedih, dan terputuslah sebab-sebab keselamatan bagi mereka.
“Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kebenaran yang diyakini” yaitu: tingkatan tertinggi dari ilmu, karena sesungguhnya tingkatan tertinggi dari ilmu adalah yakin, yaitu ilmu yang tetap yang tidak goyah dan tidak hilang.
Dan yakin memiliki tiga tingkatan, setiap satu lebih tinggi dari yang sebelumnya: Pertama: ‘ilmu al-yaqin (ilmu keyakinan), yaitu ilmu yang diperoleh dari khabar. Kemudian ‘ain al-yaqin (ain keyakinan), yaitu ilmu yang diperoleh dengan indera penglihatan. Kemudian haqq al-yaqin (haq keyakinan), yaitu ilmu yang diperoleh dengan indera rasa dan praktek langsung.
Dan Al-Qur’an yang mulia ini memiliki sifat ini, karena sesungguhnya ilmu-ilmu yang ada di dalamnya yang didukung dengan bukti-bukti yang pasti, dan kebenaran-kebenaran serta pengetahuan-pengetahuan iman yang ada di dalamnya, dengannya diperoleh bagi orang yang merasakannya haq al-yaqin.
“Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar” yaitu: sucikanlah Dia dari apa yang tidak pantas bagi keagungan-Nya, dan sucikanlah Dia dengan menyebut sifat-sifat keagungan, keindahan, dan kesempurnaan-Nya.
Selesailah tafsir surat Al-Haaqah, dan segala puji bagi Allah pada awal dan akhir, lahir dan batin, atas kesempurnaan dan keutamaan serta keadilan-Nya.
TAFSIR SURAT SAAL SAA’IL (AL-MA’ARIJ)
Dan surat ini Makiyah
Surat Al-Ma’arij ayat 1-7:
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Seorang penanya telah meminta supaya datang azab yang pasti terjadi, kepada orang-orang kafir yang tidak ada seorang pun yang dapat menolaknya, (yang datang) dari Allah Yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. Sesungguhnya mereka memandang azab itu jauh. Dan Kami memandangnya dekat.”
Allah Ta’ala berfirman menerangkan kebodohan orang-orang yang keras kepala, dan ketergesaan mereka meminta azab Allah, dengan mengejek, keras kepala, dan melemahkan:
“Seorang penanya telah meminta” yaitu: seorang yang berdo’a telah berdo’a, dan orang yang meminta pembukaan telah meminta pembukaan “supaya datang azab yang pasti terjadi, kepada orang-orang kafir” karena mereka berhak mendapatkannya dengan kekafiran dan kekerasan kepala mereka “yang tidak ada seorang pun yang dapat menolaknya dari Allah” yaitu: tidak ada bagi azab ini yang diminta agar disegerakan oleh orang yang meminta dari kalangan orang musyrik yang keras kepala, seorang pun yang dapat menolaknya sebelum turun, atau mengangkatnya setelah turun. Dan ini ketika An-Nadhr ibn Al-Harits Al-Qurasyi atau yang lainnya dari orang-orang musyrik berdo’a dengan berkata: “Ya Allah, jika ini benar-benar kebenaran dari sisi-Mu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih” sampai akhir ayat-ayat.
Maka azab itu pasti akan menimpa mereka dari Allah, entah disegerakan bagi mereka di dunia, atau ditunda bagi mereka sampai akhirat. Seandainya mereka mengenal Allah Ta’ala, dan mengenal kebesaran-Nya, keluasan kekuasaan-Nya dan kesempurnaan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, niscaya mereka tidak akan meminta agar disegerakan dan mereka akan berserah diri serta beradab. Oleh karena itu Allah Ta’ala mengabarkan dari kebesaran-Nya apa yang bertentangan dengan ucapan-ucapan buruk mereka, maka Dia berfirman: “Yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada-Nya” yaitu: Yang memiliki ketinggian, keagungan, kebesaran, dan pengaturan bagi seluruh makhluk, yang malaikat-malaikat naik kepada-Nya dengan apa yang dipercayakan-Nya kepada mereka atas pengaturan-Nya, dan ruh naik kepada-Nya. Dan ini adalah nama jenis yang mencakup semua ruh, yang baik maupun yang durhaka. Dan ini ketika wafat. Adapun orang-orang yang baik maka ruh-ruh mereka naik kepada Allah, maka diizinkan bagi mereka dari langit ke langit, sampai berakhir di langit yang di dalamnya Allah ‘azza wa jalla. Maka mereka memberi salam kepada Tuhan mereka dan memberi salam kepada-Nya, dan mendapat kehormatan dengan kedekatan-Nya, dan bersuka cita dengan mendekat kepada-Nya, dan memperoleh dari-Nya pujian, penghormatan, kebaikan, dan pengagungan.
Adapun ruh-ruh orang durhaka maka mereka naik, ketika sampai ke langit mereka meminta izin tetapi tidak diizinkan bagi mereka, dan dikembalikan ke bumi.
Kemudian disebutkan jarak yang dilalui malaikat-malaikat dan ruh-ruh untuk naik kepada Allah, dan bahwa mereka naik dalam sehari dengan apa yang dimudahkan bagi mereka dari sebab-sebab, dan dibantu dengan kelembutan, kecepatan, dan kecepatan perjalanan, padahal jarak itu dengan perjalanan biasa adalah selama lima puluh ribu tahun, dari awal naik sampai sampainya ke batas yang ditentukan bagi mereka, dan apa yang mereka capai dari alam atas. Maka ini adalah kerajaan yang agung, dan alam yang besar, langit dan buminya, semuanya telah ditangani penciptaan dan pengaturannya oleh Yang Maha Tinggi lagi Maha Tinggi. Dia mengetahui keadaan-keadaan mereka yang lahir dan batin, dan mengetahui tempat tinggal dan tempat penitipan mereka, dan menyampaikan kepada mereka dari rahmat, kebaikan, dan rizki-Nya, apa yang merata dan menyeluruh mereka, dan menjalankan atas mereka hukum qadari-Nya, hukum syar’i-Nya, dan hukum balasan-Nya.
Maka celakalah suatu kaum yang mengabaikan kebesaran-Nya, dan tidak memperkirakan-Nya dengan perkiraan yang sebenarnya, sehingga mereka meminta agar disegerakan azab dengan cara melemahkan dan menguji. Maha Suci Allah Yang Maha Penyabar yang memberikan kesempatan kepada mereka dan tidak mengabaikan mereka, dan mereka menyakiti-Nya tetapi Dia bersabar atas mereka dan memaafkan mereka serta memberi rizki kepada mereka.
Ini salah satu kemungkinan dalam menafsirkan ayat ini, maka naik dan mendaki ini adalah di dunia, karena konteks awal menunjukkan hal ini.
Dan mungkin juga bahwa ini di hari kiamat, dan bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala menampakkan kepada hamba-hamba-Nya di hari kiamat dari kebesaran, keagungan, dan kemuliaan-Nya, apa yang menjadi dalil terbesar untuk mengenal-Nya, dari apa yang mereka saksikan berupa naik turunnya malaikat-malaikat dan ruh-ruh, dengan pengaturan-pengaturan Ilahi, dan urusan-urusan makhluk.
Pada hari yang panjangnya lima puluh ribu tahun karena panjang dan beratnya, namun Allah Ta’ala meringankannya bagi orang-orang beriman.
Dan firman-Nya: “Maka bersabarlah dengan sabar yang indah” (Surat Al-Ma’arij ayat 5) yaitu: bersabarlah dalam mengajak kaummu dengan sabar yang indah, tidak berkeluh kesah dan tidak bosan, tetapi teruslah melaksanakan perintah Allah, dan ajaklah hamba-hamba-Nya untuk mentauhidkan-Nya. Jangan sampai kamu terhalang dari mereka karena melihat mereka tidak mau mengikuti dan tidak berminat, karena sesungguhnya dalam kesabaran terhadap hal itu terdapat kebaikan yang banyak.
“Sesungguhnya mereka memandangnya jauh, dan Kami memandangnya dekat” (Surat Al-Ma’arij ayat 6-7) – kata ganti ini kembali kepada hari kebangkitan yang di dalamnya terjadi azab bagi orang-orang yang meminta azab, yaitu: sesungguhnya keadaan mereka adalah keadaan orang yang mengingkarinya, atau orang yang dikuasai oleh kecelakaan dan kemabukan, hingga menjauh dari semua yang ada di depannya berupa kebangkitan dan bangkit kembali, sedangkan Allah memandangnya dekat, karena Dia Maha Penyayang lagi Maha Penyabar yang tidak tergesa-gesa, dan Dia mengetahui bahwa hal itu pasti akan terjadi, dan segala sesuatu yang akan datang itu dekat.
Kemudian Allah menyebutkan kehebatan hari itu dan apa yang terjadi di dalamnya, maka Dia berfirman: “Pada hari ketika langit menjadi seperti cairan tembaga * Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan * Dan tidak ada seorang teman karib pun menanyakan temannya” (Surat Al-Ma’arij ayat 8-10).
“Pada hari” yaitu: hari Kiamat, terjadi di dalamnya perkara-perkara besar ini, maka “langit menjadi seperti cairan tembaga” yaitu timah yang dicairkan karena terbelahnya dan sampainya kehebatan darinya ke segala tempat.
“Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu yang dihambur-hamburkan” yaitu bulu domba yang dikembangkan, kemudian setelah itu menjadi debu yang bertebaran lalu lenyap. Jika inilah kegelisahan dan keguncangan benda-benda besar yang kuat ini, maka bagaimana menurutmu dengan hamba yang lemah yang telah dibebani punggungnya dengan dosa-dosa dan beban-beban?
Bukankah sudah selayaknya hatinya terlepas dan akalnya terguncang, dan melupakan setiap orang? Oleh karena itu Dia berfirman: “Dan tidak ada seorang teman karib pun menanyakan temannya * Padahal mereka saling melihat” (Surat Al-Ma’arij ayat 10-11) yaitu: teman karib, yaitu orang yang dekat melihat teman karibnya, tetapi tidak tersisa di hatinya ruang untuk menanyakan teman karibnya tentang keadaannya, dan tidak pula dalam hal yang berkaitan dengan pergaulan dan kasih sayang mereka, dan tidak ada yang menjadi perhatiannya kecuali dirinya sendiri.
“Padahal mereka saling melihat. Orang yang berdosa ingin seandainya dia dapat menebus dirinya dari azab hari itu dengan anak-anaknya * Dan istrinya serta saudaranya * Dan keluarganya yang melindunginya * Dan seluruh orang yang ada di muka bumi, kemudian (menebus itu) dapat menyelamatkannya * Sekali-kali tidak! Sesungguhnya azab itu adalah nyala api yang bergolak * Yang mengelupas kulit kepala * Yang menyeru orang yang membelakangi dan berpaling * Dan yang mengumpulkan (harta) lalu menyimpannya” (Surat Al-Ma’arij ayat 11-18).
“Orang yang berdosa ingin” yang telah ditetapkan azab atasnya “seandainya dia dapat menebus dirinya dari azab hari itu dengan anak-anaknya dan istrinya” yaitu: istrinya “serta saudaranya dan keluarganya” yaitu: kerabatnya “yang melindunginya” yaitu: yang biasanya di dunia saling membantu dan sebagian membantu sebagian yang lain, maka di hari Kiamat, tidak ada seorang pun yang bermanfaat bagi orang lain, dan tidak ada seorang pun yang memberi syafa’at kecuali dengan izin Allah.
Bahkan seandainya (penjahat yang berhak mendapat azab) menebus dengan semua yang ada di bumi kemudian menyelamatkannya, hal itu tidak akan bermanfaat baginya.
“Sekali-kali tidak!” yaitu: tidak ada cara dan tidak ada jalan keluar bagi mereka, sungguh telah ditetapkan atas mereka kalimat Tuhanmu terhadap orang-orang yang fasik bahwa mereka tidak akan beriman, dan hilang sudah manfaat kerabat dan teman-teman.
“Sesungguhnya azab itu adalah nyala api yang bergolak * Yang mengelupas kulit kepala” yaitu: anggota-anggota yang tampak dan tersembunyi karena keras azabnya.
“Yang menyeru” kepadanya “orang yang membelakangi dan berpaling * Dan yang mengumpulkan (harta) lalu menyimpannya” yaitu: membelakangi mengikuti kebenaran dan berpaling darinya, maka tidak ada kepentingannya di dalamnya, dan mengumpulkan harta-harta sebagian di atas sebagian dan menyimpannya, maka tidak menafkahkan darinya, karena sesungguhnya neraka menyeru mereka kepada dirinya, dan bersiap untuk menyala dengan mereka.
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah * Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah * Dan apabila dia mendapat kebaikan dia amat kikir * Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat * Yaitu orang-orang yang tetap mengerjakan shalatnya * Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu * Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak meminta) * Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan * Dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya * Sesungguhnya azab Tuhan mereka itu tidak dapat mereka merasa aman daripadanya * Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya * Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela * Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas * Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya * Dan orang-orang yang memberikan kesaksian dengan jujur * Dan orang-orang yang memelihara shalatnya * Mereka itu (ditempatkan) dalam surga lagi dimuliakan” (Surat Al-Ma’arij ayat 19-35).
Dan sifat ini bagi manusia dari segi dia adalah gambaran tabiat aslinya, bahwa dia keluh kesah.
Dan keluh kesah dijelaskan dengan: “Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah” maka dia berkeluh kesah jika ditimpa kemiskinan atau penyakit, atau hilangnya yang dicintainya, dari harta atau keluarga atau anak, dan tidak menggunakan dalam hal itu kesabaran dan ridha dengan apa yang telah ditetapkan Allah.
“Dan apabila dia mendapat kebaikan dia amat kikir” maka tidak menafkahkan dari apa yang telah diberikan Allah kepadanya, dan tidak bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat dan kebaikan-Nya, maka dia berkeluh kesah dalam kesulitan, dan kikir dalam kemudahan.
“Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat” yang diberi sifat dengan sifat-sifat itu, karena sesungguhnya mereka apabila ditimpa kebaikan bersyukur kepada Allah, dan menafkahkan dari apa yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka, dan apabila ditimpa keburukan mereka sabar dan mengharap pahala.
Dan firman-Nya [dalam menggambarkan mereka]: “Yaitu orang-orang yang tetap mengerjakan shalatnya” yaitu: melaksanakannya secara terus-menerus pada waktunya dengan syarat-syarat dan penyempurnanya.
Dan mereka bukan seperti orang yang tidak melaksanakannya, atau melaksanakannya pada suatu waktu tapi tidak pada waktu lain, atau melaksanakannya dengan cara yang kurang.
“Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu” dari zakat dan sedekah “bagi orang (miskin) yang meminta” yang menampakkan diri untuk meminta “dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak meminta)” yaitu orang miskin yang tidak meminta kepada manusia sehingga mereka memberinya, dan tidak diketahui sehingga diberi sedekah kepadanya.
“Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan” yaitu: beriman dengan apa yang diberitakan Allah, dan diberitakan oleh rasul-rasul-Nya, tentang pembalasan dan kebangkitan, dan meyakini hal itu sehingga mempersiapkan untuk akhirat, dan berusaha untuknya dengan usaha yang sepatutnya. Dan membenarkan hari pembalasan mengharuskan membenarkan rasul-rasul, dan apa yang mereka bawa berupa kitab-kitab.
“Dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya” yaitu: takut dan cemas, maka mereka meninggalkan karena hal itu segala sesuatu yang mendekatkan mereka kepada azab Allah.
“Sesungguhnya azab Tuhan mereka itu tidak dapat mereka merasa aman daripadanya” yaitu: itulah azab yang ditakuti dan diwaspadai.
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya” maka tidak melakukan dengannya perbuatan yang haram, dari zina atau homoseksual, atau bersetubuh di dubur, atau haid, dan semacam itu, dan mereka juga menjaga dari memandang dan menyentuhnya, dari orang yang tidak boleh melakukan hal itu, dan mereka juga meninggalkan cara-cara yang haram yang mengajak untuk melakukan perbuatan keji.
“Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki” yaitu: budak wanita mereka “maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela” dalam bersetubuh dengan mereka di tempat yang merupakan tempat bercocok tanam.
“Barangsiapa mencari yang di balik itu” yaitu: selain istri dan hamba sahaya, “maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas” yaitu: yang melanggar apa yang dihalalkan Allah kepada apa yang diharamkan Allah, dan ayat ini menunjukkan pengharaman nikah mut’ah, karena bukan istri yang dimaksudkan, dan bukan hamba sahaya.
“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya” yaitu: memeliharanya, menjaga dan bersungguh-sungguh untuk menunaikannya dan memenuhinya, dan ini mencakup semua amanah yang antara hamba dengan Tuhannya, seperti taklif-taklif rahasia, yang tidak mengetahuinya kecuali Allah, dan amanah-amanah yang antara hamba dengan makhluk, dalam hal harta dan rahasia, demikian juga janji, mencakup janji yang dijanjikan kepada Allah, dan janji yang dijanjikan kepada makhluk, karena sesungguhnya janji akan ditanyakan kepada hamba, apakah dia melaksanakannya dan memenuhinya, ataukah menolaknya dan menkhianatinya sehingga tidak melaksanakannya?
“Dan orang-orang yang memberikan kesaksian dengan jujur” yaitu: tidak bersaksi kecuali dengan apa yang mereka ketahui, tanpa tambahan dan tanpa kurang dan tanpa menyembunyikan, dan tidak berpihak di dalamnya kepada kerabat atau teman dan semacamnya, dan tujuannya adalah karena Allah.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan tegakkanlah kesaksian itu karena Allah” (Surat At-Talaq ayat 2) “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu” (Surat An-Nisa ayat 135).
“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya” dengan melaksanakannya secara terus-menerus dengan cara yang paling sempurna.
“Mereka itu” yaitu: yang diberi sifat dengan sifat-sifat itu “(ditempatkan) dalam surga lagi dimuliakan” yaitu: sungguh Allah telah sampakan kepada mereka dari kemuliaan dan kenikmatan yang kekal apa yang diinginkan jiwa, dan menyenangkan mata, dan mereka kekal di dalamnya.
Dan kesimpulan dari ini, bahwa Allah menggambarkan ahli kebahagiaan dan kebaikan dengan sifat-sifat yang sempurna ini, dan akhlak yang mulia, dari ibadah-ibadah jasmani, seperti shalat, dan melaksanakannya secara terus-menerus, dan amal-amal hati, seperti takut kepada Allah yang mengajak kepada setiap kebaikan, dan ibadah-ibadah harta, dan akidah-akidah yang bermanfaat, dan akhlak yang mulia, dan bermu’amalah dengan Allah, dan bermu’amalah dengan makhluk-Nya, dengan mu’amalah yang paling baik berupa berbuat adil kepada mereka, dan menjaga janji-janji dan rahasia mereka, dan kesucian yang sempurna dengan menjaga kemaluan dari apa yang dibenci Allah Ta’ala.
{Ayat 36-39} Surat Al-Ma’arij
“Maka mengapa orang-orang yang kafir itu berlari tergesa-gesa mendekatimu * dari kanan dan dari kiri berkelompok-kelompok * Apakah setiap orang dari mereka ingin masuk surga yang penuh kenikmatan * Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui.”
Allah Ta’ala berfirman, menjelaskan kesombongan orang-orang kafir: “Maka mengapa orang-orang yang kafir itu berlari tergesa-gesa mendekatimu” yaitu: bergegas-gegas.
“dari kanan dan dari kiri berkelompok-kelompok” yaitu: dalam kelompok-kelompok yang terpisah dan rombongan-rombongan yang tersebar, setiap mereka bergembira dengan apa yang ada pada mereka.
“Apakah setiap orang dari mereka ingin masuk surga yang penuh kenikmatan” dengan sebab apa yang membuat mereka berharap, padahal mereka tidak pernah mengerjakan selain kekufuran dan pengingkaran terhadap Tuhan semesta alam. Oleh karena itu Allah berfirman: “Sekali-kali tidak!” yaitu: bukan seperti angan-angan mereka dan bukan meraih apa yang mereka inginkan dengan kekuatan mereka.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui” yaitu: dari air yang memancar, yang keluar dari antara tulang belakang dan tulang dada. Maka mereka itu lemah, tidak mampu memberikan manfaat maupun mudarat bagi diri mereka sendiri, tidak mampu mematikan, menghidupkan, maupun membangkitkan.
{Ayat 40-44} Surat Al-Ma’arij
“Maka Aku bersumpah dengan Tuhan yang memiliki tempat-tempat terbit dan tenggelamnya, sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa * untuk mengganti mereka dengan yang lebih baik dari mereka, dan Kami tidak akan dapat dikalahkan * Maka biarkanlah mereka tenggelam (dalam kesesatan) dan bermain-main hingga mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka * Yaitu hari ketika mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka berlari menuju berhala * Mata mereka tunduk, ditimpa kehinaan. Itulah hari yang dahulu dijanjikan kepada mereka.”
Ini adalah sumpah dari Allah Ta’ala dengan tempat-tempat terbit dan tenggelamnya matahari, bulan, dan bintang-bintang, karena di dalamnya terdapat tanda-tanda yang jelas tentang kebangkitan, dan kekuasaan-Nya untuk mengganti orang-orang serupa mereka, padahal mereka sendiri (masih ada), sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan Kami ciptakan kamu dalam keadaan yang tidak kamu ketahui.”
“dan Kami tidak akan dapat dikalahkan” yaitu: tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkan Kami, meloloskan diri dari Kami, dan melemahkan Kami jika Kami hendak mengembalikan mereka. Jika telah ditetapkan adanya kebangkitan dan pembalasan, dan mereka terus mendustakan serta tidak tunduk pada ayat-ayat Allah.
“Maka biarkanlah mereka tenggelam dan bermain-main” yaitu: tenggelam dalam perkataan-perkataan yang batil dan keyakinan-keyakinan yang rusak, serta bermain-main dengan agama mereka, makan, minum, dan bersenang-senang “hingga mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka” karena sesungguhnya Allah telah menyediakan bagi mereka di hari itu siksaan dan bencana yang merupakan akibat dari penyelaman dan permainan mereka.
Kemudian Allah menyebutkan keadaan makhluk ketika mereka menemui hari mereka yang dijanjikan, maka Dia berfirman: “Yaitu hari ketika mereka keluar dari kubur” yaitu: dari dalam tanah, “dengan cepat” memenuhi panggilan yang memanggil, bergegas kepadanya “seakan-akan mereka berlari menuju berhala” yaitu: seakan-akan mereka menuju suatu tanda dan bergegas. Artinya: mereka tidak mampu membangkang terhadap yang memanggil dan berpaling dari seruan yang menyeru, tetapi mereka datang dalam keadaan hina dan terpaksa untuk berdiri di hadapan Tuhan semesta alam.
“Mata mereka tunduk, ditimpa kehinaan” dan hal itu karena kehinaan dan kegelisahan telah menguasai hati mereka dan mengendalikan jiwa mereka, sehingga mata mereka tunduk, gerakan mereka diam, dan suara-suara terputus.
Maka inilah keadaan dan akibat mereka, yaitu hari mereka “yang dahulu dijanjikan kepada mereka” dan pasti akan dipenuhi janji Allah. [Selesai dan segala puji bagi Allah].
(dan surat ini Makkiyyah)
{Ayat 1-28} Surat Nuh
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya: ‘Berilah peringatan kepada kaummu.'”
Sampai akhir surat. Allah tidak menyebutkan dalam surat ini kecuali kisah Nuh saja karena lamanya dia tinggal di tengah kaumnya, dan berulangnya dakwahnya kepada tauhid serta larangannya terhadap syirik. Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia mengutusnya kepada kaumnya sebagai rahmat bagi mereka dan peringatan dari azab Allah yang pedih, karena khawatir mereka terus-menerus dalam kekufuran sehingga Allah membinasakan mereka dengan kebinasaan yang kekal dan menyiksa mereka dengan siksaan yang abadi. Maka Nuh alaihissalam melaksanakan hal itu dan bergegas memenuhi perintah Allah, lalu berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang jelas bagimu” yaitu: jelas peringatannya dan terang. Hal itu karena dia menjelaskan apa yang diperingatkannya dan apa yang dia peringatkan, dan dengan cara apa keselamatan dapat dicapai. Dia menjelaskan semua itu dengan penjelasan yang sempurna. Lalu dia mengabarkan dan memerintahkan mereka dengan inti dari apa yang dia perintahkan, maka berkata: “Sembahlah Allah dan bertakwalah kepada-Nya” yaitu dengan mengkhususkan Allah Ta’ala dengan tauhid dan ibadah, serta menjauhi syirik, jalan-jalannya, dan wasilah-wasilahnya. Jika mereka bertakwa kepada Allah, Dia akan mengampuni dosa-dosa mereka. Jika Dia mengampuni dosa-dosa mereka, mereka akan memperoleh keselamatan dari azab dan kemenangan dengan pahala. “dan Dia akan menunda (siksaan) bagi kamu sampai waktu yang telah ditentukan” yaitu: memberikan kenikmatan kepadamu di dunia ini dan menolak kebinasaan dari kamu sampai ajal yang telah ditentukan, yaitu: yang telah ditetapkan keberadaannya di dunia dengan qada dan qadar Allah sampai waktu yang terbatas, dan kenikmatan itu bukan selamanya, karena kematian pasti datang. Oleh karena itu dia berkata: “Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditunda, kalau kamu mengetahui” karena kamu kafir kepada Allah dan menentang kebenaran. Namun mereka tidak memenuhi dakwahnya dan tidak tunduk pada perintahnya, maka dia berkata sambil mengadu kepada Tuhannya: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam, tetapi seruanku itu hanya menambah mereka lari (dari kebenaran)” yaitu: menjauh dari kebenaran dan berpaling, sehingga tidak ada manfaatnya lagi, karena manfaat dakwah adalah agar tercapai seluruh tujuan atau sebagiannya.
“Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka” yaitu: supaya mereka memenuhi seruan, jika mereka memenuhi seruan maka Engkau akan mengampuni mereka. Ini adalah murni kemaslahatan mereka, tetapi mereka menolak kecuali terus-menerus dalam kebatilan mereka dan menjauh dari kebenaran. “mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinga mereka” untuk menghindari mendengar apa yang dikatakan nabi mereka Nuh alaihissalam kepada mereka, “dan menutupkan baju mereka” yaitu menutupi diri dengan pakaian itu sebagai penutup yang menutupi mereka karena menjauh dari kebenaran dan benci kepadanya, “dan mereka tetap (kafir)” pada kekufuran dan keburukan mereka “dan menyombongkan diri” terhadap kebenaran “dengan kesombongan yang besar” sehingga keburukan mereka bertambah dan kebaikan mereka menjauh.
“Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka dengan terang-terangan” yaitu: dengan suara yang dapat didengar oleh mereka semua.
“Kemudian sesungguhnya aku telah menyatakan (seruan itu) kepada mereka dengan terang-terangan dan aku (juga) telah menyampaikan kepada mereka dengan diam-diam” semua ini adalah bentuk perhatian dan nasihat, serta mendatangi mereka melalui setiap pintu yang diduga dapat mencapai tujuan,
“lalu aku berkata: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhan kamu'” yaitu: tinggalkanlah apa yang kalian lakukan berupa dosa-dosa, dan mohonlah ampun kepada Allah darinya.
“Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun” banyak mengampuni bagi siapa yang bertobat dan memohon ampun. Maka dia membuat mereka berharap dengan pengampunan dosa-dosa dan apa yang menyertainya berupa perolehan pahala dan terhindar dari hukuman. Dia juga membuat mereka berharap dengan kebaikan dunia yang segera, maka berkata: “niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu” yaitu: hujan yang berturut-turut yang menyirami lembah-lembah dan dataran rendah, serta menghidupkan negeri dan hamba-hamba.
“Dan Dia akan menambah kekayaan dan anak-anak kepadamu” yaitu: memperbanyak harta kamu yang dengan itu kamu dapat meraih apa yang kamu cari di dunia dan anak-anak kamu, “dan Dia jadikan bagimu kebun-kebun dan Dia jadikan bagimu sungai-sungai” dan ini termasuk yang paling mengena dari kenikmatan dunia dan hal-hal yang dicari.
“Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah” yaitu: tidak takut akan keagungan Allah, dan Allah tidak memiliki kedudukan di sisi kamu.
“Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian” yaitu: ciptaan demi ciptaan, di dalam perut ibu, kemudian dalam masa menyusu, kemudian dalam masa kanak-kanak, kemudian masa tamyiz, kemudian masa muda, sampai akhir yang dicapai oleh ciptaan. Maka Dzat yang menyendiri dalam penciptaan dan pengaturan yang indah, wajib dikhususkan dengan ibadah dan tauhid. Dalam penyebutan permulaan penciptaan mereka terdapat peringatan bagi mereka untuk mengakui hari kemudian, dan bahwa Dzat yang menciptakan mereka dari ketiadaan mampu mengembalikan mereka setelah kematian mereka.
Dia juga menjadikan dalil bagi mereka dengan penciptaan langit-langit yang lebih besar dari penciptaan manusia, maka berkata: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat” yaitu: setiap langit di atas yang lainnya.
“dan Dia jadikan bulan di dalamnya cahaya” bagi penghuni bumi “dan Dia jadikan matahari sebagai pelita.”
Di dalamnya terdapat peringatan tentang keagungan penciptaan hal-hal ini, dan banyaknya manfaat dalam matahari dan bulan yang menunjukkan rahmat-Nya dan luasnya kebaikan-Nya. Maka Dzat Yang Maha Agung lagi Maha Penyayang berhak untuk diagungkan, dicintai, disembah, ditakuti, dan diharapkan.
“Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya” ketika menciptakan bapak kamu Adam dan kamu berada di tulang sulbinya.
“Kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalamnya” ketika mati “dan mengeluarkan kamu (darinya) dengan sebenar-benarnya” untuk kebangkitan dan kehidupan kembali. Maka Dia-lah yang menguasai kehidupan, kematian, dan kebangkitan.
“Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan” yaitu: dihamparkan dan dipersiapkan untuk dimanfaatkan.
“Supaya kamu dapat berjalan di atas jalan-jalan yang luas” seandainya Dia tidak menghamparkannya, hal itu tidak mungkin terjadi, bahkan tidak mungkin mereka mengolahnya, menanamnya, menabur, membangun, dan tinggal di atasnya.
“Nuh berkata” sambil mengadu kepada Tuhannya: Sesungguhnya perkataan, nasihat, dan peringatan ini tidak berhasil pada mereka dan tidak bermanfaat.
“Sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku” dalam apa yang aku perintahkan kepada mereka “dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian” yaitu: mereka mendurhakai rasul yang menasihati dan menunjukkan pada kebaikan, dan mengikuti pemuka-pemuka dan para pembesar yang harta dan anak-anak mereka tidak menambah kepada mereka kecuali kerugian, yaitu: kebinasaan dan kehilangan keuntungan. Bagaimana dengan orang yang tunduk kepada mereka dan menaati mereka?!
“Dan mereka melakukan tipu daya yang amat besar” yaitu: tipu daya yang besar dan mendalam dalam menentang kebenaran. “Dan mereka berkata” kepada pengikut mereka, mengajak kepada syirik dan memperindahnya: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu” maka mereka mengajak mereka untuk fanatik terhadap apa yang mereka lakukan berupa syirik, dan supaya tidak meninggalkan apa yang dilakukan oleh nenek moyang mereka yang terdahulu. Kemudian mereka menyebutkan nama-nama tuhan mereka, maka berkata: “dan jangan pula kamu meninggalkan Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr” dan ini adalah nama-nama lelaki saleh. Ketika mereka meninggal, setan memperindah bagi kaum mereka untuk membuat patung-patung mereka supaya mereka bersemangat -menurut anggapan mereka- dalam ketaatan jika melihatnya. Kemudian masa berlalu lama, dan datanglah selain mereka, maka setan berkata kepada mereka: Sesungguhnya pendahulu-pendahulu kamu menyembah mereka dan meminta perantaraan dengan mereka, dan dengan mereka turun hujan. Maka mereka menyembah patung-patung itu. Oleh karena itu para pemimpin mereka berwasiat kepada pengikut mereka supaya tidak meninggalkan penyembahan tuhan-tuhan ini.
“Dan sesungguhnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia)” yaitu: para pemuka dan pemimpin telah menyesatkan banyak makhluk dengan dakwah mereka, “dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan” yaitu: seandainya kesesatan mereka ketika aku menyeru mereka dengan kebenaran itu ada manfaatnya, tetapi mereka tidak bertambah dengan dakwah para pemimpin kecuali kesesatan. Artinya: tidak ada lagi tempat untuk keberhasilan dan kebaikan mereka. Oleh karena itu Allah menyebutkan azab dan hukuman duniawi dan ukhrawi mereka, maka berfirman: “Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan” dalam laut yang mengelilingi mereka “lalu mereka dimasukkan ke dalam api” maka tubuh mereka hilang dalam tenggelam dan roh mereka masuk neraka dan terbakar. Semua ini karena kesalahan-kesalahan mereka, yang nabi mereka Nuh datang memperingatkan mereka darinya dan mengabarkan keburukan dan akibatnya. Namun mereka menolak apa yang dikatakannya, sehingga turunlah kepada mereka siksaan. “Maka mereka tidak memperoleh penolong-penolong selain Allah” yang menolong mereka ketika turun kepada mereka perkara itu, dan tidak ada seorang pun yang mampu melawan qada dan qadar.
“Dan Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi'” yang berkeliling di muka bumi. Dia menyebutkan alasannya dengan berkata: “Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma’siat lagi sangat kafir” yaitu: keberadaan mereka adalah kerusakan murni, bagi mereka dan selain mereka. Nuh alaihissalam berkata demikian karena dia dengan banyaknya pergaulannya dengan mereka dan pengalamannya terhadap akhlak mereka, mengetahui hasil perbuatan-perbuatan mereka. Tidak heran Allah mengabulkan doanya, lalu menenggelamkan mereka semua dan menyelamatkan Nuh beserta orang-orang mukmin yang bersamanya.
“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan orang yang masuk ke rumahku dengan beriman” dia mengkhususkan yang disebutkan karena kuatnya hak mereka dan mendahulukan kebaikan mereka. Kemudian dia mengumumkan doa, maka berkata: “dan (ampunilah) orang-orang mukmin dan mukminat. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim selain kebinasaan” yaitu: kerugian, kehancuran, dan kebinasaan.
Selesai tafsir Surat Nuh alaihissalam [dan segala puji bagi Allah].
TAFSIR SURAH QUL UHIYA ILAYYA (SURAH AL-JIN)
[Dan surat ini] bersifat Makkiyah
Ayat 1-2: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Katakanlah: ‘Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya telah mendengarkan sekumpulan jin, lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Quran yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami’.”
Artinya: “Katakanlah” wahai Rasul kepada manusia “telah diwahyukan kepadaku bahwasanya telah mendengarkan sekumpulan jin.” Allah mengarahkan mereka kepada Rasul-Nya untuk mendengarkan ayat-ayat-Nya agar hujjah tegak atas mereka, nikmat sempurna bagi mereka, dan mereka menjadi pemberi peringatan bagi kaum mereka. Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menceritakan berita mereka kepada manusia. Ketika mereka hadir di hadapan beliau, mereka berkata: “Diamlah!” Ketika mereka diam, mereka memahami makna-maknanya, dan hakikat-hakikatnya sampai ke hati mereka. “Lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Quran yang menakjubkan,” yaitu termasuk keajaiban-keajaiban yang tinggi dan tujuan-tujuan yang luhur.
“Yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar.” Ar-rusyd (jalan yang benar) adalah nama yang mencakup segala sesuatu yang menunjukkan manusia kepada kemaslahatan agama dan dunia mereka. “Lalu kami beriman kepadanya dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami.” Mereka menggabungkan antara iman yang mencakup semua amal kebaikan, dan takwa yang mengandung meninggalkan keburukan. Mereka menjadikan sebab yang mendorong mereka kepada iman dan konsekuensinya adalah apa yang mereka ketahui dari petunjuk-petunjuk Al-Quran, kemaslahatan dan manfaat yang dikandungnya, serta menghindari kemudharatan. Sesungguhnya hal itu adalah tanda yang agung dan hujjah yang pasti bagi siapa yang mendapat penerangan dengannya dan mendapat petunjuk dengan hidayahnya. Inilah iman yang bermanfaat, berbuah kepada segala kebaikan, yang dibangun di atas hidayah Al-Quran, berbeda dengan iman kebiasaan, didikan dan keakraban semacamnya. Sesungguhnya itu adalah iman taqlid yang berada di bawah bahaya syubhat dan halangan-halangan yang banyak.
Ayat 3: “Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak.”
Artinya: Maha Tinggi keagungan-Nya dan Maha Suci nama-nama-Nya, “Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak.” Mereka mengetahui dari keagungan dan kebesaran Allah apa yang menunjukkan mereka kepada kebatilan orang yang mengklaim bahwa Allah mempunyai isteri atau anak, karena bagi-Nya keagungan dan kesempurnaan dalam setiap sifat kesempurnaan, sedangkan mengambil isteri dan anak bertentangan dengan hal itu, karena hal tersebut berlawanan dengan kesempurnaan kekayaan (kemandirian).
Ayat 4: “Dan bahwasanya orang yang bodoh di antara kami telah mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang melampaui batas.”
Artinya: perkataan yang menyimpang dari kebenaran dan melampaui batas. Yang mendorongnya untuk itu hanyalah kebodohan dan lemahnya akalnya. Kalau saja dia bijaksana dan tenang, tentu dia tahu bagaimana seharusnya berkata.
Ayat 5: “Dan sesungguhnya kami mengira bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.”
Artinya: Kami tertipu sebelum itu, dan para pemimpin serta penguasa dari jin dan manusia menipu kami. Kami berbaik sangka kepada mereka, mengira mereka tidak berani berbohong tentang Allah. Karena itulah kami dahulu mengikuti jalan mereka. Hari ini ketika kebenaran telah jelas bagi kami, kami kembali kepadanya dan tunduk kepadanya, tidak perduli dengan perkataan siapa pun dari manusia yang menentang petunjuk.
Ayat 6: “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.”
Artinya: Manusia menyembah jin dan meminta perlindungan kepada mereka ketika menghadapi ketakutan dan keresahan. Maka manusia menambah kepada jin ranting, yaitu keangkuhan dan kesombongan ketika melihat manusia menyembah dan meminta perlindungan kepada mereka. Bisa juga kata ganti dalam “menambah mereka” kembali kepada jin sebagai pelaku, yaitu: jin menambah kepada manusia ketakutan dan ancaman ketika melihat mereka meminta perlindungan kepada mereka agar mereka terpaksa berlindung kepada mereka. Ketika seorang manusia singgah di lembah yang menakutkan, dia berkata: “Aku berlindung kepada penguasa lembah ini dari orang-orang bodoh kaumnya.”
Ayat 7: “Dan sesungguhnya mereka menyangka sebagaimana persangkaan kamu, bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang pun (rasul).”
Artinya: Ketika mereka mengingkari kebangkitan, mereka berani melakukan syirik dan kedurhakaan.
Ayat 8-9: “Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang keras dan panah-panah api. Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) niscaya akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).”
Artinya: Kami mendatanginya dan mencobanya, “maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang keras” dari sampainya ke ujung-ujungnya dan mendekat kepadanya, “dan panah-panah api” yang dilemparkan kepada siapa yang mencuri dengar. Ini berbeda dengan kebiasaan kami dahulu, karena kami dahulu mampu sampai kepada berita langit.
“Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan” lalu kami mengambil dari berita-berita langit apa yang dikehendaki Allah. “Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) niscaya akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya),” yaitu yang mengintainya, disediakan untuk memusnahkan dan membakarnya. Ini memiliki urusan yang besar dan berita yang penting. Mereka yakin bahwa Allah ingin mengadakan peristiwa besar di bumi, baik kebaikan atau keburukan. Karena itulah mereka berkata:
Ayat 10: “Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan terhalangnya kami) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.”
Artinya: pasti salah satu dari keduanya, karena mereka melihat urusan berubah bagi mereka dengan perubahan yang mereka ingkari. Mereka mengetahui dengan kecerdasan mereka bahwa Allah menghendaki urusan ini dan mengadakannya di bumi. Dalam hal ini terdapat penjelasan tentang adab mereka, ketika mereka menisbatkan kebaikan kepada Allah, sedangkan keburukan mereka hapus pelakunya sebagai bentuk kesopanan kepada Allah.
Ayat 11: “Dan bahwasanya di antara kami ada yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.”
Artinya: fasik, durhaka dan kafir, “Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda,” yaitu kelompok-kelompok yang beragam dan keinginan-keinginan yang terpisah, setiap golongan bergembira dengan apa yang ada pada mereka.
Ayat 12: “Dan sesungguhnya kami mengetahui bahwa kami sekali-kali tidak dapat melemahkan (kekuasaan) Allah di bumi dan tidak (pula) dapat melemahkan-Nya dengan lari (dari kekuasaan-Nya).”
Artinya: Kami pada masa sekarang telah jelas bagi kami kesempurnaan kekuasaan Allah dan kesempurnaan kelemahan kami, dan bahwa ubun-ubun kami berada di tangan Allah. Kami tidak akan mampu melemahkan-Nya di bumi dan tidak akan mampu melemahkan-Nya jika kami lari dan berusaha dengan sebab-sebab pelarian dan keluar dari kekuasaan-Nya. Tidak ada tempat berlindung dari-Nya kecuali kepada-Nya.
Ayat 13: “Dan sesungguhnya tatkala kami mendengar petunjuk (Al-Quran), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (pula takut akan) penambahan dosa.”
Dan sesungguhnya ketika kami mendengar petunjuk,” yaitu Al-Quran yang mulia, yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, dan kami mengetahui hidayah dan petunjuknya, hal itu berpengaruh dalam hati kami maka “kami beriman kepadanya.”
Kemudian mereka menyebutkan apa yang membuat mukmin berminat, mereka berkata: “Barangsiapa beriman kepada Tuhannya” dengan iman yang benar “maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (pula takut akan) penambahan dosa,” yaitu tidak takut kekurangan dan tidak takut kedurhakaan atau gangguan yang menimpanya. Jika dia selamat dari kejahatan, dia akan memperoleh kebaikan. Iman adalah sebab yang mendorong untuk memperoleh segala kebaikan dan hilangnya segala kejahatan.
Ayat 14-15: “Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari keadilan. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu berusaha mencari jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari keadilan, mereka itu menjadi kayu api bagi neraka Jahannam.”
“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang berserah diri dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari keadilan,” yaitu yang berbuat zalim dan menyimpang dari jalan yang lurus.
“Barangsiapa yang berserah diri maka mereka itu berusaha mencari jalan yang lurus,” yaitu: mereka mendapat jalan yang benar yang mengantarkan mereka ke surga dan kenikmatan-kenikmatan-nya. “Adapun orang-orang yang menyimpang dari keadilan, mereka itu menjadi kayu api bagi neraka Jahannam.” Itu adalah balasan atas perbuatan-perbuatan mereka, bukan kezaliman dari Allah kepada mereka.
Ayat 16-17: “Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). Untuk Kami menguji mereka dengannya. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat.”
Sesungguhnya mereka “jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan” yang utama “benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar,” yaitu yang lezat dan menyehatkan. Tidak ada yang mencegah mereka dari hal itu kecuali kezaliman dan permusuhan mereka.
“Untuk Kami menguji mereka dengannya,” yaitu untuk Kami cobai dan Kami uji agar jelas yang benar dari yang dusta.
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan Tuhannya,” yaitu siapa yang berpaling dari dzikir Allah yang merupakan kitab-Nya, tidak mengikuti dan tidak tunduk kepadanya, bahkan lalai darinya dan bermain-main, “niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat,” yaitu azab yang keras dan dahsyat.
Ayat 18: “Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.”
Artinya: tidak doa ibadah dan tidak doa permintaan, karena masjid-masjid yang merupakan tempat ibadah paling agung dibangun atas dasar keikhlasan kepada Allah, tunduk kepada keagungan-Nya, dan merendah kepada kemuliaan-Nya.
Ayat 19: “Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuninya.”
“Dan bahwasanya tatkala hamba Allah berdiri menyembah-Nya,” yaitu meminta kepada-Nya, beribadah kepada-Nya dan membaca Al-Quran, jin hampir karena kepadatan mereka kepadanya menjadi bertumpuk-tumpuk karena semangat mendengarkan petunjuk yang dibawanya.
Ayat 20: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya’.”
“Katakanlah” kepada mereka wahai Rasul, menjelaskan hakikat apa yang kamu serukan: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya.” Yaitu aku mengesakan-Nya saja tanpa sekutu bagi-Nya, dan aku melepaskan selain-Nya dari patung-patung dan berhala-berhala, dan segala yang dijadikan orang-orang musyrik selain-Nya.
Ayat 21-22: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan kemudharatan kepadamu dan tidak (pula) kemanfaatan’. Katakanlah: ‘Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah’.”
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan kemudharatan kepadamu dan tidak (pula) kemanfaatan’,” karena sesungguhnya aku adalah hamba yang tidak memiliki urusan apa pun dan tidak memiliki penguasaan apa pun.
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah’.”
Artinya: tidak ada seorang pun yang aku minta perlindungan kepadanya yang menyelamatkanku dari azab Allah. Jika Rasul yang merupakan makhluk paling sempurna tidak kuasa mendatangkan kemudaratan dan kemanfaatan, dan tidak dapat melindungi dirinya dari Allah jika Allah menghendaki keburukan kepadanya, maka makhluk selainnya lebih-lebih lagi dan lebih patut.
Ayat 23: “Dan aku sekali-kali tidak akan memperoleh tempat berlindung selain kepada-Nya.”
Artinya: tempat berlindung dan tempat meminta pertolongan.
Ayat 24: “(Aku diutus) hanyalah untuk menyampaikan (perintah) dari Allah dan risalah-risalah-Nya. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”
“(Aku diutus) hanyalah untuk menyampaikan (perintah) dari Allah dan risalah-risalah-Nya.” Artinya: tidak ada kelebihan bagiku atas manusia, kecuali Allah mengkhususkanku dengan menyampaikan risalah-risalah-Nya dan menyeru makhluk kepada Allah. Dengan ini tegaklah hujjah atas manusia. “Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” Yang dimaksud dengan ini adalah kemaksiatan kufur, sebagaimana dibatasi oleh nash-nash lain yang muhkam.
Adapun kemaksiatan semata, maka itu tidak mewajibkan kekal dalam neraka, sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat Al-Quran, hadits-hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan disepakati oleh salaf umat dan para imam umat ini.
Ayat 25: “Hingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya.”
“Hingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka,” yaitu menyaksikannya dengan mata kepala, dan yakin bahwa itu akan menimpa mereka, “maka mereka akan mengetahui” pada waktu itu hakikat pengetahuan “siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya,” ketika tidak ada yang menolong mereka selain mereka dan mereka sendiri tidak mendapat pertolongan, dan ketika mereka dikumpulkan sendirian sebagaimana mereka diciptakan pertama kali.
Ayat 26: “Katakanlah: ‘Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepada kamu itu sudah dekat ataukah Tuhanku menetapkan baginya masa yang panjang’.”
“Katakanlah” kepada mereka jika mereka bertanya kepadamu “kapan ancaman ini?” “Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepada kamu itu sudah dekat ataukah Tuhanku menetapkan baginya masa yang panjang,” yaitu batas yang panjang, maka pengetahuan tentang itu ada pada Allah.
Ayat 27-28: “(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.”
“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu” dari makhluk, bahkan Dia menyendiri dengan pengetahuan tentang hati nurani, rahasia-rahasia dan yang gaib, “kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya,” yaitu Dia mengabarkan kepadanya apa yang dikehendaki hikmah-Nya untuk diberitahukan kepadanya. Itu karena para rasul tidak seperti yang lainnya, sesungguhnya Allah menguatkan mereka dengan penguatan yang tidak diberikan kepada seorang pun dari makhluk, dan memelihara apa yang diwahyukan kepada mereka sehingga mereka menyampaikannya sesuai hakikatnya, tanpa setan-setan mengganggu mereka, dan mereka tidak menambah atau menguranginya. Karena itulah Allah berfirman: “maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya,” yaitu mereka memeliharanya dengan perintah Allah.
Ayat 29: “Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.”
“Supaya Dia mengetahui” dengan itu “bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah Tuhannya” dengan apa yang Dia jadikan sebagai sebab-sebab bagi mereka, “sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka,” yaitu apa yang ada pada mereka, yang mereka sembunyikan dan mereka tampakkan, “dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.”
Dalam surat ini terdapat faedah-faedah yang banyak:
Pertama: Adanya jin, dan bahwa mereka mukallaf, diperintah dan dilarang, diberi balasan atas amal-amal mereka, sebagaimana jelas dalam surat ini.
Kedua: Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rasul kepada jin sebagaimana beliau adalah rasul kepada manusia, karena Allah mengarahkan sekelompok jin untuk mendengarkan apa yang diwahyukan kepadanya agar mereka menyampaikannya kepada kaum mereka.
Ketiga: Kecerdasan jin dan pengetahuan mereka terhadap kebenaran, dan yang mengantarkan mereka kepada iman adalah apa yang mereka yakini dari petunjuk Al-Quran, dan baiknya adab mereka dalam pembicaraan mereka.
Keempat: Perhatian Allah kepada rasul-Nya dan penjagaan-Nya terhadap apa yang dibawa beliau. Ketika dimulai kabar gembira kenabiannya, langit dijaga dengan bintang-bintang, setan-setan lari dari tempat-tempat mereka dan diganggu dari pos-pos pengintaian mereka, dan bahwa Allah merahmati bumi dan penduduknya dengan rahmat yang tidak dapat diperkirakan kadarnya, dan Allah menghendaki kebaikan bagi mereka. Dia ingin menampakkan dari agama, syariat dan pengetahuan tentang-Nya di bumi apa yang membahagiakan hati, yang membuat senang orang-orang yang berakal, yang menampakkan syiar-syiar Islam, dan yang memadamkan para penyembah berhala dan patung.
Kelima: Besarnya semangat jin untuk mendengarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan penumpukan mereka kepadanya.
Keenam: Bahwa surat ini telah mencakup perintah bertauhid dan larangan berbuat syirik, menjelaskan keadaan makhluk, dan bahwa setiap orang dari mereka tidak berhak mendapat ibadah seberat dzarrah pun, karena Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam jika tidak kuasa mendatangkan manfaat dan mudarat kepada seorang pun, bahkan tidak kuasa untuk dirinya sendiri, maka diketahui bahwa semua makhluk demikian. Maka merupakan kesalahan dan kekeliruan menjadikan yang sifatnya demikian sebagai tuhan lain bersama Allah.
Ketujuh: Bahwa ilmu-ilmu gaib telah Allah sendirikan dengan pengetahuan-Nya, maka tidak ada seorang pun dari makhluk yang mengetahuinya, kecuali yang Allah ridhai dan khususkan dengan pengetahuan sesuatu darinya.
Selesai tafsir Surah Qul Uhiya Ilayya (Surah Al-Jin), dan segala puji bagi Allah.
[Surat ini] Makkiyah (ayat 1-11)
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Wahai orang yang berselimut! Bangunlah untuk salat malam, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) separuhnya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebihkanlah dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam itu adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya bagimu pada siang hari ada urusan yang panjang. Dan sebutlah nama Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya dengan sepenuh-penuhnya. (Dia adalah) Tuhan timur dan barat; tiada Tuhan selain Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung. Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan serahkanlah kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan yang mempunyai kemewahan hidup, dan berilah mereka tenggang waktu sebentar.” (Al-Muzzammil: 1-11)
Al-Muzzammil artinya orang yang berselimut dengan pakaiannya seperti al-mudathir (orang yang berselubung). Sifat ini terjadi pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika Allah memuliakan beliau dengan kerasulan, dan memulainya dengan menurunkan wahyu dengan mengutus Jibril kepadanya. Beliau melihat suatu hal yang belum pernah dilihat sebelumnya, dan tidak ada yang mampu bertahan menghadapinya kecuali para rasul. Pada awal kejadian tersebut, beliau mengalami keguncangan ketika melihat Jibril alaihissalam, lalu datang kepada keluarganya dan berkata: “Selimuti aku, selimuti aku!” sambil gemetar badannya. Kemudian Jibril datang dan berkata: “Bacalah!” Beliau berkata: “Aku bukan orang yang bisa membaca.” Lalu Jibril memeluknya hingga beliau merasa sesak, dan Jibril mengajarkan beliau membaca, maka beliau pun membaca shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Allah memberikan keteguhan kepadanya, dan terus menerus menurunkan wahyu kepadanya, hingga beliau mencapai kedudukan yang tidak dicapai oleh seorang rasul pun.
Maha Suci Allah, betapa besar perbedaan antara awal kenabian beliau dan akhirnya. Oleh karena itu, Allah menyapa beliau dengan sifat yang terjadi pada beliau di awal perkaranya.
Maka Allah memerintahkan beliau di sini dengan ibadah-ibadah yang berkaitan dengannya, kemudian memerintahkannya bersabar terhadap gangguan musuh-musuhnya, kemudian memerintahkannya menyampaikan perintah Allah secara terang-terangan dan mengumumkan dakwah mereka kepada Allah. Allah memerintahkannya di sini dengan ibadah yang paling mulia yaitu salat, dan pada waktu yang paling tegas dan paling utama yaitu bangun malam.
Dari rahmat Allah Ta’ala, Dia tidak memerintahkannya bangun sepanjang malam, tetapi berfirman: “Bangunlah untuk salat malam, kecuali sedikit (daripadanya).”
Kemudian Allah menentukan kadarnya dengan berfirman: “(yaitu) separuhnya atau kurangilah dari seperdua itu” yaitu dari seperdua “sedikit” yaitu sepertiga dan semisalnya.
“atau lebihkanlah dari seperdua itu” yaitu lebih dari seperdua, maka menjadi dua pertiga dan semisalnya. “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan” karena dengan membaca Al-Qur’an secara tartil akan tercapai tadabur dan tafakur, menggerakkan hati dengannya, beribadah dengan ayat-ayatnya, dan persiapan serta kesiapan yang sempurna untuknya. Karena Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat” yaitu Kami akan mewahyukan kepadamu Al-Qur’an yang berat ini, yaitu makna-maknanya yang agung, sifat-sifatnya yang mulia. Dan apa yang memiliki sifat seperti ini, layak untuk dipersiapkan, dibaca dengan tartil, dan direnungkan apa yang dikandungnya.
Kemudian Allah menyebutkan hikmah dalam perintah bangun malam, berfirman: “Sesungguhnya bangun di waktu malam itu” yaitu salat di waktu malam setelah tidur “adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan” yaitu lebih dekat untuk mencapai tujuan Al-Qur’an. Hati dan lisan bersepakat pada Al-Qur’an, gangguan-gangguan berkurang, memahami apa yang diucapkan, dan urusannya menjadi lurus. Ini berbeda dengan siang hari, karena tidak akan tercapai maksud ini, oleh karena itu Allah berfirman: “Sesungguhnya bagimu pada siang hari ada urusan yang panjang” yaitu bolak-balik mengurus kebutuhan dan penghidupanmu, yang menyebabkan hati sibuk dan tidak bisa fokus secara sempurna.
“Dan sebutlah nama Tuhanmu” mencakup semua jenis zikir “dan berserah dirilah kepada-Nya dengan sepenuh-penuhnya” yaitu berputuslah kepada Allah Ta’ala. Karena berputus kepada Allah dan kembali kepada-Nya adalah berpisahnya hati dari makhluk-makhluk, dan bersifat dengan cinta kepada Allah dan segala sesuatu yang mendekatkan kepada-Nya dan mendekatkan kepada ridha-Nya.
“(Dia adalah) Tuhan timur dan barat” dan ini adalah nama jenis yang mencakup semua tempat terbit dan terbenam. Maka Dia Ta’ala adalah Tuhan tempat-tempat terbit dan terbenam matahari, dan apa yang ada di dalamnya berupa cahaya-cahaya, dan apa yang menjadi kemaslahatan baginya dari alam atas dan bawah. Dia adalah Tuhan segala sesuatu, Penciptanya, dan Pengaturnya.
“tiada Tuhan selain Dia” yaitu tidak ada yang layak disembah kecuali wajah-Nya Yang Maha Tinggi, yang berhak dikhususkan dengan cinta dan pengagungan, kemuliaan dan penghormatan. Oleh karena itu Allah berfirman: “maka ambillah Dia sebagai pelindung” yaitu sebagai penjaga dan pengatur semua urusanmu.
Setelah Allah memerintahkannya dengan salat khususnya dan dengan zikir umumnya, dan hal tersebut akan memberikan kepada hamba kekuatan yang besar dalam menanggung beban-beban berat dan melakukan pekerjaan-pekerjaan berat, Allah memerintahkannya bersabar terhadap apa yang dikatakan oleh orang-orang yang memusuhinya, mencaci maki beliau dan mencaci maki apa yang dibawanya, dan agar beliau terus melaksanakan perintah Allah, tidak ada yang menghalanginya dari perintah Allah dan tidak ada yang mengembalikannya, dan agar beliau menjauhi mereka dengan cara yang baik yaitu menjauhi di mana kemaslahatan menghendaki menjauhi yang tidak ada gangguan di dalamnya. Maka beliau menghadapi mereka dengan menjauhi dan berpaling dari mereka dan dari perkataan-perkataan mereka yang menyakitinya, dan Allah memerintahkannya berdebat dengan mereka dengan cara yang lebih baik.
“Dan serahkanlah kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan” yaitu biarkanlah Aku dan mereka, maka Aku akan membalas mereka. Walaupun Aku memberi mereka tenggang waktu, Aku tidak akan mengabaikan mereka. Firman-Nya: “yang mempunyai kemewahan hidup” yaitu orang-orang yang memiliki nikmat dan kekayaan, yang melampaui batas ketika Allah melapangkan rizki kepada mereka dan memberikan karunia-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (Al-‘Alaq: 6-7)
Kemudian Allah mengancam mereka dengan azab yang ada di sisi-Nya, berfirman: (ayat 12-14) “Sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang menyala-nyala, dan makanan yang menyesak di kerongkongan dan azab yang pedih, pada hari bumi dan gunung-gunung berguncang keras, dan menjadilah gunung-gunung itu seperti onggokan pasir yang berterbangan.”
Yaitu sesungguhnya di sisi Kami ada “belenggu-belenggu yang berat” yaitu azab yang keras, yang Kami jadikan sebagai pelajaran bagi orang yang terus menerus melakukan dosa. “dan neraka yang menyala-nyala” yaitu api yang sangat panas “dan makanan yang menyesak di kerongkongan” yaitu karena pahitnya, jeleknya, tidak enaknya rasa dan baunya yang busuk dan bau, “dan azab yang pedih” yaitu yang sangat menyakitkan dan mengerikan. Dan itu terjadi “pada hari bumi dan gunung-gunung berguncang keras” karena dahsyatnya kengerian, “dan menjadilah gunung-gunung” yang tegak, tuli, dan keras “seperti onggokan pasir yang berterbangan” yaitu seperti pasir yang berterbangan dan berserakan. Kemudian gunung-gunung itu akan hancur setelah itu, menjadi seperti debu yang berterbangan.
(ayat 15-16) “Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu seorang rasul yang menjadi saksi terhadap kamu, sebagaimana Kami telah mengutus seorang rasul kepada Fir’aun. Maka Fir’aun mendurhakai rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat.”
Allah Ta’ala berfirman: Pujilah Tuhanmu atas diutusnya nabi ummi Arab ini, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, yang menjadi saksi atas umat dengan amal perbuatan mereka. Bersyukurlah dan laksanakanlah nikmat yang mulia ini. Jangan sampai kamu mengingkarinya, lalu kamu mendurhakai rasulmu, sehingga kamu menjadi seperti Fir’aun ketika Allah mengutus kepadanya Musa bin Imran, lalu Musa menyerunya kepada Allah dan memerintahkannya bertauhid, tetapi dia tidak membenarkannya, bahkan mendurhakainya. Maka Allah menyiksanya dengan siksaan yang berat yaitu keras lagi dahsyat.
(ayat 17-18) “Maka bagaimana kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir, pada hari yang menjadikan anak-anak beruban? Langit terbelah pada hari itu; janji Allah pasti terlaksana.”
Yaitu bagaimana kalian bisa memperoleh kelepasan dan keselamatan dari hari kiamat, hari yang mengerikan urusannya, agung kedudukannya, yang membuat anak-anak menjadi beruban, dan benda-benda besar pun meleleh karenanya, maka langit terbelah karenanya dan bintang-bintangnya bertebaran “janji Allah pasti terlaksana” yaitu pasti terjadi dan tidak ada yang menghalanginya.
(ayat 19) “Sesungguhnya ini adalah peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki niscaya ia mengambil jalan (yang lurus) kepada Tuhannya.”
Sesungguhnya peringatan yang Allah beritakan tentang keadaan hari kiamat dan kegerangannya ini adalah peringatan yang dengannya orang-orang bertakwa mengambil pelajaran, dan orang-orang beriman menahan diri karenanya. “maka barangsiapa yang menghendaki niscaya ia mengambil jalan (yang lurus) kepada Tuhannya” yaitu jalan yang mengantarkan kepada-Nya, yaitu dengan mengikuti syariat-Nya. Karena Allah telah menjelaskannya dengan sejelas-jelasnya dan menerangkannya dengan seterang-terangnya. Dan dalam hal ini terdapat dalil bahwa Allah Ta’ala telah memberi kemampuan kepada hamba-hamba-Nya atas perbuatan-perbuatan mereka dan memungkinkan mereka melakukannya, bukan seperti yang dikatakan kaum Jabariyah bahwa perbuatan mereka terjadi tanpa kehendak mereka, karena ini bertentangan dengan nash dan akal.
(ayat 20) “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasannya) di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Allah menyebutkan di awal surat ini bahwa Dia memerintahkan rasul-Nya bangun seperempat malam atau sepertiga atau dua pertiga, dan pada dasarnya umatnya mengikuti beliau dalam hukum-hukum. Dan disebutkan di tempat ini bahwa beliau telah melaksanakan hal tersebut bersama sekelompok orang mukmin bersamanya.
Karena menentukan waktu yang diperintahkan itu sulit bagi manusia, Allah memberitahukan bahwa Dia telah memudahkan mereka dalam hal itu dengan kemudahan yang sangat, berfirman: “Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang” yaitu Allah mengetahui ukuran keduanya dan apa yang telah berlalu darinya dan yang tersisa.
“Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu” yaitu tidak dapat mengetahui ukurannya tanpa kelebihan dan kekurangan, karena hal itu memerlukan perhatian dan jerih payah yang berlebihan. Yaitu maka Allah meringankan kalian dan memerintahkan kalian dengan apa yang mudah bagi kalian, baik lebih dari ukuran yang ditentukan maupun kurang. “maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an” yaitu apa yang kalian ketahui dan apa yang tidak memberatkan kalian. Oleh karena itu orang yang salat malam diperintahkan salat selama dia masih bersemangat, jika dia lelah atau malas atau mengantuk, hendaklah dia istirahat, agar datang ke salat dengan tenang dan nyaman.
Kemudian Allah menyebutkan beberapa sebab yang sesuai untuk memberikan keringanan, berfirman: “Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit” yang sulit bagi mereka salat dua pertiga malam atau seperdua atau sepertiganya. Maka hendaklah orang sakit salat yang mudah baginya, dan juga tidak diperintahkan salat sambil berdiri ketika hal itu sulit baginya, bahkan jika salat sunah sulit baginya, maka boleh dia meninggalkannya (dan dia mendapat pahala apa yang biasa dia kerjakan ketika sehat).
“dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah” yaitu Allah mengetahui bahwa di antara kalian ada musafir yang bepergian untuk berdagang, agar mereka tidak membutuhkan makhluk dan tidak meminta-minta kepada manusia. Yaitu musafir, keadaannya sesuai dengan keringanan, oleh karena itu diringankan baginya dalam salat fardu, maka dibolehkan baginya menjamak salat dalam satu waktu dan mengqashar salat yang empat rakaat.
Demikian juga “orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an” Maka Allah Ta’ala menyebutkan dua macam keringanan: keringanan untuk orang sehat yang mukim, yang memperhatikan semangatnya tanpa dibebani menentukan waktu secara tepat, tetapi berusaha melakukan salat yang utama yaitu sepertiga malam setelah seperdua malam yang pertama.
Dan keringanan untuk orang sakit atau musafir, baik perjalanannya untuk berdagang maupun untuk ibadah seperti berperang atau jihad atau haji atau umrah dan semisalnya. Maka dia juga memperhatikan apa yang tidak memberatkannya. Segala puji dan pujian bagi Allah yang tidak menjadikan kesempitan dalam agama bagi umat, bahkan memudahkan syariat-Nya dan memperhatikan keadaan hamba-hamba-Nya serta kemaslahatan agama, badan, dan dunia mereka.
Kemudian Allah memerintahkan para hamba dengan dua ibadah yang merupakan induk ibadah dan tiangnya: mendirikan salat yang agama tidak bisa tegak kecuali dengannya, dan menunaikan zakat yang merupakan bukti keimanan, dan dengannya tercapai saling tolong-menolong kepada fakir dan miskin. Oleh karena itu Allah berfirman:
“dan dirikanlah sembahyang” dengan rukun-rukannya, syarat-syaratnya, dan penyempurnanya. “dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik” yaitu ikhlas karena Allah, dari niat yang tulus, keyakinan dari jiwa, dan harta yang baik. Masuk dalam hal ini sedekah wajib dan sunah. Kemudian Allah mendorong kepada kebaikan secara umum dan perbuatan-perbuatannya, berfirman: “Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasannya) di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya” kebaikan dibalas sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak.
Dan hendaklah diketahui bahwa seberat dzarrah kebaikan di dunia ini, dibalas dengan kelipatan berkali-kali lipat dunia dan apa yang ada di atasnya di negeri kenikmatan yang kekal, berupa kelezatan dan syahwat. Dan bahwa kebaikan dan kebajikan di dunia ini adalah bahan kebaikan dan kebajikan di negeri yang kekal, bibitnya, pokoknya, dan dasarnya. Maka sayangnya waktu-waktu yang berlalu dalam kelalaan, dan menyesalnya zaman-zaman yang habis tanpa amal saleh, dan minta tolonglah kepada Allah dari hati-hati yang tidak terpengaruh oleh nasihat Penciptanya dan tidak berhasil di dalamnya dorongan dari Yang lebih sayang kepadanya daripada dirinya sendiri.
Maka bagi-Mu ya Allah segala puji, dan kepada-Mu pengaduan, dan kepada-Mu meminta pertolongan, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu.
“Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” Dan dalam perintah beristighfar setelah dorongan kepada perbuatan taat dan kebaikan, terdapat faedah yang besar. Hal tersebut karena hamba tidak terlepas dari kekurangan dalam apa yang diperintahkan kepadanya, baik dia tidak melakukannya sama sekali atau melakukannya dengan cara yang kurang. Maka diperintahkanlah untuk menutupi kekurangan tersebut dengan istighfar. Karena hamba berbuat dosa di sepanjang malam dan siang, maka kapanpun Allah tidak melindunginya dengan rahmat dan ampunan-Nya, maka dia akan binasa.
Selesai tafsir Surat Al-Muzzammil.
[Surat ini] adalah surat Makkiyah
Ayat 1-7: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Hai orang yang berselimut * Bangunlah, lalu berilah peringatan! * Dan Tuhanmu agungkanlah! * Dan pakaianmu bersihkanlah! * Dan perbuatan dosa tinggalkanlah! * Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak * Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.”
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Al-Muzzammil dan Al-Muddatstsir memiliki makna yang sama, dan bahwa Allah memerintahkan Rasul-Nya ﷺ untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah, baik ibadah yang bersifat pribadi maupun yang bermanfaat bagi orang lain. Di surat Al-Muzzammil telah dijelaskan perintah untuk melakukan ibadah-ibadah utama yang bersifat pribadi dan bersabar atas gangguan kaumnya, sedangkan di sini Allah memerintahkannya untuk mengumumkan dakwah dan menyebarkan peringatan dengan tegas.
Maka Allah berfirman: “Bangunlah” [yaitu] dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat “lalu berilah peringatan” kepada manusia dengan perkataan dan perbuatan yang dapat mencapai tujuan, serta jelaskan keadaan hal yang diperingatkan agar hal itu lebih mendorong untuk meninggalkannya.
“Dan Tuhanmu agungkanlah” artinya: agungkanlah Dia dengan tauhid, dan jadikanlah tujuan dalam peringatanmu adalah wajah Allah, dan agar para hamba mengagungkan-Nya serta melaksanakan ibadah kepada-Nya.
“Dan pakaianmu bersihkanlah” kemungkinan yang dimaksud dengan pakaiannya adalah seluruh amalnya, dan membersihkannya berarti memurnikan dan menasehati dengannya, melaksanakannya dengan cara yang paling sempurna, serta membersihkannya dari hal-hal yang merusak, merusak, dan mengurangi seperti kejahatan, riya, kemunafikan, ujub, kesombongan, kelalaian, dan lain-lain yang diperintahkan kepada hamba untuk dihindari dalam ibadahnya.
Dalam hal ini juga termasuk membersihkan pakaian dari najis, karena hal itu merupakan kesempurnaan pembersihan amal, khususnya dalam shalat, yang menurut banyak ulama: menghilangkan najis darinya adalah salah satu syarat shalat.
Kemungkinan lain yang dimaksud dengan pakaiannya adalah pakaian yang dikenal, dan dia diperintahkan untuk membersihkannya dari semua najis, di semua waktu, khususnya ketika akan melaksanakan shalat. Dan jika dia diperintahkan untuk membersihkan yang zahir, maka kebersihan zahir adalah bagian dari kesempurnaan kebersihan batin.
“Dan perbuatan dosa tinggalkanlah” kemungkinan yang dimaksud dengan “rujz” adalah berhala-berhala dan patung-patung yang disembah selain Allah, maka dia diperintahkan untuk meninggalkannya, berlepas diri darinya dan dari segala yang dinisbatkan kepadanya berupa perkataan atau perbuatan. Kemungkinan lain yang dimaksud dengan “rujz” adalah semua perbuatan jahat dan perkataannya, maka ini adalah perintah untuk meninggalkan dosa-dosa, yang kecil maupun yang besar, yang zahir maupun yang batin, termasuk di dalamnya syirik dan yang di bawahnya.
“Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak” artinya: janganlah engkau mengungkit-ungkit kepada manusia apa yang telah engkau berikan kepada mereka berupa nikmat-nikmat agama dan dunia, sehingga engkau merasa banyak berbuat dengan ungkit-ungkitan itu, dan merasa mempunyai kelebihan atas mereka karena kebaikanmu yang mengungkit-ungkit itu. Tetapi berbuatlah baik kepada manusia semampu engkau, dan lupakanlah kebaikanmu di hadapan mereka, dan jangan meminta balasannya kecuali dari Allah Ta’ala, dan jadikanlah orang yang telah engkau berbuat baik kepadanya dan yang lainnya sama saja.
Dan telah dikatakan: bahwa makna ini adalah, jangan engkau memberi seseorang sesuatu, sedangkan engkau menginginkan dia membalasmu dengan yang lebih darinya, maka hal ini khusus untuk Nabi ﷺ.
“Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah” artinya: ikhlaskanlah kesabaranmu, dan tujukanlah dengannya wajah Allah Ta’ala.
Maka Rasulullah ﷺ menunaikan perintah Tuhannya dan segera melaksanakannya. Beliau memberi peringatan kepada manusia, menjelaskan kepada mereka dengan ayat-ayat yang jelas semua tuntutan Ilahi, mengagungkan Allah Ta’ala, mengajak makhluk untuk mengagungkan-Nya, membersihkan amal-amalnya yang zahir dan batin dari segala keburukan, meninggalkan segala yang menjauhkan dari Allah seperti berhala-berhala dan para penyembahnya, serta kejahatan dan para pelakunya. Beliau berbuat baik kepada manusia – setelah kebaikan Allah – tanpa mengharapkan balasan atau terima kasih dari mereka, dan bersabar untuk Allah dengan kesabaran yang paling sempurna. Beliau bersabar dalam ketaatan kepada Allah, menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah, dan bersabar atas takdir-takdir Allah yang menyakitkan, hingga beliau mengungguli para rasul Ulul Azmi. Semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada beliau dan kepada mereka semua.
Ayat 8-10: “Apabila sangkakala ditiup * Maka pada hari itu adalah hari yang sulit * Bagi orang-orang kafir tidaklah mudah.”
Artinya: apabila ditiup sangkakala untuk bangkit dari kubur dan dikumpulkannya makhluk untuk dibangkitkan dan dihidupkan kembali.
“Maka pada hari itu adalah hari yang sulit” karena banyaknya kengerian dan kesulitannya.
“Bagi orang-orang kafir tidaklah mudah” karena mereka telah putus asa dari segala kebaikan, dan meyakini kebinasaan dan kehancuran. Mafhum dari ayat ini adalah bahwa hari itu mudah bagi orang-orang mukmin, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Orang-orang kafir berkata: ‘Ini adalah hari yang sulit’.” (Surat Al-Qamar: 8)
Ayat 11-31: “Biarkanlah Aku (bertindak) terhadap orang yang telah Ku-ciptakan sendirian * Dan Ku-jadikan untuknya harta yang banyak * Dan anak-anak yang selalu hadir (bersamanya) * Dan Ku-mudahkan segala urusan dengan kemudahan yang sempurna * Kemudian ia masih mengharapkan agar Aku menambah (nikmat kepadanya) * Sekali-kali tidak! Sesungguhnya ia adalah seorang yang menentang ayat-ayat Kami * Kelak akan Ku-bebani dia dengan siksaan yang berat.”
Ayat-ayat ini turun mengenai Al-Walid bin Al-Mughirah, penentang kebenaran dan yang menantang Allah dan Rasul-Nya dengan permusuhan dan pertentangan. Allah mencacinya dengan cacian yang tidak dicacikan kepada selainnya, dan ini adalah balasan bagi setiap orang yang menentang dan melawan kebenaran, bahwa baginya kehinaan di dunia, dan siksa akhirat lebih menghinakan.
Allah berfirman: “Biarkanlah Aku (bertindak) terhadap orang yang telah Ku-ciptakan sendirian” artinya: Aku ciptakan dia sendirian, tanpa harta, keluarga, dan lainnya, kemudian Aku terus mengembangkan dan membesarkannya.
“Dan Ku-jadikan untuknya harta yang banyak” yaitu berlimpah, “dan” Kujadikan untuknya “anak-anak” yaitu anak laki-laki “yang selalu hadir (bersamanya)” artinya: selalu berada di dekatnya, dia menikmati kebersamaan mereka, menyelesaikan keperluan-keperluannya dengan mereka, dan meminta pertolongan kepada mereka.
“Dan Ku-mudahkan segala urusan dengan kemudahan yang sempurna” artinya: Aku beri dia kemampuan terhadap dunia dan sebab-sebabnya, hingga tunduk kepadanya segala yang diinginkannya, dan dia memperoleh apa yang dia kehendaki dan inginkan. “Kemudian” dengan nikmat-nikmat dan pemberian-pemberian ini “ia masih mengharapkan agar Aku menambah (nikmat kepadanya)” yaitu: dia berharap mendapat kenikmatan akhirat sebagaimana dia memperoleh kenikmatan dunia.
“Sekali-kali tidak!” artinya: tidak seperti yang dia harapkan, bahkan berlawanan dengan maksud dan tujuannya, dan itu karena dia “adalah seorang yang menentang ayat-ayat Kami” yaitu: menentang, dia mengetahuinya kemudian mengingkarinya, ayat-ayat itu mengajaknya kepada kebenaran tetapi dia tidak tunduk kepadanya dan tidak cukup baginya bahwa dia berpaling dan memalingkan diri darinya, bahkan dia memeranginya dan berusaha membatalkannya. Karena itu Allah berfirman tentangnya: “Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang akan dikatakannya) * Terkutuklah dia, alangkah jahatnya apa yang ditetapkannya itu * Kemudian terkutuklah dia, alangkah jahatnya apa yang ditetapkannya itu * Kemudian dia memandang(-pandang) * Kemudian dia bermuka masam dan cemberut * Kemudian dia berpaling dan menyombongkan diri * Lalu dia berkata: ‘Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang dahulu) * Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia’ * Kelak akan Ku-masukkan dia ke dalam (neraka) Saqar * Dan tahukah kamu apakah (neraka) Saqar itu? * (Saqar itu) tidak meninggalkan dan tidak membiarkan * Yang menghanguskan kulit manusia * Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga) * Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al Kitab menjadi yakin dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya dan orang-orang kafir (mengatakan): ‘Apakah yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan ini?’ Demikianlah Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.”
“Sesungguhnya dia telah memikirkan” [yaitu:] dalam dirinya “dan menetapkan” apa yang dipikirkannya, untuk mengatakan perkataan yang dapat membatalkan Al-Quran.
“Terkutuklah dia, alangkah jahatnya apa yang ditetapkannya itu, kemudian terkutuklah dia, alangkah jahatnya apa yang ditetapkannya itu” karena dia menetapkan suatu perkara yang tidak pada tempatnya, dan meloncat kepada sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh dia dan orang-orang seperti dia.
“Kemudian dia memandang(-pandang)” apa yang akan dikatakannya, “kemudian dia bermuka masam dan cemberut” di wajahnya, dan zahir darinya penolakan terhadap kebenaran dan kebencian kepadanya. “Kemudian dia berpaling” yaitu: memalingkan diri “dan menyombongkan diri” hasil dari usaha pemikirannya, amalnya dan perkataannya adalah bahwa dia berkata:
“Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia” artinya: ini bukan kalam Allah, tetapi kalam manusia, dan bukan juga kalam manusia yang baik, tetapi kalam orang-orang jahat dan durjana di antara mereka, dari setiap pendusta dan tukang sihir.
Celakalah dia, betapa jauhnya dia dari kebenaran, dan betapa pantas dia mendapat kerugian dan kebinasaan!! Bagaimana bisa terlintas dalam pikiran, atau dibayangkan oleh hati nurani setiap manusia, bahwa kalam yang paling tinggi dan paling agung, kalam Tuhan Yang Maha Agung, Yang Maha Mulia lagi Maha Pemurah, menyerupai kalam makhluk-makhluk yang fakir lagi kurang?!
Atau bagaimana berani pendusta yang keras kepala ini, menggambarkan kalam Dzat Yang Maha Menciptakan dan Menghidupkan kembali.
Maka tidak pantas baginya kecuali siksa yang pedih dan hukuman yang berat, karena itu Allah Ta’ala berfirman:
“Kelak akan Ku-masukkan dia ke dalam (neraka) Saqar. Dan tahukah kamu apakah (neraka) Saqar itu? (Saqar itu) tidak meninggalkan dan tidak membiarkan” artinya: tidak meninggalkan dari kepedihan, dan tidak pada orang yang disiksa sesuatupun kecuali sampai kepadanya.
“Yang menghanguskan kulit manusia” artinya: membakar mereka dan menyiksa mereka dalam azabnya, dan meresahkan mereka dengan panasnya yang sangat dan dinginnya yang pedih.
“Di atasnya ada sembilan belas” dari malaikat, penjaga-penjaganya, keras lagi kuat, tidak mendurhakai Allah dalam apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan mengerjakan apa yang diperintahkan.
“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat” dan itu karena kekeras dan kekuatan mereka. “Dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir” kemungkinan maknanya: kecuali untuk menyiksa dan menghukum mereka di akhirat, dan menambah hukuman mereka di dalamnya, dan azab disebut fitnah [sebagaimana firman Allah Ta’ala: “(yaitu) di hari ketika mereka diazab di atas api neraka” (Surat Adz-Dzariyat: 13)]. Kemungkinan lain maknanya: bahwa Kami tidak memberitahukan kepada kalian tentang jumlah mereka, kecuali untuk mengetahui siapa yang membenarkan dan siapa yang mendustakan, dan menunjukkan hal ini apa yang disebutkan setelahnya dalam firman-Nya:
“Supaya orang-orang yang diberi Al Kitab menjadi yakin dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya” maka Ahli Kitab, apabila sesuai dengan apa yang ada pada mereka dan cocok dengannya, bertambahlah keyakinan mereka kepada kebenaran, dan orang-orang mukmin setiap kali Allah menurunkan ayat, lalu mereka beriman kepadanya dan membenarkannya, bertambahlah iman mereka. “Dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu” artinya: agar hilang dari mereka keragu-raguan dan keraguan. Dan ini adalah tujuan-tujuan mulia yang diperhatikan oleh orang-orang yang berakal, yaitu berusaha dalam keyakinan, dan menambah iman di setiap waktu, dan setiap masalah dari masalah-masalah agama, serta menolak keraguan-keraguan dan prasangka-prasangka yang muncul sebagai lawan kebenaran.
Maka Allah jadikan apa yang diturunkan-Nya kepada rasul-Nya sebagai penyebab tercapainya faedah-faedah mulia ini, dan pembeda antara orang-orang pendusta dan orang-orang yang jujur, karena itu Allah berfirman: “Dan supaya orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya” yaitu: keraguan dan syubhat serta kemunafikan. “Dan orang-orang kafir (mengatakan): ‘Apakah yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan ini?'” dan ini dengan cara bingung dan ragu, serta kekafiran mereka terhadap ayat-ayat Allah, dan ini dan itu dari hidayah Allah kepada siapa yang Dia beri hidayah, dan kesesatan-Nya kepada siapa yang Dia sesatkan, karena itu Allah berfirman:
“Demikianlah Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya” maka siapa yang diberi hidayah Allah, Dia jadikan apa yang diturunkan Allah kepada rasul-Nya sebagai rahmat baginya, dan penambah iman serta agamanya, dan siapa yang disesatkan-Nya, Dia jadikan apa yang diturunkan kepada rasul-Nya sebagai tambahan kesengsaraan dan kebingungan, serta kegelapan baginya.
Yang wajib adalah menerima apa yang diberitahukan Allah dan rasul-Nya dengan taslim, karena tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu dari malaikat dan selain mereka “melainkan Dia sendiri” maka apabila kalian tidak mengetahui tentara-tentara-Nya, dan Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal memberitahukan kepada kalian tentangnya, maka wajib atas kalian membenarkan berita-Nya, tanpa ragu dan keraguan. “Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia” artinya: dan tidaklah nasihat dan peringatan ini dimaksudkan untuk main-main dan permainan, tetapi yang dimaksudkan dengannya adalah agar manusia mengingat apa yang bermanfaat bagi mereka sehingga mereka mengerjakannya, dan apa yang berbahaya bagi mereka sehingga mereka meninggalkannya.
Ayat 32-56: “Sekali-kali tidak! Demi bulan * Dan demi malam ketika telah berlalu * Dan demi subuh apabila terang * Sesungguhnya neraka itu benar-benar salah satu bencana yang terbesar * Sebagai peringatan bagi manusia * (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau maju atau mundur * Tiap-tiap jiwa terikat dengan apa yang dikerjakannya * Kecuali golongan kanan * Mereka berada dalam taman-taman surga, mereka saling menanyakan * Tentang orang-orang yang berdosa (di neraka) * ‘Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar?’ * Mereka menjawab: ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat * Dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin * Dan adalah kami membicarakan yang bathil bersama orang-orang yang membicarakannya * Dan adalah kami mendustakan hari pembalasan * Sampai datang kepada kami kematian yang diyakini.'”
“Sekali-kali tidak!” di sini bermakna: sungguh, atau bermakna “ketahuilah” sebagai pembuka. Maka Allah Ta’ala bersumpah dengan bulan, dengan malam di waktu berlalunyadan siang di waktu terangnya, karena hal-hal yang disebutkan mengandung ayat-ayat Allah yang agung, yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah dan hikmah-Nya, keluasan kekuasaan-Nya, keumuman rahmat-Nya, dan keseluruhan ilmu-Nya.
Yang disumpahi adalah firman-Nya: “Sesungguhnya neraka itu” yaitu neraka “benar-benar salah satu bencana yang terbesar” artinya: salah satu dari keagungan-keagungan yang dahsyat dan perkara-perkara penting. Maka apabila Kami telah memberitahukan kepada kalian tentangnya, dan kalian berada dalam kejelasan mengenai perkaranya, maka siapa di antara kalian yang mau maju, yaitu beramal dengan apa yang mendekatkannya kepada Tuhannya, mendekatkannya kepada ridha-Nya, dan mendekatkannya kepada negeri kemuliaan-Nya, atau mundur [dari apa yang diciptakan untuknya dan] dari apa yang Allah cintai [dan ridhai], maka dia beramal dengan kemaksiatan, dan mendekatkan diri kepada neraka jahannam, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.'” (Surat Al-Kahf: 29)
“Tiap-tiap jiwa terikat dengan apa yang dikerjakannya” dari amal-amal buruk dan perbuatan-perbuatan jahat “terikat” dengannya, terpaut dengan usahanya, telah dilekatkan di lehernya, dibelenggu di tengkuknya, dan pantas mendapat azab karenanya, “kecuali golongan kanan” maka mereka tidak terikat, bahkan dilepaskan dan bergembira “mereka berada dalam taman-taman surga, mereka saling menanyakan tentang orang-orang yang berdosa (di neraka)”
Artinya: dalam surga-surga yang telah didapat oleh mereka semua yang mereka inginkan, dan sempurnalah bagi mereka kesenangan dan ketentraman, hingga mereka mulai saling bertanya, maka percakapan membawa mereka kepada bertanya tentang orang-orang yang berdosa, yaitu: keadaan apa yang mereka sampai kepadanya, dan apakah mereka menemukan apa yang Allah Ta’ala janjikan kepada mereka? Maka berkatalah sebagian dari mereka kepada sebagian: “Apakah kalian akan melihat mereka?” Lalu mereka melihat mereka di tengah neraka jahannam sedang disiksa, maka mereka berkata kepada mereka: “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar?” artinya: hal apa yang memasukkan kalian ke dalamnya? Dan dengan dosa apa kalian layak mendapatkannya?
Maka “mereka menjawab: ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin'” maka tidak ada keikhlasan kepada Yang disembah, [dan tidak ada kebaikan] serta tidak ada kemanfaatan bagi makhluk-makhluk yang membutuhkan.
“Dan adalah kami membicarakan yang bathil bersama orang-orang yang membicarakannya” artinya: kami membicarakan kebatilan, dan memperdebatkan dengannya kebenaran. “Dan adalah kami mendustakan hari pembalasan” ini adalah akibat membicarakan kebatilan, [yaitu] mendustakan kebenaran, dan yang paling berhak sebagai kebenaran adalah hari pembalasan, yang merupakan tempat pembalasan atas amal-amal, dan munculnya kerajaan Allah dan hukum-Nya yang adil bagi seluruh makhluk.
Maka kami terus berada dalam mazhab yang rusak ini “sampai datang kepada kami kematian yang diyakini” yaitu: kematian. Maka ketika mereka mati dalam keadaan kafir, menjadi susahlah bagi mereka saat itu segala tipu daya, dan tertutuplah di hadapan mereka pintu harapan.
Surat Al-Muddatstsir Ayat 48-56
“Maka syafaat para pemberi syafaat tidak akan berguna bagi mereka. Maka mengapa mereka berpaling dari peringatan? Mereka seperti keledai liar yang lari terbirit-birit karena lari dari singa. Bahkan setiap orang dari mereka menginginkan agar diberikan lembaran-lembaran yang terbuka (wahyu khusus). Sekali-kali tidak! Bahkan mereka tidak takut kepada akhirat. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah peringatan. Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya. Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran kecuali apabila Allah menghendaki. Dia-lah yang berhak ditakwai dan berhak memberi ampun.” (Al-Muddatstsir: 48-56)
Tafsir:
“Maka syafaat para pemberi syafaat tidak akan berguna bagi mereka” karena para pemberi syafaat tidak akan memberi syafaat kecuali kepada orang yang Allah ridhai, dan orang-orang ini tidak Allah ridhai amal-amal mereka.
Setelah Allah menjelaskan nasib orang-orang yang menentang, dan menakut-nakuti dengan apa yang akan dilakukan kepada mereka, Allah beralih kepada orang-orang yang ada (di masa Nabi) dengan teguran dan celaan, maka Allah berfirman: “Maka mengapa mereka berpaling dari peringatan?” artinya: menghindar dan lalai daripadanya. “Mereka seperti” dalam penolakan mereka yang sangat terhadapnya “keledai liar yang lari terbirit-birit” artinya: seperti keledai hutan yang lari hingga sebagian membuat sebagian yang lain ikut lari, sehingga bertambah kerasnya lari mereka, “karena lari dari singa” artinya: dari pemburu dan pemanah yang mengincar mereka, atau dari singa dan sejenisnya. Dan ini adalah bentuk penolakan yang paling keras terhadap kebenaran, namun dengan penolakan dan sikap berpaling ini, mereka mengajukan tuntutan-tuntutan besar.
Maka “setiap orang dari mereka menginginkan agar diberikan lembaran-lembaran yang terbuka” yang turun kepadanya dari langit, mereka mengklaim bahwa mereka tidak akan tunduk kepada kebenaran kecuali dengan itu, padahal mereka berdusta. Seandainya datang kepada mereka setiap tanda, mereka tidak akan beriman hingga mereka melihat azab yang pedih. Karena sesungguhnya telah datang kepada mereka ayat-ayat yang jelas yang menjelaskan kebenaran dan memperjelas-nya. Seandainya ada kebaikan pada mereka, niscaya mereka beriman. Oleh karena itu Allah berfirman: “Sekali-kali tidak” Kami akan memberi mereka apa yang mereka minta, padahal tujuan mereka dengan itu hanyalah untuk melemahkan (dakwah). “Bahkan mereka tidak takut kepada akhirat” Seandainya mereka takut kepadanya, niscaya tidak terjadi dari mereka apa yang telah terjadi.
“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah peringatan” Kata ganti ini kembali kepada surat ini, atau kepada apa yang dikandungnya berupa nasihat ini. “Maka barang siapa yang menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya” karena sesungguhnya telah dijelaskan kepadanya jalan, dan telah diperjelas kepadanya dalil.
“Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran kecuali apabila Allah menghendaki” karena sesungguhnya kehendak-Nya berlaku dan menyeluruh, tidak ada peristiwa sedikit atau banyak yang keluar daripadanya. Dalam ayat ini terdapat bantahan terhadap kaum Qadariyah, yang tidak memasukkan perbuatan-perbuatan hamba ke dalam kehendak Allah, dan kaum Jabariyah yang mengklaim bahwa tidak ada kehendak bagi hamba, dan tidak ada perbuatan yang sesungguhnya, melainkan dia dipaksa atas perbuatan-perbuatannya. Maka Allah menetapkan bagi para hamba kehendak yang sesungguhnya dan perbuatan, dan menjadikan itu mengikuti kehendak-Nya. “Dia-lah yang berhak ditakwai dan berhak memberi ampun” artinya: Dia-lah yang berhak ditakwai dan disembah, karena Dia adalah Tuhan yang tidak pantas disembah kecuali Dia, dan berhak memberi ampun kepada orang yang bertakwa kepada-Nya dan mengikuti keridaan-Nya. Selesailah tafsir surat Al-Muddatstsir dan segala puji bagi Allah.
TAFSIR SURAT AL-QIYAMAH (SURAT MAKIYYAH)
Ayat 1-6
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku bersumpah demi hari kiamat. Dan Aku bersumpah demi jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan tulang-tulangnya? Bahkan Kami kuasa menyusun (kembali) jari-jarinya dengan sempurna. Tetapi manusia berkehendak untuk berbuat fujur di hadapannya. Dia bertanya: ‘Bilakah hari kiamat itu?'” (Al-Qiyamah: 1-6)
Tafsir:
“Laa” di sini bukanlah untuk menafikan, dan bukan juga tambahan, melainkan datang untuk pembukaan dan penekanan terhadap apa yang setelahnya, dan karena seringnya digunakan bersama sumpah, maka tidak mengherankan jika digunakan untuk pembukaan, meskipun pada asalnya tidak diletakkan untuk pembukaan.
Yang disumpahi dalam tempat ini adalah yang disumpahi untuknya, yaitu kebangkitan setelah mati, dan bangkitnya manusia dari kubur-kubur mereka, kemudian berdiri mereka menunggu apa yang akan diputuskan Rabb atas mereka.
“Dan Aku bersumpah demi jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)” yaitu semua jiwa yang baik maupun yang jahat. Disebut “lawwaamah” (penyesal) karena seringnya berbolak-balik dan menyesali dan tidak tetap pada satu keadaan dari keadaan-keadaannya, dan karena pada saat mati dia menyesali pemiliknya atas apa yang telah dikerjakan. Bahkan jiwa orang mukmin menyesali pemiliknya di dunia atas apa yang terjadi darinya berupa kelalaian atau kekurangan dalam suatu hak dari hak-hak, atau karena lengah. Maka Allah menggabungkan antara bersumpah dengan pembalasan, dan atas pembalasan, dan dengan yang berhak mendapat pembalasan.
Kemudian Allah mengabarkan bahwa sebagian orang yang membangkang mendustakan hari kiamat, maka Allah berfirman: “Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan tulang-tulangnya” setelah mati, sebagaimana firman-Nya dalam ayat lain: “Dia berkata: ‘Siapa yang akan menghidupkan tulang-tulang, padahal ia telah hancur luluh?'” Maka dia menganggap mustahil karena kebodohan dan kedurhakaannya, kekuasaan Allah atas menciptakan tulang-tulangnya yang merupakan tiang tubuh. Allah membantahnya dengan firman-Nya: “Bahkan Kami kuasa menyusun (kembali) jari-jarinya dengan sempurna” yaitu ujung-ujung jari-jarinya dan tulang-tulangnya, yang mengharuskan penciptaan seluruh bagian tubuh, karena jika ada jari-jari dan ujung jari, maka sempurnalah penciptaan jasad. Dan pengingkarannya terhadap kekuasaan Allah Ta’ala bukanlah karena kekurangan dalil yang menunjukkan hal itu, melainkan terjadi darinya karena tujuan dan keinginannya adalah mendustakan apa yang ada di hadapannya yaitu kebangkitan. Dan fujur adalah dusta dengan sengaja.
Ayat 7-15
“Maka apabila mata terbelalak (karena takut), dan bulan hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata: ‘Ke mana tempat lari?’ Sekali-kali tidak ada tempat berlindung! Kepada Tuhanmulah pada hari itu tempat kembali. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” (Al-Qiyamah: 7-15)
Tafsir:
Artinya: apabila terjadi kiamat, mata-mata terbelalak karena dahsyatnya peristiwa, dan terpaku tidak berkedip sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Kami menangguhkan mereka sampai hari ketika mata terbelalak, mereka datang bergegas dengan mengangkat kepala mereka, pandangan mereka tidak kembali kepada mereka dan hati mereka kosong.”
“Dan bulan hilang cahayanya” artinya: hilang cahaya dan kekuasaannya. “Dan matahari dan bulan dikumpulkan” padahal keduanya tidak pernah bertemu sejak Allah menciptakan keduanya. Maka Allah akan mengumpulkan keduanya pada hari kiamat, dan bulan akan kehilangan cahayanya, matahari akan digulung, kemudian keduanya dilemparkan ke dalam neraka, agar para hamba melihat bahwa keduanya adalah hamba yang ditundukkan, dan agar orang yang menyembah keduanya melihat bahwa mereka adalah pendusta.
“Pada hari itu manusia berkata” ketika melihat kekacauan-kekacauan yang mengkhawatirkan itu: “Ke mana tempat lari?” artinya: di mana keselamatan dan jalan keluar dari apa yang menimpa dan mengenai kami?
“Sekali-kali tidak ada tempat berlindung!” artinya: tidak ada tempat berlindung bagi siapa pun selain Allah. “Kepada Tuhanmulah pada hari itu tempat kembali” bagi seluruh hamba, maka tidak ada seorang pun yang mampu bersembunyi atau lari dari tempat itu, bahkan pasti dia akan dihentikan untuk diberi balasan sesuai amalnya. Oleh karena itu Allah berfirman: “Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya” artinya: dengan seluruh amalnya yang baik dan buruk, pada awal waktu dan akhirnya, dan dia diberi tahu dengan berita yang tidak diingkarinya.
“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri” artinya: menjadi saksi dan penghisab. “Meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya” karena sesungguhnya itu adalah alasan yang tidak diterima, dan tidak dapat mengimbangi apa yang ditetapkan dengan hamba, sehingga dia mengakuinya, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghisab atasmu.”
Maka hamba meskipun mengingkari, atau berdalih atas apa yang dikerjakannya, pengingkaran dan dalihnya tidak akan memberinya manfaat sedikit pun, karena pendengaran dan penglihatannya, dan seluruh anggota tubuhnya akan menjadi saksi atasnya dengan apa yang dia kerjakan, dan karena waktu untuk minta maaf telah pergi dan hilang manfaatnya: “Maka pada hari itu tidak bermanfaat bagi orang-orang yang zalim permintaan maaf mereka dan mereka tidak diminta bertobat.”
Ayat 16-19
“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca Al-Qur’an) karena hendak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskannya.” (Al-Qiyamah: 16-19)
Tafsir:
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila didatangi Jibril dengan wahyu, dan Jibril memulai membacakannya kepadanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menyahuti karena semangatnya sebelum Jibril selesai, dan membacanya bersama bacaan Jibril. Maka Allah melarangnya dari hal ini, dan berfirman: “Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Qur’an sebelum selesai diturunkan wahyunya kepadamu.”
Dan di sini Allah berfirman: “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca Al-Qur’an) karena hendak cepat-cepat (menguasainya).” Kemudian Allah menjamin kepadanya bahwa Dia pasti akan menjaganya dan membacakannya, dan akan mengumpulkannya di dadanya, maka Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya.” Maka semangat yang ada di hatimu, pendorongnya adalah takut lupa dan hilang, jika Allah menjaminnya untukmu maka tidak ada alasan untuk itu.
“Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu” artinya: apabila Jibril telah menyelesaikan bacaan apa yang Allah wahyukan kepadamu, maka saat itu ikutilah apa yang dibacanya dan bacakanlah.
“Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskannya” artinya: menjelaskan maknanya. Maka Allah menjanjikan untuk menjaga lafaznya dan menjaga maknanya, dan inilah yang paling tinggi. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikuti adab Rabbnya, dan adalah jika Jibril membacakan Al-Qur’an kepadanya setelah ini, beliau mendengarkan, jika Jibril selesai maka beliau membacanya.
Dalam ayat ini terdapat adab dalam mengambil ilmu, yaitu jangan mendahului murid kepada guru sebelum guru selesai dari masalah yang dimulainya. Jika guru telah selesai darinya, maka murid bertanya tentang apa yang menjadi masalah baginya. Begitu juga jika di awal pembicaraan ada yang mengharuskan penolakan atau persetujuan, jangan tergesa-gesa menolak atau menerima, hingga selesai dari pembicaraan itu, agar jelas apa yang ada padanya dari kebenaran atau kebatilan, dan agar memahaminya dengan pemahaman yang memungkinkan untuk berbicara tentangnya. Dan di dalamnya: bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana menjelaskan kepada umat lafaz-lafaz wahyu, maka beliau juga telah menjelaskan kepada mereka maknanya.
Ayat 20-25
“Sekali-kali tidak! Bahkan kamu mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat. Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka melihat. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat.” (Al-Qiyamah: 20-25)
Tafsir:
Artinya: inilah yang menyebabkan kalian lalai dan berpaling dari nasihat Allah dan peringatan-Nya bahwa kalian “mencintai kehidupan dunia” dan berusaha untuk mendapatkannya, dan dalam kelezatan dan syahwatnya, dan kalian lebih mengutamakan-nya daripada akhirat, maka kalian meninggalkan amal untuknya, karena kenikmatan dan kelezatan dunia itu segera didapat, dan manusia itu cenderung mencintai yang segera, sedangkan akhirat terlambat apa yang ada padanya berupa kenikmatan yang kekal. Karena itulah kalian lalai daripadanya dan meninggalkannya, seakan-akan kalian tidak diciptakan untuknya, dan seakan-akan negeri ini adalah negeri yang kekal, yang di dalamnya dihabiskan masa-masa yang berharga, dan diusahakan untuknya siang malam. Dengan demikian terbalik pada kalian hakikat, dan terjadi kerugian yang terjadi. Seandainya kalian mengutamakan akhirat daripada dunia, dan memandang akibat dengan pandangan orang yang bisa melihat dan berakal, niscaya kalian berhasil, dan meraih keuntungan yang tidak ada kerugian bersamanya, dan mendapat kemenangan yang tidak ada kesengsaraan yang menyertainya.
Kemudian Allah menyebutkan apa yang menyeru untuk mengutamakan akhirat, dengan menjelaskan keadaan penghuninya dan perbedaan mereka di dalamnya. Allah berfirman dalam balasan orang-orang yang mengutamakan akhirat daripada dunia: “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri” artinya: bagus dan bercahaya, memiliki sinar dan cahaya, karena apa yang mereka rasakan berupa kenikmatan hati, dan kegembiraan jiwa, dan kelezatan ruh, “kepada Tuhannyalah mereka melihat” artinya: mereka melihat kepada Rabb mereka sesuai dengan derajat mereka: di antara mereka ada yang melihat-Nya setiap hari pagi dan petang, di antara mereka ada yang melihat-Nya setiap Jumat satu kali, maka mereka menikmati dengan melihat wajah-Nya yang mulia, dan keindahan-Nya yang gemilang, yang tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. Jika mereka melihat-Nya, mereka lupa apa yang mereka rasakan berupa kenikmatan dan diperoleh untuk mereka kelezatan dan kegembiraan yang tidak dapat diungkapkan, dan wajah-wajah mereka berseri sehingga bertambah keindahan atas keindahan mereka. Maka kami memohon kepada Allah Yang Mulia agar menjadikan kami bersama mereka.
Dan Allah berfirman tentang orang-orang yang mengutamakan yang segera daripada yang akan datang: “Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram” artinya: cemberut dan keruh, tunduk hina. “Mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat” artinya: hukuman yang keras, dan azab yang pedih. Karena itulah wajah-wajah mereka berubah dan cemberut.
Ayat 26-40
“Sekali-kali tidak! Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke tulang selangka, dan dikatakan (kepadanya): ‘Siapa yang dapat menyembuhkan?’ dan dia yakin bahwa itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis yang satu dengan betis yang lain, pada hari itulah kepada Tuhanmulah tempat mengembalikannya. Maka dia tidak membenarkan dan tidak (pula) mengerjakan shalat, tetapi dia mendustakan dan berpaling, kemudian dia pergi kepada keluarganya dengan berlagak sombong. Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) kecelakaan, kemudian kecelakaanlah bagimu dan kecelakaan. Apakah manusia mengira bahwa dia akan dibiarkan tanpa pertanggungjawaban? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” (Al-Qiyamah: 26-40)
Tafsir:
Allah Ta’ala memberi nasihat kepada hamba-hamba-Nya dengan menyebutkan keadaan orang yang akan mati pada saat sakaratul maut, dan bahwa apabila nyawanya telah sampai ke tulang selangka, yaitu tulang-tulang yang mengelilingi lekukan leher, maka saat itu pedih betul sakitnya, dan dicari segala perantara dan sebab, yang disangka dapat menyembuhkan dan memberikan kelegaan. Oleh karena itu Allah berfirman: “Dan dikatakan (kepadanya): ‘Siapa yang dapat menyembuhkan?'” artinya: siapa yang meruqyahnya dengan ruqyah karena harapan mereka telah putus dari sebab-sebab biasa, maka tidak tersisa kecuali sebab-sebab ilahiyah. Tetapi takdir dan qada, apabila telah ditetapkan dan datang maka tidak ada yang dapat menolaknya. “Dan dia yakin bahwa itulah waktu perpisahan” dengan dunia. “Dan bertaut betis yang satu dengan betis yang lain” artinya: kesulitan-kesulitan berkumpul dan bertaut, dan besar urusannya dan sulit pedihnya, dan hendak keluarlah ruh yang telah terbiasa dengan jasad dan senantiasa bersamanya, maka dia digiring kepada Allah Ta’ala, hingga Dia membalasnya dengan amal-amalnya, dan menetapkannya dengan perbuatan-perbuatannya.
Maka peringatan ini, yang Allah sebutkan, menggiring hati kepada apa yang di dalamnya keselamatannya, dan melarangnya dari apa yang di dalamnya kebinasaannya. Tetapi orang yang membangkang yang tidak bermanfaat padanya ayat-ayat, masih tetap terus dalam kedurhakaan dan kekufuran dan pembandelannya.
“Maka dia tidak membenarkan” artinya: tidak beriman kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya dan kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan takdir baik dan buruknya “dan tidak (pula) mengerjakan shalat tetapi dia mendustakan” kebenaran sebagai lawan dari membenarkan, “dan berpaling” dari perintah dan larangan. Ini sedangkan hatinya tenang, tidak takut kepada Rabbnya, bahkan dia pergi “kepada keluarganya dengan berlagak sombong” artinya: tidak ada apa-apa di pikirannya. Dia diancam dengan firman-Nya: “Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) kecelakaan, kemudian kecelakaanlah bagimu dan kecelakaan.” Dan ini adalah kalimat-kalimat ancaman, diulang karena mengulangi ancaman-Nya. Kemudian Allah mengingatkan manusia dengan penciptaan awalnya, maka Allah berfirman: “Apakah manusia mengira bahwa dia akan dibiarkan tanpa pertanggungjawaban?” artinya: terlantar, tidak diperintah dan tidak dilarang, dan tidak diberi pahala dan tidak dihukum? Ini adalah dugaan batil dan prasangka kepada Allah bukan dengan apa yang pantas bagi hikmah-Nya.
“Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian” setelah mani “mani itu menjadi segumpal darah” artinya: darah, “lalu Allah menciptakannya” dari segumpal darah itu menjadi hewan dan menyempurnakannya artinya: membuat-nya kokoh dan rapi, “lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian” yang menciptakan manusia dan mengembangkannya melalui fase-fase yang berbeda ini “berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” Ya, sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Selesailah tafsir surat Al-Qiyamah, dan segala puji bagi Allah dan anugerah-Nya, dan itu pada 16 Safar tahun 1344.
Jilid kesembilan dari Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir al-Quran oleh pengumpulnya yang faqir kepada Allah: Abdurrahman bin Nashir bin Abdullah as-Sa’di semoga Allah mengampuninya dan kedua orang tuanya dan kaum muslimin amin.
TAFSIR SURAT AL-INSAN (SURAT MAKIYYAH)
Ayat 1-3
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (Al-Insan: 1-3)
Tafsir:
Allah menyebutkan dalam surat mulia ini keadaan pertama manusia dan permulaannya dan pertengahannya dan akhirnya.
Allah menyebutkan bahwa telah berlalu atasnya masa yang panjang yaitu yang sebelum keberadaannya, dan dia tidak ada bahkan tidak disebut.
Kemudian ketika Allah Ta’ala hendak menciptakannya, Dia menciptakan ayahnya Adam dari tanah, kemudian menjadikan keturunannya berkesinambungan “dari setetes mani yang bercampur” yaitu air yang hina lagi menjijikkan “yang Kami hendak mengujinya” dengan itu untuk Kami ketahui apakah dia melihat keadaan awalnya dan memperhatikannya ataukah dia melupakannya dan dirinyalah yang menyombongkannya?
Maka Allah menciptakannya, dan menciptakan untuknya kekuatan-kekuatan batin dan zahir, seperti pendengaran dan penglihatan, dan seluruh anggota, maka Allah sempurnakan untuknya dan jadikan selamat sehingga dia dapat mencapai tujuan-tujuannya dengan kekuatan-kekuatan itu.
Kemudian Allah mengutus kepadanya para rasul, dan menurunkan kepadanya kitab-kitab, dan menunjukinya jalan yang menyampaikan kepada Allah, dan Dia menjadikannya berminat kepadanya, dan mengabarkan kepadanya apa yang untuknya di sisi Allah ketika sampai kepada Allah.
Kemudian Dia mengabarkan kepadanya tentang jalan yang menyampaikan kepada kebinasaan, dan membuat dia takut daripadanya, dan mengabarkan kepadanya apa yang untuknya jika dia menempuh jalan itu, dan Dia mengujinya dengan itu. Maka manusia terbagi menjadi yang bersyukur atas nikmat Allah kepadanya, menunaikan apa yang Allah bebankan kepadanya berupa hak-hak-Nya, dan menjadi yang kufur atas nikmat Allah kepadanya, Allah telah memberinya nikmat agama dan dunia, maka dia menolaknya, dan kufur kepada Rabbnya, dan menempuh jalan yang menyampaikan kepada kebinasaan.
Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan keadaan dua kelompok saat pembalasan, maka Dia berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir rantai-rantai, belenggu-belenggu dan api yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat baik minum dari gelas yang campurannya adalah kafur.” (Al-Insan: 4-5)
Hingga akhir pahala. Artinya: Sesungguhnya Kami telah menyiapkan dan menyediakan bagi orang yang kafir kepada Allah, mendustakan rasul-rasul-Nya, dan berani melakukan maksiat: rantai-rantai di neraka Jahannam, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Kemudian (masukanlah dia) ke dalam rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta, lalu belenggulah dia.” (Al-Haqqah: 32)
Dan belenggu-belenggu yang membelenggu tangan mereka ke leher mereka dan mereka diikat dengannya.
Dan api yang menyala-nyala yaitu api yang membakar tubuh-tubuh mereka dan membakar badan-badan mereka. “Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan azab.” (An-Nisa: 56) Dan azab ini kekal bagi mereka selama-lamanya, mereka kekal di dalamnya selamanya.
Adapun orang-orang yang berbuat baik yaitu mereka yang hati mereka berbuat baik dengan apa yang ada di dalamnya berupa kecintaan kepada Allah dan mengenal-Nya, serta akhlak yang mulia, maka anggota tubuh mereka pun berbuat baik, dan mereka menggunakan anggota tubuhnya untuk amal-amal kebajikan. Allah mengabarkan bahwa mereka minum dari gelas yaitu minuman lezat dari khamar yang telah dicampur dengan kafur, artinya dicampur dengannya untuk mendinginkannya dan mematahkan kepedasannya. Dan kafur ini sangat lezat, telah selamat dari segala sesuatu yang mengotori dan mengganggu, yang ada pada kafur dunia. Karena kerusakan yang ada pada nama-nama yang Allah sebutkan ada di surga dan ada di dunia akan hilang di akhirat.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Di antara pohon bidara yang tidak berduri dan pohon talh yang tersusun (buahnya),” (Al-Waqi’ah: 28-29) “Dan istri-istri yang suci,” (Al-Baqarah: 25) “Bagi mereka surga yang kekal di sisi Tuhan mereka,” (Al-An’am: 127) “Dan di dalamnya ada segala yang diinginkan jiwa dan sedap dipandang mata.” (Az-Zukhruf: 71)
“(Yaitu) mata air yang minum daripadanya hamba-hamba Allah.” (Al-Insan: 6) Yaitu gelas lezat itu yang mereka minum darinya, mereka tidak takut akan habis, bahkan ia memiliki sumber yang tidak terputus, yaitu mata air yang senantiasa memancar dan mengalir. Hamba-hamba Allah memancurkannya dengan pancuran bagaimana pun mereka kehendaki dan kapan pun mereka mau. Jika mereka mau, mereka alirkan ke taman-taman yang berbunga, atau ke kebun-kebun yang segar, atau di antara sisi-sisi istana dan tempat tinggal yang dihias, atau ke arah mana pun yang mereka pandang dari tempat-tempat yang indah.
Dan Allah telah menyebutkan sejumlah amal mereka di awal surat ini, maka Dia berfirman: “Mereka menunaikan nazar” (Al-Insan: 7) yaitu apa yang mereka wajibkan atas diri mereka sendiri kepada Allah berupa nazar dan perjanjian. Dan jika mereka menunaikan nazar, padahal itu tidak wajib atas mereka kecuali karena mereka wajibkan atas diri mereka sendiri, maka perbuatan mereka dan pelaksanaan kewajiban-kewajiban pokok lebih utama dan lebih pantas. “Dan mereka takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (Al-Insan: 7) Yaitu menyebar dan meluas, maka mereka takut akan ditimpa keburukan hari itu, lalu mereka meninggalkan setiap sebab yang menyebabkan hal itu. “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya” (Al-Insan: 8) yaitu dalam keadaan mereka mencintai harta dan makanan itu, tetapi mereka mendahulukan kecintaan kepada Allah daripada kecintaan kepada diri mereka sendiri, dan mereka berhati-hati dalam memberi makan kepada orang yang paling berhak dan paling membutuhkan “kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (Al-Insan: 8)
Dan mereka bermaksud dengan pemberian dan memberi makan mereka adalah wajah Allah Ta’ala, dan mereka berkata dengan lisan hati: “Sesungguhnya kami memberi makan kamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (Al-Insan: 9) Yaitu tidak balasan berupa harta dan tidak pula pujian dengan ucapan.
“Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam,” (Al-Insan: 10) yaitu hari yang sangat keras keganasannya dan kejahatannya, “penuh kesulitan.” (Al-Insan: 10) Yaitu sempit dan sesak. “Maka Allah memelihara mereka dari kejahatan hari itu” (Al-Insan: 11) maka mereka tidak akan disedihkan oleh kengerian yang besar, dan para malaikat menyambut mereka: “Inilah harimu yang dahulu dijanjikan kepadamu.”
“Dan Allah memberikan kepada mereka” (Al-Insan: 11) yaitu memuliakan mereka dan memberi mereka “keceriaan” (Al-Insan: 11) pada wajah mereka “dan kegembiraan” (Al-Insan: 11) dalam hati mereka. Maka Allah menghimpunkan bagi mereka antara kenikmatan lahir dan batin. “Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka” (Al-Insan: 12) atas ketaatan kepada Allah, maka mereka mengerjakan apa yang mereka mampu darinya, dan atas kemaksiatan kepada Allah, maka mereka meninggalkannya, dan atas takdir-takdir Allah yang menyakitkan, maka mereka tidak murka karenanya, “(dengan) surga” (Al-Insan: 12) yang mengumpulkan segala kenikmatan, selamat dari segala yang mengotori dan mengganggu, “dan sutra.” (Al-Insan: 12) Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutra.” (Al-Hajj: 23) Dan barangkali Allah mengkhususkan sutra karena itu adalah pakaian lahir mereka yang menunjukkan keadaan pemiliknya.
“Mereka bertelekan di dalamnya di atas dipan-dipan.” (Al-Insan: 13) Bertelekan adalah kemampuan duduk dalam keadaan kemewahan dan ketenangan (istirahat). Dan dipan-dipan adalah tempat tidur yang di atasnya ada pakaian yang dihias. “Mereka tidak merasakan di dalamnya” yaitu di surga “(terik) matahari” (Al-Insan: 13) yang panasnya menyakiti mereka “dan tidak pula dingin yang beku.” (Al-Insan: 13) Yaitu dingin yang sangat, bahkan semua waktu mereka dalam naungan yang teduh, tidak panas dan tidak dingin, sehingga tubuh-tubuh mereka merasakan kelezatan dan tidak tersiksa karena panas atau dingin.
“Dan naungannya rapat menutupi mereka dan buahnya dimudahkan untuk dipetik.” (Al-Insan: 14) Yaitu buah-buahannya didekatkan kepada orang yang menginginkannya dengan pendekataan sehingga dia dapat meraihnya baik dalam keadaan berdiri, duduk, atau berbaring.
Dan para penghuni surga dilayani yaitu berkeliling (kepada mereka) para pelayan dan anak-anak muda “dengan membawa bejana-bejana dari perak dan piala-piala dari gelas” (Al-Insan: 15) “(yaitu) gelas-gelas dari perak” (Al-Insan: 16) yaitu bahannya dari perak, (dan ia) dengan kejernihan gelas-gelas, dan ini termasuk hal yang paling menakjubkan, bahwa perak yang tebal karena kejernihan intinya dan baiknya tambangnya menjadi sebening gelas-gelas.
“Yang telah mereka tentukan ukurannya dengan tepat.” (Al-Insan: 16) Yaitu mereka menentukan ukuran wadah-wadah yang disebutkan menurut kadar dahaga mereka, tidak lebih dan tidak kurang, karena kalau lebih akan mengurangi kelezatannya, dan kalau kurang tidak akan memenuhi dahaga mereka. Dan mungkin yang dimaksud adalah: para penghuni surga menentukan sendiri dengan diri mereka seukuran yang sesuai dengan kelezatan mereka, maka datang kepada mereka sesuai dengan apa yang mereka tentukan dalam pikiran mereka.
“Dan mereka diberi minum di dalamnya” (Al-Insan: 17) yaitu di surga dari gelas, yaitu wadah yang penuh dengan khamar dan minuman, “yang campurannya” (Al-Insan: 17) yaitu campurannya “adalah jahe” (Al-Insan: 17) untuk menyedapkan rasa dan aromanya.
“(Yaitu) mata air di dalamnya” (Al-Insan: 18) yaitu di surga “yang dinamakan Salsabil.” (Al-Insan: 18) Dinamakan demikian karena kelembutan, kelezatan dan keindahannya.
“Dan berkeliling” (Al-Insan: 19) kepada penghuni surga, dalam makanan, minuman dan pelayanan mereka.
“Anak-anak muda yang kekal” (Al-Insan: 19) yaitu mereka diciptakan dari surga untuk kekal, mereka tidak berubah dan tidak tua, dan mereka dalam puncak keindahan. “Apabila kamu melihat mereka” (Al-Insan: 19) tersebar dalam pelayanan mereka “kamu akan menyangka mereka” (Al-Insan: 19) karena keindahan mereka “mutiara yang bertaburan.” (Al-Insan: 19) Dan ini termasuk kesempurnaan kelezatan penghuni surga, bahwa pelayan mereka adalah anak-anak muda yang kekal, yang menyenangkan untuk dilihat, dan mereka masuk ke tempat tinggal mereka dengan aman dari tuntutan mereka, dan mereka datang kepada mereka dengan apa yang mereka serukan dan yang diinginkan jiwa mereka. “Dan apabila kamu melihat di sana” (Al-Insan: 20) yaitu di surga, dan kamu memandang apa yang mereka alami dari kenikmatan “kamu akan melihat kenikmatan dan kerajaan yang besar.” (Al-Insan: 20) Maka kamu akan mendapati salah seorang dari mereka, di sisinya ada istana-istana, tempat tinggal dan kamar-kamar yang dihias dan dihiasi yang tidak dapat digambarkan oleh deskripsi, dan di sisinya ada taman-taman yang berbunga, buah-buahan yang dekat, buah-buahan yang lezat, sungai-sungai yang mengalir, kebun-kebun yang menakjubkan, dan burung-burung yang berkicau (merdu) yang memikat hati dan menyenangkan jiwa.
Dan di sisinya ada istri-istri yang sangat cantik dan baik hati, yang mengumpulkan keindahan lahir dan batin, yang baik dan cantik, yang memenuhi hati dengan kegembiraan, kelezatan dan kebahagiaan, dan di sekelilingnya ada anak-anak muda yang kekal, dan pelayan-pelayan yang abadi, yang dengannya tercapai kenyamanan dan ketenangan, dan menjadi sempurna kelezatan hidup, dan menjadi lengkap kebahagian.
Kemudian di atas semua itu dan yang paling agung adalah kemenangan dengan melihat Tuhan Yang Maha Pengasih, dan mendengar firman-Nya, dan kelezatan kedekatan dengan-Nya, dan kegembiraan dengan ridha-Nya, dan keabadian yang kekal, dan bertambahnya apa yang mereka alami dari kenikmatan setiap saat dan waktu. Maha Suci Raja Yang Memiliki, Yang Haq Yang Nyata, yang tidak habis perbendaharaan-Nya, dan tidak berkurang kebaikan-Nya. Sebagaimana tidak ada batas bagi sifat-sifat-Nya maka tidak ada batas bagi kebaikan dan ihsan-Nya.
“Di atas mereka pakaian sutera halus yang hijau” (Al-Insan: 21) yaitu mereka telah diselimuti dengan pakaian sutera halus dan sutera tebal yang hijau, yang keduanya adalah jenis sutera yang paling mulia. Sutera halus adalah yang tebal dari sutera, dan sutera tebal adalah yang tipis darinya. “Dan mereka diberi gelang dari perak” (Al-Insan: 21) yaitu mereka diberi gelang perak di tangan mereka, laki-laki dan perempuan mereka. Dan ini adalah janji yang Allah janjikan kepada mereka, dan adalah janji-Nya yang pasti terlaksana karena tidak ada yang lebih benar dari-Nya ucapan dan tidak pula pembicaraan.
Dan firman-Nya: “Dan Tuhan mereka memberi mereka minum minuman yang suci” (Al-Insan: 21) yaitu tidak ada kekeruhan di dalamnya dengan cara apa pun, membersihkan apa yang ada dalam perut mereka dari segala gangguan dan kotoran.
“Sesungguhnya ini” (Al-Insan: 22) pembalasan yang mulia dan pemberian yang indah “adalah balasan bagimu” (Al-Insan: 22) atas apa yang telah kamu dahulukan dari amal-amal, “dan adalah usahamu yang diterima (Allah).” (Al-Insan: 22) Yaitu yang sedikit darinya, Allah jadikan bagimu dengannya dari kenikmatan yang kekal apa yang tidak mungkin dihitung.
Dan firman Allah Ta’ala setelah menyebutkan kenikmatan surga: “Sesungguhnya Kami, Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an kepadamu berangsur-angsur.” (Al-Insan: 23) Di dalamnya ada janji dan ancaman dan penjelasan segala sesuatu yang dibutuhkan hamba-hamba, dan di dalamnya ada perintah untuk melaksanakan perintah-perintah dan syariat-syariat-Nya dengan pelaksanaan yang paling sempurna, dan berusaha untuk menjalankannya, dan sabar atas hal itu. Karena itulah Dia berfirman: “Maka bersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu patuhi orang yang berdosa di antara mereka atau orang yang kafir.” (Al-Insan: 24) Yaitu bersabarlah terhadap ketetapan-Nya yang qadari, maka janganlah kamu murka karenanya, dan terhadap ketetapan-Nya yang agama, maka jalankan, dan jangan sampai ada yang menghalangimu darinya. “Dan janganlah kamu patuhi” (Al-Insan: 24) dari orang-orang yang memusuhi, yang ingin menghalangimu “orang yang berdosa” (Al-Insan: 24) yaitu pelaku dosa dan maksiat dan tidak “orang yang kafir.” (Al-Insan: 24) Karena menaati orang-orang kafir, orang-orang fasik dan orang-orang rusak, pasti dalam kemaksiatan, maka mereka tidak memerintahkan kecuali apa yang dikehendaki jiwa mereka. Dan karena kesabaran dibantu dengan melaksanakan ibadah kepada Allah, dan memperbanyak mengingat-Nya, maka Allah memerintahkannya dengan hal itu lalu berfirman: “Dan sebutlah nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang.” (Al-Insan: 25) Yaitu awal siang dan akhirnya, maka termasuk di dalamnya shalat-shalat fardhu dan apa yang mengikutinya dari shalat-shalat sunnah, dan zikir, dan tasbih, dan tahlil, dan takbir pada waktu-waktu ini.
Dan pada malam hari maka sujudlah kepada-Nya (QS. Al-Insan: 26) yaitu: perbanyaklah sujud kepada-Nya, dan hal itu tidak terjadi kecuali dengan memperbanyak shalat. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada malam yang panjang (QS. Al-Insan: 26). Dan telah dijelaskan sebelumnya pembatasan yang mutlak ini dengan firman-Nya: Hai orang yang berselimut (berselubung), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (QS. Al-Muzzammil: 1-2).
Dan firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang ini (QS. Al-Insan: 27) yaitu: orang-orang yang mendustakan engkau wahai Rasul setelah engkau jelaskan kepada mereka ayat-ayat, dan setelah mereka diberi harapan dan ancaman, namun demikian, hal itu tidak bermanfaat sedikitpun bagi mereka, bahkan mereka tetap lebih mengutamakan kehidupan dunia dan merasa tenteram dengannya, dan mereka mengabaikan yaitu: meninggalkan amal dan mengabaikan di hadapan mereka yaitu: di depan mereka hari yang berat yaitu hari kiamat, yang lamanya lima puluh ribu tahun menurut perhitungan kalian. Dan Allah Taala berfirman: Orang-orang kafir berkata: “Ini adalah hari yang sulit” (QS. Al-Qamar: 8). Seakan-akan mereka tidak diciptakan kecuali untuk dunia dan menetap di dalamnya.
Kemudian Allah berdalil kepada mereka dan tentang kebangkitan mereka dengan dalil akal, yaitu dalil penciptaan awal, maka Dia berfirman: Kami telah menciptakan mereka (QS. Al-Insan: 28) yaitu: Kami wujudkan mereka dari ketiadaan, dan Kami kuatkan persendian mereka yaitu: Kami sempurnakan penciptaan mereka dengan urat syaraf, pembuluh darah, otot-otot, dan kekuatan lahir dan batin, hingga sempurnalah tubuh dan lengkap, dan mampu melakukan semua yang diinginkannya. Maka Dzat yang mewujudkan mereka dalam keadaan seperti ini, mampu mengembalikan mereka setelah kematian mereka untuk pembalasan mereka. Dan Dzat yang memindahkan mereka di dunia ini kepada fase-fase ini, tidak pantas bagi-Nya meninggalkan mereka sia-sia, tidak diperintah, tidak dilarang, tidak diberi pahala, dan tidak dihukum. Oleh karena itu Dia berfirman: dan apabila Kami kehendaki, Kami akan mengganti mereka dengan (makhluk) yang seperti mereka dengan pergantian (yang sempurna) (QS. Al-Insan: 28) yaitu: Kami ciptakan kalian untuk kebangkitan dengan penciptaan yang lain, dan Kami kembalikan kalian dengan diri kalian sendiri, dan mereka dengan diri mereka sendiri adalah contoh mereka.
Sesungguhnya (ajaran) ini adalah suatu peringatan (QS. Al-Insan: 29) yaitu: orang beriman mengambil pelajaran dengannya, maka dia mendapat manfaat dengan apa yang ada di dalamnya berupa ancaman dan harapan. Maka barangsiapa yang menghendaki niscaya ia mengambil jalan kepada Tuhannya (QS. Al-Insan: 29) yaitu: jalan yang mengantarkan kepada-Nya. Maka Allah menjelaskan kebenaran dan petunjuk, kemudian Dia memberi pilihan kepada manusia antara mendapat petunjuk dengannya atau menjauh darinya, padahal hujah telah tegak atas mereka. Dan kamu tidak dapat menghendaki (untuk beriman) kecuali apabila dikehendaki Allah (QS. Al-Insan: 30). Karena sesungguhnya kehendak Allah pasti terlaksana. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS. Al-Insan: 30), maka bagi-Nya hikmah dalam memberi petunjuk kepada orang yang mendapat petunjuk, dan menyesatkan orang yang sesat. Dia memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya (QS. Al-Insan: 31), maka Dia mengkhususkannya dengan perhatian-Nya, dan memberinya taufik untuk sebab-sebab kebahagiaan serta membimbingnya ke jalan-jalannya. Dan orang-orang yang zalim yang memilih kesengsaraan daripada petunjuk, telah Dia sediakan bagi mereka azab yang pedih (QS. Al-Insan: 31) karena kezaliman dan permusuhan mereka.
Selesai tafsir surat Al-Insan – dan bagi Allah segala puji dan karunia.
Dan surat ini Makkiyah.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demi (malaikat-malaikat) yang diutus untuk membawa kebaikan. Maka (malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencangnya. Dan (malaikat-malaikat) yang menyebarkan (rahmat Allah) dengan seluas-luasnya. Maka (malaikat-malaikat) yang membedakan (antara yang hak dan yang bathil) dengan sejelas-jelasnya. Dan (malaikat-malaikat) yang menyampaikan wahyu untuk (menjadi) alasan atau peringatan. Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepada kamu itu pasti terjadi. Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan. Dan apabila langit telah dibelah. Dan apabila gunung-gunung telah dihancurkan. Dan apabila rasul-rasul telah ditetapkan waktunya (untuk memberikan kesaksian). Untuk hari apakah (hal itu) ditangguhkan? (yaitu) untuk hari keputusan. Tahukah kamu apakah hari keputusan itu? Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan (QS. Al-Mursalat: 1-15).
Allah Taala bersumpah tentang kebangkitan dan pembalasan atas amal perbuatan dengan malaikat-malaikat yang diutus dengan kebaikan, yaitu malaikat-malaikat yang diutus Allah Taala untuk urusan-urusan takdir-Nya dan pengaturan alam, serta urusan-urusan syariat-Nya dan wahyu kepada rasul-rasul-Nya.
Dan dengan kebaikan adalah hal (keterangan keadaan) dari malaikat-malaikat yang diutus, yaitu: diutus dengan kebaikan, hikmah dan kemaslahatan, bukan dengan kemungkaran dan kesia-siaan.
Maka (malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencangnya (QS. Al-Mursalat: 2), yaitu malaikat-malaikat yang diutus Allah Taala yang disifati dengan segera melaksanakan perintah-Nya, dan cepat menjalankan perintah-perintah-Nya, seperti angin yang bertiup kencang, atau: bahwa yang bertiup kencang adalah angin-angin yang kuat, yang cepat bertiupnya.
Dan (malaikat-malaikat) yang menyebarkan (rahmat Allah) dengan seluas-luasnya (QS. Al-Mursalat: 3), kemungkinan bahwa itu adalah malaikat-malaikat yang menyebarkan apa yang telah mereka atur untuk disebarkan, atau bahwa itu adalah awan yang dengannya Allah menyebarkan (menghidupkan) bumi, maka Dia menghidupkannya setelah matinya.
Dan (malaikat-malaikat) yang menyampaikan wahyu (QS. Al-Mursalat: 5), yaitu malaikat-malaikat yang menyampaikan perintah yang paling mulia, yaitu dzikir (wahyu) yang dengannya Allah merahmati hamba-hamba-Nya, dan Dia mengingatkan mereka di dalamnya tentang manfaat-manfaat dan kemaslahatan-kemaslahatan mereka, menyampaikannya kepada para rasul.
Untuk (menjadi) alasan atau peringatan (QS. Al-Mursalat: 6), yaitu: untuk memberi alasan dan peringatan kepada manusia, memperingatkan manusia tentang bahaya-bahaya yang ada di hadapan mereka dan memutus alasan mereka, sehingga tidak ada hujah bagi mereka atas Allah.
Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepada kamu (QS. Al-Mursalat: 7) berupa kebangkitan dan pembalasan atas amal perbuatan pasti terjadi, yaitu: pasti terjadi tanpa keraguan dan keraguan.
Maka ketika itu terjadi, akan terjadi perubahan pada alam dan kengerian yang hebat yang akan menggelisahkan hati, dan karena itu kesedihan akan bertambah berat. Maka bintang-bintang akan padam, yaitu: akan berserakan dan hilang dari tempat-tempatnya, dan gunung-gunung akan dihancurkan, sehingga menjadi seperti debu yang berterbangan, dan gunung-gunung itu bersama bumi akan menjadi dataran yang rata, tidak kamu lihat padanya lembah atau bukit. Dan hari itu adalah hari di mana para rasul ditetapkan waktunya, dan ditunda untuk memutuskan antara mereka dan umat-umat mereka. Oleh karena itu Dia berfirman:
Untuk hari apakah (hal itu) ditangguhkan? (QS. Al-Mursalat: 12) pertanyaan untuk mengagungkan, membesarkan dan menakuti. Kemudian Dia menjawab dengan firman-Nya: (yaitu) untuk hari keputusan (QS. Al-Mursalat: 13), yaitu: antara makhluk-makhluk, sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, dan perhitungan setiap mereka secara terpisah. Kemudian Dia mengancam orang yang mendustakan hari ini, maka Dia berfirman: Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan (QS. Al-Mursalat: 15), yaitu: betapa menyesalnya mereka, dan beratnya azab mereka, dan buruknya tempat kembali mereka. Allah memberitahu mereka, dan bersumpah kepada mereka, namun mereka tidak membenarkan-Nya, maka mereka berhak mendapat hukuman yang berat.
Bukankah Kami telah membinasakan orang-orang yang terdahulu? Kemudian Kami susulkan (dengan membinasakan) orang-orang yang kemudian. Demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berdosa. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan (QS. Al-Mursalat: 16-19).
Yaitu: bukankah Kami telah membinasakan orang-orang yang mendustakan terdahulu, kemudian Kami susulkan mereka dengan membinasakan orang yang mendustakan dari yang kemudian. Dan ini adalah sunnah-Nya yang terdahulu dan yang akan datang pada setiap penjahat yang pasti akan diazab. Mengapa kalian tidak mengambil pelajaran dari apa yang kalian lihat dan kalian dengar?
Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan (QS. Al-Mursalat: 19) setelah mereka menyaksikan ayat-ayat yang jelas, dan hukuman-hukuman serta teladan-teladan.
Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina? Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim). Sampai waktu yang ditentukan. Lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami adalah sebaik-baik yang menentukan. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan (QS. Al-Mursalat: 20-24).
Yaitu: bukankah Kami ciptakan kalian hai manusia dari air yang hina, yaitu: yang sangat rendah, keluar dari antara tulang rusuk dan tulang dada, hingga Allah jadikan dia dalam tempat yang kokoh yaitu rahim, dengannya ia menetap dan tumbuh.
Sampai waktu yang ditentukan (QS. Al-Mursalat: 22) dan waktu yang ditetapkan.
Lalu Kami tentukan (QS. Al-Mursalat: 23), yaitu: Kami tetapkan dan atur janin itu, dalam kegelapan-kegelapan itu, dan Kami pindahkan dari nuthfah ke alaqah, ke mudghah, hingga Allah jadikan dia jasad, kemudian ditiupkan padanya ruh, dan di antara mereka ada yang mati sebelum itu.
Maka Kami adalah sebaik-baik yang menentukan (QS. Al-Mursalat: 23) yaitu dengan demikian Dzat-Nya Yang Suci, karena penetapan itu mengikuti hikmah, sesuai dengan pujian.
Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan (QS. Al-Mursalat: 24) setelah Allah jelaskan kepada mereka ayat-ayat, dan Dia perlihatkan kepada mereka pelajaran-pelajaran dan keterangan-keterangan.
Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul. Orang-orang yang hidup dan yang mati. Dan Kami jadikan padanya gunung-gunung yang tinggi dan Kami beri minum kamu dengan air tawar. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan (QS. Al-Mursalat: 25-28).
Yaitu: bukankah Kami anugerahkan kepada kalian dan Kami beri nikmat, dengan memudahkan bumi untuk kemaslahatan kalian, maka Kami jadikan dia tempat berkumpul bagi kalian.
Orang-orang yang hidup (QS. Al-Mursalat: 26) di rumah-rumah, yang mati di kubur-kubur. Sebagaimana rumah-rumah dan istana-istana termasuk nikmat Allah atas hamba-hamba-Nya dan anugerah-Nya, demikian pula kubur-kubur, rahmat dalam hak mereka, dan penutup bagi mereka, dari menjadi jasad-jasad mereka tampak bagi binatang buas dan lainnya.
Dan Kami jadikan padanya gunung-gunung yang kokoh (QS. Al-Mursalat: 27), yaitu: gunung-gunung yang menjaga bumi agar tidak bergoncang dengan penghuninya, maka Allah menetapkannya dengan gunung-gunung yang kokoh yang tinggi, yaitu: yang panjang dan lebar. Dan Kami beri minum kamu dengan air tawar (QS. Al-Mursalat: 27), yaitu: yang manis jernih. Allah Taala berfirman: Maka terangkanlah kepadaKu tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur (QS. Al-Waqiah: 68-70).
Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan (QS. Al-Mursalat: 28) padahal Allah telah perlihatkan kepada mereka nikmat-nikmat yang Allah khususkan, dan Dia istimewakan mereka dengannya, namun mereka membalasnya dengan pendustaan.
(Dikatakan kepada mereka): “Pergilah kamu kepada azab yang dahulu kamu mendustakannya. Pergilah kamu kepada naungan (asap neraka) yang mempunyai tiga cabang. Yang tidak melindungi dan tidak (pula) berguna untuk menghalangi nyala api. Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar istana. Seolah-olah unta-unta kuning. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan (QS. Al-Mursalat: 29-34).
Ini termasuk kecelakaan yang disediakan untuk orang-orang yang mendustakan, bahwa dikatakan kepada mereka pada hari kiamat: Pergilah kamu kepada azab yang dahulu kamu mendustakannya (QS. Al-Mursalat: 29). Kemudian Dia jelaskan itu dengan firman-Nya: Pergilah kamu kepada naungan (asap neraka) yang mempunyai tiga cabang (QS. Al-Mursalat: 30), yaitu: kepada naungan api neraka jahannam, yang terpisah dalam selang-selangnya tiga cabang, yaitu: bagian-bagian dari api, yaitu: saling bergantian dan saling bergiliran serta berkumpul dengannya.
Yang tidak melindungi (QS. Al-Mursalat: 31) naungan itu, yaitu: tidak ada kenyamanan di dalamnya dan tidak ada ketenangan, dan tidak (pula) berguna bagi orang yang tinggal di dalamnya untuk menghalangi nyala api. Bahkan nyala api telah mengelilinginya, kanan dan kiri dan dari setiap sisi, sebagaimana firman Allah Taala: Bagi mereka tikar tidur dari api neraka dan dari atas mereka ada selimut (api neraka) (QS. Al-A’raf: 41).
Bagi mereka dari jahannam ada hamparan dan dari atas mereka ada tutupan. Dan demikianlah Kami membalas orang-orang yang zalim (QS. Al-A’raf: 41).
Kemudian Dia sebutkan besarnya percikan api, yang menunjukkan kebesarannya dan kejinya serta buruknya penampakannya, maka Dia berfirman:
Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar istana. Seolah-olah unta-unta kuning (QS. Al-Mursalat: 32-33), yaitu yang hitam yang condong ke warna yang ada kuningnya. Dan ini menunjukkan bahwa api itu gelap, nyalanya dan bara apinya dan percikannya, dan bahwa ia hitam, jelek penampakannya, sangat panas. Kami memohon keselamatan kepada Allah darinya dari amal-amal yang mendekatkan kepadanya.
Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan (QS. Al-Mursalat: 34).
Surat Al-Mursalat ayat 35-40:
“Ini adalah hari mereka tidak berbicara. Dan mereka tidak diizinkan untuk minta maaf. Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Ini adalah hari pemisahan, Kami kumpulkan kalian dan orang-orang terdahulu. Maka jika kalian mempunyai tipu daya, hendaklah kalian menipu (Kami). Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.”
Artinya: Ini adalah hari yang besar dan sangat berat bagi para pendusta, mereka tidak berbicara pada hari itu karena ketakutan dan kegelisahan yang sangat. “Dan mereka tidak diizinkan untuk minta maaf” artinya: permintaan maaf mereka tidak diterima, meskipun mereka minta maaf, sebagaimana firman Allah: “Maka pada hari itu tidak bermanfaat bagi orang-orang yang zalim permintaan maaf mereka dan mereka tidak diminta bertaubat.”
“Ini adalah hari pemisahan, Kami kumpulkan kalian dan orang-orang terdahulu” untuk memisahkan di antara kalian dan memutuskan perkara di antara para makhluk. “Maka jika kalian mempunyai tipu daya” yang kalian mampu untuk keluar dari kekuasaan-Ku dan selamat dengannya dari azab-Ku, “hendaklah kalian menipu (Kami)” artinya: kalian tidak mempunyai kemampuan dan kekuasaan, sebagaimana firman Allah: “Hai jama’ah jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kalian tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.”
Maka pada hari itu, batallah tipu daya orang-orang zalim, lenyaplah makar dan tipu daya mereka, mereka pasrah kepada azab Allah, dan jelas bagi mereka kebohongan mereka dalam mendustakan. “Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.”
Surat Al-Mursalat ayat 41-45:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan dan mata air-mata air. Dan buah-buahan dari apa yang mereka inginkan. Makan dan minumlah dengan nikmat karena apa yang telah kalian kerjakan. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.”
Setelah menyebutkan hukuman bagi para pendusta, Allah menyebutkan pahala bagi orang-orang yang berbuat baik, maka Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa” yaitu dari mendustakan, yang memiliki sifat membenarkan dalam perkataan, perbuatan, dan amal mereka. Mereka tidak akan demikian kecuali dengan menunaikan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan.
“Dalam naungan” dari banyaknya pohon-pohon yang beraneka ragam, yang indah dan menawan. “Dan mata air-mata air” yang mengalir dari salsabil, nectar, dan lainnya. “Dan buah-buahan dari apa yang mereka inginkan” yaitu dari buah-buahan pilihan dan yang enak. Dan dikatakan kepada mereka: “Makan dan minumlah” dari makanan yang lezat dan minuman yang nikmat “dengan nikmat” yaitu tanpa gangguan dan tanpa keburukan. Kenikmatan itu tidak akan sempurna hingga makanan dan minuman itu selamat dari segala cacat dan kekurangan, dan hingga mereka yakin bahwa nikmat itu tidak akan putus dan tidak akan hilang. “Karena apa yang telah kalian kerjakan” maka amal kalian adalah sebab yang mengantarkan kalian kepada kenikmatan kekal ini. Demikianlah setiap orang yang berbuat baik dalam beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada hamba-hamba Allah. Oleh karena itu Allah berfirman: “Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” Seandainya tidak ada bagi mereka dari kecelakaan ini selain terlewatnya kenikmatan ini, cukuplah itu sebagai kehilangan dan kerugian.
Surat Al-Mursalat ayat 46-50:
“Makan dan bersenang-senanglah sedikit. Sesungguhnya kalian orang-orang yang berdosa. Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ruku’lah!’ mereka tidak mau rukuk. Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Maka berita manakah sesudah Al-Qur’an ini yang mereka akan percayai?”
Ini adalah ancaman dan peringatan bagi para pendusta, bahwa mereka walaupun makan di dunia, minum, dan bersenang-senang dengan kenikmatan, serta lalai dari ketaatan, sesungguhnya mereka adalah orang-orang berdosa yang pantas mendapat apa yang pantas didapat oleh orang-orang berdosa. Kelak kenikmatan akan terputus dari mereka, dan tanggungan akan tetap pada mereka. Di antara dosa mereka adalah bahwa ketika mereka diperintahkan untuk shalat yang merupakan ibadah paling mulia, dan dikatakan kepada mereka: “Ruku’lah!” mereka menolak untuk melakukannya.
Dosa apakah yang melebihi ini? Dan pendustaan apakah yang lebih dari ini?
“Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.” Dan di antara kecelakaan bagi mereka adalah bahwa pintu-pintu taufik tertutup bagi mereka, dan mereka diharamkan dari segala kebaikan. Sesungguhnya apabila mereka mendustakan Al-Qur’an yang mulia ini, yang merupakan tingkatan tertinggi kebenaran dan keyakinan secara mutlak.
“Maka berita manakah sesudah Al-Qur’an ini yang mereka akan percayai?” Apakah dengan kebatilan yang sesuai namanya, yang tidak berdiri atas syubhat apalagi dalil? Ataukah dengan perkataan setiap musyrik pendusta yang nyata kedustaannya?
Maka tidak ada setelah cahaya yang terang kecuali kegelapan yang pekat, dan tidak ada setelah kebenaran yang telah tegak dalil-dalil dan bukti-bukti atas kebenarannya kecuali dusta yang terang-terangan dan kebohongan yang nyata, yang tidak pantas kecuali bagi orang yang sesuai dengannya.
Maka celakalah mereka, betapa butanya mereka! Dan kesengsaraanlah bagi mereka, betapa rugi dan sengsaranya mereka!
Kami memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan, sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Selesai.







